Kamis, 27 November 2025

Hermeneutika Kontekstual: Antara Bahasa, Makna, dan Situasi Pemahaman

Hermeneutika Kontekstual

Antara Bahasa, Makna, dan Situasi Pemahaman


Alihkan ke: Aliran Filsafat Linguistik dan Analitis.

Hermeneutika Klasik, Hermeneutika Islam, Hermeneutika Modern, Hermeneutika Kritis, Hermeneutika Eksistensial, Hermeneutika Dekonstruktif, Hermeneutika Filosofis.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif tentang Hermeneutika Kontekstual sebagai salah satu aliran penting dalam filsafat linguistik dan analitis yang berfokus pada hubungan antara bahasa, makna, dan konteks pemahaman. Hermeneutika kontekstual menolak pandangan objektivistik dan universalistik terhadap makna, serta menegaskan bahwa setiap bentuk pemahaman manusia selalu terikat pada situasi historis, sosial, dan kultural tertentu. Melalui pendekatan ini, pemahaman tidak dilihat sebagai proses pasif representasional, melainkan sebagai aktivitas dialogis dan reflektif yang melibatkan interaksi antara penafsir, teks, dan dunia sosial.

Kajian ini menguraikan secara sistematis landasan historis hermeneutika dari tradisi klasik hingga filsafat kontemporer, menjelaskan konsep-konsep dasar seperti situated understanding, fusion of horizons, dan lingkaran hermeneutik, serta mengaitkannya dengan epistemologi dan metodologi pemahaman kontekstual. Dalam pembahasannya, artikel ini menelusuri hubungan antara hermeneutika dan bahasa, menyoroti peran konteks pragmatik, ideologi, dan kekuasaan dalam pembentukan makna. Selanjutnya, dibahas pula aplikasi hermeneutika kontekstual dalam ilmu sosial dan humaniora, termasuk dalam studi budaya, agama, sastra, dan analisis wacana, di mana pendekatan ini menjadi fondasi metodologis bagi penelitian interpretatif.

Artikel ini juga memaparkan berbagai kritik terhadap hermeneutika kontekstual, baik dari positivisme yang menekankan objektivitas ilmiah, strukturalisme yang berorientasi pada sistem bahasa, dekonstruksionalisme yang menolak makna tetap, maupun teori kritis yang menyoroti dimensi ideologis bahasa. Di sisi lain, hermeneutika kontekstual menjawab kritik tersebut dengan mengembangkan sintesis filosofis yang integratif—menggabungkan dimensi ontologis, linguistik, dan sosial—serta menegaskan relevansinya dalam konteks globalisasi, komunikasi digital, dan pluralitas budaya.

Kesimpulannya, hermeneutika kontekstual berperan penting dalam membangun paradigma pemahaman yang terbuka, dialogis, dan reflektif. Ia tidak hanya menjadi teori interpretasi, tetapi juga dasar etika komunikasi dan filsafat kehidupan yang menegaskan kemanusiaan sebagai makhluk penafsir. Dengan kesadaran akan keterikatan konteks dan pluralitas makna, hermeneutika kontekstual menawarkan jalan tengah antara relativisme dan objektivisme, serta tetap relevan untuk menjawab tantangan epistemologis dan etis di abad ke-21.

Kata Kunci: Hermeneutika Kontekstual, Bahasa, Makna, Konteks, Pemahaman, Filsafat Bahasa, Interpretasi, Epistemologi, Dialog, Humaniora.


PEMBAHASAN

Telaah Kritis Aliran Linguistik dan Analitis


1.           Pendahuluan

Hermeneutika kontekstual merupakan salah satu perkembangan penting dalam ranah filsafat linguistik dan analitis yang berupaya memahami bahasa tidak semata-mata sebagai sistem tanda yang otonom, melainkan sebagai sarana komunikasi yang selalu tertanam dalam konteks historis, sosial, dan kultural tertentu. Gagasan ini muncul sebagai kritik terhadap pendekatan hermeneutika tradisional yang cenderung menitikberatkan pada struktur teks dan intensi pengarang, serta terhadap positivisme linguistik yang menuntut kepastian makna melalui logika formal dan analisis proposisional. Dalam hermeneutika kontekstual, makna tidak pernah hadir secara tetap dan universal; ia senantiasa dinegosiasikan, dibentuk, dan diubah dalam perjumpaan antara teks, pembaca, dan situasi sosial tempat interpretasi berlangsung.¹

Secara historis, hermeneutika berakar dalam tradisi penafsiran teks-teks suci dan hukum di dunia Barat, khususnya dalam konteks teologi dan filologi. Namun, perkembangan pemikiran modern dan kontemporer menggeser orientasi hermeneutika dari sekadar seni menafsir teks menuju refleksi filosofis tentang pemahaman itu sendiri. Schleiermacher menekankan pentingnya memahami maksud subjektif pengarang melalui rekonstruksi psikologis, sedangkan Dilthey memperluas cakupan hermeneutika ke dalam ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) sebagai metode untuk memahami makna pengalaman hidup manusia.² Selanjutnya, Heidegger dan Gadamer mengangkat hermeneutika ke tingkat ontologis dan eksistensial, dengan menegaskan bahwa pemahaman bukanlah tindakan kognitif netral, melainkan bagian dari eksistensi manusia yang “selalu sudah berada di dalam dunia.”³

Dalam konteks inilah hermeneutika kontekstual mengambil tempatnya. Ia menolak pandangan bahwa pemahaman dapat bersifat universal dan terlepas dari konteks, sebagaimana disarankan oleh hermeneutika filosofis Gadamer. Sebaliknya, aliran ini berangkat dari asumsi bahwa setiap proses interpretasi bersifat situasional dan terbatas oleh horizon historis, bahasa, dan ideologi. Ricoeur, misalnya, memperkenalkan konsep “surplus makna” (surplus of meaning) untuk menunjukkan bahwa teks selalu membuka kemungkinan interpretasi baru yang bergantung pada kondisi pembacaan yang berbeda.⁴ Hermeneutika kontekstual kemudian berkembang lebih jauh melalui pendekatan interdisipliner, yang melibatkan analisis linguistik, teori tindakan komunikatif, dan bahkan pragmatik bahasa, guna memahami bagaimana makna dihasilkan dalam relasi sosial dan wacana praktis.⁵

Tujuan utama hermeneutika kontekstual bukan sekadar menemukan makna yang “benar” dari suatu teks, melainkan memahami bagaimana makna itu bekerja, dinegosiasikan, dan dimediasi oleh konteks sosial-budaya tertentu. Pemahaman, dalam pandangan ini, tidak bersifat pasif atau representasional, tetapi merupakan tindakan aktif yang melibatkan pembentukan makna bersama (co-creation of meaning) antara subjek dan dunia. Dengan demikian, hermeneutika kontekstual membuka ruang bagi pluralitas tafsir tanpa terjerumus dalam relativisme mutlak, karena ia tetap menegaskan adanya horizon-horizon makna yang dapat saling berdialog dalam situasi komunikasi yang reflektif dan terbuka.⁶

Dalam era globalisasi dan perkembangan komunikasi digital saat ini, hermeneutika kontekstual menjadi semakin relevan. Ketika makna bahasa sering kali melintasi batas-batas geografis, ideologis, dan budaya, kebutuhan untuk memahami bagaimana konteks membentuk pemahaman menjadi sangat mendesak. Pendekatan ini membantu menjembatani kesalahpahaman antarbudaya dan menegaskan pentingnya dialog dalam membangun kesepahaman lintas perbedaan. Dengan demikian, hermeneutika kontekstual bukan hanya menjadi perangkat teoretis dalam filsafat bahasa, tetapi juga berfungsi sebagai dasar etis bagi interaksi manusia yang saling menghargai keberagaman horizon makna.⁷


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 8–12.

[2]                Wilhelm Dilthey, Introduction to the Human Sciences, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1989), 25–28.

[3]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 191–198.

[4]                Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 45.

[5]                Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 302–308.

[6]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 147–152.

[7]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 307–314.


2.           Landasan Historis dan Filsafat Hermeneutika

Hermeneutika memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks, berkembang dari praktik penafsiran teks-teks suci dalam tradisi keagamaan hingga menjadi salah satu disiplin sentral dalam filsafat bahasa modern. Istilah hermeneutike sendiri berasal dari bahasa Yunani, dari kata kerja hermeneuein, yang berarti “menafsirkan” atau “menerjemahkan,” dan berakar pada figur mitologis Hermes—dewa pembawa pesan yang bertugas menyampaikan makna ilahi ke dalam bahasa manusia.¹ Dengan demikian, sejak awal hermeneutika mengandung dimensi epistemologis dan ontologis: bagaimana manusia dapat memahami sesuatu yang lain dari dirinya, baik berupa teks, tindakan, maupun pengalaman.

Pada masa klasik, hermeneutika berfungsi sebagai teknik interpretasi yang terutama digunakan dalam bidang teologi dan hukum. Para teolog Kristen awal seperti Origenes dan Agustinus menekankan pentingnya memahami teks Kitab Suci melalui konteks spiritual dan moral pembacanya.² Hermeneutika pada tahap ini masih bersifat normatif dan dogmatis: makna dianggap tetap, bersumber dari wahyu ilahi, dan tugas penafsir adalah menemukan makna “sebenarnya” melalui bimbingan otoritas gerejawi. Namun, pada era Renaisans dan Reformasi, muncul pergeseran penting ketika tokoh seperti Martin Luther menekankan bahwa setiap individu dapat langsung menafsirkan Kitab Suci melalui pengalaman iman pribadi.³ Peristiwa ini menandai awal transformasi hermeneutika dari praktik religius menuju kesadaran humanistik, di mana pemahaman menjadi aktivitas manusiawi yang bersifat historis dan individual.

Transformasi berikutnya terjadi pada abad ke-19 melalui karya Friedrich Schleiermacher (1768–1834) dan Wilhelm Dilthey (1833–1911). Schleiermacher sering dianggap sebagai “bapak hermeneutika modern” karena memperluas ruang lingkup hermeneutika dari penafsiran teks ke prinsip umum pemahaman antar-manusia.⁴ Ia mengajukan dua pendekatan utama: grammatical interpretation, yang menekankan struktur bahasa, dan psychological interpretation, yang berupaya memahami intensi subjektif pengarang.⁵ Dengan demikian, Schleiermacher menggabungkan aspek linguistik dan psikologis dalam proses memahami, dan membuka jalan bagi hermeneutika sebagai teori universal tentang komunikasi makna.

Sementara itu, Dilthey mengembangkan hermeneutika sebagai landasan metodologis bagi ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang berbeda dari ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften).⁶ Menurut Dilthey, tujuan ilmu kemanusiaan bukan menjelaskan (erklären), melainkan memahami (verstehen), sebab makna tindakan manusia tidak dapat direduksi ke hukum sebab-akibat, melainkan harus dipahami melalui konteks historisnya.⁷ Dengan demikian, hermeneutika menjadi instrumen epistemologis untuk menafsirkan kehidupan, budaya, dan pengalaman manusia secara historis.

Perkembangan berikutnya terjadi pada abad ke-20 melalui pemikiran Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadamer. Heidegger, dalam Being and Time (1927), melakukan revolusi ontologis terhadap hermeneutika dengan menegaskan bahwa pemahaman adalah struktur dasar eksistensi manusia (Dasein).⁸ Manusia tidak pernah memahami secara netral, karena ia selalu “terlempar” (Geworfenheit) ke dalam konteks dunia yang sudah bermakna. Dari sini, pemahaman dipandang bukan sebagai tindakan metodologis, melainkan sebagai cara berada di dunia (being-in-the-world).⁹

Hans-Georg Gadamer kemudian mengembangkan gagasan ini dalam Truth and Method (1960), yang menandai lahirnya hermeneutika filosofis.¹⁰ Gadamer menolak pandangan objektivistik bahwa penafsir dapat melepaskan diri dari prapemahaman (Vorverständnis). Ia menekankan konsep “peleburan horizon” (fusion of horizons), yaitu pertemuan antara horizon historis teks dan horizon aktual pembaca dalam dialog hermeneutik yang terbuka.¹¹ Dalam kerangka ini, pemahaman selalu bersifat historis, dinamis, dan terbentuk melalui bahasa sebagai medium eksistensi manusia.¹²

Sementara itu, Paul Ricoeur memperkaya tradisi ini dengan dimensi simbolik dan naratif. Melalui konsep “distansiasi” dan “surplus makna,” Ricoeur menunjukkan bahwa teks selalu menghasilkan makna baru yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan pada intensi pengarang.¹³ Ia menempatkan hermeneutika di antara dua kutub: kecurigaan (dalam tradisi Marx, Nietzsche, Freud) dan kepercayaan (dalam tradisi Gadamer), untuk membangun keseimbangan antara kritik dan pemulihan makna.¹⁴

Dengan demikian, landasan historis hermeneutika menunjukkan perjalanan dari metode interpretasi ke teori pemahaman, dari epistemologi menuju ontologi, dan akhirnya ke praksis linguistik dan sosial. Hermeneutika kontekstual lahir sebagai kelanjutan logis dari perkembangan ini, dengan menegaskan pentingnya konteks—baik historis, kultural, maupun situasional—sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap proses interpretasi. Ia mengakui bahwa makna bukanlah entitas tetap yang menunggu untuk ditemukan, melainkan hasil interaksi dinamis antara bahasa, subjek, dan dunia yang terus berubah.¹⁵


Footnotes

[1]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 3–5.

[2]                Augustine, On Christian Doctrine, trans. D. W. Robertson Jr. (Indianapolis: Bobbs-Merrill, 1958), 9–14.

[3]                Martin Luther, Preface to the New Testament, in Luther’s Works, vol. 35, ed. E. Theodore Bachmann (Philadelphia: Fortress Press, 1960), 362–365.

[4]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 5–7.

[5]                Ibid., 22–25.

[6]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume I: Introduction to the Human Sciences, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1989), 45–48.

[7]                Ibid., 59–62.

[8]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 35–40.

[9]                Ibid., 184–190.

[10]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), xiii–xv.

[11]             Ibid., 305–312.

[12]             Ibid., 450–455.

[13]             Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 42–47.

[14]             Paul Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation, trans. Denis Savage (New Haven: Yale University Press, 1970), 27–29.

[15]             Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 203–210.


3.           Konsep Dasar Hermeneutika Kontekstual

Hermeneutika kontekstual merupakan pendekatan interpretatif yang menekankan keterikatan makna terhadap konteks sosial, historis, dan kultural tempat suatu teks, ujaran, atau tindakan manusia muncul. Dalam paradigma ini, bahasa dipahami bukan sekadar sistem simbol netral, tetapi sebagai medium eksistensial yang memediasi hubungan manusia dengan dunia dan sesamanya.¹ Dengan demikian, hermeneutika kontekstual menolak gagasan universalitas makna yang dilepaskan dari kondisi konkret pemakaiannya. Setiap interpretasi, dalam pandangan ini, selalu bersifat situated—tertanam dalam horizon pengalaman, nilai, dan struktur bahasa tertentu.

3.1.       Makna Sebagai Relasi Kontekstual

Inti dari hermeneutika kontekstual adalah pandangan bahwa makna tidak bersifat inheren dalam teks, melainkan muncul melalui hubungan dinamis antara teks, pembaca, dan konteks.² Makna tidak dapat dipahami secara absolut atau final, karena ia senantiasa ditentukan oleh situasi linguistik, budaya, dan sejarah yang mengitarinya. Dalam hal ini, konsep “konteks” mencakup tidak hanya kondisi eksternal (seperti situasi sosial dan budaya), tetapi juga horizon pemahaman internal penafsir, termasuk prapemahaman, nilai, dan tujuan interpretatif.³

Dalam praktiknya, konteks bekerja sebagai medan negosiasi makna. Setiap ujaran memperoleh makna tertentu karena adanya “aturan permainan bahasa” (language games) sebagaimana dijelaskan oleh Ludwig Wittgenstein dalam Philosophical Investigations (1953).⁴ Bahasa bukanlah cermin realitas, melainkan aktivitas sosial yang beroperasi dalam kerangka penggunaan (use). Makna sebuah pernyataan hanya dapat dipahami dengan mengetahui bagaimana ia digunakan dalam situasi tertentu.⁵ Hermeneutika kontekstual mengambil inspirasi dari pandangan ini, menegaskan bahwa bahasa harus dibaca dalam konteks praktik sosial dan dunia kehidupan (Lebenswelt), bukan semata-mata dalam struktur gramatikal atau logisnya.

3.2.       Dimensi Situasional dan Horizon Pemahaman

Dalam hermeneutika kontekstual, proses memahami tidak pernah bebas dari horizon situasional. Hans-Georg Gadamer memperkenalkan gagasan fusion of horizons (peleburan horizon), yakni pertemuan antara horizon sejarah teks dan horizon aktual pembaca.⁶ Namun, hermeneutika kontekstual memperluas gagasan ini dengan menambahkan dimensi sosial dan pragmatik yang lebih eksplisit: pemahaman tidak hanya merupakan pertemuan dua horizon temporal, tetapi juga interaksi di dalam ruang sosial yang penuh kekuasaan, nilai, dan ideologi.⁷ Oleh karena itu, makna tidak dapat dilepaskan dari struktur relasi sosial tempat wacana diproduksi dan ditafsirkan.

Sebagai contoh, penafsiran terhadap teks politik atau religius akan sangat berbeda ketika dibaca dalam konteks kolonialisme, globalisasi, atau wacana identitas lokal. Pemaknaan ini bergantung pada siapa yang menafsirkan, dalam kondisi sosial apa, dan dengan kepentingan epistemik bagaimana.⁸ Dengan demikian, hermeneutika kontekstual membuka ruang bagi pluralitas makna tanpa meniadakan tanggung jawab interpretatif—karena setiap penafsiran harus dapat dipertanggungjawabkan dalam kerangka dialog reflektif.

3.3.       Interaksi antara Bahasa, Teks, dan Dunia

Hermeneutika kontekstual berakar pada pandangan bahwa bahasa memiliki fungsi performatif, sebagaimana dikemukakan oleh J. L. Austin dan John Searle dalam teori tindak tutur (speech act theory).⁹ Bahasa bukan hanya alat deskriptif, melainkan juga tindakan sosial yang memproduksi efek tertentu dalam dunia. Dalam konteks ini, teks atau ujaran harus dipahami tidak hanya dari makna semantiknya, tetapi juga dari fungsinya dalam jaringan tindakan manusia.¹⁰

Paul Ricoeur memperdalam gagasan ini melalui konsep “dunia teks” (the world of the text), yaitu bahwa setiap teks mengandung kemungkinan dunia yang dapat diaktualkan melalui interpretasi.¹¹ Hermeneutika kontekstual menekankan bahwa “dunia teks” tersebut hanya dapat dimengerti secara memadai bila pembaca mempertimbangkan “dunia pembaca” dan “dunia sosial” tempat teks itu hidup. Dengan kata lain, teks bukan entitas yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari dialog berkelanjutan antara bahasa dan realitas sosial.¹²

3.4.       Hermeneutika Kontekstual dan Kritik terhadap Objektivisme

Salah satu pijakan filosofis hermeneutika kontekstual adalah penolakannya terhadap objektivisme epistemologis yang mengandaikan makna dapat ditemukan secara bebas nilai (value-free). Dalam tradisi positivistik, bahasa sering dipandang sebagai alat netral untuk menyampaikan fakta. Namun, hermeneutika kontekstual menegaskan bahwa setiap tindakan memahami selalu dipengaruhi oleh prapemahaman (pre-understanding) dan keterlibatan eksistensial penafsir dalam dunia sosialnya.¹³ Makna tidak hadir secara objektif di luar subjek, melainkan muncul melalui interaksi reflektif antara subjek dan objek pemahaman.¹⁴

Dalam kerangka ini, hermeneutika kontekstual juga mengadopsi semangat kritis yang ditemukan dalam teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, yang menekankan pentingnya rasionalitas komunikatif dalam mencapai pemahaman intersubjektif.¹⁵ Dengan memadukan hermeneutika filosofis dan teori kritis, hermeneutika kontekstual berupaya menyeimbangkan antara keterikatan historis makna dan ideal dialog universal yang membuka kemungkinan kesepahaman lintas konteks.

3.5.       Prinsip-Prinsip Pokok Hermeneutika Kontekstual

Secara konseptual, hermeneutika kontekstual berlandaskan pada beberapa prinsip utama:

1)                  Keterkaitan Konteks dan Makna — setiap teks, ujaran, atau tindakan memperoleh maknanya melalui konteks sosial dan historis tertentu.

2)                  Prinsip Dialogis — pemahaman merupakan hasil interaksi antara penafsir dan teks, di mana kedua horizon saling memengaruhi.

3)                  Relasionalitas Bahasa — bahasa tidak netral, melainkan sarat dengan nilai, ideologi, dan relasi kekuasaan.

4)                  Keterbukaan Interpretatif — setiap makna bersifat terbuka untuk direvisi dalam situasi baru, sejalan dengan pandangan bahwa interpretasi adalah proses yang tak pernah selesai.

5)                  Tanggung Jawab Hermeneutik — setiap penafsiran harus disertai kesadaran reflektif terhadap konteks sosial dan dampak pemaknaan terhadap realitas manusia.¹⁶

Dengan demikian, hermeneutika kontekstual tidak hanya berfungsi sebagai teori interpretasi, tetapi juga sebagai paradigma epistemologis yang menegaskan bahwa makna adalah hasil dialog yang terus berkembang antara manusia, bahasa, dan dunia. Ia menolak reduksi makna menjadi proposisi logis, sekaligus menghindari relativisme nihilistik dengan mengakui kemungkinan komunikasi rasional dan reflektif antarhorizon makna.¹⁷


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 12–15.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 91–94.

[3]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 272–277.

[4]                Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations, trans. G. E. M. Anscombe (Oxford: Blackwell, 1953), §23.

[5]                Ibid., §43–§49.

[6]                Gadamer, Truth and Method, 306–312.

[7]                Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 91–95.

[8]                Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 5–6.

[9]                J. L. Austin, How to Do Things with Words, 2nd ed. (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1975), 6–8.

[10]             John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 22–25.

[11]             Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 74–77.

[12]             Ibid., 95–99.

[13]             Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 195–199.

[14]             Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 18–22.

[15]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 302–308.

[16]             David E. Klemm, Hermeneutical Inquiry, Volume 1: The Interpretation of Texts (Atlanta: Scholars Press, 1986), 27–30.

[17]             Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 141–146.


4.           Epistemologi dan Metodologi Hermeneutika Kontekstual

Hermeneutika kontekstual tidak hanya merupakan pendekatan interpretatif terhadap bahasa dan teks, melainkan juga suatu paradigma epistemologis yang menegaskan bahwa pengetahuan manusia bersifat historis, relasional, dan situasional. Dalam konteks ini, epistemologi hermeneutika kontekstual berangkat dari kritik terhadap pandangan positivistik dan objektivistik yang mendominasi tradisi ilmu pengetahuan modern.¹ Berbeda dengan epistemologi klasik yang menekankan representasi dan objektivitas, hermeneutika kontekstual menegaskan bahwa pengetahuan merupakan hasil dialog reflektif antara subjek dan dunia, yang selalu dimediasi oleh bahasa, sejarah, dan konteks sosial.²

4.1.       Epistemologi: Pengetahuan sebagai Pemahaman dan Interpretasi

Epistemologi hermeneutika kontekstual berpijak pada asumsi bahwa mengetahui berarti memahami (to know is to understand).³ Pemahaman bukanlah proses mengumpulkan fakta atau merepresentasikan realitas eksternal, melainkan proses partisipatif di mana penafsir terlibat secara eksistensial dalam dunia makna yang sedang ia pahami. Heidegger menegaskan bahwa pemahaman merupakan struktur ontologis dari keberadaan manusia (Dasein), sehingga setiap bentuk pengetahuan mengandaikan keterlibatan eksistensial penafsir di dalam dunia.⁴ Artinya, tidak ada pengetahuan yang netral, sebab setiap tindakan memahami selalu berangkat dari prapemahaman (Vorverständnis) yang membentuk horizon interpretasi.⁵

Dalam kerangka ini, bahasa menjadi medium utama epistemologi. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan makna, melainkan ruang di mana makna dan pemahaman itu sendiri terbentuk.⁶ Gadamer menegaskan bahwa “ada” manusia adalah “ada dalam bahasa” (Sein, das verstanden werden kann, ist Sprache), yang berarti bahwa seluruh pengetahuan manusia bersifat linguistik, dialogis, dan historis.⁷ Oleh karena itu, epistemologi hermeneutika kontekstual menolak dualisme antara subjek dan objek: pengetahuan bukan hasil observasi pasif terhadap dunia, tetapi hasil keterlibatan aktif dalam proses dialog dengan realitas yang dimaknai melalui bahasa dan konteks sosial.⁸

Lebih jauh, epistemologi hermeneutika kontekstual juga bersifat intersubjektif. Pemahaman tidak dapat dilepaskan dari komunikasi dengan yang lain, karena makna lahir dalam interaksi antarhorizon pemahaman.⁹ Dalam hal ini, Habermas menawarkan konsep rasionalitas komunikatif sebagai perluasan hermeneutika ke ranah sosial: pemahaman yang sahih bukanlah hasil dominasi epistemik, tetapi kesepakatan yang dicapai melalui dialog bebas dari distorsi komunikasi.¹⁰ Dengan demikian, hermeneutika kontekstual memandang pengetahuan sebagai hasil dari proses negosiasi dan kesepahaman yang terbuka terhadap koreksi dan revisi, sejalan dengan prinsip keterbukaan epistemologis.¹¹

4.2.       Metodologi: Proses Hermeneutik dan Lingkaran Pemahaman

Secara metodologis, hermeneutika kontekstual mengandalkan apa yang disebut lingkaran hermeneutik (hermeneutic circle), yaitu dinamika antara bagian dan keseluruhan, antara teks dan konteks, serta antara prapemahaman dan pemahaman baru.¹² Pemahaman tidak dimulai dari nol, melainkan selalu dari horizon yang telah ada sebelumnya. Penafsir masuk ke dalam teks atau fenomena dengan prapemahaman tertentu, lalu melalui proses interpretasi reflektif, ia memperluas horizon pemahamannya, yang pada gilirannya menghasilkan interpretasi baru yang lebih kaya.¹³ Dengan demikian, proses pemahaman bersifat spiral, bukan linear—setiap putaran memperdalam dan memperluas makna melalui keterlibatan terus-menerus antara penafsir dan konteksnya.¹⁴

Dalam praktiknya, metodologi hermeneutika kontekstual melibatkan tiga langkah kunci:

1)                  Deskripsi kontekstual, yaitu memahami situasi historis, sosial, dan budaya yang melingkupi teks atau tindakan.

2)                  Interpretasi reflektif, yaitu proses memahami makna di balik ujaran, simbol, atau tindakan dengan memperhatikan horizon penafsir.

3)                  Dialog kritis, yaitu proses membandingkan, menguji, dan menafsir ulang pemahaman dengan mempertimbangkan horizon-horizon lain, baik dari teks maupun pembaca.¹⁵

Langkah-langkah ini bukan prosedur teknis yang kaku, melainkan gerak reflektif yang terus menghubungkan makna parsial dengan totalitas pengalaman manusia. Hal ini sejalan dengan gagasan Ricoeur tentang “hermeneutika produktif,” di mana interpretasi tidak berhenti pada reproduksi makna teks, tetapi melahirkan makna baru melalui proses pembacaan yang kreatif dan kritis.¹⁶

4.3.       Peran Prapemahaman dan Refleksi Kritis

Salah satu aspek paling penting dalam metodologi hermeneutika kontekstual adalah kesadaran terhadap peran prapemahaman. Gadamer menolak klaim objektivitas ilmiah yang mengandaikan bahwa penafsir dapat melepaskan diri sepenuhnya dari prasangka dan horizon historisnya.¹⁷ Justru, prapemahaman menjadi syarat bagi setiap kemungkinan pemahaman. Namun, agar tidak terjebak dalam subjektivisme, hermeneutika kontekstual menuntut refleksi kritis terhadap prapemahaman itu sendiri. Melalui refleksi, penafsir mampu menyadari bias, nilai, dan ideologi yang membentuk cara pandangnya, sehingga interpretasi yang dihasilkan bersifat lebih sadar dan terbuka.¹⁸

Dalam ranah epistemologis yang lebih luas, hal ini berkaitan dengan apa yang disebut oleh Habermas sebagai “refleksi emansipatoris,” yaitu kesadaran diri yang membebaskan pengetahuan dari kepentingan dominatif.¹⁹ Hermeneutika kontekstual, dengan demikian, bukan hanya metode memahami, tetapi juga cara untuk membangun kesadaran kritis atas bagaimana pengetahuan diproduksi dan digunakan dalam konteks sosial tertentu.²⁰

4.4.       Konteks, Tindakan, dan Pemaknaan Sosial

Metodologi hermeneutika kontekstual tidak berhenti pada teks atau ujaran, melainkan juga mencakup tindakan sosial sebagai bentuk wacana yang dapat ditafsirkan. Clifford Geertz, dalam kerangka antropologi interpretatifnya, menyatakan bahwa budaya dapat dibaca sebagai “teks yang ditulis manusia.”²¹ Dengan demikian, setiap praktik sosial dapat dimaknai melalui kerangka hermeneutik, di mana simbol, ritus, dan tindakan berfungsi sebagai ekspresi dari makna kolektif.²²

Dalam konteks ini, metode hermeneutika kontekstual menjadi jembatan antara analisis linguistik dan analisis sosial. Ia menggabungkan refleksi filosofis tentang bahasa dengan pemahaman empiris tentang realitas sosial. Dengan mengakui keterkaitan antara makna dan konteks, hermeneutika kontekstual mampu menjelaskan bagaimana pengetahuan terbentuk, digunakan, dan dinegosiasikan dalam kehidupan manusia sehari-hari.²³

4.5.       Ciri Epistemologis dan Metodologis Hermeneutika Kontekstual

Secara ringkas, ciri epistemologis dan metodologis hermeneutika kontekstual dapat dirumuskan sebagai berikut:

1)                  Epistemologi dialogis – pengetahuan lahir dari interaksi antara subjek dan dunia melalui bahasa.

2)                  Kontekstualitas makna – setiap pengetahuan terikat pada horizon historis dan sosial.

3)                  Metode reflektif – pemahaman diperoleh melalui kesadaran terhadap prapemahaman dan dialog kritis.

4)                  Gerak spiral hermeneutik – proses memahami berlangsung secara terus-menerus dan terbuka terhadap revisi.

5)                  Dimensi emansipatoris – pengetahuan tidak netral, melainkan sarana pembebasan dari distorsi makna dan dominasi sosial.²⁴

Dengan demikian, epistemologi dan metodologi hermeneutika kontekstual menempatkan pengetahuan sebagai aktivitas interpretatif yang bersifat historis, dialogis, dan reflektif. Ia bukan hanya cara untuk memahami teks, tetapi juga sarana untuk memahami dunia dan diri sendiri melalui kesadaran terhadap konteks, bahasa, dan keterlibatan manusia dalam proses pemaknaan.²⁵


Footnotes

[1]                Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 18–21.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 103–107.

[3]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 257–260.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 185–188.

[5]                Ibid., 191–193.

[6]                Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 43–46.

[7]                Gadamer, Truth and Method, 450–455.

[8]                Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 132–135.

[9]                Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 314–318.

[10]             Ibid., 320–325.

[11]             David E. Klemm, Hermeneutical Inquiry, Volume 1: The Interpretation of Texts (Atlanta: Scholars Press, 1986), 27–29.

[12]             Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, 69–72.

[13]             Ibid., 75–78.

[14]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 128–130.

[15]             Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 83–87.

[16]             Ibid., 91–94.

[17]             Gadamer, Truth and Method, 302–306.

[18]             Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism, 58–61.

[19]             Habermas, Knowledge and Human Interests, 308–312.

[20]             Paul Ricoeur, Time and Narrative, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 71–74.

[21]             Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 5–7.

[22]             Ibid., 15–18.

[23]             Ricoeur, From Text to Action, 101–104.

[24]             Davey, Unquiet Understanding, 141–145.

[25]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 154–158.


5.           Hermeneutika Kontekstual dan Bahasa

Dalam filsafat hermeneutika kontekstual, bahasa menempati posisi sentral sebagai medium utama yang memungkinkan terjadinya pemahaman, interpretasi, dan pembentukan makna. Bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi atau sistem tanda yang netral, melainkan merupakan medan eksistensial tempat manusia menyingkapkan dunia dan dirinya sendiri.¹ Hermeneutika kontekstual mengandaikan bahwa makna bahasa tidak pernah hadir secara tetap atau universal; ia selalu terikat pada konteks penggunaannya—baik secara sosial, historis, kultural, maupun pragmatik. Dengan demikian, bahasa menjadi arena di mana horizon-horizon makna bertemu, berinteraksi, dan dinegosiasikan secara terus-menerus dalam pengalaman manusia.²

5.1.       Bahasa sebagai Medium Pemahaman

Bagi Hans-Georg Gadamer, bahasa merupakan “rumah bagi keberadaan” (die Sprache ist das Haus des Seins), tempat di mana makna eksistensial manusia dimungkinkan.³ Dalam konteks ini, hermeneutika kontekstual memperluas gagasan Gadamer dengan menegaskan bahwa bahasa tidak hanya menjadi wadah bagi pemahaman, tetapi juga sebagai ruang dialog sosial yang senantiasa dinamis. Bahasa, menurut pandangan ini, adalah fenomena intersubjektif yang menghubungkan manusia melalui proses komunikasi, negosiasi, dan interpretasi makna.⁴

Melalui bahasa, manusia tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk realitas sosial dan identitas budaya.⁵ Hal ini sejalan dengan pemikiran Martin Heidegger bahwa pemahaman terhadap dunia selalu sudah “berbahasa”; manusia tidak mengakses dunia secara langsung, melainkan melalui kerangka linguistik yang membentuk cara berpikir dan bertindak.⁶ Dalam perspektif hermeneutika kontekstual, pemahaman atas teks atau ujaran tidak mungkin dilepaskan dari jaringan relasi sosial dan simbolik yang diartikulasikan melalui bahasa.

5.2.       Konteks Linguistik dan Pragmatik Makna

Hermeneutika kontekstual menolak pandangan bahwa makna dapat dipahami secara terisolasi dari konteks penggunaan bahasa. Ludwig Wittgenstein, dalam Philosophical Investigations, menegaskan bahwa makna suatu kata adalah penggunaannya dalam bahasa (the meaning of a word is its use in the language).⁷ Pandangan ini menjadi fondasi bagi pemahaman hermeneutika kontekstual tentang makna yang bersifat situasional dan relasional.

Dalam kajian pragmatik, konteks dipahami sebagai keseluruhan faktor yang menentukan bagaimana sebuah ujaran dipahami oleh partisipan komunikasi—termasuk niat pembicara, latar sosial, dan konvensi budaya.⁸ Oleh karena itu, hermeneutika kontekstual memandang setiap tindak berbahasa sebagai tindakan sosial (speech act), di mana makna tidak hanya bersifat semantik, tetapi juga performatif.⁹ Artinya, bahasa tidak sekadar menggambarkan realitas, melainkan menciptakannya melalui tindak tutur seperti menjanjikan, memerintah, atau menafsirkan.¹⁰

Sebagai contoh, ketika seseorang mengucapkan pernyataan religius, politis, atau moral, makna dari pernyataan tersebut tidak dapat dipahami hanya dari struktur kalimatnya, tetapi juga dari konteks sosial, relasi kekuasaan, serta nilai-nilai budaya yang melatarinya.¹¹ Dalam hal ini, hermeneutika kontekstual membuka ruang bagi analisis yang memperhatikan “kondisi tindak tutur” (conditions of speech acts) sebagaimana dikembangkan oleh J. L. Austin dan John Searle, di mana makna dipahami dalam kaitannya dengan intensi dan efek sosial dari ujaran tersebut.¹²

5.3.       Bahasa, Ideologi, dan Struktur Sosial

Salah satu kontribusi penting hermeneutika kontekstual adalah kesadarannya terhadap dimensi ideologis bahasa. Bahasa tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga instrumen kekuasaan dan konstruksi sosial.¹³ Michel Foucault menunjukkan bahwa wacana (discourse) berperan membentuk subjek dan menentukan batas-batas apa yang dapat dikatakan dan dipahami dalam masyarakat.¹⁴ Dalam pengertian ini, bahasa selalu beroperasi dalam medan kekuasaan, di mana makna tertentu dipertahankan, disebarkan, atau ditindas melalui struktur wacana dominan.

Hermeneutika kontekstual, dengan demikian, menolak pandangan bahwa bahasa adalah sistem netral. Sebaliknya, ia melihat bahasa sebagai arena perjuangan makna—tempat ideologi, nilai, dan identitas saling berkompetisi untuk memperoleh legitimasi.¹⁵ Oleh karena itu, memahami bahasa berarti juga memahami kondisi sosial-historis yang melahirkannya. Setiap teks atau ujaran adalah produk dari situasi tertentu yang mencerminkan struktur sosial, relasi kekuasaan, dan nilai-nilai budaya yang hidup di dalamnya.¹⁶

Dalam perspektif ini, tugas hermeneutika kontekstual bukan hanya menafsir makna eksplisit dari bahasa, tetapi juga membongkar struktur makna implisit yang tersembunyi di baliknya. Ricoeur menyebut proses ini sebagai hermeneutics of suspicion (hermeneutika kecurigaan), yaitu upaya memahami makna dengan mempertanyakan motif ideologis yang mungkin tersembunyi dalam teks.¹⁷

5.4.       Bahasa sebagai Ruang Dialog dan Pemahaman Intersubjektif

Hermeneutika kontekstual memandang bahasa sebagai ruang dialog yang memungkinkan terjadinya perjumpaan antarhorizon makna. Dalam dialog hermeneutik, penafsir tidak hanya mencoba memahami teks, tetapi juga membuka diri terhadap kemungkinan transformasi diri melalui pertemuan dengan makna lain.¹⁸ Gadamer menekankan bahwa dalam dialog sejati, “bahasa berbicara kepada kita” (die Sprache spricht), artinya pemahaman tidak sepenuhnya dikendalikan oleh subjek, tetapi muncul dari interaksi antara penafsir dan dunia makna yang dihadirkan bahasa.¹⁹

Dalam kerangka ini, hermeneutika kontekstual memperluas gagasan tersebut ke dalam dimensi sosial. Bahasa dipandang sebagai ruang komunikasi yang memungkinkan tercapainya intersubjective understanding (pemahaman bersama) di antara individu yang berbeda latar belakang budaya dan historis.²⁰ Hal ini menegaskan fungsi etis dari hermeneutika kontekstual: bahasa menjadi sarana pembentukan dialog lintas perbedaan dan dasar bagi toleransi epistemologis.²¹

5.5.       Implikasi Hermeneutika Kontekstual terhadap Filsafat Bahasa

Hermeneutika kontekstual menghadirkan paradigma baru dalam filsafat bahasa dengan mengintegrasikan dimensi ontologis, pragmatik, dan sosial dalam analisis makna. Ia menolak reduksi bahasa menjadi sekadar struktur sintaksis atau semantik yang dapat dianalisis secara formal, sebagaimana dikembangkan dalam tradisi positivisme logis.²² Sebaliknya, ia menekankan bahwa bahasa adalah fenomena hidup yang hanya dapat dipahami melalui konteks penggunaannya.

Epistemologinya bersifat reflektif dan partisipatif, di mana pemahaman atas bahasa melibatkan kesadaran terhadap horizon makna yang terus berubah.²³ Dalam pandangan hermeneutika kontekstual, setiap proses linguistik adalah proses penyingkapan (disclosure)—yakni usaha manusia menafsirkan dunia dan dirinya dalam relasi dialogis dengan orang lain.²⁴ Dengan demikian, hermeneutika kontekstual tidak hanya memperkaya filsafat bahasa, tetapi juga memperluas cakrawala filsafat hermeneutik menuju ranah praksis sosial dan etika komunikasi.²⁵


Footnotes

[1]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 440–443.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 115–118.

[3]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 210–213.

[4]                Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 142–145.

[5]                Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 84–87.

[6]                Heidegger, Being and Time, 218–220.

[7]                Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations, trans. G. E. M. Anscombe (Oxford: Blackwell, 1953), §43.

[8]                Stephen C. Levinson, Pragmatics (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 21–25.

[9]                J. L. Austin, How to Do Things with Words, 2nd ed. (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1975), 6–8.

[10]             John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 22–25.

[11]             Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 9–10.

[12]             Austin, How to Do Things with Words, 98–102.

[13]             Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 44–47.

[14]             Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, trans. A. M. Sheridan Smith (New York: Pantheon Books, 1972), 49–55.

[15]             Norman Fairclough, Language and Power (London: Longman, 1989), 23–26.

[16]             Teun A. van Dijk, Discourse and Power (New York: Palgrave Macmillan, 2008), 9–11.

[17]             Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation, trans. Denis Savage (New Haven: Yale University Press, 1970), 32–35.

[18]             Gadamer, Truth and Method, 305–310.

[19]             Ibid., 478–480.

[20]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 287–292.

[21]             Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 82–85.

[22]             A. J. Ayer, Language, Truth and Logic (London: Victor Gollancz, 1936), 33–36.

[23]             Paul Ricoeur, Time and Narrative, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 73–76.

[24]             Gadamer, Truth and Method, 451–455.

[25]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 161–165.


6.           Aplikasi Hermeneutika Kontekstual dalam Ilmu Sosial dan Humaniora

Hermeneutika kontekstual memiliki kontribusi yang sangat luas dalam ranah ilmu sosial dan humaniora, karena ia menawarkan paradigma interpretatif yang menempatkan makna, konteks, dan subjek manusia sebagai pusat analisis.¹ Dalam konteks ini, hermeneutika kontekstual berfungsi tidak hanya sebagai teori filsafat bahasa, tetapi juga sebagai metode pemahaman terhadap tindakan sosial, kebudayaan, teks, dan wacana yang membentuk pengalaman manusia.² Melalui pendekatan ini, ilmu sosial dan humaniora tidak lagi berfokus pada penjelasan kausalistik seperti dalam tradisi positivistik, melainkan pada pemahaman (Verstehen) terhadap makna yang terkandung di balik fenomena sosial.³

6.1.       Paradigma Interpretatif dalam Ilmu Sosial

Hermeneutika kontekstual memperluas prinsip Verstehen Wilhelm Dilthey, yang menekankan bahwa fenomena sosial harus dipahami dari dalam melalui pengalaman subjektif manusia.⁴ Namun, hermeneutika kontekstual melampaui subjektivisme dengan menegaskan pentingnya konteks sosial, historis, dan linguistik yang membentuk makna tersebut.⁵ Clifford Geertz kemudian mengadaptasi prinsip ini dalam antropologi melalui pendekatan yang disebut thick description, yaitu upaya memahami tindakan sosial dengan menafsirkan lapisan-lapisan makna yang tertanam dalam budaya.⁶

Melalui pendekatan hermeneutik ini, penelitian sosial tidak hanya mendeskripsikan perilaku manusia, tetapi juga menafsirkan sistem simbol, nilai, dan ideologi yang melatarinya. Dengan demikian, hermeneutika kontekstual menjadi landasan metodologis bagi pendekatan kualitatif seperti fenomenologi sosial, etnografi interpretatif, dan analisis wacana.⁷ Ia menegaskan bahwa realitas sosial bukan entitas objektif, tetapi konstruksi makna yang dihasilkan oleh manusia dalam interaksi simbolik.⁸

6.2.       Hermeneutika dalam Kajian Budaya dan Sastra

Dalam kajian sastra dan budaya, hermeneutika kontekstual digunakan untuk memahami karya-karya manusia sebagai ekspresi historis dan kultural yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsir.⁹ Paul Ricoeur menekankan bahwa setiap teks memiliki “jarak produktif” (productive distance) dari pengarang dan pembacanya, yang memungkinkan terjadinya interpretasi baru berdasarkan konteks historis yang berbeda.¹⁰

Melalui perspektif ini, karya sastra, film, maupun praktik budaya dapat dibaca sebagai teks sosial yang mencerminkan dan sekaligus membentuk kesadaran kolektif masyarakat.¹¹ Sebagai contoh, interpretasi terhadap karya sastra kolonial tidak dapat dilepaskan dari konteks kekuasaan dan resistensi yang membentuk wacana kolonialisme.¹² Hermeneutika kontekstual membuka ruang untuk menafsir ulang makna-makna yang termarginalisasi dan membongkar ideologi tersembunyi di balik teks budaya.¹³

Selain itu, pendekatan ini juga relevan dalam studi semiotika budaya. Roland Barthes dalam Mythologies menegaskan bahwa tanda-tanda dalam kebudayaan modern sarat dengan ideologi yang menyamarkan realitas kekuasaan.¹⁴ Hermeneutika kontekstual, dalam semangat yang sama, berfungsi untuk menyingkap struktur makna yang membentuk identitas, mitos, dan sistem simbol dalam masyarakat kontemporer.¹⁵

6.3.       Aplikasi dalam Kajian Agama dan Teologi Kontekstual

Dalam ranah teologi dan studi agama, hermeneutika kontekstual memainkan peran penting dalam menafsir teks-teks keagamaan secara relevan dengan realitas sosial kontemporer.¹⁶ Pendekatan ini menolak pembacaan literal terhadap kitab suci dan menggantinya dengan pemahaman yang mempertimbangkan konteks historis, sosial, dan kultural dari teks maupun pembaca.¹⁷

Sebagai contoh, teologi pembebasan di Amerika Latin yang dikembangkan oleh Gustavo Gutiérrez dan Leonardo Boff menerapkan prinsip hermeneutik kontekstual untuk memahami pesan Injil dalam konteks penindasan sosial.¹⁸ Teks-teks religius dipahami bukan hanya sebagai sumber doktrin, tetapi sebagai panggilan etis untuk tindakan transformasi sosial.¹⁹ Dalam Islam, pemikiran Fazlur Rahman dan Amina Wadud juga mengadopsi prinsip serupa dalam membaca Al-Qur’an secara kontekstual, dengan menekankan nilai-nilai universal dan keadilan sosial di atas tafsir literal historis.²⁰

Dengan demikian, hermeneutika kontekstual memungkinkan pembaruan teologi yang dialogis, kritis, dan relevan dengan kebutuhan manusia modern tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya.²¹

6.4.       Hermeneutika Kontekstual dan Analisis Wacana Sosial

Salah satu bentuk penerapan paling signifikan dari hermeneutika kontekstual dalam ilmu sosial adalah analisis wacana (discourse analysis).²² Pendekatan ini memandang wacana sebagai praktik sosial yang membentuk cara berpikir dan bertindak manusia. Teun A. van Dijk dan Norman Fairclough menegaskan bahwa bahasa dan wacana selalu terkait erat dengan kekuasaan dan ideologi.²³ Dengan demikian, memahami wacana berarti juga memahami bagaimana struktur sosial direproduksi dan dinegosiasikan melalui bahasa.

Hermeneutika kontekstual memberikan dasar teoretis untuk membaca wacana tidak hanya dari segi semantik, tetapi juga dari relasi sosial yang melatarinya.²⁴ Analisis terhadap teks politik, media massa, atau wacana gender, misalnya, dapat mengungkap bagaimana kekuasaan dan ideologi membentuk persepsi publik.²⁵ Dalam kerangka ini, penafsiran menjadi tindakan kritis untuk membuka ruang emansipasi terhadap dominasi simbolik yang tersembunyi dalam komunikasi sosial.²⁶

6.5.       Kontribusi terhadap Ilmu Humaniora Kontemporer

Hermeneutika kontekstual juga memiliki kontribusi penting dalam pengembangan paradigma interdisipliner di bidang humaniora.²⁷ Pendekatan ini memungkinkan terjadinya dialog antara filsafat, linguistik, sejarah, antropologi, dan teori sastra dengan landasan epistemologis yang sama—yakni pemahaman terhadap makna dalam konteks.²⁸

Dalam dunia akademik kontemporer, hermeneutika kontekstual berperan sebagai jembatan antara teori dan praksis, antara interpretasi dan tindakan.²⁹ Ia memberikan kerangka reflektif untuk memahami kompleksitas makna dalam dunia yang plural, multikultural, dan sarat dengan pergeseran nilai.³⁰ Oleh karena itu, hermeneutika kontekstual bukan hanya alat analisis akademik, melainkan juga fondasi etis bagi komunikasi lintas budaya dan dialog antarperadaban.³¹


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 145–148.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 157–160.

[3]                Max Weber, The Methodology of the Social Sciences, trans. Edward A. Shils dan Henry A. Finch (New York: Free Press, 1949), 80–83.

[4]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume I: Introduction to the Human Sciences, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1989), 45–47.

[5]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 302–305.

[6]                Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 5–6.

[7]                David Silverman, Interpreting Qualitative Data (London: Sage Publications, 2015), 121–124.

[8]                Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 30–35.

[9]                Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 84–89.

[10]             Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 68–72.

[11]             Terry Eagleton, Literary Theory: An Introduction (Oxford: Blackwell, 1983), 62–65.

[12]             Edward W. Said, Culture and Imperialism (New York: Vintage Books, 1993), 9–12.

[13]             Gayatri C. Spivak, In Other Worlds: Essays in Cultural Politics (New York: Routledge, 1988), 74–76.

[14]             Roland Barthes, Mythologies, trans. Annette Lavers (New York: Hill and Wang, 1972), 117–119.

[15]             John Fiske, Understanding Popular Culture (London: Routledge, 1989), 11–15.

[16]             Hans Küng, Theology for the Third Millennium: An Ecumenical View (New York: Doubleday, 1988), 41–44.

[17]             Paul Ricoeur, Essays on Biblical Interpretation, ed. Lewis S. Mudge (Philadelphia: Fortress Press, 1980), 45–47.

[18]             Gustavo Gutiérrez, A Theology of Liberation, trans. Sister Caridad Inda dan John Eagleson (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1973), 3–5.

[19]             Leonardo Boff, Church: Charism and Power (New York: Crossroad, 1985), 58–60.

[20]             Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 2–5.

[21]             Amina Wadud, Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective (New York: Oxford University Press, 1999), 14–18.

[22]             Norman Fairclough, Language and Power (London: Longman, 1989), 22–25.

[23]             Teun A. van Dijk, Discourse and Power (New York: Palgrave Macmillan, 2008), 9–12.

[24]             Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, trans. A. M. Sheridan Smith (New York: Pantheon Books, 1972), 54–57.

[25]             Ruth Wodak dan Michael Meyer, eds., Methods of Critical Discourse Analysis (London: Sage Publications, 2001), 4–7.

[26]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 274–278.

[27]             David E. Klemm, Hermeneutical Inquiry, Volume 2: The Interpretation of Action (Atlanta: Scholars Press, 1986), 31–34.

[28]             Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 141–145.

[29]             Paul Ricoeur, Time and Narrative, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 91–93.

[30]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 163–166.

[31]             Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 95–99.


7.           Kritik terhadap Hermeneutika Kontekstual

Meskipun hermeneutika kontekstual menawarkan paradigma interpretatif yang kaya, dialogis, dan terbuka terhadap pluralitas makna, aliran ini tidak lepas dari berbagai kritik filosofis dan metodologis. Kritik tersebut datang dari beragam perspektif—mulai dari positivisme, strukturalisme, dekonstruksionisme, hingga teori kritis dan postmodernisme.¹ Kritik-kritik ini terutama berkaitan dengan persoalan relativisme makna, subjektivitas penafsir, serta tantangan untuk mempertahankan validitas epistemologis dalam proses interpretasi yang sangat kontekstual.

7.1.       Kritik dari Positivisme dan Objektivisme Ilmiah

Kritik pertama terhadap hermeneutika kontekstual berasal dari tradisi positivistik dan objektivistik yang menekankan pentingnya kepastian, rasionalitas formal, serta verifikasi empiris dalam ilmu pengetahuan.² Dari perspektif ini, hermeneutika dianggap terlalu menekankan dimensi subjektif dan historis pemahaman, sehingga mengabaikan kemungkinan obyektivitas ilmiah. Karl Popper, misalnya, berargumen bahwa pengetahuan ilmiah harus didasarkan pada prinsip falsifiability (dapat diuji dan disangkal), bukan pada interpretasi yang bergantung pada konteks dan penafsir.³

Menurut para positivis, jika semua makna bergantung pada konteks, maka tidak ada kriteria universal untuk membedakan antara tafsir yang benar dan yang keliru.⁴ Dengan kata lain, hermeneutika kontekstual berisiko terjebak dalam relativisme epistemik, di mana kebenaran kehilangan fondasi objektifnya.⁵ Hermeneutika menjawab kritik ini dengan menunjukkan bahwa objektivitas bukanlah ketiadaan perspektif, melainkan hasil dari dialog reflektif dan intersubjektif antara berbagai horizon pemahaman.⁶ Namun demikian, ketegangan antara ideal objektivitas ilmiah dan keterikatan kontekstual tetap menjadi perdebatan epistemologis yang belum terselesaikan sepenuhnya.⁷

7.2.       Kritik Strukturalisme dan Formalisme

Kritik lain datang dari kalangan strukturalis dan formalis yang menolak kebergantungan makna pada konteks sosial-historis. Ferdinand de Saussure menekankan bahwa makna suatu tanda linguistik ditentukan oleh relasinya dengan tanda lain dalam sistem bahasa, bukan oleh faktor eksternal seperti sejarah atau budaya.⁸ Dalam kerangka ini, makna bersifat intrastruktural—ia muncul dari perbedaan internal dalam sistem, bukan dari konteks penggunaannya.⁹

Kaum strukturalis berpendapat bahwa pendekatan hermeneutika kontekstual terlalu menekankan pengalaman subyektif dan variabilitas makna, sehingga mengabaikan struktur bahasa yang stabil dan dapat dianalisis secara sistematis.¹⁰ Roland Barthes, misalnya, menyatakan bahwa “pengarang telah mati” (the death of the author)—artinya, makna tidak ditentukan oleh niat atau konteks pengarang, tetapi oleh permainan tanda-tanda dalam teks itu sendiri.¹¹ Hermeneutika kontekstual, sebaliknya, berpendapat bahwa struktur bahasa tidak bisa dipisahkan dari praksis sosial yang menggunakannya; makna tidak hanya hidup dalam sistem linguistik, tetapi juga dalam tindakan dan konteks manusia.¹²

7.3.       Kritik dari Dekonstruksionalisme

Dari sisi lain, Jacques Derrida melalui dekonstruksionalisme memberikan kritik tajam terhadap klaim hermeneutika yang masih berasumsi adanya kemungkinan pemahaman.¹³ Menurut Derrida, setiap teks selalu mengandung ketegangan internal, kontradiksi, dan penundaan makna (différance) yang membuat pemahaman utuh mustahil tercapai.¹⁴ Ia menolak gagasan bahwa interpretasi dapat menghasilkan makna “akhir” melalui dialog antara teks dan pembaca.

Dalam kerangka dekonstruktif, hermeneutika kontekstual dianggap masih mempertahankan logika kehadiran (metaphysics of presence), yaitu keyakinan bahwa makna dapat dihadirkan kembali melalui proses interpretasi.¹⁵ Derrida berpendapat bahwa makna selalu tertunda dan berbeda—tidak pernah stabil, karena bahasa itu sendiri bersifat diferensial dan bergeser secara tak terelakkan.¹⁶

Namun, para pemikir hermeneutik seperti Paul Ricoeur menanggapi kritik ini dengan pendekatan yang disebut hermeneutics of suspicion dan hermeneutics of restoration. Ricoeur mengakui bahwa makna memang selalu terbuka dan ganda, tetapi justru dalam ketegangan itulah pemahaman menjadi produktif.¹⁷ Ia menegaskan bahwa interpretasi bukan untuk menemukan makna final, melainkan untuk membuka horizon makna baru yang memperkaya pemahaman manusia terhadap dunia.¹⁸

7.4.       Kritik dari Teori Kritis: Ideologi dan Kekuasaan

Teori kritis yang dikembangkan oleh Jürgen Habermas dan Mazhab Frankfurt memberikan kritik terhadap hermeneutika yang dianggap terlalu “naif” secara sosial.¹⁹ Habermas menilai bahwa hermeneutika Gadamerian gagal mengakui peran kekuasaan dan distorsi komunikasi dalam proses pemahaman.²⁰ Dalam masyarakat modern, menurut Habermas, bahasa tidak hanya menjadi sarana dialog, tetapi juga alat dominasi yang membentuk kesadaran sosial.²¹

Dari perspektif ini, hermeneutika kontekstual perlu melengkapi diri dengan dimensi emansipatoris, yaitu kemampuan untuk membebaskan interpretasi dari hegemoni ideologis.²² Habermas mengusulkan rasionalitas komunikatif—suatu bentuk dialog yang bebas dari tekanan sistemik dan distorsi kekuasaan, di mana kesepahaman dicapai melalui argumentasi rasional dan partisipatif.²³ Kritik ini mengingatkan bahwa tidak semua konteks sosial adalah ruang yang netral; konteks dapat pula menjadi mekanisme reproduksi ideologi yang menindas.²⁴

7.5.       Kritik Postmodern: Relativisme dan Fragmentasi Makna

Dalam wacana postmodern, tokoh seperti Jean-François Lyotard dan Richard Rorty menyoroti bahwa hermeneutika kontekstual, meskipun terbuka terhadap pluralitas makna, masih memelihara ilusi kesatuan pemahaman dan dialog universal.²⁵ Lyotard, dalam The Postmodern Condition, menyatakan bahwa dunia kontemporer ditandai oleh “ketidakpercayaan terhadap metanarasi” (incredulity toward metanarratives), termasuk metanarasi tentang kesepahaman hermeneutik.²⁶

Bagi para postmodernis, setiap konteks menghasilkan permainan bahasa (language games) yang otonom dan tak dapat diukur dengan kriteria universal apa pun.²⁷ Akibatnya, hermeneutika kontekstual dianggap masih terlalu optimistik dalam keyakinannya bahwa pemahaman lintas konteks selalu mungkin.²⁸ Kritik ini mengarah pada pertanyaan mendasar: jika semua makna bersifat kontekstual, apakah masih ada dasar untuk komunikasi dan kebenaran intersubjektif?²⁹

Namun, para pendukung hermeneutika kontekstual seperti Nicholas Davey dan Richard J. Bernstein menegaskan bahwa pluralitas makna tidak harus berujung pada relativisme nihilistik.³⁰ Justru dalam keterbukaan terhadap keragaman makna itulah dialog dan pemahaman yang autentik dapat tumbuh, karena manusia diundang untuk terus merefleksikan dan memperluas horizon pengetahuannya.³¹

7.6.       Kritik Internal: Tantangan Konsistensi dan Aplikasi

Selain kritik eksternal, hermeneutika kontekstual juga menghadapi tantangan internal, terutama dalam konsistensi antara teori dan praktik.³² Jika setiap interpretasi bergantung pada konteks, maka muncul pertanyaan: bagaimana memastikan keabsahan atau relevansi tafsir tertentu?³³ Dalam praktiknya, hermeneutika kontekstual sering dituduh terlalu fleksibel dalam menafsirkan teks, sehingga berisiko kehilangan kejelasan normatif.³⁴

Beberapa sarjana mencoba menjawab masalah ini dengan mengembangkan “hermeneutika kritis” yang menggabungkan refleksi konteks dengan prinsip evaluatif rasional, sebagaimana ditawarkan oleh Habermas dan Ricoeur.³⁵ Pendekatan ini menegaskan bahwa meskipun makna bersifat kontekstual, penilaian atas kebenaran interpretasi dapat dilakukan melalui argumentasi terbuka, koherensi logis, dan tanggung jawab etis terhadap yang lain.³⁶ Dengan demikian, hermeneutika kontekstual tetap memiliki ruang bagi validitas tanpa kehilangan kesadaran akan pluralitas makna.³⁷


Footnotes

[1]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 171–174.

[2]                Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 25–28.

[3]                Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 33–36.

[4]                A. J. Ayer, Language, Truth and Logic (London: Victor Gollancz, 1936), 52–54.

[5]                Ernest Nagel, The Structure of Science: Problems in the Logic of Scientific Explanation (New York: Harcourt, Brace & World, 1961), 68–70.

[6]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 302–307.

[7]                Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 175–177.

[8]                Ferdinand de Saussure, Course in General Linguistics, trans. Wade Baskin (New York: Philosophical Library, 1959), 120–122.

[9]                Jonathan Culler, Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature (Ithaca: Cornell University Press, 1975), 10–13.

[10]             Roland Barthes, Elements of Semiology, trans. Annette Lavers dan Colin Smith (New York: Hill and Wang, 1967), 45–47.

[11]             Roland Barthes, Image, Music, Text, trans. Stephen Heath (New York: Hill and Wang, 1977), 142–145.

[12]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 83–86.

[13]             Jacques Derrida, Of Grammatology, trans. Gayatri C. Spivak (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976), 27–30.

[14]             Ibid., 63–65.

[15]             Jacques Derrida, Writing and Difference, trans. Alan Bass (Chicago: University of Chicago Press, 1978), 292–295.

[16]             Ibid., 312–314.

[17]             Paul Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation, trans. Denis Savage (New Haven: Yale University Press, 1970), 30–33.

[18]             Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 88–90.

[19]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 304–307.

[20]             Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 270–274.

[21]             Ibid., 278–281.

[22]             Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism, 58–62.

[23]             Habermas, The Theory of Communicative Action, 285–288.

[24]             Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, trans. Alan Sheridan (New York: Vintage Books, 1977), 23–27.

[25]             Jean-François Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, trans. Geoff Bennington dan Brian Massumi (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984), xxiv–xxv.

[26]             Ibid., 37–39.

[27]             Richard Rorty, Philosophy and the Mirror of Nature (Princeton: Princeton University Press, 1979), 358–360.

[28]             Ibid., 367–369.

[29]             Lyotard, The Postmodern Condition, 41–43.

[30]             Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 143–147.

[31]             Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism, 95–99.

[32]             David E. Klemm, Hermeneutical Inquiry, Volume 1: The Interpretation of Texts (Atlanta: Scholars Press, 1986), 28–31.

[33]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 182–185.

[34]             Gadamer, Truth and Method, 465–468.

[35]             Ricoeur, From Text to Action, 102–105.

[36]             Habermas, The Theory of Communicative Action, 290–292.

[37]             Davey, Unquiet Understanding, 148–152.


8.           Sintesis Filosofis dan Relevansi Kontemporer

Hermeneutika kontekstual, dalam evolusi pemikiran filosofisnya, telah menjadi salah satu jembatan paling penting antara filsafat bahasa, teori sosial, dan etika komunikasi. Ia tidak hanya menawarkan metode interpretasi terhadap teks, tetapi juga menghadirkan paradigma epistemologis baru yang menekankan keterkaitan antara makna, konteks, dan eksistensi manusia.¹ Dalam sintesisnya, hermeneutika kontekstual memadukan gagasan ontologis Heidegger tentang pemahaman sebagai modus keberadaan (Dasein), dialogis Gadamer tentang peleburan horizon, reflektif Ricoeur tentang produktivitas makna, serta emansipatoris Habermas mengenai rasionalitas komunikatif.²

Secara filosofis, hermeneutika kontekstual meletakkan dasar bahwa pengetahuan dan makna tidak berdiri di luar dunia manusia, melainkan senantiasa diproduksi melalui bahasa dan situasi historis.³ Ia menolak pemisahan antara subjek dan objek, dan menggantikannya dengan relasi dialogis di mana penafsir dan dunia saling membentuk dalam proses pemahaman.⁴ Dengan demikian, hermeneutika kontekstual berfungsi sebagai “ontologi pemahaman,” di mana tindakan memahami adalah cara manusia menyingkap makna keberadaannya di dunia.⁵

8.1.       Sintesis Filosofis: Integrasi Ontologis, Linguistik, dan Sosial

Sintesis filosofis hermeneutika kontekstual dapat dipahami sebagai integrasi dari tiga dimensi utama: ontologis, linguistik, dan sosial.

Dimensi ontologis berakar pada pandangan Heidegger bahwa pemahaman bukan sekadar aktivitas kognitif, tetapi merupakan struktur dasar keberadaan manusia.⁶ Manusia tidak pernah netral terhadap dunia—ia “selalu sudah berada dalam konteks,” sehingga segala bentuk pengetahuan adalah keterlibatan eksistensial.

Dimensi linguistik diperdalam oleh Gadamer dan Wittgenstein, yang melihat bahwa bahasa adalah medium utama pemahaman.⁷ Bahasa bukan alat untuk menggambarkan realitas, tetapi arena tempat realitas diproduksi melalui interaksi simbolik. Bahasa adalah “rumah keberadaan” yang menampung horizon-horizon makna manusia.⁸

Dimensi sosial dikembangkan lebih lanjut oleh Habermas, yang menegaskan bahwa pemahaman sejati hanya dapat dicapai melalui komunikasi bebas dari dominasi dan distorsi ideologis.⁹ Hermeneutika kontekstual kemudian berperan sebagai refleksi kritis terhadap kondisi komunikasi dan produksi makna dalam masyarakat modern yang kompleks. Ia mempertemukan hermeneutika filosofis dengan teori sosial kritis dalam semangat emansipatoris.¹⁰

Dengan menggabungkan ketiga dimensi ini, hermeneutika kontekstual tidak hanya menjadi teori interpretasi, tetapi juga filsafat kehidupan: sebuah cara memahami manusia sebagai makhluk yang menafsirkan, berkomunikasi, dan hidup dalam jaringan makna sosial.¹¹

8.2.       Relevansi dalam Dunia Kontemporer

Dalam era globalisasi dan digitalisasi, hermeneutika kontekstual memperoleh relevansi yang semakin besar.¹² Dunia saat ini ditandai oleh percepatan informasi, pluralitas budaya, dan fragmentasi nilai. Bahasa dan makna menjadi arena perebutan wacana, di mana realitas dibentuk bukan hanya oleh fakta, tetapi juga oleh narasi dan simbol. Dalam konteks ini, hermeneutika kontekstual menyediakan kerangka filosofis untuk memahami bagaimana makna diproduksi, disebarkan, dan dinegosiasikan di tengah perubahan sosial yang cepat.¹³

Sebagai contoh, dalam dunia komunikasi digital, interpretasi pesan tidak lagi bersifat linier atau tunggal. Teks, gambar, dan simbol yang beredar di media sosial memunculkan beragam tafsir tergantung pada konteks budaya dan ideologis pengguna.¹⁴ Hermeneutika kontekstual membantu membongkar mekanisme di balik dinamika tersebut dengan menunjukkan bahwa makna selalu merupakan hasil konstruksi intersubjektif yang terikat pada situasi dan relasi kekuasaan tertentu.¹⁵

Selain itu, dalam konteks globalisasi, hermeneutika kontekstual memainkan peran penting dalam dialog antarbudaya. Ia mengajarkan bahwa perbedaan makna bukanlah hambatan, tetapi peluang untuk memperluas horizon pemahaman manusia.¹⁶ Dalam dunia yang sering dilanda konflik identitas dan kesalahpahaman antarbudaya, pendekatan hermeneutik kontekstual memberikan dasar etis bagi toleransi dan pengakuan terhadap pluralitas perspektif.¹⁷

8.3.       Hermeneutika Kontekstual dan Etika Dialog

Salah satu sumbangan terpenting hermeneutika kontekstual bagi filsafat kontemporer adalah pengembangan etika dialogis. Gadamer menegaskan bahwa pemahaman sejati hanya dapat tercapai melalui dialog yang terbuka, di mana setiap pihak bersedia mendengarkan horizon yang lain.¹⁸ Habermas kemudian memperluas gagasan ini dengan konsep rasionalitas komunikatif, di mana kebenaran dicapai bukan melalui dominasi, tetapi melalui kesepahaman rasional di antara subjek yang setara.¹⁹

Hermeneutika kontekstual, dengan menggabungkan keduanya, mendorong terwujudnya bentuk etika baru yang menekankan tanggung jawab komunikatif. Ia mengajarkan bahwa menafsir berarti juga berkomitmen untuk memahami yang lain secara empatik dan reflektif.²⁰ Dalam konteks masyarakat global, di mana perbedaan sering menjadi sumber konflik, etika hermeneutik menjadi dasar moral bagi kehidupan bersama yang plural dan damai.²¹

8.4.       Relevansi dalam Kajian Interdisipliner

Hermeneutika kontekstual juga memperlihatkan relevansinya dalam ranah interdisipliner, seperti kajian budaya, teologi, politik, dan teknologi.²² Dalam teologi, ia menjadi dasar bagi pendekatan kontekstual terhadap teks keagamaan yang relevan dengan realitas sosial kontemporer. Dalam ilmu politik, ia membantu memahami bagaimana wacana kekuasaan membentuk persepsi dan kebijakan publik. Dalam kajian teknologi, hermeneutika kontekstual digunakan untuk menafsir interaksi manusia dengan mesin dan kecerdasan buatan, dengan menyoroti bagaimana algoritma dan sistem digital turut membentuk horizon pemahaman manusia.²³

Sebagai paradigma terbuka, hermeneutika kontekstual juga menyediakan jembatan antara ilmu humaniora dan sains sosial dengan filsafat eksistensial dan etika praktis.²⁴ Ia menempatkan manusia bukan hanya sebagai makhluk rasional, tetapi juga simbolik—yang hidup dengan makna, bahasa, dan narasi.²⁵

8.5.       Tantangan dan Prospek Masa Depan

Meskipun memiliki daya jelajah yang luas, hermeneutika kontekstual juga menghadapi tantangan baru di era kontemporer.²⁶ Pertama, tantangan terhadap banjir informasi dan disinformasi, yang membuat proses interpretasi semakin kompleks.²⁷ Kedua, tantangan terhadap relativisme ekstrem, di mana makna dianggap sepenuhnya subjektif tanpa ruang untuk kebenaran bersama.²⁸ Ketiga, tantangan etis dalam menghadapi teknologi digital yang mengaburkan batas antara manusia dan mesin, serta antara realitas dan representasi.²⁹

Namun, justru dalam menghadapi tantangan-tantangan inilah hermeneutika kontekstual menunjukkan vitalitasnya. Dengan semangat reflektif dan dialogis, pendekatan ini terus membuka ruang bagi reinterpretasi nilai-nilai kemanusiaan, kebijaksanaan sosial, dan pemahaman lintas batas.³⁰ Hermeneutika kontekstual tetap relevan sebagai paradigma filsafat yang mempersatukan pengetahuan, makna, dan kemanusiaan dalam dunia yang terus berubah.³¹


Footnotes

[1]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 201–205.

[2]                Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 92–96.

[3]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 440–445.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 214–218.

[5]                Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 45–48.

[6]                Heidegger, Being and Time, 219–223.

[7]                Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations, trans. G. E. M. Anscombe (Oxford: Blackwell, 1953), §23–§43.

[8]                Gadamer, Truth and Method, 450–453.

[9]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 274–278.

[10]             Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism, 98–100.

[11]             Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 147–150.

[12]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 118–122.

[13]             Manuel Castells, The Rise of the Network Society (Malden, MA: Blackwell, 1996), 5–8.

[14]             Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 112–115.

[15]             Teun A. van Dijk, Discourse and Power (New York: Palgrave Macmillan, 2008), 9–11.

[16]             Raimon Panikkar, Cultural Disarmament: The Way to Peace (Louisville: Westminster John Knox Press, 1995), 18–21.

[17]             Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (New York: Crossroad, 1991), 52–55.

[18]             Gadamer, Truth and Method, 305–310.

[19]             Habermas, The Theory of Communicative Action, 280–285.

[20]             Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 165–168.

[21]             Richard J. Bernstein, The New Constellation: The Ethical-Political Horizons of Modernity/Postmodernity (Cambridge: MIT Press, 1991), 122–125.

[22]             David E. Klemm, Hermeneutical Inquiry, Volume 2: The Interpretation of Action (Atlanta: Scholars Press, 1986), 41–44.

[23]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 15–18.

[24]             Paul Ricoeur, Time and Narrative, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 73–77.

[25]             Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 10–12.

[26]             Jean-François Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, trans. Geoff Bennington dan Brian Massumi (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984), 40–42.

[27]             Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 11–13.

[28]             Richard Rorty, Contingency, Irony, and Solidarity (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 45–48.

[29]             Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011), 102–106.

[30]             Davey, Unquiet Understanding, 151–155.

[31]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 212–216.


9.           Kesimpulan

Hermeneutika kontekstual, sebagai salah satu cabang penting dalam tradisi filsafat linguistik dan analitis, menghadirkan paradigma pemahaman yang menegaskan bahwa makna, pengetahuan, dan interpretasi selalu berakar pada konteks historis, sosial, dan linguistik manusia.¹ Ia lahir dari kesadaran bahwa bahasa bukan sekadar sistem tanda, melainkan ruang eksistensial tempat manusia berelasi dengan dunia dan sesamanya. Dalam hal ini, hermeneutika kontekstual menolak dualisme antara subjek dan objek, serta menentang anggapan bahwa makna bersifat absolut dan bebas nilai. Sebaliknya, ia menempatkan makna sebagai hasil dialog yang terus berkembang antara teks, pembaca, dan konteks sosial-budaya yang melingkupinya.²

Secara historis, hermeneutika kontekstual tumbuh dari akar hermeneutika klasik (Schleiermacher dan Dilthey) yang menekankan pemahaman atas intensi pengarang dan pengalaman manusia, lalu berkembang menjadi hermeneutika filosofis melalui Heidegger dan Gadamer yang menyoroti dimensi ontologis pemahaman.³ Ricoeur memperkaya tradisi ini dengan gagasan distansiasi dan surplus makna, sedangkan Habermas mengajukan dimensi emansipatoris melalui teori tindakan komunikatif.⁴ Dari berbagai sumbangan ini, hermeneutika kontekstual kemudian membentuk sintesis yang lebih luas: bahwa memahami berarti berpartisipasi dalam proses dialogis yang menghubungkan horizon-horizon makna secara reflektif dan terbuka terhadap perbedaan.⁵

Dari segi epistemologi, hermeneutika kontekstual menolak klaim objektivitas tunggal dalam ilmu pengetahuan. Ia menggantinya dengan gagasan intersubjektivitas rasional, yakni pandangan bahwa pengetahuan lahir dari komunikasi yang reflektif dan partisipatif antarhorizon pemahaman.⁶ Pengetahuan bukan hasil representasi pasif terhadap realitas, melainkan proses interpretatif yang berlangsung dalam interaksi antara penafsir dan dunia yang dimediasi oleh bahasa.⁷ Dengan demikian, epistemologi hermeneutik bersifat dinamis, karena setiap pemahaman selalu membuka kemungkinan revisi dan perluasan terhadap makna.

Dari segi metodologi, hermeneutika kontekstual mengusung prinsip lingkaran hermeneutik—proses berulang antara bagian dan keseluruhan, antara prapemahaman dan pemahaman baru.⁸ Proses ini menegaskan bahwa pemahaman manusia tidak pernah final; ia bersifat spiral dan progresif. Dalam aplikasinya, metode hermeneutik kontekstual telah menjadi dasar bagi berbagai pendekatan dalam ilmu sosial, humaniora, teologi, antropologi, dan studi budaya.⁹ Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih peka terhadap dimensi simbolik, ideologis, dan pragmatik dalam tindakan sosial serta sistem wacana.

Hermeneutika kontekstual juga memberikan kontribusi etis dan politis yang signifikan. Dalam dunia yang ditandai oleh pluralitas makna, ketegangan budaya, dan konflik identitas, pendekatan hermeneutik kontekstual mendorong etika dialogis yang menghargai perbedaan.¹⁰ Dengan prinsip keterbukaan, ia menegaskan bahwa pemahaman sejati hanya dapat dicapai melalui kesediaan untuk mendengarkan yang lain dan mengakui horizon-horizon makna yang berbeda.¹¹ Dalam konteks globalisasi dan era digital, etika ini menjadi landasan penting bagi kehidupan sosial yang adil, toleran, dan reflektif.

Namun demikian, hermeneutika kontekstual juga menghadapi sejumlah kritik. Dari kalangan positivistik, ia dianggap terlalu subjektif; dari strukturalisme, terlalu longgar terhadap sistem makna; dari dekonstruksionalisme, terlalu optimistik terhadap kemungkinan pemahaman; serta dari teori kritis, dianggap kurang memperhatikan dimensi kekuasaan dalam bahasa.¹² Meskipun demikian, kekuatan hermeneutika kontekstual justru terletak pada kemampuannya untuk menanggapi kritik tersebut secara reflektif dan dialogis. Ia tidak menutup diri dari koreksi, melainkan menganggap perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses pemahaman yang terus berkembang.¹³

Dalam tataran kontemporer, hermeneutika kontekstual tetap relevan karena mampu menjembatani perbedaan disiplin ilmu, mempertemukan filsafat dengan praksis sosial, dan menghubungkan teori dengan realitas kehidupan sehari-hari.¹⁴ Ia menjadi paradigma yang mengajarkan bahwa memahami bukan sekadar menguasai makna, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makna yang kita hasilkan dalam dunia bersama.¹⁵ Dengan semangat reflektif, kritis, dan terbuka, hermeneutika kontekstual terus menghidupkan dialog antara manusia, bahasa, dan dunia—menjadikan interpretasi bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga tindakan etis yang menegaskan kemanusiaan itu sendiri.¹⁶


Footnotes

[1]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 215–218.

[2]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 440–445.

[3]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 11–15.

[4]                Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 45–49.

[5]                Nicholas Davey, Unquiet Understanding: Gadamer’s Philosophical Hermeneutics (Albany: SUNY Press, 2006), 142–146.

[6]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 274–278.

[7]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 210–214.

[8]                Gadamer, Truth and Method, 269–272.

[9]                Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 5–7.

[10]             Richard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983), 98–101.

[11]             Gadamer, Truth and Method, 478–480.

[12]             Jacques Derrida, Of Grammatology, trans. Gayatri C. Spivak (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976), 63–65.

[13]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey dan John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 84–87.

[14]             David E. Klemm, Hermeneutical Inquiry, Volume 2: The Interpretation of Action (Atlanta: Scholars Press, 1986), 31–34.

[15]             Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 167–169.

[16]             Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 220–224.


Daftar Pustaka

Ayer, A. J. (1936). Language, truth and logic. Victor Gollancz.

Barthes, R. (1967). Elements of semiology (A. Lavers & C. Smith, Trans.). Hill and Wang.

Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang.

Barthes, R. (1977). Image, music, text (S. Heath, Trans.). Hill and Wang.

Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Bernstein, R. J. (1983). Beyond objectivism and relativism: Science, hermeneutics, and praxis. University of Pennsylvania Press.

Bernstein, R. J. (1991). The new constellation: The ethical-political horizons of modernity/postmodernity. MIT Press.

Boff, L. (1985). Church: Charism and power. Crossroad.

Castells, M. (1996). The rise of the network society. Blackwell.

Culler, J. (1975). Structuralist poetics: Structuralism, linguistics, and the study of literature. Cornell University Press.

Davey, N. (2006). Unquiet understanding: Gadamer’s philosophical hermeneutics. State University of New York Press.

Derrida, J. (1976). Of grammatology (G. C. Spivak, Trans.). Johns Hopkins University Press.

Derrida, J. (1978). Writing and difference (A. Bass, Trans.). University of Chicago Press.

Dilthey, W. (1989). Introduction to the human sciences (R. A. Makkreel & F. Rodi, Eds.). Princeton University Press.

Eagleton, T. (1983). Literary theory: An introduction. Blackwell.

Fairclough, N. (1989). Language and power. Longman.

Fiske, J. (1989). Understanding popular culture. Routledge.

Floridi, L. (2011). The philosophy of information. Oxford University Press.

Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford University Press.

Foucault, M. (1972). The archaeology of knowledge (A. M. Sheridan Smith, Trans.). Pantheon Books.

Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Trans.). Vintage Books.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). Continuum.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Grondin, J. (1994). Introduction to philosophical hermeneutics. Yale University Press.

Gutiérrez, G. (1973). A theology of liberation (S. C. Inda & J. Eagleson, Trans.). Orbis Books.

Habermas, J. (1971). Knowledge and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action (Vol. 1, T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.

Klemm, D. E. (1986). Hermeneutical inquiry, volume 1: The interpretation of texts. Scholars Press.

Klemm, D. E. (1986). Hermeneutical inquiry, volume 2: The interpretation of action. Scholars Press.

Küng, H. (1988). Theology for the third millennium: An ecumenical view. Doubleday.

Küng, H. (1991). Global responsibility: In search of a new world ethic. Crossroad.

Levinson, S. C. (1983). Pragmatics. Cambridge University Press.

Luther, M. (1960). Preface to the New Testament. In E. T. Bachmann (Ed.), Luther’s works (Vol. 35, pp. 362–365). Fortress Press.

Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition: A report on knowledge (G. Bennington & B. Massumi, Trans.). University of Minnesota Press.

Nagel, E. (1961). The structure of science: Problems in the logic of scientific explanation. Harcourt, Brace & World.

Palmer, R. E. (1969). Hermeneutics: Interpretation theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Northwestern University Press.

Panikkar, R. (1995). Cultural disarmament: The way to peace. Westminster John Knox Press.

Popper, K. R. (1959). The logic of scientific discovery. Routledge.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (1970). Freud and philosophy: An essay on interpretation (D. Savage, Trans.). Yale University Press.

Ricoeur, P. (1976). Interpretation theory: Discourse and the surplus of meaning. Texas Christian University Press.

Ricoeur, P. (1980). Essays on biblical interpretation (L. S. Mudge, Ed.). Fortress Press.

Ricoeur, P. (1984). Time and narrative (Vol. 1). University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (1991). From text to action: Essays in hermeneutics II (K. Blamey & J. B. Thompson, Trans.). Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1992). Oneself as another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press.

Rorty, R. (1979). Philosophy and the mirror of nature. Princeton University Press.

Rorty, R. (1989). Contingency, irony, and solidarity. Cambridge University Press.

Saussure, F. de. (1959). Course in general linguistics (W. Baskin, Trans.). Philosophical Library.

Schleiermacher, F. (1998). Hermeneutics and criticism and other writings (A. Bowie, Ed.). Cambridge University Press.

Searle, J. R. (1969). Speech acts: An essay in the philosophy of language. Cambridge University Press.

Said, E. W. (1993). Culture and imperialism. Vintage Books.

Silverman, D. (2015). Interpreting qualitative data. Sage Publications.

Spivak, G. C. (1988). In other worlds: Essays in cultural politics. Routledge.

Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.

van Dijk, T. A. (2008). Discourse and power. Palgrave Macmillan.

Wadud, A. (1999). Qur’an and woman: Rereading the sacred text from a woman’s perspective. Oxford University Press.

Weber, M. (1949). The methodology of the social sciences (E. A. Shils & H. A. Finch, Trans.). Free Press.

Wittgenstein, L. (1953). Philosophical investigations (G. E. M. Anscombe, Trans.). Blackwell.

Wodak, R., & Meyer, M. (Eds.). (2001). Methods of critical discourse analysis. Sage Publications.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar