Kamis, 27 November 2025

Realisme Ilmiah: Ontologi tentang Keberadaan Entitas Ilmiah dan Struktur Realitas

Realisme Ilmiah

Ontologi tentang Keberadaan Entitas Ilmiah dan Struktur Realitas


Alihkan ke: Aliran Filsafat Ontologi.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif aliran filsafat Realisme Ilmiah sebagai salah satu pandangan ontologis dalam filsafat ilmu yang menegaskan bahwa dunia dan entitas ilmiah eksis secara independen dari pikiran manusia. Realisme ilmiah berpijak pada keyakinan bahwa teori-teori ilmiah, meskipun bersifat sementara dan terbuka terhadap revisi, mampu merepresentasikan realitas dengan derajat kebenaran yang mendekati (approximately true). Pembahasan dimulai dari fondasi historis dan konseptual realisme ilmiah, yang berakar pada pemikiran Aristoteles hingga berkembang dalam filsafat sains modern melalui karya tokoh-tokoh seperti Hilary Putnam, Stathis Psillos, dan Richard Boyd. Secara ontologis, realisme ilmiah mengakui struktur kausal dan hukum alam sebagai entitas nyata, sementara secara epistemologis ia mengandalkan inferensi terhadap penjelasan terbaik sebagai dasar rasionalitas ilmiah. Artikel ini juga menguraikan implikasi metafisiknya terhadap pemahaman hukum alam, kausalitas, dan esensialisme ilmiah, serta menelaah berbagai kritik dari positivisme logis, instrumentalisme, konstruktivisme sosial, dan anti-realisme empiris.

Selanjutnya, dibahas pula varian-varian realisme ilmiah seperti realisme struktural, selektif, semantik, dan modal yang menunjukkan perkembangan reflektif pandangan ini dalam menghadapi kompleksitas sains modern. Melalui sintesis filosofis, realisme ilmiah dipahami sebagai jembatan antara metafisika dan epistemologi, menggabungkan keyakinan terhadap realitas objektif dengan pengakuan atas keterbatasan pengetahuan manusia. Dalam konteks kontemporer, realisme ilmiah tetap relevan sebagai fondasi bagi objektivitas, integritas, dan rasionalitas sains di era pasca-modern yang ditandai oleh relativisme epistemik dan teknologi canggih. Artikel ini menegaskan bahwa realisme ilmiah bukan sekadar teori tentang keberadaan entitas ilmiah, tetapi juga sikap filosofis terhadap dunia—yakni komitmen terhadap kebenaran, rasionalitas, dan tanggung jawab etis dalam pencarian pengetahuan ilmiah.

Kata kunci: Realisme ilmiah, ontologi, epistemologi ilmiah, kausalitas, hukum alam, realisme struktural, anti-realisme, metafisika sains, rasionalitas ilmiah, inferensi terhadap penjelasan terbaik.


PEMBAHASAN

Konsep, Ontologi, dan Epistemologi Realisme Ilmiah


1.           Pendahuluan

Pertanyaan tentang hakikat realitas dan bagaimana sains menggambarkannya telah menjadi tema sentral dalam filsafat sejak zaman Yunani kuno. Dalam tradisi ontologi, realitas dipahami sebagai sesuatu yang ada secara independen dari kesadaran manusia. Namun, munculnya sains modern membawa dimensi baru dalam perdebatan ontologis, yakni apakah teori-teori ilmiah benar-benar menggambarkan dunia sebagaimana adanya, atau sekadar alat pragmatis untuk memprediksi fenomena yang teramati. Di sinilah lahir posisi filosofis yang disebut realisme ilmiah (scientific realism), yang berupaya mempertahankan keyakinan bahwa teori ilmiah, dalam batas tertentu, merepresentasikan struktur dan entitas dunia yang nyata.

Realisme ilmiah berakar pada pandangan bahwa keberhasilan sains bukanlah suatu kebetulan. Jika teori ilmiah hanya merupakan instrumen praktis tanpa dasar kebenaran ontologis, maka sulit dijelaskan mengapa teori tersebut begitu berhasil dalam memprediksi fenomena alam yang kompleks dan belum pernah diamati sebelumnya. Oleh karena itu, realisme ilmiah menegaskan bahwa keberhasilan prediktif dan teknologi sains merupakan indikasi kuat bahwa teori ilmiah benar secara aproksimatif terhadap realitas objektif di luar pikiran manusia.¹

Secara historis, akar realisme ilmiah dapat ditelusuri sejak Aristoteles yang menegaskan bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan tentang “yang ada sebagaimana adanya.”² Namun, bentuk modernnya baru berkembang pada abad ke-19 dan ke-20, seiring dengan kemajuan fisika Newtonian, teori atom Dalton, dan kemudian teori relativitas serta mekanika kuantum. Dalam konteks ini, realisme ilmiah muncul sebagai tanggapan terhadap anti-realisme dan instrumentalisme, yang cenderung memandang teori ilmiah hanya sebagai alat konseptual tanpa komitmen ontologis terhadap entitas tak teramati seperti elektron, medan gravitasi, atau gen.³

Masalah utama yang dihadapi realisme ilmiah adalah bagaimana menjembatani kesenjangan antara teori ilmiah (sebagai konstruksi rasional) dan realitas ontologis (sebagai dunia yang independen). Permasalahan ini menimbulkan perdebatan epistemologis mendalam: sejauh mana teori ilmiah benar-benar mencerminkan dunia nyata, dan apakah keberhasilan empiris cukup untuk membenarkan realitas ontologis dari entitas ilmiah?⁴ Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar bagi perumusan realisme ilmiah sebagai pandangan ontologis sekaligus epistemologis dalam filsafat ilmu.

Tujuan utama pembahasan ini adalah untuk menguraikan fondasi ontologis realisme ilmiah, menelaah argumen-argumen utamanya, serta meninjau relevansinya dalam perkembangan sains kontemporer. Dengan menggabungkan pendekatan historis dan analitis, tulisan ini berupaya menunjukkan bahwa realisme ilmiah bukan hanya posisi filsafat ilmu, tetapi juga sebuah komitmen terhadap rasionalitas dan objektivitas pengetahuan manusia.⁵


Footnotes

[1]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 72.

[2]                Aristoteles, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), 1003a–1004b.

[3]                Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 12–17.

[4]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 47–49.

[5]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 70–73.


2.           Landasan Historis dan Konseptual Realisme Ilmiah

Perkembangan realisme ilmiah tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang filsafat dan ilmu pengetahuan yang berupaya memahami hakikat realitas. Sejak masa filsafat Yunani kuno, perdebatan mengenai apakah dunia yang kita amati benar-benar sebagaimana tampak atau sekadar penampakan fenomenal sudah menjadi tema utama pemikiran ontologis. Plato menekankan realitas ide sebagai bentuk kebenaran yang sejati, sementara Aristoteles menegaskan bahwa realitas konkret (substance) adalah dasar dari segala eksistensi dan dapat diketahui melalui pengamatan dan penalaran rasional.¹ Gagasan Aristoteles inilah yang kemudian memberi dasar bagi pandangan realistis terhadap dunia empiris, yaitu keyakinan bahwa pengetahuan manusia dapat menyingkap struktur ontologis realitas.

Memasuki era sains modern, tokoh-tokoh seperti Galileo Galilei dan Isaac Newton memperkuat orientasi realistis dalam ilmu pengetahuan. Galileo berpendapat bahwa alam semesta bersifat teratur dan dapat dipahami melalui hukum-hukum matematis, sedangkan Newton menegaskan keberadaan hukum-hukum alam universal yang bekerja secara objektif tanpa bergantung pada pengamat.² Dalam paradigma ini, dunia dipahami sebagai sistem yang memiliki struktur rasional dan dapat dijelaskan secara kausal, sehingga teori ilmiah dianggap berfungsi untuk menggambarkan realitas, bukan sekadar memprediksinya.³

Namun, pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, muncul gerakan positivisme logis dan instrumentalisme yang menantang dasar ontologis realisme ilmiah. Positivis logis dari Lingkaran Wina, seperti Rudolf Carnap dan Moritz Schlick, menolak komitmen terhadap entitas tak teramati, dengan alasan bahwa makna pernyataan ilmiah hanya bergantung pada verifikasi empiris.⁴ Dalam pandangan ini, teori ilmiah hanyalah alat untuk mengorganisasi pengalaman dan bukan representasi dari realitas yang mendasarinya. Pandangan ini berkembang menjadi instrumentalisme, sebagaimana dikemukakan oleh John Dewey dan Pierre Duhem, yang melihat teori ilmiah sebagai instrumen pragmatis untuk memecahkan masalah, bukan sebagai deskripsi ontologis tentang dunia.⁵

Sebagai reaksi terhadap kecenderungan anti-realistis tersebut, muncul kembali realisme ilmiah modern pada paruh kedua abad ke-20, terutama melalui karya Hilary Putnam, Richard Boyd, dan Stathis Psillos. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan sains dalam memprediksi dan menjelaskan fenomena alam yang kompleks tidak mungkin hanya kebetulan. Argumen ini dikenal sebagai “no miracles argument”, yakni bahwa satu-satunya penjelasan terbaik atas keberhasilan empiris sains adalah bahwa teori-teori ilmiah secara aproksimatif benar dan entitas yang mereka postulatkan benar-benar ada.⁶ Dengan demikian, realisme ilmiah tidak hanya berfungsi sebagai posisi epistemologis, tetapi juga sebagai komitmen ontologis terhadap eksistensi dunia eksternal yang terstruktur dan dapat diketahui.

Secara konseptual, realisme ilmiah menegaskan tiga tesis utama. Pertama, tesis ontologis: dunia fisik dan entitas ilmiah eksis secara independen dari pikiran atau konstruksi sosial. Kedua, tesis semantik: teori ilmiah harus dipahami secara realistis, yakni istilah-istilahnya mengacu pada entitas nyata di dunia. Ketiga, tesis epistemik: teori ilmiah yang sukses secara empiris dapat dianggap mendekati kebenaran (approximately true).⁷ Ketiga aspek ini membentuk inti dari realisme ilmiah yang memandang sains sebagai pencarian kebenaran tentang dunia yang objektif dan teratur.

Dengan demikian, realisme ilmiah berdiri di persimpangan antara ontologi dan epistemologi: ia bukan sekadar membahas cara kita mengetahui dunia, tetapi juga apa yang benar-benar ada dalam dunia yang diketahui. Dalam konteks filsafat ilmu kontemporer, posisi ini tetap menjadi salah satu yang paling berpengaruh karena menawarkan fondasi rasional bagi klaim kebenaran ilmiah tanpa terjebak dalam relativisme atau skeptisisme ekstrem.⁸


Footnotes

[1]                Aristoteles, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1924), 1005b–1006a.

[2]                Galileo Galilei, The Assayer, trans. Stillman Drake (Cambridge: Cambridge University Press, 1957), 183–186.

[3]                Isaac Newton, Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica (London: Royal Society, 1687), 43–45.

[4]                Rudolf Carnap, The Logical Structure of the World, trans. Rolf A. George (Berkeley: University of California Press, 1967), 7–10.

[5]                John Dewey, The Quest for Certainty (New York: Minton, Balch & Co., 1929), 120–122.

[6]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 73–75.

[7]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 75–80.

[8]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 48–52.


3.           Ontologi dalam Realisme Ilmiah

Ontologi dalam realisme ilmiah berangkat dari keyakinan bahwa dunia memiliki struktur dan keberadaan objektif yang independen dari kesadaran manusia. Realitas tidak diciptakan oleh persepsi, bahasa, atau teori, melainkan sudah ada terlebih dahulu dan menjadi objek penyelidikan ilmiah.¹ Dengan demikian, realisme ilmiah menolak pandangan konstruktivis maupun idealis yang menganggap bahwa entitas ilmiah hanyalah hasil dari konstruksi teoretis atau konvensi sosial. Bagi realisme ilmiah, keberadaan elektron, gen, atau medan gravitasi bukanlah fiksi ilmiah, melainkan entitas nyata yang memainkan peran kausal dalam menjelaskan fenomena alam.

3.1.       Realitas sebagai Struktur yang Independen

Secara ontologis, realisme ilmiah mengakui bahwa dunia terdiri atas entitas dan struktur kausal yang tidak bergantung pada observasi manusia.² Hal ini menegaskan perbedaan antara realitas ontologis (apa yang ada) dan pengetahuan epistemologis (apa yang kita ketahui tentangnya).³ Realitas mungkin tidak sepenuhnya dapat diketahui, tetapi keberadaannya tidak bergantung pada aktivitas kognitif subjek. Dalam hal ini, realisme ilmiah mempertahankan apa yang disebut mind-independent reality, yaitu realitas yang tetap ada bahkan jika tidak ada pengamat manusia.⁴

Pendekatan ini berbeda dari anti-realisme yang menolak komitmen terhadap entitas tak teramati. Misalnya, ketika ilmuwan berbicara tentang quark atau gelombang gravitasi, realis ilmiah berpendapat bahwa entitas tersebut benar-benar eksis dalam dunia fisik, meskipun hanya dapat dideteksi melalui inferensi tidak langsung dan instrumen.⁵ Dengan demikian, teori ilmiah bukanlah sekadar model atau metafora, melainkan representasi parsial namun mendekati kebenaran dari struktur dunia nyata.

3.2.       Entitas Ilmiah sebagai Entitas Nyata

Realisme ilmiah menegaskan bahwa entitas yang dipostulatkan oleh teori ilmiah memiliki status ontologis yang nyata.⁶ Artinya, entitas semacam elektron, proton, atau gen bukan hanya alat konseptual untuk menjelaskan fenomena, tetapi benar-benar ada sebagai bagian dari struktur ontologis alam. Pandangan ini diperkuat oleh keberhasilan eksplanatori dan prediktif teori-teori ilmiah yang menggunakan entitas tersebut. Argumen ini dikenal sebagai no miracles argument: keberhasilan luar biasa sains dalam memprediksi fenomena tidak dapat dijelaskan jika teori-teorinya tidak secara aproksimatif benar.⁷

Namun, realisme ilmiah tidak menyatakan bahwa teori ilmiah selalu benar secara mutlak. Teori-teori tersebut dapat berubah atau diperbaiki seiring kemajuan pengetahuan, tetapi revisi itu tidak menghapus kenyataan dasar bahwa teori ilmiah menggambarkan aspek dunia nyata.⁸ Karena itu, realisme ilmiah disebut sebagai realisme aproksimatif (approximate realism), yakni pandangan bahwa teori yang berhasil secara empiris setidaknya mendekati kebenaran tentang realitas ontologis.⁹

3.3.       Struktur Ontologis dan Hukum Alam

Realisme ilmiah tidak hanya menegaskan keberadaan entitas, tetapi juga struktur dan hukum yang mengatur interaksi antar-entitas tersebut. Dunia dipandang sebagai tatanan yang terstruktur dan rasional, di mana hukum-hukum alam memiliki dasar ontologis yang nyata, bukan sekadar deskripsi matematis empiris.¹⁰ Dengan demikian, hukum-hukum ilmiah dipahami sebagai ekspresi dari keteraturan kausal dalam realitas, bukan sekadar generalisasi induktif dari pengalaman manusia.¹¹

Dalam konteks ini, muncul bentuk turunan dari realisme ilmiah yang disebut realisme struktural (structural realism), yang menekankan bahwa apa yang benar-benar direpresentasikan oleh teori ilmiah bukanlah entitas individualnya, melainkan struktur hubungan matematis yang tetap konsisten meskipun teori berubah.¹² Hal ini tampak dalam transisi dari mekanika Newton ke teori relativitas Einstein: meskipun entitas dan istilah berubah, struktur matematis tertentu tetap lestari, menandakan bahwa sains memang mencerminkan struktur mendalam dari realitas.

3.4.       Ontologi dan Kausalitas Alam

Dalam pandangan realis ilmiah, dunia tidak hanya terdiri dari benda-benda statis, tetapi juga dari hubungan kausal yang aktif.¹³ Kausalitas di sini bukan sekadar konstruksi epistemologis untuk menjelaskan korelasi, tetapi merupakan aspek ontologis dari realitas itu sendiri. Hubungan sebab-akibat menjadi struktur fundamental yang memungkinkan penjelasan ilmiah.¹⁴ Dengan demikian, hukum alam bukan hanya pola empiris, tetapi manifestasi dari tatanan kausal yang objektif dan stabil di alam semesta.

Kesimpulannya, ontologi realisme ilmiah menegaskan bahwa realitas bersifat independen, terstruktur, dan kausal. Ilmu pengetahuan bukan menciptakan realitas, melainkan menyingkapnya secara bertahap melalui teori yang semakin mendekati kebenaran. Realisme ilmiah, dalam kerangka ini, merupakan bentuk komitmen metafisik terhadap dunia yang dapat diketahui secara rasional dan empiris, tanpa menafikan keterbatasan manusia dalam memahaminya.¹⁵


Footnotes

[1]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 87.

[2]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 15–18.

[3]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 49.

[4]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 67.

[5]                Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 14–16.

[6]                Psillos, Scientific Realism, 90–92.

[7]                Putnam, Reason, Truth and History, 73–74.

[8]                Boyd, “Scientific Realism,” 51–53.

[9]                Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 25.

[10]             Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement (Oxford: Clarendon Press, 1989), 21–23.

[11]             Michael Esfeld, Philosophy of Science: A Unified Approach (New York: Routledge, 2019), 112.

[12]             John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[13]             Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 30–35.

[14]             Cartwright, Nature’s Capacities, 27.

[15]             Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 40–42.


4.           Epistemologi Realisme Ilmiah

Epistemologi realisme ilmiah berfokus pada hubungan antara pengetahuan ilmiah dan realitas objektif yang diasumsikan oleh sains. Jika ontologi realisme ilmiah menegaskan bahwa dunia memiliki struktur dan entitas yang eksis secara independen, maka epistemologi realisme ilmiah menjawab pertanyaan: bagaimana manusia mengetahui realitas tersebut melalui teori ilmiah? Dengan kata lain, realisme ilmiah tidak hanya berbicara tentang “apa yang ada,” tetapi juga “bagaimana kita mengetahui apa yang ada.”

4.1.       Hubungan antara Teori dan Realitas

Realisme ilmiah menolak pandangan bahwa teori ilmiah hanyalah alat pragmatis untuk mengorganisasi pengalaman atau memprediksi fenomena. Sebaliknya, teori ilmiah dianggap merepresentasikan realitas secara aproksimatif.¹ Hal ini berarti bahwa istilah-istilah dalam teori ilmiah, seperti “elektron,” “medan gravitasi,” atau “gen,” benar-benar merujuk pada entitas yang ada dalam dunia nyata, meskipun tidak dapat diamati secara langsung.² Pandangan ini berakar pada tesis korespondensi kebenaran, yakni bahwa pernyataan atau teori ilmiah benar apabila sesuai dengan keadaan faktual dunia.³

Dalam kerangka ini, hubungan antara teori dan realitas bersifat inferensial dan representasional. Teori tidak menciptakan realitas, tetapi mengungkapkan struktur dan mekanisme kausal yang ada di balik fenomena.⁴ Dengan demikian, teori ilmiah dipahami sebagai model konseptual yang memiliki nilai kebenaran ontologis, bukan sekadar konstruksi linguistik atau sosial.⁵

4.2.       Kebenaran sebagai Korespondensi dan Aproksimasi

Dalam epistemologi realisme ilmiah, kebenaran ilmiah dipahami bukan sebagai absolut, melainkan sebagai aproksimasi terhadap realitas.⁶ Ini berarti teori ilmiah dapat mendekati kebenaran tanpa harus benar secara sempurna. Contohnya, meskipun teori Newton terbukti tidak sepenuhnya akurat dalam konteks relativitas, teori tersebut tetap dianggap mendekati kebenaran dalam skala tertentu karena berhasil menjelaskan sebagian besar fenomena fisika klasik.⁷

Dengan demikian, kebenaran ilmiah memiliki sifat asymptotic: setiap teori membawa kita lebih dekat kepada realitas, meskipun tidak pernah mencapainya secara total.⁸ Proses ini mencerminkan sifat dinamis sains yang selalu terbuka terhadap revisi dan perbaikan. Dalam kerangka ini, kebenaran ilmiah bersifat evolusioner, bukan dogmatis.⁹

4.3.       Inferensi terhadap Penjelasan Terbaik

Salah satu prinsip epistemologis terpenting dalam realisme ilmiah adalah inferensi terhadap penjelasan terbaik (inference to the best explanation, IBE).¹⁰ Prinsip ini menyatakan bahwa apabila suatu teori memberikan penjelasan paling komprehensif, konsisten, dan prediktif terhadap fenomena, maka teori tersebut layak dipercaya sebagai mendekati kebenaran.¹¹ Dengan kata lain, realisme ilmiah membenarkan kepercayaan terhadap entitas tak teramati (seperti elektron atau quark) karena teori yang melibatkan entitas tersebut telah terbukti paling efektif dalam menjelaskan dan memprediksi fenomena empiris.

Hilary Putnam menyebut prinsip ini sebagai bentuk realitas epistemik yang rasional, di mana keberhasilan teori ilmiah tidak dapat dijelaskan kecuali teori tersebut setidaknya sebagian benar.¹² Pandangan ini secara langsung menentang instrumentalisme yang hanya menilai teori dari segi kegunaannya, bukan kebenarannya.¹³ Dengan demikian, IBE menjadi jembatan antara keberhasilan empiris dan keabsahan ontologis dalam sains.

4.4.       Realisme terhadap Entitas Tak Teramati

Realisme ilmiah memandang bahwa pengetahuan ilmiah tidak terbatas pada fenomena yang dapat diamati secara langsung.¹⁴ Melalui inferensi ilmiah, kita dapat mengetahui keberadaan entitas yang tak teramati secara langsung namun memiliki efek kausal terhadap dunia empiris. Misalnya, keberadaan virus, struktur atom, atau medan elektromagnetik diketahui melalui dampaknya terhadap fenomena yang teramati.¹⁵ Dalam hal ini, epistemologi realisme ilmiah menegaskan bahwa observasi hanyalah salah satu sumber pengetahuan; teori yang koheren dan prediktif juga dapat menjadi dasar rasional bagi keyakinan terhadap realitas entitas tak teramati.¹⁶

Dengan demikian, batas antara “yang teramati” dan “yang tak teramati” bersifat metodologis, bukan ontologis.¹⁷ Artinya, meskipun manusia tidak dapat mengamati langsung beberapa entitas ilmiah, eksistensinya tetap diakui karena memiliki konsekuensi empiris dan eksplanatori yang nyata.

4.5.       Rasionalitas dan Fallibilisme Ilmiah

Epistemologi realisme ilmiah juga menegaskan sikap fallibilisme, yaitu pengakuan bahwa semua teori ilmiah bersifat sementara dan dapat direvisi.¹⁸ Namun, hal ini tidak berarti relativisme atau skeptisisme. Justru, fallibilisme menjadi dasar bagi rasionalitas ilmiah: sains terus berkembang karena kesadarannya bahwa setiap pengetahuan adalah hasil penyelidikan yang terbuka untuk koreksi.¹⁹ Oleh karena itu, realisme ilmiah memadukan dua hal yang tampaknya berlawanan: keyakinan terhadap keberadaan realitas objektif dan pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan manusia.²⁰


Footnotes

[1]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 49–52.

[2]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 74–76.

[3]                Alfred Tarski, “The Concept of Truth in Formalized Languages,” in Logic, Semantics, Metamathematics, trans. J. H. Woodger (Oxford: Clarendon Press, 1956), 152–153.

[4]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 23.

[5]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 70–73.

[6]                Psillos, Scientific Realism, 90–91.

[7]                Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon Press, 1983), 32–34.

[8]                Boyd, “Scientific Realism,” 54.

[9]                W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London: Routledge, 1981), 120–122.

[10]             Gilbert Harman, “The Inference to the Best Explanation,” Philosophical Review 74, no. 1 (1965): 88–95.

[11]             Peter Lipton, Inference to the Best Explanation, 2nd ed. (London: Routledge, 2004), 56–59.

[12]             Putnam, Reason, Truth and History, 73.

[13]             Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 12–15.

[14]             Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 28–30.

[15]             Psillos, Scientific Realism, 97.

[16]             Newton-Smith, The Rationality of Science, 125.

[17]             van Fraassen, The Scientific Image, 18.

[18]             Boyd, “Scientific Realism,” 58–59.

[19]             Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 27–28.

[20]             Psillos, Scientific Realism, 100–101.


5.           Implikasi Metafisik dan Ilmiah

Implikasi metafisik dan ilmiah dari realisme ilmiah berkaitan erat dengan konsekuensi ontologis dan epistemologis yang timbul ketika seseorang mengakui bahwa teori-teori ilmiah benar-benar menggambarkan dunia nyata. Realisme ilmiah tidak hanya merupakan posisi dalam filsafat ilmu, tetapi juga mengandung komitmen metafisik terhadap struktur realitas dan hukum-hukum alam. Dengan demikian, realisme ilmiah membentuk dasar bagi pemahaman mendalam tentang hakikat eksistensi, kausalitas, dan rasionalitas alam semesta sebagaimana diungkapkan melalui sains.

5.1.       Metafisika Realitas Ilmiah

Dalam kerangka metafisik, realisme ilmiah menegaskan bahwa dunia memiliki struktur ontologis yang independen, teratur, dan rasional.¹ Struktur ini menjadi landasan bagi keberfungsian hukum-hukum alam dan memungkinkan pengetahuan ilmiah bersifat kumulatif serta konsisten.² Dengan demikian, metafisika realisme ilmiah berangkat dari keyakinan bahwa hukum-hukum alam tidak hanya merupakan deskripsi empiris, melainkan ekspresi dari keteraturan kausal yang nyata.³

Pandangan ini berimplikasi pada pengakuan terhadap esensialisme ilmiah, yakni keyakinan bahwa benda-benda memiliki sifat esensial yang menentukan perilakunya dalam berbagai kondisi.⁴ Sebagai contoh, sifat massa dan muatan listrik merupakan esensi yang menentukan bagaimana partikel berinteraksi dalam struktur fisik alam. Dengan demikian, metafisika realisme ilmiah menegaskan bahwa realitas memiliki struktur kausal yang dapat diketahui, bukan sekadar jaringan korelasi empiris.⁵

5.2.       Kausalitas dan Hukum Alam

Realisme ilmiah memberikan dasar filosofis bagi konsep kausalitas yang kuat (robust causation). Dalam pandangan ini, hubungan sebab-akibat bukanlah konstruksi mental atau pola observasi, melainkan relasi ontologis yang sungguh-sungguh ada di dalam dunia.⁶ Hukum alam, dengan demikian, dipandang sebagai pernyataan tentang hubungan kausal yang objektif, bukan sekadar generalisasi statistik dari fenomena yang diamati.⁷

Nancy Cartwright menekankan bahwa hukum-hukum ilmiah “tidak berbohong,” melainkan menggambarkan kapasitas alamiah entitas untuk bertindak sesuai dengan struktur kausalnya.⁸ Pandangan ini memberikan dasar metafisik bagi keandalan sains dalam menjelaskan fenomena alam. Ketika ilmuwan menjelaskan mengapa air mendidih pada 100°C di bawah tekanan standar, mereka tidak sekadar mengamati pola berulang, tetapi memahami keterkaitan kausal antara energi panas dan ikatan molekuler air.⁹ Dengan demikian, realisme ilmiah memberikan justifikasi ontologis terhadap keharusan kausal (necessity) dalam hukum alam.

5.3.       Implikasi terhadap Naturalisme dan Rasionalitas Sains

Realisme ilmiah memiliki implikasi yang signifikan terhadap naturalisme ilmiah, yaitu pandangan bahwa seluruh fenomena alam dapat dijelaskan melalui prinsip dan metode ilmiah tanpa perlu mengacu pada penjelasan supranatural.¹⁰ Dengan berasumsi bahwa dunia nyata dapat diketahui melalui sains, realisme ilmiah mendukung posisi bahwa rasionalitas manusia berakar pada keteraturan realitas itu sendiri.¹¹

Metafisika realisme ilmiah menolak pandangan dualistik yang memisahkan dunia fenomenal dari dunia noumenal.¹² Sebaliknya, ia menegaskan kesatuan ontologis antara manusia dan alam semesta—bahwa struktur rasional yang ada dalam pikiran manusia mencerminkan struktur rasional yang melekat dalam realitas.¹³ Hal ini memperkuat kepercayaan terhadap rasionalitas sains, yaitu bahwa sains bukan sekadar konstruksi sosial, tetapi ekspresi dari kemampuan manusia untuk memahami dunia sebagaimana adanya.

5.4.       Implikasi bagi Ilmu-ilmu Alam dan Modernitas

Dalam ranah ilmiah, realisme ilmiah berimplikasi langsung terhadap cara sains memandang entitas dan teori-teorinya. Misalnya, dalam fisika modern, realisme ilmiah memberikan dasar bagi kepercayaan terhadap keberadaan entitas seperti elektron, quark, dan medan kuantum, meskipun tidak dapat diamati secara langsung.¹⁴ Dalam biologi molekuler, realisme ilmiah mendasari keyakinan terhadap eksistensi struktur genetik yang menjelaskan sifat-sifat organisme.¹⁵

Demikian pula, dalam kosmologi, realisme ilmiah memungkinkan ilmuwan berbicara secara bermakna tentang entitas seperti lubang hitam, energi gelap, dan materi gelap sebagai entitas yang benar-benar ada, bukan sekadar model matematis.¹⁶ Dalam konteks ini, realisme ilmiah memperluas cakrawala epistemologis sains dengan memberikan legitimasi ontologis terhadap teori-teori yang melampaui observasi langsung.


Kesatuan Metafisika dan Ilmu Pengetahuan

Implikasi metafisik yang paling mendalam dari realisme ilmiah adalah pandangan tentang kesatuan antara ontologi dan epistemologi sains. Dunia yang dijelaskan oleh sains tidak berbeda dari dunia yang kita huni; sains justru memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang dunia tersebut.¹⁷ Dengan demikian, realisme ilmiah menolak dikotomi antara “dunia ilmiah” dan “dunia sehari-hari.” Ia menegaskan bahwa realitas ilmiah dan realitas empiris adalah dua aspek dari tatanan ontologis yang sama, hanya dibedakan oleh tingkat kedalaman penjelasan.¹⁸

Pandangan ini berimplikasi pada metafisika kontinuitas (metaphysics of continuity), yakni bahwa setiap kemajuan ilmiah merepresentasikan langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang realitas, bukan lompatan arbitrer antarparadigma sebagaimana diasumsikan oleh konstruktivisme sosial.¹⁹ Dalam kerangka ini, realisme ilmiah menjadi jembatan antara metafisika klasik dan sains modern, sekaligus memperkuat fondasi filosofis bagi rasionalitas ilmiah yang berorientasi pada kebenaran.


Footnotes

[1]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 115.

[2]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 55–56.

[3]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 22–23.

[4]                Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 31–35.

[5]                Psillos, Scientific Realism, 120.

[6]                Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement (Oxford: Clarendon Press, 1989), 26–28.

[7]                Michael Esfeld, Philosophy of Science: A Unified Approach (New York: Routledge, 2019), 111–112.

[8]                Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon Press, 1983), 44.

[9]                Cartwright, Nature’s Capacities, 30.

[10]             Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary Introduction (London: Routledge, 2012), 202–204.

[11]             Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 75–77.

[12]             Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929), A249–A250.

[13]             Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 40.

[14]             Psillos, Scientific Realism, 130.

[15]             Elliott Sober, Philosophy of Biology, 2nd ed. (Boulder, CO: Westview Press, 2000), 45–47.

[16]             Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Vintage, 1994), 87–89.

[17]             Boyd, “Scientific Realism,” 59.

[18]             Esfeld, Philosophy of Science, 117.

[19]             Psillos, Scientific Realism, 135–136.


6.           Kritik terhadap Realisme Ilmiah

Meskipun realisme ilmiah telah menjadi posisi dominan dalam filsafat ilmu modern, ia tidak luput dari berbagai kritik filosofis yang serius. Kritik-kritik ini datang dari berbagai arah—mulai dari empirisisme logis, instrumentalisme, konstruktivisme sosial, hingga anti-realisme empiris seperti yang dikemukakan oleh Bas van Fraassen. Perdebatan tersebut menyoroti kelemahan metafisik dan epistemologis realisme ilmiah, khususnya terkait klaim bahwa teori-teori ilmiah benar-benar merepresentasikan realitas objektif.

6.1.       Kritik dari Empirisisme Logis

Kaum positivis logis menolak komitmen metafisik terhadap entitas yang tak dapat diamati. Bagi mereka, makna suatu pernyataan ilmiah bergantung sepenuhnya pada verifikasi empiris.¹ Pernyataan yang tidak dapat diverifikasi melalui pengalaman langsung dianggap tidak bermakna secara ilmiah. Dalam kerangka ini, konsep-konsep seperti elektron atau medan gravitasi hanyalah simbol matematika untuk mengorganisasi fenomena yang diamati, bukan entitas nyata.²

Rudolf Carnap dan anggota Lingkaran Wina menegaskan bahwa realisme ilmiah mengandung unsur metafisik yang tidak dapat diuji secara empiris, sehingga melampaui batas legitimasi ilmiah.³ Dengan demikian, bagi empirisisme logis, realisme ilmiah gagal mempertahankan prinsip verifikasionisme dan karenanya dianggap tidak ilmiah dalam pengertian ketat.

6.2.       Kritik dari Instrumentalisme

Kaum instrumentalis, seperti Pierre Duhem dan John Dewey, berpendapat bahwa teori ilmiah hanyalah alat fungsional (instrument) untuk memprediksi fenomena, bukan deskripsi literal tentang dunia.⁴ Teori ilmiah, menurut mereka, serupa dengan peta: berguna untuk navigasi, tetapi tidak merepresentasikan semua detail dari wilayah yang sebenarnya.⁵ Dengan demikian, keberhasilan prediktif suatu teori tidak mengimplikasikan kebenaran ontologisnya, melainkan hanya menunjukkan kegunaannya secara praktis.

Instrumentalisme juga menolak argumen “no miracles” yang digunakan realisme ilmiah. Mereka berpendapat bahwa keberhasilan sains tidak harus dijelaskan melalui klaim kebenaran, melainkan melalui adaptasi metodologis sains terhadap pengalaman.⁶ Dalam pandangan ini, sains bersifat evolusioner dan selektif terhadap teori-teori yang paling efisien secara empiris, tanpa perlu mengasumsikan bahwa teori tersebut benar secara ontologis.⁷

6.3.       Kritik dari Konstruktivisme Sosial

Dari perspektif konstruktivisme sosial, pengetahuan ilmiah dipahami sebagai hasil interaksi sosial, budaya, dan historis, bukan sebagai cerminan langsung dari realitas.⁸ Thomas Kuhn, dalam The Structure of Scientific Revolutions, menunjukkan bahwa perkembangan ilmu tidak bersifat kumulatif, melainkan melalui pergantian paradigma yang bersifat revolusioner.⁹ Pergantian ini tidak semata karena teori baru lebih “benar,” tetapi karena perubahan paradigma mengubah cara komunitas ilmiah memahami dan mengamati dunia.¹⁰

Kritik ini menyoroti dimensi relativistik dalam sains: kebenaran ilmiah bergantung pada konteks sosial dan paradigma dominan.¹¹ Dengan demikian, klaim realisme ilmiah bahwa teori ilmiah secara bertahap mendekati kebenaran absolut dianggap problematik, karena apa yang disebut “realitas” sendiri selalu ditafsirkan melalui lensa konseptual dan budaya.¹²

6.4.       Masalah Underdetermination

Salah satu kritik epistemologis paling kuat terhadap realisme ilmiah adalah masalah underdetermination of theory by evidence, yaitu bahwa bukti empiris yang sama dapat mendukung lebih dari satu teori yang saling bertentangan.¹³ Contohnya, baik teori eter maupun teori medan elektromagnetik pernah mampu menjelaskan fenomena cahaya sebelum teori relativitas menggantikannya.¹⁴ Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara teori dan realitas tidak tunggal; data empiris saja tidak cukup untuk menentukan teori mana yang benar.

Kritikus seperti Larry Laudan menegaskan bahwa jika banyak teori ilmiah masa lalu yang dulu dianggap benar ternyata salah, maka tidak ada alasan kuat untuk percaya bahwa teori ilmiah saat ini lebih benar secara ontologis.¹⁵ Kritik ini dikenal sebagai pessimistic meta-induction argument, yang menyatakan bahwa sejarah sains justru menunjukkan bahwa teori sukses pun sering kali salah.¹⁶ Dengan demikian, klaim realisme ilmiah tentang kedekatan teori dengan kebenaran menjadi sulit dipertahankan.

6.5.       Kritik dari Anti-Realisme Empiris (van Fraassen)

Kritik paling berpengaruh datang dari Bas C. van Fraassen, penggagas anti-realisme empiris atau empirical constructive empiricism.¹⁷ Menurutnya, tujuan sains bukanlah untuk menemukan kebenaran tentang realitas tak teramati, tetapi untuk menghasilkan teori yang empirically adequate, yaitu teori yang sesuai dengan fenomena yang dapat diamati.¹⁸ Dalam pandangan ini, tidak ada kebutuhan filosofis untuk mempercayai bahwa entitas teoretis benar-benar ada; cukup mengakui bahwa teori berfungsi dengan baik dalam memprediksi hasil eksperimen.

Van Fraassen menuduh realisme ilmiah mengandung komitmen metafisik berlebih yang tidak diperlukan untuk praktik sains.¹⁹ Ia menegaskan bahwa sains dapat berfungsi sepenuhnya tanpa harus mengandaikan bahwa teori benar secara ontologis.²⁰ Dengan demikian, anti-realisme empiris menawarkan bentuk epistemologi yang lebih hemat secara ontologis (ontological parsimony), selaras dengan prinsip Ockham’s razor.


Evaluasi Kritis

Kritik-kritik di atas menunjukkan bahwa realisme ilmiah menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan klaim kebenaran ontologisnya. Namun, banyak filsuf sains berpendapat bahwa kritik tersebut lebih tepat dipahami sebagai batas epistemik, bukan penolakan total terhadap realisme.²¹ Realisme ilmiah yang moderat mengakui bahwa teori sains bersifat sementara dan fallibilistik, tetapi tetap mengandung komitmen rasional terhadap eksistensi struktur dunia yang dapat diketahui.²² Dengan demikian, kritik terhadap realisme ilmiah memperkaya diskursus filsafat ilmu dengan menyoroti ketegangan antara komitmen terhadap kebenaran dan kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.²³


Footnotes

[1]                Rudolf Carnap, The Logical Structure of the World, trans. Rolf A. George (Berkeley: University of California Press, 1967), 6–7.

[2]                Moritz Schlick, “Positivism and Realism,” in Logical Positivism, ed. A. J. Ayer (New York: Free Press, 1959), 87–88.

[3]                Otto Neurath, “Protocol Statements,” in Philosophical Papers 1913–1946, ed. Robert S. Cohen and Marie Neurath (Dordrecht: Reidel, 1983), 91.

[4]                Pierre Duhem, The Aim and Structure of Physical Theory, trans. Philip P. Wiener (Princeton: Princeton University Press, 1954), 19–21.

[5]                John Dewey, Logic: The Theory of Inquiry (New York: Henry Holt, 1938), 507.

[6]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 73.

[7]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 58.

[8]                Karin Knorr-Cetina, Epistemic Cultures: How the Sciences Make Knowledge (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1999), 14–16.

[9]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 111–114.

[10]             Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 136–137.

[11]             Paul Feyerabend, Against Method (London: Verso, 1975), 22–24.

[12]             Ian Hacking, Representing and Intervening (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 48–49.

[13]             W. V. O. Quine, “Two Dogmas of Empiricism,” Philosophical Review 60, no. 1 (1951): 40–43.

[14]             Larry Laudan, “A Confutation of Convergent Realism,” Philosophy of Science 48, no. 1 (1981): 22–23.

[15]             Laudan, “A Confutation of Convergent Realism,” 34.

[16]             Kyle Stanford, “Exceeding Our Grasp: Science, History, and the Problem of Unconceived Alternatives,” Philosophy of Science 72, no. 4 (2006): 573–576.

[17]             Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 12–15.

[18]             van Fraassen, The Scientific Image, 18.

[19]             van Fraassen, The Scientific Image, 21–22.

[20]             van Fraassen, The Scientific Image, 24–25.

[21]             Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 150.

[22]             Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 41.

[23]             Boyd, “Scientific Realism,” 60.


7.           Varian dan Perkembangan Realisme Ilmiah

Realisme ilmiah bukanlah pandangan yang monolitik; sepanjang perkembangannya, ia telah melahirkan sejumlah varian konseptual yang berupaya menjawab kritik dan memperhalus komitmen ontologis maupun epistemologisnya. Variasi-variasi ini mencerminkan upaya filsuf sains untuk menyeimbangkan antara keyakinan terhadap kebenaran ilmiah dan kesadaran akan sifat tentatif pengetahuan ilmiah. Di antara varian-varian utama yang muncul adalah realisme struktural, realisme selektif, realisme semantik, dan realisme modal.

7.1.       Realisme Struktural (Structural Realism)

Realisme struktural muncul sebagai tanggapan terhadap argumen pesimisme meta-induktif yang menyatakan bahwa banyak teori ilmiah masa lalu terbukti salah.¹ John Worrall berpendapat bahwa meskipun entitas dan terminologi ilmiah sering berubah, struktur matematis dan relasional dalam teori-teori ilmiah tetap bertahan.² Contohnya, transisi dari fisika Newtonian ke relativistik memang mengubah konsep “massa” dan “ruang-waktu,” tetapi mempertahankan struktur formal hubungan-hubungan di antara besaran fisika.

Oleh karena itu, realisme struktural epistemik menyatakan bahwa yang benar-benar kita ketahui bukanlah hakikat entitas itu sendiri, melainkan struktur relasional yang mengatur entitas tersebut.³ Pandangan ini menggabungkan realisme dengan bentuk epistemologis yang lebih hati-hati: kita realistis terhadap struktur dunia, tetapi agnostik terhadap hakikat internal entitas yang menyusunnya.⁴ Dalam versi lebih radikal, realisme struktural ontik, seperti yang dikembangkan oleh James Ladyman dan Don Ross, menegaskan bahwa struktur itu sendiri adalah realitas, dan entitas hanyalah posisi dalam jaringan relasional tersebut.⁵

7.2.       Realisme Selektif (Selective Realism)

Realisme selektif atau realisme entitas menekankan bahwa tidak semua aspek teori ilmiah harus dianggap benar, melainkan hanya bagian-bagian tertentu yang memiliki keberhasilan eksplanatori dan kausal nyata.⁶ Ian Hacking, misalnya, mengembangkan konsep entity realism, dengan argumen terkenal “jika kita dapat memanipulasi entitas, maka entitas itu nyata.”⁷ Dengan kata lain, keberadaan entitas dapat dibenarkan melalui intervensi eksperimental yang berhasil mengontrol fenomena di dunia.

Pandangan ini menghindari komitmen terhadap keseluruhan isi teori (seperti struktur matematis atau hipotesis metafisik), tetapi tetap mempertahankan keyakinan realistis terhadap entitas yang dapat dioperasionalkan.⁸ Misalnya, walaupun teori kuantum mungkin memiliki interpretasi yang beragam, keberadaan elektron dianggap nyata karena dapat dimanipulasi untuk menghasilkan efek terukur dalam eksperimen.⁹

7.3.       Realisme Semantik (Semantic Realism)

Realisme semantik, yang diperkenalkan oleh Hilary Putnam dan Michael Devitt, berangkat dari keyakinan bahwa bahasa ilmiah memiliki referensi yang nyata terhadap dunia.¹⁰ Artinya, istilah-istilah ilmiah seperti “atom” atau “gelombang elektromagnetik” tidak hanya berfungsi secara instrumental, melainkan benar-benar menunjuk kepada entitas di dunia nyata.¹¹ Realisme semantik menegaskan bahwa kebenaran teori ilmiah harus dipahami melalui korespondensi semantik antara bahasa ilmiah dan dunia, bukan sekadar koherensi internal teori.

Dalam kerangka ini, teori ilmiah dipandang sebagai sistem pernyataan yang memiliki nilai kebenaran objektif, sehingga keberhasilannya bukan hanya bersifat pragmatis, tetapi juga semantik.¹² Pandangan ini memperkuat dimensi representasional realisme ilmiah, menjadikannya tanggapan langsung terhadap relativisme linguistik dan konstruktivisme sosial yang menolak adanya hubungan langsung antara bahasa ilmiah dan realitas.

7.4.       Realisme Modal (Modal Realism dalam Sains)

Varian lain yang berkembang adalah realisme modal ilmiah, yang berfokus pada status metafisik dari kemungkinan dan keharusan ilmiah.¹³ Berbeda dari realisme metafisik umum seperti yang diusulkan oleh David Lewis, realisme modal ilmiah menegaskan bahwa hukum-hukum alam merepresentasikan kemungkinan kausal yang nyata di dunia.¹⁴ Dalam pandangan ini, sains tidak hanya menggambarkan fakta aktual, tetapi juga menjelaskan apa yang mungkin dan apa yang niscaya berdasarkan struktur kausal realitas.¹⁵

Realisme modal memiliki implikasi penting dalam fisika teoretis dan kosmologi, karena memungkinkan pembahasan tentang kondisi-kondisi hipotetis (seperti multiverse, atau keadaan awal alam semesta) tanpa jatuh ke dalam spekulasi non-empiris.¹⁶ Dengan demikian, realisme modal memperluas horizon realisme ilmiah ke dimensi metafisika kemungkinan yang tetap berakar pada kerangka rasional-empiris.


Perkembangan Kontemporer dan Sintesis

Dalam filsafat ilmu kontemporer, muncul kecenderungan untuk menggabungkan unsur-unsur dari berbagai bentuk realisme menjadi realisme pluralistik.¹⁷ Stathis Psillos dan Anjan Chakravartty, misalnya, berupaya mensintesiskan aspek ontologis, epistemologis, dan semantik realisme dalam suatu kerangka yang koheren.¹⁸ Mereka berargumen bahwa realisme ilmiah dapat dipertahankan dengan mengakui fallibilisme epistemik (bahwa pengetahuan selalu dapat direvisi) tanpa melepaskan komitmen ontologis terhadap realitas.

Realisme ilmiah kontemporer juga semakin memperhatikan hubungan antara sains dan metafisika.¹⁹ Diskusi modern mengenai realisme kuantum, biologi evolusioner, dan kosmologi memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang “apa yang nyata” kini mencakup dimensi interdisipliner yang menghubungkan filsafat, fisika, dan biologi.²⁰ Oleh karena itu, perkembangan realisme ilmiah modern bukan sekadar upaya mempertahankan pandangan klasik, melainkan memperluasnya agar tetap relevan dengan kemajuan sains dan kompleksitas pemahaman manusia tentang dunia.


Footnotes

[1]                Larry Laudan, “A Confutation of Convergent Realism,” Philosophy of Science 48, no. 1 (1981): 23–25.

[2]                John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[3]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 140.

[4]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 56.

[5]                James Ladyman and Don Ross, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 130–132.

[6]                Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon Press, 1983), 45–47.

[7]                Ian Hacking, Representing and Intervening (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 21–23.

[8]                Hacking, Representing and Intervening, 28.

[9]                Psillos, Scientific Realism, 146.

[10]             Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 73.

[11]             Michael Devitt, Realism and Truth, 2nd ed. (Princeton: Princeton University Press, 1997), 16–18.

[12]             Devitt, Realism and Truth, 24.

[13]             Tim Maudlin, The Metaphysics within Physics (Oxford: Oxford University Press, 2007), 68–70.

[14]             David Lewis, On the Plurality of Worlds (Oxford: Blackwell, 1986), 2–3.

[15]             Maudlin, The Metaphysics within Physics, 78.

[16]             Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Vintage, 1994), 97–99.

[17]             Psillos, Scientific Realism, 150.

[18]             Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 61–62.

[19]             Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 44.

[20]             Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary Introduction (London: Routledge, 2012), 209–211.


8.           Sintesis Filosofis

Sintesis filosofis dari realisme ilmiah berupaya menyatukan dimensi ontologis, epistemologis, dan metafisik dari pandangan ini ke dalam suatu kerangka yang koheren. Realisme ilmiah tidak hanya mengajukan klaim tentang apa yang ada di dunia, tetapi juga tentang bagaimana manusia dapat mengetahui dan memahami realitas tersebut melalui sains. Dalam konteks ini, realisme ilmiah berfungsi sebagai jembatan antara filsafat metafisika dan filsafat ilmu, mengintegrasikan keyakinan terhadap keberadaan realitas independen dengan metode empiris dan rasional yang menjadi ciri khas ilmu pengetahuan modern.¹

8.1.       Integrasi Ontologi dan Epistemologi

Dalam kerangka sintesis, realisme ilmiah menolak dikotomi kaku antara realitas objektif dan konstruksi pengetahuan manusia. Dunia memang ada secara independen, tetapi hanya dapat dipahami melalui kerangka konseptual dan teoretis yang dibangun manusia.² Dengan demikian, pengetahuan ilmiah merupakan hasil ko-respondensi aktif antara struktur realitas dan struktur kognitif manusia.³

Hal ini menunjukkan bahwa epistemologi realisme ilmiah bersifat realistis sekaligus fallibilistik: teori ilmiah dianggap benar sejauh ia sesuai dengan dunia, namun kebenaran itu selalu terbuka untuk revisi berdasarkan bukti baru.⁴ Sintesis ini mempertemukan dua aspek yang tampaknya berlawanan—komitmen terhadap realitas dan pengakuan atas keterbatasan pengetahuan manusia—dalam satu pandangan yang dinamis dan reflektif.

8.2.       Rekonsiliasi antara Realisme dan Antirealisme

Sintesis filosofis juga tampak dalam upaya realisme ilmiah untuk menjawab kritik dari antirealisme. Realisme ilmiah kontemporer tidak lagi bersikap dogmatis, melainkan inklusif dan moderat terhadap keberatan empiris dan konstruktivis.⁵ Misalnya, pendekatan realisme struktural berupaya menjembatani perbedaan tersebut dengan menegaskan bahwa walaupun hakikat entitas mungkin tidak diketahui, struktur hubungan di antara entitas tersebut tetap dapat direpresentasikan secara benar oleh teori ilmiah.⁶

Dengan demikian, realisme ilmiah modern bukanlah realisme naif yang menegaskan kesesuaian sempurna antara teori dan dunia, melainkan realisme reflektif, yang menyadari bahwa representasi ilmiah adalah pendekatan bertahap terhadap kebenaran.⁷ Pandangan ini menjadikan sains bukan sekadar praktik empiris, tetapi juga aktivitas filosofis yang melibatkan interpretasi metafisik terhadap dunia.

8.3.       Kesatuan Metafisika dan Rasionalitas Ilmiah

Salah satu hasil sintesis penting dari realisme ilmiah adalah pengakuan terhadap kesatuan antara metafisika dan rasionalitas ilmiah.⁸ Bagi realis ilmiah, metafisika bukanlah spekulasi kosong, melainkan dimensi konseptual yang membantu menjelaskan struktur terdalam realitas yang diungkap sains.⁹ Dalam hal ini, hukum-hukum alam, kausalitas, dan esensi entitas ilmiah dipahami sebagai bagian dari struktur metafisik dunia yang rasional dan dapat diselidiki secara ilmiah.¹⁰

Stathis Psillos menegaskan bahwa realisme ilmiah tidak hanya membenarkan sains secara epistemologis, tetapi juga memberinya fondasi metafisik yang koheren, di mana rasionalitas manusia dan keteraturan alam semesta saling berkorespondensi.¹¹ Dengan demikian, sintesis filosofis realisme ilmiah memperlihatkan bahwa filsafat dan sains bukan dua ranah yang terpisah, melainkan saling memperkaya dalam memahami hakikat kenyataan.

8.4.       Realisme Ilmiah sebagai Kerangka Rasional untuk Kemajuan Pengetahuan

Sintesis realisme ilmiah juga dapat dilihat sebagai kerangka rasional bagi perkembangan ilmu pengetahuan.¹² Dengan mengakui bahwa teori ilmiah merupakan representasi parsial namun semakin mendekati kebenaran, realisme ilmiah memberikan dasar bagi optimisme epistemologis terhadap kemajuan sains.¹³ Hal ini menegaskan bahwa sejarah ilmu bukanlah rangkaian kekeliruan yang berulang, melainkan proses evolusioner menuju pemahaman yang lebih baik tentang dunia.

Selain itu, realisme ilmiah juga memiliki fungsi normatif: ia menegaskan bahwa sains harus tetap berorientasi pada kebenaran dan realitas, bukan sekadar utilitas atau konstruksi sosial.¹⁴ Dengan demikian, realisme ilmiah menjaga integritas rasionalitas sains di tengah arus relativisme dan pragmatisme yang mendominasi pemikiran kontemporer.¹⁵


Menuju Realisme Kritis dan Terbuka

Akhirnya, bentuk sintesis paling matang dari realisme ilmiah tampak dalam gagasan realisme kritis dan terbuka (critical and open realism).¹⁶ Pandangan ini, sebagaimana dikembangkan oleh Roy Bhaskar, menekankan bahwa realitas bersifat berlapis (stratified) dan dinamis: ada struktur kausal yang nyata di luar persepsi manusia, tetapi pemahaman terhadapnya selalu bersifat kontekstual dan historis.¹⁷

Realisme kritis menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah adalah hasil dialog antara struktur objektif alam dan struktur reflektif kesadaran manusia, di mana kedua dimensi ini saling berinteraksi melalui proses penelitian ilmiah yang kreatif.¹⁸ Dengan demikian, realisme ilmiah mencapai bentuk sintesis yang paling inklusif—menggabungkan objektivitas ontologis dengan keterbukaan epistemologis, rasionalitas ilmiah dengan refleksivitas filosofis.


Footnotes

[1]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 155–156.

[2]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 73.

[3]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 62–63.

[4]                W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London: Routledge, 1981), 120–121.

[5]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 59–60.

[6]                John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[7]                Psillos, Scientific Realism, 160–161.

[8]                Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 45.

[9]                Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement (Oxford: Clarendon Press, 1989), 30–32.

[10]             Michael Esfeld, Philosophy of Science: A Unified Approach (New York: Routledge, 2019), 113.

[11]             Psillos, Scientific Realism, 165.

[12]             Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 69.

[13]             Boyd, “Scientific Realism,” 61.

[14]             Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary Introduction (London: Routledge, 2012), 210.

[15]             Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon Press, 1983), 47.

[16]             Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso, 1975), 22–25.

[17]             Bhaskar, A Realist Theory of Science, 49–50.

[18]             Psillos, Scientific Realism, 170.


9.           Relevansi dan Aplikasi Kontemporer

Dalam konteks filsafat dan ilmu pengetahuan kontemporer, realisme ilmiah tetap memainkan peran penting sebagai fondasi konseptual bagi rasionalitas ilmiah, etika penelitian, dan kebijakan publik berbasis sains. Meskipun menghadapi berbagai bentuk kritik dari postmodernisme, konstruktivisme sosial, dan relativisme epistemologis, realisme ilmiah menawarkan kerangka filosofis yang kuat untuk memahami status ontologis teori ilmiah, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa sains adalah salah satu jalan paling rasional untuk menyingkap struktur realitas.¹

Relevansi realisme ilmiah tidak hanya terbatas pada filsafat ilmu, tetapi juga meluas ke bidang-bidang seperti filsafat fisika, bioteknologi, kecerdasan buatan, dan etika ilmiah, di mana pertanyaan tentang realitas dan kebenaran empiris menjadi semakin kompleks.² Dalam dunia yang semakin dipengaruhi oleh teknologi dan model-model ilmiah abstrak, realisme ilmiah menegaskan pentingnya mempertahankan keyakinan bahwa representasi ilmiah memiliki keterkaitan nyata dengan dunia yang independen dari konstruksi sosial.

9.1.       Relevansi dalam Filsafat dan Metodologi Sains

Realisme ilmiah menyediakan kerangka filosofis bagi objektivitas sains di tengah maraknya pandangan relativistik.³ Dalam situasi di mana pengetahuan sering dipengaruhi oleh politik, ekonomi, dan ideologi, realisme ilmiah menegaskan bahwa sains memiliki komitmen terhadap kebenaran ontologis—bukan sekadar kesepakatan sosial.⁴ Hal ini sangat penting untuk mempertahankan legitimasi epistemik ilmu pengetahuan, terutama ketika menghadapi krisis kepercayaan publik terhadap sains di era informasi dan disinformasi.

Selain itu, dalam metodologi penelitian, realisme ilmiah mendorong ilmuwan untuk mengembangkan teori yang tidak hanya berfungsi secara pragmatis, tetapi juga berakar pada realitas yang dapat dijelaskan secara kausal.⁵ Dengan demikian, pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai empiris, teoretis, dan ontologis dalam kegiatan ilmiah, menjadikannya paradigma yang kokoh bagi pengembangan pengetahuan yang berkelanjutan.

9.2.       Aplikasi dalam Sains Alam dan Fisika Modern

Dalam fisika modern, realisme ilmiah memiliki relevansi yang mendalam terhadap perdebatan tentang realitas entitas mikrofisik seperti elektron, quark, dan medan kuantum.⁶ Pandangan ini menegaskan bahwa meskipun entitas tersebut tidak dapat diamati secara langsung, mereka memiliki eksistensi nyata karena memainkan peran kausal dalam menjelaskan fenomena yang teramati.⁷

Dalam konteks teori kuantum, perdebatan antara interpretasi Kopenhagen (yang lebih instrumentalistik) dan interpretasi realistis (seperti teori variabel tersembunyi David Bohm) memperlihatkan pentingnya posisi realisme ilmiah.⁸ Realisme ilmiah memberi dasar filosofis bagi keyakinan bahwa ketidakpastian kuantum bukan berarti tidak adanya realitas, melainkan keterbatasan epistemik manusia dalam mengukurnya.⁹

Selain itu, realisme ilmiah juga mendukung penelitian di bidang kosmologi dan fisika teoretis, misalnya dalam keyakinan terhadap realitas entitas seperti dark matter dan dark energy, yang meskipun belum teramati langsung, diperlukan untuk menjelaskan dinamika alam semesta.¹⁰

9.3.       Aplikasi dalam Biologi, Kedokteran, dan Bioteknologi

Dalam biologi molekuler dan bioteknologi, realisme ilmiah memberikan dasar ontologis bagi keyakinan bahwa gen, protein, dan mekanisme seluler benar-benar ada sebagai entitas kausal yang menjelaskan fenomena biologis.¹¹ Keyakinan realistis terhadap entitas biologis ini memungkinkan pengembangan teknologi seperti terapi gen, vaksin, dan rekayasa genetika yang efektif.¹²

Realisme ilmiah juga memainkan peran penting dalam epistemologi kedokteran modern, khususnya dalam membedakan antara penjelasan ilmiah dan narasi pseudoscientific.¹³ Dengan menekankan keterkaitan antara teori, bukti, dan realitas biologis, realisme ilmiah menjadi landasan filosofis bagi pengambilan keputusan klinis yang berbasis bukti (evidence-based practice).

9.4.       Relevansi dalam Ilmu Sosial dan Kecerdasan Buatan

Meskipun berakar pada sains alam, realisme ilmiah juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam ilmu sosial. Bentuknya yang dikenal sebagai realisme kritis (critical realism) menegaskan bahwa struktur sosial memiliki realitas yang independen dari kesadaran individu, meskipun hanya dapat dipahami melalui konstruksi konseptual.¹⁴ Dalam konteks ini, realisme ilmiah membantu menghindari reduksionisme empiris dan idealisme subjektif dengan menempatkan realitas sosial sebagai tatanan yang memiliki kausalitas emergen.¹⁵

Dalam kecerdasan buatan (AI) dan ilmu data, realisme ilmiah juga menjadi kerangka filosofis penting untuk menilai sejauh mana model matematis benar-benar merepresentasikan realitas.¹⁶ Dalam era big data, di mana algoritma sering menggantikan intuisi manusia, realisme ilmiah menegaskan perlunya hubungan ontologis yang sahih antara model dan dunia nyata agar hasilnya tidak sekadar akurat secara statistik, tetapi juga bermakna secara eksplanatori.¹⁷


Implikasi Etis dan Kebijakan Ilmiah

Realisme ilmiah memiliki dimensi etis dan normatif yang kuat. Dengan mengakui realitas objektif dan kebenaran ilmiah, pandangan ini menuntut integritas dalam praktik ilmiah—bahwa teori dan data tidak boleh dimanipulasi untuk kepentingan politik atau ekonomi.¹⁸ Dalam konteks perubahan iklim, bioetika, dan kesehatan publik, realisme ilmiah memperkuat tanggung jawab ilmuwan untuk menggambarkan dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan.¹⁹

Selain itu, dalam kebijakan publik berbasis sains, realisme ilmiah mendukung pendekatan evidence-based policy, yaitu pembuatan keputusan berdasarkan fakta empiris yang dapat diverifikasi, bukan opini atau dogma ideologis.²⁰ Dengan demikian, realisme ilmiah berfungsi bukan hanya sebagai teori filosofis, tetapi juga sebagai etika pengetahuan yang menegaskan hubungan antara kebenaran, tanggung jawab, dan kemanusiaan.


Footnotes

[1]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 172.

[2]                Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary Introduction (London: Routledge, 2012), 212.

[3]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 61–62.

[4]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 74.

[5]                W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London: Routledge, 1981), 123.

[6]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 67.

[7]                Ian Hacking, Representing and Intervening (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 21–22.

[8]                David Bohm, Wholeness and the Implicate Order (London: Routledge, 1980), 120.

[9]                Tim Maudlin, Philosophy of Physics: Quantum Theory (Princeton: Princeton University Press, 2019), 32.

[10]             Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Vintage, 1994), 91–93.

[11]             Elliott Sober, Philosophy of Biology, 2nd ed. (Boulder, CO: Westview Press, 2000), 45.

[12]             Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement (Oxford: Clarendon Press, 1989), 31.

[13]             Alex Broadbent, Philosophy of Medicine (Oxford: Oxford University Press, 2019), 58–60.

[14]             Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso, 1975), 48.

[15]             Margaret Archer, Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 12–14.

[16]             Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011), 187–189.

[17]             Judea Pearl, The Book of Why: The New Science of Cause and Effect (New York: Basic Books, 2018), 102–104.

[18]             Heather Douglas, Science, Policy, and the Value-Free Ideal (Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 2009), 112.

[19]             Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019), 133.

[20]             Sheila Jasanoff, The Fifth Branch: Science Advisers as Policymakers (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1990), 42–44.


10.       Kesimpulan

Realisme ilmiah, dalam keseluruhan wacananya, menawarkan sebuah sintesis filosofis yang mendalam antara ontologi, epistemologi, dan metafisika ilmu pengetahuan. Ia berangkat dari keyakinan dasar bahwa dunia memiliki realitas yang independen dari persepsi manusia, dan bahwa teori-teori ilmiah—meskipun bersifat sementara dan fallibilistik—secara aproksimatif menggambarkan struktur dan entitas dunia tersebut.¹ Dalam pandangan ini, sains tidak sekadar membangun model pragmatis, tetapi berupaya menyingkap tatanan ontologis alam semesta melalui metode empiris dan penalaran rasional.²

Secara ontologis, realisme ilmiah menegaskan bahwa entitas ilmiah yang tidak dapat diamati secara langsung (seperti elektron, gen, atau medan gravitasi) memiliki eksistensi nyata karena berperan secara kausal dalam menjelaskan fenomena yang teramati.³ Posisi ini membedakannya dari instrumentalisme yang hanya menganggap teori ilmiah sebagai alat untuk memprediksi, bukan menjelaskan. Dengan demikian, realisme ilmiah meneguhkan keyakinan bahwa keberhasilan sains dalam memprediksi dan menjelaskan fenomena bukanlah kebetulan, melainkan indikasi bahwa teori-teori ilmiah benar secara mendekati (approximately true).⁴

Secara epistemologis, realisme ilmiah menyatukan rasionalitas dan fallibilisme. Ia mengakui bahwa pengetahuan ilmiah selalu terbuka terhadap revisi, namun proses koreksi itu sendiri menjadi bukti dari kekuatan rasional sains.⁵ Dalam hal ini, inferensi terhadap penjelasan terbaik (inference to the best explanation) menjadi prinsip epistemologis yang menjembatani antara keberhasilan empiris dan keyakinan terhadap realitas ontologis.⁶ Melalui mekanisme inferensial inilah sains mampu membangun pemahaman yang semakin mendekati realitas tanpa harus mengklaim kebenaran absolut.

Dari sisi metafisika, realisme ilmiah memberikan dasar bagi keberaturan dan rasionalitas alam. Dunia tidak dipahami sebagai kumpulan peristiwa acak, melainkan sebagai sistem yang terstruktur secara kausal dan dapat diketahui.⁷ Dalam hal ini, hukum-hukum alam memiliki status ontologis yang nyata, bukan sekadar deskripsi statistik.⁸ Metafisika realisme ilmiah dengan demikian tidak bersifat spekulatif, melainkan merupakan refleksi rasional atas keberhasilan sains dalam menemukan keteraturan yang inheren di alam.

Dalam konteks kontemporer, realisme ilmiah tetap relevan sebagai pandangan filosofis yang menegakkan objektivitas, integritas, dan rasionalitas sains di tengah tantangan relativisme dan postmodernisme.⁹ Ia juga memiliki implikasi etis yang signifikan: dengan mengakui adanya realitas objektif, realisme ilmiah menuntut kejujuran ilmiah dan tanggung jawab moral dalam praktik penelitian.¹⁰ Dalam era teknologi dan informasi, di mana batas antara fakta dan opini sering kabur, realisme ilmiah menjadi penegasan penting atas nilai kebenaran dan keandalan ilmiah sebagai dasar kemajuan pengetahuan manusia.¹¹

Akhirnya, realisme ilmiah dapat dipandang sebagai komitmen filosofis terhadap rasionalitas manusia: keyakinan bahwa dunia dapat dipahami melalui penyelidikan ilmiah yang jujur, kritis, dan terbuka.¹² Ia menolak pesimisme epistemik tanpa jatuh ke dalam dogmatisme, menggabungkan keyakinan akan realitas dengan kesadaran akan keterbatasan manusia.¹³ Dengan demikian, realisme ilmiah bukan hanya doktrin tentang keberadaan entitas ilmiah, tetapi juga sikap filosofis terhadap dunia—yakni kepercayaan bahwa pengetahuan sejati adalah mungkin, dan bahwa usaha ilmiah adalah upaya manusia yang paling tulus untuk memahami kenyataan sebagaimana adanya.¹⁴


Footnotes

[1]                Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 172–173.

[2]                Richard Boyd, “Scientific Realism,” in The Philosophy of Science, ed. David Papineau (Oxford: Oxford University Press, 1996), 61.

[3]                Anjan Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism: Knowing the Unobservable (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 15–18.

[4]                Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 73.

[5]                W. H. Newton-Smith, The Rationality of Science (London: Routledge, 1981), 120–122.

[6]                Peter Lipton, Inference to the Best Explanation, 2nd ed. (London: Routledge, 2004), 56–59.

[7]                Brian Ellis, Scientific Essentialism (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 33–34.

[8]                Nancy Cartwright, Nature’s Capacities and Their Measurement (Oxford: Clarendon Press, 1989), 26–27.

[9]                Alex Rosenberg, The Philosophy of Science: A Contemporary Introduction (London: Routledge, 2012), 210–211.

[10]             Heather Douglas, Science, Policy, and the Value-Free Ideal (Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 2009), 110–112.

[11]             Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019), 133–135.

[12]             Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso, 1975), 49–50.

[13]             Psillos, Scientific Realism, 175.

[14]             Chakravartty, A Metaphysics for Scientific Realism, 72.


Daftar Pustaka

Archer, M. (1995). Realist social theory: The morphogenetic approach. Cambridge University Press.

Aristotle. (1924). Metaphysics (W. D. Ross, Trans.). Clarendon Press.

Bhaskar, R. (1975). A realist theory of science. Verso.

Bohm, D. (1980). Wholeness and the implicate order. Routledge.

Boyd, R. (1996). Scientific realism. In D. Papineau (Ed.), The philosophy of science (pp. 45–90). Oxford University Press.

Broadbent, A. (2019). Philosophy of medicine. Oxford University Press.

Carnap, R. (1967). The logical structure of the world (R. A. George, Trans.). University of California Press.

Cartwright, N. (1983). How the laws of physics lie. Clarendon Press.

Cartwright, N. (1989). Nature’s capacities and their measurement. Clarendon Press.

Chakravartty, A. (2007). A metaphysics for scientific realism: Knowing the unobservable. Cambridge University Press.

Devitt, M. (1997). Realism and truth (2nd ed.). Princeton University Press.

Douglas, H. (2009). Science, policy, and the value-free ideal. University of Pittsburgh Press.

Dewey, J. (1929). The quest for certainty. Minton, Balch & Co.

Dewey, J. (1938). Logic: The theory of inquiry. Henry Holt.

Duhem, P. (1954). The aim and structure of physical theory (P. P. Wiener, Trans.). Princeton University Press.

Ellis, B. (2001). Scientific essentialism. Cambridge University Press.

Esfeld, M. (2019). Philosophy of science: A unified approach. Routledge.

Feyerabend, P. (1975). Against method. Verso.

Floridi, L. (2011). The philosophy of information. Oxford University Press.

Galilei, G. (1957). The assayer (S. Drake, Trans.). Cambridge University Press.

Hacking, I. (1983). Representing and intervening. Cambridge University Press.

Harman, G. (1965). The inference to the best explanation. Philosophical Review, 74(1), 88–95.

Jasanoff, S. (1990). The fifth branch: Science advisers as policymakers. Harvard University Press.

Kant, I. (1929). Critique of pure reason (N. Kemp Smith, Trans.). Macmillan.

Knorr-Cetina, K. (1999). Epistemic cultures: How the sciences make knowledge. Harvard University Press.

Kuhn, T. S. (1970). The structure of scientific revolutions (2nd ed.). University of Chicago Press.

Laudan, L. (1981). A confutation of convergent realism. Philosophy of Science, 48(1), 19–49.

Ladyman, J., & Ross, D. (2007). Every thing must go: Metaphysics naturalized. Oxford University Press.

Lewis, D. (1986). On the plurality of worlds. Blackwell.

Lipton, P. (2004). Inference to the best explanation (2nd ed.). Routledge.

Maudlin, T. (2007). The metaphysics within physics. Oxford University Press.

Maudlin, T. (2019). Philosophy of physics: Quantum theory. Princeton University Press.

Neurath, O. (1983). Protocol statements. In R. S. Cohen & M. Neurath (Eds.), Philosophical papers 1913–1946 (pp. 90–94). Reidel.

Newton, I. (1687). Philosophiæ naturalis principia mathematica. Royal Society.

Newton-Smith, W. H. (1981). The rationality of science. Routledge.

Oreskes, N. (2019). Why trust science? Princeton University Press.

Pearl, J. (2018). The book of why: The new science of cause and effect. Basic Books.

Psillos, S. (1999). Scientific realism: How science tracks truth. Routledge.

Putnam, H. (1981). Reason, truth and history. Cambridge University Press.

Quine, W. V. O. (1951). Two dogmas of empiricism. Philosophical Review, 60(1), 20–43.

Rosenberg, A. (2012). The philosophy of science: A contemporary introduction. Routledge.

Schlick, M. (1959). Positivism and realism. In A. J. Ayer (Ed.), Logical positivism (pp. 82–107). Free Press.

Sober, E. (2000). Philosophy of biology (2nd ed.). Westview Press.

Stanford, K. (2006). Exceeding our grasp: Science, history, and the problem of unconceived alternatives. Philosophy of Science, 72(4), 573–588.

Tarski, A. (1956). The concept of truth in formalized languages (J. H. Woodger, Trans.). In Logic, semantics, metamathematics (pp. 152–278). Clarendon Press.

van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image. Clarendon Press.

Weinberg, S. (1994). Dreams of a final theory. Vintage.

Worrall, J. (1989). Structural realism: The best of both worlds? Dialectica, 43(1–2), 99–124.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar