Jumat, 21 November 2025

Adab terhadap Orang Tua dan Guru: Analisis Komparatif antara Filsafat Moral Universal dan Etika Islam

Adab terhadap Orang Tua dan Guru

Analisis Komparatif antara Filsafat Moral Universal dan Etika Islam


Alihkan ke: CP Akidah Akhlak.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif konsep berbakti kepada orang tua dan guru dalam perspektif etika Islam dan filsafat moral universal, dengan menekankan relevansi pedagogisnya bagi pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA). Kajian dimulai dari landasan dalil Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama klasik maupun kontemporer, yang menempatkan birr al-wālidayn dan penghormatan kepada guru sebagai bagian integral dari pembinaan akhlak dan penguatan struktur moral masyarakat. Analisis genealogis terhadap filsafat moral universal menunjukkan bahwa penghormatan merupakan nilai yang hadir dalam berbagai tradisi etis, seperti etika keutamaan Aristoteles, kewajiban moral Kantian, Konfusianisme, serta etika kepedulian modern. Melalui pendekatan komparatif, artikel ini menemukan titik temu antara kedua tradisi, terutama dalam keutamaan penghormatan, kesabaran, kerendahan hati, dan empati, serta perbedaan orientasi teleologis antara nilai transendensi dalam Islam dan orientasi humanistik dalam moral universal.

Selanjutnya, artikel ini mengembangkan kerangka sintesis filosofis–etis–Islamis yang mengintegrasikan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam memahami kewajiban berbakti. Nilai berbakti tidak dipahami semata sebagai norma keagamaan, tetapi sebagai prinsip moral universal yang didukung oleh rasionalitas, relasi sosial, dan pembentukan karakter. Dalam konteks pedagogis, kajian ini menekankan bahwa pendidikan MA perlu mengintegrasikan dalil, hikmah, analisis etis, keteladanan, literasi digital, serta pembiasaan adab sebagai strategi pembentukan karakter yang holistik. Dengan demikian, artikel ini memberikan kontribusi untuk memperkuat kurikulum Akidah Akhlak yang mampu menghadapi tantangan kontemporer, sekaligus melahirkan peserta didik yang beradab, berwawasan luas, dan berakar kuat pada nilai Islam.

Kata Kunci: Birr al-wālidayn, etika Islam, filsafat moral universal, penghormatan kepada guru, adab, pendidikan karakter, Akidah Akhlak, Madrasah Aliyah.


PEMBAHASAN

Etika Penghormatan terhadap Orang Tua dan Guru


1.           Pendahuluan

Etika berbakti kepada orang tua dan guru merupakan salah satu fondasi utama dalam ajaran Islam, terutama dalam pembentukan akhlak peserta didik di jenjang Madrasah Aliyah. Penghormatan terhadap dua figur ini tidak hanya bersifat normatif–religius, tetapi juga memiliki dimensi moral universal yang telah lama menjadi perhatian filsafat etika sepanjang sejarah pemikiran manusia. Dalam tradisi Islam, kewajiban berbakti kepada orang tua dan memuliakan guru ditegaskan melalui ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, dan pandangan para ulama klasik maupun kontemporer. Nilai-nilai ini menjadi bagian integral dari tarbiyah yang membentuk karakter manusia beradab.¹

Di sisi lain, pemikiran filosofis di luar tradisi Islam juga menunjukkan bahwa penghormatan terhadap orang tua, pendidik, dan figur otoritatif merupakan unsur asasi dalam perkembangan moral manusia. Misalnya, etika keutamaan Aristoteles menempatkan relasi sosial yang harmonis sebagai dasar kebajikan, sementara etika deontologis Kant menekankan adanya kewajiban moral yang bersifat universal dalam menghormati sesama manusia.² Demikian pula, tradisi Konfusianisme menjadikan filial piety sebagai inti struktur tata moral masyarakat.³ Kesamaan tema ini menunjukkan bahwa praktik berbakti memiliki relevansi global sebagai ekspresi nilai dasar kemanusiaan.

Kajian tentang berbakti kepada orang tua dan guru menjadi semakin penting dalam konteks pendidikan modern yang menghadapi tantangan perubahan budaya, meningkatnya individualisme, serta melemahnya otoritas moral dalam keluarga dan sekolah. Di era digital, relasi antara peserta didik dengan orang tua dan guru mengalami transformasi yang memunculkan bentuk-bentuk baru penghormatan sekaligus potensi penyimpangan adab.⁴ Oleh karena itu, pembahasan sistematis melalui pendekatan komparatif—antara etika Islam dan filsafat moral universal—dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai landasan normatif, rasionalitas moral, dan relevansi kontemporer dari nilai berbakti.

Rumusan masalah dalam kajian ini berfokus pada: (1) bagaimana dalil-dalil Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama menjelaskan konsep berbakti kepada orang tua dan guru; (2) bagaimana pemikiran filsafat moral universal memahami konsep kewajiban, kebajikan, dan relasi etis dalam konteks penghormatan; dan (3) bagaimana analisis komparatif dapat menghasilkan sintesis yang relevan bagi pembentukan karakter siswa di Madrasah Aliyah. Tujuan utama kajian ini adalah merumuskan pemahaman filosofis–etis–Islamis yang komprehensif dan aplikatif dalam pembelajaran Akidah Akhlak.

Kajian ini diharapkan dapat memperkaya literatur pendidikan Islam dengan kerangka yang integratif, menggabungkan sumber wahyu dan tradisi keilmuan Islam dengan wawasan filsafat moral global. Melalui pendekatan ini, nilai berbakti tidak hanya dipahami sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai prinsip moral universal yang berperan penting dalam membangun masyarakat beradab, berempati, dan berintegritas.⁵


Footnotes

[1]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 52.

[2]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 37.

[3]                Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 12–13.

[4]                Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 55–58.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2002), 88.


2.           Landasan Konseptual: Keutamaan, Adab, dan Moralitas

Pembahasan mengenai berbakti kepada orang tua dan guru memerlukan landasan konseptual yang kuat, terutama terkait tiga ranah utama dalam kajian etis: keutamaan (virtue), adab (ethical conduct), dan moralitas (morality). Ketiga konsep ini saling berkaitan dalam membentuk kerangka pemahaman menyeluruh mengenai relasi etis antara murid, orang tua, dan guru dalam konteks pendidikan Islam maupun moral universal.

2.1.       Keutamaan sebagai Fondasi Karakter Moral

Keutamaan dalam tradisi filsafat didefinisikan sebagai kualitas karakter yang memungkinkan seseorang bertindak dengan baik secara konsisten. Aristoteles menegaskan bahwa kebajikan adalah kondisi jiwa yang berada pada titik tengah antara dua ekstrem yang berlawanan—misalnya keberanian yang berada di antara ketakutan dan kebodohan—dan dapat diperoleh melalui habituasi.¹ Dalam konteks berbakti kepada orang tua dan guru, keutamaan seperti hormat (respect), syukur (gratitude), dan kerendahan hati (humility) menjadi pilar utama dalam membangun hubungan yang etis.

Dalam etika Islam, konsep keutamaan berkaitan erat dengan makārim al-akhlāq, yakni sifat-sifat luhur yang dibentuk melalui kesadaran spiritual dan bimbingan wahyu. Al-Ghazālī menyebut bahwa kebajikan akhlak merupakan hasil keseimbangan jiwa, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, serta keselarasan antara akal dan syariat.² Dengan demikian, keutamaan dalam Islam tidak hanya bersifat moral-psikologis, tetapi juga teologis karena berakar pada ketaatan kepada Allah.

2.2.       Adab sebagai Tata Perilaku dan Etika Relasional

Adab dalam tradisi Islam tidak sekadar sopan santun, tetapi merupakan konsep etis yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Ibnu Qayyim menegaskan bahwa adab adalah “seluruh perilaku baik yang membawa manusia kepada kesempurnaan dirinya.”³ Dalam konteks pendidikan, adab kepada orang tua dan guru mencakup tindakan lahiriah seperti berbicara sopan, menghormati pendapat, menaati arahan, serta menghadirkan sikap batin seperti keikhlasan dan penghargaan terhadap jerih payah mereka sebagai sumber kehidupan dan pengetahuan.

Ulama klasik seperti al-Zarnūjī dalam Ta‘līm al-Muta‘allim menekankan bahwa adab adalah syarat kesuksesan penuntut ilmu, bahkan lebih penting daripada materi ilmu itu sendiri.⁴ Konsep ini mengisyaratkan bahwa relasi murid-guru dibangun atas penghormatan, kebersihan hati, dan sikap rendah hati, yang semuanya merupakan ekspresi adab. Dengan demikian, adab berfungsi sebagai kerangka praktis untuk mengimplementasikan keutamaan dalam kehidupan sehari-hari.

2.3.       Moralitas sebagai Kerangka Penilaian Etis Universal

Moralitas, secara umum, merujuk pada seperangkat prinsip yang digunakan untuk menilai benar dan salahnya tindakan manusia. Dalam etika universal, moralitas dapat didasarkan pada rasionalitas (Kant), konsekuensi tindakan (utilitarianisme), atau pembentukan karakter (etika kebajikan).⁵ Setiap pendekatan memberikan perspektif berbeda tentang kewajiban penghormatan terhadap orang tua dan guru.

Dalam perspektif Islam, moralitas bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, yang memberikan pedoman eksplisit tentang kewajiban berbakti. Namun, moralitas Islam tidak berhenti pada aspek normatif; ia menekankan tujuan spiritual dan sosial dari setiap tindakan. Ibn ‘Āshūr menyatakan bahwa syariat bertujuan menjaga kemaslahatan manusia yang mencakup aspek individu, keluarga, dan masyarakat.⁶ Dengan demikian, moralitas Islam memiliki dimensi transenden dan sosial secara bersamaan.


Keterkaitan Konseptual: Keutamaan, Adab, dan Moralitas

Ketiga konsep tersebut saling terkait secara erat. Keutamaan memberikan dasar karakter; adab memberikan bentuk praksis; moralitas memberikan kerangka evaluatif. Dalam hubungan dengan orang tua dan guru:

·                     Keutamaan membentuk sikap internal seperti syukur, sabar, dan hormat.

·                     Adab menjadi manifestasi eksternal berupa perilaku yang santun dan sesuai norma.

·                     Moralitas memberikan penilaian apakah tindakan tersebut sesuai dengan ajaran agama dan prinsip etis.

Melalui integrasi ketiganya, peserta didik tidak hanya memahami kewajiban berbakti sebagai aturan, tetapi menginternalisasikannya sebagai karakter moral yang berkelanjutan.⁷


Footnotes

[1]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 35–37.

[2]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 81–82.

[3]                Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2002), 12.

[4]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 7–8.

[5]                Peter Singer, Practical Ethics, 3rd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2011), 10–15.

[6]                Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid al-Sharī‘ah al-Islāmiyyah (Amman: Dār al-Nafā’is, 2001), 23.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam (San Francisco: HarperOne, 2004), 155.


3.           Dalil-Dalil Naqli tentang Berbakti kepada Orang Tua dan Guru

Dalil-dalil naqli dalam Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan normatif yang kuat mengenai kewajiban berbakti kepada orang tua dan memuliakan guru. Keduanya memiliki kedudukan sentral dalam struktur moral Islam, karena orang tua merupakan perantara adanya kehidupan, sedangkan guru adalah perantara sampainya ilmu. Relasi etis terhadap kedua figur ini diposisikan bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga sebagai ibadah dan manifestasi ketaatan kepada Allah.

3.1.       Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Berbakti kepada Orang Tua

Perintah berbakti kepada kedua orang tua muncul dalam berbagai ayat yang menegaskan pentingnya sikap hormat, syukur, dan kesabaran terhadap mereka. Salah satu dalil utama adalah firman Allah dalam QS. Al-Isrā’ [17] ayat 23–24:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (24)”¹

Ayat ini tidak hanya menegaskan larangan syirik sebagai prinsip akidah, tetapi segera diikuti dengan perintah ihsan kepada orang tua. Keterkaitan ini menunjukkan bahwa berbakti memiliki nilai kedekatan dengan tauhid. Ayat selanjutnya memerintahkan merendahkan diri sebagai bentuk kerendahan hati dan mendoakan mereka dengan doa rahmat.

Demikian pula, QS. Luqmān [31] ayat 14 memberikan alasan rasional dan emosional untuk berbakti:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”²

Dalam ayat ini, syukur kepada Allah dibarengkankan dengan syukur kepada orang tua karena keduanya menjadi sumber eksistensi—Allah sebagai pencipta, dan orang tua sebagai perantara kelahiran dan pemeliharaan. Dimensi ini menegaskan fondasi teologis dari etika berbakti.

3.2.       Hadis-Hadis Nabi tentang Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Hadis-hadis Nabi menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan amal yang memiliki keutamaan besar. Dalam sebuah riwayat sahih, ketika Nabi ditanya tentang amal paling dicintai Allah, beliau menjawab:

“Salat pada waktunya.”

Lalu ditanya lagi: “Kemudian apa?”

Nabi menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.”³

Posisi berbakti setelah salat menunjukkan nilai spiritual yang tinggi. Dalam riwayat lain, dosa durhaka (‘uqūq al-wālidayn) disebut sebagai salah satu dosa besar.⁴ Hadis-hadis ini mengukuhkan bahwa berbakti merupakan kewajiban moral dan sosial yang berdampak pada kualitas keimanan seorang muslim.

3.3.       Dalil tentang Memuliakan Guru dan Kedudukan Pemberi Ilmu

Meskipun Al-Qur’an tidak menyebut guru secara eksplisit, konsep penghormatan kepada ahli ilmu sangat kuat dalam nash. Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“…Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu…” (QS. Al-Mujādilah [58] ayat 11).⁵

Ayat ini menegaskan bahwa pemilik ilmu memiliki martabat lebih tinggi, yang menjadi dasar bagi penghormatan terhadap guru sebagai penjaga dan penyampai ilmu. Ulama tafsir seperti al-Ṭabarī menjelaskan bahwa derajat tinggi ini mencakup penghormatan manusia dan keutamaan di sisi Allah.⁶

Dalam hadis, Rasulullah menegaskan peran guru sebagai pewaris misi kenabian:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.”⁷

Hadis ini tidak hanya memosisikan ulama sebagai pewaris ilmu, tetapi juga penjaga moralitas dan akhlak masyarakat. Dengan demikian, memuliakan guru berarti memuliakan warisan kenabian.


Keterkaitan Dalil tentang Orang Tua dan Guru

Para ulama menyebut guru sebagai al-wālīd al-rūḥānī (ayah spiritual) karena melalui guru, seseorang memperoleh kehidupan intelektual dan moral.⁸ Kedudukan ini melengkapi kedudukan orang tua biologis sebagai sumber kehidupan jasmani. Oleh karena itu, penghormatan terhadap guru dipandang sebagai kelanjutan logis dan spiritual dari penghormatan kepada orang tua.

Dalam tradisi ṭalab al-‘ilm, murid diperintahkan untuk menundukkan suara, tidak mendahului perkataan guru, menerima nasihat dengan lapang dada, serta menjaga perasaan dan kehormatannya. Prinsip-prinsip ini bersumber dari adab Nabi dan para sahabat kepada para ahli ilmu.⁹

Dengan demikian, dalil-dalil naqli memberikan fondasi normatif yang kuat untuk memuliakan orang tua dan guru, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan nilai etis secara komparatif dengan pemikiran moral universal. Dalil-dalil ini tidak hanya berbicara mengenai kewajiban formal, tetapi juga menanamkan kesadaran emosional, spiritual, dan sosial terhadap peran mereka dalam kehidupan manusia.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17] ayat 23–24.

[2]                Al-Qur’an, QS. Luqmān [31] ayat 14.

[3]                Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 85.

[4]                Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 5976.

[5]                Al-Qur’an, QS. Al-Mujādilah [58] ayat 11.

[6]                Abū Ja‘far al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān (Beirut: Dār al-Fikr, 1988), 28:124.

[7]                Abū Dāwūd Sulaymān ibn al-Ash‘ath, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-‘Ilm, no. 3641.

[8]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:52.

[9]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 10–12.


4.           Pandangan Ulama tentang Keutamaan dan Adab Berbakti

Pandangan ulama mengenai kewajiban dan keutamaan berbakti kepada orang tua dan memuliakan guru menunjukkan keluasan tradisi etika Islam dalam membangun karakter sosial dan spiritual. Ulama klasik maupun kontemporer memberikan perhatian besar terhadap topik ini, karena ia menjadi fondasi keberadaban individu sekaligus syarat keberlangsungan ilmu. Relasi murid–guru serta anak–orang tua dipahami bukan hanya sebagai hubungan sosial, tetapi juga sebagai bagian integral dari ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah.

4.1.       Perspektif Ulama Klasik tentang Berbakti kepada Orang Tua

Ulama klasik memberikan penekanan bahwa birr al-wālidayn adalah kewajiban moral yang memiliki dimensi teologis dan spiritual yang sangat dalam. Al-Ghazālī, misalnya, menempatkan kewajiban berbakti kepada orang tua sebagai bagian dari makārim al-akhlāq, yaitu puncak akhlak mulia yang menjadi tujuan pendidikan jiwa. Ia menegaskan bahwa kebaikan kepada orang tua merupakan refleksi dari pengenalan manusia terhadap asal-usul keberadaan dan rahmat Allah.¹

Ibn Kathīr dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketaatan kepada orang tua memiliki kedudukan setelah tauhid, sebagaimana ditunjukkan oleh struktur ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa hubungan anak–orang tua adalah pilar utama dalam pembentukan masyarakat Muslim yang kokoh.² Para ulama hadis, seperti al-Nawawī, juga menegaskan bahwa ‘uqūq al-wālidayn (durhaka kepada orang tua) termasuk dosa besar yang dapat merusak integritas moral seorang Muslim.³

Ulama klasik sepakat bahwa berbakti kepada orang tua mencakup aspek lahir dan batin: bersikap lembut, merendahkan suara, menghormati keputusan mereka, membantu kebutuhan mereka, serta mendoakan mereka baik di masa hidup maupun sesudah wafat. Dimensi ini menunjukkan bahwa pandangan ulama tidak hanya menekankan kewajiban hukum, tetapi juga kedalaman spiritual dan emosional sebagai inti etika Islam.

4.2.       Perspektif Ulama Klasik tentang Memuliakan Guru

Konsep memuliakan guru juga menjadi perhatian besar dalam tradisi ulama klasik. Imam al-Zarnūjī dalam Ta‘līm al-Muta‘allim menganggap adab terhadap guru sebagai syarat mutlak bagi keberkahan ilmu. Ia menekankan bahwa ilmu tidak akan menetap dalam hati seorang murid yang tidak menghormati gurunya.⁴ Pandangan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik dipahami sebagai perpaduan antara usaha intelektual dan kebersihan adab.

Al-Ghazālī juga memberikan uraian khusus tentang adab penuntut ilmu kepada guru, seperti tidak berjalan di depan guru, tidak banyak bicara tanpa izin, tidak membantah secara keras, dan menjaga kehormatan guru di hadapan orang lain.⁵ Ia menegaskan bahwa guru adalah perantara spiritual (al-wāsiṭah al-rūḥāniyyah) yang menghubungkan murid kepada cahaya ilmu dan hikmah.⁶

Ibn Jamā‘ah, seorang ulama besar dalam bidang pendidikan Islam, menekankan pentingnya sikap ta‘ẓīm (pengagungan) kepada guru sebagai bentuk pengakuan terhadap kemuliaan ilmu.⁷ Pandangan ini memperkuat konsep bahwa penghormatan kepada guru tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga merupakan bagian dari penghormatan kepada ilmu itu sendiri.

4.3.       Perspektif Ulama Modern tentang Etika Berbakti

Ulama kontemporer memberikan penjelasan yang lebih kontekstual mengenai kewajiban berbakti dan memuliakan guru dalam lingkungan modern. Yūsuf al-Qaraḍāwī, misalnya, menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua mencakup bentuk-bentuk modern seperti membangun komunikasi sehat, memberikan perhatian emosional, serta memperlakukan mereka dengan penuh empati di tengah perubahan gaya hidup urban.⁸ Ia juga mengingatkan bahwa penghormatan tidak berarti menghilangkan kemampuan kritis atau menoleransi kemaksiatan, sesuai prinsip lā ṭā‘ata li-makhlūq fī ma‘ṣiyat al-Khāliq.⁹

Ibn ‘Āshūr menyoroti nilai-nilai maqāṣid al-sharī‘ah dalam relasi keluarga, di mana berbakti kepada orang tua merupakan bagian dari penjagaan tatanan sosial dan penguatan institusi keluarga.¹⁰ Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap guru adalah investasi sosial yang menjaga kesinambungan ilmu dan peradaban, sehingga guru memiliki status moral yang tinggi dalam masyarakat.

4.4.       Etika Relasi Murid–Guru dalam Tradisi Ṭalab al-‘Ilm

Para ulama memandang hubungan murid dan guru sebagai hubungan adab yang saling menguatkan. Murid wajib menghormati guru, sementara guru berkewajiban membimbing dengan hikmah dan kesabaran. Al-Zarnūjī menyebutkan adab-adab penting seperti tidak menyakiti hati guru, tidak memotong pembicaraan, dan tidak mengkritik guru tanpa adab ilmiah.¹¹

Dalam banyak riwayat, para sahabat menunjukkan keteladanan etika ini. Ibn ‘Abbās misalnya duduk merendah di hadapan Zayd ibn Thābit sambil memegang tali kendaraan beliau sebagai bentuk penghormatan terhadap gurunya dalam ilmu tafsir.¹² Ulama mencontohkan perilaku ini sebagai ekspresi tulus dari pengakuan terhadap martabat ilmu dan pendidiknya.


Penghormatan sebagai Jalan Menjaga Keberkahan Ilmu

Para ulama menegaskan bahwa adab terhadap orang tua dan guru memiliki dimensi spiritual yang dalam. Ilmu yang diperoleh dari guru yang dihormati dengan baik diyakini lebih berkah, lebih menetap dalam hati, dan lebih bermanfaat dalam kehidupan. Pandangan ini bukan semata-mata metaforis, tetapi berkaitan dengan kesiapan psikologis dan spiritual murid dalam menerima dan mengamalkan ilmu.¹³

Dalam seluruh pandangan ulama, tampak bahwa keutamaan berbakti dan memuliakan merupakan manifestasi dari integrasi antara akhlak, syariat, dan spiritualitas. Nilai-nilai ini menjadi pilar etika yang menjembatani antara ajaran Islam klasik dan kebutuhan moral kontemporer.


Footnotes

[1]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:52–54.

[2]                Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 2000), 5:67.

[3]                Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2001), 2:92.

[4]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 8–10.

[5]                al-Ghazālī, Iḥyā’, 1:60–63.

[6]                Ibid., 1:57.

[7]                Badr al-Dīn Ibn Jamā‘ah, Tadhkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim (Beirut: Dār al-Bashā’ir, 2003), 45–47.

[8]                Yūsuf al-Qaraḍāwī, al-‘Ilm wa al-‘Ulamā’ (Cairo: Maktabah Wahbah, 1996), 112–115.

[9]                Ibid., 118.

[10]             Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid al-Sharī‘ah al-Islāmiyyah (Amman: Dār al-Nafā’is, 2001), 221–223.

[11]             al-Zarnūjī, Ta‘līm, 11–12.

[12]             Ibn Sa‘d, Ṭabaqāt al-Kubrā (Beirut: Dār Ṣādir, 1968), 2:368.

[13]             al-Ghazālī, Iḥyā’, 1:55.


5.           Genealogi Filsafat Moral Universal terkait Penghormatan dan Relasi Etis

Kajian mengenai penghormatan kepada orang tua dan guru dalam perspektif moral universal memiliki akar panjang dalam sejarah filsafat. Dalam berbagai tradisi pemikiran, relasi etis antara individu yang lebih muda dan mereka yang lebih tua atau lebih berpengetahuan dipandang sebagai fondasi penting bagi keteraturan moral dan sosial. Genealogi filsafat moral menunjukkan bahwa penghormatan bukan sekadar sikap sosial, melainkan sebuah prinsip etis yang terus dibahas, dipertahankan, dan dikembangkan dari zaman klasik hingga kontemporer.

5.1.       Etika Keutamaan Aristoteles: Relasi Harmonis dan Pembentukan Karakter

Dalam tradisi Yunani Kuno, Aristoteles mendudukkan kebajikan sebagai disposisi moral yang dibentuk melalui kebiasaan (hexis).¹ Penghormatan terhadap orang tua dan guru dipahami sebagai bagian dari relasi sosial yang harmonis, yang mendukung terbentuknya karakter baik dalam diri seseorang. Aristoteles menekankan bahwa manusia adalah zoon politikon (makhluk sosial), sehingga relasi dengan figur yang lebih tua atau lebih berpengetahuan berperan penting dalam pembentukan keutamaan.²

Hubungan murid–guru dalam etika Aristoteles juga dilandasi konsep phronesis (kebijaksanaan praktis), di mana murid belajar dari pengalaman moral guru sebagai teladan utama dalam pembentukan kebiasaan baik.³ Dengan demikian, pengembangan karakter melalui penghormatan tidak hanya bersifat moral, tetapi juga epistemologis karena berkaitan dengan proses memperoleh pengetahuan etis.

5.2.       Etika Deontologis Kant: Kewajiban Menghormati Sesama sebagai Imperatif Moral

Immanuel Kant memandang penghormatan sebagai konsekuensi dari martabat manusia yang melekat dan bersifat universal. Dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals, Kant menegaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri (end in itself) dan bukan sebagai alat.⁴ Prinsip ini melahirkan kewajiban moral untuk menghormati sesama manusia tanpa syarat, termasuk orang tua dan guru.

Bagi Kant, penghormatan adalah bentuk duty of respect, yakni kewajiban moral yang lahir dari rasionalitas praktis manusia.⁵ Walaupun tidak mengkhususkan relasi keluarga atau pendidikan, struktur etika Kantian memberikan dasar universal bahwa kewajiban penghormatan adalah bagian dari martabat rasional manusia. Dalam konteks murid–guru, prinsip tersebut dapat diterjemahkan sebagai kewajiban menghargai otoritas moral guru berdasarkan keunggulan pengetahuan, bukan superioritas sosial.

5.3.       Etika Relasional: Kepedulian, Empati, dan Ketergantungan Moral

Dalam tradisi etika kontemporer, terutama etika kepedulian (ethics of care), relasi etis dipahami bukan hanya sebagai kewajiban formal, tetapi sebagai hubungan emosional yang dibangun atas dasar empati dan perhatian. Carol Gilligan menekankan bahwa moralitas tidak hanya berasal dari prinsip abstrak, tetapi juga dari relasi konkret yang membutuhkan perhatian dan pemeliharaan.⁶

Nel Noddings mengembangkan konsep bahwa hubungan merawat (caring relationship) merupakan inti etika, dan pembelajaran moral terjadi dalam konteks hubungan yang hangat dan penuh perhatian—sesuatu yang sangat relevan dengan relasi murid–guru.⁷ Dalam perspektif ini, penghormatan kepada orang tua dan guru bukan hanya kewajiban, tetapi juga wujud kesadaran akan ketergantungan moral manusia pada figur perawatan dan pengajaran.

5.4.       Konfusianisme dan Konsep Filial Piety (Xiao)

Dalam genealoginya, tradisi Timur juga memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman universal mengenai penghormatan. Konfusianisme menempatkan xiao (bakti kepada orang tua) sebagai inti struktur etika dan sosial. Konfusius mengajarkan bahwa keharmonisan masyarakat bergantung pada hubungan berjenjang yang dijaga melalui hormat, ketaatan, dan kesetiaan.⁸

Dalam The Analects, tercatat bahwa bakti tidak hanya berupa pelayanan fisik, tetapi juga sikap hormat, ketulusan, dan kesediaan untuk mengembalikan kebaikan yang diterima.⁹ Relasi murid–guru dalam tradisi ini sangat kuat; guru dianggap sebagai figur moral yang membentuk kebajikan murid. Konsep ini menunjukkan paralel signifikan dengan tradisi Islam yang memuliakan orang tua dan guru sebagai dua sumber utama pembentukan karakter.

5.5.       Etika Timbal Balik: Prinsip Universal tentang Kebaikan Relasional

Banyak tradisi etika mengembangkan prinsip timbal balik sebagai dasar penghormatan. Prinsip ini—“perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”—muncul dalam berbagai budaya, seperti ajaran Yesus dalam Kekristenan, filsafat Stoik, hingga etika Buddha.¹⁰ Prinsip ini menekankan bahwa penghormatan adalah bentuk pengakuan terhadap kesetaraan moral sesama manusia.

Dalam konteks penghormatan kepada orang tua dan guru, prinsip timbal balik dapat diterapkan dalam bentuk rasa syukur atas jasa yang diberikan, kesediaan untuk membalas kebaikan, dan komitmen untuk menjaga kehormatan mereka sebagai figur penting dalam kehidupan.


Keterkaitan Genealogis dalam Pemikiran Etika

Jika dirangkum, genealoginya menunjukkan bahwa:

·                     Tradisi Yunani menekankan pembentukan karakter melalui relasi harmonis.

·                     Tradisi modern Eropa menekankan kewajiban moral universal berdasarkan rasionalitas.

·                     Etika relasional kontemporer menekankan kepedulian, empati, dan hubungan manusiawi.

·                     Tradisi Timur memberikan dasar kuat bagi hierarki moral dan penghormatan.

Kesamaan utama dari semua tradisi tersebut adalah keyakinan bahwa penghormatan kepada figur yang lebih tua atau lebih berpengetahuan merupakan unsur fundamental bagi tatanan moral yang baik. Meski berbeda dasar filosofis, seluruh tradisi mengakui bahwa hubungan ini merupakan pilar kebajikan, keharmonisan sosial, dan pendidikan moral.

Pemahaman genealogis ini sangat penting ketika membandingkan pemikiran etika universal dengan etika Islam, karena memperlihatkan bahwa nilai berbakti bukan hanya ajaran agama, tetapi juga bagian dari warisan etis umat manusia secara keseluruhan.


Footnotes

[1]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 33–40.

[2]                Ibid., 109.

[3]                Ibid., 95–98.

[4]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 36–37.

[5]                Ibid., 42–44.

[6]                Carol Gilligan, In a Different Voice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1982), 15–23.

[7]                Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 17–22.

[8]                Tu Weiming, Centrality and Commonality: An Essay on Confucian Religiousness (Albany: SUNY Press, 1989), 47–50.

[9]                Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 11–13.

[10]             Stephen Palmquist, “The Golden Rule as the Principle of Practical Reason,” Philosophia 40, no. 3 (2012): 591–601.


6.           Analisis Komparatif: Etika Islam dan Filsafat Moral Universal

Analisis komparatif antara etika Islam dan filsafat moral universal memberikan gambaran yang lebih kaya mengenai landasan, orientasi, dan tujuan moralitas dalam menghormati orang tua dan guru. Walaupun kedua tradisi memiliki perbedaan epistemologis dan teleologis, keduanya bertemu pada pengakuan bahwa penghormatan merupakan keutamaan fundamental bagi pembentukan karakter dan keteraturan sosial. Kajian ini memfokuskan pada titik temu dan titik beda yang dapat memperkaya pemahaman etis dalam konteks pembelajaran Akidah Akhlak.

6.1.       Kesamaan Landasan Normatif: Penghormatan sebagai Nilai Universal

Baik dalam etika Islam maupun moral universal, penghormatan kepada orang tua dan guru dipandang sebagai kewajiban moral dasar. Dalam Islam, kewajiban ini bersumber dari wahyu, sebagaimana ditegaskan dalam ayat dan hadis mengenai birr al-wālidayn dan penghormatan terhadap ahli ilmu.¹ Kewajiban ini berkaitan dengan pengakuan terhadap peran orang tua sebagai perantara kehidupan dan guru sebagai perantara ilmu.

Dalam moral universal, penghormatan juga merupakan nilai yang sangat dijunjung. Aristoteles memandang relasi harmonis dengan orang tua dan pembimbing moral sebagai bagian dari pembentukan karakter.² Immanuel Kant melihat penghormatan sebagai bagian dari duty of respect, yaitu kewajiban yang muncul dari martabat manusia sebagai makhluk rasional.³ Konfusianisme menjadikan filial piety sebagai inti tatanan moral masyarakat.⁴

Kesamaan ini menunjukkan bahwa penghormatan bukan hanya prinsip keagamaan, tetapi juga prinsip etis yang diakui secara global.

6.2.       Perbedaan Orientasi Teleologis: Transendensi vs. Humanisme

Salah satu perbedaan mendasar antara etika Islam dan moral universal terletak pada orientasi teleologisnya. Etika Islam berorientasi pada tujuan transenden: ketaatan kepada Allah, pencarian ridha-Nya, dan pengharapan balasan ukhrawi. Al-Ghazālī menegaskan bahwa setiap tindakan moral memiliki dimensi spiritual yang berhubungan dengan penyucian hati dan kedekatan dengan Allah.⁵ Oleh karena itu, berbakti kepada orang tua dan guru bukan hanya tindakan sosial, tetapi ibadah.

Sebaliknya, sebagian besar filsafat moral universal, terutama sejak era Pencerahan, bersifat humanistik. Kant, misalnya, mengembangkan moralitas berdasarkan rasionalitas manusia tanpa merujuk otoritas transenden.⁶ Etika keutamaan Aristoteles berfokus pada eudaimonia (kebahagiaan dan aktualisasi diri) sebagai tujuan tertinggi manusia.⁷ Dalam etika kepedulian, orientasi moral berpusat pada pemeliharaan relasi manusia sebagai nilai intrinsik.⁸

Perbedaan orientasi ini menghasilkan variasi dalam motivasi moral: Islam menekankan niat dan aspek transendensi, sementara filsafat universal menekankan rasionalitas, kesejahteraan, atau relasi sosial.

6.3.       Relasi Orang Tua–Anak dan Guru–Murid dalam Kerangka Moral Universal dan Islam

Dalam etika Islam, hubungan orang tua–anak dibangun atas dasar kewajiban syar‘i, rasa syukur, dan pengakuan terhadap jasa besar orang tua. Relasi guru–murid juga dijelaskan melalui konsep ta‘ẓīm (pengagungan) terhadap ilmu dan ahlinya.⁹ Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing spiritual, sebagaimana ditegaskan oleh ulama seperti al-Zarnūjī.

Dalam moral universal, relasi ini dijelaskan melalui konsep yang berbeda.

·                     Aristoteles melihat hubungan orang tua–anak sebagai relasi yang dibentuk oleh keadilan proporsional dan kasih sayang.¹⁰

·                     Konfusianisme memperluas konsep filial piety hingga menghormati semua figur otoritatif termasuk guru.¹¹

·                     Etika kepedulian menekankan pentingnya kepercayaan, ketergantungan moral, dan empati dalam relasi pendidikan.¹²

Walaupun dasar teoretis kedua tradisi berbeda, keduanya menegaskan bahwa relasi ini adalah unsur fundamental dalam pembentukan karakter moral.

6.4.       Titik Temu: Kebajikan dan Keharmonisan Sosial

Terdapat sejumlah titik temu antara etika Islam dan moral universal, terutama dalam aspek pembentukan karakter dan keharmonisan sosial. Islam mengajarkan nilai-nilai seperti kesabaran, kelembutan, kerendahan hati, syukur, dan hormat kepada orang yang berjasa.¹³ Filsafat moral universal, melalui etika keutamaan dan etika relasional, juga menekankan pembentukan karakter baik dan relasi sosial yang seimbang.

Keduanya sepakat bahwa penghormatan kepada orang tua dan guru bukan hanya norma moral, tetapi merupakan fondasi bagi tatanan masyarakat yang adil, harmonis, dan beradab. Titik temu ini dapat menjadi jembatan pedagogis dalam pendidikan moral di sekolah.

6.5.       Titik Beda: Sumber Legitimasi Moral

Sumber legitimasi moral dalam Islam bersumber dari wahyu, sehingga nilai berbakti memiliki status kewajiban yang bersifat ilahiah. Ibn ‘Āshūr menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga kemaslahatan sosial dengan menjadikan keluarga dan pendidikan sebagai institusi utama.¹⁴

Sementara itu, filsafat moral universal membangun legitimasi berdasarkan rasionalitas, pengalaman manusia, atau kesepakatan sosial. Kant melihat sumber moralitas pada autonomy of reason, sedangkan Gilligan dan Noddings melihatnya pada hubungan manusia yang saling merawat.¹⁵

Perbedaan ini memberikan dua cara pandang moral:

·                     Islam: moralitas sebagai perintah ilahi yang bersifat transenden.

·                     Etika universal: moralitas sebagai konstruksi rasional atau relasional manusia.


Penghormatan sebagai Kebajikan Relasional: Integrasi Dua Tradisi

Walaupun berbeda dasar, penghormatan dapat dilihat sebagai kebajikan relasional yang dihargai oleh kedua tradisi.

·                     Islam menekankan adab lahir batin serta keberkahan ilmu dan kehidupan.

·                     Moral universal menekankan keseimbangan relasi, keadilan, dan pemeliharaan integritas sosial.

Integrasi keduanya memungkinkan pendekatan komprehensif dalam pendidikan: menggunakan sumber wahyu sebagai pondasi normatif, sekaligus memanfaatkan teori moral universal untuk memperkaya pemahaman pedagogis dan psikologis.

Dengan demikian, analisis komparatif ini menegaskan bahwa nilai penghormatan memiliki kedudukan universal yang melampaui batas agama dan budaya. Namun, etika Islam memberikan kedalaman spiritual dan orientasi transenden yang melengkapi kerangka moral universal. Integrasi ini sangat bermanfaat untuk membangun etika berbakti yang holistik dalam kurikulum Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17] ayat 23–24; Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 85.

[2]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 109–112.

[3]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 42–44.

[4]                Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 12–14.

[5]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:57–60.

[6]                Kant, Groundwork, 36–38.

[7]                Aristotle, Nicomachean Ethics, 112–115.

[8]                Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 17–22.

[9]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 11–14.

[10]             Aristotle, Nicomachean Ethics, 118–120.

[11]             Tu Weiming, Centrality and Commonality: An Essay on Confucian Religiousness (Albany: SUNY Press, 1989), 47–50.

[12]             Carol Gilligan, In a Different Voice (Cambridge: Harvard University Press, 1982), 22–25.

[13]             al-Ghazālī, Iḥyā’, 1:75–80.

[14]             Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid al-Sharī‘ah al-Islāmiyyah (Amman: Dār al-Nafā’is, 2001), 221–223.

[15]             Noddings, Caring, 19–22.


7.           Keutamaan Etis dalam Perspektif Islam dan Moral Universal

Pembahasan mengenai keutamaan etis merupakan inti dari kajian akhlak dan filsafat moral. Keutamaan—baik dalam tradisi Islam maupun moral universal—dipahami sebagai kualitas luhur yang membentuk karakter dan mengarahkan tindakan manusia kepada kebaikan. Dalam konteks berbakti kepada orang tua dan guru, keutamaan menjadi kerangka yang menjelaskan mengapa dan bagaimana seseorang harus menghormati figur-figur yang menjadi sumber kehidupan dan pengetahuan. Bagian ini menguraikan keutamaan utama dalam dua perspektif tersebut, sekaligus menunjukkan relevansi dan titik-titik pertemuannya.

7.1.       Syukur dan Penghormatan sebagai Keutamaan Primer

Dalam Islam, syukur (al-shukr) merupakan salah satu keutamaan paling mendasar yang berkaitan langsung dengan kewajiban berbakti. Syukur kepada Allah dibarengkan dengan syukur kepada orang tua, sebagaimana difirmankan dalam QS. Luqmān [31] ayat 14.¹ Ulama seperti al-Ghazālī menafsirkan syukur sebagai pengakuan hati, pengucapan lisan, dan penunaian amal baik sebagai balasan atas kebaikan yang diterima.² Karena orang tua dan guru merupakan perantara nikmat kehidupan dan ilmu, maka penghormatan kepada mereka dipandang sebagai manifestasi syukur yang konkret.

Dalam moral universal, pengakuan terhadap jasa orang tua dan guru juga dipandang sebagai keutamaan. Aristoteles menempatkan penghargaan kepada mereka sebagai bagian dari justice in relations (keadilan relasional), yakni memberi apa yang pantas kepada mereka yang telah berjasa.³ Etika Konfusianisme juga menganggap hormat sebagai inti kebajikan dalam membangun harmoni keluarga dan masyarakat.⁴

Kedua tradisi bertemu pada gagasan bahwa syukur dan penghormatan bukan hanya sikap emosional, tetapi kebajikan moral yang membentuk perilaku.

7.2.       Keikhlasan, Niat, dan Komitmen Moral

Keikhlasan (al-ikhlāṣ) memiliki kedudukan sentral dalam etika Islam. Ajaran Islam menekankan bahwa kualitas moral bergantung pada niat, sebagaimana hadis Nabi: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”⁵ Keikhlasan membuat tindakan berbakti tidak sekadar formalitas, melainkan bentuk ketaatan yang tulus karena Allah. Dengan demikian, penghormatan kepada orang tua dan guru tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga spiritual.

Sebaliknya, dalam moral universal, komitmen moral dipahami sebagai konsistensi terhadap prinsip-prinsip etis. Kant memandang komitmen moral sebagai hasil dari good will, yaitu kehendak yang bertindak sesuai kewajiban moral secara rasional.⁶ Walaupun tidak berbicara tentang niat spiritual, gagasan Kant mengenai tindakan bermoral karena kewajiban memiliki paralel dengan konsep keikhlasan sebagai motivasi internal.

Dengan demikian, keikhlasan dalam Islam dan komitmen moral dalam filsafat universal merupakan dua bentuk keutamaan yang menekankan kedalaman integritas pelaku moral.

7.3.       Kesabaran, Ketekunan, dan Disiplin Etis

Islam menempatkan kesabaran (al-ṣabr) sebagai salah satu keutamaan besar, yang sering dikaitkan dengan keteguhan dalam menghadapi kesulitan dan tetap memperlakukan orang tua serta guru dengan adab meskipun ada perbedaan atau tantangan. Ulama seperti Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kesabaran adalah fondasi bagi seluruh kebajikan karena ia mengendalikan dorongan negatif dan menstabilkan emosi.⁷

Dalam tradisi moral universal, terutama etika keutamaan Aristoteles, kesabaran terkait dengan kebajikan temperance (pengendalian diri) yang mengatur perilaku manusia agar tidak berlebihan dalam emosi.⁸ Demikian juga, filsafat Stoik menekankan keteguhan batin dalam menghadapi tekanan hidup dan tetap menjaga relasi sosial.

Kedua tradisi menunjukkan bahwa kesabaran dan ketekunan adalah keutamaan yang diperlukan untuk mempertahankan adab kepada figur otoritatif dalam segala keadaan.

7.4.       Kerendahan Hati dan Sikap Belajar Sepanjang Hayat

Kerendahan hati (tawāḍu‘) menjadi keutamaan signifikan dalam hubungan murid–guru. Ulama seperti al-Zarnūjī menegaskan bahwa ilmu tidak akan menetap dalam hati orang yang sombong terhadap gurunya.⁹ Kerendahan hati bukan hanya sopan santun, tetapi kesadaran bahwa ilmu berasal dari Allah melalui perantara manusia.

Dalam etika universal, kerendahan hati berkaitan dengan keutamaan intellectual humility, yang dipandang para filsuf kontemporer sebagai kondisi di mana seseorang menyadari keterbatasannya dan bersedia belajar dari orang lain.¹⁰ Konsep ini sangat relevan dalam dunia pendidikan modern dan sejalan dengan etika Islam.

Kedua tradisi menempatkan kerendahan hati sebagai fondasi bagi sikap belajar sepanjang hayat, yang sangat penting dalam membangun karakter murid.

7.5.       Empati, Kasih Sayang, dan Kepedulian Relasional

Islam menekankan kasih sayang (raḥmah) sebagai inti moralitas. Nabi Muhammad digambarkan sebagai “rahmatan lil-‘ālamīn” (QS. Al-Anbiyā’ [21] ayat 107), dan beliau mencontohkan rasa kasih terhadap anak-anak, orang tua, serta para sahabat yang belajar darinya.¹¹ Penghormatan kepada orang tua dan guru tidak terlepas dari sikap empati terhadap jerih payah, usia, dan tanggung jawab mereka.

Etika kepedulian (Gilligan, Noddings) menempatkan empati, perhatian, dan relasi emosional sebagai inti moralitas.¹² Penghormatan dalam etika kepedulian tidak hanya bersumber dari kewajiban, tetapi dari hubungan manusiawi yang saling menguatkan.

Dengan demikian, baik Islam maupun moral universal menekankan bahwa penghormatan yang sejati harus mengandung kasih sayang dan empati, bukan sekadar tindakan formal.


Analis Sintesis: Keutamaan sebagai Titik Temu Dua Tradisi

Tinjauan komparatif menunjukkan bahwa keutamaan dalam Islam dan moral universal memiliki titik pertemuan yang kuat:

·                     Syukur dan penghormatan

·                     Keikhlasan dan komitmen moral

·                     Kesabaran dan pengendalian diri

·                     Kerendahan hati dan sikap belajar

·                     Empati dan kepedulian relasional

Perbedaannya terutama terletak pada sumber dan tujuan: Islam menekankan landasan wahyu dan orientasi ukhrawi, sementara moral universal menekankan rasionalitas atau relasi manusiawi. Namun, keduanya sama-sama menempatkan keutamaan sebagai fondasi karakter moral yang membimbing manusia dalam relasinya dengan orang tua dan guru.

Keutamaan-keutamaan ini menjadi rujukan penting dalam pendidikan Akidah Akhlak, terutama dalam pembentukan generasi yang tidak hanya memahami kewajiban berbakti, tetapi juga menginternalisasikannya dalam bentuk karakter yang luhur dan konsisten.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Luqmān [31] ayat 14.

[2]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:91–92.

[3]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 116–118.

[4]                Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 10–12.

[5]                Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Bad’ al-Waḥy, no. 1.

[6]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 36.

[7]                Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2002), 102–104.

[8]                Aristotle, Nicomachean Ethics, 145–147.

[9]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 8–10.

[10]             Robert C. Roberts and W. Jay Wood, Intellectual Virtues: An Essay in Regulative Epistemology (Oxford: Oxford University Press, 2007), 19–22.

[11]             Al-Qur’an, QS. Al-Anbiyā’ [21] ayat 107.

[12]             Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 15–18.


8.           Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Pembahasan mengenai kewajiban berbakti kepada orang tua dan guru tidak hanya berakar pada aspek normatif dan praktis, tetapi juga memiliki kedalaman filosofis yang melibatkan tiga dimensi utama: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ketiga dimensi ini memberikan kerangka analitis untuk memahami bagaimana nilai berbakti dibangun, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan manusia, baik dalam perspektif etika Islam maupun filosofi moral universal. Dengan demikian, nilai berbakti tampil bukan hanya sebagai aturan perilaku, tetapi sebagai prinsip eksistensial yang membentuk tatanan ilmu, relasi, dan moralitas.

8.1.       Dimensi Ontologis: Eksistensi, Kedudukan, dan Relasi Moral

Dimensi ontologis berfokus pada hakikat keberadaan manusia dan relasinya dengan figur-figur yang memiliki kedudukan fundamental dalam perjalanan hidupnya.

8.1.1.    Orang tua sebagai perantara eksistensi

Dalam Islam, orang tua dipandang sebagai sebab keberadaan (asbāb al-wujūd) yang melalui merekalah Allah mewujudkan kehidupan manusia. Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam penegasan syukur kepada orang tua setelah syukur kepada Allah (QS. Luqmān [31] ayat 14).¹ Oleh karena itu, kedudukan ontologis orang tua melampaui relasi biologis; ia merupakan bagian dari struktur penciptaan yang memengaruhi identitas dan keberadaan manusia.

Para ulama seperti Ibn Kathīr menegaskan bahwa penghormatan kepada orang tua adalah konsekuensi dari pengakuan manusia terhadap asal-usul eksistensi dirinya.² Secara ontologis, seseorang berbudi karena ia menyadari dirinya sebagai makhluk yang bergantung pada sebab keberadaannya.

8.1.2.    Guru sebagai perantara eksistensi intelektual

Dalam tradisi Islam, guru diposisikan sebagai al-wālīd al-rūḥānī (ayah spiritual), yakni figur yang memberikan kehidupan intelektual dan moral melalui ilmu. Al-Ghazālī menjelaskan bahwa guru adalah “penyebab tegaknya jiwa,” karena ilmu yang diajarkan membuat jiwa mencapai kesempurnaan.³

Dalam filsafat moral universal, peran guru juga dipahami ontologis dalam arti membentuk “dunia batin” murid. Aristoteles memandang pembimbing moral sebagai agen pembentuk karakter, sementara tradisi Konfusianisme menempatkan guru sebagai figur harmonisasi sosial.⁴

Dengan demikian, relasi dengan orang tua dan guru merupakan relasi ontologis yang menegaskan asal-usul kehidupan dan asal-usul pengetahuan.

8.2.       Dimensi Epistemologis: Cara Memahami Kewajiban dan Menyerap Nilai

Dimensi epistemologis membahas bagaimana manusia memperoleh pengetahuan tentang kewajiban berbakti dan bagaimana nilai tersebut dipahami dan diinternalisasi.

8.2.1.    Sumber pengetahuan moral dalam Islam

Dalam Islam, pengetahuan tentang kewajiban berbakti diperoleh melalui:

þ Wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), yang menjadi dasar normatif.

þ Akal, yang mengenali kebaikan sebagai sesuatu yang rasional.

þ Pengalaman, melalui hubungan nyata antara anak–orang tua dan murid–guru.

Ibn ‘Āshūr menekankan bahwa syariat didasarkan pada hikmah dan kemaslahatan yang dapat dipahami oleh akal manusia, termasuk kewajiban berbakti sebagai fondasi tatanan keluarga dan masyarakat.⁵

8.2.2.    Pengetahuan moral dalam filsafat universal

Dalam filsafat universal, pengetahuan moral diperoleh melalui:

þ Rasionalitas (Kant), di mana kewajiban moral dapat diketahui melalui hukum moral dalam akal praktis.⁶

þ Pengalaman dan habituasi (Aristoteles), di mana kebajikan dipelajari melalui pembiasaan dalam relasi dengan pembimbing moral.⁷

þ Relasi empatik (Noddings), yang menekankan bahwa nilai moral dipahami melalui pengalaman saling merawat.⁸

Kedua perspektif ini bertemu pada keyakinan bahwa nilai moral tidak hanya diketahui secara teoritis, tetapi dipraktikkan melalui relasi.

8.2.3.    Guru sebagai mediator epistemik

Dalam epistemologi Islam, guru berperan sebagai perantara pengetahuan (wāsiṭah al-‘ilm). Al-Zarnūjī menegaskan bahwa ilmu hanya berbuah jika disampaikan oleh guru yang dihormati.⁹ Konsep ini sejalan dengan epistemologi relasional modern yang menyatakan bahwa pengetahuan terbentuk melalui interaksi sosial.

8.3.       Dimensi Aksiologis: Nilai, Tujuan, dan Orientasi Moral

Dimensi aksiologis berfokus pada nilai-nilai yang terkandung di dalam tindakan berbakti dan tujuan akhir yang ingin dicapai.

8.3.1.    Nilai-nilai aksiologis dalam Islam

Islam menempatkan nilai berbakti pada kerangka nilai yang mencakup:

þ Ihsan (berbuat baik secara optimal),

þ Syukur,

þ Tawāḍu‘ (kerendahan hati),

þ Barakah (keberkahan),

þ Maslahah (kemaslahatan sosial dan spiritual).

Al-Ghazālī menjelaskan bahwa tindakan moral dalam Islam diarahkan kepada penyucian jiwa (tazkiyah) dan pencapaian kedekatan kepada Allah.¹⁰ Penghormatan kepada orang tua dan guru menjadi sarana untuk mencapai nilai-nilai tersebut.

8.3.2.    Aksiologi moral universal

Dalam moral universal, nilai berbakti dihubungkan dengan:

þ Keadilan relasional (memberi penghargaan yang pantas kepada mereka yang berjasa),

þ Harmoni sosial,

þ Kebaikan umum,

þ Pengembangan karakter (virtue formation).

Etika keutamaan Aristoteles menekankan bahwa kebajikan berorientasi pada pencapaian kehidupan yang baik (eudaimonia).¹¹ Etika Konfusianisme menekankan harmoni sebagai tujuan tertinggi relasi moral.¹²

8.3.3.    Perbedaan orientasi aksiologis

Perbedaan utama antara keduanya terletak pada:

þ Islam: tindakan moral berorientasi pada tujuan transenden (ridha Allah, pahala ukhrawi).

þ Moral universal: tindakan moral berorientasi pada kesejahteraan manusia (human flourishing) atau harmoni sosial.

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa tindakan moral harus memperkuat karakter dan memperbaiki relasi sosial.


Sintesis Dimensi Ontologis–Epistemologis–Aksiologis

Ketiga dimensi tersebut membentuk kerangka etis yang saling melengkapi:

·                     Ontologis: menunjukkan mengapa penghormatan penting (karena kedudukan eksistensial orang tua dan guru).

·                     Epistemologis: menjelaskan bagaimana manusia memahami nilai berbakti (melalui wahyu, akal, pengalaman, dan relasi).

·                     Aksiologis: menjelaskan untuk apa manusia berbakti (demi kemaslahatan sosial, kesempurnaan moral, dan kedekatan kepada Allah).

Melalui pendekatan ini, nilai berbakti tidak hanya menjadi kewajiban praktis, tetapi menjadi landasan filosofis yang memandu cara manusia memahami dirinya, relasinya dengan orang lain, dan orientasi hidupnya secara utuh.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Luqmān [31] ayat 14.

[2]                Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 2000), 5:68.

[3]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:52.

[4]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 109–112.

[5]                Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid al-Sharī‘ah al-Islāmiyyah (Amman: Dār al-Nafā’is, 2001), 215–219.

[6]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 36–38.

[7]                Aristotle, Nicomachean Ethics, 110–115.

[8]                Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 17–22.

[9]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 11–14.

[10]             al-Ghazālī, Iḥyā’, 1:75–80.

[11]             Aristotle, Nicomachean Ethics, 145–147.

[12]             Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 10–13.


9.           Adab Berbakti sebagai Pembentukan Karakter (Character Education)

Konsep berbakti kepada orang tua dan guru dalam Islam bukan sekadar rangkaian kewajiban normatif, tetapi merupakan fondasi pembentukan karakter yang komprehensif. Dalam kerangka character education, adab berbakti mencerminkan integrasi nilai, sikap, dan perilaku yang membentuk pribadi berbudi luhur, berintegritas, dan bertanggung jawab. Bagian ini membahas bagaimana adab berbakti berfungsi sebagai sarana pembinaan karakter dalam perspektif Islam serta relevansinya dengan pendekatan pendidikan moral universal.

9.1.       Dimensi Emosional: Empati, Kasih Sayang, dan Syukur

Pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari pengembangan aspek emosional murid. Dalam Islam, adab berbakti dimulai dari kesadaran emosional bahwa orang tua adalah sumber kasih sayang dan pengorbanan, sementara guru adalah figur yang memberikan cahaya pengetahuan. Al-Qur’an menggambarkan perjalanan panjang seorang ibu dalam proses melahirkan, menyusui, dan merawat anak sebagai alasan kuat untuk menumbuhkan empati dan syukur (QS. Luqmān [31] ayat 14).¹

Para ulama seperti al-Ghazālī menekankan bahwa syukur dan kasih sayang merupakan akar bagi seluruh cabang akhlak mulia.² Ketika peserta didik memahami perjuangan orang tua dan komitmen guru, mereka mengembangkan sensitivitas moral yang menjadi dasar tindakan berbakti.

Dalam moral universal, terutama dalam etika kepedulian (Gilligan, Noddings), dimensi emosional—seperti empati, perhatian, dan rasa terhubung—dianggap sebagai inti pendidikan karakter.³ Dengan demikian, adab berbakti dalam Islam sejalan dengan gagasan pendidikan moral berbasis empati.

9.2.       Dimensi Sosial: Kepatuhan, Kesantunan, dan Tanggung Jawab

Adab berbakti juga mencakup dimensi sosial yang mengatur interaksi murid dengan figur otoritas. Dalam Islam, penghormatan kepada orang tua dan guru diwujudkan melalui tindakan lahiriah seperti:

·                     berbicara dengan lemah lembut,

·                     tidak mendahului pembicaraan,

·                     menaati nasihat selama tidak bertentangan dengan syariat,

·                     menjaga kehormatan mereka di hadapan orang lain.⁴

Dalam Ta‘līm al-Muta‘allim, al-Zarnūjī menekankan bahwa kesopanan dan kepatuhan adalah syarat bagi keberkahan ilmu.⁵ Murid yang memiliki karakter sosial yang santun menunjukkan pemahaman mendalam tentang nilai hierarki moral dalam Islam.

Dalam pendidikan modern, keterampilan sosial seperti respek, komunikasi asertif, dan tanggung jawab sosial termasuk dalam kompetensi inti character education, yang dipandang penting oleh psikolog moral seperti Thomas Lickona.⁶ Adab berbakti menyediakan model konkret dari perilaku sosial yang baik.

9.3.       Dimensi Intelektual: Kerendahan Hati dan Keterbukaan Belajar

Dalam pendidikan Islam, adab berbakti juga menyentuh ranah intelektual. Guru tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan sikap ilmiah murid. Ulama klasik seperti Ibn Jamā‘ah menekankan tawāḍu‘ al-‘ilmī (kerendahan hati intelektual) sebagai syarat bagi murid untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.⁷

Kerendahan hati intelektual ini sejalan dengan gagasan modern tentang intellectual virtue, di mana sikap terbuka terhadap pembelajaran, potensi koreksi diri, dan hormat kepada otoritas epistemik dianggap sebagai karakter penting dalam dunia akademik.⁸

Adab murid terhadap guru, seperti mencatat pelajaran dengan tekun, tidak meremehkan pendapat guru, dan menjaga keseriusan dalam belajar, secara langsung berkontribusi pada pembentukan karakter intelektual yang kuat.

9.4.       Integrasi Relasi Spiritual, Sosial, dan Intelektual

Karakter dalam Islam adalah sinergi dari tiga relasi utama:

·                     hubungan dengan Allah (spiritual),

·                     hubungan dengan sesama manusia (sosial),

·                     hubungan dengan ilmu dan kebenaran (intelektual).

Adab berbakti melatih ketiganya:

·                     secara spiritual melalui niat ikhlas dan taqarrub kepada Allah,

·                     secara sosial melalui perilaku hormat, sopan, dan empatik,

·                     secara intelektual melalui keseriusan belajar dan penghargaan terhadap ilmu.

Model integratif ini sejalan dengan kerangka holistic character education, yang melihat manusia sebagai makhluk multidimensional yang berkembang melalui perpaduan nilai spiritual, sosial, dan kognitif.⁹


Relevansi Adab Berbakti untuk Pendidikan Karakter di Madrasah Aliyah

Dalam konteks pendidikan MA, adab berbakti memiliki fungsi pedagogis strategis:

·                     membentuk murid agar tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga beradab;

·                     memperkuat budaya sekolah yang menghargai otoritas moral;

·                     mencegah degradasi etika dalam era digital, seperti cyber disrespect;

·                     mengintegrasikan nilai Islam dengan teori pendidikan modern.

Dengan memasukkan adab berbakti dalam kurikulum Akidah Akhlak, pendidik tidak hanya mentransfer materi, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia, kritis tetapi santun, dan memiliki kesadaran moral yang mendalam.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Luqmān [31] ayat 14.

[2]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 3:92–95.

[3]                Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 17–22.

[4]                Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 5976.

[5]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 10–12.

[6]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 43–54.

[7]                Badr al-Dīn Ibn Jamā‘ah, Tadhkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim (Beirut: Dār al-Bashā’ir, 2003), 67–70.

[8]                Robert C. Roberts dan W. Jay Wood, Intellectual Virtues (Oxford: Oxford University Press, 2007), 19–22.

[9]                Marvin W. Berkowitz, “What Works in Character Education,” Journal of Character Education 5, no. 2 (2007): 37–41.


10.       Tantangan Kontemporer dalam Berbakti kepada Orang Tua dan Guru

Dalam perkembangan sosial modern, praktik berbakti kepada orang tua dan guru menghadapi tantangan kompleks yang dipengaruhi oleh perubahan budaya, teknologi, pola keluarga, dan struktur otoritas. Konteks kontemporer membawa peluang untuk memperkuat nilai-nilai berbakti, sekaligus menghadirkan potensi degradasi etis yang tidak pernah muncul dalam generasi sebelumnya. Bagian ini mengkaji beberapa tantangan utama yang memengaruhi sikap hormat dan adab peserta didik terhadap orang tua dan guru.

10.1.    Individualisme dan Perubahan Nilai Keluarga

Salah satu tantangan terbesar adalah meningkatnya individualisme, terutama di masyarakat perkotaan. Budaya modern menekankan kemandirian, kebebasan personal, dan pencarian identitas diri, yang terkadang menggeser nilai kebersamaan keluarga.¹ Dalam kondisi ini, penghormatan kepada orang tua dapat tereduksi menjadi hubungan formal, bukan lagi relasi emosional dan spiritual yang tulus.

Perubahan struktur keluarga, seperti meningkatnya keluarga inti (nuclear family) dan berkurangnya interaksi lintas generasi, juga menyebabkan anak kurang mengenal tradisi adab dan kewajiban berbakti yang selama ini diturunkan melalui praktik keluarga besar.²

10.2.    Kesenjangan Generasi dan Konflik Komunikasi

Perkembangan cepat dalam teknologi, gaya hidup, dan pola pikir menciptakan kesenjangan generasi (generation gap) yang semakin lebar. Remaja di era digital memiliki preferensi komunikasi, nilai, dan aspirasi yang berbeda jauh dari orang tua atau guru.³

Kesenjangan ini memicu:

·                     miskomunikasi,

·                     kurangnya empati,

·                     berkurangnya keakraban,

·                     meningkatnya konflik pada masa remaja.

Dalam etika Islam, komunikasi yang baik dengan orang tua dan guru merupakan bagian dari adab. Namun, kesenjangan generasi menghambat internalisasi nilai-nilai tersebut jika tidak ditangani dengan pendekatan dialogis dan penuh hikmah.

10.3.    Transformasi Otoritas Guru di Era Digital

Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Internet, media sosial, dan sistem pembelajaran digital memberikan akses informasi tanpa batas. Menurut Zygmunt Bauman, otoritas tradisional telah tergeser oleh “otoritas jaringan” yang lebih cair dan tidak terikat struktur formal.⁴

Konsekuensi dari transformasi ini:

·                     murid dapat membandingkan penjelasan guru dengan sumber online,

·                     berkurangnya ketakziman (ta‘ẓīm) terhadap guru,

·                     munculnya sikap kritis yang kadang tidak diimbangi adab,

·                     meningkatnya ekspektasi murid terhadap kompetensi guru.

Dalam tradisi Islam, guru dihormati bukan hanya karena pengetahuan, tetapi juga karena peran mereka sebagai pembimbing moral. Tantangan era digital mengharuskan guru memperkuat dimensi ini, bukan hanya kemampuan akademik.

10.4.    Krisis Kesopanan di Era Media Sosial

Fenomena cyber disrespect (ketidaksopanan digital) menjadi tantangan serius. Media sosial sering menjadi ruang di mana norma kesantunan hilang, termasuk terhadap orang tua dan guru. Remaja dapat dengan mudah:

·                     meninggikan suara dalam teks,

·                     berdebat tanpa adab,

·                     menyebarkan video atau komentar negatif,

·                     mengkritik guru secara publik.

Fenomena ini tidak hanya melanggar adab Islam, tetapi juga merusak struktur moral sosial. Menurut penelitian dalam etika digital, anonimitas dan jarak psikologis membuat pengguna lebih mudah bersikap kasar.⁵

10.5.    Tuntutan Akademik dan Stres Emosional

Tekanan akademik yang tinggi menyebabkan sebagian murid mengalami stres, kecemasan, dan kelelahan emosional. Dalam kondisi psikis yang rentan, beberapa murid bisa kurang sensitif terhadap nasihat orang tua atau bimbingan guru.⁶

Selain itu, guru juga mengalami burnout karena beban administrasi, tuntutan kurikulum, dan ekspektasi masyarakat. Burnout ini dapat mengurangi kualitas relasi guru–murid, sehingga nilai adab lebih sulit ditransmisikan.⁷

10.6.    Perubahan Konsep Ketaatan dan Otoritas dalam Masyarakat Modern

Dalam masyarakat modern, ketaatan sering dianggap bertentangan dengan kebebasan. Padahal, dalam Islam, ketaatan kepada orang tua dan guru adalah bentuk penghormatan dan disiplin moral, bukan penindasan. Perubahan konsep ini membuat sebagian remaja menafsirkan kebebasan secara sempit, sehingga menolak arahan demi menjaga otonomi diri.

Pemikiran moral universal seperti etika deontologis Kant justru menegaskan bahwa ketaatan kepada hukum moral tidak mengurangi kebebasan, melainkan ekspresi tertinggi dari kebebasan rasional.⁸ Pandangan ini dapat membantu membingkai ulang konsep ketaatan dalam konteks modern.

10.7.    Tantangan Global: Komersialisasi Pendidikan dan Hilangnya Nilai Adab

Komersialisasi pendidikan membuat sebagian institusi berfungsi lebih seperti industri jasa daripada lembaga moral. Relasi guru–murid menjadi transaksional: guru sebagai penyedia layanan, murid sebagai konsumen. Konsep adab, penghormatan, dan keberkahan ilmu menjadi kabur.

Dalam perspektif Islam, ilmu adalah cahaya (nūr), bukan komoditas; guru adalah pewaris nabi, bukan penyedia jasa intelektual.⁹ Tantangan ini mengharuskan sekolah, termasuk Madrasah Aliyah, menata ulang paradigma pendidikan agar tetap berakar pada nilai adab.


Merespons Tantangan: Kerangka Etis Islam dan Moral Universal

Untuk menghadapi tantangan kontemporer, diperlukan strategi yang mengintegrasikan etika Islam dengan teori pendidikan modern, seperti:

·                     memperkuat pendidikan adab melalui keteladanan guru,

·                     mengembangkan komunikasi lintas generasi yang empatik,

·                     mendidik literasi digital etis,

·                     menanamkan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab moral,

·                     memulihkan makna guru sebagai pembimbing karakter.

Dengan demikian, adab berbakti tetap relevan dan dapat diinternalisasi oleh peserta didik meskipun berada dalam dunia yang terus berubah.


Footnotes

[1]                Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 15–19.

[2]                Arlie Russell Hochschild, The Managed Heart (Berkeley: University of California Press, 2012), 45–47.

[3]                Jean M. Twenge, iGen (New York: Atria Books, 2017), 42–44.

[4]                Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 68–72.

[5]                John Suler, “The Online Disinhibition Effect,” CyberPsychology & Behavior 7, no. 3 (2004): 321–326.

[6]                Sarah Miles, “Stress and Adolescent Behavior,” Journal of Youth Studies 14, no. 4 (2011): 453–470.

[7]                Christina Maslach and Michael Leiter, The Truth About Burnout (San Francisco: Jossey-Bass, 1997), 22–26.

[8]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 35–38.

[9]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:52.


11.       Sintesis Filosofis–Etis–Islamis

Sintesis filosofis–etis–Islamis merupakan upaya integratif untuk menyatukan prinsip-prinsip moral universal dengan ajaran etika Islam dalam memahami kewajiban berbakti kepada orang tua dan guru. Kajian ini berangkat dari kesadaran bahwa moralitas manusia bersifat multidimensi: ia berakar pada fitrah, dibentuk oleh akal, diperkuat oleh wahyu, dan diwujudkan melalui relasi sosial. Dengan menyatukan kekuatan dua tradisi etis—Islam dan filsafat moral universal—dapat dihasilkan kerangka etika yang lebih komprehensif, relevan, dan aplikatif dalam konteks pendidikan modern.

11.1.    Titik Temu: Universalitas Nilai Penghormatan dan Kebajikan

Baik Islam maupun filsafat moral universal sama-sama mengakui penghormatan kepada orang tua dan guru sebagai landasan penting bagi pembentukan karakter manusia. Etika Islam menegaskan nilai ini melalui perintah wahyu terhadap birr al-wālidayn dan adab memuliakan ahli ilmu.¹ Di sisi lain, filsafat moral universal dari Aristoteles hingga Kant dan Konfusianisme menunjukkan bahwa penghormatan adalah keutamaan relasional yang menjaga keteraturan sosial dan keharmonisan manusia.²

Perjumpaan dua tradisi ini menghasilkan kesimpulan bahwa penghormatan adalah nilai etis yang:

·                     bersifat lintas budaya,

·                     lahir dari fitrah manusia,

·                     dipahami melalui rasionalitas maupun wahyu,

·                     diperlukan untuk membangun tatanan moral yang stabil.

11.2.    Integrasi Motivasi Moral: Transendensi dan Rasionalitas

Etika Islam menekankan dimensi transendensi dalam tindakan moral. Berbakti kepada orang tua dan guru dilakukan karena Allah memerintahkannya, sehingga nilai spiritual dan niat (ikhlāṣ) menjadi pusat motivasi.³ Dalam filsafat moral universal, terutama Kantian, motivasi moral berakar pada rasionalitas dan kewajiban yang ditentukan oleh moral law dalam akal praktis.⁴

Sintesis keduanya menghasilkan kerangka motivasi moral yang lebih utuh:

·                     Orientasi transenden (Islam) memberikan dasar spiritual, makna, dan tujuan akhir tindakan.

·                     Orientasi rasional (filsafat Barat) memberikan argumentasi logis dan struktur kewajiban yang konsisten.

Keduanya dapat dipadukan untuk memperkuat pembentukan karakter murid MA, sehingga mereka tidak hanya berbuat baik karena kewajiban eksternal, tetapi juga karena kesadaran internal yang matang.

11.3.    Keselarasan Pendekatan Keutamaan dan Adab

Etika keutamaan Aristotelian memandang karakter sebagai pusat moralitas, yang dibentuk melalui habituasi dan teladan.⁵ Dalam Islam, konsep ini selaras dengan makārim al-akhlāq dan praktik adab yang menekankan:

·                     keteladanan guru,

·                     pembiasaan akhlak mulia,

·                     pengendalian diri,

·                     kerendahan hati (tawāḍu‘).

Ulama seperti al-Ghazālī dan Ibn Qayyim menegaskan bahwa akhlak tidak akan tegak tanpa pembiasaan yang konsisten.⁶ Dengan demikian, sintesis antara adab Islam dan etika keutamaan universal memberikan landasan kuat bagi pendidikan karakter berbasis habituasi.

11.4.    Integrasi Etika Relasional: Empati, Kepedulian, dan Konektivitas Moral

Etika kepedulian dalam moral universal menekankan bahwa moralitas tumbuh dari relasi emosional, empati, dan rasa saling tergantung. Gilligan dan Noddings menekankan bahwa hubungan manusiawi adalah pusat pembentukan nilai.⁷ Hal ini bersesuaian dengan etika Islam yang menekankan raḥmah (kasih sayang), empati terhadap orang tua, dan ketulusan dalam menghormati guru.

Integrasi kedua perspektif ini memperkuat pemahaman bahwa adab berbakti tidak hanya mengandalkan logika atau perintah, tetapi juga mengandalkan hubungan hati-ke-hati (qalbiyyah). Ini sangat penting dalam dunia yang semakin individualistik, di mana empati menjadi nilai yang terancam.

11.5.    Rekonstruksi Relasi Moral yang Seimbang

Sintesis filosofis–etis–Islamis memungkinkan rekonstruksi relasi moral antara anak–orang tua dan murid–guru yang lebih seimbang:

·                     Ketaatan tidak dipahami sebagai kepatuhan buta, tetapi sebagai penghormatan yang rasional dan spiritual.

·                     Kritik tidak dipandang sebagai pembangkangan, tetapi dilakukan dengan adab dan hikmah.

·                     Otoritas guru tidak bersifat absolut, tetapi tetap dihormati berdasarkan keilmuan dan akhlaknya.

·                     Kasih sayang orang tua dilihat sebagai dasar untuk menumbuhkan syukur dan tanggung jawab moral.

Kerangka ini menghindari ekstrem: di satu sisi menghindari otoritarianisme yang menekan murid, dan di sisi lain menghindari liberalisme yang menghilangkan adab.

11.6.    Etika Islam sebagai Penguat Nilai Universal

Walaupun nilai berbakti ditemukan dalam berbagai tradisi moral, Islam menawarkan keunikan berupa:

·                     dimensi spiritual yang mendalam,

·                     orientasi akhirat,

·                     konsep keberkahan (barakah),

·                     penekanan pada niat,

·                     pembingkaian moral dalam konteks ibadah.

Dengan demikian, nilai universal tentang penghormatan diperkuat dalam Islam melalui metafisika wahyu, memberikan fondasi yang lebih kokoh dan tetap relevan dalam konteks zaman modern.


Kontribusi Sintesis bagi Pendidikan Akidah Akhlak

Hasil sintesis ini sangat penting bagi pendidikan MA karena mendukung:

·                     pemahaman integratif antara teks keagamaan dan teori moral kontemporer,

·                     pembentukan karakter murid yang kritis, empatik, dan berakhlak mulia,

·                     pendekatan pedagogis yang lebih relevan terhadap zaman digital,

·                     penguatan adab sebagai inti pendidikan Islam.

Dengan memadukan kedalaman spiritual Islam dan keluasan analitis filsafat moral universal, pendidikan berbakti kepada orang tua dan guru tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga filosofis, reflektif, dan konstruktif.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17] ayat 23–24; Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 85.

[2]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 109–112; Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 12–14.

[3]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:57–60.

[4]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 42–44.

[5]                Aristotle, Nicomachean Ethics, 110–115.

[6]                Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2002), 102–104.

[7]                Carol Gilligan, In a Different Voice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1982), 15–23; Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press, 2013), 17–22.


12.       Implikasi Pedagogis untuk Pembelajaran Akidah Akhlak di MA

Pembelajaran Akidah Akhlak pada jenjang Madrasah Aliyah (MA) memiliki mandat strategis untuk tidak hanya mentransfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk karakter murid agar menjadi pribadi berakhlak mulia. Kajian tentang berbakti kepada orang tua dan guru, jika dibingkai dengan pendekatan filosofis–etis–Islamis dan moral universal, menghasilkan implikasi pedagogis yang kaya dan relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer. Bagian ini menguraikan implikasi tersebut dalam beberapa aspek penting: tujuan pembelajaran, strategi instruksional, pendekatan karakter, model evaluasi, dan peran guru sebagai figur moral.

12.1.    Integrasi Dalil, Hikmah, dan Analisis Moral Universal dalam Pembelajaran

Pembelajaran Akidah Akhlak sebaiknya tidak berhenti pada penyampaian dalil normatif, tetapi juga mencakup pemahaman hikmah dan rasionalitas moral. Dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis mengenai berbakti kepada orang tua dan guru memberikan fondasi teologis yang kuat, namun filosofi moral universal memperkaya pemahaman murid mengenai alasan rasional dan sosial dari kewajiban tersebut.¹

Integrasi ini membantu murid melihat bahwa:

·                     berbakti bukan hanya “aturan agama”,

·                     tetapi juga kebijaksanaan hidup yang diakui berbagai tradisi etis.

Dengan pendekatan ini, siswa memiliki kerangka berpikir lebih luas dan mampu membangun kesadaran moral yang lebih matang.

12.2.    Pembelajaran Berbasis Keteladanan (Modeling) dan Relasi Pedagogis

Dalam Islam, pendidikan sangat menekankan keteladanan (uswah ḥasanah). Guru berperan bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai teladan nilai adab dan penghormatan. Al-Ghazālī menekankan bahwa akhlak lebih mudah tertanam melalui pengaruh figur moral dibandingkan sekadar instruksi verbal.²

Implikasinya bagi pembelajaran:

·                     guru harus menunjukkan adab kepada guru mereka sendiri, kepada orang tua, dan kepada sesama;

·                     interaksi guru–murid harus memancarkan nilai tawāḍu‘, kesabaran, dan kasih sayang;

·                     guru dapat menceritakan biografi ulama besar yang berhasil karena menghormati gurunya (misalnya Imam al-Syāfi‘ī kepada Imam Mālik).

Modeling seperti ini secara langsung memberi pengaruh afektif yang kuat terhadap murid.

12.3.    Strategi Pembelajaran Berbasis Diskusi Etis dan Studi Kasus

Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etis murid, pembelajaran perlu melibatkan:

·                     diskusi dilematis,

·                     studi kasus kehidupan nyata,

·                     simulasi peran sosial,

·                     refleksi personal.

Misalnya:

·                     kasus “perbedaan pendapat antara murid dan guru”,

·                     konflik generasi antara remaja dan orang tua,

·                     penggunaan media sosial yang tidak sopan kepada guru.

Pendekatan ini sejalan dengan teori moral reasoning yang dikembangkan oleh Kohlberg, yang menekankan pentingnya dialog dalam perkembangan moral.³ Dalam Islam, diskusi hikmah juga merupakan tradisi dalam pengembangan akhlak, sebagaimana dilakukan para ulama dalam majelis taklim.

12.4.    Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembiasaan dan Praktik Adab

Sebagaimana etika keutamaan Aristotelian mengajarkan bahwa kebajikan dibentuk melalui habituasi (habituation), Islam pun mengajarkan praktik adab sebagai pembentuk karakter.⁴

Dalam konteks sekolah:

·                     murid dibiasakan memberi salam kepada guru,

·                     menghormati instruksi dan nasihat,

·                     menjaga kesopanan dalam komunikasi digital,

·                     membantu pekerjaan orang tua di rumah sebagai tugas moral,

·                     menghargai pendapat guru dalam diskusi kelas.

Pembiasaan ini memperkuat nilai adab secara progresif dan konsisten.

12.5.    Literasi Digital Etis untuk Mengatasi Krisis Kesopanan Baru

Dalam era digital, adab tidak hanya diuji dalam interaksi langsung, tetapi juga dalam ruang maya. Fenomena cyber disrespect dan online disinhibition effect sering menimbulkan ketidaksopanan kepada guru atau orang tua melalui komentar, pesan, atau unggahan.⁵

Implikasi pedagogis:

·                     sekolah perlu memasukkan modul “adab digital” dalam kurikulum Akidah Akhlak,

·                     melatih murid menggunakan media sosial dengan empati dan tanggung jawab,

·                     menanamkan prinsip Islam bahwa adab berlaku di semua ruang, fisik maupun digital.

12.6.    Pendekatan Holistik antara Kognitif–Afektif–Psikomotorik

Materi berbakti dapat mengintegrasikan tiga ranah pembelajaran:

·                     kognitif: memahami dalil, hikmah, dan teori moral universal;

·                     afektif: menumbuhkan rasa syukur, kasih sayang, dan hormat;

·                     psikomotorik: mempraktikkan adab nyata kepada orang tua dan guru.

Pendekatan ini sejalan dengan kerangka holistic character education yang menggabungkan ranah intelektual, emosional, dan perilaku.⁶

12.7.    Penguatan Profil Pelajar MA Berbasis Akhlak

Madrasah Aliyah memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan pendidikan karakter. Melalui kajian berbakti, MA dapat memperkuat karakter murid yang:

·                     religius dan bertanggung jawab,

·                     kritis namun santun,

·                     empatik dan peduli,

·                     menghargai otoritas moral,

·                     memiliki kemampuan refleksi diri.

Nilai-nilai ini sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan kesempurnaan akhlak (tahsīn al-akhlāq).

12.8.    Peran Guru sebagai Figur Moral dan Spiritual

Guru berperan sebagai:

·                     penjaga nilai,

·                     teladan akhlak,

·                     pembimbing spiritual,

·                     fasilitator dialog etik,

·                     model literasi digital etis,

·                     penghubung antara ajaran Islam dan tantangan kontemporer.

Al-Zarnūjī menegaskan bahwa keberhasilan ilmu sangat tergantung pada adab guru dan murid.⁷ Karena itu, guru harus mengintegrasikan perannya sebagai pendidik dan pembimbing moral secara seimbang.

12.9.    Evaluasi Komprehensif yang Menilai Pemahaman dan Karakter

Evaluasi Akidah Akhlak tidak hanya menilai hafalan dalil, tetapi juga:

·                     pemahaman konsep etis,

·                     kemampuan analisis kasus,

·                     integrasi nilai dalam perilaku nyata,

·                     sikap hormat murid kepada guru dan orang tua,

·                     komitmen terhadap adab digital.

Instrumen evaluasi dapat berupa portofolio karakter, jurnal refleksi, dan observasi perilaku.⁸


Kesimpulan Pedagogis: Kurikulum Adab sebagai Inti Pendidikan Islam

Implikasi pedagogis dari kajian berbakti menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak harus berorientasi pada:

·                     integrasi wahyu dan rasionalitas,

·                     pembentukan karakter komprehensif,

·                     keteladanan guru,

·                     internalisasi nilai melalui praktik sosial dan digital,

·                     penguatan relasi empatik antara murid, orang tua, dan guru.

Dengan pendekatan ini, pendidikan di MA tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia dalam akhlak dan kuat dalam karakter sosial spiritual.


Footnotes

[1]                Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam (San Francisco: HarperOne, 2004), 155–158.

[2]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 3:74–76.

[3]                Lawrence Kohlberg, “Moral Stages and Moralization,” dalam Moral Development and Behavior, ed. Thomas Lickona (New York: Holt, Rinehart & Winston, 1976), 31–53.

[4]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 110–115.

[5]                John Suler, “The Online Disinhibition Effect,” CyberPsychology & Behavior 7, no. 3 (2004): 321–326.

[6]                Marvin W. Berkowitz, “What Works in Character Education,” Journal of Character Education 5, no. 2 (2007): 37–41.

[7]                al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 10–12.

[8]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 52–59.


13.       Penutup

Kajian mengenai kewajiban dan keutamaan berbakti kepada orang tua dan guru menunjukkan bahwa nilai tersebut memiliki kedalaman teologis, filosofis, dan etis yang sangat kuat. Dalam tradisi Islam, perintah birr al-wālidayn dan penghormatan kepada guru bukan sekadar aturan moral, tetapi merupakan manifestasi langsung dari ajaran tauhid dan adab. Al-Qur’an dan hadis menempatkan penghormatan kepada orang tua setelah ketaatan kepada Allah, menegaskan kedudukan mereka sebagai perantara eksistensi dan sumber kasih sayang.¹ Demikian pula, guru dipandang sebagai pewaris para nabi (warathat al-anbiyā’) yang memberikan kehidupan intelektual dan moral kepada murid.²

Kajian filosofis menunjukkan bahwa nilai penghormatan bukan hanya doktrin keagamaan, tetapi juga prinsip etis universal. Dari Aristoteles hingga Kant, dan dari Konfusianisme hingga etika kepedulian, penghormatan dipahami sebagai keutamaan relasional yang membangun tata moral masyarakat.³ Titik temu ini memperlihatkan bahwa adab berbakti memiliki legitimasi universal yang melampaui batas agama, budaya, dan waktu.

Analisis komparatif menunjukkan bahwa etika Islam memperkuat prinsip moral universal melalui dimensi transendensi, niat, keberkahan, dan tujuan spiritual yang lebih mendalam. Ketika tradisi moral universal memberikan kerangka rasional dan humanistik untuk memahami kewajiban berbakti, Islam menambahkan elemen ilahiah yang memberikan makna eksistensial dan orientasi akhirat.⁴ Kombinasi keduanya melahirkan sintesis etis yang kaya dan mampu menjawab persoalan moral di era kontemporer.

Dalam konteks pendidikan di Madrasah Aliyah, kajian ini menghadirkan implikasi penting: pembelajaran Akidah Akhlak harus berorientasi pada pembentukan karakter holistik yang mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, sosial, dan spiritual. Guru memiliki tanggung jawab etis dan pedagogis untuk menjadi teladan adab, sementara siswa perlu dibimbing agar memahami bahwa penghormatan bukanlah bentuk kepatuhan buta, tetapi bagian dari kesadaran moral yang matang.⁵

Di tengah tantangan modern seperti individualisme, digitalisasi, kesenjangan generasi, dan krisis otoritas, adab berbakti menjadi nilai yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat kembali tatanan sosial dan moral masyarakat. Etika Islam dan filsafat moral universal memberikan perangkat konseptual dan praktis yang memungkinkan sekolah membina siswa menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia dalam akhlak, empatik, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, kajian ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua dan guru merupakan bagian dari bangunan etika yang integral: berakar pada wahyu, diperkaya rasionalitas, diwujudkan dalam adab, dan diarahkan pada pembentukan karakter yang utuh. Nilai ini layak menjadi pilar utama dalam pendidikan Islam guna melahirkan generasi yang menghormati sumber kehidupan, memuliakan ilmu, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17] ayat 23–24.

[2]                Abū Dāwūd Sulaymān ibn al-Ash‘ath, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-‘Ilm, no. 3641.

[3]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), 109–112; Confucius, The Analects, trans. Arthur Waley (London: Routledge, 2000), 12–14.

[4]                Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1997), 1:57–60.

[5]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 43–59.


Daftar Pustaka

Al-Ghazālī, A. H. (1997). Iḥyā’ ‘ulūm al-dīn (Vols. 1–3). Dār al-Ma‘rifah.

Al-Nawawī, Y. I. S. (2001). Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Dār al-Ḥadīth.

Al-Ṭabarī, A. J. (1988). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān. Dār al-Fikr.

Al-Zarnūjī. (2003). Ta‘līm al-muta‘allim ṭarīq al-ta‘allum. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Aristotle. (1999). Nicomachean ethics (T. Irwin, Trans.). Hackett.

Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.

Berkowitz, M. W. (2007). What works in character education. Journal of Character Education, 5(2), 37–55.

Bukhārī, M. I. (n.d.). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭawq al-Najāh.

Confucius. (2000). The analects (A. Waley, Trans.). Routledge.

Gilligan, C. (1982). In a different voice: Psychological theory and women’s development. Harvard University Press.

Hochschild, A. R. (2012). The managed heart: Commercialization of human feeling. University of California Press.

Ibn ‘Āshūr, M. A. T. (2001). Maqāṣid al-sharī‘ah al-islāmiyyah. Dār al-Nafā’is.

Ibn Jamā‘ah, B. al-D. (2003). Tadhkirat al-sāmi‘ wa al-muta‘allim fī adab al-‘ālim wa al-muta‘allim. Dār al-Bashā’ir.

Ibn Kathīr, I. I. U. (2000). Tafsīr al-Qur’ān al-‘aẓīm. Dār Ibn Ḥazm.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2002). Madarij al-sālikīn. Dār al-Ḥadīth.

Kant, I. (1998). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.

Kohlberg, L. (1976). Moral stages and moralization. In T. Lickona (Ed.), Moral development and behavior (pp. 31–53). Holt, Rinehart & Winston.

Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.

Maslach, C., & Leiter, M. (1997). The truth about burnout: How organizations cause personal stress and what to do about it. Jossey-Bass.

Miles, S. (2011). Stress and adolescent behavior. Journal of Youth Studies, 14(4), 453–470.

Muslim, I. al-Ḥ. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār al-Jīl.

Nasr, S. H. (2004). The heart of Islam: Enduring values for humanity. HarperOne.

Noddings, N. (2013). Caring: A relational approach to ethics and moral education. University of California Press.

Palmquist, S. (2012). The golden rule as the principle of practical reason. Philosophia, 40(3), 591–601.

Roberts, R. C., & Wood, W. J. (2007). Intellectual virtues: An essay in regulative epistemology. Oxford University Press.

Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326.

Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity. Harvard University Press.

Tu, W. (1989). Centrality and commonality: An essay on Confucian religiousness. SUNY Press.

Twenge, J. M. (2017). iGen: Why today’s super-connected kids are growing up less rebellious, more tolerant, less happy—and completely unprepared for adulthood. Atria Books.

Zayd ibn Thābit (referensi biografi). Lihat: Ibn Sa‘d. (1968). Ṭabaqāt al-kubrā (Vol. 2). Dār Ṣādir.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar