Sabtu, 29 November 2025

Determinisme Biologis: Penentuan Perilaku Manusia oleh Faktor Genetik dan Fisiologis

Determinisme Biologis

Penentuan Perilaku Manusia oleh Faktor Genetik dan Fisiologis


Alihkan ke: Determinisme.


Abstrak

Artikel ini mengkaji secara mendalam konsep determinisme biologis, yakni pandangan bahwa perilaku, moralitas, dan kesadaran manusia ditentukan secara signifikan oleh faktor-faktor biologis seperti gen, struktur otak, dan sistem hormonal. Kajian ini dimulai dengan menelusuri genealogi historis determinisme dari tradisi Yunani kuno hingga era bioteknologi modern, serta menyoroti transformasi ontologis dari pandangan dualistik menuju monisme naturalistik yang menempatkan manusia sebagai organisme yang tunduk pada hukum kausalitas alamiah. Secara epistemologis, determinisme biologis bergantung pada metodologi empiris dan reduksionistik, dengan genetika, neurosains, dan biologi evolusioner sebagai instrumen utamanya.

Selanjutnya, artikel ini membahas implikasi etis dari determinisme biologis terhadap tanggung jawab moral, kebebasan kehendak, dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, pandangan deterministik menimbulkan dilema antara sains dan moralitas, sebab pemahaman biologis tentang manusia berpotensi menggeser dasar normatif etika tradisional. Kritik terhadap determinisme biologis datang dari eksistensialisme, humanisme, serta sains interaksionistik yang menegaskan peran lingkungan dan budaya dalam membentuk perilaku manusia. Meski demikian, artikel ini menunjukkan bahwa pendekatan sintetis—seperti compatibilism dan naturalisme humanistik—dapat merekonsiliasi antara determinasi biologis dan kebebasan moral manusia.

Dalam kerangka kontemporer, determinisme biologis memiliki relevansi kuat di tengah kemajuan genetika, neurosains, dan teknologi gene editing yang menantang konsep tradisional tentang otonomi dan kemanusiaan. Artikel ini akhirnya menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang sekaligus ditentukan dan menentukan: tunduk pada hukum biologis, namun tetap memiliki kesadaran reflektif dan tanggung jawab moral yang menjadikannya unik. Oleh karena itu, filsafat kemanusiaan masa kini menuntut pendekatan yang integratif antara ilmu kehidupan dan etika reflektif, agar sains tidak mereduksi manusia menjadi objek biologis semata, melainkan meneguhkan kembali martabatnya sebagai subjek moral dan rasional.

Kata Kunci: Determinisme biologis; kebebasan kehendak; genetik; neurosains; moralitas; etika; compatibilism; humanisme naturalistik; filsafat kemanusiaan.


PEMBAHASAN

Dasar, Argumen, Kritik, dan Implikasi Determinisme Biologis


1.           Pendahuluan

Pertanyaan mengenai sejauh mana kebebasan manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar dirinya merupakan salah satu tema sentral dalam sejarah filsafat. Sejak zaman Yunani kuno, para filsuf telah memperdebatkan apakah tindakan manusia merupakan hasil dari kehendak bebas (free will) atau merupakan akibat dari rangkaian sebab yang niscaya (necessity).¹ Dalam konteks ini, determinisme muncul sebagai pandangan yang menegaskan bahwa setiap kejadian, termasuk tindakan manusia, memiliki sebab yang mendahuluinya dan tidak terjadi secara acak.²

Salah satu bentuk determinisme yang paling berpengaruh dalam perdebatan modern adalah determinisme biologis (biological determinism), yakni pandangan bahwa perilaku, karakter, dan bahkan kemampuan moral manusia ditentukan secara signifikan—jika tidak sepenuhnya—oleh faktor biologis seperti gen, struktur otak, dan hormon.³ Pandangan ini berakar pada keyakinan bahwa semua aspek kehidupan manusia dapat dijelaskan melalui hukum-hukum alam yang mengatur organisme biologis.⁴ Dengan kata lain, determinisme biologis memandang manusia bukan sebagai agen moral yang bebas sepenuhnya, melainkan sebagai hasil produk evolusi dan ekspresi genetik yang beroperasi dalam batas-batas fisiologisnya.

Pada abad ke-19, teori evolusi Charles Darwin memberikan landasan kuat bagi munculnya cara pandang ini.⁵ Melalui gagasan natural selection, Darwin menunjukkan bahwa karakteristik perilaku dan moralitas dapat memiliki dasar adaptif dalam konteks kelangsungan hidup spesies.⁶ Pandangan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli biologi modern seperti Edward O. Wilson, yang dalam karyanya Sociobiology: The New Synthesis (1975) mengajukan tesis bahwa perilaku sosial manusia dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip biologis yang sama dengan makhluk hidup lainnya.⁷ Dengan demikian, determinisme biologis tidak hanya menjadi topik dalam biologi, tetapi juga dalam filsafat moral, psikologi, dan sosiologi, karena menyentuh akar persoalan tentang tanggung jawab, kebebasan, dan identitas manusia.⁸

Namun demikian, determinisme biologis tidak lepas dari kontroversi. Di satu sisi, ia dianggap memberi kontribusi besar dalam menjelaskan perilaku manusia secara ilmiah. Di sisi lain, ia dituduh menyederhanakan kompleksitas manusia dengan mereduksinya menjadi sekadar hasil kerja gen dan hormon.⁹ Pandangan ini juga menimbulkan persoalan etis yang serius, terutama dalam konteks genetika modern seperti genome editing dan rekayasa biologis yang berpotensi mengubah definisi kemanusiaan itu sendiri.¹⁰

Oleh karena itu, pembahasan tentang determinisme biologis memerlukan pendekatan yang bersifat interdisipliner—menggabungkan filsafat, biologi, psikologi, dan etika—untuk memahami sejauh mana faktor biologis menentukan tindakan manusia, serta bagaimana konsep kebebasan dan tanggung jawab dapat dipertahankan dalam kerangka ilmiah tersebut.¹¹ Artikel ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam hakikat dan implikasi determinisme biologis dengan meninjau aspek-aspek historis, ontologis, epistemologis, etis, serta kritik dan relevansi kontemporernya.¹²


Footnotes

[1]                Peter van Inwagen, An Essay on Free Will (Oxford: Clarendon Press, 1983), 2.

[2]                Ted Honderich, A Theory of Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 15.

[3]                Richard Lewontin, Biology as Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 3.

[4]                Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 22.

[5]                Charles Darwin, On the Origin of Species (London: John Murray, 1859), 72.

[6]                Ibid., 87.

[7]                Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 4.

[8]                Steven Pinker, The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 12.

[9]                Leon Kamin, Richard C. Lewontin, and Steven Rose, Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature (New York: Pantheon Books, 1984), 7.

[10]             Julian Savulescu, Enhancing Human Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 45.

[11]             Francisco J. Ayala, Biological Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 103.

[12]             Robert C. Richardson, Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 11.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Gagasan determinisme biologis memiliki akar yang dalam dalam sejarah pemikiran Barat. Sejak zaman Yunani kuno, para filsuf dan ilmuwan telah berupaya menjelaskan perilaku manusia dalam kaitannya dengan tubuh dan struktur biologisnya. Pandangan bahwa faktor-faktor fisik dan fisiologis menentukan kepribadian serta tindakan manusia dapat ditemukan dalam karya-karya awal para filsuf alam (physiologoi) dan tabib kuno.¹

2.1.       Akar Kuno: Dari Hipokrates hingga Aristoteles

Pemikiran deterministik dalam biologi dapat ditelusuri hingga Hipokrates (460–370 SM), yang memperkenalkan teori empat cairan tubuh (humoral theory) sebagai dasar bagi kesehatan dan temperamen manusia.² Menurut Hipokrates dan muridnya, Galenus, keseimbangan atau ketidakseimbangan antara darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam menentukan karakter serta kecenderungan emosional seseorang.³ Dengan demikian, perilaku manusia dipahami sebagai refleksi dari keadaan biologis tubuhnya.

Sementara itu, Aristoteles (384–322 SM) dalam karya-karyanya seperti De Anima dan Parts of Animals menegaskan bahwa jiwa (psyche) erat kaitannya dengan bentuk dan fungsi tubuh biologis.⁴ Meskipun Aristoteles tidak menolak keberadaan rasionalitas manusia, ia tetap menekankan bahwa aktivitas jiwa selalu berakar pada proses-proses natural yang tunduk pada hukum kausalitas.⁵ Pandangan ini menjadi dasar bagi munculnya tradisi naturalistik dalam filsafat, di mana kehidupan mental dianggap tidak terpisahkan dari struktur organis biologis.

2.2.       Perkembangan di Era Modern: Dari Darwinisme ke Genetika

Lonjakan besar dalam pemikiran deterministik biologis terjadi pada abad ke-19 dengan munculnya teori evolusi Charles Darwin. Dalam karyanya On the Origin of Species (1859), Darwin memperkenalkan prinsip seleksi alam sebagai mekanisme yang menjelaskan adaptasi dan variasi perilaku makhluk hidup, termasuk manusia.⁶ Melalui pandangan ini, perilaku moral dan sosial manusia tidak lagi dilihat sebagai fenomena spiritual murni, melainkan sebagai hasil dari proses seleksi evolusioner yang meningkatkan peluang bertahan hidup.⁷

Setelah Darwin, teori evolusi diintegrasikan dengan studi herediter oleh tokoh seperti Gregor Mendel, yang memperkenalkan konsep pewarisan sifat melalui gen.⁸ Integrasi antara Darwinisme dan genetika—yang dikenal sebagai sintesis modern—melahirkan pandangan bahwa ciri-ciri fisik dan perilaku manusia dapat dilacak hingga unit-unit biologis dasar, yaitu gen.⁹ Pandangan ini menjadi fondasi bagi berkembangnya determinisme biologis di abad ke-20, terutama dalam konteks behavioral genetics dan evolutionary psychology.¹⁰

2.3.       Munculnya Sosiobiologi dan Evolusi Modern

Pada pertengahan abad ke-20, determinisme biologis menemukan bentuk konseptualnya yang matang melalui karya Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (1975).¹¹ Wilson berargumen bahwa perilaku sosial manusia dan hewan memiliki akar biologis yang dapat dijelaskan melalui evolusi genetik dan strategi reproduktif.¹² Konsep ini memicu kontroversi besar, karena implikasinya terhadap kebebasan, moralitas, dan kesetaraan sosial dianggap mengancam pandangan humanistik tradisional.¹³

Selain Wilson, Richard Dawkins memperluas pandangan ini melalui gagasan the selfish gene, di mana gen dipahami sebagai entitas utama yang “berjuang untuk bertahan hidup” melalui organisme yang dikendalikannya.¹⁴ Dalam kerangka ini, manusia tidak lagi menjadi subjek otonom yang menentukan tindakannya sendiri, melainkan instrumen bagi kelangsungan hidup genetik.¹⁵


Peralihan ke Abad 21: Dari Genetika ke Neurodeterminisme

Perkembangan teknologi biologi molekuler dan neurosains pada akhir abad ke-20 hingga abad ke-21 memperkuat kembali keyakinan deterministik terhadap perilaku manusia.¹⁶ Penemuan Human Genome Project (2003) memberikan legitimasi ilmiah baru terhadap gagasan bahwa faktor genetik memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian, kecerdasan, dan kecenderungan moral.¹⁷ Dalam konteks ini, determinisme biologis tidak hanya menjadi pandangan filosofis, tetapi juga paradigma ilmiah yang memengaruhi berbagai bidang seperti psikologi evolusioner, psikiatri biologis, dan bahkan bioetika.¹⁸

Namun, bersamaan dengan kemajuan tersebut, muncul pula kritik terhadap reduksionisme biologis yang mengabaikan kompleksitas interaksi antara gen, lingkungan, dan pengalaman sosial.¹⁹ Dengan demikian, sejarah determinisme biologis bukanlah kisah linear, melainkan dialektika antara optimisme ilmiah dan kritik humanistik yang terus memperbarui batas pemahaman kita tentang manusia.²⁰


Footnotes

[1]                Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 15.

[2]                Hippocrates, On the Nature of Man, trans. W. H. S. Jones (Cambridge: Harvard University Press, 1931), 24.

[3]                Galen, On the Natural Faculties, trans. Arthur J. Brock (London: W. Heinemann, 1916), 51.

[4]                Aristotle, De Anima, trans. J. A. Smith (Oxford: Clarendon Press, 1908), 89.

[5]                Martha C. Nussbaum, Aristotle’s De Motu Animalium: Text with Translation, Commentary, and Interpretive Essays (Princeton: Princeton University Press, 1978), 33.

[6]                Charles Darwin, On the Origin of Species (London: John Murray, 1859), 72.

[7]                Robert J. Richards, Darwin and the Emergence of Evolutionary Theories of Mind and Behavior (Chicago: University of Chicago Press, 1987), 104.

[8]                Gregor Mendel, “Experiments on Plant Hybridization,” Proceedings of the Natural History Society of Brünn 4 (1866): 7.

[9]                Ernst Mayr, The Growth of Biological Thought: Diversity, Evolution, and Inheritance (Cambridge: Harvard University Press, 1982), 503.

[10]             Matt Ridley, Genome: The Autobiography of a Species in 23 Chapters (New York: HarperCollins, 1999), 18.

[11]             Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 4.

[12]             Ibid., 7.

[13]             Richard C. Lewontin, Steven Rose, and Leon J. Kamin, Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature (New York: Pantheon Books, 1984), 23.

[14]             Richard Dawkins, The Selfish Gene (Oxford: Oxford University Press, 1976), 11.

[15]             Ibid., 15.

[16]             Eric R. Kandel, In Search of Memory: The Emergence of a New Science of Mind (New York: W. W. Norton, 2006), 221.

[17]             Francis S. Collins, The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief (New York: Free Press, 2006), 94.

[18]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 9.

[19]             Evelyn Fox Keller, The Mirage of a Space between Nature and Nurture (Durham: Duke University Press, 2010), 12.

[20]             Steven Rose, Lifelines: Biology, Freedom, Determinism (London: Penguin Books, 1997), 204.


3.           Ontologi Determinisme Biologis

Ontologi determinisme biologis berupaya menjelaskan hakikat realitas manusia dengan menempatkan tubuh dan kehidupan biologis sebagai fondasi utama eksistensi. Dalam kerangka ini, manusia tidak dipahami pertama-tama sebagai makhluk rasional atau spiritual, melainkan sebagai organisme biologis yang tunduk pada hukum-hukum alam dan kausalitas material.¹ Segala bentuk perilaku, pilihan, dan bahkan kesadaran dianggap merupakan hasil dari proses biologis yang berlangsung di dalam tubuh, khususnya pada sistem saraf dan struktur genetik.²

3.1.       Hakikat Realitas: Manusia sebagai Makhluk Biologis

Menurut pandangan ini, realitas manusia bersifat naturalistik, artinya segala yang ada—termasuk pikiran dan kesadaran—dapat dijelaskan melalui interaksi materi biologis.³ Ontologi determinisme biologis menolak pandangan dualistik yang memisahkan jiwa dari tubuh, sebagaimana dalam tradisi Cartesian, dan menggantinya dengan pendekatan monistik-materialistik: jiwa atau kesadaran tidak lebih dari aktivitas kompleks otak.⁴ Sebagaimana ditegaskan oleh Francis Crick, kesadaran manusia hanyalah hasil dari interaksi neuron-neuron yang bekerja dalam mekanisme elektrokimia yang dapat dijelaskan secara ilmiah.⁵

Dengan demikian, manusia tidak memiliki dimensi metafisis yang terpisah dari tubuh biologisnya. Eksistensi manusia bersifat kontingen, ditentukan oleh struktur genetik dan kondisi fisiologis yang diwarisi melalui evolusi.⁶ Dari sudut pandang ini, keberadaan moral, intelektual, dan emosional manusia hanyalah bentuk ekspresi dari konfigurasi biologis yang khas pada spesies Homo sapiens.⁷

3.2.       Determinasi Genetik dan Prinsip Kausalitas Alamiah

Salah satu aspek ontologis paling penting dalam determinisme biologis adalah keyakinan bahwa setiap fenomena biologis tunduk pada hukum kausalitas alamiah. Tidak ada ruang bagi kejadian yang sepenuhnya acak atau bebas dari sebab biologis.⁸ Gen, sebagai unit dasar pewarisan sifat, dipandang sebagai entitas kausal utama yang menentukan bentuk fisik dan perilaku organisme.⁹ Richard Dawkins, dalam The Selfish Gene, menyatakan bahwa organisme hidup hanyalah “mesin bertahan hidup” yang diciptakan oleh gen untuk memastikan kelangsungan eksistensinya.¹⁰

Dalam konteks manusia, gagasan ini diterjemahkan ke dalam pandangan bahwa tindakan moral, preferensi sosial, hingga orientasi psikologis merupakan ekspresi dari kode genetik yang telah berevolusi untuk menjamin kelangsungan hidup spesies.¹¹ Pandangan ini menempatkan manusia di dalam tatanan kausal yang ketat: setiap perbuatan adalah hasil dari mekanisme biologis, bukan pilihan bebas yang otonom.¹²

3.3.       Tubuh, Pikiran, dan Determinasi Fisiologis

Dari perspektif ontologis, determinisme biologis juga menekankan bahwa kesadaran dan kehendak merupakan fenomena emergen yang sepenuhnya bergantung pada sistem saraf pusat.¹³ Neurosains modern memperlihatkan bahwa keputusan, dorongan, dan emosi manusia berkorelasi erat dengan aktivitas neural tertentu di otak.¹⁴ Misalnya, penelitian Benjamin Libet menunjukkan bahwa aktivitas otak yang memicu tindakan muncul beberapa milidetik sebelum individu secara sadar memutuskan untuk bertindak—menunjukkan bahwa kehendak bebas mungkin hanyalah ilusi kesadaran.¹⁵

Dengan demikian, dalam kerangka ontologis ini, kebebasan manusia bukanlah kemampuan metafisis untuk memilih secara mutlak, melainkan hasil dari proses biologis yang kompleks di dalam otak.¹⁶ Otak bertindak sebagai sistem deterministik yang merespons stimulus lingkungan berdasarkan predisposisi genetik dan pengalaman masa lalu.¹⁷ Oleh karena itu, tindakan manusia bersifat necessitated oleh kondisi biologis, bukan initiated oleh kehendak bebas yang otonom.¹⁸


Evolusi dan Teleologi Biologis

Dalam determinisme biologis, makna dan tujuan kehidupan manusia tidak berasal dari rasionalitas atau nilai moral transenden, tetapi dari teleologi biologis, yaitu arah alamiah menuju kelangsungan hidup dan reproduksi.¹⁹ Evolusi biologis, sebagaimana dijelaskan oleh Darwin dan dikembangkan oleh para ahli evolusi modern, tidak memiliki tujuan moral, melainkan beroperasi melalui mekanisme adaptif yang murni natural.²⁰ Akibatnya, dalam pandangan ontologis ini, “tujuan” manusia hanyalah bagian dari strategi genetik untuk mempertahankan kehidupan, bukan hasil kesadaran moral atau spiritual.²¹

Dengan demikian, ontologi determinisme biologis menegaskan bahwa hakikat manusia adalah biologis sepenuhnya: ia adalah hasil evolusi, wadah bagi ekspresi genetik, dan produk dari jaringan sebab-akibat fisiologis. Namun, pandangan ini juga membuka ruang perdebatan filosofis baru—yakni bagaimana memaknai kebebasan, tanggung jawab, dan makna hidup dalam dunia yang sepenuhnya ditentukan oleh biologi.²²


Footnotes

[1]                Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 22.

[2]                Antonio Damasio, The Feeling of What Happens: Body and Emotion in the Making of Consciousness (New York: Harcourt Brace, 1999), 48.

[3]                John Searle, Mind: A Brief Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2004), 32.

[4]                Patricia S. Churchland, Neurophilosophy: Toward a Unified Science of the Mind-Brain (Cambridge: MIT Press, 1986), 16.

[5]                Francis Crick, The Astonishing Hypothesis: The Scientific Search for the Soul (New York: Scribner, 1994), 3.

[6]                Jacques Monod, Chance and Necessity: An Essay on the Natural Philosophy of Modern Biology (New York: Alfred A. Knopf, 1971), 94.

[7]                Steven Pinker, The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 41.

[8]                Ted Honderich, A Theory of Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 19.

[9]                Ernst Mayr, This Is Biology: The Science of the Living World (Cambridge: Harvard University Press, 1997), 122.

[10]             Richard Dawkins, The Selfish Gene (Oxford: Oxford University Press, 1976), 11.

[11]             Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Alfred A. Knopf, 1998), 130.

[12]             Paul Churchland, Matter and Consciousness (Cambridge: MIT Press, 1988), 54.

[13]             John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge: MIT Press, 1992), 58.

[14]             Michael S. Gazzaniga, Who’s in Charge? Free Will and the Science of the Brain (New York: HarperCollins, 2011), 77.

[15]             Benjamin Libet, “Do We Have Free Will?,” Journal of Consciousness Studies 6, no. 8–9 (1999): 47.

[16]             Patrick Haggard, “Human Volition: Towards a Neuroscience of Will,” Nature Reviews Neuroscience 9, no. 12 (2008): 935.

[17]             David Eagleman, Incognito: The Secret Lives of the Brain (New York: Pantheon Books, 2011), 74.

[18]             Sam Harris, Free Will (New York: Free Press, 2012), 13.

[19]             Ernst Mayr, Teleological and Teleonomic: A New Analysis, Boston Studies in the Philosophy of Science 14 (1974): 91.

[20]             Charles Darwin, The Descent of Man (London: John Murray, 1871), 104.

[21]             Michael Ruse, Evolutionary Naturalism (London: Routledge, 1995), 59.

[22]             Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 244.


4.           Epistemologi dan Metode Ilmiah

Epistemologi determinisme biologis berfokus pada bagaimana pengetahuan tentang penentuan biologis perilaku manusia diperoleh, divalidasi, dan dibatasi oleh metode ilmiah. Ia menempatkan biologi, genetika, dan neurosains sebagai sumber utama kebenaran empiris mengenai hakikat manusia. Dalam paradigma ini, pengetahuan yang sahih dianggap hanya dapat diperoleh melalui observasi, eksperimentasi, dan verifikasi empiris terhadap proses biologis yang mendasari tindakan manusia.¹ Dengan demikian, determinisme biologis berdiri di atas fondasi epistemologi positivistik dan naturalistik, yang mengandaikan bahwa realitas manusia dapat dijelaskan secara objektif melalui hukum-hukum alam.²

4.1.       Dasar Epistemologis: Empirisme dan Reduksionisme Ilmiah

Epistemologi determinisme biologis berpijak pada empirisme ilmiah, yaitu keyakinan bahwa semua pengetahuan yang valid harus berakar pada pengalaman inderawi yang dapat diobservasi.³ Dalam kerangka ini, perilaku manusia tidak dipahami melalui refleksi metafisis atau introspeksi moral, tetapi melalui analisis kausal terhadap sistem biologis.⁴ Misalnya, studi genetik, neuroimaging, dan eksperimen perilaku digunakan untuk menjelaskan keputusan, emosi, serta kecenderungan moral sebagai hasil aktivitas biologis yang terukur.⁵

Namun, metode ini juga cenderung bersifat reduksionistik, yakni berupaya menjelaskan fenomena kompleks seperti kesadaran, cinta, atau moralitas hanya dengan merujuk pada aktivitas saraf dan kode genetik.⁶ Menurut Daniel Dennett, reduksionisme semacam ini merupakan “strategi epistemologis” untuk memahami kompleksitas dengan memecahnya ke dalam komponen kausal yang lebih sederhana.⁷ Sementara itu, kritikus seperti Stephen Jay Gould menilai bahwa pendekatan ini berisiko mengabaikan konteks sosial, budaya, dan historis yang turut membentuk perilaku manusia.⁸

4.2.       Metode Ilmiah: Observasi, Eksperimentasi, dan Hereditas

Secara metodologis, determinisme biologis memperoleh pengetahuannya melalui tiga instrumen utama: observasi empiris, eksperimentasi laboratorium, dan studi hereditas.

·                     Pertama, observasi empiris dilakukan untuk menemukan korelasi antara struktur biologis dengan perilaku. Penelitian pada hewan dan manusia digunakan untuk memetakan pola perilaku yang serupa secara genetis.⁹

·                     Kedua, eksperimentasi dilakukan untuk menguji hubungan kausal antara faktor biologis dan ekspresi perilaku. Contohnya, penelitian mengenai neural correlates of decision-making menunjukkan bahwa aktivitas pada korteks prefrontal dapat memprediksi keputusan seseorang sebelum ia menyadarinya.¹⁰

·                     Ketiga, studi hereditas dan kembar identik menjadi metode penting dalam behavioral genetics.¹¹ Studi kembar oleh Thomas Bouchard, misalnya, menunjukkan bahwa tingkat kesamaan kepribadian lebih tinggi pada kembar monozigot dibandingkan dizigot, sehingga memperkuat klaim bahwa gen memainkan peran besar dalam pembentukan perilaku.¹²

Dengan demikian, epistemologi determinisme biologis mengandalkan validasi eksperimental untuk mendukung tesis ontologisnya: bahwa kebebasan dan perilaku manusia tunduk pada mekanisme biologis yang dapat diprediksi secara ilmiah.¹³

4.3.       Peran Genetika, Neurosains, dan Biologi Evolusioner

Kemajuan genetika molekuler dan neurosains memberikan dasar epistemologis baru bagi determinisme biologis. Genetika modern memungkinkan identifikasi gen yang berhubungan dengan kecenderungan perilaku tertentu, seperti agresivitas, empati, atau kecerdasan.¹⁴ Sementara itu, neurosains menggunakan teknologi seperti fMRI dan PET scan untuk memetakan hubungan antara struktur otak dan fungsi mental.¹⁵ Melalui pendekatan ini, pengetahuan tentang manusia diperoleh bukan dari refleksi moral atau metafisika, tetapi dari data biologis yang diukur secara objektif.¹⁶

Selain itu, biologi evolusioner memberikan kerangka epistemik yang menjelaskan mengapa perilaku tertentu muncul dan bertahan.¹⁷ Edward O. Wilson berpendapat bahwa norma sosial dan perilaku moral merupakan adaptasi evolusioner yang meningkatkan keberlangsungan spesies.¹⁸ Dengan demikian, epistemologi determinisme biologis tidak sekadar menjelaskan bagaimana perilaku muncul, tetapi juga mengapa perilaku tersebut dipertahankan melalui seleksi alam.¹⁹


Kritik terhadap Reduksionisme dan Ilusi Objektivitas

Meskipun kuat secara ilmiah, epistemologi determinisme biologis menghadapi kritik serius terkait klaim objektivitas dan kecenderungannya untuk menyederhanakan kompleksitas manusia. Evelyn Fox Keller menyoroti bahwa ilmu biologi tidak bebas nilai; penafsiran terhadap data genetik sering kali dipengaruhi oleh asumsi sosial dan ideologis.²⁰ Richard Lewontin juga menegaskan bahwa perilaku manusia tidak dapat dipahami secara memadai hanya dengan menganalisis gen, karena faktor lingkungan, budaya, dan sejarah memiliki pengaruh yang signifikan.²¹

Dengan demikian, secara epistemologis, determinisme biologis menghadapi batasan inheren: meskipun mampu menjelaskan mekanisme biologis perilaku, ia belum mampu menangkap dimensi normatif dan reflektif dari pengalaman manusia.²² Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih integratif—yang menggabungkan validitas empiris ilmu alam dengan pemahaman hermeneutik dan etis dari filsafat.²³


Footnotes

[1]                Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 37.

[2]                Auguste Comte, The Positive Philosophy of Auguste Comte (London: Trübner, 1875), 15.

[3]                David Papineau, Philosophical Naturalism (Oxford: Blackwell, 1993), 44.

[4]                Paul Churchland, Matter and Consciousness (Cambridge: MIT Press, 1988), 52.

[5]                Antonio Damasio, Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain (New York: Grosset/Putnam, 1994), 23.

[6]                Steven Rose, Lifelines: Biology, Freedom, Determinism (London: Penguin Books, 1997), 96.

[7]                Daniel C. Dennett, Darwin’s Dangerous Idea (New York: Simon & Schuster, 1995), 82.

[8]                Stephen Jay Gould, The Mismeasure of Man (New York: W. W. Norton, 1981), 20.

[9]                Konrad Lorenz, On Aggression (New York: Harcourt Brace, 1966), 12.

[10]             John-Dylan Haynes et al., “Unconscious Determinants of Free Decisions in the Human Brain,” Nature Neuroscience 11, no. 5 (2008): 543.

[11]             Robert Plomin et al., Behavioral Genetics, 7th ed. (New York: Worth Publishers, 2021), 11.

[12]             Thomas J. Bouchard Jr. et al., “Sources of Human Psychological Differences: The Minnesota Study of Twins Reared Apart,” Science 250, no. 4978 (1990): 223.

[13]             Sam Harris, Free Will (New York: Free Press, 2012), 8.

[14]             Dean Hamer, The Science of Desire: The Search for the Gay Gene and the Biology of Behavior (New York: Simon & Schuster, 1994), 9.

[15]             Michael S. Gazzaniga, The Ethical Brain (New York: Dana Press, 2005), 27.

[16]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 15.

[17]             Richard Dawkins, The Extended Phenotype (Oxford: Oxford University Press, 1982), 22.

[18]             Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 4.

[19]             David Sloan Wilson and Elliott Sober, Unto Others: The Evolution and Psychology of Unselfish Behavior (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 63.

[20]             Evelyn Fox Keller, The Mirage of a Space between Nature and Nurture (Durham: Duke University Press, 2010), 11.

[21]             Richard Lewontin, Biology as Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 23.

[22]             Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 178.

[23]             Francisco J. Ayala, Biological Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 119.


5.           Etika dan Implikasi Moral

Masalah utama yang muncul dari determinisme biologis bukan hanya bersifat ilmiah atau filosofis, melainkan etis dan moral. Jika tindakan manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor biologis—oleh gen, hormon, atau struktur otak—maka pertanyaan mendasar pun timbul: apakah manusia masih dapat dianggap bertanggung jawab atas tindakannya?¹ Dalam konteks ini, determinisme biologis menantang salah satu pilar utama etika, yakni kebebasan moral (moral freedom) sebagai dasar bagi tanggung jawab dan keadilan.²

5.1.       Determinisme dan Krisis Tanggung Jawab Moral

Dalam etika klasik, terutama dalam filsafat moral Immanuel Kant, kebebasan kehendak merupakan prasyarat bagi tanggung jawab moral.³ Manusia hanya dapat dipuji atau disalahkan jika ia memiliki kemampuan untuk memilih secara bebas antara yang baik dan yang buruk. Namun, dalam kerangka determinisme biologis, kebebasan semacam ini tampak problematis: tindakan manusia dipandang sebagai akibat dari mekanisme biologis yang mendahului kesadaran moralnya.⁴

Eksperimen neurosains seperti yang dilakukan oleh Benjamin Libet menunjukkan bahwa keputusan untuk bertindak sudah diproses di otak sebelum individu menyadarinya secara sadar.⁵ Penemuan semacam ini menimbulkan implikasi etis serius: jika kehendak hanyalah hasil dari aktivitas neuronal, maka konsep free will menjadi ilusi, dan dengan itu dasar bagi tanggung jawab moral pun melemah.⁶ Dalam konteks ini, filsuf seperti Sam Harris berargumen bahwa rasa bersalah dan penghukuman moral harus digantikan oleh pemahaman ilmiah tentang sebab-sebab biologis perilaku manusia.⁷

5.2.       Implikasi bagi Etika dan Sistem Hukum

Pandangan deterministik biologis memiliki konsekuensi praktis terhadap sistem etika dan hukum. Jika perilaku kriminal, misalnya, merupakan hasil dari disfungsi otak atau predisposisi genetik, maka hukuman harus dipertimbangkan bukan sebagai pembalasan moral, tetapi sebagai intervensi medis atau sosial.⁸ Dalam hal ini, penegakan keadilan bergeser dari paradigma moral ke paradigma biologis dan terapeutik.

Sebagai contoh, dalam beberapa kasus hukum di Amerika Serikat, pengacara pembela telah menggunakan bukti neurogenetik untuk mengurangi hukuman terdakwa, dengan argumen bahwa struktur otak tertentu meningkatkan kecenderungan agresi atau impulsivitas.⁹ Fenomena ini menandai pergeseran epistemik dari “tanggung jawab moral” menuju “determinasi biologis perilaku.”¹⁰

Namun, pendekatan ini menimbulkan dilema etis baru: jika setiap tindakan dapat dijelaskan melalui biologi, maka konsep keadilan retributif kehilangan maknanya.¹¹ Dalam masyarakat yang sepenuhnya mengadopsi pandangan deterministik, tidak ada lagi “pelaku moral”, melainkan hanya “organisme bereaksi”.¹² Akibatnya, tanggung jawab berubah menjadi persoalan diagnosis dan intervensi, bukan pertimbangan moral.¹³

5.3.       Problematika Etika Sosial: Genetika, Eugenika, dan Diskriminasi

Selain dalam konteks hukum, determinisme biologis juga menimbulkan implikasi etis yang luas dalam bidang sosial dan politik. Jika perilaku manusia ditentukan oleh gen, maka perbedaan moral, kecerdasan, dan kemampuan sosial dapat dianggap sebagai hasil pewarisan biologis—pandangan yang berbahaya karena membuka pintu bagi eugenika dan diskriminasi genetik.¹⁴

Sejarah abad ke-20 menunjukkan bagaimana ide deterministik-biologis disalahgunakan untuk membenarkan kebijakan rasial dan eugenik, seperti pada rezim Nazi Jerman.¹⁵ Dalam konteks kontemporer, bahaya serupa muncul dalam bentuk baru melalui teknologi gene editing dan genomic profiling, yang dapat memicu ketimpangan sosial baru berdasarkan genetik.¹⁶ Filsuf Julian Savulescu mengingatkan bahwa bioteknologi harus diatur dengan prinsip kehati-hatian moral agar tidak memperkuat diskriminasi atau hierarki biologis dalam masyarakat.¹⁷

Dengan demikian, determinisme biologis, jika diterima tanpa koreksi etis, berpotensi mengubah manusia menjadi objek biologis murni, kehilangan martabat moralnya sebagai subjek yang otonom.¹⁸

5.4.       Upaya Rekonsiliasi: Compatibilism dan Etika Evolusioner

Beberapa pemikir berupaya mendamaikan determinisme biologis dengan tanggung jawab moral melalui gagasan compatibilism, yaitu pandangan bahwa kebebasan dan determinasi tidak saling bertentangan.¹⁹ Dalam kerangka ini, manusia memang tunduk pada sebab biologis, tetapi tetap dapat dianggap “bebas” sejauh ia bertindak sesuai dengan motif internalnya, bukan paksaan eksternal.²⁰ Filsuf seperti Daniel Dennett menekankan bahwa kebebasan bukan berarti ketiadaan sebab, melainkan kemampuan organisme untuk mengantisipasi konsekuensi dan bertindak secara rasional dalam kerangka biologis yang ada.²¹

Selain itu, muncul pula pendekatan etika evolusioner, yang berupaya memahami moralitas sebagai hasil adaptasi biologis.²² Menurut Edward O. Wilson, perilaku moral muncul karena fungsi sosialnya dalam menjaga kohesi kelompok dan meningkatkan kelangsungan hidup spesies.²³ Meskipun demikian, pandangan ini menimbulkan ketegangan antara fakta ilmiah dan nilai normatif: apakah sesuatu dianggap baik karena menguntungkan secara evolusioner, atau karena memiliki nilai moral yang melekat?²⁴


Dimensi Moral Manusia dan Tantangan Etis Baru

Akhirnya, determinisme biologis menantang filsafat moral untuk merumuskan kembali konsep martabat manusia. Jika manusia dipahami hanya sebagai sistem biologis kompleks, maka nilai moral, tanggung jawab, dan kebebasan harus ditafsir ulang dalam konteks naturalistik.²⁵ Beberapa filsuf seperti Patricia Churchland berupaya mengembangkan neuroetika, yaitu bidang yang menjelaskan dasar biologis moralitas tanpa menghapus nilai kemanusiaan.²⁶

Namun, tantangan etis tetap besar: bagaimana menjaga keseimbangan antara penerimaan terhadap realitas biologis manusia dan pengakuan terhadap kapasitas reflektif serta empati moral yang menjadikan manusia lebih dari sekadar organisme evolusioner?²⁷ Jawaban atas pertanyaan ini menjadi inti dari perdebatan antara sains dan filsafat, antara determinasi dan kebebasan, antara biologi dan etika.²⁸


Footnotes

[1]                Ted Honderich, A Theory of Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 22.

[2]                Peter van Inwagen, An Essay on Free Will (Oxford: Clarendon Press, 1983), 12.

[3]                Immanuel Kant, Groundwork for the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 45.

[4]                Antonio Damasio, Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain (New York: Grosset/Putnam, 1994), 27.

[5]                Benjamin Libet, “Do We Have Free Will?,” Journal of Consciousness Studies 6, no. 8–9 (1999): 48.

[6]                Patrick Haggard, “Human Volition: Towards a Neuroscience of Will,” Nature Reviews Neuroscience 9, no. 12 (2008): 935.

[7]                Sam Harris, Free Will (New York: Free Press, 2012), 13.

[8]                Michael S. Gazzaniga, Who’s in Charge? Free Will and the Science of the Brain (New York: HarperCollins, 2011), 119.

[9]                Nita A. Farahany, “Neuroscience and Behavioral Genetics in US Criminal Law: An Empirical Analysis,” Journal of Law and the Biosciences 2, no. 3 (2015): 485.

[10]             Stephen J. Morse, “Brain Overclaim Syndrome and Criminal Responsibility: A Diagnostic Note,” Ohio State Journal of Criminal Law 3 (2006): 397.

[11]             Joshua Greene and Jonathan Cohen, “For the Law, Neuroscience Changes Nothing and Everything,” Philosophical Transactions of the Royal Society B 359, no. 1451 (2004): 1775.

[12]             Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 192.

[13]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 97.

[14]             Richard Lewontin, Biology as Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 26.

[15]             Stefan Kühl, The Nazi Connection: Eugenics, American Racism, and German National Socialism (New York: Oxford University Press, 1994), 41.

[16]             Jennifer A. Doudna and Samuel H. Sternberg, A Crack in Creation: Gene Editing and the Unthinkable Power to Control Evolution (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2017), 178.

[17]             Julian Savulescu, Enhancing Human Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 55.

[18]             Martha C. Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 73.

[19]             John Martin Fischer, The Metaphysics of Free Will: An Essay on Control (Oxford: Blackwell, 1994), 123.

[20]             Roderick Chisholm, “Human Freedom and the Self,” The Lindley Lecture (University of Kansas, 1964), 9.

[21]             Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 87.

[22]             Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986), 111.

[23]             Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 562.

[24]             J. L. Mackie, Ethics: Inventing Right and Wrong (London: Penguin, 1977), 76.

[25]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 28.

[26]             Patricia S. Churchland, Neurophilosophy: Toward a Unified Science of the Mind-Brain (Cambridge: MIT Press, 1986), 226.

[27]             Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 34.

[28]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 91.


6.           Kritik terhadap Determinisme Biologis

Meskipun determinisme biologis memiliki dasar ilmiah yang kuat dan telah memberikan pemahaman mendalam tentang hubungan antara biologi dan perilaku manusia, pandangan ini tidak lepas dari kritik filosofis, ilmiah, dan etis. Kritik tersebut muncul dari berbagai bidang—filsafat eksistensial, humanisme, sosiologi, dan biologi itu sendiri—yang menolak penyederhanaan manusia menjadi sekadar hasil dari proses biologis.¹ Kritik terhadap determinisme biologis dapat dibagi menjadi empat ranah utama: kritik filosofis-humanistik, kritik ilmiah-interaksionistik, kritik sosial-budaya, dan kritik etis-normatif

6.1.       Kritik Filosofis-Humanistik: Kebebasan dan Makna Eksistensial

Dari sudut pandang eksistensialisme, determinisme biologis dipandang sebagai ancaman terhadap martabat dan kebebasan manusia. Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa “eksistensi mendahului esensi,” yang berarti manusia tidak ditentukan oleh kodrat apa pun—biologis maupun metafisis—tetapi membentuk dirinya melalui pilihan bebas.³ Dengan demikian, gagasan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh gen dianggap meniadakan otonomi eksistensial manusia sebagai makhluk yang sadar, bertanggung jawab, dan kreatif.⁴

Filsuf Viktor E. Frankl, dalam refleksinya tentang makna hidup, menolak pandangan reduksionistik yang mengurung manusia dalam determinasi biologis atau psikologis. Menurutnya, manusia selalu memiliki ruang kebebasan batin untuk memilih sikapnya terhadap kondisi apa pun, bahkan dalam penderitaan ekstrem.⁵ Kritik ini menyoroti bahwa determinisme biologis gagal menjelaskan dimensi transendental manusia—yakni kemampuan untuk memberi makna dan tujuan pada kehidupannya di luar kausalitas biologis.⁶

6.2.       Kritik Ilmiah: Interaksi Gen dan Lingkungan

Dari perspektif ilmiah, banyak peneliti menolak determinisme biologis yang bersifat reduksionistik, karena realitas perilaku manusia melibatkan interaksi kompleks antara gen, lingkungan, dan pengalaman sosial.⁷ Model gene–environment interaction (G×E) menunjukkan bahwa ekspresi genetik tidak bersifat statis, tetapi dipengaruhi oleh konteks lingkungan.⁸ Sebagai contoh, gen yang berhubungan dengan agresivitas mungkin hanya aktif dalam lingkungan yang penuh stres atau kekerasan, bukan dalam kondisi sosial yang stabil.⁹

Penelitian dalam epigenetika juga memperkuat kritik ini: struktur DNA memang relatif stabil, tetapi ekspresi gen dapat dimodulasi oleh faktor-faktor non-genetik seperti nutrisi, pola asuh, dan pengalaman emosional.¹⁰ Dengan demikian, manusia bukan produk biologis murni, melainkan hasil dari dialog dinamis antara tubuh dan dunia sosialnya.¹¹

Filsuf biologi Evelyn Fox Keller menegaskan bahwa sains modern perlu meninggalkan dikotomi “nature versus nurture” dan mengadopsi paradigma ko-evolusioner yang melihat gen dan lingkungan sebagai sistem terbuka yang saling membentuk.¹²

6.3.       Kritik Sosial dan Kultural: Bahaya Ideologi Biologisme

Kritik berikutnya datang dari sosiologi dan teori kritis, yang menilai determinisme biologis berpotensi digunakan untuk melegitimasi ketimpangan sosial.¹³ Jika sifat manusia dianggap ditentukan secara genetik, maka perbedaan kelas, gender, atau ras dapat diinterpretasikan sebagai sesuatu yang “alami” dan tak terelakkan.¹⁴

Stephen Jay Gould dalam The Mismeasure of Man menunjukkan bahwa determinisme biologis sering kali menjadi alat ideologis untuk mempertahankan status quo sosial, seperti dalam teori rasial dan eugenika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.¹⁵ Dalam konteks modern, bentuk baru dari “biologisme” muncul dalam wacana genetika perilaku yang berupaya menjelaskan fenomena sosial kompleks—seperti kriminalitas atau kemiskinan—melalui faktor genetik semata.¹⁶

Kritikus seperti Richard Lewontin, Steven Rose, dan Leon Kamin menegaskan bahwa kecenderungan tersebut merupakan bentuk “ilmu ideologis” (ideological science), karena mengaburkan peran struktur ekonomi, pendidikan, dan budaya dalam membentuk perilaku manusia.¹⁷ Oleh karena itu, mereka menuntut pendekatan yang lebih dialektis dan kontekstual, yang menggabungkan dimensi biologis, psikologis, dan sosial secara seimbang.¹⁸

6.4.       Kritik Etis-Normatif: Reduksi terhadap Martabat dan Nilai Moral

Secara etis, determinisme biologis dianggap berbahaya karena mereduksi manusia menjadi objek biologis tanpa nilai moral.¹⁹ Pandangan ini dapat melemahkan konsep tanggung jawab, kebebasan, dan keadilan, karena setiap tindakan dianggap sebagai akibat dari faktor yang tak dapat dikendalikan.²⁰ Dalam konteks moralitas, reduksi semacam ini mengancam martabat manusia sebagai subjek etis yang otonom.²¹

Selain itu, determinisme biologis berpotensi memicu bentuk baru diskriminasi: genetic determinism dapat melahirkan pandangan bahwa individu “baik” atau “buruk” berdasarkan gen yang dimilikinya.²² Dalam dunia bioteknologi modern, hal ini dapat mengarah pada praktik bio-essentialism, di mana identitas dan nilai moral seseorang ditentukan oleh biologi, bukan oleh kapasitas rasional dan moralnya.²³

Sebagai tanggapan terhadap bahaya ini, sejumlah filsuf seperti Martha C. Nussbaum dan Jürgen Habermas menyerukan perlunya etika berbasis martabat manusia yang melampaui determinasi biologis, dengan menekankan rasionalitas komunikatif dan potensi reflektif manusia sebagai dasar moralitas.²⁴


Menuju Kritik Sintetik: Manusia sebagai Makhluk Biologis dan Moral

Kritik terhadap determinisme biologis tidak menolak sains, tetapi menuntut pembacaan yang lebih holistik terhadap manusia.²⁵ Manusia memang memiliki dimensi biologis yang tak terhindarkan, namun reduksi manusia semata pada biologi menghilangkan aspek kesadaran, kebudayaan, dan moralitas yang membentuk kemanusiaannya.²⁶ Oleh karena itu, kritik-kritik ini mengarah pada posisi intermediatif, yang berusaha menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan pengakuan terhadap otonomi moral manusia.²⁷

Dengan kata lain, manusia dapat dipahami sebagai makhluk yang sekaligus ditentukan dan menentukan: ditentukan oleh struktur biologisnya, tetapi juga menentukan dirinya melalui refleksi, pilihan, dan kebudayaan.²⁸ Kritik semacam ini tidak hanya membatasi klaim deterministik, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang hakikat manusia sebagai entitas biologis yang berkesadaran moral.²⁹


Footnotes

[1]                Ted Honderich, A Theory of Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 3.

[2]                Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 144.

[3]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 22.

[4]                Simone de Beauvoir, The Ethics of Ambiguity, trans. Bernard Frechtman (New York: Philosophical Library, 1948), 12.

[5]                Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 86.

[6]                Ibid., 87.

[7]                Robert Plomin et al., Behavioral Genetics, 7th ed. (New York: Worth Publishers, 2021), 64.

[8]                Avshalom Caspi et al., “Role of Genotype in the Cycle of Violence in Maltreated Children,” Science 297, no. 5582 (2002): 851.

[9]                Steven Pinker, The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 71.

[10]             Moshe Szyf, “The Epigenetics of Perinatal Stress,” Dialogues in Clinical Neuroscience 21, no. 4 (2019): 347.

[11]             Eric R. Kandel, In Search of Memory: The Emergence of a New Science of Mind (New York: W. W. Norton, 2006), 113.

[12]             Evelyn Fox Keller, The Mirage of a Space between Nature and Nurture (Durham: Duke University Press, 2010), 11.

[13]             Richard C. Lewontin, Steven Rose, and Leon J. Kamin, Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature (New York: Pantheon Books, 1984), 7.

[14]             Stephen Jay Gould, The Mismeasure of Man (New York: W. W. Norton, 1981), 17.

[15]             Ibid., 21.

[16]             Steven Rose, Lifelines: Biology, Freedom, Determinism (London: Penguin Books, 1997), 94.

[17]             Lewontin, Rose, and Kamin, Not in Our Genes, 12.

[18]             Ibid., 15.

[19]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 28.

[20]             Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 85.

[21]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 44.

[22]             Julian Savulescu, Enhancing Human Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 54.

[23]             Francis Fukuyama, Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002), 101.

[24]             Jürgen Habermas, The Future of Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 56.

[25]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 32.

[26]             Paul Ricoeur, Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press, 1966), 11.

[27]             Francisco J. Ayala, Biological Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 121.

[28]             Raymond Tallis, Aping Mankind, 238.

[29]             Martha C. Nussbaum, Frontiers of Justice: Disability, Nationality, Species Membership (Cambridge: Harvard University Press, 2006), 102.


7.           Relevansi dan Aplikasi Kontemporer

Dalam konteks abad ke-21, determinisme biologis mengalami kebangkitan baru seiring kemajuan pesat dalam genetika, neurosains, dan bioteknologi. Pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan secara biologis kini tidak hanya menjadi diskursus teoretis, tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam bidang hukum, kesehatan, pendidikan, dan etika biomedis.¹ Relevansi kontemporer determinisme biologis terletak pada kemampuannya menjembatani antara pemahaman ilmiah tentang manusia dan dilema moral yang ditimbulkan oleh intervensi terhadap dasar biologis kehidupan itu sendiri.²

7.1.       Determinisme Biologis dalam Era Genetika dan Bioteknologi

Kemajuan genetika modern, terutama setelah keberhasilan Human Genome Project (2003), telah mengubah cara manusia memahami dirinya.³ Melalui proyek ini, gen manusia tidak lagi dianggap sebagai entitas misterius, tetapi sebagai peta kausal yang menjelaskan banyak aspek perilaku, kesehatan, dan kecenderungan psikologis.⁴ Penemuan gen yang berhubungan dengan depresi, kecerdasan, atau bahkan kecenderungan kriminalitas menimbulkan kembali perdebatan lama tentang sejauh mana biologi menentukan moralitas.⁵

Lebih jauh, teknologi CRISPR-Cas9 memungkinkan manusia untuk melakukan gene editing, membuka peluang untuk memperbaiki penyakit genetik sekaligus menciptakan potensi rekayasa terhadap sifat-sifat manusia.⁶ Meskipun kemajuan ini menjanjikan manfaat medis besar, ia juga menghadirkan tantangan etis dan filosofis: apakah manusia berhak mengubah kodrat biologisnya? Apakah intervensi terhadap gen berarti mengambil alih “kendali deterministik” dari alam kepada manusia itu sendiri?⁷

Francis Fukuyama memperingatkan bahwa manipulasi genetika dapat mengancam konsep manusia sebagai makhluk bermoral dan otonom, menciptakan kondisi yang ia sebut “posthuman future.”⁸ Dalam konteks ini, determinisme biologis memasuki fase reflektif: manusia kini tidak hanya tunduk pada biologi, tetapi juga menjadi agen yang dapat menentukan determinasi biologisnya sendiri.⁹

7.2.       Neurosains dan Transformasi Konsep Kebebasan

Relevansi lain dari determinisme biologis muncul dalam perkembangan neurosains kontemporer, yang semakin mengungkap hubungan antara otak, kesadaran, dan perilaku moral.¹⁰ Penelitian menggunakan fMRI menunjukkan bahwa keputusan moral dan pilihan etis memiliki korelasi yang kuat dengan aktivitas neural di area prefrontal cortex dan sistem limbik.¹¹ Hal ini memperkuat tesis bahwa kehendak bebas hanyalah fenomena emergen dari aktivitas biologis otak, bukan entitas metafisik yang otonom.¹²

Dalam praktik hukum dan psikologi forensik, temuan ini mulai memengaruhi cara masyarakat memahami tanggung jawab moral.¹³ Misalnya, terdakwa dengan kelainan neurologis tertentu dapat dianggap memiliki kapasitas moral yang berkurang, sehingga tuntutan hukuman diubah menjadi rehabilitasi.¹⁴ Meskipun memberikan keadilan yang lebih humanis, pendekatan ini juga menimbulkan risiko normatif: apabila semua perilaku dijelaskan secara neurologis, ruang bagi tanggung jawab personal dapat menghilang.¹⁵

Sebagai respons, beberapa filsuf seperti Daniel Dennett mengusulkan pendekatan compatibilism baru, yang menafsirkan kebebasan sebagai kemampuan organisme untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan dan prediksi biologisnya.¹⁶ Dalam kerangka ini, determinisme tidak meniadakan kebebasan, tetapi justru memberikan pemahaman ilmiah tentang bagaimana kebebasan itu bekerja di dalam sistem biologis manusia.¹⁷

7.3.       Determinisme Biologis dalam Psikologi Evolusioner dan Sosiobiologi

Bidang psikologi evolusioner dan sosiobiologi menjadi wadah paling produktif bagi penerapan determinisme biologis dalam kajian perilaku manusia.¹⁸ Tokoh seperti Edward O. Wilson dan David M. Buss berpendapat bahwa perilaku sosial dan moralitas manusia memiliki akar adaptif yang terbentuk melalui seleksi alam.¹⁹ Misalnya, kecenderungan altruistik atau perilaku empatik dapat dipahami sebagai strategi evolusioner untuk meningkatkan kelangsungan hidup kelompok.²⁰

Dalam konteks sosial, teori ini membantu menjelaskan pola perilaku universal seperti kerja sama, persaingan, dan pembentukan hierarki sosial.²¹ Namun, penerapan psikologi evolusioner sering kali dikritik karena berpotensi mengabaikan pengaruh budaya dan sejarah.²² Meski demikian, sumbangan epistemiknya penting: ia memperluas horizon pemahaman tentang moralitas dan rasionalitas manusia sebagai bagian dari strategi biologis spesies yang berkembang secara evolusioner.²³

7.4.       Implikasi Etika, Sosial, dan Teknologis

Relevansi determinisme biologis dalam dunia kontemporer juga tampak dalam bidang bioetika, pendidikan, dan kebijakan sosial. Dalam bioetika, pandangan deterministik menuntut kehati-hatian dalam penerapan teknologi genetika dan neuroteknologi agar tidak menimbulkan ketidakadilan baru berbasis biologis.²⁴ Julian Savulescu misalnya menekankan perlunya moral enhancement—yakni peningkatan kapasitas etis manusia melalui intervensi biologis—namun dengan dasar tanggung jawab moral yang kuat.²⁵

Dalam pendidikan, pemahaman tentang faktor biologis dalam kecerdasan dan perilaku membantu merancang strategi belajar yang lebih individualistik, namun tetap harus diimbangi dengan pengakuan terhadap fleksibilitas lingkungan dan peran sosial.²⁶ Sementara dalam bidang sosial-politik, pemahaman determinisme biologis dapat digunakan untuk mendukung kebijakan kesehatan mental, tetapi berbahaya jika digunakan untuk membenarkan ketimpangan atau diskriminasi.²⁷


Determinisme Biologis dan Krisis Makna Kemanusiaan

Akhirnya, relevansi determinisme biologis di era kontemporer terletak pada krisis eksistensial yang ditimbulkannya. Dengan kemampuan manusia untuk memodifikasi gen dan memetakan kesadaran otak, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia masih memiliki makna metafisik dan moral, ataukah ia telah menjadi makhluk teknologis yang menundukkan biologi demi efisiensi?²⁸

Dalam konteks ini, filsuf Jürgen Habermas memperingatkan bahwa intervensi genetik yang tidak melalui komunikasi moral dapat merusak dasar otonomi manusia.²⁹ Sementara itu, Martha C. Nussbaum mengusulkan paradigma capability approach, yang melihat manusia bukan hanya sebagai hasil determinasi biologis, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki potensi reflektif dan kemampuan moral yang harus dilindungi oleh tatanan sosial yang adil.³⁰

Dengan demikian, determinisme biologis dalam era modern bukan hanya tantangan ilmiah, tetapi juga tantangan etis dan antropologis: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah dominasi biologi dan teknologi.³¹


Footnotes

[1]                Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 192.

[2]                Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 85.

[3]                Francis S. Collins, The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief (New York: Free Press, 2006), 93.

[4]                Matt Ridley, Genome: The Autobiography of a Species in 23 Chapters (New York: HarperCollins, 1999), 12.

[5]                Steven Pinker, The Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature (New York: Viking, 2002), 89.

[6]                Jennifer A. Doudna and Samuel H. Sternberg, A Crack in Creation: Gene Editing and the Unthinkable Power to Control Evolution (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2017), 178.

[7]                Julian Savulescu, Enhancing Human Capacities (Oxford: Wiley-Blackwell, 2011), 55.

[8]                Francis Fukuyama, Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002), 101.

[9]                Ibid., 104.

[10]             Michael S. Gazzaniga, Who’s in Charge? Free Will and the Science of the Brain (New York: HarperCollins, 2011), 15.

[11]             Joshua Greene and Jonathan Haidt, “How (and Where) Does Moral Judgment Work?,” Trends in Cognitive Sciences 6, no. 12 (2002): 517.

[12]             Benjamin Libet, “Do We Have Free Will?,” Journal of Consciousness Studies 6, no. 8–9 (1999): 47.

[13]             Nita A. Farahany, “Neuroscience and Behavioral Genetics in US Criminal Law: An Empirical Analysis,” Journal of Law and the Biosciences 2, no. 3 (2015): 489.

[14]             Stephen J. Morse, “Brain Overclaim Syndrome and Criminal Responsibility,” Ohio State Journal of Criminal Law 3 (2006): 399.

[15]             Sam Harris, Free Will (New York: Free Press, 2012), 9.

[16]             Daniel C. Dennett, Elbow Room: The Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge: MIT Press, 1984), 142.

[17]             Paul Churchland, Matter and Consciousness (Cambridge: MIT Press, 1988), 77.

[18]             Edward O. Wilson, Sociobiology: The New Synthesis (Cambridge: Harvard University Press, 1975), 561.

[19]             David M. Buss, Evolutionary Psychology: The New Science of the Mind (New York: Routledge, 2019), 21.

[20]             Robert Trivers, “The Evolution of Reciprocal Altruism,” Quarterly Review of Biology 46, no. 1 (1971): 35.

[21]             Leda Cosmides and John Tooby, “Cognitive Adaptations for Social Exchange,” in The Adapted Mind: Evolutionary Psychology and the Generation of Culture, ed. Jerome Barkow et al. (Oxford: Oxford University Press, 1992), 163.

[22]             Stephen Jay Gould and Richard C. Lewontin, “The Spandrels of San Marco and the Panglossian Paradigm,” Proceedings of the Royal Society of London B205 (1979): 581.

[23]             Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986), 117.

[24]             Tom L. Beauchamp and James F. Childress, Principles of Biomedical Ethics, 8th ed. (Oxford: Oxford University Press, 2019), 12.

[25]             Savulescu, Enhancing Human Capacities, 61.

[26]             Robert Plomin and Kathryn Asbury, Nature and Nurture: Genetic and Environmental Influences on Behavior (New York: Routledge, 2005), 72.

[27]             Richard Lewontin, Biology as Ideology: The Doctrine of DNA (New York: Harper Perennial, 1991), 31.

[28]             Raymond Tallis, Aping Mankind, 244.

[29]             Jürgen Habermas, The Future of Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 76.

[30]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 98.

[31]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 104.


8.           Sintesis Filosofis: Determinisme Biologis sebagai Tantangan terhadap Konsep Kebebasan dan Kemanusiaan

Sintesis filosofis dari determinisme biologis berupaya menjembatani ketegangan antara dua kutub pemikiran: di satu sisi, pandangan naturalistik yang menekankan penjelasan ilmiah terhadap perilaku manusia melalui biologi; di sisi lain, pandangan humanistik yang mempertahankan kebebasan, kesadaran, dan nilai moral sebagai inti eksistensi manusia.¹ Dalam upaya sintetik ini, determinisme biologis tidak dipahami sebagai penafian terhadap kebebasan, melainkan sebagai kerangka penjelas yang memperkaya pemahaman tentang keterkaitan antara struktur biologis dan otonomi moral manusia

8.1.       Dari Determinasi Menuju Koherensi: Manusia sebagai Sistem Terbuka

Secara ontologis, determinisme biologis menempatkan manusia sebagai organisme yang tunduk pada hukum sebab-akibat alamiah.³ Namun, filsafat kontemporer menunjukkan bahwa determinan biologis tidak bersifat tertutup, melainkan berinteraksi secara dinamis dengan lingkungan, kesadaran, dan kebudayaan.⁴ Dalam kerangka ini, manusia dapat dipahami sebagai sistem terbuka—yakni entitas biologis yang berinteraksi, menafsirkan, dan menata ulang dunia sekitarnya.⁵

Francisco Varela dan Humberto Maturana dalam teori autopoiesis menjelaskan bahwa sistem biologis hidup bersifat otonom dalam arti tertentu: ia mempertahankan dirinya melalui interaksi kreatif dengan lingkungan, bukan sekadar reaksi mekanistik.⁶ Dengan demikian, kebebasan manusia tidak meniadakan determinasi biologis, tetapi merupakan bentuk self-regulation yang muncul dari kompleksitas sistem kehidupan itu sendiri.⁷

8.2.       Compatibilism Baru: Kebebasan dalam Determinasi

Secara epistemologis dan etis, pendekatan sintetik dapat ditemukan dalam gagasan compatibilism, yakni pandangan bahwa kebebasan dan determinasi tidak saling bertentangan.⁸ Daniel C. Dennett berargumen bahwa manusia dapat disebut bebas sejauh tindakannya berasal dari dirinya sendiri, meskipun sebab-sebab biologis dan psikologis turut memengaruhinya.⁹ Dalam kerangka ini, kebebasan bukan berarti ketiadaan sebab, tetapi kemampuan reflektif untuk menilai, mengarahkan, dan memodifikasi sebab-sebab tersebut.¹⁰

Compatibilism modern berusaha menunjukkan bahwa kesadaran manusia memiliki sifat emergen: ia muncul dari sistem biologis yang kompleks, tetapi tidak dapat direduksi sepenuhnya padanya.¹¹ John Searle menegaskan bahwa meskipun keputusan manusia berakar pada proses neurobiologis, tingkat kesadaran subjektif menghasilkan “ruang intensionalitas” di mana refleksi dan tanggung jawab moral dapat muncul.¹² Dengan demikian, kebebasan manusia dapat dipahami sebagai kebebasan dalam keterbatasan, bukan di luar kausalitas biologis, melainkan di dalamnya.¹³

8.3.       Integrasi Biologi dan Etika: Menuju Filsafat Kehidupan

Sintesis filosofis juga menuntut integrasi antara ilmu kehidupan (life sciences) dan filsafat moral.⁴¹ Para filsuf seperti Patricia S. Churchland dan Frans de Waal mengembangkan konsep neuroetika dan etika evolusioner yang menunjukkan bahwa dasar moralitas dapat dijelaskan secara biologis tanpa menghapus nilai normatifnya.¹⁵ Dalam perspektif ini, empati, kerja sama, dan keadilan muncul sebagai hasil adaptasi biologis, namun melalui refleksi rasional manusia menjadi norma etis universal.¹⁶

Sintesis ini menolak reduksionisme murni maupun spiritualisme ekstrem. Biologi memberikan landasan empiris bagi moralitas, tetapi kesadaran manusia mengubah fungsi biologis tersebut menjadi makna normatif yang lebih tinggi.¹⁷ Sebagaimana dikemukakan Michael Ruse, moralitas adalah hasil evolusi yang kemudian diberi bentuk reflektif melalui kesadaran manusia sebagai makhluk bermoral.¹⁸ Dengan demikian, biologi menyediakan struktur, tetapi filsafat memberikan arah.¹⁹

8.4.       Rehabilitasi Konsep Kemanusiaan

Sintesis filosofis determinisme biologis juga berupaya merehabilitasi makna kemanusiaan di tengah era bioteknologi dan neurodeterminisme. Dalam situasi di mana manusia dapat memodifikasi gen, memetakan otak, dan mengendalikan perilaku melalui teknologi, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia masih menjadi subjek moral atau sekadar objek biologis yang dapat direkayasa?²⁰

Filsuf Jürgen Habermas menegaskan bahwa intervensi genetik terhadap manusia yang belum lahir tanpa komunikasi moral melanggar prinsip otonomi manusia sebagai makhluk yang mampu merefleksikan dirinya.²¹ Sementara Martha C. Nussbaum melalui pendekatan capability menekankan bahwa kemanusiaan harus dipahami sebagai kapasitas untuk mengembangkan potensi rasional dan emosional, bukan sekadar hasil determinasi genetik.²²

Dengan demikian, sintesis filosofis menuntut etik baru tentang kemanusiaan—yakni pandangan yang menerima biologi sebagai dasar eksistensi, tetapi menolak untuk menjadikannya batas moral.²³ Manusia adalah makhluk biologis yang memiliki kesadaran reflektif dan tanggung jawab etis; ia hidup dalam jaringan sebab-akibat alamiah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menilai, memilih, dan memberi makna terhadapnya.²⁴


Menuju Paradigma Integratif: Naturalisme Humanistik

Sebagai penutup, sintesis filosofis determinisme biologis dapat dirumuskan dalam paradigma naturalisme humanistik—sebuah pandangan yang memadukan pemahaman ilmiah tentang manusia dengan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.²⁵ Naturalisme humanistik menegaskan bahwa kebebasan bukanlah penyangkalan terhadap biologi, melainkan kemampuan manusia untuk menata ulang determinasi biologis melalui rasionalitas dan refleksi etis.²⁶

Pandangan ini menempatkan manusia dalam posisi unik di alam semesta: ia adalah bagian dari alam, namun juga sadar akan keberadaannya di dalam alam.²⁷ Dalam kesadaran inilah terletak inti kebebasan manusia—yakni kemampuan untuk mengubah sebab menjadi makna, dan hukum biologis menjadi dasar bagi moralitas.²⁸

Dengan demikian, sintesis filosofis terhadap determinisme biologis bukanlah negasi terhadap ilmu, tetapi perluasan horizon filsafat tentang manusia: bahwa manusia adalah makhluk biologis yang bebas karena mampu memahami dan mengarahkan determinasi yang membentuk dirinya.²⁹


Footnotes

[1]                Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 24.

[2]                Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 214.

[3]                Ted Honderich, A Theory of Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 11.

[4]                Francisco J. Ayala, Biological Evolution: An Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 120.

[5]                Humberto Maturana and Francisco Varela, Autopoiesis and Cognition: The Realization of the Living (Dordrecht: D. Reidel, 1980), 78.

[6]                Ibid., 85.

[7]                Evan Thompson, Mind in Life: Biology, Phenomenology, and the Sciences of Mind (Cambridge: Harvard University Press, 2007), 44.

[8]                John Martin Fischer, The Metaphysics of Free Will: An Essay on Control (Oxford: Blackwell, 1994), 19.

[9]                Daniel C. Dennett, Elbow Room: The Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge: MIT Press, 1984), 143.

[10]             Ibid., 150.

[11]             Roger Sperry, “Mind, Brain, and Humanist Values,” Bulletin of the Atomic Scientists 18, no. 9 (1962): 25.

[12]             John Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge: MIT Press, 1992), 58.

[13]             Sam Harris, Free Will (New York: Free Press, 2012), 21.

[14]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 29.

[15]             Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 34.

[16]             Ibid., 37.

[17]             Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986), 112.

[18]             Ibid., 116.

[19]             Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Alfred A. Knopf, 1998), 133.

[20]             Francis Fukuyama, Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002), 107.

[21]             Jürgen Habermas, The Future of Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 79.

[22]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 103.

[23]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 112.

[24]             Paul Ricoeur, Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press, 1966), 87.

[25]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 75.

[26]             Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 66.

[27]             Ernst Mayr, This Is Biology: The Science of the Living World (Cambridge: Harvard University Press, 1997), 222.

[28]             Raymond Tallis, Aping Mankind, 249.

[29]             Daniel C. Dennett, Freedom Evolves, 260.


9.           Kesimpulan

Kajian tentang determinisme biologis memperlihatkan bahwa persoalan mengenai kebebasan dan penentuan manusia tidak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang kodrat biologisnya.¹ Dalam perspektif ontologis, determinisme biologis menegaskan bahwa manusia merupakan organisme yang tunduk pada hukum alam, di mana perilaku, emosi, dan bahkan moralitas berakar pada proses biologis yang kompleks.² Namun, dalam tataran filosofis, hal ini menimbulkan dilema mendalam: jika manusia sepenuhnya ditentukan oleh biologi, bagaimana mungkin ia tetap dianggap sebagai makhluk bebas dan bertanggung jawab secara moral?³

9.1.       Sintesis antara Naturalisme dan Humanisme

Dari keseluruhan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa determinisme biologis tidak harus dipahami sebagai negasi terhadap kebebasan, melainkan sebagai konteks tempat kebebasan manusia bekerja.⁴ Manusia memang ditentukan oleh gen, hormon, dan struktur saraf, tetapi determinasi ini bukanlah penjara, melainkan kerangka kemungkinan yang memungkinkan lahirnya kesadaran reflektif dan tindakan moral.⁵ Dengan kata lain, kebebasan manusia adalah kebebasan yang beroperasi di dalam kausalitas biologis, bukan di luar darinya.⁶

Pandangan ini sejalan dengan pendekatan compatibilism modern, yang berusaha menempatkan kebebasan dan determinasi dalam hubungan dialektis.⁷ Daniel C. Dennett menegaskan bahwa kebebasan manusia bersifat biologis dan evolusioner—yakni hasil dari mekanisme alamiah yang memungkinkan refleksi, perencanaan, dan pengendalian diri.⁸ Dengan demikian, biologi tidak meniadakan kebebasan, tetapi menyediakan fondasi empiris bagi keberadaannya.⁹

9.2.       Relevansi Etis dan Tanggung Jawab Moral

Dari sudut etika, determinisme biologis menuntut reinterpretasi terhadap konsep tanggung jawab moral. Jika perilaku manusia memiliki dasar biologis, maka moralitas tidak lagi dapat dipahami secara metafisik, tetapi harus ditafsir ulang dalam konteks neurobiologis dan sosial.¹⁰ Namun demikian, pengakuan atas pengaruh biologis tidak serta-merta menghapus tanggung jawab moral; sebaliknya, ia memperluas pemahaman tentang keterbatasan dan kapasitas manusia sebagai makhluk yang berefleksi atas sebab-sebab tindakannya.¹¹

Seperti dikemukakan Patricia S. Churchland, moralitas tidak berdiri di luar biologi, melainkan berakar di dalamnya sebagai sistem regulasi sosial yang dikembangkan oleh otak untuk menjaga keberlangsungan spesies.¹² Oleh sebab itu, tanggung jawab moral dapat dipahami sebagai hasil evolusi yang ditransformasikan menjadi kesadaran etis melalui budaya dan refleksi.¹³ Dengan demikian, biologi dan etika bukanlah dua medan yang saling meniadakan, melainkan dua dimensi yang saling melengkapi dalam menjelaskan kemanusiaan.¹⁴

9.3.       Tantangan dan Prospek Filosofis di Era Bioteknologi

Dalam konteks kontemporer, determinisme biologis menempati posisi ambivalen: di satu sisi ia membuka kemungkinan baru untuk memahami manusia secara ilmiah, tetapi di sisi lain menimbulkan risiko dehumanisasi apabila dipahami secara reduksionistik.¹⁵ Perkembangan bioteknologi dan neuroilmu menuntut filsafat untuk memperluas cakrawala etiknya, agar sains tidak menjadi ideologi baru yang menggantikan spiritualitas dan nilai moral.¹⁶

Filsuf Jürgen Habermas mengingatkan bahwa otonomi manusia hanya dapat dipertahankan jika intervensi ilmiah terhadap tubuh dan gen tunduk pada prinsip komunikasi moral yang rasional.¹⁷ Dalam semangat yang sama, Martha C. Nussbaum menegaskan bahwa kemanusiaan harus dilihat sebagai potensi moral yang perlu dilindungi oleh sistem sosial yang adil, bukan sekadar sebagai hasil konfigurasi biologis.¹⁸ Dengan demikian, masa depan filsafat manusia tidak terletak pada penolakan terhadap biologi, tetapi pada kemampuannya mengintegrasikan ilmu kehidupan dengan kesadaran etis dan reflektif.¹⁹


Kesimpulan Umum: Menuju Filsafat Kemanusiaan yang Integratif

Akhirnya, determinisme biologis mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang sekaligus ditentukan dan menentukan: ia tunduk pada hukum-hukum biologis, tetapi juga memiliki kesadaran yang memungkinkan refleksi dan transformasi atas determinasi itu.²⁰ Manusia bukanlah produk pasif dari gen dan lingkungan, melainkan makhluk yang mampu memberi makna pada kondisi biologisnya sendiri.²¹

Oleh karena itu, sintesis filosofis yang integratif perlu dihadirkan—sebuah filsafat kemanusiaan yang menghargai biologi sebagai dasar eksistensi, namun tetap menegaskan dimensi transendental manusia sebagai makhluk bermoral, rasional, dan reflektif.²² Dengan cara ini, determinisme biologis tidak lagi dilihat sebagai ancaman terhadap kebebasan, tetapi sebagai undangan untuk memahami kebebasan manusia secara lebih realistis, ilmiah, dan mendalam.²³


Footnotes

[1]                Ted Honderich, A Theory of Determinism: The Mind, Neuroscience, and Life-Hopes (Oxford: Clarendon Press, 1988), 11.

[2]                Antonio Damasio, The Feeling of What Happens: Body and Emotion in the Making of Consciousness (New York: Harcourt Brace, 1999), 45.

[3]                Sam Harris, Free Will (New York: Free Press, 2012), 13.

[4]                Daniel C. Dennett, Elbow Room: The Varieties of Free Will Worth Wanting (Cambridge: MIT Press, 1984), 142.

[5]                Raymond Tallis, Aping Mankind: Neuromania, Darwinitis and the Misrepresentation of Humanity (Durham: Acumen, 2011), 221.

[6]                John Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge: MIT Press, 1992), 64.

[7]                John Martin Fischer, The Metaphysics of Free Will: An Essay on Control (Oxford: Blackwell, 1994), 17.

[8]                Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking, 2003), 86.

[9]                Ibid., 93.

[10]             Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us About Morality (Princeton: Princeton University Press, 2011), 12.

[11]             Frans de Waal, Primates and Philosophers: How Morality Evolved (Princeton: Princeton University Press, 2006), 29.

[12]             Churchland, Braintrust, 44.

[13]             Edward O. Wilson, Consilience: The Unity of Knowledge (New York: Alfred A. Knopf, 1998), 133.

[14]             Michael Ruse, Taking Darwin Seriously: A Naturalistic Approach to Philosophy (Oxford: Blackwell, 1986), 116.

[15]             Francis Fukuyama, Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnology Revolution (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002), 99.

[16]             Jennifer A. Doudna and Samuel H. Sternberg, A Crack in Creation: Gene Editing and the Unthinkable Power to Control Evolution (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2017), 211.

[17]             Jürgen Habermas, The Future of Human Nature (Cambridge: Polity Press, 2003), 79.

[18]             Martha C. Nussbaum, Creating Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge: Harvard University Press, 2011), 104.

[19]             Alasdair MacIntyre, Dependent Rational Animals: Why Human Beings Need the Virtues (Chicago: Open Court, 1999), 112.

[20]             Paul Ricoeur, Freedom and Nature: The Voluntary and the Involuntary (Evanston: Northwestern University Press, 1966), 88.

[21]             Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 76.

[22]             Owen Flanagan, The Really Hard Problem: Meaning in a Material World (Cambridge: MIT Press, 2007), 64.

[23]             Daniel C. Dennett, Freedom Evolves, 260.


Daftar Pustaka

Aristotle. (1908). De Anima (J. A. Smith, Trans.). Clarendon Press.

Ayala, F. J. (2017). Biological evolution: An introduction. Oxford University Press.

Beauchamp, T. L., & Childress, J. F. (2019). Principles of biomedical ethics (8th ed.). Oxford University Press.

Beauvoir, S. de. (1948). The ethics of ambiguity (B. Frechtman, Trans.). Philosophical Library.

Bouchard, T. J., Jr., Lykken, D. T., McGue, M., Segal, N. L., & Tellegen, A. (1990). Sources of human psychological differences: The Minnesota study of twins reared apart. Science, 250(4978), 223–228. science

Bus, D. M. (2019). Evolutionary psychology: The new science of the mind (6th ed.). Routledge.

Caspi, A., McClay, J., Moffitt, T. E., Mill, J., Martin, J., Craig, I. W., Taylor, A., & Poulton, R. (2002). Role of genotype in the cycle of violence in maltreated children. Science, 297(5582), 851–854. science

Churchland, P. S. (1986). Neurophilosophy: Toward a unified science of the mind-brain. MIT Press.

Churchland, P. S. (2011). Braintrust: What neuroscience tells us about morality. Princeton University Press.

Comte, A. (1875). The positive philosophy of Auguste Comte. Trübner.

Collins, F. S. (2006). The language of God: A scientist presents evidence for belief. Free Press.

Cosmides, L., & Tooby, J. (1992). Cognitive adaptations for social exchange. In J. H. Barkow, L. Cosmides, & J. Tooby (Eds.), The adapted mind: Evolutionary psychology and the generation of culture (pp. 163–228). Oxford University Press.

Crick, F. (1994). The astonishing hypothesis: The scientific search for the soul. Scribner.

Darwin, C. (1859). On the origin of species. John Murray.

Darwin, C. (1871). The descent of man. John Murray.

Damasio, A. (1994). Descartes’ error: Emotion, reason, and the human brain. Grosset/Putnam.

Damasio, A. (1999). The feeling of what happens: Body and emotion in the making of consciousness. Harcourt Brace.

Dawkins, R. (1976). The selfish gene. Oxford University Press.

Dawkins, R. (1982). The extended phenotype. Oxford University Press.

Dennett, D. C. (1984). Elbow room: The varieties of free will worth wanting. MIT Press.

Dennett, D. C. (1995). Darwin’s dangerous idea. Simon & Schuster.

Dennett, D. C. (2003). Freedom evolves. Viking.

Doudna, J. A., & Sternberg, S. H. (2017). A crack in creation: Gene editing and the unthinkable power to control evolution. Houghton Mifflin Harcourt.

Eagleman, D. (2011). Incognito: The secret lives of the brain. Pantheon Books.

Farahany, N. A. (2015). Neuroscience and behavioral genetics in US criminal law: An empirical analysis. Journal of Law and the Biosciences, 2(3), 485–509. jlb/lsv059

Fischer, J. M. (1994). The metaphysics of free will: An essay on control. Blackwell.

Flanagan, O. (2007). The really hard problem: Meaning in a material world. MIT Press.

Fox Keller, E. (2010). The mirage of a space between nature and nurture. Duke University Press.

Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.

Fukuyama, F. (2002). Our posthuman future: Consequences of the biotechnology revolution. Farrar, Straus and Giroux.

Galen. (1916). On the natural faculties (A. J. Brock, Trans.). W. Heinemann.

Gazzaniga, M. S. (2005). The ethical brain. Dana Press.

Gazzaniga, M. S. (2011). Who’s in charge? Free will and the science of the brain. HarperCollins.

Gould, S. J. (1981). The mismeasure of man. W. W. Norton.

Gould, S. J., & Lewontin, R. C. (1979). The spandrels of San Marco and the Panglossian paradigm: A critique of the adaptationist programme. Proceedings of the Royal Society of London. Series B, Biological Sciences, 205(1161), 581–598. rspb.1979.0086

Greene, J., & Cohen, J. (2004). For the law, neuroscience changes nothing and everything. Philosophical Transactions of the Royal Society B, 359(1451), 1775–1785. rstb.2004.1546

Greene, J., & Haidt, J. (2002). How (and where) does moral judgment work? Trends in Cognitive Sciences, 6(12), 517–523. doi.org

Habermas, J. (2003). The future of human nature. Polity Press.

Haggard, P. (2008). Human volition: Towards a neuroscience of will. Nature Reviews Neuroscience, 9(12), 934–946. nrn2497

Hamer, D. (1994). The science of desire: The search for the gay gene and the biology of behavior. Simon & Schuster.

Harris, S. (2012). Free will. Free Press.

Hippocrates. (1931). On the nature of man (W. H. S. Jones, Trans.). Harvard University Press.

Honderich, T. (1988). A theory of determinism: The mind, neuroscience, and life-hopes. Clarendon Press.

Kandel, E. R. (2006). In search of memory: The emergence of a new science of mind. W. W. Norton.

Kant, I. (1998). Groundwork for the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.

Kühl, S. (1994). The Nazi connection: Eugenics, American racism, and German National Socialism. Oxford University Press.

Lewontin, R. C. (1991). Biology as ideology: The doctrine of DNA. Harper Perennial.

Lewontin, R. C., Rose, S., & Kamin, L. J. (1984). Not in our genes: Biology, ideology, and human nature. Pantheon Books.

Libet, B. (1999). Do we have free will? Journal of Consciousness Studies, 6(8–9), 47–57.

Lorenz, K. (1966). On aggression. Harcourt Brace.

MacIntyre, A. (1999). Dependent rational animals: Why human beings need the virtues. Open Court.

Maturana, H., & Varela, F. (1980). Autopoiesis and cognition: The realization of the living. D. Reidel.

Mayr, E. (1982). The growth of biological thought: Diversity, evolution, and inheritance. Harvard University Press.

Mayr, E. (1997). This is biology: The science of the living world. Harvard University Press.

Monod, J. (1971). Chance and necessity: An essay on the natural philosophy of modern biology. Alfred A. Knopf.

Morse, S. J. (2006). Brain overclaim syndrome and criminal responsibility: A diagnostic note. Ohio State Journal of Criminal Law, 3(2), 397–412.

Nussbaum, M. C. (2006). Frontiers of justice: Disability, nationality, species membership. Harvard University Press.

Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities: The human development approach. Harvard University Press.

Papineau, D. (1993). Philosophical naturalism. Blackwell.

Pinker, S. (2002). The blank slate: The modern denial of human nature. Viking.

Plomin, R., & Asbury, K. (2005). Nature and nurture: Genetic and environmental influences on behavior. Routledge.

Plomin, R., DeFries, J. C., Knopik, V. S., & Neiderhiser, J. M. (2021). Behavioral genetics (7th ed.). Worth Publishers.

Popper, K. (1959). The logic of scientific discovery. Routledge.

Ricoeur, P. (1966). Freedom and nature: The voluntary and the involuntary. Northwestern University Press.

Richards, R. J. (1987). Darwin and the emergence of evolutionary theories of mind and behavior. University of Chicago Press.

Ridley, M. (1999). Genome: The autobiography of a species in 23 chapters. HarperCollins.

Rose, S. (1997). Lifelines: Biology, freedom, determinism. Penguin Books.

Ruse, M. (1986). Taking Darwin seriously: A naturalistic approach to philosophy. Blackwell.

Ruse, M. (1995). Evolutionary naturalism. Routledge.

Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.

Savulescu, J. (2011). Enhancing human capacities. Wiley-Blackwell.

Searle, J. R. (1992). The rediscovery of the mind. MIT Press.

Searle, J. R. (2004). Mind: A brief introduction. Oxford University Press.

Sperry, R. (1962). Mind, brain, and humanist values. Bulletin of the Atomic Scientists, 18(9), 25–28.

Szyf, M. (2019). The epigenetics of perinatal stress. Dialogues in Clinical Neuroscience, 21(4), 347–357. mszyf

Tallis, R. (2011). Aping mankind: Neuromania, Darwinitis and the misrepresentation of humanity. Acumen.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Thompson, E. (2007). Mind in life: Biology, phenomenology, and the sciences of mind. Harvard University Press.

Trivers, R. (1971). The evolution of reciprocal altruism. Quarterly Review of Biology, 46(1), 35–57. doi.org

van Inwagen, P. (1983). An essay on free will. Clarendon Press.

Varela, F. J. (2007). The embodied mind: Cognitive science and human experience. MIT Press.

Wilson, D. S., & Sober, E. (1998). Unto others: The evolution and psychology of unselfish behavior. Harvard University Press.

Wilson, E. O. (1975). Sociobiology: The new synthesis. Harvard University Press.

Wilson, E. O. (1998). Consilience: The unity of knowledge. Alfred A. Knopf.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar