Sabtu, 29 November 2025

Etika Humanistik: Fondasi Filosofis, Nilai Kemanusiaan, dan Relevansi Global di Era Teknologi dan Krisis Moral

Etika Humanistik

Fondasi Filosofis, Nilai Kemanusiaan, dan Relevansi Global di Era Teknologi dan Krisis Moral


Alihkan ke: Filsafat Moral.


Abstrak

Etika Humanistik merupakan pendekatan moral-filosofis yang menempatkan martabat, kebebasan, dan tanggung jawab manusia sebagai pusat orientasi etis. Dalam konteks krisis global—baik moral, ekologis, maupun teknologi—etika ini berfungsi sebagai paradigma reflektif yang menegaskan kembali kemanusiaan sebagai dasar nilai universal. Artikel ini menyajikan kajian sistematis mengenai fondasi ontologis, epistemologis, aksiologis, serta relevansi sosial, politik, dan ilmiah dari etika humanistik, disertai pembacaan genealogis terhadap perkembangannya sejak humanisme klasik hingga paradigma interdisipliner kontemporer.

Secara ontologis, manusia dipahami sebagai makhluk relasional dan transenden yang menemukan jati dirinya melalui dialog dan keterlibatan dengan sesama serta dunia. Epistemologinya berakar pada kesadaran reflektif dan rasionalitas komunikatif, di mana pengetahuan moral lahir dari interaksi empatik dan dialogis. Aksiologinya menegaskan cinta, keadilan, dan solidaritas sebagai nilai dasar yang menghubungkan kebajikan personal dengan transformasi sosial. Dalam dimensi sosial, politik, dan ekonomi, etika humanistik mengajukan kritik terhadap sistem kekuasaan dan pasar yang meniadakan manusia, seraya menegaskan pentingnya demokrasi partisipatif dan keadilan distributif. Sementara dalam dimensi ilmiah dan interdisipliner, etika ini memperluas jangkauannya ke bidang teknologi, kedokteran, pendidikan, dan ekologi, untuk menegaskan kembali tanggung jawab moral dalam inovasi dan keberlanjutan.

Melalui sintesis filosofis, etika humanistik integral berupaya memadukan rasionalitas dan empati, ilmu dan nilai, kebebasan dan tanggung jawab, dalam suatu visi moral yang menyatukan dimensi personal dan sosial manusia. Paradigma ini menolak reduksi moralitas menjadi legalisme atau instrumentalisme, dan sebaliknya mengusulkan etika yang hidup, terbuka, dan dialogis. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh teknologi, ideologi, dan krisis ekologi, Etika Humanistik tampil sebagai ethos peradaban baru—suatu dasar reflektif dan praksis untuk membangun tatanan kehidupan yang adil, berkeadaban, dan berkelanjutan.

Kata Kunci: Etika Humanistik, Humanisme Integral, Martabat Manusia, Rasionalitas Komunikatif, Solidaritas, Ekologi Moral, Tanggung Jawab Global, Filsafat Nilai.


PEMBAHASAN

Etika Humanistik sebagai Poros Moral Dunia Modern


1.           Pendahuluan

Etika humanistik muncul sebagai salah satu aliran pemikiran moral yang berupaya mengembalikan manusia pada kedudukannya yang sentral dalam kehidupan etis, sosial, dan eksistensial. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, manusia kerap mengalami paradoks antara kemampuan rasionalnya yang meningkat dan kehampaan moral yang kian mendalam. Fenomena seperti krisis identitas, alienasi sosial, hegemoni sistem ekonomi global, serta dehumanisasi dalam relasi antarindividu menjadi tanda bahwa orientasi etika modern sering kali kehilangan dimensi kemanusiaannya. Dalam konteks inilah etika humanistik tampil sebagai kritik sekaligus tawaran alternatif yang menekankan pada nilai-nilai martabat, kebebasan, dan tanggung jawab manusia sebagai inti kehidupan bermoral.¹

Secara historis, akar etika humanistik dapat dilacak hingga filsafat Yunani Klasik, terutama dalam pemikiran Sokrates yang menegaskan pentingnya “gnothi seauton” — mengenal diri sendiri sebagai jalan menuju kebajikan moral.² Pemikiran ini berkembang dalam tradisi Renaisans, yang melalui tokoh seperti Pico della Mirandola menegaskan potensi kebebasan manusia untuk membentuk dirinya sendiri.³ Humanisme pada masa ini bukan hanya gerakan intelektual, tetapi juga spiritual dan moral yang menolak pandangan deterministik terhadap manusia. Selanjutnya, pada masa modern, etika humanistik memperoleh bentuk baru melalui pemikiran Immanuel Kant yang menekankan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sekadar alat bagi tujuan lain.⁴ Prinsip otonomi moral Kant membuka jalan bagi pemahaman etika yang berbasis pada rasionalitas dan kebebasan manusia sebagai makhluk bermartabat.

Namun, perkembangan masyarakat industri dan globalisasi membawa tantangan baru bagi fondasi etika humanistik. Rasionalitas instrumental yang dominan dalam sistem kapitalistik dan birokratik sering kali mengubah manusia menjadi sekadar komponen dalam mekanisme produksi, mengaburkan nilai-nilai kemanusiaan di balik efisiensi dan keuntungan.⁵ Dalam situasi demikian, muncul kebutuhan mendesak untuk mengembangkan suatu paradigma etika yang tidak hanya menekankan pada aturan normatif atau konsekuensi praktis, tetapi juga pada makna eksistensial dan spiritual dari menjadi manusia. Etika humanistik menjawab kebutuhan ini dengan memusatkan perhatian pada pengalaman subjektif, relasi antarpribadi, dan kemampuan manusia untuk bertumbuh secara moral dan emosional.⁶

Etika humanistik tidak dimaksudkan untuk menggantikan etika normatif yang telah mapan, seperti deontologi atau utilitarianisme, melainkan memperkaya dan mengoreksi keduanya dengan menambahkan dimensi personal dan relasional. Dalam pandangan ini, tindakan moral yang baik tidak hanya dinilai dari kesesuaian terhadap norma eksternal atau manfaat yang dihasilkan, melainkan dari sejauh mana tindakan tersebut memanifestasikan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, cinta, dan solidaritas.⁷ Etika humanistik menolak reduksi moralitas menjadi sekadar kalkulasi rasional atau kepatuhan terhadap hukum, dan menegaskan bahwa inti moralitas adalah kesadaran manusia akan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan sesamanya.

Dalam dunia kontemporer, urgensi etika humanistik semakin nyata. Di era digital, ketika hubungan sosial dimediasi oleh teknologi dan algoritma, risiko dehumanisasi dan hilangnya empati meningkat signifikan.⁸ Ketika manusia berinteraksi melalui sistem yang didorong oleh logika efisiensi dan data, nilai-nilai kemanusiaan seperti perhatian, kasih, dan penghargaan terhadap martabat pribadi sering kali terabaikan. Di sisi lain, krisis ekologis global menantang batas-batas etika humanistik tradisional, menuntut perluasan solidaritas manusia kepada seluruh makhluk hidup dan ekosistem. Oleh karena itu, pengembangan etika humanistik yang integral menjadi semakin penting, yaitu etika yang mengakui keterkaitan ontologis antara manusia, masyarakat, dan alam.⁹

Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan fondasi konseptual etika humanistik melalui pendekatan filosofis yang meliputi dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pembahasan ini akan menelusuri asal-usul historis gagasan humanistik, menelaah landasan filosofisnya, serta menilai relevansinya dalam menghadapi tantangan moral di era teknologi, globalisasi, dan post-truth. Secara metodologis, analisis dilakukan dengan pendekatan reflektif-kritis, menggabungkan penelusuran historis dengan argumentasi rasional dan interpretasi hermeneutis atas teks dan konteks pemikiran. Dengan demikian, diharapkan artikel ini dapat memberikan kontribusi konseptual bagi penguatan etika humanistik sebagai fondasi moral peradaban yang lebih manusiawi, dialogis, dan berkeadilan.¹⁰


Footnotes

[1]                Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 12–15.

[2]                Plato, Apology, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 2002), 29e–30b.

[3]                Giovanni Pico della Mirandola, Oration on the Dignity of Man, trans. A. R. Caponigri (Chicago: Gateway Editions, 1956), 5–7.

[4]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 36–38.

[5]                Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, trans. Talcott Parsons (New York: Scribner, 1958), 181–183.

[6]                Carl Rogers, On Becoming a Person (Boston: Houghton Mifflin, 1961), 25–27.

[7]                Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 172–175.

[8]                Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 9–12.

[9]                Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 48–50.

[10]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 15–17.


2.           Landasan Historis dan Genealogis Etika Humanistik

Gagasan etika humanistik memiliki akar panjang dalam sejarah filsafat Barat, yang secara genealogis berkembang melalui transformasi konsepsi tentang manusia, moralitas, dan kebebasan. Sejak awal, humanisme tidak hanya merupakan gerakan intelektual, tetapi juga suatu sikap eksistensial terhadap kehidupan, yang menempatkan manusia sebagai pusat makna dan nilai. Jejak awalnya dapat ditemukan dalam tradisi Yunani Klasik, di mana filsafat lahir sebagai refleksi atas kehidupan yang baik (eudaimonia) dan bagaimana manusia dapat mencapainya melalui kebajikan moral (aretē).¹

Dalam pemikiran Sokrates, etika memperoleh dimensi reflektif dan personal. Ia menolak pandangan sofis yang relativistik dan menegaskan bahwa pengetahuan tentang kebaikan adalah syarat bagi tindakan yang baik. “Tak ada orang yang berbuat jahat dengan sengaja,” ujar Sokrates, menandaskan bahwa kejahatan lahir dari ketidaktahuan.² Dengan demikian, moralitas dipandang bukan sebagai kepatuhan terhadap hukum eksternal, melainkan hasil kesadaran batiniah yang mencerminkan keutuhan manusia sebagai makhluk rasional. Aristoteles melanjutkan warisan ini dengan memperkenalkan konsep phronesis (kebijaksanaan praktis), yang menjadi landasan bagi tindakan etis yang menyeimbangkan rasio, emosi, dan konteks sosial.³ Etika Aristotelian menandai lahirnya pemahaman bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politikon), yang mewujudkan kebaikan dirinya melalui partisipasi dalam kehidupan bersama.

Ketika memasuki Abad Pertengahan, perhatian etika bergeser ke arah teosentris, dengan moralitas ditentukan oleh kehendak Ilahi. Namun, dalam konteks Renaisans, humanisme bangkit kembali sebagai gerakan pembebasan manusia dari dogma dan otoritas eksternal. Giovanni Pico della Mirandola, dalam Oration on the Dignity of Man, menegaskan bahwa keunikan manusia terletak pada kebebasannya untuk menentukan diri: Tuhan memberi manusia tempat di tengah ciptaan agar ia dapat membentuk dirinya sendiri sesuai kehendaknya.⁴ Di sini muncul gagasan fundamental humanisme etis: bahwa martabat manusia tidak bersumber dari struktur hierarkis kosmos, melainkan dari potensi otonominya. Erasmus dari Rotterdam menambahkan dimensi moralitas universal dengan menekankan cinta, kesopanan, dan kebijaksanaan sebagai ekspresi kemanusiaan sejati.⁵ Humanisme Renaisans dengan demikian menegaskan bahwa etika tidak dapat dilepaskan dari penghargaan terhadap kebebasan dan kemampuan reflektif manusia.

Periode Pencerahan (Enlightenment) memperluas prinsip humanistik ini dalam kerangka rasional dan moral universal. Immanuel Kant, dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals, mengartikulasikan prinsip bahwa manusia adalah tujuan pada dirinya sendiri (Zweck an sich selbst), bukan sarana bagi tujuan lain.⁶ Prinsip ini meletakkan dasar bagi pemahaman modern tentang martabat manusia dan otonomi moral, yang kemudian menjadi salah satu tiang utama etika humanistik. Rasionalitas moral Kant bersifat transendental, tetapi tetap berakar pada kebebasan subjek manusia untuk menentukan tindakannya berdasarkan hukum moral batin (das moralische Gesetz). Etika humanistik dalam bentuk Kantian ini menandai pergeseran dari etika religius ke etika otonom—dari kepatuhan terhadap hukum eksternal menuju ketaatan pada prinsip moral yang ditemukan dalam diri manusia sendiri.

Memasuki abad ke-19 dan ke-20, gagasan humanisme berkembang melalui kritik terhadap rasionalisme semata dan munculnya perhatian baru terhadap dimensi eksistensial dan psikologis manusia. Søren Kierkegaard menekankan subjektivitas sebagai kebenaran, bahwa moralitas sejati lahir dari komitmen pribadi dan tanggung jawab eksistensial.⁷ Friedrich Nietzsche, sebaliknya, menggugat moralitas tradisional yang dianggap menindas vitalitas manusia, dan menyerukan afirmasi terhadap kehidupan melalui konsep Übermensch.⁸ Sementara itu, dalam konteks abad ke-20, etika humanistik mengalami pembaruan besar melalui gerakan personalisme dan psikologi humanistik. Emmanuel Mounier mengembangkan personalisme sebagai filsafat yang menempatkan persona—manusia konkret yang sadar dan berelasi—sebagai pusat etika dan politik.⁹ Sedangkan Erich Fromm mengusung etika humanistik yang berakar pada cinta, kebebasan, dan produktivitas diri sebagai jalan menuju kemanusiaan yang autentik.¹⁰

Dari garis historis ini dapat disimpulkan bahwa etika humanistik merupakan hasil dialektika panjang antara rasionalitas, kebebasan, dan relasi manusia dengan sesamanya. Ia berakar dalam kesadaran Yunani tentang kebajikan, dibangkitkan kembali oleh semangat Renaisans yang menegaskan martabat manusia, dan dimatangkan oleh Pencerahan yang mengukuhkan otonomi moral. Dalam perkembangannya, etika humanistik memperluas jangkauannya hingga mencakup dimensi eksistensial, psikologis, dan sosial, sehingga tidak hanya berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjadi dirinya yang sejati. Dengan demikian, landasan historis dan genealogis etika humanistik tidak hanya menggambarkan evolusi gagasan moral, tetapi juga perjalanan reflektif manusia dalam mencari makna kemanusiaannya yang utuh dan berkeadilan.¹¹


Footnotes

[1]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 1097b–1100a.

[2]                Plato, Apology, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 2002), 25c–28d.

[3]                Aristotle, Nicomachean Ethics, 1140a–1141b.

[4]                Giovanni Pico della Mirandola, Oration on the Dignity of Man, trans. A. R. Caponigri (Chicago: Gateway Editions, 1956), 3–6.

[5]                Desiderius Erasmus, The Praise of Folly, trans. Betty Radice (London: Penguin Classics, 1971), 115–118.

[6]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 39–41.

[7]                Søren Kierkegaard, Either/Or, trans. Alastair Hannay (London: Penguin, 1992), 205–207.

[8]                Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Viking Press, 1954), 41–43.

[9]                Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (London: Routledge, 1952), 23–27.

[10]             Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 18–21.

[11]             Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row, 1963), 5–7.


3.           Ontologi Etika Humanistik

Ontologi etika humanistik berakar pada pandangan tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki martabat, kebebasan, dan kapasitas reflektif untuk menentukan arah kehidupannya secara sadar. Dalam kerangka ini, manusia dipahami bukan sekadar entitas biologis atau rasional, tetapi sebagai subjek yang berkesadaran moral dan berelasi dengan dunia serta sesamanya.¹ Etika humanistik dengan demikian menolak segala bentuk reduksionisme—baik materialistik, mekanistik, maupun deterministik—yang meniadakan dimensi eksistensial dan spiritual manusia. Manusia dalam pandangan ini bukanlah hasil pasif dari struktur sosial atau kodrat alamiah semata, melainkan aktor yang memiliki kemampuan untuk mencipta makna melalui kebebasan dan tanggung jawab.²

Gagasan ini berakar pada tradisi eksistensialisme dan personalisme yang memandang eksistensi manusia sebagai sesuatu yang dinamis, terbuka, dan tak pernah selesai. Søren Kierkegaard menyebut manusia sebagai “sintesis antara yang fana dan yang abadi,”³ yang berarti bahwa dalam diri manusia terdapat ketegangan ontologis antara dimensi biologis dan spiritual, antara keterbatasan dan kemungkinan. Keunikan manusia terletak pada kemampuannya untuk menyadari ketegangan ini dan meresponsnya melalui pilihan moral yang otentik. Etika humanistik, dalam konteks ini, tidak mendefinisikan manusia berdasarkan apa yang ia miliki, tetapi berdasarkan bagaimana ia menjadi—yakni proses aktualisasi potensi moral dan eksistensialnya dalam kehidupan nyata.⁴

Emmanuel Mounier, tokoh personalisme Prancis, menegaskan bahwa inti ontologi manusia adalah persona, bukan individu yang terisolasi.⁵ Persona merupakan subjek yang hidup dalam relasi: ia menjadi dirinya sendiri melalui keterlibatan dengan orang lain. Maka, etika humanistik bersifat dialogis dan relasional—suatu pandangan yang menolak atomisme moral. Relasi antarmanusia bukan sekadar interaksi fungsional, tetapi pertemuan antar-subjek yang memiliki nilai intrinsik.⁶ Dalam hal ini, etika humanistik berdekatan dengan pemikiran Martin Buber yang menekankan relasi “Aku–Engkau” sebagai dasar eksistensi manusia yang sejati.⁷ Dalam hubungan yang autentik, manusia menemukan dirinya bukan melalui dominasi, melainkan melalui pengakuan dan kasih. Ontologi etika humanistik dengan demikian menempatkan hubungan antarpribadi sebagai locus utama dari pengalaman etis.

Dari perspektif fenomenologis, terutama melalui pemikiran Edmund Husserl dan Max Scheler, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki kesadaran intensional, yaitu kesadaran yang selalu terarah pada sesuatu di luar dirinya.⁸ Kesadaran ini memungkinkan manusia mengalami dunia secara bermakna dan menilai tindakan berdasarkan nilai-nilai yang ia sadari secara bebas. Max Scheler menolak pandangan Darwinistik yang menganggap manusia sebagai hasil tertinggi dari evolusi biologis semata; baginya, manusia memiliki keunggulan nilai (Wertüberlegenheit) karena kesanggupannya untuk mengenali dan mencintai nilai-nilai moral.⁹ Dengan demikian, dalam perspektif ontologis-etis, eksistensi manusia ditentukan bukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh orientasi nilainya terhadap kebaikan, cinta, dan solidaritas.

Erich Fromm memperdalam pandangan ini dengan menggabungkan aspek ontologis dan psikologis manusia. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang sadar akan keterpisahannya dari alam dan sesama, namun memiliki hasrat eksistensial untuk mengatasi keterasingan itu melalui cinta dan kreativitas.¹⁰ Keberadaan manusia, dalam kerangka ini, selalu bersifat paradoksal: ia bebas tetapi juga terbatas, rasional tetapi emosional, individual tetapi sosial. Ontologi etika humanistik menerima paradoks ini sebagai inti kemanusiaan, bukan sebagai cacat eksistensi. Etika yang lahir darinya bertujuan untuk mengarahkan manusia pada keseimbangan antara kebebasan dan keterikatan, antara otonomi dan solidaritas.¹¹

Ontologi etika humanistik juga menegaskan bahwa martabat manusia bersifat inheren dan tidak bergantung pada status sosial, kemampuan intelektual, atau kontribusi ekonomi. Martabat manusia berasal dari fakta ontologis bahwa setiap pribadi adalah subjek kesadaran dan tanggung jawab.¹² Dengan demikian, etika humanistik berakar pada keyakinan bahwa keberadaan manusia memiliki nilai pada dirinya sendiri—bukan karena fungsi, efisiensi, atau kegunaan praktisnya. Hal ini berlawanan dengan logika instrumentalis modern yang mengukur manusia berdasarkan produktivitas.¹³ Dalam konteks sosial, pandangan ini memiliki implikasi mendalam: setiap tindakan etis harus menghormati eksistensi manusia sebagai tujuan, bukan sarana.

Secara keseluruhan, ontologi etika humanistik dapat dipahami sebagai filsafat tentang keberadaan manusia yang bermoral. Ia tidak hanya menjelaskan apa manusia itu, tetapi bagaimana manusia seharusnya hidup sesuai dengan hakikatnya. Manusia adalah makhluk yang mampu melampaui diri, mengobjektivikasi pengalaman, dan menilai tindakannya secara reflektif. Dalam hal ini, etika humanistik menjadi jembatan antara ontologi eksistensial dan praksis moral. Ia memandang bahwa manusia menemukan kemanusiaannya bukan dalam abstraksi, melainkan dalam tindakan konkret yang mengafirmasi nilai-nilai kasih, empati, dan solidaritas.¹⁴ Dengan menegaskan dimensi ontologis ini, etika humanistik bukan hanya sistem moral, melainkan juga suatu pandangan hidup yang mengakar pada keberadaan manusia sebagai makhluk yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab atas makna dunia yang ia ciptakan bersama yang lain.¹⁵


Footnotes

[1]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 33–35.

[2]                Paul Ricoeur, Fallible Man, trans. Charles Kelbley (Chicago: Regnery, 1965), 12–14.

[3]                Søren Kierkegaard, The Sickness Unto Death, trans. Alastair Hannay (London: Penguin, 1989), 43–45.

[4]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Washington Square Press, 1956), 553–556.

[5]                Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (London: Routledge, 1952), 9–11.

[6]                Karol Wojtyła, Person and Act, trans. Andrzej Potocki (Dordrecht: Reidel, 1979), 72–75.

[7]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 54–57.

[8]                Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1982), 96–99.

[9]                Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred Frings and Roger Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 27–30.

[10]             Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), 34–36.

[11]             Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 103–105.

[12]             Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 42–43.

[13]             Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston: Beacon Press, 1964), 121–124.

[14]             Gabriel Marcel, Being and Having, trans. Katherine Farrer (Westminster: Dacre Press, 1949), 87–89.

[15]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 62–64.


4.           Epistemologi Etika Humanistik

Epistemologi etika humanistik berfokus pada pertanyaan tentang bagaimana manusia mengetahui dan memahami kebaikan moral dalam konteks eksistensialnya. Tidak seperti etika rasionalistik atau positivistik yang berupaya menemukan dasar moral melalui hukum universal atau kalkulasi konsekuensi, etika humanistik memandang pengetahuan moral sebagai hasil dari pengalaman hidup yang reflektif, empatik, dan dialogis.¹ Pengetahuan etis tidak muncul dari abstraksi logis semata, melainkan dari kesadaran manusia atas dirinya sendiri, sesama, dan dunia yang ia hidupi. Dalam kerangka ini, manusia tidak hanya mengetahui kebaikan, tetapi mengalami dan menghidupinya melalui keterlibatan eksistensial dalam relasi antarmanusia dan situasi konkret.²

Landasan epistemologis etika humanistik terinspirasi oleh tradisi fenomenologi dan hermeneutika. Edmund Husserl memperkenalkan gagasan tentang kesadaran intensional, yakni kesadaran yang selalu “terarah kepada sesuatu.”³ Bagi Husserl, memahami realitas berarti mengungkap makna yang telah dialami dalam dunia kehidupan (Lebenswelt). Etika humanistik mengambil alih gagasan ini dengan menekankan bahwa pengetahuan moral berakar pada pengalaman konkret manusia yang sadar akan nilai-nilai yang dihayati. Max Scheler kemudian mengembangkan lebih jauh melalui teori nilai (Wertethik), di mana manusia tidak menciptakan nilai, tetapi menyadarinya melalui intuisi emosional.⁴ Scheler menolak reduksi rasional terhadap moralitas: pengetahuan etis bukanlah hasil dari kalkulasi intelektual, tetapi dari kepekaan hati nurani yang mampu mengenali hierarki nilai secara langsung.

Sementara itu, hermeneutika moral sebagaimana dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer dan Paul Ricoeur memperluas pemahaman epistemologi etika humanistik dalam dimensi dialogis. Gadamer menegaskan bahwa memahami nilai moral adalah proses interpretasi yang terjadi dalam horizon historis dan linguistik manusia.⁵ Artinya, pengetahuan moral bersifat historis dan intersubjektif, selalu terbuka terhadap koreksi dan pemaknaan ulang melalui dialog. Ricoeur menambahkan bahwa etika bukan sekadar hasil pemahaman kognitif, tetapi juga “praktik pemaknaan diri” (self-interpretation) yang dilakukan manusia ketika ia menilai tindakannya sendiri di hadapan orang lain.⁶ Dengan demikian, epistemologi etika humanistik bersifat reflektif dan komunikatif: manusia mengenal yang baik melalui percakapan batin dan interaksi dengan sesamanya.

Erich Fromm, dalam Man for Himself, menekankan bahwa pengetahuan moral yang sejati bersumber dari “rasionalitas produktif,” yaitu kemampuan manusia untuk menilai berdasarkan cinta terhadap kehidupan dan pengembangan potensi dirinya.⁷ Bagi Fromm, moralitas tidak dapat dipisahkan dari kondisi psikologis dan sosial individu. Ketika seseorang mengenal dirinya dengan jujur dan terbuka, ia mampu mengembangkan kesadaran etis yang otonom—bukan berdasarkan paksaan eksternal, melainkan berdasarkan komitmen terhadap kemanusiaan.⁸ Pandangan ini menunjukkan bahwa epistemologi etika humanistik tidak hanya bersifat kognitif, melainkan juga afektif dan eksistensial: pengetahuan etis adalah hasil integrasi antara rasio, emosi, dan pengalaman.

Jürgen Habermas memberikan dimensi tambahan melalui konsep rasionalitas komunikatif. Dalam teori ini, pengetahuan moral muncul dari proses intersubjektif di mana individu berdialog secara rasional dan setara untuk mencapai pemahaman bersama.⁹ Etika, dalam konteks ini, adalah hasil diskursus yang bebas dari dominasi—suatu bentuk pengetahuan yang dihasilkan oleh komunikasi yang jujur, terbuka, dan saling menghormati. Dengan menggabungkan prinsip humanistik dan komunikatif, Habermas menegaskan bahwa pengetahuan moral sejati tidak dapat diperoleh secara soliter, melainkan dalam ruang publik yang memungkinkan partisipasi etis.¹⁰

Epistemologi etika humanistik dengan demikian menolak dua ekstrem: relativisme subjektif yang meniadakan dasar moral, dan absolutisme dogmatis yang menutup ruang bagi refleksi.¹¹ Ia beroperasi di antara keduanya dengan mengakui bahwa pengetahuan etis bersifat terbuka, historis, dan selalu dalam proses dialog. Manusia mengetahui kebaikan bukan karena ia menemukan hukum moral yang sudah selesai, tetapi karena ia terlibat secara reflektif dalam proses menjadi baik. Oleh sebab itu, etika humanistik bersifat dinamis dan progresif—pengetahuan moral tidak berhenti pada norma, tetapi berkembang seiring dengan kedewasaan moral manusia.¹²

Secara epistemologis, etika humanistik berlandaskan pada tiga prinsip utama:

(1)               Refleksivitas, yakni kemampuan manusia untuk mengenal diri dan menilai tindakannya sendiri;

(2)               Empati, yaitu kapasitas untuk memahami pengalaman moral orang lain secara autentik; dan

(3)               Dialog, sebagai proses pengujian kebenaran moral secara intersubjektif.¹³

Ketiganya membentuk kerangka pengetahuan moral yang tidak terlepas dari konteks kehidupan, namun tetap berakar pada nilai-nilai universal tentang martabat dan kemanusiaan. Dalam pandangan ini, epistemologi etika humanistik tidak hanya menjelaskan bagaimana manusia mengetahui yang baik, tetapi juga mengapa ia terdorong untuk mewujudkannya dalam tindakan.¹⁴

Dengan demikian, epistemologi etika humanistik memandang bahwa pengetahuan moral adalah hasil keterlibatan manusia secara penuh dalam proses memahami dirinya, sesama, dan dunia. Ia bukan sekadar sistem rasional tentang norma, melainkan bentuk kesadaran reflektif yang lahir dari pengalaman eksistensial dan dialog etis. Dalam ruang inilah manusia menemukan kebenaran yang bersifat humanistik: kebenaran yang hidup, terbuka, dan mengundang partisipasi—bukan untuk menundukkan, melainkan untuk mempertemukan manusia dalam kemanusiaannya yang paling dalam.¹⁵


Footnotes

[1]                Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 162–165.

[2]                Martin Buber, Between Man and Man, trans. Ronald Gregor Smith (London: Routledge, 1947), 21–24.

[3]                Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1982), 97–99.

[4]                Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred Frings and Roger Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 33–35.

[5]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 302–305.

[6]                Paul Ricoeur, Time and Narrative, vol. 3 (Chicago: University of Chicago Press, 1988), 243–245.

[7]                Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 28–31.

[8]                Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), 40–42.

[9]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 99–102.

[10]             Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge, MA: MIT Press, 1990), 57–60.

[11]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 73–76.

[12]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 109–111.

[13]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 152–155.

[14]             Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity: Conversations with Philippe Nemo, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 85–87.

[15]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 70–72.


5.           Aksiologi Etika Humanistik

Aksiologi etika humanistik berakar pada keyakinan bahwa nilai moral tertinggi terletak pada pengakuan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dalam pandangan ini, nilai tidak dipahami sebagai entitas metafisis yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil dari kesadaran eksistensial manusia yang menyadari dirinya sebagai makhluk bebas dan bertanggung jawab.¹ Etika humanistik menolak pandangan moral yang bersifat heteronom—yang menempatkan nilai sebagai perintah eksternal—dan sebaliknya menegaskan bahwa nilai moral lahir dari kesadaran batiniah dan refleksi manusia atas eksistensinya sendiri di tengah dunia.² Dengan demikian, pusat aksiologi etika humanistik adalah kemanusiaan itu sendiri sebagai sumber, tolok ukur, dan tujuan dari setiap nilai etis.

5.1.       Nilai Dasar: Martabat, Kebebasan, dan Tanggung Jawab

Nilai utama dalam etika humanistik adalah martabat manusia (dignitas humana), yang dipahami sebagai kualitas ontologis yang melekat pada setiap pribadi tanpa syarat.³ Martabat ini tidak ditentukan oleh prestasi, status sosial, atau kemampuan, melainkan oleh keberadaan manusia sebagai subjek kesadaran dan kehendak moral. Dari martabat lahir prinsip kebebasan, yakni kemampuan manusia untuk memilih dan bertindak sesuai dengan suara nuraninya. Namun kebebasan dalam etika humanistik tidak bersifat absolut, melainkan selalu diimbangi oleh tanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, dan dunia.⁴ Seperti ditegaskan oleh Viktor Frankl, kebebasan tanpa tanggung jawab akan melahirkan kehampaan eksistensial; tanggung jawab memberi arah dan makna pada kebebasan manusia.⁵

Dengan demikian, aksiologi etika humanistik membangun suatu keseimbangan antara otonomi dan solidaritas. Nilai moral tertinggi bukan sekadar kebebasan individual, tetapi kebebasan yang dihayati dalam relasi dengan orang lain.⁶ Kebebasan sejati adalah kebebasan yang menciptakan ruang bagi kebebasan orang lain—sebuah prinsip yang menjadi inti solidaritas etis dan penghormatan terhadap kehidupan bersama.

5.2.       Nilai Kasih, Empati, dan Solidaritas

Kasih (agape) dalam etika humanistik merupakan bentuk nilai moral tertinggi karena ia mengandung dimensi kreatif, dialogis, dan transformatif. Erich Fromm menafsirkan kasih bukan sebagai emosi sentimental, melainkan sebagai tindakan aktif yang menegaskan eksistensi orang lain sebagai pribadi yang bernilai.⁷ Dalam hubungan kasih, manusia melampaui egosentrisme dan menemukan dirinya melalui pemberian diri. Empati, sebagai bentuk kesadaran etis, memungkinkan seseorang untuk memahami pengalaman moral orang lain tanpa kehilangan keutuhan dirinya.⁸

Solidaritas muncul sebagai konsekuensi dari kasih dan empati. Ia adalah ekspresi sosial dari cinta yang terwujud dalam keadilan dan kepedulian. Dalam pandangan ini, keadilan bukan hanya urusan hukum, tetapi juga sikap etis yang mengakui kesetaraan dan keberadaan orang lain sebagai sesama manusia.⁹ Aksiologi etika humanistik menolak pandangan utilitarian yang menilai tindakan berdasarkan hasil atau manfaat terbesar bagi mayoritas, karena pendekatan itu kerap mengabaikan martabat individu.¹⁰ Sebaliknya, ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki nilai intrinsik yang tak dapat dikorbankan atas nama kepentingan kolektif.

5.3.       Kemanusiaan sebagai Prinsip Universal

Etika humanistik memiliki orientasi universal, tetapi bukan dalam pengertian homogenisasi nilai. Universalitas dalam etika ini bersifat dialogis dan partisipatif: nilai-nilai moral universal muncul dari perjumpaan dan pengakuan timbal balik antarpribadi.¹¹ Emmanuel Levinas menyebut bahwa tanggung jawab terhadap “yang lain” (l’Autre) mendahului setiap prinsip normatif; etika dimulai dari wajah manusia lain yang menuntut pengakuan dan kasih.¹² Dengan demikian, universalitas etika humanistik tidak bertolak dari abstraksi rasional, melainkan dari pengalaman konkret tentang kemanusiaan bersama.

Dalam ranah sosial, prinsip ini mewujud dalam nilai keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap perbedaan. Etika humanistik mendorong pluralisme moral yang tidak relativistik: ia mengakui keragaman pandangan moral, tetapi tetap berpijak pada komitmen terhadap martabat manusia.¹³ Dalam kerangka ini, nilai kemanusiaan berfungsi sebagai horizon etis yang menyatukan berbagai sistem nilai tanpa meniadakan keunikan budaya atau tradisi.

5.4.       Relasi antara Nilai dan Tindakan Moral

Dalam etika humanistik, tindakan moral adalah manifestasi konkret dari nilai-nilai kemanusiaan. Pengetahuan tentang nilai harus diwujudkan dalam tindakan yang mencerminkan cinta, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama.¹⁴ Aksiologi etika humanistik menolak dikotomi antara teori dan praksis, karena nilai hanya memiliki makna sejati ketika dihidupi dalam tindakan. Nilai bukan sekadar objek refleksi, tetapi cara hidup yang mengubah realitas sosial. Seperti ditegaskan oleh Paulo Freire, kesadaran etis yang sejati selalu bersifat praksis: ia tidak berhenti pada kontemplasi, tetapi mendorong transformasi sosial yang membebaskan.¹⁵

Dalam konteks ini, nilai kemanusiaan juga menjadi dasar bagi etika profesi, politik, dan teknologi. Dalam dunia yang semakin dikuasai logika efisiensi dan instrumentalitas, etika humanistik menegaskan bahwa nilai tertinggi bukan terletak pada apa yang dapat dihasilkan, melainkan pada bagaimana tindakan tersebut memelihara kemanusiaan.¹⁶ Tindakan etis sejati adalah tindakan yang memanusiakan manusia—baik pelaku maupun yang dikenai tindakan.

5.5.       Kesatuan Aksiologis antara Individu dan Komunitas

Aksiologi etika humanistik tidak berhenti pada individu, melainkan mencakup dimensi sosial dan kosmologis. Nilai moral tidak dapat diwujudkan dalam isolasi, tetapi dalam jaringan relasi yang saling membangun. Manusia menemukan makna etis dalam komunitas, dan komunitas memperoleh arah moral melalui partisipasi individu yang sadar.¹⁷ Edgar Morin menyebut hal ini sebagai “humanisme integral,” yakni kesadaran bahwa kemanusiaan sejati tidak dapat dipisahkan dari solidaritas dengan seluruh kehidupan.¹⁸ Maka, etika humanistik memandang nilai-nilai moral sebagai sistem yang saling terkait: kebebasan membutuhkan kasih, kasih memerlukan keadilan, dan keadilan menuntut tanggung jawab sosial.


Akhirnya, aksiologi etika humanistik menegaskan bahwa nilai-nilai moral bukanlah dogma yang statis, melainkan prinsip hidup yang berkembang seiring dengan kedalaman kesadaran manusia. Nilai tertinggi bukan sesuatu yang di luar manusia, tetapi yang dihidupi manusia dalam relasinya dengan dunia. Dengan mengintegrasikan martabat, kebebasan, tanggung jawab, kasih, dan solidaritas, etika humanistik membentuk kerangka nilai yang mampu menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih autentik, adil, dan manusiawi.¹⁹


Footnotes

[1]                Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row, 1963), 11–13.

[2]                Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (London: Routledge, 1952), 18–21.

[3]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 42–44.

[4]                Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 172–174.

[5]                Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 132–135.

[6]                Karol Wojtyła, Person and Act, trans. Andrzej Potocki (Dordrecht: Reidel, 1979), 80–83.

[7]                Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), 25–29.

[8]                Martin L. Hoffman, Empathy and Moral Development (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 45–48.

[9]                Martha C. Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2006), 67–70.

[10]             John Stuart Mill, Utilitarianism, ed. George Sher (Indianapolis: Hackett, 2001), 16–18.

[11]             Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 98–100.

[12]             Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–199.

[13]             Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 41–43.

[14]             Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred Frings and Roger Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 45–47.

[15]             Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 2000), 88–90.

[16]             Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston: Beacon Press, 1964), 123–125.

[17]             Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–64.

[18]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 95–98.

[19]             Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 71–74.


6.           Dimensi Sosial, Politik, dan Ekonomi

Etika humanistik, sebagai paradigma moral yang berpusat pada martabat dan kebebasan manusia, tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, politik, dan ekonomi tempat manusia hidup. Dalam dimensi ini, etika humanistik berfungsi bukan hanya sebagai refleksi normatif, tetapi juga sebagai kritik terhadap struktur sosial yang meniadakan kemanusiaan. Ia berupaya mengembalikan nilai-nilai moral ke dalam ruang publik yang kerap didominasi oleh kekuasaan, kompetisi, dan efisiensi instrumental.¹ Etika humanistik menolak pandangan bahwa kehidupan sosial dan ekonomi dapat direduksi menjadi mekanisme impersonal, dan menegaskan bahwa inti dari setiap sistem sosial adalah manusia—bukan sekadar angka, tenaga kerja, atau komoditas.²

6.1.       Etika Humanistik dan Struktur Sosial

Dalam tataran sosial, etika humanistik berangkat dari pandangan bahwa manusia adalah makhluk relasional yang menemukan jati dirinya melalui kebersamaan dan solidaritas.³ Setiap struktur sosial, oleh karena itu, harus dibangun di atas penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan: keadilan, partisipasi, dan pengakuan. Max Weber telah menunjukkan bagaimana rasionalitas instrumental modern menghasilkan “sangkar besi” birokrasi, di mana manusia kehilangan makna dalam mekanisme sistem.⁴ Etika humanistik hadir untuk memulihkan dimensi Lebenswelt (dunia kehidupan) sebagaimana digagas Jürgen Habermas—yakni ruang sosial tempat komunikasi dan makna bersama dapat tumbuh secara bebas.⁵

Krisis sosial kontemporer, seperti alienasi, ketimpangan, dan polarisasi, sering kali berakar pada kehilangan nilai humanistik dalam interaksi sosial. Erich Fromm menilai bahwa masyarakat modern menderita “orientasi memiliki” (having orientation), di mana manusia menilai dirinya berdasarkan kepemilikan, bukan keberadaan.⁶ Etika humanistik mengajak masyarakat untuk beralih ke being orientation—cara hidup yang menekankan pengembangan diri, empati, dan solidaritas sosial.⁷ Dengan demikian, tugas utama etika humanistik dalam ranah sosial adalah membangun kembali tatanan yang memanusiakan hubungan antarindividu dan mendorong solidaritas lintas perbedaan.

6.2.       Dimensi Politik: Humanisme sebagai Kritik terhadap Kekuasaan

Dalam dimensi politik, etika humanistik menegaskan bahwa kekuasaan tidak boleh menjadi tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan manusia. Hannah Arendt menyebut bahwa kekuasaan sejati lahir dari tindakan bersama (action in concert), bukan dari dominasi.⁸ Etika humanistik menolak politik yang mengobjektivikasi manusia—baik dalam bentuk totalitarianisme, teknokrasi, maupun populisme—karena semua bentuk tersebut meniadakan kebebasan moral individu.⁹

Prinsip politik humanistik bertumpu pada pengakuan terhadap hak asasi manusia sebagai manifestasi konkret dari martabat manusia.¹⁰ Namun, pengakuan ini tidak cukup jika hanya berbentuk hukum formal; ia harus disertai dengan praksis demokrasi yang partisipatif dan komunikatif. Dalam kerangka Habermasian, legitimasi politik hanya sah apabila lahir dari proses diskursus publik yang bebas dari paksaan dan terbuka bagi semua warga.¹¹ Politik yang etis bukanlah politik kekuasaan, tetapi politik dialog—suatu ruang di mana rasionalitas komunikatif menggantikan logika dominasi.¹²

Etika humanistik juga menawarkan kritik terhadap nasionalisme eksklusif dan ideologi yang menolak pluralitas. Ia menekankan bahwa kebebasan dan identitas manusia hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang menghormati keberagaman.¹³ Dengan demikian, etika humanistik dalam politik tidak sekadar menuntut keadilan distributif, tetapi juga keadilan pengakuan (recognition justice), sebagaimana dikembangkan oleh Axel Honneth: manusia membutuhkan pengakuan atas nilai dan martabatnya agar dapat hidup bermakna di dalam komunitas politik.¹⁴

6.3.       Dimensi Ekonomi: Humanisasi Produksi dan Konsumsi

Dalam bidang ekonomi, etika humanistik menyoroti bahaya dehumanisasi akibat dominasi kapitalisme global dan logika pasar bebas yang tak terkendali. Karl Polanyi telah menunjukkan bahwa ekonomi pasar yang sepenuhnya otonom cenderung mengubah manusia dan alam menjadi “komoditas fiktif.”¹⁵ Dalam pandangan etika humanistik, ekonomi seharusnya tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga kesejahteraan manusia dalam arti yang holistik: material, sosial, dan spiritual.

Erich Fromm menegaskan perlunya “etika produktivitas,” yaitu ekonomi yang berorientasi pada perkembangan manusia, bukan eksploitasi.¹⁶ Dalam kerangka ini, pekerjaan dipandang bukan sekadar sarana bertahan hidup, melainkan ekspresi kreatif dari eksistensi manusia.⁷ Humanisasi ekonomi berarti menempatkan manusia kembali di pusat aktivitas ekonomi: produksi yang etis menghormati pekerja, konsumsi yang sadar menghormati bumi, dan distribusi yang adil menghormati kebutuhan bersama.¹⁸

Ekonomi humanistik juga mengandung dimensi ekologis. Edgar Morin dan Michel Serres menegaskan bahwa sistem ekonomi modern hanya dapat bertahan jika mengakui keterkaitan antara manusia dan alam sebagai satu ekosistem moral.¹⁹ Etika humanistik dalam ekonomi menuntut keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan, antara kemajuan dan tanggung jawab ekologis. Dengan demikian, kesejahteraan sejati tidak dapat diukur hanya dengan Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi dengan derajat kemanusiaan dan keseimbangan ekosistem yang dihasilkan.²⁰


Integrasi Sosial, Politik, dan Ekonomi dalam Kerangka Humanistik

Ketiga dimensi—sosial, politik, dan ekonomi—tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkelindan dalam struktur kehidupan manusia. Etika humanistik berupaya menciptakan integrasi di antara ketiganya melalui nilai-nilai dialog, keadilan, dan solidaritas.²¹ Masyarakat yang beretika humanistik adalah masyarakat yang mengakui bahwa kebebasan ekonomi tanpa tanggung jawab sosial akan melahirkan ketimpangan, dan kekuasaan politik tanpa nilai kemanusiaan akan menimbulkan penindasan.²² Oleh karena itu, etika humanistik mendorong lahirnya tatanan integral yang menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari setiap kebijakan publik dan kegiatan ekonomi.

Dengan demikian, dimensi sosial, politik, dan ekonomi dalam etika humanistik berfungsi sebagai medan praksis moral. Di dalamnya, manusia tidak sekadar menjadi objek sistem, tetapi subjek yang secara aktif menciptakan makna, menegakkan keadilan, dan memelihara solidaritas.²³ Etika humanistik bukan hanya ideal moral, tetapi juga prinsip praksis yang menuntun transformasi struktur sosial menuju masyarakat yang lebih adil, demokratis, dan manusiawi.²⁴


Footnotes

[1]                Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 41–43.

[2]                Erich Fromm, To Have or To Be? (New York: Harper & Row, 1976), 57–60.

[3]                Martin Buber, Between Man and Man, trans. Ronald Gregor Smith (London: Routledge, 1947), 22–24.

[4]                Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, trans. Talcott Parsons (New York: Scribner, 1958), 181–184.

[5]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 2 (Boston: Beacon Press, 1987), 119–122.

[6]                Erich Fromm, The Sane Society (New York: Rinehart, 1955), 111–113.

[7]                Ibid., 135–137.

[8]                Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 190–193.

[9]                Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, trans. Alan Sheridan (New York: Vintage, 1977), 29–31.

[10]             United Nations, Universal Declaration of Human Rights (New York: United Nations, 1948), Article 1.

[11]             Jürgen Habermas, Between Facts and Norms, trans. William Rehg (Cambridge, MA: MIT Press, 1996), 107–110.

[12]             Ibid., 125–128.

[13]             Amartya Sen, Development as Freedom (New York: Knopf, 1999), 18–21.

[14]             Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts, trans. Joel Anderson (Cambridge, MA: MIT Press, 1995), 92–94.

[15]             Karl Polanyi, The Great Transformation (Boston: Beacon Press, 2001), 75–77.

[16]             Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 85–87.

[17]             Ibid., 101–103.

[18]             Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 128–130.

[19]             Edgar Morin and Michel Serres, Dialogues sur la Nature Humaine (Paris: Éditions de l’Aube, 2000), 54–57.

[20]             Kate Raworth, Doughnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist (London: Random House, 2017), 43–46.

[21]             Charles Taylor, Modern Social Imaginaries (Durham: Duke University Press, 2004), 89–91.

[22]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 94–96.

[23]             Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity: Conversations with Philippe Nemo, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 94–96.

[24]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 101–104.


7.           Dimensi Ilmiah dan Interdisipliner

Etika humanistik, sebagai paradigma moral yang berpijak pada pengakuan terhadap martabat manusia, memiliki relevansi luas yang melampaui ranah filsafat normatif. Ia berinteraksi secara dinamis dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari psikologi, pendidikan, kedokteran, teknologi, hingga ekologi.¹ Dalam kerangka interdisipliner, etika humanistik tidak hanya berfungsi sebagai panduan moral, tetapi juga sebagai orientasi epistemologis dan aksiologis bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berpusat pada manusia (human-centered knowledge).² Etika ini mengingatkan bahwa kemajuan ilmiah, seberapa pun spektakulernya, kehilangan legitimasi moral bila tidak diarahkan untuk memajukan kemanusiaan, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga keberlanjutan kehidupan.³

7.1.       Etika Humanistik dan Ilmu Pengetahuan

Etika humanistik menolak dikotomi tajam antara ilmu dan nilai, antara fakta dan moralitas. Sejak era positivisme, ilmu pengetahuan sering dipersepsikan sebagai domain netral yang hanya berurusan dengan “apa yang ada,” sementara etika dianggap berbicara tentang “apa yang seharusnya.”⁴ Dikotomi ini menimbulkan bahaya dehumanisasi, karena ilmu dapat digunakan tanpa pertimbangan moral—misalnya dalam eksploitasi teknologi, manipulasi genetika, atau destruksi ekologis. Etika humanistik menawarkan koreksi terhadap pandangan ini dengan menegaskan bahwa ilmu tidak bebas nilai (value-free), melainkan selalu berakar pada pilihan etis tentang tujuan penggunaannya.⁵

Dalam pandangan Edgar Morin, sains harus bersifat reflektif dan kompleks, mengakui keterkaitannya dengan dimensi kemanusiaan dan moralitas.⁶ Ilmu pengetahuan yang etis tidak sekadar menjelaskan dunia, tetapi juga berkontribusi terhadap pemeliharaan kehidupan. Dalam hal ini, etika humanistik berperan sebagai metaparameter bagi seluruh kegiatan ilmiah: ia menjadi ukuran moral yang memastikan bahwa pengetahuan digunakan untuk memperluas martabat manusia, bukan untuk mempersempit atau merusaknya.⁷

7.2.       Keterkaitan dengan Psikologi dan Pendidikan

Psikologi humanistik, yang berkembang melalui pemikiran Abraham Maslow dan Carl Rogers, memiliki kesesuaian filosofis yang mendalam dengan etika humanistik.⁸ Keduanya menekankan potensi aktualisasi diri, kebebasan, dan cinta sebagai inti dari perkembangan manusia. Maslow menyebut bahwa manusia memiliki kebutuhan hierarkis yang berpuncak pada self-actualization—yakni kesadaran diri yang tertinggi dan kemampuan untuk berbuat kebaikan secara autentik.⁹ Rogers menambahkan bahwa perkembangan moral sejati hanya mungkin terjadi dalam kondisi psikologis yang menerima, empatik, dan tidak menghakimi (unconditional positive regard).¹⁰

Dalam pendidikan, etika humanistik berperan sebagai landasan filosofis bagi pedagogi yang membebaskan dan memanusiakan. Paulo Freire menolak model pendidikan “banking system” yang memposisikan peserta didik sebagai objek pasif penerima informasi.¹¹ Sebaliknya, ia mengajukan pendidikan dialogis yang berlandaskan kesadaran kritis dan kebebasan. Etika humanistik dalam pendidikan menuntut hubungan pedagogis yang dialogis, partisipatif, dan berorientasi pada pembentukan pribadi yang otonom dan bertanggung jawab sosial.¹² Dengan demikian, dimensi ilmiah etika humanistik mendorong pendidikan sebagai sarana humanisasi, bukan indoktrinasi.

7.3.       Humanisme dalam Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Dalam ranah medis, etika humanistik menghadirkan kritik terhadap reduksionisme biomedis yang memandang pasien semata sebagai objek biologis.¹³ Filsafat kedokteran humanistik memulihkan pandangan bahwa manusia adalah makhluk utuh dengan dimensi fisik, psikis, sosial, dan spiritual.¹⁴ Dokter, dalam kerangka ini, bukan sekadar pelaksana prosedur teknis, tetapi mitra dialogis dalam penderitaan dan penyembuhan pasien. Tristram Engelhardt dan Edmund Pellegrino menegaskan bahwa martabat pasien tidak boleh direduksi menjadi statistik atau protokol medis, karena inti dari praktik kedokteran adalah perjumpaan antara dua manusia yang saling mengakui kemanusiaannya.¹⁵

Etika humanistik dalam kedokteran juga menekankan pentingnya empati klinis, komunikasi terapeutik, dan penghormatan terhadap otonomi pasien.¹⁶ Dengan demikian, ia menjadi dasar bagi bioetika personalistik, yaitu pendekatan etis yang menempatkan nilai kehidupan dan relasi antarpribadi di atas pertimbangan utilitarian semata.¹⁷

7.4.       Humanisme dan Teknologi Digital

Revolusi digital menghadirkan tantangan baru bagi kemanusiaan: algoritma menggantikan keputusan moral, data menggantikan pengalaman, dan efisiensi sering kali menyingkirkan empati.¹⁸ Etika humanistik menuntut agar teknologi dikembangkan bukan hanya berdasarkan logika inovasi, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap manusia dan masyarakat. Luciano Floridi menyebut perlunya “etika informasi” yang berorientasi pada kesejahteraan manusia (infosphere well-being), di mana setiap tindakan digital mempertimbangkan dampak sosial dan eksistensialnya.¹⁹

Dalam konteks ini, pendekatan interdisipliner antara teknologi, filsafat, dan etika menjadi keharusan.²⁰ Humanisasi teknologi berarti memastikan bahwa kecerdasan buatan, otomasi, dan sistem digital memperkuat nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial.²¹ Etika humanistik mendorong terbentuknya technomoral citizenship—yaitu warga digital yang sadar etis, kritis terhadap algoritma, dan berkomitmen pada martabat manusia di ruang maya.²²

7.5.       Dimensi Ekologis dan Integralitas Pengetahuan

Etika humanistik juga memiliki dimensi ekologis yang kuat. Ia menolak antroposentrisme sempit yang memisahkan manusia dari alam.²³ Dalam kerangka humanisme ekologis, manusia dipandang sebagai bagian integral dari jaringan kehidupan. Fritjof Capra dan Arne Naess menekankan bahwa pemahaman ilmiah tentang alam harus diiringi dengan kesadaran moral untuk melindunginya.²⁴ Edgar Morin menyebut bahwa pengetahuan sejati bersifat integral dan ekologis—menyatukan sains, etika, dan spiritualitas dalam satu kesadaran kompleks.²⁵

Pendekatan interdisipliner ini melahirkan paradigma eco-humanistic ethics, yang memandang tanggung jawab manusia terhadap alam bukan sebagai beban eksternal, melainkan sebagai konsekuensi logis dari eksistensinya sebagai makhluk moral.²⁶ Ilmu ekologi, biologi, dan teknologi lingkungan dalam konteks ini bukan sekadar disiplin teknis, tetapi juga praksis etis yang mengandung tanggung jawab terhadap masa depan kehidupan.²⁷


Humanisasi Ilmu dan Tanggung Jawab Intelektual

Dimensi ilmiah dan interdisipliner etika humanistik berpuncak pada gagasan humanisasi ilmu pengetahuan.²⁸ Ilmuwan, pendidik, dokter, dan teknolog memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan bahwa kegiatan ilmiah mereka tidak memisahkan kemajuan dari nilai.²⁹ Pengetahuan sejati menuntut integritas moral dan komitmen terhadap kehidupan. Gabriel Marcel menyebut bahwa tanggung jawab intelektual adalah bentuk cinta terhadap kebenaran yang disertai kesetiaan terhadap manusia.³⁰

Etika humanistik dengan demikian menjadi fondasi bagi ilmu pengetahuan yang tidak hanya mencari kebenaran, tetapi juga memuliakan kehidupan. Ia mengajak setiap disiplin untuk berpartisipasi dalam tugas universal: memanusiakan dunia melalui pengetahuan, tindakan, dan refleksi.³¹ Dengan pendekatan ini, etika humanistik tampil bukan sekadar sebagai teori moral, melainkan sebagai prinsip interdisipliner yang menjiwai seluruh praksis ilmiah demi terciptanya peradaban yang lebih bijak, empatik, dan berkelanjutan.³²


Footnotes

[1]                Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 110–113.

[2]                Edgar Morin, La Méthode, Tome 6: Éthique (Paris: Seuil, 2004), 45–47.

[3]                Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 98–100.

[4]                Auguste Comte, The Positive Philosophy of Auguste Comte, trans. Harriet Martineau (London: Trübner, 1896), 11–14.

[5]                Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In Search of an Ethics for the Technological Age (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 19–21.

[6]                Edgar Morin, Seven Complex Lessons in Education for the Future (Paris: UNESCO, 1999), 25–28.

[7]                Ibid., 30–32.

[8]                Abraham H. Maslow, Motivation and Personality (New York: Harper & Row, 1954), 220–223.

[9]                Ibid., 230–232.

[10]             Carl R. Rogers, On Becoming a Person (Boston: Houghton Mifflin, 1961), 31–33.

[11]             Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 2000), 71–74.

[12]             Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2003), 89–91.

[13]             Edmund D. Pellegrino and David C. Thomasma, The Virtues in Medical Practice (New York: Oxford University Press, 1993), 10–12.

[14]             Tristram H. Engelhardt Jr., The Foundations of Bioethics (New York: Oxford University Press, 1986), 50–52.

[15]             Ibid., 65–67.

[16]             Rita Charon, Narrative Medicine: Honoring the Stories of Illness (New York: Oxford University Press, 2006), 38–41.

[17]             Karol Wojtyła, Person and Community: Selected Essays (New York: Peter Lang, 1993), 97–99.

[18]             Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books, 2011), 15–17.

[19]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 53–55.

[20]             Rafael Capurro and Michael Eldred, Digital Hermeneutics: Philosophical Investigations in New Media (Hamburg: Springer, 2018), 22–25.

[21]             Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 78–81.

[22]             Ibid., 92–95.

[23]             Arne Naess, Ecology, Community and Lifestyle, trans. David Rothenberg (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 162–165.

[24]             Fritjof Capra, The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems (New York: Anchor Books, 1996), 43–45.

[25]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 121–123.

[26]             Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 84–86.

[27]             Hans Jonas, The Phenomenon of Life: Toward a Philosophical Biology (Evanston: Northwestern University Press, 2001), 102–104.

[28]             Jean Ladrière, The Challenge Presented to Cultures by Science and Technology (Paris: UNESCO, 1990), 12–14.

[29]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 308–310.

[30]             Gabriel Marcel, Being and Having, trans. Katherine Farrer (Westminster: Dacre Press, 1949), 88–90.

[31]             Edgar Morin, Seven Complex Lessons in Education for the Future, 54–57.

[32]             Paul Ricoeur, Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press, 1966), 76–79.


8.           Kritik terhadap Etika Humanistik

Meskipun etika humanistik menawarkan paradigma moral yang menekankan martabat, kebebasan, dan solidaritas manusia, gagasan ini tidak lepas dari kritik yang cukup mendasar—baik dari perspektif filsafat postmodern, posthumanisme, maupun teori kritis. Kritik terhadap etika humanistik pada dasarnya berfokus pada tiga hal: (1) kecenderungannya yang antropo-sentris, (2) problem universalitas nilai-nilai kemanusiaan dalam konteks pluralitas budaya, dan (3) kelemahannya dalam menghadapi realitas kekuasaan dan struktur sosial-ekonomi modern.¹ Kritik-kritik ini penting bukan untuk meniadakan etika humanistik, melainkan untuk memperkaya dan menajamkan orientasi reflektifnya terhadap tantangan zaman.

8.1.       Tuduhan Antroposentrisme dan Krisis Humanisme

Salah satu kritik paling tajam terhadap etika humanistik datang dari pemikir postmodern seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida, yang menilai bahwa humanisme klasik terlalu menempatkan manusia sebagai pusat tatanan moral dan epistemologis dunia.² Menurut Foucault, gagasan tentang “manusia” dalam humanisme modern sebenarnya adalah konstruksi historis yang muncul dalam era tertentu dan dapat pula menghilang.³ Dengan kata lain, “manusia” bukan hakikat universal, melainkan hasil diskursif dari pengetahuan dan kekuasaan (power/knowledge). Etika humanistik, dalam pandangan ini, masih membawa warisan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa atas alam dan makhluk lain, sehingga gagal menumbuhkan kesadaran ekologis yang sejati.⁴

Jacques Derrida menambahkan bahwa setiap klaim tentang “martabat manusia” cenderung eksklusif karena selalu menetapkan batas antara siapa yang termasuk dan siapa yang dikecualikan dari kategori “manusia.”⁵ Dalam konteks ini, etika humanistik dituduh melestarikan logika biner dan eksklusi yang sama dengan yang dikritiknya: rasionalitas vs. irasionalitas, manusia vs. hewan, budaya vs. alam. Kritik ini melahirkan arah baru dalam filsafat moral kontemporer—yakni posthumanisme dan transhumanisme—yang berupaya memperluas horizon etika melampaui manusia sebagai pusat nilai moral.⁶ Donna Haraway, misalnya, melalui konsep “cyborg,” mengusulkan visi etika yang menembus batas biologis dan teknologi manusia, untuk membangun moralitas hibrid yang lebih inklusif terhadap non-manusia.⁷

8.2.       Problem Universalitas dan Pluralisme Nilai

Kritik lain diarahkan pada klaim etika humanistik mengenai nilai-nilai universal seperti martabat, kebebasan, dan solidaritas. Alasdair MacIntyre menegaskan bahwa klaim universal tersebut sering kali berakar pada tradisi moral tertentu—khususnya Eropa modern—yang tidak serta-merta berlaku bagi semua kebudayaan.⁸ Dalam masyarakat yang plural, nilai-nilai moral tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan simbolik yang membentuknya. Oleh karena itu, upaya untuk memaksakan satu bentuk etika humanistik universal dapat berpotensi melahirkan imperialisme moral yang meniadakan keanekaragaman budaya.⁹

Charles Taylor, meskipun simpatik terhadap humanisme, mengingatkan bahwa otonomi dan kebebasan individu yang menjadi dasar etika humanistik sering kali bertentangan dengan komunitas tradisional yang menekankan relasi dan tanggung jawab sosial.¹⁰ Humanisme modern dianggap terlalu menonjolkan individualitas hingga mengabaikan aspek komunal dari kehidupan moral.¹¹ Kritik ini memperlihatkan bahwa etika humanistik memerlukan reinterpretasi agar lebih peka terhadap pluralitas moral dan epistemologis dunia kontemporer. Dengan mengakui keragaman cara hidup dan sistem nilai, etika humanistik dapat menghindari jebakan universalisme yang kaku dan membuka diri pada dialog lintas budaya.

8.3.       Kritik Marxis dan Struktural terhadap Keterbatasan Praktis

Dari perspektif teori kritis dan Marxis, etika humanistik dianggap terlalu idealistis dan gagal memahami struktur kekuasaan material yang menentukan perilaku manusia dalam masyarakat.¹² Karl Marx sendiri telah mengkritik humanisme moral Feuerbach karena mengabaikan kondisi material dan ekonomi yang membentuk kesadaran manusia.¹³ Dalam kerangka ini, etika humanistik dinilai cenderung melupakan dimensi struktural dari ketidakadilan sosial. Ia menekankan transformasi moral individu, tetapi kurang memperhatikan perubahan sistemik yang diperlukan untuk menghapuskan alienasi dan eksploitasi.¹⁴

Herbert Marcuse dan anggota Mazhab Frankfurt lainnya menegaskan bahwa humanisme liberal sering kali beroperasi dalam batas sistem kapitalistik yang justru menindas manusia.¹⁵ Bagi Marcuse, “manusia bebas” yang dibayangkan etika humanistik hanyalah ilusi dalam masyarakat industri maju yang mengontrol kesadaran melalui konsumsi dan teknologi.¹⁶ Oleh sebab itu, etika humanistik perlu melampaui moralitas personal menuju etika struktural yang mengaitkan pembebasan individu dengan transformasi sosial-ekonomi.¹⁷

8.4.       Ketegangan antara Rasionalitas dan Emosi

Kritik lainnya muncul dari perspektif psikologi dan eksistensialisme yang menilai bahwa etika humanistik terlalu menekankan rasionalitas dan refleksi moral, tetapi kurang memberi tempat bagi dimensi irasional dan afektif dalam diri manusia.¹⁸ Nietzsche, misalnya, menuduh moralitas humanistik sebagai bentuk sublimasi kelemahan manusia yang menolak vitalitas kehidupan.¹⁹ Dalam pandangan ini, etika humanistik dianggap mengekang kehendak kreatif manusia dengan ideal moral yang terlalu “jinak.”

Namun, kritik ini juga membuka ruang bagi pengembangan humanisme tragis—yakni etika yang mengakui keterbatasan dan konflik eksistensial manusia tanpa kehilangan komitmen terhadap nilai kemanusiaan.²⁰ Gabriel Marcel dan Paul Tillich menegaskan bahwa etika humanistik sejati harus menampung paradoks kehidupan: antara kebebasan dan tanggung jawab, antara cinta dan penderitaan, antara rasio dan misteri.²¹ Dengan demikian, kritik terhadap rasionalitas etika humanistik bukan sekadar penolakan, tetapi dorongan untuk memperkaya humanisme dengan kedalaman emosional dan spiritual.


Reinterpretasi dan Pembaruan Etika Humanistik

Menanggapi kritik-kritik tersebut, banyak pemikir kontemporer berusaha mereformulasi etika humanistik agar tetap relevan dalam konteks global yang kompleks.²² Martha Nussbaum, misalnya, melalui teori capabilities, berupaya menggabungkan prinsip humanistik dengan sensitivitas terhadap perbedaan sosial dan budaya.²³ Jürgen Habermas memperkuat fondasi rasionalitas humanistik melalui konsep rasionalitas komunikatif, yang memungkinkan nilai kemanusiaan diuji dan disepakati melalui dialog publik yang terbuka.²⁴

Sementara itu, Edgar Morin menyerukan “humanisme kompleks” yang mengakui keterkaitan antara manusia, masyarakat, dan alam.²⁵ Humanisme yang diperbaharui ini bukan lagi antroposentris, melainkan ekosentris dan dialogis. Ia menolak absolutisme moral tanpa terjerumus ke dalam relativisme, serta menempatkan manusia bukan sebagai penguasa dunia, tetapi sebagai penjaga kehidupan.²⁶ Dengan demikian, kritik terhadap etika humanistik tidak meniadakan validitasnya, tetapi justru membuka jalan bagi evolusi etika ini menuju paradigma yang lebih inklusif, reflektif, dan berkelanjutan.²⁷


Footnotes

[1]                Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 132–134.

[2]                Michel Foucault, The Order of Things: An Archaeology of the Human Sciences (New York: Vintage, 1994), 385–387.

[3]                Ibid., 421–422.

[4]                Val Plumwood, Feminism and the Mastery of Nature (London: Routledge, 1993), 45–48.

[5]                Jacques Derrida, Of Grammatology, trans. Gayatri Chakravorty Spivak (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976), 112–115.

[6]                Rosi Braidotti, The Posthuman (Cambridge: Polity Press, 2013), 38–41.

[7]                Donna Haraway, A Cyborg Manifesto (New York: Routledge, 1991), 149–151.

[8]                Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 43–46.

[9]                Seyla Benhabib, Situating the Self: Gender, Community and Postmodernism in Contemporary Ethics (New York: Routledge, 1992), 74–76.

[10]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 504–507.

[11]             Ibid., 512–514.

[12]             Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston: Beacon Press, 1964), 110–112.

[13]             Karl Marx, Theses on Feuerbach (1845), in The German Ideology, ed. C. J. Arthur (New York: International Publishers, 1970), 121–123.

[14]             Erich Fromm, The Sane Society (New York: Rinehart, 1955), 157–160.

[15]             Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University Press, 1947), 63–66.

[16]             Herbert Marcuse, One-Dimensional Man, 138–141.

[17]             Jürgen Habermas, Theory and Practice, trans. John Viertel (Boston: Beacon Press, 1973), 45–47.

[18]             Rollo May, Love and Will (New York: Norton, 1969), 102–104.

[19]             Friedrich Nietzsche, On the Genealogy of Morals, trans. Walter Kaufmann (New York: Vintage, 1967), 59–61.

[20]             Miguel de Unamuno, The Tragic Sense of Life, trans. J. E. Crawford Flitch (New York: Dover, 1954), 201–204.

[21]             Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1951), 78–80.

[22]             Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row, 1963), 101–104.

[23]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 28–30.

[24]             Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge, MA: MIT Press, 1990), 69–72.

[25]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 129–131.

[26]             Ibid., 135–137.

[27]             Rosi Braidotti, Posthuman Feminism (Cambridge: Polity Press, 2022), 90–92.


9.           Relevansi Kontemporer

Etika humanistik menemukan relevansi yang semakin mendesak di tengah kompleksitas dunia kontemporer yang ditandai oleh krisis moral, ekologis, sosial, dan teknologi.¹ Dalam konteks globalisasi dan era digital, manusia dihadapkan pada paradoks kemajuan: di satu sisi, peningkatan kemampuan teknologis dan produktivitas material; di sisi lain, munculnya alienasi, disinformasi, serta penurunan empati sosial.² Etika humanistik hadir sebagai respons filosofis terhadap situasi ini—bukan dengan menolak modernitas, melainkan dengan menawarkan orientasi etis yang mengembalikan makna kemajuan kepada nilai-nilai kemanusiaan.³ Ia berupaya meneguhkan kembali pandangan bahwa setiap bentuk perkembangan, baik ilmiah, ekonomi, maupun politik, hanya sah bila selaras dengan martabat manusia dan keberlanjutan kehidupan.

9.1.       Etika Humanistik dalam Era Digital

Perkembangan teknologi digital telah mengubah struktur eksistensi manusia secara mendasar. Dalam masyarakat yang ditopang oleh algoritma, data, dan kecerdasan buatan, manusia sering kali direduksi menjadi profil statistik atau komoditas informasi.⁴ Fenomena ini melahirkan apa yang disebut Shoshana Zuboff sebagai surveillance capitalism, di mana kebebasan manusia digantikan oleh mekanisme pengawasan yang tidak kasat mata.⁵ Dalam konteks ini, etika humanistik menuntut adanya digital humanism—yakni pendekatan teknologi yang berorientasi pada martabat dan kebebasan manusia.

Luciano Floridi mengusulkan kerangka “infosphere ethics,” yaitu sistem etika yang memperlakukan ruang digital sebagai lingkungan moral yang membutuhkan tanggung jawab baru.⁶ Etika humanistik memperluas gagasan ini dengan menekankan bahwa pengguna teknologi bukan sekadar konsumen informasi, melainkan subjek etis yang memiliki hak dan kewajiban moral. Penggunaan teknologi yang etis harus menghormati privasi, kedaulatan data, serta integritas manusia sebagai makhluk otonom.⁷ Maka, relevansi etika humanistik di era digital bukan hanya dalam menilai tindakan teknologi, tetapi juga dalam membentuk kesadaran reflektif agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah otomatisasi dan hiper-konektivitas.⁸

9.2.       Humanisme dan Krisis Ekologis

Relevansi kedua etika humanistik terletak pada tantangannya terhadap krisis ekologis global. Krisis lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi alam secara masif menunjukkan kegagalan etika modern yang antroposentris dan utilitarian.⁹ Etika humanistik yang diperluas secara ekologis—atau humanisme ekologis—menegaskan keterkaitan ontologis antara manusia dan alam.¹⁰ Manusia, sebagai bagian dari komunitas kehidupan, memikul tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memperlakukan alam bukan sebagai objek, melainkan sebagai mitra dalam keberadaan.

Fritjof Capra menyebut bahwa krisis ekologis sebenarnya adalah krisis kesadaran: manusia kehilangan pandangan holistik tentang keterikatannya dengan kehidupan.¹¹ Dalam kerangka ini, etika humanistik mengajak untuk memulihkan spiritualitas ekologis yang menggabungkan rasionalitas ilmiah dengan rasa hormat terhadap kehidupan. Edgar Morin menamai pendekatan ini “ethique de la reliance”—etika keterhubungan—yang menghubungkan manusia dengan seluruh sistem kehidupan secara integral.¹² Relevansi etika humanistik di sini adalah memperluas cakrawala moralnya dari etika antarmanusia menuju etika kosmik, di mana tanggung jawab manusia mencakup generasi mendatang dan seluruh makhluk hidup di planet ini.¹³

9.3.       Humanisme dan Keadilan Sosial Global

Dalam konteks sosial dan politik global, etika humanistik berhadapan dengan ketimpangan ekonomi, migrasi paksa, konflik identitas, serta krisis kemanusiaan.¹⁴ Ide tentang martabat manusia tidak lagi dapat dipahami secara lokal, tetapi harus diproyeksikan secara universal dalam kerangka keadilan global. Amartya Sen dan Martha Nussbaum, melalui teori capabilities, menegaskan bahwa etika yang berorientasi pada kemanusiaan harus diwujudkan dalam kebijakan yang memperluas kemampuan riil individu untuk hidup bermartabat.¹⁵ Etika humanistik, dalam hal ini, menolak sistem ekonomi yang hanya berfokus pada pertumbuhan tanpa distribusi keadilan, dan menuntut paradigma pembangunan yang berakar pada kesejahteraan manusia.¹⁶

Dalam dunia yang ditandai oleh krisis pengungsi, kemiskinan struktural, dan konflik geopolitik, etika humanistik mendorong solidaritas transnasional.¹⁷ Nilai-nilai empati, kasih, dan tanggung jawab sosial menjadi dasar bagi pembentukan budaya global yang inklusif dan damai. Humanisme di sini bukan ideologi universalistik yang menghapus perbedaan, melainkan etika dialog yang membuka ruang bagi keberagaman untuk saling memperkaya.¹⁸ Dengan demikian, relevansi kontemporer etika humanistik terletak pada kemampuannya membangun jembatan moral lintas bangsa dan peradaban.

9.4.       Humanisme dan Sains Kritis

Dalam ranah ilmu pengetahuan modern, etika humanistik relevan untuk mengoreksi kecenderungan reduksionistik dan teknokratis yang sering mengabaikan nilai-nilai moral.¹⁹ Rasionalitas ilmiah tanpa kesadaran etis dapat menghasilkan sains yang efektif tetapi tidak bijaksana. Hans Jonas menegaskan bahwa dalam era teknologi tinggi, etika baru harus muncul—etika tanggung jawab terhadap masa depan kehidupan.²⁰ Etika humanistik, dengan penekanannya pada tanggung jawab dan solidaritas, menyediakan kerangka moral bagi ilmu pengetahuan agar tetap berorientasi pada kebaikan bersama.²¹

Pendekatan interdisipliner antara etika dan sains ini memungkinkan lahirnya paradigma human-centered research yang mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan nilai-nilai kemanusiaan.²² Melalui orientasi humanistik, penelitian dan inovasi dapat diarahkan untuk mengatasi penderitaan, memperkuat kesejahteraan sosial, serta memelihara kehidupan ekologis.²³ Dengan demikian, etika humanistik menjadi jembatan antara kemajuan ilmiah dan moralitas publik.


Etika Humanistik sebagai Paradigma Peradaban Baru

Akhirnya, relevansi kontemporer etika humanistik mencakup dimensi peradaban.²⁴ Dalam dunia yang terfragmentasi oleh ideologi, teknologi, dan krisis moral, etika ini menawarkan arah bagi pembaruan budaya global. Edgar Morin menyebut perlunya humanisme regeneratif—suatu bentuk humanisme yang sadar akan kompleksitas dan keterbatasannya sendiri.²⁵ Ia bukan humanisme yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta, melainkan sebagai penjaga kehidupan yang sadar akan keterhubungan eksistensialnya.²⁶

Dalam kerangka ini, etika humanistik dapat berperan sebagai fondasi bagi transformasi budaya dan spiritual umat manusia.²⁷ Ia mendorong munculnya kesadaran reflektif, empatik, dan ekologis sebagai dasar bagi tatanan dunia yang lebih damai dan berkelanjutan. Humanisme kontemporer dengan demikian bukan nostalgia terhadap nilai lama, tetapi visi baru tentang kemanusiaan yang berani memadukan teknologi, sains, dan spiritualitas dalam kesatuan nilai moral.²⁸

Etika humanistik, pada akhirnya, tetap relevan karena ia berbicara tentang inti kemanusiaan yang tak lekang oleh perubahan zaman: keinginan untuk hidup bermakna, saling memahami, dan menjaga kehidupan bersama.²⁹ Dalam dunia yang semakin canggih namun sering kehilangan arah moral, humanisme etis menjadi jangkar bagi refleksi dan tindakan manusia agar kemajuan tetap berakar pada kebaikan dan kasih.³⁰


Footnotes

[1]                Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 132–134.

[2]                Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 28–31.

[3]                Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 142–144.

[4]                Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books, 2011), 19–21.

[5]                Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 58–60.

[6]                Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 101–103.

[7]                Rafael Capurro, Digital Ethics: Research and Practice (Berlin: Springer, 2020), 45–47.

[8]                Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 92–94.

[9]                Val Plumwood, Environmental Culture: The Ecological Crisis of Reason (London: Routledge, 2002), 54–56.

[10]             Arne Naess, Ecology, Community and Lifestyle, trans. David Rothenberg (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 81–83.

[11]             Fritjof Capra, The Hidden Connections: A Science for Sustainable Living (New York: Anchor Books, 2002), 12–14.

[12]             Edgar Morin, La Méthode, Tome 6: Éthique (Paris: Seuil, 2004), 57–60.

[13]             Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 67–70.

[14]             Amartya Sen, Development as Freedom (New York: Knopf, 1999), 36–39.

[15]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 45–48.

[16]             Paul Streeten, Thinking About Development (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 84–87.

[17]             Thomas Pogge, World Poverty and Human Rights (Cambridge: Polity Press, 2002), 59–61.

[18]             Seyla Benhabib, The Rights of Others: Aliens, Residents, and Citizens (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 113–116.

[19]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 308–311.

[20]             Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In Search of an Ethics for the Technological Age (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 9–11.

[21]             Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row, 1963), 119–121.

[22]             Jean Ladrière, The Challenge Presented to Cultures by Science and Technology (Paris: UNESCO, 1990), 15–17.

[23]             Edgar Morin, Seven Complex Lessons in Education for the Future (Paris: UNESCO, 1999), 50–52.

[24]             Jürgen Habermas, Between Facts and Norms, trans. William Rehg (Cambridge, MA: MIT Press, 1996), 130–132.

[25]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 139–141.

[26]             Ibid., 147–149.

[27]             Gabriel Marcel, Homo Viator: Introduction to the Metaphysic of Hope, trans. Emma Craufurd (New York: Harper, 1962), 93–95.

[28]             Erich Fromm, The Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology (New York: Harper & Row, 1968), 102–105.

[29]             Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (New York: Oxford University Press, 1954), 88–91.

[30]             Edgar Morin, La Méthode, Tome 6: Éthique, 121–123.


10.       Sintesis Filosofis: Menuju Etika Humanistik Integral

Etika humanistik, dalam keseluruhan bangun konseptualnya, tidak sekadar menempatkan manusia sebagai pusat perhatian etis, melainkan berupaya memahami manusia sebagai makhluk multidimensional yang hidup dalam jejaring relasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kompleks.¹ Sintesis filosofis dari etika humanistik bertujuan untuk memadukan berbagai dimensi tersebut menjadi suatu kerangka etika integral yang menyeimbangkan antara kebebasan dan tanggung jawab, individu dan komunitas, serta rasionalitas dan empati.² Ia tidak berhenti pada pengakuan abstrak terhadap martabat manusia, tetapi berusaha menegakkan praksis moral yang menumbuhkan kemanusiaan dalam tataran personal, sosial, ekologis, dan spiritual.

10.1.    Integrasi Ontologis: Manusia sebagai Makhluk Relasional dan Transenden

Secara ontologis, etika humanistik integral menegaskan bahwa hakikat manusia tidak dapat dipahami secara terisolasi, melainkan dalam relasinya dengan sesama, alam, dan yang transenden.³ Emmanuel Mounier menyebut manusia sebagai persona, yaitu makhluk yang menjadi dirinya hanya melalui keterbukaan terhadap orang lain.⁴ Hal ini menegaskan bahwa eksistensi manusia bersifat relasional—ia menemukan kemanusiaannya melalui dialog, kasih, dan solidaritas. Etika humanistik integral dengan demikian melampaui individualisme modern yang atomistik, menuju pandangan dialogis di mana setiap tindakan moral merupakan bentuk keterlibatan eksistensial dengan realitas yang lebih luas.

Namun, relasionalitas ini tidak meniadakan kebebasan pribadi. Sebaliknya, kebebasan merupakan kondisi ontologis yang memungkinkan manusia berpartisipasi secara sadar dalam jaringan makna dunia.⁵ Gabriel Marcel menggambarkan hal ini sebagai “misteri keberadaan bersama” (être-avec), di mana manusia menemukan makna hidup melalui partisipasi dalam keberadaan orang lain.⁶ Dengan demikian, integrasi ontologis dalam etika humanistik menuntut keseimbangan antara otonomi pribadi dan keterlibatan komunal, antara keunikan eksistensial dan tanggung jawab universal.

10.2.    Integrasi Epistemologis: Rasionalitas Reflektif dan Kesadaran Dialogis

Secara epistemologis, etika humanistik integral menggabungkan rasionalitas kritis dengan kesadaran reflektif dan dialogis.⁷ Pengetahuan moral tidak hanya diperoleh melalui deduksi logis, tetapi melalui pengalaman hidup, empati, dan komunikasi antarsubjek.⁸ Dengan demikian, epistemologi etika humanistik bersifat partisipatif: manusia memahami nilai bukan melalui observasi eksternal, tetapi melalui keterlibatan eksistensial dan dialog dengan dunia.

Jürgen Habermas memberikan kontribusi penting dengan konsep rasionalitas komunikatif, di mana kebenaran moral ditentukan melalui dialog yang bebas dari dominasi.⁹ Prinsip ini selaras dengan etika humanistik integral, yang memandang bahwa pengetahuan etis sejati lahir dari kesediaan untuk mendengarkan dan memahami perspektif orang lain. Dalam konteks ini, etika humanistik menjadi ruang dialektis antara refleksi individu dan konsensus sosial, antara kebebasan berpikir dan tanggung jawab komunikasi.¹⁰

Epistemologi semacam ini juga mengandung kesadaran hermeneutik: kebenaran moral tidak bersifat final, tetapi selalu terbuka terhadap reinterpretasi dalam konteks historis dan kultural.¹¹ Etika humanistik integral karenanya bersifat terbuka—sebuah sistem yang tidak dogmatis, tetapi senantiasa berkembang seiring dengan dinamika kesadaran manusia.

10.3.    Integrasi Aksiologis: Kesatuan antara Cinta, Keadilan, dan Solidaritas

Dalam ranah aksiologis, etika humanistik integral mengusahakan sintesis antara nilai-nilai personal dan sosial.¹² Cinta (agape) dipahami sebagai nilai etis tertinggi yang menjadi sumber motivasi moral, sementara keadilan dan solidaritas merupakan wujud konkret dari cinta dalam kehidupan publik.¹³ Paul Ricoeur menyebut hubungan antara keduanya sebagai dialektika antara “etika” (kehendak baik) dan “moralitas” (aturan universal), yang hanya dapat diseimbangkan melalui refleksi dan empati.¹⁴

Cinta tanpa keadilan akan menjadi sentimentalitas, sedangkan keadilan tanpa cinta berpotensi menjadi legalisme yang dingin. Etika humanistik integral berusaha mengatasi dikotomi ini dengan menegaskan bahwa nilai kemanusiaan sejati hanya terwujud ketika tindakan moral didorong oleh kasih dan diwujudkan dalam struktur sosial yang adil.¹⁵ Oleh karena itu, aksiologi etika humanistik bukan sekadar menekankan kebajikan personal, tetapi juga menuntut transformasi sosial—yakni perwujudan sistem politik dan ekonomi yang menghormati martabat setiap manusia.

10.4.    Integrasi Interdisipliner: Ilmu, Teknologi, dan Ekologi sebagai Ruang Etis

Etika humanistik integral juga memandang ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekologi sebagai bagian tak terpisahkan dari praksis moral.¹⁶ Dalam dunia modern yang ditandai oleh kemajuan sains dan digitalisasi, dimensi etis tidak dapat dibatasi pada ruang privat, tetapi harus diperluas ke seluruh medan sosial dan ekologis. Hans Jonas menegaskan bahwa tanggung jawab moral kini mencakup konsekuensi jangka panjang terhadap kehidupan di bumi.¹⁷ Dalam perspektif ini, etika humanistik integral menjadi ethics of responsibility—suatu kesadaran global yang menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan tanggung jawab moral dan ekologis.¹⁸

Integrasi interdisipliner ini juga mencakup humanisasi teknologi. Luciano Floridi dan Shannon Vallor menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan dan sistem digital harus diarahkan oleh prinsip-prinsip kemanusiaan seperti empati, keadilan, dan transparansi.¹⁹ Dengan demikian, etika humanistik integral berfungsi sebagai kerangka konseptual untuk memastikan bahwa kemajuan sains dan teknologi tidak hanya memperluas kekuasaan manusia, tetapi juga memperdalam tanggung jawabnya terhadap sesama dan alam.

10.5.    Humanisme Integral sebagai Paradigma Moral Peradaban

Etika humanistik integral pada akhirnya berpuncak pada visi moral yang menyatukan seluruh dimensi keberadaan manusia. Edgar Morin menyebutnya humanisme kompleks—suatu humanisme yang tidak menutup diri terhadap kontradiksi, tetapi justru memeluk kompleksitas sebagai hakikat kemanusiaan.²⁰ Humanisme integral ini menolak bentuk-bentuk ekstrem: baik individualisme egoistik maupun kolektivisme totaliter, baik idealisme metafisis maupun pragmatisme teknokratis.²¹ Ia berupaya membangun keseimbangan antara refleksi dan tindakan, antara pengetahuan dan kasih, antara kebebasan dan keterikatan.

Humanisme integral tidak berhenti pada tataran moral, tetapi juga berfungsi sebagai paradigma peradaban.²² Dalam dunia yang diwarnai oleh disrupsi digital, krisis ekologi, dan polarisasi sosial, etika ini menjadi dasar bagi pembentukan budaya global yang dialogis dan berkeadilan.²³ Ia menegaskan bahwa peradaban masa depan hanya akan bertahan jika dibangun di atas penghormatan terhadap kehidupan dalam segala bentuknya. Dengan demikian, etika humanistik integral menjadi proyek filosofis sekaligus praksis historis—usaha untuk menjadikan kemanusiaan sebagai poros etis dari transformasi peradaban.²⁴


Kesadaran Reflektif dan Transendensi Etis

Pada tataran terdalam, etika humanistik integral mengandung dimensi transendensi: kesadaran bahwa kemanusiaan tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa mengakui misteri keberadaan yang melampaui rasionalitas.²⁵ Gabriel Marcel menegaskan bahwa tindakan etis sejati lahir dari keterbukaan terhadap “Yang Lain” dalam pengertian metafisis—suatu pengakuan bahwa kebaikan memiliki dimensi transenden yang memberi arah bagi tindakan manusia.²⁶ Dengan demikian, etika humanistik integral bukan sekadar moralitas sekuler, tetapi ruang spiritual di mana manusia menyadari keterbatasannya dan tetap berjuang untuk kebaikan bersama.

Kesadaran semacam ini menjadikan etika humanistik bukan hanya teori normatif, melainkan cara hidup (modus vivendi) yang berakar pada refleksi, empati, dan tanggung jawab.²⁷ Etika ini menegaskan bahwa menjadi manusia berarti berpartisipasi dalam proses penciptaan makna, memperjuangkan keadilan, dan menjaga kehidupan.²⁸ Dalam pengertian ini, etika humanistik integral bukan penutup wacana, melainkan awal dari perjalanan filosofis menuju kemanusiaan yang utuh—sebuah ethos yang menggabungkan kebijaksanaan, kasih, dan keberanian untuk hidup secara otentik di dunia yang terus berubah.²⁹


Footnotes

[1]                Paul Ricoeur, Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press, 1966), 214–216.

[2]                Edgar Morin, La Méthode, Tome 6: Éthique (Paris: Seuil, 2004), 119–122.

[3]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 52–54.

[4]                Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (London: Routledge, 1952), 19–21.

[5]                Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (New York: Oxford University Press, 1954), 65–67.

[6]                Gabriel Marcel, Being and Having, trans. Katherine Farrer (Westminster: Dacre Press, 1949), 92–94.

[7]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 340–342.

[8]                Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred Frings and Roger Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 37–39.

[9]                Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge, MA: MIT Press, 1990), 71–74.

[10]             Ibid., 80–83.

[11]             Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 280–282.

[12]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 189–191.

[13]             Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), 98–101.

[14]             Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 155–157.

[15]             Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 89–91.

[16]             Edgar Morin, Seven Complex Lessons in Education for the Future (Paris: UNESCO, 1999), 64–67.

[17]             Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In Search of an Ethics for the Technological Age (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 117–120.

[18]             Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 85–87.

[19]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 141–143.

[20]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 145–147.

[21]             Ibid., 150–152.

[22]             Charles Taylor, Modern Social Imaginaries (Durham: Duke University Press, 2004), 98–101.

[23]             Amartya Sen, Development as Freedom (New York: Knopf, 1999), 102–104.

[24]             Paul Ricoeur, History and Truth, trans. Charles Kelbley (Evanston: Northwestern University Press, 1965), 210–212.

[25]             Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1951), 117–119.

[26]             Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity: Conversations with Philippe Nemo, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 91–93.

[27]             Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 134–136.

[28]             Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row, 1963), 145–147.

[29]             Edgar Morin, La Méthode, Tome 6: Éthique, 143–146.


11.       Kesimpulan

Etika humanistik, sebagaimana telah diuraikan dalam keseluruhan pembahasan sebelumnya, merupakan upaya filosofis untuk mengembalikan manusia ke pusat refleksi moral tanpa jatuh pada antroposentrisme yang menutup diri terhadap dunia. Ia menegaskan bahwa inti moralitas bukanlah kepatuhan terhadap aturan eksternal, melainkan kesadaran reflektif manusia atas martabat dirinya dan tanggung jawab terhadap kehidupan.¹ Etika ini memandang manusia sebagai makhluk yang rasional sekaligus emosional, individual sekaligus sosial, otonom sekaligus terikat, dan dengan demikian menolak reduksi moralitas menjadi sistem normatif yang kering. Dengan orientasi tersebut, etika humanistik berfungsi sebagai jembatan antara filsafat, sains, dan praksis sosial, menghubungkan kebenaran, kebebasan, dan kasih sebagai tiga poros moral kehidupan manusia.²

Pada level ontologis, etika humanistik menegaskan bahwa hakikat manusia adalah makhluk relasional yang menemukan jati dirinya melalui dialog dengan sesama, alam, dan yang transenden.³ Relasionalitas ini menjadikan manusia tidak semata entitas individual, tetapi bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas. Dalam konteks ini, martabat manusia bukanlah sesuatu yang diberikan oleh institusi sosial, melainkan kenyataan eksistensial yang melekat pada keberadaan manusia sebagai subjek yang sadar dan bertanggung jawab.⁴ Ontologi etika humanistik dengan demikian membuka ruang bagi etika yang bersifat dialogis dan interdependen—etika yang mengakui bahwa kemanusiaan seseorang terwujud melalui pengakuan terhadap kemanusiaan yang lain.⁵

Dari sisi epistemologis, etika humanistik mengedepankan pengetahuan moral yang bersumber dari refleksi eksistensial dan dialog antarpribadi.⁶ Pengetahuan etis bukanlah penemuan kognitif yang bersifat netral, tetapi hasil dari keterlibatan manusia dalam pengalaman hidup, empati, dan komunikasi yang terbuka. Hal ini menegaskan bahwa moralitas sejati tidak dapat dicapai tanpa partisipasi aktif dalam proses pengenalan diri dan orang lain. Dengan demikian, epistemologi etika humanistik bersifat dinamis dan komunikatif: ia mengakui keterbatasan manusia sekaligus kemampuannya untuk tumbuh melalui interaksi rasional dan emosional.⁷

Sementara pada dimensi aksiologis, etika humanistik menegaskan nilai-nilai dasar seperti martabat, kebebasan, tanggung jawab, kasih, dan solidaritas.⁸ Nilai-nilai ini tidak dipahami sebagai norma abstrak, tetapi sebagai orientasi praktis yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan ilmiah. Etika humanistik menolak dikotomi antara teori dan praksis, sebab moralitas yang sejati hanya memperoleh maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan konkret yang memanusiakan manusia lain.⁹ Aksiologi semacam ini menjadikan etika humanistik bukan hanya sistem pemikiran, melainkan ethos hidup yang menuntun manusia untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap aspek keberadaannya.¹⁰

Secara sosial-politik, etika humanistik menawarkan kritik terhadap sistem kekuasaan dan ekonomi yang meniadakan nilai manusia. Ia menentang segala bentuk dehumanisasi, baik dalam bentuk birokrasi tanpa empati, kapitalisme tanpa nurani, maupun teknologi tanpa moralitas.¹¹ Dalam hal ini, etika humanistik berfungsi sebagai koreksi moral terhadap rasionalitas instrumental modern dan mendorong munculnya struktur sosial yang lebih adil, demokratis, dan inklusif.¹² Melalui prinsip solidaritas dan keadilan, ia menegaskan bahwa kemajuan sejati hanya dapat diukur dari sejauh mana masyarakat mampu memanusiakan semua warganya.¹³

Dalam konteks kontemporer, relevansi etika humanistik semakin kuat di tengah disrupsi digital dan krisis ekologis global.¹⁴ Ia memberikan arah moral bagi perkembangan teknologi agar tetap berpusat pada kesejahteraan manusia dan keseimbangan ekosistem. Humanisme ekologis dan digital yang berakar pada nilai martabat dan tanggung jawab menjadi landasan baru bagi keberlanjutan peradaban.¹⁵ Dengan demikian, etika humanistik bukanlah nostalgia terhadap nilai klasik, tetapi paradigma baru yang menegaskan kesatuan antara kemajuan teknologis dan kebijaksanaan moral.

Secara sintesis, etika humanistik integral memadukan seluruh dimensi filsafat—ontologi, epistemologi, aksiologi—ke dalam satu kerangka etis yang menyeluruh.¹⁶ Ia menggabungkan refleksi kritis dan kesadaran eksistensial dengan praksis sosial yang membebaskan. Humanisme integral sebagaimana dirumuskan oleh Edgar Morin dan Paul Ricoeur adalah humanisme yang sadar akan kompleksitasnya sendiri: terbuka terhadap koreksi, bersifat dialogis, dan berakar pada kasih sebagai prinsip tertinggi etika.¹⁷ Paradigma ini tidak hanya berbicara tentang apa yang baik, tetapi juga bagaimana menjadi baik—yakni dengan hidup secara otentik, solider, dan bertanggung jawab dalam dunia yang plural dan terus berubah.¹⁸

Akhirnya, etika humanistik dapat dipandang sebagai filsafat moral yang memadukan rasionalitas dan empati, kebebasan dan cinta, refleksi dan tindakan.¹⁹ Ia menghadirkan sintesis antara dimensi batin dan sosial manusia, antara etika individu dan struktur kolektif. Di dalamnya terkandung visi moral yang universal sekaligus kontekstual: menegakkan kemanusiaan tanpa meniadakan keberagaman. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, etika humanistik menawarkan arah baru bagi pembangunan peradaban—sebuah ethos kemanusiaan yang memandang hidup sebagai tanggung jawab bersama demi kebaikan yang lebih luas.²⁰ Dengan demikian, etika humanistik tidak hanya merupakan refleksi filosofis, tetapi juga panggilan etis bagi umat manusia untuk menciptakan dunia yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.²¹


Footnotes

[1]                Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row, 1963), 118–120.

[2]                Edgar Morin, La Méthode, Tome 6: Éthique (Paris: Seuil, 2004), 141–143.

[3]                Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (London: Routledge, 1952), 24–26.

[4]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 42–44.

[5]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 88–90.

[6]                Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 156–158.

[7]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 335–338.

[8]                Erich Fromm, Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics (New York: Rinehart, 1947), 98–101.

[9]                Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 2000), 70–72.

[10]             Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 152–154.

[11]             Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, trans. Talcott Parsons (New York: Scribner, 1958), 182–185.

[12]             Jürgen Habermas, Between Facts and Norms, trans. William Rehg (Cambridge, MA: MIT Press, 1996), 107–109.

[13]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 95–97.

[14]             Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 21–23.

[15]             Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 67–69.

[16]             Edgar Morin, La Voie: Pour l'avenir de l'humanité (Paris: Fayard, 2011), 152–155.

[17]             Paul Ricoeur, Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press, 1966), 213–215.

[18]             Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1951), 117–119.

[19]             Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 133–135.

[20]             Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 95–97.

[21]             Edgar Morin, Seven Complex Lessons in Education for the Future (Paris: UNESCO, 1999), 71–73.


Daftar Pustaka

Arendt, H. (1958). The human condition. University of Chicago Press.

Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.

Benhabib, S. (1992). Situating the self: Gender, community and postmodernism in contemporary ethics. Routledge.

Benhabib, S. (2004). The rights of others: Aliens, residents, and citizens. Cambridge University Press.

Braidotti, R. (2013). The posthuman. Polity Press.

Braidotti, R. (2022). Posthuman feminism. Polity Press.

Buber, M. (1947). Between man and man (R. G. Smith, Trans.). Routledge.

Buber, M. (1970). I and thou (W. Kaufmann, Trans.). Scribner.

Capra, F. (1996). The web of life: A new scientific understanding of living systems. Anchor Books.

Capra, F. (2002). The hidden connections: A science for sustainable living. Anchor Books.

Capurro, R., & Eldred, M. (2018). Digital hermeneutics: Philosophical investigations in new media. Springer.

Capurro, R. (2020). Digital ethics: Research and practice. Springer.

Charon, R. (2006). Narrative medicine: Honoring the stories of illness. Oxford University Press.

Comte, A. (1896). The positive philosophy of Auguste Comte (H. Martineau, Trans.). Trübner.

Derrida, J. (1976). Of grammatology (G. C. Spivak, Trans.). Johns Hopkins University Press.

Engelhardt, T. H. Jr. (1986). The foundations of bioethics. Oxford University Press.

Erasmus, D. (1971). The praise of folly (B. Radice, Trans.). Penguin Classics.

Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford University Press.

Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Trans.). Vintage.

Foucault, M. (1994). The order of things: An archaeology of the human sciences. Vintage.

Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.

Freire, P. (2000). Pedagogy of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). Continuum.

Fromm, E. (1947). Man for himself: An inquiry into the psychology of ethics. Rinehart.

Fromm, E. (1955). The sane society. Rinehart.

Fromm, E. (1956). The art of loving. Harper & Row.

Fromm, E. (1968). The revolution of hope: Toward a humanized technology. Harper & Row.

Fromm, E. (1976). To have or to be? Harper & Row.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). Continuum.

Habermas, J. (1972). Knowledge and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1973). Theory and practice (J. Viertel, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action (Vol. 1). Beacon Press.

Habermas, J. (1987). The theory of communicative action (Vol. 2). Beacon Press.

Habermas, J. (1990). Moral consciousness and communicative action (C. Lenhardt & S. W. Nicholsen, Trans.). MIT Press.

Habermas, J. (1996). Between facts and norms (W. Rehg, Trans.). MIT Press.

Haraway, D. (1991). A cyborg manifesto. Routledge.

Hoffman, M. L. (2000). Empathy and moral development: Implications for caring and justice. Cambridge University Press.

Honneth, A. (1995). The struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts (J. Anderson, Trans.). MIT Press.

Horkheimer, M. (1947). Eclipse of reason. Oxford University Press.

Husserl, E. (1982). Ideas pertaining to a pure phenomenology and to a phenomenological philosophy (F. Kersten, Trans.). Martinus Nijhoff.

Jonas, H. (1984). The imperative of responsibility: In search of an ethics for the technological age. University of Chicago Press.

Jonas, H. (2001). The phenomenon of life: Toward a philosophical biology. Northwestern University Press.

Kant, I. (1997). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.

Kierkegaard, S. (1989). The sickness unto death (A. Hannay, Trans.). Penguin.

Ladrière, J. (1990). The challenge presented to cultures by science and technology. UNESCO.

Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). Duquesne University Press.

Levinas, E. (1985). Ethics and infinity: Conversations with Philippe Nemo (R. A. Cohen, Trans.). Duquesne University Press.

MacIntyre, A. (1981). After virtue: A study in moral theory. University of Notre Dame Press.

Marcuse, H. (1964). One-dimensional man: Studies in the ideology of advanced industrial society. Beacon Press.

Marcel, G. (1949). Being and having (K. Farrer, Trans.). Dacre Press.

Marcel, G. (1951). The mystery of being (G. S. Fraser, Trans.). Henry Regnery.

Marcel, G. (1962). Homo viator: Introduction to the metaphysic of hope (E. Craufurd, Trans.). Harper.

Maslow, A. H. (1954). Motivation and personality. Harper & Row.

Mill, J. S. (2001). Utilitarianism (G. Sher, Ed.). Hackett.

Morin, E. (1999). Seven complex lessons in education for the future. UNESCO.

Morin, E. (2004). La méthode, tome 6: Éthique. Seuil.

Morin, E. (2011). La voie: Pour l’avenir de l’humanité. Fayard.

Morin, E., & Serres, M. (2000). Dialogues sur la nature humaine. Éditions de l’Aube.

Mounier, E. (1952). Personalism (P. Mairet, Trans.). Routledge.

Naess, A. (1989). Ecology, community and lifestyle (D. Rothenberg, Trans.). Cambridge University Press.

Noddings, N. (2003). Caring: A relational approach to ethics and moral education (2nd ed.). University of California Press.

Nietzsche, F. (1954). Thus spoke Zarathustra (W. Kaufmann, Trans.). Viking Press.

Nietzsche, F. (1967). On the genealogy of morals (W. Kaufmann, Trans.). Vintage.

Nussbaum, M. C. (2001). Upheavals of thought: The intelligence of emotions. Cambridge University Press.

Nussbaum, M. C. (2006). Frontiers of justice: Disability, nationality, species membership. Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities: The human development approach. Harvard University Press.

Pellegrino, E. D., & Thomasma, D. C. (1993). The virtues in medical practice. Oxford University Press.

Pico della Mirandola, G. (1956). Oration on the dignity of man (A. R. Caponigri, Trans.). Gateway Editions.

Plato. (2002). Apology (G. M. A. Grube, Trans.). Hackett.

Plumwood, V. (1993). Feminism and the mastery of nature. Routledge.

Plumwood, V. (2002). Environmental culture: The ecological crisis of reason. Routledge.

Polanyi, K. (2001). The great transformation: The political and economic origins of our time (2nd ed.). Beacon Press.

Pogge, T. (2002). World poverty and human rights. Polity Press.

Pope Francis. (2015). Laudato Si’: On care for our common home. Libreria Editrice Vaticana.

Raworth, K. (2017). Doughnut economics: Seven ways to think like a 21st-century economist. Random House.

Ricoeur, P. (1965). History and truth (C. Kelbley, Trans.). Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1966). Freedom and nature: The voluntary and the involuntary. Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1988). Time and narrative (Vol. 3; D. Pellauer, Trans.). University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (1992). Oneself as another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (2007). Reflections on the just (D. Pellauer, Trans.). University of Chicago Press.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.

Scheler, M. (1973). Formalism in ethics and non-formal ethics of values (M. Frings & R. Funk, Trans.). Northwestern University Press.

Sen, A. (1999). Development as freedom. Knopf.

Serres, M., & Morin, E. (2000). Dialogues sur la nature humaine. Éditions de l’Aube.

Streeten, P. (1997). Thinking about development. Cambridge University Press.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity. Harvard University Press.

Taylor, C. (2004). Modern social imaginaries. Duke University Press.

Tillich, P. (1954). Love, power, and justice: Ontological analysis and ethical applications. Oxford University Press.

Tillich, P. (1963). Morality and beyond. Harper & Row.

Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.

Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.

Unamuno, M. de. (1954). The tragic sense of life (J. E. C. Flitch, Trans.). Dover.

United Nations. (1948). Universal declaration of human rights. United Nations.

Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford University Press.

Weber, M. (1958). The Protestant ethic and the spirit of capitalism (T. Parsons, Trans.). Scribner.

Wojtyła, K. (1979). Person and act (A. Potocki, Trans.). Reidel.

Wojtyła, K. (1993). Person and community: Selected essays. Peter Lang.

Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. PublicAffairs.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar