Konsep Ketuhanan dalam Tradisi
Abrahamik
Analisis Komparatif atas Tuhan dalam Yahudi, Kristen,
dan Islam
Alihkan ke: Kuliah S1 Filsafat.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif konsep
Tuhan dalam tiga agama besar Abrahamik—Yahudi, Kristen, dan Islam—dalam
perspektif filosofis, historis, dan teologis. Penelitian ini berupaya
menyingkap akar genealogi monoteisme dari tradisi Ibrani kuno hingga
pembentukan teologi rasional di dunia Islam klasik, sekaligus menelusuri
bagaimana pemahaman tentang Tuhan berkembang menjadi sistem nilai, hukum, dan
kebudayaan. Melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis,
artikel ini membandingkan struktur konseptual Ketuhanan dalam tiga tradisi
tersebut: transendensi etis dalam Yudaisme, imanensi kasih dalam Kekristenan,
dan keesaan metafisis (tauhid) dalam Islam.
Selain itu, kajian ini menelaah dimensi sosial dan
intelektual Ketuhanan—bagaimana ide tentang Tuhan membentuk struktur
masyarakat, legitimasi politik, serta mendorong lahirnya tradisi ilmu dan
filsafat. Di bagian kritik dan klarifikasi filosofis, artikel ini menyoroti
ketegangan antara iman dan rasio, transendensi dan imanensi, serta keterbatasan
bahasa manusia dalam mengungkap hakikat Ilahi. Relevansi kontemporer dibahas
dalam konteks sekularisasi, dialog antaragama, spiritualitas modern, serta
krisis etika global, di mana Tuhan kembali dipahami sebagai horizon moral dan
sumber makna universal.
Melalui sintesis filosofis, artikel ini
menyimpulkan bahwa ketiga tradisi Abrahamik berpadu dalam satu kesadaran
metafisis: Tuhan adalah realitas tunggal yang menjadi dasar ontologis, sumber
kebenaran, dan tujuan akhir kehidupan manusia. Meskipun berbeda dalam ekspresi
teologis, ketiganya menegaskan satu pesan universal—bahwa mengenal Tuhan
berarti menegakkan kemanusiaan, keadilan, dan kasih sebagai wujud tertinggi
dari pengenalan terhadap Yang Ilahi.
Kata Kunci: Tuhan,
Monoteisme, Yahudi, Kristen, Islam, Filsafat Ketuhanan, Ontologi, Epistemologi,
Aksiologi, Dialog Antaragama, Spiritualitas Universal.
PEMBAHASAN
Bagaimana Tuhan Dipahami dalam Tiga Agama Samawi?
1.
Pendahuluan
Konsep tentang Tuhan merupakan pusat dari seluruh
struktur pemikiran agama-agama samawi. Dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan
Islam, Tuhan tidak hanya menjadi sumber ontologis segala realitas, tetapi juga
fondasi etika, hukum, dan makna kehidupan manusia. Ketiganya mengklaim berakar
pada wahyu ilahi yang sama—yaitu warisan spiritual dari Nabi Ibrahim
(Abraham)—namun masing-masing berkembang dengan corak teologis dan historis
yang khas. Kajian akademik terhadap Tuhan dalam tiga tradisi Abrahamik menjadi
penting, bukan hanya untuk memahami keragaman bentuk monoteisme, tetapi juga
untuk mengungkap bagaimana konsep Ketuhanan memengaruhi pembentukan kebudayaan,
filsafat, dan moralitas umat manusia dari masa ke masa.¹
Secara historis, gagasan monoteisme bermula dari
keyakinan bangsa Ibrani terhadap YHWH sebagai Tuhan yang satu dan
transenden.² Dalam konteks ini, Tuhan dipahami sebagai sosok yang memilih
Israel sebagai umat perjanjian dan menuntun mereka melalui hukum Taurat. Namun,
dalam Kekristenan, konsep tentang Tuhan mengalami transformasi radikal melalui
pengakuan terhadap Yesus Kristus sebagai Logos yang menjelma, melahirkan
doktrin Trinitas yang menggabungkan keesaan dan kejamakan dalam satu realitas
ilahi.³ Sementara itu, Islam datang sebagai penegasan atas kemurnian monoteisme
melalui konsep Tauhid, yang menolak segala bentuk penyekutuan terhadap
Tuhan dan menegaskan transendensi-Nya secara mutlak.⁴
Kajian komparatif atas Tuhan dalam tiga agama ini
menuntut pendekatan yang holistik dan metodologis. Pendekatan historis
diperlukan untuk menelusuri akar genealogis perkembangan ide Ketuhanan dari
zaman pra-Musa hingga masa Nabi Muhammad.⁵ Pendekatan teologis-filosofis
berfungsi untuk mengurai struktur konseptual dan metafisis masing-masing
tradisi.⁶ Sedangkan pendekatan hermeneutik membantu memahami bagaimana teks
suci dan tradisi tafsir membentuk pemahaman umat terhadap Tuhan.⁷
Penelitian ini juga relevan dalam konteks modern,
di mana konsep Tuhan sering dipertanyakan kembali di tengah arus sekularisme,
sains modern, dan pluralisme agama. Dialog lintas iman, filsafat agama, dan
teologi kontemporer berupaya merekonstruksi pemahaman Ketuhanan yang tidak
hanya bersifat dogmatis, tetapi juga rasional dan etis.⁸ Dengan demikian,
pembahasan ini bukan sekadar upaya teologis, melainkan juga refleksi filosofis
yang menegaskan bahwa konsep tentang Tuhan tetap menjadi sumber makna yang tak
tergantikan dalam kebudayaan manusia.
Footnotes
[1]
Karen Armstrong, A History of God: The
4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam (New York: Ballantine
Books, 1993), 12–14.
[2]
Mark S. Smith, The Early History of God: Yahweh
and the Other Deities in Ancient Israel (Grand Rapids: Eerdmans, 2002), 35–40.
[3]
Gerald O’Collins, The Trinity: An Introduction
to Catholic Doctrine on the Triune God (Oxford: Oxford University Press,
2014), 21–23.
[4]
Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of
Chicago Press, 1979), 27–29.
[5]
John H. Walton, Ancient Near Eastern Thought and
the Old Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 2006), 49–52.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred
(Albany: SUNY Press, 1989), 68–70.
[7]
Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse
and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press,
1976), 30–35.
[8]
John Hick, An Interpretation of Religion: Human
Responses to the Transcendent (New Haven: Yale University Press, 1989),
3–6.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Konsep Tuhan dalam
tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam tidak muncul dalam ruang kosong sejarah. Ia
terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan evolusi kepercayaan manusia
terhadap Yang Ilahi, dari politeisme purba hingga monoteisme transendental.
Ketiga agama ini berakar pada warisan spiritual Abraham (Ibrāhīm),
figur patriark yang dianggap sebagai bapak monoteisme dan simbol ketaatan
absolut kepada Tuhan.¹ Sejak saat itu, konsep Ketuhanan berkembang melalui tiga
lintasan teologis yang saling berhubungan namun juga berbeda arah, menandai
dinamika teologis dari satu sumber iman yang sama.
2.1.
Asal-usul Monoteisme Ibrani dan Konsep YHWH
Pada masa awal
Israel kuno, gagasan tentang Tuhan tidak langsung monoteistik dalam pengertian
modern. Studi arkeologis dan teks-teks kuno menunjukkan bahwa bangsa Ibrani
awal masih mengenal struktur keagamaan henoteistik—yakni pengakuan terhadap
banyak dewa tetapi hanya menyembah satu Tuhan utama, YHWH.²
Identitas YHWH
sebagai Tuhan Israel mulai menguat pada periode pasca-eksodus dan mencapai
puncaknya setelah peristiwa pembuangan di Babilonia (586 SM), saat monoteisme
radikal menjadi dasar pembentukan identitas religius bangsa Yahudi.³ Kitab
Ulangan dan para nabi seperti Yesaya menegaskan bahwa tidak ada Tuhan lain
selain YHWH,
yang menjadi sumber segala moralitas dan hukum (Torah).⁴
Monoteisme ini
membedakan Israel dari bangsa-bangsa sekitarnya dan menjadi titik balik sejarah
teologi dunia. Bagi komunitas Yahudi, Tuhan bukan hanya pencipta kosmos, tetapi
juga pribadi yang mengikat perjanjian dengan umat-Nya.⁵ Dalam pengertian
inilah, muncul konsep Covenant Theology yang memadukan
dimensi teologis dan etnopolitik—Tuhan sebagai pusat kesetiaan spiritual
sekaligus penjaga identitas kolektif.⁶
2.2.
Transformasi Teologi Ketuhanan dalam
Kekristenan Awal
Kekristenan lahir
dari rahim Yudaisme abad pertama Masehi, namun membawa reinterpretasi mendalam
terhadap konsep Ketuhanan. Ajaran Yesus dari Nazaret, yang mengajarkan kasih,
pengampunan, dan relasi intim dengan “Bapa di surga,” memperkenalkan
aspek personal dan universal dari Tuhan yang sebelumnya tidak ditekankan dalam
teologi Yahudi legalistik.⁷
Setelah penyaliban
dan kebangkitan Yesus, para murid menafsirkan dirinya sebagai Logos
(Sabda Ilahi) yang menjelma dalam bentuk manusia, sebagaimana ditegaskan dalam
Injil Yohanes 1:1–14.⁸ Perkembangan ini melahirkan doktrin Trinitas,
yaitu keesaan Tuhan yang terdiri dari tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.⁹
Konsep ini menjadi pondasi teologi Kristen tetapi juga sumber perdebatan
panjang dalam sejarah gereja, terutama pada Konsili Nicea (325 M) dan Konsili
Konstantinopel (381 M), yang berupaya menegaskan kesatuan esensial Ketuhanan di
tengah keragaman manifestasi-Nya.¹⁰
Dalam konteks
historis, Trinitas menandai upaya sintesis antara monoteisme Ibrani dan
filsafat Helenistik.¹¹ Ide tentang Logos diadopsi dari tradisi Yunani
sebagai jembatan antara Tuhan yang transenden dan dunia yang imanen,
menciptakan bentuk teologi yang kaya akan dimensi metafisik dan etis.¹²
2.3.
Islam sebagai Koreksi dan Kontinuitas
Monoteisme
Islam muncul pada
abad ke-7 M di Semenanjung Arab sebagai agama wahyu terakhir dalam garis
Abrahamik. Nabi Muhammad dipahami oleh umat Islam sebagai penerus para nabi
terdahulu yang membawa kembali pesan asli Tauhid, yaitu keesaan Tuhan yang
murni tanpa sekutu.¹³ Dalam Al-Qur’an, konsep Tuhan dirumuskan dengan sangat
tegas: “Katakanlah: Dialah Allah Yang
Maha Esa” (Q.S. al-Ikhlāṣ [112] ayat 1).¹⁴
Secara genealogis,
Islam menegaskan kesinambungan dengan tradisi Ibrahim dan Musa, namun juga
mengoreksi bentuk-bentuk penyimpangan teologis yang dianggap telah terjadi
dalam Yahudi dan Kristen.¹⁵ Tauhid bukan sekadar keyakinan teoretis, tetapi
juga prinsip ontologis, epistemologis, dan etis yang menuntun seluruh aspek
kehidupan manusia.¹⁶ Dengan demikian, Islam melengkapi rantai monoteisme dengan
menegaskan kembali transendensi Tuhan secara mutlak sekaligus kedekatan-Nya
dengan makhluk melalui wahyu dan rahmat.¹⁷
Genealogi Wahyu dan Peran Konteks
Sosial-Politik
Ketiga agama ini
tidak hanya dibentuk oleh pengalaman spiritual, tetapi juga oleh dinamika
sosial-politik. Dalam Yudaisme, pengalaman penindasan di Mesir dan pembuangan
di Babilonia memperkuat visi Tuhan sebagai penyelamat dan pembela keadilan.¹⁸
Dalam Kekristenan, konteks penindasan oleh Kekaisaran Romawi melahirkan pemahaman
tentang Tuhan yang hadir dalam penderitaan manusia.¹⁹ Sementara dalam Islam,
realitas masyarakat Makkah yang politeistik dan tidak adil menjadi latar
munculnya visi Tuhan sebagai hakim universal dan sumber tatanan moral.²⁰
Proses historis ini
menunjukkan bahwa gagasan Ketuhanan dalam tiga agama Abrahamik bukanlah entitas
statis, melainkan hasil dialektika antara wahyu dan sejarah, antara ilahi dan
manusiawi.²¹ Dengan demikian, analisis genealogis memungkinkan kita memahami
bahwa setiap konsep Tuhan selalu lahir dari interaksi kreatif antara teks,
konteks, dan tradisi penafsiran yang terus berkembang.²²
Footnotes
[1]
Karen Armstrong, The Great Transformation: The Beginning of Our
Religious Traditions (New York: Alfred A. Knopf, 2006), 145–150.
[2]
Mark S. Smith, The Origins of Biblical Monotheism: Israel’s
Polytheistic Background and the Ugaritic Texts (Oxford: Oxford University
Press, 2001), 17–21.
[3]
John Day, Yahweh and the Gods and Goddesses of Canaan
(Sheffield: Sheffield Academic Press, 2000), 50–53.
[4]
Richard Elliott Friedman, Who Wrote the Bible? (New York:
HarperOne, 1997), 72–76.
[5]
Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament: Testimony,
Dispute, Advocacy (Minneapolis: Fortress Press, 1997), 103–108.
[6]
Michael Fishbane, Biblical Interpretation in Ancient Israel
(Oxford: Clarendon Press, 1985), 89–91.
[7]
N.T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis:
Fortress Press, 1996), 202–208.
[8]
Raymond E. Brown, An Introduction to the Gospel of John (New
Haven: Yale University Press, 2003), 29–32.
[9]
J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines (London: A&C
Black, 2000), 113–118.
[10]
Jaroslav Pelikan, The Christian Tradition: The Emergence of the
Catholic Tradition (100–600) (Chicago: University of Chicago Press, 1971),
181–184.
[11]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. I (Chicago: University
of Chicago Press, 1951), 211–214.
[12]
David Bentley Hart, The Experience of God: Being, Consciousness,
Bliss (New Haven: Yale University Press, 2013), 45–48.
[13]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis:
Bibliotheca Islamica, 1980), 19–22.
[14]
Al-Qur’an, Surah al-Ikhlāṣ [112] ayat 1.
[15]
Seyyed Hossein Nasr, Ideals and Realities of Islam (London:
Allen & Unwin, 1966), 25–28.
[16]
Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an: Semantics of the
Qur’anic Weltanschauung (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic
Studies, 1964), 37–41.
[17]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam
(Oxford: Oxford University Press, 1934), 12–15.
[18]
Abraham J. Heschel, The Prophets (New York: Harper & Row,
1962), 61–65.
[19]
Elaine Pagels, The Gnostic Gospels (New York: Random House,
1979), 83–86.
[20]
Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman (Oxford:
Oxford University Press, 1961), 45–49.
[21]
Mircea Eliade, The Sacred and the Profane: The Nature of Religion
(New York: Harcourt, 1959), 96–99.
[22]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (London: Continuum,
2004), 278–283.
3.
Ontologi
Ketuhanan
Ontologi Ketuhanan
merupakan inti dari refleksi metafisis dalam tiga agama Abrahamik: Yahudi,
Kristen, dan Islam. Ia menjawab pertanyaan mendasar: apa
hakikat Tuhan itu sendiri? Ketiganya sepakat bahwa Tuhan adalah
realitas tertinggi dan sumber segala yang ada, namun berbeda dalam menafsirkan
sifat keberadaan Ilahi (divine being) dan relasinya dengan
alam semesta.¹ Analisis ontologis terhadap konsep Tuhan di sini tidak
dimaksudkan untuk mengaburkan perbedaan dogmatik, melainkan untuk menyingkap
dasar metafisis dari keesaan Ilahi sebagaimana dipahami dalam konteks yang
berbeda-beda.
3.1.
Tuhan dalam Tradisi Yahudi: Ehad sebagai
Keesaan Eksistensial
Dalam Yudaisme,
Tuhan dikenal dengan nama YHWH (Tetragrammaton), yang berarti
“Aku adalah Aku” (Ehyeh Asher Ehyeh) sebagaimana
diwahyukan kepada Musa dalam Keluaran 3:14.² Frasa ini memiliki
makna ontologis yang dalam: Tuhan tidak bergantung pada apa pun di luar
diri-Nya; Ia adalah “ada itu sendiri” (being itself).³ Dalam teologi
Yahudi klasik, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Maimonides, Tuhan
dipahami sebagai wujud yang mutlak sederhana (divine simplicity)—tidak tersusun,
tidak terbatas, dan tidak dapat diidentifikasi dengan makhluk ciptaan.⁴
Keesaan Tuhan dalam
Yudaisme dikenal dengan istilah Ehad (satu), sebagaimana ditekankan
dalam Shema Israel: “Dengarlah, hai Israel:
TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4).⁵ Namun, keesaan
ini bukan sekadar numerik, melainkan eksistensial dan metafisik: hanya Tuhan
yang benar-benar “ada” secara absolut.⁶ Seluruh eksistensi dunia
hanyalah derivasi dari kehendak-Nya. Dengan demikian, ontologi Yahudi
menempatkan Tuhan sebagai Ens Realissimum—realitas paling
sejati yang menjadi dasar keberadaan segala sesuatu.⁷
3.2.
Tuhan dalam Kekristenan: Trinitas sebagai
Misteri Ontologis Ilahi
Konsep Ketuhanan
dalam Kekristenan didasarkan pada keyakinan bahwa Tuhan adalah satu esensi (ousia)
dalam tiga pribadi (hypostases): Bapa, Anak (Logos),
dan Roh Kudus.⁸ Trinitas bukanlah tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan yang hadir
dalam tiga cara eksistensi ilahi. Secara ontologis, hal ini menegaskan bahwa keesaan
dan kejamakan tidak bertentangan, tetapi bersatu dalam misteri Ilahi.⁹
Filsafat Yunani,
khususnya neoplatonisme, memberi pengaruh besar terhadap formulasi ini. Bapa
dipandang sebagai sumber segala keberadaan; Anak atau Logos
sebagai bentuk rasional (ide) yang mewujudkan ciptaan; dan Roh
Kudus sebagai daya yang menghidupkan.¹⁰ Dengan demikian, Tuhan
Kristen adalah realitas yang dinamis dan relasional—“Cinta yang mengada”
(Being-as-Love),
sebagaimana dirumuskan oleh Agustinus: “Di mana ada cinta, di situ ada
Tritunggal: yang mencintai, yang dicintai, dan cinta itu sendiri.”¹¹
Secara ontologis,
Trinitas berupaya menjembatani dua kutub metafisika: transendensi mutlak (Tuhan
sebagai “Yang di atas segala”) dan imanensi kasih (Tuhan yang hadir
dalam sejarah melalui Kristus).¹² Karena itu, Tuhan dalam Kekristenan bukan
sekadar “Ada” secara metafisis, tetapi “Ada yang mengasihi”
secara eksistensial.¹³
3.3.
Tuhan dalam Islam: Tauhid sebagai
Prinsip Ontologis Absolut
Dalam Islam, Tauhid
bukan hanya doktrin teologis, tetapi juga asas ontologis yang paling
fundamental: tidak ada realitas selain Allah (lā ilāha illā Allāh).¹⁴ Allah
adalah satu-satunya wujud yang niscaya (wājib al-wujūd), sedangkan segala
yang lain hanyalah wujud kontingen (mumkin al-wujūd) yang bergantung
pada-Nya.¹⁵ Konsep ini ditegaskan oleh para filsuf Muslim seperti Ibn Sina dan
al-Farabi, yang membedakan antara “wujud yang niscaya dengan sendirinya”
dan “wujud yang bergantung.”¹⁶
Dalam Al-Qur’an,
Tuhan digambarkan sebagai Al-Awwal wa al-Ākhir, al-Zhāhir wa al-Bāthin
(Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Tampak dan Yang Tersembunyi) (Q.S.
al-Hadīd [57] ayat 3), yang menegaskan kesempurnaan eksistensinya
di luar segala dimensi ruang dan waktu.¹⁷ Ontologi Islam memandang seluruh
ciptaan sebagai manifestasi (tajallī) dari realitas ilahi, bukan
bagian dari Tuhan, tetapi tanda-tanda (āyāt) dari keberadaan-Nya.¹⁸
Dalam pemikiran
sufi, seperti yang dikemukakan Ibn Arabi, Tuhan adalah al-Wujūd
al-Haqq (Wujud Hakiki), sedangkan semua makhluk hanyalah pantulan
dari keberadaan-Nya.¹⁹ Dengan demikian, Tauhid tidak hanya menegaskan
keesaan numerik Tuhan, tetapi juga kesatuan ontologis realitas (wahdat
al-wujūd).²⁰
3.4.
Analisis Perbandingan Ontologis
Dari perspektif
ontologis, ketiga tradisi tersebut dapat dibandingkan dalam tiga aspek utama:
(1)
Transendensi
– ketiganya menegaskan bahwa Tuhan melampaui segala ciptaan, namun Islam dan
Yudaisme lebih menekankan jarak metafisis antara Tuhan dan dunia, sementara
Kekristenan menggabungkan transendensi dengan imanensi melalui inkarnasi
Kristus.²¹
(2)
Personalitas
– Yudaisme memandang Tuhan sebagai pribadi etis yang berhubungan melalui
perjanjian, Kekristenan menegaskan kasih personal dalam Trinitas, sedangkan
Islam menyeimbangkan antara keagungan (jalāl) dan kasih sayang (rahmah).²²
(3)
Relasi
dengan dunia – dalam Yudaisme dan Islam, dunia diciptakan “dari
ketiadaan” (creatio ex nihilo), sedangkan dalam
Kekristenan, dunia tercipta melalui Firman (Logos) sebagai ekspresi kasih
ilahi.²³
Ketiga sistem
ontologi ini menunjukkan bahwa Tuhan, meskipun dipahami dengan cara yang
berbeda, tetap merupakan pusat eksistensi dan sumber segala realitas.²⁴ Di
balik pluralitas konsepsi teologis, ada kesatuan intuisi metafisis bahwa “Ada”
yang tertinggi adalah Ilahi—yang mutlak, abadi, dan tak tergantung pada apa
pun.²⁵
Problem Metafisika: Tuhan sebagai “Ada”
atau “Ada-di-Atas-Ada”
Pertanyaan paling
mendalam dalam ontologi Ketuhanan adalah: apakah Tuhan ada
seperti sesuatu yang lain, ataukah Ia di atas kategori keberadaan itu
sendiri? Dalam tradisi filsafat, khususnya sejak Pseudo-Dionysius dan
Maimonides, muncul pandangan apofatik (teologi negatif) bahwa
Tuhan tidak dapat dikatakan “ada” dalam pengertian manusiawi; Ia
melampaui ada
(super-esse).²⁶
Thomas Aquinas kemudian mengembangkan ide bahwa Tuhan adalah ipsum
esse subsistens—keberadaan itu sendiri yang berdiri sendiri.²⁷
Dalam Islam, al-Ghazali dan Ibn Arabi menegaskan hal yang sejalan: keberadaan
Allah bukanlah jenis wujud, melainkan sumber segala wujud.²⁸
Dengan demikian,
dalam horizon metafisika Abrahamik, Tuhan bukan hanya “yang ada paling
tinggi,” tetapi juga “yang membuat adanya keberadaan.”²⁹ Ontologi
Ketuhanan, pada akhirnya, bukan sekadar teori tentang eksistensi Tuhan, tetapi
suatu pengakuan bahwa segala eksistensi bergantung sepenuhnya pada-Nya, dan
tanpa-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat dikatakan “ada.”³⁰
Footnotes
[1]
John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs, NJ:
Prentice Hall, 1983), 45–48.
[2]
Alkitab, Keluaran 3:14.
[3]
Gershom Scholem, Major Trends in Jewish Mysticism (New York:
Schocken Books, 1995), 25–27.
[4]
Moses Maimonides, The Guide for the Perplexed, trans. Shlomo
Pines (Chicago: University of Chicago Press, 1963), 118–121.
[5]
Alkitab, Ulangan 6:4.
[6]
Joseph Soloveitchik, Halakhic Man (Philadelphia: Jewish Publication
Society, 1983), 67–70.
[7]
Etienne Gilson, The Spirit of Medieval Philosophy (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1991), 42–45.
[8]
Gerald O’Collins, The Trinity: An Introduction to Catholic Doctrine
on the Triune God (Oxford: Oxford University Press, 2014), 15–19.
[9]
Karl Rahner, The Trinity, trans. Joseph Donceel (New York:
Herder and Herder, 1970), 22–25.
[10]
Jaroslav Pelikan, Christian Doctrine and Modern Culture (Since
1700) (Chicago: University of Chicago Press, 1989), 12–16.
[11]
Augustine, De Trinitate, Book VIII, trans. Edmund Hill (New
York: New City Press, 1991), 287.
[12]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. I (Chicago: University
of Chicago Press, 1951), 235–239.
[13]
Hans Urs von Balthasar, Love Alone Is Credible (San Francisco:
Ignatius Press, 2004), 18–20.
[14]
Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press,
1979), 31–33.
[15]
Ibn Sina (Avicenna), Metaphysics of the Healing, trans.
Michael Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2005), 71–74.
[16]
Al-Farabi, The Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford:
Clarendon Press, 1985), 94–96.
[17]
Al-Qur’an, Surah
al-Hadīd [57] ayat 3.
[18]
Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an (Tokyo: Keio
Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), 54–57.
[19]
Ibn Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R.W.J. Austin (New York:
Paulist Press, 1980), 90–93.
[20]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-Arabi’s
Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 101–104.
[21]
Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books,
1993), 115–118.
[22]
Louis Jacobs, A Jewish Theology (London: Behrman House, 1973),
55–59.
[23]
John Polkinghorne, The Faith of a Physicist (Minneapolis:
Fortress Press, 1994), 62–66.
[24]
Mircea Eliade, Patterns in Comparative Religion (Lincoln:
University of Nebraska Press, 1996), 79–82.
[25]
Huston Smith, The World’s Religions (San Francisco:
HarperSanFrancisco, 1991), 223–226.
[26]
Pseudo-Dionysius, The Mystical Theology, trans. Colm Luibheid
(New York: Paulist Press, 1987), 100–103.
[27]
Thomas Aquinas, Summa Theologica, I, Q.3, a.4, trans. Fathers
of the English Dominican Province (New York: Benziger Brothers, 1947), 31–33.
[28]
Abu Hamid al-Ghazali, Mishkat al-Anwar (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 1996), 11–14.
[29]
Martin Heidegger, Identity and Difference, trans. Joan
Stambaugh (Chicago: University of Chicago Press, 2002), 54–57.
[30]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 92–95.
4.
Epistemologi
Ketuhanan
Epistemologi
Ketuhanan merupakan upaya memahami bagaimana manusia mengetahui Tuhan dan apa batas-batas
pengetahuan tersebut. Dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, pengetahuan
tentang Tuhan (ma‘rifatullah) tidak hanya bersifat
rasional atau empiris, tetapi juga mengandung dimensi wahyu dan pengalaman
batin.¹ Dengan kata lain, epistemologi Ketuhanan menempatkan Tuhan sebagai
subjek sekaligus objek pengetahuan: manusia tidak dapat “mengetahui”
Tuhan kecuali sejauh Tuhan mengizinkan diri-Nya untuk dikenal.²
Ketiga agama
Abrahamik mengakui bahwa akal manusia memiliki peran penting dalam memahami eksistensi
dan kehendak Tuhan, namun pada saat yang sama menegaskan keterbatasan rasio
dalam menembus hakikat Ilahi.³ Karena itu, wahyu, tradisi, dan pengalaman
spiritual menjadi pilar epistemik utama yang menopang hubungan manusia dengan
Tuhan.
4.1.
Sumber Pengetahuan Ketuhanan: Wahyu, Akal, dan
Pengalaman
Dalam ketiga
tradisi, wahyu merupakan sumber primer pengetahuan Ketuhanan. Dalam Yudaisme,
Tuhan berfirman kepada Musa di Gunung Sinai dan memberikan Taurat sebagai
pedoman hidup dan hukum moral.⁴ Wahyu di sini bukan sekadar transmisi
informasi, melainkan peristiwa relasional, di mana Tuhan
memperkenalkan diri-Nya melalui tindakan sejarah.⁵
Dalam Kekristenan,
wahyu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus, yang disebut sebagai Logos
yang menjelma.⁶ Dengan demikian, pengetahuan tentang Tuhan diperoleh bukan
hanya melalui kata-kata, tetapi melalui kehadiran hidup Tuhan dalam sejarah
manusia.⁷ Sedangkan dalam Islam, wahyu (wahy) adalah komunikasi langsung
antara Tuhan dan manusia melalui para nabi, dengan Al-Qur’an sebagai bentuk
wahyu yang paling sempurna dan final.⁸
Selain wahyu, akal
(‘aql) juga menjadi sarana epistemologis yang penting. Dalam tradisi Islam
klasik, akal dianggap sebagai “cahaya batin” yang diberikan Tuhan untuk
memahami tanda-tanda-Nya (āyāt).⁹ Sementara itu, pengalaman
spiritual atau mistik—baik dalam Yudaisme (Kabbalah), Kekristenan (mystical
theology), maupun Islam (tasawuf)—menjadi sarana intuitif untuk “merasakan”
kehadiran Tuhan secara langsung.¹⁰
4.2.
Peran Kenabian dan Otoritas Kebenaran Teologis
Epistemologi
Ketuhanan dalam tradisi Abrahamik juga berakar pada konsep kenabian. Nabi
berfungsi sebagai medium epistemik antara Tuhan dan manusia: ia bukan hanya
penerima wahyu, tetapi juga penafsir dan penyampai makna Ilahi dalam konteks
sejarah.¹¹ Dalam Yudaisme, para nabi seperti Yesaya dan Yeremia menegaskan
keadilan dan kesetiaan Tuhan di tengah krisis moral umat.¹² Dalam Kekristenan,
Yesus Kristus dipandang sebagai nabi sekaligus Tuhan—puncak
penyataan diri Ilahi.¹³ Sementara dalam Islam, Nabi Muhammad disebut khatam
al-anbiyā’ (penutup para nabi), yang menyampaikan wahyu secara
sempurna dan universal.¹⁴
Namun, otoritas
kenabian tidak berhenti pada individu nabi, melainkan diteruskan melalui
komunitas penafsir wahyu: para rabi dalam Yudaisme, gereja dalam Kekristenan,
dan ulama dalam Islam.¹⁵ Ketiganya menegaskan bahwa pengetahuan tentang Tuhan
tidak bisa dilepaskan dari tradisi kolektif yang menjaga dan mengembangkan
pemahaman wahyu secara berkelanjutan.¹⁶
4.3.
Perbandingan Epistemologis Antartradisi
Epistemologi
Ketuhanan Yahudi dibangun atas dasar Torah dan tradisi rabbinic,
yang menekankan interpretasi berlapis terhadap teks suci.¹⁷ Tuhan dipahami
melalui hukum (Halakhah) dan sejarah
perjanjian-Nya dengan Israel. Dalam Kekristenan, epistemologi teologis
berpuncak pada iman kepada Kristus sebagai wahyu inkarnatif: “Barang siapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).¹⁸
Dengan demikian, kebenaran teologis bersumber pada pengalaman eksistensial akan
kasih Tuhan yang terwujud dalam sejarah keselamatan.¹⁹
Dalam Islam,
pengetahuan tentang Tuhan bersandar pada wahyu Al-Qur’an, tetapi juga diperkuat
oleh akal dan pengalaman spiritual.²⁰ Tradisi kalam (teologi rasional)
menegaskan bahwa akal dapat mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, meskipun
wahyu diperlukan untuk memahami sifat dan kehendak-Nya.²¹ Sementara tasawuf
menekankan dimensi ma‘rifah (pengetahuan intuitif),
yaitu kesadaran langsung terhadap realitas Ilahi yang melampaui konsepsi
rasional.²²
Perbandingan ini
menunjukkan bahwa meskipun ketiganya menempatkan wahyu sebagai fondasi, mereka
berbeda dalam derajat keterlibatan akal dan pengalaman dalam memahami Tuhan.²³
4.4.
Rasionalitas, Iman, dan Keterbatasan
Pengetahuan Manusia
Dalam semua tradisi
Abrahamik, terdapat ketegangan antara rasionalitas dan iman. Dalam Yudaisme,
Maimonides menegaskan bahwa Tuhan dapat dikenali melalui akal sejauh menyangkut
keberadaan-Nya, tetapi hakikat-Nya tidak dapat dijangkau manusia.²⁴ Kekristenan
menyeimbangkan akal dan iman melalui gagasan fides quaerens intellectum—iman
yang mencari pengertian—sebagaimana dirumuskan oleh Anselmus dari Canterbury.²⁵
Islam menempatkan akal sebagai alat untuk memahami wahyu, bukan untuk
menggantikannya.²⁶
Keterbatasan
epistemik ini melahirkan dua pendekatan: teologi afirmatif (katafatik)
dan teologi negatif (apofatik).²⁷ Dalam pendekatan
afirmatif, Tuhan dijelaskan melalui atribut positif seperti Mahakuasa,
Mahaadil, dan Maha Pengasih. Sedangkan dalam pendekatan apofatik, Tuhan
didefinisikan melalui negasi—“Tuhan tidak seperti apa pun yang dapat kita
bayangkan.”²⁸
Keterbatasan
pengetahuan manusia terhadap Tuhan juga menjadi sumber kerendahan hati
epistemologis.³⁰ Seperti dikatakan al-Ghazali, “Akal hanyalah lentera kecil
di tepi samudra misteri Ilahi.”³¹
Masalah Teodise dan Misteri Ilahi
Masalah
teodise—bagaimana menjelaskan kejahatan di bawah kekuasaan Tuhan yang Maha
Baik—merupakan ujian epistemologis bagi semua tradisi monoteistik. Dalam
Yudaisme, penderitaan Israel dianggap sebagai bagian dari rencana Ilahi yang
tak sepenuhnya dapat dipahami manusia.³² Dalam Kekristenan, penderitaan Kristus
di salib menjadi simbol bahwa Tuhan turut menderita bersama ciptaan-Nya.³³
Sementara dalam Islam, penderitaan dilihat sebagai ujian dan sarana penyucian jiwa,
di mana hikmah Ilahi melampaui logika manusia.³⁴
Dengan demikian,
epistemologi Ketuhanan tidak hanya menyoal bagaimana manusia mengetahui Tuhan,
tetapi juga mengapa Tuhan memilih untuk
menyembunyikan sebagian diri-Nya dari pengetahuan manusia.³⁵ Misteri ini
menjadikan pencarian terhadap Tuhan bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi
juga perjalanan eksistensial yang melibatkan seluruh dimensi jiwa.³⁶
Footnotes
[1]
John Hick, An Interpretation of Religion: Human Responses to the
Transcendent (New Haven: Yale University Press, 1989), 47–49.
[2]
Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. II/1: The Doctrine of God
(Edinburgh: T&T Clark, 1957), 30–33.
[3]
Alvin Plantinga, Warranted Christian Belief (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 142–145.
[4]
Alkitab, Keluaran
19:16–20:17.
[5]
Michael Fishbane, Biblical Interpretation in Ancient Israel
(Oxford: Clarendon Press, 1985), 93–96.
[6]
Alkitab, Yohanes 1:1–14.
[7]
N.T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis:
Fortress Press, 1996), 212–215.
[8]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Minneapolis:
Bibliotheca Islamica, 1980), 15–18.
[9]
Al-Farabi, Attainment of Happiness, trans. Muhsin Mahdi
(Chicago: University of Chicago Press, 2001), 51–54.
[10]
Gershom Scholem, Major Trends in Jewish Mysticism (New York:
Schocken Books, 1995), 37–39.
[11]
Abraham J. Heschel, The Prophets (New York: Harper & Row,
1962), 92–95.
[12]
Ibid., 101–104.
[13]
Raymond E. Brown, The Birth of the Messiah (New York:
Doubleday, 1993), 49–52.
[14]
Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman (Oxford:
Oxford University Press, 1961), 56–59.
[15]
Jonathan Sacks, Covenant and Conversation: Genesis (Jerusalem:
Maggid Books, 2009), 12–14.
[16]
Hans Küng, Christianity: Essence, History, and Future (New
York: Continuum, 1995), 73–76.
[17]
Louis Jacobs, A Jewish Theology (London: Behrman House, 1973),
61–63.
[18]
Alkitab, Yohanes 14:9.
[19]
Karl Rahner, Foundations of Christian Faith (New York:
Crossroad, 1982), 88–91.
[20]
Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an (Tokyo: Keio
Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), 68–70.
[21]
Al-Juwayni, Kitab al-Irsyad ila Qawati‘ al-Adillah fi Usul
al-I‘tiqad (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1950), 43–46.
[22]
Al-Ghazali, Mishkat al-Anwar (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
1996), 22–25.
[23]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 103–106.
[24]
Moses Maimonides, The Guide for the Perplexed, trans. Shlomo
Pines (Chicago: University of Chicago Press, 1963), 156–160.
[25]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams
(Indianapolis: Hackett, 1995), 26–28.
[26]
Fakhr al-Din al-Razi, Al-Mabahith al-Mashriqiyyah (Teheran:
Maktabah al-Murtadha, 1966), 18–21.
[27]
Vladimir Lossky, The Mystical Theology of the Eastern Church
(Cambridge: James Clarke, 1991), 38–40.
[28]
Pseudo-Dionysius, The Divine Names, trans. Colm Luibheid (New
York: Paulist Press, 1987), 98–101.
[29]
Nicholas Wolterstorff, Reason within the Bounds of Religion
(Grand Rapids: Eerdmans, 1984), 59–62.
[30]
Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr,
1997), 112–114.
[31]
Emil Fackenheim, To Mend the World: Foundations of Future Jewish
Thought (New York: Schocken Books, 1982), 44–46.
[32]
Jürgen Moltmann, The Crucified God (London: SCM Press, 1974),
127–131.
[33]
Ibn Taymiyyah, Majmu‘ al-Fatawa, Vol. 8 (Riyadh: King Fahd
Complex, 1995), 21–24.
[34]
Paul Ricoeur, Figuring the Sacred: Religion, Narrative, and
Imagination, trans. David Pellauer (Minneapolis: Fortress Press, 1995),
15–18.
[35]
William James, The Varieties of Religious Experience (New
York: Longmans, Green, and Co., 1902), 362–365.
5.
Aksiologi
Ketuhanan
Aksiologi Ketuhanan
membahas dimensi nilai dan tujuan moral dari konsep Tuhan dalam tradisi Yahudi,
Kristen, dan Islam. Jika ontologi menjawab pertanyaan “apa itu
Tuhan?” dan epistemologi menjawab “bagaimana manusia mengenal Tuhan?”,
maka aksiologi bertanya: “apa makna Tuhan bagi kehidupan manusia?”¹
Dalam tiga agama Abrahamik, Tuhan bukan hanya entitas metafisis, melainkan
sumber nilai tertinggi yang menuntun perilaku, hukum, dan arah eksistensi
manusia. Dengan demikian, aksiologi Ketuhanan menegaskan bahwa hubungan manusia
dengan Tuhan selalu mengandung konsekuensi etis, sosial, dan spiritual.²
5.1.
Etika dan Hukum sebagai Derivasi dari Pandangan
tentang Tuhan
Dalam Yudaisme, etika
bersumber dari hukum ilahi (Torah) yang mencakup perintah moral
dan ritual sebagai wujud ketaatan terhadap Tuhan.³ Setiap tindakan moral
dianggap sebagai respons terhadap kehendak YHWH, yang menuntut keadilan dan
kasih setia (ḥesed).⁴ Prinsip moral seperti “Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18) merupakan ekspresi
konkret dari iman kepada Tuhan yang suci.⁵ Dengan demikian, tindakan etis dalam
Yudaisme tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi langsung dari relasi
perjanjian antara Tuhan dan umat-Nya.⁶
Dalam Kekristenan,
etika berpangkal pada kasih (agape) sebagai esensi dari sifat
Tuhan.⁷ Yesus merangkum seluruh hukum dalam dua prinsip: mengasihi Tuhan dan
mengasihi sesama (Matius 22:37–40).⁸ Kasih di sini bukan hanya perasaan, tetapi
tindakan eksistensial yang meniru kasih Allah kepada manusia.⁹ Etika Kristen
karenanya bersifat personal dan universal—ia mengarah pada transformasi
batiniah dan pengampunan yang melampaui legalisme moral.¹⁰
Dalam Islam, sumber
nilai moral adalah wahyu dan syariah,
yang menuntun manusia pada kehidupan yang selaras dengan kehendak Ilahi.¹¹
Aksiologi Islam bersandar pada konsep al-khayr (kebaikan) dan al-‘adl
(keadilan) yang berakar dari sifat Tuhan sendiri.¹² Melalui hukum syariah,
Tuhan menuntun manusia untuk menegakkan keadilan sosial, menjaga martabat, dan
menghindari kerusakan di bumi (fasād).¹³
Ketiga sistem etika
ini berpangkal pada satu prinsip aksiologis: bahwa nilai moral sejati tidak
dapat dilepaskan dari kesadaran teologis akan Tuhan sebagai sumber kebaikan
mutlak.¹⁴
5.2.
Ketaatan dan Kasih sebagai Orientasi Moral
Konsep ketaatan (obedience)
menempati posisi sentral dalam ketiga agama Abrahamik. Dalam Yudaisme, ketaatan
terhadap hukum merupakan bentuk pengabdian total kepada Tuhan yang telah
membebaskan Israel dari perbudakan.¹⁵ Dalam Kekristenan, ketaatan menemukan
bentuk tertinggi dalam tindakan Yesus yang “taat sampai mati” (Filipi
2:8), menjadikannya teladan etis bagi umat manusia.¹⁶ Dalam Islam, ketaatan
kepada Allah (ṭā‘ah lillāh) bukan hanya kewajiban
moral, tetapi juga wujud penyerahan total (islām) kepada realitas tertinggi.¹⁷
Namun, ketaatan
dalam tradisi Abrahamik bukanlah ketaatan buta. Ia disertai dengan cinta dan
pengenalan terhadap kehendak Ilahi.¹⁸ Dalam Yudaisme, cinta terhadap Tuhan (ahavat
Hashem) menjadi inti dari doa harian: “Kasihilah TUHAN, Allahmu,
dengan segenap hatimu” (Ulangan 6:5).¹⁹ Dalam Kekristenan,
kasih menjadi hukum tertinggi yang menyempurnakan ketaatan (Roma 13:10).²⁰
Sedangkan dalam Islam, cinta kepada Tuhan (maḥabbah) adalah puncak pengalaman
spiritual, di mana kehendak pribadi menyatu dengan kehendak Ilahi.²¹
Dengan demikian,
aksiologi Ketuhanan mengajarkan bahwa nilai moral tertinggi bukan sekadar
ketaatan formal terhadap hukum, melainkan transformasi batin menuju kesadaran
Ilahi yang penuh kasih.²²
5.3.
Tujuan Akhir Kehidupan: Kesempurnaan dan
Keselamatan
Dalam kerangka
aksiologi Ketuhanan, tujuan akhir hidup manusia adalah bersatu kembali dengan
sumber kebaikan tertinggi. Dalam Yudaisme, tujuan moral adalah tikkun
olam—memperbaiki dunia agar mencerminkan keadilan dan kedamaian
Tuhan.²³ Dalam Kekristenan, tujuan akhir adalah keselamatan (soteria),
yaitu hidup kekal bersama Tuhan melalui anugerah Kristus.²⁴ Dalam Islam, tujuan
moral dan spiritual adalah mencapai al-falāḥ (keberuntungan sejati) dan
ridha
Allah sebagai puncak eksistensi manusia.²⁵
Ketiganya menegaskan
bahwa hidup moral tidak terlepas dari orientasi eskatologis: setiap tindakan
baik memiliki nilai karena mengarahkan manusia kepada Tuhan.²⁶ Etika Abrahamik
karenanya tidak berhenti pada tatanan duniawi, tetapi mengandung horizon
transenden di mana kebaikan dan kebenaran memperoleh makna finalnya.²⁷
5.4.
Relasi antara Iman dan Amal
Dalam ketiga agama
ini, iman dan amal tidak terpisahkan. Dalam Yudaisme, iman kepada Tuhan
diwujudkan melalui perbuatan hukum dan kasih.²⁸ Dalam Kekristenan, iman tanpa
perbuatan dianggap mati (Yakobus 2:17).²⁹ Dalam Islam, amal saleh adalah bukti
iman yang sejati, sebagaimana ditegaskan berulang kali dalam Al-Qur’an: “Orang-orang
yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga-surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai.” (Q.S. al-Baqarah [2] ayat 25).³⁰
Relasi iman dan amal
menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Tuhan harus diwujudkan dalam tindakan
nyata.³¹ Aksiologi Ketuhanan tidak berhenti pada level kontemplatif, tetapi
menuntut tanggung jawab sosial dan moral.³² Tuhan bukan hanya objek iman,
tetapi sumber imperatif etis yang membentuk keadaban manusia.³³
Ketuhanan dan Tanggung Jawab Moral Universal
Ketiga agama
Abrahamik memandang manusia sebagai imago Dei—citra Tuhan di dunia.³⁴
Dalam Yudaisme, ini berarti manusia dipanggil untuk menegakkan keadilan
sebagaimana Tuhan adil.³⁵ Dalam Kekristenan, ini berarti mencerminkan kasih
Kristus melalui pelayanan dan pengampunan.³⁶ Dalam Islam, hal ini tercermin
dalam konsep khalīfah—manusia sebagai wakil
Tuhan di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan dan keadilan.³⁷
Aksiologi Ketuhanan
dengan demikian memiliki dimensi sosial yang luas: Tuhan tidak hanya menuntut
kesalehan pribadi, tetapi juga keadilan sosial, perdamaian, dan keberlanjutan
ciptaan.³⁸ Dalam konteks global modern, ketiga tradisi Abrahamik dapat
berkontribusi pada etika universal berbasis spiritualitas transenden, yang
menolak relativisme moral dan nihilisme modern.³⁹
Pada akhirnya,
aksiologi Ketuhanan mengajarkan bahwa mengenal Tuhan berarti meneladani
nilai-nilai-Nya. Keadilan, kasih, dan rahmah bukan sekadar atribut teologis,
melainkan imperatif etis yang mengarahkan manusia menuju kesempurnaan moral dan
kebersatuan dengan Ilahi.⁴⁰
Footnotes
[1]
John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs, NJ:
Prentice Hall, 1983), 92–94.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 123–126.
[3]
Michael Fishbane, Biblical Interpretation in Ancient Israel
(Oxford: Clarendon Press, 1985), 145–148.
[4]
Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament
(Minneapolis: Fortress Press, 1997), 201–205.
[5]
Alkitab, Imamat 19:18.
[6]
Joseph Soloveitchik, Halakhic Man (Philadelphia: Jewish Publication
Society, 1983), 84–87.
[7]
Anders Nygren, Agape and Eros (Philadelphia: Westminster
Press, 1953), 89–91.
[8]
Alkitab, Matius 22:37–40.
[9]
Paul Tillich, Morality and Beyond (New York: Harper & Row,
1963), 47–49.
[10]
Reinhold Niebuhr, An Interpretation of Christian Ethics (New
York: Harper & Brothers, 1935), 51–54.
[11]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of
Chicago Press, 1982), 71–74.
[12]
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Prolegomena to the Metaphysics of
Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 107–110.
[13]
Al-Qur’an, Surah
al-A‘raf [7] ayat 56.
[14]
Mircea Eliade, The Sacred and the Profane (New York: Harcourt,
1959), 118–121.
[15]
Abraham J. Heschel, God in Search of Man (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 1955), 154–157.
[16]
Alkitab, Filipi 2:8.
[17]
Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1997),
130–133.
[18]
Louis Jacobs, A Jewish Theology (London: Behrman House, 1973),
97–99.
[19]
Alkitab, Ulangan 6:5.
[20]
Alkitab, Roma 13:10.
[21]
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin (Cairo: Dar
al-Hadith, 2001), 122–125.
[22]
William C. Chittick, Faith and Practice of Islam (Albany: SUNY
Press, 1992), 139–142.
[23]
Jonathan Sacks, To Heal a Fractured World: The Ethics of
Responsibility (New York: Schocken Books, 2005), 15–18.
[24]
Hans Küng, On Being a Christian (New York: Doubleday, 1976),
121–125.
[25]
Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an
(Montreal: McGill University Press, 1966), 101–104.
[26]
Paul Ricoeur, Figuring the Sacred: Religion, Narrative, and
Imagination (Minneapolis: Fortress Press, 1995), 43–46.
[27]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (Pittsburgh: Duquesne
University Press, 1969), 90–93.
[28]
Michael Wyschogrod, The Body of Faith: God in the People Israel
(New York: Seabury Press, 1983), 54–56.
[29]
Alkitab, Yakobus 2:17.
[30]
Al-Qur’an, Surah
al-Baqarah [2] ayat 25.
[31]
Nicholas Wolterstorff, Justice: Rights and Wrongs (Princeton:
Princeton University Press, 2008), 75–78.
[32]
Martha Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions
(Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 92–95.
[33]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of
Notre Dame Press, 1981), 165–168.
[34]
Alkitab, Kejadian 1:27.
[35]
Abraham J. Heschel, The Prophets (New York: Harper & Row,
1962), 189–191.
[36]
Dietrich Bonhoeffer, Ethics (New York: Touchstone, 1995),
72–74.
[37]
Al-Qur’an, Surah al-Baqarah
[2] ayat 30.
[38]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: Allen & Unwin, 1968), 103–106.
[39]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Knopf, 2009),
211–214.
[40]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam
(Oxford: Oxford University Press, 1934), 84–87.
6.
Dimensi
Sosial dan Intelektual
Konsep Tuhan dalam
tiga agama Abrahamik—Yahudi, Kristen, dan Islam—tidak hanya berfungsi sebagai
doktrin teologis, melainkan juga sebagai kekuatan sosial dan intelektual yang
membentuk struktur peradaban.¹ Tuhan dalam ketiga tradisi ini adalah realitas
normatif yang mengatur hubungan manusia, menuntun perkembangan institusi
sosial, dan mengilhami lahirnya tradisi intelektual yang kompleks. Dengan
demikian, pemahaman terhadap dimensi sosial dan intelektual Ketuhanan
menyingkap bagaimana ide tentang Tuhan menjadi fondasi bagi kebudayaan, hukum,
dan pengetahuan di dunia Abrahamik.²
6.1.
Tuhan dan Identitas Kolektif
Dalam Yudaisme,
Tuhan menjadi pusat identitas kolektif bangsa Israel.³ Konsep Covenant
(perjanjian) antara YHWH dan Israel membentuk kesadaran
bahwa mereka adalah “umat pilihan” yang memiliki tanggung jawab etis
untuk menegakkan keadilan dan kesucian di dunia.⁴ Perjanjian tersebut tidak
sekadar bersifat religius, melainkan juga politis: hukum Tuhan (Torah)
menjadi dasar bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan.⁵ Dengan
demikian, Tuhan berfungsi sebagai simbol persatuan etnis sekaligus sumber
moralitas publik.
Dalam Kekristenan,
komunitas beriman (ekklesia) terbentuk atas dasar
kesetiaan kepada Kristus sebagai kepala Gereja.⁶ Gereja bukan hanya lembaga
religius, tetapi juga komunitas etis yang melintasi batas ras, budaya, dan
status sosial.⁷ Kesatuan dalam Kristus membentuk identitas baru yang bersifat
universal: “Tidak ada orang Yahudi atau Yunani, tidak ada budak atau orang
merdeka, sebab kamu semua satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia
3:28).⁸ Dengan demikian, Tuhan dalam Kekristenan menjadi dasar
inklusivitas dan solidaritas sosial.⁹
Islam, di sisi lain,
menegaskan konsep ummah—komunitas spiritual yang
dipersatukan oleh iman kepada Allah dan ketaatan kepada hukum-Nya.¹⁰ Identitas
sosial umat Islam tidak didasarkan pada etnis, tetapi pada prinsip ketuhanan
yang menembus batas ras dan kebangsaan.¹¹ Dalam konteks ini, Tuhan berfungsi
sebagai pusat legitimasi moral dan politik, di mana seluruh tatanan sosial
diarahkan untuk mencerminkan nilai-nilai ilahi seperti keadilan (‘adl)
dan kasih sayang (raḥmah).¹²
6.2.
Tuhan sebagai Dasar Legitimasi Kekuasaan dan
Keadilan
Ketiga agama
Abrahamik memiliki tradisi panjang dalam menjadikan Tuhan sebagai sumber
legitimasi kekuasaan. Dalam Yudaisme, konsep Theocracy—pemerintahan oleh
Tuhan—mengakar dalam keyakinan bahwa hanya YHWH yang berdaulat atas Israel.¹³
Raja, nabi, dan imam hanya menjadi perantara kehendak-Nya.¹⁴ Dalam Kekristenan
abad pertengahan, ide tentang “hak ilahi raja” (divine
right of kings) menempatkan penguasa sebagai wakil Tuhan di bumi,
meskipun teolog seperti Agustinus menekankan bahwa kerajaan duniawi tetap harus
tunduk pada Civitas Dei—Kota Tuhan yang
abadi.¹⁵
Dalam Islam, konsep khalīfah
(pengganti atau wakil Tuhan) memberikan dasar teologis bagi kepemimpinan
umat.¹⁶ Khalifah bukan penguasa absolut, melainkan pelaksana amanah Tuhan untuk
menegakkan keadilan.¹⁷ Karena itu, politik dalam Islam bersifat
teonomis—berakar pada hukum ilahi (syariah), bukan pada kehendak
manusia semata.¹⁸ Namun, sejarah juga menunjukkan dinamika interpretatif yang
luas: dari model kekhalifahan klasik hingga gagasan al-madīnah al-fāḍilah (kota utama)
dalam filsafat al-Farabi yang memadukan rasionalitas dengan wahyu.¹⁹
Keadilan sosial
dalam ketiga tradisi berakar dari keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber moralitas
tertinggi.²⁰ Dengan demikian, tatanan sosial yang adil merupakan cerminan dari
keteraturan kosmis yang dikehendaki Tuhan.²¹
6.3.
Pengaruh Konsep Tuhan terhadap Struktur Sosial
dan Ekonomi
Dalam Yudaisme,
hukum ilahi membentuk struktur sosial yang menekankan tanggung jawab kolektif,
keadilan distributif, dan solidaritas sosial.²² Praktik seperti tahun Yobel (Jubilee
Year, Imamat 25) menunjukkan bahwa kekayaan dan tanah tidak boleh
menjadi alat penindasan; semuanya milik Tuhan dan manusia hanya pengelolanya.²³
Dalam Kekristenan, etika kasih dan pengampunan melahirkan lembaga-lembaga
sosial seperti rumah sakit, biara, dan amal, yang menjadi cikal bakal sistem
kesejahteraan modern.²⁴
Islam menegaskan
prinsip keseimbangan antara individu dan masyarakat melalui instrumen ekonomi
seperti zakat, wakaf, dan larangan riba.²⁵ Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa
keadilan ekonomi merupakan bagian dari ketaatan religius, bukan sekadar urusan
duniawi.²⁶
Secara aksiologis,
ketiga agama mengajarkan bahwa tatanan sosial yang benar adalah tatanan yang
mencerminkan sifat Tuhan: adil, penuh kasih, dan berbelas kasih.²⁷ Oleh karena
itu, Tuhan berfungsi sebagai arsitek nilai sosial yang mengarahkan masyarakat
menuju keseimbangan moral dan spiritual.²⁸
6.4.
Peran Tuhan dalam Perkembangan Intelektual dan
Ilmu Pengetahuan
Pemahaman tentang
Tuhan juga menjadi motor penggerak bagi perkembangan intelektual. Dalam
Yudaisme, studi tentang Taurat dipandang sebagai bentuk ibadah intelektual.²⁹
Tradisi midrash
dan talmudic
reasoning membentuk kerangka berpikir dialektis yang kemudian berpengaruh
terhadap filsafat rasionalisme abad pertengahan.³⁰
Dalam Kekristenan,
teologi menjadi “ratu ilmu pengetahuan” (theologia regina scientiarum) pada
Abad Pertengahan.³¹ Teolog seperti Thomas Aquinas berupaya mengharmoniskan
wahyu dengan rasio Aristotelian, menjadikan Tuhan sebagai prinsip tertinggi
dalam sistem pengetahuan.³² Keyakinan bahwa dunia diciptakan oleh Tuhan yang
rasional mendorong lahirnya sains modern di Barat.³³
Islam, pada masa
klasik (abad ke-8–13 M), mengembangkan sintesis antara iman dan akal melalui
gerakan intelektual di Baghdad, Kairo, dan Andalusia.³⁴ Konsep Tuhan sebagai al-‘Alīm
(Maha Mengetahui) mendorong umat Islam untuk meniru sifat-Nya dengan mencari
ilmu.³⁵ Filsuf seperti Ibn Sina dan Ibn Rushd menegaskan bahwa pengetahuan tentang
alam adalah sarana mengenal Tuhan.³⁶ Dengan demikian, epistemologi Islam
bersifat teosentris: ilmu bukan sekadar pencarian kebenaran, tetapi juga
pengabdian kepada Yang Maha Tahu.³⁷
6.5.
Dialog dan Transformasi Intelektual
Antartradisi
Ketiga tradisi
Abrahamik memiliki sejarah interaksi intelektual yang panjang.³⁸ Di dunia Islam
abad pertengahan, karya-karya filsuf Yunani dan teolog Kristen diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab dan kemudian memengaruhi pemikiran Eropa.³⁹ Tokoh-tokoh
seperti Maimonides (Yahudi), Thomas Aquinas (Kristen), dan Ibn Rushd (Islam)
terlibat dalam dialog lintas tradisi tentang Tuhan, akal, dan wahyu.⁴⁰
Dialog ini
memperlihatkan bahwa Tuhan bukan hanya objek iman, tetapi juga sumber
rasionalitas universal.⁴¹ Ketika filsafat dan teologi berjumpa, muncul
pandangan bahwa kebenaran Ilahi dapat didekati melalui berbagai jalan: wahyu,
akal, dan pengalaman.⁴² Di sinilah konsep Tuhan menjadi jembatan intelektual
yang menyatukan peradaban.⁴³
Pengaruh Sosial-Politik Konsep Tuhan di Era Modern
Dalam dunia modern,
konsep Tuhan tetap menjadi faktor sosial dan intelektual yang berpengaruh,
meskipun menghadapi tantangan dari sekularisme dan relativisme nilai.⁴⁴ Dalam
Yudaisme modern, gagasan Tuhan sebagai sumber keadilan menginspirasi gerakan
etika sosial dan teologi pembebasan Yahudi.⁴⁵ Dalam Kekristenan, teologi
kontekstual dan ekumenisme berupaya menjadikan Tuhan sebagai dasar solidaritas
global.⁴⁶ Sementara dalam Islam kontemporer, muncul gerakan renewal
(tajdīd) yang menafsirkan kembali konsep Tauhid untuk merespons isu-isu
kemanusiaan, demokrasi, dan ekologi.⁴⁷
Tuhan dalam ketiga
agama Abrahamik, dengan demikian, bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga sumber
daya sosial dan intelektual bagi pembaruan peradaban.⁴⁸
Footnotes
[1]
Karen Armstrong, A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism,
Christianity, and Islam (New York: Ballantine Books, 1993), 221–225.
[2]
Mircea Eliade, The Sacred and the Profane: The Nature of Religion
(New York: Harcourt, 1959), 131–134.
[3]
Jacob Neusner, The Way of Torah: An Introduction to Judaism
(Belmont, CA: Wadsworth, 1990), 72–75.
[4]
Michael Walzer, Exodus and Revolution (New York: Basic Books,
1985), 14–17.
[5]
Jon D. Levenson, Sinai and Zion: An Entry into the Jewish Bible
(San Francisco: Harper & Row, 1985), 66–69.
[6]
Hans Küng, Christianity: Essence, History, and Future (New
York: Continuum, 1995), 115–118.
[7]
Dietrich Bonhoeffer, Life Together (New York: Harper &
Row, 1954), 33–36.
[8]
Alkitab, Galatia 3:28.
[9]
Paul Tillich, Theology of Culture (Oxford: Oxford University
Press, 1959), 82–85.
[10]
Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press,
1979), 44–47.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, Ideals and Realities of Islam (London:
Allen & Unwin, 1966), 91–93.
[12]
Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an
(Montreal: McGill University Press, 1966), 54–58.
[13]
Moshe Weinfeld, Deuteronomy and the Deuteronomic School
(Oxford: Clarendon Press, 1972), 93–96.
[14]
Abraham J. Heschel, The Prophets (New York: Harper & Row,
1962), 212–215.
[15]
Augustine, The City of God, trans. Henry Bettenson (London:
Penguin Books, 1972), 109–113.
[16]
Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sultaniyyah (Cairo: Dar al-Hadith,
1989), 45–49.
[17]
Ibn Taymiyyah, Al-Siyasah al-Shar‘iyyah (Riyadh: Dar al-Watan,
1998), 57–60.
[18]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam
(Oxford: Oxford University Press, 1934), 97–100.
[19]
Al-Farabi, The Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford:
Clarendon Press, 1985), 101–105.
[20]
Nicholas Wolterstorff, Justice: Rights and Wrongs (Princeton:
Princeton University Press, 2008), 85–89.
[21]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of
Notre Dame Press, 1981), 190–193.
[22]
Jonathan Sacks, To Heal a Fractured World: The Ethics of
Responsibility (New York: Schocken Books, 2005), 51–54.
[23]
Alkitab, Imamat 25:10–12.
[24]
Peter Brown, Through the Eye of a Needle: Wealth, the Fall of Rome,
and the Making of Christianity in the West, 350–550 AD (Princeton:
Princeton University Press, 2012), 207–210.
[25]
M. Umer Chapra, Islam and the Economic Challenge (Leicester:
Islamic Foundation, 1992), 34–38.
[26]
Nurcholish Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban (Jakarta:
Paramadina, 1992), 211–214.
[27]
Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man
(London: Allen & Unwin, 1968), 123–126.
[28]
Huston Smith, The World’s Religions (San Francisco:
HarperSanFrancisco, 1991), 251–253.
[29]
Jacob Neusner, Judaism and the Interpretation of Scripture:
Introduction to the Rabbinic Midrash (Peabody, MA: Hendrickson, 2004),
28–31.
[30]
Moses Maimonides, The Guide for the Perplexed, trans. Shlomo
Pines (Chicago: University of Chicago Press, 1963), 209–212.
[31]
Etienne Gilson, The Spirit of Medieval Philosophy (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1991), 133–136.
[32]
Thomas Aquinas, Summa Theologica, I, Q.2–Q.13, trans. Fathers
of the English Dominican Province (New York: Benziger Brothers, 1947), 54–59.
[33]
Stanley Jaki, Science and Creation: From Eternal Cycles to an
Oscillating Universe (Edinburgh: Scottish Academic Press, 1974), 72–76.
[34]
George Saliba, Islamic Science and the Making of the European
Renaissance (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 17–21.
[35]
Ibn Sina, Kitab al-Najat (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1938), 54–57.
[36]
Averroes (Ibn Rushd), Tahafut al-Tahafut (London: Luzac,
1954), 41–44.
[37]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge (Albany: SUNY
Press, 1989), 164–167.
[38]
Richard C. Taylor, “Averroes: Religious Dialectic and Aristotelian
Philosophical Thought,” in Medieval Encounters 1, no. 1 (1995): 67–89.
[39]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 103–107.
[40]
Lenn E. Goodman, God of Abraham (New York: Oxford University
Press, 1996), 89–92.
[41]
Edward Grant, God and Reason in the Middle Ages (Cambridge:
Cambridge University Press, 2001), 122–126.
[42]
John Milbank, Theology and Social Theory (Oxford: Blackwell,
1990), 55–58.
[43]
William Lane Craig, Reasonable Faith (Wheaton: Crossway Books,
2008), 201–204.
[44]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 539–543.
[45]
Emil Fackenheim, To Mend the World: Foundations of Future Jewish
Thought (New York: Schocken Books, 1982), 98–101.
[46]
Gustavo Gutiérrez, A Theology of Liberation (Maryknoll, NY:
Orbis Books, 1973), 55–59.
[47]
Tariq Ramadan, Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation
(Oxford: Oxford University Press, 2009), 72–76.
[48]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Knopf, 2009),
271–275.
7.
Kritik
dan Klarifikasi Filosofis
Kritik dan
klarifikasi filosofis terhadap konsep Tuhan dalam agama-agama Abrahamik
merupakan upaya untuk menelaah konsistensi logis, kedalaman metafisis, dan
koherensi teologis dari berbagai doktrin yang telah berkembang selama ribuan
tahun. Ketiga tradisi ini—Yahudi, Kristen, dan Islam—sama-sama berangkat dari
gagasan monoteisme, namun menempuh jalur konseptual yang berbeda dalam
menafsirkan hakikat Ketuhanan.¹ Filsafat agama kemudian muncul sebagai sarana
rasional untuk menguji, memperjelas, dan mempertemukan perbedaan-perbedaan
tersebut, tanpa menafikan kedalaman spiritual yang menjadi fondasinya.²
7.1.
Kritik Rasional atas Doktrin Trinitas
Salah satu persoalan
filosofis paling klasik dalam teologi Kristen adalah doktrin Trinitas. Secara
ontologis, doktrin ini menyatakan bahwa Tuhan adalah satu hakikat (ousia)
dalam tiga pribadi (hypostases): Bapa, Anak, dan Roh
Kudus.³ Namun, dari perspektif logika formal, muncul pertanyaan: bagaimana
sesuatu dapat “tunggal” sekaligus “tiga” tanpa menimbulkan
kontradiksi?⁴
Para teolog Kristen,
seperti Agustinus dan Thomas Aquinas, menjawab bahwa keesaan Tuhan tidak
bersifat numerik, melainkan substansial.⁵ Dengan kata lain, “tiga pribadi”
tidak menunjuk pada tiga entitas yang berbeda, tetapi pada tiga relasi dalam
satu esensi Ilahi.⁶ Namun, filsuf-filsuf Islam dan Yahudi seperti Ibn Sina dan
Maimonides menganggap konsep ini bermasalah karena membuka ruang bagi
pluralitas dalam zat Ilahi.⁷ Maimonides menegaskan bahwa kesempurnaan Tuhan
mensyaratkan simplicity absolut—tanpa bagian,
relasi internal, atau kompleksitas apapun.⁸
Kritik rasional
terhadap Trinitas tidak semata menolak keimanannya, melainkan menguji
konsistensi metafisiknya.⁹ Dalam kerangka filosofis, Trinitas dipahami bukan
sebagai struktur numerik, tetapi sebagai simbol relasionalitas eksistensial
Tuhan yang mengatasi logika diskursif manusia.¹⁰
7.2.
Kritik terhadap Antropomorfisme dalam Teologi
Yahudi
Dalam Kitab Suci
Ibrani, Tuhan sering digambarkan dengan bahasa antropomorfik—memiliki “tangan,”
“wajah,” bahkan “kemarahan.”¹¹ Meskipun simbolis, ekspresi ini
memunculkan persoalan ontologis: apakah Tuhan dapat dipahami dalam kategori
manusiawi?¹²
Para pemikir Yahudi
seperti Philo dari Alexandria dan kemudian Maimonides menolak interpretasi
harfiah terhadap antropomorfisme tersebut.¹³ Menurut mereka, bahasa semacam itu
adalah bentuk adaptasi pedagogis agar manusia dapat memahami yang transenden
melalui analogi.¹⁴ Dalam The Guide for the Perplexed,
Maimonides menegaskan bahwa setiap atribut Tuhan harus dipahami secara negatif
(via
negativa): bukan menyatakan “apa yang Tuhan miliki,” tetapi
“apa yang Tuhan bukan.”¹⁵
Kritik terhadap
antropomorfisme memiliki implikasi epistemologis yang penting: ia menegaskan
keterbatasan bahasa manusia dalam menyentuh realitas Ilahi.¹⁶ Dengan demikian,
filsafat dalam Yudaisme tidak menolak wahyu, melainkan membersihkannya dari
bentuk-bentuk pemahaman yang dapat merendahkan kesucian Tuhan.¹⁷
7.3.
Kritik terhadap Formalisme Dogmatik dalam
Teologi Islam
Dalam sejarah
teologi Islam, perdebatan antara kaum rasionalis (Mu‘tazilah) dan tradisionalis (Ahl
al-Sunnah) menunjukkan ketegangan antara iman dan akal.¹⁸ Kaum
rasionalis menekankan keadilan dan rasionalitas Tuhan, sedangkan kaum
tradisionalis menegaskan penerimaan tanpa tafsir terhadap sifat-sifat-Nya
sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an.¹⁹
Kritik filosofis
terhadap formalisme teologi Islam muncul dari para filsuf seperti al-Farabi,
Ibn Sina, dan kemudian Ibn Rushd.²⁰ Mereka menilai bahwa sebagian teolog
mengunci konsep Tuhan dalam kerangka literalistik yang mengabaikan makna
rasional dan metafisik wahyu.²¹ Ibn Rushd, dalam Tahafut al-Tahafut, menegaskan
bahwa tidak ada kontradiksi antara wahyu dan filsafat, sebab keduanya berasal
dari sumber yang sama: kebenaran Ilahi.²²
Dalam konteks ini,
klarifikasi filosofis berfungsi untuk menegaskan kembali bahwa Tauhid
bukan hanya keesaan numerik, tetapi juga kesatuan hakikat kebenaran yang
mencakup wahyu dan akal.²³ Kritik semacam ini memperkaya teologi Islam dengan
horizon intelektual yang lebih terbuka terhadap rasionalitas dan kebijaksanaan
universal.²⁴
7.4.
Klarifikasi Konseptual atas Transendensi dan
Imanensi
Masalah besar dalam
teologi monoteistik adalah bagaimana menjelaskan hubungan antara Tuhan yang
transenden dan dunia yang imanen. Jika Tuhan sepenuhnya transenden, Ia tampak
jauh dan tidak terlibat dalam dunia; namun jika Ia imanen, muncul risiko
panteisme yang mengaburkan batas antara Pencipta dan ciptaan.²⁵
Dalam Yudaisme,
ketegangan ini diatasi melalui gagasan Shekhinah—kehadiran Ilahi yang
tinggal di tengah umat tanpa kehilangan transendensinya.²⁶ Dalam Kekristenan,
konsep inkarnasi (penjelmaan Tuhan dalam diri Kristus) merupakan bentuk
tertinggi dari imanensi Tuhan dalam sejarah manusia.²⁷ Sedangkan dalam Islam,
Al-Qur’an menyeimbangkan keduanya melalui ungkapan: “Dia bersama kamu di mana pun kamu berada”
(Q.S.
al-Hadīd [57] ayat 4) tanpa menafikan keesaan dan ketinggian-Nya.²⁸
Klarifikasi
filosofis diperlukan untuk menunjukkan bahwa transendensi dan imanensi bukanlah
oposisi mutlak, tetapi dua aspek dari satu realitas Ilahi.²⁹ Tuhan melampaui
dunia namun sekaligus hadir melalui tanda-tanda-Nya (āyāt).³⁰
Dalam hal ini, pendekatan fenomenologis terhadap Ketuhanan—seperti yang
dikemukakan oleh Ricoeur dan Levinas—menawarkan cara memahami kehadiran Ilahi
sebagai alteritas
absolut yang mengundang tanggung jawab etis.³¹
7.5.
Kritik terhadap Keterbatasan Bahasa dan Konsep
tentang Tuhan
Bahasa teologi
adalah medan problematis bagi semua agama.³² Setiap kali manusia menyebut
Tuhan, ia berhadapan dengan paradoks: bagaimana yang tak terhingga dapat
dijelaskan dengan kata-kata yang terbatas?³³ Para teolog Kristen seperti
Pseudo-Dionysius mengembangkan teologi negatif (apophatic theology) untuk mengatasi
paradoks ini, dengan menegaskan bahwa Tuhan lebih besar daripada segala yang
dapat dikatakan (Deus semper maior).³⁴
Dalam Islam,
al-Ghazali menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya bersifat dzawqī
(intuitif), bukan konseptual.³⁵ Sementara Ibn Arabi menambahkan bahwa Tuhan
dikenal melalui tajallī (penampakan diri) yang
terus-menerus, sehingga setiap konsepsi manusia tentang-Nya selalu bersifat
parsial.³⁶ Filsafat modern kemudian menegaskan kembali problem ini melalui
Heidegger, yang melihat bahwa “being” itu sendiri menyembunyikan
asal-usulnya—sebuah kesenyapan metafisik yang hanya dapat diresapi, bukan
dijelaskan.³⁷
Dengan demikian,
klarifikasi filosofis terhadap bahasa teologis menunjukkan bahwa setiap agama
berbicara tentang Tuhan melalui simbol, bukan definisi.³⁸ Teologi, dengan cara
ini, menjadi upaya terbatas namun bermakna untuk mengungkap misteri yang tak
terkatakan.³⁹
Relevansi Kritik Filosofis dalam Konteks
Kontemporer
Kritik filosofis
terhadap konsep Tuhan hari ini memiliki dimensi etis dan eksistensial. Dalam
dunia yang ditandai oleh sekularisasi dan relativisme, filsafat agama mengajak
untuk merefleksikan kembali Tuhan bukan sebagai doktrin dogmatis, tetapi
sebagai horizon makna dan kebenaran.⁴⁰
Pemikir kontemporer
seperti John Hick dan Paul Tillich menekankan bahwa semua konsepsi keagamaan
adalah respon manusia terhadap Realitas Ultimat yang sama.⁴¹ Dengan demikian,
kritik filosofis tidak bermaksud meniadakan perbedaan, tetapi meneguhkan dialog
transenden antaragama.⁴² Dalam perspektif ini, Tuhan tidak lagi dipahami hanya
sebagai objek iman partikular, tetapi sebagai sumber etika universal dan
kesadaran kosmis yang menyatukan seluruh umat manusia.⁴³
Footnotes
[1]
John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs, NJ:
Prentice Hall, 1983), 102–105.
[2]
Alvin Plantinga, Warranted Christian Belief (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 171–174.
[3]
Gerald O’Collins, The Trinity: An Introduction to Catholic Doctrine
on the Triune God (Oxford: Oxford University Press, 2014), 27–30.
[4]
Richard Swinburne, The Christian God (Oxford: Clarendon Press,
1994), 85–89.
[5]
Augustine, De Trinitate, trans. Edmund Hill (New York: New
City Press, 1991), 214–217.
[6]
Thomas Aquinas, Summa Theologica, I, Q.30, a.2 (New York:
Benziger Brothers, 1947), 58–60.
[7]
Ibn Sina, Metaphysics of the Healing, trans. Michael Marmura
(Provo: Brigham Young University Press, 2005), 79–82.
[8]
Moses Maimonides, The Guide for the Perplexed, trans. Shlomo
Pines (Chicago: University of Chicago Press, 1963), 128–130.
[9]
William Lane Craig, Reasonable Faith (Wheaton: Crossway Books,
2008), 143–145.
[10]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. I (Chicago: University
of Chicago Press, 1951), 242–245.
[11]
Alkitab, Keluaran
33:20–23.
[12]
Abraham J. Heschel, God in Search of Man (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 1955), 189–191.
[13]
Philo of Alexandria, On the Creation of the World, trans. C.D.
Yonge (London: George Bell, 1902), 17–19.
[14]
Harry Austryn Wolfson, Philo: Foundations of Religious Philosophy
in Judaism, Christianity, and Islam (Cambridge, MA: Harvard University
Press, 1948), 93–96.
[15]
Maimonides, The Guide for the Perplexed, 141–144.
[16]
Gershom Scholem, Major Trends in Jewish Mysticism (New York:
Schocken Books, 1995), 51–54.
[17]
Steven Nadler, Spinoza’s Heresy: Immortality and the Jewish Mind
(Oxford: Oxford University Press, 2001), 22–25.
[18]
Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology (Edinburgh:
Edinburgh University Press, 1985), 34–38.
[19]
Al-Ash‘ari, Maqalat al-Islamiyyin (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 1998), 43–47.
[20]
Al-Farabi, The Virtuous City, trans. Richard Walzer (Oxford:
Clarendon Press, 1985), 123–126.
[21]
Ibn Sina, Kitab al-Najat (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1938), 58–60.
[22]
Averroes (Ibn Rushd), Tahafut al-Tahafut (London: Luzac,
1954), 88–91.
[23]
Al-Ghazali, Mishkat al-Anwar (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 1996), 44–47.
[24]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 102–105.
[25]
Paul Ricoeur, Figuring the Sacred: Religion, Narrative, and
Imagination, trans. David Pellauer (Minneapolis: Fortress Press, 1995),
63–66.
[26]
Louis Jacobs, A Jewish Theology (London: Behrman House, 1973),
120–123.
[27]
Hans Urs von Balthasar, Love Alone Is Credible (San Francisco:
Ignatius Press, 2004), 45–48.
[28]
Al-Qur’an, Surah
al-Hadīd [57] ayat 4.
[29]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 152–156.
[30]
Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an (Tokyo: Keio
Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), 74–77.
[31]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (Pittsburgh: Duquesne
University Press, 1969), 245–248.
[32]
Karl Barth, Church Dogmatics, Vol. II/1: The Doctrine of God
(Edinburgh: T&T Clark, 1957), 49–52.
[33]
Mircea Eliade, Patterns in Comparative Religion (Lincoln:
University of Nebraska Press, 1996), 233–236.
[34]
Pseudo-Dionysius, The Mystical Theology, trans. Colm Luibheid
(New York: Paulist Press, 1987), 101–104.
[35]
Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1997),
141–144.
[36]
Ibn Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R.W.J. Austin (New York:
Paulist Press, 1980), 95–98.
[37]
Martin Heidegger, Identity and Difference, trans. Joan
Stambaugh (Chicago: University of Chicago Press, 2002), 61–64.
[38]
Rudolf Otto, The Idea of the Holy (Oxford: Oxford University
Press, 1958), 97–99.
[39]
John Milbank, Theology and Social Theory (Oxford: Blackwell,
1990), 142–145.
[40]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 550–553.
[41]
John Hick, An Interpretation of Religion: Human Responses to the
Transcendent (New Haven: Yale University Press, 1989), 314–318.
[42]
Raimon Panikkar, The Rhythm of Being (Maryknoll, NY: Orbis
Books, 2010), 93–97.
[43]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Knopf, 2009),
283–286.
8.
Relevansi
Kontemporer
Dalam dunia modern
yang ditandai oleh pluralisme, sekularisasi, dan krisis nilai, konsep Tuhan
dalam agama-agama Abrahamik—Yahudi, Kristen, dan Islam—mengalami transformasi
epistemologis dan sosial yang signifikan.¹ Tuhan tidak lagi hanya dipahami
sebagai pusat kosmos dan hukum moral, tetapi juga sebagai horizon makna yang
menantang manusia untuk menemukan kembali dimensi spiritualitas di tengah
kompleksitas peradaban teknologis.² Relevansi kontemporer konsep Tuhan terletak
pada kemampuannya untuk menjadi sumber etika universal, dasar dialog lintas
iman, serta fondasi spiritual bagi krisis eksistensial modern.³
8.1.
Tuhan dan Sekularisasi Modern
Abad modern
menghadirkan tantangan besar bagi teologi. Proyek Pencerahan (Enlightenment)
menegaskan otonomi rasio dan menyingkirkan Tuhan dari ruang publik,
menggantinya dengan humanisme dan sains.⁴ Friedrich Nietzsche menyatakan bahwa
“Tuhan telah mati,” bukan dalam arti metafisis, tetapi sebagai kritik
terhadap hilangnya nilai-nilai transenden dalam kebudayaan Barat.⁵ Namun,
sebagaimana ditunjukkan oleh Charles Taylor, “kematian Tuhan” justru
membuka ruang bagi pencarian spiritual baru di era post-secular.⁶
Dalam konteks ini,
agama-agama Abrahamik ditantang untuk menafsirkan kembali konsep Ketuhanan
tanpa kehilangan kedalaman ontologisnya.⁷ Dalam Yudaisme modern, muncul teologi
eksistensial seperti Martin Buber yang menekankan hubungan “Aku-Engkau”
sebagai bentuk baru pengalaman kehadiran Ilahi di dunia sekuler.⁸ Dalam
Kekristenan, Paul Tillich memformulasikan konsep “Tuhan sebagai dasar
keberadaan” (ground of being)—sebuah upaya
menempatkan Tuhan bukan di luar realitas, tetapi sebagai inti dari eksistensi
itu sendiri.⁹ Sedangkan dalam Islam kontemporer, para pemikir seperti Fazlur
Rahman dan Seyyed Hossein Nasr menyerukan rekonstruksi teologi Tauhid agar
tetap relevan bagi kemanusiaan modern yang haus makna spiritual.¹⁰
8.2.
Dialog Lintas Iman dan Teologi Pluralistik
Pluralitas agama dan
budaya merupakan fakta tak terhindarkan di era globalisasi.¹¹ Dalam konteks
ini, konsep Tuhan dalam tiga tradisi Abrahamik dapat menjadi titik temu bagi
dialog lintas iman. John Hick, melalui Theology of Religious Pluralism,
menyatakan bahwa semua agama besar merupakan respons manusia terhadap Realitas
Ilahi yang sama, meskipun melalui simbol dan bahasa yang berbeda.¹²
Dalam Yudaisme,
gagasan tikkun
olam (memperbaiki dunia) menekankan tanggung jawab etis universal
yang melampaui sekat komunitas.¹³ Kekristenan, melalui teologi ekumenis dan
gerakan antaragama, menegaskan kasih sebagai jembatan spiritual antarumat
manusia.¹⁴ Islam, dengan prinsip la ikrāha fī al-dīn (tidak ada
paksaan dalam agama), menegaskan toleransi dan penghargaan terhadap pluralitas
sebagai bagian dari kehendak Tuhan sendiri.¹⁵
Dialog lintas iman
tidak bertujuan menyeragamkan teologi, tetapi memperluas kesadaran bahwa Tuhan,
sebagai sumber kebenaran, melampaui batas-batas doktrin manusia.¹⁶ Dengan
demikian, pluralisme teologis bukan relativisme, melainkan pengakuan atas
keluasan misteri Ilahi yang direspons secara beragam oleh umat manusia.¹⁷
8.3.
Tuhan dalam Krisis Kemanusiaan dan Etika Global
Krisis moral, ekologis,
dan sosial yang melanda dunia modern menuntut reaktualisasi nilai-nilai
ketuhanan sebagai dasar etika global.¹⁸ Agama-agama Abrahamik, melalui konsep
Tuhan sebagai sumber keadilan dan kasih, menawarkan kerangka moral yang menolak
relativisme nihilistik.¹⁹
Dalam etika Yahudi,
Tuhan dipahami sebagai “Hakim dunia” yang menuntut tanggung jawab etis
terhadap sesama dan lingkungan.²⁰ Dalam Kekristenan, kasih Tuhan menjadi
inspirasi bagi teologi pembebasan dan gerakan kemanusiaan universal.²¹
Sedangkan dalam Islam, prinsip rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi
seluruh alam) menegaskan bahwa keimanan sejati diwujudkan melalui tindakan etis
yang melindungi manusia dan alam.²²
Pemikiran global
seperti Hans Küng dan Raimon Panikkar menekankan perlunya “etika dunia” (global
ethic) yang berakar pada keyakinan akan Tuhan sebagai sumber
martabat dan solidaritas manusia.²³ Dalam hal ini, iman kepada Tuhan bukan lagi
sekadar dogma teologis, tetapi fondasi aksi moral universal.²⁴
8.4.
Spiritualitas Baru di Era Post-Sekuler
Sekularisasi yang
semula diperkirakan akan menggantikan agama ternyata justru melahirkan fenomena
spiritualitas baru.²⁵ Banyak manusia modern mencari pengalaman langsung tentang
Tuhan di luar lembaga keagamaan formal.²⁶ Dalam konteks ini, muncul apa yang disebut
oleh Karen Armstrong sebagai “spiritualitas welas asih,” yaitu pencarian
Tuhan melalui empati dan kesadaran etis terhadap penderitaan manusia.²⁷
Dalam Yudaisme
kontemporer, muncul gerakan Jewish Renewal yang menekankan
mistisisme dan pengalaman batin.²⁸ Dalam Kekristenan, praktik kontemplatif dan
teologi meditatif berkembang sebagai bentuk pencarian Tuhan dalam kesunyian.²⁹
Dalam Islam, muncul gerakan tasawuf modern yang menekankan
keseimbangan antara spiritualitas dan rasionalitas, seperti yang dikembangkan
oleh pemikir-pemikir sufi modern.³⁰
Fenomena ini
menunjukkan bahwa relevansi Tuhan tidak terletak pada dogmatisme, tetapi pada
kapasitas transformatif-Nya dalam menghidupkan makna batin dan empati sosial
manusia.³¹ Spiritualitas kontemporer memandang Tuhan bukan sekadar obyek iman,
tetapi pengalaman eksistensial yang menuntun manusia pada kesadaran diri yang
lebih tinggi.³²
8.5.
Ketuhanan dan Tantangan Etika Digital-Ekologis
Dunia abad ke-21
menghadirkan medan baru bagi refleksi teologis: kecerdasan buatan, ekologi, dan
bioteknologi.³³ Pertanyaan etis tentang batas kemanusiaan, tanggung jawab
ekologis, dan kendali terhadap teknologi menuntut kerangka moral baru yang
berakar pada konsep Ketuhanan.³⁴
Dalam konteks
ekoteologi, Tuhan dipahami sebagai sumber harmoni kosmik yang menuntut manusia
menjaga keseimbangan ciptaan.³⁵ Yudaisme menegaskan tanggung jawab ekologis
melalui prinsip bal tashchit
(“jangan merusak”).³⁶ Kekristenan menafsirkan ulang mandat “menguasai
bumi” (Kejadian 1:28) sebagai panggilan untuk memelihara, bukan
mengeksploitasi.³⁷ Islam menempatkan manusia sebagai khalīfah
yang bertugas menjaga keberlanjutan bumi sebagai amanah Tuhan.³⁸
Di era digital,
muncul pula tantangan epistemologis baru: apakah kecerdasan buatan dapat meniru
kesadaran spiritual?³⁹ Pertanyaan ini membawa kembali manusia pada refleksi
tentang hakikat Tuhan sebagai sumber kesadaran dan moralitas yang tak dapat
direduksi menjadi algoritma.⁴⁰ Dengan demikian, Tuhan tetap menjadi horizon
normatif bagi teknologi dan sains, menjaga agar kemajuan manusia tidak
kehilangan arah etisnya.⁴¹
Tuhan sebagai Fondasi Perdamaian dan
Solidaritas Global
Dunia yang dilanda
konflik agama dan polarisasi ideologis membutuhkan pemahaman baru tentang Tuhan
sebagai sumber perdamaian (Deus pacis).⁴² Ketiga agama
Abrahamik, jika kembali pada inti spiritualnya, dapat menjadi kekuatan
rekonsiliatif. Dalam Yudaisme, visi shalom (damai sejahtera) menandai
perwujudan tatanan Ilahi.⁴³ Dalam Kekristenan, kasih Kristus melampaui kebencian
dan kekerasan.⁴⁴ Dalam Islam, as-salām bukan hanya nama Tuhan,
tetapi juga cita-cita etis bagi umat manusia.⁴⁵
Relevansi
kontemporer Tuhan, dengan demikian, tidak berhenti pada tataran metafisis,
melainkan berlanjut sebagai panggilan aksi sosial dan etis.⁴⁶ Tuhan bukan
sekadar ide yang diperdebatkan, tetapi realitas yang menginspirasi manusia
untuk membangun dunia yang lebih adil, beradab, dan penuh kasih.⁴⁷
Footnotes
[1]
Hans Küng, Does God Exist? (New York: Vintage, 1981), 11–15.
[2]
Paul Tillich, The Courage to Be (New Haven: Yale University
Press, 1952), 54–57.
[3]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Knopf, 2009),
301–304.
[4]
Peter Berger, The Sacred Canopy (New York: Anchor Books,
1967), 21–24.
[5]
Friedrich Nietzsche, The Gay Science, trans. Walter Kaufmann
(New York: Vintage, 1974), 108–110.
[6]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 768–772.
[7]
Ninian Smart, Dimensions of the Sacred (Berkeley: University
of California Press, 1996), 229–232.
[8]
Martin Buber, I and Thou, trans. Ronald Gregor Smith (New
York: Scribner, 1958), 62–65.
[9]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. I (Chicago: University
of Chicago Press, 1951), 246–249.
[10]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
145–148.
[11]
Raimon Panikkar, The Intrareligious Dialogue (New York:
Paulist Press, 1978), 34–37.
[12]
John Hick, An Interpretation of Religion: Human Responses to the
Transcendent (New Haven: Yale University Press, 1989), 345–348.
[13]
Jonathan Sacks, To Heal a Fractured World: The Ethics of
Responsibility (New York: Schocken Books, 2005), 23–25.
[14]
Hans Küng, Christianity: Essence, History, and Future (New
York: Continuum, 1995), 298–301.
[15]
Al-Qur’an, Surah
al-Baqarah [2] ayat 256.
[16]
Paul Knitter, Introducing Theologies of Religions (Maryknoll,
NY: Orbis Books, 2002), 78–82.
[17]
Raimon Panikkar, The Cosmotheandric Experience (Maryknoll, NY:
Orbis Books, 1993), 105–108.
[18]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 113–117.
[19]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (Pittsburgh: Duquesne
University Press, 1969), 270–273.
[20]
Michael Walzer, Exodus and Revolution (New York: Basic Books,
1985), 54–57.
[21]
Gustavo Gutiérrez, A Theology of Liberation (Maryknoll, NY:
Orbis Books, 1973), 78–81.
[22]
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Prolegomena to the Metaphysics of
Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 181–184.
[23]
Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic
(New York: Crossroad, 1991), 19–23.
[24]
Raimon Panikkar, The Rhythm of Being (Maryknoll, NY: Orbis
Books, 2010), 152–156.
[25]
Grace Davie, Religion in Britain Since 1945: Believing without
Belonging (Oxford: Blackwell, 1994), 111–114.
[26]
Philip Sheldrake, Spirituality and Theology: Christian Living and
the Doctrine of God (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1998), 89–92.
[27]
Armstrong, The Case for God, 310–312.
[28]
Zalman Schachter-Shalomi, Jewish with Feeling (Woodstock, VT:
Jewish Lights, 2005), 42–44.
[29]
Thomas Merton, New Seeds of Contemplation (New York: New
Directions, 1961), 35–38.
[30]
William C. Chittick, The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings
of Rumi (Albany: SUNY Press, 1983), 201–204.
[31]
Ninian Smart, Worldviews: Crosscultural Explorations of Human
Beliefs (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1999), 198–201.
[32]
Mircea Eliade, The Quest: History and Meaning in Religion
(Chicago: University of Chicago Press, 1969), 123–126.
[33]
Bruno Latour, Facing Gaia: Eight Lectures on the New Climatic
Regime (Cambridge: Polity Press, 2017), 45–48.
[34]
Jürgen Moltmann, God in Creation: A New Theology of Creation and
the Spirit of God (San Francisco: Harper & Row, 1985), 17–20.
[35]
Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man
(London: Allen & Unwin, 1968), 111–114.
[36]
Ellen Bernstein, The Splendor of Creation: A Biblical Ecology
(Cleveland: Pilgrim Press, 2005), 21–24.
[37]
Alkitab, Kejadian 1:28.
[38]
Al-Qur’an, Surah
al-Baqarah [2] ayat 30.
[39]
Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (New
York: Harper, 2017), 265–268.
[40]
John Polkinghorne, Science and the Trinity (New Haven: Yale
University Press, 2004), 115–118.
[41]
James F. Keenan, Moral Wisdom: Lessons and Texts from the Catholic
Tradition (Lanham, MD: Rowman & Littlefield, 2010), 89–92.
[42]
Hans Küng, Islam: Past, Present and Future (Oxford: Oneworld,
2007), 512–516.
[43]
Abraham J. Heschel, The Prophets (New York: Harper & Row,
1962), 218–221.
[44]
Reinhold Niebuhr, Moral Man and Immoral Society (New York:
Scribner, 1932), 110–114.
[45]
Al-Qur’an, Surah
al-Hasyr [59] ayat 23.
[46]
Raimon Panikkar, The Intrareligious Dialogue, 89–91.
[47]
Karen Armstrong, The Battle for God (New York: Knopf, 2000),
389–392.
9.
Sintesis
Filosofis
Sintesis filosofis
terhadap konsep Tuhan dalam tiga agama Abrahamik—Yahudi, Kristen, dan
Islam—merupakan upaya untuk menemukan titik temu konseptual dan spiritual di
antara perbedaan teologis yang historis. Ketiganya lahir dari akar monoteisme
yang sama, meyakini Tuhan sebagai realitas tertinggi, sumber kebenaran, dan
tujuan akhir eksistensi manusia.¹ Namun, perjalanan sejarah membuat
masing-masing tradisi menonjolkan aspek berbeda: Yudaisme dengan transendensi
etis Tuhan, Kekristenan dengan imanensi kasih Ilahi, dan Islam dengan keesaan
ontologis-Nya.² Sintesis filosofis tidak bermaksud menghapus perbedaan itu,
melainkan menyingkap struktur rasional dan spiritual yang menyatukan ketiganya
sebagai ekspresi manusia terhadap Realitas Absolut yang sama.³
9.1.
Monoteisme sebagai Kesatuan Ontologis Realitas
Dari perspektif
metafisika, ketiga agama Abrahamik berakar pada prinsip keesaan Tuhan (monotheos).⁴
Dalam Yudaisme, prinsip ini diekspresikan dalam Shema Israel: “TUHAN itu esa”
(Ulangan 6:4).⁵ Dalam Kekristenan, Trinitas
dipahami sebagai ekspresi kesatuan dinamis dalam kasih, bukan pembagian
substansi Ilahi.⁶ Sedangkan dalam Islam, keesaan Tuhan ditegaskan secara mutlak
melalui Tauhid:
“Tiada Tuhan selain Allah” (Q.S. al-Ikhlāṣ [112] ayat 1).⁷
Dari sudut pandang
filsafat eksistensial, ketiga bentuk monoteisme ini mencerminkan intuisi
metafisis yang sama: bahwa di balik keragaman fenomena terdapat Satu
Realitas yang menopang segala keberadaan.⁸ Martin Buber menyebutnya
sebagai “hubungan Aku–Engkau yang abadi,” di mana keberadaan manusia
menemukan maknanya dalam relasi dengan Tuhan.⁹ Dalam istilah Ibn Arabi, ini
adalah wahdat
al-wujūd—kesatuan wujud—yang tidak berarti penyatuan zat, tetapi
pengakuan bahwa semua yang ada hanyalah manifestasi dari keberadaan Ilahi.¹⁰
Dengan demikian,
monoteisme Abrahamik dapat disintesiskan sebagai pengakuan ontologis terhadap
satu prinsip keberadaan, di mana Tuhan adalah Being Itself (Tillich) yang
melampaui sekaligus menopang semua eksistensi.¹¹
9.2.
Relasi Tuhan–Manusia: Dari Perjanjian ke
Partisipasi
Dalam tradisi
Yahudi, hubungan Tuhan dan manusia dipahami dalam kerangka Covenant
(perjanjian), yang menekankan komitmen moral dan ketaatan hukum sebagai bentuk
kasih timbal balik.¹² Dalam Kekristenan, relasi ini berkembang menjadi
partisipasi eksistensial: manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kasih
Ilahi melalui Kristus sebagai Logos yang menjelma.¹³ Sedangkan
dalam Islam, hubungan itu dirumuskan dalam bentuk penghambaan yang sadar (‘ubūdiyyah)—penyerahan
diri total (islām) kepada kehendak Tuhan.¹⁴
Sintesis filosofis
atas tiga bentuk relasi ini menunjukkan gradasi kesadaran religius: dari ketaatan
legalistik, menuju partisipasi eksistensial, dan akhirnya menuju penyatuan
metafisik.¹⁵ Semua itu berpuncak pada satu prinsip: manusia mengenal Tuhan
melalui tanggapan aktif terhadap panggilan Ilahi dalam sejarah dan batinnya
sendiri.¹⁶
9.3.
Rasionalitas dan Wahyu: Jalan Ganda Menuju
Kebenaran
Ketiga agama
Abrahamik mengakui wahyu sebagai sumber utama pengetahuan tentang Tuhan, namun
masing-masing juga mengembangkan rasionalitas teologisnya sendiri. Dalam
Yudaisme, tradisi Talmudic reasoning menunjukkan
bahwa berpikir rasional adalah bentuk pelayanan kepada Tuhan.¹⁷ Dalam
Kekristenan, sintesis antara iman dan akal mencapai puncaknya pada pemikiran
Thomas Aquinas, yang menegaskan bahwa “iman tidak bertentangan dengan akal,
tetapi melampauinya.”¹⁸ Dalam Islam, para teolog dan filsuf seperti
al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd menegaskan bahwa akal adalah hujjah
batin (argumen internal) yang diciptakan Tuhan agar manusia dapat
memahami wahyu secara mendalam.¹⁹
Sintesis filosofis
antara iman dan akal menunjukkan bahwa keduanya merupakan dua jalan menuju satu
kebenaran.²⁰ Wahyu memberi arah dan makna, sedangkan akal memberi bentuk dan
penjelasan.²¹ Dalam pandangan perennial, keduanya bukan lawan, tetapi pantulan
dari satu sumber Ilahi yang sama.²²
9.4.
Etika Ketuhanan sebagai Universalitas Moral
Secara aksiologis,
Tuhan dalam tiga agama Abrahamik adalah sumber kebaikan tertinggi (summum
bonum).²³ Etika Yahudi menekankan keadilan sosial dan tanggung
jawab kolektif, Kekristenan menegaskan kasih tanpa batas (agape),
sedangkan Islam mengajarkan keseimbangan antara keadilan (‘adl)
dan kasih sayang (raḥmah).²⁴
Dalam sintesis
filosofis, nilai-nilai tersebut membentuk etika transenden, di mana moralitas
tidak berdasar pada relativisme manusiawi, melainkan pada partisipasi dalam
kehendak Ilahi.²⁵ Emmanuel Levinas menyebut etika ini sebagai “teofani wajah
yang lain”—bahwa dalam wajah sesama, manusia menjumpai Tuhan.²⁶ Dengan
demikian, Tuhan menjadi dasar tanggung jawab moral universal: iman yang sejati
adalah praksis etis yang membebaskan dan menyejahterakan.²⁷
9.5.
Kesatuan Transendensi dan Imanensi
Ketegangan antara
transendensi dan imanensi Tuhan telah lama menjadi tema utama dalam filsafat
agama.²⁸ Namun, ketiga agama Abrahamik secara filosofis dapat disintesiskan
melalui konsep teopanentisme—bahwa Tuhan melampaui
dunia, tetapi hadir secara aktif di dalamnya.²⁹ Dalam Yudaisme, kehadiran Ilahi
di dunia diwujudkan melalui Shekhinah; dalam Kekristenan
melalui inkarnasi Logos; dan dalam Islam melalui tajallī atau penampakan sifat-sifat
Tuhan dalam ciptaan.³⁰
Dengan demikian,
dunia bukanlah oposisi terhadap Tuhan, melainkan medium penyingkapan-Nya.³¹
Relasi Tuhan–alam bukan relasi dualistik, tetapi hierarkis: alam adalah tanda (āyah)
dari keberadaan-Nya, bukan bagian dari hakikat-Nya.³² Sintesis ini
menghubungkan teologi klasik dengan kosmologi modern yang memandang alam
semesta sebagai sistem yang memiliki dimensi spiritual.³³
9.6.
Teologi sebagai Filsafat Hidup dan
Spiritualitas Universal
Filsafat Ketuhanan
dalam tiga tradisi Abrahamik berujung pada kesadaran eksistensial bahwa
pengetahuan tentang Tuhan tidak hanya teoretis, melainkan transformasional.³⁴
Maimonides menegaskan bahwa mengenal Tuhan berarti meniru sifat-sifat-Nya
melalui tindakan moral.³⁵ Thomas Aquinas menyatakan bahwa actus
fidei (tindakan iman) adalah gerak jiwa menuju kesempurnaan.³⁶
Sedangkan al-Ghazali mengajarkan bahwa ma‘rifat (pengetahuan tentang Tuhan)
mencapai puncaknya ketika pengetahuan rasional berubah menjadi pengalaman
langsung.³⁷
Sintesis filosofis
modern kemudian mengarah pada gagasan teologi universal atau philosophia
perennis, yang melihat seluruh tradisi monoteistik sebagai refleksi
berbeda dari satu kebenaran metafisis.³⁸ Dalam konteks ini, Tuhan dipahami
sebagai Realitas
Absolut yang menampakkan diri dalam sejarah dan kebudayaan manusia
secara beragam, namun tetap satu dalam substansi hakikat-Nya.³⁹
Implikasi Epistemologis dan Aksiologis bagi
Spiritualitas Global
Dari sintesis ini,
dapat disimpulkan bahwa Tuhan dalam tradisi Abrahamik berfungsi ganda: sebagai
prinsip pengetahuan (epistemologis) dan sebagai sumber nilai (aksiologis).⁴⁰
Dalam bidang epistemologi, Tuhan adalah logos kosmis yang memungkinkan
manusia memahami kebenaran.⁴¹ Dalam bidang aksiologi, Tuhan adalah agape
atau rahmah
yang menuntun manusia menuju kebaikan.⁴²
Dengan demikian,
sintesis filosofis mengajak pada paradigma unity in diversity dalam Ketuhanan:
satu realitas, banyak ekspresi.⁴³ Ia membuka ruang dialog lintas iman yang
tidak meniadakan perbedaan, tetapi mengakui pluralitas sebagai wujud
kebijaksanaan Ilahi.⁴⁴ Tuhan, dalam makna filosofis terdalam, bukan hanya “yang
disembah,” melainkan juga “yang menyatukan”—fondasi spiritual bagi
kemanusiaan universal.⁴⁵
Footnotes
[1]
John Hick, An Interpretation of Religion: Human Responses to the
Transcendent (New Haven: Yale University Press, 1989), 327–331.
[2]
Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books,
1993), 318–321.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 167–170.
[4]
Julius Wellhausen, Prolegomena to the History of Israel
(Edinburgh: Adam & Charles Black, 1885), 45–49.
[5]
Alkitab, Ulangan 6:4.
[6]
Karl Rahner, The Trinity (New York: Herder and Herder, 1970),
29–33.
[7]
Al-Qur’an, Surah
al-Ikhlāṣ [112] ayat 1.
[8]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. I (Chicago: University
of Chicago Press, 1951), 235–238.
[9]
Martin Buber, I and Thou, trans. Ronald Gregor Smith (New
York: Scribner, 1958), 81–83.
[10]
Ibn Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R.W.J. Austin (New York:
Paulist Press, 1980), 103–106.
[11]
Etienne Gilson, The Spirit of Medieval Philosophy (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1991), 142–145.
[12]
Abraham J. Heschel, God in Search of Man (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 1955), 164–168.
[13]
Hans Urs von Balthasar, Love Alone Is Credible (San Francisco:
Ignatius Press, 2004), 39–42.
[14]
Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1997),
118–121.
[15]
Ninian Smart, Dimensions of the Sacred (Berkeley: University
of California Press, 1996), 236–239.
[16]
Emmanuel Levinas, Otherwise than Being or Beyond Essence
(Pittsburgh: Duquesne University Press, 1991), 77–79.
[17]
Jacob Neusner, Judaism and the Interpretation of Scripture
(Peabody, MA: Hendrickson, 2004), 41–43.
[18]
Thomas Aquinas, Summa Theologica, I, Q.1, a.8 (New York:
Benziger Brothers, 1947), 16–19.
[19]
Al-Farabi, The Attainment of Happiness, trans. Muhsin Mahdi
(Chicago: University of Chicago Press, 2001), 51–54.
[20]
Averroes (Ibn Rushd), Fasl al-Maqal (Cairo: Dar al-Ma‘arif,
1959), 30–33.
[21]
Nasr, Ideals and Realities of Islam (London: Allen &
Unwin, 1966), 101–104.
[22]
Frithjof Schuon, The Transcendent Unity of Religions (Wheaton,
IL: Theosophical Publishing House, 1993), 15–18.
[23]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of
Notre Dame Press, 1981), 184–187.
[24]
Jonathan Sacks, The Dignity of Difference (London: Continuum,
2002), 53–56.
[25]
Raimon Panikkar, The Cosmotheandric Experience (Maryknoll, NY:
Orbis Books, 1993), 85–89.
[26]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (Pittsburgh: Duquesne
University Press, 1969), 248–250.
[27]
Paul Ricoeur, Figuring the Sacred: Religion, Narrative, and
Imagination, trans. David Pellauer (Minneapolis: Fortress Press, 1995),
121–124.
[28]
Mircea Eliade, Patterns in Comparative Religion (Lincoln:
University of Nebraska Press, 1996), 239–242.
[29]
John Polkinghorne, Science and Providence (Philadelphia:
Templeton Foundation Press, 1989), 63–66.
[30]
Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford
University Press, 1996), 137–140.
[31]
Tillich, Theology of Culture (Oxford: Oxford University Press,
1959), 99–102.
[32]
Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an (Tokyo: Keio
Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1964), 88–91.
[33]
Jürgen Moltmann, God in Creation (San Francisco: Harper &
Row, 1985), 56–60.
[34]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge (Albany: SUNY
Press, 1989), 172–176.
[35]
Maimonides, The Guide for the Perplexed, 251–254.
[36]
Thomas Aquinas, Summa Contra Gentiles, I, c.2 (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1955), 19–22.
[37]
Al-Ghazali, Mishkat al-Anwar (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 1996), 33–36.
[38]
Aldous Huxley, The Perennial Philosophy (New York: Harper
& Brothers, 1945), 9–12.
[39]
Frithjof Schuon, Understanding Islam (Bloomington: World
Wisdom, 2011), 110–113.
[40]
Hick, Philosophy of Religion, 178–181.
[41]
Tillich, Systematic Theology, Vol. II (Chicago: University of
Chicago Press, 1957), 97–100.
[42]
Balthasar, Theo-Logic, Vol. I (San Francisco: Ignatius Press,
2000), 45–48.
[43]
Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man
(London: Allen & Unwin, 1968), 155–158.
[44]
Raimon Panikkar, The Rhythm of Being (Maryknoll, NY: Orbis
Books, 2010), 190–194.
[45]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Knopf, 2009),
349–352.
10. Kesimpulan
Kajian filosofis
terhadap konsep Tuhan dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam mengungkapkan
bahwa di balik perbedaan doktrinal dan historis, ketiganya berakar pada satu
kesadaran metafisis: bahwa Tuhan adalah sumber segala keberadaan, kebenaran,
dan kebaikan.¹ Tiga tradisi Abrahamik tersebut bukan sekadar sistem teologis
yang berdiri sendiri, melainkan bentuk-bentuk partisipasi manusia terhadap Realitas
Absolut yang sama melalui bahasa, simbol, dan pengalaman sejarah
yang berbeda.² Dengan demikian, perbedaan konseptual mengenai Tuhan tidak harus
dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai diferensiasi ekspresif dari
kebenaran yang tunggal namun tak terbatas.³
10.1.
Kesatuan Metafisis dan Diferensiasi Teologis
Dalam dimensi
ontologis, Yudaisme, Kekristenan, dan Islam sama-sama menegaskan bahwa Tuhan
adalah wujud yang mutlak dan transenden.⁴ Meskipun Yudaisme menekankan
transendensi-Nya, Kekristenan mengedepankan imanensi kasih-Nya melalui Trinitas
dan inkarnasi, serta Islam menegaskan keesaan mutlak melalui Tauhid,
ketiganya berpadu dalam pengakuan akan Tuhan sebagai causa
prima dan dasar realitas yang melampaui batas pikiran manusia.⁵
Sintesis filosofis
menunjukkan bahwa perbedaan ini dapat dipahami sebagai “variasi pendekatan
terhadap yang sama.”⁶ Dalam istilah Raimon Panikkar, Tuhan dalam tiga
tradisi tersebut adalah Cosmotheandric Reality—realitas
yang menyatukan Tuhan, manusia, dan kosmos tanpa meniadakan perbedaan ontologis
di antara ketiganya.⁷
10.2.
Jalan Pengetahuan dan Pengalaman tentang Tuhan
Ketiga agama
Abrahamik menawarkan dua jalan menuju Tuhan: jalan rasional dan jalan
spiritual.⁸ Yudaisme menekankan refleksi etis dan hukum sebagai wujud iman;
Kekristenan menggabungkan rasio dengan cinta (agape) yang menuntun pada
pengalaman imanensi Ilahi; Islam memadukan akal, wahyu, dan intuisi spiritual
dalam kesatuan epistemologis.⁹
Filsafat agama
modern kemudian menegaskan bahwa pengenalan terhadap Tuhan tidak hanya bersifat
kognitif, melainkan juga eksistensial.¹⁰ Tillich menyebut Tuhan sebagai “dasar
keberadaan,” sedangkan Ibn Arabi menyebut-Nya “realitas wujud.”¹¹
Dengan demikian, pengetahuan tentang Tuhan bukan sekadar mengetahui apa
Tuhan itu, tetapi bagaimana manusia mengalami-Nya
dalam eksistensi, moralitas, dan kontemplasi.¹²
10.3.
Dimensi Etis dan Aksiologis dari Ketuhanan
Konsep Tuhan dalam
tiga agama Abrahamik membawa implikasi aksiologis yang mendalam.¹³ Dalam
Yudaisme, Tuhan menjadi sumber keadilan sosial dan tanggung jawab kolektif;
dalam Kekristenan, kasih Ilahi menjadi dasar pengampunan dan solidaritas
universal; dalam Islam, keesaan Tuhan melahirkan kesadaran moral tentang
keadilan, keseimbangan, dan kemanusiaan.¹⁴
Aksiologi Ketuhanan
ini menegaskan bahwa teologi sejati tidak hanya berorientasi pada kontemplasi
metafisis, tetapi juga pada praksis etis.¹⁵ Tuhan menjadi prinsip nilai yang
mengikat seluruh umat manusia dalam tanggung jawab moral yang sama—sebuah
gagasan yang kini menjadi dasar bagi dialog antaragama dan etika global.¹⁶
10.4.
Relevansi Kontemporer: Tuhan di Era
Post-Sekuler
Dalam konteks
modern, ketika sekularisme dan materialisme mengikis dimensi spiritual manusia,
Tuhan tetap hadir sebagai horizon makna yang tak tergantikan.¹⁷ Tantangan
filsafat agama masa kini bukanlah membuktikan eksistensi Tuhan, melainkan
memulihkan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam dimensi etis, ekologis, dan
eksistensial kehidupan.¹⁸
Ketiga tradisi
Abrahamik dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia modern: Yudaisme dengan
etika tanggung jawab sosialnya, Kekristenan dengan teologi kasih universalnya,
dan Islam dengan spiritualitas tauhid yang menekankan keseimbangan kosmis.¹⁹
Ketiganya bersama-sama membangun dasar spiritual bagi tatanan global yang berkeadilan
dan berperikemanusiaan.²⁰
Sintesis Humanistik dan Transendental
Sintesis akhir dari
kajian ini menunjukkan bahwa Tuhan dalam perspektif Abrahamik bukan sekadar
objek iman, melainkan pusat struktur realitas, sumber nilai, dan tujuan akhir
perjalanan eksistensial manusia.²¹ Dalam bahasa filsafat, Tuhan adalah ens
realissimum—realitas tertinggi yang menjadi sebab sekaligus tujuan
segala sesuatu.²² Dalam bahasa religius, Tuhan adalah “Yang Maha Esa”
yang mempersatukan seluruh ciptaan tanpa menghapus keberbedaan mereka.²³
Maka, pengenalan
terhadap Tuhan dalam ketiga agama ini menuntun pada spiritualitas universal:
kesadaran akan kesatuan ilahi di tengah keragaman bentuk keagamaan.²⁴ Di
sinilah peran filsafat menjadi penting—sebagai jembatan yang menautkan iman dan
rasio, wahyu dan pengalaman, partikularitas dan universalitas.²⁵
Dengan demikian,
konsep Tuhan yang lahir dari tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, jika dipahami
secara filosofis, menegaskan satu pesan abadi: bahwa Tuhan adalah sumber segala
makna, dan mengenal-Nya berarti mengenal kemanusiaan itu sendiri.²⁶
Footnotes
[1]
John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs, NJ:
Prentice Hall, 1983), 183–186.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 171–174.
[3]
Frithjof Schuon, The Transcendent Unity of Religions (Wheaton,
IL: Theosophical Publishing House, 1993), 19–22.
[4]
Paul Tillich, Systematic Theology, Vol. I (Chicago: University
of Chicago Press, 1951), 237–240.
[5]
Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books,
1993), 340–343.
[6]
Raimon Panikkar, The Cosmotheandric Experience (Maryknoll, NY:
Orbis Books, 1993), 97–100.
[7]
Ibid., 104–106.
[8]
Jacob Neusner, The Way of Torah: An Introduction to Judaism
(Belmont, CA: Wadsworth, 1990), 142–145.
[9]
Thomas Aquinas, Summa Theologica, I, Q.2–Q.5 (New York:
Benziger Brothers, 1947), 56–60.
[10]
Al-Farabi, The Attainment of Happiness, trans. Muhsin Mahdi
(Chicago: University of Chicago Press, 2001), 73–75.
[11]
Ibn Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R.W.J. Austin (New York:
Paulist Press, 1980), 101–104.
[12]
Martin Buber, I and Thou, trans. Ronald Gregor Smith (New
York: Scribner, 1958), 85–87.
[13]
Abraham J. Heschel, God in Search of Man (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 1955), 195–199.
[14]
Hans Küng, Christianity: Essence, History, and Future (New
York: Continuum, 1995), 310–313.
[15]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of
Chicago Press, 1982), 162–164.
[16]
Jonathan Sacks, The Dignity of Difference (London: Continuum,
2002), 77–80.
[17]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 780–784.
[18]
Paul Ricoeur, Figuring the Sacred: Religion, Narrative, and
Imagination (Minneapolis: Fortress Press, 1995), 131–134.
[19]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 143–146.
[20]
Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic
(New York: Crossroad, 1991), 25–28.
[21]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (Pittsburgh: Duquesne
University Press, 1969), 275–278.
[22]
Thomas Aquinas, Summa Contra Gentiles, I, c.3 (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1955), 27–30.
[23]
Al-Qur’an, Surah
al-Ikhlāṣ [112] ayat 1–4.
[24]
Frithjof Schuon, Understanding Islam (Bloomington: World
Wisdom, 2011), 117–119.
[25]
Raimon Panikkar, The Rhythm of Being (Maryknoll, NY: Orbis
Books, 2010), 201–204.
[26]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Knopf, 2009),
356–360.
Daftar Pustaka
Armstrong, K. (1993). A history of God: The
4,000-year quest of Judaism, Christianity, and Islam. New York, NY:
Ballantine Books.
Armstrong, K. (2000). The battle for God.
New York, NY: Knopf.
Armstrong, K. (2009). The case for God. New
York, NY: Knopf.
Aquinas, T. (1947). Summa theologica
(Fathers of the English Dominican Province, Trans.). New York, NY: Benziger
Brothers.
Aquinas, T. (1955). Summa contra gentiles
(Vol. 1, C. J. O’Neil, Trans.). Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.
Al-Ash‘ari. (1998). Maqalat al-Islamiyyin.
Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the
metaphysics of Islam. Kuala Lumpur, Malaysia: ISTAC.
Al-Farabi. (1985). The virtuous city (R.
Walzer, Trans.). Oxford, UK: Clarendon Press.
Al-Farabi. (2001). The attainment of happiness
(M. Mahdi, Trans.). Chicago, IL: University of Chicago Press.
Al-Ghazali. (1996). Mishkat al-anwar.
Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Ghazali. (1997). Ihya’ ulum al-din.
Beirut, Lebanon: Dar al-Fikr.
Al-Mawardi. (1989). Al-ahkam al-sultaniyyah.
Cairo, Egypt: Dar al-Hadith.
Averroes (Ibn Rushd). (1954). Tahafut
al-tahafut. London, UK: Luzac.
Averroes (Ibn Rushd). (1959). Fasl al-maqal.
Cairo, Egypt: Dar al-Ma‘arif.
Barth, K. (1957). Church dogmatics, Vol. II/1:
The doctrine of God. Edinburgh, UK: T&T Clark.
Bernstein, E. (2005). The splendor of creation:
A biblical ecology. Cleveland, OH: Pilgrim Press.
Bonhoeffer, D. (1954). Life together. New
York, NY: Harper & Row.
Bonhoeffer, D. (1995). Ethics. New York, NY:
Touchstone.
Brueggemann, W. (1997). Theology of the Old
Testament. Minneapolis, MN: Fortress Press.
Brown, P. (2012). Through the eye of a needle:
Wealth, the fall of Rome, and the making of Christianity in the West, 350–550
AD. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Buber, M. (1958). I and thou (R. G. Smith,
Trans.). New York, NY: Scribner.
Chapra, M. U. (1992). Islam and the economic
challenge. Leicester, UK: Islamic Foundation.
Chittick, W. C. (1983). The Sufi path of love:
The spiritual teachings of Rumi. Albany, NY: SUNY Press.
Chittick, W. C. (1989). The Sufi path of
knowledge. Albany, NY: SUNY Press.
Craig, W. L. (2008). Reasonable faith.
Wheaton, IL: Crossway Books.
Davie, G. (1994). Religion in Britain since
1945: Believing without belonging. Oxford, UK: Blackwell.
Eliade, M. (1959). The sacred and the profane:
The nature of religion. New York, NY: Harcourt.
Eliade, M. (1969). The quest: History and
meaning in religion. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Eliade, M. (1996). Patterns in comparative
religion. Lincoln, NE: University of Nebraska Press.
Fackenheim, E. (1982). To mend the world:
Foundations of future Jewish thought. New York, NY: Schocken Books.
Fishbane, M. (1985). Biblical interpretation in
ancient Israel. Oxford, UK: Clarendon Press.
Gilson, E. (1991). The spirit of medieval
philosophy. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.
Goodman, L. E. (1996). God of Abraham. New
York, NY: Oxford University Press.
Grant, E. (2001). God and reason in the Middle
Ages. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Gutiérrez, G. (1973). A theology of liberation.
Maryknoll, NY: Orbis Books.
Harari, Y. N. (2017). Homo deus: A brief history
of tomorrow. New York, NY: Harper.
Heschel, A. J. (1955). God in search of man.
New York, NY: Farrar, Straus and Giroux.
Heschel, A. J. (1962). The prophets. New
York, NY: Harper & Row.
Hick, J. (1983). Philosophy of religion.
Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Hick, J. (1989). An interpretation of religion:
Human responses to the transcendent. New Haven, CT: Yale University Press.
Huxley, A. (1945). The perennial philosophy.
New York, NY: Harper & Brothers.
Ibn Arabi. (1980). Fusūs al-hikam (R. W. J.
Austin, Trans.). New York, NY: Paulist Press.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2001). Madarij
al-salikin. Cairo, Egypt: Dar al-Hadith.
Ibn Sina. (1938). Kitab al-najat. Cairo,
Egypt: Dar al-Ma‘arif.
Ibn Sina. (2005). Metaphysics of the healing
(M. Marmura, Trans.). Provo, UT: Brigham Young University Press.
Izutsu, T. (1964). God and man in the Qur’an.
Tokyo, Japan: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies.
Izutsu, T. (1966). Ethico-religious concepts in
the Qur’an. Montreal, Canada: McGill University Press.
Jacobs, L. (1973). A Jewish theology.
London, UK: Behrman House.
Jaki, S. (1974). Science and creation: From
eternal cycles to an oscillating universe. Edinburgh, UK: Scottish Academic
Press.
Keenan, J. F. (2010). Moral wisdom: Lessons and
texts from the Catholic tradition. Lanham, MD: Rowman & Littlefield.
Küng, H. (1976). On being a Christian. New
York, NY: Doubleday.
Küng, H. (1981). Does God exist? New York,
NY: Vintage.
Küng, H. (1991). Global responsibility: In
search of a new world ethic. New York, NY: Crossroad.
Küng, H. (1995). Christianity: Essence, history,
and future. New York, NY: Continuum.
Küng, H. (2007). Islam: Past, present and
future. Oxford, UK: Oneworld.
Latour, B. (2017). Facing Gaia: Eight lectures
on the new climatic regime. Cambridge, UK: Polity Press.
Leaman, O. (1988). Averroes and his philosophy.
Oxford, UK: Clarendon Press.
Levenson, J. D. (1985). Sinai and Zion: An entry
into the Jewish Bible. San Francisco, CA: Harper & Row.
Levinas, E. (1969). Totality and infinity.
Pittsburgh, PA: Duquesne University Press.
Levinas, E. (1991). Otherwise than being or
beyond essence. Pittsburgh, PA: Duquesne University Press.
MacIntyre, A. (1981). After virtue. Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press.
Madjid, N. (1992). Islam: Doktrin dan peradaban.
Jakarta, Indonesia: Paramadina.
Maimonides, M. (1963). The guide for the
perplexed (S. Pines, Trans.). Chicago, IL: University of Chicago Press.
Merton, T. (1961). New seeds of contemplation.
New York, NY: New Directions.
Milbank, J. (1990). Theology and social theory.
Oxford, UK: Blackwell.
Moltmann, J. (1985). God in creation: A new
theology of creation and the spirit of God. San Francisco, CA: Harper &
Row.
Nasr, S. H. (1966). Ideals and realities of
Islam. London, UK: Allen & Unwin.
Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The
spiritual crisis of modern man. London, UK: Allen & Unwin.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred.
Albany, NY: SUNY Press.
Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of
nature. New York, NY: Oxford University Press.
Neusner, J. (1990). The way of Torah: An
introduction to Judaism. Belmont, CA: Wadsworth.
Neusner, J. (2004). Judaism and the
interpretation of Scripture: Introduction to the rabbinic midrash. Peabody,
MA: Hendrickson.
Niebuhr, R. (1932). Moral man and immoral
society. New York, NY: Scribner.
Niebuhr, R. (1935). An interpretation of
Christian ethics. New York, NY: Harper & Brothers.
Nussbaum, M. (2001). Upheavals of thought: The
intelligence of emotions. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
O’Collins, G. (2014). The Trinity: An
introduction to Catholic doctrine on the triune God. Oxford, UK: Oxford
University Press.
Otto, R. (1958). The idea of the holy.
Oxford, UK: Oxford University Press.
Panikkar, R. (1978). The intrareligious
dialogue. New York, NY: Paulist Press.
Panikkar, R. (1993). The cosmotheandric
experience. Maryknoll, NY: Orbis Books.
Panikkar, R. (2010). The rhythm of being.
Maryknoll, NY: Orbis Books.
Plantinga, A. (2000). Warranted Christian
belief. Oxford, UK: Oxford University Press.
Polkinghorne, J. (1989). Science and providence.
Philadelphia, PA: Templeton Foundation Press.
Polkinghorne, J. (2004). Science and the
Trinity. New Haven, CT: Yale University Press.
Rahman, F. (1979). Islam. Chicago, IL:
University of Chicago Press.
Rahman, F. (1982). Islam and modernity:
Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of
Chicago Press.
Rahner, K. (1970). The Trinity. New York,
NY: Herder and Herder.
Ramadan, T. (2009). Radical reform: Islamic
ethics and liberation. Oxford, UK: Oxford University Press.
Ricoeur, P. (1976). Interpretation theory:
Discourse and the surplus of meaning. Fort Worth, TX: Texas Christian
University Press.
Ricoeur, P. (1995). Figuring the sacred:
Religion, narrative, and imagination (D. Pellauer, Trans.). Minneapolis,
MN: Fortress Press.
Sacks, J. (2002). The dignity of difference.
London, UK: Continuum.
Sacks, J. (2005). To heal a fractured world: The
ethics of responsibility. New York, NY: Schocken Books.
Saliba, G. (2007). Islamic science and the
making of the European Renaissance. Cambridge, MA: MIT Press.
Schachter-Shalomi, Z. (2005). Jewish with
feeling. Woodstock, VT: Jewish Lights.
Scholem, G. (1995). Major trends in Jewish mysticism.
New York, NY: Schocken Books.
Schuon, F. (1993). The transcendent unity of
religions. Wheaton, IL: Theosophical Publishing House.
Schuon, F. (2011). Understanding Islam.
Bloomington, IN: World Wisdom.
Sheldrake, P. (1998). Spirituality and theology:
Christian living and the doctrine of God. Maryknoll, NY: Orbis Books.
Smart, N. (1996). Dimensions of the sacred.
Berkeley, CA: University of California Press.
Smart, N. (1999). Worldviews: Crosscultural
explorations of human beliefs. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Smith, M. S. (2002). The early history of God:
Yahweh and the other deities in ancient Israel. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
Swinburne, R. (1994). The Christian God.
Oxford, UK: Clarendon Press.
Taylor, C. (2007). A secular age. Cambridge,
MA: Harvard University Press.
Taylor, R. C. (1995). Averroes: Religious dialectic
and Aristotelian philosophical thought. Medieval Encounters, 1(1),
67–89.
Tillich, P. (1951). Systematic theology, Vol. I.
Chicago, IL: University of Chicago Press.
Tillich, P. (1957). Systematic theology, Vol.
II. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Tillich, P. (1959). Theology of culture.
Oxford, UK: Oxford University Press.
Tillich, P. (1963). Morality and beyond. New
York, NY: Harper & Row.
Von Balthasar, H. U. (2000). Theo-logic, Vol. I.
San Francisco, CA: Ignatius Press.
Walton, J. H. (2006). Ancient Near Eastern
thought and the Old Testament. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
Walzer, M. (1985). Exodus and revolution.
New York, NY: Basic Books.
Weinfeld, M. (1972). Deuteronomy and the
Deuteronomic school. Oxford, UK: Clarendon Press.
Wellhausen, J. (1885). Prolegomena to the
history of Israel. Edinburgh, UK: Adam & Charles Black.
Wolfson, H. A. (1948). Philo: Foundations of
religious philosophy in Judaism, Christianity, and Islam. Cambridge, MA:
Harvard University Press.
Wolterstorff, N. (2008). Justice: Rights and
wrongs. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Wyschogrod, M. (1983). The body of faith: God in
the people Israel. New York, NY: Seabury Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar