Idealisme Subjektif
Kajian Ontologis atas Idealisme Subjektif
Alihkan ke: Aliran Filsafat Ontologi.
Abstrak
Artikel ini membahas secara mendalam hakikat realitas
menurut Idealisme Subjektif sebagai salah satu aliran utama dalam cabang
ontologi filsafat. Berangkat dari pemikiran George Berkeley dengan
prinsip esse est percipi (“ada berarti dipersepsi”), tulisan ini
menelusuri akar historis, struktur ontologis, serta implikasi epistemologis dan
metafisik dari pandangan bahwa realitas bergantung sepenuhnya pada kesadaran
subjek. Idealisme Subjektif menolak keberadaan materi sebagai entitas
independen dan menegaskan bahwa dunia hanyalah kumpulan ide-ide dalam pikiran.
Pembahasan artikel ini meliputi evolusi historis dari Plato hingga Berkeley,
kritik dari aliran realisme dan materialisme, serta reinterpretasi dalam
konteks filsafat modern seperti fenomenologi, konstruktivisme kognitif, dan
realitas virtual.
Kajian ini menunjukkan bahwa meskipun Idealisme
Subjektif menghadapi tantangan logis dan epistemologis — seperti tuduhan
solipsisme dan kesulitan menjelaskan intersubjektivitas — aliran ini tetap
memiliki relevansi kontemporer. Dalam filsafat kesadaran, ilmu kognitif, dan
budaya digital, prinsip-prinsip idealisme terus hidup sebagai landasan untuk
memahami peran kesadaran dalam membentuk pengalaman dan makna dunia. Melalui
sintesis filosofis antara subjektivitas dan objektivitas, artikel ini
menyimpulkan bahwa Idealisme Subjektif tidak semata-mata meniadakan realitas
eksternal, tetapi menegaskan dimensi kreatif dan reflektif kesadaran manusia
sebagai pusat ontologis keberadaan.
Kata Kunci: Idealisme Subjektif; Ontologi; Kesadaran; George
Berkeley; Epistemologi; Fenomenologi; Realitas Virtual; Intersubjektivitas;
Metafisika; Konstruktivisme.
PEMBAHASAN
Pemahaman Idealisme Subjektif dalam Memahami
Dasar-Dasar Ontologi Modern dan Epistemologi Kesadaran
1.
Pendahuluan
Dalam sejarah filsafat, pencarian hakikat realitas
(ontologi) selalu menjadi salah satu medan perdebatan paling mendasar dan
abadi. Pertanyaan tentang “apa yang benar-benar ada” dan “bagaimana
eksistensi itu dimengerti” telah memunculkan berbagai aliran pemikiran yang
berbeda, dari materialisme hingga idealisme. Salah satu bentuk paling menarik
dan radikal dari idealisme adalah Idealisme Subjektif, yang menegaskan
bahwa realitas pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kesadaran manusia itu
sendiri. Dengan kata lain, realitas hanyalah sejauh ia dipersepsi —
pandangan yang terkenal melalui rumusan esse est percipi (“ada
berarti dipersepsi”) dari filsuf Irlandia George Berkeley
(1685–1753).¹
Lahir dalam konteks modernitas awal, Idealisme
Subjektif merupakan respons terhadap kecenderungan empirisisme yang menekankan
realitas sebagai sesuatu yang hanya dapat diketahui melalui indra. Berkeley
menolak pandangan bahwa benda-benda memiliki keberadaan objektif di luar
pikiran manusia. Menurutnya, apa yang disebut “dunia luar” sebenarnya
hanyalah kumpulan ide-ide dalam pikiran kita, dan keberadaan ide tersebut
dijamin oleh keberadaan Tuhan sebagai subjek universal yang selalu mempersepsi
segala sesuatu.² Pandangan ini menantang paradigma realisme klasik yang
memisahkan antara subjek dan objek, serta menimbulkan implikasi mendalam bagi
ontologi, epistemologi, dan metafisika modern.
Secara ontologis, Idealisme Subjektif berangkat
dari asumsi bahwa kesadaran adalah fondasi segala keberadaan. Realitas tidak
berdiri sendiri secara independen, melainkan merupakan hasil konstruksi
pengalaman perseptual subjek.³ Oleh karena itu, ontologi dalam kerangka ini
tidak membicarakan “benda” sebagai sesuatu yang otonom, melainkan
sebagai representasi dalam kesadaran. Implikasi epistemologisnya pun jelas:
pengetahuan tentang dunia bukanlah hasil dari interaksi pasif dengan objek
eksternal, melainkan hasil dari aktivitas mental yang menafsirkan pengalaman
perseptual.
Kajian terhadap Idealisme Subjektif memiliki
signifikansi yang tinggi dalam konteks filsafat kontemporer, terutama di era
digital dan postmodern yang semakin menekankan peran persepsi, konstruksi
makna, dan pengalaman subjektif dalam membentuk realitas.⁴ Melalui pendekatan
ontologis terhadap Idealisme Subjektif, kita dapat memahami bagaimana realitas
dapat dipahami bukan sebagai sesuatu yang ada di luar sana, melainkan
sebagai sesuatu yang dihadirkan melalui kesadaran manusia.
Artikel ini bertujuan untuk menelaah dasar
ontologis dari Idealisme Subjektif dengan menelusuri akar sejarah, struktur
konseptual, serta implikasinya terhadap epistemologi dan metafisika. Selain
itu, artikel ini juga berupaya menunjukkan relevansi Idealisme Subjektif dalam
memahami relasi antara pikiran dan realitas pada konteks filosofis dan ilmiah
masa kini. Dengan demikian, kajian ini tidak hanya bersifat historis, tetapi
juga reflektif dan aplikatif terhadap dinamika pemikiran modern.
Footnotes
[1]
George Berkeley, A Treatise Concerning the
Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 25.
[2]
Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 42–45.
[3]
Robert M. Pirsig, Lila: An Inquiry into Morals
(New York: Bantam Books, 1991), 112.
[4]
Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of
Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 315–330.
2.
Landasan Historis
dan Genealogis Idealisme Subjektif
Pemahaman tentang Idealisme Subjektif tidak
dapat dilepaskan dari konteks sejarah panjang filsafat Barat yang berakar pada
pencarian makna realitas. Meskipun istilah “idealisme” baru mendapatkan
bentuk sistematisnya pada masa modern, akar-akar konseptualnya telah tampak
sejak filsafat Yunani klasik, terutama melalui pemikiran Plato
dan Aristoteles.
Dalam dialog Theaetetus dan Republic,
Plato menggambarkan dunia ide (world of forms) sebagai realitas sejati
yang lebih tinggi dibanding dunia empiris.¹ Namun, meskipun menempatkan ide
sebagai yang lebih hakiki, Plato masih mempertahankan keberadaan objektivitas
dunia ide itu sendiri — suatu bentuk idealisme objektif, bukan
subjektif. Dalam hal ini, Idealisme Subjektif muncul justru sebagai penegasan
ekstrem bahwa realitas tidak berada di luar kesadaran, melainkan sepenuhnya
di dalamnya.
Perkembangan menuju bentuk idealisme modern
dimulai dengan René Descartes (1596–1650), yang menempatkan kesadaran (cogito)
sebagai dasar segala pengetahuan. Melalui pernyataannya yang terkenal, cogito
ergo sum (“aku berpikir maka aku ada”), Descartes menegaskan bahwa
kepastian ontologis pertama-tama terletak pada kesadaran subjek, bukan pada
dunia luar.² Meskipun Descartes masih mempertahankan keberadaan dunia material
sebagai ciptaan Tuhan, pandangannya membuka jalan bagi pemusatan filsafat pada
subjek — sebuah langkah awal menuju subjektivisme idealis.
Transformasi lebih lanjut muncul melalui empirisisme
Inggris, khususnya dalam pemikiran John Locke dan David Hume.
Locke mengemukakan bahwa pikiran manusia adalah tabula rasa, di mana
seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi.³ Namun, Hume menunjukkan
kelemahan pandangan ini dengan menegaskan bahwa hubungan kausalitas dan
keberadaan benda eksternal tidak pernah benar-benar dapat dibuktikan secara
empiris, melainkan hanya merupakan kebiasaan berpikir (habit of mind).⁴
Pandangan skeptis Hume ini membuka celah besar bagi reinterpretasi realitas
sebagai konstruksi kesadaran — sebuah ruang yang kemudian diisi oleh George
Berkeley.
George Berkeley (1685–1753) merupakan tokoh sentral yang memformulasikan Idealisme
Subjektif secara sistematis. Dalam A Treatise Concerning the Principles
of Human Knowledge, ia menyatakan bahwa semua objek yang kita sebut “benda”
hanyalah kumpulan ide-ide dalam pikiran.⁵ Tidak ada eksistensi material yang
berdiri sendiri di luar persepsi subjek; keberadaan sesuatu identik dengan
persepsi atasnya — esse est percipi. Untuk menghindari solipsisme,
Berkeley mengandaikan keberadaan Tuhan sebagai “pengamat abadi” yang
menjamin kontinuitas eksistensi dunia bahkan ketika tidak ada manusia yang
memersepsinya.⁶
Dalam konteks sejarah filsafat, gagasan Berkeley
merupakan bentuk reaksi terhadap materialisme mekanistik abad ke-17,
yang berakar pada pandangan Newtonian dan Cartesian tentang alam semesta
sebagai mesin yang independen dari kesadaran manusia.⁷ Idealisme Subjektif
menolak pandangan ini dengan menegaskan bahwa realitas tidak dapat dijelaskan
tanpa melibatkan persepsi, pengalaman, dan kesadaran.
Selanjutnya, pemikiran Berkeley memberi pengaruh
mendalam terhadap perkembangan idealisme Jerman, terutama pada Immanuel Kant,
Johann Gottlieb Fichte, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.⁸
Meskipun ketiganya mengembangkan bentuk idealisme transendental atau objektif,
gagasan bahwa realitas ditentukan oleh struktur kesadaran tetap menjadi warisan
langsung dari subjektivisme Berkeley. Dengan demikian, Idealisme Subjektif
menempati posisi penting sebagai jembatan antara empirisisme Inggris dan
idealisme Jerman, serta sebagai tonggak awal dalam sejarah ontologi modern yang
menempatkan kesadaran sebagai pusat eksistensi.
Footnotes
[1]
Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube,
rev. C. D. C. Reeve (Indianapolis: Hackett Publishing, 1992), 186–190.
[2]
René Descartes, Meditations on First Philosophy,
trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 17–21.
[3]
John Locke, An Essay Concerning Human Understanding
(London: T. Tegg, 1836), 45–47.
[4]
David Hume, A Treatise of Human Nature, ed.
L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1896), 127–130.
[5]
George Berkeley, A Treatise Concerning the
Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 25–28.
[6]
Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 53–58.
[7]
Stephen Gaukroger, Descartes: An Intellectual
Biography (Oxford: Clarendon Press, 1995), 210–215.
[8]
Frederick Copleston, A History of Philosophy,
Vol. 6: Wolff to Kant (New York: Image Books, 1994), 312–320.
3.
Ontologi
Idealisme Subjektif
Ontologi dalam kerangka Idealisme Subjektif
berpusat pada pertanyaan fundamental mengenai hakikat “ada” (being)
dan hubungannya dengan kesadaran. Jika dalam tradisi materialisme realitas
dipahami sebagai sesuatu yang bersifat eksternal, objektif, dan independen dari
pikiran manusia, maka dalam Idealisme Subjektif, keberadaan justru bergantung
sepenuhnya pada kesadaran yang memersepsi.¹ Ontologi aliran ini berangkat
dari proposisi utama bahwa ada berarti dipersepsi (esse est percipi).
Segala sesuatu yang dikatakan “ada” hanyalah karena ia hadir dalam
pengalaman perseptual subjek.²
Bagi George Berkeley, realitas bukanlah
kumpulan substansi material, melainkan kumpulan ide atau representasi
mental yang muncul dalam kesadaran. Dunia yang tampak di sekitar kita — meja,
pohon, laut, bahkan tubuh manusia — hanyalah rangkaian persepsi yang
dikonstruksi oleh pikiran.³ Ia menolak konsep “materi” sebagai entitas
otonom yang mendasari persepsi, karena gagasan tentang materi itu sendiri tidak
pernah dapat dialami secara langsung oleh pancaindra atau oleh kesadaran.
Dengan demikian, materi hanyalah konsep kosong tanpa referensi empiris
yang sah.⁴
Ontologi Idealisme Subjektif menegaskan bahwa
keberadaan suatu benda identik dengan dipersepsinya benda itu oleh subjek.
Namun, jika keberadaan sesuatu tergantung pada persepsi, maka muncul
pertanyaan: apakah dunia tetap ada ketika tidak ada manusia yang melihatnya?
Untuk menjawab dilema ini, Berkeley memperkenalkan konsep Tuhan sebagai
Subjek Universal yang selalu mempersepsi segala sesuatu.⁵ Tuhan, dalam
pandangan Berkeley, adalah kesadaran mutlak yang menjamin kontinuitas
eksistensi dunia. Dengan kata lain, realitas tetap ada bukan karena benda
memiliki substansi fisik, melainkan karena selalu berada dalam pikiran Tuhan.⁶
Struktur ontologis ini memperlihatkan hubungan erat
antara eksistensi dan persepsi. Bagi idealisme subjektif, tidak ada “realitas
independen” yang berdiri di luar kesadaran. Dunia eksternal adalah dunia
fenomenal, yakni totalitas pengalaman subjek.⁷ Ontologi ini bersifat
fenomenalistik: apa yang disebut “objek” hanyalah kumpulan impresi dan
ide yang tersusun dalam tatanan perseptual. Dalam kerangka ini, subjek menjadi
pusat semesta ontologis, sementara “objek” kehilangan otonominya dan
hanya bermakna sejauh ia dialami.
Implikasi dari pandangan ini adalah penghapusan
dualisme klasik antara subjek dan objek. Dalam materialisme dan realisme,
subjek dianggap sebagai pengamat pasif terhadap dunia yang sudah ada secara
independen. Namun, dalam Idealisme Subjektif, batas antara subjek dan objek
menjadi cair: objek hanyalah isi kesadaran, dan kesadaran tidak pernah lepas
dari objek-objek yang dihayatinya.⁸ Dengan demikian, realitas ontologis
bukanlah “hal di luar diri,” melainkan “modus penampakan” dalam
struktur kesadaran.
Pandangan ini secara ontologis menegaskan primasi
kesadaran (the primacy of consciousness) dibanding substansi
material. Keberadaan manusia sebagai makhluk berpikir menjadi sumber segala
makna ontologis. Namun, pandangan ini juga memunculkan konsekuensi metafisik
penting — yaitu bahwa kebenaran dan keberadaan bersifat relatif terhadap
perspektif subjek.⁹ Dalam konteks ini, Idealisme Subjektif membuka ruang bagi
pemahaman baru tentang realitas yang tidak statis dan tunggal, melainkan
dinamis dan tergantung pada hubungan perseptual yang senantiasa berubah.
Dengan demikian, Ontologi Idealisme Subjektif
merupakan suatu paradigma yang menempatkan kesadaran sebagai hakikat tertinggi
dari eksistensi. “Ada” bukan berarti berada secara fisik di luar,
melainkan hadir dalam horizon pengalaman yang dihayati.¹⁰ Dalam arti ini,
realitas tidak dapat dipisahkan dari subjek yang menyadarinya — dan di sinilah
letak ciri khas serta daya revolusioner dari Idealisme Subjektif dalam sejarah
filsafat modern.
Footnotes
[1]
George Berkeley, A Treatise Concerning the
Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford University
Press, 1998), 25.
[2]
Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 43–44.
[3]
Berkeley, A Treatise Concerning the Principles
of Human Knowledge, 31–33.
[4]
Anthony Kenny, A New History of Western
Philosophy, Vol. 3: The Rise of Modern Philosophy (Oxford: Oxford
University Press, 2006), 245.
[5]
George Pitcher, Berkeley (London: Routledge
& Kegan Paul, 1977), 67.
[6]
John Foster, The Case for Idealism (London:
Routledge, 1982), 98–101.
[7]
Robert E. Carter, Consciousness and Reality: The
Humanistic Foundations of Idealism (Albany: State University of New York
Press, 1991), 56.
[8]
Frederick Copleston, A History of Philosophy,
Vol. 5: Modern Philosophy, Part II (New York: Image Books, 1994), 289–291.
[9]
Paul Guyer, Knowledge, Reason, and Taste: Kant’s
Response to Hume (Princeton: Princeton University Press, 2008), 17.
[10]
Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A
Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 112–114.
4.
Epistemologi
dan Implikasi Metafisik
Dalam kerangka Idealisme Subjektif,
epistemologi tidak dapat dipisahkan dari ontologi karena cara mengetahui
(knowing) dan ada (being) saling berkelindan dalam kesadaran. Jika
ontologi aliran ini menegaskan bahwa realitas bergantung pada persepsi, maka epistemologinya
berangkat dari proposisi bahwa pengetahuan adalah aktivitas kesadaran dalam
mengonstruksi realitas melalui pengalaman perseptual.¹ Dengan demikian,
epistemologi Idealisme Subjektif bukanlah teori tentang bagaimana kita mengenal
dunia yang independen dari pikiran, melainkan tentang bagaimana pengalaman
mental membentuk dunia itu sendiri.
Bagi George Berkeley, pengetahuan tidak
mungkin diperoleh melalui entitas material yang terpisah dari kesadaran, sebab
semua yang kita ketahui adalah ide-ide yang hadir dalam pikiran.² Tidak
ada jalan untuk melampaui kesadaran guna mengakses dunia “nyata” secara
langsung, karena apa yang disebut “objek eksternal” hanyalah kumpulan
representasi dalam pengalaman subjek.³ Oleh karena itu, pengetahuan bersifat imediat
dan subjektif — ia terjadi langsung dalam kesadaran, tanpa perantara
realitas eksternal. Dalam pengertian ini, epistemologi Idealisme Subjektif
bersifat fenomenalistik: hanya fenomena yang dialami yang dapat
diketahui, sementara esensi di luar pengalaman tidak memiliki status
epistemik.⁴
Pandangan ini berimplikasi langsung pada konsep kebenaran
dan validitas pengetahuan. Jika segala sesuatu bergantung pada persepsi
subjek, maka kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan korespondensi antara
pikiran dan realitas eksternal, melainkan berdasarkan koherensi antaride
dalam kesadaran.⁵ Suatu pengetahuan dianggap benar sejauh konsisten dengan
pengalaman perseptual yang lain dan tidak menimbulkan kontradiksi internal
dalam sistem ide-ide tersebut. Dengan demikian, epistemologi Idealisme
Subjektif bersifat koherensial, bukan korespondensial.
Namun, konsekuensi ekstrem dari pandangan ini
adalah munculnya problem solipsisme epistemologis — yakni kemungkinan
bahwa hanya kesadaran individu yang benar-benar ada, sementara dunia luar dan
kesadaran lain hanyalah representasi dalam pikiran subjek.⁶ Untuk mengatasi
dilema ini, Berkeley memperkenalkan peran Tuhan sebagai subjek universal
yang menjamin keteraturan dan objektivitas pengalaman.⁷ Tuhan menjadi sumber
kesinambungan pengalaman perseptual, sehingga walaupun persepsi individu
terbatas, dunia tetap memiliki konsistensi dan keteraturan yang dapat
dipelajari. Dengan demikian, dalam kerangka epistemologis Berkeley, Tuhan
berfungsi sebagai prinsip transendental yang mengikat pengalaman subjektif
manusia dalam satu kesatuan tatanan kosmik.⁸
Secara metafisik, pandangan ini menegaskan
bahwa realitas tertinggi bukanlah materi, melainkan kesadaran ilahi.
Dunia fisik hanyalah ekspresi atau manifestasi dari pikiran Tuhan.⁹ Segala sesuatu
yang tampak sebagai “objek eksternal” hanyalah ide-ide dalam kesadaran
ilahi yang juga dihadirkan dalam kesadaran manusia. Karena itu, relasi antara
manusia dan Tuhan bersifat partisipatif: manusia, melalui kesadarannya,
mengambil bagian dalam tatanan ide yang lebih tinggi.¹⁰ Dengan demikian,
Idealisme Subjektif tidak hanya merupakan teori epistemologis, tetapi juga
sistem metafisik yang menyatukan pengetahuan, kesadaran, dan realitas dalam
satu kesatuan ontologis yang bersumber pada pikiran.
Dalam konteks filsafat kontemporer, implikasi
metafisik dari Idealisme Subjektif dapat dilihat dalam dua arah utama. Pertama,
dalam fenomenologi Edmund Husserl, yang menegaskan bahwa segala makna
dan eksistensi hanya dapat dipahami dalam horizon kesadaran transendental.¹¹
Kedua, dalam filsafat konstruktivisme dan realisme perseptual modern,
yang mengakui bahwa pengetahuan dan realitas saling bergantung dalam proses
kognitif manusia.¹² Dengan demikian, Idealisme Subjektif tetap relevan karena
menawarkan kerangka untuk memahami bagaimana realitas tidak hanya ditemukan,
tetapi juga diciptakan oleh kesadaran.
Epistemologi dan metafisika dalam Idealisme
Subjektif, pada akhirnya, menghadirkan pemahaman yang radikal tentang hubungan
antara pikiran dan dunia. Pengetahuan bukanlah cermin dari realitas eksternal,
melainkan aktivitas penciptaan makna yang terus berlangsung dalam kesadaran.
Realitas, pada gilirannya, bukanlah sesuatu yang menunggu untuk ditemukan,
tetapi sesuatu yang muncul melalui persepsi, pengalaman, dan kesadaran
itu sendiri.¹³
Footnotes
[1]
George Berkeley, A Treatise Concerning the
Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 31.
[2]
Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 48.
[3]
Anthony Kenny, A New History of Western
Philosophy, Vol. 3: The Rise of Modern Philosophy (Oxford: Oxford
University Press, 2006), 246–247.
[4]
Paul Guyer, Knowledge, Reason, and Taste: Kant’s
Response to Hume (Princeton: Princeton University Press, 2008), 23–24.
[5]
Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A
Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 119.
[6]
Bertrand Russell, The Problems of Philosophy
(London: Williams and Norgate, 1912), 40–43.
[7]
George Pitcher, Berkeley (London: Routledge
& Kegan Paul, 1977), 73–74.
[8]
John Foster, The Case for Idealism (London:
Routledge, 1982), 109–112.
[9]
Robert E. Carter, Consciousness and Reality: The
Humanistic Foundations of Idealism (Albany: State University of New York Press,
1991), 65–66.
[10]
Stephen Priest, Theories of the Mind
(London: Penguin Books, 1991), 144.
[11]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure
Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The
Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 54.
[12]
Ernst von Glasersfeld, Radical Constructivism: A
Way of Knowing and Learning (London: Falmer Press, 1995), 8–10.
[13]
Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of
Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 319.
5.
Kritik
terhadap Idealisme Subjektif
Sejak kemunculannya, Idealisme Subjektif
telah menimbulkan perdebatan panjang dalam sejarah filsafat. Pandangan yang
menegaskan bahwa realitas bergantung sepenuhnya pada kesadaran dipandang
revolusioner, tetapi juga problematis. Kritik terhadap aliran ini datang dari
berbagai arah — mulai dari realisme dan materialisme, hingga dari idealisme
objektif dan filsafat kritis modern — yang menyoroti implikasi
logis, epistemologis, dan metafisik dari pandangan subjektivistik tentang
realitas.
5.1.
Kritik dari Realisme dan
Materialisme
Kaum realis menolak asumsi dasar Idealisme
Subjektif yang menafikan keberadaan dunia eksternal yang independen dari
kesadaran. Bagi mereka, keyakinan bahwa objek hanya ada ketika dipersepsi
mengarah pada kesimpulan yang absurd: bahwa dunia “menghilang” ketika tidak ada
yang melihatnya.¹ Dalam kerangka realisme, persepsi manusia hanyalah sarana
untuk mengakses realitas, bukan pencipta realitas itu sendiri. Pandangan ini
menuduh Idealisme Subjektif jatuh ke dalam bentuk solipsisme, yaitu
pandangan bahwa hanya diri dan kesadarannya yang benar-benar ada.²
Kaum materialis, seperti Karl Marx,
juga mengkritik aspek metafisik Idealisme Subjektif yang dianggap “membalikkan
dunia nyata.”³ Menurut Marx, filsafat idealis gagal memahami kondisi
material yang melandasi kesadaran manusia. Ia menyatakan bahwa bukan kesadaran
yang menentukan keberadaan, melainkan keberadaan sosial-material yang
menentukan kesadaran.⁴ Dengan demikian, Idealisme Subjektif dianggap terputus
dari realitas empiris dan historis yang konkret, serta mengabaikan peran
struktur sosial dalam pembentukan pengetahuan.
5.2.
Kritik dari Idealisme Objektif
Dari dalam tradisi idealisme sendiri, muncul kritik
tajam terhadap subjektivisme Berkeley. Georg Wilhelm Friedrich Hegel,
melalui Idealisme Objektif, menolak pandangan bahwa realitas hanyalah
hasil persepsi individual.⁵ Bagi Hegel, kesadaran individu tidak cukup untuk
menjelaskan totalitas realitas, karena kebenaran hanya dapat dimengerti dalam
konteks rasionalitas universal — yaitu Roh Absolut (Geist) yang
mengekspresikan diri melalui sejarah, budaya, dan masyarakat.⁶ Dengan demikian,
jika bagi Berkeley realitas bergantung pada subjek perseptual, maka bagi Hegel
realitas adalah proses dialektis dari kesadaran universal yang mengatasi
individualitas.
Hegel menilai bahwa Idealisme Subjektif bersifat ahistoris
dan atomistik, karena mengisolasi individu dari jaringan relasi sosial dan
historis.⁷ Pandangan ini tidak dapat menjelaskan perkembangan kesadaran manusia
dalam sejarah maupun dinamika perubahan dunia. Dalam pengertian ini, Idealisme
Subjektif dianggap terlalu sempit untuk menjelaskan kompleksitas realitas yang
melibatkan dimensi sosial, etis, dan rasional.
5.3.
Kritik Epistemologis dan Ilmiah
Dari perspektif epistemologi modern,
Idealisme Subjektif menghadapi tantangan dalam menjelaskan inter-subjektivitas
— yaitu bagaimana pengetahuan dapat dibagikan dan diverifikasi antarindividu
jika realitas hanya ada dalam kesadaran pribadi.⁸ Jika semua pengetahuan
bersifat subjektif, maka tidak ada dasar obyektif untuk membedakan antara
persepsi yang benar dan keliru. Immanuel Kant mengkritik hal ini dengan
mengembangkan Idealisme Transendental, yang mengakui peran struktur
apriori kesadaran, tetapi tetap mempertahankan eksistensi dunia fenomenal yang
tunduk pada hukum-hukum universal.⁹
Selain itu, dalam konteks sains modern,
Idealisme Subjektif dinilai tidak mampu menjelaskan keberhasilan metode ilmiah
yang berasumsi pada keberadaan dunia objektif.¹⁰ Sains beroperasi dengan
keyakinan bahwa hukum-hukum alam bersifat independen dari persepsi manusia.
Jika realitas hanya konstruksi kesadaran, maka keberhasilan teknologi dan
eksperimen empiris menjadi paradoksal. Dengan demikian, dari perspektif ilmiah,
Idealisme Subjektif dianggap tidak kompatibel dengan pendekatan empiris dan
eksperimental yang menjadi dasar pengetahuan modern.
5.4.
Kritik dari Filsafat Analitik dan
Fenomenologi
Dalam tradisi filsafat analitik, Bertrand
Russell dan G. E. Moore menolak klaim Berkeley dengan argumen bahwa
persepsi tidak menghapus eksistensi benda-benda fisik.¹¹ Moore memperkenalkan
apa yang disebut “argumentasi akal sehat”, yakni bahwa kita dapat dengan
pasti mengetahui keberadaan benda-benda seperti meja dan kursi tanpa harus
mengasumsikan bahwa benda-benda tersebut bergantung pada kesadaran kita.¹²
Di sisi lain, fenomenologi Edmund Husserl
dan eksistensialisme Jean-Paul Sartre juga mengkritik bentuk
subjektivisme ekstrem. Husserl menunjukkan bahwa kesadaran selalu bersifat intensional
— yakni selalu “menuju” sesuatu yang lain di luar dirinya.¹³ Artinya,
kesadaran tidak mungkin eksis tanpa objek yang diarahinya, sehingga antara
subjek dan dunia selalu ada relasi timbal balik. Sartre, dalam Being and
Nothingness, bahkan menegaskan bahwa realitas manusia (being-for-itself)
justru menemukan maknanya melalui interaksi dengan dunia nyata dan dengan
kesadaran orang lain.¹⁴
Dengan demikian, kritik terhadap Idealisme
Subjektif mencakup berbagai level: logis, epistemologis, metafisik, dan
empiris. Meskipun memberikan sumbangan besar dalam menempatkan kesadaran
sebagai pusat realitas, aliran ini menghadapi kesulitan dalam menjelaskan
objektivitas, intersubjektivitas, dan dinamika historis pengetahuan. Namun,
justru melalui kritik-kritik inilah Idealisme Subjektif memperoleh relevansi
filosofisnya — sebagai batu pijakan bagi refleksi lebih lanjut tentang hubungan
antara kesadaran, realitas, dan pengetahuan.
Footnotes
[1]
Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford:
Oxford University Press, 1986), 29.
[2]
Bertrand Russell, The Problems of Philosophy
(London: Williams and Norgate, 1912), 44–46.
[3]
Karl Marx, Theses on Feuerbach, in The
German Ideology, ed. C. J. Arthur (New York: International Publishers,
1970), 121.
[4]
Ibid., 122.
[5]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit,
trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 73–75.
[6]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge
University Press, 1975), 142–145.
[7]
Frederick Copleston, A History of Philosophy,
Vol. 7: From Fichte to Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 88.
[8]
Hilary Putnam, Reason, Truth, and History
(Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 47.
[9]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason,
trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press,
1998), A26–A28.
[10]
Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery
(London: Routledge, 2002), 15–17.
[11]
Bertrand Russell, Our Knowledge of the External
World (London: Allen & Unwin, 1914), 11–13.
[12]
G. E. Moore, “A Defence of Common Sense,” in Contemporary
British Philosophy, ed. J. H. Muirhead (London: Allen & Unwin, 1925),
192–195.
[13]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure
Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The
Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 58–59.
[14]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness,
trans. Hazel E. Barnes (London: Routledge, 1995), 98–100.
6.
Relevansi
dan Aplikasi Kontemporer
Meskipun lahir pada abad ke-18, Idealisme
Subjektif tetap memiliki daya resonansi yang kuat dalam konteks filsafat,
ilmu pengetahuan, dan kebudayaan kontemporer. Di era yang ditandai oleh
kemajuan teknologi digital, pluralitas epistemik, dan pergeseran paradigma
tentang realitas, gagasan bahwa “realitas bergantung pada kesadaran”
mendapatkan makna baru. Berbagai bidang — mulai dari filsafat kesadaran,
psikologi kognitif, hingga teknologi virtual — kini menghidupkan
kembali prinsip-prinsip idealisme dalam bentuk yang lebih empiris dan
interdisipliner.
6.1.
Dalam Filsafat Kesadaran dan
Fenomenologi Modern
Dalam ranah filsafat kesadaran, Idealisme
Subjektif menjadi fondasi bagi pendekatan fenomenologis yang menempatkan
kesadaran sebagai pusat pengalaman. Edmund Husserl dalam Ideas
Pertaining to a Pure Phenomenology menegaskan bahwa setiap pengalaman
selalu memiliki struktur intensionalitas, yakni keterarahan kesadaran
pada objek tertentu.¹ Pandangan ini beresonansi langsung dengan prinsip
Berkeley bahwa realitas hanya eksis dalam hubungan perseptual. Namun, berbeda
dari subjektivisme ekstrem, fenomenologi Husserl menegaskan pentingnya intersubjektivitas,
yakni dimensi bersama dari kesadaran yang memungkinkan realitas bersama (shared
world).²
Selain itu, dalam filsafat pikiran kontemporer,
diskusi tentang hubungan antara kesadaran dan realitas kembali memuncak melalui
teori panpsikisme, yang berargumen bahwa kesadaran merupakan aspek
fundamental dari seluruh eksistensi.³ Para filsuf seperti Galen Strawson
dan Philip Goff menilai bahwa jika kesadaran tidak dapat direduksi ke
fenomena fisik, maka seluruh realitas mungkin mengandung dimensi mental.⁴
Dengan demikian, Idealisme Subjektif memperoleh bentuk baru sebagai kerangka
metafisik yang mampu menjelaskan hubungan antara pikiran, persepsi, dan dunia
fisik dalam cara yang lebih inklusif.
6.2.
Dalam Psikologi dan Ilmu Kognitif
Dalam psikologi modern, prinsip-prinsip
Idealisme Subjektif tercermin dalam pendekatan konstruktivisme kognitif.
Teori ini beranggapan bahwa manusia tidak sekadar menerima realitas secara
pasif, melainkan secara aktif membangun representasi mental tentang dunia berdasarkan
pengalaman dan konteks sosial.⁵ Menurut Jean Piaget, pengetahuan bukan
hasil penyalinan realitas, tetapi hasil interaksi antara subjek dan lingkungan
melalui proses asimilasi dan akomodasi.⁶ Dengan demikian, apa yang disebut “realitas
objektif” pada dasarnya merupakan hasil konstruksi kognitif yang terbentuk
dalam kesadaran.
Pendekatan serupa muncul dalam neurosains
kesadaran, khususnya dalam teori predictive processing atau brain
as a prediction machine.⁷ Dalam teori ini, otak dianggap tidak hanya
menanggapi stimulus eksternal, tetapi juga secara aktif memprediksi dan
membentuk pengalaman berdasarkan model internal. Artinya, realitas yang kita
alami selalu merupakan hasil interpretasi mental — suatu pandangan yang sangat
dekat dengan prinsip-prinsip Idealisme Subjektif Berkeley, namun kini didukung
oleh temuan empiris modern.⁸
6.3.
Dalam Budaya Digital dan Realitas
Virtual
Di era teknologi digital dan realitas virtual
(VR), gagasan bahwa realitas adalah konstruksi kesadaran menjadi semakin
relevan. Dunia virtual menciptakan lingkungan yang sepenuhnya bergantung pada
persepsi pengguna, di mana batas antara “nyata” dan “maya”
menjadi kabur.⁹ Dalam konteks ini, Idealisme Subjektif dapat dibaca sebagai
dasar filosofis untuk memahami bagaimana teknologi membentuk persepsi dan
pengalaman manusia.
Nick Bostrom, misalnya, dalam esainya “Virtual Reality and the Future of
Consciousness” mengemukakan bahwa jika pengalaman virtual mampu
menggantikan pengalaman dunia nyata dengan sempurna, maka perbedaan antara realitas
dan ilusi menjadi semata-mata persoalan tingkat persepsi.¹⁰ Pandangan ini
sejalan dengan tesis Berkeley bahwa keberadaan sesuatu ditentukan oleh
persepsi, bukan oleh substansi material. Dalam konteks masyarakat digital,
Idealisme Subjektif membantu kita memahami bagaimana media, algoritma, dan
simulasi digital membentuk “realitas sosial” yang kita hidupi sehari-hari.
6.4.
Dalam Etika dan Ekspresi Budaya
Relevansi Idealisme Subjektif juga tampak dalam etika
kontemporer, terutama dalam hal tanggung jawab moral terhadap persepsi dan
konstruksi makna. Jika realitas merupakan hasil kesadaran, maka setiap individu
memiliki tanggung jawab etis dalam membentuk persepsi dan interpretasi yang
benar.¹¹ Dalam konteks budaya pasca-modern, di mana kebenaran sering dianggap
relatif dan bergantung pada perspektif, Idealisme Subjektif menantang kita
untuk menyadari dimensi subjektif dalam setiap klaim kebenaran.
Dalam dunia seni dan sastra, idealisme ini menjadi
inspirasi bagi karya-karya yang menekankan realitas batin dan pengalaman
subjektif. Misalnya, gerakan ekspresionisme dan surealisme berupaya
menggambarkan dunia sebagaimana dirasakan, bukan sebagaimana adanya secara
objektif.¹² Dengan demikian, Idealisme Subjektif menemukan penerapannya sebagai
fondasi estetika yang memuliakan subjektivitas manusia sebagai sumber makna dan
kreativitas.
Melalui berbagai bidang tersebut, Idealisme
Subjektif menunjukkan bahwa ia bukan sekadar warisan metafisik masa lalu,
tetapi juga kerangka reflektif yang terus hidup dan berkembang. Di tengah dunia
yang semakin dikuasai oleh teknologi dan konstruksi sosial, filsafat ini
mengingatkan bahwa realitas selalu berakar pada kesadaran manusia — pada
pengalaman yang memberi makna bagi keberadaan itu sendiri.
Footnotes
[1]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure
Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The
Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 58.
[2]
Dan Zahavi, Husserl’s Phenomenology
(Stanford: Stanford University Press, 2003), 105–108.
[3]
Galen Strawson, “Realistic Monism: Why Physicalism
Entails Panpsychism,” Journal of Consciousness Studies 13, no. 10–11
(2006): 3–31.
[4]
Philip Goff, Galileo’s Error: Foundations for a
New Science of Consciousness (New York: Pantheon Books, 2019), 72–75.
[5]
Ernst von Glasersfeld, Radical Constructivism: A
Way of Knowing and Learning (London: Falmer Press, 1995), 7–9.
[6]
Jean Piaget, The Construction of Reality in the
Child, trans. Margaret Cook (New York: Basic Books, 1954), 12–14.
[7]
Andy Clark, Surfing Uncertainty: Prediction, Action,
and the Embodied Mind (Oxford: Oxford University Press, 2016), 21–23.
[8]
Anil K. Seth, Being You: A New Science of
Consciousness (London: Faber & Faber, 2021), 56–58.
[9]
Michael Heim, The Metaphysics of Virtual Reality
(Oxford: Oxford University Press, 1993), 84–87.
[10]
Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of
Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 320–323.
[11]
Charles Taylor, The Ethics of Authenticity
(Cambridge: Harvard University Press, 1991), 34–36.
[12]
Herbert Read, The Meaning of Art (London:
Faber & Faber, 1968), 119–122.
7.
Sintesis
Filosofis
Sintesis filosofis dari Idealisme Subjektif
menempati posisi penting dalam upaya memahami relasi antara kesadaran,
realitas, dan pengetahuan dalam sejarah filsafat. Setelah melalui kritik-kritik
tajam dari berbagai aliran — mulai dari realisme, materialisme, hingga
idealisme objektif dan fenomenologi — dapat disimpulkan bahwa nilai filosofis
Idealisme Subjektif tidak terletak pada dogmatisme ontologisnya, melainkan pada
kontribusinya dalam menggeser pusat realitas dari dunia luar menuju
kesadaran manusia. Pandangan ini, jika dibaca secara reflektif dan
dialektis, membuka jalan bagi sintesis yang menyeimbangkan antara subjektivitas
dan objektivitas, antara kesadaran individual dan struktur rasional
universal.
7.1.
Rekonsiliasi antara Subjektivitas
dan Objektivitas
Idealisme Subjektif menegaskan bahwa semua
pengetahuan berakar pada pengalaman perseptual individu. Namun, pandangan ini
dapat diperluas dengan mengakui bahwa subjektivitas tidak berdiri sendiri,
melainkan beroperasi dalam konteks intersubjektif, di mana kesadaran
saling menembus dan membentuk dunia bersama.¹ Pandangan ini dikembangkan oleh Edmund
Husserl dan Maurice Merleau-Ponty, yang melihat bahwa dunia bukan
sekadar proyeksi kesadaran individu, melainkan lived world (Lebenswelt)
yang dialami secara bersama dan historis.² Dengan demikian, realitas dapat
dipahami sebagai pertemuan antara konstruksi subjektif dan struktur
intersubjektif yang memberi stabilitas pada makna pengalaman.
Dalam kerangka ini, Idealisme Subjektif dapat
disintesiskan dengan Idealisme Objektif Hegelian, yang menempatkan
kesadaran individu sebagai bagian dari proses rasional universal.³ Kesadaran
manusia tidak lagi dilihat sebagai entitas terpisah, tetapi sebagai manifestasi
dari Roh Absolut (Geist) yang mengekspresikan dirinya melalui
budaya, sejarah, dan pengetahuan.⁴ Dengan demikian, subjektivitas bukan
ditolak, tetapi diangkat menuju level universalitas, di mana “pikiran
individual” menjadi bagian dari rasionalitas kolektif manusia.
7.2.
Integrasi Epistemologi dan Ontologi
Kesadaran
Secara epistemologis, sintesis ini menolak dikotomi
tajam antara “subjek” dan “objek” yang diwariskan oleh tradisi
modern. Pengetahuan tidak dipahami sebagai representasi pasif dunia eksternal,
melainkan sebagai proses ko-konstitutif, di mana kesadaran dan dunia
saling membentuk.⁵ Dalam pengertian ini, realitas bukan hasil ilusi subjektif
semata, melainkan produk relasional antara kesadaran yang memahami dan
fenomena yang dihayati.
Secara ontologis, hal ini berarti bahwa keberadaan
tidak lagi dipandang sebagai “substansi” yang berdiri sendiri, tetapi
sebagai relasi dinamis antara pengada dan yang dihayati.⁶ “Ada”
berarti “dihadirkan dalam kesadaran,” namun kesadaran itu sendiri adalah
bagian dari jaringan hubungan eksistensial yang melibatkan subjek lain, dunia,
dan struktur makna yang lebih luas. Dengan demikian, Idealisme Subjektif dapat
disintesiskan dalam kerangka ontologi fenomenologis, yang tidak
meniadakan realitas eksternal, tetapi menempatkannya dalam horizon kesadaran
yang aktif dan reflektif.⁷
7.3.
Dimensi Etis dan Humanistik dari
Idealisme Subjektif
Sintesis filosofis dari Idealisme Subjektif juga
memiliki dimensi etis dan humanistik. Dengan menempatkan kesadaran
manusia sebagai pusat makna, aliran ini membuka ruang bagi pengakuan terhadap martabat
subjek sebagai pencipta dan penafsir realitas.⁸ Dalam konteks ini, setiap
tindakan persepsi dan pengetahuan mengandung tanggung jawab moral, karena cara
kita memandang dunia akan menentukan bagaimana kita bertindak di dalamnya.
Pandangan ini sejalan dengan etika eksistensialis Jean-Paul Sartre, yang
menegaskan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas” — artinya, ia harus
bertanggung jawab atas makna yang diciptakannya sendiri.⁹
Lebih jauh lagi, Idealisme Subjektif yang
disintesiskan secara kritis dapat memberikan dasar bagi humanisme spiritual,
sebagaimana dikembangkan oleh Karl Jaspers dan Gabriel Marcel.¹⁰
Keduanya memandang bahwa kesadaran manusia tidak hanya bersifat rasional,
tetapi juga eksistensial dan transendental. Dalam kesadaran terdapat ruang bagi
keterbukaan terhadap yang lain — baik sesama manusia maupun dimensi ilahi.
Dengan demikian, kesadaran bukan sekadar pusat realitas, tetapi juga jembatan
antara individu dan totalitas keberadaan.
7.4.
Relevansi Sintesis dalam Filsafat
Kontemporer
Dalam wacana filsafat kontemporer, sintesis ini
menemukan aktualitasnya dalam berbagai aliran baru, seperti realisme kritis
(Roy Bhaskar), konstruktivisme reflektif, dan panpsikisme ilmiah.¹¹
Semua pendekatan ini berupaya melampaui dikotomi lama antara materialisme dan
idealisme dengan menegaskan bahwa realitas bersifat ganda: ia memiliki dimensi
material dan kesadaran yang tak terpisahkan. Dalam hal ini, Idealisme Subjektif
tidak lagi dipahami sebagai penolakan terhadap dunia objektif, melainkan
sebagai pengingat bahwa setiap pengetahuan dan eksistensi selalu dimediasi oleh
kesadaran manusia.¹²
Oleh karena itu, sintesis filosofis dari
Idealisme Subjektif bukanlah upaya untuk mempertahankan dogma lama, tetapi
untuk membangun paradigma baru yang koheren, reflektif, dan dialogis —
paradigma yang menempatkan manusia sebagai pusat makna tanpa menafikan realitas
yang lebih luas di luar dirinya. Pandangan ini, pada akhirnya, menegaskan bahwa
realitas bukan hanya sesuatu yang ada, tetapi sesuatu yang dihayati dan
dimaknai.
Footnotes
[1]
Dan Zahavi, Self and Other: Exploring
Subjectivity, Empathy, and Shame (Oxford: Oxford University Press, 2014),
52–53.
[2]
Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of
Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 2002), 60–63.
[3]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit,
trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 112–115.
[4]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge
University Press, 1975), 156–160.
[5]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 97–99.
[6]
Jean-Luc Marion, Being Given: Toward a
Phenomenology of Givenness, trans. Jeffrey Kosky (Stanford: Stanford
University Press, 2002), 48–49.
[7]
Robert E. Carter, Consciousness and Reality: The
Humanistic Foundations of Idealism (Albany: State University of New York
Press, 1991), 73–74.
[8]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An
Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne
University Press, 1969), 89.
[9]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism,
trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 43.
[10]
Karl Jaspers, Philosophy of Existence,
trans. Richard F. Grabau (Philadelphia: University of Pennsylvania Press,
1971), 101–103.
[11]
Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science
(London: Verso, 2008), 15–17.
[12]
Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A
Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 130–132.
8.
Kesimpulan
Kajian atas Idealisme Subjektif menunjukkan
bahwa aliran ini merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah filsafat
Barat yang berhasil menggeser pusat ontologi dari dunia eksternal menuju ranah
kesadaran manusia. Dengan menegaskan prinsip esse est percipi — “ada
berarti dipersepsi” — George Berkeley dan para penerusnya
memperkenalkan cara pandang yang menempatkan kesadaran sebagai sumber segala
eksistensi dan makna.¹ Ontologi dalam Idealisme Subjektif bukan berbicara
tentang substansi fisik yang berdiri sendiri, melainkan tentang modus
kehadiran realitas dalam kesadaran. Pandangan ini menolak asumsi bahwa
dunia memiliki eksistensi objektif yang independen dari pikiran, dan
sebaliknya, menegaskan bahwa segala sesuatu yang kita sebut “ada”
hanyalah karena ia dialami oleh subjek yang menyadari.²
Secara epistemologis, Idealisme Subjektif
menghadirkan pemahaman bahwa pengetahuan bukanlah representasi pasif dunia
luar, melainkan hasil konstruksi aktif kesadaran.³ Dalam hal ini, kebenaran
tidak lagi diukur berdasarkan korespondensi antara pikiran dan realitas
eksternal, tetapi berdasarkan koherensi internal antara ide-ide dalam
pengalaman subjek.⁴ Namun, konsekuensi dari pandangan ini adalah munculnya
persoalan solipsisme dan relativisme epistemologis, karena jika realitas
sepenuhnya bergantung pada persepsi individu, maka objektivitas dan
intersubjektivitas menjadi sulit dijelaskan.⁵
Kritik-kritik terhadap Idealisme Subjektif, baik
dari realisme, materialisme, maupun idealisme objektif, telah memperluas
pemahaman kita tentang keterbatasan pandangan subjektivistik. Realisme
menegaskan bahwa dunia material memiliki eksistensi independen, sedangkan Idealisme
Objektif ala Hegel memperluas gagasan subjektivitas menuju Roh
Absolut yang universal.⁶ Meski demikian, nilai filosofis Idealisme
Subjektif tetap signifikan, karena ia menegaskan peran aktif kesadaran
manusia dalam membentuk dunia makna. Dalam konteks ini, idealisme tidak
lagi dipandang sebagai penolakan terhadap dunia nyata, tetapi sebagai refleksi
mendalam tentang struktur kesadaran yang menjadikan dunia “dapat dimengerti.”⁷
Secara metafisik, Idealisme Subjektif membuka
horizon baru dalam memahami realitas sebagai proses kesadaran yang terus
berlangsung — bukan entitas statis yang berdiri di luar pengalaman. Dalam
kerangka ini, Tuhan dalam pandangan Berkeley berfungsi sebagai jaminan
ontologis bagi keberlanjutan eksistensi ketika tidak ada persepsi manusia
yang hadir.⁸ Dengan demikian, realitas bukanlah ilusi, melainkan struktur ide
yang berakar pada kesadaran universal.
Relevansi Idealisme Subjektif dalam dunia
kontemporer juga tampak dalam berbagai bidang ilmu. Dalam fenomenologi dan
filsafat kesadaran modern, pandangan ini membantu menjelaskan hubungan
antara persepsi, pengalaman, dan realitas fenomenal.⁹ Dalam psikologi
kognitif dan ilmu saraf modern, prinsip bahwa otak membentuk representasi
mental tentang dunia mencerminkan gagasan idealistik bahwa persepsi menciptakan
realitas yang dihayati.¹⁰ Sementara dalam budaya digital dan realitas
virtual, pengalaman manusia kini semakin menunjukkan bahwa realitas tidak
hanya “ditemukan”, tetapi juga “dibentuk” oleh kesadaran dan
teknologi.¹¹
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Idealisme
Subjektif tidak hanya merupakan teori metafisik klasik, tetapi juga paradigma
reflektif yang terus hidup dan relevan. Ia mengajarkan bahwa realitas bukan
sesuatu yang mutlak di luar diri, melainkan sesuatu yang selalu dihadirkan,
diinterpretasikan, dan dimaknai melalui kesadaran manusia. Dalam dunia yang
semakin kompleks dan mediatif, filsafat ini mengingatkan kita bahwa mengetahui
dunia berarti mengenali cara kesadaran kita membentuknya.¹²
Dengan demikian, Idealisme Subjektif tetap menjadi
warisan filosofis yang penting — bukan karena kebenarannya yang absolut, tetapi
karena daya reflektifnya yang membuka jalan bagi pemahaman dialektis tentang
hubungan antara pikiran dan keberadaan. Seperti ditegaskan oleh Nicholas
Rescher, idealisme bukanlah penyangkalan terhadap realitas, tetapi upaya
untuk memahami realitas sebagaimana ia muncul bagi kesadaran.¹³ Melalui
cara pandang ini, filsafat kembali pada inti tugasnya: memahami “yang ada”
dengan menelusuri dasar kesadaran yang membuat keberadaan itu mungkin.
Footnotes
[1]
George Berkeley, A Treatise Concerning the
Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 25.
[2]
Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 42–44.
[3]
Paul Guyer, Knowledge, Reason, and Taste: Kant’s
Response to Hume (Princeton: Princeton University Press, 2008), 23–24.
[4]
Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A
Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 119.
[5]
Bertrand Russell, The Problems of Philosophy
(London: Williams and Norgate, 1912), 45.
[6]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit,
trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 73–75.
[7]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge
University Press, 1975), 156–157.
[8]
John Foster, The Case for Idealism (London:
Routledge, 1982), 101.
[9]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure
Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The
Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 58.
[10]
Andy Clark, Surfing Uncertainty: Prediction,
Action, and the Embodied Mind (Oxford: Oxford University Press, 2016),
21–23.
[11]
Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of
Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 321–323.
[12]
Dan Zahavi, Husserl’s Phenomenology
(Stanford: Stanford University Press, 2003), 108.
[13]
Rescher, Philosophical Idealism: A Critical
Appraisal, 130.
Daftar Pustaka
Berkeley, G. (1998). A treatise concerning the
principles of human knowledge (J. Dancy, Ed.). Oxford University Press.
Bhaskar, R. (2008). A realist theory of science.
Verso.
Bostrom, N. (2017). Virtual reality and the future
of consciousness. Philosophical Quarterly, 67(268), 315–330.
Carter, R. E. (1991). Consciousness and reality:
The humanistic foundations of idealism. State University of New York Press.
Clark, A. (2016). Surfing uncertainty:
Prediction, action, and the embodied mind. Oxford University Press.
Copleston, F. (1994). A history of philosophy
(Vol. 5–7). Image Books.
Descartes, R. (1996). Meditations on first
philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.
Foster, J. (1982). The case for idealism.
Routledge.
Gaukroger, S. (1995). Descartes: An intellectual
biography. Clarendon Press.
Goff, P. (2019). Galileo’s error: Foundations
for a new science of consciousness. Pantheon Books.
Guyer, P. (2008). Knowledge, reason, and taste:
Kant’s response to Hume. Princeton University Press.
Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology of spirit
(A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press.
Heidegger, M. (1962). Being and time (J.
Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
Heim, M. (1993). The metaphysics of virtual
reality. Oxford University Press.
Hume, D. (1896). A treatise of human nature
(L. A. Selby-Bigge, Ed.). Clarendon Press.
Husserl, E. (1983). Ideas pertaining to a pure
phenomenology and to a phenomenological philosophy (F. Kersten, Trans.).
Martinus Nijhoff.
Jaspers, K. (1971). Philosophy of existence
(R. F. Grabau, Trans.). University of Pennsylvania Press.
Kant, I. (1998). Critique of pure reason (P.
Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge University Press.
Kenny, A. (2006). A new history of Western
philosophy: The rise of modern philosophy (Vol. 3). Oxford University
Press.
Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An
essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). Duquesne University Press.
Locke, J. (1836). An essay concerning human
understanding. T. Tegg.
Marion, J.-L. (2002). Being given: Toward a phenomenology
of givenness (J. L. Kosky, Trans.). Stanford University Press.
Marx, K. (1970). Theses on Feuerbach. In C.
J. Arthur (Ed.), The German ideology (pp. 121–123). International
Publishers.
Merleau-Ponty, M. (2002). Phenomenology of
perception (C. Smith, Trans.). Routledge.
Moore, G. E. (1925). A defence of common sense. In
J. H. Muirhead (Ed.), Contemporary British philosophy (pp. 192–216).
Allen & Unwin.
Nagel, T. (1986). The view from nowhere.
Oxford University Press.
Piaget, J. (1954). The construction of reality
in the child (M. Cook, Trans.). Basic Books.
Pitcher, G. (1977). Berkeley. Routledge
& Kegan Paul.
Popper, K. (2002). The logic of scientific
discovery. Routledge.
Priest, S. (1991). Theories of the mind.
Penguin Books.
Read, H. (1968). The meaning of art. Faber
& Faber.
Rescher, N. (2005). Philosophical idealism: A
critical appraisal. Columbia University Press.
Russell, B. (1912). The problems of philosophy.
Williams and Norgate.
Russell, B. (1914). Our knowledge of the
external world. Allen & Unwin.
Sartre, J.-P. (1995). Being and nothingness
(H. E. Barnes, Trans.). Routledge.
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a
humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.
Seth, A. K. (2021). Being you: A new science of
consciousness. Faber & Faber.
Strawson, G. (2006). Realistic monism: Why
physicalism entails panpsychism. Journal of Consciousness Studies, 13(10–11),
3–31.
Taylor, C. (1975). Hegel. Cambridge
University Press.
Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity.
Harvard University Press.
von Glasersfeld, E. (1995). Radical
constructivism: A way of knowing and learning. Falmer Press.
Winkler, K. P. (1989). Berkeley: An
interpretation. Clarendon Press.
Zahavi, D. (2003). Husserl’s phenomenology.
Stanford University Press.
Zahavi, D. (2014). Self and other: Exploring
subjectivity, empathy, and shame. Oxford University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar