Realisme Ilmiah
Ontologi tentang Keberadaan Entitas Ilmiah dan Struktur
Realitas
Alihkan ke: Aliran Filsafat Ontologi.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif aliran
filsafat Realisme Ilmiah sebagai salah satu pandangan ontologis dalam
filsafat ilmu yang menegaskan bahwa dunia dan entitas ilmiah eksis secara
independen dari pikiran manusia. Realisme ilmiah berpijak pada keyakinan bahwa
teori-teori ilmiah, meskipun bersifat sementara dan terbuka terhadap revisi,
mampu merepresentasikan realitas dengan derajat kebenaran yang mendekati (approximately
true). Pembahasan dimulai dari fondasi historis dan konseptual realisme
ilmiah, yang berakar pada pemikiran Aristoteles hingga berkembang dalam
filsafat sains modern melalui karya tokoh-tokoh seperti Hilary Putnam, Stathis
Psillos, dan Richard Boyd. Secara ontologis, realisme ilmiah mengakui struktur
kausal dan hukum alam sebagai entitas nyata, sementara secara epistemologis ia
mengandalkan inferensi terhadap penjelasan terbaik sebagai dasar rasionalitas ilmiah.
Artikel ini juga menguraikan implikasi metafisiknya terhadap pemahaman hukum
alam, kausalitas, dan esensialisme ilmiah, serta menelaah berbagai kritik dari
positivisme logis, instrumentalisme, konstruktivisme sosial, dan anti-realisme
empiris.
Selanjutnya, dibahas pula varian-varian realisme
ilmiah seperti realisme struktural, selektif, semantik, dan modal yang
menunjukkan perkembangan reflektif pandangan ini dalam menghadapi kompleksitas
sains modern. Melalui sintesis filosofis, realisme ilmiah dipahami sebagai
jembatan antara metafisika dan epistemologi, menggabungkan keyakinan terhadap
realitas objektif dengan pengakuan atas keterbatasan pengetahuan manusia. Dalam
konteks kontemporer, realisme ilmiah tetap relevan sebagai fondasi bagi
objektivitas, integritas, dan rasionalitas sains di era pasca-modern yang
ditandai oleh relativisme epistemik dan teknologi canggih. Artikel ini
menegaskan bahwa realisme ilmiah bukan sekadar teori tentang keberadaan entitas
ilmiah, tetapi juga sikap filosofis terhadap dunia—yakni komitmen terhadap
kebenaran, rasionalitas, dan tanggung jawab etis dalam pencarian pengetahuan
ilmiah.
Kata kunci: Realisme
ilmiah, ontologi, epistemologi ilmiah, kausalitas, hukum alam, realisme
struktural, anti-realisme, metafisika sains, rasionalitas ilmiah, inferensi
terhadap penjelasan terbaik.
PEMBAHASAN
Konsep, Ontologi, dan Epistemologi Realisme Ilmiah
1.
Pendahuluan
Pertanyaan tentang
hakikat realitas dan bagaimana sains menggambarkannya telah menjadi tema
sentral dalam filsafat sejak zaman Yunani kuno. Dalam tradisi ontologi,
realitas dipahami sebagai sesuatu yang ada secara independen dari
kesadaran manusia. Namun, munculnya sains modern membawa dimensi baru dalam
perdebatan ontologis, yakni apakah teori-teori ilmiah benar-benar menggambarkan
dunia sebagaimana adanya, atau sekadar alat pragmatis untuk memprediksi
fenomena yang teramati. Di sinilah lahir posisi filosofis yang disebut realisme
ilmiah (scientific realism), yang berupaya
mempertahankan keyakinan bahwa teori ilmiah, dalam batas tertentu,
merepresentasikan struktur dan entitas dunia yang nyata.
Realisme ilmiah
berakar pada pandangan bahwa keberhasilan sains bukanlah suatu kebetulan. Jika
teori ilmiah hanya merupakan instrumen praktis tanpa dasar kebenaran ontologis,
maka sulit dijelaskan mengapa teori tersebut begitu berhasil dalam memprediksi
fenomena alam yang kompleks dan belum pernah diamati sebelumnya. Oleh karena
itu, realisme ilmiah menegaskan bahwa keberhasilan prediktif dan teknologi
sains merupakan indikasi kuat bahwa teori ilmiah benar secara aproksimatif
terhadap realitas objektif di luar pikiran manusia.¹
Secara historis,
akar realisme ilmiah dapat ditelusuri sejak Aristoteles yang menegaskan bahwa
pengetahuan sejati adalah pengetahuan tentang “yang ada sebagaimana adanya.”²
Namun, bentuk modernnya baru berkembang pada abad ke-19 dan ke-20, seiring
dengan kemajuan fisika Newtonian, teori atom Dalton, dan kemudian teori
relativitas serta mekanika kuantum. Dalam konteks ini, realisme ilmiah muncul
sebagai tanggapan terhadap anti-realisme dan instrumentalisme,
yang cenderung memandang teori ilmiah hanya sebagai alat konseptual tanpa
komitmen ontologis terhadap entitas tak teramati seperti elektron, medan
gravitasi, atau gen.³
Masalah utama yang
dihadapi realisme ilmiah adalah bagaimana menjembatani kesenjangan antara teori
ilmiah (sebagai konstruksi rasional) dan realitas
ontologis (sebagai dunia yang independen). Permasalahan ini
menimbulkan perdebatan epistemologis mendalam: sejauh mana teori ilmiah benar-benar
mencerminkan dunia nyata, dan apakah keberhasilan empiris cukup untuk
membenarkan realitas ontologis dari entitas ilmiah?⁴ Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang menjadi dasar bagi perumusan realisme ilmiah sebagai pandangan
ontologis sekaligus epistemologis dalam filsafat ilmu.
Tujuan utama
pembahasan ini adalah untuk menguraikan fondasi ontologis realisme ilmiah,
menelaah argumen-argumen utamanya, serta meninjau relevansinya dalam
perkembangan sains kontemporer. Dengan menggabungkan pendekatan historis dan
analitis, tulisan ini berupaya menunjukkan bahwa realisme ilmiah bukan hanya
posisi filsafat ilmu, tetapi juga sebuah komitmen terhadap rasionalitas dan
objektivitas pengetahuan manusia.⁵
Footnotes
[1]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 72.
[2]
Aristoteles, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon
Press, 1924), 1003a–1004b.
[3]
Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 12–17.
[4]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 47–49.
[5]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 70–73.
2.
Landasan Historis dan Konseptual Realisme
Ilmiah
Perkembangan realisme
ilmiah tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang filsafat dan
ilmu pengetahuan yang berupaya memahami hakikat realitas. Sejak masa filsafat
Yunani kuno, perdebatan mengenai apakah dunia yang kita amati
benar-benar sebagaimana tampak atau sekadar penampakan fenomenal sudah menjadi
tema utama pemikiran ontologis. Plato menekankan realitas ide sebagai bentuk
kebenaran yang sejati, sementara Aristoteles menegaskan bahwa realitas konkret
(substance)
adalah dasar dari segala eksistensi dan dapat diketahui melalui pengamatan dan
penalaran rasional.¹ Gagasan Aristoteles inilah yang kemudian memberi dasar
bagi pandangan realistis terhadap dunia empiris, yaitu keyakinan bahwa
pengetahuan manusia dapat menyingkap struktur ontologis realitas.
Memasuki era
sains modern, tokoh-tokoh seperti Galileo Galilei dan Isaac
Newton memperkuat orientasi realistis dalam ilmu pengetahuan. Galileo
berpendapat bahwa alam semesta bersifat teratur dan dapat dipahami melalui
hukum-hukum matematis, sedangkan Newton menegaskan keberadaan hukum-hukum alam
universal yang bekerja secara objektif tanpa bergantung pada pengamat.² Dalam
paradigma ini, dunia dipahami sebagai sistem yang memiliki struktur rasional
dan dapat dijelaskan secara kausal, sehingga teori ilmiah dianggap berfungsi
untuk menggambarkan
realitas, bukan sekadar memprediksinya.³
Namun, pada abad
ke-19 dan awal abad ke-20, muncul gerakan positivisme logis dan instrumentalisme
yang menantang dasar ontologis realisme ilmiah. Positivis logis dari Lingkaran
Wina, seperti Rudolf Carnap dan Moritz Schlick, menolak komitmen terhadap
entitas tak teramati, dengan alasan bahwa makna pernyataan ilmiah hanya
bergantung pada verifikasi empiris.⁴ Dalam pandangan ini, teori ilmiah hanyalah
alat untuk mengorganisasi pengalaman dan bukan representasi dari realitas yang
mendasarinya. Pandangan ini berkembang menjadi instrumentalisme, sebagaimana
dikemukakan oleh John Dewey dan Pierre Duhem, yang melihat teori ilmiah sebagai
instrumen
pragmatis untuk memecahkan masalah, bukan sebagai deskripsi ontologis
tentang dunia.⁵
Sebagai reaksi
terhadap kecenderungan anti-realistis tersebut, muncul kembali realisme
ilmiah modern pada paruh kedua abad ke-20, terutama melalui
karya Hilary Putnam, Richard Boyd, dan Stathis Psillos. Mereka menegaskan bahwa
keberhasilan sains dalam memprediksi dan menjelaskan fenomena alam yang
kompleks tidak mungkin hanya kebetulan. Argumen ini dikenal sebagai “no
miracles argument”, yakni bahwa satu-satunya penjelasan terbaik
atas keberhasilan empiris sains adalah bahwa teori-teori ilmiah secara
aproksimatif benar dan entitas yang mereka postulatkan benar-benar ada.⁶ Dengan
demikian, realisme ilmiah tidak hanya berfungsi sebagai posisi epistemologis,
tetapi juga sebagai komitmen ontologis terhadap eksistensi dunia eksternal yang
terstruktur dan dapat diketahui.
Secara konseptual,
realisme ilmiah menegaskan tiga tesis utama. Pertama, tesis
ontologis: dunia fisik dan entitas ilmiah eksis secara
independen dari pikiran atau konstruksi sosial. Kedua, tesis
semantik: teori ilmiah harus dipahami secara realistis, yakni
istilah-istilahnya mengacu pada entitas nyata di dunia. Ketiga, tesis
epistemik: teori ilmiah yang sukses secara empiris dapat
dianggap mendekati kebenaran (approximately true).⁷ Ketiga aspek
ini membentuk inti dari realisme ilmiah yang memandang sains sebagai pencarian
kebenaran tentang dunia yang objektif dan teratur.
Dengan demikian,
realisme ilmiah berdiri di persimpangan antara ontologi dan epistemologi:
ia bukan sekadar membahas cara kita mengetahui dunia, tetapi juga apa yang
benar-benar ada dalam dunia yang diketahui.
Dalam konteks filsafat ilmu kontemporer, posisi ini tetap menjadi salah satu
yang paling berpengaruh karena menawarkan fondasi rasional bagi klaim kebenaran
ilmiah tanpa terjebak dalam relativisme atau skeptisisme ekstrem.⁸
Footnotes
[1]
Aristoteles, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon
Press, 1924), 1005b–1006a.
[2]
Galileo Galilei, The Assayer, trans. Stillman Drake
(Cambridge: Cambridge University Press, 1957), 183–186.
[3]
Isaac Newton, Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica
(London: Royal Society, 1687), 43–45.
[4]
Rudolf Carnap, The Logical Structure of the World, trans. Rolf
A. George (Berkeley: University of California Press, 1967), 7–10.
[5]
John Dewey, The Quest for Certainty (New York: Minton, Balch
& Co., 1929), 120–122.
[6]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 73–75.
[7]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 75–80.
[8]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 48–52.
3.
Ontologi dalam Realisme Ilmiah
Ontologi dalam
realisme ilmiah berangkat dari keyakinan bahwa dunia memiliki struktur
dan keberadaan objektif yang independen dari kesadaran manusia.
Realitas tidak diciptakan oleh persepsi, bahasa, atau teori, melainkan sudah
ada terlebih dahulu dan menjadi objek penyelidikan ilmiah.¹ Dengan demikian,
realisme ilmiah menolak pandangan konstruktivis maupun idealis yang menganggap
bahwa entitas ilmiah hanyalah hasil dari konstruksi teoretis atau konvensi
sosial. Bagi realisme ilmiah, keberadaan elektron, gen, atau medan gravitasi
bukanlah fiksi ilmiah, melainkan entitas nyata yang memainkan peran kausal
dalam menjelaskan fenomena alam.
3.1.
Realitas sebagai
Struktur yang Independen
Secara ontologis,
realisme ilmiah mengakui bahwa dunia terdiri atas entitas dan struktur kausal
yang tidak
bergantung pada observasi manusia.² Hal ini menegaskan
perbedaan antara realitas ontologis (apa yang ada)
dan pengetahuan
epistemologis (apa yang kita ketahui tentangnya).³ Realitas mungkin
tidak sepenuhnya dapat diketahui, tetapi keberadaannya tidak bergantung pada
aktivitas kognitif subjek. Dalam hal ini, realisme ilmiah mempertahankan apa
yang disebut mind-independent reality, yaitu
realitas yang tetap ada bahkan jika tidak ada pengamat manusia.⁴
Pendekatan ini
berbeda dari anti-realisme yang menolak komitmen terhadap entitas tak teramati.
Misalnya, ketika ilmuwan berbicara tentang quark atau gelombang gravitasi,
realis ilmiah berpendapat bahwa entitas tersebut benar-benar eksis dalam dunia
fisik, meskipun hanya dapat dideteksi melalui inferensi tidak langsung dan
instrumen.⁵ Dengan demikian, teori ilmiah bukanlah sekadar model atau metafora,
melainkan representasi parsial namun mendekati kebenaran dari struktur dunia
nyata.
3.2.
Entitas Ilmiah sebagai
Entitas Nyata
Realisme ilmiah
menegaskan bahwa entitas yang dipostulatkan oleh teori ilmiah
memiliki status ontologis yang nyata.⁶ Artinya, entitas semacam elektron,
proton, atau gen bukan hanya alat konseptual untuk menjelaskan fenomena, tetapi
benar-benar ada sebagai bagian dari struktur ontologis alam. Pandangan ini
diperkuat oleh keberhasilan eksplanatori dan prediktif teori-teori ilmiah yang
menggunakan entitas tersebut. Argumen ini dikenal sebagai no
miracles argument: keberhasilan luar biasa sains dalam memprediksi
fenomena tidak dapat dijelaskan jika teori-teorinya tidak secara aproksimatif
benar.⁷
Namun, realisme
ilmiah tidak menyatakan bahwa teori ilmiah selalu benar secara mutlak.
Teori-teori tersebut dapat berubah atau diperbaiki seiring kemajuan
pengetahuan, tetapi revisi itu tidak menghapus kenyataan dasar bahwa teori
ilmiah menggambarkan aspek dunia nyata.⁸ Karena itu, realisme ilmiah disebut
sebagai realisme aproksimatif (approximate
realism), yakni pandangan bahwa teori yang berhasil secara empiris
setidaknya mendekati kebenaran tentang realitas ontologis.⁹
3.3.
Struktur Ontologis dan
Hukum Alam
Realisme ilmiah
tidak hanya menegaskan keberadaan entitas, tetapi juga struktur dan hukum yang
mengatur interaksi antar-entitas tersebut. Dunia dipandang sebagai tatanan
yang terstruktur dan rasional, di mana hukum-hukum alam
memiliki dasar ontologis yang nyata, bukan sekadar deskripsi matematis
empiris.¹⁰ Dengan demikian, hukum-hukum ilmiah dipahami sebagai ekspresi dari
keteraturan kausal dalam realitas, bukan sekadar generalisasi induktif dari
pengalaman manusia.¹¹
Dalam konteks ini,
muncul bentuk turunan dari realisme ilmiah yang disebut realisme
struktural (structural realism), yang
menekankan bahwa apa yang benar-benar direpresentasikan oleh teori ilmiah
bukanlah entitas individualnya, melainkan struktur hubungan matematis yang
tetap konsisten meskipun teori berubah.¹² Hal ini tampak dalam transisi dari
mekanika Newton ke teori relativitas Einstein: meskipun entitas dan istilah
berubah, struktur matematis tertentu tetap lestari, menandakan bahwa sains
memang mencerminkan struktur mendalam dari realitas.
3.4.
Ontologi dan
Kausalitas Alam
Dalam pandangan
realis ilmiah, dunia tidak hanya terdiri dari benda-benda statis, tetapi juga
dari hubungan
kausal yang aktif.¹³ Kausalitas di sini bukan sekadar
konstruksi epistemologis untuk menjelaskan korelasi, tetapi merupakan aspek
ontologis dari realitas itu sendiri. Hubungan sebab-akibat menjadi struktur
fundamental yang memungkinkan penjelasan ilmiah.¹⁴ Dengan demikian, hukum alam
bukan hanya pola empiris, tetapi manifestasi dari tatanan kausal yang objektif
dan stabil di alam semesta.
Kesimpulannya,
ontologi realisme ilmiah menegaskan bahwa realitas bersifat independen,
terstruktur, dan kausal. Ilmu pengetahuan bukan menciptakan
realitas, melainkan menyingkapnya secara bertahap melalui teori yang semakin
mendekati kebenaran. Realisme ilmiah, dalam kerangka ini, merupakan bentuk
komitmen metafisik terhadap dunia yang dapat diketahui secara rasional dan
empiris, tanpa menafikan keterbatasan manusia dalam memahaminya.¹⁵
Footnotes
[1]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 87.
[2]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 15–18.
[3]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 49.
[4]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 67.
[5]
Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 14–16.
[6]
Psillos, Scientific Realism, 90–92.
[7]
Putnam, Reason, Truth and History, 73–74.
[8]
Boyd, “Scientific Realism,” 51–53.
[9]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 25.
[10]
Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 21–23.
[11]
Michael Esfeld, Philosophy of Science: A Unified Approach (New
York: Routledge, 2019), 112.
[12]
John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica
43, no. 1–2 (1989): 99–124.
[13]
Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge
University Press, 2001), 30–35.
[14]
Cartwright, Nature’s Capacities, 27.
[15]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 40–42.
4.
Epistemologi Realisme Ilmiah
Epistemologi
realisme ilmiah berfokus pada hubungan antara pengetahuan ilmiah dan realitas
objektif yang diasumsikan oleh sains. Jika ontologi realisme
ilmiah menegaskan bahwa dunia memiliki struktur dan entitas yang eksis secara
independen, maka epistemologi realisme ilmiah menjawab pertanyaan: bagaimana
manusia mengetahui realitas tersebut melalui teori ilmiah? Dengan
kata lain, realisme ilmiah tidak hanya berbicara tentang “apa yang ada,”
tetapi juga “bagaimana kita mengetahui apa yang ada.”
4.1.
Hubungan antara Teori
dan Realitas
Realisme ilmiah
menolak pandangan bahwa teori ilmiah hanyalah alat pragmatis untuk
mengorganisasi pengalaman atau memprediksi fenomena. Sebaliknya, teori ilmiah
dianggap merepresentasikan realitas
secara aproksimatif.¹ Hal ini berarti bahwa istilah-istilah dalam teori ilmiah,
seperti “elektron,” “medan gravitasi,” atau “gen,”
benar-benar merujuk pada entitas yang ada dalam
dunia nyata, meskipun tidak dapat diamati secara langsung.² Pandangan ini
berakar pada tesis korespondensi kebenaran,
yakni bahwa pernyataan atau teori ilmiah benar apabila sesuai dengan keadaan
faktual dunia.³
Dalam kerangka ini,
hubungan antara teori dan realitas bersifat inferensial dan representasional.
Teori tidak menciptakan realitas, tetapi mengungkapkan struktur dan mekanisme
kausal yang ada di balik fenomena.⁴ Dengan demikian, teori ilmiah dipahami
sebagai model konseptual yang memiliki nilai kebenaran ontologis, bukan sekadar
konstruksi linguistik atau sosial.⁵
4.2.
Kebenaran sebagai
Korespondensi dan Aproksimasi
Dalam epistemologi
realisme ilmiah, kebenaran ilmiah dipahami bukan
sebagai absolut, melainkan sebagai aproksimasi terhadap realitas.⁶
Ini berarti teori ilmiah dapat mendekati kebenaran tanpa harus benar secara
sempurna. Contohnya, meskipun teori Newton terbukti tidak sepenuhnya akurat
dalam konteks relativitas, teori tersebut tetap dianggap mendekati kebenaran
dalam skala tertentu karena berhasil menjelaskan sebagian besar fenomena fisika
klasik.⁷
Dengan demikian,
kebenaran ilmiah memiliki sifat asymptotic: setiap teori
membawa kita lebih dekat kepada realitas, meskipun tidak pernah mencapainya
secara total.⁸ Proses ini mencerminkan sifat dinamis sains yang selalu terbuka
terhadap revisi dan perbaikan. Dalam kerangka ini, kebenaran ilmiah bersifat
evolusioner, bukan dogmatis.⁹
4.3.
Inferensi terhadap
Penjelasan Terbaik
Salah satu prinsip
epistemologis terpenting dalam realisme ilmiah adalah inferensi
terhadap penjelasan terbaik (inference to the best explanation,
IBE).¹⁰ Prinsip ini menyatakan bahwa apabila suatu teori memberikan penjelasan
paling komprehensif, konsisten, dan prediktif terhadap fenomena, maka teori
tersebut layak
dipercaya sebagai mendekati kebenaran.¹¹ Dengan kata lain, realisme
ilmiah membenarkan kepercayaan terhadap entitas tak teramati (seperti elektron
atau quark) karena teori yang melibatkan entitas tersebut telah terbukti paling
efektif dalam menjelaskan dan memprediksi fenomena empiris.
Hilary Putnam
menyebut prinsip ini sebagai bentuk realitas epistemik yang rasional,
di mana keberhasilan teori ilmiah tidak dapat dijelaskan kecuali teori tersebut
setidaknya sebagian
benar.¹² Pandangan ini secara langsung menentang instrumentalisme
yang hanya menilai teori dari segi kegunaannya, bukan kebenarannya.¹³ Dengan
demikian, IBE menjadi jembatan antara keberhasilan empiris dan keabsahan
ontologis dalam sains.
4.4.
Realisme terhadap
Entitas Tak Teramati
Realisme ilmiah
memandang bahwa pengetahuan ilmiah tidak terbatas pada fenomena
yang dapat diamati secara langsung.¹⁴ Melalui inferensi ilmiah,
kita dapat mengetahui keberadaan entitas yang tak teramati secara langsung
namun memiliki efek kausal terhadap dunia empiris. Misalnya, keberadaan virus,
struktur atom, atau medan elektromagnetik diketahui melalui dampaknya terhadap
fenomena yang teramati.¹⁵ Dalam hal ini, epistemologi realisme ilmiah menegaskan
bahwa observasi hanyalah salah satu sumber pengetahuan; teori yang koheren dan
prediktif juga dapat menjadi dasar rasional bagi keyakinan terhadap realitas
entitas tak teramati.¹⁶
Dengan demikian,
batas antara “yang teramati” dan “yang tak teramati” bersifat
metodologis, bukan ontologis.¹⁷ Artinya, meskipun manusia tidak dapat mengamati
langsung beberapa entitas ilmiah, eksistensinya tetap diakui karena memiliki
konsekuensi empiris dan eksplanatori yang nyata.
4.5.
Rasionalitas dan
Fallibilisme Ilmiah
Epistemologi
realisme ilmiah juga menegaskan sikap fallibilisme, yaitu
pengakuan bahwa semua teori ilmiah bersifat sementara dan dapat direvisi.¹⁸
Namun, hal ini tidak berarti relativisme atau skeptisisme. Justru, fallibilisme
menjadi dasar bagi rasionalitas ilmiah: sains terus berkembang karena
kesadarannya bahwa setiap pengetahuan adalah hasil penyelidikan yang terbuka
untuk koreksi.¹⁹ Oleh karena itu, realisme ilmiah memadukan dua hal yang
tampaknya berlawanan: keyakinan terhadap keberadaan realitas objektif dan
pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan manusia.²⁰
Footnotes
[1]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 49–52.
[2]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 74–76.
[3]
Alfred Tarski, “The Concept of Truth in Formalized Languages,” in Logic,
Semantics, Metamathematics, trans. J. H. Woodger (Oxford: Clarendon Press,
1956), 152–153.
[4]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 23.
[5]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 70–73.
[6]
Psillos, Scientific Realism, 90–91.
[7]
Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford:
Clarendon Press, 1983), 32–34.
[8]
Boyd, “Scientific Realism,” 54.
[9]
W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London:
Routledge, 1981), 120–122.
[10]
Gilbert Harman, “The Inference to the Best Explanation,” Philosophical
Review 74, no. 1 (1965): 88–95.
[11]
Peter Lipton, Inference to the Best Explanation, 2nd ed.
(London: Routledge, 2004), 56–59.
[12]
Putnam, Reason, Truth and History, 73.
[13]
Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 12–15.
[14]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 28–30.
[15]
Psillos, Scientific Realism, 97.
[16]
Newton-Smith, The Rationality of Science, 125.
[17]
van Fraassen, The Scientific Image, 18.
[18]
Boyd, “Scientific Realism,” 58–59.
[19]
Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London:
Routledge, 1959), 27–28.
[20]
Psillos, Scientific Realism, 100–101.
5.
Implikasi Metafisik dan Ilmiah
Implikasi metafisik
dan ilmiah dari realisme ilmiah berkaitan erat dengan konsekuensi ontologis dan
epistemologis yang timbul ketika seseorang mengakui bahwa teori-teori ilmiah
benar-benar menggambarkan dunia nyata. Realisme ilmiah tidak hanya merupakan
posisi dalam filsafat ilmu, tetapi juga mengandung komitmen metafisik terhadap
struktur realitas dan hukum-hukum alam. Dengan demikian, realisme ilmiah membentuk
dasar bagi pemahaman mendalam tentang hakikat eksistensi, kausalitas,
dan rasionalitas
alam semesta sebagaimana diungkapkan melalui sains.
5.1.
Metafisika Realitas
Ilmiah
Dalam kerangka
metafisik, realisme ilmiah menegaskan bahwa dunia memiliki struktur
ontologis yang independen, teratur, dan rasional.¹ Struktur ini
menjadi landasan bagi keberfungsian hukum-hukum alam dan memungkinkan
pengetahuan ilmiah bersifat kumulatif serta konsisten.² Dengan demikian,
metafisika realisme ilmiah berangkat dari keyakinan bahwa hukum-hukum alam
tidak hanya merupakan deskripsi empiris, melainkan ekspresi dari keteraturan
kausal yang nyata.³
Pandangan ini
berimplikasi pada pengakuan terhadap esensialisme ilmiah, yakni
keyakinan bahwa benda-benda memiliki sifat esensial yang menentukan perilakunya
dalam berbagai kondisi.⁴ Sebagai contoh, sifat massa dan muatan listrik
merupakan esensi yang menentukan bagaimana partikel berinteraksi dalam struktur
fisik alam. Dengan demikian, metafisika realisme ilmiah menegaskan bahwa realitas
memiliki struktur kausal yang dapat diketahui, bukan sekadar jaringan korelasi
empiris.⁵
5.2.
Kausalitas dan Hukum
Alam
Realisme ilmiah
memberikan dasar filosofis bagi konsep kausalitas yang kuat (robust
causation). Dalam pandangan ini, hubungan sebab-akibat bukanlah
konstruksi mental atau pola observasi, melainkan relasi ontologis yang
sungguh-sungguh ada di dalam dunia.⁶ Hukum alam, dengan demikian, dipandang
sebagai pernyataan tentang hubungan kausal yang objektif, bukan sekadar
generalisasi statistik dari fenomena yang diamati.⁷
Nancy Cartwright
menekankan bahwa hukum-hukum ilmiah “tidak berbohong,” melainkan
menggambarkan kapasitas alamiah entitas untuk bertindak sesuai dengan struktur
kausalnya.⁸ Pandangan ini memberikan dasar metafisik bagi keandalan sains dalam
menjelaskan fenomena alam. Ketika ilmuwan menjelaskan mengapa air mendidih pada
100°C di bawah tekanan standar, mereka tidak sekadar mengamati pola berulang,
tetapi memahami keterkaitan kausal antara energi panas dan ikatan molekuler air.⁹
Dengan demikian, realisme ilmiah memberikan justifikasi ontologis terhadap
keharusan kausal (necessity) dalam hukum alam.
5.3.
Implikasi terhadap
Naturalisme dan Rasionalitas Sains
Realisme ilmiah
memiliki implikasi yang signifikan terhadap naturalisme ilmiah, yaitu
pandangan bahwa seluruh fenomena alam dapat dijelaskan melalui prinsip dan
metode ilmiah tanpa perlu mengacu pada penjelasan supranatural.¹⁰ Dengan
berasumsi bahwa dunia nyata dapat diketahui melalui sains, realisme ilmiah
mendukung posisi bahwa rasionalitas manusia berakar pada keteraturan realitas
itu sendiri.¹¹
Metafisika realisme
ilmiah menolak pandangan dualistik yang memisahkan dunia fenomenal dari dunia
noumenal.¹² Sebaliknya, ia menegaskan kesatuan ontologis antara manusia dan
alam semesta—bahwa struktur rasional yang ada dalam pikiran manusia
mencerminkan struktur rasional yang melekat dalam realitas.¹³ Hal ini
memperkuat kepercayaan terhadap rasionalitas sains, yaitu bahwa
sains bukan sekadar konstruksi sosial, tetapi ekspresi dari kemampuan manusia
untuk memahami dunia sebagaimana adanya.
5.4.
Implikasi bagi
Ilmu-ilmu Alam dan Modernitas
Dalam ranah ilmiah,
realisme ilmiah berimplikasi langsung terhadap cara sains memandang entitas dan teori-teorinya.
Misalnya, dalam fisika modern, realisme ilmiah memberikan dasar bagi
kepercayaan terhadap keberadaan entitas seperti elektron, quark, dan medan
kuantum, meskipun tidak dapat diamati secara langsung.¹⁴ Dalam biologi
molekuler, realisme ilmiah mendasari keyakinan terhadap eksistensi struktur
genetik yang menjelaskan sifat-sifat organisme.¹⁵
Demikian pula, dalam
kosmologi, realisme ilmiah memungkinkan ilmuwan berbicara secara bermakna
tentang entitas seperti lubang hitam, energi gelap, dan materi gelap sebagai
entitas yang benar-benar ada, bukan sekadar model matematis.¹⁶ Dalam konteks
ini, realisme ilmiah memperluas cakrawala epistemologis sains dengan memberikan
legitimasi ontologis terhadap teori-teori yang melampaui observasi langsung.
Kesatuan
Metafisika dan Ilmu Pengetahuan
Implikasi metafisik
yang paling mendalam dari realisme ilmiah adalah pandangan tentang kesatuan
antara ontologi dan epistemologi sains. Dunia yang dijelaskan
oleh sains tidak berbeda dari dunia yang kita huni; sains justru memperluas dan
memperdalam pemahaman kita tentang dunia tersebut.¹⁷ Dengan demikian, realisme
ilmiah menolak dikotomi antara “dunia ilmiah” dan “dunia sehari-hari.”
Ia menegaskan bahwa realitas ilmiah dan realitas empiris adalah dua aspek dari
tatanan ontologis yang sama, hanya dibedakan oleh tingkat kedalaman
penjelasan.¹⁸
Pandangan ini
berimplikasi pada metafisika kontinuitas (metaphysics
of continuity), yakni bahwa setiap kemajuan ilmiah
merepresentasikan langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang realitas,
bukan lompatan arbitrer antarparadigma sebagaimana diasumsikan oleh
konstruktivisme sosial.¹⁹ Dalam kerangka ini, realisme ilmiah menjadi jembatan
antara metafisika klasik dan sains modern, sekaligus memperkuat fondasi
filosofis bagi rasionalitas ilmiah yang berorientasi pada kebenaran.
Footnotes
[1]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 115.
[2]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 55–56.
[3]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 22–23.
[4]
Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge
University Press, 2001), 31–35.
[5]
Psillos, Scientific Realism, 120.
[6]
Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 26–28.
[7]
Michael Esfeld, Philosophy of Science: A Unified Approach (New
York: Routledge, 2019), 111–112.
[8]
Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon
Press, 1983), 44.
[9]
Cartwright, Nature’s Capacities, 30.
[10]
Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary
Introduction (London: Routledge, 2012), 202–204.
[11]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 75–77.
[12]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp
Smith (London: Macmillan, 1929), A249–A250.
[13]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 40.
[14]
Psillos, Scientific Realism, 130.
[15]
Elliott Sober, Philosophy of Biology, 2nd ed. (Boulder, CO:
Westview Press, 2000), 45–47.
[16]
Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Vintage,
1994), 87–89.
[17]
Boyd, “Scientific Realism,” 59.
[18]
Esfeld, Philosophy of Science, 117.
[19]
Psillos, Scientific Realism, 135–136.
6.
Kritik terhadap Realisme Ilmiah
Meskipun realisme
ilmiah telah menjadi posisi dominan dalam filsafat ilmu modern, ia tidak luput
dari berbagai kritik filosofis yang serius. Kritik-kritik ini datang dari
berbagai arah—mulai dari empirisisme logis, instrumentalisme,
konstruktivisme
sosial, hingga anti-realisme empiris seperti
yang dikemukakan oleh Bas van Fraassen. Perdebatan tersebut menyoroti kelemahan
metafisik dan epistemologis realisme ilmiah, khususnya terkait klaim bahwa
teori-teori ilmiah benar-benar merepresentasikan realitas objektif.
6.1.
Kritik dari
Empirisisme Logis
Kaum positivis
logis menolak komitmen metafisik terhadap entitas yang tak
dapat diamati. Bagi mereka, makna suatu pernyataan ilmiah bergantung sepenuhnya
pada verifikasi
empiris.¹ Pernyataan yang tidak dapat diverifikasi melalui
pengalaman langsung dianggap tidak bermakna secara ilmiah. Dalam kerangka ini,
konsep-konsep seperti elektron atau medan gravitasi hanyalah simbol matematika
untuk mengorganisasi fenomena yang diamati, bukan entitas nyata.²
Rudolf Carnap dan anggota
Lingkaran Wina menegaskan bahwa realisme ilmiah mengandung unsur metafisik yang
tidak dapat diuji secara empiris, sehingga melampaui batas legitimasi ilmiah.³
Dengan demikian, bagi empirisisme logis, realisme ilmiah gagal mempertahankan
prinsip verifikasionisme dan karenanya dianggap tidak ilmiah dalam pengertian
ketat.
6.2.
Kritik dari
Instrumentalisme
Kaum instrumentalis,
seperti Pierre Duhem dan John Dewey, berpendapat bahwa teori ilmiah hanyalah alat
fungsional (instrument) untuk memprediksi
fenomena, bukan deskripsi literal tentang dunia.⁴ Teori ilmiah, menurut mereka,
serupa dengan peta: berguna untuk navigasi, tetapi tidak merepresentasikan
semua detail dari wilayah yang sebenarnya.⁵ Dengan demikian, keberhasilan
prediktif suatu teori tidak mengimplikasikan kebenaran ontologisnya, melainkan
hanya menunjukkan kegunaannya secara praktis.
Instrumentalisme
juga menolak argumen “no miracles” yang
digunakan realisme ilmiah. Mereka berpendapat bahwa keberhasilan sains tidak
harus dijelaskan melalui klaim kebenaran, melainkan melalui adaptasi
metodologis sains terhadap pengalaman.⁶ Dalam pandangan ini, sains bersifat
evolusioner dan selektif terhadap teori-teori yang paling efisien secara
empiris, tanpa perlu mengasumsikan bahwa teori tersebut benar secara ontologis.⁷
6.3.
Kritik dari
Konstruktivisme Sosial
Dari perspektif konstruktivisme
sosial, pengetahuan ilmiah dipahami sebagai hasil interaksi
sosial, budaya, dan historis, bukan sebagai cerminan langsung
dari realitas.⁸ Thomas Kuhn, dalam The Structure of Scientific Revolutions,
menunjukkan bahwa perkembangan ilmu tidak bersifat kumulatif, melainkan melalui
pergantian
paradigma yang bersifat revolusioner.⁹ Pergantian ini tidak
semata karena teori baru lebih “benar,” tetapi karena perubahan
paradigma mengubah cara komunitas ilmiah memahami dan mengamati dunia.¹⁰
Kritik ini menyoroti
dimensi relativistik dalam sains:
kebenaran ilmiah bergantung pada konteks sosial dan paradigma dominan.¹¹ Dengan
demikian, klaim realisme ilmiah bahwa teori ilmiah secara bertahap mendekati
kebenaran absolut dianggap problematik, karena apa yang disebut “realitas”
sendiri selalu ditafsirkan melalui lensa konseptual dan budaya.¹²
6.4.
Masalah
Underdetermination
Salah satu kritik
epistemologis paling kuat terhadap realisme ilmiah adalah masalah
underdetermination of theory by evidence, yaitu bahwa bukti
empiris yang sama dapat mendukung lebih dari satu teori yang saling
bertentangan.¹³ Contohnya, baik teori eter maupun teori medan elektromagnetik
pernah mampu menjelaskan fenomena cahaya sebelum teori relativitas
menggantikannya.¹⁴ Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara teori dan realitas
tidak tunggal; data empiris saja tidak cukup untuk menentukan teori mana yang
benar.
Kritikus seperti
Larry Laudan menegaskan bahwa jika banyak teori ilmiah masa lalu yang dulu
dianggap benar ternyata salah, maka tidak ada alasan kuat untuk percaya bahwa
teori ilmiah saat ini lebih benar secara ontologis.¹⁵ Kritik ini dikenal
sebagai pessimistic meta-induction argument,
yang menyatakan bahwa sejarah sains justru menunjukkan bahwa teori sukses pun
sering kali salah.¹⁶ Dengan demikian, klaim realisme ilmiah tentang kedekatan
teori dengan kebenaran menjadi sulit dipertahankan.
6.5.
Kritik dari
Anti-Realisme Empiris (van Fraassen)
Kritik paling
berpengaruh datang dari Bas C. van Fraassen, penggagas anti-realisme
empiris atau empirical constructive empiricism.¹⁷
Menurutnya, tujuan sains bukanlah untuk menemukan kebenaran tentang realitas
tak teramati, tetapi untuk menghasilkan teori yang empirically
adequate, yaitu teori yang sesuai dengan fenomena yang dapat
diamati.¹⁸ Dalam pandangan ini, tidak ada kebutuhan filosofis untuk mempercayai
bahwa entitas teoretis benar-benar ada; cukup mengakui bahwa teori berfungsi
dengan baik dalam memprediksi hasil eksperimen.
Van Fraassen menuduh
realisme ilmiah mengandung komitmen metafisik berlebih
yang tidak diperlukan untuk praktik sains.¹⁹ Ia menegaskan bahwa sains dapat
berfungsi sepenuhnya tanpa harus mengandaikan bahwa teori benar secara
ontologis.²⁰ Dengan demikian, anti-realisme empiris menawarkan bentuk
epistemologi yang lebih hemat secara ontologis (ontological parsimony), selaras
dengan prinsip Ockham’s razor.
Evaluasi
Kritis
Kritik-kritik di
atas menunjukkan bahwa realisme ilmiah menghadapi tantangan serius dalam
mempertahankan klaim kebenaran ontologisnya. Namun, banyak filsuf sains
berpendapat bahwa kritik tersebut lebih tepat dipahami sebagai batas
epistemik, bukan penolakan total terhadap realisme.²¹ Realisme
ilmiah yang moderat mengakui bahwa teori sains bersifat sementara dan
fallibilistik, tetapi tetap mengandung komitmen rasional terhadap eksistensi
struktur dunia yang dapat diketahui.²² Dengan demikian, kritik terhadap
realisme ilmiah memperkaya diskursus filsafat ilmu dengan menyoroti ketegangan
antara komitmen terhadap kebenaran dan kesadaran akan keterbatasan pengetahuan
manusia.²³
Footnotes
[1]
Rudolf Carnap, The Logical Structure of the World, trans. Rolf
A. George (Berkeley: University of California Press, 1967), 6–7.
[2]
Moritz Schlick, “Positivism and Realism,” in Logical Positivism,
ed. A. J. Ayer (New York: Free Press, 1959), 87–88.
[3]
Otto Neurath, “Protocol Statements,” in Philosophical Papers
1913–1946, ed. Robert S. Cohen and Marie Neurath (Dordrecht: Reidel,
1983), 91.
[4]
Pierre Duhem, The Aim and Structure of Physical Theory, trans.
Philip P. Wiener (Princeton: Princeton University Press, 1954), 19–21.
[5]
John Dewey, Logic: The Theory of Inquiry (New York: Henry
Holt, 1938), 507.
[6]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 73.
[7]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 58.
[8]
Karin Knorr-Cetina, Epistemic Cultures: How the Sciences Make
Knowledge (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1999), 14–16.
[9]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd
ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 111–114.
[10]
Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 136–137.
[11]
Paul Feyerabend, Against Method (London: Verso, 1975), 22–24.
[12]
Ian Hacking, Representing and Intervening (Cambridge:
Cambridge University Press, 1983), 48–49.
[13]
W. V. O. Quine, “Two Dogmas of Empiricism,” Philosophical Review
60, no. 1 (1951): 40–43.
[14]
Larry Laudan, “A Confutation of Convergent Realism,” Philosophy of
Science 48, no. 1 (1981): 22–23.
[15]
Laudan, “A Confutation of Convergent Realism,” 34.
[16]
Kyle Stanford, “Exceeding Our Grasp: Science, History, and the Problem
of Unconceived Alternatives,” Philosophy of Science 72, no. 4 (2006):
573–576.
[17]
Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 12–15.
[18]
van Fraassen, The Scientific Image, 18.
[19]
van Fraassen, The Scientific Image, 21–22.
[20]
van Fraassen, The Scientific Image, 24–25.
[21]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 150.
[22]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 41.
[23]
Boyd, “Scientific Realism,” 60.
7.
Varian dan Perkembangan Realisme Ilmiah
Realisme ilmiah
bukanlah pandangan yang monolitik; sepanjang perkembangannya, ia telah
melahirkan sejumlah varian konseptual yang berupaya
menjawab kritik dan memperhalus komitmen ontologis maupun epistemologisnya.
Variasi-variasi ini mencerminkan upaya filsuf sains untuk menyeimbangkan antara
keyakinan
terhadap kebenaran ilmiah dan kesadaran akan sifat tentatif pengetahuan
ilmiah. Di antara varian-varian utama yang muncul adalah realisme
struktural, realisme selektif, realisme
semantik, dan realisme modal.
7.1.
Realisme Struktural
(Structural Realism)
Realisme struktural
muncul sebagai tanggapan terhadap argumen pesimisme meta-induktif
yang menyatakan bahwa banyak teori ilmiah masa lalu terbukti salah.¹ John
Worrall berpendapat bahwa meskipun entitas dan terminologi ilmiah sering
berubah, struktur matematis dan relasional
dalam teori-teori ilmiah tetap bertahan.² Contohnya, transisi dari fisika
Newtonian ke relativistik memang mengubah konsep “massa” dan “ruang-waktu,”
tetapi mempertahankan struktur formal hubungan-hubungan di antara besaran
fisika.
Oleh karena itu, realisme
struktural epistemik menyatakan bahwa yang benar-benar kita
ketahui bukanlah hakikat entitas itu sendiri, melainkan struktur
relasional yang mengatur entitas tersebut.³ Pandangan ini
menggabungkan realisme dengan bentuk epistemologis yang lebih hati-hati: kita
realistis terhadap struktur dunia, tetapi agnostik terhadap hakikat internal
entitas yang menyusunnya.⁴ Dalam versi lebih radikal, realisme
struktural ontik, seperti yang dikembangkan oleh James Ladyman
dan Don Ross, menegaskan bahwa struktur itu sendiri adalah realitas,
dan entitas hanyalah posisi dalam jaringan relasional tersebut.⁵
7.2.
Realisme Selektif
(Selective Realism)
Realisme
selektif atau realisme entitas menekankan
bahwa tidak semua aspek teori ilmiah harus dianggap benar, melainkan hanya
bagian-bagian tertentu yang memiliki keberhasilan eksplanatori dan kausal nyata.⁶
Ian Hacking, misalnya, mengembangkan konsep entity realism, dengan argumen
terkenal “jika kita dapat memanipulasi entitas, maka entitas itu nyata.”⁷
Dengan kata lain, keberadaan entitas dapat dibenarkan melalui intervensi
eksperimental yang berhasil mengontrol fenomena di dunia.
Pandangan ini
menghindari komitmen terhadap keseluruhan isi teori (seperti struktur matematis
atau hipotesis metafisik), tetapi tetap mempertahankan keyakinan realistis
terhadap entitas yang dapat dioperasionalkan.⁸
Misalnya, walaupun teori kuantum mungkin memiliki interpretasi yang beragam,
keberadaan elektron dianggap nyata karena dapat dimanipulasi untuk menghasilkan
efek terukur dalam eksperimen.⁹
7.3.
Realisme Semantik
(Semantic Realism)
Realisme
semantik, yang diperkenalkan oleh Hilary Putnam dan Michael
Devitt, berangkat dari keyakinan bahwa bahasa ilmiah memiliki referensi yang nyata
terhadap dunia.¹⁰ Artinya, istilah-istilah ilmiah seperti
“atom” atau “gelombang elektromagnetik” tidak hanya berfungsi secara
instrumental, melainkan benar-benar menunjuk kepada entitas di dunia nyata.¹¹
Realisme semantik menegaskan bahwa kebenaran teori ilmiah harus dipahami
melalui korespondensi semantik antara
bahasa ilmiah dan dunia, bukan sekadar koherensi internal teori.
Dalam kerangka ini,
teori ilmiah dipandang sebagai sistem pernyataan yang memiliki nilai
kebenaran objektif, sehingga keberhasilannya bukan hanya
bersifat pragmatis, tetapi juga semantik.¹² Pandangan ini memperkuat dimensi representasional
realisme ilmiah, menjadikannya tanggapan langsung terhadap relativisme
linguistik dan konstruktivisme sosial yang menolak adanya hubungan langsung
antara bahasa ilmiah dan realitas.
7.4.
Realisme Modal (Modal
Realism dalam Sains)
Varian lain yang
berkembang adalah realisme modal ilmiah, yang
berfokus pada status metafisik dari kemungkinan dan keharusan ilmiah.¹³
Berbeda dari realisme metafisik umum seperti yang diusulkan oleh David Lewis,
realisme modal ilmiah menegaskan bahwa hukum-hukum alam merepresentasikan kemungkinan
kausal yang nyata di dunia.¹⁴ Dalam pandangan ini, sains tidak
hanya menggambarkan fakta aktual, tetapi juga menjelaskan apa yang
mungkin dan apa yang niscaya berdasarkan struktur kausal
realitas.¹⁵
Realisme modal
memiliki implikasi penting dalam fisika teoretis dan kosmologi, karena
memungkinkan pembahasan tentang kondisi-kondisi hipotetis (seperti multiverse,
atau keadaan awal alam semesta) tanpa jatuh ke dalam spekulasi non-empiris.¹⁶
Dengan demikian, realisme modal memperluas horizon realisme ilmiah ke dimensi
metafisika kemungkinan yang tetap berakar pada kerangka rasional-empiris.
Perkembangan
Kontemporer dan Sintesis
Dalam filsafat ilmu
kontemporer, muncul kecenderungan untuk menggabungkan unsur-unsur dari berbagai
bentuk realisme menjadi realisme pluralistik.¹⁷ Stathis
Psillos dan Anjan Chakravartty, misalnya, berupaya mensintesiskan aspek
ontologis, epistemologis, dan semantik realisme dalam suatu kerangka yang
koheren.¹⁸ Mereka berargumen bahwa realisme ilmiah dapat dipertahankan dengan
mengakui fallibilisme epistemik (bahwa
pengetahuan selalu dapat direvisi) tanpa melepaskan komitmen
ontologis terhadap realitas.
Realisme ilmiah
kontemporer juga semakin memperhatikan hubungan antara sains
dan metafisika.¹⁹ Diskusi modern mengenai realisme kuantum,
biologi evolusioner, dan kosmologi memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang “apa
yang nyata” kini mencakup dimensi interdisipliner yang menghubungkan
filsafat, fisika, dan biologi.²⁰ Oleh karena itu, perkembangan realisme ilmiah
modern bukan sekadar upaya mempertahankan pandangan klasik, melainkan
memperluasnya agar tetap relevan dengan kemajuan sains dan kompleksitas
pemahaman manusia tentang dunia.
Footnotes
[1]
Larry Laudan, “A Confutation of Convergent Realism,” Philosophy of
Science 48, no. 1 (1981): 23–25.
[2]
John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica
43, no. 1–2 (1989): 99–124.
[3]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 140.
[4]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 56.
[5]
James Ladyman and Don Ross, Every Thing Must Go: Metaphysics
Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 130–132.
[6]
Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford:
Clarendon Press, 1983), 45–47.
[7]
Ian Hacking, Representing and Intervening (Cambridge:
Cambridge University Press, 1983), 21–23.
[8]
Hacking, Representing and Intervening, 28.
[9]
Psillos, Scientific Realism, 146.
[10]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 73.
[11]
Michael Devitt, Realism and Truth, 2nd ed. (Princeton:
Princeton University Press, 1997), 16–18.
[12]
Devitt, Realism and Truth, 24.
[13]
Tim Maudlin, The Metaphysics within Physics (Oxford: Oxford
University Press, 2007), 68–70.
[14]
David Lewis, On the Plurality of Worlds (Oxford: Blackwell,
1986), 2–3.
[15]
Maudlin, The Metaphysics within Physics, 78.
[16]
Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Vintage,
1994), 97–99.
[17]
Psillos, Scientific Realism, 150.
[18]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 61–62.
[19]
Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge
University Press, 2001), 44.
[20]
Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary
Introduction (London: Routledge, 2012), 209–211.
8.
Sintesis Filosofis
Sintesis filosofis
dari realisme ilmiah berupaya menyatukan dimensi ontologis,
epistemologis,
dan metafisik
dari pandangan ini ke dalam suatu kerangka yang koheren. Realisme ilmiah tidak
hanya mengajukan klaim tentang apa yang ada di dunia, tetapi juga tentang bagaimana
manusia dapat mengetahui dan memahami realitas tersebut melalui sains. Dalam
konteks ini, realisme ilmiah berfungsi sebagai jembatan antara filsafat metafisika dan
filsafat ilmu, mengintegrasikan keyakinan terhadap keberadaan
realitas independen dengan metode empiris dan rasional yang menjadi ciri khas
ilmu pengetahuan modern.¹
8.1.
Integrasi Ontologi dan
Epistemologi
Dalam kerangka
sintesis, realisme ilmiah menolak dikotomi kaku antara realitas
objektif dan konstruksi pengetahuan manusia.
Dunia memang ada secara independen, tetapi hanya dapat dipahami melalui
kerangka konseptual dan teoretis yang dibangun manusia.² Dengan demikian,
pengetahuan ilmiah merupakan hasil ko-respondensi aktif antara
struktur realitas dan struktur kognitif manusia.³
Hal ini menunjukkan
bahwa epistemologi realisme ilmiah bersifat realistis sekaligus fallibilistik:
teori ilmiah dianggap benar sejauh ia sesuai dengan dunia, namun kebenaran itu
selalu terbuka untuk revisi berdasarkan bukti baru.⁴ Sintesis ini mempertemukan
dua aspek yang tampaknya berlawanan—komitmen terhadap realitas dan pengakuan
atas keterbatasan pengetahuan manusia—dalam satu pandangan yang dinamis dan
reflektif.
8.2.
Rekonsiliasi antara
Realisme dan Antirealisme
Sintesis filosofis
juga tampak dalam upaya realisme ilmiah untuk menjawab kritik dari
antirealisme. Realisme ilmiah kontemporer tidak lagi bersikap dogmatis,
melainkan inklusif dan moderat terhadap
keberatan empiris dan konstruktivis.⁵ Misalnya, pendekatan realisme
struktural berupaya menjembatani perbedaan tersebut dengan
menegaskan bahwa walaupun hakikat entitas mungkin tidak diketahui, struktur
hubungan di antara entitas tersebut tetap dapat direpresentasikan secara benar
oleh teori ilmiah.⁶
Dengan demikian,
realisme ilmiah modern bukanlah realisme naif yang menegaskan kesesuaian
sempurna antara teori dan dunia, melainkan realisme reflektif, yang
menyadari bahwa representasi ilmiah adalah pendekatan bertahap terhadap
kebenaran.⁷ Pandangan ini menjadikan sains bukan sekadar praktik empiris,
tetapi juga aktivitas filosofis yang melibatkan interpretasi metafisik terhadap
dunia.
8.3.
Kesatuan Metafisika
dan Rasionalitas Ilmiah
Salah satu hasil
sintesis penting dari realisme ilmiah adalah pengakuan terhadap kesatuan
antara metafisika dan rasionalitas ilmiah.⁸ Bagi realis ilmiah,
metafisika bukanlah spekulasi kosong, melainkan dimensi konseptual yang
membantu menjelaskan struktur terdalam realitas yang diungkap sains.⁹ Dalam hal
ini, hukum-hukum alam, kausalitas, dan esensi entitas ilmiah dipahami sebagai
bagian dari struktur metafisik dunia yang rasional dan dapat diselidiki secara
ilmiah.¹⁰
Stathis Psillos
menegaskan bahwa realisme ilmiah tidak hanya membenarkan sains secara
epistemologis, tetapi juga memberinya fondasi metafisik yang koheren,
di mana rasionalitas manusia dan keteraturan alam semesta saling
berkorespondensi.¹¹ Dengan demikian, sintesis filosofis realisme ilmiah
memperlihatkan bahwa filsafat dan sains bukan dua ranah yang terpisah,
melainkan saling memperkaya dalam memahami hakikat kenyataan.
8.4.
Realisme Ilmiah
sebagai Kerangka Rasional untuk Kemajuan Pengetahuan
Sintesis realisme
ilmiah juga dapat dilihat sebagai kerangka rasional bagi perkembangan ilmu
pengetahuan.¹² Dengan mengakui bahwa teori ilmiah merupakan
representasi parsial namun semakin mendekati kebenaran, realisme ilmiah
memberikan dasar bagi optimisme epistemologis terhadap kemajuan sains.¹³ Hal
ini menegaskan bahwa sejarah ilmu bukanlah rangkaian kekeliruan yang berulang,
melainkan proses evolusioner menuju pemahaman yang lebih baik tentang dunia.
Selain itu, realisme
ilmiah juga memiliki fungsi normatif: ia menegaskan bahwa sains harus tetap
berorientasi pada kebenaran dan realitas, bukan
sekadar utilitas atau konstruksi sosial.¹⁴ Dengan demikian, realisme ilmiah
menjaga integritas rasionalitas sains di tengah arus relativisme dan
pragmatisme yang mendominasi pemikiran kontemporer.¹⁵
Menuju
Realisme Kritis dan Terbuka
Akhirnya, bentuk
sintesis paling matang dari realisme ilmiah tampak dalam gagasan realisme
kritis dan terbuka (critical and open realism).¹⁶
Pandangan ini, sebagaimana dikembangkan oleh Roy Bhaskar, menekankan bahwa
realitas bersifat berlapis (stratified) dan dinamis: ada struktur kausal yang
nyata di luar persepsi manusia, tetapi pemahaman terhadapnya selalu bersifat
kontekstual dan historis.¹⁷
Realisme kritis
menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah adalah hasil dialog antara struktur
objektif alam dan struktur reflektif kesadaran manusia,
di mana kedua dimensi ini saling berinteraksi melalui proses penelitian ilmiah
yang kreatif.¹⁸ Dengan demikian, realisme ilmiah mencapai bentuk sintesis yang
paling inklusif—menggabungkan objektivitas ontologis dengan keterbukaan
epistemologis, rasionalitas ilmiah dengan refleksivitas filosofis.
Footnotes
[1]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 155–156.
[2]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 73.
[3]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 62–63.
[4]
W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London:
Routledge, 1981), 120–121.
[5]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 59–60.
[6]
John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica
43, no. 1–2 (1989): 99–124.
[7]
Psillos, Scientific Realism, 160–161.
[8]
Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge
University Press, 2001), 45.
[9]
Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 30–32.
[10]
Michael Esfeld, Philosophy of Science: A Unified Approach (New
York: Routledge, 2019), 113.
[11]
Psillos, Scientific Realism, 165.
[12]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 69.
[13]
Boyd, “Scientific Realism,” 61.
[14]
Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary
Introduction (London: Routledge, 2012), 210.
[15]
Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford:
Clarendon Press, 1983), 47.
[16]
Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso,
1975), 22–25.
[17]
Bhaskar, A Realist Theory of Science, 49–50.
[18]
Psillos, Scientific Realism, 170.
9.
Relevansi dan Aplikasi Kontemporer
Dalam konteks
filsafat dan ilmu pengetahuan kontemporer, realisme ilmiah tetap memainkan
peran penting sebagai fondasi konseptual bagi rasionalitas ilmiah, etika
penelitian, dan kebijakan publik berbasis sains. Meskipun menghadapi berbagai
bentuk kritik dari postmodernisme, konstruktivisme sosial, dan relativisme
epistemologis, realisme ilmiah menawarkan kerangka filosofis yang kuat untuk
memahami status ontologis teori ilmiah,
sekaligus memperkuat keyakinan bahwa sains adalah salah satu jalan paling
rasional untuk menyingkap struktur realitas.¹
Relevansi realisme
ilmiah tidak hanya terbatas pada filsafat ilmu, tetapi juga meluas ke
bidang-bidang seperti filsafat fisika, bioteknologi, kecerdasan
buatan, dan etika ilmiah, di mana pertanyaan tentang realitas
dan kebenaran empiris menjadi semakin kompleks.² Dalam dunia yang semakin
dipengaruhi oleh teknologi dan model-model ilmiah abstrak, realisme ilmiah
menegaskan pentingnya mempertahankan keyakinan bahwa representasi ilmiah
memiliki keterkaitan nyata dengan dunia yang independen dari konstruksi sosial.
9.1.
Relevansi dalam
Filsafat dan Metodologi Sains
Realisme ilmiah
menyediakan kerangka filosofis bagi objektivitas sains
di tengah maraknya pandangan relativistik.³ Dalam situasi di mana pengetahuan
sering dipengaruhi oleh politik, ekonomi, dan ideologi, realisme ilmiah
menegaskan bahwa sains memiliki komitmen terhadap kebenaran
ontologis—bukan sekadar kesepakatan sosial.⁴ Hal ini sangat
penting untuk mempertahankan legitimasi epistemik ilmu pengetahuan, terutama
ketika menghadapi krisis kepercayaan publik terhadap sains di era informasi dan
disinformasi.
Selain itu, dalam
metodologi penelitian, realisme ilmiah mendorong ilmuwan untuk mengembangkan
teori yang tidak hanya berfungsi secara pragmatis,
tetapi juga berakar pada realitas yang dapat dijelaskan
secara kausal.⁵ Dengan demikian, pendekatan ini
mengintegrasikan nilai-nilai empiris, teoretis, dan ontologis dalam kegiatan
ilmiah, menjadikannya paradigma yang kokoh bagi pengembangan pengetahuan yang
berkelanjutan.
9.2.
Aplikasi dalam Sains
Alam dan Fisika Modern
Dalam fisika
modern, realisme ilmiah memiliki relevansi yang mendalam
terhadap perdebatan tentang realitas entitas mikrofisik
seperti elektron, quark, dan medan kuantum.⁶ Pandangan ini menegaskan bahwa
meskipun entitas tersebut tidak dapat diamati secara langsung, mereka memiliki
eksistensi nyata karena memainkan peran kausal dalam menjelaskan fenomena yang
teramati.⁷
Dalam konteks teori
kuantum, perdebatan antara interpretasi Kopenhagen (yang lebih
instrumentalistik) dan interpretasi realistis (seperti teori variabel
tersembunyi David Bohm) memperlihatkan pentingnya posisi realisme ilmiah.⁸
Realisme ilmiah memberi dasar filosofis bagi keyakinan bahwa ketidakpastian
kuantum bukan berarti tidak adanya realitas, melainkan keterbatasan epistemik
manusia dalam mengukurnya.⁹
Selain itu, realisme
ilmiah juga mendukung penelitian di bidang kosmologi dan fisika teoretis,
misalnya dalam keyakinan terhadap realitas entitas seperti dark
matter dan dark energy, yang meskipun belum
teramati langsung, diperlukan untuk menjelaskan dinamika alam semesta.¹⁰
9.3.
Aplikasi dalam
Biologi, Kedokteran, dan Bioteknologi
Dalam biologi
molekuler dan bioteknologi, realisme ilmiah memberikan dasar
ontologis bagi keyakinan bahwa gen, protein, dan mekanisme seluler benar-benar
ada sebagai entitas kausal yang menjelaskan fenomena biologis.¹¹ Keyakinan
realistis terhadap entitas biologis ini memungkinkan pengembangan teknologi
seperti terapi gen, vaksin, dan rekayasa genetika yang efektif.¹²
Realisme ilmiah juga
memainkan peran penting dalam epistemologi kedokteran modern,
khususnya dalam membedakan antara penjelasan ilmiah dan narasi
pseudoscientific.¹³ Dengan menekankan keterkaitan antara teori, bukti, dan
realitas biologis, realisme ilmiah menjadi landasan filosofis bagi pengambilan
keputusan klinis yang berbasis bukti (evidence-based practice).
9.4.
Relevansi dalam Ilmu
Sosial dan Kecerdasan Buatan
Meskipun berakar
pada sains alam, realisme ilmiah juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam ilmu
sosial. Bentuknya yang dikenal sebagai realisme
kritis (critical realism) menegaskan bahwa
struktur sosial memiliki realitas yang independen dari kesadaran individu,
meskipun hanya dapat dipahami melalui konstruksi konseptual.¹⁴ Dalam konteks
ini, realisme ilmiah membantu menghindari reduksionisme empiris dan idealisme
subjektif dengan menempatkan realitas sosial sebagai tatanan yang memiliki kausalitas
emergen.¹⁵
Dalam kecerdasan
buatan (AI) dan ilmu data, realisme ilmiah juga menjadi
kerangka filosofis penting untuk menilai sejauh mana model matematis
benar-benar merepresentasikan realitas.¹⁶ Dalam era big data, di mana algoritma
sering menggantikan intuisi manusia, realisme ilmiah menegaskan perlunya hubungan
ontologis yang sahih antara model dan dunia nyata agar hasilnya
tidak sekadar akurat secara statistik, tetapi juga bermakna secara
eksplanatori.¹⁷
Implikasi
Etis dan Kebijakan Ilmiah
Realisme ilmiah
memiliki dimensi etis dan normatif yang kuat.
Dengan mengakui realitas objektif dan kebenaran ilmiah, pandangan ini menuntut
integritas dalam praktik ilmiah—bahwa teori dan data tidak boleh dimanipulasi
untuk kepentingan politik atau ekonomi.¹⁸ Dalam konteks perubahan iklim,
bioetika, dan kesehatan publik, realisme ilmiah memperkuat tanggung jawab
ilmuwan untuk menggambarkan dunia sebagaimana adanya,
bukan sebagaimana yang diinginkan.¹⁹
Selain itu, dalam
kebijakan publik berbasis sains, realisme ilmiah mendukung pendekatan evidence-based
policy, yaitu pembuatan keputusan berdasarkan fakta empiris
yang dapat diverifikasi, bukan opini atau dogma ideologis.²⁰ Dengan demikian,
realisme ilmiah berfungsi bukan hanya sebagai teori filosofis, tetapi juga
sebagai etika pengetahuan yang menegaskan hubungan antara kebenaran, tanggung
jawab, dan kemanusiaan.
Footnotes
[1]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 172.
[2]
Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary
Introduction (London: Routledge, 2012), 212.
[3]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 61–62.
[4]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 74.
[5]
W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London:
Routledge, 1981), 123.
[6]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 67.
[7]
Ian Hacking, Representing and Intervening (Cambridge:
Cambridge University Press, 1983), 21–22.
[8]
David Bohm, Wholeness and the Implicate Order (London:
Routledge, 1980), 120.
[9]
Tim Maudlin, Philosophy of Physics: Quantum Theory (Princeton:
Princeton University Press, 2019), 32.
[10]
Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Vintage,
1994), 91–93.
[11]
Elliott Sober, Philosophy of Biology, 2nd ed. (Boulder, CO:
Westview Press, 2000), 45.
[12]
Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 31.
[13]
Alex Broadbent, Philosophy of Medicine (Oxford: Oxford
University Press, 2019), 58–60.
[14]
Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso,
1975), 48.
[15]
Margaret Archer, Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach
(Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 12–14.
[16]
Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford
University Press, 2011), 187–189.
[17]
Judea Pearl, The Book of Why: The New Science of Cause and Effect
(New York: Basic Books, 2018), 102–104.
[18]
Heather Douglas, Science, Policy, and the Value-Free Ideal
(Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 2009), 112.
[19]
Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton
University Press, 2019), 133.
[20]
Sheila Jasanoff, The Fifth Branch: Science Advisers as Policymakers
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1990), 42–44.
10.
Kesimpulan
Realisme ilmiah,
dalam keseluruhan wacananya, menawarkan sebuah sintesis filosofis yang mendalam
antara ontologi,
epistemologi, dan metafisika ilmu pengetahuan. Ia berangkat
dari keyakinan dasar bahwa dunia memiliki realitas yang independen dari
persepsi manusia, dan bahwa teori-teori ilmiah—meskipun bersifat sementara dan
fallibilistik—secara aproksimatif menggambarkan struktur dan entitas dunia
tersebut.¹ Dalam pandangan ini, sains tidak sekadar membangun model pragmatis,
tetapi berupaya menyingkap tatanan ontologis alam semesta melalui metode
empiris dan penalaran rasional.²
Secara ontologis,
realisme ilmiah menegaskan bahwa entitas ilmiah yang tidak dapat diamati secara
langsung (seperti elektron, gen, atau medan gravitasi) memiliki
eksistensi nyata karena berperan secara kausal dalam menjelaskan fenomena yang
teramati.³ Posisi ini membedakannya dari instrumentalisme yang hanya menganggap
teori ilmiah sebagai alat untuk memprediksi, bukan menjelaskan. Dengan
demikian, realisme ilmiah meneguhkan keyakinan bahwa keberhasilan sains dalam
memprediksi dan menjelaskan fenomena bukanlah kebetulan, melainkan indikasi
bahwa teori-teori ilmiah benar secara mendekati (approximately true).⁴
Secara
epistemologis, realisme ilmiah menyatukan rasionalitas dan fallibilisme. Ia
mengakui bahwa pengetahuan ilmiah selalu terbuka terhadap revisi, namun proses
koreksi itu sendiri menjadi bukti dari kekuatan rasional sains.⁵ Dalam hal ini,
inferensi
terhadap penjelasan terbaik (inference to the best explanation)
menjadi prinsip epistemologis yang menjembatani antara keberhasilan empiris dan
keyakinan terhadap realitas ontologis.⁶ Melalui mekanisme inferensial inilah
sains mampu membangun pemahaman yang semakin mendekati realitas tanpa harus
mengklaim kebenaran absolut.
Dari sisi
metafisika, realisme ilmiah memberikan dasar bagi keberaturan
dan rasionalitas alam. Dunia tidak dipahami sebagai kumpulan
peristiwa acak, melainkan sebagai sistem yang terstruktur secara kausal dan
dapat diketahui.⁷ Dalam hal ini, hukum-hukum alam memiliki status ontologis
yang nyata, bukan sekadar deskripsi statistik.⁸ Metafisika realisme ilmiah
dengan demikian tidak bersifat spekulatif, melainkan merupakan refleksi
rasional atas keberhasilan sains dalam menemukan keteraturan yang inheren di
alam.
Dalam konteks
kontemporer, realisme ilmiah tetap relevan sebagai pandangan
filosofis yang menegakkan objektivitas, integritas, dan rasionalitas sains
di tengah tantangan relativisme dan postmodernisme.⁹ Ia juga memiliki implikasi
etis yang signifikan: dengan mengakui adanya realitas objektif, realisme ilmiah
menuntut kejujuran ilmiah dan tanggung jawab moral dalam praktik penelitian.¹⁰
Dalam era teknologi dan informasi, di mana batas antara fakta dan opini sering
kabur, realisme ilmiah menjadi penegasan penting atas nilai kebenaran dan
keandalan ilmiah sebagai dasar kemajuan pengetahuan manusia.¹¹
Akhirnya, realisme
ilmiah dapat dipandang sebagai komitmen filosofis terhadap rasionalitas
manusia: keyakinan bahwa dunia dapat dipahami melalui
penyelidikan ilmiah yang jujur, kritis, dan terbuka.¹² Ia menolak pesimisme
epistemik tanpa jatuh ke dalam dogmatisme, menggabungkan keyakinan akan
realitas dengan kesadaran akan keterbatasan manusia.¹³ Dengan demikian,
realisme ilmiah bukan hanya doktrin tentang keberadaan entitas ilmiah, tetapi
juga sikap
filosofis terhadap dunia—yakni kepercayaan bahwa pengetahuan sejati
adalah mungkin, dan bahwa usaha ilmiah adalah upaya manusia yang paling tulus
untuk memahami kenyataan sebagaimana adanya.¹⁴
Footnotes
[1]
Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth
(London: Routledge, 1999), 172–173.
[2]
Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science,
ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 61.
[3]
Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing
the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 15–18.
[4]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 73.
[5]
W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London:
Routledge, 1981), 120–122.
[6]
Peter Lipton, Inference to the Best Explanation, 2nd ed.
(London: Routledge, 2004), 56–59.
[7]
Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge
University Press, 2001), 33–34.
[8]
Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement
(Oxford: Clarendon Press, 1989), 26–27.
[9]
Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary
Introduction (London: Routledge, 2012), 210–211.
[10]
Heather Douglas, Science, Policy, and the Value-Free Ideal
(Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 2009), 110–112.
[11]
Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton
University Press, 2019), 133–135.
[12]
Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso,
1975), 49–50.
[13]
Psillos, Scientific Realism, 175.
[14]
Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 72.
Daftar Pustaka
Archer, M. (1995). Realist social theory: The
morphogenetic approach. Cambridge University Press.
Aristotle. (1924). Metaphysics (W. D. Ross,
Trans.). Clarendon Press.
Bhaskar, R. (1975). A realist theory of science.
Verso.
Bohm, D. (1980). Wholeness and the implicate
order. Routledge.
Boyd, R. (1996). Scientific realism. In D. Papineau
(Ed.), The philosophy of science (pp. 45–90). Oxford University Press.
Broadbent, A. (2019). Philosophy of medicine.
Oxford University Press.
Carnap, R. (1967). The logical structure of the
world (R. A. George, Trans.). University of California Press.
Cartwright, N. (1983). How the laws of physics
lie. Clarendon Press.
Cartwright, N. (1989). Nature’s capacities and
their measurement. Clarendon Press.
Chakravartty, A. (2007). A metaphysics for
scientific realism: Knowing the unobservable. Cambridge University Press.
Devitt, M. (1997). Realism and truth (2nd
ed.). Princeton University Press.
Douglas, H. (2009). Science, policy, and the
value-free ideal. University of Pittsburgh Press.
Dewey, J. (1929). The quest for certainty.
Minton, Balch & Co.
Dewey, J. (1938). Logic: The theory of inquiry.
Henry Holt.
Duhem, P. (1954). The aim and structure of
physical theory (P. P. Wiener, Trans.). Princeton University Press.
Ellis, B. (2001). Scientific essentialism.
Cambridge University Press.
Esfeld, M. (2019). Philosophy of science: A
unified approach. Routledge.
Feyerabend, P. (1975). Against method.
Verso.
Floridi, L. (2011). The philosophy of
information. Oxford University Press.
Galilei, G. (1957). The assayer (S. Drake,
Trans.). Cambridge University Press.
Hacking, I. (1983). Representing and intervening.
Cambridge University Press.
Harman, G. (1965). The inference to the best
explanation. Philosophical Review, 74(1), 88–95.
Jasanoff, S. (1990). The fifth branch: Science
advisers as policymakers. Harvard University Press.
Kant, I. (1929). Critique of pure reason (N.
Kemp Smith, Trans.). Macmillan.
Knorr-Cetina, K. (1999). Epistemic cultures: How
the sciences make knowledge. Harvard University Press.
Kuhn, T. S. (1970). The structure of scientific
revolutions (2nd ed.). University of Chicago Press.
Laudan, L. (1981). A confutation of convergent
realism. Philosophy of Science, 48(1), 19–49.
Ladyman, J., & Ross, D. (2007). Every thing
must go: Metaphysics naturalized. Oxford University Press.
Lewis, D. (1986). On the plurality of worlds.
Blackwell.
Lipton, P. (2004). Inference to the best
explanation (2nd ed.). Routledge.
Maudlin, T. (2007). The metaphysics within
physics. Oxford University Press.
Maudlin, T. (2019). Philosophy of physics:
Quantum theory. Princeton University Press.
Neurath, O. (1983). Protocol statements. In R. S.
Cohen & M. Neurath (Eds.), Philosophical papers 1913–1946 (pp.
90–94). Reidel.
Newton, I. (1687). Philosophiæ naturalis
principia mathematica. Royal Society.
Newton-Smith, W. H. (1981). The rationality of
science. Routledge.
Oreskes, N. (2019). Why trust science?
Princeton University Press.
Pearl, J. (2018). The book of why: The new
science of cause and effect. Basic Books.
Psillos, S. (1999). Scientific realism: How
science tracks truth. Routledge.
Putnam, H. (1981). Reason, truth and history.
Cambridge University Press.
Quine, W. V. O. (1951). Two dogmas of empiricism. Philosophical
Review, 60(1), 20–43.
Rosenberg, A. (2012). The philosophy of science:
A contemporary introduction. Routledge.
Schlick, M. (1959). Positivism and realism. In A.
J. Ayer (Ed.), Logical positivism (pp. 82–107). Free Press.
Sober, E. (2000). Philosophy of biology (2nd
ed.). Westview Press.
Stanford, K. (2006). Exceeding our grasp: Science,
history, and the problem of unconceived alternatives. Philosophy of Science,
72(4), 573–588.
Tarski, A. (1956). The concept of truth in
formalized languages (J. H. Woodger, Trans.). In Logic, semantics,
metamathematics (pp. 152–278). Clarendon Press.
van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image.
Clarendon Press.
Weinberg, S. (1994). Dreams of a final theory.
Vintage.
Worrall, J. (1989). Structural realism: The best of
both worlds? Dialectica, 43(1–2), 99–124.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar