Sabtu, 29 November 2025

Moral Sense: Asal, Struktur, dan Relevansi Etis dari Perasaan Moral dalam Filsafat dan Psikologi Modern

Moral Sense

Asal, Struktur, dan Relevansi Etis dari Perasaan Moral dalam Filsafat dan Psikologi Modern


Alihkan ke: Filsafat Moral.


Abstrak

Artikel ini membahas secara mendalam konsep moral sense (perasaan moral) sebagai salah satu fondasi historis dan filosofis dalam memahami asal-usul, struktur, serta relevansi etika moral manusia. Kajian ini menelusuri perkembangan gagasan moral sense dari para filsuf moral abad ke-17 dan ke-18—seperti Shaftesbury, Hutcheson, Hume, dan Smith—yang memandang moralitas sebagai kapasitas alami manusia untuk merasakan kebaikan dan keburukan secara langsung. Melalui pendekatan historis-filosofis dan analisis interdisipliner, artikel ini menguraikan dimensi ontologis (hakikat moral sense sebagai struktur batiniah manusia), epistemologis (cara manusia mengetahui nilai moral melalui intuisi dan empati), serta aksiologis (nilai-nilai kebajikan yang lahir dari perasaan moral seperti simpati, belas kasih, dan keadilan sosial).

Selain meninjau kritik terhadap moral sense—baik dari tradisi rasionalisme maupun naturalisme biologis—artikel ini juga mengajukan klarifikasi filosofis tentang hubungan antara emosi dan rasionalitas dalam tindakan moral. Dengan menggabungkan temuan modern dalam psikologi moral, neuroetika, dan teori keadilan sosial, kajian ini menunjukkan bahwa moral sense tetap relevan dalam menjawab problem etika kontemporer, mulai dari krisis empati digital hingga tantangan ekologis global.

Sebagai hasil sintesis, artikel ini menawarkan paradigma etika empatik dan rasional—atau reason-guided empathy—yang menempatkan moral sense sebagai struktur etis yang menyatukan afeksi, refleksi, dan tanggung jawab sosial. Paradigma ini menegaskan bahwa moralitas sejati tidak hanya berpikir tentang kebaikan, tetapi juga merasakan dan menghayatinya secara reflektif dalam kehidupan bersama.

Kata Kunci: Moral sense, sentimentalism, rasionalitas moral, empati, etika humanistik, psikologi moral, neuroetika, keadilan sosial, reason-guided empathy, etika kontemporer.


PEMBAHASAN

Moral Sense sebagai Fondasi Bagi Etika Empatik yang Kritis


1.           Pendahuluan

Konsep moral sense atau perasaan moral menempati posisi penting dalam sejarah filsafat moral, terutama pada masa Pencerahan Inggris abad ke-18. Ia muncul sebagai reaksi terhadap dua kutub ekstrem dalam teori etika: di satu sisi, rasionalisme moral yang menekankan akal sebagai sumber utama moralitas; di sisi lain, egoisme hedonistik yang menurunkan moralitas dari dorongan mencari kesenangan pribadi.¹ Teori moral sense berusaha menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan bawaan untuk “merasakan” baik dan buruk secara langsung, mirip dengan cara indra mengenali keindahan atau ketidakharmonisan.² Dengan demikian, moralitas bukan semata hasil kalkulasi rasional atau kontrak sosial, tetapi berakar pada kapasitas emosional dan sosial yang tertanam dalam kodrat manusia.

Gagasan ini pertama kali dikembangkan oleh Anthony Ashley Cooper, Third Earl of Shaftesbury, yang berpendapat bahwa manusia secara alami memiliki rasa moral yang membuatnya menikmati kebajikan dan membenci kejahatan.³ Murid intelektualnya, Francis Hutcheson, memperluas ide ini dengan menegaskan bahwa moral sense merupakan naluri alami yang mendorong individu bertindak untuk kebaikan orang lain, bukan hanya demi kepentingan pribadi.⁴ Pandangan mereka menjadi dasar bagi David Hume, yang kemudian menyatakan bahwa moralitas bersumber dari perasaan (sentiment), bukan dari akal budi.⁵ Dalam konteks ini, moral sense bukan hanya perasaan subjektif, melainkan mekanisme evaluatif universal yang memungkinkan manusia mengidentifikasi tindakan yang layak secara moral.

Perdebatan tentang asal-usul moralitas melalui pendekatan moral sense menandai pergeseran besar dari paradigma rasionalistik menuju sentimentalisme etis. Dalam perspektif modern, teori ini menemukan resonansi baru melalui penelitian psikologi moral dan neuroetika yang menunjukkan bahwa penilaian moral sering kali muncul secara cepat dan intuitif sebelum diolah secara rasional.⁶ Temuan ini memperkuat pandangan bahwa moralitas tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga bersumber dari struktur emosional dan biologis manusia.⁷

Kajian ini bertujuan untuk menelusuri asal, struktur, dan relevansi etis dari moral sense dengan pendekatan interdisipliner—menggabungkan filsafat moral klasik, psikologi moral modern, dan teori etika kontemporer. Dengan menelaah dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari moral sense, artikel ini berusaha memperlihatkan bagaimana perasaan moral dapat menjadi dasar bagi etika yang lebih manusiawi, empatik, dan rasional. Selain itu, analisis ini akan memperhatikan implikasi sosial dan politik dari moral sense dalam konteks kehidupan modern, termasuk tantangan etika digital, ekologi moral, dan pendidikan karakter. Melalui pendekatan demikian, moral sense dipahami bukan sekadar emosi moral, tetapi juga sebagai struktur kesadaran etis yang memediasi antara akal dan afeksi dalam tindakan moral manusia.⁸


Footnotes

[1]                Jerome B. Schneewind, The Invention of Autonomy: A History of Modern Moral Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 231.

[2]                John McDowell, “Values and Secondary Qualities,” Morality and Objectivity: A Tribute to J. L. Mackie, ed. Ted Honderich (London: Routledge, 1985), 110–129.

[3]                Anthony Ashley Cooper, Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times, vol. 1 (London: John Darby, 1711), 199.

[4]                Francis Hutcheson, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (Indianapolis: Liberty Fund, 2004), 121–123.

[5]                David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge, 2nd ed. (Oxford: Clarendon Press, 1978), 470–472.

[6]                Jonathan Haidt, “The Emotional Dog and Its Rational Tail: A Social Intuitionist Approach to Moral Judgment,” Psychological Review 108, no. 4 (2001): 814–834.

[7]                Joshua Greene and Jonathan Haidt, “How (and Where) Does Moral Judgment Work?” Trends in Cognitive Sciences 6, no. 12 (2002): 517–523.

[8]                Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 23–29.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Konsep moral sense berakar dalam konteks intelektual abad ke-17 dan ke-18, khususnya dalam tradisi sentimentalisme Inggris, yang menekankan peran perasaan dalam penilaian moral. Gagasan ini lahir sebagai reaksi terhadap rasionalisme moral, yang berpendapat bahwa akal semata cukup untuk menentukan benar atau salah.¹ Dalam lingkungan pemikiran yang sedang diwarnai oleh empirisisme Locke dan deisme Shaftesbury, muncul kebutuhan untuk menjelaskan moralitas sebagai fenomena alami, bukan dogma teologis ataupun konstruk rasional abstrak.²

2.1.       Asal-usul pada Filsafat Pencerahan Inggris

Tokoh pertama yang secara sistematis mengemukakan gagasan moral sense adalah Anthony Ashley Cooper, Third Earl of Shaftesbury (1671–1713). Dalam Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times (1711), Shaftesbury menegaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan terhadap kebajikan melalui “sense of right and wrong” yang serupa dengan indra estetis.³ Ia menolak pandangan Hobbesian yang memandang manusia semata-mata didorong oleh kepentingan diri, dengan menyatakan bahwa simpati sosial dan harmoni moral adalah bagian dari tatanan alami manusia.⁴ Gagasannya ini menandai pergeseran penting dari moralitas berbasis perintah eksternal menuju moralitas yang berakar pada disposisi internal.

Murid intelektual Shaftesbury, Francis Hutcheson (1694–1746), mengembangkan teori ini secara lebih eksplisit. Dalam karyanya An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (1725), ia menyatakan bahwa moral sense adalah naluri bawaan yang memungkinkan manusia merasakan kebaikan moral tanpa perantaraan rasionalitas diskursif.⁵ Bagi Hutcheson, tindakan moral tidak hanya dinilai berdasarkan akibatnya, melainkan pada “kecenderungan alami untuk kebaikan umum” (benevolence).⁶ Ia bahkan memperkenalkan rumus awal yang menyerupai prinsip utilitarianisme (“the greatest happiness for the greatest number”), tetapi dengan fondasi afektif, bukan kalkulatif.⁷

2.2.       Puncak Sentimentalisme pada Hume dan Smith

David Hume (1711–1776) membawa teori moral sense menuju kedalaman epistemologis baru. Dalam A Treatise of Human Nature (1739–1740), Hume berargumen bahwa akal tidak dapat menjadi sumber tindakan moral karena ia hanya berfungsi sebagai alat untuk mengenali hubungan fakta, bukan nilai.⁸ Moralitas, menurutnya, muncul dari perasaan (moral sentiment) yang menilai tindakan berdasarkan empati dan simpati terhadap kebahagiaan orang lain.⁹ Dengan demikian, Hume menolak klaim rasionalisme moral yang menganggap prinsip moral bersifat apriori, dan menggantikannya dengan pandangan naturalistik bahwa moralitas adalah bagian dari kodrat emosional manusia.¹⁰

Adam Smith (1723–1790), dalam The Theory of Moral Sentiments (1759), memperluas konsepsi Hume dengan menekankan peran impartial spectator — mekanisme imajiner di mana individu menilai tindakannya sendiri melalui perspektif orang lain yang netral.¹¹ Smith menafsirkan moralitas sebagai hasil dari kemampuan imajinatif untuk berempati dan menilai diri secara reflektif.¹² Dengan demikian, moral sense tidak hanya dipahami sebagai perasaan spontan, tetapi juga sebagai struktur evaluatif sosial yang memediasi antara individu dan komunitas moralnya.¹³

2.3.       Reaksi Rasionalisme Moral: Clarke dan Kant

Sebagai tandingan terhadap sentimentalism Inggris, muncul arus rasionalisme moral yang diwakili oleh Samuel Clarke (1675–1729) dan kemudian mencapai puncaknya pada Immanuel Kant (1724–1804). Clarke menegaskan bahwa hubungan moral bersifat objektif dan dapat diketahui oleh akal sebagaimana kebenaran matematis.¹⁴ Kant kemudian mengembangkan pandangan ini melalui konsep imperatif kategoris, yang menolak emosi sebagai dasar moralitas karena bersifat tidak stabil dan partikular.¹⁵ Namun, walaupun Kant menolak sentimentalism, banyak penafsir modern melihat bahwa moral sense dan “perasaan hormat terhadap hukum moral” (Achtung) dalam etika Kant memiliki akar psikologis yang sejenis.¹⁶

2.4.       Pengaruh terhadap Psikologi Moral Modern

Pada abad ke-19 dan ke-20, teori moral sense mengalami transformasi melalui sains dan psikologi evolusioner. Charles Darwin, dalam The Descent of Man (1871), mengaitkan moral sense dengan insting sosial yang dikembangkan untuk mendukung kerja sama dalam spesies manusia.¹⁷ Sementara itu, pemikir pragmatis seperti John Dewey menafsirkan moral sense sebagai hasil perkembangan pengalaman sosial yang dinamis, bukan sebagai naluri statis.¹⁸ Dalam abad ke-20, teori-teori seperti Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg menempatkan empati dan keadilan dalam tahap-tahap perkembangan moral kognitif, sementara Jonathan Haidt memperbarui sentimentalism melalui model social intuitionist, yang menunjukkan bahwa penilaian moral muncul secara intuitif lebih dulu daripada refleksi rasional.¹⁹

Dengan demikian, genealoginya memperlihatkan bahwa moral sense tidak hanya menjadi konsep filosofis historis, tetapi juga fondasi bagi psikologi moral modern. Dari Shaftesbury hingga Haidt, benang merahnya tetap sama: moralitas tidak dapat dipahami hanya melalui rasio murni, melainkan melalui perpaduan antara perasaan, naluri sosial, dan refleksi rasional dalam pengalaman manusia yang konkret.²⁰


Footnotes

[1]                Jerome B. Schneewind, The Invention of Autonomy: A History of Modern Moral Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 145–146.

[2]                Isabel Rivers, Reason, Grace, and Sentiment: A Study of the Language of Religion and Ethics in England, 1660–1780, vol. 2 (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 17–19.

[3]                Anthony Ashley Cooper, Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times, vol. 1 (London: John Darby, 1711), 193.

[4]                Ibid., 202–205.

[5]                Francis Hutcheson, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (Indianapolis: Liberty Fund, 2004), 91–94.

[6]                Ibid., 122.

[7]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 36.

[8]                David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge, 2nd ed. (Oxford: Clarendon Press, 1978), 457–460.

[9]                Ibid., 470–472.

[10]             Annette C. Baier, A Progress of Sentiments: Reflections on Hume’s Treatise (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 89–91.

[11]             Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments, ed. D. D. Raphael and A. L. Macfie (Indianapolis: Liberty Fund, 1982), 112–115.

[12]             Ibid., 129–132.

[13]             Charles L. Griswold Jr., Adam Smith and the Virtues of Enlightenment (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 76–80.

[14]             Samuel Clarke, A Discourse Concerning the Unchangeable Obligations of Natural Religion (London: James Knapton, 1706), 34–36.

[15]             Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 41–43.

[16]             Paul Guyer, Kant on Freedom, Law, and Happiness (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 198–202.

[17]             Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–122.

[18]             John Dewey, Human Nature and Conduct (New York: Henry Holt and Company, 1922), 13–16.

[19]             Jonathan Haidt, “The Emotional Dog and Its Rational Tail: A Social Intuitionist Approach to Moral Judgment,” Psychological Review 108, no. 4 (2001): 814–834.

[20]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 29–31.


3.           Ontologi Moral Sense

Dalam tataran ontologis, konsep moral sense mengandaikan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu kapasitas afektif-kognitif yang memungkinkan penilaian moral terjadi secara langsung dan spontan. Moral sense bukan sekadar emosi atau naluri sosial, tetapi suatu struktur batiniah yang terintegrasi antara perasaan, intuisi, dan kecenderungan menuju kebajikan.¹ Dengan demikian, moralitas bukan hasil kontrak sosial atau keputusan rasional belaka, melainkan dimensi eksistensial yang melekat pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial-moral.²

3.1.       Moral Sense sebagai Kapasitas Batiniah

Ontologi moral sense berakar pada pandangan bahwa moralitas memiliki dasar natural dan internal. Shaftesbury menyebutnya sebagai affection yang tertanam dalam tatanan kosmis dan harmoni jiwa, di mana setiap individu memiliki “organ moral” untuk mengapresiasi kebaikan sebagaimana mata mengapresiasi warna.³ Bagi Hutcheson, kapasitas ini bekerja seperti indra keenam—sebuah disposisi untuk merasakan kesenangan terhadap tindakan yang menumbuhkan kebaikan umum.⁴ Dalam kerangka ini, manusia dipandang bukan hanya sebagai makhluk berpikir (homo sapiens), tetapi juga sebagai makhluk yang merasakan kebaikan (homo moralis).

Pendekatan ontologis semacam ini menolak pandangan Hobbes yang memandang tindakan moral sebagai hasil dari kontrak rasional demi kepentingan diri.⁵ Sebaliknya, moral sense dipahami sebagai sifat dasar manusia yang memiliki orientasi prososial. Dengan kata lain, moralitas memiliki status ontologis alami, bukan artifisial. Ia muncul dari konstitusi batin manusia yang secara inheren terarah pada harmoni dan kebajikan.⁶

3.2.       Relasi antara Perasaan, Naluri, dan Rasio

Ontologi moral sense juga menyoroti hubungan kompleks antara emosi dan rasio dalam tindakan moral. Hume menegaskan bahwa akal hanyalah “pelayan emosi” karena ia tidak dapat menentukan tujuan moral tanpa dorongan perasaan.⁷ Namun, perasaan moral bukan sekadar impuls emosional—ia melibatkan refleksi dan keseimbangan antara simpati dan keadilan. Adam Smith menyebut hal ini sebagai hasil dari kerja impartial spectator, yang menginternalisasi pandangan moral masyarakat dalam hati nurani individu.⁸ Dengan demikian, moral sense berfungsi sebagai jembatan ontologis antara dorongan afektif dan rasionalitas reflektif.

Dalam kerangka modern, teori neuroetika dan psikologi moral memperkuat tesis ini dengan menunjukkan bahwa reaksi moral memiliki basis biologis di sistem limbik otak, terutama pada area yang mengatur empati dan keadilan.⁹ Namun, emosi tersebut tidak berdiri sendiri: ia diatur oleh representasi kognitif tentang norma dan nilai.¹⁰ Artinya, moral sense bersifat neuro-sosial, berakar dalam tubuh biologis tetapi dimediasi oleh kesadaran reflektif dan budaya moral.

3.3.       Moral Sense dan Kodrat Sosial Manusia

Dalam perspektif ontologis yang lebih luas, moral sense berfungsi sebagai fondasi eksistensial dari kodrat sosial manusia. Manusia bukan hanya individu rasional, tetapi makhluk yang keberadaannya saling terkait melalui simpati dan pengakuan timbal balik.¹¹ Darwin menafsirkan hal ini sebagai hasil evolusi insting sosial yang menghasilkan moral sense demi keberlangsungan komunitas.¹² Sementara itu, Dewey melihat moral sense sebagai ekspresi dari potensi manusia untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang bermakna.¹³ Dengan demikian, moral sense menjadi inti ontologis dari being-with-others—keberadaan yang selalu etis karena terkait dengan yang lain.


Kritik terhadap Dualisme Akal dan Emosi

Secara historis, filsafat modern sering membedakan antara akal dan emosi sebagai dua ranah yang terpisah: rasio dianggap objektif, emosi subjektif. Namun, teori moral sense menolak dikotomi ini.¹⁴ Ia menunjukkan bahwa emosi moral tidak irasional, melainkan modus lain dari rasionalitas praktis. Martha Nussbaum menegaskan bahwa perasaan moral seperti belas kasih atau rasa malu merupakan bentuk penilaian evaluatif terhadap dunia dan diri sendiri.¹⁵ Dengan demikian, moral sense menghadirkan ontologi alternatif di mana emosi dan akal berkoordinasi dalam menghasilkan tindakan bermakna.

Dari sisi ontologinya, moral sense bukan entitas metafisis yang berdiri sendiri, melainkan struktur keberadaan manusia yang sadar-emosional. Ia berakar dalam tubuh, beroperasi dalam kesadaran, dan teraktualisasi dalam relasi sosial. Dalam pengertian ini, moral sense merepresentasikan kesatuan ontologis antara afeksi, kognisi, dan aksi, yang menjadikan moralitas sebagai bagian dari cara manusia berada di dunia.¹⁶


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 7–9.

[2]                Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 2007), 51–53.

[3]                Anthony Ashley Cooper, Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times, vol. 1 (London: John Darby, 1711), 205–207.

[4]                Francis Hutcheson, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (Indianapolis: Liberty Fund, 2004), 94–96.

[5]                Thomas Hobbes, Leviathan, ed. Richard Tuck (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 87–89.

[6]                Stephen Darwall, The British Moralists and the Internal “Ought”: 1640–1740 (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 174–177.

[7]                David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge, 2nd ed. (Oxford: Clarendon Press, 1978), 415–417.

[8]                Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments, ed. D. D. Raphael and A. L. Macfie (Indianapolis: Liberty Fund, 1982), 110–113.

[9]                Joshua Greene and Jonathan Haidt, “How (and Where) Does Moral Judgment Work?” Trends in Cognitive Sciences 6, no. 12 (2002): 517–523.

[10]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 44–47.

[11]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 159–163.

[12]             Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–122.

[13]             John Dewey, Human Nature and Conduct (New York: Henry Holt and Company, 1922), 14–17.

[14]             Robert C. Solomon, The Passions: Emotions and the Meaning of Life (Indianapolis: Hackett, 1993), 21–24.

[15]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 23–29.

[16]             Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 102–106.


4.           Epistemologi Moral Sense

Secara epistemologis, konsep moral sense menyoroti cara manusia mengetahui dan menilai kebaikan atau keburukan moral. Ia bukan sekadar hasil dari inferensi rasional, melainkan berasal dari suatu kapasitas intuitif-afektif yang memungkinkan manusia mengenali nilai moral secara langsung.¹ Dengan demikian, moral sense berfungsi sebagai sumber pengetahuan moral yang bersifat prereflektif—yakni mendahului penalaran rasional, namun tidak identik dengan impuls emosional belaka.² Dalam kerangka ini, teori moral sense menawarkan alternatif epistemologis terhadap dua ekstrem: rasionalisme moral yang menurunkan moralitas dari prinsip apriori, dan empirisisme utilitarian yang menurunkannya dari konsekuensi eksternal tindakan.

4.1.       Sumber Pengetahuan Moral: Intuisi dan Empati

Francis Hutcheson menegaskan bahwa moral sense bekerja seperti indra batiniah yang menangkap nilai moral sebagaimana mata menangkap warna.³ Ia bukan hasil deduksi, tetapi persepsi moral yang menimbulkan rasa suka terhadap kebajikan dan rasa benci terhadap kejahatan. Dalam konteks ini, pengetahuan moral muncul melalui kesadaran afektif, di mana empati dan simpati memainkan peran kognitif.⁴ David Hume menguatkan pandangan ini dengan menyatakan bahwa prinsip moral “tidak disimpulkan dari fakta”, tetapi dirasakan melalui perasaan yang muncul saat seseorang menyaksikan penderitaan atau kebahagiaan orang lain.⁵

Dalam perkembangan modern, Adam Smith memperluas konsep ini melalui gagasan tentang impartial spectator — mekanisme reflektif di mana individu memproyeksikan dirinya ke dalam perspektif orang lain untuk menilai tindakan secara adil.⁶ Melalui empati ini, manusia tidak hanya “merasakan” secara pasif, tetapi juga “memahami” nilai moral melalui imajinasi sosial. Dengan demikian, moral sense berfungsi sebagai pengetahuan emosional-reflektif yang berakar pada pengalaman intersubjektif.⁷

4.2.       Perbedaan dengan Akal Praktis dan Intuisionisme

Berbeda dengan rasionalisme moral Kantian, yang mendasarkan pengetahuan moral pada kewajiban apriori melalui imperatif kategoris, teori moral sense menekankan pengalaman empiris batiniah sebagai dasar moralitas.⁸ Kant menolak perasaan sebagai sumber moral karena dianggap tidak stabil dan partikular, namun sentimentalists seperti Hutcheson dan Hume menilai bahwa tanpa emosi, prinsip moral akan kehilangan daya penggeraknya.⁹ Dalam konteks ini, moral sense melahirkan bentuk rasionalitas moral yang berakar pada emosi, bukan rasionalitas murni yang bebas nilai.

Sementara itu, dibandingkan dengan intuisionisme moral G. E. Moore yang menegaskan bahwa kebaikan dapat “diketahui secara langsung” tetapi tidak dapat didefinisikan, teori moral sense menambahkan dimensi afektif pada intuisi tersebut.¹⁰ Artinya, pengenalan terhadap kebaikan tidak hanya berupa kesadaran intelektual, tetapi juga pengalaman emosional yang memberi makna pada pengetahuan moral itu sendiri.¹¹

4.3.       Mekanisme Penilaian Moral

Dalam epistemologi moral sense, penilaian moral muncul dari kombinasi pengalaman emosional, asosiasi sosial, dan refleksi rasional. Hume menyatakan bahwa ketika kita menyaksikan tindakan yang menimbulkan kebahagiaan bagi orang lain, kita mengalami “perasaan senang simpatik,” yang kemudian menjadi dasar penilaian moral positif.¹² Pengetahuan moral, dengan demikian, tidak bersifat proposisional seperti dalam logika, melainkan evaluatif—berupa feeling of approval atau disapproval.¹³

Pandangan ini kemudian mendapatkan dukungan empiris dalam psikologi kognitif modern. Jonathan Haidt melalui model social intuitionist menunjukkan bahwa penilaian moral sering muncul secara cepat dan intuitif, baru kemudian disusul oleh justifikasi rasional.¹⁴ Dalam konteks ini, proses pengetahuan moral bersifat bottom-up: berasal dari intuisi emosional yang kemudian diartikulasikan oleh nalar, bukan sebaliknya.¹⁵


Moral Sense dalam Perspektif Neuroetika dan Kognisi Moral

Perkembangan ilmu saraf memberikan dasar empiris baru bagi epistemologi moral sense. Studi fMRI oleh Joshua Greene menunjukkan bahwa penilaian moral mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan emosi sosial, seperti amigdala dan korteks prefrontal ventromedial.¹⁶ Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan moral bukan sekadar hasil logika abstrak, tetapi merupakan kognisi yang beremosi (emotional cognition). Patricia Churchland menegaskan bahwa empati dan rasa keadilan memiliki substrat biologis dalam oksitosin dan sistem saraf sosial mamalia.¹⁷ Dengan demikian, moral sense dapat dipahami sebagai epistemic faculty yang terletak di antara biologi dan refleksi etis, menjembatani dunia fakta dan nilai.¹⁸

Dalam kerangka ini, epistemologi moral sense menunjukkan bahwa pengetahuan moral bersifat embodied dan relational. Ia terwujud melalui pengalaman afektif terhadap penderitaan dan kebahagiaan orang lain, kemudian diolah melalui refleksi rasional dan sosial.¹⁹ Dengan kata lain, moral sense bukanlah “pengetahuan tentang moral” semata, tetapi cara mengetahui yang moral itu sendiri—yakni bentuk kesadaran yang menyatukan kognisi, afeksi, dan empati sebagai dasar pengalaman etis manusia.²⁰


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 12–14.

[2]                Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 45–47.

[3]                Francis Hutcheson, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (Indianapolis: Liberty Fund, 2004), 96–99.

[4]                Stephen Darwall, The British Moralists and the Internal “Ought”: 1640–1740 (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 181–184.

[5]                David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge, 2nd ed. (Oxford: Clarendon Press, 1978), 470–472.

[6]                Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments, ed. D. D. Raphael and A. L. Macfie (Indianapolis: Liberty Fund, 1982), 112–115.

[7]                Charles L. Griswold Jr., Adam Smith and the Virtues of Enlightenment (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 81–84.

[8]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 41–43.

[9]                Jerome B. Schneewind, The Invention of Autonomy: A History of Modern Moral Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 236–238.

[10]             G. E. Moore, Principia Ethica (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 10–13.

[11]             W. D. Falk, “Obligation and Rightness,” Philosophy 35, no. 133 (1960): 216–218.

[12]             David Hume, An Enquiry Concerning the Principles of Morals, ed. Tom L. Beauchamp (Oxford: Clarendon Press, 1998), 88–90.

[13]             Annette C. Baier, A Progress of Sentiments: Reflections on Hume’s Treatise (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 95–97.

[14]             Jonathan Haidt, “The Emotional Dog and Its Rational Tail: A Social Intuitionist Approach to Moral Judgment,” Psychological Review 108, no. 4 (2001): 814–834.

[15]             Shaun Nichols, Sentimental Rules: On the Natural Foundations of Moral Judgment (Oxford: Oxford University Press, 2004), 52–54.

[16]             Joshua Greene et al., “An fMRI Investigation of Emotional Engagement in Moral Judgment,” Science 293, no. 5537 (2001): 2105–2108.

[17]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 31–34.

[18]             Jesse J. Prinz, The Emotional Construction of Morals (Oxford: Oxford University Press, 2007), 103–107.

[19]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 33–37.

[20]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 175–178.


5.           Aksiologi dan Etika Moral Sense

Dalam ranah aksiologi, teori moral sense menegaskan bahwa sumber nilai moral terletak pada pengalaman emosional dan sosial manusia terhadap kebaikan. Nilai-nilai seperti kebajikan (virtue), simpati (sympathy), dan kebaikan umum (benevolence) tidak ditentukan oleh rasio abstrak, tetapi ditemukan melalui perasaan moral yang mengarahkan manusia untuk mencintai kebajikan dan menolak keburukan.¹ Dengan demikian, moral sense berfungsi sebagai prinsip nilai internal yang menilai tindakan bukan semata berdasarkan hasilnya, melainkan pada kualitas afektif dan niat moral yang menyertainya.²

5.1.       Nilai-Nilai Moral yang Bersumber dari Perasaan Moral

Menurut Francis Hutcheson, nilai moral muncul dari “perasaan menyenangkan” yang kita alami ketika menyaksikan tindakan penuh kebajikan, dan dari “perasaan tidak menyenangkan” ketika melihat tindakan jahat.³ Ia menyebutnya sebagai sense of approbation and disapprobation—yakni kapasitas batin untuk menilai dan merespons nilai moral secara langsung.⁴ Dari sinilah lahir nilai-nilai utama dalam etika moral sense: simpati, belas kasih, kedermawanan, dan kebaikan umum. Moralitas, bagi Hutcheson, bukanlah produk ketakutan terhadap hukuman atau perhitungan untung rugi, tetapi ekspresi alami dari rasa kemanusiaan.⁵

David Hume memperkuat pandangan ini dengan menyatakan bahwa nilai moral adalah “perasaan yang disetujui oleh hati manusia yang tidak memihak.”⁶ Kebaikan tidak ditemukan dalam dunia fakta, melainkan dalam respon emosional manusia terhadap fakta tersebut. Artinya, nilai moral bersifat evaluatif dan intersubjektif: ia muncul dari pengalaman sosial yang menghubungkan manusia satu sama lain dalam simpati universal.⁷ Dalam pengertian ini, moral sense merupakan sumber aksiologis primer yang menghubungkan dunia deskriptif (“apa yang ada”) dengan dunia normatif (“apa yang seharusnya”).⁸

5.2.       Moral Sense sebagai Dasar Etika Prososial

Teori moral sense menegaskan bahwa tindakan bermoral adalah tindakan yang selaras dengan dorongan alami menuju kebaikan bersama.⁹ Shaftesbury menganggap kebajikan sebagai harmoni antara kepentingan diri dan kesejahteraan sosial.¹⁰ Dalam kerangka ini, nilai moral tidak bersifat individualistik, tetapi kooperatif dan prososial.¹¹ Dengan demikian, etika moral sense mengandung visi tentang masyarakat yang dibentuk oleh empati dan solidaritas moral, bukan oleh kontrak atau paksaan.

Modernisasi gagasan ini dapat dilihat dalam teori psikologi moral Jonathan Haidt, yang menunjukkan bahwa moralitas berakar pada enam fondasi emosional—terutama empati, keadilan, dan kepedulian.¹² Temuan empiris ini menunjukkan bahwa moral sense masih relevan dalam menjelaskan dasar biologis dan sosial dari nilai-nilai prososial.¹³ Etika moral sense, dengan demikian, menegaskan bahwa moralitas tidak hanya mengatur tindakan, tetapi juga menumbuhkan hubungan afektif yang memperkuat kohesi sosial.

5.3.       Perbandingan dengan Etika Utilitarian, Deontologis, dan Kebajikan

Dalam kerangka aksiologis, moral sense menempati posisi yang unik di antara tiga paradigma besar etika. Pertama, berbeda dengan utilitarianisme, teori ini menilai bahwa nilai moral tidak ditentukan oleh hasil (utility), tetapi oleh niat dan perasaan moral yang tulus.¹⁴ Hutcheson memang memperkenalkan gagasan “kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar,” tetapi ia memaknainya sebagai perasaan alami terhadap kebaikan umum, bukan kalkulasi konsekuensi.¹⁵

Kedua, dibandingkan dengan deontologi Kantian, etika moral sense menolak gagasan kewajiban moral yang dingin dan apriori.¹⁶ Bagi Kant, moralitas bergantung pada hukum rasional universal, sedangkan bagi Hume dan Hutcheson, moralitas berakar pada simpati dan rasa kemanusiaan.¹⁷ Dengan demikian, moral sense menawarkan etika humanistik yang menggabungkan spontanitas emosional dan refleksi rasional.

Ketiga, jika dibandingkan dengan etika kebajikan Aristotelian, moral sense memiliki kesamaan dalam menekankan disposisi batin, tetapi berbeda dalam sumbernya. Kebajikan Aristoteles diperoleh melalui latihan dan habituasi rasional, sedangkan moral sense bersumber dari perasaan alami yang diarahkan oleh empati dan simpati.¹⁸ Namun, keduanya sepakat bahwa nilai moral sejati muncul dari karakter yang selaras dengan tujuan manusia sebagai makhluk sosial dan bermoral.¹⁹


Moral Sense dan Pembentukan Karakter Moral

Aksiologi moral sense juga menekankan dimensi pendidikan moral. Jika nilai moral berasal dari perasaan alami, maka tugas etika bukan menekan emosi, tetapi mendidik perasaan moral agar selaras dengan kebajikan dan keadilan.²⁰ Shaftesbury menyebut proses ini sebagai “cultivation of the moral taste” — pembiasaan batin untuk mencintai kebaikan sebagaimana seseorang belajar menghargai keindahan.²¹ Dengan demikian, etika moral sense berfungsi bukan hanya sebagai teori penilaian, tetapi juga pedagogi moral yang membentuk sensitivitas etis manusia.

Dalam konteks kontemporer, pendidikan karakter dan etika publik yang menekankan empati, tanggung jawab sosial, serta keadilan distributif sejatinya melanjutkan tradisi aksiologis moral sense.²² Dengan memulihkan hubungan antara perasaan dan nilai, moral sense menawarkan alternatif bagi etika modern yang cenderung rasionalistik dan instrumental. Ia mengingatkan bahwa akar moralitas bukanlah logika, melainkan rasa kemanusiaan yang sadar akan nilai-nilai kebajikan universal.²³


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 56–58.

[2]                Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 2007), 54–56.

[3]                Francis Hutcheson, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (Indianapolis: Liberty Fund, 2004), 121–123.

[4]                Ibid., 125.

[5]                Stephen Darwall, The British Moralists and the Internal “Ought”: 1640–1740 (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 189–191.

[6]                David Hume, An Enquiry Concerning the Principles of Morals, ed. Tom L. Beauchamp (Oxford: Clarendon Press, 1998), 88–91.

[7]                Annette C. Baier, A Progress of Sentiments: Reflections on Hume’s Treatise (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 97–100.

[8]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 176–179.

[9]                Anthony Ashley Cooper, Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times, vol. 1 (London: John Darby, 1711), 205–207.

[10]             Ibid., 209.

[11]             Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 22–25.

[12]             Jonathan Haidt, The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (New York: Pantheon Books, 2012), 127–131.

[13]             Joshua Greene and Jonathan Haidt, “How (and Where) Does Moral Judgment Work?” Trends in Cognitive Sciences 6, no. 12 (2002): 517–523.

[14]             John Stuart Mill, Utilitarianism, ed. Roger Crisp (Oxford: Oxford University Press, 1998), 5–7.

[15]             Francis Hutcheson, Essay on the Nature and Conduct of the Passions and Affections (Indianapolis: Liberty Fund, 2002), 142–145.

[16]             Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 38–40.

[17]             Jerome B. Schneewind, The Invention of Autonomy: A History of Modern Moral Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 236–239.

[18]             Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin, 2nd ed. (Indianapolis: Hackett, 1999), 1106a–1109b.

[19]             Rosalind Hursthouse, On Virtue Ethics (Oxford: Oxford University Press, 1999), 21–23.

[20]             Anthony Ashley Cooper, Characteristicks, 233–235.

[21]             Ibid., 237.

[22]             Nel Noddings, The Ethics of Care: Personal, Political, and Global (Berkeley: University of California Press, 2013), 47–49.

[23]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 45–47.


6.           Dimensi Psikologis dan Sosial Moral Sense

Konsep moral sense tidak hanya berakar dalam filsafat moral, tetapi juga memiliki dimensi psikologis dan sosial yang mendalam. Dalam konteks ini, moralitas dipahami bukan sebagai prinsip abstrak yang bekerja secara terpisah dari pengalaman manusia, melainkan sebagai hasil dari dinamika emosional, kognitif, dan interaksi sosial yang membentuk kesadaran etis individu.¹ Moral sense menjadi mekanisme batin yang menghubungkan struktur biologis manusia dengan dunia sosial tempat nilai dan norma dijalankan.²

6.1.       Moral Sense dalam Psikologi Perkembangan

Dalam psikologi moral modern, moral sense dapat dilihat sebagai fondasi bagi perkembangan moral sejak masa kanak-kanak. Jean Piaget menegaskan bahwa penilaian moral anak berkembang melalui tahapan dari moralitas heteronom (berdasarkan aturan eksternal) menuju moralitas otonom (berdasarkan empati dan keadilan internal).³ Tahapan ini menunjukkan bahwa perasaan moral tidak hadir sebagai bawaan yang statis, tetapi berkembang melalui interaksi sosial yang membentuk kesadaran keadilan.

Lawrence Kohlberg kemudian memperluas gagasan ini dengan membagi perkembangan moral menjadi enam tahap, dari kepatuhan terhadap otoritas hingga orientasi pada prinsip universal.⁴ Walaupun Kohlberg menekankan dimensi rasional dalam penilaian moral, kritik dari Carol Gilligan dan Nel Noddings menunjukkan bahwa moralitas juga berakar pada perasaan empati dan tanggung jawab relasional, yang sejalan dengan konsep moral sense.⁵ Dengan demikian, dari perspektif psikologi perkembangan, moral sense berperan sebagai struktur afektif yang tumbuh melalui sosialisasi moral dan pendidikan empatik.

6.2.       Emosi Sosial dan Kognisi Moral

Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa moral sense terwujud melalui emosi sosial seperti rasa bersalah, malu, bangga, dan belas kasih, yang berfungsi sebagai penanda internal terhadap perilaku moral.⁶ Jonathan Haidt menjelaskan bahwa penilaian moral lebih sering muncul secara intuitif—digerakkan oleh emosi sosial—dan baru kemudian dirasionalisasi.⁷ Hal ini memperkuat pandangan sentimentalist bahwa sumber moralitas terdapat dalam struktur emosional manusia.

Studi neuropsikologis oleh Joshua Greene memperlihatkan bahwa dalam dilema moral, bagian otak yang berhubungan dengan emosi (amigdala, korteks orbitofrontal) aktif bersamaan dengan area pengambilan keputusan rasional (korteks prefrontal dorsolateral).⁸ Temuan ini menunjukkan bahwa penilaian moral adalah hasil koordinasi antara sistem emosional dan kognitif, bukan hasil dominasi salah satunya. Dalam konteks ini, moral sense dapat dipahami sebagai mekanisme psiko-sosial terintegrasi yang memungkinkan manusia menilai tindakan secara rasional dan sekaligus empatik.

6.3.       Moral Sense dan Kebudayaan: Universalitas dan Relativitas

Pertanyaan penting dalam dimensi sosial moral sense ialah: apakah perasaan moral bersifat universal atau dipengaruhi oleh budaya? Adam Smith menegaskan bahwa simpati merupakan kapasitas universal, tetapi bentuk ekspresinya dipengaruhi oleh norma sosial yang berkembang di masyarakat.⁹ Clifford Geertz, dari sudut antropologi budaya, menambahkan bahwa sistem nilai moral selalu terjalin dengan simbol dan makna budaya yang membentuk “wajah moral” tiap komunitas.¹⁰

Namun, studi lintas budaya dalam psikologi evolusioner (misalnya oleh Jonathan Haidt dan Richard Shweder) menunjukkan bahwa meskipun norma moral bervariasi, dasar emosionalnya relatif konstan: empati, keadilan, loyalitas, dan rasa hormat terhadap otoritas.¹¹ Hal ini mengindikasikan bahwa moral sense memiliki struktur universal dengan ekspresi partikular, di mana manusia secara alami memiliki kapasitas empatik yang kemudian diarahkan oleh konteks budaya dan institusi sosial.¹²


Moral Sense dalam Konteks Pendidikan dan Kehidupan Sosial Modern

Dalam masyarakat modern, moral sense memainkan peran penting dalam pembentukan karakter, kebijakan publik, dan solidaritas sosial. John Dewey berpendapat bahwa pendidikan moral bukan sekadar penanaman aturan, melainkan pengembangan kemampuan afektif untuk merasakan akibat sosial dari tindakan seseorang.¹³ Proses ini sejalan dengan ide Shaftesbury tentang “pembiasaan rasa moral” (moral taste cultivation) yang mengembangkan kepekaan terhadap kebajikan.¹⁴

Dalam konteks sosial kontemporer, teori moral sense juga memiliki relevansi bagi isu-isu seperti etika digital, pluralisme moral, dan keadilan sosial. Media sosial, misalnya, sering memperlihatkan bagaimana empati dan amarah moral dapat membentuk opini publik secara cepat, sekaligus mengungkap ambiguitas moral sense dalam ruang digital yang tanpa batas.¹⁵ Karena itu, pendidikan moral di era modern perlu menggabungkan aspek kognitif dan afektif agar moral sense tidak menjadi impuls emosional yang manipulatif, tetapi tetap terarah oleh refleksi etis dan tanggung jawab sosial.¹⁶


Footnotes

[1]                Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 88–91.

[2]                Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 45–47.

[3]                Jean Piaget, The Moral Judgment of the Child, trans. Marjorie Gabain (London: Routledge & Kegan Paul, 1932), 73–77.

[4]                Lawrence Kohlberg, Essays on Moral Development, Vol. I: The Philosophy of Moral Development (San Francisco: Harper & Row, 1981), 51–56.

[5]                Carol Gilligan, In a Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development (Cambridge: Harvard University Press, 1982), 62–64; Nel Noddings, The Ethics of Care: Personal, Political, and Global (Berkeley: University of California Press, 2013), 35–38.

[6]                Paul Ekman, Emotions Revealed: Recognizing Faces and Feelings to Improve Communication and Emotional Life (New York: Times Books, 2003), 121–124.

[7]                Jonathan Haidt, “The Emotional Dog and Its Rational Tail: A Social Intuitionist Approach to Moral Judgment,” Psychological Review 108, no. 4 (2001): 814–834.

[8]                Joshua Greene et al., “An fMRI Investigation of Emotional Engagement in Moral Judgment,” Science 293, no. 5537 (2001): 2105–2108.

[9]                Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments, ed. D. D. Raphael and A. L. Macfie (Indianapolis: Liberty Fund, 1982), 112–115.

[10]             Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 89–92.

[11]             Richard A. Shweder et al., “The ‘Big Three’ of Morality (Autonomy, Community, Divinity) and the ‘Big Three’ Explanations of Suffering,” in Morality and Health, ed. Allan M. Brandt and Paul Rozin (New York: Routledge, 1997), 119–121.

[12]             Jonathan Haidt, The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (New York: Pantheon Books, 2012), 132–136.

[13]             John Dewey, Human Nature and Conduct (New York: Henry Holt and Company, 1922), 20–22.

[14]             Anthony Ashley Cooper, Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times, vol. 1 (London: John Darby, 1711), 233–235.

[15]             Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 88–92.

[16]             Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 72–74.


7.           Kritik dan Klarifikasi Filosofis

Konsep moral sense sebagai dasar moralitas telah menimbulkan berbagai perdebatan sejak kemunculannya pada abad ke-18. Meskipun teori ini berhasil menegaskan dimensi afektif dan sosial dari moralitas manusia, para filsuf dan teoretikus etika kemudian mengajukan sejumlah kritik terhadap asumsi-asumsi ontologis dan epistemologisnya. Kritik tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga arah utama: (1) kritik rasionalisme terhadap kelemahan dasar emosional moral sense, (2) kritik naturalisme terhadap reduksi moralitas menjadi mekanisme biologis, dan (3) klarifikasi sintetik terhadap hubungan antara perasaan moral dan akal budi praktis.¹

7.1.       Kritik Rasionalisme: Emosi Tidak Cukup sebagai Dasar Moralitas

Para rasionalis, terutama Immanuel Kant, menolak pandangan bahwa moralitas dapat didasarkan pada perasaan moral. Dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals, Kant berargumen bahwa tindakan hanya memiliki nilai moral sejauh dilakukan “demi kewajiban” dan bukan karena dorongan emosi, kasih sayang, atau simpati.² Bagi Kant, emosi bersifat fluktuatif dan partikular; karenanya, ia tidak dapat menjadi landasan universal bagi hukum moral.³ Moralitas yang bersandar pada moral sense dikhawatirkan akan terjebak dalam relativisme psikologis, sebab perasaan manusia berbeda-beda sesuai latar sosial dan temperamen.⁴

Samuel Clarke dan rasionalis moral awal bahkan sebelumnya telah menegaskan bahwa hubungan moral harus memiliki status objektif seperti kebenaran matematika.⁵ Dari sudut ini, moral sense dianggap gagal menjelaskan bagaimana mungkin norma moral bersifat mengikat secara universal jika ia berakar pada perasaan yang subjektif.⁶ Kritik ini menantang validitas normatif teori moral sense dan menuntut dasar yang lebih rasional bagi kewajiban etis.

7.2.       Kritik Naturalisme dan Reduksionisme Biologis

Selain dari rasionalisme, moral sense juga dikritik dari dalam tradisi empiris sendiri, terutama setelah teori ini mengalami naturalisasi dalam psikologi dan biologi evolusioner. Charles Darwin, misalnya, menafsirkan moral sense sebagai hasil seleksi alam yang meningkatkan kohesi sosial dan keberlangsungan spesies.⁷ Walaupun tafsiran ini memperkuat sisi naturalistik moralitas, ia juga menimbulkan persoalan aksiologis: jika moralitas hanyalah adaptasi evolusioner, maka apakah nilai moral masih memiliki legitimasi normatif?⁸

Para pemikir kontemporer seperti Richard Joyce dan Michael Ruse menegaskan bahwa moralitas mungkin hanyalah “ilusi adaptif,” yakni strategi biologis yang muncul untuk menjaga kerja sama, bukan kebenaran moral objektif.⁹ Kritik ini mengarah pada bentuk skeptisisme moral evolusioner, yang meragukan status epistemik moral sense sebagai pengetahuan etis. Di sisi lain, Patricia Churchland dan Frans de Waal menolak reduksi ini dengan menegaskan bahwa empati dan altruisme memiliki nilai moral intrinsik karena merupakan ekspresi dari kapasitas sosial yang rasional dan reflektif.¹⁰ Dengan demikian, perdebatan antara naturalisme reduksionis dan naturalisme humanistik memperlihatkan kompleksitas moral sense dalam kerangka ilmiah modern.

7.3.       Klarifikasi Filosofis: Relasi antara Perasaan dan Rasionalitas

Sejumlah filsuf mencoba menjembatani jurang antara sentimentalism dan rasionalisme melalui pendekatan klarifikatif terhadap peran moral sense. David Hume, meskipun menolak supremasi rasio, tidak meniadakan fungsi rasionalitas sepenuhnya; ia menempatkan akal sebagai “alat pengatur” bagi emosi moral, bukan sebagai pengganti.¹¹ Dalam pandangan ini, rasio dan perasaan tidak berlawanan, tetapi kooperatif dalam menghasilkan penilaian moral yang seimbang.¹²

Dalam konteks filsafat kontemporer, Martha Nussbaum menafsirkan perasaan moral sebagai bentuk penilaian evaluatif yang memiliki struktur kognitif.¹³ Menurutnya, emosi seperti belas kasih dan rasa hormat bukanlah impuls irasional, melainkan ekspresi dari cara kita menilai dunia dan orang lain secara reflektif.¹⁴ Dengan demikian, moral sense dapat dipahami bukan sebagai lawan rasionalitas, tetapi sebagai dimensi afektif dari rasionalitas praktis.¹⁵

Klarifikasi serupa dikemukakan oleh Alasdair MacIntyre, yang mengkritik atomisme moral modern dan menegaskan bahwa perasaan moral hanya dapat dimengerti dalam konteks narasi hidup dan tradisi sosial tertentu.¹⁶ Artinya, moral sense memperoleh validitasnya bukan hanya karena sifat alaminya, tetapi karena tertanam dalam praktik sosial dan komunitas kebajikan yang memberi makna bagi emosi moral tersebut.¹⁷


Menuju Sintesis: Rasionalitas Emosional dan Etika Kemanusiaan

Kritik dan klarifikasi di atas menunjukkan bahwa problem utama moral sense bukan pada keberadaannya, tetapi pada penempatannya dalam struktur rasionalitas manusia. Emosi moral dapat menjadi dasar nilai yang sah sejauh ia diarahkan oleh refleksi etis dan kesadaran universal.¹⁸ Konsepsi tentang rational empathy—empati yang dituntun oleh pertimbangan rasional—menjadi jalan tengah antara sentimentalism Hume dan rasionalisme Kant.¹⁹

Dengan demikian, sintesis filosofis moral sense membuka ruang bagi etika kemanusiaan yang integral, di mana moralitas tidak lagi dipahami sebagai ketaatan terhadap hukum eksternal, melainkan sebagai respons reflektif terhadap penderitaan dan kebahagiaan sesama.²⁰ Perasaan moral yang terdidik oleh rasio menjelma menjadi kepekaan moral kritis—suatu bentuk kesadaran etis yang menyatukan kognisi, afeksi, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan manusia.²¹


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 102–105.

[2]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 37–40.

[3]                Paul Guyer, Kant on Freedom, Law, and Happiness (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 189–192.

[4]                Jerome B. Schneewind, The Invention of Autonomy: A History of Modern Moral Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 245–248.

[5]                Samuel Clarke, A Discourse Concerning the Unchangeable Obligations of Natural Religion (London: James Knapton, 1706), 41–43.

[6]                Stephen Darwall, The British Moralists and the Internal “Ought”: 1640–1740 (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 203–206.

[7]                Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–122.

[8]                Sharon Street, “A Darwinian Dilemma for Realist Theories of Value,” Philosophical Studies 127, no. 1 (2006): 109–166.

[9]                Richard Joyce, The Evolution of Morality (Cambridge: MIT Press, 2006), 180–183; Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Basil Blackwell, 1986), 253–257.

[10]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 71–74; Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 20–23.

[11]             David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge, 2nd ed. (Oxford: Clarendon Press, 1978), 415–418.

[12]             Annette C. Baier, A Progress of Sentiments: Reflections on Hume’s Treatise (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 112–115.

[13]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 30–33.

[14]             Ibid., 45–47.

[15]             Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 115–118.

[16]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 2007), 216–220.

[17]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 182–184.

[18]             Jesse J. Prinz, The Emotional Construction of Morals (Oxford: Oxford University Press, 2007), 155–158.

[19]             Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 72–74.

[20]             Nel Noddings, The Ethics of Care: Personal, Political, and Global (Berkeley: University of California Press, 2013), 58–61.

[21]             Robert C. Solomon, The Passions: Emotions and the Meaning of Life (Indianapolis: Hackett, 1993), 121–124.


8.           Relevansi Kontemporer

Dalam konteks dunia modern yang sarat kompleksitas moral, konsep moral sense kembali memperoleh perhatian sebagai alternatif bagi model etika rasionalistik dan legalistik yang kerap mengabaikan dimensi afektif manusia. Di tengah krisis empati, polarisasi politik, dan dehumanisasi teknologi, teori ini menghadirkan kerangka reflektif yang menegaskan bahwa moralitas berakar bukan pada aturan eksternal, melainkan pada kapasitas batiniah untuk merasakan nilai kemanusiaan.¹ Dengan menempatkan perasaan moral sebagai basis bagi kesadaran etis, moral sense membuka ruang bagi pendekatan etika yang lebih empatik, humanistik, dan kontekstual.

8.1.       Moral Sense dalam Etika Digital dan Era Teknologi

Dalam era digital, moral sense mengalami tantangan baru. Ruang daring memperluas ekspresi moral—mulai dari empati digital hingga “kemarahan moral” (moral outrage) yang viral di media sosial.² Fenomena ini memperlihatkan ambivalensi moral sense modern: di satu sisi, teknologi mempercepat resonansi moral manusia melalui visibilitas penderitaan dan ketidakadilan global; di sisi lain, ia berpotensi mendangkalkan refleksi etis menjadi impuls emosional yang reaktif.³

Shannon Vallor menegaskan bahwa perkembangan teknologi menuntut pembentukan “keutamaan digital” (technomoral virtues) seperti empati, kejujuran, dan solidaritas global agar perasaan moral tidak terperangkap dalam siklus emosi tanpa refleksi.⁴ Dalam konteks ini, moral sense perlu ditransformasikan menjadi kesadaran moral kritis yang mampu membedakan antara empati autentik dan sentimentalitas digital. Etika moral sense yang dikombinasikan dengan refleksi rasional dapat membentuk model etika digital yang lebih beradab dan manusiawi.⁵

8.2.       Moral Sense dan Keadilan Sosial

Konsep moral sense juga memiliki relevansi kuat dalam diskursus keadilan sosial dan etika publik. Prinsip keadilan, sebagaimana dikembangkan oleh John Rawls, memerlukan “rasa keadilan” (sense of justice) yang bukan semata rasional, tetapi juga afektif—yakni disposisi untuk merasakan ketidakadilan dan menolak dominasi.⁶ Dalam hal ini, moral sense berperan sebagai fondasi afektif bagi solidaritas sosial.

Martha Nussbaum menegaskan bahwa emosi seperti belas kasih dan rasa malu publik dapat menjadi motor etika politik yang berorientasi pada kemanusiaan universal.⁷ Melalui pendidikan emosional, masyarakat dapat dikembangkan menjadi komunitas yang sensitif terhadap penderitaan dan ketidaksetaraan.⁸ Dengan demikian, moral sense tidak hanya bekerja di tingkat individu, tetapi juga dalam pembentukan budaya moral kolektif yang menjadi dasar legitimasi etika sosial modern.

8.3.       Moral Sense dan Etika Ekologis

Krisis lingkungan global juga menuntut paradigma moral baru yang melampaui antroposentrisme modern. Moral sense dapat memperluas cakupannya menjadi ekosense moral, yakni kepekaan emosional terhadap penderitaan makhluk hidup lain dan keseimbangan ekologis.⁹ Sejalan dengan pemikiran Arne Naess tentang deep ecology dan Aldo Leopold tentang land ethic, kesadaran moral tidak terbatas pada hubungan antar-manusia, tetapi mencakup hubungan antara manusia dan alam.¹⁰

Dengan menghidupkan kembali perasaan moral sebagai dimensi kosmik dan ekologis, moral sense berpotensi menjadi dasar bagi etika ekologi emosional, yang menolak eksploitasi alam atas nama kemajuan.¹¹ Dalam pandangan ini, perasaan moral menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab terhadap kehidupan secara menyeluruh—suatu bentuk eco-empathy yang mengintegrasikan moralitas dengan keberlanjutan planet.¹²

8.4.       Moral Sense dalam Pendidikan dan Pluralisme Moral

Dalam dunia global yang multikultural, relevansi moral sense juga terlihat pada upaya membangun pendidikan moral pluralistik yang berakar pada empati lintas budaya.¹³ Melalui pengembangan perasaan moral, peserta didik belajar memahami perbedaan nilai tanpa kehilangan sensitivitas terhadap kebaikan universal. Nel Noddings menekankan pentingnya pedagogi kepedulian (ethic of care) yang menumbuhkan kemampuan merasakan kebutuhan orang lain secara tulus, bukan sekadar memahami aturan moral secara formal.¹⁴

Selain itu, dalam konteks masyarakat pascamodern yang cenderung skeptis terhadap nilai absolut, moral sense dapat berperan sebagai kompas moral internal yang menjaga kesadaran etis di tengah relativisme.¹⁵ Ia menumbuhkan moral imagination—kemampuan membayangkan perspektif orang lain—yang menjadi syarat bagi kehidupan demokratis dan dialog antarperadaban.¹⁶


Revitalisasi Moral Sense sebagai Etika Empatik Global

Secara keseluruhan, relevansi kontemporer moral sense terletak pada kemampuannya untuk menjembatani kesenjangan antara moralitas rasional dan moralitas emosional. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan terdiferensiasi secara sosial, moral sense menawarkan model etika yang berbasis pada empati reflektif dan tanggung jawab global.¹⁷

Sebagaimana ditegaskan oleh Martha Nussbaum dan Amartya Sen, pembangunan moral suatu masyarakat tidak hanya bergantung pada sistem hukum dan ekonomi, tetapi juga pada kualitas emosional warga negaranya—yakni kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.¹⁸ Dengan demikian, revitalisasi moral sense berarti menghidupkan kembali etos kemanusiaan universal yang mampu mengimbangi rasionalitas teknologis dengan kepekaan moral yang sadar, reflektif, dan adil.¹⁹


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 131–133.

[2]                Molly Crockett, “Moral Outrage in the Digital Age,” Nature Human Behaviour 1, no. 11 (2017): 769–771.

[3]                Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin, 2015), 182–185.

[4]                Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 71–75.

[5]                Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 143–145.

[6]                John Rawls, A Theory of Justice, rev. ed. (Cambridge: Harvard University Press, 1999), 402–405.

[7]                Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 2–4.

[8]                Ibid., 62–65.

[9]                Paul W. Taylor, Respect for Nature: A Theory of Environmental Ethics (Princeton: Princeton University Press, 1986), 103–107.

[10]             Arne Naess, “The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement,” Inquiry 16, no. 1 (1973): 95–100; Aldo Leopold, A Sand County Almanac (New York: Oxford University Press, 1949), 223–225.

[11]             Holmes Rolston III, Environmental Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple University Press, 1988), 57–60.

[12]             David Abram, The Spell of the Sensuous: Perception and Language in a More-than-Human World (New York: Vintage Books, 1996), 267–269.

[13]             Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 88–90.

[14]             Nel Noddings, The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education (New York: Teachers College Press, 2005), 17–20.

[15]             Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 19–22.

[16]             Martha C. Nussbaum, Cultivating Humanity: A Classical Defense of Reform in Liberal Education (Cambridge: Harvard University Press, 1997), 84–87.

[17]             Jesse J. Prinz, The Emotional Construction of Morals (Oxford: Oxford University Press, 2007), 162–165.

[18]             Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 75–77.

[19]             Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 51–54.


9.           Sintesis Filosofis: Menuju Etika Empatik dan Rasional

Upaya mensintesiskan teori moral sense dengan kerangka rasionalitas etis merupakan langkah filosofis penting untuk membangun etika empatik yang rasional—sebuah paradigma moral yang mengintegrasikan afeksi, refleksi, dan tanggung jawab sosial.¹ Sintesis ini tidak bertujuan meniadakan perbedaan antara sentimentalism dan rasionalisme, melainkan menempatkan keduanya dalam hubungan dialogis yang saling melengkapi. Emosi moral menjadi sumber motivasi etis, sementara rasio memberi arah dan struktur normatif bagi tindakan. Dengan demikian, etika yang lahir dari moral sense bukan hanya “etika perasaan,” tetapi juga etika refleksi, yang menyatukan kepekaan emosional dan ketepatan rasional dalam praksis moral.²

9.1.       Rekonsiliasi antara Sentimentalisme dan Rasionalisme Moral

Sejak perdebatan klasik antara David Hume dan Immanuel Kant, filsafat moral Barat terbelah antara dua pandangan ekstrem: moralitas sebagai hasil perasaan (sentimentalism) dan moralitas sebagai produk akal (rationalism).³ Namun, perkembangan filsafat kontemporer menunjukkan bahwa keduanya tidak harus dipertentangkan. Martha Nussbaum menegaskan bahwa emosi memiliki dimensi kognitif karena mengandung penilaian evaluatif terhadap nilai dan tujuan hidup.⁴ Artinya, perasaan moral bukan impuls irasional, melainkan bentuk pemahaman tentang dunia yang sarat nilai.

Dalam perspektif yang serupa, Owen Flanagan mengusulkan konsep moral rationality of the emotions, yaitu kemampuan manusia untuk berpikir melalui perasaan.⁵ Rasionalitas tidak berlawanan dengan emosi, tetapi bekerja di dalamnya untuk menata arah tindakan moral. Sintesis ini menunjukkan bahwa moral sense dapat menjadi fondasi bagi etika yang lebih holistik, di mana intuisi moral yang bersumber dari empati dipandu oleh refleksi rasional untuk mencapai keadilan dan kebajikan.⁶

9.2.       Moral Sense sebagai Kesatuan Kognisi, Afeksi, dan Aksi

Etika empatik yang rasional mengakui bahwa moralitas lahir dari interaksi antara tiga dimensi kesadaran manusia: kognitif (rasio), afektif (perasaan), dan praktis (tindakan).⁷ Moral sense berfungsi sebagai penghubung yang menyatukan ketiganya. Dalam tindakan moral, pengetahuan rasional memberi kerangka tujuan, emosi moral memotivasi gerak, dan tindakan konkret menjadi wujud sintesis keduanya.⁸

Adam Smith telah merintis pandangan ini melalui konsep impartial spectator, di mana refleksi rasional dan simpati emosional bekerja bersama dalam menilai tindakan.⁹ Dalam filsafat moral kontemporer, sintesis tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Charles Taylor, yang menekankan bahwa identitas moral terbentuk melalui “narasi evaluatif diri,” di mana penilaian moral bersifat afektif sekaligus rasional.¹⁰ Etika moral sense, dengan demikian, bukan sekadar sistem normatif, melainkan bentuk kesadaran hidup yang menyatukan pengalaman emosional, refleksi nilai, dan tanggung jawab sosial.¹¹

9.3.       Etika Empatik sebagai Jawaban atas Krisis Moral Modern

Dunia modern ditandai oleh krisis moral yang bersumber dari dominasi rasionalitas instrumental dan melemahnya rasa kemanusiaan.¹² Dalam situasi ini, moral sense dapat berfungsi sebagai antidot humanistik terhadap alienasi moral. Alasdair MacIntyre mengkritik moralitas modern yang terlepas dari akar tradisi dan komunitas kebajikan, sementara moral sense menawarkan dasar afektif bagi pembentukan kembali etika komunitarian yang hidup.¹³

Lebih jauh, Nel Noddings dan Carol Gilligan menunjukkan bahwa empati dan kepedulian bukanlah kelemahan emosional, tetapi sumber kekuatan moral yang membentuk masyarakat etis.¹⁴ Dengan demikian, moral sense membuka jalan bagi etika empatik—sebuah sistem nilai yang berorientasi pada relasi manusiawi dan tanggung jawab sosial, bukan hanya pada aturan formal. Dalam kerangka ini, etika empatik rasional bukanlah sekadar perpaduan dua dimensi, melainkan transformasi keduanya menjadi kesatuan etis yang dinamis.¹⁵


Menuju Paradigma “Reason-Guided Empathy”

Sintesis akhir dari moral sense mengarah pada apa yang dapat disebut sebagai paradigma reason-guided empathy, yaitu bentuk moralitas yang menyeimbangkan kepekaan emosional dengan disiplin reflektif.¹⁶ Dalam paradigma ini, empati tidak dibiarkan liar sebagai emosi yang impulsif, melainkan diarahkan oleh pertimbangan rasional terhadap nilai-nilai universal seperti keadilan, martabat, dan kebebasan.¹⁷

Amartya Sen menyebut pendekatan ini sebagai “etika kemampuan manusiawi,” di mana rasio berfungsi untuk memperluas cakrawala empati agar mencakup seluruh umat manusia, bukan hanya kelompok terdekat.¹⁸ Sementara Martha Nussbaum mengartikulasikan bentuk etika ini sebagai “politik emosi yang tercerahkan”—yakni usaha menumbuhkan perasaan moral yang dipandu oleh kesadaran etis global.¹⁹

Paradigma reason-guided empathy mengandaikan bahwa moralitas sejati muncul ketika manusia tidak hanya berpikir tentang kebaikan, tetapi juga merasakan dan menghayati kebaikan itu secara reflektif. Dengan demikian, moral sense menjadi sumber bagi etika humanistik yang mengintegrasikan sains, emosi, dan spiritualitas moral dalam satu horizon kesadaran etis.²⁰


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 141–143.

[2]                Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 2007), 215–217.

[3]                David Hume, An Enquiry Concerning the Principles of Morals, ed. Tom L. Beauchamp (Oxford: Clarendon Press, 1998), 90–92; Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 37–40.

[4]                Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 33–35.

[5]                Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 115–118.

[6]                Charles L. Griswold Jr., Adam Smith and the Virtues of Enlightenment (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 92–95.

[7]                Robert C. Solomon, The Passions: Emotions and the Meaning of Life (Indianapolis: Hackett, 1993), 120–123.

[8]                Stephen Darwall, The Second-Person Standpoint: Morality, Respect, and Accountability (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 34–36.

[9]                Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments, ed. D. D. Raphael and A. L. Macfie (Indianapolis: Liberty Fund, 1982), 113–117.

[10]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 184–187.

[11]             Annette C. Baier, A Progress of Sentiments: Reflections on Hume’s Treatise (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 128–131.

[12]             Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 11–15.

[13]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 67–70.

[14]             Carol Gilligan, In a Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development (Cambridge: Harvard University Press, 1982), 67–70; Nel Noddings, The Ethics of Care: Personal, Political, and Global (Berkeley: University of California Press, 2013), 52–55.

[15]             Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 22–25.

[16]             Jesse J. Prinz, The Emotional Construction of Morals (Oxford: Oxford University Press, 2007), 162–165.

[17]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 90–92.

[18]             Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 77–79.

[19]             Martha C. Nussbaum, Political Emotions, 74–76.

[20]             Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 88–90.


10.       Kesimpulan

Teori moral sense menawarkan kontribusi filosofis yang penting dalam memahami dasar moralitas manusia. Ia memperlihatkan bahwa moralitas bukanlah produk murni dari rasio yang dingin ataupun hasil dari determinasi biologis yang buta, melainkan berasal dari struktur batiniah manusia yang menyatukan perasaan, akal, dan tindakan.¹ Melalui konsep ini, kita memahami bahwa penilaian moral tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan relasional—manusia menilai dengan pikirannya sekaligus dengan hatinya.²

Secara historis, teori ini muncul sebagai reaksi terhadap dua ekstrem: rasionalisme moral yang mengandalkan prinsip apriori dan egoisme utilitarian yang menilai tindakan berdasarkan manfaat semata.³ Dengan menegaskan peran moral sense, para pemikir seperti Shaftesbury, Hutcheson, dan Hume berhasil menempatkan empati dan simpati sebagai inti dari pengalaman etis manusia.⁴ Pada gilirannya, teori ini melahirkan konsepsi baru tentang manusia sebagai makhluk moral yang tidak hanya berpikir tentang kebaikan, tetapi juga merasakan kebaikan itu dalam relasinya dengan sesama.⁵

Dalam perkembangan modern, moral sense menunjukkan daya adaptifnya ketika dipertemukan dengan psikologi moral, neuroetika, dan etika sosial kontemporer. Penelitian empiris membuktikan bahwa kapasitas empatik dan intuisi moral memang berakar pada sistem saraf sosial manusia.⁶ Namun, data ilmiah ini tidak menghapus dimensi normatif moralitas, justru memperkuatnya—karena moralitas kini dapat dipahami sebagai kesadaran reflektif yang tumbuh dari dasar biologis menuju tanggung jawab rasional dan sosial.⁷

Lebih jauh, relevansi moral sense dalam abad ke-21 tampak pada krisis empati global: kemerosotan solidaritas, ekstremisme moral, dan dehumanisasi teknologi.⁸ Dalam konteks ini, kebangkitan moral sense berarti menghidupkan kembali rasa kemanusiaan universal yang melampaui batas ras, agama, dan ideologi. Etika moral sense mengajarkan bahwa perasaan moral yang terdidik oleh refleksi rasional mampu membangun keadilan yang manusiawi dan empati yang berkeadilan.⁹

Akhirnya, sintesis antara perasaan dan rasio—antara sentimentalism dan rasionalisme—menunjukkan bahwa moralitas sejati tidak terletak pada kalkulasi rasional semata, juga tidak pada luapan emosi spontan, melainkan pada empati yang dipandu oleh akal dan akal yang digerakkan oleh kasih.¹⁰ Moral sense bukan hanya teori tentang bagaimana manusia mengetahui yang baik, tetapi juga visi etis tentang bagaimana manusia menjadi baik.¹¹ Melalui kesadaran ini, filsafat moral memperoleh kembali misinya yang paling mendasar: menumbuhkan manusia yang berpikir dengan hati dan merasa dengan akal—makhluk yang utuh dalam kebenaran, kebajikan, dan cinta kasih.¹²


Footnotes

[1]                D. D. Raphael, The Moral Sense (Oxford: Oxford University Press, 1947), 145–147.

[2]                Martha C. Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 41–43.

[3]                Jerome B. Schneewind, The Invention of Autonomy: A History of Modern Moral Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 232–235.

[4]                Francis Hutcheson, An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beauty and Virtue (Indianapolis: Liberty Fund, 2004), 121–123; David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge, 2nd ed. (Oxford: Clarendon Press, 1978), 470–472.

[5]                Anthony Ashley Cooper, Characteristicks of Men, Manners, Opinions, Times, vol. 1 (London: John Darby, 1711), 205–207.

[6]                Joshua Greene et al., “An fMRI Investigation of Emotional Engagement in Moral Judgment,” Science 293, no. 5537 (2001): 2105–2108.

[7]                Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 31–34.

[8]                Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin, 2015), 182–185.

[9]                Martha C. Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2013), 72–75.

[10]             Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 115–118.

[11]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 2007), 217–219.

[12]             Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 88–90.


Daftar Pustaka

Abram, D. (1996). The spell of the sensuous: Perception and language in a more-than-human world. New York, NY: Vintage Books.

Aristotle. (1999). Nicomachean ethics (T. Irwin, Trans., 2nd ed.). Indianapolis, IN: Hackett Publishing.

Baier, A. C. (1991). A progress of sentiments: Reflections on Hume’s Treatise. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Bauman, Z. (1993). Postmodern ethics. Oxford, UK: Blackwell.

Churchland, P. S. (2011). Braintrust: What neuroscience tells us about morality. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Clarke, S. (1706). A discourse concerning the unchangeable obligations of natural religion. London, UK: James Knapton.

Cooper, A. A. (Earl of Shaftesbury). (1711). Characteristicks of men, manners, opinions, times (Vol. 1). London, UK: John Darby.

Crockett, M. J. (2017). Moral outrage in the digital age. Nature Human Behaviour, 1(11), 769–771. doi.org

Darwall, S. (1995). The British moralists and the internal “ought”: 1640–1740. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Darwall, S. (2006). The second-person standpoint: Morality, respect, and accountability. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Darwin, C. (1871). The descent of man, and selection in relation to sex. London, UK: John Murray.

Dewey, J. (1922). Human nature and conduct. New York, NY: Henry Holt and Company.

Ekman, P. (2003). Emotions revealed: Recognizing faces and feelings to improve communication and emotional life. New York, NY: Times Books.

Falk, W. D. (1960). Obligation and rightness. Philosophy, 35(133), 216–218. doi.org

Flanagan, O. (1991). Varieties of moral personality: Ethics and psychological realism. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Flanagan, O. (2007). The really hard problem: Meaning in a material world. Cambridge, MA: MIT Press.

Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford, UK: Oxford University Press.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York, NY: Basic Books.

Gilligan, C. (1982). In a different voice: Psychological theory and women’s development. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Greene, J. D., Nystrom, L. E., Engell, A. D., Darley, J. M., & Cohen, J. D. (2001). An fMRI investigation of emotional engagement in moral judgment. Science, 293(5537), 2105–2108. science

Greene, J., & Haidt, J. (2002). How (and where) does moral judgment work? Trends in Cognitive Sciences, 6(12), 517–523. doi.org

Griswold, C. L., Jr. (1999). Adam Smith and the virtues of Enlightenment. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Guyer, P. (2000). Kant on freedom, law, and happiness. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Haidt, J. (2001). The emotional dog and its rational tail: A social intuitionist approach to moral judgment. Psychological Review, 108(4), 814–834. doi.org

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York, NY: Pantheon Books.

Hobbes, T. (1996). Leviathan (R. Tuck, Ed.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Hume, D. (1978). A treatise of human nature (L. A. Selby-Bigge, Ed., 2nd ed.). Oxford, UK: Clarendon Press.

Hume, D. (1998). An enquiry concerning the principles of morals (T. L. Beauchamp, Ed.). Oxford, UK: Clarendon Press.

Hursthouse, R. (1999). On virtue ethics. Oxford, UK: Oxford University Press.

Hutcheson, F. (2002). Essay on the nature and conduct of the passions and affections. Indianapolis, IN: Liberty Fund.

Hutcheson, F. (2004). An inquiry into the original of our ideas of beauty and virtue. Indianapolis, IN: Liberty Fund.

Joyce, R. (2006). The evolution of morality. Cambridge, MA: MIT Press.

Kant, I. (1997). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Kohlberg, L. (1981). Essays on moral development, Vol. I: The philosophy of moral development. San Francisco, CA: Harper & Row.

Leopold, A. (1949). A sand county almanac. New York, NY: Oxford University Press.

MacIntyre, A. (2007). After virtue: A study in moral theory (3rd ed.). Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.

MacIntyre, A. (1999). Dependent rational animals: Why human beings need the virtues. Chicago, IL: Open Court.

McDowell, J. (1985). Values and secondary qualities. In T. Honderich (Ed.), Morality and objectivity: A tribute to J. L. Mackie (pp. 110–129). London, UK: Routledge.

Mill, J. S. (1998). Utilitarianism (R. Crisp, Ed.). Oxford, UK: Oxford University Press.

Moore, G. E. (1903). Principia ethica. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Naess, A. (1973). The shallow and the deep, long-range ecology movement. Inquiry, 16(1), 95–100. doi.org

Nichols, S. (2004). Sentimental rules: On the natural foundations of moral judgment. Oxford, UK: Oxford University Press.

Noddings, N. (2005). The challenge to care in schools: An alternative approach to education. New York, NY: Teachers College Press.

Noddings, N. (2013). The ethics of care: Personal, political, and global. Berkeley, CA: University of California Press.

Nussbaum, M. C. (1997). Cultivating humanity: A classical defense of reform in liberal education. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2001). Upheavals of thought: The intelligence of emotions. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Nussbaum, M. C. (2013). Political emotions: Why love matters for justice. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Piaget, J. (1932). The moral judgment of the child (M. Gabain, Trans.). London, UK: Routledge & Kegan Paul.

Prinz, J. J. (2007). The emotional construction of morals. Oxford, UK: Oxford University Press.

Raphael, D. D. (1947). The moral sense. Oxford, UK: Oxford University Press.

Rolston, H., III. (1988). Environmental ethics: Duties to and values in the natural world. Philadelphia, PA: Temple University Press.

Ruse, M. (1986). Taking Darwin seriously: A naturalistic approach to philosophy. Oxford, UK: Basil Blackwell.

Schneewind, J. B. (1998). The invention of autonomy: A history of modern moral philosophy. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Sen, A. (2009). The idea of justice. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Shweder, R. A., Much, N. C., Mahapatra, M., & Park, L. (1997). The “big three” of morality (autonomy, community, divinity) and the “big three” explanations of suffering. In A. M. Brandt & P. Rozin (Eds.), Morality and health (pp. 119–121). New York, NY: Routledge.

Smith, A. (1982). The theory of moral sentiments (D. D. Raphael & A. L. Macfie, Eds.). Indianapolis, IN: Liberty Fund.

Solomon, R. C. (1993). The passions: Emotions and the meaning of life. Indianapolis, IN: Hackett Publishing.

Street, S. (2006). A Darwinian dilemma for realist theories of value. Philosophical Studies, 127(1), 109–166. doi.org

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Taylor, P. W. (1986). Respect for nature: A theory of environmental ethics. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. New York, NY: Penguin Press.

Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford, UK: Oxford University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar