Metode Falsifikasionisme
Kritik terhadap Verifikasionisme dan Implikasi bagi
Ilmu Pengetahuan Modern
Alihkan ke: Epistemologi dalam Filsafat.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif metode falsifikasionisme
dalam epistemologi sebagai tonggak revolusioner dalam filsafat ilmu modern yang
dikembangkan oleh Karl Raimund Popper. Falsifikasionisme hadir sebagai kritik
terhadap verifikasionisme positivistik yang menekankan pembuktian empiris,
dengan menggantinya melalui prinsip pengujian kritis dan penyangkalan
sistematis terhadap teori ilmiah. Pendekatan ini menegaskan bahwa
pengetahuan ilmiah bersifat tentatif, fallibilistik, dan terbuka terhadap
koreksi, sehingga kemajuan ilmu pengetahuan tidak diukur dari akumulasi fakta,
melainkan dari keberanian untuk menolak kesalahan. Artikel ini menelusuri
landasan historis dan genealogis munculnya falsifikasionisme, menganalisis
dimensi ontologis dan epistemologisnya, serta menelaah implikasi aksiologisnya
terhadap etika ilmiah. Selanjutnya, dibahas pula relevansi falsifikasionisme
dalam konteks interdisipliner, termasuk sains alam, ilmu sosial, dan teknologi
digital, serta kritik dari berbagai aliran pemikiran seperti Thomas Kuhn, Imre
Lakatos, dan Paul Feyerabend.
Dalam era post-truth dan digital, falsifikasionisme
memperoleh makna baru sebagai dasar bagi etika rasionalitas terbuka,
transparansi algoritmik, dan tanggung jawab informasi. Prinsip falsifikasi
menjadi tolok ukur penting bagi masyarakat yang kritis dan demokratis,
sekaligus menjadi fondasi etika keilmuan yang menjunjung tinggi kejujuran,
kebebasan berpikir, dan tanggung jawab sosial terhadap kebenaran. Pada
akhirnya, artikel ini menyintesiskan falsifikasionisme sebagai bentuk rasionalisme
kritis humanistik—sebuah pandangan filosofis yang mengintegrasikan
rasionalitas ilmiah dengan nilai-nilai kemanusiaan, menjadikan pengetahuan
bukan sekadar alat kontrol, tetapi sarana moral untuk memperbaiki diri dan
dunia secara terbuka.
Kata Kunci: Falsifikasionisme;
Karl Popper; Epistemologi; Rasionalisme Kritis; Fallibilisme; Etika Ilmiah;
Post-Truth; Humanisme; Metode Ilmiah; Filosofi Sains.
PEMBAHASAN
Falsifikasionisme sebagai Metode Epistemologis
1.
Pendahuluan
Dalam khazanah filsafat ilmu, persoalan mengenai metode
epistemologis menjadi pusat perdebatan yang terus berkembang. Sejak masa
Yunani Kuno hingga era kontemporer, manusia selalu berusaha menemukan cara
paling sahih untuk membedakan antara pengetahuan yang benar dan keyakinan
yang keliru. Pertanyaan “bagaimana kita mengetahui sesuatu?” tidak
hanya bersifat metafisik, melainkan juga praktis, karena ia menentukan arah
perkembangan ilmu pengetahuan dan cara kita memahami dunia. Dalam konteks
modern, terutama pada abad ke-20, persoalan ini menemukan titik kritisnya
ketika verifikasionisme positivistik mulai dipertanyakan validitasnya
sebagai metode untuk membenarkan teori-teori ilmiah. Di sinilah muncul falsifikasionisme,
sebuah pendekatan epistemologis yang dikembangkan oleh Karl Raimund Popper,
yang menandai pergeseran paradigma mendasar dalam cara ilmuwan memahami hakikat
dan dinamika pengetahuan ilmiah.¹
Falsifikasionisme lahir dari kritik tajam terhadap positivisme
logis yang dipelopori oleh Vienna Circle, yang menekankan prinsip
verifikasi empiris sebagai kriteria kebenaran ilmiah.² Menurut para positivis,
suatu pernyataan bermakna hanya jika dapat diverifikasi melalui pengalaman
indrawi. Namun, Popper melihat bahwa pendekatan ini tidak memadai, sebab tidak
ada jumlah observasi yang dapat sepenuhnya membuktikan kebenaran universal dari
suatu teori ilmiah.³ Ia mencontohkan bahwa seribu pengamatan terhadap angsa
putih tidak dapat memastikan bahwa semua angsa di dunia berwarna putih; cukup
satu angsa hitam untuk menggugurkan generalisasi tersebut.⁴ Dengan demikian,
Popper mengganti prinsip verifikasi dengan prinsip falsifikasi, yakni
bahwa suatu teori ilmiah hanya dapat disebut ilmiah sejauh ia dapat diuji dan
berpotensi disangkal oleh pengalaman empiris.
Pendekatan ini membawa perubahan mendasar terhadap logika
penemuan ilmiah. Bagi Popper, pengetahuan ilmiah bukanlah hasil akumulasi
kebenaran, melainkan proses koreksi berkelanjutan terhadap kesalahan. Ilmu
bergerak maju melalui proses penyangkalan (refutation) terhadap
hipotesis yang tidak sesuai dengan fakta empiris, sementara teori yang belum
terbantahkan tetap diterima secara tentatif.⁵ Prinsip ini menempatkan ilmu
dalam dinamika fallibilisme, yaitu pengakuan bahwa semua pengetahuan
bersifat sementara dan terbuka terhadap revisi. Dalam kerangka ini, sains
dipahami sebagai sistem pengetahuan yang kritis, rasional, dan terbuka
terhadap pembaruan, bukan sebagai himpunan dogma yang pasti dan tertutup.⁶
Falsifikasionisme juga memiliki implikasi luas
terhadap demarkasi antara sains dan pseudosains. Popper menegaskan bahwa
yang membedakan ilmu sejati dari sistem kepercayaan non-ilmiah bukanlah
kebenaran empiris, melainkan kerentanan terhadap pengujian kritis.⁷
Sebuah teori yang tidak dapat diuji—seperti astrologi atau psikoanalisis
klasik—tidak dapat dikatakan ilmiah, sebab ia kebal terhadap pembantahan.
Prinsip ini kemudian menjadi salah satu landasan metodologis utama bagi
filsafat sains kontemporer dan turut memengaruhi perkembangan logika empiris,
metodologi penelitian, dan bahkan etika keilmuan.
Dalam konteks epistemologi modern, metode falsifikasionisme
menghadirkan sintesis antara rasionalisme dan empirisme. Ia menolak
klaim kepastian absolut rasionalisme sekaligus mengkritik ketergantungan
empirisme terhadap observasi semata. Popper berupaya menunjukkan bahwa
rasionalitas sejati bukanlah terletak pada pembuktian, melainkan pada kemampuan
untuk menerima koreksi melalui kritik rasional.⁸ Dengan demikian, metode
ini bukan sekadar prosedur ilmiah, tetapi juga sikap intelektual yang menuntut
keterbukaan, kejujuran, dan keberanian menghadapi kemungkinan kesalahan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, pembahasan
mengenai metode falsifikasionisme menjadi relevan untuk memahami epistemologi
ilmu pengetahuan modern. Artikel ini akan menguraikan landasan historis dan
genealogis kelahiran falsifikasionisme, prinsip ontologis dan epistemologisnya,
nilai-nilai aksiologis yang terkandung di dalamnya, serta kritik dan relevansi
kontemporernya di tengah dinamika ilmu pengetahuan digital dan post-truth.
Tujuannya bukan hanya untuk menjelaskan falsifikasionisme sebagai metode,
melainkan juga untuk menyingkap makna filosofisnya sebagai paradigma rasionalisme
kritis yang menempatkan kebenaran sebagai proses dialogis dan terbuka—bukan
sebagai dogma tertutup.
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002), 33–35.
[2]
² A. J. Ayer, Language, Truth and Logic (New
York: Dover Publications, 1952), 14–17.
[3]
³ Popper, The Logic of Scientific Discovery,
41–42.
[4]
⁴ Karl R. Popper, Conjectures and Refutations:
The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 36.
[5]
⁵ Ibid., 50–52.
[6]
⁶ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago: Open Court, 1994), 10–12.
[7]
⁷ Popper, Conjectures and Refutations,
37–38.
[8]
⁸ Hans Albert, Traktat über kritische Vernunft
(Tübingen: J. C. B. Mohr, 1991), 23–26.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Kemunculan falsifikasionisme tidak dapat
dilepaskan dari konteks historis filsafat ilmu pada awal abad ke-20, masa di
mana dominasi positivisme logis membentuk fondasi epistemologis bagi
sains modern. Gerakan ini, yang berpusat pada Vienna Circle (Der
Wiener Kreis), terdiri atas tokoh-tokoh seperti Moritz Schlick, Rudolf
Carnap, dan Otto Neurath, yang berupaya mengembangkan logika ilmiah
berbasis empirisme dan analisis bahasa.¹ Bagi mereka, makna suatu pernyataan
ilmiah harus dapat diverifikasi melalui pengalaman indrawi. Prinsip ini dikenal
sebagai kriteria verifikasi, yang menjadi ciri khas filsafat ilmu
positivistik.²
Namun, seiring berkembangnya sains, prinsip verifikasi
mulai menunjukkan kelemahannya. Banyak teori ilmiah besar, seperti mekanika
kuantum atau teori relativitas, tidak dapat diverifikasi secara langsung oleh
pengalaman, melainkan hanya dapat diuji melalui implikasi-implikasi tidak
langsungnya.³ Di tengah ketegangan antara teori dan pengalaman inilah muncul Karl
Raimund Popper (1902–1994), seorang filsuf asal Austria yang menentang
asumsi dasar empirisme positivistik. Dalam karya monumentalnya Logik der
Forschung (1934), yang kemudian diterjemahkan menjadi The Logic of
Scientific Discovery (1959), Popper menyatakan bahwa verifikasi tidak
dapat menjadi dasar ilmiah, karena proses pengamatan tidak pernah dapat
membuktikan kebenaran universal suatu teori.⁴
Secara genealogis, falsifikasionisme berakar pada tradisi
rasionalisme kritis yang berupaya menggabungkan unsur rasionalisme dan
empirisme tanpa jatuh ke dalam dogmatisme. Popper terinspirasi oleh David
Hume, yang telah menunjukkan problem induksi—yakni bahwa kesimpulan umum
tidak dapat diperoleh secara logis dari sejumlah observasi terbatas.⁵ Ia juga
terpengaruh oleh Albert Einstein, yang dalam pandangannya menunjukkan
bahwa teori ilmiah tidak lahir dari akumulasi observasi, melainkan dari
keberanian intelektual dalam membangun hipotesis yang kemudian diuji melalui
pengalaman.⁶
Popper menolak gagasan bahwa ilmu pengetahuan
berkembang melalui konfirmasi empiris. Ia justru mengajukan prinsip “conjectures
and refutations”—bahwa pengetahuan ilmiah tumbuh melalui rangkaian
hipotesis (dugaan) yang diajukan secara rasional dan kemudian diuji melalui
upaya sistematis untuk menolaknya.⁷ Dengan demikian, falsifikasionisme menandai
pergeseran metodologis dari induksi ke deduksi, dari pencarian
pembenaran menuju pencarian kesalahan.⁸
Selain itu, falsifikasionisme juga merupakan reaksi
terhadap dogmatisme epistemologis abad ke-19 dan awal abad ke-20, di
mana ilmu sering dipandang sebagai sistem yang pasti dan tertutup terhadap
revisi. Popper membalik paradigma ini dengan menegaskan bahwa setiap teori
ilmiah bersifat tentatif—tidak pernah benar secara absolut, melainkan hanya
“belum terbantahkan.”⁹ Posisi ini sejalan dengan semangat fallibilisme,
yaitu kesadaran akan keterbatasan rasio manusia dan keterbukaan terhadap
koreksi melalui kritik.
Dalam perkembangan selanjutnya, gagasan Popper
memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran Thomas Kuhn, Imre
Lakatos, dan Paul Feyerabend, yang masing-masing mengembangkan atau
mengkritik aspek-aspek falsifikasionisme. Kuhn, misalnya, menyoroti bahwa ilmu
tidak berkembang secara linear melalui penolakan teori, melainkan melalui
pergantian paradigma.¹⁰ Lakatos kemudian mencoba menengahi perdebatan tersebut
dengan konsep program riset ilmiah yang lebih bersifat historis-dinamis,
sedangkan Feyerabend melangkah lebih radikal dengan menolak adanya metodologi
ilmiah yang tunggal.¹¹
Dengan demikian, secara historis dan genealogis,
falsifikasionisme muncul sebagai reaksi terhadap krisis metodologis
dalam positivisme logis dan sekaligus sebagai upaya membangun fondasi baru bagi
rasionalitas ilmiah yang lebih kritis dan terbuka. Ia menandai transisi
epistemologis dari pandangan bahwa ilmu adalah sistem pasti menuju pemahaman
bahwa ilmu adalah proses korektif yang berkelanjutan, di mana kebenaran
ilmiah tidak pernah final, tetapi selalu bersifat sementara dan dapat
dipertanyakan kembali.
Footnotes
[1]
¹ Rudolf Carnap, The Logical Structure of the
World (Chicago: Open Court, 2003), 5–8.
[2]
² A. J. Ayer, Language, Truth and Logic (New
York: Dover Publications, 1952), 15–18.
[3]
³ Bas C. van Fraassen, The Scientific Image
(Oxford: Clarendon Press, 1980), 37–40.
[4]
⁴ Karl R. Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002), 27–29.
[5]
⁵ David Hume, An Enquiry Concerning Human
Understanding (Oxford: Oxford University Press, 2007), 34–36.
[6]
⁶ Popper, Conjectures and Refutations: The
Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 56–58.
[7]
⁷ Ibid., 43–45.
[8]
⁸ Hans Albert, Traktat über kritische Vernunft
(Tübingen: J. C. B. Mohr, 1991), 30–33.
[9]
⁹ Popper, The Logic of Scientific Discovery,
41–42.
[10]
¹⁰ Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific
Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1996), 66–69.
[11]
¹¹ Imre Lakatos, The Methodology of Scientific
Research Programmes (Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 8–12.
3.
Ontologi:
Pandangan tentang Realitas Ilmiah
Dalam kerangka
falsifikasionisme, ontologi ilmu pengetahuan tidak
dapat dilepaskan dari pandangan Karl Popper tentang struktur realitas dan
posisi pengetahuan manusia di dalamnya. Popper menolak baik realisme
naif, yang menganggap dunia dapat ditangkap secara langsung
oleh pengalaman empiris, maupun idealime subjektif, yang
menempatkan realitas sebagai konstruksi kesadaran belaka. Ia memperkenalkan pandangan
realisme
kritis—yakni bahwa dunia objektif memang ada secara independen
dari kesadaran manusia, tetapi pemahaman kita terhadapnya selalu bersifat
tentatif, terbuka terhadap kesalahan, dan dapat direvisi.¹ Dalam kerangka ini,
Popper menegaskan bahwa sains tidak berurusan dengan kebenaran absolut tentang
dunia, melainkan dengan pendekatan asimtotik terhadap
realitas melalui serangkaian hipotesis yang diuji dan dikoreksi.²
3.1. Tiga Dunia Popper
Untuk memperjelas
posisi ontologisnya, Popper mengembangkan teori “Tiga Dunia” (Three Worlds Theory),
yang menjadi salah satu kontribusi paling khas dalam filsafat ontologis abad
ke-20.³
·
Dunia
1 (World 1) adalah dunia fisik, yakni realitas material yang
independen dari kesadaran manusia: benda, energi, organisme hidup, dan seluruh
fenomena alam.
·
Dunia
2 (World 2) adalah dunia kesadaran subjektif, mencakup
pengalaman mental, persepsi, emosi, dan pikiran individu.
·
Dunia
3 (World 3) adalah dunia objektivasi budaya dan pengetahuan:
teori ilmiah, karya seni, bahasa, sistem hukum, dan produk intelektual lain
yang lahir dari aktivitas manusia namun memiliki eksistensi objektif setelah
diciptakan.⁴
Dalam hubungan
ketiga dunia ini, Popper menegaskan adanya interaksi dinamis. Dunia 1 menjadi
bahan dasar bagi observasi ilmiah; Dunia 2 menyediakan kerangka kognitif bagi
pengamatan; sedangkan Dunia 3 menjadi wadah bagi perkembangan pengetahuan yang
dapat dikritik dan diperbaiki oleh generasi berikutnya.⁵ Ontologi
falsifikasionisme, dengan demikian, memandang realitas sebagai sistem
hierarkis yang terbuka, di mana entitas-entitas epistemik
(seperti teori) memiliki status ontologis tersendiri tanpa harus direduksi
menjadi fenomena psikologis atau material.
3.2. Fakta, Teori, dan Realitas
Dalam pandangan
Popper, fakta tidak pernah berbicara
sendiri; fakta selalu diinterpretasikan dalam kerangka teori tertentu.⁶ Ini
menolak asumsi positivistik bahwa pengetahuan ilmiah dapat dibangun secara
“netral” dari observasi murni. Setiap pengamatan sudah dipandu oleh struktur
konseptual yang memengaruhi cara kita melihat dunia.⁷ Oleh
karena itu, teori ilmiah bukanlah refleksi pasif dari realitas, melainkan model
konseptual yang berupaya menafsirkan dan menjelaskan fenomena.
Jika teori gagal menjelaskan atau bertentangan dengan hasil observasi, maka
teori tersebut ditolak atau direvisi. Dengan kata lain, realitas tidak tunduk
pada teori, tetapi teori harus tunduk pada realitas empiris yang lebih luas dan
terbuka terhadap koreksi.⁸
Konsepsi ini
menunjukkan bahwa bagi falsifikasionisme, realitas ilmiah bersifat trans-empiris—ia
tidak terbatas pada data indrawi, melainkan mencakup entitas teoretis yang
diasumsikan dalam kerangka penjelasan ilmiah, seperti elektron, medan
gravitasi, atau gen.⁹ Entitas semacam ini mungkin tidak dapat diobservasi
secara langsung, tetapi memiliki status ontologis fungsional
sejauh mereka berperan dalam menjelaskan dan memprediksi fenomena secara
konsisten. Dalam hal ini, Popper menolak instrumentalisme yang
menganggap teori hanya sebagai alat praktis tanpa klaim kebenaran tentang realitas.¹⁰
3.3. Ontologi Falsifikasionisme dan Realisme Ilmiah
Ontologi
falsifikasionisme dapat dipahami sebagai bentuk realisme ilmiah non-dogmatis.
Popper berpendapat bahwa walaupun teori-teori ilmiah selalu tentatif, mereka
tetap mengandung klaim kebenaran tentang dunia
yang dapat diuji dan diperdebatkan secara rasional.¹¹ Ia menolak skeptisisme
radikal yang menganggap realitas tak dapat diketahui, tetapi juga menolak
kepastian mutlak ala rasionalisme klasik. Ilmu, baginya, adalah usaha rasional
manusia untuk mendekati kebenaran—proses tanpa akhir menuju pemahaman yang
semakin mendekati realitas objektif.¹²
Dalam konteks ini,
Popper memperkenalkan istilah verisimilitude atau “kemendekatan
terhadap kebenaran” (truthlikeness).¹³ Teori ilmiah yang
lebih baik bukanlah teori yang “benar” secara absolut, melainkan teori
yang memiliki tingkat kesesuaian lebih tinggi
dengan realitas dibandingkan teori sebelumnya.¹⁴ Dengan demikian, perkembangan
ilmu dapat dipahami bukan sebagai akumulasi fakta, tetapi sebagai peningkatan
progresif dalam ketepatan representasi teoretis terhadap dunia nyata.
3.4. Implikasi Ontologis terhadap Metode Ilmiah
Ontologi
falsifikasionisme membawa implikasi penting terhadap cara ilmu dipraktikkan.
Jika realitas objektif memang ada, maka pengujian empiris menjadi cara
utama untuk mengonfirmasi atau menolak klaim ilmiah. Namun, karena teori selalu
bersifat hipotesis, ilmu tidak dapat mencapai kepastian ontologis, hanya keteguhan
metodologis.¹⁵ Ilmu menjadi kegiatan yang secara ontologis
bersifat terbuka—tidak berhenti pada dogma, melainkan terus memperbaiki diri
melalui kritik dan pengujian. Dalam pengertian ini, ontologi falsifikasionisme
sekaligus menjadi landasan etis bagi sikap ilmiah:
mengakui keterbatasan manusia, namun tetap berkomitmen untuk mencari kebenaran
yang lebih baik melalui dialog rasional dan pengalaman empiris.¹⁶
Dengan demikian,
falsifikasionisme tidak hanya menghadirkan metode epistemologis baru, tetapi
juga membangun pandangan ontologis yang humanistik dan terbuka—bahwa
realitas ilmiah adalah sesuatu yang ada secara independen, tetapi hanya dapat
didekati melalui upaya rasional manusia yang tak pernah final. Ia menegaskan
bahwa kebenaran bukanlah kepemilikan, melainkan tujuan dialog tanpa akhir
antara akal budi dan dunia nyata.
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, Objective Knowledge: An
Evolutionary Approach (Oxford:
Clarendon Press, 1972), 37–38.
[2]
² Ibid., 42–43.
[3]
³ Popper, The Self and Its Brain, bersama John C. Eccles (Berlin: Springer, 1977),
36–40.
[4]
⁴ Popper, Objective Knowledge, 144–147.
[5]
⁵ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago:
Open Court, 1994), 55–58.
[6]
⁶ Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 60–62.
[7]
⁷ Norwood R. Hanson, Patterns
of Discovery (Cambridge: Cambridge
University Press, 1958), 19–22.
[8]
⁸ Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002),
85–86.
[9]
⁹ Bas C. van Fraassen, The
Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 58–61.
[10]
¹⁰ Hilary Putnam, Realism and Reason: Philosophical
Papers, Volume 3 (Cambridge:
Cambridge University Press, 1983), 92–94.
[11]
¹¹ Popper, Objective Knowledge, 48–49.
[12]
¹² Karl R. Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II (London:
Routledge, 2006), 221–223.
[13]
¹³ Popper, Conjectures and
Refutations, 233–235.
[14]
¹⁴ Ilkka Niiniluoto, Truthlikeness (Dordrecht: Reidel, 1987), 14–16.
[15]
¹⁵ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 45–47.
[16]
¹⁶ Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 89–92.
4.
Epistemologi:
Prinsip dan Prosedur Falsifikasi
Falsifikasionisme
berakar pada keprihatinan Karl Popper terhadap problem epistemologis klasik
yang ditinggalkan oleh tradisi induktivisme empiris. Dalam
kerangka positivisme logis, pengetahuan ilmiah dianggap dibangun melalui
akumulasi observasi yang kemudian digeneralisasikan menjadi hukum atau teori.¹
Popper menolak pandangan ini karena, menurutnya, induksi
tidak memiliki dasar logis: dari seribu observasi yang
mendukung suatu teori, tidak ada jaminan bahwa observasi ke seribu satu tidak
akan membantahnya.² Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak dapat disusun di
atas fondasi verifikasi, melainkan pada logika penyangkalan—proses
sistematis untuk menguji dan berupaya menolak teori.³
4.1. Prinsip Dasar Falsifikasi
Bagi Popper,
kebenaran ilmiah bersifat tentatif dan hipotetis. Ilmu
tidak mencari kepastian, tetapi justru mencari kesalahan dalam kerangka
rasional. Ia merumuskan prinsip “conjectures and refutations”:
ilmu pengetahuan berkembang melalui hipotesis yang berani (bold
conjectures) dan melalui pengujian kritis yang berusaha menyingkap
kesalahan (severe
tests).⁴ Setiap teori ilmiah harus memiliki potensi
falsifiabilitas—artinya, teori tersebut harus bisa diuji dengan
kemungkinan untuk disangkal oleh pengalaman empiris.⁵ Sebuah teori yang tidak
dapat dipalsukan atau tidak dapat diuji (seperti astrologi atau psikoanalisis
klasik) bukanlah teori ilmiah, melainkan sistem kepercayaan metafisik.⁶
Falsifikasi, bagi
Popper, bukan hanya alat logis, tetapi juga kriteria demarkasi
epistemologis antara sains dan pseudosains.⁷ Kekuatan suatu
teori justru terletak pada kerentanannya terhadap pembantahan.
Semakin berisiko sebuah teori (yakni semakin banyak kemungkinan
falsifikasinya), semakin ilmiah pula statusnya.⁸ Ilmu pengetahuan, dengan
demikian, bersifat dinamis dan progresif karena selalu bergerak dari kesalahan
menuju teori yang lebih baik. Dalam pandangan ini, Popper menempatkan fallibilisme
sebagai inti dari epistemologi ilmiah: manusia tidak pernah mencapai kebenaran
mutlak, namun dapat mendekatinya melalui koreksi terus-menerus.⁹
4.2. Prosedur Epistemik Falsifikasi
Prosedur
epistemologis falsifikasionisme terdiri dari beberapa tahap rasional. Pertama,
ilmuwan merumuskan hipotesis awal atau conjecture
yang bersifat universal dan dapat diuji. Kedua, hipotesis tersebut diuji
melalui deduksi konsekuensi empiris
yang dapat diverifikasi melalui observasi atau eksperimen.¹⁰ Ketiga, jika hasil
pengamatan bertentangan dengan prediksi teori, maka teori tersebut harus ditolak
atau direvisi.¹¹ Proses ini tidak bertujuan membuktikan teori,
tetapi mengeliminasi
kesalahan demi mendekati teori yang lebih benar. Dengan
demikian, falsifikasi berfungsi sebagai mekanisme seleksi epistemik—mirip
dengan seleksi alam dalam biologi evolusioner—yang menyingkirkan teori yang
lemah dan mempertahankan teori yang paling tahan terhadap kritik.¹²
Popper menolak
pandangan bahwa observasi bersifat netral. Menurutnya, setiap observasi teori-laden
(teori-sarat); pengamatan selalu dilakukan dalam kerangka konseptual
tertentu.¹³ Oleh karena itu, peran teori dalam epistemologi tidak sekadar
mengikuti fakta, tetapi juga mengarahkan cara kita melihat fakta.
Teori bukan hasil akhir dari observasi, melainkan hipotesis yang menuntun
pengalaman dan membentuk horizon pemahaman ilmiah.¹⁴
4.3. Rasionalisme Kritis dan Sikap Epistemik
Falsifikasionisme
tidak hanya merupakan metode ilmiah, tetapi juga suatu sikap
epistemologis yang Popper sebut sebagai critical
rationalism (rasionalisme kritis).¹⁵ Sikap ini menuntut keterbukaan
terhadap kritik, penolakan terhadap dogma, dan kesediaan untuk merevisi teori
berdasarkan bukti. Rasionalitas, dalam pengertian ini, tidak identik dengan
kepastian, tetapi dengan kesediaan untuk diuji dan dikoreksi.¹⁶
Popper menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak dibangun di atas keyakinan yang
tak tergoyahkan, melainkan di atas kerendahan epistemik—pengakuan
bahwa setiap pengetahuan manusia selalu dapat salah.¹⁷
Rasionalisme kritis
juga menegaskan perbedaan antara kebenaran objektif (truth) dan keyakinan
subjektif (belief). Kebenaran bersifat transendental terhadap
pikiran manusia, sementara pengetahuan hanya merupakan upaya mendekatinya.¹⁸
Dalam kerangka ini, kebenaran tidak ditentukan oleh otoritas, konsensus, atau
konfirmasi empiris semata, tetapi oleh kemampuan suatu teori untuk bertahan dari
kritik rasional dan ujian empiris yang keras.¹⁹
4.4. Perkembangan dan Kritik Internal
Meskipun
falsifikasionisme berhasil mendefinisikan batas epistemik antara sains dan
pseudosains, ia menghadapi kritik dari kalangan post-positivis. Thomas
Kuhn menilai bahwa dalam praktiknya, ilmuwan tidak serta-merta
menolak teori karena satu anomali empiris; sebaliknya, mereka bekerja dalam paradigma
yang menuntut stabilitas konseptual.²⁰ Sementara itu, Imre
Lakatos berargumen bahwa falsifikasi tidak pernah murni; teori
sering dipertahankan dengan memodifikasi asumsi tambahan dalam “sabuk
pelindung” (protective belt) suatu program
riset.²¹ Kendati demikian, kritik-kritik tersebut tidak menggugurkan nilai epistemologis
falsifikasionisme. Popper tetap memberikan kontribusi besar dengan menegaskan
bahwa ilmu bersifat progresif secara negatif—yakni
maju bukan karena menemukan kebenaran, melainkan karena mampu membuang
kesalahan.²²
4.5. Signifikansi Epistemologis
Falsifikasionisme
memberikan dasar epistemologis bagi sains yang kritis, terbuka, dan dinamis.
Ia menegaskan bahwa kekuatan rasio bukan terletak pada kemampuannya menemukan
kepastian, melainkan pada kemampuannya menanggung koreksi.
Prinsip ini menjadikan ilmu pengetahuan sebagai proyek kolektif manusia yang
selalu berkembang, di mana kebenaran dipahami bukan sebagai keadaan akhir,
tetapi sebagai arah pencarian rasional yang
terus bergerak.²³
Dalam pengertian
yang lebih luas, falsifikasionisme bukan hanya sebuah metode ilmiah, tetapi
juga etos
intelektual: sikap untuk terus mempertanyakan, menguji, dan
mengoreksi diri. Epistemologi Popper, dengan demikian, membentuk model
pengetahuan yang bukan hanya rasional dan empiris, tetapi juga humanistik,
karena mengakui keterbatasan manusia sekaligus meneguhkan komitmen terhadap
pencarian kebenaran yang tidak pernah selesai.²⁴
Footnotes
[1]
¹ A. J. Ayer, Language, Truth and
Logic (New York: Dover Publications,
1952), 14–17.
[2]
² David Hume, An Enquiry Concerning
Human Understanding (Oxford: Oxford
University Press, 2007), 34–36.
[3]
³ Karl R. Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002),
33–35.
[4]
⁴ Karl R. Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 36–38.
[5]
⁵ Ibid., 40–42.
[6]
⁶ Popper, The Logic of Scientific
Discovery, 44–45.
[7]
⁷ Ibid., 49–50.
[8]
⁸ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 30–33.
[9]
⁹ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago:
Open Court, 1994), 11–13.
[10]
¹⁰ Popper, The Logic of Scientific
Discovery, 83–85.
[11]
¹¹ Popper, Conjectures and
Refutations, 52–54.
[12]
¹² Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 74–76.
[13]
¹³ Norwood R. Hanson, Patterns
of Discovery (Cambridge: Cambridge
University Press, 1958), 19–22.
[14]
¹⁴ Popper, Objective Knowledge: An
Evolutionary Approach (Oxford:
Clarendon Press, 1972), 42–45.
[15]
¹⁵ Ibid., 49–50.
[16]
¹⁶ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II (London:
Routledge, 2006), 221–223.
[17]
¹⁷ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft, 45–47.
[18]
¹⁸ Popper, Objective Knowledge, 55–57.
[19]
¹⁹ Miller, Critical Rationalism, 14–16.
[20]
²⁰ Thomas S. Kuhn, The Structure of
Scientific Revolutions (Chicago:
University of Chicago Press, 1996), 66–69.
[21]
²¹ Imre Lakatos, The Methodology of
Scientific Research Programmes
(Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 8–12.
[22]
²² Popper, Conjectures and
Refutations, 57–59.
[23]
²³ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 89–92.
[24]
²⁴ Popper, Objective Knowledge, 61–63.
5.
Aksiologi:
Nilai dan Etika dalam Falsifikasionisme
Dimensi aksiologis
dalam falsifikasionisme menyingkap sisi etika intelektual yang melekat
pada praktik ilmiah. Karl Popper tidak hanya memandang sains sebagai sistem
pengetahuan, tetapi juga sebagai kegiatan moral yang berakar
pada nilai-nilai rasionalitas, kejujuran, dan keterbukaan terhadap kritik.¹
Dalam pandangan Popper, ilmu pengetahuan sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung
jawab moral para ilmuwan terhadap kebenaran, karena setiap
aktivitas ilmiah mengandung konsekuensi bagi kemajuan peradaban manusia.²
Dengan demikian, falsifikasionisme bukan hanya metode epistemologis, tetapi
juga etos
moral rasionalitas kritis, di mana pencarian kebenaran menjadi
bagian dari komitmen etis terhadap kebebasan berpikir dan keterbukaan
dialogis.³
5.1. Nilai Kejujuran Ilmiah dan Integritas Epistemik
Salah satu nilai
utama yang ditekankan Popper adalah kejujuran ilmiah (intellectual honesty).
Dalam kerangka falsifikasionisme, ilmuwan sejati bukanlah mereka yang berupaya
membenarkan teorinya, tetapi yang berusaha keras menguji
dan menolak hipotesisnya sendiri.⁴ Etika ilmiah menuntut
keberanian untuk menghadapi kemungkinan bahwa teori yang dibangun dengan penuh
dedikasi dapat terbukti salah.⁵ Kejujuran ilmiah ini menjadi manifestasi dari
nilai fallibilisme
moral, yaitu kesediaan untuk mengakui kesalahan sebagai bagian
dari kemajuan pengetahuan.⁶
Popper menegaskan
bahwa ilmuwan yang menolak kritik dan menutup diri terhadap falsifikasi bukan
hanya gagal secara epistemologis, tetapi juga melanggar etika ilmiah.⁷ Dalam
konteks ini, falsifikasionisme membentuk norma moral yang mengharuskan
keterbukaan terhadap kritik dan dialog. Ilmu bukan sekadar aktivitas
intelektual, melainkan praktik kejujuran kolektif yang
mengandaikan transparansi, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.⁸
5.2. Rasionalitas Kritis sebagai Etos Moral
Popper menyebut
falsifikasionisme sebagai bentuk rasionalisme kritis, yakni
pandangan bahwa rasionalitas bukanlah kepastian mutlak, melainkan sikap
moral terhadap kritik dan koreksi.⁹ Rasionalitas kritis
mengandung nilai humilitas epistemik, di mana
seseorang menyadari keterbatasan pengetahuannya dan mengakui hak orang lain
untuk mengoreksinya.¹⁰ Sikap ini menolak otoritarianisme dalam ilmu, sebab
kebenaran tidak ditentukan oleh otoritas individu, melainkan oleh proses
rasional kolektif yang terbuka terhadap pengujian.¹¹
Dalam kerangka etis
ini, ilmu pengetahuan berfungsi sebagai proyek dialogis kemanusiaan,
bukan arena dogmatis. Popper memandang perdebatan ilmiah sebagai bentuk komunikasi
rasional yang bermoral, karena setiap argumen ilmiah harus
tunduk pada kriteria rasionalitas universal yang dapat dipahami dan diuji
bersama.¹² Etika rasional ini selaras dengan prinsip demokrasi dalam kehidupan
sosial: kebebasan berpikir harus diimbangi dengan tanggung jawab rasional untuk
menerima kritik dan kesalahan.¹³
5.3. Nilai Kebebasan dan Anti-Dogmatisme
Dalam The Open
Society and Its Enemies, Popper mengaitkan epistemologi falsifikasionisme
dengan nilai
kebebasan politik dan moral.¹⁴ Menurutnya, masyarakat terbuka (open
society) adalah tatanan sosial yang meniru struktur sains: bebas
dari dogma, terbuka terhadap koreksi, dan didasarkan pada argumen rasional,
bukan otoritas.¹⁵ Dengan demikian, falsifikasionisme mencerminkan struktur
etis dari masyarakat bebas, di mana setiap klaim kebenaran
harus selalu dapat diuji secara publik.¹⁶
Nilai kebebasan
berpikir juga berkaitan dengan tanggung jawab moral terhadap kebenaran.
Popper menolak relativisme yang menyamakan semua pandangan sebagai setara; bagi
dia, kebebasan berpikir justru menuntut tanggung jawab untuk mencari yang benar dan
menolak yang salah.¹⁷ Dalam arti ini, falsifikasionisme
membangun etika kritis yang menggabungkan kebebasan intelektual dengan disiplin
moral rasionalitas.
5.4. Etika Sosial dalam Praktik Ilmiah
Secara aksiologis,
falsifikasionisme tidak hanya menekankan nilai individual, tetapi juga dimensi
sosial dari etika ilmiah. Popper memandang sains sebagai aktivitas
kolektif, di mana kebenaran tidak dimiliki oleh individu,
melainkan lahir dari proses kritik sosial yang terorganisir.¹⁸ Ia menegaskan
pentingnya “komunitas kritik” (community
of criticism) yang menjalankan mekanisme koreksi terhadap klaim
ilmiah.¹⁹ Dalam komunitas semacam itu, nilai-nilai seperti solidaritas
intelektual, keterbukaan informasi, dan tanggung jawab publik menjadi fondasi
moral yang memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang secara sehat.²⁰
Etika sosial ini
juga berfungsi sebagai kritik terhadap bahaya otoritarianisme ilmiah, yaitu
kecenderungan mengkultuskan teori atau figur tertentu sebagai sumber kebenaran
tunggal.²¹ Popper menegaskan bahwa kemajuan ilmiah hanya mungkin jika struktur
sosial ilmu memfasilitasi pluralitas pandangan dan kebebasan kritik,
bukan hierarki pengetahuan yang menindas kreativitas.²²
5.5. Falsifikasionisme sebagai Etika Humanistik
Pada tataran
filosofis yang lebih dalam, falsifikasionisme mencerminkan etika
humanistik: mengakui keterbatasan manusia, tetapi juga
mempercayai kemampuannya untuk memperbaiki kesalahan melalui rasionalitas dan
kerja sama.²³ Etika ini menolak baik pesimisme relativistik maupun optimisme
absolutistik, dan memilih jalan tengah yang reflektif—di
mana manusia terus mencari kebenaran tanpa mengklaim kepemilikan final
atasnya.²⁴
Popper bahkan
menganggap sains sebagai praktik moral yang paling luhur,
karena menuntut disiplin diri, kerendahan hati, dan penghargaan terhadap
argumen rasional orang lain.²⁵ Dalam pandangan ini, pencarian kebenaran bukan
semata aktivitas intelektual, melainkan bentuk pengabdian etis terhadap kemanusiaan—suatu
usaha tanpa akhir untuk mendekati kebenaran sambil memelihara kebebasan dan
tanggung jawab moral.²⁶
Dengan demikian,
aksiologi falsifikasionisme menegaskan bahwa sains tidak netral secara nilai.
Ia berdiri di atas fondasi moral yang menjunjung tinggi kejujuran, keterbukaan,
dan kebebasan berpikir. Dalam arti yang lebih luas, falsifikasionisme bukan
hanya metode untuk menemukan kebenaran ilmiah, tetapi juga pedoman
etika bagi kehidupan intelektual yang demokratis, kritis, dan manusiawi.²⁷
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002),
16–17.
[2]
² Karl R. Popper, Objective Knowledge: An
Evolutionary Approach (Oxford:
Clarendon Press, 1972), 37–38.
[3]
³ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago:
Open Court, 1994), 12–14.
[4]
⁴ Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 36–38.
[5]
⁵ Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 66–68.
[6]
⁶ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 45–47.
[7]
⁷ Popper, Objective Knowledge, 49–50.
[8]
⁸ Miller, Critical Rationalism, 16–18.
[9]
⁹ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II (London:
Routledge, 2006), 221–223.
[10]
¹⁰ Karl R. Popper, All Life Is Problem
Solving (London: Routledge, 1999),
34–35.
[11]
¹¹ Popper, Objective Knowledge, 52–54.
[12]
¹² Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. I (London:
Routledge, 2002), 112–115.
[13]
¹³ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 89–92.
[14]
¹⁴ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. I, 110–111.
[15]
¹⁵ Ibid., 118–120.
[16]
¹⁶ Popper, Conjectures and
Refutations, 60–62.
[17]
¹⁷ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft, 51–53.
[18]
¹⁸ Popper, Objective Knowledge, 145–147.
[19]
¹⁹ David Deutsch, The Fabric of Reality (London: Penguin, 1997), 230–232.
[20]
²⁰ Ian Jarvie, The Republic of
Science: The Emergence of Popper’s Social View of Science (Amsterdam: Rodopi, 2001), 73–75.
[21]
²¹ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II, 240–243.
[22]
²² Jarvie, The Republic of Science, 80–82.
[23]
²³ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 95–98.
[24]
²⁴ Popper, All Life Is Problem
Solving, 45–46.
[25]
²⁵ Popper, Objective Knowledge, 160–162.
[26]
²⁶ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. I, 122–124.
[27]
²⁷ Miller, Critical Rationalism, 19–21.
6.
Dimensi
Ilmiah dan Interdisipliner
Metode falsifikasionisme
tidak hanya memiliki signifikansi dalam filsafat ilmu, tetapi juga memberikan
kontribusi luas terhadap berbagai disiplin pengetahuan. Sebagai paradigma
metodologis, falsifikasionisme menegaskan bahwa kemajuan ilmu tidak terletak
pada penumpukan fakta, melainkan pada kemampuan suatu teori untuk diuji dan
diperbaiki melalui pengujian kritis.¹ Prinsip ini menjadikan
sains sebagai aktivitas rasional yang bersifat terbuka dan dinamis, sekaligus
menegaskan keterkaitannya dengan disiplin lain—baik dalam ranah ilmu alam,
sosial, maupun humaniora.
6.1. Implikasi terhadap Ilmu Alam dan Eksperimen
Dalam konteks ilmu
alam, falsifikasionisme menjadi dasar bagi metodologi eksperimental modern.²
Misalnya, dalam fisika teoretis, teori relativitas Einstein dan mekanika
kuantum dikembangkan bukan melalui verifikasi observasional semata, melainkan
melalui pengujian hipotesis yang berani dan terbuka terhadap penyangkalan
empiris.³ Falsifikasionisme menuntut agar setiap teori ilmiah mengandung prediksi
yang dapat diuji secara potensial, bahkan jika hal itu berisiko
membantah teori tersebut.⁴
Prinsip ini
memperkuat integritas sains dengan menolak dogmatisme teoretis. Dalam biologi,
misalnya, konsep evolusi Darwin terus mengalami revisi berdasarkan
temuan-temuan genetik baru, tanpa kehilangan dasar falsifikatifnya sebagai teori
ilmiah.⁵ Demikian pula dalam ilmu iklim, teori-teori perubahan suhu global
harus senantiasa terbuka terhadap revisi berdasarkan data empiris jangka
panjang.⁶ Dengan demikian, falsifikasionisme menumbuhkan etos
eksperimental yang menjadikan kesalahan bukan sebagai
kegagalan, tetapi sebagai mekanisme kemajuan pengetahuan.⁷
6.2. Peran dalam Ilmu Sosial dan Ekonomi
Falsifikasionisme
juga memberikan pengaruh besar terhadap metodologi ilmu sosial,
terutama dalam bidang ekonomi dan sosiologi. Popper menolak klaim bahwa ilmu
sosial bersifat non-ilmiah hanya karena objeknya kompleks atau tidak dapat
diukur secara presisi.⁸ Sebaliknya, ia menegaskan bahwa teori sosial dapat
dianggap ilmiah sejauh memiliki potensi falsifikatif, misalnya
dengan membuat prediksi yang dapat diuji terhadap data empiris.⁹
Dalam ekonomi,
prinsip falsifikasi menjadi dasar bagi pendekatan ekonometrik
dan model rasional, yang menekankan bahwa hipotesis ekonomi
harus diuji secara statistik, bukan sekadar dijustifikasi melalui asumsi
ideologis.¹⁰ Dalam sosiologi dan ilmu politik, falsifikasionisme melahirkan
tradisi teori kritis empiris, yang
mendorong para ilmuwan untuk menilai struktur sosial melalui bukti yang dapat
diuji, bukan melalui narasi normatif semata.¹¹ Dengan demikian, falsifikasionisme
berfungsi sebagai jembatan metodologis antara sains empiris dan analisis sosial,
membuka jalan bagi pendekatan interdisipliner yang lebih rasional dan
reflektif.
6.3. Integrasi dengan Ilmu Kognitif dan Teknologi
Digital
Pada era
kontemporer, falsifikasionisme mendapatkan relevansi baru dalam bidang ilmu
kognitif, kecerdasan buatan (AI), dan data science.¹² Prinsip
pengujian hipotesis yang dapat disangkal menjadi kerangka epistemologis bagi
model pembelajaran mesin (machine learning) dan sistem
prediktif. Algoritme yang baik harus mampu diuji terhadap data baru dan
diperbaiki ketika hasil prediksinya keliru—sebuah mekanisme yang mencerminkan
logika falsifikatif Popperian.¹³
Dalam ilmu kognitif,
falsifikasionisme memperkuat pendekatan eksperimental terhadap pemahaman
pikiran manusia, menolak klaim introspektif yang tidak dapat diuji.¹⁴ Di sisi
lain, dalam teknologi digital, prinsip ini menegaskan perlunya transparansi
algoritmik dan uji kesalahan sistematis untuk menghindari bias
dan kesalahan sistemik.¹⁵ Dengan demikian, falsifikasionisme menjadi dasar etis
dan ilmiah bagi pengembangan teknologi yang bertanggung jawab.
6.4. Hubungan dengan Filsafat Bahasa dan Logika
Falsifikasionisme
juga berpengaruh dalam ranah filsafat bahasa dan logika
ilmiah. Dalam filsafat analitik, Popper menentang gagasan bahwa
makna bergantung sepenuhnya pada verifikasi empiris sebagaimana diusung
positivisme logis.¹⁶ Ia menegaskan bahwa makna suatu proposisi ilmiah justru
ditentukan oleh potensi falsifikasinya, yaitu
sejauh mana pernyataan tersebut dapat dibuktikan salah melalui pengalaman.¹⁷
Dengan demikian, logika ilmiah Popper menegaskan keterkaitan antara struktur
bahasa ilmiah dan etika epistemik—bahwa kejelasan konseptual
harus selalu disertai tanggung jawab empiris.¹⁸
Falsifikasionisme
juga memperkaya logika deduktif dalam metodologi ilmiah. Ia mengubah paradigma
dari “verifikasi” ke “pengujian deduktif,” di mana teori
menghasilkan prediksi yang logis dan kemudian diuji terhadap data empiris.¹⁹
Model ini kemudian menjadi fondasi bagi metodologi hipotetiko-deduktif
yang digunakan luas dalam sains modern dan eksakta.²⁰
6.5. Dimensi Interdisipliner dan Humanistik
Sebagai pendekatan
yang menekankan kritik rasional dan keterbukaan terhadap
koreksi, falsifikasionisme melintasi batas disipliner dengan
menumbuhkan etika ilmiah yang dialogis dan kolaboratif.²¹
Dalam ilmu lingkungan, misalnya, pendekatan falsifikatif mendorong penelitian
yang berbasis bukti dan terbuka terhadap koreksi atas model-model ekologis yang
kompleks.²² Dalam bidang kedokteran, falsifikasionisme menegaskan pentingnya uji
klinis ganda-buta (double-blind trials) sebagai bentuk
empirisasi prinsip falsifikasi.²³
Lebih jauh lagi,
dimensi interdisipliner falsifikasionisme menegaskan kesatuan rasionalitas
ilmiah dengan nilai-nilai humanistik. Ilmu bukan hanya alat untuk mengontrol
alam, tetapi juga sarana untuk memahami dan memperbaiki kehidupan manusia
melalui mekanisme koreksi diri.²⁴ Falsifikasionisme, dengan demikian, berfungsi
sebagai metaparadigma epistemik yang
mengintegrasikan rasionalitas ilmiah, tanggung jawab sosial, dan keterbukaan
moral terhadap perubahan.
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002),
27–30.
[2]
² Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 58–60.
[3]
³ Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 42–44.
[4]
⁴ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago:
Open Court, 1994), 10–12.
[5]
⁵ Ernst Mayr, The Growth of
Biological Thought (Cambridge:
Harvard University Press, 1982), 76–78.
[6]
⁶ Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019),
97–100.
[7]
⁷ Popper, Objective Knowledge: An
Evolutionary Approach (Oxford:
Clarendon Press, 1972), 49–51.
[8]
⁸ Karl R. Popper, The Poverty of
Historicism (London: Routledge,
1957), 5–8.
[9]
⁹ Ibid., 12–15.
[10]
¹⁰ Milton Friedman, Essays
in Positive Economics (Chicago:
University of Chicago Press, 1953), 4–6.
[11]
¹¹ Anthony Giddens, Central
Problems in Social Theory (Berkeley:
University of California Press, 1979), 21–23.
[12]
¹² Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 81–83.
[13]
¹³ Judea Pearl, Causality: Models,
Reasoning, and Inference (Cambridge:
Cambridge University Press, 2009), 32–34.
[14]
¹⁴ Daniel Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little, Brown, 1991), 27–29.
[15]
¹⁵ Cathy O’Neil, Weapons of Math
Destruction (New York: Crown, 2016),
68–70.
[16]
¹⁶ A. J. Ayer, Language, Truth and
Logic (New York: Dover Publications,
1952), 15–17.
[17]
¹⁷ Popper, The Logic of Scientific
Discovery, 41–43.
[18]
¹⁸ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 30–33.
[19]
¹⁹ Popper, Conjectures and
Refutations, 48–49.
[20]
²⁰ Stephen Toulmin, Foresight
and Understanding (New York: Harper
& Row, 1961), 83–85.
[21]
²¹ Ian Jarvie, The Republic of
Science: The Emergence of Popper’s Social View of Science (Amsterdam: Rodopi, 2001), 70–72.
[22]
²² Carolyn Merchant, The
Death of Nature: Women, Ecology, and the Scientific Revolution (San Francisco: Harper & Row, 1980), 265–268.
[23]
²³ Karl R. Popper, All Life Is Problem
Solving (London: Routledge, 1999),
35–36.
[24]
²⁴ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 95–97.
7.
Kritik
terhadap Falsifikasionisme
Meskipun falsifikasionisme
menjadi tonggak penting dalam sejarah filsafat ilmu abad ke-20, gagasan Karl
Popper ini tidak luput dari berbagai kritik yang datang dari kalangan
epistemolog, ilmuwan, maupun filsuf post-positivis. Kritik-kritik tersebut
umumnya berfokus pada kelemahan logis, historis, dan sosiologis
dari falsifikasionisme yang dianggap terlalu idealistik dan kurang mencerminkan
praktik nyata ilmu pengetahuan. Namun, perdebatan yang muncul justru memperkaya
filsafat ilmu, karena menyingkap kompleksitas antara teori, observasi, dan
dinamika komunitas ilmiah.¹
7.1. Kritik Thomas Kuhn: Paradigma dan Revolusi Ilmiah
Kritik paling
berpengaruh datang dari Thomas S. Kuhn dalam karyanya The
Structure of Scientific Revolutions (1962). Kuhn menolak gagasan
Popper bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara linier melalui proses
penyangkalan dan penggantian teori.² Menurutnya, ilmu beroperasi dalam kerangka
paradigma,
yaitu seperangkat keyakinan, nilai, dan contoh keberhasilan yang diterima
bersama oleh komunitas ilmiah.³ Dalam kondisi “ilmu normal,” ilmuwan
tidak berusaha memfalsifikasi teori yang berlaku, melainkan memecahkan
teka-teki (puzzles)
dalam batas paradigma tersebut. Hanya ketika anomali menumpuk dan krisis
terjadi, revolusi ilmiah pun muncul dan paradigma baru menggantikan yang lama.⁴
Dengan demikian,
Kuhn menilai falsifikasionisme Popper tidak realistis secara sosiologis,
karena mengabaikan peran kebiasaan, tradisi, dan komunitas ilmiah dalam proses
pengetahuan.⁵ Ilmu, menurut Kuhn, lebih menyerupai sistem budaya yang
berevolusi daripada sekadar sistem logis yang menolak teori secara individual.⁶
7.2. Kritik Imre Lakatos: Program Riset Ilmiah
Imre
Lakatos, murid sekaligus penerus kritis Popper, berupaya
menyempurnakan falsifikasionisme dengan mengajukan model “program
riset ilmiah” (scientific research programmes).⁷ Menurut
Lakatos, falsifikasi tidak terjadi secara langsung terhadap teori tunggal,
melainkan terhadap keseluruhan program riset yang terdiri atas “inti
keras” (hard core) dan “sabuk pelindung” (protective belt).⁸
Teori inti dilindungi dari penolakan langsung dengan cara memodifikasi
hipotesis tambahan dalam sabuk pelindung. Suatu program riset dianggap
progresif jika menghasilkan prediksi baru yang terkonfirmasi, dan degeneratif
jika hanya menyesuaikan diri dengan fakta tanpa produktivitas teoretis.⁹
Lakatos menilai
Popper terlalu simplistis secara metodologis,
karena menganggap bahwa satu falsifikasi empiris dapat menggugurkan teori.¹⁰
Dalam praktiknya, ilmuwan sering mempertahankan teori yang tampak “terfalsifikasi”
karena mereka percaya akan adanya kesalahan eksperimental atau asumsi tambahan
yang perlu dikaji ulang.¹¹
7.3. Kritik Paul Feyerabend: Epistemologi Anarkis
Paul
Feyerabend mengajukan kritik yang lebih radikal dalam Against
Method (1975). Ia menolak gagasan bahwa sains tunduk pada metode
universal apa pun, termasuk falsifikasionisme.¹² Menurut Feyerabend, “anything
goes”—tidak ada satu metode ilmiah tunggal yang dapat menjamin
kemajuan pengetahuan, karena sejarah ilmu menunjukkan bahwa terobosan besar
sering muncul melalui pelanggaran terhadap aturan metodologis.¹³ Ia menuduh falsifikasionisme
sebagai bentuk rasionalisme otoriter yang
justru membatasi kreativitas ilmiah dan menindas pluralitas pendekatan.¹⁴
Feyerabend juga
menyoroti dimensi politis sains, menegaskan bahwa sains bukan domain yang
netral, tetapi sarat dengan kepentingan sosial, ekonomi, dan kekuasaan.¹⁵
Karena itu, baginya, klaim universalitas falsifikasionisme gagal memahami
dimensi sosial dan historis yang membentuk realitas ilmiah.¹⁶
7.4. Kritik dari Perspektif Logika dan Empirisme
Selain kritik
historis dan sosiologis, falsifikasionisme juga dikritik dari segi logika
dan epistemologi empiris. Salah satu persoalan mendasar adalah masalah
Duhem–Quine, yang menyatakan bahwa pengujian empiris tidak
pernah dilakukan terhadap satu teori tunggal, melainkan terhadap keseluruhan
sistem hipotesis yang saling terkait.¹⁷ Jika hasil observasi bertentangan
dengan prediksi teori, tidak selalu jelas bagian mana yang salah—teori, asumsi
bantu, atau instrumen pengamatan itu sendiri.¹⁸ Dengan demikian, falsifikasi
tidak bersifat pasti, melainkan selalu terbuka terhadap interpretasi dan revisi.¹⁹
Selain itu, banyak
kritikus menilai bahwa prinsip falsifikasi tidak dapat diterapkan pada teori metafisik,
etik, atau humaniora, karena proposisi dalam bidang tersebut
tidak selalu bersifat empiris.²⁰ Hal ini menunjukkan keterbatasan
falsifikasionisme sebagai model universal pengetahuan.²¹
7.5. Kritik Postmodern dan Konstruktivis
Dalam wacana
postmodernisme dan konstruktivisme sosial, falsifikasionisme dipandang masih
terjebak dalam mitos objektivitas ilmiah.²²
Tokoh seperti Bruno Latour dan Michel
Foucault menegaskan bahwa apa yang disebut “kebenaran ilmiah”
dibentuk melalui jaringan kekuasaan, bahasa, dan institusi sosial, bukan semata
hasil pengujian rasional.²³ Dari perspektif ini, falsifikasionisme dianggap
masih mengandung warisan pencerahan positivistik, yang
menempatkan rasio ilmiah sebagai otoritas tunggal dalam mendefinisikan
realitas.²⁴
Kritik ini tidak
serta-merta menolak prinsip rasionalitas Popper, tetapi menekankan bahwa pengetahuan
ilmiah selalu bersifat kontekstual dan dialogis, bukan
universal dan bebas nilai.²⁵ Dengan demikian, falsifikasionisme perlu dikaji
ulang bukan hanya sebagai metode logis, tetapi juga sebagai konstruksi sosial
yang berinteraksi dengan dinamika budaya dan kekuasaan.²⁶
7.6. Penilaian Kritis dan Relevansi
Walau mendapat
banyak kritik, falsifikasionisme tetap memiliki nilai epistemologis dan moral yang tinggi.²⁷
Prinsip keterbukaan terhadap koreksi, kejujuran ilmiah, dan penolakan terhadap
dogmatisme masih menjadi fondasi etika sains modern. Kritik dari Kuhn, Lakatos,
dan Feyerabend tidak membatalkan falsifikasionisme, melainkan memperkaya dan
mengoreksi batas-batasnya.²⁸ Dalam konteks kontemporer, metode ini perlu
dipahami secara reflektif dan interdisipliner,
sebagai bagian dari rasionalitas ilmiah yang bersifat historis, sosial, dan
manusiawi.²⁹
Footnotes
[1]
¹ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago:
Open Court, 1994), 87–89.
[2]
² Thomas S. Kuhn, The Structure of
Scientific Revolutions (Chicago:
University of Chicago Press, 1996), 52–55.
[3]
³ Ibid., 66–69.
[4]
⁴ Ibid., 92–94.
[5]
⁵ Steve Fuller, Thomas Kuhn: A
Philosophical History for Our Times
(Chicago: University of Chicago Press, 2000), 41–43.
[6]
⁶ Kuhn, The Structure of Scientific
Revolutions, 170–172.
[7]
⁷ Imre Lakatos, The Methodology of
Scientific Research Programmes
(Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 4–6.
[8]
⁸ Ibid., 8–10.
[9]
⁹ Ibid., 12–15.
[10]
¹⁰ Lakatos, Falsification and the
Methodology of Scientific Research Programmes, dalam Criticism
and the Growth of Knowledge, diedit
oleh Imre Lakatos dan Alan Musgrave (Cambridge: Cambridge University Press,
1970), 116–118.
[11]
¹¹ Ibid., 120–121.
[12]
¹² Paul Feyerabend, Against
Method (London: Verso, 1993), 5–7.
[13]
¹³ Ibid., 19–21.
[14]
¹⁴ Ibid., 24–26.
[15]
¹⁵ Paul Feyerabend, Science
in a Free Society (London: Verso,
1978), 18–20.
[16]
¹⁶ Ibid., 27–29.
[17]
¹⁷ Willard Van Orman Quine, Two
Dogmas of Empiricism (Cambridge:
Harvard University Press, 1951), 38–40.
[18]
¹⁸ Pierre Duhem, The Aim and Structure
of Physical Theory (Princeton:
Princeton University Press, 1954), 183–185.
[19]
¹⁹ Larry Laudan, Progress and Its
Problems (Berkeley: University of
California Press, 1977), 48–50.
[20]
²⁰ Bas C. van Fraassen, The
Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 71–73.
[21]
²¹ Popper sendiri mengakui keterbatasan ini dalam Objective Knowledge: An Evolutionary Approach (Oxford: Clarendon Press, 1972), 55–57.
[22]
²² Jean-François Lyotard, The
Postmodern Condition: A Report on Knowledge (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984), 37–39.
[23]
²³ Bruno Latour dan Steve Woolgar, Laboratory
Life: The Construction of Scientific Facts (Princeton: Princeton University Press, 1986), 24–26.
[24]
²⁴ Michel Foucault, Power/Knowledge:
Selected Interviews and Other Writings 1972–1977 (New York: Pantheon Books, 1980), 110–113.
[25]
²⁵ Donna Haraway, Situated Knowledges:
The Science Question in Feminism and the Privilege of Partial Perspective (New York: Routledge, 1988), 581–584.
[26]
²⁶ Karen Barad, Meeting the Universe
Halfway: Quantum Physics and the Entanglement of Matter and Meaning (Durham: Duke University Press, 2007), 135–138.
[27]
²⁷ Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 93–95.
[28]
²⁸ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 65–68.
[29]
²⁹ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 102–104.
8.
Relevansi
Kontemporer: Falsifikasionisme di Era Digital dan Post-Truth
Dalam konteks abad
ke-21, falsifikasionisme
memperoleh makna baru ketika dihadapkan dengan tantangan epistemologis era
digital dan fenomena post-truth.¹ Dunia modern, yang
ditandai oleh ledakan informasi, algoritme kecerdasan buatan, dan media sosial,
telah mengubah secara radikal cara manusia membentuk, memverifikasi, dan
menyebarkan pengetahuan. Di tengah derasnya arus data dan klaim kebenaran yang
saling bersaing, prinsip Popper tentang pengujian kritis dan keterbukaan terhadap
falsifikasi menjadi semakin relevan sebagai fondasi
rasionalitas ilmiah dan etika pengetahuan.²
8.1. Krisis Kebenaran di Era Post-Truth
Istilah post-truth,
yang mulai populer pada dekade 2010-an, merujuk pada situasi sosial di mana emosi
dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh daripada fakta objektif
dalam membentuk opini publik.³ Dalam konteks ini, masyarakat cenderung memilih
“kebenaran yang nyaman” ketimbang kebenaran yang dapat diuji. Pola ini
mencerminkan krisis epistemik yang secara
fundamental bertentangan dengan semangat falsifikasionisme. Popper menegaskan
bahwa kemajuan pengetahuan hanya mungkin jika masyarakat bersedia mengakui
kemungkinan kesalahan dan menilai klaim berdasarkan bukti, bukan perasaan atau
otoritas.⁴
Dalam era
post-truth, prinsip falsifikasi berfungsi sebagai penyeimbang
terhadap relativisme epistemik. Ia menuntut bahwa setiap klaim,
baik ilmiah maupun sosial, harus dapat diuji secara terbuka.⁵ Hal ini penting
untuk membedakan antara “pendapat” dan “pengetahuan”, antara
wacana retoris dan argumentasi rasional. Tanpa kriteria falsifikasi, ruang
publik kehilangan orientasi epistemik dan berubah menjadi arena persuasi
emosional yang rentan terhadap manipulasi informasi.⁶
8.2. Falsifikasionisme dalam Ekosistem Digital dan Big
Data
Transformasi digital
telah melahirkan paradigma baru dalam cara manusia mengakses dan memproduksi
pengetahuan. Dalam dunia big data, algoritme dan model
prediktif menggantikan eksperimen tradisional sebagai alat utama untuk
memperoleh pengetahuan.⁷ Namun, meskipun berbasis data empiris, sistem digital
sering kali beroperasi tanpa mekanisme falsifikasi eksplisit.
Algoritme dapat memperkuat bias yang tersembunyi, dan hasilnya diterima tanpa
pengujian kritis yang memadai.⁸
Prinsip Popper
memberikan kerangka untuk menilai validitas sistem digital secara
epistemologis. Sebuah model prediktif atau algoritme harus dianggap ilmiah
hanya jika dapat diuji dan dikoreksi
berdasarkan hasil empiris baru.⁹ Falsifikasionisme, dengan demikian, menegaskan
pentingnya transparansi algoritmik dan accountability
dalam pengambilan keputusan berbasis AI.¹⁰ Prinsip ini sejalan dengan gagasan explainable
AI, yang menuntut agar keputusan mesin dapat ditelusuri dan diuji
secara rasional.¹¹
Lebih jauh, dalam
dunia riset berbasis data, falsifikasionisme mengingatkan ilmuwan agar tidak
terjebak dalam korlasi tanpa kausalitas.¹² Big
data mungkin mampu menemukan pola, tetapi tanpa hipotesis yang dapat diuji dan
disangkal, data tidak menghasilkan pengetahuan ilmiah sejati.¹³ Dengan
demikian, falsifikasionisme memberikan rambu metodologis bagi
penelitian interdisipliner yang menggabungkan teknologi dengan filsafat ilmu.
8.3. Tantangan Falsifikasionisme terhadap Disinformasi
dan Algoritmisasi Kebenaran
Fenomena disinformasi
digital menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem pengetahuan
modern. Di dunia maya, batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur karena
distribusi informasi tidak lagi bergantung pada validitas, tetapi pada virality.¹⁴
Dalam situasi ini, falsifikasionisme memiliki relevansi moral: ia menyerukan kewajiban
etis untuk memeriksa dan menguji klaim, bukan hanya
menyebarkannya.¹⁵
Lebih jauh lagi,
munculnya algoritme personalisasi—seperti yang digunakan oleh platform media
sosial—menciptakan “gelembung kognitif” (echo chambers),
di mana individu hanya terpapar informasi yang memperkuat pandangan mereka
sendiri.¹⁶ Kondisi ini secara epistemik berlawanan dengan falsifikasionisme,
yang justru menuntut keterbukaan terhadap kontradiksi dan kritik. Popper
menilai bahwa tanpa perbedaan pendapat dan kritik rasional, masyarakat akan
kehilangan kemampuan untuk memperbaiki kesalahannya sendiri.¹⁷
Untuk itu, prinsip
falsifikasi dapat diterapkan dalam konteks sosial-digital sebagai etos
kritis dalam literasi informasi. Masyarakat perlu dilatih untuk
bertanya: “Apakah klaim ini dapat diuji?” atau “Apa bukti yang dapat
menolaknya?”—sebuah sikap epistemik yang melawan hegemoni algoritmik dan
propaganda digital.¹⁸
8.4. Relevansi Falsifikasionisme bagi Etika Ilmu dan
Kebijakan Publik
Dalam bidang
kebijakan publik, terutama yang berbasis sains seperti perubahan iklim,
kesehatan, atau kecerdasan buatan, falsifikasionisme menyediakan kerangka
normatif untuk memastikan kebijakan tetap terbuka terhadap
revisi berdasarkan bukti baru.¹⁹ Popper menolak klaim bahwa ilmu dapat memberi
solusi final bagi masalah sosial; sebaliknya, ia menekankan prinsip “piecemeal
social engineering”—perubahan bertahap yang selalu dapat
dikoreksi.²⁰ Prinsip ini menjadi dasar bagi kebijakan yang rasional dan
beretika di tengah ketidakpastian ilmiah kontemporer.
Dalam era pandemi
dan krisis lingkungan global, misalnya, sikap falsifikatif menjadi penopang
penting bagi kepercayaan publik terhadap sains.²¹
Ketika masyarakat melihat ilmuwan merevisi pernyataan mereka berdasarkan data
baru, hal itu bukan tanda kelemahan, melainkan ekspresi tertinggi dari
kejujuran ilmiah sebagaimana yang diidealkan oleh Popper.²²
8.5. Falsifikasionisme sebagai Etika Digital Humanistik
Akhirnya, dalam
lanskap digital yang kian kompleks, falsifikasionisme dapat ditafsirkan sebagai
etika
digital humanistik. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi
harus dibimbing oleh semangat rasionalitas kritis,
yakni kesediaan untuk diuji, dikritik, dan diperbaiki.²³ Prinsip ini mendorong
terciptanya budaya digital yang menghargai kebenaran, bukan sekadar efisiensi
atau kecepatan.²⁴
Dengan demikian,
falsifikasionisme tidak hanya relevan dalam laboratorium ilmiah, tetapi juga
dalam ruang
publik digital—sebagai dasar bagi kebebasan berpikir, tanggung
jawab informasi, dan keberanian moral untuk mengakui kesalahan.²⁵ Di tengah
krisis kebenaran global, warisan Popper mengingatkan kita bahwa rasionalitas
kritis adalah benteng terakhir melawan disinformasi dan dogmatisme baru yang
dikendalikan algoritme.²⁶
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, Objective Knowledge: An
Evolutionary Approach (Oxford:
Clarendon Press, 1972), 37–39.
[2]
² David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago: Open
Court, 1994), 97–99.
[3]
³ Ralph Keyes, The Post-Truth Era:
Dishonesty and Deception in Contemporary Life (New York: St. Martin’s Press, 2004), 12–14.
[4]
⁴ Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 34–36.
[5]
⁵ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 45–47.
[6]
⁶ Lee McIntyre, Post-Truth (Cambridge: MIT Press, 2018), 28–30.
[7]
⁷ Viktor Mayer-Schönberger dan Kenneth Cukier, Big Data: A Revolution That Will Transform How We Live, Work,
and Think (Boston: Houghton Mifflin
Harcourt, 2013), 44–46.
[8]
⁸ Cathy O’Neil, Weapons of Math
Destruction (New York: Crown, 2016),
67–69.
[9]
⁹ Judea Pearl, Causality: Models,
Reasoning, and Inference (Cambridge:
Cambridge University Press, 2009), 38–41.
[10]
¹⁰ Luciano Floridi, The
Ethics of Information (Oxford:
Oxford University Press, 2013), 101–103.
[11]
¹¹ Brent Mittelstadt et al., “The Ethics of Algorithms: Mapping the
Debate,” Big Data & Society 3, no. 2 (2016): 1–21.
[12]
¹² Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 84–86.
[13]
¹³ Timandra Harkness, Big
Data: Does Size Matter? (London:
Bloomsbury Sigma, 2016), 61–63.
[14]
¹⁴ Claire Wardle dan Hossein Derakhshan, Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for
Research and Policy Making
(Strasbourg: Council of Europe, 2017), 10–12.
[15]
¹⁵ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II (London:
Routledge, 2006), 222–224.
[16]
¹⁶ Cass R. Sunstein, #Republic:
Divided Democracy in the Age of Social Media (Princeton: Princeton University Press, 2017), 88–90.
[17]
¹⁷ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. I (London:
Routledge, 2002), 113–115.
[18]
¹⁸ Luciano Floridi, The
Philosophy of Information (Oxford:
Oxford University Press, 2011), 142–144.
[19]
¹⁹ Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019),
156–158.
[20]
²⁰ Karl R. Popper, The Poverty of
Historicism (London: Routledge,
1957), 65–67.
[21]
²¹ Sheila Jasanoff, The
Ethics of Invention: Technology and the Human Future (New York: W. W. Norton, 2016), 92–94.
[22]
²² Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 91–93.
[23]
²³ Popper, All Life Is Problem
Solving (London: Routledge, 1999),
36–38.
[24]
²⁴ Luciano Floridi, Information:
A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2010), 120–122.
[25]
²⁵ Ian Jarvie, The Republic of
Science: The Emergence of Popper’s Social View of Science (Amsterdam: Rodopi, 2001), 75–77.
[26]
²⁶ McIntyre, Post-Truth, 102–104.
9.
Sintesis
Filosofis: Menuju Rasionalisme Kritis Humanistik
Falsifikasionisme
Karl Popper, pada hakikatnya, bukan hanya teori metodologis dalam epistemologi
ilmiah, melainkan juga suatu pandangan filosofis yang menegaskan martabat
rasionalitas manusia.¹ Melalui konsep critical
rationalism, Popper memadukan rasionalitas ilmiah dengan kesadaran
moral dan sosial yang menempatkan manusia sebagai makhluk pencari kebenaran
yang terbuka terhadap koreksi. Dalam sintesis ini, falsifikasionisme berkembang
menjadi bentuk rasionalisme kritis humanistik—suatu
pandangan yang menggabungkan kesadaran epistemik, etika keilmuan, dan tanggung
jawab kemanusiaan dalam satu kerangka filosofis yang integral.²
9.1. Rasionalitas sebagai Kemanusiaan yang Reflektif
Rasionalisme kritis
humanistik berpijak pada keyakinan bahwa rasionalitas adalah ekspresi tertinggi dari
kemanusiaan, bukan sekadar alat teknis untuk menguasai dunia.³
Popper menolak pandangan rasionalisme dogmatis yang menganggap akal sebagai
sumber kebenaran absolut; sebaliknya, ia menempatkan rasio dalam posisi
reflektif, yaitu sebagai kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri.⁴
Bagi Popper, manusia rasional bukanlah mereka yang tidak pernah salah,
melainkan mereka yang mampu belajar dari kesalahan.⁵
Rasionalitas semacam
ini bersifat humanistik, karena berakar pada
pengakuan terhadap keterbatasan manusia dan pada nilai moral untuk mencari
kebenaran secara terbuka.⁶ Di sini, Popper memperluas pengertian “rasional”
dari sekadar kemampuan logis menjadi sikap eksistensial yang melibatkan
kejujuran, keberanian, dan rasa tanggung jawab terhadap kebenaran.⁷
Rasionalitas, dalam arti Popperian, adalah bentuk moralitas epistemik—suatu
komitmen etis untuk tidak berhenti bertanya dan tidak menutup diri terhadap
kritik.⁸
9.2. Rasionalisme Kritis dan Dialog Kemanusiaan
Dalam kerangka ini,
Popper menegaskan bahwa pengetahuan tidak pernah bersifat privat; ia selalu
berkembang dalam ruang dialogis.⁹ Ilmu
pengetahuan, seperti halnya masyarakat terbuka (open society), hanya dapat tumbuh
jika didasarkan pada kebebasan berpikir, komunikasi rasional, dan penghargaan
terhadap kritik.¹⁰ Prinsip falsifikasi tidak hanya berlaku dalam laboratorium
ilmiah, tetapi juga dalam kehidupan sosial—yakni sebagai cara
manusia berdialog tanpa kekerasan melalui argumen.¹¹
Dengan demikian,
falsifikasionisme menjadi metafora filosofis bagi masyarakat
yang kritis dan demokratis. Dalam masyarakat semacam ini,
setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya, tetapi juga
kewajiban untuk menerima koreksi.¹² Rasionalisme kritis humanistik, dengan
demikian, menolak dua ekstrem sekaligus: relativisme nihilistik yang
meniadakan kebenaran dan dogmatisme totaliter yang
memonopoli kebenaran.¹³
9.3. Humanisme Epistemik dan Fallibilisme Moral
Popper menyadari
bahwa kesalahan adalah bagian inheren dari kondisi manusia. Dalam hal ini, fallibilism
tidak dipahami sebagai kelemahan, tetapi sebagai fondasi
moral bagi pertumbuhan pengetahuan.¹⁴ Kesadaran akan
kemungkinan salah mendorong manusia untuk bersikap rendah hati secara
intelektual dan bertanggung jawab terhadap dampak dari klaim pengetahuannya.¹⁵
Inilah yang
menjadikan falsifikasionisme bersifat humanistik: ia tidak menuntut
kesempurnaan, tetapi mendorong keberanian untuk mencari kebenaran secara
terbuka dan jujur.¹⁶ Dalam konteks sosial, prinsip ini
menumbuhkan etika publik yang menghargai keterbukaan, kolaborasi, dan kesediaan
untuk berubah berdasarkan bukti dan argumen rasional.¹⁷ Dengan demikian,
rasionalisme kritis humanistik menjadi jembatan antara epistemologi dan
aksiologi—antara pengetahuan dan nilai.¹⁸
9.4. Integrasi antara Ilmu, Etika, dan Humaniora
Rasionalisme kritis
humanistik juga berfungsi sebagai paradigma integratif antara ilmu pengetahuan
dan humaniora. Dalam pandangan Popper, sains yang sejati harus berakar
pada nilai kemanusiaan, bukan sekadar pada efektivitas
teknis.¹⁹ Ia menolak reduksionisme ilmiah yang melihat manusia hanya sebagai
objek penelitian, serta menentang relativisme kultural yang menafikan
kemungkinan kebenaran universal.²⁰
Falsifikasionisme,
bila ditafsirkan secara humanistik, justru memperkuat hubungan antara rasionalitas
dan moralitas: ilmu menjadi ruang etis di mana manusia
bertanggung jawab atas dampak sosial dari pengetahuannya.²¹ Pendekatan ini
sejalan dengan pandangan filsafat ilmu kontemporer yang menekankan responsible
knowledge—pengetahuan yang tidak hanya benar secara empiris, tetapi
juga adil secara etis.²²
9.5. Rasionalisme Kritis sebagai Jalan Etis Menuju
Kemanusiaan Terbuka
Akhirnya,
rasionalisme kritis humanistik mengandung visi filosofis tentang kemanusiaan
terbuka (open humanity).²³ Ia menegaskan
bahwa tugas utama manusia bukanlah mencapai kepastian, melainkan membangun
dunia yang lebih rasional, adil, dan manusiawi melalui sikap
kritis terhadap kesalahan dan keterbukaan terhadap pembelajaran.²⁴ Dalam
semangat ini, Popper menolak baik absolutisme ilmiah maupun nihilisme
pascamodern, dan menggantinya dengan optimisme epistemik yang reflektif:
keyakinan bahwa meskipun manusia tidak akan pernah mencapai kebenaran final,
setiap koreksi membawa kita sedikit lebih dekat ke arah yang benar.²⁵
Rasionalisme kritis
humanistik, dengan demikian, merupakan sintesis antara falsifikasionisme
ilmiah dan etika humanistik, antara pencarian kebenaran dan
tanggung jawab moral terhadap sesama.²⁶ Ia memadukan kesadaran kritis dengan
empati, menghubungkan rasionalitas dengan kemanusiaan, dan menjadikan
pengetahuan sebagai sarana untuk memperluas kebebasan manusia. Dalam dunia yang
dikuasai oleh algoritme dan relativisme, warisan Popper mengingatkan bahwa rasionalitas
sejati adalah keberanian untuk mengakui kesalahan—dan untuk tetap berharap pada
kebenaran.²⁷
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, Objective Knowledge: An
Evolutionary Approach (Oxford:
Clarendon Press, 1972), 1–3.
[2]
² David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago:
Open Court, 1994), 92–94.
[3]
³ Popper, Conjectures and
Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 35–37.
[4]
⁴ Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft (Tübingen: J. C. B. Mohr,
1991), 40–42.
[5]
⁵ Popper, All Life Is Problem
Solving (London: Routledge, 1999),
12–14.
[6]
⁶ Nicholas Maxwell, Karl
Popper, Science and Enlightenment
(London: UCL Press, 2017), 89–91.
[7]
⁷ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II (London:
Routledge, 2006), 219–221.
[8]
⁸ Ian Jarvie, The Republic of
Science: The Emergence of Popper’s Social View of Science (Amsterdam: Rodopi, 2001), 74–76.
[9]
⁹ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. I (London:
Routledge, 2002), 112–114.
[10]
¹⁰ Ibid., 120–122.
[11]
¹¹ Karl R. Popper, The Poverty of
Historicism (London: Routledge,
1957), 63–65.
[12]
¹² Hans Albert, Traktat über kritische
Vernunft, 55–57.
[13]
¹³ Thomas S. Kuhn, The Structure of
Scientific Revolutions (Chicago:
University of Chicago Press, 1996), 166–168.
[14]
¹⁴ Popper, Objective Knowledge, 44–45.
[15]
¹⁵ David Deutsch, The Fabric of Reality (London: Penguin, 1997), 232–234.
[16]
¹⁶ Popper, Conjectures and
Refutations, 60–62.
[17]
¹⁷ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 92–94.
[18]
¹⁸ Popper, All Life Is Problem
Solving, 20–22.
[19]
¹⁹ Karl R. Popper, The Myth of the
Framework: In Defence of Science and Rationality (London: Routledge, 1994), 90–92.
[20]
²⁰ Bas C. van Fraassen, The
Scientific Image (Oxford: Clarendon
Press, 1980), 76–78.
[21]
²¹ Popper, Objective Knowledge, 145–147.
[22]
²² Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019),
162–164.
[23]
²³ Popper, The Open Society and
Its Enemies, Vol. II, 240–242.
[24]
²⁴ Miller, Critical Rationalism, 101–103.
[25]
²⁵ Maxwell, Karl Popper, Science
and Enlightenment, 103–106.
[26]
²⁶ Popper, Objective Knowledge, 159–161.
[27]
²⁷ Popper, Conjectures and
Refutations, 234–236.
10. Kesimpulan
Falsifikasionisme Karl Popper merupakan salah satu
tonggak utama dalam filsafat ilmu modern yang menandai pergeseran dari
paradigma verifikasionisme positivistik menuju paradigma rasionalisme
kritis.¹ Sebagai metode epistemologis, falsifikasionisme menegaskan bahwa
ilmu pengetahuan tidak pernah mencapai kebenaran mutlak, melainkan bergerak
melalui proses korektif yang berkelanjutan.² Setiap teori ilmiah hanya
berlaku sejauh belum terbantahkan, dan nilai keilmuannya terletak bukan pada
kemampuan untuk diverifikasi, melainkan pada kerentanannya terhadap
falsifikasi.³ Dengan demikian, ilmu dipahami sebagai sistem terbuka yang
selalu siap diuji, dikritik, dan direvisi.
Dalam dimensi ontologis, falsifikasionisme berakar
pada realisme kritis, yaitu keyakinan bahwa dunia objektif memang ada,
tetapi hanya dapat didekati secara tentatif melalui hipotesis yang dapat
diuji.⁴ Ilmu pengetahuan tidak memantulkan realitas secara langsung, melainkan
membangun model konseptual yang terus disempurnakan melalui pengujian
empiris.⁵ Dalam pengertian ini, kebenaran ilmiah bersifat approximative—mendekati
realitas tanpa pernah mencapainya secara total.
Secara epistemologis, falsifikasionisme menempatkan
kritik rasional dan kesalahan sebagai inti dari kemajuan pengetahuan.
Popper menggantikan logika induksi yang problematik dengan metode
deduktif-hipotetis, di mana teori diuji melalui konsekuensi empiris yang
dapat disangkal.⁶ Ia menolak pandangan bahwa ilmu berkembang melalui akumulasi
fakta; sebaliknya, kemajuan ilmiah terjadi melalui penghapusan kesalahan dan
pengujian berkelanjutan terhadap teori yang berani.⁷ Prinsip ini
menciptakan sains yang progresif, dinamis, dan secara moral jujur.
Dalam dimensi aksiologis, falsifikasionisme memuat etika
keilmuan yang menekankan kejujuran, keterbukaan terhadap kritik, dan
keberanian mengakui kesalahan.⁸ Sikap ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan
tidak sekadar upaya intelektual, tetapi juga tanggung jawab moral terhadap
kebenaran dan kemanusiaan.⁹ Di sinilah falsifikasionisme bertransformasi
dari sekadar metode epistemologis menjadi etos etis dan sosial, yang
menuntut integritas ilmuwan serta penghormatan terhadap kebebasan berpikir dan
dialog rasional.¹⁰
Dalam konteks interdisipliner, falsifikasionisme
terbukti relevan di berbagai bidang ilmu—dari fisika dan biologi hingga ilmu
sosial, ekonomi, dan teknologi digital.¹¹ Prinsip falsifikasi melahirkan
kesadaran bahwa teori ilmiah harus terbuka terhadap koreksi, sekaligus
mendorong perkembangan metodologi baru yang adaptif terhadap perubahan zaman.¹²
Dalam era big data dan artificial intelligence, falsifikasionisme
bahkan berfungsi sebagai tolok ukur etika epistemik, yang menegaskan
pentingnya transparansi algoritmik dan tanggung jawab ilmiah dalam pemrosesan
informasi.¹³
Kendati demikian, falsifikasionisme juga menghadapi
sejumlah kritik. Para pemikir seperti Thomas Kuhn, Imre Lakatos,
dan Paul Feyerabend menyoroti keterbatasannya dalam menggambarkan
realitas historis dan sosial ilmu.¹⁴ Namun, alih-alih menggugurkan gagasan
Popper, kritik-kritik tersebut justru memperkaya pemahamannya, melahirkan
bentuk baru dari rasionalitas ilmiah yang lebih kontekstual dan reflektif.¹⁵
Popper sendiri menyadari bahwa metode falsifikasi bukanlah “hukum final”
sains, melainkan prinsip etis rasionalitas terbuka, yang memungkinkan
ilmu untuk terus tumbuh melalui kritik dan kesalahan.¹⁶
Pada tataran filosofis yang lebih dalam,
falsifikasionisme bermuara pada rasionalisme kritis humanistik. Popper
menunjukkan bahwa rasionalitas sejati bukanlah kesempurnaan logis, tetapi kerendahan
hati epistemik—kesadaran bahwa setiap klaim manusia tentang kebenaran
selalu terbuka terhadap koreksi.¹⁷ Dengan demikian, falsifikasionisme menjadi
simbol peradaban yang menghargai kebebasan berpikir, kejujuran intelektual, dan
tanggung jawab sosial terhadap kebenaran.¹⁸ Ia mempersatukan sains dan
humanisme, logika dan etika, dalam satu pandangan integral tentang manusia sebagai
makhluk yang belajar dari kesalahan dan memperbaiki dunia melalui
pengetahuan.¹⁹
Sebagai penutup, falsifikasionisme bukan hanya
metode ilmiah, tetapi juga visi moral dan humanistik bagi masyarakat
modern. Di tengah krisis kebenaran dan disinformasi digital, falsifikasionisme
menghadirkan kembali semangat critical rationality—keberanian untuk
berpikir kritis, kesediaan untuk diuji, dan komitmen untuk memperbaiki
kesalahan.²⁰ Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak dimiliki, melainkan dikejar
secara kolektif, dan bahwa kemajuan sejati lahir bukan dari kepastian,
tetapi dari keterbukaan terhadap koreksi. Dalam arti inilah, warisan Popper
tetap hidup sebagai fondasi filosofis bagi peradaban rasional, terbuka, dan
manusiawi.²¹
Footnotes
[1]
¹ Karl R. Popper, The Logic of Scientific
Discovery (London: Routledge, 2002), 27–30.
[2]
² Popper, Conjectures and Refutations: The
Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 36–38.
[3]
³ David Miller, Critical Rationalism: A
Restatement and Defence (Chicago: Open Court, 1994), 12–14.
[4]
⁴ Popper, Objective Knowledge: An Evolutionary
Approach (Oxford: Clarendon Press, 1972), 37–38.
[5]
⁵ Bas C. van Fraassen, The Scientific Image
(Oxford: Clarendon Press, 1980), 59–61.
[6]
⁶ Popper, The Logic of Scientific Discovery,
85–87.
[7]
⁷ Hans Albert, Traktat über kritische Vernunft
(Tübingen: J. C. B. Mohr, 1991), 30–33.
[8]
⁸ Nicholas Maxwell, Karl Popper, Science and
Enlightenment (London: UCL Press, 2017), 93–95.
[9]
⁹ Popper, The Open Society and Its Enemies,
Vol. II (London: Routledge, 2006), 221–223.
[10]
¹⁰ Ian Jarvie, The Republic of Science: The
Emergence of Popper’s Social View of Science (Amsterdam: Rodopi, 2001),
70–72.
[11]
¹¹ Karl R. Popper, The Poverty of Historicism
(London: Routledge, 1957), 6–8.
[12]
¹² Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific
Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1996), 94–97.
[13]
¹³ Luciano Floridi, The Ethics of Information
(Oxford: Oxford University Press, 2013), 101–103.
[14]
¹⁴ Imre Lakatos, The Methodology of Scientific
Research Programmes (Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 8–10.
[15]
¹⁵ Paul Feyerabend, Against Method (London:
Verso, 1993), 19–21.
[16]
¹⁶ Popper, All Life Is Problem Solving
(London: Routledge, 1999), 34–36.
[17]
¹⁷ Popper, Objective Knowledge, 48–49.
[18]
¹⁸ Maxwell, Karl Popper, Science and
Enlightenment, 103–106.
[19]
¹⁹ Popper, Conjectures and Refutations,
233–235.
[20]
²⁰ Lee McIntyre, Post-Truth (Cambridge: MIT
Press, 2018), 102–104.
[21]
²¹ Popper, The Open Society and Its Enemies,
Vol. I (London: Routledge, 2002), 120–122.
Daftar Pustaka
Albert, H. (1991). Traktat über kritische
Vernunft. Tübingen: J. C. B. Mohr.
Ayer, A. J. (1952). Language, truth and logic.
New York: Dover Publications.
Barad, K. (2007). Meeting the universe halfway:
Quantum physics and the entanglement of matter and meaning. Durham: Duke
University Press.
Carnap, R. (2003). The logical structure of the
world. Chicago: Open Court.
Dennett, D. (1991). Consciousness explained.
Boston: Little, Brown.
Deutsch, D. (1997). The fabric of reality.
London: Penguin.
Duhem, P. (1954). The aim and structure of
physical theory. Princeton: Princeton University Press.
Feyerabend, P. (1978). Science in a free society.
London: Verso.
Feyerabend, P. (1993). Against method.
London: Verso.
Floridi, L. (2010). Information: A very short introduction.
Oxford: Oxford University Press.
Floridi, L. (2011). The philosophy of
information. Oxford: Oxford University Press.
Floridi, L. (2013). The ethics of information.
Oxford: Oxford University Press.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected
interviews and other writings 1972–1977. New York: Pantheon Books.
Friedman, M. (1953). Essays in positive
economics. Chicago: University of Chicago Press.
Giddens, A. (1979). Central problems in social
theory. Berkeley: University of California Press.
Hanson, N. R. (1958). Patterns of discovery.
Cambridge: Cambridge University Press.
Haraway, D. (1988). Situated knowledges: The
science question in feminism and the privilege of partial perspective. Feminist
Studies, 14(3), 575–599.
Harkness, T. (2016). Big data: Does size matter?
London: Bloomsbury Sigma.
Hume, D. (2007). An enquiry concerning human
understanding. Oxford: Oxford University Press.
Jarvie, I. (2001). The republic of science: The
emergence of Popper’s social view of science. Amsterdam: Rodopi.
Jasanoff, S. (2016). The ethics of invention:
Technology and the human future. New York: W. W. Norton.
Keyes, R. (2004). The post-truth era: Dishonesty
and deception in contemporary life. New York: St. Martin’s Press.
Kuhn, T. S. (1996). The structure of scientific
revolutions (3rd ed.). Chicago: University of Chicago Press.
Lakatos, I. (1978). The methodology of
scientific research programmes. Cambridge: Cambridge University Press.
Lakatos, I., & Musgrave, A. (Eds.). (1970). Criticism
and the growth of knowledge. Cambridge: Cambridge University Press.
Latour, B., & Woolgar, S. (1986). Laboratory
life: The construction of scientific facts. Princeton: Princeton University
Press.
Laudan, L. (1977). Progress and its problems.
Berkeley: University of California Press.
Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition:
A report on knowledge. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Mayr, E. (1982). The growth of biological
thought. Cambridge: Harvard University Press.
Maxwell, N. (2017). Karl Popper, science and
enlightenment. London: UCL Press.
McIntyre, L. (2018). Post-truth. Cambridge:
MIT Press.
Merchant, C. (1980). The death of nature: Women,
ecology, and the scientific revolution. San Francisco: Harper & Row.
Miller, D. (1994). Critical rationalism: A
restatement and defence. Chicago: Open Court.
Mittelstadt, B., Allo, P., Taddeo, M., Wachter, S.,
& Floridi, L. (2016). The ethics of algorithms: Mapping the debate. Big
Data & Society, 3(2), 1–21.
O’Neil, C. (2016). Weapons of math destruction.
New York: Crown.
Oreskes, N. (2019). Why trust science?
Princeton: Princeton University Press.
Pearl, J. (2009). Causality: Models, reasoning,
and inference (2nd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
Popper, K. R. (1957). The poverty of historicism.
London: Routledge.
Popper, K. R. (1963). Conjectures and
refutations: The growth of scientific knowledge. London: Routledge.
Popper, K. R. (1972). Objective knowledge: An
evolutionary approach. Oxford: Clarendon Press.
Popper, K. R. (1977). The self and its brain
(with J. C. Eccles). Berlin: Springer.
Popper, K. R. (1994). The myth of the framework:
In defence of science and rationality. London: Routledge.
Popper, K. R. (1999). All life is problem
solving. London: Routledge.
Popper, K. R. (2002). The open society and its
enemies (Vols. 1–2). London: Routledge.
Popper, K. R. (2002). The logic of scientific
discovery. London: Routledge.
Putnam, H. (1983). Realism and reason:
Philosophical papers, volume 3. Cambridge: Cambridge University Press.
Quine, W. V. O. (1951). Two dogmas of empiricism.
Cambridge: Harvard University Press.
Sunstein, C. R. (2017). #Republic: Divided
democracy in the age of social media. Princeton: Princeton University
Press.
Toulmin, S. (1961). Foresight and understanding.
New York: Harper & Row.
Van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image.
Oxford: Clarendon Press.
Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information
disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making.
Strasbourg: Council of Europe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar