Libertarianisme Kanan
Kebebasan Individu dan Hak Kepemilikan Pribadi sebagai
Pusat Etika Politik
Alihkan ke: Libertarianisme.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara mendalam libertarianisme
sayap kanan (right-libertarianism) sebagai salah satu varian utama dalam
filsafat sosial-politik modern yang menempatkan kebebasan individu dan hak
kepemilikan pribadi sebagai pusat etika politik. Dengan pendekatan sistematis
yang meliputi dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis, tulisan ini
menelusuri fondasi historis aliran tersebut dari liberalisme klasik John Locke
hingga teori politik Robert Nozick dan ekonomi pasar bebas Friedrich A. Hayek.
Libertarianisme sayap kanan dipahami sebagai elaborasi konseptual atas prinsip self-ownership
(kepemilikan diri) dan non-aggression principle (prinsip non-agresi),
yang menegaskan bahwa kebebasan sejati hanya dapat terwujud ketika individu
memiliki kendali penuh atas diri dan hasil kerjanya tanpa intervensi negara.
Artikel ini juga menelaah kritik dari perspektif
egalitarianisme, komunitarianisme, dan teori keadilan distributif yang
menyoroti ketegangan antara kebebasan formal dan keadilan substantif. Secara
epistemologis, libertarianisme sayap kanan mengandalkan rasionalitas ekonomi
dan teori pilihan rasional sebagai landasan pengetahuan sosial yang menolak
perencanaan terpusat. Secara aksiologis, kebebasan dipahami sebagai nilai moral
tertinggi yang menuntut tanggung jawab individu, sementara negara dibatasi pada
fungsi minimal—melindungi hak milik dan kebebasan kontraktual.
Dalam konteks kontemporer, gagasan libertarianisme
sayap kanan menunjukkan relevansi baru melalui isu-isu digital seperti
kepemilikan data, privasi algoritmik, dan ekonomi desentralisasi berbasis blockchain.
Melalui sintesis filosofis, artikel ini berupaya merumuskan etika
kepemilikan yang humanistik—suatu upaya menyeimbangkan kebebasan individual
dengan tanggung jawab moral terhadap sesama dan lingkungan sosial. Kajian ini
menyimpulkan bahwa kebebasan sejati tidak identik dengan isolasi, melainkan
dengan kesadaran reflektif atas martabat manusia sebagai makhluk rasional,
otonom, dan etis dalam komunitas yang terbuka.
Kata kunci:
libertarianisme sayap kanan, kebebasan individu, hak milik, self-ownership,
non-aggression principle, etika humanistik, filsafat politik modern.
PEMBAHASAN
Libertarianisme Sayap Kanan (Right-Libertarianism) dalam
Filsafat Sosial-Politik Modern
1.
Pendahuluan
Filsafat politik modern menyajikan spektrum gagasan
yang luas tentang kebebasan, keadilan, dan hak individu. Di antara ragamnya, libertarianisme
sayap kanan (right-libertarianism) menempati posisi yang menarik dan
kontroversial karena berupaya memadukan komitmen mendalam terhadap kebebasan
individu dengan pembenaran moral dan politik atas kepemilikan pribadi sebagai
dasar tatanan sosial. Aliran ini tidak sekadar merupakan kelanjutan dari
liberalisme klasik, tetapi juga merupakan elaborasi konseptual yang lebih
radikal terhadap prinsip self-ownership dan private property yang
dipandang sebagai hak alamiah manusia yang tidak dapat diganggu gugat.¹
Libertarianisme sayap kanan menegaskan bahwa
kebebasan sejati hanya dapat terwujud dalam kondisi di mana individu memiliki
kendali penuh atas dirinya sendiri serta sumber daya yang ia peroleh secara
sah. Dalam kerangka ini, hak milik bukan sekadar institusi ekonomi, melainkan
ekspresi moral dari otonomi individu.² Paradigma tersebut berpijak pada
keyakinan bahwa negara, sejauh mungkin, harus meminimalkan intervensinya
terhadap kehidupan warga, baik dalam aspek ekonomi maupun sosial.³ Prinsip ini
menghasilkan doktrin politik yang menolak sistem kesejahteraan berbasis
redistribusi, pajak progresif, dan kebijakan sosial yang dianggap membatasi
kebebasan.
Secara genealogis, libertarianisme sayap kanan
memiliki akar kuat dalam tradisi natural rights theory yang dikembangkan
oleh John Locke, di mana hak atas kehidupan, kebebasan, dan kepemilikan
dianggap melekat pada kodrat manusia.⁴ Tradisi ini kemudian berkembang melalui
pemikiran tokoh-tokoh seperti Adam Smith, yang menegaskan pentingnya kebebasan
pasar, hingga mencapai bentuk teoretis modernnya dalam karya Robert Nozick, Anarchy,
State, and Utopia (1974), yang merumuskan night-watchman state
sebagai batas minimum peran negara.⁵ Dalam konteks ekonomi, pengaruh Sekolah
Austria—terutama Ludwig von Mises dan Friedrich A. Hayek—menyumbangkan dimensi
epistemologis yang menekankan rasionalitas individu dan spontanitas tatanan
pasar.⁶
Kajian terhadap libertarianisme sayap kanan menjadi
semakin relevan di era kontemporer, ketika dinamika globalisasi, digitalisasi,
dan krisis kepercayaan terhadap negara menimbulkan kembali pertanyaan mendasar
tentang batas intervensi negara dan otonomi individu. Gerakan-gerakan politik
dan ekonomi yang menekankan deregulasi, privatisasi, serta kebebasan pasar bebas
mencerminkan resonansi prinsip libertarianisme dalam praktik sosial modern.⁷
Namun, bersamaan dengan itu, muncul pula kritik tajam dari berbagai
perspektif—egalitarian, komunitarian, dan ekologis—yang menilai bahwa kebebasan
tanpa keadilan distributif berisiko memperdalam ketimpangan dan mengikis
solidaritas sosial.⁸
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji
libertarianisme sayap kanan secara filosofis dan sistematis, dengan menelusuri
landasan historis, ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya. Melalui pendekatan
ini, pembahasan tidak hanya akan memetakan kerangka teoritik dan etika
kebebasan yang menjadi fondasinya, tetapi juga menelaah dimensi sosial serta
kritik yang menyertainya. Dengan demikian, diharapkan kajian ini dapat
memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih seimbang mengenai posisi
libertarianisme sayap kanan dalam wacana filsafat politik modern—antara ideal
kebebasan individu dan realitas moral kehidupan bersama.
Footnotes
[1]
¹ John Locke, Two Treatises of Government
(London: Awnsham Churchill, 1689), 287.
[2]
² Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 150–153.
[3]
³ Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 28–34.
[4]
⁴ John Locke, Two Treatises of Government,
288–290.
[5]
⁵ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
26–33.
[6]
⁶ Friedrich A. Hayek, The Road to Serfdom
(Chicago: University of Chicago Press, 1944), 67–75.
[7]
⁷ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 9–15.
[8]
⁸ John Rawls, A Theory of Justice
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 53–56.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Libertarianisme sayap kanan tidak muncul sebagai
gerakan yang terisolasi, melainkan merupakan hasil evolusi panjang dari tradisi
liberalisme klasik yang tumbuh sejak abad ke-17. Akar historisnya dapat dilacak
pada filsafat politik John Locke, yang menegaskan hak alamiah manusia atas
kehidupan, kebebasan, dan kepemilikan sebagai dasar legitimasi politik.¹ Locke
menempatkan kepemilikan pribadi (private property) sebagai ekstensi dari
self-ownership—bahwa individu memiliki hak kodrati atas dirinya dan
hasil kerjanya.² Dalam konteks ini, kepemilikan bukan hanya urusan ekonomi,
tetapi manifestasi moral dari otonomi manusia. Ide ini kemudian menjadi fondasi
normatif bagi libertarianisme sayap kanan, yang menganggap bahwa setiap bentuk
perampasan hak milik, termasuk pajak redistributif, merupakan pelanggaran
terhadap hak alamiah tersebut.³
Perkembangan selanjutnya terjadi melalui tradisi
liberalisme ekonomi abad ke-18 dan ke-19, terutama melalui pemikiran Adam
Smith, David Ricardo, dan John Stuart Mill. Smith, dalam The Wealth of
Nations, menegaskan bahwa kebebasan ekonomi dan persaingan pasar adalah
mekanisme alamiah yang mampu menghasilkan kemakmuran kolektif tanpa perlu
kontrol negara yang berlebihan.⁴ Prinsip “tangan tak terlihat” (invisible
hand) menjadi representasi awal dari pandangan libertarian tentang
keteraturan spontan (spontaneous order)—bahwa harmoni sosial dapat
tercapai tanpa perencanaan sentral.⁵ Mill memperluas aspek moralnya dengan
menekankan kebebasan individu sebagai prasyarat perkembangan manusia yang utuh,
suatu gagasan yang kelak diadopsi dan diperkuat oleh libertarianisme modern.⁶
Memasuki abad ke-20, libertarianisme sayap kanan
memperoleh bentuk konseptual yang lebih sistematis melalui dua jalur utama: the
Austrian School of Economics dan teori politik liberal klasik baru. Jalur
pertama dikembangkan oleh ekonom seperti Ludwig von Mises dan Friedrich A.
Hayek, yang mengajarkan bahwa ekonomi pasar bebas merupakan sistem pengetahuan
terdesentralisasi, di mana harga dan preferensi individu berfungsi sebagai
sinyal informasi yang tidak dapat digantikan oleh otoritas negara.⁷ Hayek
secara khusus menolak “kesombongan rasionalisme” dari perencana sosial,
dengan argumen bahwa kompleksitas tatanan sosial hanya dapat dipahami melalui
interaksi bebas antarindividu.⁸ Prinsip ini kemudian melahirkan epistemologi
kebebasan yang khas dalam libertarianisme sayap kanan: keyakinan bahwa
kebebasan adalah syarat pengetahuan yang sejati dalam kehidupan sosial dan
ekonomi.⁹
Jalur kedua adalah perkembangan rights-based
libertarianism yang memperoleh momentumnya pada 1970-an melalui karya
Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia. Nozick menolak teori keadilan
distributif John Rawls dengan menegaskan bahwa keadilan bukan terletak pada
hasil distribusi, melainkan pada keabsahan proses perolehan.¹⁰ Teori “hak
milik historis” (entitlement theory) yang dia ajukan menyatakan
bahwa seseorang berhak atas apa pun yang ia peroleh secara sah melalui kerja,
kontrak sukarela, atau warisan yang sah.¹¹ Dalam kerangka ini, negara hanya
memiliki legitimasi minimal sebagai penjaga keamanan dan pelindung hak
milik—suatu bentuk yang dikenal sebagai night-watchman state.¹²
Selain jalur akademis, libertarianisme sayap kanan
juga berkembang dalam ranah ideologis dan politik. Di Amerika Serikat,
misalnya, aliran ini menemukan basis sosialnya dalam gerakan Old Right
pada 1940–1950-an yang menentang intervensi pemerintah dan kebijakan luar
negeri ekspansionis.¹³ Setelahnya, melalui tokoh-tokoh seperti Ayn Rand, Milton
Friedman, dan Murray Rothbard, libertarianisme mulai membentuk spektrum
pemikiran dari minarchism—yang masih menerima peran negara
minimal—hingga anarcho-capitalism—yang menolak negara sama sekali.¹⁴
Genealogi pemikiran ini menunjukkan adanya kontinuitas ideologis antara
liberalisme klasik, kapitalisme laissez-faire, dan libertarianisme modern, di
mana kebebasan individu dan hak milik tetap menjadi poros moral dan politik
utamanya.¹⁵
Pada akhirnya, landasan historis dan genealogis
libertarianisme sayap kanan memperlihatkan perjalanan ide yang konsisten
menempatkan individu sebagai pusat segala legitimasi sosial-politik. Evolusinya
menunjukkan transformasi dari pembelaan moral atas hak kodrati menuju sistem
filsafat yang menyeluruh—menggabungkan teori ekonomi, etika kebebasan, dan
konsep tatanan sosial yang minimalis. Dalam konteks kontemporer, pemahaman
terhadap akar historis ini menjadi penting untuk membaca kembali relevansi
libertarianisme terhadap perdebatan global tentang peran negara, keadilan
sosial, dan hak milik dalam era kapitalisme digital.¹⁶
Footnotes
[1]
¹ John Locke, Two Treatises of Government
(London: Awnsham Churchill, 1689), 285–290.
[2]
² Ibid., 291–294.
[3]
³ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 150–153.
[4]
⁴ Adam Smith, An Inquiry into the Nature and
Causes of the Wealth of Nations (London: W. Strahan and T. Cadell, 1776),
120–126.
[5]
⁵ Ibid., 130–134.
[6]
⁶ John Stuart Mill, On Liberty (London: John
W. Parker & Son, 1859), 59–66.
[7]
⁷ Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 94–98.
[8]
⁸ Friedrich A. Hayek, The Fatal Conceit: The
Errors of Socialism (Chicago: University of Chicago Press, 1988), 37–44.
[9]
⁹ Ibid., 56–59.
[10]
¹⁰ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
183–189.
[11]
¹¹ Ibid., 151–160.
[12]
¹² Ibid., 26–33.
[13]
¹³ Justin Raimondo, Reclaiming the American
Right: The Lost Legacy of the Conservative Movement (Wilmington, DE: ISI
Books, 1993), 42–49.
[14]
¹⁴ Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 28–34.
[15]
¹⁵ Ayn Rand, Capitalism: The Unknown Ideal
(New York: New American Library, 1966), 11–19.
[16]
¹⁶ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 9–15.
3.
Ontologi:
Hak Alamiah dan Kepemilikan Diri (Self-Ownership)
Ontologi libertarianisme sayap kanan berakar pada asumsi
fundamental bahwa individu merupakan entitas yang memiliki dirinya sendiri (self-owner)
secara penuh dan tidak dapat diganggu gugat. Prinsip self-ownership ini
bukan sekadar doktrin moral, melainkan struktur ontologis yang mendefinisikan
eksistensi manusia sebagai makhluk bebas dan rasional.¹ Dalam pandangan ini,
manusia tidak sekadar ada (being), tetapi memiliki keberadaan
dirinya secara otonom. Dengan demikian, setiap bentuk otoritas eksternal
yang berusaha menguasai tubuh, tenaga, atau hasil kerja individu dianggap
sebagai pelanggaran terhadap hakikat ontologis kebebasan manusia itu sendiri.²
Bagi libertarian, hak alamiah (natural rights)
bukanlah konstruksi sosial, melainkan emanasi dari kodrat manusia. John Locke
menyatakan bahwa “setiap manusia memiliki properti atas dirinya sendiri,”
dan tidak seorang pun berhak menggunakannya tanpa persetujuannya.³ Di sinilah
terletak dasar metafisis bagi kepemilikan: tindakan bekerja, mengolah, dan
menggabungkan tenaga dengan alam menjadikan hasil kerja tersebut milik yang sah
dari individu yang melakukannya.⁴ Pandangan ini membangun relasi ontologis
antara being (keberadaan) dan having (kepemilikan): untuk menjadi
manusia yang bebas, seseorang harus memiliki hak penuh atas dirinya dan segala
hasil produktivitasnya.⁵
Dalam kerangka ini, hak milik pribadi bukan hanya
konsekuensi ekonomi, tetapi juga perwujudan ontologis dari kebebasan. Robert
Nozick menegaskan bahwa kepemilikan diri dan kepemilikan atas hasil kerja
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.⁶ Jika seseorang memiliki
hak atas dirinya, maka ia juga memiliki hak atas apa pun yang ia hasilkan
melalui tenaga dan pikirannya. Dengan demikian, penolakan terhadap pajak
redistributif atau kebijakan intervensi ekonomi tidak semata-mata berbasis pada
efisiensi, tetapi pada penegasan ontologis bahwa hak milik adalah ekstensi dari
eksistensi manusia itu sendiri.⁷
Secara filosofis, ontologi libertarian menolak
pandangan holistik atau kolektivistik tentang masyarakat. Realitas sosial, bagi
mereka, tidak memiliki eksistensi independen dari individu-individu yang
menyusunnya.⁸ Masyarakat hanyalah himpunan kontraktual dari individu-individu
bebas yang berinteraksi atas dasar kepentingan dan pilihan rasional.⁹ Oleh
karena itu, konsep “keadilan sosial” yang mengandaikan entitas kolektif dengan
hak moral atas sumber daya dianggap sebagai ilusi metafisis yang tidak memiliki
dasar ontologis.¹⁰ Libertarianisme sayap kanan menolak ide bahwa “masyarakat”
dapat memiliki atau mendistribusikan sumber daya, karena kepemilikan pada
dasarnya hanya mungkin dimiliki oleh subjek yang sadar dan bertanggung
jawab—yakni individu.¹¹
Implikasi ontologis dari prinsip self-ownership
juga mencakup relasi antara kebebasan dan tanggung jawab. Karena individu
memiliki dirinya, maka ia juga bertanggung jawab penuh atas tindakannya.¹²
Kebebasan, dalam konteks ini, tidak identik dengan kebebasan moral universal,
tetapi merupakan kebebasan negatif: kebebasan dari paksaan dan intervensi.¹³
Ontologi kebebasan ini mengandaikan bahwa tatanan sosial yang ideal bukanlah
hasil dari rekayasa politik, melainkan konsekuensi alamiah dari interaksi
individu-individu bebas yang menjaga hak milik masing-masing.¹⁴
Namun demikian, ontologi self-ownership ini
telah menimbulkan perdebatan filosofis yang luas. Para kritikus, seperti G.A.
Cohen dan Thomas Nagel, menilai bahwa hak milik absolut atas diri sendiri
cenderung mengabaikan dimensi sosial dan historis dari identitas manusia.¹⁵
Bagi mereka, individu tidak pernah benar-benar otonom secara ontologis karena keberadaannya
selalu terbentuk melalui jaringan relasi sosial dan institusi.¹⁶ Kendati
demikian, libertarianisme sayap kanan tetap mempertahankan keyakinan bahwa
penghormatan terhadap hak milik individu adalah syarat niscaya bagi
penghormatan terhadap martabat manusia itu sendiri.¹⁷ Dengan demikian, self-ownership
berfungsi sebagai batu penjuru ontologis bagi seluruh bangunan etika dan
politik libertarian—sebuah pengakuan bahwa eksistensi manusia pada hakikatnya
identik dengan kebebasan untuk memiliki, memilih, dan menentukan dirinya
sendiri.¹⁸
Footnotes
[1]
¹ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 171–173.
[2]
² Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 33–37.
[3]
³ John Locke, Two Treatises of Government
(London: Awnsham Churchill, 1689), 287.
[4]
⁴ Ibid., 291–294.
[5]
⁵ Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 14–17.
[6]
⁶ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
180–182.
[7]
⁷ Ibid., 186–189.
[8]
⁸ Ayn Rand, The Virtue of Selfishness (New
York: Signet, 1964), 32–38.
[9]
⁹ Friedrich A. Hayek, Law, Legislation and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 83–88.
[10]
¹⁰ Michael Sandel, Liberalism and the Limits of
Justice (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), 65–68.
[11]
¹¹ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
149–150.
[12]
¹² Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty,
45–49.
[13]
¹³ Isaiah Berlin, Two Concepts of Liberty
(Oxford: Clarendon Press, 1969), 121–123.
[14]
¹⁴ Friedrich A. Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 58–62.
[15]
¹⁵ G.A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 12–18.
[16]
¹⁶ Thomas Nagel, Equality and Partiality
(Oxford: Oxford University Press, 1991), 55–60.
[17]
¹⁷ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 22–26.
[18]
¹⁸ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 35–38.
4.
Epistemologi:
Rasionalitas Ekonomi dan Teori Pilihan
Epistemologi libertarianisme sayap kanan bertumpu
pada keyakinan bahwa pengetahuan sosial dan ekonomi bersifat terdesentralisasi
serta hanya dapat dihasilkan melalui tindakan individu yang bebas dan
rasional.¹ Asumsi ini sejalan dengan tradisi epistemologis praxeology
yang dikembangkan oleh Ludwig von Mises dan Friedrich A. Hayek, yang
menempatkan tindakan manusia (human action) sebagai sumber utama
pengetahuan ekonomi.² Menurut pandangan ini, masyarakat tidak dapat direkayasa
secara rasional oleh suatu otoritas pusat karena informasi yang relevan bagi
koordinasi sosial tersebar di antara jutaan individu yang saling berinteraksi
dalam pasar.³ Dengan demikian, pasar bebas bukan sekadar sistem ekonomi,
melainkan mekanisme epistemik yang memungkinkan individu bertukar informasi
melalui harga, preferensi, dan kontrak sukarela.⁴
Rasionalitas dalam libertarianisme sayap kanan
memiliki karakter yang khas, yaitu bersifat instrumental dan subjektif.⁵
Rasionalitas tidak dipahami sebagai kemampuan universal untuk mencapai
kebenaran objektif, melainkan sebagai kapasitas individu untuk menggunakan
sarana tertentu dalam mencapai tujuan pribadinya (means-end rationality).⁶
Dalam kerangka ini, setiap individu dianggap sebagai agen pengetahuan (knowing
agent) yang bertindak berdasarkan informasi terbatas, preferensi pribadi,
dan penilaian subjektif atas nilai.⁷ Dengan demikian, ekonomi pasar menjadi
arena di mana tindakan-tindakan rasional individual saling berinteraksi
membentuk tatanan spontan yang tidak dirancang, namun secara evolutif
menciptakan keteraturan sosial.⁸
Friedrich Hayek menegaskan bahwa pengetahuan yang
memungkinkan terjadinya koordinasi sosial tidak pernah dapat dikumpulkan
sepenuhnya oleh otoritas mana pun, sebab pengetahuan tersebut bersifat tersebar
(dispersed knowledge).⁹ Oleh karena itu, segala bentuk perencanaan
terpusat (central planning) dianggap mengandung “kesombongan fatal” (fatal
conceit) karena mengabaikan sifat tak terukur dari kompleksitas sosial.¹⁰
Dengan demikian, kebebasan ekonomi bukan hanya nilai moral, tetapi juga kondisi
epistemik yang memungkinkan munculnya inovasi dan pengetahuan baru.¹¹ Setiap
individu, melalui tindakan rasionalnya, menjadi sumber pengetahuan yang tidak
dapat digantikan oleh sistem politik atau ekonomi yang bersifat kolektif.¹²
Dalam kerangka teori pilihan (choice theory),
libertarianisme sayap kanan memandang tindakan ekonomi sebagai ekspresi
kebebasan epistemik.¹³ Setiap pilihan mencerminkan struktur nilai yang
diketahui oleh individu itu sendiri, bukan oleh lembaga eksternal.¹⁴ Teori
pilihan rasional (rational choice theory) yang diadopsi dari ekonomi
neoklasik kemudian diperluas menjadi basis epistemologis bagi etika
libertarian: tindakan moral yang benar adalah tindakan yang konsisten dengan
pilihan bebas individu tanpa paksaan.¹⁵ Di sini, kebebasan bukan hanya hak,
tetapi juga syarat bagi pengetahuan moral yang autentik.¹⁶
Namun, pendekatan epistemologis ini juga menghadapi
kritik signifikan. Para pemikir egalitarian seperti Amartya Sen dan John Rawls
menilai bahwa asumsi rasionalitas instrumental mengabaikan dimensi reflektif
dari penilaian moral dan keadilan sosial.¹⁷ Sementara itu, teori kritis menuduh
bahwa konsep rasionalitas pasar mengandung bias ideologis yang menyamarkan
struktur dominasi ekonomi.¹⁸ Meski demikian, libertarianisme sayap kanan
menegaskan bahwa kebebasan berpikir dan bertindak adalah prasyarat mutlak bagi
munculnya pengetahuan sosial yang otentik.¹⁹ Dalam pandangan ini, setiap upaya
memaksakan pola rasionalitas kolektif atas individu justru akan meniadakan
sumber pengetahuan itu sendiri, karena menafikan sifat manusia sebagai makhluk
yang bebas memilih dan belajar dari konsekuensi pilihannya.²⁰
Dengan demikian, epistemologi libertarian
menampilkan suatu sintesis antara aksiologi kebebasan dan rasionalitas
pragmatis: individu bebas tidak hanya menjadi dasar moral bagi kebebasan,
tetapi juga agen epistemik yang memungkinkan keberlanjutan tatanan sosial.²¹
Kebebasan ekonomi, dalam kerangka ini, bukanlah kebetulan historis, melainkan
kondisi epistemologis yang melekat pada kodrat manusia sebagai makhluk yang
berpikir, memilih, dan bertanggung jawab atas hasil dari pilihannya sendiri.²²
Footnotes
[1]
¹ Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–14.
[2]
² Ibid., 92–98.
[3]
³ Friedrich A. Hayek, Individualism and Economic
Order (Chicago: University of Chicago Press, 1948), 77–83.
[4]
⁴ Israel M. Kirzner, Competition and
Entrepreneurship (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 35–38.
[5]
⁵ Amartya Sen, Rationality and Freedom
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2002), 22–25.
[6]
⁶ Mises, Human Action, 92–93.
[7]
⁷ Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 58–60.
[8]
⁸ Ibid., 62–65.
[9]
⁹ Hayek, The Use of Knowledge in Society, American
Economic Review 35, no. 4 (1945): 519–530.
[10]
¹⁰ Friedrich A. Hayek, The Fatal Conceit: The
Errors of Socialism (Chicago: University of Chicago Press, 1988), 27–29.
[11]
¹¹ Ibid., 56–59.
[12]
¹² Ludwig Lachmann, The Market as an Economic
Process (Oxford: Blackwell, 1986), 41–44.
[13]
¹³ James M. Buchanan, The Limits of Liberty:
Between Anarchy and Leviathan (Chicago: University of Chicago Press, 1975),
34–38.
[14]
¹⁴ David Gauthier, Morals by Agreement
(Oxford: Clarendon Press, 1986), 17–19.
[15]
¹⁵ Milton Friedman, Capitalism and Freedom
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 12–15.
[16]
¹⁶ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 197–201.
[17]
¹⁷ Amartya Sen, Development as Freedom (New
York: Anchor Books, 1999), 26–31.
[18]
¹⁸ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 102–106.
[19]
¹⁹ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 51–54.
[20]
²⁰ Ibid., 60–63.
[21]
²¹ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 33–35.
[22]
²² David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 44–47.
5.
Aksiologi:
Nilai Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Non-Aggression Principle
Aksiologi libertarianisme sayap kanan berakar pada
nilai moral fundamental yang menempatkan kebebasan individu sebagai
puncak dari segala bentuk nilai sosial dan politik.¹ Kebebasan, dalam pandangan
ini, bukanlah sekadar sarana instrumental untuk mencapai tujuan lain, tetapi
sebuah nilai intrinsik yang melekat pada martabat manusia.² Kebebasan dipahami
secara negatif (negative liberty), yakni kebebasan dari paksaan
eksternal yang menghalangi individu untuk menggunakan tubuh, tenaga, dan
properti miliknya sesuai kehendak sendiri.³ Prinsip ini menjadikan setiap individu
sebagai otoritas moral tertinggi atas dirinya, di mana tindakan hanya dapat
dinilai sah secara etis sejauh tidak melanggar kebebasan pihak lain.⁴
Dalam kerangka moral ini, libertarianisme sayap
kanan menegakkan Prinsip Non-Agresi (Non-Aggression Principle,
NAP) sebagai norma etika utama.⁵ Prinsip tersebut menyatakan bahwa “tidak
seorang pun berhak memulai penggunaan kekerasan atau paksaan terhadap individu
lain atau properti mereka.”⁶ Dengan demikian, semua bentuk kekerasan atau
paksaan hanya dapat dibenarkan sebagai tindakan defensif, bukan ofensif.⁷ Dalam
tatanan politik, prinsip ini menegasikan legitimasi moral dari intervensi
negara terhadap aktivitas ekonomi individu, termasuk redistribusi kekayaan
melalui pajak atau regulasi yang dianggap membatasi kebebasan kontraktual.⁸
Murray N. Rothbard menegaskan bahwa NAP merupakan fondasi aksiologis seluruh
sistem etika libertarian, karena ia mendefinisikan keadilan bukan melalui hasil
distribusi, melainkan melalui ketiadaan agresi.⁹
Selain kebebasan, nilai tanggung jawab pribadi
(personal responsibility) menjadi dimensi aksiologis yang tidak
terpisahkan dari kebebasan itu sendiri.¹⁰ Karena individu memiliki dirinya,
maka ia juga bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari setiap
tindakannya.¹¹ Kebebasan tanpa tanggung jawab akan melahirkan anarki moral,
sedangkan tanggung jawab tanpa kebebasan akan melahirkan penindasan.¹² Bagi
libertarian, moralitas sejati hanya dapat muncul ketika seseorang bertindak
secara sukarela, bukan karena paksaan hukum atau norma kolektif.¹³ Oleh sebab
itu, solidaritas sosial yang bernilai etis bukanlah hasil intervensi negara,
melainkan tindakan sukarela dari individu yang memilih untuk berbuat baik dalam
kapasitas moralnya yang bebas.¹⁴
Dalam dimensi sosial-ekonomi, prinsip-prinsip
aksiologis ini terwujud dalam keyakinan bahwa pasar bebas adalah sistem moral
yang paling menghormati kebebasan individu.¹⁵ Setiap transaksi sukarela
mencerminkan kesetaraan moral di antara para pelaku, karena tidak ada paksaan
yang memaksa seseorang untuk bertukar di luar kehendaknya.¹⁶ Dengan demikian,
pasar tidak hanya dipahami sebagai mekanisme ekonomi, melainkan juga sebagai
tatanan etis yang menjamin kebebasan dan tanggung jawab personal secara
simultan.¹⁷ Friedrich A. Hayek menyebutnya sebagai “tatanan spontan” (spontaneous
order)—suatu struktur moral yang muncul dari interaksi bebas individu tanpa
perlu perintah pusat.¹⁸
Namun demikian, pandangan aksiologis
libertarianisme sayap kanan tidak luput dari kritik. Kaum egalitarian menilai
bahwa penekanan berlebihan pada kebebasan negatif cenderung mengabaikan
kebebasan positif, yaitu kemampuan nyata individu untuk mengaktualisasikan
dirinya.¹⁹ John Rawls berargumen bahwa sistem nilai libertarian gagal
memperhitungkan keadilan distributif yang menjadi syarat bagi kebebasan
substantif.²⁰ Dari perspektif komunitarian, seperti yang dikemukakan oleh
Michael Sandel dan Charles Taylor, pandangan libertarian dianggap mengabaikan
nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial yang melekat dalam kehidupan
manusia sebagai makhluk relasional.²¹
Meskipun demikian, bagi libertarianisme sayap
kanan, kebebasan tetap menjadi nilai dasar yang tidak dapat ditawar.²² Semua
bentuk moralitas, keadilan, dan tatanan sosial harus berakar pada pengakuan
terhadap hak milik diri sendiri dan larangan atas agresi.²³ Dalam perspektif
aksiologis ini, kebebasan bukan hanya kondisi politik, tetapi juga panggilan
moral—sebuah penghormatan terhadap eksistensi manusia sebagai makhluk yang
mampu berpikir, memilih, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.²⁴
Oleh sebab itu, dalam horizon filsafat libertarianisme sayap kanan, freedom
dan responsibility bukanlah dua prinsip yang terpisah, melainkan dua
sisi dari satu realitas moral yang saling menegaskan.²⁵
Footnotes
[1]
¹ Isaiah Berlin, Two Concepts of Liberty
(Oxford: Clarendon Press, 1969), 121–122.
[2]
² Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 14–17.
[3]
³ Ibid., 20–23.
[4]
⁴ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 25–29.
[5]
⁵ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–31.
[6]
⁶ Ibid., 32.
[7]
⁷ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 35–37.
[8]
⁸ Ayn Rand, Capitalism: The Unknown Ideal
(New York: New American Library, 1966), 18–21.
[9]
⁹ Rothbard, The Ethics of Liberty, 43–46.
[10]
¹⁰ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 33–36.
[11]
¹¹ Milton Friedman, Capitalism and Freedom
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 22–24.
[12]
¹² Friedrich A. Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 73–75.
[13]
¹³ Narveson, The Libertarian Idea, 31–33.
[14]
¹⁴ Robert Sirico, Defending the Free Market: The
Moral Case for a Free Economy (Washington, D.C.: Regnery Publishing, 2012),
41–44.
[15]
¹⁵ Hayek, Law, Legislation and Liberty, vol.
1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 83–88.
[16]
¹⁶ Israel M. Kirzner, Market Theory and the
Price System (Princeton: D. Van Nostrand, 1963), 54–57.
[17]
¹⁷ Machan, Individuals and Their Rights,
40–43.
[18]
¹⁸ Hayek, The Constitution of Liberty,
83–86.
[19]
¹⁹ Amartya Sen, Development as Freedom (New
York: Anchor Books, 1999), 30–33.
[20]
²⁰ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge,
MA: Harvard University Press, 1971), 52–56.
[21]
²¹ Michael Sandel, Liberalism and the Limits of
Justice (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), 65–68; Charles
Taylor, Sources of the Self (Cambridge: Harvard University Press, 1989),
202–205.
[22]
²² Rothbard, The Ethics of Liberty, 49–51.
[23]
²³ Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
150–153.
[24]
²⁴ Machan, Individuals and Their Rights,
49–52.
[25]
²⁵ Boaz, Libertarianism: A Primer, 47–49.
6.
Dimensi
Sosial dan Politik
Dimensi sosial dan politik dalam libertarianisme
sayap kanan menegaskan suatu pandangan yang khas mengenai hubungan antara
individu, masyarakat, dan negara. Dalam kerangka ini, individu dipandang
sebagai unit dasar realitas sosial, sementara masyarakat dianggap sebagai hasil
interaksi sukarela antarindividu yang otonom.¹ Pandangan ini menolak gagasan
bahwa masyarakat memiliki eksistensi moral atau politis yang terpisah dari
individu; sebaliknya, seluruh tatanan sosial merupakan konsekuensi logis dari
kebebasan personal dan kontrak sukarela yang muncul di antara warga yang setara
secara moral.² Dengan demikian, libertarianisme sayap kanan mengusung semangat atomisme
sosial, di mana keteraturan sosial tidak ditentukan oleh perencanaan
negara, melainkan oleh inisiatif dan rasionalitas individu.³
Secara politik, paradigma ini berimplikasi pada
konsep negara minimal atau night-watchman state, sebagaimana
dirumuskan oleh Robert Nozick.⁴ Negara hanya berperan dalam tiga fungsi pokok:
menjaga keamanan individu dari kekerasan, melindungi hak milik dari pencurian,
dan memastikan penegakan kontrak secara adil.⁵ Di luar fungsi-fungsi tersebut,
setiap intervensi negara dianggap melampaui batas moral karena berpotensi
melanggar prinsip non-aggression yang menjadi fondasi etika politik
libertarian.⁶ Pajak, misalnya, dipandang sebagai bentuk perampasan paksa yang
bertentangan dengan hak milik pribadi.⁷ Oleh karena itu, negara ideal dalam
pandangan libertarianisme sayap kanan bukanlah lembaga paternalistik yang
mengarahkan kehidupan warganya, melainkan sekadar penjaga netral yang
memastikan bahwa kebebasan individu tidak dilanggar.⁸
Dalam konteks sosial-ekonomi, libertarianisme sayap
kanan memandang pasar bebas sebagai bentuk paling efisien sekaligus paling adil
dari tatanan sosial. Friedrich A. Hayek menegaskan bahwa pasar adalah “proses
penemuan” (discovery process) di mana individu secara bebas
menemukan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa paksaan
eksternal.⁹ Dengan mekanisme harga yang mencerminkan informasi terdistribusi,
pasar memungkinkan terjadinya koordinasi sosial tanpa memerlukan otoritas
terpusat.¹⁰ Karenanya, pasar dipandang bukan hanya sebagai arena ekonomi,
melainkan juga sebagai cerminan dari kebebasan sosial dan rasionalitas
manusia.¹¹ Dalam kerangka ini, setiap kebijakan redistributif atau proteksionis
dianggap tidak hanya mengganggu efisiensi ekonomi, tetapi juga mengikis fondasi
moral kebebasan individu.¹²
Secara sosial, libertarianisme sayap kanan menolak
konsepsi keadilan distributif yang menuntut kesetaraan hasil.¹³ Keadilan, dalam
perspektif ini, bersifat prosedural dan bukan substantif: tindakan dikatakan
adil apabila dihasilkan melalui proses sukarela tanpa paksaan.¹⁴ Dengan
demikian, ketimpangan sosial atau ekonomi tidak otomatis dianggap sebagai
ketidakadilan, selama perbedaan tersebut lahir dari pertukaran bebas dan hak
milik yang sah.¹⁵ Prinsip ini berpijak pada pandangan bahwa setiap individu
memiliki hak moral untuk menuai konsekuensi dari tindakannya sendiri, baik
berupa keberhasilan maupun kegagalan.¹⁶
Namun, doktrin sosial-politik libertarianisme sayap
kanan sering dikritik karena dianggap mengabaikan realitas ketergantungan
sosial dan struktur ketimpangan historis.¹⁷ Para pemikir komunitarian seperti
Alasdair MacIntyre dan Michael Sandel menilai bahwa pandangan atomistik
terhadap individu gagal mengenali bahwa identitas moral manusia dibentuk
melalui relasi sosial, tradisi, dan nilai-nilai bersama.¹⁸ Sementara itu, para
ekonom politik seperti Thomas Piketty menunjukkan bahwa logika pasar bebas yang
tidak dikontrol dapat memperbesar kesenjangan kekayaan dan kekuasaan, sehingga
mengancam fondasi kebebasan itu sendiri.¹⁹
Kendati demikian, libertarianisme sayap kanan tetap
mempertahankan klaim moral bahwa kebebasan individu adalah syarat mutlak bagi
kemajuan sosial.²⁰ Dalam pandangan ini, masyarakat yang bebas bukanlah
masyarakat tanpa solidaritas, melainkan masyarakat yang menumbuhkan solidaritas
melalui pilihan sukarela, bukan melalui paksaan negara.²¹ Bentuk-bentuk kerja
sama sosial seperti filantropi, koperasi, atau lembaga sukarela dianggap lebih
sesuai dengan moralitas kebebasan daripada sistem bantuan sosial yang
dipaksakan melalui pajak.²² Dengan demikian, tatanan sosial libertarian
berupaya mewujudkan keseimbangan antara tanggung jawab moral individu dan keteraturan
sosial yang muncul secara alami dari interaksi bebas manusia.²³
Dalam konteks politik global kontemporer,
gagasan-gagasan ini memperoleh relevansi baru di tengah ketidakpercayaan publik
terhadap birokrasi negara dan meningkatnya peran sektor swasta serta organisasi
non-pemerintah dalam mengelola kepentingan publik.²⁴ Libertarianisme sayap
kanan menawarkan alternatif terhadap model politik etatistik dengan menegaskan
pentingnya kebebasan sipil, kebebasan ekonomi, dan tanggung jawab personal
sebagai dasar bagi masyarakat yang terbuka.²⁵ Walaupun menimbulkan perdebatan,
ide-ide ini tetap berkontribusi terhadap refleksi filosofis yang mendalam
mengenai bagaimana kebebasan, pasar, dan keadilan dapat hidup berdampingan
dalam tatanan politik modern.²⁶
Footnotes
[1]
¹ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 149–151.
[2]
² Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 19–22.
[3]
³ Friedrich A. Hayek, Law, Legislation and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 85–88.
[4]
⁴ Nozick, Anarchy, State, and Utopia, 26–33.
[5]
⁵ Ibid., 35–38.
[6]
⁶ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–47.
[7]
⁷ Ayn Rand, Capitalism: The Unknown Ideal
(New York: New American Library, 1966), 19–22.
[8]
⁸ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 30–32.
[9]
⁹ Friedrich A. Hayek, Individualism and Economic
Order (Chicago: University of Chicago Press, 1948), 77–80.
[10]
¹⁰ Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 92–96.
[11]
¹¹ Israel M. Kirzner, Market Theory and the
Price System (Princeton: D. Van Nostrand, 1963), 33–36.
[12]
¹² Milton Friedman, Capitalism and Freedom
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 15–18.
[13]
¹³ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
183–189.
[14]
¹⁴ Jan Narveson, The Libertarian Idea,
27–30.
[15]
¹⁵ Rothbard, The Ethics of Liberty, 51–54.
[16]
¹⁶ Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 40–43.
[17]
¹⁷ John Rawls, A Theory of Justice
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 54–58.
[18]
¹⁸ Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 220–223; Michael Sandel, Liberalism
and the Limits of Justice (Cambridge: Cambridge University Press, 1982),
66–69.
[19]
¹⁹ Thomas Piketty, Capital in the Twenty-First
Century (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2014), 242–248.
[20]
²⁰ Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 83–86.
[21]
²¹ Narveson, The Libertarian Idea, 33–36.
[22]
²² Rothbard, The Ethics of Liberty, 55–58.
[23]
²³ Machan, Individuals and Their Rights,
45–48.
[24]
²⁴ Boaz, Libertarianism: A Primer, 44–46.
[25]
²⁵ Friedman, Capitalism and Freedom, 19–22.
[26]
²⁶ Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
250–253.
7.
Kritik
dan Klarifikasi Filosofis
Sebagai sistem pemikiran sosial-politik yang
berpusat pada kebebasan individu, libertarianisme sayap kanan menghadirkan daya
tarik filosofis yang kuat sekaligus memancing kritik tajam dari berbagai arah.
Kritik tersebut umumnya berfokus pada tiga dimensi utama: moralitas kepemilikan
pribadi, konsepsi kebebasan, dan hubungan antara individu serta tatanan
sosial.¹ Kajian kritis ini tidak dimaksudkan untuk menolak keseluruhan bangunan
libertarianisme, tetapi untuk menguji koherensi internal dan validitas normatif
dari prinsip-prinsipnya, serta mengklarifikasi ruang filosofis yang membedakan
libertarianisme sayap kanan dari varian lainnya.²
Salah satu kritik paling mendasar datang dari
perspektif egalitarianisme, terutama yang dikembangkan oleh John Rawls dan
Ronald Dworkin. Rawls menilai bahwa kebebasan formal yang dijamin oleh
libertarianisme tidak cukup untuk menjamin keadilan substantif.³ Dalam A
Theory of Justice, ia menegaskan bahwa keadilan sejati mensyaratkan
struktur dasar masyarakat yang mengoreksi ketimpangan sosial dan ekonomi agar
semua orang memiliki kesempatan yang adil untuk menggunakan kebebasannya.⁴
Menurutnya, teori entitlement Nozick—yang menyatakan bahwa distribusi
apa pun sah selama diperoleh secara sah—mengabaikan konteks historis
ketidaksetaraan dan warisan struktural yang membatasi kebebasan bagi sebagian
individu.⁵ Ronald Dworkin memperkuat kritik ini dengan menunjukkan bahwa
kebebasan tanpa redistribusi dapat menjadi freedom for the powerful—kebebasan
yang de facto hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki sumber daya ekonomi.⁶
Kritik lain datang dari kaum komunitarian seperti
Michael Sandel dan Alasdair MacIntyre yang menolak atomisme moral libertarian.⁷
Mereka menilai bahwa pandangan libertarian tentang individu sebagai agen
rasional yang sepenuhnya otonom adalah konstruksi abstrak yang mengabaikan
realitas historis dan sosial dari pembentukan identitas moral.⁸ Sandel
menekankan bahwa individu tidak dapat dipahami terlepas dari komunitas dan
tradisi nilai yang membentuk pandangan moralnya.⁹ Dalam pandangan ini,
kebebasan bukanlah kondisi awal manusia, melainkan hasil dari partisipasi dalam
kehidupan bersama yang bermakna.¹⁰ Kritik komunitarian ini menyoroti kelemahan
ontologis libertarianisme sayap kanan yang terlalu menekankan individualisme
metodologis tanpa memperhitungkan relasi sosial sebagai dimensi konstitutif
dari eksistensi manusia.¹¹
Selain kritik eksternal, terdapat pula perdebatan
internal dalam tubuh libertarianisme sendiri. Di satu sisi, aliran minarchism
(seperti yang diwakili oleh Nozick) masih mempertahankan negara minimal sebagai
penjaga hak milik dan penegak hukum.¹² Di sisi lain, anarcho-capitalism
yang dikembangkan oleh Murray Rothbard menolak keberadaan negara sama sekali,
dengan argumentasi bahwa semua fungsi pemerintahan dapat dijalankan oleh
mekanisme pasar melalui kontrak sukarela.¹³ Perbedaan ini bukan sekadar teknis,
melainkan ontologis—menyangkut sejauh mana hak individu dapat koheren tanpa
institusi politik yang memiliki otoritas hukum.¹⁴ Klarifikasi filosofis
terhadap perdebatan ini menunjukkan adanya ketegangan inheren antara kebebasan
absolut dan kebutuhan akan stabilitas normatif dalam kehidupan sosial.¹⁵
Kritik juga datang dari perspektif etika normatif
dan filsafat moral. Beberapa filsuf, seperti Thomas Nagel dan G.A. Cohen,
menilai bahwa libertarianisme gagal memberikan pembenaran moral yang memadai
bagi kepemilikan pribadi yang tidak merata.¹⁶ Cohen, misalnya, dalam Self-Ownership,
Freedom, and Equality, berargumen bahwa prinsip self-ownership yang
diklaim libertarian justru dapat menghasilkan ketidakbebasan bagi orang lain,
sebab mereka yang miskin terpaksa tunduk pada struktur ekonomi yang dikuasai
oleh pemilik modal.¹⁷ Dengan demikian, kebebasan yang dijanjikan
libertarianisme bersifat asimetris dan bergantung pada kekuasaan ekonomi, bukan
semata-mata pada hak moral individu.¹⁸ Kritik ini menyoroti paradoks mendasar:
bahwa kebebasan absolut atas diri dan harta benda dapat menciptakan kondisi
sosial di mana sebagian orang kehilangan kebebasannya secara substantif.¹⁹
Meski demikian, para pendukung libertarianisme
sayap kanan memberikan klarifikasi filosofis terhadap berbagai tuduhan
tersebut. Mereka menegaskan bahwa kebebasan dan keadilan tidak dapat dipahami
dalam kerangka hasil, tetapi dalam kerangka proses.²⁰ Robert Nozick menyatakan
bahwa ketimpangan yang dihasilkan oleh transaksi sukarela bukanlah
ketidakadilan, sebab keadilan hanya berkaitan dengan apakah tindakan
memperoleh, memindahkan, dan mempertahankan properti dilakukan tanpa agresi.²¹
Dalam kerangka ini, keadilan tidak berarti kesetaraan hasil, melainkan
kesetaraan hak.²² Friedrich A. Hayek menambahkan bahwa upaya menciptakan “keadilan
sosial” melalui perencanaan politik justru mengancam kebebasan itu sendiri,
karena ia mengharuskan kontrol sentral atas tindakan manusia yang bebas.²³
Lebih jauh lagi, libertarianisme sayap kanan
menegaskan bahwa moralitas tidak dapat dipisahkan dari kebebasan pilihan.²⁴
Sebuah tindakan hanya dapat disebut bermoral apabila dilakukan secara sukarela,
bukan karena paksaan hukum atau moral kolektif.²⁵ Dalam hal ini, tanggung jawab
moral menjadi ciri khas etika libertarian: individu dianggap dewasa secara
moral hanya jika ia bebas memilih dan menanggung akibat dari pilihannya.²⁶ Oleh
karena itu, meskipun banyak kritik diarahkan terhadap konsekuensi sosial
libertarianisme, aliran ini tetap mempertahankan posisi epistemologis dan aksiologisnya
bahwa kebebasan adalah syarat ontologis bagi eksistensi moral manusia.²⁷
Pada akhirnya, kritik dan klarifikasi filosofis
terhadap libertarianisme sayap kanan membuka ruang refleksi yang lebih luas
mengenai batas dan hakikat kebebasan.²⁸ Perdebatan antara kebebasan dan
kesetaraan, antara individu dan komunitas, serta antara moralitas dan struktur
sosial, menunjukkan bahwa kebebasan bukanlah konsep yang sederhana, melainkan
medan dialektis di mana nilai-nilai modernitas dipertaruhkan.²⁹ Dalam konteks
ini, libertarianisme sayap kanan dapat dipahami bukan hanya sebagai teori
politik, tetapi sebagai percakapan terus-menerus tentang bagaimana manusia
dapat hidup secara bebas tanpa meniadakan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih
luas.³⁰
Footnotes
[1]
¹ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 183–186.
[2]
² David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 41–43.
[3]
³ John Rawls, A Theory of Justice
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 12–14.
[4]
⁴ Ibid., 53–56.
[5]
⁵ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
185–188.
[6]
⁶ Ronald Dworkin, Sovereign Virtue: The Theory
and Practice of Equality (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000),
97–100.
[7]
⁷ Michael Sandel, Liberalism and the Limits of
Justice (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), 63–65.
[8]
⁸ Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 219–222.
[9]
⁹ Sandel, Liberalism and the Limits of Justice,
66–68.
[10]
¹⁰ Charles Taylor, Sources of the Self
(Cambridge: Harvard University Press, 1989), 190–193.
[11]
¹¹ MacIntyre, After Virtue, 225–228.
[12]
¹² Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
26–33.
[13]
¹³ Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 32–35.
[14]
¹⁴ Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 49–52.
[15]
¹⁵ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 33–36.
[16]
¹⁶ Thomas Nagel, Equality and Partiality
(Oxford: Oxford University Press, 1991), 55–58.
[17]
¹⁷ G.A. Cohen, Self-Ownership, Freedom, and
Equality (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), 12–18.
[18]
¹⁸ Ibid., 19–23.
[19]
¹⁹ Cohen, Self-Ownership, Freedom, and Equality,
27–29.
[20]
²⁰ Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
198–201.
[21]
²¹ Ibid., 201–204.
[22]
²² Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 82–86.
[23]
²³ Friedrich A. Hayek, The Mirage of Social
Justice (Chicago: University of Chicago Press, 1976), 67–71.
[24]
²⁴ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–48.
[25]
²⁵ Narveson, The Libertarian Idea, 37–40.
[26]
²⁶ Machan, Individuals and Their Rights,
54–57.
[27]
²⁷ Rothbard, The Ethics of Liberty, 52–55.
[28]
²⁸ Dworkin, Sovereign Virtue, 103–106.
[29]
²⁹ Sandel, Liberalism and the Limits of Justice,
71–73.
[30]
³⁰ Boaz, Libertarianism: A Primer, 49–51.
8.
Relevansi
Kontemporer
Dalam lanskap sosial-politik abad ke-21, libertarianisme
sayap kanan kembali memperoleh momentum sebagai respons terhadap krisis
kepercayaan terhadap negara, ekspansi birokrasi, dan meningkatnya intervensi
pemerintah dalam kehidupan ekonomi serta pribadi.¹ Di tengah globalisasi
ekonomi dan revolusi digital, prinsip-prinsip inti libertarianisme—kebebasan
individu, hak kepemilikan pribadi, dan pasar bebas—mengalami revitalisasi dalam
bentuk baru yang menyesuaikan diri dengan tantangan kontemporer.² Ide-ide
libertarian tidak lagi terbatas pada ruang ekonomi klasik, tetapi telah
memasuki ranah teknologi, data, privasi, dan tata kelola global.³
Salah satu relevansi paling nyata dari
libertarianisme sayap kanan tampak dalam diskursus tentang digital freedom
dan kepemilikan data. Di era di mana informasi menjadi komoditas utama, muncul
pertanyaan mendasar: siapa yang berhak memiliki, mengendalikan, dan
memonetisasi data pribadi?⁴ Dalam konteks ini, prinsip self-ownership
yang selama ini diterapkan pada tubuh dan properti fisik kini diperluas ke
ranah digital.⁵ Para pemikir libertarian kontemporer berargumen bahwa data
adalah ekstensi dari diri individu, dan oleh karena itu setiap bentuk
penggunaan atau distribusinya tanpa izin merupakan bentuk agresi terhadap hak
milik pribadi.⁶ Dengan demikian, doktrin non-aggression principle
menemukan relevansi baru dalam konteks privasi digital, di mana kebebasan
individu dihadapkan pada pengawasan algoritmik dan otoritas platform teknologi
raksasa.⁷
Selain itu, libertarianisme sayap kanan juga
memperoleh aktualitas dalam kritik terhadap surveillance capitalism—sebuah
fenomena di mana korporasi dan pemerintah mengumpulkan serta mengendalikan data
individu untuk tujuan ekonomi dan politik.⁸ Dalam pandangan libertarian,
praktik ini merupakan bentuk dominasi baru yang mengancam kebebasan otonom
manusia.⁹ Solusi yang diajukan tidak terletak pada regulasi negara yang lebih
ketat, melainkan pada desentralisasi kekuasaan dan kepemilikan melalui
teknologi seperti blockchain dan kontrak pintar (smart contracts).¹⁰
Teknologi ini dianggap dapat mewujudkan cita-cita libertarian tentang
masyarakat tanpa perantara (disintermediation), di mana individu dapat
bertransaksi secara langsung tanpa kontrol negara atau lembaga sentral.¹¹
Dalam ranah ekonomi global, gagasan libertarianisme
sayap kanan juga menjadi bagian dari wacana kebijakan publik terkait deregulasi
dan inovasi pasar.¹² Gerakan start-up, ekonomi berbasis kripto, serta
fenomena gig economy merupakan contoh transformasi yang
merepresentasikan nilai-nilai kebebasan ekonomi dan otonomi individu.¹³ Namun,
di sisi lain, perkembangan ini juga memunculkan dilema baru tentang keadilan
sosial, ketidakpastian kerja, dan kesejahteraan publik.¹⁴ Kritik terhadap
kondisi tersebut sering diarahkan pada logika laissez-faire yang menjadi
fondasi moral libertarianisme, karena dianggap melahirkan “kebebasan tanpa
perlindungan.”¹⁵
Dalam konteks politik, libertarianisme sayap kanan
menghadapi tantangan dari bangkitnya populisme, nasionalisme ekonomi, dan
otoritarianisme digital.¹⁶ Sementara banyak negara bergerak ke arah intervensi
lebih besar atas nama stabilitas sosial dan kedaulatan nasional,
libertarianisme tetap menegaskan bahwa kebebasan individu tidak dapat
dikompromikan demi keamanan kolektif yang semu.¹⁷ Dalam pandangan ini,
demokrasi sejati bukanlah tentang dominasi mayoritas, melainkan perlindungan
terhadap hak minoritas individu dari kekuasaan kolektif.¹⁸ Pandangan ini
menjadikan libertarianisme relevan dalam perdebatan tentang batas-batas
kekuasaan negara dan perlindungan kebebasan sipil di era pasca-demokrasi.¹⁹
Lebih jauh, isu lingkungan hidup juga menantang
konsistensi libertarianisme sayap kanan.²⁰ Kritik sering diarahkan pada
pandangan pro-pasar yang dianggap mengabaikan eksternalitas ekologis.²¹ Namun,
para libertarian kontemporer seperti Peter J. Hill dan Terry L. Anderson
mencoba mengembangkan free-market environmentalism yang menegaskan bahwa
hak milik privat justru dapat menjadi mekanisme efektif untuk melindungi sumber
daya alam.²² Dalam pendekatan ini, pengelolaan lingkungan tidak memerlukan
birokrasi negara, melainkan dapat dilakukan melalui kontrak sukarela dan
tanggung jawab pemilik lahan.²³
Konteks sosial global yang semakin plural juga
memberi peluang bagi reinterpretasi etika kebebasan libertarian secara lebih
humanistik.²⁴ Dalam masyarakat yang semakin terkoneksi, kebebasan tidak lagi
dipahami semata-mata sebagai pemisahan dari negara, tetapi sebagai kapasitas
moral untuk mengatur diri sendiri dan berkolaborasi secara sukarela.²⁵ Hal ini
membuka kemungkinan bagi sintesis baru antara prinsip kebebasan individual
dengan nilai-nilai solidaritas yang tidak dipaksakan.²⁶ Dengan demikian,
relevansi kontemporer libertarianisme sayap kanan terletak pada kemampuannya
untuk menegaskan kembali kebebasan sebagai nilai dasar manusia dalam dunia yang
semakin terancam oleh konsentrasi kekuasaan—baik dalam bentuk negara maupun
korporasi.²⁷
Akhirnya, di tengah krisis global—baik krisis
kepercayaan terhadap institusi, krisis iklim, maupun krisis epistemik akibat
disinformasi—libertarianisme sayap kanan mengingatkan kita akan pentingnya
tanggung jawab individu sebagai fondasi kebebasan yang otentik.²⁸ Ia menolak
pandangan paternalistik bahwa manusia harus “diselamatkan” oleh negara
dari dirinya sendiri, dan sebaliknya menegaskan martabat manusia sebagai
makhluk yang mampu berpikir, memilih, dan bertindak secara sadar.²⁹ Dengan
demikian, meski banyak dikritik, libertarianisme sayap kanan tetap menawarkan
etika politik yang menantang dan relevan: etika yang menuntut manusia untuk
menjadi subjek bebas dalam dunia yang semakin terkoordinasi oleh kekuatan
eksternal.³⁰
Footnotes
[1]
¹ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 49–52.
[2]
² Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 235–239.
[3]
³ Milton Friedman, Capitalism and Freedom
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 133–136.
[4]
⁴ Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 63–67.
[5]
⁵ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 33–36.
[6]
⁶ Patrick Lin, Ethics and Emerging Technologies
(New York: Routledge, 2020), 142–144.
[7]
⁷ Ibid., 147–149.
[8]
⁸ Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism,
91–93.
[9]
⁹ Friedrich A. Hayek, The Road to Serfdom
(Chicago: University of Chicago Press, 1944), 78–80.
[10]
¹⁰ Primavera De Filippi dan Aaron Wright, Blockchain
and the Law (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2018), 11–14.
[11]
¹¹ Ibid., 21–25.
[12]
¹² Friedman, Capitalism and Freedom,
137–140.
[13]
¹³ Boaz, Libertarianism: A Primer, 56–59.
[14]
¹⁴ Guy Standing, The Precariat: The New
Dangerous Class (London: Bloomsbury Academic, 2011), 72–75.
[15]
¹⁵ Thomas Piketty, Capital and Ideology
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2020), 309–312.
[16]
¹⁶ Yascha Mounk, The People vs. Democracy
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2018), 44–47.
[17]
¹⁷ Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
241–244.
[18]
¹⁸ Friedrich A. Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 102–105.
[19]
¹⁹ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 41–44.
[20]
²⁰ Andrew Light dan Holmes Rolston III, Environmental
Ethics: An Anthology (Malden, MA: Blackwell, 2003), 295–298.
[21]
²¹ John Bellamy Foster, The Ecological Rift
(New York: Monthly Review Press, 2010), 55–57.
[22]
²² Terry L. Anderson dan Peter J. Hill, The Not
So Wild, Wild West: Property Rights on the Frontier (Stanford: Stanford
University Press, 2004), 9–12.
[23]
²³ Ibid., 19–21.
[24]
²⁴ Boaz, Libertarianism: A Primer, 61–63.
[25]
²⁵ Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 51–53.
[26]
²⁶ Narveson, The Libertarian Idea, 47–49.
[27]
²⁷ Friedrich A. Hayek, Law, Legislation and
Liberty, vol. 3 (Chicago: University of Chicago Press, 1979), 210–213.
[28]
²⁸ Mounk, The People vs. Democracy, 102–105.
[29]
²⁹ Machan, Individuals and Their Rights,
54–57.
[30]
³⁰ Boaz, Libertarianism: A Primer, 65–68.
9.
Sintesis
Filosofis: Menuju Etika Kepemilikan yang Humanistik
Upaya untuk mensintesiskan libertarianisme sayap
kanan ke dalam horizon etika yang lebih humanistik menuntut rekonsiliasi antara
prinsip kebebasan absolut dan tanggung jawab sosial manusia. Dalam struktur filsafat
politik modern, ketegangan antara individu dan komunitas, antara kebebasan dan
keadilan, serta antara hak milik dan solidaritas merupakan dilema yang
terus-menerus muncul.¹ Libertarianisme sayap kanan, dengan penekanannya pada self-ownership
dan non-aggression principle, menawarkan fondasi moral yang kuat untuk
kebebasan individu, namun berisiko terjebak dalam reduksionisme moral apabila
menolak dimensi sosial dari eksistensi manusia.² Oleh karena itu, dibutuhkan
sintesis filosofis yang tidak meniadakan nilai kebebasan, tetapi menempatkannya
dalam konteks kemanusiaan yang lebih luas.³
Dalam kerangka ontologis, prinsip self-ownership
dapat ditafsirkan ulang bukan hanya sebagai klaim kepemilikan, melainkan
sebagai pengakuan atas martabat manusia sebagai makhluk rasional dan bermoral.⁴
Kepemilikan atas diri tidak semata berarti kebebasan untuk menguasai, tetapi
juga kesadaran untuk mengelola eksistensi secara bertanggung jawab.⁵ Dengan
demikian, kebebasan tidak berhenti pada otonomi, melainkan bertransformasi
menjadi bentuk self-governance—kemampuan manusia untuk memerintah
dirinya dengan rasio moral yang sadar akan konsekuensinya terhadap sesama.⁶
Dalam pengertian ini, etika kepemilikan yang humanistik memandang hak milik
bukan sebagai instrumen isolasi individu, tetapi sebagai ruang moral di mana
tanggung jawab dan kebebasan berinteraksi secara seimbang.⁷
Secara epistemologis, sintesis ini mengakui bahwa
pengetahuan sosial tidak hanya dihasilkan melalui rasionalitas instrumental,
sebagaimana dikemukakan oleh libertarian klasik, tetapi juga melalui
rasionalitas komunikatif yang melibatkan dialog dan pengakuan timbal balik
antarindividu.⁸ Kebebasan sejati mengandaikan keterbukaan terhadap pandangan
lain serta kesediaan untuk berpartisipasi dalam pencarian kebenaran bersama.⁹
Dengan demikian, epistemologi libertarian dapat diperluas dari sekadar teori
tindakan individu menuju etika komunikasi—sebuah ruang di mana kebebasan
berbicara, berdialog, dan bertransaksi menjadi bentuk pengungkapan tertinggi
dari kemanusiaan.¹⁰
Dalam ranah aksiologi, prinsip non-aggression
dapat dipahami bukan sekadar sebagai larangan agresi, tetapi sebagai komitmen
positif terhadap penghormatan martabat manusia.¹¹ Etika kepemilikan yang
humanistik tidak hanya menolak paksaan fisik, tetapi juga segala bentuk
dominasi struktural yang menghalangi kapasitas moral individu untuk
berkembang.¹² Dalam konteks ini, keadilan bukan sekadar hasil dari prosedur
sukarela, melainkan kondisi yang memungkinkan setiap individu menjadi subjek
moral yang bebas.¹³ Pendekatan ini menggeser makna keadilan dari justice as
entitlement menuju justice as recognition—keadilan sebagai pengakuan
terhadap kebebasan dan martabat manusia dalam konteks relasional.¹⁴
Dimensi sosial dari sintesis ini menuntut
reinterpretasi terhadap peran masyarakat dan negara. Masyarakat dapat dipahami
sebagai ruang moral tempat individu berinteraksi secara sukarela, namun negara
tetap memiliki fungsi etik minimal untuk menjamin bahwa struktur kebebasan
tidak berubah menjadi arena dominasi.¹⁵ Dalam kerangka humanistic
libertarianism, negara bukanlah penguasa, melainkan wasit yang menjaga hak
dan kebebasan warga agar tidak saling meniadakan.¹⁶ Friedrich Hayek menyebutnya
sebagai “framework of liberty,” yakni sistem hukum yang menjamin keadilan
prosedural tanpa mendikte hasil moral atau ekonomi tertentu.¹⁷ Dengan demikian,
peran negara tetap diperlukan—bukan untuk mengatur kehidupan moral individu,
tetapi untuk memastikan bahwa ruang kebebasan tetap terbuka bagi semua.¹⁸
Lebih jauh, etika kepemilikan yang humanistik
membuka kemungkinan dialog antara libertarianisme dan tradisi moral lain,
termasuk humanisme klasik, eksistensialisme, dan bahkan etika Islam.¹⁹ Dalam
perspektif eksistensialis, misalnya, kebebasan diartikan sebagai tanggung jawab
terhadap makna hidup yang diciptakan oleh manusia sendiri.²⁰ Sementara dalam
tradisi humanisme religius, kebebasan selalu disertai dengan kesadaran akan
keterikatan manusia pada kebaikan universal dan solidaritas sosial.²¹ Sintesis
ini menunjukkan bahwa kebebasan sejati bukanlah kebebasan yang meniadakan
relasi, melainkan kebebasan yang sadar akan keterhubungan eksistensial dengan
sesama manusia.²²
Akhirnya, sintesis filosofis libertarianisme sayap
kanan menuju etika kepemilikan yang humanistik dapat dirumuskan dalam tiga
prinsip utama. Pertama, ontological dignity—bahwa kepemilikan diri
merupakan ekspresi martabat manusia yang rasional dan bermoral.²³ Kedua, epistemic
reciprocity—bahwa kebebasan berpikir dan bertindak harus disertai
keterbukaan dialogis terhadap pengetahuan bersama.²⁴ Ketiga, axiological
responsibility—bahwa hak milik dan kebebasan individu mengandung tanggung
jawab untuk tidak mereduksi kebebasan orang lain.²⁵ Melalui ketiga prinsip ini,
libertarianisme sayap kanan dapat melampaui reduksionisme ekonomistiknya dan
menjadi filsafat kebebasan yang humanistik, yaitu kebebasan yang dihayati bukan
sebagai pemisahan dari sesama, melainkan sebagai penghormatan terhadap
kemanusiaan bersama.²⁶
Footnotes
[1]
¹ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 183–186.
[2]
² John Rawls, A Theory of Justice
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 52–56.
[3]
³ David Boaz, Libertarianism: A Primer
(Washington, D.C.: Cato Institute, 1997), 61–63.
[4]
⁴ John Locke, Two Treatises of Government
(London: Awnsham Churchill, 1689), 288–291.
[5]
⁵ Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 49–52.
[6]
⁶ Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 232–235.
[7]
⁷ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 41–44.
[8]
⁸ Friedrich A. Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 92–95.
[9]
⁹ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 107–110.
[10]
¹⁰ Ibid., 121–123.
[11]
¹¹ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–49.
[12]
¹² Amartya Sen, Development as Freedom (New
York: Anchor Books, 1999), 35–37.
[13]
¹³ Charles Taylor, Sources of the Self
(Cambridge: Harvard University Press, 1989), 190–193.
[14]
¹⁴ Axel Honneth, The Struggle for Recognition
(Cambridge, MA: MIT Press, 1995), 92–95.
[15]
¹⁵ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia,
250–253.
[16]
¹⁶ Friedrich A. Hayek, Law, Legislation and Liberty,
vol. 2 (Chicago: University of Chicago Press, 1976), 142–145.
[17]
¹⁷ Ibid., 153–156.
[18]
¹⁸ Boaz, Libertarianism: A Primer, 66–68.
[19]
¹⁹ Tibor R. Machan, Libertarianism Defended
(Burlington, VT: Ashgate, 2006), 14–17.
[20]
²⁰ Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness
(New York: Washington Square Press, 1956), 439–442.
[21]
²¹ Muhammad Iqbal, The Reconstruction of
Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf Press, 1934), 118–121.
[22]
²² Erich Fromm, The Fear of Freedom (London:
Routledge, 1942), 198–202.
[23]
²³ Machan, Individuals and Their Rights,
53–56.
[24]
²⁴ Habermas, The Theory of Communicative Action,
125–128.
[25]
²⁵ Sen, Development as Freedom, 39–41.
[26]
²⁶ Boaz, Libertarianism: A Primer, 70–73.
10. Kesimpulan
Libertarianisme sayap kanan merupakan salah satu
arus pemikiran yang paling konsisten dalam mempertahankan supremasi kebebasan
individu dan hak kepemilikan pribadi sebagai fondasi moral dan politik tatanan
sosial.¹ Ia berakar pada tradisi liberalisme klasik dan berkembang melalui
sintesis antara filsafat moral natural rights John Locke, teori politik
minimalis Robert Nozick, serta epistemologi pasar bebas Friedrich A. Hayek.²
Dari akar-akar tersebut, libertarianisme sayap kanan membangun sistem pemikiran
yang memandang kebebasan bukan hanya sebagai hak politik, melainkan sebagai
struktur ontologis eksistensi manusia.³ Dalam kerangka ini, individu adalah
subjek moral yang berdaulat, dan segala bentuk paksaan—baik oleh negara maupun
oleh masyarakat—merupakan pelanggaran terhadap hakikat kebebasan itu sendiri.⁴
Namun, sebagaimana telah ditunjukkan dalam analisis
sebelumnya, sistem ini tidak bebas dari paradoks dan tantangan filosofis.
Kritik egalitarian dan komunitarian menyoroti kecenderungan libertarianisme
untuk mengabaikan dimensi sosial dan historis dari identitas manusia serta
realitas ketimpangan struktural yang menghambat kebebasan substantif.⁵
Pandangan atomistik terhadap individu sering kali menimbulkan kesulitan dalam
menjelaskan bagaimana solidaritas sosial dan tanggung jawab kolektif dapat
muncul tanpa otoritas normatif yang mengikat.⁶ Meskipun libertarianisme sayap
kanan menolak intervensi negara atas dasar etika non-agresi, dalam praktiknya
prinsip ini menghadapi dilema ketika berhadapan dengan ketimpangan ekonomi,
ketidaksetaraan akses, dan persoalan keadilan ekologis yang memerlukan
koordinasi sosial di luar kontrak sukarela.⁷
Meski demikian, libertarianisme tetap menawarkan
kontribusi signifikan terhadap filsafat sosial-politik modern dengan menegaskan
pentingnya moral limits of state power.⁸ Dalam dunia yang semakin
diwarnai oleh ekspansi otoritas pemerintah, regulasi global, dan kontrol
digital atas individu, pesan libertarianisme menjadi semakin relevan: kebebasan
tidak dapat dipertahankan tanpa pengakuan atas hak milik diri sendiri dan
otonomi moral individu.⁹ Prinsip non-aggression yang menjadi inti etika
libertarian menyediakan basis moral bagi masyarakat yang menghormati pilihan
bebas, tanggung jawab personal, serta pluralitas nilai.¹⁰ Dengan demikian,
meskipun sering dipersepsikan sebagai ideologi ekstrem individualisme,
libertarianisme sayap kanan sejatinya merupakan ajakan untuk memulihkan kembali
martabat manusia sebagai makhluk yang mampu berpikir dan bertindak secara bebas
tanpa ketergantungan paternalistik.¹¹
Secara filosofis, kesimpulan yang dapat ditarik
dari kajian ini ialah bahwa kebebasan tidak harus dipahami sebagai antitesis
dari kebersamaan.¹² Melalui reinterpretasi humanistik, hak milik pribadi dan
otonomi individu dapat dipahami sebagai sarana untuk membangun masyarakat yang
menghargai tanggung jawab moral dan solidaritas sukarela.¹³ Etika kepemilikan
yang berakar pada self-ownership harus diimbangi dengan kesadaran akan self-limitation—batas
moral yang muncul dari pengakuan terhadap kebebasan orang lain.¹⁴ Dengan
demikian, sintesis filosofis yang dihasilkan dari kajian ini menempatkan
kebebasan tidak hanya sebagai prinsip ekonomi atau politik, tetapi sebagai
landasan ontologis bagi kemanusiaan yang rasional, etis, dan berkeadilan.¹⁵
Akhirnya, relevansi libertarianisme sayap kanan
dalam dunia kontemporer tidak terletak pada dogmatisme pasar bebas atau
penolakan total terhadap negara, melainkan pada panggilan moralnya terhadap
kesadaran individu.¹⁶ Ia mengingatkan bahwa kemajuan sosial sejati tidak dapat
dicapai melalui paksaan kolektif, tetapi melalui tanggung jawab pribadi yang
berakar pada kebebasan.¹⁷ Dalam horizon etika politik masa kini—yang diwarnai
oleh kompleksitas globalisasi, teknologi, dan krisis ekologis—libertarianisme sayap
kanan dapat menjadi salah satu inspirasi untuk membangun paradigma baru: sebuah
etika kebebasan yang humanistik, di mana manusia tidak hanya bebas untuk
memiliki, tetapi juga bebas untuk berbuat baik.¹⁸
Footnotes
[1]
¹ Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia
(New York: Basic Books, 1974), 149–153.
[2]
² John Locke, Two Treatises of Government
(London: Awnsham Churchill, 1689), 287–291; Friedrich A. Hayek, The
Constitution of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960),
82–86.
[3]
³ Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–30.
[4]
⁴ Jan Narveson, The Libertarian Idea
(Philadelphia: Temple University Press, 1988), 25–29.
[5]
⁵ John Rawls, A Theory of Justice
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 52–56.
[6]
⁶ Michael Sandel, Liberalism and the Limits of
Justice (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), 63–66.
[7]
⁷ Thomas Piketty, Capital and Ideology
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2020), 307–310.
[8]
⁸ Hayek, Law, Legislation and Liberty, vol.
1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 93–96.
[9]
⁹ Milton Friedman, Capitalism and Freedom
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 135–138.
[10]
¹⁰ Rothbard, The Ethics of Liberty, 49–51.
[11]
¹¹ David Boaz, Libertarianism: A Primer (Washington,
D.C.: Cato Institute, 1997), 65–68.
[12]
¹² Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 230–233.
[13]
¹³ Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(La Salle, IL: Open Court, 1989), 51–54.
[14]
¹⁴ Amartya Sen, Development as Freedom (New
York: Anchor Books, 1999), 36–39.
[15]
¹⁵ Jürgen Habermas, The Theory of Communicative
Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 121–124.
[16]
¹⁶ Boaz, Libertarianism: A Primer, 69–71.
[17]
¹⁷ Friedrich A. Hayek, The Fatal Conceit: The
Errors of Socialism (Chicago: University of Chicago Press, 1988), 67–69.
[18]
¹⁸ Tibor R. Machan, Libertarianism Defended
(Burlington, VT: Ashgate, 2006), 72–75.
Daftar Pustaka
Anderson, T. L., & Hill, P. J. (2004). The
not so wild, wild West: Property rights on the frontier. Stanford
University Press.
Berlin, I. (1969). Two concepts of liberty.
Clarendon Press.
Boaz, D. (1997). Libertarianism: A primer.
Cato Institute.
Buchanan, J. M. (1975). The limits of liberty:
Between anarchy and Leviathan. University of Chicago Press.
Cohen, G. A. (1995). Self-ownership, freedom,
and equality. Cambridge University Press.
De Filippi, P., & Wright, A. (2018). Blockchain
and the law: The rule of code. Harvard University Press.
Dworkin, R. (2000). Sovereign virtue: The theory
and practice of equality. Harvard University Press.
Foster, J. B. (2010). The ecological rift:
Capitalism’s war on the Earth. Monthly Review Press.
Friedman, M. (1962). Capitalism and freedom.
University of Chicago Press.
Fromm, E. (1942). The fear of freedom.
Routledge.
Gauthier, D. (1986). Morals by agreement.
Clarendon Press.
Habermas, J. (1984). The theory of communicative
action (Vol. 1). Beacon Press.
Hayek, F. A. (1944). The road to serfdom.
University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1948). Individualism and economic
order. University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1960). The constitution of
liberty. University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1973). Law, legislation and
liberty: Vol. 1. Rules and order. University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1976). Law, legislation and
liberty: Vol. 2. The mirage of social justice. University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1979). Law, legislation and
liberty: Vol. 3. The political order of a free people. University of
Chicago Press.
Hayek, F. A. (1988). The fatal conceit: The
errors of socialism. University of Chicago Press.
Hill, P. J., & Anderson, T. L. (2004). The
not so wild, wild West: Property rights on the frontier. Stanford
University Press.
Honneth, A. (1995). The struggle for
recognition: The moral grammar of social conflicts. MIT Press.
Iqbal, M. (1934). The reconstruction of
religious thought in Islam. Ashraf Press.
Kirzner, I. M. (1963). Market theory and the
price system. D. Van Nostrand.
Kirzner, I. M. (1973). Competition and
entrepreneurship. University of Chicago Press.
Lachmann, L. (1986). The market as an economic
process. Blackwell.
Light, A., & Rolston, H. (Eds.). (2003). Environmental
ethics: An anthology. Blackwell.
Lin, P. (2020). Ethics and emerging
technologies. Routledge.
Locke, J. (1689). Two treatises of government.
Awnsham Churchill.
MacIntyre, A. (1981). After virtue.
University of Notre Dame Press.
Machan, T. R. (1989). Individuals and their
rights. Open Court.
Machan, T. R. (2006). Libertarianism defended.
Ashgate.
Mill, J. S. (1859). On liberty. John W.
Parker & Son.
Mises, L. von. (1949). Human action: A treatise
on economics. Yale University Press.
Mounk, Y. (2018). The people vs. democracy: Why
our freedom is in danger and how to save it. Harvard University Press.
Nagel, T. (1991). Equality and partiality.
Oxford University Press.
Narveson, J. (1988). The libertarian idea.
Temple University Press.
Nozick, R. (1974). Anarchy, state, and utopia.
Basic Books.
Piketty, T. (2014). Capital in the twenty-first
century. Harvard University Press.
Piketty, T. (2020). Capital and ideology.
Harvard University Press.
Rand, A. (1966). Capitalism: The unknown ideal.
New American Library.
Raimondo, J. (1993). Reclaiming the American
Right: The lost legacy of the conservative movement. ISI Books.
Rawls, J. (1971). A theory of justice.
Harvard University Press.
Rothbard, M. N. (1973). For a new liberty: The
libertarian manifesto. Macmillan.
Rothbard, M. N. (1982). The ethics of liberty.
Humanities Press.
Sandel, M. (1982). Liberalism and the limits of
justice. Cambridge University Press.
Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness.
Washington Square Press.
Sen, A. (1999). Development as freedom.
Anchor Books.
Sen, A. (2002). Rationality and freedom.
Harvard University Press.
Sirico, R. (2012). Defending the free market:
The moral case for a free economy. Regnery Publishing.
Smith, A. (1776). An inquiry into the nature and
causes of the wealth of nations. W. Strahan and T. Cadell.
Standing, G. (2011). The precariat: The new
dangerous class. Bloomsbury Academic.
Taylor, C. (1989). Sources of the self: The
making of the modern identity. Harvard University Press.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance
capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power.
PublicAffairs.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar