Kosmologi dalam Filsafat Islam
Antara Wahyu, Akal, dan Realitas Semesta
Alihkan ke: SKS Kuliah S1 Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif kosmologi
dalam filsafat Islam sebagai sistem metafisis yang mengintegrasikan dimensi
rasional, spiritual, dan teologis dalam memahami realitas. Melalui pendekatan
historis-filosofis, tulisan ini menelusuri evolusi pemikiran kosmologis mulai
dari tradisi Peripatetik (al-Masysyā’iyyah) yang rasional, Isyraqi
(iluminatif) yang simbolik, hingga Hikmah Muta‘āliyah Mulla Ṣadrā yang
bersifat transendental dan sintesis. Kosmologi Islam dipahami bukan sekadar
teori tentang asal-usul dan struktur alam, tetapi sebagai refleksi dari prinsip
tawḥīd—kesatuan wujud Ilahi yang menjadi dasar keteraturan semesta.
Dalam perspektif ini, Tuhan dipandang sebagai al-Wujūd al-Muṭlaq
(Eksistensi Mutlak), sumber dari seluruh tingkatan realitas yang bergradasi
dalam hierarki eksistensi (tashkīk al-wujūd).
Artikel ini juga menyoroti dimensi epistemologis
dan aksiologis kosmologi Islam, di mana pengetahuan tentang alam semesta tidak
hanya diperoleh melalui rasio, tetapi juga melalui iluminasi batin (isyraq)
dan pengalaman intuitif (kashf). Manusia, sebagai mikrokosmos, berperan
sebagai penafsir dan penjaga keteraturan kosmik sesuai amanah khilāfah fī
al-arḍ. Dalam konteks sosial dan intelektual, kosmologi Islam menjadi
fondasi bagi sistem pendidikan, perkembangan ilmu, dan etika sosial yang
menekankan keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas.
Lebih lanjut, artikel ini menegaskan relevansi
kontemporer kosmologi Islam terhadap krisis modernitas, fragmentasi ilmu, dan
degradasi lingkungan. Melalui prinsip tauhid dan kesadaran akan
kesakralan alam, kosmologi Islam menawarkan paradigma integratif bagi ilmu
pengetahuan modern yang bersifat etis, ekologis, dan spiritual. Akhirnya,
keseluruhan pembahasan bermuara pada sintesis filosofis bahwa seluruh
eksistensi adalah manifestasi dari Tuhan; mengenal alam berarti mengenal diri,
dan mengenal diri berarti mengenal Tuhan.
Kata Kunci: Kosmologi
Islam, Filsafat Islam, Tawhid, Mulla Ṣadrā, Isyraqiyyah, Peripatetik, Wahdat
al-Wujūd, Harakah Jawhariyyah, Tashkīk al-Wujūd, Hikmah Muta‘āliyah.
PEMBAHASAN
Kajian Kosmologi dalam Tradisi Filsafat Islam
1.
Pendahuluan
Kajian kosmologi dalam filsafat Islam merupakan
salah satu pilar utama dalam memahami keterpaduan antara wahyu, akal, dan
realitas semesta. Kosmologi, dalam pengertian dasarnya, adalah ilmu atau cabang
filsafat yang membahas asal-usul, struktur, dan keteraturan alam semesta (kosmos).
Dalam konteks Islam, kosmologi tidak hanya berfungsi sebagai teori tentang
dunia fisik, melainkan juga sebagai refleksi metafisis yang menyingkap hubungan
antara Tuhan sebagai al-Khāliq (Pencipta) dan alam sebagai al-makhlūq
(ciptaan). Dengan demikian, kosmologi Islam selalu berakar pada teologi tauhid
dan bersifat teosentris: seluruh struktur kosmos dipahami sebagai manifestasi
dari kehendak dan hikmah Ilahi yang tertata dalam kesatuan wujud yang
harmonis.¹
Dalam lintasan sejarah intelektual Islam, perhatian
terhadap persoalan kosmos muncul sejak masa penerjemahan karya-karya filsafat
Yunani ke dalam bahasa Arab pada abad ke-8 hingga ke-10 M. Pemikir seperti
Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina mengembangkan model kosmologi rasional yang
menggabungkan warisan metafisika Aristoteles dan neoplatonisme dengan
prinsip-prinsip teologis Islam.² Mereka berupaya menjelaskan bagaimana realitas
berjenjang dari Tuhan hingga materi tersusun secara emanatif dan teratur, tanpa
menafikan peran kehendak Tuhan sebagai sumber pertama. Dengan demikian,
kosmologi menjadi arena sintesis antara hikmah falsafiyyah
(kebijaksanaan filosofis) dan hikmah ilahiyyah (kebijaksanaan ilahi).
Di sisi lain, tradisi teologis Islam—terutama dalam
mazhab Asy‘ariyyah dan Mu‘tazilah—mengembangkan kosmologi yang berlandaskan
konsep hudūth al-‘ālam (kemakhlukan alam) yang menekankan bahwa alam
diciptakan dari ketiadaan (ex nihilo) oleh kehendak Tuhan yang bebas.³
Para teolog menolak gagasan keabadian alam sebagaimana dikemukakan Aristoteles
dan sebagian filsuf Islam, dengan menegaskan bahwa keberadaan alam sepenuhnya
bersifat kontingen (mumkin al-wujūd) dan bergantung pada Tuhan sebagai wājib
al-wujūd. Ketegangan intelektual antara pendekatan filosofis dan teologis
ini kemudian melahirkan perdebatan panjang yang memperkaya dinamika
epistemologi Islam.
Dalam tradisi mistik-filosofis, seperti pada Ibn
‘Arabi dan Suhrawardi, kosmologi memperoleh dimensi simbolik dan spiritual.
Alam tidak hanya dipahami secara rasional, tetapi juga sebagai cermin atau
bayangan realitas Ilahi.⁴ Pandangan ini melahirkan paradigma bahwa segala wujud
di alam merupakan manifestasi dari satu sumber cahaya (nūr al-anwār)
yang menembus seluruh tingkatan eksistensi. Pemahaman ini menandai pergeseran
dari kosmologi intelektual menuju kosmologi iluminatif dan eksistensialis, yang
kelak disempurnakan oleh Mulla Ṣadrā melalui teori ashālat al-wujūd
(primasi eksistensi) dan harakah jawhariyyah (gerak substansial).⁵
Kajian tentang kosmologi Islam menjadi semakin
relevan pada era modern, ketika sains kontemporer menggugat banyak asumsi
metafisis lama tentang ruang, waktu, dan materi. Paradigma kosmologi Islam yang
berpusat pada keteraturan Ilahi dan kesatuan eksistensi dapat memberikan
kerangka filosofis dan etis dalam menjembatani sains dan spiritualitas.⁶ Dalam
konteks pendidikan filsafat Islam, pembahasan ini tidak hanya penting untuk
memahami warisan intelektual klasik, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran
integratif antara akal, iman, dan tanggung jawab ekologis manusia terhadap
alam. Dengan demikian, kosmologi Islam bukan sekadar teori tentang struktur
kosmos, tetapi juga sebuah visi tentang keteraturan ontologis dan moral yang
menuntun manusia untuk mengenal Tuhan melalui keteraturan alam semesta.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
15.
[2]
Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic
Philosophy (Cambridge: Polity Press, 1999), 42–45.
[3]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 65–70.
[4]
Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism
of Ibn ‘Arabi (Princeton: Princeton University Press, 1969), 103–108.
[5]
Mulla Ṣadrā, The Transcendent Philosophy of the
Four Journeys of the Intellect, trans. Seyyed Hossein Nasr (Tehran:
Imperial Iranian Academy of Philosophy, 1981), 77–80.
[6]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences
of Nature (New York: Global Publications, 1998), 21–26.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Kosmologi dalam filsafat Islam tidak muncul dalam
ruang hampa intelektual, melainkan merupakan hasil dari proses sejarah yang
panjang dan dialogis antara warisan intelektual Yunani, pemikiran teologis
Islam, serta pengalaman spiritual dan mistik para sufi. Akar kosmologi Islam
dapat ditelusuri sejak masa penerjemahan besar-besaran karya filsafat Yunani ke
dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya di bawah perlindungan
Khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) melalui lembaga Bayt al-Ḥikmah di
Baghdad.¹ Proses penerjemahan ini memperkenalkan karya Aristoteles, Plato, dan
terutama Plotinus (melalui Enneads yang diterjemahkan sebagai Uthūlūjiyā)
kepada para cendekiawan Muslim. Dari sinilah benih-benih sintesis antara
metafisika Yunani dan teologi Islam mulai tumbuh subur.
Pemikir pertama yang secara sistematis
mengintegrasikan konsep-konsep filsafat Yunani ke dalam kerangka Islam adalah
Al-Kindī (w. 873 M), yang dikenal sebagai faylasūf al-‘Arab.² Ia
berusaha menafsirkan asal-usul dan keteraturan kosmos dalam terang ajaran
tauhid. Bagi Al-Kindī, alam merupakan ciptaan Tuhan yang rasional dan tertata,
di mana setiap gerak dan keberadaan memiliki tujuan yang pasti sesuai dengan
hikmah Ilahi.³ Upaya Al-Kindī ini membuka jalan bagi generasi setelahnya untuk
mengembangkan sistem kosmologis yang lebih kompleks dan mendalam.
Al-Farabi (w. 950 M) kemudian melanjutkan dan
memperluas gagasan tersebut dengan merumuskan teori emanasi (fayḍ) yang
menguraikan bagaimana realitas mengalir dari al-Wājib al-Wujūd (Wujud
Niscaya) menuju tingkatan-tingkatan eksistensi yang lebih rendah.⁴ Dalam
kosmologi Al-Farabi, seluruh struktur kosmos bergerak secara hierarkis dan
teratur, di mana setiap tingkat wujud merupakan pancaran dari tingkat di
atasnya, hingga mencapai dunia materi. Teori ini menunjukkan adanya keterpaduan
antara rasionalitas filsafat dan spiritualitas Islam: alam bukanlah entitas
otonom, tetapi sistem yang mencerminkan keteraturan Ilahi.
Ibn Sina (w. 1037 M) memperhalus sistem ini dalam
kerangka ontologis yang lebih matang.⁵ Ia menegaskan perbedaan ontologis antara
Tuhan sebagai wājib al-wujūd dan makhluk sebagai mumkin al-wujūd.
Segala sesuatu selain Tuhan bergantung pada-Nya dalam eksistensinya. Dalam
pandangan Ibn Sina, penciptaan bukanlah proses temporal, melainkan hubungan
kausalitas ontologis yang abadi—emanasi terus-menerus dari Tuhan kepada seluruh
realitas. Meskipun konsep ini memicu kontroversi teologis, ia membentuk fondasi
bagi kosmologi metafisik Islam klasik.
Namun, perkembangan kosmologi Islam tidak berhenti
pada rasionalisme peripatetik. Pada abad ke-12 dan 13, muncul arus reaksi
teologis dan mistik terhadap kecenderungan rasionalistik tersebut. Al-Ghazali
(w. 1111 M), misalnya, dalam Tahāfut al-Falāsifah mengkritik keras
gagasan keabadian alam dan teori emanasi karena dianggap menyalahi konsep hudūth
al-‘ālam (terciptanya alam dari ketiadaan).⁶ Kritik ini menandai transisi
penting menuju sintesis baru antara teologi dan filsafat yang lebih spiritual.
Sementara itu, Ibn ‘Arabi (w. 1240 M) melalui
ajaran wahdat al-wujūd (kesatuan eksistensi) menawarkan dimensi
kosmologi yang bersifat simbolik dan mistis.⁷ Dalam pandangannya, kosmos adalah
cermin dari hakikat Ilahi; setiap wujud adalah manifestasi dari satu Wujud
Mutlak. Konsep ini menandai pergeseran dari kosmologi rasional menuju kosmologi
eksistensial dan intuitif. Dalam garis genealogis pemikiran Islam, gagasan Ibn
‘Arabi kelak menjadi sumber inspirasi bagi filsafat Isyraqi (Suhrawardi) dan
Hikmah Muta‘āliyah (Mulla Ṣadrā), yang menegaskan bahwa kosmos adalah sistem
dinamis yang bergerak menuju kesempurnaan eksistensial.⁸
Secara genealogis, perkembangan kosmologi Islam
menunjukkan dinamika dialektis antara rasionalitas dan spiritualitas, antara
akal dan intuisi, antara sains dan wahyu. Warisan ini bukan hanya memperkaya
khazanah pemikiran Islam, tetapi juga meletakkan dasar bagi pandangan dunia
Islam (worldview) yang integral, di mana alam semesta dipahami sebagai
tanda-tanda Tuhan (āyāt Allāh) yang menuntun manusia kepada pengetahuan
yang lebih tinggi tentang wujud dan makna.⁹
Footnotes
[1]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture:
The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society
(2nd–4th/8th–10th centuries) (London: Routledge, 1998), 45–49.
[2]
Peter Adamson, Al-Kindi (Oxford: Oxford
University Press, 2007), 11–15.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy,
3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 67–70.
[4]
Al-Farabi, The Principles of the Opinions of the
Citizens of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Clarendon
Press, 1985), 90–94.
[5]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London:
Routledge, 1992), 112–118.
[6]
Al-Ghazali, The Incoherence of the Philosophers,
trans. Michael E. Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2000), 48–56.
[7]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge:
Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New
York Press, 1989), 89–94.
[8]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A
Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990),
132–140.
[9]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State
University of New York Press, 2006), 155–160.
3.
Ontologi
Kosmologis dalam Islam
Kajian ontologis dalam kosmologi Islam berfokus
pada hakikat wujūd (eksistensi) dan struktur hierarkis realitas yang
menghubungkan Tuhan, alam semesta, dan manusia. Ontologi dalam tradisi Islam
tidak berdiri terpisah dari teologi; ia berakar pada prinsip tawḥīd yang
menegaskan bahwa segala sesuatu berasal dari dan bergantung kepada Tuhan
sebagai al-Wājib al-Wujūd (Wujud Niscaya).¹ Dalam kerangka ini, alam
semesta dipahami bukan sekadar sebagai kumpulan entitas material, melainkan
sebagai sistem wujud yang teratur, bergradasi, dan berorientasi kepada sumber
tunggal eksistensi. Segala sesuatu selain Tuhan bersifat mumkin al-wujūd
(wujud kontingen) yang memperoleh keberadaannya dari Wujud Niscaya, dan
tanpa-Nya tidak memiliki realitas sejati.²
Ontologi kosmologis Islam berpijak pada dua konsep
dasar: khalq (penciptaan) dan tajallī (manifestasi). Dalam
konteks teologis, khalq menunjukkan tindakan kreatif Tuhan yang
melahirkan sesuatu dari ketiadaan (ex nihilo).³ Sedangkan dalam konteks
metafisis, terutama pada tradisi filsafat peripatetik dan mistik, tajallī
menggambarkan bagaimana realitas memancar secara bertahap dari sumber pertama
melalui proses emanasi (fayḍ). Dengan demikian, wujud dipandang sebagai
pancaran terus-menerus dari Tuhan kepada alam, tanpa mengandaikan perubahan
dalam esensi Ilahi.
Al-Farabi mengembangkan struktur ontologis kosmos
dalam kerangka teori emanasi yang menjelaskan keberadaan alam secara hierarkis,
dari Akal Pertama hingga dunia materi.⁴ Setiap tingkatan eksistensi merupakan
hasil pancaran intelektual dari tingkat di atasnya, sehingga kosmos menjadi
sistem berjenjang yang meniru kesempurnaan Tuhan dalam keteraturan dan tujuan.
Ibn Sina memperhalus konsep ini dengan membedakan antara wujūd
(eksistensi) dan māhiyyah (esensi).⁵ Baginya, sesuatu dapat diketahui
dari dua aspek: apa itu (esensinya) dan bahwa ia ada
(eksistensinya). Hanya Tuhan yang identitas esensi dan eksistensinya bersatu,
sementara seluruh makhluk menerima eksistensi mereka sebagai anugerah dari-Nya.
Pembeda ini menjelaskan hubungan ontologis antara Tuhan sebagai sebab niscaya
dan alam sebagai akibat yang bergantung.
Dalam pandangan teolog Asy‘ariyyah, konsep ontologi
kosmos menekankan hudūth al-‘ālam—yakni bahwa alam bersifat baru dan
diciptakan dalam waktu.⁶ Alam tidak memiliki keabadian seperti yang dikemukakan
oleh para filsuf peripatetik, karena keabadian hanya milik Tuhan. Pandangan ini
menegaskan perbedaan radikal antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya serta
memperkuat gagasan tentang kehendak bebas Tuhan dalam menciptakan dan mengatur
segala sesuatu. Sebaliknya, mazhab Mu‘tazilah menekankan bahwa tatanan alam
tunduk pada hukum rasional yang tetap, karena kebijaksanaan Tuhan tercermin
dalam keteraturan kosmos itu sendiri.⁷
Ontologi kosmologis Islam juga memperoleh bentuk
baru dalam filsafat iluminatif (Isyrāqiyyah) yang dikembangkan oleh Suhrawardi
(w. 1191 M). Ia menafsirkan wujud sebagai gradasi cahaya, di mana Tuhan adalah Nūr
al-Anwār (Cahaya segala cahaya) dan seluruh realitas lain hanyalah
cahaya-cahaya yang lebih lemah intensitasnya.⁸ Model ontologis ini tidak hanya
menggambarkan struktur kosmos yang vertikal, tetapi juga menegaskan aspek
keindahan dan simbolik alam semesta sebagai cerminan dari Cahaya Mutlak. Kosmos
dengan demikian adalah teofani berlapis yang mengandung makna spiritual dan
metafisik.
Puncak perkembangan ontologi kosmologis dalam Islam
terlihat pada pemikiran Mulla Ṣadrā (w. 1640 M) melalui doktrin ashālat
al-wujūd (primasi eksistensi).⁹ Ṣadrā menolak subordinasi wujud terhadap
esensi dan menegaskan bahwa realitas sejati hanyalah eksistensi itu sendiri.
Semua wujud merupakan gradasi (tasykīk al-wujūd) dari satu realitas
tunggal yang dinamis, bergerak menuju kesempurnaan melalui harakah
jawhariyyah (gerak substansial).¹⁰ Dengan pandangan ini, kosmos dipahami
bukan sebagai struktur statis, melainkan sebagai medan eksistensi yang hidup
dan berproses, di mana setiap entitas memiliki arah eksistensial menuju Tuhan.
Dengan demikian, ontologi kosmologis dalam Islam
memperlihatkan keterpaduan antara metafisika dan spiritualitas. Alam semesta
bukan hanya ciptaan yang tunduk pada hukum sebab-akibat, tetapi juga realitas
simbolik yang mencerminkan kehadiran Ilahi. Struktur ontologis ini membentuk
dasar bagi pandangan dunia Islam yang integral, di mana pengetahuan tentang
kosmos selalu berujung pada pengenalan terhadap Tuhan sebagai sumber segala
wujud dan tujuan akhir eksistensi.¹¹
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
28–31.
[2]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London:
Routledge, 1992), 84–89.
[3]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 60–63.
[4]
Al-Farabi, The Principles of the Opinions of the
Citizens of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Clarendon
Press, 1985), 91–95.
[5]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy,
3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 70–74.
[6]
Al-Ghazali, The Incoherence of the Philosophers,
trans. Michael E. Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2000), 49–53.
[7]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic
System: Al-Ghazali and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter
Universitätsverlag, 1992), 112–115.
[8]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A
Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990),
124–130.
[9]
Mulla Ṣadrā, The Transcendent Philosophy of the
Four Journeys of the Intellect, trans. Seyyed Hossein Nasr (Tehran: Imperial
Iranian Academy of Philosophy, 1981), 75–81.
[10]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra
(Albany: State University of New York Press, 1975), 98–104.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State
University of New York Press, 2006), 161–165.
4.
Epistemologi
Kosmologi Islam
Epistemologi kosmologi Islam membahas bagaimana
manusia memperoleh pengetahuan tentang alam semesta dan hakikat realitasnya.
Dalam kerangka filsafat Islam, kosmos bukan hanya objek pengamatan empiris,
tetapi juga tanda-tanda eksistensial (āyāt al-wujūd) yang menunjuk
kepada sumber ilahiah.¹ Oleh karena itu, epistemologi kosmologis dalam Islam
tidak dapat dilepaskan dari integrasi tiga sumber utama pengetahuan: wahyu,
akal, dan intuisi spiritual (kashf). Ketiganya membentuk
sistem epistemik yang komplementer, bukan saling menegasikan, di mana
rasionalitas dipandu oleh wahyu dan disempurnakan oleh penyaksian batiniah (mushāhadah).
Dalam tradisi filosofis Islam klasik, Al-Kindī dan
Al-Fārābī menegaskan bahwa pengetahuan tentang kosmos dapat diperoleh melalui
aktivitas akal (‘aql) yang memahami tatanan universal secara logis dan
proporsional.² Al-Fārābī memandang akal sebagai sarana utama yang meniru pola
pikir Ilahi, sehingga manusia, dengan mengaktualkan potensi intelektualnya,
dapat mengenal struktur realitas sebagaimana dikehendaki Tuhan.³ Ibn Sīnā
kemudian memperdalam kerangka ini dengan membedakan antara ‘ilm ḥuṣūlī
(pengetahuan konseptual) dan ‘ilm ḥuḍūrī (pengetahuan kehadiran
langsung).⁴ Melalui ‘ilm ḥuṣūlī, manusia memahami kosmos melalui
abstraksi rasional; sedangkan dalam ‘ilm ḥuḍūrī, jiwa menyaksikan
realitas secara langsung tanpa perantara konsep, sebagaimana hubungan Tuhan
dengan ciptaan-Nya.
Dalam konteks epistemologi teologis (kalām),
para mutakallimīn seperti al-Asy‘arī dan al-Bāqillānī berpendapat bahwa
pengetahuan manusia tentang alam bersumber dari dua hal: pengamatan inderawi
terhadap fenomena dan pemberitahuan (khabar) yang sahih dari wahyu.⁵
Alam dianggap sebagai tanda keberadaan Tuhan, bukan entitas otonom. Pengetahuan
tentang kosmos karenanya bersifat ta‘abbudī—diterima melalui otoritas
wahyu—namun tetap dapat dipahami secara rasional sebagai bukti kebijaksanaan
Ilahi (ḥikmah).⁶ Dengan demikian, epistemologi kalām menempatkan akal
sebagai alat verifikasi terhadap wahyu, bukan pengganti wahyu.
Sementara itu, dalam tradisi iluminatif (Isyrāqiyyah),
Suhrawardī mengajukan epistemologi yang menolak dikotomi tajam antara rasional
dan intuitif.⁷ Ia menegaskan bahwa pengetahuan sejati tentang kosmos tidak
hanya dicapai melalui argumentasi logis, melainkan melalui penyinaran batin
oleh Cahaya Mutlak (nūr al-anwār). Dalam sistemnya, setiap tingkat
realitas diketahui sejauh ia memancarkan cahaya pengetahuan; semakin tinggi
derajat wujud, semakin tinggi pula intensitas pengetahuannya.⁸ Dengan demikian,
kosmos adalah struktur kognitif sekaligus ontologis, di mana mengetahui berarti
berpartisipasi dalam intensitas cahaya eksistensi.
Puncak perkembangan epistemologi kosmologis dalam
Islam dapat ditemukan pada pemikiran Mulla Ṣadrā. Ia menggabungkan rasionalisme
Ibn Sīnā, iluminisme Suhrawardī, dan mistisisme Ibn ‘Arabī ke dalam sistem al-Ḥikmah
al-Muta‘āliyah (filsafat transenden).⁹ Ṣadrā menolak pemisahan antara
subjek dan objek pengetahuan: dalam proses mengetahui, wujud subjek
bertransformasi sesuai dengan realitas yang diketahui.¹⁰ Pengetahuan bukan
sekadar representasi mental (taṣawwur), melainkan perwujudan
eksistensial (taḥaqquq). Dalam kerangka ini, alam semesta dapat dipahami
karena manusia, sebagai mikrokosmos, memantulkan struktur makrokosmos yang
sama.¹¹
Selain epistemologi filosofis, tradisi tasawuf
memberikan dimensi eksperiensial terhadap pengetahuan kosmologis. Ibn ‘Arabī
menegaskan bahwa kosmos adalah cermin Ilahi, dan pengetahuan sejati diperoleh
melalui kashf—penyingkapan langsung terhadap realitas Ilahi dalam diri
manusia.¹² Melalui penyaksian (mushāhadah), seorang arif menyadari
kesatuan eksistensi antara Tuhan dan alam tanpa menafikan perbedaan
ontologisnya. Ini melahirkan bentuk epistemologi simbolik, di mana setiap
entitas kosmik memiliki makna batiniah yang dapat ditafsirkan melalui intuisi
spiritual.
Dengan demikian, epistemologi kosmologi Islam
mencerminkan sintesis antara nalar, wahyu, dan spiritualitas. Akal memberikan
struktur rasional untuk memahami tatanan alam; wahyu memberikan legitimasi
kebenaran dan arah moral; sementara intuisi mistik membuka lapisan terdalam
makna kosmos sebagai cerminan Tuhan.¹³ Dalam sistem ini, pengetahuan tentang
alam bukan sekadar usaha intelektual, tetapi juga perjalanan eksistensial
menuju kehadiran Ilahi. Epistemologi semacam ini memperlihatkan bahwa dalam
Islam, kosmologi bukan hanya sains tentang alam, tetapi jalan pengetahuan
menuju ma‘rifah (pengenalan Tuhan).¹⁴
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
35–38.
[2]
Peter Adamson, Al-Kindi (Oxford: Oxford
University Press, 2007), 45–48.
[3]
Al-Farabi, The Political Regime, trans.
Fauzi Najjar (Cambridge: Cambridge University Press, 1964), 67–70.
[4]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London:
Routledge, 1992), 120–125.
[5]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 75–80.
[6]
Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic
Philosophy (Cambridge: Polity Press, 1999), 61–64.
[7]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A
Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990),
92–100.
[8]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East:
Suhrawardi and Platonic Orientalism (Albany: State University of New York
Press, 2001), 106–111.
[9]
Mulla Ṣadrā, The Transcendent Philosophy of the
Four Journeys of the Intellect, trans. Seyyed Hossein Nasr (Tehran:
Imperial Iranian Academy of Philosophy, 1981), 120–126.
[10]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra
(Albany: State University of New York Press, 1975), 140–145.
[11]
Ibrahim Kalin, Knowledge in Later Islamic Philosophy:
Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition (Oxford: Oxford
University Press, 2010), 88–93.
[12]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge:
Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New
York Press, 1989), 112–118.
[13]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences
of Nature (New York: Global Publications, 1998), 33–38.
[14]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State
University of New York Press, 2006), 166–170.
5.
Kosmologi
Teologis: Tuhan, Alam, dan Keteraturan
Kosmologi teologis dalam Islam merupakan upaya
untuk memahami struktur alam semesta melalui prinsip-prinsip keimanan dan
teologi (‘ilm al-kalām). Berbeda dengan pendekatan filosofis yang
menekankan kausalitas rasional, kosmologi teologis bertumpu pada doktrin tawḥīd
sebagai fondasi ontologis dan epistemologis.¹ Tuhan dipahami sebagai Pencipta
tunggal (al-Khāliq al-Wāḥid), Pengatur (al-Mudabbir), dan
Pemelihara (al-Rabb) seluruh makhluk. Alam bukan entitas otonom yang
berjalan berdasarkan hukum-hukum independen, melainkan manifestasi langsung
dari kehendak dan kebijaksanaan Ilahi. Dengan demikian, seluruh keteraturan
kosmos (niẓām al-kawn) merupakan ekspresi dari sunnat Allāh—hukum
tetap yang menandai konsistensi kehendak Tuhan dalam ciptaan-Nya.²
Konsep utama dalam kosmologi teologis adalah hudūth
al-‘ālam (tercipta dan terbarunya alam).³ Para teolog, terutama dari mazhab
Asy‘ariyyah, menolak gagasan keabadian alam sebagaimana diajukan oleh filsuf
peripatetik seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Dalam pandangan Asy‘ari, alam
diciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihilo) oleh kehendak bebas Tuhan,
bukan hasil emanasi niscaya.⁴ Segala sesuatu, dari atom terkecil hingga bintang
di langit, hanya ada karena kehendak Tuhan yang setiap saat memperbarui
keberadaan makhluk. Al-Ghazali menegaskan bahwa sebab-akibat di alam hanyalah
kebiasaan (‘ādah) yang diatur oleh Tuhan; tidak ada kekuatan intrinsik
dalam sebab itu sendiri.⁵ Api tidak membakar karena kekuatannya, melainkan
karena Tuhan menciptakan kebakaran ketika api bersentuhan dengan benda. Dengan
cara ini, kosmos tetap tunduk sepenuhnya kepada kehendak Ilahi, sekaligus
menegaskan kekuasaan mutlak Tuhan atas segala wujud.
Sebaliknya, kalangan Mu‘tazilah mengembangkan model
kosmologi teologis yang lebih rasionalistik.⁶ Mereka mengakui bahwa alam
diciptakan oleh Tuhan, tetapi menegaskan bahwa alam berjalan berdasarkan
hukum-hukum rasional yang tetap, sebagai manifestasi dari keadilan dan kebijaksanaan
Tuhan. Dalam pandangan mereka, kehendak Tuhan tidak bertentangan dengan
rasionalitas; justru tatanan alam yang rasional merupakan bukti kebesaran-Nya.⁷
Oleh karena itu, hukum sebab-akibat dipahami sebagai ekspresi tetap dari sunnat
Allāh, bukan sekadar kebiasaan yang berubah-ubah. Pandangan ini melahirkan
epistemologi kosmologis yang menekankan peran akal dalam memahami tanda-tanda
alam sebagai sarana menuju pengetahuan tentang Tuhan.
Mazhab Maturidiyyah mencoba memediasi kedua
pandangan tersebut. Abu Mansur al-Maturidi menegaskan bahwa Tuhan menciptakan
segala sesuatu dengan hikmah, bukan secara arbitrer, namun kebijaksanaan Tuhan
tidak selalu dapat dijangkau akal manusia.⁸ Alam semesta memiliki keteraturan
yang rasional dan tujuan tertentu, tetapi tetap bergantung secara ontologis
pada kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam kerangka ini, keteraturan alam tidak
meniadakan kebebasan Ilahi, melainkan justru menampakkan sifat kebijaksanaan
dan rahmat-Nya.
Konsep keteraturan Ilahi (niẓām ilāhī)
menjadi tema sentral dalam seluruh tradisi teologis Islam. Al-Qur’an secara
berulang menggambarkan alam sebagai sistem yang tertata rapi: “Tidaklah
Engkau lihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang”
(Q.S. al-Mulk [67] ayat 3).⁹ Ayat ini menegaskan bahwa keteraturan kosmos
adalah tanda kebijaksanaan Ilahi yang sempurna. Dengan demikian, hukum-hukum
alam dipahami bukan sebagai entitas independen, tetapi sebagai refleksi dari
kehendak tetap Tuhan yang memelihara tatanan eksistensi.
Dalam perspektif sufistik dan teosofis, keteraturan
kosmos tidak hanya bersifat fisikal, tetapi juga spiritual. Ibn ‘Arabī
menafsirkan hubungan Tuhan dan alam melalui konsep tajallī (penampakan
diri Ilahi).¹⁰ Alam semesta adalah cermin di mana Tuhan memanifestasikan Nama-nama
dan Sifat-sifat-Nya. Keteraturan kosmos mencerminkan keteraturan Ilahi, dan
setiap makhluk merupakan simbol (āyah) yang mengungkap dimensi tertentu
dari kesempurnaan Tuhan.¹¹ Dalam kerangka ini, hukum-hukum alam tidak hanya
bersifat mekanis, melainkan memiliki makna spiritual yang mengantar manusia
kepada pengetahuan tentang Tuhan melalui kontemplasi atas ciptaan-Nya.
Dengan demikian, kosmologi teologis dalam Islam
menghadirkan sintesis antara kekuasaan Tuhan dan keteraturan alam. Alam semesta
bukan hasil proses buta, melainkan manifestasi kehendak dan hikmah Ilahi yang
rasional.¹² Konsep ini menegaskan bahwa hubungan Tuhan dan alam bersifat
transenden sekaligus imanen: Tuhan melampaui alam, tetapi kehadiran-Nya
menjiwai seluruh realitas. Keteraturan kosmos menjadi tanda yang mengarahkan
manusia kepada kesadaran tauhid, bahwa di balik hukum-hukum alam terdapat
Kehendak yang Maha Sadar dan Pencipta yang Maha Bijaksana.¹³
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State
University of New York Press, 2006), 171–175.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 94–98.
[3]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Kalam
(Cambridge: Harvard University Press, 1976), 62–65.
[4]
Al-Farabi, The Political Regime, trans.
Fauzi Najjar (Cambridge: Cambridge University Press, 1964), 77–80.
[5]
Al-Ghazali, The Incoherence of the Philosophers,
trans. Michael E. Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2000), 72–78.
[6]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy,
3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 95–98.
[7]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic
System: Al-Ghazali and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter Universitätsverlag,
1992), 120–124.
[8]
Ulrich Rudolph, Al-Maturidi and the Development
of Sunni Theology in Samarqand, trans. Rodrigo Adem (Leiden: Brill, 2014),
210–214.
[9]
Al-Qur’an, Surah al-Mulk (67) ayat 3.
[10]
William C. Chittick, The Self-Disclosure of God:
Principles of Ibn al-‘Arabī’s Cosmology (Albany: State University of New
York Press, 1998), 101–106.
[11]
Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A
Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of
California Press, 1984), 211–216.
[12]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences
of Nature (New York: Global Publications, 1998), 39–43.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
52–57.
6.
Kosmologi
Filsafat Peripatetik (Al-Masysyā’iyyah)
Kosmologi dalam tradisi al-Masysyā’iyyah
(Peripatetik Islam) merupakan sistem rasional yang paling komprehensif dalam
sejarah filsafat Islam klasik. Tradisi ini lahir dari sintesis pemikiran
metafisika Aristoteles dan Neoplatonisme yang diserap, dikembangkan, dan
disistematisasi oleh para filsuf Muslim seperti al-Kindī, al-Fārābī, dan Ibn
Sīnā.¹ Istilah al-Masysyā’iyyah sendiri merujuk pada “filsafat
berjalan” (dari kebiasaan Aristoteles mengajar sambil berjalan), yang dalam
konteks Islam menandakan orientasi rasional-empiris dan sistematis dalam
memahami struktur kosmos sebagai realitas yang tertib dan berjenjang.²
Dalam sistem ini, kosmos dipahami sebagai pancaran
hierarkis dari Tuhan sebagai al-Wājib al-Wujūd (Wujud Niscaya) menuju
realitas-realitas yang lebih rendah melalui mekanisme emanasi (fayḍ).³
Tuhan tidak menciptakan alam melalui kehendak temporal, melainkan memancarkan
eksistensi sebagaimana matahari memancarkan cahaya—tanpa perubahan, tanpa
waktu, dan tanpa kehilangan kesempurnaan-Nya. Dari Tuhan memancar Akal Pertama
(al-‘Aql al-Awwal), yang mengetahui Tuhan sebagai sebabnya dan dirinya
sebagai akibat. Dari pengetahuan ganda ini timbullah Akal Kedua, Jiwa Langit
Pertama (Nafs al-Falak al-Awwal), dan tubuh langitnya. Proses ini
berlanjut secara bertingkat hingga Akal Kesepuluh (al-‘Aql al-Fa‘‘āl),
yang mengatur dunia sublunar (alam di bawah bulan), tempat materi dan bentuk
saling berinteraksi.⁴
Al-Fārābī menguraikan sistem ini secara detail
dalam Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, menjelaskan bahwa keteraturan alam
bersumber dari tatanan intelektual (‘aqlānī) dan bukan kebetulan
fisikal.⁵ Kosmos adalah manifestasi dari intelegibilitas Tuhan yang abadi, sehingga
setiap unsur di dalamnya memiliki tujuan (ghāyah) dan posisi fungsional
dalam struktur universal. Hubungan antara Tuhan dan kosmos bukan hubungan
langsung antara Pencipta dan ciptaan, melainkan hubungan kausalitas ontologis
yang teratur melalui rantai akal-akal kosmis. Struktur ini menjaga transendensi
Tuhan sembari menjelaskan keteraturan fenomena alam secara rasional.
Ibn Sīnā kemudian menyempurnakan model kosmologi
ini dengan memberikan dasar ontologis yang lebih kuat.⁶ Ia membedakan secara
tegas antara māhiyyah (esensi) dan wujūd (eksistensi). Tuhan
adalah satu-satunya entitas yang esensi dan eksistensinya identik; segala wujud
lainnya memiliki esensi yang menerima eksistensi dari Tuhan secara emanatif.⁷
Proses penciptaan menurut Ibn Sīnā bukanlah temporal, melainkan hubungan
kausalitas niscaya antara sebab pertama dan akibatnya. Alam bersifat abadi
dalam keberlangsungan wujudnya, namun bergantung sepenuhnya pada Tuhan dalam
eksistensinya. Dengan demikian, keabadian kosmos tidak meniadakan penciptaan,
tetapi menegaskan kontinuitas emanasi Ilahi.
Dalam pandangan Ibn Sīnā, setiap tingkat wujud
memiliki fungsi epistemologis dan kosmologis. Akal Kesepuluh (al-‘Aql
al-Fa‘‘āl) menjadi penghubung antara dunia intelligible (‘ālam al-‘uqūl)
dan dunia materi.⁸ Ia menyalurkan bentuk-bentuk universal (ṣuwar naw‘iyyah)
kepada materi di dunia sublunar, menjadikan dunia fisik tercipta dalam
keteraturan dan rasionalitas. Di sinilah posisi manusia menjadi signifikan:
akal manusia dapat berhubungan dengan Akal Aktif untuk memperoleh
pengetahuan sejati tentang realitas. Dalam kerangka ini, kosmologi dan
epistemologi saling bertaut—pengetahuan tentang alam adalah partisipasi
intelektual manusia dalam tatanan kosmos Ilahi.⁹
Sistem kosmologi peripatetik ini menimbulkan
perdebatan sengit dengan para teolog Islam. Al-Ghazālī dalam Tahāfut
al-Falāsifah menuduh para filsuf terjatuh dalam kekufuran karena menyatakan
keabadian alam dan menolak penciptaan temporal.¹⁰ Ia menilai teori emanasi
meniadakan kehendak bebas Tuhan dan menundukkan-Nya pada kausalitas niscaya.
Namun, meskipun dikritik keras, sistem peripatetik tetap bertahan dan bahkan
menjadi dasar bagi pengembangan sains Islam klasik, terutama dalam astronomi,
kedokteran, dan fisika, yang memandang alam sebagai struktur rasional dan
teratur.¹¹
Dari perspektif metafisis, sistem al-Masysyā’iyyah
memiliki implikasi teologis yang mendalam. Ia menggambarkan alam sebagai sistem
keteraturan intelektual di mana setiap entitas memiliki tujuan yang saling
terkait, membentuk harmoni universal.¹² Dengan demikian, kosmos tidak bersifat
kaotis, tetapi rasional dan teleologis, menunjukkan kesempurnaan Tuhan sebagai
sumber intelek dan keberaturan. Alam menjadi simbol keteraturan rasional Ilahi,
sedangkan manusia, dengan akalnya, menjadi jembatan antara dunia materi dan
dunia akal, berperan sebagai “mikrokosmos” yang mencerminkan keteraturan
makrokosmos.¹³
Pada akhirnya, kosmologi peripatetik dalam Islam
bukan sekadar doktrin metafisik, melainkan visi ontologis tentang hubungan
Tuhan, akal, dan alam. Ia memperlihatkan bahwa keteraturan kosmos adalah
refleksi dari keteraturan Ilahi, dan bahwa memahami alam secara rasional
berarti menyingkap jejak kehendak Tuhan yang termanifestasi dalam tatanan
eksistensi.¹⁴
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy,
3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 71–74.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
60–63.
[3]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical
Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 102–106.
[4]
Al-Fārābī, The Principles of the Opinions of the
Citizens of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Clarendon
Press, 1985), 91–97.
[5]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian
Tradition (Leiden: Brill, 2014), 133–137.
[6]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London:
Routledge, 1992), 124–130.
[7]
Jon McGinnis and David C. Reisman, eds., Classical
Arabic Philosophy: An Anthology of Sources (Indianapolis: Hackett Publishing,
2007), 204–208.
[8]
Fazlur Rahman, Avicenna’s Psychology: An English
Translation of Kitāb al-Najāt, Book II, Chapter VI (London: Oxford
University Press, 1959), 32–35.
[9]
Herbert A. Davidson, Alfarabi, Avicenna, and
Averroes on Intellect: Their Cosmologies, Theories of the Active Intellect, and
Theories of Human Intellect (New York: Oxford University Press, 1992),
157–160.
[10]
Al-Ghazālī, The Incoherence of the Philosophers,
trans. Michael E. Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2000), 85–92.
[11]
A.I. Sabra, “Science and Philosophy in Medieval
Islamic Theology,” in The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, ed.
Peter Adamson and Richard C. Taylor (Cambridge: Cambridge University Press,
2005), 37–41.
[12]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in
Islam (Cambridge: Harvard University Press, 1968), 98–103.
[13]
William C. Chittick, The Heart of Islamic
Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of Afdal al-Din
Kashani (Oxford: Oxford University Press, 2001), 56–59.
[14]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence (Albany: State
University of New York Press, 1992), 87–92.
7.
Kosmologi
Isyraqi dan Mistis
Kosmologi Isyraqi (iluminatif) dan mistis merupakan
salah satu puncak evolusi metafisika Islam yang memadukan rasionalitas
peripatetik dengan pengalaman spiritual intuitif. Tradisi ini berakar pada
gagasan bahwa realitas bukan hanya dapat dipahami melalui konsep dan logika,
tetapi juga melalui isyraq—penyinaran batin atau pencerahan spiritual
yang menyingkap hakikat kosmos secara langsung.¹ Gerakan ini dipelopori oleh Shihāb
al-Dīn al-Suhrawardī (w. 1191 M), yang mengembangkan sistem Ḥikmah
al-Isyrāq (Filsafat Iluminasi) sebagai alternatif terhadap rasionalisme
Aristotelian yang dianggap terlalu intelektualistik dan kering dari makna
spiritual.²
Dalam pandangan Suhrawardī, hakikat eksistensi
adalah cahaya (nūr). Tuhan adalah Nūr al-Anwār (Cahaya
segala cahaya), sumber dari segala realitas, sedangkan seluruh entitas di alam
semesta hanyalah pancaran cahaya-cahaya yang lebih lemah intensitasnya.³ Dengan
metafora cahaya ini, Suhrawardī menyusun kosmologi yang bersifat hierarkis dan
gradatif: dari Cahaya Tertinggi (Tuhan), terpancar beragam tingkatan cahaya
malaikat, jiwa, dan akhirnya materi yang paling rendah—yang merupakan “bayangan”
dari kegelapan relatif.⁴ Kosmos dalam sistem ini bukan hasil penciptaan
temporal, melainkan pancaran abadi dari sumber cahaya yang tak berawal.
Bagi Suhrawardī, pengetahuan tentang kosmos tidak
dicapai hanya melalui rasio deduktif, melainkan melalui penyinaran batiniah
(illumination).⁵ Proses kognitif sejati adalah partisipasi jiwa dalam
cahaya Ilahi, di mana subjek dan objek pengetahuan bersatu dalam pengalaman
intuitif. Dalam keadaan iluminatif ini, manusia tidak hanya “mengetahui”
dunia, tetapi “melihat” hakikat wujud dalam dirinya sebagai cahaya.
Kosmos, dengan demikian, dipahami sebagai jaringan emanatif yang bukan hanya
ontologis tetapi juga epistemologis: semakin tinggi derajat wujud, semakin
terang kesadarannya terhadap sumber cahaya.⁶
Tradisi Isyraqi juga menandai transisi penting
menuju kosmologi mistis dalam filsafat Islam. Dalam sistem metafisik Ibn
‘Arabī (w. 1240 M), kosmos dipahami melalui prinsip wahdat al-wujūd
(kesatuan eksistensi).⁷ Menurutnya, wujud sejati hanya satu—yaitu
Tuhan—sedangkan seluruh realitas lain hanyalah manifestasi (tajallī)
dari Wujud Mutlak. Alam tidak memiliki eksistensi mandiri, melainkan merupakan
cermin di mana Tuhan menampakkan diri-Nya. Ibn ‘Arabī menyebut Tuhan sebagai al-Ẓāhir
wa al-Bāṭin—yang tampak sekaligus tersembunyi—dan kosmos sebagai
penyingkapan diri Tuhan dalam berbagai bentuk dan tingkatan.⁸
Dalam kosmologi mistis Ibn ‘Arabī, proses
penciptaan merupakan ekspresi cinta Ilahi (ḥubb ilāhī). Ia mengutip
hadis qudsi: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi; Aku ingin dikenal, maka
Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”⁹ Dengan demikian, alam
semesta adalah teofani (penampakan Tuhan) yang bertujuan agar Tuhan dikenal
melalui tanda-tanda keberadaan-Nya. Setiap entitas adalah maẓhar
(manifestasi) dari salah satu Nama Tuhan, dan seluruh kosmos bergerak menuju
pengenalan akan sumbernya.
Gagasan Suhrawardī dan Ibn ‘Arabī kemudian
diintegrasikan secara filosofis oleh Ṣadr al-Dīn al-Shīrāzī (Mulla Ṣadrā)
dalam al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah (Filsafat Transenden).¹⁰ Ia menggabungkan
iluminisme Isyraqi dan metafisika wahdat al-wujūd dalam kerangka ontologis ashālat
al-wujūd (primasi eksistensi). Dalam pandangannya, wujud bersifat gradatif
(tasykīk al-wujūd) ayat setiap tingkat realitas adalah intensitas cahaya
Ilahi yang berbeda. Gerak substansial (ḥarakah jawhariyyah) menjadikan
kosmos sebagai medan dinamis yang terus berevolusi menuju kesempurnaan
eksistensial.¹¹ Dengan demikian, kosmos bukan hanya struktur hierarkis,
melainkan proses spiritual yang bergerak dari kegelapan menuju cahaya, dari
potensi menuju aktualitas, dari ciptaan menuju Tuhan.
Kosmologi Isyraqi dan mistis menegaskan bahwa
pengetahuan tentang alam semesta bersifat taḥaqquqī—pengetahuan yang
diwujudkan, bukan sekadar dipahami.¹² Alam bukan hanya objek studi, tetapi
cermin Ilahi yang menuntut penyaksian (mushāhadah) dan partisipasi
spiritual. Dalam hal ini, manusia berperan sebagai mikrokosmos (‘ālam ṣaghīr)
yang memantulkan keseluruhan tatanan makrokosmos (‘ālam kabīr). Semakin
tinggi kesadaran manusia, semakin terang cahayanya, dan semakin ia mampu
“menyaksikan” hakikat keteraturan Ilahi dalam kosmos.¹³
Dengan demikian, kosmologi Isyraqi dan mistis
memperluas horizon pemahaman filsafat Islam dengan memadukan rasionalitas,
simbolisme, dan pengalaman spiritual. Ia mengubah cara pandang terhadap alam
dari sekadar struktur fisik menjadi realitas simbolik dan sakral yang
menyingkap keberadaan Tuhan.¹⁴ Dalam kerangka ini, kosmos adalah kitab terbuka—kitāb
al-kawn—yang menulis ayat -ayat Tuhan dalam bentuk cahaya, gerak, dan
harmoni eksistensial.¹⁵
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages:
Avicenna, Suhrawardi, Ibn Arabi (Cambridge: Harvard University Press,
1964), 60–64.
[2]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A
Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990),
82–86.
[3]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq,
trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press,
1999), 121–124.
[4]
Henry Corbin, The Man of Light in Iranian Sufism
(Princeton: Princeton University Press, 1978), 45–48.
[5]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East:
Suhrawardi and Platonic Orientalism (Albany: State University of New York
Press, 2001), 97–102.
[6]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence (Albany: State
University of New York Press, 1992), 54–57.
[7]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge:
Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New
York Press, 1989), 89–94.
[8]
Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A
Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of
California Press, 1984), 210–214.
[9]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, trans. Ralph
Austin (London: George Allen & Unwin, 1980), 87–89.
[10]
Mulla Ṣadrā, The Transcendent Philosophy of the
Four Journeys of the Intellect, trans. Seyyed Hossein Nasr (Tehran:
Imperial Iranian Academy of Philosophy, 1981), 100–104.
[11]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra
(Albany: State University of New York Press, 1975), 145–149.
[12]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State
University of New York Press, 2006), 182–186.
[13]
William C. Chittick, The Self-Disclosure of God:
Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (Albany: State University of New
York Press, 1998), 97–101.
[14]
Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism
of Ibn ‘Arabi (Princeton: Princeton University Press, 1969), 105–109.
[15]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
89–92.
8.
Kosmologi
dalam Hikmah Muta‘āliyah (Mulla Ṣadrā)
Kosmologi dalam
kerangka al-Ḥikmah
al-Muta‘āliyah (Filsafat Transenden) yang dikembangkan oleh Ṣadr al-Dīn
al-Shīrāzī (Mulla Ṣadrā) (w. 1640 M) merupakan puncak evolusi
metafisika Islam. Ia mengintegrasikan tiga arus besar pemikiran sebelumnya:
rasionalisme peripatetik (al-Masysyā’iyyah), iluminisme
Isyraqi (al-Isyrāqiyyah),
dan mistisisme Ibn ‘Arabī (taṣawwuf al-wujūdī), ke dalam satu
sintesis ontologis yang sangat orisinal.¹ Melalui sistem ini, Mulla Ṣadrā
membangun paradigma kosmologis yang bersifat dinamis, ontologis, dan spiritual,
di mana seluruh wujud dipandang sebagai realitas tunggal yang terus bergerak
menuju kesempurnaan.²
8.1.
Prinsip Asālat al-Wujūd (Primasi Eksistensi)
Dasar utama
kosmologi Ṣadrā adalah doktrin asālat al-wujūd (primasi
eksistensi) yang menegaskan bahwa yang nyata secara hakiki adalah eksistensi (wujūd),
bukan esensi (māhiyyah).³ Dalam pandangan ini,
eksistensi bukan sekadar atribut yang melekat pada sesuatu, melainkan hakikat
itu sendiri. Tuhan adalah al-Wujūd al-Muṭlaq (Eksistensi
Mutlak), sedangkan seluruh realitas lain hanyalah manifestasi gradasional
dari-Nya.⁴ Pandangan ini menggantikan konsep metafisika Aristotelian dan
Avicennian yang menempatkan esensi sebagai pusat analisis ontologis. Dengan
menegaskan eksistensi sebagai realitas primer, Ṣadrā mengubah cara memahami
kosmos: seluruh alam semesta adalah gelombang eksistensi yang
bertingkat-tingkat dalam intensitas, bukan kumpulan substansi statis.⁵
Eksistensi, menurut Ṣadrā,
bersifat gradasional (tasykīk
al-wujūd). Setiap wujud memiliki kadar intensitas yang berbeda:
Tuhan berada pada puncak intensitas eksistensi, sedangkan makhluk-makhluk
material menempati tingkatan paling rendah.⁶ Dengan demikian, struktur kosmos
merupakan spektrum ontologis yang bersifat hierarkis—dari Wujūd
Mutlak menuju realitas partikular. Model ini sekaligus menjembatani
dualisme antara Tuhan dan alam: kosmos bukan entitas terpisah, melainkan
pancaran dari Wujud Tunggal yang sama, berbeda hanya dalam derajatnya.⁷
8.2.
Harakah Jawhariyyah (Gerak Substansial)
Salah satu gagasan
paling orisinal Ṣadrā adalah doktrin harakah jawhariyyah (gerak
substansial), yang menegaskan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada aksiden
(seperti warna atau bentuk), tetapi juga pada substansi itu sendiri.⁸ Dalam
kerangka ini, seluruh wujud bersifat dinamis dan senantiasa bergerak dari
potensi menuju aktualitas. Alam semesta bukan sistem statis seperti dalam
kosmologi Aristotelian, melainkan proses keberlangsungan eksistensial yang
terus-menerus menuju kesempurnaan.⁹
Konsep ini
menjadikan kosmos sebagai realitas hidup dan berkembang. Segala yang ada berada
dalam arus gerak yang berkesinambungan—gerak menuju intensifikasi eksistensi.
Gerak ini berpuncak pada Tuhan sebagai tujuan akhir (ghāyah
al-ḥarakah).¹⁰ Dengan demikian, penciptaan bukanlah peristiwa
sekali jadi, tetapi proses abadi pencurahan eksistensi Ilahi (tajallī
dā’im).¹¹ Kosmos dipahami sebagai sistem emanatif yang bergerak
dari Tuhan dan kembali kepada-Nya dalam siklus wujud: “Innā
lillāh wa innā ilayhi rāji‘ūn”—“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”
8.3.
Kesatuan Wujud dan Teofani Kosmik
Mulla Ṣadrā
mengadopsi prinsip wahdat al-wujūd Ibn ‘Arabī, namun
memberinya dasar filosofis yang lebih sistematis.¹² Menurutnya, seluruh wujud
adalah satu realitas yang sama dengan intensitas berbeda, bukan pluralitas
ontologis yang berdiri sendiri. Kosmos merupakan teofani (tajallī)
Ilahi, di mana Tuhan menyingkapkan diri-Nya dalam berbagai bentuk eksistensi.
Setiap makhluk adalah mazhar (manifestasi) dari Nama dan
Sifat Tuhan. Dengan demikian, alam semesta memiliki nilai sakral dan spiritual
yang tinggi: memahami kosmos berarti memahami aspek-aspek keilahian yang
termanifestasi dalam ciptaan.¹³
Dalam konteks ini, Ṣadrā
memadukan ontologi dan epistemologi. Pengetahuan tentang alam tidak diperoleh
semata melalui abstraksi intelektual, melainkan melalui transformasi eksistensial—‘ilm ḥuḍūrī
(pengetahuan melalui kehadiran).¹⁴ Subjek mengetahui objek karena keduanya
terhubung dalam satu jaringan eksistensi yang sama. Dalam kondisi iluminatif
ini, pengetahuan menjadi partisipasi ontologis: manusia mengetahui alam sejauh ia
mengalami penyatuan dengan tingkat eksistensi yang lebih tinggi.
8.4.
Kosmos sebagai Proses Spiritualitas Wujud
Dalam sistem al-Ḥikmah
al-Muta‘āliyah, kosmos bukan sekadar struktur fisikal, tetapi
perjalanan spiritual wujud. Setiap entitas—baik mineral, tumbuhan, hewan,
maupun manusia—berada dalam arus gerak eksistensial menuju kesempurnaan
Ilahi.¹⁵ Alam semesta dipahami sebagai teater teofani di mana wujud-wujud
berpartisipasi dalam proses penyingkapan diri Tuhan. Gerak substansial inilah
yang menjadikan alam hidup, berkesadaran, dan memiliki arah teleologis.¹⁶
Manusia, sebagai
mikrokosmos (‘ālam ṣaghīr), menempati posisi
sentral dalam dinamika kosmos ini. Ia merupakan titik pertemuan antara dunia
material dan spiritual, antara waktu dan keabadian. Melalui perjalanan
intelektual dan spiritual (as-sayr wa as-sulūk), manusia dapat
meningkatkan intensitas wujudnya hingga mencapai kesatuan dengan Wujud
Mutlak.¹⁷ Dengan demikian, pencapaian pengetahuan tentang alam dalam sistem Ṣadrā
bukan sekadar usaha rasional, melainkan bentuk taḥaqquq (realisasi eksistensial)
dari kebenaran Ilahi.
Integrasi antara Wahyu, Akal, dan Intuisi
Kosmologi Ṣadrā
mengandung dimensi integratif antara wahyu, rasionalitas filosofis, dan intuisi
mistik.¹⁸ Ia menolak dikotomi antara filsafat dan agama dengan menegaskan bahwa
keduanya merupakan jalan yang berbeda menuju kebenaran yang sama. Wahyu
memberikan kebenaran mutlak, akal menalar kebenaran itu secara sistematis,
sementara intuisi mengalaminya secara langsung. Struktur kosmos dalam pandangan
Ṣadrā dengan demikian mencerminkan harmoni epistemologis antara iman, rasio,
dan pengalaman spiritual.
Kosmologi Mulla Ṣadrā
mengubah paradigma metafisika Islam menjadi ontoteologi dinamis: realitas
bukan sistem beku, tetapi arus eksistensi yang terus bergerak dalam kesadaran
Ilahi.¹⁹ Dalam pandangan ini, Tuhan bukan hanya Pencipta yang transenden,
tetapi juga Kehadiran yang imanen dalam seluruh wujud. Alam bukan oposisi
terhadap Tuhan, melainkan manifestasi dan cerminan-Nya. Pemahaman terhadap
kosmos berarti penyaksian terhadap keindahan dan kesempurnaan Ilahi yang
memancar dalam berbagai tingkat eksistensi.²⁰
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of New York Press, 2006),
189–193.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to
Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 126–129.
[3]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Mohammad Khajavi (Tehran: Sadra Islamic
Philosophy Research Institute, 1981), 1:54–57.
[4]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra (Albany: State University of
New York Press, 1975), 34–38.
[5]
Ibrahim Kalin, Knowledge in Later
Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition (Oxford: Oxford University Press, 2010), 102–106.
[6]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The
Principles of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence (Albany: State University of New York Press, 1992),
92–95.
[7]
Henry Corbin, History of Islamic
Philosophy, trans. Liadain Sherrard
(London: Kegan Paul, 1993), 324–328.
[8]
Mulla Ṣadrā, The Transcendent
Philosophy of the Four Journeys of the Intellect, trans. Seyyed Hossein Nasr (Tehran: Imperial Iranian
Academy of Philosophy, 1981), 115–120.
[9]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra, 110–114.
[10]
Hossein Ziai, The Book of Radiance:
Hikmat al-Ishraq (New York:
Routledge, 1999), 147–150.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, Three
Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardi, Ibn Arabi (Cambridge: Harvard University Press, 1964), 99–102.
[12]
William C. Chittick, The
Self-Disclosure of God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (Albany: State University of New York Press, 1998),
113–117.
[13]
Henry Corbin, Creative Imagination in
the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton:
Princeton University Press, 1969), 118–121.
[14]
Ibrahim Kalin, Mulla Sadra on
Existence, Intellect, and Intuition,
120–123.
[15]
Seyyed Hossein Nasr, An
Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
94–98.
[16]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (New York: Global
Publications, 1998), 45–49.
[17]
William C. Chittick, The
Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of
Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 66–69.
[18]
Sajjad Rizvi, Mulla Sadra and
Metaphysics: Modulation of Being
(London: Routledge, 2009), 84–87.
[19]
Seyyed Hossein Nasr, Science
and Civilization in Islam
(Cambridge: Harvard University Press, 1968), 107–111.
[20]
Henry Corbin, Temple and
Contemplation (London: Kegan Paul
International, 1986), 177–181.
9.
Dimensi
Etika dan Aksiologi Kosmologi Islam
Dimensi etika dan
aksiologi kosmologi Islam merupakan manifestasi dari pandangan metafisis yang
menempatkan alam semesta (al-kawn) sebagai ciptaan Tuhan yang
memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar instrumen bagi kepentingan manusia.¹
Dalam kerangka ini, kosmos dipahami tidak hanya sebagai sistem fisikal yang
teratur, melainkan sebagai ruang moral dan spiritual yang
merefleksikan kehendak dan kebijaksanaan Ilahi. Alam menjadi arena bagi manusia
untuk mengenal Tuhan, menumbuhkan kesadaran etis, dan menunaikan tanggung jawab
kosmiknya sebagai khalīfah fī al-arḍ (wakil Tuhan di
bumi).²
9.1.
Alam sebagai Manifestasi Nilai Ilahi
Dalam kosmologi
Islam, setiap entitas memiliki kedudukan etis karena ia adalah āyah
(tanda) dari Tuhan.³ Alam semesta bukan benda mati, melainkan refleksi dari al-Asmā’
al-Ḥusnā (Nama-nama Indah Tuhan).⁴ Melalui keteraturan dan harmoni
kosmos, manusia diajak untuk meneladani sifat-sifat Ilahi seperti keadilan (‘adl),
kebijaksanaan (ḥikmah), dan kasih sayang (raḥmah).
Pandangan ini melahirkan paradigma bahwa seluruh makhluk memiliki martabat
ontologis yang harus dihormati, sebab setiap keberadaan merupakan bagian dari
jaringan eksistensial yang bersumber dari al-Wujūd al-Muṭlaq.⁵
Al-Qur’an menegaskan
bahwa alam semesta diciptakan “bi al-ḥaqq” (dengan tujuan dan
kebenaran), bukan secara sia-sia (Q.S. Āli ‘Imrān [3] ayat 191).⁶ Ini
menunjukkan bahwa kosmos memiliki nilai teleologis—tujuan dan makna etis yang
inheren. Oleh karena itu, tindakan manusia terhadap alam tidak boleh bersifat
destruktif, karena berarti melanggar keteraturan Ilahi yang menjadi dasar
moralitas universal.⁷ Etika kosmologis Islam dengan demikian berlandaskan pada tauḥīd
aksiologis: pengakuan bahwa seluruh nilai dan kebaikan berpangkal
pada kesatuan wujud Tuhan.
9.2.
Manusia sebagai Subjek Moral Kosmik
Manusia, dalam
perspektif kosmologi Islam, memiliki posisi unik sebagai penghubung antara
dunia spiritual dan material. Ia bukan penguasa absolut atas alam, tetapi
penjaga dan pemelihara keteraturan Ilahi.⁸ Konsep khilāfah dalam Al-Qur’an (Q.S.
al-Baqarah [2] ayat 30) menunjukkan mandat etis untuk menegakkan keseimbangan (mīzān)
di bumi.⁹ Dalam tradisi filsafat Islam, terutama pada Ibn Sīnā dan Mulla Ṣadrā,
manusia dipandang sebagai mikrokosmos (‘ālam ṣaghīr) yang memantulkan
struktur makrokosmos (‘ālam kabīr).¹⁰ Dengan demikian,
keselarasan batin manusia akan mempengaruhi keselarasan kosmik: etika pribadi
berimplikasi pada harmoni universal.
Mulla Ṣadrā
mengaitkan moralitas manusia dengan intensifikasi wujud.¹¹ Semakin tinggi
kualitas moral seseorang, semakin tinggi pula derajat eksistensinya dalam
tatanan kosmos. Tindakan etis bukan hanya perilaku sosial, tetapi juga transformasi
ontologis yang meningkatkan cahaya eksistensial manusia. Dalam
pandangan ini, etika dan kosmologi saling bertaut—berbuat baik berarti
berpartisipasi dalam kesempurnaan kosmos. Sebaliknya, tindakan destruktif atau
zalim merupakan bentuk disonansi ontologis yang mengganggu harmoni Ilahi.¹²
9.3.
Aksiologi Kosmologis: Nilai, Tujuan, dan
Keterpaduan
Aksiologi kosmologi
Islam menempatkan nilai (qīmah) dan tujuan (ghāyah)
sebagai dimensi inheren dari ciptaan. Setiap wujud memiliki nilai karena ia
merupakan bagian dari proses penyingkapan Tuhan (tajallī).¹³ Tujuan tertinggi dari
seluruh eksistensi adalah ma‘rifah Allāh—pengenalan terhadap
Tuhan. Ibn ‘Arabī menegaskan bahwa semua ciptaan diciptakan “agar Tuhan
dikenal” (liyu‘rafa Allāh).¹⁴ Dengan
demikian, nilai-nilai etis tidak bersifat antropocentris, tetapi teosentris:
kebaikan sejati adalah yang membawa makhluk kepada kesadaran Ilahi.
Suhrawardī dalam Ḥikmat
al-Isyrāq menambahkan dimensi estetika dalam aksiologi kosmologis:
kebaikan sejati bersifat indah, dan keindahan merupakan manifestasi dari cahaya
Ilahi.¹⁵ Maka, keteraturan kosmos tidak hanya bernilai moral tetapi juga
estetis—suatu keselarasan yang memancarkan jamāl (keindahan) Tuhan. Pandangan
ini menegaskan bahwa memahami kosmos secara etis berarti menghargai keindahan
sebagai ekspresi kebenaran.
Dalam konteks sosial
dan ekologis modern, aksiologi kosmologi Islam menuntut reinterpretasi terhadap
tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.¹⁶ Alam bukan sumber daya tanpa
batas, tetapi amanah yang harus dijaga
keseimbangannya. Etika ekologis Islam lahir dari kesadaran bahwa kerusakan alam
(fasād fī
al-arḍ) adalah bentuk pelanggaran moral terhadap sunnatullah.¹⁷
Pemeliharaan lingkungan bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga ibadah
ontologis yang menegakkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
9.4.
Kesatuan Nilai Spiritual dan Empirik
Kosmologi Islam
memadukan nilai spiritual dengan rasionalitas empiris.¹⁸ Dalam ilmu
pengetahuan, memahami hukum-hukum alam berarti membaca tanda-tanda Tuhan (āyāt
kauniyyah). Dengan demikian, aktivitas ilmiah pun memiliki dimensi
etis dan spiritual. Sains dalam Islam tidak sekadar deskriptif, melainkan juga
normatif—menuntun manusia untuk meneladani kebijaksanaan Ilahi dalam
keteraturan kosmos.¹⁹
Etika kosmologis
Islam, karenanya, menolak dualisme antara fakta dan nilai, antara sains dan
moralitas. Semua dimensi realitas bersatu dalam kesadaran tauhid yang
menyatukan kebenaran, keindahan, dan kebaikan (al-ḥaqq, al-jamāl, al-khayr).²⁰
Dalam pandangan ini, memahami alam berarti menelusuri jejak nilai, dan
berperilaku etis berarti berpartisipasi dalam harmoni Ilahi yang menopang
seluruh ciptaan.
Konklusi Aksiologis
Dimensi etika dan
aksiologi kosmologi Islam menegaskan bahwa seluruh ciptaan memiliki nilai
spiritual, moral, dan teleologis yang berakar pada prinsip tauhid.²¹ Manusia,
sebagai mikrokosmos, memikul tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan
memaknai alam sebagai wahana pengabdian kepada Tuhan. Dalam pandangan ini,
etika tidak berhenti pada relasi antar-manusia, tetapi meluas menjadi etika
kosmik—sebuah kesadaran moral universal yang menyatukan Tuhan,
alam, dan manusia dalam satu jaringan eksistensial yang harmonis.²²
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature (New York:
Oxford University Press, 1996), 27–31.
[2]
Fazlun Khalid, Islam and the
Environment (London: Ta-Ha
Publishers, 2002), 14–17.
[3]
Al-Qur’an, Surah al-Baqarah (2) ayat 164.
[4]
Seyyed Hossein Nasr, Man
and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 1997), 11–15.
[5]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 22–26.
[6]
Al-Qur’an, Surah Āli ‘Imrān (3) ayat 191.
[7]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Nurin Enterprise, 1991), 49–53.
[8]
M. Izzi Dien, The Environmental
Dimensions of Islam (Cambridge: The
Islamic Foundation, 2000), 42–45.
[9]
Al-Qur’an, Surah al-Rahman (55) ayat 7–9.
[10]
Seyyed Hossein Nasr, An
Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
99–103.
[11]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra (Albany: State University of
New York Press, 1975), 156–160.
[12]
Ibrahim Kalin, Knowledge in Later
Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition (Oxford: Oxford University Press, 2010), 132–136.
[13]
Henry Corbin, Temple and
Contemplation (London: Kegan Paul
International, 1986), 187–190.
[14]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, trans. Ralph Austin (London: George Allen &
Unwin, 1980), 90–93.
[15]
Hossein Ziai, Knowledge and
Illumination: A Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 104–108.
[16]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The
Shape of Ideas to Come (London:
Mansell, 1985), 78–82.
[17]
Al-Qur’an, Surah al-Rum (30) ayat 41.
[18]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (New York: Global
Publications, 1998), 51–55.
[19]
Osman Bakar, Classification of
Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 67–72.
[20]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 94–98.
[21]
Nader El-Bizri, “The Microcosm/Macrocosm Analogy: A Tentative Encounter
Between Graeco-Arabic Philosophy and Phenomenology,” Philosophy East and West
59, no. 1 (2009) ayat 1–16.
[22]
William C. Chittick, The
Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of
Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 92–96.
10. Dimensi Sosial dan Intelektual
Kosmologi Islam
tidak hanya berbicara tentang struktur metafisis alam semesta, tetapi juga
membentuk dasar bagi struktur sosial dan intelektual
peradaban Islam. Dalam tradisi ini, pemahaman tentang kosmos tidak berhenti
pada ranah teoretis, melainkan menjadi paradigma hidup yang mengatur hubungan
manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.¹ Pandangan dunia (worldview)
Islam yang bersumber dari tauhid menciptakan kesadaran bahwa seluruh realitas
saling terhubung dalam kesatuan wujud (wahdat al-wujūd), sehingga
keteraturan kosmos diproyeksikan pula ke dalam tatanan sosial dan intelektual
masyarakat Muslim.²
10.1.
Kosmologi sebagai Fondasi Tatanan Sosial Islam
Dalam filsafat Islam
klasik, keteraturan kosmos dipandang sebagai model ideal bagi keteraturan
masyarakat. Al-Fārābī dalam Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah
menegaskan bahwa masyarakat yang adil adalah refleksi dari kosmos yang
harmonis: setiap elemen sosial memiliki fungsi tertentu sebagaimana setiap
tingkat wujud dalam alam raya memiliki kedudukan dan tujuan masing-masing.³ Ia
menggambarkan masyarakat ideal (al-madīnah al-fāḍilah) sebagai
mikrokosmos dari alam semesta—di mana raja atau pemimpin berperan sebagai Akal
Pertama, sedangkan rakyat mencerminkan tingkatan realitas yang lebih rendah
namun saling bergantung.⁴ Dengan demikian, struktur sosial yang baik merupakan
cerminan dari keteraturan Ilahi yang berlaku di alam.
Konsep ini tidak
sekadar simbolik, melainkan memiliki konsekuensi etis dan politis. Tatanan
kosmik yang rasional dan teratur menuntut manusia untuk menciptakan masyarakat
yang berkeadilan, berbasis ilmu, dan berorientasi pada kebajikan.⁵ Dalam
masyarakat Islam klasik, kosmologi metafisis menjadi legitimasi bagi sistem
sosial yang hierarkis namun fungsional: setiap manusia memiliki derajat dan
tanggung jawab sesuai potensinya dalam menegakkan keseimbangan Ilahi (mīzān).⁶
Prinsip ini kemudian membentuk basis etika sosial Islam yang menolak anarki
maupun tirani, dengan menempatkan keadilan sebagai hukum kosmik yang harus
dijaga dalam tataran sosial.
10.2.
Kosmologi dan Lahirnya Tradisi Intelektual
Islam
Kesadaran kosmologis
juga memainkan peran penting dalam perkembangan intelektual dunia Islam.
Pemahaman bahwa alam semesta merupakan sistem keteraturan Ilahi mendorong para
ilmuwan Muslim untuk meneliti fenomena alam dengan semangat religius.⁷
Astronomi, matematika, kedokteran, dan fisika berkembang pesat karena dipandang
sebagai jalan untuk membaca āyāt Allāh dalam bentuk empiris (āyāt
kauniyyah).⁸ Dalam pandangan para ilmuwan seperti Ibn al-Haytham,
al-Bīrūnī, dan Ibn Sīnā, studi terhadap kosmos merupakan bentuk ibadah
intelektual yang memperluas pengetahuan manusia tentang kebijaksanaan Tuhan.⁹
Seyyed Hossein Nasr
menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam memiliki dua dimensi: ‘ilm al-ẓāhir
(pengetahuan lahir) yang berhubungan dengan fenomena fisikal, dan ‘ilm
al-bāṭin (pengetahuan batin) yang menyingkap makna spiritual di
baliknya.¹⁰ Keduanya berpijak pada prinsip kosmologis yang sama—bahwa realitas
bersifat hierarkis dan bermakna simbolik. Maka, penelitian ilmiah tidak pernah
dilepaskan dari dimensi etis dan metafisis. Hal ini menjadikan peradaban Islam
abad pertengahan tidak hanya rasional, tetapi juga sakral: sains dan agama
berjalan dalam satu kesadaran ontologis yang sama.¹¹
10.3.
Kosmologi, Pendidikan, dan Pembentukan Nalar
Intelektual
Dalam sistem
pendidikan Islam klasik, konsep kosmologi berfungsi sebagai kerangka
epistemologis bagi seluruh cabang ilmu.¹² Institusi seperti Bayt al-Ḥikmah
di Baghdad, madrasah-madrasah Andalusia, dan universitas awal seperti
al-Qarawiyyīn atau al-Azhar didirikan atas semangat kosmologis yang menekankan
keterpaduan ilmu dan iman.¹³ Para ulama dan filosof seperti al-Ghazālī,
Suhrawardī, dan Mulla Ṣadrā memandang ilmu sebagai bagian dari perjalanan
spiritual manusia dalam memahami struktur kosmos dan mengenal Tuhan.¹⁴
Al-Ghazālī,
misalnya, menegaskan bahwa seluruh cabang ilmu—baik yang rasional maupun
keagamaan—pada dasarnya bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada ma‘rifatullāh
(pengenalan terhadap Tuhan).¹⁵ Ini menunjukkan bahwa epistemologi Islam bersifat
kosmosentris sekaligus teosentris: ilmu dan kebijaksanaan berakar dari
kesadaran akan keteraturan Ilahi yang termanifestasi dalam ciptaan. Dengan
demikian, kegiatan intelektual dalam Islam tidak hanya menumbuhkan pengetahuan,
tetapi juga membentuk akhlak, adab, dan tanggung jawab sosial.¹⁶
10.4.
Dimensi Sosial-Kultural Kosmologi Islam
Kosmologi Islam juga
melahirkan ekspresi sosial dan kultural yang mendalam dalam seni, arsitektur,
dan sastra.¹⁷ Pola geometris masjid, taman, dan manuskrip Al-Qur’an
menggambarkan keteraturan kosmik yang berakar pada prinsip tauhid. Simetri dan
keterpaduan bentuk dalam seni Islam mencerminkan konsep niẓām
ilāhī (tatanan Ilahi) yang menjadi ciri khas pandangan dunia
Islam.¹⁸ Arsitektur Islam, misalnya, dengan kubah dan mihrabnya yang berpusat
pada satu titik, merupakan simbol keterarahan seluruh realitas kepada Tuhan.
Demikian pula, puisi sufistik seperti karya Jalāluddīn Rūmī dan Ibn al-Fāriḍ
memvisualisasikan kosmos sebagai arena cinta Ilahi, di mana seluruh makhluk
menari dalam orbit wujud-Nya.¹⁹
Dalam konteks sosial
kontemporer, pemahaman kosmologis ini memiliki relevansi yang besar. Pandangan
bahwa manusia, masyarakat, dan alam merupakan satu kesatuan ontologis
menegaskan pentingnya etika solidaritas universal.²⁰
Dalam era krisis ekologis dan spiritual modern, kosmologi Islam mengajarkan
bahwa ketidakharmonisan sosial atau kerusakan alam adalah gejala dari
keterputusan manusia dengan struktur kosmos Ilahi. Maka, rekonstruksi peradaban
Islam modern harus berpijak pada kesadaran kosmologis yang menyeimbangkan
rasionalitas, spiritualitas, dan moralitas.²¹
Kesimpulan: Kosmos sebagai Model Peradaban
Dimensi sosial dan
intelektual kosmologi Islam menunjukkan bahwa alam semesta bukan hanya objek
kontemplasi metafisis, tetapi juga model normatif bagi peradaban manusia.²²
Keteraturan kosmos mengilhami tatanan sosial yang adil, mendorong pengembangan
ilmu yang beretika, dan melahirkan kebudayaan yang memuliakan nilai-nilai
spiritual. Dalam pandangan ini, masyarakat ideal bukanlah yang sekadar makmur
secara material, tetapi yang hidup dalam keselarasan dengan hukum Ilahi yang
mengatur alam.²³ Dengan demikian, kosmologi Islam tidak hanya menjelaskan
struktur wujud, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia dan masyarakat
seharusnya menata kehidupan sesuai dengan irama keteraturan Ilahi.²⁴
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 87–90.
[2]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Nurin Enterprise, 1991), 24–28.
[3]
Al-Fārābī, The Principles of the
Opinions of the Citizens of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Clarendon Press,
1985), 70–75.
[4]
Majid Fakhry, A History of Islamic
Philosophy, 3rd ed. (New York:
Columbia University Press, 2004), 80–83.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Science
and Civilization in Islam
(Cambridge: Harvard University Press, 1968), 92–96.
[6]
Oliver Leaman, An Introduction to
Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 131–135.
[7]
A.I. Sabra, “Science and Philosophy in Medieval Islamic Theology,” in The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, ed. Peter Adamson and Richard C. Taylor (Cambridge:
Cambridge University Press, 2005), 37–40.
[8]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (New York: Global
Publications, 1998), 43–46.
[9]
David C. Lindberg, The Beginnings of
Western Science (Chicago: University
of Chicago Press, 1992), 192–195.
[10]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Science: An Illustrated Study
(London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 14–17.
[11]
Osman Bakar, Classification of
Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 73–76.
[12]
George Makdisi, The Rise of Colleges:
Institutions of Learning in Islam and the West (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1981), 44–47.
[13]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic
Culture (London: Routledge, 1998),
52–56.
[14]
Hossein Ziai, Knowledge and
Illumination: A Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 115–118.
[15]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, trans. Nabih Amin Faris (Beirut: Dar al-Kitab
al-‘Arabi, 1966), 27–30.
[16]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 32–36.
[17]
Titus Burckhardt, Art of Islam: Language
and Meaning (London: World of Islam
Festival Publishing, 1976), 11–14.
[18]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Art and Spirituality (Albany: State
University of New York Press, 1987), 28–31.
[19]
Annemarie Schimmel, Mystical
Dimensions of Islam (Chapel Hill:
University of North Carolina Press, 1975), 375–380.
[20]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The
Shape of Ideas to Come (London:
Mansell, 1985), 95–99.
[21]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature (New York:
Oxford University Press, 1996), 76–80.
[22]
William C. Chittick, The
Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of
Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 112–116.
[23]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity:
Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 56–59.
[24]
Seyyed Hossein Nasr, An
Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
105–109.
11. Kritik dan Klarifikasi Filosofis
Kajian kosmologi
dalam filsafat Islam, meskipun mencapai kedalaman metafisis dan spiritual yang
tinggi, tidak luput dari kritik internal maupun eksternal. Sejak masa klasik
hingga modern, perdebatan tentang hubungan antara Tuhan dan alam, tentang
emanasi dan penciptaan, serta antara rasio dan wahyu telah menjadi medan
refleksi kritis yang memperkaya dinamika intelektual Islam.¹ Kritik ini tidak
semata bersifat destruktif, tetapi justru berfungsi sebagai sarana klarifikasi
filosofis (taṣḥīḥ falsafī) untuk menegaskan
batas-batas epistemik dan ontologis dari konsep kosmologi itu sendiri.
11.1.
Kritik Teologis terhadap Kosmologi Filsafat
Peripatetik
Kritik paling tajam
terhadap kosmologi emanasi dikemukakan oleh Imam al-Ghazālī (w. 1111 M)
dalam Tahāfut
al-Falāsifah (Kerancuan Para Filsuf).² Ia menuduh
para filsuf, khususnya al-Fārābī dan Ibn Sīnā, telah mengabaikan prinsip dasar
keimanan Islam karena menyatakan bahwa alam bersifat qadīm (kekal) dan Tuhan
tidak mengetahui partikularitas secara detail.³ Menurut al-Ghazālī, pandangan
tersebut menafikan kehendak bebas Tuhan dalam penciptaan dan mengarah pada
determinisme metafisis yang tidak sesuai dengan ajaran wahyu. Ia menegaskan
bahwa Tuhan menciptakan alam ex nihilo (dari ketiadaan), bukan
melalui emanasi niscaya.⁴
Kritik al-Ghazālī
bukan sekadar polemik teologis, melainkan upaya untuk mengembalikan supremasi
wahyu dalam menjelaskan asal-usul kosmos. Namun demikian, para filsuf seperti
Ibn Rushd (Averroes) membela sistem peripatetik dengan menegaskan bahwa emanasi
bukanlah proses temporal, tetapi hubungan kausalitas yang abadi antara Tuhan
dan alam, di mana Tuhan tetap menjadi penyebab pertama yang sadar dan
berkehendak.⁵ Klarifikasi ini menunjukkan bahwa perdebatan antara teologi dan
filsafat lebih bersifat hermeneutik—perbedaan cara menafsirkan hubungan
transendensi dan immanensi Tuhan terhadap ciptaan-Nya.
11.2.
Kritik terhadap Kosmologi Mistis dan Isyraqi
Kosmologi iluminatif
(al-Isyrāqiyyah)
dan mistis (taṣawwuf al-wujūdī) juga menghadapi
kritik, terutama karena dianggap membuka peluang bagi panteisme.⁶ Para teolog
seperti Fakhr al-Dīn al-Rāzī dan Ibn Taymiyyah menolak gagasan wahdat
al-wujūd karena dianggap mengaburkan perbedaan ontologis antara
Tuhan dan makhluk.⁷ Mereka menilai bahwa doktrin “kesatuan eksistensi”
dapat meniadakan prinsip tauhid, sebab jika wujud itu satu, maka segala sesuatu
adalah Tuhan. Namun, para sufi filsuf seperti Ibn ‘Arabī dan Mulla Ṣadrā
memberikan klarifikasi bahwa wahdat al-wujūd bukanlah penyatuan
hakikat Tuhan dengan alam, melainkan kesatuan eksistensi dalam gradasi: hanya
Tuhan yang memiliki wujud mutlak, sementara makhluk hanyalah penampakan (tajallī)
dari wujud tersebut.⁸
Dalam kerangka ini,
istilah “kesatuan” tidak bersifat identitas metafisis mutlak, melainkan
kesatuan analogis (tashkīkī), di mana setiap tingkat
realitas memantulkan intensitas keberadaan Tuhan secara berbeda.⁹ Kritik
teologis terhadap mistisisme Islam akhirnya memperkaya tradisi filsafat Islam
dengan memperjelas batas antara transendensi Ilahi dan imanensi
kosmik.
11.3.
Kritik Modern: Rasionalitas, Sains, dan
Metafisika
Memasuki era modern,
kosmologi Islam menghadapi tantangan dari paradigma sains empiris yang menolak
dimensi metafisis dan teleologis alam semesta.ⁱ⁰ Sejak munculnya kosmologi
mekanistik Newtonian dan teori evolusi Darwin, struktur hierarkis dan spiritual
alam sebagaimana dirumuskan oleh Ibn Sīnā, Suhrawardī, dan Mulla Ṣadrā tampak
bertentangan dengan prinsip kausalitas empiris. Para pemikir modern seperti
Muhammad Iqbal dan Ismail Raji al-Faruqi berupaya merevitalisasi kosmologi Islam
dengan menekankan dimensi dinamis dan moral dari konsep tauhid.¹¹
Iqbal, misalnya,
mengkritik kecenderungan skolastik dalam filsafat Islam yang membekukan
realitas sebagai entitas statis.¹² Ia menafsirkan ulang harakah
jawhariyyah Mulla Ṣadrā sebagai gerak kreatif eksistensial yang
selaras dengan pandangan modern tentang evolusi dan proses. Dengan demikian,
kosmologi Islam tidak harus bertentangan dengan sains, melainkan dapat
menafsirkan hukum-hukum alam sebagai ekspresi dari sunnat Allāh yang rasional dan
spiritual sekaligus.¹³
Kritik modern juga
menyoroti masalah epistemologi: filsafat Islam sering dianggap terlalu
menekankan intuisi mistik sehingga kurang memberikan dasar metodologis bagi
ilmu empiris.¹⁴ Menanggapi hal ini, tokoh seperti Seyyed Hossein Nasr dan Osman
Bakar menegaskan bahwa dalam Islam, sains dan metafisika bukanlah dua sistem
yang terpisah, melainkan dua wajah dari satu kebenaran tauhid.¹⁵ Klarifikasi
ini menjadi penting dalam menghadirkan kembali kosmologi Islam sebagai
paradigma ilmu yang etis, ekologis, dan spiritual di era modern.
11.4.
Klarifikasi Filosofis: Integrasi Rasio, Wahyu,
dan Intuisi
Kritik terhadap
kosmologi Islam, baik dari kalangan teolog, ilmuwan, maupun modernis, pada
akhirnya mendorong lahirnya sintesis baru dalam bentuk hikmah
muta‘āliyah yang diusung oleh Mulla Ṣadrā.¹⁶ Ia mengintegrasikan
tiga sumber kebenaran: rasio (‘aql), wahyu (naql),
dan intuisi (kashf). Melalui konsep ashālat
al-wujūd dan tashkīk al-wujūd, Ṣadrā
menjembatani pertentangan antara penciptaan temporal dan emanasi abadi, antara
transendensi dan immanensi, serta antara akal dan wahyu.¹⁷
Klarifikasi ini
membawa filsafat Islam ke arah epistemologi integral, di mana pengetahuan tidak
hanya dipahami sebagai representasi intelektual, tetapi juga sebagai partisipasi
eksistensial dalam wujud itu sendiri. Dengan demikian, kosmologi Islam mampu
memadukan rasionalitas filosofis, kesadaran spiritual, dan tanggung jawab moral
dalam satu sistem pengetahuan yang koheren.¹⁸
Relevansi Kritik bagi Pengembangan Filsafat
Islam Kontemporer
Kritik-kritik
terhadap kosmologi Islam justru menunjukkan vitalitas tradisi filsafat Islam
sebagai sistem terbuka yang terus berkembang.¹⁹ Ia tidak dogmatis, tetapi
senantiasa mengoreksi diri sesuai tantangan zaman. Dalam konteks kontemporer,
klarifikasi filosofis terhadap kosmologi Islam menegaskan bahwa pandangan
metafisis Islam tetap relevan dalam menjawab krisis modernitas—baik krisis
ekologis, epistemologis, maupun spiritual.²⁰
Kosmos, dalam
pandangan Islam, bukan sekadar objek pengetahuan, tetapi ruang etis dan
spiritual tempat manusia mengenali dirinya sebagai bagian dari tatanan Ilahi.
Kritik dan klarifikasi filosofis terhadap tradisi ini justru memperdalam
kesadaran bahwa keteraturan kosmik dan moral saling terkait: memahami alam berarti
memahami Tuhan, dan memperbaiki dunia berarti menata kembali hubungan antara
ilmu, etika, dan spiritualitas.²¹
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of New York Press, 2006),
195–198.
[2]
Al-Ghazālī, The Incoherence of the
Philosophers, trans. Michael E.
Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2000), 9–12.
[3]
Harry A. Wolfson, The Philosophy of the
Kalam (Cambridge: Harvard University
Press, 1976), 63–67.
[4]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut: Imprimerie Catholique,
1927), 44–49.
[5]
Ibn Rushd, Tahāfut al-Tahāfut (The
Incoherence of the Incoherence),
trans. Simon van den Bergh (London: Luzac, 1954), 84–90.
[6]
Hossein Ziai, Knowledge and
Illumination: A Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 120–124.
[7]
Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Al-Maṭālib
al-‘Āliyah, ed. Ahmad Hijazi
al-Saqqa (Cairo: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1986), 2:130–135.
[8]
William C. Chittick, The
Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989),
112–115.
[9]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Mohammad Khajavi (Tehran: Sadra Islamic
Philosophy Research Institute, 1981), 2:70–74.
[10]
Oliver Leaman, An Introduction to
Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 141–145.
[11]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of
Religious Thought in Islam (Oxford:
Oxford University Press, 1930), 57–61.
[12]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity:
Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 64–67.
[13]
Osman Bakar, Classification of
Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 81–84.
[14]
Ziauddin Sardar, Islamic Science: The
Myth of the Passive Civilization
(London: Mansell, 1989), 88–91.
[15]
Seyyed Hossein Nasr, Man
and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 1997), 23–28.
[16]
Ibrahim Kalin, Knowledge in Later
Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition (Oxford: Oxford University Press, 2010), 144–147.
[17]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra (Albany: State University of
New York Press, 1975), 172–176.
[18]
Henry Corbin, Temple and
Contemplation (London: Kegan Paul
International, 1986), 182–185.
[19]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (New York: Global
Publications, 1998), 57–60.
[20]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Nurin Enterprise, 1991), 61–65.
[21]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 112–116.
12. Relevansi Kontemporer
Kosmologi Islam,
meskipun lahir dalam konteks intelektual abad pertengahan, tetap memiliki relevansi
mendalam dalam konteks kontemporer—baik dalam bidang filsafat,
sains, teologi, maupun etika lingkungan. Ia menawarkan paradigma holistik yang
mengintegrasikan dimensi rasional, spiritual, dan moral dalam memahami
realitas.¹ Dalam situasi dunia modern yang didominasi oleh pandangan
materialistik dan fragmentaris terhadap alam semesta, kosmologi Islam hadir
sebagai kritik filosofis terhadap reduksionisme ilmiah dan sebagai tawaran
epistemologi alternatif yang menempatkan alam dalam relasi sakral dengan Tuhan
dan manusia.²
12.1.
Relevansi terhadap Krisis Modernitas dan
Fragmentasi Pengetahuan
Peradaban modern
mengalami krisis epistemologis dan ontologis akibat terpisahnya sains dari
nilai-nilai etis dan spiritual.³ Pandangan dunia sekuler memandang kosmos
sebagai sistem mekanistik tanpa makna, sehingga pengetahuan kehilangan
orientasi moralnya. Dalam kerangka ini, kosmologi Islam—dengan prinsip tawḥīd
sebagai kesatuan ontologis dan epistemologis—menawarkan sintesis antara ilmu
dan nilai, antara fakta dan makna.⁴
Seyyed Hossein Nasr
menegaskan bahwa akar krisis modernitas terletak pada “de-sakralisasi kosmos.”⁵
Dengan menyingkirkan Tuhan dari pemahaman tentang alam, manusia memutus
hubungan ontologisnya dengan sumber nilai. Kosmologi Islam, sebaliknya,
memandang alam sebagai tanda (āyah) Ilahi, sehingga studi
tentangnya bukan sekadar eksplorasi empiris, tetapi juga kontemplasi
spiritual. Pemulihan dimensi sakral ini penting bagi
rekonstruksi paradigma ilmu yang beretika dan berorientasi pada keseimbangan
kosmik.⁶
Osman Bakar
menambahkan bahwa konsep tawḥīd mampu menjadi dasar bagi
epistemologi integratif modern, di mana rasionalitas ilmiah tidak meniadakan
spiritualitas, melainkan memperluasnya.⁷ Dalam kerangka ini, kosmos tidak hanya
diinterpretasikan melalui hukum-hukum fisik, tetapi juga melalui makna dan
nilai yang terkandung dalam keteraturannya. Relevansi kosmologi Islam terletak
pada kemampuannya untuk mengembalikan makna di tengah krisis modern yang
menuhankan mekanisme tanpa tujuan moral.⁸
12.2.
Kosmologi Islam dan Dialog dengan Sains Modern
Kosmologi Islam
menawarkan paradigma filosofis yang dapat berdialog secara konstruktif dengan
sains modern.⁹ Konsep-konsep seperti harakah jawhariyyah (gerak
substansial) dalam filsafat Mulla Ṣadrā menunjukkan bahwa realitas bersifat
dinamis dan evolusioner, bukan statis.¹⁰ Pemikiran ini dapat disejajarkan
dengan teori kosmologi modern seperti Big Bang atau model ekspansi alam
semesta, namun tetap menekankan bahwa perubahan kosmik memiliki arah teleologis
menuju kesempurnaan Ilahi.¹¹
Selain itu, gagasan
tentang tashkīk
al-wujūd (gradasi eksistensi) dapat menjadi dasar bagi
reinterpretasi hubungan antara materi dan energi dalam fisika modern. Dalam
kerangka ini, realitas fisik dipandang sebagai tingkat eksistensi terendah dari
wujud, sedangkan kesadaran dan spiritualitas merupakan intensitas tertinggi.¹²
Dengan demikian, kosmologi Islam memberikan model hierarkis non-dualistik yang
mampu menyatukan temuan empiris sains dengan metafisika spiritual.
Beberapa ilmuwan
Muslim kontemporer seperti Mehdi Golshani dan Basil Altaie berusaha membangun
jembatan antara kosmologi Qur’ani dan fisika teoretis.¹³ Mereka menegaskan
bahwa hukum-hukum alam yang ditemukan oleh sains bukanlah pengganti Tuhan,
melainkan manifestasi dari kehendak dan kebijaksanaan-Nya (sunnat
Allāh). Dalam konteks ini, kosmologi Islam memperkaya sains dengan
makna etis, menolak nihilisme saintifik, dan mengembalikan dimensi transenden
dalam kajian alam.¹⁴
12.3.
Dimensi Ekologis dan Etika Lingkungan Global
Relevansi lain dari
kosmologi Islam tampak dalam ranah etika lingkungan. Krisis
ekologis global, yang dipicu oleh eksploitasi alam tanpa batas, mencerminkan
kegagalan peradaban modern dalam memahami nilai sakral kosmos.¹⁵ Dalam
perspektif Islam, alam adalah amanah (titipan) dan āyah
(tanda) Tuhan, bukan sekadar sumber daya material. Prinsip tawḥīd
menegaskan kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam, sehingga kerusakan
ekologis merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum Ilahi.¹⁶
Etika kosmologis
Islam menyerukan pendekatan spiritual terhadap lingkungan: menjaga alam berarti
menjaga hubungan eksistensial dengan Tuhan.¹⁷ M. Izzi Dien dan Fazlun Khalid
menekankan bahwa dalam Islam, tanggung jawab ekologis bersifat teologis, bukan
hanya moral.¹⁸ Manusia bertugas menegakkan keseimbangan (mīzān)
sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Rahmān (55) ayat 7–9. Pandangan ini
menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya kebutuhan ekologis, tetapi
juga ekspresi dari ibadah kosmik yang menegakkan harmoni Ilahi.¹⁹
12.4.
Relevansi Sosial dan Spiritual di Era
Globalisasi
Kosmologi Islam juga
menawarkan visi humanistik dan spiritual
di tengah krisis globalisasi yang menimbulkan alienasi dan dehumanisasi.²⁰
Dalam sistem nilai Islam, keteraturan kosmos menjadi cermin keteraturan moral
dan sosial: masyarakat yang harmonis adalah masyarakat yang selaras dengan
hukum Ilahi sebagaimana alam tunduk kepada sunnatullah.²¹
Dalam konteks
spiritualitas global, kosmologi Islam mengajarkan ta‘ammul al-kawn—perenungan
terhadap alam—sebagai sarana pembentukan kesadaran ekologis dan eksistensial.²²
Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan kitab terbuka (kitāb
al-kawn) yang mengandung ayat -ayat kebijaksanaan Tuhan.²³ Dengan
demikian, kesadaran kosmologis dapat melahirkan spiritualitas ekologis dan
etika global baru yang menolak sekularisme ekstrem sekaligus fundamentalisme
sempit.²⁴
Reorientasi Kosmologi Islam di Abad 21
Pada abad ke-21,
pengembangan kosmologi Islam tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi juga
agenda peradaban.²⁵ Ia perlu diaktualisasikan dalam pendidikan, sains, dan
kebijakan publik. Osman Bakar mengusulkan integrasi “sains sakral” ke
dalam sistem pendidikan Islam agar generasi baru tidak terjebak dalam dikotomi
antara agama dan sains.²⁶ Selain itu, proyek “Islamisasi pengetahuan”
seperti yang digagas oleh Ismail al-Faruqi dan Syed Naquib al-Attas menegaskan
pentingnya menghidupkan kembali kerangka kosmologis Islam sebagai fondasi
epistemologi ilmiah dan moral masyarakat Muslim kontemporer.²⁷
Akhirnya, relevansi
kosmologi Islam di era modern terletak pada kemampuannya untuk mengembalikan
kesatuan pengetahuan, nilai, dan spiritualitas.²⁸ Ia menuntun
manusia untuk melihat alam bukan sekadar secara mekanistik, tetapi sebagai
manifestasi Ilahi yang mengandung kebijaksanaan dan tanggung jawab moral. Dalam
dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi, kosmologi Islam menghadirkan
jalan tengah antara sains dan iman, antara akal dan wahyu, antara materi dan
makna.²⁹
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 121–124.
[2]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The
Shape of Ideas to Come (London:
Mansell, 1985), 81–85.
[3]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity:
Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 92–95.
[4]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Nurin Enterprise, 1991), 41–44.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Man
and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 1997), 16–20.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature (New York:
Oxford University Press, 1996), 37–41.
[7]
Osman Bakar, Classification of
Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 94–98.
[8]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (New York: Global
Publications, 1998), 61–65.
[9]
Henry Corbin, History of Islamic
Philosophy, trans. Liadain Sherrard
(London: Kegan Paul, 1993), 334–338.
[10]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra (Albany: State University of
New York Press, 1975), 177–180.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, An
Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
101–104.
[12]
Ibrahim Kalin, Knowledge in Later
Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition (Oxford: Oxford University Press, 2010), 152–155.
[13]
Mehdi Golshani, Issues in Islam and
Science (Tehran: Institute for
Humanities and Cultural Studies, 2004), 88–92.
[14]
Basil Altaie, God, Nature, and the
Cause: Essays on Islam and Science
(London: Ta-Ha Publishers, 2016), 23–28.
[15]
Fazlun Khalid, Islam and the
Environment (London: Ta-Ha
Publishers, 2002), 20–24.
[16]
M. Izzi Dien, The Environmental
Dimensions of Islam (Cambridge: The
Islamic Foundation, 2000), 33–36.
[17]
Seyyed Hossein Nasr, Islam
and the Plight of Modern Man
(London: Routledge, 2002), 74–78.
[18]
M. Izzi Dien and Fazlun Khalid, Islam
and Ecology: A Bestowed Trust
(Cambridge: Harvard University Press, 2003), 12–16.
[19]
Al-Qur’an, Surah al-Rahmān (55) ayat 7–9.
[20]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 105–108.
[21]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: State University of New York Press, 2006), 203–207.
[22]
Oliver Leaman, An Introduction to
Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 156–160.
[23]
Henry Corbin, Creative Imagination in
the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton:
Princeton University Press, 1969), 130–134.
[24]
William C. Chittick, The
Self-Disclosure of God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (Albany: State University of New York Press, 1998),
140–144.
[25]
Osman Bakar, Contemporary Muslim
Intellectuals and Their Thoughts
(Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2012), 77–80.
[26]
Osman Bakar, Classification of Knowledge
in Islam, 112–116.
[27]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam
and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM,
1978), 97–101.
[28]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature, 57–61.
[29]
William C. Chittick, The
Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of
Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 132–136.
13. Sintesis Filosofis
Kosmologi Islam
merupakan hasil dialektika panjang antara wahyu, rasio, dan intuisi yang
membentuk sistem metafisis yang utuh dan dinamis.¹ Dalam sejarahnya, pemikiran
kosmologis Islam berkembang melalui tiga poros utama: rasionalitas filsafat
Peripatetik (al-Masysyā’iyyah), iluminasi spiritual Isyraqi (al-Isyrāqiyyah),
dan mistisisme metafisis wahdat al-wujūd dalam tradisi
tasawuf falsafi.² Ketiganya, meskipun tampak berbeda, berpadu dalam suatu
sintesis yang menegaskan kesatuan eksistensi, keteraturan kosmos, dan
keterpaduan antara pengetahuan rasional dan pengalaman spiritual.³
13.1.
Kesatuan Ontologis: Dari Multiplikasi Menuju
Kesatuan Wujud
Sintesis pertama
yang muncul dalam kosmologi Islam adalah penegasan kesatuan ontologis realitas.
Dalam sistem Ibn Sīnā, struktur kosmos dijelaskan secara hierarkis melalui
mekanisme emanasi dari Tuhan (al-Wājib al-Wujūd) menuju entitas
yang lebih rendah, seperti akal, jiwa, dan materi.⁴ Suhrawardī kemudian
memperkaya struktur tersebut dengan mengganti metafora intelektual menjadi
metafora cahaya (nūr), yang menunjukkan bahwa
keberagaman realitas hanyalah perbedaan tingkat intensitas cahaya Ilahi.⁵
Akhirnya, Mulla Ṣadrā
menyatukan dua arus tersebut melalui doktrin asālat al-wujūd (primasi
eksistensi) dan tashkīk al-wujūd (gradasi
eksistensi), sehingga realitas dipahami bukan sebagai kumpulan entitas
terpisah, tetapi sebagai satu wujud yang bertingkat-tingkat.⁶
Dalam pandangan ini, pluralitas kosmik tidak meniadakan kesatuan metafisis,
melainkan menegaskan keanekaragaman dalam kesatuan Ilahi (al-wahdah
fī al-kathrah). Dengan demikian, kosmos tidak dipahami sebagai
ciptaan yang terpisah dari Tuhan, tetapi sebagai manifestasi dari
keberadaan-Nya yang terus menerus (tajallī dā’im).⁷
Sintesis ontologis
ini menjembatani dua ekstrem dalam teologi dan filsafat: di satu sisi menjaga
transendensi Tuhan sebagaimana ditegaskan oleh teolog Asy‘ariyyah, dan di sisi
lain mengakui immanensi Tuhan dalam kosmos sebagaimana ditekankan oleh para
sufi.⁸ Dengan begitu, kosmologi Islam melahirkan pandangan dunia yang tidak
dualistik—Tuhan dan alam tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam
hubungan ontologis yang hierarkis dan harmonis.⁹
13.2.
Kesatuan Epistemologis: Rasio, Wahyu, dan
Intuisi
Sintesis kedua
terdapat pada ranah epistemologi, di mana
kosmologi Islam berhasil menyatukan tiga sumber pengetahuan: rasio (‘aql),
wahyu (naql),
dan intuisi (kashf).¹⁰ Filsafat Peripatetik
menekankan rasionalitas deduktif dan argumentatif, sementara tradisi Isyraqi
menegaskan pengetahuan iluminatif yang diperoleh melalui penyinaran batin.
Tasawuf metafisis kemudian menambahkan dimensi pengalaman langsung terhadap
realitas Ilahi melalui penyaksian (mushāhadah).
Mulla Ṣadrā, sebagai
puncak sintesis epistemologis Islam, menegaskan bahwa pengetahuan sejati adalah
‘ilm ḥuḍūrī—pengetahuan
yang diperoleh melalui kehadiran langsung objek dalam kesadaran subjek.¹¹ Dalam
kerangka ini, mengetahui bukan sekadar mengabstraksi konsep, tetapi mengalami
realitas eksistensial secara langsung. Rasio berfungsi sebagai sarana analisis,
wahyu sebagai sumber kebenaran absolut, dan intuisi sebagai pengalaman
eksistensial yang memverifikasi keduanya.¹²
Sintesis
epistemologis ini membedakan kosmologi Islam dari sistem rasionalisme Barat
modern yang cenderung memisahkan ilmu dari nilai. Dalam Islam, setiap
pengetahuan bersifat sakral karena berpangkal pada kesatuan wujud dan
berorientasi kepada Tuhan sebagai kebenaran tertinggi (al-ḥaqq).¹³
Dengan demikian, epistemologi Islam tidak bersifat reduksionis, tetapi
integratif, menyatukan dimensi intelektual, moral, dan spiritual dalam satu
kesadaran tauhid.
13.3.
Kesatuan Aksiologis: Etika Kosmik dan Tanggung
Jawab Eksistensial
Sintesis ketiga
terletak pada dimensi aksiologis, yang
menegaskan keterkaitan antara struktur kosmos dan etika manusia.¹⁴ Alam
semesta, dalam pandangan Islam, bukan sekadar objek observasi, tetapi ruang
moral yang merefleksikan kehendak dan kebijaksanaan Tuhan. Sebagaimana
keteraturan kosmos mencerminkan harmoni Ilahi, demikian pula tatanan sosial dan
moral manusia harus mencerminkan keadilan dan keseimbangan (mīzān).¹⁵
Etika kosmologis ini
berpuncak pada kesadaran bahwa manusia sebagai khalīfah fī al-arḍ memiliki
tanggung jawab eksistensial terhadap ciptaan lain.¹⁶ Mulla Ṣadrā menafsirkan
tindakan etis sebagai proses intensifikasi wujud: semakin bermoral seseorang,
semakin tinggi pula tingkat eksistensinya.¹⁷ Maka, etika bukan hanya persoalan
perilaku sosial, tetapi juga perjalanan ontologis menuju kesempurnaan
spiritual. Dengan demikian, kebaikan moral identik dengan partisipasi dalam
kesempurnaan kosmik Ilahi.¹⁸
Pandangan ini
melahirkan sistem aksiologi yang berakar pada prinsip tauhid: seluruh nilai
kebaikan dan keindahan bersumber dari Tuhan dan terpantul dalam keteraturan
alam.¹⁹ Etika kosmik Islam dengan demikian bersifat universal dan ekologis,
menuntut manusia untuk hidup selaras dengan hukum-hukum Ilahi yang mengatur
seluruh ciptaan.²⁰
13.4.
Integrasi Spiritualitas dan Rasionalitas dalam
Filsafat Islam
Salah satu capaian
terbesar kosmologi Islam adalah kemampuannya mengintegrasikan spiritualitas dan
rasionalitas tanpa reduksi atau subordinasi.²¹ Suhrawardī dan Ibn ‘Arabī
menunjukkan bahwa rasio tanpa pencerahan batin akan kering, sedangkan intuisi
tanpa rasio akan kehilangan struktur konseptual.²² Dalam al-Ḥikmah
al-Muta‘āliyah, Mulla Ṣadrā menyintesiskan keduanya: filsafat
menjadi jalan spiritual (sayr falsafī) dan spiritualitas
menjadi jalan pengetahuan rasional (sayr ‘irfānī).²³
Dengan demikian,
filsafat Islam tidak memisahkan metafisika dari etika, atau kosmologi dari
teologi. Ia menampilkan model berpikir yang holistik dan hirarkis, di mana
realitas dipahami sebagai kesatuan eksistensi yang dihayat i secara intelektual
dan spiritual.²⁴ Paradigma ini menjadi fondasi bagi visi Islam tentang ilmu
pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban yang berpusat pada nilai sakral.
Sintesis dalam Konteks Modern: Ontologi Tauhid
sebagai Paradigma Integratif
Dalam konteks
modern, sintesis filosofis kosmologi Islam menawarkan paradigma
integratif bagi krisis epistemologis dan etis yang dihadapi
dunia kontemporer.²⁵ Prinsip tawḥīd dapat dijadikan dasar bagi
penyatuan berbagai disiplin ilmu yang kini tercerai-berai: fisika dengan
metafisika, etika dengan sains, dan spiritualitas dengan teknologi.²⁶ Pandangan
ini menegaskan bahwa semua pengetahuan sejati harus mengarah pada pengenalan
terhadap Tuhan dan keterpaduan realitas.²⁷
Dengan memadukan
rasio filosofis, iluminasi spiritual, dan wahyu keagamaan, kosmologi Islam
menghadirkan visi dunia yang memadukan kebijaksanaan intelektual, kesadaran
moral, dan kedalaman spiritual.²⁸ Sintesis inilah yang menjadi warisan
abadi filsafat Islam: suatu cara berpikir yang tidak menolak modernitas, tetapi
menuntun manusia kembali pada akar kosmik dan spiritual keberadaannya.²⁹
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of New York Press, 2006),
211–214.
[2]
Majid Fakhry, A History of Islamic
Philosophy, 3rd ed. (New York:
Columbia University Press, 2004), 91–94.
[3]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 98–102.
[4]
Al-Fārābī, The Principles of the
Opinions of the Citizens of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Clarendon Press,
1985), 89–92.
[5]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat
al-Ishrāq, trans. John Walbridge and
Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press, 1999), 122–126.
[6]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Mohammad Khajavi (Tehran: Sadra Islamic
Philosophy Research Institute, 1981), 1:54–57.
[7]
Henry Corbin, Creative Imagination in
the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton:
Princeton University Press, 1969), 108–111.
[8]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, trans. Nabih Amin Faris (Beirut: Dar al-Kitab
al-‘Arabi, 1966), 22–24.
[9]
Seyyed Hossein Nasr, An
Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
105–109.
[10]
Hossein Ziai, Knowledge and
Illumination: A Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 127–130.
[11]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The
Principles of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence (Albany: State University of New York Press, 1992),
97–100.
[12]
Ibrahim Kalin, Knowledge in Later
Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition (Oxford: Oxford University Press, 2010), 162–166.
[13]
Osman Bakar, Classification of
Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 81–85.
[14]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 99–103.
[15]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra (Albany: State University of
New York Press, 1975), 189–192.
[16]
M. Izzi Dien, The Environmental
Dimensions of Islam (Cambridge: The
Islamic Foundation, 2000), 41–44.
[17]
William C. Chittick, The
Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of
Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 121–125.
[18]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature (New York:
Oxford University Press, 1996), 91–94.
[19]
Fazlun Khalid, Islam and the
Environment (London: Ta-Ha
Publishers, 2002), 17–19.
[20]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The
Shape of Ideas to Come (London:
Mansell, 1985), 110–113.
[21]
Henry Corbin, Temple and
Contemplation (London: Kegan Paul
International, 1986), 190–193.
[22]
William C. Chittick, The
Self-Disclosure of God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (Albany: State University of New York Press, 1998),
150–154.
[23]
Seyyed Hossein Nasr, Three
Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardi, Ibn Arabi (Cambridge: Harvard University Press, 1964), 107–110.
[24]
Oliver Leaman, An Introduction to
Classical Islamic Philosophy (Cambridge:
Cambridge University Press, 1985), 166–170.
[25]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Nurin Enterprise, 1991), 71–75.
[26]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam
and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM,
1978), 104–107.
[27]
Mehdi Golshani, Issues in Islam and
Science (Tehran: Institute for
Humanities and Cultural Studies, 2004), 100–104.
[28]
Seyyed Hossein Nasr, Man
and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 1997), 31–35.
[29]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul,
144–148.
14. Kesimpulan
Kosmologi dalam
filsafat Islam merupakan sintesis paling komprehensif antara wahyu, akal, dan
intuisi yang pernah dikembangkan dalam sejarah pemikiran manusia.¹ Ia bukan
sekadar sistem penjelasan tentang struktur fisik alam semesta, tetapi sebuah
visi ontologis dan spiritual tentang realitas sebagai manifestasi Ilahi
(tajallī
ilāhī). Dengan menjadikan tawḥīd sebagai prinsip tertinggi,
kosmologi Islam menempatkan seluruh wujud dalam satu kesatuan hierarkis yang
bergradasi dari Tuhan sebagai al-Wujūd al-Muṭlaq hingga
realitas-material paling rendah.² Pandangan ini menolak dualisme radikal antara
Tuhan dan alam, antara roh dan materi, serta antara akal dan iman; sebaliknya,
ia menegaskan adanya keterhubungan ontologis yang menyatukan segala eksistensi
di bawah prinsip kesatuan Ilahi.³
14.1.
Integrasi Metafisika, Epistemologi, dan
Aksiologi
Kosmologi Islam
menunjukkan bahwa seluruh dimensi pengetahuan saling terikat dalam kerangka tauhid.⁴
Secara metafisis,
alam dipahami sebagai pancaran (fayḍ) dari sumber wujud yang
tunggal, tempat segala entitas memperoleh keberadaannya sesuai kadar
eksistensinya (tashkīk al-wujūd).⁵ Secara epistemologis,
manusia tidak hanya mengenal realitas melalui rasio, tetapi juga melalui
iluminasi batin dan wahyu yang bersumber dari Tuhan.⁶ Dan secara aksiologis,
struktur kosmos mengandung nilai etis dan teleologis: setiap entitas memiliki
tujuan yang mengarah pada kesempurnaan Ilahi.⁷ Dengan demikian, seluruh dimensi
pengetahuan dan moralitas berpuncak pada kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam
seluruh ciptaan.
Dalam sistem ini,
pengetahuan bukanlah akumulasi informasi, tetapi penyingkapan eksistensial terhadap
makna Ilahi yang termanifestasi dalam kosmos.⁸ Alam semesta bukan sekadar “objek
sains,” melainkan kitab terbuka (kitāb al-kawn) yang menuliskan ayat
-ayat Tuhan dalam bentuk keteraturan, keindahan, dan gerak eksistensial
menuju-Nya.⁹ Pandangan semacam ini menempatkan manusia sebagai subjek yang aktif
sekaligus sakral: ia bukan penguasa atas alam, tetapi penafsir
makna Ilahi dalam tatanan kosmik.
14.2.
Dialektika Rasionalitas dan Spiritualitas
Kosmologi Islam
berhasil menjaga keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas. Dari
al-Fārābī dan Ibn Sīnā, muncul struktur rasional tentang keteraturan alam yang
bersumber dari prinsip kausalitas intelektual.¹⁰ Dari Suhrawardī, muncul
dimensi iluminatif yang menafsirkan kosmos sebagai jaringan cahaya Ilahi.¹¹ Dan
dari Ibn ‘Arabī serta Mulla Ṣadrā, muncul integrasi yang lebih tinggi di mana
wujud dipahami sebagai proses dinamis menuju kesempurnaan eksistensial.¹²
Melalui perpaduan
ini, filsafat Islam menghadirkan kosmologi dinamis yang
memandang realitas bukan sebagai entitas statis, tetapi sebagai gerak substansial
(harakah
jawhariyyah) yang senantiasa menuju Tuhan.¹³ Alam semesta adalah
teofani yang hidup, di mana setiap gerak dan perubahan merupakan cermin dari
kehendak Ilahi. Pemikiran semacam ini memiliki daya relevansi lintas zaman
karena tidak hanya memberikan penjelasan logis tentang struktur kosmos, tetapi
juga membimbing manusia menuju kesadaran spiritual yang mendalam.¹⁴
14.3.
Relevansi bagi Peradaban Modern
Dalam konteks
modern, kosmologi Islam menghadirkan kritik mendasar terhadap krisis spiritual
dan ekologis yang dihasilkan oleh paradigma materialistik.¹⁵ Dengan menegaskan
kembali kesakralan alam, ia mengajarkan bahwa eksploitasi terhadap bumi berarti
pelanggaran terhadap tatanan Ilahi (sunnat Allāh).¹⁶ Pandangan
kosmologis Islam mengembalikan manusia kepada fungsi asalnya sebagai khalīfah
fī al-arḍ—pengelola yang bertanggung jawab, bukan dominator.¹⁷
Selain itu,
integrasi antara wahyu dan rasio dalam kosmologi Islam memberi arah baru bagi
perkembangan sains yang berlandaskan nilai.¹⁸ Sains dalam pandangan Islam
bukanlah alat kekuasaan, tetapi bentuk ibadah intelektual untuk membaca
tanda-tanda Tuhan di alam.¹⁹ Dengan demikian, rekonstruksi ilmu modern
berdasarkan kosmologi Islam akan menghasilkan paradigma pengetahuan yang etis,
ekologis, dan spiritual, sekaligus membebaskan manusia dari fragmentasi
epistemik modernitas.²⁰
14.4.
Kesatuan Manusia, Alam, dan Tuhan
Kosmologi Islam
menegaskan bahwa seluruh realitas merupakan sistem keterpaduan Ilahi di mana
Tuhan adalah asal, alam adalah manifestasi, dan manusia adalah cermin
kesadaran-Nya.²¹ Manusia tidak dapat memahami dirinya tanpa memahami kosmos,
karena keduanya merupakan dua aspek dari satu gerak ontologis yang sama.²² Oleh
karena itu, mengenal alam berarti mengenal diri, dan mengenal diri berarti
mengenal Tuhan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: “Man
‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengenal
dirinya, maka ia mengenal Tuhannya).²³
Sintesis akhir dari
seluruh tradisi filsafat Islam menunjukkan bahwa alam semesta adalah simbol
kesempurnaan Tuhan yang hidup dan bergerak.²⁴ Setiap wujud di dalamnya
berpartisipasi dalam harmoni Ilahi yang abadi. Kesadaran terhadap realitas ini
menumbuhkan etika kosmik, spiritualitas ekologis, dan ilmu yang terarah pada
kebenaran yang menyeluruh.²⁵
Penutup: Kembali ke Tauhid sebagai Inti
Kosmologi
Akhirnya, seluruh
perjalanan intelektual kosmologi Islam bermuara pada prinsip tunggal: tauḥīd.²⁶
Prinsip ini bukan hanya pernyataan teologis, melainkan asas
ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang menuntun seluruh
pengetahuan dan tindakan manusia. Dalam tauhid, alam, manusia, dan Tuhan berada
dalam hubungan partisipatif yang saling menyingkap makna eksistensial.²⁷
Dengan demikian,
kosmologi Islam bukan hanya sistem filsafat tentang alam, tetapi juga kerangka
spiritual bagi pembentukan peradaban yang berkeadilan, beretika, dan
berkesadaran Ilahi.²⁸ Ia mengajarkan bahwa untuk membangun dunia yang
berkelanjutan, manusia harus terlebih dahulu menata kembali hubungannya dengan
Tuhan dan kosmos.²⁹ Sebab, di balik keteraturan semesta, selalu terdapat
kehadiran Tuhan yang menuntun setiap gerak eksistensi menuju kesempurnaan
abadi.³⁰
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 121–124.
[2]
Majid Fakhry, A History of Islamic
Philosophy, 3rd ed. (New York:
Columbia University Press, 2004), 91–95.
[3]
Henry Corbin, History of Islamic
Philosophy, trans. Liadain Sherrard
(London: Kegan Paul, 1993), 324–328.
[4]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Nurin Enterprise, 1991), 51–55.
[5]
Mulla Ṣadrā, Al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Mohammad Khajavi (Tehran: Sadra Islamic
Philosophy Research Institute, 1981), 1:54–57.
[6]
Hossein Ziai, Knowledge and
Illumination: A Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 132–136.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of New York Press, 2006),
217–220.
[8]
Mehdi Ha’iri Yazdi, The
Principles of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence (Albany: State University of New York Press, 1992),
97–100.
[9]
Seyyed Hossein Nasr, An
Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Albany: State University of New York Press, 1993),
101–104.
[10]
Al-Fārābī, The Principles of the
Opinions of the Citizens of the Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford: Clarendon Press,
1985), 70–75.
[11]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat
al-Ishrāq, trans. John Walbridge and
Hossein Ziai (Provo: Brigham Young University Press, 1999), 124–127.
[12]
William C. Chittick, The
Self-Disclosure of God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology (Albany: State University of New York Press, 1998),
140–144.
[13]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla
Sadra (Albany: State University of
New York Press, 1975), 189–192.
[14]
Henry Corbin, Temple and
Contemplation (London: Kegan Paul
International, 1986), 182–185.
[15]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The
Shape of Ideas to Come (London:
Mansell, 1985), 97–101.
[16]
M. Izzi Dien, The Environmental
Dimensions of Islam (Cambridge: The
Islamic Foundation, 2000), 41–45.
[17]
Fazlun Khalid, Islam and the
Environment (London: Ta-Ha
Publishers, 2002), 20–24.
[18]
Osman Bakar, Classification of
Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 91–94.
[19]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (New York: Global
Publications, 1998), 57–60.
[20]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature (New York:
Oxford University Press, 1996), 47–51.
[21]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 112–116.
[22]
Seyyed Hossein Nasr, Man
and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 1997), 31–34.
[23]
Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, trans. Ralph Austin (London: George Allen &
Unwin, 1980), 87–89.
[24]
Henry Corbin, Creative Imagination in
the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton:
Princeton University Press, 1969), 127–130.
[25]
William C. Chittick, The
Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of
Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 135–138.
[26]
Seyyed Hossein Nasr, Islam
and the Plight of Modern Man
(London: Routledge, 2002), 80–84.
[27]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam
and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM,
1978), 97–101.
[28]
Osman Bakar, Contemporary Muslim
Intellectuals and Their Thoughts
(Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2012), 88–91.
[29]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge
and the Sacred, 141–145.
[30]
William C. Chittick, Science
of the Cosmos, Science of the Soul,
145–148.
Daftar Pustaka
Al-Fārābī. (1985). The Principles of the
Opinions of the Citizens of the Virtuous City (R. Walzer, Trans.).
Clarendon Press.
Al-Ghazālī. (1927). Tahāfut al-Falāsifah (M.
Bouyges, Ed.). Imprimerie Catholique.
Al-Ghazālī. (1966). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (N.
A. Faris, Trans.). Dar al-Kitab al-‘Arabi.
Al-Ghazālī. (2000). The Incoherence of the
Philosophers (M. E. Marmura, Trans.). Brigham Young University Press.
Al-Qur’an al-Karim.
Altaie, B. (2016). God, Nature, and the Cause: Essays
on Islam and Science. Ta-Ha Publishers.
Bakar, O. (1991). Tawhid and Science: Essays on
the History and Philosophy of Islamic Science. Nurin Enterprise.
Bakar, O. (1998). Classification of Knowledge in
Islam. Islamic Texts Society.
Bakar, O. (2012). Contemporary Muslim
Intellectuals and Their Thoughts. Islamic Book Trust.
Burckhardt, T. (1976). Art of Islam: Language
and Meaning. World of Islam Festival Publishing.
Chittick, W. C. (1989). The Sufi Path of
Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. State University of
New York Press.
Chittick, W. C. (1998). The Self-Disclosure of
God: Principles of Ibn al-‘Arabi’s Cosmology. State University of New York
Press.
Chittick, W. C. (2001). The Heart of Islamic
Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of Afdal al-Din
Kashani. Oxford University Press.
Chittick, W. C. (2007). Science of the Cosmos,
Science of the Soul. Oneworld.
Corbin, H. (1969). Creative Imagination in the
Sufism of Ibn ‘Arabi. Princeton University Press.
Corbin, H. (1986). Temple and Contemplation.
Kegan Paul International.
Corbin, H. (1993). History of Islamic Philosophy
(L. Sherrard, Trans.). Kegan Paul.
Davidson, H. A. (1992). Alfarabi, Avicenna, and
Averroes on Intellect: Their Cosmologies, Theories of the Active Intellect, and
Theories of Human Intellect. Oxford University Press.
Dien, M. I. (2000). The Environmental Dimensions
of Islam. The Islamic Foundation.
Dien, M. I., & Khalid, F. (2003). Islam and
Ecology: A Bestowed Trust. Harvard University Press.
Fakhry, M. (2004). A History of Islamic
Philosophy (3rd ed.). Columbia University Press.
Faruqi, I. R. al-. (1982). Islamization of
Knowledge: General Principles and Work Plan. International Institute of
Islamic Thought.
Fazlur Rahman. (1975). The Philosophy of Mulla
Sadra. State University of New York Press.
Fazlur Rahman. (1982). Islam and Modernity:
Transformation of an Intellectual Tradition. University of Chicago Press.
Ghazali, F. K., & Khalid, F. (2002). Islam
and the Environment. Ta-Ha Publishers.
Golshani, M. (1998). The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature. Global Publications.
Golshani, M. (2004). Issues in Islam and
Science. Institute for Humanities and Cultural Studies.
Gutas, D. (1998). Greek Thought, Arabic Culture.
Routledge.
Goodman, L. E. (1992). Avicenna. Routledge.
Ha’iri Yazdi, M. (1992). The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. State University
of New York Press.
Iqbal, M. (1930). The Reconstruction of
Religious Thought in Islam. Oxford University Press.
Izutsu, T. (1984). Sufism and Taoism: A
Comparative Study of Key Philosophical Concepts. University of California
Press.
Izzi Dien, M. (2000). The Environmental
Dimensions of Islam. The Islamic Foundation.
Kalin, I. (2010). Knowledge in Later Islamic
Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition. Oxford
University Press.
Khalid, F. (2002). Islam and the Environment.
Ta-Ha Publishers.
Leaman, O. (1985). An Introduction to Classical
Islamic Philosophy. Cambridge University Press.
Lindberg, D. C. (1992). The Beginnings of
Western Science. University of Chicago Press.
Makdisi, G. (1981). The Rise of Colleges:
Institutions of Learning in Islam and the West. Edinburgh University Press.
McGinnis, J., & Reisman, D. C. (Eds.). (2007). Classical
Arabic Philosophy: An Anthology of Sources. Hackett Publishing.
Nasr, S. H. (1964). Three Muslim Sages:
Avicenna, Suhrawardi, Ibn Arabi. Harvard University Press.
Nasr, S. H. (1968). Science and Civilization in
Islam. Harvard University Press.
Nasr, S. H. (1976). Islamic Science: An
Illustrated Study. World of Islam Festival Publishing.
Nasr, S. H. (1987). Islamic Art and Spirituality.
State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the Sacred.
State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1993). An Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines. State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of
Nature. Oxford University Press.
Nasr, S. H. (1997). Man and Nature: The
Spiritual Crisis of Modern Man. ABC International Group.
Nasr, S. H. (2002). Islam and the Plight of
Modern Man. Routledge.
Nasr, S. H. (2006). Islamic Philosophy from Its
Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. State University
of New York Press.
Rahman, F. (1959). Avicenna’s Psychology: An
English Translation of Kitāb al-Najāt, Book II, Chapter VI. Oxford
University Press.
Rizvi, S. (2009). Mulla Sadra and Metaphysics:
Modulation of Being. Routledge.
Sabra, A. I. (2005). Science and philosophy in
medieval Islamic theology. In P. Adamson & R. C. Taylor (Eds.), The
Cambridge Companion to Arabic Philosophy (pp. 37–41). Cambridge University
Press.
Sardar, Z. (1985). Islamic Futures: The Shape of
Ideas to Come. Mansell.
Sardar, Z. (1989). Islamic Science: The Myth of
the Passive Civilization. Mansell.
Schimmel, A. (1975). Mystical Dimensions of
Islam. University of North Carolina Press.
Suhrawardī, S. al-D. (1999). The Philosophy of
Illumination (Ḥikmat al-Ishrāq) (J. Walbridge & H. Ziai,
Trans.). Brigham Young University Press.
Wolfson, H. A. (1976). The Philosophy of the
Kalam. Harvard University Press.
Yazdi, M. H. (1992). The Principles of
Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. State University
of New York Press.
Ziai, H. (1990). Knowledge and Illumination: A
Study of Suhrawardi’s Hikmat al-Ishraq. Scholars Press.
Ziai, H. (1999). The Book of Radiance: Hikmat
al-Ishraq. Routledge.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar