Rabu, 26 November 2025

Kontradiksi Plato Aristoteles: Antara Dunia Idea dan Dunia Nyata

Kontradiksi Plato Aristoteles

Antara Dunia Idea dan Dunia Nyata


Alihkan ke: Pemikiran Plato, Pemikiran Aristoteles.


Abstrak

Artikel ini menganalisis secara sistematis dan komprehensif kontradiksi filosofis antara pemikiran Plato dan Aristoteles, dua figur sentral dalam tradisi filsafat Yunani yang membentuk fondasi bagi perkembangan rasionalitas Barat. Melalui pendekatan historis, ontologis, epistemologis, aksiologis, serta sosial-politik, penelitian ini menelusuri perbedaan mendasar antara idealisme transendental Plato—yang menekankan dunia Idea sebagai realitas sejati—dan realisme imanen Aristoteles, yang menegaskan substansi konkret sebagai dasar keberadaan.

Kajian ini menunjukkan bahwa pertentangan keduanya tidak hanya bersifat metafisis, tetapi juga metodologis dan etis. Plato memandang pengetahuan sebagai proses anamnesis (ingatan jiwa terhadap dunia Idea), sedangkan Aristoteles menegaskan pengetahuan sebagai hasil abstraksi dari pengalaman empiris. Dalam bidang etika, Plato menempatkan “Idea tentang Kebaikan” sebagai prinsip moral tertinggi yang transenden, sedangkan Aristoteles menekankan eudaimonia sebagai aktualisasi rasional dalam kehidupan praksis. Di ranah politik, Plato menawarkan model ideal negara yang hierarkis dan normatif, sementara Aristoteles membangun teori negara naturalistik yang berakar pada partisipasi dan kebajikan warga.

Melalui pembacaan kritis dan dialogis, artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun keduanya tampak berlawanan, perbedaan tersebut bersifat komplementer: Plato memberikan arah normatif bagi pencarian nilai dan kebenaran, sementara Aristoteles menyediakan kerangka metodologis bagi pengetahuan empiris dan praksis etis. Dari sintesis keduanya, lahirlah suatu paradigma baru yang disebut ontologi relasional, yang memandang realitas sebagai jaringan dinamis antara bentuk dan materi, nilai dan fakta, serta idealitas dan konkretitas. Artikel ini menegaskan bahwa sintesis ini relevan untuk menjawab tantangan filsafat kontemporer—terutama dalam upaya membangun pendekatan integral dan humanistik terhadap ilmu, etika, dan kehidupan sosial-politik modern.

Kata Kunci: Plato, Aristoteles, Idealisme, Realisme, Ontologi Relasional, Epistemologi, Etika, Politik, Humanisme, Filsafat Yunani.


PEMBAHASAN

Analisis Filosofis atas Kontradiksi Pemikiran Plato dan Aristoteles


1.           Pendahuluan

Filsafat Yunani Kuno menjadi tonggak utama bagi pembentukan tradisi intelektual Barat. Di antara para pemikir besar yang mewariskan dasar-dasar pemikiran rasional dan sistematis, dua nama menonjol sebagai poros utama: Plato dan Aristoteles. Hubungan keduanya tidak sekadar antara guru dan murid, melainkan antara dua paradigma filosofis yang berhadapan secara dialektis—antara idealisme transendental dan realisme empiris. Kontradiksi di antara keduanya bukan sekadar perbedaan metodologis, tetapi juga merupakan refleksi dari dua cara manusia memahami realitas: apakah hakikat kebenaran berada di dunia ide yang abadi atau di dalam benda-benda konkret yang dapat dialami secara indrawi.¹

Plato (427–347 SM), murid dari Socrates, mengembangkan filsafatnya berdasarkan keyakinan akan keberadaan dunia Idea (Forms)—suatu tatanan realitas yang sempurna, abadi, dan merupakan sumber segala kebenaran. Menurutnya, dunia empiris yang kita alami hanyalah bayangan atau tiruan dari realitas ideal yang berada di luar ruang dan waktu.² Sementara itu, Aristoteles (384–322 SM), murid Plato yang paling terkenal, menolak dualisme ontologis tersebut dan mengajukan konsep substansi (ousia), yang menegaskan bahwa bentuk dan materi menyatu dalam setiap entitas yang konkret.³ Dengan demikian, perdebatan antara keduanya bukan sekadar soal teori metafisika, melainkan menyentuh jantung dari persoalan pengetahuan, nilai, dan kehidupan sosial-politik.

Dalam sejarah pemikiran, pertentangan antara Plato dan Aristoteles menciptakan dua arus besar: idealisme dan realisme. Idealisme menekankan bahwa realitas sejati adalah mental atau spiritual, sementara realisme menegaskan bahwa realitas bersifat independen dari kesadaran manusia.⁴ Pertentangan ini berlanjut sepanjang sejarah filsafat Barat—dari rasionalisme Descartes hingga empirisme Locke, dari idealisme Kant hingga positivisme Comte. Dengan demikian, memahami kontradiksi Plato dan Aristoteles bukan hanya soal sejarah gagasan, tetapi juga soal memahami akar dari struktur berpikir manusia modern.

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontradiksi filosofis antara Plato dan Aristoteles secara sistematis melalui tiga dimensi utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, serta memperluas pembahasan pada dimensi sosial-politik dan logika yang menjadi implikasi praktis pemikiran mereka. Pendekatan yang digunakan bersifat analitis-komparatif, dengan menelusuri baik teks-teks primer (seperti Republic, Timaeus, dan Metaphysics) maupun komentar-komentar sekunder dari filsuf dan sejarawan pemikiran. Harapannya, pembahasan ini tidak hanya menegaskan kontradiksi di antara keduanya, tetapi juga mengungkap kemungkinan sintesis filosofis yang lebih integral antara dunia Idea dan dunia nyata—antara visi Plato yang transenden dan realisme Aristoteles yang imanen.


Footnotes

[1]                Julia Annas, Ancient Philosophy: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 14–18.

[2]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 509d–511e.

[3]                Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Book Z, 1029a–1032b.

[4]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 214–219.


2.           Landasan Historis dan Genealogis Pemikiran

Untuk memahami kontradiksi antara pemikiran Plato dan Aristoteles secara utuh, perlu ditelusuri terlebih dahulu konteks historis dan genealogis yang melatarbelakangi kemunculan sistem filsafat mereka. Keduanya lahir dalam periode yang sama—abad ke-4 sebelum Masehi—yakni masa keemasan filsafat Yunani yang menjadi puncak perkembangan rasionalitas setelah masa pra-Sokratik dan masa Socrates. Tradisi filsafat Yunani berkembang melalui tiga fase besar: fase kosmologis (para filsuf alam), fase antropologis (Socrates dan kaum sofis), dan fase sistematis (Plato dan Aristoteles).¹ Dalam fase terakhir inilah filsafat mulai membangun kerangka konseptual yang teratur, sistematis, dan metodologis.

Plato, yang lahir di Athena dari keluarga bangsawan, merupakan murid langsung dari Socrates. Pengalaman menyaksikan kematian gurunya—yang dihukum mati oleh negara atas tuduhan merusak moral pemuda—meninggalkan jejak mendalam dalam pandangan filosofisnya.² Tragedi tersebut menumbuhkan keyakinan Plato bahwa dunia empiris dan politik manusia sarat ketidaksempurnaan, ketidakadilan, dan relativisme moral. Dari sinilah muncul gagasan metafisis tentang dunia Idea (εἶδος) sebagai realitas sejati yang tidak berubah, serta pandangan bahwa tugas filsafat adalah mengarahkan jiwa manusia menuju pengetahuan yang lebih tinggi dan kebaikan yang absolut (the Good).³ Dengan demikian, latar historis Plato diwarnai oleh pencarian moral dan spiritual yang lahir dari krisis etis dan politis Athena pasca-Perang Peloponnesos.

Sebaliknya, Aristoteles lahir di Stagira dan datang ke Akademia Plato pada usia muda. Ia belajar selama dua puluh tahun di bawah bimbingan Plato, tetapi kemudian menempuh jalan filsafat yang berbeda. Aristoteles menolak dualisme ontologis gurunya dan menegaskan bahwa bentuk (form) dan materi (matter) tidak terpisah, melainkan bersatu dalam substansi (ousia).⁴ Pandangan ini tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan dalam konteks intelektual di mana ilmu pengetahuan mulai berkembang—khususnya melalui pengamatan empiris terhadap alam dan kehidupan biologis. Aristoteles, yang juga menjadi guru bagi Alexander Agung, menaruh perhatian besar pada sistematisasi pengetahuan, membangun disiplin logika, biologi, etika, dan politik berdasarkan observasi konkret.⁵

Dari sisi genealogis, pemikiran Plato dan Aristoteles berakar pada tradisi filsafat pra-Sokratik yang telah menanamkan dua kecenderungan utama: rasionalisme metafisis (seperti Parmenides dan Pythagoras) dan empirisme naturalistik (seperti Heraclitus dan Demokritos). Plato mewarisi kecenderungan metafisis Parmenides yang menekankan keberadaan sebagai yang tetap, sementara Aristoteles mewarisi semangat Heraclitus yang menekankan perubahan dan dinamika sebagai bagian hakiki realitas.⁶ Dengan demikian, perbedaan keduanya dapat dipahami sebagai kelanjutan dialektika filsafat Yunani antara “yang tetap” dan “yang berubah”, antara “abadi” dan “sementara”.

Selain itu, institusionalisasi filsafat dalam bentuk Akademia oleh Plato dan Lyceum oleh Aristoteles memperlihatkan perbedaan orientasi filosofis mereka. Akademia menekankan kontemplasi dan idealisme rasional, sedangkan Lyceum menekankan penelitian empiris dan pengumpulan data ilmiah.⁷ Keduanya bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi manifestasi konkret dari dua paradigma berpikir yang akan mendominasi sejarah intelektual Barat selama berabad-abad. Dari segi historis, dapat dikatakan bahwa Plato menyiapkan landasan metafisis bagi dunia ide, sedangkan Aristoteles membangun struktur ilmiah bagi dunia pengalaman—dua fondasi yang terus menjadi pusat perdebatan dalam epistemologi dan ontologi hingga masa modern.


Footnotes

[1]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 12–15.

[2]                Diogenes Laertius, Lives of Eminent Philosophers, terj. R. D. Hicks (Cambridge: Harvard University Press, 1925), 3:39–41.

[3]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 508e–509b.

[4]                Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Book Z, 1032a–1033b.

[5]                Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 24–29.

[6]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 92–98.

[7]                Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 56–61.


3.           Ontologi: Dunia Idea dan Dunia Substansi

Pertentangan antara Plato dan Aristoteles mencapai puncaknya pada ranah ontologi, yaitu perihal hakikat realitas dan keberadaan. Bagi Plato, realitas sejati bukanlah dunia empiris yang tampak di hadapan indra, melainkan dunia Idea (eidos atau forms) yang bersifat abadi, immaterial, dan sempurna.¹ Dunia indrawi hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia Idea, sebagaimana tergambar dalam alegori gua (Allegory of the Cave) dalam Republic.² Dalam alegori tersebut, manusia digambarkan seperti tawanan yang hanya melihat bayangan-bayangan di dinding gua dan menganggapnya sebagai realitas sejati. Hanya melalui filsafat dan rasionalitas jiwa, manusia dapat keluar dari gua dan melihat sumber cahaya kebenaran—yakni Idea tentang Kebaikan (the Idea of the Good).³

Bagi Plato, setiap entitas di dunia empiris memperoleh keberadaannya sejauh ia berpartisipasi (methexis) dalam dunia Idea. Artinya, keindahan benda-benda di dunia hanya mungkin karena ada Idea tentang Keindahan, dan keadilan di dunia hanya mungkin karena ada Idea tentang Keadilan.⁴ Dengan demikian, dunia Idea merupakan dasar ontologis dari segala sesuatu, dan pengetahuan sejati hanya mungkin diperoleh melalui kontemplasi terhadap dunia ideal tersebut. Ontologi Plato bersifat transenden dan dualistik, karena memisahkan secara tegas antara dunia abadi (realitas hakiki) dan dunia sementara (realitas fenomenal).

Aristoteles menolak pandangan dualistik ini secara fundamental. Dalam Metaphysics, ia mengkritik teori Idea Plato dengan argumen bahwa pengandaian dunia terpisah yang menjadi sebab bagi dunia ini justru menciptakan problem ganda: dua dunia yang tidak pernah benar-benar berinteraksi.⁵ Menurut Aristoteles, bentuk (form) tidak berdiri di luar benda, melainkan inheren dalam benda itu sendiri. Ia memperkenalkan konsep hylomorfisme (hyle = materi, morphe = bentuk), yang menegaskan bahwa setiap substansi (ousia) tersusun dari materi dan bentuk sebagai dua prinsip yang saling melengkapi.⁶

Dalam kerangka Aristotelian, bentuk adalah prinsip aktualitas yang mengatur dan memberi struktur pada materi, sedangkan materi adalah potensi yang dapat diwujudkan menjadi aktual.⁷ Dengan demikian, keberadaan sesuatu ditentukan oleh kesatuan antara potensi dan aktualitas—antara yang mungkin dan yang terwujud. Realitas, bagi Aristoteles, bukanlah dunia di luar pengalaman, melainkan dunia yang dapat diamati dan dianalisis berdasarkan struktur internalnya. Ontologi Aristoteles bersifat immanen dan monistik, karena menolak adanya realitas yang terpisah dari pengalaman empiris.

Konsekuensi dari perbedaan ini amat besar. Dalam sistem Plato, dunia ide merupakan tatanan normatif yang menjadi ukuran bagi segala sesuatu, sedangkan bagi Aristoteles, realitas tidak tunduk pada norma eksternal, melainkan memiliki prinsip keteraturan internal.⁸ Bagi Plato, perubahan dianggap sebagai penurunan dari kesempurnaan; bagi Aristoteles, perubahan justru merupakan gerak menuju aktualisasi diri yang lebih sempurna.⁹ Maka, di sinilah tampak dua paradigma besar metafisika Barat: Plato menegaskan realitas sebagai “yang tetap”, sedangkan Aristoteles menegaskan realitas sebagai “yang menjadi”.

Namun, sekalipun berbeda, keduanya sama-sama berusaha menjelaskan keteraturan dalam dunia. Plato menemukan keteraturan itu dalam dunia Idea yang kekal, sementara Aristoteles menemukannya dalam struktur realitas yang rasional.¹⁰ Jika Plato menekankan aspek ontologi transendental, maka Aristoteles menegaskan ontologi naturalistik. Dari sinilah muncul dialektika abadi antara idealisme dan realisme, antara metafisika nilai dan metafisika substansi—sebuah ketegangan yang terus menginspirasi tradisi filsafat hingga kini.


Footnotes

[1]                Plato, Phaedo, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1977), 74–77.

[2]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 514a–517a.

[3]                Ibid., 517b–518c.

[4]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 209–212.

[5]                Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Book A, 987a–988b.

[6]                W. K. C. Guthrie, Aristotle: An Encounter (London: Routledge, 1981), 64–68.

[7]                Aristotle, Physics, terj. R. P. Hardie dan R. K. Gaye (Oxford: Clarendon Press, 1930), Book II, 192b–194b.

[8]                Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 33–37.

[9]                Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 72–76.

[10]             David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 88–91.


4.           Epistemologi: Pengetahuan sebagai Ingatan vs Abstraksi

Dalam tradisi filsafat Yunani, epistemologi—yakni teori tentang pengetahuan—selalu berkaitan erat dengan pandangan tentang realitas (ontologi). Karena itu, perbedaan mendasar antara Plato dan Aristoteles dalam memahami hakikat realitas secara langsung memengaruhi konsepsi mereka tentang bagaimana pengetahuan diperoleh dan divalidasi. Jika dalam ontologi Plato menekankan dunia Idea yang transenden, maka dalam epistemologinya ia mengajarkan bahwa pengetahuan sejati (epistēmē) hanya mungkin diperoleh melalui jiwa yang mampu mengingat kembali kebenaran yang pernah diketahuinya sebelum terikat pada tubuh.¹ Sebaliknya, Aristoteles, yang menolak adanya dunia Idea yang terpisah, memandang pengetahuan sebagai hasil dari proses abstraksi terhadap pengalaman empiris.²

4.1.       Epistemologi Plato: Pengetahuan sebagai Anamnesis (Ingatan Jiwa)

Plato meyakini bahwa jiwa manusia bersifat abadi dan telah menyaksikan dunia Idea sebelum turun ke dunia materi. Karena itu, belajar bukanlah proses memperoleh pengetahuan baru, melainkan proses mengingat kembali (anamnesis) terhadap kebenaran yang telah ada dalam jiwa.³ Dalam dialog Meno, ia menegaskan bahwa seorang budak pun dapat menemukan kebenaran matematika tanpa diajarkan, karena jiwa telah mengetahui hakikatnya sebelumnya.⁴ Pengetahuan sejati, bagi Plato, bukan hasil pengalaman indrawi, melainkan hasil kontemplasi rasional terhadap dunia Idea yang bersifat tetap dan sempurna.

Dalam kerangka ini, indra hanya memberikan doxa (opini), sedangkan rasio menghasilkan epistēmē (pengetahuan sejati).⁵ Dunia empiris yang berubah tidak dapat menjadi dasar pengetahuan, sebab pengetahuan menuntut stabilitas dan kepastian. Oleh karena itu, Plato menempatkan filsafat sebagai jalan pembebasan jiwa dari penjara indrawi menuju realitas rasional yang lebih tinggi.⁶ Pengetahuan bersifat apriori—mendahului pengalaman—karena bersumber dari struktur rasional jiwa itu sendiri yang berpartisipasi dalam dunia Idea.

4.2.       Epistemologi Aristoteles: Pengetahuan sebagai Abstraksi dari Pengalaman

Berbeda secara radikal, Aristoteles menolak teori anamnesis dan menegaskan bahwa tidak ada pengetahuan tanpa pengalaman. Dalam pandangannya, jiwa manusia bukanlah wadah yang sudah berisi ide bawaan, melainkan seperti tabula rasa—lembaran kosong yang diisi melalui pengalaman.⁷ Semua pengetahuan bermula dari indera (aisthēsis), yang kemudian diolah oleh akal menjadi pengalaman (empeiria), dan akhirnya disusun secara rasional menjadi pengetahuan ilmiah (epistēmē).⁸

Dalam Posterior Analytics, Aristoteles menjelaskan bahwa pengetahuan diperoleh melalui proses induksi (epagōgē) dan abstraksi (aphairesis). Melalui pengamatan terhadap banyak hal yang partikular, akal manusia menyingkap bentuk universal yang bersifat niscaya.⁹ Pengetahuan sejati tidak diperoleh dengan “mengingat kembali” sesuatu yang pernah diketahui, tetapi dengan menyusun pola umum dari kenyataan yang teramati. Dengan demikian, epistemologi Aristoteles bersifat empiris-rasional, di mana rasio bekerja berdasarkan data indrawi, bukan terpisah darinya.¹⁰

4.3.       Kontras Metodologis: Rasionalisme vs Empirisme Awal

Perbedaan ini menandai dua paradigma besar dalam sejarah filsafat: rasionalisme Plato dan empirisme Aristoteles. Bagi Plato, sumber pengetahuan sejati adalah dunia rasional yang bebas dari perubahan; bagi Aristoteles, kebenaran justru ditemukan dalam keteraturan fenomena yang berubah.¹¹ Secara metodologis, Plato mengandalkan dialektika sebagai metode naik dari opini menuju kebenaran universal, sedangkan Aristoteles mengembangkan logika silogistik sebagai alat untuk menurunkan kesimpulan dari premis yang sudah terbukti.¹²

Dengan demikian, epistemologi Plato bersifat deduktif dan aprioristik, sedangkan epistemologi Aristoteles bersifat induktif dan aposterioristik.¹³ Namun, keduanya berbagi keyakinan bahwa pengetahuan sejati menuntut rasionalitas—hanya berbeda dalam posisi rasio terhadap pengalaman. Dalam hal ini, perbedaan epistemologis mereka mencerminkan dua orientasi metafisis: Plato menegaskan jalan vertikal menuju dunia ide, sementara Aristoteles menempuh jalan horizontal melalui pengalaman empiris.¹⁴

4.4.       Implikasi Filosofis dan Historis

Pertentangan epistemologis ini memiliki pengaruh luas dalam sejarah pemikiran Barat. Rasionalisme Descartes, Spinoza, dan Leibniz banyak berutang pada tradisi Plato, sedangkan empirisme Locke, Hume, dan Bacon jelas menurunkan garis genealogisnya dari Aristoteles.¹⁵ Pertarungan antara “pengetahuan sebagai ingatan” dan “pengetahuan sebagai abstraksi” terus mewarnai perkembangan epistemologi hingga masa modern—terutama dalam perdebatan antara idealisme dan empirisme, antara ilmu deduktif dan ilmu eksperimental.¹⁶


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 217–221.

[2]                Aristotle, Posterior Analytics, terj. Jonathan Barnes (Oxford: Clarendon Press, 1975), I.1, 71a–72a.

[3]                Plato, Phaedo, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1977), 72e–76d.

[4]                Plato, Meno, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1981), 82b–85b.

[5]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 186–190.

[6]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Oxford University Press, 1981), 62–65.

[7]                Aristotle, De Anima, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1908), II.5, 417b–418a.

[8]                Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Book A, 981a–982b.

[9]                Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 42–45.

[10]             Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 90–93.

[11]             David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 101–105.

[12]             Aristotle, Organon, terj. H. Tredennick (Cambridge: Harvard University Press, 1938), Prior Analytics, 24b–27b.

[13]             Thomas Fowler, The Principles of Morals and Political Science (London: Macmillan, 1876), 34–36.

[14]             Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto: Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1952), 55–59.

[15]             Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (London: Routledge, 2004), 142–147.

[16]             Richard Popkin, The History of Scepticism: From Savonarola to Bayle (Oxford: Oxford University Press, 2003), 8–12.


5.           Aksiologi dan Etika: Jalan Menuju Kebaikan

Dimensi aksiologis dalam filsafat Plato dan Aristoteles menunjukkan bagaimana masing-masing memahami kebaikan (agathon) sebagai puncak tujuan hidup manusia. Meskipun keduanya sama-sama meletakkan etika sebagai inti dari kehidupan yang baik (eudaimonia), mereka berbeda secara mendasar dalam cara menafsirkan sumber dan jalan pencapaiannya. Plato memandang kebaikan sebagai prinsip metafisis yang transenden, sedangkan Aristoteles menafsirkannya sebagai tujuan imanen yang terwujud dalam tindakan manusia yang rasional.¹ Perbedaan ini bukan hanya perbedaan etis, tetapi juga perbedaan nilai (axiological) yang mencerminkan dua orientasi metafisika: transendensi ide dan immanensi substansi.

5.1.       Etika Plato: Kebaikan sebagai Idea Tertinggi

Dalam sistem etika Plato, Idea tentang Kebaikan (the Idea of the Good) menempati posisi tertinggi dalam tatanan metafisis dunia Idea.² Ia adalah sumber segala realitas, pengetahuan, dan nilai moral, sebagaimana matahari memberi cahaya kepada segala sesuatu dalam alegori gua.³ Kebaikan, bagi Plato, bukan sekadar kategori moral, tetapi prinsip ontologis yang menjelaskan mengapa sesuatu “ada” dan “bernilai”. Oleh karena itu, mengenal kebaikan sejati bukan hanya persoalan etis, tetapi juga epistemologis dan metafisis.

Plato mengajarkan bahwa manusia mencapai kebajikan (aretē) melalui pengetahuan.⁴ Dalam Protagoras dan Republic, ia menegaskan bahwa tidak ada orang yang berbuat jahat dengan sadar; kejahatan muncul karena ketidaktahuan.⁵ Maka, kebajikan identik dengan pengetahuan, dan pendidikan moral menjadi jalan utama untuk membentuk manusia yang baik. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diarahkan oleh akal menuju kontemplasi terhadap kebaikan tertinggi, bukan kehidupan yang didorong oleh nafsu atau hasrat inderawi.⁶ Etika Plato bersifat intelektualistik dan kontemplatif, menekankan kebajikan rasional yang membawa jiwa menuju keserupaan dengan tatanan ilahi (homoiosis theoi).⁷

Dalam kerangka politik, konsep kebaikan ini tercermin dalam struktur ideal negara dalam Republic, di mana keadilan muncul ketika setiap bagian jiwa dan setiap kelas masyarakat menjalankan fungsi sesuai kodratnya.⁸ Dengan demikian, etika Plato bersifat normatif dan hierarkis—suatu etika yang menempatkan rasio sebagai pemimpin dan menundukkan dimensi nafsu serta keinginan di bawah prinsip keteraturan dan harmoni moral.

5.2.       Etika Aristoteles: Kebaikan sebagai Tujuan dan Aktualisasi

Aristoteles memulai etika bukan dari dunia transenden, melainkan dari pengalaman manusia yang konkret. Dalam Nicomachean Ethics, ia menyatakan bahwa semua tindakan manusia diarahkan pada suatu tujuan (telos), dan tujuan tertinggi adalah kebahagiaan (eudaimonia).⁹ Namun, kebahagiaan bukanlah kenikmatan atau kesenangan sementara, melainkan aktivitas yang menyempurnakan kodrat manusia sebagai makhluk rasional.¹⁰

Berbeda dari Plato yang memandang kebaikan sebagai entitas ideal, Aristoteles melihatnya sebagai fungsi aktualisasi diri.¹¹ Manusia baik bukan karena ia berpartisipasi dalam dunia Idea, tetapi karena ia menjalankan potensi rasionalnya secara seimbang dalam dunia nyata. Kebajikan (virtue) adalah kebiasaan memilih tindakan yang tepat di antara dua ekstrem—the doctrine of the mean—yakni keseimbangan antara kelebihan dan kekurangan.¹² Misalnya, keberanian adalah jalan tengah antara kenekatan dan ketakutan, dan kemurahan hati adalah jalan tengah antara kikir dan boros.

Dalam pandangan Aristoteles, moralitas tidak dapat direduksi pada pengetahuan murni, melainkan merupakan hasil pembiasaan (hexis) melalui tindakan berulang yang diarahkan oleh akal praktis (phronesis).¹³ Dengan demikian, etika Aristoteles bersifat teleologis dan praksis, menekankan bahwa kebaikan ditemukan dalam proses hidup yang konkret dan dalam tindakan yang rasional.¹⁴ Jika Plato menekankan kontemplasi terhadap Idea, maka Aristoteles menekankan tindakan sebagai realisasi kebajikan dalam konteks sosial dan politik.

5.3.       Perbandingan dan Implikasi Aksiologis

Kontradiksi antara etika Plato dan Aristoteles dapat dilihat sebagai perbedaan antara etika metafisis dan etika naturalistik. Plato menganggap nilai-nilai moral bersumber dari tatanan ideal yang abadi, sedangkan Aristoteles menurunkannya dari struktur kodrati manusia dan masyarakat.¹⁵ Dalam terminologi aksiologi, Plato menegaskan bahwa nilai bersifat objektif-transendental, sedangkan Aristoteles mengartikannya sebagai objektif-imanen.

Namun demikian, keduanya bersepakat bahwa kebajikan adalah jalan menuju kehidupan yang baik dan bahwa rasio merupakan kunci untuk mencapainya. Perbedaan mereka lebih bersifat arah daripada tujuan: Plato menekankan jalan ke atas menuju Idea tentang Kebaikan, sedangkan Aristoteles menekankan jalan ke dalam, yakni penyempurnaan potensi manusia dalam dunia konkret.¹⁶ Dalam perspektif historis, kedua etika ini menjadi fondasi bagi dua tradisi besar: etika idealisme moral (yang menginspirasi filsafat Kristen dan Kantianisme) dan etika eudaimonistik-realistis (yang melandasi humanisme dan etika kebajikan modern).¹⁷

Dengan demikian, etika Plato dan Aristoteles menunjukkan dua cara memahami “jalan menuju kebaikan”: satu bersifat kontemplatif dan transendental, yang lain bersifat praktis dan teleologis. Dalam ketegangannya, keduanya tetap menyatukan manusia dalam pencarian universal akan kebaikan, kebahagiaan, dan kesempurnaan diri.


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 227–231.

[2]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 505a–509b.

[3]                Ibid., 509b–511e.

[4]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 296–301.

[5]                Plato, Protagoras, terj. C. C. W. Taylor (Oxford: Oxford University Press, 1991), 345e–351b.

[6]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Oxford University Press, 1981), 89–93.

[7]                Plato, Theaetetus, terj. M. J. Levett (Indianapolis: Hackett, 1992), 176b–177a.

[8]                Plato, Republic, 433a–434d.

[9]                Aristotle, Nicomachean Ethics, terj. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), I.7, 1097a–1098a.

[10]             Ibid., I.10, 1100a–1101b.

[11]             Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 52–57.

[12]             Aristotle, Nicomachean Ethics, II.6, 1106b–1107a.

[13]             Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 123–127.

[14]             David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 129–132.

[15]             Étienne Gilson, The Christian Philosophy of St. Thomas Aquinas (New York: Random House, 1956), 45–48.

[16]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 62–67.

[17]             Martha C. Nussbaum, The Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1986), 214–220.


6.           Dimensi Politik dan Sosial

Perbedaan mendasar antara Plato dan Aristoteles dalam bidang ontologi, epistemologi, dan aksiologi juga tercermin secara tajam dalam pandangan mereka mengenai politik dan kehidupan sosial. Keduanya sama-sama menganggap politik sebagai cabang etika yang lebih luas—yakni seni mengarahkan manusia menuju kehidupan yang baik (eudaimonia) dalam komunitas.¹ Namun, perbedaan dalam pandangan mereka tentang hakikat manusia dan realitas melahirkan dua model politik yang kontras: utopianisme ideal-transendental Plato dan realisme praktis Aristoteles.

6.1.       Plato: Negara sebagai Cerminan Dunia Idea

Dalam Politeia (Republic), Plato menggambarkan negara ideal sebagai perwujudan tatanan jiwa manusia yang adil.² Sebagaimana jiwa manusia terdiri dari tiga bagian—rasional (logos), emosional (thymos), dan keinginan (epithymia)—negara pun harus disusun dalam tiga kelas: filsuf-pemimpin, penjaga (tentara), dan produsen (petani, pengrajin, pedagang).³ Keadilan tercapai bila setiap bagian menjalankan fungsinya sesuai dengan kodratnya: akal memimpin, keberanian melindungi, dan hasrat tunduk pada akal.⁴

Plato menolak bentuk pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena, yang menurutnya menyebabkan ketidakteraturan dan relativisme moral.⁵ Ia menganggap bahwa pemerintahan yang baik hanya dapat dijalankan oleh filsuf-raja (philosopher-king)—orang yang telah mencapai pengetahuan tentang Idea Kebaikan dan mampu menata negara berdasarkan pengetahuan tersebut.⁶ Dengan demikian, legitimasi politik tidak bersumber dari kehendak rakyat, melainkan dari pengetahuan rasional tentang kebenaran universal.

Konsep politik Plato bersifat teleologis dan normatif, karena negara dipandang sebagai instrumen pendidikan moral bagi jiwa manusia. Tujuan tertinggi politik adalah membentuk masyarakat yang selaras dengan tatanan kosmis, bukan sekadar mengatur kepentingan ekonomi atau kekuasaan.⁷ Dalam konteks ini, negara ideal merupakan refleksi dari struktur metafisis dunia Idea: stabil, hierarkis, dan berorientasi pada kebaikan yang tertinggi.

6.2.       Aristoteles: Negara sebagai Organisme Etis dan Alamiah

Aristoteles, yang pernah menjadi murid Plato selama dua puluh tahun, menyetujui bahwa manusia adalah makhluk sosial dan politik, tetapi menolak model utopis dan metafisis gurunya. Dalam Politika, ia menulis bahwa manusia adalah zoon politikon—makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis (negara-kota).⁸ Berbeda dari Plato yang menganggap negara sebagai tiruan dunia Idea, Aristoteles menegaskan bahwa negara tumbuh secara alami (physis) dari kebutuhan dasar manusia untuk bekerja sama demi kelangsungan hidup.⁹

Menurut Aristoteles, negara bukan entitas transendental, melainkan organisme etis yang bertujuan memungkinkan setiap warga mencapai kehidupan yang baik melalui partisipasi rasional dalam kehidupan bersama.¹⁰ Dalam pandangan ini, politik bukan sekadar seni memerintah, tetapi sarana untuk mengembangkan kebajikan (aretē) melalui kebersamaan sosial.¹¹ Etika individu dan etika sosial saling melengkapi; kebajikan pribadi hanya bermakna bila dijalankan dalam konteks komunitas.

Aristoteles juga menolak sistem politik yang terlalu ideal dan abstrak. Ia menekankan moderasi dan keseimbangan dalam bentuk pemerintahan—menghindari ekstrem oligarki dan demokrasi.¹² Pemerintahan terbaik baginya adalah politeia, yaitu sistem campuran yang memadukan elemen keadilan aristokratik dengan partisipasi rakyat.¹³ Prinsip utamanya bukan keseragaman (seperti dalam Republic Plato), tetapi pluralitas dan proporsionalitas, karena setiap manusia memiliki fungsi dan kebajikan yang berbeda sesuai kapasitasnya.¹⁴

6.3.       Kontras dan Implikasi Sosial-Filosofis

Kontradiksi antara Plato dan Aristoteles dalam filsafat politik menggambarkan dua paradigma besar dalam sejarah pemikiran sosial: idealismenya Plato dan realisme politik Aristoteles. Bagi Plato, struktur sosial yang baik harus mengikuti pola metafisis kebenaran yang universal dan abadi.¹⁵ Sementara bagi Aristoteles, struktur sosial harus didasarkan pada pengamatan empiris terhadap kehidupan manusia konkret dan kondisi historis masyarakat.¹⁶

Plato memandang ketertiban sosial sebagai hasil harmoni yang diciptakan dari atas ke bawah, melalui tatanan moral yang dipimpin oleh akal. Sebaliknya, Aristoteles melihat masyarakat sebagai entitas dinamis yang tumbuh dari bawah ke atas, melalui interaksi timbal balik antarwarga dan institusi sosial.¹⁷ Secara aksiologis, Plato menempatkan keadilan sebagai cerminan tatanan ilahi, sedangkan Aristoteles menafsirkannya sebagai prinsip keadilan distributif—yakni memberi kepada setiap orang sesuai dengan kontribusi dan kebutuhannya.¹⁸

Dalam perkembangan sejarah, kedua pandangan ini memengaruhi dua tradisi besar: politik idealisme normatif (Plato), yang menginspirasi pemikiran utopis dan teokratis abad pertengahan, serta politik naturalistik dan humanistik (Aristoteles), yang menjadi dasar bagi teori negara modern dan demokrasi etis.¹⁹ Dari ketegangan keduanya lahirlah tradisi filsafat politik Barat yang terus memperdebatkan hubungan antara moralitas dan kekuasaan, antara idealisme dan pragmatisme, serta antara kebenaran dan konsensus sosial.²⁰


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 233–237.

[2]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 368c–369b.

[3]                Ibid., 435a–441c.

[4]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 322–326.

[5]                Plato, Republic, 557a–562a.

[6]                Ibid., 473c–480a.

[7]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Oxford University Press, 1981), 141–147.

[8]                Aristotle, Politics, terj. Benjamin Jowett (Oxford: Clarendon Press, 1885), I.2, 1253a.

[9]                Ibid., I.1, 1252a–1252b.

[10]             David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 138–142.

[11]             Aristotle, Nicomachean Ethics, terj. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), I.9, 1099a–1100b.

[12]             Aristotle, Politics, IV.11, 1295a–1296a.

[13]             Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 158–161.

[14]             Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 63–68.

[15]             Plato, Laws, terj. Trevor Saunders (London: Penguin, 1970), 713c–714b.

[16]             Étienne Gilson, The Unity of Philosophical Experience (New York: Scribner’s, 1937), 27–30.

[17]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 99–104.

[18]             Aristotle, Nicomachean Ethics, V.3, 1131a–1132b.

[19]             Leo Strauss, The City and Man (Chicago: University of Chicago Press, 1964), 52–59.

[20]             Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (London: Routledge, 2004), 165–169.


7.           Dimensi Logika dan Metafisika

Dimensi logika dan metafisika dalam pemikiran Plato dan Aristoteles memperlihatkan salah satu titik divergensi paling signifikan dalam sejarah filsafat Barat. Jika bagi Plato logika berfungsi sebagai jalan dialektis menuju dunia Idea, maka bagi Aristoteles logika adalah alat analitis untuk memahami struktur realitas yang konkret.¹ Perbedaan ini berakar pada asumsi metafisis yang berbeda: Plato menempatkan realitas sejati di luar dunia empiris, sedangkan Aristoteles menegaskan bahwa realitas sejati hadir dalam bentuk-bentuk individual yang teramati. Dengan demikian, perbedaan dalam struktur logika keduanya sejajar dengan perbedaan dalam struktur ontologis dan epistemologis mereka.

7.1.       Logika dan Dialektika dalam Pemikiran Plato

Dalam sistem Plato, logika belum diformulasikan secara formal sebagaimana dalam tradisi Aristotelian, tetapi dihadirkan dalam bentuk dialektika (dialektikē)—yakni metode dialogis dan reflektif untuk menyingkap kebenaran.² Dialektika bukan sekadar debat intelektual, melainkan proses pendakian jiwa dari dunia bayangan menuju realitas sejati, sebagaimana dijelaskan dalam alegori gua.³

Bagi Plato, dialektika adalah jalan filsafat tertinggi karena memungkinkan jiwa untuk melampaui opini (doxa) menuju pengetahuan sejati (epistēmē).⁴ Proses ini melibatkan pembagian dan penggabungan ide—diairesis (analisis) dan synagōgē (sintesis)—yang bertujuan untuk mengenali hubungan antar-Idea dan menempatkan setiap konsep dalam hierarki rasionalnya.⁵ Dengan demikian, logika bagi Plato bersifat ontologis, karena setiap argumen rasional sekaligus merupakan refleksi dari tatanan Idea yang transenden. Dialektika tidak berhenti pada koherensi proposisional, tetapi menuntun jiwa menuju kontemplasi atas Idea of the Good sebagai sumber seluruh kebenaran dan eksistensi.⁶

Namun, karakter logika Plato tetap bersifat non-formal: ia lebih menyerupai seni filsafat daripada sistem analitik. Karena orientasinya pada Idea, logika Plato berfungsi sebagai jalan menuju metafisika, bukan sebagai alat yang berdiri sendiri. Dalam hal ini, dialektika bersifat teleologis dan mistik-rasional, karena berupaya menyingkap keteraturan kosmis melalui refleksi intelektual yang berorientasi pada nilai-nilai abadi.⁷

7.2.       Logika Formal dan Struktur Metafisika Aristoteles

Aristoteles mengambil titik tolak yang berbeda secara radikal. Ia menolak metode dialektis Plato yang cenderung spekulatif dan menggantikannya dengan sistem logika formal yang ketat. Dalam karyanya Organon—yang mencakup Categories, De Interpretatione, Prior Analytics, dan Posterior Analytics—Aristoteles merumuskan logika silogistik, yaitu metode deduktif yang menjamin validitas kesimpulan dari premis yang benar.⁸

Logika bagi Aristoteles bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen pengetahuan ilmiah (organon berarti “alat”).⁹ Ia menganggap bahwa pengetahuan sejati harus didasarkan pada proposisi yang bersifat universal dan niscaya, yang dapat dibuktikan melalui deduksi logis dari prinsip pertama.¹⁰ Logika menjadi struktur yang menghubungkan pengalaman empiris dengan pengetahuan rasional. Dalam kerangka ini, rasio tidak lagi sekadar menatap dunia Idea, melainkan menstrukturkan dunia pengalaman itu sendiri.

Hubungan antara logika dan metafisika pada Aristoteles sangat erat. Dalam Metaphysics, ia menyebut filsafat pertama sebagai ilmu tentang “ada sejauh ia ada” (being qua being), yaitu studi tentang prinsip universal dari segala eksistensi.¹¹ Metafisika tidak terpisah dari dunia nyata, melainkan berupaya menjelaskan struktur terdalam dari kenyataan yang konkret. Prinsip substance (ousia), form (morphe), matter (hyle), serta potentiality (dynamis) dan actuality (energeia) menjadi kerangka ontologis yang memungkinkan analisis rasional terhadap dunia.¹²

Dengan demikian, logika Aristoteles bersifat immanen dan sistematis, menjadi fondasi bagi seluruh pengetahuan ilmiah.¹³ Jika dialektika Plato berfungsi sebagai jalan kontemplatif menuju dunia Idea, maka logika Aristoteles berfungsi sebagai alat metodologis untuk menata pengetahuan empiris secara rasional.

7.3.       Metafisika: Dari Dunia Idea ke Dunia Substansi

Dalam metafisika, Plato dan Aristoteles menempuh dua arah yang berlawanan. Bagi Plato, hakikat realitas terletak di dunia Idea yang transenden dan tidak berubah; benda-benda indrawi hanyalah bayangan dari bentuk idealnya.¹⁴ Sebaliknya, bagi Aristoteles, bentuk dan materi bersatu dalam substansi yang konkret—realitas sejati terdapat pada entitas yang hidup, berubah, dan aktual di dunia ini.¹⁵

Plato menegaskan bahwa Idea bersifat separate (terpisah) dari dunia materi, sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa bentuk hanya eksis in re (di dalam benda itu sendiri), bukan ante rem (sebelum benda).¹⁶ Dari perbedaan ini muncul dua arus metafisika besar: transendentalisme Platonik dan immanensisme Aristotelian. Perbedaan ini bukan sekadar soal lokasi realitas, tetapi juga menyangkut cara manusia memahami kebenaran: apakah kebenaran itu diingat dari dunia suprasensual, atau ditemukan melalui refleksi atas realitas empiris yang teratur.¹⁷


Pengaruh dan Sintesis dalam Tradisi Filsafat

Kontras logika dan metafisika antara Plato dan Aristoteles melahirkan dua tradisi epistemik besar dalam sejarah pemikiran: metafisika idealistik (Platonik) dan metafisika realistis (Aristotelian). Filsafat Neoplatonis, seperti Plotinus, mencoba mensintesiskan keduanya dengan menempatkan “Yang Satu” (the One) sebagai sumber kesatuan antara Idea dan substansi.¹⁸ Di abad pertengahan, Thomas Aquinas menggabungkan kerangka Aristotelian dengan nilai-nilai transendental Platonik dalam teologi skolastik, membentuk dasar bagi metafisika Kristiani.¹⁹

Dalam konteks modern, pengaruh keduanya masih terasa: rasionalisme dan idealisme menurunkan warisan Plato, sedangkan empirisme dan sains modern berakar pada metodologi Aristoteles.²⁰ Logika Aristoteles menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan hingga munculnya logika simbolik modern, sementara metafisika Plato terus menginspirasi refleksi filosofis tentang nilai, keabadian, dan makna keberadaan.

Dengan demikian, perbedaan mereka bukan sekadar pertentangan historis, melainkan dialog abadi antara dua cara berpikir: kontemplatif dan analitik, transendental dan imanen, ideal dan realistis—dua kutub yang terus menegangkan dan memperkaya filsafat sepanjang zaman.


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 241–246.

[2]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 310–315.

[3]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 514a–518d.

[4]                Plato, Sophist, terj. Nicholas P. White (Indianapolis: Hackett, 1993), 253c–259d.

[5]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Oxford University Press, 1981), 152–156.

[6]                Plato, Republic, 508e–509b.

[7]                Werner Jaeger, The Theology of the Early Greek Philosophers (Oxford: Clarendon Press, 1947), 182–186.

[8]                Aristotle, Organon, terj. H. Tredennick (Cambridge: Harvard University Press, 1938), Prior Analytics, 24b–26a.

[9]                Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 71–75.

[10]             Aristotle, Posterior Analytics, I.2, 71b–72a.

[11]             Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Book Γ, 1003a–1005b.

[12]             David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 155–160.

[13]             Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto: Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1952), 61–65.

[14]             Plato, Phaedo, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1977), 74a–77a.

[15]             Aristotle, Metaphysics, Z.7, 1032a–1033b.

[16]             Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1, 249–252.

[17]             Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 174–177.

[18]             Plotinus, Enneads, terj. Stephen MacKenna (London: Penguin, 1991), V.1–V.3.

[19]             Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.44–47.

[20]             Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (London: Routledge, 2004), 172–177.


8.           Kritik Internal dan Perspektif Sintesis

Kontradiksi antara pemikiran Plato dan Aristoteles telah menjadi titik sentral dalam sejarah filsafat Barat, melahirkan perdebatan panjang antara idealisme transendental dan realisme imanen. Namun, sebagaimana tradisi filosofis berkembang, banyak pemikir kemudian berupaya menyelidiki kelemahan internal dari masing-masing sistem sekaligus mencari kemungkinan sintesis yang dapat mengatasi keterbatasan keduanya. Kritik terhadap Plato dan Aristoteles tidak hanya datang dari luar, tetapi juga muncul dari dalam sistem mereka sendiri, ketika penerus-penerusnya mencoba menyesuaikan doktrin mereka dengan pengalaman manusia yang lebih konkret dan kompleks.

8.1.       Kritik terhadap Plato: Problem Dualisme dan Transendensi

Kritik utama terhadap filsafat Plato terletak pada dualisme ontologisnya yang memisahkan secara tajam antara dunia Idea dan dunia empiris. Aristoteles sendiri sudah menilai bahwa gagasan tentang “bentuk-bentuk terpisah” justru memperbanyak entitas tanpa penjelasan kausal yang memadai (principium multiplicationis entium).¹ Jika dunia Idea sepenuhnya terpisah dari dunia materi, bagaimana mungkin ia dapat menjelaskan perubahan dan kausalitas di dunia konkret?² Kritik ini menyoroti bahwa sistem Plato cenderung mengabaikan dimensi empiris dari pengalaman manusia, sehingga terjebak dalam abstraksi metafisis yang sulit diverifikasi.

Selain itu, filsafat etika dan politik Plato dianggap terlalu utopis dan elitis.³ Konsep philosopher-king dan tatanan negara ideal dalam Republic sering dikritik karena mengorbankan kebebasan individu demi keseragaman moral dan rasionalitas abstrak.⁴ Dalam konteks modern, idealisme Plato juga dinilai problematis karena kecenderungannya menolak pluralitas dan dinamika sejarah manusia nyata. Meskipun demikian, keunggulan Plato terletak pada kemampuannya menegaskan dimensi normatif kebenaran—bahwa realitas manusia harus diarahkan kepada nilai-nilai ideal seperti kebaikan, keadilan, dan keindahan.⁵

8.2.       Kritik terhadap Aristoteles: Problem Immanensi dan Teleologi

Sementara itu, sistem Aristoteles menghadapi kritik dalam hal reduksi transendensi dan keterikatan pada naturalisme. Dengan menolak dunia Idea dan menempatkan bentuk di dalam benda, Aristoteles memang berhasil mengatasi dualisme Plato, tetapi konsekuensinya adalah hilangnya ruang bagi realitas transenden yang menjadi dasar nilai dan makna moral.⁶ Kritik dari tradisi Neoplatonis dan teologis, seperti Plotinus dan Thomas Aquinas, menunjukkan bahwa filsafat Aristotelian cenderung menutup kemungkinan bagi keberadaan “Yang Mutlak” di luar dunia empiris.⁷

Selain itu, teleologi Aristoteles—yakni pandangan bahwa segala sesuatu bergerak menuju tujuan tertentu—juga dikritik karena terlalu antropomorfik dan tidak kompatibel dengan pendekatan ilmiah modern.⁸ Ilmu pengetahuan empiris kontemporer, sejak Galileo dan Newton, menolak ide bahwa alam memiliki tujuan intrinsik; sebaliknya, alam dipahami melalui hukum kausal yang mekanistik. Namun demikian, kekuatan Aristoteles terletak pada keberhasilannya menegaskan struktur rasional dalam kenyataan, serta memformulasikan metode ilmiah dan logika yang menjadi dasar ilmu pengetahuan selama dua milenium.⁹

8.3.       Upaya Sintesis: Dari Neoplatonisme hingga Skolastisisme

Upaya untuk mensintesiskan kedua pandangan besar ini dimulai sejak masa Neoplatonisme. Plotinus (204–270 M) berusaha mengatasi dikotomi Plato–Aristoteles dengan mengajukan gagasan tentang the One, realitas tertinggi yang menjadi sumber segala bentuk dan substansi.¹⁰ Bagi Plotinus, dunia Idea dan dunia materi tidak sepenuhnya terpisah, melainkan bergradasi dalam hierarki emanasi yang mengalir dari kesatuan yang paling sempurna menuju keberagaman yang lebih rendah.¹¹ Melalui konsep ini, transendensi Plato dipertemukan dengan immanensi Aristoteles dalam satu sistem metafisika integral.

Pada abad pertengahan, Thomas Aquinas melanjutkan sintesis tersebut dengan menggabungkan kerangka metafisis Aristoteles dengan orientasi teologis Platonik.¹² Ia menegaskan bahwa bentuk dan materi memang bersatu dalam substansi (mengikuti Aristoteles), tetapi keberadaannya tetap bergantung pada Tuhan sebagai “Ada itu sendiri” (ipsum esse subsistens), sesuai warisan Plato.¹³ Dengan demikian, Aquinas menciptakan sistem metafisika realistik-transendental, yang menempatkan dunia empiris sebagai cerminan dari realitas ilahi.

8.4.       Perspektif Modern: Dialektika dan Integrasi

Di zaman modern, sintesis baru antara Plato dan Aristoteles ditemukan dalam filsafat dialektis Hegel. Hegel menafsirkan seluruh sejarah filsafat sebagai gerak dialektis antara ide dan realitas, di mana kebenaran bukan berada di salah satu pihak, melainkan dalam proses rekonsiliasi keduanya.¹⁴ Bagi Hegel, Idea (konsep) dan realitas material saling menegasikan dan menyempurnakan diri dalam perkembangan Roh (Geist). Dengan demikian, dunia Idea Plato menjadi dinamis, sementara realisme Aristoteles diberi dimensi rasional yang progresif.¹⁵

Pendekatan yang lebih kontemporer, seperti filsafat eksistensial dan fenomenologi, juga menawarkan bentuk sintesis baru: mereka menerima empirisme Aristotelian tentang pengalaman konkret, tetapi sekaligus mengakui dimensi transendental kesadaran sebagaimana digagas Plato.¹⁶ Heidegger, misalnya, berupaya melampaui metafisika tradisional dengan membongkar kembali makna “ada” (Sein) yang selama ini disempitkan oleh dikotomi Plato–Aristoteles.¹⁷

Dalam konteks etika dan politik modern, upaya sintesis ini terlihat dalam pemikiran seperti Hannah Arendt, yang menggabungkan kontemplasi Platonik dengan praksis Aristotelian dalam konsep vita activa dan vita contemplativa.¹⁸ Arendt menegaskan bahwa kehidupan manusia memerlukan keseimbangan antara refleksi dan tindakan, antara dunia ide dan dunia kerja sosial-politik.


Signifikansi Filosofis: Menuju Filsafat Integral

Kritik dan sintesis terhadap Plato dan Aristoteles membuka jalan menuju apa yang dapat disebut sebagai filsafat integral—suatu upaya untuk memadukan dimensi ideal dan empiris, transenden dan imanen, universal dan partikular.¹⁹ Sintesis semacam ini tidak meniadakan ketegangan di antara keduanya, melainkan memahaminya sebagai dialektika kreatif yang membentuk dinamika berpikir manusia.

Dengan demikian, warisan Plato dan Aristoteles tetap relevan bukan karena kesempurnaan sistem mereka, tetapi karena ketegangan produktif yang mereka ciptakan. Dari idealisme Plato kita belajar tentang arah normatif dan nilai; dari realisme Aristoteles kita belajar tentang keteraturan dan rasionalitas dunia nyata.²⁰ Filsafat, pada akhirnya, berkembang bukan dengan memilih salah satu di antara mereka, melainkan dengan menghadirkan keduanya dalam dialog abadi tentang kebenaran, keberadaan, dan kebajikan.


Footnotes

[1]                Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), A.9, 991a–992a.

[2]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 253–255.

[3]                Karl Popper, The Open Society and Its Enemies, Vol. 1: The Spell of Plato (London: Routledge, 2002), 45–51.

[4]                Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (London: Routledge, 2004), 143–147.

[5]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 355–360.

[6]                Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto: Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1952), 68–72.

[7]                Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 189–193.

[8]                Richard Sorabji, Necessity, Cause and Blame: Perspectives on Aristotle’s Theory (London: Duckworth, 1980), 37–41.

[9]                Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 82–86.

[10]             Plotinus, Enneads, terj. Stephen MacKenna (London: Penguin, 1991), V.1–V.3.

[11]             John Dillon, The Middle Platonists (London: Duckworth, 1977), 36–40.

[12]             Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.44–47.

[13]             Étienne Gilson, The Christian Philosophy of St. Thomas Aquinas (New York: Random House, 1956), 78–83.

[14]             G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, terj. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 89–94.

[15]             Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 23–27.

[16]             Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, terj. F. Kersten (The Hague: Nijhoff, 1983), 42–46.

[17]             Martin Heidegger, Being and Time, terj. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 67–71.

[18]             Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 11–14.

[19]             Ken Wilber, A Theory of Everything: An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 15–20.

[20]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 122–126.


9.           Relevansi Kontemporer

Kontradiksi antara pemikiran Plato dan Aristoteles tidak berhenti sebagai wacana klasik yang tertutup di masa Yunani Kuno; justru ia menjadi sumbu utama perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Setiap upaya manusia untuk memahami realitas, kebenaran, dan nilai masih dapat ditelusuri ke dalam dialektika antara idealisme Platonik dan realisme Aristotelian. Dalam konteks kontemporer—baik dalam filsafat, ilmu pengetahuan, etika, politik, maupun budaya digital—perdebatan antara keduanya terus memberikan inspirasi, kritik, dan arah refleksi baru.

9.1.       Relevansi dalam Filsafat dan Epistemologi Modern

Dalam filsafat modern, gagasan Plato menemukan resonansi dalam tradisi rasionalisme dan idealisme, seperti yang dikembangkan oleh René Descartes, Immanuel Kant, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Descartes menghidupkan kembali dualisme Platonik melalui pemisahan antara res cogitans (pikiran) dan res extensa (materi), sementara Kant mengadopsi semangat transendental Plato dengan menegaskan bahwa bentuk-bentuk rasional (a priori forms of intuition) menentukan pengalaman empiris.¹ Sebaliknya, semangat Aristotelian muncul kembali dalam empirisme Locke dan Hume, serta dalam positivisme Comte dan empirisme logis abad ke-20.²

Dalam filsafat ilmu, pengaruh Aristoteles terlihat dalam paradigma induktif dan empiris yang melandasi sains modern. Konsep causa materialis dan causa efficiens Aristotelian menjadi dasar metodologi ilmiah yang menekankan penjelasan kausal dan observasi sistematis.³ Namun, pendekatan ini kini dikritik karena mengabaikan dimensi nilai dan makna, yang justru dihidupkan kembali oleh tradisi Platonik melalui filsafat idealisme kritis dan fenomenologi Husserlian.⁴

Filsafat kontemporer, terutama melalui pemikiran Martin Heidegger dan Maurice Merleau-Ponty, berusaha merekonsiliasi keduanya: keberadaan tidak lagi dipahami sebagai dunia objektif (Aristotelian) atau ide transenden (Platonik), melainkan sebagai pengalaman kehadiran yang dialami manusia secara eksistensial.⁵ Dengan demikian, relevansi keduanya terletak pada kemampuan untuk menegaskan dua kutub epistemologis manusia: rasionalitas yang menstruktur pengalaman (Aristoteles) dan kesadaran yang melampaui empiris menuju makna (Plato).

9.2.       Relevansi Etis dan Aksiologis

Dalam bidang etika, idealisme moral Plato menemukan gaungnya dalam etika deontologis Kantian, yang menekankan prinsip moral universal dan otonomi rasional.⁶ Sementara itu, Aristoteles menjadi inspirasi utama bagi etika kebajikan modern, seperti yang dikembangkan oleh Elizabeth Anscombe dan Alasdair MacIntyre, yang menekankan konteks sosial dan kebiasaan praksis sebagai dasar moralitas.⁷

Kedua pendekatan ini terbukti relevan dalam menghadapi krisis nilai kontemporer: idealisme Plato menegaskan perlunya prinsip moral universal dalam menghadapi relativisme budaya, sementara realisme Aristoteles menekankan pentingnya kebajikan kontekstual dalam dunia yang plural dan dinamis. Dalam konteks globalisasi dan teknologi digital, keseimbangan antara ideal moral dan praksis etis menjadi semakin penting. Tanpa visi ideal, etika kehilangan arah; tanpa praksis empiris, ideal menjadi kosong.⁸

Filsafat etika kebajikan digital, misalnya, kini memanfaatkan semangat Aristotelian untuk mengembangkan moralitas berbasis karakter dalam dunia maya, sembari mengadopsi orientasi Platonik terhadap kebaikan bersama (the common good).⁹ Dengan demikian, filsafat etika kontemporer menghidupkan kembali dialektika keduanya sebagai dasar bagi kebajikan digital yang rasional, otonom, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan.

9.3.       Relevansi Sosial dan Politik

Dalam ranah sosial-politik, Plato dan Aristoteles tetap menjadi rujukan fundamental dalam memahami hubungan antara kekuasaan, keadilan, dan tatanan sosial. Model negara ideal Plato dengan tatanan hierarkisnya mengilhami banyak bentuk pemikiran utopis dan teori keadilan normatif, dari City of God karya Augustinus hingga Republic versi modern ala Karl Popper dan John Rawls.¹⁰ Sebaliknya, politik Aristoteles yang realistis menjadi dasar teori polity dan demokrasi deliberatif kontemporer, yang menekankan partisipasi, kebajikan sipil, dan keseimbangan kekuasaan.¹¹

Dalam konteks masyarakat global saat ini—yang ditandai oleh krisis legitimasi politik, ketimpangan ekonomi, dan degradasi sosial—tensi antara idealisme normatif Plato dan realisme pragmatis Aristoteles tampak semakin aktual.¹² Para pemikir seperti Jürgen Habermas, misalnya, berusaha menggabungkan ideal rasionalitas komunikatif (Platonik) dengan praksis demokratis deliberatif (Aristotelian), untuk membangun masyarakat yang adil melalui dialog dan partisipasi rasional.¹³

Lebih jauh, filsafat politik kontemporer menegaskan perlunya sintesis antara idealisme dan realisme: tanpa idealisme, politik kehilangan arah moral; tanpa realisme, ia kehilangan daya guna. Maka, kedua pemikir ini tetap menjadi dua kutub normatif dalam memahami bagaimana manusia membangun kehidupan sosial yang rasional, adil, dan berkeadaban.¹⁴

9.4.       Relevansi dalam Sains dan Teknologi

Dalam perkembangan sains dan teknologi modern, pengaruh Aristoteles terasa kuat dalam metodologi eksperimental dan penekanan pada observasi empiris. Namun, munculnya filsafat sains post-positivistik menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah juga dibentuk oleh konstruksi teoretis dan nilai-nilai ideal, sebagaimana ditekankan Plato.¹⁵ Thomas Kuhn dan Karl Popper, misalnya, menunjukkan bahwa ilmu tidak berkembang secara linear, tetapi melalui paradigma rasional yang bersifat historis dan ideal.¹⁶

Dalam filsafat teknologi, perdebatan ini muncul dalam pertanyaan: apakah teknologi harus tunduk pada nilai-nilai ideal kemanusiaan (Platonik) atau pada rasionalitas fungsional dan efisiensi (Aristotelian)? Pemikiran kontemporer seperti Heidegger dan Don Ihde mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya alat empiris, tetapi juga cara dunia “menampakkan diri” kepada manusia—suatu sintesis antara ide dan realitas.¹⁷

Dengan demikian, baik dalam sains maupun teknologi, sintesis Plato dan Aristoteles menjadi kunci untuk menghadirkan kemajuan yang ilmiah sekaligus humanistik, yakni kemajuan yang rasional secara metodologis tetapi juga bermakna secara etis dan eksistensial.


Menuju Filsafat Integratif Abad ke-21

Di abad ke-21, dunia menghadapi tantangan kompleks: krisis ekologi, disrupsi digital, dan ketegangan antara tradisi serta modernitas. Dalam konteks ini, dialektika Plato–Aristoteles menemukan relevansi baru dalam bentuk filsafat integratif yang berupaya menyatukan idealisme nilai dengan realisme tindakan.¹⁸ Pendekatan ini tampak dalam filsafat integral Ken Wilber, yang menafsirkan perbedaan keduanya sebagai dua dimensi kesadaran manusia: yang vertikal (transenden) dan yang horizontal (imanen).¹⁹

Dengan demikian, warisan keduanya mengajarkan bahwa filsafat tidak boleh hanya menjadi kontemplasi (seperti dalam Plato) atau hanya praksis (seperti dalam Aristoteles), melainkan harus menjadi dialog dinamis antara gagasan dan kenyataan. Filsafat kontemporer, dalam arti sejati, adalah usaha untuk terus menjembatani jurang antara dunia Idea dan dunia Substansi—antara yang seharusnya (das Sollen) dan yang ada (das Sein).²⁰


Footnotes

[1]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, terj. Norman Kemp Smith (New York: St. Martin’s Press, 1965), A19–B22.

[2]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 5: British Empiricism (New York: Image Books, 1994), 17–23.

[3]                Aristotle, Physics, terj. R. P. Hardie dan R. K. Gaye (Oxford: Clarendon Press, 1930), II.3, 194b–195a.

[4]                Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, terj. F. Kersten (The Hague: Nijhoff, 1983), 41–47.

[5]                Martin Heidegger, Being and Time, terj. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 67–72.

[6]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, terj. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 60–65.

[7]                Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 132–137.

[8]                Martha C. Nussbaum, The Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1986), 289–293.

[9]                Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 45–49.

[10]             Karl Popper, The Open Society and Its Enemies (London: Routledge, 2002), 105–112.

[11]             Aristotle, Politics, terj. Benjamin Jowett (Oxford: Clarendon Press, 1885), III.6, 1278a–1279a.

[12]             John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 1971), 3–7.

[13]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society, terj. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 86–92.

[14]             Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 34–39.

[15]             Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 52–57.

[16]             Karl Popper, Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 59–63.

[17]             Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth (Bloomington: Indiana University Press, 1990), 33–38.

[18]             Edgar Morin, On Complexity (Cresskill: Hampton Press, 2008), 14–19.

[19]             Ken Wilber, A Theory of Everything: An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 22–26.

[20]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, terj. Joel Weinsheimer dan Donald Marshall (New York: Continuum, 2004), 408–412.


10.       Sintesis Filosofis: Menuju Ontologi Relasional

Pertentangan antara Plato dan Aristoteles merupakan salah satu dialektika paling produktif dalam sejarah filsafat: antara idealisme transendental dan realisme imanen, antara dunia Idea dan dunia Substansi, antara rasionalitas kontemplatif dan pengalaman empiris. Namun, justru dari ketegangan inilah muncul kemungkinan sintesis filosofis yang lebih integral—sebuah kerangka berpikir yang tidak meniadakan perbedaan keduanya, tetapi menggabungkannya dalam suatu ontologi relasional, yaitu pandangan bahwa realitas bersifat interdependen, dinamis, dan memiliki dimensi transendental sekaligus imanen.¹

Ontologi relasional berangkat dari kesadaran bahwa keberadaan (being) tidak dapat dipahami secara terpisah—baik hanya sebagai entitas ideal seperti dalam sistem Plato, maupun semata sebagai substansi individual seperti dalam sistem Aristoteles. Realitas justru tampak sebagai jaringan hubungan (web of relations) di mana bentuk dan materi, ide dan pengalaman, universal dan partikular, saling menegaskan eksistensinya.² Dengan demikian, filsafat kontemporer yang berupaya menyintesiskan keduanya bukan sekadar menggabungkan dua sistem metafisis, tetapi membangun paradigma baru tentang “ada” sebagai relasionalitas.

10.1.    Dari Idealisme ke Relasionalitas: Menafsir Ulang Dunia Idea

Plato menempatkan Idea sebagai realitas tertinggi yang menjadi sumber segala keberadaan.³ Namun, jika dunia Idea dipahami bukan sebagai entitas terpisah melainkan sebagai dimensi makna dan struktur relasional realitas, maka teori Idea dapat direinterpretasi secara non-dualistik. Dalam pendekatan ini, Idea bukanlah entitas yang berdiri di luar dunia, melainkan pola rasional yang mengatur hubungan antar-eksistensi.⁴

Interpretasi ini sejalan dengan pembacaan modern terhadap Plato oleh A. N. Whitehead, yang menegaskan bahwa “seluruh filsafat Barat hanyalah catatan kaki bagi Plato,” tetapi juga menambahkan bahwa realitas sejati adalah proses yang mengaktualkan bentuk-bentuk ideal dalam waktu dan ruang.⁵ Dalam kerangka ini, Idea dipahami sebagai prinsip keteraturan yang bekerja secara dinamis di dalam dunia, bukan di luar dunia. Hal ini membuka jalan menuju sintesis antara transendensi dan immanensi, antara nilai ideal dan perwujudan empiris.

10.2.    Dari Substansi ke Relasionalitas: Menafsir Ulang Dunia Aristoteles

Aristoteles menolak dunia Idea dan menegaskan bahwa realitas sejati ada pada substansi konkret yang terdiri atas bentuk dan materi.⁶ Namun, dalam perkembangan metafisika modern, konsep substansi Aristotelian sering dikritik karena terlalu menekankan entitas individual dan stabilitas ontologis. Ontologi relasional menawarkan reinterpretasi terhadap gagasan ini dengan menegaskan bahwa substansi tidak berdiri sendiri, melainkan eksis dalam jejaring relasi yang membentuk dan mempertahankannya.⁷

Proses aktualisasi yang ditegaskan Aristoteles—yakni gerak dari potensi menuju aktual—dapat dipahami secara relasional sebagai dinamika antara entitas dan lingkungannya.⁸ Dalam kerangka ini, energeia (aktualitas) bukanlah kesempurnaan statis, melainkan keterlibatan aktif dalam struktur kosmos yang saling mempengaruhi. Dengan demikian, teleologi Aristotelian dapat direvisi sebagai teleologi partisipatif, di mana tujuan bukan ditentukan oleh entitas individual, tetapi oleh keseluruhan relasi yang membentuk keberadaannya.⁹

10.3.    Upaya Sintesis dalam Sejarah Filsafat

Gagasan untuk menyintesiskan Plato dan Aristoteles secara ontologis sebenarnya telah dilakukan sejak masa Neoplatonisme, terutama oleh Plotinus, yang melihat bahwa segala sesuatu memancar (emanates) dari “Yang Satu” (the One) dan kembali kepadanya melalui hierarki realitas.¹⁰ Pandangan ini kemudian diperluas oleh Thomas Aquinas, yang menggabungkan prinsip Aristotelian tentang bentuk-materi dengan teologi Platonik tentang partisipasi dalam Tuhan sebagai ipsum esse subsistens.¹¹ Aquinas berhasil menunjukkan bahwa keberadaan memiliki struktur ganda: transenden dalam sumbernya, dan imanen dalam manifestasinya.¹²

Dalam konteks modern, Hegel menghidupkan kembali sintesis ini dalam bentuk dialektika: Idea tidak berada di luar realitas, tetapi menyejarah di dalamnya melalui proses negasi dan rekonsiliasi.¹³ Dengan demikian, “yang ideal” dan “yang nyata” tidak berlawanan, melainkan merupakan dua momen dari perkembangan Roh (Geist). Filsafat Hegel membuka jalan bagi konsep ontologi relasional modern—yang melihat realitas sebagai proses menjadi yang rasional dan historis.¹⁴

10.4.    Ontologi Relasional dalam Filsafat Kontemporer

Filsafat kontemporer menunjukkan peningkatan minat terhadap paradigma relasional. Dalam fenomenologi, Edmund Husserl dan Maurice Merleau-Ponty menekankan bahwa kesadaran selalu berarah pada sesuatu (intentionality)—artinya, subjek dan objek tidak terpisah, tetapi selalu berada dalam hubungan makna.¹⁵ Dalam eksistensialisme, Martin Buber melalui konsep Ich-Du menegaskan bahwa keberadaan manusia tidak dapat dipahami tanpa relasi antarpribadi yang otentik.¹⁶

Sementara itu, dalam filsafat prosessual A. N. Whitehead, realitas dipahami sebagai jaringan kejadian (actual occasions) yang saling berhubungan dalam satu kesatuan kosmis.¹⁷ Realitas bukan terdiri atas benda-benda statis, tetapi atas peristiwa yang saling menimbulkan dan menegaskan. Dalam pandangan ini, warisan Plato (struktur ideal) dan Aristoteles (proses aktual) menemukan titik temu dalam konsep “proses relasional” sebagai bentuk keberadaan yang paling fundamental.¹⁸

10.5.    Arah Baru: Ontologi Relasional Humanistik

Dalam konteks kemanusiaan modern, sintesis antara Plato dan Aristoteles menjadi relevan bagi pembentukan ontologi humanistik, di mana manusia dipahami bukan sekadar individu (Aristotelian) atau jiwa rasional abstrak (Platonik), tetapi sebagai makhluk relasional yang eksistensinya terjalin dalam konteks sosial, ekologis, dan spiritual.¹⁹

Ontologi relasional humanistik menegaskan bahwa nilai, makna, dan kebenaran tidak terletak di luar dunia, tetapi tumbuh dari relasi yang hidup antara manusia, alam, dan transendensi.²⁰ Dalam kerangka ini, rasionalitas Aristoteles menemukan kedalaman etis melalui visi ideal Plato, sedangkan idealisme Plato memperoleh konkretisasi melalui praksis etis Aristoteles.²¹ Hasilnya adalah suatu paradigma filosofis yang integratif, dialogis, dan kontekstual—sebuah jalan tengah yang mengakui keterbatasan manusia tanpa kehilangan arah transendentalnya.


Kesimpulan Sintetis

Sintesis filosofis antara Plato dan Aristoteles tidak berarti penghapusan perbedaan mereka, tetapi peneguhan bahwa kebenaran metafisis dan empiris saling membutuhkan. Dunia Idea memberikan orientasi nilai bagi dunia Substansi, sementara dunia Substansi mewujudkan nilai-nilai Idea dalam tindakan dan keberadaan.²² Dengan demikian, ontologi relasional menjadi ruang konseptual baru yang mempersatukan transendensi dan immanensi, nilai dan fakta, bentuk dan materi, kebenaran dan tindakan.

Melalui pendekatan ini, filsafat tidak lagi terpecah antara kontemplasi dan praksis, tetapi menjadi upaya menyeluruh untuk memahami keberadaan sebagai relasi hidup—sebuah kesatuan dinamis antara berpikir, menjadi, dan berbuat.²³ Inilah arah baru filsafat setelah Plato dan Aristoteles: bukan sekadar memilih antara idealisme atau realisme, tetapi menempuh jalan relasional, tempat keduanya saling melengkapi dalam kesatuan yang integral.²⁴


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 263–267.

[2]                Martin Buber, I and Thou, terj. Ronald Gregor Smith (New York: Scribner’s, 1958), 25–28.

[3]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 508d–511e.

[4]                W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 372–376.

[5]                Alfred North Whitehead, Process and Reality, ed. David Ray Griffin dan Donald W. Sherburne (New York: Free Press, 1978), 39–41.

[6]                Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Z.3, 1029a–1032b.

[7]                Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto: Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1952), 83–87.

[8]                Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 202–205.

[9]                David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 169–172.

[10]             Plotinus, Enneads, terj. Stephen MacKenna (London: Penguin, 1991), V.2–V.5.

[11]             Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.44–47.

[12]             Étienne Gilson, The Christian Philosophy of St. Thomas Aquinas (New York: Random House, 1956), 88–92.

[13]             G. W. F. Hegel, Science of Logic, terj. A. V. Miller (London: Allen & Unwin, 1969), 62–67.

[14]             Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 30–34.

[15]             Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, terj. F. Kersten (The Hague: Nijhoff, 1983), 52–57.

[16]             Martin Buber, I and Thou, 42–47.

[17]             Alfred North Whitehead, Process and Reality, 78–82.

[18]             David Ray Griffin, Whitehead’s Radically Different Postmodern Philosophy (Albany: SUNY Press, 2007), 53–56.

[19]             Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, terj. Alphonso Lingis (The Hague: Nijhoff, 1969), 88–91.

[20]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, terj. Joel Weinsheimer dan Donald Marshall (New York: Continuum, 2004), 411–416.

[21]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 94–98.

[22]             Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Oxford University Press, 1981), 201–204.

[23]             Paul Ricoeur, Oneself as Another, terj. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 312–317.

[24]             Ken Wilber, A Theory of Everything: An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 33–38.


11.       Kesimpulan

Pertentangan antara Plato dan Aristoteles merupakan salah satu dialektika paling berpengaruh dalam sejarah filsafat. Dari perdebatan keduanya—antara dunia Idea dan dunia Substansi, antara rasionalisme idealis dan realisme empiris—lahir fondasi bagi seluruh perkembangan filsafat Barat. Namun, sebagaimana telah terlihat dalam perjalanan panjang sejarah pemikiran, kontradiksi tersebut bukan semata sebuah pertentangan absolut, melainkan dialog filosofis yang produktif, yang terus memperkaya pemahaman manusia tentang realitas, pengetahuan, nilai, dan tindakan.¹

11.1.    Rekapitulasi Sintetis: Dua Wajah Realitas

Plato dan Aristoteles sama-sama berusaha menjawab pertanyaan metafisis paling mendasar: apa yang nyata dan bagaimana manusia mengetahuinya. Plato memandang realitas sejati sebagai tatanan ideal yang bersifat transenden dan abadi, sementara Aristoteles menegaskan realitas sebagai substansi konkret yang terwujud dalam bentuk-bentuk yang dapat dialami.²

Keduanya, meskipun berseberangan, sesungguhnya berbicara tentang dua aspek dari keberadaan yang sama—yakni dimensi normatif (ideal) dan dimensi faktual (empiris) dari realitas.³ Idealisme Plato memberikan arah dan makna bagi tindakan manusia, sedangkan realisme Aristoteles memberikan dasar konkret bagi pelaksanaannya. Dalam dialektika keduanya, filsafat menemukan keseimbangan antara visi dan verifikasi, antara prinsip dan pengalaman, antara logos dan physis.⁴

11.2.    Sumbangan terhadap Tradisi Filsafat

Warisan Plato dan Aristoteles menembus batas zaman dan aliran. Dari Plato lahir tradisi rasionalisme, idealisme, dan mistisisme metafisis; dari Aristoteles berkembang empirisme, logika, dan sains sistematis.⁵ Keduanya meletakkan dasar bagi etika, politik, dan estetika yang masih menjadi acuan hingga kini. Dalam ranah etika, Plato menekankan kebajikan kontemplatif dan kesatuan moral dengan kebaikan tertinggi, sedangkan Aristoteles menegaskan kebajikan praksis dan keseimbangan moral dalam kehidupan bersama.⁶

Dalam politik, Plato menampilkan visi negara ideal yang berorientasi pada keadilan dan hierarki moral, sementara Aristoteles mengajarkan pentingnya partisipasi dan moderasi dalam kehidupan polis.⁷ Dengan demikian, keduanya membentuk dua paradigma yang saling melengkapi: filsafat idealisme normatif dan filsafat realisme praksis. Dari sintesis keduanya muncul tradisi filsafat yang terus berusaha menjembatani antara apa yang seharusnya dan apa yang ada.⁸

11.3.    Signifikansi Kontemporer: Dari Dualisme ke Relasionalitas

Dalam konteks modern dan postmodern, warisan Plato dan Aristoteles menemukan makna baru. Dunia kini menghadapi krisis epistemik, moral, dan ekologis yang menuntut integrasi antara rasionalitas ilmiah dan kesadaran etis—antara struktur empiris Aristotelian dan nilai-nilai ideal Platonik.⁹ Maka, sintesis keduanya menjadi sangat relevan: sains membutuhkan horizon nilai, dan etika memerlukan dasar empiris yang konkret.

Filsafat kontemporer, terutama melalui pendekatan fenomenologis, eksistensialis, dan prosesual, menghidupkan kembali semangat sintesis ini dalam bentuk ontologi relasional.¹⁰ Dalam paradigma ini, keberadaan dipahami sebagai jejaring makna dan hubungan yang dinamis, bukan entitas statis yang terpisah. Dengan demikian, Plato dan Aristoteles dapat dibaca bukan sebagai oposisi, tetapi sebagai dua arah dalam gerak spiral filsafat menuju pemahaman integral tentang keberadaan.¹¹


Penutup: Menuju Kebijaksanaan Integral

Dari keseluruhan analisis ini, dapat disimpulkan bahwa Plato dan Aristoteles adalah dua tiang epistemik dan ontologis dari rumah besar filsafat. Plato mengajarkan manusia untuk menatap ke atas, mencari makna yang abadi dalam dunia nilai; Aristoteles mengajarkan manusia untuk menatap ke sekeliling, memahami tatanan dunia dalam rasionalitas empiris.¹² Keduanya menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati lahir dari keseimbangan antara kontemplasi dan tindakan, antara ideal dan realitas.

Dalam semangat ini, filsafat yang hidup bukanlah filsafat yang memilih salah satu jalan, tetapi yang berani berdiri di antara keduanya—menyatukan pandangan vertikal Plato dan horizontal Aristoteles dalam suatu visi integral-humanistik.¹³ Inilah sintesis tertinggi dari warisan mereka: sebuah sapientia integra, kebijaksanaan utuh yang mengakui bahwa manusia, dalam pencarian kebenarannya, selalu berada di antara langit Idea dan bumi Substansi.¹⁴


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 270–274.

[2]                Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992), 507b–509d; Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), Z.3, 1029a–1032b.

[3]                Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto: Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1952), 92–96.

[4]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Oxford University Press, 1981), 201–205.

[5]                Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (London: Routledge, 2004), 180–186.

[6]                Aristotle, Nicomachean Ethics, terj. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999), II.6, 1106b–1107a.

[7]                Plato, Laws, terj. Trevor Saunders (London: Penguin, 1970), 714a–718b.

[8]                Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 215–219.

[9]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, terj. Joel Weinsheimer dan Donald Marshall (New York: Continuum, 2004), 408–413.

[10]             Alfred North Whitehead, Process and Reality, ed. David Ray Griffin dan Donald W. Sherburne (New York: Free Press, 1978), 78–82.

[11]             Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, terj. Alphonso Lingis (The Hague: Nijhoff, 1969), 87–90.

[12]             W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 380–384.

[13]             Ken Wilber, A Theory of Everything: An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 39–43.

[14]             Paul Ricoeur, Oneself as Another, terj. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 320–324.


Daftar Pustaka

Annas, J. (1981). An Introduction to Plato’s Republic. Oxford University Press.

Arendt, H. (1958). The Human Condition. University of Chicago Press.

Aristotle. (1885). Politics (B. Jowett, Trans.). Clarendon Press.

Aristotle. (1908). De Anima (W. D. Ross, Trans.). Clarendon Press.

Aristotle. (1924). Metaphysics (W. D. Ross, Trans.). Clarendon Press.

Aristotle. (1930). Physics (R. P. Hardie & R. K. Gaye, Trans.). Clarendon Press.

Aristotle. (1938). Organon (H. Tredennick, Trans.). Harvard University Press.

Aristotle. (1975). Posterior Analytics (J. Barnes, Trans.). Clarendon Press.

Aristotle. (1999). Nicomachean Ethics (T. Irwin, Trans.). Hackett Publishing.

Barnes, J. (2000). Aristotle: A Very Short Introduction. Oxford University Press.

Buber, M. (1958). I and Thou (R. G. Smith, Trans.). Scribner’s.

Copleston, F. (1993). A History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome. Image Books.

Copleston, F. (1994). A History of Philosophy, Vol. 5: British Empiricism. Image Books.

Dillon, J. (1977). The Middle Platonists. Duckworth.

Fowler, T. (1876). The Principles of Morals and Political Science. Macmillan.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and Method (J. Weinsheimer & D. Marshall, Trans.). Continuum.

Gilson, É. (1937). The Unity of Philosophical Experience. Scribner’s.

Gilson, É. (1952). Being and Some Philosophers. Pontifical Institute of Mediaeval Studies.

Gilson, É. (1956). The Christian Philosophy of St. Thomas Aquinas. Random House.

Griffin, D. R. (2007). Whitehead’s Radically Different Postmodern Philosophy. SUNY Press.

Guthrie, W. K. C. (1975). A History of Greek Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues. Cambridge University Press.

Heidegger, M. (1962). Being and Time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.

Hegel, G. W. F. (1969). Science of Logic (A. V. Miller, Trans.). Allen & Unwin.

Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology of Spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press.

Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Husserl, E. (1983). Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy (F. Kersten, Trans.). Nijhoff.

Jaeger, W. (1948). Aristotle: Fundamentals of the History of His Development (R. Robinson, Trans.). Clarendon Press.

Jaeger, W. (1947). The Theology of the Early Greek Philosophers. Clarendon Press.

Kant, I. (1965). Critique of Pure Reason (N. K. Smith, Trans.). St. Martin’s Press.

Kant, I. (1998). Groundwork of the Metaphysics of Morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.

Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. University of Chicago Press.

Levinas, E. (1969). Totality and Infinity (A. Lingis, Trans.). Nijhoff.

MacIntyre, A. (1981). After Virtue: A Study in Moral Theory. University of Notre Dame Press.

MacIntyre, A. (1999). Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues. Open Court.

Morin, E. (2008). On Complexity. Hampton Press.

Nussbaum, M. C. (1986). The Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy. Cambridge University Press.

Plato. (1977). Phaedo (G. M. A. Grube, Trans.). Hackett Publishing.

Plato. (1981). Meno (G. M. A. Grube, Trans.). Hackett Publishing.

Plato. (1991). Protagoras (C. C. W. Taylor, Trans.). Oxford University Press.

Plato. (1992). Republic (G. M. A. Grube, Trans.). Hackett Publishing.

Plato. (1992). Theaetetus (M. J. Levett, Trans.). Hackett Publishing.

Plato. (1993). Sophist (N. P. White, Trans.). Hackett Publishing.

Plato. (1970). Laws (T. Saunders, Trans.). Penguin Books.

Plotinus. (1991). The Enneads (S. MacKenna, Trans.). Penguin Books.

Popkin, R. (2003). The History of Scepticism: From Savonarola to Bayle. Oxford University Press.

Popper, K. (1963). Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. Routledge.

Popper, K. (2002). The Open Society and Its Enemies, Vol. 1: The Spell of Plato. Routledge.

Rawls, J. (1971). A Theory of Justice. Harvard University Press.

Ricoeur, P. (1992). Oneself as Another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press.

Ross, D. (1995). Aristotle. Routledge.

Russell, B. (2004). A History of Western Philosophy. Routledge.

Sorabji, R. (1980). Necessity, Cause and Blame: Perspectives on Aristotle’s Theory. Duckworth.

Strauss, L. (1964). The City and Man. University of Chicago Press.

Taylor, C. (1979). Hegel and Modern Society. Cambridge University Press.

Thomas Aquinas. (1947). Summa Theologiae (Vol. I, qq. 44–47).

Vallor, S. (2016). Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting. Oxford University Press.

Whitehead, A. N. (1978). Process and Reality (D. R. Griffin & D. W. Sherburne, Eds.). Free Press.

Wilber, K. (2000). A Theory of Everything: An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality. Shambhala.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar