Sabtu, 29 November 2025

Naturalisme Etika: Fondasi Empiris Moralitas antara Fakta, Nilai, dan Ilmu Pengetahuan

Naturalisme Etika

Fondasi Empiris Moralitas antara Fakta, Nilai, dan Ilmu Pengetahuan


Alihkan ke: Filsafat Moral.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif konsep Naturalisme Etika sebagai pendekatan filosofis yang berupaya menurunkan prinsip moral dari fakta empiris dan ilmu pengetahuan. Dalam perspektif ini, moralitas tidak dipahami sebagai sistem normatif yang berdiri terpisah dari dunia alamiah, melainkan sebagai fenomena yang berakar pada kondisi biologis, psikologis, dan sosial manusia. Pembahasan mencakup dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis naturalisme, yang menegaskan bahwa nilai-nilai moral muncul secara alami dari proses evolusi, pengalaman empatik, dan rasionalitas praktis. Melalui kajian historis dari Aristoteles hingga pemikir kontemporer seperti Philippa Foot, Peter Railton, dan Patricia Churchland, artikel ini menunjukkan bagaimana naturalisme etika berevolusi dari pandangan empiris menuju paradigma interdisipliner yang mengintegrasikan filsafat moral dengan biologi evolusioner, psikologi moral, neurosains, dan sosiologi.

Selain memaparkan dasar teoretisnya, artikel ini juga menguraikan implikasi sosial, politik, dan hukum dari naturalisme etika, termasuk peranannya dalam pembentukan hukum positif, kebijakan publik berbasis bukti, serta etika lingkungan dan bioetika. Kritik terhadap naturalisme—baik dari G. E. Moore, Kantianisme, maupun eksistensialisme—dibahas secara kritis untuk menunjukkan batas-batas dan potensi reformulasi paradigma etika yang tidak terjebak dalam reduksionisme ilmiah. Melalui sintesis filosofis, artikel ini mengusulkan konsep Etika Naturalis yang Integral dan Humanistik, yaitu pendekatan etis yang memadukan dasar empiris moralitas dengan refleksi rasional dan komitmen kemanusiaan. Dengan demikian, naturalisme etika ditampilkan bukan hanya sebagai teori moral, tetapi juga sebagai visi etika abad ke-21 yang mengintegrasikan ilmu, moralitas, dan keberlanjutan hidup manusia dalam satu horizon reflektif yang terbuka dan dinamis.

Kata Kunci: naturalisme etika, fakta dan nilai, moralitas empiris, biologi evolusioner, neurosains moral, etika humanistik, integrasi ilmu dan moralitas, etika lingkungan, rasionalitas praktis, humanisme ilmiah.


PEMBAHASAN

Naturalisme Etika dalam Filsafat Modern dan Empirisisme


1.           Pendahuluan

Naturalisme etika merupakan salah satu arus pemikiran penting dalam filsafat moral modern yang berupaya menjembatani dunia fakta dan dunia nilai. Dalam paradigma ini, prinsip moral tidak dipandang sebagai entitas metafisis yang terlepas dari kenyataan empiris, melainkan sebagai hasil dari proses-proses alamiah, biologis, dan sosial yang dapat dijelaskan melalui metode ilmiah.¹ Dengan demikian, naturalisme etika menolak pemisahan tajam antara “apa yang ada” (fakta) dan “apa yang seharusnya” (nilai), suatu dikotomi yang selama berabad-abad membentuk dasar perdebatan metaetika.²

Isu utama yang menjadi titik tolak naturalisme etika adalah kemungkinan menurunkan prinsip moral dari fakta empiris. Pertanyaan ini menyinggung apa yang dikenal sebagai Humean problem, yaitu larangan untuk menurunkan pernyataan normatif dari deskriptif.³ Akan tetapi, bagi para pemikir naturalis, seperti Philippa Foot dan Richard Boyd, keberatan tersebut tidak bersifat mutlak; sebaliknya, nilai-nilai moral dapat dimaknai sebagai ekspresi rasional dari kondisi alamiah manusia yang dapat diobservasi.⁴ Dengan kata lain, kebaikan moral dapat dijelaskan melalui fakta tentang kebutuhan, kecenderungan, dan struktur sosial manusia itu sendiri.

Dalam konteks historis, naturalisme etika muncul sebagai respons terhadap dua ekstrem: di satu sisi, absolutisme moral yang mendasarkan etika pada prinsip metafisis atau teologis; di sisi lain, relativisme moral yang menolak keberadaan norma universal.⁵ Melalui pendekatan empiris, naturalisme berupaya mempertahankan objektivitas etika tanpa mengandalkan entitas transenden. Moralitas dipahami sebagai fenomena alamiah yang dapat dipelajari sebagaimana sains mempelajari hukum-hukum alam.⁶

Di era kontemporer, relevansi naturalisme etika meningkat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia, seperti biologi evolusioner, psikologi moral, dan neurosains. Ketiga bidang ini membuka kemungkinan baru untuk memahami dasar empiris tindakan moral, termasuk peran emosi, empati, dan struktur otak dalam pengambilan keputusan etis.⁷ Oleh karena itu, naturalisme etika tidak hanya menjadi proyek filosofis, tetapi juga lintas-disipliner, yang berupaya merumuskan etika berdasarkan data ilmiah sekaligus tetap mempertahankan refleksi normatif.

Masalah pokok yang hendak dijawab dalam kajian ini adalah bagaimana prinsip-prinsip moral dapat dijelaskan secara ilmiah tanpa kehilangan kekuatan normatifnya. Apakah etika dapat sepenuhnya “dinaturalisasi” tanpa jatuh pada reduksionisme moral? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntun pada eksplorasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang komprehensif mengenai hubungan antara moralitas dan fakta empiris. Tujuan utama kajian ini ialah untuk menelaah dasar-dasar filosofis naturalisme etika serta menilai potensinya dalam membentuk paradigma etika empiris yang integral dan humanistik.


Footnotes

[1]                ¹ James Rachels, The Elements of Moral Philosophy, 8th ed. (New York: McGraw-Hill, 2015), 120.

[2]                ² John Dewey, Ethics (New York: Holt, 1932), 15–18.

[3]                ³ David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1888), 469–470.

[4]                ⁴ Philippa Foot, “Moral Arguments,” Mind 67, no. 268 (1958): 502–503; Richard Boyd, “How to Be a Moral Realist,” in Essays on Moral Realism, ed. Geoffrey Sayre-McCord (Ithaca: Cornell University Press, 1988), 181–228.

[5]                ⁵ Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 131–134.

[6]                ⁶ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[7]                ⁷ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 10–15.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Naturalisme etika memiliki akar historis yang dalam, berkembang dari tradisi empirisisme modern hingga bentuk kontemporernya yang terintegrasi dengan ilmu-ilmu sosial dan biologi. Secara genealogis, ia dapat dipahami sebagai reaksi terhadap kecenderungan metafisis dan teologis dalam filsafat moral klasik yang menempatkan sumber moralitas di luar dunia pengalaman manusia.¹ Dalam konteks ini, naturalisme berupaya mengembalikan moralitas ke dalam kerangka dunia alamiah (natural world), menolak dikotomi antara “yang alami” dan “yang normatif.”

Salah satu sumber awal naturalisme etika dapat ditemukan pada pemikiran Aristoteles, terutama dalam konsep eudaimonia sebagai tujuan alami manusia yang dicapai melalui aktualisasi potensi rasional.² Meski Aristoteles belum menggunakan istilah “naturalisme,” pendekatannya telah menandai upaya memahami etika berdasarkan kodrat manusia (physis) dan bukan pada perintah eksternal. Tradisi ini kemudian menginspirasi pandangan-pandangan etika kebajikan (virtue ethics) modern yang berakar pada pemahaman empiris tentang manusia sebagai makhluk sosial dan rasional.³

Namun, naturalisme etika dalam bentuk modernnya mulai berkembang pada masa pencerahan, terutama melalui pengaruh filsafat empiris Inggris. Tokoh seperti Thomas Hobbes dan David Hume menekankan bahwa moralitas berakar pada sifat dan perasaan manusia, bukan pada hukum ilahi atau rasio murni.⁴ Hume secara khusus memainkan peran fundamental dengan memperkenalkan is–ought problem dalam A Treatise of Human Nature, di mana ia menunjukkan bahwa klaim normatif tidak dapat secara logis diturunkan langsung dari pernyataan faktual.⁵ Meskipun tampak sebagai kritik terhadap naturalisme, paradoks Hume ini justru menjadi landasan reflektif bagi generasi pemikir berikutnya untuk merumuskan bentuk naturalisme moral yang lebih hati-hati dan metodologis.

Pada abad ke-19, pengaruh Darwinisme membawa dimensi baru bagi naturalisme etika. Melalui teori evolusi, Charles Darwin memandang moralitas sebagai hasil perkembangan biologis yang memiliki fungsi adaptif bagi kelangsungan hidup spesies.⁶ Moralitas, dalam perspektif ini, bukan sekadar konstruksi sosial, melainkan produk evolusi alamiah yang muncul dari naluri sosial seperti simpati dan kerja sama.⁷ Perspektif ini kemudian melahirkan cabang kajian seperti evolutionary ethics dan sociobiology, yang berupaya menjelaskan norma moral melalui seleksi alam dan perilaku kolektif.⁸

Memasuki abad ke-20, naturalisme etika menghadapi tantangan dari G. E. Moore melalui konsep naturalistic fallacy, yakni kesalahan logis dalam mengidentifikasi “baik” dengan sifat alami tertentu seperti kesenangan atau kebahagiaan.⁹ Kritik ini mengguncang keyakinan bahwa nilai moral dapat didefinisikan secara ilmiah. Akan tetapi, pada paruh kedua abad ke-20, para filsuf seperti Philippa Foot, Peter Railton, dan Richard Boyd menghidupkan kembali naturalisme moral dengan argumen yang lebih realistis dan kontekstual.¹⁰ Mereka menolak anggapan bahwa sains dan moralitas tidak dapat saling menyinggung; sebaliknya, nilai moral dapat dipahami sebagai aspek dari kehidupan manusia yang berakar dalam kondisi empiris, biologis, dan sosial.¹¹

Genealogi naturalisme etika juga memperlihatkan pergeseran metodologis yang signifikan: dari naturalisme metafisik menuju naturalisme ilmiah.¹² Jika naturalisme klasik masih berupaya mengidentifikasi “kodrat moral” manusia secara filosofis, naturalisme kontemporer lebih menekankan peran sains empiris dalam menjelaskan fenomena moral. Integrasi antara filsafat moral, psikologi evolusioner, dan neurosains membuka horizon baru bagi kajian etika yang bersifat interdisipliner.¹³ Dalam perkembangan ini, naturalisme etika tidak hanya menjadi doktrin filosofis, tetapi juga proyek epistemologis yang menuntut keterpaduan antara penalaran normatif dan pemahaman ilmiah tentang manusia.

Dengan demikian, secara historis naturalisme etika berkembang melalui tiga fase utama: (1) fase klasik yang menempatkan moralitas dalam kodrat manusia; (2) fase modern yang menekankan asal-usul empiris dan emosional moralitas; dan (3) fase kontemporer yang menautkan etika dengan metodologi ilmiah dan data empiris.¹⁴ Setiap fase merefleksikan upaya manusia untuk memahami moralitas bukan sebagai entitas metafisis yang absolut, melainkan sebagai fenomena alamiah yang dapat dijelaskan, dipelajari, dan dikembangkan dalam terang ilmu pengetahuan.


Footnotes

[1]                ¹ Larry Laudan, Beyond Positivism and Relativism: Theory, Method, and Evidence (Boulder: Westview Press, 1996), 37–39.

[2]                ² Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett, 1985), 1097b–1103a.

[3]                ³ Rosalind Hursthouse, On Virtue Ethics (Oxford: Oxford University Press, 1999), 12–14.

[4]                ⁴ Thomas Hobbes, Leviathan (London: Andrew Crooke, 1651), 94–98.

[5]                ⁵ David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1888), 469.

[6]                ⁶ Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–122.

[7]                ⁷ Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Basil Blackwell, 1986), 42–44.

[8]                ⁸ Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 3–5.

[9]                ⁹ G. E. Moore, Principia Ethica (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 10–14.

[10]             ¹⁰ Philippa Foot, “Natural Goodness,” Oxford Studies in Metaethics 2 (2006): 1–27; Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[11]             ¹¹ Richard Boyd, “How to Be a Moral Realist,” in Essays on Moral Realism, ed. Geoffrey Sayre-McCord (Ithaca: Cornell University Press, 1988), 181–228.

[12]             ¹² Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 29–33.

[13]             ¹³ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 16–20.

[14]             ¹⁴ Robert Audi, The Architecture of Reason: The Structure and Substance of Rationality (Oxford: Oxford University Press, 2001), 145–148.


3.           Ontologi Naturalisme Etika

Ontologi naturalisme etika berfokus pada pertanyaan mengenai hakikat keberadaan moralitas: apakah nilai-nilai moral merupakan bagian dari realitas alam atau sekadar konstruksi kesadaran manusia? Dalam pandangan naturalistik, moralitas tidak dipahami sebagai entitas transenden yang berdiri di luar dunia empiris, melainkan sebagai fenomena yang berakar dalam struktur realitas alamiah, terutama dalam kodrat biologis, psikologis, dan sosial manusia.¹ Dengan demikian, naturalisme etika menolak dualisme ontologis antara dunia moral dan dunia faktual; yang ada hanyalah dunia alam yang memuat fakta-fakta moral sebagaimana fakta-fakta fisik atau biologis.²

Bagi para pemikir naturalis, seperti Peter Railton dan Richard Boyd, nilai-nilai moral memiliki status ontologis yang bersifat realistik-naturalistik.³ Mereka berpendapat bahwa kebaikan moral dapat diidentifikasi dengan kondisi-kondisi yang secara objektif berkontribusi terhadap kesejahteraan manusia, sebagaimana kesehatan dapat dijelaskan melalui fakta biologis.⁴ Nilai-nilai seperti keadilan, kebaikan, dan empati bukanlah “entitas metafisis,” tetapi kualitas yang muncul dari interaksi antarindividu dalam sistem kehidupan sosial dan biologis. Dalam pengertian ini, moralitas memiliki dasar ontologis yang bersifat emergen — muncul dari kompleksitas hubungan alamiah manusia, bukan dari tatanan metafisik yang berdiri sendiri.⁵

Pandangan ini berbeda dari non-naturalisme moral yang menganggap sifat moral seperti “baik” atau “benar” sebagai entitas sui generis yang tak dapat direduksi pada fakta-fakta alamiah.⁶ Naturalisme etika justru menegaskan bahwa seluruh eksistensi moral harus dipahami dalam kerangka hukum-hukum alam. Dengan demikian, segala penjelasan etis pada akhirnya bergantung pada struktur realitas empiris, terutama pada cara manusia berevolusi, berinteraksi, dan membangun kehidupan bersama.⁷ Moralitas, dalam perspektif ini, adalah bagian dari ontologi dunia yang bersifat dinamis dan evolutif, bukan tatanan yang tetap dan apriori.

Dalam kerangka biologis, moralitas dipandang sebagai hasil seleksi alam yang menfasilitasi kohesi sosial dan kelangsungan hidup spesies.⁸ Insting seperti kerja sama, empati, dan keadilan muncul bukan karena wahyu normatif, tetapi karena fungsi adaptifnya dalam mempertahankan komunitas.⁹ Pandangan ini ditegaskan oleh Charles Darwin yang menyatakan bahwa “naluri sosial” merupakan akar dari perasaan moral, sebab manusia yang hidup berkelompok lebih mungkin bertahan dan berkembang.¹⁰ Oleh sebab itu, ontologi moral menurut naturalisme bukanlah sistem hukum transenden, melainkan bagian dari continuum biologis dan psikologis kehidupan manusia.

Namun, naturalisme etika tidak sekadar menurunkan moralitas dari biologi; ia juga mencakup aspek rasionalitas dan kesadaran reflektif yang khas pada manusia.¹¹ Patricia Churchland misalnya, menunjukkan bahwa otak manusia memiliki sistem saraf sosial yang memungkinkan munculnya kepekaan moral dan perilaku prososial.¹² Dengan kata lain, moralitas memiliki dasar ontologis pada neurobiologi manusia, tetapi terwujud melalui kesadaran dan kebudayaan. Moralitas bukan hanya “hasil evolusi,” melainkan juga “struktur kesadaran” yang berkembang dalam konteks sosial dan historis.¹³

Dari sudut pandang ontologis, naturalisme etika juga memandang nilai moral sebagai natural property — sifat alami yang memiliki relasi kausal terhadap dunia.¹⁴ Nilai-nilai tersebut bukan sekadar proyeksi subyektif, tetapi fakta tentang apa yang membuat manusia dan masyarakat berfungsi dengan baik. Dalam hal ini, “baik” dapat diartikan sebagai apa yang memajukan kehidupan manusia sesuai dengan hakikat biologis dan sosialnya.¹⁵ Dengan demikian, naturalisme etika berusaha memulihkan realitas moral dalam dunia empiris, tanpa mengorbankan status objektif dan normatifnya.

Keseluruhan pandangan ini menunjukkan bahwa ontologi naturalisme etika menegaskan kesatuan antara manusia, alam, dan moralitas. Moralitas adalah dimensi eksistensi yang bersumber dari fakta alamiah tentang manusia sebagai makhluk biologis yang rasional dan sosial.¹⁶ Ia tidak muncul dari wilayah supranatural, melainkan dari dinamika kehidupan nyata yang dapat dipahami, diuji, dan dijelaskan secara ilmiah. Oleh karena itu, ontologi naturalisme etika menempatkan moralitas dalam satu kontinum realitas empiris yang rasional, evolusioner, dan terbuka terhadap koreksi ilmiah.¹⁷


Footnotes

[1]                ¹ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 3–5.

[2]                ² John Dewey, Experience and Nature (Chicago: Open Court, 1925), 7–10.

[3]                ³ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[4]                ⁴ Richard Boyd, “How to Be a Moral Realist,” in Essays on Moral Realism, ed. Geoffrey Sayre-McCord (Ithaca: Cornell University Press, 1988), 181–228.

[5]                ⁵ John McDowell, “Values and Secondary Qualities,” in Morality and Objectivity, ed. Ted Honderich (London: Routledge, 1985), 110–129.

[6]                ⁶ G. E. Moore, Principia Ethica (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 12–15.

[7]                ⁷ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 31–34.

[8]                ⁸ Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Basil Blackwell, 1986), 56–58.

[9]                ⁹ Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 120–125.

[10]             ¹⁰ Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–122.

[11]             ¹¹ Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 22–26.

[12]             ¹² Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 10–12.

[13]             ¹³ Antonio Damasio, Looking for Spinoza: Joy, Sorrow, and the Feeling Brain (New York: Harcourt, 2003), 128–130.

[14]             ¹⁴ Nicholas Sturgeon, “Moral Explanations,” in Morality, Reason, and Truth, ed. David Copp and David Zimmerman (Totowa: Rowman & Allanheld, 1984), 49–78.

[15]             ¹⁵ Philippa Foot, Natural Goodness (Oxford: Oxford University Press, 2001), 42–45.

[16]             ¹⁶ Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 95–99.

[17]             ¹⁷ Ernest Nagel, The Structure of Science: Problems in the Logic of Scientific Explanation (New York: Harcourt, 1961), 475–480.


4.           Epistemologi Naturalisme Etika

Epistemologi naturalisme etika berangkat dari keyakinan bahwa pengetahuan moral dapat dijelaskan melalui metode dan sumber empiris yang sama dengan sains alam maupun ilmu sosial.¹ Artinya, pengetahuan tentang “yang baik” dan “yang benar” bukan berasal dari intuisi metafisis atau rasio apriori semata, tetapi dari pengamatan terhadap fakta-fakta tentang sifat manusia, perilaku sosial, dan kondisi kehidupan yang mendukung kesejahteraan.² Dalam perspektif ini, moralitas tidak bersumber dari wahyu atau nalar murni yang terlepas dari pengalaman, melainkan dari interaksi kompleks antara struktur biologis, pengalaman sosial, dan refleksi rasional manusia.³

Berbeda dengan rasionalisme moral Kantian yang menegaskan bahwa prinsip moral bersifat a priori dan independen dari pengalaman, naturalisme etika justru menganggap bahwa pengalaman empiris merupakan dasar pembentukan penilaian moral.⁴ Manusia belajar tentang baik dan buruk melalui pengamatan terhadap konsekuensi tindakan, respon emosional, serta pengaruh perilaku terhadap kesejahteraan individu dan kelompok.⁵ Proses pembelajaran moral ini tidak berbeda secara epistemik dari pembentukan pengetahuan ilmiah: keduanya melibatkan observasi, generalisasi, dan verifikasi terhadap pola-pola dalam realitas.⁶

David Hume, meskipun sering dianggap sebagai pengkritik utama naturalisme etika melalui is–ought problem, sebenarnya membuka jalan bagi pendekatan empiris terhadap moralitas.⁷ Ia menegaskan bahwa penilaian moral berasal dari perasaan manusia (moral sentiments), bukan dari penalaran deduktif.⁸ Dalam hal ini, moralitas bersumber dari kapasitas alami untuk merasakan simpati dan empati, yang dapat dipelajari secara empiris melalui psikologi dan neurosains modern.⁹ Dengan demikian, epistemologi moral naturalistik menekankan bahwa perasaan dan pengalaman emosional bukan sekadar faktor subjektif, tetapi bagian integral dari pengetahuan moral yang bersifat intersubjektif dan dapat diuji.¹⁰

Perkembangan ilmu pengetahuan modern memperluas dasar empiris naturalisme etika. Psikologi moral menunjukkan bahwa norma-norma etis berakar pada disposisi evolusioner manusia terhadap kerja sama, timbal balik, dan keadilan.¹¹ Melalui eksperimen kognitif, peneliti seperti Jonathan Haidt mengidentifikasi moral foundations—yakni dimensi-dimensi psikologis universal seperti kepedulian, keadilan, kesetiaan, otoritas, dan kesucian—yang membentuk sistem nilai moral lintas budaya.¹² Pengetahuan moral, dalam pandangan ini, bukanlah hasil dari deduksi logis semata, tetapi dari pengenalan pola dan pengalaman sosial yang berulang, sebagaimana metode induktif dalam sains.¹³

Dalam dimensi epistemologisnya, naturalisme etika juga menolak dikotomi klasik antara fakta dan nilai. Hilary Putnam menegaskan bahwa pernyataan nilai tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari fakta karena penilaian moral selalu melibatkan pemahaman tentang kondisi empiris yang relevan.¹⁴ Misalnya, mengatakan bahwa “keadilan itu baik” memerlukan pengetahuan tentang apa yang terjadi ketika keadilan ditegakkan atau diabaikan. Dengan demikian, epistemologi moral melibatkan penilaian faktual mengenai konsekuensi tindakan, yang menjadi dasar bagi pembentukan prinsip etis.¹⁵

Lebih lanjut, Patricia Churchland memperluas argumen epistemologis ini dengan menunjukkan bahwa moralitas dapat ditelusuri secara neurobiologis.¹⁶ Otak manusia memiliki sistem saraf yang mendukung perilaku sosial melalui hormon seperti oksitosin dan dopamin yang memperkuat hubungan afektif dan rasa saling percaya.¹⁷ Pengetahuan moral, dalam kerangka ini, merupakan hasil interaksi antara mekanisme biologis dan pengalaman sosial, bukan hasil deduksi rasional murni.¹⁸ Dengan demikian, epistemologi naturalisme etika bersifat embodied dan situated—ia lahir dari tubuh yang bereaksi, otak yang berpikir, dan dunia sosial tempat manusia hidup.¹⁹

Namun demikian, naturalisme etika tetap mempertahankan dimensi reflektif dalam epistemologi moral. Fakta empiris tidak secara otomatis menghasilkan norma; diperlukan proses interpretasi, deliberasi, dan evaluasi kritis terhadap data empiris tersebut.²⁰ Di sinilah peran filsafat menjadi penting: untuk menafsirkan hasil sains secara normatif tanpa mereduksi moralitas menjadi sekadar statistik perilaku.²¹ Oleh sebab itu, epistemologi naturalisme etika bersifat ganda—empiris sekaligus reflektif. Ia menggunakan metode ilmiah untuk memahami realitas moral, namun tetap mengakui perlunya rasionalitas praktis dalam menilai nilai-nilai tersebut.²²

Kesimpulannya, epistemologi naturalisme etika berusaha menunjukkan bahwa pengetahuan moral dapat bersandar pada landasan empiris yang dapat diuji, dikoreksi, dan dikembangkan, tanpa kehilangan dimensi normatifnya.²³ Dengan menolak pemisahan tajam antara fakta dan nilai, naturalisme etika membuka ruang bagi integrasi antara sains dan moralitas, di mana pemahaman tentang “apa yang ada” menjadi dasar bagi refleksi rasional tentang “apa yang seharusnya.”²⁴


Footnotes

[1]                ¹ Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 23–25.

[2]                ² John Dewey, Human Nature and Conduct: An Introduction to Social Psychology (New York: Henry Holt, 1922), 5–8.

[3]                ³ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 9–10.

[4]                ⁴ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. H. J. Paton (New York: Harper and Row, 1964), 41–43.

[5]                ⁵ Philippa Foot, Natural Goodness (Oxford: Oxford University Press, 2001), 44–47.

[6]                ⁶ Ernest Nagel, The Structure of Science: Problems in the Logic of Scientific Explanation (New York: Harcourt, 1961), 473–475.

[7]                ⁷ David Hume, A Treatise of Human Nature, ed. L. A. Selby-Bigge (Oxford: Clarendon Press, 1888), 469–470.

[8]                ⁸ Ibid., 471–472.

[9]                ⁹ Jesse Prinz, The Emotional Construction of Morals (Oxford: Oxford University Press, 2007), 32–35.

[10]             ¹⁰ Patricia Greenspan, “Emotions, Rationality, and Mind/Body,” Philosophical Topics 27, no. 2 (1999): 125–129.

[11]             ¹¹ Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 15–18.

[12]             ¹² Jonathan Haidt, The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (New York: Pantheon Books, 2012), 120–124.

[13]             ¹³ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 18–20.

[14]             ¹⁴ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 34–38.

[15]             ¹⁵ John Searle, “How to Derive ‘Ought’ from ‘Is’,” The Philosophical Review 73, no. 1 (1964): 43–58.

[16]             ¹⁶ Patricia S. Churchland, Braintrust, 21–25.

[17]             ¹⁷ Antonio Damasio, Looking for Spinoza: Joy, Sorrow, and the Feeling Brain (New York: Harcourt, 2003), 130–134.

[18]             ¹⁸ Adina Roskies, “Neuroscientific Challenges to Free Will and Responsibility,” Trends in Cognitive Sciences 10, no. 9 (2006): 419–424.

[19]             ¹⁹ Evan Thompson, Mind in Life: Biology, Phenomenology, and the Sciences of Mind (Cambridge: Harvard University Press, 2007), 98–102.

[20]             ²⁰ Christine Korsgaard, The Sources of Normativity (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 16–18.

[21]             ²¹ Peter Railton, “Facts and Values,” Philosophical Topics 14, no. 2 (1986): 5–31.

[22]             ²² Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 97–99.

[23]             ²³ John McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” in Mind, Value, and Reality (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 167–196.

[24]             ²⁴ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 45–47.


5.           Aksiologi dan Implikasi Etis

Aksiologi naturalisme etika berupaya menjelaskan bagaimana nilai-nilai moral memperoleh makna dan validitasnya dari kenyataan empiris kehidupan manusia. Dalam kerangka ini, “nilai” bukanlah entitas metafisis yang berdiri di luar pengalaman, melainkan ekspresi dari kondisi-kondisi yang memungkinkan kehidupan manusia berkembang secara optimal.¹ Dengan demikian, kebaikan moral diidentifikasi dengan apa yang mendukung kesejahteraan biologis, psikologis, dan sosial makhluk manusia, sedangkan keburukan berhubungan dengan apa yang menghambat atau merusaknya.² Naturalisme etika, karena itu, tidak menolak normativitas, tetapi menempatkannya pada dasar empiris yang dapat ditelusuri dan diuji.³

Dalam pandangan ini, nilai moral merupakan bentuk evaluasi terhadap realitas yang bertujuan memelihara keseimbangan kehidupan manusia sebagai makhluk alamiah. Peter Railton berpendapat bahwa nilai etis dapat dipahami sebagai ideal of rational desire, yaitu kondisi di mana keinginan rasional manusia selaras dengan fakta-fakta tentang kebutuhan aktualnya.⁴ Artinya, apa yang dianggap baik adalah apa yang, dalam kondisi ideal, seseorang yang memiliki pengetahuan sempurna tentang dirinya dan dunia akan secara rasional kehendaki.⁵ Dengan cara ini, naturalisme etika tidak menghapus dimensi normatif, melainkan menurunkannya dari fakta tentang fungsi dan tujuan kehidupan manusia sebagaimana dipelajari secara ilmiah.⁶

Philippa Foot memperkuat pendekatan ini dengan konsep “natural goodness,” yang menyatakan bahwa kebaikan moral memiliki status serupa dengan kebaikan biologis.⁷ Seperti halnya “tumbuhan yang baik” berarti tumbuhan yang berfungsi dengan baik sesuai jenisnya, demikian pula “manusia yang baik” berarti manusia yang berhasil mengaktualkan kapasitas khasnya sebagai makhluk rasional dan sosial.⁸ Dengan demikian, ukuran moralitas bersifat objektif sejauh didasarkan pada fakta tentang kodrat manusia yang dapat diamati dan dipahami. Moralitas menjadi bagian dari upaya manusia untuk hidup “baik secara alami,” bukan sekadar mematuhi aturan eksternal.⁹

Aksiologi naturalisme etika juga menegaskan bahwa kebahagiaan (well-being) memiliki dimensi empiris dan kolektif. Kebaikan bukan hanya kepuasan subjektif, tetapi kondisi yang mendukung kesejahteraan berkelanjutan bagi individu dan masyarakat.¹⁰ Melalui pendekatan ini, naturalisme etika beririsan dengan consequentialism dan virtue ethics, karena keduanya menilai tindakan berdasarkan hasil empirisnya terhadap kehidupan nyata.¹¹ Namun berbeda dengan utilitarianisme klasik yang cenderung reduksionistik, naturalisme etika memahami kesejahteraan tidak semata sebagai akumulasi kesenangan, melainkan sebagai ekspresi harmoni biologis, sosial, dan moral manusia.¹²

Implikasi etis dari pandangan ini bersifat luas. Pertama, ia mengubah cara kita memahami kewajiban moral: bukan lagi sebagai perintah eksternal, tetapi sebagai tuntutan internal dari kondisi manusia itu sendiri.¹³ Kewajiban moral muncul karena manusia secara alami merupakan makhluk yang membutuhkan kerja sama, empati, dan keadilan agar dapat bertahan hidup.¹⁴ Kedua, naturalisme etika mendorong etika yang bersifat situated dan kontekstual—norma moral tidak bersifat absolut, tetapi harus diuji melalui konsekuensi empirisnya terhadap kesejahteraan manusia dan ekosistem.¹⁵

Ketiga, naturalisme etika berimplikasi pada peninjauan kembali hubungan antara etika dan sains. Jika nilai moral dapat diturunkan dari pemahaman ilmiah tentang manusia dan masyarakat, maka sains tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga normatif dalam arti fungsional.¹⁶ Biologi, psikologi, dan ekologi menjadi bagian dari refleksi etis, sebab memahami bagaimana manusia hidup dan berkembang berarti memahami apa yang membuat hidup itu baik.¹⁷ Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan menjadi dasar bagi ethics of flourishing—etika yang berorientasi pada pengembangan kapasitas hidup, bukan sekadar kepatuhan terhadap hukum moral.¹⁸

Keempat, naturalisme etika menekankan pentingnya solidaritas sosial sebagai nilai empiris yang berakar pada struktur biologis manusia. Edward O. Wilson dan Frans de Waal menunjukkan bahwa perilaku altruistik dan empatik memiliki dasar evolusioner yang kuat dalam spesies sosial.¹⁹ Dengan demikian, nilai-nilai seperti keadilan dan kasih sayang tidak hanya ideal moral, tetapi juga fakta biologis yang mendukung keberlangsungan spesies. Moralitas, dalam pengertian ini, adalah ekspresi dari mekanisme evolusi yang disadari dan diartikulasikan secara reflektif.²⁰

Namun, konsekuensi aksiologis ini juga menimbulkan tantangan. Jika nilai moral bersifat alamiah, apakah ia masih dapat menjadi dasar bagi kritik terhadap “apa yang ada”?²¹ Naturalisme etika harus berhati-hati agar tidak jatuh pada naturalistic fallacy—yakni menganggap bahwa apa yang alami selalu baik.²² Oleh sebab itu, aksiologi naturalisme etika menuntut keseimbangan antara penerimaan terhadap realitas empiris dan kapasitas reflektif manusia untuk menilai dan memperbaikinya.²³ Moralitas bukanlah sekadar cermin dari alam, melainkan bentuk kesadaran yang mengarahkan alam menuju nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi.²⁴

Dengan demikian, aksiologi naturalisme etika menegaskan bahwa nilai moral memiliki basis empiris tanpa kehilangan dimensi normatifnya. Ia berupaya membangun etika yang tidak terlepas dari kehidupan nyata—etika yang menyatukan ilmu pengetahuan, kebijaksanaan praktis, dan kepedulian terhadap keberlanjutan hidup.²⁵


Footnotes

[1]                ¹ John Dewey, Experience and Nature (Chicago: Open Court, 1925), 7–10.

[2]                ² Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 95–99.

[3]                ³ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 37–40.

[4]                ⁴ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[5]                ⁵ Ibid., 175–176.

[6]                ⁶ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 15–18.

[7]                ⁷ Philippa Foot, Natural Goodness (Oxford: Oxford University Press, 2001), 39–43.

[8]                ⁸ Ibid., 45–48.

[9]                ⁹ Rosalind Hursthouse, On Virtue Ethics (Oxford: Oxford University Press, 1999), 22–24.

[10]             ¹⁰ Martha Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 30–33.

[11]             ¹¹ Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 58–62.

[12]             ¹² Bernard Williams, Ethics and the Limits of Philosophy (Cambridge: Harvard University Press, 1985), 121–123.

[13]             ¹³ John McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” in Mind, Value, and Reality (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 179–181.

[14]             ¹⁴ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 27–30.

[15]             ¹⁵ Jonathan Dancy, Ethics without Principles (Oxford: Clarendon Press, 2004), 12–15.

[16]             ¹⁶ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 45–49.

[17]             ¹⁷ Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 312–315.

[18]             ¹⁸ Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 23–26.

[19]             ¹⁹ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 243–247; Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 15–18.

[20]             ²⁰ Michael Tomasello, A Natural History of Human Morality (Cambridge: Harvard University Press, 2016), 50–54.

[21]             ²¹ Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 131–134.

[22]             ²² G. E. Moore, Principia Ethica (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 10–14.

[23]             ²³ John McDowell, Mind and World (Cambridge: Harvard University Press, 1994), 85–89.

[24]             ²⁴ Owen Flanagan and Gregg D. Caruso, “Neuroexistentialism,” in Neuroexistentialism: Meaning, Morals, and Purpose in the Age of Neuroscience (Oxford: Oxford University Press, 2018), 17–20.

[25]             ²⁵ Martha Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 76–80.


6.           Dimensi Sosial, Politik, dan Hukum

Naturalisme etika tidak hanya berfungsi sebagai teori metaetika yang membahas asal-usul dan hakikat moralitas, tetapi juga memiliki implikasi luas terhadap struktur sosial, politik, dan hukum. Dalam konteks sosial, naturalisme menegaskan bahwa moralitas adalah fenomena alamiah yang muncul dari kebutuhan manusia untuk hidup bersama secara kooperatif.¹ Moralitas bukanlah kontrak buatan atau dogma eksternal, melainkan mekanisme adaptif yang berkembang untuk menjaga kohesi dan stabilitas komunitas.² Oleh karena itu, norma-norma sosial dan institusi politik yang adil harus dipahami sebagai ekspresi dari kondisi-kondisi alamiah kehidupan sosial manusia.

Dalam dimensi sosial, pandangan ini berakar pada teori evolusi moral yang dikembangkan oleh Charles Darwin dan dilanjutkan oleh Edward O. Wilson serta Frans de Waal.³ Mereka menunjukkan bahwa kerja sama, keadilan, dan empati memiliki dasar biologis yang kuat sebagai strategi evolusioner untuk bertahan hidup.⁴ Dengan demikian, prinsip moral seperti “keadilan sosial” dan “solidaritas” bukan sekadar konstruksi kultural, tetapi manifestasi dari mekanisme sosial alami yang telah berfungsi selama sejarah spesies manusia.⁵ Dalam kerangka ini, masyarakat dipandang sebagai organisme moral yang berkembang melalui interaksi, empati, dan timbal balik (reciprocity).⁶

Secara politik, naturalisme etika menolak dikotomi klasik antara “hukum alam” dan “hukum positif.” Bagi para pemikir naturalistik, tatanan politik yang baik tidak dapat dilepaskan dari fakta tentang kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan rasional.⁷ Pemerintahan yang adil harus disusun dengan memperhatikan kondisi empiris tentang kebutuhan manusia dan lingkungan sosialnya.⁸ Pendekatan ini sejalan dengan gagasan political naturalism yang dikembangkan John Dewey, yang menegaskan bahwa demokrasi merupakan ekspresi alami dari dorongan manusia untuk berpartisipasi dan berkolaborasi dalam kehidupan bersama.⁹ Demokrasi, dengan demikian, bukanlah sistem buatan, melainkan kelanjutan logis dari kecenderungan alami manusia untuk berkomunikasi dan menyelesaikan konflik secara rasional.¹⁰

Dari perspektif hukum, naturalisme etika menawarkan landasan moral yang empiris bagi legitimasi norma hukum. Jika nilai moral berakar pada kondisi nyata kehidupan manusia, maka hukum yang sah adalah hukum yang mampu merepresentasikan kebutuhan dan kesejahteraan sosial tersebut.¹¹ Dengan kata lain, validitas hukum bergantung pada kemampuannya untuk mencerminkan fakta-fakta moral empiris tentang keadilan, bukan pada otoritas formal semata.¹² Peter Railton menegaskan bahwa dalam kerangka naturalistik, norma hukum harus dapat diuji secara empiris melalui konsekuensinya terhadap kesejahteraan manusia dan stabilitas sosial.¹³ Ini berarti bahwa hukum yang “baik” adalah hukum yang efektif dalam memajukan kehidupan manusia sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk sosial.¹⁴

Pendekatan ini memiliki kedekatan dengan teori keadilan Amartya Sen dan Martha Nussbaum yang menekankan capabilities approach, yaitu pandangan bahwa keadilan harus diukur dari sejauh mana sistem sosial dan hukum memungkinkan manusia mengembangkan kapasitas dasarnya.¹⁵ Perspektif ini bersifat naturalistik karena berangkat dari fakta empiris tentang kebutuhan dan potensi manusia yang dapat diobservasi, bukan dari ide normatif abstrak.¹⁶ Dengan demikian, keadilan tidak lagi dipahami sebagai prinsip metafisis, tetapi sebagai fungsi sosial yang empiris dan kontekstual.

Dalam konteks kebijakan publik, naturalisme etika juga mendorong evidence-based ethics, yakni pendekatan moral yang didasarkan pada data empiris tentang dampak kebijakan terhadap kesejahteraan manusia.¹⁷ Misalnya, kebijakan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan dapat dinilai secara etis berdasarkan sejauh mana ia meningkatkan kemampuan adaptif dan kesejahteraan kolektif masyarakat.¹⁸ Dengan cara ini, dimensi etika, politik, dan hukum saling berkaitan melalui prinsip rasionalitas empiris: kebenaran normatif harus diuji melalui konsekuensi nyata dalam kehidupan sosial.¹⁹

Namun, naturalisme etika juga menyadari bahaya reduksionisme dalam penerapannya pada ranah sosial-politik.²⁰ Tidak semua fakta sosial dapat langsung diterjemahkan menjadi norma hukum, karena setiap sistem sosial memiliki kompleksitas nilai dan konteks budaya yang unik.²¹ Hilary Putnam menekankan bahwa meskipun fakta dan nilai saling berhubungan, hubungan tersebut bersifat interpretatif dan memerlukan deliberasi publik.²² Dengan demikian, naturalisme etika tidak meniadakan perdebatan moral, melainkan menyediakan kerangka empiris bagi dialog sosial dan politik yang lebih rasional serta terbuka terhadap koreksi.²³

Akhirnya, dalam bidang hukum dan politik, naturalisme etika mendorong orientasi humanistik: norma sosial dan hukum harus dipandang sebagai sarana untuk mengembangkan potensi manusia secara alami.²⁴ Dengan mengakui dasar empiris moralitas, naturalisme etika membuka ruang bagi reformasi sosial dan politik yang lebih ilmiah namun tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.²⁵ Ia menegaskan bahwa keadilan bukanlah ideal metafisis yang statis, melainkan proses hidup yang terus menyesuaikan diri dengan pengetahuan empiris baru tentang manusia dan masyarakat.²⁶


Footnotes

[1]                ¹ John Dewey, Human Nature and Conduct: An Introduction to Social Psychology (New York: Henry Holt, 1922), 15–18.

[2]                ² Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 25–27.

[3]                ³ Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–123.

[4]                ⁴ Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 120–125.

[5]                ⁵ Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 12–15.

[6]                ⁶ Michael Tomasello, A Natural History of Human Morality (Cambridge: Harvard University Press, 2016), 50–53.

[7]                ⁷ Larry Arnhart, Darwinian Natural Right: The Biological Ethics of Human Nature (Albany: SUNY Press, 1998), 27–30.

[8]                ⁸ John Rawls, Political Liberalism (New York: Columbia University Press, 1993), 25–26.

[9]                ⁹ John Dewey, The Public and Its Problems (New York: Henry Holt, 1927), 143–145.

[10]             ¹⁰ Hilary Putnam, Ethics without Ontology (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 49–52.

[11]             ¹¹ Philippa Foot, Natural Goodness (Oxford: Oxford University Press, 2001), 72–75.

[12]             ¹² Robert Audi, The Architecture of Reason: The Structure and Substance of Rationality (Oxford: Oxford University Press, 2001), 145–148.

[13]             ¹³ Peter Railton, “Facts and Values,” Philosophical Topics 14, no. 2 (1986): 6–8.

[14]             ¹⁴ Ibid., 9–10.

[15]             ¹⁵ Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 58–62; Martha Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 30–33.

[16]             ¹⁶ Nussbaum, Creating Capabilities, 34–36.

[17]             ¹⁷ Julian Savulescu, Ethics and Evidence-Based Medicine (Oxford: Oxford University Press, 2003), 10–12.

[18]             ¹⁸ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 45–47.

[19]             ¹⁹ Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 97–99.

[20]             ²⁰ Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 131–134.

[21]             ²¹ Martha Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 76–80.

[22]             ²² Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 34–38.

[23]             ²³ John McDowell, Mind and World (Cambridge: Harvard University Press, 1994), 85–89.

[24]             ²⁴ Owen Flanagan and Gregg D. Caruso, “Neuroexistentialism,” in Neuroexistentialism: Meaning, Morals, and Purpose in the Age of Neuroscience (Oxford: Oxford University Press, 2018), 17–20.

[25]             ²⁵ Peter Singer, Practical Ethics, 3rd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2011), 35–39.

[26]             ²⁶ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 245–247.


7.           Dimensi Ilmiah dan Interdisipliner

Naturalisme etika menempati posisi unik dalam lanskap filsafat moral kontemporer karena berusaha menjembatani antara refleksi etis dan pengetahuan ilmiah. Ia menolak dikotomi tradisional antara moralitas sebagai ranah normatif dan sains sebagai ranah deskriptif, dengan berargumen bahwa keduanya saling melengkapi dalam menjelaskan dan menilai perilaku manusia.¹ Dengan demikian, naturalisme etika membuka jalan bagi pendekatan interdisipliner yang melibatkan biologi evolusioner, psikologi moral, neurosains, antropologi, hingga ekologi.² Melalui sinergi ini, etika dipahami tidak hanya sebagai wacana normatif, tetapi juga sebagai hasil dari proses kognitif, sosial, dan biologis yang dapat dipelajari secara empiris.

7.1.       Biologi Evolusioner dan Asal-usul Moralitas

Kajian ilmiah tentang moralitas menemukan dasar kuatnya dalam biologi evolusioner. Charles Darwin dalam The Descent of Man menyatakan bahwa moralitas adalah hasil seleksi alam yang mendukung perilaku sosial kooperatif demi kelangsungan spesies.³ Naluri sosial, empati, dan rasa keadilan bukanlah hasil kontrak sosial, melainkan mekanisme adaptif yang berevolusi secara bertahap.⁴ Pandangan ini diperkuat oleh Edward O. Wilson melalui teori sociobiology, yang menjelaskan moralitas sebagai bentuk “altruisme resiprokal” yang berakar dalam genetik dan struktur sosial manusia.⁵ Dalam kerangka ini, prinsip moral seperti kerja sama dan keadilan memperoleh status ilmiah sebagai hasil dari mekanisme evolusi, bukan sekadar konstruksi budaya.⁶

Dimensi biologis ini memberi dasar empiris bagi etika naturalistik: norma moral dipahami sebagai perangkat fungsional untuk mempertahankan kehidupan bersama.⁷ Namun, biologi tidak menafikan rasionalitas; sebaliknya, ia menjelaskan kondisi awal bagi berkembangnya kesadaran etis. Moralitas adalah “produk biologis yang dimediasi oleh refleksi rasional.”⁸

7.2.       Psikologi Moral dan Ilmu Kognitif

Bidang psikologi moral dan ilmu kognitif memperluas analisis ini dengan meneliti bagaimana manusia secara aktual membuat penilaian moral. Jonathan Haidt, melalui Social Intuitionist Model, menunjukkan bahwa keputusan moral sering kali didasarkan pada intuisi cepat yang kemudian dirasionalisasi secara kognitif.⁹ Hal ini menunjukkan bahwa moralitas memiliki basis psikologis dan emosional yang dapat dipetakan secara empiris. Jesse Prinz dan Frans de Waal juga menekankan peran emosi sosial seperti empati dan rasa bersalah dalam memunculkan tindakan moral.¹⁰

Ilmu kognitif dan neurosains moral, seperti yang dikembangkan oleh Patricia Churchland dan Joshua Greene, memperlihatkan bahwa otak manusia memiliki jaringan saraf khusus yang berperan dalam empati, pengambilan keputusan moral, dan kontrol diri.¹¹ Aktivasi pada area seperti prefrontal cortex dan amygdala menunjukkan bahwa moralitas melibatkan kombinasi antara proses emosional dan rasional.¹² Dengan demikian, moralitas dapat dipahami sebagai fenomena biologis yang dapat dipelajari melalui eksperimen dan observasi, tanpa kehilangan dimensi reflektifnya.¹³

7.3.       Sosiologi dan Antropologi Moral

Naturalisme etika juga bersinggungan erat dengan sosiologi dan antropologi moral. Kedua bidang ini menyoroti bagaimana norma moral terbentuk, dipertahankan, dan berubah dalam konteks sosial dan budaya tertentu.¹⁴ Clifford Geertz menegaskan bahwa moralitas selalu berakar pada sistem makna yang hidup dalam kebudayaan, tetapi tetap memiliki pola universal yang mencerminkan kebutuhan sosial manusia.¹⁵ Melalui studi lintas budaya, ditemukan bahwa prinsip-prinsip moral seperti keadilan, kepedulian, dan resiprositas muncul di hampir semua masyarakat, meski diekspresikan secara berbeda.¹⁶ Hal ini memperkuat tesis naturalisme bahwa moralitas adalah hasil interaksi antara struktur biologis universal dan konteks sosial yang partikular.¹⁷

7.4.       Neurosains dan Filsafat Pikiran

Dalam dua dekade terakhir, neurosains moral memperdalam pemahaman tentang bagaimana otak mengolah nilai dan norma. Patricia Churchland dalam Braintrust berpendapat bahwa akar moralitas terletak pada neurokimia kelekatan sosial, khususnya peran oksitosin dalam memperkuat hubungan interpersonal.¹⁸ Antonio Damasio dan Adina Roskies menambahkan bahwa pengalaman moral berkaitan dengan aktivitas emosi dan proses rasional yang saling berinteraksi secara kompleks.¹⁹ Temuan-temuan ini memberikan dasar empiris baru bagi pemikiran etis: penilaian moral bukan sekadar hasil refleksi intelektual, tetapi juga manifestasi dari fungsi biologis yang kompleks.²⁰

Neurosains menantang filsafat moral tradisional untuk mempertimbangkan dimensi material dan fisiologis dari moralitas.²¹ Namun, naturalisme etika tidak mengurangkan moralitas menjadi biologi murni; ia justru menegaskan bahwa pemahaman ilmiah tentang otak harus dipadukan dengan refleksi filosofis tentang makna dan tujuan tindakan manusia.²²

7.5.       Ekologi dan Etika Lingkungan

Dimensi interdisipliner naturalisme etika juga mencakup bidang ekologi. Jika moralitas berakar pada kehidupan alamiah, maka etika tidak dapat dibatasi pada hubungan antarmanusia.²³ Arne Næss dan Holmes Rolston III menekankan bahwa pendekatan naturalistik mendorong perluasan komunitas moral hingga mencakup seluruh sistem kehidupan.²⁴ Prinsip keseimbangan ekologis dan keberlanjutan lingkungan memperoleh legitimasi moral melalui fakta ilmiah tentang ketergantungan manusia terhadap ekosistem.²⁵ Dengan demikian, naturalisme etika mendukung lahirnya environmental ethics yang berlandaskan pemahaman ilmiah tentang biosfer dan fungsi ekologis kehidupan.²⁶


Sinergi Interdisipliner dan Paradigma Integral

Keseluruhan dimensi di atas menunjukkan bahwa naturalisme etika tidak dapat dipahami secara monodisipliner. Ia merupakan paradigma integral yang menggabungkan metode empiris dengan refleksi normatif, menjadikan sains dan filsafat saling melengkapi dalam memahami moralitas manusia.²⁷ Biologi menjelaskan asal-usul perilaku moral, psikologi menguraikan mekanismenya, sosiologi meneliti konteks sosialnya, dan filsafat memberikan arah normatifnya.²⁸

Melalui sinergi tersebut, naturalisme etika berupaya membangun etika ilmiah yang tetap humanistik—etika yang didasarkan pada pemahaman ilmiah tentang manusia, namun tidak kehilangan dimensi kebijaksanaan, empati, dan tanggung jawab.²⁹ Dalam kerangka interdisipliner ini, ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi sumber penjelasan, tetapi juga mitra refleksi dalam membangun peradaban moral yang rasional, terbuka, dan berkelanjutan.³⁰


Footnotes

[1]                ¹ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 34–38.

[2]                ² Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 21–25.

[3]                ³ Charles Darwin, The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex (London: John Murray, 1871), 120–122.

[4]                ⁴ Ibid., 124–127.

[5]                ⁵ Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 3–5.

[6]                ⁶ Larry Arnhart, Darwinian Natural Right: The Biological Ethics of Human Nature (Albany: SUNY Press, 1998), 32–36.

[7]                ⁷ Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Basil Blackwell, 1986), 56–59.

[8]                ⁸ Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 97–99.

[9]                ⁹ Jonathan Haidt, The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (New York: Pantheon Books, 2012), 120–124.

[10]             ¹⁰ Jesse Prinz, The Emotional Construction of Morals (Oxford: Oxford University Press, 2007), 32–36; Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 15–18.

[11]             ¹¹ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 10–14.

[12]             ¹² Joshua Greene, Moral Tribes: Emotion, Reason, and the Gap between Us and Them (New York: Penguin, 2013), 55–60.

[13]             ¹³ Adina Roskies, “Neuroscientific Challenges to Free Will and Responsibility,” Trends in Cognitive Sciences 10, no. 9 (2006): 419–424.

[14]             ¹⁴ Émile Durkheim, The Division of Labor in Society (New York: Free Press, 1997), 62–65.

[15]             ¹⁵ Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 33–36.

[16]             ¹⁶ Lawrence Kohlberg, Essays on Moral Development, Vol. I: The Philosophy of Moral Development (San Francisco: Harper & Row, 1981), 45–48.

[17]             ¹⁷ Michael Tomasello, A Natural History of Human Morality (Cambridge: Harvard University Press, 2016), 50–54.

[18]             ¹⁸ Patricia S. Churchland, Braintrust, 17–21.

[19]             ¹⁹ Antonio Damasio, Looking for Spinoza: Joy, Sorrow, and the Feeling Brain (New York: Harcourt, 2003), 128–130.

[20]             ²⁰ Jean-Pierre Changeux, The Physiology of Truth: Neuroscience and Human Knowledge (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 112–116.

[21]             ²¹ Adina Roskies, “Neuroscientific Challenges,” 420–422.

[22]             ²² Owen Flanagan and Gregg D. Caruso, Neuroexistentialism: Meaning, Morals, and Purpose in the Age of Neuroscience (Oxford: Oxford University Press, 2018), 22–25.

[23]             ²³ Holmes Rolston III, Environmental Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple University Press, 1988), 45–49.

[24]             ²⁴ Arne Næss, Ecology, Community, and Lifestyle (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 165–168.

[25]             ²⁵ J. Baird Callicott, In Defense of the Land Ethic (Albany: SUNY Press, 1989), 29–31.

[26]             ²⁶ Aldo Leopold, A Sand County Almanac (Oxford: Oxford University Press, 1949), 201–203.

[27]             ²⁷ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 15–18.

[28]             ²⁸ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[29]             ²⁹ Hilary Putnam, Ethics without Ontology (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 52–55.

[30]             ³⁰ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 49–52.


8.           Kritik terhadap Naturalisme Etika

Naturalisme etika, meskipun menawarkan integrasi yang menarik antara moralitas dan sains, menghadapi sejumlah kritik mendalam baik dari tradisi filsafat analitik maupun dari pendekatan humanistik dan eksistensialis. Kritik ini umumnya berpusat pada tiga aspek utama: (1) masalah reduksionisme moral, (2) kesalahan logis dalam mengaitkan fakta dan nilai, serta (3) risiko hilangnya otonomi normatif dalam etika.¹

8.1.       Kritik G. E. Moore dan Naturalistic Fallacy

Salah satu kritik paling berpengaruh terhadap naturalisme etika datang dari G. E. Moore melalui konsep naturalistic fallacy dalam Principia Ethica (1903).² Moore berpendapat bahwa setiap upaya untuk mendefinisikan “baik” dalam istilah sifat alami—seperti “menyenangkan,” “menguntungkan,” atau “berkontribusi terhadap kebahagiaan”—merupakan kekeliruan logis.³ Menurutnya, istilah “baik” adalah konsep sederhana dan tidak dapat direduksi pada sifat alamiah apa pun.⁴ Argumentasi Moore dikenal sebagai open question argument: setiap kali seseorang mengidentifikasi “baik” dengan sifat tertentu (misalnya, kesenangan), tetap terbuka pertanyaan “Apakah kesenangan itu benar-benar baik?”⁵ Dengan demikian, naturalisme gagal memberikan definisi yang memadai tentang nilai moral tanpa melakukan penyimpangan konseptual.

Kritik Moore menimbulkan konsekuensi luas: jika moralitas tidak dapat direduksi pada fakta alamiah, maka sains tidak bisa menjadi dasar normatif bagi etika.⁶ Pendekatan naturalistik dianggap hanya dapat menjelaskan bagaimana orang berperilaku, tetapi tidak dapat menjawab mengapa mereka seharusnya berperilaku demikian.⁷

8.2.       Kritik dari Tradisi Kantian dan Rasionalisme Moral

Dari perspektif Kantian, naturalisme etika dipandang gagal mempertahankan otonomi moral. Immanuel Kant menegaskan bahwa nilai moral bersumber dari rasio praktis dan prinsip apriori, bukan dari kecenderungan empiris atau tujuan biologis.⁸ Dengan menurunkan moralitas dari fakta empiris, naturalisme dianggap menghapus kebebasan moral dan menjadikan manusia sekadar makhluk reaktif terhadap kondisi alamiah.⁹ Moralitas, bagi Kant, justru dimulai ketika manusia mampu bertindak melawan dorongan alaminya demi menghormati hukum moral universal.¹⁰ Oleh karena itu, naturalisme dinilai mengaburkan perbedaan antara “yang natural” dan “yang rasional,” dan dengan demikian gagal menjelaskan dimensi normatif dari kewajiban moral.¹¹

Selain itu, rasionalisme moral menolak klaim bahwa pengetahuan ilmiah dapat menggantikan pertimbangan etis.¹² Rasionalitas moral tidak semata bersifat deskriptif, melainkan normatif, karena ia mengandung tuntutan universalitas yang tidak bergantung pada hasil empiris.¹³ Dalam kerangka ini, naturalisme dianggap tidak mampu menjelaskan keharusan moral yang bersifat “mengikat” (categorical imperative).¹⁴

8.3.       Kritik dari Tradisi Eksistensialis dan Fenomenologis

Dari sisi eksistensialisme, terutama dalam pemikiran Jean-Paul Sartre dan Emmanuel Levinas, kritik diarahkan pada kecenderungan naturalisme yang mengobjektifikasi manusia.¹⁵ Dengan memahami moralitas sebagai fenomena alamiah, naturalisme dianggap mengabaikan kebebasan, tanggung jawab eksistensial, dan dimensi subjektif dari makna moral.¹⁶ Sartre menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan makhluk yang menentukan dirinya sendiri melalui pilihan bebas.¹⁷ Oleh karena itu, setiap usaha menjelaskan moralitas melalui determinasi biologis atau sosial dianggap mengurangi tanggung jawab individu.¹⁸

Levinas menambahkan bahwa etika tidak dapat direduksi pada fakta empiris karena ia berakar pada relasi etis dengan “yang lain” (l’Autre), yang bersifat transendental dan mendahului setiap penjelasan ilmiah.¹⁹ Dalam hubungan etis tersebut, manusia bertemu dengan kewajiban yang tidak bersumber dari alam, melainkan dari panggilan moral yang tak tereduksi pada biologi atau sosiologi.²⁰ Kritik fenomenologis ini menyoroti bahwa naturalisme cenderung menutup ruang bagi pengalaman moral yang bersifat intensional, emosional, dan spiritual.²¹

8.4.       Kritik terhadap Reduksionisme dan Ilmiahisme Moral

Sejumlah filsuf kontemporer, termasuk Alasdair MacIntyre dan Bernard Williams, memperingatkan bahwa naturalisme etika berpotensi jatuh ke dalam reductionism dan scientism—yakni kecenderungan untuk menganggap bahwa semua aspek moral dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sains.²² Padahal, fakta ilmiah tidak selalu memiliki relevansi normatif.²³ Misalnya, pengetahuan biologis tentang evolusi empati tidak serta-merta memberikan jawaban etis tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain.²⁴ Sains dapat menjelaskan penyebab perilaku moral, tetapi tidak dapat menentukan nilainya.²⁵

Selain itu, pendekatan ilmiah yang berlebihan berisiko menyingkirkan pluralitas nilai dan konteks budaya.²⁶ Moralitas manusia, sebagaimana ditunjukkan oleh Charles Taylor, selalu terbenam dalam horizon makna sosial yang tidak dapat direduksi pada data empiris.²⁷ Dalam konteks ini, naturalisme etika dikritik karena terlalu percaya pada objektivitas ilmiah dan mengabaikan hermeneutika moral yang melibatkan tafsir, narasi, dan sejarah.²⁸

8.5.       Kritik dari Etika Diskursif dan Konstruktivisme

Jürgen Habermas dan para teoritikus etika diskursif menolak klaim naturalisme bahwa moralitas dapat dijelaskan melalui kausalitas ilmiah.²⁹ Menurut Habermas, norma moral tidak lahir dari fakta biologis, melainkan dari proses komunikasi rasional antar-subjek yang bebas dan setara.³⁰ Oleh karena itu, moralitas bersifat intersubjektif, bukan naturalistik.³¹ Pendekatan naturalisme, dalam pandangan ini, gagal memahami bahwa legitimasi moral tidak bersumber dari keberhasilan adaptif, melainkan dari konsensus komunikatif yang dapat dipertanggungjawabkan.³²

Konstruktivisme moral seperti yang dikemukakan oleh Christine Korsgaard juga menolak gagasan bahwa nilai-nilai moral “ditemukan” dalam alam.³³ Sebaliknya, nilai-nilai tersebut “dibentuk” melalui refleksi rasional manusia atas dirinya sebagai makhluk yang memiliki martabat.³⁴ Dengan demikian, naturalisme dianggap mengabaikan dimensi reflektif yang menjadikan etika bukan sekadar fakta, melainkan proyek normatif.³⁵

8.6.       Kritik Internal: Naturalisme yang Terlalu Sempit

Bahkan dari kalangan naturalis sendiri, muncul kesadaran akan keterbatasan naturalisme yang terlalu sempit. John McDowell dan Hilary Putnam, misalnya, mengusulkan bentuk liberal naturalism—sebuah naturalisme yang mengakui bahwa realitas moral memang bersifat alamiah, tetapi mencakup dimensi makna, nilai, dan pengalaman manusia yang tidak dapat direduksi pada sains murni.³⁶ Dalam pandangan ini, dunia moral tetap merupakan bagian dari alam, tetapi “alam” itu sendiri harus dipahami secara luas, mencakup struktur rasional dan normatif kehidupan manusia.³⁷

Dengan demikian, kritik terhadap naturalisme etika bukan hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam tradisi itu sendiri, yang berusaha menghindari reduksi moralitas menjadi fakta biologis atau psikologis semata.³⁸


Sintesis Kritis

Secara keseluruhan, kritik terhadap naturalisme etika menegaskan bahwa hubungan antara fakta dan nilai tidak dapat dijelaskan secara linear.³⁹ Meskipun sains dapat memperluas pemahaman kita tentang dasar-dasar perilaku moral, ia tidak dapat menggantikan dimensi reflektif, normatif, dan dialogis dari etika.⁴⁰ Naturalisme menghadirkan peluang untuk membumikan moralitas dalam kehidupan nyata, tetapi jika tidak disertai kehati-hatian filosofis, ia berisiko menafsirkan manusia semata-mata sebagai organisme biologis tanpa kebebasan moral.⁴¹ Oleh karena itu, kritik terhadap naturalisme tidak semata-mata melemahkannya, melainkan justru memperkaya pemahaman etika dengan menegaskan perlunya keseimbangan antara penjelasan ilmiah dan pemaknaan filosofis terhadap moralitas manusia.⁴²


Footnotes

[1]                ¹ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 15–17.

[2]                ² G. E. Moore, Principia Ethica (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 10–14.

[3]                ³ Ibid., 16–18.

[4]                ⁴ Ibid., 19–20.

[5]                ⁵ Ibid., 22–25.

[6]                ⁶ Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 131–133.

[7]                ⁷ Robert Audi, The Architecture of Reason: The Structure and Substance of Rationality (Oxford: Oxford University Press, 2001), 145–148.

[8]                ⁸ Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. H. J. Paton (New York: Harper and Row, 1964), 41–43.

[9]                ⁹ Ibid., 46–48.

[10]             ¹⁰ Ibid., 52–55.

[11]             ¹¹ Christine Korsgaard, The Sources of Normativity (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 13–15.

[12]             ¹² Ibid., 18–19.

[13]             ¹³ Robert Merrihew Adams, Finite and Infinite Goods: A Framework for Ethics (Oxford: Oxford University Press, 1999), 27–30.

[14]             ¹⁴ Kant, Groundwork, 58–60.

[15]             ¹⁵ Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism (New Haven: Yale University Press, 2007), 21–24.

[16]             ¹⁶ Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969), 84–88.

[17]             ¹⁷ Sartre, Existentialism Is a Humanism, 25–26.

[18]             ¹⁸ Ibid., 27–28.

[19]             ¹⁹ Levinas, Totality and Infinity, 90–92.

[20]             ²⁰ Ibid., 94–96.

[21]             ²¹ Anthony Steinbock, Phenomenology and Mysticism: The Verticality of Religious Experience (Bloomington: Indiana University Press, 2007), 52–55.

[22]             ²² Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 34–38; Bernard Williams, Ethics and the Limits of Philosophy (Cambridge: Harvard University Press, 1985), 121–124.

[23]             ²³ Williams, Ethics and the Limits of Philosophy, 125–127.

[24]             ²⁴ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 242–243.

[25]             ²⁵ Ibid., 244–246.

[26]             ²⁶ Martha Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 76–79.

[27]             ²⁷ Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 27–31.

[28]             ²⁸ Taylor, Sources of the Self, 34–36.

[29]             ²⁹ Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action (Cambridge: MIT Press, 1990), 43–45.

[30]             ³⁰ Ibid., 50–52.

[31]             ³¹ Ibid., 53–55.

[32]             ³² Jürgen Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: MIT Press, 1996), 8–11.

[33]             ³³ Christine Korsgaard, Self-Constitution: Agency, Identity, and Integrity (Oxford: Oxford University Press, 2009), 42–44.

[34]             ³⁴ Ibid., 46–48.

[35]             ³⁵ Korsgaard, The Sources of Normativity, 20–22.

[36]             ³⁶ John McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” in Mind, Value, and Reality (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 167–196; Hilary Putnam, Ethics without Ontology (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 49–53.

[37]             ³⁷ Putnam, Ethics without Ontology, 54–56.

[38]             ³⁸ McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” 178–182.

[39]             ³⁹ Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 97–99.

[40]             ⁴⁰ Mario De Caro and David Macarthur, Naturalism in Question, 21–23.

[41]             ⁴¹ Bernard Williams, Shame and Necessity (Berkeley: University of California Press, 1993), 204–206.

[42]             ⁴² Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 49–52.


9.           Relevansi Kontemporer

Naturalisme etika memperoleh relevansi yang semakin kuat dalam wacana etika kontemporer karena kemampuannya menjembatani antara refleksi filosofis dan temuan ilmiah modern. Dalam dunia yang semakin didominasi oleh sains dan teknologi, naturalisme menawarkan pendekatan yang rasional dan empiris terhadap pertanyaan moral, tanpa kehilangan dimensi kemanusiaannya.¹ Ia menghadirkan paradigma baru yang memungkinkan moralitas dipahami sebagai bagian integral dari kehidupan manusia di alam semesta, bukan sebagai sistem nilai yang terlepas dari realitas empiris.

9.1.       Etika dalam Era Sains dan Teknologi

Kemajuan bioteknologi, kecerdasan buatan, dan neurosains menuntut pembaruan paradigma etika yang mampu menjawab dilema moral berdasarkan bukti ilmiah.² Naturalisme etika menyediakan kerangka epistemologis dan aksiologis untuk menilai tindakan manusia dalam konteks teknologi yang kompleks. Misalnya, dalam bioetika, pendekatan naturalistik menyoroti bahwa kebijakan tentang rekayasa genetik, eutanasia, atau hak-hak hewan harus didasarkan pada pemahaman ilmiah tentang penderitaan, fungsi biologis, dan kapasitas makhluk hidup.³ Patricia Churchland menunjukkan bahwa wawasan neurosains mengenai empati dan perilaku sosial dapat memperkaya pemahaman etika kedokteran dan kebijakan publik.⁴ Dengan demikian, naturalisme memungkinkan lahirnya neuroethics—etika yang memanfaatkan pengetahuan ilmiah untuk memperdalam pengertian tentang tanggung jawab moral dan kebebasan.⁵

Dalam ranah kecerdasan buatan, naturalisme etika juga berperan penting. Pendekatan naturalistik menolak pandangan metafisis tentang moralitas, tetapi mengakui bahwa nilai-nilai moral dapat dikonstruksi berdasarkan perilaku adaptif, empati buatan, dan kesejahteraan kolektif.⁶ Dengan demikian, desain sistem AI yang “bermoral” memerlukan pemahaman tentang bagaimana prinsip moral muncul dari interaksi sosial dan pembelajaran adaptif—bukan sekadar pemrograman aturan abstrak.⁷

9.2.       Etika Lingkungan dan Krisis Ekologi

Relevansi naturalisme etika juga tampak jelas dalam konteks krisis ekologis global.⁸ Dengan menekankan keterkaitan antara manusia dan alam, naturalisme mendasari lahirnya environmental ethics yang memandang nilai moral sebagai bagian dari jaringan kehidupan.⁹ Prinsip moral seperti keberlanjutan (sustainability), keseimbangan ekologis, dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dapat dijustifikasi melalui fakta ilmiah tentang ketergantungan manusia pada biosfer.¹⁰

Arne Næss dan Holmes Rolston III menegaskan bahwa pemahaman etika yang naturalistik memperluas lingkup moralitas melampaui kepentingan manusia, mencakup seluruh sistem ekologis.¹¹ Dalam kerangka ini, perusakan lingkungan bukan hanya kesalahan moral terhadap sesama manusia, tetapi juga pelanggaran terhadap prinsip keseimbangan alamiah.¹² Etika naturalistik karenanya menawarkan dasar empiris bagi kebijakan lingkungan yang berbasis pada pengetahuan ilmiah tentang dinamika ekosistem.¹³

Selain itu, naturalisme etika juga berperan dalam etika intergenerasional.¹⁴ Fakta ilmiah tentang perubahan iklim dan degradasi sumber daya menegaskan bahwa tanggung jawab moral tidak berhenti pada generasi kini, tetapi meluas ke masa depan. Dengan demikian, naturalisme menyediakan dasar ilmiah dan moral bagi prinsip keadilan ekologis dan keberlanjutan global.¹⁵

9.3.       Naturalisme dan Etika Sosial-Politik

Dalam bidang sosial dan politik, naturalisme etika memberi arah baru bagi teori keadilan dan kebijakan publik. Pendekatan empiris terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, seperti dikembangkan oleh Amartya Sen dan Martha Nussbaum melalui capabilities approach, menunjukkan bahwa penilaian moral terhadap sistem sosial dapat didasarkan pada data ilmiah tentang kesehatan, pendidikan, dan partisipasi sosial.¹⁶ Ini membuka jalan bagi etika kebijakan publik yang berbasis bukti (evidence-based policy ethics).¹⁷

Lebih jauh, naturalisme etika juga memiliki relevansi dalam memperkuat demokrasi deliberatif. Melalui pemahaman bahwa norma moral lahir dari interaksi sosial dan komunikasi rasional, naturalisme mendukung etika diskursif Habermasian yang berakar pada kondisi empiris komunikasi manusia.¹⁸ Dengan demikian, naturalisme tidak hanya mengajarkan apa yang “ada,” tetapi juga memperluas kapasitas manusia untuk menilai secara kolektif apa yang “seharusnya.”¹⁹

9.4.       Etika Digital dan Moralitas di Dunia Virtual

Perkembangan ruang digital menghadirkan tantangan baru bagi filsafat moral. Naturalisme etika relevan dalam memahami bagaimana perilaku moral muncul di ruang virtual, di mana identitas, empati, dan interaksi manusia dimediasi oleh teknologi.²⁰ Pendekatan naturalistik menyoroti bahwa bahkan dalam dunia digital, norma moral tetap bersumber dari kebutuhan manusia akan koneksi sosial, kepercayaan, dan keadilan.²¹ Oleh karena itu, etika digital yang naturalistik berusaha menata ruang siber sebagai ekosistem sosial yang sehat, berdasarkan prinsip empiris tentang kesejahteraan psikologis dan sosial penggunanya.²²

9.5.       Humanisme Ilmiah dan Etika Global

Relevansi naturalisme etika juga tampak dalam upaya membangun scientific humanism—sebuah orientasi etis yang memadukan kemajuan ilmiah dengan nilai-nilai kemanusiaan.²³ Edward O. Wilson dan Owen Flanagan menekankan bahwa masa depan etika bergantung pada kemampuan manusia untuk menyatukan pengetahuan ilmiah dengan refleksi moral.²⁴ Dalam era globalisasi, pendekatan naturalistik dapat berperan sebagai dasar etika lintas budaya, karena bersandar pada kebutuhan dan kecenderungan universal manusia yang dapat dibuktikan secara empiris.²⁵

Dengan demikian, naturalisme etika menawarkan jalan tengah antara relativisme budaya dan absolutisme moral: ia mengakui pluralitas ekspresi nilai, tetapi tetap menegaskan adanya dasar biologis dan sosial universal bagi moralitas.²⁶ Pendekatan ini sangat relevan dalam etika global, di mana tantangan seperti ketimpangan, migrasi, perubahan iklim, dan kecerdasan buatan memerlukan prinsip moral yang berbasis pada realitas manusia dan alam.²⁷


Relevansi Filosofis: Menuju Integrasi Moral dan Ilmiah

Akhirnya, relevansi kontemporer naturalisme etika terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan dua dunia yang selama ini dipisahkan: dunia fakta ilmiah dan dunia nilai moral.²⁸ Dalam masyarakat yang menghadapi krisis kepercayaan terhadap otoritas moral tradisional, naturalisme menawarkan dasar baru bagi rasionalitas etis—sebuah rasionalitas yang terbuka, empiris, dan reflektif.²⁹ Ia menegaskan bahwa moralitas bukanlah warisan dogmatis, tetapi hasil evolusi dan refleksi kolektif manusia dalam menghadapi tantangan keberlanjutan hidup.³⁰

Dengan pendekatan ini, naturalisme etika tidak hanya menjadi teori filosofis, tetapi juga sebuah visi etika abad ke-21: etika yang berakar pada sains, berpijak pada kenyataan, namun tetap berorientasi pada kemanusiaan.³¹


Footnotes

[1]                ¹ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 37–40.

[2]                ² Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 22–26.

[3]                ³ Julian Savulescu, Ethics and Evidence-Based Medicine (Oxford: Oxford University Press, 2003), 10–13.

[4]                ⁴ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 27–30.

[5]                ⁵ Adina Roskies, “Neuroscientific Challenges to Free Will and Responsibility,” Trends in Cognitive Sciences 10, no. 9 (2006): 419–424.

[6]                ⁶ Wendell Wallach and Colin Allen, Moral Machines: Teaching Robots Right from Wrong (Oxford: Oxford University Press, 2009), 45–48.

[7]                ⁷ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[8]                ⁸ Holmes Rolston III, Environmental Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple University Press, 1988), 43–46.

[9]                ⁹ Aldo Leopold, A Sand County Almanac (Oxford: Oxford University Press, 1949), 201–203.

[10]             ¹⁰ Arne Næss, Ecology, Community, and Lifestyle (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 165–168.

[11]             ¹¹ Ibid., 170–172.

[12]             ¹² J. Baird Callicott, In Defense of the Land Ethic (Albany: SUNY Press, 1989), 29–33.

[13]             ¹³ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 243–246.

[14]             ¹⁴ Bryan Norton, Sustainability: A Philosophy of Adaptive Ecosystem Management (Chicago: University of Chicago Press, 2005), 77–80.

[15]             ¹⁵ Dale Jamieson, Reason in a Dark Time: Why the Struggle against Climate Change Failed—and What It Means for Our Future (Oxford: Oxford University Press, 2014), 52–56.

[16]             ¹⁶ Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 58–62; Martha Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 30–33.

[17]             ¹⁷ Sen, The Idea of Justice, 64–66.

[18]             ¹⁸ Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action (Cambridge: MIT Press, 1990), 43–45.

[19]             ¹⁹ Ibid., 47–49.

[20]             ²⁰ Shannon Vallor, Technology and the Virtues: A Philosophical Guide to a Future Worth Wanting (Oxford: Oxford University Press, 2016), 28–32.

[21]             ²¹ Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 35–38.

[22]             ²² Floridi, The Ethics of Information, 39–41.

[23]             ²³ Edward O. Wilson, The Meaning of Human Existence (New York: Norton, 2014), 91–95.

[24]             ²⁴ Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 97–99.

[25]             ²⁵ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 45–47.

[26]             ²⁶ Martha Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 76–80.

[27]             ²⁷ Peter Singer, Practical Ethics, 3rd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2011), 35–39.

[28]             ²⁸ Hilary Putnam, Ethics without Ontology (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 52–55.

[29]             ²⁹ John McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” in Mind, Value, and Reality (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 167–196.

[30]             ³⁰ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 20–22.

[31]             ³¹ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge, 249–251.


10.       Sintesis Filosofis: Menuju Etika Naturalis yang Integral dan Humanistik

Naturalisme etika, dengan seluruh kompleksitas ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya, menghadirkan suatu upaya untuk menyatukan dua dimensi yang selama ini sering dianggap berlawanan: fakta empiris dan nilai moral. Dalam konteks sintesis filosofis, tantangan utamanya bukanlah memilih antara sains dan moralitas, tetapi menemukan cara agar keduanya saling menerangi.¹ Etika naturalistik yang integral dan humanistik berupaya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sumber pemahaman tentang kondisi manusia, sekaligus mempertahankan refleksi moral yang menghargai kebebasan, martabat, dan tujuan hidup manusia.²

10.1.    Integrasi antara Fakta dan Nilai

Sintesis filosofis naturalisme etika berangkat dari kesadaran bahwa dikotomi antara fakta (is) dan nilai (ought) tidak dapat dipertahankan secara mutlak.³ Hilary Putnam menunjukkan bahwa penilaian moral selalu mengandung unsur deskriptif tentang realitas manusia, sementara pernyataan faktual sering kali membawa implikasi normatif.⁴ Oleh karena itu, fakta dan nilai tidak berdiri terpisah, melainkan membentuk jaringan pemahaman yang saling terkait dalam konteks kehidupan manusia.⁵

Etika naturalistik integral menolak reductionism yang memaksakan penjelasan moral secara murni ilmiah, tetapi juga menolak idealisme moral yang menafikan dasar empiris kehidupan manusia.⁶ Pendekatan ini mengakui bahwa moralitas berakar pada kondisi biologis dan sosial manusia, namun hanya memperoleh maknanya ketika diartikulasikan secara reflektif melalui rasionalitas dan komunikasi intersubjektif.⁷ Dengan demikian, moralitas bukan sekadar fenomena alam, melainkan modus eksistensi manusia dalam alam.

10.2.    Naturalisme dan Humanisme: Rekonsiliasi Rasionalitas dan Kehidupan

Naturalisme etika yang humanistik menghindari dua ekstrem: determinisme biologis dan relativisme moral.⁸ Ia mengakui bahwa manusia adalah makhluk alamiah, tetapi juga makhluk reflektif yang memiliki kesadaran nilai. Owen Flanagan menyebut hal ini sebagai “reflective naturalism,” yaitu pandangan bahwa moralitas lahir dari kapasitas manusia untuk menafsirkan fakta alamiah secara normatif.⁹ Dalam kerangka ini, rasionalitas dan empati tidak berlawanan, melainkan dua ekspresi dari potensi alami manusia yang saling melengkapi.¹⁰

Etika humanistik naturalistik menegaskan bahwa nilai moral tertinggi tidak ditemukan di luar dunia, melainkan di dalam struktur kehidupan manusia itu sendiri.¹¹ Martabat manusia, solidaritas, dan keadilan memiliki dasar empiris karena semuanya berhubungan dengan kondisi kehidupan yang memungkinkan manusia berkembang.¹² Namun, pengakuan atas dasar biologis ini tidak mengurangi nilai spiritualitas atau refleksivitas manusia; justru sebaliknya, ia menegaskan bahwa spiritualitas adalah bentuk tertinggi dari kesadaran alamiah yang reflektif.¹³

Dengan demikian, naturalisme etika yang humanistik mengembalikan manusia pada posisinya sebagai makhluk alam yang berpikir.¹⁴ Ia menolak dualisme antara alam dan moralitas, serta antara sains dan nilai, dengan menegaskan bahwa manusia adalah simpul di mana keduanya bertemu.¹⁵

10.3.    Sintesis Empiris–Normatif: Etika sebagai Ekologi Moral

Dalam kerangka integral, moralitas dapat dipahami sebagai bentuk ekologi nilai: sistem dinamis yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan individu, komunitas, dan lingkungan alam.¹⁶ Peter Railton menyebut hal ini sebagai “moral naturalism with practical reason,” yakni etika yang menilai tindakan berdasarkan seberapa baik tindakan itu mempertahankan struktur kehidupan yang sehat.¹⁷ Pendekatan ini memungkinkan penilaian moral yang objektif sekaligus kontekstual, karena didasarkan pada fakta empiris namun diarahkan oleh refleksi normatif.¹⁸

Dalam konteks ini, moralitas bukan sekadar seperangkat aturan, melainkan mekanisme evolusioner dan sosial untuk menjaga keberlanjutan hidup.¹⁹ Etika menjadi semacam ekosistem normatif di mana nilai-nilai seperti keadilan, solidaritas, dan keberlanjutan saling menopang.²⁰ Hal ini menunjukkan bahwa moralitas, sebagaimana alam, bersifat adaptif: ia berevolusi, berubah, dan menyesuaikan diri dengan pengetahuan baru tentang dunia.²¹

Pendekatan ini juga menegaskan pentingnya reflective equilibrium—keseimbangan antara intuisi moral dan hasil empiris—sebagai cara manusia menavigasi kompleksitas moral kontemporer.²² Dalam hal ini, filsafat dan sains berperan bukan sebagai dua ranah yang bersaing, melainkan sebagai dua cara saling melengkapi untuk memahami makna hidup yang baik.²³

10.4.    Etika Naturalistik Integral: Menuju Moralitas Global

Naturalisme etika yang integral dan humanistik memiliki potensi besar dalam menghadapi tantangan etika global kontemporer, seperti ketimpangan sosial, krisis ekologi, dan kemajuan teknologi.²⁴ Dengan berakar pada pemahaman empiris tentang manusia dan ekosistem, ia dapat membangun prinsip moral universal yang tetap menghormati pluralitas budaya.²⁵ Pendekatan ini sejalan dengan visi global ethics yang dikemukakan Hans Küng—yakni pencarian nilai universal yang lahir dari pengalaman kemanusiaan yang konkret, bukan dari doktrin metafisis.²⁶

Etika naturalistik integral dapat menjadi dasar bagi paradigma planetary ethics, di mana keberlanjutan kehidupan di bumi menjadi imperatif moral yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan filosofis.²⁷ Dengan menggabungkan pemahaman ilmiah tentang keterhubungan ekologis dan refleksi moral tentang tanggung jawab manusia, naturalisme etika mengusulkan sintesis antara kognisi dan komitmen, antara rasionalitas dan kepedulian.²⁸


Menuju Etika Naturalistik yang Transformatif

Arah sintesis ini pada akhirnya bertujuan untuk melahirkan etika yang bersifat transformatif—etika yang tidak hanya menjelaskan moralitas, tetapi juga menumbuhkan kemampuan moral dalam diri manusia.²⁹ Etika naturalistik integral menegaskan bahwa moralitas adalah proses belajar terus-menerus dalam memahami hubungan manusia dengan dirinya, sesamanya, dan alam semesta.³⁰ Ia membuka ruang bagi koreksi dan pengembangan moral berdasarkan kemajuan pengetahuan ilmiah dan kesadaran sosial yang lebih dalam.³¹

Etika yang integral dan humanistik ini menempatkan sains dan moralitas dalam dialog yang hidup: sains memberikan pemahaman tentang realitas, sementara etika memberikan arah dan makna bagi tindakan manusia di dalam realitas itu.³² Sintesis keduanya menghasilkan sebuah humanisme empiris, yakni pandangan bahwa kebaikan manusia tidak ditentukan oleh dogma metafisis, melainkan oleh kemampuannya memahami, mencintai, dan memelihara kehidupan.³³

Dengan demikian, etika naturalistik yang integral dan humanistik bukanlah bentuk positivisme moral baru, melainkan upaya untuk memulihkan hubungan antara ilmu, moralitas, dan kemanusiaan dalam satu kesatuan refleksi yang terbuka dan dinamis.³⁴ Ia berupaya mewujudkan etika yang realistis secara ilmiah, rasional secara filosofis, dan manusiawi secara moral.³⁵


Footnotes

[1]                ¹ Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 15–18.

[2]                ² Hilary Putnam, Ethics without Ontology (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 52–55.

[3]                ³ John Searle, “How to Derive ‘Ought’ from ‘Is’,” The Philosophical Review 73, no. 1 (1964): 43–58.

[4]                ⁴ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 34–38.

[5]                ⁵ John McDowell, Mind and World (Cambridge: Harvard University Press, 1994), 85–89.

[6]                ⁶ Bernard Williams, Ethics and the Limits of Philosophy (Cambridge: Harvard University Press, 1985), 121–123.

[7]                ⁷ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[8]                ⁸ Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 131–134.

[9]                ⁹ Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 23–26.

[10]             ¹⁰ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 27–30.

[11]             ¹¹ Philippa Foot, Natural Goodness (Oxford: Oxford University Press, 2001), 42–45.

[12]             ¹² Martha Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 30–33.

[13]             ¹³ Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 97–99.

[14]             ¹⁴ Hilary Putnam, Ethics without Ontology, 49–52.

[15]             ¹⁵ John Dewey, Experience and Nature (Chicago: Open Court, 1925), 7–10.

[16]             ¹⁶ Arne Næss, Ecology, Community, and Lifestyle (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 165–168.

[17]             ¹⁷ Peter Railton, “Facts and Values,” Philosophical Topics 14, no. 2 (1986): 6–8.

[18]             ¹⁸ Ibid., 9–10.

[19]             ¹⁹ Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Basil Blackwell, 1986), 56–59.

[20]             ²⁰ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 243–247.

[21]             ²¹ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 45–47.

[22]             ²² John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 1971), 18–22.

[23]             ²³ Jürgen Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: MIT Press, 1996), 8–11.

[24]             ²⁴ Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (New York: Crossroad, 1991), 26–29.

[25]             ²⁵ Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 58–62.

[26]             ²⁶ Martha Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 76–80.

[27]             ²⁷ Holmes Rolston III, Environmental Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple University Press, 1988), 45–49.

[28]             ²⁸ Philip Kitcher, The Ethical Project, 49–52.

[29]             ²⁹ Owen Flanagan and Gregg D. Caruso, Neuroexistentialism: Meaning, Morals, and Purpose in the Age of Neuroscience (Oxford: Oxford University Press, 2018), 22–25.

[30]             ³⁰ Patricia S. Churchland, Braintrust, 31–34.

[31]             ³¹ Edward O. Wilson, The Meaning of Human Existence (New York: Norton, 2014), 91–95.

[32]             ³² Mario De Caro and David Macarthur, Naturalism in Question, 20–22.

[33]             ³³ Owen Flanagan, The Really Hard Problem, 100–103.

[34]             ³⁴ John McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” in Mind, Value, and Reality (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 167–196.

[35]             ³⁵ Hilary Putnam, Ethics without Ontology, 55–57.


11.       Kesimpulan

Naturalisme etika menandai sebuah transformasi penting dalam filsafat moral modern dengan berupaya mengatasi jurang klasik antara fakta dan nilai, antara sains dan moralitas. Ia tidak memandang dunia moral sebagai wilayah transenden yang terpisah dari realitas empiris, tetapi sebagai bagian integral dari struktur kehidupan manusia yang dapat dipahami melalui refleksi ilmiah dan rasional.¹ Dalam kerangka ini, moralitas dilihat bukan sebagai sistem norma apriori, melainkan sebagai ekspresi rasional dari kebutuhan biologis, sosial, dan eksistensial manusia.²

Dari dimensi ontologis, naturalisme etika menegaskan bahwa nilai-nilai moral berakar pada realitas alamiah manusia sebagai makhluk sosial dan rasional.³ Moralitas bukan entitas metafisis, melainkan fenomena emergen dari kehidupan yang berkembang secara evolusioner.⁴ Perspektif ini menghubungkan etika dengan biologi, psikologi, dan sosiologi, tanpa meniadakan kebebasan moral dan tanggung jawab individu.⁵ Dari dimensi epistemologis, naturalisme menolak dikotomi antara rasio dan pengalaman, mengusulkan bahwa pengetahuan moral dapat dibentuk melalui observasi, pengalaman empatik, dan refleksi rasional.⁶ Dengan demikian, etika menjadi bagian dari proses penemuan ilmiah yang selalu terbuka terhadap koreksi.⁷

Secara aksiologis, naturalisme etika memberikan dasar empiris bagi nilai-nilai moral dengan mengaitkannya pada kesejahteraan manusia dan keberlanjutan kehidupan.⁸ Kebaikan tidak lagi diartikan sebagai abstraksi metafisis, melainkan sebagai kondisi nyata yang mendukung kelangsungan hidup dan perkembangan manusia.⁹ Dalam kerangka ini, nilai moral bersifat dinamis—dapat berubah seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan kompleksitas sosial—namun tetap mempertahankan orientasi universalnya pada kehidupan dan kesejahteraan bersama.¹⁰

Pada tataran sosial, politik, dan hukum, naturalisme etika menegaskan bahwa sistem normatif yang baik adalah yang selaras dengan kodrat manusia dan realitas sosialnya.¹¹ Norma, hukum, dan kebijakan publik memperoleh legitimasi moral sejauh mampu meningkatkan kemampuan manusia untuk hidup secara kooperatif, adil, dan berkelanjutan.¹² Sementara dalam ranah ilmiah, naturalisme etika mendorong pendekatan interdisipliner antara filsafat dan sains: biologi evolusioner menjelaskan asal-usul moralitas, neurosains menguraikan mekanismenya, dan filsafat menafsirkan maknanya bagi eksistensi manusia.¹³

Namun, sintesis ini tidak lepas dari kritik. Para penentang naturalisme, seperti G. E. Moore dan para Kantian, menolak reduksi moralitas menjadi fakta empiris.¹⁴ Kritik tersebut penting karena mengingatkan bahwa moralitas memerlukan dimensi reflektif dan normatif yang tak dapat dihapuskan.¹⁵ Karena itu, kekuatan naturalisme etika justru terletak pada kemampuannya untuk tetap terbuka terhadap kritik: ia bukan sistem dogmatis, melainkan paradigma yang bersifat self-corrective—moralitas yang berkembang melalui dialog antara fakta dan nilai.¹⁶

Relevansi naturalisme etika pada abad ke-21 sangat besar. Dalam menghadapi tantangan global seperti krisis ekologi, kecerdasan buatan, dan ketimpangan sosial, pendekatan ini menawarkan etika yang berbasis pada bukti, reflektif, dan humanistik.¹⁷ Dengan menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa di atasnya, naturalisme etika membuka jalan bagi moralitas ekologis yang integral dan berkelanjutan.¹⁸ Ia juga menegaskan perlunya scientific humanism—pandangan bahwa kemajuan ilmiah harus selalu diimbangi dengan tanggung jawab moral dan empati sosial.¹⁹

Akhirnya, sintesis filosofis naturalisme etika dapat dirumuskan sebagai usaha untuk mencapai kesatuan antara “pengetahuan tentang dunia” dan “hikmah tentang hidup.” Moralitas tidak dapat dilepaskan dari kondisi empiris manusia, tetapi juga tidak boleh direduksi menjadi sekadar mekanisme biologis.²⁰ Etika naturalistik integral mengajarkan bahwa sains dan moralitas adalah dua bentuk rasionalitas yang saling melengkapi: sains menjelaskan dunia sebagaimana adanya, sementara etika memberi arah bagi dunia sebagaimana seharusnya.²¹

Dengan demikian, etika naturalistik yang integral dan humanistik berusaha menegakkan moralitas di atas dasar yang rasional, empiris, dan manusiawi.²² Ia menolak absolutisme dogmatis maupun relativisme nihilistik, menawarkan pandangan bahwa moralitas adalah proyek bersama umat manusia—proyek untuk memahami dan menumbuhkan kehidupan dalam kebenaran, kebajikan, dan keseimbangan dengan alam semesta.²³


Footnotes

[1]                ¹ Hilary Putnam, Ethics without Ontology (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 52–55.

[2]                ² John Dewey, Experience and Nature (Chicago: Open Court, 1925), 7–10.

[3]                ³ Philippa Foot, Natural Goodness (Oxford: Oxford University Press, 2001), 39–42.

[4]                ⁴ Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Knopf, 1998), 243–247.

[5]                ⁵ Owen Flanagan, Varieties of Moral Personality: Ethics and Psychological Realism (Cambridge: Harvard University Press, 1991), 23–26.

[6]                ⁶ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 10–14.

[7]                ⁷ Ernest Nagel, The Structure of Science: Problems in the Logic of Scientific Explanation (New York: Harcourt, 1961), 475–480.

[8]                ⁸ Peter Railton, “Moral Realism,” The Philosophical Review 95, no. 2 (1986): 163–207.

[9]                ⁹ Martha Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 30–33.

[10]             ¹⁰ Amartya Sen, The Idea of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 2009), 58–62.

[11]             ¹¹ John Rawls, Political Liberalism (New York: Columbia University Press, 1993), 25–26.

[12]             ¹² Jürgen Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: MIT Press, 1996), 8–11.

[13]             ¹³ Patricia S. Churchland, Braintrust, 17–21.

[14]             ¹⁴ G. E. Moore, Principia Ethica (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 10–14.

[15]             ¹⁵ Christine Korsgaard, The Sources of Normativity (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 13–15.

[16]             ¹⁶ John McDowell, “Two Sorts of Naturalism,” in Mind, Value, and Reality (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 167–196.

[17]             ¹⁷ Owen Flanagan and Gregg D. Caruso, Neuroexistentialism: Meaning, Morals, and Purpose in the Age of Neuroscience (Oxford: Oxford University Press, 2018), 22–25.

[18]             ¹⁸ Holmes Rolston III, Environmental Ethics: Duties to and Values in the Natural World (Philadelphia: Temple University Press, 1988), 45–49.

[19]             ¹⁹ Edward O. Wilson, The Meaning of Human Existence (New York: Norton, 2014), 91–95.

[20]             ²⁰ Bernard Williams, Ethics and the Limits of Philosophy (Cambridge: Harvard University Press, 1985), 121–124.

[21]             ²¹ Hilary Putnam, The Collapse of the Fact/Value Dichotomy (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 37–40.

[22]             ²² Mario De Caro and David Macarthur, eds., Naturalism in Question (Cambridge: Harvard University Press, 2004), 15–18.

[23]             ²³ Philip Kitcher, The Ethical Project (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 45–47.


Daftar Pustaka

Adams, R. M. (1999). Finite and infinite goods: A framework for ethics. Oxford University Press.

Arnhart, L. (1998). Darwinian natural right: The biological ethics of human nature. State University of New York Press.

Audi, R. (2001). The architecture of reason: The structure and substance of rationality. Oxford University Press.

Boyd, R. (1988). How to be a moral realist. In G. Sayre-McCord (Ed.), Essays on moral realism (pp. 181–228). Cornell University Press.

Callicott, J. B. (1989). In defense of the land ethic: Essays in environmental philosophy. State University of New York Press.

Changeux, J.-P. (2004). The physiology of truth: Neuroscience and human knowledge. Harvard University Press.

Churchland, P. S. (2011). Braintrust: What neuroscience tells us about morality. Princeton University Press.

Darwin, C. (1871). The descent of man, and selection in relation to sex. John Murray.

Damasio, A. (2003). Looking for Spinoza: Joy, sorrow, and the feeling brain. Harcourt.

Dancy, J. (2004). Ethics without principles. Clarendon Press.

De Caro, M., & Macarthur, D. (Eds.). (2004). Naturalism in question. Harvard University Press.

Dewey, J. (1922). Human nature and conduct: An introduction to social psychology. Henry Holt.

Dewey, J. (1925). Experience and nature. Open Court.

Dewey, J. (1927). The public and its problems. Henry Holt.

Durkheim, É. (1997). The division of labor in society (W. D. Halls, Trans.). Free Press. (Original work published 1893)

Flanagan, O. (1991). Varieties of moral personality: Ethics and psychological realism. Harvard University Press.

Flanagan, O. (2007). The really hard problem: Meaning in a material world. MIT Press.

Flanagan, O., & Caruso, G. D. (2018). Neuroexistentialism: Meaning, morals, and purpose in the age of neuroscience. Oxford University Press.

Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford University Press.

Foot, P. (1958). Moral arguments. Mind, 67(268), 502–503.

Foot, P. (2001). Natural goodness. Oxford University Press.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Greene, J. (2013). Moral tribes: Emotion, reason, and the gap between us and them. Penguin Books.

Greenspan, P. (1999). Emotions, rationality, and mind/body. Philosophical Topics, 27(2), 125–129.

Habermas, J. (1990). Moral consciousness and communicative action. MIT Press.

Habermas, J. (1996). Between facts and norms: Contributions to a discourse theory of law and democracy. MIT Press.

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. Pantheon Books.

Hobbes, T. (1651). Leviathan. Andrew Crooke.

Hume, D. (1888). A treatise of human nature (L. A. Selby-Bigge, Ed.). Clarendon Press.

Hursthouse, R. (1999). On virtue ethics. Oxford University Press.

Jamieson, D. (2014). Reason in a dark time: Why the struggle against climate change failed—and what it means for our future. Oxford University Press.

Kant, I. (1964). Groundwork of the metaphysics of morals (H. J. Paton, Trans.). Harper & Row. (Original work published 1785)

Kitcher, P. (2011). The ethical project. Harvard University Press.

Kohlberg, L. (1981). Essays on moral development, Vol. I: The philosophy of moral development. Harper & Row.

Korsgaard, C. (1996). The sources of normativity. Cambridge University Press.

Korsgaard, C. (2009). Self-constitution: Agency, identity, and integrity. Oxford University Press.

Küng, H. (1991). Global responsibility: In search of a new world ethic. Crossroad.

Laudan, L. (1996). Beyond positivism and relativism: Theory, method, and evidence. Westview Press.

Leopold, A. (1949). A sand county almanac. Oxford University Press.

Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An essay on exteriority. Martinus Nijhoff.

MacIntyre, A. (1981). After virtue: A study in moral theory. University of Notre Dame Press.

McDowell, J. (1994). Mind and world. Harvard University Press.

McDowell, J. (1998). Two sorts of naturalism. In Mind, value, and reality (pp. 167–196). Harvard University Press.

Moore, G. E. (1903). Principia ethica. Cambridge University Press.

Nagel, T. (1986). The view from nowhere. Oxford University Press.

Nagel, E. (1961). The structure of science: Problems in the logic of scientific explanation. Harcourt.

Næss, A. (1989). Ecology, community, and lifestyle: Outline of an ecosophy (D. Rothenberg, Trans.). Cambridge University Press.

Norton, B. (2005). Sustainability: A philosophy of adaptive ecosystem management. University of Chicago Press.

Nussbaum, M. C. (2006). Frontiers of justice: Disability, nationality, species membership. Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities: The human development approach. Harvard University Press.

Prinz, J. (2007). The emotional construction of morals. Oxford University Press.

Putnam, H. (2002). The collapse of the fact/value dichotomy and other essays. Harvard University Press.

Putnam, H. (2004). Ethics without ontology. Harvard University Press.

Railton, P. (1986). Moral realism. The Philosophical Review, 95(2), 163–207.

Railton, P. (1986). Facts and values. Philosophical Topics, 14(2), 5–31.

Rachels, J. (2015). The elements of moral philosophy (8th ed.). McGraw-Hill.

Rawls, J. (1971). A theory of justice. Harvard University Press.

Rawls, J. (1993). Political liberalism. Columbia University Press.

Rolston, H., III. (1988). Environmental ethics: Duties to and values in the natural world. Temple University Press.

Roskies, A. (2006). Neuroscientific challenges to free will and responsibility. Trends in Cognitive Sciences, 10(9), 419–424.

Ruse, M. (1986). Taking Darwin seriously: A naturalistic approach to philosophy. Basil Blackwell.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press. (Original work published 1946)

Savulescu, J. (2003). Ethics and evidence-based medicine. Oxford University Press.

Searle, J. R. (1964). How to derive “ought” from “is.” The Philosophical Review, 73(1), 43–58.

Sen, A. (2009). The idea of justice. Harvard University Press.

Singer, P. (2011). Practical ethics (3rd ed.). Cambridge University Press.

Steinbock, A. (2007). Phenomenology and mysticism: The verticality of religious experience. Indiana University Press.

Sturgeon, N. (1984). Moral explanations. In D. Copp & D. Zimmerman (Eds.), Morality, reason, and truth (pp. 49–78). Rowman & Allanheld.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Thompson, E. (2007). Mind in life: Biology, phenomenology, and the sciences of mind. Harvard University Press.

Tomasello, M. (2016). A natural history of human morality. Harvard University Press.

Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford University Press.

Wallach, W., & Allen, C. (2009). Moral machines: Teaching robots right from wrong. Oxford University Press.

Williams, B. (1985). Ethics and the limits of philosophy. Harvard University Press.

Williams, B. (1993). Shame and necessity. University of California Press.

Wilson, E. O. (1975). Sociobiology: The new synthesis. Harvard University Press.

Wilson, E. O. (1998). Consilience: The unity of knowledge. Knopf.

Wilson, E. O. (2014). The meaning of human existence. W. W. Norton.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar