Idealisme Objektif
Realitas sebagai Kesadaran Universal dalam Perspektif
Ontologis
Alihkan ke: Aliran Filsafat Ontologi.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif aliran Idealisme
Objektif sebagai salah satu cabang utama filsafat ontologis yang berupaya
memahami realitas sebagai manifestasi rasional dari kesadaran universal. Kajian
dimulai dengan penelusuran landasan ontologis idealisme yang menempatkan ide
atau roh sebagai hakikat keberadaan, dilanjutkan dengan analisis genealogis
yang menelusuri perkembangan gagasan ini dari Plato hingga mencapai puncaknya
dalam sistem metafisika Hegel. Melalui pembahasan atas prinsip-prinsip utama
seperti Roh Absolut, dialektika, dan kesatuan antara rasio dan
realitas, artikel ini menunjukkan bahwa Idealisme Objektif tidak hanya
menawarkan pandangan metafisik, tetapi juga epistemologis dan etis yang
koheren.
Dalam dimensi epistemologis, pengetahuan dipahami
sebagai partisipasi aktif dalam struktur rasional realitas, sementara secara
metafisik, realitas dipandang sebagai proses spiritual yang berkembang menuju
kesadaran diri universal. Kritik dari empirisisme, positivisme logis,
eksistensialisme, dan filsafat analitik dibahas untuk menyoroti keterbatasan
serta daya tahan gagasan idealisme dalam menghadapi paradigma modern. Artikel
ini juga menguraikan relevansi kontemporer Idealisme Objektif dalam
konteks filsafat ilmu, teori sosial, pendidikan, dan teknologi digital, serta
menunjukkan bagaimana prinsip rasionalitas universal dapat menjadi dasar bagi
pemahaman manusia terhadap realitas global yang kompleks.
Pada akhirnya, sintesis filosofis yang ditawarkan
menegaskan bahwa Idealisme Objektif tidak hanya merupakan warisan
spekulatif metafisika klasik, tetapi juga paradigma reflektif yang terbuka bagi
reinterpretasi modern. Melalui integrasi antara ontologi, epistemologi, dan
etika, Idealisme Objektif memperlihatkan visi tentang kesatuan rasional
antara pikiran, dunia, dan makna eksistensial manusia—suatu sintesis antara
rasionalitas dan spiritualitas yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan
intelektual abad ke-21.
Kata Kunci: Idealisme
Objektif, Ontologi, Hegel, Roh Absolut, Dialektika, Rasionalitas, Filsafat
Modern, Kesadaran Universal.
PEMBAHASAN
Idealisme Objektif serta Relevansinya dalam Pemikiran Kontemporer
1.
Pendahuluan
Pertanyaan mengenai
hakikat realitas atau being merupakan salah satu
persoalan paling mendasar dalam sejarah filsafat. Sejak masa Yunani Kuno,
manusia telah berusaha memahami apa yang sebenarnya “ada” dan bagaimana keberadaan
itu dapat dijelaskan secara rasional. Dalam konteks tersebut, ontologi—sebagai
cabang utama filsafat—berfungsi untuk menyelidiki struktur terdalam dari
realitas, baik yang bersifat konkret maupun abstrak. Idealisme, sebagai salah
satu aliran utama dalam ontologi, menempatkan ide, kesadaran, atau roh (spirit)
sebagai prinsip dasar segala sesuatu yang ada. Dengan kata lain, realitas tidak
semata-mata terdiri dari materi, tetapi justru merupakan ekspresi dari prinsip
non-material yang rasional dan spiritual.¹
Istilah idealisme
objektif muncul untuk membedakan diri dari bentuk idealisme
lainnya, terutama idealisme subjektif yang menekankan
bahwa realitas hanya ada sejauh disadari oleh subjek individual. Dalam idealisme
objektif, sebaliknya, realitas dipahami sebagai manifestasi dari
kesadaran universal atau roh absolut yang melampaui individu.² Pandangan ini
menolak reduksi realitas menjadi pengalaman subjektif semata dan berupaya
menunjukkan bahwa dunia objektif memiliki dasar spiritual yang bersifat transenden,
namun tetap rasional dan dapat dipahami. Dengan demikian, Idealisme Objektif
berusaha menjembatani jurang antara subjektivitas manusia dan objektivitas
dunia, antara pikiran dan realitas, serta antara fenomena dan noumena.³
Secara historis, akar
pemikiran Idealisme Objektif dapat ditelusuri hingga Plato dengan doktrin Idea
atau Form,
yang dianggap sebagai realitas sejati dan kekal, sedangkan dunia inderawi
hanyalah bayang-bayangnya.⁴ Dalam perkembangannya, pemikiran ini memperoleh
bentuk sistematis pada masa modern melalui karya para filsuf seperti Leibniz,
Schelling, dan terutama Georg Wilhelm Friedrich Hegel.⁵ Hegel memandang bahwa
realitas merupakan ekspresi dari Roh Absolut yang berkembang melalui
proses dialektis, di mana pikiran dan keberadaan saling menegaskan diri dalam
gerak rasional menuju kesatuan totalitas.⁶
Kehadiran Idealisme
Objektif menjadi penting karena memberikan kerangka ontologis yang berusaha
menjelaskan kesatuan antara pikiran dan realitas, antara kesadaran dan dunia.
Dalam era modern yang cenderung didominasi oleh materialisme dan positivisme,
pendekatan ini menawarkan alternatif metafisik yang menegaskan dimensi
spiritual dari keberadaan tanpa harus menolak rasionalitas.⁷ Dengan menempatkan
ide atau roh universal sebagai fondasi realitas, Idealisme Objektif tidak hanya
membentuk sistem metafisika yang koheren, tetapi juga memberikan kontribusi
signifikan terhadap epistemologi, estetika, dan filsafat sejarah.
Berdasarkan latar
belakang tersebut, pembahasan mengenai Idealisme Objektif menjadi relevan untuk
memahami bagaimana manusia menafsirkan realitas dalam kerangka kesadaran
universal. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan dasar ontologis dari
Idealisme Objektif, menelusuri akar historisnya, mengkaji struktur metafisik dan
epistemologisnya, serta menilai relevansinya dalam konteks pemikiran
kontemporer. Dengan demikian, tulisan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman
tentang hakikat realitas dari perspektif filsafat idealisme dan menunjukkan
bagaimana pandangan ini tetap menawarkan nilai reflektif bagi perkembangan ilmu
dan budaya manusia.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 247.
[2]
George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human
Knowledge (Oxford: Clarendon Press, 1710), 32–35.
[3]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 45–47.
[4]
Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis:
Hackett Publishing, 1992), 509–511.
[5]
Gottfried Wilhelm Leibniz, Monadology, trans. Robert Latta
(London: Oxford University Press, 1898), §14–§19.
[6]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 81–83.
[7]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 3–5.
2.
Landasan Ontologis Idealisme
Ontologi merupakan
cabang filsafat yang membahas tentang hakikat “ada” atau realitas secara
mendasar. Sejak masa Aristoteles, ontologi telah dipahami sebagai disiplin yang
menyelidiki prinsip-prinsip terdalam dari eksistensi, termasuk kategori,
struktur, dan sifat dari segala sesuatu yang ada.¹ Pertanyaan ontologis tidak
berhenti pada “apa yang ada,” tetapi juga “bagaimana sesuatu itu ada”
dan “apa yang menjadi dasar keberadaannya.” Dengan demikian, ontologi
menjadi fondasi bagi seluruh cabang filsafat lainnya, sebab ia menentukan
bagaimana manusia memahami dunia, diri, dan hubungan antara keduanya.²
Dalam sejarah
pemikiran, perdebatan ontologis menghasilkan tiga orientasi besar: materialisme,
dualisme,
dan idealisme.
Materialisme menegaskan bahwa realitas hakiki bersifat fisik; segala fenomena,
termasuk kesadaran, merupakan hasil interaksi materi.³ Sebaliknya, dualisme
menganggap bahwa realitas terdiri atas dua substansi yang berbeda dan tidak
dapat direduksi satu sama lain: materi dan roh, tubuh dan pikiran.⁴ Namun,
idealisme menempuh jalan lain dengan menolak bahwa materi memiliki kemandirian
ontologis. Bagi idealisme, yang paling mendasar dari segala sesuatu bukanlah
materi, melainkan idea, mind, atau spirit—sesuatu
yang bersifat non-material tetapi menentukan eksistensi material.⁵
Landasan ontologis
idealisme berangkat dari keyakinan bahwa realitas bersifat spiritual dan
rasional. Idealisme menganggap bahwa dunia bukanlah sesuatu yang berdiri
terpisah dari kesadaran, melainkan merupakan ekspresi dari prinsip rasional
yang mendasarinya.⁶ Dalam konteks ini, yang “nyata” adalah yang dapat
dipahami oleh akal; dengan kata lain, realitas memiliki struktur yang koheren
dan rasional karena ia sendiri merupakan hasil dari rasionalitas universal. Hal
ini ditegaskan oleh Hegel ketika menyatakan bahwa “yang rasional adalah yang
nyata, dan yang nyata adalah yang rasional.”⁷
Dari perspektif
ontologis, idealisme juga berusaha menolak pandangan empiris yang menganggap
realitas sebagai kumpulan fakta-fakta terpisah yang dapat diamati secara
indrawi. Sebaliknya, idealisme berpendapat bahwa fakta-fakta tersebut hanya
memiliki makna sejauh berada dalam totalitas ide yang mengaturnya.⁸ Dunia bukan
sekadar “ada” dalam ruang dan waktu, melainkan merupakan perwujudan dari
suatu tatanan rasional yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, bagi idealis,
pengetahuan tentang dunia berarti memahami prinsip rasional yang menjadi dasar
keberadaannya.⁹
Di dalam idealisme
terdapat beberapa cabang, di antaranya idealisme subjektif dan idealisme
objektif. Idealisme subjektif, seperti yang dikembangkan oleh
George Berkeley, berpendapat bahwa realitas hanya ada sejauh disadari oleh
individu: esse est percipi—“menjadi
adalah untuk disadari.”¹⁰ Sementara itu, idealisme objektif menolak
pandangan bahwa realitas bergantung pada persepsi individual. Menurut aliran
ini, realitas bersumber dari suatu kesadaran universal atau mind
objektif yang melandasi seluruh eksistensi.¹¹ Idealisme objektif, dengan
demikian, menegaskan bahwa dunia objektif memiliki realitas sejati bukan karena
ia ada dalam pikiran manusia, melainkan karena ia merupakan ekspresi dari
rasionalitas absolut yang menstrukturkan segala sesuatu.
Landasan ontologis
inilah yang membedakan idealisme dari pandangan-pandangan metafisik lainnya. Ia
tidak menolak keberadaan dunia fisik, tetapi memandangnya sebagai bentuk
penampakan dari prinsip non-material yang lebih tinggi.¹² Dengan demikian,
dalam kerangka ontologis, Idealisme Objektif memandang bahwa ada
sejati bukanlah materi, melainkan kesadaran universal yang menampakkan diri
dalam sejarah, kebudayaan, dan pemikiran manusia. Realitas, bagi idealisme,
tidak dapat dilepaskan dari makna dan rasionalitas yang menyusunnya—karena di
dalam “ada”, tersimpan struktur ide yang menghidupinya.
Footnotes
[1]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon
Press, 1908), 1025b–1026a.
[2]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 25–27.
[3]
Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (New York:
International Publishers, 1970), 42–43.
[4]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John
Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 17–21.
[5]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A307–A309.
[6]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 11–12.
[7]
G. W. F. Hegel, The Philosophy of Right, trans. T. M. Knox
(Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.
[8]
F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon
Press, 1893), 117–118.
[9]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 34–36.
[10]
George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human
Knowledge (Oxford: Clarendon Press, 1710), 35.
[11]
Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans.
Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 48–49.
[12]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation,
Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 158–160.
3.
Genealogi dan Perkembangan Historis Idealisme Objektif
Perkembangan Idealisme
Objektif tidak dapat dipahami tanpa menelusuri akar historisnya
dalam tradisi filsafat Barat. Aliran ini merupakan hasil evolusi panjang dari
refleksi manusia terhadap realitas dan kesadaran, yang dimulai dari filsafat
Yunani Kuno hingga sistem metafisika Jerman abad ke-19. Sejarah Idealisme
Objektif mencerminkan perubahan cara pandang terhadap hubungan antara ide dan
realitas, antara pikiran dan dunia, serta antara individu dan totalitas
universal.¹
3.1.
Akar Awal: Plato dan Dunia Idea
Asal-usul konseptual
Idealisme Objektif dapat ditemukan dalam filsafat Plato (427–347 SM), yang
mengemukakan teori tentang Idea atau Form.
Dalam dialog The Republic dan Phaedo,
Plato menjelaskan bahwa dunia inderawi hanyalah bayangan dari dunia Idea,
yang bersifat abadi, sempurna, dan rasional.² Dunia ide ini bukanlah hasil
ciptaan pikiran manusia, melainkan realitas sejati yang bersifat objektif dan
transenden. Dengan demikian, Plato meletakkan fondasi bagi pandangan bahwa
realitas pada dasarnya bersifat ideal dan independen dari persepsi individual.³
Bagi Plato, Idea
Kebaikan (the Idea of the Good) menempati
posisi tertinggi sebagai sumber segala eksistensi dan pengetahuan.⁴ Struktur
ontologis ini menunjukkan bahwa realitas memiliki hierarki rasional yang hanya
dapat diakses melalui pemikiran filosofis. Dengan cara ini, Plato
memperkenalkan paradigma bahwa hakikat “ada” adalah sesuatu yang
bersifat rasional dan spiritual, bukan material. Pandangan ini kelak menjadi
inti dari seluruh bentuk idealisme, termasuk idealisme objektif yang berkembang
berabad-abad kemudian.⁵
3.2.
Tradisi Neoplatonisme dan Transendensi Realitas
Setelah Plato,
pemikiran tentang realitas ideal dikembangkan lebih lanjut oleh Plotinus
(204–270 M), tokoh utama Neoplatonisme. Dalam karya
monumentalnya Enneads, Plotinus menafsirkan dunia
sebagai emanasi dari Yang Satu (The One),
sumber segala keberadaan dan kesempurnaan.⁶ Menurutnya, dunia material tidak
memiliki kemandirian ontologis, tetapi merupakan pancaran dari realitas
spiritual tertinggi.⁷
Neoplatonisme
menegaskan bahwa keberadaan memiliki struktur hierarkis yang berpuncak pada
prinsip spiritual absolut. Pemikiran ini berpengaruh luas pada filsafat Kristen
awal, terutama melalui Agustinus dari Hippo, yang memadukan ajaran Plato dan Plotinus
dalam teologi tentang Tuhan sebagai kebenaran dan realitas tertinggi.⁸ Dari
sinilah mulai terbentuk konsepsi metafisis tentang realitas sebagai ekspresi
dari prinsip ilahi yang rasional dan universal—sebuah gagasan yang akan menjadi
benih Idealisme Objektif di kemudian hari.⁹
3.3.
Perkembangan Modern: Leibniz dan Monadologi
Memasuki abad ke-17
dan ke-18, tradisi idealisme memperoleh bentuk baru melalui filsafat Gottfried
Wilhelm Leibniz (1646–1716). Dalam karyanya Monadology, Leibniz memperkenalkan
gagasan bahwa realitas tersusun dari unit-unit dasar yang disebut monad,
yaitu substansi spiritual yang mencerminkan keseluruhan kosmos.¹⁰ Setiap monad
adalah pusat persepsi yang menggambarkan dunia dari sudut pandangnya sendiri,
namun semuanya tetap berada dalam harmoni yang diatur oleh Tuhan.¹¹
Sistem Leibniz
menandai pergeseran dari idealisme metafisis Plato ke bentuk idealisme rasional
yang menekankan keteraturan universal. Di sini, realitas objektif tidak lagi
dipahami sebagai dunia ide yang statis, melainkan sebagai jaringan kesadaran
yang saling berhubungan dalam tatanan rasional.¹² Pandangan ini menjadi
jembatan menuju idealisme Jerman yang lebih sistematik pada abad ke-19.
3.4.
Transisi ke Idealisme Jerman: Kant, Fichte, dan
Schelling
Immanuel Kant
(1724–1804) memainkan peran penting dalam transformasi idealisme. Melalui Critique
of Pure Reason, ia menyatakan bahwa manusia tidak dapat mengetahui thing-in-itself
(das Ding
an sich), melainkan hanya fenomena yang terbentuk melalui struktur
apriori kesadaran.¹³ Pandangan Kant memunculkan bentuk baru idealisme
epistemologis, namun tetap meninggalkan ruang bagi pemikiran bahwa realitas
memiliki dimensi rasional yang melekat pada kesadaran.¹⁴
Johann Gottlieb
Fichte kemudian melanjutkan gagasan Kant dengan menekankan peran aktif subjek
dalam membentuk realitas melalui aktivitas Ego absolut.¹⁵ Namun, Friedrich
Wilhelm Joseph Schelling mengembangkan pandangan yang lebih objektif dengan
menegaskan bahwa alam dan roh merupakan dua aspek dari realitas yang sama.¹⁶ Ia
menyebutnya sebagai Identitätsphilosophie—filsafat
identitas—yang melihat kesatuan antara pikiran dan alam sebagai manifestasi
dari satu prinsip universal.¹⁷
3.5.
Puncak Pemikiran: Hegel dan Roh Absolut
Puncak perkembangan
Idealisme Objektif terdapat pada filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel
(1770–1831). Dalam Phenomenology of Spirit dan Science
of Logic, Hegel menegaskan bahwa seluruh realitas merupakan
ekspresi dari Roh Absolut (Absolute
Spirit), yang mengaktualkan dirinya melalui proses dialektis:
tesis, antitesis, dan sintesis.¹⁸ Realitas tidak bersifat statis, melainkan
dinamis dan rasional—proses di mana kesadaran universal memahami dan mewujudkan
dirinya sendiri dalam sejarah.¹⁹
Bagi Hegel, hubungan
antara pikiran dan dunia bukanlah hubungan eksternal, melainkan identitas
internal. Dunia nyata adalah wujud konkret dari ide rasional.²⁰ Dengan
demikian, Idealisme Objektif mencapai bentuk sistematisnya: realitas adalah
pikiran yang menjadi diri sendiri dalam bentuk objektif.²¹ Pandangan ini tidak
hanya memengaruhi metafisika dan ontologi, tetapi juga memberi dasar filosofis
bagi perkembangan ilmu sosial, sejarah, dan teologi modern.²²
Warisan dan Pengaruh Lanjutan
Setelah Hegel,
Idealisme Objektif terus memengaruhi pemikiran Barat, baik secara langsung maupun
melalui kritik terhadapnya. Tokoh seperti Josiah Royce di Amerika mengadaptasi
konsep mind
universal dalam konteks pragmatisme dan filsafat komunitas.²³
Sementara itu, kritik dari Karl Marx, Søren Kierkegaard, dan eksistensialis
kemudian memunculkan dialektika baru antara idealisme dan realisme historis.²⁴
Meski mengalami banyak penafsiran ulang, Idealisme Objektif tetap menjadi
tonggak penting dalam upaya memahami realitas sebagai struktur kesadaran yang
bersifat universal, rasional, dan dinamis.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 5–6.
[2]
Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis:
Hackett Publishing, 1992), 509–511.
[3]
John N. Findlay, Plato: The Written and Unwritten Doctrines
(London: Routledge, 1974), 83–85.
[4]
Plato, Phaedo, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett
Publishing, 1977), 99–100.
[5]
Werner Jaeger, Paideia: The Ideals of Greek Culture (New York:
Oxford University Press, 1945), 127–129.
[6]
Plotinus, The Enneads, trans. Stephen MacKenna (London: Faber
& Faber, 1969), V.2–V.5.
[7]
A. H. Armstrong, An Introduction to Ancient Philosophy
(London: Methuen, 1963), 210–213.
[8]
Augustine, Confessions, trans. Henry Chadwick (Oxford: Oxford
University Press, 1991), VII.10–VII.17.
[9]
Etienne Gilson, The Christian Philosophy of St. Augustine (New
York: Random House, 1960), 42–44.
[10]
Gottfried Wilhelm Leibniz, Monadology, trans. Robert Latta
(London: Oxford University Press, 1898), §1–§6.
[11]
Nicholas Jolley, Leibniz and the Rational Order of Nature
(Oxford: Clarendon Press, 1990), 59–61.
[12]
Bertrand Russell, A Critical Exposition of the Philosophy of
Leibniz (London: George Allen & Unwin, 1900), 101–104.
[13]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A42–B44.
[14]
Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge:
Cambridge University Press, 1987), 212–214.
[15]
Johann Gottlieb Fichte, The Science of Knowledge
(Wissenschaftslehre), trans. Peter Heath and John Lachs (Cambridge:
Cambridge University Press, 1982), 45–47.
[16]
Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans.
Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 37–39.
[17]
Andrew Bowie, Schelling and Modern European Philosophy
(London: Routledge, 1993), 54–56.
[18]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 81–83.
[19]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge:
Cambridge University Press, 2010), 23–25.
[20]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press,
1975), 210–212.
[21]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 89–91.
[22]
Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends
of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 15–17.
[23]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 44–46.
[24]
Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844,
trans. Martin Milligan (Moscow: Progress Publishers, 1959), 112–114.
4.
Esensi dan Prinsip Utama Idealisme Objektif
Esensi dari Idealisme
Objektif terletak pada pandangannya bahwa realitas pada dasarnya
bersifat spiritual dan rasional, namun eksistensinya tidak bergantung pada
kesadaran individual melainkan pada kesadaran universal atau Roh
Absolut.¹ Dengan kata lain, dunia tidak bergantung pada persepsi
subjek tertentu, tetapi memiliki dasar ontologis dalam struktur ide yang
objektif dan rasional. Aliran ini menegaskan bahwa pikiran dan realitas tidak
terpisah, melainkan dua aspek dari prinsip yang sama, yaitu rasionalitas
universal yang menyusun seluruh eksistensi.²
Dalam sistem Idealisme
Objektif, keberadaan bukanlah sesuatu yang bersifat pasif atau
material, tetapi merupakan aktivitas spiritual yang mengekspresikan dirinya
melalui dunia objektif.³ Prinsip ini menjadi inti pemikiran Hegel, Schelling,
dan Royce, yang melihat bahwa segala sesuatu yang ada adalah bagian dari proses
rasional kosmis.⁴ Realitas, dalam pandangan ini, merupakan hasil dari dialektika
ide—gerak rasional yang terus-menerus antara subjek dan objek,
antara pikiran dan kenyataan, menuju kesatuan yang lebih tinggi.⁵
4.1.
Realitas sebagai Manifestasi Kesadaran
Universal
Idealisme Objektif
menolak pandangan bahwa realitas adalah hasil ciptaan pikiran manusia semata,
sebagaimana diyakini oleh idealisme subjektif. Sebaliknya, ia
memandang bahwa kesadaran individu merupakan bagian dari kesadaran universal
yang lebih besar, yang menjadi dasar seluruh eksistensi.⁶ Hegel menyebut
prinsip ini sebagai Geist (Roh), yang tidak hanya
mencakup kesadaran manusia, tetapi juga seluruh tatanan alam, sejarah, dan
kebudayaan.⁷
Menurut Hegel, Roh
Absolut mengaktualkan dirinya melalui tiga tahap besar: (1) roh
subjektif—kesadaran individual; (2) roh objektif—perwujudan kesadaran dalam
lembaga sosial dan hukum; dan (3) roh absolut—kesadaran universal yang mencapai
refleksi tertingginya dalam seni, agama, dan filsafat.⁸ Dengan demikian, dunia
objektif bukanlah entitas asing bagi pikiran, melainkan wujud dari pikiran itu
sendiri dalam bentuk eksternal. Realitas bersifat self-determining—menentukan dirinya
sendiri—karena ia merupakan ekspresi dari ide yang terus-menerus bergerak
menuju kesadaran diri total.⁹
4.2.
Independensi Realitas dari Subjektivitas
Individual
Salah satu prinsip
mendasar Idealisme Objektif adalah bahwa realitas tidak bergantung pada
persepsi individual. Hal ini membedakannya secara tajam dari idealisme
subjektif ala George Berkeley, yang berpendapat bahwa keberadaan
suatu benda tergantung pada persepsi manusia (esse est percipi).¹⁰ Dalam
idealisme objektif, dunia tetap memiliki realitas bahkan tanpa disadari oleh
subjek tertentu, karena ia berakar pada struktur rasional yang objektif.¹¹
Friedrich Schelling
menegaskan bahwa alam dan roh bukanlah dua substansi yang berbeda, melainkan
dua aspek dari prinsip yang sama.¹² Alam adalah “roh yang terlihat,”
sementara roh adalah “alam yang tidak terlihat.”¹³ Dalam hubungan
dialektis ini, dunia objektif merupakan ekspresi dari kesadaran universal,
bukan hasil dari imajinasi subjek tertentu. Realitas tetap memiliki eksistensi
objektif karena ia adalah manifestasi dari prinsip spiritual yang bekerja dalam
seluruh keberadaan.¹⁴
4.3.
Prinsip “Idea Absolut” dan Rasionalitas
Realitas
Hegel mengembangkan
gagasan Idea
Absolut (Absolute Idea) sebagai prinsip
tertinggi dalam sistem idealismenya.¹⁵ Idea Absolut merupakan kesatuan
dari pemikiran dan keberadaan, di mana yang rasional dan yang nyata tidak dapat
dipisahkan. Ungkapan terkenalnya, “the real is rational, and the rational is
real”, menunjukkan bahwa segala yang ada memiliki dasar rasional,
dan segala yang rasional memiliki realitas.¹⁶
Dengan demikian,
struktur dunia bersifat logis; hukum-hukum realitas mencerminkan hukum-hukum
pemikiran. Dalam Science of Logic, Hegel menunjukkan
bahwa seluruh kategori pikiran—dari Being hingga Absolute
Spirit—merupakan tahap-tahap logis dari perkembangan realitas itu
sendiri.¹⁷ Prinsip ini mengandaikan bahwa tidak ada dikotomi sejati antara ide
dan materi, sebab keduanya adalah ekspresi dari satu proses rasional
universal.¹⁸
4.4.
Dialektika sebagai Struktur Ontologis
Bagi Hegel,
dialektika bukan hanya metode berpikir, tetapi juga struktur ontologis dari
realitas itu sendiri.¹⁹ Setiap entitas mengandung kontradiksi internal yang
memaksanya untuk bergerak menuju sintesis yang lebih tinggi. Proses ini bukan
kehancuran, melainkan pemenuhan diri dari ide.²⁰ Melalui dialektika inilah,
realitas berkembang dari bentuk-bentuk kesadaran sederhana menuju kesadaran
universal.
Dialektika Hegel
menunjukkan bahwa dunia bukanlah kumpulan fakta statis, tetapi dinamika
spiritual yang hidup.²¹ Dengan demikian, Idealisme Objektif melihat sejarah,
budaya, dan pengetahuan manusia sebagai proses manifestasi dari Roh Absolut
yang sedang mengenali dirinya sendiri.²²
Kesatuan Rasional antara Subjek dan Objek
Esensi terakhir dari
Idealisme Objektif adalah pandangan bahwa subjek (pikiran) dan objek (realitas)
tidak berdiri secara terpisah, tetapi merupakan kesatuan rasional yang saling
menegaskan.²³ Relasi ini bersifat imanen—pikiran tidak berada “di luar”
dunia, melainkan hadir di dalamnya sebagai struktur rasional.²⁴ Dalam sistem
ini, kebenaran tidak dipahami sebagai korespondensi antara pikiran dan realitas
eksternal, melainkan sebagai kesatuan di mana pikiran dan realitas merupakan
dua aspek dari satu totalitas yang sama.²⁵
Kesatuan ini
menunjukkan karakter spiritual dari dunia: bahwa yang nyata selalu dapat
dipahami secara rasional karena ia merupakan hasil ekspresi dari akal universal.²⁶
Dengan demikian, Idealisme Objektif bukan sekadar
teori tentang pengetahuan, melainkan metafisika yang menjelaskan hakikat
eksistensi sebagai kesadaran yang menubuh dalam realitas.²⁷
Footnotes
[1]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 5–6.
[2]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press,
1975), 143–145.
[3]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 11–13.
[4]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 47–49.
[5]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 79–82.
[6]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation,
Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 157–159.
[7]
G. W. F. Hegel, The Philosophy of Mind, trans. William Wallace
(Oxford: Clarendon Press, 1894), 12–14.
[8]
G. W. F. Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in
Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris
(Indianapolis: Hackett, 1991), §§381–385.
[9]
Robert M. Wallace, Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God
(Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 18–20.
[10]
George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human
Knowledge (Oxford: Clarendon Press, 1710), 35–36.
[11]
Richard Kroner, Von Kant bis Hegel, Vol. 2 (Tübingen: J. C. B.
Mohr, 1921), 142–144.
[12]
Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans.
Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 48–49.
[13]
Andrew Bowie, Schelling and Modern European Philosophy
(London: Routledge, 1993), 57–59.
[14]
Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge:
Cambridge University Press, 1987), 212–213.
[15]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni
(Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 35–38.
[16]
Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford
University Press, 1967), 20.
[17]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics, 87–89.
[18]
Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends
of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 43–45.
[19]
Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to
Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 24–27.
[20]
Hegel, Phenomenology of Spirit, 102–104.
[21]
Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge
University Press, 1979), 98–100.
[22]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University
Press, 1983), 231–233.
[23]
Josiah Royce, The Problem of Christianity (New York:
Macmillan, 1913), 19–22.
[24]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1, 160–162.
[25]
Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of
Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 76–78.
[26]
Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against
Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002),
192–194.
[27]
Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge,
2002), 54–56.
5.
Ontologi Hegelian sebagai Puncak Idealisme
Objektif
Sistem filsafat
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831) menandai puncak tertinggi dari
perkembangan Idealisme Objektif. Melalui
karya-karya utamanya seperti Phenomenology of Spirit (1807), Science
of Logic (1812–1816), dan Encyclopedia of the Philosophical Sciences
(1817), Hegel merumuskan suatu sistem metafisika yang menafsirkan realitas
sebagai proses rasional yang mengekspresikan dirinya dalam bentuk kesadaran.¹
Bagi Hegel, realitas bukanlah kumpulan entitas material yang terpisah-pisah,
melainkan satu totalitas dinamis yang disebutnya sebagai Roh
Absolut (Absolute Spirit), yang berkembang
melalui dialektika menuju kesadaran diri sempurna.²
Ontologi Hegelian
bertolak dari prinsip bahwa being (ada) dan thought
(pikiran) adalah identik; segala sesuatu yang benar-benar ada juga bersifat
rasional.³ Pandangan ini dirangkum dalam ungkapan terkenalnya, “Das
Wirkliche ist vernünftig, und das Vernünftige ist wirklich” (“Yang
nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata”).⁴ Dengan demikian,
Hegel tidak memisahkan antara ontologi dan logika, karena bagi dirinya,
struktur keberadaan sejati adalah struktur logis yang dapat dimengerti oleh
rasio. Realitas bukanlah objek yang pasif, melainkan proses spiritual yang
hidup dan berpikir.
5.1.
Logika dan Realitas: Identitas antara Pikiran
dan Keberadaan
Dalam Science
of Logic, Hegel menegaskan bahwa logika bukan sekadar alat
berpikir, melainkan “metafisika sejati” yang mengungkap struktur
realitas itu sendiri.⁵ Logika Hegel menjelaskan bagaimana Being
(ada) berkembang menjadi Essence (hakikat), lalu menjadi Concept
(pengertian), hingga mencapai Absolute Idea—yakni kesatuan antara
subjek dan objek, pikiran dan realitas.⁶ Di sini, logika bukan lagi abstraksi
mental, tetapi realitas dalam bentuk rasionalitas murni.
Ontologi Hegelian
dengan demikian menolak dikotomi antara pikiran dan dunia, karena keduanya
merupakan aspek dari satu proses yang sama: ide yang berpikir dirinya sendiri (the Idea
thinking itself).⁷ Bagi Hegel, “menjadi” bukanlah kondisi
statis, tetapi gerak dinamis menuju aktualisasi diri.⁸ Dalam konteks ini,
realitas adalah proses reflektif, di mana eksistensi mengandung logika internal
yang secara niscaya membawa dirinya menuju kesadaran penuh.⁹
5.2.
Dialektika sebagai Struktur Ontologis Realitas
Prinsip dialektika
menjadi jantung dari ontologi Hegelian. Dialektika bukan hanya metode berpikir,
tetapi juga hukum eksistensi itu sendiri.¹⁰ Setiap keberadaan mengandung
kontradiksi internal (negativity) yang memaksanya berkembang
menuju sintesis yang lebih tinggi.¹¹ Proses ini dikenal sebagai triadik: tesis
(penegasan), antitesis (penyangkalan), dan sintesis
(rekonsiliasi). Namun bagi Hegel, ketiganya bukan tahap mekanis, melainkan
ekspresi dinamis dari gerak Roh menuju pemahaman diri.¹²
Dialektika ini
menunjukkan bahwa realitas bersifat self-determining—menentukan dirinya
sendiri melalui negasi dan transformasi.¹³ Dalam setiap tahap sejarah, ilmu,
dan kesadaran manusia, Roh Absolut mengaktualkan sebagian dari hakikatnya,
hingga akhirnya mencapai bentuk kesadaran tertinggi di mana Ia mengenali
dirinya sebagai realitas itu sendiri.¹⁴ Dengan demikian, dialektika Hegelian
bukan sekadar teori perubahan, tetapi struktur ontologis realitas yang
menjelaskan mengapa segala sesuatu berkembang secara rasional.¹⁵
5.3.
Roh Absolut sebagai Prinsip Ontologis Tertinggi
Hegel menggambarkan Roh
Absolut sebagai prinsip tertinggi yang meliputi seluruh eksistensi,
baik alam, masyarakat, maupun kesadaran individual.¹⁶ Roh Absolut bukan entitas
metafisik di luar dunia, melainkan proses imanen di mana ide menjadi sadar akan
dirinya melalui sejarah.¹⁷ Dalam Phenomenology of Spirit, Hegel
menunjukkan bahwa Roh berkembang dari kesadaran individual menuju kesadaran
kolektif dan akhirnya mencapai kesadaran filosofis universal.¹⁸
Tahap-tahap
perkembangan ini menunjukkan bagaimana realitas spiritual mengungkap dirinya
dalam tiga bentuk utama:
1)
Roh Subjektif
(Subjective Spirit) – meliputi kesadaran, pemikiran, dan kepribadian
individu.
2)
Roh Objektif
(Objective Spirit) – termanifestasi dalam lembaga sosial, hukum, dan
etika.
3)
Roh Absolut
(Absolute Spirit) – menampakkan diri dalam seni, agama, dan filsafat
sebagai bentuk tertinggi kesadaran.¹⁹
Ketiganya bukan
entitas terpisah, melainkan tahap-tahap evolusi dari satu Roh yang sama.²⁰
Dalam tahap tertinggi, realitas mencapai kesadaran diri penuh: roh memahami
bahwa segala sesuatu yang ada merupakan bagian dari dirinya.²¹
5.4.
Ontologi Hegelian sebagai Totalitas Rasional
dan Historis
Ciri khas ontologi
Hegel adalah sifatnya yang total dan historis.
Hegel menolak pandangan bahwa realitas dapat dipahami sebagai kumpulan fakta
statis tanpa makna. Sebaliknya, dunia adalah proses rasional yang bergerak
melalui waktu.²² Dalam pandangan ini, sejarah manusia bukanlah peristiwa kebetulan,
melainkan bagian dari logika Roh yang sedang berproses menuju kebebasan dan
kesadaran diri.²³
Hegel menulis bahwa
“sejarah dunia adalah kemajuan dalam kesadaran kebebasan.”²⁴ Artinya,
sejarah bukan sekadar kronologi, melainkan ekspresi metafisis dari upaya
realitas mengenal dirinya sendiri melalui pengalaman manusia.²⁵ Dengan
demikian, ontologi Hegelian bersifat teleologis: segala sesuatu mengarah
pada tujuan rasional yang tertinggi, yaitu realisasi kebebasan dan kesadaran
absolut.²⁶
Konsekuensi Metafisik dan Filosofis
Ontologi Hegelian
membawa konsekuensi besar bagi pemikiran metafisika. Pertama, ia menolak
dualisme Cartesian antara pikiran dan materi, karena keduanya hanyalah momen
dari satu totalitas spiritual.²⁷ Kedua, ia menolak empirisisme yang menganggap
realitas sebagai kumpulan fakta yang berdiri sendiri, sebab baginya, kebenaran
tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan sistem.²⁸ Ketiga, ia menegaskan bahwa
realitas bersifat rasional: tidak ada sesuatu pun yang benar-benar “ada”
kecuali dalam kaitannya dengan keseluruhan yang bermakna.²⁹
Dengan demikian,
ontologi Hegelian tidak hanya menyatukan metafisika dan logika, tetapi juga
menjadikan sejarah dan kesadaran manusia sebagai bagian dari struktur ontologis
realitas.³⁰ Idealisme Objektif mencapai puncaknya dalam sistem ini karena Hegel
berhasil menunjukkan bahwa “ada” bukan substansi mati, melainkan
kehidupan rasional yang terus berkembang dalam kesadaran universal.³¹
Footnotes
[1]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 3–4.
[2]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 8–9.
[3]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press,
1975), 132–134.
[4]
G. W. F. Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox
(Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.
[5]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni
(Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 35–37.
[6]
Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to
Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 17–19.
[7]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation,
Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 160–162.
[8]
Hegel, Science of Logic, 89–90.
[9]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford
University Press, 1983), 210–213.
[10]
Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against
Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002),
188–190.
[11]
Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends
of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 45–47.
[12]
Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of
Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 76–79.
[13]
Hegel, Phenomenology of Spirit, 104–106.
[14]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 35–36.
[15]
G. W. F. Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in
Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris
(Indianapolis: Hackett, 1991), §81–§83.
[16]
Hegel, Philosophy of Mind, trans. William Wallace (Oxford:
Clarendon Press, 1894), 15–16.
[17]
Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge
University Press, 1979), 98–100.
[18]
Hegel, Phenomenology of Spirit, 481–484.
[19]
Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences, §§381–385.
[20]
Robert M. Wallace, Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God
(Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 19–21.
[21]
Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell
University Press, 1996), 112–114.
[22]
Terry Pinkard, Hegel: A Biography (Cambridge: Cambridge
University Press, 2000), 454–456.
[23]
Hegel, Lectures on the Philosophy of History, trans. J. Sibree
(London: Bell, 1902), 19–20.
[24]
Ibid., 22.
[25]
Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge,
2002), 77–79.
[26]
Hegel, Philosophy of Right, 45–47.
[27]
Desmond Lee, Hegel’s Philosophy of Nature (Oxford: Clarendon
Press, 1970), 58–60.
[28]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 62–63.
[29]
Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge:
Cambridge University Press, 1987), 210–211.
[30]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel, 242–244.
[31]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics, 102–104.
6.
Implikasi Epistemologis dan Metafisik
Dalam kerangka Idealisme
Objektif, aspek epistemologis dan metafisik saling terkait erat
karena pengetahuan (epistēmē) dan realitas (ontos)
dianggap berasal dari prinsip yang sama: kesadaran universal atau Roh
Absolut.¹ Dengan demikian, hubungan antara subjek yang mengetahui
dan objek yang diketahui bukanlah hubungan eksternal sebagaimana dalam
empirisme atau realisme naif, melainkan hubungan internal dalam satu sistem
rasional yang sama.² Pengetahuan bukan sekadar representasi terhadap dunia,
melainkan partisipasi aktif dalam struktur realitas itu sendiri.
6.1.
Implikasi Epistemologis: Pengetahuan sebagai
Partisipasi dalam Realitas Rasional
Dalam epistemologi
idealisme objektif, mengetahui berarti memahami struktur ide yang membentuk
realitas.³ Kebenaran tidak diukur berdasarkan kesesuaian antara pikiran dan
objek eksternal (correspondence theory of truth),
tetapi berdasarkan kesesuaian internal antara bagian-bagian pemikiran dan
totalitas sistem rasional yang lebih besar (coherence theory of truth).⁴
Artinya, kebenaran bersifat sistemik: sesuatu dianggap benar sejauh ia
konsisten dengan keseluruhan rasional yang melandasi realitas.⁵
Hegel menegaskan
bahwa pengetahuan adalah proses di mana pikiran menjadi sadar akan dirinya
sendiri dalam dunia yang juga merupakan ekspresi dari pikiran itu.⁶ Dalam Phenomenology
of Spirit, ia menunjukkan bahwa kesadaran tidak pernah statis,
melainkan terus berkembang dari tahap persepsi sederhana menuju kesadaran diri
dan akhirnya menuju pengetahuan absolut.⁷ Dalam tahap tertinggi ini, subjek dan
objek pengetahuan tidak lagi terpisah—mereka bersatu dalam kesadaran universal
yang mengenali dirinya sendiri melalui aktivitas berpikir.⁸
Implikasi penting
dari pandangan ini adalah bahwa epistemologi tidak bisa dipisahkan dari sejarah
dan budaya. Proses mengetahui tidak berlangsung dalam ruang hampa, tetapi
merupakan bagian dari perkembangan Roh Absolut dalam waktu.⁹ Sejarah filsafat,
ilmu, dan seni mencerminkan tahap-tahap perkembangan kesadaran universal yang
sedang berupaya memahami dirinya sendiri.¹⁰ Maka, epistemologi Hegelian
bukanlah sekadar teori pengetahuan, tetapi sekaligus teori tentang proses
ontologis realitas itu sendiri.
6.2.
Implikasi Metafisik: Realitas sebagai Struktur
Rasional-Spiritual
Secara metafisik, Idealisme
Objektif menolak pandangan bahwa realitas bersifat material atau
dualistik. Bagi Hegel dan para idealis objektif lainnya, realitas bersifat
spiritual karena seluruh keberadaan merupakan manifestasi dari ide atau
rasionalitas yang berpikir.¹¹ Dengan demikian, dunia fisik hanyalah bentuk
penampakan dari prinsip ideal yang imanen di dalamnya.¹²
Hegel menggambarkan
realitas sebagai proses menjadi (becoming)
yang rasional.¹³ Realitas bukan entitas statis, melainkan dinamika dialektis
antara keberadaan (being) dan ketiadaan (nothing),
yang menghasilkan becoming.¹⁴ Melalui proses ini,
realitas secara bertahap mengungkapkan struktur rasional yang mendasarinya.¹⁵
Pandangan ini membalikkan paradigma metafisika tradisional: bukan ide yang
bergantung pada materi, tetapi materi yang memperoleh makna karena
partisipasinya dalam ide.¹⁶
Metafisika Hegelian
juga memiliki sifat teleologis: segala sesuatu dalam realitas bergerak menuju
aktualisasi kesadaran absolut.¹⁷ Dalam arti ini, keberadaan memiliki arah dan
tujuan, bukan dalam pengertian empiris, tetapi dalam pengertian rasional dan
spiritual.¹⁸ Tujuan akhir dari seluruh realitas adalah self-realization
dari Roh Absolut—yakni pencapaian kondisi di mana kesadaran universal mengenali
dirinya sendiri sebagai dasar dari segala yang ada.¹⁹
Kesatuan Epistemologi dan Metafisika
Keunggulan Idealisme
Objektif terletak pada penyatuan epistemologi dan metafisika dalam
satu sistem rasional. Bagi Hegel, cara kita mengetahui dunia tidak dapat
dipisahkan dari bagaimana dunia itu ada.²⁰ Pengetahuan bukan sekadar aktivitas
subjek, melainkan bagian dari proses ontologis realitas yang sedang menyadari
dirinya sendiri.²¹ Dengan demikian, batas antara filsafat pengetahuan dan
filsafat keberadaan menjadi kabur, karena keduanya merupakan momen dalam satu
gerak yang sama: gerak ide menuju kesadaran diri.²²
Implikasi dari
kesatuan ini sangat luas. Dalam filsafat ilmu, pandangan ini menegaskan bahwa
pengetahuan ilmiah bukan refleksi pasif terhadap fakta, melainkan konstruksi
aktif yang mengikuti hukum rasional realitas.²³ Dalam etika, ia menegaskan
bahwa tindakan manusia merupakan ekspresi dari kehendak rasional universal yang
berupaya mewujudkan kebebasan.²⁴ Dalam estetika dan agama, ia memperlihatkan
bahwa pengalaman keindahan dan iman adalah cara-cara konkret di mana kesadaran
manusia berpartisipasi dalam struktur spiritual semesta.²⁵
Akhirnya, baik
secara epistemologis maupun metafisik, Idealisme Objektif menegaskan bahwa
realitas dan pengetahuan merupakan dua sisi dari satu proses yang sama—yakni
proses Roh Absolut memahami dirinya sendiri melalui dunia dan manusia.²⁶ Dalam
proses itu, rasionalitas dan spiritualitas tidak hanya menjadi prinsip
metafisik tertinggi, tetapi juga dasar bagi segala bentuk eksistensi dan
pengetahuan yang bermakna.²⁷
Footnotes
[1]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 45–47.
[2]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press,
1975), 132–134.
[3]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 16–17.
[4]
F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon
Press, 1893), 117–119.
[5]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation,
Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 163–165.
[6]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 78–80.
[7]
Terry Pinkard, Hegel’s Phenomenology: The Sociality of Reason
(Cambridge: Cambridge University Press, 1994), 98–100.
[8]
Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of
Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 45–47.
[9]
Hegel, Lectures on the History of Philosophy, trans. E. S.
Haldane (London: Kegan Paul, 1892), 19–21.
[10]
Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against
Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002),
192–194.
[11]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni
(Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 35–37.
[12]
Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans.
Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 53–54.
[13]
Hegel, Science of Logic, 83–85.
[14]
Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to
Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 24–27.
[15]
Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge
University Press, 1979), 99–101.
[16]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford
University Press, 1983), 220–222.
[17]
Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in Outline,
trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris (Indianapolis: Hackett,
1991), §236–§244.
[18]
Josiah Royce, The Problem of Christianity (New York:
Macmillan, 1913), 35–37.
[19]
Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell
University Press, 1996), 112–114.
[20]
Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge:
Cambridge University Press, 1987), 211–213.
[21]
Hegel, Phenomenology of Spirit, 483–485.
[22]
Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge,
2002), 66–68.
[23]
Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends
of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 49–50.
[24]
Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford
University Press, 1967), 45–46.
[25]
G. W. F. Hegel, Aesthetics: Lectures on Fine Art, trans. T. M.
Knox (Oxford: Clarendon Press, 1975), 14–15.
[26]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel, 235–237.
[27]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 65–67.
7.
Kritik terhadap Idealisme Objektif
Meskipun Idealisme
Objektif memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan metafisika
modern dan pemahaman rasional terhadap realitas, aliran ini juga menghadapi
berbagai kritik dari berbagai arah pemikiran filsafat, baik dari empirisisme,
materialisme, positivisme logis, maupun eksistensialisme. Kritik-kritik ini
tidak hanya menyoroti kelemahan metodologisnya, tetapi juga menggugat klaim
ontologis dan epistemologis yang menjadi fondasinya.
7.1.
Kritik dari Empirisisme dan Materialisme
Kaum empirisis,
seperti John Locke dan David Hume, menolak gagasan bahwa realitas dapat
dijelaskan semata-mata melalui konsep rasional atau kesadaran universal.¹
Menurut mereka, seluruh pengetahuan manusia berakar pada pengalaman inderawi,
bukan pada struktur ide bawaan atau prinsip metafisik.² Dalam pandangan ini,
Idealisme Objektif dianggap mengabaikan dimensi empiris dari pengetahuan dan
terjebak dalam spekulasi abstrak yang tidak dapat diverifikasi.
Materialisme
menambahkan kritik yang lebih tajam terhadap pandangan idealis dengan
menegaskan bahwa kesadaran bukanlah sebab, melainkan akibat dari proses material.³
Karl Marx, misalnya, menolak metafisika idealisme Hegel dengan menganggapnya
sebagai bentuk “inversi logis”—yakni menempatkan dunia ide di atas dunia
nyata.⁴ Dalam Theses on Feuerbach, Marx
menyatakan bahwa bukan kesadaran yang menentukan kehidupan, tetapi kehidupan
sosial-materiallah yang menentukan kesadaran manusia.⁵ Dengan demikian, bagi
para materialis, Idealisme Objektif gagal menjelaskan dasar eksistensial
manusia karena meniadakan realitas konkret dari kondisi material.
7.2.
Kritik dari Positivisme Logis dan Ilmu
Pengetahuan Modern
Pada abad ke-20,
muncul gelombang baru kritik dari positivisme logis yang diwakili
oleh tokoh-tokoh seperti Rudolf Carnap dan A. J. Ayer.⁶ Menurut mereka,
pernyataan-pernyataan metafisis dalam idealisme, seperti tentang “Roh
Absolut” atau “Ide Universal,” tidak memiliki makna ilmiah karena
tidak dapat diverifikasi secara empiris.⁷ Positivisme logis menegaskan bahwa
hanya proposisi yang dapat diuji melalui pengalaman dan observasi yang memiliki
nilai kebenaran. Oleh karena itu, sistem Hegel dianggap sebagai konstruksi
linguistik yang indah namun tidak memiliki nilai kognitif.⁸
Selain itu, kemajuan
ilmu pengetahuan modern juga menantang klaim rasional totalitas dalam Idealisme
Objektif. Teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum menunjukkan bahwa
realitas fisik tidak dapat dipahami sebagai sistem yang sepenuhnya rasional dan
deterministik sebagaimana diasumsikan Hegel.⁹ Konsep tentang “realitas yang
rasional sepenuhnya” menjadi sulit dipertahankan ketika ilmu modern menunjukkan
adanya ketidakpastian dan kompleksitas yang tak tereduksi secara logis.¹⁰
7.3.
Kritik dari Eksistensialisme dan Fenomenologi
Aliran
eksistensialisme memberikan kritik yang lebih humanistik terhadap Idealisme
Objektif. Søren Kierkegaard, tokoh awal eksistensialisme, menilai bahwa sistem
Hegel terlalu abstrak dan mengabaikan eksistensi manusia yang konkret.¹¹ Bagi
Kierkegaard, manusia tidak dapat direduksi menjadi bagian dari struktur
rasional universal karena setiap individu memiliki kebebasan, kecemasan, dan
keputusan etis yang unik.¹² Ia menuduh Hegel menciptakan “sistem tanpa
eksistensi,” yakni filsafat yang menghapuskan individu demi totalitas
logis.¹³
Martin Heidegger,
melalui Being
and Time, juga mengkritik tradisi idealisme (termasuk Hegelianisme)
karena melupakan “pertanyaan tentang keberadaan” (Seinsfrage).¹⁴
Ia berpendapat bahwa idealisme terlalu fokus pada kesadaran dan konsep,
sehingga gagal memahami keberadaan sebagai pengalaman yang lebih mendasar dan
pra-konseptual.¹⁵ Sementara itu, Edmund Husserl melalui fenomenologi
menunjukkan bahwa kesadaran tidak bisa disamakan dengan sistem rasional
universal, sebab ia selalu terarah pada dunia pengalaman (intentionality)
yang bersifat konkret dan temporal.¹⁶ Kritik-kritik ini menegaskan bahwa
Idealisme Objektif cenderung mengabaikan dimensi eksistensial manusia dalam
upayanya membangun struktur metafisik yang sempurna.
7.4.
Kritik dari Tradisi Analitik dan Filsafat
Bahasa
Filsafat analitik,
khususnya pada abad ke-20, juga menolak klaim universal dari Idealisme
Objektif. Bertrand Russell dan G. E. Moore menilai bahwa Hegel dan para idealis
lainnya membuat kesalahan kategori dengan mencampuradukkan antara konsep dan
fakta.¹⁷ Russell berargumen bahwa dunia terdiri atas entitas logis yang
independen, bukan manifestasi dari kesadaran universal.¹⁸ Ia menuduh Hegel
menggunakan bahasa yang ambigu dan membingungkan, sehingga sistemnya tidak
dapat diuji secara logis.¹⁹
Moore menegaskan
prinsip common
sense realism, yakni bahwa benda-benda seperti meja, kursi, dan
dunia fisik benar-benar ada secara independen dari pikiran manusia.²⁰ Kritik
ini menolak klaim idealis bahwa realitas bergantung pada kesadaran atau
rasionalitas universal.²¹ Dengan demikian, tradisi analitik menuntut agar
filsafat kembali pada kejelasan konseptual dan analisis bahasa yang ketat,
bukan pada spekulasi metafisik yang sulit diverifikasi.²²
Refleksi terhadap Nilai Kritik
Walaupun
kritik-kritik tersebut melemahkan posisi Idealisme Objektif dalam filsafat
kontemporer, banyak pemikir modern tetap menilai bahwa sistem Hegel memiliki
nilai historis dan metodologis yang besar.²³ Dialektika Hegel, misalnya, tetap
menjadi inspirasi bagi teori kritis, hermeneutika, dan filsafat sejarah.²⁴
Bahkan beberapa filsuf postmodern seperti Slavoj Žižek dan Axel Honneth
berusaha merevitalisasi aspek rasional dan emansipatoris dari Idealisme
Objektif tanpa mengulangi dogmatisme metafisiknya.²⁵ Dengan demikian, meskipun
Idealisme Objektif telah menjadi sasaran berbagai kritik, warisan
intelektualnya masih relevan dalam upaya memahami hubungan antara rasionalitas,
kesadaran, dan realitas dalam konteks kontemporer.²⁶
Footnotes
[1]
John Locke, An Essay Concerning Human Understanding (Oxford:
Clarendon Press, 1690), 27–28.
[2]
David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding, ed.
Eric Steinberg (Indianapolis: Hackett Publishing, 1993), 15–17.
[3]
Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (New York:
International Publishers, 1970), 42–43.
[4]
Karl Marx, Critique of Hegel’s Philosophy of Right, trans.
Annette Jolin (Cambridge: Cambridge University Press, 1970), 7–9.
[5]
Karl Marx, Theses on Feuerbach (Moscow: Progress Publishers,
1958), 12–13.
[6]
Rudolf Carnap, The Elimination of Metaphysics Through Logical
Analysis of Language (Vienna: Erkenntnis, 1932), 62–64.
[7]
A. J. Ayer, Language, Truth, and Logic (London: Gollancz,
1936), 35–37.
[8]
Herbert Feigl, “Logical Empiricism,” in The Encyclopedia of
Philosophy, ed. Paul Edwards (New York: Macmillan, 1967), 60–61.
[9]
Albert Einstein, Relativity: The Special and General Theory
(New York: Crown Publishers, 1961), 113–115.
[10]
Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern
Science (New York: Harper & Row, 1958), 27–30.
[11]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript to the
Philosophical Fragments, trans. David F. Swenson (Princeton: Princeton
University Press, 1941), 87–88.
[12]
Ibid., 90–92.
[13]
Alastair Hannay, Kierkegaard: A Biography (Cambridge:
Cambridge University Press, 2001), 112–113.
[14]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 25–27.
[15]
Ibid., 31–33.
[16]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a
Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus
Nijhoff, 1982), 47–49.
[17]
Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (New York:
Simon & Schuster, 1945), 690–692.
[18]
Ibid., 693.
[19]
Bertrand Russell, Our Knowledge of the External World (London:
Allen & Unwin, 1914), 101–103.
[20]
G. E. Moore, “A Defence of Common Sense,” in Contemporary British
Philosophy, ed. J. H. Muirhead (London: Allen & Unwin, 1925), 3–5.
[21]
G. E. Moore, Some Main Problems of Philosophy (London: George
Allen & Unwin, 1953), 12–14.
[22]
Michael Dummett, Truth and Other Enigmas (Cambridge, MA:
Harvard University Press, 1978), 98–100.
[23]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford
University Press, 1983), 241–243.
[24]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy
J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 301–303.
[25]
Slavoj Žižek, Less Than Nothing: Hegel and the Shadow of Dialectical
Materialism (London: Verso, 2012), 47–50.
[26]
Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic
Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014),
21–23.
8.
Relevansi dan Aplikasi Kontemporer
Meskipun Idealisme
Objektif muncul dalam konteks filsafat modern awal dan mencapai
puncaknya pada sistem metafisika Hegel, pengaruhnya tetap terasa kuat dalam
wacana kontemporer. Pandangan bahwa realitas bersifat rasional, spiritual, dan
berproses dalam kesadaran universal telah melahirkan beragam reinterpretasi di
bidang filsafat ilmu, teori sosial, pendidikan, hingga teknologi digital.¹
Dalam konteks abad ke-21 yang ditandai oleh kompleksitas global, relativisme
nilai, dan perkembangan teknologi yang pesat, Idealisme Objektif menawarkan
kerangka konseptual untuk memahami dunia bukan sebagai entitas terpisah, tetapi
sebagai jaringan kesadaran rasional yang saling berhubungan.
8.1.
Relevansi dalam Filsafat Ilmu dan Teori
Pengetahuan
Dalam filsafat ilmu,
Idealisme
Objektif menginspirasi munculnya pandangan konstruktivisme dan
realisme kritis.² Kedua pendekatan ini, meskipun berakar pada paradigma ilmiah,
mengakui bahwa pengetahuan ilmiah tidak sepenuhnya bersifat objektif dalam arti
empiris, melainkan selalu terbentuk melalui struktur konseptual dan rasional
tertentu.³ Sejalan dengan prinsip Hegel bahwa “yang rasional adalah yang
nyata,” sains dipahami sebagai proses dialektis antara ide dan pengalaman
yang saling memperkaya.⁴
Thomas Kuhn, dalam
karyanya The
Structure of Scientific Revolutions, menggemakan semangat idealisme
objektif ketika menyatakan bahwa ilmu berkembang melalui “paradigma”—kerangka
konseptual kolektif yang menentukan bagaimana realitas dipahami pada suatu masa
tertentu.⁵ Dalam hal ini, perubahan ilmiah bukan sekadar hasil akumulasi data,
melainkan hasil transformasi rasional dalam kesadaran ilmiah.⁶ Dengan demikian,
ilmu pengetahuan modern tidak dapat dipisahkan dari rasionalitas yang menjadi
inti dari Idealisme Objektif: realitas ilmiah adalah bentuk dari kesadaran yang
berproses dalam kerangka ide universal.⁷
8.2.
Relevansi dalam Filsafat Sosial dan Etika
Dalam bidang
filsafat sosial, Idealisme Objektif memiliki dampak besar terhadap teori sosial
modern, terutama pada pemikiran Karl Marx, Émile Durkheim, dan Jürgen Habermas.⁸
Meskipun Marx mengkritik Hegel secara tajam, ia tetap mempertahankan gagasan
dialektika sejarah sebagai kerangka penjelasan atas perkembangan masyarakat.⁹
Ide tentang “Roh Absolut” diubah menjadi “proses historis-material,”
tetapi logika rasional-dialektis Hegel tetap menjadi pondasi metode Marxian.¹⁰
Jürgen Habermas,
dalam tradisi Critical Theory, menafsirkan ulang
Idealisme Objektif melalui konsep rasio komunikatif.¹¹ Ia berpendapat
bahwa rasionalitas tidak hanya bersifat subjektif, tetapi juga sosial dan
intersubjektif—yakni terwujud dalam komunikasi antara individu-individu yang
berupaya mencapai pemahaman bersama.¹² Dengan cara ini, Hegelianisme diperluas
dalam konteks demokrasi deliberatif modern: masyarakat yang rasional adalah
masyarakat yang terbentuk melalui dialog dan refleksi bersama, bukan sekadar
melalui kekuasaan atau kepentingan.¹³
Dalam etika,
Idealisme Objektif menegaskan pentingnya prinsip rasional universal dalam
tindakan moral.¹⁴ Prinsip ini sejalan dengan gagasan Immanuel Kant tentang
imperatif kategoris, namun Hegel melengkapinya dengan menempatkan moralitas
dalam konteks sosial dan historis.¹⁵ Dengan demikian, moralitas bukan hanya
soal kehendak individu, tetapi merupakan ekspresi dari Roh Objektif yang
berwujud dalam lembaga sosial, hukum, dan nilai-nilai kolektif.¹⁶
8.3.
Relevansi dalam Filsafat Pendidikan
Dalam konteks
pendidikan modern, Idealisme Objektif menempati posisi penting sebagai dasar
filosofis bagi pengembangan karakter dan kesadaran rasional. George Herbert
Mead dan John Dewey, misalnya, mengembangkan teori pendidikan yang menekankan
interaksi sosial sebagai sarana pembentukan kesadaran diri.¹⁷ Pemikiran ini
sejalan dengan Hegelianisme, yang memandang individu sebagai bagian dari proses
dialektis antara diri dan masyarakat.¹⁸
Pendidikan, dalam
kerangka ini, bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses partisipatif di
mana peserta didik menginternalisasi struktur nilai dan rasionalitas
universal.¹⁹ Hal ini tercermin dalam pendekatan humanistic education dan transformative
learning, yang menekankan refleksi kritis dan pengembangan
kesadaran diri.²⁰ Dengan demikian, Idealisme Objektif memberikan dasar
filosofis bagi pendidikan yang membentuk manusia sebagai makhluk rasional,
etis, dan spiritual yang sadar akan posisinya dalam totalitas sosial.²¹
8.4.
Relevansi dalam Konteks Teknologi dan Dunia
Digital
Perkembangan
teknologi digital dan kecerdasan buatan juga dapat dibaca melalui kacamata
Idealisme Objektif.²² Dunia digital menghadirkan realitas baru yang tidak
sepenuhnya material, tetapi terbentuk dari representasi ide dan data.²³ Dalam
hal ini, dunia maya merupakan perwujudan konkret dari gagasan idealisme:
realitas virtual adalah “ide yang menjadi nyata” melalui struktur
rasional algoritmik.²⁴
Filsuf kontemporer
seperti Luciano Floridi mengembangkan konsep infosfer—ruang ontologis di mana
informasi menjadi dasar keberadaan—yang sangat dekat dengan semangat Idealisme
Objektif.²⁵ Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, batas antara ide dan
realitas menjadi kabur, dan kesadaran manusia semakin berpartisipasi dalam
struktur informasi global.²⁶ Maka, prinsip Hegelian bahwa realitas merupakan
manifestasi rasional kesadaran menemukan bentuk barunya dalam era digital, di
mana informasi, pikiran, dan eksistensi berbaur dalam satu sistem totalitas
teknologi.²⁷
Refleksi Akhir: Idealisme Objektif dan
Tantangan Kontemporer
Dalam konteks
pluralisme nilai dan krisis makna dewasa ini, Idealisme Objektif mengajukan
visi alternatif tentang kesatuan rasional yang melampaui fragmentasi modernitas.²⁸
Ia menawarkan pandangan bahwa kemajuan pengetahuan, moralitas, dan teknologi
hanyalah bermakna sejauh terarah pada kesadaran universal yang mencerminkan
kebebasan dan rasionalitas manusia.²⁹ Dengan demikian, Idealisme Objektif tetap
relevan sebagai fondasi reflektif untuk membangun paradigma yang memadukan
spiritualitas, rasionalitas, dan kemanusiaan di tengah dinamika dunia global
yang terus berubah.³⁰
Footnotes
[1]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 132–134.
[2]
Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso,
1975), 21–23.
[3]
Paul Feyerabend, Against Method (London: Verso, 1975), 35–37.
[4]
G. W. F. Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox
(Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.
[5]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 10–12.
[6]
Ibid., 84–85.
[7]
Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against
Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002),
214–216.
[8]
Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844,
trans. Martin Milligan (Moscow: Progress Publishers, 1959), 75–77.
[9]
Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (New York:
International Publishers, 1970), 48–50.
[10]
Herbert Marcuse, Reason and Revolution: Hegel and the Rise of
Social Theory (London: Routledge, 1941), 112–115.
[11]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans.
Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 52–54.
[12]
Ibid., 58–60.
[13]
Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic
Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014),
29–31.
[14]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford
University Press, 1983), 230–233.
[15]
Immanuel Kant, Groundwork for the Metaphysics of Morals, trans.
Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 57–59.
[16]
G. W. F. Hegel, Elements of the Philosophy of Right, trans.
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 155–157.
[17]
John Dewey, Democracy and Education (New York: Macmillan,
1916), 72–74.
[18]
George Herbert Mead, Mind, Self, and Society (Chicago:
University of Chicago Press, 1934), 134–136.
[19]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman
Ramos (New York: Continuum, 1970), 67–69.
[20]
Jack Mezirow, Transformative Dimensions of Adult Learning (San
Francisco: Jossey-Bass, 1991), 12–14.
[21]
Nel Noddings, Philosophy of Education (Boulder: Westview
Press, 2012), 98–100.
[22]
Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford
University Press, 2011), 3–5.
[23]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York:
PublicAffairs, 2019), 44–47.
[24]
Paul Virilio, The Information Bomb, trans. Chris Turner
(London: Verso, 2000), 23–25.
[25]
Floridi, The Philosophy of Information, 20–21.
[26]
Mark C. Taylor, The Moment of Complexity: Emerging Network Culture
(Chicago: University of Chicago Press, 2001), 18–20.
[27]
Slavoj Žižek, The Parallax View (Cambridge, MA: MIT Press,
2006), 95–97.
[28]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 482–484.
[29]
Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of
Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 176–178.
[30]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy
J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 303–305.
9.
Sintesis Filosofis
Bagian ini berfungsi
untuk menyatukan benang merah dari seluruh pemikiran Idealisme
Objektif dengan memperlihatkan integrasi antara aspek ontologis,
epistemologis, dan etis dalam suatu totalitas filosofis yang koheren. Sintesis
ini menegaskan bahwa Idealisme Objektif bukan sekadar
sistem metafisik yang abstrak, melainkan suatu kerangka komprehensif yang
menjelaskan realitas, pengetahuan, dan nilai dalam kesatuan rasional yang
hidup.¹
9.1.
Kesatuan antara Ontologi dan Epistemologi
Dalam Idealisme
Objektif, perbedaan antara “ada” (being)
dan “mengetahui” (knowing) diatasi melalui prinsip
kesatuan rasional.² Ontologi tidak dapat dipisahkan dari epistemologi karena
realitas pada dasarnya bersifat rasional dan dapat dipahami.³ Dengan kata lain,
realitas bukanlah sesuatu yang berada di luar pikiran, melainkan manifestasi
dari pikiran universal itu sendiri.⁴
Hegel menunjukkan
bahwa pikiran (Geist) dan keberadaan memiliki
struktur yang identik.⁵ Ketika manusia berpikir tentang dunia, ia sebenarnya
sedang berpartisipasi dalam aktivitas Roh Absolut yang memahami dirinya sendiri
melalui kesadaran manusia.⁶ Dalam kerangka ini, pengetahuan manusia bukan
sekadar refleksi terhadap dunia objektif, tetapi merupakan bagian dari proses ontologis
itu sendiri—yakni perwujudan kesadaran universal dalam bentuk pemikiran
rasional.⁷
Sintesis antara
ontologi dan epistemologi ini melahirkan pandangan bahwa kebenaran tidak
bersifat korespondensial (antara subjek dan objek), melainkan koherensial—yakni
harmoni internal antara bagian-bagian pengetahuan dalam sistem totalitas
rasional.⁸ Dengan demikian, mengetahui berarti berpartisipasi dalam realitas
yang berpikir, dan realitas itu sendiri adalah struktur ide yang hidup.⁹
9.2.
Integrasi antara Rasionalitas dan Spiritualitas
Idealisme
Objektif menolak dikotomi antara rasio dan spiritualitas. Bagi
Hegel, rasionalitas bukanlah sekadar logika formal yang kaku, melainkan prinsip
spiritual yang menjiwai segala sesuatu.¹⁰ Rasio adalah Roh dalam bentuk
berpikir. Oleh karena itu, spiritualitas sejati bukan penolakan terhadap
rasionalitas, tetapi justru kesadarannya yang tertinggi.¹¹
Prinsip ini
memungkinkan Hegel untuk mengatasi pertentangan klasik antara agama dan
filsafat. Dalam Philosophy of Religion, ia
menyatakan bahwa agama dan filsafat berbicara tentang hal yang sama—yakni Roh
Absolut—namun dengan bentuk yang berbeda: agama melalui representasi simbolik,
filsafat melalui konsep rasional.¹² Dengan demikian, filsafat menjadi bentuk
reflektif dari iman yang telah menjadi sadar diri sepenuhnya.¹³
Sintesis ini
memiliki implikasi luas dalam konteks modern. Rasionalitas tidak lagi dipahami
sebagai kekuatan yang dingin dan terlepas dari nilai, melainkan sebagai
ekspresi dari spiritualitas yang rasional—spiritualitas yang sadar akan dirinya
sebagai prinsip kehidupan, kebebasan, dan makna.¹⁴
9.3.
Dialektika sebagai Prinsip Kesatuan Dinamis
Ciri utama dari
sintesis filosofis dalam Idealisme Objektif adalah
pandangannya tentang dialektika sebagai mekanisme kesatuan dinamis dalam realitas.¹⁵
Berbeda dengan logika klasik yang cenderung statis dan dualistik, dialektika
memandang kontradiksi sebagai motor penggerak perkembangan.¹⁶ Setiap tesis
mengandung antitesis, dan keduanya bersatu dalam sintesis yang lebih tinggi
tanpa kehilangan esensi awalnya.¹⁷
Melalui dialektika,
Hegel menunjukkan bahwa realitas bersifat self-determining dan self-developing.¹⁸
Segala sesuatu berkembang menuju bentuk kesadaran yang lebih utuh. Dengan
demikian, sintesis bukan berarti penghapusan perbedaan, melainkan rekonsiliasi
kreatif antara kontradiksi-kontradiksi yang ada.¹⁹ Pandangan ini menjadikan Idealisme
Objektif sebagai sistem terbuka yang selalu berkembang, bukan dogma
yang tertutup.²⁰
Dalam konteks
filsafat kontemporer, dialektika ini memengaruhi berbagai disiplin, mulai dari
teori kritis Habermas hingga psikoanalisis Lacanian dan hermeneutika Gadamer.²¹
Semua pendekatan tersebut berupaya memahami realitas bukan sebagai struktur
statis, melainkan sebagai proses komunikasi dan refleksi diri yang terus
berlanjut.²²
9.4.
Rekonsiliasi antara Individu dan Totalitas
Salah satu sumbangan
penting Idealisme
Objektif adalah usahanya untuk mendamaikan ketegangan antara
individu dan totalitas.²³ Hegel menolak baik atomisme individualistik maupun
totalitarianisme kolektif.²⁴ Ia menegaskan bahwa individu hanya dapat memahami
dan mewujudkan kebebasannya dalam konteks sosial yang rasional—yakni melalui
partisipasi dalam Roh Objektif.²⁵
Dalam Philosophy
of Right, Hegel menggambarkan kebebasan sejati bukan sebagai
kebebasan dari keterikatan, melainkan kebebasan melalui kesadaran diri terhadap
hukum dan etika universal.²⁶ Dengan demikian, individu bukanlah korban dari
sistem sosial, melainkan ekspresi sadar dari totalitas rasional yang
menciptakan makna bersama.²⁷
Sintesis ini tetap
relevan dalam dunia modern yang diwarnai oleh alienasi dan fragmentasi sosial.
Ia menawarkan visi etis di mana manusia dapat menemukan kebebasan sejati
melalui partisipasi dalam rasionalitas universal yang diwujudkan dalam
komunitas dan kebudayaan.²⁸
Perspektif Kontemporer: Idealisme yang Terbuka
Meskipun sistem
Hegel sering dianggap tertutup, banyak filsuf kontemporer menafsirkan kembali Idealisme
Objektif sebagai paradigma yang terbuka dan reflektif.²⁹ Paul
Ricoeur, misalnya, melihat dalam Hegel suatu bentuk hermeneutika
dialektis—yakni pemahaman yang tumbuh melalui dialog antara makna dan
sejarah.³⁰ Sementara itu, Jürgen Habermas mengadaptasi rasionalitas Hegel dalam
konteks komunikasi intersubjektif yang lebih demokratis.³¹
Dalam pandangan ini,
Idealisme
Objektif bukan sekadar metafisika masa lalu, tetapi model berpikir
yang menekankan proses, refleksi, dan keterbukaan terhadap koreksi.³² Prinsip
dialektis Hegel—yang menolak absolutisme dogmatis dan menerima perubahan
sebagai bagian dari rasionalitas itu sendiri—menjadikan sistemnya tetap hidup
dan relevan bagi zaman modern.³³ Dengan demikian, sintesis filosofis Idealisme
Objektif dapat dilihat sebagai upaya terus-menerus untuk menegakkan
kesatuan antara rasio dan eksistensi, antara kebebasan dan keteraturan, antara
manusia dan semesta.³⁴
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 72–73.
[2]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 121–123.
[3]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press,
1975), 154–156.
[4]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni
(Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 41–43.
[5]
Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford:
Oxford University Press, 1977), 102–104.
[6]
Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell
University Press, 1996), 109–111.
[7]
Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of
Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 88–90.
[8]
F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon
Press, 1893), 125–127.
[9]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 23–25.
[10]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation,
Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 160–162.
[11]
Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge
University Press, 1979), 99–101.
[12]
G. W. F. Hegel, Lectures on the Philosophy of Religion, trans.
R. F. Brown (Berkeley: University of California Press, 1984), 24–26.
[13]
Terry Pinkard, Hegel: A Biography (Cambridge: Cambridge
University Press, 2000), 512–514.
[14]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford
University Press, 1983), 231–233.
[15]
Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to
Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 43–45.
[16]
Hegel, Science of Logic, 89–91.
[17]
Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge,
2002), 72–74.
[18]
Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against
Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002),
214–216.
[19]
Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge:
Cambridge University Press, 1987), 211–213.
[20]
Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic
Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014),
25–27.
[21]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans.
Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 48–50.
[22]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer
and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 310–312.
[23]
Hegel, Elements of the Philosophy of Right, trans. Allen W.
Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 104–106.
[24]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 482–484.
[25]
Robert M. Wallace, Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God
(Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 32–34.
[26]
Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford
University Press, 1967), 45–47.
[27]
Andrew Bowie, Schelling and Modern European Philosophy
(London: Routledge, 1993), 97–99.
[28]
Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II,
trans. Kathleen Blamey and John B. Thompson (Evanston: Northwestern University
Press, 1991), 12–14.
[29]
Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends
of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 165–167.
[30]
Paul Ricoeur, Lectures on Ideology and Utopia, ed. George H.
Taylor (New York: Columbia University Press, 1986), 52–54.
[31]
Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J.
Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 304–306.
[32]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics, 134–136.
[33]
Slavoj Žižek, Less Than Nothing: Hegel and the Shadow of
Dialectical Materialism (London: Verso, 2012), 65–67.
[34]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel, 243–245.
10.
Kesimpulan
Idealisme
Objektif merupakan salah satu puncak pencapaian dalam sejarah
metafisika Barat, yang berupaya memahami realitas sebagai manifestasi rasional
dari kesadaran universal.¹ Dalam pandangan ini, “ada” bukanlah substansi
material yang berdiri sendiri, melainkan ekspresi dari prinsip spiritual yang
berpikir, hidup, dan mengorganisasikan dirinya melalui struktur ide.² Dengan
demikian, realitas bukan entitas statis, tetapi suatu proses dinamis di mana
pikiran dan keberadaan saling merefleksikan dan menyempurnakan dalam kesatuan
dialektis.³
Secara historis,
akar Idealisme
Objektif dapat ditelusuri dari Plato dengan doktrin Idea
yang transenden, Plotinus dengan Yang Satu yang memancarkan segala
sesuatu, hingga Leibniz dengan monad yang bersifat spiritual.⁴
Namun, dalam tangan Hegel, tradisi ini mencapai bentuk sistematik yang paling
komprehensif.⁵ Melalui logika dialektisnya, Hegel berhasil menunjukkan bahwa
realitas bersifat rasional dan bahwa perkembangan sejarah, ilmu, dan kesadaran
manusia merupakan ekspresi dari Roh Absolut yang sedang memahami
dirinya sendiri.⁶ Dalam sistem ini, filsafat bukan sekadar refleksi terhadap
dunia, tetapi bagian integral dari gerak kosmis kesadaran menuju kebebasan dan
kebenaran.⁷
Dari sisi
epistemologis, Idealisme Objektif menegaskan bahwa
pengetahuan bukanlah cermin pasif dari dunia empiris, melainkan partisipasi
aktif dalam struktur rasional realitas.⁸ Subjek dan objek tidak terpisah secara
mutlak; keduanya berada dalam relasi imanen sebagai dua aspek dari proses yang
sama.⁹ Dengan demikian, mengetahui berarti ikut serta dalam aktivitas Roh yang
menyingkapkan dirinya dalam dunia. Dalam hal ini, epistemologi dan ontologi
berpadu menjadi satu kesatuan sistem filosofis yang menolak dualisme klasik
antara pikiran dan benda, antara manusia dan alam.¹⁰
Secara metafisik, Idealisme
Objektif menolak pandangan materialistik dan mekanistik tentang
alam semesta. Realitas bukanlah akumulasi kebetulan, tetapi totalitas rasional
yang memiliki arah dan tujuan (telos).¹¹ Segala sesuatu dalam
dunia memiliki makna karena berpartisipasi dalam keseluruhan yang lebih
besar.¹² Dalam sistem Hegel, totalitas ini disebut Roh Absolut, yakni prinsip yang
mengandung sekaligus mengatasi segala kontradiksi. Roh tidak berada di luar
dunia, melainkan hadir di dalamnya sebagai dinamika kehidupan, sejarah, dan kesadaran
manusia.¹³
Walaupun Idealisme
Objektif telah menghadapi kritik dari berbagai arah—mulai dari
empirisisme, positivisme, hingga eksistensialisme—nilai filosofisnya tetap
bertahan.¹⁴ Kritik-kritik tersebut justru menegaskan relevansi idealisme sebagai
paradigma reflektif yang menolak reduksionisme. Bahkan, dalam pemikiran
kontemporer, gagasan tentang kesatuan rasional-realitas muncul kembali dalam
berbagai bentuk, seperti konstruktivisme epistemologis, teori sistem, dan
filsafat informasi.¹⁵ Prinsip Hegelian bahwa “yang nyata adalah rasional,
dan yang rasional adalah nyata” terus menjadi inspirasi untuk memahami
dunia dalam keterpaduan antara fakta, nilai, dan makna.¹⁶
Secara praktis,
warisan Idealisme
Objektif dapat diterapkan dalam bidang filsafat ilmu, etika,
pendidikan, dan kebudayaan. Ia menekankan bahwa rasionalitas manusia harus
diarahkan pada pemahaman diri dan dunia secara reflektif, bukan sekadar pada
kontrol instrumental.¹⁷ Dalam konteks modern yang sarat fragmentasi, pluralitas
nilai, dan krisis makna, Idealisme Objektif menawarkan visi
integratif di mana manusia dipanggil untuk menjadi bagian sadar dari totalitas
spiritual kosmos.¹⁸
Akhirnya, kesimpulan
dari seluruh telaah ini menegaskan bahwa Idealisme Objektif bukan hanya
teori tentang realitas, tetapi juga visi tentang keberadaan manusia di
dalamnya. Realitas bukan sesuatu yang asing bagi manusia, karena manusia
sendiri merupakan ekspresi dari kesadaran universal yang sedang mengenal
dirinya.¹⁹ Dengan demikian, filsafat idealisme tidak berhenti pada spekulasi
metafisik, tetapi menjadi panggilan etis dan spiritual: untuk memahami,
mencintai, dan mengaktualkan rasionalitas universal yang menjadi dasar seluruh
keberadaan.²⁰
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern
Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche
(New York: Image Books, 1994), 71–73.
[2]
Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University
Press, 2009), 121–122.
[3]
G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni
(Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 41–43.
[4]
Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis:
Hackett Publishing, 1992), 509–511; Plotinus, The Enneads, trans.
Stephen MacKenna (London: Faber & Faber, 1969), V.1–V.3.
[5]
Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press,
1975), 152–154.
[6]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 81–83.
[7]
Terry Pinkard, Hegel’s Phenomenology: The Sociality of Reason
(Cambridge: Cambridge University Press, 1994), 99–101.
[8]
Josiah Royce, The World and the Individual (New York:
Macmillan, 1900), 17–19.
[9]
Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell
University Press, 1996), 112–114.
[10]
F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon
Press, 1893), 125–127.
[11]
G. W. F. Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in
Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris
(Indianapolis: Hackett, 1991), §236–§244.
[12]
Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford
University Press, 1983), 218–220.
[13]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation,
Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 161–163.
[14]
Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (New York:
Simon & Schuster, 1945), 692–694.
[15]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy
J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 303–305.
[16]
Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of
Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 175–177.
[17]
John Dewey, Democracy and Education (New York: Macmillan,
1916), 72–74.
[18]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 482–484.
[19]
Josiah Royce, The Problem of Christianity (New York:
Macmillan, 1913), 35–37.
[20]
Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II,
trans. Kathleen Blamey and John B. Thompson (Evanston: Northwestern University
Press, 1991), 14–16.
Daftar Pustaka
Ayer, A. J. (1936). Language,
truth, and logic. London, UK: Gollancz.
Beiser, F. (2002). German
idealism: The struggle against subjectivism, 1781–1801. Cambridge, MA:
Harvard University Press.
Bhaskar, R. (1975). A
realist theory of science. London, UK: Verso.
Bradley, F. H. (1893). Appearance
and reality. Oxford, UK: Clarendon Press.
Carnap, R. (1932). The
elimination of metaphysics through logical analysis of language. Vienna,
Austria: Erkenntnis.
Copleston, F. (1994). A
history of philosophy: Vol. 7. Modern philosophy from the post-Kantian
idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche. New York, NY: Image Books.
Dewey, J. (1916). Democracy
and education. New York, NY: Macmillan.
Dummett, M. (1978). Truth
and other enigmas. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Einstein, A. (1961). Relativity:
The special and general theory. New York, NY: Crown Publishers.
Feigl, H. (1967). Logical
empiricism. In P. Edwards (Ed.), The encyclopedia of philosophy (Vol.
4, pp. 60–61). New York, NY: Macmillan.
Feyerabend, P. (1975). Against
method. London, UK: Verso.
Floridi, L. (2011). The
philosophy of information. Oxford, UK: Oxford University Press.
Freire, P. (1970). Pedagogy
of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). New York, NY: Continuum.
Gadamer, H.-G. (2004). Truth
and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). New York, NY:
Continuum.
Guyer, P. (1987). Kant
and the claims of knowledge. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Habermas, J. (1971). Knowledge
and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Boston, MA: Beacon Press.
Habermas, J. (1984). The
theory of communicative action (T. McCarthy, Trans.). Boston, MA: Beacon
Press.
Heidegger, M. (1962). Being
and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). New York, NY: Harper
& Row.
Heisenberg, W. (1958). Physics
and philosophy: The revolution in modern science. New York, NY: Harper
& Row.
Hegel, G. W. F. (1967). Philosophy
of right (T. M. Knox, Trans.). Oxford, UK: Oxford University Press.
Hegel, G. W. F. (1975). Aesthetics:
Lectures on fine art (T. M. Knox, Trans.). Oxford, UK: Clarendon Press.
Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology
of spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford, UK: Oxford University Press.
Hegel, G. W. F. (1984). Lectures
on the philosophy of religion (R. F. Brown, Trans.). Berkeley, CA:
University of California Press.
Hegel, G. W. F. (1991). Encyclopedia
of the philosophical sciences in outline (T. F. Geraets, W. A. Suchting,
& H. S. Harris, Trans.). Indianapolis, IN: Hackett Publishing.
Hegel, G. W. F. (2010). Science
of logic (G. di Giovanni, Trans.). Cambridge, UK: Cambridge University
Press.
Honneth, A. (2014). Freedom’s
right: The social foundations of democratic life (J. Ganahl, Trans.). New
York, NY: Columbia University Press.
Houlgate, S. (2006). The
opening of Hegel’s logic: From being to infinity. West Lafayette, IN:
Purdue University Press.
Hume, D. (1993). An
enquiry concerning human understanding (E. Steinberg, Ed.). Indianapolis,
IN: Hackett Publishing.
Kant, I. (1997). Groundwork
for the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge, UK:
Cambridge University Press.
Kuhn, T. S. (1962). The
structure of scientific revolutions. Chicago, IL: University of Chicago
Press.
Locke, J. (1690). An
essay concerning human understanding. Oxford, UK: Clarendon Press.
Marcuse, H. (1941). Reason
and revolution: Hegel and the rise of social theory. London, UK:
Routledge.
Marx, K. (1958). Theses
on Feuerbach. Moscow, Russia: Progress Publishers.
Marx, K. (1970). Critique
of Hegel’s philosophy of right (A. Jolin, Trans.). Cambridge, UK:
Cambridge University Press.
Marx, K., & Engels, F.
(1970). The German ideology. New York, NY: International Publishers.
Mead, G. H. (1934). Mind,
self, and society. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Mezirow, J. (1991). Transformative
dimensions of adult learning. San Francisco, CA: Jossey-Bass.
Moore, G. E. (1925). A
defence of common sense. In J. H. Muirhead (Ed.), Contemporary British
philosophy (pp. 3–5). London, UK: Allen & Unwin.
Moore, G. E. (1953). Some
main problems of philosophy. London, UK: George Allen & Unwin.
Noddings, N. (2012). Philosophy
of education. Boulder, CO: Westview Press.
Pinkard, T. (1994). Hegel’s
phenomenology: The sociality of reason. Cambridge, UK: Cambridge
University Press.
Pinkard, T. (2000). Hegel:
A biography. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Pinkard, T. (2012). Hegel’s
naturalism: Mind, nature, and the final ends of life. Oxford, UK: Oxford
University Press.
Plato. (1992). The
republic (G. M. A. Grube, Trans.). Indianapolis, IN: Hackett Publishing.
Plotinus. (1969). The
enneads (S. MacKenna, Trans.). London, UK: Faber & Faber.
Pippin, R. (1989). Hegel’s
idealism: The satisfactions of self-consciousness. Cambridge, UK:
Cambridge University Press.
Redding, P. (1996). Hegel’s
hermeneutics. Ithaca, NY: Cornell University Press.
Ricoeur, P. (1986). Lectures
on ideology and utopia (G. H. Taylor, Ed.). New York, NY: Columbia
University Press.
Ricoeur, P. (1991). From
text to action: Essays in hermeneutics II (K. Blamey & J. B. Thompson,
Trans.). Evanston, IL: Northwestern University Press.
Royce, J. (1900). The
world and the individual. New York, NY: Macmillan.
Royce, J. (1913). The
problem of Christianity. New York, NY: Macmillan.
Russell, B. (1914). Our
knowledge of the external world. London, UK: Allen & Unwin.
Russell, B. (1945). A
history of Western philosophy. New York, NY: Simon & Schuster.
Schelling, F. W. J. (1978).
System of transcendental idealism (P. Heath, Trans.). Charlottesville,
VA: University of Virginia Press.
Solomon, R. C. (1983). In
the spirit of Hegel. Oxford, UK: Oxford University Press.
Stern, R. (2002). Understanding
Hegelianism. London, UK: Routledge.
Stern, R. (2009). Hegelian
metaphysics. Oxford, UK: Oxford University Press.
Taylor, C. (1975). Hegel.
Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Taylor, C. (1979). Hegel
and modern society. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Taylor, C. (1989). Sources
of the self: The making of the modern identity. Cambridge, MA: Harvard
University Press.
Tillich, P. (1951). Systematic
theology: Vol. 1. Reason and revelation, being and God. Chicago, IL:
University of Chicago Press.
Virilio, P. (2000). The
information bomb (C. Turner, Trans.). London, UK: Verso.
Žižek, S. (2006). The
parallax view. Cambridge, MA: MIT Press.
Žižek, S. (2012). Less
than nothing: Hegel and the shadow of dialectical materialism. London, UK:
Verso.
Zuboff, S. (2019). The
age of surveillance capitalism. New York, NY: PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar