Kamis, 27 November 2025

Idealisme Subjektif: Kajian Ontologis atas Idealisme Subjektif

Idealisme Subjektif

Kajian Ontologis atas Idealisme Subjektif


Alihkan ke: Aliran Filsafat Ontologi.


Abstrak

Artikel ini membahas secara mendalam hakikat realitas menurut Idealisme Subjektif sebagai salah satu aliran utama dalam cabang ontologi filsafat. Berangkat dari pemikiran George Berkeley dengan prinsip esse est percipi (“ada berarti dipersepsi”), tulisan ini menelusuri akar historis, struktur ontologis, serta implikasi epistemologis dan metafisik dari pandangan bahwa realitas bergantung sepenuhnya pada kesadaran subjek. Idealisme Subjektif menolak keberadaan materi sebagai entitas independen dan menegaskan bahwa dunia hanyalah kumpulan ide-ide dalam pikiran. Pembahasan artikel ini meliputi evolusi historis dari Plato hingga Berkeley, kritik dari aliran realisme dan materialisme, serta reinterpretasi dalam konteks filsafat modern seperti fenomenologi, konstruktivisme kognitif, dan realitas virtual.

Kajian ini menunjukkan bahwa meskipun Idealisme Subjektif menghadapi tantangan logis dan epistemologis — seperti tuduhan solipsisme dan kesulitan menjelaskan intersubjektivitas — aliran ini tetap memiliki relevansi kontemporer. Dalam filsafat kesadaran, ilmu kognitif, dan budaya digital, prinsip-prinsip idealisme terus hidup sebagai landasan untuk memahami peran kesadaran dalam membentuk pengalaman dan makna dunia. Melalui sintesis filosofis antara subjektivitas dan objektivitas, artikel ini menyimpulkan bahwa Idealisme Subjektif tidak semata-mata meniadakan realitas eksternal, tetapi menegaskan dimensi kreatif dan reflektif kesadaran manusia sebagai pusat ontologis keberadaan.

Kata Kunci: Idealisme Subjektif; Ontologi; Kesadaran; George Berkeley; Epistemologi; Fenomenologi; Realitas Virtual; Intersubjektivitas; Metafisika; Konstruktivisme.


PEMBAHASAN

Pemahaman Idealisme Subjektif dalam Memahami Dasar-Dasar Ontologi Modern dan Epistemologi Kesadaran


1.           Pendahuluan

Dalam sejarah filsafat, pencarian hakikat realitas (ontologi) selalu menjadi salah satu medan perdebatan paling mendasar dan abadi. Pertanyaan tentang “apa yang benar-benar ada” dan “bagaimana eksistensi itu dimengerti” telah memunculkan berbagai aliran pemikiran yang berbeda, dari materialisme hingga idealisme. Salah satu bentuk paling menarik dan radikal dari idealisme adalah Idealisme Subjektif, yang menegaskan bahwa realitas pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kesadaran manusia itu sendiri. Dengan kata lain, realitas hanyalah sejauh ia dipersepsi — pandangan yang terkenal melalui rumusan esse est percipi (“ada berarti dipersepsi”) dari filsuf Irlandia George Berkeley (1685–1753).¹

Lahir dalam konteks modernitas awal, Idealisme Subjektif merupakan respons terhadap kecenderungan empirisisme yang menekankan realitas sebagai sesuatu yang hanya dapat diketahui melalui indra. Berkeley menolak pandangan bahwa benda-benda memiliki keberadaan objektif di luar pikiran manusia. Menurutnya, apa yang disebut “dunia luar” sebenarnya hanyalah kumpulan ide-ide dalam pikiran kita, dan keberadaan ide tersebut dijamin oleh keberadaan Tuhan sebagai subjek universal yang selalu mempersepsi segala sesuatu.² Pandangan ini menantang paradigma realisme klasik yang memisahkan antara subjek dan objek, serta menimbulkan implikasi mendalam bagi ontologi, epistemologi, dan metafisika modern.

Secara ontologis, Idealisme Subjektif berangkat dari asumsi bahwa kesadaran adalah fondasi segala keberadaan. Realitas tidak berdiri sendiri secara independen, melainkan merupakan hasil konstruksi pengalaman perseptual subjek.³ Oleh karena itu, ontologi dalam kerangka ini tidak membicarakan “benda” sebagai sesuatu yang otonom, melainkan sebagai representasi dalam kesadaran. Implikasi epistemologisnya pun jelas: pengetahuan tentang dunia bukanlah hasil dari interaksi pasif dengan objek eksternal, melainkan hasil dari aktivitas mental yang menafsirkan pengalaman perseptual.

Kajian terhadap Idealisme Subjektif memiliki signifikansi yang tinggi dalam konteks filsafat kontemporer, terutama di era digital dan postmodern yang semakin menekankan peran persepsi, konstruksi makna, dan pengalaman subjektif dalam membentuk realitas.⁴ Melalui pendekatan ontologis terhadap Idealisme Subjektif, kita dapat memahami bagaimana realitas dapat dipahami bukan sebagai sesuatu yang ada di luar sana, melainkan sebagai sesuatu yang dihadirkan melalui kesadaran manusia.

Artikel ini bertujuan untuk menelaah dasar ontologis dari Idealisme Subjektif dengan menelusuri akar sejarah, struktur konseptual, serta implikasinya terhadap epistemologi dan metafisika. Selain itu, artikel ini juga berupaya menunjukkan relevansi Idealisme Subjektif dalam memahami relasi antara pikiran dan realitas pada konteks filosofis dan ilmiah masa kini. Dengan demikian, kajian ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga reflektif dan aplikatif terhadap dinamika pemikiran modern.


Footnotes

[1]                George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford University Press, 1998), 25.

[2]                Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation (Oxford: Clarendon Press, 1989), 42–45.

[3]                Robert M. Pirsig, Lila: An Inquiry into Morals (New York: Bantam Books, 1991), 112.

[4]                Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 315–330.


2.           Landasan Historis dan Genealogis Idealisme Subjektif

Pemahaman tentang Idealisme Subjektif tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah panjang filsafat Barat yang berakar pada pencarian makna realitas. Meskipun istilah “idealisme” baru mendapatkan bentuk sistematisnya pada masa modern, akar-akar konseptualnya telah tampak sejak filsafat Yunani klasik, terutama melalui pemikiran Plato dan Aristoteles.

Dalam dialog Theaetetus dan Republic, Plato menggambarkan dunia ide (world of forms) sebagai realitas sejati yang lebih tinggi dibanding dunia empiris.¹ Namun, meskipun menempatkan ide sebagai yang lebih hakiki, Plato masih mempertahankan keberadaan objektivitas dunia ide itu sendiri — suatu bentuk idealisme objektif, bukan subjektif. Dalam hal ini, Idealisme Subjektif muncul justru sebagai penegasan ekstrem bahwa realitas tidak berada di luar kesadaran, melainkan sepenuhnya di dalamnya.

Perkembangan menuju bentuk idealisme modern dimulai dengan René Descartes (1596–1650), yang menempatkan kesadaran (cogito) sebagai dasar segala pengetahuan. Melalui pernyataannya yang terkenal, cogito ergo sum (“aku berpikir maka aku ada”), Descartes menegaskan bahwa kepastian ontologis pertama-tama terletak pada kesadaran subjek, bukan pada dunia luar.² Meskipun Descartes masih mempertahankan keberadaan dunia material sebagai ciptaan Tuhan, pandangannya membuka jalan bagi pemusatan filsafat pada subjek — sebuah langkah awal menuju subjektivisme idealis.

Transformasi lebih lanjut muncul melalui empirisisme Inggris, khususnya dalam pemikiran John Locke dan David Hume. Locke mengemukakan bahwa pikiran manusia adalah tabula rasa, di mana seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi.³ Namun, Hume menunjukkan kelemahan pandangan ini dengan menegaskan bahwa hubungan kausalitas dan keberadaan benda eksternal tidak pernah benar-benar dapat dibuktikan secara empiris, melainkan hanya merupakan kebiasaan berpikir (habit of mind).⁴ Pandangan skeptis Hume ini membuka celah besar bagi reinterpretasi realitas sebagai konstruksi kesadaran — sebuah ruang yang kemudian diisi oleh George Berkeley.

George Berkeley (1685–1753) merupakan tokoh sentral yang memformulasikan Idealisme Subjektif secara sistematis. Dalam A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, ia menyatakan bahwa semua objek yang kita sebut “benda” hanyalah kumpulan ide-ide dalam pikiran.⁵ Tidak ada eksistensi material yang berdiri sendiri di luar persepsi subjek; keberadaan sesuatu identik dengan persepsi atasnya — esse est percipi. Untuk menghindari solipsisme, Berkeley mengandaikan keberadaan Tuhan sebagai “pengamat abadi” yang menjamin kontinuitas eksistensi dunia bahkan ketika tidak ada manusia yang memersepsinya.⁶

Dalam konteks sejarah filsafat, gagasan Berkeley merupakan bentuk reaksi terhadap materialisme mekanistik abad ke-17, yang berakar pada pandangan Newtonian dan Cartesian tentang alam semesta sebagai mesin yang independen dari kesadaran manusia.⁷ Idealisme Subjektif menolak pandangan ini dengan menegaskan bahwa realitas tidak dapat dijelaskan tanpa melibatkan persepsi, pengalaman, dan kesadaran.

Selanjutnya, pemikiran Berkeley memberi pengaruh mendalam terhadap perkembangan idealisme Jerman, terutama pada Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.⁸ Meskipun ketiganya mengembangkan bentuk idealisme transendental atau objektif, gagasan bahwa realitas ditentukan oleh struktur kesadaran tetap menjadi warisan langsung dari subjektivisme Berkeley. Dengan demikian, Idealisme Subjektif menempati posisi penting sebagai jembatan antara empirisisme Inggris dan idealisme Jerman, serta sebagai tonggak awal dalam sejarah ontologi modern yang menempatkan kesadaran sebagai pusat eksistensi.


Footnotes

[1]                Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube, rev. C. D. C. Reeve (Indianapolis: Hackett Publishing, 1992), 186–190.

[2]                René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 17–21.

[3]                John Locke, An Essay Concerning Human Understanding (London: T. Tegg, 1836), 45–47.

[4]                David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1896), 127–130.

[5]                George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford University Press, 1998), 25–28.

[6]                Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation (Oxford: Clarendon Press, 1989), 53–58.

[7]                Stephen Gaukroger, Descartes: An Intellectual Biography (Oxford: Clarendon Press, 1995), 210–215.

[8]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 6: Wolff to Kant (New York: Image Books, 1994), 312–320.


3.           Ontologi Idealisme Subjektif

Ontologi dalam kerangka Idealisme Subjektif berpusat pada pertanyaan fundamental mengenai hakikat “ada” (being) dan hubungannya dengan kesadaran. Jika dalam tradisi materialisme realitas dipahami sebagai sesuatu yang bersifat eksternal, objektif, dan independen dari pikiran manusia, maka dalam Idealisme Subjektif, keberadaan justru bergantung sepenuhnya pada kesadaran yang memersepsi.¹ Ontologi aliran ini berangkat dari proposisi utama bahwa ada berarti dipersepsi (esse est percipi). Segala sesuatu yang dikatakan “ada” hanyalah karena ia hadir dalam pengalaman perseptual subjek.²

Bagi George Berkeley, realitas bukanlah kumpulan substansi material, melainkan kumpulan ide atau representasi mental yang muncul dalam kesadaran. Dunia yang tampak di sekitar kita — meja, pohon, laut, bahkan tubuh manusia — hanyalah rangkaian persepsi yang dikonstruksi oleh pikiran.³ Ia menolak konsep “materi” sebagai entitas otonom yang mendasari persepsi, karena gagasan tentang materi itu sendiri tidak pernah dapat dialami secara langsung oleh pancaindra atau oleh kesadaran. Dengan demikian, materi hanyalah konsep kosong tanpa referensi empiris yang sah.⁴

Ontologi Idealisme Subjektif menegaskan bahwa keberadaan suatu benda identik dengan dipersepsinya benda itu oleh subjek. Namun, jika keberadaan sesuatu tergantung pada persepsi, maka muncul pertanyaan: apakah dunia tetap ada ketika tidak ada manusia yang melihatnya? Untuk menjawab dilema ini, Berkeley memperkenalkan konsep Tuhan sebagai Subjek Universal yang selalu mempersepsi segala sesuatu.⁵ Tuhan, dalam pandangan Berkeley, adalah kesadaran mutlak yang menjamin kontinuitas eksistensi dunia. Dengan kata lain, realitas tetap ada bukan karena benda memiliki substansi fisik, melainkan karena selalu berada dalam pikiran Tuhan.⁶

Struktur ontologis ini memperlihatkan hubungan erat antara eksistensi dan persepsi. Bagi idealisme subjektif, tidak ada “realitas independen” yang berdiri di luar kesadaran. Dunia eksternal adalah dunia fenomenal, yakni totalitas pengalaman subjek.⁷ Ontologi ini bersifat fenomenalistik: apa yang disebut “objek” hanyalah kumpulan impresi dan ide yang tersusun dalam tatanan perseptual. Dalam kerangka ini, subjek menjadi pusat semesta ontologis, sementara “objek” kehilangan otonominya dan hanya bermakna sejauh ia dialami.

Implikasi dari pandangan ini adalah penghapusan dualisme klasik antara subjek dan objek. Dalam materialisme dan realisme, subjek dianggap sebagai pengamat pasif terhadap dunia yang sudah ada secara independen. Namun, dalam Idealisme Subjektif, batas antara subjek dan objek menjadi cair: objek hanyalah isi kesadaran, dan kesadaran tidak pernah lepas dari objek-objek yang dihayatinya.⁸ Dengan demikian, realitas ontologis bukanlah “hal di luar diri,” melainkan “modus penampakan” dalam struktur kesadaran.

Pandangan ini secara ontologis menegaskan primasi kesadaran (the primacy of consciousness) dibanding substansi material. Keberadaan manusia sebagai makhluk berpikir menjadi sumber segala makna ontologis. Namun, pandangan ini juga memunculkan konsekuensi metafisik penting — yaitu bahwa kebenaran dan keberadaan bersifat relatif terhadap perspektif subjek.⁹ Dalam konteks ini, Idealisme Subjektif membuka ruang bagi pemahaman baru tentang realitas yang tidak statis dan tunggal, melainkan dinamis dan tergantung pada hubungan perseptual yang senantiasa berubah.

Dengan demikian, Ontologi Idealisme Subjektif merupakan suatu paradigma yang menempatkan kesadaran sebagai hakikat tertinggi dari eksistensi. “Ada” bukan berarti berada secara fisik di luar, melainkan hadir dalam horizon pengalaman yang dihayati.¹⁰ Dalam arti ini, realitas tidak dapat dipisahkan dari subjek yang menyadarinya — dan di sinilah letak ciri khas serta daya revolusioner dari Idealisme Subjektif dalam sejarah filsafat modern.


Footnotes

[1]                George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford University Press, 1998), 25.

[2]                Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation (Oxford: Clarendon Press, 1989), 43–44.

[3]                Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, 31–33.

[4]                Anthony Kenny, A New History of Western Philosophy, Vol. 3: The Rise of Modern Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 2006), 245.

[5]                George Pitcher, Berkeley (London: Routledge & Kegan Paul, 1977), 67.

[6]                John Foster, The Case for Idealism (London: Routledge, 1982), 98–101.

[7]                Robert E. Carter, Consciousness and Reality: The Humanistic Foundations of Idealism (Albany: State University of New York Press, 1991), 56.

[8]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 5: Modern Philosophy, Part II (New York: Image Books, 1994), 289–291.

[9]                Paul Guyer, Knowledge, Reason, and Taste: Kant’s Response to Hume (Princeton: Princeton University Press, 2008), 17.

[10]             Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 112–114.


4.           Epistemologi dan Implikasi Metafisik

Dalam kerangka Idealisme Subjektif, epistemologi tidak dapat dipisahkan dari ontologi karena cara mengetahui (knowing) dan ada (being) saling berkelindan dalam kesadaran. Jika ontologi aliran ini menegaskan bahwa realitas bergantung pada persepsi, maka epistemologinya berangkat dari proposisi bahwa pengetahuan adalah aktivitas kesadaran dalam mengonstruksi realitas melalui pengalaman perseptual.¹ Dengan demikian, epistemologi Idealisme Subjektif bukanlah teori tentang bagaimana kita mengenal dunia yang independen dari pikiran, melainkan tentang bagaimana pengalaman mental membentuk dunia itu sendiri.

Bagi George Berkeley, pengetahuan tidak mungkin diperoleh melalui entitas material yang terpisah dari kesadaran, sebab semua yang kita ketahui adalah ide-ide yang hadir dalam pikiran.² Tidak ada jalan untuk melampaui kesadaran guna mengakses dunia “nyata” secara langsung, karena apa yang disebut “objek eksternal” hanyalah kumpulan representasi dalam pengalaman subjek.³ Oleh karena itu, pengetahuan bersifat imediat dan subjektif — ia terjadi langsung dalam kesadaran, tanpa perantara realitas eksternal. Dalam pengertian ini, epistemologi Idealisme Subjektif bersifat fenomenalistik: hanya fenomena yang dialami yang dapat diketahui, sementara esensi di luar pengalaman tidak memiliki status epistemik.⁴

Pandangan ini berimplikasi langsung pada konsep kebenaran dan validitas pengetahuan. Jika segala sesuatu bergantung pada persepsi subjek, maka kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan korespondensi antara pikiran dan realitas eksternal, melainkan berdasarkan koherensi antaride dalam kesadaran.⁵ Suatu pengetahuan dianggap benar sejauh konsisten dengan pengalaman perseptual yang lain dan tidak menimbulkan kontradiksi internal dalam sistem ide-ide tersebut. Dengan demikian, epistemologi Idealisme Subjektif bersifat koherensial, bukan korespondensial.

Namun, konsekuensi ekstrem dari pandangan ini adalah munculnya problem solipsisme epistemologis — yakni kemungkinan bahwa hanya kesadaran individu yang benar-benar ada, sementara dunia luar dan kesadaran lain hanyalah representasi dalam pikiran subjek.⁶ Untuk mengatasi dilema ini, Berkeley memperkenalkan peran Tuhan sebagai subjek universal yang menjamin keteraturan dan objektivitas pengalaman.⁷ Tuhan menjadi sumber kesinambungan pengalaman perseptual, sehingga walaupun persepsi individu terbatas, dunia tetap memiliki konsistensi dan keteraturan yang dapat dipelajari. Dengan demikian, dalam kerangka epistemologis Berkeley, Tuhan berfungsi sebagai prinsip transendental yang mengikat pengalaman subjektif manusia dalam satu kesatuan tatanan kosmik.⁸

Secara metafisik, pandangan ini menegaskan bahwa realitas tertinggi bukanlah materi, melainkan kesadaran ilahi. Dunia fisik hanyalah ekspresi atau manifestasi dari pikiran Tuhan.⁹ Segala sesuatu yang tampak sebagai “objek eksternal” hanyalah ide-ide dalam kesadaran ilahi yang juga dihadirkan dalam kesadaran manusia. Karena itu, relasi antara manusia dan Tuhan bersifat partisipatif: manusia, melalui kesadarannya, mengambil bagian dalam tatanan ide yang lebih tinggi.¹⁰ Dengan demikian, Idealisme Subjektif tidak hanya merupakan teori epistemologis, tetapi juga sistem metafisik yang menyatukan pengetahuan, kesadaran, dan realitas dalam satu kesatuan ontologis yang bersumber pada pikiran.

Dalam konteks filsafat kontemporer, implikasi metafisik dari Idealisme Subjektif dapat dilihat dalam dua arah utama. Pertama, dalam fenomenologi Edmund Husserl, yang menegaskan bahwa segala makna dan eksistensi hanya dapat dipahami dalam horizon kesadaran transendental.¹¹ Kedua, dalam filsafat konstruktivisme dan realisme perseptual modern, yang mengakui bahwa pengetahuan dan realitas saling bergantung dalam proses kognitif manusia.¹² Dengan demikian, Idealisme Subjektif tetap relevan karena menawarkan kerangka untuk memahami bagaimana realitas tidak hanya ditemukan, tetapi juga diciptakan oleh kesadaran.

Epistemologi dan metafisika dalam Idealisme Subjektif, pada akhirnya, menghadirkan pemahaman yang radikal tentang hubungan antara pikiran dan dunia. Pengetahuan bukanlah cermin dari realitas eksternal, melainkan aktivitas penciptaan makna yang terus berlangsung dalam kesadaran. Realitas, pada gilirannya, bukanlah sesuatu yang menunggu untuk ditemukan, tetapi sesuatu yang muncul melalui persepsi, pengalaman, dan kesadaran itu sendiri.¹³


Footnotes

[1]                George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford University Press, 1998), 31.

[2]                Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation (Oxford: Clarendon Press, 1989), 48.

[3]                Anthony Kenny, A New History of Western Philosophy, Vol. 3: The Rise of Modern Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 2006), 246–247.

[4]                Paul Guyer, Knowledge, Reason, and Taste: Kant’s Response to Hume (Princeton: Princeton University Press, 2008), 23–24.

[5]                Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 119.

[6]                Bertrand Russell, The Problems of Philosophy (London: Williams and Norgate, 1912), 40–43.

[7]                George Pitcher, Berkeley (London: Routledge & Kegan Paul, 1977), 73–74.

[8]                John Foster, The Case for Idealism (London: Routledge, 1982), 109–112.

[9]                Robert E. Carter, Consciousness and Reality: The Humanistic Foundations of Idealism (Albany: State University of New York Press, 1991), 65–66.

[10]             Stephen Priest, Theories of the Mind (London: Penguin Books, 1991), 144.

[11]             Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 54.

[12]             Ernst von Glasersfeld, Radical Constructivism: A Way of Knowing and Learning (London: Falmer Press, 1995), 8–10.

[13]             Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 319.


5.           Kritik terhadap Idealisme Subjektif

Sejak kemunculannya, Idealisme Subjektif telah menimbulkan perdebatan panjang dalam sejarah filsafat. Pandangan yang menegaskan bahwa realitas bergantung sepenuhnya pada kesadaran dipandang revolusioner, tetapi juga problematis. Kritik terhadap aliran ini datang dari berbagai arah — mulai dari realisme dan materialisme, hingga dari idealisme objektif dan filsafat kritis modern — yang menyoroti implikasi logis, epistemologis, dan metafisik dari pandangan subjektivistik tentang realitas.

5.1.       Kritik dari Realisme dan Materialisme

Kaum realis menolak asumsi dasar Idealisme Subjektif yang menafikan keberadaan dunia eksternal yang independen dari kesadaran. Bagi mereka, keyakinan bahwa objek hanya ada ketika dipersepsi mengarah pada kesimpulan yang absurd: bahwa dunia “menghilang” ketika tidak ada yang melihatnya.¹ Dalam kerangka realisme, persepsi manusia hanyalah sarana untuk mengakses realitas, bukan pencipta realitas itu sendiri. Pandangan ini menuduh Idealisme Subjektif jatuh ke dalam bentuk solipsisme, yaitu pandangan bahwa hanya diri dan kesadarannya yang benar-benar ada.²

Kaum materialis, seperti Karl Marx, juga mengkritik aspek metafisik Idealisme Subjektif yang dianggap “membalikkan dunia nyata.”³ Menurut Marx, filsafat idealis gagal memahami kondisi material yang melandasi kesadaran manusia. Ia menyatakan bahwa bukan kesadaran yang menentukan keberadaan, melainkan keberadaan sosial-material yang menentukan kesadaran.⁴ Dengan demikian, Idealisme Subjektif dianggap terputus dari realitas empiris dan historis yang konkret, serta mengabaikan peran struktur sosial dalam pembentukan pengetahuan.

5.2.       Kritik dari Idealisme Objektif

Dari dalam tradisi idealisme sendiri, muncul kritik tajam terhadap subjektivisme Berkeley. Georg Wilhelm Friedrich Hegel, melalui Idealisme Objektif, menolak pandangan bahwa realitas hanyalah hasil persepsi individual.⁵ Bagi Hegel, kesadaran individu tidak cukup untuk menjelaskan totalitas realitas, karena kebenaran hanya dapat dimengerti dalam konteks rasionalitas universal — yaitu Roh Absolut (Geist) yang mengekspresikan diri melalui sejarah, budaya, dan masyarakat.⁶ Dengan demikian, jika bagi Berkeley realitas bergantung pada subjek perseptual, maka bagi Hegel realitas adalah proses dialektis dari kesadaran universal yang mengatasi individualitas.

Hegel menilai bahwa Idealisme Subjektif bersifat ahistoris dan atomistik, karena mengisolasi individu dari jaringan relasi sosial dan historis.⁷ Pandangan ini tidak dapat menjelaskan perkembangan kesadaran manusia dalam sejarah maupun dinamika perubahan dunia. Dalam pengertian ini, Idealisme Subjektif dianggap terlalu sempit untuk menjelaskan kompleksitas realitas yang melibatkan dimensi sosial, etis, dan rasional.

5.3.       Kritik Epistemologis dan Ilmiah

Dari perspektif epistemologi modern, Idealisme Subjektif menghadapi tantangan dalam menjelaskan inter-subjektivitas — yaitu bagaimana pengetahuan dapat dibagikan dan diverifikasi antarindividu jika realitas hanya ada dalam kesadaran pribadi.⁸ Jika semua pengetahuan bersifat subjektif, maka tidak ada dasar obyektif untuk membedakan antara persepsi yang benar dan keliru. Immanuel Kant mengkritik hal ini dengan mengembangkan Idealisme Transendental, yang mengakui peran struktur apriori kesadaran, tetapi tetap mempertahankan eksistensi dunia fenomenal yang tunduk pada hukum-hukum universal.⁹

Selain itu, dalam konteks sains modern, Idealisme Subjektif dinilai tidak mampu menjelaskan keberhasilan metode ilmiah yang berasumsi pada keberadaan dunia objektif.¹⁰ Sains beroperasi dengan keyakinan bahwa hukum-hukum alam bersifat independen dari persepsi manusia. Jika realitas hanya konstruksi kesadaran, maka keberhasilan teknologi dan eksperimen empiris menjadi paradoksal. Dengan demikian, dari perspektif ilmiah, Idealisme Subjektif dianggap tidak kompatibel dengan pendekatan empiris dan eksperimental yang menjadi dasar pengetahuan modern.

5.4.       Kritik dari Filsafat Analitik dan Fenomenologi

Dalam tradisi filsafat analitik, Bertrand Russell dan G. E. Moore menolak klaim Berkeley dengan argumen bahwa persepsi tidak menghapus eksistensi benda-benda fisik.¹¹ Moore memperkenalkan apa yang disebut “argumentasi akal sehat”, yakni bahwa kita dapat dengan pasti mengetahui keberadaan benda-benda seperti meja dan kursi tanpa harus mengasumsikan bahwa benda-benda tersebut bergantung pada kesadaran kita.¹²

Di sisi lain, fenomenologi Edmund Husserl dan eksistensialisme Jean-Paul Sartre juga mengkritik bentuk subjektivisme ekstrem. Husserl menunjukkan bahwa kesadaran selalu bersifat intensional — yakni selalu “menuju” sesuatu yang lain di luar dirinya.¹³ Artinya, kesadaran tidak mungkin eksis tanpa objek yang diarahinya, sehingga antara subjek dan dunia selalu ada relasi timbal balik. Sartre, dalam Being and Nothingness, bahkan menegaskan bahwa realitas manusia (being-for-itself) justru menemukan maknanya melalui interaksi dengan dunia nyata dan dengan kesadaran orang lain.¹⁴


Dengan demikian, kritik terhadap Idealisme Subjektif mencakup berbagai level: logis, epistemologis, metafisik, dan empiris. Meskipun memberikan sumbangan besar dalam menempatkan kesadaran sebagai pusat realitas, aliran ini menghadapi kesulitan dalam menjelaskan objektivitas, intersubjektivitas, dan dinamika historis pengetahuan. Namun, justru melalui kritik-kritik inilah Idealisme Subjektif memperoleh relevansi filosofisnya — sebagai batu pijakan bagi refleksi lebih lanjut tentang hubungan antara kesadaran, realitas, dan pengetahuan.


Footnotes

[1]                Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 29.

[2]                Bertrand Russell, The Problems of Philosophy (London: Williams and Norgate, 1912), 44–46.

[3]                Karl Marx, Theses on Feuerbach, in The German Ideology, ed. C. J. Arthur (New York: International Publishers, 1970), 121.

[4]                Ibid., 122.

[5]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 73–75.

[6]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 142–145.

[7]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: From Fichte to Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 88.

[8]                Hilary Putnam, Reason, Truth, and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 47.

[9]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A26–A28.

[10]             Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 2002), 15–17.

[11]             Bertrand Russell, Our Knowledge of the External World (London: Allen & Unwin, 1914), 11–13.

[12]             G. E. Moore, “A Defence of Common Sense,” in Contemporary British Philosophy, ed. J. H. Muirhead (London: Allen & Unwin, 1925), 192–195.

[13]             Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 58–59.

[14]             Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (London: Routledge, 1995), 98–100.


6.           Relevansi dan Aplikasi Kontemporer

Meskipun lahir pada abad ke-18, Idealisme Subjektif tetap memiliki daya resonansi yang kuat dalam konteks filsafat, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan kontemporer. Di era yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital, pluralitas epistemik, dan pergeseran paradigma tentang realitas, gagasan bahwa “realitas bergantung pada kesadaran” mendapatkan makna baru. Berbagai bidang — mulai dari filsafat kesadaran, psikologi kognitif, hingga teknologi virtual — kini menghidupkan kembali prinsip-prinsip idealisme dalam bentuk yang lebih empiris dan interdisipliner.

6.1.       Dalam Filsafat Kesadaran dan Fenomenologi Modern

Dalam ranah filsafat kesadaran, Idealisme Subjektif menjadi fondasi bagi pendekatan fenomenologis yang menempatkan kesadaran sebagai pusat pengalaman. Edmund Husserl dalam Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology menegaskan bahwa setiap pengalaman selalu memiliki struktur intensionalitas, yakni keterarahan kesadaran pada objek tertentu.¹ Pandangan ini beresonansi langsung dengan prinsip Berkeley bahwa realitas hanya eksis dalam hubungan perseptual. Namun, berbeda dari subjektivisme ekstrem, fenomenologi Husserl menegaskan pentingnya intersubjektivitas, yakni dimensi bersama dari kesadaran yang memungkinkan realitas bersama (shared world).²

Selain itu, dalam filsafat pikiran kontemporer, diskusi tentang hubungan antara kesadaran dan realitas kembali memuncak melalui teori panpsikisme, yang berargumen bahwa kesadaran merupakan aspek fundamental dari seluruh eksistensi.³ Para filsuf seperti Galen Strawson dan Philip Goff menilai bahwa jika kesadaran tidak dapat direduksi ke fenomena fisik, maka seluruh realitas mungkin mengandung dimensi mental.⁴ Dengan demikian, Idealisme Subjektif memperoleh bentuk baru sebagai kerangka metafisik yang mampu menjelaskan hubungan antara pikiran, persepsi, dan dunia fisik dalam cara yang lebih inklusif.

6.2.       Dalam Psikologi dan Ilmu Kognitif

Dalam psikologi modern, prinsip-prinsip Idealisme Subjektif tercermin dalam pendekatan konstruktivisme kognitif. Teori ini beranggapan bahwa manusia tidak sekadar menerima realitas secara pasif, melainkan secara aktif membangun representasi mental tentang dunia berdasarkan pengalaman dan konteks sosial.⁵ Menurut Jean Piaget, pengetahuan bukan hasil penyalinan realitas, tetapi hasil interaksi antara subjek dan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi.⁶ Dengan demikian, apa yang disebut “realitas objektif” pada dasarnya merupakan hasil konstruksi kognitif yang terbentuk dalam kesadaran.

Pendekatan serupa muncul dalam neurosains kesadaran, khususnya dalam teori predictive processing atau brain as a prediction machine.⁷ Dalam teori ini, otak dianggap tidak hanya menanggapi stimulus eksternal, tetapi juga secara aktif memprediksi dan membentuk pengalaman berdasarkan model internal. Artinya, realitas yang kita alami selalu merupakan hasil interpretasi mental — suatu pandangan yang sangat dekat dengan prinsip-prinsip Idealisme Subjektif Berkeley, namun kini didukung oleh temuan empiris modern.⁸

6.3.       Dalam Budaya Digital dan Realitas Virtual

Di era teknologi digital dan realitas virtual (VR), gagasan bahwa realitas adalah konstruksi kesadaran menjadi semakin relevan. Dunia virtual menciptakan lingkungan yang sepenuhnya bergantung pada persepsi pengguna, di mana batas antara “nyata” dan “maya” menjadi kabur.⁹ Dalam konteks ini, Idealisme Subjektif dapat dibaca sebagai dasar filosofis untuk memahami bagaimana teknologi membentuk persepsi dan pengalaman manusia.

Nick Bostrom, misalnya, dalam esainya “Virtual Reality and the Future of Consciousness” mengemukakan bahwa jika pengalaman virtual mampu menggantikan pengalaman dunia nyata dengan sempurna, maka perbedaan antara realitas dan ilusi menjadi semata-mata persoalan tingkat persepsi.¹⁰ Pandangan ini sejalan dengan tesis Berkeley bahwa keberadaan sesuatu ditentukan oleh persepsi, bukan oleh substansi material. Dalam konteks masyarakat digital, Idealisme Subjektif membantu kita memahami bagaimana media, algoritma, dan simulasi digital membentuk “realitas sosial” yang kita hidupi sehari-hari.

6.4.       Dalam Etika dan Ekspresi Budaya

Relevansi Idealisme Subjektif juga tampak dalam etika kontemporer, terutama dalam hal tanggung jawab moral terhadap persepsi dan konstruksi makna. Jika realitas merupakan hasil kesadaran, maka setiap individu memiliki tanggung jawab etis dalam membentuk persepsi dan interpretasi yang benar.¹¹ Dalam konteks budaya pasca-modern, di mana kebenaran sering dianggap relatif dan bergantung pada perspektif, Idealisme Subjektif menantang kita untuk menyadari dimensi subjektif dalam setiap klaim kebenaran.

Dalam dunia seni dan sastra, idealisme ini menjadi inspirasi bagi karya-karya yang menekankan realitas batin dan pengalaman subjektif. Misalnya, gerakan ekspresionisme dan surealisme berupaya menggambarkan dunia sebagaimana dirasakan, bukan sebagaimana adanya secara objektif.¹² Dengan demikian, Idealisme Subjektif menemukan penerapannya sebagai fondasi estetika yang memuliakan subjektivitas manusia sebagai sumber makna dan kreativitas.


Melalui berbagai bidang tersebut, Idealisme Subjektif menunjukkan bahwa ia bukan sekadar warisan metafisik masa lalu, tetapi juga kerangka reflektif yang terus hidup dan berkembang. Di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh teknologi dan konstruksi sosial, filsafat ini mengingatkan bahwa realitas selalu berakar pada kesadaran manusia — pada pengalaman yang memberi makna bagi keberadaan itu sendiri.


Footnotes

[1]                Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 58.

[2]                Dan Zahavi, Husserl’s Phenomenology (Stanford: Stanford University Press, 2003), 105–108.

[3]                Galen Strawson, “Realistic Monism: Why Physicalism Entails Panpsychism,” Journal of Consciousness Studies 13, no. 10–11 (2006): 3–31.

[4]                Philip Goff, Galileo’s Error: Foundations for a New Science of Consciousness (New York: Pantheon Books, 2019), 72–75.

[5]                Ernst von Glasersfeld, Radical Constructivism: A Way of Knowing and Learning (London: Falmer Press, 1995), 7–9.

[6]                Jean Piaget, The Construction of Reality in the Child, trans. Margaret Cook (New York: Basic Books, 1954), 12–14.

[7]                Andy Clark, Surfing Uncertainty: Prediction, Action, and the Embodied Mind (Oxford: Oxford University Press, 2016), 21–23.

[8]                Anil K. Seth, Being You: A New Science of Consciousness (London: Faber & Faber, 2021), 56–58.

[9]                Michael Heim, The Metaphysics of Virtual Reality (Oxford: Oxford University Press, 1993), 84–87.

[10]             Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 320–323.

[11]             Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 34–36.

[12]             Herbert Read, The Meaning of Art (London: Faber & Faber, 1968), 119–122.


7.           Sintesis Filosofis

Sintesis filosofis dari Idealisme Subjektif menempati posisi penting dalam upaya memahami relasi antara kesadaran, realitas, dan pengetahuan dalam sejarah filsafat. Setelah melalui kritik-kritik tajam dari berbagai aliran — mulai dari realisme, materialisme, hingga idealisme objektif dan fenomenologi — dapat disimpulkan bahwa nilai filosofis Idealisme Subjektif tidak terletak pada dogmatisme ontologisnya, melainkan pada kontribusinya dalam menggeser pusat realitas dari dunia luar menuju kesadaran manusia. Pandangan ini, jika dibaca secara reflektif dan dialektis, membuka jalan bagi sintesis yang menyeimbangkan antara subjektivitas dan objektivitas, antara kesadaran individual dan struktur rasional universal.

7.1.       Rekonsiliasi antara Subjektivitas dan Objektivitas

Idealisme Subjektif menegaskan bahwa semua pengetahuan berakar pada pengalaman perseptual individu. Namun, pandangan ini dapat diperluas dengan mengakui bahwa subjektivitas tidak berdiri sendiri, melainkan beroperasi dalam konteks intersubjektif, di mana kesadaran saling menembus dan membentuk dunia bersama.¹ Pandangan ini dikembangkan oleh Edmund Husserl dan Maurice Merleau-Ponty, yang melihat bahwa dunia bukan sekadar proyeksi kesadaran individu, melainkan lived world (Lebenswelt) yang dialami secara bersama dan historis.² Dengan demikian, realitas dapat dipahami sebagai pertemuan antara konstruksi subjektif dan struktur intersubjektif yang memberi stabilitas pada makna pengalaman.

Dalam kerangka ini, Idealisme Subjektif dapat disintesiskan dengan Idealisme Objektif Hegelian, yang menempatkan kesadaran individu sebagai bagian dari proses rasional universal.³ Kesadaran manusia tidak lagi dilihat sebagai entitas terpisah, tetapi sebagai manifestasi dari Roh Absolut (Geist) yang mengekspresikan dirinya melalui budaya, sejarah, dan pengetahuan.⁴ Dengan demikian, subjektivitas bukan ditolak, tetapi diangkat menuju level universalitas, di mana “pikiran individual” menjadi bagian dari rasionalitas kolektif manusia.

7.2.       Integrasi Epistemologi dan Ontologi Kesadaran

Secara epistemologis, sintesis ini menolak dikotomi tajam antara “subjek” dan “objek” yang diwariskan oleh tradisi modern. Pengetahuan tidak dipahami sebagai representasi pasif dunia eksternal, melainkan sebagai proses ko-konstitutif, di mana kesadaran dan dunia saling membentuk.⁵ Dalam pengertian ini, realitas bukan hasil ilusi subjektif semata, melainkan produk relasional antara kesadaran yang memahami dan fenomena yang dihayati.

Secara ontologis, hal ini berarti bahwa keberadaan tidak lagi dipandang sebagai “substansi” yang berdiri sendiri, tetapi sebagai relasi dinamis antara pengada dan yang dihayati.⁶ “Ada” berarti “dihadirkan dalam kesadaran,” namun kesadaran itu sendiri adalah bagian dari jaringan hubungan eksistensial yang melibatkan subjek lain, dunia, dan struktur makna yang lebih luas. Dengan demikian, Idealisme Subjektif dapat disintesiskan dalam kerangka ontologi fenomenologis, yang tidak meniadakan realitas eksternal, tetapi menempatkannya dalam horizon kesadaran yang aktif dan reflektif.⁷

7.3.       Dimensi Etis dan Humanistik dari Idealisme Subjektif

Sintesis filosofis dari Idealisme Subjektif juga memiliki dimensi etis dan humanistik. Dengan menempatkan kesadaran manusia sebagai pusat makna, aliran ini membuka ruang bagi pengakuan terhadap martabat subjek sebagai pencipta dan penafsir realitas.⁸ Dalam konteks ini, setiap tindakan persepsi dan pengetahuan mengandung tanggung jawab moral, karena cara kita memandang dunia akan menentukan bagaimana kita bertindak di dalamnya. Pandangan ini sejalan dengan etika eksistensialis Jean-Paul Sartre, yang menegaskan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas” — artinya, ia harus bertanggung jawab atas makna yang diciptakannya sendiri.⁹

Lebih jauh lagi, Idealisme Subjektif yang disintesiskan secara kritis dapat memberikan dasar bagi humanisme spiritual, sebagaimana dikembangkan oleh Karl Jaspers dan Gabriel Marcel.¹⁰ Keduanya memandang bahwa kesadaran manusia tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga eksistensial dan transendental. Dalam kesadaran terdapat ruang bagi keterbukaan terhadap yang lain — baik sesama manusia maupun dimensi ilahi. Dengan demikian, kesadaran bukan sekadar pusat realitas, tetapi juga jembatan antara individu dan totalitas keberadaan.

7.4.       Relevansi Sintesis dalam Filsafat Kontemporer

Dalam wacana filsafat kontemporer, sintesis ini menemukan aktualitasnya dalam berbagai aliran baru, seperti realisme kritis (Roy Bhaskar), konstruktivisme reflektif, dan panpsikisme ilmiah.¹¹ Semua pendekatan ini berupaya melampaui dikotomi lama antara materialisme dan idealisme dengan menegaskan bahwa realitas bersifat ganda: ia memiliki dimensi material dan kesadaran yang tak terpisahkan. Dalam hal ini, Idealisme Subjektif tidak lagi dipahami sebagai penolakan terhadap dunia objektif, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap pengetahuan dan eksistensi selalu dimediasi oleh kesadaran manusia.¹²

Oleh karena itu, sintesis filosofis dari Idealisme Subjektif bukanlah upaya untuk mempertahankan dogma lama, tetapi untuk membangun paradigma baru yang koheren, reflektif, dan dialogis — paradigma yang menempatkan manusia sebagai pusat makna tanpa menafikan realitas yang lebih luas di luar dirinya. Pandangan ini, pada akhirnya, menegaskan bahwa realitas bukan hanya sesuatu yang ada, tetapi sesuatu yang dihayati dan dimaknai.


Footnotes

[1]                Dan Zahavi, Self and Other: Exploring Subjectivity, Empathy, and Shame (Oxford: Oxford University Press, 2014), 52–53.

[2]                Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 2002), 60–63.

[3]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 112–115.

[4]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 156–160.

[5]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 97–99.

[6]                Jean-Luc Marion, Being Given: Toward a Phenomenology of Givenness, trans. Jeffrey Kosky (Stanford: Stanford University Press, 2002), 48–49.

[7]                Robert E. Carter, Consciousness and Reality: The Humanistic Foundations of Idealism (Albany: State University of New York Press, 1991), 73–74.

[8]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 89.

[9]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 43.

[10]             Karl Jaspers, Philosophy of Existence, trans. Richard F. Grabau (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1971), 101–103.

[11]             Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso, 2008), 15–17.

[12]             Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 130–132.


8.           Kesimpulan

Kajian atas Idealisme Subjektif menunjukkan bahwa aliran ini merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah filsafat Barat yang berhasil menggeser pusat ontologi dari dunia eksternal menuju ranah kesadaran manusia. Dengan menegaskan prinsip esse est percipi — “ada berarti dipersepsi” — George Berkeley dan para penerusnya memperkenalkan cara pandang yang menempatkan kesadaran sebagai sumber segala eksistensi dan makna.¹ Ontologi dalam Idealisme Subjektif bukan berbicara tentang substansi fisik yang berdiri sendiri, melainkan tentang modus kehadiran realitas dalam kesadaran. Pandangan ini menolak asumsi bahwa dunia memiliki eksistensi objektif yang independen dari pikiran, dan sebaliknya, menegaskan bahwa segala sesuatu yang kita sebut “ada” hanyalah karena ia dialami oleh subjek yang menyadari.²

Secara epistemologis, Idealisme Subjektif menghadirkan pemahaman bahwa pengetahuan bukanlah representasi pasif dunia luar, melainkan hasil konstruksi aktif kesadaran.³ Dalam hal ini, kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan korespondensi antara pikiran dan realitas eksternal, tetapi berdasarkan koherensi internal antara ide-ide dalam pengalaman subjek.⁴ Namun, konsekuensi dari pandangan ini adalah munculnya persoalan solipsisme dan relativisme epistemologis, karena jika realitas sepenuhnya bergantung pada persepsi individu, maka objektivitas dan intersubjektivitas menjadi sulit dijelaskan.⁵

Kritik-kritik terhadap Idealisme Subjektif, baik dari realisme, materialisme, maupun idealisme objektif, telah memperluas pemahaman kita tentang keterbatasan pandangan subjektivistik. Realisme menegaskan bahwa dunia material memiliki eksistensi independen, sedangkan Idealisme Objektif ala Hegel memperluas gagasan subjektivitas menuju Roh Absolut yang universal.⁶ Meski demikian, nilai filosofis Idealisme Subjektif tetap signifikan, karena ia menegaskan peran aktif kesadaran manusia dalam membentuk dunia makna. Dalam konteks ini, idealisme tidak lagi dipandang sebagai penolakan terhadap dunia nyata, tetapi sebagai refleksi mendalam tentang struktur kesadaran yang menjadikan dunia “dapat dimengerti.”⁷

Secara metafisik, Idealisme Subjektif membuka horizon baru dalam memahami realitas sebagai proses kesadaran yang terus berlangsung — bukan entitas statis yang berdiri di luar pengalaman. Dalam kerangka ini, Tuhan dalam pandangan Berkeley berfungsi sebagai jaminan ontologis bagi keberlanjutan eksistensi ketika tidak ada persepsi manusia yang hadir.⁸ Dengan demikian, realitas bukanlah ilusi, melainkan struktur ide yang berakar pada kesadaran universal.

Relevansi Idealisme Subjektif dalam dunia kontemporer juga tampak dalam berbagai bidang ilmu. Dalam fenomenologi dan filsafat kesadaran modern, pandangan ini membantu menjelaskan hubungan antara persepsi, pengalaman, dan realitas fenomenal.⁹ Dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf modern, prinsip bahwa otak membentuk representasi mental tentang dunia mencerminkan gagasan idealistik bahwa persepsi menciptakan realitas yang dihayati.¹⁰ Sementara dalam budaya digital dan realitas virtual, pengalaman manusia kini semakin menunjukkan bahwa realitas tidak hanya “ditemukan”, tetapi juga “dibentuk” oleh kesadaran dan teknologi.¹¹

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Idealisme Subjektif tidak hanya merupakan teori metafisik klasik, tetapi juga paradigma reflektif yang terus hidup dan relevan. Ia mengajarkan bahwa realitas bukan sesuatu yang mutlak di luar diri, melainkan sesuatu yang selalu dihadirkan, diinterpretasikan, dan dimaknai melalui kesadaran manusia. Dalam dunia yang semakin kompleks dan mediatif, filsafat ini mengingatkan kita bahwa mengetahui dunia berarti mengenali cara kesadaran kita membentuknya.¹²

Dengan demikian, Idealisme Subjektif tetap menjadi warisan filosofis yang penting — bukan karena kebenarannya yang absolut, tetapi karena daya reflektifnya yang membuka jalan bagi pemahaman dialektis tentang hubungan antara pikiran dan keberadaan. Seperti ditegaskan oleh Nicholas Rescher, idealisme bukanlah penyangkalan terhadap realitas, tetapi upaya untuk memahami realitas sebagaimana ia muncul bagi kesadaran.¹³ Melalui cara pandang ini, filsafat kembali pada inti tugasnya: memahami “yang ada” dengan menelusuri dasar kesadaran yang membuat keberadaan itu mungkin.


Footnotes

[1]                George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge, ed. Jonathan Dancy (Oxford: Oxford University Press, 1998), 25.

[2]                Kenneth P. Winkler, Berkeley: An Interpretation (Oxford: Clarendon Press, 1989), 42–44.

[3]                Paul Guyer, Knowledge, Reason, and Taste: Kant’s Response to Hume (Princeton: Princeton University Press, 2008), 23–24.

[4]                Nicholas Rescher, Philosophical Idealism: A Critical Appraisal (New York: Columbia University Press, 2005), 119.

[5]                Bertrand Russell, The Problems of Philosophy (London: Williams and Norgate, 1912), 45.

[6]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 73–75.

[7]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 156–157.

[8]                John Foster, The Case for Idealism (London: Routledge, 1982), 101.

[9]                Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 58.

[10]             Andy Clark, Surfing Uncertainty: Prediction, Action, and the Embodied Mind (Oxford: Oxford University Press, 2016), 21–23.

[11]             Nick Bostrom, “Virtual Reality and the Future of Consciousness,” Philosophical Quarterly 67, no. 268 (2017): 321–323.

[12]             Dan Zahavi, Husserl’s Phenomenology (Stanford: Stanford University Press, 2003), 108.

[13]             Rescher, Philosophical Idealism: A Critical Appraisal, 130.


Daftar Pustaka

Berkeley, G. (1998). A treatise concerning the principles of human knowledge (J. Dancy, Ed.). Oxford University Press.

Bhaskar, R. (2008). A realist theory of science. Verso.

Bostrom, N. (2017). Virtual reality and the future of consciousness. Philosophical Quarterly, 67(268), 315–330.

Carter, R. E. (1991). Consciousness and reality: The humanistic foundations of idealism. State University of New York Press.

Clark, A. (2016). Surfing uncertainty: Prediction, action, and the embodied mind. Oxford University Press.

Copleston, F. (1994). A history of philosophy (Vol. 5–7). Image Books.

Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.

Foster, J. (1982). The case for idealism. Routledge.

Gaukroger, S. (1995). Descartes: An intellectual biography. Clarendon Press.

Goff, P. (2019). Galileo’s error: Foundations for a new science of consciousness. Pantheon Books.

Guyer, P. (2008). Knowledge, reason, and taste: Kant’s response to Hume. Princeton University Press.

Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology of spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.

Heim, M. (1993). The metaphysics of virtual reality. Oxford University Press.

Hume, D. (1896). A treatise of human nature (L. A. Selby-Bigge, Ed.). Clarendon Press.

Husserl, E. (1983). Ideas pertaining to a pure phenomenology and to a phenomenological philosophy (F. Kersten, Trans.). Martinus Nijhoff.

Jaspers, K. (1971). Philosophy of existence (R. F. Grabau, Trans.). University of Pennsylvania Press.

Kant, I. (1998). Critique of pure reason (P. Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge University Press.

Kenny, A. (2006). A new history of Western philosophy: The rise of modern philosophy (Vol. 3). Oxford University Press.

Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). Duquesne University Press.

Locke, J. (1836). An essay concerning human understanding. T. Tegg.

Marion, J.-L. (2002). Being given: Toward a phenomenology of givenness (J. L. Kosky, Trans.). Stanford University Press.

Marx, K. (1970). Theses on Feuerbach. In C. J. Arthur (Ed.), The German ideology (pp. 121–123). International Publishers.

Merleau-Ponty, M. (2002). Phenomenology of perception (C. Smith, Trans.). Routledge.

Moore, G. E. (1925). A defence of common sense. In J. H. Muirhead (Ed.), Contemporary British philosophy (pp. 192–216). Allen & Unwin.

Nagel, T. (1986). The view from nowhere. Oxford University Press.

Piaget, J. (1954). The construction of reality in the child (M. Cook, Trans.). Basic Books.

Pitcher, G. (1977). Berkeley. Routledge & Kegan Paul.

Popper, K. (2002). The logic of scientific discovery. Routledge.

Priest, S. (1991). Theories of the mind. Penguin Books.

Read, H. (1968). The meaning of art. Faber & Faber.

Rescher, N. (2005). Philosophical idealism: A critical appraisal. Columbia University Press.

Russell, B. (1912). The problems of philosophy. Williams and Norgate.

Russell, B. (1914). Our knowledge of the external world. Allen & Unwin.

Sartre, J.-P. (1995). Being and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Routledge.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.

Seth, A. K. (2021). Being you: A new science of consciousness. Faber & Faber.

Strawson, G. (2006). Realistic monism: Why physicalism entails panpsychism. Journal of Consciousness Studies, 13(10–11), 3–31.

Taylor, C. (1975). Hegel. Cambridge University Press.

Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity. Harvard University Press.

von Glasersfeld, E. (1995). Radical constructivism: A way of knowing and learning. Falmer Press.

Winkler, K. P. (1989). Berkeley: An interpretation. Clarendon Press.

Zahavi, D. (2003). Husserl’s phenomenology. Stanford University Press.

Zahavi, D. (2014). Self and other: Exploring subjectivity, empathy, and shame. Oxford University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar