Determinisme Biologis
Penentuan Perilaku Manusia oleh Faktor Genetik dan
Fisiologis
Alihkan ke: Determinisme.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara mendalam konsep determinisme
biologis, yakni pandangan bahwa perilaku, moralitas, dan kesadaran manusia ditentukan
secara signifikan oleh faktor-faktor biologis seperti gen, struktur otak, dan
sistem hormonal. Kajian ini dimulai dengan menelusuri genealogi historis
determinisme dari tradisi Yunani kuno hingga era bioteknologi modern, serta
menyoroti transformasi ontologis dari pandangan dualistik menuju monisme
naturalistik yang menempatkan manusia sebagai organisme yang tunduk pada hukum
kausalitas alamiah. Secara epistemologis, determinisme biologis bergantung pada
metodologi empiris dan reduksionistik, dengan genetika, neurosains, dan biologi
evolusioner sebagai instrumen utamanya.
Selanjutnya, artikel ini membahas implikasi etis
dari determinisme biologis terhadap tanggung jawab moral, kebebasan kehendak,
dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, pandangan deterministik menimbulkan
dilema antara sains dan moralitas, sebab pemahaman biologis tentang manusia
berpotensi menggeser dasar normatif etika tradisional. Kritik terhadap
determinisme biologis datang dari eksistensialisme, humanisme, serta sains
interaksionistik yang menegaskan peran lingkungan dan budaya dalam membentuk
perilaku manusia. Meski demikian, artikel ini menunjukkan bahwa pendekatan
sintetis—seperti compatibilism dan naturalisme humanistik—dapat
merekonsiliasi antara determinasi biologis dan kebebasan moral manusia.
Dalam kerangka kontemporer, determinisme biologis
memiliki relevansi kuat di tengah kemajuan genetika, neurosains, dan teknologi gene
editing yang menantang konsep tradisional tentang otonomi dan kemanusiaan.
Artikel ini akhirnya menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang sekaligus ditentukan
dan menentukan: tunduk pada hukum biologis, namun tetap memiliki kesadaran
reflektif dan tanggung jawab moral yang menjadikannya unik. Oleh karena itu,
filsafat kemanusiaan masa kini menuntut pendekatan yang integratif antara ilmu
kehidupan dan etika reflektif, agar sains tidak mereduksi manusia menjadi objek
biologis semata, melainkan meneguhkan kembali martabatnya sebagai subjek moral
dan rasional.
Kata Kunci: Determinisme biologis; kebebasan kehendak; genetik;
neurosains; moralitas; etika; compatibilism; humanisme naturalistik; filsafat
kemanusiaan.
PEMBAHASAN
Dasar, Argumen, Kritik, dan Implikasi Determinisme
Biologis
1.
Pendahuluan
Pertanyaan mengenai sejauh mana kebebasan manusia ditentukan
oleh faktor-faktor di luar dirinya merupakan salah satu tema sentral dalam
sejarah filsafat. Sejak zaman Yunani kuno, para filsuf telah memperdebatkan
apakah tindakan manusia merupakan hasil dari kehendak bebas (free will)
atau merupakan akibat dari rangkaian sebab yang niscaya (necessity).¹
Dalam konteks ini, determinisme muncul sebagai pandangan yang menegaskan
bahwa setiap kejadian, termasuk tindakan manusia, memiliki sebab yang
mendahuluinya dan tidak terjadi secara acak.²
Salah satu bentuk determinisme yang paling berpengaruh
dalam perdebatan modern adalah determinisme biologis (biological
determinism), yakni pandangan bahwa perilaku, karakter, dan bahkan
kemampuan moral manusia ditentukan secara signifikan—jika tidak sepenuhnya—oleh
faktor biologis seperti gen, struktur otak, dan hormon.³ Pandangan ini berakar
pada keyakinan bahwa semua aspek kehidupan manusia dapat dijelaskan melalui
hukum-hukum alam yang mengatur organisme biologis.⁴ Dengan kata lain,
determinisme biologis memandang manusia bukan sebagai agen moral yang bebas
sepenuhnya, melainkan sebagai hasil produk evolusi dan ekspresi genetik yang
beroperasi dalam batas-batas fisiologisnya.
Pada abad ke-19, teori evolusi Charles Darwin
memberikan landasan kuat bagi munculnya cara pandang ini.⁵ Melalui gagasan natural
selection, Darwin menunjukkan bahwa karakteristik perilaku dan moralitas
dapat memiliki dasar adaptif dalam konteks kelangsungan hidup spesies.⁶
Pandangan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli biologi modern
seperti Edward O. Wilson, yang dalam karyanya Sociobiology: The New
Synthesis (1975) mengajukan tesis bahwa perilaku sosial manusia dapat
dijelaskan melalui prinsip-prinsip biologis yang sama dengan makhluk hidup
lainnya.⁷ Dengan demikian, determinisme biologis tidak hanya menjadi topik
dalam biologi, tetapi juga dalam filsafat moral, psikologi, dan sosiologi,
karena menyentuh akar persoalan tentang tanggung jawab, kebebasan, dan
identitas manusia.⁸
Namun demikian, determinisme biologis tidak lepas dari
kontroversi. Di satu sisi, ia dianggap memberi kontribusi besar dalam
menjelaskan perilaku manusia secara ilmiah. Di sisi lain, ia dituduh
menyederhanakan kompleksitas manusia dengan mereduksinya menjadi sekadar hasil
kerja gen dan hormon.⁹ Pandangan ini juga menimbulkan persoalan etis yang
serius, terutama dalam konteks genetika modern seperti genome editing
dan rekayasa biologis yang berpotensi mengubah definisi kemanusiaan itu
sendiri.¹⁰
Oleh karena itu, pembahasan tentang determinisme biologis
memerlukan pendekatan yang bersifat interdisipliner—menggabungkan
filsafat, biologi, psikologi, dan etika—untuk memahami sejauh mana faktor
biologis menentukan tindakan manusia, serta bagaimana konsep kebebasan dan
tanggung jawab dapat dipertahankan dalam kerangka ilmiah tersebut.¹¹ Artikel
ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam hakikat dan implikasi determinisme
biologis dengan meninjau aspek-aspek historis, ontologis, epistemologis, etis,
serta kritik dan relevansi kontemporernya.¹²
Footnotes
[1]
Peter van Inwagen, An Essay on
Free Will (Oxford: Clarendon Press, 1983), 2.
[2]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 15.
[3]
Richard Lewontin, Biology as
Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 3.
[4]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 22.
[5]
Charles Darwin, On the Origin of
Species (London: John Murray, 1859), 72.
[6]
Ibid., 87.
[7]
Edward O. Wilson, Sociobiology:
The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 4.
[8]
Steven Pinker, The Blank Slate:
The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 12.
[9]
Leon Kamin, Richard C. Lewontin, and
Steven Rose, Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature (New
York: Pantheon Books, 1984), 7.
[10]
Julian Savulescu, Enhancing Human
Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 45.
[11]
Francisco J. Ayala, Biological
Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 103.
[12]
Robert C. Richardson, Evolutionary
Psychology as Maladapted Psychology (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 11.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Gagasan determinisme biologis memiliki akar yang dalam
dalam sejarah pemikiran Barat. Sejak zaman Yunani kuno, para filsuf dan ilmuwan
telah berupaya menjelaskan perilaku manusia dalam kaitannya dengan tubuh dan
struktur biologisnya. Pandangan bahwa faktor-faktor fisik dan fisiologis
menentukan kepribadian serta tindakan manusia dapat ditemukan dalam karya-karya
awal para filsuf alam (physiologoi) dan tabib kuno.¹
2.1.
Akar Kuno: Dari
Hipokrates hingga Aristoteles
Pemikiran deterministik dalam biologi dapat ditelusuri
hingga Hipokrates (460–370 SM), yang memperkenalkan teori empat
cairan tubuh (humoral theory) sebagai dasar bagi kesehatan dan
temperamen manusia.² Menurut Hipokrates dan muridnya, Galenus,
keseimbangan atau ketidakseimbangan antara darah, lendir, empedu kuning, dan
empedu hitam menentukan karakter serta kecenderungan emosional seseorang.³
Dengan demikian, perilaku manusia dipahami sebagai refleksi dari keadaan
biologis tubuhnya.
Sementara itu, Aristoteles (384–322 SM) dalam
karya-karyanya seperti De Anima dan Parts of Animals menegaskan
bahwa jiwa (psyche) erat kaitannya dengan bentuk dan fungsi tubuh
biologis.⁴ Meskipun Aristoteles tidak menolak keberadaan rasionalitas manusia,
ia tetap menekankan bahwa aktivitas jiwa selalu berakar pada proses-proses
natural yang tunduk pada hukum kausalitas.⁵ Pandangan ini menjadi dasar bagi
munculnya tradisi naturalistik dalam filsafat, di mana kehidupan mental
dianggap tidak terpisahkan dari struktur organis biologis.
2.2.
Perkembangan di Era
Modern: Dari Darwinisme ke Genetika
Lonjakan besar dalam pemikiran deterministik biologis
terjadi pada abad ke-19 dengan munculnya teori evolusi Charles Darwin.
Dalam karyanya On the Origin of Species (1859), Darwin memperkenalkan
prinsip seleksi alam sebagai mekanisme yang menjelaskan adaptasi dan
variasi perilaku makhluk hidup, termasuk manusia.⁶ Melalui pandangan ini,
perilaku moral dan sosial manusia tidak lagi dilihat sebagai fenomena spiritual
murni, melainkan sebagai hasil dari proses seleksi evolusioner yang
meningkatkan peluang bertahan hidup.⁷
Setelah Darwin, teori evolusi diintegrasikan dengan
studi herediter oleh tokoh seperti Gregor Mendel, yang memperkenalkan
konsep pewarisan sifat melalui gen.⁸ Integrasi antara Darwinisme dan
genetika—yang dikenal sebagai sintesis modern—melahirkan pandangan bahwa
ciri-ciri fisik dan perilaku manusia dapat dilacak hingga unit-unit biologis
dasar, yaitu gen.⁹ Pandangan ini menjadi fondasi bagi berkembangnya
determinisme biologis di abad ke-20, terutama dalam konteks behavioral
genetics dan evolutionary psychology.¹⁰
2.3.
Munculnya Sosiobiologi
dan Evolusi Modern
Pada pertengahan abad ke-20, determinisme biologis
menemukan bentuk konseptualnya yang matang melalui karya Edward O. Wilson,
Sociobiology: The New Synthesis (1975).¹¹ Wilson berargumen bahwa
perilaku sosial manusia dan hewan memiliki akar biologis yang dapat dijelaskan
melalui evolusi genetik dan strategi reproduktif.¹² Konsep ini memicu
kontroversi besar, karena implikasinya terhadap kebebasan, moralitas, dan
kesetaraan sosial dianggap mengancam pandangan humanistik tradisional.¹³
Selain Wilson, Richard Dawkins memperluas
pandangan ini melalui gagasan the selfish gene, di mana gen dipahami
sebagai entitas utama yang “berjuang untuk bertahan hidup” melalui organisme
yang dikendalikannya.¹⁴ Dalam kerangka ini, manusia tidak lagi menjadi subjek
otonom yang menentukan tindakannya sendiri, melainkan instrumen bagi
kelangsungan hidup genetik.¹⁵
Peralihan
ke Abad 21: Dari Genetika ke Neurodeterminisme
Perkembangan teknologi biologi molekuler dan
neurosains pada akhir abad ke-20 hingga abad ke-21 memperkuat kembali keyakinan
deterministik terhadap perilaku manusia.¹⁶ Penemuan Human Genome Project
(2003) memberikan legitimasi ilmiah baru terhadap gagasan bahwa faktor genetik
memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian, kecerdasan, dan
kecenderungan moral.¹⁷ Dalam konteks ini, determinisme biologis tidak hanya
menjadi pandangan filosofis, tetapi juga paradigma ilmiah yang memengaruhi
berbagai bidang seperti psikologi evolusioner, psikiatri biologis, dan bahkan
bioetika.¹⁸
Namun, bersamaan dengan kemajuan tersebut, muncul pula
kritik terhadap reduksionisme biologis yang mengabaikan kompleksitas interaksi
antara gen, lingkungan, dan pengalaman sosial.¹⁹ Dengan demikian, sejarah
determinisme biologis bukanlah kisah linear, melainkan dialektika antara
optimisme ilmiah dan kritik humanistik yang terus memperbarui batas pemahaman
kita tentang manusia.²⁰
Footnotes
[1]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 15.
[2]
Hippocrates, On the Nature of Man,
trans. W. H. S. Jones (Cambridge: Harvard University Press, 1931), 24.
[3]
Galen, On the Natural Faculties,
trans. Arthur J. Brock (London: W. Heinemann, 1916), 51.
[4]
Aristotle, De Anima, trans.
J. A. Smith (Oxford: Clarendon Press, 1908), 89.
[5]
Martha C. Nussbaum, Aristotle’s
De Motu Animalium: Text with Translation, Commentary, and Interpretive Essays
(Princeton: Princeton University Press, 1978), 33.
[6]
Charles Darwin, On the Origin of
Species (London: John Murray, 1859), 72.
[7]
Robert J. Richards, Darwin and
the Emergence of Evolutionary Theories of Mind and Behavior (Chicago: University
of Chicago Press, 1987), 104.
[8]
Gregor Mendel, “Experiments on Plant
Hybridization,” Proceedings of the Natural History Society of Brünn 4
(1866): 7.
[9]
Ernst Mayr, The Growth of
Biological Thought: Diversity, Evolution, and Inheritance (Cambridge:
Harvard University Press, 1982), 503.
[10]
Matt Ridley, Genome: The
Autobiography of a Species in 23 Chapters (New York: HarperCollins, 1999),
18.
[11]
Edward O. Wilson, Sociobiology:
The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 4.
[12]
Ibid., 7.
[13]
Richard C. Lewontin, Steven Rose,
and Leon J. Kamin, Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature
(New York: Pantheon Books, 1984), 23.
[14]
Richard Dawkins, The Selfish Gene
(Oxford: Oxford University Press, 1976), 11.
[15]
Ibid., 15.
[16]
Eric R. Kandel, In Search of Memory:
The Emergence of a New Science of Mind (New York: W. W. Norton, 2006), 221.
[17]
Francis S. Collins, The Language
of God: A Scientist Presents Evidence for Belief (New York: Free Press,
2006), 94.
[18]
Patricia S. Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 9.
[19]
Evelyn Fox Keller, The Mirage of
a Space between Nature and Nurture (Durham: Duke University Press, 2010),
12.
[20]
Steven Rose, Lifelines: Biology,
Freedom, Determinism (London: Penguin Books, 1997), 204.
3.
Ontologi
Determinisme Biologis
Ontologi determinisme biologis berupaya menjelaskan hakikat
realitas manusia dengan menempatkan tubuh dan kehidupan biologis sebagai
fondasi utama eksistensi. Dalam kerangka ini, manusia tidak dipahami pertama-tama
sebagai makhluk rasional atau spiritual, melainkan sebagai organisme
biologis yang tunduk pada hukum-hukum alam dan kausalitas material.¹ Segala
bentuk perilaku, pilihan, dan bahkan kesadaran dianggap merupakan hasil dari
proses biologis yang berlangsung di dalam tubuh, khususnya pada sistem saraf
dan struktur genetik.²
3.1.
Hakikat Realitas:
Manusia sebagai Makhluk Biologis
Menurut pandangan ini, realitas manusia bersifat naturalistik,
artinya segala yang ada—termasuk pikiran dan kesadaran—dapat dijelaskan melalui
interaksi materi biologis.³ Ontologi determinisme biologis menolak pandangan
dualistik yang memisahkan jiwa dari tubuh, sebagaimana dalam tradisi Cartesian,
dan menggantinya dengan pendekatan monistik-materialistik: jiwa atau
kesadaran tidak lebih dari aktivitas kompleks otak.⁴ Sebagaimana ditegaskan
oleh Francis Crick, kesadaran manusia hanyalah hasil dari interaksi
neuron-neuron yang bekerja dalam mekanisme elektrokimia yang dapat dijelaskan
secara ilmiah.⁵
Dengan demikian, manusia tidak memiliki dimensi
metafisis yang terpisah dari tubuh biologisnya. Eksistensi manusia bersifat kontingen,
ditentukan oleh struktur genetik dan kondisi fisiologis yang diwarisi melalui
evolusi.⁶ Dari sudut pandang ini, keberadaan moral, intelektual, dan emosional
manusia hanyalah bentuk ekspresi dari konfigurasi biologis yang khas pada
spesies Homo sapiens.⁷
3.2.
Determinasi Genetik
dan Prinsip Kausalitas Alamiah
Salah satu aspek ontologis paling penting dalam
determinisme biologis adalah keyakinan bahwa setiap fenomena biologis tunduk
pada hukum kausalitas alamiah. Tidak ada ruang bagi kejadian yang
sepenuhnya acak atau bebas dari sebab biologis.⁸ Gen, sebagai unit dasar
pewarisan sifat, dipandang sebagai entitas kausal utama yang menentukan bentuk
fisik dan perilaku organisme.⁹ Richard Dawkins, dalam The Selfish Gene,
menyatakan bahwa organisme hidup hanyalah “mesin bertahan hidup” yang
diciptakan oleh gen untuk memastikan kelangsungan eksistensinya.¹⁰
Dalam konteks manusia, gagasan ini diterjemahkan ke
dalam pandangan bahwa tindakan moral, preferensi sosial, hingga orientasi
psikologis merupakan ekspresi dari kode genetik yang telah berevolusi
untuk menjamin kelangsungan hidup spesies.¹¹ Pandangan ini menempatkan manusia
di dalam tatanan kausal yang ketat: setiap perbuatan adalah hasil dari
mekanisme biologis, bukan pilihan bebas yang otonom.¹²
3.3.
Tubuh, Pikiran, dan
Determinasi Fisiologis
Dari perspektif ontologis, determinisme biologis juga
menekankan bahwa kesadaran dan kehendak merupakan fenomena emergen yang
sepenuhnya bergantung pada sistem saraf pusat.¹³ Neurosains modern
memperlihatkan bahwa keputusan, dorongan, dan emosi manusia berkorelasi erat
dengan aktivitas neural tertentu di otak.¹⁴ Misalnya, penelitian Benjamin Libet
menunjukkan bahwa aktivitas otak yang memicu tindakan muncul beberapa milidetik
sebelum individu secara sadar memutuskan untuk bertindak—menunjukkan bahwa
kehendak bebas mungkin hanyalah ilusi kesadaran.¹⁵
Dengan demikian, dalam kerangka ontologis ini,
kebebasan manusia bukanlah kemampuan metafisis untuk memilih secara mutlak,
melainkan hasil dari proses biologis yang kompleks di dalam otak.¹⁶ Otak
bertindak sebagai sistem deterministik yang merespons stimulus lingkungan
berdasarkan predisposisi genetik dan pengalaman masa lalu.¹⁷ Oleh karena itu,
tindakan manusia bersifat necessitated oleh kondisi biologis, bukan initiated
oleh kehendak bebas yang otonom.¹⁸
Evolusi
dan Teleologi Biologis
Dalam determinisme biologis, makna dan tujuan
kehidupan manusia tidak berasal dari rasionalitas atau nilai moral transenden,
tetapi dari teleologi biologis, yaitu arah alamiah menuju kelangsungan
hidup dan reproduksi.¹⁹ Evolusi biologis, sebagaimana dijelaskan oleh Darwin
dan dikembangkan oleh para ahli evolusi modern, tidak memiliki tujuan moral,
melainkan beroperasi melalui mekanisme adaptif yang murni natural.²⁰ Akibatnya,
dalam pandangan ontologis ini, “tujuan” manusia hanyalah bagian dari strategi
genetik untuk mempertahankan kehidupan, bukan hasil kesadaran moral atau
spiritual.²¹
Dengan demikian, ontologi determinisme biologis
menegaskan bahwa hakikat manusia adalah biologis sepenuhnya: ia adalah hasil
evolusi, wadah bagi ekspresi genetik, dan produk dari jaringan sebab-akibat
fisiologis. Namun, pandangan ini juga membuka ruang perdebatan filosofis
baru—yakni bagaimana memaknai kebebasan, tanggung jawab, dan makna hidup dalam
dunia yang sepenuhnya ditentukan oleh biologi.²²
Footnotes
[1]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 22.
[2]
Antonio Damasio, The Feeling of
What Happens: Body and Emotion in the Making of Consciousness (New York:
Harcourt Brace, 1999), 48.
[3]
John Searle, Mind: A Brief
Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2004), 32.
[4]
Patricia S. Churchland, Neurophilosophy:
Toward a Unified Science of the Mind-Brain (Cambridge: MIT Press, 1986),
16.
[5]
Francis Crick, The Astonishing
Hypothesis: The Scientific Search for the Soul (New York: Scribner, 1994),
3.
[6]
Jacques Monod, Chance and
Necessity: An Essay on the Natural Philosophy of Modern Biology (New York:
Alfred A. Knopf, 1971), 94.
[7]
Steven Pinker, The Blank Slate:
The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 41.
[8]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 19.
[9]
Ernst Mayr, This Is Biology: The
Science of the Living World (Cambridge: Harvard University Press, 1997),
122.
[10]
Richard Dawkins, The Selfish Gene
(Oxford: Oxford University Press, 1976), 11.
[11]
Edward O. Wilson, Consilience:
The Unity of Knowledge (New York: Alfred A. Knopf, 1998), 130.
[12]
Paul Churchland, Matter and
Consciousness (Cambridge: MIT Press, 1988), 54.
[13]
John R. Searle, The Rediscovery
of the Mind (Cambridge: MIT Press, 1992), 58.
[14]
Michael S. Gazzaniga, Who’s in
Charge? Free Will and the Science of the Brain (New York: HarperCollins,
2011), 77.
[15]
Benjamin Libet, “Do We Have Free
Will?,” Journal of Consciousness Studies 6, no. 8–9 (1999): 47.
[16]
Patrick Haggard, “Human Volition:
Towards a Neuroscience of Will,” Nature Reviews Neuroscience 9, no. 12
(2008): 935.
[17]
David Eagleman, Incognito: The
Secret Lives of the Brain (New York: Pantheon Books, 2011), 74.
[18]
Sam Harris, Free Will (New
York: Free Press, 2012), 13.
[19]
Ernst Mayr, Teleological and
Teleonomic: A New Analysis, Boston Studies in the Philosophy of Science
14 (1974): 91.
[20]
Charles Darwin, The Descent of
Man (London: John Murray, 1871), 104.
[21]
Michael Ruse, Evolutionary
Naturalism (London: Routledge, 1995), 59.
[22]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen,
2011), 244.
4.
Epistemologi
dan Metode Ilmiah
Epistemologi determinisme biologis berfokus pada bagaimana
pengetahuan tentang penentuan biologis perilaku manusia diperoleh, divalidasi,
dan dibatasi oleh metode ilmiah. Ia menempatkan biologi, genetika, dan
neurosains sebagai sumber utama kebenaran empiris mengenai hakikat manusia.
Dalam paradigma ini, pengetahuan yang sahih dianggap hanya dapat
diperoleh melalui observasi, eksperimentasi, dan verifikasi empiris terhadap
proses biologis yang mendasari tindakan manusia.¹ Dengan demikian, determinisme
biologis berdiri di atas fondasi epistemologi positivistik dan naturalistik,
yang mengandaikan bahwa realitas manusia dapat dijelaskan secara objektif
melalui hukum-hukum alam.²
4.1.
Dasar Epistemologis:
Empirisme dan Reduksionisme Ilmiah
Epistemologi determinisme biologis berpijak pada empirisme
ilmiah, yaitu keyakinan bahwa semua pengetahuan yang valid harus berakar
pada pengalaman inderawi yang dapat diobservasi.³ Dalam kerangka ini, perilaku
manusia tidak dipahami melalui refleksi metafisis atau introspeksi moral,
tetapi melalui analisis kausal terhadap sistem biologis.⁴ Misalnya,
studi genetik, neuroimaging, dan eksperimen perilaku digunakan untuk
menjelaskan keputusan, emosi, serta kecenderungan moral sebagai hasil aktivitas
biologis yang terukur.⁵
Namun, metode ini juga cenderung bersifat reduksionistik,
yakni berupaya menjelaskan fenomena kompleks seperti kesadaran, cinta, atau
moralitas hanya dengan merujuk pada aktivitas saraf dan kode genetik.⁶ Menurut
Daniel Dennett, reduksionisme semacam ini merupakan “strategi epistemologis”
untuk memahami kompleksitas dengan memecahnya ke dalam komponen kausal yang
lebih sederhana.⁷ Sementara itu, kritikus seperti Stephen Jay Gould menilai
bahwa pendekatan ini berisiko mengabaikan konteks sosial, budaya, dan historis
yang turut membentuk perilaku manusia.⁸
4.2.
Metode Ilmiah:
Observasi, Eksperimentasi, dan Hereditas
Secara metodologis, determinisme biologis memperoleh
pengetahuannya melalui tiga instrumen utama: observasi empiris,
eksperimentasi laboratorium, dan studi hereditas.
·
Pertama, observasi empiris dilakukan untuk
menemukan korelasi antara struktur biologis dengan perilaku. Penelitian pada
hewan dan manusia digunakan untuk memetakan pola perilaku yang serupa secara
genetis.⁹
·
Kedua, eksperimentasi dilakukan untuk menguji
hubungan kausal antara faktor biologis dan ekspresi perilaku. Contohnya,
penelitian mengenai neural correlates of decision-making menunjukkan
bahwa aktivitas pada korteks prefrontal dapat memprediksi keputusan seseorang
sebelum ia menyadarinya.¹⁰
·
Ketiga, studi hereditas dan kembar identik
menjadi metode penting dalam behavioral genetics.¹¹ Studi kembar oleh
Thomas Bouchard, misalnya, menunjukkan bahwa tingkat kesamaan kepribadian lebih
tinggi pada kembar monozigot dibandingkan dizigot, sehingga memperkuat klaim
bahwa gen memainkan peran besar dalam pembentukan perilaku.¹²
Dengan demikian, epistemologi determinisme biologis
mengandalkan validasi eksperimental untuk mendukung tesis ontologisnya:
bahwa kebebasan dan perilaku manusia tunduk pada mekanisme biologis yang dapat
diprediksi secara ilmiah.¹³
4.3.
Peran Genetika,
Neurosains, dan Biologi Evolusioner
Kemajuan genetika molekuler dan neurosains memberikan
dasar epistemologis baru bagi determinisme biologis. Genetika modern
memungkinkan identifikasi gen yang berhubungan dengan kecenderungan perilaku
tertentu, seperti agresivitas, empati, atau kecerdasan.¹⁴ Sementara itu, neurosains
menggunakan teknologi seperti fMRI dan PET scan untuk memetakan hubungan antara
struktur otak dan fungsi mental.¹⁵ Melalui pendekatan ini, pengetahuan tentang
manusia diperoleh bukan dari refleksi moral atau metafisika, tetapi dari data
biologis yang diukur secara objektif.¹⁶
Selain itu, biologi evolusioner memberikan
kerangka epistemik yang menjelaskan mengapa perilaku tertentu muncul dan
bertahan.¹⁷ Edward O. Wilson berpendapat bahwa norma sosial dan perilaku moral
merupakan adaptasi evolusioner yang meningkatkan keberlangsungan spesies.¹⁸
Dengan demikian, epistemologi determinisme biologis tidak sekadar menjelaskan bagaimana
perilaku muncul, tetapi juga mengapa perilaku tersebut dipertahankan
melalui seleksi alam.¹⁹
Kritik
terhadap Reduksionisme dan Ilusi Objektivitas
Meskipun kuat secara ilmiah, epistemologi determinisme
biologis menghadapi kritik serius terkait klaim objektivitas dan
kecenderungannya untuk menyederhanakan kompleksitas manusia. Evelyn Fox
Keller menyoroti bahwa ilmu biologi tidak bebas nilai; penafsiran terhadap
data genetik sering kali dipengaruhi oleh asumsi sosial dan ideologis.²⁰ Richard
Lewontin juga menegaskan bahwa perilaku manusia tidak dapat dipahami secara
memadai hanya dengan menganalisis gen, karena faktor lingkungan, budaya, dan
sejarah memiliki pengaruh yang signifikan.²¹
Dengan demikian, secara epistemologis, determinisme
biologis menghadapi batasan inheren: meskipun mampu menjelaskan mekanisme
biologis perilaku, ia belum mampu menangkap dimensi normatif dan reflektif
dari pengalaman manusia.²² Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih
integratif—yang menggabungkan validitas empiris ilmu alam dengan pemahaman
hermeneutik dan etis dari filsafat.²³
Footnotes
[1]
Karl Popper, The Logic of
Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 37.
[2]
Auguste Comte, The Positive
Philosophy of Auguste Comte (London: Trübner, 1875), 15.
[3]
David Papineau, Philosophical
Naturalism (Oxford: Blackwell, 1993), 44.
[4]
Paul Churchland, Matter and
Consciousness (Cambridge: MIT Press, 1988), 52.
[5]
Antonio Damasio, Descartes’
Error: Emotion, Reason, and the Human Brain (New York: Grosset/Putnam,
1994), 23.
[6]
Steven Rose, Lifelines: Biology,
Freedom, Determinism (London: Penguin Books, 1997), 96.
[7]
Daniel C. Dennett, Darwin’s
Dangerous Idea (New York: Simon & Schuster, 1995), 82.
[8]
Stephen Jay Gould, The Mismeasure
of Man (New York: W. W. Norton, 1981), 20.
[9]
Konrad Lorenz, On Aggression
(New York: Harcourt Brace, 1966), 12.
[10]
John-Dylan Haynes et al.,
“Unconscious Determinants of Free Decisions in the Human Brain,” Nature
Neuroscience 11, no. 5 (2008): 543.
[11]
Robert Plomin et al., Behavioral
Genetics, 7th ed. (New York: Worth Publishers, 2021), 11.
[12]
Thomas J. Bouchard Jr. et al.,
“Sources of Human Psychological Differences: The Minnesota Study of Twins
Reared Apart,” Science 250, no. 4978 (1990): 223.
[13]
Sam Harris, Free Will (New
York: Free Press, 2012), 8.
[14]
Dean Hamer, The Science of
Desire: The Search for the Gay Gene and the Biology of Behavior (New York:
Simon & Schuster, 1994), 9.
[15]
Michael S. Gazzaniga, The Ethical
Brain (New York: Dana Press, 2005), 27.
[16]
Patricia S. Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 15.
[17]
Richard Dawkins, The Extended
Phenotype (Oxford: Oxford University Press, 1982), 22.
[18]
Edward O. Wilson, Sociobiology:
The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 4.
[19]
David Sloan Wilson and Elliott
Sober, Unto Others: The Evolution and Psychology of Unselfish Behavior
(Cambridge: Harvard University Press, 1998), 63.
[20]
Evelyn Fox Keller, The Mirage of
a Space between Nature and Nurture (Durham: Duke University Press, 2010),
11.
[21]
Richard Lewontin, Biology as
Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 23.
[22]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 178.
[23]
Francisco J. Ayala, Biological
Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 119.
5.
Etika
dan Implikasi Moral
Masalah utama yang muncul dari determinisme biologis
bukan hanya bersifat ilmiah atau filosofis, melainkan etis dan moral.
Jika tindakan manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor biologis—oleh gen,
hormon, atau struktur otak—maka pertanyaan mendasar pun timbul: apakah
manusia masih dapat dianggap bertanggung jawab atas tindakannya?¹ Dalam
konteks ini, determinisme biologis menantang salah satu pilar utama etika,
yakni kebebasan moral (moral freedom) sebagai dasar bagi tanggung jawab
dan keadilan.²
5.1.
Determinisme dan
Krisis Tanggung Jawab Moral
Dalam etika klasik, terutama dalam filsafat moral Immanuel
Kant, kebebasan kehendak merupakan prasyarat bagi tanggung jawab moral.³ Manusia
hanya dapat dipuji atau disalahkan jika ia memiliki kemampuan untuk memilih
secara bebas antara yang baik dan yang buruk. Namun, dalam kerangka
determinisme biologis, kebebasan semacam ini tampak problematis: tindakan
manusia dipandang sebagai akibat dari mekanisme biologis yang mendahului
kesadaran moralnya.⁴
Eksperimen neurosains seperti yang dilakukan oleh Benjamin
Libet menunjukkan bahwa keputusan untuk bertindak sudah diproses di otak
sebelum individu menyadarinya secara sadar.⁵ Penemuan semacam ini menimbulkan
implikasi etis serius: jika kehendak hanyalah hasil dari aktivitas neuronal,
maka konsep free will menjadi ilusi, dan dengan itu dasar bagi tanggung
jawab moral pun melemah.⁶ Dalam konteks ini, filsuf seperti Sam Harris
berargumen bahwa rasa bersalah dan penghukuman moral harus digantikan oleh
pemahaman ilmiah tentang sebab-sebab biologis perilaku manusia.⁷
5.2.
Implikasi bagi Etika
dan Sistem Hukum
Pandangan deterministik biologis memiliki konsekuensi
praktis terhadap sistem etika dan hukum. Jika perilaku kriminal,
misalnya, merupakan hasil dari disfungsi otak atau predisposisi genetik, maka
hukuman harus dipertimbangkan bukan sebagai pembalasan moral, tetapi sebagai intervensi
medis atau sosial.⁸ Dalam hal ini, penegakan keadilan bergeser dari
paradigma moral ke paradigma biologis dan terapeutik.
Sebagai contoh, dalam beberapa kasus hukum di Amerika
Serikat, pengacara pembela telah menggunakan bukti neurogenetik untuk
mengurangi hukuman terdakwa, dengan argumen bahwa struktur otak tertentu meningkatkan
kecenderungan agresi atau impulsivitas.⁹ Fenomena ini menandai pergeseran
epistemik dari “tanggung jawab moral” menuju “determinasi biologis perilaku.”¹⁰
Namun, pendekatan ini menimbulkan dilema etis baru:
jika setiap tindakan dapat dijelaskan melalui biologi, maka konsep keadilan
retributif kehilangan maknanya.¹¹ Dalam masyarakat yang sepenuhnya
mengadopsi pandangan deterministik, tidak ada lagi “pelaku moral”, melainkan
hanya “organisme bereaksi”.¹² Akibatnya, tanggung jawab berubah menjadi persoalan
diagnosis dan intervensi, bukan pertimbangan moral.¹³
5.3.
Problematika Etika
Sosial: Genetika, Eugenika, dan Diskriminasi
Selain dalam konteks hukum, determinisme biologis juga
menimbulkan implikasi etis yang luas dalam bidang sosial dan politik. Jika
perilaku manusia ditentukan oleh gen, maka perbedaan moral, kecerdasan, dan
kemampuan sosial dapat dianggap sebagai hasil pewarisan biologis—pandangan yang
berbahaya karena membuka pintu bagi eugenika dan diskriminasi genetik.¹⁴
Sejarah abad ke-20 menunjukkan bagaimana ide
deterministik-biologis disalahgunakan untuk membenarkan kebijakan rasial dan
eugenik, seperti pada rezim Nazi Jerman.¹⁵ Dalam konteks kontemporer, bahaya
serupa muncul dalam bentuk baru melalui teknologi gene editing dan genomic
profiling, yang dapat memicu ketimpangan sosial baru berdasarkan genetik.¹⁶
Filsuf Julian Savulescu mengingatkan bahwa bioteknologi harus diatur
dengan prinsip kehati-hatian moral agar tidak memperkuat diskriminasi atau
hierarki biologis dalam masyarakat.¹⁷
Dengan demikian, determinisme biologis, jika diterima
tanpa koreksi etis, berpotensi mengubah manusia menjadi objek biologis murni,
kehilangan martabat moralnya sebagai subjek yang otonom.¹⁸
5.4.
Upaya Rekonsiliasi:
Compatibilism dan Etika Evolusioner
Beberapa pemikir berupaya mendamaikan determinisme
biologis dengan tanggung jawab moral melalui gagasan compatibilism,
yaitu pandangan bahwa kebebasan dan determinasi tidak saling bertentangan.¹⁹
Dalam kerangka ini, manusia memang tunduk pada sebab biologis, tetapi tetap
dapat dianggap “bebas” sejauh ia bertindak sesuai dengan motif internalnya,
bukan paksaan eksternal.²⁰ Filsuf seperti Daniel Dennett menekankan
bahwa kebebasan bukan berarti ketiadaan sebab, melainkan kemampuan organisme
untuk mengantisipasi konsekuensi dan bertindak secara rasional dalam kerangka
biologis yang ada.²¹
Selain itu, muncul pula pendekatan etika
evolusioner, yang berupaya memahami moralitas sebagai hasil adaptasi
biologis.²² Menurut Edward O. Wilson, perilaku moral muncul karena
fungsi sosialnya dalam menjaga kohesi kelompok dan meningkatkan kelangsungan
hidup spesies.²³ Meskipun demikian, pandangan ini menimbulkan ketegangan antara
fakta ilmiah dan nilai normatif: apakah sesuatu dianggap baik karena
menguntungkan secara evolusioner, atau karena memiliki nilai moral yang
melekat?²⁴
Dimensi
Moral Manusia dan Tantangan Etis Baru
Akhirnya, determinisme biologis menantang filsafat
moral untuk merumuskan kembali konsep martabat manusia. Jika manusia
dipahami hanya sebagai sistem biologis kompleks, maka nilai moral, tanggung
jawab, dan kebebasan harus ditafsir ulang dalam konteks naturalistik.²⁵
Beberapa filsuf seperti Patricia Churchland berupaya mengembangkan neuroetika,
yaitu bidang yang menjelaskan dasar biologis moralitas tanpa menghapus nilai
kemanusiaan.²⁶
Namun, tantangan etis tetap besar: bagaimana menjaga
keseimbangan antara penerimaan terhadap realitas biologis manusia dan pengakuan
terhadap kapasitas reflektif serta empati moral yang menjadikan manusia lebih
dari sekadar organisme evolusioner?²⁷ Jawaban atas pertanyaan ini menjadi inti
dari perdebatan antara sains dan filsafat, antara determinasi dan kebebasan,
antara biologi dan etika.²⁸
Footnotes
[1]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 22.
[2]
Peter van Inwagen, An Essay on
Free Will (Oxford: Clarendon Press, 1983), 12.
[3]
Immanuel Kant, Groundwork for the
Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University
Press, 1998), 45.
[4]
Antonio Damasio, Descartes’
Error: Emotion, Reason, and the Human Brain (New York: Grosset/Putnam,
1994), 27.
[5]
Benjamin Libet, “Do We Have Free
Will?,” Journal of Consciousness Studies 6, no. 8–9 (1999): 48.
[6]
Patrick Haggard, “Human Volition:
Towards a Neuroscience of Will,” Nature Reviews Neuroscience 9, no. 12
(2008): 935.
[7]
Sam Harris, Free Will (New
York: Free Press, 2012), 13.
[8]
Michael S. Gazzaniga, Who’s in
Charge? Free Will and the Science of the Brain (New York: HarperCollins,
2011), 119.
[9]
Nita A. Farahany, “Neuroscience and
Behavioral Genetics in US Criminal Law: An Empirical Analysis,” Journal of
Law and the Biosciences 2, no. 3 (2015): 485.
[10]
Stephen J. Morse, “Brain Overclaim
Syndrome and Criminal Responsibility: A Diagnostic Note,” Ohio State Journal
of Criminal Law 3 (2006): 397.
[11]
Joshua Greene and Jonathan Cohen,
“For the Law, Neuroscience Changes Nothing and Everything,” Philosophical
Transactions of the Royal Society B 359, no. 1451 (2004): 1775.
[12]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 192.
[13]
Patricia S. Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 97.
[14]
Richard Lewontin, Biology as
Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 26.
[15]
Stefan Kühl, The Nazi Connection:
Eugenics, American Racism, and German National Socialism (New York: Oxford
University Press, 1994), 41.
[16]
Jennifer A. Doudna and Samuel H.
Sternberg, A Crack in Creation: Gene Editing and the Unthinkable Power to
Control Evolution (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2017), 178.
[17]
Julian Savulescu, Enhancing Human
Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 55.
[18]
Martha C. Nussbaum, Frontiers of
Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard
University Press, 2006), 73.
[19]
John Martin Fischer, The
Metaphysics of Free Will: An Essay on Control (Oxford: Blackwell, 1994),
123.
[20]
Roderick Chisholm, “Human Freedom
and the Self,” The Lindley Lecture (University of Kansas, 1964), 9.
[21]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 87.
[22]
Michael Ruse, Taking Darwin
Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986),
111.
[23]
Edward O. Wilson, Sociobiology:
The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 562.
[24]
J. L. Mackie, Ethics: Inventing
Right and Wrong (London: Penguin, 1977), 76.
[25]
Charles Taylor, Sources of the
Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University
Press, 1989), 28.
[26]
Patricia S. Churchland, Neurophilosophy:
Toward a Unified Science of the Mind-Brain (Cambridge: MIT Press, 1986),
226.
[27]
Frans de Waal, Primates and
Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press,
2006), 34.
[28]
Alasdair MacIntyre, Dependent
Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court,
1999), 91.
6.
Kritik
terhadap Determinisme Biologis
Meskipun determinisme biologis memiliki dasar ilmiah
yang kuat dan telah memberikan pemahaman mendalam tentang hubungan antara
biologi dan perilaku manusia, pandangan ini tidak lepas dari kritik filosofis,
ilmiah, dan etis. Kritik tersebut muncul dari berbagai bidang—filsafat
eksistensial, humanisme, sosiologi, dan biologi itu sendiri—yang menolak
penyederhanaan manusia menjadi sekadar hasil dari proses biologis.¹ Kritik
terhadap determinisme biologis dapat dibagi menjadi empat ranah utama: kritik
filosofis-humanistik, kritik ilmiah-interaksionistik, kritik
sosial-budaya, dan kritik etis-normatif.²
6.1.
Kritik
Filosofis-Humanistik: Kebebasan dan Makna Eksistensial
Dari sudut pandang eksistensialisme, determinisme
biologis dipandang sebagai ancaman terhadap martabat dan kebebasan manusia. Jean-Paul
Sartre menegaskan bahwa “eksistensi mendahului esensi,” yang berarti
manusia tidak ditentukan oleh kodrat apa pun—biologis maupun metafisis—tetapi
membentuk dirinya melalui pilihan bebas.³ Dengan demikian, gagasan bahwa
perilaku manusia ditentukan oleh gen dianggap meniadakan otonomi
eksistensial manusia sebagai makhluk yang sadar, bertanggung jawab, dan
kreatif.⁴
Filsuf Viktor E. Frankl, dalam refleksinya
tentang makna hidup, menolak pandangan reduksionistik yang mengurung manusia
dalam determinasi biologis atau psikologis. Menurutnya, manusia selalu memiliki
ruang kebebasan batin untuk memilih sikapnya terhadap kondisi apa pun, bahkan
dalam penderitaan ekstrem.⁵ Kritik ini menyoroti bahwa determinisme biologis
gagal menjelaskan dimensi transendental manusia—yakni kemampuan untuk
memberi makna dan tujuan pada kehidupannya di luar kausalitas biologis.⁶
6.2.
Kritik Ilmiah:
Interaksi Gen dan Lingkungan
Dari perspektif ilmiah, banyak peneliti menolak
determinisme biologis yang bersifat reduksionistik, karena realitas
perilaku manusia melibatkan interaksi kompleks antara gen, lingkungan, dan
pengalaman sosial.⁷ Model gene–environment interaction (G×E)
menunjukkan bahwa ekspresi genetik tidak bersifat statis, tetapi dipengaruhi
oleh konteks lingkungan.⁸ Sebagai contoh, gen yang berhubungan dengan
agresivitas mungkin hanya aktif dalam lingkungan yang penuh stres atau
kekerasan, bukan dalam kondisi sosial yang stabil.⁹
Penelitian dalam epigenetika juga memperkuat kritik
ini: struktur DNA memang relatif stabil, tetapi ekspresi gen dapat
dimodulasi oleh faktor-faktor non-genetik seperti nutrisi, pola asuh, dan
pengalaman emosional.¹⁰ Dengan demikian, manusia bukan produk biologis
murni, melainkan hasil dari dialog dinamis antara tubuh dan dunia sosialnya.¹¹
Filsuf biologi Evelyn Fox Keller menegaskan
bahwa sains modern perlu meninggalkan dikotomi “nature versus nurture” dan
mengadopsi paradigma ko-evolusioner yang melihat gen dan lingkungan sebagai
sistem terbuka yang saling membentuk.¹²
6.3.
Kritik Sosial dan
Kultural: Bahaya Ideologi Biologisme
Kritik berikutnya datang dari sosiologi dan teori
kritis, yang menilai determinisme biologis berpotensi digunakan untuk melegitimasi
ketimpangan sosial.¹³ Jika sifat manusia dianggap ditentukan secara
genetik, maka perbedaan kelas, gender, atau ras dapat diinterpretasikan sebagai
sesuatu yang “alami” dan tak terelakkan.¹⁴
Stephen Jay Gould dalam The Mismeasure of Man menunjukkan bahwa
determinisme biologis sering kali menjadi alat ideologis untuk mempertahankan
status quo sosial, seperti dalam teori rasial dan eugenika pada abad ke-19 dan
awal abad ke-20.¹⁵ Dalam konteks modern, bentuk baru dari “biologisme”
muncul dalam wacana genetika perilaku yang berupaya menjelaskan fenomena sosial
kompleks—seperti kriminalitas atau kemiskinan—melalui faktor genetik semata.¹⁶
Kritikus seperti Richard Lewontin, Steven
Rose, dan Leon Kamin menegaskan bahwa kecenderungan tersebut
merupakan bentuk “ilmu ideologis” (ideological science), karena
mengaburkan peran struktur ekonomi, pendidikan, dan budaya dalam membentuk
perilaku manusia.¹⁷ Oleh karena itu, mereka menuntut pendekatan yang lebih dialektis
dan kontekstual, yang menggabungkan dimensi biologis, psikologis, dan
sosial secara seimbang.¹⁸
6.4.
Kritik Etis-Normatif:
Reduksi terhadap Martabat dan Nilai Moral
Secara etis, determinisme biologis dianggap berbahaya
karena mereduksi manusia menjadi objek biologis tanpa nilai moral.¹⁹
Pandangan ini dapat melemahkan konsep tanggung jawab, kebebasan, dan keadilan,
karena setiap tindakan dianggap sebagai akibat dari faktor yang tak dapat
dikendalikan.²⁰ Dalam konteks moralitas, reduksi semacam ini mengancam martabat
manusia sebagai subjek etis yang otonom.²¹
Selain itu, determinisme biologis berpotensi memicu
bentuk baru diskriminasi: genetic determinism dapat melahirkan pandangan
bahwa individu “baik” atau “buruk” berdasarkan gen yang
dimilikinya.²² Dalam dunia bioteknologi modern, hal ini dapat mengarah pada
praktik bio-essentialism, di mana identitas dan nilai moral seseorang
ditentukan oleh biologi, bukan oleh kapasitas rasional dan moralnya.²³
Sebagai tanggapan terhadap bahaya ini, sejumlah filsuf
seperti Martha C. Nussbaum dan Jürgen Habermas menyerukan
perlunya etika berbasis martabat manusia yang melampaui determinasi biologis,
dengan menekankan rasionalitas komunikatif dan potensi reflektif manusia
sebagai dasar moralitas.²⁴
Menuju
Kritik Sintetik: Manusia sebagai Makhluk Biologis dan Moral
Kritik terhadap determinisme biologis tidak menolak
sains, tetapi menuntut pembacaan yang lebih holistik terhadap manusia.²⁵
Manusia memang memiliki dimensi biologis yang tak terhindarkan, namun reduksi
manusia semata pada biologi menghilangkan aspek kesadaran, kebudayaan, dan
moralitas yang membentuk kemanusiaannya.²⁶ Oleh karena itu, kritik-kritik ini
mengarah pada posisi intermediatif, yang berusaha menggabungkan
pengetahuan ilmiah dengan pengakuan terhadap otonomi moral manusia.²⁷
Dengan kata lain, manusia dapat dipahami sebagai
makhluk yang sekaligus ditentukan dan menentukan: ditentukan oleh
struktur biologisnya, tetapi juga menentukan dirinya melalui refleksi, pilihan,
dan kebudayaan.²⁸ Kritik semacam ini tidak hanya membatasi klaim deterministik,
tetapi juga memperkaya pemahaman tentang hakikat manusia sebagai entitas
biologis yang berkesadaran moral.²⁹
Footnotes
[1]
Ted Honderich, A Theory of Determinism:
The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 3.
[2]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 144.
[3]
Jean-Paul Sartre, Being and
Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library,
1956), 22.
[4]
Simone de Beauvoir, The Ethics of
Ambiguity, trans. Bernard Frechtman (New York: Philosophical Library,
1948), 12.
[5]
Viktor E. Frankl, Man’s Search
for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 86.
[6]
Ibid., 87.
[7]
Robert Plomin et al., Behavioral
Genetics, 7th ed. (New York: Worth Publishers, 2021), 64.
[8]
Avshalom Caspi et al., “Role of
Genotype in the Cycle of Violence in Maltreated Children,” Science 297,
no. 5582 (2002): 851.
[9]
Steven Pinker, The Blank Slate:
The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 71.
[10]
Moshe Szyf, “The Epigenetics of
Perinatal Stress,” Dialogues in Clinical Neuroscience 21, no. 4 (2019):
347.
[11]
Eric R. Kandel, In Search of
Memory: The Emergence of a New Science of Mind (New York: W. W. Norton,
2006), 113.
[12]
Evelyn Fox Keller, The Mirage of
a Space between Nature and Nurture (Durham: Duke University Press, 2010),
11.
[13]
Richard C. Lewontin, Steven Rose,
and Leon J. Kamin, Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature
(New York: Pantheon Books, 1984), 7.
[14]
Stephen Jay Gould, The Mismeasure
of Man (New York: W. W. Norton, 1981), 17.
[15]
Ibid., 21.
[16]
Steven Rose, Lifelines: Biology,
Freedom, Determinism (London: Penguin Books, 1997), 94.
[17]
Lewontin, Rose, and Kamin, Not in
Our Genes, 12.
[18]
Ibid., 15.
[19]
Martha C. Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University
Press, 2011), 28.
[20]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 85.
[21]
Alasdair MacIntyre, Dependent
Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court,
1999), 44.
[22]
Julian Savulescu, Enhancing Human
Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 54.
[23]
Francis Fukuyama, Our Posthuman
Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 2002), 101.
[24]
Jürgen Habermas, The Future of
Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 56.
[25]
Charles Taylor, Sources of the
Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University
Press, 1989), 32.
[26]
Paul Ricoeur, Freedom and Nature:
The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press,
1966), 11.
[27]
Francisco J. Ayala, Biological
Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 121.
[28]
Raymond Tallis, Aping Mankind,
238.
[29]
Martha C. Nussbaum, Frontiers of
Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard
University Press, 2006), 102.
7.
Relevansi
dan Aplikasi Kontemporer
Dalam konteks abad ke-21, determinisme biologis
mengalami kebangkitan baru seiring kemajuan pesat dalam genetika, neurosains,
dan bioteknologi. Pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan secara biologis
kini tidak hanya menjadi diskursus teoretis, tetapi juga memiliki implikasi
praktis dalam bidang hukum, kesehatan, pendidikan, dan etika biomedis.¹
Relevansi kontemporer determinisme biologis terletak pada kemampuannya
menjembatani antara pemahaman ilmiah tentang manusia dan dilema moral yang
ditimbulkan oleh intervensi terhadap dasar biologis kehidupan itu sendiri.²
7.1.
Determinisme Biologis
dalam Era Genetika dan Bioteknologi
Kemajuan genetika modern, terutama setelah
keberhasilan Human Genome Project (2003), telah mengubah cara manusia
memahami dirinya.³ Melalui proyek ini, gen manusia tidak lagi dianggap sebagai
entitas misterius, tetapi sebagai peta kausal yang menjelaskan banyak
aspek perilaku, kesehatan, dan kecenderungan psikologis.⁴ Penemuan gen yang
berhubungan dengan depresi, kecerdasan, atau bahkan kecenderungan kriminalitas
menimbulkan kembali perdebatan lama tentang sejauh mana biologi menentukan
moralitas.⁵
Lebih jauh, teknologi CRISPR-Cas9 memungkinkan
manusia untuk melakukan gene editing, membuka peluang untuk memperbaiki
penyakit genetik sekaligus menciptakan potensi rekayasa terhadap sifat-sifat manusia.⁶
Meskipun kemajuan ini menjanjikan manfaat medis besar, ia juga menghadirkan tantangan
etis dan filosofis: apakah manusia berhak mengubah kodrat biologisnya?
Apakah intervensi terhadap gen berarti mengambil alih “kendali deterministik”
dari alam kepada manusia itu sendiri?⁷
Francis Fukuyama memperingatkan bahwa manipulasi genetika dapat
mengancam konsep manusia sebagai makhluk bermoral dan otonom, menciptakan
kondisi yang ia sebut “posthuman future.”⁸ Dalam konteks ini,
determinisme biologis memasuki fase reflektif: manusia kini tidak hanya tunduk
pada biologi, tetapi juga menjadi agen yang dapat menentukan determinasi
biologisnya sendiri.⁹
7.2.
Neurosains dan
Transformasi Konsep Kebebasan
Relevansi lain dari determinisme biologis muncul dalam
perkembangan neurosains kontemporer, yang semakin mengungkap hubungan
antara otak, kesadaran, dan perilaku moral.¹⁰ Penelitian menggunakan fMRI
menunjukkan bahwa keputusan moral dan pilihan etis memiliki korelasi yang kuat
dengan aktivitas neural di area prefrontal cortex dan sistem limbik.¹¹ Hal ini
memperkuat tesis bahwa kehendak bebas hanyalah fenomena emergen dari
aktivitas biologis otak, bukan entitas metafisik yang otonom.¹²
Dalam praktik hukum dan psikologi forensik, temuan ini
mulai memengaruhi cara masyarakat memahami tanggung jawab moral.¹³ Misalnya,
terdakwa dengan kelainan neurologis tertentu dapat dianggap memiliki kapasitas
moral yang berkurang, sehingga tuntutan hukuman diubah menjadi rehabilitasi.¹⁴
Meskipun memberikan keadilan yang lebih humanis, pendekatan ini juga
menimbulkan risiko normatif: apabila semua perilaku dijelaskan secara
neurologis, ruang bagi tanggung jawab personal dapat menghilang.¹⁵
Sebagai respons, beberapa filsuf seperti Daniel
Dennett mengusulkan pendekatan compatibilism baru, yang menafsirkan
kebebasan sebagai kemampuan organisme untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan
dan prediksi biologisnya.¹⁶ Dalam kerangka ini, determinisme tidak meniadakan
kebebasan, tetapi justru memberikan pemahaman ilmiah tentang bagaimana
kebebasan itu bekerja di dalam sistem biologis manusia.¹⁷
7.3.
Determinisme Biologis
dalam Psikologi Evolusioner dan Sosiobiologi
Bidang psikologi evolusioner dan sosiobiologi
menjadi wadah paling produktif bagi penerapan determinisme biologis dalam
kajian perilaku manusia.¹⁸ Tokoh seperti Edward O. Wilson dan David
M. Buss berpendapat bahwa perilaku sosial dan moralitas manusia memiliki
akar adaptif yang terbentuk melalui seleksi alam.¹⁹ Misalnya, kecenderungan
altruistik atau perilaku empatik dapat dipahami sebagai strategi evolusioner
untuk meningkatkan kelangsungan hidup kelompok.²⁰
Dalam konteks sosial, teori ini membantu menjelaskan
pola perilaku universal seperti kerja sama, persaingan, dan pembentukan
hierarki sosial.²¹ Namun, penerapan psikologi evolusioner sering kali dikritik
karena berpotensi mengabaikan pengaruh budaya dan sejarah.²² Meski demikian,
sumbangan epistemiknya penting: ia memperluas horizon pemahaman tentang
moralitas dan rasionalitas manusia sebagai bagian dari strategi biologis
spesies yang berkembang secara evolusioner.²³
7.4.
Implikasi Etika,
Sosial, dan Teknologis
Relevansi determinisme biologis dalam dunia
kontemporer juga tampak dalam bidang bioetika, pendidikan, dan kebijakan
sosial. Dalam bioetika, pandangan deterministik menuntut kehati-hatian
dalam penerapan teknologi genetika dan neuroteknologi agar tidak menimbulkan
ketidakadilan baru berbasis biologis.²⁴ Julian Savulescu misalnya
menekankan perlunya moral enhancement—yakni peningkatan kapasitas etis
manusia melalui intervensi biologis—namun dengan dasar tanggung jawab moral
yang kuat.²⁵
Dalam pendidikan, pemahaman tentang faktor biologis
dalam kecerdasan dan perilaku membantu merancang strategi belajar yang lebih
individualistik, namun tetap harus diimbangi dengan pengakuan terhadap fleksibilitas
lingkungan dan peran sosial.²⁶ Sementara dalam bidang sosial-politik,
pemahaman determinisme biologis dapat digunakan untuk mendukung kebijakan
kesehatan mental, tetapi berbahaya jika digunakan untuk membenarkan ketimpangan
atau diskriminasi.²⁷
Determinisme
Biologis dan Krisis Makna Kemanusiaan
Akhirnya, relevansi determinisme biologis di era
kontemporer terletak pada krisis eksistensial yang ditimbulkannya.
Dengan kemampuan manusia untuk memodifikasi gen dan memetakan kesadaran otak,
muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia masih memiliki makna metafisik
dan moral, ataukah ia telah menjadi makhluk teknologis yang menundukkan biologi
demi efisiensi?²⁸
Dalam konteks ini, filsuf Jürgen Habermas
memperingatkan bahwa intervensi genetik yang tidak melalui komunikasi moral
dapat merusak dasar otonomi manusia.²⁹ Sementara itu, Martha C. Nussbaum
mengusulkan paradigma capability approach, yang melihat manusia bukan
hanya sebagai hasil determinasi biologis, tetapi juga sebagai makhluk yang
memiliki potensi reflektif dan kemampuan moral yang harus dilindungi oleh
tatanan sosial yang adil.³⁰
Dengan demikian, determinisme biologis dalam era
modern bukan hanya tantangan ilmiah, tetapi juga tantangan etis dan
antropologis: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah dominasi biologi dan
teknologi.³¹
Footnotes
[1]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 192.
[2]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 85.
[3]
Francis S. Collins, The Language
of God: A Scientist Presents Evidence for Belief (New York: Free Press,
2006), 93.
[4]
Matt Ridley, Genome: The
Autobiography of a Species in 23 Chapters (New York: HarperCollins, 1999),
12.
[5]
Steven Pinker, The Blank Slate:
The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 89.
[6]
Jennifer A. Doudna and Samuel H.
Sternberg, A Crack in Creation: Gene Editing and the Unthinkable Power to
Control Evolution (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2017), 178.
[7]
Julian Savulescu, Enhancing Human
Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 55.
[8]
Francis Fukuyama, Our Posthuman
Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 2002), 101.
[9]
Ibid., 104.
[10]
Michael S. Gazzaniga, Who’s in
Charge? Free Will and the Science of the Brain (New York: HarperCollins,
2011), 15.
[11]
Joshua Greene and Jonathan Haidt,
“How (and Where) Does Moral Judgment Work?,” Trends in Cognitive Sciences
6, no. 12 (2002): 517.
[12]
Benjamin Libet, “Do We Have Free
Will?,” Journal of Consciousness Studies 6, no. 8–9 (1999): 47.
[13]
Nita A. Farahany, “Neuroscience and
Behavioral Genetics in US Criminal Law: An Empirical Analysis,” Journal of
Law and the Biosciences 2, no. 3 (2015): 489.
[14]
Stephen J. Morse, “Brain Overclaim
Syndrome and Criminal Responsibility,” Ohio State Journal of Criminal Law
3 (2006): 399.
[15]
Sam Harris, Free Will (New
York: Free Press, 2012), 9.
[16]
Daniel C. Dennett, Elbow Room:
The Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge: MIT Press, 1984), 142.
[17]
Paul Churchland, Matter and
Consciousness (Cambridge: MIT Press, 1988), 77.
[18]
Edward O. Wilson, Sociobiology:
The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 561.
[19]
David M. Buss, Evolutionary
Psychology: The New Science of the Mind (New York: Routledge, 2019), 21.
[20]
Robert Trivers, “The Evolution of
Reciprocal Altruism,” Quarterly Review of Biology 46, no. 1 (1971): 35.
[21]
Leda Cosmides and John Tooby,
“Cognitive Adaptations for Social Exchange,” in The Adapted Mind:
Evolutionary Psychology and the Generation of Culture, ed. Jerome Barkow et
al. (Oxford: Oxford University Press, 1992), 163.
[22]
Stephen Jay Gould and Richard C.
Lewontin, “The Spandrels of San Marco and the Panglossian Paradigm,” Proceedings
of the Royal Society of London B205 (1979): 581.
[23]
Michael Ruse, Taking Darwin
Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986),
117.
[24]
Tom L. Beauchamp and James F.
Childress, Principles of Biomedical Ethics, 8th ed. (Oxford: Oxford
University Press, 2019), 12.
[25]
Savulescu, Enhancing Human
Capacities, 61.
[26]
Robert Plomin and Kathryn Asbury, Nature
and Nurture: Genetic and Environmental Influences on Behavior (New York:
Routledge, 2005), 72.
[27]
Richard Lewontin, Biology as
Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 31.
[28]
Raymond Tallis, Aping Mankind,
244.
[29]
Jürgen Habermas, The Future of
Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 76.
[30]
Martha C. Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University
Press, 2011), 98.
[31]
Alasdair MacIntyre, Dependent
Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court,
1999), 104.
8.
Sintesis
Filosofis: Determinisme Biologis sebagai Tantangan terhadap Konsep Kebebasan
dan Kemanusiaan
Sintesis filosofis dari determinisme biologis berupaya
menjembatani ketegangan antara dua kutub pemikiran: di satu sisi, pandangan naturalistik
yang menekankan penjelasan ilmiah terhadap perilaku manusia melalui biologi; di
sisi lain, pandangan humanistik yang mempertahankan kebebasan,
kesadaran, dan nilai moral sebagai inti eksistensi manusia.¹ Dalam upaya
sintetik ini, determinisme biologis tidak dipahami sebagai penafian terhadap
kebebasan, melainkan sebagai kerangka penjelas yang memperkaya pemahaman tentang
keterkaitan antara struktur biologis dan otonomi moral manusia.²
8.1.
Dari Determinasi
Menuju Koherensi: Manusia sebagai Sistem Terbuka
Secara ontologis, determinisme biologis menempatkan
manusia sebagai organisme yang tunduk pada hukum sebab-akibat alamiah.³ Namun,
filsafat kontemporer menunjukkan bahwa determinan biologis tidak bersifat
tertutup, melainkan berinteraksi secara dinamis dengan lingkungan,
kesadaran, dan kebudayaan.⁴ Dalam kerangka ini, manusia dapat dipahami sebagai sistem
terbuka—yakni entitas biologis yang berinteraksi, menafsirkan, dan menata
ulang dunia sekitarnya.⁵
Francisco Varela dan Humberto Maturana dalam teori autopoiesis
menjelaskan bahwa sistem biologis hidup bersifat otonom dalam arti tertentu: ia
mempertahankan dirinya melalui interaksi kreatif dengan lingkungan, bukan
sekadar reaksi mekanistik.⁶ Dengan demikian, kebebasan manusia tidak meniadakan
determinasi biologis, tetapi merupakan bentuk self-regulation yang
muncul dari kompleksitas sistem kehidupan itu sendiri.⁷
8.2.
Compatibilism Baru:
Kebebasan dalam Determinasi
Secara epistemologis dan etis, pendekatan sintetik
dapat ditemukan dalam gagasan compatibilism, yakni pandangan bahwa
kebebasan dan determinasi tidak saling bertentangan.⁸ Daniel C. Dennett
berargumen bahwa manusia dapat disebut bebas sejauh tindakannya berasal dari
dirinya sendiri, meskipun sebab-sebab biologis dan psikologis turut
memengaruhinya.⁹ Dalam kerangka ini, kebebasan bukan berarti ketiadaan sebab,
tetapi kemampuan reflektif untuk menilai, mengarahkan, dan memodifikasi
sebab-sebab tersebut.¹⁰
Compatibilism modern berusaha menunjukkan bahwa
kesadaran manusia memiliki sifat emergen: ia muncul dari sistem biologis yang
kompleks, tetapi tidak dapat direduksi sepenuhnya padanya.¹¹ John Searle
menegaskan bahwa meskipun keputusan manusia berakar pada proses neurobiologis,
tingkat kesadaran subjektif menghasilkan “ruang intensionalitas” di mana
refleksi dan tanggung jawab moral dapat muncul.¹² Dengan demikian, kebebasan
manusia dapat dipahami sebagai kebebasan dalam keterbatasan, bukan di
luar kausalitas biologis, melainkan di dalamnya.¹³
8.3.
Integrasi Biologi dan
Etika: Menuju Filsafat Kehidupan
Sintesis filosofis juga menuntut integrasi antara ilmu
kehidupan (life sciences) dan filsafat moral.⁴¹ Para filsuf seperti Patricia
S. Churchland dan Frans de Waal mengembangkan konsep neuroetika
dan etika evolusioner yang menunjukkan bahwa dasar moralitas dapat
dijelaskan secara biologis tanpa menghapus nilai normatifnya.¹⁵ Dalam
perspektif ini, empati, kerja sama, dan keadilan muncul sebagai hasil adaptasi
biologis, namun melalui refleksi rasional manusia menjadi norma etis
universal.¹⁶
Sintesis ini menolak reduksionisme murni maupun
spiritualisme ekstrem. Biologi memberikan landasan empiris bagi moralitas,
tetapi kesadaran manusia mengubah fungsi biologis tersebut menjadi makna
normatif yang lebih tinggi.¹⁷ Sebagaimana dikemukakan Michael Ruse,
moralitas adalah hasil evolusi yang kemudian diberi bentuk reflektif melalui
kesadaran manusia sebagai makhluk bermoral.¹⁸ Dengan demikian, biologi
menyediakan struktur, tetapi filsafat memberikan arah.¹⁹
8.4.
Rehabilitasi Konsep
Kemanusiaan
Sintesis filosofis determinisme biologis juga berupaya
merehabilitasi makna kemanusiaan di tengah era bioteknologi dan
neurodeterminisme. Dalam situasi di mana manusia dapat memodifikasi gen,
memetakan otak, dan mengendalikan perilaku melalui teknologi, muncul pertanyaan
mendasar: apakah manusia masih menjadi subjek moral atau sekadar objek biologis
yang dapat direkayasa?²⁰
Filsuf Jürgen Habermas menegaskan bahwa
intervensi genetik terhadap manusia yang belum lahir tanpa komunikasi moral
melanggar prinsip otonomi manusia sebagai makhluk yang mampu merefleksikan
dirinya.²¹ Sementara Martha C. Nussbaum melalui pendekatan capability
menekankan bahwa kemanusiaan harus dipahami sebagai kapasitas untuk
mengembangkan potensi rasional dan emosional, bukan sekadar hasil determinasi
genetik.²²
Dengan demikian, sintesis filosofis menuntut etik
baru tentang kemanusiaan—yakni pandangan yang menerima biologi sebagai
dasar eksistensi, tetapi menolak untuk menjadikannya batas moral.²³ Manusia
adalah makhluk biologis yang memiliki kesadaran reflektif dan tanggung jawab
etis; ia hidup dalam jaringan sebab-akibat alamiah, tetapi juga memiliki
kemampuan untuk menilai, memilih, dan memberi makna terhadapnya.²⁴
Menuju
Paradigma Integratif: Naturalisme Humanistik
Sebagai penutup, sintesis filosofis determinisme
biologis dapat dirumuskan dalam paradigma naturalisme humanistik—sebuah
pandangan yang memadukan pemahaman ilmiah tentang manusia dengan penghargaan
terhadap nilai-nilai kemanusiaan.²⁵ Naturalisme humanistik menegaskan bahwa
kebebasan bukanlah penyangkalan terhadap biologi, melainkan kemampuan
manusia untuk menata ulang determinasi biologis melalui rasionalitas dan
refleksi etis.²⁶
Pandangan ini menempatkan manusia dalam posisi unik di
alam semesta: ia adalah bagian dari alam, namun juga sadar akan keberadaannya
di dalam alam.²⁷ Dalam kesadaran inilah terletak inti kebebasan manusia—yakni
kemampuan untuk mengubah sebab menjadi makna, dan hukum biologis menjadi dasar
bagi moralitas.²⁸
Dengan demikian, sintesis filosofis terhadap
determinisme biologis bukanlah negasi terhadap ilmu, tetapi perluasan horizon
filsafat tentang manusia: bahwa manusia adalah makhluk biologis yang bebas
karena mampu memahami dan mengarahkan determinasi yang membentuk dirinya.²⁹
Footnotes
[1]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 24.
[2]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 214.
[3]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 11.
[4]
Francisco J. Ayala, Biological
Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 120.
[5]
Humberto Maturana and Francisco
Varela, Autopoiesis and Cognition: The Realization of the Living
(Dordrecht: D. Reidel, 1980), 78.
[6]
Ibid., 85.
[7]
Evan Thompson, Mind in Life:
Biology, Phenomenology, and the Sciences of Mind (Cambridge: Harvard
University Press, 2007), 44.
[8]
John Martin Fischer, The
Metaphysics of Free Will: An Essay on Control (Oxford: Blackwell, 1994),
19.
[9]
Daniel C. Dennett, Elbow Room:
The Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge: MIT Press, 1984), 143.
[10]
Ibid., 150.
[11]
Roger Sperry, “Mind, Brain, and
Humanist Values,” Bulletin of the Atomic Scientists 18, no. 9 (1962):
25.
[12]
John Searle, The Rediscovery of
the Mind (Cambridge: MIT Press, 1992), 58.
[13]
Sam Harris, Free Will (New
York: Free Press, 2012), 21.
[14]
Patricia S. Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 29.
[15]
Frans de Waal, Primates and
Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press,
2006), 34.
[16]
Ibid., 37.
[17]
Michael Ruse, Taking Darwin
Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986),
112.
[18]
Ibid., 116.
[19]
Edward O. Wilson, Consilience:
The Unity of Knowledge (New York: Alfred A. Knopf, 1998), 133.
[20]
Francis Fukuyama, Our Posthuman
Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 2002), 107.
[21]
Jürgen Habermas, The Future of
Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 79.
[22]
Martha C. Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University
Press, 2011), 103.
[23]
Alasdair MacIntyre, Dependent
Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court,
1999), 112.
[24]
Paul Ricoeur, Freedom and Nature:
The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press,
1966), 87.
[25]
Charles Taylor, Sources of the
Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University
Press, 1989), 75.
[26]
Owen Flanagan, The Really Hard
Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 66.
[27]
Ernst Mayr, This Is Biology: The
Science of the Living World (Cambridge: Harvard University Press, 1997),
222.
[28]
Raymond Tallis, Aping Mankind,
249.
[29]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves, 260.
9.
Kesimpulan
Kajian tentang determinisme biologis memperlihatkan
bahwa persoalan mengenai kebebasan dan penentuan manusia tidak dapat
dipisahkan dari pemahaman tentang kodrat biologisnya.¹ Dalam perspektif
ontologis, determinisme biologis menegaskan bahwa manusia merupakan organisme
yang tunduk pada hukum alam, di mana perilaku, emosi, dan bahkan moralitas
berakar pada proses biologis yang kompleks.² Namun, dalam tataran filosofis,
hal ini menimbulkan dilema mendalam: jika manusia sepenuhnya ditentukan oleh
biologi, bagaimana mungkin ia tetap dianggap sebagai makhluk bebas dan
bertanggung jawab secara moral?³
9.1.
Sintesis antara
Naturalisme dan Humanisme
Dari keseluruhan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa determinisme
biologis tidak harus dipahami sebagai negasi terhadap kebebasan, melainkan
sebagai konteks tempat kebebasan manusia bekerja.⁴ Manusia memang
ditentukan oleh gen, hormon, dan struktur saraf, tetapi determinasi ini
bukanlah penjara, melainkan kerangka kemungkinan yang memungkinkan
lahirnya kesadaran reflektif dan tindakan moral.⁵ Dengan kata lain, kebebasan
manusia adalah kebebasan yang beroperasi di dalam kausalitas biologis,
bukan di luar darinya.⁶
Pandangan ini sejalan dengan pendekatan compatibilism
modern, yang berusaha menempatkan kebebasan dan determinasi dalam hubungan
dialektis.⁷ Daniel C. Dennett menegaskan bahwa kebebasan manusia
bersifat biologis dan evolusioner—yakni hasil dari mekanisme alamiah yang
memungkinkan refleksi, perencanaan, dan pengendalian diri.⁸ Dengan demikian,
biologi tidak meniadakan kebebasan, tetapi menyediakan fondasi empiris bagi
keberadaannya.⁹
9.2.
Relevansi Etis dan
Tanggung Jawab Moral
Dari sudut etika, determinisme biologis menuntut
reinterpretasi terhadap konsep tanggung jawab moral. Jika perilaku manusia
memiliki dasar biologis, maka moralitas tidak lagi dapat dipahami secara
metafisik, tetapi harus ditafsir ulang dalam konteks neurobiologis dan
sosial.¹⁰ Namun demikian, pengakuan atas pengaruh biologis tidak
serta-merta menghapus tanggung jawab moral; sebaliknya, ia memperluas pemahaman
tentang keterbatasan dan kapasitas manusia sebagai makhluk yang berefleksi atas
sebab-sebab tindakannya.¹¹
Seperti dikemukakan Patricia S. Churchland,
moralitas tidak berdiri di luar biologi, melainkan berakar di dalamnya sebagai
sistem regulasi sosial yang dikembangkan oleh otak untuk menjaga
keberlangsungan spesies.¹² Oleh sebab itu, tanggung jawab moral dapat dipahami
sebagai hasil evolusi yang ditransformasikan menjadi kesadaran etis melalui
budaya dan refleksi.¹³ Dengan demikian, biologi dan etika bukanlah dua medan yang
saling meniadakan, melainkan dua dimensi yang saling melengkapi dalam
menjelaskan kemanusiaan.¹⁴
9.3.
Tantangan dan Prospek
Filosofis di Era Bioteknologi
Dalam konteks kontemporer, determinisme biologis
menempati posisi ambivalen: di satu sisi ia membuka kemungkinan baru untuk
memahami manusia secara ilmiah, tetapi di sisi lain menimbulkan risiko dehumanisasi
apabila dipahami secara reduksionistik.¹⁵ Perkembangan bioteknologi dan
neuroilmu menuntut filsafat untuk memperluas cakrawala etiknya, agar sains
tidak menjadi ideologi baru yang menggantikan spiritualitas dan nilai moral.¹⁶
Filsuf Jürgen Habermas mengingatkan bahwa
otonomi manusia hanya dapat dipertahankan jika intervensi ilmiah terhadap tubuh
dan gen tunduk pada prinsip komunikasi moral yang rasional.¹⁷ Dalam semangat
yang sama, Martha C. Nussbaum menegaskan bahwa kemanusiaan harus dilihat
sebagai potensi moral yang perlu dilindungi oleh sistem sosial yang adil, bukan
sekadar sebagai hasil konfigurasi biologis.¹⁸ Dengan demikian, masa depan
filsafat manusia tidak terletak pada penolakan terhadap biologi, tetapi pada
kemampuannya mengintegrasikan ilmu kehidupan dengan kesadaran etis dan
reflektif.¹⁹
Kesimpulan
Umum: Menuju Filsafat Kemanusiaan yang Integratif
Akhirnya, determinisme biologis mengingatkan kita
bahwa manusia adalah makhluk yang sekaligus ditentukan dan menentukan:
ia tunduk pada hukum-hukum biologis, tetapi juga memiliki kesadaran yang
memungkinkan refleksi dan transformasi atas determinasi itu.²⁰ Manusia bukanlah
produk pasif dari gen dan lingkungan, melainkan makhluk yang mampu memberi
makna pada kondisi biologisnya sendiri.²¹
Oleh karena itu, sintesis filosofis yang integratif
perlu dihadirkan—sebuah filsafat kemanusiaan yang menghargai biologi sebagai
dasar eksistensi, namun tetap menegaskan dimensi transendental manusia sebagai
makhluk bermoral, rasional, dan reflektif.²² Dengan cara ini, determinisme
biologis tidak lagi dilihat sebagai ancaman terhadap kebebasan, tetapi sebagai undangan
untuk memahami kebebasan manusia secara lebih realistis, ilmiah, dan mendalam.²³
Footnotes
[1]
Ted Honderich, A Theory of
Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 11.
[2]
Antonio Damasio, The Feeling of
What Happens: Body and Emotion in the Making of Consciousness (New York:
Harcourt Brace, 1999), 45.
[3]
Sam Harris, Free Will (New
York: Free Press, 2012), 13.
[4]
Daniel C. Dennett, Elbow Room:
The Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge: MIT Press, 1984), 142.
[5]
Raymond Tallis, Aping Mankind:
Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham:
Acumen, 2011), 221.
[6]
John Searle, The Rediscovery of
the Mind (Cambridge: MIT Press, 1992), 64.
[7]
John Martin Fischer, The
Metaphysics of Free Will: An Essay on Control (Oxford: Blackwell, 1994),
17.
[8]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves (New York: Viking, 2003), 86.
[9]
Ibid., 93.
[10]
Patricia S. Churchland, Braintrust:
What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University
Press, 2011), 12.
[11]
Frans de Waal, Primates and
Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press,
2006), 29.
[12]
Churchland, Braintrust, 44.
[13]
Edward O. Wilson, Consilience:
The Unity of Knowledge (New York: Alfred A. Knopf, 1998), 133.
[14]
Michael Ruse, Taking Darwin
Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986),
116.
[15]
Francis Fukuyama, Our Posthuman
Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar,
Straus and Giroux, 2002), 99.
[16]
Jennifer A. Doudna and Samuel H.
Sternberg, A Crack in Creation: Gene Editing and the Unthinkable Power to
Control Evolution (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2017), 211.
[17]
Jürgen Habermas, The Future of
Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 79.
[18]
Martha C. Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University
Press, 2011), 104.
[19]
Alasdair MacIntyre, Dependent
Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court,
1999), 112.
[20]
Paul Ricoeur, Freedom and Nature:
The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press,
1966), 88.
[21]
Charles Taylor, Sources of the
Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University
Press, 1989), 76.
[22]
Owen Flanagan, The Really Hard
Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 64.
[23]
Daniel C. Dennett, Freedom
Evolves, 260.
Daftar Pustaka
Aristotle. (1908). De
Anima (J. A. Smith, Trans.). Clarendon Press.
Ayala, F. J. (2017). Biological
evolution: An introduction. Oxford University Press.
Beauchamp, T. L., &
Childress, J. F. (2019). Principles of biomedical ethics (8th ed.).
Oxford University Press.
Beauvoir, S. de. (1948). The
ethics of ambiguity (B. Frechtman, Trans.). Philosophical Library.
Bouchard, T. J., Jr.,
Lykken, D. T., McGue, M., Segal, N. L., & Tellegen, A. (1990). Sources of
human psychological differences: The Minnesota study of twins reared apart. Science,
250(4978), 223–228. science
Bus, D. M. (2019). Evolutionary
psychology: The new science of the mind (6th ed.). Routledge.
Caspi, A., McClay, J.,
Moffitt, T. E., Mill, J., Martin, J., Craig, I. W., Taylor, A., & Poulton,
R. (2002). Role of genotype in the cycle of violence in maltreated children. Science,
297(5582), 851–854. science
Churchland, P. S. (1986). Neurophilosophy:
Toward a unified science of the mind-brain. MIT Press.
Churchland, P. S. (2011). Braintrust:
What neuroscience tells us about morality. Princeton University Press.
Comte, A. (1875). The
positive philosophy of Auguste Comte. Trübner.
Collins, F. S. (2006). The
language of God: A scientist presents evidence for belief. Free Press.
Cosmides, L., & Tooby,
J. (1992). Cognitive adaptations for social exchange. In J. H. Barkow, L.
Cosmides, & J. Tooby (Eds.), The adapted mind: Evolutionary psychology
and the generation of culture (pp. 163–228). Oxford University Press.
Crick, F. (1994). The
astonishing hypothesis: The scientific search for the soul. Scribner.
Darwin, C. (1859). On
the origin of species. John Murray.
Darwin, C. (1871). The
descent of man. John Murray.
Damasio, A. (1994). Descartes’
error: Emotion, reason, and the human brain. Grosset/Putnam.
Damasio, A. (1999). The
feeling of what happens: Body and emotion in the making of consciousness.
Harcourt Brace.
Dawkins, R. (1976). The
selfish gene. Oxford University Press.
Dawkins, R. (1982). The
extended phenotype. Oxford University Press.
Dennett, D. C. (1984). Elbow
room: The varieties of free will worth wanting. MIT Press.
Dennett, D. C. (1995). Darwin’s
dangerous idea. Simon & Schuster.
Dennett, D. C. (2003). Freedom
evolves. Viking.
Doudna, J. A., &
Sternberg, S. H. (2017). A crack in creation: Gene editing and the
unthinkable power to control evolution. Houghton Mifflin Harcourt.
Eagleman, D. (2011). Incognito:
The secret lives of the brain. Pantheon Books.
Farahany, N. A. (2015).
Neuroscience and behavioral genetics in US criminal law: An empirical analysis.
Journal of Law and the Biosciences, 2(3), 485–509. jlb/lsv059
Fischer, J. M. (1994). The
metaphysics of free will: An essay on control. Blackwell.
Flanagan, O. (2007). The
really hard problem: Meaning in a material world. MIT Press.
Fox Keller, E. (2010). The
mirage of a space between nature and nurture. Duke University Press.
Frankl, V. E. (2006). Man’s
search for meaning. Beacon Press.
Fukuyama, F. (2002). Our
posthuman future: Consequences of the biotechnology revolution. Farrar,
Straus and Giroux.
Galen. (1916). On the
natural faculties (A. J. Brock, Trans.). W. Heinemann.
Gazzaniga, M. S. (2005). The
ethical brain. Dana Press.
Gazzaniga, M. S. (2011). Who’s
in charge? Free will and the science of the brain. HarperCollins.
Gould, S. J. (1981). The
mismeasure of man. W. W. Norton.
Gould, S. J., &
Lewontin, R. C. (1979). The spandrels of San Marco and the Panglossian
paradigm: A critique of the adaptationist programme. Proceedings of the
Royal Society of London. Series B, Biological Sciences, 205(1161),
581–598. rspb.1979.0086
Greene, J., & Cohen, J.
(2004). For the law, neuroscience changes nothing and everything. Philosophical
Transactions of the Royal Society B, 359(1451), 1775–1785. rstb.2004.1546
Greene, J., & Haidt, J.
(2002). How (and where) does moral judgment work? Trends in Cognitive
Sciences, 6(12), 517–523. doi.org
Habermas, J. (2003). The
future of human nature. Polity Press.
Haggard, P. (2008). Human
volition: Towards a neuroscience of will. Nature Reviews Neuroscience, 9(12),
934–946. nrn2497
Hamer, D. (1994). The
science of desire: The search for the gay gene and the biology of behavior.
Simon & Schuster.
Harris, S. (2012). Free
will. Free Press.
Hippocrates. (1931). On
the nature of man (W. H. S. Jones, Trans.). Harvard University Press.
Honderich, T. (1988). A
theory of determinism: The mind, neuroscience, and life-hopes. Clarendon
Press.
Kandel, E. R. (2006). In
search of memory: The emergence of a new science of mind. W. W. Norton.
Kant, I. (1998). Groundwork
for the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University
Press.
Kühl, S. (1994). The
Nazi connection: Eugenics, American racism, and German National Socialism.
Oxford University Press.
Lewontin, R. C. (1991). Biology
as ideology: The doctrine of DNA. Harper Perennial.
Lewontin, R. C., Rose, S.,
& Kamin, L. J. (1984). Not in our genes: Biology, ideology, and human
nature. Pantheon Books.
Libet, B. (1999). Do we
have free will? Journal of Consciousness Studies, 6(8–9), 47–57.
Lorenz, K. (1966). On
aggression. Harcourt Brace.
MacIntyre, A. (1999). Dependent
rational animals: Why human beings need the virtues. Open Court.
Maturana, H., & Varela,
F. (1980). Autopoiesis and cognition: The realization of the living.
D. Reidel.
Mayr, E. (1982). The
growth of biological thought: Diversity, evolution, and inheritance.
Harvard University Press.
Mayr, E. (1997). This
is biology: The science of the living world. Harvard University Press.
Monod, J. (1971). Chance
and necessity: An essay on the natural philosophy of modern biology.
Alfred A. Knopf.
Morse, S. J. (2006). Brain
overclaim syndrome and criminal responsibility: A diagnostic note. Ohio
State Journal of Criminal Law, 3(2), 397–412.
Nussbaum, M. C. (2006). Frontiers
of justice: Disability, nationality, species membership. Harvard
University Press.
Nussbaum, M. C. (2011). Creating
capabilities: The human development approach. Harvard University Press.
Papineau, D. (1993). Philosophical
naturalism. Blackwell.
Pinker, S. (2002). The
blank slate: The modern denial of human nature. Viking.
Plomin, R., & Asbury,
K. (2005). Nature and nurture: Genetic and environmental influences on
behavior. Routledge.
Plomin, R., DeFries, J. C.,
Knopik, V. S., & Neiderhiser, J. M. (2021). Behavioral genetics
(7th ed.). Worth Publishers.
Popper, K. (1959). The
logic of scientific discovery. Routledge.
Ricoeur, P. (1966). Freedom
and nature: The voluntary and the involuntary. Northwestern University
Press.
Richards, R. J. (1987). Darwin
and the emergence of evolutionary theories of mind and behavior.
University of Chicago Press.
Ridley, M. (1999). Genome:
The autobiography of a species in 23 chapters. HarperCollins.
Rose, S. (1997). Lifelines:
Biology, freedom, determinism. Penguin Books.
Ruse, M. (1986). Taking
Darwin seriously: A naturalistic approach to philosophy. Blackwell.
Ruse, M. (1995). Evolutionary
naturalism. Routledge.
Sartre, J.-P. (1956). Being
and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.
Savulescu, J. (2011). Enhancing
human capacities. Wiley-Blackwell.
Searle, J. R. (1992). The
rediscovery of the mind. MIT Press.
Searle, J. R. (2004). Mind:
A brief introduction. Oxford University Press.
Sperry, R. (1962). Mind,
brain, and humanist values. Bulletin of the Atomic Scientists, 18(9),
25–28.
Szyf, M. (2019). The epigenetics
of perinatal stress. Dialogues in Clinical Neuroscience, 21(4),
347–357. mszyf
Tallis, R. (2011). Aping
mankind: Neuromania, Darwinitis and the misrepresentation of humanity.
Acumen.
Taylor, C. (1989). Sources
of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.
Thompson, E. (2007). Mind
in life: Biology, phenomenology, and the sciences of mind. Harvard
University Press.
Trivers, R. (1971). The
evolution of reciprocal altruism. Quarterly Review of Biology, 46(1),
35–57. doi.org
van Inwagen, P. (1983). An
essay on free will. Clarendon Press.
Varela, F. J. (2007). The
embodied mind: Cognitive science and human experience. MIT Press.
Wilson, D. S., & Sober,
E. (1998). Unto others: The evolution and psychology of unselfish behavior.
Harvard University Press.
Wilson, E. O. (1975). Sociobiology:
The new synthesis. Harvard University Press.
Wilson, E. O. (1998). Consilience:
The unity of knowledge. Alfred A. Knopf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar