Determinisme Ilmiah
Kepastian Hukum Alam dan Batas Kebebasan Manusia dalam
Perspektif Filsafat Sains
Alihkan ke: Determinisme.
Abstrak
Artikel ini membahas secara mendalam konsep determinisme
ilmiah sebagai salah satu cabang penting dalam filsafat sains yang berupaya
menjelaskan keteraturan dan kausalitas alam semesta. Determinisme ilmiah
berangkat dari pandangan bahwa segala peristiwa tunduk pada hukum-hukum alam
yang bersifat niscaya, rasional, dan dapat diprediksi. Melalui pendekatan
historis, ontologis, epistemologis, serta etis, tulisan ini menelusuri
perkembangan gagasan determinisme mulai dari pemikiran klasik (Newton, Laplace,
dan Descartes) hingga kritik kontemporer dari filsafat kuantum, teori chaos,
dan eksistensialisme.
Secara ontologis, determinisme memandang realitas
sebagai sistem yang tertib dan kausal, namun dalam perkembangan sains modern
pandangan ini bergeser menuju konsep determinisme terbuka, yaitu
kesadaran bahwa keteraturan alam memungkinkan dinamika, emergensi, dan
kebaruan. Dalam tataran epistemologis, artikel ini menegaskan bahwa pengetahuan
ilmiah bersifat terbuka dan probabilistik, bukan mutlak, sehingga menuntut
sikap ilmiah yang kritis dan rasional.
Secara etis, determinisme ilmiah menimbulkan
perdebatan tentang kebebasan dan tanggung jawab moral. Namun, melalui
pendekatan kompatibilisme dinamis, artikel ini menawarkan sintesis bahwa
kebebasan manusia tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap hukum alam,
melainkan sebagai kemampuan reflektif untuk bertindak secara rasional di dalamnya.
Dalam konteks kontemporer, determinisme juga dikaji melalui penerapannya pada
bidang kecerdasan buatan, bioteknologi, dan ekologi global, di mana
prinsip-prinsip kausalitas ilmiah memiliki implikasi sosial, moral, dan
ekologis yang signifikan.
Akhirnya, artikel ini menyimpulkan bahwa determinisme
ilmiah bukanlah doktrin tertutup tentang kepastian absolut, melainkan kerangka
rasional untuk memahami hubungan antara keteraturan kosmik, kebebasan
manusia, dan tanggung jawab etis. Dengan demikian, determinisme ilmiah
dapat dibaca sebagai upaya sintesis antara sains dan filsafat, antara hukum
alam dan makna eksistensial, serta antara kepastian dan kemungkinan dalam
pencarian manusia terhadap kebenaran.
Kata Kunci: Determinisme ilmiah; filsafat sains; kausalitas; kebebasan; etika;
ontologi; epistemologi; kompatibilisme; kompleksitas; hukum alam.
PEMBAHASAN
Kajian Determinisme dalam Konteks Ilmiah
1.
Pendahuluan
Dalam sejarah pemikiran manusia, gagasan mengenai determinisme
merupakan salah satu upaya paling mendasar untuk memahami keteraturan dan
kepastian dalam alam semesta. Determinisme ilmiah, secara khusus, berangkat
dari keyakinan bahwa setiap peristiwa di alam raya memiliki sebab yang dapat
dijelaskan secara rasional dan empiris melalui hukum-hukum alam yang tetap dan
universal.¹ Dalam konteks ini, dunia dipandang sebagai sistem tertutup yang
tunduk pada prinsip kausalitas, di mana keadaan masa kini sepenuhnya ditentukan
oleh kondisi masa lalu dan akan menentukan kondisi masa depan.
Asumsi dasar ini menjadi fondasi bagi berkembangnya ilmu
pengetahuan modern, terutama sejak Revolusi Ilmiah abad ke-17 yang
dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Galileo Galilei, René Descartes, dan Isaac
Newton.² Dalam kerangka mekanistik Newtonian, alam dipandang menyerupai mesin
raksasa yang bekerja berdasarkan hukum-hukum fisika yang pasti dan dapat
diprediksi.³ Dari sinilah muncul keyakinan bahwa, apabila seseorang mengetahui
semua kondisi awal dari sistem fisik, maka seluruh keadaan masa depan dapat
dihitung secara eksak — sebagaimana ditegaskan oleh Pierre-Simon Laplace dalam
konsep “Laplace’s Demon”.⁴
Namun, seiring dengan perkembangan sains modern,
terutama sejak munculnya teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum pada
abad ke-20, paradigma deterministik tersebut mulai dipertanyakan. Mekanika
kuantum memperkenalkan unsur ketidakpastian (uncertainty) yang melekat
dalam struktur realitas mikroskopis, sehingga mengguncang keyakinan klasik akan
kepastian mutlak dalam hukum alam.⁵ Dalam kerangka ini, determinisme ilmiah
tidak lagi dipahami sebagai kepastian absolut, melainkan sebagai model
penjelasan yang memiliki keterbatasan epistemologis dan ontologis.
Dari sudut pandang filsafat sains, determinisme
ilmiah bukan hanya persoalan empiris tentang hukum-hukum alam, tetapi juga
menyangkut pertanyaan metafisik dan etis: apakah manusia memiliki
kebebasan dalam alam yang sepenuhnya diatur oleh hukum sebab-akibat?⁶ Jika
setiap tindakan manusia dapat direduksi menjadi hasil dari rangkaian proses
biologis dan fisik, maka di manakah letak tanggung jawab moral dan kebebasan
kehendak (free will)?⁷ Pertanyaan ini membuka ruang bagi dialog antara
filsafat, sains, dan etika — di mana determinisme ilmiah tidak lagi hanya
dipandang sebagai prinsip ilmiah, melainkan juga sebagai masalah eksistensial.
Dengan demikian, pembahasan tentang determinisme
ilmiah menjadi sangat relevan bagi pemikiran kontemporer, terutama dalam
konteks teknologi modern, biologi molekuler, dan kecerdasan buatan yang semakin
bergantung pada prinsip prediksi dan algoritma.⁸ Artikel ini akan menelaah
secara komprehensif akar historis, landasan ontologis dan epistemologis, serta
implikasi etis dan filosofis dari determinisme ilmiah. Tujuannya adalah untuk
menemukan pemahaman yang lebih seimbang antara kepastian ilmiah dan kebebasan
manusia, serta meninjau bagaimana filsafat dapat berperan dalam mengkritisi
dan mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Footnotes
[1]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 5.
[2]
Alexandre Koyré, From the Closed
World to the Infinite Universe (Baltimore: Johns Hopkins University Press,
1957), 42–45.
[3]
Isaac Newton, Philosophiae
Naturalis Principia Mathematica (London: Royal Society, 1687), 15–20.
[4]
Pierre-Simon Laplace, A
Philosophical Essay on Probabilities, trans. Frederick W. Truscott and
Frederick L. Emory (New York: Dover Publications, 1951), 4.
[5]
Werner Heisenberg, Physics and
Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row,
1958), 29–31.
[6]
Karl Popper, The Open Universe:
An Argument for Indeterminism (London: Routledge, 1982), 12–14.
[7]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 25–28.
[8]
Stephen Hawking, The Grand Design
(New York: Bantam Books, 2010), 87–89.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Gagasan determinisme ilmiah tidak muncul secara
tiba-tiba dalam sejarah pemikiran manusia, melainkan merupakan hasil dari
proses panjang evolusi intelektual yang bermula dari filsafat Yunani Kuno
hingga berkembang dalam paradigma mekanistik modern. Ia menjadi simpul dari
pergulatan manusia dalam memahami keteraturan alam, hukum sebab-akibat, serta
posisi manusia di dalamnya. Dengan demikian, menelusuri akar historisnya berarti
menelusuri genealoginya dalam tiga fase utama: determinisme klasik,
mekanistik-modern, dan pascaklasik.
2.1.
Determinisme Klasik:
Yunani dan Tradisi Awal
Dalam filsafat Yunani, konsep determinisme berakar
pada pemikiran atomistik Demokritos (460–370 SM) yang menyatakan bahwa
segala sesuatu terdiri dari atom-atom yang bergerak menurut hukum sebab-akibat
yang pasti.¹ Ia menolak keberadaan kebetulan, karena setiap gerak partikel
selalu mengikuti hukum alam yang niscaya. Pandangan ini merupakan bentuk awal
dari determinisme fisikal yang kelak menjadi fondasi bagi determinisme ilmiah.
Sementara itu, kaum Stoa mengembangkan
determinisme dalam kerangka etika kosmis. Menurut mereka, seluruh alam semesta
diatur oleh logos — rasio universal yang menuntun segala sesuatu menuju
keteraturan dan harmoni.² Dalam pandangan Stoik, kebebasan manusia bukanlah
kebebasan dari sebab, melainkan keselarasan kehendak dengan tatanan kosmis. Di
sisi lain, Aristoteles memperkenalkan konsep kausalitas empat sebab (causa
materialis, formalis, efficiens, finalis) yang menjelaskan segala fenomena
berdasarkan keterpaduan tujuan dan substansi.³ Meskipun tidak sepenuhnya
deterministik, kerangka Aristotelian tetap memberikan dasar metafisik bagi
pemahaman ilmiah tentang keteraturan alam.
2.2.
Determinisme
Mekanistik dan Revolusi Ilmiah
Perkembangan besar terjadi pada abad ke-17 dan
ke-18, ketika Revolusi Ilmiah melahirkan pandangan mekanistik tentang
dunia. René Descartes (1596–1650) mengusulkan dualisme substansi antara res
cogitans (jiwa) dan res extensa (materi), di mana dunia materi
tunduk pada hukum gerak dan penyebab mekanis.⁴ Pandangan ini menjadi dasar bagi
sains modern yang menganggap alam semesta sebagai sistem mesin raksasa yang
dapat dijelaskan secara matematis.
Puncak paradigma ini terlihat dalam karya monumental Isaac
Newton (1642–1727), Philosophiae Naturalis Principia Mathematica,
yang mengukuhkan hukum gravitasi universal dan hukum gerak sebagai prinsip
dasar seluruh fenomena fisik.⁵ Dunia Newtonian bersifat tertutup, stabil, dan
dapat diprediksi, sehingga memberikan landasan kokoh bagi determinisme ilmiah.
Dalam semangat ini, Pierre-Simon Laplace (1749–1827) memperkenalkan
metafora terkenal tentang makhluk intelijen super (Laplace’s Demon)
yang, dengan pengetahuan total tentang keadaan alam saat ini, dapat menghitung
seluruh masa depan dengan kepastian absolut.⁶ Inilah bentuk paling murni dari
determinisme ilmiah klasik.
Pandangan tersebut tidak hanya memengaruhi sains,
tetapi juga menembus ranah teologi dan moralitas, di mana Tuhan
dipandang sebagai “arsitek agung” yang menciptakan alam semesta dengan tatanan
mekanistik yang sempurna.⁷ Namun, determinisme semacam ini juga menimbulkan
persoalan filosofis: jika segala hal telah ditentukan oleh hukum alam, apakah
masih ada ruang bagi kebebasan dan tanggung jawab manusia?
Krisis
Determinisme: Sains Modern dan Paradigma Pascaklasik
Abad ke-20 menandai pergeseran besar melalui teori
relativitas Einstein dan mekanika kuantum. Albert Einstein
menegaskan bahwa hukum-hukum alam tetap bersifat deterministik dalam kerangka
ruang-waktu, tetapi menolak gagasan kebetulan murni dalam fisika kuantum dengan
ungkapan terkenalnya: “Tuhan tidak bermain dadu.”⁸ Namun, fisikawan lain
seperti Werner Heisenberg dan Niels Bohr menunjukkan bahwa pada level subatomik,
fenomena bersifat intrinsik tidak pasti (indeterminacy).⁹ Ketidakpastian
ini mengguncang paradigma determinisme klasik, mengindikasikan bahwa realitas
alam semesta mungkin memiliki unsur probabilistik.
Selain itu, teori chaos dan kompleksitas pada akhir
abad ke-20 memperluas pandangan ini dengan menunjukkan bahwa sistem alam,
meskipun mengikuti hukum deterministik, dapat menghasilkan perilaku yang tidak
dapat diprediksi secara praktis karena sensitivitas terhadap kondisi awal (sensitive
dependence on initial conditions).¹⁰ Dengan demikian, determinisme ilmiah
tidak lagi dipahami sebagai “kepastian absolut”, melainkan sebagai keteraturan
dalam batas-batas ketidakpastian.
Melalui perjalanan historis ini, determinisme ilmiah
tampak sebagai konsep yang senantiasa berkembang: dari kepastian mekanistik
menuju kesadaran akan kompleksitas dan kontingensi realitas. Ia tidak hanya
merupakan warisan intelektual, tetapi juga medan refleksi antara sains,
filsafat, dan etika tentang sejauh mana alam semesta dan manusia tunduk pada
hukum kausalitas yang dapat dijelaskan.
Footnotes
[1]
Democritus, Fragments, ed.
Cyril Bailey (Oxford: Clarendon Press, 1928), 34–36.
[2]
Diogenes Laërtius, Lives of
Eminent Philosophers, trans. R.D. Hicks (Cambridge, MA: Harvard University
Press, 1925), 7.134–138.
[3]
Aristotle, Metaphysics,
trans. W.D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1908), Book V, 1013a–1013b.
[4]
René Descartes, Principles of
Philosophy, trans. Valentine Rodger and Elizabeth Haldane (Cambridge:
Cambridge University Press, 1911), 54–57.
[5]
Isaac Newton, Philosophiae
Naturalis Principia Mathematica (London: Royal Society, 1687), 1–5.
[6]
Pierre-Simon Laplace, A
Philosophical Essay on Probabilities, trans. Frederick W. Truscott and
Frederick L. Emory (New York: Dover Publications, 1951), 3–5.
[7]
Robert Boyle, A Disquisition
about the Final Causes of Natural Things (London: Henry Herringman, 1688),
12–15.
[8]
Albert Einstein, “Quantum Mechanics
and Reality,” Journal of the Franklin Institute 221, no. 3 (1936):
349–382.
[9]
Werner Heisenberg, The Physical
Principles of the Quantum Theory (Chicago: University of Chicago Press,
1930), 20–22.
[10]
Ilya Prigogine and Isabelle
Stengers, Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature (New York:
Bantam Books, 1984), 23–26.
3.
Ontologi:
Hakikat Realitas dalam Determinisme Ilmiah
Dalam kerangka filsafat sains, ontologi
determinisme ilmiah berusaha menjelaskan hakikat realitas sebagai suatu
sistem yang tunduk pada hukum kausalitas universal.¹ Secara fundamental,
pandangan ini menegaskan bahwa segala fenomena alam memiliki penyebab yang
niscaya dan teratur, sehingga seluruh realitas bersifat dapat dijelaskan (intelligible)
dan diprediksi (predictable).² Dengan kata lain, dunia bukanlah kumpulan
peristiwa acak, melainkan struktur rasional yang diatur oleh hukum-hukum yang
bersifat tetap, universal, dan objektif.³
3.1.
Prinsip Kausalitas dan
Ketertiban Ontologis Alam
Prinsip kausalitas merupakan inti dari determinisme
ilmiah. Ia menyatakan bahwa “tidak ada akibat tanpa sebab,” sehingga setiap
peristiwa merupakan konsekuensi dari kondisi yang mendahuluinya.⁴ Dalam
kerangka ini, alam dipahami sebagai tatanan ontologis tertutup, di mana
segala bentuk perubahan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui hubungan
sebab-akibat. Bagi Pierre-Simon Laplace, hukum alam memiliki karakter
deterministik yang sempurna: jika seluruh kondisi awal diketahui secara
lengkap, maka seluruh keadaan masa depan dapat dihitung dengan kepastian
matematis.⁵
Pandangan ini mengimplikasikan bahwa realitas
bersifat niscaya, bukan kontingen. Segala yang ada merupakan akibat dari
sebab sebelumnya, dan karena itu, masa depan secara ontologis telah “tertanam”
dalam masa kini.⁶ Ontologi semacam ini cenderung menolak kemungkinan
spontanitas sejati dalam alam, sebab setiap peristiwa dianggap terikat dalam
rantai kausalitas yang tak terputus.
3.2.
Realitas sebagai
Sistem Mekanis dan Reduksionis
Dalam tradisi ilmiah modern, terutama sejak Newton,
alam semesta ditafsirkan sebagai mesin raksasa yang tersusun dari
partikel-partikel material yang bergerak menurut hukum fisika.⁷ Dengan
demikian, hakikat realitas direduksi menjadi entitas material yang dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh hubungan kuantitatif dan matematis. Ontologi ini
dikenal sebagai realisme mekanistik atau materialisme ilmiah.⁸
Namun, reduksionisme ini menimbulkan pertanyaan
filosofis mendalam: apakah seluruh aspek realitas — termasuk kesadaran, nilai
moral, dan pengalaman subjektif — dapat direduksi ke dalam hukum fisika?⁹ Para
filsuf seperti Karl Popper dan Roger Penrose menolak pandangan
ini, dengan menegaskan bahwa dunia mental dan matematis memiliki realitas
ontologis yang tidak dapat sepenuhnya direduksi ke dalam mekanisme fisik.¹⁰
3.3.
Ontologi Deterministik
dalam Sains Modern
Meskipun paradigma klasik menekankan kepastian, sains
modern memperkenalkan pandangan ontologis yang lebih kompleks. Dalam mekanika
kuantum, realitas tidak bersifat deterministik secara absolut, melainkan probabilistik.¹¹
Prinsip ketidakpastian Heisenberg menunjukkan bahwa keadaan partikel tidak
dapat diketahui secara bersamaan dengan presisi mutlak, melainkan hanya dalam
bentuk distribusi kemungkinan.¹²
Demikian pula, teori chaos menunjukkan bahwa
bahkan sistem yang mengikuti hukum deterministik dapat menghasilkan perilaku
yang tidak dapat diprediksi karena sensitivitas ekstrem terhadap kondisi
awal.¹³ Dengan demikian, ontologi determinisme ilmiah mengalami revisi: alam
semesta tetap tunduk pada hukum, tetapi keteraturan tersebut muncul dari
interaksi kompleks yang tidak selalu dapat direduksi ke dalam bentuk linear dan
sederhana.
Dalam konteks ini, realitas dipahami sebagai sistem
terbuka yang teratur namun dinamis, di mana determinasi tidak berarti
ketiadaan kebebasan, tetapi keteraturan dalam batas-batas kemungkinan.¹⁴
Realitas bukanlah struktur statis yang tertutup, melainkan jaringan hubungan
kausal yang terus berkembang dalam dimensi waktu dan ruang.
Ketegangan
antara Niscaya dan Kontingensi
Secara ontologis, determinisme ilmiah menghadapi
ketegangan mendasar antara niscaya (necessity) dan kontingensi
(contingency). Di satu sisi, hukum-hukum alam menegaskan adanya keteraturan
universal; di sisi lain, pengalaman empiris menunjukkan adanya fenomena acak
dan emergen.¹⁵ Filsafat kontemporer mencoba menjembatani ketegangan ini dengan
mengembangkan konsep determinisme terbuka (open determinism),
yakni pandangan bahwa hukum alam memang membatasi kemungkinan, tetapi tidak
menghapus kemungkinan itu sepenuhnya.¹⁶
Dalam pandangan ini, realitas bersifat “terarah namun
terbuka,” di mana kepastian ilmiah berjalan berdampingan dengan ruang bagi
kebebasan, kreativitas, dan ketidakpastian.¹⁷ Dengan demikian, determinisme
ilmiah tidak harus dipahami sebagai penjara ontologis, melainkan sebagai
struktur rasional yang memungkinkan eksistensi berlangsung dalam keteraturan
kosmik yang dapat dimengerti.
Footnotes
[1]
Mario Bunge, Causality and Modern
Science, 4th ed. (New York: Dover Publications, 2009), 11–12.
[2]
Karl Popper, The Open Universe:
An Argument for Indeterminism (London: Routledge, 1982), 15.
[3]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 6.
[4]
Immanuel Kant, Critique of Pure
Reason, trans. Norman Kemp Smith (New York: St. Martin’s Press, 1929), A189/B232.
[5]
Pierre-Simon Laplace, A
Philosophical Essay on Probabilities, trans. Frederick W. Truscott and
Frederick L. Emory (New York: Dover Publications, 1951), 4.
[6]
David Hume, An Enquiry Concerning
Human Understanding (Oxford: Clarendon Press, 1748), 65–67.
[7]
Isaac Newton, Philosophiae
Naturalis Principia Mathematica (London: Royal Society, 1687), 2–3.
[8]
Daniel Dennett, Freedom Evolves
(New York: Viking, 2003), 29–31.
[9]
Thomas Nagel, Mind and Cosmos:
Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly
False (Oxford: Oxford University Press, 2012), 14–16.
[10]
Roger Penrose, The Emperor’s New
Mind: Concerning Computers, Minds, and the Laws of Physics (Oxford: Oxford
University Press, 1989), 102–106.
[11]
Werner Heisenberg, Physics and
Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row,
1958), 32–34.
[12]
Niels Bohr, Atomic Physics and
Human Knowledge (New York: Wiley, 1958), 20–21.
[13]
Ilya Prigogine and Isabelle
Stengers, Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature (New York:
Bantam Books, 1984), 95–97.
[14]
John Polkinghorne, The Quantum
World (Princeton: Princeton University Press, 1984), 123–125.
[15]
Paul Davies, The Mind of God: The
Scientific Basis for a Rational World (New York: Simon & Schuster,
1992), 59–62.
[16]
Karl Popper, The Open Universe,
89–91.
[17]
Ervin Laszlo, Introduction to
Systems Philosophy (New York: Gordon and Breach, 1972), 41–43.
4.
Epistemologi
dan Metode Ilmiah
Dalam kerangka determinisme ilmiah,
epistemologi berperan sebagai fondasi yang menjelaskan bagaimana manusia memperoleh
pengetahuan tentang keteraturan alam.¹ Jika ontologi determinisme menegaskan
bahwa realitas bersifat teratur dan tunduk pada hukum sebab-akibat, maka
epistemologi determinisme berusaha menjelaskan bagaimana keteraturan itu
dapat diketahui, diukur, dan dijelaskan melalui metode ilmiah. Dengan
demikian, determinisme ilmiah tidak hanya berasumsi bahwa dunia bersifat
kausal, tetapi juga bahwa akal manusia memiliki kapasitas untuk memahami dan
memprediksi keteraturan tersebut.²
4.1.
Asumsi Epistemologis:
Rasionalitas dan Keteraturan Alam
Epistemologi determinisme ilmiah berpijak pada
keyakinan bahwa realitas bersifat rasional dan dapat dimengerti.³ Dalam
pandangan ini, setiap fenomena alam tunduk pada hukum-hukum universal yang
dapat ditemukan melalui observasi dan penalaran logis. Pandangan ini merupakan
warisan Rasionalisme dan Empirisisme modern, yang kemudian disintesiskan
dalam metode ilmiah: empirisme memberikan data melalui pengalaman, sedangkan
rasionalisme menyediakan struktur logis untuk menafsirkan data tersebut.⁴
Sejak zaman Francis Bacon dan Galileo
Galilei, metode ilmiah mulai disusun atas dasar observasi sistematis,
eksperimentasi, dan inferensi kausal.⁵ Proses ini menandai peralihan dari
penjelasan metafisik menuju penjelasan nomologis (berdasarkan
hukum-hukum). Dengan demikian, pengetahuan ilmiah bersifat objektif dan dapat
diverifikasi, karena berakar pada prinsip kausalitas yang memungkinkan prediksi
fenomena di masa depan.⁶
4.2.
Metode Ilmiah dan
Prediktabilitas
Metode ilmiah dalam determinisme didasarkan pada
asumsi bahwa hukum alam bersifat universal, konsisten, dan dapat direplikasi.
Dalam paradigma Newtonian, dunia dipandang sebagai sistem yang sepenuhnya dapat
dijelaskan melalui hukum matematis yang pasti.⁷ Melalui pengamatan terhadap
kondisi awal, para ilmuwan dapat memprediksi hasil yang akan terjadi. Prinsip
inilah yang melahirkan konsep prediktabilitas ilmiah, di mana ilmu tidak
hanya menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, tetapi juga apa yang akan
terjadi jika kondisi tertentu terpenuhi.⁸
Namun, perkembangan sains modern memperlihatkan bahwa
prediksi ilmiah tidak selalu bersifat absolut. Dalam mekanika kuantum,
misalnya, ketidakpastian pengukuran menunjukkan bahwa pengetahuan manusia
terhadap realitas memiliki batas epistemologis.⁹ Prinsip ketidakpastian (Uncertainty
Principle) yang dikemukakan oleh Werner Heisenberg menandai bahwa
dalam tingkat fundamental, realitas hanya dapat diketahui dalam bentuk
probabilitas, bukan kepastian.¹⁰ Dengan demikian, determinisme ilmiah mengalami
koreksi epistemologis: sains tidak lagi berbicara tentang kepastian mutlak,
tetapi tentang derajat kemungkinan yang dapat dijelaskan secara statistik.
4.3.
Kritik terhadap
Reduksionisme dan Determinisme Linear
Salah satu konsekuensi epistemologis dari determinisme
ilmiah klasik adalah reduksionisme, yaitu keyakinan bahwa seluruh
fenomena kompleks dapat dijelaskan dengan hukum-hukum sederhana yang mengatur
bagian-bagiannya.¹¹ Reduksionisme ini efektif dalam menjelaskan fenomena fisik,
tetapi sering gagal dalam memahami sistem yang bersifat biologis, psikologis,
atau sosial yang memiliki dinamika emergen dan non-linear.¹²
Filsuf sains seperti Karl Popper dan Thomas
Kuhn mengkritik determinisme linear karena mengabaikan dimensi historis dan
kontekstual dalam perkembangan ilmu. Popper menekankan bahwa ilmu pengetahuan
bersifat terbuka dan selalu bersandar pada hipotesis yang dapat disalahkan (falsifiable),
bukan pada kepastian mutlak.¹³ Sementara Kuhn menunjukkan bahwa ilmu berkembang
melalui pergeseran paradigma, bukan akumulasi linear dari fakta-fakta.¹⁴
Dengan demikian, epistemologi determinisme harus diimbangi dengan kesadaran
akan keterbatasan metodologis dan dinamika historis dari
pengetahuan ilmiah.
4.4.
Hubungan antara Hukum
Ilmiah dan Penjelasan Kausal
Dalam determinisme ilmiah, penjelasan ilmiah
(scientific explanation) dianggap valid bila dapat menunjukkan hubungan
kausal antara fenomena.¹⁵ Model klasik dari Carl Hempel dan Paul Oppenheim
— yang dikenal sebagai model deductive-nomological — menegaskan bahwa
fenomena ilmiah dapat dijelaskan bila ia merupakan konsekuensi logis dari hukum
umum dan kondisi awal tertentu.¹⁶ Dengan demikian, prediksi ilmiah adalah
bentuk pengetahuan yang paling tinggi karena mencerminkan keteraturan alam itu
sendiri.
Namun, perkembangan teori kompleksitas dan sistem
terbuka menunjukkan bahwa penjelasan ilmiah tidak selalu bersifat deduktif.¹⁷
Banyak fenomena alam bersifat emergen, di mana keseluruhan sistem menampilkan
sifat yang tidak dapat direduksi ke dalam bagian-bagiannya. Hal ini menegaskan
bahwa metode ilmiah deterministik harus dikembangkan ke arah pendekatan
sistemik dan holistik, yang tetap mengakui kausalitas namun memahami bahwa
hubungan sebab-akibat bisa bersifat non-linear dan multi-dimensi.
Epistemologi
Keterbukaan dan Ketidakpastian
Dalam filsafat sains kontemporer, muncul gagasan bahwa
pengetahuan ilmiah bersifat terbuka, revisibel, dan kontingen.¹⁸ Hal ini
menunjukkan bahwa determinisme ilmiah tidak meniadakan kemungkinan perubahan,
melainkan menyediakan kerangka untuk memahami perubahan itu secara rasional. Ilya
Prigogine, melalui teori dissipative structures, menegaskan bahwa
keteraturan dapat lahir dari ketidakstabilan dan ketidakteraturan.¹⁹ Dengan
demikian, ilmu pengetahuan tidak sekadar menggambarkan dunia yang tertutup dan
mekanistik, melainkan dunia yang hidup, dinamis, dan senantiasa terbuka
terhadap interpretasi baru.
Secara keseluruhan, epistemologi determinisme ilmiah
menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah bersandar pada prinsip kausalitas, rasionalitas,
dan prediktabilitas. Namun, perkembangan sains modern memperluas pemahaman ini
dengan menekankan bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas dan
probabilistik, sehingga determinisme harus dipahami bukan sebagai dogma
kepastian, melainkan sebagai kerangka kerja untuk mengungkap keteraturan dalam
batas-batas ketidakpastian.
Footnotes
[1]
Karl Popper, The Logic of
Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 23–25.
[2]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 9–10.
[3]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any
Future Metaphysics, trans. Paul Carus (Chicago: Open Court, 1902), 47–48.
[4]
René Descartes, Discourse on
Method, trans. Donald Cress (Indianapolis: Hackett, 1998), 25–27.
[5]
Francis Bacon, Novum Organum
(London: Routledge, 1902), 42–43.
[6]
Galileo Galilei, Dialogue
Concerning the Two Chief World Systems (Berkeley: University of California
Press, 1953), 14–15.
[7]
Isaac Newton, Philosophiae
Naturalis Principia Mathematica (London: Royal Society, 1687), 2–3.
[8]
Pierre-Simon Laplace, A
Philosophical Essay on Probabilities, trans. Frederick W. Truscott and
Frederick L. Emory (New York: Dover Publications, 1951), 4–5.
[9]
Werner Heisenberg, Physics and
Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row,
1958), 31–34.
[10]
Niels Bohr, Atomic Physics and
Human Knowledge (New York: Wiley, 1958), 17–18.
[11]
Mario Bunge, Causality and Modern
Science, 4th ed. (New York: Dover Publications, 2009), 67–68.
[12]
Ilya Prigogine and Isabelle
Stengers, Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature (New York:
Bantam Books, 1984), 95–97.
[13]
Karl Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963),
56–58.
[14]
Thomas S. Kuhn, The Structure of
Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press,
1970), 52–54.
[15]
Carl G. Hempel, Aspects of
Scientific Explanation (New York: Free Press, 1965), 246–247.
[16]
Paul Oppenheim and Hilary Putnam,
“Unity of Science as a Working Hypothesis,” in Minnesota Studies in the
Philosophy of Science, vol. 2, ed. Herbert Feigl et al. (Minneapolis:
University of Minnesota Press, 1958), 3–36.
[17]
Ervin Laszlo, Introduction to
Systems Philosophy (New York: Gordon and Breach, 1972), 41–43.
[18]
Stephen Hawking, The Grand Design
(New York: Bantam Books, 2010), 79–80.
[19]
Ilya Prigogine, From Being to
Becoming: Time and Complexity in the Physical Sciences (San Francisco: W.H.
Freeman, 1980), 25–27.
5.
Etika
dan Implikasi Moral
Dalam konteks filsafat sains, determinisme ilmiah
tidak hanya menjadi perdebatan ontologis dan epistemologis, tetapi juga
memiliki dampak etis dan moral yang signifikan terhadap pemahaman
manusia tentang kebebasan, tanggung jawab, dan makna tindakan.¹ Jika segala
tindakan manusia dapat dijelaskan sebagai akibat dari hukum alam atau proses
biologis yang deterministik, maka muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia
masih dapat dianggap bebas dan bertanggung jawab atas tindakannya?
5.1.
Dilema antara
Kebebasan dan Kepastian Kausal
Paradigma determinisme ilmiah menyatakan bahwa setiap
peristiwa, termasuk keputusan moral, merupakan hasil dari sebab-sebab
sebelumnya yang bekerja sesuai hukum alam.² Dalam kerangka ini, kehendak
manusia tidak muncul dari kebebasan radikal, tetapi merupakan konsekuensi dari
kondisi genetik, lingkungan, dan pengalaman yang membentuk kesadarannya.³
Dengan demikian, konsep tanggung jawab moral tampak problematis: jika
tindakan manusia telah ditentukan sebelumnya, apakah pantas ia dipuji atau
disalahkan atas tindakannya?
Dilema ini melahirkan tiga posisi utama dalam filsafat
moral: hard determinism, libertarianism, dan compatibilism.⁴
Kaum hard determinist, seperti Baron d’Holbach, menolak
sepenuhnya keberadaan kehendak bebas, menganggap kebebasan hanya ilusi yang timbul
dari ketidaktahuan manusia terhadap sebab-sebab yang menentukannya.⁵
Sebaliknya, kaum libertarian seperti Jean-Paul Sartre menegaskan
bahwa kebebasan merupakan hakikat eksistensi manusia, dan menolak pandangan
bahwa tindakan dapat direduksi pada hukum kausalitas alam.⁶ Di antara keduanya,
compatibilism (diperjuangkan oleh tokoh seperti David Hume dan Daniel
Dennett) berusaha mendamaikan kebebasan dan determinasi, dengan menyatakan
bahwa kebebasan sejati bukan berarti bebas dari sebab, tetapi bertindak sesuai
dengan kehendak yang berasal dari diri sendiri.⁷
5.2.
Determinisme Ilmiah
dan Tanggung Jawab Moral
Dalam kerangka determinisme ilmiah, moralitas tidak
lagi dipandang sebagai hukum metafisik, tetapi sebagai hasil evolusi
biologis dan sosial yang bertujuan mempertahankan kelangsungan hidup
spesies.⁸ Penjelasan neurobiologis dan psikologis tentang perilaku manusia
semakin menegaskan bahwa keputusan moral adalah hasil dari proses saraf yang
kompleks, bukan hasil pilihan bebas dalam arti absolut.⁹ Misalnya, eksperimen Benjamin
Libet menunjukkan bahwa aktivitas otak yang mendahului tindakan motorik
terjadi sebelum individu menyadari keputusannya untuk bertindak.¹⁰ Temuan ini
menimbulkan implikasi bahwa kesadaran mungkin bukan penyebab tindakan,
melainkan refleksi pasca-faktual dari proses biologis yang sudah terjadi.
Meski demikian, banyak filsuf berpendapat bahwa
tanggung jawab moral masih relevan dalam dunia yang deterministik. Daniel
Dennett menegaskan bahwa kebebasan dapat dipahami sebagai kemampuan manusia
untuk bertindak sesuai dengan alasan, refleksi, dan nilai-nilai yang
diinternalisasi — sebuah kebebasan yang kompatibel dengan hukum alam.¹¹ Dengan
demikian, determinisme ilmiah tidak menghapus moralitas, tetapi mengubah cara
kita memahami tanggung jawab: bukan sebagai kebebasan metafisik, melainkan
sebagai kapasitas rasional dan sosial untuk bertindak secara bermakna dalam
sistem sebab-akibat.
5.3.
Implikasi terhadap
Etika Sosial dan Hukum
Pemahaman deterministik terhadap perilaku manusia
memiliki dampak langsung terhadap etika sosial dan hukum pidana. Jika
tindakan manusia ditentukan oleh faktor biologis dan lingkungan, maka hukuman
seharusnya tidak didasarkan pada pembalasan, tetapi pada rehabilitasi dan
pencegahan.¹² Dalam konteks ini, sistem hukum yang rasional adalah sistem
yang berorientasi pada perubahan perilaku, bukan pembalasan emosional.
Pandangan ini juga mendorong munculnya bioetika
deterministik, yang mempertanyakan batas tanggung jawab individu dalam
konteks neuroteknologi dan rekayasa genetik.¹³ Misalnya, sejauh mana seseorang
dapat dimintai tanggung jawab moral jika perilakunya dipengaruhi oleh struktur
otaknya atau intervensi medis tertentu? Dalam era teknologi canggih seperti neuroenhancement
dan AI predictive systems, persoalan ini menjadi semakin kompleks:
apakah tindakan manusia yang dimediasi oleh algoritma masih dapat disebut
sebagai tindakan bebas?
Determinisme,
Nilai, dan Makna Hidup
Selain persoalan hukum dan moral, determinisme ilmiah
juga menimbulkan refleksi eksistensial: jika alam semesta tunduk pada hukum
yang niscaya, apakah masih ada ruang bagi makna, kebebasan, atau nilai-nilai
moral?¹⁴ Bagi kaum eksistensialis seperti Sartre dan Camus,
jawaban atas determinisme bukanlah penolakan terhadap sains, melainkan afirmasi
atas tanggung jawab manusia untuk menciptakan makna dalam dunia yang tampak
tanpa tujuan.¹⁵ Dalam konteks ini, determinisme tidak perlu dimaknai sebagai
penjara kebebasan, melainkan sebagai keteraturan kosmik yang justru
memungkinkan tindakan manusia memiliki konsekuensi nyata.
Dengan demikian, etika dalam determinisme ilmiah
bukanlah etika yang meniadakan tanggung jawab, tetapi etika yang menafsirkan
ulang kebebasan dalam kerangka rasionalitas, hukum alam, dan kesadaran akan
keterbatasan manusia.¹⁶
Footnotes
[1]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 15–16.
[2]
Pierre-Simon Laplace, A
Philosophical Essay on Probabilities, trans. Frederick W. Truscott and
Frederick L. Emory (New York: Dover Publications, 1951), 4–5.
[3]
Mario Bunge, Causality and Modern
Science, 4th ed. (New York: Dover Publications, 2009), 67–68.
[4]
Paul Edwards, ed., The
Encyclopedia of Philosophy, vol. 2 (New York: Macmillan, 1967), 105–107.
[5]
Paul-Henri Thiry d’Holbach, The System
of Nature, trans. H.D. Robinson (London: Thomas Davison, 1821), 58–60.
[6]
Jean-Paul Sartre, Being and
Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library,
1956), 441–443.
[7]
David Hume, An Enquiry Concerning
Human Understanding (Oxford: Clarendon Press, 1748), 93–95; Daniel Dennett,
Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 24–26.
[8]
Edward O. Wilson, Sociobiology:
The New Synthesis (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1975), 562–563.
[9]
Patricia Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 3–5.
[10]
Benjamin Libet et al., “Time of
Conscious Intention to Act in Relation to Onset of Cerebral Activity,” Brain
106, no. 3 (1983): 623–642.
[11]
Daniel Dennett, Elbow Room: The
Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge, MA: MIT Press, 1984),
50–52.
[12]
Derk Pereboom, Living Without
Free Will (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 112–115.
[13]
Julian Savulescu and Nick Bostrom,
eds., Human Enhancement (Oxford: Oxford University Press, 2009), 14–16.
[14]
Albert Camus, The Myth of
Sisyphus, trans. Justin O’Brien (New York: Vintage International, 1991),
28–30.
[15]
Jean-Paul Sartre, Existentialism
Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press,
2007), 45–47.
[16]
John Polkinghorne, Science and
Providence: God’s Interaction with the World (Philadelphia: Templeton
Foundation Press, 2005), 76–78.
6.
Kritik
terhadap Determinisme Ilmiah
Sejak kemunculannya dalam paradigma mekanistik abad
ke-17, determinisme ilmiah telah menjadi fondasi bagi keyakinan modern
tentang keteraturan alam dan kemampuan akal manusia untuk memahami dunia secara
rasional. Namun, dalam perkembangannya, pandangan ini tidak luput dari berbagai
kritik filosofis, ilmiah, dan teologis. Kritik-kritik tersebut menyoroti
keterbatasan determinisme dalam menjelaskan kompleksitas realitas, kesadaran,
serta kebebasan manusia yang tidak dapat direduksi sepenuhnya ke dalam hubungan
sebab-akibat mekanis.
6.1.
Kritik Filsafat Ilmu:
Ketidaklengkapan Penjelasan Deterministik
Kritik pertama datang dari ranah filsafat ilmu yang
menyoroti klaim epistemologis determinisme. Para filsuf seperti Karl
Popper menolak pandangan bahwa hukum-hukum alam mampu menjelaskan seluruh
realitas secara lengkap dan pasti.¹ Menurut Popper, determinisme bersifat
dogmatis karena mengabaikan sifat terbuka dari pengetahuan ilmiah: teori ilmiah
bukan sistem kebenaran final, melainkan hipotesis yang selalu dapat disalahkan
(falsified) oleh bukti baru.²
Selain itu, Thomas Kuhn menunjukkan bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan tidak berlangsung secara linear dan
deterministik, melainkan melalui paradigm shifts — revolusi konseptual
yang mengubah kerangka berpikir ilmuwan.³ Dalam konteks ini, determinisme
ilmiah gagal menjelaskan dinamika historis dan sosiologis dari praktik ilmiah
itu sendiri. Demikian pula, Paul Feyerabend mengkritik determinisme
metodologis dengan menyatakan bahwa tidak ada “metode ilmiah universal” yang
pasti, karena sains berkembang secara plural, kreatif, dan sering kali anarkis.⁴
6.2.
Kritik dari Ilmu Alam
Modern: Ketidakpastian dan Kompleksitas
Dalam ranah sains sendiri, kritik terhadap
determinisme muncul dari penemuan-penemuan yang menegaskan adanya unsur
ketidakpastian, probabilitas, dan non-linearitas dalam alam semesta.
Pertama, mekanika kuantum menolak pandangan
bahwa semua fenomena fisik dapat diprediksi secara pasti. Prinsip
ketidakpastian (uncertainty principle) yang dikemukakan oleh Werner
Heisenberg menyatakan bahwa tidak mungkin menentukan posisi dan momentum
suatu partikel secara bersamaan dengan presisi mutlak.⁵ Hal ini menunjukkan
bahwa realitas pada tingkat mikroskopis bersifat probabilistik, bukan
deterministik. Niels Bohr, melalui interpretasi Kopenhagen, menegaskan
bahwa hasil pengamatan tidak hanya bergantung pada sistem yang diamati, tetapi
juga pada cara pengamat melakukan pengukuran.⁶ Dengan demikian, pengetahuan
ilmiah bukanlah refleksi pasif atas realitas, melainkan interaksi aktif antara
subjek dan objek.
Kedua, teori chaos dan kompleksitas menunjukkan
bahwa bahkan sistem yang tunduk pada hukum deterministik dapat menampilkan
perilaku yang tidak dapat diprediksi secara praktis karena sensitivitas ekstrem
terhadap kondisi awal.⁷ Dalam sistem semacam ini, perubahan kecil dapat
menghasilkan konsekuensi yang sangat besar (butterfly effect), sehingga
kepastian prediktif menjadi mustahil. Ilya Prigogine menyebut keadaan
ini sebagai “ketertiban yang lahir dari kekacauan” (order out of chaos),
di mana keteraturan bersifat dinamis, bukan statis.⁸ Dengan demikian, alam
semesta tidak sepenuhnya deterministik, tetapi terbuka terhadap kemungkinan
emergensi dan kreativitas.
6.3.
Kritik dari Filsafat
Kesadaran dan Eksistensialisme
Kritik selanjutnya datang dari filsafat
eksistensial dan fenomenologi, yang menolak reduksi manusia menjadi sekadar
objek hukum alam. Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa kebebasan adalah
hakikat eksistensi manusia; manusia tidak ditentukan oleh hukum sebab-akibat
eksternal, melainkan oleh proyek eksistensialnya sendiri.⁹ Dalam pandangan Sartre,
menganggap manusia sebagai produk determinasi biologis atau sosial berarti
meniadakan tanggung jawab moral dan kebebasan kreatif yang menjadi inti
kemanusiaan.¹⁰
Demikian pula, Maurice Merleau-Ponty mengkritik
pandangan sains positivistik karena mengabaikan dimensi pengalaman subjektif.¹¹
Bagi Merleau-Ponty, kesadaran tidak dapat dijelaskan secara mekanistik, sebab
ia adalah fenomena yang hidup dalam relasi timbal balik antara tubuh, dunia,
dan makna. Dengan demikian, determinisme ilmiah terlalu sempit untuk menangkap
totalitas pengalaman manusia yang bersifat reflektif dan intensional.
Kritik eksistensialis ini bukan sekadar penolakan
terhadap sains, melainkan pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang melampaui
hukum alam melalui kebebasan makna dan tindakan.¹²
6.4.
Kritik Teologis dan
Metafisik
Dari perspektif teologis, determinisme ilmiah dianggap
mengancam kebebasan ilahi dan tanggung jawab moral manusia. Dalam
teologi klasik, Tuhan dipahami sebagai penyebab pertama yang menciptakan
hukum-hukum alam, tetapi tetap memberi ruang bagi kebebasan ciptaan.¹³ Thomas
Aquinas, misalnya, membedakan antara causa prima (penyebab utama)
dan causa secunda (penyebab sekunder), sehingga tindakan manusia
meskipun tunduk pada hukum alam, tetap memiliki otonomi moral dalam tatanan
kehendak.¹⁴
Dalam pandangan teologis kontemporer, John
Polkinghorne menegaskan bahwa alam semesta yang terbuka terhadap
ketidakpastian dan kebaruan justru menunjukkan kebijaksanaan ilahi, bukan
ketiadaan Tuhan.¹⁵ Ia menolak determinisme mekanistik karena mengabaikan ruang
bagi kebebasan dan kreativitas yang melekat dalam ciptaan. Dengan demikian,
teologi modern menafsirkan ulang keteraturan ilmiah bukan sebagai ancaman bagi
iman, tetapi sebagai bentuk keterlibatan rasional Tuhan dalam dunia yang dinamis.¹⁶
6.5.
Kritik Humanistik dan
Etis
Dari sisi etika, determinisme ilmiah dikritik karena
berpotensi mereduksi manusia menjadi objek tanpa nilai moral.¹⁷ Jika
semua tindakan manusia hanyalah hasil rangkaian sebab biologis dan fisik, maka
tanggung jawab, keadilan, dan makna kehilangan fondasinya. Dalam konteks
sosial, determinisme semacam ini dapat melahirkan fatalisme moral atau
justifikasi terhadap ketimpangan sosial atas dasar “keharusan alam.”¹⁸
Filsuf kontemporer seperti Martha Nussbaum dan Amartya
Sen mengingatkan bahwa manusia tidak dapat dipahami hanya melalui hukum
alam, tetapi harus dilihat sebagai makhluk yang memiliki kapasitas rasional,
emosi, dan martabat.¹⁹ Kritik ini menegaskan bahwa penjelasan ilmiah yang
deterministik harus diimbangi dengan etika humanistik, agar sains tetap
berada dalam kerangka kemanusiaan dan keadilan.
Sintesis
Kritis: Dari Determinisme Tertutup Menuju Determinisme Terbuka
Berbagai kritik di atas menunjukkan bahwa determinisme
ilmiah, dalam bentuk klasiknya, tidak lagi memadai untuk menjelaskan realitas
yang kompleks. Paradigma baru yang muncul adalah determinisme terbuka (open
determinism), yakni pandangan bahwa hukum alam tetap berlaku, tetapi
bersifat fleksibel dan terbuka terhadap kontingensi serta kreativitas.²⁰ Dalam
kerangka ini, alam semesta dipahami bukan sebagai mesin tertutup, melainkan
sebagai sistem dinamis yang memiliki kapasitas evolutif dan emergent.
Dengan demikian, kritik terhadap determinisme ilmiah
tidak meniadakan nilai sains, melainkan memperluas horizon pemahamannya. Sains
tetap menjadi sarana rasional untuk memahami dunia, tetapi kesadaran akan
keterbatasannya membuka ruang bagi kebebasan, moralitas, dan makna manusia
dalam kosmos yang terus berkembang.
Footnotes
[1]
Karl Popper, The Open Universe:
An Argument for Indeterminism (London: Routledge, 1982), 12–14.
[2]
Karl Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963),
45–47.
[3]
Thomas S. Kuhn, The Structure of
Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press,
1970), 67–69.
[4]
Paul Feyerabend, Against Method
(London: Verso, 1975), 14–17.
[5]
Werner Heisenberg, Physics and
Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row,
1958), 28–31.
[6]
Niels Bohr, Atomic Physics and Human
Knowledge (New York: Wiley, 1958), 22–24.
[7]
James Gleick, Chaos: Making a New
Science (New York: Viking, 1987), 45–48.
[8]
Ilya Prigogine and Isabelle
Stengers, Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature (New York:
Bantam Books, 1984), 97–99.
[9]
Jean-Paul Sartre, Being and
Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library,
1956), 441–443.
[10]
Jean-Paul Sartre, Existentialism
Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press,
2007), 37–39.
[11]
Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology
of Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 1962), 51–53.
[12]
Gabriel Marcel, The Mystery of
Being (Chicago: Henry Regnery, 1951), 24–26.
[13]
Alvin Plantinga, God and Other
Minds (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1967), 114–116.
[14]
Thomas Aquinas, Summa Theologica,
I-II, q.13, a.6.
[15]
John Polkinghorne, Science and
Providence: God’s Interaction with the World (Philadelphia: Templeton
Foundation Press, 2005), 76–78.
[16]
John F. Haught, Science and
Faith: A New Introduction (New York: Paulist Press, 2012), 92–94.
[17]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 21–23.
[18]
Peter Strawson, “Freedom and
Resentment,” Proceedings of the British Academy 48 (1962): 1–25.
[19]
Martha C. Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2011), 33–35; Amartya Sen, Development as Freedom (New
York: Knopf, 1999), 18–19.
[20]
Ervin Laszlo, Introduction to
Systems Philosophy (New York: Gordon and Breach, 1972), 67–69.
7.
Relevansi
dan Aplikasi Kontemporer
Meskipun akar-akar intelektualnya berasal dari
filsafat dan sains klasik, determinisme ilmiah tetap memiliki relevansi
yang besar dalam konteks peradaban modern yang ditandai oleh kemajuan
teknologi, biologi molekuler, dan kecerdasan buatan. Prinsip-prinsip
deterministik kini bukan hanya menjadi kerangka metafisik, tetapi juga model
kerja praktis dalam ilmu pengetahuan dan sistem sosial. Namun, penerapannya
menimbulkan berbagai perdebatan etis dan filosofis baru, terutama terkait batas
antara kepastian ilmiah dan kebebasan manusia.
7.1.
Determinisme dalam Era
Kecerdasan Buatan dan Algoritma Prediktif
Dalam dunia digital, determinisme memperoleh bentuk
baru melalui algoritma dan kecerdasan buatan (AI).¹ Sistem algoritmik
bekerja berdasarkan prinsip deterministik: setiap keluaran merupakan hasil
logis dari input dan aturan yang ditetapkan.² Dalam konteks ini, perilaku
manusia, preferensi sosial, bahkan keputusan ekonomi dapat diprediksi
berdasarkan pola data masa lalu.³
Fenomena ini melahirkan apa yang oleh Shoshana
Zuboff disebut sebagai instrumentarian power, yaitu bentuk kendali
sosial berbasis data yang menggantikan kebebasan dengan prediksi perilaku.⁴
Dalam masyarakat digital, manusia cenderung diperlakukan sebagai entitas yang
dapat dimodelkan secara matematis, yang perilakunya dapat “ditentukan” melalui
analisis algoritmik. Konsekuensinya, muncul kembali problem klasik: sejauh mana
manusia masih memiliki kebebasan dalam sistem yang sepenuhnya dikendalikan oleh
logika sebab-akibat komputasional?⁵
Namun, dalam konteks lain, determinisme algoritmik
juga memberikan manfaat besar. Dalam bidang medis, misalnya, model prediktif
memungkinkan deteksi dini penyakit melalui analisis genetik dan biometrik.⁶
Dalam sains dan ekonomi, pendekatan deterministik mempercepat kemampuan manusia
memahami keteraturan kompleks dan membuat keputusan berbasis data. Relevansi
kontemporer determinisme ilmiah di sini terletak pada upayanya mengubah
ketidakpastian menjadi pengetahuan terukur, sekaligus menantang kita untuk
mengatur batas etis dan filosofis teknologi prediktif tersebut.
7.2.
Determinisme dalam
Biologi, Genetika, dan Neurosains
Kemajuan dalam bioteknologi dan neurosains
telah memperbarui wacana tentang determinisme biologis, yaitu pandangan bahwa
perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik dan proses saraf.⁷
Temuan dalam genome mapping dan brain imaging mengungkap bahwa
banyak aspek kognisi, emosi, bahkan moralitas memiliki dasar biologis yang
dapat diidentifikasi.⁸
Namun, reduksi moralitas dan perilaku manusia ke dalam
struktur genetik menimbulkan pertanyaan etis: apakah manusia masih memiliki
tanggung jawab jika tindakannya dapat dijelaskan secara neurofisiologis?⁹ Dalam
konteks ini, determinisme ilmiah menuntut reinterpretasi: bukan untuk
meniadakan kebebasan, melainkan untuk memahami kebebasan dalam keterbatasan
biologisnya.
Filsuf seperti Patricia Churchland berargumen
bahwa moralitas dapat dipahami sebagai hasil evolusi biologis yang mendukung
kelangsungan sosial spesies manusia.¹⁰ Namun, pendekatan ini dikritik karena
mengabaikan dimensi normatif dari etika yang melampaui deskripsi biologis.¹¹
Dengan demikian, relevansi determinisme ilmiah dalam biologi modern menyoroti dilema
antara penjelasan naturalistik dan pemaknaan etis terhadap
manusia sebagai makhluk moral.
7.3.
Determinisme dan
Ekologi Global
Dalam konteks lingkungan hidup, determinisme ilmiah
juga memainkan peran penting dalam model ekosistem dan perubahan iklim
global. Sains ekologi modern berupaya menjelaskan interaksi antara unsur
alam secara kausal dan sistematis, dengan tujuan meramalkan dampak aktivitas
manusia terhadap planet.¹² Misalnya, model iklim global (GCM) didasarkan pada
hukum-hukum fisika deterministik yang menggambarkan pergerakan atmosfer dan
lautan.¹³
Namun, seperti dalam fisika kuantum dan teori chaos,
model ekologi menunjukkan bahwa sistem alam bersifat deterministik namun
tidak sepenuhnya dapat diprediksi.¹⁴ Kompleksitas hubungan antara faktor
biologis, kimia, dan sosial menciptakan dinamika non-linear yang sering kali
menghasilkan hasil tak terduga.¹⁵ Hal ini menunjukkan bahwa determinisme ilmiah
dalam ekologi harus bersifat fleksibel dan probabilistik, bukan
dogmatis, agar tetap relevan dengan realitas yang dinamis.
Dari sisi etika lingkungan, determinisme juga
memunculkan kesadaran baru bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya memisahkan diri
dari hukum alam. Dalam ekologi deterministik, manusia dipahami sebagai bagian
integral dari sistem kausal yang sama, sehingga tindakan manusia terhadap alam
membawa konsekuensi moral dan ekologis yang dapat diprediksi.¹⁶
7.4.
Determinisme,
Teknologi, dan Tanggung Jawab Sosial
Perkembangan teknologi modern—dari bioteknologi,
robotika, hingga kecerdasan buatan—telah memperluas penerapan prinsip
deterministik ke dalam ruang sosial dan politik. Namun, hal ini juga
menimbulkan risiko “determinisme teknologi”, yakni keyakinan bahwa
perkembangan teknologi mengikuti jalur yang tak terhindarkan dan manusia hanya
menjadi penumpang di dalamnya.¹⁷
Pemikiran ini dikritik oleh Andrew Feenberg,
yang menegaskan bahwa teknologi tidak pernah netral; ia dibentuk oleh
nilai-nilai sosial dan politik yang mengarahkan penggunaannya.¹⁸ Oleh karena
itu, determinisme ilmiah dalam teknologi harus diimbangi dengan kesadaran
reflektif dan tanggung jawab moral, agar ilmu pengetahuan tidak menjadi
instrumen dehumanisasi.
Dalam era digital dan bioteknologi, relevansi
determinisme ilmiah terletak pada kemampuannya menawarkan kerangka rasional
untuk memahami keteraturan sistem kompleks, tetapi sekaligus menuntut
kebijaksanaan etis untuk mencegah penyalahgunaan prinsip kausalitas dalam
mengendalikan kehidupan manusia.¹⁹
Relevansi
Filosofis: Menuju Determinisme Terbuka
Konteks kontemporer menuntut reinterpretasi
determinisme sebagai kerangka terbuka, di mana keteraturan ilmiah tidak
menghapus kontingensi dan kebebasan, tetapi memfasilitasinya.²⁰ Dalam dunia
yang diatur oleh algoritma, genetika, dan sistem kompleks, filsafat
determinisme mengajarkan pentingnya keseimbangan antara penjelasan kausal
dan tanggung jawab eksistensial.
Dengan demikian, determinisme ilmiah tidak lagi
dilihat sebagai paradigma tertutup, melainkan sebagai struktur intelektual
yang adaptif — yang menegaskan bahwa hukum alam tidak meniadakan kebebasan,
tetapi memberikan batas rasional bagi tindakan manusia.²¹ Dalam era modern yang
ditandai oleh ketidakpastian global dan kemajuan teknologi, determinisme ilmiah
menjadi sarana refleksi kritis terhadap hubungan antara pengetahuan, kekuasaan,
dan moralitas dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan terprediksi.
Footnotes
[1]
Luciano Floridi, The Fourth
Revolution: How the Infosphere Is Reshaping Human Reality (Oxford: Oxford
University Press, 2014), 23–25.
[2]
Nick Bostrom, Superintelligence:
Paths, Dangers, Strategies (Oxford: Oxford University Press, 2014), 43–44.
[3]
Cathy O’Neil, Weapons of Math
Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy (New
York: Crown, 2016), 12–14.
[4]
Shoshana Zuboff, The Age of
Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 44–46.
[5]
Luciano Floridi, Ethics of
Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 67–68.
[6]
Eric Topol, Deep Medicine: How Artificial
Intelligence Can Make Healthcare Human Again (New York: Basic Books, 2019),
54–56.
[7]
Edward O. Wilson, Consilience:
The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 127–129.
[8]
Steven Pinker, How the Mind Works
(New York: W.W. Norton, 1997), 73–75.
[9]
Benjamin Libet et al., “Time of
Conscious Intention to Act in Relation to Onset of Cerebral Activity,” Brain
106, no. 3 (1983): 623–642.
[10]
Patricia Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 12–14.
[11]
Thomas Nagel, Mind and Cosmos:
Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly
False (Oxford: Oxford University Press, 2012), 84–85.
[12]
James Lovelock, Gaia: A New Look
at Life on Earth (Oxford: Oxford University Press, 2000), 41–43.
[13]
Paul R. Epstein and Evan Mills,
eds., Climate Change Futures: Health, Ecological and Economic Dimensions
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2005), 22–24.
[14]
Ilya Prigogine, From Being to
Becoming: Time and Complexity in the Physical Sciences (San Francisco: W.H.
Freeman, 1980), 56–57.
[15]
Stuart Kauffman, At Home in the
Universe: The Search for the Laws of Self-Organization and Complexity
(Oxford: Oxford University Press, 1995), 87–89.
[16]
Holmes Rolston III, Environmental
Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple
University Press, 1988), 109–111.
[17]
Jacques Ellul, The Technological
Society, trans. John Wilkinson (New York: Vintage, 1964), 134–136.
[18]
Andrew Feenberg, Transforming
Technology: A Critical Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press,
2002), 45–46.
[19]
Peter-Paul Verbeek, Moralizing
Technology: Understanding and Designing the Morality of Things (Chicago:
University of Chicago Press, 2011), 55–57.
[20]
Ervin Laszlo, Introduction to
Systems Philosophy (New York: Gordon and Breach, 1972), 70–72.
[21]
John Polkinghorne, The Quantum
World (Princeton: Princeton University Press, 1984), 123–125.
8.
Sintesis
Filosofis
Pembahasan mengenai determinisme ilmiah
memperlihatkan ketegangan mendasar antara kepastian hukum alam dan kebebasan
manusia. Di satu sisi, determinisme menegaskan bahwa realitas tunduk pada
hukum-hukum universal yang dapat dijelaskan secara rasional; di sisi lain,
kesadaran, moralitas, dan kreativitas manusia menunjukkan dimensi kebebasan
yang melampaui determinasi fisik. Sintesis filosofis diperlukan untuk memahami
bagaimana dua aspek ini — keteraturan alam dan kebebasan manusia — dapat
dipahami secara koheren tanpa meniadakan salah satunya.
8.1.
Dari Determinisme
Klasik menuju Determinisme Terbuka
Dalam sejarah filsafat, determinisme klasik (seperti
dalam sistem Newton dan Laplace) memandang alam semesta sebagai mekanisme
tertutup, di mana setiap peristiwa dapat diprediksi secara pasti jika
kondisi awal diketahui.¹ Namun, perkembangan teori relativitas, mekanika
kuantum, dan teori chaos mengguncang paradigma ini.² Dunia ternyata bukan
sistem yang statis dan deterministik secara mutlak, melainkan teratur dalam
ketidakpastian.
Filsafat sains modern, sebagaimana ditegaskan oleh Ilya
Prigogine, memandang alam semesta sebagai sistem yang terbuka, di mana
hukum-hukum kausal tetap berlaku, tetapi hasilnya tidak sepenuhnya dapat
ditentukan karena adanya interaksi non-linear dan proses emergen.³ Maka,
determinisme ilmiah harus disintesiskan menjadi determinisme terbuka (open
determinism) — suatu pandangan bahwa realitas memiliki struktur kausal,
tetapi keteraturan itu memungkinkan dinamika, evolusi, dan kebaruan.⁴
Dalam konteks ini, alam tidak lagi dilihat sebagai
mesin mekanistik, melainkan sebagai organisme kosmik yang hidup dan
berkembang.⁵ Sintesis ini menggabungkan kepastian hukum dengan kemungkinan
kebebasan, di mana setiap sistem, termasuk manusia, adalah bagian dari tatanan
kausal yang terbuka terhadap kontingensi dan pilihan.
8.2.
Kebebasan dalam
Keteraturan: Rekonsiliasi antara Ilmu dan Etika
Salah satu aspek paling krusial dari sintesis
filosofis ini adalah rekonsiliasi antara kepastian ilmiah dan kebebasan
moral. Kebebasan tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap
sebab-akibat, tetapi sebagai kemampuan reflektif manusia untuk memahami dan
menavigasi sebab-akibat tersebut.⁶ Seperti ditegaskan oleh Daniel
Dennett, kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan dari hukum alam, tetapi
kebebasan untuk bertindak secara rasional di dalamnya.⁷
Dengan demikian, kebebasan manusia tidak berada di
luar determinasi alam, tetapi justru merupakan bagian dari kemampuan sistem
biologis dan kognitif manusia untuk mengatur diri dalam kerangka
kausalitas yang kompleks. Hal ini sejalan dengan gagasan “kompatibilisme
dinamis”, yaitu bahwa kebebasan dan determinasi tidak saling meniadakan,
melainkan saling melengkapi dalam tataran yang berbeda: determinasi bekerja
pada tingkat fisik, sementara kebebasan bekerja pada tingkat reflektif dan
normatif.⁸
Sintesis ini menggeser orientasi etika dari metafisika
kehendak bebas menuju etika rasional yang menekankan tanggung jawab
sebagai kesadaran atas keterkaitan sebab-akibat dalam tindakan manusia. Dalam
kerangka ini, kebebasan menjadi kemampuan untuk memahami keterbatasan dan
bertindak secara bijak di dalamnya.
8.3.
Pengetahuan,
Keterbatasan, dan Keutuhan Realitas
Sintesis filosofis determinisme ilmiah juga menuntut
pemahaman baru tentang epistemologi ilmiah. Sains modern telah
menunjukkan bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas dan kontekstual; hukum-hukum
ilmiah menjelaskan realitas dalam batas tertentu, tetapi tidak mencakup
totalitas eksistensi.⁹
Sebagaimana ditegaskan oleh Karl Popper, sains
tidak pernah mencapai kepastian, melainkan pengetahuan yang dapat diuji dan
direvisi.¹⁰ Dengan demikian, determinisme ilmiah bukanlah dogma absolut,
melainkan metode epistemologis untuk memahami keteraturan dunia. Werner
Heisenberg bahkan menunjukkan bahwa ketidakpastian bukan kelemahan
pengetahuan, melainkan karakter dasar realitas yang menandakan bahwa dunia
tidak sepenuhnya transparan bagi rasio manusia.¹¹
Maka, dalam tataran sintesis, determinisme ilmiah
harus dilihat sebagai jalan menuju kebijaksanaan epistemik — pengakuan
bahwa hukum alam memberi keteraturan, tetapi bukan totalitas. Sains menyediakan
peta rasional, namun filsafat memberi arah etis dan makna eksistensial dari
peta tersebut.
8.4.
Ontologi Relasional
dan Kesadaran Kosmik
Sintesis filosofis juga menuntun pada reinterpretasi
ontologi determinisme menjadi ontologi relasional. Dalam pandangan ini, realitas
dipahami bukan sebagai kumpulan entitas terisolasi yang tunduk pada hukum
tetap, tetapi sebagai jaringan hubungan dinamis yang saling menentukan.¹²
Setiap peristiwa adalah hasil interaksi yang kompleks antara kondisi awal,
hukum alam, dan konteks relasional.
Ontologi relasional ini sejalan dengan gagasan proses-filosofis
Alfred North Whitehead, yang memandang alam semesta sebagai proses
berkesinambungan, bukan struktur statis.¹³ Setiap entitas aktual merupakan
“peristiwa” (actual occasion) yang terhubung secara kausal dengan
peristiwa lain, namun tetap memiliki unsur kebaruan dan kebebasan dalam
merespons determinasi.¹⁴
Dengan demikian, determinisme ilmiah disintesiskan ke
dalam pandangan kosmologis yang partisipatif, di mana manusia bukan
hanya penonton pasif dari hukum alam, melainkan bagian sadar dari proses kosmik
yang rasional dan kreatif. Manusia, melalui kesadaran dan ilmu, menjadi co-creator
dalam tatanan semesta.
Menuju
Etika Kosmik dan Rasionalitas Terbuka
Akhirnya, sintesis filosofis dari determinisme ilmiah
mengarah pada pembentukan etika kosmik, yaitu kesadaran bahwa tindakan
manusia memiliki implikasi kausal terhadap keseluruhan sistem kehidupan.¹⁵
Kesadaran deterministik bukan berarti fatalisme, tetapi tanggung jawab untuk bertindak
selaras dengan tatanan rasional alam.
Etika kosmik ini menuntut keseimbangan antara pengetahuan
ilmiah dan kebijaksanaan moral, di mana manusia menggunakan ilmu bukan
untuk menguasai alam, tetapi untuk menjaga harmoni kausalitas yang menopang
eksistensi bersama.¹⁶ Dalam kerangka ini, determinisme ilmiah menjadi fondasi
bagi humanisme ilmiah — pandangan yang menggabungkan rasionalitas ilmiah
dengan kesadaran etis universal.
Sebagaimana ditegaskan oleh John Polkinghorne,
keindahan filsafat sains justru terletak pada kemampuannya mengungkap tatanan
rasional alam tanpa meniadakan misteri yang menyelubunginya.¹⁷ Dengan demikian,
determinisme ilmiah mencapai puncaknya bukan sebagai sistem kepastian absolut,
melainkan sebagai jalan menuju pemahaman yang terbuka, rasional, dan etis
terhadap realitas.
Footnotes
[1]
Pierre-Simon Laplace, A
Philosophical Essay on Probabilities, trans. Frederick W. Truscott and
Frederick L. Emory (New York: Dover Publications, 1951), 4–5.
[2]
Albert Einstein, “Quantum Mechanics
and Reality,” Journal of the Franklin Institute 221, no. 3 (1936):
349–382.
[3]
Ilya Prigogine and Isabelle
Stengers, Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature (New York:
Bantam Books, 1984), 93–95.
[4]
Ervin Laszlo, Introduction to
Systems Philosophy (New York: Gordon and Breach, 1972), 70–72.
[5]
Fritjof Capra, The Tao of
Physics: An Exploration of the Parallels Between Modern Physics and Eastern
Mysticism (Boston: Shambhala, 1975), 87–89.
[6]
Mario Bunge, Causality and Modern
Science, 4th ed. (New York: Dover Publications, 2009), 33–34.
[7]
Daniel Dennett, Freedom Evolves
(New York: Viking, 2003), 24–26.
[8]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 214–216.
[9]
Karl Popper, The Logic of
Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 34–36.
[10]
Karl Popper, The Open Universe:
An Argument for Indeterminism (London: Routledge, 1982), 21–22.
[11]
Werner Heisenberg, Physics and
Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row,
1958), 36–38.
[12]
Ludwig von Bertalanffy, General
System Theory: Foundations, Development, Applications (New York: George
Braziller, 1968), 55–56.
[13]
Alfred North Whitehead, Process
and Reality (New York: Free Press, 1978), 88–90.
[14]
John B. Cobb Jr. and David Ray
Griffin, Process Theology: An Introductory Exposition (Philadelphia:
Westminster Press, 1976), 47–48.
[15]
Holmes Rolston III, Environmental
Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple
University Press, 1988), 132–134.
[16]
Jürgen Habermas, The Future of
Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 102–104.
[17]
John Polkinghorne, Science and
Providence: God’s Interaction with the World (Philadelphia: Templeton
Foundation Press, 2005), 82–84.
9.
Kesimpulan
Kajian mengenai determinisme ilmiah
mengungkapkan bahwa pemahaman manusia terhadap alam semesta senantiasa diwarnai
oleh ketegangan antara kepastian hukum alam dan kebebasan
eksistensial manusia. Sejak masa Yunani Kuno hingga filsafat sains
kontemporer, determinisme menjadi paradigma yang berupaya menjelaskan
keteraturan dunia melalui prinsip kausalitas universal.¹ Namun, perkembangan
ilmu pengetahuan modern — khususnya relativitas, mekanika kuantum, dan teori
kompleksitas — menunjukkan bahwa alam tidak sepenuhnya tunduk pada hukum
deterministik yang kaku, melainkan mengandung unsur probabilitas,
non-linearitas, dan keterbukaan terhadap perubahan.²
9.1.
Kesatuan antara Hukum
Alam dan Keterbatasan Pengetahuan
Determinisme ilmiah menegaskan bahwa dunia bersifat
rasional dan dapat dipahami melalui hukum-hukum yang konsisten.³ Namun, hukum
tersebut tidak berarti memberikan kepastian absolut bagi manusia. Werner
Heisenberg menunjukkan bahwa ketidakpastian merupakan bagian inheren dari
realitas fisik, bukan sekadar keterbatasan metode.⁴ Oleh karena itu,
epistemologi deterministik harus diimbangi dengan kesadaran bahwa pengetahuan
manusia bersifat terbuka, revisibel, dan kontekstual.⁵
Sains, dalam pengertian ini, tidak lagi menjadi jalan
menuju kepastian mutlak, melainkan proses reflektif untuk memahami
keteraturan dalam batas ketidaktahuan manusia.⁶ Kesadaran akan keterbatasan ini
justru menjadi sumber etika ilmiah: pengetahuan harus diiringi kerendahan hati
epistemik, karena setiap teori adalah model sementara dari realitas yang lebih luas
dan kompleks.
9.2.
Kebebasan sebagai
Dimensi Rasional dalam Dunia Deterministik
Secara ontologis, determinisme ilmiah tidak meniadakan
kebebasan manusia, melainkan mengundang reinterpretasi terhadap makna kebebasan
itu sendiri.⁷ Dalam pandangan kompatibilisme, kebebasan bukanlah
penolakan terhadap sebab-akibat, melainkan kemampuan reflektif untuk
bertindak sesuai dengan alasan dan kesadaran diri.⁸ Dengan demikian,
kebebasan merupakan ekspresi rasionalitas dalam kerangka hukum alam.
Kesadaran akan keteraturan alam justru memperluas
tanggung jawab moral: manusia bertindak bukan di luar kausalitas, tetapi di dalamnya
secara sadar dan reflektif.⁹ Dengan memahami hukum alam, manusia tidak
kehilangan kebebasan, melainkan memperoleh kemampuan untuk menggunakannya dengan
bijak.¹⁰ Dalam konteks ini, determinisme ilmiah bertransformasi dari dogma
kepastian menjadi kerangka rasional bagi kebebasan yang bertanggung jawab.
9.3.
Sintesis antara Sains,
Etika, dan Filsafat
Dari perspektif filosofis, determinisme ilmiah
menuntut integrasi antara tiga dimensi utama: sains sebagai pengetahuan
kausal, etika sebagai refleksi normatif, dan filsafat sebagai
landasan reflektif yang mengaitkan keduanya.¹¹ Ketiganya tidak dapat
dipisahkan karena pengetahuan ilmiah tanpa etika akan kehilangan arah moral,
sedangkan etika tanpa pengetahuan akan kehilangan dasar rasionalitas.¹²
Sintesis ini melahirkan pandangan bahwa hukum alam
tidak meniadakan nilai, melainkan menjadi struktur yang memungkinkan munculnya tanggung
jawab, makna, dan kebijaksanaan.¹³ Dengan memahami bahwa tindakan manusia
memiliki konsekuensi kausal dalam sistem semesta, filsafat determinisme
mengajarkan bahwa kebebasan sejati adalah kesadaran akan keterikatan —
bukan kebebasan dari hukum, tetapi kebebasan di dalam hukum.¹⁴
9.4.
Relevansi Humanistik
dan Kosmologis
Dalam konteks kontemporer, determinisme ilmiah tetap
memiliki relevansi mendalam bagi peradaban manusia yang diwarnai oleh kemajuan
teknologi dan sains prediktif.¹⁵ Di tengah dunia algoritmik dan kecerdasan
buatan, prinsip deterministik menjadi alat untuk memahami pola dan
mengendalikan kompleksitas, namun juga menimbulkan risiko dehumanisasi
jika dilepaskan dari etika.¹⁶ Oleh karena itu, determinisme modern menuntut pembacaan
humanistik, yang menempatkan manusia bukan sekadar sebagai objek hukum
alam, tetapi sebagai subjek rasional yang berpartisipasi dalam keteraturan
kosmos.¹⁷
Dengan kesadaran ini, determinisme ilmiah dapat
dipahami bukan sebagai batas, melainkan jalan menuju kebijaksanaan kosmik
— kesadaran bahwa seluruh eksistensi saling terkait dalam jaringan sebab-akibat
yang rasional dan bermakna.¹⁸ Manusia tidak lagi sekadar penjelas dunia, tetapi
juga penjaga keseimbangannya.
Penutup:
Menuju Filsafat Determinisme yang Humanistik
Pada akhirnya, filsafat determinisme ilmiah
mengajarkan bahwa kepastian dan kebebasan bukanlah dua kutub yang
berlawanan, melainkan dua wajah dari rasionalitas kosmik. Sains memberikan
dasar kausal bagi pemahaman realitas, sedangkan filsafat dan etika memberikan
arah moral bagi penggunaan pengetahuan tersebut.¹⁹
Dengan menyatukan prinsip hukum alam dan kesadaran
moral, manusia dapat hidup selaras dengan tatanan semesta tanpa kehilangan
otonomi dan tanggung jawabnya.²⁰ Determinisme ilmiah, dalam makna tertinggi,
bukan sekadar teori tentang dunia yang tunduk pada sebab-akibat, tetapi cermin
dari keteraturan akal budi manusia yang mencari harmoni antara pengetahuan,
kebebasan, dan makna.²¹
Footnotes
[1]
Alexandre Koyré, From the Closed
World to the Infinite Universe (Baltimore: Johns Hopkins University Press,
1957), 42–45.
[2]
Ilya Prigogine and Isabelle
Stengers, Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature (New York:
Bantam Books, 1984), 93–95.
[3]
Mario Bunge, Causality and Modern
Science, 4th ed. (New York: Dover Publications, 2009), 11–12.
[4]
Werner Heisenberg, Physics and
Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row,
1958), 29–31.
[5]
Karl Popper, The Logic of
Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 34–36.
[6]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific
Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 67–69.
[7]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 17–18.
[8]
Daniel Dennett, Freedom Evolves
(New York: Viking, 2003), 28–30.
[9]
Immanuel Kant, Groundwork of the
Metaphysics of Morals, trans. H.J. Paton (New York: Harper & Row,
1964), 91–93.
[10]
John Polkinghorne, Science and
Providence: God’s Interaction with the World (Philadelphia: Templeton
Foundation Press, 2005), 77–79.
[11]
Karl Popper, The Open Universe:
An Argument for Indeterminism (London: Routledge, 1982), 20–22.
[12]
Jürgen Habermas, The Future of
Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 102–104.
[13]
Ervin Laszlo, Introduction to
Systems Philosophy (New York: Gordon and Breach, 1972), 67–69.
[14]
Alfred North Whitehead, Process
and Reality (New York: Free Press, 1978), 88–90.
[15]
Luciano Floridi, The Fourth
Revolution: How the Infosphere Is Reshaping Human Reality (Oxford: Oxford
University Press, 2014), 23–25.
[16]
Shoshana Zuboff, The Age of
Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 44–46.
[17]
Martha C. Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2011), 33–35.
[18]
Paul Davies, The Mind of God: The
Scientific Basis for a Rational World (New York: Simon & Schuster,
1992), 59–62.
[19]
Roger Penrose, The Emperor’s New
Mind: Concerning Computers, Minds, and the Laws of Physics (Oxford: Oxford
University Press, 1989), 102–104.
[20]
John F. Haught, Science and
Faith: A New Introduction (New York: Paulist Press, 2012), 92–94.
[21]
Fritjof Capra, The Systems View
of Life: A Unifying Vision (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
321–323.
Daftar Pustaka
Aristotle. (1908). Metaphysics (W. D. Ross,
Trans.). Clarendon Press.
Bacon, F. (1902). Novum organum. Routledge.
Bertalanffy, L. von. (1968). General system theory:
Foundations, development, applications. George Braziller.
Bohr, N. (1958). Atomic physics and human knowledge.
Wiley.
Bostrom, N. (2014). Superintelligence: Paths,
dangers, strategies. Oxford University Press.
Boyle, R. (1688). A disquisition about the final
causes of natural things. Henry Herringman.
Bunge, M. (2009). Causality and modern science
(4th ed.). Dover Publications.
Camus, A. (1991). The myth of Sisyphus (J.
O’Brien, Trans.). Vintage International.
Capra, F. (1975). The Tao of physics: An
exploration of the parallels between modern physics and Eastern mysticism.
Shambhala.
Capra, F. (2014). The systems view of life: A
unifying vision. Cambridge University Press.
Churchland, P. S. (2011). Braintrust: What
neuroscience tells us about morality. Princeton University Press.
Cobb, J. B., Jr., & Griffin, D. R. (1976). Process
theology: An introductory exposition. Westminster Press.
Davies, P. (1992). The mind of God: The scientific
basis for a rational world. Simon & Schuster.
Dennett, D. C. (1984). Elbow room: The varieties of
free will worth wanting. MIT Press.
Dennett, D. C. (2003). Freedom evolves. Viking.
Descartes, R. (1911). Principles of philosophy
(V. Rodger & E. Haldane, Trans.). Cambridge University Press.
Descartes, R. (1998). Discourse on method (D.
Cress, Trans.). Hackett.
d’Holbach, P.-H. T. (1821). The system of nature
(H. D. Robinson, Trans.). Thomas Davison.
Diogenes Laërtius. (1925). Lives of eminent
philosophers (R. D. Hicks, Trans.). Harvard University Press.
Einstein, A. (1936). Quantum mechanics and reality. Journal
of the Franklin Institute, 221(3), 349–382.
Ellul, J. (1964). The technological society (J.
Wilkinson, Trans.). Vintage.
Epstein, P. R., & Mills, E. (Eds.). (2005). Climate
change futures: Health, ecological and economic dimensions. Harvard
University Press.
Feenberg, A. (2002). Transforming technology: A
critical theory revisited. Oxford University Press.
Feyerabend, P. (1975). Against method. Verso.
Floridi, L. (2013). The ethics of information.
Oxford University Press.
Floridi, L. (2014). The fourth revolution: How the
infosphere is reshaping human reality. Oxford University Press.
Galilei, G. (1953). Dialogue concerning the two
chief world systems. University of California Press.
Gleick, J. (1987). Chaos: Making a new science.
Viking.
Habermas, J. (2003). The future of human nature.
Polity Press.
Haught, J. F. (2012). Science and faith: A new
introduction. Paulist Press.
Hawking, S. (2010). The grand design. Bantam
Books.
Heisenberg, W. (1930). The physical principles of
the quantum theory. University of Chicago Press.
Heisenberg, W. (1958). Physics and philosophy: The
revolution in modern science. Harper & Row.
Hempel, C. G. (1965). Aspects of scientific
explanation. Free Press.
Honderich, T. (1988). A theory of determinism: The
mind, neuroscience, and life-hopes. Clarendon Press.
Hume, D. (1748). An enquiry concerning human
understanding. Clarendon Press.
Kant, I. (1902). Prolegomena to any future
metaphysics (P. Carus, Trans.). Open Court.
Kant, I. (1929). Critique of pure reason (N.
Kemp Smith, Trans.). St. Martin’s Press.
Kant, I. (1964). Groundwork of the metaphysics of
morals (H. J. Paton, Trans.). Harper & Row.
Kauffman, S. (1995). At home in the universe: The
search for the laws of self-organization and complexity. Oxford University
Press.
Koyré, A. (1957). From the closed world to the
infinite universe. Johns Hopkins University Press.
Kuhn, T. S. (1970). The structure of scientific
revolutions (2nd ed.). University of Chicago Press.
Laplace, P.-S. (1951). A philosophical essay on
probabilities (F. W. Truscott & F. L. Emory, Trans.). Dover
Publications.
Laszlo, E. (1972). Introduction to systems
philosophy. Gordon and Breach.
Libet, B., Gleason, C. A., Wright, E. W., & Pearl,
D. K. (1983). Time of conscious intention to act in relation to onset of
cerebral activity. Brain, 106(3), 623–642.
Lovelock, J. (2000). Gaia: A new look at life on
Earth. Oxford University Press.
Marcel, G. (1951). The mystery of being. Henry
Regnery.
Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of
perception (C. Smith, Trans.). Routledge.
Nagel, T. (2012). Mind and cosmos: Why the
materialist neo-Darwinian conception of nature is almost certainly false.
Oxford University Press.
Newton, I. (1687). Philosophiae naturalis principia
mathematica. Royal Society.
Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities: The
human development approach. Harvard University Press.
O’Neil, C. (2016). Weapons of math destruction: How
big data increases inequality and threatens democracy. Crown.
Oppenheim, P., & Putnam, H. (1958). Unity of
science as a working hypothesis. In H. Feigl, M. Scriven, & G. Maxwell
(Eds.), Minnesota studies in the philosophy of science (Vol. 2, pp.
3–36). University of Minnesota Press.
Penrose, R. (1989). The emperor’s new mind:
Concerning computers, minds, and the laws of physics. Oxford University
Press.
Pereboom, D. (2001). Living without free will.
Cambridge University Press.
Pink er, S. (1997). How the mind works. W.W.
Norton.
Plantinga, A. (1967). God and other minds.
Cornell University Press.
Polkinghorne, J. (1984). The quantum world.
Princeton University Press.
Polkinghorne, J. (2005). Science and providence:
God’s interaction with the world. Templeton Foundation Press.
Popper, K. (1959). The logic of scientific
discovery. Routledge.
Popper, K. (1963). Conjectures and refutations: The
growth of scientific knowledge. Routledge.
Popper, K. (1982). The open universe: An argument
for indeterminism. Routledge.
Prigogine, I. (1980). From being to becoming: Time
and complexity in the physical sciences. W.H. Freeman.
Prigogine, I., & Stengers, I. (1984). Order out
of chaos: Man’s new dialogue with nature. Bantam Books.
Rolston, H. III. (1988). Environmental ethics:
Duties to and values in the natural world. Temple University Press.
Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness (H.
E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism
(C. Macomber, Trans.). Yale University Press.
Savulescu, J., & Bostrom, N. (Eds.). (2009). Human
enhancement. Oxford University Press.
Sen, A. (1999). Development as freedom. Knopf.
Strawson, P. F. (1962). Freedom and resentment. Proceedings
of the British Academy, 48, 1–25.
Topol, E. (2019). Deep medicine: How artificial
intelligence can make healthcare human again. Basic Books.
Whitehead, A. N. (1978). Process and reality.
Free Press.
Wilson, E. O. (1975). Sociobiology: The new
synthesis. Harvard University Press.
Wilson, E. O. (1998). Consilience: The unity of
knowledge. Knopf.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance
capitalism. PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar