Kamis, 27 November 2025

Hermeneutika Historis: Pemahaman Makna melalui Konteks Sejarah dan Kesadaran Tradisi

Hermeneutika Historis

Pemahaman Makna melalui Konteks Sejarah dan Kesadaran Tradisi


Alihkan ke: Aliran Filsafat Linguistik dan Analitis.

Hermeneutika Klasik, Hermeneutika Islam, Hermeneutika Modern, Hermeneutika Kritis, Hermeneutika Eksistensial, Hermeneutika Dekonstruktif, Hermeneutika Filosofis.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif tentang hermeneutika historis sebagai salah satu aliran utama dalam filsafat linguistik dan analitis yang menempatkan pemahaman manusia dalam konteks sejarah, bahasa, dan tradisi. Kajian ini berangkat dari keyakinan bahwa makna tidak bersifat statis, melainkan selalu terbentuk dalam dialog antara masa lalu dan masa kini. Dengan menelusuri perkembangan pemikiran tokoh-tokoh kunci seperti Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer, artikel ini menyoroti bagaimana hermeneutika berevolusi dari metode interpretasi teks menuju filsafat pemahaman yang bersifat ontologis.

Melalui pendekatan metodologis yang menekankan lingkaran hermeneutik, prapemahaman, dan kesadaran historis, hermeneutika historis dipahami sebagai proses reflektif dan dialogis yang melibatkan penafsir secara aktif dalam membangun makna. Artikel ini juga menelaah kritik terhadap hermeneutika historis, terutama dari positivisme, teori kritis, dan post-strukturalisme, serta menguraikan relevansinya dalam konteks global dan era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa hermeneutika historis tetap memiliki signifikansi filosofis dan etis di dunia kontemporer karena kemampuannya menjembatani perbedaan budaya dan memperkuat dialog antartradisi.

Dengan demikian, hermeneutika historis tidak hanya dipahami sebagai teori penafsiran teks, tetapi juga sebagai kerangka filsafat eksistensial yang membantu manusia memahami dirinya, sejarahnya, dan dunianya. Ia menegaskan pentingnya kesadaran historis dan keterbukaan terhadap “yang lain” sebagai dasar pemahaman yang autentik dan manusiawi.

Kata Kunci: Hermeneutika Historis; Filsafat Bahasa; Tradisi; Pemahaman; Sejarah; Gadamer; Dilthey; Schleiermacher; Kesadaran Historis; Ontologi Makna.


PEMBAHASAN

Hermeneutika Historis dalam Tradisi Filsafat Linguistik dan Analitis


1.           Pendahuluan

Hermeneutika historis merupakan salah satu cabang penting dalam tradisi filsafat linguistik dan analitis yang berfokus pada pemahaman makna teks dalam konteks sejarahnya. Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari kata Yunani hermēneuein, yang berarti “menafsirkan” atau “mengartikan” sesuatu yang tidak langsung dapat dipahami. Dalam sejarahnya, hermeneutika tidak hanya dipahami sebagai teknik penafsiran teks-teks keagamaan, melainkan juga sebagai teori tentang bagaimana manusia memahami dunia melalui bahasa dan pengalaman historisnya.¹

Munculnya hermeneutika historis tidak terlepas dari kebutuhan untuk menafsirkan makna secara lebih objektif dan ilmiah terhadap teks-teks sejarah, sastra, maupun agama. Pada abad ke-19, hermeneutika mulai bergeser dari sekadar metode teologis menjadi disiplin filsafat yang menekankan pentingnya konteks sosial, budaya, dan sejarah dalam proses penafsiran.² Pergeseran ini terutama dipelopori oleh pemikir seperti Friedrich Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey, yang melihat bahwa pemahaman terhadap teks harus mempertimbangkan situasi historis pengarang serta horizon pengalaman pembaca.³

Dalam konteks filsafat linguistik dan analitis, hermeneutika historis memainkan peran penting karena ia menggabungkan dimensi bahasa dan sejarah dalam proses pemaknaan. Bahasa tidak hanya dianggap sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium di mana sejarah dan tradisi hidup dan membentuk kesadaran manusia.⁴ Setiap kata, simbol, dan struktur kalimat mengandung jejak makna yang terbentuk dalam konteks historis tertentu, sehingga memahami teks berarti juga memahami kondisi kultural dan historis yang melatarbelakanginya.⁵

Lebih jauh lagi, hermeneutika historis berangkat dari asumsi bahwa manusia tidak pernah menafsirkan sesuatu dari titik netral. Pemahaman selalu dibentuk oleh horizon pengalaman dan prapemahaman (Vorverständnis) yang melekat pada penafsir.⁶ Oleh karena itu, dalam setiap proses interpretasi, terjadi dialog antara masa lalu dan masa kini — antara teks yang lahir dalam konteks sejarah tertentu dengan pembaca yang hidup dalam horizon budaya dan intelektual yang berbeda. Proses ini kemudian disebut “peleburan cakrawala” (fusion of horizons), sebagaimana dijelaskan oleh Hans-Georg Gadamer, yang memperluas cakupan hermeneutika historis ke dalam dimensi filosofis yang lebih dalam.⁷

Urgensi pembahasan hermeneutika historis dewasa ini semakin meningkat, terutama dalam menghadapi tantangan interpretasi lintas budaya dan globalisasi pengetahuan. Dalam era digital, teks dan wacana berpindah lintas ruang dan waktu secara cepat, sehingga pemahaman terhadap konteks historis menjadi kunci agar makna tidak tereduksi atau disalahpahami.⁸ Oleh karena itu, hermeneutika historis tidak hanya relevan dalam studi filsafat dan sejarah, tetapi juga dalam ranah ilmu sosial, linguistik, teologi, dan kajian budaya kontemporer.

Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk membahas secara sistematis dasar-dasar filosofis, tokoh-tokoh utama, metodologi, serta relevansi kontemporer dari hermeneutika historis sebagai suatu pendekatan dalam memahami makna. Melalui kajian ini, diharapkan pembaca dapat memahami bahwa setiap makna selalu bersifat historis, terbuka, dan dinamis — senantiasa terbentuk dalam dialog antara tradisi dan kesadaran manusia yang hidup di dalamnya.⁹


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 12.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 18–20.

[3]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 45–46.

[4]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 89.

[5]                Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 30–31.

[6]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 269.

[7]                Ibid., 305.

[8]                David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human Sciences,” Philosophy and Social Criticism 32, no. 4 (2006): 479–496.

[9]                Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 112.


2.           Landasan Teoretis Hermeneutika

Hermeneutika sebagai disiplin filsafat memiliki akar yang panjang dalam sejarah pemikiran manusia, berawal dari kebutuhan untuk memahami teks-teks yang dianggap memiliki makna tersembunyi, terutama dalam konteks keagamaan dan hukum. Secara historis, hermeneutika berkembang dari sekadar metode interpretasi teks menjadi suatu teori pengetahuan tentang pemahaman itu sendiri.¹ Dengan demikian, hermeneutika bukan hanya berbicara tentang “bagaimana kita menafsirkan,” tetapi juga “bagaimana kita memahami” sesuatu melalui bahasa, pengalaman, dan sejarah.

Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari kata Yunani hermēneuein, yang berarti “menafsirkan,” “menerjemahkan,” atau “mengungkapkan.”² Dalam mitologi Yunani, Hermes dikenal sebagai utusan para dewa yang bertugas menyampaikan pesan ilahi kepada manusia. Dari mitos inilah muncul analogi filosofis bahwa hermeneutika adalah proses “menerjemahkan” makna dari sesuatu yang ilahi, asing, atau tersembunyi ke dalam bentuk yang dapat dipahami manusia.³ Artinya, setiap tindakan pemahaman selalu melibatkan proses penafsiran terhadap sesuatu yang tidak sepenuhnya transparan.

Dalam perkembangannya, hermeneutika mengalami tiga tahap utama: (1) hermeneutika teologis, (2) hermeneutika filologis, dan (3) hermeneutika filosofis.⁴ Pada tahap teologis, hermeneutika digunakan untuk menafsirkan kitab suci, seperti yang dilakukan oleh para teolog Kristen awal. Pada tahap filologis, fokus bergeser ke interpretasi teks-teks klasik dalam bidang hukum, sastra, dan sejarah, dengan tujuan menemukan makna asli pengarang.⁵ Tahap ini menandai lahirnya hermeneutika ilmiah pada abad ke-18 dan ke-19 melalui karya tokoh seperti Friedrich Schleiermacher, yang menekankan pentingnya “pemahaman psikologis” terhadap maksud pengarang.⁶

Transformasi besar terjadi ketika hermeneutika memasuki ranah filsafat melalui pemikiran Wilhelm Dilthey dan Hans-Georg Gadamer. Dilthey mengembangkan hermeneutika sebagai dasar metodologis bagi ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften), dengan menekankan bahwa memahami teks berarti memahami kehidupan yang mengekspresikan diri dalam sejarah.⁷ Dengan demikian, hermeneutika bukan sekadar teknik interpretasi, melainkan bentuk refleksi epistemologis atas cara manusia memahami dirinya dan dunianya melalui warisan budaya dan bahasa.

Selanjutnya, Hans-Georg Gadamer memperluas hermeneutika menjadi filsafat pemahaman itu sendiri dalam karyanya Truth and Method. Ia menolak pandangan objektivistik yang berusaha memahami makna secara bebas dari pengaruh sejarah dan tradisi.⁸ Gadamer berargumen bahwa pemahaman selalu bersifat historis karena manusia adalah makhluk yang terbentuk oleh tradisi.⁹ Ia memperkenalkan konsep Wirkungsgeschichte (sejarah pengaruh) dan fusion of horizons (peleburan cakrawala), yang menunjukkan bahwa makna muncul dari dialog antara masa lalu (teks dan tradisi) dan masa kini (pembaca dan konteksnya).¹⁰

Dalam konteks filsafat linguistik dan analitis, hermeneutika berkontribusi dengan menyoroti fungsi bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai struktur fundamental pemahaman. Bahasa tidak bersifat netral; ia selalu membawa horizon makna yang terbentuk secara historis dan sosial.¹¹ Setiap tindakan berbicara atau menulis merupakan bagian dari proses historis yang menghubungkan subjek dengan dunia dan tradisinya.¹² Oleh karena itu, hermeneutika historis menegaskan bahwa memahami suatu teks berarti menempatkan diri dalam jaringan makna yang terbentuk oleh sejarah bahasa dan pengalaman manusia.

Dengan demikian, landasan teoretis hermeneutika berpijak pada keyakinan bahwa pemahaman adalah kegiatan manusiawi yang bersifat historis, linguistik, dan dialogis. Ia menolak pandangan bahwa makna dapat direduksi menjadi entitas tetap, sebab makna selalu terbuka untuk ditafsirkan kembali seiring perubahan konteks dan horizon budaya.¹³ Hermeneutika historis, dengan demikian, menjadi kerangka filosofis yang memungkinkan manusia untuk memahami teks, tradisi, dan dirinya sendiri dalam arus sejarah yang senantiasa bergerak.


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 15.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 2.

[3]                Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 24.

[4]                Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 1–3.

[5]                Emilio Betti, Teoria generale della interpretazione (Milan: Giuffrè, 1955), 47.

[6]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 65–67.

[7]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 91–92.

[8]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 276.

[9]                Ibid., 284.

[10]             Ibid., 306–307.

[11]             Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 45.

[12]             Charles Taylor, “Interpretation and the Sciences of Man,” The Review of Metaphysics 25, no. 1 (1971): 6–7.

[13]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 118.


3.           Hermeneutika Historis: Pengertian dan Prinsip Dasar

Hermeneutika historis merupakan cabang hermeneutika yang menekankan bahwa pemahaman terhadap suatu teks, tindakan, atau fenomena budaya tidak dapat dipisahkan dari konteks historis di mana ia lahir.¹ Ia berangkat dari keyakinan bahwa makna bukanlah sesuatu yang bersifat tetap dan universal, melainkan selalu terikat pada situasi, bahasa, dan horizon sejarah tertentu.² Dalam pandangan ini, setiap upaya untuk memahami sesuatu berarti juga memasuki dunia historis yang membentuknya — dunia nilai, pengalaman, dan bahasa yang hidup pada masa tertentu.

Secara konseptual, hermeneutika historis lahir dari sintesis antara hermeneutika klasik yang menekankan niat pengarang dan hermeneutika filosofis yang menyoroti kesadaran pembaca. Friedrich Schleiermacher memandang hermeneutika sebagai seni memahami pikiran pengarang secara objektif melalui rekonstruksi konteks linguistik dan psikologis.³ Sementara itu, Wilhelm Dilthey memperluasnya dengan menegaskan bahwa pemahaman terhadap teks adalah bentuk partisipasi eksistensial dalam kehidupan sejarah yang diungkapkan oleh teks tersebut.⁴ Dilthey menolak positivisme yang berusaha menjadikan pemahaman manusiawi setara dengan penjelasan ilmiah, sebab bagi dia, memahami berarti “menghidupkan kembali” pengalaman historis melalui empati (Nacherleben).⁵

Hermeneutika historis kemudian mencapai dimensi filosofis yang lebih dalam melalui karya Hans-Georg Gadamer, terutama dalam Truth and Method. Gadamer menolak pandangan bahwa penafsir dapat melepaskan diri dari sejarah atau berdiri di luar tradisi.⁶ Menurutnya, setiap pemahaman selalu bersifat historis karena manusia senantiasa berada di dalam aliran tradisi yang membentuk cara berpikirnya.⁷ Oleh karena itu, pemahaman tidak bersifat reproduktif (sekadar menyalin makna masa lalu), melainkan produktif, yakni menciptakan makna baru melalui dialog antara masa lalu dan masa kini.⁸

Terdapat beberapa prinsip dasar yang menjadi fondasi hermeneutika historis:

1)                  Prinsip Historisitas Pemahaman.

Pemahaman selalu berakar pada sejarah. Setiap individu membawa horizon pengalaman yang terbentuk oleh konteks budaya dan zamannya.⁹ Karena itu, menafsirkan teks berarti memasuki dialog antara dua horizon — horizon masa lalu dari teks dan horizon masa kini dari pembaca.¹⁰

2)                  Prinsip Lingkaran Hermeneutik (Hermeneutic Circle).

Dalam proses memahami, seseorang bergerak secara dinamis antara bagian dan keseluruhan: makna bagian hanya dapat dipahami dari keseluruhan, sementara keseluruhan hanya bermakna melalui pemahaman atas bagian-bagiannya.¹¹ Proses ini tidak pernah mencapai titik akhir karena pemahaman manusia selalu terbuka dan dapat direvisi.

3)                  Prinsip Prapemahaman (Vorverständnis).

Setiap penafsir memasuki teks dengan sejumlah asumsi awal, nilai, dan kerangka pikir.¹² Prapemahaman ini bukanlah hambatan, melainkan kondisi kemungkinan bagi terjadinya pemahaman. Namun, ia perlu diuji dan direfleksikan agar tidak mengaburkan makna historis teks yang ditafsirkan.

4)                  Prinsip Dialogis dan Tradisionalitas.

Gadamer menekankan bahwa pemahaman bersifat dialogis, yakni hasil interaksi antara teks dan penafsir dalam horizon tradisi.¹³ Tradisi bukanlah beban masa lalu, tetapi medium tempat makna diwariskan dan diperbarui.¹⁴ Dengan demikian, memahami teks berarti berdialog dengan sejarah yang hidup di dalamnya.

5)                  Prinsip Bahasa sebagai Medium Sejarah.

Bahasa bukan sekadar alat ekspresi, melainkan ruang tempat realitas dan pengalaman historis manusia diartikulasikan.¹⁵ Melalui bahasa, sejarah berbicara kepada masa kini, dan manusia memahami dirinya sebagai makhluk historis-linguistik yang selalu berada dalam proses penafsiran.¹⁶

Dengan berpegang pada prinsip-prinsip tersebut, hermeneutika historis menawarkan kerangka filosofis untuk memahami bagaimana makna terbentuk, diwariskan, dan dihidupkan kembali. Ia menolak reduksionisme metodologis yang memisahkan subjek dan objek, serta menegaskan bahwa pemahaman sejati selalu merupakan pertemuan antara kesadaran historis penafsir dan dinamika makna yang terkandung dalam tradisi.¹⁷ Dengan demikian, hermeneutika historis menjadi fondasi epistemologis bagi ilmu-ilmu kemanusiaan yang berupaya memahami manusia sebagai makhluk historis yang hidup dalam bahasa, waktu, dan budaya.


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 85.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 42.

[3]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 75.

[4]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 97–98.

[5]                Ibid., 112.

[6]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 269.

[7]                Ibid., 275–277.

[8]                Ibid., 306.

[9]                Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 60.

[10]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 118.

[11]             Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 73.

[12]             Charles Taylor, “Interpretation and the Sciences of Man,” The Review of Metaphysics 25, no. 1 (1971): 8.

[13]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 311.

[14]             Ibid., 312.

[15]             Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 45.

[16]             Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 102.

[17]             Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 57.


4.           Tokoh dan Gagasan Utama dalam Hermeneutika Historis

Hermeneutika historis tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui pemikiran beberapa tokoh utama yang membentuk landasan konseptualnya. Tokoh-tokoh seperti Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer memainkan peran sentral dalam membangun kerangka teoretis hermeneutika historis yang menekankan pertautan antara bahasa, sejarah, dan kesadaran manusia. Ketiganya membentuk jalur evolusi intelektual dari hermeneutika sebagai teknik interpretasi menuju hermeneutika sebagai filsafat pemahaman historis.

4.1.       Friedrich Schleiermacher (1768–1834): Hermeneutika sebagai Seni Memahami Pengarang

Schleiermacher sering dianggap sebagai “bapak hermeneutika modern” karena jasanya dalam merumuskan hermeneutika sebagai disiplin metodologis yang bersifat universal.¹ Ia berupaya mengembangkan hermeneutika yang tidak hanya terbatas pada penafsiran teks-teks keagamaan, tetapi berlaku bagi seluruh bentuk komunikasi bahasa. Bagi Schleiermacher, tujuan hermeneutika adalah “memahami pengarang lebih baik daripada dirinya sendiri.”²

Dalam sistem pemikirannya, terdapat dua dimensi utama: pemahaman gramatikal dan pemahaman psikologis. Pemahaman gramatikal bertujuan menafsirkan struktur bahasa dan konteks linguistik teks, sedangkan pemahaman psikologis berusaha merekonstruksi dunia batin pengarang melalui empati.³ Melalui pendekatan ini, Schleiermacher menekankan bahwa setiap teks adalah ekspresi dari kehidupan batin manusia yang historis dan unik. Pemahaman yang sejati hanya dapat dicapai melalui upaya rekonstruksi terhadap niat dan konteks asal dari teks tersebut.⁴

Namun, pendekatan Schleiermacher masih membawa jejak idealisme Romantik, karena ia mengasumsikan bahwa makna autentik selalu dapat ditemukan kembali melalui rekonstruksi individual pengarang.⁵ Walaupun demikian, kontribusinya penting dalam menempatkan hermeneutika sebagai metode universal bagi semua ilmu yang berurusan dengan teks dan makna.

4.2.       Wilhelm Dilthey (1833–1911): Pengalaman Hidup dan Pemahaman Historis

Wilhelm Dilthey memperluas cakupan hermeneutika Schleiermacher ke dalam dimensi epistemologis dengan menjadikannya fondasi bagi ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften).⁶ Dilthey menolak model positivistik yang diterapkan pada ilmu alam (Naturwissenschaften), karena menurutnya manusia tidak dapat “dijelaskan” secara mekanistik, melainkan harus “dipahami” melalui pengalaman hidupnya (Erlebnis).⁷

Menurut Dilthey, pemahaman terhadap tindakan, teks, atau ekspresi manusia selalu bersifat historis, sebab setiap ekspresi merupakan hasil dari pengalaman hidup yang dibentuk oleh konteks sosial dan budaya.⁸ Ia memperkenalkan gagasan bahwa memahami sejarah berarti “menghidupkan kembali” pengalaman batin manusia yang diekspresikan melalui teks dan artefak budaya.⁹ Dengan demikian, hermeneutika menjadi cara untuk memasuki dunia historis orang lain melalui empati dan partisipasi eksistensial.

Dalam kerangka ini, Dilthey menegaskan bahwa “kehidupan hanya dapat dipahami dari kehidupan itu sendiri.”¹⁰ Artinya, pemahaman adalah aktivitas reflektif yang dilakukan oleh subjek historis terhadap dunia kehidupannya yang juga historis. Pemikiran Dilthey ini menandai pergeseran penting: dari hermeneutika sebagai teknik penafsiran menuju hermeneutika sebagai teori pemahaman historis.

4.3.       Hans-Georg Gadamer (1900–2002): Tradisi, Bahasa, dan Peleburan Cakrawala

Gagasan hermeneutika historis mencapai kedalaman filosofis tertingginya melalui karya Hans-Georg Gadamer, terutama dalam bukunya Truth and Method (1960).¹¹ Gadamer menolak pandangan bahwa pemahaman dapat bersifat objektif atau bebas dari pengaruh sejarah. Ia memperkenalkan konsep “kesadaran historis” (historische Bewusstsein), yaitu kesadaran bahwa setiap penafsir selalu terikat oleh sejarah dan tradisi yang membentuk cara berpikirnya.¹²

Menurut Gadamer, proses pemahaman adalah peristiwa dialogis antara masa lalu dan masa kini. Ia menyebut proses ini sebagai “peleburan cakrawala” (fusion of horizons), yaitu pertemuan antara horizon makna dari teks (yang berasal dari masa lalu) dan horizon pengalaman penafsir (yang hidup di masa kini).¹³ Dalam proses ini, pemahaman bukan sekadar reproduksi makna lama, tetapi juga penciptaan makna baru yang relevan dengan situasi kontemporer.

Gadamer juga menekankan peran bahasa sebagai medium tempat berlangsungnya pemahaman.¹⁴ Bahasa bukan hanya sarana ekspresi, tetapi ruang ontologis di mana kebenaran muncul melalui dialog antara penafsir dan tradisi. Dengan demikian, hermeneutika historis menjadi bukan hanya teori interpretasi, tetapi juga teori eksistensi manusia sebagai makhluk yang hidup di dalam bahasa dan sejarah.¹⁵

Pemikiran Gadamer menandai puncak transisi hermeneutika dari metodologi ke ontologi. Ia tidak hanya menjelaskan bagaimana kita memahami, tetapi juga mengapa pemahaman itu merupakan bagian esensial dari eksistensi manusia yang historis.


Sintesis Gagasan dan Warisan Intelektual

Ketiga tokoh tersebut membentuk garis evolusi hermeneutika historis dari Schleiermacher hingga Gadamer. Schleiermacher meletakkan dasar metodologis, Dilthey memperluasnya menjadi teori pemahaman hidup historis, dan Gadamer mengubahnya menjadi filsafat pemahaman yang bersifat ontologis dan dialogis.¹⁶

Warisan mereka menegaskan bahwa hermeneutika bukan hanya soal menafsirkan teks, tetapi juga memahami kondisi eksistensial manusia yang selalu berada dalam sejarah dan tradisi.¹⁷ Dari sinilah hermeneutika historis menemukan relevansinya yang tak lekang oleh waktu: sebagai kerangka filosofis untuk menjembatani masa lalu dan masa kini dalam pencarian makna manusia.


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 84.

[2]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 5.

[3]                Ibid., 21–22.

[4]                Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 41.

[5]                Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 56.

[6]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 85.

[7]                Ibid., 93.

[8]                Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 62.

[9]                Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 34.

[10]             Wilhelm Dilthey, Introduction to the Human Sciences, trans. Ramon J. Betanzos (Detroit: Wayne State University Press, 1988), 112.

[11]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), xvii.

[12]             Ibid., 269.

[13]             Ibid., 305–307.

[14]             Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 48.

[15]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 123.

[16]             Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 113.

[17]             Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 59.


5.           Metodologi Pemahaman dalam Hermeneutika Historis

Metodologi hermeneutika historis berfokus pada cara manusia memahami teks, tindakan, atau fenomena dalam konteks sejarah yang melahirkannya. Pendekatan ini tidak sekadar menawarkan prosedur teknis penafsiran, tetapi juga menggambarkan struktur ontologis dari proses pemahaman itu sendiri.¹ Dalam pandangan hermeneutik, memahami berarti berpartisipasi secara aktif dalam dunia makna yang terbentuk secara historis dan linguistik. Oleh karena itu, metodologi hermeneutika historis bersifat reflektif, dialogis, dan dinamis—berbeda dengan metodologi positivistik yang bersandar pada objektivitas dan verifikasi empiris.²

5.1.       Proses Interpretasi: Dari Bagian ke Keseluruhan

Salah satu prinsip sentral dalam metodologi hermeneutika adalah lingkaran hermeneutik (hermeneutic circle), yakni hubungan timbal balik antara bagian dan keseluruhan dalam proses pemahaman.³ Untuk memahami sebuah teks, penafsir harus terlebih dahulu memahami bagian-bagiannya; namun, pemahaman atas bagian-bagian itu hanya mungkin jika ia telah memiliki gambaran tentang keseluruhan teks.⁴ Dengan demikian, proses pemahaman tidak bersifat linear, melainkan spiral, di mana penafsir terus bergerak maju dan mundur antara bagian dan keseluruhan guna memperdalam pengertian.⁵

Model lingkaran hermeneutik ini juga berlaku bagi konteks historis: teks tidak dapat dipahami tanpa memahami konteks sosial, politik, dan budaya yang melahirkannya, sementara konteks itu sendiri baru dapat dipahami melalui ekspresi-ekspresi historis seperti teks, tradisi, atau simbol budaya.⁶ Proses ini menuntut keterlibatan aktif penafsir dalam sejarah, bukan sekadar observasi jarak jauh terhadap masa lampau.

5.2.       Prapemahaman dan Dialog Sejarah

Hermeneutika historis menolak gagasan bahwa penafsir dapat mencapai pemahaman yang sepenuhnya objektif. Setiap penafsir membawa prapemahaman (Vorverständnis)—yakni horizon pengalaman, nilai, dan tradisi yang memengaruhi cara ia membaca teks.⁷ Namun, prapemahaman bukanlah hambatan, melainkan titik awal bagi proses interpretasi.⁸ Dalam kerangka ini, pemahaman bersifat dialogis: penafsir berdialog dengan teks sebagai representasi masa lalu, sementara teks “menjawab” melalui horizon makna yang terkandung di dalamnya.⁹

Hans-Georg Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu merupakan peristiwa (Ereignis) dalam sejarah makna, di mana terjadi peleburan cakrawala (fusion of horizons) antara penafsir dan teks.¹⁰ Setiap kali dialog semacam ini terjadi, makna tidak hanya direproduksi, tetapi juga diperbarui dan diperkaya oleh situasi kontemporer penafsir.¹¹ Oleh sebab itu, metode hermeneutika historis lebih bersifat partisipatif dan reflektif dibandingkan prosedural.

5.3.       Rekonstruksi Konteks Historis dan Linguistik

Metodologi hermeneutika historis juga menekankan pentingnya rekonstruksi konteks—baik konteks historis maupun linguistik. Menurut Friedrich Schleiermacher, menafsirkan teks berarti merekonstruksi kondisi historis dan psikologis pengarang.¹² Namun, rekonstruksi ini tidak dimaksudkan untuk menemukan “makna asli” secara absolut, melainkan untuk memahami bagaimana makna itu muncul dalam horizon sejarah tertentu.¹³

Rekonstruksi historis ini melibatkan dua langkah metodologis: pertama, analisis linguistik, yakni memahami struktur bahasa dan gramatika teks; kedua, analisis historis, yaitu menempatkan teks dalam kerangka sosial-budaya dan historisnya.¹⁴ Dengan demikian, metode hermeneutika historis bekerja melalui keseimbangan antara analisis kebahasaan dan pemahaman historis—dua dimensi yang saling melengkapi.

5.4.       Refleksi Kritis dan Kesadaran Tradisi

Pemahaman historis yang sejati menuntut refleksi kritis terhadap tradisi.¹⁵ Penafsir harus menyadari bahwa ia sendiri merupakan bagian dari sejarah yang terus bergerak. Dalam hal ini, Gadamer memperkenalkan konsep Wirkungsgeschichte (sejarah pengaruh), yaitu kesadaran bahwa setiap pemahaman dipengaruhi oleh warisan sejarah yang tidak dapat dihindari.¹⁶ Oleh karena itu, refleksi metodologis dalam hermeneutika historis bukanlah usaha untuk menyingkirkan tradisi, melainkan untuk memahami bagaimana tradisi membentuk horizon pengetahuan kita.¹⁷

Melalui kesadaran ini, hermeneutika historis menegaskan bahwa pemahaman manusia bersifat terbuka dan prosesual. Tidak ada interpretasi yang bersifat final, karena sejarah dan bahasa terus bergerak.¹⁸ Dengan demikian, metodologi hermeneutika historis adalah metodologi yang selalu dapat dikoreksi dan dikembangkan sesuai dinamika sejarah pemahaman manusia itu sendiri.


Sintesis: Hermeneutika sebagai Proses Dialektis

Secara keseluruhan, metodologi hermeneutika historis dapat dipahami sebagai proses dialektis antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan refleksi, serta antara teks dan pembaca.¹⁹ Pemahaman sejati tidak dicapai melalui penerapan prosedur teknis semata, tetapi melalui keterlibatan eksistensial penafsir dalam dialog historis yang hidup.²⁰ Dalam pengertian ini, hermeneutika historis bukan hanya metode ilmiah, melainkan juga cara manusia menegaskan keberadaannya sebagai makhluk historis yang terus mencari makna di tengah perubahan zaman.²¹


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 87.

[2]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 54.

[3]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 78.

[4]                Ibid., 79.

[5]                Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 73.

[6]                Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 58.

[7]                Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 63.

[8]                Charles Taylor, “Interpretation and the Sciences of Man,” The Review of Metaphysics 25, no. 1 (1971): 6.

[9]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 268.

[10]             Ibid., 305.

[11]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 121.

[12]             Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism, 92.

[13]             Richard E. Palmer, Hermeneutics, 91.

[14]             Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 108.

[15]             Paul Ricoeur, Time and Narrative, Volume I (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 71.

[16]             Gadamer, Truth and Method, 299.

[17]             Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 98.

[18]             Andrzej Bronk, Understanding Culture, 61.

[19]             Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, 68.

[20]             Bleicher, Contemporary Hermeneutics, 102.

[21]             Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics, 119.


6.           Aplikasi Hermeneutika Historis

Hermeneutika historis tidak hanya berfungsi sebagai teori filosofis tentang pemahaman, tetapi juga sebagai metode dan paradigma analisis yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu. Melalui pendekatan ini, makna dipahami sebagai hasil dialog antara masa lalu dan masa kini, antara teks dan penafsir, serta antara tradisi dan refleksi kritis.¹ Aplikasi hermeneutika historis mencakup berbagai ranah pengetahuan, mulai dari sejarah, sastra, teologi, hingga ilmu sosial dan budaya, karena pada dasarnya semua disiplin yang berurusan dengan makna manusiawi mengandaikan suatu bentuk interpretasi terhadap pengalaman historis.

6.1.       Dalam Studi Sejarah dan Kebudayaan

Dalam studi sejarah, hermeneutika historis memberikan cara pandang yang menekankan pemahaman daripada penjelasan (understanding rather than explanation).² Sejarah tidak lagi dipandang sekadar kumpulan fakta objektif, melainkan sebagai teks besar yang perlu diinterpretasikan.³ Setiap tindakan historis harus dipahami dalam konteks nilai, keyakinan, dan horizon waktu yang melingkupinya. Dengan demikian, sejarawan bukan hanya mengumpulkan data, tetapi juga “berdialog” dengan masa lalu melalui bukti-bukti historis.⁴

Pendekatan ini memungkinkan munculnya sejarah interpretatif, di mana makna peristiwa-peristiwa lampau dihidupkan kembali melalui pemahaman eksistensial terhadap aktor-aktor sejarahnya.⁵ Contohnya, penelitian sejarah intelektual dan sejarah mentalitas (history of mentalities) banyak menggunakan metode hermeneutika untuk memahami struktur makna yang tersembunyi di balik teks dan praktik sosial.⁶ Melalui cara ini, sejarah menjadi medan refleksi tentang kesadaran manusia yang terbentuk dalam waktu.

6.2.       Dalam Kajian Sastra dan Teks Klasik

Hermeneutika historis juga banyak diterapkan dalam kritik sastra, terutama untuk memahami karya-karya klasik yang lahir dalam horizon budaya tertentu. Menurut Friedrich Schleiermacher, pembacaan teks sastra memerlukan rekonstruksi linguistik dan psikologis terhadap niat pengarang, sehingga penafsir dapat memahami “dari dalam” makna yang dikandung teks tersebut.⁷

Namun, Hans-Georg Gadamer memperluas pendekatan ini dengan menolak gagasan makna tunggal.⁸ Ia berpendapat bahwa setiap pembacaan adalah pertemuan antara horizon masa lalu (teks) dan horizon masa kini (pembaca).⁹ Oleh karena itu, interpretasi sastra selalu bersifat terbuka, karena setiap generasi membawa horizon historisnya sendiri. Misalnya, pembacaan karya Shakespeare, Goethe, atau Pramoedya Ananta Toer akan selalu berbeda tergantung pada konteks sosial dan budaya pembacanya.¹⁰

Pendekatan hermeneutika historis memungkinkan penafsir melihat karya sastra bukan hanya sebagai produk estetik, tetapi juga sebagai ekspresi sejarah yang hidup dan terus berdialog dengan pembacanya.

6.3.       Dalam Teologi dan Studi Keagamaan

Hermeneutika historis memiliki akar kuat dalam bidang teologi, terutama dalam penafsiran teks-teks suci.¹¹ Tradisi penafsiran Alkitab dan teks-teks keagamaan lain telah lama menjadi laboratorium bagi perkembangan metode hermeneutik. Wilhelm Dilthey dan Gadamer menekankan bahwa memahami teks suci bukan berarti menemukan makna objektif yang statis, melainkan menghidupkan kembali pesan yang terus berbicara melalui sejarah.¹²

Dalam konteks ini, hermeneutika historis membantu penafsir untuk memahami pesan teologis dalam relasinya dengan konteks historis pewahyuan dan tradisi umat beriman.¹³ Pendekatan ini menolak fundamentalisme literal, karena makna dianggap dinamis dan terbuka terhadap pembacaan baru sesuai perkembangan sejarah manusia.¹⁴ Dengan demikian, hermeneutika historis menjadi jembatan antara teks yang lahir dalam masa lalu dan manusia modern yang hidup dalam horizon budaya yang berbeda.

6.4.       Dalam Ilmu Sosial dan Humaniora

Dalam ilmu sosial, hermeneutika historis menjadi fondasi bagi metode interpretatif, seperti dalam sosiologi pemahaman (verstehende Soziologie) yang dikembangkan oleh Max Weber.¹⁵ Weber menggunakan pendekatan hermeneutik untuk memahami tindakan sosial sebagai ekspresi bermakna dari pelaku dalam konteks historisnya.¹⁶

Demikian pula, dalam antropologi budaya dan studi komunikasi, hermeneutika historis dipakai untuk menafsirkan simbol-simbol, ritual, dan narasi masyarakat dalam konteks sejarahnya.¹⁷ Paul Ricoeur menegaskan bahwa setiap fenomena sosial adalah “teks” yang perlu dibaca, ditafsirkan, dan dihubungkan dengan horizon historisnya.¹⁸ Dalam pengertian ini, hermeneutika historis berperan sebagai kerangka konseptual yang menjembatani antara pemahaman kultural dan refleksi filosofis terhadap makna tindakan manusia.

6.5.       Dalam Konteks Global dan Era Digital

Pada masa kontemporer, hermeneutika historis menghadapi tantangan baru dalam dunia yang semakin global dan digital.¹⁹ Arus informasi dan teks yang lintas budaya membuat konteks historis sering kali kabur atau terdistorsi. Karena itu, pendekatan hermeneutika historis menjadi semakin relevan sebagai cara untuk mengembalikan dimensi historis dan kultural dari setiap teks atau wacana.²⁰

Dalam kajian media digital, misalnya, hermeneutika historis dapat membantu memahami bagaimana representasi dan narasi dalam ruang digital tetap terikat oleh tradisi dan sejarah wacana yang mendahuluinya.²¹ Dengan demikian, metode ini bukan hanya alat akademik, tetapi juga kerangka etis untuk memahami makna manusia di tengah transformasi budaya yang cepat.


Kesimpulan Aplikatif

Aplikasi hermeneutika historis menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya relevan dalam kajian teks klasik, tetapi juga dalam memahami fenomena sosial dan budaya kontemporer. Ia memungkinkan pembacaan yang empatik, reflektif, dan kontekstual, serta membuka ruang bagi dialog antartradisi dan antarwaktu.²² Dengan demikian, hermeneutika historis menjadi fondasi intelektual bagi semua upaya manusia dalam memahami makna yang terus hidup dan berubah dalam sejarah.


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 91.

[2]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 83.

[3]                Paul Ricoeur, Time and Narrative, Volume I (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 56.

[4]                Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 47.

[5]                Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 102.

[6]                Peter Burke, Varieties of Cultural History (Ithaca: Cornell University Press, 1997), 12.

[7]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 72.

[8]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 306.

[9]                Ibid., 307.

[10]             Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 115.

[11]             Jeanrond, Werner G., Theological Hermeneutics: Development and Significance (New York: Crossroad, 1991), 29.

[12]             Wilhelm Dilthey, Introduction to the Human Sciences, trans. Ramon J. Betanzos (Detroit: Wayne State University Press, 1988), 98.

[13]             Gadamer, Truth and Method, 288.

[14]             Paul Ricoeur, Essays on Biblical Interpretation, ed. Lewis S. Mudge (Philadelphia: Fortress Press, 1980), 45.

[15]             Max Weber, Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology, ed. Guenther Roth dan Claus Wittich (Berkeley: University of California Press, 1978), 5–6.

[16]             Ibid., 22.

[17]             Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 10.

[18]             Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 65.

[19]             Andrzej Bronk, Understanding Culture, 64.

[20]             Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 109.

[21]             David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3 (2019): 322–334.

[22]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 131.


7.           Kritik terhadap Hermeneutika Historis

Meskipun hermeneutika historis memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman manusia dan ilmu kemanusiaan, aliran ini tidak luput dari berbagai kritik filosofis dan metodologis. Kritik-kritik tersebut datang dari beragam arah, mulai dari positivisme ilmiah, fenomenologi eksistensial, teori kritis, hingga post-strukturalisme. Secara umum, perdebatan ini berkisar pada tiga isu utama: (1) objektivitas dan relativitas pemahaman, (2) dominasi tradisi dan problem otoritas, serta (3) keterbatasan metodologis hermeneutika dalam menghadapi konteks kekuasaan dan ideologi.

7.1.       Kritik terhadap Klaim Objektivitas dan Masalah Relativisme

Salah satu kritik utama terhadap hermeneutika historis datang dari kalangan ilmuwan positivistik yang menilai pendekatan ini terlalu subjektif dan tidak dapat diverifikasi secara empiris.¹ Dalam pandangan positivisme, pemahaman yang didasarkan pada pengalaman historis dan kesadaran penafsir dianggap tidak memiliki standar objektivitas yang dapat diuji.² Mereka menilai bahwa hermeneutika historis gagal memisahkan antara interpretasi dan fakta, sehingga hasilnya bersifat relatif dan bergantung pada subjektivitas penafsir.³

Sebaliknya, kritik juga datang dari arah berlawanan—yakni dari kalangan filsuf kontemporer yang menuduh hermeneutika historis masih terlalu terikat pada ideal objektivitas epistemologis.⁴ Tokoh seperti Martin Heidegger dan Paul Ricoeur berpendapat bahwa hermeneutika harus melampaui sekadar pencarian makna historis menuju pemahaman ontologis tentang keberadaan manusia itu sendiri.⁵ Ricoeur menegaskan bahwa pemahaman tidak dapat direduksi menjadi reproduksi makna masa lalu, karena setiap interpretasi mengandung momen kreatif yang membuka makna baru.⁶

Dengan demikian, perdebatan ini memperlihatkan paradoks hermeneutika historis: di satu sisi, ia berupaya memahami makna secara historis dan kontekstual; di sisi lain, ia berisiko terjebak dalam relativisme yang membuat setiap interpretasi tampak sama sahnya.

7.2.       Kritik terhadap Dominasi Tradisi dan Otoritas Sejarah

Kritik lain diarahkan pada konsep tradisi dalam pemikiran Hans-Georg Gadamer. Dalam Truth and Method, Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu dibentuk oleh tradisi dan otoritas sejarah yang mengalir di dalam kesadaran manusia.⁷ Namun, bagi beberapa pemikir, pandangan ini dianggap terlalu konservatif karena menempatkan tradisi sebagai kekuatan yang menentukan pemahaman tanpa cukup ruang bagi resistensi atau kritik.⁸

Jürgen Habermas, tokoh teori kritis dari Mazhab Frankfurt, menuduh Gadamer gagal menyadari dimensi ideologis dari tradisi.⁹ Menurut Habermas, tidak semua tradisi bersifat netral; sebagian justru berfungsi sebagai alat dominasi sosial dan politik.¹⁰ Oleh karena itu, pemahaman yang “berdialog dengan tradisi” tanpa refleksi kritis terhadap struktur kekuasaan berpotensi memperkuat status quo.¹¹ Habermas mengusulkan agar hermeneutika dilengkapi dengan dimensi emansipatoris, yakni kemampuan untuk membebaskan manusia dari ideologi yang menindas melalui refleksi rasional dan kritik sosial.¹²

Perdebatan antara Gadamer dan Habermas menjadi salah satu momen penting dalam sejarah hermeneutika modern, karena memperluas jangkauan hermeneutika historis dari ranah epistemologis menuju ranah etika dan politik.

7.3.       Kritik dari Post-Strukturalisme dan Dekonstruksi

Kritik berikutnya muncul dari aliran post-strukturalisme dan dekonstruksi, yang dipelopori oleh tokoh seperti Jacques Derrida, Michel Foucault, dan Roland Barthes.¹³ Para pemikir ini menolak asumsi bahwa makna dapat dipahami secara stabil melalui dialog antara teks dan penafsir. Bagi Derrida, makna selalu tergeser (différance) dan tidak pernah hadir secara penuh; setiap teks membuka ruang bagi interpretasi tanpa batas.¹⁴

Dalam kerangka ini, hermeneutika historis dianggap masih terjebak dalam “metafisika kehadiran” karena berasumsi bahwa makna dapat direkonstruksi melalui kesadaran historis penafsir.¹⁵ Foucault menambahkan bahwa sejarah bukanlah medan dialog netral, melainkan arena pertarungan kekuasaan di mana wacana mendefinisikan kebenaran.¹⁶ Oleh sebab itu, pendekatan hermeneutika historis dinilai kurang sensitif terhadap dimensi politik dan genealogis dari produksi makna.¹⁷

Meskipun demikian, sebagian pemikir seperti Paul Ricoeur dan Richard Kearney mencoba menjembatani perbedaan ini dengan memperkenalkan konsep hermeneutika kritis, yang menggabungkan refleksi historis dengan kesadaran terhadap kekuasaan dan bahasa.¹⁸

7.4.       Kritik Metodologis dan Tantangan Kontemporer

Kritik lain datang dari kalangan metodolog modern yang menilai hermeneutika historis tidak memberikan pedoman sistematis yang jelas untuk praktik interpretasi.¹⁹ Pendekatan ini dianggap terlalu reflektif dan filosofis, sehingga sulit diterapkan secara konkret dalam penelitian empiris.²⁰ Selain itu, di era digital dan globalisasi, konteks historis yang menjadi fondasi hermeneutika tradisional menjadi semakin kabur karena peredaran teks dan makna kini melintasi batas ruang dan waktu.²¹

Kritik ini menimbulkan tantangan baru bagi hermeneutika historis agar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kontemporer. Beberapa sarjana, seperti David Rasmussen dan Jean Grondin, berupaya memperbarui hermeneutika historis dengan menekankan pentingnya komunikasi lintas budaya dan interpretasi intertekstual dalam dunia global.²² Dengan demikian, hermeneutika historis perlu terus berkembang agar tetap relevan dalam menghadapi pluralitas makna dan kompleksitas wacana modern.


Evaluasi dan Implikasi Filosofis

Meskipun menghadapi berbagai kritik, hermeneutika historis tetap memiliki kekuatan utama dalam mempertahankan kesadaran reflektif terhadap sejarah sebagai unsur konstitutif pemahaman manusia. Kritik-kritik tersebut justru memperkaya dinamika hermeneutika dengan memperluas cakrawalanya ke arah yang lebih kritis dan interdisipliner.²³ Melalui dialog dengan teori kritis, dekonstruksi, dan filsafat kontemporer, hermeneutika historis tidak kehilangan relevansinya, melainkan berkembang menjadi tradisi pemikiran yang terbuka dan terus bertransformasi.


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 95.

[2]                Wilhelm Windelband, History and Natural Science (New York: Harper, 1980), 14.

[3]                Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 2002), 27.

[4]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 88.

[5]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 210.

[6]                Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 72.

[7]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 268–270.

[8]                Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 61.

[9]                Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 314.

[10]             Ibid., 315.

[11]             Ibid., 317.

[12]             Jürgen Habermas, “A Review of Gadamer’s Truth and Method,” in Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique, ed. Josef Bleicher (London: Routledge, 1980), 254–257.

[13]             Jacques Derrida, Of Grammatology, trans. Gayatri Chakravorty Spivak (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976), 60.

[14]             Ibid., 71.

[15]             Ibid., 73.

[16]             Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge, trans. A. M. Sheridan Smith (London: Routledge, 1972), 27.

[17]             Roland Barthes, “The Death of the Author,” in Image, Music, Text, trans. Stephen Heath (New York: Hill and Wang, 1977), 142.

[18]             Paul Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation (New Haven: Yale University Press, 1970), 33–34.

[19]             Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 110.

[20]             Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 114.

[21]             Andrzej Bronk, Understanding Culture, 66.

[22]             David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3 (2019): 325.

[23]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 138.


8.           Sintesis Filosofis dan Relevansi Kontemporer

Hermeneutika historis merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan filsafat modern, karena ia menawarkan pandangan yang mendalam tentang hubungan antara bahasa, sejarah, dan pemahaman manusia. Dalam tahap sintesis filosofisnya, hermeneutika historis tidak lagi dipandang sekadar sebagai metode interpretasi teks, tetapi sebagai ontologi pemahaman, yaitu refleksi filosofis atas keberadaan manusia sebagai makhluk yang memahami dan dimengerti melalui sejarahnya sendiri.¹ Sintesis ini menunjukkan bahwa makna bukan sesuatu yang diberikan secara statis, melainkan hasil dialog dinamis antara manusia dan dunia historisnya.

8.1.       Hermeneutika sebagai Ontologi Pemahaman

Gagasan Hans-Georg Gadamer tentang hermeneutika sebagai filsafat pemahaman menggeser paradigma epistemologis tradisional menuju pendekatan ontologis.² Gadamer menolak pandangan bahwa pemahaman dapat dicapai melalui metode ilmiah yang netral, karena manusia tidak pernah dapat keluar dari sejarah dan bahasa yang membentuk dirinya.³ Pemahaman, bagi Gadamer, bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi bagian dari modus eksistensi manusia yang senantiasa berada dalam dialog dengan masa lalu dan tradisinya.⁴

Dalam kerangka ini, hermeneutika historis memperlihatkan bahwa setiap bentuk pengetahuan bersifat situasional dan historis, tanpa kehilangan nilai kebenarannya. Kebenaran dalam hermeneutika bukanlah korespondensi statis antara pernyataan dan fakta, melainkan keterbukaan terhadap makna yang muncul melalui pertemuan antara horizon penafsir dan horizon teks.⁵ Dengan demikian, hermeneutika historis memperdalam pemahaman filosofis kita tentang manusia sebagai makhluk yang selalu “menjadi” (becoming) dalam sejarah, bukan “ada” secara tetap dan selesai.

8.2.       Integrasi dengan Filsafat Bahasa dan Fenomenologi

Sintesis hermeneutika historis juga menemukan titik temu dengan filsafat bahasa dan fenomenologi. Bagi Martin Heidegger, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi “rumah bagi keberadaan” (die Sprache ist das Haus des Seins).⁶ Pemikiran ini memberikan dasar ontologis bagi hermeneutika historis, di mana bahasa dipahami sebagai medium utama yang menampung dan mengalirkan pengalaman historis manusia.

Sementara itu, Paul Ricoeur memperkaya tradisi hermeneutika historis dengan menggabungkannya dengan pendekatan fenomenologis.⁷ Ia menekankan bahwa setiap tindakan pemahaman selalu melibatkan dimensi simbolik yang menyingkap makna baru melalui interpretasi.⁸ Dengan demikian, hermeneutika tidak hanya memahami masa lalu, tetapi juga membuka kemungkinan baru bagi penafsiran masa kini. Ricoeur menyebut proses ini sebagai hermeneutika reflektif, di mana makna terus diperbarui dalam relasi antara pengalaman dan refleksi filosofis.⁹

Integrasi ini memperlihatkan bahwa hermeneutika historis bukan sekadar metode deskriptif, tetapi juga proses kreatif dalam menghidupkan kembali dan menafsirkan warisan makna manusia.

8.3.       Relevansi dalam Konteks Global dan Pluralisme Budaya

Dalam dunia kontemporer yang ditandai oleh globalisasi, migrasi budaya, dan komunikasi lintas batas, hermeneutika historis memainkan peran penting sebagai filsafat dialog antarperadaban.¹⁰ Ia menyediakan kerangka konseptual untuk memahami perbedaan tanpa mereduksinya menjadi relativisme ekstrem.

Konsep “peleburan cakrawala” (fusion of horizons) yang dikemukakan oleh Gadamer menjadi kunci dalam membangun pemahaman lintas budaya.¹¹ Melalui dialog hermeneutik, setiap tradisi diakui memiliki horizon makna historis yang unik, namun terbuka untuk saling memperkaya melalui komunikasi dan interpretasi bersama.¹² Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks multikulturalisme modern, di mana identitas dan nilai-nilai manusia terus dinegosiasikan dalam perjumpaan antarbudaya.¹³

Selain itu, dalam era digital, hermeneutika historis membantu manusia menavigasi banjir informasi dan wacana yang sering terlepas dari konteks historisnya.¹⁴ Dengan menekankan pentingnya konteks, refleksi, dan kesadaran historis, hermeneutika historis menawarkan cara berpikir yang kritis dan mendalam di tengah budaya instan dan fragmentasi makna yang mendominasi masyarakat global saat ini.

8.4.       Hermeneutika Historis sebagai Etika Pemahaman

Lebih dari sekadar teori interpretasi, hermeneutika historis mengandung dimensi etis yang mendalam. Dalam setiap proses pemahaman, terdapat tanggung jawab moral untuk menghormati “yang lain” — baik berupa teks, tradisi, maupun manusia dari horizon sejarah yang berbeda.¹⁵ Gadamer menekankan bahwa sikap hermeneutik sejati adalah keterbukaan (Offenheit) terhadap pandangan lain dan kesediaan untuk belajar darinya.¹⁶

Dalam konteks sosial dan politik kontemporer yang sarat konflik makna, hermeneutika historis dapat menjadi dasar bagi etika dialog, yaitu kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menafsirkan tanpa mengklaim monopoli kebenaran.¹⁷ Etika ini menjadikan hermeneutika bukan hanya disiplin intelektual, tetapi juga praksis kemanusiaan yang berorientasi pada pengakuan dan pemahaman timbal balik.

8.5.       Prospek dan Transformasi Hermeneutika Historis

Masa depan hermeneutika historis bergantung pada kemampuannya untuk bertransformasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Sejumlah pemikir kontemporer seperti Jean Grondin, Andrzej Bronk, dan David Rasmussen menegaskan bahwa hermeneutika historis harus melampaui keterikatan pada teks menuju analisis terhadap bentuk-bentuk komunikasi modern, termasuk wacana digital, film, dan media sosial.¹⁸

Transformasi ini menunjukkan bahwa prinsip dasar hermeneutika — pemahaman sebagai dialog dalam sejarah — tetap relevan, tetapi bentuknya harus disesuaikan dengan kondisi komunikasi manusia abad ke-21.¹⁹ Dengan demikian, hermeneutika historis tetap menjadi kerangka filosofis yang terbuka, reflektif, dan kritis, yang mampu menjawab tantangan epistemologis, etis, dan kultural dunia modern.


Sintesis Akhir

Sebagai sintesis, hermeneutika historis dapat dipahami sebagai filsafat pemahaman manusia dalam waktu, di mana sejarah, bahasa, dan tradisi saling berinteraksi dalam membentuk makna.²⁰ Ia menolak absolutisme kebenaran sekaligus relativisme ekstrem, dan menawarkan jalan tengah berupa dialog terbuka antara horizon yang berbeda.²¹ Dalam dunia yang terfragmentasi dan cepat berubah, hermeneutika historis mengingatkan kita bahwa memahami berarti menghubungkan diri dengan sejarah — baik sejarah teks, budaya, maupun kesadaran manusia itu sendiri.²²


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 102.

[2]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 250.

[3]                Ibid., 270.

[4]                Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 115.

[5]                Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 66.

[6]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 193.

[7]                Paul Ricoeur, Time and Narrative, Volume I (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 52.

[8]                Ibid., 64.

[9]                Paul Ricoeur, The Conflict of Interpretations (Evanston: Northwestern University Press, 1974), 28.

[10]             Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 119.

[11]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 305.

[12]             Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 67.

[13]             David Rasmussen, “Hermeneutics and Global Dialogue,” Philosophy and Social Criticism 43, no. 5 (2017): 411–423.

[14]             Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 117.

[15]             Paul Ricoeur, Oneself as Another (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 172.

[16]             Gadamer, Truth and Method, 378.

[17]             Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 322.

[18]             Jean Grondin, The Philosophy of Gadamer (Montreal: McGill-Queen’s University Press, 2003), 144.

[19]             David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3 (2019): 329.

[20]             Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 120.

[21]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 32.

[22]             Andrzej Bronk, Understanding Culture, 73.


9.           Kesimpulan

Hermeneutika historis, sebagai salah satu pilar utama dalam tradisi filsafat linguistik dan analitis, menegaskan bahwa pemahaman manusia terhadap dunia, teks, dan diri sendiri selalu terikat pada sejarah. Ia menolak pandangan epistemologis yang memisahkan subjek dan objek pengetahuan secara mutlak, serta menggantinya dengan paradigma dialogis yang melihat pemahaman sebagai hasil interaksi antara penafsir dan realitas historis.¹ Dengan demikian, hermeneutika historis bukan hanya metode penafsiran, tetapi juga cara berada manusia dalam dunia yang sarat makna dan sejarah.

Melalui pemikiran tokoh-tokoh seperti Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer, hermeneutika historis berkembang dari disiplin metodologis menjadi refleksi ontologis. Schleiermacher menekankan pentingnya rekonstruksi linguistik dan psikologis dalam memahami teks; Dilthey memperluasnya menjadi teori pemahaman kehidupan (Lebensphilosophie); dan Gadamer mengangkatnya ke tingkat filsafat eksistensial yang menempatkan pemahaman sebagai modus keberadaan manusia.² Keseluruhan jalur perkembangan ini menunjukkan bahwa hermeneutika historis tidak hanya berurusan dengan teks masa lalu, tetapi juga dengan struktur dasar pengalaman manusia sebagai makhluk historis-linguistik.³

Hermeneutika historis menyadarkan kita bahwa makna tidak pernah bersifat tetap atau final. Setiap generasi menafsirkan kembali tradisi dan teks yang diwariskan kepadanya berdasarkan horizon sejarah yang berbeda.⁴ Dalam proses ini, terjadi “peleburan cakrawala” (fusion of horizons), di mana masa lalu dan masa kini saling mempengaruhi dan memperkaya.⁵ Dengan demikian, hermeneutika historis memberikan landasan filosofis bagi pemahaman yang bersifat terbuka (openness) dan reflektif terhadap perubahan makna dalam waktu.

Namun, sebagaimana dibahas dalam bagian kritik, hermeneutika historis juga menghadapi tantangan serius, seperti tuduhan relativisme, konservatisme tradisional, serta keterbatasannya dalam menghadapi konteks kekuasaan dan ideologi.⁶ Meski demikian, justru melalui dialog dengan teori kritis (Habermas), dekonstruksi (Derrida), dan fenomenologi reflektif (Ricoeur), hermeneutika historis mengalami transformasi yang memperluas horizon pemahamannya.⁷ Ia tidak lagi hanya berkutat pada teks klasik atau tradisi budaya, tetapi juga membuka diri terhadap realitas kontemporer seperti globalisasi, pluralisme, dan era digital yang menuntut bentuk pemahaman baru terhadap makna dan identitas manusia.⁸

Dalam konteks dunia modern yang ditandai oleh ketegangan antara homogenisasi global dan perbedaan kultural, hermeneutika historis menawarkan paradigma yang mendamaikan antara relativitas makna dan kebutuhan akan dialog universal.⁹ Prinsip utamanya—bahwa memahami berarti berpartisipasi dalam sejarah makna—mendorong kita untuk melihat pengetahuan bukan sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai bentuk keterlibatan etis dan reflektif terhadap dunia.¹⁰

Oleh karena itu, hermeneutika historis memiliki relevansi filosofis dan praksis yang tinggi dalam kehidupan kontemporer. Ia mengajarkan bahwa setiap upaya memahami, baik dalam ilmu, seni, agama, maupun politik, selalu menuntut kesadaran historis dan keterbukaan terhadap horizon lain.¹¹ Hermeneutika historis bukan sekadar teori interpretasi teks, melainkan filsafat pemahaman manusia yang menegaskan pentingnya tradisi, bahasa, dan dialog sebagai jalan menuju kebijaksanaan.¹²

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hermeneutika historis bukan hanya warisan intelektual masa lalu, tetapi juga kerangka filosofis yang hidup, yang terus relevan dalam menuntun manusia memahami dirinya dan dunianya di tengah arus sejarah yang tak pernah berhenti berubah.¹³


Footnotes

[1]                Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston: Northwestern University Press, 1969), 103.

[2]                Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 89.

[3]                Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 83.

[4]                Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd rev. ed. (London: Continuum, 2004), 273.

[5]                Ibid., 305–307.

[6]                Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 314.

[7]                Paul Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation (New Haven: Yale University Press, 1970), 31.

[8]                David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3 (2019): 324–325.

[9]                Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 118.

[10]             Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics II (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 35.

[11]             Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press, 2018), 68.

[12]             Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 139.

[13]             Jean Grondin, Sources of Hermeneutics (Albany: State University of New York Press, 1995), 121.


Daftar Pustaka

Barthes, R. (1977). Image, music, text (S. Heath, Trans.). Hill and Wang.

Bleicher, J. (1980). Contemporary hermeneutics: Hermeneutics as method, philosophy, and critique. Routledge.

Bronk, A. (2018). Understanding culture: The hermeneutical approach. The John Paul II Catholic University of Lublin Press.

Burke, P. (1997). Varieties of cultural history. Cornell University Press.

Derrida, J. (1976). Of grammatology (G. C. Spivak, Trans.). Johns Hopkins University Press.

Dilthey, W. (1988). Introduction to the human sciences (R. J. Betanzos, Trans.). Wayne State University Press.

Dilthey, W. (1996). Selected works, volume IV: Hermeneutics and the study of history (R. A. Makkreel & F. Rodi, Eds.). Princeton University Press.

Foucault, M. (1972). The archaeology of knowledge (A. M. S. Smith, Trans.). Routledge.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (2nd rev. ed.). Continuum.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Grondin, J. (1994). Introduction to philosophical hermeneutics. Yale University Press.

Grondin, J. (1995). Sources of hermeneutics. State University of New York Press.

Grondin, J. (2003). The philosophy of Gadamer. McGill-Queen’s University Press.

Habermas, J. (1972). Knowledge and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1980). A review of Gadamer’s Truth and method. In J. Bleicher (Ed.), Contemporary hermeneutics: Hermeneutics as method, philosophy, and critique (pp. 254–257). Routledge.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.

Jeanrond, W. G. (1991). Theological hermeneutics: Development and significance. Crossroad.

Palmer, R. E. (1969). Hermeneutics: Interpretation theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Northwestern University Press.

Popper, K. (2002). The logic of scientific discovery. Routledge.

Rasmussen, D. (2017). Hermeneutics and global dialogue. Philosophy and Social Criticism, 43(5), 411–423.

Rasmussen, D. (2019). Hermeneutics and the human sciences in the digital age. Philosophy and Social Criticism, 45(3), 322–334.

Ricoeur, P. (1970). Freud and philosophy: An essay on interpretation. Yale University Press.

Ricoeur, P. (1974). The conflict of interpretations. Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1980). Essays on biblical interpretation (L. S. Mudge, Ed.). Fortress Press.

Ricoeur, P. (1981). Hermeneutics and the human sciences (J. B. Thompson, Trans.). Cambridge University Press.

Ricoeur, P. (1984). Time and narrative, volume I. University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (1991). From text to action: Essays in hermeneutics II. Northwestern University Press.

Ricoeur, P. (1992). Oneself as another. University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (1976). Interpretation theory: Discourse and the surplus of meaning. Texas Christian University Press.

Schleiermacher, F. (1998). Hermeneutics and criticism and other writings (A. Bowie, Ed.). Cambridge University Press.

Taylor, C. (1971). Interpretation and the sciences of man. The Review of Metaphysics, 25(1), 3–51.

Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press.

Weinsheimer, J. C. (1985). Gadamer’s hermeneutics: A reading of Truth and Method. Yale University Press.

Windelband, W. (1980). History and natural science. Harper.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar