Sabtu, 29 November 2025

Determinisme Sosiologis: Struktur, Agensi, dan Kebebasan Manusia dalam Jalinan Sosial

Determinisme Sosiologis

Struktur, Agensi, dan Kebebasan Manusia dalam Jalinan Sosial


Alihkan ke: Determinisme.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif konsep Determinisme Sosiologis sebagai salah satu cabang dari teori determinisme dalam filsafat sosial. Fokus utamanya adalah pada bagaimana struktur sosial, norma, institusi, dan sistem nilai berperan dalam membentuk tindakan manusia serta membatasi kebebasan individu dalam konteks kehidupan kolektif. Melalui pendekatan historis, ontologis, epistemologis, etis, dan aksiologis, tulisan ini menelusuri akar intelektual determinisme sosiologis mulai dari positivisme Auguste Comte dan realisme sosial Émile Durkheim, hingga materialisme historis Karl Marx dan teori strukturasi Anthony Giddens. Pembahasan kemudian diperluas ke arah kritik eksistensialis, fenomenologis, serta poststrukturalis yang menyoroti dimensi kebebasan dan refleksivitas manusia dalam menghadapi kekuatan sosial yang determinatif.

Secara ontologis, determinisme sosiologis menegaskan bahwa realitas sosial bersifat sui generis—suatu entitas objektif yang mendahului individu namun direproduksi melalui tindakan manusia. Dari sisi epistemologi, pendekatan ini berupaya menggabungkan objektivitas empiris dengan pemahaman hermeneutik terhadap makna tindakan sosial. Sementara secara etis, determinisme sosiologis menggeser pemahaman moralitas dari basis individual ke konteks interdependensi sosial, di mana tanggung jawab manusia muncul dari kesadarannya akan keterikatan dalam jaringan sosial.

Dalam konteks kontemporer, determinisme sosiologis menemukan relevansi baru melalui fenomena masyarakat digital dan kapitalisme pengawasan, di mana algoritma dan data menjadi bentuk baru dari struktur sosial yang mengatur perilaku manusia secara subtil. Melalui sintesis filosofis, artikel ini menegaskan bahwa determinisme sosiologis tidak meniadakan kebebasan manusia, melainkan menempatkannya dalam kerangka reflektif: kebebasan dipahami sebagai kemampuan untuk menyadari, menafsirkan, dan mengubah struktur sosial yang membentuk eksistensi manusia. Dengan demikian, determinisme sosiologis menawarkan model “determinisme reflektif”—sebuah pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang ditentukan, tetapi melalui kesadarannya atas determinasi itu, ia justru menemukan kebebasan dan tanggung jawabnya.

Kata Kunci: Determinisme Sosiologis; Struktur Sosial; Agensi; Kebebasan; Etika Sosial; Anthony Giddens; Émile Durkheim; Karl Marx; Humanisme Reflektif; Kausalitas Terbuka.


PEMBAHASAN

Determinisme dalam Filsafat dan Ilmu Sosial


1.           Pendahuluan

Konsep determinisme sosiologis lahir dari keyakinan bahwa perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial yang melingkupinya. Dalam pandangan ini, tindakan individu bukanlah hasil dari kehendak bebas yang mutlak, melainkan merupakan konsekuensi dari norma, nilai, dan institusi sosial yang membentuk serta membatasi ruang kemungkinan manusia untuk bertindak. Determinisme sosiologis berupaya memahami sejauh mana kehidupan sosial ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang bersifat kolektif, seperti budaya, ekonomi, dan struktur kekuasaan. Gagasan ini memiliki implikasi mendalam terhadap pemahaman kita tentang kebebasan, tanggung jawab moral, dan perubahan sosial.

Sebagai cabang dari determinisme umum, determinisme sosiologis menolak pandangan voluntaristik yang menempatkan individu sebagai agen bebas yang sepenuhnya otonom. Auguste Comte, pelopor positivisme sosiologis, berargumen bahwa masyarakat tunduk pada hukum-hukum objektif sebagaimana fenomena alam, sehingga tindakan manusia dapat dijelaskan melalui prinsip kausalitas sosial yang dapat diobservasi dan diverifikasi secara empiris.¹ Émile Durkheim kemudian memperkuat gagasan ini dengan konsep fakta sosial—yakni, cara bertindak, berpikir, dan merasakan yang berada di luar individu tetapi memiliki kekuatan memaksa terhadapnya.² Dalam konteks ini, kebebasan bukan berarti ketiadaan pengaruh sosial, tetapi kesadaran akan norma yang mengatur tindakan manusia di dalam kehidupan kolektif.

Namun, determinisme sosiologis tidak hanya berkutat pada keterikatan individu terhadap struktur sosial, melainkan juga berupaya menjelaskan dinamika perubahan masyarakat. Karl Marx, misalnya, menekankan bahwa struktur ekonomi menentukan bentuk kesadaran sosial, sementara konflik kelas menjadi motor penggerak sejarah.³ Dengan demikian, determinisme sosiologis juga membuka ruang bagi analisis dialektis: bahwa manusia membentuk struktur sosial sekaligus dibentuk olehnya. Pandangan ini kemudian dikembangkan dalam teori strukturasi oleh Anthony Giddens, yang menolak dikotomi kaku antara struktur dan agensi, dengan menegaskan bahwa keduanya saling mengandaikan dan mengonstruksi secara simultan.⁴

Dalam konteks etika dan tanggung jawab moral, determinisme sosiologis menghadirkan dilema filosofis: jika tindakan manusia ditentukan oleh kondisi sosial, sejauh mana individu dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya? Pertanyaan ini menjadi relevan dalam era modern di mana struktur sosial semakin kompleks, terutama dengan munculnya sistem digital dan algoritmik yang turut mengarahkan perilaku kolektif manusia.⁵

Dengan demikian, studi tentang determinisme sosiologis memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk memahami sejauh mana struktur sosial mempengaruhi kebebasan manusia dalam bertindak. Kedua, untuk meninjau kembali konsep tanggung jawab dan kebebasan moral dalam konteks masyarakat yang semakin terstruktur secara sistemik. Artikel ini akan menguraikan perkembangan historis, landasan ontologis dan epistemologis, serta implikasi etis dan aksiologis dari determinisme sosiologis, diakhiri dengan sintesis filosofis yang berupaya menyeimbangkan antara kekuatan struktur dan kebebasan agensi manusia.


Footnotes

[1]                Auguste Comte, The Course of Positive Philosophy, trans. Harriet Martineau (London: George Bell and Sons, 1896), 12–14.

[2]                Émile Durkheim, The Rules of Sociological Method, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1982), 50–52.

[3]                Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (Moscow: Progress Publishers, 1968), 42–45.

[4]                Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 2–5.

[5]                Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019), 78–80.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Gagasan tentang determinisme sosiologis tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil evolusi panjang dari refleksi filosofis dan ilmiah terhadap hubungan antara individu dan masyarakat. Sejarahnya dapat ditelusuri dari positivisme abad ke-19, materialisme historis abad ke-19 akhir, hingga teori struktur dan agensi pada abad ke-20. Dalam konteks ini, determinisme sosiologis berakar pada keyakinan bahwa fenomena sosial tunduk pada hukum-hukum kausal yang dapat dipelajari secara ilmiah, sebagaimana hukum alam dalam fisika atau biologi.¹

2.1.       Positivisme dan Awal Determinisme Sosial

Auguste Comte dianggap sebagai pelopor utama determinisme sosiologis melalui pendekatannya yang dikenal sebagai positivisme sosiologis. Ia berpendapat bahwa masyarakat berkembang menurut “hukum tiga tahap”—teologis, metafisis, dan positif—yang mencerminkan pola universal dalam sejarah pemikiran manusia.² Dalam tahap positif, fenomena sosial tidak lagi dijelaskan dengan mengacu pada entitas metafisis, tetapi berdasarkan hubungan sebab-akibat yang dapat diamati dan diuji.³ Dengan demikian, Comte menempatkan masyarakat dalam ranah determinasi kausal: tatanan sosial tidak muncul secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari mekanisme objektif yang dapat dijelaskan melalui metode ilmiah.

Gagasan Comte ini kemudian memengaruhi Émile Durkheim, yang memformulasikan prinsip bahwa fakta sosial harus dijelaskan oleh fakta sosial lainnya.⁴ Melalui karya monumentalnya The Rules of Sociological Method (1895), Durkheim menegaskan bahwa kehidupan sosial memiliki realitas tersendiri—bersifat eksternal dan koersif terhadap individu.⁵ Dengan demikian, manusia dipandang bukan sebagai pusat penentu perilaku sosial, melainkan sebagai produk dari kekuatan kolektif yang lebih besar. Determinisme sosial dalam bentuk Durkheimian ini meneguhkan konsep bahwa perilaku manusia tidak dapat dipahami secara terisolasi dari struktur sosial yang membentuknya.

2.2.       Materialisme Historis Marx dan Determinasi Struktural

Karl Marx membawa determinisme sosiologis ke arah materialisme historis, di mana struktur ekonomi (basis) menentukan bentuk dan arah kehidupan sosial, politik, serta budaya (suprastruktur).⁶ Dalam pandangan Marx, sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas, dan kondisi material kehidupan menjadi faktor penentu utama kesadaran manusia.⁷ Hal ini menandai pergeseran penting dari determinisme ilmiah Comte ke determinisme struktural ekonomi: bahwa bukan kesadaran yang menentukan keberadaan sosial manusia, tetapi sebaliknya, keberadaan sosiallah yang menentukan kesadaran.⁸

Namun, meskipun bersifat deterministik, materialisme historis Marx juga mengandung dialektika: manusia tidak hanya ditentukan oleh struktur, tetapi juga berperan aktif mengubahnya melalui tindakan kolektif.⁹ Dengan demikian, determinisme sosiologis dalam tradisi Marxian bukanlah fatalisme, melainkan pengakuan terhadap kekuatan struktural dalam dinamika sosial yang tetap membuka ruang bagi praksis revolusioner.

2.3.       Strukturalisme dan Fungsionalisme: Determinasi Sosial dalam Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, teori strukturalisme dan fungsionalisme memperkuat arah deterministik dalam ilmu sosial. Talcott Parsons, melalui The Structure of Social Action (1937), berupaya menyusun kerangka sistem sosial yang menekankan keteraturan dan keseimbangan.¹⁰ Parsons memandang bahwa tindakan individu tunduk pada sistem nilai dan norma yang membentuk tatanan sosial yang stabil.¹¹ Dalam konteks ini, struktur sosial menjadi faktor pengendali utama yang menjelaskan reproduksi keteraturan sosial.

Sementara itu, strukturalisme Prancis melalui tokoh seperti Claude Lévi-Strauss mengembangkan pandangan bahwa struktur simbolik dan kultural membentuk cara manusia berpikir dan bertindak.¹² Strukturalisme tidak lagi melihat manusia sebagai subjek otonom, tetapi sebagai “efek” dari sistem simbolik yang mendasari kebudayaan.¹³ Dengan demikian, determinisme sosial tidak hanya bersifat ekonomi atau institusional, tetapi juga linguistik dan simbolik.

2.4.       Teori Agensi dan Dialektika Struktur

Kritik terhadap determinisme sosiologis klasik muncul dari teori tindakan sosial dan pendekatan konstruksionis. Max Weber menolak determinisme absolut dengan menekankan pentingnya verstehen—pemahaman subjektif terhadap makna tindakan sosial.¹⁴ Namun, gagasan dialektis antara struktur dan agensi baru menemukan formulasi komprehensifnya melalui teori strukturasi Anthony Giddens.¹⁵ Menurut Giddens, struktur sosial tidak hanya membatasi tindakan manusia, tetapi juga dimungkinkan oleh tindakan itu sendiri.¹⁶ Struktur adalah medium sekaligus hasil dari praktik sosial, sehingga hubungan antara determinasi dan kebebasan bersifat timbal balik.


Dengan demikian, genealogi determinisme sosiologis menunjukkan perkembangan dari determinisme positivistik (Comte dan Durkheim), menuju determinisme struktural (Marx, Parsons, Lévi-Strauss), dan akhirnya ke determinisme dialektis (Giddens). Evolusi ini memperlihatkan bahwa determinisme sosiologis bukanlah doktrin tunggal, melainkan spektrum pemikiran yang terus berkembang, berupaya menyeimbangkan antara kekuatan struktur dan kebebasan manusia di dalam tatanan sosial.


Footnotes

[1]                Steven Lukes, Power: A Radical View, 2nd ed. (New York: Palgrave Macmillan, 2005), 13–15.

[2]                Auguste Comte, The Course of Positive Philosophy, trans. Harriet Martineau (London: George Bell and Sons, 1896), 25–28.

[3]                Ibid., 34–36.

[4]                Émile Durkheim, The Rules of Sociological Method, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1982), 67.

[5]                Ibid., 80–82.

[6]                Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy, trans. S. W. Ryazanskaya (Moscow: Progress Publishers, 1970), 20–21.

[7]                Karl Marx and Friedrich Engels, The Communist Manifesto (London: Penguin Books, 2002), 14–17.

[8]                Karl Marx, Preface to a Contribution to the Critique of Political Economy, in Selected Works (Moscow: Progress Publishers, 1970), 502.

[9]                Ibid., 506–507.

[10]             Talcott Parsons, The Structure of Social Action (New York: McGraw-Hill, 1937), 21–24.

[11]             Ibid., 61–63.

[12]             Claude Lévi-Strauss, Structural Anthropology, trans. Claire Jacobson and Brooke Grundfest Schoepf (New York: Basic Books, 1963), 9–10.

[13]             Ibid., 204–205.

[14]             Max Weber, Economy and Society, ed. Guenther Roth and Claus Wittich (Berkeley: University of California Press, 1978), 4–5.

[15]             Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 3–5.

[16]             Ibid., 25–26.


3.           Ontologi Determinisme Sosiologis

Kajian ontologi determinisme sosiologis berfokus pada hakikat realitas sosial dan kedudukan manusia di dalamnya. Pertanyaan ontologis yang mendasar ialah: apakah masyarakat merupakan entitas yang nyata secara objektif dan menentukan individu, ataukah sekadar konstruksi dari interaksi antarindividu? Dalam tradisi deterministik, masyarakat dipandang sebagai struktur objektif yang eksis secara independen dari kesadaran individu dan memiliki kekuatan memaksa yang membentuk tindakan manusia.¹ Pandangan ini menempatkan “struktur sosial” bukan hanya sebagai kategori analitis, melainkan sebagai realitas ontologis yang memiliki daya kausal terhadap perilaku manusia.

3.1.       Realitas Sosial sebagai Entitas Objektif

Menurut Émile Durkheim, realitas sosial bersifat sui generis—yakni, memiliki eksistensi yang khas dan tidak dapat direduksi menjadi tindakan individu.² Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan merasakan yang berada di luar individu, serta memiliki kekuatan koersif terhadapnya.³ Dalam kerangka ini, masyarakat memiliki status ontologis yang sejajar dengan fenomena alam: ia bukan hasil ciptaan individu secara sadar, melainkan suatu tatanan objektif yang diwariskan dan mengatur kehidupan manusia. Dengan demikian, determinisme sosiologis memandang bahwa perilaku manusia dibentuk oleh kekuatan sosial yang mendahuluinya, dan individu menjadi locus internalisasi norma-norma sosial tersebut.⁴

Namun, keberadaan struktur sosial tidak hanya bersifat eksternal, melainkan juga dihayati secara internal oleh individu. Melalui proses sosialisasi, individu menyerap nilai dan norma yang pada gilirannya menjadi “habitus”, sebagaimana dijelaskan oleh Pierre Bourdieu.⁵ Habitus adalah sistem disposisi yang memungkinkan individu bertindak sesuai struktur sosial tanpa perlu kesadaran reflektif yang eksplisit.⁶ Dengan demikian, struktur sosial beroperasi secara laten di dalam diri manusia, menjadikan individu sekaligus sebagai produk dan reprodusen struktur.

3.2.       Dialektika antara Struktur dan Agensi

Dalam tradisi ontologi sosial yang lebih mutakhir, determinisme sosiologis mengalami pergeseran menuju pemahaman dialektis antara struktur dan agensi. Anthony Giddens, melalui teori strukturasi, menolak pandangan bahwa struktur sepenuhnya mendahului agensi, atau sebaliknya.⁷ Menurutnya, struktur sosial adalah “aturan dan sumber daya yang, dalam penggunaan yang berulang, diorganisasikan sebagai sifat sistem sosial.”⁸ Artinya, struktur sosial bukanlah entitas statis yang berada “di luar” individu, tetapi eksis melalui tindakan manusia yang terus-menerus mereproduksi dan mentransformasikannya.

Dalam kerangka ini, realitas sosial bersifat ganda: ia objektif dalam bentuk institusi dan norma, namun sekaligus subjektif karena hanya eksis melalui kesadaran dan tindakan manusia.⁹ Determinisme sosiologis, dalam versi ini, bukanlah penolakan terhadap kebebasan, melainkan pemahaman bahwa kebebasan manusia hanya dapat diwujudkan dalam kondisi sosial yang terstruktur. Ontologi ini bersifat relasional, karena mengandaikan bahwa individu dan masyarakat saling membentuk secara timbal balik.

3.3.       Struktur, Kekuasaan, dan Konstruksi Realitas

Dalam pengembangan lebih lanjut, Michel Foucault memperkenalkan dimensi kekuasaan sebagai unsur ontologis yang melekat pada struktur sosial. Kekuasaan, dalam pandangan Foucault, tidak semata-mata represif, melainkan produktif—ia menciptakan subjek, norma, dan wacana yang menentukan apa yang mungkin dikatakan dan dilakukan.¹⁰ Dengan demikian, realitas sosial tidak hanya ditentukan oleh struktur ekonomi atau institusional, tetapi juga oleh discourse yang mengatur pengetahuan dan kebenaran.¹¹ Ontologi determinisme sosiologis di sini meluas menjadi ontologi kekuasaan: struktur sosial dipahami sebagai jaringan relasi yang membentuk subjek manusia sekaligus batas-batas kebebasannya.

Realitas sosial juga dapat dipahami sebagai hasil konstruksi simbolik yang bersifat objektif karena diinstitusionalisasi secara sosial. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, melalui The Social Construction of Reality, menegaskan bahwa masyarakat adalah produk manusia, tetapi produk itu “membalik” untuk menjadi realitas objektif yang mengatur perilaku manusia.¹² Dalam pandangan ini, determinisme sosiologis tidak berarti menghapus otonomi manusia, tetapi menunjukkan bahwa realitas sosial adalah hasil dialektika antara eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.¹³


Dengan demikian, ontologi determinisme sosiologis berlandaskan pada gagasan bahwa realitas sosial bersifat objektif sekaligus relasional: ia mendahului manusia, membentuknya, tetapi juga terus direproduksi oleh tindakan manusia. Struktur sosial memiliki eksistensi yang nyata, bukan sebagai entitas metafisis, melainkan sebagai tatanan relasional yang konkret dan historis. Dalam kerangka ini, manusia tidak dapat dipahami secara terpisah dari jaringan sosialnya; kebebasan individu adalah hasil dari internalisasi dan negosiasi terhadap struktur sosial yang melingkupinya.


Footnotes

[1]                Margaret Archer, Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 21–22.

[2]                Émile Durkheim, The Rules of Sociological Method, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1982), 50.

[3]                Ibid., 51–53.

[4]                Steven Lukes, Émile Durkheim: His Life and Work (London: Penguin Books, 1973), 72–74.

[5]                Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practice, trans. Richard Nice (Cambridge: Cambridge University Press, 1977), 72.

[6]                Ibid., 78–79.

[7]                Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 16–17.

[8]                Ibid., 25.

[9]                Ibid., 34–36.

[10]             Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, trans. Alan Sheridan (New York: Vintage Books, 1977), 26–27.

[11]             Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, trans. A. M. Sheridan Smith (London: Routledge, 2002), 129–130.

[12]             Peter L. Berger and Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 60–61.

[13]             Ibid., 149–150.


4.           Epistemologi Determinisme Sosiologis

Epistemologi determinisme sosiologis menelaah bagaimana pengetahuan tentang masyarakat dan perilaku manusia dapat diperoleh, divalidasi, dan dijelaskan secara ilmiah. Dalam paradigma ini, realitas sosial dipandang tunduk pada hukum-hukum kausal yang dapat diobservasi secara empiris dan dijelaskan secara sistematis.¹ Karena itu, determinisme sosiologis menekankan objektivitas, regularitas, dan rasionalitas dalam memahami fenomena sosial, seraya menolak pandangan voluntaristik dan relativistik yang menganggap tindakan manusia sepenuhnya didorong oleh kebebasan subjektif.

Epistemologi ini muncul dari semangat positivistik yang diwariskan oleh Auguste Comte, yang berkeyakinan bahwa ilmu sosial harus meniru metode ilmu alam dalam menemukan hukum-hukum universal perilaku manusia.² Bagi Comte, masyarakat dapat dipahami melalui observasi, eksperimen sosial, dan perbandingan historis.³ Dengan demikian, pengetahuan sosiologis bersifat kumulatif dan progresif: ia berkembang berdasarkan penemuan hukum-hukum empiris yang menjelaskan keteraturan sosial.

4.1.       Paradigma Positivistik dan Penjelasan Kausal

Dalam tradisi awal determinisme sosiologis, pendekatan epistemologis bersifat empiris-positivistik. Émile Durkheim mengartikulasikan prinsip bahwa fakta sosial harus diperlakukan sebagai benda (things), yakni objek yang dapat diamati dari luar tanpa prasangka nilai atau interpretasi subjektif.⁴ Tujuannya adalah menemukan korelasi dan hukum-hukum sebab-akibat yang mengatur fenomena sosial. Durkheim menggunakan metode komparatif dan statistik untuk menjelaskan pola sosial seperti bunuh diri, yang menurutnya bukan hasil keputusan pribadi, tetapi akibat faktor sosial seperti integrasi dan regulasi masyarakat.⁵

Epistemologi Durkheimian menegaskan bahwa pengetahuan sosial harus objektif dan bebas dari intervensi subjektivitas peneliti.⁶ Ia memperlakukan masyarakat sebagai sistem yang tunduk pada kausalitas internalnya sendiri, sehingga ilmu sosial menjadi semacam “fisiologi masyarakat.” Dalam konteks ini, determinisme sosiologis menolak interpretasi subjektif dan menegakkan klaim bahwa tindakan manusia dapat dijelaskan secara ilmiah, sejauh ia merupakan produk dari struktur sosial.

4.2.       Interpretivisme dan Kritik terhadap Objektivisme Sosial

Namun, pendekatan positivistik menghadapi kritik dari tradisi hermeneutik dan interpretivistik. Max Weber menolak pandangan bahwa realitas sosial dapat sepenuhnya dijelaskan melalui hukum kausal objektif. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tentang masyarakat harus mempertimbangkan makna subjektif dari tindakan individu (Sinn).⁷ Weber memperkenalkan metode verstehen—pemahaman empatik terhadap makna sosial yang dihayati pelaku—sebagai dasar epistemologi yang berbeda dari determinisme mekanistik.⁸

Meskipun demikian, determinisme sosiologis tidak sepenuhnya menolak dimensi subjektif. Ia hanya menekankan bahwa makna sosial pun terbentuk dalam konteks struktural tertentu yang membatasi kemungkinan interpretasi.⁹ Dalam kerangka ini, tindakan manusia dipahami bukan sebagai ekspresi kebebasan absolut, tetapi sebagai hasil internalisasi makna-makna yang dikonstruksi secara sosial dan dilembagakan melalui interaksi.

4.3.       Epistemologi Struktural dan Relasional

Perkembangan epistemologi sosiologis pada abad ke-20 mengalami pergeseran ke arah pendekatan struktural dan relasional, yang berupaya menjelaskan bagaimana pengetahuan sosial dibentuk melalui hubungan antara subjek dan struktur. Pierre Bourdieu menawarkan konsep refleksivitas epistemologis, yakni kesadaran akan posisi sosial peneliti dalam proses produksi pengetahuan.¹⁰ Menurutnya, pengetahuan sosiologis yang sah tidak dapat diperoleh melalui objektivisme murni, tetapi melalui refleksi kritis atas kondisi sosial yang memungkinkan pengetahuan itu sendiri.¹¹

Dengan demikian, epistemologi determinisme sosiologis pada tahap ini bukan lagi sekadar penemuan hukum sosial yang tetap, tetapi juga pemahaman terhadap mekanisme reproduksi struktur pengetahuan dalam masyarakat.¹² Pengetahuan sosial dianggap sebagai produk dari kekuasaan dan posisi dalam medan sosial, sebagaimana ditegaskan Foucault bahwa setiap rezim pengetahuan (regime of truth) selalu terkait dengan konfigurasi kekuasaan yang memungkinkannya.¹³

4.4.       Pengetahuan Sosial dalam Paradigma Konstruktivis

Dalam perspektif konstruktivisme sosial, sebagaimana dikembangkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, pengetahuan sosial dipahami sebagai hasil dari proses dialektis antara eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.¹⁴ Realitas sosial tidak hanya “ditemukan,” tetapi juga “diciptakan” melalui praktik sosial dan bahasa yang menginstitusikan makna.¹⁵ Namun, determinisme sosiologis tetap relevan di sini, karena konstruksi sosial itu sendiri bersifat terstruktur oleh sejarah, institusi, dan relasi kekuasaan.

Oleh sebab itu, epistemologi determinisme sosiologis modern bersifat reflektif dan ganda: ia mengakui realitas sosial yang objektif sekaligus konstruktif, empiris sekaligus historis, determinatif sekaligus terbuka terhadap perubahan. Pengetahuan tentang masyarakat bukan hanya cerminan dari dunia sosial, melainkan juga bagian dari proses yang membentuknya.


Dengan demikian, epistemologi determinisme sosiologis menegaskan bahwa pengetahuan tentang masyarakat diperoleh melalui pendekatan ilmiah terhadap struktur sosial, namun harus disertai refleksi atas kondisi historis, kultural, dan kekuasaan yang membentuknya. Ia berusaha menjaga keseimbangan antara objektivitas ilmiah dan kesadaran hermeneutik, antara penjelasan kausal dan pemahaman makna, sehingga ilmu sosial tetap rasional tanpa kehilangan dimensi kemanusiaannya.


Footnotes

[1]                Steven Lukes, Power: A Radical View, 2nd ed. (New York: Palgrave Macmillan, 2005), 14.

[2]                Auguste Comte, The Course of Positive Philosophy, trans. Harriet Martineau (London: George Bell and Sons, 1896), 12–13.

[3]                Ibid., 35–37.

[4]                Émile Durkheim, The Rules of Sociological Method, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1982), 60.

[5]                Émile Durkheim, Suicide: A Study in Sociology, trans. John A. Spaulding and George Simpson (New York: Free Press, 1951), 145–150.

[6]                Ibid., 155–156.

[7]                Max Weber, Economy and Society, ed. Guenther Roth and Claus Wittich (Berkeley: University of California Press, 1978), 5.

[8]                Ibid., 8–9.

[9]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 90–91.

[10]             Pierre Bourdieu, The Logic of Practice, trans. Richard Nice (Stanford: Stanford University Press, 1990), 30.

[11]             Ibid., 33–34.

[12]             Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 29–31.

[13]             Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977, ed. Colin Gordon (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.

[14]             Peter L. Berger and Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1966), 60.

[15]             Ibid., 149–150.


5.           Etika dan Aksiologi dalam Determinisme Sosiologis

Dimensi etika dan aksiologi dalam determinisme sosiologis berkaitan dengan pertanyaan mendasar: jika perilaku manusia ditentukan oleh struktur sosial, sejauh mana individu dapat dikatakan bebas dan bertanggung jawab secara moral? Di sini, persoalan kebebasan, tanggung jawab, dan nilai sosial menjadi problem filosofis utama. Determinisme sosiologis tidak menafikan keberadaan moralitas, tetapi mengubah cara memahaminya—bahwa nilai dan norma etis tidak bersumber dari kehendak individual yang otonom, melainkan dari konstruksi sosial yang mengikat individu dalam jaringan hubungan dan institusi.¹

Dengan demikian, etika dalam determinisme sosiologis bersifat relasional dan kontekstual: kebaikan atau keburukan suatu tindakan hanya dapat dimengerti dalam kerangka struktur sosial yang melingkupinya. Nilai moral bukan hasil refleksi abstrak, tetapi produk dari internalisasi norma sosial yang berfungsi menjaga keteraturan dan solidaritas dalam masyarakat.² Aksiologi determinisme sosiologis, pada gilirannya, menyoroti bagaimana nilai-nilai sosial diciptakan, direproduksi, dan dilegitimasi dalam proses sosial yang kompleks.

5.1.       Etika Struktural dan Tanggung Jawab Sosial

Dalam pandangan Durkheim, norma sosial memiliki fungsi moral yang menentukan kesatuan kolektif masyarakat. Ia menegaskan bahwa moralitas tidak bersumber dari individu, tetapi dari “kesadaran kolektif” (conscience collective)—suatu sistem nilai dan keyakinan bersama yang mengikat anggota masyarakat.³ Moralitas, dalam konteks ini, adalah fenomena sosial yang mendahului individu dan menuntun perilakunya melalui mekanisme internalisasi.⁴

Durkheim memandang tindakan moral sebagai bentuk ketaatan terhadap tatanan sosial yang diakui bersama, bukan sekadar ekspresi kehendak pribadi.⁵ Oleh sebab itu, tanggung jawab moral bersifat sosial: individu dinilai baik atau buruk sejauh ia berkontribusi pada keteraturan dan solidaritas sosial.⁶ Dalam kerangka ini, determinisme sosiologis tidak meniadakan moralitas, tetapi menundukkannya pada logika sosial yang objektif. Etika menjadi instrumen bagi stabilitas kolektif, bukan medan bagi otonomi individual mutlak.

5.2.       Nilai, Kekuasaan, dan Struktur Sosial

Karl Marx memberikan dimensi aksiologis yang berbeda terhadap determinisme sosial melalui analisis ideologi dan nilai. Bagi Marx, nilai moral dalam masyarakat kapitalis sering kali berfungsi untuk melegitimasi dominasi kelas yang berkuasa.⁷ Nilai-nilai seperti kerja keras, kepatuhan, dan individualisme bukanlah prinsip universal, melainkan ekspresi dari kepentingan ekonomi tertentu.⁸ Dalam pandangan ini, etika menjadi arena reproduksi ideologis di mana struktur ekonomi menentukan kesadaran moral manusia.

Pierre Bourdieu mengembangkan pandangan serupa melalui konsep habitus dan doxa, yaitu struktur nilai yang diinternalisasi dan dijalankan tanpa refleksi kritis.⁹ Habitus membentuk preferensi moral dan estetis seseorang sesuai dengan posisi sosialnya, sehingga pilihan etis tidak sepenuhnya otonom, tetapi mencerminkan tatanan sosial yang mendasarinya.¹⁰ Dalam konteks ini, nilai moral bukanlah entitas normatif yang netral, melainkan produk relasi kekuasaan yang tertanam dalam struktur sosial.¹¹

Michel Foucault memperdalam kritik ini dengan menegaskan bahwa moralitas modern merupakan hasil dari dispositif kekuasaan yang mendisiplinkan tubuh dan pikiran manusia.¹² Menurutnya, tindakan etis sering kali merupakan bentuk kepatuhan terhadap norma-norma yang diciptakan oleh institusi kekuasaan seperti negara, gereja, dan sistem pendidikan.¹³ Dengan demikian, determinisme sosiologis dalam dimensi etika memperlihatkan bagaimana sistem sosial membentuk bukan hanya tindakan, tetapi juga pengertian tentang “yang baik” dan “yang benar”.

5.3.       Kebebasan dalam Batas Struktur: Etika Relasional

Meskipun determinisme sosiologis menekankan kekuatan struktur, hal ini tidak berarti menolak seluruh gagasan kebebasan moral. Anthony Giddens, melalui teori strukturasi, menegaskan bahwa manusia selalu “berada dalam” struktur, tetapi tetap memiliki kemampuan refleksif untuk mengubahnya.¹⁴ Kebebasan, dalam kerangka ini, tidak bersifat absolut, melainkan relasional—manusia bebas sejauh ia mampu memahami dan memanfaatkan struktur sosial yang membatasinya.¹⁵

Dengan demikian, tanggung jawab moral dalam determinisme sosiologis bersifat kontekstual dan dialogis. Etika tidak lagi dilihat sebagai penerapan prinsip universal, tetapi sebagai hasil dari kesadaran sosial terhadap hubungan antarindividu dan institusi.¹⁶ Tanggung jawab manusia bukan karena ia bebas dari pengaruh sosial, melainkan karena ia sadar akan keterikatannya dalam jaringan sosial dan berusaha bertindak secara reflektif di dalamnya.¹⁷

Dalam kerangka aksiologis, nilai tertinggi dalam determinisme sosiologis adalah kesadaran reflektif terhadap keterkaitan sosial—yakni kemampuan untuk memahami bahwa tindakan etis selalu memiliki dimensi sosial, struktural, dan historis.¹⁸ Etika di sini bertransformasi dari sistem norma yang kaku menjadi praktik reflektif yang berakar pada realitas sosial konkret.


Aksiologi: Nilai Sosial dan Tujuan Moralitas

Aksiologi determinisme sosiologis berupaya menjawab pertanyaan tentang tujuan moralitas dalam masyarakat yang terstruktur. Nilai sosial berfungsi bukan hanya untuk mempertahankan keteraturan, tetapi juga untuk menciptakan solidaritas, kesetaraan, dan keadilan.¹⁹ Dalam masyarakat modern, nilai-nilai seperti kebebasan, partisipasi, dan inklusivitas harus dipahami bukan sebagai hak individual yang terlepas dari konteks sosial, melainkan sebagai hasil evolusi struktur sosial yang mengakui keberagaman pengalaman manusia.²⁰

Dengan demikian, aksiologi determinisme sosiologis bersifat teleologis-sosial: tujuannya adalah pembentukan masyarakat yang seimbang antara stabilitas dan kebebasan, antara struktur dan agensi.²¹ Etika sosial semacam ini menjadi dasar bagi solidaritas manusia yang sadar akan kondisi deterministiknya, tetapi tidak menyerah pada fatalisme, melainkan menjadikannya medan refleksi moral dan transformasi sosial.


Footnotes

[1]                Margaret Archer, Structure, Agency, and the Internal Conversation (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 15–16.

[2]                Steven Lukes, Moral Relativism (New York: Picador, 2008), 42–43.

[3]                Émile Durkheim, The Division of Labour in Society, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1984), 129–130.

[4]                Ibid., 138–139.

[5]                Émile Durkheim, Professional Ethics and Civic Morals, trans. Cornelia Brookfield (London: Routledge, 1992), 57–59.

[6]                Ibid., 61–62.

[7]                Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (Moscow: Progress Publishers, 1968), 45–47.

[8]                Karl Marx, Capital: A Critique of Political Economy, Vol. 1, trans. Ben Fowkes (London: Penguin Books, 1976), 250–251.

[9]                Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practice, trans. Richard Nice (Cambridge: Cambridge University Press, 1977), 80–82.

[10]             Ibid., 94–95.

[11]             Pierre Bourdieu, The Logic of Practice, trans. Richard Nice (Stanford: Stanford University Press, 1990), 121–123.

[12]             Michel Foucault, The History of Sexuality, Vol. 1: An Introduction, trans. Robert Hurley (New York: Vintage Books, 1990), 92–94.

[13]             Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, trans. Alan Sheridan (New York: Vintage Books, 1977), 200–201.

[14]             Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 13–14.

[15]             Ibid., 35–37.

[16]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 33–34.

[17]             Margaret Archer, Being Human: The Problem of Agency (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 112–113.

[18]             Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts, trans. Joel Anderson (Cambridge: Polity Press, 1995), 68–69.

[19]             Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge: MIT Press, 1990), 102–104.

[20]             Anthony Giddens, Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age (Stanford: Stanford University Press, 1991), 215–216.

[21]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2007), 262–264.


6.           Kritik terhadap Determinisme Sosiologis

Meskipun determinisme sosiologis memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana struktur sosial membentuk perilaku manusia, pandangan ini tidak luput dari kritik yang luas. Kritik tersebut muncul dari berbagai aliran filsafat dan teori sosial, terutama eksistensialisme, fenomenologi, teori agensi, post-strukturalisme, dan hermeneutika kritis. Inti dari kritik tersebut terletak pada tuduhan bahwa determinisme sosiologis mereduksi kebebasan manusia, meniadakan kreativitas tindakan sosial, serta mengabaikan dimensi reflektif dan historis dari subjektivitas manusia

6.1.       Kritik Eksistensialis: Kebebasan dan Tanggung Jawab

Kaum eksistensialis, terutama Jean-Paul Sartre, mengkritik keras determinisme sosiologis karena dianggap meniadakan kebebasan dan tanggung jawab moral manusia. Bagi Sartre, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang “dikutuk untuk bebas” (condamné à être libre); artinya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas pilihannya sendiri.² Ketika sosiologi menafsirkan perilaku manusia semata-mata sebagai hasil kondisi sosial, maka ia menghapus eksistensi autentik manusia sebagai subjek bebas yang mencipta makna kehidupannya sendiri.³

Menurut Sartre, setiap individu memiliki kemampuan transendensi terhadap situasi sosialnya—ia bukan sekadar hasil, melainkan juga pelaku perubahan realitas.⁴ Oleh karena itu, determinisme sosial dituduh jatuh ke dalam fatalisme metodologis, yaitu pandangan bahwa manusia hanyalah efek dari kekuatan eksternal yang tidak dapat diubah.⁵ Kritik eksistensialis ini menegaskan pentingnya kebebasan reflektif sebagai dasar tanggung jawab moral, yang tidak bisa dijelaskan semata oleh struktur sosial.

6.2.       Kritik Fenomenologis dan Hermeneutik: Subjektivitas dan Makna

Aliran fenomenologi yang dipelopori Edmund Husserl dan diteruskan Alfred Schutz menolak klaim objektivitas mutlak dalam determinisme sosiologis.⁶ Schutz menekankan bahwa tindakan sosial hanya dapat dipahami melalui makna subjektif yang dihayati oleh pelaku dalam dunia kehidupan sehari-hari (Lebenswelt).⁷ Sosiologi, menurutnya, seharusnya tidak berhenti pada relasi kausal yang eksternal, tetapi menggali struktur kesadaran intersubjektif yang melandasi tindakan sosial.⁸

Kritik hermeneutik—khususnya dari Hans-Georg Gadamer dan Jürgen Habermas—juga menyoroti bahwa determinisme sosial mengabaikan dimensi komunikasi dan pemahaman dalam tindakan sosial.⁹ Bagi mereka, masyarakat bukan hanya sistem kausal yang mengatur perilaku, melainkan medan interaksi simbolik di mana makna dinegosiasikan.¹⁰ Habermas secara khusus menolak model fungsionalisme Parsons dan determinisme sistemik Luhmann karena dianggap mengorbankan “rasionalitas komunikatif” yang menjadi dasar otonomi manusia.¹¹ Dengan demikian, kritik hermeneutik menuntut rekonstruksi ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan, tetapi juga memahami (verstehen) dunia sosial secara reflektif.

6.3.       Kritik Teori Agensi: Dialektika Struktur dan Tindakan

Salah satu kritik paling berpengaruh datang dari teori agensi dan pendekatan strukturasi Anthony Giddens. Ia menolak dikotomi antara determinisme struktural dan voluntarisme individual, dengan menegaskan bahwa struktur sosial bukan entitas eksternal yang membatasi tindakan, melainkan “medium sekaligus hasil dari praktik sosial.”¹² Giddens memperkenalkan konsep duality of structure untuk menjelaskan bahwa individu memiliki kapasitas reflektif untuk mengubah struktur melalui tindakannya sendiri.¹³

Kritik ini menggarisbawahi bahwa determinisme sosiologis gagal menangkap sifat rekursif dari hubungan sosial—bahwa masyarakat dibentuk dan terus direproduksi melalui tindakan manusia.¹⁴ Dengan demikian, manusia tidak sekadar “ditentukan,” tetapi juga “menentukan” kondisi sosialnya melalui refleksi dan aksi kolektif. Pandangan ini kemudian dikembangkan oleh Margaret Archer dalam teori morfogenesis, yang menegaskan bahwa struktur dan agensi adalah entitas yang berbeda secara ontologis dan berinteraksi dalam proses temporal yang dinamis.¹⁵

6.4.       Kritik Poststrukturalis: Diskursus, Kekuasaan, dan Subjektivitas

Kritik yang lebih radikal datang dari poststrukturalisme, khususnya Michel Foucault dan Pierre Bourdieu. Foucault menolak determinisme sosial yang melihat kekuasaan sebagai struktur hierarkis dan tetap. Ia mengajukan konsep kekuasaan-diskursif, yakni jaringan relasi yang menyebar dan membentuk subjek melalui praktik pengetahuan.¹⁶ Dalam kerangka ini, subjek tidak semata ditentukan oleh struktur sosial, melainkan terus diciptakan melalui discourse yang bersifat produktif dan dinamis.¹⁷

Pierre Bourdieu juga menolak determinisme mekanistik dengan memperkenalkan konsep habitus sebagai mediator antara struktur dan tindakan.¹⁸ Menurutnya, habitus memungkinkan individu untuk bertindak secara kreatif dalam batas-batas struktur sosial, bukan hanya sebagai reaksi pasif.¹⁹ Dengan demikian, struktur sosial tidak sepenuhnya menentukan perilaku, tetapi menyediakan kerangka yang dapat dimodifikasi melalui strategi praksis manusia.²⁰

Kritik poststrukturalis ini menegaskan bahwa determinisme sosiologis klasik terlalu menyederhanakan kompleksitas sosial dengan mengabaikan dimensi kekuasaan, bahasa, dan simbol.²¹ Realitas sosial bukan sekadar determinasi objektif, tetapi juga arena pertempuran makna yang terus direproduksi melalui diskursus.

6.5.       Kritik Normatif dan Etis

Dari perspektif etika sosial, determinisme sosiologis juga dikritik karena berpotensi meniadakan tanggung jawab moral dan kebebasan politik.²² Jika manusia dianggap hanya produk dari struktur sosial, maka dasar normatif untuk mengoreksi ketidakadilan menjadi lemah.²³ Teori kritis (Habermas, Honneth) menegaskan bahwa tanpa mengakui kapasitas reflektif manusia, perubahan sosial hanya akan dipahami sebagai proses mekanis, bukan perjuangan moral untuk pengakuan dan kebebasan.²⁴

Dengan demikian, kritik etis terhadap determinisme sosiologis berupaya mengembalikan peran manusia sebagai subjek moral dan historis, bukan sekadar efek dari sistem sosial.²⁵ Etika sosial harus membuka ruang bagi resistensi dan transformasi, agar masyarakat tidak hanya dipahami sebagai struktur deterministik, tetapi juga sebagai ruang kemungkinan bagi tindakan emansipatoris.


Evaluasi Umum

Secara keseluruhan, kritik terhadap determinisme sosiologis mengarah pada pendekatan reflektif-dialektis, yang mengakui bahwa struktur sosial memang berpengaruh kuat, namun tidak meniadakan kebebasan manusia. Paradigma baru dalam teori sosial berusaha melampaui dikotomi antara determinasi dan kebebasan, menuju pemahaman yang lebih relasional, historis, dan komunikatif.²⁶ Kritik ini bukan untuk menolak determinisme sepenuhnya, melainkan untuk memperkaya pemahamannya agar sesuai dengan kompleksitas pengalaman manusia modern.

Dengan kata lain, determinisme sosiologis perlu dikaji ulang bukan sebagai sistem penjara sosial, tetapi sebagai kerangka dinamis yang menjelaskan bagaimana manusia berinteraksi, menegosiasikan, dan merekonstruksi struktur yang membentuk mereka.


Footnotes

[1]                Steven Lukes, Power: A Radical View, 2nd ed. (New York: Palgrave Macmillan, 2005), 20.

[2]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 553.

[3]                Ibid., 556–557.

[4]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 43–44.

[5]                Simone de Beauvoir, The Ethics of Ambiguity, trans. Bernard Frechtman (New York: Citadel Press, 1976), 22.

[6]                Edmund Husserl, The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, trans. David Carr (Evanston: Northwestern University Press, 1970), 108–109.

[7]                Alfred Schutz, The Phenomenology of the Social World, trans. George Walsh and Frederick Lehnert (Evanston: Northwestern University Press, 1967), 12–13.

[8]                Ibid., 26–27.

[9]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (London: Continuum, 2004), 292–293.

[10]             Ibid., 297–298.

[11]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 2: Lifeworld and System, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1987), 70–71.

[12]             Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 15–16.

[13]             Ibid., 25–26.

[14]             Ibid., 37–39.

[15]             Margaret Archer, Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 65–67.

[16]             Michel Foucault, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, trans. Alan Sheridan (New York: Vintage Books, 1977), 26–27.

[17]             Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, trans. A. M. Sheridan Smith (London: Routledge, 2002), 129–130.

[18]             Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practice, trans. Richard Nice (Cambridge: Cambridge University Press, 1977), 72–73.

[19]             Ibid., 95–96.

[20]             Pierre Bourdieu, The Logic of Practice, trans. Richard Nice (Stanford: Stanford University Press, 1990), 134–135.

[21]             Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977, ed. Colin Gordon (New York: Pantheon Books, 1980), 119–120.

[22]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 211–212.

[23]             Alasdair MacIntyre, After Virtue: A Study in Moral Theory, 3rd ed. (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2007), 255–256.

[24]             Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts, trans. Joel Anderson (Cambridge: Polity Press, 1995), 91–92.

[25]             Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge: MIT Press, 1990), 98–99.

[26]             Anthony Giddens, Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age (Stanford: Stanford University Press, 1991), 209–210.


7.           Relevansi Kontemporer Determinisme Sosiologis

Dalam konteks masyarakat modern dan pasca-modern, determinisme sosiologis memperoleh relevansi baru yang sangat signifikan. Perkembangan teknologi digital, globalisasi, serta perubahan struktur ekonomi dan politik telah menciptakan bentuk-bentuk baru dari kekuatan sosial yang mengatur perilaku manusia. Sementara pandangan klasik menekankan struktur ekonomi, norma sosial, dan institusi tradisional, kini determinasi sosial muncul dalam bentuk algoritma, data, jaringan global, dan sistem kapitalisme digital yang beroperasi melampaui kesadaran individu.¹

Relevansi kontemporer determinisme sosiologis dapat dibaca melalui tiga poros utama: (1) determinasi struktural dalam masyarakat digital, (2) pembentukan identitas dan tindakan sosial melalui media dan algoritma, serta (3) refleksi etis dan politis terhadap keterikatan manusia pada sistem sosial baru yang semakin kompleks.

7.1.       Determinisme Struktural dalam Masyarakat Digital

Dalam era digital, struktur sosial tidak lagi terbatas pada lembaga formal, tetapi mencakup jaringan algoritmik yang menentukan arus informasi, perhatian, dan interaksi sosial. Shoshana Zuboff memperkenalkan konsep “kapitalisme pengawasan” (surveillance capitalism), yaitu sistem ekonomi yang mendasarkan nilai pada pengumpulan dan prediksi perilaku manusia melalui data digital.² Melalui mekanisme ini, tindakan individu semakin dikendalikan oleh logika algoritmik yang memetakan preferensi dan mengatur pilihan tanpa disadari.³

Determinisme sosiologis menemukan aktualitasnya di sini: manusia menjadi subjek dalam sistem sosial yang beroperasi melalui data dan logika prediktif. Struktur sosial kini bersifat non-human agency, yakni perangkat teknologi yang berfungsi sebagai aktor sosial baru.⁴ Sejalan dengan itu, Manuel Castells menggambarkan era ini sebagai “masyarakat jaringan”, di mana kekuasaan dan makna diproduksi melalui hubungan antar-node dalam jaringan global yang bersifat dinamis namun sangat menentukan.⁵

Dengan demikian, determinasi sosial pada era kontemporer bukan lagi bersifat institusional atau ekonomi semata, melainkan teknologis dan informasional. Struktur sosial menjadi semakin tak kasatmata, namun lebih efektif dalam mengatur perilaku kolektif manusia melalui mekanisme algoritmik dan otomatisasi sosial.

7.2.       Identitas, Diskursus, dan Reproduksi Sosial di Era Media

Determinisme sosiologis juga tetap relevan dalam memahami pembentukan identitas sosial di era media dan budaya digital. Media sosial bukan hanya ruang komunikasi, melainkan sistem determinatif yang membentuk cara individu berpikir, menilai, dan menampilkan diri. Pierre Bourdieu, dalam kerangka habitus dan field, dapat diaplikasikan untuk menjelaskan bagaimana media digital menciptakan struktur simbolik baru yang mempengaruhi produksi identitas dan nilai sosial.⁶

Kehadiran algoritma memperkuat field baru yang didominasi oleh kapital sosial dan simbolik dalam bentuk “pengakuan digital”—likes, followers, atau engagement metrics.⁷ Dengan demikian, individu tidak sekadar bertindak bebas di ruang maya, tetapi menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang dibentuk oleh sistem teknologis. Hal ini memperlihatkan determinasi sosial yang halus, di mana agensi manusia dibentuk oleh dinamika pengakuan dan validasi sosial yang dikontrol oleh platform digital.⁸

Michel Foucault membantu memperjelas fenomena ini dengan konsep “teknologi kekuasaan” (technologies of power) dan “teknologi diri” (technologies of the self).⁹ Individu menginternalisasi mekanisme pengawasan dan penilaian sosial yang dilembagakan oleh sistem digital, sehingga subjek modern hidup dalam kondisi auto-regulation—mengawasi dirinya sendiri agar sesuai dengan norma yang diproduksi oleh sistem sosial.¹⁰ Dengan demikian, determinisme sosial modern bertransformasi menjadi determinisme diskursif dan teknologis, yang mengatur makna, perilaku, dan bahkan identitas personal.

7.3.       Relevansi Etis dan Politis: Determinisme, Kebebasan, dan Keadilan Sosial

Relevansi etis determinisme sosiologis di era kontemporer terletak pada kemampuannya mengungkap mekanisme kekuasaan yang tidak tampak namun menentukan kehidupan manusia. Dalam sistem global yang dikuasai oleh korporasi teknologi, algoritma, dan arsitektur data, manusia menghadapi bentuk baru dari struktur koersif yang bekerja secara halus namun efektif.¹¹ Oleh karena itu, analisis determinisme sosial penting untuk mengembangkan etika digital dan teori keadilan sosial yang peka terhadap konteks struktural.

Anthony Giddens menawarkan pendekatan refleksif melalui konsep modernitas refleksif, di mana individu menyadari struktur sosial yang membentuknya dan berusaha menegosiasikan ruang kebebasan dalam sistem yang kompleks.¹² Kesadaran reflektif menjadi bentuk kebebasan baru dalam masyarakat yang deterministik: kebebasan bukan untuk keluar dari struktur, tetapi untuk memahami dan memodifikasinya secara sadar.¹³

Dalam konteks politik, determinisme sosiologis menuntun kita pada pemahaman bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada kehendak individu, tetapi pada transformasi sistem sosial dan institusi yang melingkupinya.¹⁴ Dengan kata lain, kebebasan dan keadilan tidak dapat diwujudkan tanpa kesadaran terhadap struktur determinatif yang membentuk pilihan manusia.¹⁵

7.4.       Humanisasi Determinisme di Era Global

Relevansi kontemporer determinisme sosiologis juga terletak pada upaya humanisasi struktur sosial—yakni mengembalikan kesadaran manusia dalam sistem yang semakin otomatis. Dalam masyarakat jaringan global, manusia sering kali kehilangan kendali atas proses sosial yang ia ciptakan sendiri, sebagaimana Marx telah ramalkan dalam konsep alienasi.¹⁶ Oleh karena itu, tantangan etis dan aksiologis masa kini adalah membangun struktur sosial yang memungkinkan refleksivitas, partisipasi, dan solidaritas manusiawi di tengah mekanisme sistemik yang deterministik.

Zygmunt Bauman menyebut kondisi ini sebagai “modernitas cair,” di mana struktur sosial terus berubah dan individu dipaksa menyesuaikan diri dengan kecepatan transformasi global.¹⁷ Dalam situasi ini, determinisme sosial tidak lagi berarti kekakuan struktur, tetapi ketidakpastian sistem yang tetap memaksa individu beradaptasi dalam logika pasar dan teknologi. Relevansi determinisme sosiologis, karenanya, justru semakin kuat: ia menjadi alat kritis untuk memahami bagaimana kebebasan, identitas, dan makna manusia dibentuk, dinegosiasikan, dan sering kali dikendalikan oleh kekuatan sosial yang melampaui kendali pribadi.¹⁸


Dengan demikian, determinisme sosiologis dalam era kontemporer tidak sekadar menjelaskan keterikatan manusia pada struktur sosial, tetapi juga mengajak pada kesadaran reflektif terhadap mekanisme baru penentuan sosial—baik dalam ekonomi digital, media, maupun relasi kekuasaan global. Relevansinya terletak pada kemampuannya mengungkap struktur yang tak terlihat yang menentukan kehidupan manusia, sekaligus membuka ruang bagi refleksi etis untuk menciptakan masyarakat yang lebih sadar, adil, dan manusiawi.


Footnotes

[1]                Ulrich Beck, Risk Society: Towards a New Modernity, trans. Mark Ritter (London: Sage Publications, 1992), 18–19.

[2]                Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019), 94–96.

[3]                Ibid., 102–104.

[4]                Bruno Latour, Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press, 2005), 75–77.

[5]                Manuel Castells, The Rise of the Network Society, 2nd ed. (Malden, MA: Blackwell, 2010), 500–503.

[6]                Pierre Bourdieu, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, trans. Richard Nice (Cambridge: Harvard University Press, 1984), 101–102.

[7]                Ibid., 200–201.

[8]                Nick Couldry, Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practice (Cambridge: Polity Press, 2012), 88–89.

[9]                Michel Foucault, Technologies of the Self: A Seminar with Michel Foucault, ed. Luther H. Martin, Huck Gutman, and Patrick H. Hutton (Amherst: University of Massachusetts Press, 1988), 16–17.

[10]             Ibid., 25–26.

[11]             Byung-Chul Han, In the Swarm: Digital Prospects, trans. Erik Butler (Cambridge: MIT Press, 2017), 33–34.

[12]             Anthony Giddens, Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age (Stanford: Stanford University Press, 1991), 210–212.

[13]             Ibid., 218–220.

[14]             Jürgen Habermas, Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy, trans. William Rehg (Cambridge: MIT Press, 1996), 134–136.

[15]             Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014), 91–92.

[16]             Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, trans. Martin Milligan (Moscow: Progress Publishers, 1959), 111–113.

[17]             Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 6–8.

[18]             Manuel Castells, Communication Power (Oxford: Oxford University Press, 2009), 33–34.


8.           Sintesis Filosofis

Sintesis filosofis dari determinisme sosiologis bertujuan untuk merangkum dan mempertemukan dua kutub yang sering kali tampak berseberangan: antara struktur sosial yang determinatif dan agensi manusia yang reflektif dan bebas. Dalam lintasan sejarah pemikiran, determinisme sosiologis telah bergerak dari positivisme Comte dan Durkheim, menuju dialektika Marx dan Giddens, serta kritik poststrukturalis Foucault dan Bourdieu. Namun, tantangan filosofis yang tersisa adalah bagaimana menjelaskan hubungan antara struktur, agensi, dan nilai moral tanpa jatuh ke dalam reduksionisme struktural maupun idealisme voluntaristik.¹

Sintesis ini mengandaikan sebuah pandangan yang koheren, relasional, dan reflektif, di mana struktur sosial dipahami bukan sebagai kekuatan yang sepenuhnya menghapus kebebasan manusia, melainkan sebagai kondisi ontologis yang memungkinkan tindakan sosial bermakna. Dengan demikian, determinisme sosiologis yang disintesiskan secara filosofis bukanlah sistem tertutup yang meniadakan manusia, tetapi suatu model kausalitas terbuka yang mengakui timbal balik antara determinasi sosial dan kreativitas manusia.²

8.1.       Dialektika antara Struktur dan Agensi: Jalan Tengah Ontologis

Anthony Giddens melalui teori strukturasi menawarkan titik pijak yang relevan bagi sintesis ini. Ia menegaskan bahwa struktur sosial memiliki sifat ganda (duality of structure): struktur membentuk tindakan manusia, tetapi juga terus direproduksi melalui tindakan tersebut.³ Dengan demikian, tindakan manusia bukan sekadar hasil dari kekuatan sosial yang eksternal, melainkan juga momen reproduksi dari tatanan sosial itu sendiri.

Filosofisnya, hal ini mengandaikan bahwa realitas sosial bersifat dialektis dan emergent, bukan mekanistik. Margaret Archer menyebut hubungan ini sebagai morfogenesis, yaitu proses dinamis di mana struktur dan agensi saling memengaruhi dalam waktu historis yang nyata.⁴ Dalam kerangka ini, kebebasan manusia bukanlah penolakan terhadap determinasi sosial, melainkan ekspresi reflektif dari keterlibatan dalam struktur yang terus berubah. Kebebasan menjadi kesadaran yang sadar akan keterbatasannya.

Dengan demikian, sintesis filosofis determinisme sosiologis menempatkan manusia sebagai subjek transendental dalam jaringan sosial yang imanen: ia bukan pencipta tunggal realitas sosial, tetapi juga bukan sekadar produk pasifnya. Manusia adalah pelaku yang sadar dan reflektif dalam proses pembentukan realitas kolektif.

8.2.       Epistemologi Relasional: Pengetahuan sebagai Interaksi Sosial

Dari segi epistemologis, sintesis filosofis menggabungkan pandangan positivistik dan interpretivistik. Pengetahuan sosial tidak semata hasil observasi objektif terhadap hukum-hukum sosial, tetapi juga hasil refleksi terhadap makna dan pengalaman manusia di dalam tatanan sosial.⁵ Oleh karena itu, epistemologi determinisme sosiologis yang disintesiskan bersifat relasional: ia mengakui bahwa kebenaran sosial lahir dari dialog antara struktur pengetahuan, posisi sosial, dan praktik komunikatif manusia.⁶

Habermas mengembangkan ide ini melalui teori tindakan komunikatif, yang melihat rasionalitas bukan hanya sebagai kemampuan instrumental untuk mengontrol dunia, tetapi juga sebagai kapasitas untuk mencapai pemahaman melalui komunikasi yang bebas dari dominasi.⁷ Dengan mengadopsi prinsip ini, determinisme sosiologis dapat diartikulasikan kembali sebagai sistem terbuka yang memungkinkan ruang dialog, bukan sekadar penjelasan kausal yang kaku.

Dalam konteks ini, ilmu sosial menjadi bukan sekadar alat prediksi, tetapi juga sarana emansipasi, karena membantu manusia memahami struktur yang membentuknya dan dengan demikian memungkinkan tindakan reflektif untuk mengubahnya.⁸

8.3.       Etika Sosial dan Tanggung Jawab dalam Dunia yang Deterministik

Sintesis etis dari determinisme sosiologis menegaskan bahwa tanggung jawab moral tidak hilang meskipun manusia hidup dalam tatanan sosial yang determinatif. Sebaliknya, tanggung jawab justru muncul dari kesadaran terhadap determinasi sosial itu sendiri. Etika sosial yang lahir dari kesadaran deterministik mengajak manusia untuk bertindak reflektif—menyadari keterikatannya dalam sistem sosial dan berupaya mentransformasinya ke arah keadilan.⁹

Dalam hal ini, Charles Taylor dan Axel Honneth menekankan pentingnya pengakuan (recognition) sebagai dimensi moral dari hubungan sosial.¹⁰ Kesadaran akan keterkaitan sosial bukanlah bentuk penyerahan diri terhadap struktur, melainkan dasar bagi solidaritas dan tanggung jawab bersama. Nilai moral tidak muncul dari kebebasan mutlak, tetapi dari kesadaran interdependensi antara individu dan masyarakat.¹¹

Dengan demikian, determinisme sosiologis dapat disintesiskan secara aksiologis sebagai etika relasional, di mana kebebasan tidak dipahami sebagai otonomi dari yang lain, tetapi sebagai kemampuan untuk bertindak secara sadar dalam keterhubungan dengan yang lain.

8.4.       Determinisme sebagai Kausalitas Terbuka

Sintesis filosofis ini juga menuntut reinterpretasi terhadap konsep “determinasi” itu sendiri. Dalam kerangka klasik, determinisme dipahami secara linier: sebab melahirkan akibat dalam sistem tertutup. Namun, dalam konteks sosial, determinasi bersifat terbuka dan non-linear—struktur sosial memengaruhi tindakan manusia, tetapi manusia juga mengubah struktur melalui refleksi dan tindakan.¹²

Dengan demikian, determinisme sosiologis lebih tepat dipahami sebagai determinisme reflektif, bukan determinisme mekanistik. Bruno Latour dan Niklas Luhmann menunjukkan bahwa sistem sosial beroperasi melalui jaringan interaksi yang bersifat kompleks, di mana kausalitas bersifat sirkular dan kontingen.¹³ Hal ini menandakan bahwa realitas sosial tidak dapat direduksi pada satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi dinamis antara aktor, wacana, dan struktur.

Kausalitas sosial yang terbuka ini menjadikan determinisme sosiologis relevan secara filosofis: ia tidak menutup ruang bagi kebebasan, melainkan menjadikannya bagian inheren dari dinamika sosial yang determinatif.


Humanisme Reflektif sebagai Kesimpulan Sintesis

Akhirnya, sintesis filosofis determinisme sosiologis bermuara pada gagasan humanisme reflektif—suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai makhluk sosial yang sadar akan determinasi dan berupaya untuk menafsirkannya secara etis. Dalam perspektif ini, kebebasan bukanlah ketiadaan struktur, melainkan kesadaran dan kemampuan untuk merefleksikan serta mengarahkan struktur ke arah yang lebih manusiawi.¹⁴

Dengan mengintegrasikan pandangan strukturalis, eksistensialis, dan konstruktivis, determinisme sosiologis yang disintesiskan ini menjadi filsafat sosial yang empiris sekaligus normatif, determinatif sekaligus reflektif, dan sistemik sekaligus humanistik. Ia membuka ruang bagi tindakan manusia dalam dunia yang kompleks, tanpa menafikan kekuatan sosial yang membentuknya.

Sebagaimana dirumuskan oleh Giddens, kebebasan manusia tidak terletak di luar struktur, melainkan dalam kemampuan untuk mengubah struktur melalui tindakan yang sadar.¹⁵ Maka, determinisme sosiologis yang disintesiskan secara filosofis dapat dipahami sebagai filsafat kebebasan dalam keterikatan—sebuah upaya memahami manusia sebagai makhluk yang ditentukan, namun justru melalui kesadaran atas determinasi itulah ia menjadi bebas.


Footnotes

[1]                Steven Lukes, Power: A Radical View, 2nd ed. (New York: Palgrave Macmillan, 2005), 14–15.

[2]                Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Routledge, 1975), 56–58.

[3]                Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 25–27.

[4]                Margaret Archer, Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 66–68.

[5]                Max Weber, Methodology of Social Sciences, trans. Edward A. Shils and Henry A. Finch (New York: Free Press, 1949), 57–58.

[6]                Pierre Bourdieu and Loïc Wacquant, An Invitation to Reflexive Sociology (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 36–38.

[7]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1: Reason and the Rationalization of Society, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 82–84.

[8]                Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts, trans. Joel Anderson (Cambridge: Polity Press, 1995), 95–96.

[9]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 211–212.

[10]             Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014), 105–106.

[11]             Ibid., 111–112.

[12]             Roy Bhaskar, The Possibility of Naturalism: A Philosophical Critique of the Contemporary Human Sciences, 3rd ed. (London: Routledge, 1998), 115–116.

[13]             Bruno Latour, Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press, 2005), 63–64.

[14]             Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 47–49.

[15]             Anthony Giddens, Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age (Stanford: Stanford University Press, 1991), 215–216.


9.           Kesimpulan

Kajian mengenai determinisme sosiologis menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan masyarakat tidak dapat direduksi pada salah satu sisi saja—baik struktur sosial yang menentukan maupun kebebasan individu yang menentukan dirinya sendiri. Melalui pembahasan historis, ontologis, epistemologis, hingga aksiologis, kita dapat menyimpulkan bahwa determinisme sosiologis bukanlah doktrin tentang keterpaksaan total, melainkan kerangka reflektif untuk memahami bagaimana struktur sosial membentuk sekaligus dibentuk oleh tindakan manusia.¹

Dalam akar historisnya, determinisme sosiologis berangkat dari positivisme Auguste Comte dan realisme sosial Émile Durkheim, yang memandang fakta sosial sebagai entitas objektif yang memiliki daya koersif terhadap individu.² Tradisi ini kemudian dikembangkan dalam bentuk materialisme historis Karl Marx, yang memperlihatkan bahwa struktur ekonomi dan kelas sosial merupakan kekuatan determinatif dalam sejarah manusia.³ Namun, perkembangan teori sosial abad ke-20 menandai pergeseran penting: dari determinisme mekanistik menuju determinisme dialektis, yang diartikulasikan oleh Anthony Giddens melalui teori strukturasi, serta oleh Pierre Bourdieu melalui konsep habitus dan field.⁴

9.1.       Determinisme sebagai Relasionalitas Sosial

Dari perspektif ontologis, realitas sosial bersifat sui generis dan relasional. Struktur sosial bukan entitas yang berdiri sendiri, tetapi jaringan hubungan yang memediasi tindakan manusia.⁵ Masyarakat tidak hanya “ada di luar” individu, tetapi juga “ada di dalam” dirinya melalui internalisasi nilai, norma, dan simbol yang membentuk kesadaran sosial.⁶ Dengan demikian, ontologi determinisme sosiologis menolak dualisme antara individu dan masyarakat: keduanya merupakan dimensi saling membentuk dalam proses historis dan kultural yang berkelanjutan.

Pandangan ini menghasilkan model determinasi terbuka: manusia dibentuk oleh struktur, tetapi juga berperan dalam memodifikasi struktur itu melalui refleksi dan tindakan.⁷ Dengan kata lain, kebebasan manusia bukanlah kebebasan absolut dari struktur, melainkan kebebasan yang terletak di dalam struktur—yakni kemampuan reflektif untuk memahami dan menegosiasikan batas-batas sosial yang membentuknya.⁸

9.2.       Implikasi Epistemologis dan Etis

Epistemologi determinisme sosiologis menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah terhadap realitas sosial, tanpa mengabaikan dimensi makna subjektif dan komunikasi manusia.⁹ Ilmu sosial yang berakar pada determinisme tidak hanya menjelaskan sebab-sebab eksternal perilaku manusia, tetapi juga membantu mengungkap mekanisme sosial yang tersembunyi di balik tindakan sehari-hari.¹⁰ Dalam hal ini, pengetahuan sosiologis berfungsi sebagai bentuk kesadaran kritis—membuka ruang bagi refleksi dan emansipasi terhadap struktur-struktur sosial yang menindas.¹¹

Dari sisi etika, determinisme sosiologis mendorong munculnya kesadaran moral baru yang tidak berbasis pada kebebasan individual semata, melainkan pada interdependensi sosial.¹² Etika dalam konteks ini bersifat relasional: manusia bertanggung jawab bukan karena ia bebas dari masyarakat, tetapi karena ia sadar akan keterikatannya dalam jaringan sosial yang lebih luas.¹³ Kesadaran ini melahirkan tanggung jawab kolektif terhadap keadilan sosial, solidaritas, dan keseimbangan antara kebebasan pribadi dan keteraturan sosial.

9.3.       Relevansi Kontemporer dan Transformasi Humanistik

Dalam era digital dan globalisasi, determinisme sosiologis mendapatkan relevansi baru. Struktur sosial kini hadir dalam bentuk algoritma, jaringan informasi, dan sistem ekonomi global yang memengaruhi perilaku manusia secara halus namun mendalam.¹⁴ Dalam kondisi ini, manusia berhadapan dengan bentuk baru dari kekuasaan sosial yang bersifat invisible—bukan karena hilangnya struktur, tetapi karena struktur menjadi semakin tersembunyi di balik teknologi dan data.¹⁵ Oleh karena itu, determinisme sosiologis kontemporer menuntut reinterpretasi filosofis yang menekankan refleksivitas dan kesadaran digital, agar manusia mampu mengkritisi mekanisme sosial baru yang membentuk kehidupannya.¹⁶

Namun, di balik determinasi itu, masih terdapat ruang bagi kebebasan reflektif. Giddens menyebut kebebasan ini sebagai “agency in reflexive modernity”—yakni kemampuan manusia untuk memantulkan struktur sosial ke dalam kesadaran dan bertindak berdasarkan pemahaman kritis terhadapnya.¹⁷ Relevansi determinisme sosiologis modern terletak pada kemampuannya untuk mendeskripsikan realitas tanpa meniadakan nilai-nilai humanistik: kebebasan, tanggung jawab, dan solidaritas sosial.


Sintesis Filosofis: Determinisme Reflektif dan Humanisme Sosial

Secara filosofis, determinisme sosiologis pada akhirnya meneguhkan pandangan bahwa kebebasan manusia dan struktur sosial bukanlah entitas yang saling meniadakan, melainkan dua aspek dari realitas sosial yang sama.¹⁸ Determinisme, ketika dipahami secara reflektif, justru menuntun manusia untuk mengenali batas-batas sosialnya, dan melalui pengenalan itu, menegaskan dirinya sebagai subjek moral yang sadar.¹⁹ Dengan demikian, determinisme sosiologis bukan antitesis kebebasan, tetapi kondisi bagi kebebasan yang rasional dan bertanggung jawab.²⁰

Kesimpulan ini menempatkan determinisme sosiologis sebagai paradigma filosofis yang dinamis—bukan sistem dogmatis yang mengekang, melainkan kerangka terbuka untuk memahami hubungan antara kekuatan sosial, kesadaran manusia, dan nilai moral.²¹ Dalam dunia yang semakin kompleks dan terstruktur secara digital, pandangan ini mengajak kita untuk menumbuhkan humanisme reflektif, yakni kesadaran bahwa memahami struktur sosial berarti memahami diri sendiri sebagai bagian darinya.²²


Footnotes

[1]                Steven Lukes, Power: A Radical View, 2nd ed. (New York: Palgrave Macmillan, 2005), 15–16.

[2]                Auguste Comte, The Course of Positive Philosophy, trans. Harriet Martineau (London: George Bell and Sons, 1896), 34–35.

[3]                Karl Marx and Friedrich Engels, The German Ideology (Moscow: Progress Publishers, 1968), 42–44.

[4]                Anthony Giddens, The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (Cambridge: Polity Press, 1984), 20–22.

[5]                Émile Durkheim, The Rules of Sociological Method, trans. W. D. Halls (New York: Free Press, 1982), 50–51.

[6]                Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practice, trans. Richard Nice (Cambridge: Cambridge University Press, 1977), 72–73.

[7]                Margaret Archer, Realist Social Theory: The Morphogenetic Approach (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 65–66.

[8]                Roy Bhaskar, The Possibility of Naturalism: A Philosophical Critique of the Contemporary Human Sciences, 3rd ed. (London: Routledge, 1998), 114–116.

[9]                Max Weber, Methodology of Social Sciences, trans. Edward A. Shils and Henry A. Finch (New York: Free Press, 1949), 61–62.

[10]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 309–310.

[11]             Axel Honneth, Freedom’s Right: The Social Foundations of Democratic Life, trans. Joseph Ganahl (New York: Columbia University Press, 2014), 89–90.

[12]             Émile Durkheim, Professional Ethics and Civic Morals, trans. Cornelia Brookfield (London: Routledge, 1992), 61–62.

[13]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 212–213.

[14]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019), 78–80.

[15]             Byung-Chul Han, Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power, trans. Erik Butler (London: Verso, 2017), 33–35.

[16]             Manuel Castells, Communication Power (Oxford: Oxford University Press, 2009), 42–43.

[17]             Anthony Giddens, Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age (Stanford: Stanford University Press, 1991), 210–212.

[18]             Margaret Archer, Structure, Agency, and the Internal Conversation (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 113–114.

[19]             Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science (London: Routledge, 1975), 57–58.

[20]             Axel Honneth, The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts, trans. Joel Anderson (Cambridge: Polity Press, 1995), 95–96.

[21]             Zygmunt Bauman, Postmodern Ethics (Oxford: Blackwell, 1993), 49–50.

[22]             Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge: MIT Press, 1990), 101–103.


Daftar Pustaka

Archer, M. (1995). Realist social theory: The morphogenetic approach. Cambridge University Press.

Archer, M. (2000). Being human: The problem of agency. Cambridge University Press.

Archer, M. (2003). Structure, agency, and the internal conversation. Cambridge University Press.

Bauman, Z. (1993). Postmodern ethics. Blackwell.

Bauman, Z. (2000). Liquid modernity. Polity Press.

Beauvoir, S. de. (1976). The ethics of ambiguity (B. Frechtman, Trans.). Citadel Press.

Beck, U. (1992). Risk society: Towards a new modernity (M. Ritter, Trans.). Sage Publications.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Bhaskar, R. (1975). A realist theory of science. Routledge.

Bhaskar, R. (1998). The possibility of naturalism: A philosophical critique of the contemporary human sciences (3rd ed.). Routledge.

Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice (R. Nice, Trans.). Cambridge University Press.

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste (R. Nice, Trans.). Harvard University Press.

Bourdieu, P. (1990). The logic of practice (R. Nice, Trans.). Stanford University Press.

Bourdieu, P., & Wacquant, L. J. D. (1992). An invitation to reflexive sociology. University of Chicago Press.

Byung-Chul Han. (2017). Psychopolitics: Neoliberalism and new technologies of power (E. Butler, Trans.). Verso.

Byung-Chul Han. (2017). In the swarm: Digital prospects (E. Butler, Trans.). MIT Press.

Castells, M. (2009). Communication power. Oxford University Press.

Castells, M. (2010). The rise of the network society (2nd ed.). Blackwell.

Comte, A. (1896). The course of positive philosophy (H. Martineau, Trans.). George Bell and Sons.

Couldry, N. (2012). Media, society, world: Social theory and digital media practice. Polity Press.

Durkheim, É. (1951). Suicide: A study in sociology (J. A. Spaulding & G. Simpson, Trans.). Free Press.

Durkheim, É. (1982). The rules of sociological method (W. D. Halls, Trans.). Free Press.

Durkheim, É. (1984). The division of labour in society (W. D. Halls, Trans.). Free Press.

Durkheim, É. (1992). Professional ethics and civic morals (C. Brookfield, Trans.). Routledge.

Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Trans.). Vintage Books.

Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977 (C. Gordon, Ed.). Pantheon Books.

Foucault, M. (1988). Technologies of the self: A seminar with Michel Foucault (L. H. Martin, H. Gutman, & P. H. Hutton, Eds.). University of Massachusetts Press.

Foucault, M. (1990). The history of sexuality, Vol. 1: An introduction (R. Hurley, Trans.). Vintage Books.

Foucault, M. (2002). The archaeology of knowledge (A. M. Sheridan Smith, Trans.). Routledge.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). Continuum.

Giddens, A. (1984). The constitution of society: Outline of the theory of structuration. Polity Press.

Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford University Press.

Habermas, J. (1971). Knowledge and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action, Vol. 1: Reason and the rationalization of society (T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1987). The theory of communicative action, Vol. 2: Lifeworld and system (T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1990). Moral consciousness and communicative action (C. Lenhardt & S. W. Nicholsen, Trans.). MIT Press.

Habermas, J. (1996). Between facts and norms: Contributions to a discourse theory of law and democracy (W. Rehg, Trans.). MIT Press.

Han, B.-C. (2017). In the swarm: Digital prospects (E. Butler, Trans.). MIT Press.

Honneth, A. (1995). The struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts (J. Anderson, Trans.). Polity Press.

Honneth, A. (2014). Freedom’s right: The social foundations of democratic life (J. Ganahl, Trans.). Columbia University Press.

Husserl, E. (1970). The crisis of European sciences and transcendental phenomenology (D. Carr, Trans.). Northwestern University Press.

Latour, B. (2005). Reassembling the social: An introduction to actor-network-theory. Oxford University Press.

Lukes, S. (1973). Émile Durkheim: His life and work. Penguin Books.

Lukes, S. (2005). Power: A radical view (2nd ed.). Palgrave Macmillan.

MacIntyre, A. (2007). After virtue: A study in moral theory (3rd ed.). University of Notre Dame Press.

Marx, K. (1959). Economic and philosophic manuscripts of 1844 (M. Milligan, Trans.). Progress Publishers.

Marx, K. (1970). A contribution to the critique of political economy (S. W. Ryazanskaya, Trans.). Progress Publishers.

Marx, K., & Engels, F. (1968). The German ideology. Progress Publishers.

Marx, K., & Engels, F. (2002). The communist manifesto. Penguin Books.

Parsons, T. (1937). The structure of social action. McGraw-Hill.

Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.

Schutz, A. (1967). The phenomenology of the social world (G. Walsh & F. Lehnert, Trans.). Northwestern University Press.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Weber, M. (1949). Methodology of social sciences (E. A. Shils & H. A. Finch, Trans.). Free Press.

Weber, M. (1978). Economy and society (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press.

Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. PublicAffairs.

Zygmunt Bauman. (2000). Liquid modernity. Polity Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar