Kamis, 27 November 2025

Idealisme Objektif: Realitas sebagai Kesadaran Universal dalam Perspektif Ontologis

Idealisme Objektif

Realitas sebagai Kesadaran Universal dalam Perspektif Ontologis


Alihkan ke: Aliran Filsafat Ontologi.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif aliran Idealisme Objektif sebagai salah satu cabang utama filsafat ontologis yang berupaya memahami realitas sebagai manifestasi rasional dari kesadaran universal. Kajian dimulai dengan penelusuran landasan ontologis idealisme yang menempatkan ide atau roh sebagai hakikat keberadaan, dilanjutkan dengan analisis genealogis yang menelusuri perkembangan gagasan ini dari Plato hingga mencapai puncaknya dalam sistem metafisika Hegel. Melalui pembahasan atas prinsip-prinsip utama seperti Roh Absolut, dialektika, dan kesatuan antara rasio dan realitas, artikel ini menunjukkan bahwa Idealisme Objektif tidak hanya menawarkan pandangan metafisik, tetapi juga epistemologis dan etis yang koheren.

Dalam dimensi epistemologis, pengetahuan dipahami sebagai partisipasi aktif dalam struktur rasional realitas, sementara secara metafisik, realitas dipandang sebagai proses spiritual yang berkembang menuju kesadaran diri universal. Kritik dari empirisisme, positivisme logis, eksistensialisme, dan filsafat analitik dibahas untuk menyoroti keterbatasan serta daya tahan gagasan idealisme dalam menghadapi paradigma modern. Artikel ini juga menguraikan relevansi kontemporer Idealisme Objektif dalam konteks filsafat ilmu, teori sosial, pendidikan, dan teknologi digital, serta menunjukkan bagaimana prinsip rasionalitas universal dapat menjadi dasar bagi pemahaman manusia terhadap realitas global yang kompleks.

Pada akhirnya, sintesis filosofis yang ditawarkan menegaskan bahwa Idealisme Objektif tidak hanya merupakan warisan spekulatif metafisika klasik, tetapi juga paradigma reflektif yang terbuka bagi reinterpretasi modern. Melalui integrasi antara ontologi, epistemologi, dan etika, Idealisme Objektif memperlihatkan visi tentang kesatuan rasional antara pikiran, dunia, dan makna eksistensial manusia—suatu sintesis antara rasionalitas dan spiritualitas yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan intelektual abad ke-21.

Kata Kunci: Idealisme Objektif, Ontologi, Hegel, Roh Absolut, Dialektika, Rasionalitas, Filsafat Modern, Kesadaran Universal.


PEMBAHASAN

Idealisme Objektif serta Relevansinya dalam Pemikiran Kontemporer


1.           Pendahuluan

Pertanyaan mengenai hakikat realitas atau being merupakan salah satu persoalan paling mendasar dalam sejarah filsafat. Sejak masa Yunani Kuno, manusia telah berusaha memahami apa yang sebenarnya “ada” dan bagaimana keberadaan itu dapat dijelaskan secara rasional. Dalam konteks tersebut, ontologi—sebagai cabang utama filsafat—berfungsi untuk menyelidiki struktur terdalam dari realitas, baik yang bersifat konkret maupun abstrak. Idealisme, sebagai salah satu aliran utama dalam ontologi, menempatkan ide, kesadaran, atau roh (spirit) sebagai prinsip dasar segala sesuatu yang ada. Dengan kata lain, realitas tidak semata-mata terdiri dari materi, tetapi justru merupakan ekspresi dari prinsip non-material yang rasional dan spiritual.¹

Istilah idealisme objektif muncul untuk membedakan diri dari bentuk idealisme lainnya, terutama idealisme subjektif yang menekankan bahwa realitas hanya ada sejauh disadari oleh subjek individual. Dalam idealisme objektif, sebaliknya, realitas dipahami sebagai manifestasi dari kesadaran universal atau roh absolut yang melampaui individu.² Pandangan ini menolak reduksi realitas menjadi pengalaman subjektif semata dan berupaya menunjukkan bahwa dunia objektif memiliki dasar spiritual yang bersifat transenden, namun tetap rasional dan dapat dipahami. Dengan demikian, Idealisme Objektif berusaha menjembatani jurang antara subjektivitas manusia dan objektivitas dunia, antara pikiran dan realitas, serta antara fenomena dan noumena.³

Secara historis, akar pemikiran Idealisme Objektif dapat ditelusuri hingga Plato dengan doktrin Idea atau Form, yang dianggap sebagai realitas sejati dan kekal, sedangkan dunia inderawi hanyalah bayang-bayangnya.⁴ Dalam perkembangannya, pemikiran ini memperoleh bentuk sistematis pada masa modern melalui karya para filsuf seperti Leibniz, Schelling, dan terutama Georg Wilhelm Friedrich Hegel.⁵ Hegel memandang bahwa realitas merupakan ekspresi dari Roh Absolut yang berkembang melalui proses dialektis, di mana pikiran dan keberadaan saling menegaskan diri dalam gerak rasional menuju kesatuan totalitas.⁶

Kehadiran Idealisme Objektif menjadi penting karena memberikan kerangka ontologis yang berusaha menjelaskan kesatuan antara pikiran dan realitas, antara kesadaran dan dunia. Dalam era modern yang cenderung didominasi oleh materialisme dan positivisme, pendekatan ini menawarkan alternatif metafisik yang menegaskan dimensi spiritual dari keberadaan tanpa harus menolak rasionalitas.⁷ Dengan menempatkan ide atau roh universal sebagai fondasi realitas, Idealisme Objektif tidak hanya membentuk sistem metafisika yang koheren, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap epistemologi, estetika, dan filsafat sejarah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, pembahasan mengenai Idealisme Objektif menjadi relevan untuk memahami bagaimana manusia menafsirkan realitas dalam kerangka kesadaran universal. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan dasar ontologis dari Idealisme Objektif, menelusuri akar historisnya, mengkaji struktur metafisik dan epistemologisnya, serta menilai relevansinya dalam konteks pemikiran kontemporer. Dengan demikian, tulisan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang hakikat realitas dari perspektif filsafat idealisme dan menunjukkan bagaimana pandangan ini tetap menawarkan nilai reflektif bagi perkembangan ilmu dan budaya manusia.


Footnotes

[1]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 247.

[2]                George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Oxford: Clarendon Press, 1710), 32–35.

[3]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 45–47.

[4]                Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett Publishing, 1992), 509–511.

[5]                Gottfried Wilhelm Leibniz, Monadology, trans. Robert Latta (London: Oxford University Press, 1898), §14–§19.

[6]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 81–83.

[7]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 3–5.


2.           Landasan Ontologis Idealisme

Ontologi merupakan cabang filsafat yang membahas tentang hakikat “ada” atau realitas secara mendasar. Sejak masa Aristoteles, ontologi telah dipahami sebagai disiplin yang menyelidiki prinsip-prinsip terdalam dari eksistensi, termasuk kategori, struktur, dan sifat dari segala sesuatu yang ada.¹ Pertanyaan ontologis tidak berhenti pada “apa yang ada,” tetapi juga “bagaimana sesuatu itu ada” dan “apa yang menjadi dasar keberadaannya.” Dengan demikian, ontologi menjadi fondasi bagi seluruh cabang filsafat lainnya, sebab ia menentukan bagaimana manusia memahami dunia, diri, dan hubungan antara keduanya.²

Dalam sejarah pemikiran, perdebatan ontologis menghasilkan tiga orientasi besar: materialisme, dualisme, dan idealisme. Materialisme menegaskan bahwa realitas hakiki bersifat fisik; segala fenomena, termasuk kesadaran, merupakan hasil interaksi materi.³ Sebaliknya, dualisme menganggap bahwa realitas terdiri atas dua substansi yang berbeda dan tidak dapat direduksi satu sama lain: materi dan roh, tubuh dan pikiran.⁴ Namun, idealisme menempuh jalan lain dengan menolak bahwa materi memiliki kemandirian ontologis. Bagi idealisme, yang paling mendasar dari segala sesuatu bukanlah materi, melainkan idea, mind, atau spirit—sesuatu yang bersifat non-material tetapi menentukan eksistensi material.⁵

Landasan ontologis idealisme berangkat dari keyakinan bahwa realitas bersifat spiritual dan rasional. Idealisme menganggap bahwa dunia bukanlah sesuatu yang berdiri terpisah dari kesadaran, melainkan merupakan ekspresi dari prinsip rasional yang mendasarinya.⁶ Dalam konteks ini, yang “nyata” adalah yang dapat dipahami oleh akal; dengan kata lain, realitas memiliki struktur yang koheren dan rasional karena ia sendiri merupakan hasil dari rasionalitas universal. Hal ini ditegaskan oleh Hegel ketika menyatakan bahwa “yang rasional adalah yang nyata, dan yang nyata adalah yang rasional.”⁷

Dari perspektif ontologis, idealisme juga berusaha menolak pandangan empiris yang menganggap realitas sebagai kumpulan fakta-fakta terpisah yang dapat diamati secara indrawi. Sebaliknya, idealisme berpendapat bahwa fakta-fakta tersebut hanya memiliki makna sejauh berada dalam totalitas ide yang mengaturnya.⁸ Dunia bukan sekadar “ada” dalam ruang dan waktu, melainkan merupakan perwujudan dari suatu tatanan rasional yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, bagi idealis, pengetahuan tentang dunia berarti memahami prinsip rasional yang menjadi dasar keberadaannya.⁹

Di dalam idealisme terdapat beberapa cabang, di antaranya idealisme subjektif dan idealisme objektif. Idealisme subjektif, seperti yang dikembangkan oleh George Berkeley, berpendapat bahwa realitas hanya ada sejauh disadari oleh individu: esse est percipi—“menjadi adalah untuk disadari.”¹⁰ Sementara itu, idealisme objektif menolak pandangan bahwa realitas bergantung pada persepsi individual. Menurut aliran ini, realitas bersumber dari suatu kesadaran universal atau mind objektif yang melandasi seluruh eksistensi.¹¹ Idealisme objektif, dengan demikian, menegaskan bahwa dunia objektif memiliki realitas sejati bukan karena ia ada dalam pikiran manusia, melainkan karena ia merupakan ekspresi dari rasionalitas absolut yang menstrukturkan segala sesuatu.

Landasan ontologis inilah yang membedakan idealisme dari pandangan-pandangan metafisik lainnya. Ia tidak menolak keberadaan dunia fisik, tetapi memandangnya sebagai bentuk penampakan dari prinsip non-material yang lebih tinggi.¹² Dengan demikian, dalam kerangka ontologis, Idealisme Objektif memandang bahwa ada sejati bukanlah materi, melainkan kesadaran universal yang menampakkan diri dalam sejarah, kebudayaan, dan pemikiran manusia. Realitas, bagi idealisme, tidak dapat dilepaskan dari makna dan rasionalitas yang menyusunnya—karena di dalam “ada”, tersimpan struktur ide yang menghidupinya.


Footnotes

[1]                Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1908), 1025b–1026a.

[2]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 25–27.

[3]                Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (New York: International Publishers, 1970), 42–43.

[4]                René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 17–21.

[5]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A307–A309.

[6]                Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 11–12.

[7]                G. W. F. Hegel, The Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.

[8]                F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon Press, 1893), 117–118.

[9]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 34–36.

[10]             George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Oxford: Clarendon Press, 1710), 35.

[11]             Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans. Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 48–49.

[12]             Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation, Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 158–160.


3.           Genealogi dan Perkembangan Historis Idealisme Objektif

Perkembangan Idealisme Objektif tidak dapat dipahami tanpa menelusuri akar historisnya dalam tradisi filsafat Barat. Aliran ini merupakan hasil evolusi panjang dari refleksi manusia terhadap realitas dan kesadaran, yang dimulai dari filsafat Yunani Kuno hingga sistem metafisika Jerman abad ke-19. Sejarah Idealisme Objektif mencerminkan perubahan cara pandang terhadap hubungan antara ide dan realitas, antara pikiran dan dunia, serta antara individu dan totalitas universal.¹

3.1.       Akar Awal: Plato dan Dunia Idea

Asal-usul konseptual Idealisme Objektif dapat ditemukan dalam filsafat Plato (427–347 SM), yang mengemukakan teori tentang Idea atau Form. Dalam dialog The Republic dan Phaedo, Plato menjelaskan bahwa dunia inderawi hanyalah bayangan dari dunia Idea, yang bersifat abadi, sempurna, dan rasional.² Dunia ide ini bukanlah hasil ciptaan pikiran manusia, melainkan realitas sejati yang bersifat objektif dan transenden. Dengan demikian, Plato meletakkan fondasi bagi pandangan bahwa realitas pada dasarnya bersifat ideal dan independen dari persepsi individual.³

Bagi Plato, Idea Kebaikan (the Idea of the Good) menempati posisi tertinggi sebagai sumber segala eksistensi dan pengetahuan.⁴ Struktur ontologis ini menunjukkan bahwa realitas memiliki hierarki rasional yang hanya dapat diakses melalui pemikiran filosofis. Dengan cara ini, Plato memperkenalkan paradigma bahwa hakikat “ada” adalah sesuatu yang bersifat rasional dan spiritual, bukan material. Pandangan ini kelak menjadi inti dari seluruh bentuk idealisme, termasuk idealisme objektif yang berkembang berabad-abad kemudian.⁵

3.2.       Tradisi Neoplatonisme dan Transendensi Realitas

Setelah Plato, pemikiran tentang realitas ideal dikembangkan lebih lanjut oleh Plotinus (204–270 M), tokoh utama Neoplatonisme. Dalam karya monumentalnya Enneads, Plotinus menafsirkan dunia sebagai emanasi dari Yang Satu (The One), sumber segala keberadaan dan kesempurnaan.⁶ Menurutnya, dunia material tidak memiliki kemandirian ontologis, tetapi merupakan pancaran dari realitas spiritual tertinggi.⁷

Neoplatonisme menegaskan bahwa keberadaan memiliki struktur hierarkis yang berpuncak pada prinsip spiritual absolut. Pemikiran ini berpengaruh luas pada filsafat Kristen awal, terutama melalui Agustinus dari Hippo, yang memadukan ajaran Plato dan Plotinus dalam teologi tentang Tuhan sebagai kebenaran dan realitas tertinggi.⁸ Dari sinilah mulai terbentuk konsepsi metafisis tentang realitas sebagai ekspresi dari prinsip ilahi yang rasional dan universal—sebuah gagasan yang akan menjadi benih Idealisme Objektif di kemudian hari.⁹

3.3.       Perkembangan Modern: Leibniz dan Monadologi

Memasuki abad ke-17 dan ke-18, tradisi idealisme memperoleh bentuk baru melalui filsafat Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716). Dalam karyanya Monadology, Leibniz memperkenalkan gagasan bahwa realitas tersusun dari unit-unit dasar yang disebut monad, yaitu substansi spiritual yang mencerminkan keseluruhan kosmos.¹⁰ Setiap monad adalah pusat persepsi yang menggambarkan dunia dari sudut pandangnya sendiri, namun semuanya tetap berada dalam harmoni yang diatur oleh Tuhan.¹¹

Sistem Leibniz menandai pergeseran dari idealisme metafisis Plato ke bentuk idealisme rasional yang menekankan keteraturan universal. Di sini, realitas objektif tidak lagi dipahami sebagai dunia ide yang statis, melainkan sebagai jaringan kesadaran yang saling berhubungan dalam tatanan rasional.¹² Pandangan ini menjadi jembatan menuju idealisme Jerman yang lebih sistematik pada abad ke-19.

3.4.       Transisi ke Idealisme Jerman: Kant, Fichte, dan Schelling

Immanuel Kant (1724–1804) memainkan peran penting dalam transformasi idealisme. Melalui Critique of Pure Reason, ia menyatakan bahwa manusia tidak dapat mengetahui thing-in-itself (das Ding an sich), melainkan hanya fenomena yang terbentuk melalui struktur apriori kesadaran.¹³ Pandangan Kant memunculkan bentuk baru idealisme epistemologis, namun tetap meninggalkan ruang bagi pemikiran bahwa realitas memiliki dimensi rasional yang melekat pada kesadaran.¹⁴

Johann Gottlieb Fichte kemudian melanjutkan gagasan Kant dengan menekankan peran aktif subjek dalam membentuk realitas melalui aktivitas Ego absolut.¹⁵ Namun, Friedrich Wilhelm Joseph Schelling mengembangkan pandangan yang lebih objektif dengan menegaskan bahwa alam dan roh merupakan dua aspek dari realitas yang sama.¹⁶ Ia menyebutnya sebagai Identitätsphilosophie—filsafat identitas—yang melihat kesatuan antara pikiran dan alam sebagai manifestasi dari satu prinsip universal.¹⁷

3.5.       Puncak Pemikiran: Hegel dan Roh Absolut

Puncak perkembangan Idealisme Objektif terdapat pada filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831). Dalam Phenomenology of Spirit dan Science of Logic, Hegel menegaskan bahwa seluruh realitas merupakan ekspresi dari Roh Absolut (Absolute Spirit), yang mengaktualkan dirinya melalui proses dialektis: tesis, antitesis, dan sintesis.¹⁸ Realitas tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan rasional—proses di mana kesadaran universal memahami dan mewujudkan dirinya sendiri dalam sejarah.¹⁹

Bagi Hegel, hubungan antara pikiran dan dunia bukanlah hubungan eksternal, melainkan identitas internal. Dunia nyata adalah wujud konkret dari ide rasional.²⁰ Dengan demikian, Idealisme Objektif mencapai bentuk sistematisnya: realitas adalah pikiran yang menjadi diri sendiri dalam bentuk objektif.²¹ Pandangan ini tidak hanya memengaruhi metafisika dan ontologi, tetapi juga memberi dasar filosofis bagi perkembangan ilmu sosial, sejarah, dan teologi modern.²²


Warisan dan Pengaruh Lanjutan

Setelah Hegel, Idealisme Objektif terus memengaruhi pemikiran Barat, baik secara langsung maupun melalui kritik terhadapnya. Tokoh seperti Josiah Royce di Amerika mengadaptasi konsep mind universal dalam konteks pragmatisme dan filsafat komunitas.²³ Sementara itu, kritik dari Karl Marx, Søren Kierkegaard, dan eksistensialis kemudian memunculkan dialektika baru antara idealisme dan realisme historis.²⁴ Meski mengalami banyak penafsiran ulang, Idealisme Objektif tetap menjadi tonggak penting dalam upaya memahami realitas sebagai struktur kesadaran yang bersifat universal, rasional, dan dinamis.


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 5–6.

[2]                Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett Publishing, 1992), 509–511.

[3]                John N. Findlay, Plato: The Written and Unwritten Doctrines (London: Routledge, 1974), 83–85.

[4]                Plato, Phaedo, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett Publishing, 1977), 99–100.

[5]                Werner Jaeger, Paideia: The Ideals of Greek Culture (New York: Oxford University Press, 1945), 127–129.

[6]                Plotinus, The Enneads, trans. Stephen MacKenna (London: Faber & Faber, 1969), V.2–V.5.

[7]                A. H. Armstrong, An Introduction to Ancient Philosophy (London: Methuen, 1963), 210–213.

[8]                Augustine, Confessions, trans. Henry Chadwick (Oxford: Oxford University Press, 1991), VII.10–VII.17.

[9]                Etienne Gilson, The Christian Philosophy of St. Augustine (New York: Random House, 1960), 42–44.

[10]             Gottfried Wilhelm Leibniz, Monadology, trans. Robert Latta (London: Oxford University Press, 1898), §1–§6.

[11]             Nicholas Jolley, Leibniz and the Rational Order of Nature (Oxford: Clarendon Press, 1990), 59–61.

[12]             Bertrand Russell, A Critical Exposition of the Philosophy of Leibniz (London: George Allen & Unwin, 1900), 101–104.

[13]             Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A42–B44.

[14]             Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 212–214.

[15]             Johann Gottlieb Fichte, The Science of Knowledge (Wissenschaftslehre), trans. Peter Heath and John Lachs (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), 45–47.

[16]             Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans. Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 37–39.

[17]             Andrew Bowie, Schelling and Modern European Philosophy (London: Routledge, 1993), 54–56.

[18]             G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 81–83.

[19]             G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 23–25.

[20]             Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 210–212.

[21]             Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 89–91.

[22]             Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 15–17.

[23]             Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 44–46.

[24]             Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, trans. Martin Milligan (Moscow: Progress Publishers, 1959), 112–114.


4.           Esensi dan Prinsip Utama Idealisme Objektif

Esensi dari Idealisme Objektif terletak pada pandangannya bahwa realitas pada dasarnya bersifat spiritual dan rasional, namun eksistensinya tidak bergantung pada kesadaran individual melainkan pada kesadaran universal atau Roh Absolut.¹ Dengan kata lain, dunia tidak bergantung pada persepsi subjek tertentu, tetapi memiliki dasar ontologis dalam struktur ide yang objektif dan rasional. Aliran ini menegaskan bahwa pikiran dan realitas tidak terpisah, melainkan dua aspek dari prinsip yang sama, yaitu rasionalitas universal yang menyusun seluruh eksistensi.²

Dalam sistem Idealisme Objektif, keberadaan bukanlah sesuatu yang bersifat pasif atau material, tetapi merupakan aktivitas spiritual yang mengekspresikan dirinya melalui dunia objektif.³ Prinsip ini menjadi inti pemikiran Hegel, Schelling, dan Royce, yang melihat bahwa segala sesuatu yang ada adalah bagian dari proses rasional kosmis.⁴ Realitas, dalam pandangan ini, merupakan hasil dari dialektika ide—gerak rasional yang terus-menerus antara subjek dan objek, antara pikiran dan kenyataan, menuju kesatuan yang lebih tinggi.⁵

4.1.       Realitas sebagai Manifestasi Kesadaran Universal

Idealisme Objektif menolak pandangan bahwa realitas adalah hasil ciptaan pikiran manusia semata, sebagaimana diyakini oleh idealisme subjektif. Sebaliknya, ia memandang bahwa kesadaran individu merupakan bagian dari kesadaran universal yang lebih besar, yang menjadi dasar seluruh eksistensi.⁶ Hegel menyebut prinsip ini sebagai Geist (Roh), yang tidak hanya mencakup kesadaran manusia, tetapi juga seluruh tatanan alam, sejarah, dan kebudayaan.⁷

Menurut Hegel, Roh Absolut mengaktualkan dirinya melalui tiga tahap besar: (1) roh subjektif—kesadaran individual; (2) roh objektif—perwujudan kesadaran dalam lembaga sosial dan hukum; dan (3) roh absolut—kesadaran universal yang mencapai refleksi tertingginya dalam seni, agama, dan filsafat.⁸ Dengan demikian, dunia objektif bukanlah entitas asing bagi pikiran, melainkan wujud dari pikiran itu sendiri dalam bentuk eksternal. Realitas bersifat self-determining—menentukan dirinya sendiri—karena ia merupakan ekspresi dari ide yang terus-menerus bergerak menuju kesadaran diri total.⁹

4.2.       Independensi Realitas dari Subjektivitas Individual

Salah satu prinsip mendasar Idealisme Objektif adalah bahwa realitas tidak bergantung pada persepsi individual. Hal ini membedakannya secara tajam dari idealisme subjektif ala George Berkeley, yang berpendapat bahwa keberadaan suatu benda tergantung pada persepsi manusia (esse est percipi).¹⁰ Dalam idealisme objektif, dunia tetap memiliki realitas bahkan tanpa disadari oleh subjek tertentu, karena ia berakar pada struktur rasional yang objektif.¹¹

Friedrich Schelling menegaskan bahwa alam dan roh bukanlah dua substansi yang berbeda, melainkan dua aspek dari prinsip yang sama.¹² Alam adalah “roh yang terlihat,” sementara roh adalah “alam yang tidak terlihat.”¹³ Dalam hubungan dialektis ini, dunia objektif merupakan ekspresi dari kesadaran universal, bukan hasil dari imajinasi subjek tertentu. Realitas tetap memiliki eksistensi objektif karena ia adalah manifestasi dari prinsip spiritual yang bekerja dalam seluruh keberadaan.¹⁴

4.3.       Prinsip “Idea Absolut” dan Rasionalitas Realitas

Hegel mengembangkan gagasan Idea Absolut (Absolute Idea) sebagai prinsip tertinggi dalam sistem idealismenya.¹⁵ Idea Absolut merupakan kesatuan dari pemikiran dan keberadaan, di mana yang rasional dan yang nyata tidak dapat dipisahkan. Ungkapan terkenalnya, “the real is rational, and the rational is real”, menunjukkan bahwa segala yang ada memiliki dasar rasional, dan segala yang rasional memiliki realitas.¹⁶

Dengan demikian, struktur dunia bersifat logis; hukum-hukum realitas mencerminkan hukum-hukum pemikiran. Dalam Science of Logic, Hegel menunjukkan bahwa seluruh kategori pikiran—dari Being hingga Absolute Spirit—merupakan tahap-tahap logis dari perkembangan realitas itu sendiri.¹⁷ Prinsip ini mengandaikan bahwa tidak ada dikotomi sejati antara ide dan materi, sebab keduanya adalah ekspresi dari satu proses rasional universal.¹⁸

4.4.       Dialektika sebagai Struktur Ontologis

Bagi Hegel, dialektika bukan hanya metode berpikir, tetapi juga struktur ontologis dari realitas itu sendiri.¹⁹ Setiap entitas mengandung kontradiksi internal yang memaksanya untuk bergerak menuju sintesis yang lebih tinggi. Proses ini bukan kehancuran, melainkan pemenuhan diri dari ide.²⁰ Melalui dialektika inilah, realitas berkembang dari bentuk-bentuk kesadaran sederhana menuju kesadaran universal.

Dialektika Hegel menunjukkan bahwa dunia bukanlah kumpulan fakta statis, tetapi dinamika spiritual yang hidup.²¹ Dengan demikian, Idealisme Objektif melihat sejarah, budaya, dan pengetahuan manusia sebagai proses manifestasi dari Roh Absolut yang sedang mengenali dirinya sendiri.²²


Kesatuan Rasional antara Subjek dan Objek

Esensi terakhir dari Idealisme Objektif adalah pandangan bahwa subjek (pikiran) dan objek (realitas) tidak berdiri secara terpisah, tetapi merupakan kesatuan rasional yang saling menegaskan.²³ Relasi ini bersifat imanen—pikiran tidak berada “di luar” dunia, melainkan hadir di dalamnya sebagai struktur rasional.²⁴ Dalam sistem ini, kebenaran tidak dipahami sebagai korespondensi antara pikiran dan realitas eksternal, melainkan sebagai kesatuan di mana pikiran dan realitas merupakan dua aspek dari satu totalitas yang sama.²⁵

Kesatuan ini menunjukkan karakter spiritual dari dunia: bahwa yang nyata selalu dapat dipahami secara rasional karena ia merupakan hasil ekspresi dari akal universal.²⁶ Dengan demikian, Idealisme Objektif bukan sekadar teori tentang pengetahuan, melainkan metafisika yang menjelaskan hakikat eksistensi sebagai kesadaran yang menubuh dalam realitas.²⁷


Footnotes

[1]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 5–6.

[2]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 143–145.

[3]                Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 11–13.

[4]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 47–49.

[5]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 79–82.

[6]                Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation, Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 157–159.

[7]                G. W. F. Hegel, The Philosophy of Mind, trans. William Wallace (Oxford: Clarendon Press, 1894), 12–14.

[8]                G. W. F. Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris (Indianapolis: Hackett, 1991), §§381–385.

[9]                Robert M. Wallace, Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 18–20.

[10]             George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Oxford: Clarendon Press, 1710), 35–36.

[11]             Richard Kroner, Von Kant bis Hegel, Vol. 2 (Tübingen: J. C. B. Mohr, 1921), 142–144.

[12]             Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans. Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 48–49.

[13]             Andrew Bowie, Schelling and Modern European Philosophy (London: Routledge, 1993), 57–59.

[14]             Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 212–213.

[15]             G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 35–38.

[16]             Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.

[17]             Robert Stern, Hegelian Metaphysics, 87–89.

[18]             Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 43–45.

[19]             Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 24–27.

[20]             Hegel, Phenomenology of Spirit, 102–104.

[21]             Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 98–100.

[22]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 231–233.

[23]             Josiah Royce, The Problem of Christianity (New York: Macmillan, 1913), 19–22.

[24]             Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1, 160–162.

[25]             Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 76–78.

[26]             Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002), 192–194.

[27]             Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge, 2002), 54–56.


5.           Ontologi Hegelian sebagai Puncak Idealisme Objektif

Sistem filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831) menandai puncak tertinggi dari perkembangan Idealisme Objektif. Melalui karya-karya utamanya seperti Phenomenology of Spirit (1807), Science of Logic (1812–1816), dan Encyclopedia of the Philosophical Sciences (1817), Hegel merumuskan suatu sistem metafisika yang menafsirkan realitas sebagai proses rasional yang mengekspresikan dirinya dalam bentuk kesadaran.¹ Bagi Hegel, realitas bukanlah kumpulan entitas material yang terpisah-pisah, melainkan satu totalitas dinamis yang disebutnya sebagai Roh Absolut (Absolute Spirit), yang berkembang melalui dialektika menuju kesadaran diri sempurna.²

Ontologi Hegelian bertolak dari prinsip bahwa being (ada) dan thought (pikiran) adalah identik; segala sesuatu yang benar-benar ada juga bersifat rasional.³ Pandangan ini dirangkum dalam ungkapan terkenalnya, Das Wirkliche ist vernünftig, und das Vernünftige ist wirklich (“Yang nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata”).⁴ Dengan demikian, Hegel tidak memisahkan antara ontologi dan logika, karena bagi dirinya, struktur keberadaan sejati adalah struktur logis yang dapat dimengerti oleh rasio. Realitas bukanlah objek yang pasif, melainkan proses spiritual yang hidup dan berpikir.

5.1.       Logika dan Realitas: Identitas antara Pikiran dan Keberadaan

Dalam Science of Logic, Hegel menegaskan bahwa logika bukan sekadar alat berpikir, melainkan “metafisika sejati” yang mengungkap struktur realitas itu sendiri.⁵ Logika Hegel menjelaskan bagaimana Being (ada) berkembang menjadi Essence (hakikat), lalu menjadi Concept (pengertian), hingga mencapai Absolute Idea—yakni kesatuan antara subjek dan objek, pikiran dan realitas.⁶ Di sini, logika bukan lagi abstraksi mental, tetapi realitas dalam bentuk rasionalitas murni.

Ontologi Hegelian dengan demikian menolak dikotomi antara pikiran dan dunia, karena keduanya merupakan aspek dari satu proses yang sama: ide yang berpikir dirinya sendiri (the Idea thinking itself).⁷ Bagi Hegel, “menjadi” bukanlah kondisi statis, tetapi gerak dinamis menuju aktualisasi diri.⁸ Dalam konteks ini, realitas adalah proses reflektif, di mana eksistensi mengandung logika internal yang secara niscaya membawa dirinya menuju kesadaran penuh.⁹

5.2.       Dialektika sebagai Struktur Ontologis Realitas

Prinsip dialektika menjadi jantung dari ontologi Hegelian. Dialektika bukan hanya metode berpikir, tetapi juga hukum eksistensi itu sendiri.¹⁰ Setiap keberadaan mengandung kontradiksi internal (negativity) yang memaksanya berkembang menuju sintesis yang lebih tinggi.¹¹ Proses ini dikenal sebagai triadik: tesis (penegasan), antitesis (penyangkalan), dan sintesis (rekonsiliasi). Namun bagi Hegel, ketiganya bukan tahap mekanis, melainkan ekspresi dinamis dari gerak Roh menuju pemahaman diri.¹²

Dialektika ini menunjukkan bahwa realitas bersifat self-determining—menentukan dirinya sendiri melalui negasi dan transformasi.¹³ Dalam setiap tahap sejarah, ilmu, dan kesadaran manusia, Roh Absolut mengaktualkan sebagian dari hakikatnya, hingga akhirnya mencapai bentuk kesadaran tertinggi di mana Ia mengenali dirinya sebagai realitas itu sendiri.¹⁴ Dengan demikian, dialektika Hegelian bukan sekadar teori perubahan, tetapi struktur ontologis realitas yang menjelaskan mengapa segala sesuatu berkembang secara rasional.¹⁵

5.3.       Roh Absolut sebagai Prinsip Ontologis Tertinggi

Hegel menggambarkan Roh Absolut sebagai prinsip tertinggi yang meliputi seluruh eksistensi, baik alam, masyarakat, maupun kesadaran individual.¹⁶ Roh Absolut bukan entitas metafisik di luar dunia, melainkan proses imanen di mana ide menjadi sadar akan dirinya melalui sejarah.¹⁷ Dalam Phenomenology of Spirit, Hegel menunjukkan bahwa Roh berkembang dari kesadaran individual menuju kesadaran kolektif dan akhirnya mencapai kesadaran filosofis universal.¹⁸

Tahap-tahap perkembangan ini menunjukkan bagaimana realitas spiritual mengungkap dirinya dalam tiga bentuk utama:

1)                  Roh Subjektif (Subjective Spirit) – meliputi kesadaran, pemikiran, dan kepribadian individu.

2)                  Roh Objektif (Objective Spirit) – termanifestasi dalam lembaga sosial, hukum, dan etika.

3)                  Roh Absolut (Absolute Spirit) – menampakkan diri dalam seni, agama, dan filsafat sebagai bentuk tertinggi kesadaran.¹⁹

Ketiganya bukan entitas terpisah, melainkan tahap-tahap evolusi dari satu Roh yang sama.²⁰ Dalam tahap tertinggi, realitas mencapai kesadaran diri penuh: roh memahami bahwa segala sesuatu yang ada merupakan bagian dari dirinya.²¹

5.4.       Ontologi Hegelian sebagai Totalitas Rasional dan Historis

Ciri khas ontologi Hegel adalah sifatnya yang total dan historis. Hegel menolak pandangan bahwa realitas dapat dipahami sebagai kumpulan fakta statis tanpa makna. Sebaliknya, dunia adalah proses rasional yang bergerak melalui waktu.²² Dalam pandangan ini, sejarah manusia bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan bagian dari logika Roh yang sedang berproses menuju kebebasan dan kesadaran diri.²³

Hegel menulis bahwa “sejarah dunia adalah kemajuan dalam kesadaran kebebasan.”²⁴ Artinya, sejarah bukan sekadar kronologi, melainkan ekspresi metafisis dari upaya realitas mengenal dirinya sendiri melalui pengalaman manusia.²⁵ Dengan demikian, ontologi Hegelian bersifat teleologis: segala sesuatu mengarah pada tujuan rasional yang tertinggi, yaitu realisasi kebebasan dan kesadaran absolut.²⁶


Konsekuensi Metafisik dan Filosofis

Ontologi Hegelian membawa konsekuensi besar bagi pemikiran metafisika. Pertama, ia menolak dualisme Cartesian antara pikiran dan materi, karena keduanya hanyalah momen dari satu totalitas spiritual.²⁷ Kedua, ia menolak empirisisme yang menganggap realitas sebagai kumpulan fakta yang berdiri sendiri, sebab baginya, kebenaran tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan sistem.²⁸ Ketiga, ia menegaskan bahwa realitas bersifat rasional: tidak ada sesuatu pun yang benar-benar “ada” kecuali dalam kaitannya dengan keseluruhan yang bermakna.²⁹

Dengan demikian, ontologi Hegelian tidak hanya menyatukan metafisika dan logika, tetapi juga menjadikan sejarah dan kesadaran manusia sebagai bagian dari struktur ontologis realitas.³⁰ Idealisme Objektif mencapai puncaknya dalam sistem ini karena Hegel berhasil menunjukkan bahwa “ada” bukan substansi mati, melainkan kehidupan rasional yang terus berkembang dalam kesadaran universal.³¹


Footnotes

[1]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 3–4.

[2]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 8–9.

[3]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 132–134.

[4]                G. W. F. Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.

[5]                G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 35–37.

[6]                Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 17–19.

[7]                Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation, Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 160–162.

[8]                Hegel, Science of Logic, 89–90.

[9]                Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 210–213.

[10]             Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002), 188–190.

[11]             Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 45–47.

[12]             Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 76–79.

[13]             Hegel, Phenomenology of Spirit, 104–106.

[14]             Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 35–36.

[15]             G. W. F. Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris (Indianapolis: Hackett, 1991), §81–§83.

[16]             Hegel, Philosophy of Mind, trans. William Wallace (Oxford: Clarendon Press, 1894), 15–16.

[17]             Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 98–100.

[18]             Hegel, Phenomenology of Spirit, 481–484.

[19]             Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences, §§381–385.

[20]             Robert M. Wallace, Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 19–21.

[21]             Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1996), 112–114.

[22]             Terry Pinkard, Hegel: A Biography (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 454–456.

[23]             Hegel, Lectures on the Philosophy of History, trans. J. Sibree (London: Bell, 1902), 19–20.

[24]             Ibid., 22.

[25]             Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge, 2002), 77–79.

[26]             Hegel, Philosophy of Right, 45–47.

[27]             Desmond Lee, Hegel’s Philosophy of Nature (Oxford: Clarendon Press, 1970), 58–60.

[28]             Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 62–63.

[29]             Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 210–211.

[30]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel, 242–244.

[31]             Robert Stern, Hegelian Metaphysics, 102–104.


6.           Implikasi Epistemologis dan Metafisik

Dalam kerangka Idealisme Objektif, aspek epistemologis dan metafisik saling terkait erat karena pengetahuan (epistēmē) dan realitas (ontos) dianggap berasal dari prinsip yang sama: kesadaran universal atau Roh Absolut.¹ Dengan demikian, hubungan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui bukanlah hubungan eksternal sebagaimana dalam empirisme atau realisme naif, melainkan hubungan internal dalam satu sistem rasional yang sama.² Pengetahuan bukan sekadar representasi terhadap dunia, melainkan partisipasi aktif dalam struktur realitas itu sendiri.

6.1.       Implikasi Epistemologis: Pengetahuan sebagai Partisipasi dalam Realitas Rasional

Dalam epistemologi idealisme objektif, mengetahui berarti memahami struktur ide yang membentuk realitas.³ Kebenaran tidak diukur berdasarkan kesesuaian antara pikiran dan objek eksternal (correspondence theory of truth), tetapi berdasarkan kesesuaian internal antara bagian-bagian pemikiran dan totalitas sistem rasional yang lebih besar (coherence theory of truth).⁴ Artinya, kebenaran bersifat sistemik: sesuatu dianggap benar sejauh ia konsisten dengan keseluruhan rasional yang melandasi realitas.⁵

Hegel menegaskan bahwa pengetahuan adalah proses di mana pikiran menjadi sadar akan dirinya sendiri dalam dunia yang juga merupakan ekspresi dari pikiran itu.⁶ Dalam Phenomenology of Spirit, ia menunjukkan bahwa kesadaran tidak pernah statis, melainkan terus berkembang dari tahap persepsi sederhana menuju kesadaran diri dan akhirnya menuju pengetahuan absolut.⁷ Dalam tahap tertinggi ini, subjek dan objek pengetahuan tidak lagi terpisah—mereka bersatu dalam kesadaran universal yang mengenali dirinya sendiri melalui aktivitas berpikir.⁸

Implikasi penting dari pandangan ini adalah bahwa epistemologi tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan budaya. Proses mengetahui tidak berlangsung dalam ruang hampa, tetapi merupakan bagian dari perkembangan Roh Absolut dalam waktu.⁹ Sejarah filsafat, ilmu, dan seni mencerminkan tahap-tahap perkembangan kesadaran universal yang sedang berupaya memahami dirinya sendiri.¹⁰ Maka, epistemologi Hegelian bukanlah sekadar teori pengetahuan, tetapi sekaligus teori tentang proses ontologis realitas itu sendiri.

6.2.       Implikasi Metafisik: Realitas sebagai Struktur Rasional-Spiritual

Secara metafisik, Idealisme Objektif menolak pandangan bahwa realitas bersifat material atau dualistik. Bagi Hegel dan para idealis objektif lainnya, realitas bersifat spiritual karena seluruh keberadaan merupakan manifestasi dari ide atau rasionalitas yang berpikir.¹¹ Dengan demikian, dunia fisik hanyalah bentuk penampakan dari prinsip ideal yang imanen di dalamnya.¹²

Hegel menggambarkan realitas sebagai proses menjadi (becoming) yang rasional.¹³ Realitas bukan entitas statis, melainkan dinamika dialektis antara keberadaan (being) dan ketiadaan (nothing), yang menghasilkan becoming.¹⁴ Melalui proses ini, realitas secara bertahap mengungkapkan struktur rasional yang mendasarinya.¹⁵ Pandangan ini membalikkan paradigma metafisika tradisional: bukan ide yang bergantung pada materi, tetapi materi yang memperoleh makna karena partisipasinya dalam ide.¹⁶

Metafisika Hegelian juga memiliki sifat teleologis: segala sesuatu dalam realitas bergerak menuju aktualisasi kesadaran absolut.¹⁷ Dalam arti ini, keberadaan memiliki arah dan tujuan, bukan dalam pengertian empiris, tetapi dalam pengertian rasional dan spiritual.¹⁸ Tujuan akhir dari seluruh realitas adalah self-realization dari Roh Absolut—yakni pencapaian kondisi di mana kesadaran universal mengenali dirinya sendiri sebagai dasar dari segala yang ada.¹⁹


Kesatuan Epistemologi dan Metafisika

Keunggulan Idealisme Objektif terletak pada penyatuan epistemologi dan metafisika dalam satu sistem rasional. Bagi Hegel, cara kita mengetahui dunia tidak dapat dipisahkan dari bagaimana dunia itu ada.²⁰ Pengetahuan bukan sekadar aktivitas subjek, melainkan bagian dari proses ontologis realitas yang sedang menyadari dirinya sendiri.²¹ Dengan demikian, batas antara filsafat pengetahuan dan filsafat keberadaan menjadi kabur, karena keduanya merupakan momen dalam satu gerak yang sama: gerak ide menuju kesadaran diri.²²

Implikasi dari kesatuan ini sangat luas. Dalam filsafat ilmu, pandangan ini menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah bukan refleksi pasif terhadap fakta, melainkan konstruksi aktif yang mengikuti hukum rasional realitas.²³ Dalam etika, ia menegaskan bahwa tindakan manusia merupakan ekspresi dari kehendak rasional universal yang berupaya mewujudkan kebebasan.²⁴ Dalam estetika dan agama, ia memperlihatkan bahwa pengalaman keindahan dan iman adalah cara-cara konkret di mana kesadaran manusia berpartisipasi dalam struktur spiritual semesta.²⁵

Akhirnya, baik secara epistemologis maupun metafisik, Idealisme Objektif menegaskan bahwa realitas dan pengetahuan merupakan dua sisi dari satu proses yang sama—yakni proses Roh Absolut memahami dirinya sendiri melalui dunia dan manusia.²⁶ Dalam proses itu, rasionalitas dan spiritualitas tidak hanya menjadi prinsip metafisik tertinggi, tetapi juga dasar bagi segala bentuk eksistensi dan pengetahuan yang bermakna.²⁷


Footnotes

[1]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 45–47.

[2]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 132–134.

[3]                Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 16–17.

[4]                F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon Press, 1893), 117–119.

[5]                Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation, Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 163–165.

[6]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 78–80.

[7]                Terry Pinkard, Hegel’s Phenomenology: The Sociality of Reason (Cambridge: Cambridge University Press, 1994), 98–100.

[8]                Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 45–47.

[9]                Hegel, Lectures on the History of Philosophy, trans. E. S. Haldane (London: Kegan Paul, 1892), 19–21.

[10]             Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002), 192–194.

[11]             G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 35–37.

[12]             Friedrich Schelling, System of Transcendental Idealism, trans. Peter Heath (Charlottesville: University of Virginia Press, 1978), 53–54.

[13]             Hegel, Science of Logic, 83–85.

[14]             Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 24–27.

[15]             Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 99–101.

[16]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 220–222.

[17]             Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris (Indianapolis: Hackett, 1991), §236–§244.

[18]             Josiah Royce, The Problem of Christianity (New York: Macmillan, 1913), 35–37.

[19]             Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1996), 112–114.

[20]             Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 211–213.

[21]             Hegel, Phenomenology of Spirit, 483–485.

[22]             Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge, 2002), 66–68.

[23]             Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 49–50.

[24]             Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford University Press, 1967), 45–46.

[25]             G. W. F. Hegel, Aesthetics: Lectures on Fine Art, trans. T. M. Knox (Oxford: Clarendon Press, 1975), 14–15.

[26]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel, 235–237.

[27]             Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 65–67.


7.           Kritik terhadap Idealisme Objektif

Meskipun Idealisme Objektif memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan metafisika modern dan pemahaman rasional terhadap realitas, aliran ini juga menghadapi berbagai kritik dari berbagai arah pemikiran filsafat, baik dari empirisisme, materialisme, positivisme logis, maupun eksistensialisme. Kritik-kritik ini tidak hanya menyoroti kelemahan metodologisnya, tetapi juga menggugat klaim ontologis dan epistemologis yang menjadi fondasinya.

7.1.       Kritik dari Empirisisme dan Materialisme

Kaum empirisis, seperti John Locke dan David Hume, menolak gagasan bahwa realitas dapat dijelaskan semata-mata melalui konsep rasional atau kesadaran universal.¹ Menurut mereka, seluruh pengetahuan manusia berakar pada pengalaman inderawi, bukan pada struktur ide bawaan atau prinsip metafisik.² Dalam pandangan ini, Idealisme Objektif dianggap mengabaikan dimensi empiris dari pengetahuan dan terjebak dalam spekulasi abstrak yang tidak dapat diverifikasi.

Materialisme menambahkan kritik yang lebih tajam terhadap pandangan idealis dengan menegaskan bahwa kesadaran bukanlah sebab, melainkan akibat dari proses material.³ Karl Marx, misalnya, menolak metafisika idealisme Hegel dengan menganggapnya sebagai bentuk “inversi logis”—yakni menempatkan dunia ide di atas dunia nyata.⁴ Dalam Theses on Feuerbach, Marx menyatakan bahwa bukan kesadaran yang menentukan kehidupan, tetapi kehidupan sosial-materiallah yang menentukan kesadaran manusia.⁵ Dengan demikian, bagi para materialis, Idealisme Objektif gagal menjelaskan dasar eksistensial manusia karena meniadakan realitas konkret dari kondisi material.

7.2.       Kritik dari Positivisme Logis dan Ilmu Pengetahuan Modern

Pada abad ke-20, muncul gelombang baru kritik dari positivisme logis yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Rudolf Carnap dan A. J. Ayer.⁶ Menurut mereka, pernyataan-pernyataan metafisis dalam idealisme, seperti tentang “Roh Absolut” atau “Ide Universal,” tidak memiliki makna ilmiah karena tidak dapat diverifikasi secara empiris.⁷ Positivisme logis menegaskan bahwa hanya proposisi yang dapat diuji melalui pengalaman dan observasi yang memiliki nilai kebenaran. Oleh karena itu, sistem Hegel dianggap sebagai konstruksi linguistik yang indah namun tidak memiliki nilai kognitif.⁸

Selain itu, kemajuan ilmu pengetahuan modern juga menantang klaim rasional totalitas dalam Idealisme Objektif. Teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum menunjukkan bahwa realitas fisik tidak dapat dipahami sebagai sistem yang sepenuhnya rasional dan deterministik sebagaimana diasumsikan Hegel.⁹ Konsep tentang “realitas yang rasional sepenuhnya” menjadi sulit dipertahankan ketika ilmu modern menunjukkan adanya ketidakpastian dan kompleksitas yang tak tereduksi secara logis.¹⁰

7.3.       Kritik dari Eksistensialisme dan Fenomenologi

Aliran eksistensialisme memberikan kritik yang lebih humanistik terhadap Idealisme Objektif. Søren Kierkegaard, tokoh awal eksistensialisme, menilai bahwa sistem Hegel terlalu abstrak dan mengabaikan eksistensi manusia yang konkret.¹¹ Bagi Kierkegaard, manusia tidak dapat direduksi menjadi bagian dari struktur rasional universal karena setiap individu memiliki kebebasan, kecemasan, dan keputusan etis yang unik.¹² Ia menuduh Hegel menciptakan “sistem tanpa eksistensi,” yakni filsafat yang menghapuskan individu demi totalitas logis.¹³

Martin Heidegger, melalui Being and Time, juga mengkritik tradisi idealisme (termasuk Hegelianisme) karena melupakan “pertanyaan tentang keberadaan” (Seinsfrage).¹⁴ Ia berpendapat bahwa idealisme terlalu fokus pada kesadaran dan konsep, sehingga gagal memahami keberadaan sebagai pengalaman yang lebih mendasar dan pra-konseptual.¹⁵ Sementara itu, Edmund Husserl melalui fenomenologi menunjukkan bahwa kesadaran tidak bisa disamakan dengan sistem rasional universal, sebab ia selalu terarah pada dunia pengalaman (intentionality) yang bersifat konkret dan temporal.¹⁶ Kritik-kritik ini menegaskan bahwa Idealisme Objektif cenderung mengabaikan dimensi eksistensial manusia dalam upayanya membangun struktur metafisik yang sempurna.

7.4.       Kritik dari Tradisi Analitik dan Filsafat Bahasa

Filsafat analitik, khususnya pada abad ke-20, juga menolak klaim universal dari Idealisme Objektif. Bertrand Russell dan G. E. Moore menilai bahwa Hegel dan para idealis lainnya membuat kesalahan kategori dengan mencampuradukkan antara konsep dan fakta.¹⁷ Russell berargumen bahwa dunia terdiri atas entitas logis yang independen, bukan manifestasi dari kesadaran universal.¹⁸ Ia menuduh Hegel menggunakan bahasa yang ambigu dan membingungkan, sehingga sistemnya tidak dapat diuji secara logis.¹⁹

Moore menegaskan prinsip common sense realism, yakni bahwa benda-benda seperti meja, kursi, dan dunia fisik benar-benar ada secara independen dari pikiran manusia.²⁰ Kritik ini menolak klaim idealis bahwa realitas bergantung pada kesadaran atau rasionalitas universal.²¹ Dengan demikian, tradisi analitik menuntut agar filsafat kembali pada kejelasan konseptual dan analisis bahasa yang ketat, bukan pada spekulasi metafisik yang sulit diverifikasi.²²


Refleksi terhadap Nilai Kritik

Walaupun kritik-kritik tersebut melemahkan posisi Idealisme Objektif dalam filsafat kontemporer, banyak pemikir modern tetap menilai bahwa sistem Hegel memiliki nilai historis dan metodologis yang besar.²³ Dialektika Hegel, misalnya, tetap menjadi inspirasi bagi teori kritis, hermeneutika, dan filsafat sejarah.²⁴ Bahkan beberapa filsuf postmodern seperti Slavoj Žižek dan Axel Honneth berusaha merevitalisasi aspek rasional dan emansipatoris dari Idealisme Objektif tanpa mengulangi dogmatisme metafisiknya.²⁵ Dengan demikian, meskipun Idealisme Objektif telah menjadi sasaran berbagai kritik, warisan intelektualnya masih relevan dalam upaya memahami hubungan antara rasionalitas, kesadaran, dan realitas dalam konteks kontemporer.²⁶


Footnotes

[1]                John Locke, An Essay Concerning Human Understanding (Oxford: Clarendon Press, 1690), 27–28.

[2]                David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding, ed. Eric Steinberg (Indianapolis: Hackett Publishing, 1993), 15–17.

[3]                Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (New York: International Publishers, 1970), 42–43.

[4]                Karl Marx, Critique of Hegel’s Philosophy of Right, trans. Annette Jolin (Cambridge: Cambridge University Press, 1970), 7–9.

[5]                Karl Marx, Theses on Feuerbach (Moscow: Progress Publishers, 1958), 12–13.

[6]                Rudolf Carnap, The Elimination of Metaphysics Through Logical Analysis of Language (Vienna: Erkenntnis, 1932), 62–64.

[7]                A. J. Ayer, Language, Truth, and Logic (London: Gollancz, 1936), 35–37.

[8]                Herbert Feigl, “Logical Empiricism,” in The Encyclopedia of Philosophy, ed. Paul Edwards (New York: Macmillan, 1967), 60–61.

[9]                Albert Einstein, Relativity: The Special and General Theory (New York: Crown Publishers, 1961), 113–115.

[10]             Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper & Row, 1958), 27–30.

[11]             Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript to the Philosophical Fragments, trans. David F. Swenson (Princeton: Princeton University Press, 1941), 87–88.

[12]             Ibid., 90–92.

[13]             Alastair Hannay, Kierkegaard: A Biography (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 112–113.

[14]             Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 25–27.

[15]             Ibid., 31–33.

[16]             Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1982), 47–49.

[17]             Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (New York: Simon & Schuster, 1945), 690–692.

[18]             Ibid., 693.

[19]             Bertrand Russell, Our Knowledge of the External World (London: Allen & Unwin, 1914), 101–103.

[20]             G. E. Moore, “A Defence of Common Sense,” in Contemporary British Philosophy, ed. J. H. Muirhead (London: Allen & Unwin, 1925), 3–5.

[21]             G. E. Moore, Some Main Problems of Philosophy (London: George Allen & Unwin, 1953), 12–14.

[22]             Michael Dummett, Truth and Other Enigmas (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1978), 98–100.

[23]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 241–243.

[24]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 301–303.

[25]             Slavoj Žižek, Less Than Nothing: Hegel and the Shadow of Dialectical Materialism (London: Verso, 2012), 47–50.

[26]             Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014), 21–23.


8.           Relevansi dan Aplikasi Kontemporer

Meskipun Idealisme Objektif muncul dalam konteks filsafat modern awal dan mencapai puncaknya pada sistem metafisika Hegel, pengaruhnya tetap terasa kuat dalam wacana kontemporer. Pandangan bahwa realitas bersifat rasional, spiritual, dan berproses dalam kesadaran universal telah melahirkan beragam reinterpretasi di bidang filsafat ilmu, teori sosial, pendidikan, hingga teknologi digital.¹ Dalam konteks abad ke-21 yang ditandai oleh kompleksitas global, relativisme nilai, dan perkembangan teknologi yang pesat, Idealisme Objektif menawarkan kerangka konseptual untuk memahami dunia bukan sebagai entitas terpisah, tetapi sebagai jaringan kesadaran rasional yang saling berhubungan.

8.1.       Relevansi dalam Filsafat Ilmu dan Teori Pengetahuan

Dalam filsafat ilmu, Idealisme Objektif menginspirasi munculnya pandangan konstruktivisme dan realisme kritis.² Kedua pendekatan ini, meskipun berakar pada paradigma ilmiah, mengakui bahwa pengetahuan ilmiah tidak sepenuhnya bersifat objektif dalam arti empiris, melainkan selalu terbentuk melalui struktur konseptual dan rasional tertentu.³ Sejalan dengan prinsip Hegel bahwa “yang rasional adalah yang nyata,” sains dipahami sebagai proses dialektis antara ide dan pengalaman yang saling memperkaya.⁴

Thomas Kuhn, dalam karyanya The Structure of Scientific Revolutions, menggemakan semangat idealisme objektif ketika menyatakan bahwa ilmu berkembang melalui “paradigma”—kerangka konseptual kolektif yang menentukan bagaimana realitas dipahami pada suatu masa tertentu.⁵ Dalam hal ini, perubahan ilmiah bukan sekadar hasil akumulasi data, melainkan hasil transformasi rasional dalam kesadaran ilmiah.⁶ Dengan demikian, ilmu pengetahuan modern tidak dapat dipisahkan dari rasionalitas yang menjadi inti dari Idealisme Objektif: realitas ilmiah adalah bentuk dari kesadaran yang berproses dalam kerangka ide universal.⁷

8.2.       Relevansi dalam Filsafat Sosial dan Etika

Dalam bidang filsafat sosial, Idealisme Objektif memiliki dampak besar terhadap teori sosial modern, terutama pada pemikiran Karl Marx, Émile Durkheim, dan Jürgen Habermas.⁸ Meskipun Marx mengkritik Hegel secara tajam, ia tetap mempertahankan gagasan dialektika sejarah sebagai kerangka penjelasan atas perkembangan masyarakat.⁹ Ide tentang “Roh Absolut” diubah menjadi “proses historis-material,” tetapi logika rasional-dialektis Hegel tetap menjadi pondasi metode Marxian.¹⁰

Jürgen Habermas, dalam tradisi Critical Theory, menafsirkan ulang Idealisme Objektif melalui konsep rasio komunikatif.¹¹ Ia berpendapat bahwa rasionalitas tidak hanya bersifat subjektif, tetapi juga sosial dan intersubjektif—yakni terwujud dalam komunikasi antara individu-individu yang berupaya mencapai pemahaman bersama.¹² Dengan cara ini, Hegelianisme diperluas dalam konteks demokrasi deliberatif modern: masyarakat yang rasional adalah masyarakat yang terbentuk melalui dialog dan refleksi bersama, bukan sekadar melalui kekuasaan atau kepentingan.¹³

Dalam etika, Idealisme Objektif menegaskan pentingnya prinsip rasional universal dalam tindakan moral.¹⁴ Prinsip ini sejalan dengan gagasan Immanuel Kant tentang imperatif kategoris, namun Hegel melengkapinya dengan menempatkan moralitas dalam konteks sosial dan historis.¹⁵ Dengan demikian, moralitas bukan hanya soal kehendak individu, tetapi merupakan ekspresi dari Roh Objektif yang berwujud dalam lembaga sosial, hukum, dan nilai-nilai kolektif.¹⁶

8.3.       Relevansi dalam Filsafat Pendidikan

Dalam konteks pendidikan modern, Idealisme Objektif menempati posisi penting sebagai dasar filosofis bagi pengembangan karakter dan kesadaran rasional. George Herbert Mead dan John Dewey, misalnya, mengembangkan teori pendidikan yang menekankan interaksi sosial sebagai sarana pembentukan kesadaran diri.¹⁷ Pemikiran ini sejalan dengan Hegelianisme, yang memandang individu sebagai bagian dari proses dialektis antara diri dan masyarakat.¹⁸

Pendidikan, dalam kerangka ini, bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses partisipatif di mana peserta didik menginternalisasi struktur nilai dan rasionalitas universal.¹⁹ Hal ini tercermin dalam pendekatan humanistic education dan transformative learning, yang menekankan refleksi kritis dan pengembangan kesadaran diri.²⁰ Dengan demikian, Idealisme Objektif memberikan dasar filosofis bagi pendidikan yang membentuk manusia sebagai makhluk rasional, etis, dan spiritual yang sadar akan posisinya dalam totalitas sosial.²¹

8.4.       Relevansi dalam Konteks Teknologi dan Dunia Digital

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan juga dapat dibaca melalui kacamata Idealisme Objektif.²² Dunia digital menghadirkan realitas baru yang tidak sepenuhnya material, tetapi terbentuk dari representasi ide dan data.²³ Dalam hal ini, dunia maya merupakan perwujudan konkret dari gagasan idealisme: realitas virtual adalah “ide yang menjadi nyata” melalui struktur rasional algoritmik.²⁴

Filsuf kontemporer seperti Luciano Floridi mengembangkan konsep infosfer—ruang ontologis di mana informasi menjadi dasar keberadaan—yang sangat dekat dengan semangat Idealisme Objektif.²⁵ Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, batas antara ide dan realitas menjadi kabur, dan kesadaran manusia semakin berpartisipasi dalam struktur informasi global.²⁶ Maka, prinsip Hegelian bahwa realitas merupakan manifestasi rasional kesadaran menemukan bentuk barunya dalam era digital, di mana informasi, pikiran, dan eksistensi berbaur dalam satu sistem totalitas teknologi.²⁷


Refleksi Akhir: Idealisme Objektif dan Tantangan Kontemporer

Dalam konteks pluralisme nilai dan krisis makna dewasa ini, Idealisme Objektif mengajukan visi alternatif tentang kesatuan rasional yang melampaui fragmentasi modernitas.²⁸ Ia menawarkan pandangan bahwa kemajuan pengetahuan, moralitas, dan teknologi hanyalah bermakna sejauh terarah pada kesadaran universal yang mencerminkan kebebasan dan rasionalitas manusia.²⁹ Dengan demikian, Idealisme Objektif tetap relevan sebagai fondasi reflektif untuk membangun paradigma yang memadukan spiritualitas, rasionalitas, dan kemanusiaan di tengah dinamika dunia global yang terus berubah.³⁰


Footnotes

[1]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 132–134.

[2]                Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Verso, 1975), 21–23.

[3]                Paul Feyerabend, Against Method (London: Verso, 1975), 35–37.

[4]                G. W. F. Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford University Press, 1967), 20.

[5]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 10–12.

[6]                Ibid., 84–85.

[7]                Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002), 214–216.

[8]                Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, trans. Martin Milligan (Moscow: Progress Publishers, 1959), 75–77.

[9]                Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (New York: International Publishers, 1970), 48–50.

[10]             Herbert Marcuse, Reason and Revolution: Hegel and the Rise of Social Theory (London: Routledge, 1941), 112–115.

[11]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 52–54.

[12]             Ibid., 58–60.

[13]             Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014), 29–31.

[14]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 230–233.

[15]             Immanuel Kant, Groundwork for the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 57–59.

[16]             G. W. F. Hegel, Elements of the Philosophy of Right, trans. Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 155–157.

[17]             John Dewey, Democracy and Education (New York: Macmillan, 1916), 72–74.

[18]             George Herbert Mead, Mind, Self, and Society (Chicago: University of Chicago Press, 1934), 134–136.

[19]             Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 1970), 67–69.

[20]             Jack Mezirow, Transformative Dimensions of Adult Learning (San Francisco: Jossey-Bass, 1991), 12–14.

[21]             Nel Noddings, Philosophy of Education (Boulder: Westview Press, 2012), 98–100.

[22]             Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011), 3–5.

[23]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 44–47.

[24]             Paul Virilio, The Information Bomb, trans. Chris Turner (London: Verso, 2000), 23–25.

[25]             Floridi, The Philosophy of Information, 20–21.

[26]             Mark C. Taylor, The Moment of Complexity: Emerging Network Culture (Chicago: University of Chicago Press, 2001), 18–20.

[27]             Slavoj Žižek, The Parallax View (Cambridge, MA: MIT Press, 2006), 95–97.

[28]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 482–484.

[29]             Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 176–178.

[30]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 303–305.


9.           Sintesis Filosofis

Bagian ini berfungsi untuk menyatukan benang merah dari seluruh pemikiran Idealisme Objektif dengan memperlihatkan integrasi antara aspek ontologis, epistemologis, dan etis dalam suatu totalitas filosofis yang koheren. Sintesis ini menegaskan bahwa Idealisme Objektif bukan sekadar sistem metafisik yang abstrak, melainkan suatu kerangka komprehensif yang menjelaskan realitas, pengetahuan, dan nilai dalam kesatuan rasional yang hidup.¹

9.1.       Kesatuan antara Ontologi dan Epistemologi

Dalam Idealisme Objektif, perbedaan antara “ada” (being) dan “mengetahui” (knowing) diatasi melalui prinsip kesatuan rasional.² Ontologi tidak dapat dipisahkan dari epistemologi karena realitas pada dasarnya bersifat rasional dan dapat dipahami.³ Dengan kata lain, realitas bukanlah sesuatu yang berada di luar pikiran, melainkan manifestasi dari pikiran universal itu sendiri.⁴

Hegel menunjukkan bahwa pikiran (Geist) dan keberadaan memiliki struktur yang identik.⁵ Ketika manusia berpikir tentang dunia, ia sebenarnya sedang berpartisipasi dalam aktivitas Roh Absolut yang memahami dirinya sendiri melalui kesadaran manusia.⁶ Dalam kerangka ini, pengetahuan manusia bukan sekadar refleksi terhadap dunia objektif, tetapi merupakan bagian dari proses ontologis itu sendiri—yakni perwujudan kesadaran universal dalam bentuk pemikiran rasional.⁷

Sintesis antara ontologi dan epistemologi ini melahirkan pandangan bahwa kebenaran tidak bersifat korespondensial (antara subjek dan objek), melainkan koherensial—yakni harmoni internal antara bagian-bagian pengetahuan dalam sistem totalitas rasional.⁸ Dengan demikian, mengetahui berarti berpartisipasi dalam realitas yang berpikir, dan realitas itu sendiri adalah struktur ide yang hidup.⁹

9.2.       Integrasi antara Rasionalitas dan Spiritualitas

Idealisme Objektif menolak dikotomi antara rasio dan spiritualitas. Bagi Hegel, rasionalitas bukanlah sekadar logika formal yang kaku, melainkan prinsip spiritual yang menjiwai segala sesuatu.¹⁰ Rasio adalah Roh dalam bentuk berpikir. Oleh karena itu, spiritualitas sejati bukan penolakan terhadap rasionalitas, tetapi justru kesadarannya yang tertinggi.¹¹

Prinsip ini memungkinkan Hegel untuk mengatasi pertentangan klasik antara agama dan filsafat. Dalam Philosophy of Religion, ia menyatakan bahwa agama dan filsafat berbicara tentang hal yang sama—yakni Roh Absolut—namun dengan bentuk yang berbeda: agama melalui representasi simbolik, filsafat melalui konsep rasional.¹² Dengan demikian, filsafat menjadi bentuk reflektif dari iman yang telah menjadi sadar diri sepenuhnya.¹³

Sintesis ini memiliki implikasi luas dalam konteks modern. Rasionalitas tidak lagi dipahami sebagai kekuatan yang dingin dan terlepas dari nilai, melainkan sebagai ekspresi dari spiritualitas yang rasional—spiritualitas yang sadar akan dirinya sebagai prinsip kehidupan, kebebasan, dan makna.¹⁴

9.3.       Dialektika sebagai Prinsip Kesatuan Dinamis

Ciri utama dari sintesis filosofis dalam Idealisme Objektif adalah pandangannya tentang dialektika sebagai mekanisme kesatuan dinamis dalam realitas.¹⁵ Berbeda dengan logika klasik yang cenderung statis dan dualistik, dialektika memandang kontradiksi sebagai motor penggerak perkembangan.¹⁶ Setiap tesis mengandung antitesis, dan keduanya bersatu dalam sintesis yang lebih tinggi tanpa kehilangan esensi awalnya.¹⁷

Melalui dialektika, Hegel menunjukkan bahwa realitas bersifat self-determining dan self-developing.¹⁸ Segala sesuatu berkembang menuju bentuk kesadaran yang lebih utuh. Dengan demikian, sintesis bukan berarti penghapusan perbedaan, melainkan rekonsiliasi kreatif antara kontradiksi-kontradiksi yang ada.¹⁹ Pandangan ini menjadikan Idealisme Objektif sebagai sistem terbuka yang selalu berkembang, bukan dogma yang tertutup.²⁰

Dalam konteks filsafat kontemporer, dialektika ini memengaruhi berbagai disiplin, mulai dari teori kritis Habermas hingga psikoanalisis Lacanian dan hermeneutika Gadamer.²¹ Semua pendekatan tersebut berupaya memahami realitas bukan sebagai struktur statis, melainkan sebagai proses komunikasi dan refleksi diri yang terus berlanjut.²²

9.4.       Rekonsiliasi antara Individu dan Totalitas

Salah satu sumbangan penting Idealisme Objektif adalah usahanya untuk mendamaikan ketegangan antara individu dan totalitas.²³ Hegel menolak baik atomisme individualistik maupun totalitarianisme kolektif.²⁴ Ia menegaskan bahwa individu hanya dapat memahami dan mewujudkan kebebasannya dalam konteks sosial yang rasional—yakni melalui partisipasi dalam Roh Objektif.²⁵

Dalam Philosophy of Right, Hegel menggambarkan kebebasan sejati bukan sebagai kebebasan dari keterikatan, melainkan kebebasan melalui kesadaran diri terhadap hukum dan etika universal.²⁶ Dengan demikian, individu bukanlah korban dari sistem sosial, melainkan ekspresi sadar dari totalitas rasional yang menciptakan makna bersama.²⁷

Sintesis ini tetap relevan dalam dunia modern yang diwarnai oleh alienasi dan fragmentasi sosial. Ia menawarkan visi etis di mana manusia dapat menemukan kebebasan sejati melalui partisipasi dalam rasionalitas universal yang diwujudkan dalam komunitas dan kebudayaan.²⁸


Perspektif Kontemporer: Idealisme yang Terbuka

Meskipun sistem Hegel sering dianggap tertutup, banyak filsuf kontemporer menafsirkan kembali Idealisme Objektif sebagai paradigma yang terbuka dan reflektif.²⁹ Paul Ricoeur, misalnya, melihat dalam Hegel suatu bentuk hermeneutika dialektis—yakni pemahaman yang tumbuh melalui dialog antara makna dan sejarah.³⁰ Sementara itu, Jürgen Habermas mengadaptasi rasionalitas Hegel dalam konteks komunikasi intersubjektif yang lebih demokratis.³¹

Dalam pandangan ini, Idealisme Objektif bukan sekadar metafisika masa lalu, tetapi model berpikir yang menekankan proses, refleksi, dan keterbukaan terhadap koreksi.³² Prinsip dialektis Hegel—yang menolak absolutisme dogmatis dan menerima perubahan sebagai bagian dari rasionalitas itu sendiri—menjadikan sistemnya tetap hidup dan relevan bagi zaman modern.³³ Dengan demikian, sintesis filosofis Idealisme Objektif dapat dilihat sebagai upaya terus-menerus untuk menegakkan kesatuan antara rasio dan eksistensi, antara kebebasan dan keteraturan, antara manusia dan semesta.³⁴


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 72–73.

[2]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 121–123.

[3]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 154–156.

[4]                G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 41–43.

[5]                Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 102–104.

[6]                Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1996), 109–111.

[7]                Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 88–90.

[8]                F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon Press, 1893), 125–127.

[9]                Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 23–25.

[10]             Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation, Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 160–162.

[11]             Charles Taylor, Hegel and Modern Society (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 99–101.

[12]             G. W. F. Hegel, Lectures on the Philosophy of Religion, trans. R. F. Brown (Berkeley: University of California Press, 1984), 24–26.

[13]             Terry Pinkard, Hegel: A Biography (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 512–514.

[14]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 231–233.

[15]             Stephen Houlgate, The Opening of Hegel’s Logic: From Being to Infinity (West Lafayette: Purdue University Press, 2006), 43–45.

[16]             Hegel, Science of Logic, 89–91.

[17]             Robert Stern, Understanding Hegelianism (London: Routledge, 2002), 72–74.

[18]             Frederick Beiser, German Idealism: The Struggle Against Subjectivism, 1781–1801 (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002), 214–216.

[19]             Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 211–213.

[20]             Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014), 25–27.

[21]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 48–50.

[22]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 310–312.

[23]             Hegel, Elements of the Philosophy of Right, trans. Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 104–106.

[24]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 482–484.

[25]             Robert M. Wallace, Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 32–34.

[26]             Hegel, Philosophy of Right, trans. T. M. Knox (Oxford: Oxford University Press, 1967), 45–47.

[27]             Andrew Bowie, Schelling and Modern European Philosophy (London: Routledge, 1993), 97–99.

[28]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey and John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 12–14.

[29]             Terry Pinkard, Hegel’s Naturalism: Mind, Nature, and the Final Ends of Life (Oxford: Oxford University Press, 2012), 165–167.

[30]             Paul Ricoeur, Lectures on Ideology and Utopia, ed. George H. Taylor (New York: Columbia University Press, 1986), 52–54.

[31]             Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 304–306.

[32]             Robert Stern, Hegelian Metaphysics, 134–136.

[33]             Slavoj Žižek, Less Than Nothing: Hegel and the Shadow of Dialectical Materialism (London: Verso, 2012), 65–67.

[34]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel, 243–245.


10.       Kesimpulan

Idealisme Objektif merupakan salah satu puncak pencapaian dalam sejarah metafisika Barat, yang berupaya memahami realitas sebagai manifestasi rasional dari kesadaran universal.¹ Dalam pandangan ini, “ada” bukanlah substansi material yang berdiri sendiri, melainkan ekspresi dari prinsip spiritual yang berpikir, hidup, dan mengorganisasikan dirinya melalui struktur ide.² Dengan demikian, realitas bukan entitas statis, tetapi suatu proses dinamis di mana pikiran dan keberadaan saling merefleksikan dan menyempurnakan dalam kesatuan dialektis.³

Secara historis, akar Idealisme Objektif dapat ditelusuri dari Plato dengan doktrin Idea yang transenden, Plotinus dengan Yang Satu yang memancarkan segala sesuatu, hingga Leibniz dengan monad yang bersifat spiritual.⁴ Namun, dalam tangan Hegel, tradisi ini mencapai bentuk sistematik yang paling komprehensif.⁵ Melalui logika dialektisnya, Hegel berhasil menunjukkan bahwa realitas bersifat rasional dan bahwa perkembangan sejarah, ilmu, dan kesadaran manusia merupakan ekspresi dari Roh Absolut yang sedang memahami dirinya sendiri.⁶ Dalam sistem ini, filsafat bukan sekadar refleksi terhadap dunia, tetapi bagian integral dari gerak kosmis kesadaran menuju kebebasan dan kebenaran.⁷

Dari sisi epistemologis, Idealisme Objektif menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah cermin pasif dari dunia empiris, melainkan partisipasi aktif dalam struktur rasional realitas.⁸ Subjek dan objek tidak terpisah secara mutlak; keduanya berada dalam relasi imanen sebagai dua aspek dari proses yang sama.⁹ Dengan demikian, mengetahui berarti ikut serta dalam aktivitas Roh yang menyingkapkan dirinya dalam dunia. Dalam hal ini, epistemologi dan ontologi berpadu menjadi satu kesatuan sistem filosofis yang menolak dualisme klasik antara pikiran dan benda, antara manusia dan alam.¹⁰

Secara metafisik, Idealisme Objektif menolak pandangan materialistik dan mekanistik tentang alam semesta. Realitas bukanlah akumulasi kebetulan, tetapi totalitas rasional yang memiliki arah dan tujuan (telos).¹¹ Segala sesuatu dalam dunia memiliki makna karena berpartisipasi dalam keseluruhan yang lebih besar.¹² Dalam sistem Hegel, totalitas ini disebut Roh Absolut, yakni prinsip yang mengandung sekaligus mengatasi segala kontradiksi. Roh tidak berada di luar dunia, melainkan hadir di dalamnya sebagai dinamika kehidupan, sejarah, dan kesadaran manusia.¹³

Walaupun Idealisme Objektif telah menghadapi kritik dari berbagai arah—mulai dari empirisisme, positivisme, hingga eksistensialisme—nilai filosofisnya tetap bertahan.¹⁴ Kritik-kritik tersebut justru menegaskan relevansi idealisme sebagai paradigma reflektif yang menolak reduksionisme. Bahkan, dalam pemikiran kontemporer, gagasan tentang kesatuan rasional-realitas muncul kembali dalam berbagai bentuk, seperti konstruktivisme epistemologis, teori sistem, dan filsafat informasi.¹⁵ Prinsip Hegelian bahwa “yang nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata” terus menjadi inspirasi untuk memahami dunia dalam keterpaduan antara fakta, nilai, dan makna.¹⁶

Secara praktis, warisan Idealisme Objektif dapat diterapkan dalam bidang filsafat ilmu, etika, pendidikan, dan kebudayaan. Ia menekankan bahwa rasionalitas manusia harus diarahkan pada pemahaman diri dan dunia secara reflektif, bukan sekadar pada kontrol instrumental.¹⁷ Dalam konteks modern yang sarat fragmentasi, pluralitas nilai, dan krisis makna, Idealisme Objektif menawarkan visi integratif di mana manusia dipanggil untuk menjadi bagian sadar dari totalitas spiritual kosmos.¹⁸

Akhirnya, kesimpulan dari seluruh telaah ini menegaskan bahwa Idealisme Objektif bukan hanya teori tentang realitas, tetapi juga visi tentang keberadaan manusia di dalamnya. Realitas bukan sesuatu yang asing bagi manusia, karena manusia sendiri merupakan ekspresi dari kesadaran universal yang sedang mengenal dirinya.¹⁹ Dengan demikian, filsafat idealisme tidak berhenti pada spekulasi metafisik, tetapi menjadi panggilan etis dan spiritual: untuk memahami, mencintai, dan mengaktualkan rasionalitas universal yang menjadi dasar seluruh keberadaan.²⁰


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 7: Modern Philosophy from the Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche (New York: Image Books, 1994), 71–73.

[2]                Robert Stern, Hegelian Metaphysics (Oxford: Oxford University Press, 2009), 121–122.

[3]                G. W. F. Hegel, Science of Logic, trans. George di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), 41–43.

[4]                Plato, The Republic, trans. G. M. A. Grube (Indianapolis: Hackett Publishing, 1992), 509–511; Plotinus, The Enneads, trans. Stephen MacKenna (London: Faber & Faber, 1969), V.1–V.3.

[5]                Charles Taylor, Hegel (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 152–154.

[6]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 81–83.

[7]                Terry Pinkard, Hegel’s Phenomenology: The Sociality of Reason (Cambridge: Cambridge University Press, 1994), 99–101.

[8]                Josiah Royce, The World and the Individual (New York: Macmillan, 1900), 17–19.

[9]                Paul Redding, Hegel’s Hermeneutics (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1996), 112–114.

[10]             F. H. Bradley, Appearance and Reality (Oxford: Clarendon Press, 1893), 125–127.

[11]             G. W. F. Hegel, Encyclopedia of the Philosophical Sciences in Outline, trans. T. F. Geraets, W. A. Suchting, and H. S. Harris (Indianapolis: Hackett, 1991), §236–§244.

[12]             Robert C. Solomon, In the Spirit of Hegel (Oxford: Oxford University Press, 1983), 218–220.

[13]             Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. 1: Reason and Revelation, Being and God (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 161–163.

[14]             Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (New York: Simon & Schuster, 1945), 692–694.

[15]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 303–305.

[16]             Robert Pippin, Hegel’s Idealism: The Satisfactions of Self-Consciousness (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 175–177.

[17]             John Dewey, Democracy and Education (New York: Macmillan, 1916), 72–74.

[18]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 482–484.

[19]             Josiah Royce, The Problem of Christianity (New York: Macmillan, 1913), 35–37.

[20]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II, trans. Kathleen Blamey and John B. Thompson (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 14–16.


Daftar Pustaka

Ayer, A. J. (1936). Language, truth, and logic. London, UK: Gollancz.

Beiser, F. (2002). German idealism: The struggle against subjectivism, 1781–1801. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Bhaskar, R. (1975). A realist theory of science. London, UK: Verso.

Bradley, F. H. (1893). Appearance and reality. Oxford, UK: Clarendon Press.

Carnap, R. (1932). The elimination of metaphysics through logical analysis of language. Vienna, Austria: Erkenntnis.

Copleston, F. (1994). A history of philosophy: Vol. 7. Modern philosophy from the post-Kantian idealists to Marx, Kierkegaard, and Nietzsche. New York, NY: Image Books.

Dewey, J. (1916). Democracy and education. New York, NY: Macmillan.

Dummett, M. (1978). Truth and other enigmas. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Einstein, A. (1961). Relativity: The special and general theory. New York, NY: Crown Publishers.

Feigl, H. (1967). Logical empiricism. In P. Edwards (Ed.), The encyclopedia of philosophy (Vol. 4, pp. 60–61). New York, NY: Macmillan.

Feyerabend, P. (1975). Against method. London, UK: Verso.

Floridi, L. (2011). The philosophy of information. Oxford, UK: Oxford University Press.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). New York, NY: Continuum.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). New York, NY: Continuum.

Guyer, P. (1987). Kant and the claims of knowledge. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Habermas, J. (1971). Knowledge and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Boston, MA: Beacon Press.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action (T. McCarthy, Trans.). Boston, MA: Beacon Press.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). New York, NY: Harper & Row.

Heisenberg, W. (1958). Physics and philosophy: The revolution in modern science. New York, NY: Harper & Row.

Hegel, G. W. F. (1967). Philosophy of right (T. M. Knox, Trans.). Oxford, UK: Oxford University Press.

Hegel, G. W. F. (1975). Aesthetics: Lectures on fine art (T. M. Knox, Trans.). Oxford, UK: Clarendon Press.

Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology of spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford, UK: Oxford University Press.

Hegel, G. W. F. (1984). Lectures on the philosophy of religion (R. F. Brown, Trans.). Berkeley, CA: University of California Press.

Hegel, G. W. F. (1991). Encyclopedia of the philosophical sciences in outline (T. F. Geraets, W. A. Suchting, & H. S. Harris, Trans.). Indianapolis, IN: Hackett Publishing.

Hegel, G. W. F. (2010). Science of logic (G. di Giovanni, Trans.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Honneth, A. (2014). Freedom’s right: The social foundations of democratic life (J. Ganahl, Trans.). New York, NY: Columbia University Press.

Houlgate, S. (2006). The opening of Hegel’s logic: From being to infinity. West Lafayette, IN: Purdue University Press.

Hume, D. (1993). An enquiry concerning human understanding (E. Steinberg, Ed.). Indianapolis, IN: Hackett Publishing.

Kant, I. (1997). Groundwork for the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Kuhn, T. S. (1962). The structure of scientific revolutions. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Locke, J. (1690). An essay concerning human understanding. Oxford, UK: Clarendon Press.

Marcuse, H. (1941). Reason and revolution: Hegel and the rise of social theory. London, UK: Routledge.

Marx, K. (1958). Theses on Feuerbach. Moscow, Russia: Progress Publishers.

Marx, K. (1970). Critique of Hegel’s philosophy of right (A. Jolin, Trans.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Marx, K., & Engels, F. (1970). The German ideology. New York, NY: International Publishers.

Mead, G. H. (1934). Mind, self, and society. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Mezirow, J. (1991). Transformative dimensions of adult learning. San Francisco, CA: Jossey-Bass.

Moore, G. E. (1925). A defence of common sense. In J. H. Muirhead (Ed.), Contemporary British philosophy (pp. 3–5). London, UK: Allen & Unwin.

Moore, G. E. (1953). Some main problems of philosophy. London, UK: George Allen & Unwin.

Noddings, N. (2012). Philosophy of education. Boulder, CO: Westview Press.

Pinkard, T. (1994). Hegel’s phenomenology: The sociality of reason. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Pinkard, T. (2000). Hegel: A biography. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Pinkard, T. (2012). Hegel’s naturalism: Mind, nature, and the final ends of life. Oxford, UK: Oxford University Press.

Plato. (1992). The republic (G. M. A. Grube, Trans.). Indianapolis, IN: Hackett Publishing.

Plotinus. (1969). The enneads (S. MacKenna, Trans.). London, UK: Faber & Faber.

Pippin, R. (1989). Hegel’s idealism: The satisfactions of self-consciousness. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Redding, P. (1996). Hegel’s hermeneutics. Ithaca, NY: Cornell University Press.

Ricoeur, P. (1986). Lectures on ideology and utopia (G. H. Taylor, Ed.). New York, NY: Columbia University Press.

Ricoeur, P. (1991). From text to action: Essays in hermeneutics II (K. Blamey & J. B. Thompson, Trans.). Evanston, IL: Northwestern University Press.

Royce, J. (1900). The world and the individual. New York, NY: Macmillan.

Royce, J. (1913). The problem of Christianity. New York, NY: Macmillan.

Russell, B. (1914). Our knowledge of the external world. London, UK: Allen & Unwin.

Russell, B. (1945). A history of Western philosophy. New York, NY: Simon & Schuster.

Schelling, F. W. J. (1978). System of transcendental idealism (P. Heath, Trans.). Charlottesville, VA: University of Virginia Press.

Solomon, R. C. (1983). In the spirit of Hegel. Oxford, UK: Oxford University Press.

Stern, R. (2002). Understanding Hegelianism. London, UK: Routledge.

Stern, R. (2009). Hegelian metaphysics. Oxford, UK: Oxford University Press.

Taylor, C. (1975). Hegel. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Taylor, C. (1979). Hegel and modern society. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Tillich, P. (1951). Systematic theology: Vol. 1. Reason and revelation, being and God. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Virilio, P. (2000). The information bomb (C. Turner, Trans.). London, UK: Verso.

Žižek, S. (2006). The parallax view. Cambridge, MA: MIT Press.

Žižek, S. (2012). Less than nothing: Hegel and the shadow of dialectical materialism. London, UK: Verso.

Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism. New York, NY: PublicAffairs.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar