Selasa, 25 November 2025

Filsafat Eksistensialisme dan Islam: Dialog Antara Kebebasan, Eksistensi, dan Transendensi

Filsafat Eksistensialisme dan Islam

Dialog Antara Kebebasan, Eksistensi, dan Transendensi


Alihkan ke: SKS Kuliah S1 Filsafat Islam.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif hubungan dialektis antara filsafat eksistensialisme dan Islam dengan menyoroti aspek ontologis, epistemologis, aksiologis, teologis, serta sosial-intelektual dari keduanya. Eksistensialisme lahir sebagai respons terhadap krisis makna dalam modernitas, menempatkan kebebasan dan subjektivitas manusia sebagai pusat refleksi filosofis. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa keberadaan manusia berakar pada al-Wujūd al-Ḥaqq (Wujud Mutlak) dan diarahkan kepada tujuan spiritual yang transenden. Dalam upaya sintesis, artikel ini menunjukkan bahwa filsafat eksistensialisme dapat memperkaya pemahaman Islam tentang kebebasan, tanggung jawab, dan kesadaran diri, sementara Islam memberikan arah metafisis dan spiritual yang menghindarkan eksistensialisme dari nihilisme.

Kajian ini menelusuri landasan historis eksistensialisme dari Kierkegaard, Nietzsche, hingga Sartre, dan menempatkannya dalam dialog kreatif dengan pemikiran Islam klasik dan modern seperti Ibn ‘Arabi, al-Ghazali, Muhammad Iqbal, dan Ali Shariati. Hasil analisis menunjukkan bahwa sintesis antara eksistensialisme dan Islam menghasilkan suatu paradigma yang disebut eksistensialisme teistik Islam, yaitu filsafat yang memadukan kebebasan eksistensial dengan kesadaran tauhid. Paradigma ini relevan dalam konteks kontemporer untuk menjawab krisis spiritual, moral, dan ekologis yang melanda dunia modern, sekaligus menegaskan kembali peran manusia sebagai makhluk bebas, sadar, dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Kata Kunci: Eksistensialisme, Filsafat Islam, Kebebasan, Tauhid, Kesadaran Diri, Ontologi, Aksiologi, Iqbal, Shariati, Eksistensialisme Teistik.


PEMBAHASAN

Kajian Kritis terhadap Filsafat Eksistensialisme dan Islam


1.           Pendahuluan

Filsafat eksistensialisme lahir dari kegelisahan manusia terhadap makna hidup, kebebasan, dan keberadaan dirinya di tengah dunia yang kian absurd. Ia muncul sebagai respons terhadap dehumanisasi modernitas yang menempatkan manusia sekadar objek rasional atau komponen mekanistik dalam sistem sosial dan ekonomi. Gerakan ini menjadi semacam seruan untuk mengembalikan martabat eksistensial manusia—sebagai makhluk yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Eksistensialisme, dalam pandangan tokoh-tokohnya seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, dan Gabriel Marcel, menempatkan eksistensi manusia sebagai pusat segala refleksi filosofis: manusia terlebih dahulu ada (exist), barulah ia membangun esensinya melalui tindakan dan pilihan hidup yang autentik.¹

Dalam konteks peradaban Barat, eksistensialisme tidak hanya menjadi aliran filsafat, tetapi juga suatu “fenomena kultural” yang menandai pergeseran paradigma dari determinisme rasional menuju kebebasan subjektif. Akar teologis dan moral yang dulu menopang kehidupan manusia Barat perlahan tergerus oleh rasionalisme dan sekularisasi, menciptakan kekosongan spiritual yang mendalam.² Di tengah krisis itu, eksistensialisme hadir sebagai usaha untuk memahami penderitaan, absurditas, dan keterasingan manusia modern. Nietzsche mengumandangkan “kematian Tuhan” sebagai metafora atas hilangnya pusat makna, sementara Sartre menegaskan bahwa tanpa Tuhan, manusia “dikondisikan untuk bebas”—dan kebebasan itu sekaligus menjadi beban eksistensial.³

Namun, perspektif Islam tentang eksistensi menawarkan horizon yang berbeda. Dalam Islam, eksistensi manusia tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan al-Wujud al-Haqq—Realitas Tertinggi, yaitu Tuhan. Manusia bukan makhluk yang terlempar tanpa makna ke dunia, melainkan diciptakan dengan tujuan dan tanggung jawab kosmik.⁴ Filsafat Islam klasik, sebagaimana tampak pada pemikiran al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, dan Ibn ‘Arabi, menempatkan eksistensi sebagai sesuatu yang terhubung secara ontologis dengan wujud Ilahi. Dalam kerangka ini, keberadaan manusia memperoleh maknanya bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari relasinya dengan Sang Pencipta.⁵

Dialog antara eksistensialisme dan Islam menjadi penting karena keduanya berbicara tentang persoalan yang sama—yakni eksistensi manusia, kebebasan, makna hidup, dan keautentikan—namun dari horizon metafisik yang berbeda. Eksistensialisme menegaskan otonomi manusia dalam menentukan esensinya, sedangkan Islam menekankan kebebasan dalam keterikatan terhadap kehendak Ilahi.⁶ Pertemuan kedua paradigma ini membuka ruang refleksi filosofis yang subur: bagaimana manusia dapat menjadi subjek yang bebas tanpa tercerabut dari akar spiritualitasnya? Bagaimana kebebasan dapat diselaraskan dengan tanggung jawab teologis? Dan bagaimana eksistensi manusia dipahami dalam konteks transendensi?

Kajian mengenai Filsafat Eksistensialisme dan Islam ini berupaya menggali titik-titik konvergensi dan divergensi antara kedua tradisi pemikiran tersebut. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan komparatif, pembahasan ini akan menelusuri dasar historis, ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang membentuk dua arus pemikiran tersebut.⁷ Kajian ini juga akan menunjukkan bagaimana pemikir Muslim modern—seperti Muhammad Iqbal, Ali Shariati, dan Seyyed Hossein Nasr—telah mengintegrasikan dimensi eksistensial dengan spiritualitas Islam dalam kerangka teistik yang rasional dan etis.⁸

Melalui pendekatan ini, diharapkan muncul sintesis filosofis yang tidak hanya mempertemukan eksistensialisme dan Islam secara teoretis, tetapi juga memberikan arah baru bagi pengembangan filsafat manusia yang menempatkan kebebasan dan tanggung jawab dalam kesatuan tauhid. Artikel ini, dengan demikian, menjadi bagian dari upaya untuk membangun jembatan konseptual antara krisis eksistensi modern dan spiritualitas Islam yang transenden, demi melahirkan pemahaman baru tentang manusia sebagai makhluk yang “ada untuk menyadari keberadaannya dalam Tuhan.”⁹


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 22.

[2]                Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007), 432–435.

[3]                Friedrich Nietzsche, The Gay Science, trans. Walter Kaufmann (New York: Vintage, 1974), 181.

[4]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2007), 14–16.

[5]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 25–27.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2001), 56.

[7]                Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 38–40.

[8]                Ali Shariati, On the Sociology of Islam (Berkeley: Mizan Press, 1979), 112–115.

[9]                Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 78.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Akar historis filsafat eksistensialisme dapat ditelusuri dari keprihatinan mendalam terhadap krisis makna manusia di tengah modernitas. Meskipun istilah “eksistensialisme” baru dikenal pada abad ke-20, benih-benih pemikiran eksistensial telah muncul sejak abad ke-19 melalui pergulatan intelektual Søren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche. Kierkegaard, yang sering disebut sebagai “bapak eksistensialisme”, menolak abstraksi rasional Hegelian dan menekankan pentingnya keberadaan individu yang konkret, penuh kecemasan, dan beriman secara personal kepada Tuhan.¹ Baginya, kebenaran tidak ditemukan dalam sistem rasional yang objektif, tetapi dalam pengalaman eksistensial yang subjektif.²

Sebaliknya, Nietzsche mewakili sisi lain dari spektrum eksistensialisme: sebuah pemberontakan terhadap nilai-nilai tradisional dan teologi Kristen yang dianggapnya menindas kebebasan manusia. Ia mengumandangkan “kematian Tuhan” sebagai simbol kejatuhan nilai-nilai metafisis lama, membuka ruang bagi manusia untuk menciptakan maknanya sendiri.³ Pemikiran Nietzsche menjadi dasar bagi eksistensialisme ateistik abad ke-20, yang kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Sartre menegaskan bahwa “eksistensi mendahului esensi,” yang berarti manusia pertama-tama ada dan baru kemudian menentukan dirinya melalui tindakan dan pilihan.⁴

Fase berikutnya menampilkan Martin Heidegger sebagai tokoh yang membawa eksistensialisme ke dalam horizon ontologis yang lebih dalam. Dalam karyanya Sein und Zeit (Being and Time), Heidegger menelaah eksistensi manusia (Dasein) sebagai keberadaan yang sadar akan kefanaannya, dan karena itu menanggung tanggung jawab atas keberadaannya sendiri di dunia.⁵ Di tangan Heidegger, eksistensialisme tidak lagi sekadar persoalan moral atau teologis, tetapi juga persoalan ontologi tentang “ada” itu sendiri.

Di sisi lain, Gabriel Marcel menjadi jembatan antara eksistensialisme dan religiositas. Sebagai eksistensialis Katolik, Marcel menolak pandangan nihilistik Sartre dan menegaskan bahwa eksistensi manusia menemukan maknanya hanya dalam relasi dengan yang transenden.⁶ Dengan demikian, eksistensialisme terbagi menjadi dua arus besar: eksistensialisme ateistik (Nietzsche, Sartre, Camus) dan eksistensialisme teistik (Kierkegaard, Marcel, Jaspers).

Sementara itu, dalam dunia Islam, refleksi tentang eksistensi sudah lama berakar dalam tradisi filsafat dan tasawuf. Filsafat Islam klasik yang dikembangkan oleh al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd telah membahas persoalan wujud (eksistensi) dan mahiyyah (esensi) secara mendalam. Ibn Sina, misalnya, mengemukakan bahwa eksistensi merupakan aksiden yang melekat pada esensi; hanya Tuhan yang memiliki eksistensi sebagai hakikat-Nya sendiri.⁷ Pemikiran ini kemudian mendapat reinterpretasi kritis dari al-Ghazali, yang menekankan dimensi spiritual dan kebergantungan total manusia kepada Tuhan.⁸

Konsep eksistensi mencapai puncak kedalaman metafisiknya dalam pemikiran Ibn ‘Arabi. Ia memperkenalkan doktrin wahdat al-wujūd (kesatuan eksistensi), yang menegaskan bahwa semua yang ada merupakan manifestasi dari Wujud Ilahi yang tunggal.⁹ Dalam kerangka ini, manusia bukan sekadar subjek yang sadar, tetapi juga cermin bagi realitas Tuhan. Maka, keberadaan manusia menjadi sakral, bukan absurd sebagaimana dipahami oleh eksistensialisme ateistik.

Secara genealogis, dapat dikatakan bahwa eksistensialisme Barat dan pemikiran eksistensial Islam sama-sama lahir dari pergulatan eksistensial manusia terhadap makna hidup dan hubungannya dengan yang transenden. Akan tetapi, keduanya berkembang dalam konteks kultural dan epistemologis yang berbeda. Eksistensialisme Barat tumbuh dari krisis iman dalam masyarakat pasca-Enlightenment, sementara eksistensialisme Islam berakar dari pengalaman spiritual yang menegaskan keterhubungan manusia dengan Tuhan.¹⁰

Pada abad ke-20, upaya untuk mempertemukan kedua tradisi ini muncul melalui pemikir Muslim modern seperti Muhammad Iqbal dan Ali Shariati. Iqbal mengembangkan konsep “ego dinamis” (khudi) sebagai bentuk eksistensial manusia yang sadar dan kreatif, namun tetap berada dalam orbit kehendak Ilahi.¹¹ Shariati, di sisi lain, mengadopsi semangat eksistensialis untuk membangkitkan kesadaran revolusioner umat Islam terhadap penindasan sosial dan spiritual.¹² Melalui mereka, eksistensialisme mendapatkan bentuk baru yang religius dan profetik—sebuah paradigma yang menolak nihilisme Barat tanpa kehilangan semangat kebebasan eksistensial.

Dengan demikian, landasan historis dan genealogis filsafat eksistensialisme dan Islam memperlihatkan dua jalan yang berbeda menuju satu persoalan mendasar: bagaimana manusia memahami keberadaannya di dunia dan menemukan makna hidup di tengah keterbatasan. Pertemuan kedua tradisi ini membuka kemungkinan untuk melahirkan suatu eksistensialisme teistik Islam yang memadukan kebebasan dengan kesadaran transendensi, menjadikan manusia bukan sekadar subjek otonom, tetapi juga makhluk yang “ada untuk menyadari keberadaannya di hadapan Tuhan.”¹³


Footnotes

[1]                Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1985), 47.

[2]                David F. Swenson, Kierkegaardian Philosophy in the Twentieth Century (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1950), 12–14.

[3]                Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Modern Library, 1954), 108.

[4]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 26–27.

[5]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 41–43.

[6]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 92.

[7]                Ibn Sina, Al-Isharat wa al-Tanbihat, ed. Sulayman Dunya (Cairo: Dar al-Ma’arif, 1957), 145.

[8]                Abu Hamid al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, trans. Michael E. Marmura (Provo, UT: Brigham Young University Press, 2000), 78–80.

[9]                Ibn ‘Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 54–56.

[10]             Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1983), 19–22.

[11]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 87–90.

[12]             Ali Shariati, Marxism and Other Western Fallacies: An Islamic Critique (Berkeley: Mizan Press, 1980), 131–133.

[13]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 212.


3.           Ontologi Eksistensi

Ontologi eksistensialisme berangkat dari premis dasar bahwa eksistensi mendahului esensi (existence precedes essence).¹ Prinsip ini secara radikal menolak pandangan metafisis klasik yang meyakini bahwa setiap makhluk memiliki hakikat atau esensi yang menentukan bentuk dan tujuannya sebelum keberadaannya aktual di dunia. Dalam pandangan Jean-Paul Sartre, manusia pertama-tama “ada,” kemudian melalui tindakan dan pilihan bebasnya, ia membentuk dirinya sendiri.² Manusia tidak memiliki kodrat yang tetap; ia adalah proyek terbuka yang senantiasa menjadi (becoming). Konsekuensinya, eksistensi manusia selalu disertai kecemasan (angst), karena setiap pilihan mengandung tanggung jawab penuh atas penentuan makna hidupnya sendiri.³

Eksistensialisme, dalam hal ini, memusatkan perhatian pada “ada” manusia (Dasein), sebagaimana dikembangkan oleh Martin Heidegger. Heidegger menolak cara berpikir ontologis tradisional yang memisahkan antara subjek dan objek. Dalam Being and Time, ia memperkenalkan analisis tentang being-in-the-world (In-der-Welt-sein), di mana manusia tidak pernah berada secara terpisah dari dunianya, melainkan selalu terlibat di dalamnya.⁴ Eksistensi manusia bersifat faktis—terbatas oleh waktu, kematian, dan situasi konkret—namun justru dalam keterbatasan itulah manusia menemukan autentisitas dirinya.⁵ Heidegger menggeser filsafat dari ontologi substansial menuju ontologi fenomenologis, yang menekankan pengalaman langsung terhadap keberadaan sebagai sesuatu yang selalu terbuka dan dinamis.⁶

Sementara itu, eksistensialisme ateistik Sartre menegaskan ketiadaan Tuhan sebagai dasar bagi kebebasan manusia. Tanpa Tuhan, tidak ada rancangan universal tentang manusia; karenanya, manusia sendirilah yang harus menciptakan nilai dan makna.⁷ Namun kebebasan ini tidak identik dengan anarki moral. Bagi Sartre, kebebasan adalah tanggung jawab eksistensial: manusia selalu “dihukum untuk bebas” karena ia tidak dapat lari dari keputusan yang diambilnya.⁸ Dengan demikian, ontologi eksistensialisme mengandung dua wajah: kebebasan yang membebaskan sekaligus membebani.

Dalam perspektif Islam, ontologi eksistensi memiliki arah yang berbeda secara mendasar. Filsafat Islam klasik, khususnya dalam tradisi Peripatetik (mashsha’i), telah lama membedakan antara wujud (eksistensi) dan mahiyyah (esensi). Ibn Sina menegaskan bahwa mahiyyah menjawab pertanyaan “apa sesuatu itu,” sedangkan wujud menjawab “apakah sesuatu itu ada.”⁹ Hanya Tuhan yang wujud dan mahiyyah-Nya identik, karena Ia adalah Wajib al-Wujud—wujud yang niscaya, keberadaannya tidak bergantung pada apa pun.¹⁰ Adapun makhluk lain merupakan mumkin al-wujud—eksistensinya kontingen, bergantung sepenuhnya pada kehendak Ilahi.¹¹ Dengan demikian, eksistensi dalam filsafat Islam tidak berdiri otonom, tetapi selalu berakar pada sumber keberadaan tertinggi, yakni Tuhan.

Ibn ‘Arabi memperdalam konsep ini dengan doktrin wahdat al-wujūd (kesatuan eksistensi), yang menegaskan bahwa semua bentuk keberadaan merupakan manifestasi dari satu realitas Ilahi yang mutlak.¹² Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang independen, melainkan refleksi dari al-Wujūd al-Haqq (Wujud Hakiki). Relasi manusia dengan Tuhan bersifat ontologis dan langsung; manusia adalah cermin tempat Tuhan menampakkan diri-Nya.¹³ Oleh karena itu, dalam Islam, eksistensi manusia tidak bermakna tanpa keterhubungan dengan sumber wujudnya.

Berbeda dengan eksistensialisme Barat yang sering kali bersifat antroposentris dan sekuler, ontologi Islam bersifat teosentris. Eksistensi manusia dipahami dalam horizon tauhid, yaitu kesatuan antara keberadaan, pengetahuan, dan nilai. Dalam tauhid, kebebasan bukanlah pemisahan dari Tuhan, melainkan kebebasan yang menemukan maknanya di dalam kehendak Ilahi.¹⁴ Manusia bebas bukan untuk menciptakan nilai arbitrer, tetapi untuk merealisasikan potensi spiritual yang ditiupkan Tuhan ke dalam dirinya. Ontologi eksistensial Islam dengan demikian adalah ontologi transenden—sebuah kerangka yang menempatkan eksistensi manusia sebagai perjalanan menuju kesadaran Ilahi.

Jika eksistensialisme Barat berangkat dari pengalaman keterlemparan manusia ke dunia yang absurd, maka Islam menawarkan paradigma keterpanggilan: manusia dipanggil untuk mengenal dan menyaksikan Tuhannya melalui eksistensinya.¹⁵ Eksistensi bukanlah absurditas, melainkan amanah. Di sinilah letak sintesis ontologis antara dua tradisi: manusia memang eksisten dan bebas, tetapi kebebasannya memiliki orientasi ontologis kepada sumber wujudnya. Dengan demikian, kebebasan eksistensial dalam Islam tidak berujung pada nihilisme, melainkan pada realisasi spiritual—kesadaran bahwa “ada” manusia hanyalah bayangan dari Ada yang Mutlak.¹⁶


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22.

[2]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 19–20.

[3]                Rollo May, The Meaning of Anxiety (New York: W. W. Norton, 1950), 45–47.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 67.

[5]                Hubert L. Dreyfus, Being-in-the-World: A Commentary on Heidegger’s Being and Time, Division I (Cambridge, MA: MIT Press, 1991), 31–33.

[6]                Emmanuel Levinas, Existence and Existents, trans. Alphonso Lingis (The Hague: Martinus Nijhoff, 1978), 10–12.

[7]                Friedrich Nietzsche, The Gay Science, trans. Walter Kaufmann (New York: Vintage, 1974), 181.

[8]                Sartre, Existentialism Is a Humanism, 29.

[9]                Ibn Sina, Al-Isharat wa al-Tanbihat, ed. Sulayman Dunya (Cairo: Dar al-Ma’arif, 1957), 142.

[10]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 92–93.

[11]             Mulla Sadra, Al-Asfar al-Arba‘a, trans. Asfar Shirazi (Tehran: Islamic Research Institute, 1981), 28.

[12]             Ibn ‘Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 51.

[13]             William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 25–27.

[14]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 78–79.

[15]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 105.

[16]             Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2007), 32–33.


4.           Epistemologi Eksistensial dan Spiritualitas Islam

Epistemologi eksistensial berangkat dari keyakinan bahwa pengetahuan bukan semata hasil proses rasional atau empiris, tetapi pengalaman langsung manusia terhadap dirinya sendiri dan dunianya. Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa kesadaran manusia bersifat intentional—selalu terarah pada sesuatu di luar dirinya—dan pengetahuan lahir dari keterlibatan eksistensial manusia dengan realitas yang dihayatinya.¹ Pengetahuan eksistensial bukanlah kumpulan proposisi objektif, melainkan kesadaran reflektif yang tumbuh dari keberadaan yang sadar akan kebebasannya dan keterbatasannya.² Karena itu, eksistensialisme menolak pandangan epistemologi klasik yang memisahkan subjek dan objek secara kaku; pengetahuan tidak bersifat netral, tetapi senantiasa terkait dengan pengalaman hidup, pilihan, dan makna yang dihasilkan manusia sendiri.³

Dalam kerangka Heideggerian, epistemologi tidak lagi dipahami sebagai relasi kognitif, melainkan sebagai bentuk “pengungkapan keberadaan” (aletheia).⁴ Pengetahuan sejati muncul ketika manusia memahami dirinya sebagai Dasein—makhluk yang sadar akan “ada”-nya dan terbuka terhadap kebenaran yang terungkap melalui keberadaannya di dunia. Dengan demikian, epistemologi eksistensial bersifat fenomenologis: ia berusaha memahami makna dari pengalaman sebagaimana dialami, bukan sekadar menjelaskan realitas secara konseptual.⁵

Namun, epistemologi eksistensialisme Barat cenderung berhenti pada kesadaran manusia itu sendiri; ia menganggap pengetahuan sebagai hasil refleksi manusia terhadap dirinya dan dunianya yang terbatas. Dari sudut pandang Islam, pendekatan semacam ini dianggap reduktif karena menutup kemungkinan dimensi transendensi. Dalam Islam, sumber pengetahuan tidak hanya berasal dari pengalaman eksistensial manusia, tetapi juga dari realitas metafisik yang melampaui kesadaran empiris.⁶

Tradisi epistemologis Islam mengenal tiga tingkat pengetahuan: ‘ilm al-yaqīn (pengetahuan rasional), ‘ayn al-yaqīn (pengetahuan intuitif), dan haqq al-yaqīn (pengetahuan eksistensial atau penyatuan dengan kebenaran).⁷ Ketiganya menggambarkan proses peningkatan kesadaran dari pengetahuan konseptual menuju pengetahuan yang dialami secara langsung dalam kedekatan dengan Tuhan. Dalam tasawuf, pengalaman eksistensial ini dikenal sebagai ma‘rifah—pengetahuan yang lahir dari penyucian diri (tazkiyah al-nafs) dan pencerahan batin.⁸ Dengan demikian, epistemologi spiritual Islam menempatkan pengetahuan sebagai perjumpaan ontologis antara manusia dan realitas Ilahi.

Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh kunci dalam tradisi epistemologi Islam yang menjembatani rasionalitas dan pengalaman mistik. Dalam al-Munqidz min al-Dhalal, ia menggambarkan perjalanan intelektualnya dari keraguan filosofis menuju pengetahuan langsung melalui pengalaman spiritual.⁹ Ia menegaskan bahwa pengetahuan sejati tidak diperoleh melalui logika semata, melainkan melalui penyucian hati yang memungkinkan cahaya Tuhan (nur) menembus kesadaran manusia.¹⁰ Perspektif ini selaras dengan pandangan eksistensial bahwa pengetahuan sejati lahir dari keterlibatan eksistensial yang otentik, namun dalam Islam, keterlibatan itu bukan semata dengan dunia, melainkan dengan Tuhan sebagai sumber keberadaan dan kebenaran.¹¹

Dalam konteks ini, epistemologi eksistensial Islam dapat disebut sebagai epistemologi tauhidi—pengetahuan yang memadukan rasionalitas, intuisi, dan wahyu dalam kesatuan pengalaman eksistensial manusia.¹² Pengetahuan bukan sekadar “mengetahui tentang sesuatu,” melainkan “menjadi sadar dalam keberadaan,” sebagaimana diungkap oleh Ibn ‘Arabi: “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”¹³ Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan tertinggi bersifat reflektif dan ontologis: mengenal diri berarti menyadari eksistensi sebagai manifestasi Wujud Ilahi.

Dengan demikian, epistemologi eksistensial dan spiritualitas Islam bertemu pada titik kesadaran: keduanya menempatkan pengalaman pribadi sebagai jalan menuju kebenaran. Namun, jika eksistensialisme Barat berhenti pada kesadaran manusia sebagai pusat makna, Islam melanjutkannya kepada kesadaran ilahiah sebagai sumber makna.¹⁴ Dalam pandangan Islam, pengalaman eksistensial yang autentik selalu berujung pada kesadaran transendensi. Kebenaran tidak dihasilkan oleh manusia, melainkan ditemukan melalui pencerahan batin dalam relasi dengan Tuhan.¹⁵

Epistemologi eksistensial Islam, karenanya, adalah perpaduan antara pengalaman dan wahyu, antara kesadaran diri dan kesadaran Ilahi. Ia menolak dualisme antara akal dan iman, antara dunia dan Tuhan, karena seluruh wujud adalah medan penyingkapan makna Ilahi. Pengetahuan sejati bukanlah sekadar akumulasi informasi, tetapi transformasi eksistensial menuju keutuhan spiritual.¹⁶ Dalam hal ini, epistemologi Islam melampaui eksistensialisme sekuler dengan menegaskan bahwa pengetahuan yang paling autentik adalah pengetahuan yang menyatukan manusia dengan sumber eksistensinya—Tuhan yang Maha Ada.¹⁷


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 22–24.

[2]                Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 1962), 84.

[3]                Rollo May, The Discovery of Being (New York: W. W. Norton, 1983), 18–19.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 262.

[5]                Hubert L. Dreyfus, Being-in-the-World: A Commentary on Heidegger’s Being and Time, Division I (Cambridge, MA: MIT Press, 1991), 54–56.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 71–72.

[7]                Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 321.

[8]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 105–107.

[9]                Al-Ghazali, Deliverance from Error: Al-Munqidh min al-Dhalal, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 1999), 21–24.

[10]             Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge: Islamic Texts Society, 1998), 63–65.

[11]             William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 42.

[12]             Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 80–82.

[13]             Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyah, vol. 2 (Cairo: Dar Sadir, 1946), 112.

[14]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 95.

[15]             Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 28–30.

[16]             Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: Unwin, 1968), 101.

[17]             Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton: Princeton University Press, 1969), 137–138.


5.           Aksiologi dan Etika Eksistensial

Dalam tradisi eksistensialisme, persoalan nilai (aksiologi) dan etika tidak ditentukan oleh sistem moral universal atau hukum metafisis yang bersifat objektif, melainkan oleh keputusan bebas individu yang sadar akan keberadaannya.¹ Jean-Paul Sartre menolak gagasan tentang kodrat manusia yang telah ditetapkan sebelumnya, dan berpendapat bahwa manusia “terkutuk untuk bebas”—karena tiadanya Tuhan sebagai sumber nilai absolut menjadikan manusia sendirilah pencipta makna moralnya.² Kebebasan ini menimbulkan paradoks: di satu sisi, ia menjadi dasar keagungan eksistensi manusia; di sisi lain, ia juga menjadi sumber kecemasan moral karena setiap tindakan manusia menciptakan nilai yang memengaruhi seluruh umat manusia.³ Dengan demikian, etika eksistensialisme menekankan tanggung jawab pribadi: tindakan seseorang tidak hanya menentukan dirinya, tetapi juga menjadi pernyataan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup.⁴

Etika eksistensial tidak bertumpu pada perintah eksternal, melainkan pada kesadaran autentik individu. Heidegger menggambarkan keautentikan (Eigentlichkeit) sebagai keberanian untuk mengakui kefanaan dan bertindak sesuai dengan kesadaran terdalam, bukan mengikuti norma sosial yang impersonal.⁵ Dalam konteks ini, moralitas tidak lagi dimaknai sebagai ketaatan terhadap hukum, tetapi sebagai komitmen terhadap kejujuran eksistensial. Gabriel Marcel, di sisi lain, memperkenalkan dimensi cinta dan harapan sebagai fondasi etika eksistensial yang religius—bahwa kebebasan sejati hanya bermakna dalam relasi yang terbuka terhadap yang transenden dan terhadap sesama manusia.⁶

Namun, eksistensialisme ateistik seperti yang dikembangkan oleh Sartre atau Camus menghadapi dilema etis yang mendasar. Ketika Tuhan absen, semua nilai menjadi relatif; dunia kehilangan landasan objektif bagi kebaikan.⁷ Camus mencoba menjawab nihilisme ini melalui konsep “pemberontakan” (révolte): manusia tetap bertindak etis bukan karena hukum moral transenden, melainkan karena solidaritas eksistensial terhadap penderitaan sesamanya.⁸ Etika eksistensialisme, dengan demikian, adalah etika yang berakar pada kesadaran dan komitmen terhadap kehadiran manusia lain (the Other)—sebagaimana ditekankan Emmanuel Levinas, bahwa tanggung jawab etis lahir dari pengalaman eksistensial terhadap wajah orang lain sebagai manifestasi kehadiran moral.⁹

Berbeda dengan eksistensialisme Barat, Islam menempatkan nilai dan etika dalam bingkai teologis yang berakar pada tauhid. Filsafat Islam memandang bahwa sumber nilai tertinggi adalah Tuhan sebagai al-Khayr al-Mutlaq (Kebaikan Mutlak), dan manusia memperoleh nilai eksistensialnya sejauh ia merealisasikan kehendak Ilahi dalam tindakan.¹⁰ Kebebasan manusia diakui, namun kebebasan itu tidak absolut; ia terarah dan termaknai dalam struktur kosmos etis yang diciptakan oleh Tuhan.¹¹ Dalam Al-Qur’an, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi—makhluk bebas yang diberi amanah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, bukan sekadar menentukan nilai secara arbitrer.¹²

Etika Islam dengan demikian bersifat teleologis-transendental: setiap tindakan moral dinilai berdasarkan orientasinya kepada Tuhan dan kontribusinya terhadap kemaslahatan universal.¹³ Dalam hal ini, kebebasan tidak dimaknai sebagai kebebasan dari Tuhan, tetapi kebebasan untuk taat kepada Tuhan secara sadar dan reflektif. Muhammad Iqbal mengembangkan gagasan ini melalui konsep khudi (ego dinamis), yakni kesadaran eksistensial yang menegaskan kepribadian manusia sebagai wakil Tuhan di bumi, yang harus berkreasi secara bebas namun tetap dalam batas spiritualitas Ilahi.¹⁴ Kebebasan manusia adalah alat untuk menumbuhkan diri menuju kesempurnaan spiritual, bukan untuk mengingkari sumber keberadaannya.

Secara aksiologis, Islam dan eksistensialisme sama-sama menekankan tanggung jawab dan autentisitas moral, tetapi berbeda dalam landasan ontologisnya. Jika eksistensialisme Barat mendasarkan etika pada subjektivitas manusia, Islam mendasarkannya pada kesadaran tauhid yang memadukan kebebasan dan ketaatan.¹⁵ Dalam pandangan Seyyed Hossein Nasr, etika Islam tidak dapat dipisahkan dari metafisika; ia bersumber dari pengetahuan tentang realitas yang suci (al-Haqq).¹⁶ Dengan demikian, tindakan yang baik bukan hanya tindakan yang otonom, melainkan tindakan yang selaras dengan tatanan kosmik dan kehendak Ilahi.

Sintesis antara etika eksistensial dan Islam dapat dilihat sebagai upaya untuk meneguhkan manusia sebagai subjek bebas yang bertanggung jawab, namun yang kebebasannya menemukan makna dalam transendensi.¹⁷ Manusia bebas untuk memilih, tetapi pilihan yang autentik adalah pilihan yang selaras dengan fitrah dan kesadaran spiritualnya. Etika eksistensial Islam, karenanya, bukanlah penolakan terhadap kebebasan, melainkan pengarahannya menuju kesadaran etis yang menyatukan tindakan, iman, dan makna hidup. Dalam kerangka ini, nilai tidak diciptakan oleh manusia, tetapi diaktualisasikan melalui eksistensinya yang sadar akan Tuhan.¹⁸


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 24.

[2]                Ibid., 29.

[3]                Rollo May, Man’s Search for Himself (New York: W. W. Norton, 1953), 57.

[4]                Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 523.

[5]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 308–310.

[6]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 103–105.

[7]                Albert Camus, The Myth of Sisyphus, trans. Justin O’Brien (New York: Vintage International, 1991), 75–76.

[8]                Ibid., 109–110.

[9]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969), 33–34.

[10]             Al-Farabi, Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah, ed. Albert Nader (Beirut: Dar al-Mashriq, 1968), 122–123.

[11]             Ibn Sina, Kitab al-Najat, ed. Majid Fakhry (Beirut: Dar al-Afaq, 1982), 89.

[12]             Al-Qur’an 2:30.

[13]             Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 215.

[14]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 89–92.

[15]             Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 73–75.

[16]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 92.

[17]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 57.

[18]             Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 103–105.


6.           Dimensi Teologis dan Mistis

Dimensi teologis dalam filsafat eksistensialisme berkaitan dengan bagaimana manusia memahami relasinya dengan Tuhan dan makna keberadaannya di hadapan yang transenden. Dalam eksistensialisme teistik—yang diwakili oleh Søren Kierkegaard dan Gabriel Marcel—keberadaan manusia selalu dihayati dalam hubungan personal dengan Tuhan. Kierkegaard menolak sistem rasional Hegel yang berusaha menjelaskan iman secara universal dan impersonal. Baginya, iman bersifat eksistensial: ia lahir dari lompatan (leap of faith) yang melampaui rasio menuju perjumpaan personal dengan Tuhan.¹ Dalam kerangka ini, iman bukanlah hasil kesimpulan logis, tetapi keputusan eksistensial yang penuh risiko dan kecemasan; justru di dalam kecemasan itulah manusia menemukan makna dirinya sebagai makhluk yang bergantung pada Tuhan.²

Gabriel Marcel mengembangkan pandangan serupa namun dengan nuansa yang lebih dialogis. Ia menolak objektifikasi Tuhan dalam sistem filsafat dan menegaskan bahwa Tuhan hanya dapat dialami dalam perjumpaan batin yang intim.³ Menurut Marcel, pengalaman religius bukanlah hasil pemikiran spekulatif, melainkan “kehadiran” yang mengubah kesadaran manusia: manusia mengalami Tuhan bukan sebagai objek pengetahuan, tetapi sebagai “Engkau” yang memanggil.⁴ Dengan demikian, dimensi teologis eksistensialisme teistik menekankan bahwa keberadaan manusia hanya dapat dimengerti secara otentik dalam relasi dengan Sang Pencipta.

Sementara itu, eksistensialisme ateistik yang dikembangkan oleh Friedrich Nietzsche dan Jean-Paul Sartre mengambil posisi sebaliknya. Nietzsche menyatakan bahwa “Tuhan telah mati”—sebuah pernyataan simbolik yang menandai hilangnya pusat nilai transenden dalam kehidupan modern.⁵ Manusia kemudian harus menciptakan maknanya sendiri dalam dunia tanpa fondasi metafisis. Sartre melanjutkan gagasan ini dengan menegaskan bahwa ketiadaan Tuhan berarti tidak ada “rencana ilahi” bagi manusia; setiap individu bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan siapa dirinya.⁶ Namun, ketiadaan Tuhan dalam kerangka Sartre bukan sekadar penolakan terhadap agama, tetapi juga tantangan bagi manusia untuk menjadi autentik tanpa menggantungkan diri pada otoritas eksternal.⁷

Berbeda dari itu, Islam menolak dikotomi antara iman dan eksistensi. Dalam teologi Islam, keberadaan manusia selalu berakar pada al-Wujūd al-Haqq—Wujud Mutlak, yaitu Tuhan sendiri.⁸ Eksistensi manusia bukan sekadar fakta ontologis, melainkan tanda (āyah) dari realitas Ilahi. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Tuhan “lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri” (Q.S. Qāf [50] ayat 16), menandakan relasi eksistensial yang langsung dan imanen. Dengan demikian, teologi Islam tidak menempatkan Tuhan sebagai entitas yang jauh dan asing, melainkan sebagai sumber kehidupan yang menjiwai seluruh realitas.

Dimensi mistis dari eksistensialisme Islam paling nyata ditemukan dalam ajaran tasawuf. Pemikiran Ibn ‘Arabi tentang wahdat al-wujūd (kesatuan eksistensi) menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada adalah manifestasi dari Wujud Ilahi yang tunggal.⁹ Dalam pandangan ini, manusia bukan hanya “ada di hadapan Tuhan,” tetapi “ada di dalam Tuhan,” dalam arti eksistensinya merupakan pantulan dari realitas Ilahi. Ibn ‘Arabi menggambarkan hubungan ini dengan metafora cermin: Tuhan adalah Wujud sejati, sedangkan alam semesta dan manusia adalah pantulan-Nya.¹⁰

Pengalaman mistis dalam Islam, yang dikenal sebagai ma‘rifah, merupakan pengetahuan eksistensial tentang Tuhan yang dicapai melalui penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan fana’ (lenyapnya ego dalam kehadiran Ilahi).¹¹ Dalam keadaan fana’, manusia menyadari bahwa keberadaannya hanyalah bayangan dari Wujud Mutlak. Proses ini bukan bentuk pelarian dari dunia, tetapi transformasi kesadaran: dari keberadaan yang terpisah menjadi keberadaan yang bersatu secara spiritual dengan Tuhan.¹² Sejalan dengan itu, al-Ghazali menyatakan bahwa pengalaman religius yang autentik tidak dapat dicapai hanya dengan rasio, tetapi dengan hati yang tercerahkan oleh cahaya Ilahi (nūr ilāhī).¹³

Dengan demikian, dimensi teologis dan mistis Islam memperluas horizon eksistensialisme dengan memasukkan aspek transendensi yang tidak ditemukan dalam eksistensialisme sekuler. Jika eksistensialisme Barat berangkat dari kesadaran manusia terhadap absurditas dan keterlemparan, Islam menegaskan kesadaran terhadap kehadiran Ilahi di balik seluruh pengalaman eksistensial. Dalam kerangka ini, iman bukanlah penyangkalan terhadap kebebasan, tetapi bentuk tertinggi dari kesadaran eksistensial: kesadaran bahwa kebebasan sejati hanya bermakna dalam kehendak Tuhan.¹⁴

Dimensi mistis Islam juga menolak pandangan nihilistik dengan menunjukkan bahwa pencarian eksistensial manusia pada dasarnya adalah pencarian spiritual untuk kembali kepada asalnya. Ibn ‘Arabi menyebut proses ini sebagai al-rujū‘ ilā al-haqq—kembali kepada Kebenaran.¹⁵ Oleh karena itu, teologi dan mistisisme Islam bukan hanya memberikan jawaban metafisis, tetapi juga menawarkan jalan transformasi eksistensial: manusia menemukan makna keberadaannya ketika ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari gerak kosmik menuju Tuhan.¹⁶


Footnotes

[1]                Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1985), 56.

[2]                David F. Swenson, Kierkegaardian Philosophy in the Twentieth Century (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1950), 23.

[3]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 92.

[4]                Ibid., 108–110.

[5]                Friedrich Nietzsche, The Gay Science, trans. Walter Kaufmann (New York: Vintage, 1974), 181.

[6]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 28.

[7]                Albert Camus, The Rebel, trans. Anthony Bower (New York: Vintage, 1956), 42–43.

[8]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2007), 17.

[9]                Ibn ‘Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 55–57.

[10]             William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 38–39.

[11]             Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 105–107.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 115–117.

[13]             Abu Hamid al-Ghazali, Deliverance from Error: Al-Munqidh min al-Dhalal, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 1999), 51–52.

[14]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 101–102.

[15]             Ibn ‘Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, vol. 2 (Cairo: Dar Sadir, 1946), 214.

[16]             Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton: Princeton University Press, 1969), 145–147.


7.           Tokoh-Tokoh Sentral dan Sumbangan Intelektual

Filsafat eksistensialisme dan Islam memiliki sejumlah tokoh sentral yang berperan besar dalam merumuskan, mengembangkan, serta mempertemukan dua horizon pemikiran tersebut. Masing-masing tokoh membawa dimensi ontologis, etis, dan spiritual yang khas sesuai konteks historis dan intelektualnya. Bagian ini membahas secara sistematis tokoh-tokoh kunci dalam eksistensialisme Barat dan para pemikir Muslim yang berupaya mengintegrasikan semangat eksistensial dengan teologi Islam.

7.1.       Søren Kierkegaard: Fondasi Eksistensialisme Teistik

Søren Kierkegaard (1813–1855) dianggap sebagai pelopor utama eksistensialisme modern. Ia menolak sistem rasionalisme Hegelian yang menafikan individualitas, dengan menekankan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang bersifat subjektif dan eksistensial.¹ Menurut Kierkegaard, iman tidak dapat dicapai melalui akal, melainkan melalui “lompatan iman” (leap of faith) yang mengandung risiko eksistensial.² Iman baginya bukan kepastian logis, melainkan perjuangan batin yang menegaskan kebebasan manusia di hadapan Tuhan.³ Gagasannya tentang kecemasan (angst) dan pilihan moral yang otentik menjadi dasar bagi seluruh tradisi eksistensialisme setelahnya.

7.2.       Friedrich Nietzsche: Pemberontakan terhadap Metafisika dan Moralitas

Friedrich Nietzsche (1844–1900) menandai pergeseran radikal dalam sejarah pemikiran eksistensial. Ia memproklamasikan “kematian Tuhan” sebagai simbol runtuhnya nilai-nilai absolut yang menopang peradaban Barat.⁴ Nietzsche mengajak manusia untuk melampaui nihilisme dengan menjadi Übermensch (manusia unggul)—yakni individu yang menciptakan nilai-nilainya sendiri secara bebas dan kreatif.⁵ Dalam konteks etika eksistensial, Nietzsche menolak moralitas dogmatis dan menggantikannya dengan afirmasi terhadap kehidupan (amor fati).⁶ Meskipun pemikirannya bersifat anti-teistik, pengaruhnya sangat kuat terhadap filsafat eksistensialisme ateistik abad ke-20, termasuk pada Jean-Paul Sartre dan Albert Camus.

7.3.       Martin Heidegger: Ontologi “Ada” dan Eksistensi Manusia

Martin Heidegger (1889–1976) membawa eksistensialisme ke ranah ontologi mendalam melalui karyanya Sein und Zeit (Being and Time). Ia menelaah hakikat manusia sebagai Dasein, makhluk yang sadar akan keberadaannya dan kefanaannya.⁷ Heidegger menolak pemisahan subjek–objek dalam epistemologi modern dan menggantikannya dengan konsep being-in-the-world (In-der-Welt-sein), di mana pengetahuan dan keberadaan saling menyatu.⁸ Ia menegaskan bahwa makna eksistensi ditemukan melalui keterlemparan manusia dalam dunia dan kesadarannya akan kematian.⁹ Pemikiran Heidegger memengaruhi banyak filsuf Muslim modern seperti Muhammad Iqbal dan Seyyed Hossein Nasr dalam memahami keberadaan manusia secara spiritual dan kosmologis.

7.4.       Jean-Paul Sartre dan Gabriel Marcel: Dua Wajah Eksistensialisme

Jean-Paul Sartre (1905–1980) menjadi representasi utama eksistensialisme ateistik. Ia berpendapat bahwa “eksistensi mendahului esensi,” artinya manusia tidak memiliki hakikat tetap dan harus menciptakan dirinya sendiri melalui pilihan.¹⁰ Sartre menegaskan bahwa tanpa Tuhan, manusia “dihukum untuk bebas,” dan karena itu setiap tindakan manusia adalah tanggung jawab mutlak.¹¹ Sebaliknya, Gabriel Marcel (1889–1973) mengembangkan eksistensialisme teistik yang berlandaskan cinta, harapan, dan partisipasi dalam keberadaan Ilahi.¹² Marcel menolak reduksi manusia menjadi makhluk yang terisolasi dan mengembalikan makna eksistensi pada relasi dan keterbukaan terhadap Tuhan.¹³ Kedua tokoh ini menampilkan dua poros etis dari eksistensialisme: kebebasan absolut dan transendensi spiritual.

7.5.       Muhammad Iqbal: Eksistensialisme dalam Kerangka Tauhid

Muhammad Iqbal (1877–1938) merupakan pemikir Muslim modern yang secara eksplisit menyerap unsur-unsur eksistensialisme dan merekonstruksinya dalam kerangka Islam. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal menegaskan bahwa manusia adalah ego dinamis (khudi) yang harus mengaktualisasikan potensinya melalui perjuangan eksistensial di dunia.¹⁴ Ia menolak determinisme metafisik dan menekankan kebebasan manusia sebagai refleksi kehendak Ilahi.¹⁵ Bagi Iqbal, iman bukan sekadar kepercayaan pasif, melainkan tindakan kreatif untuk menegakkan nilai-nilai Ilahi di bumi.¹⁶ Dengan demikian, Iqbal memadukan semangat eksistensialis tentang kebebasan dengan konsep teologis tentang tanggung jawab dan kesadaran tauhid.

7.6.       Ali Shariati: Eksistensialisme Profetik dan Revolusi Spiritual

Ali Shariati (1933–1977) melanjutkan warisan Iqbal dengan membentuk apa yang ia sebut sebagai “eksistensialisme Islam” atau “eksistensialisme profetik.” Ia mengadopsi semangat eksistensialisme untuk membebaskan manusia dari keterasingan sosial, politik, dan spiritual.¹⁷ Dalam pandangan Shariati, manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi: tanah dan ruh, dunia dan Tuhan.¹⁸ Kebebasan sejati hanya dapat dicapai ketika manusia sadar akan misinya sebagai khalifah Tuhan di bumi.¹⁹ Dengan pendekatan ini, Shariati mengubah eksistensialisme menjadi ideologi pembebasan yang menekankan tanggung jawab moral dan sosial dalam kerangka teologis Islam.

7.7.       Seyyed Hossein Nasr dan Dimensi Sakral Eksistensi

Seyyed Hossein Nasr (1933–) merupakan tokoh kontemporer yang menekankan dimensi sakral dalam eksistensi manusia. Ia mengkritik eksistensialisme sekuler karena memisahkan manusia dari akar transendensinya.²⁰ Dalam karya Knowledge and the Sacred, Nasr menegaskan bahwa pengetahuan sejati bersumber dari kesadaran spiritual yang menghubungkan manusia dengan Wujud Mutlak.²¹ Ia melihat manusia bukan sebagai subjek otonom yang berdiri di hadapan dunia, melainkan sebagai makhluk kosmik yang menempati posisi sentral dalam tatanan Ilahi.²² Sumbangan Nasr terletak pada upayanya mengintegrasikan filsafat eksistensial dengan metafisika Islam tradisional dalam rangka mengatasi krisis spiritual modern.


Sintesis Intelektual: Menuju Eksistensialisme Islam

Dari uraian tokoh-tokoh di atas, tampak bahwa eksistensialisme Barat dan Islam memiliki arah evolusi yang berbeda namun berpotensi saling melengkapi. Kierkegaard, Heidegger, dan Marcel mewakili pencarian eksistensial menuju Tuhan, sementara Nietzsche dan Sartre mewakili penolakan terhadap nilai-nilai transenden. Di sisi lain, Iqbal, Shariati, dan Nasr berusaha membangun paradigma eksistensialisme teistik Islam, yang menegaskan kebebasan manusia namun tetap dalam kerangka tauhid dan tanggung jawab spiritual.²³ Dengan demikian, sumbangan intelektual utama dari tradisi Islam adalah mengembalikan eksistensi manusia kepada kesatuan makna antara kebebasan dan ketundukan, eksistensi dan transendensi, dunia dan Tuhan.


Footnotes

[1]                Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1985), 41–43.

[2]                David F. Swenson, Kierkegaardian Philosophy in the Twentieth Century (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1950), 17.

[3]                Merold Westphal, Kierkegaard’s Concept of Faith (Grand Rapids: Eerdmans, 2014), 56.

[4]                Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Modern Library, 1954), 108.

[5]                Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, trans. Judith Norman (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 95.

[6]                Walter Kaufmann, Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist (Princeton: Princeton University Press, 1974), 122–123.

[7]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 67–69.

[8]                Hubert L. Dreyfus, Being-in-the-World: A Commentary on Heidegger’s Being and Time (Cambridge, MA: MIT Press, 1991), 43.

[9]                Emmanuel Faye, Heidegger: The Introduction of Nazism into Philosophy, trans. Michael B. Smith (New Haven: Yale University Press, 2009), 45–47.

[10]             Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 23–25.

[11]             Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 553.

[12]             Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 88–90.

[13]             Ibid., 106.

[14]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 87–89.

[15]             Annemarie Schimmel, Gabriel’s Wing: A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal (Leiden: Brill, 1963), 114.

[16]             Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 82–83.

[17]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 57–59.

[18]             Ali Shariati, On the Sociology of Islam (Berkeley: Mizan Press, 1979), 122.

[19]             Ali Rahnema, An Islamic Utopian: A Political Biography of Ali Shariati (London: I.B. Tauris, 1998), 204.

[20]             Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2001), 62.

[21]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 115–118.

[22]             William C. Chittick, The Heart of Islamic Philosophy: The Quest for Self-Knowledge in the Teachings of Afdal al-Din Kashani (Oxford: Oxford University Press, 2001), 75–76.

[23]             Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 312–314.


8.           Kritik dan Klarifikasi Filosofis

Kritik terhadap eksistensialisme, baik dari dalam maupun luar tradisi Islam, berpusat pada persoalan mendasar: sejauh mana filsafat ini mampu menjelaskan makna eksistensi manusia tanpa kehilangan pijakan metafisis. Sebagai sebuah gerakan yang lahir dari krisis modernitas, eksistensialisme menonjolkan subjektivitas, kebebasan, dan tanggung jawab individual, namun di sisi lain sering dianggap terjebak dalam relativisme moral dan nihilisme ontologis.¹ Dari perspektif Islam, filsafat ini mengandung dua sisi yang kontradiktif: ia menegaskan nilai kebebasan manusia, namun sering kali mengaburkan sumber makna yang lebih tinggi, yakni Tuhan.²

Jean-Paul Sartre, dalam eksistensialismenya yang ateistik, menyatakan bahwa manusia “dihukum untuk bebas” karena tidak ada Tuhan yang menentukan hakikatnya.³ Pernyataan ini, walaupun menegaskan martabat manusia sebagai pencipta nilai, sekaligus menimbulkan problem etis dan teologis. Tanpa landasan transendental, kebebasan manusia menjadi absolut dan berpotensi kehilangan arah moral.⁴ Islam memandang bahwa kebebasan manusia harus dikaitkan dengan tanggung jawab kosmis; kebebasan tidak dapat dilepaskan dari fitrah dan kehendak Ilahi yang menjadi dasar eksistensi manusia.⁵ Dengan demikian, filsafat eksistensial Barat dipandang sebagai peringatan atas krisis makna, namun solusinya harus ditemukan melalui rekontekstualisasi teistik.

Martin Heidegger dikritik karena memisahkan Sein (Ada) dari Tuhan sebagai sumber metafisis. Ia menafsirkan “ada” sebagai misteri ontologis yang tidak dapat direduksi pada teologi, tetapi pendekatan ini menimbulkan kekosongan metafisik yang dalam.⁶ Dari perspektif filsafat Islam, “ada” tidak mungkin dipahami tanpa mengacu pada al-Wujūd al-Haqq—realitas mutlak yang menjadi sebab keberadaan segala sesuatu.⁷ Heidegger berusaha menggantikan metafisika tradisional dengan ontologi fenomenologis, namun bagi para pemikir Muslim seperti Seyyed Hossein Nasr, hal ini merupakan pengingkaran terhadap sakralitas eksistensi.⁸ Dalam Islam, ontologi tidak terpisah dari teologi; keberadaan itu sendiri adalah penyingkapan (tajallī) dari Tuhan.⁹

Friedrich Nietzsche juga menjadi sasaran kritik tajam karena nihilisme yang dihasilkannya. Slogan “Tuhan telah mati” memang dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari nilai-nilai dogmatis, namun justru menimbulkan kehampaan spiritual.¹⁰ Bagi para pemikir Islam seperti Muhammad Iqbal, Nietzsche berhasil mendiagnosis krisis Barat, tetapi gagal menawarkan jalan keluar yang berakar pada spiritualitas.¹¹ Iqbal menggantikan Übermensch Nietzsche dengan konsep Insān al-Kāmil—manusia sempurna yang kebebasannya justru menemukan makna dalam kesadaran tauhid.¹² Kritik ini memperlihatkan bahwa Islam tidak menolak eksistensialisme secara total, melainkan berusaha menyalurkannya ke arah integratif, di mana kebebasan eksistensial tunduk pada nilai-nilai transenden.

Selain kritik terhadap dimensi ateistik, eksistensialisme juga menghadapi klarifikasi filosofis dalam hal epistemologi. Pendekatan fenomenologisnya yang menekankan pengalaman langsung sering kali mengabaikan dimensi ilham (kashf) atau pengetahuan batin yang menjadi pusat epistemologi Islam.¹³ Dalam tradisi sufi, pengalaman eksistensial manusia tidak berhenti pada kesadaran diri, tetapi berkembang menuju kesadaran Ilahi. Ibn ‘Arabi menyebutnya sebagai ma‘rifah, yaitu pengetahuan yang diperoleh bukan dari rasio semata, melainkan dari penyaksian eksistensial terhadap Tuhan.¹⁴ Sementara Heidegger berhenti pada penghayatan terhadap keberadaan yang terbatas, Islam melanjutkannya kepada keberadaan yang mutlak.

Kritik lainnya datang dari aspek etika. Eksistensialisme menolak norma moral universal dan menempatkan individu sebagai pencipta nilai.¹⁵ Namun, tanpa struktur moral yang berakar pada kebenaran objektif, kebebasan mudah berubah menjadi relativisme etis. Dalam Islam, nilai-nilai moral bukanlah hasil konstruksi manusia, melainkan manifestasi dari kehendak Ilahi yang rasional dan penuh kasih.¹⁶ Dengan demikian, kebebasan tidak dihapuskan, tetapi diarahkan agar menemukan tujuan spiritualnya. Ali Shariati menegaskan bahwa kebebasan sejati tidak terwujud dalam penolakan terhadap Tuhan, melainkan dalam kesadaran akan tugas profetik manusia untuk membebaskan diri dan masyarakat dari penindasan.¹⁷

Klarifikasi filosofis terhadap eksistensialisme juga diperlukan agar konsep eksistensi tidak dipahami secara sempit. Dalam Islam, eksistensi bukan hanya “keberadaan manusia di dunia,” tetapi juga keterlibatannya dalam tatanan kosmos Ilahi.¹⁸ Setiap tindakan manusia memiliki makna ontologis, karena ia merefleksikan kehendak Tuhan di alam. Maka, keberadaan manusia bukan entitas yang netral, melainkan manifestasi dari hubungan spiritual yang mendalam.¹⁹ Dalam kerangka ini, eksistensialisme Islam bukanlah subordinasi terhadap sistem metafisis klasik, tetapi pembaruan pandangan tentang eksistensi yang memadukan kesadaran diri, kebebasan, dan transendensi.

Kritik Islam terhadap eksistensialisme, dengan demikian, bukanlah penolakan mutlak, melainkan upaya klarifikasi dan integrasi. Filsafat eksistensial menawarkan kedalaman dalam memahami subjektivitas dan kecemasan manusia, sedangkan Islam memberikan arah dan makna metafisis bagi eksistensi tersebut.²⁰ Melalui sintesis keduanya, muncul paradigma baru: eksistensialisme teistik Islam—suatu pandangan yang menegaskan bahwa kebebasan manusia bukan antitesis dari iman, melainkan cara manusia untuk secara sadar menegaskan keberadaannya di hadapan Tuhan yang Maha Ada.²¹


Footnotes

[1]                Jean Wahl, A Short History of Existentialism (New York: Philosophical Library, 1949), 33–34.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2001), 56.

[3]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 28.

[4]                Rollo May, Man’s Search for Himself (New York: W. W. Norton, 1953), 71.

[5]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 81–82.

[6]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 247–249.

[7]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2007), 19.

[8]                Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 104–106.

[9]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 36–38.

[10]             Friedrich Nietzsche, The Gay Science, trans. Walter Kaufmann (New York: Vintage, 1974), 181.

[11]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 93–94.

[12]             Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 326.

[13]             Abu Hamid al-Ghazali, Deliverance from Error: Al-Munqidh min al-Dhalal, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 1999), 49–51.

[14]             Ibn ‘Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 58–59.

[15]             Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 521.

[16]             Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 223.

[17]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 61–63.

[18]             Mulla Sadra, Al-Asfar al-Arba‘a, trans. Asfar Shirazi (Tehran: Islamic Research Institute, 1981), 42.

[19]             Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi (Princeton: Princeton University Press, 1969), 141–143.

[20]             Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 74.

[21]             Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 112.


9.           Dimensi Sosial dan Intelektual

Dimensi sosial dan intelektual dari eksistensialisme dan Islam memiliki kedalaman yang saling melengkapi. Jika eksistensialisme berangkat dari kesadaran individu terhadap keberadaannya yang autentik di tengah dunia yang absurd, maka Islam memperluas horizon itu menjadi kesadaran sosial yang berakar pada tanggung jawab terhadap Tuhan dan sesama manusia.¹ Dalam kedua sistem ini, manusia dipahami bukan hanya sebagai makhluk berpikir (homo sapiens), tetapi sebagai makhluk yang sadar akan keberadaannya di dunia (homo existens), yang harus berelasi dengan masyarakat dan realitas historis.²

Dalam filsafat eksistensialis Barat, kesadaran sosial lahir dari pengalaman keterasingan (alienation). Karl Jaspers dan Jean-Paul Sartre sama-sama menegaskan bahwa manusia modern hidup di tengah struktur sosial yang menekan kebebasan, menjadikannya terasing dari diri dan orang lain.³ Sartre melalui karyanya Critique of Dialectical Reason berusaha menjembatani eksistensialisme individual dengan dimensi sosial melalui konsep praxis—yakni tindakan konkret manusia dalam sejarah.⁴ Kebebasan manusia, menurutnya, hanya bermakna ketika diwujudkan dalam dunia sosial, sebab setiap tindakan personal memiliki konsekuensi kolektif.⁵ Pandangan ini memperluas etika eksistensial menjadi tanggung jawab sosial, walaupun tanpa dasar teologis.

Albert Camus menambahkan dimensi moral pada kesadaran sosial eksistensial melalui gagasan “pemberontakan” (révolte).⁶ Bagi Camus, pemberontakan terhadap absurditas dunia bukanlah penolakan terhadap eksistensi, tetapi upaya untuk menegaskan kemanusiaan dan solidaritas.⁷ Dalam hal ini, eksistensialisme mengajarkan bahwa makna hidup tidak diberikan dari luar, melainkan dibangun bersama melalui perjuangan manusia di dunia. Namun, karena tanpa orientasi transendental, solidaritas eksistensialis sering kali berakhir dalam relativisme moral atau aktivisme tanpa arah spiritual.⁸

Dalam perspektif Islam, dimensi sosial tidak terpisah dari dimensi eksistensial; keduanya berada dalam bingkai tauhid. Keberadaan manusia tidak hanya didefinisikan oleh kebebasannya, tetapi juga oleh amanahnya sebagai khalifah (steward) di bumi.⁹ Tanggung jawab sosial merupakan konsekuensi ontologis dari eksistensi manusia yang diberi kehendak bebas dan akal oleh Tuhan.¹⁰ Dalam Al-Qur’an, manusia diperintahkan untuk “menegakkan keadilan meskipun terhadap diri sendiri” (Q.S. An-Nisa 4:135), yang menandakan bahwa tanggung jawab eksistensial harus terwujud dalam dimensi etis dan sosial. Dengan demikian, kesadaran eksistensial Islam bukanlah kesadaran solipsistik, melainkan kesadaran profetik yang berorientasi pada transformasi masyarakat.¹¹

Tokoh-tokoh Muslim modern seperti Muhammad Iqbal dan Ali Shariati menafsirkan eksistensialisme dalam konteks sosial-politik Islam. Iqbal, misalnya, menolak spiritualitas pasif dan menyerukan aktivisme moral sebagai bentuk aktualisasi khudi (ego dinamis).¹² Ia menegaskan bahwa manusia harus menjadi “mitra kreatif Tuhan” dalam sejarah—sebuah gagasan yang menekankan pentingnya tindakan sosial sebagai bentuk penyembahan eksistensial.¹³ Shariati kemudian melanjutkan gagasan ini dengan menekankan dimensi revolusioner dari eksistensialisme Islam.¹⁴ Bagi Shariati, iman sejati bukanlah penyerahan diri yang fatalistik, melainkan kesadaran aktif terhadap penderitaan umat dan dorongan untuk mengubah struktur sosial yang menindas.¹⁵ Dengan demikian, eksistensi manusia Muslim menemukan maknanya dalam perjuangan sosial yang bernilai spiritual.

Dimensi intelektual eksistensialisme Islam juga sangat penting dalam membangun paradigma baru tentang hubungan antara iman dan rasio. Filsafat eksistensial menolak objektifikasi pengetahuan yang menempatkan manusia sebagai pengamat pasif, dan Islam memperkaya gagasan itu dengan menegaskan bahwa pengetahuan sejati (‘ilm) harus mengantarkan manusia pada kesadaran etis dan spiritual.¹⁶ Dalam tradisi Islam klasik, para filsuf seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan al-Ghazali memahami pengetahuan bukan hanya sebagai aktivitas kognitif, tetapi juga sebagai proses penyempurnaan diri menuju kebenaran Ilahi.¹⁷ Pengetahuan tanpa kesadaran eksistensial dianggap tidak lengkap karena tidak menghasilkan kebijaksanaan (hikmah).¹⁸

Krisis intelektual modern yang melahirkan eksistensialisme pada dasarnya merupakan reaksi terhadap dehumanisasi ilmu pengetahuan yang terlepas dari nilai. Islam merespons krisis ini dengan konsep ‘ilm al-tauhidī (pengetahuan yang berlandaskan tauhid), di mana seluruh dimensi intelektual manusia diarahkan untuk memahami kesatuan realitas dan tanggung jawab moralnya di dalamnya.¹⁹ Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa pemisahan antara ilmu dan nilai merupakan akar krisis spiritual modern; manusia modern telah kehilangan “pengetahuan sakral” yang menghubungkannya dengan sumber keberadaan.²⁰ Dalam kerangka ini, tugas intelektual Islam bukan hanya mencari kebenaran empiris, tetapi mengembalikan ilmu pada dimensi eksistensial dan spiritualnya.

Dengan demikian, dimensi sosial dan intelektual eksistensialisme Islam berfungsi sebagai koreksi terhadap dua kecenderungan ekstrem: individualisme sekuler dan religiusitas pasif.²¹ Islam tidak menolak subjektivitas eksistensial, tetapi mengarahkannya menuju tanggung jawab sosial dan kesadaran tauhid. Eksistensi manusia bukanlah proyek individual semata, melainkan perjalanan kolektif menuju keadilan, kasih sayang, dan kesempurnaan spiritual.²² Dalam pandangan ini, eksistensi dan masyarakat tidak dapat dipisahkan; keduanya saling mengandaikan dan menemukan maknanya dalam kesadaran Ilahi yang hidup di tengah sejarah manusia.²³


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 32.

[2]                Karl Jaspers, Philosophy of Existence, trans. Richard F. Grabau (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1971), 14–15.

[3]                Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 526–528.

[4]                Jean-Paul Sartre, Critique of Dialectical Reason, trans. Alan Sheridan-Smith (London: Verso, 2004), 87–89.

[5]                Rollo May, The Discovery of Being (New York: W. W. Norton, 1983), 64.

[6]                Albert Camus, The Rebel, trans. Anthony Bower (New York: Vintage, 1956), 36.

[7]                Ibid., 54–56.

[8]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969), 46–47.

[9]                Al-Qur’an 2:30.

[10]             Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: Unwin, 1968), 95–96.

[11]             Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978), 112.

[12]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 93–94.

[13]             Annemarie Schimmel, Gabriel’s Wing: A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal (Leiden: Brill, 1963), 132.

[14]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 63–65.

[15]             Ali Rahnema, An Islamic Utopian: A Political Biography of Ali Shariati (London: I.B. Tauris, 1998), 206–208.

[16]             Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge: Islamic Texts Society, 1998), 71–72.

[17]             Al-Farabi, Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah, ed. Albert Nader (Beirut: Dar al-Mashriq, 1968), 145.

[18]             Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 211–213.

[19]             Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 104–106.

[20]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 85–86.

[21]             Ali Shariati, On the Sociology of Islam (Berkeley: Mizan Press, 1979), 129.

[22]             Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 308.

[23]             Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 110.


10.       Relevansi Kontemporer

Filsafat eksistensialisme dan Islam, meskipun berasal dari konteks historis dan kultural yang berbeda, memiliki relevansi mendalam terhadap tantangan kontemporer umat manusia. Di tengah krisis global yang ditandai oleh kehilangan makna, dehumanisasi teknologi, dan fragmentasi spiritual, keduanya menawarkan perspektif yang mempertemukan kebebasan manusia dengan kesadaran moral dan transendensi.¹ Eksistensialisme, dengan penekanannya pada kebebasan dan tanggung jawab personal, menyoroti pentingnya keaslian (authenticity) dalam hidup modern yang sarat kepalsuan sosial. Sementara itu, Islam menegaskan bahwa kebebasan dan autentisitas hanya bermakna apabila diarahkan kepada kebenaran Ilahi dan tujuan hidup yang lebih tinggi.²

Dalam masyarakat modern yang terjebak dalam rutinitas mekanistik dan konsumerisme, eksistensialisme mengingatkan manusia agar tidak kehilangan jati diri. Jean-Paul Sartre memandang bahwa individu modern sering bersembunyi di balik sistem, norma, dan peran sosial, sehingga kehilangan kesadaran akan tanggung jawab eksistensialnya.³ Islam mengkritik kondisi ini melalui konsep ghaflah (kelalaian spiritual), di mana manusia lalai mengenali dirinya sebagai makhluk yang diciptakan untuk mengenal Tuhan.⁴ Maka, baik eksistensialisme maupun Islam sama-sama menyerukan kebangkitan kesadaran diri sebagai fondasi pembebasan manusia dari determinasi sosial maupun spiritual.

Krisis spiritual modern yang diidentifikasi oleh eksistensialis seperti Kierkegaard dan Marcel kini muncul kembali dalam bentuk alienasi digital dan nihilisme teknologi.⁵ Dalam era media sosial dan kecerdasan buatan, manusia mengalami keterasingan baru: ia kehilangan kedalaman makna dan menggantinya dengan citra diri yang dangkal. Gabriel Marcel memperingatkan bahwa manusia modern terancam menjadi “fungsi” dalam sistem, bukan lagi pribadi yang hidup secara otentik.⁶ Islam, melalui ajaran tauhid, memberikan jalan keluar melalui rekonstruksi hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama makhluk secara harmonis.⁷ Kesadaran tauhid bukan sekadar doktrin teologis, tetapi pandangan eksistensial yang memulihkan makna kehadiran manusia di tengah dunia yang kehilangan pusat nilai.

Relevansi eksistensialisme Islam juga tampak dalam krisis ekologi global. Seyyed Hossein Nasr menilai bahwa krisis lingkungan adalah krisis spiritual: manusia modern telah memutus relasinya dengan sumber sakral eksistensinya.⁸ Eksistensialisme Barat, yang menekankan subjektivitas manusia tanpa landasan metafisik, turut berkontribusi pada pandangan antroposentris yang menjadikan alam semesta sekadar objek eksploitasi. Islam menawarkan paradigma kosmos sakral, di mana alam adalah ayat Tuhan dan manusia berperan sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan kosmik.⁹ Dengan demikian, pemulihan relasi eksistensial antara manusia dan alam memerlukan transformasi spiritual yang mengembalikan manusia pada kesadaran tauhid.¹⁰

Dalam konteks sosial dan politik, eksistensialisme Islam memiliki signifikansi yang kuat dalam menumbuhkan kesadaran moral dan keadilan. Ali Shariati mengembangkan gagasan bahwa iman bukanlah pasivitas spiritual, tetapi kekuatan eksistensial yang membebaskan manusia dari penindasan.¹¹ Melalui kesadaran eksistensial, manusia menyadari dirinya sebagai pelaku sejarah, bukan korban sistem. Gagasan ini sangat relevan bagi masyarakat Muslim kontemporer yang menghadapi tantangan globalisasi, ketimpangan sosial, dan krisis identitas. Islam menuntut agar kebebasan eksistensial tidak berhenti pada otonomi individual, tetapi diwujudkan dalam solidaritas sosial dan perjuangan etis.¹²

Pada tataran intelektual, eksistensialisme Islam menawarkan kritik terhadap rasionalitas modern yang kering nilai. Dunia akademik dan ilmiah dewasa ini cenderung menyingkirkan dimensi makna, menjadikan ilmu pengetahuan bersifat instrumental dan utilitarian.¹³ Dalam pandangan Seyyed Hossein Nasr dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, hanya epistemologi tauhid yang mampu memulihkan kesatuan antara pengetahuan, nilai, dan spiritualitas.¹⁴ Eksistensialisme Barat telah membuka kesadaran akan subjektivitas dan keterlibatan manusia dalam dunia, namun Islam melengkapinya dengan kesadaran bahwa pengetahuan sejati adalah bentuk penyaksian (shuhūd) terhadap kebenaran Ilahi.¹⁵

Selain itu, filsafat eksistensialisme dan Islam juga menawarkan sumbangan penting bagi pendidikan modern. Dalam sistem pendidikan global yang berorientasi pada produktivitas dan kompetisi, nilai-nilai eksistensial dapat menghidupkan kembali dimensi kemanusiaan. Pendidikan, dalam pandangan eksistensialis dan Islam, harus mengarahkan manusia untuk memahami dirinya, bukan sekadar menumpuk informasi.¹⁶ Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah penyucian jiwa dan pembentukan manusia yang sadar akan Tuhan.¹⁷ Pandangan ini bersesuaian dengan prinsip eksistensialis tentang “menjadi manusia yang autentik”—yakni individu yang bertanggung jawab terhadap hidupnya dan lingkungan sosialnya.

Akhirnya, relevansi kontemporer dari sintesis eksistensialisme dan Islam terletak pada kemampuannya menawarkan alternatif terhadap krisis kemanusiaan modern. Dunia yang didominasi oleh materialisme, relativisme moral, dan kehampaan spiritual membutuhkan paradigma baru yang memadukan kebebasan dengan transendensi.¹⁸ Eksistensialisme Islam mengajarkan bahwa kebebasan tidak bertentangan dengan iman; keduanya bersatu dalam kesadaran bahwa manusia adalah makhluk bebas yang eksistensinya menemukan makna dalam keterikatan kepada Tuhan.¹⁹ Dengan demikian, filsafat ini tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga mendesak secara eksistensial—sebagai panduan menuju kemanusiaan yang otentik, beriman, dan bertanggung jawab di tengah dunia modern yang terfragmentasi.²⁰


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 27–28.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2001), 59–60.

[3]                Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 30–31.

[4]                Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 214.

[5]                Søren Kierkegaard, The Sickness unto Death, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1989), 52–53.

[6]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 106–107.

[7]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 77–79.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: Unwin, 1968), 85.

[9]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 42–44.

[10]             Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1983), 21.

[11]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 67–69.

[12]             Ali Rahnema, An Islamic Utopian: A Political Biography of Ali Shariati (London: I.B. Tauris, 1998), 206–208.

[13]             Karl Jaspers, Philosophy of Existence, trans. Richard F. Grabau (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1971), 95–96.

[14]             Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 112–113.

[15]             Al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978), 111–112.

[16]             Rollo May, The Discovery of Being (New York: W. W. Norton, 1983), 73.

[17]             Al-Ghazali, Deliverance from Error: Al-Munqidh min al-Dhalal, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 1999), 52.

[18]             Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969), 51–52.

[19]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 97.

[20]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 93–95.


11.       Sintesis Filosofis

Sintesis filosofis antara eksistensialisme dan Islam menandai upaya mendalam untuk mempertemukan kebebasan manusia dengan kesadaran transendensi. Keduanya berangkat dari pengalaman eksistensial yang sama—kegelisahan, keterasingan, dan pencarian makna hidup—namun berakhir pada horizon yang berbeda. Eksistensialisme Barat, terutama dalam versi ateistiknya, berfokus pada pencarian makna melalui tindakan manusia tanpa rujukan kepada Tuhan.¹ Sebaliknya, Islam menegaskan bahwa makna eksistensi hanya dapat ditemukan melalui relasi dengan al-Wujūd al-Haqq (Wujud Hakiki), yakni Tuhan sebagai sumber dan tujuan segala keberadaan.² Sintesis filosofis ini tidak bertujuan untuk menggabungkan dua sistem secara artifisial, melainkan untuk mengintegrasikan dimensi pengalaman eksistensial manusia dengan kesadaran spiritual yang lebih tinggi.³

11.1.    Rekonsiliasi Ontologis: Antara Eksistensi dan Transendensi

Secara ontologis, eksistensialisme dan Islam sama-sama mengakui keberadaan manusia sebagai sesuatu yang dinamis. Martin Heidegger menggambarkan manusia (Dasein) sebagai makhluk yang “terlempar ke dunia,” terikat oleh waktu dan kesadaran akan kematian.⁴ Dalam pandangan Islam, kondisi keterlemparan ini tidak diartikan sebagai absurditas, melainkan sebagai amanah: manusia dihadirkan di dunia untuk menjalankan tanggung jawab sebagai khalifah Tuhan.⁵ Dengan demikian, eksistensi bukan hasil kebetulan, tetapi perwujudan dari kehendak Ilahi. Dalam Islam, keberadaan manusia bersifat teleologis—ia memiliki arah dan tujuan. Sintesis ontologis ini menunjukkan bahwa kegelisahan manusia dalam eksistensialisme menemukan maknanya dalam spiritualitas Islam sebagai jalan menuju kesempurnaan (al-insān al-kāmil).⁶

11.2.    Rekonsiliasi Epistemologis: Pengetahuan Eksistensial dan Makrifat

Secara epistemologis, eksistensialisme menekankan pengalaman langsung dan reflektif sebagai dasar pengetahuan. Sartre menyebut kesadaran manusia sebagai kesadaran yang selalu “keluar dari dirinya” (being-for-itself), yang hanya memahami dirinya dalam relasi dengan dunia.⁷ Sementara itu, Islam menawarkan dimensi epistemologis yang lebih luas melalui konsep ma‘rifah—pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui penyucian jiwa dan kehadiran Tuhan dalam kesadaran manusia.⁸ Dalam hal ini, epistemologi Islam melampaui eksistensialisme dengan menegaskan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya berasal dari pengalaman manusia terhadap dunia, tetapi juga dari pengalaman spiritual terhadap Yang Transenden.⁹ Dengan menggabungkan kedua pandangan ini, lahirlah epistemologi eksistensial Islam, di mana kesadaran manusia menjadi jembatan antara rasionalitas dan intuisi ilahiah.

11.3.    Rekonsiliasi Aksiologis: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Ketaatan

Aspek aksiologis menjadi titik temu paling signifikan dalam sintesis ini. Eksistensialisme menekankan kebebasan manusia sebagai nilai tertinggi. Sartre menolak segala bentuk determinisme, menegaskan bahwa manusia “dihukum untuk bebas” dan harus menciptakan nilai melalui tindakannya.¹⁰ Islam pun mengakui kebebasan sebagai anugerah Ilahi, tetapi menempatkannya dalam kerangka moral dan tanggung jawab. Kebebasan tidak berarti penolakan terhadap Tuhan, melainkan kesadaran untuk memilih kebaikan sesuai dengan kehendak-Nya.¹¹ Muhammad Iqbal mengartikulasikan sintesis ini melalui konsep ego dinamis (khudi), yakni manusia bebas yang berkreasi dan berpartisipasi dalam kehendak Ilahi tanpa kehilangan kepribadian spiritualnya.¹² Dengan demikian, etika eksistensial Islam adalah etika kebebasan yang berorientasi pada kesempurnaan moral dan tanggung jawab kosmis.

11.4.    Rekonsiliasi Antara Subjektivitas dan Tauhid

Eksistensialisme mengangkat subjektivitas sebagai pusat kesadaran manusia. Kierkegaard menegaskan bahwa “kebenaran adalah subjektivitas,” karena iman adalah pengalaman pribadi yang tak dapat direduksi pada sistem rasional.¹³ Dalam Islam, subjektivitas juga diakui, namun tidak sebagai absolut. Manusia memiliki dimensi nafs (jiwa) yang harus disucikan agar mampu mencerminkan realitas Ilahi.¹⁴ Tauhid mengajarkan bahwa kesadaran manusia adalah cermin dari kesadaran Tuhan; dengan mengenal dirinya, manusia mengenal Penciptanya (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu).¹⁵ Dengan demikian, subjektivitas eksistensialis dipadukan dengan tauhid menjadi kesadaran diri yang mengantarkan manusia kepada Tuhan, bukan menjauhkannya.

11.5.    Rekonsiliasi Historis dan Kultural: Eksistensialisme sebagai Ruang Dialog

Sintesis filosofis juga dapat dipahami sebagai proyek kultural. Filsafat eksistensialisme muncul dari pengalaman Barat yang kehilangan fondasi religius, sementara Islam menawarkan kerangka spiritual yang tetap hidup. Dalam konteks globalisasi dan krisis modernitas, dialog antara keduanya menjadi ruang refleksi kritis terhadap peradaban modern yang terjebak dalam rasionalisme dan sekularisme ekstrem.¹⁶ Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa tugas utama filsafat Islam kontemporer adalah “menghidupkan kembali makna sakral dalam eksistensi manusia.”¹⁷ Eksistensialisme Islam dengan demikian dapat menjadi paradigma alternatif bagi peradaban global—yang menggabungkan kebebasan eksistensial dengan kesadaran spiritual dan etika kosmik.¹⁸


Sintesis Akhir: Eksistensi sebagai Iman dan Kesadaran

Pada akhirnya, sintesis filosofis ini menghasilkan paradigma baru: eksistensialisme teistik Islam. Paradigma ini menolak reduksionisme eksistensialisme sekuler sekaligus melampaui dogmatisme religius. Ia menegaskan bahwa eksistensi manusia bersifat ganda: otonom sekaligus terarah; bebas sekaligus bertanggung jawab; rasional sekaligus spiritual.¹⁹ Eksistensi sejati tidak ditemukan dalam keterpisahan antara manusia dan Tuhan, melainkan dalam kesatuan pengalaman iman dan kesadaran diri.²⁰ Dalam perspektif ini, iman bukan sekadar kepercayaan dogmatis, tetapi pengalaman eksistensial yang menyatukan kehendak manusia dengan kehendak Ilahi.²¹

Sintesis filosofis antara eksistensialisme dan Islam, dengan demikian, menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sadar, bebas, dan transenden. Filsafat ini mengajarkan bahwa krisis eksistensi modern tidak dapat diatasi hanya melalui rasio, tetapi melalui penyatuan antara kebebasan dan spiritualitas.²² Islam tidak menolak kebebasan eksistensial; ia mengarahkan kebebasan itu menuju makna yang sakral. Inilah titik puncak dari eksistensialisme Islam: manusia menemukan dirinya bukan dalam keterpisahan dari Tuhan, melainkan dalam kesadaran bahwa seluruh keberadaannya adalah perjalanan menuju-Nya.²³


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 26–28.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 92.

[3]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2007), 14–15.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 67–69.

[5]                Al-Qur’an 2:30.

[6]                Ibn ‘Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 59–61.

[7]                Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 23–25.

[8]                Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 214–216.

[9]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 44–46.

[10]             Sartre, Existentialism Is a Humanism, 30.

[11]             Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88.

[12]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 91–93.

[13]             Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans. David F. Swenson (Princeton: Princeton University Press, 1941), 203.

[14]             Al-Ghazali, Deliverance from Error: Al-Munqidh min al-Dhalal, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 1999), 49–50.

[15]             Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyah, vol. 2 (Cairo: Dar Sadir, 1946), 112.

[16]             Karl Jaspers, Philosophy of Existence, trans. Richard F. Grabau (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1971), 108.

[17]             Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2001), 64.

[18]             Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 313–314.

[19]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 58–60.

[20]             Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 317.

[21]             Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 111–113.

[22]             Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969), 48–49.

[23]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 97–99.


12.       Kesimpulan

Filsafat eksistensialisme dan Islam, meskipun berasal dari dua horizon intelektual yang berbeda, sama-sama menempatkan manusia sebagai pusat perenungan filosofis. Keduanya berangkat dari kesadaran mendalam akan eksistensi manusia yang problematis—penuh kebebasan, kecemasan, dan pencarian makna—namun Islam menambahkan dimensi transendensi yang melengkapi keterbatasan eksistensialisme sekuler.¹ Dalam eksistensialisme Barat, terutama pada Sartre, Heidegger, dan Nietzsche, manusia menjadi sumber nilai dan makna bagi dirinya sendiri. Namun, tanpa landasan metafisik, kebebasan itu sering kali berubah menjadi beban nihilistik.² Islam hadir sebagai koreksi teologis atas kegelisahan ini dengan menegaskan bahwa eksistensi manusia berakar pada Tuhan: kebebasan sejati hanya bermakna jika diarahkan kepada kehendak Ilahi.³

Secara ontologis, eksistensialisme mengajarkan bahwa keberadaan mendahului esensi, sedangkan Islam menegaskan bahwa esensi manusia telah termaktub dalam kehendak Tuhan.⁴ Dengan demikian, sintesis keduanya menghasilkan pandangan yang menyeimbangkan antara kebebasan dan takdir: manusia bebas untuk memilih, namun kebebasan itu berada dalam kerangka hukum ontologis dan moral yang ditetapkan oleh Tuhan.⁵ Islam tidak menolak kebebasan eksistensial, tetapi menempatkannya sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral manusia terhadap dirinya dan alam semesta.⁶

Secara epistemologis, eksistensialisme mengajarkan bahwa pengetahuan lahir dari pengalaman personal dan kesadaran reflektif. Islam memperluas horizon ini dengan konsep ma‘rifah—pengetahuan eksistensial yang diperoleh melalui pengalaman spiritual dan penyatuan dengan kebenaran Ilahi.⁷ Dengan demikian, epistemologi eksistensial Islam tidak hanya menekankan kesadaran diri, tetapi juga kesadaran transendental. Pengetahuan sejati dalam Islam adalah pengetahuan yang menuntun manusia kepada kesadaran akan Tuhan sebagai sumber keberadaan dan makna.⁸

Dalam bidang aksiologi, eksistensialisme menekankan kebebasan moral dan autentisitas, sementara Islam menekankan kebebasan yang disertai tanggung jawab etis. Sartre memandang bahwa manusia adalah “pencipta nilai,” sedangkan Islam mengajarkan bahwa manusia adalah “pelaksana nilai.”⁹ Perbedaan ini justru menjadi titik pertemuan yang produktif: nilai moral bukan ditentukan oleh otoritas eksternal semata, tetapi direalisasikan melalui kesadaran batin yang tulus.¹⁰ Etika eksistensial Islam dengan demikian menggabungkan otonomi moral dengan orientasi spiritual, menjadikan tindakan manusia tidak hanya autentik, tetapi juga sakral.¹¹

Pada level sosial dan intelektual, sintesis antara eksistensialisme dan Islam membuka kemungkinan bagi pembentukan paradigma baru dalam memahami manusia modern. Dunia kontemporer diwarnai oleh alienasi, krisis identitas, dan kehilangan makna akibat dominasi teknologi dan materialisme.¹² Eksistensialisme menuntut manusia untuk menemukan makna melalui dirinya, sementara Islam mengarahkan manusia untuk menemukan makna melalui Tuhan dan amal saleh di dunia.¹³ Integrasi keduanya dapat menjadi dasar bagi “humanisme transendental”—suatu pandangan yang memadukan martabat manusia dengan orientasi spiritual, kebebasan dengan ketaatan, serta rasionalitas dengan cinta Ilahi.¹⁴

Secara filosofis, sintesis ini menunjukkan bahwa eksistensialisme dan Islam tidak berada dalam posisi yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Eksistensialisme menghidupkan kesadaran manusia akan kebebasan dan tanggung jawab, sedangkan Islam mengarahkan kesadaran itu menuju tujuan yang lebih tinggi—yakni penyempurnaan diri dalam kesatuan dengan Tuhan.¹⁵ Sebagaimana ditegaskan Muhammad Iqbal, manusia bukanlah makhluk yang pasif, melainkan subjek yang kreatif dan berpartisipasi dalam kehendak Ilahi.¹⁶ Dalam pandangan ini, eksistensi menjadi perjalanan spiritual: dari keterlemparan menuju kepulangan, dari kesadaran diri menuju kesadaran Ilahi.¹⁷

Pada akhirnya, filsafat eksistensialisme Islam bukanlah sekadar percampuran ide, tetapi sebuah paradigma baru yang menyatukan pengalaman eksistensial manusia dengan visi tauhid. Ia menolak nihilisme modern tanpa jatuh ke dalam dogmatisme teologis, meneguhkan kebebasan tanpa kehilangan arah moral, dan memadukan pencarian makna dengan penyadaran akan sumber makna itu sendiri.¹⁸ Dalam sintesis ini, eksistensi manusia memperoleh dimensi kosmis dan sakral: menjadi makhluk yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab—yang “ada untuk mengenal, mencintai, dan kembali kepada Tuhan.”¹⁹


Footnotes

[1]                Jean Wahl, A Short History of Existentialism (New York: Philosophical Library, 1949), 31–33.

[2]                Friedrich Nietzsche, The Gay Science, trans. Walter Kaufmann (New York: Vintage, 1974), 181.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man (Chicago: ABC International Group, 2001), 58.

[4]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 26–27.

[5]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 86–87.

[6]                Al-Qur’an 33:72.

[7]                Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, vol. 4 (Cairo: Dar al-Ma‘arif, 1957), 321.

[8]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 47–48.

[9]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology (London: Routledge, 1958), 521.

[10]             Al-Ghazali, Deliverance from Error: Al-Munqidh min al-Dhalal, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 1999), 54.

[11]             Ali Shariati, Man and Islam (Houston: Free Islamic Literatures, 1981), 59–61.

[12]             Gabriel Marcel, The Mystery of Being, trans. G. S. Fraser (Chicago: Henry Regnery, 1960), 106.

[13]             Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf, 1934), 95.

[14]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY Press, 1989), 114–115.

[15]             Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, trans. Alphonso Lingis (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969), 49.

[16]             Annemarie Schimmel, Gabriel’s Wing: A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal (Leiden: Brill, 1963), 132.

[17]             Ibn ‘Arabi, Fusūs al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 57–58.

[18]             Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an (Montreal: McGill University Press, 1966), 111–113.

[19]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 99–101.


Daftar Pustaka

Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and secularism. Kuala Lumpur: ABIM.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Al-Farabi. (1968). Ara’ ahl al-madinah al-fadilah (A. Nader, Ed.). Beirut: Dar al-Mashriq.

Al-Ghazali, A. H. (1957). Ihya’ ‘ulum al-din (Vol. 4). Cairo: Dar al-Ma‘arif.

Al-Ghazali, A. H. (1999). Deliverance from error: Al-Munqidh min al-dhalal (R. J. McCarthy, Trans.). Louisville: Fons Vitae.

Camus, A. (1956). The rebel (A. Bower, Trans.). New York: Vintage Books.

Camus, A. (1991). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.). New York: Vintage International.

Chittick, W. C. (1989). The Sufi path of knowledge: Ibn al-‘Arabi’s metaphysics of imagination. Albany: State University of New York Press.

Chittick, W. C. (2001). The heart of Islamic philosophy: The quest for self-knowledge in the teachings of Afdal al-Din Kashani. Oxford: Oxford University Press.

Corbin, H. (1969). Creative imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi. Princeton: Princeton University Press.

Corbin, H. (1993). History of Islamic philosophy (L. Sherrard & P. Sherrard, Trans.). London: Kegan Paul International.

Dreyfus, H. L. (1991). Being-in-the-world: A commentary on Heidegger’s Being and time, Division I. Cambridge, MA: MIT Press.

Faye, E. (2009). Heidegger: The introduction of Nazism into philosophy (M. B. Smith, Trans.). New Haven: Yale University Press.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). New York: Harper & Row.

Iqbal, M. (1934). The reconstruction of religious thought in Islam. Lahore: Ashraf.

Ibn ‘Arabi. (1946). Futuhat al-Makkiyah (Vol. 2). Cairo: Dar Sadir.

Ibn ‘Arabi. (1980). Fusūs al-hikam (R. W. J. Austin, Trans.). New York: Paulist Press.

Ibn Sina. (1957). Al-Isharat wa al-tanbihat (S. Dunya, Ed.). Cairo: Dar al-Ma‘arif.

Ibn Sina. (1982). Kitab al-najat (M. Fakhry, Ed.). Beirut: Dar al-Afaq.

Izutsu, T. (1966). Ethico-religious concepts in the Qur’an. Montreal: McGill University Press.

Izutsu, T. (1983). Sufism and Taoism: A comparative study of key philosophical concepts. Berkeley: University of California Press.

Izutsu, T. (2007). The concept and reality of existence. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust.

Jaspers, K. (1971). Philosophy of existence (R. F. Grabau, Trans.). Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Kaufmann, W. (1974). Nietzsche: Philosopher, psychologist, antichrist. Princeton: Princeton University Press.

Kierkegaard, S. (1941). Concluding unscientific postscript (D. F. Swenson, Trans.). Princeton: Princeton University Press.

Kierkegaard, S. (1985). Fear and trembling (A. Hannay, Trans.). London: Penguin Books.

Kierkegaard, S. (1989). The sickness unto death (A. Hannay, Trans.). London: Penguin Books.

Leaman, O. (2001). An introduction to classical Islamic philosophy. Cambridge: Cambridge University Press.

Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). The Hague: Martinus Nijhoff.

Marcel, G. (1960). The mystery of being (G. S. Fraser, Trans.). Chicago: Henry Regnery.

May, R. (1950). The meaning of anxiety. New York: W. W. Norton.

May, R. (1953). Man’s search for himself. New York: W. W. Norton.

May, R. (1983). The discovery of being. New York: W. W. Norton.

Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of perception (C. Smith, Trans.). London: Routledge.

Mulla Sadra. (1981). Al-Asfar al-arba‘a (A. Shirazi, Trans.). Tehran: Islamic Research Institute.

Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The spiritual crisis of modern man. London: Unwin.

Nasr, S. H. (1981). Islamic life and thought. Albany: State University of New York Press.

Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred. Albany: State University of New York Press.

Nasr, S. H. (2001). Islam and the plight of modern man. Chicago: ABC International Group.

Nietzsche, F. (1954). Thus spoke Zarathustra (W. Kaufmann, Trans.). New York: Modern Library.

Nietzsche, F. (1974). The gay science (W. Kaufmann, Trans.). New York: Vintage Books.

Nietzsche, F. (2002). Beyond good and evil (J. Norman, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.

Rahnema, A. (1998). An Islamic utopian: A political biography of Ali Shariati. London: I. B. Tauris.

Ricoeur, P. (1976). Interpretation theory: Discourse and the surplus of meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.

Sartre, J.-P. (1958). Being and nothingness: An essay on phenomenological ontology. London: Routledge.

Sartre, J.-P. (2004). Critique of dialectical reason (A. Sheridan-Smith, Trans.). London: Verso.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). New Haven: Yale University Press.

Schimmel, A. (1963). Gabriel’s wing: A study into the religious ideas of Sir Muhammad Iqbal. Leiden: Brill.

Schimmel, A. (1975). Mystical dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press.

Shariati, A. (1979). On the sociology of Islam. Berkeley: Mizan Press.

Shariati, A. (1981). Man and Islam. Houston: Free Islamic Literatures.

Swenson, D. F. (1950). Kierkegaardian philosophy in the twentieth century. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Taylor, C. (2007). A secular age. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Wahl, J. (1949). A short history of existentialism. New York: Philosophical Library.

Westphal, M. (2014). Kierkegaard’s concept of faith. Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar