Anarko-Kapitalisme
Genealogi, Ontologi, dan Kritik terhadap Negara dalam
Filsafat Sosial-Politik Libertarian
Alihkan ke: Libertarianisme.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara mendalam aliran Anarko-Kapitalisme
(Anarcho-Capitalism) sebagai salah satu varian paling radikal dalam
filsafat sosial-politik libertarian. Melalui pendekatan historis-filosofis dan
analisis sistematis, tulisan ini menelusuri asal-usul genealogis
anarko-kapitalisme dari tradisi anarkisme individualis, liberalisme klasik, dan
ekonomi pasar Austria, serta menyoroti sintesis ontologis, epistemologis, dan
aksiologis yang membentuk sistem pemikiran ini. Secara ontologis,
anarko-kapitalisme menolak konsep negara sebagai entitas yang sah,
menggantikannya dengan tatanan sosial berbasis interaksi sukarela dan hak milik
pribadi. Secara epistemologis, ia menegaskan bahwa pengetahuan sosial bersifat
terdistribusi dan hanya dapat dikelola secara efisien melalui mekanisme pasar
bebas. Secara aksiologis, prinsip Non-Aggression dan hak kepemilikan
diri dijadikan dasar etika universal bagi kehidupan sosial tanpa paksaan
koersif.
Artikel ini juga membahas dimensi sosial-ekonomi
anarko-kapitalisme yang menekankan peran lembaga privat dalam penyediaan hukum,
keamanan, dan kesejahteraan, serta mengulas berbagai kritik dari kalangan
anarkis kiri, egalitarian, komunitarian, dan liberal moderat yang menyoroti
potensi ketimpangan, moralitas atomistik, dan kelemahan institusional sistem
tanpa negara. Dalam konteks kontemporer, anarko-kapitalisme memperoleh
relevansi baru melalui fenomena ekonomi digital, blockchain, dan Decentralized
Autonomous Organizations (DAO) yang mewujudkan praktik desentralisasi dan
kontrak sukarela di ruang digital.
Akhirnya, artikel ini menyimpulkan bahwa
anarko-kapitalisme bukan sekadar teori ekonomi ekstrem, melainkan suatu metafisika
kebebasan—sebuah sistem filsafat yang menegaskan bahwa keteraturan sosial
dapat lahir tanpa paksaan negara, melainkan melalui kebebasan individu,
rasionalitas sukarela, dan tatanan spontan.
Kata Kunci: Anarko-Kapitalisme,
Libertarianisme, Kebebasan Individu, Non-Aggression Principle, Pasar Bebas,
Ontologi Politik, Etika Hak Milik, Desentralisasi, Filsafat Sosial-Politik.
PEMBAHASAN
Anarko-Kapitalisme dalam Konteks Krisis Legitimasi
Negara Modern
1.
Pendahuluan
Anarko-kapitalisme (anarcho-capitalism) muncul
sebagai salah satu cabang paling radikal dalam diskursus filsafat
sosial-politik libertarian. Ia berangkat dari pandangan bahwa seluruh bentuk
otoritas negara merupakan instrumen koersif yang melanggar hak-hak alamiah
individu untuk memiliki, bertukar, dan mengatur hidupnya secara bebas. Dengan
menggabungkan prinsip-prinsip anarkisme klasik yang menolak dominasi politik
dengan fondasi ekonomi laissez-faire dari kapitalisme liberal, anarko-kapitalisme
menawarkan visi masyarakat tanpa negara yang seluruh struktur sosialnya diatur
melalui mekanisme pasar dan kontrak sukarela antara individu-individu otonom.¹
Kelahiran anarko-kapitalisme tidak dapat dilepaskan
dari transformasi panjang gagasan kebebasan dalam pemikiran modern. Jika
liberalisme klasik abad ke-18 berfokus pada pembatasan kekuasaan negara demi
menjamin hak milik pribadi, maka libertarianisme kontemporer memperluas agenda
itu dengan menolak negara sama sekali.² Dalam hal ini, anarko-kapitalisme
menjadi bentuk paling konsisten dari ide libertarian: meniadakan otoritas
eksternal yang bersifat memaksa dan menggantikannya dengan tatanan sosial
berbasis pasar yang sepenuhnya sukarela.³
Murray Rothbard dianggap sebagai perumus utama
filsafat politik anarko-kapitalisme. Melalui karya-karya seperti For a New
Liberty (1973) dan The Ethics of Liberty (1982), Rothbard
mengembangkan sintesis antara teori ekonomi Austria, etika hak milik alami, dan
prinsip non-agresi sebagai dasar moral sistem sosial tanpa negara.⁴ Ia menolak
pandangan minarkis yang mempertahankan “negara minimal” sebagai
pelindung hak milik, karena baginya, monopoli koersif atas kekuasaan—betapapun
kecil—tetap melanggar prinsip kebebasan individual.⁵
Konteks sosial-politik kemunculan
anarko-kapitalisme juga terkait erat dengan kritik terhadap intervensi ekonomi
negara modern pasca-Perang Dunia II dan perkembangan neoliberalisme pada paruh
akhir abad ke-20.⁶ Dalam situasi di mana negara dipandang gagal membatasi
kekuasaannya sendiri dan terus memperluas regulasi atas kehidupan ekonomi,
anarko-kapitalisme menawarkan alternatif ekstrem berupa desentralisasi total
kekuasaan dan penyerahan seluruh fungsi publik kepada mekanisme pasar.⁷
Dari perspektif filsafat sosial-politik, anarko-kapitalisme
menimbulkan pertanyaan fundamental tentang hakikat tatanan sosial, legitimasi
hukum, dan etika kebebasan. Apakah mungkin menciptakan keadilan tanpa otoritas
negara? Dapatkah pasar menjadi satu-satunya arena moral di mana kebebasan
diwujudkan? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut eksplorasi tidak hanya secara
normatif, tetapi juga ontologis dan epistemologis—yakni mengenai dasar
keberadaan masyarakat tanpa negara dan cara manusia memahami serta mengatur
relasi sosial di dalamnya.
Kajian ini bertujuan untuk menelaah
anarko-kapitalisme secara komprehensif: mulai dari landasan historis dan
genealogisnya dalam tradisi libertarian, struktur ontologis tentang individu
dan negara, dasar epistemologisnya dalam teori pengetahuan ekonomi, hingga
aksiologi dan etika kebebasannya. Dengan pendekatan filosofis yang sistematis,
tulisan ini berupaya mengungkap tidak hanya idealitas gagasan
anarko-kapitalisme, tetapi juga keterbatasan dan tantangan yang dihadapi dalam
konteks dunia kontemporer yang semakin kompleks.
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 11–14.
[2]
John Hospers, Libertarianism: A Political
Philosophy for Tomorrow (Los Angeles: Nash Publishing, 1971), 23–27.
[3]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 3–5.
[4]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–30.
[5]
Hans-Hermann Hoppe, The Economics and Ethics of
Private Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 65–68.
[6]
Friedrich A. Hayek, The Road to Serfdom
(Chicago: University of Chicago Press, 1944), 90–94.
[7]
Charles W. Johnson, “Anarchism and the Market,” Journal
of Libertarian Studies 19, no. 2 (2005): 25–28.
2.
Landasan Historis
dan Genealogis
Untuk memahami anarko-kapitalisme secara utuh,
perlu ditelusuri akar-akar intelektualnya yang berakar pada dua tradisi besar: anarkisme
klasik dan liberalisme ekonomi. Meskipun secara terminologis kedua
aliran ini tampak berlawanan—anarkisme menolak kapitalisme, sedangkan
kapitalisme sering bergantung pada struktur kepemilikan yang dijamin oleh
negara—anarko-kapitalisme menggabungkan keduanya dalam suatu sintesis yang
unik: penolakan terhadap negara bersamaan dengan pembelaan radikal terhadap
pasar bebas dan hak milik pribadi.¹
Dalam konteks sejarah pemikiran Barat, anarkisme
klasik abad ke-19 merupakan reaksi terhadap otoritarianisme negara dan
eksploitasi kapitalis. Tokoh-tokoh seperti Pierre-Joseph Proudhon dan Mikhail
Bakunin menyerukan penghapusan negara serta pembentukan komunitas sukarela
berbasis kerja sama dan kepemilikan bersama alat produksi.² Proudhon terkenal
dengan pernyataannya “property is theft”, yang menolak kepemilikan pribadi
atas sarana produksi karena dianggap menimbulkan ketimpangan struktural.³
Namun, varian anarkisme individualis Amerika yang muncul kemudian—seperti yang
dikembangkan oleh Lysander Spooner dan Benjamin Tucker—menampilkan arah yang
berbeda: mereka mempertahankan prinsip kebebasan individu dan hak milik
pribadi, tetapi menolak monopoli negara dalam mengatur kontrak, mata uang, dan
hukum.⁴
Gerakan anarkisme individualis Amerika
inilah yang menjadi jembatan genealogis antara anarkisme klasik dan anarko-kapitalisme
modern. Spooner, dalam karyanya No Treason (1867), mengkritik legitimasi
konstitusi Amerika Serikat sebagai “perjanjian tanpa persetujuan,” yang
secara moral tidak mengikat individu yang tidak menandatanganinya.⁵ Tucker,
melalui Liberty (1881–1908), menekankan pentingnya “mutual banking”
dan kebebasan kontraktual sebagai cara menghapus ketergantungan terhadap negara
dan monopoli kapitalis.⁶ Walaupun belum sepenuhnya kapitalistik, pemikiran
mereka menyiapkan kerangka konseptual bagi sistem sosial yang seluruhnya diatur
melalui mekanisme sukarela di luar kekuasaan politik.
Perkembangan berikutnya terjadi pada abad ke-20,
ketika teori ekonomi Austria yang dikembangkan oleh Ludwig von Mises dan
Friedrich Hayek memberikan fondasi epistemologis baru bagi libertarianisme.⁷
Teori praxeologi Mises—yakni bahwa tindakan manusia bersifat rasional dan
berorientasi pada tujuan—menjadi dasar bagi keyakinan bahwa interaksi pasar
dapat menghasilkan tatanan sosial spontan tanpa perlu otoritas pusat.⁸ Hayek
memperkuat gagasan ini melalui argumennya tentang spontaneous order,
bahwa pasar bukanlah konstruksi buatan melainkan hasil koordinasi pengetahuan
tersebar yang tidak dapat direncanakan oleh birokrasi negara.⁹
Dalam konteks ini, Murray Rothbard muncul
sebagai figur sentral yang memadukan tiga arus besar tersebut: anarkisme
individualis, liberalisme ekonomi klasik, dan ekonomi Austria. Melalui
karya-karyanya, Rothbard mengembangkan sintesis ideologis yang menjadikan pasar
sebagai pengganti total bagi fungsi negara.¹⁰ Ia mengadopsi prinsip non-agresi
(Non-Aggression Principle, NAP) sebagai norma etis universal dan menjadikan hak
milik pribadi sebagai konsekuensi moral dari kepemilikan diri (self-ownership).¹¹
Dengan demikian, anarko-kapitalisme merupakan hasil genealogis dari
transformasi panjang ide kebebasan—dari pemberontakan terhadap kekuasaan
politik menuju rasionalisasi moral dan ekonomi kebebasan total.
Namun, tidak semua tradisi libertarian menerima
arah ini. Beberapa tokoh seperti Robert Nozick memilih jalan minarkisme,
yang mempertahankan negara minimal sebagai pelindung hak milik, bukan karena
keabsahan moral negara, tetapi karena alasan praktis efisiensi.¹² Sebaliknya,
Rothbard dan para penerusnya, termasuk David D. Friedman dan Hans-Hermann
Hoppe, menganggap bahkan negara minimal sekalipun tetap merupakan bentuk
monopoli koersif yang bertentangan dengan kebebasan.¹³ Dengan demikian, secara
genealogis, anarko-kapitalisme menempati posisi ekstrem dalam spektrum
libertarian: ia bukan sekadar teori ekonomi, melainkan proyek ontologis dan
moral untuk meniadakan kekuasaan negara dan menggantikannya dengan hukum
kontrak serta pasar bebas total.
Footnotes
[1]
Roderick T. Long, “Anarchism and Classical
Liberalism: An Uneasy Alliance,” Libertarian Papers 1, no. 2 (2009):
2–4.
[2]
Peter Kropotkin, The Conquest of Bread
(London: Chapman and Hall, 1906), 15–18.
[3]
Pierre-Joseph Proudhon, What Is Property?
(Paris: Garnier Frères, 1840), 3.
[4]
Benjamin R. Tucker, Instead of a Book, by a Man
Too Busy to Write One (New York: Benjamin Tucker, 1893), 12–16.
[5]
Lysander Spooner, No Treason: The Constitution
of No Authority (Boston: Spooner, 1870), 1–5.
[6]
Wendy McElroy, The Debates of Liberty: An
Overview of Individualist Anarchism, 1881–1908 (Lanham, MD: Lexington
Books, 2003), 45–48.
[7]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–13.
[8]
Israel Kirzner, The Economic Point of View
(Kansas City: Sheed and Ward, 1960), 29–33.
[9]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 35–39.
[10]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 22–25.
[11]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 33–36.
[12]
Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 26–30.
[13]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 7–9.
3.
Ontologi Politik:
Konsep Negara, Masyarakat, dan Individu
Dalam kerangka filsafat politik, anarko-kapitalisme
menempatkan diri sebagai pandangan ontologis yang menolak keberadaan negara (the
state) sebagai entitas yang sah secara moral maupun ontologis. Menurut
Murray Rothbard, negara bukanlah hasil dari kontrak sosial yang legitimate,
melainkan “institusi koersif” yang hidup dengan cara melanggar hak-hak
milik dan kebebasan individu.¹ Secara ontologis, negara dipahami bukan sebagai
“realitas politik yang niscaya,” melainkan sebagai abstraksi
kekuasaan yang bergantung pada legitimasi paksa dan monopoli kekuatan fisik
atas wilayah tertentu.² Dengan demikian, bagi anarko-kapitalisme, keberadaan
negara bukanlah fondasi dari tatanan sosial, melainkan gangguan terhadap
tatanan alami yang dapat muncul secara spontan melalui interaksi bebas
individu-individu otonom.³
Dalam pandangan ini, individu menempati
posisi ontologis yang paling fundamental. Seluruh tatanan sosial dan ekonomi berakar
pada tindakan rasional individu (praxeology), bukan pada konstruksi
kolektif seperti bangsa atau masyarakat.⁴ Individu adalah pemilik diri (self-owner),
yang memiliki kedaulatan penuh atas tubuh, waktu, dan hasil kerjanya.⁵ Hak
milik pribadi bukan sekadar konsep yuridis, melainkan ekspresi eksistensial
dari kebebasan manusia itu sendiri.⁶ Dari prinsip ini, seluruh bentuk relasi
sosial yang sah harus bersifat sukarela (voluntary association) dan
berbasis kontrak yang disepakati tanpa paksaan.⁷
Sebaliknya, masyarakat dalam perspektif
anarko-kapitalis bukanlah entitas yang memiliki “substansi kolektif” yang
berdiri di atas individu, melainkan tatanan emergen yang lahir dari
interaksi bebas.⁸ Friedrich Hayek menyebutnya sebagai spontaneous order,
yaitu hasil koordinasi dari jutaan tindakan individu yang, tanpa direncanakan
secara terpusat, menghasilkan pola sosial yang stabil dan efisien.⁹ Dengan kata
lain, masyarakat bukanlah hasil desain politik, melainkan konsekuensi tak
disengaja dari aktivitas ekonomi dan sosial yang bebas.¹⁰ Dalam tatanan seperti
ini, tidak ada kebutuhan akan lembaga koersif untuk mengatur kehidupan publik,
karena hukum, norma, dan tata nilai dapat muncul secara organik dari proses
evolusioner interaksi sosial.¹¹
Sementara itu, negara dipandang sebagai
entitas yang secara ontologis parasitik terhadap masyarakat.¹² Ia hidup
dengan cara mengklaim otoritas atas kekuasaan, hukum, dan keamanan, padahal
fungsi-fungsi tersebut dapat dijalankan secara desentralistik melalui mekanisme
pasar.¹³ Rothbard menggambarkan negara sebagai “bandit besar yang
dilegitimasi,”¹⁴ yakni entitas yang mengambil kekayaan individu melalui
pajak dan membatasi kebebasan melalui regulasi yang tidak berdasarkan kontrak
sukarela.¹⁵ Dalam masyarakat tanpa negara, fungsi-fungsi ini akan diambil alih
oleh lembaga privat: perusahaan keamanan, arbitrase, asuransi, dan penyedia
layanan hukum yang bersaing di pasar bebas.¹⁶
Pandangan ini secara ontologis berseberangan dengan
teori politik klasik yang menempatkan negara sebagai syarat keberadaan
masyarakat sipil. Thomas Hobbes, misalnya, menganggap bahwa tanpa Leviathan,
kehidupan manusia akan jatuh ke dalam keadaan “bellum omnium contra omnes”—perang
semua melawan semua.¹⁷ Namun, bagi anarko-kapitalisme, tatanan sosial tanpa
negara bukan berarti chaos, melainkan keteraturan yang muncul dari self-regulating
order.¹⁸ Dengan demikian, ontologi politik anarko-kapitalisme berangkat
dari asumsi bahwa keteraturan bukanlah hasil dari kekuasaan, tetapi konsekuensi
dari kebebasan.¹⁹
Akhirnya, konsep negara, masyarakat, dan
individu dalam anarko-kapitalisme membentuk suatu triadik ontologis yang
terbalik dari paradigma politik modern. Negara, yang biasanya dianggap sebagai
pengatur masyarakat, justru diposisikan sebagai hambatan ontologis terhadap
kebebasan; masyarakat, yang sering dipandang membutuhkan koordinasi eksternal,
justru dilihat sebagai sistem swadaya yang mampu mengatur dirinya sendiri; dan
individu, yang biasanya dikorbankan atas nama kepentingan kolektif, justru
menjadi dasar realitas politik yang sejati.²⁰ Dengan demikian, ontologi politik
anarko-kapitalisme bukan sekadar teori kebebasan, tetapi juga metafisika
tatanan sosial yang mendasarkan eksistensi politik pada kebebasan individu
dan hukum pasar sukarela.²¹
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–48.
[2]
Hans-Hermann Hoppe, Democracy: The God That
Failed (New Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2001), 19–21.
[3]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 11–14.
[4]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 12–15.
[5]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 33–35.
[6]
Roderick T. Long, “Self-Ownership and the Economic
Order,” Journal of Libertarian Studies 15, no. 3 (2001): 5–7.
[7]
Robert P. Murphy, Chaos Theory: Two Essays on
Market Anarchy (Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute, 2002), 9–12.
[8]
Anthony de Jasay, The State (Indianapolis:
Liberty Fund, 1998), 25–27.
[9]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 36–39.
[10]
Ibid., 45–48.
[11]
Edward Stringham, Anarchy and the Law: The
Political Economy of Choice (New Brunswick, NJ: Transaction Publishers,
2007), 52–56.
[12]
Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian
Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 26–28.
[13]
Hoppe, The Economics and Ethics of Private
Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 54–56.
[14]
Rothbard, For a New Liberty, 27.
[15]
Ibid., 29.
[16]
Friedman, The Machinery of Freedom, 24–28.
[17]
Thomas Hobbes, Leviathan (London: Andrew
Crooke, 1651), 89–90.
[18]
Hayek, The Constitution of Liberty (Chicago:
University of Chicago Press, 1960), 160–163.
[19]
Jesper Kallestrup and Mark Sprevak, eds., New
Waves in Philosophy of Mind (New York: Palgrave Macmillan, 2014), 98–100.
[20]
Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 43–46.
[21]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 130–132.
4.
Epistemologi Sosial
dan Rasionalitas Ekonomi
Epistemologi dalam anarko-kapitalisme berakar pada
asumsi bahwa pengetahuan sosial dan ekonomi bersifat terdesentralisasi
dan tidak dapat diorganisir secara rasional oleh otoritas tunggal seperti
negara. Pandangan ini berangkat dari tradisi epistemologis Sekolah Austria—terutama
Ludwig von Mises dan Friedrich Hayek—yang menekankan bahwa pengetahuan tentang
kebutuhan, preferensi, dan sumber daya tersebar di antara individu-individu
dalam masyarakat dan tidak mungkin disatukan melalui perencanaan terpusat.¹
Bagi para pemikir anarko-kapitalis, gagasan bahwa birokrasi negara mampu
mengetahui dan mengatur ekonomi adalah bentuk kesombongan epistemik (epistemic
arrogance), karena ia mengabaikan sifat lokal, dinamis, dan kontekstual
dari pengetahuan ekonomi.²
Ludwig von Mises, melalui kerangka praxeology, memandang tindakan manusia sebagai
sumber utama pengetahuan sosial.³ Menurutnya, semua fenomena sosial berakar
pada tindakan individu yang rasional dan bertujuan (purposeful behavior).⁴
Dengan demikian, pengetahuan sosial tidak bersifat objektif dalam pengertian
ilmiah positivistik, tetapi merupakan hasil pemahaman (Verstehen)
terhadap maksud dan tujuan subjek yang bertindak.⁵ Epistemologi ini menggeser
fondasi ilmu sosial dari empirisisme ke arah rasionalisme aprioristik—yakni
bahwa hukum-hukum ekonomi dapat disimpulkan dari aksioma dasar tindakan manusia
tanpa perlu eksperimen empiris.⁶
Sementara itu, Friedrich Hayek menambahkan
dimensi epistemik baru melalui konsep knowledge problem—bahwa tidak ada
otoritas pusat yang dapat mengumpulkan dan memproses informasi ekonomi secara
efisien untuk mengoordinasikan seluruh aktivitas masyarakat.⁷ Pasar bebas,
melalui mekanisme harga, berfungsi sebagai sistem komunikasi pengetahuan yang
paling efektif, karena harga mencerminkan informasi terdistribusi tentang
kelangkaan dan preferensi individu.⁸ Dalam kerangka anarko-kapitalisme, pasar
bukan hanya sistem ekonomi, melainkan mekanisme epistemologis yang
memungkinkan individu bertindak secara rasional berdasarkan informasi yang
tidak dapat diketahui oleh otoritas tunggal.⁹
Dari sinilah muncul apa yang disebut rasionalitas
spontan (spontaneous rationality): suatu bentuk rasionalitas sosial
yang tidak diatur dari atas ke bawah, tetapi berkembang melalui interaksi bebas
antara agen-agen ekonomi yang memiliki pengetahuan terbatas.¹⁰ Rasionalitas
semacam ini bersifat evolusioner, bukan konstruksionis; ia terbentuk melalui
proses trial and error, adaptasi, dan inovasi yang berkelanjutan di pasar.¹¹
Oleh karena itu, dalam pandangan anarko-kapitalis, kesalahan epistemik bukanlah
sesuatu yang harus dihindari melalui kontrol negara, tetapi justru mekanisme
belajar sosial yang memungkinkan kemajuan peradaban.¹²
Epistemologi anarko-kapitalisme menolak klaim
objektivitas pengetahuan politik yang bersifat kolektivis. Negara, dalam
pandangan ini, tidak mungkin memiliki “pengetahuan sosial” yang lebih
tinggi daripada individu, karena seluruh tindakan sosial berakar pada
preferensi subjektif yang hanya diketahui oleh pelakunya sendiri.¹³ Setiap
upaya negara untuk memaksakan kebijakan ekonomi berarti menggantikan
pengetahuan lokal dengan perintah sentral yang tidak mungkin mencerminkan
kondisi nyata.¹⁴ Dengan demikian, rasionalitas ekonomi dalam masyarakat
bebas muncul bukan dari desain rasional pemerintah, tetapi dari interaksi
spontan individu-individu yang mengejar tujuan pribadi mereka.¹⁵
Dalam konteks yang lebih luas, epistemologi ini
juga memiliki implikasi moral dan politik. Jika pengetahuan tentang nilai dan
kebutuhan bersifat subjektif dan tersebar, maka setiap upaya memonopoli
kebenaran sosial—baik melalui negara, partai, atau otoritas moral
kolektif—merupakan bentuk tirani epistemik.¹⁶ Anarko-kapitalisme, dengan
demikian, tidak hanya menawarkan teori ekonomi, tetapi juga teori
pengetahuan sosial yang mendasarkan legitimasi politik pada pluralitas
rasionalitas individual.¹⁷ Di sini, kebebasan bukan sekadar hak politik,
melainkan kondisi epistemik yang memungkinkan pengetahuan sosial tumbuh secara
organik.¹⁸
Secara keseluruhan, epistemologi sosial
anarko-kapitalisme dapat diringkas dalam tiga prinsip utama: (1) pengetahuan
sosial bersifat terdistribusi dan kontekstual; (2) rasionalitas individu lebih unggul
daripada rasionalitas kolektif; dan (3) mekanisme pasar berfungsi sebagai media
komunikasi pengetahuan yang paling efisien dan etis.¹⁹ Dengan prinsip-prinsip
ini, anarko-kapitalisme membangun keyakinan bahwa keteraturan sosial dan
kemajuan ekonomi tidak memerlukan otoritas epistemik eksternal, tetapi cukup
dengan kebebasan bertindak dari individu-individu yang mengetahui
kepentingannya sendiri.²⁰
Footnotes
[1]
Friedrich A. Hayek, “The Use of Knowledge in
Society,” American Economic Review 35, no. 4 (1945): 519–530.
[2]
Ibid., 523.
[3]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–15.
[4]
Ibid., 13.
[5]
Ludwig von Mises, Epistemological Problems of
Economics (Princeton: D. Van Nostrand, 1960), 35–38.
[6]
Israel M. Kirzner, The Economic Point of View
(Kansas City: Sheed and Ward, 1960), 22–25.
[7]
Hayek, “The Use of Knowledge in Society,” 520–522.
[8]
Friedrich A. Hayek, Individualism and Economic
Order (Chicago: University of Chicago Press, 1948), 77–80.
[9]
Murray N. Rothbard, Man, Economy, and State with
Power and Market (Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute, 2009), 45–47.
[10]
Bruce Caldwell, Hayek’s Challenge: An
Intellectual Biography of F. A. Hayek (Chicago: University of Chicago
Press, 2004), 215–217.
[11]
Don Lavoie, Rivalry and Central Planning: The
Socialist Calculation Debate Reconsidered (Cambridge: Cambridge University
Press, 1985), 98–102.
[12]
Friedrich A. Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 120–122.
[13]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as
Constitutionalism,” Anarchist Studies 12, no. 1 (2004): 45–47.
[14]
Peter J. Boettke, Calculation and Coordination:
Essays on Socialism and Transitional Political Economy (London: Routledge,
2001), 17–19.
[15]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 14–16.
[16]
Michael Polanyi, The Tacit Dimension
(Chicago: University of Chicago Press, 1966), 25–27.
[17]
Jesús Huerta de Soto, Socialism, Economic
Calculation and Entrepreneurship (Cheltenham: Edward Elgar, 2010), 55–57.
[18]
Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1
(Chicago: University of Chicago Press, 1973), 44–46.
[19]
Boettke, Calculation and Coordination,
22–24.
[20]
Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 125–128.
5.
Aksiologi dan Etika
Kebebasan
Dalam kerangka filsafat moral dan politik, aksiologi
anarko-kapitalisme berpusat pada prinsip kebebasan individual yang mutlak
dan hak milik sebagai nilai tertinggi dalam tatanan sosial. Aksiologi ini tidak
hanya bersifat normatif, tetapi juga etis dan metafisik, karena memandang
kebebasan sebagai kondisi ontologis manusia yang memungkinkan moralitas,
tanggung jawab, dan interaksi sosial yang sah.¹ Bagi anarko-kapitalisme, setiap
tindakan moral harus berakar pada prinsip non-agresi (Non-Aggression
Principle, NAP), yaitu larangan universal untuk memulai kekerasan terhadap
orang lain atau properti mereka.² Prinsip ini menjadi fondasi etika kebebasan
dan batas moral yang jelas antara tindakan yang sah dan yang melanggar hak.³
Murray Rothbard menegaskan bahwa prinsip non-agresi
bukan sekadar aturan utilitarian, melainkan konsekuensi logis dari hak
kepemilikan diri (self-ownership).⁴ Manusia, sebagai makhluk rasional,
memiliki hak alamiah untuk menguasai tubuhnya sendiri dan segala hasil
kerjanya.⁵ Dari hak kepemilikan diri ini muncul hak turunan atas kepemilikan
eksternal—yakni properti—yang diperoleh melalui kerja, kontrak sukarela, atau
pertukaran damai.⁶ Dalam pandangan ini, hak milik bukanlah ciptaan hukum
positif negara, melainkan emanasi dari hak moral yang melekat pada eksistensi
manusia.⁷ Oleh karena itu, segala bentuk pajak, redistribusi kekayaan, atau
regulasi paksa dianggap sebagai pelanggaran etika karena melibatkan unsur
paksaan terhadap kehendak bebas individu.⁸
Etika anarko-kapitalisme mengandung dimensi deontologis,
bukan teleologis.⁹ Artinya, tindakan dianggap benar bukan karena hasilnya,
tetapi karena kesesuaiannya dengan prinsip moral kebebasan.¹⁰ Dalam hal ini,
Rothbard mengikuti tradisi etika hak alamiah (natural rights ethics)
yang dikembangkan sejak John Locke, tetapi membawanya ke kesimpulan ekstrem:
bahwa semua bentuk kekuasaan koersif, bahkan yang dimaksudkan untuk tujuan
baik, tetap tidak bermoral jika melanggar hak milik dan kebebasan individu.¹¹
Dengan demikian, etika kebebasan menolak setiap “tindakan politik” yang
tidak berdasarkan kontrak sukarela.¹²
Nilai-nilai moral dalam anarko-kapitalisme juga
mencerminkan individualisme etis, di mana tanggung jawab moral tidak
dapat didelegasikan kepada institusi kolektif.¹³ Manusia bertanggung jawab atas
konsekuensi tindakannya sendiri karena ia bertindak berdasarkan kehendak bebas
dan pengetahuan subjektif.¹⁴ Dalam tatanan sosial tanpa negara, keadilan tidak
diukur melalui pemerataan hasil, tetapi melalui penghormatan terhadap proses
yang sah: siapa pun berhak atas hasil tindakannya sejauh ia tidak melanggar hak
orang lain.¹⁵ Etika semacam ini menolak pandangan egalitarian yang menilai
moralitas berdasarkan kesetaraan hasil sosial, karena kesetaraan paksa berarti
meniadakan kebebasan aktual.¹⁶
Selain itu, aksiologi anarko-kapitalisme memandang kebebasan
sebagai nilai intrinsik, bukan instrumen.¹⁷ Kebebasan tidak dinilai karena
menghasilkan kemakmuran ekonomi semata, tetapi karena merupakan kondisi moral
yang memungkinkan manusia menjadi agen otonom.¹⁸ Dalam hal ini, kebebasan
memiliki fungsi ganda: (1) sebagai nilai moral tertinggi yang menegakkan
martabat individu, dan (2) sebagai prasyarat epistemik bagi tatanan sosial yang
rasional dan evolusioner.¹⁹ Dari perspektif ini, kebebasan bukan sekadar hak,
tetapi juga tanggung jawab: kebebasan tanpa tanggung jawab adalah nihilisme,
sedangkan tanggung jawab tanpa kebebasan adalah tirani.²⁰
Namun demikian, pandangan etis ini tidak luput dari
kritik. Beberapa filsuf menilai bahwa etika anarko-kapitalis terlalu absolut
dan ahistoris, karena mengabaikan kompleksitas hubungan sosial dan struktur
ketergantungan manusia.²¹ Etika non-agresi, meskipun tampak universal, sering
kali gagal menjawab dilema moral kolektif seperti keadilan distributif,
eksternalitas, dan perlindungan terhadap kelompok rentan.²² Kendati demikian,
para pendukungnya menegaskan bahwa moralitas sejati hanya dapat muncul dari
kebebasan sejati—karena paksaan, betapapun “adil” tujuannya, tetap
meniadakan nilai moral dari tindakan itu sendiri.²³
Dengan demikian, aksiologi dan etika kebebasan
dalam anarko-kapitalisme membentuk sistem nilai yang konsisten secara
internal: kebebasan individual sebagai kebenaran moral tertinggi, hak milik
sebagai bentuk konkret kebebasan, dan non-agresi sebagai prinsip pengatur
relasi sosial.²⁴ Dalam sistem ini, moralitas dan ekonomi, kebebasan dan
keadilan, bukanlah entitas yang bertentangan, melainkan saling memperkuat dalam
satu kesatuan nilai yang berpuncak pada penghormatan terhadap otonomi
manusia.²⁵
Footnotes
[1]
Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 12–14.
[2]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 26–28.
[3]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Liberty
and Nature: An Aristotelian Defense of Liberal Order (La Salle, IL: Open
Court, 1991), 57–59.
[4]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–30.
[5]
Ibid., 33–36.
[6]
Hans-Hermann Hoppe, The Economics and Ethics of
Private Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 45–48.
[7]
Roderick T. Long, “The Nature of Rights: Moral and
Economic Foundations,” Journal of Libertarian Studies 16, no. 2 (2002):
2–4.
[8]
Rothbard, For a New Liberty, 31–33.
[9]
Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 15–18.
[10]
Ibid., 19.
[11]
John Locke, Second Treatise of Government
(London: Awnsham Churchill, 1690), 87–90.
[12]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 40–42.
[13]
Rasmussen and Den Uyl, Liberty and Nature,
61–63.
[14]
Ayn Rand, The Virtue of Selfishness (New
York: Signet, 1964), 10–12.
[15]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 33–36.
[16]
Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 156–160.
[17]
Hoppe, The Economics and Ethics of Private
Property, 65–68.
[18]
Rasmussen and Den Uyl, Liberty and Nature,
70–72.
[19]
Friedrich A. Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 56–58.
[20]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture: Essays on
the Idea of a Free Society (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 102–104.
[21]
Gerald A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 45–48.
[22]
Michael Sandel, Justice: What’s the Right Thing
to Do? (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2009), 122–125.
[23]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 129–132.
[24]
Rasmussen and Den Uyl, Liberty and Nature,
75–78.
[25]
Hoppe, The Economics and Ethics of Private
Property, 70–72.
6.
Dimensi Sosial dan
Ekonomi
Dalam kerangka anarko-kapitalisme, dimensi sosial
dan ekonomi berkelindan secara integral dalam gagasan tentang masyarakat
tanpa negara yang diatur sepenuhnya melalui mekanisme pasar bebas dan kontrak
sukarela.¹ Tatanan sosial ideal, menurut pandangan ini, tidak membutuhkan
lembaga koersif seperti negara untuk menjaga keteraturan, menegakkan hukum,
atau mendistribusikan sumber daya.² Sebaliknya, semua fungsi sosial dan ekonomi
dapat dijalankan oleh lembaga-lembaga privat yang saling bersaing dalam pasar
terbuka.³ Dengan demikian, pasar bukan sekadar arena pertukaran ekonomi,
melainkan fondasi sosiologis bagi keteraturan dan keadilan sosial yang lahir
secara spontan (spontaneous order).⁴
Secara sosiologis, masyarakat anarko-kapitalis
dibayangkan sebagai jejaring institusi sukarela (voluntary associations)—seperti
perusahaan, lembaga arbitrase, perusahaan keamanan, dan organisasi sosial—yang
beroperasi berdasarkan kontrak dan kesepakatan bersama.⁵ Dalam sistem ini,
penegakan hukum dan keamanan tidak dijalankan oleh negara, melainkan oleh perusahaan
penegak hukum privat (private defense agencies).⁶ Setiap individu
bebas memilih penyedia layanan keamanan yang sesuai dengan kebutuhannya, sama
halnya dengan memilih penyedia asuransi atau jasa lainnya.⁷ Persaingan
antarlembaga keamanan dianggap akan menciptakan efisiensi, transparansi, dan
akuntabilitas yang lebih tinggi dibandingkan monopoli kekuasaan negara.⁸
Murray Rothbard menggambarkan model ini sebagai polycentric
legal order, di mana hukum muncul secara kompetitif dari berbagai sumber otoritas
kontraktual, bukan melalui legislasi pusat.⁹ Sistem hukum tidak lagi dipaksakan
secara top-down, tetapi diturunkan dari prinsip-prinsip hak milik, kebebasan
kontraktual, dan tanggung jawab individu.¹⁰ David D. Friedman menambahkan bahwa
dalam tatanan seperti itu, masyarakat dapat memiliki banyak sistem hukum yang
hidup berdampingan, di mana penyelesaian sengketa dilakukan oleh lembaga
arbitrase independen yang dipilih para pihak.¹¹ Hasilnya adalah pluralisme
hukum (legal polycentrism) yang dinamis, adaptif, dan lebih responsif
terhadap kebutuhan sosial.¹²
Dari sisi ekonomi, anarko-kapitalisme berkeyakinan
bahwa mekanisme pasar bebas total merupakan satu-satunya cara efisien
untuk mengalokasikan sumber daya, menciptakan inovasi, dan mengurangi konflik
sosial.¹³ Karena semua transaksi dilakukan secara sukarela, setiap hasil
ekonomi dianggap adil sejauh tidak melibatkan paksaan.¹⁴ Intervensi negara—baik
dalam bentuk subsidi, pajak progresif, maupun regulasi—dianggap merusak
struktur harga dan menghambat koordinasi pengetahuan di pasar.¹⁵ Dalam tatanan
tanpa negara, seluruh kegiatan ekonomi, termasuk layanan publik seperti
pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, akan diatur oleh insentif pasar
melalui sistem profit dan loss.¹⁶
Namun, dimensi sosial dari sistem ini
menimbulkan perdebatan mendalam. Para pendukungnya berargumen bahwa masyarakat
yang diatur secara sukarela akan menghasilkan solidaritas sejati karena
hubungan sosial terbentuk atas dasar pilihan bebas, bukan paksaan politik.¹⁷
Mereka menolak gagasan bahwa hanya negara yang dapat menjamin kesejahteraan
sosial, dengan mencontohkan berbagai bentuk filantropi, asuransi mutual, dan
komunitas sukarela yang historisnya telah menjalankan fungsi sosial sebelum
negara kesejahteraan modern muncul.¹⁸ Dalam kerangka ini, keadilan sosial bukan
berarti pemerataan hasil, tetapi penghormatan terhadap kebebasan individu untuk
bertindak dan berkontrak.¹⁹
Sebaliknya, para kritikus menilai bahwa model ini
berpotensi melahirkan ketimpangan struktural, karena kebebasan pasar
tanpa regulasi dapat memperkuat dominasi ekonomi pihak yang memiliki modal
besar.²⁰ Tanpa mekanisme redistributif, akumulasi kekayaan dapat menciptakan
hierarki sosial baru yang tidak kalah koersif dibanding negara itu sendiri.²¹
Para pemikir seperti Karl Polanyi dan Michael Sandel mengingatkan bahwa pasar
total berisiko mengkomodifikasi nilai-nilai sosial seperti keadilan,
kebersamaan, dan solidaritas.²² Meskipun demikian, para anarko-kapitalis
menolak kritik ini dengan argumen bahwa paksaan negara jauh lebih berbahaya
bagi kebebasan daripada ketimpangan ekonomi yang muncul secara alami.²³
Dalam konteks kontemporer, dimensi sosial-ekonomi
anarko-kapitalisme menemukan relevansi baru melalui ekonomi digital dan
teknologi desentralisasi seperti blockchain, cryptocurrency,
dan Decentralized Autonomous Organizations (DAO).²⁴ Teknologi-teknologi
ini mewujudkan secara empiris prinsip-prinsip inti anarko-kapitalisme:
desentralisasi, transparansi sukarela, dan kontrak tanpa perantara negara.²⁵
Dalam ruang digital, hukum, kepemilikan, dan transaksi dapat dijalankan melalui
kode dan algoritme yang disepakati bersama, menciptakan “pasar tanpa batas”
yang merepresentasikan visi masyarakat tanpa negara.²⁶
Dengan demikian, dimensi sosial dan ekonomi
anarko-kapitalisme menampilkan sintesis yang radikal: pasar menjadi sumber
tatanan sosial, hukum menjadi hasil kontrak privat, dan keadilan dipahami
sebagai konsekuensi logis dari kebebasan.²⁷ Paradigma ini menggeser pusat moral
dan sosial masyarakat dari negara ke individu, dari legislasi ke negosiasi, dan
dari paksaan ke konsensus.²⁸ Ia menuntut keyakinan mendasar bahwa keteraturan,
keadilan, dan solidaritas sejati tidak memerlukan kekuasaan terpusat, melainkan
cukup dengan kebebasan yang terjamin oleh hak milik dan kontrak sukarela.²⁹
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 73–76.
[2]
Hans-Hermann Hoppe, The Private Production of
Defense (Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute, 1998), 9–12.
[3]
Edward P. Stringham, Anarchy and the Law: The
Political Economy of Choice (New Brunswick, NJ: Transaction Publishers,
2007), 33–36.
[4]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 45–47.
[5]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as
Constitutionalism,” Anarchist Studies 12, no. 1 (2004): 41–43.
[6]
Hoppe, The Private Production of Defense,
14–17.
[7]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 110–113.
[8]
Stringham, Anarchy and the Law, 60–63.
[9]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 103–106.
[10]
Ibid., 108.
[11]
Friedman, The Machinery of Freedom, 118–120.
[12]
Bruce L. Benson, The Enterprise of Law: Justice
Without the State (San Francisco: Pacific Research Institute, 1990), 25–29.
[13]
Hayek, Individualism and Economic Order
(Chicago: University of Chicago Press, 1948), 83–86.
[14]
Israel M. Kirzner, Competition and Entrepreneurship
(Chicago: University of Chicago Press, 1973), 67–70.
[15]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 717–719.
[16]
Rothbard, Power and Market: Government and the
Economy (Kansas City: Sheed Andrews, 1970), 55–58.
[17]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from
Capitalism,” Journal of Libertarian Studies 21, no. 2 (2007): 12–14.
[18]
David Beito, From Mutual Aid to the Welfare
State (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2000), 18–21.
[19]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 150–153.
[20]
Gerald A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 77–80.
[21]
Michael Sandel, What Money Can’t Buy: The Moral
Limits of Markets (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2012), 9–12.
[22]
Karl Polanyi, The Great Transformation
(Boston: Beacon Press, 1944), 72–75.
[23]
Hoppe, The Economics and Ethics of Private
Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 98–101.
[24]
Aaron Koenig, A Beginner’s Guide to Bitcoin and
Austrian Economics (Munich: FinanzBuch Verlag, 2015), 34–37.
[25]
Primavera De Filippi and Aaron Wright, Blockchain
and the Law: The Rule of Code (Cambridge, MA: Harvard University Press,
2018), 102–106.
[26]
Vitalik Buterin, “DAOs, DACs, DAs and More: An
Incomplete Terminology Guide,” Ethereum Blog (2014).
[27]
Rothbard, For a New Liberty, 120–122.
[28]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,”
47–49.
[29]
Friedman, The Machinery of Freedom, 150–152.
7.
Kritik Filosofis dan
Politik
Sebagai salah satu bentuk paling radikal dari libertarianisme,
anarko-kapitalisme telah memicu beragam kritik dari sudut pandang
filsafat moral, politik, dan sosial. Kritik ini tidak hanya datang dari tradisi
pemikiran kiri, tetapi juga dari kalangan liberal moderat dan bahkan dari dalam
tubuh libertarianisme sendiri.¹ Kritik-kritik tersebut menyoroti problem
mendasar terkait legitimasi moral pasar total, potensi ketimpangan kekuasaan
ekonomi, serta keterbatasan etika non-agresi ketika diterapkan dalam konteks
sosial yang kompleks.²
Dari perspektif anarkisme kiri,
anarko-kapitalisme dianggap sebagai bentuk kontradiktif dari anarkisme itu
sendiri.³ Bagi tokoh-tokoh seperti Noam Chomsky dan David Graeber, klaim
anarko-kapitalisme untuk meniadakan negara sambil mempertahankan sistem
kepemilikan kapitalis justru mereproduksi hierarki yang sama dalam bentuk
baru—yakni dominasi ekonomi menggantikan dominasi politik.⁴ Pasar bebas total,
dalam pandangan ini, bukanlah bentuk kebebasan sejati, melainkan arena di mana
kekuasaan modal memaksa individu tunduk pada logika profit dan kompetisi.⁵ Oleh
karena itu, anarko-kapitalisme dipandang bukan sebagai anarkisme, melainkan “ultra-liberalisme”
yang menghapus solidaritas sosial demi kepentingan akumulasi kapital.⁶
Dari sisi komunitarianisme dan egalitarianisme,
kritik diarahkan pada reduksi etika sosial menjadi sekadar kontrak individual.⁷
Para pemikir seperti Michael Sandel dan Charles Taylor menilai bahwa konsep
kebebasan anarko-kapitalis terlalu atomistik karena mengabaikan dimensi etis
komunitas dan tanggung jawab sosial.⁸ Kebebasan, menurut mereka, tidak mungkin
direalisasikan tanpa struktur sosial yang mendukung terbentuknya makna dan
identitas moral.⁹ Dengan menolak peran negara dalam menegakkan nilai-nilai
publik, anarko-kapitalisme dianggap menihilkan ruang moral bersama (common
good) dan mereduksi politik menjadi sekadar transaksi ekonomi.¹⁰
Sementara itu, kritik dari kalangan liberal
klasik dan minarkis menyoroti aspek praktikal dan stabilitas
institusional.¹¹ Robert Nozick, meskipun secara filosofis dekat dengan
libertarianisme, menilai bahwa sistem tanpa negara sulit menjamin keadilan dan
keamanan secara universal.¹² Dalam Anarchy, State, and Utopia (1974), ia
berargumen bahwa anarkisme pasar cenderung menuju pembentukan “negara
minimal secara alami” (invisible hand state), karena lembaga-lembaga
pertahanan privat akan berkoordinasi dan membentuk monopoli perlindungan demi
efisiensi.¹³ Dengan demikian, negara minimal menjadi hasil emergen yang tak
terhindarkan dari dinamika pasar, bukan institusi yang harus dihapus
sepenuhnya.¹⁴
Dari perspektif Marxis dan sosialis,
anarko-kapitalisme dikritik sebagai ideologi yang mengabsolutkan kepemilikan
pribadi dan menyingkirkan dimensi struktural dari ketimpangan ekonomi.¹⁵ Karl
Polanyi menilai bahwa pasar bebas total bukanlah fenomena alamiah, melainkan
konstruksi politik yang justru membutuhkan negara untuk menopang
keberlangsungannya.¹⁶ Dengan demikian, klaim anarko-kapitalisme tentang tatanan
“tanpa negara” dianggap ilusi, karena institusi pasar sendiri lahir dan
bertahan melalui struktur hukum yang diciptakan oleh negara.¹⁷ Pandangan ini
menekankan bahwa kebebasan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari konteks
kekuasaan dan relasi produksi yang menentukannya.¹⁸
Selain itu, muncul kritik internal dari kalangan
libertarian humanis, seperti yang dikemukakan oleh Douglas Rasmussen dan
Douglas Den Uyl, yang menilai bahwa anarko-kapitalisme gagal menyeimbangkan
antara kebebasan formal dan kebajikan moral.¹⁹ Meskipun menolak paksaan, sistem
ini berpotensi menihilkan tanggung jawab sosial dan dimensi etika Aristotelian
tentang eudaimonia (kebaikan hidup bersama).²⁰ Dalam pandangan mereka,
masyarakat bebas tidak cukup hanya menjamin hak milik dan kontrak, tetapi juga
membutuhkan kultur moral yang menumbuhkan keutamaan (virtue ethics) agar
kebebasan tidak berubah menjadi nihilisme moral.²¹
Kritik realistis dan institusional juga
menyoroti kelemahan anarko-kapitalisme dalam menjamin keadilan prosedural dan
kestabilan jangka panjang.²² Bruce Benson, misalnya, menunjukkan bahwa sistem
hukum privat akan kesulitan menegakkan standar universal keadilan karena setiap
lembaga cenderung memihak kliennya.²³ Demikian pula, Anthony de Jasay
berargumen bahwa absennya otoritas pusat dapat memicu “equilibrium of
distrust,” di mana lembaga-lembaga privat saling bersaing tanpa koordinasi
etis, sehingga memunculkan bentuk kekuasaan non-politik yang sama koersifnya
dengan negara.²⁴
Terakhir, terdapat pula kritik ekologis dan
sosial kontemporer, yang menyoroti ketidakmampuan anarko-kapitalisme dalam
menangani masalah kolektif seperti krisis iklim, eksternalitas negatif, dan
pengelolaan sumber daya bersama.²⁵ Dalam paradigma pasar total, isu-isu publik
cenderung direduksi menjadi transaksi individual, padahal banyak masalah
lingkungan dan kemanusiaan menuntut tindakan kolektif lintas kepentingan
pribadi.²⁶ Kritik ini menyoroti keterbatasan aksiologi anarko-kapitalisme yang
terlalu berfokus pada moralitas kepemilikan, sementara mengabaikan etika
keberlanjutan dan tanggung jawab antargenerasi.²⁷
Meskipun beragam kritik tersebut menyoroti
sisi-sisi problematik dari anarko-kapitalisme, mereka juga memperlihatkan daya
provokatifnya sebagai proyek intelektual yang menggugat asumsi dasar politik
modern: bahwa negara adalah syarat niscaya bagi keteraturan sosial.²⁸ Dengan
demikian, nilai filosofis anarko-kapitalisme terletak bukan pada kesempurnaan
sistemnya, tetapi pada tantangannya terhadap epistemologi dan moralitas
kekuasaan yang selama ini dianggap alami.²⁹
Footnotes
[1]
Roderick T. Long, “Anarchism and Classical
Liberalism: An Uneasy Alliance,” Libertarian Papers 1, no. 2 (2009):
1–3.
[2]
Gerald A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 77–80.
[3]
David Graeber, Fragments of an Anarchist
Anthropology (Chicago: Prickly Paradigm Press, 2004), 35–38.
[4]
Noam Chomsky, On Anarchism (New York: The
New Press, 2013), 41–45.
[5]
Graeber, Debt: The First 5000 Years
(Brooklyn: Melville House, 2011), 295–297.
[6]
Nathan J. Jun, Anarchism and Political Modernity
(New York: Continuum, 2012), 65–68.
[7]
Michael Sandel, Justice: What’s the Right Thing
to Do? (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2009), 115–118.
[8]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making
of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989),
207–210.
[9]
Ibid., 212.
[10]
Sandel, Justice, 125–127.
[11]
Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 18–20.
[12]
Ibid., 26–30.
[13]
Ibid., 48–51.
[14]
David Schmidtz, The Limits of Government: An
Essay on the Public Goods Argument (Boulder: Westview Press, 1991), 83–85.
[15]
Karl Marx, Capital: Volume I (Hamburg: Otto
Meissner, 1867), 93–96.
[16]
Karl Polanyi, The Great Transformation
(Boston: Beacon Press, 1944), 145–148.
[17]
Ibid., 152.
[18]
Erik Olin Wright, Envisioning Real Utopias (London:
Verso, 2010), 33–36.
[19]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Liberty
and Nature: An Aristotelian Defense of Liberal Order (La Salle, IL: Open
Court, 1991), 56–59.
[20]
Ibid., 63–65.
[21]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre
Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 140–143.
[22]
Bruce L. Benson, The Enterprise of Law: Justice
Without the State (San Francisco: Pacific Research Institute, 1990),
115–118.
[23]
Ibid., 120–122.
[24]
Anthony de Jasay, The State (Indianapolis:
Liberty Fund, 1998), 200–203.
[25]
John Bellamy Foster, Ecology Against Capitalism
(New York: Monthly Review Press, 2002), 12–15.
[26]
Elinor Ostrom, Governing the Commons: The
Evolution of Institutions for Collective Action (Cambridge: Cambridge
University Press, 1990), 88–91.
[27]
Andrew Light and Holmes Rolston III, Environmental
Ethics: An Anthology (Oxford: Blackwell Publishing, 2003), 155–158.
[28]
Roderick T. Long, “The Irrelevance of State
Legitimacy to the Ethics of Anarchism,” Libertarian Papers 3, no. 1
(2011): 7–9.
[29]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture: Essays on
the Idea of a Free Society (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 102–104.
8.
Relevansi
Kontemporer
Dalam konteks abad ke-21, anarko-kapitalisme
memperoleh bentuk baru dalam lanskap sosial, politik, dan ekonomi global yang
ditandai oleh desentralisasi, digitalisasi, serta krisis kepercayaan terhadap
institusi negara.¹ Transformasi teknologi dan munculnya ruang ekonomi
non-teritorial menantang asumsi klasik tentang kedaulatan dan otoritas.²
Fenomena ini menjadikan prinsip-prinsip anarko-kapitalisme—seperti penolakan
terhadap monopoli koersif, pembelaan terhadap kontrak sukarela, dan desentralisasi
otoritas—semakin relevan dalam memahami dinamika masyarakat digital dan ekonomi
global kontemporer.³
Salah satu manifestasi nyata relevansi
anarko-kapitalisme ialah munculnya ekonomi kripto dan teknologi blockchain.⁴
Dalam sistem ini, fungsi-fungsi tradisional negara—terutama dalam bidang
moneter dan kontraktual—diambil alih oleh mekanisme teknologi yang otonom,
transparan, dan terdistribusi.⁵ Cryptocurrency seperti Bitcoin
diciptakan dengan semangat anti-otoritarian, menolak peran bank sentral, dan
memungkinkan transaksi lintas batas tanpa perantara negara.⁶ Dengan demikian,
blockchain berperan sebagai infrastruktur epistemik bagi masyarakat tanpa
negara, di mana kepercayaan (trust) digantikan oleh verifikasi
algoritmik dan konsensus desentralistik.⁷
Lebih jauh, muncul fenomena Decentralized
Autonomous Organizations (DAO) yang berfungsi sebagai komunitas ekonomi dan
politik digital tanpa kepemimpinan hierarkis.⁸ DAO mengatur aktivitasnya
melalui kontrak pintar (smart contracts) yang bersifat otomatis dan tak
tergantung pada hukum positif suatu negara.⁹ Dalam konteks ini,
anarko-kapitalisme memperoleh bentuk “neo-anarkisme digital” yang tidak
lagi beroperasi di ranah ideologis murni, melainkan diwujudkan dalam sistem
teknologi konkret yang merealisasikan otonomi individu dan koordinasi tanpa
otoritas terpusat.¹⁰
Dari segi sosial-politik, anarko-kapitalisme juga
menemukan relevansi melalui gerakan libertarian digital seperti cypherpunk,
crypto-anarchism, dan network libertarianism.¹¹ Para pendukung
gerakan ini memandang internet sebagai ruang kebebasan baru di mana kontrol
negara terhadap arus informasi dan transaksi ekonomi dapat diminimalisir.¹²
Dalam kerangka ini, kebebasan individu diredefinisikan sebagai kemampuan untuk
mengontrol data, identitas, dan aset digitalnya sendiri tanpa intervensi
eksternal.¹³ Gagasan ini sejalan dengan prinsip dasar anarko-kapitalisme
tentang kepemilikan diri dan hak milik sebagai perpanjangan dari kebebasan
moral individu.¹⁴
Dalam bidang ekonomi global, ide-ide
anarko-kapitalis memperoleh resonansi di tengah meningkatnya kekecewaan
terhadap birokrasi internasional dan kebijakan proteksionis.¹⁵ Deregulasi
pasar, munculnya ekonomi gig, dan berkembangnya transaksi peer-to-peer
menjadi contoh konkret pergeseran struktur ekonomi menuju logika pasar bebas
yang semakin otonom.¹⁶ Fenomena ini sekaligus menegaskan perubahan paradigma
dari ekonomi berbasis lembaga menjadi ekonomi berbasis jaringan—suatu bentuk
“pasar spontan global” yang merefleksikan cita-cita anarko-kapitalis tentang
tatanan tanpa otoritas pusat.¹⁷
Namun, relevansi anarko-kapitalisme di era digital
juga menghadapi tantangan etik dan struktural baru.¹⁸ Desentralisasi
ekonomi sering kali diiringi dengan konsentrasi kekayaan digital, monopoli teknologi
oleh korporasi besar, serta ketimpangan akses terhadap infrastruktur digital.¹⁹
Dengan demikian, muncul paradoks baru: sistem yang dimaksudkan untuk meniadakan
otoritas justru melahirkan bentuk kekuasaan baru yang bersifat algoritmik dan
korporatis.²⁰ Para filsuf teknologi seperti Evgeny Morozov dan Shoshana Zuboff
memperingatkan tentang “kapitalisme pengawasan” (surveillance capitalism)—yakni
bentuk baru dominasi ekonomi berbasis data yang berpotensi menggantikan
hegemoni negara dengan kekuasaan digital privat.²¹
Dalam tataran praksis politik, anarko-kapitalisme
juga menjadi inspirasi bagi eksperimen komunitas libertarian, seperti Free
State Project di New Hampshire, “Liberland” di Eropa Timur, dan
berbagai proyek seasteading yang berupaya mendirikan komunitas otonom di
luar yurisdiksi negara.²² Eksperimen ini menunjukkan upaya untuk merealisasikan
tatanan sosial berbasis kontrak sukarela, kepemilikan pribadi, dan hukum privat
dalam ruang nyata.²³ Meskipun sering dipandang utopis, proyek-proyek tersebut
menggambarkan bentuk praksis anarko-kapitalisme yang menantang batas konseptual
negara-bangsa modern.²⁴
Dari sisi filsafat moral dan kebudayaan,
relevansi anarko-kapitalisme dapat dibaca sebagai respons terhadap krisis moral
kolektivisme modern.²⁵ Di tengah meningkatnya intervensi negara dalam kehidupan
privat dan ekonomi, anarko-kapitalisme menawarkan visi alternatif tentang
kebebasan eksistensial—yakni otonomi individu yang utuh, tanggung jawab moral
personal, dan tatanan sosial yang lahir dari pilihan rasional, bukan paksaan
hukum.²⁶ Dengan demikian, ide-ide anarko-kapitalis berfungsi bukan hanya
sebagai teori ekonomi-politik, tetapi juga sebagai kritik eksistensial terhadap
ketergantungan manusia pada otoritas eksternal.²⁷
Akhirnya, relevansi kontemporer anarko-kapitalisme
tidak semata-mata terletak pada penerapan literalnya, melainkan pada daya
provokatifnya dalam menantang asumsi-asumsi modernitas politik.²⁸ Dalam dunia
yang semakin digital, transnasional, dan terdesentralisasi, gagasan bahwa tatanan
sosial dapat muncul tanpa paksaan negara bukan lagi sekadar utopia teoretis,
melainkan kemungkinan empiris yang sedang diuji oleh sejarah.²⁹
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 135–138.
[2]
Manuel Castells, The Rise of the Network Society
(Oxford: Blackwell, 1996), 5–9.
[3]
Hans-Hermann Hoppe, The Economics and Ethics of
Private Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 110–113.
[4]
Satoshi Nakamoto, “Bitcoin: A Peer-to-Peer
Electronic Cash System,” Bitcoin.org (2008).
[5]
Friedrich A. Hayek, Denationalisation of Money
(London: Institute of Economic Affairs, 1976), 9–11.
[6]
Aaron Koenig, A Beginner’s Guide to Bitcoin and
Austrian Economics (Munich: FinanzBuch Verlag, 2015), 41–43.
[7]
Primavera De Filippi and Aaron Wright, Blockchain
and the Law: The Rule of Code (Cambridge, MA: Harvard University Press,
2018), 102–106.
[8]
Vitalik Buterin, “DAOs, DACs, DAs and More: An
Incomplete Terminology Guide,” Ethereum Blog (2014).
[9]
Shermin Voshmgir, Token Economy: How Blockchains
and Smart Contracts Revolutionize the Economy (Berlin: BlockchainHub,
2019), 87–90.
[10]
Nick Szabo, “The Idea of Smart Contracts,” NickSzabo.net
(1997).
[11]
Timothy C. May, The Crypto Anarchist Manifesto
(Santa Cruz: Cypherpunks, 1988).
[12]
Julian Assange, Cypherpunks: Freedom and the
Future of the Internet (New York: OR Books, 2012), 12–14.
[13]
Edward Snowden, Permanent Record (New York:
Metropolitan Books, 2019), 174–176.
[14]
Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 149–152.
[15]
Joseph T. Salerno, “Globalization and the State,” Quarterly
Journal of Austrian Economics 7, no. 4 (2004): 5–7.
[16]
Kevin Kelly, The Inevitable: Understanding the
12 Technological Forces That Will Shape Our Future (New York: Viking,
2016), 109–113.
[17]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 2 (Chicago: University of Chicago Press, 1976), 65–68.
[18]
Evgeny Morozov, To Save Everything, Click Here:
The Folly of Technological Solutionism (New York: PublicAffairs, 2013),
150–153.
[19]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 85–89.
[20]
Ibid., 93–97.
[21]
Morozov, To Save Everything, Click Here,
160–163.
[22]
Joe Quirk and Patri Friedman, Seasteading: How
Floating Nations Will Restore the Environment, Enrich the Poor, Cure the Sick,
and Liberate Humanity from Politicians (New York: Free Press, 2017), 45–48.
[23]
Vít Jedlička, “The Liberland Experiment,” Journal
of Private Governance 2 (2019): 10–13.
[24]
Charles W. Johnson, “Anarchism and the Market,” Journal
of Libertarian Studies 19, no. 2 (2005): 27–30.
[25]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Norms
of Liberty: A Perfectionist Basis for Non-Perfectionist Politics
(University Park: Pennsylvania State University Press, 2005), 75–78.
[26]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture: Essays on
the Idea of a Free Society (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 132–135.
[27]
Roderick T. Long, “The Irrelevance of State
Legitimacy to the Ethics of Anarchism,” Libertarian Papers 3, no. 1
(2011): 11–13.
[28]
Hoppe, Democracy: The God That Failed (New
Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2001), 190–193.
[29]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution: A Low-Overhead Manifesto (Charleston: BookSurge, 2010),
200–203.
9.
Sintesis Filosofis
Anarko-kapitalisme, sebagai sistem filsafat
sosial-politik, merupakan upaya untuk menyintesiskan tiga tradisi besar
pemikiran Barat: anarkisme, liberalisme klasik, dan ekonomi
pasar Austria.¹ Sintesis ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga
normatif dan ontologis—ia berusaha mengganti paradigma politik modern yang
menempatkan negara sebagai pusat tatanan sosial dengan paradigma baru yang
menempatkan individu dan pasar sebagai sumber keteraturan alami (natural
order).² Melalui perpaduan antara kebebasan moral, rasionalitas ekonomi,
dan tatanan sosial spontan, anarko-kapitalisme menampilkan visi tentang
masyarakat di mana hukum, moralitas, dan ekonomi terintegrasi secara harmonis
tanpa paksaan koersif.³
Secara ontologis, sintesis ini menegaskan bahwa realitas
sosial tidak memiliki “substansi kolektif” di luar individu.⁴ Tatanan
sosial dipahami sebagai hasil dari interaksi bebas antara agen-agen rasional
yang bertindak berdasarkan pengetahuan subjektif dan tujuan pribadi.⁵ Dengan
demikian, pasar menjadi simbol ontologis bagi keteraturan yang lahir dari
kebebasan—suatu bentuk kosmos sosial yang tidak memerlukan perancang
eksternal.⁶ Dalam kerangka ini, anarko-kapitalisme menolak dualisme klasik
antara individu dan masyarakat, sebab masyarakat bukanlah entitas yang
mendahului individu, melainkan hasil emergen dari tindakan manusia yang bebas
dan berorientasi pada tujuan.⁷
Secara epistemologis, anarko-kapitalisme
mensintesiskan rasionalisme moral dari tradisi hak alamiah dengan empirisme
ekonomi dari teori praxeologi.⁸ Ia menolak positivisme politik yang menganggap
hukum dan keadilan sebagai konstruksi sosial yang sepenuhnya relatif.⁹
Sebaliknya, hukum yang sah lahir dari a priori tindakan manusia: hak
milik, kontrak sukarela, dan larangan agresi adalah struktur moral dan
epistemik yang dapat dipahami melalui rasionalitas praktis.¹⁰ Dengan kata lain,
hukum bukanlah produk kekuasaan, tetapi konsekuensi logis dari keberadaan
manusia sebagai makhluk rasional dan otonom.¹¹
Dalam dimensi aksiologis, sintesis ini menegakkan
kebebasan sebagai nilai intrinsik sekaligus prinsip etis universal.¹²
Etika non-agresi (NAP) menjadi titik temu antara moralitas individual dan
tatanan sosial: ia melarang paksaan tetapi mengizinkan segala bentuk tindakan
sukarela.¹³ Nilai moral tertinggi dalam masyarakat semacam itu bukanlah
kesetaraan hasil, melainkan keadilan prosedural—yakni penghormatan terhadap hak
dan kehendak bebas setiap individu.¹⁴ Dalam pandangan ini, kebebasan bukan
sekadar sarana menuju kesejahteraan, melainkan prasyarat ontologis bagi
eksistensi moral manusia.¹⁵
Secara politis, sintesis anarko-kapitalisme menolak
kontradiksi klasik antara kebebasan dan keteraturan.¹⁶ Ia mengajukan tesis
bahwa keteraturan sosial dapat lahir tanpa negara melalui mekanisme koordinasi
sukarela.¹⁷ Dengan demikian, anarko-kapitalisme bukanlah “utopia
anti-politik,” tetapi bentuk baru dari politik tanpa kekuasaan (politics
without domination), di mana otoritas moral menggantikan otoritas koersif,
dan keadilan kontraktual menggantikan keadilan distributif.¹⁸ Dalam tatanan
seperti itu, hukum dan moral tidak lagi bersumber dari legislasi, tetapi dari
konsensus sosial yang terdesentralisasi.¹⁹
Namun, sintesis ini tetap menyisakan ketegangan
dialektis antara kebebasan dan keadilan, antara otonomi individu dan
solidaritas sosial.²⁰ Beberapa pemikir libertarian humanis berupaya melengkapi
anarko-kapitalisme dengan unsur etika keutamaan (virtue ethics), agar
kebebasan tidak jatuh ke dalam relativisme moral.²¹ Upaya ini mencerminkan
kesadaran bahwa masyarakat tanpa negara hanya dapat berfungsi jika ditopang
oleh budaya moral yang menghormati tanggung jawab, kejujuran, dan penghargaan
terhadap hak orang lain.²² Dengan demikian, sintesis filosofis
anarko-kapitalisme bukan sekadar teori kebebasan, tetapi juga proyek moral
untuk membangun masyarakat etis tanpa kekuasaan.²³
Dalam horizon kontemporer, sintesis ini memperoleh
makna baru melalui desentralisasi digital dan perkembangan tatanan ekonomi
pasca-nasional.²⁴ Dunia yang semakin terhubung namun terfragmentasi menuntut
paradigma sosial-politik yang lebih fleksibel dan organik.²⁵ Dalam konteks ini,
anarko-kapitalisme menawarkan model konseptual yang menempatkan kebebasan
individu, inovasi teknologi, dan keteraturan spontan sebagai pilar dunia
pasca-negara.²⁶ Ia membuka ruang bagi eksperimen sosial yang berbasis
konsensus, bukan paksaan, serta mengajukan kembali pertanyaan klasik filsafat
politik: apakah masyarakat membutuhkan negara untuk hidup bersama secara
adil?²⁷
Akhirnya, sintesis filosofis anarko-kapitalisme
menegaskan bahwa kebebasan bukanlah antitesis dari keteraturan, tetapi
sumbernya.²⁸ Di mana paksaan berakhir, di sanalah moralitas dan kreativitas
sosial bermula.²⁹ Maka, dalam horizon filsafat politik modern,
anarko-kapitalisme berdiri bukan semata sebagai teori ekstrem tentang pasar,
melainkan sebagai metafisika kebebasan—suatu sistem pemikiran yang
berusaha memulihkan manusia dari ketergantungan terhadap kekuasaan dan
mengembalikannya pada otonomi rasionalnya sendiri.³⁰
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 177–180.
[2]
Hans-Hermann Hoppe, The Economics and Ethics of
Private Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 150–153.
[3]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as
Constitutionalism,” Anarchist Studies 12, no. 1 (2004): 49–52.
[4]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–14.
[5]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 38–40.
[6]
Ibid., 45–48.
[7]
Anthony de Jasay, The State (Indianapolis:
Liberty Fund, 1998), 95–98.
[8]
Israel M. Kirzner, The Economic Point of View
(Kansas City: Sheed and Ward, 1960), 27–30.
[9]
Friedrich A. Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 108–110.
[10]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 37–40.
[11]
Ibid., 123–126.
[12]
Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 45–47.
[13]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 150–153.
[14]
Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 156–159.
[15]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Liberty
and Nature: An Aristotelian Defense of Liberal Order (La Salle, IL: Open
Court, 1991), 75–78.
[16]
Hoppe, Democracy: The God That Failed (New
Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2001), 200–203.
[17]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 110–113.
[18]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,”
47–49.
[19]
Bruce L. Benson, The Enterprise of Law: Justice
Without the State (San Francisco: Pacific Research Institute, 1990),
130–132.
[20]
Gerald A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 85–87.
[21]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Norms
of Liberty: A Perfectionist Basis for Non-Perfectionist Politics
(University Park: Pennsylvania State University Press, 2005), 81–84.
[22]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre
Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 145–148.
[23]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture: Essays on
the Idea of a Free Society (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 97–99.
[24]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution: A Low-Overhead Manifesto (Charleston: BookSurge, 2010),
205–207.
[25]
Manuel Castells, The Rise of the Network Society
(Oxford: Blackwell, 1996), 350–353.
[26]
Primavera De Filippi and Aaron Wright, Blockchain
and the Law: The Rule of Code (Cambridge, MA: Harvard University Press,
2018), 176–179.
[27]
Roderick T. Long, “The Irrelevance of State
Legitimacy to the Ethics of Anarchism,” Libertarian Papers 3, no. 1
(2011): 10–12.
[28]
Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 3
(Chicago: University of Chicago Press, 1979), 163–166.
[29]
Hoppe, The Economics and Ethics of Private
Property, 190–192.
[30]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 175–178.
10.
Kesimpulan
Anarko-kapitalisme, sebagai bentuk ekstrem dari
filsafat sosial-politik libertarian, menawarkan rekonstruksi radikal terhadap
konsep dasar negara, masyarakat, dan kebebasan.¹ Ia memandang kebebasan
individu sebagai fondasi ontologis dari seluruh kehidupan sosial, menolak
segala bentuk otoritas koersif, dan menggantinya dengan mekanisme sukarela
berbasis pasar.² Melalui perpaduan antara teori praxeologi ekonomi Austria,
etika hak milik alami, dan prinsip non-agresi, anarko-kapitalisme membangun
sistem moral yang memusatkan nilai pada otonomi individu dan tatanan spontan (spontaneous
order).³
Dari perspektif ontologi politik,
anarko-kapitalisme menolak klaim metafisis negara sebagai entitas yang sah atau
niscaya.⁴ Negara, bagi Rothbard dan para pengikutnya, hanyalah konstruksi
kekuasaan yang bergantung pada paksaan dan monopoli kekuatan.⁵ Sebaliknya,
tatanan sosial sejati dianggap muncul secara alami dari interaksi bebas antara
individu-individu rasional yang saling berkontrak.⁶ Ontologi semacam ini
menggeser paradigma politik dari hierarki menuju horizontalitas, dari
kedaulatan negara menuju kedaulatan diri (self-sovereignty).⁷
Secara epistemologis, anarko-kapitalisme
mendasarkan pengetahuan sosial pada tindakan individu yang rasional dan
terdesentralisasi.⁸ Pasar dipahami sebagai sistem komunikasi pengetahuan yang
lebih unggul dibandingkan perencanaan terpusat, karena ia memproses informasi
tersebar melalui harga dan pilihan individu.⁹ Dalam tatanan demikian,
rasionalitas sosial tidak bersumber dari otoritas tunggal, melainkan dari
jaringan keputusan mikro yang saling berinteraksi.¹⁰ Pandangan ini menjadikan
pasar bukan sekadar lembaga ekonomi, tetapi juga epistemologi sosial yang
memungkinkan kebebasan manusia terwujud secara empiris.¹¹
Dalam ranah aksiologis, prinsip non-agresi
dan hak kepemilikan diri menjadi landasan etika universal.¹² Moralitas sejati,
menurut Rothbard, hanya mungkin dalam konteks kebebasan penuh, karena tindakan
yang baik harus bersifat sukarela, bukan hasil paksaan.¹³ Dengan demikian,
etika anarko-kapitalisme bersifat deontologis: ia menilai tindakan berdasarkan
kesesuaiannya dengan prinsip kebebasan, bukan akibat utilitariannya.¹⁴ Dalam
sistem ini, keadilan berarti menghormati hak-hak individu, bukan menciptakan
kesetaraan hasil sosial.¹⁵
Dari dimensi sosial-ekonomi,
anarko-kapitalisme menggambarkan masyarakat yang seluruh fungsinya—keamanan,
hukum, pendidikan, dan kesejahteraan—dikelola oleh lembaga-lembaga privat yang
bersaing secara bebas.¹⁶ Pandangan ini memunculkan konsepsi baru tentang
keadilan distributif, yaitu bahwa hasil ekonomi dianggap sah sejauh diperoleh
tanpa paksaan.¹⁷ Meskipun model ini dikritik karena potensi ketimpangan
struktural dan monopoli ekonomi, para pendukungnya menegaskan bahwa paksaan
negara justru lebih berbahaya daripada ketidaksempurnaan pasar.¹⁸
Kritik terhadap anarko-kapitalisme—baik dari kalangan
anarkis kiri, egalitarian, maupun liberal moderat—menunjukkan bahwa sistem ini
menghadapi dilema moral dan praktikal: bagaimana menjamin keadilan dan
solidaritas tanpa institusi koersif?¹⁹ Namun, kekuatan filosofis
anarko-kapitalisme terletak pada konsistensinya dalam mempertahankan kebebasan
sebagai prinsip moral tertinggi dan sekaligus sebagai mekanisme sosial.²⁰ Ia
menolak kompromi terhadap kekuasaan demi efisiensi, serta mempertahankan bahwa
keteraturan sejati hanya dapat lahir dari kebebasan, bukan dari paksaan.²¹
Dalam konteks kontemporer,
anarko-kapitalisme menemukan relevansinya di tengah desentralisasi digital dan
munculnya tatanan ekonomi global berbasis teknologi blockchain.²² Struktur
ekonomi baru ini memperlihatkan bagaimana tatanan sosial dapat berjalan tanpa
koordinasi pusat, di mana kontrak dan kepercayaan digantikan oleh mekanisme
algoritmik yang netral.²³ Fenomena tersebut menjadi bukti empiris dari klaim
teoretis anarko-kapitalisme: bahwa keteraturan sosial dapat tumbuh tanpa otoritas
negara.²⁴
Akhirnya, secara sintetis,
anarko-kapitalisme dapat dipahami sebagai metafisika kebebasan—suatu
sistem pemikiran yang menolak segala bentuk otoritas eksternal dan menegaskan
manusia sebagai sumber tatanan moral, hukum, dan ekonomi.²⁵ Ia mengajukan
alternatif radikal terhadap modernitas politik yang didominasi oleh
negara-bangsa, dengan menempatkan individu sebagai pusat kosmos sosial.²⁶ Meski
secara praktis masih menimbulkan perdebatan, kontribusi terbesar
anarko-kapitalisme terletak pada tantangannya terhadap dogma politik modern:
bahwa keadilan dan keteraturan tidak niscaya membutuhkan negara, melainkan
kebebasan yang bertanggung jawab.²⁷
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 3–5.
[2]
Hans-Hermann Hoppe, The Economics and Ethics of
Private Property (Boston: Kluwer Academic Publishers, 1993), 65–68.
[3]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–13.
[4]
Anthony de Jasay, The State (Indianapolis:
Liberty Fund, 1998), 27–30.
[5]
Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–48.
[6]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 37–40.
[7]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as
Constitutionalism,” Anarchist Studies 12, no. 1 (2004): 45–47.
[8]
Mises, Human Action, 14–16.
[9]
Friedrich A. Hayek, “The Use of Knowledge in
Society,” American Economic Review 35, no. 4 (1945): 520–522.
[10]
Israel M. Kirzner, Competition and
Entrepreneurship (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 67–70.
[11]
Don Lavoie, Rivalry and Central Planning: The
Socialist Calculation Debate Reconsidered (Cambridge: Cambridge University
Press, 1985), 95–98.
[12]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 27–30.
[13]
Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 33–36.
[14]
Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 18–20.
[15]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Liberty
and Nature: An Aristotelian Defense of Liberal Order (La Salle, IL: Open
Court, 1991), 57–59.
[16]
Edward P. Stringham, Anarchy and the Law: The
Political Economy of Choice (New Brunswick, NJ: Transaction Publishers,
2007), 33–36.
[17]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 114–116.
[18]
Gerald A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 85–87.
[19]
Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 45–48.
[20]
Bruce L. Benson, The Enterprise of Law: Justice
Without the State (San Francisco: Pacific Research Institute, 1990), 115–118.
[21]
Hoppe, Democracy: The God That Failed (New
Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2001), 200–203.
[22]
Primavera De Filippi and Aaron Wright, Blockchain
and the Law: The Rule of Code (Cambridge, MA: Harvard University Press,
2018), 102–106.
[23]
Vitalik Buterin, “DAOs, DACs, DAs and More: An
Incomplete Terminology Guide,” Ethereum Blog (2014).
[24]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution: A Low-Overhead Manifesto (Charleston: BookSurge, 2010),
205–208.
[25]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture: Essays on
the Idea of a Free Society (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 102–105.
[26]
Douglas B. Rasmussen and Douglas J. Den Uyl, Norms
of Liberty: A Perfectionist Basis for Non-Perfectionist Politics
(University Park: Pennsylvania State University Press, 2005), 77–80.
[27]
Roderick T. Long, “The Irrelevance of State
Legitimacy to the Ethics of Anarchism,” Libertarian Papers 3, no. 1
(2011): 10–12.
Daftar Pustaka
Assange, J. (2012). Cypherpunks: Freedom and the
Future of the Internet. New York, NY: OR Books.
Benson, B. L. (1990). The Enterprise of Law:
Justice Without the State. San Francisco, CA: Pacific Research Institute.
Beito, D. (2000). From Mutual Aid to the Welfare
State. Chapel Hill, NC: University of North Carolina Press.
Boettke, P. J. (2001). Calculation and
Coordination: Essays on Socialism and Transitional Political Economy.
London, UK: Routledge.
Buterin, V. (2014). DAOs, DACs, DAs and More: An
Incomplete Terminology Guide. Ethereum Blog.
Caldwell, B. (2004). Hayek’s Challenge: An
Intellectual Biography of F. A. Hayek. Chicago, IL: University of Chicago
Press.
Carson, K. (2010). The Homebrew Industrial
Revolution: A Low-Overhead Manifesto. Charleston, SC: BookSurge.
Castells, M. (1996). The Rise of the Network
Society. Oxford, UK: Blackwell.
Chomsky, N. (2013). On Anarchism. New York,
NY: The New Press.
Cohen, G. A. (1995). Self-Ownership, Freedom,
and Equality. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
De Filippi, P., & Wright, A. (2018). Blockchain
and the Law: The Rule of Code. Cambridge, MA: Harvard University Press.
De Jasay, A. (1998). The State.
Indianapolis, IN: Liberty Fund.
Foster, J. B. (2002). Ecology Against
Capitalism. New York, NY: Monthly Review Press.
Friedman, D. D. (1973). The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism. La Salle, IL: Open Court.
Graeber, D. (2004). Fragments of an Anarchist
Anthropology. Chicago, IL: Prickly Paradigm Press.
Graeber, D. (2011). Debt: The First 5000 Years.
Brooklyn, NY: Melville House.
Hayek, F. A. (1944). The Road to Serfdom.
Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1945). The use of knowledge in
society. American Economic Review, 35(4), 519–530.
Hayek, F. A. (1948). Individualism and Economic
Order. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1960). The Constitution of
Liberty. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1973). Law, Legislation, and
Liberty: Volume 1. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1976). Law, Legislation, and
Liberty: Volume 2. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1976). Denationalisation of Money.
London, UK: Institute of Economic Affairs.
Hayek, F. A. (1979). Law, Legislation, and
Liberty: Volume 3. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hoppe, H.-H. (1993). The Economics and Ethics of
Private Property. Boston, MA: Kluwer Academic Publishers.
Hoppe, H.-H. (1998). The Private Production of
Defense. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Hoppe, H.-H. (2001). Democracy: The God That
Failed. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers.
Hospers, J. (1971). Libertarianism: A Political
Philosophy for Tomorrow. Los Angeles, CA: Nash Publishing.
Jedlička, V. (2019). The Liberland experiment. Journal
of Private Governance, 2, 10–13.
Johnson, C. W. (2005). Anarchism and the market. Journal
of Libertarian Studies, 19(2), 25–30.
Johnson, C. W. (2007). Markets freed from
capitalism. Journal of Libertarian Studies, 21(2), 12–14.
Jun, N. J. (2012). Anarchism and Political
Modernity. New York, NY: Continuum.
Kallestrup, J., & Sprevak, M. (Eds.). (2014). New
Waves in Philosophy of Mind. New York, NY: Palgrave Macmillan.
Kelly, K. (2016). The Inevitable: Understanding
the 12 Technological Forces That Will Shape Our Future. New York, NY:
Viking.
Kirzner, I. M. (1960). The Economic Point of
View. Kansas City, MO: Sheed and Ward.
Kirzner, I. M. (1973). Competition and
Entrepreneurship. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Koenig, A. (2015). A Beginner’s Guide to Bitcoin
and Austrian Economics. Munich, Germany: FinanzBuch Verlag.
Kropotkin, P. (1906). The Conquest of Bread.
London, UK: Chapman and Hall.
Lavoie, D. (1985). Rivalry and Central Planning:
The Socialist Calculation Debate Reconsidered. Cambridge, UK: Cambridge
University Press.
Light, A., & Rolston, H. III. (Eds.). (2003). Environmental
Ethics: An Anthology. Oxford, UK: Blackwell Publishing.
Locke, J. (1690). Second Treatise of Government.
London, UK: Awnsham Churchill.
Long, R. T. (2004). Market anarchism as
constitutionalism. Anarchist Studies, 12(1), 41–49.
Long, R. T. (2009). Anarchism and classical
liberalism: An uneasy alliance. Libertarian Papers, 1(2), 1–6.
Long, R. T. (2011). The irrelevance of state
legitimacy to the ethics of anarchism. Libertarian Papers, 3(1), 7–13.
Machan, T. R. (1989). Liberty and Culture:
Essays on the Idea of a Free Society. Buffalo, NY: Prometheus Books.
Machan, T. R. (1989). Individuals and Their
Rights. La Salle, IL: Open Court.
MacIntyre, A. (1981). After Virtue. Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press.
Marx, K. (1867). Capital: Volume I. Hamburg,
Germany: Otto Meissner.
May, T. C. (1988). The Crypto Anarchist
Manifesto. Santa Cruz, CA: Cypherpunks.
McElroy, W. (2003). The Debates of Liberty: An
Overview of Individualist Anarchism, 1881–1908. Lanham, MD: Lexington
Books.
Mises, L. von. (1949). Human Action: A Treatise
on Economics. New Haven, CT: Yale University Press.
Mises, L. von. (1960). Epistemological Problems
of Economics. Princeton, NJ: D. Van Nostrand.
Morozov, E. (2013). To Save Everything, Click
Here: The Folly of Technological Solutionism. New York, NY: PublicAffairs.
Murphy, R. P. (2002). Chaos Theory: Two Essays
on Market Anarchy. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Narveson, J. (1988). The Libertarian Idea.
Philadelphia, PA: Temple University Press.
Nakamoto, S. (2008). Bitcoin: A Peer-to-Peer
Electronic Cash System. Bitcoin.org.
Nozick, R. (1974). Anarchy, State, and Utopia.
New York, NY: Basic Books.
Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The
Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge, UK: Cambridge
University Press.
Polanyi, K. (1944). The Great Transformation.
Boston, MA: Beacon Press.
Proudhon, P.-J. (1840). What Is Property?
Paris, France: Garnier Frères.
Quirk, J., & Friedman, P. (2017). Seasteading:
How Floating Nations Will Restore the Environment, Enrich the Poor, Cure the
Sick, and Liberate Humanity from Politicians. New York, NY: Free Press.
Rand, A. (1964). The Virtue of Selfishness.
New York, NY: Signet.
Rasmussen, D. B., & Den Uyl, D. J. (1991). Liberty
and Nature: An Aristotelian Defense of Liberal Order. La Salle, IL: Open
Court.
Rasmussen, D. B., & Den Uyl, D. J. (2005). Norms
of Liberty: A Perfectionist Basis for Non-Perfectionist Politics.
University Park, PA: Pennsylvania State University Press.
Rothbard, M. N. (1970). Power and Market:
Government and the Economy. Kansas City, MO: Sheed Andrews.
Rothbard, M. N. (1973). For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto. New York, NY: Macmillan.
Rothbard, M. N. (1982). The Ethics of Liberty.
Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press.
Rothbard, M. N. (2009). Man, Economy, and State
with Power and Market. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Salerno, J. T. (2004). Globalization and the state.
Quarterly Journal of Austrian Economics, 7(4), 5–7.
Sandel, M. J. (2009). Justice: What’s the Right
Thing to Do? New York, NY: Farrar, Straus and Giroux.
Sandel, M. J. (2012). What Money Can’t Buy: The
Moral Limits of Markets. New York, NY: Farrar, Straus and Giroux.
Schmidtz, D. (1991). The Limits of Government:
An Essay on the Public Goods Argument. Boulder, CO: Westview Press.
Spooner, L. (1870). No Treason: The Constitution
of No Authority. Boston, MA: Spooner.
Stringham, E. P. (2007). Anarchy and the Law:
The Political Economy of Choice. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers.
Szabo, N. (1997). The Idea of Smart Contracts.
NickSzabo.net.
Taylor, C. (1989). Sources of the Self: The
Making of the Modern Identity. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Tucker, B. R. (1893). Instead of a Book, by a
Man Too Busy to Write One. New York, NY: Benjamin Tucker.
Voshmgir, S. (2019). Token Economy: How
Blockchains and Smart Contracts Revolutionize the Economy. Berlin, Germany:
BlockchainHub.
Wright, E. O. (2010). Envisioning Real Utopias.
London, UK: Verso.
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance
Capitalism. New York, NY: PublicAffairs.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar