Hermeneutika Historis
Pemahaman Makna melalui Konteks Sejarah dan Kesadaran
Tradisi
Alihkan ke: Aliran Filsafat Linguistik dan Analitis.
Hermeneutika Klasik, Hermeneutika Islam, Hermeneutika Modern, Hermeneutika Kritis, Hermeneutika Eksistensial, Hermeneutika Dekonstruktif, Hermeneutika Filosofis.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif tentang hermeneutika
historis sebagai salah satu aliran utama dalam filsafat linguistik dan
analitis yang menempatkan pemahaman manusia dalam konteks sejarah, bahasa, dan
tradisi. Kajian ini berangkat dari keyakinan bahwa makna tidak bersifat statis,
melainkan selalu terbentuk dalam dialog antara masa lalu dan masa kini. Dengan
menelusuri perkembangan pemikiran tokoh-tokoh kunci seperti Friedrich
Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer,
artikel ini menyoroti bagaimana hermeneutika berevolusi dari metode
interpretasi teks menuju filsafat pemahaman yang bersifat ontologis.
Melalui pendekatan metodologis yang menekankan
lingkaran hermeneutik, prapemahaman, dan kesadaran historis, hermeneutika
historis dipahami sebagai proses reflektif dan dialogis yang melibatkan
penafsir secara aktif dalam membangun makna. Artikel ini juga menelaah kritik
terhadap hermeneutika historis, terutama dari positivisme, teori kritis, dan
post-strukturalisme, serta menguraikan relevansinya dalam konteks global dan
era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa hermeneutika historis tetap
memiliki signifikansi filosofis dan etis di dunia kontemporer karena
kemampuannya menjembatani perbedaan budaya dan memperkuat dialog antartradisi.
Dengan demikian, hermeneutika historis tidak hanya
dipahami sebagai teori penafsiran teks, tetapi juga sebagai kerangka
filsafat eksistensial yang membantu manusia memahami dirinya, sejarahnya,
dan dunianya. Ia menegaskan pentingnya kesadaran historis dan keterbukaan
terhadap “yang lain” sebagai dasar pemahaman yang autentik dan
manusiawi.
Kata Kunci: Hermeneutika Historis; Filsafat Bahasa; Tradisi; Pemahaman;
Sejarah; Gadamer; Dilthey; Schleiermacher; Kesadaran Historis; Ontologi Makna.
PEMBAHASAN
Hermeneutika Historis dalam Tradisi Filsafat Linguistik
dan Analitis
1.
Pendahuluan
Hermeneutika historis merupakan salah satu cabang
penting dalam tradisi filsafat linguistik dan analitis yang berfokus pada
pemahaman makna teks dalam konteks sejarahnya. Secara etimologis, istilah hermeneutika
berasal dari kata Yunani hermēneuein, yang berarti “menafsirkan”
atau “mengartikan” sesuatu yang tidak langsung dapat dipahami. Dalam
sejarahnya, hermeneutika tidak hanya dipahami sebagai teknik penafsiran
teks-teks keagamaan, melainkan juga sebagai teori tentang bagaimana manusia
memahami dunia melalui bahasa dan pengalaman historisnya.¹
Munculnya hermeneutika historis tidak terlepas dari
kebutuhan untuk menafsirkan makna secara lebih objektif dan ilmiah terhadap
teks-teks sejarah, sastra, maupun agama. Pada abad ke-19, hermeneutika mulai
bergeser dari sekadar metode teologis menjadi disiplin filsafat yang menekankan
pentingnya konteks sosial, budaya, dan sejarah dalam proses penafsiran.²
Pergeseran ini terutama dipelopori oleh pemikir seperti Friedrich
Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey, yang melihat bahwa pemahaman
terhadap teks harus mempertimbangkan situasi historis pengarang serta horizon
pengalaman pembaca.³
Dalam konteks filsafat linguistik dan analitis,
hermeneutika historis memainkan peran penting karena ia menggabungkan dimensi
bahasa dan sejarah dalam proses pemaknaan. Bahasa tidak hanya dianggap sebagai
alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium di mana sejarah dan tradisi hidup
dan membentuk kesadaran manusia.⁴ Setiap kata, simbol, dan struktur kalimat
mengandung jejak makna yang terbentuk dalam konteks historis tertentu, sehingga
memahami teks berarti juga memahami kondisi kultural dan historis yang
melatarbelakanginya.⁵
Lebih jauh lagi, hermeneutika historis berangkat
dari asumsi bahwa manusia tidak pernah menafsirkan sesuatu dari titik netral.
Pemahaman selalu dibentuk oleh horizon pengalaman dan prapemahaman (Vorverständnis)
yang melekat pada penafsir.⁶ Oleh karena itu, dalam setiap proses interpretasi,
terjadi dialog antara masa lalu dan masa kini — antara teks yang lahir dalam
konteks sejarah tertentu dengan pembaca yang hidup dalam horizon budaya dan
intelektual yang berbeda. Proses ini kemudian disebut “peleburan cakrawala”
(fusion of horizons), sebagaimana dijelaskan oleh Hans-Georg
Gadamer, yang memperluas cakupan hermeneutika historis ke dalam dimensi
filosofis yang lebih dalam.⁷
Urgensi pembahasan hermeneutika historis dewasa ini
semakin meningkat, terutama dalam menghadapi tantangan interpretasi lintas
budaya dan globalisasi pengetahuan. Dalam era digital, teks dan wacana
berpindah lintas ruang dan waktu secara cepat, sehingga pemahaman terhadap
konteks historis menjadi kunci agar makna tidak tereduksi atau disalahpahami.⁸
Oleh karena itu, hermeneutika historis tidak hanya relevan dalam studi filsafat
dan sejarah, tetapi juga dalam ranah ilmu sosial, linguistik, teologi, dan
kajian budaya kontemporer.
Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk
membahas secara sistematis dasar-dasar filosofis, tokoh-tokoh utama,
metodologi, serta relevansi kontemporer dari hermeneutika historis sebagai
suatu pendekatan dalam memahami makna. Melalui kajian ini, diharapkan pembaca
dapat memahami bahwa setiap makna selalu bersifat historis, terbuka, dan
dinamis — senantiasa terbentuk dalam dialog antara tradisi dan kesadaran
manusia yang hidup di dalamnya.⁹
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 12.
[2]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 18–20.
[3]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 45–46.
[4]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV:
Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof
Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 89.
[5]
Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse
and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press,
1976), 30–31.
[6]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 269.
[7]
Ibid., 305.
[8]
David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human
Sciences,” Philosophy and Social Criticism 32, no. 4 (2006): 479–496.
[9]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 112.
2.
Landasan Teoretis
Hermeneutika
Hermeneutika sebagai disiplin filsafat memiliki
akar yang panjang dalam sejarah pemikiran manusia, berawal dari kebutuhan untuk
memahami teks-teks yang dianggap memiliki makna tersembunyi, terutama dalam
konteks keagamaan dan hukum. Secara historis, hermeneutika berkembang dari
sekadar metode interpretasi teks menjadi suatu teori pengetahuan tentang
pemahaman itu sendiri.¹ Dengan demikian, hermeneutika bukan hanya berbicara
tentang “bagaimana kita menafsirkan,” tetapi juga “bagaimana kita
memahami” sesuatu melalui bahasa, pengalaman, dan sejarah.
Secara etimologis, istilah hermeneutika
berasal dari kata Yunani hermēneuein, yang berarti “menafsirkan,”
“menerjemahkan,” atau “mengungkapkan.”² Dalam mitologi Yunani,
Hermes dikenal sebagai utusan para dewa yang bertugas menyampaikan pesan ilahi
kepada manusia. Dari mitos inilah muncul analogi filosofis bahwa hermeneutika
adalah proses “menerjemahkan” makna dari sesuatu yang ilahi, asing, atau
tersembunyi ke dalam bentuk yang dapat dipahami manusia.³ Artinya, setiap
tindakan pemahaman selalu melibatkan proses penafsiran terhadap sesuatu yang
tidak sepenuhnya transparan.
Dalam perkembangannya, hermeneutika mengalami tiga
tahap utama: (1) hermeneutika teologis, (2) hermeneutika filologis, dan (3)
hermeneutika filosofis.⁴ Pada tahap teologis, hermeneutika digunakan untuk
menafsirkan kitab suci, seperti yang dilakukan oleh para teolog Kristen awal.
Pada tahap filologis, fokus bergeser ke interpretasi teks-teks klasik dalam
bidang hukum, sastra, dan sejarah, dengan tujuan menemukan makna asli
pengarang.⁵ Tahap ini menandai lahirnya hermeneutika ilmiah pada abad ke-18 dan
ke-19 melalui karya tokoh seperti Friedrich Schleiermacher, yang
menekankan pentingnya “pemahaman psikologis” terhadap maksud pengarang.⁶
Transformasi besar terjadi ketika hermeneutika
memasuki ranah filsafat melalui pemikiran Wilhelm Dilthey dan Hans-Georg
Gadamer. Dilthey mengembangkan hermeneutika sebagai dasar metodologis bagi
ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften), dengan menekankan bahwa
memahami teks berarti memahami kehidupan yang mengekspresikan diri dalam
sejarah.⁷ Dengan demikian, hermeneutika bukan sekadar teknik interpretasi,
melainkan bentuk refleksi epistemologis atas cara manusia memahami dirinya dan
dunianya melalui warisan budaya dan bahasa.
Selanjutnya, Hans-Georg Gadamer memperluas
hermeneutika menjadi filsafat pemahaman itu sendiri dalam karyanya Truth and
Method. Ia menolak pandangan objektivistik yang berusaha memahami makna
secara bebas dari pengaruh sejarah dan tradisi.⁸ Gadamer berargumen bahwa
pemahaman selalu bersifat historis karena manusia adalah makhluk yang terbentuk
oleh tradisi.⁹ Ia memperkenalkan konsep Wirkungsgeschichte (sejarah
pengaruh) dan fusion of horizons (peleburan cakrawala), yang menunjukkan
bahwa makna muncul dari dialog antara masa lalu (teks dan tradisi) dan masa
kini (pembaca dan konteksnya).¹⁰
Dalam konteks filsafat linguistik dan analitis,
hermeneutika berkontribusi dengan menyoroti fungsi bahasa bukan hanya sebagai
alat komunikasi, melainkan juga sebagai struktur fundamental pemahaman. Bahasa
tidak bersifat netral; ia selalu membawa horizon makna yang terbentuk secara
historis dan sosial.¹¹ Setiap tindakan berbicara atau menulis merupakan bagian
dari proses historis yang menghubungkan subjek dengan dunia dan tradisinya.¹²
Oleh karena itu, hermeneutika historis menegaskan bahwa memahami suatu teks
berarti menempatkan diri dalam jaringan makna yang terbentuk oleh sejarah
bahasa dan pengalaman manusia.
Dengan demikian, landasan teoretis hermeneutika
berpijak pada keyakinan bahwa pemahaman adalah kegiatan manusiawi yang bersifat
historis, linguistik, dan dialogis. Ia menolak pandangan bahwa makna dapat
direduksi menjadi entitas tetap, sebab makna selalu terbuka untuk ditafsirkan
kembali seiring perubahan konteks dan horizon budaya.¹³ Hermeneutika historis,
dengan demikian, menjadi kerangka filosofis yang memungkinkan manusia untuk
memahami teks, tradisi, dan dirinya sendiri dalam arus sejarah yang senantiasa
bergerak.
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 15.
[2]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 2.
[3]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 24.
[4]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics:
Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980),
1–3.
[5]
Emilio Betti, Teoria generale della
interpretazione (Milan: Giuffrè, 1955), 47.
[6]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 65–67.
[7]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV:
Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof
Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 91–92.
[8]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 276.
[9]
Ibid., 284.
[10]
Ibid., 306–307.
[11]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 45.
[12]
Charles Taylor, “Interpretation and the Sciences of
Man,” The Review of Metaphysics 25, no. 1 (1971): 6–7.
[13]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 118.
3.
Hermeneutika
Historis: Pengertian dan Prinsip Dasar
Hermeneutika historis merupakan cabang hermeneutika
yang menekankan bahwa pemahaman terhadap suatu teks, tindakan, atau fenomena
budaya tidak dapat dipisahkan dari konteks historis di mana ia lahir.¹ Ia
berangkat dari keyakinan bahwa makna bukanlah sesuatu yang bersifat tetap dan
universal, melainkan selalu terikat pada situasi, bahasa, dan horizon sejarah
tertentu.² Dalam pandangan ini, setiap upaya untuk memahami sesuatu berarti
juga memasuki dunia historis yang membentuknya — dunia nilai, pengalaman, dan
bahasa yang hidup pada masa tertentu.
Secara konseptual, hermeneutika historis lahir dari
sintesis antara hermeneutika klasik yang menekankan niat pengarang dan
hermeneutika filosofis yang menyoroti kesadaran pembaca. Friedrich
Schleiermacher memandang hermeneutika sebagai seni memahami pikiran
pengarang secara objektif melalui rekonstruksi konteks linguistik dan
psikologis.³ Sementara itu, Wilhelm Dilthey memperluasnya dengan
menegaskan bahwa pemahaman terhadap teks adalah bentuk partisipasi eksistensial
dalam kehidupan sejarah yang diungkapkan oleh teks tersebut.⁴ Dilthey menolak
positivisme yang berusaha menjadikan pemahaman manusiawi setara dengan
penjelasan ilmiah, sebab bagi dia, memahami berarti “menghidupkan kembali”
pengalaman historis melalui empati (Nacherleben).⁵
Hermeneutika historis kemudian mencapai dimensi
filosofis yang lebih dalam melalui karya Hans-Georg Gadamer, terutama
dalam Truth and Method. Gadamer menolak pandangan bahwa penafsir dapat
melepaskan diri dari sejarah atau berdiri di luar tradisi.⁶ Menurutnya, setiap
pemahaman selalu bersifat historis karena manusia senantiasa berada di dalam
aliran tradisi yang membentuk cara berpikirnya.⁷ Oleh karena itu, pemahaman
tidak bersifat reproduktif (sekadar menyalin makna masa lalu), melainkan
produktif, yakni menciptakan makna baru melalui dialog antara masa lalu dan
masa kini.⁸
Terdapat beberapa prinsip dasar yang menjadi
fondasi hermeneutika historis:
1)
Prinsip Historisitas Pemahaman.
Pemahaman
selalu berakar pada sejarah. Setiap individu membawa horizon pengalaman yang
terbentuk oleh konteks budaya dan zamannya.⁹ Karena itu, menafsirkan teks
berarti memasuki dialog antara dua horizon — horizon masa lalu dari teks dan
horizon masa kini dari pembaca.¹⁰
2)
Prinsip Lingkaran Hermeneutik (Hermeneutic Circle).
Dalam proses
memahami, seseorang bergerak secara dinamis antara bagian dan keseluruhan:
makna bagian hanya dapat dipahami dari keseluruhan, sementara keseluruhan hanya
bermakna melalui pemahaman atas bagian-bagiannya.¹¹ Proses ini tidak pernah
mencapai titik akhir karena pemahaman manusia selalu terbuka dan dapat
direvisi.
3)
Prinsip Prapemahaman (Vorverständnis).
Setiap
penafsir memasuki teks dengan sejumlah asumsi awal, nilai, dan kerangka
pikir.¹² Prapemahaman ini bukanlah hambatan, melainkan kondisi kemungkinan bagi
terjadinya pemahaman. Namun, ia perlu diuji dan direfleksikan agar tidak
mengaburkan makna historis teks yang ditafsirkan.
4)
Prinsip Dialogis dan Tradisionalitas.
Gadamer
menekankan bahwa pemahaman bersifat dialogis, yakni hasil interaksi antara teks
dan penafsir dalam horizon tradisi.¹³ Tradisi bukanlah beban masa lalu, tetapi
medium tempat makna diwariskan dan diperbarui.¹⁴ Dengan demikian, memahami teks
berarti berdialog dengan sejarah yang hidup di dalamnya.
5)
Prinsip Bahasa sebagai Medium Sejarah.
Bahasa bukan
sekadar alat ekspresi, melainkan ruang tempat realitas dan pengalaman historis
manusia diartikulasikan.¹⁵ Melalui bahasa, sejarah berbicara kepada masa kini,
dan manusia memahami dirinya sebagai makhluk historis-linguistik yang selalu
berada dalam proses penafsiran.¹⁶
Dengan berpegang pada prinsip-prinsip tersebut,
hermeneutika historis menawarkan kerangka filosofis untuk memahami bagaimana
makna terbentuk, diwariskan, dan dihidupkan kembali. Ia menolak reduksionisme
metodologis yang memisahkan subjek dan objek, serta menegaskan bahwa pemahaman
sejati selalu merupakan pertemuan antara kesadaran historis penafsir dan
dinamika makna yang terkandung dalam tradisi.¹⁷ Dengan demikian, hermeneutika
historis menjadi fondasi epistemologis bagi ilmu-ilmu kemanusiaan yang berupaya
memahami manusia sebagai makhluk historis yang hidup dalam bahasa, waktu, dan
budaya.
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 85.
[2]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 42.
[3]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 75.
[4]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV:
Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof
Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 97–98.
[5]
Ibid., 112.
[6]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 269.
[7]
Ibid., 275–277.
[8]
Ibid., 306.
[9]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 60.
[10]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 118.
[11]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics:
Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980),
73.
[12]
Charles Taylor, “Interpretation and the Sciences of
Man,” The Review of Metaphysics 25, no. 1 (1971): 8.
[13]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 311.
[14]
Ibid., 312.
[15]
Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse
and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press,
1976), 45.
[16]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 102.
[17]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 57.
4.
Tokoh dan Gagasan
Utama dalam Hermeneutika Historis
Hermeneutika historis tidak muncul secara tiba-tiba,
melainkan berkembang melalui pemikiran beberapa tokoh utama yang membentuk
landasan konseptualnya. Tokoh-tokoh seperti Friedrich Schleiermacher, Wilhelm
Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer memainkan peran sentral dalam
membangun kerangka teoretis hermeneutika historis yang menekankan pertautan
antara bahasa, sejarah, dan kesadaran manusia. Ketiganya membentuk jalur
evolusi intelektual dari hermeneutika sebagai teknik interpretasi menuju
hermeneutika sebagai filsafat pemahaman historis.
4.1.
Friedrich Schleiermacher
(1768–1834): Hermeneutika sebagai Seni Memahami Pengarang
Schleiermacher sering dianggap sebagai “bapak
hermeneutika modern” karena jasanya dalam merumuskan hermeneutika sebagai
disiplin metodologis yang bersifat universal.¹ Ia berupaya mengembangkan
hermeneutika yang tidak hanya terbatas pada penafsiran teks-teks keagamaan,
tetapi berlaku bagi seluruh bentuk komunikasi bahasa. Bagi Schleiermacher,
tujuan hermeneutika adalah “memahami pengarang lebih baik daripada dirinya
sendiri.”²
Dalam sistem pemikirannya, terdapat dua dimensi
utama: pemahaman gramatikal dan pemahaman psikologis. Pemahaman
gramatikal bertujuan menafsirkan struktur bahasa dan konteks linguistik teks,
sedangkan pemahaman psikologis berusaha merekonstruksi dunia batin pengarang
melalui empati.³ Melalui pendekatan ini, Schleiermacher menekankan bahwa setiap
teks adalah ekspresi dari kehidupan batin manusia yang historis dan unik.
Pemahaman yang sejati hanya dapat dicapai melalui upaya rekonstruksi terhadap
niat dan konteks asal dari teks tersebut.⁴
Namun, pendekatan Schleiermacher masih membawa
jejak idealisme Romantik, karena ia mengasumsikan bahwa makna autentik selalu
dapat ditemukan kembali melalui rekonstruksi individual pengarang.⁵ Walaupun
demikian, kontribusinya penting dalam menempatkan hermeneutika sebagai metode
universal bagi semua ilmu yang berurusan dengan teks dan makna.
4.2.
Wilhelm Dilthey (1833–1911):
Pengalaman Hidup dan Pemahaman Historis
Wilhelm Dilthey memperluas cakupan hermeneutika
Schleiermacher ke dalam dimensi epistemologis dengan menjadikannya fondasi bagi
ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften).⁶ Dilthey menolak model
positivistik yang diterapkan pada ilmu alam (Naturwissenschaften),
karena menurutnya manusia tidak dapat “dijelaskan” secara mekanistik, melainkan
harus “dipahami” melalui pengalaman hidupnya (Erlebnis).⁷
Menurut Dilthey, pemahaman terhadap tindakan, teks,
atau ekspresi manusia selalu bersifat historis, sebab setiap ekspresi merupakan
hasil dari pengalaman hidup yang dibentuk oleh konteks sosial dan budaya.⁸ Ia
memperkenalkan gagasan bahwa memahami sejarah berarti “menghidupkan kembali”
pengalaman batin manusia yang diekspresikan melalui teks dan artefak budaya.⁹
Dengan demikian, hermeneutika menjadi cara untuk memasuki dunia historis orang
lain melalui empati dan partisipasi eksistensial.
Dalam kerangka ini, Dilthey menegaskan bahwa “kehidupan
hanya dapat dipahami dari kehidupan itu sendiri.”¹⁰ Artinya, pemahaman
adalah aktivitas reflektif yang dilakukan oleh subjek historis terhadap dunia
kehidupannya yang juga historis. Pemikiran Dilthey ini menandai pergeseran
penting: dari hermeneutika sebagai teknik penafsiran menuju hermeneutika
sebagai teori pemahaman historis.
4.3.
Hans-Georg Gadamer (1900–2002):
Tradisi, Bahasa, dan Peleburan Cakrawala
Gagasan hermeneutika historis mencapai kedalaman
filosofis tertingginya melalui karya Hans-Georg Gadamer, terutama dalam
bukunya Truth and Method (1960).¹¹ Gadamer menolak pandangan bahwa
pemahaman dapat bersifat objektif atau bebas dari pengaruh sejarah. Ia
memperkenalkan konsep “kesadaran historis” (historische Bewusstsein),
yaitu kesadaran bahwa setiap penafsir selalu terikat oleh sejarah dan tradisi
yang membentuk cara berpikirnya.¹²
Menurut Gadamer, proses pemahaman adalah peristiwa
dialogis antara masa lalu dan masa kini. Ia menyebut proses ini sebagai “peleburan
cakrawala” (fusion of horizons), yaitu pertemuan antara horizon
makna dari teks (yang berasal dari masa lalu) dan horizon pengalaman penafsir
(yang hidup di masa kini).¹³ Dalam proses ini, pemahaman bukan sekadar
reproduksi makna lama, tetapi juga penciptaan makna baru yang relevan dengan
situasi kontemporer.
Gadamer juga menekankan peran bahasa sebagai
medium tempat berlangsungnya pemahaman.¹⁴ Bahasa bukan hanya sarana ekspresi,
tetapi ruang ontologis di mana kebenaran muncul melalui dialog antara penafsir
dan tradisi. Dengan demikian, hermeneutika historis menjadi bukan hanya teori
interpretasi, tetapi juga teori eksistensi manusia sebagai makhluk yang hidup
di dalam bahasa dan sejarah.¹⁵
Pemikiran Gadamer menandai puncak transisi
hermeneutika dari metodologi ke ontologi. Ia tidak hanya menjelaskan bagaimana
kita memahami, tetapi juga mengapa pemahaman itu merupakan bagian esensial dari
eksistensi manusia yang historis.
Sintesis
Gagasan dan Warisan Intelektual
Ketiga tokoh tersebut membentuk garis evolusi
hermeneutika historis dari Schleiermacher hingga Gadamer. Schleiermacher
meletakkan dasar metodologis, Dilthey memperluasnya menjadi teori pemahaman
hidup historis, dan Gadamer mengubahnya menjadi filsafat pemahaman yang
bersifat ontologis dan dialogis.¹⁶
Warisan mereka menegaskan bahwa hermeneutika bukan
hanya soal menafsirkan teks, tetapi juga memahami kondisi eksistensial manusia
yang selalu berada dalam sejarah dan tradisi.¹⁷ Dari sinilah hermeneutika
historis menemukan relevansinya yang tak lekang oleh waktu: sebagai kerangka
filosofis untuk menjembatani masa lalu dan masa kini dalam pencarian makna
manusia.
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 84.
[2]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 5.
[3]
Ibid., 21–22.
[4]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 41.
[5]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 56.
[6]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV:
Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof
Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 85.
[7]
Ibid., 93.
[8]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 62.
[9]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics:
Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980),
34.
[10]
Wilhelm Dilthey, Introduction to the Human
Sciences, trans. Ramon J. Betanzos (Detroit: Wayne State University Press,
1988), 112.
[11]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), xvii.
[12]
Ibid., 269.
[13]
Ibid., 305–307.
[14]
Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse
and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press,
1976), 48.
[15]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 123.
[16]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 113.
[17]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 59.
5.
Metodologi Pemahaman
dalam Hermeneutika Historis
Metodologi hermeneutika historis berfokus pada cara
manusia memahami teks, tindakan, atau fenomena dalam konteks sejarah yang
melahirkannya. Pendekatan ini tidak sekadar menawarkan prosedur teknis
penafsiran, tetapi juga menggambarkan struktur ontologis dari proses pemahaman
itu sendiri.¹ Dalam pandangan hermeneutik, memahami berarti berpartisipasi
secara aktif dalam dunia makna yang terbentuk secara historis dan linguistik.
Oleh karena itu, metodologi hermeneutika historis bersifat reflektif, dialogis,
dan dinamis—berbeda dengan metodologi positivistik yang bersandar pada
objektivitas dan verifikasi empiris.²
5.1.
Proses Interpretasi: Dari Bagian ke
Keseluruhan
Salah satu prinsip sentral dalam metodologi
hermeneutika adalah lingkaran hermeneutik (hermeneutic circle),
yakni hubungan timbal balik antara bagian dan keseluruhan dalam proses
pemahaman.³ Untuk memahami sebuah teks, penafsir harus terlebih dahulu memahami
bagian-bagiannya; namun, pemahaman atas bagian-bagian itu hanya mungkin jika ia
telah memiliki gambaran tentang keseluruhan teks.⁴ Dengan demikian, proses
pemahaman tidak bersifat linear, melainkan spiral, di mana penafsir terus
bergerak maju dan mundur antara bagian dan keseluruhan guna memperdalam
pengertian.⁵
Model lingkaran hermeneutik ini juga berlaku bagi
konteks historis: teks tidak dapat dipahami tanpa memahami konteks sosial,
politik, dan budaya yang melahirkannya, sementara konteks itu sendiri baru
dapat dipahami melalui ekspresi-ekspresi historis seperti teks, tradisi, atau
simbol budaya.⁶ Proses ini menuntut keterlibatan aktif penafsir dalam sejarah,
bukan sekadar observasi jarak jauh terhadap masa lampau.
5.2.
Prapemahaman dan Dialog Sejarah
Hermeneutika historis menolak gagasan bahwa
penafsir dapat mencapai pemahaman yang sepenuhnya objektif. Setiap penafsir
membawa prapemahaman (Vorverständnis)—yakni horizon pengalaman,
nilai, dan tradisi yang memengaruhi cara ia membaca teks.⁷ Namun, prapemahaman
bukanlah hambatan, melainkan titik awal bagi proses interpretasi.⁸ Dalam
kerangka ini, pemahaman bersifat dialogis: penafsir berdialog dengan
teks sebagai representasi masa lalu, sementara teks “menjawab” melalui
horizon makna yang terkandung di dalamnya.⁹
Hans-Georg Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu merupakan peristiwa
(Ereignis) dalam sejarah makna, di mana terjadi peleburan cakrawala
(fusion of horizons) antara penafsir dan teks.¹⁰ Setiap kali dialog
semacam ini terjadi, makna tidak hanya direproduksi, tetapi juga diperbarui dan
diperkaya oleh situasi kontemporer penafsir.¹¹ Oleh sebab itu, metode
hermeneutika historis lebih bersifat partisipatif dan reflektif dibandingkan
prosedural.
5.3.
Rekonstruksi Konteks Historis dan
Linguistik
Metodologi hermeneutika historis juga menekankan
pentingnya rekonstruksi konteks—baik konteks historis maupun linguistik.
Menurut Friedrich Schleiermacher, menafsirkan teks berarti
merekonstruksi kondisi historis dan psikologis pengarang.¹² Namun, rekonstruksi
ini tidak dimaksudkan untuk menemukan “makna asli” secara absolut, melainkan
untuk memahami bagaimana makna itu muncul dalam horizon sejarah tertentu.¹³
Rekonstruksi historis ini melibatkan dua langkah
metodologis: pertama, analisis linguistik, yakni memahami struktur
bahasa dan gramatika teks; kedua, analisis historis, yaitu menempatkan
teks dalam kerangka sosial-budaya dan historisnya.¹⁴ Dengan demikian, metode
hermeneutika historis bekerja melalui keseimbangan antara analisis kebahasaan
dan pemahaman historis—dua dimensi yang saling melengkapi.
5.4.
Refleksi Kritis dan Kesadaran
Tradisi
Pemahaman historis yang sejati menuntut refleksi
kritis terhadap tradisi.¹⁵ Penafsir harus menyadari bahwa ia sendiri
merupakan bagian dari sejarah yang terus bergerak. Dalam hal ini, Gadamer
memperkenalkan konsep Wirkungsgeschichte (sejarah pengaruh), yaitu
kesadaran bahwa setiap pemahaman dipengaruhi oleh warisan sejarah yang tidak
dapat dihindari.¹⁶ Oleh karena itu, refleksi metodologis dalam hermeneutika
historis bukanlah usaha untuk menyingkirkan tradisi, melainkan untuk memahami
bagaimana tradisi membentuk horizon pengetahuan kita.¹⁷
Melalui kesadaran ini, hermeneutika historis
menegaskan bahwa pemahaman manusia bersifat terbuka dan prosesual.
Tidak ada interpretasi yang bersifat final, karena sejarah dan bahasa terus
bergerak.¹⁸ Dengan demikian, metodologi hermeneutika historis adalah metodologi
yang selalu dapat dikoreksi dan dikembangkan sesuai dinamika sejarah
pemahaman manusia itu sendiri.
Sintesis:
Hermeneutika sebagai Proses Dialektis
Secara keseluruhan, metodologi hermeneutika
historis dapat dipahami sebagai proses dialektis antara masa lalu dan
masa kini, antara tradisi dan refleksi, serta antara teks dan pembaca.¹⁹
Pemahaman sejati tidak dicapai melalui penerapan prosedur teknis semata, tetapi
melalui keterlibatan eksistensial penafsir dalam dialog historis yang hidup.²⁰
Dalam pengertian ini, hermeneutika historis bukan hanya metode ilmiah,
melainkan juga cara manusia menegaskan keberadaannya sebagai makhluk historis
yang terus mencari makna di tengah perubahan zaman.²¹
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 87.
[2]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 54.
[3]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 78.
[4]
Ibid., 79.
[5]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics:
Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980),
73.
[6]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The Hermeneutical
Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of Lublin Press,
2018), 58.
[7]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 63.
[8]
Charles Taylor, “Interpretation and the Sciences of
Man,” The Review of Metaphysics 25, no. 1 (1971): 6.
[9]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 268.
[10]
Ibid., 305.
[11]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 121.
[12]
Schleiermacher, Hermeneutics and Criticism,
92.
[13]
Richard E. Palmer, Hermeneutics, 91.
[14]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV:
Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof
Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 108.
[15]
Paul Ricoeur, Time and Narrative, Volume I
(Chicago: University of Chicago Press, 1984), 71.
[16]
Gadamer, Truth and Method, 299.
[17]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 98.
[18]
Andrzej Bronk, Understanding Culture, 61.
[19]
Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences,
68.
[20]
Bleicher, Contemporary Hermeneutics, 102.
[21]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics, 119.
6.
Aplikasi
Hermeneutika Historis
Hermeneutika historis tidak hanya berfungsi sebagai
teori filosofis tentang pemahaman, tetapi juga sebagai metode dan paradigma
analisis yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu. Melalui pendekatan
ini, makna dipahami sebagai hasil dialog antara masa lalu dan masa kini, antara
teks dan penafsir, serta antara tradisi dan refleksi kritis.¹ Aplikasi
hermeneutika historis mencakup berbagai ranah pengetahuan, mulai dari sejarah,
sastra, teologi, hingga ilmu sosial dan budaya, karena pada dasarnya semua
disiplin yang berurusan dengan makna manusiawi mengandaikan suatu bentuk
interpretasi terhadap pengalaman historis.
6.1.
Dalam Studi Sejarah dan Kebudayaan
Dalam studi sejarah, hermeneutika historis
memberikan cara pandang yang menekankan pemahaman daripada penjelasan (understanding
rather than explanation).² Sejarah tidak lagi dipandang sekadar kumpulan
fakta objektif, melainkan sebagai teks besar yang perlu diinterpretasikan.³
Setiap tindakan historis harus dipahami dalam konteks nilai, keyakinan, dan
horizon waktu yang melingkupinya. Dengan demikian, sejarawan bukan hanya
mengumpulkan data, tetapi juga “berdialog” dengan masa lalu melalui
bukti-bukti historis.⁴
Pendekatan ini memungkinkan munculnya sejarah
interpretatif, di mana makna peristiwa-peristiwa lampau dihidupkan kembali
melalui pemahaman eksistensial terhadap aktor-aktor sejarahnya.⁵ Contohnya,
penelitian sejarah intelektual dan sejarah mentalitas (history of
mentalities) banyak menggunakan metode hermeneutika untuk memahami struktur
makna yang tersembunyi di balik teks dan praktik sosial.⁶ Melalui cara ini,
sejarah menjadi medan refleksi tentang kesadaran manusia yang terbentuk dalam
waktu.
6.2.
Dalam Kajian Sastra dan Teks Klasik
Hermeneutika historis juga banyak diterapkan dalam kritik
sastra, terutama untuk memahami karya-karya klasik yang lahir dalam horizon
budaya tertentu. Menurut Friedrich Schleiermacher, pembacaan teks sastra
memerlukan rekonstruksi linguistik dan psikologis terhadap niat pengarang,
sehingga penafsir dapat memahami “dari dalam” makna yang dikandung teks
tersebut.⁷
Namun, Hans-Georg Gadamer memperluas
pendekatan ini dengan menolak gagasan makna tunggal.⁸ Ia berpendapat bahwa
setiap pembacaan adalah pertemuan antara horizon masa lalu (teks) dan horizon
masa kini (pembaca).⁹ Oleh karena itu, interpretasi sastra selalu bersifat
terbuka, karena setiap generasi membawa horizon historisnya sendiri. Misalnya,
pembacaan karya Shakespeare, Goethe, atau Pramoedya Ananta Toer akan selalu
berbeda tergantung pada konteks sosial dan budaya pembacanya.¹⁰
Pendekatan hermeneutika historis memungkinkan
penafsir melihat karya sastra bukan hanya sebagai produk estetik, tetapi juga
sebagai ekspresi sejarah yang hidup dan terus berdialog dengan pembacanya.
6.3.
Dalam Teologi dan Studi Keagamaan
Hermeneutika historis memiliki akar kuat dalam
bidang teologi, terutama dalam penafsiran teks-teks suci.¹¹ Tradisi
penafsiran Alkitab dan teks-teks keagamaan lain telah lama menjadi laboratorium
bagi perkembangan metode hermeneutik. Wilhelm Dilthey dan Gadamer
menekankan bahwa memahami teks suci bukan berarti menemukan makna objektif yang
statis, melainkan menghidupkan kembali pesan yang terus berbicara melalui
sejarah.¹²
Dalam konteks ini, hermeneutika historis membantu
penafsir untuk memahami pesan teologis dalam relasinya dengan konteks
historis pewahyuan dan tradisi umat beriman.¹³ Pendekatan ini menolak
fundamentalisme literal, karena makna dianggap dinamis dan terbuka terhadap
pembacaan baru sesuai perkembangan sejarah manusia.¹⁴ Dengan demikian,
hermeneutika historis menjadi jembatan antara teks yang lahir dalam masa lalu
dan manusia modern yang hidup dalam horizon budaya yang berbeda.
6.4.
Dalam Ilmu Sosial dan Humaniora
Dalam ilmu sosial, hermeneutika historis menjadi
fondasi bagi metode interpretatif, seperti dalam sosiologi pemahaman (verstehende
Soziologie) yang dikembangkan oleh Max Weber.¹⁵ Weber menggunakan
pendekatan hermeneutik untuk memahami tindakan sosial sebagai ekspresi bermakna
dari pelaku dalam konteks historisnya.¹⁶
Demikian pula, dalam antropologi budaya dan studi
komunikasi, hermeneutika historis dipakai untuk menafsirkan simbol-simbol,
ritual, dan narasi masyarakat dalam konteks sejarahnya.¹⁷ Paul Ricoeur
menegaskan bahwa setiap fenomena sosial adalah “teks” yang perlu dibaca,
ditafsirkan, dan dihubungkan dengan horizon historisnya.¹⁸ Dalam pengertian
ini, hermeneutika historis berperan sebagai kerangka konseptual yang
menjembatani antara pemahaman kultural dan refleksi filosofis terhadap makna
tindakan manusia.
6.5.
Dalam Konteks Global dan Era Digital
Pada masa kontemporer, hermeneutika historis
menghadapi tantangan baru dalam dunia yang semakin global dan digital.¹⁹
Arus informasi dan teks yang lintas budaya membuat konteks historis sering kali
kabur atau terdistorsi. Karena itu, pendekatan hermeneutika historis menjadi
semakin relevan sebagai cara untuk mengembalikan dimensi historis dan
kultural dari setiap teks atau wacana.²⁰
Dalam kajian media digital, misalnya, hermeneutika
historis dapat membantu memahami bagaimana representasi dan narasi dalam ruang
digital tetap terikat oleh tradisi dan sejarah wacana yang mendahuluinya.²¹
Dengan demikian, metode ini bukan hanya alat akademik, tetapi juga kerangka
etis untuk memahami makna manusia di tengah transformasi budaya yang cepat.
Kesimpulan
Aplikatif
Aplikasi hermeneutika historis menunjukkan bahwa
pendekatan ini tidak hanya relevan dalam kajian teks klasik, tetapi juga dalam
memahami fenomena sosial dan budaya kontemporer. Ia memungkinkan pembacaan yang
empatik, reflektif, dan kontekstual, serta membuka ruang bagi dialog
antartradisi dan antarwaktu.²² Dengan demikian, hermeneutika historis menjadi
fondasi intelektual bagi semua upaya manusia dalam memahami makna yang terus
hidup dan berubah dalam sejarah.
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 91.
[2]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV:
Hermeneutics and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof
Rodi (Princeton: Princeton University Press, 1996), 83.
[3]
Paul Ricoeur, Time and Narrative, Volume I
(Chicago: University of Chicago Press, 1984), 56.
[4]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 47.
[5]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics:
Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980),
102.
[6]
Peter Burke, Varieties of Cultural History
(Ithaca: Cornell University Press, 1997), 12.
[7]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 72.
[8]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 306.
[9]
Ibid., 307.
[10]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 115.
[11]
Jeanrond, Werner G., Theological Hermeneutics:
Development and Significance (New York: Crossroad, 1991), 29.
[12]
Wilhelm Dilthey, Introduction to the Human
Sciences, trans. Ramon J. Betanzos (Detroit: Wayne State University Press,
1988), 98.
[13]
Gadamer, Truth and Method, 288.
[14]
Paul Ricoeur, Essays on Biblical Interpretation,
ed. Lewis S. Mudge (Philadelphia: Fortress Press, 1980), 45.
[15]
Max Weber, Economy and Society: An Outline of
Interpretive Sociology, ed. Guenther Roth dan Claus Wittich (Berkeley:
University of California Press, 1978), 5–6.
[16]
Ibid., 22.
[17]
Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures
(New York: Basic Books, 1973), 10.
[18]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 65.
[19]
Andrzej Bronk, Understanding Culture, 64.
[20]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 109.
[21]
David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human
Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3
(2019): 322–334.
[22]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 131.
7.
Kritik terhadap
Hermeneutika Historis
Meskipun hermeneutika historis memberikan
kontribusi besar terhadap pemahaman manusia dan ilmu kemanusiaan, aliran ini
tidak luput dari berbagai kritik filosofis dan metodologis. Kritik-kritik
tersebut datang dari beragam arah, mulai dari positivisme ilmiah, fenomenologi
eksistensial, teori kritis, hingga post-strukturalisme. Secara umum, perdebatan
ini berkisar pada tiga isu utama: (1) objektivitas dan relativitas pemahaman,
(2) dominasi tradisi dan problem otoritas, serta (3) keterbatasan metodologis
hermeneutika dalam menghadapi konteks kekuasaan dan ideologi.
7.1.
Kritik terhadap Klaim Objektivitas
dan Masalah Relativisme
Salah satu kritik utama terhadap hermeneutika
historis datang dari kalangan ilmuwan positivistik yang menilai pendekatan ini
terlalu subjektif dan tidak dapat diverifikasi secara empiris.¹ Dalam pandangan
positivisme, pemahaman yang didasarkan pada pengalaman historis dan kesadaran
penafsir dianggap tidak memiliki standar objektivitas yang dapat diuji.² Mereka
menilai bahwa hermeneutika historis gagal memisahkan antara interpretasi dan
fakta, sehingga hasilnya bersifat relatif dan bergantung pada subjektivitas
penafsir.³
Sebaliknya, kritik juga datang dari arah
berlawanan—yakni dari kalangan filsuf kontemporer yang menuduh hermeneutika
historis masih terlalu terikat pada ideal objektivitas epistemologis.⁴ Tokoh
seperti Martin Heidegger dan Paul Ricoeur berpendapat bahwa
hermeneutika harus melampaui sekadar pencarian makna historis menuju pemahaman
ontologis tentang keberadaan manusia itu sendiri.⁵ Ricoeur menegaskan bahwa
pemahaman tidak dapat direduksi menjadi reproduksi makna masa lalu, karena
setiap interpretasi mengandung momen kreatif yang membuka makna baru.⁶
Dengan demikian, perdebatan ini memperlihatkan
paradoks hermeneutika historis: di satu sisi, ia berupaya memahami makna secara
historis dan kontekstual; di sisi lain, ia berisiko terjebak dalam relativisme
yang membuat setiap interpretasi tampak sama sahnya.
7.2.
Kritik terhadap Dominasi Tradisi dan
Otoritas Sejarah
Kritik lain diarahkan pada konsep tradisi
dalam pemikiran Hans-Georg Gadamer. Dalam Truth and Method,
Gadamer menegaskan bahwa pemahaman selalu dibentuk oleh tradisi dan otoritas
sejarah yang mengalir di dalam kesadaran manusia.⁷ Namun, bagi beberapa
pemikir, pandangan ini dianggap terlalu konservatif karena menempatkan tradisi
sebagai kekuatan yang menentukan pemahaman tanpa cukup ruang bagi resistensi
atau kritik.⁸
Jürgen Habermas, tokoh teori kritis dari Mazhab Frankfurt, menuduh Gadamer gagal
menyadari dimensi ideologis dari tradisi.⁹ Menurut Habermas, tidak semua
tradisi bersifat netral; sebagian justru berfungsi sebagai alat dominasi sosial
dan politik.¹⁰ Oleh karena itu, pemahaman yang “berdialog dengan tradisi”
tanpa refleksi kritis terhadap struktur kekuasaan berpotensi memperkuat status
quo.¹¹ Habermas mengusulkan agar hermeneutika dilengkapi dengan dimensi
emansipatoris, yakni kemampuan untuk membebaskan manusia dari ideologi yang
menindas melalui refleksi rasional dan kritik sosial.¹²
Perdebatan antara Gadamer dan Habermas menjadi
salah satu momen penting dalam sejarah hermeneutika modern, karena memperluas
jangkauan hermeneutika historis dari ranah epistemologis menuju ranah etika dan
politik.
7.3.
Kritik dari Post-Strukturalisme dan
Dekonstruksi
Kritik berikutnya muncul dari aliran post-strukturalisme
dan dekonstruksi, yang dipelopori oleh tokoh seperti Jacques Derrida,
Michel Foucault, dan Roland Barthes.¹³ Para pemikir ini menolak
asumsi bahwa makna dapat dipahami secara stabil melalui dialog antara teks dan
penafsir. Bagi Derrida, makna selalu tergeser (différance) dan
tidak pernah hadir secara penuh; setiap teks membuka ruang bagi interpretasi
tanpa batas.¹⁴
Dalam kerangka ini, hermeneutika historis dianggap
masih terjebak dalam “metafisika kehadiran” karena berasumsi bahwa makna
dapat direkonstruksi melalui kesadaran historis penafsir.¹⁵ Foucault
menambahkan bahwa sejarah bukanlah medan dialog netral, melainkan arena
pertarungan kekuasaan di mana wacana mendefinisikan kebenaran.¹⁶ Oleh sebab
itu, pendekatan hermeneutika historis dinilai kurang sensitif terhadap dimensi
politik dan genealogis dari produksi makna.¹⁷
Meskipun demikian, sebagian pemikir seperti Paul
Ricoeur dan Richard Kearney mencoba menjembatani perbedaan ini dengan
memperkenalkan konsep hermeneutika kritis, yang menggabungkan refleksi
historis dengan kesadaran terhadap kekuasaan dan bahasa.¹⁸
7.4.
Kritik Metodologis dan Tantangan
Kontemporer
Kritik lain datang dari kalangan metodolog modern
yang menilai hermeneutika historis tidak memberikan pedoman sistematis yang
jelas untuk praktik interpretasi.¹⁹ Pendekatan ini dianggap terlalu reflektif
dan filosofis, sehingga sulit diterapkan secara konkret dalam penelitian
empiris.²⁰ Selain itu, di era digital dan globalisasi, konteks historis yang
menjadi fondasi hermeneutika tradisional menjadi semakin kabur karena peredaran
teks dan makna kini melintasi batas ruang dan waktu.²¹
Kritik ini menimbulkan tantangan baru bagi
hermeneutika historis agar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kontemporer.
Beberapa sarjana, seperti David Rasmussen dan Jean Grondin,
berupaya memperbarui hermeneutika historis dengan menekankan pentingnya
komunikasi lintas budaya dan interpretasi intertekstual dalam dunia global.²²
Dengan demikian, hermeneutika historis perlu terus berkembang agar tetap
relevan dalam menghadapi pluralitas makna dan kompleksitas wacana modern.
Evaluasi
dan Implikasi Filosofis
Meskipun menghadapi berbagai kritik, hermeneutika
historis tetap memiliki kekuatan utama dalam mempertahankan kesadaran
reflektif terhadap sejarah sebagai unsur konstitutif pemahaman manusia.
Kritik-kritik tersebut justru memperkaya dinamika hermeneutika dengan
memperluas cakrawalanya ke arah yang lebih kritis dan interdisipliner.²³
Melalui dialog dengan teori kritis, dekonstruksi, dan filsafat kontemporer,
hermeneutika historis tidak kehilangan relevansinya, melainkan berkembang
menjadi tradisi pemikiran yang terbuka dan terus bertransformasi.
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 95.
[2]
Wilhelm Windelband, History and Natural Science
(New York: Harper, 1980), 14.
[3]
Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery
(London: Routledge, 2002), 27.
[4]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 88.
[5]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 210.
[6]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 72.
[7]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 268–270.
[8]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 61.
[9]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests,
trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 314.
[10]
Ibid., 315.
[11]
Ibid., 317.
[12]
Jürgen Habermas, “A Review of Gadamer’s Truth and
Method,” in Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy,
and Critique, ed. Josef Bleicher (London: Routledge, 1980), 254–257.
[13]
Jacques Derrida, Of Grammatology, trans.
Gayatri Chakravorty Spivak (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976),
60.
[14]
Ibid., 71.
[15]
Ibid., 73.
[16]
Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge,
trans. A. M. Sheridan Smith (London: Routledge, 1972), 27.
[17]
Roland Barthes, “The Death of the Author,” in Image,
Music, Text, trans. Stephen Heath (New York: Hill and Wang, 1977), 142.
[18]
Paul Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on
Interpretation (New Haven: Yale University Press, 1970), 33–34.
[19]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics
as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980), 110.
[20]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 114.
[21]
Andrzej Bronk, Understanding Culture, 66.
[22]
David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human
Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3
(2019): 325.
[23]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 138.
8.
Sintesis Filosofis
dan Relevansi Kontemporer
Hermeneutika historis merupakan salah satu tonggak
penting dalam perkembangan filsafat modern, karena ia menawarkan pandangan yang
mendalam tentang hubungan antara bahasa, sejarah, dan pemahaman manusia. Dalam
tahap sintesis filosofisnya, hermeneutika historis tidak lagi dipandang sekadar
sebagai metode interpretasi teks, tetapi sebagai ontologi pemahaman,
yaitu refleksi filosofis atas keberadaan manusia sebagai makhluk yang memahami
dan dimengerti melalui sejarahnya sendiri.¹ Sintesis ini menunjukkan bahwa
makna bukan sesuatu yang diberikan secara statis, melainkan hasil dialog
dinamis antara manusia dan dunia historisnya.
8.1.
Hermeneutika sebagai Ontologi
Pemahaman
Gagasan Hans-Georg Gadamer tentang
hermeneutika sebagai filsafat pemahaman menggeser paradigma
epistemologis tradisional menuju pendekatan ontologis.² Gadamer menolak
pandangan bahwa pemahaman dapat dicapai melalui metode ilmiah yang netral,
karena manusia tidak pernah dapat keluar dari sejarah dan bahasa yang membentuk
dirinya.³ Pemahaman, bagi Gadamer, bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi
bagian dari modus eksistensi manusia yang senantiasa berada dalam dialog
dengan masa lalu dan tradisinya.⁴
Dalam kerangka ini, hermeneutika historis
memperlihatkan bahwa setiap bentuk pengetahuan bersifat situasional dan
historis, tanpa kehilangan nilai kebenarannya. Kebenaran dalam hermeneutika
bukanlah korespondensi statis antara pernyataan dan fakta, melainkan
keterbukaan terhadap makna yang muncul melalui pertemuan antara horizon penafsir
dan horizon teks.⁵ Dengan demikian, hermeneutika historis memperdalam pemahaman
filosofis kita tentang manusia sebagai makhluk yang selalu “menjadi” (becoming)
dalam sejarah, bukan “ada” secara tetap dan selesai.
8.2.
Integrasi dengan Filsafat Bahasa dan
Fenomenologi
Sintesis hermeneutika historis juga menemukan titik
temu dengan filsafat bahasa dan fenomenologi. Bagi Martin
Heidegger, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi “rumah bagi
keberadaan” (die Sprache ist das Haus des Seins).⁶ Pemikiran ini memberikan
dasar ontologis bagi hermeneutika historis, di mana bahasa dipahami sebagai
medium utama yang menampung dan mengalirkan pengalaman historis manusia.
Sementara itu, Paul Ricoeur memperkaya
tradisi hermeneutika historis dengan menggabungkannya dengan pendekatan
fenomenologis.⁷ Ia menekankan bahwa setiap tindakan pemahaman selalu melibatkan
dimensi simbolik yang menyingkap makna baru melalui interpretasi.⁸ Dengan
demikian, hermeneutika tidak hanya memahami masa lalu, tetapi juga membuka
kemungkinan baru bagi penafsiran masa kini. Ricoeur menyebut proses ini sebagai
hermeneutika reflektif, di mana makna terus diperbarui dalam relasi
antara pengalaman dan refleksi filosofis.⁹
Integrasi ini memperlihatkan bahwa hermeneutika
historis bukan sekadar metode deskriptif, tetapi juga proses kreatif
dalam menghidupkan kembali dan menafsirkan warisan makna manusia.
8.3.
Relevansi dalam Konteks Global dan
Pluralisme Budaya
Dalam dunia kontemporer yang ditandai oleh
globalisasi, migrasi budaya, dan komunikasi lintas batas, hermeneutika historis
memainkan peran penting sebagai filsafat dialog antarperadaban.¹⁰ Ia
menyediakan kerangka konseptual untuk memahami perbedaan tanpa mereduksinya
menjadi relativisme ekstrem.
Konsep “peleburan cakrawala” (fusion of
horizons) yang dikemukakan oleh Gadamer menjadi kunci dalam membangun
pemahaman lintas budaya.¹¹ Melalui dialog hermeneutik, setiap tradisi diakui
memiliki horizon makna historis yang unik, namun terbuka untuk saling
memperkaya melalui komunikasi dan interpretasi bersama.¹² Pendekatan ini sangat
relevan dalam konteks multikulturalisme modern, di mana identitas dan
nilai-nilai manusia terus dinegosiasikan dalam perjumpaan antarbudaya.¹³
Selain itu, dalam era digital, hermeneutika
historis membantu manusia menavigasi banjir informasi dan wacana yang sering
terlepas dari konteks historisnya.¹⁴ Dengan menekankan pentingnya konteks,
refleksi, dan kesadaran historis, hermeneutika historis menawarkan cara
berpikir yang kritis dan mendalam di tengah budaya instan dan fragmentasi makna
yang mendominasi masyarakat global saat ini.
8.4.
Hermeneutika Historis sebagai Etika
Pemahaman
Lebih dari sekadar teori interpretasi, hermeneutika
historis mengandung dimensi etis yang mendalam. Dalam setiap proses
pemahaman, terdapat tanggung jawab moral untuk menghormati “yang lain” —
baik berupa teks, tradisi, maupun manusia dari horizon sejarah yang berbeda.¹⁵
Gadamer menekankan bahwa sikap hermeneutik sejati adalah keterbukaan (Offenheit)
terhadap pandangan lain dan kesediaan untuk belajar darinya.¹⁶
Dalam konteks sosial dan politik kontemporer yang
sarat konflik makna, hermeneutika historis dapat menjadi dasar bagi etika
dialog, yaitu kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menafsirkan tanpa
mengklaim monopoli kebenaran.¹⁷ Etika ini menjadikan hermeneutika bukan hanya
disiplin intelektual, tetapi juga praksis kemanusiaan yang berorientasi pada
pengakuan dan pemahaman timbal balik.
8.5.
Prospek dan Transformasi
Hermeneutika Historis
Masa depan hermeneutika historis bergantung pada
kemampuannya untuk bertransformasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Sejumlah pemikir kontemporer seperti Jean Grondin, Andrzej Bronk,
dan David Rasmussen menegaskan bahwa hermeneutika historis harus
melampaui keterikatan pada teks menuju analisis terhadap bentuk-bentuk
komunikasi modern, termasuk wacana digital, film, dan media sosial.¹⁸
Transformasi ini menunjukkan bahwa prinsip dasar
hermeneutika — pemahaman sebagai dialog dalam sejarah — tetap relevan, tetapi
bentuknya harus disesuaikan dengan kondisi komunikasi manusia abad ke-21.¹⁹
Dengan demikian, hermeneutika historis tetap menjadi kerangka filosofis yang terbuka,
reflektif, dan kritis, yang mampu menjawab tantangan epistemologis, etis,
dan kultural dunia modern.
Sintesis
Akhir
Sebagai sintesis, hermeneutika historis dapat
dipahami sebagai filsafat pemahaman manusia dalam waktu, di mana
sejarah, bahasa, dan tradisi saling berinteraksi dalam membentuk makna.²⁰ Ia
menolak absolutisme kebenaran sekaligus relativisme ekstrem, dan menawarkan
jalan tengah berupa dialog terbuka antara horizon yang berbeda.²¹ Dalam dunia
yang terfragmentasi dan cepat berubah, hermeneutika historis mengingatkan kita
bahwa memahami berarti menghubungkan diri dengan sejarah — baik sejarah
teks, budaya, maupun kesadaran manusia itu sendiri.²²
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 102.
[2]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 250.
[3]
Ibid., 270.
[4]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 115.
[5]
Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human
Sciences, trans. John B. Thompson (Cambridge: Cambridge University Press,
1981), 66.
[6]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 193.
[7]
Paul Ricoeur, Time and Narrative, Volume I
(Chicago: University of Chicago Press, 1984), 52.
[8]
Ibid., 64.
[9]
Paul Ricoeur, The Conflict of Interpretations
(Evanston: Northwestern University Press, 1974), 28.
[10]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical
Hermeneutics (New Haven: Yale University Press, 1994), 119.
[11]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 305.
[12]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 67.
[13]
David Rasmussen, “Hermeneutics and Global
Dialogue,” Philosophy and Social Criticism 43, no. 5 (2017): 411–423.
[14]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 117.
[15]
Paul Ricoeur, Oneself as Another (Chicago:
University of Chicago Press, 1992), 172.
[16]
Gadamer, Truth and Method, 378.
[17]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests,
trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 322.
[18]
Jean Grondin, The Philosophy of Gadamer
(Montreal: McGill-Queen’s University Press, 2003), 144.
[19]
David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human Sciences
in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3 (2019):
329.
[20]
Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics:
Hermeneutics as Method, Philosophy, and Critique (London: Routledge, 1980),
120.
[21]
Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in Hermeneutics
II (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 32.
[22]
Andrzej Bronk, Understanding Culture, 73.
9.
Kesimpulan
Hermeneutika historis, sebagai salah satu pilar
utama dalam tradisi filsafat linguistik dan analitis, menegaskan bahwa
pemahaman manusia terhadap dunia, teks, dan diri sendiri selalu terikat pada
sejarah. Ia menolak pandangan epistemologis yang memisahkan subjek dan objek
pengetahuan secara mutlak, serta menggantinya dengan paradigma dialogis yang
melihat pemahaman sebagai hasil interaksi antara penafsir dan realitas
historis.¹ Dengan demikian, hermeneutika historis bukan hanya metode
penafsiran, tetapi juga cara berada manusia dalam dunia yang sarat makna dan
sejarah.
Melalui pemikiran tokoh-tokoh seperti Friedrich Schleiermacher,
Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer, hermeneutika historis
berkembang dari disiplin metodologis menjadi refleksi ontologis. Schleiermacher
menekankan pentingnya rekonstruksi linguistik dan psikologis dalam memahami
teks; Dilthey memperluasnya menjadi teori pemahaman kehidupan (Lebensphilosophie);
dan Gadamer mengangkatnya ke tingkat filsafat eksistensial yang menempatkan
pemahaman sebagai modus keberadaan manusia.² Keseluruhan jalur perkembangan ini
menunjukkan bahwa hermeneutika historis tidak hanya berurusan dengan teks masa
lalu, tetapi juga dengan struktur dasar pengalaman manusia sebagai makhluk
historis-linguistik.³
Hermeneutika historis menyadarkan kita bahwa makna
tidak pernah bersifat tetap atau final. Setiap generasi menafsirkan kembali
tradisi dan teks yang diwariskan kepadanya berdasarkan horizon sejarah yang
berbeda.⁴ Dalam proses ini, terjadi “peleburan cakrawala” (fusion of
horizons), di mana masa lalu dan masa kini saling mempengaruhi dan
memperkaya.⁵ Dengan demikian, hermeneutika historis memberikan landasan
filosofis bagi pemahaman yang bersifat terbuka (openness) dan reflektif
terhadap perubahan makna dalam waktu.
Namun, sebagaimana dibahas dalam bagian kritik,
hermeneutika historis juga menghadapi tantangan serius, seperti tuduhan
relativisme, konservatisme tradisional, serta keterbatasannya dalam menghadapi
konteks kekuasaan dan ideologi.⁶ Meski demikian, justru melalui dialog dengan
teori kritis (Habermas), dekonstruksi (Derrida), dan fenomenologi reflektif
(Ricoeur), hermeneutika historis mengalami transformasi yang memperluas horizon
pemahamannya.⁷ Ia tidak lagi hanya berkutat pada teks klasik atau tradisi
budaya, tetapi juga membuka diri terhadap realitas kontemporer seperti
globalisasi, pluralisme, dan era digital yang menuntut bentuk pemahaman baru
terhadap makna dan identitas manusia.⁸
Dalam konteks dunia modern yang ditandai oleh
ketegangan antara homogenisasi global dan perbedaan kultural, hermeneutika
historis menawarkan paradigma yang mendamaikan antara relativitas makna dan
kebutuhan akan dialog universal.⁹ Prinsip utamanya—bahwa memahami berarti
berpartisipasi dalam sejarah makna—mendorong kita untuk melihat pengetahuan
bukan sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai bentuk keterlibatan etis
dan reflektif terhadap dunia.¹⁰
Oleh karena itu, hermeneutika historis memiliki relevansi
filosofis dan praksis yang tinggi dalam kehidupan kontemporer. Ia
mengajarkan bahwa setiap upaya memahami, baik dalam ilmu, seni, agama, maupun
politik, selalu menuntut kesadaran historis dan keterbukaan terhadap horizon
lain.¹¹ Hermeneutika historis bukan sekadar teori interpretasi teks, melainkan
filsafat pemahaman manusia yang menegaskan pentingnya tradisi, bahasa, dan
dialog sebagai jalan menuju kebijaksanaan.¹²
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
hermeneutika historis bukan hanya warisan intelektual masa lalu, tetapi juga kerangka
filosofis yang hidup, yang terus relevan dalam menuntun manusia memahami
dirinya dan dunianya di tengah arus sejarah yang tak pernah berhenti berubah.¹³
Footnotes
[1]
Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation
Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (Evanston:
Northwestern University Press, 1969), 103.
[2]
Wilhelm Dilthey, Selected Works, Volume IV: Hermeneutics
and the Study of History, ed. Rudolf A. Makkreel dan Frithjof Rodi
(Princeton: Princeton University Press, 1996), 89.
[3]
Friedrich Schleiermacher, Hermeneutics and
Criticism and Other Writings, ed. Andrew Bowie (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998), 83.
[4]
Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, 2nd
rev. ed. (London: Continuum, 2004), 273.
[5]
Ibid., 305–307.
[6]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests,
trans. Jeremy J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1972), 314.
[7]
Paul Ricoeur, Freud and Philosophy: An Essay on
Interpretation (New Haven: Yale University Press, 1970), 31.
[8]
David Rasmussen, “Hermeneutics and the Human
Sciences in the Digital Age,” Philosophy and Social Criticism 45, no. 3
(2019): 324–325.
[9]
Jean Grondin, Introduction to Philosophical Hermeneutics
(New Haven: Yale University Press, 1994), 118.
[10]
Paul Ricoeur, From Text to Action: Essays in
Hermeneutics II (Evanston: Northwestern University Press, 1991), 35.
[11]
Andrzej Bronk, Understanding Culture: The
Hermeneutical Approach (Lublin: The John Paul II Catholic University of
Lublin Press, 2018), 68.
[12]
Joel C. Weinsheimer, Gadamer’s Hermeneutics: A
Reading of Truth and Method (New Haven: Yale University Press, 1985), 139.
[13]
Jean Grondin, Sources of Hermeneutics
(Albany: State University of New York Press, 1995), 121.
Daftar Pustaka
Barthes, R. (1977). Image, music, text (S.
Heath, Trans.). Hill and Wang.
Bleicher, J. (1980). Contemporary hermeneutics:
Hermeneutics as method, philosophy, and critique. Routledge.
Bronk, A. (2018). Understanding culture: The
hermeneutical approach. The John Paul II Catholic University of Lublin
Press.
Burke, P. (1997). Varieties of cultural history.
Cornell University Press.
Derrida, J. (1976). Of grammatology (G. C.
Spivak, Trans.). Johns Hopkins University Press.
Dilthey, W. (1988). Introduction to the human
sciences (R. J. Betanzos, Trans.). Wayne State University Press.
Dilthey, W. (1996). Selected works, volume IV:
Hermeneutics and the study of history (R. A. Makkreel & F. Rodi, Eds.).
Princeton University Press.
Foucault, M. (1972). The archaeology of
knowledge (A. M. S. Smith, Trans.). Routledge.
Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (2nd
rev. ed.). Continuum.
Geertz, C. (1973). The interpretation of
cultures. Basic Books.
Grondin, J. (1994). Introduction to
philosophical hermeneutics. Yale University Press.
Grondin, J. (1995). Sources of hermeneutics.
State University of New York Press.
Grondin, J. (2003). The philosophy of Gadamer.
McGill-Queen’s University Press.
Habermas, J. (1972). Knowledge and human
interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press.
Habermas, J. (1980). A review of Gadamer’s Truth
and method. In J. Bleicher (Ed.), Contemporary hermeneutics:
Hermeneutics as method, philosophy, and critique (pp. 254–257). Routledge.
Heidegger, M. (1962). Being and time (J.
Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
Jeanrond, W. G. (1991). Theological
hermeneutics: Development and significance. Crossroad.
Palmer, R. E. (1969). Hermeneutics:
Interpretation theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer.
Northwestern University Press.
Popper, K. (2002). The logic of scientific
discovery. Routledge.
Rasmussen, D. (2017). Hermeneutics and global
dialogue. Philosophy and Social Criticism, 43(5), 411–423.
Rasmussen, D. (2019). Hermeneutics and the human
sciences in the digital age. Philosophy and Social Criticism, 45(3),
322–334.
Ricoeur, P. (1970). Freud and philosophy: An
essay on interpretation. Yale University Press.
Ricoeur, P. (1974). The conflict of interpretations.
Northwestern University Press.
Ricoeur, P. (1980). Essays on biblical
interpretation (L. S. Mudge, Ed.). Fortress Press.
Ricoeur, P. (1981). Hermeneutics and the human
sciences (J. B. Thompson, Trans.). Cambridge University Press.
Ricoeur, P. (1984). Time and narrative, volume
I. University of Chicago Press.
Ricoeur, P. (1991). From text to action: Essays
in hermeneutics II. Northwestern University Press.
Ricoeur, P. (1992). Oneself as another.
University of Chicago Press.
Ricoeur, P. (1976). Interpretation theory:
Discourse and the surplus of meaning. Texas Christian University Press.
Schleiermacher, F. (1998). Hermeneutics and
criticism and other writings (A. Bowie, Ed.). Cambridge University Press.
Taylor, C. (1971). Interpretation and the sciences
of man. The Review of Metaphysics, 25(1), 3–51.
Weber, M. (1978). Economy and society: An
outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.).
University of California Press.
Weinsheimer, J. C. (1985). Gadamer’s
hermeneutics: A reading of Truth and Method. Yale University Press.
Windelband, W. (1980). History and natural
science. Harper.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar