Sabtu, 29 November 2025

Filsafat Matematika: Ontologi, Epistemologi, dan Metodologi

Filsafat Matematika

Ontologi, Epistemologi, dan Metodologi


Alihkan ke: Matematika.

Sejarah Matematika, Logika Matematika.


Abstrak

Artikel ini menguraikan kajian komprehensif tentang filsafat matematika sebagai refleksi mendalam atas dasar, makna, dan nilai dari rasionalitas manusia. Melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis, artikel ini menelusuri bagaimana matematika, sejak zaman Yunani Kuno hingga era digital, tidak sekadar berfungsi sebagai sistem simbol formal, tetapi juga sebagai ekspresi kesadaran dan kreativitas manusia terhadap keteraturan realitas. Secara ontologis, matematika dipahami sebagai struktur rasional yang eksis secara relasional — menjembatani dunia empiris dan dunia ide. Secara epistemologis, ia merupakan hasil dialog antara logika deduktif, intuisi kognitif, dan praktik sosial ilmiah yang berkembang secara historis. Sementara itu, secara aksiologis, matematika memuat nilai-nilai universal seperti keindahan, kebenaran, dan tanggung jawab moral, yang menjadikannya bagian dari kebudayaan manusia dan bukan semata instrumen teknologis.

Artikel ini juga menelaah dimensi logika dan bahasa sebagai fondasi komunikasi matematis, serta dimensi ilmiah dan interdisipliner yang menjadikan matematika basis bagi seluruh pengetahuan modern, dari fisika hingga ilmu sosial. Kritik terhadap paradigma klasik—terutama Platonisme, Logisisme, Formaisme, dan Intuisionisme—menunjukkan keterbatasannya dalam menjelaskan dimensi fenomenologis, sosial, dan historis dari praktik matematis. Pada era digital, matematika mengalami transformasi menjadi kekuatan ontologis baru melalui algoritme, big data, dan kecerdasan buatan, yang menuntut refleksi etis terhadap peran manusia di tengah dominasi komputasi.

Sebagai sintesis, artikel ini menawarkan gagasan “Humanisme Matematis”, yaitu pemahaman bahwa matematika adalah bentuk rasionalitas yang hidup — menyatukan presisi logis, nilai etis, dan makna estetis dalam satu horizon kemanusiaan. Humanisme matematis mengarahkan matematika untuk tidak berhenti pada kepastian simbolik, melainkan berfungsi sebagai jalan menuju kebijaksanaan (sapientia) yang memadukan logika dan cinta kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat matematika bukan hanya membahas angka dan bentuk, tetapi menyingkap makna terdalam dari berpikir sebagai manusia: berpikir secara tepat, adil, dan bermakna.

Kata Kunci: Filsafat Matematika; Ontologi; Epistemologi; Aksiologi; Logika; Humanisme Matematis; Etika Digital; Rasionalitas; Algoritme; Kebenaran.


PEMBAHASAN

Eksplorasi Konseptual dalam Filsafat Matematika


1.           Pendahuluan

Filsafat matematika merupakan cabang reflektif dari filsafat yang berupaya menelaah dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari matematika sebagai bentuk tertinggi dari pemikiran rasional manusia. Sejak masa Yunani Kuno, matematika telah dianggap sebagai paradigma pengetahuan yang paling murni dan pasti, karena bersandar pada deduksi logis dan abstraksi universal. Bagi Plato, dunia matematis mencerminkan realitas ide yang abadi dan tidak berubah, sedangkan bagi Aristoteles, matematika memperoleh maknanya dari abstraksi terhadap realitas empiris yang terindera.¹ Perbedaan pandangan tersebut menandai awal dari perdebatan mendasar tentang apakah objek matematis memiliki eksistensi independen atau sekadar konstruksi mental manusia.

Dalam konteks modern, matematika menjadi bahasa universal ilmu pengetahuan, memungkinkan formulasi hukum-hukum alam, model ekonomi, hingga sistem logika komputasional.² Namun demikian, kemajuan formalisme dan simbolisme matematis di abad ke-19 hingga ke-20 menimbulkan pertanyaan baru: apakah matematika semata-mata sistem simbol tanpa makna metafisik, ataukah ia tetap memiliki kandungan realitas yang bersifat ontologis?³ Pergeseran ini mengubah arah filsafat matematika dari sekadar refleksi metafisik menjadi penyelidikan kritis terhadap dasar logis dan epistemik pengetahuan matematis.

Secara ontologis, filsafat matematika mempertanyakan hakikat keberadaan entitas matematis—angka, ruang, fungsi, atau himpunan—yang tampak tidak berwujud tetapi memiliki daya realitas dalam setiap bentuk pengetahuan ilmiah.⁴ Epistemologinya membahas bagaimana manusia memperoleh kepastian tentang kebenaran matematis: apakah melalui rasio murni, intuisi apriori, atau hasil konstruksi sosial dan linguistik.⁵ Sementara secara aksiologis, filsafat matematika berusaha menyingkap nilai-nilai yang terkandung di dalam praktik matematis: keindahan, kesederhanaan, konsistensi, dan kebenaran universal.⁶ Dengan demikian, filsafat matematika tidak hanya berbicara tentang struktur rasional, melainkan juga tentang makna kemanusiaan di balik penalaran simbolik.

Di era digital, matematika mengalami transformasi ontologis dan epistemologis yang signifikan. Algoritme, komputasi, dan model matematis kini tidak hanya menggambarkan dunia, tetapi juga menciptakan realitas baru dalam bentuk simulasi dan kecerdasan buatan.⁷ Kondisi ini menuntut pendekatan filosofis yang lebih humanistik untuk memahami implikasi etis dan eksistensial dari rasionalitas matematis modern.⁸ Dengan demikian, filsafat matematika tidak lagi cukup dipahami sebagai refleksi abstrak atas angka dan rumus, melainkan sebagai medan dialog antara logika, etika, dan makna eksistensial manusia dalam semesta rasional yang semakin terotomatisasi.

Akhirnya, kajian ini bertujuan untuk menelusuri hakikat matematika dari tiga aspek utama: (1) Ontologi — tentang realitas entitas matematis dan hubungan mereka dengan dunia empiris; (2) Epistemologi — tentang sumber dan metode pengetahuan matematis; dan (3) Aksiologi — tentang nilai-nilai epistemik, estetis, dan etis dalam praktik matematis. Dengan kerangka ini, diharapkan pembahasan dapat memperlihatkan bahwa matematika bukan sekadar instrumen logika, melainkan juga ekspresi terdalam dari kemampuan manusia untuk berpikir secara rasional, reflektif, dan bermakna.


Footnotes

[1]                Plato, The Republic, trans. Allan Bloom (New York: Basic Books, 1968), 509d–511e; Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1908), Book XIII.

[2]                Galileo Galilei, Il Saggiatore (Rome: Accademia dei Lincei, 1623), 32–34.

[3]                Gottlob Frege, The Foundations of Arithmetic, trans. J. L. Austin (Evanston: Northwestern University Press, 1980), §62–68.

[4]                Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 15–18.

[5]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A713/B741–A722/B750.

[6]                Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 42–45.

[7]                Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (New York: Knopf, 2004), 17–20.

[8]                Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 201–205.


2.           Landasan Historis dan Genealogis Filsafat Matematika

Perjalanan historis filsafat matematika memperlihatkan dinamika panjang antara rasionalitas, ontologi, dan epistemologi dalam memahami hakikat bilangan, bentuk, dan struktur. Sejak awal kemunculannya di Yunani Kuno, matematika bukan hanya dianggap sebagai ilmu hitung (arithmētikē) atau geometri (geōmetria), melainkan juga sebagai jalan menuju kebenaran metafisik.¹ Bagi para filsuf pra-Sokratik, seperti Pythagoras, angka bukan sekadar alat untuk mengukur dunia, tetapi esensi dari segala sesuatu.² Ia memandang bahwa harmoni kosmos didasarkan pada relasi matematis, suatu pandangan yang kemudian dikenal sebagai “mystical arithmetic”—yakni keyakinan bahwa struktur dunia dapat dijelaskan melalui proporsi numerik yang teratur.³

Plato mengangkat pemikiran Pythagoras ke tingkat ontologis dengan menempatkan objek matematis sebagai bagian dari dunia ide yang abadi dan tak berubah.⁴ Dalam Republic dan Timaeus, ia menegaskan bahwa entitas matematis memiliki eksistensi yang lebih tinggi daripada realitas fisik, karena bersifat universal, tetap, dan dapat dipahami oleh akal.⁵ Sebaliknya, Aristoteles menolak pandangan bahwa objek matematis berdiri sendiri secara metafisik; baginya, konsep seperti “lingkaran sempurna” hanyalah hasil abstraksi intelektual dari benda-benda yang ada di dunia nyata.⁶ Pertentangan antara Platonisme dan Aristotelianisme ini menjadi fondasi bagi seluruh perdebatan ontologis dalam filsafat matematika hingga hari ini.

Pada masa modern, René Descartes memperkenalkan dimensi baru dengan menyatukan matematika dan rasionalisme. Dalam La Géométrie, ia memformulasikan metode koordinat yang memungkinkan penggabungan antara aljabar dan geometri, menciptakan paradigma baru dalam cara berpikir ilmiah yang deduktif dan analitik.⁷ Sementara itu, Gottfried Wilhelm Leibniz memandang matematika sebagai ekspresi dari rasionalitas Tuhan, di mana simbol dan logika mencerminkan harmoni ciptaan yang teratur.⁸ Berbeda dari mereka, Immanuel Kant menegaskan bahwa kebenaran matematis bersifat synthetic a priori—yakni tidak berasal dari pengalaman empiris, tetapi juga tidak sepenuhnya analitik, sebab ia menambah pengetahuan baru melalui intuisi ruang dan waktu.⁹ Dengan demikian, Kant menempatkan matematika sebagai fondasi epistemologis bagi seluruh ilmu pengetahuan.

Abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menandai revolusi dalam filsafat matematika melalui munculnya tiga aliran besar: logisisme, formalisme, dan intuisionisme. Logisisme, dipelopori oleh Gottlob Frege, Bertrand Russell, dan Alfred North Whitehead, berupaya menurunkan seluruh konsep matematika dari prinsip-prinsip logika murni, sebagaimana tampak dalam Principia Mathematica.¹⁰ Sebaliknya, formalisme yang dikembangkan oleh David Hilbert menolak dimensi ontologis dan menekankan bahwa matematika hanyalah sistem simbol dengan aturan permainan logis yang harus konsisten.¹¹ Adapun intuisionisme, yang dipelopori oleh L. E. J. Brouwer, menolak baik logisisme maupun formalisme, dengan menegaskan bahwa kebenaran matematis adalah hasil konstruksi mental yang intuitif, bukan entitas objektif di luar pikiran manusia.¹²

Krisis dasar matematika (foundational crisis) yang muncul pada paruh pertama abad ke-20—terutama setelah paradoks Russell dan teorema ketaklengkapan Gödel—mengguncang kepercayaan terhadap fondasi absolut matematika.¹³ Kurt Gödel menunjukkan bahwa dalam setiap sistem formal yang cukup kompleks, terdapat proposisi yang benar namun tidak dapat dibuktikan di dalam sistem itu sendiri, sehingga impian Hilbert tentang sistem matematika yang lengkap dan konsisten secara internal menjadi mustahil.¹⁴ Peristiwa ini menandai lahirnya fase baru dalam genealoginya: matematika tidak lagi dipandang sebagai sistem tertutup dan final, melainkan sebagai jaringan terbuka dari penalaran manusia yang terus berkembang.

Pada era kontemporer, refleksi historis ini berkembang menuju pluralisme filosofis. Pemikir seperti Imre Lakatos mencoba menjembatani antara sejarah dan logika melalui Proofs and Refutations, dengan memandang matematika sebagai proses evolusioner yang terbuka terhadap revisi dan koreksi.¹⁵ Begitu pula para filsuf seperti Penelope Maddy dan Stewart Shapiro mengembangkan realisme struktural dan naturalisme matematis, yang berupaya memahami matematika sebagai bagian dari praktik ilmiah manusia yang konkret.¹⁶ Genealogi ini menunjukkan bahwa filsafat matematika telah berevolusi dari mistisisme numerik menuju refleksi kritis atas dasar rasionalitas ilmiah—sebuah perjalanan panjang dari angka menuju makna.


Footnotes

[1]                Ian Mueller, Philosophy of Mathematics and Deductive Structure in Euclid’s Elements (Cambridge: MIT Press, 1981), 3–6.

[2]                Walter Burkert, Lore and Science in Ancient Pythagoreanism (Cambridge: Harvard University Press, 1972), 28–31.

[3]                Thomas Heath, A History of Greek Mathematics (Oxford: Clarendon Press, 1921), 54–57.

[4]                Plato, Timaeus, trans. Donald J. Zeyl (Indianapolis: Hackett, 2000), 29b–30c.

[5]                Plato, The Republic, trans. Allan Bloom (New York: Basic Books, 1968), 509d–511e.

[6]                Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon Press, 1908), Book XIII.

[7]                René Descartes, La Géométrie, trans. David Eugene Smith and Marcia Latham (Chicago: Open Court, 1954), 1–3.

[8]                Gottfried Wilhelm Leibniz, Philosophical Papers and Letters, ed. Leroy E. Loemker (Dordrecht: Reidel, 1969), 230–233.

[9]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A713/B741–A722/B750.

[10]             Bertrand Russell and Alfred North Whitehead, Principia Mathematica, vol. 1 (Cambridge: Cambridge University Press, 1910), vii–xv.

[11]             David Hilbert, “The Foundations of Mathematics,” in From Frege to Gödel: A Source Book in Mathematical Logic, 1879–1931, ed. Jean van Heijenoort (Cambridge: Harvard University Press, 1967), 464–479.

[12]             Luitzen Egbertus Jan Brouwer, Collected Works, vol. 1, ed. Arend Heyting (Amsterdam: North-Holland, 1975), 33–37.

[13]             Gregory H. Moore, Zermelo’s Axiom of Choice: Its Origins, Development, and Influence (New York: Springer, 1982), 92–96.

[14]             Kurt Gödel, On Formally Undecidable Propositions of Principia Mathematica and Related Systems, trans. Jean van Heijenoort (New York: Dover, 1992), 7–12.

[15]             Imre Lakatos, Proofs and Refutations: The Logic of Mathematical Discovery (Cambridge: Cambridge University Press, 1976), 1–5.

[16]             Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 24–29.


3.           Ontologi: Hakikat Keberadaan Entitas Matematis

Pertanyaan ontologis dalam filsafat matematika menyentuh inti terdalam dari eksistensi: apakah objek matematis benar-benar ada, dan jika ya, dalam bentuk apakah keberadaannya? Sejak awal sejarah filsafat, persoalan ini menimbulkan perdebatan antara dua kutub besar — realisme matematis dan antirealisme matematis — yang masing-masing menawarkan penjelasan berbeda mengenai status ontologis bilangan, himpunan, fungsi, dan struktur.¹

3.1.       Realisme Matematis: Eksistensi Independen dari Pikiran

Realisme matematis berakar pada tradisi Platonik, yang menganggap bahwa objek matematis memiliki eksistensi mandiri di dunia ide yang transenden dan tidak berubah.² Bagi Plato, bilangan, garis, dan bentuk geometri bukanlah hasil ciptaan manusia, melainkan entitas yang “ditemukan” oleh intelek melalui perenungan rasional.³ Dunia matematis, menurutnya, memiliki ontologi yang lebih tinggi daripada dunia empiris, karena ia bersifat abadi, universal, dan bebas dari perubahan.⁴ Pandangan ini kemudian dihidupkan kembali oleh para pemikir modern seperti Kurt Gödel dan Roger Penrose, yang berpendapat bahwa struktur matematis memiliki realitas objektif yang dapat diakses oleh intuisi rasional manusia.⁵

Namun, realisme matematis menimbulkan problem metafisik yang serius: bagaimana manusia dapat “berhubungan” dengan entitas non-fisik yang berada di luar ruang dan waktu?⁶ Jika objek matematis benar-benar ada secara independen, maka harus ada semacam jembatan epistemologis antara dunia rasional manusia dan dunia ide. Gödel menjawab persoalan ini dengan menyatakan bahwa intuisi matematis memiliki status kognitif yang analog dengan persepsi empiris, yakni suatu “penglihatan intelektual” terhadap kebenaran abstrak.⁷ Penrose menambahkan bahwa keberadaan pola matematis mendasari baik dunia fisik maupun kesadaran manusia, membentuk trinitas ontologis antara mathematical world, physical world, dan mental world.⁸

3.2.       Antirealisme dan Konstruktivisme: Matematika sebagai Buatan Pikiran

Berlawanan dengan realisme, para antirealis dan konstruktivis menolak pandangan bahwa objek matematis memiliki eksistensi independen. Bagi mereka, bilangan dan konsep matematis tidak “ada” sebelum ditemukan, melainkan diciptakan melalui aktivitas intelektual manusia.⁹ Tokoh sentral dalam pandangan ini adalah L. E. J. Brouwer, yang mengembangkan intuisionisme dengan menegaskan bahwa kebenaran matematis bergantung pada konstruksi mental individu, bukan pada entitas abstrak di luar pikiran.¹⁰ Dalam kerangka ini, matematika menjadi ekspresi aktivitas subjek, bukan representasi dari dunia eksternal.

Konstruktivisme kontemporer juga menemukan gema dalam filsafat bahasa Ludwig Wittgenstein, yang melihat makna konsep matematis sebagai hasil dari praktik linguistik dalam komunitas.¹¹ Objek matematis, dalam pandangan ini, tidak memiliki keberadaan metafisik, melainkan eksistensi fungsional dalam permainan bahasa (language games).¹² Dengan demikian, kebenaran matematis bersifat intersubjektif, bukan objektif mutlak — ia bergantung pada aturan, konteks, dan konsensus pengguna bahasa matematis.¹³

3.3.       Nominalisme dan Strukturalisme: Upaya Menengah

Selain dua kutub ekstrem tersebut, terdapat pendekatan nominalisme dan strukturalisme yang mencoba memberikan jalan tengah terhadap problem ontologis matematika. Nominalisme, yang diwakili oleh tokoh seperti Hartry Field, menolak eksistensi entitas abstrak sama sekali.¹⁴ Ia berupaya “menyusun ulang” matematika tanpa mengasumsikan keberadaan bilangan atau himpunan sebagai entitas riil, melainkan sekadar alat konseptual untuk menjelaskan dunia fisik.¹⁵ Dalam Science Without Numbers, Field berargumen bahwa teori fisika dapat diformulasikan tanpa komitmen terhadap realitas matematika.¹⁶

Sementara itu, strukturalisme matematis — sebagaimana dikembangkan oleh Michael Resnik dan Stewart Shapiro — berpendapat bahwa yang “ada” dalam matematika bukanlah objek individual seperti angka, melainkan struktur hubungan di antara mereka.¹⁷ Dalam pandangan ini, “dua” bukanlah entitas yang berdiri sendiri, tetapi posisi dalam struktur relasional yang membentuk sistem bilangan.¹⁸ Dengan demikian, ontologi matematika bergeser dari entitas ke relasi, dari benda ke pola. Pandangan ini sering disebut sebagai ontologi relasional, yang memungkinkan sinkronisasi antara abstraksi matematis dan fenomena empiris tanpa menuntut eksistensi metafisik yang terpisah.¹⁹

3.4.       Menuju Ontologi Relasional dan Naturalistik

Dalam perkembangan mutakhir, muncul kecenderungan untuk memahami ontologi matematika secara relasional dan naturalistik, yakni menempatkan entitas matematis sebagai bagian dari dunia alami dan praktik ilmiah manusia.²⁰ Ontologi ini menolak dikotomi kaku antara ideal dan material, serta menekankan bahwa struktur matematis muncul dari interaksi kognitif manusia dengan dunia.²¹ Hal ini sejalan dengan pendekatan embodied cognition, yang melihat bahwa kemampuan matematis berakar pada pengalaman sensorimotor dan persepsi spasial.²² Dengan demikian, entitas matematis tidak lagi dipahami sebagai benda yang “ada di luar sana”, melainkan sebagai hasil interaksi reflektif antara rasio, tubuh, dan dunia.

Ontologi relasional membuka kemungkinan baru bagi filsafat matematika untuk bersifat lebih humanistik — di mana kebenaran matematis tidak terlepas dari konteks eksistensial manusia, tetapi justru merupakan ekspresi tertinggi dari kesadaran akan keteraturan realitas.²³ Dalam pandangan ini, matematika menjadi jembatan antara logos dan kosmos: antara bahasa logika dan tatanan alam semesta.


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 1–5.

[2]                Plato, The Republic, trans. Allan Bloom (New York: Basic Books, 1968), 509d–511e.

[3]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Clarendon Press, 1981), 241–243.

[4]                Plato, Timaeus, trans. Donald J. Zeyl (Indianapolis: Hackett, 2000), 29b–30c.

[5]                Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (New York: Knopf, 2004), 17–19.

[6]                Penelope Maddy, Realism in Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 1990), 11–14.

[7]                Kurt Gödel, Collected Works, vol. 2, ed. Solomon Feferman (Oxford: Oxford University Press, 1990), 268–271.

[8]                Roger Penrose, Shadows of the Mind: A Search for the Missing Science of Consciousness (Oxford: Oxford University Press, 1994), 417–421.

[9]                Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 41–44.

[10]             Luitzen Egbertus Jan Brouwer, Collected Works, vol. 1, ed. Arend Heyting (Amsterdam: North-Holland, 1975), 33–37.

[11]             Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations, trans. G. E. M. Anscombe (Oxford: Blackwell, 1953), §185–§242.

[12]             Ludwig Wittgenstein, Remarks on the Foundations of Mathematics, ed. G. H. von Wright et al. (Cambridge: MIT Press, 1978), 45–49.

[13]             Crispin Wright, Frege’s Conception of Numbers as Objects (Aberdeen: Aberdeen University Press, 1983), 212–215.

[14]             Hartry Field, Science Without Numbers: A Defence of Nominalism (Princeton: Princeton University Press, 1980), 7–9.

[15]             Hartry Field, Realism, Mathematics and Modality (Oxford: Blackwell, 1989), 2–5.

[16]             Field, Science Without Numbers, 23–25.

[17]             Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 2–6.

[18]             Stewart Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 10–12.

[19]             James Ladyman, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 121–125.

[20]             Penelope Maddy, Defending the Axioms: On the Philosophical Foundations of Set Theory (Oxford: Oxford University Press, 2011), 97–100.

[21]             Otávio Bueno, “Empirical Adequacy: A Partial Structuralist View,” Philosophy of Science 64, no. 4 (1997): 551–573.

[22]             George Lakoff and Rafael Núñez, Where Mathematics Comes From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into Being (New York: Basic Books, 2000), 28–31.

[23]             Elaine Landry, Categories for the Working Philosopher (Oxford: Oxford University Press, 2017), 202–205.


4.           Epistemologi: Sumber dan Struktur Pengetahuan Matematis

Epistemologi matematika berupaya menjawab pertanyaan fundamental: bagaimana manusia mengetahui kebenaran matematis, dan apa dasar legitimasi pengetahuan tersebut? Masalah ini berkaitan dengan hubungan antara rasio, intuisi, dan pengalaman dalam membangun pengetahuan yang bersifat universal, pasti, dan bebas dari kontingensi empiris.¹ Sejarah pemikiran menunjukkan bahwa matematika telah lama menjadi model ideal bagi pengetahuan ilmiah karena kepastian dan koherensi deduktifnya. Namun, justru karena sifatnya yang aprioris dan abstrak, epistemologi matematika menghadapi tantangan untuk menjelaskan bagaimana kebenaran yang tak terikat pada pengalaman empiris dapat memiliki relevansi terhadap dunia nyata.

4.1.       Rasionalisme dan Apriorisme: Pengetahuan sebagai Deduksi Murni

Tradisi rasionalisme yang bermula dari Plato hingga Descartes menegaskan bahwa pengetahuan matematis bersumber dari akal murni (pure reason) dan tidak bergantung pada pengalaman.² Bagi Plato, kebenaran matematika merupakan hasil dari anamnesis — ingatan jiwa terhadap dunia ide yang sempurna.³ Descartes melanjutkan gagasan ini dengan menempatkan pengetahuan matematis sebagai paradigma bagi kepastian epistemik, sebab deduksi logis memberikan kejelasan (claritas) dan distingsi (distinctio) yang tidak dimiliki oleh pengetahuan empiris.⁴ Dengan demikian, pengetahuan matematis dianggap apriori dan niscaya; ia tidak memerlukan pembuktian dari pengalaman melainkan mendasari seluruh struktur penalaran ilmiah.

Immanuel Kant memberikan formulasi epistemologis yang berpengaruh dengan konsep synthetic a priori.⁵ Ia menolak pandangan empiris bahwa pengetahuan matematis hanyalah hasil generalisasi, dan juga menolak pandangan rasionalis ekstrem yang menganggapnya murni analitik.⁶ Menurut Kant, kebenaran matematis bersifat sintetik karena menambah pengetahuan baru, tetapi sekaligus apriori karena berakar pada struktur intuisi ruang dan waktu yang membentuk pengalaman manusia.⁷ Dalam hal ini, geometri bersumber dari intuisi ruang, sedangkan aritmetika bersumber dari intuisi waktu — keduanya merupakan bentuk apriori kesadaran yang menjadikan pengalaman mungkin.⁸ Dengan demikian, matematika bagi Kant adalah hasil konstruksi aktif subjek transendental, bukan penyalinan realitas eksternal.

4.2.       Empirisisme dan Pengalaman sebagai Dasar Pengetahuan

Sebaliknya, kaum empiris seperti John Stuart Mill berpendapat bahwa prinsip-prinsip matematika berasal dari generalisasi pengalaman berulang.⁹ Menurut Mill, proposisi matematika seperti “2 + 2 = 4” tidak berbeda secara epistemologis dari proposisi ilmiah lainnya; ia diperoleh dari pengamatan yang sering diulang dan karenanya memiliki tingkat keyakinan yang tinggi.¹⁰ Namun, pendekatan ini dikritik karena gagal menjelaskan universalitas dan niscayanya kebenaran matematis: tidak ada jumlah observasi yang dapat memberikan kepastian logis sebagaimana yang dimiliki oleh deduksi matematis.¹¹

Meskipun demikian, varian empirisme modern berkembang dalam bentuk naturalism epistemologis.¹² Dalam pandangan ini, seperti yang dikemukakan oleh Quine dan Putnam, pengetahuan matematis tidak terpisah dari keseluruhan jaringan pengetahuan ilmiah; kebenaran matematis diverifikasi secara tidak langsung melalui keberhasilan teori ilmiah yang menggunakannya.¹³ Artinya, kepastian matematika bersifat holistik dan pragmatis, tergantung pada fungsi dan koherensinya dalam sistem ilmiah yang lebih luas.

4.3.       Intuisionisme dan Konstruktivisme: Pengetahuan sebagai Aktivitas Mental

Epistemologi konstruktivis yang dipelopori oleh L. E. J. Brouwer memandang matematika sebagai aktivitas konstruksi mental yang bersifat subjektif.¹⁴ Kebenaran matematis tidak ditemukan, melainkan dibangun oleh intuisi internal manusia.¹⁵ Dalam pandangan ini, proposisi matematika hanya benar jika dapat dikonstruksi secara eksplisit oleh subjek; maka hukum logika klasik seperti principium tertii exclusi (hukum nonkontradiksi absolut) tidak selalu berlaku dalam konteks konstruktif.¹⁶

Perkembangan lebih lanjut datang dari Hermann Weyl dan Arend Heyting, yang menafsirkan intuisionisme sebagai upaya mengembalikan dasar epistemologis matematika pada kesadaran manusia.¹⁷ Konstruktivisme modern menegaskan bahwa pengetahuan matematis bersifat context-dependent, yakni hasil dari prosedur dan aturan yang disepakati dalam komunitas rasional.¹⁸ Dengan demikian, matematika tidak lagi bersifat absolut melainkan intersubjektif — kebenarannya terletak pada kejelasan langkah konstruksi dan konsistensi inferensi.

4.4.       Logisisme dan Formaisme: Pengetahuan sebagai Sistem Simbolik

Kaum logisis seperti Frege, Russell, dan Whitehead berusaha mendasarkan seluruh pengetahuan matematis pada logika murni.¹⁹ Dalam kerangka ini, pengetahuan matematis bersifat apriori karena seluruh teorema dapat diturunkan dari aksioma logis melalui aturan inferensi.²⁰ Namun, proyek ini menemui batasnya ketika muncul paradoks-paradoks seperti paradoks Russell dan kemudian teorema ketaklengkapan Gödel, yang menunjukkan bahwa tidak semua kebenaran matematis dapat dibuktikan dalam sistem formal yang konsisten.²¹

Formalisme, sebagaimana dikembangkan oleh David Hilbert, mencoba mengatasi krisis ini dengan memandang pengetahuan matematis sebagai manipulasi simbol tanpa perlu makna metafisik.²² Dalam kerangka formalistik, validitas pengetahuan matematis diukur melalui konsistensi internal, bukan melalui hubungan dengan realitas eksternal.²³ Walaupun pendekatan ini memperkuat aspek metodologis matematika, ia mengabaikan aspek semantik dan intuisi makna yang tetap diperlukan dalam pemahaman simbol.²⁴

4.5.       Pendekatan Kontemporer: Epistemologi Relasional dan Sosial

Dalam filsafat kontemporer, muncul pandangan bahwa pengetahuan matematis tidak dapat dipahami secara terisolasi dari praktik ilmiah dan sosial.²⁵ Epistemologi matematis kini bergeser ke arah social epistemology dan embodied cognition.²⁶ Lakoff dan Núñez menunjukkan bahwa konsep matematis berakar pada pengalaman tubuh dan persepsi spasial manusia; misalnya, gagasan tentang bilangan dan operasi muncul dari tindakan menghitung, mengelompokkan, atau membandingkan objek fisik.²⁷ Pengetahuan matematis dengan demikian merupakan hasil proses kognitif yang berinteraksi dengan dunia nyata.

Selain itu, epistemologi sosial matematika menekankan bahwa validitas suatu bukti matematis tidak hanya bergantung pada logika formal, tetapi juga pada penerimaan komunitas ilmiah.²⁸ Kebenaran matematis bersifat intersubjektif — hasil kesepakatan rasional dalam komunitas yang diikat oleh norma epistemik seperti kejelasan, konsistensi, dan replikabilitas.²⁹ Dalam pandangan ini, matematika menjadi bentuk rasionalitas komunikatif yang melibatkan dimensi manusiawi dari berpikir bersama, bukan sekadar deduksi individu.


Sintesis: Menuju Epistemologi Integral

Epistemologi matematika kontemporer cenderung mengarah pada integrasi antara rasionalitas formal dan pengalaman empirik, antara deduksi simbolik dan intuisi kognitif.³⁰ Pengetahuan matematis tidak lagi dianggap semata apriori atau empiris, melainkan transendental-relasional: muncul dari struktur rasio manusia yang berinteraksi dengan realitas melalui simbol, bahasa, dan pengalaman.³¹ Dengan demikian, matematika berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan dan dunia — antara yang ideal dan yang faktual — melalui struktur reflektif yang terus berkembang.³²


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 41–45.

[2]                Plato, The Republic, trans. Allan Bloom (New York: Basic Books, 1968), 510d–511e.

[3]                Julia Annas, An Introduction to Plato’s Republic (Oxford: Clarendon Press, 1981), 242–244.

[4]                René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), Meditation II.

[5]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A713/B741–A722/B750.

[6]                Paul Guyer, Kant and the Claims of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 274–278.

[7]                Henry Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven: Yale University Press, 1983), 141–145.

[8]                Kant, Critique of Pure Reason, A163/B204–A165/B206.

[9]                John Stuart Mill, A System of Logic (London: Parker, 1843), Book II, Ch. V.

[10]             Ibid., 182–184.

[11]             Bertrand Russell, Our Knowledge of the External World (Chicago: Open Court, 1914), 53–55.

[12]             W. V. Quine, “Epistemology Naturalized,” in Ontological Relativity and Other Essays (New York: Columbia University Press, 1969), 69–90.

[13]             Hilary Putnam, Mathematics, Matter and Method, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 347–349.

[14]             Luitzen Egbertus Jan Brouwer, Collected Works, vol. 1, ed. Arend Heyting (Amsterdam: North-Holland, 1975), 33–37.

[15]             Arend Heyting, Intuitionism: An Introduction (Amsterdam: North-Holland, 1956), 1–5.

[16]             Michael Dummett, Elements of Intuitionism (Oxford: Clarendon Press, 1977), 57–60.

[17]             Hermann Weyl, Philosophy of Mathematics and Natural Science (Princeton: Princeton University Press, 1949), 43–47.

[18]             Thomas Tymoczko, ed., New Directions in the Philosophy of Mathematics (Princeton: Princeton University Press, 1998), 128–130.

[19]             Gottlob Frege, The Foundations of Arithmetic, trans. J. L. Austin (Evanston: Northwestern University Press, 1980), §62–68.

[20]             Bertrand Russell and Alfred North Whitehead, Principia Mathematica, vol. 1 (Cambridge: Cambridge University Press, 1910), vii–xv.

[21]             Kurt Gödel, On Formally Undecidable Propositions of Principia Mathematica and Related Systems, trans. Jean van Heijenoort (New York: Dover, 1992), 7–12.

[22]             David Hilbert, “The Foundations of Mathematics,” in From Frege to Gödel: A Source Book in Mathematical Logic, 1879–1931, ed. Jean van Heijenoort (Cambridge: Harvard University Press, 1967), 464–479.

[23]             Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 15–18.

[24]             Hao Wang, From Mathematics to Philosophy (London: Routledge, 1974), 202–205.

[25]             Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 41–44.

[26]             Helen Longino, The Fate of Knowledge (Princeton: Princeton University Press, 2002), 75–77.

[27]             George Lakoff and Rafael Núñez, Where Mathematics Comes From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into Being (New York: Basic Books, 2000), 28–31.

[28]             Donald MacKenzie, Mechanizing Proof: Computing, Risk, and Trust (Cambridge: MIT Press, 2001), 18–22.

[29]             Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 87–90.

[30]             Otávio Bueno and Øystein Linnebo, “New Waves in Philosophy of Mathematics,” in New Waves in Philosophy of Mathematics, ed. Bueno and Linnebo (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2009), 1–5.

[31]             Mark Steiner, Mathematical Knowledge (Ithaca: Cornell University Press, 1975), 45–47.

[32]             Stewart Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 121–125.


5.           Aksiologi: Nilai dan Tujuan dalam Filsafat Matematika

Dimensi aksiologis filsafat matematika berhubungan dengan pertanyaan mengenai nilai, tujuan, dan makna dari aktivitas matematis bagi manusia dan peradaban. Jika ontologi menjawab apa yang ada dan epistemologi menjelaskan bagaimana kita mengetahui, maka aksiologi menelaah mengapa matematika bernilai — baik secara kognitif, etis, estetis, maupun eksistensial.¹ Filsafat matematika tidak hanya mengkaji keabsahan kebenaran formal, tetapi juga menelusuri nilai-nilai yang menjiwai praktik matematis dan dampaknya terhadap kemanusiaan serta kehidupan sosial.

5.1.       Nilai Epistemik: Kebenaran, Konsistensi, dan Kesederhanaan

Nilai-nilai epistemik dalam matematika berkaitan dengan kriteria internal bagi kebenaran dan keindahan logis dari teori. Matematika dianggap sebagai bentuk pengetahuan tertinggi karena menjunjung konsistensi, koherensi, dan kesederhanaan dalam struktur deduktifnya.² Euclid dalam Elements menjadi simbol dari keanggunan intelektual — bahwa kejelasan dan keteraturan logis merupakan bentuk tertinggi dari nilai kognitif.³

Nilai kebenaran dalam matematika bersifat otonom, tidak bergantung pada verifikasi empiris, tetapi pada pembuktian deduktif yang sahih.⁴ Dengan demikian, kebenaran matematis lebih menyerupai “kejelasan rasional” ketimbang “kecocokan empiris.” Dalam hal ini, filsafat matematika menjadi penjaga integritas rasionalitas itu sendiri, memastikan bahwa setiap proposisi berdiri di atas dasar logis yang tak tergoyahkan.⁵

Selain kebenaran, kesederhanaan (simplicity) juga dianggap bernilai tinggi dalam matematika. Sebuah teori matematika yang elegan sering kali lebih dihargai daripada teori yang rumit meskipun sama-sama benar.⁶ Seperti diungkapkan oleh Bertrand Russell, “keindahan matematika terletak pada kesederhanaan yang tak terelakkan dari kebenarannya.”⁷ Dengan demikian, nilai epistemik dalam matematika mengandung unsur estetis — kebenaran dan keindahan bersatu dalam bentuk kesempurnaan rasional.

5.2.       Nilai Estetis: Keindahan Abstraksi dan Harmoni Logis

Sejak Pythagoras, matematika telah dipahami sebagai ekspresi dari keindahan kosmos.⁸ Harmoni bilangan, simetri bentuk, dan keteraturan rasional dianggap sebagai manifestasi keindahan yang universal. Para filsuf dan matematikawan besar — dari Plato hingga Dirac — menegaskan bahwa keindahan bukanlah pelengkap dalam matematika, melainkan indikator kebenaran itu sendiri.⁹

Roger Penrose menegaskan bahwa pengalaman estetik dalam matematika adalah pengalaman intelektual terhadap keteraturan metafisis alam semesta.¹⁰ Ketika seorang matematikawan menemukan bukti yang indah, yang sederhana namun dalam, ia mengalami “pencerahan rasional” — bentuk tertinggi dari intellectual joy.¹¹ Nilai estetis ini tidak bersifat subjektif, melainkan intersubjektif, karena seluruh komunitas ilmiah dapat merasakan dan menilai keindahan yang sama melalui struktur logis yang serupa.¹²

Keindahan matematika juga berperan sebagai motivasi epistemik: ia mendorong pencarian harmoni dan simetri sebagai tanda keteraturan realitas.¹³ Dalam konteks ini, nilai estetis memiliki fungsi heuristik — membantu menemukan kebenaran baru karena keindahan sering kali berfungsi sebagai “kompas epistemik.”¹⁴

5.3.       Nilai Etis dan Moral: Tanggung Jawab dalam Aplikasi Matematika

Matematika tidak bebas nilai secara etis, karena setiap penerapan logika dan model matematis memiliki implikasi moral terhadap kehidupan manusia.¹⁵ Dalam dunia modern, matematika menjadi dasar bagi teknologi, ekonomi, dan algoritme yang membentuk keputusan sosial-politik.¹⁶ Oleh karena itu, filsafat matematika memiliki tanggung jawab etis untuk meninjau bagaimana struktur rasional yang diciptakan manusia dapat memengaruhi kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan.

Kecerdasan buatan, misalnya, bekerja berdasarkan model matematis yang tampak netral tetapi sesungguhnya mengandung bias nilai dan asumsi sosial.¹⁷ Ketika algoritme digunakan untuk menentukan kebijakan publik, penilaian risiko kriminal, atau akses ekonomi, maka matematika menjadi instrumen kekuasaan yang memiliki dimensi moral.¹⁸ Dalam kerangka aksiologis, matematika tidak hanya harus benar secara formal, tetapi juga adil secara etis.¹⁹

Sebagaimana dinyatakan oleh Luciano Floridi dalam The Ethics of Information, nilai matematis di era digital harus dibimbing oleh prinsip kebaikan epistemik (epistemic good) dan tanggung jawab moral terhadap dampak informasi yang dihasilkan.²⁰ Dengan demikian, aksiologi matematika modern tidak lagi berhenti pada keindahan deduktif, tetapi berkembang menjadi etika praktis bagi masyarakat algoritmik.

5.4.       Nilai Humanistik: Matematika sebagai Ekspresi Rasionalitas Manusia

Selain nilai epistemik dan etis, matematika juga memiliki nilai humanistik, karena ia merupakan ekspresi tertinggi dari potensi rasional manusia.²¹ Kegiatan matematis mengandung nilai-nilai seperti disiplin berpikir, ketekunan, imajinasi, dan penghormatan terhadap keteraturan alam.²² Dalam pandangan humanistik, matematika bukan sekadar alat untuk menguasai dunia, tetapi cara manusia memahami dirinya sebagai makhluk rasional yang mencari makna melalui keteraturan.

Albert Einstein menulis bahwa “hal yang paling tidak dapat dipahami tentang alam semesta adalah bahwa alam semesta dapat dipahami,” menandakan bahwa keteraturan matematis adalah jendela bagi kesadaran manusia untuk mengenali dirinya di dalam dunia.²³ Matematika, dengan demikian, bukan sekadar bahasa logika, melainkan bahasa eksistensial yang menghubungkan rasio manusia dengan tatanan kosmos.²⁴

Pendekatan humanistik ini sejalan dengan visi filsafat matematika integral, yang berusaha menyatukan nilai-nilai rasional, etis, dan estetis dalam satu kerangka makna.²⁵ Dengan memahami matematika sebagai aktivitas reflektif yang berakar pada pengalaman manusia, kita tidak hanya memandangnya sebagai instrumen sains, tetapi sebagai bentuk kebudayaan rasional yang mengandung nilai kemanusiaan mendalam.


Tujuan Filsafat Matematika: Menuju Rasionalitas Bernilai

Tujuan akhir filsafat matematika, dalam perspektif aksiologis, bukan hanya menjelaskan dasar kebenaran matematis, tetapi menegaskan makna keberadaannya bagi kehidupan manusia.²⁶ Matematika berfungsi ganda: secara instrumental, ia menyediakan alat berpikir yang memungkinkan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan; secara intrinsik, ia menumbuhkan kebajikan intelektual seperti kejujuran logis, ketekunan, dan keterbukaan terhadap kebenaran.²⁷

Dengan demikian, tujuan filsafat matematika bukan hanya menemukan kebenaran abstrak, melainkan juga membimbing rasionalitas menuju nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi.²⁸ Ia menjadi filsafat tentang logos yang beretika — rasionalitas yang tidak kehilangan orientasi moral dan estetisnya. Aksiologi matematika, dalam hal ini, memulihkan hubungan antara akal dan kebaikan, antara struktur dan makna, antara pengetahuan dan kebijaksanaan.²⁹


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 83–85.

[2]                Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 12–15.

[3]                Euclid, The Elements, trans. Thomas L. Heath (Cambridge: Cambridge University Press, 1908), Book I, Prologue.

[4]                Bertrand Russell, Introduction to Mathematical Philosophy (London: Allen & Unwin, 1919), 5–7.

[5]                Hilary Putnam, Mathematics, Matter and Method, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 357–359.

[6]                Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 122–125.

[7]                Bertrand Russell, Mysticism and Logic (London: Longmans, Green and Co., 1917), 59.

[8]                Walter Burkert, Lore and Science in Ancient Pythagoreanism (Cambridge: Harvard University Press, 1972), 28–31.

[9]                Paul Dirac, Directions in Physics (New York: Wiley, 1978), 48.

[10]             Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (New York: Knopf, 2004), 17–19.

[11]             Penrose, Shadows of the Mind: A Search for the Missing Science of Consciousness (Oxford: Oxford University Press, 1994), 421–423.

[12]             Elaine Landry, Categories for the Working Philosopher (Oxford: Oxford University Press, 2017), 205–208.

[13]             Mark Steiner, Mathematical Knowledge (Ithaca: Cornell University Press, 1975), 55–58.

[14]             James R. Brown, Philosophy of Mathematics: A Contemporary Introduction to the World of Proofs and Pictures (London: Routledge, 2008), 91–94.

[15]             Donald MacKenzie, Mechanizing Proof: Computing, Risk, and Trust (Cambridge: MIT Press, 2001), 18–22.

[16]             Cathy O’Neil, Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy (New York: Crown, 2016), 3–6.

[17]             Virginia Eubanks, Automating Inequality: How High-Tech Tools Profile, Police, and Punish the Poor (New York: St. Martin’s Press, 2018), 42–46.

[18]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 93–97.

[19]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 201–205.

[20]             Ibid., 210–213.

[21]             George Lakoff and Rafael Núñez, Where Mathematics Comes From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into Being (New York: Basic Books, 2000), 34–37.

[22]             Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 87–90.

[23]             Albert Einstein, quoted in Gerald Holton, Thematic Origins of Scientific Thought (Cambridge: Harvard University Press, 1973), 244.

[24]             Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 121–125.

[25]             Elaine Landry and Jean-Pierre Marquis, “Categories in Context,” Philosophia Mathematica 13, no. 3 (2005): 345–375.

[26]             Philip Davis and Reuben Hersh, The Mathematical Experience (Boston: Birkhäuser, 1981), 15–18.

[27]             Paul Ernest, “Mathematics and Human Values,” For the Learning of Mathematics 3, no. 2 (1983): 39–42.

[28]             Mark Johnson, Moral Imagination: Implications of Cognitive Science for Ethics (Chicago: University of Chicago Press, 1993), 147–149.

[29]             Roger Penrose, The Emperor’s New Mind (Oxford: Oxford University Press, 1989), 321–325.


6.           Dimensi Logika dan Bahasa

Matematika, pada hakikatnya, adalah bahasa formal dari rasionalitas. Ia beroperasi melalui sistem simbol dan struktur logika yang memungkinkan representasi yang presisi terhadap ide-ide abstrak. Sejak awal abad ke-20, filsafat matematika menaruh perhatian besar terhadap dua dimensi yang saling berkaitan: dimensi logika, yang menyangkut struktur penalaran dan pembuktian, serta dimensi bahasa, yang berkaitan dengan makna simbol dan ekspresi matematis.¹

6.1.       Logika sebagai Fondasi Matematika

Peran logika dalam matematika telah lama diakui sejak Aristoteles menyusun Organon, tetapi baru memperoleh bentuk formal yang matang pada abad ke-19 melalui karya Frege, Peano, dan Russell.² Logika matematis berupaya mengubah seluruh penalaran matematis menjadi sistem deduktif yang eksplisit, di mana setiap pernyataan dapat diturunkan dari aksioma melalui aturan inferensi yang ketat.³ Dalam kerangka logisisme, sebagaimana dikembangkan oleh Gottlob Frege dan kemudian oleh Bertrand Russell serta Alfred North Whitehead dalam Principia Mathematica, logika dianggap sebagai dasar ontologis dan epistemologis seluruh matematika.⁴

Melalui logika simbolik, struktur matematika diubah menjadi sistem formal yang memungkinkan analisis sintaksis terhadap kebenaran proposisional.⁵ Kebenaran tidak lagi bergantung pada intuisi atau pengalaman, melainkan pada validitas inferensial di dalam sistem deduksi. Namun, proyek ini mengalami krisis ketika teorema ketaklengkapan Gödel (1931) membuktikan bahwa tidak ada sistem formal yang sekaligus lengkap dan konsisten untuk seluruh aritmetika.⁶ Artinya, dalam setiap sistem logika yang cukup kuat, selalu ada proposisi yang benar tetapi tidak dapat dibuktikan di dalam sistem itu sendiri.⁷ Dengan demikian, logika yang semula diharapkan menjadi dasar absolut matematika justru memperlihatkan batas-batasnya sendiri.

Krisis ini melahirkan refleksi filosofis penting: matematika bukan sekadar permainan logis tertutup, melainkan juga sistem terbuka yang selalu menembus batas dirinya melalui intuisi, bahasa, dan makna.⁸ Hilbert pernah menyatakan bahwa tujuan logika adalah menjamin konsistensi matematika; setelah Gödel, pandangan itu berubah menjadi kesadaran bahwa logika adalah instrumen reflektif, bukan fondasi final.⁹

6.2.       Bahasa Matematis dan Struktur Simbolik

Bahasa matematika adalah sistem simbol formal yang memiliki sintaksis (aturan bentuk), semantik (makna), dan pragmatik (penggunaan dalam konteks).¹⁰ Seperti bahasa alami, ia memiliki struktur gramatikal, tetapi dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.¹¹ Ferdinand de Saussure telah menekankan bahwa makna muncul dari relasi antar-simbol, bukan dari referensi langsung terhadap realitas.¹² Dalam konteks matematika, hal ini berarti bahwa simbol-simbol matematis memperoleh makna bukan karena menunjuk pada objek eksternal, melainkan karena posisi dan fungsinya dalam sistem formal.¹³

Filsuf seperti Ludwig Wittgenstein kemudian menyoroti dimensi linguistik dari matematika. Dalam Tractatus Logico-Philosophicus, ia berpendapat bahwa matematika adalah bentuk logika yang diperluas — tautologi yang penuh makna karena menggambarkan struktur dunia secara simbolik.¹⁴ Namun dalam karya-karya selanjutnya, terutama Remarks on the Foundations of Mathematics, Wittgenstein menolak pandangan bahwa matematika memiliki makna universal yang melekat pada simbolnya; ia menegaskan bahwa arti matematis muncul dari praktik dan konteks penggunaan — sebuah bentuk “permainan bahasa” (language-game).¹⁵

Pandangan Wittgenstein membuka ruang bagi pendekatan pragmatis terhadap bahasa matematika: bahwa makna matematis tidak dapat dilepaskan dari cara manusia menggunakannya dalam kehidupan ilmiah dan sosial.¹⁶ Oleh karena itu, matematika bukan hanya sistem tanda yang steril, tetapi juga aktivitas linguistik yang dihidupi dalam konteks komunitas penalaran.¹⁷

6.3.       Formalisme dan Krisis Makna

Pendekatan formalis yang dikembangkan oleh David Hilbert berupaya menyingkirkan unsur semantik dan menekankan matematika sebagai permainan simbol berdasarkan aturan manipulatif.¹⁸ Dalam kerangka ini, pernyataan matematis tidak perlu memiliki makna; cukup bahwa ia dapat dibuktikan secara formal dari aksioma yang ditetapkan.¹⁹ Pendekatan ini berhasil memperkuat presisi metodologis, tetapi menimbulkan kritik bahwa matematika kehilangan makna eksistensial dan semantiknya.²⁰

Para pemikir seperti Hermann Weyl dan Michael Dummett mengingatkan bahwa tanpa dimensi makna, matematika akan menjadi sistem kosong — benar secara formal, tetapi hampa secara filosofis.²¹ Hilbert menekankan consistency as truth, sedangkan para realis seperti Gödel dan Penrose menekankan truth beyond consistency.²² Dengan demikian, dimensi logika dan bahasa harus dipahami secara komplementer: logika menjaga struktur, sedangkan bahasa memberi makna.²³

6.4.       Semiotika Matematika dan Teori Makna

Perkembangan teori semiotika memperkaya pemahaman tentang bahasa matematis. Charles Sanders Peirce, misalnya, memandang simbol matematis sebagai sign yang memiliki hubungan triadik antara penanda (representamen), objek, dan interpretan.²⁴ Dalam kerangka ini, proses pemahaman matematis adalah proses semiosis — tafsir berlapis terhadap simbol yang terus direvisi melalui inferensi logis.²⁵

Roland Barthes dan Umberto Eco kemudian memperluas pandangan ini dengan melihat bahwa sistem simbol matematika menciptakan metabahasa — bahasa tentang bahasa — yang memungkinkan refleksi atas dirinya sendiri.²⁶ Matematika tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi juga tentang cara dunia direpresentasikan.²⁷ Dengan demikian, bahasa matematis berfungsi ganda: ia adalah alat komunikasi universal sekaligus cermin epistemik dari struktur berpikir manusia.


Menuju Sintesis Logika-Bahasa: Matematika sebagai Teks Rasional

Dari perspektif kontemporer, dimensi logika dan bahasa dalam matematika tidak dapat dipisahkan.²⁸ Logika memberikan kerangka formal bagi inferensi yang valid, sementara bahasa menyediakan medium ekspresif untuk makna dan komunikasi. Dalam kerangka hermeneutik, matematika dapat dipahami sebagai “teks rasional” yang selalu terbuka terhadap interpretasi baru — setiap simbol, rumus, dan bukti merupakan bentuk narasi rasional yang dapat dibaca, dimaknai, dan dikembangkan.²⁹

Filsafat matematika modern, dengan demikian, bergerak dari paradigma foundationalist menuju paradigma communicative rationality, di mana logika dan bahasa saling menyeimbangkan: logika menjamin validitas, bahasa menjamin makna.³⁰ Hubungan keduanya menciptakan suatu medan filosofis yang dinamis, di mana matematika tidak lagi hanya berbicara tentang kebenaran formal, tetapi juga tentang makna komunikatif dari rasionalitas manusia itu sendiri.³¹


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 145–148.

[2]                Aristotle, Organon, trans. E. S. Forster (Cambridge: Harvard University Press, 1938), Book I.

[3]                Gottlob Frege, Begriffsschrift (Halle: Nebert, 1879), §§1–3.

[4]                Bertrand Russell and Alfred North Whitehead, Principia Mathematica, vol. 1 (Cambridge: Cambridge University Press, 1910), vii–xv.

[5]                Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 33–35.

[6]                Kurt Gödel, Über formal unentscheidbare Sätze der Principia Mathematica und verwandter Systeme I (Leipzig: Monatshefte für Mathematik und Physik, 1931), 173–198.

[7]                Raymond Smullyan, Gödel’s Incompleteness Theorems (Oxford: Oxford University Press, 1992), 41–43.

[8]                Hao Wang, From Mathematics to Philosophy (London: Routledge, 1974), 202–205.

[9]                David Hilbert, “The Foundations of Mathematics,” in From Frege to Gödel: A Source Book in Mathematical Logic, 1879–1931, ed. Jean van Heijenoort (Cambridge: Harvard University Press, 1967), 464–479.

[10]             Alfred Tarski, Logic, Semantics, Metamathematics (Oxford: Clarendon Press, 1956), 153–155.

[11]             Noam Chomsky, Syntactic Structures (The Hague: Mouton, 1957), 1–3.

[12]             Ferdinand de Saussure, Course in General Linguistics, trans. Wade Baskin (New York: McGraw-Hill, 1966), 65–70.

[13]             Ibid., 88–90.

[14]             Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, trans. C. K. Ogden (London: Routledge, 1922), 6.1–6.2.

[15]             Ludwig Wittgenstein, Remarks on the Foundations of Mathematics, ed. G. H. von Wright et al. (Cambridge: MIT Press, 1978), 42–47.

[16]             Saul Kripke, Wittgenstein on Rules and Private Language (Cambridge: Harvard University Press, 1982), 87–90.

[17]             Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 91–94.

[18]             David Hilbert, “Über das Unendliche,” Mathematische Annalen 95, no. 1 (1926): 161–190.

[19]             Michael Dummett, Elements of Intuitionism (Oxford: Clarendon Press, 1977), 47–50.

[20]             Hermann Weyl, Philosophy of Mathematics and Natural Science (Princeton: Princeton University Press, 1949), 54–57.

[21]             Ibid., 60–61.

[22]             Roger Penrose, The Emperor’s New Mind (Oxford: Oxford University Press, 1989), 321–325.

[23]             Hilary Putnam, Philosophy of Logic (New York: Harper, 1971), 112–115.

[24]             Charles S. Peirce, Collected Papers of Charles Sanders Peirce, vol. 2, ed. C. Hartshorne and P. Weiss (Cambridge: Harvard University Press, 1932), §92–§99.

[25]             Umberto Eco, A Theory of Semiotics (Bloomington: Indiana University Press, 1976), 32–35.

[26]             Roland Barthes, Elements of Semiology, trans. Annette Lavers and Colin Smith (New York: Hill and Wang, 1967), 9–11.

[27]             Eco, A Theory of Semiotics, 93–96.

[28]             Thomas Tymoczko, ed., New Directions in the Philosophy of Mathematics (Princeton: Princeton University Press, 1998), 188–192.

[29]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 1989), 423–425.

[30]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 286–288.

[31]             Stewart Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 211–214.


7.           Dimensi Ilmiah dan Interdisipliner

Matematika, sejak awal kelahirannya, bukan hanya ilmu yang berdiri sendiri, tetapi fondasi konseptual dari seluruh sistem pengetahuan ilmiah. Ia merupakan bahasa universal bagi ilmu pengetahuan dan model formal bagi struktur rasionalitas modern.¹ Filsafat matematika, dalam dimensi ilmiahnya, tidak hanya memeriksa dasar logis dari kebenaran matematis, tetapi juga menelaah hubungan antara struktur matematis dengan realitas empiris, serta kontribusinya terhadap perkembangan sains, teknologi, ekonomi, dan ilmu sosial.²

7.1.       Matematika sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan

Galileo Galilei pernah menyatakan bahwa “alam semesta ditulis dalam bahasa matematika.”³ Ungkapan ini bukan sekadar metafora, melainkan pernyataan ontologis sekaligus epistemologis bahwa hukum-hukum alam hanya dapat dipahami melalui struktur kuantitatif dan relasi matematis. Dalam fisika klasik, matematika menjadi alat formulasi universal bagi hukum gerak Newton, teori elektromagnetik Maxwell, hingga mekanika kuantum dan relativitas Einstein.⁴

Dalam konteks ini, matematika berfungsi sebagai medium epistemik, bukan sekadar alat. Ia menyediakan kerangka konseptual yang memungkinkan transformasi pengalaman empiris menjadi hukum ilmiah yang rasional.⁵ Pengetahuan ilmiah tanpa matematika kehilangan kemampuan prediktif dan ketepatan formalnya; sementara matematika tanpa empirisme kehilangan relevansi dengan realitas. Oleh karena itu, hubungan antara matematika dan sains bersifat dialektis: matematika membentuk dan sekaligus dibentuk oleh struktur empiris alam.⁶

7.2.       Dimensi Interdisipliner: Dari Fisika hingga Ilmu Sosial

Matematika telah melintasi batas-batas tradisional antara disiplin ilmu, menjadi lingua franca bagi berbagai bidang pengetahuan. Dalam fisika teoritis, misalnya, persamaan diferensial dan geometri non-Euclidean menjadi dasar bagi teori relativitas dan mekanika kuantum.⁷ Di biologi, model matematika digunakan untuk menjelaskan dinamika populasi, pola evolusi, dan jaringan neuron.⁸ Dalam ekonomi, teori permainan dan optimisasi matematis menjadi fondasi bagi analisis rasionalitas manusia dalam pengambilan keputusan.⁹

Namun, perlu dicatat bahwa ekspansi ini tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga filosofis. Ketika matematika diaplikasikan dalam konteks sosial dan humanistik, ia mengubah cara manusia memahami rasionalitas, kebebasan, dan nilai.¹⁰ Model matematis dalam ekonomi, misalnya, sering kali beroperasi dengan asumsi idealisasi yang mengabaikan dimensi etis dan emosional manusia.¹¹ Dengan demikian, penerapan interdisipliner matematika menuntut refleksi aksiologis agar rasionalitas formal tidak menindas kompleksitas realitas manusiawi.¹²

7.3.       Matematika dan Filsafat Ilmu: Struktur dan Penjelasan

Dalam ranah filsafat ilmu, matematika berperan sebagai paradigma penjelasan ilmiah (scientific explanation).¹³ Sejak Ernst Cassirer hingga Bas van Fraassen, matematika dianggap sebagai form of representation — suatu bentuk simbolik yang tidak menggambarkan dunia sebagaimana adanya, tetapi menstrukturkan pengalaman melalui simbol dan model.¹⁴ Model matematis, dalam kerangka ini, bukanlah cermin realitas, melainkan konstruksi konseptual yang menuntun pemahaman terhadap fenomena.¹⁵

Hal ini juga berimplikasi pada perdebatan antara realisme ilmiah dan instrumentalisme.¹⁶ Realis menganggap bahwa struktur matematis yang digunakan dalam sains menggambarkan aspek nyata dari dunia, sedangkan instrumentalis melihat matematika sebagai alat prediksi tanpa klaim ontologis.¹⁷ Filsafat matematika modern mencoba memediasi kedua pandangan ini melalui konsep realisme struktural, yakni bahwa yang nyata bukanlah objek, melainkan struktur relasional yang diungkapkan melalui model matematis.¹⁸

7.4.       Matematika, Teknologi, dan Era Digital

Dalam era digital, peran matematika meluas secara eksponensial. Algoritme, kriptografi, komputasi, dan kecerdasan buatan (AI) semuanya berakar pada prinsip-prinsip matematis.¹⁹ Matematika kini tidak hanya menggambarkan dunia, tetapi juga menciptakan realitas baru melalui model digital dan simulasi.²⁰ Transformasi ini menandai pergeseran ontologis: dari matematika sebagai deskripsi menjadi matematika sebagai produksi realitas simbolik.²¹

Namun perkembangan ini menimbulkan problem epistemik dan etis baru.²² Di satu sisi, algoritme memperluas kemampuan manusia untuk memahami dan mengontrol dunia; di sisi lain, mereka menciptakan bentuk determinasi baru yang mengancam otonomi manusia.²³ Karena itu, filsafat matematika perlu dikembangkan sebagai kritik atas rasionalitas teknologis, memastikan bahwa kekuatan logis dan komputasional tetap berada dalam horizon kemanusiaan.²⁴

Luciano Floridi menegaskan bahwa dunia digital adalah “lingkungan ontologis baru” di mana informasi dan matematika bersatu dalam bentuk infosphere.²⁵ Dalam konteks ini, filsafat matematika berperan penting untuk menimbang bagaimana simbol-simbol dan persamaan yang tampak netral sebenarnya membentuk struktur moral dan sosial dunia digital kontemporer.²⁶

7.5.       Matematika dan Ilmu Kognitif: Rasionalitas sebagai Fenomena Manusia

Dimensi interdisipliner matematika juga mencakup keterkaitannya dengan ilmu kognitif dan neurosains.²⁷ Teori embodied cognition yang dikemukakan oleh George Lakoff dan Rafael Núñez menunjukkan bahwa konsep matematis seperti bilangan, ruang, dan fungsi berakar pada pengalaman tubuh dan persepsi spasial.²⁸ Dengan demikian, rasionalitas matematis bukanlah entitas murni abstrak, melainkan bentuk pengolahan pengalaman manusia yang termediasi secara simbolik.²⁹

Dalam konteks ini, matematika menjadi jembatan antara ranah simbolik dan biologis, antara kesadaran dan dunia.³⁰ Ia menunjukkan bagaimana logika dan bahasa matematika tumbuh dari dasar kognitif yang bersifat manusiawi.³¹ Pandangan ini membuka arah baru bagi filsafat matematika untuk memahami matematika bukan hanya sebagai ilmu deduktif, tetapi juga sebagai fenomena eksistensial: ekspresi kesadaran manusia terhadap keteraturan realitas.³²

7.6.       Matematika sebagai Etos Ilmiah

Akhirnya, matematika memiliki fungsi aksiologis dalam membentuk etos ilmiah modern.³³ Ia menanamkan nilai-nilai universal seperti objektivitas, kejelasan, dan koherensi yang menjadi dasar seluruh kegiatan ilmiah.³⁴ Namun, sebagaimana diingatkan oleh Thomas Kuhn, paradigma ilmiah selalu bersifat historis dan komunitatif; maka matematika pun perlu dibaca sebagai konstruksi yang terbuka terhadap perubahan dan dialog.³⁵

Dalam arti ini, filsafat matematika berperan sebagai penjaga keseimbangan antara determinasi logis dan kebebasan kreatif dalam ilmu.³⁶ Ia memastikan bahwa sains tidak kehilangan orientasi humanistiknya — bahwa di balik setiap model dan rumus, ada manusia yang berpikir, menilai, dan bertanggung jawab.³⁷


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 185–188.

[2]                Imre Lakatos, Proofs and Refutations: The Logic of Mathematical Discovery (Cambridge: Cambridge University Press, 1976), 1–3.

[3]                Galileo Galilei, Il Saggiatore (Rome: Accademia dei Lincei, 1623), 32–34.

[4]                Albert Einstein, Relativity: The Special and General Theory (New York: Crown, 1920), 1–5.

[5]                Ernst Cassirer, Substance and Function (Chicago: Open Court, 1923), 45–47.

[6]                Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Oxford University Press, 1980), 42–45.

[7]                Michael Friedman, Foundations of Space-Time Theories (Princeton: Princeton University Press, 1983), 91–95.

[8]                James D. Murray, Mathematical Biology (Berlin: Springer, 2002), 7–10.

[9]                John von Neumann and Oskar Morgenstern, Theory of Games and Economic Behavior (Princeton: Princeton University Press, 1944), 11–13.

[10]             Mary S. Morgan and Margaret Morrison, eds., Models as Mediators: Perspectives on Natural and Social Science (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 11–14.

[11]             Amartya Sen, Rationality and Freedom (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 57–61.

[12]             Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 101–104.

[13]             Wesley C. Salmon, Scientific Explanation and the Causal Structure of the World (Princeton: Princeton University Press, 1984), 32–35.

[14]             Ernst Cassirer, The Philosophy of Symbolic Forms, vol. 3 (New Haven: Yale University Press, 1957), 70–74.

[15]             Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Oxford University Press, 1983), 25–28.

[16]             Stathis Psillos, Scientific Realism: How Science Tracks Truth (London: Routledge, 1999), 12–15.

[17]             Bas van Fraassen, The Scientific Image, 57–59.

[18]             James Ladyman, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 121–125.

[19]             Norbert Wiener, Cybernetics: Or Control and Communication in the Animal and the Machine (Cambridge: MIT Press, 1948), 2–5.

[20]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 89–92.

[21]             Luciano Floridi, The Fourth Revolution: How the Infosphere Is Reshaping Human Reality (Oxford: Oxford University Press, 2014), 15–18.

[22]             Nick Bostrom, Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies (Oxford: Oxford University Press, 2014), 103–108.

[23]             Cathy O’Neil, Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy (New York: Crown, 2016), 5–9.

[24]             Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 202–205.

[25]             Floridi, The Fourth Revolution, 56–58.

[26]             Luciano Floridi, Information: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2010), 110–113.

[27]             George Lakoff and Rafael Núñez, Where Mathematics Comes From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into Being (New York: Basic Books, 2000), 28–31.

[28]             Ibid., 32–36.

[29]             Rafael Núñez, Do Numbers Really Exist? (Cambridge: MIT Press, 2017), 42–44.

[30]             Andy Clark, Being There: Putting Brain, Body, and World Together Again (Cambridge: MIT Press, 1997), 73–76.

[31]             Francisco Varela, Evan Thompson, and Eleanor Rosch, The Embodied Mind: Cognitive Science and Human Experience (Cambridge: MIT Press, 1991), 117–119.

[32]             Stewart Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 227–230.

[33]             Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 10–13.

[34]             Robert Merton, The Sociology of Science: Theoretical and Empirical Investigations (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 267–269.

[35]             Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 121–124.

[36]             Imre Lakatos, The Methodology of Scientific Research Programmes (Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 178–180.

[37]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 287–290.


8.           Kritik terhadap Paradigma Filsafat Matematika Klasik

Paradigma klasik dalam filsafat matematika — yang mencakup Platonisme, Logisisme, Formaisme, dan Intuisionisme — telah membentuk fondasi berpikir tentang hakikat dan metode matematika selama lebih dari dua abad. Namun, sejak pertengahan abad ke-20, paradigma-paradigma tersebut mulai dipertanyakan, baik karena keterbatasan metafisik maupun karena ketidakmampuannya menjelaskan dimensi sosial, historis, dan kognitif dari praktik matematis.¹ Filsafat matematika modern dan kontemporer kemudian beralih dari pencarian fondasi absolut menuju pemahaman pluralistik dan dinamis yang lebih menekankan konteks praksis manusia.

8.1.       Kritik Fenomenologis: Mengembalikan Pengalaman ke dalam Matematika

Salah satu kritik paling mendasar datang dari tradisi fenomenologi, terutama melalui pemikiran Edmund Husserl. Dalam The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, Husserl mengemukakan bahwa matematika modern telah “menyimpang dari dunia kehidupan” (Lebenswelt), yaitu dunia konkret pengalaman manusia yang menjadi sumber makna asli bagi segala pengetahuan.² Baginya, matematika yang terlalu formal telah kehilangan akar intuitifnya, menjelma menjadi sistem simbol yang terlepas dari kesadaran transendental yang menghasilkannya.³

Husserl berpendapat bahwa kebenaran matematis tidak dapat dipahami semata sebagai deduksi logis, tetapi harus ditelusuri kembali ke dalam aktus kesadaran yang memproduksi objek-objek ideal.⁴ Dengan demikian, fenomenologi menolak formalisme dan logisisme yang meniadakan subjek epistemik. Kritik ini membuka jalan bagi pendekatan yang lebih reflektif terhadap dasar pengalaman kognitif manusia dalam membangun struktur matematis.⁵

Maurice Merleau-Ponty melanjutkan gagasan ini dengan menunjukkan bahwa intuisi matematis berakar pada pengalaman tubuh (embodied experience).⁶ Menurutnya, ruang geometri bukanlah entitas abstrak yang eksis di luar kesadaran, melainkan hasil dari persepsi spasial tubuh manusia.⁷ Kritik fenomenologis ini mengembalikan matematika pada dimensi eksistensialnya — sebagai aktivitas manusia yang lahir dari keterlibatan dengan dunia, bukan sistem simbol otonom.

8.2.       Kritik Eksistensialis dan Humanistik: Rasionalitas yang Terasing

Selain fenomenologi, filsafat eksistensial juga memberikan kritik tajam terhadap dehumanisasi dalam rasionalitas matematis. Martin Heidegger, misalnya, menilai bahwa matematika modern berkontribusi pada Gestell — kerangka berpikir teknologis yang mengubah dunia menjadi sekadar objek manipulasi.⁸ Dalam pandangan ini, matematika telah kehilangan dimensi ontologisnya dan berubah menjadi alat kontrol total atas realitas.⁹

Jean-Paul Sartre dan Albert Camus, meski tidak secara langsung menulis tentang filsafat matematika, menyuarakan kritik yang senada: bahwa rasionalitas matematis, bila dilepaskan dari nilai-nilai eksistensial, berpotensi meniadakan makna dan kebebasan manusia.¹⁰ Matematika yang hanya mengejar kepastian formal, tanpa kesadaran moral dan kemanusiaan, berisiko menjadi bentuk “nihilisme rasional” — rasionalitas tanpa arah etis.¹¹

Kritik humanistik kemudian menuntut reintegrasi nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik matematis: bahwa berpikir secara matematis bukan hanya berpikir benar, tetapi juga berpikir bermakna.¹² Dalam konteks ini, filsafat matematika harus kembali menjadi refleksi tentang logos yang berjiwa, bukan sekadar sistem tanda tanpa makna.

8.3.       Kritik Posmodern dan Bahasa: Relativisasi Kebenaran Matematis

Pemikiran posmodern menantang klaim universalisme dan absolutisme yang melekat dalam paradigma klasik. Jean-François Lyotard, dalam The Postmodern Condition, menegaskan bahwa “narasi besar” (grand narratives) tentang kepastian rasional — termasuk dalam matematika — telah runtuh dalam masyarakat pascaindustri.¹³ Kebenaran tidak lagi dipahami sebagai korespondensi universal, melainkan sebagai hasil permainan bahasa (language games) yang bergantung pada konteks sosial dan historis.¹⁴

Dalam perspektif ini, matematika dipandang sebagai wacana linguistik dengan aturan internalnya sendiri. Ludwig Wittgenstein sebelumnya telah membuka arah ini dengan konsep permainan bahasa dalam Remarks on the Foundations of Mathematics, di mana ia menolak gagasan bahwa kebenaran matematis memiliki makna transhistoris.¹⁵ Kebenaran, baginya, adalah fungsi dari praktik komunitas rasional yang menggunakan simbol-simbol itu — bukan sifat inheren dari simbol itu sendiri.¹⁶

Richard Rorty kemudian memperluas kritik ini melalui pragmatisme neoposmodern, yang menolak pencarian fondasi metafisik bagi kebenaran.¹⁷ Menurutnya, matematika tidak membutuhkan pembenaran transendental; cukup dipahami sebagai alat dialog dan koherensi sosial dalam diskursus ilmiah.¹⁸ Dengan demikian, posmodernisme memecah ilusi tentang objektivitas mutlak dan menegaskan dimensi plural dari rasionalitas ilmiah.

8.4.       Kritik Historis dan Sosial: Matematika sebagai Produk Budaya

Paradigma klasik cenderung memandang matematika sebagai aktivitas ahistoris — seolah-olah kebenaran matematis bersifat abadi dan terlepas dari konteks sosial. Kritik dari perspektif sejarah dan sosiologi ilmu menolak asumsi ini. Thomas S. Kuhn menunjukkan bahwa bahkan ilmu eksakta berkembang melalui revolusi paradigma yang bersifat historis dan komunitatif.¹⁹ Dengan analogi ini, konsep dan metode matematis juga dapat mengalami perubahan paradigma, bukan hanya evolusi logis.²⁰

Bruno Latour dan Steve Woolgar, dalam Laboratory Life, menyoroti bahwa praktik ilmiah (termasuk matematika) selalu dimediasi oleh bahasa, teknologi, dan relasi sosial.²¹ Artinya, bukti dan model matematis tidak berdiri di atas “fakta murni,” tetapi merupakan hasil konstruksi dalam jaringan institusional dan diskursif.²²

Paul Ernest, sebagai tokoh sosiokonstruktivisme matematis, menegaskan bahwa matematika adalah hasil aktivitas sosial kolaboratif, bukan penemuan tunggal dari rasio individu.²³ Ia menyatakan bahwa bukti matematis memperoleh legitimasi bukan hanya karena logikanya, tetapi karena diterima oleh komunitas praktisi.²⁴ Dengan demikian, kebenaran matematis bersifat intersubjektif, terbentuk melalui dialog dan kesepakatan dalam komunitas epistemik.

8.5.       Kritik Feminist dan Postkolonial: Dekonstruksi Bias dalam Rasionalitas Matematis

Dalam beberapa dekade terakhir, muncul pula kritik dari perspektif feminist dan postkolonial terhadap filsafat matematika klasik. Tokoh seperti Evelyn Fox Keller dan Sandra Harding berpendapat bahwa sains, termasuk matematika, telah lama dibangun di atas paradigma rasionalitas maskulin yang menekankan objektivitas, kontrol, dan distansi.²⁵ Mereka menuntut rekonstruksi epistemologi matematika yang lebih inklusif — yang mengakui peran emosi, intuisi, dan empati dalam proses berpikir ilmiah.²⁶

Sementara itu, perspektif postkolonial menyoroti bahwa klaim universalitas matematika sering kali menyembunyikan bias Eurocentris.²⁷ Kajian etnomatematika yang dikembangkan oleh Ubiratan D’Ambrosio menunjukkan bahwa setiap kebudayaan memiliki bentuk penalaran dan sistem simboliknya sendiri yang sah secara epistemik.²⁸ Dengan demikian, matematika tidak tunggal, melainkan plural: ada banyak cara manusia membangun rasionalitas melalui simbol dan pola.²⁹


Arah Baru: Pluralisme, Strukturalisme, dan Realisme Naturalistik

Kritik terhadap paradigma klasik tidak berakhir pada dekonstruksi, tetapi membuka jalan menuju pendekatan baru yang lebih plural dan naturalistik.³⁰ Para filsuf seperti Michael Resnik dan Stewart Shapiro menawarkan realisme struktural, yaitu pandangan bahwa yang nyata bukanlah entitas matematis individual, melainkan struktur relasional yang menghubungkan semuanya.³¹ Sementara itu, Penelope Maddy dan Otávio Bueno mengembangkan naturalisme matematis, yang menempatkan matematika dalam konteks praktik ilmiah nyata tanpa mengandaikan entitas metafisik.³²

Pendekatan-pendekatan baru ini menegaskan bahwa filsafat matematika perlu bergerak dari paradigma fondasional menuju paradigma interkoneksi, di mana logika, bahasa, dan budaya saling berinteraksi.³³ Kritik terhadap paradigma klasik, dengan demikian, bukanlah penolakan terhadap matematika itu sendiri, melainkan upaya untuk memperluas maknanya — dari sistem tertutup menuju praksis rasional yang terbuka, humanistik, dan reflektif.³⁴


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 231–234.

[2]                Edmund Husserl, The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, trans. David Carr (Evanston: Northwestern University Press, 1970), 6–8.

[3]                Ibid., 9–10.

[4]                Husserl, Logical Investigations, trans. J. N. Findlay (London: Routledge, 1970), 187–190.

[5]                J. N. Mohanty, Husserl and Frege (Bloomington: Indiana University Press, 1982), 75–78.

[6]                Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 1962), 225–228.

[7]                Ibid., 241–244.

[8]                Martin Heidegger, The Question Concerning Technology, trans. William Lovitt (New York: Harper & Row, 1977), 19–23.

[9]                Ibid., 28–30.

[10]             Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 732–735.

[11]             Albert Camus, The Myth of Sisyphus, trans. Justin O’Brien (New York: Vintage, 1955), 89–91.

[12]             Martha Nussbaum, Cultivating Humanity (Cambridge: Harvard University Press, 1997), 55–59.

[13]             Jean-François Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, trans. Geoff Bennington and Brian Massumi (Minneapolis: University of Minnesota Press, 1984), xxiii–xxv.

[14]             Ibid., 26–28.

[15]             Ludwig Wittgenstein, Remarks on the Foundations of Mathematics, ed. G. H. von Wright et al. (Cambridge: MIT Press, 1978), 42–47.

[16]             Saul Kripke, Wittgenstein on Rules and Private Language (Cambridge: Harvard University Press, 1982), 90–94.

[17]             Richard Rorty, Philosophy and the Mirror of Nature (Princeton: Princeton University Press, 1979), 371–374.

[18]             Ibid., 376–378.

[19]             Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 92–95.

[20]             Ibid., 110–112.

[21]             Bruno Latour and Steve Woolgar, Laboratory Life: The Construction of Scientific Facts (Princeton: Princeton University Press, 1979), 43–47.

[22]             Ibid., 89–91.

[23]             Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 103–107.

[24]             Ibid., 111–113.

[25]             Evelyn Fox Keller, Reflections on Gender and Science (New Haven: Yale University Press, 1985), 9–12.

[26]             Sandra Harding, The Science Question in Feminism (Ithaca: Cornell University Press, 1986), 113–116.

[27]             George Gheverghese Joseph, The Crest of the Peacock: Non-European Roots of Mathematics, 3rd ed. (Princeton: Princeton University Press, 2011), 3–5.

[28]             Ubiratan D’Ambrosio, Ethnomathematics: Link between Traditions and Modernity (Rotterdam: Sense Publishers, 2006), 27–29.

[29]             Ibid., 30–33.

[30]             Otávio Bueno and Øystein Linnebo, eds., New Waves in Philosophy of Mathematics (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2009), 1–3.

[31]             Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 221–224.

[32]             Penelope Maddy, Defending the Axioms: On the Philosophical Foundations of Set Theory (Oxford: Oxford University Press, 2011), 97–100.

[33]             James Ladyman, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 121–125.

[34]             Stewart Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 237–240.


9.           Relevansi Kontemporer: Matematika di Era Digital

Perkembangan teknologi digital dan komputasi modern telah mengubah secara radikal wajah matematika sebagai disiplin pengetahuan sekaligus praktik kognitif manusia. Dalam abad ke-21, matematika tidak lagi sekadar alat untuk memahami realitas, melainkan juga sarana untuk menciptakan realitas baru melalui algoritme, data, dan simulasi digital.¹ Transformasi ini menandai perubahan epistemologis dan ontologis yang mendalam, di mana matematika berfungsi bukan hanya sebagai bahasa ilmu, tetapi juga sebagai arsitektur dunia digital yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan hidup.²

9.1.       Dari Representasi ke Produksi Realitas Digital

Pada era klasik, matematika dipandang sebagai representasi rasional dari tatanan alam semesta. Namun, di era digital, paradigma ini bergeser: matematika tidak hanya merepresentasikan dunia, tetapi juga memproduksi realitas digital melalui simulasi, model komputasi, dan algoritme.³ Dunia maya (virtual) dan dunia informasi (infosphere) kini menjadi medan ontologis baru tempat struktur matematis beroperasi secara otonom.⁴

Luciano Floridi menyebut transformasi ini sebagai revolusi keempat dalam filsafat, setelah Copernicus, Darwin, dan Freud — sebuah pergeseran yang menempatkan manusia bukan lagi sebagai pusat pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem informasi yang dikonstruksi secara matematis.⁵ Dalam konteks ini, realitas digital adalah realitas matematis yang diaktualkan melalui kode dan algoritme.⁶ Dengan demikian, matematika kini berperan sebagai agen ontologis, bukan sekadar bahasa deskriptif.

Transformasi ini terlihat dalam berbagai bidang, dari model iklim dan ekonomi hingga simulasi bioteknologi dan kecerdasan buatan.⁷ Dalam setiap kasus, representasi matematis tidak hanya menggambarkan fenomena, tetapi juga membentuk perilaku sistem yang dimodelkan. Dunia menjadi “diprogram” secara matematis — suatu kondisi yang menuntut refleksi etis dan filosofis baru terhadap peran matematika dalam menentukan bentuk kehidupan kontemporer.⁸

9.2.       Algoritme, Otomasi, dan Rasionalitas Instrumental

Era digital memperlihatkan ekspansi matematis dalam bentuk algoritme dan komputasi otomatis.⁹ Algoritme adalah penerapan konkret dari logika matematis yang beroperasi dalam skala masif melalui sistem komputasi. Mereka menjadi infrastruktur tak terlihat dari hampir semua aspek kehidupan: ekonomi, media sosial, transportasi, bahkan pengambilan keputusan politik.¹⁰

Namun, dominasi algoritmik menimbulkan pertanyaan serius mengenai rasionalitas yang mendasarinya.¹¹ Rasionalitas algoritmik cenderung bersifat instrumental, berorientasi pada efisiensi dan optimalisasi, bukan pada makna atau kebaikan.¹² Ketika algoritme menentukan pilihan manusia berdasarkan pola statistik, maka matematika berpotensi menggantikan kebebasan reflektif dengan determinasi numerik.¹³

Shoshana Zuboff menyebut fenomena ini sebagai instrumentarian power — kekuasaan berbasis algoritme yang mengatur perilaku manusia tanpa memerlukan ideologi.¹⁴ Di sini, matematika menjadi bahasa kekuasaan baru: ia mengoperasikan logika pengawasan, prediksi, dan kontrol.¹⁵ Karena itu, filsafat matematika di era digital perlu mengembangkan etika algoritmik, yaitu refleksi normatif terhadap bagaimana struktur matematis mempengaruhi otonomi dan tanggung jawab moral manusia.¹⁶

9.3.       Big Data dan Krisis Epistemologi

Kehadiran big data menimbulkan tantangan epistemologis yang signifikan bagi filsafat matematika.¹⁷ Dalam paradigma datafikasi, kebenaran tidak lagi diperoleh melalui deduksi logis, tetapi melalui korelasi statistik dari jutaan data yang dianalisis oleh algoritme.¹⁸ Chris Anderson bahkan menyebut fenomena ini sebagai “akhir dari teori” (the end of theory), di mana model matematis digantikan oleh kekuatan prediksi empiris dari data besar.¹⁹

Namun, pandangan ini menimbulkan dilema epistemik.²⁰ Jika pengetahuan ilmiah digantikan oleh korelasi tanpa pemahaman, maka matematika kehilangan sifat reflektifnya sebagai instrumen rasionalitas.²¹ Sebagaimana dikemukakan oleh Evgeny Morozov, pendekatan data-driven cenderung melahirkan solutionism, yaitu keyakinan bahwa setiap persoalan sosial dapat diselesaikan dengan model matematis, padahal realitas manusia jauh lebih kompleks.²²

Krisis epistemologi ini menegaskan perlunya rasionalitas interpretatif, bukan sekadar rasionalitas komputasional.²³ Filsafat matematika berperan penting untuk mengingatkan bahwa makna tidak pernah muncul dari data mentah, tetapi dari penalaran reflektif yang mengaitkan simbol dengan pengalaman dan nilai.²⁴

9.4.       Matematika, Kecerdasan Buatan, dan Simulasi Kognitif

Kecerdasan buatan (AI) adalah manifestasi paling mutakhir dari aplikasi matematis dalam ranah kognitif.²⁵ Neural networks, machine learning, dan deep learning bekerja melalui fungsi matematis yang mereplikasi sebagian pola berpikir manusia.²⁶ Namun, di sinilah muncul pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah sistem matematis benar-benar dapat berpikir, ataukah hanya menghitung?²⁷

John Searle melalui Chinese Room Argument menegaskan bahwa manipulasi simbol matematis tidak identik dengan pemahaman.²⁸ Begitu pula Hubert Dreyfus menunjukkan keterbatasan AI dalam memahami konteks eksistensial dan makna yang tidak dapat diformalkan secara algoritmik.²⁹ Dengan demikian, filsafat matematika perlu mempertahankan perbedaan antara rasionalitas simbolik dan rasionalitas eksistensial — antara berpikir secara logis dan memahami secara manusiawi.³⁰

Roger Penrose menambahkan dimensi ontologis baru melalui The Emperor’s New Mind, dengan berpendapat bahwa kesadaran manusia melampaui komputasi algoritmik karena melibatkan proses non-algoritmik yang bersifat kuantum.³¹ Pandangan ini menunjukkan bahwa meskipun matematika membangun model kecerdasan buatan, ia tidak mampu sepenuhnya menjelaskan kesadaran sebagai fenomena eksistensial.³²

9.5.       Etika Digital dan Tanggung Jawab Matematis

Dalam masyarakat algoritmik, matematika memegang peran etis yang semakin besar.³³ Setiap rumus, fungsi, dan model dapat berdampak langsung pada kehidupan manusia — mulai dari algoritme perbankan dan keamanan siber hingga sistem prediksi sosial.³⁴ Karena itu, filsafat matematika kontemporer menuntut etika matematis, yaitu kesadaran bahwa setiap keputusan logis memiliki konsekuensi moral.³⁵

Luciano Floridi mengembangkan konsep infospheric ethics yang menempatkan tanggung jawab manusia dalam menjaga integritas lingkungan informasi.³⁶ Dalam konteks ini, matematika harus dipahami sebagai bentuk ekoteknologi moral, di mana rasionalitas tidak hanya diarahkan pada efisiensi, tetapi pada pelestarian nilai-nilai kemanusiaan dan ekologis dalam dunia digital.³⁷

Etika digital mengembalikan makna aksiologis matematika: bahwa simbol dan algoritme, betapapun abstraknya, selalu beroperasi dalam horizon etis manusia.³⁸ Dengan demikian, filsafat matematika berfungsi tidak hanya sebagai refleksi logis, tetapi juga sebagai panduan moral bagi peradaban algoritmik yang tengah kita masuki.³⁹

9.6.       Humanisasi Matematika di Era Digital

Relevansi kontemporer filsafat matematika berpuncak pada upaya untuk menghumanisasi matematika di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi.⁴⁰ Pendekatan humanistik menegaskan bahwa matematika, meski kini menjadi basis bagi teknologi dan ekonomi global, tetap merupakan ekspresi rasionalitas manusia — refleksi tentang keteraturan, makna, dan kebijaksanaan.⁴¹

Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini berarti mengembalikan matematika sebagai sarana pembentukan karakter intelektual dan moral, bukan sekadar instrumen teknis.⁴² Di tingkat sosial, hal ini menuntut pembangunan budaya digital yang berlandaskan pada transparansi, keadilan, dan tanggung jawab etis dalam penggunaan model matematis.⁴³

Dengan demikian, filsafat matematika di era digital bukan lagi semata-mata studi tentang bilangan atau bentuk, melainkan filsafat tentang rasionalitas yang hidup — tentang bagaimana logika, algoritme, dan etika dapat bersatu dalam membangun masa depan manusia yang adil dan bermakna.⁴⁴


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 251–254.

[2]                Luciano Floridi, The Fourth Revolution: How the Infosphere Is Reshaping Human Reality (Oxford: Oxford University Press, 2014), 15–18.

[3]                Imre Lakatos, Proofs and Refutations: The Logic of Mathematical Discovery (Cambridge: Cambridge University Press, 1976), 1–4.

[4]                Floridi, Information: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2010), 2–5.

[5]                Floridi, The Fourth Revolution, 23–26.

[6]                Ibid., 28–30.

[7]                Norbert Wiener, Cybernetics: Or Control and Communication in the Animal and the Machine (Cambridge: MIT Press, 1948), 15–17.

[8]                James Gleick, The Information: A History, a Theory, a Flood (New York: Pantheon, 2011), 403–406.

[9]                Donald MacKenzie, Mechanizing Proof: Computing, Risk, and Trust (Cambridge: MIT Press, 2001), 12–15.

[10]             Cathy O’Neil, Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy (New York: Crown, 2016), 3–6.

[11]             Evgeny Morozov, To Save Everything, Click Here (New York: PublicAffairs, 2013), 74–76.

[12]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 287–289.

[13]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 89–92.

[14]             Ibid., 123–126.

[15]             Ibid., 197–199.

[16]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 200–205.

[17]             Viktor Mayer-Schönberger and Kenneth Cukier, Big Data: A Revolution That Will Transform How We Live, Work, and Think (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2013), 67–70.

[18]             Chris Anderson, “The End of Theory,” Wired Magazine 16, no. 7 (2008): 108–109.

[19]             Ibid.

[20]             Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 171–173.

[21]             Morozov, To Save Everything, Click Here, 82–84.

[22]             Ibid., 89–91.

[23]             Hans-Georg Gadamer, Truth and Method, trans. Joel Weinsheimer and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 1989), 411–415.

[24]             Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 128–131.

[25]             Nick Bostrom, Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies (Oxford: Oxford University Press, 2014), 91–94.

[26]             Stuart Russell and Peter Norvig, Artificial Intelligence: A Modern Approach, 4th ed. (Upper Saddle River: Pearson, 2021), 5–8.

[27]             Hubert Dreyfus, What Computers Still Can’t Do: A Critique of Artificial Reason (Cambridge: MIT Press, 1992), 55–58.

[28]             John Searle, Minds, Brains, and Programs, Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–457.

[29]             Dreyfus, What Computers Still Can’t Do, 60–62.

[30]             Thomas Metzinger, The Ego Tunnel: The Science of the Mind and the Myth of the Self (New York: Basic Books, 2009), 119–122.

[31]             Roger Penrose, The Emperor’s New Mind (Oxford: Oxford University Press, 1989), 321–325.

[32]             Ibid., 330–333.

[33]             Luciano Floridi, The Ethics of Information, 201–205.

[34]             Virginia Eubanks, Automating Inequality: How High-Tech Tools Profile, Police, and Punish the Poor (New York: St. Martin’s Press, 2018), 42–46.

[35]             Floridi, The Ethics of Information, 210–213.

[36]             Luciano Floridi, Information Ethics: Its Nature and Scope, Computers and Society 4, no. 3 (1999): 37–38.

[37]             Ibid., 40–41.

[38]             Paul Ernest, “Mathematics and Human Values,” For the Learning of Mathematics 3, no. 2 (1983): 39–42.

[39]             Floridi, The Fourth Revolution, 112–115.

[40]             Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 247–250.

[41]             Elaine Landry, Categories for the Working Philosopher (Oxford: Oxford University Press, 2017), 202–205.

[42]             George Lakoff and Rafael Núñez, Where Mathematics Comes From (New York: Basic Books, 2000), 283–286.

[43]             Mark Johnson, Moral Imagination: Implications of Cognitive Science for Ethics (Chicago: University of Chicago Press, 1993), 147–150.

[44]             Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (New York: Knopf, 2004), 1023–1026.


10.       Sintesis Filosofis: Menuju Humanisme Matematis

Perkembangan filsafat matematika dari zaman klasik hingga era digital menunjukkan bahwa matematika bukan hanya sistem simbol formal, tetapi juga medan makna eksistensial yang mencerminkan kompleksitas rasionalitas manusia.¹ Setelah menelusuri dimensi ontologis (hakikat keberadaan entitas matematis), epistemologis (sumber pengetahuan matematis), dan aksiologis (nilai serta tujuan matematika), kini diperlukan suatu sintesis filosofis yang mampu mengintegrasikan ketiganya dalam horizon humanistik. Sintesis ini disebut humanisme matematis, yakni pandangan yang menempatkan matematika sebagai ekspresi rasional, etis, dan kreatif dari kemanusiaan, bukan sebagai struktur mekanistik yang terlepas dari kehidupan manusia.²

10.1.    Rekonsiliasi antara Abstraksi dan Eksistensi

Humanisme matematis berangkat dari kesadaran bahwa matematika tidak dapat direduksi menjadi sistem simbol kosong, tetapi juga tidak dapat direduksi menjadi pengalaman empiris semata.³ Ia menuntut rekonsiliasi antara dua ekstrem yang telah lama memisahkan filsafat matematika: idealisme rasionalis (yang menekankan keberadaan ide-ide matematis di luar manusia) dan konstruktivisme empiris (yang menekankan peran pengalaman dan konteks).⁴

Dalam kerangka humanistik, matematika dipahami sebagai dialog antara abstraksi dan eksistensi.⁵ Abstraksi matematis melahirkan struktur yang universal dan konsisten, sementara eksistensi manusia memberi makna terhadap struktur tersebut melalui pengalaman, intuisi, dan nilai. Seperti yang dikemukakan oleh Edmund Husserl, setiap konsep ideal memiliki “akar fenomenologis” dalam kesadaran manusia yang mengalaminya.⁶ Dengan demikian, kebenaran matematis tidak bersifat dingin dan impersonal, melainkan hasil refleksi mendalam dari akal budi yang hidup.

Rekonsiliasi ini memungkinkan kita memahami matematika sebagai bentuk rasionalitas yang transendental sekaligus imanen — ia mengatasi dunia empiris, tetapi juga tumbuh dari dalam kesadaran manusia yang berinteraksi dengan dunia.⁷

10.2.    Matematika sebagai Ekspresi Etis dan Estetis Rasio

Humanisme matematis menegaskan bahwa nilai tertinggi dari matematika bukan hanya pada ketepatan logisnya, tetapi juga pada nilai-nilai etis dan estetis yang dikandungnya.⁸ Keindahan dalam matematika — sebagaimana diungkapkan oleh Pythagoras, Plato, hingga Paul Dirac — bukan sekadar kenikmatan intelektual, melainkan kesaksian atas keteraturan dan harmoni kosmos.⁹ Keindahan ini memupuk sikap kagum dan rasa syukur terhadap realitas, serta menumbuhkan kerendahan hati epistemik dalam menghadapi misteri alam semesta.¹⁰

Secara etis, matematika mengajarkan kejujuran logis, konsistensi, dan disiplin berpikir — nilai-nilai yang menjadi dasar integritas ilmiah.¹¹ Dalam praktik sosial, matematika yang berlandaskan etika menjadi alat pembebasan, bukan dominasi; ia membantu manusia memahami dan menata dunia tanpa menindasnya.¹² Sebagaimana ditegaskan oleh Martha Nussbaum, rasionalitas sejati selalu terkait dengan empati dan tanggung jawab moral.¹³

Dengan demikian, matematika humanistik menggabungkan keindahan (estetika) dan kebaikan (etika) ke dalam struktur pengetahuan — menjadikan rasio sebagai medium kebijaksanaan, bukan sekadar instrumen efisiensi.¹⁴

10.3.    Rasionalitas sebagai Dialog antara Subjek dan Dunia

Humanisme matematis juga menolak pandangan Cartesian yang memisahkan subjek dan objek secara mutlak.¹⁵ Ia berpijak pada pemahaman relasional bahwa rasionalitas adalah hasil dialog antara kesadaran manusia dan tatanan realitas.¹⁶ Dalam kerangka ini, matematika bukan sekadar “bahasa dunia,” tetapi juga “bahasa kesadaran” — cermin dari kemampuan manusia untuk mengenali keteraturan sambil menafsirkan makna di dalamnya.¹⁷

Maurice Merleau-Ponty menegaskan bahwa setiap struktur pengetahuan berakar pada pengalaman tubuh dan persepsi yang terlibat dengan dunia.¹⁸ Dengan demikian, proses berpikir matematis tidak bersifat terlepas, melainkan embodied — diwujudkan melalui tindakan, simbol, dan komunikasi.¹⁹ Humanisme matematis memandang aktivitas berpikir matematis sebagai bentuk partisipasi manusia dalam realitas yang lebih luas, bukan dominasi atasnya.

Hal ini mengembalikan matematika kepada fungsi aslinya sebagai dialog eksistensial antara manusia dan alam, antara kesadaran dan keteraturan kosmik.²⁰ Dalam dialog ini, manusia tidak hanya “menguasai” dunia, tetapi juga “berteman” dengannya melalui harmoni simbolik yang rasional dan penuh makna.²¹

10.4.    Integrasi Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Humanisme matematis menawarkan suatu sintesis antara tiga dimensi utama filsafat matematika: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.²² Secara ontologis, ia menegaskan bahwa entitas matematis bersifat relasional, yakni eksis sejauh direalisasikan dalam praktik intelektual manusia yang berinteraksi dengan dunia.²³ Secara epistemologis, pengetahuan matematis dipahami sebagai hasil konstruksi reflektif yang berpijak pada intuisi, logika, dan komunikasi simbolik.²⁴ Secara aksiologis, matematika mengandung nilai-nilai humanistik — keindahan, kebenaran, dan tanggung jawab moral — yang menjadikannya bagian dari kebudayaan manusia.²⁵

Pendekatan ini juga berusaha melampaui dikotomi klasik antara realisme dan antirealisme dengan menawarkan realisme relasional: realitas matematis ada bukan secara terpisah dari manusia, tetapi dalam relasi dinamis antara subjek yang berpikir dan struktur dunia yang dapat dipahami.²⁶ Hal ini sejalan dengan gagasan “realisme struktural” dari Michael Resnik dan James Ladyman, tetapi dalam bingkai humanistik yang menekankan keterlibatan kesadaran dan nilai.²⁷

10.5.    Menuju Etos Rasionalitas Humanistik

Sintesis humanisme matematis menuntun pada pembentukan etos rasionalitas humanistik, yakni cara berpikir yang menggabungkan presisi logis dengan kepekaan moral dan imajinasi kreatif.²⁸ Dalam masyarakat digital, di mana algoritme dan model matematis mendominasi pengambilan keputusan, etos ini menjadi semakin penting.²⁹ Ia menolak reduksi rasionalitas menjadi efisiensi teknis semata dan menegaskan bahwa tujuan akhir matematika adalah memperluas pemahaman dan kemanusiaan, bukan sekadar mengendalikan dunia.³⁰

Sejalan dengan gagasan Jürgen Habermas tentang rasionalitas komunikatif, humanisme matematis memandang bahwa kebenaran tidak cukup diukur dengan koherensi logis, tetapi juga dengan keterbukaan terhadap dialog dan konsensus etis.³¹ Dengan demikian, matematika tidak lagi berdiri di atas menara gading abstraksi, tetapi hadir sebagai bagian dari praksis sosial yang memajukan kemanusiaan.³²

Humanisme matematis, pada akhirnya, merupakan upaya untuk memulihkan jiwa rasionalitas: mengembalikan matematika kepada peran asalnya sebagai jalan menuju kebijaksanaan — sapientia, bukan sekadar scientia.³³


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 257–259.

[2]                Elaine Landry, Categories for the Working Philosopher (Oxford: Oxford University Press, 2017), 199–202.

[3]                Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 41–44.

[4]                Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 2–5.

[5]                Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 99–103.

[6]                Edmund Husserl, Logical Investigations, trans. J. N. Findlay (London: Routledge, 1970), 187–190.

[7]                Husserl, The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, trans. David Carr (Evanston: Northwestern University Press, 1970), 9–10.

[8]                Bertrand Russell, Mysticism and Logic (London: Longmans, Green and Co., 1917), 59–61.

[9]                Paul Dirac, Directions in Physics (New York: Wiley, 1978), 48–50.

[10]             Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (New York: Knopf, 2004), 17–20.

[11]             Hilary Putnam, Mathematics, Matter and Method, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 347–349.

[12]             Amartya Sen, Rationality and Freedom (Cambridge: Harvard University Press, 2002), 63–66.

[13]             Martha Nussbaum, Upheavals of Thought: The Intelligence of Emotions (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 387–390.

[14]             Mark Johnson, Moral Imagination: Implications of Cognitive Science for Ethics (Chicago: University of Chicago Press, 1993), 147–150.

[15]             René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), Meditation II.

[16]             Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 1962), 225–228.

[17]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 286–288.

[18]             Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, 241–243.

[19]             George Lakoff and Rafael Núñez, Where Mathematics Comes From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into Being (New York: Basic Books, 2000), 32–36.

[20]             Thomas Tymoczko, ed., New Directions in the Philosophy of Mathematics (Princeton: Princeton University Press, 1998), 203–205.

[21]             Ibid., 206–208.

[22]             Shapiro, Philosophy of Mathematics: Structure and Ontology (Oxford: Oxford University Press, 1997), 227–230.

[23]             Penelope Maddy, Defending the Axioms: On the Philosophical Foundations of Set Theory (Oxford: Oxford University Press, 2011), 97–100.

[24]             Otávio Bueno and Øystein Linnebo, eds., New Waves in Philosophy of Mathematics (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2009), 1–4.

[25]             Paul Ernest, “Mathematics and Human Values,” For the Learning of Mathematics 3, no. 2 (1983): 39–42.

[26]             James Ladyman, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 121–125.

[27]             Resnik, Mathematics as a Science of Patterns, 221–224.

[28]             Elaine Landry and Jean-Pierre Marquis, “Categories in Context,” Philosophia Mathematica 13, no. 3 (2005): 345–375.

[29]             Jürgen Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: MIT Press, 1996), 8–11.

[30]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 200–205.

[31]             Habermas, The Theory of Communicative Action, 291–294.

[32]             Philip Davis and Reuben Hersh, The Mathematical Experience (Boston: Birkhäuser, 1981), 15–18.

[33]             Roger Penrose, The Emperor’s New Mind (Oxford: Oxford University Press, 1989), 403–406.


11.       Kesimpulan

Filsafat matematika, sebagaimana ditelusuri melalui seluruh bagian pembahasan, memperlihatkan dirinya bukan sekadar refleksi terhadap angka dan bentuk, melainkan suatu upaya ontologis, epistemologis, dan aksiologis untuk memahami hakikat rasionalitas manusia.¹ Ia merupakan jembatan antara idealitas dan realitas, antara keabadian logika dan dinamika kehidupan, serta antara kejelasan struktur formal dan kedalaman makna eksistensial.² Dengan demikian, filsafat matematika tidak hanya berfungsi menjelaskan dasar pengetahuan ilmiah, tetapi juga membuka horizon etis dan humanistik bagi keberadaan manusia di dunia yang semakin terkomputasi.

Secara ontologis, matematika menghadirkan pandangan tentang realitas sebagai tatanan rasional yang dapat dipahami, meskipun tidak selalu dapat diindra.³ Entitas matematis — bilangan, ruang, fungsi, dan struktur — bukan sekadar produk bahasa simbolik, tetapi ekspresi dari keteraturan kosmik yang dihayati oleh kesadaran manusia.⁴ Dalam konteks ini, kebenaran matematis bersifat relasional: ia tidak eksis di luar manusia, tetapi juga tidak bergantung sepenuhnya padanya.⁵ Matematika menempati wilayah antara: ia adalah bentuk eksistensi rasional yang menjembatani dunia ide dan dunia empiris.

Secara epistemologis, filsafat matematika menegaskan bahwa pengetahuan matematis merupakan hasil dialog antara logika formal dan intuisi manusia.⁶ Proses berpikir matematis mencerminkan struktur kesadaran yang mampu mengabstraksi, menafsirkan, dan memberi makna terhadap dunia melalui simbol dan deduksi.⁷ Di sinilah terlihat bahwa kebenaran matematis tidak bersifat statis, melainkan berkembang melalui sejarah, diskursus, dan praktik komunitas ilmiah.⁸ Rasionalitas matematis, dengan demikian, bukan hanya produk akal, tetapi juga hasil evolusi budaya dan komunikasi manusia.

Sementara itu, secara aksiologis, matematika mengandung nilai-nilai universal yang melampaui kegunaan teknisnya.⁹ Ia menumbuhkan kejujuran intelektual, konsistensi logis, dan keindahan berpikir — kualitas yang membentuk karakter ilmuwan dan masyarakat rasional.¹⁰ Dalam era digital, nilai-nilai ini menjadi semakin penting untuk menjaga agar matematika tidak tereduksi menjadi instrumen kekuasaan algoritmik, melainkan tetap menjadi bahasa kebijaksanaan yang menuntun teknologi menuju kemaslahatan manusia.¹¹

Melalui sintesis humanisme matematis, seluruh dimensi ini berpadu dalam kesadaran bahwa matematika adalah bagian dari logos manusia yang hidup — rasionalitas yang tidak hanya berpikir, tetapi juga merasa, menilai, dan bertanggung jawab.¹² Humanisme matematis menolak dualisme lama antara rasio dan etika, antara kalkulasi dan kebijaksanaan, serta berupaya meneguhkan pandangan bahwa berpikir secara matematis berarti berpartisipasi dalam penciptaan makna yang lebih luas tentang kehidupan.¹³

Pada akhirnya, filsafat matematika mengajarkan bahwa rasionalitas sejati bukanlah sekadar kemampuan menghitung kebenaran, tetapi kemampuan memaknai kebenaran dalam konteks kemanusiaan dan kosmos.¹⁴ Matematika, dengan segala keabstrakannya, adalah bentuk tertinggi dari spiritualitas rasional: ia mengungkapkan bahwa di balik struktur angka terdapat harmoni, dan di balik formula terdapat nilai.¹⁵ Dengan demikian, masa depan filsafat matematika terletak pada kemampuannya untuk menjadi filsafat yang berpikir secara tepat dan bertindak secara baik — suatu rasionalitas yang integral, etis, dan humanistik.¹⁶


Footnotes

[1]                Stewart Shapiro, Thinking about Mathematics: The Philosophy of Mathematics (Oxford: Oxford University Press, 2000), 259–261.

[2]                Philip Kitcher, The Nature of Mathematical Knowledge (New York: Oxford University Press, 1984), 177–179.

[3]                Michael Resnik, Mathematics as a Science of Patterns (Oxford: Oxford University Press, 1997), 12–15.

[4]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A713/B741–A722/B750.

[5]                Paul Ernest, Social Constructivism as a Philosophy of Mathematics (Albany: SUNY Press, 1998), 118–120.

[6]                Edmund Husserl, Logical Investigations, trans. J. N. Findlay (London: Routledge, 1970), 187–190.

[7]                Hermann Weyl, Philosophy of Mathematics and Natural Science (Princeton: Princeton University Press, 1949), 56–58.

[8]                Imre Lakatos, Proofs and Refutations: The Logic of Mathematical Discovery (Cambridge: Cambridge University Press, 1976), 9–12.

[9]                Bertrand Russell, Mysticism and Logic (London: Longmans, Green and Co., 1917), 59–61.

[10]             Philip Davis and Reuben Hersh, The Mathematical Experience (Boston: Birkhäuser, 1981), 17–19.

[11]             Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 200–203.

[12]             Elaine Landry, Categories for the Working Philosopher (Oxford: Oxford University Press, 2017), 202–205.

[13]             Martha Nussbaum, Cultivating Humanity (Cambridge: Harvard University Press, 1997), 55–59.

[14]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 286–288.

[15]             Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (New York: Knopf, 2004), 17–20.

[16]             Mark Johnson, Moral Imagination: Implications of Cognitive Science for Ethics (Chicago: University of Chicago Press, 1993), 147–150.


Daftar Pustaka

Anderson, C. (2008). The end of theory. Wired Magazine, 16(7), 108–109.

Aristotle. (1908). Metaphysics (W. D. Ross, Trans.). Oxford: Clarendon Press.

Aristotle. (1938). Organon (E. S. Forster, Trans.). Cambridge, MA: Harvard University Press.

Barthes, R. (1967). Elements of semiology (A. Lavers & C. Smith, Trans.). New York, NY: Hill and Wang.

Bostrom, N. (2014). Superintelligence: Paths, dangers, strategies. Oxford: Oxford University Press.

Brown, J. R. (2008). Philosophy of mathematics: A contemporary introduction to the world of proofs and pictures. London: Routledge.

Bueno, O., & Linnebo, Ø. (Eds.). (2009). New waves in philosophy of mathematics. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Burkert, W. (1972). Lore and science in ancient Pythagoreanism. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.). New York, NY: Vintage.

Cartwright, N. (1983). How the laws of physics lie. Oxford: Oxford University Press.

Cassirer, E. (1923). Substance and function. Chicago, IL: Open Court.

Cassirer, E. (1957). The philosophy of symbolic forms (Vol. 3). New Haven, CT: Yale University Press.

Chomsky, N. (1957). Syntactic structures. The Hague: Mouton.

Clark, A. (1997). Being there: Putting brain, body, and world together again. Cambridge, MA: MIT Press.

D’Ambrosio, U. (2006). Ethnomathematics: Link between traditions and modernity. Rotterdam: Sense Publishers.

Davis, P., & Hersh, R. (1981). The mathematical experience. Boston, MA: Birkhäuser.

Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.

Dirac, P. (1978). Directions in physics. New York, NY: Wiley.

Dreyfus, H. (1992). What computers still can’t do: A critique of artificial reason. Cambridge, MA: MIT Press.

Dummett, M. (1977). Elements of intuitionism. Oxford: Clarendon Press.

Eco, U. (1976). A theory of semiotics. Bloomington, IN: Indiana University Press.

Einstein, A. (1920). Relativity: The special and general theory. New York, NY: Crown.

Ernest, P. (1983). Mathematics and human values. For the Learning of Mathematics, 3(2), 39–42.

Ernest, P. (1998). Social constructivism as a philosophy of mathematics. Albany, NY: SUNY Press.

Eubanks, V. (2018). Automating inequality: How high-tech tools profile, police, and punish the poor. New York, NY: St. Martin’s Press.

Floridi, L. (1999). Information ethics: Its nature and scope. Computers and Society, 4(3), 37–41.

Floridi, L. (2010). Information: A very short introduction. Oxford: Oxford University Press.

Floridi, L. (2013). The ethics of information. Oxford: Oxford University Press.

Floridi, L. (2014). The fourth revolution: How the infosphere is reshaping human reality. Oxford: Oxford University Press.

Frege, G. (1879). Begriffsschrift. Halle: Nebert.

Frege, G. (1980). The foundations of arithmetic (J. L. Austin, Trans.). Evanston, IL: Northwestern University Press.

Friedman, M. (1983). Foundations of space-time theories. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Galilei, G. (1623). Il saggiatore. Rome: Accademia dei Lincei.

Gadamer, H.-G. (1989). Truth and method (J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). New York, NY: Continuum.

Gleick, J. (2011). The information: A history, a theory, a flood. New York, NY: Pantheon.

Gödel, K. (1931). Über formal unentscheidbare Sätze der Principia Mathematica und verwandter Systeme I. Monatshefte für Mathematik und Physik, 38, 173–198.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action (Vol. 1). Boston, MA: Beacon Press.

Habermas, J. (1996). Between facts and norms. Cambridge, MA: MIT Press.

Harding, S. (1986). The science question in feminism. Ithaca, NY: Cornell University Press.

Heidegger, M. (1977). The question concerning technology (W. Lovitt, Trans.). New York, NY: Harper & Row.

Hilbert, D. (1926). Über das Unendliche. Mathematische Annalen, 95(1), 161–190.

Hilbert, D. (1967). The foundations of mathematics. In J. van Heijenoort (Ed.), From Frege to Gödel: A source book in mathematical logic, 1879–1931 (pp. 464–479). Cambridge, MA: Harvard University Press.

Holton, G. (1973). Thematic origins of scientific thought. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Husserl, E. (1970). The crisis of European sciences and transcendental phenomenology (D. Carr, Trans.). Evanston, IL: Northwestern University Press.

Husserl, E. (1970). Logical investigations (J. N. Findlay, Trans.). London: Routledge.

Johnson, M. (1993). Moral imagination: Implications of cognitive science for ethics. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Joseph, G. G. (2011). The crest of the peacock: Non-European roots of mathematics (3rd ed.). Princeton, NJ: Princeton University Press.

Kant, I. (1998). Critique of pure reason (P. Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.

Keller, E. F. (1985). Reflections on gender and science. New Haven, CT: Yale University Press.

Kitcher, P. (1984). The nature of mathematical knowledge. New York, NY: Oxford University Press.

Kripke, S. (1982). Wittgenstein on rules and private language. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Kuhn, T. S. (1970). The structure of scientific revolutions (2nd ed.). Chicago, IL: University of Chicago Press.

Lakatos, I. (1976). Proofs and refutations: The logic of mathematical discovery. Cambridge: Cambridge University Press.

Lakatos, I. (1978). The methodology of scientific research programmes. Cambridge: Cambridge University Press.

Lakoff, G., & Núñez, R. (2000). Where mathematics comes from: How the embodied mind brings mathematics into being. New York, NY: Basic Books.

Landry, E. (2017). Categories for the working philosopher. Oxford: Oxford University Press.

Landry, E., & Marquis, J.-P. (2005). Categories in context. Philosophia Mathematica, 13(3), 345–375.

Ladyman, J. (2007). Every thing must go: Metaphysics naturalized. Oxford: Oxford University Press.

Latour, B., & Woolgar, S. (1979). Laboratory life: The construction of scientific facts. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition: A report on knowledge (G. Bennington & B. Massumi, Trans.). Minneapolis: University of Minnesota Press.

MacKenzie, D. (2001). Mechanizing proof: Computing, risk, and trust. Cambridge, MA: MIT Press.

Maddy, P. (2011). Defending the axioms: On the philosophical foundations of set theory. Oxford: Oxford University Press.

Mayer-Schönberger, V., & Cukier, K. (2013). Big data: A revolution that will transform how we live, work, and think. Boston, MA: Houghton Mifflin Harcourt.

Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of perception (C. Smith, Trans.). London: Routledge.

Merton, R. (1973). The sociology of science: Theoretical and empirical investigations. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Mohanty, J. N. (1982). Husserl and Frege. Bloomington, IN: Indiana University Press.

Morgan, M. S., & Morrison, M. (Eds.). (1999). Models as mediators: Perspectives on natural and social science. Cambridge: Cambridge University Press.

Morozov, E. (2013). To save everything, click here: The folly of technological solutionism. New York, NY: PublicAffairs.

Murray, J. D. (2002). Mathematical biology. Berlin: Springer.

Nussbaum, M. (1997). Cultivating humanity. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Nussbaum, M. (2001). Upheavals of thought: The intelligence of emotions. Cambridge: Cambridge University Press.

O’Neil, C. (2016). Weapons of math destruction: How big data increases inequality and threatens democracy. New York, NY: Crown.

Peirce, C. S. (1932). Collected papers of Charles Sanders Peirce (Vol. 2, C. Hartshorne & P. Weiss, Eds.). Cambridge, MA: Harvard University Press.

Penrose, R. (1989). The emperor’s new mind. Oxford: Oxford University Press.

Penrose, R. (1994). Shadows of the mind: A search for the missing science of consciousness. Oxford: Oxford University Press.

Penrose, R. (2004). The road to reality: A complete guide to the laws of the universe. New York, NY: Knopf.

Plato. (1968). The Republic (A. Bloom, Trans.). New York, NY: Basic Books.

Psillos, S. (1999). Scientific realism: How science tracks truth. London: Routledge.

Putnam, H. (1971). Philosophy of logic. New York, NY: Harper.

Putnam, H. (1979). Mathematics, matter and method (2nd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.

Resnik, M. (1997). Mathematics as a science of patterns. Oxford: Oxford University Press.

Rorty, R. (1979). Philosophy and the mirror of nature. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Russell, B. (1917). Mysticism and logic. London: Longmans, Green and Co.

Russell, B. (1919). Introduction to mathematical philosophy. London: Allen & Unwin.

Russell, B., & Whitehead, A. N. (1910). Principia mathematica (Vol. 1). Cambridge: Cambridge University Press.

Saussure, F. de. (1966). Course in general linguistics (W. Baskin, Trans.). New York, NY: McGraw-Hill.

Salmon, W. C. (1984). Scientific explanation and the causal structure of the world. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). New York, NY: Philosophical Library.

Searle, J. (1980). Minds, brains, and programs. Behavioral and Brain Sciences, 3(3), 417–457.

Sen, A. (2002). Rationality and freedom. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Shapiro, S. (1997). Philosophy of mathematics: Structure and ontology. Oxford: Oxford University Press.

Shapiro, S. (2000). Thinking about mathematics: The philosophy of mathematics. Oxford: Oxford University Press.

Smullyan, R. (1992). Gödel’s incompleteness theorems. Oxford: Oxford University Press.

Steiner, M. (1975). Mathematical knowledge. Ithaca, NY: Cornell University Press.

Tarski, A. (1956). Logic, semantics, metamathematics. Oxford: Clarendon Press.

Tymoczko, T. (Ed.). (1998). New directions in the philosophy of mathematics. Princeton, NJ: Princeton University Press.

van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image. Oxford: Oxford University Press.

Varela, F., Thompson, E., & Rosch, E. (1991). The embodied mind: Cognitive science and human experience. Cambridge, MA: MIT Press.

von Neumann, J., & Morgenstern, O. (1944). Theory of games and economic behavior. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Wang, H. (1974). From mathematics to philosophy. London: Routledge.

Weyl, H. (1949). Philosophy of mathematics and natural science. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Wiener, N. (1948). Cybernetics: Or control and communication in the animal and the machine. Cambridge, MA: MIT Press.

Wittgenstein, L. (1922). Tractatus logico-philosophicus (C. K. Ogden, Trans.). London: Routledge.

Wittgenstein, L. (1978). Remarks on the foundations of mathematics (G. H. von Wright et al., Eds.). Cambridge, MA: MIT Press.

Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism. New York, NY: PublicAffairs.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar