Struktur Realitas, Wujud, dan Hierarki Keberadaan dalam
Tradisi Pemikiran Islam
Alihkan ke: SKS Kuliah S1 Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif ontologi
dalam Filsafat Islam sebagai fondasi metafisika yang membentuk keseluruhan
bangunan pemikiran Islam klasik dan kontemporer. Melalui analisis genealogis,
artikel ini menelusuri perkembangan konsep wujud mulai dari pengaruh tradisi
Yunani—khususnya Aristotelianisme dan Neoplatonisme—hingga integrasinya dalam filsafat
peripatetik, iluminasi, kalām, dan tasawuf falsafi. Pembahasan meliputi konsep
dasar wujud, hubungan antara esensi dan eksistensi, struktur hierarki
keberadaan, Tuhan sebagai Wujud Tertinggi, serta relasi kosmis antara jiwa,
akal, dan materi. Kajian ini juga mengeksplorasi ontologi mistis dalam tradisi
Ibn ‘Arabī, konsep emanasi, tajallī, dan tingkatan wujud dalam kosmologi
spiritual.
Selain itu, artikel ini menyoroti hubungan erat
antara ontologi dan epistemologi, menunjukkan bahwa pengetahuan dalam tradisi
Islam merupakan intensifikasi wujud yang mencakup dimensi rasional, intuitif,
dan spiritual. Perbandingan dengan tradisi filsafat lain—termasuk
eksistensialisme, Vedanta, dan Buddhisme—mengungkapkan posisi unik ontologi
Islam yang integratif, transenden, dan dialogis. Berbagai kritik internal dan
eksternal terhadap sistem ontologi Islam juga dianalisis untuk memahami
dinamika dan rekonstruksi konseptual yang terjadi sepanjang sejarah.
Pada bagian akhir, artikel ini menegaskan relevansi
kontemporer ontologi Islam dalam menjawab tantangan modern, termasuk problem
kesadaran, ekologi, teknologi, serta pencarian makna manusia. Sintesis
filosofis yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh seperti Ibn Sīnā, Suhrawardī, Ibn
‘Arabī, dan Mullā Ṣadrā menunjukkan bahwa ontologi Islam bukanlah tradisi
statis, tetapi sebuah sistem metafisika yang hidup, yang terus berkembang dan
mampu berdialog dengan realitas intelektual global. Artikel ini memberikan
landasan konseptual bagi pemahaman ontologi Islam sebagai paradigma filosofis
yang komprehensif, dinamis, dan relevan lintas zaman.
Kata Kunci: Ontologi Islam, Wujud, Esensi–Eksistensi,
Metafisika, Ibn Sīnā, Suhrawardī, Ibn ‘Arabī, Mullā Ṣadrā, Tasawuf Falsafi,
Epistemologi, Aṣālat al-Wujūd, Wahdat al-Wujūd, Filsafat Islam Kontemporer.
PEMBAHASAN
Kajian Ontologi dalam Konteks Perkuliahan Filsafat
Islam
1.
Pendahuluan
Kajian ontologi dalam Filsafat Islam menempati
posisi mendasar dalam keseluruhan bangunan metafisika karena berupaya menjawab
pertanyaan paling fundamental mengenai hakikat keberadaan: apa yang disebut
wujud, bagaimana ia dipahami, dan apa struktur terdalam dari realitas itu
sendiri. Dalam tradisi pemikiran Islam, pertanyaan-pertanyaan ini tidak
hanya bersifat filosofis, tetapi juga berkelindan dengan teologi, kosmologi,
epistemologi, dan spiritualitas, sehingga pembahasan ontologi menjadi titik
temu antara akal, wahyu, dan pengalaman batin manusia. Ontologi di dalam
Filsafat Islam tidak sekadar menyoal keberadaan sebagai konsep abstrak, tetapi
membahas relasi antara keberadaan absolut (Tuhan), keberadaan terkontingen
(makhluk), serta proses emanasi, penciptaan, dan keteraturan kosmik yang
membentuk keseluruhan jagat raya.¹
Dalam konteks sejarah intelektual Islam, kajian
ontologi berkembang melalui dialog kreatif antara warisan filsafat Yunani,
terutama Aristoteles dan Plotinus, dengan kebutuhan teologis dan metafisik umat
Islam untuk memahami Tuhan dan alam dalam kerangka tauhid.² Proses penerjemahan
karya-karya Yunani sejak abad ke-8 membawa masuk konsep-konsep seperti ousia
(substansi), hylomorfisme, aktualitas—potensialitas, serta gagasan Yang
Satu (The One) neoplatonis, yang kemudian ditafsirkan ulang oleh para filsuf
Muslim.³ Para pemikir seperti al-Kindī, al-Fārābī, dan Ibn Sīnā tidak sekadar
menerima gagasan-gagasan tersebut, tetapi mengintegrasikannya dengan ajaran
dasar Islam sehingga melahirkan konsep Wājib al-Wujūd (Wujud Niscaya)
dan struktur wujud yang hierarkis.⁴
Kelahiran konsep-konsep ontologis khas Islam tidak
dapat dipisahkan dari kebutuhan untuk menjelaskan hubungan antara Tuhan sebagai
sumber segala wujud dengan alam sebagai ciptaan-Nya. Ibn Sīnā misalnya,
mengembangkan distingsi antara wujud (existence) dan māhiyyah (essence),
yang kemudian menjadi fondasi bagi seluruh diskursus ontologi dalam tradisi
Islam.⁵ Distingsi ini memungkinkan para filsuf menjelaskan bahwa makhluk pada
dasarnya mungkin-ada (mumkin al-wujūd) dan membutuhkan sebab eksternal
untuk mewujud, sementara Tuhan adalah wujud yang tidak dapat tidak ada, tidak beresensi
selain wujud-Nya sendiri, dan menjadi sumber segala eksistensi.⁶ Pemikiran ini
berkembang lebih lanjut dalam filsafat iluminasi (Ishrāq) Suhrawardī yang
menafsirkan wujud sebagai intensitas cahaya, serta mencapai puncaknya dalam
filsafat Hikmah Muta‘āliyyah Mullā Ṣadrā, yang memperkenalkan konsep
primasi wujud (aṣālat al-wujūd) dan gerak substansial.⁷
Selain itu, dimensi ontologis dalam Islam juga
berkelindan dengan tradisi tasawuf, terutama dalam konsep wahdat al-wujūd
Ibn ‘Arabī, yang menekankan bahwa seluruh wujud merupakan manifestasi (tajallī)
dari Realitas Tunggal, dan bahwa keragaman fenomenal hanyalah penampakan dari
satu hakikat yang sama.⁸ Perspektif mistis ini memperkaya cakrawala pembahasan
ontologi dengan menambahkan dimensi eksistensial dan spiritual yang tidak
sepenuhnya dapat dijelaskan melalui rasio saja. Dalam perkembangan selanjutnya,
dialog antara filsafat, teologi, dan tasawuf menghasilkan model ontologi yang
kompleks, multidimensi, dan sangat khas dalam khazanah intelektual Islam.
Kajian ontologi Filsafat Islam juga penting bagi
diskursus intelektual kontemporer karena menawarkan alternatif terhadap
paradigma Barat modern yang cenderung memisahkan metafisika dari pengalaman
religius. Dalam era di mana realitas dipahami melalui kerangka
rasional-positivistik dan teknologi, pembacaan ulang terhadap konsep wujud,
esensi, jiwa, sebab, dan tujuan dapat memberi kontribusi signifikan bagi dialog
antara filsafat, agama, dan sains modern.⁹ Ontologi Filsafat Islam menyediakan
kerangka untuk memahami bahwa realitas tidak hanya terdiri dari dimensi
material yang dapat diindera, tetapi juga memiliki struktur spiritual dan
transenden yang integral bagi pemahaman manusia tentang dirinya dan alam
semesta.
Dengan demikian, pembahasan mengenai ontologi dalam
Filsafat Islam menjadi pijakan penting untuk memahami keseluruhan bangunan
filsafat Islam, karena seluruh pembahasan tentang Tuhan, alam, jiwa, etika, dan
pengetahuan berpangkal pada bagaimana realitas dipahami secara metafisik.
Artikel ini bertujuan menyajikan pembahasan mendalam dan sistematis mengenai
struktur ontologi dalam tradisi Islam—mulai dari akar historis, konsep-konsep
dasar, sistem metafisika para filsuf utama, kritik internal, hingga relevansi
kontemporernya. Pembahasan ini diharapkan dapat memberikan landasan teoretis
yang kuat bagi mahasiswa filsafat Islam untuk memahami dinamika pemikiran
metafisika Islam secara komprehensif.
Footnotes
[1]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 45–47.
[2]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 32–36.
[3]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture
(London: Routledge, 1998), 22–25.
[4]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World
(Oxford: Oxford University Press, 2016), 61–67.
[5]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 15–18.
[6]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’, Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 42–45.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 209–221.
[8]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 89–91.
[9]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy (Albany: SUNY Press, 1992), 7–9.
2.
Genealogi
Historis Ontologi dalam Filsafat Islam
Genealogi historis ontologi dalam Filsafat Islam
menunjukkan perkembangan pemahaman tentang wujud yang tumbuh melalui proses
dialog intelektual yang panjang, melibatkan tiga tradisi besar: filsafat
Yunani, teologi Islam (kalām), dan tasawuf. Ketiganya saling bertemu, saling
mengoreksi, dan saling memperkaya, sehingga menghasilkan bangunan metafisika
Islam yang khas, kompleks, dan berbeda dari tradisi filosofis lainnya.
Perjalanan historis ini bukan sekadar proses penerimaan pasif terhadap gagasan
asing, tetapi merupakan proses kreatif di mana pemikir Muslim berupaya
menyesuaikan, menafsirkan ulang, dan mengharmoniskan konsep-konsep metafisis
dengan prinsip-prinsip tauhid serta kebutuhan teologis umat Islam.¹
2.1.
Fondasi Yunani: Plato, Aristoteles,
dan Plotinus
Ontologi Filsafat Islam pertama kali berakar pada
tradisi metafisika Yunani, terutama pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus.
Plato memperkenalkan gagasan tentang dunia ide sebagai realitas sejati, di mana
bentuk-bentuk transenden menentukan struktur realitas fisik.² Aristoteles
kemudian menawarkan analisis lebih konkret melalui teori substansi (ousia),
bentuk-materi (hylomorfisme), empat sebab, serta distingsi antara potensi dan
aktualitas.³ Kedua sumber ini menjadi fondasi awal bagi pembentukan konsep
esensi dan eksistensi di dunia Islam.
Plotinus, melalui karya Enneads dan pengaruh
neoplatonisme, menghadirkan gagasan tentang emanasi (fayḍ), yaitu aliran
wujud dari Yang Satu menuju intelek dan jiwa kosmik, sebelum mencapai dunia
materi.⁴ Konsep emanasi ini memberikan kerangka kosmologis yang sangat penting
bagi para filsuf Muslim, karena memungkinkan pemahaman tentang bagaimana wujud
yang transenden memancar ke alam tanpa mengurangi kesempurnaan-Nya. Gagasan
emanasi Plotinus menjadi unsur sentral dalam kosmologi Ibn Sīnā, al-Fārābī, dan
generasi filsuf setelahnya.
2.2.
Asimilasi dan Transformasi: Era
Filsafat Islam Klasik
Pada abad ke-9 hingga ke-11, para filsuf Muslim
mulai mengembangkan sintesis baru antara filsafat Yunani dan doktrin Islam.
Al-Kindī sebagai tokoh pertama berupaya menegaskan bahwa filsafat tidak
bertentangan dengan ajaran Islam; ia mengadopsi konsep keesaan absolut yang
lebih dekat dengan tauhid ketimbang model metafisika Yunani yang bersifat
hierarkis.⁵
Al-Fārābī menyusun salah satu sistem ontologi
paling awal dalam Islam, mengintegrasikan emanasi neoplatonis dengan struktur
intelek yang bertingkat-tingkat.⁶ Ia menekankan hubungan antara Yang Satu
(Tuhan) sebagai sebab pertama dengan intelek pertama yang kemudian menurunkan
realitas alamiah dan intelektual. Dalam pemikirannya, realitas dibagi dalam
struktur ontologis yang teratur dari yang paling sempurna hingga yang paling
rendah.
Ibn Sīnā kemudian menyempurnakan fondasi ontologi
Islam dengan memperkenalkan distingsi yang sangat berpengaruh antara wujud
(eksistensi) dan māhiyyah (esensi).⁷ Menurutnya, hanya Tuhan yang wujudnya
identik dengan esensi-Nya; makhluk memiliki esensi yang berdiri sendiri dan
wujud yang diperoleh dari sebab eksternal. Kerangka kategorisasi wajib
al-wujūd, mumkin al-wujūd, dan mustaḥīl al-wujūd menjadi salah satu pembagian
ontologis paling penting dalam tradisi Islam.
2.3.
Teologi Islam (Kalām) dan Respons
terhadap Filsafat
Sementara filsafat membangun ontologi yang
terstruktur dan rasional, para teolog Islam juga mengembangkan pandangan
ontologisnya sendiri, terutama dalam merespons filsafat. Kaum Mu‘tazilah
misalnya menyusun teori atomisme kalām, di mana alam terdiri dari atom yang
tidak dapat dibagi dan aksiden yang diciptakan terus-menerus oleh Tuhan.⁸
Pendekatan ini menekankan kehendak Tuhan dan kontinuitas penciptaan, berbeda
dari model filsafat yang lebih deterministik.
Asy‘ariyyah kemudian mengembangkan teori kasb
dan menolak gagasan kausalitas natural Aristoteles; bagi mereka, Tuhan
menciptakan setiap kejadian secara langsung pada setiap saat.⁹ Hal ini
menghasilkan ontologi occasionalist, yang berbeda tajam dari struktur
kosmologis filsafat peripatetik. Perjumpaan antara filsafat dan kalām
melahirkan tradisi pemikiran yang dinamis, di mana konsep wujud diperdebatkan
dalam berbagai konteks teologis.
2.4.
Revolusi Ishrāq: Ontologi Cahaya
Suhrawardī
Suhrawardī memperkenalkan Hikmah al-Ishrāq,
sebuah sistem metafisika baru yang diformulasikan dengan konsep cahaya sebagai
hakikat segala wujud. Dalam ontologi iluminasi ini, realitas diklasifikasikan
berdasarkan intensitas cahaya, dari Cahaya Murni (Tuhan) hingga kegelapan
absolut (potensialitas murni).¹⁰ Konsep ini menggeser orientasi peripatetik
yang berpusat pada esensi–eksistensi kepada ontologi yang berkarakter simbolik,
intuitif, dan hierarkis. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ontologi Islam
tidak hanya rasional–diskursif, tetapi juga spiritual–intuitif.
2.5.
Puncak Sintesis: Mulla Ṣadrā dan
Hikmah Muta‘āliyyah
Puncak perkembangan ontologi Islam terjadi pada
abad ke-17 melalui pemikiran Mulla Ṣadrā, yang mengembangkan Hikmah
Muta‘āliyyah. Ia memperkenalkan tiga gagasan besar yang mengubah arah
metafisika Islam: primasi wujud (aṣālat al-wujūd), gradasi wujud (tashkīk
al-wujūd), dan gerak substansial (al-ḥarakah al-jawhariyyah).¹¹
Menurut Ṣadrā, wujud adalah realitas tunggal yang bertingkat-tingkat
intensitasnya, dengan Tuhan sebagai wujud paling sempurna dan makhluk sebagai
manifestasi bertingkat dari realitas tersebut. Filsafatnya berhasil
menyintesiskan tiga tradisi besar: filsafat peripatetik, iluminasi, dan tasawuf
Ibn ‘Arabī.
2.6.
Integrasi Mistis: Tasawuf dan Wahdat
al-Wujūd
Di samping filsafat, tradisi tasawuf juga membentuk
lapisan penting dalam genealogis ontologi Islam. Ibn ‘Arabī mengemukakan konsep
wahdat al-wujūd, yang menekankan bahwa realitas pada hakikatnya satu dan
seluruh keberagaman hanyalah tajallī dari wujud absolut.¹² Konsep ini memiliki
pengaruh besar bagi para pemikir berikutnya dan menjadi basis bagi ontologi
eksistensial mistis dalam Islam. Hubungan antara Tuhan dan alam tidak lagi
dipahami dalam kerangka kausalitas linear, tetapi sebagai dinamika manifestasi
dan penyaksian.
Melalui perjalanan historis ini, dapat dilihat
bahwa ontologi dalam Filsafat Islam tidak berkembang secara linier, melainkan
melalui dialog kreatif antara tradisi filosofis, teologis, dan mistis.
Interaksi ini menghasilkan sebuah bangunan metafisika yang kaya, multidimensi,
dan tetap relevan untuk menjelaskan struktur realitas hingga hari ini.
Footnotes
[1]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 12–15.
[2]
Plato, The Republic, trans. Allan Bloom (New
York: Basic Books, 1991), 195–203.
[3]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross
(Oxford: Oxford University Press, 1924), 1028–1035.
[4]
Plotinus, The Enneads, trans. A. H.
Armstrong (Cambridge: Harvard University Press, 1966), 112–118.
[5]
Al-Kindī, On First Philosophy, ed. Peter
Adamson and Peter Pormann (Albany: SUNY Press, 2012), 33–40.
[6]
Al-Fārābī, The Principles of the Opinions of the
People of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Oxford
University Press, 1985), 56–62.
[7]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 44–50.
[8]
Richard M. Frank, Beings and Their Attributes:
The Teaching of the Basrian Mu‘tazila (Albany: SUNY Press, 1978), 71–85.
[9]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 175–180.
[10]
Shahab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of
Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young
University Press, 1999), 21–29.
[11]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed.
Muhammad Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 98–104.
[12]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge:
Ibn al-‘Arabī’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989),
55–62.
3.
Ontologi
sebagai Dasar Metafisika dalam Filsafat Islam
Ontologi menempati posisi paling fundamental dalam
keseluruhan bangunan metafisika Islam. Dalam tradisi filsafat Islam, metafisika
tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu menelaah hakikat wujud dan struktur
realitas yang menjadi dasar bagi seluruh entitas. Ontologi tidak hanya mengkaji
apa yang ada (being), tetapi juga menjelaskan bagaimana sesuatu itu ada,
dalam tingkatan apa keberadaan itu dimiliki, dan bagaimana hubungan
antartingkat wujud tersusun. Dengan demikian, ontologi merupakan fondasi yang
menopang seluruh cabang metafisika, seperti teologi, kosmologi, psikologi
rasional, dan epistemologi metafisik.¹
3.1.
Ontologi sebagai Kajian tentang
Wujud Absolut dan Wujud Bertingkat
Tradisi filsafat Islam memahami ontologi sebagai
studi tentang al-wujūd bi mā huwa wujūd (wujud sejauh ia adalah wujud).²
Pendekatan ini berbeda dari kajian benda-benda partikular yang menjadi objek
ilmu alam atau ilmu sosial. Yang menjadi fokus utama ontologi adalah apa yang
paling universal, paling mendasar, dan paling independen dari bentuk-bentuk
partikular realitas.
Para filsuf Muslim mengembangkan pandangan bahwa
wujud adalah realitas objektif yang hadir dalam berbagai tingkat intensitas.³
Pemahaman bertingkat ini kemudian dikembangkan secara radikal oleh Mullā Ṣadrā
melalui konsep tashkīk al-wujūd (gradasi wujud), yang menyatakan bahwa
wujud bukan hanya satu secara jenis, tetapi satu secara esensial dengan
intensitas yang berbeda-beda.⁴ Tingkatan tertinggi adalah Wujud Absolut
(Tuhan), sedangkan tingkatan terendah adalah wujud material yang paling lemah.
Model bertingkat ini menjadi fondasi bagi
metafisika karena menjelaskan bagaimana realitas dapat berkaitan satu sama lain
tanpa menghilangkan perbedaan ontologis di antara entitas.
3.2.
Metafisika sebagai Ilmu tentang Yang
Paling Universal dan Tertinggi
Ibn Sīnā menjelaskan bahwa metafisika mencakup tiga
ranah utama: (1) kajian tentang wujud sebagai wujud, (2) kajian tentang
prinsip-prinsip universal seperti esensi, kausalitas, dan kemungkinan, serta
(3) kajian tentang Tuhan sebagai Wujud Niscaya.⁵ Dengan demikian, ontologi
menjadi dasar metodologis bagi seluruh metafisika karena:
1)
Menjelaskan karakter universal dari wujud.
2)
Menjadi landasan bagi analisis esensi dan kategori-kategori universal.
3)
Menyediakan premis-premis logis untuk membuktikan eksistensi Tuhan.
Karena itu, metafisika dalam filsafat Islam
memiliki struktur yang sangat berbeda dari metafisika Aristoteles. Bagi
Aristoteles, teologi adalah bagian dari metafisika; bagi filsuf Muslim, justru
teologi metafisik menjadi tujuan puncaknya.⁶ Ontologi memungkinkan metafisika
untuk mencapai tujuan tersebut melalui pembuktian bahwa wujud niscaya harus ada
sebagai dasar bagi segala sesuatu.
3.3.
Hubungan Ontologi dengan Teologi
Metafisik
Dalam filsafat Islam, pembahasan tentang Tuhan (al-ilāhiyyāt)
tidak mungkin dilakukan tanpa memahami struktur wujud. Tuhan dipahami sebagai
Wujud Niscaya (Wājib al-Wujūd), entitas yang mustahil tidak ada dan
tidak menerima esensi yang terpisah dari keberadaan-Nya.²⁷ Konsep ini hanya
dapat dipahami dalam kerangka ontologis yang matang tentang:
·
perbedaan esensi dan eksistensi,
·
hierarki wujud,
·
kausalitas metafisik,
·
prinsip kesederhanaan (basāṭah) wujud Tuhan.
Ontologi menjadi dasar bagi teologi metafisik
karena tanpa konsep wujud, mustahil menjelaskan keberadaan Tuhan secara filosofis
dan bukan sekadar teologis.⁸ Oleh sebab itu, ontologi dalam filsafat Islam
tidak pernah netral; ia selalu diarahkan pada pembuktian tauhid sebagai prinsip
metafisika tertinggi.
3.4.
Ontologi sebagai Penghubung antara
Kosmologi dan Teologi
Kosmologi Islam menjelaskan struktur alam, proses
emanasi, hubungan antara intelek dan jiwa, serta keteraturan gerak benda-benda
langit. Namun, semua ini hanya dapat dimengerti jika sebelumnya fondasi
ontologis telah ditetapkan. Ontologi menyediakan kerangka metafisik untuk
menjelaskan:
1)
bagaimana wujud emanatif muncul dari sumber pertama,
2)
mengapa realitas tersusun secara hierarkis,
3)
bagaimana hubungan kausalitas metafisik bekerja tanpa kontradiksi,
4)
bagaimana tatanan kosmik tetap terjaga meskipun emanasi bukan proses temporal.⁹
Dengan demikian, ontologi menjadi landasan
konseptual bagi kosmologi dan memberikan struktur logis bagi seluruh teori
penciptaan dan keteraturan alam dalam filsafat Islam.
3.5.
Integrasi Ontologi dalam
Epistemologi Islam
Berbeda dari filsafat Barat modern yang sering
memisahkan ontologi dari epistemologi, tradisi Islam justru melihat hubungan
keduanya sebagai saling bergantung. Pengetahuan (ma‘rifah) dipahami
sebagai bentuk penyatuan antara subjek dan objek pada tingkat tertentu wujud.¹⁰
Karena itu, struktur wujud menentukan struktur pengetahuan:
·
semakin tinggi tingkat wujud suatu entitas, semakin jelas dan sempurna
pengetahuannya;
·
akal manusia dapat mengetahui realitas karena wujudnya memiliki
keterkaitan dengan wujud intelek aktif;
·
pengetahuan intuitif (kashf) menjadi mungkin karena
korespondensinya dengan tingkat wujud yang lebih tinggi.¹¹
Ontologi menjadi dasar bagi epistemologi metafisik,
di mana pengetahuan bukan sekadar representasi mental, tetapi partisipasi
ontologis dalam realitas.
3.6.
Orientasi Ontologi dalam Filsafat
Islam: Theology-First atau Ontology-First?
Filsafat Islam mengembangkan dua pendekatan besar:
1)
Pendekatan ontologis murni, misalnya Ibn Sīnā yang berangkat dari analisis wujud sebelum memasuki
teologi.
2)
Pendekatan teosentris, misalnya
tradisi kalām yang memulai pembahasan dari Tuhan kemudian menurunkannya kepada
wujud-wujud lain.¹²
Namun dalam beberapa pemikir besar seperti Mullā
Ṣadrā, kedua pendekatan ini disintesiskan: ontologi digunakan untuk menjelaskan
struktur wujud, tetapi orientasi final tetap tauhid.¹³ Karena itu, filsafat
Islam membentuk model metafisika yang unik: rasional, tetapi sekaligus teologis
dan spiritual.
Ontologi dalam filsafat Islam, dengan demikian,
bukan sekadar cabang metafisika tetapi menjadi fondasi keseluruhannya. Ia
menentukan bagaimana Tuhan dipahami, bagaimana alam dijelaskan, bagaimana jiwa
ditafsirkan, dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Tanpa ontologi yang
kokoh, metafisika Islam tidak akan mampu menyusun pandangan dunia yang utuh, rasional,
dan konsisten dengan prinsip-prinsip keislaman.
Footnotes
[1]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 51–53.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 7–9.
[3]
Muhammad Kamal, Mulla Sadra’s Transcendent
Philosophy (Aldershot: Ashgate, 2010), 23–25.
[4]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 44–49.
[5]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 62–65.
[6]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World
(Oxford: Oxford University Press, 2016), 72–75.
[7]
Ibn Sīnā, Al-Najāt, ed. Muhammad Yusuf Najm
(Beirut: Dar al-Āfāq, 1985), 218–221.
[8]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 87–90.
[9]
Al-Fārābī, Opinions of the People of the
Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Oxford University Press,
1985), 67–70.
[10]
Suhrawardī, The Philosophy of Illumination,
trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press,
1999), 45–52.
[11]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 92–97.
[12]
Harry Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 215–220.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 265–270.
4.
Konsep
Wujud (Being) dalam Filsafat Islam
Konsep wujūd
(being, eksistensi) merupakan pusat dari seluruh bangunan metafisika dalam
Filsafat Islam. Hampir semua persoalan metafisika — mulai dari pembahasan
tentang Tuhan, alam, jiwa, kausalitas, hingga pengetahuan — bertumpu pada
bagaimana para filsuf Muslim memahami apa itu wujud dan bagaimana struktur
internalnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah filsafat Islam dapat
dibaca sebagai sejarah perdebatan panjang mengenai makna wujūd,
statusnya, relasinya dengan māhiyyah (esensi), serta
derajat-derajatnya.¹
Wujud dipahami
sebagai sesuatu yang paling jelas bagi akal, namun sekaligus paling sukar
dijelaskan secara definisional. Para filsuf Muslim sejak awal sepakat bahwa
wujud merupakan konsep yang badīhī, yakni langsung tertangkap
oleh akal tanpa memerlukan definisi.² Namun, kesepakatan ini tidak menutup
perdebatan sistematis mengenai status ontologis wujud dan bagaimana wujud hadir
dalam segala yang ada.
Pembahasan berikut
merinci empat inti pokok dalam konsep wujud menurut tradisi filsafat Islam: (A)
wujud sebagai konsep paling universal, (B) distingsi wujud–esensi, (C) tiga
mazhab besar dalam ontologi Islam, dan (D) implikasi ontologis yang muncul dari
perbedaan ini.
4.1.
Wujud sebagai Konsep Paling
Universal dan Tidak Terdefinisikan
Para pemikir Muslim,
terutama al-Fārābī dan Ibn Sīnā, menegaskan bahwa wujūd adalah konsep yang paling
universal karena mencakup segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh akal.³
Tidak ada kategori yang lebih umum daripadanya: baik Tuhan, malaikat, jiwa,
benda material, maupun konsep-konsep mental semuanya termasuk dalam cakupan
wujud. Wujud tidak memiliki genus atau diferensia; karena itu ia tidak dapat
didefinisikan secara formal.⁴
Universalisme konsep
wujud menjadi landasan bagi seluruh kajian ontologi: apa pun yang dipikirkan
akal hanya mungkin dipikirkan sejauh ia dapat dikatakan “ada”. Hal ini
menjadikan wujud sebagai prasyarat bagi seluruh pengetahuan dan kebermaknaan.
4.2.
Distingsi antara Wujud dan Esensi
(Māhiyyah)
Distingsi antara
wujud (existence)
dan esensi (essence) merupakan temuan metafisik
paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Islam, terutama dalam karya Ibn
Sīnā.⁵ Menurutnya, esensi suatu benda adalah “apa sesuatu itu”,
sementara wujud adalah “bahwa sesuatu itu ada”. Esensi dapat dibayangkan
tanpa wujud, tetapi sesuatu tidak dapat dikatakan ada tanpa wujud itu sendiri.
Pembagian ini
memiliki beberapa konsekuensi metafisik penting:
1)
Makhluk bersifat kontingen:
esensinya tidak meniscayakan keberadaannya.
2)
Tuhan adalah satu-satunya
entitas yang esensinya sama dengan keberadaannya (wujūduhu ‘ayn dhātihi).⁶
3)
Penciptaan dijelaskan
sebagai pemberian wujud kepada esensi oleh sebab pertama.
Distingsi ini
menjadi dasar pembagian wujud menjadi tiga kategori: wājib
al-wujūd (niscaya), mumkin al-wujūd (kontingen), dan mustaḥīl
al-wujūd (mustahil).⁷
4.3.
Tiga Mazhab Besar tentang Wujud
dalam Filsafat Islam
Dalam tradisi
filsafat Islam, perdebatan mengenai status ontologis wujud melahirkan tiga
mazhab besar yang masing-masing memiliki dampak signifikan terhadap pemikiran
metafisika.
4.3.1.
Aṣālat al-Wujūd
(Primasi Wujud) — Mazhab Mullā Ṣadrā
Mazhab ini
berpandangan bahwa wujud adalah realitas fundamental, sedangkan esensi hanyalah
abstraksi mental yang dibuat oleh akal.⁸ Dengan demikian:
·
Realitas eksternal terdiri
dari intensitas-intensitas wujud.
·
Perbedaan antara entitas bukan
perbedaan esensial, tetapi perbedaan gradasional dalam wujud.
·
Realitas bersifat dinamis,
berubah melalui gerak substansial (al-ḥarakah al-jawhariyyah).⁹
Konsep tashkīk
al-wujūd (modulasi atau gradasi wujud) memungkinkan pemahaman bahwa
wujud bersifat satu tetapi memiliki tingkat intensitas yang beragam. Tuhan
adalah puncak intensitas tertinggi.
4.3.2.
Aṣālat al-Māhiyyah
(Primasi Esensi) — Mazhab Pasca-Ibn Sīnā dan Teolog
·
Dunia terdiri dari
esensi-esensi yang bisa ada atau tidak ada.
·
Wujud tidak memiliki
realitas independen, tetapi sekadar aktualisasi esensi.
·
Realitas menjadi statis dan
tidak dinamis seperti dalam mazhab Ṣadrā.
Mazhab ini cenderung
kompatibel dengan teologi kalām yang menekankan absolutnya kehendak Tuhan dalam
memberikan wujud kepada esensi kapan pun Ia menghendaki.
4.3.3.
Wahdat al-Wujūd
(Kesatuan Wujud) — Tradisi Ibn ‘Arabī dan Tasawuf
Mazhab ini tidak
berfokus pada wujud sebagai kategori metafisik abstrak, tetapi pada pengalaman
ontologis bahwa hanya satu wujud yang hakiki: Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan
hanyalah tajallī, refleksi, atau manifestasi dari Realitas Tunggal.¹¹
Implikasi konsep ini
meliputi:
·
Tidak ada realitas mandiri
selain Tuhan.
·
Perbedaan antara makhluk
dan Tuhan adalah perbedaan dalam mode manifestasi, bukan substansi.
·
Pengetahuan tertinggi
adalah penyaksian (mushāhadah) atas kesatuan wujud.¹²
Mazhab ini banyak
mempengaruhi perkembangan mistisisme filosofis Islam, termasuk pemikiran Mullā Ṣadrā,
meskipun dengan sintesis yang berbeda.
4.4.
Implikasi Ontologis Konsep Wujud
dalam Filsafat Islam
Perbedaan pemahaman
tentang wujud menghasilkan berbagai implikasi metafisik dan teologis yang
memperkaya tradisi filsafat Islam.
1)
Relasi Tuhan–alam
þ Dalam mazhab primasi wujud, alam adalah pancaran
bertingkat dari Realitas Absolut.
þ Dalam mazhab primasi esensi, alam adalah kumpulan
esensi yang menerima wujud dari Tuhan secara aktus.
2)
Struktur kosmos
þ Ontologi Ṣadrian menghasilkan kosmos yang dinamis
dan berkembang terus-menerus.
þ Ontologi Ibn Sīnā bersifat hierarkis tetapi statis.
3)
Pengetahuan dan kesadaran
þ Pengetahuan menjadi pengalaman ontologis dalam
tasawuf (ittihād al-‘āqil wa al-ma‘qūl).
4)
Identitas dan perubahan
þ Gerak substansial Ṣadrā memungkinkan pemahaman baru
tentang perubahan sebagai transformasi esensial wujud.¹³
Dengan demikian, konsep
wujud tidak hanya menjadi pusat metafisika, tetapi juga memengaruhi cara para
pemikir Muslim memahami Tuhan, dunia, dan diri manusia secara keseluruhan.
Footnotes
[1]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 63–67.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim Madkour (Cairo:
Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 12–14.
[3]
Al-Fārābī, Kitāb al-Ḥurūf, ed. Muhsin Mahdi (Beirut: Dar
al-Mashriq, 1969), 95–102.
[4]
Muhammad ‘Abd al-Jabbār al-Najjār, Dirāsāt fī al-Falsafah
al-Islāmiyyah (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1982), 54–56.
[5]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna (London:
Routledge, 1973), 22–27.
[6]
Ibn Sīnā, Al-Najāt, ed. Muhammad Yusuf Najm (Beirut: Dār
al-Āfāq, 1985), 214–218.
[7]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 105–109.
[8]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Foundation, 2002), 83–88.
[9]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics: Modulation of Being
(London: Routledge, 2009), 50–53.
[10]
Harry Wolfson, The Philosophy of the Kalam (Cambridge: Harvard
University Press, 1976), 244–249.
[11]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, ed. ‘Afīfī (Cairo: Dār al-Kitāb
al-‘Arabī, 1946), 87–95.
[12]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge (Albany: SUNY
Press, 1989), 112–118.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 276–281.
5.
Struktur
dan Hierarki Keberadaan
Struktur dan
hierarki keberadaan (nizām al-wujūd) merupakan fondasi
penting dalam metafisika Islam karena menjelaskan bagaimana realitas tersusun
secara bertingkat dari sumber pertama (Tuhan) hingga bentuk-bentuk keberadaan
paling rendah dalam dunia materi. Pemahaman ini lahir dari perpaduan antara
filsafat Yunani, terutama neoplatonisme dan peripatetisme, dengan
prinsip-prinsip teologis Islam yang menekankan keesaan Tuhan serta hubungan
kausal antara Tuhan dan alam. Dalam tradisi filsafat Islam, tatanan wujud tidak
dipahami sebagai sekadar klasifikasi statis, tetapi sebagai struktur ontologis
yang mendalam dan sistematis, di mana setiap tingkat memiliki identitas,
fungsi, serta hubungan sebab-akibat metafisik yang khas.¹
Konsep hierarki
keberadaan menempati posisi sentral karena menjembatani pemahaman mengenai
bagaimana wujud yang absolut, transenden, dan niscaya dapat berhubungan dengan
wujud yang kontingen, terbatas, dan berubah. Para filsuf Muslim mengembangkan
berbagai teori tentang struktur ini — mulai dari model emanasi, ontologi
cahaya, hingga gradasi wujud — yang semuanya berupaya menjelaskan keteraturan
kosmos dan hubungan antara Tuhan dan alam tanpa mengurangi kesempurnaan Ilahi.
5.1.
Pembagian Wujud: Wājib, Mumkin, dan
Mustaḥīl
Ibn Sīnā
memperkenalkan pembagian terkenal mengenai status keberadaan menjadi tiga kategori:
1)
Wājib al-Wujūd (Keberadaan
Niscaya) — entitas yang mustahil tidak ada dan keberadaannya bersifat
mandiri.
2)
Mumkin al-Wujūd
(Keberadaan Kontingen) — entitas yang esensinya tidak meniscayakan
keberadaannya; ia dapat ada atau tidak ada.
3)
Mustaḥīl al-Wujūd
(Keberadaan Mustahil) — sesuatu yang esensinya tidak mungkin
diwujudkan.²
Pembagian ini
menguraikan hierarki dasar realitas: Tuhan berada pada level niscaya, makhluk
berada pada level kontingen, dan ketidakmungkinan berada di luar cakupan wujud.
Struktur ini membentuk dasar bagi teori kausalitas metafisik yang kemudian
memengaruhi filsafat-filsafat sesudahnya.
5.2.
Emanasi dan Struktur Intelek dalam
Kosmologi Peripatetik
Dalam filsafat
al-Fārābī dan Ibn Sīnā, hierarki wujud dijelaskan melalui teori emanasi (fayḍ),
sebuah model metafisik yang menggambarkan bagaimana wujud mengalir dari sumber
pertama ke tingkat-tingkat realitas berikutnya, tanpa merusak kesempurnaan
sumber tersebut.³
Proses emanasi
digambarkan sebagai berikut:
1)
Dari Wājib al-Wujūd
memancar Akal Pertama (al-‘Aql al-Awwal).
2)
Akal Pertama memancarkan tiga
entitas: dirinya sendiri, Akal Kedua, dan langit pertama.
3)
Proses ini berlanjut hingga
tercapai Akal Kesepuluh (al-‘Aql al-Fa‘‘āl) yang terkait
dengan dunia sublunaris.⁴
Hierarki emanatif ini
menghasilkan kosmos yang sangat terstruktur, di mana setiap tingkat wujud
memiliki:
·
asal kausal
(sebab metafisik),
·
fungsi kosmologis,
·
derajat
kesempurnaan, dan
·
relasi eksistensial
dengan Tuhan.
Model ini membentuk
dasar pemikiran tentang tatanan universal yang rasional, teratur, dan memiliki
arah penciptaan yang jelas.
5.3.
Ontologi Cahaya (Ishrāq) Suhrawardī
Suhrawardī
menghadirkan model alternatif mengenai struktur wujud, yakni melalui metafisika
cahaya. Ia menolak kerangka esensi–eksistensi peripatetik dan menggantinya
dengan teori bahwa realitas pada dasarnya adalah cahaya
dalam berbagai intensitasnya.⁵
Struktur hierarki
cahaya mencakup:
1)
Cahaya Cahaya (Nūr
al-Anwār) — wujud tertinggi, identik dengan Tuhan.
2)
Cahaya dominan (al-anwār
al-qāhirah) — entitas intelektual yang memancarkan cahaya ke tingkat
bawah.
3)
Cahaya terkelola (al-anwār
al-mudabbirah) — jiwa-jiwa yang mengatur tubuh dan realitas alamiah.
4)
Cahaya bercampur kegelapan
— benda-benda fisik yang paling rendah tingkat wujudnya.⁶
Hierarki ini bersifat
vertikal dan simbolik, menggambarkan hubungan antara kesempurnaan, pengetahuan,
dan keberadaan melalui intensitas cahaya. Semakin kuat cahaya, semakin tinggi
tingkat wujud; semakin gelap, semakin rendah.
5.4.
Gradasi Wujud dan Gerak Substansial
dalam Filsafat Mullā Ṣadrā
Puncak pemikiran
ontologi hierarkis dalam filsafat Islam muncul dalam Hikmah
Muta‘āliyyah yang dikembangkan oleh Mullā Ṣadrā. Ia memperkenalkan
dua gagasan kunci tentang struktur wujud:
5.4.1.
Tashkīk al-Wujūd
(Modulasi atau Gradasi Wujud)
Menurut Ṣadrā, wujud
adalah satu secara esensial tetapi hadir dalam berbagai tingkat intensitas.⁷
Gradasi wujud
menjelaskan:
·
hubungan ontologis antara
semua tingkat realitas,
·
perbedaan antara Tuhan dan
makhluk tanpa memisahkan keduanya secara radikal,
·
bagaimana realitas duniawi
merupakan tingkat lemah dari wujud yang sama.
5.4.2.
Al-Ḥarakah
al-Jawhariyyah (Gerak Substansial)
Ṣadrā menegaskan
bahwa substansi bukanlah statis, melainkan selalu bergerak dan berkembang.⁸
Implikasi gerak
substansial bagi hierarki wujud:
·
dunia material bukan hanya
berubah dalam aksiden, tetapi dalam substansinya;
·
jiwa manusia bergerak naik
dalam struktur wujud menuju kesempurnaan;
·
alam semesta adalah proses
dinamis yang mengarah pada intensifikasi wujud.
Dengan demikian,
hierarki wujud dalam filsafat Ṣadrā bersifat dinamis, tidak hanya statis
seperti dalam model peripatetik.
5.5.
Hubungan Vertikal dan Horizontal
dalam Struktur Wujud
Struktur wujud dalam
filsafat Islam tidak hanya dipahami secara vertikal (dari Tuhan hingga materi),
tetapi juga secara horizontal sebagai hubungan sebab akibat dan interaksi
antar-entitas dalam dunia alam.
Struktur vertikal
menjelaskan:
·
tatanan kosmik,
·
kesempurnaan bertingkat,
·
hubungan antara yang
transenden dan yang imanen.
Struktur horizontal
menjelaskan:
·
perubahan,
·
kausalitas,
·
hubungan antar-substansi di
dunia fisik.⁹
Kedua struktur ini
bekerja bersama membentuk realitas yang utuh, rasional, dan harmonis.
5.6.
Posisi Manusia dalam Hierarki
Keberadaan
Manusia menempati
posisi unik dalam struktur wujud karena memiliki dimensi material dan
immaterial. Dalam kosmologi Ibn Sīnā, jiwa manusia berasal dari Akal Fa‘al dan
memiliki potensi kesempurnaan intelektual. Dalam filsafat Ṣadrā, jiwa manusia
bergerak dari materialitas menuju imaterialitas melalui proses penyempurnaan
diri.¹⁰
Dengan demikian,
manusia adalah entitas yang memungkinkan transisi antara tingkat-tingkat wujud,
menjadikannya pusat signifikan dalam struktur ontologis Islam.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present
(Albany: SUNY Press, 2006), 187–192.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim Madkour (Cairo:
Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 30–35.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 112–115.
[4]
Peter Adamson, The Arabic Plotinus (London: Duckworth, 2002),
98–102.
[5]
Shahab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination,
trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press,
1999), 39–44.
[6]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination (Atlanta: Scholars
Press, 1990), 72–79.
[7]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics: Modulation of Being
(London: Routledge, 2009), 51–60.
[8]
Muhammad Kamal, Mulla Sadra’s Transcendent Philosophy
(Aldershot: Ashgate, 2010), 75–81.
[9]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 97–101.
[10]
William Chittick, The Elixir of the Gnostics (Provo: Brigham
Young University Press, 2003), 89–95.
6.
Tuhan
sebagai Wujud Tertinggi dalam Ontologi Islam
Konsepsi tentang Tuhan sebagai Wujūd Tertinggi
merupakan puncak dari keseluruhan struktur ontologi dalam filsafat Islam. Dalam
kerangka metafisika para filsuf Muslim, Tuhan tidak hanya dipahami sebagai
sebab pertama (al-sabab al-awwal) atau pencipta alam, tetapi sebagai Wājib
al-Wujūd (Wujud Niscaya) — entitas yang keberadaannya mutlak, tidak
memerlukan sebab, dan menjadi dasar bagi seluruh wujud lainnya.¹ Gagasan ini
menegaskan bahwa seluruh realitas memperoleh keberadaan dari-Nya, tetapi
keberadaan-Nya sendiri tidak bergantung pada apa pun. Dengan demikian, Tuhan
menempati posisi paling puncak dalam hierarki keberadaan, sekaligus menjadi
sumber emanasi, kesempurnaan, dan tatanan kosmis.
6.1.
Wājib al-Wujūd: Identitas Wujud dan
Esensi
Ibn Sīnā memberikan formulasi paling sistematis
mengenai Wājib al-Wujūd. Menurutnya, Tuhan adalah satu-satunya entitas yang
esensinya identik dengan wujudnya (wujūduhu ‘ayn dhātihi).² Tidak
seperti makhluk yang memiliki esensi terpisah dari eksistensinya — sehingga
bersifat kontingen — Tuhan tidak memiliki “apa” selain “bahwa Ia ada.”
Inilah dasar ontologis yang membuat keberadaan Tuhan niscaya secara mutlak.³
Ketiadaan perbedaan antara wujud dan esensi ini
menghasilkan sejumlah sifat metafisik yang melekat pada Tuhan:
1)
Kesederhanaan absolut (basāṭah): Tuhan tidak tersusun dari bagian-bagian.
2)
Ketidakterubahan: perubahan
mengandaikan potensi, sedangkan Tuhan adalah aktualitas murni.
3)
Kekekalan:
keberadaan-Nya tidak didahului ketiadaan.
4)
Kemandirian ontologis: Tuhan
tidak membutuhkan sebab eksternal untuk ada.
Gagasan ini membentuk fondasi seluruh teologi
filosofis Islam dan diterima, dengan berbagai modifikasi, oleh hampir seluruh
tradisi filsafat Islam setelah Ibn Sīnā.
6.2.
Tuhan sebagai Sumber Emanasi dan
Keteraturan Kosmos
Dalam kerangka peripatetik, hubungan antara Tuhan
dan alam digambarkan melalui teori emanasi (fayḍ), yakni aliran wujud
yang keluar dari Tuhan tanpa mengurangi kesempurnaan-Nya.⁴ Tuhan, sebagai wujud
paling sempurna, memancarkan Akal Pertama, yang kemudian menjadi sumber emanasi
tingkat berikutnya.
Model ini menunjukkan bahwa:
·
Tuhan adalah asal seluruh wujud tanpa mengalami perubahan.
·
Alam merupakan struktur hierarkis yang memancar dari kesempurnaan Tuhan.
·
Setiap entitas berada dalam jaringan kausalitas metafisik yang berujung
pada Wujud Niscaya.⁵
Emanasi bukanlah proses temporal, melainkan relasi
ontologis yang menggambarkan ketergantungan mutlak seluruh realitas pada Tuhan.
Penekanan pada keteraturan kosmos menunjukkan bahwa keberadaan alam bukan
sesuatu yang acak, tetapi terkait erat dengan keharusan metafisik dari Wujud
Tertinggi.
6.3.
Keesaan Tuhan: Aḥadiyyah dan
Wāḥidiyyah
Filsafat Islam membedakan dua jenis keesaan Tuhan,
yang keduanya memiliki dimensi ontologis mendalam:
1)
Aḥadiyyah — keesaan
mutlak, tanpa bagian, tanpa sifat yang berdiri sendiri, dan tanpa kemungkinan
pembagian.⁶
2)
Wāḥidiyyah — keesaan
dalam arti bahwa seluruh kesempurnaan berasal dari satu sumber.
Keesaan ini bukan sekadar sifat teologis, tetapi
merupakan struktur dasar realitas. Kesatuan Tuhan menjelaskan mengapa:
·
realitas bersifat koheren dan teratur,
·
seluruh wujud kembali kepada satu sumber,
·
tidak ada dualisme kosmis dalam metafisika Islam,
·
pluralitas tidak meniadakan kesatuan ontologis tertinggi.
Dengan demikian, tauhid dalam filsafat Islam bukan
hanya pernyataan keagamaan, tetapi prinsip metafisika tertinggi.
6.4.
Tuhan sebagai Actualitas Murni dan
Sebab Non-Material
Para filsuf Muslim mengembangkan konsep Tuhan
sebagai aktualitas murni (al-fi‘l al-maḥḍ), tanpa potensi sedikit
pun. Konsep ini diadaptasi dari Aristoteles, tetapi ditafsirkan ulang agar
sesuai dengan teologi Islam.⁷
Tuhan adalah:
·
sebab efisien pertama, karena Ia
memberi wujud kepada segala sesuatu;
·
sebab final, karena
seluruh entitas bergerak menuju kesempurnaan yang bersumber pada-Nya;
·
sebab formal universal, karena pola keteraturan kosmos berasal dari kesempurnaan-Nya.⁸
Dengan demikian, Tuhan memainkan tiga peran kausal
sekaligus dalam tatanan metafisika Islam, menjadikannya sebagai pusat seluruh
relasi eksistensial.
6.5.
Konsep Tajallī dan Manifestasi dalam
Tasawuf
Dalam tradisi Ibn ‘Arabī dan para sufi, Tuhan
dipahami sebagai Wujud Absolut yang memanifestasikan diri-Nya melalui tajallī
(penampakan). Wujud selain Tuhan bukanlah entitas independen, melainkan
bentuk-bentuk manifestasi Realitas Tunggal.⁹
Keyakinan ini melahirkan konsep wahdat al-wujūd,
di mana:
·
perbedaan antara Tuhan dan makhluk bukan perbedaan substansial, tetapi
perbedaan tingkat manifestasi;
·
alam dipahami sebagai cermin bagi Tuhan;
·
pengetahuan tertinggi adalah penyaksian langsung (mushāhadah) terhadap
kesatuan wujud.¹⁰
Pandangan ini memperkaya konsep Tuhan dalam
filsafat Islam dengan dimensi spiritual dan eksistensial yang lebih mendalam.
6.6.
Penolakan Kekurangan dan Penegasan
Kesempurnaan Mutlak Tuhan
Sebagai Wujud Tertinggi, Tuhan tidak mengandung
kekurangan apa pun. Para filsuf Muslim sepakat bahwa segala kesempurnaan wujud
— seperti ilmu, kehendak, kekuasaan, kehidupan, dan kebaikan — ada pada Tuhan
dalam tingkat paling sempurna.¹¹
Dengan demikian:
1)
Sifat-sifat Tuhan tidak terpisah dari Zat-Nya, sehingga tidak menimbulkan pluralitas dalam wujud
Tuhan.
2)
Seluruh kebaikan berasal dari Tuhan, sedangkan keburukan adalah ketiadaan atau kelemahan wujud.¹²
3)
Tuhan menjadi tolok ukur kesempurnaan bagi semua entitas lain dalam struktur wujud.
Konsep ini menegaskan bahwa seluruh wujud adalah
partisipasi dalam keberadaan Tuhan, dan bahwa kesempurnaan apa pun yang
dimiliki makhluk adalah derivatif dari-Nya.
Kesimpulan
Ontologis
Posisi Tuhan sebagai Wujud Tertinggi menyatukan
seluruh aspek ontologi Islam:
·
Tuhan adalah sumber, puncak, dan tujuan wujud.
·
Struktur realitas adalah emanasi atau manifestasi dari kesempurnaan-Nya.
·
Ketergantungan ontologis makhluk pada Tuhan bersifat mutlak.
·
Tauhid merupakan prinsip metafisika fundamental, bukan sekadar doktrin
keagamaan.
Dengan demikian, ontologi Islam bukan hanya
menjelaskan realitas, tetapi juga mengarahkan akal manusia untuk memahami
keterhubungan seluruh wujud dengan Tuhan sebagai pusat eksistensi.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 101–104.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 39–44.
[3]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 87–92.
[4]
Peter Adamson, The Arabic Plotinus (London:
Duckworth, 2002), 134–140.
[5]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 112–115.
[6]
Al-Fārābī, Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah,
ed. al-Fārūqī (Beirut: Dār al-Mashriq, 1973), 55–58.
[7]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross
(Oxford: Clarendon Press, 1924), 1072b–1073a.
[8]
F. Rahman, Avicenna’s Psychology (London:
Oxford University Press, 1952), 121–124.
[9]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, ed. Abū al-‘Alā
‘Afīfī (Cairo: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1946), 113–120.
[10]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 135–139.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred
(Albany: SUNY Press, 1989), 214–219.
[12]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed.
Muhammad Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 266–270.
7.
Ontologi
Alam dan Makhluk
Ontologi alam dan makhluk dalam filsafat Islam
membahas struktur dasar realitas selain Tuhan, termasuk bagaimana alam
diwujudkan, bagaimana substansi dan aksiden dibedakan, serta bagaimana makhluk
memperoleh, mempertahankan, dan meniscayakan keberadaannya. Dalam kerangka
metafisika Islam, alam tidak dipahami sebagai entitas mandiri, tetapi sebagai
wujud kontingen yang keberadaannya hanya mungkin (imkān) karena menerima
pancaran wujud dari Tuhan.¹ Dengan demikian, seluruh makhluk—baik materiil
maupun immateriil—ditempatkan dalam struktur hierarkis wujud yang
bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kesempurnaan dan aktualitasnya.
Pembahasan ontologi alam melibatkan berbagai aspek:
status metafisik makhluk, hubungan antara substansi dan aksiden, teori
kausalitas dan emanasi, serta hubungan antara potensi dan aktualitas. Tak hanya
itu, perbedaan pandangan antara para filsuf peripatetik, iluminasi, teolog, dan
sufi turut memperkaya pemahaman tentang bagaimana alam semesta dipahami secara
ontologis.
7.1.
Hakikat Alam sebagai Wujud Kontingen
Para filsuf Muslim sepakat bahwa alam merupakan mumkin
al-wujūd (wujud kontingen), yaitu wujud yang esensinya tidak meniscayakan
keberadaannya.² Alam tidak dapat eksis dengan sendirinya; ia memerlukan sebab
yang memberi wujud kepadanya. Posisi ini berlawanan dengan pandangan materialis
kuno yang menganggap alam sebagai sesuatu yang kekal secara mandiri.
Kontingensi alam memiliki beberapa implikasi
ontologis:
1)
Alam selalu bergantung pada Tuhan, baik dalam penciptaan maupun keberlangsungannya.
2)
Alam bersifat temporal dalam relasi kausal, sekalipun proses penciptaannya tidak harus
dipahami secara temporal dalam pengertian harfiah.
3)
Setiap perubahan dalam alam bersifat derivatif, mengikuti struktur kausalitas metafisik yang
berpangkal pada Wujud Niscaya.³
Dengan demikian, alam merupakan wujud yang
eksistensinya selalu berada dalam ketergantungan penuh kepada Tuhan.
7.2.
Substansi dan Aksiden dalam Ontologi
Peripatetik
Para filsuf peripatetik seperti al-Fārābī dan Ibn
Sīnā menggunakan kerangka Aristotelian tentang substansi (jawhar) dan
aksiden (‘araḍ) untuk menjelaskan struktur wujud makhluk. Substansi
merupakan entitas yang berdiri sendiri, sedangkan aksiden adalah atribut yang
melekat dan hanya ada dalam substansi.⁴
Ibn Sīnā membagi substansi menjadi lima kategori:
1)
Jisim (body)
2)
Jauhar basīṭ (simple
substance)
3)
Nafs (soul)
4)
‘Aql (intellect)
5)
Hayūlā (prime
matter)⁵
Aksiden mencakup kategori-kategori seperti
kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, posisi, kepemilikan, aksi, dan
reaksi. Pembagian ini menjadi dasar bagi analisis metafisis yang mendalam
mengenai perubahan, gerak, dan hubungan antar-entitas di alam.
7.3.
Empat Sebab Aristotelian dan
Relevansinya dalam Filsafat Islam
Ontologi alam dalam filsafat Islam juga mengadopsi
empat sebab Aristotelian:
1)
Sebab material (al-‘illah
al-māddiyyah)
2)
Sebab formal (al-‘illah
al-ṣūriyyah)
3)
Sebab efisien (al-‘illah
al-fā‘iliyyah)
4)
Sebab final (al-‘illah
al-ghā’iyyah)⁶
Namun, para filsuf Muslim menambahkan bahwa
sebab-sebab ini pada akhirnya berujung pada Tuhan sebagai sebab pertama. Tuhan
tidak hanya menjadi sebab efisien, tetapi juga menjadi sebab final, karena
segala sesuatu bergerak menuju kesempurnaan yang bersumber dari-Nya.⁷
Dengan demikian, struktur kausalitas alam
memperlihatkan keterkaitan erat antara metafisika alam dan teologi.
7.4.
Potensi dan Aktualitas dalam
Keberadaan Makhluk
Konsep potensi (quwwah) dan aktualitas (fi‘l)
merupakan bagian fundamental dari ontologi alam. Potensi adalah kemampuan suatu
entitas untuk menerima bentuk atau perubahan, sementara aktualitas adalah
realisasi dari potensi tersebut.⁸
Dalam filsafat Islam:
·
Materi pertama (hayūlā) adalah potensi murni.
·
Bentuk (ṣūrah) adalah
aktualitas yang menghidupkan potensi.
·
Substansi bergerak dari potensi menuju aktualitas dalam gerak esensial yang meniscayakan perubahan.⁹
Konsep ini menjadi penting dalam memahami dinamika
alam, terutama gerak, perubahan, dan perkembangan makhluk hidup.
7.5.
Dunia Material dan Dunia Immaterial
Filsafat Islam umumnya membagi realitas menjadi dua
ranah besar:
1)
Dunia material (alam mulk) — ditandai oleh ruang, waktu, gerak, dan perubahan.
2)
Dunia immaterial (alam malakūt atau jabarūt) — ditandai oleh ketidakberubahan, kesempurnaan,
dan keberadaan intelektual.¹⁰
Dalam filsafat Suhrawardī, dunia immaterial terdiri
dari tingkatan cahaya; dalam filsafat Ibn Sīnā, dunia immaterial mencakup
intelek-intelek terpisah; sedangkan dalam tasawuf Ibn ‘Arabī, dunia immaterial
adalah ranah bentuk-bentuk maknawi (a‘yān tsābitah).
Pembagian ini menunjukkan bahwa struktur wujud
makhluk tidak hanya fisik, tetapi multidimensional.
7.6.
Alam sebagai Tanda (Āyah) dan Tujuan
Keberadaannya
Di samping penjelasan ontologis, para filsuf Muslim
melihat alam sebagai tanda dari Tuhan. Alam bukan sekadar wujud kontingen,
tetapi mengandung makna dan tujuan (ghāyah).¹¹
Alam:
·
menunjukkan keteraturan kosmis,
·
menjadi jalan bagi manusia mengenal Tuhan melalui refleksi,
·
berfungsi sebagai “cermin” bagi sifat-sifat kesempurnaan Ilahi.
Filsafat Islam menggabungkan ontologi dengan
teleologi; alam bukan kebetulan metafisik, tetapi bagian dari sistem makna yang
menghubungkan makhluk dengan Sang Pencipta.
7.7.
Ontologi Dinamis dalam Filsafat
Mullā Ṣadrā
Mullā Ṣadrā mereformulasi seluruh pemahaman tentang
alam melalui konsep gerak substansial (al-ḥarakah al-jawhariyyah).
Dalam pandangannya:
·
materi tidak statis,
·
substansi berubah secara berkesinambungan,
·
alam adalah proses spiritual yang bergerak menuju tingkat wujud lebih
tinggi.¹²
Pandangan ini menjadikan seluruh alam sebagai
perjalanan eksistensial dari potensi menuju aktualitas spiritual. Manusia,
sebagai entitas alam yang sempurna, menjadi pusat transformasi dalam struktur
ontologis ini.
Kedudukan
Makhluk sebagai Manifestasi Derivatif
Dalam tasawuf falsafi, makhluk dipahami sebagai manifestasi
derivatif dari wujud Tuhan. Seluruh keberagaman makhluk hanyalah penampakan
tingkat rendah dari wujud Ilahi yang satu.¹³
Dengan demikian:
·
keberadaan makhluk tidak independen,
·
eksistensi mereka bersifat pinjaman,
·
makhluk tidak memiliki wujud selain sebagai bayangan dari Realitas
Tunggal.
Pemikiran ini memperkaya pemahaman ontologis
tentang makhluk dengan dimensi fenomenologis dan spiritual.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 175–178.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 43–45.
[3]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 97–101.
[4]
Al-Fārābī, Kitāb al-Ḥurūf, ed. Muhsin Mahdi
(Beirut: Dār al-Mashriq, 1969), 122–125.
[5]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 88–92.
[6]
Aristotle, Physics, trans. R. P. Hardie and
R. K. Gaye (Oxford: Clarendon Press, 1930), 194–197.
[7]
Peter Adamson, Al-Kindi (Oxford: Oxford
University Press, 2007), 121–124.
[8]
Ibn Sīnā, Al-Najāt, ed. Muhammad Yusuf Najm
(Beirut: Dār al-Āfāq, 1985), 205–209.
[9]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 109–112.
[10]
Suhrawardī, The Philosophy of Illumination,
trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press,
1999), 76–81.
[11]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious
Thought in Islam (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1962), 75–78.
[12]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 66–72.
[13]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, ed. ‘Afīfī
(Cairo: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1946), 105–112.
8.
Hubungan
Jiwa, Akal, dan Materi dalam Perspektif Ontologis
Hubungan antara jiwa (nafs), akal (‘aql),
dan materi (māddah) merupakan salah satu tema sentral dalam ontologi
filsafat Islam. Ketiganya tidak dipahami sebagai entitas-entitas terpisah,
melainkan sebagai unsur-unsur yang saling berkaitan dalam struktur hierarkis
wujud yang bersifat dinamis. Para filsuf Muslim berupaya menjelaskan bagaimana
makhluk hidup—khususnya manusia—memiliki kedudukan ontologis khusus karena
menggabungkan dimensi material, psikis, dan intelektual sekaligus.¹
Pemikiran mengenai relasi jiwa, akal, dan materi
tidak hanya memiliki fungsi psikologis, tetapi juga metafisik: ia menjelaskan
bagaimana sesuatu yang imaterial dapat hadir dalam dunia material, dan
bagaimana manusia dapat mencapai kesempurnaan ontologis melalui perkembangan
jiwa dan akalnya. Dalam tradisi filsafat Islam, persoalan ini berkaitan erat
dengan teori bentuk dan materi, gerak substansial, emanasi intelektual, serta
hierarki kesadaran.
8.1.
Jiwa sebagai Substansi Immaterial
yang Mengaktualkan Materi
Ibn Sīnā mendefinisikan jiwa sebagai “kesempurnaan
pertama bagi tubuh yang memiliki alat-alat.”² Jiwa bukan sekadar fungsi
biologis, tetapi sebuah substansi yang bersifat imaterial dan bertugas:
1)
menghidupkan tubuh,
2)
mengatur organ-organ,
3)
menggerakkan tubuh, dan
4)
memungkinkan persepsi serta pengetahuan.³
Namun, meskipun bersifat imaterial, jiwa hadir
dalam tubuh sebagai bentuk (ṣūrah) bagi materi (māddah). Jiwa
tidak bergantung secara ontologis pada tubuh untuk eksistensinya, tetapi ia
menggunakan tubuh sebagai instrumen.⁴
Keterhubungan ini menjadikan jiwa perantara antara
dunia materi dan dunia intelektual, sekaligus menjelaskan kemampuan manusia
untuk bergerak menuju kesempurnaan spiritual.
8.2.
Hubungan Materi dan Bentuk: Fondasi
Ontologi Jiwa
Ontologi peripatetik memandang materi sebagai
potensi murni yang tidak memiliki aktualitas tanpa bentuk.⁵ Jiwa, sebagai
bentuk tubuh, memberi aktualitas pada materi, sehingga tubuh menjadi entitas
hidup.
Menurut Ibn Sīnā:
·
Materi pertama (hayūlā al-ūlā) tidak dapat eksis tanpa bentuk.
·
Jiwa vegetatif, jiwa hewani, dan jiwa rasional merupakan tingkatan
bentuk yang mengaktualkan kompleksitas materi.⁶
·
Tubuh adalah instrumen (ālah) bagi jiwa untuk beroperasi di dunia
fisik.
Relasi ini menunjukkan bahwa materi adalah wadah
bagi jiwa, sementara jiwa adalah pengaktual materi. Tanpa jiwa, tubuh hanyalah
raga tanpa fungsi atau kesadaran.
8.3.
Peran Akal dalam Struktur Wujud dan
Pengetahuan
Akal dalam filsafat Islam bukan hanya kemampuan
berpikir, tetapi entitas ontologis yang memiliki kedudukan dalam hierarki
wujud. Dalam kosmologi emanatif:
1)
Akal-akal terpisah (al-‘uqūl
al-mufāriqah) merupakan tingkat wujud di atas jiwa.
2)
Akal manusia merupakan
jiwa rasional yang dapat berhubungan dengan Akal Fa‘al.
3)
Akal Fa‘al (al-‘aql
al-fa‘‘āl) adalah sumber bentuk-bentuk dan pengetahuan.⁷
Proses inteleksi (ta‘aqqul) dalam diri
manusia dipahami sebagai penyatuan antara akal subjek dengan bentuk-bentuk
inteligibel (al-ṣuwar al-‘aqliyyah) yang dipancarkan oleh Akal Fa‘al.⁸
Dengan demikian, akal manusia:
·
mengaktualkan potensi intelektual jiwa,
·
menjadi jalan menuju pengetahuan hakiki,
·
dan memainkan peran ontologis sebagai penghubung antara dunia immaterial
dan material.
8.4.
Jiwa sebagai Wujud Bergradasi:
Filsafat Mullā Ṣadrā
Mullā Ṣadrā menawarkan paradigma baru dalam
memahami relasi jiwa, akal, dan materi melalui teori gerak substansial (al-ḥarakah
al-jawhariyyah). Menurutnya:
·
Jiwa bermula sebagai substansi material pada awal pembentukan janin.
·
Ia bergerak secara substansial menuju tingkat wujud yang semakin tinggi.
·
Ia mencapai imaterialitas sempurna ketika berkembang menjadi jiwa
rasional.⁹
Proses ini menunjukkan bahwa jiwa bukan entitas
statis, tetapi wujud yang secara ontologis berkembang. Dengan demikian:
1)
Jiwa adalah bentuk tubuh pada awalnya.
2)
Melalui inteleksi dan kesempurnaan moral, jiwa menjadi semakin
immaterial.
3)
Pada puncaknya, jiwa terhubung dengan tingkat intelektual dan
meninggalkan keterikatan material.¹⁰
Paradigma ini mengintegrasikan ontologi,
epistemologi, dan spiritualitas dalam kerangka dinamis.
8.5.
Hubungan Jiwa dan Akal dalam Tasawuf
Falsafi
Dalam tradisi sufi, jiwa dipahami sebagai entitas
yang memiliki dimensi spiritual lebih dalam daripada definisi peripatetik. Ibn
‘Arabī membedakan antara:
·
nafs,
·
rūḥ,
·
dan sirr (hakikat terdalam manusia).¹¹
Akal dalam tasawuf bukan sekadar kemampuan
rasional, tetapi cahaya yang memancarkan pengetahuan intuitif (ma‘rifah).
Hubungan jiwa dan akal bukan hanya hubungan epistemologis, tetapi juga
ontologis:
·
Akal menyingkap realitas ilahi melalui penyaksian.
·
Jiwa menjadi tempat manifestasi sifat-sifat ilahi.
·
Materi dipandang sebagai tirai yang menghalangi penyaksian langsung.¹²
Pendekatan ini melengkapi filsafat peripatetik
dengan dimensi fenomenologis dan mistis.
8.6.
Interaksi Jiwa, Akal, dan Materi
dalam Pembentukan Kesadaran Manusia
Dalam filsafat Islam, kesadaran manusia adalah
hasil interaksi tiga unsur:
1)
Materi —
menyediakan wadah bagi pengalaman inderawi.
2)
Jiwa —
mengintegrasikan pengalaman indera, emosi, dan gerak.
3)
Akal —
mengabstraksi makna, mengolah konsep, dan menghubungkan manusia dengan realitas
immaterial.
Proses kesadaran terdiri atas:
·
penyerapan informasi melalui indera,
·
pengolahan oleh imajinasi dan memori,
·
transformasi oleh akal menjadi pengetahuan universal,
·
integrasi pengetahuan dalam jiwa sehingga menjadi kesempurnaan
ontologis.¹³
Dengan demikian, pencapaian kesempurnaan
intelektual bukan sekadar proses kognitif, tetapi perjalanan eksistensial yang
meningkatkan tingkat wujud manusia.
Hubungan
Ontologis sebagai Dasar Etika dan Spiritualitas
Relasi antara jiwa, akal, dan materi tidak hanya
bersifat metafisik, tetapi juga memberikan dasar bagi etika dan spiritualitas.
Karena jiwa mampu bergerak menuju kesempurnaan:
·
akal menjadi instrumen pembersihan jiwa,
·
materi menjadi arena latihan kesempurnaan moral,
·
kesadaran menjadi indikator tingkat wujud seseorang.¹⁴
Dengan demikian, kesempurnaan etis tidak
terpisahkan dari kesempurnaan ontologis.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 131–136.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Nafs min Kitāb al-Shifā’, ed.
F. Rahman (Oxford: Oxford University Press, 1959), 5–7.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 140–145.
[4]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 50–54.
[5]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross
(Oxford: Clarendon Press, 1924), 1041–1045.
[6]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Tabi‘iyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 112–118.
[7]
Al-Fārābī, Risālah fī al-‘Aql, ed. M.
Bouyges (Beirut: Dar al-Mashriq, 1983), 32–37.
[8]
F. Rahman, Avicenna’s Psychology (London:
Oxford University Press, 1952), 67–72.
[9]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed.
Muhammad Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 315–322.
[10]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 82–89.
[11]
Ibn ‘Arabī, Futūḥāt al-Makkiyyah, ed.
‘Uthmān Yahyyā (Cairo: Al-Hay’ah al-Miṣriyyah, 1972), 256–262.
[12]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 101–109.
[13]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 153–158.
[14]
Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 212–218.
9.
Ontologi
Mistis dan Transendensi dalam Tasawuf Falsafi
Ontologi mistis dalam tasawuf falsafi merupakan
salah satu puncak perkembangan metafisika Islam, karena memadukan intuisi
spiritual, pengalaman mistik, dan kerangka metafisik yang sistematis. Jika
filsafat peripatetik cenderung rasional-deduktif dan filsafat iluminasi
bersifat intuitif-simbolik, maka tasawuf falsafi menambah dimensi
eksistensial—yakni pengalaman langsung mengenai realitas tertinggi.¹ Dalam
tradisi ini, ontologi tidak hanya sekadar menjelaskan struktur wujud, tetapi
juga mengungkap cara wujud itu menyingkapkan diri kepada kesadaran manusia.
Realitas dipahami bukan hanya sebagai sesuatu yang “ada”, tetapi sebagai
sesuatu yang dihayati, dialami, dan disaksikan
(mushāhadah).
Tasawuf falsafi berupaya mengatasi keterbatasan
pendekatan filosofis yang murni rasional dengan menghadirkan perspektif yang
menekankan penyatuan eksistensial antara subjek dan objek, antara manusia dan
Realitas Mutlak. Dalam kerangka ini, transendensi Ilahi tidak dipahami sebagai
keterpisahan absolut, tetapi sebagai keagungan yang memancar melalui segala
bentuk wujud.
9.1.
Wujud sebagai Realitas Tunggal:
Konsep Wahdat al-Wujūd
Konsep paling berpengaruh dalam ontologi tasawuf
falsafi adalah wahdat al-wujūd (kesatuan wujud), yang paling terkenal
dikaitkan dengan Ibn ‘Arabī.² Menurutnya:
·
Hanya ada satu wujud sejati: Tuhan.
·
Segala sesuatu selain Tuhan bukanlah wujud yang independen, tetapi
manifestasi atau tajallī dari wujud Tuhan.
·
Pluralitas wujud hanyalah bayangan dari satu realitas absolut yang sama.
Ibn ‘Arabī menjelaskan bahwa alam raya bukan “sesuatu
selain Tuhan” (lā huwa wa lā ghayruhu).³ Artinya, alam tidak identik
dengan Tuhan, tetapi juga tidak terlepas dari-Nya. Alam adalah relasi, cermin,
atau pancaran keberadaan Ilahi dalam bentuk-bentuk yang beragam.
Pandangan ini memberikan model ontologis yang unik:
realitas adalah satu, tetapi memiliki bentuk-bentuk manifestasi yang tak
terhitung.
9.2.
Tajallī sebagai Mekanisme
Manifestasi Wujud Ilahi
Wahdat al-wujūd dijelaskan lebih jauh melalui konsep tajallī (manifestasi atau
penampakan). Tuhan menyingkapkan diri-Nya melalui tingkat-tingkat tajallī yang
mencakup:
1)
Tajallī Dhātī —
manifestasi esensi Ilahi kepada diri-Nya sendiri.
2)
Tajallī Ṣifātī —
manifestasi sifat-sifat Ilahi.
3)
Tajallī Af‘ālī —
manifestasi tindakan-tindakan Tuhan dalam alam.⁴
Proses tajallī ini bersifat abadi dan tidak
bergantung pada waktu. Ia merupakan ekspresi dari kasih sayang Tuhan yang
“mencintai untuk dikenal”—sebuah prinsip yang menjadi dasar penciptaan menurut
Ibn ‘Arabī.⁵
Dengan demikian, tajallī adalah mekanisme ontologis
yang menjembatani transendensi dan immanensi Tuhan.
9.3.
A‘yān Tsābitah: Esensi-Abadi sebagai
Prototipe Kosmik
Salah satu konsep metafisik terpenting dalam
tasawuf falsafi adalah a‘yān tsābitah (entitas-entitas tetap). A‘yān
tsābitah adalah esensi-esensi abadi dalam ilmu Tuhan yang menjadi prototipe
dari segala sesuatu yang akan termanifestasi dalam alam.⁶
Karakteristiknya:
·
Mereka tidak memiliki wujud eksternal.
·
Mereka adalah potensi yang diketahui Tuhan.
·
Mereka menjadi pola bagi kemunculan makhluk dalam realitas.
Menurut Ibn ‘Arabī, alam bukanlah sesuatu yang
“diciptakan dari ketiadaan”, tetapi merupakan tampilan aktual dari a‘yān
tsābitah sesuai dengan kehendak Ilahi.⁷ Konsep ini memperkaya pemahaman
ontologi dengan menjelaskan bagaimana pluralitas muncul dari kesatuan Ilahi
tanpa menimbulkan kontradiksi.
9.4.
Martabat Tujuh: Kosmologi Mistis
Wujud
Dalam beberapa tradisi tasawuf falsafi, terutama
dalam tradisi Nusantara dan ajaran al-Jīlī, struktur wujud dipahami melalui
kerangka Martabat Tujuh, yakni tingkatan manifestasi wujud Ilahi:
1)
Aḥadiyyah – Kesatuan
Mutlak
2)
Wāḥidiyyah – Kesatuan
Nama dan Sifat
3)
‘Alam al-Arwāḥ – Dunia Ruh
4)
‘Alam al-Mithāl – Dunia
Imajinasi
5)
‘Alam al-Ajsām – Dunia
Jasmani
6)
Insān Kāmil – Manusia
Sempurna
7)
Kembali kepada Aḥadiyyah⁸
Konsep ini menunjukkan bahwa kosmos bukan hanya
struktur fisik, tetapi juga struktur spiritual yang bertingkat-tingkat, dari
yang paling halus hingga yang paling kasar. Martabat wujud menggambarkan
perjalanan wujud dari Realitas Absolut ke dunia material dan kembali menuju
penyatuan spiritual.
9.5.
Hubungan Insan Kāmil dengan Struktur
Wujud
Insan Kāmil (Manusia Sempurna) menempati posisi
istimewa dalam ontologi tasawuf falsafi. Ia dipandang sebagai:
·
cermin paling sempurna bagi Tuhan,
·
manifestasi sintesis seluruh tingkatan wujud,
·
pusat kosmos spiritual,
·
tujuan penciptaan alam.⁹
Dalam kerangka Ibn ‘Arabī dan al-Jīlī, Insan Kāmil
adalah wujud yang memiliki kesadaran penuh akan identitas ontologisnya sebagai
manifestasi Tuhan, sehingga ia dapat menyaksikan Realitas Absolut dalam dirinya
sendiri.¹⁰
Posisi Insan Kāmil menjelaskan bahwa manusia bukan
sekadar bagian dari alam, tetapi simpul ontologis yang mempersatukan seluruh
tingkat wujud.
9.6.
Fana’ dan Baqā’: Transformasi
Ontologis Jiwa
Dalam tasawuf, perjalanan spiritual digambarkan
melalui dua tahap utama:
1)
Fana’ — lenyapnya
identitas egois manusia dalam penyaksian wujud Ilahi.
2)
Baqā’ —
keberlangsungan eksistensi manusia dalam Tuhan, bukan sebagai entitas
independen.¹¹
Secara ontologis, fana’ bukanlah ketiadaan literal,
tetapi pergeseran perspektif ontologis: manusia memahami bahwa wujud dirinya
hanyalah pancaran dari Wujud Absolut. Baqā’ adalah kondisi stabil di mana
manusia “hidup” dengan kesadaran Ilahi.
Transformasi ini memperlihatkan dinamika ontologi
eksistensial yang khas dalam tasawuf falsafi.
9.7.
Pengetahuan Melalui Penyatuan
(Ittihād al-‘Āqil wa al-Ma‘qūl)
Dalam tasawuf falsafi, pengetahuan tertinggi tidak
diperoleh melalui representasi mental, tetapi melalui penyatuan ontologis
antara subjek dan objek pengetahuan.¹²
Dalam momen kashf (penyingkapan):
·
subjek mengenal objek karena ia secara ontologis “menjadi” objek,
·
akal menyatu dengan inteligibel,
·
jiwa menyatu dengan wujud yang disaksikan.
Konsep ini memperjelas bahwa pengetahuan dalam
tasawuf bukan hanya fungsi rasio, tetapi pengalaman ontologis.
Integrasi
Ontologi, Kosmologi, dan Spiritualitas
Tasawuf falsafi menghadirkan model metafisika yang
menyatukan:
·
Ontologi — realitas
sebagai satu wujud yang termanifestasi.
·
Kosmologi — struktur
gunung tajallī yang bertingkat.
·
Psikologi spiritual —
transformasi jiwa menuju kesempurnaan.
·
Epistemologi intuisi —
penyaksian sebagai cara memperoleh pengetahuan.
Model integratif ini menjadikan tasawuf falsafi
sebagai salah satu bentuk metafisika paling holistik dalam tradisi Islam.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Sufi Essays (Albany:
SUNY Press, 1972), 79–84.
[2]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 3–7.
[3]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, ed. ‘Afīfī
(Cairo: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1946), 112–118.
[4]
Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism
(Berkeley: University of California Press, 1984), 250–257.
[5]
Ibn ‘Arabī, Futūḥāt al-Makkiyyah, ed.
‘Uthmān Yahyyā (Cairo: Al-Hay’ah al-Miṣriyyah, 1972), 133–139.
[6]
Chittick, The Sufi Path of Knowledge, 71–75.
[7]
Ibid., 89–92.
[8]
Al-Jīlī, Al-Insān al-Kāmil, ed. al-Kurdi
(Beirut: Dār Ṣādir, 1997), 44–52.
[9]
Sachiko Murata, The Tao of Islam (Albany:
SUNY Press, 1992), 233–238.
[10]
Al-Jīlī, Al-Insān al-Kāmil, 120–126.
[11]
Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 236–240.
[12]
Chittick, The Sufi Path of Knowledge,
179–182.
10. Ontologi dan Epistemologi: Hubungan Wujud dan
Pengetahuan
Ontologi dan epistemologi dalam filsafat Islam
memiliki hubungan yang sangat erat, bahkan tidak dapat dipisahkan. Dalam
kerangka metafisik Islam, pengetahuan bukan sekadar representasi mental tentang
sesuatu, tetapi merupakan bentuk keterhubungan ontologis antara subjek dan
objek.¹ Dengan kata lain, epistemologi tidak berdiri di luar ontologi; ia
justru berakar pada struktur wujud itu sendiri. Pengetahuan menjadi mungkin
karena adanya kesepadanan, korespondensi, dan hubungan partisipatif antara
tingkatan wujud manusia dengan tingkatan wujud intelektual yang lebih tinggi.
Para filsuf Muslim, baik dari tradisi peripatetik,
iluminasi, maupun tasawuf falsafi, bersepakat bahwa pengetahuan tertinggi hanya
dapat dicapai jika jiwa manusia naik ke tingkat wujud yang lebih tinggi melalui
penyempurnaan dan pemurnian. Dengan demikian, hubungan antara wujud dan
pengetahuan bersifat integral: semakin tinggi tingkat wujud seseorang, semakin
sempurna pula pengetahuannya.
10.1.
Pengetahuan sebagai Korespondensi
Wujud
Dalam filsafat Ibn Sīnā, pengetahuan terjadi ketika
bentuk objek (ṣūrat al-ma‘lūm) hadir dalam akal tanpa materi.² Bentuk
ini tidak berpindah dalam arti material, tetapi dihadirkan secara immaterial
sesuai dengan struktur wujud akal. Pengetahuan mungkin terjadi karena akal
mampu menerima bentuk-bentuk inteligibel tersebut secara sesuai dengan
kapasitas ontologisnya.
Konsep ini mengandaikan tiga hal penting:
1)
Akal dan objek memiliki kesepadanan ontologis karena keduanya sama-sama entitas immaterial.
2)
Pengetahuan adalah determinasi ontologis, bukan sekadar pencitraan mental.
3)
Wujud menentukan kemungkinan epistemik: yang tidak memiliki aktualitas tidak dapat diketahui.³
Oleh karena itu, epistemologi peripatetik selalu
berakar pada struktur wujud.
10.2.
Penyatuan Subjek dan Objek
Pengetahuan (Ittihād al-‘Āqil wa al-Ma‘qūl)
Salah satu prinsip metafisika paling berpengaruh
dalam epistemologi Islam adalah konsep penyatuan akal dengan objek yang
diketahui.⁴ Dalam proses inteleksi:
·
Akal potensial berubah menjadi akal aktual.
·
Akal aktual menyatu dengan inteligibel.
·
Tidak ada dualitas antara pengetahuan dan yang diketahui.
Dalam kerangka ini, pengetahuan tidak dipahami
sebagai “mewakili” objek, tetapi sebagai kesatuan ontologis
antara akal dan bentuk inteligibel tersebut.
Ibn Sīnā membahas konsep ini secara hati-hati,
sementara Mullā Ṣadrā menegaskan bahwa seluruh pengetahuan adalah bentuk keberadaan
(al-‘ilm ṣūrah min ṣuwar al-wujūd).⁵
Pengetahuan sejati, karena itu, adalah
intensifikasi wujud.
10.3.
Intuisi Iluminatif (Isyrāq) sebagai
Pengetahuan Ontologis
Dalam filsafat iluminasi Suhrawardī, hubungan
antara wujud dan pengetahuan ditegaskan melalui konsep al-‘ilm al-ḥuḍūrī
(pengetahuan hadir).⁶ Menurutnya, pengetahuan yang sejati bukan pengetahuan
konseptual, tetapi pengetahuan yang diperoleh melalui kehadiran langsung antara
subjek dan objek.
Dalam pengetahuan hadir:
·
Subjek mengetahui objek karena objek hadir dalam wujud subjek.
·
Tidak ada perantara konseptual.
·
Pengetahuan adalah bentuk iluminasi (cahaya) dalam jiwa.⁷
Karena itu, epistemologi iluminasi bersifat
ontologis; pengetahuan terjadi karena relasi cahaya yang bertingkat dalam
struktur wujud.
10.4.
Pengetahuan Intuitif dan Penyaksian
(Kashf) dalam Tasawuf Falsafi
Dalam tasawuf falsafi, pengetahuan tertinggi adalah
kashf—penyingkapan langsung tentang realitas Ilahi. Bentuk pengetahuan
ini bersifat ontologis, bukan diskursif. Hal ini disebabkan oleh beberapa
prinsip:
1)
Hanya yang sejenis dapat mengetahui yang sejenis; untuk mengenal Tuhan, jiwa harus “menjadi”
seperti-Nya dalam kualitas tertentu.
2)
Pengetahuan adalah pengalaman ontologis, bukan analisis akal.
3)
Tingkat penyaksian ditentukan oleh tingkat wujud jiwa, bukan oleh argumentasi rasional.⁸
Menurut Ibn ‘Arabī, pengetahuan tertinggi hanya
mungkin melalui penyatuan eksistensial antara manusia dan manifestasi
Ilahi—suatu kondisi yang melampaui akal diskursif.⁹
Dengan demikian, kashf adalah puncak epistemologi
karena ia merupakan puncak intensifikasi wujud.
10.5.
Hubungan Akal Fa‘al dan Kemungkinan
Pengetahuan Manusia
Dalam kosmologi peripatetik, Akal Fa‘al berperan
sebagai sumber pengetahuan bagi manusia.ⁱ⁰ Ia memancarkan bentuk-bentuk
inteligibel yang kemudian diserap oleh akal manusia. Tanpa Akal Fa‘al, manusia
hanya memiliki potensi pengetahuan, tetapi tidak dapat mengaktualkannya.
Relasi antara akal manusia dan Akal Fa‘al bersifat
ontologis:
·
Akal Fa‘al adalah aktualitas murni.
·
Akal manusia adalah potensi yang siap menerima bentuk inteligibel.
·
Proses pengetahuan adalah proses aktualisasi potensi menuju
kesempurnaan.
Dengan demikian, epistemologi menjadi kelanjutan
dari ontologi: pengetahuan terjadi karena struktur wujud memungkinkan proses
tersebut.
10.6.
Epistemologi dan Hierarki
Kesempurnaan Wujud
Filsuf Islam meyakini bahwa semakin tinggi tingkat
wujud, semakin sempurna tingkat pengetahuan.¹¹
Struktur kesempurnaan wujud biasanya disusun
sebagai berikut:
1)
Tuhan —
Pengetahuan absolut dan identik dengan wujud-Nya.
2)
Akal-akal terpisah —
Pengetahuan total tentang diri dan objek inteligibel.
3)
Jiwa —
Pengetahuan terbatas, berkembang melalui pengalaman dan latihan.
4)
Materi — Tanpa
pengetahuan; hanya potensi murni.
Hierarki ini menjelaskan bahwa pengetahuan tidak
hanya tentang bagaimana manusia mengetahui, tetapi tentang apa yang
manusia menjadi. Pengetahuan adalah bentuk keberadaan lebih tinggi.
10.7.
Kesatuan Ontologis dan Etika
Pengetahuan
Dalam filsafat Islam, epistemologi selalu berkaitan
dengan etika dan purifikasi jiwa.¹² Pengetahuan tidak dapat dicapai tanpa:
·
pembersihan hawa nafsu,
·
penyucian batin,
·
latihan akal, dan
·
peningkatan kualitas wujud jiwa.
Oleh karena itu, epistemologi adalah bagian dari
perjalanan ontologis manusia menuju kesempurnaan.
10.8.
Integrasi Ontologi dan Epistemologi
dalam Filsafat Mullā Ṣadrā
Mullā Ṣadrā menyintesiskan seluruh tradisi
metafisik Islam melalui dua tesis kunci:
1)
Seluruh pengetahuan adalah wujud (al-‘ilm huwa al-wujūd).
2)
Setiap transformasi pengetahuan adalah transformasi ontologis.¹³
Pengetahuan bagi Ṣadrā bukan sekadar penambahan
informasi, tetapi peningkatan derajat wujud. Makna ini menyatukan epistemologi
rasional, iluminatif, dan intuitif menjadi satu kesatuan metafisis.
Kesimpulan
Ontologis-Epistemologis
Dari seluruh pembahasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa:
·
Pengetahuan adalah fungsi dari wujud.
·
Semakin tinggi tingkat wujud, semakin tinggi pula kapasitas
epistemiknya.
·
Ontologi menyediakan syarat metafisis bagi kemungkinan pengetahuan.
·
Epistemologi menjadi sarana peningkatan dan penyempurnaan wujud manusia.
Dengan demikian, filsafat Islam tidak memisahkan
antara “ada” dan “tahu”—keduanya adalah dua aspek dari proses
yang sama, yaitu penyempurnaan eksistensi manusia menuju Realitas Tertinggi.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred
(Albany: SUNY Press, 1989), 57–62.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Al-Nafs, ed. F. Rahman
(Oxford: Oxford University Press, 1959), 12–14.
[3]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 119–123.
[4]
F. Rahman, Avicenna’s Psychology (London:
Oxford University Press, 1952), 91–95.
[5]
Mullā Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed.
Muhammad Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 281–287.
[6]
Suhrawardī, The Philosophy of Illumination,
trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press,
1999), 102–109.
[7]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination
(Atlanta: Scholars Press, 1990), 53–59.
[8]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 147–151.
[9]
Ibn ‘Arabī, Futūḥāt al-Makkiyyah, ed.
‘Uthmān Yahyyā (Cairo: Al-Hay’ah al-Miṣriyyah, 1972), 205–212.
[10]
Al-Fārābī, Risālah fī al-‘Aql, ed. M.
Bouyges (Beirut: Dar al-Mashriq, 1983), 41–46.
[11]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 215–219.
[12]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 112–118.
[13]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 121–128.
11. Perbandingan Ontologi Filsafat Islam dengan Tradisi
Filsafat Lain
Perbandingan ontologi dalam filsafat Islam dengan
tradisi filsafat lain membuka cakrawala yang lebih luas mengenai bagaimana
konsep wujud dipahami, dianalisis, dan diposisikan dalam sistem metafisika yang
berbeda-beda. Filsafat Islam berkembang melalui dialog intensif dengan filsafat
Yunani, khususnya peripatetik dan neoplatonisme, tetapi kemudian menciptakan
sintesis yang unik dengan memasukkan dimensi teologis dan mistis yang tidak
ditemukan dalam tradisi Yunani klasik.¹ Selain itu, perkembangan filsafat
modern dan kontemporer menampilkan pemahaman ontologis yang berbeda secara
radikal—misalnya dalam eksistensialisme dan fenomenologi—yang menawarkan
peluang komparatif yang menarik untuk menilai kekhasan ontologi Islam.
Perbandingan ini mencakup empat tradisi besar: (A)
Aristotelianisme, (B) Neoplatonisme, (C) Eksistensialisme Barat modern, dan (D)
Tradisi Asia (Vedanta dan Buddhisme). Masing-masing tradisi menunjukkan
orientasi filosofis yang berbeda, sehingga memperlihatkan posisi khusus ontologi
Islam sebagai sebuah metafisika integratif yang menjaga kerangka rasional
sekaligus spiritual.
11.1.
Perbandingan dengan Ontologi
Aristotelian
Aristoteles memandang wujud sebagai “yang
dikatakan dalam banyak cara” (pollachos legomenon), sehingga wujud
tidak dipahami sebagai konsep tunggal, tetapi sebagai kategori-kategori yang
berelasi pada substansi.² Bagi Aristoteles:
·
Substansi (ousia) adalah bentuk tertinggi dari wujud.
·
Materi dan bentuk merupakan prinsip dasar keberadaan.
·
Tuhan adalah “penggerak tak bergerak” yang menjadi sebab final bagi
gerak kosmos.³
Filsafat Islam, khususnya Ibn Sīnā, menerima banyak
aspek ontologi Aristotelian tetapi memperkenalkan dua modifikasi penting:
1)
Distingsi antara wujud dan esensi, yang tidak ditemukan pada Aristoteles.⁴
2)
Tuhan sebagai Wājib al-Wujūd, bukan sekadar sebab final atau gerak primer.
Dengan itu, ontologi Islam mengembangkan konsep
wujud yang lebih mendasar daripada model kategoris Aristoteles dan memasukkan
dimensi teologis yang kuat.
11.2.
Perbandingan dengan Neoplatonisme
Neoplatonisme, terutama dalam karya Plotinus,
memperkenalkan konsep hierarki wujud: The One → Intellect → Soul → Matter.⁵
Model emanasi menjadi fondasi bagi banyak pemikir Muslim seperti al-Fārābī, Ibn
Sīnā, dan Suhrawardī.
Kesamaan utama antara Neoplatonisme dan Islam
terdapat pada:
·
hierarki wujud yang bertingkat,
·
konsep emanasi,
·
ide kesempurnaan yang memancar,
·
peran intelek sebagai realitas tinggi.⁶
Namun terdapat perbedaan fundamental:
1)
The One dalam Neoplatonisme tidak berpikir dan tidak berkehendak, sedangkan Tuhan dalam Islam memiliki pengetahuan
dan kehendak yang sempurna.
2)
Emanasi dalam Islam tetap dipadukan dengan konsep penciptaan oleh Tuhan yang berkehendak.⁷
3)
Islam memasukkan prinsip tauhid, sehingga pluralitas wujud dipahami dalam kerangka kesatuan Tuhan yang
personal.
4)
Suhrawardī mengganti metafisika intelek dengan metafisika cahaya, sebuah inovasi yang tidak ada dalam Plotinus.⁸
Maka, meskipun ada kemiripan struktural, ontologi
Islam memiliki orientasi teologis yang lebih kuat daripada neoplatonisme.
11.3.
Perbandingan dengan Eksistensialisme
Barat Modern
Eksistensialisme modern, terutama melalui pemikiran
Heidegger, Sartre, dan Kierkegaard, menggeser perhatian dari metafisika klasik
yang bersifat objektif menuju pemahaman fenomenologis dan eksistensial tentang
keberadaan manusia. Heidegger, misalnya, menekankan “pertanyaan tentang
makna keberadaan” dan membedakan antara Sein (Being) dan Seiendes
(beings).⁹
Perbedaan mendasar dengan ontologi Islam adalah:
1)
Eksistensialisme menolak metafisika hierarkis, sedangkan Islam memandang wujud sebagai realitas
bertingkat.
2)
Fokus eksistensialisme adalah manusia sebagai subjek, bukan realitas absolut.¹⁰
3)
Eksistensi mendahului esensi (Sartre), sedangkan dalam Islam esensi makhluk tidak mendahului wujud,
tetapi menerima wujud dari Tuhan.
4)
Tidak ada Tuhan sebagai pusat ontologi, sementara Islam menempatkan Tuhan sebagai Wujud Tertinggi.
Namun terdapat satu titik temu yang menarik:
Mullā Ṣadrā menyatakan bahwa wujud bersifat dinamis
dan pengalaman eksistensial memiliki nilai ontologis—sebuah gagasan yang
memiliki resonansi tertentu dengan eksistensialisme, meski tetap berada dalam
kerangka teistik.¹¹
Dengan itu, ontologi Islam mengatasi subjektivisme
eksistensialis dengan tetap mempertahankan metafisika objektif.
11.4.
Perbandingan dengan Vedanta
Vedanta, khususnya Advaita Vedanta, mengajarkan
bahwa realitas tertinggi adalah Brahman, yang identik dengan Atman (diri sejati
manusia). Semua pluralitas dianggap sebagai ilusi (māyā).¹²
Persamaan dengan tasawuf falsafi cukup signifikan:
·
Kesatuan realitas (mirip wahdat al-wujūd).
·
Pengetahuan tertinggi berupa penyatuan spiritual.
·
Pluralitas dipandang sebagai manifestasi tingkat rendah dari realitas
absolut.¹³
Namun perbedaannya juga sangat penting:
1)
Dalam Islam, pluralitas bukan ilusi, tetapi manifestasi nyata dalam tingkat wujud lebih rendah.
2)
Tuhan dalam tasawuf tetap personal, bukan impersonal seperti Brahman nirguna.
3)
Konsep penciptaan tidak
memiliki padanan dalam Advaita.
4)
Pengalaman mistik tidak menghapus syariat, yang tidak ada padanannya dalam struktur
Vedanta.¹⁴
Oleh sebab itu, meskipun memiliki pola metafisik
yang mirip, ontologi tasawuf falsafi tetap berbeda secara teologis dan
metodologis.
11.5.
Perbandingan dengan Buddhisme
Buddhisme, terutama Madhyamaka, menekankan konsep śūnyatā
(kekosongan), yaitu bahwa semua fenomena kosong dari “hakikat tetap” dan muncul
melalui hubungan sebab-akibat.¹⁵
Persamaan dengan filsafat Islam muncul pada:
·
kritik terhadap esensialisme kaku,
·
apresiasi terhadap realitas sebagai proses,
·
pandangan bahwa fenomena tidak memiliki wujud independen.¹⁶
Namun terdapat perbedaan absolut:
1)
Islam menegaskan keberadaan Wujud Niscaya, sementara Buddhisme menolak konsep wujud absolut.
2)
Tidak ada Tuhan personal dalam Buddhisme.
3)
Tujuan Buddhisme adalah nirvana, bukan penyatuan dengan Tuhan.
4)
Kosmologi Buddhis tidak mengenal emanasi dari Realitas Tertinggi, karena tidak ada realitas tertinggi.¹⁷
Oleh karena itu, ontologi Islam bersifat afirmatif
(menegaskan wujud), sedangkan ontologi Buddhis bersifat negasional (menegasikan
hakikat tetap).
Sintesis
Perbandingan: Posisi Unik Ontologi Islam
Dari seluruh perbandingan di atas, dapat
disimpulkan bahwa ontologi Islam memiliki karakter khas:
1)
Integratif —
menggabungkan rasionalitas Yunani, intuisi iluminatif, dan spiritualitas sufi.
2)
Teosentris —
menempatkan Tuhan sebagai pusat dan sumber wujud.
3)
Hierarkis dan dinamis — memadukan
struktur wujud bertingkat dengan gerak substansial.
4)
Eksistensial —
memberikan ruang bagi pengalaman langsung tentang wujud.
5)
Realistis, bukan nihilistik — pluralitas dianggap nyata sebagai manifestasi wujud.
Dengan demikian, ontologi Islam berdiri di antara
dua ekstrem: tidak sepenuhnya rasionalistik seperti Aristotelianisme, tidak
sepenuhnya mistis seperti Advaita, dan tidak nihilistik seperti Madhyamaka. Ia
muncul sebagai metafisika komprehensif yang memadukan intelek, intuisi, dan
spiritualitas dalam memahami struktur realitas.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 3–5.
[2]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross
(Oxford: Clarendon Press, 1924), 1028–1031.
[3]
Ibid., 1050–1052.
[4]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 12–18.
[5]
Plotinus, The Enneads, trans. A. H.
Armstrong (Cambridge: Harvard University Press, 1966), 112–117.
[6]
Peter Adamson, The Arabic Plotinus (London:
Duckworth, 2002), 67–73.
[7]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 64–69.
[8]
Shahab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of
Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young
University Press, 1999), 21–29.
[9]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 25–30.
[10]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness,
trans. Hazel Barnes (New York: Washington Square Press, 1956), 22–25.
[11]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 142–147.
[12]
Śaṅkara, Brahma-Sūtra Bhāṣya, trans. Swami
Gambhirananda (Kolkata: Advaita Ashrama, 1996), 45–48.
[13]
Eliot Deutsch, Advaita Vedanta (Honolulu:
University of Hawai’i Press, 1969), 77–81.
[14]
Anantanand Rambachan, The Advaita Worldview
(Albany: SUNY Press, 2006), 101–105.
[15]
Nāgārjuna, Mūlamadhyamakakārikā, trans. Jay
Garfield (New York: Oxford University Press, 1995), 33–36.
[16]
Garfield, The Fundamental Wisdom of the Middle
Way (Oxford: Oxford University Press, 1995), 49–51.
[17]
Peter Harvey, An Introduction to Buddhism
(Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 65–70.
12. Kritik dan Perdebatan dalam Diskursus Ontologi
Islam
Diskursus ontologi dalam filsafat Islam menunjukkan
bahwa pemahaman tentang wujud bukanlah sesuatu yang statis atau tunggal,
melainkan medan perdebatan intelektual yang intens antara berbagai mazhab
filsafat, tradisi teologis, dan aliran tasawuf.¹ Perdebatan ini bukan sekadar
teknis-metafisik, tetapi juga bersifat teologis, epistemologis, bahkan politis,
karena menyentuh aspek fundamental tentang bagaimana umat Islam memahami Tuhan,
alam, dan manusia. Kritik-kritik tersebut melahirkan dinamika intelektual yang
produktif sehingga ontologi Islam berkembang dalam berbagai cabang dan arah
pemikiran.
Secara garis besar, perdebatan ontologis dalam
Islam dapat dilihat dalam lima ranah: (A) kritik terhadap ontologi peripatetik,
(B) kritik terhadap ontologi iluminasi, (C) perdebatan seputar wahdat
al-wujūd, (D) kritik terhadap konsep aṣālat al-wujūd menurut Mullā
Ṣadrā, serta (E) perdebatan modern terkait metafisika Islam dalam konteks
sainstifik dan filsafat kontemporer.
12.1.
Kritik Kalām terhadap Ontologi
Peripatetik
Para teolog Asy‘ariyyah dan Mu‘tazilah menolak
banyak aspek ontologi Aristotelian-Ibn Sīnā, terutama karena dianggap
bertentangan dengan prinsip tauhid dan kehendak bebas Tuhan.
Beberapa kritik utama:
1)
Teori emanasi dianggap membatasi kehendak Tuhan, karena menciptakan alam sebagai konsekuensi
niscaya dari keberadaan Tuhan.²
2)
Konsep kausalitas natural dalam filsafat dianggap mengurangi kekuasaan Tuhan dalam menciptakan
setiap kejadian.
3)
Pembagian wujud menjadi wajib–mungkin–mustahil dikritik karena memposisikan alam sebagai memiliki
esensi yang mendahului wujudnya.³
4)
Konsep keabadian dunia intelektual dianggap tidak sesuai dengan ajaran penciptaan ex nihilo.
Karena itu, para teolog mengembangkan ontologi
alternatif seperti atomisme kalām, di mana alam terdiri dari atom-atom
yang diciptakan terus-menerus oleh Tuhan.⁴
12.2.
Kritik Peripatetik terhadap Ontologi
Kalām
Sebaliknya, para filsuf peripatetik mengkritik
ontologi kalām karena dianggap:
1)
Tidak konsisten secara rasional, seperti konsep kasb (perolehan) dan penolakan terhadap
kausalitas natural.⁵
2)
Menghilangkan keteraturan alam, karena setiap kejadian dianggap langsung diciptakan oleh Tuhan secara
terus-menerus.
3)
Menghilangkan fondasi metafisika, karena atomisme tidak menyediakan struktur ontologis bagi hierarki
wujud.
Ibn Sīnā secara khusus mengkritik atomisme teolog
sebagai konsepsi yang tidak mampu menjelaskan fenomena gerak, kontinuitas, dan
perubahan.⁶
12.3.
Perdebatan terhadap Ontologi
Iluminasi Suhrawardī
Pandangan Suhrawardī mengenai cahaya sebagai dasar
realitas menimbulkan kritik dari kalangan peripatetik dan rasionalis.
Kritik utama:
1)
Metafora cahaya dianggap kurang sistematis dibandingkan kerangka wujud–esensi Ibn Sīnā.⁷
2)
Konsep pengetahuan hadir (al-‘ilm al-ḥuḍūrī) dinilai tidak dapat dipertanggungjawabkan secara
logis.
3)
Kosmologi nurani Suhrawardī dianggap terlalu simbolik dan sulit diverifikasi.
Namun, para pendukung iluminasi berargumen bahwa
pengalaman intuitif merupakan bentuk pengetahuan yang lebih tinggi dari
pengetahuan diskursif.
12.4.
Perdebatan tentang Wahdat al-Wujūd
Konsep wahdat al-wujūd Ibn ‘Arabī
memunculkan perdebatan paling intens dalam sejarah metafisika Islam.⁸
12.4.1. Kritik
dari kalangan teolog dan fuqahā’:
1)
Wahdat al-wujūd dianggap
mendekati panteisme.
2)
Menyamakan Tuhan dengan alam dianggap menyalahi tauhid.
3)
Konsep a‘yān tsābitah dikritik karena dianggap mengasumsikan
entitas abadi selain Tuhan.⁹
12.4.2. Kritik
dari kalangan filsuf rasionalis:
1)
Konsep penyaksian mistis dianggap tidak memiliki kepastian epistemik.
2)
Struktur ontologi Ibn ‘Arabī dianggap terlalu metaforis dan tidak
sistematis.¹⁰
Namun, para pendukungnya membela bahwa wahdat
al-wujūd bukan panteisme, tetapi ekspresi ontologis bahwa seluruh wujud
adalah tajallī dari Tuhan.
12.5.
Kritik terhadap Filsafat Mullā
Ṣadrā: Primasi Wujud dan Gerak Substansial
Pemikiran Mullā Ṣadrā dianggap inovatif, tetapi
tidak luput dari kritik.
Kritik utama terhadap konsep aṣālat al-wujūd
dan tashkīk al-wujūd:
1)
Sebagian ulama Syiah menganggap aṣālat al-wujūd terlalu dekat
dengan wahdat al-wujūd.¹¹
2)
Teori gerak substansial dinilai mengancam doktrin keabadian jiwa, karena
menganggap substansi jiwa berubah-ubah.
3)
Tradisi teolog Asy‘ari menolak gerak substansial karena bertentangan
dengan atomisme mereka.
4)
Filsuf peripatetik konservatif menganggap teori Ṣadrā terlalu bergantung
pada intuisi mistis.¹²
Namun, banyak akademisi modern memandang konsep
Ṣadrā sebagai puncak sintesis metafisika Islam yang menyatukan tradisi
peripatetik, iluminatif, dan tasawuf.
12.6.
Perdebatan Modern: Ontologi Islam
dalam Konteks Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Kontemporer
Di era modern, ontologi Islam menghadapi tantangan
baru dari:
1)
positivisme ilmiah,
2)
materialisme,
3)
natural science,
4)
fenomenologi,
5)
postmodernisme.
Kritik modern menyasar:
·
Ketidakverifikasian metafisika tradisional,
·
hierarki wujud dianggap spekulatif,
·
ketidaksesuaian dengan sains modern,
·
penggunaan argumen emanasi dianggap non-empiris.¹³
Namun, para filsuf Islam kontemporer seperti
Muhammad Iqbal dan Mehdi Ha’iri Yazdi berusaha membela metafisika Islam dengan
menunjukkan bahwa:
·
ontologi Islam mengandung teori kesadaran yang lebih kaya daripada
materialisme,
·
metafisika Islam mampu berdialog dengan fenomenologi,
·
struktur hierarki wujud selaras dengan pandangan kosmos yang kompleks
dan multi-layered.¹⁴
Dengan demikian, kritik modern justru membuka ruang
rekonstruksi ontologi Islam agar lebih relevan secara filosofis dan ilmiah.
12.7.
Kritik Internal: Perdebatan Antara
Mazhab-Mazhab Ontologi Islam
Ontologi Islam sendiri tidak monolitik. Terdapat
perdebatan intens antara:
1)
Mazhab peripatetik vs. iluminasi — rasionalitas vs. intuisi cahaya.
2)
Ibn Sīnā vs. Ibn ‘Arabī — wujud-esensi vs. tajallī.
3)
Mullā Ṣadrā vs. peripatetik klasik — gerak substansial vs. statis.
4)
Kalām Asy‘ari vs. filsafat — atomisme vs. kausalitas metafisik.
5)
Tasawuf sunni vs. tasawuf falsafi — ortodoksi vs. spekulasi metafisik.¹⁵
Perdebatan ini menunjukkan dinamika pemikiran dalam
tradisi Islam yang tidak hanya kaya, tetapi juga kritis.
Kesimpulan:
Signifikansi Kritik dalam Evolusi Ontologi Islam
Kritik dan perdebatan yang muncul sepanjang sejarah
justru memperkuat ontologi Islam dengan cara:
·
memperluas cakupan metafisika,
·
mematangkan teori wujud,
·
membuka pemikiran lintas tradisi,
·
mendorong rekonstruksi konsep wujud secara kreatif.
Dengan demikian, diskursus ontologi Islam bukanlah
sistem dogmatis yang tertutup, tetapi ruang dialog yang terus bergerak antara
akal, intuisi, pengalaman spiritual, dan teks-teks suci.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 145–149.
[2]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed.
Maurice Bouyges (Beirut: Imprimerie Catholique, 1927), 12–19.
[3]
Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Al-Mabāḥits
al-Mashriqiyyah, ed. Muḥammad al-Bīwāb (Cairo: Maktabah al-Kulliyyāt
al-Azhariyyah, 1984), 121–128.
[4]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 199–205.
[5]
Ibn Rushd, Tahāfut al-Tahāfut, ed. S. Van
den Bergh (London: E. J. Brill, 1954), 87–92.
[6]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Al-Samā‘ al-Ṭabī‘ī, ed.
Ibrahim Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 171–178.
[7]
Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Iran University Press, 1993), 64–72.
[8]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 113–117.
[9]
Ibn Taymiyyah, Bayān Talbīs al-Jahmiyyah,
ed. al-Qaḥṭānī (Riyadh: Maktabah al-Rushd, 1997), 210–218.
[10]
Osman Yahya, Histoire et classification de
l'oeuvre d'Ibn ‘Arabī (Damascus: Institut Français de Damas, 1964),
305–310.
[11]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed.
Muhammad Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 511–518.
[12]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 157–161.
[13]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy (Albany: SUNY Press, 1992), 45–53.
[14]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious
Thought in Islam (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1962), 79–84.
[15]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 185–195.
13. Relevansi Kontemporer Ontologi Filsafat Islam
Relevansi kontemporer ontologi filsafat Islam
terletak pada kemampuannya menjawab berbagai tantangan intelektual, etis, dan
eksistensial yang muncul dalam dunia modern. Secara historis, ontologi Islam
berkembang dalam konteks dialog antara wahyu, rasio, dan pengalaman intuitif;
dalam konteks kontemporer, ia kembali diuji oleh perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, filsafat Barat modern, serta perubahan sosial budaya global.¹
Kontribusi ontologi Islam tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis,
karena menawarkan kerangka pemahaman tentang manusia, alam, dan Tuhan yang
mampu memberikan kedalaman spiritual sekaligus relevansi rasional.
Relevansi tersebut dapat dilihat dalam berbagai
bidang: (A) hubungan agama dan sains, (B) kajian kesadaran dan filsafat
pikiran, (C) etika lingkungan dan ekoteologi, (D) filsafat teknologi dan
kecerdasan buatan, (E) dialog peradaban dan pluralisme, serta (F) pencarian
makna eksistensial manusia modern. Pendekatan ontologis Islam yang integratif,
transenden, dan multidimensional menunjukkan bahwa ia tetap memiliki posisi
strategis dalam wacana intelektual global.
13.1.
Relevansi terhadap Diskursus Sains
Modern
Ilmu pengetahuan modern, khususnya fisika kuantum,
kosmologi, dan biologi evolusioner, telah mengubah cara manusia memahami
realitas. Namun, ontologi materialistik yang menyertai sains sering kali gagal
menjawab pertanyaan metafisik yang lebih mendasar: apa hakikat wujud, mengapa
alam memiliki keteraturan, dan bagaimana kesadaran muncul dalam alam material?²
Ontologi Islam relevan dalam konteks ini karena:
1)
Menawarkan kerangka non-materialistik, di mana wujud tidak direduksi menjadi materi semata.
2)
Menjelaskan keteraturan kosmos melalui hubungan antara Wājib al-Wujūd dan struktur emanatif.
3)
Mengakui dimensi immaterial dalam realitas, termasuk akal dan jiwa.³
4)
Membuka ruang dialog dengan teori medan kuantum yang memandang realitas sebagai struktur
bertingkat.
Pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif
filosofis bagi ilmuwan dan filsuf kontemporer yang mencari sintesis antara
sains dan metafisika.
13.2.
Kontribusi bagi Filsafat Pikiran dan
Kajian Kesadaran
Diskursus kontemporer tentang kesadaran
(consciousness studies) mengalami kebuntuan karena reduksionisme neurosains
tidak mampu menjelaskan pengalaman subjektif (qualia) dan sifat
kesadaran itu sendiri.⁴
Ontologi Islam berkontribusi melalui:
1)
Konsep jiwa sebagai substansi immaterial, bukan sekadar aktivitas otak.
2)
Pandangan tentang gradasi wujud, yang menjelaskan tingkat-tingkat kesadaran.
3)
Teori pengetahuan hadir (al-‘ilm al-ḥuḍūrī) Suhrawardī sebagai dasar bagi fenomenologi
kesadaran.⁵
4)
Gerak substansial Mullā Ṣadrā, yang menempatkan perkembangan jiwa sebagai proses ontologis.⁶
Gagasan ini memberikan kerangka metafisik yang kaya
untuk memahami kesadaran manusia secara multidimensional—biologis, psikis,
intelektual, dan spiritual.
13.3.
Etika Lingkungan, Ekoteologi, dan
Ontologi Ekologis
Krisis ekologis global memunculkan kebutuhan akan
paradigma baru tentang hubungan manusia dan alam. Filsafat modern, yang
cenderung antroposentris dan mekanistis, terbukti tidak memadai untuk mendorong
tanggung jawab ekologis.
Ontologi Islam relevan karena:
1)
Memahami alam sebagai manifestasi wujud Ilahi, bukan sekadar objek eksploitasi.⁷
2)
Menempatkan alam sebagai tanda (āyah) yang memiliki nilai spiritual dan moral.
3)
Mengajarkan kesalingbergantungan ontologis antara manusia dan alam.
4)
Membentuk etika alam yang berlandaskan spiritualitas, bukan utilitarianisme.
Dengan demikian, ontologi Islam dapat menjadi basis
bagi ekoteologi dan paradigma keberlanjutan yang holistik.
13.4.
Relevansi dalam Filsafat Teknologi
dan Kecerdasan Buatan (AI)
Perkembangan kecerdasan buatan menimbulkan
pertanyaan ontologis baru:
apa itu kecerdasan, apa itu kesadaran, dan apakah mesin dapat memiliki
status ontologis seperti manusia?
Filsafat Islam menawarkan dasar analisis sebagai berikut:
1)
Jiwa manusia tidak dapat direduksi menjadi algoritma, karena ia merupakan substansi immaterial.⁸
2)
Akal merupakan kemampuan ontologis, bukan sekadar pemrosesan informasi.
3)
Wujud manusia memiliki kedudukan khusus dalam struktur kosmos, sehingga tidak dapat disamakan dengan AI.
4)
Gerak substansial jiwa tidak dapat disimulasikan oleh mesin, karena ia merupakan transformasi wujud, bukan
komputasi.⁹
Pandangan ini memberi kontribusi penting dalam
etika dan filsafat teknologi, khususnya terkait batasan ontologis AI.
13.5.
Dialog Peradaban, Pluralisme, dan
Filsafat Global
Ontologi Islam dapat menjembatani dialog antara
berbagai tradisi filosofis dunia karena:
1)
Strukturnya yang hierarkis mirip dengan Neoplatonisme,
2)
Aspek mistisnya memiliki kemiripan dengan Vedanta,
3)
Aspek rasionalnya kompatibel dengan filsafat Yunani,
4)
Aspek fenomenologisnya relevan dengan filsafat modern tentang kesadaran.¹⁰
Dengan karakter integratif ini, ontologi Islam
dapat berperan sebagai bridging philosophy dalam diskursus global.
13.6.
Relevansi Eksistensial: Pencarian
Makna dalam Masyarakat Modern
Salah satu tantangan terbesar masyarakat modern
adalah krisis makna yang muncul akibat:
·
sekularisme,
·
materialisme,
·
hedonisme,
·
alienasi eksistensial,
·
kehampaan spiritual.
Ontologi Islam menawarkan solusi eksistensial
melalui prinsip:
1)
Kesatuan wujud yang
memberikan kesadaran akan keterhubungan manusia dengan sumber realitas.
2)
Teleologi kosmis — alam
memiliki tujuan, bukan kebetulan.
3)
Dimensi spiritual jiwa yang mengatasi kekosongan modern.
4)
Konsep insan kāmil sebagai
ideal eksistensial manusia.¹¹
Pendekatan ini memberi kerangka makna yang dapat
mengembalikan orientasi kehidupan manusia modern kepada dimensi transenden.
13.7.
Rekonstruksi Metafisika Islam dalam
Pemikiran Kontemporer
Pemikir kontemporer seperti Muhammad Iqbal, Syed
Naquib al-Attas, Mehdi Ha’iri Yazdi, dan Seyyed Hossein Nasr berupaya
merumuskan kembali ontologi Islam agar lebih kompatibel dengan tantangan
modern.¹²
Upaya rekonstruksi mencakup:
1)
Memadukan metafisika Islam dengan fenomenologi,
2)
Mengintegrasikan konsep wujud dengan kosmologi sains,
3)
Menegaskan kembali dimensi spiritual dalam pengetahuan,
4)
Membangun etika global berbasis tauhid,
5)
Mengkritik reduksionisme teknologi yang mereduksi manusia menjadi objek.
Dengan demikian, ontologi Islam bukanlah warisan
statis, tetapi kerangka hidup yang terus berkembang.
Kesimpulan:
Posisi Strategis Ontologi Islam di Era Modern
Ontologi filsafat Islam memiliki relevansi
kontemporer karena:
·
menawarkan metafisika yang komprehensif,
·
menjembatani sains dan agama,
·
memberikan kontribusi pada kajian kesadaran,
·
membangun etika ekologis,
·
memberikan batasan ontologis bagi teknologi,
·
memperkaya dialog lintas tradisi,
·
dan memberikan makna eksistensial bagi manusia modern.
Dengan demikian, ontologi Islam tetap menjadi salah
satu sumber pemikiran penting dalam mengembangkan paradigma filosofis dan
spiritual yang memberikan kedalaman bagi peradaban global.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 271–276.
[2]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences
of Nature (New York: Routledge, 2003), 55–61.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 212–215.
[4]
David Chalmers, The Conscious Mind (Oxford:
Oxford University Press, 1996), 3–7.
[5]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination
(Atlanta: Scholars Press, 1990), 97–102.
[6]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 131–135.
[7]
Nasr, Man and Nature (Chicago: ABC
International, 1997), 112–118.
[8]
F. Rahman, Avicenna’s Psychology (London:
Oxford University Press, 1952), 88–92.
[9]
Muhammad Kamal, Mulla Sadra’s Transcendent
Philosophy (Aldershot: Ashgate, 2010), 106–110.
[10]
Sachiko Murata, The Tao of Islam (Albany:
SUNY Press, 1992), 101–107.
[11]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 263–269.
[12]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious
Thought in Islam (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1962), 99–105.
14. Sintesis Filosofis
Sintesis filosofis dalam ontologi filsafat Islam
merupakan upaya untuk merangkum, mengharmonikan, dan mengintegrasikan berbagai
tradisi pemikiran yang membentuk mozaik metafisika Islam—mulai dari
peripatetik, iluminasi, kalām, hingga tasawuf falsafi.¹ Upaya sintesis ini
tidak berarti sekadar menggabungkan gagasan-gagasan yang berbeda, tetapi
membangun struktur metafisika yang koheren, hierarkis, dan dinamis, yang mampu
menjelaskan realitas pada seluruh tingkatannya: Tuhan, alam, jiwa, akal, dan
manusia. Dalam proses ini, para filsuf Islam mengembangkan sistem metafisika
yang tidak hanya bersifat deduktif-rasional, tetapi juga intuitif-spiritual,
sehingga membentuk suatu model ontologis yang unik dalam sejarah pemikiran
manusia.
Sintesis ontologis dalam filsafat Islam mencapai
bentuk paling matang dalam karya-karya para tokoh seperti Ibn Sīnā, Suhrawardī,
Ibn ‘Arabī, Mullā Ṣadrā, dan para pemikir kontemporer. Yang dibangun bukan
hanya kesatuan konseptual, tetapi kesatuan eksistensial (ittihād wujūdī)
yang menjelaskan bahwa wujud memiliki gradasi, pergerakan, dan orientasi yang
seluruhnya mengarah kepada Realitas Tertinggi.
14.1.
Integrasi antara Rasionalitas
Peripatetik dan Iluminasi Spiritual
Filosofi peripatetik menekankan analisis rasional
mengenai wujud, esensi, kausalitas, dan struktur hierarki kosmos.² Di sisi
lain, filsafat iluminasi menekankan intuisi batin sebagai sarana untuk
mengungkap hakikat realitas.³
Sintesis filosofis terjadi ketika:
1)
Rasionalitas memberikan kerangka konseptual untuk memahami wujud.
2)
Intuisi iluminatif memberikan kedalaman eksistensial melalui konsep cahaya, kehadiran, dan penyaksian.
3)
Keduanya dipadukan untuk menjelaskan bahwa pengetahuan sejati
membutuhkan keterlibatan rasio dan hati sekaligus.
Mullā Ṣadrā menjadi tokoh sentral dalam sintesis
ini karena ia menggabungkan epistemologi demonstratif, iluminatif, dan intuitif
dalam satu sistem metafisika.⁴
14.2.
Integrasi antara Ontologi Esensialis
Ibn Sīnā dan Ontologi Wujud Ibn ‘Arabī
Dua arus besar dalam metafisika Islam tampak
bertentangan:
·
Ontologi Ibn Sīnā menekankan distingsi wujud–esensi dan struktur
kausalitas rasional.⁵
·
Ontologi Ibn ‘Arabī menekankan kesatuan wujud (wahdat al-wujūd)
dan manifestasi Ilahi dalam seluruh realitas.⁶
Sintesis filosofis terjadi ketika pemikir kemudian
melihat bahwa:
1)
Esensi memerlukan wujud untuk menjadi aktual, tetapi wujud memiliki tingkat intensitas yang
berbeda-beda.
2)
Pluralitas esensi tidak meniadakan kesatuan ontologis wujud.
3)
Manifestasi Ilahi dapat dipahami dalam kerangka wujud yang bertingkat
(tashkīk al-wujūd).
Inilah fondasi bagi filsafat Ṣadrian, yang menjadi
puncak sintesis metafisika Islam.
14.3.
Integrasi antara Metafisika dan
Mistisisme
Tasawuf falsafi memberikan dimensi eksistensial
yang memperluas makna ontologi, sehingga wujud bukan hanya konsep filosofis,
tetapi pengalaman batin.⁷
Untuk itu:
1)
Pengetahuan bukan hanya representasi, tetapi penyatuan ontologis.
2)
Manusia tidak hanya memahami wujud, melainkan menjadi “cermin” bagi manifestasi Ilahi.
3)
Ontologi menyatu dengan perjalanan spiritual, bukan teori abstrak.
Dengan demikian, sintesis ontologi–mistisisme
menghasilkan paradigma yang menjelaskan bahwa kebenaran metafisik hanya dapat
diakses melalui transformasi eksistensial.
14.4.
Integrasi antara Kosmologi Hierarkis
dan Teleologi Etis
Ontologi Islam tidak berhenti pada struktur wujud;
ia juga memuat orientasi etis dan teleologis:
1)
Alam sebagai tatanan hierarkis menunjukkan bahwa setiap wujud memiliki peran kosmis.⁸
2)
Manusia sebagai makhluk rasional–spiritual memiliki posisi istimewa sebagai khalifah.
3)
Perjalanan wujud menuju kesempurnaan memberikan landasan bagi etika, spiritualitas, dan makna hidup.
Sintesis ini memperlihatkan bahwa ontologi Islam
bersifat integratif: metafisika selalu terkait dengan etika dan praktik
spiritual.
14.5.
Aṣālat al-Wujūd sebagai Puncak
Sintesis Metafisika
Konsep aṣālat al-wujūd (primasi wujud) dari
Mullā Ṣadrā menjadi simbol puncak sintesis metafisika Islam.⁹ Konsep ini
merangkum:
1)
Ibn Sīnā – wujud
sebagai realitas terpenting.
2)
Suhrawardī – wujud
sebagai cahaya bertingkat.
3)
Ibn ‘Arabī – wujud
sebagai kesatuan yang termanifestasi.
Aṣālat al-wujūd menyatakan bahwa:
·
Wujud adalah prinsip ontologis paling dasar.
·
Esensi hanya konstruksi mental.
·
Wujud memiliki intensitas berbeda (tashkīk).
·
Perubahan adalah peningkatan intensitas wujud (gerak substansial).¹⁰
Dengan demikian, konsep ini menggabungkan
rasionalitas, iluminasi, dan mistisisme dalam satu kerangka metafisik yang
koheren.
14.6.
Sintesis Wujud–Pengetahuan: Ontologi
dan Epistemologi sebagai Satu Kesatuan
Ontologi Islam menempatkan pengetahuan sebagai
bentuk intensifikasi wujud.¹¹ Pengetahuan bukan hanya proses kognitif,
melainkan transformasi eksistensial.
Sintesis ontologi–epistemologi menunjukkan bahwa:
1)
Semakin tinggi wujud seseorang, semakin luas pengetahuannya.
2)
Pengetahuan intuitif merupakan penyempurnaan dari pengetahuan rasional.
3)
Pengetahuan hadir (al-‘ilm al-ḥuḍūrī) menyatukan subjek dan objek dalam wujud.
4)
Tuhan adalah sumber pengetahuan karena Ia adalah sumber wujud.
Kesatuan ini menunjukkan kedalaman sistem
metafisika Islam yang tidak membagi realitas ke dalam segmen-segmen terpisah.
14.7.
Rekonstruksi Kontemporer: Sintesis
Baru untuk Era Modern
Sintesis filosofis dalam konteks modern mencakup
upaya pemikir kontemporer untuk:
1)
Menyatukan metafisika Islam dengan sains modern, terutama dalam disiplin kosmologi dan teori
kesadaran.¹²
2)
Menciptakan paradigma etika lingkungan berbasis kesatuan wujud.
3)
Menyintesis spiritualitas dan rasionalitas dalam menjawab krisis moral dan eksistensial
masyarakat modern.
4)
Merumuskan ontologi teknologi untuk menghadapi kecerdasan buatan dan era digital.
Dengan demikian, sintesis filosofis bukan hanya
warisan masa lalu, tetapi agenda keberlanjutan intelektual yang terus
berkembang.
Kesimpulan
Sintesis Filosofis
Sintesis filosofis dalam ontologi Islam menunjukkan
bahwa:
·
Tradisi rasional dan tradisi spiritual tidak harus saling bertentangan,
·
Hierarki wujud dapat dipahami melalui rasio dan intuisi,
·
Pengetahuan dan wujud merupakan dua sisi dari satu realitas,
·
Alam dan manusia dipahami dalam kerangka kesatuan yang transenden,
·
Metafisika Islam mampu berdialog dengan tradisi Barat, Timur, dan sains
modern.
Pada akhirnya, sintesis ini menegaskan bahwa
ontologi Islam adalah sistem yang hidup, elastis, dan integratif, yang mampu
memberikan pemahaman menyeluruh tentang realitas sekaligus menjawab tantangan
intelektual dan spiritual di semua zaman.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 291–296.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Shifā’: Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: Al-Hay’ah al-‘Āmmah, 1960), 43–46.
[3]
Suhrawardī, Hikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Iran University Press, 1993), 21–29.
[4]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being (London: Routledge, 2009), 57–63.
[5]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 12–18.
[6]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, ed. ‘Afīfī
(Cairo: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1946), 110–118.
[7]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 89–95.
[8]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 103–108.
[9]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed.
Muhammad Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 71–78.
[10]
Muhammad Kamal, Mulla Sadra’s Transcendent
Philosophy (Aldershot: Ashgate, 2010), 118–122.
[11]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination
(Atlanta: Scholars Press, 1990), 75–82.
[12]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of Epistemology
in Islamic Philosophy (Albany: SUNY Press, 1992), 143–150.
15. Kesimpulan
Kajian ontologi dalam filsafat Islam memperlihatkan
bahwa pemahaman tentang wujud (al-wujūd) merupakan pusat dari seluruh
struktur metafisika Islam. Ontologi tidak hanya menjadi fondasi bagi kosmologi,
teologi, epistemologi, dan psikologi filosofis, tetapi juga menjadi landasan
bagi dimensi spiritualitas dan etika.¹ Dengan demikian, ontologi Islam bukan
sekadar analisis abstrak tentang “ada”, melainkan sebuah kerangka yang
memadukan rasio, intuisi, dan wahyu dalam menjelaskan realitas secara
menyeluruh.
Secara historis, ontologi Islam berkembang melalui
proses panjang: mulai dari penerjemahan filsafat Yunani, integrasi unsur
peripatetik dan neoplatonik, kritik para teolog kalām, hingga puncaknya dalam
metafisika iluminasi, tasawuf falsafi, dan filsafat transendental Mullā Ṣadrā.²
Perjalanan intelektual ini menunjukkan bahwa ontologi Islam bersifat dinamis:
ia tidak pernah berhenti pada satu bentuk final, tetapi terus mengalami
rekonstruksi melalui dialog antara rasionalitas dan pengalaman spiritual.
Inti dari seluruh sistem ontologi Islam adalah
penegasan bahwa wujud memiliki struktur hierarkis dan bertingkat, mulai dari
Wājib al-Wujūd sebagai sumber realitas hingga makhluk-makhluk kontingen yang
memperoleh keberadaannya secara derivatif.³ Semua makhluk berada dalam relasi
kausal, eksistensial, dan spiritual dengan Tuhan, sehingga kosmos dipahami
sebagai jaringan makna dan tujuan yang tertata. Dalam kerangka ini, keberadaan tidak
bersifat statis, tetapi bergerak menuju kesempurnaan melalui dinamika
aktualisasi, sebagaimana diuraikan dalam konsep gerak substansial Mullā Ṣadrā.⁴
Selain itu, ontologi Islam mengintegrasikan dimensi
mistis yang menekankan bahwa hakikat wujud tidak hanya dapat dipahami melalui
akal, tetapi juga melalui penyaksian batin.⁵ Tasawuf falsafi memperkaya tradisi
rasional dengan perspektif bahwa seluruh wujud merupakan manifestasi Ilahi,
sehingga pengalaman spiritual menjadi bagian integral dari pemahaman metafisis.
Dalam konteks kontemporer, ontologi Islam tetap
relevan karena memberikan alternatif terhadap paradigma materialistik dan
reduksionistik yang mendominasi sains dan filsafat modern.⁶ Ia menawarkan
pemahaman holistik tentang realitas dengan memasukkan aspek spiritual,
intelektual, dan material dalam satu sistem yang koheren. Dengan itu, ontologi
Islam dapat berkontribusi dalam diskursus kesadaran, etika lingkungan, filsafat
teknologi, serta pencarian makna manusia modern.
Secara keseluruhan, ontologi filsafat Islam
menyajikan sebuah metafisika yang:
1)
integratif,
menggabungkan rasiosentrisme dan intuitivisme;
2)
transenden,
menempatkan Tuhan sebagai pusat wujud;
3)
hierarkis, memahami
realitas sebagai struktur bertingkat;
4)
dinamis,
menggambarkan eksistensi sebagai proses peningkatan;
5)
eksistensial-spiritual, memandang pengetahuan sebagai intensifikasi wujud.
Dengan demikian, ontologi Islam tidak hanya menjadi
warisan intelektual masa lalu, tetapi sebuah tradisi metafisika yang tetap
hidup dan produktif, yang mampu memberikan kontribusi besar bagi pemikiran
global dan tantangan filosofis masa kini.⁷
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 301–305.
[2]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy
(New York: Columbia University Press, 2004), 215–223.
[3]
Parviz Morewedge, The Metaphysics of Avicenna
(London: Routledge, 1973), 17–22.
[4]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad
Khwājawī (Tehran: Sadra Foundation, 2002), 94–101.
[5]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge
(Albany: SUNY Press, 1989), 221–229.
[6]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy (Albany: SUNY Press, 1992), 151–158.
[7]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious
Thought in Islam (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1962), 107–113.
Daftar Pustaka
Adamson, P. (2002). The
Arabic Plotinus. Duckworth.
Adamson, P. (2016). Philosophy
in the Islamic World. Oxford University Press.
Al-Fārābī. (1973). Ara’
Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (al-Fārūqī, Ed.). Dār al-Mashriq.
Al-Fārābī. (1983). Risālah
fī al-ʿAql (M. Bouyges, Ed.). Dar al-Mashriq.
Al-Jīlī. (1997). Al-Insān
al-Kāmil (al-Kurdi, Ed.). Dār Ṣādir.
Al-Ghazālī. (1927). Tahāfut
al-Falāsifah (M. Bouyges, Ed.). Imprimerie Catholique.
Al-Rāzī, F. al-D. (1984). Al-Mabāḥith
al-Mashriqiyyah (M. al-Bīwāb, Ed.). Maktabah al-Kulliyyāt al-Azhariyyah.
Aristotle. (1924). Metaphysics
(W. D. Ross, Trans.). Clarendon Press.
Aristotle. (1930). Physics
(R. P. Hardie & R. K. Gaye, Trans.). Clarendon Press.
Chalmers, D. (1996). The
Conscious Mind. Oxford University Press.
Chittick, W. (1989). The
Sufi Path of Knowledge. SUNY Press.
Corbin, H. (1993). Hikmat
al-Ishrāq (Suhrawardī, Ed.). Iran University Press.
Deutsch, E. (1969). Advaita
Vedanta. University of Hawai’i Press.
Fakhry, M. (2004). A
History of Islamic Philosophy. Columbia University Press.
Garfield, J. (1995). The
Fundamental Wisdom of the Middle Way: Nāgārjuna’s Mūlamadhyamakakārikā.
Oxford University Press.
Golshani, M. (2003). The
Holy Qur’an and the Sciences of Nature. Routledge.
Gutas, D. (1998). Greek
Thought, Arabic Culture. Routledge.
Harvey, P. (1990). An
Introduction to Buddhism. Cambridge University Press.
Ha’iri Yazdi, M. (1992). The
Principles of Epistemology in Islamic Philosophy. SUNY Press.
Heidegger, M. (1962). Being
and Time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
Ibn ʿArabī. (1946). Fuṣūṣ
al-Ḥikam (‘Afīfī, Ed.). Dār al-Kitāb al-ʿArabī.
Ibn ʿArabī. (1972). Futūḥāt
al-Makkiyyah (‘U. Yahyyā, Ed.). Al-Hay’ah al-Miṣriyyah.
Ibn Rushd. (1954). Tahāfut
al-Tahāfut (S. Van Den Bergh, Ed.). E. J. Brill.
Ibn Sīnā. (1959). Al-Nafs
min Kitāb al-Shifā’ (F. Rahman, Ed.). Oxford University Press.
Ibn Sīnā. (1960). Al-Shifā’:
Ilāhiyyāt (I. Madkour, Ed.). Al-Hay’ah al-‘Āmmah.
Ibn Sīnā. (1960). Al-Shifā’:
Al-Samā‘ al-Ṭabī‘ī (I. Madkour, Ed.). Al-Hay’ah al-‘Āmmah.
Ibn Sīnā. (1985). Al-Najāt
(M. Y. Najm, Ed.). Dār al-Āfāq.
Iqbal, M. (1962). The
Reconstruction of Religious Thought in Islam. Sh. Muhammad Ashraf.
Izutsu, T. (1984). Sufism
and Taoism. University of California Press.
Kamal, M. (2010). Mulla
Sadra’s Transcendent Philosophy. Ashgate.
Leaman, O. (2002). An
Introduction to Classical Islamic Philosophy. Cambridge University Press.
Morewedge, P. (1973). The
Metaphysics of Avicenna. Routledge.
Murata, S. (1992). The
Tao of Islam. SUNY Press.
Nāgārjuna. (1995). Mūlamadhyamakakārikā
(J. Garfield, Trans.). Oxford University Press.
Nasr, S. H. (1972). Sufi
Essays. SUNY Press.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge
and the Sacred. SUNY Press.
Nasr, S. H. (1997). Man
and Nature. ABC International.
Nasr, S. H. (2006). Islamic
Philosophy from Its Origin to the Present. SUNY Press.
Plotinus. (1966). The
Enneads (A. H. Armstrong, Trans.). Harvard University Press.
Rambachan, A. (2006). The
Advaita Worldview. SUNY Press.
Rahman, F. (1952). Avicenna’s
Psychology. Oxford University Press.
Rizvi, S. (2009). Mulla
Sadra and Metaphysics: Modulation of Being. Routledge.
Sartre, J.-P. (1956). Being
and Nothingness (H. Barnes, Trans.). Washington Square Press.
Śaṅkara. (1996). Brahma-Sūtra
Bhāṣya (Swami Gambhirananda, Trans.). Advaita Ashrama.
Suhrawardī. (1999). The
Philosophy of Illumination (J. Walbridge & H. Ziai, Trans.). Brigham
Young University Press.
Taymiyyah, I. (1997). Bayān
Talbīs al-Jahmiyyah (al-Qaḥṭānī, Ed.). Maktabah al-Rushd.
Wolfson, H. A. (1976). The
Philosophy of the Kalam. Harvard University Press.
Yahya, O. (1964). Histoire
et classification de l’oeuvre d’Ibn ‘Arabī. Institut Français de Damas.
Ziai, H. (1990). Knowledge
and Illumination. Scholars Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar