Jumat, 21 November 2025

Sifat Wajib Allah (Nafsiyah, Salbiyah, Ma‘ani, Ma‘nawiyah) dan Sifat Jaiz Allah Swt.

Sifat Wajib Allah dan Sifat Jaiz Allah

Historis dan Genealogi Pemikiran Sifat-sifat Allah


Alihkan ke: CP Akidah Akhlak.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif konsep sifat-sifat Allah Swt. dalam teologi Islam dengan fokus pada sifat wajib—yang mencakup sifat nafsiyah, salbiyah, ma‘ani, dan ma‘nawiyah—serta sifat jaiz sebagai manifestasi kebebasan mutlak kehendak Ilahi. Kajian ini dimulai dengan penelusuran historis dan genealogis perkembangan pemikiran sifat-sifat Allah dalam berbagai mazhab kalam, seperti Mu‘tazilah, Asy‘ariyah, Maturidiyah, dan Atsariyah, untuk menunjukkan dinamika dialektis yang membentuk struktur teologis Islam. Selanjutnya, artikel ini menguraikan dimensi epistemologis dan ontologis sifat-sifat Allah dengan menelusuri sumber pengetahuan teologis (wahyu, akal, dan bahasa), hubungan antara dzat dan sifat, serta status Allah sebagai Wājib al-Wujūd yang memiliki kesempurnaan mutlak.

Di samping itu, analisis etis dan aksiologis memperlihatkan bagaimana sifat-sifat Allah menjadi sumber nilai moral dan spiritual bagi pembentukan karakter seorang mukmin. Artikel ini juga menyoroti isu-isu kontemporer seperti literalisme digital, perkembangan sains modern, kritik filsafat, dan tantangan pluralisme religius yang memengaruhi cara masyarakat memahami sifat-sifat Allah di era modern. Melalui sintesis dan rekonstruksi pemikiran, artikel ini menawarkan pendekatan integratif yang menggabungkan warisan teologi klasik dengan konteks intelektual dan sosial kontemporer. Terakhir, integrasi pembelajaran di Madrasah Aliyah (MA) dibahas sebagai model pedagogis yang menekankan pengembangan intelektual, moral, dan spiritual peserta didik melalui kajian sifat-sifat Allah.

Artikel ini menyimpulkan bahwa sifat-sifat Allah merupakan pilar teologis fundamental yang tidak hanya menjelaskan hakikat ketuhanan, tetapi juga memberikan kerangka nilai, rasionalitas, dan spiritualitas yang relevan bagi kehidupan manusia. Dengan pendekatan multidisipliner, kajian sifat-sifat Allah tetap aktual, dinamis, dan berperan penting dalam penguatan akidah dan pembinaan moral generasi Muslim masa kini.

Kata Kunci: Sifat Wajib Allah, Sifat Jaiz Allah, Teologi Islam, Ilmu Kalam, Ontologi Ketuhanan, Epistemologi Islam, Etika Islam, Pendidikan Akidah Akhlak, Asy‘ariyah, Maturidiyah, Mu‘tazilah.


PEMBAHASAN

Sifat Wajib Allah (Nafsiyah, Salbiyah, Ma‘ani, Ma‘nawiyah) dan Sifat Jaiz Allah Swt.


1.          Pendahuluan

Kajian tentang sifat-sifat Allah Swt. menempati posisi fundamental dalam disiplin Akidah, khususnya dalam kerangka ‘ilm al-tawḥīd yang menjadi landasan teologis umat Islam dalam memahami konsep ketuhanan secara benar dan terarah. Dalam tradisi keilmuan Islam, pembahasan mengenai sifat wajib dan sifat jaiz Allah bukan hanya merupakan persoalan konseptual, tetapi juga menjadi fondasi bagi bangunan keimanan yang bersifat komprehensif, mendalam, dan rasional. Para ulama kalam menegaskan bahwa tanpa pemahaman yang tepat tentang sifat-sifat Allah, seorang mukmin berpotensi mengalami kekaburan dalam memaknai keesaan, kemahakuasaan, dan kesempurnaan Tuhan, sehingga pemahaman akidahnya dapat terganggu atau terdegradasi oleh anggapan-anggapan keliru yang tidak sesuai dengan prinsip tanzih dan tauhid murni.¹

Urgensi mendalami sifat-sifat Allah semakin tampak ketika ditempatkan dalam konteks pendidikan Islam formal pada jenjang Madrasah Aliyah (MA). Pada fase remaja akhir, peserta didik berada dalam tahap perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka untuk berpikir abstrak, reflektif, dan analitis. Hal ini selaras dengan tuntutan kompetensi dasar yang mengharuskan siswa mampu menganalisis sifat wajib Allah—yang diklasifikasikan ke dalam sifat nafsiyah, salbiyah, ma‘ani, dan ma‘nawiyah—serta memahami sifat jaiz Allah sebagai prinsip kebijakan dan kehendak-Nya. Pendekatan analitis terhadap sifat-sifat tersebut membantu peserta didik melihat hubungan logis antara dzat dan sifat-Nya, sekaligus membentuk pola pikir teologis yang sistematis dan argumentatif.²

Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, diskursus tentang sifat-sifat Allah telah melahirkan perdebatan panjang antara berbagai aliran teologi, seperti Asy‘ariyah, Maturidiyah, Mu‘tazilah, dan aliran salaf tradisionalis. Perbedaan pendekatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan metodologi dalam memahami sifat Tuhan, tetapi juga menyangkut persoalan epistemologi, penggunaan akal dalam kajian ketuhanan, batas-batas penakwilan, serta hubungan antara dzat dan sifat. Perdebatan klasik ini menjadi dasar historis yang penting untuk dipahami karena memberikan gambaran bahwa kajian sifat-sifat Allah merupakan medan ilmiah yang dinamis dan terus berkembang dari masa ke masa.³ Pemahaman yang baik atas kerangka genealogis tersebut memperkaya wawasan peserta didik sekaligus menghindarkan mereka dari pemahaman simplistis atau ekstrem dalam memahami sifat Tuhan.

Artikel ini berusaha mengkaji sifat-sifat Allah secara sistematis melalui pendekatan historis, teologis, epistemologis, dan pedagogis. Pembahasan akan menyentuh definisi dan klasifikasi sifat wajib Allah—termasuk penjelasan mendalam tentang sifat nafsiyah yang menegaskan eksistensi Allah, sifat salbiyah yang meniadakan kekurangan dari-Nya, sifat ma‘ani yang menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan, serta sifat ma‘nawiyah yang menggambarkan keadaan Allah terkait sifat tersebut. Selain itu, pembahasan juga mencakup sifat jaiz Allah sebagai landasan dalam memahami hubungan kehendak Ilahi dengan alam semesta dan makhluk-makhluk-Nya. Pendekatan yang komprehensif ini diharapkan mampu memberikan landasan teoretis yang kuat bagi peserta didik dalam memahami konsep ketuhanan sekaligus memperkokoh fondasi spiritual mereka dalam kehidupan sehari-hari.⁴

Dengan demikian, pendahuluan ini menegaskan bahwa kajian sifat-sifat Allah merupakan tema yang bersifat multidimensional, mencakup aspek konseptual, historis, metodologis, dan pedagogis. Pemahaman yang mendalam terhadap sifat wajib dan jaiz Allah tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan, tetapi juga membentuk cara berpikir yang kritis, rasional, dan proporsional dalam memahami ajaran Islam. Pemahaman tersebut pada akhirnya berfungsi sebagai landasan untuk mengembangkan akidah yang kokoh, akhlak yang terarah, dan spiritualitas yang matang—suatu tujuan utama dalam pendidikan Akidah Akhlak pada jenjang Madrasah Aliyah.


Footnotes

[1]                ¹ Al-Ghazali, al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 15.

[2]                ² Abu al-Hasan al-Asy‘ari, Maqālāt al-Islāmiyyīn wa Ikhtilāf al-Muṣallīn (Cairo: Maktabah al-Nahḍah, 1950), 202–205.

[3]                ³ Al-Shahrastani, al-Milal wa al-Niḥal (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 56–62.

[4]                ⁴ Al-Baqillani, Tamhīd al-Awā’il wa Talkhīṣ al-Dalā’il (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010), 31–34.


2.          Kerangka Historis dan Genealogi Pemikiran Sifat-sifat Allah

Kajian tentang sifat-sifat Allah memiliki akar historis yang panjang dan kompleks dalam tradisi intelektual Islam. Sejak masa awal, umat Islam telah berupaya memahami bagaimana Al-Qur’an menggambarkan Tuhan, bagaimana sifat-sifat-Nya harus dipahami, serta bagaimana menjaga keseimbangan antara penegasan transendensi (tanzīh) dan afirmasi sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Perkembangan wacana ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses dialektika pemikiran, perdebatan teologis, dan artikulasi konseptual yang berlangsung berabad-abad. Kerangka historis dan genealoginya menunjukkan bahwa pembahasan tentang sifat-sifat Allah merupakan salah satu pendorong utama lahirnya disiplin ilmu kalam dan menjadi pusat diskursus teologi Islam sepanjang sejarah.¹

Pada masa Nabi Muhammad Saw. dan generasi sahabat, pembahasan sifat-sifat Allah didominasi oleh pendekatan tekstual yang bersandar sepenuhnya pada nash Al-Qur’an dan hadis. Pemahaman terhadap sifat Allah diterima sebagaimana adanya tanpa memperdebatkan aspek metafisik secara spekulatif, sebuah metode yang kemudian dikenal sebagai pendekatan salaf.² Namun, seiring meluasnya wilayah Islam dan interaksi dengan tradisi intelektual Helenistik, Persia, serta pemikiran filsafat Yunani, muncul kebutuhan epistemologis untuk menjelaskan konsep ketuhanan secara rasional. Tantangan filosofis baru—seperti persoalan gerak, sebab-akibat, keabadian, dan kesempurnaan wujud—mendorong para teolog muslim menyusun kerangka sistematis untuk menjelaskan sifat-sifat Allah dalam bahasa logis dan argumentatif.

Dalam konteks inilah, aliran-aliran teologi Islam mulai terbentuk. Kaum Mu‘tazilah, sebagai kelompok rasionalis awal, menafsirkan sifat-sifat Allah dengan penekanan pada keesaan absolut (tawḥīd al-muṭlaq). Mereka berpendapat bahwa sifat-sifat seperti ilmu, qudrah, dan iradah bukan entitas yang berdiri di luar dzat, melainkan identik dengan dzat-Nya agar tidak menyebabkan konsepsi “kebergandaan” dalam Tuhan.³ Pendekatan ini lahir sebagai upaya menjaga konsistensi prinsip keesaan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk, tetapi menimbulkan kritik karena berpotensi mengabaikan makna tekstual nash.

Sebagai respons terhadap rasionalisme ekstrem Mu‘tazilah, muncul teologi Asy‘ariyah yang berusaha menyeimbangkan antara teks dan rasio. Al-Asy‘ari menegaskan bahwa Allah memiliki sifat yang nyata dan eksis, tetapi sifat tersebut tidak terpisah dari dzat-Nya dan tidak menyerupai makhluk.⁴ Implikasinya, sifat ma‘ani seperti qudrah, ilmu, dan iradah dipahami sebagai realitas yang afirmatif, sementara sifat nafsiyah, salbiyah, dan ma‘nawiyah disusun dalam klasifikasi yang sistematis demi memperjelas perbedaan fungsi teologis masing-masing jenis sifat. Pendekatan Asy‘ariyah kemudian menjadi arus utama dalam teologi Sunni selama berabad-abad.

Di sisi lain, Maturidiyah—khususnya cabang Samarkand—mengambil posisi yang lebih moderat dengan menekankan kemampuan akal dalam memahami sebagian sifat Allah secara independen dari wahyu. Abu Mansur al-Maturidi berpendapat bahwa akal dapat menetapkan sifat wajib Allah seperti wujud, qudrah, dan ilmu melalui argumentasi rasional tanpa harus menunggu penegasan nash, meskipun wahyu tetap menjadi sumber utama kebenaran.⁵ Dengan demikian, pemikiran Maturidiyah memperkaya kerangka genealogis kajian sifat Allah dengan pendekatan epistemologis yang lebih terbuka terhadap peranan akal.

Selain tiga aliran besar tersebut, komunitas ulama salaf—yang kemudian dikenal sebagai ahl al-ḥadīth atau atsariyah—menekankan penerimaan sifat-sifat Allah sebagaimana termaktub dalam nash tanpa takwil, sembari menjaga prinsip bilā kayf, yaitu tanpa membahas bagaimana bentuknya. Genealogi pendekatan ini berakar pada pandangan tokoh-tokoh seperti Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal yang menolak spekulasi filosofis berlebihan demi menjaga kemurnian makna Al-Qur’an.⁶ Walaupun berbeda metode, kontribusi tiap aliran dalam wacana sifat-sifat Allah membentuk landasan teologis yang kaya dan multidisipliner.

Perjalanan historis ini menunjukkan bahwa kajian sifat Allah tidak bersifat statis, melainkan terus mengalami artikulasi ulang sesuai konteks intelektual dan tantangan zaman. Setiap aliran memberikan nuansa metodologis yang berbeda: Mu‘tazilah dengan rasionalisme ketatnya, Asy‘ariyah dengan harmonisasi teks-rasio, Maturidiyah dengan rasionalisme moderatnya, dan Salafiyah dengan pendekatan tekstualnya. Keempat jalur genealogi tersebut membentuk mosaik pemikiran teologis Islam yang hingga kini tetap relevan dalam pendidikan, termasuk dalam kurikulum Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah. Memahami kerangka ini memberikan landasan konseptual yang kuat bagi peserta didik untuk menelaah sifat-sifat Allah secara kritis, proporsional, dan ilmiah.


Footnotes

[1]                ¹ Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert Hidschra (Berlin: Walter de Gruyter, 1991), 27–30.

[2]                ² Ibn Taymiyyah, Dar’ Ta‘āruḍ al-‘Aql wa al-Naql (Riyadh: Jami‘at al-Imam, 1991), 115.

[3]                ³ Qadi Abd al-Jabbar, Sharḥ al-Uṣūl al-Khamsah (Cairo: Maktabah Wahbah, 1965), 145–151.

[4]                ⁴ Abu al-Hasan al-Asy‘ari, al-Ibānah ‘an Uṣūl al-Diyānah (Cairo: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, 2000), 38–41.

[5]                ⁵ Abu Mansur al-Maturidi, Kitāb al-Tawḥīd (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 23–28.

[6]                ⁶ Ahmad ibn Hanbal, al-Radd ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Zanādiqah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 45–46.


3.          Konsep Sifat Wajib Allah: Definisi dan Kedudukan Teologis

Pembahasan mengenai sifat wajib Allah merupakan inti dari konstruksi teologis dalam disiplin ilmu kalam, karena sifat-sifat inilah yang menjelaskan kesempurnaan, keagungan, dan keesaan Allah Swt. secara sistematis dan rasional. Para ulama mendefinisikan sifat wajib sebagai sifat-sifat yang mustahil tidak dimiliki oleh Allah, yakni sifat yang keberadaannya niscaya melekat pada dzat-Nya dan menjadi penegas kesempurnaan mutlak Tuhan.¹ Dengan demikian, sifat wajib tidak hanya berfungsi sebagai penjelasan konseptual, tetapi juga sebagai penegasan ontologis bahwa Allah tidak mungkin bersifat dengan segala kekurangan atau ketidaksempurnaan. Sifat-sifat ini bersifat qadim (tidak bermula), baqi (tidak berakhir), dan tidak bergantung pada entitas lain, karena kesempurnaan-Nya bersifat mandiri dan absolut.

Dalam terminologi teologi Sunni—khususnya dalam tradisi Asy‘ariyah dan Maturidiyah—sifat wajib diklasifikasikan menjadi empat kelompok utama: sifat nafsiyah, salbiyah, ma‘ani, dan ma‘nawiyah.² Klasifikasi ini tidak muncul secara arbitrer, melainkan hasil dari kajian panjang para ulama untuk menyusun struktur konseptual yang memudahkan umat Islam memahami relasi antara dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Sifat nafsiyah berkaitan dengan afirmasi keberadaan Allah; sifat salbiyah menegaskan penafian terhadap segala bentuk kekurangan; sifat ma‘ani menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan aktif; sedangkan sifat ma‘nawiyah merupakan implikasi dari adanya ma‘ani yang menggambarkan keadaan Allah sebagai pemilik sifat-sifat tersebut. Penataan ini memberikan kerangka epistemologis yang koheren sekaligus menghindari kontradiksi dalam memahami konsep ketuhanan.

Secara teologis, sifat wajib memainkan peran kunci dalam menjaga konsistensi doktrin tauhid. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap sifat wajib, konsep keesaan Allah dapat disalahpahami, baik menuju antropomorfisme (penyerupaan Allah dengan makhluk) maupun menuju penafian total yang menghilangkan makna sifat-sifat kesempurnaan-Nya.³ Dalam konteks ini, para ulama menegaskan bahwa penetapan sifat wajib adalah sarana untuk memahami Tuhan secara proporsional: Allah diketahui melalui sifat-sifat kesempurnaan-Nya, tetapi tidak satupun sifat tersebut menyerupai makhluk. Dengan kata lain, sifat-sifat itu afirmatif namun tetap berada dalam bingkai tanzīh (penyucian Allah dari keserupaan).

Peran sifat wajib juga tampak dalam argumentasi rasional teologi Islam. Ulama kalam menggunakan dalil-dalil aqli untuk menunjukkan bahwa keberadaan Allah mensyaratkan adanya sifat-sifat tertentu. Misalnya, keberadaan alam meniscayakan adanya Zat yang berkuasa (qudrah), mengetahui (ilm), berkehendak (iradah), dan hidup (hayah).⁴ Analisis rasional ini tidak bertujuan mengukur Tuhan dengan kategori makhluk, tetapi menegaskan bahwa kesempurnaan-Nya adalah sesuatu yang niscaya secara logis. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sifat wajib tidak sekadar dogma tekstual, melainkan landasan filosofis yang menghubungkan wahyu dan akal dalam memahami Tuhan.

Kedudukan sifat wajib juga bersifat pedagogis dan spiritual. Dalam pendidikan akidah, pemahaman sifat wajib membantu peserta didik mengenal Allah dengan cara yang benar, mendalam, dan proporsional. Ketika siswa memahami bahwa Allah bersifat Maha Mengetahui, Maha Berkehendak, dan Maha Kuasa secara mutlak, mereka terdorong untuk membangun hubungan spiritual dengan Allah berdasarkan kesadaran intelektual dan keimanan yang kokoh.⁵ Pemahaman sifat wajib juga menumbuhkan kesadaran etis, karena sebagian sifat Allah—seperti hikmah, adil, dan rahmah—menjadi teladan dalam pembentukan akhlak manusia.

Dengan demikian, konsep sifat wajib Allah merupakan fondasi ontologis, epistemologis, dan pedagogis dalam teologi Islam. Ia tidak hanya berfungsi menjelaskan siapa Allah dalam kerangka pemikiran teologis, tetapi juga membentuk cara berpikir, cara beriman, dan cara berakhlak seorang muslim. Oleh sebab itu, memahami sifat wajib Allah dengan benar menjadi langkah utama dalam membangun keimanan yang rasional, seimbang, dan bermakna.


Footnotes

[1]                ¹ Al-Ghazali, al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 42.

[2]                ² Al-Sanusi, Umm al-Barāhīn (Cairo: Dar al-Salam, 2010), 11–15.

[3]                ³ Ibn Fūrak, Mujarrad Maqālāt Abī al-Ḥasan al-Ash‘arī (Beirut: Dar al-Mashriq, 1987), 102–106.

[4]                ⁴ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 57–63.

[5]                ⁵ Al-Nasafi, ‘Aqā’id al-Nasafī dengan syarah al-Taftazani (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 28–29.


4.          Kategori Sifat Wajib Allah

Klasifikasi sifat wajib Allah merupakan sebuah konstruksi teologis yang disusun para ulama kalam untuk memudahkan umat Islam mengenal Tuhan melalui sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Penyusunan kategori ini tidak terlepas dari upaya menjaga konsistensi tauhid, menjernihkan konsep ketuhanan dari segala bentuk penyerupaan, serta menyusun argumen rasional yang kokoh mengenai eksistensi dan kesempurnaan Allah Swt. Ulama Asy‘ariyah dan Maturidiyah membagi sifat wajib ke dalam empat kategori besar: sifat nafsiyah, sifat salbiyah, sifat ma‘ani, dan sifat ma‘nawiyah.¹ Pembagian sistematis ini memberi landasan epistemologis untuk memahami bahwa sifat Allah tidak bersifat acak, melainkan tersusun secara hierarkis berdasarkan fungsi dan konteks teologis masing-masing.

4.1.       Sifat Nafsiyah

Sifat nafsiyah adalah sifat yang menunjukkan hakikat keberadaan Allah sebagai dzat yang wujud secara niscaya.² Sifat ini hanya satu, yaitu wujūd (ada), yang menegaskan bahwa keberadaan Allah bersifat azali, tidak bermula, tidak berakhir, dan tidak mungkin tiada. Sifat ini berfungsi sebagai fondasi bagi seluruh sifat lainnya, karena keberadaan sifat-sifat Allah bergantung pada penetapan bahwa Allah benar-benar ada. Dalam teologi Islam, wujūd bukan sekadar keberadaan umum seperti makhluk, tetapi keberadaan yang bersifat independen, mutlak, dan menjadi sumber wujud segala sesuatu.³ Penetapan sifat nafsiyah ini sekaligus menjadi penolak terhadap segala bentuk ateisme, sekularisme ontologis, maupun paham yang merelatifkan keberadaan Tuhan.

4.2.       Sifat Salbiyah

Sifat salbiyah adalah sifat-sifat yang menegatifkan segala bentuk ketidaksempurnaan dari Allah. Melalui sifat ini, para ulama menegaskan bahwa Allah berbeda secara mutlak dari segala makhluk dan bersih dari segala keterbatasan.⁴ Sifat salbiyah yang terkenal berjumlah lima menurut Asy‘ariyah, yaitu:

1)                  Qidam (Terdahulu) – Allah tidak memiliki permulaan dan mendahului segala sesuatu.

2)                  Baqa’ (Kekal) – Allah tidak berakhir dan tidak mungkin binasa.

3)                  Mukhalafatu lil-hawadits (Berbeda dari makhluk) – Allah tidak menyerupai makhluk dalam dzat, sifat, atau perbuatan.

4)                  Qiyamuhu binafsih (Berdiri sendiri) – Allah tidak membutuhkan tempat, waktu, atau penopang apa pun.

5)                  Wahdaniyah (Esa) – Allah Maha Esa dalam dzat, sifat, dan perbuatan.

Melalui sifat salbiyah, teologi Islam menjaga prinsip tanzīh, yaitu penyucian Allah dari segala unsur kemakhlukan. Sifat ini menjadi penyangga utama dalam menolak antropomorfisme, politeisme, dan gagasan-gagasan non-Islami yang merendahkan keagungan Tuhan.⁵

4.3.       Sifat Ma‘ani

Sifat ma‘ani adalah sifat-sifat kesempurnaan yang berdiri secara maknawi pada dzat Allah dan memiliki konsekuensi teologis yang nyata.⁶ Ia merupakan sifat afirmatif yang mengungkapkan kemampuan dan kesempurnaan Tuhan dalam mencipta, mengetahui, dan mengatur seluruh alam. Terdapat tujuh sifat ma‘ani:

1)                  Qudrah (Kuasa) – Menunjukkan kemampuan Allah melakukan segala sesuatu yang mungkin.

2)                  Iradah (Berkehendak) – Allah menentukan segala sesuatu sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Nya.

3)                  Ilmu (Mengetahui) – Allah mengetahui segala sesuatu tanpa batas: yang tampak, tersembunyi, masa lalu, dan masa depan.

4)                  Hayah (Hidup) – Menegaskan bahwa Allah memiliki kehidupan yang sempurna dan tidak bergantung pada apa pun.

5)                  Sama‘ (Mendengar) – Allah mendengar segala sesuatu tanpa alat dan tanpa batasan.

6)                  Bashar (Melihat) – Allah melihat seluruh ciptaan tanpa medium atau ruang lingkup tertentu.

7)                  Kalam (Berfirman) – Allah memiliki sifat berbicara, bukan berupa suara, huruf, atau bahasa yang terbatas.

Sifat ma‘ani menegakkan konsep kesempurnaan Allah dalam hubungan-Nya dengan alam dan segala makhluk. Ia menunjukkan bahwa Allah bukan hanya wujud yang transenden, tetapi juga Tuhan yang berperan aktif dalam semua proses kosmis.⁷

4.4.       Sifat Ma‘nawiyah

Sifat ma‘nawiyah adalah sifat-sifat yang menunjukkan keadaan Allah sebagai pemilik sifat ma‘ani. Berbeda dengan sifat ma‘ani yang berbentuk konsep kesempurnaan, sifat ma‘nawiyah adalah implikasi eksistensial dari sifat tersebut.⁸ Dengan demikian, sifat ma‘nawiyah memperjelas bahwa Allah bukan hanya memiliki kemampuan, tetapi benar-benar berada dalam keadaan sebagai pemilik sifat-sifat itu. Terdapat tujuh sifat ma‘nawiyah:

1)                  Kaunuhu Qadiran – Keadaan Allah sebagai Yang Mahakuasa.

2)                  Kaunuhu Muridan – Keadaan Allah sebagai Yang Maha Berkehendak.

3)                  Kaunuhu ‘Aliman – Keadaan Allah sebagai Yang Maha Mengetahui.

4)                  Kaunuhu Hayyan – Keadaan Allah sebagai Yang Maha Hidup.

5)                  Kaunuhu Sami‘an – Keadaan Allah sebagai Yang Maha Mendengar.

6)                  Kaunuhu Basiran – Keadaan Allah sebagai Yang Maha Melihat.

7)                  Kaunuhu Mutakalliman – Keadaan Allah sebagai Yang Maha Berfirman.

Sifat ma‘nawiyah menegaskan dimensi ontologis dari sifat ma‘ani dan membedakan teologi Islam dari paham filsafat yang memandang Tuhan sebagai wujud statis tanpa sifat fungsional. Dengan kata lain, sifat ma‘nawiyah menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang hidup dan berperan secara aktif dalam seluruh realitas.⁹


Kesimpulan Sub-Bab

Keempat kategori sifat wajib Allah membentuk sebuah struktur teologis yang komprehensif dan integral. Sifat nafsiyah menegaskan eksistensi Allah; sifat salbiyah menyucikan Allah dari segala kekurangan; sifat ma‘ani menunjukkan kesempurnaan aktif-Nya; dan sifat ma‘nawiyah mengafirmasi keadaan Allah sebagai pemilik sifat-sifat tersebut. Melalui klasifikasi ini, teologi Islam menyediakan pemahaman yang utuh, rasional, dan terjaga dari penyimpangan konseptual dalam menggambarkan Tuhan.


Footnotes

[1]                ¹ Al-Sanusi, Umm al-Barāhīn (Cairo: Dar al-Salam, 2010), 11–16.

[2]                ² Al-Baqillani, Tamhīd al-Awā’il wa Talkhīṣ al-Dalā’il (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010), 55.

[3]                ³ Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2015), 98–100.

[4]                ⁴ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 74–78.

[5]                ⁵ Ibn al-Jawzi, Daf‘ Shubah al-Tashbīh (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 49–52.

[6]                ⁶ Al-Iji, al-Mawāqif fī ‘Ilm al-Kalām (Cairo: Maktabah al-Sa‘ādah, 2000), 145.

[7]                ⁷ Al-Taftazani, Sharḥ al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 63–67.

[8]                ⁸ Al-Jurjani, Sharḥ al-Mawāqif (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), 201–205.

[9]                ⁹ Al-Nasafi, ‘Aqā’id al-Nasafī dengan syarah al-Taftazani (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 71–72.


5.          Sifat Jaiz bagi Allah Swt.

Dalam teologi Islam, selain sifat wajib yang mesti dimiliki Allah dan sifat mustahil yang tidak mungkin dimiliki-Nya, para ulama juga menetapkan adanya satu sifat yang dikategorikan sebagai sifat jaiz bagi Allah Swt. Istilah jaiz di sini tidak berkaitan dengan kemungkinan yang bersifat kebetulan atau sesuatu yang tanpa dasar, melainkan menunjuk pada sifat yang menunjukkan kebebasan absolut Allah dalam menentukan perbuatan-Nya. Para ulama kalam mendefinisikan sifat jaiz bagi Allah sebagai sifat yang menggambarkan bahwa Allah boleh melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai dengan kehendak-Nya yang mutlak dan tidak terikat oleh apa pun selain hikmah-Nya.¹ Dengan demikian, sifat jaiz tidak berfungsi sebagai pembatas otoritas, tetapi sebagai penjelasan atas kebebasan dan ketidaktergantungan Allah dalam menjalankan kehendak-Nya.

Sifat jaiz yang dimaksud adalah fi‘lu al-mumkin aw tarkuhu, yaitu bahwa Allah boleh menciptakan sesuatu atau tidak menciptakannya, menghidupkan atau mematikan, memberi rezeki atau menahan rezeki, dan melakukan segala perbuatan terhadap makhluk atau memilih untuk tidak melakukannya.² Sifat ini menunjukkan bahwa semua perbuatan Allah berkaitan dengan makhluk berada dalam ranah kemungkinan, bukan keniscayaan. Hal ini berbeda dengan sifat wajib yang keberadaannya niscaya, atau sifat mustahil yang keberadaannya tidak mungkin. Dengan demikian, sifat jaiz menjadi penjelas bahwa hubungan Allah dengan alam semesta tidak bersifat deterministik, melainkan sepenuhnya berada dalam cakupan kehendak-Nya.

Para ulama Asy‘ariyah menegaskan bahwa sifat jaiz bagi Allah tidak berarti bahwa perbuatan Allah terjadi tanpa tujuan atau tanpa hikmah. Mereka menolak gagasan bahwa tindakan Allah sepenuhnya tanpa arah, tetapi juga menolak pandangan Mu‘tazilah yang menetapkan bahwa Allah wajib berbuat yang terbaik bagi makhluk (ṣalāḥ wa aṣlaḥ).³ Menurut Asy‘ariyah, Allah melakukan sesuatu berdasarkan kehendak dan hikmah-Nya, bukan karena ada keharusan eksternal yang memaksa-Nya bertindak sesuai standar manusia. Argumentasi ini penting untuk menjaga sifat kesempurnaan Allah dan memastikan bahwa Dia tidak tunduk pada ketetapan atau aturan di luar diri-Nya.

Dalam perspektif Maturidiyah, sifat jaiz memiliki sedikit nuansa berbeda. Ulama Maturidiyah, seperti Abu Mansur al-Maturidi, menegaskan bahwa Allah tidak mungkin berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hikmah, karena hal itu tidak selaras dengan kesempurnaan-Nya. Namun, mereka tetap menegaskan bahwa Allah bebas melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan dalam kerangka kehendak-Nya yang tidak terbatas.⁴ Artinya, sekalipun perbuatan Allah penuh hikmah, hal itu tidak berarti adanya keharusan logis yang membatasi kebebasan-Nya. Posisi ini menunjukkan pendekatan Maturidiyah yang lebih filosofis dan seimbang antara absolutisme kehendak Allah dan prinsip rasionalitas ilahi.

Sifat jaiz juga memiliki implikasi kosmologis dalam memahami penciptaan alam semesta. Para ulama kalam sepakat bahwa penciptaan alam bukanlah sesuatu yang wajib bagi Allah; alam ada karena Allah menghendakinya, bukan karena kebutuhan, keterpaksaan, atau ketergantungan.⁵ Konsep ini menghindarkan teologi Islam dari pandangan Aristotelian tentang keharusan kosmik atau filsafat emanasi Neoplatonis yang memandang alam sebagai pancaran niscaya dari Tuhan. Dalam Islam, penciptaan adalah tindakan sukarela (ikhtiyariyyah) Allah yang menunjukkan kekuasaan penuh dan kebebasan-Nya. Tanpa sifat jaiz, hubungan Allah dengan alam bisa disalahpahami sebagai hubungan wajib atau deterministik, yang pada akhirnya merusak konsep tauhid.

Sifat jaiz juga memberikan dasar teologis untuk memahami cobaan, karunia, keberagaman nasib manusia, dan dinamika sejarah. Karena Allah bebas melakukan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, maka manusia tidak berhak menuntut bahwa Allah harus selalu memberi nikmat atau menolak musibah.⁶ Namun demikian, semua tindakan Allah tetap berada dalam bingkai sifat-sifat kesempurnaan-Nya seperti hikmah, keadilan, dan rahmat. Dengan demikian, sifat jaiz berfungsi memperjelas bahwa Allah adalah Tuhan yang bebas, tetapi bukan sewenang-wenang; Ia berkehendak secara mutlak, tetapi tidak berkehendak secara absurd.

Dalam konteks pendidikan Akidah Akhlak, pemahaman sifat jaiz membantu peserta didik menyadari bahwa segala peristiwa di alam semesta terjadi karena kehendak Allah yang Mahabijaksana. Kesadaran ini membangun sikap tawakal, sabar, dan optimis, karena seorang mukmin memahami bahwa perubahan selalu mungkin terjadi sesuai kehendak Allah. Sifat jaiz memberikan ruang bagi harapan spiritual, doa, serta keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah kecuali hal-hal yang bertentangan dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya.

Dengan demikian, sifat jaiz bagi Allah Swt. merupakan konsep teologis yang berperan penting dalam menjelaskan kebebasan mutlak Tuhan dalam berbuat dan tidak berbuat terhadap makhluk-Nya. Ia menjaga keseimbangan antara keagungan, kebijaksanaan, dan otoritas Allah, sekaligus menjadi landasan filosofis untuk memahami dinamika penciptaan, takdir, dan hubungan Allah dengan alam semesta.


Footnotes

[1]                ¹ Al-Sanusi, Umm al-Barāhīn (Cairo: Dar al-Salam, 2010), 22.

[2]                ² Al-Baqillani, Tamhīd al-Awā’il wa Talkhīṣ al-Dalā’il (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010), 89–90.

[3]                ³ Abu al-Hasan al-Asy‘ari, al-Ibānah ‘an Uṣūl al-Diyānah (Cairo: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, 2000), 54–56.

[4]                ⁴ Abu Mansur al-Maturidi, Kitāb al-Tawḥīd (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 112–118.

[5]                ⁵ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 141–145.

[6]                ⁶ Al-Ghazali, al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 96–98.


6.          Analisis Epistemologis

Analisis epistemologis terhadap sifat-sifat Allah berfokus pada sumber, metode, dan validitas pengetahuan yang digunakan untuk menetapkan sifat wajib dan sifat jaiz bagi Allah Swt. Dalam tradisi teologi Islam, perdebatan mengenai bagaimana manusia mengetahui sifat-sifat Allah telah berlangsung sejak periode awal perkembangan ilmu kalam. Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan peran akal (‘aql), wahyu (naql), dan konsensus ulama (ijmā‘) dalam menentukan kebenaran teologis.¹ Dengan memahami landasan epistemologis ini, peserta didik dapat menangkap bagaimana para ulama menyusun argumentasi teologis yang tidak hanya bersandar pada keyakinan spiritual, tetapi juga rasionalitas yang terstruktur.

6.1.       Sumber Pengetahuan tentang Sifat Allah: Wahyu sebagai Landasan Utama

Dalam epistemologi Islam, wahyu merupakan sumber definitif dan otoritatif dalam menetapkan sifat-sifat Allah. Al-Qur’an dan hadis memuat penjelasan langsung mengenai sifat-sifat Allah seperti ilmu, qudrah, iradah, samā‘, bashar, dan kalām.² Wahyu tidak hanya menjadi dasar tekstual, tetapi juga memberikan batasan agar manusia tidak terjebak dalam spekulasi metafisik yang berlebihan. Dengan demikian, pemahaman sifat-sifat Allah harus selalu berada dalam bingkai interpretasi yang menghormati prinsip-prinsip linguistik dan doktrinal nash. Dalam konteks ini, para ulama menekankan pentingnya tafwidh (penyerahan makna hakiki kepada Allah) dan tanzīh (penyucian Allah dari kemiripan dengan makhluk) agar penetapan sifat tidak menyalahi keagungan-Nya.³

6.2.       Peran Akal dalam Menetapkan Sifat Allah

Walaupun wahyu merupakan sumber utama, akal memiliki tempat yang signifikan dalam menetapkan sebagian besar sifat Allah, terutama dalam pembuktian sifat wajib. Ulama Asy‘ariyah dan Maturidiyah menegaskan bahwa akal dapat mengetahui bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan seperti wujud, ilmu, qudrah, dan iradah melalui analisis rasional terhadap keberadaan alam.⁴ Akal, misalnya, menetapkan bahwa alam tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, sehingga harus ada pencipta yang berkuasa dan mengetahui proses penciptaannya. Pendekatan ini sejalan dengan argumen burhān al-‘ināyah dan burhān al-ikhtirā‘ yang sering digunakan ulama dalam menjelaskan kewajiban sifat-sifat tertentu pada Allah.

Meskipun demikian, peran akal tidak bersifat mutlak. Dalam menetapkan sifat-sifat yang bersifat ghayb (metafisik), akal hanya dapat sampai pada batas tertentu. Di sinilah wahyu memiliki kedudukan untuk melengkapi keterbatasan akal. Para ulama menolak spekulasi filosofis yang mencoba menguraikan hakikat sifat Allah secara rinci karena hakikat tersebut berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.⁵ Akal berfungsi sebagai alat untuk memahami, bukan untuk menentukan hakikat Tuhan secara mandiri.

6.3.       Perbedaan Metodologis antar Mazhab Teologis

Epistemologi sifat-sifat Allah berkembang melalui perdebatan metodologis antara berbagai mazhab teologi. Kaum Mu‘tazilah menempatkan akal sebagai otoritas paling tinggi dalam menetapkan sifat Allah. Mereka menolak eksistensi sifat yang berdiri pada dzat, karena menganggap hal itu bertentangan dengan prinsip keesaan Allah.⁶ Bagi mereka, Allah mengetahui karena dzat-Nya sendiri, bukan karena sifat ilmu yang berdiri pada-Nya.

Berbeda dengan Mu‘tazilah, Asy‘ariyah menujukkan bahwa penetapan sifat melalui wahyu dan akal dapat berjalan beriringan. Asy‘ariyah menerima keberadaan sifat-sifat yang berdiri pada dzat Allah, tetapi menolak bahwa sifat-sifat tersebut terpisah atau independen dari dzat.⁷ Metode mereka berusaha menjaga keseimbangan antara tanzīh dan afirmasi sifat.

Sementara itu, Maturidiyah cenderung memberikan ruang yang lebih luas bagi akal dalam memahami sifat-sifat Allah. Abu Mansur al-Maturidi berpendapat bahwa beberapa sifat Allah dapat diketahui melalui akal bahkan tanpa wahyu, karena kesempurnaan Tuhan merupakan tuntutan rasional.⁸ Namun demikian, mereka tetap mengakui bahwa wahyu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam menetapkan sifat-sifat rinci yang tidak dapat dijangkau oleh akal.

6.4.       Epistemologi Bahasa: Antara Literalitas dan Metafora

Salah satu aspek epistemologis yang krusial dalam memahami sifat Allah adalah persoalan bahasa. Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab yang mengandung metafora, majaz, dan struktur linguistik yang kaya. Ketika menggambarkan sifat Allah, bahasa tersebut harus dipahami sesuai konteks agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang mengarah kepada antropomorfisme. Ulama seperti al-Ghazali dan al-Razi menekankan bahwa sifat-sifat yang tampak fisikal dalam teks, seperti “tangan”, “wajah”, atau “bersemayam”, tidak boleh dipahami secara literal, tetapi harus dikembalikan kepada prinsip tanzīh atau ditakwil berdasarkan kaidah kebahasaan.⁹ Pendekatan ini menunjukkan bagaimana epistemologi bahasa memainkan peranan penting dalam memahami sifat-sifat Allah secara benar.


Kesimpulan Epistemologis

Secara keseluruhan, epistemologi sifat-sifat Allah dalam teologi Islam adalah gabungan harmonis antara wahyu, akal, dan interpretasi linguistik. Wahyu memberikan fondasi dan batasan; akal memperkuat argumentasi dan membuktikan keniscayaan sifat wajib; sementara bahasa menjadi medium pemahaman yang harus dijaga dari interpretasi keliru. Kombinasi ketiganya menghasilkan pemahaman sifat Allah yang seimbang antara kehendak Tuhan yang transenden dan kemampuan manusia yang terbatas. Analisis epistemologis ini memperlihatkan bahwa teologi Islam tidak anti-akal, melainkan memadukan rasio dan wahyu dalam satu kerangka metodologis yang saling melengkapi.


Footnotes

[1]                ¹ Richard C. Martin, Defenders of Reason in Islam (Oxford: Oneworld, 1997), 18–20.

[2]                ² Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University of Chicago Press, 1980), 27–32.

[3]                ³ Al-Ghazali, Iljām al-‘Awām ‘an ‘Ilm al-Kalām (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2008), 46–49.

[4]                ⁴ Fakhr al-Din al-Razi, Lawāmi‘ al-Bayyināt (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), 52–55.

[5]                ⁵ Ibn Taymiyyah, Bayān Talbīs al-Jahmiyyah (Riyadh: Jami‘at al-Imam, 2005), 112–115.

[6]                ⁶ Qadi Abd al-Jabbar, Sharḥ al-Uṣūl al-Khamsah (Cairo: Maktabah Wahbah, 1965), 143–150.

[7]                ⁷ Ibn Fūrak, Mujarrad Maqālāt Abī al-Ḥasan al-Ash‘arī (Beirut: Dar al-Mashriq, 1987), 97–101.

[8]                ⁸ Abu Mansur al-Maturidi, Kitāb al-Tawḥīd (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 43–51.

[9]                ⁹ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 66–72.


7.          Analisis Ontologis

Analisis ontologis terhadap sifat-sifat Allah berfokus pada kajian mengenai hakikat keberadaan (wujūd), relasi antara dzat dan sifat, serta kedudukan sifat-sifat tersebut dalam struktur metafisika ketuhanan. Dalam disiplin ilmu kalam, pembahasan ontologis tidak hanya berfungsi menjelaskan apa yang dimaksud dengan keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya, tetapi juga untuk menegakkan pemahaman tauhid yang murni dan terhindar dari kontradiksi filosofis seperti antropomorfisme atau penafian sifat secara ekstrem.¹ Dengan demikian, analisis ini menjadi dasar filosofis bagi seluruh pembahasan teologi, karena menyentuh inti realitas Tuhan sebagai Wujud yang Mahasempurna dan Mahamutlak.

7.1.       Hakikat Wujud Allah sebagai Wujud Niscaya (Wājib al-Wujūd)

Dalam perspektif ontologi Islam, Allah adalah Wājib al-Wujūd, yaitu wujud yang keberadaannya niscaya dan mustahil tidak ada.² Konsep ini menegaskan bahwa Allah bukan hanya ada, tetapi keberadaan-Nya merupakan sumber segala wujud lain. Ia ada dengan sendirinya (qiyāmuhu binafsih) dan tidak bergantung kepada penyebab eksternal apa pun. Sementara makhluk termasuk kategori mumkin al-wujūd, yakni entitas yang mungkin ada atau tidak ada dan membutuhkan sebab yang mengadakannya.³

Dengan demikian, keberadaan Allah bersifat absolut, sedangkan makhluk bersifat kontingen. Ontologi ini menjelaskan bahwa sifat-sifat Allah bukanlah atribut tambahan yang disebabkan oleh sesuatu di luar diri-Nya, tetapi merupakan bentuk kesempurnaan yang melekat pada dzat-Nya. Hal ini penting untuk mencegah anggapan bahwa sifat-sifat Allah bersifat temporal, berubah, atau tersusun, sebab hal tersebut bertentangan dengan prinsip qidam (ketaqdiman) dan kesempurnaan mutlak Allah.

7.2.       Relasi antara Dzat dan Sifat: Antara Identitas dan Perbedaan

Salah satu masalah besar dalam ontologi ketuhanan adalah bagaimana memahami hubungan antara dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Jika sifat dipandang identik dengan dzat, timbul pertanyaan: apakah masih bermakna untuk menyebut sifat-sifat tersebut satu per satu? Sebaliknya, jika sifat dianggap terpisah dari dzat, muncul risiko bahwa Tuhan terdiri dari bagian-bagian, sebuah konsepsi yang bertentangan dengan keesaan-Nya.

Ulama Asy‘ariyah dan Maturidiyah mengembangkan pendekatan ontologis yang menengahi dua ekstrem tersebut. Mereka menyatakan bahwa sifat-sifat Allah “ada pada dzat” namun tidak terpisah dari-Nya, dan tidak pula identik secara total.⁴ Sifat-sifat itu nyata, tetapi keberadaannya tidak seperti sifat-sifat makhluk yang bersifat aksidental. Relasi ini disebut sebagai relasi lā huwa wa lā ghayruhu—sifat bukanlah dzat, tetapi juga bukan selain dzat.⁵ Formulasi ontologis ini dipandang sebagai jalan tengah untuk menghindari paham tajsim (penyerupaan fisik) dan paham ta‘ṭil (peniadaan sifat).

Mu‘tazilah, sebaliknya, menolak keberadaan sifat sebagai entitas ontologis tersendiri. Mereka berpendapat bahwa seluruh sifat Allah identik dengan dzat-Nya; Allah mengetahui karena dzat-Nya mengetahui, bukan karena ada sifat ilmu yang melekat pada-Nya.⁶ Pendekatan ini bertujuan menjaga kemurnian tauhid, tetapi dikritik oleh kalangan Asy‘ariyah karena dianggap menafikan makna affirmatif sifat-sifat Allah yang dijelaskan dalam nash.

7.3.       Kesempurnaan Ontologis Allah dan Penafian Kekurangan

Sifat-sifat salbiyah seperti qidam, baqa’, wahdaniyah, dan mukhalafatu lil-hawadits merupakan bentuk penegasan ontologis bahwa Allah tidak memiliki kekurangan atau keterbatasan. Sifat-sifat ini menegaskan bahwa:

·                     Allah tidak bermula dan tidak berakhir,

·                     Allah tidak menyerupai makhluk dalam dzat maupun sifat,

·                     Allah tidak bergantung pada ruang, waktu, atau sebab eksternal.

Dengan demikian, sifat salbiyah berfungsi sebagai pembersihan ontologis terhadap segala bentuk penyandaran kekurangan atau ketidaksempurnaan kepada Allah.⁷ Para ulama kalam menyusun kategori ini untuk memastikan bahwa penetapan sifat afirmatif (ma‘ani dan ma‘nawiyah) tidak mengarah pada pemaknaan fisikal atau keterbatasan Tuhan.

Dalam perspektif ontologis ini, kesempurnaan Allah tidak hanya merupakan deskripsi teologis, tetapi juga konsekuensi logis dari status-Nya sebagai Wajib al-Wujūd. Entitas yang niscaya ada tidak mungkin memiliki sifat yang bersifat kurang, berubah, atau bergantung.

7.4.       Ontologi Tindakan Allah: Hubungan antara Iradah, Qudrah, dan Sifat Jaiz

Pembahasan ontologis dalam teologi Islam juga mencakup hubungan Allah dengan alam melalui aspek perbuatan-Nya. Allah memiliki qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak), dua sifat ontologis yang memungkinkan Allah melakukan atau tidak melakukan sesuatu.⁸ Inilah dasar dari sifat jaiz, yaitu bahwa Allah bebas menentukan perbuatan-Nya terhadap makhluk tanpa paksaan ataupun kebutuhan. Ontologi ini menegaskan bahwa tindakan Allah tidak bersifat niscaya atau deterministik, tetapi hasil dari kehendak-Nya yang bebas dan sempurna.

Namun, kebebasan ini tidak berarti tindakan Allah bersifat arbitrer atau tanpa tujuan. Dalam teologi Asy‘ariyah, tindakan Allah dipandang memiliki hikmah meskipun hikmah itu tidak selalu dapat dipahami oleh akal manusia.⁹ Sementara itu, Maturidiyah berpendapat bahwa hikmah Allah selalu sesuai dengan kebijaksanaan dan tidak mungkin bertentangan dengan kesempurnaan-Nya.¹⁰ Perbedaan sudut pandang ini memperkaya diskursus ontologis mengenai hubungan Tuhan dengan realitas kosmis.

7.5.       Transendensi dan Immanensi: Dua Dimensi Ontologis Ketuhanan

Ontologi sifat-sifat Allah juga menyentuh keseimbangan antara transendensi (tanzīh) dan immanensi (ithbāt). Allah transenden karena dzat-Nya tidak dapat digambarkan, tidak dapat diserupakan dengan makhluk, dan berada di luar batas-batas ruang serta waktu. Namun, Allah juga bersifat imanen dalam makna bahwa sifat-sifat-Nya seperti ilmu, qudrah, dan iradah mencakup seluruh realitas dan mengatur segala kejadian.¹¹

Keduanya tidak bertentangan, tetapi membentuk satu pemahaman ontologis yang harmonis: Allah tidak hadir dalam kosmos secara fisikal, namun pengetahuan, kehendak, dan kekuasaan-Nya meliputi seluruhnya. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang dekat (qarīb) tetapi tetap Mahasuci dan Mahatinggi (‘alī).


Kesimpulan Ontologis

Analisis ontologis sifat-sifat Allah menunjukkan bahwa seluruh struktur teologis dalam Islam dibangun di atas fondasi metafisika yang konsisten: Allah sebagai Wajib al-Wujūd memiliki sifat yang sempurna, tidak bergantung, dan tidak berubah; sifat-sifat-Nya tidak terpisah dari dzat tetapi tetap afirmatif; hubungan Allah dengan alam adalah hasil kehendak dan kekuasaan-Nya; dan keseimbangan antara transendensi dan immanensi menjadi prinsip utama dalam memahami makna sifat-sifat ketuhanan. Pemahaman ini tidak hanya penting secara teologis, tetapi juga filosofis, karena memberikan kerangka rasional bagi konsep ketuhanan dalam Islam.


Footnotes

[1]                ¹ Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy (Cambridge: Polity Press, 1999), 41–44.

[2]                ² Ibn Sina, al-Ishārāt wa al-Tanbīhāt (Qom: Nashr al-Balaghah, 1997), 165–170.

[3]                ³ Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 83–85.

[4]                ⁴ Al-Baqillani, Tamhīd al-Awā’il wa Talkhīṣ al-Dalā’il (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010), 119–123.

[5]                ⁵ Al-Jurjani, Sharḥ al-Mawāqif (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), 216–218.

[6]                ⁶ Qadi Abd al-Jabbar, Sharḥ al-Uṣūl al-Khamsah (Cairo: Maktabah Wahbah, 1965), 161–166.

[7]                ⁷ Ibn al-Jawzi, Daf‘ Shubah al-Tashbīh (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 77–80.

[8]                ⁸ Al-Iji, al-Mawāqif fī ‘Ilm al-Kalām (Cairo: Maktabah al-Sa‘ādah, 2000), 177–183.

[9]                ⁹ Al-Ghazali, al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 105–109.

[10]             ¹⁰ Abu Mansur al-Maturidi, Kitāb al-Tawḥīd (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 132–137.

[11]             ¹¹ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 83–88.


8.          Dimensi Etis dan Aksiologis Sifat-sifat Allah

Dimensi etis dan aksiologis dalam kajian sifat-sifat Allah menempati posisi sangat penting dalam teologi Islam karena pembahasan sifat tidak hanya berfungsi sebagai konsep metafisik atau rasional, tetapi juga sebagai fondasi moral bagi kehidupan manusia. Para ulama menegaskan bahwa pemahaman terhadap sifat-sifat Allah harus melahirkan implikasi etis yang dapat membentuk karakter seorang mukmin. Sifat-sifat Allah menjadi sumber nilai (aksiologi), pedoman etis (moral guidance), dan arah hidup (purpose), sehingga memengaruhi perilaku, sikap, serta konstruksi moral masyarakat Muslim.¹ Dengan demikian, pembahasan etis dan aksiologis tidak dapat dipisahkan dari tujuan utama studi akidah, yakni membentuk pribadi berakhlak mulia berdasarkan tauhid dan kesadaran spiritual yang benar.

8.1.       Sifat Allah sebagai Fondasi Etika Ilahiah

Etika Islam bersumber pada pemahaman yang benar tentang Tuhan, dan sifat-sifat Allah menjadi pijakan dasar dalam penyusunan struktur etika tersebut. Sifat-sifat seperti ‘adl (keadilan), raḥmah (kasih sayang), ḥikmah (kebijaksanaan), dan samī‘-baṣīr (Maha Mendengar-Maha Melihat) menjadi prinsip etis yang membimbing manusia dalam kehidupan sosial dan personal.² Dalam perspektif ini, tindakan etis bukan semata-mata mengikuti aturan normatif, tetapi meniru nilai-nilai kesempurnaan Allah dalam kapasitas manusia. Misalnya, keyakinan bahwa Allah Maha Adil mendorong manusia untuk berlaku adil dalam interaksi sosial, sedangkan kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui menumbuhkan integritas pribadi dan kejujuran.

8.2.       Pembentukan Akhlak melalui Internaliasi Sifat-sifat Kesempurnaan

Aksiologi sifat-sifat Allah berkaitan erat dengan proses pembentukan akhlak. Akhlak bukan hanya perilaku lahiriah, tetapi juga wujud internalisasi nilai-nilai ilahiah dalam jiwa manusia. Al-Ghazali menyatakan bahwa manusia ideal adalah manusia yang menjadikan sifat-sifat Allah sebagai inspirasi moral, bukan meniru hakikatnya, tetapi mengambil maknanya secara analogis.³ Dengan demikian:

·                     Sifat raḥmah mendorong manusia bersikap lembut dan peduli terhadap sesama.

·                     Sifat ḥikmah menuntut manusia bertindak dengan pertimbangan dan kebijaksanaan.

·                     Sifat ‘adl mengarahkan manusia untuk berlaku proporsional dan menolak kezaliman.

·                     Sifat ghaniyy (Maha Kaya) mendorong manusia untuk tidak rakus dan bersikap dermawan.

Internalisasi sifat-sifat ini menciptakan karakter mukmin yang seimbang: tunduk kepada Allah, tegas terhadap kebatilan, dan penuh kasih kepada sesama.

8.3.       Implikasi Etis dalam Hubungan Sosial

Pemahaman terhadap sifat-sifat Allah tidak hanya membentuk perilaku individu tetapi juga menata struktur relasi sosial. Dalam konteks sosial, sifat Allah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui berfungsi sebagai kontrol moral internal, memotivasi manusia untuk menghindari penipuan, korupsi, dan perilaku tidak etis lainnya.⁴ Keyakinan bahwa Allah Maha Adil juga mendorong terbentuknya sistem sosial yang berbasis keadilan, hak, dan tanggung jawab. Selain itu, sifat raḥmān dan raḥīm menegaskan pentingnya keterlibatan manusia dalam membangun masyarakat yang penuh kasih dan solidaritas.

Sifat wahdaniyah (keesaan Allah) juga memiliki implikasi etis, yakni bahwa tidak ada otoritas yang boleh dipuja selain Allah. Ini melahirukan etika pembebasan: manusia tidak boleh diperbudak oleh hawa nafsu, kekuasaan tirani, atau struktur sosial yang zalim.⁵ Dengan demikian, tauhid dan sifat-sifat Allah menjadi landasan bagi pembebasan manusia dari ketidakadilan dan penindasan.

8.4.       Tujuan Aksiologis Penciptaan dan Kehidupan Manusia

Sifat-sifat Allah juga berperan dalam memberikan makna terhadap keberadaan manusia. Dalam perspektif aksiologi, kehidupan manusia memiliki tujuan yang selaras dengan kehendak Allah yang Maha Bijaksana. Al-Qur’an menegaskan bahwa penciptaan tidak sia-sia, dan segala sesuatu yang terjadi berada dalam lingkup ḥikmah.⁶ Dengan demikian, manusia harus menjalani hidup dengan orientasi nilai, bukan sekadar aktivitas tanpa arah.

Sifat iradah (kehendak) dan qudrah (kekuasaan) Allah menunjukkan bahwa segala peristiwa terjadi dalam bingkai rencana Ilahi, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab moral dalam memilih tindakan. Paradigma ini membentuk etika partisipatif: manusia berusaha secara maksimal dalam kebaikan seraya menyadari bahwa hasilnya berada dalam kehendak Allah. Ini merupakan keseimbangan antara optimisme spiritual dan realisme moral.

8.5.       Kehadiran Sifat Allah dalam Kehidupan Spiritual

Dimensi etis dan aksiologis sifat Allah juga berhubungan dengan kedalaman spiritual. Kesadaran bahwa Allah Maha Dekat (qarīb), Maha Mendengar, dan Maha Pengampun mendorong manusia untuk selalu kembali kepada-Nya, memperbaiki diri, dan bertaubat secara tulus.⁷ Spiritualitas Islam dibangun atas dua poros utama sifat Allah: jalāl (keagungan) dan jamāl (keindahan). Sifat jalāl menumbuhkan rasa takut dan hormat kepada Allah, sedangkan sifat jamāl menumbuhkan cinta dan keteduhan.

Ketika kedua poros ini seimbang, lahirlah etika spiritual yang matang: hati tunduk sekaligus lembut, takut sekaligus berharap, disiplin sekaligus penuh kasih. Dengan demikian, sifat-sifat Allah menjadi sumber inspirasi bagi perjalanan spiritual manusia.


Kesimpulan Aksiologis

Sifat-sifat Allah bukan hanya konsep teologis, tetapi juga sumber nilai moral dan fondasi etika Islam. Melalui pemahaman sifat-sifat Allah, seorang mukmin diarahkan untuk menjalani kehidupan bermakna, berakhlak mulia, serta membangun masyarakat yang berkeadaban. Sifat-sifat tersebut membentuk orientasi etis manusia terhadap Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Dengan demikian, dimensi etis dan aksiologis merupakan jembatan antara teologi dan praksis kehidupan.


Footnotes

[1]                ¹ Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 11–14.

[2]                ² Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University of Chicago Press, 1980), 45–49.

[3]                ³ Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2015), 284–288.

[4]                ⁴ Abdullah Saeed, Islamic Thought: An Introduction (London: Routledge, 2006), 92–96.

[5]                ⁵ Ismail Raji al-Faruqi, Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life (Herndon: IIIT, 1992), 28–32.

[6]                ⁶ Fakhr al-Din al-Razi, Tafsīr al-Kabīr (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), 12:56.

[7]                ⁷ Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Salikin (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006), 112–118.


9.          Perbandingan Teologis Antar Mazhab

Pembahasan mengenai sifat-sifat Allah selalu menjadi tema sentral dalam teologi Islam, dan perbedaan metodologis antar mazhab memberikan gambaran yang kaya mengenai keragaman pemikiran dalam khazanah kalam. Perbandingan teologis ini menyoroti bagaimana masing-masing mazhab memahami relasi antara dzat dan sifat, bagaimana mereka memaknai sifat-sifat afirmatif dan penafian, serta bagaimana pendekatan mereka terhadap teks-teks yang bersifat mutasyabihat. Dengan mengkaji perbedaan tersebut, kita dapat melihat spektrum teologis dalam Islam yang mulai dari penekanan rasional hingga penekanan tekstual, dari pendekatan metafisik hingga pendekatan linguistik.¹

9.1.       Mu‘tazilah: Penegasan Tauhid Absolut melalui Penolakan Sifat

Kaum Mu‘tazilah mengambil posisi teologis yang berpijak pada prinsip keesaan absolut (tawḥīd al-muṭlaq). Mereka menolak keberadaan sifat sebagai entitas ontologis yang berdiri pada dzat Allah karena menurut mereka hal itu mengarah pada ta‘addud al-qudamā’, yaitu keberagaman entitas yang azali.² Dalam pandangan Mu‘tazilah, Allah mengetahui, berkuasa, dan berkehendak bukan karena memiliki sifat-sifat yang melekat pada-Nya, tetapi karena dzat-Nya sendiri bersifat mengetahui, berkuasa, dan berkehendak. Dengan demikian, sifat-sifat itu identik dengan dzat, bukan tambahan pada dzat.

Mu‘tazilah juga dikenal dengan interpretasi rasional terhadap ayat-ayat mutasyabihat, sehingga mereka cenderung menakwil istilah-istilah seperti “tangan”, “wajah”, atau “bersemayam” agar tidak dipahami secara literal.³ Pendekatan ini memberikan konsistensi terhadap prinsip tanzīh, tetapi dinilai terlalu menekankan rasionalitas sehingga mengurangi sifat afirmatif yang dinyatakan oleh teks.

9.2.       Asy‘ariyah: Jalan Tengah antara Afirmasi dan Penafian

Asy‘ariyah, yang dipelopori oleh Abu al-Hasan al-Asy‘ari, mengembangkan kerangka teologi yang berusaha menengahi dua ekstrem: penolakan sifat ala Mu‘tazilah dan pemahaman literal ala sebagian kelompok tradisionalis. Mereka menerima eksistensi sifat-sifat Allah sebagai realitas ontologis yang tidak identik dengan dzat tetapi juga tidak terpisah darinya.⁴ Pendekatan ini dirumuskan dalam prinsip lā huwa wa lā ghayruhu (sifat bukan dzat, tetapi juga bukan selain dzat).

Dalam hal ayat mutasyabihat, Asy‘ariyah memadukan antara tafwidh (menyerahkan makna hakiki kepada Allah) dan ta’wil bila diperlukan berdasarkan kaidah kebahasaan.⁵ Hal ini menunjukkan sikap moderat yang tetap menjaga tanzīh sekaligus menghormati teks. Sifat ma‘ani dan ma‘nawiyah ditetapkan secara afirmatif, terutama sifat qudrah, iradah, ilmu, hayat, sama‘, bashar, dan kalam.

9.3.       Maturidiyah: Rasionalisme Moderat dalam Struktur Ketuhanan

Mazhab Maturidiyah, yang dirumuskan oleh Abu Mansur al-Maturidi, memiliki banyak kesamaan dengan Asy‘ariyah, tetapi dengan penekanan yang lebih besar pada kemampuan akal. Maturidiyah berpendapat bahwa akal dapat mengetahui keberadaan Allah dan sebagian sifat-sifat-Nya tanpa bantuan wahyu, selama sifat tersebut terkait dengan kesempurnaan wujud.⁶ Namun demikian, sifat-sifat rinci yang bersifat metafisik tetap bergantung kepada wahyu.

Maturidiyah menegaskan bahwa sifat Allah adalah azali dan melekat pada dzat, tetapi mereka sering lebih menekankan aspek hikmah dalam tindakan Allah. Misalnya, dalam pembahasan sifat jaiz, mereka menekankan bahwa perbuatan Allah tidak bertentangan dengan hikmah, meskipun Allah tetap bebas berkehendak.⁷ Pendekatan ini menjadikan Maturidiyah lebih dekat dengan nalar filosofis tanpa meninggalkan prinsip tauhid.

9.4.       Salaf/Atsariyah: Pendekatan Tekstual dan Penolakan Takwil

Mazhab Salaf, terutama yang diperkukuh oleh ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal, mengedepankan sikap menerima ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana adanya tanpa takwil dan tanpa membahas “bagaimana”-nya. Prinsip mereka adalah imrār bi lā kayf—menerima teks tanpa menanyakan hakikatnya secara spekulatif.⁸ Dalam pandangan ini, sifat-sifat seperti mendengar, melihat, atau bersemayam harus diterima sesuai bunyi teks, tetapi tidak dipahami menyerupai sifat makhluk.

Pendekatan ini sangat menjaga kesucian Allah dari interpretasi berlebihan, tetapi dalam beberapa konteks menimbulkan perdebatan mengenai batas makna literal, terutama ketika berkaitan dengan bahasa metaforis dalam Al-Qur’an.⁹ Mazhab Atsariyah juga menolak pembahasan filosofis yang dianggap menyimpang dari pemahaman generasi awal.

9.5.       Perbandingan Metodologis: Rasionalitas, Bahasa, dan Ontologi

Dari perbandingan di atas, tampak bahwa perbedaan antar mazhab terletak pada tiga aspek epistemologis dan ontologis utama:

1)                  Penggunaan akal:

þ Mu‘tazilah: dominasi akal.

þ Asy‘ariyah: harmonisasi akal-wahyu.

þ Maturidiyah: akal lebih dominan daripada Asy‘ariyah, tetapi tetap dalam batas wahyu.

þ Salaf/ Atsari: pembatasan akal dalam ranah sifat Allah.

2)                  Pendekatan linguistik:

þ Mu‘tazilah: takwil rasional secara konsisten.

þ Asy‘ariyah: takwil selektif, tafwidh sebagai prinsip dasar.

þ Maturidiyah: seimbang tetapi cenderung menakwil demi konsistensi rasional.

þ Salaf/ Atsari: literalitas tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.

3)                  Ontologi sifat:

þ Mu‘tazilah: sifat = dzat.

þ Asy‘ariyah & Maturidiyah: sifat ada pada dzat tetapi tidak terpisah.

þ Salaf/ Atsari: sifat ditetapkan sesuai lafaz tanpa penjelasan ontologis.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa teologi Islam memiliki keragaman metodologis yang luas, namun semuanya berusaha menjaga keesaan Allah dan kesucian sifat-sifat-Nya dalam batasan epistemologis masing-masing.


Signifikansi Perbandingan Teologis dalam Pendidikan Akidah

Memahami perbedaan antar mazhab membantu peserta didik di Madrasah Aliyah untuk berpikir kritis, toleran, dan proporsional dalam memahami isu-isu teologi. Perbedaan ini bukanlah bentuk pertentangan mutlak, tetapi representasi dinamika intelektual dalam sejarah Islam.¹⁰ Kesadaran akan keragaman ini juga menghindarkan siswa dari sikap fanatisme buta dan membantu mereka menghargai keluasan khazanah pemikiran Islam.


Footnotes

[1]                ¹ Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft (Berlin: Walter de Gruyter, 1991), 73–78.

[2]                ² Qadi Abd al-Jabbar, Sharḥ al-Uṣūl al-Khamsah (Cairo: Maktabah Wahbah, 1965), 115–120.

[3]                ³ Abu al-Husayn al-Basri, al-Mu‘tamad fī Uṣūl al-Dīn (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1983), 144–148.

[4]                ⁴ Ibn Fūrak, Mujarrad Maqālāt Abī al-Ḥasan al-Ash‘arī (Beirut: Dar al-Mashriq, 1987), 103–108.

[5]                ⁵ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 92–97.

[6]                ⁶ Abu Mansur al-Maturidi, Kitāb al-Tawḥīd (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 45–53.

[7]                ⁷ Sa‘d al-Din al-Taftazani, Sharḥ al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 78–82.

[8]                ⁸ Ibn Qudamah, Lum‘at al-I‘tiqād (Riyadh: Dar al-Watan, 1996), 11–13.

[9]                ⁹ Ibn Taymiyyah, Bayān Talbīs al-Jahmiyyah (Riyadh: Jami‘at al-Imam, 2005), 132–138.

[10]             ¹⁰ Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy (Cambridge: Polity Press, 1999), 95–100.


10.      Isu-isu Kontemporer dalam Kajian Sifat Allah

Kajian sifat-sifat Allah yang pada awalnya berkembang dalam konteks perdebatan klasik antara mazhab-mazhab teologi kini menghadapi tantangan baru dalam era modern dan kontemporer. Perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika filsafat modern, globalisasi pemikiran, serta munculnya arus digitalisasi telah membentuk lanskap baru bagi perbincangan teologis.¹ Isu-isu kontemporer ini menuntut reaktualisasi, reinterpretasi, dan penguatan epistemologi klasik agar pemahaman sifat-sifat Allah tetap relevan dan membumi tanpa kehilangan landasan doktrinalnya. Dengan demikian, kajian sifat Allah pada era ini bukan hanya sebuah pembahasan metafisik, tetapi juga diskursus interdisipliner yang melibatkan filsafat, etika, linguistik, sains, dan studi budaya.

10.1.    Tantangan Antropomorfisme dan Literalisme di Era Media Digital

Salah satu isu kontemporer yang paling signifikan adalah munculnya bentuk baru antropomorfisme akibat konsumsi teks agama secara literal melalui media digital. Akses mudah terhadap sumber-sumber keagamaan membuat sebagian masyarakat memahami ayat-ayat mutasyabihat secara superfisial, misalnya tentang “tangan Allah”, “wajah Allah”, atau “bersemayam di atas ‘Arsy”.² Pemahaman literal semacam ini tidak selalu dibarengi dengan wawasan linguistik dan teologis yang memadai sehingga memunculkan kecenderungan menyamakan Allah dengan makhluk.

Fenomena ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang mempromosikan konten-konten keagamaan yang bersifat sensasional, bukan yang bersifat ilmiah.³ Tantangan ini menuntut kembali pentingnya pendekatan tafwidh dan ta’wil sesuai metodologi Asy‘ariyah dan Maturidiyah agar umat memahami teks keagamaan dengan proporsional.

10.2.    Rasionalisme Baru dan Kritik Filsafat Modern

Perkembangan filsafat modern turut menghadirkan kritik terhadap konsep sifat-sifat ketuhanan. Pemikiran filsuf seperti Feuerbach dan Nietzsche yang melihat Tuhan sebagai “proyeksi kesadaran manusia” mendorong sebagian intelektual modern untuk meragukan sifat-sifat metafisik Allah.⁴ Selain itu, filsafat analitik kontemporer mempertanyakan logika dan koherensi internal konsep ketuhanan, termasuk persoalan paradoks omnipotence dan omniscience.

Dalam konteks Islam, tantangan ini menuntut penguatan kembali argumentasi kalam klasik yang berbasis rasional. Pendekatan teologis Ibn Sina, al-Ghazali, dan al-Razi menawarkan model rekonstruksi yang mampu menjawab kritik modern dengan membedakan antara sifat Allah sebagai Wājib al-Wujūd dan sifat-sifat makhluk yang kontingen.⁵

10.3.    Sains Modern dan Relevansi Sifat-sifat Allah dalam Kosmologi

Ilmu pengetahuan modern, terutama kosmologi dan fisika, membawa tantangan sekaligus peluang bagi penguatan pemahaman sifat Allah. Teori Big Bang, mekanika kuantum, dan konsep multiversum memperluas ruang diskusi tentang penciptaan alam. Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa alam semesta mungkin muncul melalui proses fisika tanpa memerlukan “intervensi Tuhan”.⁶

Namun, dalam perspektif teologi Islam, perkembangan sains justru memperkaya pemahaman terhadap sifat qudrah dan iradah Allah. Al-Razi dan al-Ghazali sejak awal telah menekankan bahwa hubungan Allah dengan alam tidak bersifat mekanistik atau deterministik, tetapi melalui kehendak dan kuasa yang transenden.⁷ Dengan kata lain, sains modern tidak meniadakan keberadaan Allah, tetapi menyingkap lebih luas jangkauan kebijaksanaan dan kehendak-Nya dalam skema kosmik yang kompleks.

10.4.    Isu Kebahasaan: Problem Metafora dan Ketidaksetaraan Bahasa Manusia

Bahasa manusia memiliki keterbatasan dalam menggambarkan sifat-sifat Allah. Linguistik modern—melalui tokoh-tokoh seperti Wittgenstein—menekankan bahwa bahasa bekerja dalam language games tertentu, dan bahasa metafisik sering kali bersifat analogis, bukan literal.⁸ Dalam konteks Islam, hal ini menegaskan perlunya memahami sifat-sifat Allah melalui kerangka makna analogis dan simbolik (tashbīh ma‘nawī) tanpa jatuh pada penyerupaan.

Para ulama klasik, seperti al-Ghazali dan al-Jurjani, telah memberikan metodologi takwil yang selaras dengan prinsip tersebut, menekankan pentingnya memahami teks keagamaan dalam batasan linguistik yang tepat.⁹ Dalam era kontemporer, pendekatan linguistik ini menjadi semakin penting mengingat banyaknya pembacaan literal yang beredar di ruang publik digital.

10.5.    Problem Kejahatan (Theodicy) dan Sifat-sifat Allah

Masalah kejahatan dan penderitaan manusia juga menjadi isu kontemporer yang sering dipersoalkan dalam diskursus teologi. Pertanyaan seperti “Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Kuasa, mengapa ada kejahatan?” memerlukan penjelasan filosofis dan teologis yang cermat.¹⁰ Dalam tradisi Islam, para ulama seperti al-Maturidi dan Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa kejahatan bukan substansi mandiri, tetapi bagian dari ketetapan Allah yang sarat hikmah. Allah tidak menciptakan kejahatan secara sia-sia, melainkan sebagai ujian, penyebab pertumbuhan moral, atau bagian dari tatanan kosmik yang lebih besar.¹¹

Isu theodicy menegaskan kembali pentingnya pemahaman sifat iradah, hikmah, dan rahmah Allah secara integral dan tidak parsial.

10.6.    Tantangan Pluralisme Religius dan Dialog Antaragama

Dalam konteks globalisasi, diskursus mengenai sifat Allah juga bersinggungan dengan isu pluralisme religius dan dialog antaragama. Pertanyaan semacam “Apakah Tuhan dalam Islam sama dengan Tuhan dalam agama lain?” menjadi relevan dalam konteks hubungan antaragama.¹²

Sebagian teolog kontemporer berpendapat bahwa beberapa agama berbicara tentang Tuhan yang satu dalam kerangka bahasa dan tradisi yang berbeda, namun konsep sifat-sifat Allah dalam Islam memiliki keunikan pada aspek keesaan mutlak (tauhid), non-antropomorfisme, dan kemahakuasaan.¹³ Kajian ini membutuhkan pendekatan hermeneutis yang mendalam agar dialog agama tidak menghilangkan ciri khas konsep ketuhanan dalam Islam.

10.7.    Polarisasi Teologis di Era Sosial Media

Arus digital telah mempercepat penyebaran paham-paham teologi yang ekstrem, baik yang terlalu literal maupun yang terlalu rasional. Polarisasi teologis ini dapat membingungkan masyarakat awam dan menciptakan konflik sosial.¹⁴ Oleh karena itu, kajian sifat-sifat Allah perlu dikontekstualisasikan melalui pendekatan moderat yang ditawarkan oleh Asy‘ariyah-Maturidiyah, yang menjaga keseimbangan antara teks dan akal.


Kesimpulan Isu Kontemporer

Isu-isu kontemporer dalam kajian sifat Allah menunjukkan bahwa teologi Islam terus berkembang dan berinteraksi dengan tantangan modern. Pemahaman sifat-sifat Allah tidak kalah relevan dibandingkan era klasik; justru kini semakin penting untuk menjelaskan konsep ketuhanan secara rasional, kontekstual, dan moderat. Menghadapi tantangan antropomorfisme digital, kritik filsafat modern, kemajuan sains, problem bahasa, isu kejahatan, serta pluralisme agama, teologi Islam memerlukan pendekatan yang terbuka namun tetap berpegang pada fondasi doktrinal yang kuat.


Footnotes

[1]                ¹ Ebrahim Moosa, What Is a Madrasa? (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2015), 121–125.

[2]                ² Ibn Taymiyyah, Bayān Talbīs al-Jahmiyyah (Riyadh: Jami‘at al-Imam, 2005), 145–150.

[3]                ³ Gary R. Bunt, Hashtag Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2018), 33–37.

[4]                ⁴ Ludwig Feuerbach, The Essence of Christianity (New York: Harper & Row, 1957), 14–18.

[5]                ⁵ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 77–81.

[6]                ⁶ Stephen Hawking, A Brief History of Time (New York: Bantam, 1988), 55–62.

[7]                ⁷ Al-Ghazali, Tahāfut al-Falāsifah (Cairo: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, 2000), 58–64.

[8]                ⁸ Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations (Oxford: Blackwell, 2001), 19–23.

[9]                ⁹ Al-Jurjani, Sharḥ al-Mawāqif (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), 231–235.

[10]             ¹⁰ John Hick, Evil and the God of Love (London: Palgrave Macmillan, 2010), 78–82.

[11]             ¹¹ Abu Mansur al-Maturidi, Kitāb al-Tawḥīd (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), 233–239.

[12]             ¹² Diana L. Eck, A New Religious America (New York: HarperCollins, 2002), 109–114.

[13]             ¹³ Al-Faruqi, Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life (Herndon: IIIT, 1992), 33–37.

[14]             ¹⁴ Khaled Abou El Fadl, Reasoning with God (Lanham: Rowman & Littlefield, 2014), 212–218.


11.      Integrasi Pembelajaran Akidah Akhlak di MA

Integrasi pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA) merupakan proses pedagogis yang bertujuan menggabungkan aspek teologis, moral, dan spiritual secara harmonis dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Dalam konteks kajian sifat-sifat Allah—baik sifat wajib maupun sifat jaiz—integrasi ini menjadi semakin penting karena pembelajaran teologi tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berimplikasi langsung pada perilaku, cara pikir, dan orientasi hidup siswa.¹ Dengan demikian, pembelajaran sifat-sifat Allah di MA harus disajikan melalui pendekatan yang komprehensif, pedagogis, dan relevan dengan konteks kehidupan peserta didik.

11.1.    Pendekatan Holistik antara Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

Integrasi pembelajaran Akidah Akhlak menekankan keseimbangan antara tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada ranah kognitif, peserta didik mempelajari konsep sifat-sifat Allah secara sistematis dan kritis melalui pendekatan historis, teologis, dan rasional.² Pada ranah afektif, pemahaman tersebut diinternalisasi menjadi keyakinan dan sikap spiritual yang menguatkan hubungan mereka dengan Allah. Sedangkan pada ranah psikomotorik, pemahaman sifat-sifat Allah mendorong lahirnya perilaku nyata seperti kejujuran (implikasi dari sifat Allah Maha Mengetahui), disiplin (implikasi dari sifat Allah Maha Mengawasi), dan kasih sayang (implikasi dari sifat Allah Maha Penyayang).³

Pendekatan holistik ini memastikan bahwa pembelajaran tentang sifat-sifat Allah tidak berhenti pada pemahaman tekstual, melainkan menjadi fondasi etika dan spiritualitas peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

11.2.    Penguatan Kompetensi Berpikir Kritis melalui Studi Teologi Klasik

Studi sifat-sifat Allah dapat menjadi wahana penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa MA. Dengan mempelajari perdebatan teologis antar mazhab (Asy‘ariyah, Maturidiyah, Mu‘tazilah, dan Salafiyah), peserta didik dilatih untuk memahami perbedaan argumen, membandingkan metodologi, dan mengembangkan pandangan yang moderat serta ilmiah.⁴

Pendekatan kritis ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang menekankan critical thinking dan analytical skills. Selain itu, pembelajaran teologi klasik mendorong siswa untuk memahami bahwa Islam memiliki tradisi intelektual yang kaya, tidak tunggal, dan selalu terbuka terhadap argumentasi yang rasional.

11.3.    Relevansi Kontekstual dengan Tantangan Modern

Integrasi pembelajaran Akidah Akhlak juga mengharuskan guru mengaitkan kajian sifat-sifat Allah dengan isu-isu kontemporer, seperti fenomena media digital, krisis moral, pluralisme budaya, dan perkembangan sains modern.⁵ Hal ini penting agar siswa memahami bahwa sifat-sifat Allah tetap relevan dalam kehidupan modern, bukan sekadar konsep abstrak yang jauh dari realitas.

Contohnya:

·                     Sifat Basir (Maha Melihat) dapat dikaitkan dengan etika berinternet, literasi digital, dan tanggung jawab bermedia sosial.

·                     Sifat Adil dikaitkan dengan isu keadilan sosial, anti-korupsi, dan anti-bullying.

·                     Sifat Hakim (Maha Bijaksana) dikaitkan dengan etika pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik.

Integrasi konteks semacam ini mendorong peserta didik memaknai sifat-sifat Allah sebagai pedoman hidup ilmiah, etis, dan modern.

11.4.    Pendekatan Pedagogis yang Kolaboratif dan Interaktif

Pembelajaran sifat-sifat Allah idealnya menggunakan metode interaktif seperti diskusi kelas, presentasi kelompok, problem-based learning, dan analisis kasus etis.⁶ Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memproses, mendiskusikan, dan menerapkannya dalam situasi nyata.

Metode kolaboratif dapat mencakup:

·                     Analisis teks klasik secara berkelompok (misalnya syarah Aqidah al-Sanusiyyah).

·                     Simulasi etis berbasis sifat-sifat Allah (misalnya studi kasus keadilan).

·                     Debat terarah antar mazhab teologi.

Model pembelajaran seperti ini meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi dan argumentasi.

11.5.    Pembentukan Karakter melalui Keteladanan Guru

Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, sosok guru memainkan peran sentral sebagai teladan moral. Internaliasi sifat-sifat Allah tidak dapat dicapai hanya melalui penjelasan teoritis, tetapi memerlukan keteladanan nyata dari guru, seperti keadilan, kesabaran, kasih sayang, dan kejujuran.⁷

Guru berfungsi sebagai model nilai-nilai ilahiah yang hendak ditransfer kepada siswa, sehingga integrasi pembelajaran Akidah Akhlak tidak bersifat instruksional semata, tetapi transformatif.

11.6.    Penguatan Spiritualitas melalui Praktik Keagamaan

Integrasi pembelajaran juga mencakup pembiasaan ibadah yang selaras dengan pemahaman sifat-sifat Allah. Ibadah seperti salat, doa, dzikir, dan tafakur menjadi sarana untuk mendalami sifat-sifat Allah secara eksistensial.⁸ Misalnya, merenungkan sifat Ar-Rahman dalam doa dapat menguatkan empati, sedangkan merenungkan sifat Al-Qadir dalam salat dapat menguatkan optimisme spiritual.

Model pembelajaran ini membangun jembatan antara pengetahuan teologis dan pengalaman spiritual, sehingga pembelajaran bersifat menyeluruh dan bermakna.


Kesimpulan Integratif

Integrasi pembelajaran Akidah Akhlak di MA menuntut pendekatan multidimensional: teologis, etis, pedagogis, dan spiritual. Pembelajaran sifat-sifat Allah harus:

1)                  membangun kompetensi intelektual,

2)                  membentuk karakter moral,

3)                  memperkaya pengalaman ibadah, dan

4)                  relevan dengan realitas kontemporer.

Dengan pendekatan demikian, pendidikan Akidah Akhlak mampu melahirkan generasi muslim yang cerdas, berakhlak, moderat, dan memiliki keimanan yang matang serta rasional.


Footnotes

[1]                ¹ M. Amin Abdullah, Islam as a Cultural Reality (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 45–49.

[2]                ² Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2013), 33–36.

[3]                ³ Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2015), 287–291.

[4]                ⁴ Sa‘d al-Din al-Taftazani, Sharḥ al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 78–85.

[5]                ⁵ Khaled Abou El Fadl, Reasoning with God (Lanham: Rowman & Littlefield, 2014), 215–222.

[6]                ⁶ Hossein Nasr, Islamic Education: Traditional and Contemporary Models (London: Kegan Paul, 2010), 112–117.

[7]                ⁷ Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 102–104.

[8]                ⁸ Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam (New York: HarperCollins, 2002), 156–160.


12.      Sintesis dan Rekonstruksi Pemikiran

Pembahasan mengenai sifat-sifat Allah, mulai dari kategori sifat wajib—nafsiyah, salbiyah, ma‘ani, dan ma‘nawiyah—hingga sifat jaiz, membuka ruang yang luas untuk melakukan sintesis dan rekonstruksi pemikiran teologis. Sintesis ini diperlukan untuk mengintegrasikan berbagai kerangka teoretis dari mazhab-mazhab teologi klasik, sementara rekonstruksi pemikiran diperlukan untuk merespons dinamika intelektual dan tantangan modern yang muncul dalam kajian ketuhanan. Baik sintesis maupun rekonstruksi berfungsi mempertahankan keutuhan aqidah Islam sambil memberikan kedalaman filosofis dan relevansi kontekstual bagi generasi kontemporer.¹

12.1.    Sintesis Teologis: Mengharmonikan Mazhab-mazhab Kalam

Sintesis teologis berarti menyusun pemahaman terpadu dari berbagai tradisi kalam—Asy‘ariyah, Maturidiyah, Mu‘tazilah, dan Atsariyah—tanpa menegasikan identitas masing-masing mazhab. Dari Asy‘ariyah, kita mendapatkan keseimbangan antara teks dan rasio; dari Maturidiyah, kita memperoleh argumen rasional yang moderat; dari Mu‘tazilah, perhatian terhadap logika dan keesaan; dan dari Atsariyah, komitmen terhadap kesucian teks.²

Dalam kerangka sintesis, konsep sifat-sifat Allah dapat dipahami sebagai:

·                     afirmatif (seperti sifat ma‘ani),

·                     negasional (sifat salbiyah),

·                     eksistensial (sifat nafsiyah),

·                     fungsional (sifat ma‘nawiyah), dan

·                     volisional (sifat jaiz).

Penggabungan unsur-unsur ini menciptakan sebuah struktur teologis yang stabil, karena mengharmonikan aspek-aspek yang selama ini diperdebatkan: hubungan dzat-sifat, peran akal-wahyu, dan pemaknaan ayat mutasyabihat.³

Sintesis ini bukanlah upaya menyeragamkan semuanya, tetapi menyusun pemahaman yang proporsional dan komprehensif agar peserta didik mampu memandang diskursus ketuhanan secara luas dan inklusif.

12.2.    Rekonstruksi Pemikiran: Menafsirkan Sifat Allah dalam Konteks Modern

Rekonstruksi pemikiran diperlukan karena konteks sosial-keilmuan hari ini tidak sama dengan konteks ketika ulama kalam klasik menulis karya-karyanya. Tantangan modern seperti krisis moral, fenomena digital, kemajuan sains, dan pluralisme menuntut penyegaran metodologis tanpa meninggalkan dasar teologis.⁴

Rekonstruksi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara:

1)                  Pendekatan linguistik kontemporer

Konsep metafora, simbolisme, dan bahasa analogis digunakan untuk memaknai sifat-sifat Allah secara ilmiah tanpa jatuh dalam antropomorfisme. Pendekatan ini memperluas metode takwil klasik dalam kerangka linguistik modern.⁵

2)                  Penguatan rasionalitas teologis

Kajian sifat wajib dan jaiz Allah dapat dipadukan dengan epistemologi filsafat analitik dan filsafat sains guna menjawab kritik-kritik modern terkait logika omnipotensi, kejahatan, dan kehendak Ilahi.⁶

3)                  Pengayaan kosmologi teologis

Teori penciptaan yang diuraikan oleh al-Ghazali dan al-Razi dapat diperkaya dengan temuan kosmologi modern sehingga muncul relasi baru antara sains dan teologi.⁷

4)                  Penguatan dimensi aksiologis

Rekonstruksi tidak hanya berbentuk teoritis, tetapi juga praksis etis: sifat-sifat Allah menjadi sumber nilai moral yang dapat diterapkan dalam pendidikan, etika sosial, dan kehidupan publik.⁸

Dengan rekonstruksi demikian, teologi sifat-sifat Allah tetap relevan sebagai pedoman intelektual dan spiritual bagi umat Islam.

12.3.    Integrasi Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Kajian Sifat Allah

Sintesis dan rekonstruksi pemikiran menuntut integrasi antara tiga dimensi besar filsafat: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

1)                  Ontologi menegaskan bahwa Allah adalah Wājib al-Wujūd dengan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak bergantung pada apa pun.

2)                  Epistemologi menjelaskan bagaimana manusia mengetahui sifat Allah melalui gabungan harmonis antara wahyu, akal, dan bahasa.

3)                  Aksiologi memaknai sifat-sifat tersebut sebagai sumber nilai moral dan spiritual dalam kehidupan manusia.⁹

Ketiga dimensi ini memberikan landasan filosofis yang kokoh bahwa teologi Islam tidak hanya memetakan konsep ketuhanan, tetapi juga menyediakan kerangka hidup yang bernilai.

Integrasi tersebut memastikan bahwa kajian sifat Allah tidak terfragmentasi, tetapi menjadi suatu kesatuan pemahaman yang mencakup aspek konseptual, rasional, moral, dan spiritual.

12.4.    Relevansi Pendidikan: Membangun Pemahaman Teologis yang Dinamis

Dalam konteks pendidikan MA, sintesis dan rekonstruksi pemikiran memiliki nilai strategis. Peserta didik bukan hanya mempelajari sifat-sifat Allah secara hafalan, tetapi memahami kerangka besar teologinya, dinamika historisnya, serta pentingnya sifat-sifat tersebut bagi kehidupan modern.¹⁰

Oleh karena itu, guru perlu membangun kurikulum yang:

·                     menggabungkan warisan teologi klasik dengan tantangan kontemporer,

·                     menumbuhkan kemampuan argumentatif dan pemikiran kritis,

·                     memperkuat fondasi spiritual berdasarkan sifat-sifat kesempurnaan Allah, dan

·                     memupuk karakter melalui internalisasi nilai-nilai Ilahi.¹¹

Dengan demikian, pendidikan Akidah Akhlak mampu menghasilkan generasi Muslim yang tidak hanya religius secara normatif, tetapi juga cerdas, moderat, analitis, dan berakhlak mulia.


Kesimpulan Sintesis dan Rekonstruksi

Sintesis dan rekonstruksi pemikiran dalam kajian sifat-sifat Allah memungkinkan integrasi warisan klasik dengan konteks modern. Sintesis menghasilkan pemahaman terpadu yang menghargai keragaman teologis, sedangkan rekonstruksi memberikan daya hidup baru bagi teologi agar mampu merespons tantangan era kontemporer.

Melalui pendekatan ini, pemahaman sifat-sifat Allah tidak hanya menjadi ilmu normatif, tetapi juga ilmu reflektif, dialogis, dan aplikatif—menghubungkan aspek metafisik, rasional, moral, dan spiritual menjadi satu kesatuan utuh dalam pembentukan kepribadian Muslim.


Footnotes

[1]                ¹ M. Amin Abdullah, Islam as a Cultural Reality (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 57–60.

[2]                ² Richard C. Martin, Defenders of Reason in Islam (Oxford: Oneworld, 1997), 33–38.

[3]                ³ Al-Baqillani, Tamhīd al-Awā’il wa Talkhīṣ al-Dalā’il (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010), 102–105.

[4]                ⁴ Khaled Abou El Fadl, Reasoning with God (Lanham: Rowman & Littlefield, 2014), 224–229.

[5]                ⁵ Toshihiko Izutsu, God and Man in the Qur’an (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2008), 71–76.

[6]                ⁶ Alvin Plantinga, God, Freedom, and Evil (Grand Rapids: Eerdmans, 1977), 25–32.

[7]                ⁷ Fakhr al-Din al-Razi, Asās al-Taqdīs (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 98–103.

[8]                ⁸ Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University of Chicago Press, 1980), 87–91.

[9]                ⁹ Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 112–117.

[10]             ¹⁰ Nurcholish Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992), 155–160.

[11]             ¹¹ Hossein Nasr, Islamic Education: Traditional and Contemporary Models (London: Kegan Paul, 2010), 124–127.


13.      Kesimpulan

Pembahasan mengenai sifat-sifat Allah—meliputi sifat wajib (nafsiyah, salbiyah, ma‘ani, dan ma‘nawiyah) serta sifat jaiz—menunjukkan bahwa teologi Islam memiliki struktur konseptual yang kokoh, sistematis, dan mendalam. Sifat-sifat tersebut bukan sekadar konstruksi teoretis, tetapi merupakan fondasi metafisik yang menjadi dasar bagi seluruh bangunan aqidah. Pemahaman ini penting karena ia menegaskan bahwa Allah adalah Wājib al-Wujūd, Zat yang keberadaan-Nya niscaya, sempurna dalam seluruh sifat, dan bebas menentukan segala perbuatan tanpa keterikatan pada apa pun selain hikmah-Nya.¹

Kajian historis dan genealogis menunjukkan bahwa diskursus mengenai sifat-sifat Allah berkembang melalui dialog panjang antar mazhab teologi: Mu‘tazilah, Asy‘ariyah, Maturidiyah, dan Atsariyah. Masing-masing tradisi menawarkan pendekatan yang berbeda dalam memahami relasi dzat-sifat, penggunaan akal, peran wahyu, dan interpretasi terhadap ayat-ayat mutasyabihat.² Perbedaan metodologis ini bukanlah bentuk pertentangan total, tetapi merupakan dinamika intelektual yang memperkaya khazanah teologi Islam. Melalui sintesis teologis, dapat disimpulkan bahwa kajian sifat Allah membutuhkan keseimbangan antara pendekatan tekstual, rasional, dan spiritual.

Dari sisi epistemologis, kajian sifat Allah menunjukkan adanya integrasi antara wahyu sebagai sumber utama, akal sebagai alat penguatan argumentasi, dan bahasa sebagai medium pemaknaan. Pendekatan epistemologis yang seimbang memastikan bahwa teologi Islam tidak terjebak dalam rasionalisme ekstrem maupun literalisme sempit.³ Dari sisi ontologis, sifat-sifat Allah menjelaskan hakikat keberadaan-Nya sebagai Zat yang sempurna, tidak terpengaruh perubahan, tidak terdiri dari bagian-bagian, dan tidak menyerupai makhluk.⁴

Dimensi etis dan aksiologis memperlihatkan bahwa sifat-sifat Allah bukan hanya untuk diketahui tetapi juga untuk diinternalisasi sebagai nilai moral yang membentuk karakter seorang mukmin. Sifat-sifat seperti rahmah, hikmah, dan ‘adl menjadi landasan etika personal dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.⁵ Dengan demikian, teologi sifat-sifat Allah menjadi fondasi penting bagi pengembangan akhlak dan spiritualitas dalam kehidupan modern.

Dalam perspektif kontemporer, pembahasan sifat-sifat Allah berhadapan dengan tantangan baru seperti literalisme digital, kritik filsafat modern, perkembangan sains, problem bahasa, isu kejahatan, dan pluralisme agama. Tantangan ini menegaskan perlunya rekonstruksi pemikiran teologis agar tetap relevan dan responsif terhadap perubahan zaman tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar aqidah.⁶ Teologi sifat-sifat Allah harus terus dihidupkan dalam dialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya agar mampu memberikan kontribusi bagi kehidupan intelektual umat Islam.

Dalam konteks pendidikan di Madrasah Aliyah (MA), kajian sifat-sifat Allah memiliki nilai strategis dalam membentuk kemampuan intelektual, kedewasaan moral, dan kedalaman spiritual peserta didik. Pembelajaran tentang sifat-sifat Allah harus bersifat integratif—menggabungkan analisis teologis, refleksi etis, dan aplikasi praktis—agar siswa tidak sekadar memahami konsep-konsep abstrak, tetapi menjadikannya landasan hidup yang kuat.⁷

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kajian sifat-sifat Allah adalah pilar utama teologi Islam yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, etis, dan pedagogis. Kajian ini tidak hanya mengungkap hakikat ketuhanan, tetapi juga memberikan kerangka nilai dan orientasi moral yang relevan bagi kehidupan manusia. Teologi sifat-sifat Allah tetap menjadi bidang yang hidup, dinamis, dan terus berkembang, membuka ruang bagi dialog dan rekonstruksi pemikiran demi memperkuat keimanan dan membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi.


Footnotes

[1]                ¹ Ibn Sina, al-Ishārāt wa al-Tanbīhāt (Qom: Nashr al-Balaghah, 1997), 165–170.

[2]                ² Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft (Berlin: Walter de Gruyter, 1991), 71–79.

[3]                ³ Al-Ghazali, Iljām al-‘Awām ‘an ‘Ilm al-Kalām (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2008), 46–50.

[4]                ⁴ Al-Jurjani, Sharḥ al-Mawāqif (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), 216–220.

[5]                ⁵ Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 11–14.

[6]                ⁶ Khaled Abou El Fadl, Reasoning with God (Lanham: Rowman & Littlefield, 2014), 212–218.

[7]                ⁷ Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2013), 33–36.


Daftar Pustaka

Abou El Fadl, K. (2014). Reasoning with God: Reclaiming Shari‘ah in the modern age. Rowman & Littlefield.

Abu al-Hasan al-Asy‘ari. (2000). Al-Ibānah ‘an Uṣūl al-Diyānah. Al-Maktabah al-Tawfiqiyyah.

Abu al-Husayn al-Basri. (1983). Al-Mu‘tamad fī Uṣūl al-Dīn. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Abu Mansur al-Maturidi. (2007). Kitāb al-Tawḥīd. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam. ISTAC.

Al-Baqillani. (2010). Tamhīd al-Awā’il wa Talkhīṣ al-Dalā’il. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Faruqi, I. R. (1992). Al-Tawhid: Its implications for thought and life. International Institute of Islamic Thought (IIIT).

Al-Ghazali. (2000). Tahāfut al-Falāsifah. Al-Maktabah al-Tawfiqiyyah.

Al-Ghazali. (2004). Al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Ghazali. (2008). Iljām al-‘Awām ‘an ‘Ilm al-Kalām. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Ghazali. (2015). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Dar al-Ma‘rifah.

Al-Iji. (2000). Al-Mawāqif fī ‘Ilm al-Kalām. Maktabah al-Sa‘ādah.

Al-Jurjani. (1998). Sharḥ al-Mawāqif. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Nasafi. (2005). ‘Aqā’id al-Nasafī (Syarah al-Taftazani). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Razi, F. al-D. (1999). Asās al-Taqdīs. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Razi, F. al-D. (2002). Lawāmi‘ al-Bayyināt. Dar al-Fikr.

Al-Sanusi. (2010). Umm al-Barāhīn. Dar al-Salam.

Al-Taftazani, S. al-D. (2005). Sharḥ al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Amin Abdullah, M. (2006). Islam as a cultural reality. Pustaka Pelajar.

Bunt, G. R. (2018). Hashtag Islam: How cyber-Islamic environments are transforming religious authority. University of North Carolina Press.

Eck, D. L. (2002). A new religious America. HarperCollins.

Feuerbach, L. (1957). The essence of Christianity. Harper & Row.

Hawking, S. (1988). A brief history of time. Bantam Books.

Hick, J. (2010). Evil and the God of love. Palgrave Macmillan.

Ibn al-Jawzi. (2003). Daf‘ shubah al-tashbīh. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibn Fūrak. (1987). Mujarrad maqālāt Abī al-Ḥasan al-Ash‘arī. Dar al-Mashriq.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2006). Madarij al-salikin. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibn Qudamah. (1996). Lum‘at al-i‘tiqād. Dar al-Watan.

Ibn Sina. (1997). Al-Ishārāt wa al-Tanbīhāt. Nashr al-Balaghah.

Ibn Taymiyyah. (1991). Dar’ ta‘āruḍ al-‘aql wa al-naql. Jami‘at al-Imam.

Ibn Taymiyyah. (2005). Bayān talbīs al-Jahmiyyah. Jami‘at al-Imam.

Izutsu, T. (1966). Ethico-religious concepts in the Qur’an. McGill University Press.

Izutsu, T. (2008). God and man in the Qur’an. Islamic Book Trust.

Leaman, O. (1999). A brief introduction to Islamic philosophy. Polity Press.

Madjid, N. (1992). Islam: Doktrin dan peradaban. Paramadina.

Martin, R. C. (1997). Defenders of reason in Islam. Oneworld.

Moosa, E. (2015). What is a madrasa? University of North Carolina Press.

Nata, A. (2013). Akhlak tasawuf. Rajagrafindo Persada.

Plantinga, A. (1977). God, freedom, and evil. Eerdmans.

Rahman, F. (1980). Major themes of the Qur’an. University of Chicago Press.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity. University of Chicago Press.

Shahrastani, A. (2007). Al-Milal wa al-niḥal. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Van Ess, J. (1991). Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert Hidschra. Walter de Gruyter.

Wittgenstein, L. (2001). Philosophical investigations. Blackwell.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar