Sabtu, 29 November 2025

Etika Bonevolensi: Genealogi, Ontologi Moral, dan Relevansi Humanistik dalam Filsafat Kontemporer

Etika Bonevolensi

Genealogi, Ontologi Moral, dan Relevansi Humanistik dalam Filsafat Kontemporer


Alihkan ke: Filsafat Moral.


Abstrak

Artikel ini mengkaji secara komprehensif konsep Etika Bonevolensi sebagai fondasi filosofis bagi moralitas yang berakar pada cinta, empati, dan tanggung jawab. Melalui pendekatan historis-genealogis, ontologis, epistemologis, dan aksiologis, pembahasan ini menelusuri perkembangan gagasan bonevolensi dari tradisi Aristotelian dan teologi skolastik hingga elaborasi modern dalam filsafat Kant, Levinas, dan Ricoeur. Analisis menunjukkan bahwa etika bonevolensi bukan hanya sistem moral sentimental, melainkan paradigma rasional-afektif yang menyatukan kehendak baik dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam dimensi sosial dan politik, bonevolensi dipahami sebagai dasar keadilan berbelas kasih (compassionate justice) yang menegaskan solidaritas moral di tengah krisis individualisme dan fragmentasi sosial modern. Secara filosofis, artikel ini menawarkan sintesis antara agape (cinta universal) dan responsibility (tanggung jawab etis) sebagai bentuk moralitas yang integral dan transformatif. Relevansi bonevolensi diperluas hingga ranah global, teknologi digital, dan ekologi, menunjukkan potensinya sebagai etika kemanusiaan universal di era modern yang ditandai oleh ketimpangan, dehumanisasi, dan krisis makna.

Dengan demikian, etika bonevolensi dipahami bukan sekadar ajaran moral normatif, tetapi sebagai proyek kemanusiaan yang terbuka (open project)—sebuah horizon filosofis yang mengarahkan manusia untuk menemukan kembali makna eksistensinya melalui cinta yang berpikir dan tanggung jawab yang berbelas kasih.

Kata kunci: Etika Bonevolensi, Cinta, Tanggung Jawab, Keadilan Berbelas Kasih, Empati, Filsafat Moral, Kemanusiaan Universal.


PEMBAHASAN

Bonevolensi sebagai Jantung Etika Humanistik


1.           Pendahuluan

Etika bonevolensi merupakan salah satu pilar fundamental dalam filsafat moral yang menekankan nilai kebaikan, empati, dan kasih sayang terhadap sesama manusia sebagai dasar tindakan etis. Secara etimologis, istilah bonevolensi berasal dari bahasa Latin benevolentia, yang berarti “kehendak baik” (good will) atau kecenderungan untuk menginginkan kebaikan bagi orang lain tanpa pamrih. Dalam konteks filsafat moral, bonevolensi tidak hanya merujuk pada tindakan lahiriah yang baik, tetapi juga pada intensi moral yang mendorong manusia untuk bertindak demi kebaikan pihak lain secara sadar, bebas, dan tulus. Dengan demikian, etika bonevolensi menjadi medan refleksi bagi pertanyaan mendasar tentang hakikat kebaikan, sumber moralitas, serta hubungan antara individu dan komunitas moral yang lebih luas.¹

Gagasan bonevolensi telah hadir sejak masa Yunani klasik, di mana para filsuf seperti Aristoteles menekankan konsep philia (persahabatan) dan eunoia (niat baik) sebagai dasar kehidupan etis yang harmonis.² Aristoteles memahami bahwa kebaikan tidak dapat dipisahkan dari tujuan akhir manusia, yakni eudaimonia (kebahagiaan yang bermakna), yang hanya dapat dicapai melalui kebajikan moral. Dalam konteks ini, bonevolensi bukan sekadar tindakan sosial, melainkan ekspresi dari kesempurnaan karakter.³ Di sisi lain, dalam tradisi Stoa, bonevolensi diartikulasikan sebagai bentuk rasionalitas kosmik—yakni keselarasan antara kehendak individu dan tatanan alam semesta—sehingga tindakan baik merupakan konsekuensi logis dari hidup selaras dengan logos.⁴

Pada masa modern, pemikiran tentang bonevolensi mengalami transformasi melalui berbagai aliran etika. David Hume, misalnya, menegaskan bahwa moralitas berakar pada moral sentiments, yakni perasaan simpati yang bersifat universal dan menjadi dasar pengenalan kita terhadap kebaikan.⁵ Sebaliknya, Immanuel Kant mengkritik pendekatan sentimental tersebut dengan menekankan bahwa moralitas sejati tidak boleh didasarkan pada emosi, melainkan pada prinsip rasional yang bersifat universal, yaitu kehendak baik (guter Wille).⁶ Kendati demikian, kedua pandangan ini menyiratkan bahwa bonevolensi memiliki dua dimensi epistemik yang saling melengkapi: dimensi afektif yang bersumber pada empati manusiawi dan dimensi rasional yang mengandaikan kesadaran moral universal.

Dalam konteks lintas tradisi, etika bonevolensi juga memperoleh bentuk dan kekayaan maknanya dalam pemikiran non-Barat. Dalam Islam, konsep rahmah (kasih sayang) dan ihsan (berbuat baik melebihi kewajiban) menunjukkan landasan teologis yang sejalan dengan semangat bonevolensi.⁷ Al-Qur’an memandang kasih sayang sebagai fondasi etika universal, di mana tindakan moral tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap hukum, tetapi dari keluasan hati untuk mencintai makhluk ciptaan Tuhan.⁸ Demikian pula dalam Buddhisme, konsep karuṇā (belas kasih) menjadi unsur esensial dalam praktik etika yang menuntun manusia menuju pencerahan melalui penghapusan penderitaan makhluk lain.⁹

Dalam realitas sosial kontemporer yang ditandai oleh individualisme, kompetisi, dan krisis empati, gagasan bonevolensi memperoleh relevansi yang semakin mendesak. Dunia modern, dengan kemajuan teknologi dan globalisasi ekonomi, telah melahirkan paradoks moral di mana kemampuan manusia untuk berbuat baik justru sering disertai dengan ketidakpedulian terhadap penderitaan yang jauh dari lingkaran kepentingan pribadi.¹⁰ Oleh karena itu, etika bonevolensi menawarkan paradigma alternatif yang menekankan bahwa moralitas sejati tidak dapat direduksi menjadi kalkulasi utilitarian atau rasionalitas instrumental, melainkan harus berpijak pada cinta kasih dan solidaritas sebagai nilai intrinsik.

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis dasar-dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis etika bonevolensi serta menelusuri dimensi sosial, kritik filosofis, dan relevansi kontemporernya. Kajian ini menggunakan pendekatan historis-filosofis yang berpadu dengan refleksi normatif, guna memahami bagaimana konsep bonevolensi dapat berfungsi sebagai jembatan antara rasionalitas moral dan kepekaan humanistik. Dengan demikian, etika bonevolensi tidak hanya dipahami sebagai teori moral, tetapi juga sebagai praktik kemanusiaan yang meneguhkan kembali makna kebaikan dalam dunia yang kian kehilangan orientasi etis.


Footnotes

[1]                ¹ Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 112.

[2]                ² Aristoteles, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1155a.

[3]                ³ Julia Annas, The Morality of Happiness (New York: Oxford University Press, 1993), 56.

[4]                ⁴ Marcus Aurelius, Meditations, trans. Gregory Hays (New York: Modern Library, 2002), 6.44.

[5]                ⁵ David Hume, An Enquiry Concerning the Principles of Morals (Indianapolis: Hackett, 1983), 9–10.

[6]                ⁶ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 397–399.

[7]                ⁷ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 45.

[8]                ⁸ Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya (21):107.

[9]                ⁹ Thich Nhat Hanh, The Heart of the Buddha’s Teaching (New York: Broadway Books, 1998), 65.

[10]             ¹⁰ Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 85.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Gagasan tentang etika bonevolensi memiliki akar yang panjang dalam sejarah pemikiran moral Barat maupun Timur. Secara genealogis, konsep ini berkembang dari refleksi filosofis mengenai hakikat kebaikan, niat baik, dan kewajiban moral dalam relasi manusia dengan sesamanya. Dalam tradisi Yunani kuno, Aristoteles menempatkan dasar etika pada kebajikan (aretē) dan kebahagiaan (eudaimonia).¹ Ia menegaskan bahwa tindakan moral yang sejati harus bersumber dari karakter yang baik, dan di dalamnya terkandung eunoia—yaitu niat baik terhadap orang lain yang menjadi bagian integral dari persahabatan moral (philia).² Dengan demikian, bagi Aristoteles, bonevolensi bukanlah sekadar tindakan altruistik, melainkan ekspresi dari disposisi kebajikan yang menuntun manusia menuju kehidupan yang baik dan rasional.³

Sementara itu, dalam filsafat Stoa, konsep bonevolensi memperoleh bentuk yang lebih universal. Para filsuf seperti Seneca dan Epiktetos memandang kebaikan sebagai konsekuensi dari hidup yang selaras dengan logos—tatanan rasional kosmos.⁴ Bonevolensi, dalam kerangka Stoa, muncul bukan dari emosi sentimental melainkan dari kesadaran akan kesatuan rasional antara diri dan seluruh makhluk.⁵ Manusia yang bijaksana (sophos) berbuat baik bukan karena dorongan emosional, tetapi karena memahami bahwa setiap makhluk adalah bagian dari tatanan moral yang sama.⁶ Dalam hal ini, etika bonevolensi diartikulasikan sebagai kehendak baik yang rasional, terarah pada harmoni universal.

Dalam tradisi teologis Kristen, konsep bonevolensi mengalami transformasi teosentris. Santo Agustinus menafsirkan kebaikan moral sebagai refleksi kasih Ilahi (caritas) yang menuntun manusia untuk mengasihi sesamanya demi cinta kepada Tuhan.⁷ Bagi Agustinus, kasih (love) merupakan puncak kebajikan dan dasar tatanan moral yang benar; tindakan bonevolen hanya sah apabila berakar pada kasih yang terarah pada Tuhan sebagai sumber kebaikan absolut.⁸ Pemikiran ini kemudian disistematisasi oleh Thomas Aquinas yang membedakan antara amor (cinta alami) dan caritas (cinta ilahi).⁹ Dalam Summa Theologica, Aquinas menegaskan bahwa kehendak baik (bona voluntas) adalah ekspresi dari partisipasi manusia dalam hukum moral abadi (lex aeterna), sehingga bonevolensi merupakan cerminan dari rasionalitas moral yang diilhami oleh kasih Tuhan.¹⁰

Peralihan menuju era modern menandai perubahan paradigma yang signifikan terhadap bonevolensi. David Hume menolak pandangan rasionalistik mengenai moralitas dan mengemukakan bahwa dasar etika sesungguhnya terletak pada moral sentiments, yakni perasaan simpati yang memungkinkan manusia merasakan penderitaan dan kebahagiaan orang lain.¹¹ Dalam An Enquiry Concerning the Principles of Morals, Hume menegaskan bahwa bonevolensi adalah sumber utama dari penilaian moral positif; manusia menghargai tindakan bonevolen bukan karena kewajiban rasional, melainkan karena ia menimbulkan kesenangan moral.¹² Dengan demikian, Hume menempatkan bonevolensi sebagai basis empiris moralitas, yang bersumber dari disposisi emosional alami manusia.

Sebaliknya, Immanuel Kant mengkritik pendekatan sentimental tersebut dengan menekankan supremasi rasio moral. Dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals, Kant berpendapat bahwa tindakan moral yang sejati tidak bergantung pada perasaan, melainkan pada prinsip rasional yang diungkapkan melalui imperatif kategoris.¹³ Bagi Kant, kehendak baik (good will) merupakan satu-satunya hal yang benar-benar baik tanpa syarat; oleh karenanya, bonevolensi memiliki nilai moral hanya bila ia dilakukan semata-mata karena kewajiban moral, bukan karena kecenderungan emosional.¹⁴ Pandangan Kant ini memindahkan bonevolensi dari wilayah afektif menuju landasan transendental, di mana kebaikan moral bersumber dari otonomi rasional manusia.¹⁵

Namun demikian, perkembangan etika pada abad ke-19 dan ke-20 menunjukkan upaya rekonsiliasi antara aspek afektif dan rasional dalam moralitas bonevolensi. Pemikir utilitarian seperti Jeremy Bentham dan John Stuart Mill memandang bonevolensi sebagai sarana untuk memaksimalkan kebahagiaan umum (the greatest happiness principle).¹⁶ Dalam pandangan mereka, tindakan yang bonevolen adalah tindakan yang meningkatkan kesejahteraan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Walaupun demikian, pendekatan ini sering dikritik karena mereduksi bonevolensi menjadi kalkulasi utilitas sosial tanpa memperhatikan dimensi intensional dan moral dari niat baik itu sendiri.¹⁷

Dalam khazanah Timur, gagasan bonevolensi juga berkembang secara paralel dengan karakteristik spiritual dan komunal. Dalam etika Islam, nilai rahmah (kasih sayang) dan ihsan (berbuat baik secara melampaui kewajiban) menjadi fondasi moral yang menekankan tanggung jawab manusia terhadap sesama makhluk sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.¹⁸ Dalam Al-Qur’an, kasih sayang disebut sebagai sifat universal Ilahi: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya [21] ayat 107).¹⁹ Sementara dalam Buddhisme, konsep karuṇā (belas kasih) dan mettā (cinta kasih universal) memuat pandangan bahwa penderitaan orang lain merupakan penderitaan kita sendiri; oleh karena itu, bonevolensi menjadi praktik pembebasan batin yang menghapus batas antara diri dan liyan.²⁰

Secara genealogis, etika bonevolensi memperlihatkan lintasan panjang yang menyeberangi berbagai horizon filsafat dan teologi. Ia bergerak dari akar kebajikan Aristotelian, melalui rasionalitas Stoa dan kasih Kristiani, menuju sintesis modern antara perasaan dan kewajiban moral. Dari perspektif ini, bonevolensi bukan sekadar wacana etika, melainkan cermin evolusi kesadaran moral manusia—dari kebaikan sebagai kebiasaan, menjadi kebaikan sebagai kesadaran, dan akhirnya kebaikan sebagai tanggung jawab universal terhadap sesama.


Footnotes

[1]                ¹ Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1099b.

[2]                ² Julia Annas, The Morality of Happiness (New York: Oxford University Press, 1993), 45–46.

[3]                ³ Martha C. Nussbaum, The Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 102.

[4]                ⁴ Seneca, Letters from a Stoic, trans. Robin Campbell (London: Penguin Classics, 1969), 57.

[5]                ⁵ Epictetus, The Discourses, trans. Elizabeth Carter (London: Everyman’s Library, 1995), 1.12.

[6]                ⁶ Marcus Aurelius, Meditations, trans. Gregory Hays (New York: Modern Library, 2002), 4.3.

[7]                ⁷ Augustine, Confessions, trans. Henry Chadwick (Oxford: Oxford University Press, 1991), 211.

[8]                ⁸ Augustine, The City of God, trans. Henry Bettenson (London: Penguin Books, 2003), 19.14.

[9]                ⁹ Thomas Aquinas, Summa Theologica, trans. Fathers of the English Dominican Province (New York: Benziger Brothers, 1947), II-II, Q.23, Art.1.

[10]             ¹⁰ Ibid., I-II, Q.93, Art.4.

[11]             ¹¹ David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1978), 316–317.

[12]             ¹² David Hume, An Enquiry Concerning the Principles of Morals (Indianapolis: Hackett, 1983), 24.

[13]             ¹³ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 397–399.

[14]             ¹⁴ Ibid., 401.

[15]             ¹⁵ Christine Korsgaard, Creating the Kingdom of Ends (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 107.

[16]             ¹⁶ John Stuart Mill, Utilitarianism, ed. Roger Crisp (Oxford: Oxford University Press, 1998), 21.

[17]             ¹⁷ Bernard Williams, Ethics and the Limits of Philosophy (Cambridge: Harvard University Press, 1985), 84.

[18]             ¹⁸ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 46.

[19]             ¹⁹ Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya (21):107.

[20]             ²⁰ Thich Nhat Hanh, The Heart of the Buddha’s Teaching (New York: Broadway Books, 1998), 66.


3.           Ontologi Etika Bonevolensi

Secara ontologis, etika bonevolensi berpijak pada asumsi bahwa kebaikan memiliki realitas yang imanen sekaligus transenden dalam eksistensi manusia. Ontologi dalam konteks etika bonevolensi tidak hanya menyoal tentang apa itu kebaikan, tetapi juga apa yang menjadikan manusia mampu dan cenderung untuk berbuat baik. Pertanyaan ontologis ini menuntun kita pada pemahaman bahwa bonevolensi bukan sekadar tindakan moral eksternal, melainkan ekspresi dari struktur ontologis manusia sebagai makhluk rasional dan relasional yang memiliki potensi moral bawaan untuk menghendaki kebaikan bagi dirinya dan orang lain.¹ Dengan kata lain, tindakan bonevolen mencerminkan eksistensi moral manusia yang menyadari dirinya sebagai bagian dari tatanan kebaikan universal.²

Dalam tradisi Aristotelian, kebaikan (to agathon) dipandang sebagai tujuan akhir (final cause) dari seluruh eksistensi, baik di alam maupun dalam diri manusia.³ Manusia sebagai makhluk berakal (zoon logon echon) diarahkan secara kodrati menuju eudaimonia—keadaan bahagia yang diperoleh melalui aktualisasi kebajikan moral.⁴ Dari kerangka ini, ontologi bonevolensi dapat dipahami sebagai dimensi internal dari kebajikan yang menggerakkan individu untuk berbuat baik tidak semata karena konsekuensi eksternal, melainkan karena kesempurnaan moral itu sendiri.⁵ Aristoteles menekankan bahwa tindakan baik yang sejati harus dilakukan “demi kebaikan itu sendiri” (for the sake of the good itself), suatu prinsip yang menandai bahwa bonevolensi berakar pada struktur teleologis keberadaan manusia.⁶

Dalam tradisi Stoa, ontologi bonevolensi memperoleh makna kosmologis. Para filsuf Stoa seperti Marcus Aurelius dan Epiktetos memandang bahwa dunia ditata oleh logos, prinsip rasional yang menyatukan seluruh realitas.⁷ Dengan demikian, kehendak baik manusia tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan partisipasi dalam tatanan kosmik tersebut.⁸ Bonevolensi, dalam pandangan ini, tidak bersumber dari perasaan individual, tetapi dari kesadaran ontologis bahwa setiap makhluk adalah bagian dari logos yang sama.⁹ Tindakan baik terhadap sesama, karenanya, bukan sekadar pilihan etis, tetapi pengakuan terhadap keterkaitan eksistensial antara semua entitas dalam alam semesta.¹⁰

Sementara itu, dalam pemikiran Immanuel Kant, ontologi bonevolensi berpindah ke ranah transendental. Kant menegaskan bahwa kehendak baik (der gute Wille) merupakan satu-satunya hal yang baik tanpa syarat, karena ia bersumber dari rasio praktis yang otonom.¹¹ Di sini, bonevolensi memiliki status ontologis sebagai manifestasi dari kebebasan rasional manusia.¹² Tindakan bonevolen bukan sekadar fenomena empiris, tetapi perwujudan dari noumenal self—subjek moral yang bertindak sesuai dengan hukum moral universal yang ia berikan kepada dirinya sendiri.¹³ Oleh karena itu, dalam kerangka Kantian, bonevolensi menjadi tanda eksistensi moral manusia yang bebas, rasional, dan memiliki martabat intrinsik.¹⁴

Dari perspektif fenomenologi eksistensial, terutama dalam pemikiran Emmanuel Levinas, ontologi bonevolensi mendapatkan kedalaman etis yang baru. Levinas mengkritik ontologi tradisional yang menempatkan being sebagai pusat, dengan menawarkan etika sebagai “filsafat pertama”.¹⁵ Dalam karyanya Totality and Infinity, ia menegaskan bahwa hubungan dengan L’Autre (yang Lain) mendahului dan melampaui setiap ontologi; tanggung jawab terhadap Liyan adalah bentuk keterpanggilan etis yang bersifat pra-rasional dan pra-reflektif.¹⁶ Dengan demikian, bonevolensi bukanlah derivasi dari pengetahuan ontologis, melainkan kondisi ontologis itu sendiri—yakni eksistensi yang senantiasa diarahkan kepada yang lain dengan sikap kasih dan tanggung jawab.¹⁷

Dalam tradisi teologis, terutama dalam pemikiran Thomas Aquinas, kebaikan memiliki status ontologis sebagai transcendentale ens, yaitu salah satu kategori yang melekat pada seluruh wujud (ens et bonum convertuntur).¹⁸ Hal ini berarti bahwa setiap wujud, sejauh ia ada, mengandung kebaikan. Bonevolensi, dalam kerangka ini, adalah partisipasi manusia dalam kebaikan ilahi sebagai sumber segala keberadaan.¹⁹ Tindakan berbuat baik terhadap sesama bukan hanya aktivitas moral, melainkan juga ekspresi metafisik dari keterlibatan manusia dalam struktur kebaikan universal yang berakar pada Tuhan sebagai Summum Bonum (Kebaikan Tertinggi).²⁰ Dengan demikian, etika bonevolensi menghubungkan ontologi dan teologi melalui gagasan bahwa kebaikan adalah prinsip sekaligus tujuan seluruh eksistensi.²¹

Dalam konteks filsafat Islam, konsep rahmah (kasih sayang) memiliki kedudukan ontologis yang sejalan dengan bonevolensi. Rahmah dipahami sebagai sifat esensial Tuhan dan sekaligus prinsip ontologis yang menjiwai seluruh ciptaan.²² Karena itu, setiap tindakan kasih sayang manusia merupakan refleksi dari sifat Ilahi tersebut.²³ Dalam pandangan Al-Ghazali, cinta dan kebaikan (mahabbah wa khayr) muncul dari kesadaran bahwa segala yang ada merupakan manifestasi dari sumber kebaikan yang tunggal, sehingga mencintai sesama berarti mencintai Tuhan.²⁴ Maka, bonevolensi dalam Islam bukan hanya tindakan moral, tetapi juga pengakuan ontologis terhadap kesatuan eksistensi dan rahmat Ilahi yang meliputi seluruh makhluk.²⁵

Dengan demikian, ontologi etika bonevolensi mengungkap bahwa kebaikan bukanlah konstruksi sosial atau produk kalkulasi rasional semata, tetapi struktur mendasar dari eksistensi manusia itu sendiri. Bonevolensi menyingkapkan hakikat manusia sebagai makhluk yang secara ontologis diarahkan pada relasi, cinta, dan tanggung jawab. Ia mempertemukan tiga horizon ontologis yang saling melengkapi: teleologi Aristotelian yang menuntun manusia menuju eudaimonia, rasionalitas Kantian yang meneguhkan otonomi moral, dan eksistensialitas Levinasian yang menempatkan tanggung jawab terhadap Liyan sebagai inti keberadaan. Dengan cara itu, bonevolensi menjadi jembatan antara keberadaan dan kebaikan—antara being dan ought—serta mengukuhkan manusia sebagai makhluk moral yang keberadaannya bermakna karena kemampuan untuk berbuat baik.²⁶


Footnotes

[1]                ¹ Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 63.

[2]                ² Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 190.

[3]                ³ Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), 982b.

[4]                ⁴ Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1097b–1098a.

[5]                ⁵ Julia Annas, Intelligent Virtue (Oxford: Oxford University Press, 2011), 73.

[6]                ⁶ Martha C. Nussbaum, The Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 54.

[7]                ⁷ Marcus Aurelius, Meditations, trans. Gregory Hays (New York: Modern Library, 2002), 6.44.

[8]                ⁸ Seneca, Letters from a Stoic, trans. Robin Campbell (London: Penguin Classics, 1969), 90.

[9]                ⁹ Epictetus, Discourses and Selected Writings, trans. Robert Dobbin (London: Penguin Classics, 2008), 1.14.

[10]             ¹⁰ John Sellars, Stoicism (Berkeley: University of California Press, 2006), 112.

[11]             ¹¹ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 397.

[12]             ¹² Allen W. Wood, Kantian Ethics (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 58.

[13]             ¹³ Christine M. Korsgaard, The Sources of Normativity (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 93.

[14]             ¹⁴ Paul Guyer, Kant on Freedom, Law, and Happiness (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 135.

[15]             ¹⁵ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 23.

[16]             ¹⁶ Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 79.

[17]             ¹⁷ Simon Critchley, The Ethics of Deconstruction: Derrida and Levinas (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1999), 114.

[18]             ¹⁸ Thomas Aquinas, Summa Theologica, trans. Fathers of the English Dominican Province (New York: Benziger Brothers, 1947), I, Q.5, Art.1.

[19]             ¹⁹ Etienne Gilson, The Christian Philosophy of St. Thomas Aquinas (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1956), 176.

[20]             ²⁰ Ibid., 180.

[21]             ²¹ Jacques Maritain, The Degrees of Knowledge, trans. Gerald B. Phelan (New York: Charles Scribner’s Sons, 1959), 93.

[22]             ²² Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 45.

[23]             ²³ Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 97.

[24]             ²⁴ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. N. A. Faris (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983), 234.

[25]             ²⁵ Sachiko Murata and William C. Chittick, The Vision of Islam (New York: Paragon House, 1994), 152.

[26]             ²⁶ Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 211.


4.           Epistemologi Moral Bonevolensi

Epistemologi moral bonevolensi berfokus pada pertanyaan mendasar: bagaimana manusia mengetahui dan memahami kebaikan yang harus dilakukan terhadap sesama? Pertanyaan ini menyingkap dimensi kognitif dan afektif dari moralitas bonevolensi, yaitu hubungan antara rasio, intuisi, dan empati sebagai sumber pengetahuan etis. Dalam konteks ini, bonevolensi tidak sekadar dipahami sebagai sikap moral, melainkan juga sebagai bentuk pengetahuan praktis (practical knowledge) yang memungkinkan individu mengenali apa yang baik dan bertindak atas dasar pengenalan tersebut.¹

Secara historis, Aristoteles telah membedakan antara pengetahuan teoretis (epistēmē), pengetahuan teknis (technē), dan pengetahuan praktis (phronēsis).² Bonevolensi, dalam kerangka Aristotelian, termasuk dalam phronēsis, yakni kebijaksanaan praktis yang mengarahkan kehendak pada tindakan baik melalui pertimbangan rasional dan pengalaman moral.³ Pengetahuan tentang kebaikan tidak bersifat deduktif seperti ilmu logika, melainkan diperoleh melalui pembiasaan dan refleksi atas situasi konkret.⁴ Karena itu, seseorang mengetahui kebaikan bukan hanya dengan berpikir, tetapi dengan menjadi baik—sebuah proses epistemik yang sekaligus etis.⁵

Dalam tradisi modern, David Hume mengajukan pandangan alternatif melalui teori moral sentiments. Menurutnya, pengetahuan moral berakar bukan pada rasio, melainkan pada perasaan simpati yang memungkinkan manusia memahami penderitaan dan kebahagiaan orang lain.⁶ “Rasio,” tulis Hume, “adalah budak dari nafsu,” sehingga penilaian moral sejati bersumber pada empati dan kecenderungan alami untuk menginginkan kebaikan bagi sesama.⁷ Dalam kerangka ini, bonevolensi merupakan hasil dari kemampuan afektif untuk merasakan nilai moral tindakan; kita mengetahui bahwa sesuatu itu baik karena kita merasakan kebaikannya.⁸

Immanuel Kant menolak reduksi moralitas pada perasaan, dengan menegaskan bahwa pengetahuan moral bersumber dari rasio praktis yang otonom.⁹ Menurut Kant, manusia memperoleh pengetahuan moral melalui a priori prinsip universal, yaitu imperatif kategoris yang menyatakan bahwa seseorang harus bertindak sedemikian rupa sehingga maksima tindakannya dapat menjadi hukum universal.¹⁰ Dalam pandangan ini, bonevolensi yang sejati bukanlah hasil emosi spontan, tetapi pengetahuan reflektif tentang kewajiban moral yang bersifat universal.¹¹ Meskipun demikian, Kant tidak menafikan adanya perasaan moral, namun menempatkannya sebagai konsekuensi dari kesadaran rasional terhadap hukum moral, bukan sumbernya.¹²

Dalam tradisi fenomenologis, Edmund Husserl dan Max Scheler memperluas epistemologi moral dengan menempatkan emosi bernilai (Wertnehmung) sebagai bentuk intuisi moral.¹³ Scheler berpendapat bahwa manusia dapat “melihat” nilai-nilai moral melalui pengalaman emosional yang murni dan intensional; dengan demikian, empati dan cinta bukan hanya perasaan, tetapi bentuk pengenalan terhadap nilai moral yang objektif.¹⁴ Dalam konteks bonevolensi, ini berarti bahwa tindakan kasih sayang mengandung dimensi kognitif—yakni pengetahuan langsung tentang nilai kebaikan dalam diri orang lain.¹⁵ Bonevolensi, dalam pandangan Scheler, adalah “penglihatan hati” (Liebe als Erkenntnis), yang memungkinkan manusia menangkap realitas moral yang tidak dapat dijangkau oleh rasio diskursif.¹⁶

Dalam perspektif eksistensial, Emmanuel Levinas memberikan arah baru bagi epistemologi moral bonevolensi dengan menolak primasi pengetahuan kognitif atas relasi etis.¹⁷ Ia menegaskan bahwa pengetahuan tentang kebaikan tidak muncul dari refleksi intelektual, tetapi dari pertemuan etis dengan Liyan (the Other).¹⁸ Wajah Liyan (le visage de l’Autre) menjadi sumber pengetahuan moral karena ia memanggil subjek untuk bertanggung jawab bahkan sebelum berpikir.¹⁹ Dengan demikian, bonevolensi merupakan pengetahuan yang bersifat pra-reflektif—suatu “kesadaran moral yang mendahului kesadaran rasional.”²⁰ Dalam horizon Levinasian, mengetahui kebaikan berarti menerima tanggung jawab atas yang lain, bukan sekadar memahami konsep kebaikan secara abstrak.²¹

Dalam tradisi teologis Islam, epistemologi moral bonevolensi terhubung dengan konsep ma‘rifah (pengenalan batiniah terhadap kebenaran).²² Menurut Al-Ghazali, pengetahuan sejati tentang kebaikan hanya dapat diperoleh melalui penyucian hati (tazkiyah al-nafs), karena hati adalah cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.²³ Tindakan kasih sayang dan kebajikan (rahmah dan ihsan) bukan sekadar hasil perintah rasional, melainkan hasil ilmu hudhuri—pengetahuan langsung yang dihadirkan Tuhan dalam hati manusia.²⁴ Karena itu, bonevolensi menjadi bentuk pengetahuan eksistensial yang tidak hanya menuntut pengertian intelektual, tetapi juga kesadaran spiritual terhadap kebaikan yang bersumber dari Tuhan.²⁵

Epistemologi bonevolensi dengan demikian menuntut sintesis antara tiga dimensi utama: rasional, afektif, dan spiritual. Rasionalitas memberikan kerangka normatif untuk memahami prinsip kebaikan; afeksi memungkinkan pengenalan langsung terhadap nilai-nilai moral melalui empati; dan spiritualitas memberikan orientasi transendental yang meneguhkan sumber ilahi kebaikan. Dalam kerangka ini, bonevolensi bukanlah sekadar bentuk tindakan sosial, tetapi juga cara manusia mengetahui dan mengalami moralitas.²⁶ Ia adalah “pengetahuan yang menggerakkan” (cognitio motiva), di mana memahami berarti berbuat, dan berbuat berarti memahami.²⁷ Dengan demikian, epistemologi moral bonevolensi mengembalikan etika kepada pusatnya yang sejati: kesadaran manusia sebagai makhluk yang mengetahui kebaikan melalui cinta, tanggung jawab, dan pengenalan terhadap sesama.²⁸


Footnotes

[1]                ¹ Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 170.

[2]                ² Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1140a–1141b.

[3]                ³ Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 104.

[4]                ⁴ Julia Annas, Intelligent Virtue (Oxford: Oxford University Press, 2011), 90.

[5]                ⁵ Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 85.

[6]                ⁶ David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1978), 316.

[7]                ⁷ Ibid., 415.

[8]                ⁸ Annette C. Baier, Moral Prejudices: Essays on Ethics (Cambridge: Harvard University Press, 1994), 38.

[9]                ⁹ Immanuel Kant, Critique of Practical Reason, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 32.

[10]             ¹⁰ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 421.

[11]             ¹¹ Allen W. Wood, Kantian Ethics (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 61.

[12]             ¹² Paul Guyer, Kant on Freedom, Law, and Happiness (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 129.

[13]             ¹³ Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred S. Frings and Roger L. Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 28.

[14]             ¹⁴ Ibid., 92–93.

[15]             ¹⁵ Robert Spaemann, Happiness and Benevolence, trans. Jeremy Gaines and Jeffrey Seep (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2000), 47.

[16]             ¹⁶ Ibid., 51.

[17]             ¹⁷ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 27.

[18]             ¹⁸ Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 201.

[19]             ¹⁹ Simon Critchley, The Ethics of Deconstruction: Derrida and Levinas (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1999), 119.

[20]             ²⁰ Levinas, Ethics and Infinity, 48.

[21]             ²¹ John Llewelyn, The Middle Voice of Ecological Conscience: A Chiasmic Reading of Responsibility in the Neighbour (London: Macmillan, 1991), 63.

[22]             ²² Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 105.

[23]             ²³ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. N. A. Faris (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983), 221.

[24]             ²⁴ Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 2002), 153.

[25]             ²⁵ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 49.

[26]             ²⁶ Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 257.

[27]             ²⁷ Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (London: Continuum, 2004), 315.

[28]             ²⁸ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 44.


5.           Aksiologi: Nilai, Prinsip, dan Tujuan Bonevolensi

Secara aksiologis, etika bonevolensi berakar pada keyakinan bahwa kebaikan memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada manfaat eksternal atau penghargaan sosial. Nilai kebaikan dalam bonevolensi tidak diukur oleh hasil, tetapi oleh niat murni dan kesadaran moral yang melatarbelakangi tindakan.¹ Dalam hal ini, aksiologi bonevolensi mengandung tiga dimensi utama: pertama, nilai-nilai moral yang menjadi fondasi; kedua, prinsip etis yang mengarahkan tindakan; dan ketiga, tujuan moral yang menjadi orientasi akhir dari tindakan bonevolen. Ketiga dimensi ini membentuk kerangka nilai yang menempatkan cinta kasih, empati, dan tanggung jawab sebagai inti praksis etika kemanusiaan.²

5.1.       Nilai-Nilai Moral Bonevolensi

Nilai fundamental dalam etika bonevolensi adalah kasih (love), kebaikan (goodness), dan empati (empathy).³ Nilai-nilai ini tidak hanya memiliki fungsi moral, tetapi juga antropologis: ia mengungkap hakikat manusia sebagai makhluk relasional yang hanya dapat menemukan makna dirinya dalam hubungan dengan yang lain.⁴ Dalam tradisi Aristotelian, nilai bonevolensi tercermin dalam konsep philia (persahabatan) dan eunoia (niat baik), yang merupakan bagian integral dari kebajikan moral (aretē).⁵ Aristoteles menegaskan bahwa kebaikan sejati selalu diarahkan kepada kesejahteraan bersama (to koinon agathon), bukan hanya keuntungan pribadi.⁶ Dengan demikian, bonevolensi adalah ekspresi nilai kebajikan yang menumbuhkan harmoni sosial sekaligus kesempurnaan pribadi.

Dalam tradisi Kristen, nilai bonevolensi dimaknai sebagai manifestasi dari kasih ilahi (caritas), di mana tindakan baik terhadap sesama adalah bentuk partisipasi manusia dalam cinta Tuhan.⁷ Santo Agustinus menyatakan bahwa seluruh moralitas berakar pada kasih yang benar—yakni kasih yang diarahkan kepada Tuhan dan melalui-Nya kepada sesama.⁸ Nilai kasih dalam bonevolensi, karena itu, bersifat transenden: ia menghubungkan manusia dengan sumber kebaikan yang melampaui dirinya. Dalam kerangka ini, bonevolensi tidak hanya bernilai etis, tetapi juga soteriologis, karena berbuat baik merupakan jalan menuju keselamatan spiritual.⁹

Sementara itu, dalam etika Islam, nilai-nilai bonevolensi berakar pada konsep rahmah (kasih sayang), ihsan (berbuat baik secara melampaui kewajiban), dan ta‘awun (tolong-menolong dalam kebajikan).¹⁰ Nilai-nilai ini menekankan bahwa tindakan moral yang sejati harus dilandasi oleh keikhlasan (ikhlas) dan kesadaran bahwa setiap amal baik adalah ibadah.¹¹ Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (al-muhsinin)” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 195).¹² Maka, nilai bonevolensi dalam Islam mengandung dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan dengan manusia), yang keduanya menyatu dalam kesadaran etis yang utuh.

5.2.       Prinsip Etika Bonevolensi

Dari nilai-nilai tersebut lahirlah sejumlah prinsip moral yang mengarahkan tindakan bonevolen. Prinsip pertama adalah niat baik sebagai sumber moralitas. Immanuel Kant menegaskan bahwa “tidak ada sesuatu pun yang dapat dianggap baik tanpa syarat kecuali kehendak baik.”¹³ Niat bonevolen memiliki nilai moral sejati hanya jika dilakukan bukan demi keuntungan atau rasa puas pribadi, tetapi karena kesadaran akan kewajiban moral.¹⁴ Prinsip ini menjadikan moralitas bonevolensi sebagai tindakan yang otonom, bebas dari determinasi eksternal, dan berakar pada kesadaran rasional.

Prinsip kedua adalah empati sebagai dasar pengenalan moral. Max Scheler berpendapat bahwa empati bukanlah emosi pasif, melainkan bentuk pengetahuan nilai yang memungkinkan manusia “melihat” kebaikan dalam diri orang lain.¹⁵ Melalui empati, seseorang memahami nilai moral tindakan bukan dari perspektif dirinya sendiri, tetapi dari pengalaman eksistensial orang lain.¹⁶ Dengan demikian, bonevolensi menjadi prinsip dialogis: kebaikan bukanlah monolog, tetapi hasil relasi timbal balik antara diri dan Liyan.

Prinsip ketiga adalah tanggung jawab sebagai konsekuensi moral dari kasih. Emmanuel Levinas menekankan bahwa tanggung jawab terhadap yang lain muncul bukan sebagai hasil pilihan, melainkan sebagai keterpanggilan eksistensial yang mendahului kebebasan.¹⁷ “Aku bertanggung jawab atas yang lain bahkan sebelum aku memilih untuk menjadi baik,” tulisnya.¹⁸ Dalam konteks bonevolensi, tanggung jawab ini berarti bahwa tindakan kasih bukan sekadar pilihan moral, tetapi struktur dasar keberadaan manusia yang etis.

5.3.       Tujuan Moral Bonevolensi

Tujuan akhir dari etika bonevolensi adalah realization of goodness—realisasi kebaikan itu sendiri, baik dalam diri maupun dalam tatanan sosial. Tujuan ini bersifat teleologis sekaligus universal. Secara teleologis, tindakan bonevolen diarahkan pada kebahagiaan (eudaimonia) yang dicapai melalui kehidupan bermoral; secara universal, ia bertujuan membangun tatanan dunia yang lebih adil dan manusiawi.¹⁹ Aristoteles menyebutnya sebagai the good life, kehidupan yang baik dalam polis yang adil.²⁰

Dalam filsafat utilitarian, tujuan bonevolensi diartikulasikan sebagai penciptaan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang (the greatest happiness for the greatest number).²¹ Namun, pendekatan ini sering dikritik karena mengabaikan nilai intrinsik niat moral.²² Bonevolensi yang sejati tidak dapat direduksi menjadi kalkulasi kebahagiaan kolektif; ia melibatkan komitmen terhadap kebaikan bahkan ketika tidak menghasilkan manfaat langsung.²³ Oleh karena itu, bonevolensi lebih dekat dengan pandangan Kantian tentang duty for duty’s sake, di mana tujuan moral bukanlah hasil, melainkan kebaikan itu sendiri.²⁴

Di sisi lain, dari perspektif spiritual, tujuan bonevolensi adalah penyatuan eksistensial dengan sumber kebaikan universal. Dalam Islam, tindakan kasih dan kebaikan merupakan jalan menuju taqarrub (kedekatan) kepada Tuhan.²⁵ Dalam kerangka ini, berbuat baik berarti berpartisipasi dalam sifat Ilahi yang Maha Penyayang.²⁶ Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Ghazali, “barang siapa mencintai karena Allah, maka cintanya adalah cermin dari cinta-Nya.”²⁷ Dengan demikian, bonevolensi tidak hanya mencapai tujuan etis, tetapi juga tujuan spiritual—yakni penyempurnaan diri sebagai makhluk moral dan spiritual.


Integrasi Nilai, Prinsip, dan Tujuan

Dari perspektif aksiologis, etika bonevolensi menampilkan sintesis antara rasionalitas dan afeksi, antara kebaikan individual dan tanggung jawab sosial. Ia menolak reduksi etika menjadi formalitas hukum moral semata, sekaligus menolak sentimentalitas tanpa arah normatif. Bonevolensi mengandaikan keseimbangan antara niat yang murni, empati yang reflektif, dan orientasi teleologis menuju kebaikan universal.²⁸ Dalam kerangka inilah, etika bonevolensi berfungsi sebagai fondasi bagi moralitas humanistik yang meneguhkan martabat manusia bukan karena status sosial atau kemampuan rasionalnya, tetapi karena kapasitasnya untuk mencintai dan berbuat baik tanpa pamrih.²⁹


Footnotes

[1]                ¹ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 44.

[2]                ² Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 118.

[3]                ³ Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 86.

[4]                ⁴ Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 211.

[5]                ⁵ Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1156b–1157a.

[6]                ⁶ Julia Annas, The Morality of Happiness (New York: Oxford University Press, 1993), 53.

[7]                ⁷ Thomas Aquinas, Summa Theologica, trans. Fathers of the English Dominican Province (New York: Benziger Brothers, 1947), II-II, Q.23, Art.1.

[8]                ⁸ Augustine, The City of God, trans. Henry Bettenson (London: Penguin Books, 2003), 19.14.

[9]                ⁹ Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (Oxford: Oxford University Press, 1954), 97.

[10]             ¹⁰ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 49.

[11]             ¹¹ Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 109.

[12]             ¹² Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2):195.

[13]             ¹³ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 397.

[14]             ¹⁴ Allen W. Wood, Kantian Ethics (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 64.

[15]             ¹⁵ Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred S. Frings and Roger L. Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 92.

[16]             ¹⁶ Robert Spaemann, Happiness and Benevolence, trans. Jeremy Gaines and Jeffrey Seep (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2000), 49.

[17]             ¹⁷ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 47.

[18]             ¹⁸ Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 201.

[19]             ¹⁹ Julia Annas, Intelligent Virtue (Oxford: Oxford University Press, 2011), 88.

[20]             ²⁰ Aristotle, Politics, trans. Benjamin Jowett (Oxford: Clarendon Press, 1885), 1252b.

[21]             ²¹ John Stuart Mill, Utilitarianism, ed. Roger Crisp (Oxford: Oxford University Press, 1998), 17.

[22]             ²² Bernard Williams, Ethics and the Limits of Philosophy (Cambridge: Harvard University Press, 1985), 84.

[23]             ²³ Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 194.

[24]             ²⁴ Immanuel Kant, Critique of Practical Reason, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 76.

[25]             ²⁵ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. N. A. Faris (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983), 240.

[26]             ²⁶ Sachiko Murata and William C. Chittick, The Vision of Islam (New York: Paragon House, 1994), 157.

[27]             ²⁷ Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, 243.

[28]             ²⁸ Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 71.

[29]             ²⁹ Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 84.


6.           Dimensi Sosial dan Politik Etika Bonevolensi

Etika bonevolensi tidak hanya beroperasi pada tataran individual, melainkan juga memiliki implikasi sosial dan politik yang luas. Sebagai prinsip moral yang menekankan kebaikan dan empati terhadap sesama, bonevolensi dapat menjadi dasar bagi tatanan sosial yang berkeadilan dan politik yang berwajah manusiawi. Dalam konteks ini, bonevolensi berfungsi sebagai koreksi terhadap kecenderungan modernitas yang sering menempatkan rasionalitas instrumental di atas nilai kemanusiaan.¹ Ia mengajukan paradigma etika sosial yang mengutamakan solidaritas, kepedulian, dan tanggung jawab bersama, serta menolak pandangan politik yang hanya berorientasi pada kekuasaan, efisiensi, atau keuntungan ekonomi.²

6.1.       Bonevolensi dan Solidaritas Sosial

Secara sosiologis, bonevolensi merupakan fondasi bagi terbentuknya solidaritas moral dalam masyarakat. Émile Durkheim menyebut solidaritas sebagai kekuatan normatif yang mempersatukan individu dalam kehidupan kolektif.³ Namun, dalam masyarakat modern yang semakin individualistik, hubungan sosial sering tereduksi menjadi kontrak transaksional. Etika bonevolensi menawarkan alternatif dengan mengembalikan relasi sosial kepada prinsip empati dan tanggung jawab moral terhadap sesama.⁴ Solidaritas yang dilandasi bonevolensi bukan hasil paksaan institusional, tetapi kesadaran etis yang tumbuh dari pengakuan terhadap martabat manusia.⁵

Dalam kerangka Aristotelian, kehidupan sosial yang baik (polis eudaimonistike) hanya dapat terwujud jika warga negara memiliki philia politike—persahabatan politik yang dilandasi niat baik dan kesalingpercayaan.⁶ Aristoteles menyatakan bahwa “tidak ada keadilan tanpa persahabatan,” sebab persahabatan politik menciptakan keutuhan moral dalam masyarakat.⁷ Bonevolensi, dengan demikian, menjadi unsur pembentuk keadilan sosial yang hidup; ia mengikat masyarakat bukan melalui hukum eksternal, tetapi melalui cinta terhadap kebaikan bersama (to koinon agathon).⁸

6.2.       Bonevolensi dan Keadilan Sosial

Keadilan tanpa bonevolensi berisiko menjadi mekanistik, kaku, dan kehilangan roh kemanusiaan. John Rawls, dalam A Theory of Justice, memang mendasarkan keadilan pada prinsip rasionalitas kontraktual, tetapi ia juga menegaskan pentingnya sense of justice—rasa keadilan yang berasal dari empati dan rasa hormat terhadap orang lain.⁹ Etika bonevolensi memperkaya gagasan ini dengan menambahkan dimensi afektif yang membuat keadilan menjadi hidup secara moral. Martha Nussbaum, misalnya, menegaskan bahwa keadilan yang sejati membutuhkan compassionate imagination—kemampuan untuk melihat dunia dari perspektif orang lain.¹⁰ Dalam kerangka ini, bonevolensi adalah motor penggerak keadilan sosial karena ia menumbuhkan kesadaran bahwa kesejahteraan orang lain merupakan tanggung jawab moral kita sendiri.¹¹

Dalam perspektif Islam, bonevolensi juga berfungsi sebagai prinsip keadilan distributif (‘adl ijtima‘i). Konsep zakat dan infaq tidak hanya bersifat ritual, tetapi merupakan manifestasi sosial dari kasih sayang Ilahi (rahmah).¹² Al-Qur’an memerintahkan agar harta tidak berputar di antara golongan kaya saja (QS. Al-Hasyr [59] ayat 7), yang menunjukkan bahwa bonevolensi memiliki peran ekonomi-politik dalam menciptakan keseimbangan sosial.¹³ Dengan demikian, bonevolensi tidak dapat dipisahkan dari agenda keadilan struktural; ia bukan hanya moralitas pribadi, tetapi juga etika publik yang menuntut tanggung jawab kolektif terhadap ketimpangan sosial.¹⁴

6.3.       Bonevolensi dalam Politik Empatik

Dimensi politik bonevolensi muncul dari gagasan bahwa kekuasaan seharusnya dijalankan sebagai pelayanan, bukan dominasi.¹⁵ Dalam konteks ini, kepemimpinan yang bonevolen menuntut integrasi antara rasionalitas politik dan empati moral. Max Weber membedakan antara ethic of conviction (etika keyakinan) dan ethic of responsibility (etika tanggung jawab), dan bonevolensi menggabungkan keduanya: ia berakar pada keyakinan moral untuk berbuat baik, tetapi juga menuntut tanggung jawab konkret atas akibat sosial dari tindakan politik.¹⁶

Politik empatik yang dilandasi bonevolensi menolak realisme politik yang menghalalkan segala cara demi tujuan. Hannah Arendt menyebut bahwa kekuasaan sejati lahir bukan dari dominasi, melainkan dari action in concert—tindakan bersama yang dilandasi penghormatan dan cinta pada dunia bersama (amor mundi).¹⁷ Dengan demikian, bonevolensi dapat menjadi fondasi bagi politik deliberatif yang menghargai dialog, mendengarkan perbedaan, dan membangun kebijakan berdasarkan kepedulian terhadap kehidupan bersama.¹⁸

Dalam tataran praksis, prinsip bonevolensi memiliki relevansi besar bagi demokrasi modern. Ia meneguhkan gagasan civic virtue (kebajikan warga negara) yang mengandaikan bahwa partisipasi politik bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban moral untuk memperjuangkan kebaikan umum.¹⁹ Demokrasi yang sehat bergantung pada warga yang memiliki semangat bonevolen—mereka yang berpartisipasi bukan demi kepentingan pribadi, tetapi demi kesejahteraan kolektif.²⁰ Oleh karena itu, bonevolensi dapat disebut sebagai ethos moral demokrasi, yang menyeimbangkan kebebasan individu dengan tanggung jawab sosial.²¹

6.4.       Bonevolensi dalam Era Global dan Digital

Dalam dunia global yang saling terhubung, etika bonevolensi menghadapi tantangan baru. Kemajuan teknologi dan media digital telah memperluas jangkauan interaksi manusia, namun sekaligus menimbulkan jarak moral.²² Dunia maya sering memunculkan “empati virtual” yang cepat hilang, menggantikan keterlibatan nyata dalam penderitaan orang lain.²³ Oleh karena itu, penerapan bonevolensi di era digital menuntut pengembangan digital ethics of care—yakni tanggung jawab untuk menggunakan teknologi secara manusiawi, empatik, dan tidak menindas.²⁴

Selain itu, bonevolensi juga relevan bagi politik global dan etika lingkungan. Dalam konteks krisis iklim dan ketidaksetaraan global, bonevolensi menjadi dasar bagi solidaritas lintas batas nasional.²⁵ Martha Nussbaum dan Amartya Sen menekankan pentingnya global compassion dan capability ethics dalam merancang kebijakan internasional yang berorientasi pada martabat manusia.²⁶ Bonevolensi, dengan demikian, melampaui batas-batas politik negara, menjadi prinsip etika universal yang mengajak manusia untuk peduli terhadap penderitaan global dan keberlanjutan bumi sebagai rumah bersama.²⁷


Sintesis Sosial-Politik

Secara keseluruhan, dimensi sosial dan politik etika bonevolensi memperlihatkan bahwa kebaikan tidak dapat direduksi menjadi urusan privat. Bonevolensi adalah kekuatan moral yang menata hubungan sosial, menumbuhkan solidaritas, dan menuntun kekuasaan menuju keadilan.²⁸ Ia menolak model masyarakat yang berfondasi pada kompetisi dan egoisme, dan menawarkan visi politik yang berakar pada empati dan cinta kasih. Dalam kerangka ini, bonevolensi dapat dipahami sebagai jantung moral peradaban—suatu prinsip etis yang memadukan kasih personal, keadilan sosial, dan tanggung jawab global.²⁹


Footnotes

[1]                ¹ Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 240.

[2]                ² Charles Taylor, Modern Social Imaginaries (Durham: Duke University Press, 2004), 67.

[3]                ³ Émile Durkheim, The Division of Labour in Society, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1997), 132.

[4]                ⁴ Zygmunt Bauman, Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds (Cambridge: Polity Press, 2003), 88.

[5]                ⁵ Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 194.

[6]                ⁶ Aristotle, Politics, trans. Benjamin Jowett (Oxford: Clarendon Press, 1885), 1280b.

[7]                ⁷ Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1155a.

[8]                ⁸ Julia Annas, The Morality of Happiness (New York: Oxford University Press, 1993), 110.

[9]                ⁹ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 1971), 498.

[10]             ¹⁰ Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 72.

[11]             ¹¹ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 45.

[12]             ¹² Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 112.

[13]             ¹³ Al-Qur’an, Surah Al-Hasyr (59):7.

[14]             ¹⁴ Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 111.

[15]             ¹⁵ Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (Oxford: Oxford University Press, 1954), 34.

[16]             ¹⁶ Max Weber, Politics as a Vocation, trans. H. H. Gerth and C. Wright Mills (Philadelphia: Fortress Press, 1965), 120.

[17]             ¹⁷ Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 180.

[18]             ¹⁸ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 86.

[19]             ¹⁹ Alexis de Tocqueville, Democracy in America, trans. George Lawrence (New York: Harper & Row, 1969), 294.

[20]             ²⁰ Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (New York: Simon & Schuster, 2000), 135.

[21]             ²¹ Martha Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 21.

[22]             ²² Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 45.

[23]             ²³ Byung-Chul Han, The Burnout Society, trans. Erik Butler (Stanford: Stanford University Press, 2015), 33.

[24]             ²⁴ Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 90.

[25]             ²⁵ Peter Singer, The Life You Can Save (New York: Random House, 2009), 22.

[26]             ²⁶ Amartya Sen and Martha C. Nussbaum, The Quality of Life (Oxford: Clarendon Press, 1993), 39.

[27]             ²⁷ Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 67.

[28]             ²⁸ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 51.

[29]             ²⁹ Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 84.


7.           Kritik dan Klarifikasi Filosofis

Etika bonevolensi, dengan seluruh muatan moral dan humanistiknya, tidak luput dari kritik filosofis yang mempertanyakan baik fondasi epistemologis maupun konsekuensi praktisnya. Kritik-kritik ini berpusat pada dua persoalan utama: pertama, apakah bonevolensi mampu bertahan sebagai dasar universal etika tanpa jatuh ke dalam subjektivitas sentimental; dan kedua, apakah etika bonevolensi memiliki relevansi dalam konteks sosial-politik yang kompleks, di mana kebaikan sering kali berhadapan dengan kekuasaan dan kepentingan.¹ Dalam menjawab dua persoalan ini, diperlukan klarifikasi filosofis yang menegaskan kembali status ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari bonevolensi agar tidak tereduksi menjadi moralitas yang naïf atau romantik.

7.1.       Kritik terhadap Sentimentalisme Moral

Salah satu kritik klasik terhadap bonevolensi datang dari tradisi rasionalisme moral yang diwakili oleh Immanuel Kant. Ia menolak pendekatan sentimental yang menempatkan perasaan sebagai sumber moralitas. Menurut Kant, tindakan yang didorong oleh emosi empatik tidak memiliki nilai moral sejati karena bersifat kontingen dan tidak dapat dijadikan dasar universal.² Kebaikan sejati hanya dapat ditentukan oleh rasio praktis melalui prinsip imperatif kategoris, bukan oleh kecenderungan afektif yang berubah-ubah.³ Kritik ini menyoroti kelemahan bonevolensi dalam menjamin objektivitas moral—yakni kemungkinan bahwa tindakan baik dilakukan hanya karena dorongan emosional sesaat.

Namun demikian, kritik Kantian ini dianggap terlalu kaku oleh para filsuf pascarasionalis seperti David Hume dan Max Scheler. Hume menegaskan bahwa moralitas tanpa emosi adalah hampa, sebab hanya melalui simpati manusia mampu memahami penderitaan dan kebahagiaan sesama.⁴ Scheler kemudian memperdalam pandangan ini dengan menyatakan bahwa perasaan bukanlah sumber yang irasional, melainkan bentuk pengetahuan nilai yang khas.⁵ Dalam kerangka Schelerian, bonevolensi justru menjadi ekspresi tertinggi dari ordo amoris—tatanan cinta yang memperlihatkan struktur nilai moral secara hierarkis.⁶ Dengan demikian, kritik terhadap sentimentalitas bonevolensi dapat dijawab melalui klarifikasi bahwa empati dan cinta bukan emosi buta, tetapi sarana epistemik untuk mengenali kebaikan secara langsung.⁷

7.2.       Kritik terhadap Altruisme Patologis dan Paternalisme Moral

Kritik lain terhadap bonevolensi datang dari psikologi moral dan filsafat sosial yang menyoroti bahaya altruism patologis. Barbara Oakley, misalnya, menunjukkan bahwa niat baik yang berlebihan tanpa refleksi dapat menghasilkan akibat destruktif, seperti ketergantungan sosial, penyalahgunaan kepercayaan, atau justifikasi kekuasaan paternalistik.⁸ Dalam kerangka ini, bonevolensi dapat berubah menjadi bentuk dominasi moral yang terselubung—di mana subjek yang berbuat baik menempatkan dirinya sebagai “penyelamat” dan menjadikan yang lain sebagai objek pasif.⁹

Filsuf poststrukturalis seperti Michel Foucault juga mengkritik bentuk moralitas yang terlalu menekankan care karena berpotensi menyamarkan relasi kuasa.¹⁰ Dalam The History of Sexuality, Foucault menegaskan bahwa praktik moral sering kali berfungsi sebagai mekanisme disipliner yang menormalisasi perilaku dan mengontrol tubuh sosial.¹¹ Kritik ini membuka ruang refleksi bagi etika bonevolensi: apakah kebaikan yang dimaksud benar-benar membebaskan, atau justru menjadi alat pembenaran bagi struktur kekuasaan yang halus. Klarifikasi filosofis terhadap kritik ini menuntut bahwa bonevolensi harus bersifat dialogis dan partisipatif, bukan paternalistik; ia harus menghormati otonomi moral setiap individu.¹²

7.3.       Kritik dari Perspektif Eksistensial dan Posmodern

Dari perspektif eksistensial, Jean-Paul Sartre menyoroti bahwa tindakan bonevolen dapat mengandung bahaya “niat baik yang terburuk” (mauvaise foi), yakni ketika seseorang melakukan kebaikan untuk menegaskan dirinya sebagai “orang baik” tanpa benar-benar menghormati kebebasan orang lain.¹³ Sartre berpendapat bahwa etika yang sejati tidak terletak pada kepatuhan terhadap norma kebaikan universal, tetapi pada pengakuan terhadap kebebasan eksistensial setiap individu.¹⁴ Dalam konteks ini, bonevolensi harus direvisi agar tidak menghapus dimensi kebebasan dan tanggung jawab pribadi.

Sementara itu, dalam horizon posmodern, Zygmunt Bauman mengingatkan bahwa moralitas modern sering kehilangan spontanitas karena dibebani oleh sistem normatif yang birokratis.¹⁵ Bonevolensi, menurutnya, harus dikembalikan pada bentuk moralitas prarasional yang lahir dari kedekatan manusiawi, bukan dari struktur hukum atau kalkulasi moral yang dingin.¹⁶ Kritik Bauman ini sejalan dengan pandangan Emmanuel Levinas, yang menegaskan bahwa etika sejati bukanlah hasil refleksi teoretis, tetapi tanggapan spontan terhadap wajah Liyan yang memanggil kita untuk bertanggung jawab.¹⁷ Dalam pengertian ini, bonevolensi bukan hanya tindakan moral, tetapi juga pengalaman eksistensial yang mendahului pengetahuan dan norma.¹⁸

7.4.       Kritik terhadap Efektivitas Sosial Bonevolensi

Kritik kontemporer terhadap bonevolensi juga diarahkan pada efektivitas sosialnya dalam menghadapi struktur ketidakadilan global. Slavoj Žižek, misalnya, menganggap etika bonevolensi dalam bentuk “filantropi liberal” sering kali berfungsi sebagai kosmetika kapitalisme—ia mengobati gejala penderitaan tanpa menyentuh akar strukturalnya.¹⁹ Dalam Violence, Žižek menulis bahwa kasih tanpa perubahan sistemik hanyalah “kebaikan yang menghibur rasa bersalah.”²⁰ Kritik ini memperingatkan agar bonevolensi tidak berhenti pada level moral individual, tetapi juga mendorong transformasi sosial yang konkret.²¹

Sebagai tanggapan terhadap kritik ini, sejumlah filsuf politik seperti Martha Nussbaum dan Amartya Sen menegaskan perlunya menggabungkan compassion ethics dengan capability approach.²² Kebaikan harus diwujudkan melalui struktur sosial yang memungkinkan setiap orang mengembangkan kemampuannya secara adil.²³ Dengan demikian, bonevolensi tidak berhenti pada tindakan empatik personal, melainkan berkembang menjadi kebijakan publik yang manusiawi—sebuah institutional compassion yang berorientasi pada kesejahteraan universal.²⁴


Klarifikasi Filosofis: Bonevolensi sebagai Etika Kritis dan Relasional

Klarifikasi filosofis terhadap berbagai kritik di atas menegaskan bahwa bonevolensi bukan moralitas pasif, melainkan etika kritis yang reflektif dan transformatif.²⁵ Pertama, bonevolensi tidak identik dengan sentimentalitas, karena ia mengandaikan refleksi rasional dan kesadaran moral yang otonom.²⁶ Kedua, bonevolensi bukan bentuk dominasi moral, tetapi relasi timbal balik yang mengakui kebebasan dan martabat setiap individu.²⁷ Ketiga, bonevolensi bukan sekadar tindakan individual, melainkan praksis sosial-politik yang mendorong transformasi keadilan.²⁸

Dengan pemahaman ini, bonevolensi dapat dilihat sebagai jembatan antara etika universal Kantian dan etika relasional Levinasian—antara prinsip dan perjumpaan, antara rasio dan empati.²⁹ Ia menggabungkan dimensi kognitif dan afektif, tanpa jatuh pada ekstrem rasionalisme maupun romantisisme. Dalam dunia yang diwarnai fragmentasi moral, bonevolensi berfungsi sebagai orientasi etis yang menjaga keseimbangan antara cinta dan keadilan, antara kebaikan dan kebebasan.³⁰


Footnotes

[1]                ¹ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 45.

[2]                ² Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 397.

[3]                ³ Allen W. Wood, Kantian Ethics (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 64.

[4]                ⁴ David Hume, An Enquiry Concerning the Principles of Morals (Indianapolis: Hackett, 1983), 9–10.

[5]                ⁵ Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred S. Frings and Roger L. Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 28.

[6]                ⁶ Ibid., 125.

[7]                ⁷ Robert Spaemann, Happiness and Benevolence, trans. Jeremy Gaines and Jeffrey Seep (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2000), 53.

[8]                ⁸ Barbara Oakley, Pathological Altruism (Oxford: Oxford University Press, 2011), 6.

[9]                ⁹ Ibid., 23.

[10]             ¹⁰ Michel Foucault, The History of Sexuality, Vol. 1: An Introduction, trans. Robert Hurley (New York: Pantheon Books, 1978), 90.

[11]             ¹¹ Ibid., 94.

[12]             ¹² Paul Tillich, Love, Power, and Justice (Oxford: Oxford University Press, 1954), 101.

[13]             ¹³ Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Washington Square Press, 1992), 63.

[14]             ¹⁴ Ibid., 70.

[15]             ¹⁵ Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 29.

[16]             ¹⁶ Ibid., 33.

[17]             ¹⁷ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 27.

[18]             ¹⁸ Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 201.

[19]             ¹⁹ Slavoj Žižek, Violence: Six Sideways Reflections (New York: Picador, 2008), 75.

[20]             ²⁰ Ibid., 77.

[21]             ²¹ Žižek, Living in the End Times (London: Verso, 2010), 92.

[22]             ²² Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 18.

[23]             ²³ Amartya Sen, Development as Freedom (New York: Alfred A. Knopf, 1999), 36.

[24]             ²⁴ Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 73.

[25]             ²⁵ Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 194.

[26]             ²⁶ Christine Korsgaard, The Sources of Normativity (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 102.

[27]             ²⁷ Emmanuel Levinas, Otherwise Than Being or Beyond Essence, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1998), 114.

[28]             ²⁸ Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 45.

[29]             ²⁹ Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 267.

[30]             ³⁰ Martha C. Nussbaum, Love’s Knowledge: Essays on Philosophy and Literature (New York: Oxford University Press, 1990), 41.


8.           Relevansi Kontemporer

Dalam dunia kontemporer yang diwarnai oleh krisis kemanusiaan, ketimpangan sosial, dan dehumanisasi teknologi, etika bonevolensi memperoleh relevansi yang semakin mendalam. Bonevolensi, sebagai prinsip moral yang berakar pada empati, kasih, dan tanggung jawab terhadap sesama, menawarkan paradigma alternatif terhadap logika dominan abad ke-21 yang ditandai oleh kompetisi, individualisme ekstrem, dan rasionalitas instrumental.¹ Ia menegaskan kembali makna kemanusiaan dalam konteks yang sering kali melupakan nilai-nilai moral demi efisiensi, kecepatan, dan keuntungan.² Etika bonevolensi, dalam hal ini, bukan sekadar warisan moral klasik, tetapi menjadi etika masa depan yang diperlukan untuk mengarahkan peradaban modern menuju keutuhan manusiawi.³

8.1.       Bonevolensi dalam Era Individualisme dan Krisis Sosial

Modernitas yang lahir dari rasionalisme dan kapitalisme telah mengangkat individu sebagai pusat realitas moral dan sosial. Namun, seperti dikritik oleh Charles Taylor, individualisme modern sering kehilangan dimensi “moral horizon” yang mengikat manusia pada nilai-nilai yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.⁴ Bonevolensi hadir sebagai koreksi terhadap patologi ini dengan mengembalikan manusia pada relasi sosial yang bermakna. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati tidak terletak pada otonomi absolut, melainkan pada kemampuan untuk berbagi kebaikan dengan yang lain.⁵ Dalam masyarakat yang diwarnai polarisasi dan fragmentasi sosial, bonevolensi menumbuhkan kembali etos solidarity of care—rasa kebersamaan yang melampaui sekat ideologis, kelas, atau identitas.⁶

Zygmunt Bauman menegaskan bahwa dalam masyarakat cair (liquid modernity), hubungan antarindividu menjadi rapuh karena didasarkan pada kepentingan sementara.⁷ Etika bonevolensi menantang kondisi ini dengan menawarkan stabilitas moral melalui kasih dan kepercayaan. Ia mendorong pembentukan ikatan sosial yang tidak bergantung pada kontrak utilitarian, melainkan pada kesadaran akan martabat manusia.⁸ Dengan demikian, bonevolensi memiliki fungsi sosial yang mendesak: ia menghidupkan kembali jaringan moral yang tergerus oleh atomisasi dan egoisme sistemik.⁹

8.2.       Bonevolensi dan Etika Global

Di tengah meningkatnya interdependensi global, bonevolensi dapat berfungsi sebagai basis etika lintas budaya. Martha Nussbaum menyebut hal ini sebagai cosmopolitan emotion ethics—sebuah etika empatik yang memandang seluruh umat manusia sebagai komunitas moral tunggal.¹⁰ Dalam konteks globalisasi, bonevolensi menginspirasi apa yang disebut Amartya Sen sebagai global justice through capabilities, yaitu struktur keadilan yang berorientasi pada pengembangan potensi manusia secara universal.¹¹ Prinsip ini dapat diterapkan dalam kebijakan internasional mengenai kemiskinan, migrasi, dan hak asasi manusia.¹²

Etika bonevolensi juga menjadi dasar bagi apa yang disebut Hans Küng sebagai Global Ethic—suatu konsensus moral lintas agama dan budaya yang berlandaskan pada nilai kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap kehidupan.¹³ Dalam dunia yang dilanda konflik identitas dan kekerasan ideologis, bonevolensi dapat menjadi jembatan dialog antarperadaban.¹⁴ Ia melampaui relativisme moral tanpa jatuh pada absolutisme, karena berakar pada pengalaman universal tentang penderitaan dan cinta.¹⁵ Dengan demikian, bonevolensi memfasilitasi transisi dari etika partikular menuju etika global yang menghormati perbedaan sekaligus menegakkan solidaritas manusia.

8.3.       Bonevolensi, Teknologi, dan Etika Digital

Revolusi digital membawa tantangan etis baru yang menuntut reinterpretasi bonevolensi. Dunia maya telah memperluas ruang interaksi manusia, tetapi sekaligus melahirkan fenomena moral distancing—jarak emosional antara pengguna teknologi dengan dampak sosial dari tindakannya.¹⁶ Luciano Floridi menegaskan bahwa etika informasi harus berfokus pada “well-being of the infosphere,” di mana tindakan di dunia digital juga harus tunduk pada prinsip kasih dan tanggung jawab.¹⁷ Dalam konteks ini, bonevolensi dapat menjadi fondasi bagi digital ethics of care—etika empati dan tanggung jawab dalam interaksi daring, termasuk dalam penggunaan kecerdasan buatan dan media sosial.¹⁸

Sebagai contoh, algoritme yang menentukan akses terhadap informasi atau sumber daya ekonomi tidak boleh dirancang semata-mata berdasarkan efisiensi, tetapi juga memperhitungkan dampak moral dan kemanusiaan.¹⁹ Bonevolensi mengingatkan bahwa di balik setiap data, ada kehidupan dan penderitaan manusia yang nyata.²⁰ Dengan demikian, bonevolensi berfungsi sebagai prinsip moral dalam era teknologi, yang mengarahkan inovasi agar tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.²¹

8.4.       Bonevolensi dan Krisis Ekologis

Krisis lingkungan global menuntut pembaruan etika yang melampaui antropo-sentrisme klasik. Dalam hal ini, bonevolensi memperluas maknanya menjadi kasih terhadap seluruh makhluk hidup (universal compassion).²² Dalam pandangan Arne Naess tentang deep ecology, etika yang sejati harus berakar pada kesadaran ekologis—bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung.²³ Etika bonevolensi dapat berperan sebagai jembatan antara etika kemanusiaan dan etika lingkungan, karena keduanya berangkat dari kesadaran akan keterhubungan eksistensial.²⁴

Dalam tradisi Islam, konsep rahmah juga bersifat ekologis; kasih sayang Ilahi mencakup seluruh ciptaan, bukan hanya manusia.²⁵ Dengan demikian, tindakan bonevolen terhadap alam bukan sekadar bentuk konservasi, tetapi ibadah moral yang mencerminkan partisipasi manusia dalam kasih universal Tuhan.²⁶ Bonevolensi ekologis ini menjadi semakin penting di tengah ancaman krisis iklim dan kerusakan bumi yang diakibatkan oleh keserakahan ekonomi global.²⁷

8.5.       Bonevolensi dalam Pendidikan dan Kebudayaan

Relevansi bonevolensi juga tampak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Dalam pendidikan moral kontemporer, muncul kebutuhan untuk menyeimbangkan antara moral reasoning (penalaran moral) dan moral feeling (perasaan moral).²⁸ Bonevolensi menawarkan model pendidikan berbasis empati, yang menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan dan kebaikan sesama.²⁹ Martha Nussbaum menyebut pendekatan ini sebagai cultivation of humanity—pendidikan yang membentuk karakter warga dunia yang berpikir kritis, berbelas kasih, dan bertanggung jawab secara etis.³⁰

Dalam ranah kebudayaan, bonevolensi mendorong terciptanya seni, sastra, dan praktik sosial yang menumbuhkan empati dan kesadaran moral kolektif.³¹ Sebagaimana diungkapkan Paul Ricoeur, kebudayaan yang sejati adalah “tindakan penafsiran terhadap kehidupan yang bertujuan mengungkap makna kebaikan.”³² Dengan demikian, etika bonevolensi berfungsi sebagai roh spiritual peradaban—memberi arah pada ekspresi budaya agar tidak jatuh pada nihilisme estetis, tetapi menjadi media penguatan nilai kemanusiaan.³³

8.6.       Bonevolensi sebagai Etika Global Humanistik

Secara keseluruhan, relevansi kontemporer bonevolensi terletak pada kemampuannya mengintegrasikan berbagai dimensi kehidupan modern—sosial, politik, teknologi, dan ekologis—ke dalam satu horizon etika humanistik.³⁴ Ia menawarkan koreksi terhadap rasionalitas modern yang cenderung mengabaikan dimensi afektif dan moral.³⁵ Bonevolensi bukan nostalgia moral masa lalu, tetapi jalan menuju masa depan etis yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkeadilan.³⁶ Dalam dunia yang semakin saling bergantung, bonevolensi menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap yang lain adalah inti dari keberadaan manusia itu sendiri.³⁷ Dengan demikian, etika bonevolensi menjadi dasar bagi peradaban baru yang berakar pada kasih, keadilan, dan solidaritas universal.³⁸


Footnotes

[1]                ¹ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 42.

[2]                ² Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 258.

[3]                ³ Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 71.

[4]                ⁴ Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 36.

[5]                ⁵ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 47.

[6]                ⁶ Zygmunt Bauman, Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds (Cambridge: Polity Press, 2003), 86.

[7]                ⁷ Ibid., 101.

[8]                ⁸ Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (Oxford: Oxford University Press, 1954), 33.

[9]                ⁹ Julia Annas, Intelligent Virtue (Oxford: Oxford University Press, 2011), 91.

[10]             ¹⁰ Martha C. Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 45.

[11]             ¹¹ Amartya Sen, Development as Freedom (New York: Alfred A. Knopf, 1999), 36.

[12]             ¹² Thomas Pogge, World Poverty and Human Rights (Cambridge: Polity Press, 2002), 30.

[13]             ¹³ Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (New York: Crossroad, 1991), 65.

[14]             ¹⁴ Ibid., 74.

[15]             ¹⁵ Seyla Benhabib, The Claims of Culture: Equality and Diversity in the Global Era (Princeton: Princeton University Press, 2002), 112.

[16]             ¹⁶ Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books, 2011), 85.

[17]             ¹⁷ Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 94.

[18]             ¹⁸ Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 118.

[19]             ¹⁹ Kate Crawford, Atlas of AI: Power, Politics, and the Planetary Costs of Artificial Intelligence (New Haven: Yale University Press, 2021), 77.

[20]             ²⁰ Ibid., 80.

[21]             ²¹ Luciano Floridi, The Logic of Information (Oxford: Oxford University Press, 2019), 143.

[22]             ²² Arne Naess, Ecology, Community, and Lifestyle, trans. David Rothenberg (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 28.

[23]             ²³ Aldo Leopold, A Sand County Almanac (Oxford: Oxford University Press, 1949), 224.

[24]             ²⁴ Karen J. Warren, Ecofeminist Philosophy: A Western Perspective on What It Is and Why It Matters (Bloomington: Indiana University Press, 2000), 72.

[25]             ²⁵ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 51.

[26]             ²⁶ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. N. A. Faris (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983), 236.

[27]             ²⁷ Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 62.

[28]             ²⁸ Lawrence Kohlberg, Essays on Moral Development, Vol. 1: The Philosophy of Moral Development (San Francisco: Harper & Row, 1981), 153.

[29]             ²⁹ Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2003), 56.

[30]             ³⁰ Martha C. Nussbaum, Cultivating Humanity: A Classical Defense of Reform in Liberal Education (Cambridge: Harvard University Press, 1997), 23.

[31]             ³¹ Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 212.

[32]             ³² Ibid., 217.

[33]             ³³ Terry Eagleton, The Meaning of Life (Oxford: Oxford University Press, 2007), 58.

[34]             ³⁴ Emmanuel Levinas, Otherwise Than Being or Beyond Essence, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1998), 111.

[35]             ³⁵ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 87.

[36]             ³⁶ Charles Taylor, Modern Social Imaginaries (Durham: Duke University Press, 2004), 152.

[37]             ³⁷ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, 49.

[38]             ³⁸ Martha C. Nussbaum, Love’s Knowledge: Essays on Philosophy and Literature (New York: Oxford University Press, 1990), 44.


9.           Sintesis Filosofis: Menuju Etika Cinta dan Tanggung Jawab

Etika bonevolensi, setelah melalui telaah ontologis, epistemologis, dan aksiologis, menuntun kita pada sebuah sintesis filosofis yang mengintegrasikan rasio moral dan afeksi kemanusiaan. Sintesis ini menegaskan bahwa hakikat moralitas manusia tidak dapat direduksi pada kalkulasi rasional atau sentimen emosional semata, melainkan merupakan kesatuan dialektis antara cinta (agape) dan tanggung jawab (responsibility).¹ Etika cinta mengarahkan manusia pada orientasi kebaikan tanpa pamrih, sementara etika tanggung jawab menegaskan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral terhadap yang lain.² Dalam konteks ini, bonevolensi menjadi medan perjumpaan antara cinta yang memberi dan tanggung jawab yang memelihara kehidupan.

9.1.       Dialektika antara Cinta dan Rasionalitas Moral

Sejak masa klasik, Aristoteles memandang cinta sebagai unsur etis yang mengikat komunitas politik dan moral. Dalam Nicomachean Ethics, ia menegaskan bahwa philia (persahabatan) bukan sekadar perasaan, melainkan bentuk kebajikan yang menopang keadilan.³ Dengan demikian, cinta dan rasionalitas moral tidak dapat dipisahkan—cinta menjadi ekspresi praktis dari kebajikan, sedangkan rasionalitas moral menuntun cinta agar tidak buta. Dalam kerangka ini, etika bonevolensi menghadirkan sintesis antara akal dan hati, antara phronesis (kebijaksanaan praktis) dan agape (cinta yang memberi tanpa mengharapkan imbalan).⁴

Immanuel Kant juga, meskipun menolak sentimentalitas moral, pada akhirnya mengakui bahwa cinta yang sejati dapat dianggap sebagai “tindakan kehendak baik yang dipandu oleh prinsip rasio.”⁵ Ia membedakan antara pathological love (cinta emosional yang reaktif) dan practical love (cinta moral yang berakar pada prinsip universal kebaikan).⁶ Etika bonevolensi, dengan demikian, bukan sekadar perasaan moral, tetapi bentuk kehendak rasional yang terarah pada pemeliharaan kehidupan manusia. Rasionalitas di sini bukan penghapus cinta, melainkan penuntun yang memastikan agar cinta tidak berubah menjadi dominasi atau fanatisme moral.⁷

9.2.       Cinta sebagai Prinsip Ontologis dan Tanggung Jawab sebagai Prinsip Etis

Dalam horizon eksistensialisme etis Emmanuel Levinas, cinta bukan sekadar pengalaman afektif, tetapi struktur ontologis yang mendahului pengetahuan dan hukum moral.⁸ Ia menulis bahwa tanggung jawab terhadap yang lain “bukan hasil pilihan, melainkan panggilan dari wajah Liyan yang menuntut kita untuk mencintai.”⁹ Dengan demikian, tanggung jawab muncul bukan dari refleksi teoretis, tetapi dari relasi etis yang mendalam antara Aku dan Engkau.¹⁰ Etika bonevolensi, dalam pengertian Levinasian, adalah etika yang didasarkan pada “keterbukaan terhadap Liyan” di mana cinta menjadi bentuk konkret dari tanggung jawab eksistensial.¹¹

Paul Ricoeur memperluas gagasan ini dengan mengusulkan ethics of solicitude—etika kepedulian yang memadukan cinta kasih dan keadilan.¹² Menurutnya, kasih tanpa keadilan akan kehilangan arah normatif, sementara keadilan tanpa kasih menjadi kering dan formalistik.¹³ Oleh karena itu, tindakan moral yang sejati harus “berakar pada cinta yang teratur oleh keadilan, dan keadilan yang dilembutkan oleh cinta.”¹⁴ Etika bonevolensi menegaskan sintesis ini: cinta memberi orientasi, tanggung jawab memberi batas; cinta menggerakkan, tanggung jawab mengarahkan.

9.3.       Sintesis Aksiologis: Dari Kebajikan Personal ke Etika Sosial

Etika bonevolensi juga menuntun pada perluasan aksiologis dari moralitas personal menuju moralitas sosial. Martha Nussbaum menegaskan bahwa dalam dunia modern, moralitas tidak dapat berhenti pada keutamaan individu, tetapi harus diwujudkan dalam struktur sosial yang adil.¹⁵ Etika cinta dan tanggung jawab mendorong terciptanya “keadilan berbelas kasih” (compassionate justice)—suatu keadilan yang tidak berhenti pada aturan, tetapi menimbang penderitaan manusia yang konkret.¹⁶

Dalam kerangka Islam, hubungan antara cinta dan tanggung jawab dijelaskan melalui konsep rahmah dan amanah. Rahmah menandakan kasih sayang universal yang menjadi hakikat eksistensi, sedangkan amanah melambangkan tanggung jawab moral terhadap ciptaan lain.¹⁷ Dengan demikian, tindakan bonevolen tidak hanya merupakan ibadah sosial, tetapi juga perwujudan dari kesadaran metafisik bahwa manusia adalah khalifah yang dipanggil untuk memelihara kehidupan.¹⁸ Dalam sintesis ini, bonevolensi menjadi jembatan antara etika spiritual dan etika sosial.

9.4.       Dimensi Hermeneutik: Bonevolensi sebagai Proyek Interpretatif Kemanusiaan

Etika bonevolensi dapat pula dipahami sebagai hermeneutika tindakan moral—yakni proses memahami dan menafsirkan makna kebaikan dalam konteks sejarah dan relasi manusia.¹⁹ Paul Ricoeur berpendapat bahwa tindakan etis selalu bersifat interpretatif karena manusia senantiasa menafsirkan apa arti “kebaikan” dalam situasi konkret.²⁰ Dengan demikian, bonevolensi bukan norma tetap, melainkan horizon terbuka yang mengizinkan pembaruan moral seiring perubahan sosial.²¹

Sintesis hermeneutik ini menegaskan bahwa cinta dan tanggung jawab tidak boleh dipahami secara ahistoris. Dalam masyarakat plural, bentuk konkret dari bonevolensi harus disesuaikan dengan konteks budaya, politik, dan teknologi tanpa kehilangan inti moralnya.²² Inilah yang menjadikan etika bonevolensi bersifat open-ended—senantiasa dapat dikembangkan, dikoreksi, dan disesuaikan dengan tantangan zaman, sebagaimana disarankan oleh Habermas dalam The Theory of Communicative Action, bahwa moralitas sejati lahir dari dialog rasional dan empatik antar-subjek.²³

9.5.       Menuju Etika Cinta dan Tanggung Jawab Universal

Pada akhirnya, sintesis filosofis bonevolensi bermuara pada perumusan etika cinta dan tanggung jawab universal, yang melampaui batas individual, agama, maupun bangsa.²⁴ Etika ini menolak dikotomi antara emosi dan rasio, antara moralitas pribadi dan struktur sosial, serta antara iman dan sekularitas.²⁵ Ia mengajukan pandangan bahwa manusia menemukan makna dirinya bukan dalam dominasi atau kepemilikan, tetapi dalam pemberian diri (self-giving).²⁶

Dalam dunia yang semakin kompleks, etika cinta dan tanggung jawab menjadi kebutuhan eksistensial: cinta sebagai kekuatan yang menghubungkan, dan tanggung jawab sebagai kesadaran yang mengarahkan.²⁷ Bonevolensi, dalam bentuknya yang paling murni, adalah praksis moral yang menggabungkan kasih universal dengan komitmen rasional terhadap kehidupan bersama.²⁸ Melalui sintesis ini, etika bonevolensi tampil bukan sekadar sebagai ajaran moral, tetapi sebagai visi filosofis tentang manusia—makhluk yang menemukan eksistensinya dalam cinta yang bertanggung jawab.²⁹


Footnotes

[1]                ¹ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 47.

[2]                ² Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 44.

[3]                ³ Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. W. D. Ross (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1155a–1156b.

[4]                ⁴ Julia Annas, The Morality of Happiness (New York: Oxford University Press, 1993), 112.

[5]                ⁵ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 398.

[6]                ⁶ Allen W. Wood, Kantian Ethics (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 65.

[7]                ⁷ Christine Korsgaard, The Sources of Normativity (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 102.

[8]                ⁸ Emmanuel Levinas, Otherwise Than Being or Beyond Essence, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1998), 111.

[9]                ⁹ Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 200.

[10]             ¹⁰ Simon Critchley, The Ethics of Deconstruction: Derrida and Levinas (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1999), 119.

[11]             ¹¹ Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (Oxford: Oxford University Press, 1954), 90.

[12]             ¹² Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 191.

[13]             ¹³ Ibid., 195.

[14]             ¹⁴ Ricoeur, Reflections on the Just, 48.

[15]             ¹⁵ Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 21.

[16]             ¹⁶ Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 69.

[17]             ¹⁷ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980), 52.

[18]             ¹⁸ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. N. A. Faris (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1983), 240.

[19]             ¹⁹ Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (London: Continuum, 2004), 313.

[20]             ²⁰ Paul Ricoeur, The Rule of Metaphor, trans. Robert Czerny (Toronto: University of Toronto Press, 1977), 332.

[21]             ²¹ Charles Taylor, Modern Social Imaginaries (Durham: Duke University Press, 2004), 145.

[22]             ²² Seyla Benhabib, Situating the Self: Gender, Community and Postmodernism in Contemporary Ethics (Cambridge: Polity Press, 1992), 118.

[23]             ²³ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 86.

[24]             ²⁴ Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (New York: Crossroad, 1991), 65.

[25]             ²⁵ Martha C. Nussbaum, Love’s Knowledge: Essays on Philosophy and Literature (New York: Oxford University Press, 1990), 44.

[26]             ²⁶ Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1952), 112.

[27]             ²⁷ Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 83.

[28]             ²⁸ Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 267.

[29]             ²⁹ Paul Ricoeur, History and Truth, trans. Charles A. Kelbley (Evanston: Northwestern University Press, 1965), 42.


10.       Kesimpulan

Etika bonevolensi, setelah ditelusuri melalui dimensi historis, ontologis, epistemologis, aksiologis, serta sosial-politiknya, memperlihatkan dirinya sebagai salah satu pilar terpenting bagi rekonstruksi etika kemanusiaan modern. Ia tidak hanya berfungsi sebagai ajaran moral yang mengarahkan perilaku manusia agar berbuat baik, tetapi juga sebagai paradigma filosofis yang menegaskan kembali raison d’être moralitas: bahwa kebaikan sejati lahir dari kesatuan antara rasionalitas, empati, dan tanggung jawab.¹ Bonevolensi adalah bentuk moralitas yang mengikat kesadaran individu dengan struktur kehidupan bersama, sehingga kebaikan pribadi tidak dapat dipisahkan dari kebaikan kolektif.²

Dari perspektif ontologis, bonevolensi menegaskan bahwa kebaikan bukanlah konsep abstrak, melainkan struktur eksistensial yang melekat pada hakikat manusia sebagai makhluk rasional dan relasional.³ Tindakan bonevolen merupakan ekspresi aktual dari potensi ontologis manusia untuk mengasihi dan membangun harmoni dengan yang lain. Dalam pengertian ini, etika bonevolensi menyatukan dua horizon keberadaan: being for oneself dan being for the other—eksistensi untuk diri sendiri dan eksistensi untuk sesama.⁴

Secara epistemologis, bonevolensi mengandung gagasan bahwa pengetahuan moral tidak hanya bersumber dari rasio murni, tetapi juga dari intuisi afektif dan empati manusiawi.⁵ Manusia mengetahui kebaikan bukan semata-mata melalui proposisi rasional, melainkan melalui pengalaman batin yang menyingkap nilai-nilai moral dalam relasi dengan orang lain.⁶ Pengetahuan etis dalam bonevolensi bersifat dialogis—menggabungkan refleksi dan perasaan, pemahaman dan keterlibatan, logos dan pathos.

Dalam ranah aksiologis, bonevolensi menampilkan kebaikan sebagai nilai intrinsik dan tujuan moral tertinggi.⁷ Ia menolak reduksi moralitas menjadi sekadar kalkulasi utilitarian atau kepatuhan hukum eksternal, karena hakikat kebaikan terletak dalam niat yang murni dan kesediaan untuk mencintai tanpa pamrih.⁸ Prinsip moral bonevolensi menuntun manusia untuk berbuat baik “demi kebaikan itu sendiri,” sebagaimana ditegaskan oleh Kant dalam konsep good will, namun diperkaya dengan dimensi afektif sebagaimana ditekankan oleh Hume dan Scheler.⁹ Dengan demikian, etika bonevolensi merekonsiliasi dua tradisi besar dalam filsafat moral—rasionalisme dan sentimentalism—dalam sintesis etika cinta yang reflektif.¹⁰

Pada tingkat sosial dan politik, bonevolensi tampil sebagai landasan bagi keadilan yang manusiawi dan solidaritas sosial yang autentik.¹¹ Dalam konteks modern yang didominasi oleh individualisme, pragmatisme, dan politik kekuasaan, bonevolensi menawarkan etika alternatif: politik empatik—yakni tatanan sosial yang berlandaskan kasih, empati, dan tanggung jawab moral terhadap yang lain.¹² Bonevolensi menjadi jantung moral demokrasi yang sejati, karena ia menghidupkan kembali semangat civic virtue dan memperluas horizon keadilan melalui solidaritas kemanusiaan.¹³

Secara filosofis, seluruh dimensi ini berpuncak pada sintesis etika cinta dan tanggung jawab. Emmanuel Levinas menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap yang lain adalah bentuk tertinggi dari eksistensi manusia; sementara Paul Ricoeur menegaskan bahwa cinta harus diatur oleh keadilan agar tidak kehilangan orientasi etisnya.¹⁴ Dari kedua pandangan ini, lahirlah pemahaman bahwa cinta dan tanggung jawab bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi dua aspek komplementer dari moralitas yang utuh.¹⁵ Bonevolensi menjadi ekspresi konkret dari kesatuan tersebut—ia adalah cinta yang berpikir dan tanggung jawab yang berbelas kasih.¹⁶

Relevansi kontemporer etika bonevolensi semakin jelas di tengah krisis global: krisis kemanusiaan, krisis lingkungan, dan krisis makna akibat hegemoni teknologi serta kapitalisme digital.¹⁷ Dalam dunia yang terfragmentasi dan terdehumanisasi, bonevolensi memulihkan makna manusia sebagai makhluk moral yang mampu mengasihi, memahami, dan merawat kehidupan.¹⁸ Ia melampaui batas-batas agama, ras, dan ideologi, karena berakar pada pengalaman universal tentang penderitaan dan kasih sayang.¹⁹ Oleh karena itu, bonevolensi bukan sekadar etika interpersonal, tetapi juga ethic of planetary compassion—etika kasih semesta yang menuntun peradaban menuju keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.²⁰

Akhirnya, dapat ditegaskan bahwa etika bonevolensi adalah proyek filosofis yang terus terbuka (open project). Ia menuntut refleksi berkelanjutan dan praksis sosial yang konkret.²¹ Bonevolensi bukan dogma, melainkan orientasi moral yang dinamis; bukan sekadar teori, tetapi cara hidup yang menegaskan martabat manusia sebagai makhluk yang “ada untuk yang lain.”²² Dalam wajah cinta dan tanggung jawab itulah, etika bonevolensi menemukan bentuk akhirnya: bukan sebagai sistem yang tertutup, melainkan sebagai horizon kemanusiaan yang senantiasa dapat diperluas demi kebaikan bersama.²³


Footnotes

[1]                ¹ Paul Ricoeur, Reflections on the Just, trans. David Pellauer (Chicago: University of Chicago Press, 2007), 47.

[2]                ² Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 257.

[3]                ³ Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), 982b.

[4]                ⁴ Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 200.

[5]                ⁵ Max Scheler, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values, trans. Manfred S. Frings and Roger L. Funk (Evanston: Northwestern University Press, 1973), 92.

[6]                ⁶ David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1978), 316.

[7]                ⁷ Julia Annas, Intelligent Virtue (Oxford: Oxford University Press, 2011), 90.

[8]                ⁸ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 397.

[9]                ⁹ Ibid., 398.

[10]             ¹⁰ Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 95.

[11]             ¹¹ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 1971), 498.

[12]             ¹² Paul Tillich, Love, Power, and Justice: Ontological Analysis and Ethical Applications (Oxford: Oxford University Press, 1954), 101.

[13]             ¹³ Alexis de Tocqueville, Democracy in America, trans. George Lawrence (New York: Harper & Row, 1969), 294.

[14]             ¹⁴ Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 44.

[15]             ¹⁵ Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 194.

[16]             ¹⁶ Ricoeur, Reflections on the Just, 49.

[17]             ¹⁷ Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 86.

[18]             ¹⁸ Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 21.

[19]             ¹⁹ Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (New York: Crossroad, 1991), 65.

[20]             ²⁰ Pope Francis, Laudato Si’: On Care for Our Common Home (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 2015), 70.

[21]             ²¹ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 86.

[22]             ²² Emmanuel Mounier, Personalism, trans. Philip Mairet (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1952), 113.

[23]             ²³ Paul Ricoeur, History and Truth, trans. Charles A. Kelbley (Evanston: Northwestern University Press, 1965), 43.


Daftar Pustaka

Annas, J. (1993). The morality of happiness. Oxford University Press.

Annas, J. (2011). Intelligent virtue. Oxford University Press.

Aquinas, T. (1947). Summa theologica (Fathers of the English Dominican Province, Trans.). Benziger Brothers.

Arendt, H. (1958). The human condition. University of Chicago Press.

Aristotle. (1924). Metaphysics (W. D. Ross, Trans.). Clarendon Press.

Aristotle. (2009). Nicomachean ethics (W. D. Ross, Trans.). Oxford University Press.

Aristotle. (1885). Politics (B. Jowett, Trans.). Clarendon Press.

Augustine. (1991). Confessions (H. Chadwick, Trans.). Oxford University Press.

Augustine. (2003). The city of God (H. Bettenson, Trans.). Penguin Books.

Baier, A. C. (1994). Moral prejudices: Essays on ethics. Harvard University Press.

Bauman, Z. (1993). Postmodern ethics. Blackwell.

Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.

Bauman, Z. (2003). Liquid love: On the frailty of human bonds. Polity Press.

Benhabib, S. (1992). Situating the self: Gender, community and postmodernism in contemporary ethics. Polity Press.

Benhabib, S. (2002). The claims of culture: Equality and diversity in the global era. Princeton University Press.

Crawford, K. (2021). Atlas of AI: Power, politics, and the planetary costs of artificial intelligence. Yale University Press.

Critchley, S. (1999). The ethics of deconstruction: Derrida and Levinas. Edinburgh University Press.

Durkheim, É. (1997). The division of labour in society (W. D. Halls, Trans.). Free Press.

Eagleton, T. (2007). The meaning of life. Oxford University Press.

Epictetus. (2008). Discourses and selected writings (R. Dobbin, Trans.). Penguin Classics.

Fazlur Rahman. (1980). Major themes of the Qur’an. Bibliotheca Islamica.

Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford University Press.

Floridi, L. (2019). The logic of information. Oxford University Press.

Foucault, M. (1978). The history of sexuality, Vol. 1: An introduction (R. Hurley, Trans.). Pantheon Books.

Francis, P. (2015). Laudato Si’: On care for our common home. Libreria Editrice Vaticana.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). Continuum.

Gilson, E. (1956). The Christian philosophy of St. Thomas Aquinas. University of Notre Dame Press.

Guyer, P. (2000). Kant on freedom, law, and happiness. Cambridge University Press.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action (T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Han, B.-C. (2015). The burnout society (E. Butler, Trans.). Stanford University Press.

Hume, D. (1978). A treatise of human nature (L. A. Selby-Bigge, Ed.). Clarendon Press.

Hume, D. (1983). An enquiry concerning the principles of morals. Hackett.

Izutsu, T. (2002). Ethico-religious concepts in the Qur’an. McGill University Press.

Kant, I. (1997). Critique of practical reason (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.

Kant, I. (1998). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.

Korsgaard, C. M. (1996). The sources of normativity. Cambridge University Press.

Küng, H. (1991). Global responsibility: In search of a new world ethic. Crossroad.

Leopold, A. (1949). A sand county almanac. Oxford University Press.

Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). Duquesne University Press.

Levinas, E. (1985). Ethics and infinity (R. A. Cohen, Trans.). Duquesne University Press.

Levinas, E. (1998). Otherwise than being or beyond essence (A. Lingis, Trans.). Duquesne University Press.

MacIntyre, A. (1981). After virtue: A study in moral theory. University of Notre Dame Press.

Maritain, J. (1959). The degrees of knowledge (G. B. Phelan, Trans.). Charles Scribner’s Sons.

Mill, J. S. (1998). Utilitarianism (R. Crisp, Ed.). Oxford University Press.

Mounier, E. (1952). Personalism (P. Mairet, Trans.). University of Notre Dame Press.

Murata, S., & Chittick, W. C. (1994). The vision of Islam. Paragon House.

Naess, A. (1989). Ecology, community, and lifestyle (D. Rothenberg, Trans.). Cambridge University Press.

Noddings, N. (2003). Caring: A relational approach to ethics and moral education. University of California Press.

Nussbaum, M. C. (1990). Love’s knowledge: Essays on philosophy and literature. Oxford University Press.

Nussbaum, M. C. (1997). Cultivating humanity: A classical defense of reform in liberal education. Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2001). Upheavals of thought: The intelligence of emotions. Cambridge University Press.

Nussbaum, M. C. (2006). Frontiers of justice: Disability, nationality, species membership. Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities: The human development approach. Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2013). Political emotions: Why love matters for justice. Harvard University Press.

Oakley, B. (2011). Pathological altruism. Oxford University Press.

Pogge, T. (2002). World poverty and human rights. Polity Press.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.

Rahman, F. (1980). Major themes of the Qur’an. Bibliotheca Islamica.

Rawls, J. (1971). A theory of justice. Harvard University Press.

Ricoeur, P. (1965). History and truth (C. A. Kelbley, Trans.). Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1977). The rule of metaphor (R. Czerny, Trans.). University of Toronto Press.

Ricoeur, P. (1992). Oneself as another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (2007). Reflections on the just (D. Pellauer, Trans.). University of Chicago Press.

Scheler, M. (1973). Formalism in ethics and non-formal ethics of values (M. S. Frings & R. L. Funk, Trans.). Northwestern University Press.

Sen, A. (1999). Development as freedom. Alfred A. Knopf.

Sen, A., & Nussbaum, M. C. (1993). The quality of life. Clarendon Press.

Singer, P. (2009). The life you can save. Random House.

Spaemann, R. (2000). Happiness and benevolence (J. Gaines & J. Seep, Trans.). University of Notre Dame Press.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity. Harvard University Press.

Taylor, C. (2004). Modern social imaginaries. Duke University Press.

Tillich, P. (1954). Love, power, and justice: Ontological analysis and ethical applications. Oxford University Press.

Tocqueville, A. de. (1969). Democracy in America (G. Lawrence, Trans.). Harper & Row.

Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.

Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford University Press.

Weber, M. (1965). Politics as a vocation (H. H. Gerth & C. Wright Mills, Trans.). Fortress Press.

Williams, B. (1985). Ethics and the limits of philosophy. Harvard University Press.

Wood, A. W. (2008). Kantian ethics. Cambridge University Press.

Žižek, S. (2008). Violence: Six sideways reflections. Picador.

Žižek, S. (2010). Living in the end times. Verso.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar