Kontradiksi Plato Aristoteles
Antara Dunia Idea dan Dunia Nyata
Alihkan ke: Pemikiran Plato, Pemikiran Aristoteles.
Abstrak
Artikel ini menganalisis secara sistematis dan
komprehensif kontradiksi filosofis antara pemikiran Plato dan Aristoteles,
dua figur sentral dalam tradisi filsafat Yunani yang membentuk fondasi bagi
perkembangan rasionalitas Barat. Melalui pendekatan historis, ontologis,
epistemologis, aksiologis, serta sosial-politik, penelitian ini menelusuri
perbedaan mendasar antara idealisme transendental Plato—yang menekankan
dunia Idea sebagai realitas sejati—dan realisme imanen Aristoteles, yang
menegaskan substansi konkret sebagai dasar keberadaan.
Kajian ini menunjukkan bahwa pertentangan keduanya
tidak hanya bersifat metafisis, tetapi juga metodologis dan etis. Plato
memandang pengetahuan sebagai proses anamnesis (ingatan jiwa terhadap
dunia Idea), sedangkan Aristoteles menegaskan pengetahuan sebagai hasil
abstraksi dari pengalaman empiris. Dalam bidang etika, Plato menempatkan “Idea
tentang Kebaikan” sebagai prinsip moral tertinggi yang transenden,
sedangkan Aristoteles menekankan eudaimonia sebagai aktualisasi rasional
dalam kehidupan praksis. Di ranah politik, Plato menawarkan model ideal negara
yang hierarkis dan normatif, sementara Aristoteles membangun teori negara
naturalistik yang berakar pada partisipasi dan kebajikan warga.
Melalui pembacaan kritis dan dialogis, artikel ini
menyimpulkan bahwa meskipun keduanya tampak berlawanan, perbedaan tersebut
bersifat komplementer: Plato memberikan arah normatif bagi pencarian
nilai dan kebenaran, sementara Aristoteles menyediakan kerangka metodologis
bagi pengetahuan empiris dan praksis etis. Dari sintesis keduanya, lahirlah
suatu paradigma baru yang disebut ontologi relasional, yang memandang
realitas sebagai jaringan dinamis antara bentuk dan materi, nilai dan fakta,
serta idealitas dan konkretitas. Artikel ini menegaskan bahwa sintesis ini
relevan untuk menjawab tantangan filsafat kontemporer—terutama dalam upaya
membangun pendekatan integral dan humanistik terhadap ilmu, etika, dan
kehidupan sosial-politik modern.
Kata Kunci: Plato,
Aristoteles, Idealisme, Realisme, Ontologi Relasional, Epistemologi, Etika,
Politik, Humanisme, Filsafat Yunani.
PEMBAHASAN
Analisis Filosofis atas Kontradiksi Pemikiran Plato dan
Aristoteles
1.
Pendahuluan
Filsafat Yunani Kuno menjadi tonggak utama bagi
pembentukan tradisi intelektual Barat. Di antara para pemikir besar yang
mewariskan dasar-dasar pemikiran rasional dan sistematis, dua nama menonjol
sebagai poros utama: Plato dan Aristoteles. Hubungan keduanya
tidak sekadar antara guru dan murid, melainkan antara dua paradigma filosofis
yang berhadapan secara dialektis—antara idealisme transendental dan realisme
empiris. Kontradiksi di antara keduanya bukan sekadar perbedaan metodologis,
tetapi juga merupakan refleksi dari dua cara manusia memahami realitas: apakah
hakikat kebenaran berada di dunia ide yang abadi atau di dalam benda-benda
konkret yang dapat dialami secara indrawi.¹
Plato (427–347 SM), murid dari Socrates,
mengembangkan filsafatnya berdasarkan keyakinan akan keberadaan dunia Idea
(Forms)—suatu tatanan realitas yang sempurna, abadi, dan merupakan sumber
segala kebenaran. Menurutnya, dunia empiris yang kita alami hanyalah bayangan
atau tiruan dari realitas ideal yang berada di luar ruang dan waktu.² Sementara
itu, Aristoteles (384–322 SM), murid Plato yang paling terkenal, menolak
dualisme ontologis tersebut dan mengajukan konsep substansi (ousia),
yang menegaskan bahwa bentuk dan materi menyatu dalam setiap entitas yang
konkret.³ Dengan demikian, perdebatan antara keduanya bukan sekadar soal teori
metafisika, melainkan menyentuh jantung dari persoalan pengetahuan, nilai, dan
kehidupan sosial-politik.
Dalam sejarah pemikiran, pertentangan antara Plato
dan Aristoteles menciptakan dua arus besar: idealisme dan realisme.
Idealisme menekankan bahwa realitas sejati adalah mental atau spiritual,
sementara realisme menegaskan bahwa realitas bersifat independen dari kesadaran
manusia.⁴ Pertentangan ini berlanjut sepanjang sejarah filsafat Barat—dari
rasionalisme Descartes hingga empirisme Locke, dari idealisme Kant hingga
positivisme Comte. Dengan demikian, memahami kontradiksi Plato dan Aristoteles
bukan hanya soal sejarah gagasan, tetapi juga soal memahami akar dari struktur
berpikir manusia modern.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis
kontradiksi filosofis antara Plato dan Aristoteles secara sistematis melalui
tiga dimensi utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi,
serta memperluas pembahasan pada dimensi sosial-politik dan logika yang
menjadi implikasi praktis pemikiran mereka. Pendekatan yang digunakan bersifat analitis-komparatif,
dengan menelusuri baik teks-teks primer (seperti Republic, Timaeus,
dan Metaphysics) maupun komentar-komentar sekunder dari filsuf dan
sejarawan pemikiran. Harapannya, pembahasan ini tidak hanya menegaskan
kontradiksi di antara keduanya, tetapi juga mengungkap kemungkinan sintesis
filosofis yang lebih integral antara dunia Idea dan dunia nyata—antara visi
Plato yang transenden dan realisme Aristoteles yang imanen.
Footnotes
[1]
Julia Annas, Ancient Philosophy: A Very Short Introduction
(Oxford: Oxford University Press, 2000), 14–18.
[2]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube
(Indianapolis: Hackett, 1992), 509d–511e.
[3]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross
(Oxford: Clarendon Press, 1924), Book Z, 1029a–1032b.
[4]
Frederick Copleston, A History of Philosophy,
Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 214–219.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis Pemikiran
Untuk memahami kontradiksi antara pemikiran Plato
dan Aristoteles secara utuh, perlu ditelusuri terlebih dahulu konteks historis
dan genealogis yang melatarbelakangi kemunculan sistem filsafat mereka.
Keduanya lahir dalam periode yang sama—abad ke-4 sebelum Masehi—yakni masa
keemasan filsafat Yunani yang menjadi puncak perkembangan rasionalitas setelah
masa pra-Sokratik dan masa Socrates. Tradisi filsafat Yunani berkembang melalui
tiga fase besar: fase kosmologis (para filsuf alam), fase antropologis
(Socrates dan kaum sofis), dan fase sistematis (Plato dan Aristoteles).¹ Dalam
fase terakhir inilah filsafat mulai membangun kerangka konseptual yang teratur,
sistematis, dan metodologis.
Plato, yang lahir di Athena dari keluarga
bangsawan, merupakan murid langsung dari Socrates. Pengalaman menyaksikan
kematian gurunya—yang dihukum mati oleh negara atas tuduhan merusak moral pemuda—meninggalkan
jejak mendalam dalam pandangan filosofisnya.² Tragedi tersebut menumbuhkan
keyakinan Plato bahwa dunia empiris dan politik manusia sarat
ketidaksempurnaan, ketidakadilan, dan relativisme moral. Dari sinilah muncul
gagasan metafisis tentang dunia Idea (εἶδος) sebagai realitas sejati yang tidak
berubah, serta pandangan bahwa tugas filsafat adalah mengarahkan jiwa manusia
menuju pengetahuan yang lebih tinggi dan kebaikan yang absolut (the Good).³
Dengan demikian, latar historis Plato diwarnai oleh pencarian moral dan
spiritual yang lahir dari krisis etis dan politis Athena pasca-Perang
Peloponnesos.
Sebaliknya, Aristoteles lahir di Stagira dan datang
ke Akademia Plato pada usia muda. Ia belajar selama dua puluh tahun di bawah
bimbingan Plato, tetapi kemudian menempuh jalan filsafat yang berbeda.
Aristoteles menolak dualisme ontologis gurunya dan menegaskan bahwa bentuk
(form) dan materi (matter) tidak terpisah, melainkan bersatu dalam substansi
(ousia).⁴ Pandangan ini tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan dalam konteks
intelektual di mana ilmu pengetahuan mulai berkembang—khususnya melalui
pengamatan empiris terhadap alam dan kehidupan biologis. Aristoteles, yang juga
menjadi guru bagi Alexander Agung, menaruh perhatian besar pada sistematisasi
pengetahuan, membangun disiplin logika, biologi, etika, dan politik berdasarkan
observasi konkret.⁵
Dari sisi genealogis, pemikiran Plato dan
Aristoteles berakar pada tradisi filsafat pra-Sokratik yang telah menanamkan
dua kecenderungan utama: rasionalisme metafisis (seperti Parmenides dan
Pythagoras) dan empirisme naturalistik (seperti Heraclitus dan
Demokritos). Plato mewarisi kecenderungan metafisis Parmenides yang menekankan
keberadaan sebagai yang tetap, sementara Aristoteles mewarisi semangat
Heraclitus yang menekankan perubahan dan dinamika sebagai bagian hakiki
realitas.⁶ Dengan demikian, perbedaan keduanya dapat dipahami sebagai
kelanjutan dialektika filsafat Yunani antara “yang tetap” dan “yang
berubah”, antara “abadi” dan “sementara”.
Selain itu, institusionalisasi filsafat dalam
bentuk Akademia oleh Plato dan Lyceum oleh Aristoteles
memperlihatkan perbedaan orientasi filosofis mereka. Akademia menekankan
kontemplasi dan idealisme rasional, sedangkan Lyceum menekankan penelitian
empiris dan pengumpulan data ilmiah.⁷ Keduanya bukan sekadar lembaga
pendidikan, tetapi manifestasi konkret dari dua paradigma berpikir yang akan
mendominasi sejarah intelektual Barat selama berabad-abad. Dari segi historis,
dapat dikatakan bahwa Plato menyiapkan landasan metafisis bagi dunia ide,
sedangkan Aristoteles membangun struktur ilmiah bagi dunia pengalaman—dua
fondasi yang terus menjadi pusat perdebatan dalam epistemologi dan ontologi
hingga masa modern.
Footnotes
[1]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy:
Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge
University Press, 1975), 12–15.
[2]
Diogenes Laertius, Lives of Eminent Philosophers,
terj. R. D. Hicks (Cambridge: Harvard University Press, 1925), 3:39–41.
[3]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube
(Indianapolis: Hackett, 1992), 508e–509b.
[4]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross
(Oxford: Clarendon Press, 1924), Book Z, 1032a–1033b.
[5]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 24–29.
[6]
Frederick Copleston, A History of Philosophy,
Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 92–98.
[7]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the
History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon
Press, 1948), 56–61.
3.
Ontologi:
Dunia Idea dan Dunia Substansi
Pertentangan antara Plato dan Aristoteles mencapai
puncaknya pada ranah ontologi, yaitu perihal hakikat realitas dan
keberadaan. Bagi Plato, realitas sejati bukanlah dunia empiris yang tampak di
hadapan indra, melainkan dunia Idea (eidos atau forms) yang
bersifat abadi, immaterial, dan sempurna.¹ Dunia indrawi hanyalah bayangan atau
refleksi dari dunia Idea, sebagaimana tergambar dalam alegori gua (Allegory
of the Cave) dalam Republic.² Dalam alegori tersebut, manusia
digambarkan seperti tawanan yang hanya melihat bayangan-bayangan di dinding gua
dan menganggapnya sebagai realitas sejati. Hanya melalui filsafat dan
rasionalitas jiwa, manusia dapat keluar dari gua dan melihat sumber cahaya
kebenaran—yakni Idea tentang Kebaikan (the Idea of the Good).³
Bagi Plato, setiap entitas di dunia empiris
memperoleh keberadaannya sejauh ia berpartisipasi (methexis) dalam dunia
Idea. Artinya, keindahan benda-benda di dunia hanya mungkin karena ada Idea
tentang Keindahan, dan keadilan di dunia hanya mungkin karena ada Idea
tentang Keadilan.⁴ Dengan demikian, dunia Idea merupakan dasar ontologis
dari segala sesuatu, dan pengetahuan sejati hanya mungkin diperoleh melalui
kontemplasi terhadap dunia ideal tersebut. Ontologi Plato bersifat transenden
dan dualistik, karena memisahkan secara tegas antara dunia abadi (realitas
hakiki) dan dunia sementara (realitas fenomenal).
Aristoteles menolak pandangan dualistik ini secara
fundamental. Dalam Metaphysics, ia mengkritik teori Idea Plato dengan
argumen bahwa pengandaian dunia terpisah yang menjadi sebab bagi dunia ini
justru menciptakan problem ganda: dua dunia yang tidak pernah benar-benar
berinteraksi.⁵ Menurut Aristoteles, bentuk (form) tidak berdiri di luar
benda, melainkan inheren dalam benda itu sendiri. Ia memperkenalkan konsep hylomorfisme
(hyle = materi, morphe = bentuk), yang menegaskan bahwa setiap
substansi (ousia) tersusun dari materi dan bentuk sebagai dua prinsip
yang saling melengkapi.⁶
Dalam kerangka Aristotelian, bentuk adalah prinsip
aktualitas yang mengatur dan memberi struktur pada materi, sedangkan materi
adalah potensi yang dapat diwujudkan menjadi aktual.⁷ Dengan demikian,
keberadaan sesuatu ditentukan oleh kesatuan antara potensi dan
aktualitas—antara yang mungkin dan yang terwujud. Realitas, bagi Aristoteles,
bukanlah dunia di luar pengalaman, melainkan dunia yang dapat diamati dan
dianalisis berdasarkan struktur internalnya. Ontologi Aristoteles bersifat immanen
dan monistik, karena menolak adanya realitas yang terpisah dari pengalaman
empiris.
Konsekuensi dari perbedaan ini amat besar. Dalam
sistem Plato, dunia ide merupakan tatanan normatif yang menjadi ukuran bagi
segala sesuatu, sedangkan bagi Aristoteles, realitas tidak tunduk pada norma
eksternal, melainkan memiliki prinsip keteraturan internal.⁸ Bagi Plato,
perubahan dianggap sebagai penurunan dari kesempurnaan; bagi Aristoteles,
perubahan justru merupakan gerak menuju aktualisasi diri yang lebih sempurna.⁹
Maka, di sinilah tampak dua paradigma besar metafisika Barat: Plato menegaskan
realitas sebagai “yang tetap”, sedangkan Aristoteles menegaskan realitas
sebagai “yang menjadi”.
Namun, sekalipun berbeda, keduanya sama-sama
berusaha menjelaskan keteraturan dalam dunia. Plato menemukan keteraturan itu
dalam dunia Idea yang kekal, sementara Aristoteles menemukannya dalam struktur
realitas yang rasional.¹⁰ Jika Plato menekankan aspek ontologi transendental,
maka Aristoteles menegaskan ontologi naturalistik. Dari sinilah muncul
dialektika abadi antara idealisme dan realisme, antara metafisika nilai dan
metafisika substansi—sebuah ketegangan yang terus menginspirasi tradisi
filsafat hingga kini.
Footnotes
[1]
Plato, Phaedo, terj. G. M. A. Grube
(Indianapolis: Hackett, 1977), 74–77.
[2]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube
(Indianapolis: Hackett, 1992), 514a–517a.
[3]
Ibid., 517b–518c.
[4]
Frederick Copleston, A History of Philosophy,
Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 209–212.
[5]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross
(Oxford: Clarendon Press, 1924), Book A, 987a–988b.
[6]
W. K. C. Guthrie, Aristotle: An Encounter
(London: Routledge, 1981), 64–68.
[7]
Aristotle, Physics, terj. R. P. Hardie dan
R. K. Gaye (Oxford: Clarendon Press, 1930), Book II, 192b–194b.
[8]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2000), 33–37.
[9]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals of the
History of His Development, terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon
Press, 1948), 72–76.
[10]
David Ross, Aristotle (London: Routledge,
1995), 88–91.
4.
Epistemologi:
Pengetahuan sebagai Ingatan vs Abstraksi
Dalam tradisi
filsafat Yunani, epistemologi—yakni teori tentang pengetahuan—selalu berkaitan
erat dengan pandangan tentang realitas (ontologi). Karena itu, perbedaan
mendasar antara Plato dan Aristoteles dalam memahami hakikat realitas secara
langsung memengaruhi konsepsi mereka tentang bagaimana pengetahuan diperoleh
dan divalidasi. Jika dalam ontologi Plato menekankan dunia Idea yang
transenden, maka dalam epistemologinya ia mengajarkan bahwa pengetahuan sejati
(epistēmē)
hanya mungkin diperoleh melalui jiwa yang mampu mengingat kembali kebenaran
yang pernah diketahuinya sebelum terikat pada tubuh.¹ Sebaliknya, Aristoteles,
yang menolak adanya dunia Idea yang terpisah, memandang pengetahuan sebagai
hasil dari proses abstraksi terhadap pengalaman empiris.²
4.1.
Epistemologi Plato: Pengetahuan sebagai
Anamnesis (Ingatan Jiwa)
Plato meyakini bahwa
jiwa manusia bersifat abadi dan telah menyaksikan dunia Idea sebelum turun ke
dunia materi. Karena itu, belajar bukanlah proses memperoleh pengetahuan baru,
melainkan proses mengingat kembali (anamnesis)
terhadap kebenaran yang telah ada dalam jiwa.³ Dalam dialog Meno,
ia menegaskan bahwa seorang budak pun dapat menemukan kebenaran matematika
tanpa diajarkan, karena jiwa telah mengetahui hakikatnya sebelumnya.⁴
Pengetahuan sejati, bagi Plato, bukan hasil pengalaman indrawi, melainkan hasil
kontemplasi rasional terhadap dunia Idea yang bersifat tetap dan sempurna.
Dalam kerangka ini,
indra hanya memberikan doxa (opini), sedangkan rasio
menghasilkan epistēmē (pengetahuan sejati).⁵
Dunia empiris yang berubah tidak dapat menjadi dasar pengetahuan, sebab
pengetahuan menuntut stabilitas dan kepastian. Oleh karena itu, Plato
menempatkan filsafat sebagai jalan pembebasan jiwa dari penjara indrawi menuju
realitas rasional yang lebih tinggi.⁶ Pengetahuan bersifat apriori—mendahului
pengalaman—karena bersumber dari struktur rasional jiwa itu sendiri yang
berpartisipasi dalam dunia Idea.
4.2.
Epistemologi Aristoteles: Pengetahuan sebagai
Abstraksi dari Pengalaman
Berbeda secara
radikal, Aristoteles menolak teori anamnesis dan menegaskan bahwa tidak ada
pengetahuan tanpa pengalaman. Dalam pandangannya, jiwa manusia bukanlah wadah
yang sudah berisi ide bawaan, melainkan seperti tabula rasa—lembaran kosong yang
diisi melalui pengalaman.⁷ Semua pengetahuan bermula dari indera
(aisthēsis), yang kemudian diolah oleh akal menjadi pengalaman
(empeiria), dan akhirnya disusun secara rasional menjadi pengetahuan
ilmiah (epistēmē).⁸
Dalam Posterior
Analytics, Aristoteles menjelaskan bahwa pengetahuan diperoleh
melalui proses induksi (epagōgē) dan abstraksi
(aphairesis). Melalui pengamatan terhadap banyak hal yang
partikular, akal manusia menyingkap bentuk universal yang bersifat niscaya.⁹
Pengetahuan sejati tidak diperoleh dengan “mengingat kembali” sesuatu yang
pernah diketahui, tetapi dengan menyusun pola umum dari kenyataan yang
teramati. Dengan demikian, epistemologi Aristoteles bersifat empiris-rasional,
di mana rasio bekerja berdasarkan data indrawi, bukan terpisah darinya.¹⁰
4.3.
Kontras Metodologis: Rasionalisme vs Empirisme
Awal
Perbedaan ini
menandai dua paradigma besar dalam sejarah filsafat: rasionalisme
Plato dan empirisme Aristoteles. Bagi
Plato, sumber pengetahuan sejati adalah dunia rasional yang bebas dari
perubahan; bagi Aristoteles, kebenaran justru ditemukan dalam keteraturan
fenomena yang berubah.¹¹ Secara metodologis, Plato mengandalkan dialektika
sebagai metode naik dari opini menuju kebenaran universal, sedangkan
Aristoteles mengembangkan logika silogistik sebagai alat untuk menurunkan
kesimpulan dari premis yang sudah terbukti.¹²
Dengan demikian,
epistemologi Plato bersifat deduktif dan aprioristik,
sedangkan epistemologi Aristoteles bersifat induktif dan aposterioristik.¹³
Namun, keduanya berbagi keyakinan bahwa pengetahuan sejati menuntut
rasionalitas—hanya berbeda dalam posisi rasio terhadap pengalaman. Dalam hal
ini, perbedaan epistemologis mereka mencerminkan dua orientasi metafisis: Plato
menegaskan jalan vertikal menuju dunia ide, sementara Aristoteles menempuh
jalan horizontal melalui pengalaman empiris.¹⁴
4.4.
Implikasi Filosofis dan Historis
Pertentangan
epistemologis ini memiliki pengaruh luas dalam sejarah pemikiran Barat.
Rasionalisme Descartes, Spinoza, dan Leibniz banyak berutang pada tradisi
Plato, sedangkan empirisme Locke, Hume, dan Bacon jelas menurunkan garis
genealogisnya dari Aristoteles.¹⁵ Pertarungan antara “pengetahuan sebagai
ingatan” dan “pengetahuan sebagai abstraksi” terus mewarnai
perkembangan epistemologi hingga masa modern—terutama dalam perdebatan antara
idealisme dan empirisme, antara ilmu deduktif dan ilmu eksperimental.¹⁶
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 217–221.
[2]
Aristotle, Posterior Analytics, terj. Jonathan Barnes (Oxford: Clarendon Press,
1975), I.1, 71a–72a.
[3]
Plato, Phaedo, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1977),
72e–76d.
[4]
Plato, Meno, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1981),
82b–85b.
[5]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975),
186–190.
[6]
Julia Annas, An Introduction to
Plato’s Republic (Oxford: Oxford
University Press, 1981), 62–65.
[7]
Aristotle, De Anima, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1908),
II.5, 417b–418a.
[8]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924),
Book A, 981a–982b.
[9]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 42–45.
[10]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 90–93.
[11]
David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 101–105.
[12]
Aristotle, Organon, terj. H. Tredennick (Cambridge: Harvard University
Press, 1938), Prior Analytics, 24b–27b.
[13]
Thomas Fowler, The Principles of
Morals and Political Science
(London: Macmillan, 1876), 34–36.
[14]
Étienne Gilson, Being and Some
Philosophers (Toronto: Pontifical
Institute of Mediaeval Studies, 1952), 55–59.
[15]
Bertrand Russell, A History of Western
Philosophy (London: Routledge,
2004), 142–147.
[16]
Richard Popkin, The History of
Scepticism: From Savonarola to Bayle
(Oxford: Oxford University Press, 2003), 8–12.
5.
Aksiologi
dan Etika: Jalan Menuju Kebaikan
Dimensi aksiologis
dalam filsafat Plato dan Aristoteles menunjukkan bagaimana masing-masing
memahami kebaikan (agathon) sebagai
puncak tujuan hidup manusia. Meskipun keduanya sama-sama meletakkan etika
sebagai inti dari kehidupan yang baik (eudaimonia), mereka berbeda secara
mendasar dalam cara menafsirkan sumber dan jalan pencapaiannya. Plato memandang
kebaikan sebagai prinsip metafisis yang transenden, sedangkan Aristoteles
menafsirkannya sebagai tujuan imanen yang terwujud dalam tindakan manusia yang
rasional.¹ Perbedaan ini bukan hanya perbedaan etis, tetapi juga perbedaan
nilai (axiological)
yang mencerminkan dua orientasi metafisika: transendensi ide dan immanensi
substansi.
5.1.
Etika Plato: Kebaikan sebagai Idea Tertinggi
Dalam sistem etika
Plato, Idea
tentang Kebaikan (the Idea of the Good) menempati
posisi tertinggi dalam tatanan metafisis dunia Idea.² Ia adalah sumber segala
realitas, pengetahuan, dan nilai moral, sebagaimana matahari memberi cahaya
kepada segala sesuatu dalam alegori gua.³ Kebaikan, bagi Plato, bukan sekadar
kategori moral, tetapi prinsip ontologis yang menjelaskan mengapa sesuatu “ada”
dan “bernilai”. Oleh karena itu, mengenal kebaikan sejati bukan hanya
persoalan etis, tetapi juga epistemologis dan metafisis.
Plato mengajarkan
bahwa manusia mencapai kebajikan (aretē) melalui pengetahuan.⁴
Dalam Protagoras
dan Republic,
ia menegaskan bahwa tidak ada orang yang berbuat jahat dengan sadar; kejahatan
muncul karena ketidaktahuan.⁵ Maka, kebajikan identik dengan pengetahuan, dan
pendidikan moral menjadi jalan utama untuk membentuk manusia yang baik.
Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diarahkan oleh akal menuju
kontemplasi terhadap kebaikan tertinggi, bukan kehidupan yang didorong oleh
nafsu atau hasrat inderawi.⁶ Etika Plato bersifat intelektualistik
dan kontemplatif, menekankan kebajikan rasional yang membawa
jiwa menuju keserupaan dengan tatanan ilahi (homoiosis theoi).⁷
Dalam kerangka
politik, konsep kebaikan ini tercermin dalam struktur ideal negara dalam Republic,
di mana keadilan muncul ketika setiap bagian jiwa dan setiap kelas masyarakat
menjalankan fungsi sesuai kodratnya.⁸ Dengan demikian, etika Plato bersifat
normatif dan hierarkis—suatu etika yang menempatkan rasio sebagai pemimpin dan
menundukkan dimensi nafsu serta keinginan di bawah prinsip keteraturan dan
harmoni moral.
5.2.
Etika Aristoteles: Kebaikan sebagai Tujuan dan
Aktualisasi
Aristoteles memulai
etika bukan dari dunia transenden, melainkan dari pengalaman
manusia yang konkret. Dalam Nicomachean Ethics, ia menyatakan
bahwa semua tindakan manusia diarahkan pada suatu tujuan (telos),
dan tujuan tertinggi adalah kebahagiaan (eudaimonia).⁹ Namun, kebahagiaan
bukanlah kenikmatan atau kesenangan sementara, melainkan aktivitas yang
menyempurnakan kodrat manusia sebagai makhluk rasional.¹⁰
Berbeda dari Plato
yang memandang kebaikan sebagai entitas ideal, Aristoteles melihatnya sebagai fungsi
aktualisasi diri.¹¹ Manusia baik bukan karena ia berpartisipasi
dalam dunia Idea, tetapi karena ia menjalankan potensi rasionalnya secara
seimbang dalam dunia nyata. Kebajikan (virtue) adalah kebiasaan memilih
tindakan yang tepat di antara dua ekstrem—the doctrine of the mean—yakni
keseimbangan antara kelebihan dan kekurangan.¹² Misalnya, keberanian adalah
jalan tengah antara kenekatan dan ketakutan, dan kemurahan hati adalah jalan
tengah antara kikir dan boros.
Dalam pandangan
Aristoteles, moralitas tidak dapat direduksi pada pengetahuan murni, melainkan
merupakan hasil pembiasaan (hexis) melalui
tindakan berulang yang diarahkan oleh akal praktis (phronesis).¹³ Dengan demikian,
etika Aristoteles bersifat teleologis dan praksis,
menekankan bahwa kebaikan ditemukan dalam proses hidup yang konkret dan dalam
tindakan yang rasional.¹⁴ Jika Plato menekankan kontemplasi terhadap Idea, maka
Aristoteles menekankan tindakan sebagai realisasi kebajikan dalam konteks
sosial dan politik.
5.3.
Perbandingan dan Implikasi Aksiologis
Kontradiksi antara
etika Plato dan Aristoteles dapat dilihat sebagai perbedaan antara etika
metafisis dan etika naturalistik. Plato
menganggap nilai-nilai moral bersumber dari tatanan ideal yang abadi, sedangkan
Aristoteles menurunkannya dari struktur kodrati manusia dan masyarakat.¹⁵ Dalam
terminologi aksiologi, Plato menegaskan bahwa nilai bersifat
objektif-transendental, sedangkan Aristoteles mengartikannya sebagai
objektif-imanen.
Namun demikian,
keduanya bersepakat bahwa kebajikan adalah jalan menuju kehidupan yang
baik dan bahwa rasio merupakan kunci untuk mencapainya.
Perbedaan mereka lebih bersifat arah daripada tujuan: Plato menekankan jalan ke
atas menuju Idea tentang Kebaikan, sedangkan Aristoteles menekankan jalan ke
dalam, yakni penyempurnaan potensi manusia dalam dunia konkret.¹⁶ Dalam
perspektif historis, kedua etika ini menjadi fondasi bagi dua tradisi besar: etika
idealisme moral (yang menginspirasi filsafat Kristen dan
Kantianisme) dan etika eudaimonistik-realistis
(yang melandasi humanisme dan etika kebajikan modern).¹⁷
Dengan demikian,
etika Plato dan Aristoteles menunjukkan dua cara memahami “jalan menuju
kebaikan”: satu bersifat kontemplatif dan transendental, yang lain bersifat
praktis dan teleologis. Dalam ketegangannya, keduanya tetap menyatukan manusia
dalam pencarian universal akan kebaikan, kebahagiaan, dan kesempurnaan diri.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 227–231.
[2]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992),
505a–509b.
[3]
Ibid., 509b–511e.
[4]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975),
296–301.
[5]
Plato, Protagoras, terj. C. C. W. Taylor (Oxford: Oxford University
Press, 1991), 345e–351b.
[6]
Julia Annas, An Introduction to
Plato’s Republic (Oxford: Oxford
University Press, 1981), 89–93.
[7]
Plato, Theaetetus, terj. M. J. Levett (Indianapolis: Hackett, 1992),
176b–177a.
[8]
Plato, Republic, 433a–434d.
[9]
Aristotle, Nicomachean Ethics, terj. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999),
I.7, 1097a–1098a.
[10]
Ibid., I.10, 1100a–1101b.
[11]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 52–57.
[12]
Aristotle, Nicomachean Ethics, II.6, 1106b–1107a.
[13]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 123–127.
[14]
David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 129–132.
[15]
Étienne Gilson, The Christian
Philosophy of St. Thomas Aquinas
(New York: Random House, 1956), 45–48.
[16]
Alasdair MacIntyre, After
Virtue: A Study in Moral Theory
(Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 62–67.
[17]
Martha C. Nussbaum, The
Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1986),
214–220.
6.
Dimensi
Politik dan Sosial
Perbedaan mendasar
antara Plato dan Aristoteles dalam bidang ontologi, epistemologi, dan aksiologi
juga tercermin secara tajam dalam pandangan mereka mengenai politik
dan kehidupan sosial. Keduanya sama-sama menganggap politik
sebagai cabang etika yang lebih luas—yakni seni mengarahkan manusia menuju
kehidupan yang baik (eudaimonia) dalam komunitas.¹
Namun, perbedaan dalam pandangan mereka tentang hakikat manusia dan realitas
melahirkan dua model politik yang kontras: utopianisme ideal-transendental Plato
dan realisme
praktis Aristoteles.
6.1.
Plato: Negara sebagai Cerminan Dunia Idea
Dalam Politeia
(Republic),
Plato menggambarkan negara ideal sebagai perwujudan tatanan jiwa manusia yang
adil.² Sebagaimana jiwa manusia terdiri dari tiga bagian—rasional (logos),
emosional (thymos),
dan keinginan (epithymia)—negara pun harus disusun
dalam tiga kelas: filsuf-pemimpin, penjaga
(tentara), dan produsen (petani, pengrajin, pedagang).³
Keadilan tercapai bila setiap bagian menjalankan fungsinya sesuai dengan
kodratnya: akal memimpin, keberanian melindungi, dan hasrat tunduk pada akal.⁴
Plato menolak bentuk
pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena, yang menurutnya menyebabkan
ketidakteraturan dan relativisme moral.⁵ Ia menganggap bahwa pemerintahan yang
baik hanya dapat dijalankan oleh filsuf-raja (philosopher-king)—orang
yang telah mencapai pengetahuan tentang Idea Kebaikan dan mampu menata negara
berdasarkan pengetahuan tersebut.⁶ Dengan demikian, legitimasi politik tidak
bersumber dari kehendak rakyat, melainkan dari pengetahuan rasional tentang
kebenaran universal.
Konsep politik Plato
bersifat teleologis dan normatif, karena
negara dipandang sebagai instrumen pendidikan moral bagi jiwa manusia. Tujuan
tertinggi politik adalah membentuk masyarakat yang selaras dengan tatanan
kosmis, bukan sekadar mengatur kepentingan ekonomi atau kekuasaan.⁷ Dalam
konteks ini, negara ideal merupakan refleksi dari struktur metafisis dunia
Idea: stabil, hierarkis, dan berorientasi pada kebaikan yang tertinggi.
6.2.
Aristoteles: Negara sebagai Organisme Etis dan
Alamiah
Aristoteles, yang
pernah menjadi murid Plato selama dua puluh tahun, menyetujui bahwa manusia
adalah makhluk sosial dan politik, tetapi menolak model utopis dan metafisis
gurunya. Dalam Politika, ia menulis bahwa manusia
adalah zoon
politikon—makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis
(negara-kota).⁸ Berbeda dari Plato yang menganggap negara sebagai tiruan dunia
Idea, Aristoteles menegaskan bahwa negara tumbuh secara
alami (physis) dari kebutuhan dasar manusia untuk bekerja sama
demi kelangsungan hidup.⁹
Menurut Aristoteles,
negara bukan entitas transendental, melainkan organisme etis yang bertujuan
memungkinkan setiap warga mencapai kehidupan yang baik melalui partisipasi
rasional dalam kehidupan bersama.¹⁰ Dalam pandangan ini, politik bukan sekadar
seni memerintah, tetapi sarana untuk mengembangkan kebajikan (aretē)
melalui kebersamaan sosial.¹¹ Etika individu dan etika sosial saling
melengkapi; kebajikan pribadi hanya bermakna bila dijalankan dalam konteks
komunitas.
Aristoteles juga
menolak sistem politik yang terlalu ideal dan abstrak. Ia menekankan moderasi
dan keseimbangan dalam bentuk pemerintahan—menghindari ekstrem
oligarki dan demokrasi.¹² Pemerintahan terbaik baginya adalah politeia,
yaitu sistem campuran yang memadukan elemen keadilan aristokratik dengan
partisipasi rakyat.¹³ Prinsip utamanya bukan keseragaman (seperti dalam Republic
Plato), tetapi pluralitas dan proporsionalitas,
karena setiap manusia memiliki fungsi dan kebajikan yang berbeda sesuai
kapasitasnya.¹⁴
6.3.
Kontras dan Implikasi Sosial-Filosofis
Kontradiksi antara
Plato dan Aristoteles dalam filsafat politik menggambarkan dua paradigma besar
dalam sejarah pemikiran sosial: idealismenya Plato dan realisme
politik Aristoteles. Bagi Plato, struktur sosial yang baik
harus mengikuti pola metafisis kebenaran yang universal dan abadi.¹⁵ Sementara
bagi Aristoteles, struktur sosial harus didasarkan pada pengamatan empiris
terhadap kehidupan manusia konkret dan kondisi historis masyarakat.¹⁶
Plato memandang
ketertiban sosial sebagai hasil harmoni yang diciptakan dari atas ke bawah,
melalui tatanan moral yang dipimpin oleh akal. Sebaliknya, Aristoteles melihat
masyarakat sebagai entitas dinamis yang tumbuh dari bawah ke atas, melalui
interaksi timbal balik antarwarga dan institusi sosial.¹⁷ Secara aksiologis,
Plato menempatkan keadilan sebagai cerminan tatanan ilahi, sedangkan
Aristoteles menafsirkannya sebagai prinsip keadilan distributif—yakni memberi kepada
setiap orang sesuai dengan kontribusi dan kebutuhannya.¹⁸
Dalam perkembangan
sejarah, kedua pandangan ini memengaruhi dua tradisi besar: politik
idealisme normatif (Plato), yang menginspirasi pemikiran utopis
dan teokratis abad pertengahan, serta politik naturalistik dan humanistik
(Aristoteles), yang menjadi dasar bagi teori negara modern dan demokrasi
etis.¹⁹ Dari ketegangan keduanya lahirlah tradisi filsafat politik Barat yang
terus memperdebatkan hubungan antara moralitas dan kekuasaan, antara
idealisme
dan pragmatisme, serta antara kebenaran dan konsensus sosial.²⁰
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 233–237.
[2]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992),
368c–369b.
[3]
Ibid., 435a–441c.
[4]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975),
322–326.
[5]
Plato, Republic, 557a–562a.
[6]
Ibid., 473c–480a.
[7]
Julia Annas, An Introduction to
Plato’s Republic (Oxford: Oxford
University Press, 1981), 141–147.
[8]
Aristotle, Politics, terj. Benjamin Jowett (Oxford: Clarendon Press,
1885), I.2, 1253a.
[9]
Ibid., I.1, 1252a–1252b.
[10]
David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 138–142.
[11]
Aristotle, Nicomachean Ethics, terj. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999),
I.9, 1099a–1100b.
[12]
Aristotle, Politics, IV.11, 1295a–1296a.
[13]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 158–161.
[14]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 63–68.
[15]
Plato, Laws, terj. Trevor Saunders (London: Penguin, 1970),
713c–714b.
[16]
Étienne Gilson, The Unity of Philosophical
Experience (New York: Scribner’s,
1937), 27–30.
[17]
Alasdair MacIntyre, After
Virtue: A Study in Moral Theory
(Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 99–104.
[18]
Aristotle, Nicomachean Ethics, V.3, 1131a–1132b.
[19]
Leo Strauss, The City and Man (Chicago: University of Chicago Press, 1964), 52–59.
[20]
Bertrand Russell, A History of Western
Philosophy (London: Routledge,
2004), 165–169.
7.
Dimensi
Logika dan Metafisika
Dimensi logika dan
metafisika dalam pemikiran Plato dan Aristoteles memperlihatkan salah satu
titik divergensi paling signifikan dalam sejarah filsafat Barat. Jika bagi
Plato logika berfungsi sebagai jalan dialektis menuju dunia Idea,
maka bagi Aristoteles logika adalah alat analitis untuk memahami struktur realitas
yang konkret.¹ Perbedaan ini berakar pada asumsi metafisis yang
berbeda: Plato menempatkan realitas sejati di luar dunia empiris, sedangkan
Aristoteles menegaskan bahwa realitas sejati hadir dalam bentuk-bentuk
individual yang teramati. Dengan demikian, perbedaan dalam struktur logika
keduanya sejajar dengan perbedaan dalam struktur ontologis dan epistemologis
mereka.
7.1.
Logika dan Dialektika dalam Pemikiran Plato
Dalam sistem Plato,
logika belum diformulasikan secara formal sebagaimana dalam tradisi
Aristotelian, tetapi dihadirkan dalam bentuk dialektika (dialektikē)—yakni
metode dialogis dan reflektif untuk menyingkap kebenaran.² Dialektika bukan
sekadar debat intelektual, melainkan proses pendakian jiwa dari dunia bayangan
menuju realitas sejati, sebagaimana dijelaskan dalam alegori gua.³
Bagi Plato,
dialektika adalah jalan filsafat tertinggi karena
memungkinkan jiwa untuk melampaui opini (doxa) menuju pengetahuan sejati (epistēmē).⁴
Proses ini melibatkan pembagian dan penggabungan ide—diairesis
(analisis) dan synagōgē (sintesis)—yang bertujuan
untuk mengenali hubungan antar-Idea dan menempatkan setiap konsep dalam
hierarki rasionalnya.⁵ Dengan demikian, logika bagi Plato bersifat ontologis,
karena setiap argumen rasional sekaligus merupakan refleksi dari tatanan Idea
yang transenden. Dialektika tidak berhenti pada koherensi proposisional, tetapi
menuntun jiwa menuju kontemplasi atas Idea of the Good sebagai sumber
seluruh kebenaran dan eksistensi.⁶
Namun, karakter
logika Plato tetap bersifat non-formal: ia lebih menyerupai
seni filsafat daripada sistem analitik. Karena orientasinya pada Idea, logika
Plato berfungsi sebagai jalan menuju metafisika, bukan sebagai alat yang
berdiri sendiri. Dalam hal ini, dialektika bersifat teleologis
dan mistik-rasional, karena berupaya menyingkap keteraturan
kosmis melalui refleksi intelektual yang berorientasi pada nilai-nilai abadi.⁷
7.2.
Logika Formal dan Struktur Metafisika
Aristoteles
Aristoteles
mengambil titik tolak yang berbeda secara radikal. Ia menolak metode dialektis
Plato yang cenderung spekulatif dan menggantikannya dengan sistem logika formal
yang ketat. Dalam karyanya Organon—yang mencakup Categories,
De Interpretatione, Prior Analytics, dan Posterior
Analytics—Aristoteles merumuskan logika silogistik, yaitu metode
deduktif yang menjamin validitas kesimpulan dari premis yang benar.⁸
Logika bagi
Aristoteles bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen
pengetahuan ilmiah (organon berarti “alat”).⁹ Ia
menganggap bahwa pengetahuan sejati harus didasarkan pada proposisi yang
bersifat universal dan niscaya, yang dapat dibuktikan melalui deduksi logis
dari prinsip pertama.¹⁰ Logika menjadi struktur yang menghubungkan pengalaman
empiris dengan pengetahuan rasional. Dalam kerangka ini, rasio tidak lagi
sekadar menatap dunia Idea, melainkan menstrukturkan dunia pengalaman itu
sendiri.
Hubungan antara
logika dan metafisika pada Aristoteles sangat erat. Dalam Metaphysics,
ia menyebut filsafat pertama sebagai ilmu tentang “ada
sejauh ia ada” (being qua being), yaitu studi
tentang prinsip universal dari segala eksistensi.¹¹ Metafisika tidak terpisah
dari dunia nyata, melainkan berupaya menjelaskan struktur terdalam dari
kenyataan yang konkret. Prinsip substance (ousia), form
(morphe), matter (hyle), serta potentiality
(dynamis) dan actuality (energeia) menjadi
kerangka ontologis yang memungkinkan analisis rasional terhadap dunia.¹²
Dengan demikian,
logika Aristoteles bersifat immanen dan sistematis, menjadi
fondasi bagi seluruh pengetahuan ilmiah.¹³ Jika dialektika Plato berfungsi sebagai
jalan kontemplatif menuju dunia Idea, maka logika Aristoteles berfungsi sebagai
alat metodologis untuk menata pengetahuan empiris secara rasional.
7.3.
Metafisika: Dari Dunia Idea ke Dunia Substansi
Dalam metafisika,
Plato dan Aristoteles menempuh dua arah yang berlawanan. Bagi Plato, hakikat
realitas terletak di dunia Idea yang transenden dan tidak berubah; benda-benda
indrawi hanyalah bayangan dari bentuk idealnya.¹⁴ Sebaliknya, bagi Aristoteles,
bentuk dan materi bersatu dalam substansi yang konkret—realitas sejati terdapat
pada entitas yang hidup, berubah, dan aktual di dunia ini.¹⁵
Plato menegaskan
bahwa Idea bersifat separate (terpisah) dari dunia
materi, sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa bentuk hanya eksis in re
(di dalam benda itu sendiri), bukan ante rem (sebelum benda).¹⁶ Dari
perbedaan ini muncul dua arus metafisika besar: transendentalisme Platonik dan immanensisme
Aristotelian. Perbedaan ini bukan sekadar soal lokasi realitas,
tetapi juga menyangkut cara manusia memahami kebenaran: apakah kebenaran itu
diingat dari dunia suprasensual, atau ditemukan melalui refleksi atas realitas
empiris yang teratur.¹⁷
Pengaruh dan Sintesis dalam Tradisi Filsafat
Kontras logika dan
metafisika antara Plato dan Aristoteles melahirkan dua tradisi epistemik besar
dalam sejarah pemikiran: metafisika idealistik
(Platonik) dan metafisika realistis
(Aristotelian). Filsafat Neoplatonis, seperti Plotinus, mencoba mensintesiskan
keduanya dengan menempatkan “Yang Satu” (the One) sebagai sumber kesatuan
antara Idea dan substansi.¹⁸ Di abad pertengahan, Thomas Aquinas menggabungkan
kerangka Aristotelian dengan nilai-nilai transendental Platonik dalam teologi
skolastik, membentuk dasar bagi metafisika Kristiani.¹⁹
Dalam konteks
modern, pengaruh keduanya masih terasa: rasionalisme dan idealisme menurunkan
warisan Plato, sedangkan empirisme dan sains modern berakar pada metodologi
Aristoteles.²⁰ Logika Aristoteles menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan hingga
munculnya logika simbolik modern, sementara metafisika Plato terus
menginspirasi refleksi filosofis tentang nilai, keabadian, dan makna
keberadaan.
Dengan demikian,
perbedaan mereka bukan sekadar pertentangan historis, melainkan dialog abadi
antara dua cara berpikir: kontemplatif dan analitik, transendental
dan imanen, ideal dan realistis—dua kutub
yang terus menegangkan dan memperkaya filsafat sepanjang zaman.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 241–246.
[2]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek Philosophy:
Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 310–315.
[3]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992),
514a–518d.
[4]
Plato, Sophist, terj. Nicholas P. White (Indianapolis: Hackett,
1993), 253c–259d.
[5]
Julia Annas, An Introduction to
Plato’s Republic (Oxford: Oxford
University Press, 1981), 152–156.
[6]
Plato, Republic, 508e–509b.
[7]
Werner Jaeger, The Theology of the
Early Greek Philosophers (Oxford:
Clarendon Press, 1947), 182–186.
[8]
Aristotle, Organon, terj. H. Tredennick (Cambridge: Harvard University
Press, 1938), Prior Analytics, 24b–26a.
[9]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 71–75.
[10]
Aristotle, Posterior Analytics, I.2, 71b–72a.
[11]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924),
Book Γ, 1003a–1005b.
[12]
David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 155–160.
[13]
Étienne Gilson, Being and Some
Philosophers (Toronto: Pontifical
Institute of Mediaeval Studies, 1952), 61–65.
[14]
Plato, Phaedo, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1977),
74a–77a.
[15]
Aristotle, Metaphysics, Z.7, 1032a–1033b.
[16]
Copleston, A History of
Philosophy, Vol. 1, 249–252.
[17]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 174–177.
[18]
Plotinus, Enneads, terj. Stephen MacKenna (London: Penguin, 1991),
V.1–V.3.
[19]
Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.44–47.
[20]
Bertrand Russell, A History of Western
Philosophy (London: Routledge,
2004), 172–177.
8.
Kritik
Internal dan Perspektif Sintesis
Kontradiksi antara
pemikiran Plato dan Aristoteles telah menjadi titik sentral dalam sejarah
filsafat Barat, melahirkan perdebatan panjang antara idealisme
transendental dan realisme imanen. Namun,
sebagaimana tradisi filosofis berkembang, banyak pemikir kemudian berupaya menyelidiki
kelemahan internal dari masing-masing sistem sekaligus mencari
kemungkinan sintesis yang dapat mengatasi keterbatasan
keduanya. Kritik terhadap Plato dan Aristoteles tidak hanya datang dari luar,
tetapi juga muncul dari dalam sistem mereka sendiri, ketika penerus-penerusnya
mencoba menyesuaikan doktrin mereka dengan pengalaman manusia yang lebih
konkret dan kompleks.
8.1.
Kritik terhadap Plato: Problem Dualisme dan
Transendensi
Kritik utama
terhadap filsafat Plato terletak pada dualisme ontologisnya yang
memisahkan secara tajam antara dunia Idea dan dunia empiris. Aristoteles
sendiri sudah menilai bahwa gagasan tentang “bentuk-bentuk terpisah”
justru memperbanyak entitas tanpa penjelasan kausal yang memadai (principium
multiplicationis entium).¹ Jika dunia Idea sepenuhnya terpisah dari
dunia materi, bagaimana mungkin ia dapat menjelaskan perubahan dan kausalitas
di dunia konkret?² Kritik ini menyoroti bahwa sistem Plato cenderung
mengabaikan dimensi empiris dari pengalaman manusia, sehingga terjebak dalam abstraksi
metafisis yang sulit diverifikasi.
Selain itu, filsafat
etika dan politik Plato dianggap terlalu utopis dan elitis.³ Konsep philosopher-king
dan tatanan negara ideal dalam Republic sering dikritik karena
mengorbankan kebebasan individu demi keseragaman moral dan rasionalitas
abstrak.⁴ Dalam konteks modern, idealisme Plato juga dinilai problematis karena
kecenderungannya menolak pluralitas dan dinamika sejarah manusia nyata.
Meskipun demikian, keunggulan Plato terletak pada kemampuannya menegaskan dimensi
normatif kebenaran—bahwa realitas manusia harus diarahkan
kepada nilai-nilai ideal seperti kebaikan, keadilan, dan keindahan.⁵
8.2.
Kritik terhadap Aristoteles: Problem Immanensi
dan Teleologi
Sementara itu,
sistem Aristoteles menghadapi kritik dalam hal reduksi transendensi dan keterikatan
pada naturalisme. Dengan menolak dunia Idea dan menempatkan
bentuk di dalam benda, Aristoteles memang berhasil mengatasi dualisme Plato,
tetapi konsekuensinya adalah hilangnya ruang bagi realitas transenden yang
menjadi dasar nilai dan makna moral.⁶ Kritik dari tradisi Neoplatonis dan
teologis, seperti Plotinus dan Thomas Aquinas, menunjukkan bahwa filsafat
Aristotelian cenderung menutup kemungkinan bagi keberadaan “Yang Mutlak” di
luar dunia empiris.⁷
Selain itu,
teleologi Aristoteles—yakni pandangan bahwa segala sesuatu bergerak menuju
tujuan tertentu—juga dikritik karena terlalu antropomorfik dan tidak
kompatibel dengan pendekatan ilmiah modern.⁸ Ilmu pengetahuan empiris
kontemporer, sejak Galileo dan Newton, menolak ide bahwa alam memiliki tujuan
intrinsik; sebaliknya, alam dipahami melalui hukum kausal yang mekanistik. Namun
demikian, kekuatan Aristoteles terletak pada keberhasilannya menegaskan struktur
rasional dalam kenyataan, serta memformulasikan metode ilmiah
dan logika yang menjadi dasar ilmu pengetahuan selama dua milenium.⁹
8.3.
Upaya Sintesis: Dari Neoplatonisme hingga
Skolastisisme
Upaya untuk
mensintesiskan kedua pandangan besar ini dimulai sejak masa Neoplatonisme.
Plotinus (204–270 M) berusaha mengatasi dikotomi Plato–Aristoteles dengan
mengajukan gagasan tentang the One, realitas tertinggi yang
menjadi sumber segala bentuk dan substansi.¹⁰ Bagi Plotinus, dunia Idea dan
dunia materi tidak sepenuhnya terpisah, melainkan bergradasi dalam hierarki
emanasi yang mengalir dari kesatuan yang paling sempurna menuju keberagaman
yang lebih rendah.¹¹ Melalui konsep ini, transendensi Plato dipertemukan dengan
immanensi Aristoteles dalam satu sistem metafisika integral.
Pada abad
pertengahan, Thomas Aquinas melanjutkan
sintesis tersebut dengan menggabungkan kerangka metafisis Aristoteles dengan
orientasi teologis Platonik.¹² Ia menegaskan bahwa bentuk dan materi memang
bersatu dalam substansi (mengikuti Aristoteles), tetapi keberadaannya tetap
bergantung pada Tuhan sebagai “Ada itu sendiri” (ipsum
esse subsistens), sesuai warisan Plato.¹³ Dengan demikian, Aquinas
menciptakan sistem metafisika realistik-transendental, yang
menempatkan dunia empiris sebagai cerminan dari realitas ilahi.
8.4.
Perspektif Modern: Dialektika dan Integrasi
Di zaman modern,
sintesis baru antara Plato dan Aristoteles ditemukan dalam filsafat
dialektis Hegel. Hegel menafsirkan seluruh sejarah filsafat
sebagai gerak dialektis antara ide dan realitas, di mana kebenaran bukan berada
di salah satu pihak, melainkan dalam proses rekonsiliasi keduanya.¹⁴
Bagi Hegel, Idea (konsep) dan realitas material saling menegasikan dan
menyempurnakan diri dalam perkembangan Roh (Geist). Dengan demikian, dunia Idea
Plato menjadi dinamis, sementara realisme Aristoteles diberi dimensi rasional
yang progresif.¹⁵
Pendekatan yang
lebih kontemporer, seperti filsafat eksistensial dan fenomenologi,
juga menawarkan bentuk sintesis baru: mereka menerima empirisme Aristotelian
tentang pengalaman konkret, tetapi sekaligus mengakui dimensi transendental
kesadaran sebagaimana digagas Plato.¹⁶ Heidegger, misalnya, berupaya melampaui
metafisika tradisional dengan membongkar kembali makna “ada” (Sein)
yang selama ini disempitkan oleh dikotomi Plato–Aristoteles.¹⁷
Dalam konteks etika
dan politik modern, upaya sintesis ini terlihat dalam pemikiran seperti Hannah
Arendt, yang menggabungkan kontemplasi Platonik dengan praksis
Aristotelian dalam konsep vita activa dan vita
contemplativa.¹⁸ Arendt menegaskan bahwa kehidupan manusia
memerlukan keseimbangan antara refleksi dan tindakan, antara dunia ide dan
dunia kerja sosial-politik.
Signifikansi Filosofis: Menuju Filsafat
Integral
Kritik dan sintesis
terhadap Plato dan Aristoteles membuka jalan menuju apa yang dapat disebut
sebagai filsafat integral—suatu upaya
untuk memadukan dimensi ideal dan empiris, transenden dan imanen, universal dan
partikular.¹⁹ Sintesis semacam ini tidak meniadakan ketegangan di antara
keduanya, melainkan memahaminya sebagai dialektika kreatif yang
membentuk dinamika berpikir manusia.
Dengan demikian,
warisan Plato dan Aristoteles tetap relevan bukan karena kesempurnaan sistem
mereka, tetapi karena ketegangan produktif yang
mereka ciptakan. Dari idealisme Plato kita belajar tentang arah normatif dan
nilai; dari realisme Aristoteles kita belajar tentang keteraturan dan
rasionalitas dunia nyata.²⁰ Filsafat, pada akhirnya, berkembang bukan dengan
memilih salah satu di antara mereka, melainkan dengan menghadirkan
keduanya dalam dialog abadi tentang kebenaran, keberadaan, dan
kebajikan.
Footnotes
[1]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924),
A.9, 991a–992a.
[2]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 253–255.
[3]
Karl Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. 1: The Spell of Plato
(London: Routledge, 2002), 45–51.
[4]
Bertrand Russell, A History of Western
Philosophy (London: Routledge,
2004), 143–147.
[5]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975),
355–360.
[6]
Étienne Gilson, Being and Some
Philosophers (Toronto: Pontifical
Institute of Mediaeval Studies, 1952), 68–72.
[7]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 189–193.
[8]
Richard Sorabji, Necessity, Cause and
Blame: Perspectives on Aristotle’s Theory (London: Duckworth, 1980), 37–41.
[9]
Jonathan Barnes, Aristotle: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 82–86.
[10]
Plotinus, Enneads, terj. Stephen MacKenna (London: Penguin, 1991),
V.1–V.3.
[11]
John Dillon, The Middle Platonists (London: Duckworth, 1977), 36–40.
[12]
Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.44–47.
[13]
Étienne Gilson, The Christian
Philosophy of St. Thomas Aquinas
(New York: Random House, 1956), 78–83.
[14]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, terj. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press,
1977), 89–94.
[15]
Charles Taylor, Hegel and Modern
Society (Cambridge: Cambridge
University Press, 1979), 23–27.
[16]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a
Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, terj. F. Kersten (The Hague: Nijhoff, 1983), 42–46.
[17]
Martin Heidegger, Being and Time, terj. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York:
Harper & Row, 1962), 67–71.
[18]
Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 11–14.
[19]
Ken Wilber, A Theory of Everything:
An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 15–20.
[20]
Alasdair MacIntyre, After
Virtue: A Study in Moral Theory
(Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 122–126.
9.
Relevansi
Kontemporer
Kontradiksi antara
pemikiran Plato dan Aristoteles tidak berhenti sebagai wacana klasik yang
tertutup di masa Yunani Kuno; justru ia menjadi sumbu utama perkembangan filsafat dan ilmu
pengetahuan modern. Setiap upaya manusia untuk memahami
realitas, kebenaran, dan nilai masih dapat ditelusuri ke dalam dialektika
antara idealisme
Platonik dan realisme Aristotelian. Dalam
konteks kontemporer—baik dalam filsafat, ilmu pengetahuan, etika, politik,
maupun budaya digital—perdebatan antara keduanya terus memberikan inspirasi,
kritik, dan arah refleksi baru.
9.1.
Relevansi dalam Filsafat dan Epistemologi
Modern
Dalam filsafat
modern, gagasan Plato menemukan resonansi dalam tradisi rasionalisme
dan idealisme, seperti yang dikembangkan oleh René Descartes,
Immanuel Kant, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Descartes menghidupkan
kembali dualisme Platonik melalui pemisahan antara res cogitans (pikiran) dan res
extensa (materi), sementara Kant mengadopsi semangat transendental
Plato dengan menegaskan bahwa bentuk-bentuk rasional (a priori
forms of intuition) menentukan pengalaman empiris.¹ Sebaliknya,
semangat Aristotelian muncul kembali dalam empirisme Locke dan Hume, serta
dalam positivisme Comte dan empirisme logis abad ke-20.²
Dalam filsafat ilmu,
pengaruh Aristoteles terlihat dalam paradigma induktif dan empiris yang
melandasi sains modern. Konsep causa materialis dan causa
efficiens Aristotelian menjadi dasar metodologi ilmiah yang menekankan
penjelasan kausal dan observasi sistematis.³ Namun, pendekatan ini kini
dikritik karena mengabaikan dimensi nilai dan makna, yang justru dihidupkan
kembali oleh tradisi Platonik melalui filsafat idealisme kritis dan
fenomenologi Husserlian.⁴
Filsafat
kontemporer, terutama melalui pemikiran Martin Heidegger dan Maurice
Merleau-Ponty, berusaha merekonsiliasi keduanya: keberadaan
tidak lagi dipahami sebagai dunia objektif (Aristotelian) atau ide transenden
(Platonik), melainkan sebagai pengalaman kehadiran yang dialami
manusia secara eksistensial.⁵ Dengan demikian, relevansi keduanya terletak pada
kemampuan untuk menegaskan dua kutub epistemologis manusia: rasionalitas yang
menstruktur pengalaman (Aristoteles) dan kesadaran yang melampaui empiris menuju
makna (Plato).
9.2.
Relevansi Etis dan Aksiologis
Dalam bidang etika,
idealisme moral Plato menemukan gaungnya dalam etika deontologis Kantian, yang
menekankan prinsip moral universal dan otonomi rasional.⁶ Sementara itu,
Aristoteles menjadi inspirasi utama bagi etika kebajikan modern, seperti
yang dikembangkan oleh Elizabeth Anscombe dan Alasdair MacIntyre, yang
menekankan konteks sosial dan kebiasaan praksis sebagai dasar moralitas.⁷
Kedua pendekatan ini
terbukti relevan dalam menghadapi krisis nilai kontemporer: idealisme Plato
menegaskan perlunya prinsip moral universal dalam menghadapi relativisme
budaya, sementara realisme Aristoteles menekankan pentingnya kebajikan
kontekstual dalam dunia yang plural dan dinamis. Dalam konteks globalisasi dan
teknologi digital, keseimbangan antara ideal moral dan praksis etis menjadi
semakin penting. Tanpa visi ideal, etika kehilangan arah; tanpa praksis
empiris, ideal menjadi kosong.⁸
Filsafat etika
kebajikan digital, misalnya, kini memanfaatkan semangat
Aristotelian untuk mengembangkan moralitas berbasis karakter dalam dunia maya,
sembari mengadopsi orientasi Platonik terhadap kebaikan bersama (the
common good).⁹ Dengan demikian, filsafat etika kontemporer
menghidupkan kembali dialektika keduanya sebagai dasar bagi kebajikan digital
yang rasional, otonom, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan.
9.3.
Relevansi Sosial dan Politik
Dalam ranah
sosial-politik, Plato dan Aristoteles tetap menjadi rujukan fundamental dalam
memahami hubungan antara kekuasaan, keadilan, dan tatanan sosial. Model
negara ideal Plato dengan tatanan hierarkisnya mengilhami
banyak bentuk pemikiran utopis dan teori keadilan normatif, dari City of
God karya Augustinus hingga Republic versi modern ala Karl
Popper dan John Rawls.¹⁰ Sebaliknya, politik Aristoteles yang
realistis menjadi dasar teori polity dan demokrasi deliberatif
kontemporer, yang menekankan partisipasi, kebajikan sipil, dan keseimbangan
kekuasaan.¹¹
Dalam konteks
masyarakat global saat ini—yang ditandai oleh krisis legitimasi politik,
ketimpangan ekonomi, dan degradasi sosial—tensi antara idealisme normatif Plato
dan realisme pragmatis Aristoteles tampak semakin aktual.¹² Para pemikir
seperti Jürgen Habermas, misalnya, berusaha menggabungkan ideal rasionalitas
komunikatif (Platonik) dengan praksis demokratis deliberatif (Aristotelian),
untuk membangun masyarakat yang adil melalui dialog dan partisipasi rasional.¹³
Lebih jauh, filsafat
politik kontemporer menegaskan perlunya sintesis antara idealisme dan realisme:
tanpa idealisme, politik kehilangan arah moral; tanpa realisme, ia kehilangan
daya guna. Maka, kedua pemikir ini tetap menjadi dua kutub normatif dalam
memahami bagaimana manusia membangun kehidupan sosial yang rasional, adil, dan
berkeadaban.¹⁴
9.4.
Relevansi dalam Sains dan Teknologi
Dalam perkembangan
sains dan teknologi modern, pengaruh Aristoteles terasa kuat dalam metodologi
eksperimental dan penekanan pada observasi empiris. Namun, munculnya filsafat
sains post-positivistik menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah
juga dibentuk oleh konstruksi teoretis dan nilai-nilai ideal, sebagaimana
ditekankan Plato.¹⁵ Thomas Kuhn dan Karl Popper, misalnya, menunjukkan bahwa
ilmu tidak berkembang secara linear, tetapi melalui paradigma rasional yang
bersifat historis dan ideal.¹⁶
Dalam filsafat
teknologi, perdebatan ini muncul dalam pertanyaan: apakah
teknologi harus tunduk pada nilai-nilai ideal kemanusiaan (Platonik) atau pada
rasionalitas fungsional dan efisiensi (Aristotelian)? Pemikiran kontemporer
seperti Heidegger dan Don Ihde
mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya alat empiris, tetapi juga cara dunia “menampakkan
diri” kepada manusia—suatu sintesis antara ide dan realitas.¹⁷
Dengan demikian,
baik dalam sains maupun teknologi, sintesis Plato dan Aristoteles menjadi kunci
untuk menghadirkan kemajuan yang ilmiah sekaligus humanistik,
yakni kemajuan yang rasional secara metodologis tetapi juga bermakna secara
etis dan eksistensial.
Menuju Filsafat Integratif Abad ke-21
Di abad ke-21, dunia
menghadapi tantangan kompleks: krisis ekologi, disrupsi digital, dan ketegangan
antara tradisi serta modernitas. Dalam konteks ini, dialektika
Plato–Aristoteles menemukan relevansi baru dalam bentuk filsafat
integratif yang berupaya menyatukan idealisme nilai dengan
realisme tindakan.¹⁸ Pendekatan ini tampak dalam filsafat integral Ken Wilber,
yang menafsirkan perbedaan keduanya sebagai dua dimensi kesadaran manusia: yang
vertikal (transenden) dan yang horizontal (imanen).¹⁹
Dengan demikian,
warisan keduanya mengajarkan bahwa filsafat tidak boleh hanya menjadi kontemplasi
(seperti dalam Plato) atau hanya praksis (seperti dalam Aristoteles), melainkan
harus menjadi dialog dinamis antara gagasan dan kenyataan.
Filsafat kontemporer, dalam arti sejati, adalah usaha untuk terus menjembatani
jurang antara dunia Idea dan dunia Substansi—antara yang seharusnya (das
Sollen) dan yang ada (das Sein).²⁰
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, terj. Norman Kemp Smith (New York: St. Martin’s
Press, 1965), A19–B22.
[2]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 5: British Empiricism (New York: Image Books, 1994), 17–23.
[3]
Aristotle, Physics, terj. R. P. Hardie dan R. K. Gaye (Oxford: Clarendon
Press, 1930), II.3, 194b–195a.
[4]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a
Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, terj. F. Kersten (The Hague: Nijhoff, 1983), 41–47.
[5]
Martin Heidegger, Being and Time, terj. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York:
Harper & Row, 1962), 67–72.
[6]
Immanuel Kant, Groundwork of the
Metaphysics of Morals, terj. Mary
Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 60–65.
[7]
Alasdair MacIntyre, After
Virtue: A Study in Moral Theory
(Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 132–137.
[8]
Martha C. Nussbaum, The
Fragility of Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1986),
289–293.
[9]
Shannon Vallor, Technology and the
Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 45–49.
[10]
Karl Popper, The Open Society and Its
Enemies (London: Routledge, 2002),
105–112.
[11]
Aristotle, Politics, terj. Benjamin Jowett (Oxford: Clarendon Press,
1885), III.6, 1278a–1279a.
[12]
John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 1971), 3–7.
[13]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society, terj. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984),
86–92.
[14]
Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1958), 34–39.
[15]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific
Revolutions (Chicago: University of
Chicago Press, 1962), 52–57.
[16]
Karl Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 59–63.
[17]
Don Ihde, Technology and the
Lifeworld: From Garden to Earth
(Bloomington: Indiana University Press, 1990), 33–38.
[18]
Edgar Morin, On Complexity (Cresskill: Hampton Press, 2008), 14–19.
[19]
Ken Wilber, A Theory of Everything:
An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 22–26.
[20]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method, terj. Joel Weinsheimer
dan Donald Marshall (New York: Continuum, 2004), 408–412.
10. Sintesis Filosofis: Menuju Ontologi Relasional
Pertentangan antara
Plato dan Aristoteles merupakan salah satu dialektika paling produktif dalam
sejarah filsafat: antara idealisme transendental dan realisme
imanen, antara dunia Idea dan dunia
Substansi, antara rasionalitas kontemplatif dan pengalaman
empiris. Namun, justru dari ketegangan inilah muncul
kemungkinan sintesis filosofis yang lebih
integral—sebuah kerangka berpikir yang tidak meniadakan perbedaan keduanya,
tetapi menggabungkannya dalam suatu ontologi relasional, yaitu
pandangan bahwa realitas bersifat interdependen, dinamis, dan memiliki dimensi
transendental sekaligus imanen.¹
Ontologi relasional
berangkat dari kesadaran bahwa keberadaan (being) tidak dapat dipahami secara
terpisah—baik hanya sebagai entitas ideal seperti dalam sistem Plato, maupun
semata sebagai substansi individual seperti dalam sistem Aristoteles. Realitas
justru tampak sebagai jaringan hubungan (web of
relations) di mana bentuk dan materi, ide dan pengalaman, universal
dan partikular, saling menegaskan eksistensinya.² Dengan demikian, filsafat
kontemporer yang berupaya menyintesiskan keduanya bukan sekadar menggabungkan
dua sistem metafisis, tetapi membangun paradigma baru tentang “ada”
sebagai relasionalitas.
10.1.
Dari Idealisme ke Relasionalitas: Menafsir
Ulang Dunia Idea
Plato menempatkan
Idea sebagai realitas tertinggi yang menjadi sumber segala keberadaan.³ Namun,
jika dunia Idea dipahami bukan sebagai entitas terpisah melainkan sebagai dimensi
makna dan struktur relasional realitas, maka teori Idea dapat
direinterpretasi secara non-dualistik. Dalam pendekatan ini, Idea
bukanlah entitas yang berdiri di luar dunia, melainkan pola rasional yang
mengatur hubungan antar-eksistensi.⁴
Interpretasi ini
sejalan dengan pembacaan modern terhadap Plato oleh A. N. Whitehead, yang
menegaskan bahwa “seluruh filsafat Barat hanyalah catatan kaki bagi Plato,”
tetapi juga menambahkan bahwa realitas sejati adalah proses
yang mengaktualkan bentuk-bentuk ideal dalam waktu dan ruang.⁵
Dalam kerangka ini, Idea dipahami sebagai prinsip
keteraturan yang bekerja secara dinamis di dalam dunia, bukan di luar dunia.
Hal ini membuka jalan menuju sintesis antara transendensi dan immanensi, antara
nilai ideal dan perwujudan empiris.
10.2.
Dari Substansi ke Relasionalitas: Menafsir
Ulang Dunia Aristoteles
Aristoteles menolak
dunia Idea dan menegaskan bahwa realitas sejati ada pada substansi konkret yang
terdiri atas bentuk dan materi.⁶ Namun, dalam perkembangan metafisika modern,
konsep substansi
Aristotelian sering dikritik karena terlalu menekankan entitas individual dan
stabilitas ontologis. Ontologi relasional menawarkan reinterpretasi terhadap
gagasan ini dengan menegaskan bahwa substansi tidak berdiri sendiri,
melainkan eksis dalam jejaring relasi yang membentuk dan mempertahankannya.⁷
Proses aktualisasi
yang ditegaskan Aristoteles—yakni gerak dari potensi menuju aktual—dapat dipahami
secara relasional sebagai dinamika antara entitas dan lingkungannya.⁸ Dalam
kerangka ini, energeia (aktualitas) bukanlah
kesempurnaan statis, melainkan keterlibatan aktif dalam struktur kosmos yang
saling mempengaruhi. Dengan demikian, teleologi Aristotelian dapat
direvisi sebagai teleologi partisipatif, di mana
tujuan bukan ditentukan oleh entitas individual, tetapi oleh keseluruhan relasi
yang membentuk keberadaannya.⁹
10.3.
Upaya Sintesis dalam Sejarah Filsafat
Gagasan untuk
menyintesiskan Plato dan Aristoteles secara ontologis sebenarnya telah
dilakukan sejak masa Neoplatonisme, terutama oleh
Plotinus, yang melihat bahwa segala sesuatu memancar (emanates)
dari “Yang Satu” (the One) dan kembali kepadanya
melalui hierarki realitas.¹⁰ Pandangan ini kemudian diperluas oleh Thomas
Aquinas, yang menggabungkan prinsip Aristotelian tentang
bentuk-materi dengan teologi Platonik tentang partisipasi dalam Tuhan sebagai ipsum
esse subsistens.¹¹ Aquinas berhasil menunjukkan bahwa keberadaan
memiliki struktur ganda: transenden dalam sumbernya, dan imanen dalam
manifestasinya.¹²
Dalam konteks
modern, Hegel menghidupkan kembali
sintesis ini dalam bentuk dialektika: Idea tidak berada di luar realitas,
tetapi menyejarah di dalamnya melalui proses negasi dan rekonsiliasi.¹³ Dengan
demikian, “yang ideal” dan “yang nyata” tidak berlawanan,
melainkan merupakan dua momen dari perkembangan Roh (Geist).
Filsafat Hegel membuka jalan bagi konsep ontologi relasional modern—yang
melihat realitas sebagai proses menjadi yang rasional dan historis.¹⁴
10.4.
Ontologi Relasional dalam Filsafat Kontemporer
Filsafat kontemporer
menunjukkan peningkatan minat terhadap paradigma relasional. Dalam
fenomenologi, Edmund Husserl dan Maurice
Merleau-Ponty menekankan bahwa kesadaran selalu berarah
pada sesuatu (intentionality)—artinya, subjek dan
objek tidak terpisah, tetapi selalu berada dalam hubungan makna.¹⁵ Dalam
eksistensialisme, Martin Buber melalui konsep Ich-Du
menegaskan bahwa keberadaan manusia tidak dapat dipahami tanpa relasi
antarpribadi yang otentik.¹⁶
Sementara itu, dalam
filsafat prosessual A. N. Whitehead, realitas
dipahami sebagai jaringan kejadian (actual occasions) yang saling
berhubungan dalam satu kesatuan kosmis.¹⁷ Realitas bukan terdiri atas
benda-benda statis, tetapi atas peristiwa yang saling menimbulkan dan
menegaskan. Dalam pandangan ini, warisan Plato (struktur ideal) dan Aristoteles
(proses aktual) menemukan titik temu dalam konsep “proses relasional”
sebagai bentuk keberadaan yang paling fundamental.¹⁸
10.5.
Arah Baru: Ontologi Relasional Humanistik
Dalam konteks
kemanusiaan modern, sintesis antara Plato dan Aristoteles menjadi relevan bagi
pembentukan ontologi humanistik, di mana
manusia dipahami bukan sekadar individu (Aristotelian) atau jiwa rasional
abstrak (Platonik), tetapi sebagai makhluk relasional yang eksistensinya
terjalin dalam konteks sosial, ekologis, dan spiritual.¹⁹
Ontologi relasional
humanistik menegaskan bahwa nilai, makna, dan kebenaran tidak terletak di luar
dunia, tetapi tumbuh dari relasi yang hidup antara manusia, alam, dan
transendensi.²⁰ Dalam kerangka ini, rasionalitas Aristoteles menemukan
kedalaman etis melalui visi ideal Plato, sedangkan idealisme Plato memperoleh
konkretisasi melalui praksis etis Aristoteles.²¹ Hasilnya adalah suatu
paradigma filosofis yang integratif, dialogis,
dan kontekstual—sebuah
jalan tengah yang mengakui keterbatasan manusia tanpa kehilangan arah
transendentalnya.
Kesimpulan Sintetis
Sintesis filosofis
antara Plato dan Aristoteles tidak berarti penghapusan perbedaan mereka, tetapi
peneguhan bahwa kebenaran metafisis dan empiris saling
membutuhkan. Dunia Idea memberikan orientasi nilai bagi dunia
Substansi, sementara dunia Substansi mewujudkan nilai-nilai Idea dalam tindakan
dan keberadaan.²² Dengan demikian, ontologi relasional menjadi ruang konseptual
baru yang mempersatukan transendensi dan immanensi, nilai dan fakta,
bentuk dan materi, kebenaran dan tindakan.
Melalui pendekatan
ini, filsafat tidak lagi terpecah antara kontemplasi dan praksis, tetapi
menjadi upaya menyeluruh untuk memahami keberadaan sebagai relasi
hidup—sebuah kesatuan dinamis antara berpikir, menjadi, dan
berbuat.²³ Inilah arah baru filsafat setelah Plato dan Aristoteles: bukan
sekadar memilih antara idealisme atau realisme, tetapi menempuh jalan
relasional, tempat keduanya saling melengkapi dalam kesatuan
yang integral.²⁴
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 263–267.
[2]
Martin Buber, I and Thou, terj. Ronald Gregor Smith (New York: Scribner’s,
1958), 25–28.
[3]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992),
508d–511e.
[4]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 372–376.
[5]
Alfred North Whitehead, Process
and Reality, ed. David Ray Griffin
dan Donald W. Sherburne (New York: Free Press, 1978), 39–41.
[6]
Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924),
Z.3, 1029a–1032b.
[7]
Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto: Pontifical Institute of Mediaeval Studies,
1952), 83–87.
[8]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 202–205.
[9]
David Ross, Aristotle (London: Routledge, 1995), 169–172.
[10]
Plotinus, Enneads, terj. Stephen MacKenna (London: Penguin, 1991),
V.2–V.5.
[11]
Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.44–47.
[12]
Étienne Gilson, The Christian
Philosophy of St. Thomas Aquinas
(New York: Random House, 1956), 88–92.
[13]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, terj. A. V. Miller (London: Allen & Unwin,
1969), 62–67.
[14]
Charles Taylor, Hegel and Modern
Society (Cambridge: Cambridge
University Press, 1979), 30–34.
[15]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a
Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, terj. F. Kersten (The Hague: Nijhoff, 1983), 52–57.
[16]
Martin Buber, I and Thou, 42–47.
[17]
Alfred North Whitehead, Process
and Reality, 78–82.
[18]
David Ray Griffin, Whitehead’s Radically
Different Postmodern Philosophy
(Albany: SUNY Press, 2007), 53–56.
[19]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, terj. Alphonso Lingis (The Hague: Nijhoff, 1969),
88–91.
[20]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method, terj. Joel Weinsheimer
dan Donald Marshall (New York: Continuum, 2004), 411–416.
[21]
Alasdair MacIntyre, Dependent
Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 94–98.
[22]
Julia Annas, An Introduction to
Plato’s Republic (Oxford: Oxford
University Press, 1981), 201–204.
[23]
Paul Ricoeur, Oneself as Another, terj. Kathleen Blamey (Chicago: University of
Chicago Press, 1992), 312–317.
[24]
Ken Wilber, A Theory of Everything:
An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 33–38.
11. Kesimpulan
Pertentangan antara
Plato dan Aristoteles merupakan salah satu dialektika paling berpengaruh dalam
sejarah filsafat. Dari perdebatan keduanya—antara dunia
Idea dan dunia Substansi, antara rasionalisme
idealis dan realisme empiris—lahir fondasi
bagi seluruh perkembangan filsafat Barat. Namun, sebagaimana telah terlihat
dalam perjalanan panjang sejarah pemikiran, kontradiksi tersebut bukan semata
sebuah pertentangan absolut, melainkan dialog filosofis yang produktif,
yang terus memperkaya pemahaman manusia tentang realitas, pengetahuan, nilai,
dan tindakan.¹
11.1.
Rekapitulasi Sintetis: Dua Wajah Realitas
Plato dan
Aristoteles sama-sama berusaha menjawab pertanyaan metafisis paling mendasar: apa yang
nyata dan bagaimana manusia mengetahuinya. Plato memandang realitas
sejati sebagai tatanan ideal yang bersifat transenden dan abadi, sementara
Aristoteles menegaskan realitas sebagai substansi konkret yang terwujud dalam
bentuk-bentuk yang dapat dialami.²
Keduanya, meskipun
berseberangan, sesungguhnya berbicara tentang dua aspek dari keberadaan yang
sama—yakni dimensi normatif (ideal) dan dimensi
faktual (empiris) dari realitas.³ Idealisme Plato memberikan
arah dan makna bagi tindakan manusia, sedangkan realisme Aristoteles memberikan
dasar konkret bagi pelaksanaannya. Dalam dialektika keduanya, filsafat
menemukan keseimbangan antara visi dan verifikasi, antara prinsip dan
pengalaman, antara logos dan physis.⁴
11.2.
Sumbangan terhadap Tradisi Filsafat
Warisan Plato dan
Aristoteles menembus batas zaman dan aliran. Dari Plato lahir tradisi
rasionalisme, idealisme, dan mistisisme metafisis; dari Aristoteles berkembang
empirisme, logika, dan sains sistematis.⁵ Keduanya meletakkan dasar bagi etika,
politik, dan estetika yang masih menjadi acuan hingga kini. Dalam ranah etika,
Plato menekankan kebajikan kontemplatif dan kesatuan moral dengan kebaikan
tertinggi, sedangkan Aristoteles menegaskan kebajikan praksis dan keseimbangan
moral dalam kehidupan bersama.⁶
Dalam politik, Plato
menampilkan visi negara ideal yang berorientasi pada keadilan dan hierarki
moral, sementara Aristoteles mengajarkan pentingnya partisipasi dan moderasi
dalam kehidupan polis.⁷ Dengan demikian, keduanya membentuk dua paradigma yang
saling melengkapi: filsafat idealisme normatif dan
filsafat
realisme praksis. Dari sintesis keduanya muncul tradisi
filsafat yang terus berusaha menjembatani antara apa yang seharusnya
dan apa yang ada.⁸
11.3.
Signifikansi Kontemporer: Dari Dualisme ke
Relasionalitas
Dalam konteks modern
dan postmodern, warisan Plato dan Aristoteles menemukan makna baru. Dunia kini
menghadapi krisis epistemik, moral, dan ekologis yang menuntut integrasi antara
rasionalitas ilmiah dan kesadaran etis—antara struktur empiris Aristotelian
dan nilai-nilai
ideal Platonik.⁹ Maka, sintesis keduanya menjadi sangat
relevan: sains membutuhkan horizon nilai, dan etika memerlukan dasar empiris
yang konkret.
Filsafat
kontemporer, terutama melalui pendekatan fenomenologis, eksistensialis, dan
prosesual, menghidupkan kembali semangat sintesis ini dalam bentuk ontologi
relasional.¹⁰ Dalam paradigma ini, keberadaan dipahami sebagai jejaring
makna dan hubungan yang dinamis, bukan entitas statis yang terpisah. Dengan
demikian, Plato dan Aristoteles dapat dibaca bukan sebagai oposisi, tetapi
sebagai dua arah dalam gerak spiral filsafat menuju pemahaman integral tentang
keberadaan.¹¹
Penutup: Menuju Kebijaksanaan Integral
Dari keseluruhan
analisis ini, dapat disimpulkan bahwa Plato dan Aristoteles adalah dua tiang
epistemik dan ontologis dari rumah besar filsafat. Plato
mengajarkan manusia untuk menatap ke atas, mencari makna yang abadi dalam dunia
nilai; Aristoteles mengajarkan manusia untuk menatap ke sekeliling, memahami
tatanan dunia dalam rasionalitas empiris.¹² Keduanya menunjukkan bahwa
kebijaksanaan sejati lahir dari keseimbangan antara kontemplasi dan tindakan,
antara ideal dan realitas.
Dalam semangat ini,
filsafat yang hidup bukanlah filsafat yang memilih salah satu jalan, tetapi
yang berani berdiri di antara keduanya—menyatukan pandangan vertikal Plato dan
horizontal Aristoteles dalam suatu visi integral-humanistik.¹³
Inilah sintesis tertinggi dari warisan mereka: sebuah sapientia
integra, kebijaksanaan utuh yang mengakui bahwa manusia, dalam
pencarian kebenarannya, selalu berada di antara langit Idea dan bumi
Substansi.¹⁴
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 1: Greece and Rome (New York: Image Books, 1993), 270–274.
[2]
Plato, Republic, terj. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett, 1992),
507b–509d; Aristotle, Metaphysics, terj. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924),
Z.3, 1029a–1032b.
[3]
Étienne Gilson, Being and Some
Philosophers (Toronto: Pontifical
Institute of Mediaeval Studies, 1952), 92–96.
[4]
Julia Annas, An Introduction to
Plato’s Republic (Oxford: Oxford
University Press, 1981), 201–205.
[5]
Bertrand Russell, A History of Western
Philosophy (London: Routledge,
2004), 180–186.
[6]
Aristotle, Nicomachean Ethics, terj. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1999),
II.6, 1106b–1107a.
[7]
Plato, Laws, terj. Trevor Saunders (London: Penguin, 1970),
714a–718b.
[8]
Werner Jaeger, Aristotle: Fundamentals
of the History of His Development,
terj. Richard Robinson (Oxford: Clarendon Press, 1948), 215–219.
[9]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method, terj. Joel Weinsheimer
dan Donald Marshall (New York: Continuum, 2004), 408–413.
[10]
Alfred North Whitehead, Process
and Reality, ed. David Ray Griffin
dan Donald W. Sherburne (New York: Free Press, 1978), 78–82.
[11]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, terj. Alphonso Lingis (The Hague: Nijhoff, 1969),
87–90.
[12]
W. K. C. Guthrie, A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues (Cambridge: Cambridge University Press, 1975),
380–384.
[13]
Ken Wilber, A Theory of Everything:
An Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality (Boston: Shambhala, 2000), 39–43.
[14]
Paul Ricoeur, Oneself as Another, terj. Kathleen Blamey (Chicago: University of
Chicago Press, 1992), 320–324.
Daftar Pustaka
Annas, J. (1981). An Introduction to Plato’s
Republic. Oxford University Press.
Arendt, H. (1958). The Human Condition.
University of Chicago Press.
Aristotle. (1885). Politics (B. Jowett,
Trans.). Clarendon Press.
Aristotle. (1908). De Anima (W. D. Ross,
Trans.). Clarendon Press.
Aristotle. (1924). Metaphysics (W. D. Ross,
Trans.). Clarendon Press.
Aristotle. (1930). Physics (R. P. Hardie
& R. K. Gaye, Trans.). Clarendon Press.
Aristotle. (1938). Organon (H. Tredennick,
Trans.). Harvard University Press.
Aristotle. (1975). Posterior Analytics (J.
Barnes, Trans.). Clarendon Press.
Aristotle. (1999). Nicomachean Ethics (T.
Irwin, Trans.). Hackett Publishing.
Barnes, J. (2000). Aristotle: A Very Short
Introduction. Oxford University Press.
Buber, M. (1958). I and Thou (R. G. Smith,
Trans.). Scribner’s.
Copleston, F. (1993). A History of Philosophy,
Vol. 1: Greece and Rome. Image Books.
Copleston, F. (1994). A History of Philosophy,
Vol. 5: British Empiricism. Image Books.
Dillon, J. (1977). The Middle Platonists.
Duckworth.
Fowler, T. (1876). The Principles of Morals and
Political Science. Macmillan.
Gadamer, H.-G. (2004). Truth and Method (J.
Weinsheimer & D. Marshall, Trans.). Continuum.
Gilson, É. (1937). The Unity of Philosophical
Experience. Scribner’s.
Gilson, É. (1952). Being and Some Philosophers.
Pontifical Institute of Mediaeval Studies.
Gilson, É. (1956). The Christian Philosophy of
St. Thomas Aquinas. Random House.
Griffin, D. R. (2007). Whitehead’s Radically
Different Postmodern Philosophy. SUNY Press.
Guthrie, W. K. C. (1975). A History of Greek
Philosophy: Volume IV, Plato: The Man and His Dialogues. Cambridge
University Press.
Heidegger, M. (1962). Being and Time (J.
Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
Hegel, G. W. F. (1969). Science of Logic (A.
V. Miller, Trans.). Allen & Unwin.
Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology of Spirit
(A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press.
Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative
Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society (T. McCarthy,
Trans.). Beacon Press.
Husserl, E. (1983). Ideas Pertaining to a Pure
Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy (F. Kersten, Trans.).
Nijhoff.
Jaeger, W. (1948). Aristotle: Fundamentals of
the History of His Development (R. Robinson, Trans.). Clarendon Press.
Jaeger, W. (1947). The Theology of the Early
Greek Philosophers. Clarendon Press.
Kant, I. (1965). Critique of Pure Reason (N.
K. Smith, Trans.). St. Martin’s Press.
Kant, I. (1998). Groundwork of the Metaphysics
of Morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.
Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific
Revolutions. University of Chicago Press.
Levinas, E. (1969). Totality and Infinity
(A. Lingis, Trans.). Nijhoff.
MacIntyre, A. (1981). After Virtue: A Study in
Moral Theory. University of Notre Dame Press.
MacIntyre, A. (1999). Dependent Rational
Animals: Why Human Beings Need the Virtues. Open Court.
Morin, E. (2008). On Complexity. Hampton
Press.
Nussbaum, M. C. (1986). The Fragility of
Goodness: Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy. Cambridge
University Press.
Plato. (1977). Phaedo (G. M. A. Grube,
Trans.). Hackett Publishing.
Plato. (1981). Meno (G. M. A. Grube,
Trans.). Hackett Publishing.
Plato. (1991). Protagoras (C. C. W. Taylor,
Trans.). Oxford University Press.
Plato. (1992). Republic (G. M. A. Grube,
Trans.). Hackett Publishing.
Plato. (1992). Theaetetus (M. J. Levett,
Trans.). Hackett Publishing.
Plato. (1993). Sophist (N. P. White,
Trans.). Hackett Publishing.
Plato. (1970). Laws (T. Saunders, Trans.).
Penguin Books.
Plotinus. (1991). The Enneads (S. MacKenna,
Trans.). Penguin Books.
Popkin, R. (2003). The History of Scepticism:
From Savonarola to Bayle. Oxford University Press.
Popper, K. (1963). Conjectures and Refutations:
The Growth of Scientific Knowledge. Routledge.
Popper, K. (2002). The Open Society and Its
Enemies, Vol. 1: The Spell of Plato. Routledge.
Rawls, J. (1971). A Theory of Justice.
Harvard University Press.
Ricoeur, P. (1992). Oneself as Another (K.
Blamey, Trans.). University of Chicago Press.
Ross, D. (1995). Aristotle. Routledge.
Russell, B. (2004). A History of Western
Philosophy. Routledge.
Sorabji, R. (1980). Necessity, Cause and Blame:
Perspectives on Aristotle’s Theory. Duckworth.
Strauss, L. (1964). The City and Man.
University of Chicago Press.
Taylor, C. (1979). Hegel and Modern Society.
Cambridge University Press.
Thomas Aquinas. (1947). Summa Theologiae
(Vol. I, qq. 44–47).
Vallor, S. (2016). Technology and the Virtues: A
Philosophical Guide to a Future Worth Wanting. Oxford University Press.
Whitehead, A. N. (1978). Process and Reality
(D. R. Griffin & D. W. Sherburne, Eds.). Free Press.
Wilber, K. (2000). A Theory of Everything: An
Integral Vision for Business, Politics, Science, and Spirituality.
Shambhala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar