Determinisme Teknologis
Antara Kemajuan Inovasi dan Penundukan Manusia oleh
Mesin
Alihkan ke: Determinisme.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif konsep Determinisme
Teknologis sebagai salah satu cabang penting dalam studi filsafat dan sosiologi
teknologi. Melalui pendekatan historis, ontologis, epistemologis, etis, hingga
aksiologis, tulisan ini menelusuri bagaimana teknologi berkembang dari sekadar
instrumen manusia menjadi sistem otonom yang membentuk struktur sosial, pola
berpikir, dan nilai-nilai moral. Kajian dimulai dengan landasan genealogis dari
Karl Marx, Thorstein Veblen, Lewis Mumford, Jacques Ellul, dan Marshall
McLuhan, yang masing-masing menunjukkan pergeseran posisi teknologi dari alat
produksi menuju kekuatan determinatif. Secara ontologis, teknologi dipahami
sebagai struktur keberadaan yang menyusun relasi manusia dengan realitas,
sementara secara epistemologis, ia menjadi mediasi yang menentukan cara manusia
mengetahui dan menafsirkan dunia.
Dari segi etika dan aksiologi, determinisme
teknologis menghadirkan problem tanggung jawab moral terhadap dampak teknologi
yang melampaui kapasitas kontrol manusia, sebagaimana dikemukakan Hans Jonas
dan Andrew Feenberg. Artikel ini juga memaparkan kritik terhadap determinisme
teknologis dari perspektif konstruktivisme sosial, fenomenologi, dan teori
jaringan aktor (ANT), yang menolak pandangan otonomi teknologi dan menegaskan
peran aktif manusia dalam pembentukan makna teknologi. Pada bagian akhir,
artikel ini menyintesis pandangan-pandangan tersebut ke dalam paradigma “teknologi
reflektif” — yaitu paradigma yang menempatkan teknologi sebagai medan
dialektis antara determinasi teknis dan kebebasan moral manusia. Dengan
demikian, determinisme teknologis tidak lagi dipahami sebagai takdir
mekanistik, melainkan sebagai cermin reflektif yang memperlihatkan bagaimana
manusia membentuk, dan sekaligus dibentuk oleh, ciptaannya sendiri.
Kata Kunci: Determinisme Teknologis, Filsafat Teknologi,
Jacques Ellul, Andrew Feenberg, Hans Jonas, Etika Teknologi, Ontologi,
Epistemologi, Aksiologi, Teknologi Reflektif.
PEMBAHASAN
Determinisme dalam Konteks Teknologi Modern
1.
Pendahuluan
Perdebatan mengenai hubungan antara manusia dan
teknologi telah menjadi salah satu diskursus paling signifikan dalam filsafat
kontemporer. Di tengah arus modernitas yang ditandai oleh percepatan inovasi
digital, muncul pandangan bahwa teknologi tidak sekadar instrumen netral yang
digunakan manusia, melainkan kekuatan otonom yang membentuk arah perkembangan
masyarakat dan kebudayaan. Pandangan inilah yang dikenal sebagai determinisme
teknologis — sebuah teori yang menyatakan bahwa perubahan sosial, politik,
dan budaya ditentukan secara langsung oleh kemajuan teknologi, bukan
sebaliknya.¹
Gagasan determinisme teknologis muncul sebagai
respons terhadap transformasi historis yang diakibatkan oleh revolusi industri
dan kemudian semakin menguat pada abad ke-20 seiring dengan berkembangnya media
massa, komputerisasi, dan digitalisasi. Tokoh-tokoh seperti Karl Marx telah menunjukkan
bagaimana alat-alat produksi membentuk struktur ekonomi dan hubungan sosial
manusia.² Di abad berikutnya, pemikir seperti Marshall McLuhan menegaskan bahwa
media, sebagai bentuk teknologi komunikasi, tidak hanya menyampaikan pesan
tetapi juga membentuk cara manusia berpikir dan berinteraksi.³ Jacques Ellul
kemudian memperluas analisis ini dengan menyatakan bahwa teknik memiliki logika
otonomnya sendiri yang melampaui kontrol manusia, menjadikan teknologi bukan
lagi alat, melainkan sistem yang menentukan arah peradaban.⁴
Dalam konteks ini, pertanyaan filosofis yang
mendasar pun muncul: apakah manusia masih memiliki kebebasan dalam menentukan
arah hidupnya, ataukah ia telah menjadi produk dari sistem teknologi yang ia
ciptakan sendiri? Isu ini menjadi semakin relevan di era digital ketika
kecerdasan buatan, big data, dan automasi mulai mengambil peran yang
sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh manusia.⁵ Kemajuan teknologi menghadirkan
paradoks antara emansipasi dan penundukan: di satu sisi, teknologi membuka
peluang baru bagi kemajuan pengetahuan dan kesejahteraan; di sisi lain, ia
menciptakan ketergantungan struktural yang dapat mengikis otonomi moral dan
eksistensial manusia.⁶
Oleh karena itu, pembahasan mengenai determinisme
teknologis bukan sekadar persoalan teoretis, melainkan memiliki implikasi
langsung terhadap etika, politik, dan praksis sosial. Analisis filosofis
terhadap determinisme teknologis memungkinkan kita untuk menilai secara kritis
bagaimana teknologi mengubah struktur realitas dan subjektivitas manusia. Dalam
konteks filsafat kontemporer, studi ini berfungsi sebagai refleksi atas nasib
manusia di tengah dunia yang semakin ditentukan oleh algoritma dan logika
efisiensi teknis.⁷
Dengan demikian, tujuan utama bagian ini adalah
untuk membangun kerangka pemahaman filosofis mengenai determinisme teknologis
sebagai suatu paradigma berpikir. Kajian ini tidak hanya bertujuan menjelaskan
akar historis dan teoritisnya, tetapi juga mengungkap tantangan etis dan
aksiologis yang dihadirkannya terhadap eksistensi manusia modern. Hanya dengan
pendekatan reflektif dan kritis, manusia dapat menjaga otonomi dirinya di
tengah derasnya arus teknologi yang tak terhindarkan.⁸
Footnotes
[1]
Merritt Roe Smith dan Leo Marx, eds., Does
Technology Drive History? The Dilemma of Technological Determinism
(Cambridge, MA: MIT Press, 1994), 3–5.
[2]
Karl Marx, A Contribution to the Critique of
Political Economy (Moscow: Progress Publishers, 1977), 20–25.
[3]
Marshall McLuhan, Understanding Media: The
Extensions of Man (New York: McGraw-Hill, 1964), 7–9.
[4]
Jacques Ellul, The Technological Society
(New York: Vintage Books, 1964), 80–82.
[5]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 23–27.
[6]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A Critical
Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 18–21.
[7]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 45–48.
[8]
Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From
Garden to Earth (Bloomington: Indiana University Press, 1990), 12–14.
2.
Landasan Historis dan Genealogis Determinisme
Teknologis
Gagasan tentang determinisme teknologis
tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui proses panjang yang
terkait erat dengan transformasi historis masyarakat industri dan evolusi
pemikiran modern tentang peran teknologi dalam kehidupan manusia. Sejak
revolusi industri pada abad ke-18 dan ke-19, manusia mulai menyadari bahwa
mesin bukan sekadar alat bantu, tetapi menjadi kekuatan struktural yang
mengubah cara produksi, pola kerja, bahkan hubungan sosial secara menyeluruh.¹
Pandangan bahwa perkembangan teknologi menentukan arah sejarah sosial dan
politik inilah yang menjadi benih awal dari determinisme teknologis.
Akar genealogis determinisme teknologis dapat ditelusuri
pada pemikiran Karl Marx, yang melihat teknologi sebagai basis material
bagi struktur masyarakat. Dalam analisisnya, forces of production
(termasuk alat dan teknik produksi) menjadi faktor penentu bentuk hubungan
sosial dalam masyarakat (relations of production).² Dengan kata lain,
teknologi tidak netral; ia memengaruhi dan membatasi kemungkinan tindakan
sosial manusia.³ Meski Marx tidak secara eksplisit menggunakan istilah “determinisme
teknologis”, pemikirannya memberi fondasi materialis bagi pandangan bahwa
perubahan teknologi mendorong perubahan sosial secara dialektis.
Pada awal abad ke-20, konsep ini dikembangkan lebih
jauh oleh Thorstein Veblen, yang menekankan bahwa kemajuan teknologi
memiliki logika evolusioner tersendiri yang sering kali mendahului adaptasi
sosial.⁴ Ia melihat teknologi sebagai kekuatan yang otonom dan tidak sepenuhnya
dapat dikendalikan oleh institusi sosial atau kebijakan ekonomi. Selanjutnya, Lewis
Mumford memperkenalkan gagasan bahwa setiap peradaban ditandai oleh bentuk
teknologi dominan — mulai dari technics of eotechnic (berbasis energi
alami) hingga megatechnic (berbasis sistem industrial besar).⁵ Menurut
Mumford, teknologi modern cenderung kehilangan dimensi etis dan humanistiknya,
digantikan oleh rasionalitas efisiensi yang menundukkan nilai-nilai
kemanusiaan.⁶
Di pertengahan abad ke-20, Jacques Ellul
menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam merumuskan determinisme
teknologis secara sistematis. Dalam The Technological Society, ia
berargumen bahwa teknik memiliki “autonomi” yang tidak lagi tunduk pada
moralitas, politik, atau agama.⁷ Teknologi berkembang menurut logika
internalnya sendiri: apa yang dapat dilakukan secara teknis, pasti akan
dilakukan.⁸ Ellul menegaskan bahwa manusia secara bertahap kehilangan kontrol
terhadap sistem teknis yang ia ciptakan, karena kebutuhan akan efisiensi,
kecepatan, dan produktivitas menjadi norma yang absolut.⁹
Sementara itu, Marshall McLuhan memperluas
determinisme teknologis ke bidang komunikasi. Dalam karyanya Understanding
Media, ia menegaskan bahwa “medium adalah pesan” (the medium is
the message), artinya, bukan isi komunikasi yang paling menentukan,
melainkan bentuk teknologis media itu sendiri.¹⁰ Bagi McLuhan, setiap inovasi
media — dari alfabet hingga internet — mengubah cara manusia memandang dunia
dan membentuk kesadaran kolektifnya.¹¹ Pemikirannya membuka jalan bagi analisis
tentang bagaimana teknologi informasi membentuk identitas dan kebudayaan
kontemporer.
Pada paruh akhir abad ke-20 hingga kini,
determinisme teknologis mendapat bentuk baru dalam kajian Science and
Technology Studies (STS) dan teori kritis teknologi. Pemikir seperti Andrew
Feenberg menolak determinisme absolut, namun tetap mengakui kekuatan
struktural teknologi dalam membentuk ruang sosial dan politik.¹² Sementara itu,
teori jaringan aktor (Actor-Network Theory) dari Bruno Latour
menampilkan teknologi bukan hanya sebagai alat, melainkan sebagai aktor
non-manusia yang ikut membentuk tatanan sosial.¹³
Dengan demikian, determinisme teknologis berkembang
melalui lintasan historis yang kompleks: dari materialisme Marxian, kritik
sosial Veblen dan Mumford, hingga teori otonomi teknik Ellul dan mediasi
teknologi McLuhan. Genealogi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan
sekadar apakah teknologi menentukan manusia, tetapi sejauh mana manusia dapat
mempertahankan otonomi etis dan eksistensialnya dalam dunia yang kian dibentuk
oleh rasionalitas teknis.¹⁴
Footnotes
[1]
David F. Noble, Forces of Production: A Social
History of Industrial Automation (New York: Knopf, 1984), 11–13.
[2]
Karl Marx, A Contribution to the Critique of
Political Economy (Moscow: Progress Publishers, 1977), 20–25.
[3]
Raymond Williams, Television: Technology and
Cultural Form (New York: Schocken Books, 1975), 11.
[4]
Thorstein Veblen, The Engineers and the Price
System (New York: B. W. Huebsch, 1921), 23–26.
[5]
Lewis Mumford, Technics and Civilization
(New York: Harcourt, Brace & Company, 1934), 3–5.
[6]
Lewis Mumford, The Myth of the Machine: Technics
and Human Development (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1967), 210–212.
[7]
Jacques Ellul, The Technological Society
(New York: Vintage Books, 1964), 79–81.
[8]
Ibid., 84–86.
[9]
Ibid., 91.
[10]
Marshall McLuhan, Understanding Media: The
Extensions of Man (New York: McGraw-Hill, 1964), 7–9.
[11]
Ibid., 23–24.
[12]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A
Critical Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 18–21.
[13]
Bruno Latour, Reassembling the Social: An
Introduction to Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press,
2005), 63–65.
[14]
Merritt Roe Smith dan Leo Marx, eds., Does
Technology Drive History? The Dilemma of Technological Determinism
(Cambridge, MA: MIT Press, 1994), 1–4.
3.
Ontologi Determinisme Teknologis
Pertanyaan ontologis dalam determinisme teknologis
berfokus pada hakikat keberadaan teknologi itu sendiri dan relasinya dengan
manusia serta realitas sosial. Apakah teknologi hanyalah instrumen netral yang
digunakan manusia untuk mencapai tujuan tertentu, ataukah ia memiliki eksistensi
dan dinamika otonom yang membentuk keberadaan manusia? Pertanyaan ini membawa
kita pada perdebatan mendasar antara pandangan instrumentalis dan substantivis
tentang teknologi.¹
Pandangan instrumentalis menegaskan bahwa
teknologi merupakan alat yang tunduk pada kehendak manusia. Dalam kerangka ini,
teknologi dianggap netral: baik atau buruknya bergantung pada penggunaannya.²
Namun, para pemikir determinisme teknologis menolak pandangan tersebut karena
mengabaikan fakta bahwa teknologi, setelah mencapai tahap tertentu, mulai
membentuk kondisi dan batas-batas eksistensi manusia itu sendiri.³ Dengan
demikian, teknologi tidak lagi bersifat pasif, melainkan aktif secara ontologis
— ia menciptakan cara-cara baru dalam mengada, berpikir, dan berinteraksi.
Salah satu tokoh yang memberikan landasan ontologis
bagi pemahaman ini adalah Martin Heidegger, terutama melalui esainya The
Question Concerning Technology. Heidegger berargumen bahwa teknologi bukan
sekadar sarana (means) atau kegiatan manusia (human activity),
melainkan sebuah cara mengungkap (mode of revealing) hakikat
realitas.⁴ Dalam bahasa Heidegger, teknologi modern menyingkap dunia melalui
modus Gestell (enframing), yaitu cara berpikir yang menempatkan segala
sesuatu — termasuk manusia — sebagai sumber daya (standing reserve) yang
siap dimanfaatkan.⁵ Dengan demikian, teknologi menjadi struktur ontologis yang
menentukan bagaimana manusia mengalami dan memahami dunia.
Dalam tradisi pemikiran lain, Jacques Ellul
mengembangkan gagasan bahwa teknologi memiliki “autonomi ontologis.” Ia tidak
lagi bergantung pada kehendak manusia, tetapi berkembang menurut logika
internalnya sendiri: apa yang dapat dilakukan secara teknis akan dilakukan.⁶
Teknologi, dalam pandangan Ellul, membentuk realitas sosial seperti sistem hidup
yang mandiri, menuntun manusia untuk beradaptasi dengannya, bukan sebaliknya.⁷
Di sini, manusia bukan lagi subjek yang menguasai teknologi, melainkan bagian
dari sistem teknis yang lebih besar.
Sementara itu, Herbert Marcuse dan Jürgen
Habermas menyoroti aspek ontologis dari rasionalitas teknologi. Marcuse
menyebut bahwa rasionalitas modern telah digantikan oleh technological
rationality, yakni logika yang menilai segala sesuatu berdasarkan efisiensi
dan produktivitas.⁸ Hal ini menciptakan “dimensi satu” dalam eksistensi
manusia, di mana kebebasan dan nilai-nilai moral direduksi menjadi fungsi dari
sistem teknis.⁹ Habermas menambahkan bahwa dalam sistem sosial modern,
teknologi menjadi media yang menstrukturkan komunikasi dan tindakan, sehingga
menggantikan rasionalitas komunikatif dengan rasionalitas instrumental.¹⁰
Dengan demikian, teknologi berperan sebagai prinsip ontologis yang menentukan
struktur tindakan sosial manusia.
Pendekatan lain yang memperluas horizon ontologis
determinisme teknologis datang dari Don Ihde, yang mengembangkan
fenomenologi teknologi. Ia menolak pandangan bahwa teknologi hanya eksternal
terhadap manusia, melainkan melihatnya sebagai perpanjangan tubuh dan
persepsi manusia.¹¹ Dalam kerangka ini, eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan
dari mediasi teknologi — dunia diungkap melalui hubungan manusia-teknologi (human–technology
relations).¹² Dengan demikian, teknologi bukan entitas yang berdiri
sendiri, tetapi menjadi dimensi ontologis yang membentuk cara manusia “mengada
di dunia” (being-in-the-world).
Dalam perkembangan mutakhir, ontologi determinisme
teknologis bertransformasi ke arah posthumanisme dan actor-network
theory. Bruno Latour memandang teknologi sebagai “aktor” non-manusia
yang turut membentuk realitas sosial.¹³ Hal ini menantang dikotomi klasik
antara subjek dan objek, manusia dan mesin. Dalam jaringan ontologis yang lebih
luas, manusia dan teknologi saling berko-eksistensi sebagai bagian dari satu
sistem yang bersifat simbiotik.¹⁴
Dari berbagai pandangan tersebut, dapat disimpulkan
bahwa dalam kerangka determinisme teknologis, teknologi tidak sekadar entitas
eksternal yang diciptakan manusia, tetapi memiliki status ontologis yang aktif
dan produktif. Ia membentuk ruang kemungkinan bagi eksistensi manusia,
sekaligus menjadi struktur yang membatasi kebebasan manusia. Teknologi, dengan
demikian, bukan hanya alat dalam dunia, tetapi juga cara dunia
mengada melalui rasionalitas, sistem, dan struktur yang ia ciptakan.¹⁵
Footnotes
[1]
Merritt Roe Smith dan Leo Marx, eds., Does
Technology Drive History? The Dilemma of Technological Determinism
(Cambridge, MA: MIT Press, 1994), 5–6.
[2]
Langdon Winner, Autonomous Technology:
Technics-out-of-Control as a Theme in Political Thought (Cambridge, MA: MIT
Press, 1977), 18–21.
[3]
Andrew Feenberg, Critical Theory of Technology
(New York: Oxford University Press, 1991), 11–12.
[4]
Martin Heidegger, The Question Concerning
Technology (New York: Harper & Row, 1977), 4–6.
[5]
Ibid., 14–17.
[6]
Jacques Ellul, The Technological Society
(New York: Vintage Books, 1964), 80–82.
[7]
Ibid., 91.
[8]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man
(Boston: Beacon Press, 1964), 141–145.
[9]
Ibid., 148–150.
[10]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 320–324.
[11]
Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From
Garden to Earth (Bloomington: Indiana University Press, 1990), 72–74.
[12]
Ibid., 80–83.
[13]
Bruno Latour, Reassembling the Social: An
Introduction to Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press,
2005), 63–65.
[14]
Rosi Braidotti, The Posthuman (Cambridge:
Polity Press, 2013), 34–36.
[15]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A
Critical Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 28–30.
4.
Epistemologi Determinisme Teknologis
Epistemologi determinisme teknologis berfokus pada
bagaimana teknologi memengaruhi cara manusia memperoleh, membentuk, dan
memvalidasi pengetahuan. Dalam kerangka ini, teknologi tidak hanya berfungsi
sebagai alat bantu bagi aktivitas kognitif manusia, tetapi juga sebagai kerangka
epistemik yang membentuk struktur berpikir, persepsi, dan bahkan konsep
kebenaran itu sendiri.¹ Dengan kata lain, teknologi menjadi mediasi
epistemologis yang mengubah relasi manusia dengan realitas.
Pada mulanya, tradisi modern menganggap bahwa pengetahuan
bersifat netral dan objektif. Namun, determinisme teknologis menantang
pandangan ini dengan menegaskan bahwa setiap bentuk pengetahuan selalu
dihasilkan melalui infrastruktur teknis tertentu.² Misalnya, mesin cetak
pada abad ke-15 bukan hanya mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga
membentuk pola berpikir linier dan sistematis khas modernitas.³ Demikian pula,
media digital dan algoritma pada abad ke-21 menciptakan logika pengetahuan baru
yang terfragmentasi, cepat, dan berbasis data.⁴ Dalam konteks ini, teknologi
bukan sekadar medium penyampai pengetahuan, melainkan struktur yang membentuk
epistemologi manusia modern.
Marshall McLuhan menjadi salah satu tokoh utama yang mengungkap peran teknologi
komunikasi dalam pembentukan kesadaran epistemik. Melalui adagium terkenalnya,
“the medium is the message,” McLuhan menegaskan bahwa bentuk media menentukan
struktur persepsi dan pola kognitif manusia lebih dari isi pesan yang
disampaikan.⁵ Dengan demikian, setiap inovasi teknologi membawa implikasi
epistemologis yang mendalam: media visual, misalnya, membentuk budaya persepsi
yang berbeda dari media tekstual.⁶ Perspektif McLuhan ini menandai pergeseran
dari epistemologi rasional ke epistemologi mediatif — di mana pengetahuan
dibentuk oleh alat-alat teknis yang memperantarai pengalaman manusia terhadap
dunia.
Sementara itu, Herbert Marcuse dalam One-Dimensional
Man menyoroti bahwa rasionalitas teknologi telah menggantikan rasionalitas
kritis. Menurutnya, technological rationality mendominasi kesadaran
manusia modern dengan menilai kebenaran berdasarkan efisiensi, kegunaan, dan
performa teknis, bukan pada dimensi moral atau transendental.⁷ Akibatnya,
kebenaran direduksi menjadi apa yang “berfungsi” dalam sistem teknis.⁸ Dalam
kerangka ini, teknologi menciptakan epistemologi utilitarian, di mana
pengetahuan diukur berdasarkan keberhasilan dalam mengoptimalkan sistem, bukan
lagi pada refleksi kritis terhadap maknanya.
Kritik terhadap dominasi rasionalitas teknologis
juga diajukan oleh Jürgen Habermas, yang membedakan antara rasionalitas
instrumental dan rasionalitas komunikatif.⁹ Habermas menegaskan
bahwa dalam masyarakat modern, pengetahuan teknis telah menggantikan ruang
dialog kritis dengan logika kontrol dan efisiensi.¹⁰ Dengan demikian,
epistemologi modern yang digerakkan oleh teknologi cenderung bersifat
monologis, menyingkirkan diskursus etis dan intersubjektif yang seharusnya
menjadi dasar komunikasi manusia.
Dari perspektif fenomenologis, Don Ihde
menawarkan pendekatan yang lebih deskriptif terhadap relasi epistemik
manusia-teknologi. Ia berpendapat bahwa setiap alat teknologi memperluas
sekaligus membatasi cara manusia mengalami dunia.¹¹ Sebagai contoh, mikroskop
memperluas jangkauan persepsi, tetapi juga mengubah struktur pemahaman kita
terhadap realitas biologis.¹² Dalam kerangka ini, teknologi berperan sebagai amplifikasi
epistemik: ia memperkuat kapasitas manusia untuk mengetahui, namun juga
membingkai cara pengetahuan tersebut dihasilkan.¹³
Dalam konteks kontemporer, muncul pula dimensi
epistemologis baru yang ditandai oleh munculnya algoritmik epistemology
— yaitu pandangan bahwa kebenaran dan keputusan rasional kini dimediasi oleh
algoritma dan sistem kecerdasan buatan.¹⁴ Seperti diuraikan oleh Shoshana
Zuboff, logika kapitalisme digital menjadikan data sebagai bentuk
pengetahuan dominan, yang tidak hanya menggambarkan realitas tetapi juga
mengatur perilaku manusia melalui predictive analytics.¹⁵ Di sini,
epistemologi bergeser dari “pengetahuan untuk memahami” menuju “pengetahuan
untuk mengendalikan.”
Dengan demikian, determinisme teknologis dalam
ranah epistemologi menegaskan bahwa teknologi tidak hanya memediasi
pengetahuan, tetapi juga menentukan struktur kognitif, norma kebenaran, dan
horizon makna manusia. Pengetahuan tidak lagi dapat dipahami secara murni
rasional atau empiris tanpa mempertimbangkan konteks teknologis yang
membentuknya. Dalam dunia modern yang semakin didominasi oleh sistem digital,
epistemologi menjadi medan di mana teknologi dan kesadaran manusia saling
membentuk dalam hubungan yang kompleks, ambivalen, dan tak terhindarkan.¹⁶
Footnotes
[1]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A
Critical Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 41–43.
[2]
Merritt Roe Smith dan Leo Marx, eds., Does
Technology Drive History? The Dilemma of Technological Determinism
(Cambridge, MA: MIT Press, 1994), 6–7.
[3]
Elizabeth Eisenstein, The Printing Press as an
Agent of Change (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 45–48.
[4]
Manuel Castells, The Rise of the Network Society
(Oxford: Blackwell, 1996), 22–26.
[5]
Marshall McLuhan, Understanding Media: The
Extensions of Man (New York: McGraw-Hill, 1964), 7–9.
[6]
Ibid., 23–25.
[7]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man
(Boston: Beacon Press, 1964), 141–145.
[8]
Ibid., 150.
[9]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, Vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 318–322.
[10]
Ibid., 327.
[11]
Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From
Garden to Earth (Bloomington: Indiana University Press, 1990), 72–74.
[12]
Ibid., 80.
[13]
Ibid., 83.
[14]
Luciano Floridi, The Logic of Information: A
Theory of Philosophy as Conceptual Design (Oxford: Oxford University Press,
2019), 112–115.
[15]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 51–54.
[16]
Andrew Feenberg, Between Reason and Experience:
Essays in Technology and Modernity (Cambridge, MA: MIT Press, 2010), 19–22.
5.
Etika dan Aksiologi Determinisme Teknologis
Pertanyaan etis dalam determinisme teknologis
berkaitan dengan nilai-nilai moral dan tanggung jawab manusia terhadap
perkembangan teknologi yang dianggap memiliki daya determinatif atas kehidupan
sosial. Jika teknologi dilihat sebagai kekuatan otonom yang menentukan arah
sejarah, maka muncul problem mendasar: apakah manusia masih memiliki tanggung
jawab moral atas tindakan yang dihasilkan oleh sistem teknologis?¹ Dalam
konteks ini, dimensi aksiologis (nilai) menjadi sangat penting karena ia
menyoroti hubungan antara kemajuan teknis dan nilai-nilai kemanusiaan.
Secara historis, etika teknologi sering berangkat
dari dua pendekatan besar: pertama, pandangan instrumentalis yang
menganggap teknologi netral dan hanya menjadi baik atau buruk tergantung pada
penggunaannya; kedua, pandangan substantivis yang meyakini bahwa
teknologi membawa nilai-nilai tertentu yang melekat dalam struktur dan
logikanya sendiri.² Dalam kerangka determinisme teknologis, pendekatan
substantivis menjadi dominan, karena ia menegaskan bahwa teknologi bukan
sekadar alat, melainkan pembawa nilai (value-laden structure) yang
memengaruhi cara manusia berpikir, bertindak, dan menilai.³
Jacques Ellul mengemukakan bahwa sistem teknologis berkembang dengan logika internal
yang independen dari pertimbangan moral. Dalam The Technological Society,
ia menyatakan bahwa “teknologi tidak bertanya apakah sesuatu itu baik atau
buruk, tetapi apakah sesuatu itu mungkin dilakukan.”⁴ Prinsip ini melahirkan
etika baru yang berlandaskan pada teknikalitas — yaitu ukuran nilai
berdasarkan efisiensi, kecepatan, dan kemampuan teknis.⁵ Dengan demikian, etika
manusia secara bertahap digantikan oleh etika sistem, di mana yang “baik”
diidentifikasi dengan apa yang “berfungsi.”
Dalam konteks modern, Herbert Marcuse
melihat fenomena ini sebagai manifestasi dari technological rationality,
yakni bentuk rasionalitas yang menundukkan kebebasan manusia pada logika
efisiensi.⁶ Dalam masyarakat yang dikuasai teknologi, individu kehilangan
kemampuan untuk menilai secara kritis karena semua nilai dikonstruksi oleh
sistem yang menekankan optimalisasi dan performa.⁷ Akibatnya, dimensi etis
kehidupan manusia tergantikan oleh kalkulasi utilitarian yang dangkal.
Hans Jonas, melalui karyanya The Imperative of Responsibility, menekankan
perlunya etika baru yang sepadan dengan kekuatan teknologi modern.⁸ Ia
berargumen bahwa teknologi modern memiliki dampak yang melampaui ruang dan
waktu, sehingga tanggung jawab moral manusia harus diperluas untuk mencakup
generasi masa depan dan lingkungan alam.⁹ Jonas memperkenalkan heuristik
ketakutan (heuristics of fear), yaitu prinsip bahwa manusia harus
bertindak dengan kesadaran akan potensi destruktif dari tindakan
teknologisnya.¹⁰ Dalam hal ini, aksiologi determinisme teknologis menuntut
tanggung jawab yang melampaui etika tradisional yang hanya berfokus pada
tindakan langsung dan jangka pendek.
Dari perspektif critical theory, Andrew
Feenberg menolak determinisme moral yang pasif dan menawarkan pendekatan democratic
rationalization, yaitu gagasan bahwa masyarakat dapat dan harus
berpartisipasi dalam pembentukan arah teknologi.¹¹ Feenberg menekankan bahwa
nilai-nilai humanistik — seperti keadilan, partisipasi, dan solidaritas — dapat
diintegrasikan ke dalam desain teknologi jika proses teknis diarahkan melalui
refleksi etis dan sosial.¹² Dengan demikian, tanggung jawab etis bukan hanya
terletak pada pengguna, tetapi juga pada perancang, pembuat kebijakan, dan
struktur sosial yang mengatur teknologi.
Dalam kerangka aksiologis, teknologi membawa
ambivalensi nilai: di satu sisi, ia memungkinkan emansipasi manusia melalui
peningkatan kesejahteraan, efisiensi, dan pengetahuan; di sisi lain, ia
berpotensi menundukkan manusia dalam sistem yang tidak manusiawi.¹³ Oleh karena
itu, analisis etika determinisme teknologis harus mempertimbangkan dialektika
antara emansipasi dan dominasi.¹⁴ Sebagaimana diingatkan oleh Don
Ihde, hubungan manusia dengan teknologi selalu bersifat multistabil:
satu alat dapat menjadi sarana pembebasan sekaligus instrumen penindasan,
tergantung pada konteks sosial dan kesadaran reflektif penggunanya.¹⁵
Dalam era digital kontemporer, persoalan etika
teknologi menjadi semakin kompleks dengan munculnya kecerdasan buatan,
pengawasan algoritmik, dan kapitalisme data. Shoshana Zuboff menyebut
fenomena ini sebagai surveillance capitalism, di mana nilai-nilai
kemanusiaan seperti privasi dan kebebasan direduksi menjadi komoditas dalam
sistem teknologis global.¹⁶ Tantangan etis yang dihadapi bukan lagi sekadar
bagaimana menggunakan teknologi dengan benar, tetapi bagaimana menata sistem
nilai baru yang mampu menyeimbangkan antara kemajuan teknis dan martabat
manusia.
Dengan demikian, etika dan aksiologi determinisme
teknologis menuntut refleksi mendalam tentang makna tanggung jawab di tengah
otonomi teknologi. Manusia harus memulihkan kembali perannya sebagai subjek
moral, bukan hanya pengguna pasif sistem teknis. Etika dalam konteks ini
tidak lagi sekadar bertanya “apa yang mungkin dilakukan,” tetapi “apa yang
seharusnya dilakukan” untuk menjaga keberlanjutan kehidupan, keadilan sosial,
dan nilai-nilai kemanusiaan universal.¹⁷
Footnotes
[1]
Hans Lenk, Values and Technology: Ethical
Reflections on the New Technical Age (Berlin: Springer, 1997), 5–7.
[2]
Carl Mitcham, Thinking through Technology: The
Path between Engineering and Philosophy (Chicago: University of Chicago
Press, 1994), 37–41.
[3]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A
Critical Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 45–47.
[4]
Jacques Ellul, The Technological Society
(New York: Vintage Books, 1964), 84–86.
[5]
Ibid., 91.
[6]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston:
Beacon Press, 1964), 141–143.
[7]
Ibid., 150.
[8]
Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In
Search of an Ethics for the Technological Age (Chicago: University of
Chicago Press, 1984), 5–6.
[9]
Ibid., 8–9.
[10]
Ibid., 39.
[11]
Andrew Feenberg, Critical Theory of Technology
(New York: Oxford University Press, 1991), 74–77.
[12]
Ibid., 85.
[13]
Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From
Garden to Earth (Bloomington: Indiana University Press, 1990), 92–94.
[14]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man,
155–158.
[15]
Don Ihde, Postphenomenology: Essays in the
Postmodern Context (Evanston: Northwestern University Press, 1993), 54–57.
[16]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 25–27.
[17]
Hans Jonas, The Imperative of Responsibility,
121–123.
6.
Kritik terhadap Determinisme Teknologis
Meskipun determinisme teknologis menawarkan
penjelasan yang kuat tentang pengaruh teknologi terhadap struktur sosial dan
kesadaran manusia, pandangan ini telah menuai banyak kritik, terutama karena
dianggap bersifat reduksionis, fatalistik, dan mengabaikan dimensi sosial serta
budaya dari perkembangan teknologi. Kritik terhadap determinisme teknologis
berupaya menunjukkan bahwa teknologi tidak berkembang secara otonom, melainkan
melalui interaksi kompleks antara manusia, institusi, nilai, dan konteks
historis.¹
Salah satu kritik paling mendasar datang dari
aliran konstruktivisme sosial terhadap teknologi (Social Construction
of Technology — SCOT), yang dikembangkan oleh Trevor Pinch dan Wiebe
Bijker.² Menurut pendekatan ini, teknologi tidak memiliki makna atau arah
tunggal, melainkan ditentukan oleh negosiasi sosial antara aktor-aktor yang
terlibat dalam proses pengembangannya — seperti ilmuwan, insinyur, pengguna,
dan lembaga sosial.³ Artinya, teknologi bukan entitas determinatif, tetapi
hasil konstruksi sosial yang dapat berubah sesuai dengan konteks nilai dan
kepentingan masyarakat.⁴
Kritik lainnya datang dari Langdon Winner,
yang menyatakan bahwa meskipun teknologi memiliki konsekuensi politik, hal itu
tidak berarti teknologi secara inheren menentukan sistem sosial.⁵ Dalam
pandangan Winner, hubungan antara teknologi dan masyarakat bersifat co-evolutionary:
masyarakat membentuk teknologi sebagaimana teknologi membentuk masyarakat.⁶
Oleh karena itu, anggapan bahwa teknologi berkembang tanpa kendali manusia
merupakan penyederhanaan yang mengabaikan dimensi politik dan etika dari
pilihan teknologis.⁷
Feenberg melalui teori kritis teknologi juga mengkritik pandangan deterministik
yang menempatkan teknologi sebagai kekuatan netral atau absolut. Ia
memperkenalkan konsep instrumentalization theory, yang membedakan antara
dua tingkat teknologi: primary instrumentalization (fungsi teknis murni)
dan secondary instrumentalization (konteks sosial dan nilai yang
menyertainya).⁸ Dengan pemahaman ini, Feenberg menegaskan bahwa teknologi dapat
direkonstruksi secara normatif agar lebih manusiawi — menolak determinisme dan
membuka ruang bagi democratic rationalization atau penentuan arah
teknologi secara partisipatif.⁹
Dari perspektif fenomenologis, Martin Heidegger
juga memberikan kritik ontologis terhadap pemahaman teknologis modern.
Menurutnya, teknologi modern cenderung memandang dunia sebagai standing
reserve — sumber daya yang siap dimanfaatkan — sehingga menutup kemungkinan
lain dalam mengungkap kebenaran (aletheia).¹⁰ Namun, Heidegger tidak
sepenuhnya menolak teknologi; ia justru mengingatkan bahwa bahaya terbesar
terletak pada cara berpikir teknologis yang total, bukan pada teknologi itu
sendiri.¹¹ Kritik ini mengarahkan kita pada pemahaman bahwa determinisme
teknologis gagal menyadari peran kesadaran manusia dalam menafsirkan dan
memberi makna pada teknologi.
Selain itu, Michel Foucault dan pemikir
poststrukturalis lainnya menolak pandangan bahwa kekuasaan dan perubahan sosial
ditentukan secara tunggal oleh teknologi.¹² Bagi Foucault, teknologi merupakan
bagian dari dispositif — jaringan praktik, wacana, dan institusi yang
membentuk pengetahuan dan kekuasaan.¹³ Dengan demikian, teknologi tidak dapat
dipisahkan dari konteks sosial-politik yang membentuknya. Kritik ini menegaskan
bahwa determinisme teknologis mengabaikan relasi kuasa yang melekat dalam
penggunaan teknologi.¹⁴
Dalam konteks yang lebih mutakhir, pendekatan Actor-Network
Theory (ANT) yang dikembangkan oleh Bruno Latour memberikan
alternatif terhadap determinisme teknologis dengan memandang teknologi sebagai
salah satu aktor di antara jaringan relasional manusia dan non-manusia.¹⁵ ANT
menolak pemisahan antara subjek dan objek, dan sebaliknya menekankan
interdependensi antara keduanya.¹⁶ Melalui kerangka ini, teknologi bukanlah
kekuatan yang menentukan, melainkan bagian dari assemblage sosial yang
dinamis.
Kritik juga datang dari arah etika dan filsafat
politik, yang menyoroti konsekuensi moral dari pandangan deterministik. Jika
teknologi dianggap sebagai kekuatan otonom yang menentukan arah peradaban, maka
tanggung jawab etis manusia terancam hilang. Hans Jonas memperingatkan
bahwa keyakinan terhadap determinisme teknologis dapat melumpuhkan kehendak
moral manusia karena ia menganggap diri tak lagi berdaya di hadapan sistem
teknis.¹⁷ Oleh karena itu, etika teknologi harus berangkat dari prinsip
tanggung jawab, bukan kepasrahan terhadap keniscayaan teknis.¹⁸
Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa determinisme
teknologis bersifat problematik karena mengabaikan agensi manusia, dimensi
nilai, serta kompleksitas sosial dari teknologi. Alih-alih melihat teknologi
sebagai penyebab tunggal perubahan, para pengkritik menegaskan perlunya
memahami teknologi dalam konteks interaksi timbal balik antara struktur teknis
dan praksis manusia. Dengan demikian, yang diperlukan bukanlah penolakan
terhadap teknologi, tetapi pemulihan ruang reflektif dan etis di mana manusia
dapat menegosiasikan makna dan arah perkembangan teknologi.¹⁹
Footnotes
[1]
Merritt Roe Smith dan Leo Marx, eds., Does
Technology Drive History? The Dilemma of Technological Determinism
(Cambridge, MA: MIT Press, 1994), 6–8.
[2]
Trevor J. Pinch dan Wiebe E. Bijker, “The Social
Construction of Facts and Artifacts: Or How the Sociology of Science and the
Sociology of Technology Might Benefit Each Other,” dalam The Social
Construction of Technological Systems, ed. Wiebe E. Bijker, Thomas P.
Hughes, dan Trevor J. Pinch (Cambridge, MA: MIT Press, 1987), 17–50.
[3]
Ibid., 28–31.
[4]
Sheila Jasanoff, States of Knowledge: The
Co-Production of Science and Social Order (London: Routledge, 2004), 12–15.
[5]
Langdon Winner, Autonomous Technology: Technics-out-of-Control
as a Theme in Political Thought (Cambridge, MA: MIT Press, 1977), 11–13.
[6]
Ibid., 25–27.
[7]
Langdon Winner, “Do Artifacts Have Politics?” Daedalus
109, no. 1 (1980): 121–136.
[8]
Andrew Feenberg, Critical Theory of Technology
(New York: Oxford University Press, 1991), 73–76.
[9]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A
Critical Theory Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 88–90.
[10]
Martin Heidegger, The Question Concerning
Technology (New York: Harper & Row, 1977), 14–17.
[11]
Ibid., 27–28.
[12]
Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected
Interviews and Other Writings 1972–1977, ed. Colin Gordon (New York:
Pantheon Books, 1980), 194–196.
[13]
Ibid., 198.
[14]
Andrew Barry, Thomas Osborne, dan Nikolas Rose, Foucault
and Political Reason: Liberalism, Neo-Liberalism, and Rationalities of
Government (Chicago: University of Chicago Press, 1996), 37–39.
[15]
Bruno Latour, Reassembling the Social: An
Introduction to Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press,
2005), 63–66.
[16]
Ibid., 70–72.
[17]
Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In
Search of an Ethics for the Technological Age (Chicago: University of
Chicago Press, 1984), 21–23.
[18]
Ibid., 98–101.
[19]
Don Ihde, Postphenomenology and Technoscience:
The Peking University Lectures (Albany: SUNY Press, 2009), 45–47.
7.
Relevansi Kontemporer Determinisme Teknologis
Berikut uraian
mengenai bagaimana determinisme teknologis relevan dalam konteks
kontemporer—termasuk peluang dan tantangannya—disampaikan secara sistematis,
relatif, koheren, netral, logis, dan empiris.
7.1.
Teknologi Digital, Media Baru, dan Transformasi
Sosial
Dalam era digital
dan komunikasi cepat, teknologi informasi dan media baru tampak memainkan peran
struktural dalam perubahan sosial. Sebagai contoh, internet dan platform media
sosial telah mengubah pola komunikasi, interaksi sosial, bahkan nilai-kultural
masyarakat.¹
Lebih spesifik,
menurut sebuah ulasan, teori determinisme teknologis menyatakan bahwa
perkembangan teknologi mendorong transformasi budaya, ekonomi, dan politik
secara substansial—misalnya cara orang berkomunikasi, bekerja, dan memperoleh
informasi.²
Dengan demikian,
dalam konteks kontemporer, determinisme teknologis dapat dipakai sebagai salah
satu lensa untuk memahami bagaimana teknologi tampak “menentukan” arah
perkembangan masyarakat.
7.2.
Revolusi Industri 4.0, Kecerdasan Buatan,
Automasi dan Lapangan Kerja
Perkembangan seperti
automasi, robotika, dan kecerdasan buatan (AI) menunjukkan bagaimana sistem
teknologis dapat mengubah struktur pekerjaan, produksi, dan ekonomi.³
Beberapa pengamat
menyebut bahwa dalam konteks ini, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu,
tetapi subsistem yang mengubah kondisi eksistensi manusia: misalnya, pekerjaan
rutin digantikan oleh mesin, pola kerja fleksibel meningkat, dan kompetensi
teknologi menjadi prasyarat utama.⁴
Dalam hal ini,
relevansi determinisme teknologis muncul dalam bentuk pertanyaan: sejauh mana
teknologi mendorong perubahan struktural yang sulit dikendalikan oleh individu
atau institusi sosial biasa?
7.3.
Algoritma, Data Besar dan Pengawasan Teknologi
Era digital juga
ditandai dengan dominasi algoritma, data besar (big data), sistem pengambilan
keputusan otomatis, dan pengawasan berbasis teknologi. Teknologi-ini bukan
hanya memfasilitasi kegiatan manusia tapi juga mengkondisikan cara manusia
berinteraksi, membuat keputusan, dan memahami dunia.⁵
Contoh nyata: dalam
sistem otomatisasi kepolisian atau algoritma prediktif, teknologi ikut
membentuk praktik sosial dan legal yang biasanya dipengaruhi oleh keputusan
manusia.⁶
Dalam skema ini,
determinisme teknologis relevan karena menunjukkan bagaimana teknologi bisa
menjadi agen perubahan yang “memaksa” adaptasi institusi dan individu, dan
bukan sekadar reaksi terhadap manusia.
7.4.
Kesenjangan Digital, Kekuasaan Teknologi dan
Implikasi Sosial
Teknologi juga
membawa implikasi yang tidak setara. Kesenjangan digital (digital divide), bias
algoritma terhadap kelompok minoritas, dan konsentrasi kekuasaan di tangan
perusahaan teknologi besar adalah fenomena nyata.⁷
Dalam studi baru
tentang AI dan kapitalisme, misalnya, teknologi dipandang sebagai medium yang
memperkuat ketidaksetaraan sosial dan ekonomi.⁸
Dari sudut pandang
determinisme teknologis, hal ini dapat dipahami sebagai contoh di mana sistem
teknologis yang kuat – berbasis data, algoritma, jaringan – menentukan kondisi
sosial lebih dari keputusan individu biasa. Namun, ini juga menimbulkan
pertanyaan penting tentang kontrol manusia dan tanggung jawab sosial.
7.5.
Tantangan Etis dan Politik: Otonomi Manusia dan
Nilai Kemanusiaan
Dengan semakin
dominannya teknologi dalam aktivitas manusia, muncul isu etis dan politik:
apakah manusia masih memiliki otonomi dalam menghadapi sistem teknologi? Apakah
nilai-kemanusiaan (privasi, kebebasan, keadilan) tetap bisa dijamin ketika
teknologi memiliki kekuatan struktur yang besar?
Dalam kerangka
relevansi kontemporer, determinisme teknologis mengundang refleksi kritis bahwa
teknologi mungkin menuntut kita untuk mengadaptasi nilai-nilai kita—dan bukan
hanya kita yang menentukan teknologi.
Contoh:
ketergantungan pada platform digital untuk komunikasi dan edukasi selama
pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa teknologi dapat mengubah kondisi eksistensi
manusia dalam waktu cepat, sekaligus memperkuat posisi teknologi sebagai faktor
penentu.⁹
Sintesis dan Catatan Kritis
Secara sintesis, relevansi
kontemporer dari determinisme teknologis dapat dirangkum sebagai berikut:
·
Teknologi hadir sebagai penggerak
struktural perubahan sosial dan budaya dalam era digital.
·
Teknologi memperkuat
dirinya sendiri sebagai sistem yang menuntut adaptasi dari manusia dan
institusi.
·
Teknologi menciptakan dan
memperkuat relasi kekuasaan, kesenjangan, dan komodifikasi baru dalam
masyarakat.
·
Namun demikian, relevansi
ini harus tidak dikotomis: meskipun teknologi memiliki daya yang besar, manusia
dan masyarakat tetap memiliki kapasitas pengaturan, kritik, dan kontrol—dengan
kesadaran akan konteks dan nilai.
·
Akhirnya, relevansi
kontemporer juga memunculkan tantangan normative: bagaimana kita merancang,
mengatur, dan menggunakan teknologi agar tetap mendukung nilai-kemanusiaan dan
keadilan sosial.
Footnotes
[1]
“Technological Determinism in Education and the Workplace,” JWU CPS
Blog, Oct. 23, 2023, online. (JWU Online)
[2]
Paul S. Adler, “Technological Determinism,” PDF file, University of
Southern California, accessed 2025. (faculty.marshall.usc.edu)
[3]
Ø. Mathisen, “Technological determinism? Exploring students’ views,” [Journal],
2025. (SpringerLink)
[4]
“The digital revolution is wreaking havoc. The primary culprit is
technology,” Wired, Mar. 2017. (WIRED)
[5]
“Technological Determinism and New Media,” T. Hauer, IJELS
(Mar. 2017). (IJELS)
[6]
Angelika Adensamer & Lukas Daniel Klausner, “Part Man, Part
Machine, All Cop”: Automation in Policing, arXiv, 2021. (arXiv)
[7]
Nelson Colón Vargas, “Exploiting the Margin: How Capitalism Fuels AI at
the Expense of Minoritized Groups,” arXiv, 2024. (arXiv)
[8]
Shakir Mohamed et al., “Decolonial AI: Decolonial Theory as
Sociotechnical Foresight in Artificial Intelligence,” arXiv, 2020. (arXiv)
[9]
“Technological Determinism: Big Tech’s Influence,” JWU CPS Blog, Oct.
23, 2023. (JWU Online)
8.
Sintesis Filosofis
Sintesis filosofis
dari determinisme teknologis menuntut integrasi antara pandangan yang melihat
teknologi sebagai kekuatan determinatif dan pandangan yang menekankan peran
aktif manusia dalam mengarahkan perkembangan teknologi. Pendekatan sintesis ini
tidak bertujuan meniadakan perbedaan keduanya, melainkan mencari keseimbangan
antara determinasi struktural teknologi dan kebebasan reflektif manusia.¹ Dalam
konteks filsafat kontemporer, sintesis tersebut mengarah pada pemahaman
teknologi sebagai medan dialektis antara kekuatan teknis dan tindakan
manusia yang bermakna.
8.1.
Dialektika antara Determinasi dan Kebebasan
Dari sudut pandang
dialektika, hubungan manusia dan teknologi bersifat ganda: manusia menciptakan
teknologi, tetapi teknologi juga membentuk manusia.² Dialektika ini menunjukkan
bahwa determinasi teknologis tidak bersifat mutlak; ia bersifat terbuka,
karena manusia selalu dapat menegosiasikan kembali makna dan fungsi teknologi
dalam kehidupan sosialnya.³
Karl
Marx telah menyinggung dinamika ini ketika ia menyatakan bahwa
manusia menciptakan alat produksi dalam kondisi tertentu, tetapi kemudian alat
itu ikut menentukan bentuk hubungan sosial mereka.⁴ Dalam perspektif modern,
pandangan ini diperdalam oleh Andrew Feenberg, yang
menegaskan bahwa teknologi bersifat ambivalen: ia dapat menjadi
instrumen dominasi sekaligus sarana emansipasi, tergantung pada bagaimana ia
diintegrasikan dalam konteks nilai dan tindakan sosial.⁵
8.2.
Rekonstruksi Etika Teknologi
Sintesis filosofis
juga mengandung dimensi etis, yakni upaya untuk menyeimbangkan antara logika
efisiensi teknis dan nilai-nilai kemanusiaan. Hans Jonas menyerukan perlunya
“imperatif tanggung jawab” sebagai prinsip moral yang menuntun tindakan manusia
di tengah kemajuan teknologi yang tak terkendali.⁶ Prinsip ini menempatkan
manusia sebagai subjek moral yang bertanggung jawab atas akibat jangka panjang
dari tindakan teknologisnya, termasuk terhadap generasi mendatang dan ekosistem
global.⁷ Dengan demikian, etika teknologi harus bertransformasi dari sekadar
etika penggunaan menjadi etika perancangan (ethics of design), di mana
nilai-nilai kemanusiaan diinternalisasikan dalam setiap tahap inovasi
teknologis.⁸
Sebaliknya, Jürgen
Habermas menegaskan bahwa kebebasan manusia hanya dapat
dipulihkan melalui rasionalitas komunikatif, yakni
dengan membuka ruang diskursus publik untuk membahas arah dan nilai-nilai yang
terkandung dalam perkembangan teknologi.⁹ Dengan demikian, tindakan teknis
harus tunduk pada konsensus rasional yang melibatkan warga sebagai subjek
komunikatif, bukan sekadar konsumen pasif dari sistem teknis.¹⁰
8.3.
Teknologi sebagai Mediasi Eksistensial
Dalam horizon
fenomenologi dan postfenomenologi, sintesis filosofis melihat teknologi bukan
sekadar instrumen atau sistem, melainkan bentuk mediasi eksistensial yang
menyusun pengalaman manusia terhadap dunia. Martin Heidegger menyebut bahwa
teknologi merupakan cara manusia “mengungkap” (revealing) realitas, dan karena
itu, ia membuka sekaligus menutup kemungkinan penghayatan akan keberadaan.¹¹
Pandangan ini diteruskan oleh Don Ihde, yang memandang relasi
manusia-teknologi sebagai fenomena multistabil: teknologi dapat
memperluas atau membatasi makna dunia tergantung pada konteks penggunaannya.¹²
Dengan demikian, sintesis ontologis ini mengakui bahwa manusia dan teknologi
saling membentuk dalam hubungan ko-eksistensial, bukan hierarkis.¹³
8.4.
Sintesis Humanisme Kritis
Pendekatan humanisme
kritis menjadi arah penting dalam sintesis filosofis determinisme
teknologis. Humanisme kritis tidak menolak teknologi, tetapi menuntut refleksi
atas nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar teknologi dapat diarahkan
untuk memperkuat martabat manusia, bukan sebaliknya.¹⁴ Dalam pandangan Herbert
Marcuse, emansipasi manusia hanya mungkin jika teknologi
dibebaskan dari logika kapitalistik yang menundukkan manusia pada efisiensi dan
konsumsi.¹⁵ Maka, sintesis filosofis ini bertujuan membangun paradigma
teknologi reflektif — yaitu teknologi yang tidak hanya “berfungsi”, tetapi juga
“bermakna” secara etis dan eksistensial.
Arah Menuju Etos Teknologi Reflektif
Akhirnya, sintesis
filosofis determinisme teknologis dapat dirumuskan dalam etos teknologi
reflektif: suatu sikap kesadaran kritis terhadap teknologi yang mengakui
kekuatannya, namun tetap mempertahankan tanggung jawab manusia.¹⁶ Dalam etos
ini, teknologi dilihat sebagai medan kebebasan yang harus diisi oleh nilai,
bukan sebagai takdir yang harus diterima tanpa kritik.¹⁷
Dengan demikian,
sintesis ini menegaskan bahwa masa depan hubungan manusia dan teknologi
bergantung pada kemampuan reflektif manusia untuk mengintegrasikan dimensi
teknis, etis, dan spiritual ke dalam satu kesadaran utuh.¹⁸
Footnotes
[1]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A Critical Theory
Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 103–104.
[2]
Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy
(Moscow: Progress Publishers, 1977), 20–22.
[3]
Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth
(Bloomington: Indiana University Press, 1990), 94–96.
[4]
Karl Marx, Grundrisse: Foundations of the Critique of Political
Economy (London: Penguin, 1973), 92–94.
[5]
Andrew Feenberg, Between Reason and Experience: Essays in
Technology and Modernity (Cambridge, MA: MIT Press, 2010), 33–35.
[6]
Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In Search of an
Ethics for the Technological Age (Chicago: University of Chicago Press,
1984), 4–6.
[7]
Ibid., 9–10.
[8]
Peter-Paul Verbeek, Moralizing Technology: Understanding and
Designing the Morality of Things (Chicago: University of Chicago Press,
2011), 73–76.
[9]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1
(Boston: Beacon Press, 1984), 325–327.
[10]
Ibid., 334.
[11]
Martin Heidegger, The Question Concerning Technology (New
York: Harper & Row, 1977), 19–21.
[12]
Don Ihde, Postphenomenology: Essays in the Postmodern Context
(Evanston: Northwestern University Press, 1993), 57–59.
[13]
Bruno Latour, Reassembling the Social: An Introduction to
Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press, 2005), 76–78.
[14]
Andrew Feenberg, Critical Theory of Technology (New York:
Oxford University Press, 1991), 89–91.
[15]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston: Beacon Press,
1964), 143–147.
[16]
Carl Mitcham, Thinking through Technology: The Path between
Engineering and Philosophy (Chicago: University of Chicago Press, 1994),
111–114.
[17]
Hans Lenk, Values and Technology: Ethical Reflections on the New
Technical Age (Berlin: Springer, 1997), 28–30.
[18]
Andrew Feenberg, Transforming Technology, 151–153.
9.
Kesimpulan
Determinisme
teknologis, sebagai salah satu cabang penting dalam filsafat modern dan
sosiologi teknologi, telah memberikan kerangka konseptual untuk memahami
hubungan kompleks antara manusia dan sistem teknis yang diciptakannya. Namun,
sebagaimana terlihat dari berbagai pembahasan sebelumnya, pandangan ini tidak
dapat dipahami secara absolut. Teknologi memang memiliki daya determinatif
terhadap struktur sosial, epistemologi, dan etika manusia; namun pada saat yang
sama, manusia tetap memiliki kapasitas reflektif dan normatif untuk menilai,
mengarahkan, dan memaknai teknologi.¹ Dengan demikian, kesimpulan utama yang
dapat diambil adalah bahwa determinisme teknologis perlu ditempatkan dalam
kerangka dialektis — bukan sebagai determinasi tunggal, tetapi sebagai relasi
timbal balik antara struktur teknologis dan agensi
manusia.²
9.1.
Teknologi sebagai Kekuasaan Struktural
Secara ontologis,
teknologi telah menjadi bagian integral dari eksistensi manusia modern. Ia
bukan lagi sekadar instrumen, tetapi struktur yang memengaruhi cara manusia
“mengada di dunia.”³ Seperti yang diungkapkan Heidegger, teknologi modern
menyingkap realitas dalam bentuk Gestell (kerangka penyusunan), yang
memaksa manusia untuk memandang segala sesuatu — termasuk dirinya sendiri —
sebagai sumber daya yang dapat dioptimalkan.⁴ Maka, kesadaran akan peran
struktural teknologi menjadi penting agar manusia tidak terjebak dalam
penundukan ontologis terhadap sistem yang ia ciptakan sendiri.
9.2.
Keterbatasan Pandangan Deterministik
Kritik terhadap
determinisme teknologis menegaskan bahwa teknologi tidak berkembang secara
otonom, melainkan melalui jaringan sosial, ekonomi, dan politik.⁵ Pendekatan konstruktivis
dan fenomenologis memperlihatkan bahwa teknologi selalu mengandung nilai dan
makna yang diproduksi melalui interaksi manusia.⁶ Dengan demikian, determinisme
teknologis murni harus dikoreksi menjadi determinasi relatif, di mana
teknologi memengaruhi manusia tetapi tidak meniadakan kebebasan dan
kreativitasnya.⁷
9.3.
Dimensi Etis dan Aksiologis
Dalam ranah etika,
determinisme teknologis menghadirkan tantangan besar terhadap tanggung jawab
moral manusia. Seperti dikemukakan oleh Hans Jonas, kekuatan teknologi
modern menuntut etika baru yang mampu mengantisipasi konsekuensi jangka panjang
dari tindakan teknis.⁸ Etika tanggung jawab ini menjadi kunci untuk
menyeimbangkan antara kemampuan teknis dan nilai-nilai kemanusiaan.⁹ Oleh
karena itu, kesimpulan aksiologis dari determinisme teknologis adalah perlunya
menegakkan etos
reflektif, yakni kesadaran bahwa setiap inovasi teknologis harus
disertai refleksi moral dan sosial.¹⁰
9.4.
Tantangan Kontemporer dan Relevansi Filosofis
Dalam konteks
kontemporer — era digital, kecerdasan buatan, dan algoritma — determinisme
teknologis menemukan relevansi baru. Teknologi kini tidak hanya membentuk
perilaku sosial, tetapi juga membingkai epistemologi dan politik kehidupan
manusia.¹¹ Namun, seperti diingatkan oleh Feenberg dan Habermas,
manusia masih memiliki ruang untuk mengarahkan teknologi melalui partisipasi
rasional, dialog etis, dan rekonstruksi sosial.¹² Dengan demikian, tantangan
filsafat saat ini bukanlah menolak teknologi, melainkan menegaskan kembali
peran manusia sebagai subjek reflektif yang bertanggung jawab terhadap arah
kemajuan teknologisnya.
Refleksi Akhir: Menuju Paradigma Teknologi
Reflektif
Kesimpulan akhir
dari pembahasan ini adalah bahwa masa depan hubungan manusia dan teknologi
harus diarahkan pada paradigma teknologi reflektif — yakni
paradigma yang memadukan kesadaran kritis, tanggung jawab moral, dan
kreativitas dalam penggunaan serta pengembangan teknologi.¹³ Paradigma ini
menolak baik sikap deterministik yang fatalistik maupun optimisme teknologis
yang naif.¹⁴ Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi hanya memiliki makna sejati
bila berakar pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal: kebebasan, martabat,
solidaritas, dan keberlanjutan.¹⁵
Akhirnya, filsafat
determinisme teknologis mengingatkan kita bahwa teknologi bukan hanya hasil
pengetahuan manusia, tetapi juga cermin dari keberadaannya. Dalam cermin itu,
manusia melihat potensi sekaligus bahaya dari dirinya sendiri — potensi untuk
mencipta dunia baru, dan bahaya untuk kehilangan dirinya di dalam ciptaannya
sendiri.¹⁶
Footnotes
[1]
Andrew Feenberg, Transforming Technology: A Critical Theory
Revisited (Oxford: Oxford University Press, 2002), 148–150.
[2]
Merritt Roe Smith dan Leo Marx, eds., Does Technology Drive
History? The Dilemma of Technological Determinism (Cambridge, MA: MIT
Press, 1994), 9–11.
[3]
Don Ihde, Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth
(Bloomington: Indiana University Press, 1990), 80–82.
[4]
Martin Heidegger, The Question Concerning Technology (New
York: Harper & Row, 1977), 19–21.
[5]
Trevor J. Pinch dan Wiebe E. Bijker, “The Social Construction of Facts
and Artifacts,” dalam The Social Construction of Technological Systems,
ed. Wiebe E. Bijker, Thomas P. Hughes, dan Trevor J. Pinch (Cambridge, MA: MIT
Press, 1987), 28–31.
[6]
Bruno Latour, Reassembling the Social: An Introduction to
Actor-Network-Theory (Oxford: Oxford University Press, 2005), 70–72.
[7]
Langdon Winner, Autonomous Technology: Technics-out-of-Control as a
Theme in Political Thought (Cambridge, MA: MIT Press, 1977), 27–29.
[8]
Hans Jonas, The Imperative of Responsibility: In Search of an
Ethics for the Technological Age (Chicago: University of Chicago Press,
1984), 4–6.
[9]
Ibid., 118–120.
[10]
Peter-Paul Verbeek, Moralizing Technology: Understanding and
Designing the Morality of Things (Chicago: University of Chicago Press,
2011), 73–75.
[11]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York:
PublicAffairs, 2019), 49–51.
[12]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1
(Boston: Beacon Press, 1984), 325–327.
[13]
Carl Mitcham, Thinking through Technology: The Path between
Engineering and Philosophy (Chicago: University of Chicago Press, 1994),
111–113.
[14]
Andrew Feenberg, Between Reason and Experience: Essays in
Technology and Modernity (Cambridge, MA: MIT Press, 2010), 151–153.
[15]
Hans Lenk, Values and Technology: Ethical Reflections on the New
Technical Age (Berlin: Springer, 1997), 28–30.
[16]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston: Beacon Press,
1964), 153–155.
Daftar Pustaka
Adensamer, A., &
Klausner, L. D. (2021). Part man, part machine, all cop: Automation in
policing. arXiv. arxiv.org
Barry, A., Osborne, T.,
& Rose, N. (1996). Foucault and political reason: Liberalism,
neo-liberalism, and rationalities of government. University of Chicago
Press.
Bijker, W. E., Hughes, T.
P., & Pinch, T. J. (Eds.). (1987). The social construction of
technological systems. MIT Press.
Braidotti, R. (2013). The
posthuman. Polity Press.
Castells, M. (1996). The
rise of the network society. Blackwell.
Eisenstein, E. (1979). The
printing press as an agent of change. Cambridge University Press.
Ellul, J. (1964). The
technological society. Vintage Books.
Feenberg, A. (1991). Critical
theory of technology. Oxford University Press.
Feenberg, A. (2002). Transforming
technology: A critical theory revisited. Oxford University Press.
Feenberg, A. (2010). Between
reason and experience: Essays in technology and modernity. MIT Press.
Floridi, L. (2019). The
logic of information: A theory of philosophy as conceptual design. Oxford
University Press.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge:
Selected interviews and other writings 1972–1977 (C. Gordon, Ed.).
Pantheon Books.
Habermas, J. (1984). The
theory of communicative action (Vol. 1). Beacon Press.
Hauer, T. (2017).
Technological determinism and new media. International Journal of English
Literature and Social Sciences, 2(2), 1–6. Technological-determinism-and-new-media.pdf
Heidegger, M. (1977). The
question concerning technology. Harper & Row.
Ihde, D. (1990). Technology
and the lifeworld: From garden to earth. Indiana University Press.
Ihde, D. (1993). Postphenomenology:
Essays in the postmodern context. Northwestern University Press.
Ihde, D. (2009). Postphenomenology
and technoscience: The Peking University lectures. SUNY Press.
Jonas, H. (1984). The
imperative of responsibility: In search of an ethics for the technological age.
University of Chicago Press.
JWU College of Professional
Studies. (2023, October 23). Unraveling technological determinism:
Navigating big tech’s influence on society. unraveling-technological-determinism-navigating-big-techs-influence-on-society
Latour, B. (2005). Reassembling
the social: An introduction to actor-network-theory. Oxford University
Press.
Lenk, H. (1997). Values
and technology: Ethical reflections on the new technical age. Springer.
Marcuse, H. (1964). One-dimensional
man. Beacon Press.
Marx, K. (1973). Grundrisse:
Foundations of the critique of political economy (M. Nicolaus, Trans.).
Penguin Books.
Marx, K. (1977). A
contribution to the critique of political economy. Progress Publishers.
Mathisen, Ø. (2025).
Technological determinism? Exploring students’ views. International Journal
of Technology and Design Education. article
McLuhan, M. (1964). Understanding
media: The extensions of man. McGraw-Hill.
Mitcham, C. (1994). Thinking
through technology: The path between engineering and philosophy.
University of Chicago Press.
Mohamed, S., Png, M.-T.,
& Isaac, W. (2020). Decolonial AI: Decolonial theory as sociotechnical
foresight in artificial intelligence. arXiv. arxiv.org/abs
Mumford, L. (1934). Technics
and civilization. Harcourt, Brace & Company.
Mumford, L. (1967). The
myth of the machine: Technics and human development. Harcourt Brace
Jovanovich.
Noble, D. F. (1984). Forces
of production: A social history of industrial automation. Knopf.
Pinch, T. J., & Bijker,
W. E. (1987). The social construction of facts and artifacts: Or how the
sociology of science and the sociology of technology might benefit each other.
In W. E. Bijker, T. P. Hughes, & T. J. Pinch (Eds.), The social
construction of technological systems (pp. 17–50). MIT Press.
Smith, M. R., & Marx,
L. (Eds.). (1994). Does technology drive history? The dilemma of
technological determinism. MIT Press.
Verbeek, P.-P. (2011). Moralizing
technology: Understanding and designing the morality of things. University
of Chicago Press.
Veblen, T. (1921). The
engineers and the price system. B. W. Huebsch.
Winner, L. (1977). Autonomous
technology: Technics-out-of-control as a theme in political thought. MIT
Press.
Winner, L. (1980). Do
artifacts have politics? Daedalus, 109(1), 121–136.
Williams, R. (1975). Television:
Technology and cultural form. Schocken Books.
Zuboff, S. (2019). The
age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new
frontier of power. PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar