Metode Kritis
Rasionalitas, Refleksivitas, dan Emansipasi Pengetahuan
Alihkan ke: Epistemologi dalam Filsafat.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif Metode
Kritis dalam Epistemologi sebagai paradigma reflektif yang berupaya
memulihkan hubungan antara pengetahuan, rasionalitas, dan kemanusiaan. Metode
kritis, yang berakar pada tradisi Frankfurt School melalui pemikiran
Horkheimer, Adorno, dan Habermas, menolak pandangan positivistik tentang ilmu
pengetahuan yang mengabaikan nilai dan konteks sosial. Ia menegaskan bahwa
pengetahuan tidak netral, melainkan selalu dibentuk oleh relasi kekuasaan,
ideologi, dan kepentingan manusia. Melalui prinsip rasionalitas komunikatif,
metode kritis menempatkan proses dialog dan intersubjektivitas sebagai dasar
pencarian kebenaran yang autentik dan emansipatoris.
Secara ontologis, metode kritis memandang realitas
sosial sebagai konstruksi historis yang dihasilkan oleh kesadaran reflektif
manusia. Dari sisi epistemologis, ia mengembangkan konsep rasionalitas
kritis—yakni kemampuan untuk menilai klaim kebenaran melalui argumentasi
rasional, refleksi diri, dan dialog tanpa dominasi. Dalam ranah aksiologis,
metode ini menegaskan bahwa tujuan utama pengetahuan adalah pembebasan manusia
dari struktur ketidakadilan dan distorsi ideologis. Dimensi sosial, politik,
dan ekonomi pengetahuan dijelaskan melalui kritik terhadap dominasi teknokratis
dan komodifikasi ilmu dalam masyarakat modern.
Artikel ini juga menunjukkan relevansi metode
kritis di era digital dan post-truth, di mana informasi dan teknologi
sering digunakan sebagai instrumen kekuasaan baru. Dalam konteks ini, metode
kritis berfungsi untuk membongkar bias algoritmik, menegaskan etika komunikasi
digital, serta membangun kesadaran reflektif terhadap struktur kekuasaan data.
Melalui sintesis filosofisnya, artikel ini menegaskan pentingnya pengembangan epistemologi
kritis humanistik—sebuah paradigma pengetahuan yang mengintegrasikan
refleksi rasional, nilai humanistik, dan tanggung jawab etis terhadap kehidupan
bersama.
Kata Kunci: Metode
Kritis; Epistemologi; Rasionalitas Komunikatif; Emansipasi; Frankfurt School;
Etika Digital; Humanisme; Post-Truth.
PEMBAHASAN
Metode Kritis dalam Epistemologi
1.
Pendahuluan
Metode kritis dalam epistemologi muncul sebagai
upaya reflektif terhadap krisis rasionalitas modern yang ditandai oleh dominasi
positivisme dan reduksi pengetahuan pada fakta-fakta empiris semata. Dalam
sejarah filsafat, epistemologi tidak hanya berperan untuk menjawab pertanyaan
tentang bagaimana manusia mengetahui, tetapi juga mengapa dan untuk
apa pengetahuan itu diciptakan. Di titik inilah metode kritis menjadi
relevan, sebab ia berupaya mengembalikan dimensi normatif dan emansipatoris
dari proses berpikir, sekaligus menolak objektivitas yang hampa nilai dan
terpisah dari konteks sosialnya. Max Horkheimer, salah satu tokoh utama Mazhab
Frankfurt, menegaskan bahwa teori kritis harus menolak menjadi sekadar alat
teknis untuk mengontrol realitas; sebaliknya, ia harus berfungsi sebagai
kekuatan reflektif untuk membebaskan manusia dari struktur dominasi dan
penindasan yang tersembunyi dalam sistem sosial dan pengetahuan itu sendiri.¹
Metode kritis tidak lahir dalam ruang hampa,
melainkan dari dinamika sejarah pemikiran modern yang mengaitkan antara
rasionalitas, kekuasaan, dan ideologi. Sejak Kant merumuskan kritik rasio
murni sebagai bentuk refleksi atas batas kemampuan manusia dalam
mengetahui, benih-benih berpikir kritis telah tertanam dalam tradisi filsafat
Barat.² Namun, tradisi ini memperoleh bentuk radikalnya dalam kritik Marx
terhadap kesadaran ideologis dan relasi produksi, yang kemudian diolah kembali
oleh para pemikir Frankfurt seperti Horkheimer, Adorno, dan Habermas. Mereka
menyoroti bahwa pengetahuan tidak pernah netral, melainkan selalu diproduksi
dalam relasi sosial yang sarat kepentingan dan nilai.³ Oleh karena itu, tugas
metode kritis bukan hanya menguji validitas kognitif suatu klaim pengetahuan,
tetapi juga menelusuri kondisi historis, sosial, dan politis yang memungkinkan
klaim tersebut muncul dan berfungsi.
Dalam kerangka epistemologis, metode kritis menolak
dikotomi klasik antara subjek dan objek pengetahuan. Ia memandang proses
mengetahui sebagai aktivitas reflektif dan dialogis, di mana subjek tidak hanya
mengamati dunia, tetapi juga terlibat di dalamnya secara aktif dan historis.⁴
Proses ini melibatkan refleksivitas epistemik, yakni kesadaran akan
posisi, nilai, dan kepentingan yang menyertai setiap tindakan mengenal. Dengan
demikian, metode kritis menuntut sikap ilmiah yang tidak sekadar mencari
kepastian, tetapi juga mempertanyakan dasar-dasar asumsi yang menopang
kepastian itu. Dalam hal ini, epistemologi kritis bersifat transformatif:
ia bukan hanya menjelaskan realitas, melainkan juga berupaya mengubahnya
melalui kesadaran rasional dan praksis sosial.⁵
Dalam konteks modern dan kontemporer, relevansi
metode kritis semakin menonjol di tengah gejala instrumentalisasi
pengetahuan, di mana sains dan teknologi sering kali digunakan bukan untuk
pencerahan, melainkan untuk kepentingan ekonomi dan politik yang hegemonik.
Rasionalitas yang semula diidealkan sebagai sarana pembebasan manusia dari
mitos dan ketidaktahuan kini justru menjadi instrumen kontrol baru yang
membentuk pola pikir dan perilaku massal.⁶ Oleh sebab itu, metode kritis
menawarkan alternatif epistemologis yang berakar pada rasionalitas
komunikatif (Habermas), yang menekankan dialog, argumentasi rasional, dan
kesetaraan partisipatif antar-subjek.⁷ Melalui pendekatan ini, pengetahuan
dipahami sebagai hasil interaksi sosial yang terbuka terhadap koreksi,
perbedaan, dan konsensus normatif.
Secara konseptual, artikel ini bertujuan untuk
menggali landasan filosofis metode kritis, baik dari aspek ontologis,
epistemologis, maupun aksiologisnya. Pembahasan juga akan menelusuri dimensi
sosial dan interdisipliner dari metode ini, termasuk perannya dalam membentuk
paradigma keilmuan yang lebih reflektif dan humanistik. Dengan demikian, metode
kritis tidak hanya dipahami sebagai kerangka teoritis dalam filsafat pengetahuan,
tetapi juga sebagai orientasi praksis yang menuntut tanggung jawab moral dan
sosial dari setiap tindakan berpikir. Melalui pendekatan kritis, epistemologi
dapat kembali pada tujuan utamanya: bukan sekadar mengetahui dunia, tetapi
menegaskan kembali martabat manusia di dalamnya.⁸
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Critical Theory: Selected Essays
(New York: Herder and Herder, 1972), 188.
[2]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason,
trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press,
1998), 133–136.
[3]
Karl Marx, The German Ideology (New York:
International Publishers, 1970), 47.
[4]
Theodor W. Adorno, Negative Dialectics
(London: Routledge, 1973), 20–25.
[5]
Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, Dialectic
of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 95–102.
[6]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man: Studies in
the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964),
12–18.
[7]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon
Press, 1984), 86–94.
[8]
David Held, Introduction to Critical Theory:
Horkheimer to Habermas (Cambridge: Polity Press, 1980), 5–9.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Metode kritis dalam epistemologi berakar pada
tradisi panjang refleksi filosofis mengenai hubungan antara rasionalitas,
kebebasan, dan kekuasaan. Akar genealogisnya dapat ditelusuri dari proyek Kritik
Immanuel Kant pada akhir abad ke-18, berkembang melalui kritik sosial Karl Marx
terhadap ideologi dan ekonomi politik abad ke-19, dan memperoleh bentuk
sistematisnya dalam pemikiran para filsuf Frankfurt School pada abad ke-20.
Dalam sejarah intelektual modern, metode kritis tidak muncul secara tiba-tiba;
ia merupakan hasil evolusi dari berbagai bentuk perlawanan filosofis terhadap
positivisme, determinisme ilmiah, dan dogmatisme rasionalitas instrumental yang
mendominasi paradigma pengetahuan Barat sejak pencerahan.¹
Kant menjadi tokoh penting dalam fondasi historis
metode kritis karena melalui Critique of Pure Reason ia memperkenalkan
prinsip bahwa pengetahuan bukanlah hasil pasif dari pengalaman, melainkan
konstruksi aktif dari subjek rasional.² Dengan demikian, pengetahuan selalu
bersifat reflektif dan terbatas pada kondisi-kondisi transendental yang
memungkinkan pengalaman. Di sinilah muncul benih epistemologi kritis: kesadaran
bahwa mengetahui berarti juga mengkritisi syarat-syarat kemungkinan pengetahuan
itu sendiri. Namun, dalam konteks sosial-politik abad ke-19, kritik Kantian ini
kemudian diperluas dan disosialisasikan oleh Karl Marx yang menegaskan bahwa
kesadaran manusia tidak dapat dipisahkan dari kondisi material dan struktur
ekonomi masyarakatnya.³ Marx menggeser fokus epistemologi dari level
transendental menuju level historis-material, menegaskan bahwa setiap sistem pengetahuan
merefleksikan kepentingan kelas tertentu.⁴ Dengan demikian, kritik
epistemologis bertransformasi menjadi kritik ideologis: pengetahuan bukan hanya
persoalan kebenaran, tetapi juga kekuasaan.
Peralihan dari Marx ke teori kritis Frankfurt
menandai babak baru dalam sejarah metode kritis. Setelah pengalaman dua perang
dunia dan kebangkitan totalitarianisme, sekelompok intelektual Jerman yang
tergabung dalam Institut für Sozialforschung di Frankfurt—seperti Max
Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan kemudian Jürgen
Habermas—merumuskan kembali kritik terhadap rasionalitas modern yang telah
kehilangan dimensi emansipatorisnya.⁵ Mereka melihat bahwa kemajuan sains dan
teknologi justru berkontribusi pada pembentukan sistem sosial yang menindas melalui
mekanisme birokrasi, ekonomi kapitalistik, dan industri budaya.⁶ Rasionalitas
yang seharusnya membebaskan manusia dari mitos, dalam praktiknya berubah
menjadi alat reproduksi dominasi. Oleh karena itu, proyek teori kritis berupaya
menghidupkan kembali fungsi reflektif filsafat—bukan sekadar menjelaskan dunia,
melainkan juga menilai dan mentransformasinya.⁷
Dalam tahap selanjutnya, metode kritis memperoleh
dimensi komunikatif melalui karya Jürgen Habermas yang mencoba merekonstruksi
rasionalitas modern dengan memperkenalkan konsep rationality as
communicative action. Habermas berusaha mengatasi pesimisme Adorno dan
Horkheimer dengan menunjukkan bahwa di balik distorsi ideologis terdapat
potensi rasionalitas yang inheren dalam komunikasi antar-subjek.⁸ Dengan
demikian, metode kritis tidak lagi sekadar berfokus pada kritik terhadap
struktur ekonomi atau budaya, tetapi juga terhadap bentuk-bentuk komunikasi
yang menghambat konsensus rasional dan kebebasan. Evolusi ini memperluas
cakupan metode kritis dari level teori sosial menjadi paradigma epistemologis
yang menekankan partisipasi, dialog, dan refleksivitas.
Selain itu, secara genealogis, metode kritis juga
berinteraksi dengan tradisi hermeneutik (Gadamer) dan fenomenologi (Husserl),
yang sama-sama menekankan dimensi historis dan interpretatif dari pengetahuan.⁹
Namun, jika hermeneutik lebih berorientasi pada pemahaman (Verstehen),
metode kritis menambahkan unsur normatif, yaitu evaluasi dan perubahan (Kritik).
Dengan kata lain, metode kritis berfungsi sebagai jembatan antara penafsiran
dan transformasi: memahami dunia untuk mengubahnya.¹⁰
Dari perspektif sejarah intelektual, metode kritis
dapat dipandang sebagai respons terhadap kegagalan rasionalitas modern yang
tereduksi menjadi instrumentalisme. Ia mengembalikan dimensi etis dan
humanistik dalam epistemologi, serta menegaskan bahwa setiap klaim pengetahuan
harus diuji bukan hanya berdasarkan kebenaran empiris, tetapi juga berdasarkan
potensi emansipatorisnya.¹¹ Karena itu, metode kritis tidak hanya menjadi
metode berpikir, melainkan juga sebuah ethos intelektual yang
menggabungkan refleksi, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kemanusiaan di
tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.¹²
Footnotes
[1]
David Held, Introduction to Critical Theory: Horkheimer
to Habermas (Cambridge: Polity Press, 1980), 12–16.
[2]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason,
trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press,
1998), 178–182.
[3]
Karl Marx, A Contribution to the Critique of
Political Economy (New York: International Publishers, 1970), 20–23.
[4]
Karl Marx dan Friedrich Engels, The German
Ideology (New York: International Publishers, 1970), 47–50.
[5]
Max Horkheimer, “Traditional and Critical Theory,”
dalam Critical Theory: Selected Essays (New York: Herder and Herder,
1972), 188–243.
[6]
Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic
of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 94–103.
[7]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution: Hegel
and the Rise of Social Theory (London: Routledge, 1960), 23–27.
[8]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon
Press, 1984), 99–110.
[9]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (New
York: Crossroad, 1989), 265–270.
[10]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests
(Boston: Beacon Press, 1971), 301–307.
[11]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and Utopia: A
Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University
Press, 1986), 41–46.
[12]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical Theory:
Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 7–10.
3.
Ontologi:
Realitas Sosial dan Kesadaran Reflektif
Dalam kerangka metode kritis, ontologi tidak
dipahami sebagai pencarian terhadap esensi metafisik yang tetap, melainkan
sebagai analisis terhadap kondisi historis dan sosial yang membentuk kenyataan.
Realitas bukanlah entitas yang berdiri sendiri di luar subjek, tetapi merupakan
hasil konstruksi dialektis antara manusia dan struktur sosial tempat ia hidup.¹
Dengan demikian, metode kritis menolak pandangan ontologis positivistik yang
memandang dunia sosial sebagai “obyek” netral yang dapat diamati dan
diukur secara empiris. Sebaliknya, realitas sosial selalu bersifat
mediatif—terbentuk melalui interaksi, bahasa, dan kesadaran historis.²
Kritik terhadap ontologi tradisional ini dapat
ditelusuri pada gagasan Marx mengenai praxis, yaitu hubungan aktif
manusia dengan dunia melalui kerja dan produksi sosial.³ Dalam pengertian ini,
eksistensi manusia bukan sekadar “ada” dalam dunia, tetapi “mengada-dalam-proses”
(sein im Werden): ia membentuk dan sekaligus dibentuk oleh kondisi
material yang diciptakannya sendiri.⁴ Kesadaran manusia lahir dari aktivitas
sosial, dan dengan demikian memiliki sifat reflektif dan historis. Realitas
sosial, dalam kerangka ini, bukanlah sekumpulan fakta yang independen,
melainkan hasil relasi dialektis antara subjek dan struktur, antara individu
dan masyarakat, antara kebebasan dan determinasi.⁵
Mazhab Frankfurt memperdalam dimensi ontologis ini
dengan menekankan bahwa dunia sosial modern telah terkolonisasi oleh
rasionalitas instrumental. Horkheimer dan Adorno menunjukkan bahwa rasionalitas
yang semula dimaksudkan untuk menguasai alam kini telah berbalik menjadi
kekuatan yang menguasai manusia itu sendiri.⁶ Dunia sosial modern, dalam
pandangan mereka, tidak lagi menjadi ruang kebebasan, melainkan sistem yang
menundukkan individu pada logika efisiensi, produksi, dan konsumsi. Ontologi
sosial modern karenanya harus dibaca sebagai “realitas terdistorsi,”
yakni dunia yang diatur oleh logika dominasi. Dalam kondisi demikian, tugas
metode kritis adalah membongkar struktur distorsi tersebut melalui kesadaran
reflektif yang emansipatoris.⁷
Kesadaran reflektif menjadi inti dari ontologi
kritis. Ia bukan sekadar kemampuan untuk mengetahui, tetapi juga kemampuan
untuk menyadari bagaimana pengetahuan terbentuk dan digunakan dalam struktur
kekuasaan. Habermas menekankan bahwa subjek modern hanya dapat memahami
realitasnya secara kritis melalui komunikasi yang bebas dari dominasi.⁸ Artinya,
eksistensi manusia selalu bersifat intersubjektif—manusia hanya dapat memahami
dirinya melalui dialog dengan yang lain. Dengan demikian, realitas sosial
bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan hasil proses komunikatif yang terus
berlangsung. Ontologi metode kritis, karenanya, bersifat dinamis dan
relasional: realitas adalah jaringan makna yang senantiasa dinegosiasikan
melalui tindakan reflektif.⁹
Di sini, “kesadaran reflektif” berarti melampaui
sekadar kesadaran fenomenal menuju kesadaran kritis—yakni kemampuan untuk
memahami bahwa kondisi sosial yang tampak alamiah sebenarnya merupakan hasil
konstruksi historis.¹⁰ Melalui refleksi kritis, manusia mampu menyingkap
bentuk-bentuk alienasi dan ideologi yang menutupi realitas sejati hubungan
sosialnya.¹¹ Dengan kesadaran ini, ontologi tidak lagi berurusan dengan
keberadaan “yang ada,” tetapi dengan bagaimana keberadaan itu
dihasilkan, dipertahankan, dan dapat diubah.¹²
Implikasi ontologis dari metode kritis sangat
besar: manusia dipahami sebagai makhluk yang tidak hanya “mengetahui”
dunia, tetapi juga “menciptakan” dunia melalui kesadarannya.¹³ Dengan
demikian, realitas sosial bukanlah totalitas tertutup, melainkan medan praksis
di mana kebebasan, refleksi, dan transformasi dapat terjadi. Ontologi kritis
menolak determinisme sosial sekaligus menolak subjektivisme ekstrem, dengan
menegaskan bahwa eksistensi manusia selalu berada dalam ketegangan antara
struktur dan agensi, antara fakta dan nilai, antara kebutuhan dan kebebasan.¹⁴
Secara keseluruhan, metode kritis mengajukan
ontologi reflektif yang berpusat pada kesadaran manusia sebagai subjek historis
dan moral. Dunia sosial bukanlah sesuatu yang harus diterima apa adanya,
melainkan sesuatu yang dapat dipahami dan diubah melalui refleksi rasional dan
tindakan komunikatif. Dalam arti ini, realitas sosial adalah hasil konstruksi
historis yang terbuka bagi kritik dan pembaruan—suatu ontologi yang berpihak
pada kebebasan dan martabat manusia.¹⁵
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, “Traditional and Critical Theory,”
dalam Critical Theory: Selected Essays (New York: Herder and Herder,
1972), 200–204.
[2]
Theodor W. Adorno, Negative Dialectics
(London: Routledge, 1973), 33–38.
[3]
Karl Marx, Theses on Feuerbach, dalam The
German Ideology (New York: International Publishers, 1970), 121–123.
[4]
Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts
of 1844 (Moscow: Progress Publishers, 1977), 76–80.
[5]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution: Hegel
and the Rise of Social Theory (London: Routledge, 1960), 89–95.
[6]
Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic
of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 120–125.
[7]
Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York:
Oxford University Press, 1947), 43–47.
[8]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon
Press, 1984), 285–289.
[9]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests
(Boston: Beacon Press, 1971), 301–307.
[10]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New
York: Continuum, 1970), 83–86.
[11]
Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews
and Other Writings (New York: Pantheon, 1980), 109–113.
[12]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical Theory:
Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 22–26.
[13]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man: Studies in
the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964),
65–69.
[14]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and Utopia: A
Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University
Press, 1986), 53–57.
[15]
Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The
Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 92–97.
4.
Epistemologi:
Prinsip, Tujuan, dan Rasionalitas Kritis
Epistemologi metode
kritis berpijak pada pandangan bahwa pengetahuan tidak pernah netral, melainkan
selalu terjalin dengan kepentingan manusia untuk memahami dan mengubah realitas
sosialnya.¹ Sejak Horkheimer menulis Traditional and Critical Theory,
epistemologi kritis memisahkan diri dari paradigma pengetahuan yang hanya
berfungsi untuk menjelaskan dunia (explanatory knowledge) menuju
pengetahuan yang juga menilai dan mentransformasi dunia (emancipatory
knowledge).² Pengetahuan bukanlah sekadar alat untuk menguasai alam
dan manusia, tetapi merupakan sarana untuk mencapai kesadaran reflektif yang
membebaskan dari struktur dominasi, ideologi, dan distorsi komunikasi. Dengan
demikian, epistemologi kritis tidak sekadar mempertanyakan “bagaimana kita
mengetahui,” tetapi juga “mengapa dan untuk siapa pengetahuan itu digunakan.”
4.1. Prinsip-Prinsip Dasar Epistemologi Kritis
Metode kritis
berangkat dari tiga prinsip epistemologis utama: refleksivitas, historisitas,
dan intersubjektivitas. Pertama, refleksivitas mengandaikan
bahwa subjek pengetahuan harus sadar akan posisi, kepentingan, dan kondisi
sosial yang melingkupinya.³ Proses mengetahui bukanlah aktivitas yang bebas
nilai, melainkan tindakan yang senantiasa terhubung dengan konteks kekuasaan,
bahasa, dan budaya. Kedua, historisitas menegaskan bahwa
pengetahuan selalu bersifat temporal dan kontekstual; tidak ada kebenaran yang
berdiri di luar sejarah sosial manusia.⁴ Ketiga, intersubjektivitas
menolak pandangan subjektivisme solipsistik dan objektivisme ilmiah yang kaku.
Habermas menegaskan bahwa kebenaran hanya dapat dicapai melalui proses
komunikasi yang terbuka, di mana subjek-subjek yang berpartisipasi saling
memberikan argumen secara rasional tanpa dominasi.⁵
Dengan demikian,
epistemologi kritis menolak dua ekstrem epistemologis modern: positivisme yang
mengagungkan fakta empiris sebagai sumber tunggal kebenaran, dan relativisme
yang menganggap semua klaim kebenaran setara tanpa ukuran rasionalitas.⁶
Positivisme gagal karena mengabaikan dimensi sosial dan normatif dari
pengetahuan, sedangkan relativisme gagal karena meniadakan kemungkinan kritik
rasional. Oleh karena itu, metode kritis mencari jalan tengah berupa rasionalitas
reflektif, yakni kemampuan untuk menilai kebenaran melalui
argumentasi yang bersifat dialogis, terbuka terhadap kritik, dan berorientasi
pada pemahaman timbal balik.⁷
4.2. Tujuan Epistemologis: Pengetahuan sebagai
Emansipasi
Tujuan akhir
epistemologi kritis adalah emansipasi manusia dari
bentuk-bentuk ketidaksadaran dan penindasan struktural yang menghambat
kebebasan berpikir dan bertindak.⁸ Bagi Habermas, setiap bentuk pengetahuan
membawa interest
tertentu—baik teknis, praktis, maupun emansipatoris. Hanya pengetahuan yang
berorientasi emansipatoris yang memungkinkan manusia mencapai otonomi dan
refleksi diri.⁹ Pengetahuan dalam arti kritis bukan semata untuk memprediksi
atau mengontrol dunia, melainkan untuk menyingkap kondisi-kondisi yang membuat
dunia tampak seolah tidak dapat diubah. Dengan demikian, epistemologi kritis
mengembalikan fungsi moral dari rasionalitas: pengetahuan yang sejati adalah
yang mendorong kesadaran, keadilan, dan pembebasan.¹⁰
Pendekatan ini juga
mengimplikasikan bahwa kegiatan ilmiah harus berlandaskan kesadaran etis.
Ilmuwan bukan hanya pengamat, tetapi juga partisipan yang terlibat dalam proses
sosial.¹¹ Ia harus mampu mengkritisi nilai-nilai, kepentingan, dan struktur
ideologis yang memengaruhi produksi pengetahuan. Di sini, epistemologi kritis
menuntut sikap tanggung jawab epistemik: kesadaran bahwa setiap teori membawa
konsekuensi sosial dan politik.¹² Oleh karena itu, tugas utama pengetahuan
adalah membuka ruang refleksi dan dialog yang memungkinkan pembentukan
kesadaran kolektif dan transformasi sosial.¹³
4.3. Rasionalitas Kritis: Dari Instrumental ke
Komunikatif
Salah satu sumbangan
terbesar teori kritis terhadap epistemologi modern adalah konsep rasionalitas
komunikatif (Habermas) sebagai koreksi terhadap rasionalitas
instrumental. Rasionalitas instrumental memandang pengetahuan
sebagai alat untuk mencapai efisiensi, kontrol, dan dominasi atas dunia; inilah
jenis rasionalitas yang mendasari sains modern dan teknologi kapitalistik.¹⁴
Sebaliknya, rasionalitas komunikatif berlandaskan pada prinsip intersubjective
understanding—pemahaman timbal balik yang dicapai melalui
argumentasi rasional dan dialog tanpa paksaan.¹⁵
Dalam kerangka ini,
kebenaran tidak diukur oleh keberhasilan teknis atau keakuratan empiris semata,
tetapi oleh validitas komunikasi, yakni
sejauh mana klaim kebenaran dapat diterima melalui kesepakatan rasional
antar-subjek yang otonom dan setara.¹⁶ Rasionalitas kritis berupaya membangun
ruang wacana publik yang bebas dari dominasi, di mana semua klaim kebenaran
dapat diuji melalui argumentasi yang terbuka dan reflektif.¹⁷ Ini berarti
epistemologi kritis berorientasi pada praksis dialogis: pengetahuan bukan hasil
final, melainkan proses negosiasi makna yang berlangsung terus-menerus di
antara manusia.
Dengan demikian,
metode kritis tidak hanya membedah struktur pengetahuan, tetapi juga menegaskan
dimensi moral dan politik dari berpikir. Ia menuntut bahwa setiap klaim
pengetahuan harus diuji bukan hanya berdasarkan “apakah benar,” tetapi
juga “apakah adil” dan “apakah membebaskan.”¹⁸ Rasionalitas
kritis, pada akhirnya, bukan sekadar cara berpikir, melainkan cara hidup yang
berakar pada komitmen terhadap kebenaran, kebebasan, dan kemanusiaan.¹⁹
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, “Traditional and Critical Theory,” dalam Critical Theory: Selected Essays (New York: Herder and Herder, 1972), 198–204.
[2]
Ibid., 205–210.
[3]
Theodor W. Adorno, Negative Dialectics (London: Routledge, 1973), 29–33.
[4]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution:
Hegel and the Rise of Social Theory
(London: Routledge, 1960), 90–95.
[5]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press, 1984), 82–89.
[6]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical
Theory: Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 22–26.
[7]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia: A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 48–53.
[8]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human
Interests (Boston: Beacon Press,
1971), 308–312.
[9]
Ibid., 314–317.
[10]
Axel Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 91–96.
[11]
David Held, Introduction to
Critical Theory: Horkheimer to Habermas
(Cambridge: Polity Press, 1980), 22–25.
[12]
Thomas McCarthy, The Critical Theory of
Jürgen Habermas (Cambridge: MIT
Press, 1978), 77–80.
[13]
Paulo Freire, Pedagogy of the
Oppressed (New York: Continuum,
1970), 81–84.
[14]
Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University Press, 1947), 42–45.
[15]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 2: Lifeworld and System (Boston: Beacon Press, 1987), 134–138.
[16]
Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1,
95–100.
[17]
Nancy Fraser, “Rethinking the Public Sphere,” Social Text 25/26
(1990): 56–80.
[18]
Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia, 61–65.
[19]
Honneth, The Struggle for
Recognition, 101–105.
5.
Aksiologi:
Nilai, Etika, dan Tujuan Emansipatoris
Aksiologi dalam
metode kritis berakar pada pandangan bahwa pengetahuan tidak dapat dipisahkan
dari nilai dan kepentingan manusia yang membentuknya.¹ Jika epistemologi kritis
menyoroti proses rasional dan reflektif dalam memahami realitas, maka aksiologi
kritis berfokus pada mengapa pengetahuan itu dihasilkan,
untuk
siapa ia digunakan, dan nilai-nilai apa yang menopangnya.
Dalam hal ini, metode kritis menolak klaim netralitas ilmiah sebagaimana
diasumsikan oleh positivisme. Bagi para pemikir Frankfurt, tidak ada ilmu yang
bebas nilai; setiap bentuk rasionalitas selalu mengandung orientasi moral dan
politis tertentu.² Oleh karena itu, tugas etis metode kritis adalah
mengembalikan pengetahuan kepada fungsi aslinya—yakni membebaskan manusia dari
ketidakadilan, dominasi, dan ketidaksadaran ideologis.³
5.1. Nilai-Nilai Dasar dalam Metode Kritis
Nilai-nilai yang
mendasari metode kritis dapat dirumuskan dalam tiga pilar utama: kebebasan,
rasionalitas
komunikatif, dan solidaritas sosial. Kebebasan
(freedom) dipahami bukan sekadar kebebasan negatif dari intervensi eksternal,
tetapi kebebasan positif untuk berpartisipasi dalam pembentukan makna dan
struktur sosial.⁴ Habermas menekankan bahwa kebebasan hanya dapat diwujudkan
melalui komunikasi yang tidak terdistorsi, di mana setiap individu memiliki
kesempatan yang setara untuk berbicara dan didengar.⁵ Nilai kedua, rasionalitas
komunikatif, mengandung prinsip bahwa kebenaran dan keadilan tidak dapat
dipaksakan melalui kekuasaan, melainkan harus dicapai melalui argumentasi yang
terbuka dan reflektif.⁶ Adapun solidaritas sosial mengandung dimensi moral
bahwa pengetahuan sejati menuntut tanggung jawab terhadap yang lain; ia tidak
bersifat egosentris, tetapi kooperatif dan humanistik.⁷
Dengan demikian,
metode kritis bersifat normatif: ia tidak hanya menjelaskan kondisi dunia,
tetapi juga mengandung visi tentang dunia yang seharusnya. Di sinilah nilai-nilai
moral menjadi panduan epistemologis. Pengetahuan yang baik bukanlah yang paling
objektif secara teknis, melainkan yang paling berdaya untuk membebaskan manusia
dari struktur penindasan.⁸ Seperti dikemukakan Horkheimer, teori kritis “bukan
hanya untuk memahami masyarakat, tetapi untuk mengubahnya.”⁹
5.2. Etika Reflektif dan Tanggung Jawab Epistemik
Dalam konteks etika,
metode kritis mengembangkan apa yang disebut etika reflektif, yaitu
kesadaran bahwa setiap tindakan pengetahuan membawa konsekuensi sosial dan
moral.¹⁰ Etika ini menolak reduksi moralitas menjadi hukum eksternal atau utilitas
pragmatis; sebaliknya, moralitas berakar pada rasionalitas komunikatif yang
mengakui martabat dan otonomi setiap individu. Habermas, melalui Discourse
Ethics, menegaskan bahwa norma moral hanya sah bila dapat diterima
oleh semua pihak yang terdampak melalui proses diskursus rasional yang bebas
dari paksaan.¹¹ Dengan demikian, tindakan etis tidak bersifat hierarkis,
melainkan dialogis: ia muncul dari komunikasi yang egaliter antara
subjek-subjek rasional.
Etika reflektif ini
juga menuntut tanggung jawab epistemik:
kesadaran bahwa produksi pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari dampaknya
terhadap manusia dan lingkungan sosial.¹² Dalam masyarakat kapitalistik modern,
di mana sains dan teknologi kerap digunakan untuk eksploitasi ekonomi dan
politik, tanggung jawab epistemik menjadi landasan moral bagi ilmuwan dan
intelektual.¹³ Pengetahuan harus berfungsi sebagai sarana pemberdayaan, bukan
dominasi; sebagai alat kritik, bukan legitimasi status quo.¹⁴
5.3. Tujuan Emansipatoris Pengetahuan
Tujuan tertinggi
dari aksiologi metode kritis adalah emansipasi manusia. Emansipasi
di sini tidak semata berarti pembebasan eksternal dari penindasan sosial,
tetapi juga pembebasan internal dari kesadaran palsu dan ketergantungan
ideologis.¹⁵ Dalam pandangan Habermas, pengetahuan yang emansipatoris menuntut
subjek untuk memahami kondisi-kondisi yang mengikatnya, sehingga ia dapat
bertindak secara otonom.¹⁶ Proses ini bersifat reflektif dan transformasional:
melalui kritik terhadap struktur kekuasaan dan ideologi, manusia dapat mengubah
hubungan sosial menuju bentuk yang lebih adil dan manusiawi.
Herbert Marcuse
menegaskan bahwa tujuan sejati ilmu pengetahuan bukanlah efisiensi teknis,
melainkan pembentukan masyarakat rasional yang mampu menyeimbangkan kebutuhan
material dengan kebebasan spiritual.¹⁷ Dengan demikian, aksiologi kritis
menempatkan nilai-nilai humanistik—seperti keadilan, solidaritas, dan martabat
manusia—sebagai ukuran tertinggi bagi validitas pengetahuan.¹⁸ Pengetahuan yang
tidak memajukan kemanusiaan kehilangan legitimasi moralnya.
Dalam konteks dunia
kontemporer yang ditandai oleh krisis etika, disinformasi, dan fragmentasi
sosial, prinsip-prinsip aksiologis metode kritis menjadi semakin relevan. Ia
menuntun kita untuk melihat bahwa setiap tindakan berpikir dan berkomunikasi
harus diarahkan pada pembentukan dunia yang lebih rasional, adil, dan terbuka
terhadap perbedaan.¹⁹ Aksiologi kritis, dengan demikian, bukan hanya teori
nilai, tetapi juga proyek etis global untuk merehabilitasi rasionalitas manusia
agar kembali berpihak pada kebebasan dan martabat universal.²⁰
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Critical Theory:
Selected Essays (New York: Herder
and Herder, 1972), 198–202.
[2]
Theodor W. Adorno, Negative Dialectics (London: Routledge, 1973), 45–49.
[3]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution:
Hegel and the Rise of Social Theory
(London: Routledge, 1960), 93–97.
[4]
Isaiah Berlin, Two Concepts of Liberty (Oxford: Clarendon Press, 1969), 123–127.
[5]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press, 1984), 99–105.
[6]
Ibid., 110–113.
[7]
Axel Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 85–89.
[8]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical
Theory: Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 31–34.
[9]
Max Horkheimer, “Traditional and Critical Theory,” dalam Critical Theory: Selected Essays (New York: Herder and Herder, 1972), 210.
[10]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia: A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 57–61.
[11]
Jürgen Habermas, Moral Consciousness and
Communicative Action (Cambridge: MIT
Press, 1990), 60–64.
[12]
Thomas McCarthy, The Critical Theory of
Jürgen Habermas (Cambridge: MIT
Press, 1978), 79–83.
[13]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man:
Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964), 65–69.
[14]
Paulo Freire, Pedagogy of the
Oppressed (New York: Continuum,
1970), 88–92.
[15]
Karl Marx, The German Ideology (New York: International Publishers, 1970), 55–58.
[16]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human
Interests (Boston: Beacon Press,
1971), 312–316.
[17]
Marcuse, Reason and Revolution, 145–150.
[18]
Nancy Fraser, “What’s Critical about Critical Theory? The Case of
Habermas and Gender,” New German Critique 35 (1985): 97–108.
[19]
Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia, 68–72.
[20]
Honneth, The Struggle for
Recognition, 103–106.
6.
Dimensi
Sosial, Politik, dan Ekonomi Pengetahuan
Metode kritis
memandang bahwa pengetahuan tidak pernah berdiri di atas ruang hampa, melainkan
senantiasa terikat pada konteks sosial, politik, dan ekonomi yang
melahirkannya.¹ Dalam kerangka ini, epistemologi tidak hanya membicarakan bagaimana
manusia mengetahui, tetapi juga siapa yang berhak mengetahui, dalam
kondisi apa pengetahuan diproduksi, dan untuk kepentingan siapa ia
digunakan.² Dengan demikian, teori kritis berfungsi sebagai perangkat analisis
yang membongkar struktur kekuasaan yang tersembunyi di balik produksi dan
legitimasi pengetahuan. Horkheimer menyebut bahwa setiap sistem pengetahuan
selalu memiliki dimensi ideologis, karena ia memantulkan sekaligus memperkuat
relasi kekuasaan sosial yang ada.³
6.1. Pengetahuan dan Kekuasaan Sosial
Pengetahuan
merupakan bentuk kekuasaan simbolik yang memiliki kemampuan untuk mengatur cara
manusia memahami dunia.⁴ Michel Foucault menegaskan bahwa tidak ada pengetahuan
yang bebas dari relasi kekuasaan, sebab setiap wacana pengetahuan selalu
memproduksi rezim kebenaran—yaitu seperangkat
norma, bahasa, dan institusi yang menentukan apa yang boleh dikatakan benar.⁵
Dalam kerangka metode kritis, hal ini berarti bahwa pengetahuan harus dipahami
sebagai bagian dari praktik sosial yang mengatur relasi antara yang mengetahui
(knower)
dan yang diketahui (known). Habermas menambahkan bahwa
struktur komunikasi dalam masyarakat modern kerap mengalami distorsi akibat
dominasi sistem ekonomi dan politik yang menundukkan ruang publik pada logika
efisiensi dan kendali.⁶ Akibatnya, proses pencarian kebenaran tergeser oleh
kepentingan instrumental dan komersial.
Oleh karena itu,
metode kritis berupaya mengembalikan fungsi sosial pengetahuan sebagai sarana
dialog dan emansipasi. Ia menolak bentuk rasionalitas yang hanya menekankan output
teknis dan efektivitas tanpa memperhatikan dimensi etis dan sosialnya.⁷ Dalam
masyarakat yang diatur oleh media, algoritma, dan birokrasi, pengetahuan sering
kali menjadi instrumen reproduksi kekuasaan—baik dalam bentuk ideologi politik
maupun hegemoni budaya.⁸ Maka, tugas teori kritis adalah menyingkap bagaimana
struktur sosial tertentu menentukan cara berpikir, berkomunikasi, dan bertindak
manusia dalam kehidupan sehari-hari.⁹
6.2. Politik Pengetahuan: Ideologi dan Hegemoni
Dimensi politik
pengetahuan berkaitan erat dengan persoalan ideologi dan hegemoni.
Karl Marx menegaskan bahwa ideologi berfungsi untuk menutupi kontradiksi sosial
yang melekat dalam sistem ekonomi kapitalistik, dengan cara menghadirkan
pandangan dunia yang tampak alami dan tidak dapat digugat.¹⁰ Dalam pengertian
ini, pengetahuan berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan: ia membentuk
kesadaran kolektif agar menerima tatanan yang ada. Antonio Gramsci memperluas
gagasan ini melalui konsep hegemoni, yakni bentuk dominasi
yang tidak lagi bersifat koersif, melainkan kultural—dicapai melalui persuasi,
pendidikan, dan kontrol atas institusi pengetahuan seperti sekolah,
universitas, media, dan agama.¹¹
Mazhab Frankfurt
melihat fenomena ini terwujud dalam apa yang mereka sebut industri
budaya (culture industry), yaitu sistem
produksi pengetahuan dan hiburan yang berfungsi untuk melestarikan ketundukan
sosial melalui konsumsi pasif dan reproduksi nilai-nilai dominan.¹² Dalam
konteks ini, pengetahuan bukan lagi ruang refleksi, tetapi komoditas yang
diatur oleh logika pasar dan media.¹³ Akibatnya, masyarakat kehilangan
kapasitas kritisnya, terjebak dalam rasionalitas instrumental yang hanya
menilai sesuatu berdasarkan manfaat dan efisiensi, bukan kebenaran atau keadilan.¹⁴
6.3. Ekonomi Pengetahuan dan Komodifikasi Rasionalitas
Dalam era modern
hingga kontemporer, dimensi ekonomi pengetahuan menjadi semakin sentral.¹⁵
Dengan berkembangnya kapitalisme global, pengetahuan kini diproduksi dan
dipasarkan sebagai komoditas—sebuah aset yang dapat dijual, dipatenkan, dan
dikendalikan oleh institusi tertentu.¹⁶ Fenomena ini disebut sebagai knowledge
economy, di mana kekuasaan ekonomi berpindah dari kepemilikan
barang ke penguasaan informasi dan inovasi. Namun, dari perspektif metode kritis,
ekonomi pengetahuan tidak bebas nilai; ia sering kali memperdalam ketimpangan
sosial antara mereka yang memiliki akses terhadap informasi dan mereka yang
tidak.¹⁷
Habermas menyoroti
bahwa ketika rasionalitas teknokratis menguasai ruang publik, dialog
antar-subjek digantikan oleh sistem yang digerakkan oleh uang dan kekuasaan.¹⁸
Dalam masyarakat semacam itu, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi wahana
pembebasan, tetapi bagian dari struktur reproduksi dominasi. Herbert Marcuse
menyebut kondisi ini sebagai “masyarakat berdimensi tunggal,” di mana
manusia teralienasi oleh teknologi dan kehilangan daya kritis terhadap sistem
yang mereka bantu pertahankan.¹⁹
Epistemologi kritis,
oleh karena itu, berupaya mengembalikan pengetahuan kepada fungsi sosialnya
yang sejati: bukan sebagai alat produksi kapital, melainkan sebagai ruang
refleksi etis dan praksis emansipatoris.²⁰ Ia menuntut agar pengetahuan
digunakan untuk memperkuat kesadaran kritis, solidaritas, dan keadilan
sosial—bukan sekadar untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknis
yang tanpa arah moral.²¹
6.4. Pengetahuan sebagai Praksis Sosial Emansipatoris
Dari keseluruhan
pandangan tersebut, metode kritis menyimpulkan bahwa pengetahuan sejati harus
bersifat praksis, yakni berakar pada
tindakan sosial yang reflektif dan transformatif.²² Ia tidak berhenti pada
analisis intelektual, tetapi berupaya mengubah struktur sosial yang tidak adil.
Dengan demikian, fungsi sosial pengetahuan bukanlah mempertahankan keteraturan,
melainkan membuka ruang bagi perubahan.²³ Seperti dikemukakan Habermas,
rasionalitas komunikatif dapat menjadi dasar bagi demokrasi deliberatif yang
memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam pembentukan norma dan kebijakan
secara rasional.²⁴
Dengan cara ini,
metode kritis menjembatani epistemologi dan etika: pengetahuan tidak hanya
harus benar secara logis, tetapi juga baik secara moral dan adil secara
sosial.²⁵ Dalam dunia yang diwarnai oleh ketimpangan ekonomi dan krisis
demokrasi, gagasan ini menjadi semakin penting. Teori kritis mengingatkan bahwa
pengetahuan sejati bukanlah kekuasaan atas dunia, melainkan tanggung jawab
terhadap kemanusiaan.²⁶
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Critical Theory:
Selected Essays (New York: Herder
and Herder, 1972), 190–193.
[2]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical
Theory: Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 22–26.
[3]
Horkheimer, Critical Theory, 195–199.
[4]
Pierre Bourdieu, Language and Symbolic
Power (Cambridge: Polity Press,
1991), 37–41.
[5]
Michel Foucault, Power/Knowledge:
Selected Interviews and Other Writings
(New York: Pantheon, 1980), 131–135.
[6]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press, 1984), 286–290.
[7]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man:
Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964), 67–71.
[8]
Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 94–100.
[9]
David Held, Introduction to Critical
Theory: Horkheimer to Habermas
(Cambridge: Polity Press, 1980), 27–31.
[10]
Karl Marx dan Friedrich Engels, The
German Ideology (New York:
International Publishers, 1970), 64–68.
[11]
Antonio Gramsci, Selections from the
Prison Notebooks (New York: International
Publishers, 1971), 12–15.
[12]
Adorno dan Horkheimer, Dialectic
of Enlightenment, 121–126.
[13]
Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University Press, 1947), 49–52.
[14]
Marcuse, One-Dimensional Man, 88–91.
[15]
Manuel Castells, The Rise of the Network
Society (Oxford: Blackwell, 1996),
17–22.
[16]
Nico Stehr, Knowledge Societies (London: Sage, 1994), 41–45.
[17]
Peter Drucker, Post-Capitalist Society (New York: HarperCollins, 1993), 71–76.
[18]
Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 2: Lifeworld and System (Boston: Beacon Press, 1987), 165–169.
[19]
Marcuse, One-Dimensional Man, 101–107.
[20]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia: A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 61–66.
[21]
Nancy Fraser, “Rethinking the Public Sphere,” Social Text 25/26
(1990): 56–80.
[22]
Paulo Freire, Pedagogy of the
Oppressed (New York: Continuum,
1970), 95–99.
[23]
Horkheimer, Critical Theory, 200–205.
[24]
Jürgen Habermas, Between Facts and
Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge: MIT Press, 1996), 107–112.
[25]
Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(Cambridge: Polity Press, 2014), 91–95.
[26]
Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia, 71–74.
7.
Dimensi
Ilmiah dan Interdisipliner
Metode kritis tidak
hanya merupakan kerangka filsafat pengetahuan, tetapi juga paradigma ilmiah
yang bersifat reflektif, normatif, dan interdisipliner.¹ Dalam tradisi ilmu
modern yang sering terjebak dalam fragmentasi disipliner, metode kritis hadir
sebagai usaha untuk menyatukan kembali dimensi teoritis, praktis, dan etis dari
pengetahuan manusia.² Tujuan utamanya bukan hanya menjelaskan realitas sosial
secara objektif, tetapi juga memahami dan mengubahnya melalui refleksi rasional
dan tindakan kolektif. Oleh karena itu, metode kritis menolak dualisme antara
teori dan praksis serta mengajukan sintesis epistemologis antara ilmu dan
moralitas.³
7.1. Rasionalitas Ilmiah dan Kritik terhadap Positivisme
Dalam konteks
ilmiah, metode kritis berkembang sebagai respons terhadap dominasi positivisme
yang menilai ilmu hanya berdasarkan kriteria empiris, verifikasi, dan
prediksi.⁴ Horkheimer menegaskan bahwa ilmu pengetahuan modern telah kehilangan
fungsi reflektifnya karena terjebak pada rasionalitas instrumental yang
hanya bertujuan untuk mengontrol dan memanipulasi realitas.⁵ Akibatnya, ilmu
menjadi teknokratis dan teralienasi dari nilai-nilai kemanusiaan. Kritik
terhadap positivisme ini kemudian dilanjutkan oleh Habermas melalui proyek reconstruction
of rationality, yaitu usaha untuk memulihkan dimensi komunikatif
dan moral dari pengetahuan ilmiah.⁶
Habermas membagi
pengetahuan ke dalam tiga kepentingan dasar: teknis, praktis, dan
emansipatoris.⁷ Pengetahuan teknis bersifat objektif dan bertujuan menguasai
alam; pengetahuan praktis menekankan pemahaman intersubjektif antar-manusia;
sedangkan pengetahuan emansipatoris berupaya membebaskan manusia dari distorsi
ideologis dan dominasi.⁸ Dengan pembagian ini, metode kritis membuka jalan bagi
ilmu pengetahuan untuk mengembangkan refleksi diri terhadap fungsi sosial dan
etisnya. Dalam arti ini, ilmu tidak hanya menjadi sarana pengumpulan data,
melainkan juga alat pembebasan.⁹
7.2. Integrasi dengan Ilmu Sosial dan Humaniora
Metode kritis
memiliki daya jangkau yang luas dalam ilmu sosial dan humaniora.¹⁰ Dalam
sosiologi, ia menekankan pentingnya memahami struktur sosial bukan sebagai
entitas statis, melainkan sebagai hasil interaksi historis antara kekuasaan,
budaya, dan ekonomi.¹¹ Dalam ilmu komunikasi, teori kritis digunakan untuk menganalisis
bagaimana media membentuk opini publik, mengontrol kesadaran sosial, dan
menciptakan hegemoni simbolik.¹² Dalam studi
budaya, pendekatan kritis membantu menyingkap makna ideologis di balik teks,
wacana, dan praktik konsumsi.¹³
Interdisiplineritas
metode kritis juga tampak dalam hubungannya dengan bidang filsafat bahasa,
psikologi sosial, ekonomi politik, hingga studi feminisme.¹⁴ Gadamer dan
Habermas, misalnya, mempertemukan hermeneutika dan teori sosial untuk
menunjukkan bahwa pemahaman manusia selalu terbentuk dalam konteks dialog dan
sejarah.¹⁵ Sementara itu, teori feminis kritis (Benhabib, Fraser) mengembangkan
dimensi gender dalam teori kritis, menyoroti bagaimana struktur patriarki
bekerja melalui bahasa dan institusi pengetahuan.¹⁶ Pendekatan interdisipliner
ini menunjukkan bahwa metode kritis bersifat terbuka dan adaptif, mampu
berdialog dengan berbagai disiplin untuk membangun pengetahuan yang lebih
reflektif dan transformatif.
7.3. Metode Kritis dan Ilmu Alam: Kritik atas
Objektivitas Ilmiah
Walaupun berakar
dalam tradisi ilmu sosial, metode kritis juga memiliki relevansi dengan ilmu
alam.¹⁷ Kritik terhadap objektivitas ilmiah mengajukan bahwa ilmu alam pun
tidak terlepas dari konteks sosial dan ekonomi yang mendukungnya. Seperti
dijelaskan oleh Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolutions,
perkembangan ilmu dipengaruhi oleh paradigma dan komunitas ilmiah yang
menentukan apa yang dianggap “normal” dalam riset.¹⁸ Hal ini selaras
dengan pandangan teori kritis bahwa pengetahuan ilmiah selalu terikat pada
kerangka nilai tertentu. Marcuse bahkan menegaskan bahwa teknologi modern dapat
menjadi alat penindasan bila tidak disertai dengan refleksi etis tentang tujuan
penggunaannya.¹⁹
Dengan demikian,
metode kritis mengusulkan bentuk ilmu reflektif—ilmu yang sadar akan
keterbatasannya sendiri dan terbuka terhadap kritik.²⁰ Ia tidak menolak sains,
tetapi menolak penyalahgunaan rasionalitas sains yang memisahkan pengetahuan
dari kepentingan moral dan sosial.²¹ Pendekatan ini juga menginspirasi paradigma
baru dalam ilmu lingkungan dan ekologi, seperti critical ecological theory, yang
menilai relasi manusia dan alam dari sudut keadilan, keberlanjutan, dan
tanggung jawab etis.²²
Relevansi Interdisipliner di Era Digital
Dalam era digital
dan globalisasi, interdisiplineritas metode kritis menjadi semakin penting.²³
Pengetahuan kini tersebar secara cepat melalui teknologi informasi, tetapi juga
rentan dimanipulasi oleh kekuatan ekonomi dan politik global. Di tengah arus
informasi yang masif, teori kritis berperan untuk menilai bagaimana algoritma,
data, dan media digital memengaruhi struktur kesadaran dan demokrasi publik.²⁴
Pendekatan interdisipliner antara filsafat, ilmu komputer, komunikasi, dan
etika diperlukan untuk memahami bentuk baru dominasi dan resistensi dalam digital
society.²⁵
Selain itu, metode
kritis menjadi dasar bagi pendekatan critical data studies, digital
ethics, dan posthumanist critique, yang
berupaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan di tengah rasionalitas
teknologis.²⁶ Interdisiplineritas di sini tidak sekadar kolaborasi
antardisiplin, melainkan integrasi epistemologis—cara berpikir lintas batas
yang menggabungkan refleksi filosofis, analisis empiris, dan komitmen moral
terhadap emansipasi manusia.²⁷
Dengan demikian, dimensi
ilmiah dan interdisipliner dari metode kritis menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan sejati bukanlah sistem tertutup, melainkan jaringan reflektif yang
terus mengoreksi dirinya.²⁸ Ia menegaskan bahwa rasionalitas harus dikembalikan
kepada fungsi humanistiknya: sebagai sarana untuk memperluas kebebasan,
memperdalam pemahaman, dan memperjuangkan keadilan sosial dalam semua bidang
kehidupan manusia.²⁹
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Critical Theory:
Selected Essays (New York: Herder
and Herder, 1972), 194–198.
[2]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical
Theory: Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 31–35.
[3]
Theodor W. Adorno, Negative Dialectics (London: Routledge, 1973), 23–28.
[4]
Auguste Comte, Cours de Philosophie
Positive (Paris: Bachelier, 1830),
12–14.
[5]
Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University Press, 1947), 43–47.
[6]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press, 1984), 85–92.
[7]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human
Interests (Boston: Beacon Press,
1971), 301–307.
[8]
Ibid., 308–312.
[9]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution:
Hegel and the Rise of Social Theory
(London: Routledge, 1960), 97–101.
[10]
David Held, Introduction to
Critical Theory: Horkheimer to Habermas
(Cambridge: Polity Press, 1980), 22–27.
[11]
Anthony Giddens, Central Problems in
Social Theory (Berkeley: University
of California Press, 1979), 65–70.
[12]
Douglas Kellner, Media Culture: Cultural
Studies, Identity and Politics between the Modern and the Postmodern (London: Routledge, 1995), 23–27.
[13]
Stuart Hall, Encoding/Decoding, dalam Culture,
Media, Language (London: Routledge,
1980), 128–138.
[14]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia: A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 56–60.
[15]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method (New York: Crossroad,
1989), 278–283.
[16]
Nancy Fraser, “What’s Critical about Critical Theory? The Case of
Habermas and Gender,” New German Critique 35 (1985): 97–108.
[17]
Thomas S. Kuhn, The Structure of
Scientific Revolutions (Chicago:
University of Chicago Press, 1962), 9–11.
[18]
Ibid., 110–113.
[19]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man:
Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964), 89–94.
[20]
Horkheimer, Critical Theory, 202–206.
[21]
Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 2: Lifeworld and System (Boston: Beacon Press, 1987), 120–124.
[22]
Andrew Dobson, Critical Theory and
Green Politics (London: Routledge,
1993), 42–47.
[23]
Manuel Castells, The Rise of the Network
Society (Oxford: Blackwell, 1996),
23–28.
[24]
Nick Couldry dan Ulises Mejias, The
Costs of Connection: How Data Is Colonizing Human Life and Appropriating It for
Capitalism (Stanford: Stanford
University Press, 2019), 13–17.
[25]
Luciano Floridi, The Ethics of
Information (Oxford: Oxford
University Press, 2013), 99–103.
[26]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs,
2019), 151–156.
[27]
Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia, 63–68.
[28]
Habermas, Between Facts and
Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge: MIT Press, 1996), 110–115.
[29]
Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(Cambridge: Polity Press, 2014), 118–122.
8.
Kritik
terhadap Metode Kritis
Metode kritis,
meskipun berperan penting dalam mengembalikan fungsi reflektif dan
emansipatoris pengetahuan, tidak lepas dari berbagai kritik baik dari kalangan
filsafat analitik, positivistik, postmodern, maupun internal dari para pemikir
kritis sendiri. Kritik-kritik ini berfokus pada beberapa aspek utama: klaim
universalitas rasionalitas komunikatif, problem normativitas tanpa fondasi
metafisis, kesulitan penerapan dalam konteks empiris, serta risiko dogmatisme
moral dalam praksis sosial.¹
8.1. Kritik dari Positivisme dan Filsafat Ilmu Modern
Kritik paling awal
terhadap metode kritis datang dari paradigma positivisme logis, yang menolak
aspek normatif dan reflektif dalam epistemologi.² Bagi kaum positivis seperti
Karl Popper dan Rudolf Carnap, teori kritis dianggap tidak ilmiah karena tidak
dapat diuji secara empiris dan tidak menghasilkan proposisi yang dapat
difalsifikasi.³ Mereka menuduh bahwa teori kritis bersandar pada asumsi
ideologis dan nilai-nilai moral yang tidak bisa diverifikasi secara objektif.⁴ Popper,
misalnya, menegaskan bahwa klaim emansipatoris Frankfurt School justru membawa
risiko dogmatisme baru karena menggantikan objektivitas ilmiah dengan ideologi
rasionalitas kritis.⁵
Selain itu, kaum
positivis menganggap pendekatan kritis terlalu subjektif karena menggabungkan
dimensi moral dan politik dalam analisis ilmiah.⁶ Dengan demikian, teori kritis
dituduh melanggar prinsip netralitas nilai (value neutrality) yang menjadi
landasan sosiologi Weberian dan filsafat ilmu kontemporer.⁷ Namun, para pemikir
kritis seperti Horkheimer dan Habermas membalik tuduhan tersebut dengan
menegaskan bahwa justru klaim “netralitas ilmiah” adalah bentuk ideologi
baru—karena ia menutupi hubungan kekuasaan dan kepentingan yang tersembunyi
dalam proses produksi pengetahuan.⁸
8.2. Kritik dari Postmodernisme dan Dekonstruksi
Gelombang kritik
berikutnya datang dari kalangan postmodern dan dekonstruksionis, terutama
Michel Foucault, Jean-François Lyotard, dan Jacques Derrida.⁹ Mereka menuduh
metode kritis masih terjebak dalam warisan modernitas yang mengidealkan
rasionalitas universal. Lyotard dalam The Postmodern Condition menolak
klaim universalitas rasionalitas komunikatif Habermas, dengan menyatakan bahwa
masyarakat kontemporer tidak lagi tunduk pada satu “metanarasi” kebenaran,
melainkan terdiri atas pluralitas bahasa, wacana, dan logika pengetahuan.¹⁰
Foucault menambahkan bahwa rasionalitas sendiri adalah produk kekuasaan; oleh
karena itu, upaya membangun rasionalitas komunikatif yang bebas dari dominasi
hanyalah utopia yang menutupi mekanisme kuasa yang lebih halus.¹¹
Derrida, melalui
pendekatan dekonstruksi, mengkritik asumsi Habermas bahwa komunikasi dapat
mencapai konsensus rasional.¹² Menurutnya, bahasa selalu bersifat tidak stabil
dan penuh ambiguitas; makna tidak pernah selesai, dan setiap wacana selalu
membuka ruang perbedaan yang tak dapat direduksi pada kesepakatan universal.¹³
Kritik ini mengguncang landasan epistemologi kritis yang menekankan
intersubjektivitas dan konsensus, karena menunjukkan bahwa setiap proses komunikasi
pun terperangkap dalam permainan tanda dan kuasa.¹⁴
8.3. Kritik Internal: Antara Rasionalitas dan Emansipasi
Dari dalam tradisi
teori kritis sendiri, sejumlah pemikir generasi ketiga—seperti Axel Honneth,
Nancy Fraser, dan Seyla Benhabib—mengajukan kritik terhadap Habermas dan
pendahulunya.¹⁵ Mereka menilai bahwa teori kritis terlalu menekankan dimensi
rasional dan prosedural, sementara mengabaikan aspek afektif, sosial, dan
ekonomi dari penindasan. Honneth, misalnya, berargumen bahwa emansipasi tidak dapat
dicapai hanya melalui komunikasi rasional, tetapi melalui perjuangan untuk recognition
(pengakuan), yaitu kebutuhan manusia akan penghargaan, cinta, dan martabat
sosial.¹⁶
Nancy Fraser
menambahkan bahwa teori kritis cenderung terlalu berfokus pada wacana, sehingga
mengabaikan struktur material ketimpangan ekonomi yang menjadi sumber utama
ketidakadilan.¹⁷ Ia mengusulkan sintesis antara redistribution (keadilan ekonomi)
dan recognition
(keadilan kultural) sebagai basis baru bagi teori kritis.¹⁸ Benhabib, di sisi
lain, menyoroti bahwa teori Habermas terlalu maskulin dan tidak cukup
mempertimbangkan pengalaman partikular perempuan, minoritas, dan kelompok
terpinggirkan dalam proses komunikasi.¹⁹ Kritik-kritik ini memperluas horizon
metode kritis agar lebih kontekstual dan inklusif terhadap perbedaan
sosial-budaya.
8.4. Kritik terhadap Penerapan Praktis dan Relevansi
Kontemporer
Salah satu kelemahan
utama metode kritis terletak pada kesulitannya untuk diterapkan secara konkret
dalam penelitian empiris maupun dalam kebijakan publik.²⁰ Pendekatan ini sering
dianggap terlalu abstrak dan normatif, sehingga sulit dioperasionalkan dalam
metodologi ilmiah yang menuntut pengukuran dan generalisasi.²¹ Dalam bidang
politik, teori kritis dikritik karena cenderung elitis—lebih banyak digunakan
oleh intelektual daripada dipraktikkan oleh masyarakat luas.²²
Selain itu, di era
digital dan post-truth, prinsip rasionalitas
komunikatif menghadapi tantangan baru.²³ Dunia maya yang ditandai oleh
polarisasi, algoritma, dan informasi manipulatif mengganggu ideal Habermas
tentang wacana rasional tanpa distorsi.²⁴ Dalam kondisi ini, teori kritis perlu
merevisi asumsi-asumsinya mengenai komunikasi publik dan mempertimbangkan
dinamika baru kekuasaan digital serta ekonomi data.²⁵
Evaluasi Filosofis: Antara Kritik dan Konstruksi
Kritik-kritik
terhadap metode kritis tidak sepenuhnya meniadakan relevansinya, melainkan
memperkaya dan memperluas cakupannya.²⁶ Meskipun dituduh idealistik atau
utopis, teori kritis tetap menjadi salah satu tradisi filosofis paling
konsisten dalam mempertahankan orientasi moral dan emansipatoris pengetahuan.²⁷
Kekuatan metode kritis terletak pada kemampuannya untuk selalu mengkritik
dirinya sendiri—suatu self-reflexivity yang membuatnya
terus relevan di tengah perubahan paradigma ilmiah dan sosial.²⁸
Namun demikian, masa
depan metode kritis bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan
tantangan baru: pluralisme budaya, kapitalisme digital, krisis ekologi, dan
krisis kebenaran.²⁹ Teori kritis, jika ingin tetap hidup, harus melampaui
kecenderungan modernistiknya dan membangun dialog kreatif dengan epistemologi
feminis, ekologi politik, dan teori teknologi kritis.³⁰ Dengan cara itu, metode
kritis dapat terus menjadi motor refleksi dan pembebasan di tengah dunia yang
semakin kompleks dan terfragmentasi.³¹
Footnotes
[1]
David Held, Introduction to
Critical Theory: Horkheimer to Habermas
(Cambridge: Polity Press, 1980), 186–190.
[2]
Karl Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 1959),
25–29.
[3]
Rudolf Carnap, The Logical Structure
of the World (Berkeley: University
of California Press, 1967), 55–59.
[4]
Ibid., 62–66.
[5]
Karl Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 216–220.
[6]
Hans Albert, Treatise on Critical
Reason (Princeton: Princeton
University Press, 1985), 88–91.
[7]
Max Weber, Methodology of the
Social Sciences (New York: Free
Press, 1949), 50–54.
[8]
Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University Press, 1947), 34–38.
[9]
Jean-François Lyotard, The
Postmodern Condition: A Report on Knowledge (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984), 23–27.
[10]
Ibid., 61–64.
[11]
Michel Foucault, Power/Knowledge:
Selected Interviews and Other Writings
(New York: Pantheon, 1980), 142–146.
[12]
Jacques Derrida, Writing and Difference (Chicago: University of Chicago Press, 1978),
278–282.
[13]
Ibid., 290–293.
[14]
Foucault, Discipline and Punish:
The Birth of the Prison (New York:
Vintage, 1977), 25–29.
[15]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and Utopia:
A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 58–63.
[16]
Axel Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 91–96.
[17]
Nancy Fraser, Justice Interruptus:
Critical Reflections on the "Postsocialist" Condition (New York: Routledge, 1997), 11–15.
[18]
Ibid., 23–27.
[19]
Benhabib, Situating the Self:
Gender, Community and Postmodernism in Contemporary Ethics (Cambridge: Polity Press, 1992), 39–43.
[20]
Thomas McCarthy, The Critical Theory of
Jürgen Habermas (Cambridge: MIT
Press, 1978), 112–117.
[21]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical
Theory: Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 45–49.
[22]
Andrew Arato dan Eike Gebhardt, The
Essential Frankfurt School Reader
(New York: Continuum, 1982), 201–206.
[23]
Nancy Fraser, “Rethinking the Public Sphere,” Social Text 25/26
(1990): 56–80.
[24]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs,
2019), 131–135.
[25]
Luciano Floridi, The Ethics of
Information (Oxford: Oxford
University Press, 2013), 118–122.
[26]
Habermas, Between Facts and
Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge: MIT Press, 1996), 111–116.
[27]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man: Studies
in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964), 94–99.
[28]
Horkheimer, Critical Theory:
Selected Essays (New York: Herder
and Herder, 1972), 203–207.
[29]
Nancy Fraser dan Axel Honneth, Redistribution
or Recognition? A Political-Philosophical Exchange (London: Verso, 2003), 9–12.
[30]
Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia, 67–72.
[31]
Fraser, Justice Interruptus, 92–97.
9.
Relevansi
Kontemporer: Metode Kritis di Era Digital dan Post-Truth
Dalam era digital
dan post-truth,
metode kritis menemukan relevansi baru sebagai instrumen refleksi dan
resistensi terhadap distorsi pengetahuan, manipulasi informasi, dan dominasi
teknologi.¹ Masyarakat kontemporer hidup dalam situasi epistemik yang
paradoksal: di satu sisi, akses terhadap informasi melimpah tanpa batas; di
sisi lain, kebenaran menjadi semakin sulit dibedakan dari opini, propaganda,
atau konstruksi algoritmik.² Dalam konteks ini, prinsip rasionalitas
komunikatif dan kesadaran reflektif yang dikembangkan oleh Habermas menjadi
landasan penting untuk membangun kembali ruang publik yang rasional, terbuka,
dan emansipatoris.³
9.1. Krisis Rasionalitas di Era Post-Truth
Fenomena post-truth
menandai era di mana emosi dan identitas lebih menentukan opini publik daripada
fakta dan argumentasi rasional.⁴ Kebangkitan disinformasi, teori konspirasi,
dan polarisasi politik di media sosial memperlihatkan kemunduran rasionalitas
publik. Menurut Lee McIntyre, post-truth bukan hanya krisis
epistemik, melainkan juga politik: ia melemahkan kemampuan masyarakat untuk
mendiskusikan kebenaran secara kolektif.⁵ Dalam situasi ini, metode kritis
menawarkan mekanisme reflektif untuk menilai dan membongkar relasi antara
pengetahuan, kepentingan, dan kekuasaan yang membentuk wacana digital.⁶
Mazhab Frankfurt
telah lama mengingatkan bahwa media modern berpotensi menjadi industri
budaya yang memproduksi kesadaran palsu melalui hiburan dan
konsumsi simbolik.⁷ Kini, logika tersebut berkembang dalam bentuk algoritma
media sosial yang mengatur pengalaman informasi manusia berdasarkan kalkulasi
komersial dan preferensi politik.⁸ Dengan demikian, epistemologi kritis harus
diperluas menjadi kritik digital, yakni kesadaran
terhadap bagaimana teknologi memediasi realitas dan mengonstruksi persepsi
sosial.⁹
9.2. Rasionalitas Komunikatif dan Etika Digital
Habermas menegaskan
bahwa masyarakat demokratis hanya dapat berfungsi bila komunikasi publik
berlangsung dalam kondisi bebas dari distorsi.¹⁰ Namun, di era digital,
komunikasi publik tidak lagi diatur oleh norma dialog rasional, melainkan oleh logika
attention
economy—di mana nilai informasi ditentukan oleh jumlah klik dan
keterlibatan emosional, bukan oleh validitas argumen.¹¹ Dalam kondisi seperti
ini, rasionalitas komunikatif perlu ditransformasikan menjadi rasionalitas
digital, yaitu upaya menciptakan ruang diskursif yang memadukan
teknologi dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kesetaraan akses.¹²
Etika digital yang
berlandaskan metode kritis menuntut pengguna, pengembang teknologi, dan
masyarakat luas untuk bersikap reflektif terhadap cara teknologi membentuk
relasi sosial dan identitas manusia.¹³ Pendekatan ini menolak determinisme
teknologi yang menganggap bahwa kemajuan digital selalu identik dengan kemajuan
moral. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa setiap inovasi teknologi harus tunduk
pada prinsip etika komunikatif—bahwa teknologi harus memperluas kapasitas
manusia untuk berpikir, berpartisipasi, dan berempati.¹⁴
9.3. Kritik terhadap Algoritma, Data, dan Kekuasaan
Salah satu tantangan
epistemologis terbesar dalam era digital adalah dominasi algoritma dan data
dalam menentukan aliran pengetahuan. Shoshana Zuboff menyebut fenomena ini
sebagai surveillance
capitalism, yakni sistem ekonomi yang mengekstraksi perilaku
manusia sebagai sumber komoditas data.¹⁵ Dalam kerangka metode kritis, kondisi
ini menunjukkan bentuk baru dari rasionalitas instrumental, di mana
manusia direduksi menjadi objek pengukuran dan prediksi.¹⁶
Kritik terhadap
algoritma bukan berarti penolakan terhadap teknologi, melainkan usaha untuk
menyingkap ideologi yang tersembunyi dalam logika algoritmik.¹⁷ Algoritma,
seperti halnya wacana, mengandung nilai dan asumsi yang menentukan apa yang
dianggap penting, relevan, atau benar.¹⁸ Oleh karena itu, metode kritis
menuntut agar desain teknologi diperlakukan sebagai praktik sosial yang harus
tunduk pada prinsip demokrasi dan keadilan.¹⁹ Rasionalitas kritis di era
digital berarti mempertanyakan: siapa yang mengendalikan data, siapa yang
menentukan algoritma, dan siapa yang diuntungkan oleh arus informasi global.²⁰
9.4. Transformasi Interdisipliner: Dari Teori Sosial ke
Ekologi Digital
Dalam perkembangan
kontemporer, metode kritis telah berkembang menjadi critical digital studies, data
ethics, dan ecological epistemology.²¹
Disiplin-disiplin ini menggabungkan teori sosial, ilmu komputer, ekonomi
politik, dan etika untuk menganalisis relasi antara teknologi, kapitalisme, dan
kesadaran manusia.²² Sebagaimana ditegaskan oleh Nick Couldry dan Ulises
Mejias, dunia digital menciptakan bentuk baru kolonialisme pengetahuan di mana
kehidupan manusia diserap ke dalam sistem data global tanpa kesadaran
reflektif.²³
Dengan demikian,
teori kritis di era digital menuntut pendekatan yang lebih integral—melihat
bahwa pengetahuan, lingkungan digital, dan kesadaran manusia saling memengaruhi
secara sistemik.²⁴ Relevansinya tidak hanya terletak pada kemampuan untuk
mengkritik struktur sosial, tetapi juga dalam membangun paradigma pengetahuan
yang humanistik, ekologis, dan kolaboratif.²⁵
Menuju Rasionalitas Kritis Humanistik di Era Digital
Metode kritis tetap
relevan karena mampu menyediakan kerangka etik dan epistemologis untuk
menghadapi disorientasi nilai di era post-truth.²⁶ Ia menegaskan bahwa
pembebasan manusia tidak cukup dicapai melalui kemajuan teknologi, melainkan
melalui kesadaran reflektif atas struktur kekuasaan yang bekerja di baliknya.²⁷
Rasionalitas kritis humanistik menempatkan manusia bukan sebagai objek
teknologi, tetapi sebagai subjek reflektif yang berpartisipasi dalam membentuk
arah perkembangan pengetahuan.²⁸
Di tengah dominasi
algoritma dan fragmentasi wacana digital, teori kritis memberikan panduan untuk
merekonstruksi ruang publik yang berbasis pada kejujuran, keterbukaan, dan
keadilan komunikatif.²⁹ Dengan menggabungkan filsafat, etika, dan teknologi,
metode kritis tetap menjadi salah satu pendekatan paling kuat untuk memahami
dan menanggapi tantangan epistemologis abad ke-21—dari fake
news hingga kecerdasan buatan—dengan orientasi yang humanistik dan
emansipatoris.³⁰
Footnotes
[1]
David Held, Introduction to
Critical Theory: Horkheimer to Habermas
(Cambridge: Polity Press, 1980), 215–219.
[2]
Lee McIntyre, Post-Truth (Cambridge: MIT Press, 2018), 3–6.
[3]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press, 1984), 99–104.
[4]
Ralph Keyes, The Post-Truth Era:
Dishonesty and Deception in Contemporary Life (New York: St. Martin’s Press, 2004), 11–14.
[5]
McIntyre, Post-Truth, 22–27.
[6]
Nancy Fraser, “Rethinking the Public Sphere,” Social Text 25/26
(1990): 56–80.
[7]
Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 94–100.
[8]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs,
2019), 131–138.
[9]
Douglas Kellner, Media Spectacle and the
Crisis of Democracy (Boulder:
Paradigm, 2005), 17–22.
[10]
Jürgen Habermas, Between Facts and
Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge: MIT Press, 1996), 109–112.
[11]
Tim Wu, The Attention
Merchants: The Epic Scramble to Get Inside Our Heads (New York: Knopf, 2016), 45–49.
[12]
Luciano Floridi, The Ethics of
Information (Oxford: Oxford
University Press, 2013), 115–119.
[13]
Don Ihde, Technology and the
Lifeworld: From Garden to Earth
(Bloomington: Indiana University Press, 1990), 98–101.
[14]
Luciano Floridi, Information: A Very
Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2010), 74–78.
[15]
Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism, 157–162.
[16]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man:
Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964), 84–89.
[17]
Philip Mirowski, Science-Mart:
Privatizing American Science
(Cambridge: Harvard University Press, 2011), 56–60.
[18]
Cathy O’Neil, Weapons of Math
Destruction (New York: Crown, 2016),
21–25.
[19]
Evgeny Morozov, To Save Everything, Click
Here (New York: PublicAffairs,
2013), 110–115.
[20]
Frank Pasquale, The Black Box Society:
The Secret Algorithms That Control Money and Information (Cambridge: Harvard University Press, 2015), 42–47.
[21]
Nick Couldry dan Ulises Mejias, The
Costs of Connection: How Data Is Colonizing Human Life and Appropriating It for
Capitalism (Stanford: Stanford
University Press, 2019), 17–21.
[22]
Manuel Castells, The Rise of the Network
Society (Oxford: Blackwell, 1996),
45–50.
[23]
Couldry dan Mejias, The
Costs of Connection, 33–36.
[24]
Andrew Feenberg, Transforming
Technology: A Critical Theory Revisited
(Oxford: Oxford University Press, 2002), 66–70.
[25]
Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(Cambridge: Polity Press, 2014), 127–132.
[26]
McIntyre, Post-Truth, 68–72.
[27]
Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 2: Lifeworld and System (Boston: Beacon Press, 1987), 138–143.
[28]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia: A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 61–66.
[29]
Nancy Fraser dan Axel Honneth, Redistribution
or Recognition? A Political-Philosophical Exchange (London: Verso, 2003), 73–77.
[30]
Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism, 362–366.
10. Sintesis Filosofis: Menuju Epistemologi Kritis
Humanistik
Metode kritis,
sebagaimana dirumuskan oleh tradisi Frankfurt dan dikembangkan oleh Habermas,
telah menunjukkan bahwa pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial,
etis, dan historis manusia.¹ Namun, agar tetap relevan di tengah dinamika
peradaban digital dan krisis kebenaran kontemporer, metode ini perlu
disintesiskan ke dalam kerangka epistemologi kritis humanistik—suatu
paradigma yang mengintegrasikan refleksi rasional dengan nilai-nilai
kemanusiaan universal.² Sintesis ini bertujuan untuk menggabungkan kekuatan
rasionalitas komunikatif dengan prinsip humanisme, menjadikan pengetahuan bukan
hanya sebagai alat kritik terhadap dominasi, tetapi juga sebagai sarana
penguatan martabat dan solidaritas manusia.³
10.1. Integrasi Rasionalitas dan Humanisme
Epistemologi kritis
humanistik berangkat dari keyakinan bahwa rasionalitas sejati harus bersifat komunikatif,
reflektif, dan empatik. Habermas menunjukkan bahwa kebenaran
hanya dapat dicapai melalui dialog antar-subjek yang setara, sementara Honneth
menambahkan bahwa pengakuan (recognition) merupakan prasyarat
bagi rasionalitas yang manusiawi.⁴ Dengan demikian, rasionalitas tidak lagi
dipahami sebagai kemampuan logis yang dingin dan bebas nilai, tetapi sebagai
proses intersubjektif yang menghormati keunikan pengalaman manusia.⁵
Dalam kerangka ini,
pengetahuan dipahami sebagai bentuk solidaritas epistemik: kemampuan untuk
memahami orang lain melalui komunikasi dan refleksi bersama.⁶ Hal ini menandai
pergeseran dari epistemologi yang elitis menuju epistemologi yang partisipatif
dan dialogis. Humanisme tidak diposisikan sebagai lawan dari rasionalitas,
melainkan sebagai jiwanya—karena hanya melalui kesadaran akan kemanusiaan
bersama, rasionalitas dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan, bukan
dominasi.⁷
10.2. Pengetahuan sebagai Praksis Emansipatoris
Sintesis filosofis
ini menegaskan bahwa pengetahuan sejati harus berakar pada praksis yang
emansipatoris.⁸ Horkheimer dan Adorno telah memperingatkan bahwa pengetahuan
yang terlepas dari nilai kemanusiaan cenderung berubah menjadi rasionalitas
teknokratis yang menindas.⁹ Oleh karena itu, epistemologi kritis humanistik
menolak pemisahan antara teori dan tindakan. Pengetahuan tidak hanya untuk
menjelaskan dunia, tetapi juga untuk mengubahnya secara etis dan sosial.¹⁰
Dalam praktiknya,
ini berarti bahwa setiap disiplin ilmu harus mengembangkan kesadaran etis
terhadap dampak sosial dari temuannya.¹¹ Sains dan teknologi, misalnya, harus
diorientasikan bukan hanya pada kemajuan material, tetapi juga pada peningkatan
kualitas kehidupan manusia dan keadilan sosial.¹² Dengan demikian, epistemologi
kritis humanistik memulihkan kembali tujuan moral dari pengetahuan: memperkuat
kebebasan, martabat, dan solidaritas manusia di tengah perubahan global.¹³
10.3. Keterbukaan Interdisipliner dan Refleksi
Transformatif
Epistemologi kritis
humanistik bersifat terbuka dan dialogis, menolak
absolutisme kebenaran tunggal.¹⁴ Ia menerima pluralitas metodologis sebagai
bagian dari kekayaan pengetahuan manusia. Tradisi hermeneutik, fenomenologi,
ekofilsafat, feminisme, dan studi digital dapat dipertemukan dalam kerangka
kritis yang sama—yakni kesadaran akan keterkaitan antara pengetahuan dan
kehidupan.¹⁵ Dengan mengakui kompleksitas realitas sosial dan kultural,
pendekatan ini menghindari reduksionisme dan membuka ruang bagi sintesis
antar-disiplin yang saling memperkaya.¹⁶
Keterbukaan ini juga
bersifat transformatif: refleksi kritis bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana
untuk memperbaharui kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri dan dunianya.¹⁷
Dalam hal ini, epistemologi kritis humanistik berperan sebagai “kesadaran
reflektif kolektif”—suatu proses yang memungkinkan masyarakat menilai
kembali nilai-nilai, sistem pengetahuan, dan tujuan peradaban mereka.¹⁸
10.4. Rasionalitas Emansipatoris sebagai Etos Global
Epistemologi kritis
humanistik tidak hanya berfungsi dalam ruang akademik, tetapi juga dalam ranah
moral dan politik global.¹⁹ Di tengah krisis ekologi, ketimpangan ekonomi, dan
dominasi algoritmik, pendekatan ini menuntut pembentukan rasionalitas
emansipatoris sebagai etos global baru.²⁰ Rasionalitas semacam
ini menggabungkan tiga dimensi utama: refleksi kritis (menyadari struktur
dominasi), empati intersubjektif (mengakui martabat manusia lain), dan tanggung
jawab etis (bertindak demi kebaikan bersama).²¹
Dengan demikian,
epistemologi kritis humanistik menggeser pusat filsafat pengetahuan dari “penguasaan
dunia” menuju “pemahaman dunia bersama.”²² Ia menolak
paradigma dominasi dan menggantinya dengan paradigma dialog—bahwa kemajuan
sejati adalah kemampuan untuk membangun dunia yang lebih adil, reflektif, dan
berperikemanusiaan.²³
Sintesis Akhir: Dari Kritik menuju Rekonstruksi Humanistik
Sintesis filosofis
metode kritis berujung pada prinsip bahwa pengetahuan sejati selalu bersifat
historis, sosial, dan etis.²⁴ Ia tidak berhenti pada kritik terhadap kekuasaan,
tetapi melangkah menuju rekonstruksi nilai-nilai yang menopang kehidupan
bersama. Dalam hal ini, epistemologi kritis humanistik merupakan upaya untuk
menyatukan antara rasionalitas dan cinta kasih, antara otonomi dan solidaritas,
antara kebebasan berpikir dan tanggung jawab sosial.²⁵
Seperti ditegaskan
Habermas, proyek modernitas belum selesai—tetapi harus direorientasikan dari
rasionalitas instrumental menuju rasionalitas komunikatif dan reflektif.²⁶
Melalui orientasi ini, metode kritis menemukan bentuk akhirnya sebagai filsafat
humanistik yang hidup: suatu cara berpikir yang menegaskan bahwa pengetahuan
bukan hanya kekuasaan, melainkan juga kepedulian terhadap manusia dan dunia.²⁷
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Critical Theory:
Selected Essays (New York: Herder
and Herder, 1972), 210–214.
[2]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human
Interests (Boston: Beacon Press,
1971), 301–307.
[3]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution:
Hegel and the Rise of Social Theory
(London: Routledge, 1960), 95–99.
[4]
Axel Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 91–94.
[5]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia: A Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University Press, 1986), 55–58.
[6]
Jürgen Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press, 1984), 88–93.
[7]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical
Theory: Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 32–35.
[8]
Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University Press, 1947), 41–44.
[9]
Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 93–98.
[10]
Habermas, Knowledge and Human
Interests, 312–316.
[11]
Thomas McCarthy, The Critical Theory of
Jürgen Habermas (Cambridge: MIT
Press, 1978), 115–118.
[12]
Andrew Feenberg, Transforming
Technology: A Critical Theory Revisited
(Oxford: Oxford University Press, 2002), 67–70.
[13]
Nancy Fraser, Justice Interruptus:
Critical Reflections on the "Postsocialist" Condition (New York: Routledge, 1997), 23–27.
[14]
Benhabib, Critique, Norm, and
Utopia, 61–65.
[15]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method (New York: Crossroad,
1989), 278–282.
[16]
Nancy Fraser dan Axel Honneth, Redistribution
or Recognition? A Political-Philosophical Exchange (London: Verso, 2003), 91–95.
[17]
Paulo Freire, Pedagogy of the
Oppressed (New York: Continuum,
1970), 84–88.
[18]
Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(Cambridge: Polity Press, 2014), 101–106.
[19]
Habermas, Between Facts and
Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge: MIT Press, 1996), 108–113.
[20]
David Held, Introduction to
Critical Theory: Horkheimer to Habermas
(Cambridge: Polity Press, 1980), 217–220.
[21]
Marcuse, One-Dimensional Man:
Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon Press, 1964), 84–88.
[22]
Habermas, The Theory of
Communicative Action, Vol. 2: Lifeworld and System (Boston: Beacon Press, 1987), 142–146.
[23]
Benhabib, Situating the Self:
Gender, Community and Postmodernism in Contemporary Ethics (Cambridge: Polity Press, 1992), 75–79.
[24]
Horkheimer, Critical Theory:
Selected Essays, 205–210.
[25]
Fraser dan Honneth, Redistribution
or Recognition?, 120–124.
[26]
Habermas, The Philosophical
Discourse of Modernity (Cambridge:
MIT Press, 1987), 322–327.
[27]
Axel Honneth, Freedom’s Right, 125–129.
11. Kesimpulan
Metode kritis dalam epistemologi merupakan salah
satu tonggak terpenting dalam upaya manusia memahami pengetahuan sebagai
praksis sosial yang sarat nilai, bukan sekadar akumulasi fakta yang netral.¹ Ia
lahir dari kesadaran historis bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan
dari konteks kekuasaan, ideologi, dan kepentingan manusia.² Melalui refleksi yang
mendalam terhadap rasionalitas modern, para pemikir Mazhab Frankfurt seperti
Horkheimer, Adorno, dan Habermas berupaya mengembalikan fungsi etis
pengetahuan: bukan untuk mengontrol realitas, melainkan untuk membebaskan
manusia dari bentuk-bentuk dominasi yang menindas baik di tingkat material
maupun simbolik.³
Epistemologi kritis berperan sebagai jembatan
antara teori dan praksis. Ia menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat dipahami
secara tunggal atau absolut, tetapi melalui proses reflektif, dialogis, dan
historis.⁴ Dalam konteks ini, rasionalitas kritis menolak dua ekstrem
modernitas: objektivisme positivistik yang menyingkirkan nilai, serta
relativisme postmodern yang meniadakan standar kebenaran.⁵ Sebaliknya, ia
menegakkan prinsip rasionalitas komunikatif—suatu model pengetahuan yang
berakar pada intersubjektivitas, argumentasi rasional, dan kesetaraan moral
antar-subjek.⁶
Dari sisi aksiologis, metode kritis menegaskan
bahwa tujuan utama pengetahuan adalah emansipasi manusia.⁷ Nilai-nilai
kebebasan, keadilan, solidaritas, dan tanggung jawab moral menjadi bagian
integral dari struktur epistemik. Pengetahuan yang sejati tidak berhenti pada
penjelasan teoretis, melainkan harus melahirkan kesadaran reflektif yang
mendorong perubahan sosial.⁸ Dengan demikian, ilmu dan etika tidak lagi berdiri
terpisah, melainkan saling menyatu dalam upaya membangun dunia yang lebih
manusiawi dan rasional.⁹
Relevansi metode kritis di era digital dan post-truth
semakin nyata ketika realitas sosial dibentuk oleh algoritma, informasi yang
terfragmentasi, serta logika kapitalisme data.¹⁰ Dalam situasi ini,
rasionalitas komunikatif dan kesadaran reflektif menjadi fondasi penting bagi
pembentukan wacana publik yang rasional, adil, dan etis.¹¹ Epistemologi kritis
memanggil manusia modern untuk menghidupkan kembali dimensi kemanusiaannya di
tengah derasnya instrumentalisasi teknologi dan ekonomi.¹²
Pada akhirnya, metode kritis menuntut pembaruan
diri secara terus-menerus—suatu bentuk self-reflexivity yang
menjadikannya bukan dogma, tetapi jalan refleksi.¹³ Ia mengajarkan bahwa
pengetahuan sejati lahir dari dialog, bukan dominasi; dari kesadaran, bukan
kekuasaan; dari solidaritas, bukan kepentingan.¹⁴ Melalui integrasi antara
refleksi rasional dan nilai-nilai humanistik, epistemologi kritis menuju fase
baru sebagai epistemologi kritis humanistik, yaitu paradigma pengetahuan
yang menempatkan manusia, kebebasan, dan kemanusiaan universal sebagai pusat
dari seluruh proses berpikir dan bertindak.¹⁵
Dengan demikian, metode kritis bukan hanya warisan
intelektual dari Frankfurt School, melainkan juga proyek peradaban yang terus
hidup: sebuah ajakan untuk menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan pembebasan,
dan filsafat sebagai panggilan kemanusiaan yang tak pernah selesai.¹⁶
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Critical Theory: Selected Essays
(New York: Herder and Herder, 1972), 190–193.
[2]
Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic
of Enlightenment (New York: Continuum, 1991), 93–97.
[3]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution: Hegel
and the Rise of Social Theory (London: Routledge, 1960), 97–100.
[4]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon
Press, 1984), 89–93.
[5]
Raymond Geuss, The Idea of a Critical Theory:
Habermas and the Frankfurt School (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 23–27.
[6]
Habermas, The Theory of Communicative Action,
Vol. 2: Lifeworld and System (Boston: Beacon Press, 1987), 141–146.
[7]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests
(Boston: Beacon Press, 1971), 309–314.
[8]
Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The
Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 95–99.
[9]
Seyla Benhabib, Critique, Norm, and Utopia: A
Study of the Foundations of Critical Theory (New York: Columbia University
Press, 1986), 68–71.
[10]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 157–162.
[11]
Nancy Fraser, “Rethinking the Public Sphere,” Social
Text 25/26 (1990): 56–80.
[12]
Luciano Floridi, The Ethics of Information
(Oxford: Oxford University Press, 2013), 115–119.
[13]
David Held, Introduction to Critical Theory:
Horkheimer to Habermas (Cambridge: Polity Press, 1980), 221–225.
[14]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New
York: Continuum, 1970), 87–90.
[15]
Habermas, Between Facts and Norms: Contributions
to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge: MIT Press, 1996),
109–113.
[16]
Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations
of Democratic Life (Cambridge: Polity Press, 2014), 120–124.
Daftar Pustaka
Adorno, T. W. (1973). Negative dialectics.
London: Routledge.
Adorno, T. W., & Horkheimer, M. (1991). Dialectic
of enlightenment. New York: Continuum.
Albert, H. (1985). Treatise on critical reason.
Princeton, NJ: Princeton University Press.
Arato, A., & Gebhardt, E. (Eds.). (1982). The
essential Frankfurt School reader. New York: Continuum.
Benhabib, S. (1986). Critique, norm, and utopia:
A study of the foundations of critical theory. New York: Columbia
University Press.
Benhabib, S. (1992). Situating the self: Gender,
community and postmodernism in contemporary ethics. Cambridge, UK: Polity
Press.
Berlin, I. (1969). Two concepts of liberty.
Oxford, UK: Clarendon Press.
Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power.
Cambridge, UK: Polity Press.
Carnap, R. (1967). The logical structure of the
world. Berkeley, CA: University of California Press.
Castells, M. (1996). The rise of the network
society. Oxford, UK: Blackwell.
Comte, A. (1830). Cours de philosophie positive.
Paris: Bachelier.
Couldry, N., & Mejias, U. (2019). The costs
of connection: How data is colonizing human life and appropriating it for
capitalism. Stanford, CA: Stanford University Press.
Derrida, J. (1978). Writing and difference.
Chicago, IL: University of Chicago Press.
Dobson, A. (1993). Critical theory and green
politics. London: Routledge.
Feenberg, A. (2002). Transforming technology: A
critical theory revisited. Oxford, UK: Oxford University Press.
Floridi, L. (2010). Information: A very short
introduction. Oxford, UK: Oxford University Press.
Floridi, L. (2013). The ethics of information.
Oxford, UK: Oxford University Press.
Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The
birth of the prison. New York: Vintage Books.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews
and other writings. New York: Pantheon.
Fraser, N. (1985). What’s critical about critical
theory? The case of Habermas and gender. New German Critique, 35,
97–108.
Fraser, N. (1990). Rethinking the public sphere. Social
Text, 25/26, 56–80.
Fraser, N. (1997). Justice interruptus: Critical
reflections on the “postsocialist” condition. New York: Routledge.
Fraser, N., & Honneth, A. (2003). Redistribution
or recognition? A political-philosophical exchange. London: Verso.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed.
New York: Continuum.
Gadamer, H.-G. (1989). Truth and method. New
York: Crossroad.
Geuss, R. (1981). The idea of a critical theory:
Habermas and the Frankfurt School. Cambridge, UK: Cambridge University
Press.
Giddens, A. (1979). Central problems in social
theory. Berkeley, CA: University of California Press.
Habermas, J. (1971). Knowledge and human
interests. Boston, MA: Beacon Press.
Habermas, J. (1984). The theory of communicative
action, Vol. 1: Reason and the rationalization of society. Boston, MA:
Beacon Press.
Habermas, J. (1987). The theory of communicative
action, Vol. 2: Lifeworld and system. Boston, MA: Beacon Press.
Habermas, J. (1987). The philosophical discourse
of modernity. Cambridge, MA: MIT Press.
Habermas, J. (1990). Moral consciousness and
communicative action. Cambridge, MA: MIT Press.
Habermas, J. (1996). Between facts and norms:
Contributions to a discourse theory of law and democracy. Cambridge, MA:
MIT Press.
Hall, S. (1980). Encoding/decoding. In S. Hall, D.
Hobson, A. Lowe, & P. Willis (Eds.), Culture, media, language (pp.
128–138). London: Routledge.
Held, D. (1980). Introduction to critical
theory: Horkheimer to Habermas. Cambridge, UK: Polity Press.
Honneth, A. (1995). The struggle for
recognition: The moral grammar of social conflicts. Cambridge, UK: Polity
Press.
Honneth, A. (2014). Freedom’s right: The social
foundations of democratic life. Cambridge, UK: Polity Press.
Horkheimer, M. (1947). Eclipse of reason.
New York: Oxford University Press.
Horkheimer, M. (1972). Critical theory: Selected
essays. New York: Herder and Herder.
Ihde, D. (1990). Technology and the lifeworld:
From garden to earth. Bloomington, IN: Indiana University Press.
Kant, I. (1998). Critique of pure reason (P.
Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Kellner, D. (1995). Media culture: Cultural
studies, identity and politics between the modern and the postmodern.
London: Routledge.
Keyes, R. (2004). The post-truth era: Dishonesty
and deception in contemporary life. New York: St. Martin’s Press.
Kuhn, T. S. (1962). The structure of scientific
revolutions. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition:
A report on knowledge. Minneapolis, MN: University of Minnesota Press.
Marcuse, H. (1960). Reason and revolution: Hegel
and the rise of social theory. London: Routledge.
Marcuse, H. (1964). One-dimensional man: Studies
in the ideology of advanced industrial society. Boston, MA: Beacon Press.
Marx, K. (1970). A contribution to the critique
of political economy. New York: International Publishers.
Marx, K. (1977). Economic and philosophic
manuscripts of 1844. Moscow: Progress Publishers.
Marx, K., & Engels, F. (1970). The German
ideology. New York: International Publishers.
McCarthy, T. (1978). The critical theory of
Jürgen Habermas. Cambridge, MA: MIT Press.
McIntyre, L. (2018). Post-truth. Cambridge,
MA: MIT Press.
Mirowski, P. (2011). Science-mart: Privatizing
American science. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Morozov, E. (2013). To save everything, click
here. New York: PublicAffairs.
O’Neil, C. (2016). Weapons of math destruction.
New York: Crown.
Pasquale, F. (2015). The black box society: The
secret algorithms that control money and information. Cambridge, MA:
Harvard University Press.
Popper, K. (1959). The logic of scientific
discovery. London: Routledge.
Popper, K. (1963). Conjectures and refutations:
The growth of scientific knowledge. London: Routledge.
Stehr, N. (1994). Knowledge societies.
London: Sage.
Weber, M. (1949). Methodology of the social
sciences. New York: Free Press.
Wu, T. (2016). The attention merchants: The epic
scramble to get inside our heads. New York: Knopf.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance
capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. New
York: PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar