Rabu, 04 Februari 2026

Ontologi dan Etika Sekolah: Prestasi institusi hanyalah epifenomena dari pertumbuhan manusia di dalamnya

Ontologi dan Etika Sekolah

Prestasi institusi hanyalah epifenomena dari pertumbuhan manusia di dalamnya


Alihkan ke: Dari Scholé ke Sekolah.

Goal Orientation TheoryFenomena Prestasi Perempuan.


Abstrak

Tulisan ini bertujuan menganalisis status ontologis dan normatif dari apa yang lazim disebut sebagai “prestasi institusi” dalam konteks pendidikan. Berangkat dari kecenderungan wacana publik yang menempatkan lembaga pendidikan sebagai subjek keberhasilan, penelitian konseptual ini mengajukan tesis bahwa prestasi institusi bersifat derivatif dan epifenomenal—yakni muncul sebagai konsekuensi dari pertumbuhan manusia yang berlangsung di dalamnya, bukan sebagai realitas primer yang berdiri sendiri.

Secara ontologis, institusi dipahami sebagai realitas sosial yang bergantung pada pengakuan kolektif, sebagaimana dijelaskan oleh John Searle. Hal ini menandakan bahwa kapasitas bertindak yang dilekatkan pada institusi pada dasarnya dimediasi oleh individu sebagai agen sadar. Oleh karena itu, atribut seperti reputasi dan keunggulan harus ditelusuri kembali pada tindakan manusia yang memungkinkan kemunculannya.

Dari perspektif etika, prinsip martabat manusia dalam pemikiran Immanuel Kant memberikan batas normatif bahwa peserta didik tidak boleh direduksi menjadi alat bagi ambisi reputasional lembaga. Pendidikan kehilangan legitimasi moralnya ketika simbol keberhasilan lebih diprioritaskan daripada perkembangan manusia. Sementara itu, pendekatan teleologis Aristotle menegaskan bahwa tujuan internal pendidikan adalah aktualisasi potensi manusia; pengakuan eksternal hanya memiliki nilai sejauh ia merupakan konsekuensi dari tercapainya tujuan tersebut.

Pandangan pragmatis John Dewey semakin memperkuat argumen ini dengan menempatkan pertumbuhan sebagai kriteria utama keberhasilan pendidikan. Prestasi institusi, dalam kerangka ini, berfungsi sebagai indikator sekunder yang memperoleh makna dari kualitas pengalaman belajar. Namun demikian, kritik sosiologis—seperti yang dikemukakan oleh Émile Durkheim—mengingatkan bahwa institusi memiliki daya formatif yang turut membentuk orientasi individu. Oleh karena itu, relasi antara manusia dan institusi lebih tepat dipahami sebagai dialektis: manusia membangun institusi, sementara institusi menyediakan kondisi yang memungkinkan pertumbuhan manusia.

Melalui pendekatan filosofis-kritis, tulisan ini menyimpulkan bahwa prestasi institusi merupakan fenomena emergen yang nyata dalam tatanan sosial, tetapi tetap bergantung secara eksistensial, kausal, dan moral pada perkembangan manusia. Implikasi praktis dari tesis ini adalah perlunya reorientasi pendidikan dari paradigma performatif menuju paradigma formatif—yakni menempatkan pertumbuhan manusia sebagai pusat gravitasi, sementara prestasi dipahami sebagai ekspresi yang mengikuti secara wajar.

Pada akhirnya, kualitas terdalam suatu institusi pendidikan tidak diukur dari intensitas pengakuan publik yang diterimanya, melainkan dari sejauh mana ia berhasil menumbuhkan manusia yang berpikir, berkarakter, dan mampu berpartisipasi secara bermakna dalam kehidupan bersama.

Kata kunci: prestasi institusi, epifenomena, ontologi sosial, pertumbuhan manusia, filsafat pendidikan, etika pendidikan, teleologi, institusi pendidikan.


PEMBAHASAN

Prestasi institusi hanyalah epifenomena dari pertumbuhan manusia di dalamnya


1. Pendahuluan

Dalam wacana pendidikan kontemporer, istilah prestasi institusi telah menjadi salah satu indikator utama keberhasilan lembaga pendidikan. Sekolah, madrasah, maupun universitas sering dinilai berdasarkan capaian-capaian formal seperti jumlah piala lomba, peringkat akreditasi, tingkat kelulusan, atau ranking nasional dan internasional. Bahasa yang digunakan pun cenderung menempatkan institusi sebagai subjek aktif, misalnya “sekolah X berprestasi”, “madrasah Y unggul”, atau “institusi Z melahirkan juara”. Pola bahasa semacam ini, meskipun lazim secara administratif dan sosial, menyimpan persoalan filosofis yang jarang dikaji secara mendalam, khususnya pada tingkat ontologi dan etika.

Secara ontologis, institusi pendidikan bukanlah entitas personal yang memiliki kesadaran, kehendak, atau kapasitas bertindak secara mandiri. Ia merupakan konstruksi sosial yang tersusun dari aturan, struktur, peran, dan relasi antar manusia. Gedung, kurikulum, sistem evaluasi, dan kebijakan hanyalah sarana yang memperoleh maknanya melalui aktivitas manusia yang menggunakannya. Dengan demikian, muncul pertanyaan mendasar: apakah institusi benar-benar dapat disebut “berprestasi”, ataukah prestasi tersebut sejatinya merupakan hasil langsung dari pertumbuhan dan aktualisasi manusia di dalamnya—yakni murid dan guru?

Pertanyaan ini tidak sekadar bersifat terminologis, melainkan menyentuh persoalan filosofis yang lebih dalam mengenai hubungan antara individu dan institusi. Dalam filsafat sosial, sering kali institusi diperlakukan sebagai collective agent, seolah-olah ia memiliki kehendak dan tujuan sendiri. Namun pendekatan ini berisiko menutupi fakta bahwa segala capaian institusional selalu bergantung pada kualitas, kapasitas, dan perkembangan manusia yang menjadi anggotanya. Tanpa manusia yang belajar, berpikir, berlatih, dan berjuang, institusi hanyalah kerangka kosong tanpa makna substantif.

Lebih jauh, persoalan ini memiliki implikasi etis yang signifikan. Ketika prestasi institusi dijadikan tujuan utama, terdapat risiko bahwa manusia—khususnya peserta didik—direduksi menjadi alat untuk mencapai reputasi, legitimasi, atau keuntungan simbolik lembaga. Dalam konteks ini, relevan untuk mengingat prinsip moral yang dirumuskan oleh Immanuel Kant, khususnya dalam formulasi kedua dari imperatif kategorisnya, yang menegaskan bahwa manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan bukan semata-mata sebagai sarana. Jika pendidikan diarahkan terutama demi prestise institusi, maka orientasi ini berpotensi bertentangan dengan prinsip dasar martabat manusia tersebut.

Di sisi lain, tradisi filsafat klasik juga memberikan landasan penting untuk memahami tujuan pendidikan. Dalam pemikiran Aristotle, setiap praktik manusia memiliki telos atau tujuan internalnya sendiri. Pendidikan, dalam kerangka ini, tidak diarahkan pada pencapaian eksternal seperti pengakuan atau reputasi, melainkan pada aktualisasi potensi manusia secara utuh—baik intelektual, moral, maupun sosial. Prestasi yang tampak secara lahiriah hanyalah konsekuensi sekunder dari tercapainya tujuan internal tersebut, bukan tujuan utama itu sendiri.

Berangkat dari latar belakang tersebut, tulisan ini berangkat dari tesis bahwa prestasi institusi tidak memiliki status ontologis primer, melainkan bersifat derivatif dan epifenomenal. Istilah epifenomena di sini digunakan dalam pengertian filosofis, sebagaimana dikenal dalam filsafat pikiran dan sains, yakni sebagai gejala yang muncul sebagai hasil dari proses utama, tetapi bukan sebagai penyebab fundamentalnya. Sebagaimana panas dan uap merupakan epifenomena dari proses mendidihnya air, demikian pula prestasi institusi merupakan manifestasi lahiriah dari pertumbuhan manusia yang terjadi di dalamnya.

Tujuan penulisan tesis kecil ini adalah tiga hal. Pertama, mengklarifikasi status ontologis konsep “prestasi institusi” agar tidak disalahpahami sebagai realitas yang berdiri sendiri. Kedua, menilai implikasi etis dari cara pandang yang menempatkan institusi sebagai pusat tujuan pendidikan. Ketiga, menawarkan kerangka konseptual yang lebih seimbang, di mana institusi dipahami sebagai sarana bernilai yang memperoleh legitimasi justru dari kemampuannya menumbuhkan manusia secara autentik.

Dengan demikian, pembahasan ini diharapkan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga reflektif dan kritis terhadap praktik pendidikan sehari-hari. Pertanyaan yang hendak dijawab bukan semata-mata siapa yang berprestasi, melainkan untuk siapa prestasi itu seharusnya bermakna. Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menjadi fondasi bagi pembahasan pada bagian-bagian selanjutnya.


2. Klarifikasi Konseptual (Fondasi Argumen)

Sebelum membangun argumentasi filosofis mengenai status “prestasi institusi”, diperlukan terlebih dahulu klarifikasi terhadap konsep-konsep kunci yang digunakan dalam tesis ini. Tanpa kejelasan terminologis, pembahasan berisiko terjebak dalam ambiguitas bahasa—terutama karena istilah seperti institusi, prestasi, dan epifenomena sering digunakan dalam pengertian sehari-hari yang tidak selalu sejalan dengan makna filosofisnya. Oleh sebab itu, bagian ini bertujuan meletakkan fondasi konseptual agar argumen selanjutnya memiliki ketepatan analitis sekaligus konsistensi logis.


2.1 Ontologi Institusi: Antara Realitas Sosial dan Atribusi Agen

Secara umum, institusi dapat dipahami sebagai pola stabil dari norma, aturan, dan praktik yang mengorganisasi perilaku manusia dalam suatu komunitas. Institusi bukan objek material semata, melainkan realitas sosial yang keberadaannya bergantung pada pengakuan kolektif. Pemahaman ini sejalan dengan teori fakta institusional yang dikembangkan oleh John Searle, yang menyatakan bahwa banyak struktur sosial ada karena manusia secara bersama-sama menerima dan mengakui fungsi tertentu terhadap sesuatu (status functions). Uang bernilai karena dipercaya, jabatan memiliki otoritas karena diakui, dan sekolah memiliki legitimasi karena masyarakat menerima perannya sebagai ruang pendidikan.

Dengan demikian, institusi tidak memiliki kesadaran sebagaimana individu, tetapi tetap memiliki bentuk realitas tertentu—yakni realitas intersubjektif. Ia berada di antara yang sepenuhnya objektif (seperti batu) dan yang sepenuhnya subjektif (seperti perasaan pribadi). Tanpa partisipasi manusia, institusi tidak dapat berfungsi; namun setelah terbentuk, ia mampu memengaruhi tindakan manusia melalui aturan dan ekspektasi sosial.

Di titik ini muncul fenomena linguistik sekaligus filosofis yang penting: manusia kerap memperlakukan institusi seolah-olah ia adalah agen. Kita mengatakan “sekolah memutuskan”, “universitas menolak”, atau “lembaga memenangkan penghargaan”. Cara berbicara ini bukan sekadar metafora kosong; ia merupakan bentuk penyederhanaan kognitif untuk merujuk pada tindakan kolektif yang terkoordinasi.

Pendekatan semacam ini memiliki kedekatan dengan gagasan intentional stance yang diperkenalkan oleh Daniel Dennett. Dalam kerangka ini, suatu sistem dapat diperlakukan sebagai entitas yang “memiliki maksud” jika pendekatan tersebut membantu menjelaskan dan memprediksi perilakunya. Namun penting untuk dicatat bahwa atribusi intensional tidak identik dengan keberadaan kesadaran yang sesungguhnya. Institusi tampak bertindak, tetapi tindakan itu selalu dimediasi oleh manusia.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan ontologis awal:
institusi bukan agen primer, melainkan agen atribusional.
Ia memperoleh kapasitas bertindak hanya melalui individu yang menjalankan peran di dalamnya.


2.2 Institusi sebagai Produk Tindakan Sosial

Pemahaman tentang institusi sebagai hasil tindakan manusia juga telah lama dibahas dalam tradisi sosiologi klasik. Max Weber menekankan bahwa struktur sosial pada akhirnya dapat ditelusuri kembali pada social action—tindakan individu yang memiliki makna subjektif dan diarahkan kepada orang lain. Dengan kata lain, sistem sosial tidak berdiri di atas dirinya sendiri; ia merupakan kristalisasi dari tindakan bermakna yang berulang.

Implikasinya penting bagi tesis ini: jika institusi terbentuk dari tindakan manusia, maka segala kualitas yang dilekatkan padanya—termasuk “prestasi”—harus ditelusuri kembali pada sumber tersebut. Prestasi tidak muncul dari struktur yang inert, melainkan dari kapasitas manusia untuk belajar, beradaptasi, berinovasi, dan melampaui batas dirinya.

Namun klarifikasi ini tidak dimaksudkan untuk mereduksi peran institusi. Struktur tetap memiliki daya pembentuk (structuring power): ia menyediakan peluang sekaligus batasan bagi tindakan manusia. Relasi antara individu dan institusi karenanya bersifat timbal balik, tetapi bukan simetris secara ontologis. Individu adalah pembawa kesadaran; institusi adalah pola yang memungkinkan koordinasi kesadaran tersebut.


2.3 Konsep Epifenomena: Status Derivatif dari Suatu Gejala

Istilah kunci kedua dalam tesis ini adalah epifenomena. Konsep ini pertama kali memperoleh pengaruh luas dalam diskursus ilmiah abad ke-19, terutama melalui pemikiran Thomas Henry Huxley. Dalam upayanya menjelaskan relasi antara proses fisik dan kesadaran, Huxley menggambarkan epifenomena sebagai gejala yang muncul dari proses utama tanpa memiliki kekuatan kausal yang mandiri. Ia menganalogikannya dengan peluit pada lokomotif uap: peluit menyertai gerak mesin, tetapi bukan penyebab gerak tersebut.

Dalam perkembangan Philosophy of Mind, epifenomenalisme sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana fenomena mental mungkin bergantung pada proses fisik otak. Terlepas dari perdebatan panjang mengenai validitas teori tersebut, konsep epifenomena tetap berguna sebagai alat analitis untuk membedakan antara yang fundamental dan yang turunan.

Ketika diterapkan pada konteks institusi pendidikan, istilah ini membantu menjelaskan bahwa reputasi atau prestasi lembaga dapat dipahami sebagai gejala emergen—yakni sesuatu yang tampak pada tingkat makro sebagai hasil dari proses mikro berupa pertumbuhan individu. Prestasi sekolah tidak berdiri sendiri; ia merupakan ekspresi agregatif dari keberhasilan manusia yang belajar dan mengajar di dalamnya.

Analogi sederhana dapat memperjelas gagasan ini:

·         Kesuburan taman adalah epifenomena dari kesehatan tanah dan kualitas perawatan.

·         Kekuatan sebuah orkestra adalah epifenomena dari kompetensi para musisinya.

·         Demikian pula, prestasi institusi adalah epifenomena dari perkembangan manusia yang membentuknya.

Melalui kerangka ini, tesis bahwa “prestasi institusi hanyalah epifenomena” tidak dimaksudkan untuk menyangkal keberadaan reputasi institusional, melainkan untuk menegaskan status ontologisnya sebagai fenomena derivatif.


2.4 Konsep Prestasi: Antara Pengakuan Eksternal dan Aktualisasi Internal

Klarifikasi berikutnya menyangkut makna “prestasi” itu sendiri. Dalam pengertian umum, prestasi merujuk pada capaian yang diakui secara sosial—misalnya kemenangan kompetisi, penghargaan, atau indikator kinerja tertentu. Namun secara filosofis, penting untuk membedakan antara aktualisasi kemampuan dan pengakuan publik atas aktualisasi tersebut.

Pengakuan bersifat eksternal dan bergantung pada standar sosial yang dapat berubah. Sebaliknya, aktualisasi berakar pada perkembangan kapasitas manusia. Seorang murid dapat mengalami pertumbuhan intelektual yang signifikan meskipun tanpa medali; sementara medali tanpa pembelajaran mendalam berpotensi menjadi simbol kosong.

Distingsi ini menguatkan arah argumen bahwa apa yang disebut “prestasi institusi” sesungguhnya bergantung pada proses internal yang lebih fundamental—yakni transformasi manusia melalui pendidikan.


2.5 Implikasi Konseptual bagi Argumentasi

Dari klarifikasi di atas, beberapa premis dasar dapat dirumuskan:

1.      Institusi adalah realitas sosial yang bergantung pada pengakuan kolektif.

2.      Kapasitas bertindak institusi bersifat atribusional dan dimediasi oleh manusia.

3.      Epifenomena merujuk pada gejala turunan yang muncul dari proses yang lebih fundamental.

4.      Prestasi institusi dapat dipahami sebagai fenomena emergen dari pertumbuhan individu.

Premis-premis ini menjadi fondasi bagi argumen utama tesis:
yang ontologis-primer dalam pendidikan adalah pertumbuhan manusia, sedangkan prestasi institusi merupakan manifestasi sekundernya.

Dengan fondasi konseptual yang telah diperjelas, pembahasan selanjutnya dapat bergerak menuju kerangka teoretis yang lebih luas—khususnya dalam ranah etika dan filsafat pendidikan—untuk menilai bagaimana relasi antara manusia dan institusi seharusnya dipahami serta diarahkan.


3. Kerangka Teoretis

Setelah fondasi konseptual diletakkan, langkah berikutnya adalah membangun kerangka teoretis yang dapat menopang tesis secara filosofis. Kerangka ini berfungsi sebagai horizon interpretatif—yakni seperangkat gagasan yang membantu menjelaskan mengapa pertumbuhan manusia harus dipandang sebagai realitas primer, sementara prestasi institusi memiliki status derivatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, bagian ini mengintegrasikan tiga pendekatan besar dalam filsafat: etika deontologis, teleologi klasik, dan filsafat pendidikan modern. Ketiganya dipilih bukan karena sepenuhnya selaras, melainkan justru karena ketegangan produktif di antara mereka mampu memperkaya analisis.


3.1 Etika Deontologis: Martabat Manusia sebagai Tujuan

Salah satu landasan normatif terkuat untuk menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan berasal dari pemikiran Immanuel Kant. Dalam kerangka moralnya, Kant menolak segala bentuk tindakan yang memperlakukan manusia semata-mata sebagai alat bagi tujuan lain. Prinsip ini dirumuskan secara terkenal dalam formulasi kedua dari Categorical Imperative, yang menegaskan bahwa manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri (end in itself).

Dalam konteks pendidikan, implikasi prinsip ini sangat luas. Jika institusi mengejar reputasi dengan menjadikan murid sebagai instrumen—misalnya melalui tekanan berlebihan untuk memenangkan kompetisi atau eksploitasi capaian akademik demi citra lembaga—maka praktik tersebut berpotensi melanggar martabat manusia. Pendidikan, dalam perspektif Kantian, tidak boleh direduksi menjadi mekanisme produksi prestasi simbolik.

Namun penting untuk dicatat bahwa Kant tidak menolak keberadaan institusi atau aturan. Justru, struktur diperlukan agar kebebasan rasional manusia dapat berjalan tanpa saling merusak. Yang ditolak adalah instrumentalisasi sepihak, bukan kerja sama yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, institusi memperoleh legitimasi moral sejauh ia memungkinkan manusia berkembang sebagai subjek rasional, bukan sekadar sebagai sarana reputasional.

Dari sudut pandang ini, tesis bahwa prestasi institusi bersifat epifenomenal menemukan pembenaran etis: nilai moral utama terletak pada perkembangan manusia, bukan pada kemegahan simbolik lembaga.


3.2 Teleologi Klasik: Pendidikan sebagai Aktualisasi Potensi

Jika Kant memberikan dasar moral, maka pemikiran Aristotle menyediakan kerangka teleologis untuk memahami tujuan pendidikan. Dalam filsafat Aristotelian, setiap entitas memiliki telos—arah atau tujuan internal yang menuntun proses perkembangannya. Bagi manusia, tujuan tersebut sering dikaitkan dengan eudaimonia, yakni kehidupan yang teraktualisasi secara optimal melalui kebajikan dan rasionalitas.

Dalam terang teleologi ini, pendidikan bukan sekadar sarana untuk memperoleh pengakuan eksternal, melainkan proses pembentukan karakter dan intelektualitas yang memungkinkan manusia mencapai bentuk terbaik dirinya. Prestasi yang tampak secara sosial hanyalah konsekuensi dari tercapainya tujuan internal tersebut.

Pendekatan ini membantu membalik asumsi yang kerap tidak disadari dalam praktik pendidikan modern. Alih-alih bertanya “bagaimana institusi dapat menjadi unggul?”, teleologi Aristotelian mendorong pertanyaan yang lebih mendasar:

apakah manusia yang berada dalam institusi tersebut sungguh bertumbuh menuju aktualisasi dirinya?

Jika jawabannya afirmatif, maka keunggulan institusi akan mengikuti secara hampir natural. Sebaliknya, jika pertumbuhan manusia terabaikan, maka prestasi institusional berisiko menjadi artifisial—sekadar tampilan tanpa kedalaman.

Dengan demikian, teleologi memperkuat argumen bahwa prestasi institusi tidak boleh dijadikan tujuan final. Ia lebih tepat dipahami sebagai indikator sekunder dari keberhasilan proses pendidikan.


3.3 Perspektif Filsafat Pendidikan: Pertumbuhan sebagai Inti

Pemikiran modern tentang pendidikan semakin menegaskan sentralitas pertumbuhan manusia. John Dewey, misalnya, melihat pendidikan bukan sebagai persiapan menuju kehidupan, tetapi sebagai proses kehidupan itu sendiri. Dalam kerangka pragmatisnya, nilai pendidikan terletak pada kemampuannya memperluas pengalaman, meningkatkan kecerdasan reflektif, dan memungkinkan individu berpartisipasi secara bermakna dalam masyarakat.

Bagi Dewey, pertumbuhan (growth) bukan sekadar salah satu tujuan pendidikan—ia adalah kriteria utama untuk menilai apakah suatu praktik pendidikan berhasil atau tidak. Jika sebuah sistem menghasilkan kepatuhan tanpa pemahaman, atau prestasi tanpa pengalaman belajar yang autentik, maka sistem tersebut gagal secara pedagogis meskipun tampak berhasil secara administratif.

Pandangan ini memberikan dukungan teoretis tambahan bagi tesis epifenomenal: reputasi institusi hanyalah bernilai sejauh ia mencerminkan proses pertumbuhan yang nyata. Tanpa pertumbuhan, prestasi kehilangan substansi edukatifnya.


3.4 Institusi dan Realitas Sosial: Fungsi Koordinatif, Bukan Final

Meski demikian, kerangka teoretis ini tidak bertujuan mereduksi peran institusi menjadi sekadar latar pasif. Sebagaimana dijelaskan oleh John Searle, realitas sosial memungkinkan manusia melakukan hal-hal yang mustahil dicapai secara individual—mulai dari sistem pendidikan hingga produksi pengetahuan kolektif. Institusi menyediakan stabilitas normatif, distribusi peran, serta koordinasi tindakan.

Oleh karena itu, hubungan antara manusia dan institusi lebih tepat dipahami sebagai relasi ko-konstitutif: manusia membentuk institusi, dan institusi pada gilirannya membentuk ruang kemungkinan bagi manusia. Namun ko-konstitusi tidak berarti kesetaraan ontologis. Kesadaran tetap berada pada individu; institusi memperoleh maknanya melalui partisipasi mereka.

Dalam kerangka ini, prestasi institusi dapat dilihat sebagai fenomena emergen—muncul dari interaksi kompleks antar individu yang terorganisasi. Ia nyata secara sosial, tetapi tidak fundamental secara ontologis.


3.5 Sintesis Teoretis

Mengintegrasikan ketiga pendekatan di atas menghasilkan beberapa proposisi teoretis penting:

1.      Dari etika Kantian: manusia memiliki martabat intrinsik dan tidak boleh dijadikan alat bagi reputasi institusi.

2.      Dari teleologi Aristotelian: tujuan pendidikan adalah aktualisasi potensi manusia; prestasi eksternal bersifat konsekuensial.

3.      Dari pragmatisme Dewey: pertumbuhan adalah indikator utama keberhasilan pendidikan.

4.      Dari teori realitas sosial Searle: institusi bernilai karena memungkinkan koordinasi tindakan manusia, bukan karena ia memiliki tujuan mandiri.

Sintesis ini mengarah pada satu kesimpulan teoretis:

Institusi mencapai legitimasi terdalamnya bukan ketika ia tampak paling berprestasi, melainkan ketika ia paling berhasil menumbuhkan manusia.

Dengan kerangka ini, tesis bahwa “prestasi institusi hanyalah epifenomena dari pertumbuhan manusia di dalamnya” tidak hanya memiliki dasar ontologis, tetapi juga memperoleh justifikasi etis dan pedagogis. Bagian selanjutnya akan mengembangkan argumentasi inti secara lebih sistematis, dengan menunjukkan bagaimana dependensi tersebut bekerja serta mengapa kesalahpahaman terhadapnya dapat menimbulkan distorsi dalam praktik pendidikan.


4. Argumentasi Inti (Jantung Tesis)

Setelah fondasi konseptual dan kerangka teoretis dipaparkan, bagian ini bertujuan membangun argumentasi utama secara sistematis. Fokusnya adalah menunjukkan bahwa prestasi institusi tidak memiliki status ontologis primer, melainkan bergantung secara eksistensial, kausal, dan normatif pada pertumbuhan manusia di dalamnya. Argumentasi akan disusun secara bertahap agar membentuk rantai rasional yang koheren—bergerak dari klaim ontologis menuju implikasi etis dan pedagogis.


4.1 Argumen Dependensi Eksistensial: Institusi Bergantung pada Manusia

Premis pertama bersifat ontologis: institusi tidak dapat eksis secara fungsional tanpa manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh John Searle, fakta institusional hanya bertahan selama ada pengakuan kolektif terhadap aturan dan fungsi tertentu. Ketika partisipasi manusia hilang, struktur institusional kehilangan daya operasionalnya.

Sekolah tanpa guru yang mengajar dan murid yang belajar bukanlah institusi pendidikan dalam arti substantif; ia hanya menjadi bangunan kosong. Oleh karena itu, segala atribut yang dilekatkan pada institusi—termasuk “prestasi”—secara logis harus ditelusuri kembali pada aktivitas manusia yang memungkinkan atribut tersebut muncul.

Dependensi ini bersifat asimetris. Manusia tetap dapat berkembang dalam berbagai bentuk komunitas belajar, bahkan di luar institusi formal, tetapi institusi tidak mungkin menjalankan fungsi pendidikannya tanpa kehadiran manusia sebagai agen sadar. Dari sini dapat ditarik proposisi awal:

Apa pun yang dikatakan sebagai prestasi institusi pada dasarnya merupakan manifestasi dari tindakan manusia yang terorganisasi.

Dengan kata lain, institusi bukan sumber prestasi, melainkan medium tempat prestasi menjadi terlihat.


4.2 Argumen Kausalitas: Dari Pertumbuhan Individu ke Reputasi Kolektif

Langkah berikutnya adalah menelaah arah hubungan sebab-akibat. Dalam banyak narasi publik, seolah-olah institusi yang unggul menghasilkan individu unggul. Pernyataan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi berisiko menyederhanakan proses kausal yang sebenarnya lebih kompleks.

Perspektif tindakan sosial dari Max Weber membantu memperjelas bahwa struktur sosial pada akhirnya terbentuk dari tindakan bermakna individu. Prestasi kolektif muncul sebagai hasil agregasi dari upaya personal yang terkoordinasi. Ketika murid berlatih dengan tekun, guru membimbing dengan reflektif, dan komunitas akademik memelihara budaya belajar, maka reputasi institusi terbentuk sebagai konsekuensi logis dari dinamika tersebut.

Hubungan ini dapat dipahami sebagai proses emergen: kualitas makro lahir dari interaksi mikro. Reputasi sekolah tidak “bertindak” untuk memenangkan lomba; manusialah yang bertindak, sementara reputasi mengikuti.

Kesalahan yang kerap terjadi adalah pembalikan kausalitas (causal inversion), yakni ketika gejala turunan diperlakukan sebagai penyebab utama. Institusi kemudian berfokus mengejar simbol prestasi, dengan asumsi bahwa simbol tersebut akan secara otomatis mencerminkan kualitas pendidikan. Padahal tanpa pertumbuhan autentik, simbol hanya menjadi representasi dangkal.

Dengan demikian, arah kausal yang lebih defensibel adalah:

pertumbuhan manusia → menghasilkan capaian → membentuk reputasi institusi.

Bukan sebaliknya.


4.3 Argumen Prioritas Moral: Martabat Tidak Bersifat Kolektif

Selain bergantung secara ontologis dan kausal, tesis ini juga bertumpu pada klaim normatif mengenai prioritas moral manusia. Etika Immanuel Kant menegaskan bahwa nilai moral melekat pada pribadi rasional, bukan pada sistem abstrak. Institusi dapat memiliki nilai instrumental atau bahkan simbolik, tetapi tidak memiliki martabat intrinsik.

Implikasinya signifikan: ketika terjadi konflik antara kepentingan reputasional institusi dan kesejahteraan manusia, pertimbangan moral menuntut agar manusia diprioritaskan. Jika murid mengalami tekanan psikologis berlebihan demi menjaga citra sekolah, atau jika keberhasilan akademik dikejar dengan mengorbankan perkembangan karakter, maka institusi telah melampaui batas legitimasi etisnya.

Argumen ini tidak menolak pentingnya standar atau keunggulan. Yang ditolak adalah subordinasi manusia terhadap tujuan yang tidak memiliki nilai intrinsik. Prestasi institusi menjadi bermakna secara moral hanya ketika ia merupakan refleksi dari perkembangan manusia yang dihormati martabatnya.


4.4 Argumen Teleologis: Tujuan Pendidikan Mendahului Simbol Keberhasilan

Pendekatan teleologis memperdalam argumentasi dengan menyoroti tujuan internal pendidikan. Dalam filsafat Aristotle, suatu praktik dinilai baik apabila ia mengarahkan pelakunya menuju aktualisasi potensi. Pendidikan karenanya harus berorientasi pada pembentukan keutamaan intelektual dan moral, bukan semata pada pengakuan eksternal.

Prestasi institusi, dalam terang teleologi, lebih tepat dipahami sebagai produk sampingan dari tercapainya tujuan internal. Ketika manusia berkembang secara optimal, pengakuan sosial cenderung mengikuti. Namun ketika pengakuan dijadikan tujuan utama, orientasi pendidikan dapat bergeser dari pembentukan manusia menuju produksi indikator.

Perbedaan ini tampak halus tetapi fundamental:

·         Orientasi teleologis: membentuk manusia unggul agar hidupnya bermakna.

·         Orientasi reputasional: membentuk citra unggul agar institusi tampak berhasil.

Yang pertama berakar pada tujuan internal; yang kedua pada validasi eksternal.

Tesis epifenomenal memperoleh kekuatan di sini: sesuatu yang hanya bernilai sebagai konsekuensi tidak boleh menggantikan posisi tujuan.


4.5 Argumen Pedagogis: Pertumbuhan sebagai Kriteria Keberhasilan

Pemikiran John Dewey semakin menegaskan bahwa pertumbuhan adalah ukuran paling sahih bagi keberhasilan pendidikan. Pendidikan yang autentik memperluas kapasitas berpikir, meningkatkan kecakapan reflektif, dan memungkinkan individu berpartisipasi secara lebih matang dalam kehidupan sosial.

Jika sebuah institusi tampak berprestasi tetapi gagal menumbuhkan rasa ingin tahu, kemandirian intelektual, atau integritas moral, maka keberhasilannya patut dipertanyakan. Dalam kerangka pragmatis, indikator eksternal hanya bermakna sejauh ia mencerminkan kualitas pengalaman belajar.

Dari sudut ini, prestasi institusi dapat dipahami sebagai indikator sekunder, bukan ukuran fundamental. Ia serupa bayangan yang mengikuti tubuh: terlihat nyata, tetapi keberadaannya bergantung pada sesuatu yang lebih substansial.


4.6 Sintesis Argumentatif

Menggabungkan seluruh argumen di atas menghasilkan struktur rasional yang saling menopang:

1.      Dependensi eksistensial: institusi berfungsi hanya melalui manusia.

2.      Dependensi kausal: reputasi kolektif muncul dari tindakan individu.

3.      Prioritas moral: martabat melekat pada manusia, bukan sistem.

4.      Prioritas teleologis: tujuan pendidikan adalah aktualisasi manusia.

5.      Kriteria pedagogis: pertumbuhan merupakan ukuran keberhasilan paling mendasar.

Dari kelima premis tersebut, kesimpulan berikut memperoleh justifikasi filosofis yang kuat:

Prestasi institusi tidak berdiri sebagai realitas primer, melainkan sebagai epifenomena—gejala turunan—dari pertumbuhan manusia yang berlangsung di dalamnya.

Kesimpulan ini tidak dimaksudkan untuk meremehkan pentingnya institusi, tetapi untuk menempatkannya secara proporsional. Institusi mencapai makna terdalamnya bukan ketika ia paling dipuji, melainkan ketika manusia yang berada di dalamnya paling bertumbuh.

Bagian selanjutnya akan menguji kekuatan tesis ini dengan menghadirkan sejumlah keberatan kritis, sekaligus menilai sejauh mana argumen epifenomenal mampu bertahan di hadapan pandangan yang menekankan peran formatif institusi terhadap individu.


5. Uji Kritik (Bagian yang Membuat Tulisan Terlihat Matang)

Sebuah tesis filosofis tidak memperoleh kekuatannya hanya dari ketajaman argumentasi, tetapi juga dari kemampuannya bertahan terhadap kritik. Oleh karena itu, bagian ini bertujuan menguji klaim bahwa “prestasi institusi hanyalah epifenomena dari pertumbuhan manusia di dalamnya” dengan menghadirkan sejumlah keberatan yang rasional dan berpengaruh dalam tradisi filsafat sosial serta pendidikan. Melalui proses ini, diharapkan posisi tesis tidak menjadi dogmatis, melainkan reflektif dan terbuka terhadap koreksi.


5.1 Keberatan Struktural: Institusi Justru Membentuk Individu

Keberatan paling kuat terhadap tesis epifenomenal menyatakan bahwa institusi tidak sekadar bergantung pada manusia, tetapi secara aktif membentuk cara manusia berpikir, bertindak, dan memahami dirinya. Dalam perspektif ini, menganggap prestasi institusi sebagai gejala turunan semata berisiko meremehkan daya formatif struktur sosial.

Pemikiran Émile Durkheim memberikan dasar penting bagi keberatan ini. Durkheim berargumen bahwa “fakta sosial” memiliki kekuatan koersif yang melampaui individu. Norma, kurikulum, disiplin sekolah, dan standar evaluasi membentuk kebiasaan serta orientasi moral peserta didik. Pendidikan, baginya, adalah proses sistematis melalui mana masyarakat mereproduksi nilai-nilainya pada generasi berikutnya.

Jika pandangan ini diterima, maka hubungan antara individu dan institusi tidak lagi bersifat satu arah. Institusi bukan hanya wadah bagi pertumbuhan manusia; ia turut menentukan bentuk pertumbuhan itu sendiri. Tanpa lingkungan yang terstruktur—misalnya budaya akademik yang kuat atau ekspektasi terhadap keunggulan—banyak potensi individu mungkin tidak pernah teraktualisasi.

Tanggapan filosofis:
Keberatan ini menunjukkan bahwa relasi antara manusia dan institusi bersifat ko-konstitutif. Namun ko-konstitusi tidak serta-merta meniadakan prioritas ontologis manusia. Struktur memang membentuk, tetapi yang mengalami pembentukan tetaplah subjek sadar. Institusi menyediakan kondisi kemungkinan; manusialah yang mengaktualkannya. Dengan demikian, tesis epifenomenal tidak perlu ditolak, melainkan diperhalus: prestasi institusi muncul dari interaksi timbal balik, tetapi tetap berakar pada pertumbuhan manusia sebagai locus pengalaman dan kesadaran.


5.2 Keberatan Genealogis: Institusi sebagai Mekanisme Kekuasaan

Kritik lain datang dari pendekatan genealogis yang melihat institusi bukan hanya sebagai ruang koordinasi, tetapi juga sebagai mekanisme pengaturan dan normalisasi. Michel Foucault menunjukkan bahwa sekolah modern tidak dapat dipisahkan dari praktik disipliner—pengawasan, klasifikasi, ujian, dan hierarki—yang bertujuan menghasilkan individu “teratur” dan “berguna”.

Dari sudut ini, prestasi institusi dapat dipahami sebagai bagian dari teknologi kekuasaan: indikator keberhasilan berfungsi untuk mempertahankan legitimasi sistem sekaligus mendorong individu menyesuaikan diri dengan standar tertentu. Jika demikian, menyebut prestasi sebagai epifenomena mungkin tampak terlalu netral, karena ia juga dapat menjadi alat reproduksi kekuasaan simbolik.

Tanggapan filosofis:
Kritik Foucauldian tidak harus menggugurkan tesis, tetapi justru memperdalam kewaspadaan normatifnya. Jika prestasi institusi dapat menjadi instrumen kontrol, maka semakin penting untuk menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah pertumbuhan manusia, bukan sekadar kepatuhan terhadap indikator. Dalam arti ini, tesis epifenomenal berfungsi sebagai prinsip kritis: ia membantu mendeteksi kapan simbol keberhasilan mulai menggantikan perkembangan autentik.


5.3 Keberatan Emergensi: Apakah Kolektivitas Memiliki Realitas Tersendiri?

Keberatan berikutnya berangkat dari teori emergensi, yang menyatakan bahwa fenomena kolektif dapat memiliki sifat yang tidak dapat direduksi sepenuhnya pada individu. Dalam tradisi ini, karya Margaret Gilbert tentang plural subject menekankan bahwa komitmen bersama dapat menghasilkan bentuk agensi kolektif yang lebih dari sekadar penjumlahan tindakan personal.

Sebagai contoh, budaya sekolah yang kolaboratif dapat menciptakan atmosfer intelektual yang mendorong inovasi. Atmosfer ini tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui kualitas individu tertentu; ia muncul dari keterikatan bersama.

Jika demikian, mungkinkah prestasi institusi memiliki tingkat realitas tertentu yang tidak sepenuhnya epifenomenal?

Tanggapan filosofis:
Teori emergensi menantang reduksionisme, tetapi tidak harus menolak hierarki ontologis. Fenomena emergen tetap bergantung pada basis yang memungkinkannya muncul. Budaya akademik tidak ada tanpa manusia yang mempraktikkannya; komitmen kolektif tidak bertahan tanpa kesadaran yang mengafirmasinya.

Dengan demikian, lebih tepat mengatakan bahwa prestasi institusi adalah epifenomena kuat (strongly emergent)—nyata pada tingkat sosial, tetapi tetap bergantung pada dinamika manusia. Ia bukan ilusi, namun juga bukan realitas fundamental.


5.4 Keberatan Praktis: Tanpa Orientasi Institusional, Apakah Pendidikan Kehilangan Arah?

Keberatan yang lebih pragmatis menyatakan bahwa institusi membutuhkan tujuan kolektif agar dapat berfungsi secara efektif. Tanpa target reputasional atau standar keunggulan, organisasi berisiko kehilangan motivasi struktural.

Pemikiran Philip Selznick menekankan bahwa institusi yang matang mengembangkan karakter dan komitmen nilai yang melampaui fungsi teknisnya. Identitas institusional dapat menjadi sumber inspirasi bagi anggotanya. Dalam konteks ini, kebanggaan terhadap prestasi bersama tidak selalu bersifat eksploitatif; ia dapat memperkuat solidaritas dan makna kolektif.

Tanggapan filosofis:
Keberatan ini mengingatkan bahwa orientasi kolektif memang diperlukan. Namun tesis epifenomenal tidak menolak keberadaan tujuan institusional—ia hanya menolak ketika tujuan tersebut menggantikan prioritas manusia. Target dapat berfungsi sebagai kompas, selama tidak berubah menjadi absolut.

Perbedaannya terletak pada urutan nilai:

·         Institusi sehat: mengejar keunggulan melalui pertumbuhan manusia.

·         Institusi terdistorsi: mengejar pertumbuhan manusia demi keunggulan simbolik.

Urutan ini menentukan legitimasi moral sebuah praktik pendidikan.


5.5 Risiko Reduksionisme Individual

Menariknya, tesis epifenomenal juga menghadapi bahaya dari arah sebaliknya—yakni reduksionisme individual. Jika segala sesuatu ditarik kembali pada individu, maka peran komunitas bisa terabaikan. Padahal manusia berkembang melalui relasi sosial.

Filsafat dialogis Martin Buber menekankan bahwa identitas manusia terbentuk dalam hubungan I–Thou (Aku–Engkau). Pendidikan bukan hanya proses internal, tetapi peristiwa relasional. Mengabaikan dimensi ini dapat membuat gagasan pertumbuhan menjadi terlalu atomistik.

Tanggapan filosofis:
Tesis epifenomenal perlu dipahami secara non-individualistik. Pertumbuhan manusia sendiri bersifat relasional; ia terjadi melalui interaksi dengan guru, teman, dan komunitas. Karena itu, menempatkan manusia sebagai pusat tidak berarti mengisolasinya dari jaringan sosial, melainkan mengakui bahwa jaringan tersebut bernilai karena menopang perkembangan pribadi.


5.6 Sintesis Kritis

Dari berbagai keberatan di atas, beberapa penyesuaian konseptual dapat dirumuskan agar tesis menjadi lebih matang:

1.      Institusi memiliki daya formatif, tetapi kesadaran tetap berada pada manusia.

2.      Prestasi dapat berfungsi sebagai mekanisme kekuasaan, sehingga perlu diawasi secara etis.

3.      Fenomena kolektif bersifat emergen—nyata namun tetap bergantung.

4.      Orientasi institusional diperlukan, selama tidak menggantikan prioritas manusia.

5.      Pertumbuhan individu sendiri bersifat relasional, bukan atomistik.

Sintesis ini mengarah pada formulasi yang lebih bernuansa:

Prestasi institusi adalah fenomena emergen yang nyata secara sosial, tetapi memperoleh makna terdalamnya hanya sejauh ia merefleksikan pertumbuhan manusia yang autentik dan bermartabat.

Melalui uji kritik ini, tesis tidak lagi berdiri sebagai klaim sepihak, melainkan sebagai posisi reflektif yang mampu berdialog dengan berbagai tradisi pemikiran. Bagian berikutnya akan bergerak menuju sintesis final, dengan merumuskan secara lebih eksplisit bagaimana relasi yang proporsional antara manusia dan institusi seharusnya dipahami dalam horizon filsafat pendidikan.


6. Sintesis

Setelah melalui klarifikasi konseptual, pembangunan kerangka teoretis, serta pengujian kritik, tahap sintesis bertujuan merumuskan kembali posisi tesis dalam bentuk yang lebih integratif. Sintesis bukan sekadar pengulangan argumen sebelumnya, melainkan upaya mencapai pemahaman yang lebih tinggi dengan mempertemukan ketegangan antara individu dan institusi tanpa mereduksi salah satunya. Dengan demikian, bagian ini akan menegaskan bagaimana prestasi institusi dapat dipahami secara proporsional: nyata dalam ranah sosial, tetapi tetap derivatif terhadap pertumbuhan manusia.


6.1 Menata Ulang Hierarki Ontologis

Pembahasan sebelumnya menunjukkan bahwa institusi adalah realitas sosial yang bergantung pada pengakuan kolektif, sebagaimana dijelaskan oleh John Searle. Artinya, institusi tidak memiliki kesadaran intrinsik; ia memperoleh fungsi melalui partisipasi manusia. Namun kritik terhadap reduksionisme juga memperlihatkan bahwa institusi memiliki daya formatif yang mampu memengaruhi orientasi dan tindakan individu.

Dari sini muncul kebutuhan untuk menata ulang hierarki ontologis secara lebih hati-hati:

·         Manusia → locus kesadaran, pengalaman, dan pertumbuhan.

·         Relasi sosial → medium interaksi yang memungkinkan perkembangan.

·         Institusi → struktur stabil yang mengorganisasi relasi tersebut.

·         Prestasi institusi → fenomena emergen dari keseluruhan dinamika.

Urutan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan institusi, tetapi untuk menempatkannya dalam kerangka dependensi yang tepat. Prestasi tidak mengalir dari struktur menuju manusia; sebaliknya, ia muncul ketika manusia berpartisipasi secara bermakna dalam struktur tersebut.


6.2 Integrasi Etika dan Teleologi: Menghindari Distorsi Tujuan

Sintesis juga menuntut rekonsiliasi antara dimensi etis dan teleologis. Etika Immanuel Kant menegaskan bahwa manusia memiliki martabat intrinsik sehingga tidak boleh direduksi menjadi alat. Sementara itu, teleologi Aristotle mengingatkan bahwa setiap praktik harus diarahkan pada tujuan internalnya—dalam hal ini, aktualisasi potensi manusia melalui pendidikan.

Ketika kedua perspektif ini digabungkan, muncul prinsip normatif yang kuat:

Institusi pendidikan memperoleh legitimasi terdalamnya bukan dari pengakuan eksternal, tetapi dari keberhasilannya membantu manusia mendekati tujuan eksistensialnya.

Distorsi terjadi ketika urutan ini terbalik—yakni ketika pengakuan eksternal dijadikan tujuan utama, sementara pertumbuhan manusia diposisikan sebagai sarana. Dalam kondisi tersebut, pendidikan berisiko berubah dari proses pembentukan menjadi mekanisme produksi indikator.

Sebaliknya, jika pertumbuhan dijadikan orientasi utama, maka prestasi institusional akan muncul sebagai konsekuensi yang hampir natural. Ia tidak perlu dikejar secara obsesif, karena menjadi ekspresi dari kualitas yang telah terbentuk.


6.3 Pertumbuhan sebagai Kriteria Integratif

Gagasan bahwa pertumbuhan merupakan inti pendidikan memperoleh dukungan kuat dari pemikiran John Dewey, yang melihat pendidikan sebagai proses rekonstruksi pengalaman yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, keberhasilan tidak diukur terutama oleh hasil statis, tetapi oleh kapasitas individu untuk terus berkembang.

Sintesis yang dapat dirumuskan dari pandangan ini adalah bahwa pertumbuhan berfungsi sebagai kriteria integratif—ia menghubungkan dimensi ontologis, etis, dan pedagogis sekaligus:

·         Secara ontologis, pertumbuhan terjadi pada manusia, bukan pada struktur abstrak.

·         Secara etis, pertumbuhan menghormati manusia sebagai tujuan.

·         Secara pedagogis, pertumbuhan menandai berlangsungnya pendidikan yang autentik.

Dengan demikian, prestasi institusi memperoleh maknanya sejauh ia mencerminkan proses pertumbuhan tersebut. Tanpa pertumbuhan, prestasi kehilangan kedalaman; ia menjadi simbol tanpa substansi.


6.4 Relasi Dialektis antara Individu dan Institusi

Sintesis juga menuntut pengakuan bahwa hubungan manusia dan institusi tidak bersifat antagonistik. Alih-alih memilih salah satu, pendekatan dialektis melihat keduanya sebagai saling membentuk dalam ketegangan yang produktif.

Pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel membantu menjelaskan dinamika ini melalui gagasan bahwa realitas sosial berkembang melalui proses timbal balik antara subjek dan struktur. Individu menemukan dirinya dalam kehidupan etis komunitas, sementara komunitas memperoleh vitalitas dari partisipasi individu.

Dalam horizon ini, institusi pendidikan ideal bukanlah entitas yang menundukkan manusia, melainkan ruang di mana kebebasan individual dan tujuan kolektif saling memperkaya. Prestasi institusi kemudian dapat dipahami sebagai ekspresi objektif dari kehidupan bersama yang berhasil menumbuhkan anggotanya.

Namun dialektika ini tetap memerlukan batas normatif: struktur tidak boleh mengeras sedemikian rupa hingga menghambat kebebasan yang justru menjadi sumber vitalitasnya.


6.5 Formulasi Ulang Tesis

Melalui integrasi berbagai perspektif, tesis awal dapat dirumuskan kembali dengan nuansa yang lebih matang:

Prestasi institusi adalah fenomena emergen yang nyata dalam tatanan sosial, tetapi bersifat derivatif karena berakar pada pertumbuhan manusia yang menjadi sumber kesadaran, tindakan, dan makna dalam pendidikan.

Formulasi ini menghindari dua ekstrem sekaligus:

·         Institusionalisme berlebihan, yang menganggap reputasi sebagai tujuan utama.

·         Individualisme reduksionis, yang mengabaikan peran struktur sosial.

Sebaliknya, ia menegaskan prioritas manusia tanpa meniadakan pentingnya institusi.


6.6 Prinsip Orientatif bagi Pendidikan

Dari sintesis ini dapat ditarik sebuah prinsip orientatif yang sederhana namun mendalam:

Ketika manusia bertumbuh, institusi memperoleh kehormatan secara wajar; tetapi ketika institusi hanya mengejar kehormatan, pertumbuhan manusia belum tentu terjadi.

Prinsip ini berfungsi sebagai kompas reflektif bagi praktik pendidikan. Ia mengingatkan bahwa kualitas terdalam sebuah lembaga tidak terletak pada seberapa sering namanya disebut dalam daftar prestasi, melainkan pada seberapa jauh ia memungkinkan manusia berkembang secara intelektual, moral, dan eksistensial.

Dengan demikian, sintesis ini meneguhkan kembali arah tesis: prestasi institusi bukanlah ilusi, tetapi juga bukan pusat gravitasi pendidikan. Ia adalah cahaya yang tampak di permukaan—sementara sumber energinya tetap berada pada pertumbuhan manusia yang berlangsung di dalamnya.


7. Implikasi Praktis (Agar Tidak Terlalu Abstrak)

Sebuah tesis filosofis mencapai relevansi penuhnya ketika mampu menerangi praktik konkret. Tanpa implikasi praktis, gagasan tentang prioritas pertumbuhan manusia berisiko berhenti sebagai refleksi normatif yang jauh dari realitas pendidikan sehari-hari. Oleh karena itu, bagian ini bertujuan menerjemahkan sintesis teoretis ke dalam orientasi tindakan yang dapat membimbing pengambilan keputusan di lingkungan pendidikan—baik pada tingkat institusi, pendidik, maupun peserta didik.

Prinsip dasarnya tetap konsisten: prestasi institusi memperoleh makna sejauh ia merefleksikan pertumbuhan manusia. Maka pertanyaan praktis yang perlu diajukan bukan lagi “bagaimana membuat institusi tampak unggul?”, melainkan “bagaimana menciptakan kondisi di mana manusia dapat berkembang secara autentik sehingga keunggulan menjadi konsekuensi alami?”


7.1 Implikasi bagi Institusi Pendidikan: Dari Reputasi ke Ekosistem Pertumbuhan

Institusi pendidikan idealnya bergerak dari paradigma performatif menuju paradigma formatif—dari sekadar menampilkan keberhasilan menuju membangun kondisi yang memungkinkan keberhasilan itu muncul secara organik.

Pemikiran John Dewey menekankan bahwa lingkungan belajar harus dirancang sebagai ruang pengalaman yang memperluas kapasitas individu. Ini berarti kebijakan pendidikan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada hasil terukur, tetapi juga pada kualitas proses.

Beberapa implikasi strategis dapat dirumuskan:

1. Menggeser indikator keberhasilan
Institusi perlu menyeimbangkan metrik kuantitatif (peringkat, medali, nilai ujian) dengan indikator kualitatif seperti:

·         kedalaman pemahaman,

·         daya pikir kritis,

·         kreativitas,

·         kematangan karakter.

Pendekatan ini selaras dengan kritik terhadap budaya audit pendidikan yang sering kali menyempitkan makna keberhasilan.

2. Membangun budaya belajar, bukan budaya kompetisi semata
Kompetisi dapat memotivasi, tetapi jika menjadi pusat orientasi, ia berpotensi menghasilkan kecemasan kolektif. Budaya belajar yang sehat menekankan eksplorasi intelektual dan keberanian untuk gagal sebagai bagian dari proses.

3. Menjaga legitimasi moral institusi
Dalam terang etika Immanuel Kant, kebijakan pendidikan harus memastikan bahwa peserta didik tidak diperlakukan semata sebagai alat reputasi. Program unggulan, pelatihan intensif, atau seleksi lomba perlu mempertimbangkan kesejahteraan psikologis serta otonomi murid.

Institusi yang kuat bukanlah yang paling ambisius mengejar simbol prestasi, melainkan yang paling konsisten menumbuhkan manusia.


7.2 Implikasi bagi Pendidik: Peran Formatif Melampaui Target Akademik

Jika institusi adalah struktur yang memungkinkan pertumbuhan, maka pendidik adalah aktor kunci yang menghidupkan struktur tersebut. Dalam perspektif pedagogis, guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi pembentuk horizon intelektual dan moral.

Gagasan Paulo Freire tentang pendidikan dialogis relevan di sini. Freire mengkritik model “perbankan pendidikan,” di mana murid diperlakukan sebagai wadah pasif untuk diisi pengetahuan. Sebaliknya, pendidikan harus membangkitkan kesadaran kritis (conscientização) sehingga peserta didik menjadi subjek pembelajar.

Dari sudut ini, beberapa orientasi praktis muncul:

1. Menempatkan lomba sebagai medium pembelajaran
Kompetisi sebaiknya dipahami sebagai sarana untuk:

·         melatih ketekunan,

·         menguji pemahaman,

·         memperluas pengalaman sosial.

Nilainya terletak pada proses transformasi, bukan semata pada kemenangan.

2. Menghindari reduksi identitas murid pada performa
Ketika murid hanya dihargai karena capaian, pendidikan berisiko mengabaikan kompleksitas manusia. Pendidik perlu melihat murid sebagai pribadi yang sedang bertumbuh, bukan sebagai representasi statistik.

3. Membina motivasi intrinsik
Penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa motivasi intrinsik lebih berkelanjutan dibanding dorongan eksternal. Pendekatan ini sejalan dengan teleologi Aristotle, di mana tindakan terbaik adalah yang berakar pada pengembangan keutamaan, bukan sekadar penghargaan.

Guru yang berorientasi pada pertumbuhan membantu murid mencintai proses belajar—dan dari kecintaan itu, prestasi sering kali mengikuti.


7.3 Implikasi bagi Peserta Didik: Prestasi sebagai Ekspresi, Bukan Identitas

Bagi peserta didik, tesis epifenomenal menawarkan perspektif yang membebaskan sekaligus menuntut tanggung jawab. Prestasi tidak perlu ditolak, tetapi juga tidak perlu dijadikan pusat harga diri.

Dalam kerangka perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson, masa pendidikan merupakan fase penting pembentukan identitas. Jika identitas terlalu dilekatkan pada keberhasilan eksternal, individu rentan mengalami krisis makna ketika simbol tersebut hilang.

Karena itu, beberapa sikap reflektif dapat dikembangkan:

1. Memahami prestasi sebagai dampak dari proses
Fokus pada penguasaan, bukan semata hasil.

2. Mengembangkan orientasi jangka panjang
Pertumbuhan intelektual dan karakter sering kali lebih menentukan masa depan daripada kemenangan sesaat.

3. Menjaga otonomi belajar
Belajar bukan hanya untuk memenuhi ekspektasi institusi, tetapi untuk membangun kapasitas diri sebagai manusia yang berpikir.

Dengan perspektif ini, murid tidak lagi terjebak dalam logika performatif, melainkan melihat prestasi sebagai bahasa sosial yang mengekspresikan pertumbuhan.


7.4 Implikasi bagi Budaya Pendidikan: Menata Ulang Imajinasi Kolektif

Lebih luas lagi, tesis ini mengundang refleksi terhadap imajinasi kolektif tentang apa yang disebut “sekolah unggul.” Sering kali keunggulan dibayangkan melalui simbol eksternal—trofi, ranking, selektivitas. Namun jika mengikuti argumen sebelumnya, keunggulan sejati mungkin justru lebih sunyi: tampak dalam kelas yang hidup, dialog yang jujur, dan rasa ingin tahu yang terpelihara.

Di sini relevan pandangan Martha Nussbaum, yang menekankan pentingnya pendidikan humanistik untuk membentuk warga yang mampu berpikir kritis dan berempati. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pekerja kompeten, tetapi manusia yang utuh.

Maka transformasi yang diperlukan bukan hanya administratif, melainkan juga imajinatif—mengubah cara komunitas pendidikan memahami keberhasilan.


7.5 Prinsip Praktis yang Dapat Dirumuskan

Dari seluruh implikasi di atas, sebuah prinsip operasional dapat dirangkum:

Rancanglah institusi sedemikian rupa sehingga pertumbuhan manusia menjadi prioritas; biarkan prestasi muncul sebagai konsekuensi, bukan sebagai obsesi.

Prinsip ini menjaga keseimbangan antara idealisme dan realisme. Ia tidak menolak pentingnya capaian institusional, tetapi menolak menjadikannya pusat gravitasi pendidikan.


7.6 Penegasan Akhir Bagian Ini

Ketika filsafat diterjemahkan ke dalam praktik, terlihat bahwa tesis epifenomenal bukanlah abstraksi yang jauh dari realitas. Ia justru berfungsi sebagai alat evaluatif—membantu institusi, pendidik, dan peserta didik menilai apakah arah pendidikan masih selaras dengan tujuan terdalamnya.

Pada akhirnya, kualitas sebuah institusi tidak terutama diukur dari seberapa tinggi namanya terangkat, melainkan dari seberapa dalam manusia yang berada di dalamnya bertumbuh. Ketika pertumbuhan itu nyata, prestasi tidak perlu dikejar secara cemas; ia akan hadir sebagai pantulan yang hampir tak terhindarkan.


8. Penutup

Pembahasan dalam tulisan ini berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar namun sering terlewatkan dalam diskursus pendidikan: siapakah sebenarnya yang berprestasi—institusi atau manusia? Melalui analisis ontologis, etis, dan pedagogis, telah ditunjukkan bahwa prestasi institusi tidak memiliki status realitas primer. Ia muncul sebagai fenomena sosial yang bergantung pada kualitas tindakan, pertumbuhan, dan aktualisasi manusia yang berada di dalamnya.

Institusi, sebagaimana dijelaskan oleh John Searle, memperoleh keberadaannya melalui pengakuan kolektif dan praktik sosial yang berulang. Ia nyata dalam tatanan intersubjektif, tetapi tidak memiliki kesadaran intrinsik. Oleh karena itu, segala atribut yang dilekatkan padanya—termasuk reputasi dan keunggulan—harus ditelusuri kembali pada sumber yang memungkinkan atribut tersebut muncul, yakni manusia sebagai agen sadar.

Dari sudut etika, pemikiran Immanuel Kant mengingatkan bahwa manusia memiliki martabat yang tidak dapat direduksi menjadi alat bagi tujuan lain. Prinsip ini memberikan batas normatif yang tegas: institusi pendidikan kehilangan legitimasi moralnya ketika mengejar prestasi dengan mengorbankan kesejahteraan atau perkembangan peserta didik. Prestasi hanya bernilai secara etis apabila ia merupakan refleksi dari penghormatan terhadap manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri.

Sementara itu, perspektif teleologis Aristotle membantu memperjelas arah pendidikan. Tujuan terdalam pendidikan bukanlah pengakuan eksternal, melainkan aktualisasi potensi manusia menuju kehidupan yang bernalar dan berkeutamaan. Penghargaan sosial mungkin mengikuti, tetapi ia tetap bersifat konsekuensial. Ketika konsekuensi diubah menjadi tujuan utama, orientasi pendidikan berisiko mengalami distorsi—bergeser dari pembentukan manusia menuju produksi simbol keberhasilan.

Gagasan tentang pertumbuhan sebagai inti pendidikan semakin dipertegas oleh John Dewey, yang melihat pendidikan sebagai proses rekonstruksi pengalaman secara berkelanjutan. Dalam horizon ini, keberhasilan sejati tidak terletak pada hasil statis, tetapi pada meningkatnya kapasitas individu untuk berpikir, memahami, dan berpartisipasi secara bermakna dalam kehidupan bersama. Prestasi institusi memperoleh signifikansinya hanya sejauh ia mencerminkan dinamika pertumbuhan tersebut.

Namun refleksi ini juga menuntut kehati-hatian agar tidak jatuh ke dalam reduksionisme individual. Kritik sosiologis—seperti yang ditunjukkan oleh Émile Durkheim—mengingatkan bahwa institusi memiliki daya formatif yang membantu membentuk orientasi moral dan intelektual individu. Karena itu, hubungan antara manusia dan institusi lebih tepat dipahami sebagai relasi dialektis: manusia membangun institusi, sementara institusi menyediakan kondisi yang memungkinkan manusia berkembang.

Dari keseluruhan pembahasan, sebuah pemahaman yang lebih bernuansa dapat dirumuskan:

Prestasi institusi adalah fenomena emergen yang nyata dalam tatanan sosial, tetapi bersifat derivatif karena berakar pada pertumbuhan manusia yang menjadi sumber kesadaran, tindakan, dan makna dalam pendidikan.

Pemahaman ini menghindari dua ekstrem sekaligus—institusionalisme berlebihan yang mengultuskan reputasi, serta individualisme sempit yang mengabaikan peran struktur sosial. Sebaliknya, ia menempatkan pertumbuhan manusia sebagai pusat gravitasi pendidikan, sementara institusi dipahami sebagai sarana bernilai yang memperoleh kehormatannya justru dari keberhasilan menjalankan fungsi tersebut.

Pada akhirnya, refleksi ini mengarah pada pertanyaan yang bersifat evaluatif sekaligus eksistensial: untuk siapa institusi pendidikan ada? Jika jawabannya adalah manusia, maka setiap kebijakan, praktik, dan orientasi harus diuji terhadap pertanyaan tersebut. Institusi yang besar bukanlah yang paling sering dipuji, melainkan yang paling konsisten memungkinkan manusia bertumbuh—secara intelektual, moral, dan bahkan eksistensial.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa ketika manusia sungguh bertumbuh, prestasi institusi akan hadir sebagai cahaya yang mengikuti sumbernya. Namun cahaya itu tidak boleh disalahpahami sebagai sumber terang itu sendiri. Sebab dalam pendidikan, sebagaimana dalam kehidupan, yang fundamental bukanlah apa yang tampak gemilang di permukaan, melainkan proses pendewasaan manusia yang berlangsung di kedalamannya.