Rabu, 04 November 2026

Thaharah: Penyucian dari Hadas dan Najis

Thaharah

Penyucian dari Hadas dan Najis


Alihkan ke: CP Fiqih.


Abstrak

Artikel ini membahas thaharah sebagai kajian fikih yang mencakup penyucian dari hadas dan najis, sekaligus sebagai pendidikan nilai yang membentuk kesadaran spiritual, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pembahasan disusun dalam kerangka Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui Panca Cinta: cinta Allah, Rasul, ilmu, diri dan sesama, serta lingkungan. Artikel ini juga mengintegrasikan pendekatan Deep Learning melalui pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Metode penulisan menggunakan kajian pustaka dengan menelaah sumber-sumber fikih dan pendidikan yang relevan. Uraian mencakup konsep dan tujuan thaharah, tata cara bersuci dari hadas melalui wudu, mandi wajib, dan tayamum, serta penyucian najis sesuai ketentuan fikih. Kajian ini menekankan bahwa pemahaman thaharah tidak cukup berhenti pada penguasaan prosedur, tetapi perlu dikembangkan menjadi kebiasaan yang dilandasi kesadaran, pemahaman makna, dan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, pembelajaran thaharah diharapkan membantu peserta didik menghubungkan pengetahuan fikih dengan praktik ibadah, pembentukan akhlak, penghormatan terhadap sesama, dan pemeliharaan kebersihan lingkungan. Artikel ini menawarkan kerangka pembelajaran yang mengintegrasikan ketepatan pemahaman fikih dengan penguatan karakter dan pengalaman belajar kontekstual.

Kata kunci: thaharah, fikih, Kurikulum Berbasis Cinta, Panca Cinta, Deep Learning, hadas, najis, pendidikan karakter.


PEMBAHASAN

Kajian Fiqih Thaharah


1.          Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang

Thaharah merupakan salah satu pembahasan fundamental dalam ilmu fiqih yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Secara umum, thaharah berkaitan dengan upaya menyucikan diri dari hadas dan najis sebagai bagian dari pemenuhan ketentuan syariat. Pemahaman terhadap thaharah tidak hanya diperlukan untuk melaksanakan ibadah secara benar, tetapi juga menjadi landasan dalam membentuk kesadaran spiritual, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, kajian thaharah perlu dikembangkan secara komprehensif dengan mengintegrasikan dimensi hukum, spiritual, sosial, dan ekologis.

Dalam perspektif fiqih, thaharah memiliki keterkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah, terutama salat. Seseorang yang hendak melaksanakan salat harus memenuhi ketentuan kesucian dari hadas dan najis sesuai dengan hukum yang berlaku. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa Islam menempatkan kesucian sebagai salah satu aspek penting dalam membangun hubungan manusia dengan Allah Swt. Kesucian tidak sekadar dipahami sebagai keadaan fisik yang bersih, melainkan juga sebagai kondisi yang memenuhi persyaratan tertentu berdasarkan ketentuan syariat.

Al-Qur'an memberikan perhatian terhadap pentingnya kesucian sebagaimana tercermin dalam Qs. Al-Baqarah [02] ayat 222, yang menjelaskan kecintaan Allah kepada orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri. Ayat tersebut memberikan landasan teologis bahwa kesucian memiliki hubungan dengan pembentukan pribadi yang dicintai Allah. Sementara itu, Qs. Al-Ma'idah [05] ayat 6 menjelaskan ketentuan wudu, mandi, dan tayamum sebagai bagian dari tata cara bersuci sebelum melaksanakan ibadah. Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa thaharah memiliki dimensi hukum sekaligus spiritual.

Meskipun demikian, pembelajaran thaharah dalam praktik pendidikan masih berpotensi mengalami penyempitan makna apabila hanya menekankan hafalan mengenai rukun, syarat, dan tata cara bersuci. Peserta didik dapat mengetahui urutan wudu atau jenis-jenis najis, tetapi belum tentu memahami alasan, tujuan, dan nilai yang terkandung di dalamnya. Akibatnya, pengetahuan fikih berisiko terpisah dari perilaku sehari-hari. Pembelajaran yang demikian belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memahami, menghayati, dan menerapkan ajaran Islam secara bermakna.

Permasalahan tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan pembelajaran thaharah melalui pendekatan yang menghubungkan pengetahuan dengan pembentukan karakter. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menawarkan kerangka pendidikan yang menempatkan cinta sebagai landasan dalam membangun hubungan manusia dengan Allah, Rasulullah saw., ilmu pengetahuan, diri sendiri dan sesama, serta lingkungan. Dalam kerangka ini, pembelajaran fiqih tidak hanya diarahkan pada penguasaan ketentuan hukum, tetapi juga pada pembentukan kesadaran untuk menjalankan ajaran agama dengan penuh tanggung jawab dan kepedulian.

Integrasi KBC dalam kajian thaharah menjadi relevan karena praktik bersuci mengandung nilai-nilai yang dapat dikembangkan melalui Panca Cinta. Cinta Allah diwujudkan melalui kesadaran bahwa bersuci merupakan bagian dari ketaatan kepada-Nya. Cinta Rasulullah saw. dikembangkan melalui keteladanan dalam melaksanakan tata cara bersuci. Cinta Ilmu ditumbuhkan melalui upaya memahami dasar hukum, ketentuan, dan hikmah thaharah secara kritis. Cinta Diri dan Sesama diwujudkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan serta menghormati kenyamanan orang lain. Adapun Cinta Lingkungan dikembangkan melalui penggunaan air secara bijaksana dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.

Selain KBC, pembelajaran thaharah juga memerlukan pendekatan Deep Learning yang menekankan pembelajaran secara mendalam, sadar, bermakna, dan menyenangkan. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui tiga prinsip, yaitu Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Mindful Learning mendorong peserta didik untuk menyadari makna dan tujuan bersuci. Meaningful Learning menghubungkan konsep fikih dengan pengalaman nyata dalam kehidupan. Joyful Learning menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui kegiatan praktik, diskusi, refleksi, dan pemecahan masalah.

Dengan mengintegrasikan KBC dan Deep Learning, kajian thaharah diharapkan mampu mengembangkan pemahaman fikih yang tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga membentuk keterampilan dan sikap. Peserta didik diharapkan mampu melaksanakan bersuci secara benar, memahami alasan di balik ketentuan syariat, serta mengembangkan kebiasaan hidup bersih yang mencerminkan nilai-nilai Islam.

1.2.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat beberapa persoalan yang menjadi dasar pengembangan kajian thaharah.

Pertama, pemahaman mengenai thaharah masih berpotensi terbatas pada aspek prosedural, seperti menghafal rukun wudu, tata cara mandi wajib, dan klasifikasi najis, tanpa disertai pemahaman yang memadai mengenai dasar hukum dan hikmahnya.

Kedua, peserta didik perlu memiliki kemampuan membedakan hadas dan najis secara tepat. Kedua konsep tersebut memiliki karakteristik dan cara penyucian yang berbeda sehingga kesalahan dalam memahaminya dapat memengaruhi pelaksanaan ibadah.

Ketiga, pembelajaran thaharah perlu mengembangkan kesadaran bahwa kebersihan dan kesucian merupakan bagian dari tanggung jawab pribadi sekaligus sosial. Kesadaran tersebut penting agar pengetahuan fikih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, integrasi nilai-nilai Panca Cinta dalam pembelajaran thaharah memerlukan strategi yang sistematis agar tidak berhenti sebagai pengetahuan normatif, tetapi dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku nyata.

Kelima, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu mengembangkan pemahaman mendalam melalui pengalaman belajar yang sadar, bermakna, dan menyenangkan.

1.3.       Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, kajian ini dirumuskan melalui beberapa pertanyaan berikut.

1)                  Bagaimana konsep, kedudukan, dan ruang lingkup thaharah dalam perspektif ilmu fiqih?

2)                  Bagaimana ketentuan thaharah dari hadas, meliputi wudu, mandi wajib, dan tayamum?

3)                  Bagaimana ketentuan thaharah dari najis, meliputi klasifikasi najis dan tata cara menyucikannya?

4)                  Bagaimana nilai-nilai Panca Cinta dapat diintegrasikan dalam pembelajaran thaharah?

5)                  Bagaimana penerapan Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning dapat mendukung pembelajaran thaharah yang mendalam dan kontekstual?

1.4.       Tujuan dan Manfaat Kajian

Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep dan ketentuan thaharah secara sistematis berdasarkan perspektif ilmu fiqih, khususnya mengenai penyucian dari hadas dan najis. Selain itu, kajian ini bertujuan mengembangkan kerangka pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta dan pendekatan Deep Learning dalam pendidikan agama Islam.

Secara teoretis, kajian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai hubungan antara hukum fiqih, pembentukan karakter, dan pendidikan berbasis nilai. Integrasi tersebut memberikan perspektif bahwa pembelajaran thaharah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan ketentuan ibadah, tetapi juga dengan pengembangan kesadaran spiritual, tanggung jawab sosial, dan kepedulian ekologis.

Secara praktis, kajian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pendidik dalam mengembangkan pembelajaran fiqih yang sistematis, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai tata cara bersuci, mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mengembangkan kebiasaan menjaga kebersihan dan kesucian secara bertanggung jawab.

1.5.       Kerangka KBC dan Deep Learning

Kajian thaharah dalam Kurikulum Berbasis Cinta disusun berdasarkan lima nilai utama atau Panca Cinta. Cinta Allah menjadi landasan spiritual yang mengarahkan praktik bersuci pada kesadaran beribadah dan ketaatan kepada-Nya. Cinta Rasulullah saw. diwujudkan melalui keteladanan dalam mengikuti tuntunan bersuci. Cinta Ilmu dikembangkan melalui pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami dalil, ketentuan, dan perbedaan pendapat dalam fiqih secara terbuka dan bertanggung jawab.

Selanjutnya, Cinta Diri dan Sesama diwujudkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan, kesehatan, serta kenyamanan bersama. Cinta Lingkungan dikembangkan melalui kesadaran bahwa air dan sumber daya alam merupakan amanah yang harus digunakan secara bijaksana.

Kelima nilai tersebut diintegrasikan dengan pendekatan Deep Learning. Mindful Learning mengarahkan peserta didik untuk menyadari tujuan dan makna bersuci, bukan sekadar mengikuti prosedur. Meaningful Learning menghubungkan konsep thaharah dengan pengalaman nyata, seperti menjaga kebersihan tubuh, pakaian, tempat ibadah, dan lingkungan. Joyful Learning menghadirkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan melalui praktik, permainan edukatif, diskusi, dan refleksi.

Dengan demikian, kerangka kajian ini menempatkan thaharah sebagai materi fiqih yang memiliki keterkaitan antara pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter. Pembelajaran diarahkan untuk menghasilkan peserta didik yang memahami ketentuan bersuci, mampu melaksanakannya secara benar, serta menghayati nilai-nilai cinta dalam hubungan dengan Allah, Rasulullah saw., ilmu pengetahuan, sesama manusia, dan lingkungan.


2.          Hakikat Thaharah dalam Islam

2.1.       Pengertian Thaharah

Thaharah merupakan salah satu konsep fundamental dalam ilmu fiqih yang berkaitan dengan kesucian dan kebersihan. Secara bahasa, kata thaharah berasal dari bahasa Arab ṭahārah yang berarti bersih, suci, atau terbebas dari sesuatu yang mengotori. Secara istilah, thaharah adalah tindakan menghilangkan hadas dan najis serta memenuhi ketentuan kesucian yang ditetapkan oleh syariat Islam.

Pengertian tersebut menunjukkan bahwa thaharah tidak sepenuhnya identik dengan kebersihan fisik. Sesuatu yang tampak bersih belum tentu memenuhi ketentuan suci menurut hukum fiqih. Sebaliknya, kesucian secara hukum tidak selalu dapat ditentukan hanya melalui pengamatan indrawi. Oleh karena itu, pemahaman thaharah memerlukan pengetahuan mengenai ketentuan syariat, bukan semata-mata penilaian berdasarkan keadaan fisik.

Dalam kajian fiqih, terdapat dua aspek utama yang perlu dibedakan, yaitu hadas dan najis. Hadas merupakan keadaan hukum yang menghalangi seseorang melaksanakan ibadah tertentu sebelum melakukan penyucian sesuai ketentuan syariat. Adapun najis adalah benda atau zat yang oleh syariat dinyatakan tidak suci dan harus dibersihkan dari bagian tubuh, pakaian, atau tempat yang terkena apabila berkaitan dengan persyaratan kesucian ibadah.

Dengan demikian, thaharah mencakup penyucian dari hadas melalui wudu, mandi wajib, atau tayamum, serta penyucian dari najis melalui cara-cara yang sesuai dengan jenis dan keadaan najis tersebut. Pembedaan ini penting agar peserta didik tidak menyamakan keadaan berhadas dengan kondisi terkena najis.

2.2.       Kedudukan dan Dasar Hukum Thaharah

Thaharah memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan ibadah seorang Muslim. Dalam banyak pembahasan fiqih, kesucian dari hadas dan najis merupakan persyaratan sah salat. Hal ini menunjukkan bahwa thaharah bukan sekadar kebiasaan menjaga kebersihan, melainkan bagian dari ketentuan ibadah yang memiliki dasar hukum.

Salah satu landasan utama thaharah terdapat dalam Qs. Al-Ma'idah [05] ayat 6. Ayat tersebut menjelaskan tata cara wudu, mandi wajib, dan tayamum, sekaligus menegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan bagi manusia. Ketentuan ini memperlihatkan bahwa syariat bersuci memiliki dimensi ketaatan sekaligus kemudahan dalam pelaksanaannya.

Dasar lain terdapat dalam Qs. Al-Baqarah [02] ayat 222, yang menjelaskan kecintaan Allah kepada orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri. Ayat ini memberikan landasan spiritual bahwa kesucian memiliki hubungan dengan pembentukan pribadi yang dekat kepada Allah. Sementara itu, hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan bahwa kesucian merupakan bagian dari iman.[1]

Kedudukan thaharah juga dapat dipahami melalui hubungan antara kesucian dan pelaksanaan ibadah. Ketika seorang Muslim hendak melaksanakan salat, ia dituntut memperhatikan keadaan dirinya, pakaian, dan tempat salat. Ketentuan tersebut membangun kesadaran bahwa ibadah memerlukan persiapan yang mencakup aspek lahiriah dan ketaatan terhadap aturan agama.

Meskipun demikian, penting untuk membedakan antara ketentuan hukum dan hikmah yang dapat dipahami dari ketentuan tersebut. Hukum thaharah bersumber pada dalil syariat, sedangkan manfaat kesehatan, kedisiplinan, dan pembentukan karakter merupakan dimensi hikmah yang dapat dikembangkan melalui kajian dan pengalaman.

2.3.       Ruang Lingkup Thaharah

Ruang lingkup thaharah dalam ilmu fiqih mencakup beberapa aspek yang saling berkaitan. Pertama, thaharah dari hadas, yaitu penyucian keadaan hukum yang menghalangi pelaksanaan ibadah tertentu. Hadas kecil disucikan melalui wudu, sedangkan hadas besar disucikan melalui mandi wajib. Dalam kondisi tertentu, tayamum dapat menjadi pengganti wudu atau mandi wajib berdasarkan ketentuan syariat.

Kedua, thaharah dari najis, yaitu menghilangkan benda najis dari badan, pakaian, atau tempat yang harus memenuhi persyaratan kesucian. Penyucian najis dilakukan dengan memperhatikan jenis najis, keadaan benda yang terkena, dan cara penyucian yang ditetapkan dalam pembahasan fiqih.

Ketiga, thaharah berkaitan dengan penggunaan alat dan media bersuci. Air merupakan media utama dalam penyucian, tetapi syariat juga memberikan ketentuan mengenai penggunaan debu atau tanah yang suci untuk tayamum dalam keadaan tertentu. Ketentuan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan thaharah mempertimbangkan keadaan dan kemampuan manusia.

Dalam pembelajaran, ruang lingkup tersebut perlu disusun secara sistematis agar peserta didik memahami hubungan antara konsep, dasar hukum, dan praktik. Pemahaman yang baik terhadap ruang lingkup thaharah juga membantu peserta didik menerapkan ketentuan bersuci secara tepat dalam berbagai situasi kehidupan.

2.4.       Hikmah dan Tujuan Thaharah

Thaharah memiliki sejumlah hikmah yang dapat dipahami melalui dimensi spiritual, moral, sosial, dan ekologis. Dari dimensi spiritual, thaharah menjadi sarana mempersiapkan diri untuk beribadah dan membangun kesadaran akan hubungan manusia dengan Allah. Praktik bersuci dapat menjadi pengingat bahwa ibadah memerlukan kesungguhan, ketertiban, dan kepatuhan terhadap ketentuan agama.

Dari dimensi moral, thaharah dapat mengembangkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Kebiasaan mempersiapkan diri sebelum beribadah mengajarkan pentingnya ketertiban dan kesadaran terhadap kewajiban. Pemahaman mengenai ketentuan bersuci juga mendorong sikap teliti dalam membedakan keadaan yang memerlukan penyucian dan keadaan yang tidak memerlukannya.

Dari dimensi sosial, thaharah dapat menjadi dasar pembentukan budaya kebersihan dan kepedulian terhadap orang lain. Menjaga kebersihan pakaian, badan, dan tempat ibadah merupakan bentuk penghormatan terhadap kenyamanan bersama. Dalam konteks pendidikan, kebiasaan tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan menjaga kebersihan kelas, tempat wudu, dan fasilitas umum.

Dari dimensi ekologis, thaharah memberikan kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran mengenai penggunaan air secara bijaksana. Meskipun air menjadi media utama bersuci, penggunaannya perlu memperhatikan prinsip tidak berlebihan. Dengan demikian, praktik thaharah dapat dihubungkan dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga sumber daya alam dan mencegah pencemaran lingkungan.

Hikmah-hikmah tersebut perlu dipahami secara proporsional. Manfaat spiritual, sosial, dan ekologis tidak menggantikan ketentuan hukum thaharah, melainkan memperkaya pemahaman terhadap nilai dan tujuan pelaksanaannya.

2.5.       Integrasi Panca Cinta dalam Kajian Thaharah

Kajian thaharah dapat dikembangkan melalui Kurikulum Berbasis Cinta dengan menjadikan Panca Cinta sebagai kerangka pembentukan nilai. Cinta Allah diwujudkan melalui kesadaran bahwa bersuci merupakan bagian dari ketaatan dan persiapan beribadah. Cinta Rasulullah saw. dikembangkan melalui upaya mempelajari dan meneladani tuntunan beliau dalam bersuci.

Cinta Ilmu diwujudkan melalui pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami dasar hukum, membedakan konsep hadas dan najis, serta mengkaji persoalan bersuci secara kritis. Cinta Diri dan Sesama dikembangkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan bersama. Adapun Cinta Lingkungan diwujudkan melalui penggunaan air secara hemat dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.

Integrasi tersebut perlu diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran yang konkret. Peserta didik tidak hanya mempelajari ketentuan thaharah, tetapi juga melakukan praktik bersuci, mengamati kebiasaan kebersihan, mendiskusikan persoalan nyata, dan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

2.6.       Thaharah dalam Pendekatan Deep Learning

Pendekatan Deep Learning dapat diterapkan melalui tiga prinsip pembelajaran. Pertama, Mindful Learning, yaitu pembelajaran yang mendorong peserta didik menyadari makna dan tujuan bersuci. Kesadaran ini dikembangkan melalui refleksi, pengamatan, dan praktik yang dilakukan dengan penuh perhatian.

Kedua, Meaningful Learning, yaitu pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan fiqih dengan pengalaman nyata. Peserta didik dapat mengkaji persoalan bersuci di rumah, sekolah, dan tempat ibadah sehingga mampu menerapkan ketentuan thaharah secara kontekstual.

Ketiga, Joyful Learning, yaitu pembelajaran yang menghadirkan pengalaman belajar menyenangkan melalui praktik, permainan edukatif, diskusi kelompok, dan pemecahan masalah. Suasana belajar yang positif diharapkan membantu peserta didik memahami materi secara lebih mendalam tanpa mengurangi ketelitian terhadap ketentuan hukum.

Melalui integrasi KBC dan Deep Learning, kajian thaharah diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memahami hukum bersuci, tetapi juga mampu melaksanakannya secara benar, menghayati nilai-nilai spiritualnya, serta menerapkan kebersihan dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.


3.          Thaharah dari Hadas

3.1.       Pengertian dan Macam-Macam Hadas

Thaharah dari hadas merupakan salah satu pembahasan utama dalam ilmu fiqih yang berkaitan dengan keadaan hukum seseorang sebelum melaksanakan ibadah tertentu. Hadas adalah keadaan tidak suci secara hukum yang menyebabkan seseorang terhalang melaksanakan ibadah tertentu sampai melakukan penyucian sesuai ketentuan syariat. Berbeda dengan najis yang berupa benda atau zat tertentu, hadas tidak selalu dapat diketahui melalui pengamatan indrawi. Seseorang dapat berada dalam keadaan berhadas meskipun tubuh, pakaian, dan tempatnya tampak bersih.

Dalam kajian fiqih, hadas dibedakan menjadi dua macam, yaitu hadas kecil dan hadas besar. Hadas kecil merupakan keadaan yang mewajibkan seseorang berwudu sebelum melaksanakan ibadah tertentu, seperti salat. Hadas besar merupakan keadaan yang mewajibkan seseorang melakukan mandi wajib sebelum melaksanakan ibadah yang mensyaratkan kesucian dari hadas besar.

Hadas kecil dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, hilangnya kesadaran, dan sebab-sebab lain yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih. Adapun hadas besar dapat terjadi karena hubungan suami istri, keluarnya mani, berakhirnya haid atau nifas, serta sebab lain yang ditetapkan dalam syariat.

Pembedaan antara hadas kecil dan hadas besar memiliki konsekuensi hukum terhadap cara penyuciannya. Hadas kecil pada dasarnya disucikan melalui wudu, sedangkan hadas besar disucikan melalui mandi wajib. Dalam kondisi tertentu, tayamum dapat menjadi pengganti wudu atau mandi wajib berdasarkan ketentuan syariat. Pemahaman mengenai perbedaan tersebut menjadi dasar bagi peserta didik untuk menentukan cara bersuci secara tepat.

3.2.       Wudu sebagai Cara Menyucikan Hadas Kecil

Wudu merupakan tindakan menyucikan diri dari hadas kecil dengan menggunakan air suci dan menyucikan melalui tata cara yang telah ditentukan. Wudu memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan salat dan sejumlah ibadah lainnya. Dasar hukum wudu dijelaskan dalam Qs. Al-Ma'idah [05] ayat 6, yang memuat ketentuan membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

Dalam pembahasan fiqih, wudu memiliki sejumlah syarat dan rukun. Syarat wudu berkaitan dengan keadaan yang harus terpenuhi agar wudu dapat dilaksanakan secara sah, sedangkan rukun merupakan unsur pokok yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya. Dalam mazhab Syafi'i, rukun wudu meliputi niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua kaki hingga mata kaki, dan tertib.

Selain rukun, terdapat sejumlah sunah wudu yang dianjurkan untuk menyempurnakan pelaksanaannya, seperti membaca basmalah, membasuh kedua telapak tangan sebelum memulai, berkumur, membersihkan hidung, dan mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan. Peserta didik perlu memahami perbedaan antara rukun dan sunah agar dapat membedakan unsur yang menentukan keabsahan wudu dengan unsur yang menyempurnakannya.

Wudu juga memiliki ketentuan mengenai hal-hal yang membatalkannya. Dalam mazhab Syafi'i, antara lain keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur, hilangnya kesadaran, bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa penghalang menurut ketentuan mazhab, serta menyentuh kemaluan atau lingkaran dubur dengan bagian dalam telapak tangan atau jari. Perbedaan pendapat antarmazhab mengenai sebagian pembatal wudu perlu dipahami secara proporsional agar peserta didik memiliki wawasan fikih yang terbuka.

3.3.       Mandi Wajib sebagai Cara Menyucikan Hadas Besar

Mandi wajib merupakan tindakan menyucikan seluruh tubuh dengan air yang disertai niat untuk menghilangkan hadas besar. Mandi wajib menjadi kewajiban ketika seseorang mengalami keadaan yang menyebabkan hadas besar, seperti hubungan suami istri, keluarnya mani, berakhirnya haid, atau berakhirnya nifas.

Dasar hukum mandi wajib antara lain terdapat dalam Qs. Al-Ma'idah [05] ayat 6, yang menjelaskan kewajiban bersuci bagi orang yang berada dalam keadaan junub. Ayat tersebut juga menunjukkan adanya ketentuan tayamum ketika seseorang mengalami keadaan tertentu yang menghalangi penggunaan air.

Dalam mazhab Syafi'i, rukun mandi wajib meliputi niat dan meratakan air ke seluruh bagian tubuh yang tampak. Niat dilakukan untuk menghilangkan hadas besar atau melaksanakan mandi wajib, sedangkan air harus mencapai seluruh bagian tubuh, termasuk rambut dan kulit. Bagian tubuh yang sulit dijangkau perlu diperhatikan agar tidak ada bagian yang terlewat.

Pelaksanaan mandi wajib juga dapat disempurnakan dengan sejumlah sunah, seperti membaca basmalah, berwudu sebelum mandi, mendahulukan bagian tubuh sebelah kanan, dan menggosok tubuh. Ketentuan tersebut mengajarkan pentingnya ketelitian dan keteraturan dalam bersuci.

Dalam pembelajaran, mandi wajib perlu dijelaskan dengan bahasa yang santun, ilmiah, dan sesuai tingkat perkembangan peserta didik. Pembahasan tidak hanya menekankan tata cara, tetapi juga membangun pemahaman bahwa ketentuan bersuci merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap ibadah dan pemeliharaan kesucian diri.

3.4.       Tayamum sebagai Keringanan dalam Thaharah

Tayamum merupakan cara bersuci menggunakan debu atau tanah yang suci sebagai pengganti wudu atau mandi wajib dalam keadaan tertentu. Tayamum menunjukkan bahwa syariat Islam memberikan kemudahan kepada manusia tanpa menghilangkan prinsip kesucian dalam ibadah.

Dasar hukum tayamum terdapat dalam Qs. Al-Ma'idah [05] ayat 6, yang menjelaskan bahwa seseorang dapat bertayamum ketika sakit, dalam perjalanan, atau tidak memperoleh air setelah melakukan pencarian sesuai ketentuan yang berlaku. Tayamum juga dapat dilakukan apabila penggunaan air menimbulkan bahaya yang nyata bagi kesehatan atau keselamatan seseorang.

Dalam mazhab Syafi'i, rukun tayamum meliputi niat, mengusap wajah, mengusap kedua tangan hingga siku, dan tertib. Tayamum dilakukan menggunakan debu yang suci dengan memperhatikan ketentuan mengenai media dan tata caranya.

Tayamum bukanlah bentuk pengabaian terhadap kewajiban bersuci, melainkan keringanan yang diberikan syariat dalam keadaan tertentu. Oleh karena itu, peserta didik perlu memahami bahwa tayamum memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi, bukan sekadar alternatif yang dapat digunakan tanpa alasan.

3.5.       Penerapan Thaharah dari Hadas dalam Kehidupan

Penerapan thaharah dari hadas dalam kehidupan sehari-hari menuntut kemampuan memahami keadaan diri dan menentukan cara bersuci yang sesuai. Peserta didik perlu mampu membedakan keadaan yang mewajibkan wudu, mandi wajib, atau tayamum serta memahami kondisi yang membolehkan penggunaan keringanan tersebut.

Pembelajaran dapat dilakukan melalui praktik wudu, simulasi tayamum, dan diskusi mengenai situasi yang memerlukan mandi wajib. Kegiatan tersebut membantu peserta didik menghubungkan pengetahuan fikih dengan pengalaman nyata. Dalam pelaksanaannya, pendidik perlu memperhatikan kenyamanan dan privasi peserta didik, khususnya ketika membahas persoalan hadas besar.

Penerapan thaharah juga dapat dikaitkan dengan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta. Cinta Allah diwujudkan melalui kesadaran bahwa bersuci merupakan bagian dari ketaatan kepada-Nya. Cinta Rasulullah saw. dikembangkan melalui keteladanan dalam mengikuti tuntunan bersuci. Cinta Ilmu ditumbuhkan melalui pemahaman dasar hukum dan ketentuan fikih secara benar.

Cinta Diri dan Sesama diwujudkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan, sedangkan Cinta Lingkungan dikembangkan melalui penggunaan air secara bijaksana. Nilai-nilai tersebut dapat diperkuat melalui pendekatan Deep Learning yang meliputi Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning.

Dengan demikian, kajian thaharah dari hadas tidak hanya bertujuan membentuk kemampuan peserta didik dalam melaksanakan tata cara bersuci, tetapi juga mengembangkan kesadaran spiritual, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian. Pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, praktik, dan refleksi diharapkan mampu menghasilkan pemahaman fikih yang mendalam serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.


4.          Thaharah dari Najis

4.1.       Pengertian dan Macam-Macam Najis

Thaharah dari najis merupakan bagian penting dalam kajian ilmu fiqih yang berkaitan dengan upaya menghilangkan benda atau zat yang dinyatakan tidak suci oleh syariat Islam. Najis adalah sesuatu yang oleh hukum Islam ditetapkan sebagai benda yang tidak suci dan dalam keadaan tertentu harus dihilangkan dari badan, pakaian, atau tempat yang digunakan untuk beribadah. Berbeda dengan hadas yang merupakan keadaan hukum seseorang, najis memiliki wujud yang dapat diketahui melalui keberadaan zat atau benda tertentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, najis dapat ditemukan pada berbagai keadaan, seperti darah, air kencing, kotoran manusia, dan benda-benda lain yang ditetapkan najis berdasarkan ketentuan syariat. Pemahaman mengenai najis diperlukan agar seorang Muslim dapat menjaga kesucian dirinya sekaligus melaksanakan ibadah sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.

Dalam mazhab Syafi'i, najis secara umum dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu najis mukhaffafah, mutawassitah, dan mughallazah. Pembagian ini didasarkan pada tingkat dan cara penyucian yang ditetapkan dalam hukum fiqih.

Najis mukhaffafah merupakan najis ringan, yang contohnya adalah air kencing bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun dan belum mengonsumsi makanan selain air susu sebagai makanan utama. Najis mutawassitah merupakan najis sedang, seperti darah, air kencing, dan kotoran manusia. Adapun najis mughallazah merupakan najis berat, yang dalam mazhab Syafi'i mencakup najis anjing, babi, dan keturunan keduanya.

Pembagian tersebut membantu peserta didik memahami bahwa cara menyucikan najis tidak selalu sama. Setiap jenis najis memiliki ketentuan penyucian yang perlu diperhatikan agar kesucian badan, pakaian, dan tempat dapat terpenuhi sesuai dengan hukum syariat.

4.2.       Ketentuan dan Cara Menyucikan Najis

Penyucian najis merupakan tindakan menghilangkan zat najis dari bagian tubuh, pakaian, atau tempat yang terkena. Dalam pelaksanaannya, seseorang perlu mengetahui jenis najis, keadaan benda yang terkena, serta cara penyucian yang sesuai dengan ketentuan fiqih.

Najis mukhaffafah disucikan dengan memercikkan air pada bagian yang terkena najis setelah zat najis tersebut dihilangkan. Cara ini memiliki ketentuan khusus dan tidak dapat diterapkan pada semua jenis najis. Oleh karena itu, pemahaman mengenai karakteristik najis mukhaffafah menjadi penting agar proses penyucian dilakukan secara tepat.

Najis mutawassitah dibedakan menjadi najis 'ainiyah dan hukmiyah. Najis 'ainiyah adalah najis yang masih tampak zat, warna, bau, atau sifatnya. Penyuciannya dilakukan dengan menghilangkan zat najis tersebut menggunakan air hingga sifat-sifat najisnya hilang. Sementara itu, najis hukmiyah adalah najis yang zatnya telah hilang, tetapi bagian yang terkena masih dihukumi najis. Dalam keadaan tersebut, penyucian dilakukan dengan mengalirkan air pada bagian yang terkena najis.

Najis mughallazah disucikan dengan membasuh bagian yang terkena sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan air yang dicampur dengan tanah atau debu yang suci sesuai ketentuan mazhab Syafi'i. Ketentuan tersebut didasarkan pada hadis mengenai cara menyucikan bejana yang dijilat anjing. Dalam penerapannya, peserta didik perlu memahami bahwa penyucian najis mughallazah memiliki tata cara khusus yang berbeda dari jenis najis lainnya.

Ketentuan penyucian najis juga berkaitan dengan penggunaan air. Air yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai alat bersuci menurut ketentuan fiqih. Pemahaman ini penting agar peserta didik tidak hanya mengetahui cara menyucikan najis, tetapi juga memahami syarat media yang digunakan dalam proses tersebut.

4.3.       Najis pada Badan, Pakaian, dan Tempat

Najis dapat mengenai berbagai bagian kehidupan manusia, baik badan, pakaian, maupun tempat. Oleh karena itu, thaharah dari najis perlu dipahami sebagai keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Najis pada badan perlu dihilangkan sebelum seseorang melaksanakan ibadah yang mensyaratkan kesucian. Apabila seseorang mengetahui adanya najis pada tubuhnya, ia perlu membersihkan bagian yang terkena sesuai dengan jenis najis tersebut. Penyucian dilakukan dengan memperhatikan ketentuan hukum dan tidak perlu diperluas pada bagian tubuh yang tidak terkena najis.

Najis pada pakaian juga perlu diperhatikan, terutama ketika pakaian tersebut digunakan untuk salat. Pakaian yang terkena najis harus disucikan pada bagian yang terkena sesuai dengan ketentuan fiqih. Dalam hal ini, penting untuk membedakan antara pakaian yang sekadar kotor dan pakaian yang terkena najis. Tidak semua noda atau kotoran secara otomatis dihukumi najis.

Adapun najis pada tempat berkaitan dengan kesucian lokasi yang digunakan untuk beribadah. Tempat salat perlu dijaga agar terbebas dari najis yang dapat menghalangi terpenuhinya persyaratan kesucian. Pembiasaan menjaga kebersihan tempat ibadah dapat menjadi sarana pembentukan tanggung jawab bersama dalam kehidupan sosial.

Dalam pembelajaran, peserta didik dapat diberikan contoh kasus mengenai najis pada badan, pakaian, dan tempat. Melalui kegiatan tersebut, mereka dapat berlatih mengidentifikasi jenis najis, menentukan cara penyucian, dan memahami alasan hukum di balik tindakan yang dilakukan.

4.4.       Permasalahan Fiqih tentang Najis

Pembahasan najis tidak terlepas dari berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu persoalan tersebut adalah keraguan mengenai keberadaan najis. Dalam kaidah fiqih, keadaan suci yang telah diyakini pada dasarnya tidak berubah hanya karena muncul keraguan. Prinsip ini membantu seseorang menghindari sikap berlebihan dalam memeriksa kebersihan dan kesucian.

Persoalan lain berkaitan dengan najis yang sulit dihindari atau dihilangkan. Dalam keadaan tertentu, seseorang dapat menghadapi kondisi yang memerlukan penjelasan hukum secara lebih rinci. Oleh karena itu, peserta didik perlu memahami bahwa penyelesaian persoalan najis tidak selalu cukup dengan mengandalkan perkiraan pribadi, tetapi perlu merujuk pada ketentuan fiqih dan penjelasan ulama.

Perbedaan pendapat antarmazhab juga menjadi bagian penting dalam kajian najis. Sebagian persoalan memiliki ketentuan yang berbeda berdasarkan metode penafsiran dalil dan prinsip hukum yang digunakan. Pemahaman terhadap perbedaan tersebut dapat mengembangkan sikap toleran dan menghargai keragaman pandangan dalam tradisi keilmuan Islam.

Dengan demikian, pembelajaran najis perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus sikap kehati-hatian. Peserta didik diharapkan mampu membedakan ketentuan yang disepakati secara luas dengan persoalan yang memiliki perbedaan pendapat, serta menerapkan hukum secara proporsional.

4.5.       Praktik dan Studi Kasus Thaharah dari Najis

Praktik penyucian najis merupakan bagian penting dalam pembelajaran fiqih karena membantu peserta didik menghubungkan pengetahuan teoritis dengan pengalaman nyata. Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan melalui simulasi penyucian najis pada pakaian, badan, dan tempat, dengan menggunakan bahan yang aman serta sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Melalui studi kasus, peserta didik dapat diminta mengidentifikasi jenis najis, menentukan bagian yang terkena, dan menjelaskan cara penyuciannya. Kegiatan tersebut dapat dikembangkan melalui diskusi kelompok, demonstrasi, dan refleksi mengenai pentingnya menjaga kesucian dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif Kurikulum Berbasis Cinta, thaharah dari najis memiliki hubungan dengan seluruh nilai Panca Cinta. Cinta Allah diwujudkan melalui ketaatan terhadap ketentuan bersuci. Cinta Rasulullah saw. dikembangkan melalui pembelajaran tuntunan penyucian najis berdasarkan hadis. Cinta Ilmu ditumbuhkan melalui pemahaman konsep dan ketentuan hukum secara sistematis.

Cinta Diri dan Sesama diwujudkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan tubuh, pakaian, dan fasilitas umum. Adapun Cinta Lingkungan dikembangkan melalui pengelolaan air dan kebersihan lingkungan secara bertanggung jawab.

Integrasi nilai-nilai tersebut dapat diperkuat melalui pendekatan Deep Learning. Mindful Learning mendorong peserta didik menyadari tujuan dan makna penyucian najis. Meaningful Learning menghubungkan konsep fiqih dengan persoalan nyata di rumah, sekolah, dan tempat ibadah. Joyful Learning menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan melalui praktik, permainan edukatif, dan pemecahan masalah.

Dengan demikian, kajian thaharah dari najis tidak hanya bertujuan membentuk kemampuan peserta didik dalam mengenali dan menyucikan najis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, praktik, dan refleksi diharapkan mampu menghasilkan pemahaman fiqih yang mendalam serta penerapan nilai-nilai Islam secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.


5.          Thaharah dalam Kehidupan Spiritual, Sosial, dan Ekologis

5.1.       Thaharah sebagai Jalan Mendekatkan Diri kepada Allah

Thaharah merupakan bagian penting dalam kehidupan spiritual seorang Muslim karena berkaitan dengan persiapan diri untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Dalam perspektif fiqih, thaharah mencakup penyucian dari hadas dan najis sesuai dengan ketentuan syariat. Namun, makna thaharah tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan hukum, melainkan juga dapat menjadi sarana membangun kesadaran spiritual, kedisiplinan, dan ketundukan kepada Allah.

Hubungan antara thaharah dan spiritualitas dapat dipahami melalui Qs. Al-Ma'idah [05] ayat 6, yang menjelaskan ketentuan wudu, mandi wajib, dan tayamum. Ayat tersebut tidak hanya memberikan petunjuk mengenai tata cara bersuci, tetapi juga menegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi manusia. Dengan demikian, thaharah mencerminkan hubungan antara ketaatan terhadap ketentuan syariat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Dalam praktiknya, wudu dapat menjadi kesempatan untuk membangun kesadaran sebelum melaksanakan salat. Seseorang tidak hanya membasuh anggota tubuh sesuai ketentuan, tetapi juga mempersiapkan diri secara mental dan spiritual untuk beribadah. Kesadaran tersebut dapat membantu seseorang mengembangkan sikap tenang, disiplin, dan penuh perhatian terhadap ibadah yang akan dilaksanakan.

Meskipun demikian, penting untuk membedakan antara kesucian secara hukum dan kesucian batin. Wudu atau mandi wajib memenuhi ketentuan bersuci secara fikih, sedangkan pembentukan akhlak dan kebersihan hati memerlukan proses pendidikan serta pembiasaan yang berkelanjutan. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak dapat disamakan begitu saja.

Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, dimensi spiritual thaharah diarahkan untuk menumbuhkan Cinta Allah melalui kesadaran bahwa bersuci merupakan bagian dari ketaatan. Pembelajaran tidak hanya menekankan ketepatan tata cara, tetapi juga mengajak peserta didik memahami makna ibadah dan mengembangkan hubungan yang lebih sadar dengan Allah Swt.

5.2.       Thaharah dan Keteladanan Rasulullah Saw.

Rasulullah saw. merupakan teladan utama bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah, termasuk dalam hal bersuci. Keteladanan beliau dapat dipelajari melalui hadis-hadis yang menjelaskan tata cara wudu, mandi wajib, dan penyucian najis. Dengan mempelajari tuntunan tersebut, peserta didik dapat memahami bahwa praktik thaharah memiliki dasar dalam ajaran Islam dan tradisi keilmuan yang diwariskan melalui hadis.

Keteladanan Rasulullah saw. juga dapat dikembangkan melalui pemahaman terhadap prinsip kemudahan, ketertiban, dan kesederhanaan dalam bersuci. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah saw. mengajarkan penggunaan air secara proporsional. Hal ini menunjukkan bahwa praktik ibadah tidak seharusnya dilakukan secara berlebihan, melainkan sesuai dengan tuntunan dan kebutuhan.

Dalam pembelajaran, Cinta Rasul dapat diwujudkan melalui kegiatan mempelajari hadis tentang thaharah, mengamati praktik wudu yang benar, dan mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Peserta didik juga dapat diajak membandingkan praktik sehari-hari dengan tuntunan yang dipelajari, kemudian melakukan refleksi untuk memperbaiki kebiasaan yang belum sesuai.

Dengan demikian, keteladanan Rasulullah saw. tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan historis, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam membentuk perilaku bersuci yang benar, sederhana, dan bertanggung jawab.

5.3.       Thaharah dan Kesehatan Diri

Thaharah memiliki keterkaitan dengan pemeliharaan kebersihan diri. Kebiasaan membasuh anggota tubuh, membersihkan diri setelah aktivitas tertentu, serta menjaga kebersihan pakaian dapat mendukung perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan tersebut membantu seseorang lebih memperhatikan kondisi tubuh dan lingkungan terdekatnya.

Meskipun demikian, hubungan antara thaharah dan kesehatan perlu dijelaskan secara proporsional. Ketentuan bersuci merupakan bagian dari hukum ibadah, sedangkan manfaat kesehatan merupakan aspek yang dapat dikaji melalui ilmu pengetahuan. Tidak semua ketentuan fikih harus dijelaskan melalui manfaat medis, karena dasar kewajiban ibadah tetap bersumber pada dalil syariat.

Dalam konteks pendidikan, pembelajaran thaharah dapat dihubungkan dengan pembiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan tubuh, menggunakan pakaian yang bersih, dan memelihara kebersihan fasilitas sanitasi. Peserta didik dapat diajak memahami bahwa kebersihan diri merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.

Nilai Cinta Diri dalam KBC diwujudkan melalui kesadaran menjaga kesehatan dan kebersihan. Sementara itu, Cinta Ilmu dikembangkan melalui pemahaman hubungan antara ajaran agama dan pengetahuan kesehatan secara kritis, tanpa mencampuradukkan ketentuan hukum dengan klaim ilmiah yang belum teruji.

5.4.       Thaharah dan Kepedulian Sosial

Thaharah memiliki dimensi sosial karena praktik kebersihan dan kesucian tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dengan kehidupan bersama. Kebersihan tempat ibadah, fasilitas umum, dan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab yang memerlukan kerja sama serta kepedulian antaranggota masyarakat.

Dalam konteks ini, thaharah dapat menjadi dasar pembentukan perilaku sosial yang menghargai kenyamanan orang lain. Seseorang yang menjaga kebersihan pakaian, badan, dan tempat ibadah turut menciptakan lingkungan yang nyaman bagi orang lain. Sebaliknya, pengabaian terhadap kebersihan bersama dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Pembelajaran thaharah dapat dikembangkan melalui kegiatan membersihkan tempat wudu, merawat fasilitas sanitasi, dan menjaga kebersihan ruang kelas. Kegiatan tersebut tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga membangun kesadaran bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Nilai Cinta Diri dan Sesama dalam KBC dapat diwujudkan melalui pembiasaan saling mengingatkan dengan cara yang santun, bekerja sama menjaga kebersihan, dan menghormati perbedaan dalam praktik bersuci yang memiliki dasar fikih. Dengan demikian, pembelajaran thaharah dapat berkontribusi terhadap pembentukan karakter yang peduli, toleran, dan bertanggung jawab.

5.5.       Thaharah dan Kelestarian Lingkungan

Thaharah memiliki hubungan dengan kelestarian lingkungan, terutama dalam penggunaan air sebagai media utama bersuci. Air merupakan sumber daya yang penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, penggunaan air dalam kegiatan bersuci perlu memperhatikan prinsip efisiensi dan tanggung jawab ekologis.

Dalam ajaran Islam, penggunaan air secara berlebihan tidak dianjurkan. Qs. Al-A'raf [07] ayat 31 mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan. Prinsip tersebut dapat dijadikan landasan untuk membangun kebiasaan menggunakan air secukupnya ketika berwudu maupun mandi wajib.

Kesadaran ekologis dalam thaharah juga mencakup pemeliharaan kebersihan sumber air dan pencegahan pencemaran lingkungan. Air yang digunakan untuk bersuci perlu dijaga kualitasnya agar tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, pembelajaran thaharah dapat dikaitkan dengan pengelolaan limbah, pemeliharaan saluran air, dan pembiasaan tidak membuang sampah ke sungai.

Dalam KBC, Cinta Lingkungan diwujudkan melalui kesadaran bahwa alam merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Peserta didik dapat mengembangkan proyek sederhana, seperti kampanye hemat air, pengamatan penggunaan air di tempat wudu, atau kegiatan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan tersebut, thaharah tidak hanya menjadi materi hukum ibadah, tetapi juga sarana pendidikan ekologis yang menumbuhkan tanggung jawab terhadap keberlanjutan sumber daya alam.

5.6.       Integrasi Panca Cinta dan Deep Learning dalam Kehidupan

Pembelajaran thaharah yang mengintegrasikan Panca Cinta dan Deep Learning perlu menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan pembentukan karakter. Mindful Learning dikembangkan melalui refleksi mengenai makna bersuci dan kesadaran terhadap penggunaan air. Meaningful Learning diwujudkan melalui penerapan ketentuan thaharah dalam kehidupan sehari-hari. Joyful Learning dikembangkan melalui praktik, diskusi, permainan edukatif, dan proyek kebersihan yang melibatkan peserta didik secara aktif.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu memahami thaharah sebagai praktik ibadah sekaligus sarana membangun hubungan yang harmonis dengan Allah, Rasulullah saw., ilmu pengetahuan, sesama manusia, dan lingkungan.

Dengan demikian, thaharah memiliki makna yang luas dalam kehidupan spiritual, sosial, dan ekologis. Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta dan pendekatan Deep Learning diharapkan dapat membentuk pribadi yang memahami ketentuan fikih, memiliki kesadaran spiritual, menjaga kebersihan, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama dan kelestarian lingkungan.


6.          Strategi Pembelajaran Thaharah Berbasis KBC dan Deep Learning

6.1.       Prinsip Pembelajaran Thaharah Berbasis Cinta

Pembelajaran thaharah merupakan bagian dari pendidikan fiqih yang bertujuan mengembangkan pemahaman peserta didik mengenai ketentuan bersuci sekaligus membentuk kesadaran spiritual, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran perlu dirancang tidak hanya sebagai proses penyampaian pengetahuan, tetapi juga sebagai pengalaman yang menghubungkan ilmu, nilai, dan praktik kehidupan.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menempatkan cinta sebagai landasan dalam membangun hubungan manusia dengan Allah Swt., Rasulullah saw., ilmu pengetahuan, diri sendiri dan sesama, serta lingkungan. Dalam pembelajaran thaharah, nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan melalui pemahaman hukum, praktik bersuci, pembiasaan kebersihan, dan refleksi terhadap makna ibadah.

Cinta Allah diwujudkan melalui kesadaran bahwa bersuci merupakan bagian dari ketaatan kepada-Nya. Cinta Rasulullah saw. dikembangkan melalui keteladanan dalam mengikuti tuntunan bersuci. Cinta Ilmu ditumbuhkan melalui pembelajaran yang mendorong pemahaman dalil dan ketentuan fiqih secara kritis. Cinta Diri dan Sesama diwujudkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan serta menghormati kenyamanan orang lain. Adapun Cinta Lingkungan dikembangkan melalui penggunaan air secara bijaksana dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.

Integrasi nilai-nilai tersebut perlu dilakukan secara sistematis agar tidak berhenti pada penyampaian pesan moral. Setiap nilai harus dihubungkan dengan tujuan pembelajaran, aktivitas peserta didik, dan indikator pencapaian yang dapat diamati. Dengan demikian, pembelajaran thaharah dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara terpadu.

6.2.       Mindful Learning: Kesadaran dalam Bersuci

Mindful Learning merupakan prinsip pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk hadir secara sadar dalam proses belajar, memperhatikan pengalaman yang sedang dijalani, dan memahami makna dari kegiatan yang dilakukan. Dalam pembelajaran thaharah, prinsip ini dapat diterapkan melalui kegiatan refleksi, pengamatan, dan praktik bersuci yang dilakukan dengan penuh perhatian.

Pada tahap awal, pendidik dapat mengajak peserta didik merefleksikan pengalaman mereka ketika berwudu, mandi wajib, atau menyucikan najis. Pertanyaan reflektif dapat diarahkan pada pemahaman mengenai alasan bersuci, hubungan thaharah dengan ibadah, serta kebiasaan yang perlu diperbaiki dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, peserta didik dapat melakukan praktik wudu dengan memperhatikan urutan, ketepatan gerakan, dan penggunaan air. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memastikan penguasaan keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap tindakan bersuci memiliki ketentuan dan makna.

Dalam pembelajaran thaharah dari najis, peserta didik dapat mengamati contoh kasus dan mengidentifikasi bagian yang terkena najis. Mereka kemudian menentukan cara penyucian berdasarkan jenis najis dan ketentuan fiqih. Kegiatan tersebut melatih ketelitian sekaligus mengembangkan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Melalui Mindful Learning, peserta didik diharapkan mampu memahami bahwa bersuci bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan praktik ibadah yang memerlukan kesadaran, ketelitian, dan tanggung jawab.

6.3.       Meaningful Learning: Menghubungkan Fikih dengan Kehidupan

Meaningful Learning merupakan prinsip pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman dan pemahaman yang telah dimiliki peserta didik. Dalam pembelajaran thaharah, prinsip ini penting agar ketentuan fiqih tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi dapat diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan.

Pendidik dapat mengembangkan pembelajaran melalui studi kasus yang berkaitan dengan hadas dan najis. Misalnya, peserta didik diminta menentukan cara bersuci ketika seseorang tidak dapat menggunakan air karena alasan kesehatan, atau ketika pakaian terkena najis sebelum melaksanakan salat.

Melalui diskusi kelompok, peserta didik mengidentifikasi persoalan, menentukan ketentuan fiqih yang relevan, dan menjelaskan alasan pemilihan cara penyucian. Kegiatan ini membantu mereka memahami hubungan antara konsep, dasar hukum, dan penerapan dalam kehidupan nyata.

Meaningful Learning juga dapat dikembangkan melalui proyek kebersihan lingkungan sekolah. Peserta didik dapat mengamati penggunaan air di tempat wudu, mengidentifikasi kebiasaan yang berpotensi menyebabkan pemborosan, dan merancang langkah sederhana untuk menghemat air.

Dalam kegiatan tersebut, pembelajaran thaharah dihubungkan dengan nilai Cinta Lingkungan dan Cinta Diri/Sesama. Peserta didik tidak hanya memahami hukum bersuci, tetapi juga mengembangkan kesadaran bahwa praktik ibadah dapat menjadi sarana membangun tanggung jawab sosial dan ekologis.

6.4.       Joyful Learning: Belajar Fikih secara Menyenangkan

Joyful Learning merupakan prinsip pembelajaran yang menciptakan suasana belajar positif, menyenangkan, dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik. Pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti mengurangi ketelitian terhadap ketentuan fiqih, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang membuat peserta didik lebih tertarik, percaya diri, dan mudah memahami materi.

Dalam pembelajaran thaharah, Joyful Learning dapat diterapkan melalui permainan edukatif mengenai klasifikasi hadas dan najis. Peserta didik dapat bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi contoh kasus, menentukan jenis hadas atau najis, dan memilih cara penyucian yang sesuai.

Kegiatan lain dapat berupa demonstrasi wudu, simulasi tayamum, dan praktik menyucikan najis menggunakan bahan yang aman. Pendidik dapat memberikan umpan balik secara konstruktif agar peserta didik memahami kesalahan dan memperbaiki keterampilannya tanpa merasa dipermalukan.

Pembelajaran juga dapat dikembangkan melalui kuis, teka-teki, dan diskusi berbasis masalah. Kegiatan tersebut perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik serta dilaksanakan dalam suasana yang menghargai perbedaan kemampuan dan pengalaman.

Melalui Joyful Learning, peserta didik diharapkan memiliki pengalaman belajar yang positif sehingga lebih termotivasi untuk mempelajari fiqih dan menerapkan ketentuan thaharah dalam kehidupan sehari-hari.

6.5.       Asesmen Pembelajaran Thaharah

Asesmen merupakan bagian penting dalam pembelajaran thaharah karena digunakan untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran sekaligus memberikan umpan balik bagi pengembangan kemampuan peserta didik. Asesmen perlu mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara proporsional.

Asesmen pengetahuan dapat dilakukan melalui tes tertulis, pertanyaan lisan, dan analisis kasus. Penilaian diarahkan pada kemampuan peserta didik menjelaskan pengertian thaharah, membedakan hadas dan najis, memahami ketentuan wudu, mandi wajib, tayamum, serta menjelaskan cara menyucikan najis.

Asesmen keterampilan dilakukan melalui praktik bersuci. Pendidik dapat menggunakan rubrik yang mencakup ketepatan urutan, pelaksanaan rukun, penggunaan media bersuci, dan kemampuan menjelaskan prosedur. Penilaian praktik perlu mempertimbangkan ketentuan mazhab yang menjadi acuan pembelajaran agar peserta didik memperoleh pemahaman yang konsisten.

Asesmen sikap dilakukan melalui pengamatan terhadap kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian terhadap kebersihan, kerja sama, dan penggunaan air secara bijaksana. Penilaian ini tidak dimaksudkan untuk mengukur kualitas iman seseorang, tetapi untuk mengamati perilaku yang relevan dengan tujuan pendidikan.

Selain itu, refleksi diri dapat digunakan untuk membantu peserta didik mengenali perkembangan pemahaman dan kebiasaan mereka. Peserta didik dapat menuliskan hal yang telah dipahami, kesulitan yang dihadapi, dan tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki praktik bersuci.

6.6.       Implementasi Strategi Pembelajaran dalam Kerangka Panca Cinta

Implementasi pembelajaran thaharah berbasis KBC dan Deep Learning memerlukan perencanaan yang menghubungkan tujuan, aktivitas, dan asesmen secara terpadu. Pendidik perlu memastikan bahwa setiap kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami hukum, mempraktikkan keterampilan, dan mengembangkan nilai-nilai Panca Cinta.

Pada tahap perencanaan, pendidik menentukan kompetensi yang ingin dicapai, memilih materi yang sesuai, dan merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik. Materi mengenai hadas dan najis dapat disusun secara bertahap, dimulai dari pemahaman konsep, penguasaan prosedur, hingga penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap pelaksanaan, pendidik berperan sebagai fasilitator yang memberikan penjelasan, membimbing praktik, mengajukan pertanyaan reflektif, dan menciptakan suasana belajar yang inklusif. Peserta didik diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, dan memperbaiki pemahamannya.

Pada tahap evaluasi, pendidik menilai pencapaian pengetahuan dan keterampilan sekaligus mengidentifikasi perkembangan perilaku yang relevan. Hasil asesmen digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki strategi pembelajaran dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan peserta didik.

Dengan demikian, pembelajaran thaharah berbasis KBC dan Deep Learning diharapkan mampu menghasilkan proses pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan hukum fiqih, tetapi juga mengembangkan kesadaran spiritual, kemampuan berpikir kritis, keterampilan praktis, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama. Melalui integrasi pengetahuan, pengalaman, dan nilai, thaharah dapat menjadi sarana pembentukan pribadi yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.


7.          Penutup

7.1.       Kesimpulan

Thaharah merupakan salah satu fondasi penting dalam ilmu fiqih yang memiliki kedudukan mendasar dalam pelaksanaan ibadah dan pembentukan kehidupan seorang Muslim. Secara hukum, thaharah berkaitan dengan penyucian diri dari hadas dan najis sesuai dengan ketentuan syariat. Namun, dalam perspektif pendidikan Islam, thaharah juga memiliki dimensi spiritual, moral, sosial, dan ekologis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang sistematis dan kontekstual.

Kajian mengenai hakikat thaharah menunjukkan bahwa kesucian dalam Islam tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan kebersihan fisik. Hadas merupakan keadaan hukum yang menghalangi pelaksanaan ibadah tertentu sebelum dilakukan penyucian, sedangkan najis merupakan benda atau zat yang oleh syariat dinyatakan tidak suci dan perlu dihilangkan dari bagian tubuh, pakaian, atau tempat yang berkaitan dengan persyaratan kesucian. Pembedaan tersebut menjadi dasar penting dalam memahami berbagai ketentuan bersuci secara tepat.

Thaharah dari hadas mencakup wudu, mandi wajib, dan tayamum. Wudu merupakan cara menyucikan hadas kecil, sedangkan mandi wajib digunakan untuk menyucikan hadas besar. Tayamum merupakan bentuk keringanan yang diberikan syariat dalam keadaan tertentu ketika penggunaan air tidak memungkinkan atau menimbulkan bahaya. Ketiga bentuk penyucian tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap kesucian sekaligus mempertimbangkan keadaan dan kemampuan manusia.

Sementara itu, thaharah dari najis berkaitan dengan upaya menghilangkan benda najis dari badan, pakaian, dan tempat. Dalam pembahasan fiqih, najis dibedakan menjadi beberapa kategori yang memiliki ketentuan penyucian berbeda. Pemahaman mengenai jenis najis, media penyucian, dan tata cara menghilangkannya diperlukan agar peserta didik mampu melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan syariat. Selain itu, pemahaman terhadap perbedaan pendapat ulama dapat mengembangkan sikap terbuka, toleran, dan bertanggung jawab dalam menyikapi persoalan fikih.

Kajian ini juga menunjukkan bahwa thaharah memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan kesadaran spiritual. Bersuci merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt. sekaligus persiapan untuk melaksanakan ibadah. Melalui praktik bersuci yang dilakukan dengan penuh kesadaran, peserta didik dapat mengembangkan kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab terhadap kewajiban agama. Akan tetapi, kesucian secara hukum perlu dibedakan dari kesucian batin, karena pembentukan akhlak dan kebersihan hati memerlukan proses pendidikan yang berkelanjutan.

Dalam dimensi sosial, thaharah dapat menjadi dasar pembentukan budaya kebersihan dan kepedulian terhadap sesama. Kebiasaan menjaga kebersihan badan, pakaian, tempat ibadah, dan fasilitas umum merupakan bentuk tanggung jawab terhadap kenyamanan bersama. Adapun dalam dimensi ekologis, praktik thaharah memberikan kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran mengenai penggunaan air secara bijaksana dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.

Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pendekatan Deep Learning memberikan kerangka yang relevan untuk mengembangkan pembelajaran thaharah secara lebih mendalam. Panca Cinta mengarahkan pembelajaran pada pembentukan hubungan yang harmonis dengan Allah, Rasulullah saw., ilmu pengetahuan, diri sendiri dan sesama, serta lingkungan. Sementara itu, Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning membantu peserta didik memahami, menghayati, dan menerapkan ketentuan bersuci melalui pengalaman belajar yang sadar, bermakna, dan menyenangkan.

Dengan demikian, pembelajaran thaharah tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan praktis, tetapi juga pada pembentukan karakter. Keberhasilan pembelajaran diharapkan tercermin dalam kemampuan peserta didik memahami hukum bersuci, melaksanakannya secara benar, serta mengembangkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

7.2.       Implikasi Kajian

Kajian thaharah berbasis KBC dan Deep Learning memiliki sejumlah implikasi bagi pengembangan pendidikan agama Islam. Pertama, pembelajaran fiqih perlu diarahkan pada penguasaan pengetahuan yang disertai pemahaman terhadap makna dan tujuan ketentuan syariat. Peserta didik tidak cukup hanya menghafal rukun wudu, tata cara mandi wajib, atau klasifikasi najis, tetapi juga perlu memahami dasar hukum dan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Kedua, pembelajaran thaharah perlu mengembangkan keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif berkaitan dengan pemahaman konsep dan ketentuan hukum. Aspek psikomotorik berkaitan dengan keterampilan melaksanakan bersuci secara benar. Adapun aspek afektif berkaitan dengan pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan penghargaan terhadap nilai-nilai agama.

Ketiga, integrasi Panca Cinta memberikan peluang untuk mengembangkan pembelajaran fiqih yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter. Nilai cinta tidak hanya disampaikan melalui penjelasan normatif, tetapi diwujudkan melalui kegiatan nyata, seperti praktik bersuci, pembiasaan menjaga kebersihan, kerja sama merawat fasilitas umum, dan penggunaan air secara bertanggung jawab.

Keempat, penerapan Deep Learning menuntut pendidik untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif. Kegiatan refleksi, diskusi, praktik, studi kasus, dan proyek sederhana dapat digunakan untuk menghubungkan konsep fiqih dengan pengalaman kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan bertahan dalam jangka panjang.

Kelima, pengembangan asesmen perlu memperhatikan keterpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Penilaian tidak hanya dilakukan melalui tes tertulis, tetapi juga melalui pengamatan praktik, analisis kasus, dan refleksi diri. Pendekatan tersebut memungkinkan pendidik memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai perkembangan peserta didik.

7.3.       Rekomendasi

Berdasarkan hasil kajian, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan pembelajaran thaharah.

Pertama, pendidik perlu menyusun bahan ajar yang sistematis dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Materi mengenai hadas dan najis hendaknya disajikan dengan memperhatikan ketepatan konsep, dasar hukum, dan keterkaitan antara teori dengan praktik. Penjelasan mengenai perbedaan pendapat ulama perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan disampaikan secara proporsional.

Kedua, pembelajaran thaharah perlu memberikan ruang yang memadai bagi kegiatan praktik. Peserta didik perlu memperoleh kesempatan untuk melaksanakan wudu, memahami tata cara mandi wajib melalui penjelasan yang sesuai, mempraktikkan tayamum, dan mempelajari penyucian najis melalui simulasi yang aman. Kegiatan tersebut perlu dilaksanakan dengan memperhatikan kenyamanan, privasi, dan karakteristik peserta didik.

Ketiga, pendidik perlu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta secara konkret. Kegiatan menjaga kebersihan tempat ibadah, menghemat air, merawat fasilitas sanitasi, dan bekerja sama membersihkan lingkungan dapat menjadi sarana untuk menghubungkan pembelajaran fiqih dengan pembentukan karakter.

Keempat, lembaga pendidikan perlu mendukung pembelajaran thaharah melalui penyediaan sarana bersuci yang memadai, seperti tempat wudu, fasilitas sanitasi, dan sumber air yang layak. Dukungan lingkungan belajar yang bersih dan sehat dapat memperkuat pembiasaan nilai-nilai kebersihan dan tanggung jawab.

Kelima, diperlukan pengembangan kajian dan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas integrasi KBC dan Deep Learning dalam pembelajaran fiqih. Penelitian tersebut dapat diarahkan pada pengembangan bahan ajar, strategi pembelajaran, asesmen, dan evaluasi terhadap perubahan pemahaman serta perilaku peserta didik.

7.4.       Penegasan Akhir

Thaharah merupakan materi fiqih yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendidikan agama Islam secara utuh. Melalui pembelajaran yang tepat, thaharah dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran spiritual, memperkuat pemahaman hukum, membentuk kebiasaan hidup bersih, serta menumbuhkan tanggung jawab sosial dan ekologis.

Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dan pendekatan Deep Learning memberikan kerangka yang memungkinkan pembelajaran thaharah berlangsung secara lebih bermakna. Panca Cinta memberikan arah nilai, sedangkan Deep Learning menyediakan pendekatan pedagogis untuk mengembangkan pemahaman dan pengalaman belajar yang mendalam.

Pada akhirnya, tujuan pembelajaran thaharah tidak hanya terletak pada kemampuan peserta didik memenuhi persyaratan kesucian dalam ibadah, tetapi juga pada tumbuhnya kesadaran untuk menjalani kehidupan yang bersih, disiplin, peduli, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, thaharah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang menghubungkan ilmu, ibadah, akhlak, dan kepedulian terhadap kehidupan.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama Republik Indonesia.

Al-Qardhawi, Y. (2004). Fikih thaharah. Pustaka Al-Kautsar.

Kementerian Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. (2025). Panduan Kurikulum Berbasis Cinta (Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025).

Sarwat, A. (2019). Ensiklopedia fikih Indonesia: Taharah. Gramedia Pustaka Utama.

Soleh, A. K. (1998). Thaharah. Dalam Fiqh kontekstual: Perspektif sufi-falsafi (Vol. 1). Pertja.


 


[1] Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Taharah, hadis tentang kesucian sebagai bagian dari iman.