Filsafat Islam Abad Pertengahan
Sintesis Akal dan Wahyu dalam Tradisi Intelektual Dunia
Islam
Alihkan ke: SKS Kuliah S1 Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif
perkembangan Filsafat Islam Abad Pertengahan sebagai fase paling signifikan
dalam sejarah intelektual Islam, di mana terjadi sintesis antara rasionalitas
Yunani dan spiritualitas Islam. Melalui pendekatan historis-filosofis, tulisan
ini menelusuri landasan genealogis, struktur ontologis, kerangka epistemologis,
serta dimensi aksiologis dari tradisi filsafat Islam yang berkembang sejak masa
Dinasti Abbasiyah hingga puncaknya pada era Andalusia. Pembahasan meliputi
kontribusi para pemikir utama seperti al-Kindī, al-Fārābī, Ibn
Sīnā, al-Ghazālī, Suhrawardī, dan Ibn Rushd, serta
sintesis lanjutannya dalam ḥikmah al-muta‘āliyah karya Mulla Ṣadrā.
Analisis menunjukkan bahwa filsafat Islam tidak
hanya berfungsi sebagai sistem rasional, tetapi juga sebagai kerangka spiritual
dan moral yang menegaskan kesatuan antara akal (‘aql) dan wahyu (naql).
Paradigma ini melahirkan pandangan dunia tauhid (weltanschauung al-tawḥīd)
yang memadukan ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam satu kesatuan
integral. Tradisi filsafat Islam juga menampilkan dinamika kritik dan
klarifikasi filosofis yang konstruktif—seperti dialog antara al-Ghazālī dan Ibn
Rushd—yang memperlihatkan watak reflektif dan autokorektif dari peradaban
Islam.
Dalam konteks kontemporer, warisan filsafat Islam
memiliki relevansi mendalam terhadap krisis epistemologis dan moral dunia
modern. Ia menawarkan paradigma pengetahuan yang integratif, di mana
ilmu pengetahuan, etika, dan spiritualitas bersumber dari prinsip tauhid.
Dengan menolak dikotomi antara sains dan agama, rasionalitas dan wahyu,
filsafat Islam Abad Pertengahan memperlihatkan bahwa puncak pengetahuan adalah
kebijaksanaan (ḥikmah)—sebuah kesatuan antara berpikir, beriman, dan
berbuat yang mengarahkan manusia menuju kesempurnaan eksistensial dan kebenaran
Ilahi.
Kata Kunci: Filsafat Islam, Abad Pertengahan, Akal dan Wahyu,
Ontologi Islam, Epistemologi Iluminatif, Aksiologi Tauhid, al-Fārābī, Ibn Sīnā,
al-Ghazālī, Ibn Rushd, Mulla Ṣadrā.
PEMBAHASAN
Signifikansi Filsafat Islam Abad Pertengahan bagi
Peradaban Manusia
1.
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Historis
Filsafat Islam Abad
Pertengahan merupakan salah satu fase paling produktif dalam sejarah
intelektual manusia. Ia berkembang dalam konteks peradaban Islam klasik yang
mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah (750–1258 M). Periode ini
ditandai oleh kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan, seni, sastra, dan terutama
kegiatan filsafat yang menjembatani warisan intelektual Yunani dengan tradisi
teologis Islam. Bayt al-Ḥikmah di Baghdad menjadi pusat penerjemahan
besar-besaran karya Aristoteles, Plato, Plotinus, dan Galen ke dalam bahasa
Arab, yang kemudian ditafsirkan ulang dalam kerangka epistemologi Islam oleh
para pemikir seperti al-Kindī, al-Fārābī, Ibn Sīnā, dan Ibn Rushd.¹
Kemunculan filsafat
Islam tidak dapat dipisahkan dari dorongan religius untuk memahami hubungan
antara akal
(‘aql) dan wahyu (naql). Para filosof
Muslim berupaya menunjukkan bahwa rasio bukanlah pesaing wahyu, melainkan
instrumen untuk menyingkap hikmah Ilahi.² Namun, dinamika ini juga menimbulkan
ketegangan epistemologis antara para mutakallimūn (teolog) yang
menekankan supremasi wahyu, dan para filosof yang menekankan otonomi akal.³
1.2.
Rumusan Masalah
Pertanyaan mendasar
yang muncul dalam kajian filsafat Islam Abad Pertengahan adalah: bagaimana
integrasi antara rasionalitas filosofis dan spiritualitas keagamaan dapat
diwujudkan tanpa menafikan salah satunya? Bagaimana para pemikir Muslim
mengadaptasi logika Aristoteles, metafisika Neoplatonik, dan teologi Qur’ani
dalam satu sistem pemikiran yang utuh? Kajian ini bertujuan menelusuri jalan
sintesis itu, baik secara historis maupun konseptual, guna memahami corak khas hikmah
Islāmiyyah sebagai pandangan dunia yang rasional sekaligus
spiritual.⁴
1.3.
Tujuan Kajian
Tujuan utama kajian
ini adalah:
1)
Menelusuri akar historis dan
genealogis perkembangan filsafat Islam Abad Pertengahan.
2)
Mengidentifikasi tema-tema
ontologis, epistemologis, dan aksiologis utama dalam karya para filosof Muslim
klasik.
3)
Menilai kontribusi intelektual
mereka terhadap filsafat global, termasuk pengaruhnya terhadap skolastisisme
Latin dan rasionalisme Eropa.⁵
4)
Menyajikan relevansi kontemporer
dari sintesis akal-wahyu bagi tantangan etika, sains, dan spiritualitas modern.
1.4.
Metodologi Kajian
Kajian ini
menggunakan pendekatan historis-filosofis dan analisis
tekstual-komparatif. Pendekatan historis digunakan untuk
menelusuri konteks kemunculan ide dan interaksi lintas budaya antara peradaban
Yunani, Persia, India, dan Islam. Pendekatan filosofis digunakan untuk menelaah
struktur konseptual dari teks-teks utama seperti al-Madīnah al-Fāḍilah karya
al-Fārābī, al-Shifā’
karya Ibn Sīnā, Tahāfut al-Falāsifah karya
al-Ghazālī, dan Tahāfut al-Tahāfut karya Ibn
Rushd.⁶ Analisis komparatif diperlukan untuk memahami dialektika internal
antara filsafat dan kalam, serta hubungan timbal balik antara filsafat Islam
Timur (Mashriq) dan Andalusia (Maghrib).⁷
Dengan demikian,
bagian pendahuluan ini bukan sekadar membuka wacana historis, tetapi juga
menetapkan kerangka konseptual bagi pemahaman integratif tentang filsafat Islam
Abad Pertengahan—sebuah sintesis kreatif antara rasionalitas Yunani, spiritualitas Qur’ani, dan
keunikan pengalaman sejarah umat Islam.
Footnotes
[1]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic
Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbāsid Society (2nd–4th/8th–10th
Centuries) (London: Routledge, 1998), 34–39.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of
New York Press, 2006), 12–15.
[3]
Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy
(Cambridge: Polity Press, 1999), 44–46.
[4]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 18–22.
[5]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
87–95.
[6]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London: Routledge, 1992), 5–10.
[7]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 101–108.
2.
Landasan Historis dan Genealogis
2.1.
Awal Mula dan Konteks Peradaban
Filsafat Islam Abad
Pertengahan lahir dari sebuah konteks historis yang kompleks, di mana peradaban
Islam menjadi pusat gravitasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan dunia. Setelah
penaklukan besar-besaran pada abad ke-7 dan 8, wilayah Islam membentang dari
Andalusia di barat hingga Asia Tengah di timur. Dalam situasi ini, muncul
kebutuhan epistemik untuk mengintegrasikan beragam tradisi intelektual yang
diwarisi dari Yunani, Persia, dan India.¹
Pada masa kekuasaan
Dinasti Abbasiyah, terutama di bawah kepemimpinan khalifah al-Ma’mūn (813–833
M), didirikan lembaga legendaris Bayt al-Ḥikmah di Baghdad yang
berfungsi sebagai pusat penerjemahan dan penelitian.² Di sinilah berlangsung
apa yang oleh sejarawan ilmu disebut sebagai Gerakan Penerjemahan Yunani-Arab
(Graeco-Arabic Translation Movement), yaitu proses sistematis untuk mentransfer
ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab.³ Karya-karya besar
seperti Metafisika
Aristoteles, Timaeus Plato, dan Enneads
Plotinus (yang dikenal di dunia Arab sebagai Theologia Aristotelis) menjadi
fondasi bagi kebangkitan intelektual Islam.⁴
Perpaduan antara
semangat religius Islam dan rasionalitas Yunani menghasilkan suatu sintesis
epistemik yang unik. Para cendekiawan Muslim tidak hanya menerjemahkan, tetapi
juga menafsirkan dan mengembangkan gagasan-gagasan tersebut sesuai dengan
pandangan dunia Islam.⁵ Dari sinilah muncul generasi filosof Muslim awal
seperti al-Kindī (w. 873 M), yang dikenal sebagai “Filosof Pertama Islam”,
diikuti oleh al-Fārābī, Ibn Sīnā, al-Ghazālī, dan Ibn Rushd yang masing-masing
mewakili fase perkembangan filosofis yang berbeda, namun saling terhubung dalam
sebuah garis genealogis yang panjang.⁶
2.2.
Dinamika Intelektual di Timur dan Barat Islam
Wilayah Timur Islam
(Mashriq), terutama Baghdad, Khurasan, dan Bukhara, menjadi pusat awal
perkembangan filsafat rasional. Tokoh-tokoh seperti al-Fārābī dan Ibn Sīnā
mengembangkan sistem metafisika dan epistemologi yang terinspirasi oleh
Aristoteles dan Neoplatonisme, namun dikontekstualisasikan dengan teologi
Islam.⁷ Sementara itu, wilayah Barat Islam (Maghrib dan Andalusia) melahirkan
tradisi rasionalisme baru yang menekankan koherensi logika dan harmonisasi antara
filsafat dan syariat, sebagaimana tampak pada karya Ibn Bājja, Ibn Ṭufayl, dan
terutama Ibn Rushd.⁸
Andalusia pada abad
ke-11 hingga 13 menjadi jembatan penting antara peradaban Islam dan Eropa
Latin. Melalui kota-kota seperti Córdoba dan Toledo, teks-teks Arab
diterjemahkan kembali ke bahasa Latin, memperkenalkan Eropa pada karya-karya
Ibn Sīnā dan Ibn Rushd yang kemudian mempengaruhi tokoh-tokoh besar skolastik
seperti Thomas Aquinas, Albertus Magnus, dan Duns Scotus.⁹ Dengan demikian,
filsafat Islam tidak hanya membentuk identitas intelektual dunia Islam sendiri,
tetapi juga memberikan kontribusi mendasar terhadap kelahiran filsafat modern
di Barat.¹⁰
2.3.
Interaksi antara Filsafat, Kalam, dan Tasawuf
Perkembangan
filsafat Islam tidak berjalan secara terpisah dari teologi (kalam)
dan tasawuf. Meskipun para filosof berusaha mempertahankan otonomi akal, mereka
tetap berinteraksi dengan arus teologis seperti Mu‘tazilah dan Asy‘ariyyah yang
menafsirkan wahyu secara rasional.¹¹ Mu‘tazilah, misalnya, menegaskan konsep
keadilan Ilahi dan kebebasan manusia yang menuntut rasionalitas dalam memahami
teks-teks suci.¹² Sebaliknya, Asy‘ariyyah mencoba menengahi antara rasionalitas
dan teologis dengan menegaskan bahwa akal dapat memahami realitas sejauh ia
tunduk pada batas wahyu.¹³
Di sisi lain,
tradisi mistis (tasawuf) juga mempengaruhi horizon filsafat Islam. Tokoh-tokoh
seperti al-Ghazālī dan Suhrawardī menolak reduksi rasional semata dan
menekankan dimensi ma‘rifah (pengetahuan intuitif).¹⁴
Dalam konteks genealogis, perkembangan ini menandai pergeseran dari
rasionalisme murni Ibn Sīnā menuju iluminasionisme (ishrāqiyyah) yang menekankan
hubungan antara akal dan cahaya spiritual.¹⁵
Pewarisan dan Transformasi Pemikiran
Rantai intelektual
filsafat Islam Abad Pertengahan membentuk semacam ekosistem pemikiran yang
berkelanjutan. Dari al-Kindī yang membuka pintu rasionalitas, ke al-Fārābī yang
mensistematisasi logika dan politik, kemudian ke Ibn Sīnā yang membangun sistem
metafisika yang rumit, hingga Ibn Rushd yang menyusun pembelaan rasional
terhadap filsafat dari serangan teolog.¹⁶ Setelah periode ini, muncul
transformasi pemikiran yang lebih spiritual melalui al-Suhrawardī dan puncaknya
dalam filsafat hikmah Mulla Ṣadrā (abad ke-17), yang mengintegrasikan rasionalitas,
intuisi, dan wahyu menjadi satu sistem metafisika yang komprehensif.¹⁷
Dengan demikian,
landasan historis dan genealogis filsafat Islam tidak hanya menandai perjalanan
intelektual dari penerjemahan ke sintesis, tetapi juga menggambarkan pergulatan
panjang umat Islam dalam mengharmoniskan akal, iman,
dan pengalaman
mistik sebagai tiga poros utama pencarian kebenaran.¹⁸
Footnotes
[1]
F. E. Peters, Aristotle and the Arabs: The Aristotelian Tradition
in Islam (New York: New York University Press, 1968), 21–25.
[2]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic
Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbāsid Society (2nd–4th/8th–10th
Centuries) (London: Routledge, 1998), 42–45.
[3]
A. I. Sabra, “The Appropriation and Subsequent Naturalization of Greek
Science in Medieval Islam,” History of Science 25, no. 3 (1987):
223–243.
[4]
Richard Walzer, “The Greek Legacy in Islam,” in The Cambridge
History of Islam, ed. P. M. Holt, Ann K. S. Lambton, and Bernard Lewis
(Cambridge: Cambridge University Press, 1970), 369–389.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 64–68.
[6]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 35–40.
[7]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London: Routledge, 1992), 55–62.
[8]
Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy
(Cambridge: Polity Press, 1999), 81–85.
[9]
Miguel Cruz Hernández, La Filosofía Árabe (Madrid: Alianza
Editorial, 1981), 143–150.
[10]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
102–108.
[11]
W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology
(Edinburgh: Edinburgh University Press, 1985), 58–61.
[12]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter Verlag, 1992), 13–19.
[13]
Harry Austryn Wolfson, The Philosophy of the Kalam (Cambridge,
MA: Harvard University Press, 1976), 47–53.
[14]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabī’s
Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press,
1989), 22–27.
[15]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 109–115.
[16]
Charles Genequand, “Al-Fārābī and the Aristotelian Tradition,” in The
Cambridge Companion to Arabic Philosophy, ed. Peter Adamson and Richard C.
Taylor (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 32–54.
[17]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 11–16.
[18]
Hossein Ziai, “The Source and Nature of Authority: A Study of
Suhrawardī’s Illuminationist Political Doctrine,” in The Political Aspects
of Islamic Philosophy, ed. Charles E. Butterworth (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 1992), 305–331.
3.
Ontologi: Struktur Realitas dan Konsep Wujud
3.1.
Ontologi Aristotelian dan Neoplatonik dalam
Islam
Ontologi filsafat
Islam Abad Pertengahan berakar kuat pada warisan Aristotelian
dan Neoplatonik
yang diadaptasi melalui proses penerjemahan dan reinterpretasi. Dalam konteks
Aristotelian, realitas dipahami sebagai himpunan entitas yang tersusun
hierarkis berdasarkan esensi dan aksiden, serta relasi antara substansi (jawhar)
dan aksiden (‘araḍ).¹ Namun, ketika filsafat
Yunani memasuki dunia Islam, konsep ini mengalami transformasi konseptual
melalui lensa teologis dan spiritual Islam.
Neoplatonisme
memberikan pengaruh yang signifikan dalam gagasan tentang emanasi (fayḍ),
yaitu pandangan bahwa segala sesuatu yang ada memancar dari Sumber Pertama (al-Wājib
al-Wujūd) secara hierarkis tanpa mengurangi kesempurnaan-Nya.² Model emanasi
ini, yang berakar pada Enneads Plotinus, kemudian
diislamkan oleh para filosof Muslim seperti al-Fārābī dan Ibn Sīnā dengan
menggantikan prinsip metafisis Yunani dengan konsep Ketuhanan yang personal dan
transenden.³ Dalam kerangka ini, Tuhan bukan hanya “yang Ada Pertama”, tetapi juga “yang Menghendaki Adanya
segala sesuatu.” Ontologi Islam dengan demikian memadukan antara struktur
hierarkis kosmos dan keesaan mutlak Tuhan.⁴
3.2.
Konsep Wujud menurut al-Fārābī, Ibn Sīnā, dan
Ibn Rushd
Dalam filsafat
Islam, konsep
wujūd (being) menempati posisi sentral yang menentukan struktur
seluruh realitas. Al-Fārābī (w. 950 M) menegaskan
bahwa wujud terbagi menjadi dua kategori: wujud yang niscaya (wājib
al-wujūd) dan wujud yang mungkin (mumkin al-wujūd).⁵ Tuhan merupakan
satu-satunya entitas yang wujudnya niscaya karena keberadaannya berasal dari
diri-Nya sendiri, sedangkan segala yang lain bergantung pada-Nya. Pandangan ini
memberikan dasar metafisis bagi tauhid filosofis, yaitu pemahaman rasional
terhadap keesaan Tuhan.
Ibn Sīnā
(w. 1037 M) menyempurnakan kerangka tersebut dengan membedakan secara tegas
antara esensi
(māhiyyah) dan eksistensi (wujūd).⁶
Menurutnya, dalam segala sesuatu yang mungkin ada, esensi tidak mengandung
keberadaan secara inheren—ia memerlukan sebab eksternal untuk mewujud.⁷ Hanya
Tuhan yang merupakan wājib al-wujūd bi dhātihi (niscaya
karena diri-Nya), sementara entitas lain adalah wājib bi ghayrihi (niscaya karena
sebab lain). Struktur realitas Ibn Sīnā membentuk metafisika yang
berlapis-lapis, di mana dunia intelek, jiwa, dan materi merupakan tahapan
emanasi dari Tuhan menuju pluralitas yang teratur.⁸
Sementara itu, Ibn
Rushd (w. 1198 M) menolak aspek-aspek emanasionis yang
berlebihan dan menekankan koherensi rasional antara Tuhan dan alam.⁹ Ia
menegaskan bahwa hubungan Tuhan dengan dunia bukanlah hubungan emanasi
metaforis, melainkan hubungan sebab-akibat yang rasional dan abadi.¹⁰ Dengan
pendekatan yang lebih Aristotelian, Ibn Rushd menolak dualisme antara
eksistensi dan esensi yang dikembangkan Ibn Sīnā, dan menegaskan bahwa realitas
bersifat aktual dan imanen dalam bentuk materi yang teratur menurut hukum
alam.¹¹ Melalui pemikiran Ibn Rushd, ontologi Islam memperoleh bentuk yang
lebih empiris dan naturalistik tanpa kehilangan fondasi teologisnya.
3.3.
Teologi Ontologis: Hubungan Tuhan dan Alam
Salah satu
perdebatan besar dalam filsafat Islam Abad Pertengahan berkaitan dengan hubungan
antara Tuhan dan alam—apakah alam bersifat qadīm (kekal) atau ḥādith
(diciptakan).¹² Para filosof seperti al-Fārābī dan Ibn Sīnā cenderung memandang
alam sebagai kekal dalam bentuknya, tetapi bergantung pada Tuhan sebagai sebab
pertama.¹³ Pandangan ini bertolak belakang dengan posisi teolog Asy‘ariyyah dan
al-Ghazālī, yang menegaskan bahwa alam memiliki permulaan temporal karena
diciptakan dari ketiadaan (ex nihilo).¹⁴
Dalam Tahāfut
al-Falāsifah, al-Ghazālī menolak doktrin
kekekalan alam dengan argumen bahwa penciptaan merupakan tindakan kehendak
Tuhan yang bebas, bukan akibat niscaya dari kodrat Ilahi.¹⁵ Ia menuduh para
filosof telah meniadakan kekuasaan Tuhan dengan menjadikan alam sebagai
konsekuensi otomatis dari-Nya. Sebagai tanggapan, Ibn
Rushd dalam Tahāfut al-Tahāfut menegaskan bahwa
filsafat tidak bertentangan dengan wahyu, dan bahwa konsep kekekalan alam harus
dipahami bukan secara temporal, tetapi sebagai keteraturan abadi dari kehendak
Tuhan yang selalu aktif.¹⁶ Perdebatan ini menunjukkan bahwa ontologi Islam
bergerak di antara dua kutub: transendensi Tuhan yang absolut dan immanensi
hukum kosmos yang rasional.
3.4.
Realitas, Jiwa, dan Hirarki Kosmos
Struktur realitas
dalam filsafat Islam tidak hanya mencakup entitas fisik dan metafisik, tetapi
juga dimensi psikis dan spiritual. Menurut Ibn Sīnā, jiwa
(nafs) merupakan substansi non-material yang memiliki kedudukan
perantara antara intelek aktif dan dunia materi.¹⁷ Jiwa manusia mampu mencapai
kesempurnaan dengan menyatu pada akal aktif (‘aql fa‘‘āl), yang merupakan
pancaran langsung dari sumber Ilahi. Dalam sistem Suhrawardī, hubungan ini
diterjemahkan dalam bentuk hierarki cahaya: dari Cahaya Mutlak (Nūr al-Anwār)
hingga cahaya-cahaya partikular yang membentuk alam inderawi.¹⁸
Struktur ontologis
ini menggambarkan dunia sebagai jaringan eksistensi yang terhubung secara
hierarkis dan dinamis, di mana setiap tingkatan realitas memiliki tingkat
kesempurnaan dan intensitas wujud yang berbeda. Dengan demikian, ontologi Islam
bukan hanya teori tentang “ada”, melainkan juga pandangan metafisik
tentang proses menjadi (ṣayrūrah),
yang mengandung dimensi spiritual dan teleologis menuju kesempurnaan Ilahi.¹⁹
Ontologi dan Tauhid: Kesatuan Wujud
Puncak refleksi
ontologis dalam tradisi Islam terletak pada gagasan kesatuan
wujud (waḥdat al-wujūd) yang berkembang melalui Ibn al-‘Arabī
dan diteruskan oleh Mulla Ṣadrā.²⁰ Walaupun muncul setelah periode klasik, ide
ini merupakan konsekuensi logis dari evolusi pemikiran metafisis sebelumnya.
Mulla Ṣadrā, melalui al-Asfār al-Arba‘ah, menyatukan
prinsip rasional Ibn Sīnā, iluminasi Suhrawardī, dan mistisisme Ibn al-‘Arabī
ke dalam sistem filsafat ḥikmah al-muta‘āliyah.²¹ Dalam
sistemnya, wujud dipahami sebagai realitas tunggal dengan gradasi intensitas
yang berbeda (tashkīk al-wujūd), bukan sebagai
banyak entitas yang terpisah.²²
Konsep ini menjadi
simbol kedewasaan ontologi Islam: realitas adalah pancaran tunggal dari Tuhan,
sementara segala keberagaman hanyalah manifestasi tingkat wujud yang berbeda.²³
Dengan demikian, filsafat Islam Abad Pertengahan telah membangun suatu kerangka
metafisis yang tidak hanya menjelaskan eksistensi, tetapi juga mengaitkannya
dengan tujuan spiritual tertinggi—penyatuan manusia dengan sumber realitas,
yaitu Tuhan.
Footnotes
[1]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon
Press, 1924), 1026a–1027b.
[2]
Plotinus, The Enneads, trans. A. H. Armstrong (Cambridge, MA:
Harvard University Press, 1966), V.1.
[3]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic
Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbāsid Society (2nd–4th/8th–10th
Centuries) (London: Routledge, 1998), 87–91.
[4]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of
New York Press, 2006), 35–40.
[5]
Al-Fārābī, Kitāb al-Ḥurūf, ed. Muhsin Mahdi (Beirut: Dar
el-Machreq, 1969), 72–75.
[6]
Avicenna (Ibn Sīnā), al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: al-Hay’a al-‘Āmma li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyya, 1960),
21–23.
[7]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London: Routledge, 1992), 64–69.
[8]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 87–92.
[9]
Ibn Rushd (Averroes), Tahāfut al-Tahāfut, trans. Simon van den
Bergh (London: Luzac, 1954), 288–292.
[10]
Oliver Leaman, A Brief Introduction to Islamic Philosophy
(Cambridge: Polity Press, 1999), 106–111.
[11]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
131–135.
[12]
W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology (Edinburgh:
Edinburgh University Press, 1985), 97–101.
[13]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter Verlag, 1992), 43–48.
[14]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut:
Imprimerie Catholique, 1927), 32–35.
[15]
Ibid., 68–72.
[16]
Ibn Rushd, Tahāfut al-Tahāfut, 315–322.
[17]
Avicenna, De Anima (from Kitāb al-Shifā’), trans.
Fazlur Rahman (London: Oxford University Press, 1959), 45–50.
[18]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 122–126.
[19]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 155–161.
[20]
William Chittick, The Self-Disclosure of God: Principles of Ibn
al-‘Arabī’s Cosmology (Albany: State University of New York Press, 1998),
18–25.
[21]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002), 3:12–19.
[22]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 57–61.
[23]
Hossein Ziai, “The Metaphysics of Light in Illuminationist Philosophy,”
Islamic Studies 18, no. 3 (1979): 215–230.
4.
Epistemologi: Rasio, Wahyu, dan Ilmu
4.1.
Rasionalitas dan Struktur Pengetahuan dalam Filsafat
Islam
Epistemologi
filsafat Islam Abad Pertengahan menempati posisi sentral dalam upaya
mengharmoniskan akal (‘aql) dan wahyu
(naql) sebagai dua sumber kebenaran. Para filosof Muslim
menganggap pengetahuan sebagai hasil keterlibatan aktif akal manusia dalam
memahami realitas ciptaan Tuhan. Dalam kerangka ini, akal bukanlah pesaing
wahyu, melainkan instrumen ilahiah yang memungkinkan manusia menyingkap tatanan
rasional semesta.¹
Menurut al-Fārābī
(w. 950 M), seluruh bentuk pengetahuan dapat ditelusuri dari struktur
rasionalitas universal yang memancar dari ‘Aql Fa‘‘āl (Akal Aktif).² Akal
manusia yang berpotensi (‘aql bi al-quwwah) dapat mencapai
aktualitas penuh (‘aql bi al-fi‘l) melalui penyucian
intelek dan penghayatan terhadap tatanan kosmos.³ Dengan demikian, pengetahuan
bukan sekadar akumulasi data, tetapi proses eksistensial yang menyatukan
manusia dengan sumber intelek universal.
Sementara itu, Ibn Sīnā
(w. 1037 M) memperluas epistemologi al-Fārābī dengan membedakan antara tiga
bentuk pengetahuan: pengetahuan inderawi (ḥissiyyāt), pengetahuan rasional (‘aqlīyāt),
dan pengetahuan intuitif (ḥadsiyyāt).⁴ Pengetahuan inderawi
diperoleh melalui pengalaman empiris, namun bersifat terbatas dan temporal.
Akal mengabstraksi bentuk-bentuk universal dari data inderawi dan menyusunnya
ke dalam konsep-konsep yang stabil. Adapun pengetahuan intuitif merupakan
bentuk tertinggi dari pengetahuan manusia, diperoleh melalui iluminasi intelek
yang bersatu dengan Akal Aktif.⁵
4.2.
Wahyu sebagai Sumber Pengetahuan Transenden
Dalam perspektif
filsafat Islam, wahyu bukan hanya instruksi teologis, tetapi juga modus
pengetahuan yang melampaui rasio. Wahyu dianggap sebagai
pancaran langsung dari Akal Aktif kepada jiwa Nabi, yang memungkinkan
penerimaan kebenaran dalam bentuk simbolik dan imajinatif.⁶ Al-Fārābī
dalam al-Madīnah
al-Fāḍilah menegaskan bahwa Nabi dan filsuf sejatinya mengakses
sumber pengetahuan yang sama, namun mengekspresikannya dengan cara berbeda:
filsuf menggunakan konsep-konsep rasional, sedangkan Nabi menggunakan citra dan
simbol yang dapat dipahami masyarakat umum.⁷
Epistemologi wahyu
dalam filsafat Islam tidak menegasikan rasio, melainkan menempatkannya dalam
tatanan hierarkis. Rasio berfungsi untuk memahami dan menginterpretasikan makna
wahyu, sementara wahyu memberikan orientasi dan tujuan akhir bagi pengetahuan
rasional.⁸ Dalam pandangan Ibn Sīnā, hubungan wahyu dan
akal dapat dijelaskan sebagai kontinuitas antara ‘aql fa‘‘āl (akal kosmik) dengan quwwah
mutakhayyilah (daya imajinatif nabi).⁹ Pengetahuan kenabian adalah
bentuk tertinggi dari intuisi intelektual yang menyingkap kebenaran Ilahi
secara langsung tanpa perantaraan diskursif.¹⁰
4.3.
Kritik dan Pembaruan Epistemologis oleh
al-Ghazālī
Pemikiran al-Ghazālī
(w. 1111 M) menandai fase reflektif dalam epistemologi Islam, di mana ia
mengajukan kritik terhadap rasionalisme ekstrem sekaligus merumuskan sintesis
baru antara ilmu, iman, dan intuisi. Dalam al-Munqidh min al-Ḍalāl, al-Ghazālī
mengisahkan perjalanan intelektualnya dari skeptisisme menuju keyakinan mistik
melalui pengalaman langsung (dhawq).¹¹ Ia menolak klaim absolut
para filosof yang mengandalkan logika semata, karena menurutnya, akal memiliki
batas ontologis dalam menjangkau realitas metafisik.¹²
Dalam Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn, al-Ghazālī memperkenalkan epistemologi spiritual di
mana pengetahuan sejati (ma‘rifah) diperoleh melalui
penyucian hati dan iluminasi Ilahi.¹³ Ia menegaskan bahwa rasio hanya dapat
berfungsi efektif jika disinari oleh cahaya wahyu. Dengan demikian, ilmu dalam
pandangan al-Ghazālī bukan sekadar hasil rasionalitas, tetapi juga buah dari
kedekatan eksistensial manusia dengan Tuhan.¹⁴ Pendekatan ini melahirkan
sintesis epistemologis yang mempertemukan filsafat, teologi, dan tasawuf dalam
satu horizon pengetahuan yang saling melengkapi.
4.4.
Epistemologi Illuminasionis: Suhrawardī dan
Pengetahuan Melalui Cahaya
Perkembangan
berikutnya muncul dalam filsafat illuminasionisme (Ishrāqiyyah)
yang dikembangkan oleh Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī (w.
1191 M). Ia menolak rasionalisme murni Ibn Sīnā dan menggantikannya dengan
epistemologi cahaya, di mana pengetahuan sejati bukan hasil abstraksi logis,
melainkan penyingkapan langsung (mukāshafah)
terhadap realitas.¹⁵ Dalam Ḥikmat al-Ishrāq, Suhrawardī
menggambarkan pengetahuan sebagai bentuk partisipasi jiwa dalam intensitas
cahaya yang memancar dari Nūr al-Anwār (Cahaya Segala
Cahaya).¹⁶
Bagi Suhrawardī,
pengetahuan bersifat hadir (ḥuḍūrī), bukan representasional.
Artinya, mengetahui berarti hadir bersama realitas itu sendiri, bukan sekadar
membentuk konsep tentangnya.¹⁷ Model ini berbeda dari epistemologi Aristotelian
yang menekankan peran abstraksi intelektual. Dalam iluminasi, subjek dan objek
pengetahuan menyatu dalam kesadaran intuitif yang bercahaya.¹⁸ Epistemologi
Illuminasionis dengan demikian memperluas horizon rasionalitas Islam dengan
dimensi spiritual dan ontologis yang lebih dalam, memadukan logika, intuisi,
dan wahyu sebagai jalan pengetahuan yang saling berjalin.
4.5.
Dialektika Rasio dan Wahyu: Ibn Rushd dan
Koherensi Kebenaran
Sebagai penutup bab
ini, Ibn
Rushd (w. 1198 M) menghadirkan reinterpretasi kritis terhadap
relasi antara filsafat dan agama. Dalam Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa
al-Sharī‘ah min al-Ittiṣāl, ia menegaskan bahwa tidak
mungkin terdapat kontradiksi antara kebenaran rasional dan kebenaran wahyu,
karena keduanya berasal dari sumber yang sama—Tuhan.¹⁹ Bila tampak ada
pertentangan, hal itu disebabkan oleh keterbatasan interpretasi manusia
terhadap teks wahyu, bukan karena cacat dalam wahyu itu sendiri.²⁰
Ibn Rushd membedakan
antara tiga golongan manusia dalam memahami kebenaran: kalangan retoris (awam),
dialektis (teolog), dan demonstratif (filosof).²¹ Hanya golongan terakhir yang
mampu memahami makna terdalam dari wahyu melalui demonstrasi rasional (burhān).²²
Pandangan ini melahirkan epistemologi koherens yang menolak dikotomi antara
agama dan filsafat, serta menegaskan bahwa akal dan wahyu merupakan dua jalan
menuju satu kebenaran yang sama (al-ḥaqq wāḥid).²³
Implikasi Epistemologi Islam bagi Ilmu
Pengetahuan
Epistemologi Islam
abad pertengahan memiliki dampak luas terhadap perkembangan sains dan filsafat
di dunia Islam dan Barat. Gagasan tentang keteraturan alam sebagai manifestasi
kehendak Tuhan menginspirasi metode ilmiah yang rasional dan sistematis.²⁴ Konsep
wahyu sebagai sumber nilai dan orientasi memberikan kerangka etis bagi ilmu,
sehingga pengetahuan tidak sekadar bersifat utilitarian, tetapi juga berfungsi
untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan.²⁵
Dengan demikian,
epistemologi Islam tidak berhenti pada perdebatan antara akal dan wahyu,
melainkan menghadirkan model integratif pengetahuan yang menggabungkan dimensi
empiris, rasional, dan spiritual.²⁶ Dalam perspektif ini, ilmu tidak dapat
dilepaskan dari nilai moral dan tujuan metafisis, karena setiap pengetahuan
sejati adalah refleksi dari kebenaran Ilahi yang satu.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 45–49.
[2]
Al-Fārābī, Kitāb al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 57–59.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 93–97.
[4]
Avicenna (Ibn Sīnā), al-Shifā’: al-Nafs, ed. Ibrahim Madkour
(Cairo: al-Hay’a al-‘Āmma li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyya, 1952), 12–18.
[5]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London: Routledge, 1992), 73–78.
[6]
Henry Corbin, Avicenna and the Visionary Recital, trans.
Willard R. Trask (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1960), 41–47.
[7]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, 61–63.
[8]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 123–127.
[9]
Avicenna, al-Ishārāt wa al-Tanbīhāt, ed. Sulaymān Dunyā
(Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1957), 178–183.
[10]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
142–146.
[11]
Al-Ghazālī, al-Munqidh min al-Ḍalāl, ed. J. Saliba and K.
Ayyad (Beirut: Dār al-Andalus, 1967), 17–22.
[12]
W. Montgomery Watt, The Faith and Practice of al-Ghazālī
(London: George Allen & Unwin, 1953), 53–58.
[13]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 1 (Cairo: al-Maṭba‘ah
al-Amīriyyah, 1937), 25–28.
[14]
Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn
‘Arabī (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 94–99.
[15]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 108–113.
[16]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 170–174.
[17]
Hossein Ziai, “The Source and Nature of Authority: A Study of
Suhrawardī’s Illuminationist Doctrine,” in The Political Aspects of Islamic
Philosophy, ed. Charles E. Butterworth (Cambridge, MA: Harvard University
Press, 1992), 305–310.
[18]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabī’s
Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press,
1989), 56–61.
[19]
Ibn Rushd (Averroes), Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa
al-Sharī‘ah min al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959),
2–4.
[20]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 87–91.
[21]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl, 7–10.
[22]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism: A Short
Introduction (Oxford: Oneworld, 2000), 56–58.
[23]
Peter Adamson and Richard C. Taylor, eds., The Cambridge Companion
to Arabic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2005),
243–247.
[24]
A. I. Sabra, “Science and Philosophy in Medieval Islam,” in Encyclopaedia
of the History of Science, Technology, and Medicine in Non-Western Cultures,
ed. Helaine Selin (Dordrecht: Springer, 1997), 959–963.
[25]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 88–92.
[26]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
19–24.
5.
Aksiologi: Etika, Politik, dan Tujuan Hidup Manusia
5.1.
Landasan Aksiologis dalam Filsafat Islam
Aksiologi dalam
filsafat Islam Abad Pertengahan menempati posisi penting sebagai dimensi
normatif dari seluruh sistem filsafat. Bila ontologi membahas apa yang
ada, dan epistemologi membahas bagaimana mengetahui yang ada, maka
aksiologi berfokus pada untuk apa sesuatu itu ada—yakni
arah nilai, kebaikan, dan tujuan akhir kehidupan manusia.¹
Bagi para filosof
Muslim klasik, nilai tertinggi adalah al-khayr al-maḥḍ (kebaikan murni),
yang hakikatnya identik dengan Tuhan sebagai sumber segala kesempurnaan.² Oleh
karena itu, seluruh dimensi etika dan politik diarahkan untuk mengantar manusia
kepada sa‘ādah
(kebahagiaan), yang dipahami bukan hanya sebagai kenikmatan jasmani atau
kesuksesan sosial, tetapi sebagai realisasi tertinggi dari potensi intelektual
dan spiritual manusia.³ Kebahagiaan sejati (sa‘ādah ḥaqīqiyyah) hanya dapat
dicapai melalui penyatuan dengan Akal Aktif (al-‘aql al-fa‘‘āl) dan pengetahuan
langsung tentang realitas Ilahi.⁴
5.2.
Etika Rasional dan Konsep Kebajikan
Dalam sistem etika al-Fārābī
(w. 950 M), manusia merupakan makhluk rasional yang memiliki tujuan moral yang
terarah pada penyempurnaan diri (kamāl al-insān).⁵ Ia mengembangkan
teori kebajikan yang berakar pada filsafat Aristoteles namun disesuaikan dengan
prinsip-prinsip Islam. Menurutnya, kebajikan sejati tidak semata-mata terletak
pada tindakan, melainkan pada keteraturan rasional jiwa yang menuntun tindakan
tersebut.⁶
Etika al-Fārābī
menekankan hubungan erat antara moralitas dan pengetahuan. Jiwa yang terdidik
secara intelektual akan mengetahui tujuan sejati dari hidup dan bertindak
sesuai dengan tatanan rasional alam semesta.⁷ Dalam pandangannya, kejahatan
bukanlah realitas positif, tetapi hasil dari ketidaktahuan dan
ketidakseimbangan dalam struktur jiwa.⁸ Maka, pendidikan moral adalah
pendidikan rasional, yang memungkinkan manusia mengenali kebaikan melalui
pengetahuan dan kemudian mengaktualisasikannya dalam tindakan.
Ibn
Miskawayh (w. 1030 M) memperdalam pandangan ini dalam Tahdhīb
al-Akhlāq, dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara tiga
daya jiwa: rasional, emosional, dan nafsu.⁹ Ia mengadopsi teori “jalan
tengah” Aristoteles dan memadukannya dengan nilai Islam, menghasilkan
kerangka etika yang seimbang antara akal dan syariat.ⁱ⁰ Kebaikan utama,
menurutnya, terletak pada ‘adl (keadilan), yakni keseimbangan
dinamis di antara daya-daya jiwa tersebut.ⁱ¹
5.3.
Politik dan Etika Sosial: Negara sebagai Sarana
Kesempurnaan
Aksiologi Islam
tidak berhenti pada tataran individu, tetapi meluas ke ranah sosial dan
politik. Al-Fārābī dalam al-Madīnah
al-Fāḍilah menggambarkan masyarakat ideal sebagai komunitas rasional
yang diarahkan oleh seorang pemimpin yang bijaksana (al-ra’īs
al-awwal).ⁱ² Pemimpin ini, yang menyerupai figur nabi-filosof,
memiliki pengetahuan tentang kebenaran universal dan mampu menata kehidupan
masyarakat sesuai dengan prinsip kosmik.ⁱ³
Negara ideal
al-Fārābī bukan hanya entitas politik, tetapi wadah etis untuk mewujudkan
kebahagiaan kolektif. Ia membagi masyarakat menjadi beberapa tingkatan
berdasarkan kemampuan intelektual dan moral mereka: dari masyarakat sempurna (al-madīnah
al-fāḍilah) hingga masyarakat sesat (al-madīnah al-ḍāllah).ⁱ⁴ Dalam
sistem ini, politik menjadi sarana pedagogis untuk mengarahkan manusia menuju
kesempurnaan spiritual melalui tatanan sosial yang adil dan berilmu.ⁱ⁵
Ibn
Rushd (w. 1198 M) mengembangkan pemikiran politik yang lebih
realistis, terutama dalam komentarnya terhadap Politika Aristoteles.ⁱ⁶ Ia
menegaskan bahwa keadilan adalah prinsip utama yang menjamin keselarasan antara
individu dan masyarakat. Menurutnya, tatanan politik yang benar adalah yang
memungkinkan setiap individu mengembangkan potensi intelektualnya, sebab
manusia diciptakan untuk berpikir dan mencari kebenaran.ⁱ⁷ Oleh karena itu,
politik sejati adalah etika publik: sebuah tata nilai yang mengatur hubungan
manusia dalam kerangka kebaikan bersama.ⁱ⁸
5.4.
Etika Spiritualitas: Jalan al-Ghazālī dan
Suhrawardī
Dalam tahap
perkembangan berikutnya, al-Ghazālī (w. 1111 M)
mengintegrasikan dimensi spiritual ke dalam etika filosofis. Dalam Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn, ia membedakan antara dua jenis ilmu: ilmu lahir
(rasional dan syar‘i) dan ilmu batin (penyingkapan intuitif).ⁱ⁹ Etika sejati,
menurutnya, tidak cukup hanya dengan memahami konsep kebaikan, tetapi harus
disertai tazkiyah
al-nafs (penyucian jiwa) untuk mencapai ma‘rifah (pengetahuan Ilahi).²⁰
Al-Ghazālī menolak rasionalisme
moral yang kering dari dimensi spiritual, karena menurutnya, pengetahuan
tentang kebaikan tanpa cinta kepada Tuhan hanyalah formalitas intelektual.²¹
Dengan demikian, puncak kebahagiaan moral (sa‘ādah akhlāqiyyah) adalah cinta
Ilahi (maḥabbah
Allāh) yang melampaui keinginan duniawi.²²
Filsafat illuminasionisme
Suhrawardī kemudian memperluas horizon aksiologi Islam dengan
menafsirkan nilai sebagai intensitas cahaya.²³ Dalam sistem Ishrāqiyyah,
kebaikan tertinggi bukan sekadar kehendak moral, tetapi partisipasi ontologis
dalam cahaya Ilahi.²⁴ Manusia yang beretika adalah manusia yang bercahaya,
yakni yang menyerap dan memantulkan Nūr al-Anwār melalui amal dan
pengetahuan.²⁵ Dengan demikian, etika dalam filsafat Islam bukan sekadar sistem
normatif, tetapi perjalanan mistik menuju penyatuan dengan sumber kebenaran
mutlak.
Tujuan Hidup Manusia: Kebahagiaan dan
Kesempurnaan
Seluruh sistem
aksiologi Islam berpuncak pada gagasan sa‘ādah sebagai tujuan akhir
kehidupan manusia. Ibn Sīnā menafsirkan
kebahagiaan sebagai pencapaian pengetahuan tertinggi tentang Tuhan dan
penyatuan intelek manusia dengan Akal Aktif.²⁶ Kebahagiaan, bagi Ibn Sīnā,
adalah kondisi eksistensial yang dicapai melalui ilmu dan amal, bukan semata
akibat keberuntungan atau kenikmatan.²⁷
Sementara itu, Mulla Ṣadrā
(abad ke-17) mengintegrasikan seluruh tradisi sebelumnya dalam filsafat ḥikmah
al-muta‘āliyah. Ia menafsirkan kebahagiaan sebagai intensifikasi
wujud: semakin tinggi tingkat eksistensi manusia, semakin sempurna pula
kebahagiaannya.²⁸ Dalam kerangka ini, pengetahuan, moralitas, dan spiritualitas
bukanlah ranah yang terpisah, melainkan manifestasi dari satu realitas Ilahi
yang sama.²⁹
Dengan demikian,
aksiologi Islam Abad Pertengahan menghadirkan pandangan dunia yang integratif:
etika sebagai ilmu jiwa, politik sebagai etika sosial, dan kebahagiaan sebagai
puncak kesempurnaan manusia. Nilai, bagi para filosof Muslim, bukan sekadar
kategori moral, tetapi bentuk partisipasi manusia dalam kebenaran dan keindahan
Ilahi.³⁰
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 121–124.
[2]
Al-Fārābī, Kitāb al-Siyāsāt al-Madaniyyah, ed. Fauzi Najjar
(Beirut: Dār al-Mashriq, 1964), 8–10.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 145–150.
[4]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London: Routledge, 1992), 112–116.
[5]
Al-Fārābī, Kitāb al-Tanbīh ‘alā Sabīl al-Sa‘ādah, ed. Fauzi
Najjar (Beirut: Dār al-Mashriq, 1971), 3–6.
[6]
Richard Walzer, Al-Farabi on the Perfect State: Abu Nasr
al-Farabi’s Mabadi’ Ara’ Ahl al-Madina al-Fadila (Oxford: Clarendon Press,
1985), 86–90.
[7]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 103–106.
[8]
Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn
‘Arabī (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 65–69.
[9]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq, ed.
Constantin Zurayk (Beirut: Dār al-Maktabah al-Ḥadīthah, 1966), 15–22.
[10]
George F. Hourani, Islamic Rationalism: The Ethics of ‘Abd
al-Jabbar (Oxford: Clarendon Press, 1971), 121–123.
[11]
Majid Fakhry, Ethical Theories in Islam (Leiden: Brill, 1991),
52–56.
[12]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 73–80.
[13]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
168–171.
[14]
Al-Fārābī, Kitāb al-Siyāsāt al-Madaniyyah, 19–25.
[15]
Walzer, Al-Farabi on the Perfect State, 98–103.
[16]
Ibn Rushd (Averroes), Commentary on Aristotle’s Politics,
trans. Charles E. Butterworth (Princeton, NJ: Princeton University Press,
2001), 41–44.
[17]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 99–104.
[18]
Muhsin Mahdi, Alfarabi and the Foundation of Islamic Political
Philosophy (Chicago: University of Chicago Press, 2001), 212–217.
[19]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 3 (Cairo: al-Maṭba‘ah
al-Amīriyyah, 1937), 45–52.
[20]
W. Montgomery Watt, The Faith and Practice of al-Ghazālī
(London: George Allen & Unwin, 1953), 94–97.
[21]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State
University of New York Press, 1981), 77–81.
[22]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 4, 3–6.
[23]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 122–126.
[24]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 193–197.
[25]
Hossein Ziai, “The Metaphysics of Light in Suhrawardī’s Philosophy,” Islamic
Studies 18, no. 3 (1979): 215–222.
[26]
Avicenna (Ibn Sīnā), al-Shifā’: al-Nafs, ed. Ibrahim Madkour
(Cairo: al-Hay’a al-‘Āmma, 1952), 78–84.
[27]
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 157–160.
[28]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002), 2:18–23.
[29]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 89–95.
[30]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 132–136.
6.
Dimensi Sosial dan Intelektual
6.1.
Konteks Sosial Kemunculan Filsafat Islam
Filsafat Islam Abad
Pertengahan tidak berkembang di ruang hampa. Ia muncul dan berakar dalam struktur
sosial-politik peradaban Islam klasik yang ditandai oleh
kemakmuran ekonomi, kestabilan politik, dan dinamika intelektual yang luar
biasa.¹ Pada masa Dinasti Abbasiyah (750–1258 M), Baghdad menjadi pusat
intelektual dunia, di mana para ilmuwan, penerjemah, dan filosof dari berbagai
agama—Muslim, Kristen Nestorian, Yahudi, dan Zoroaster—berkolaborasi dalam
proyek ilmiah yang belum pernah terjadi sebelumnya.²
Proses urbanisasi
dan kemajuan pendidikan menciptakan lingkungan sosial yang
kondusif bagi pertumbuhan pemikiran rasional.³ Institusi seperti Bayt al-Ḥikmah
di Baghdad dan perpustakaan Córdoba di Andalusia menjadi tempat dialog lintas
disiplin antara ilmu agama dan ilmu rasional (‘ulūm al-‘aqlīyah).⁴ Dalam suasana
inilah filsafat Islam tidak hanya menjadi kegiatan spekulatif, tetapi juga
fenomena sosial yang memengaruhi pola pikir masyarakat, sistem pendidikan, dan
bahkan kebijakan pemerintahan.
6.2.
Madrasah, Ḥalaqah, dan Bayt al-Ḥikmah: Lembaga
Intelektual Islam
Salah satu ciri khas
dimensi sosial filsafat Islam adalah keberadaan lembaga-lembaga intelektual
yang menyebarkan ilmu pengetahuan. Bayt al-Ḥikmah berfungsi
sebagai pusat penerjemahan dan riset ilmiah yang melahirkan generasi sarjana
multikultural.⁵ Kegiatan di lembaga ini mempertemukan para pemikir Muslim
dengan tradisi filsafat Yunani dan Persia, serta memperluas horizon keilmuan
melalui penerjemahan karya-karya Aristoteles, Plato, Plotinus, dan Galen.⁶
Selain lembaga
negara, muncul pula madrasah dan ḥalaqah
sebagai wadah pendidikan intelektual yang lebih luas. Madrasah Nizamiyyah di
Baghdad, misalnya, memainkan peran penting dalam pembentukan wacana teologis
dan rasional, terutama setelah kehadiran tokoh seperti al-Ghazālī.⁷ Di sisi
lain, sistem ḥalaqah di masjid dan rumah para
ulama memperkuat tradisi diskusi terbuka yang menghubungkan ilmu agama dengan
filsafat.⁸
Kehadiran
lembaga-lembaga ini membentuk ekosistem ilmiah yang unik:
ilmu rasional tidak dipandang sebagai ancaman terhadap agama, tetapi sebagai
jalan untuk memahami hikmah Ilahi.⁹ Interaksi antara teolog, filosof, dokter,
dan astronom menghasilkan tradisi intelektual yang multidisipliner, di mana
batas antara sains, etika, dan teologi bersifat cair dan saling mengisi.¹⁰
6.3.
Hubungan antara Filsafat, Kalam, dan Tasawuf
Dimensi
sosial-intelektual filsafat Islam juga tampak dalam dialog
dialektis antara tiga tradisi besar: filsafat (falsafah),
teologi rasional (kalam), dan mistisisme (taṣawwuf).
Ketiganya tidak selalu saling meniadakan, tetapi justru sering berinteraksi
dalam pola kompetitif sekaligus kolaboratif.¹¹
Tradisi kalam
berfungsi sebagai benteng rasional terhadap serangan doktrin luar (terutama
dari kalangan ateis dan dualis), namun ia juga menjadi penghubung antara
ortodoksi agama dan pemikiran filosofis.¹² Mu‘tazilah, misalnya, mengembangkan
argumen teologis yang sangat rasional, seperti konsep keadilan Ilahi (‘adl)
dan kebebasan manusia (ikhtiyār).¹³ Kaum Asy‘ariyyah
kemudian menengahi dengan menegaskan bahwa rasio harus tunduk pada wahyu tanpa
meniadakan fungsinya sebagai alat penalaran teologis.¹⁴
Sementara itu, tasawuf
memperkaya wacana intelektual Islam dengan dimensi pengalaman spiritual.¹⁵ Para
sufi seperti al-Junayd, al-Ghazālī, dan Ibn al-‘Arabī menggabungkan perenungan
rasional dengan kasyf (penyingkapan batin),
sehingga melahirkan epistemologi intuisi yang melengkapi rasionalisme
filosofis.¹⁶ Dari sini lahir pendekatan integratif antara filsafat dan
mistisisme yang kelak diwujudkan dalam filsafat ḥikmah al-muta‘āliyah oleh Mulla Ṣadrā.¹⁷
6.4.
Andalusia dan Jaringan Intelektual
Trans-Regional
Salah satu puncak
dimensi sosial filsafat Islam adalah peradaban Andalusia (al-Andalus), yang
pada abad ke-10 hingga 13 menjadi jembatan antara dunia Islam Timur dan Eropa
Latin.¹⁸ Kota Córdoba, Toledo, dan Seville menjadi pusat interaksi antara
pemikir Muslim, Yahudi, dan Kristen.¹⁹ Di sinilah karya-karya Ibn Sīnā,
al-Fārābī, dan al-Ghazālī diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh
sarjana-sarjana seperti Gerard of Cremona dan Michael Scot.²⁰
Tokoh-tokoh seperti Ibn
Bājja (Avempace), Ibn Ṭufayl, dan Ibn
Rushd (Averroes) membangun tradisi filsafat yang menekankan
koherensi rasional antara agama dan sains.²¹ Melalui mereka, rasionalitas Islam
menjadi fondasi bagi renaisans intelektual Eropa,
terutama melalui pengaruh pada skolastisisme Thomas Aquinas dan Albertus
Magnus.²² Filsafat Islam di Andalusia dengan demikian bukan hanya fenomena lokal,
tetapi gerakan
global pengetahuan yang menembus batas-batas agama dan
geografis.²³
Peran Sosial Filosof dan Ulama: Intelektual
sebagai Pewaris Kenabian
Dalam pandangan para
pemikir Islam, intelektual (‘ālim dan ḥakīm)
memiliki kedudukan sosial yang istimewa sebagai pewaris tugas kenabian (warathat
al-anbiyā’).²⁴ Filsafat dipandang bukan hanya sebagai aktivitas
teoretis, melainkan tanggung jawab moral dan sosial
untuk menegakkan keadilan, menyebarkan pengetahuan, dan membimbing masyarakat
menuju kebenaran.²⁵
Al-Fārābī
menempatkan filsuf sebagai pemimpin ideal (al-ra’īs al-awwal) dalam negara
utama (al-madīnah
al-fāḍilah), yang mengatur masyarakat berdasarkan hikmah dan
kebajikan.²⁶ Al-Ghazālī menegaskan bahwa
ulama sejati adalah mereka yang tidak hanya memahami hukum lahir, tetapi juga
makna batin ilmu dan amal.²⁷ Sedangkan Ibn Rushd memandang peran
filosof sebagai penafsir rasional terhadap wahyu, yang bertugas menjelaskan
makna terdalam dari teks-teks suci kepada masyarakat berakal.²⁸
Dengan demikian,
keberadaan para cendekiawan bukan sekadar pengajar atau teolog, tetapi agen
transformasi sosial yang menjaga keseimbangan antara ilmu dan
moralitas.²⁹ Filsafat Islam menjadi wahana untuk membangun peradaban yang
berilmu dan beradab, di mana rasionalitas tidak terpisah dari spiritualitas,
dan pengetahuan selalu diarahkan kepada kemaslahatan manusia dan kemuliaan
Tuhan.³⁰
Footnotes
[1]
Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Conscience and
History in a World Civilization, vol. 2 (Chicago: University of Chicago
Press, 1974), 17–23.
[2]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic
Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbāsid Society (2nd–4th/8th–10th
Centuries) (London: Routledge, 1998), 65–68.
[3]
Hugh Kennedy, When Baghdad Ruled the Muslim World: The Rise and
Fall of Islam’s Greatest Dynasty (Cambridge, MA: Da Capo Press, 2005),
92–96.
[4]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 58–61.
[5]
A. I. Sabra, “The Appropriation and Subsequent Naturalization of Greek
Science in Medieval Islam,” History of Science 25, no. 3 (1987):
224–230.
[6]
Richard Walzer, “The Greek Legacy in Islam,” in The Cambridge
History of Islam, ed. P. M. Holt, Ann K. S. Lambton, and Bernard Lewis
(Cambridge: Cambridge University Press, 1970), 372–376.
[7]
George Makdisi, The Rise of Colleges: Institutions of Learning in
Islam and the West (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1981), 54–59.
[8]
W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology
(Edinburgh: Edinburgh University Press, 1985), 121–125.
[9]
Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of
New York Press, 1989), 97–100.
[10]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 143–147.
[11]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 171–176.
[12]
Harry Austryn Wolfson, The Philosophy of the Kalam (Cambridge,
MA: Harvard University Press, 1976), 83–89.
[13]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter Verlag, 1992), 43–45.
[14]
Watt, Islamic Philosophy and Theology, 128–132.
[15]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabī’s
Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press,
1989), 17–21.
[16]
Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn
‘Arabī (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 109–113.
[17]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 27–30.
[18]
Miguel Cruz Hernández, La Filosofía Árabe (Madrid: Alianza
Editorial, 1981), 178–183.
[19]
María Rosa Menocal, The Ornament of the World: How Muslims, Jews,
and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain (Boston:
Little, Brown, 2002), 45–49.
[20]
Charles Burnett, “The Coherence of the Arabic-Latin Translation Program
in Toledo in the Twelfth Century,” Science in Context 14, no. 1–2
(2001): 249–288.
[21]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 71–77.
[22]
Edward Grant, God and Reason in the Middle Ages (Cambridge:
Cambridge University Press, 2001), 101–105.
[23]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
192–197.
[24]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 89–91.
[25]
Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State University of
New York Press, 1981), 84–87.
[26]
Richard Walzer, Al-Farabi on the Perfect State: Abu Nasr
al-Farabi’s Mabadi’ Ara’ Ahl al-Madina al-Fadila (Oxford: Clarendon Press,
1985), 105–109.
[27]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 1 (Cairo: al-Maṭba‘ah
al-Amīriyyah, 1937), 21–25.
[28]
Ibn Rushd (Averroes), Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa
al-Sharī‘ah min al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959),
11–13.
[29]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 138–142.
[30]
Hodgson, The Venture of Islam, 28–32.
7.
Tokoh-Tokoh Sentral dan Sumbangan Intelektual
7.1.
Al-Kindī (801–873 M): Filosof Pertama Islam dan
Integrasi Awal antara Akal dan Wahyu
Abū Yūsuf Ya‘qūb ibn
Isḥāq al-Kindī sering disebut sebagai “Filosof Pertama Islam” (Faylasūf al-‘Arab)
karena menjadi pelopor sistematisasi filsafat Yunani dalam kerangka pemikiran
Islam.¹ Ia mengawali tradisi rasional Islam dengan keyakinan bahwa filsafat
tidak bertentangan dengan wahyu, melainkan sarana untuk memahami hikmah Tuhan.²
Dalam karyanya Fi al-Falsafah al-Ūlā dan Fi
al-‘Aql, al-Kindī berupaya menyelaraskan konsep metafisika
Aristoteles dengan teologi Islam, terutama dalam menjelaskan hubungan antara
Tuhan dan alam.³
Al-Kindī juga
memperkenalkan metode rasional dalam kosmologi Islam dengan menekankan prinsip kausalitas
dan keteraturan alam.⁴ Baginya, segala sesuatu memiliki sebab, dan sebab
pertama adalah Tuhan yang menciptakan alam melalui kehendak dan hikmah-Nya.⁵ Dengan
pendekatan ini, ia membuka jalan bagi integrasi antara filsafat dan kalam yang
kelak dikembangkan lebih kompleks oleh al-Fārābī dan Ibn Sīnā.⁶
7.2.
Al-Fārābī (872–950 M): Sintesis Rasional antara
Politik, Etika, dan Metafisika
Abū Naṣr al-Fārābī
dikenal sebagai “Guru Kedua” (al-Mu‘allim al-Thānī) setelah
Aristoteles, karena kemampuannya menyusun sistem filsafat yang utuh dan
koheren.⁷ Dalam karyanya al-Madīnah al-Fāḍilah, ia memadukan
metafisika, etika, dan politik dalam kerangka kosmologis yang hierarkis.⁸
Menurut al-Fārābī, tatanan sosial yang baik mencerminkan tatanan kosmos yang
rasional; sebagaimana alam diatur oleh Tuhan sebagai sebab pertama, masyarakat
pun harus diatur oleh pemimpin yang bijaksana (al-ra’īs al-awwal).⁹
Selain bidang
politik, kontribusi besar al-Fārābī terletak dalam logika.
Ia mengembangkan sistem logika yang lebih adaptif dibandingkan Aristoteles
dengan memperkenalkan terminologi Arab seperti qiyās, taṣawwur, dan taṣdīq
yang menjadi standar dalam tradisi mantiq Islam.¹⁰ Filsafatnya membentuk
fondasi bagi perkembangan logika dan epistemologi di dunia Islam hingga
berabad-abad kemudian.¹¹
7.3.
Ibn Sīnā (980–1037 M): Puncak Rasionalisme
Islam dan Sistem Metafisika Universal
Abū ‘Alī al-Ḥusayn
ibn Sīnā (Avicenna) adalah puncak dari tradisi rasionalisme Islam Abad
Pertengahan.¹² Ia mengembangkan sistem metafisika yang kompleks dalam al-Shifā’
dan al-Najāt,
yang menjelaskan struktur realitas melalui hubungan antara esensi
(māhiyyah) dan eksistensi (wujūd).¹³ Tuhan,
sebagai Wājib
al-Wujūd bi Dhātihi (Yang Wajib Ada karena Diri-Nya), menjadi sebab
utama bagi segala eksistensi lain yang bersifat mungkin (mumkin
al-wujūd).¹⁴
Dalam epistemologi,
Ibn Sīnā menegaskan peran akal aktif (al-‘aql al-fa‘‘āl)
sebagai sumber pengetahuan universal yang memancarkan bentuk-bentuk intelektual
ke dalam jiwa manusia.¹⁵ Ia membagi pengetahuan manusia ke dalam empat tahap
perkembangan akal: potensial, aktual, memperoleh, dan aktif.¹⁶ Sumbangan Ibn
Sīnā tidak hanya mendalam di bidang metafisika, tetapi juga dalam kedokteran,
psikologi, dan ilmu jiwa, sebagaimana terlihat dalam karya monumentalnya al-Qānūn
fī al-Ṭibb.¹⁷
Pemikirannya
menembus batas dunia Islam dan memengaruhi filsafat Latin abad pertengahan,
terutama melalui Thomas Aquinas, yang banyak mengadopsi struktur argumentasi
Avicennian dalam teologi skolastik.¹⁸
7.4.
Al-Ghazālī (1058–1111 M): Kritik Rasionalisme
dan Rekonsiliasi antara Filsafat dan Spiritualitas
Abū Ḥāmid al-Ghazālī
merupakan figur yang merekonsiliasi ketegangan antara rasionalitas filosofis
dan spiritualitas Islam.¹⁹ Dalam karyanya Tahāfut al-Falāsifah (“Keruntuhan
Para Filosof”), ia mengkritik tiga pandangan filsuf—kekekalan alam,
pengetahuan Tuhan tentang partikular, dan kebangkitan jasmani—sebagai
bertentangan dengan prinsip teologis.²⁰ Namun, kritik al-Ghazālī bukan
penolakan total terhadap filsafat, melainkan upaya menegaskan batas
epistemologis akal.²¹
Dalam Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn, ia mengintegrasikan etika, tasawuf, dan teologi
menjadi sistem spiritual yang menyeluruh.²² Pengetahuan sejati (ma‘rifah),
menurutnya, bukan sekadar hasil rasio diskursif, tetapi buah dari penyucian
jiwa yang disinari oleh cahaya Ilahi (nūr al-haqq).²³ Dengan demikian,
al-Ghazālī mengubah orientasi filsafat Islam dari rasionalisme murni menuju
epistemologi iluminatif yang menekankan dimensi moral dan batiniah.²⁴
7.5.
Suhrawardī (1154–1191 M): Filsafat Cahaya dan
Iluminasi Spiritual
Shihāb al-Dīn
al-Suhrawardī memperkenalkan filsafat iluminasi (ḥikmat al-ishrāq)
sebagai reaksi terhadap rasionalisme skolastik Avicennian.²⁵ Ia berupaya
menggabungkan filsafat rasional dengan pengalaman intuitif melalui konsep cahaya
(nūr) sebagai dasar segala eksistensi.²⁶ Dalam Ḥikmat
al-Ishrāq, Suhrawardī menggambarkan Tuhan sebagai Nūr
al-Anwār (Cahaya Segala Cahaya), dari mana seluruh realitas
memancar secara hierarkis.²⁷
Bagi Suhrawardī,
pengetahuan sejati diperoleh bukan melalui deduksi logis semata, melainkan
melalui penyingkapan langsung (mukāshafah).²⁸
Konsepnya tentang ‘ilm ḥuḍūrī (pengetahuan dengan
kehadiran) memengaruhi filsafat Islam berikutnya, terutama pada Mulla Ṣadrā.²⁹
Filsafat cahaya Suhrawardī membuka jalan bagi integrasi ontologi, epistemologi,
dan mistisisme dalam tradisi intelektual Islam.³⁰
7.6.
Ibn Rushd (1126–1198 M): Rasionalisme Andalusia
dan Pembelaan terhadap Filsafat
Abū al-Walīd Muḥammad
ibn Aḥmad Ibn Rushd (Averroes) dikenal sebagai rasionalis terbesar dunia Islam Barat.³¹
Dalam Tahāfut
al-Tahāfut (“Keruntuhan atas Keruntuhan”), ia membela
filsafat dari kritik al-Ghazālī dengan menegaskan bahwa wahyu dan akal berasal
dari sumber yang sama dan karena itu tidak mungkin bertentangan.³²
Dalam karya Faṣl
al-Maqāl, Ibn Rushd merumuskan teori kesatuan kebenaran (waḥdat al-ḥaqq):
kebenaran yang dicapai melalui demonstrasi rasional identik dengan kebenaran
wahyu.³³ Ia juga memperkenalkan prinsip hermeneutik filosofis dalam penafsiran
teks agama, di mana ayat-ayat yang tampak metaforis harus ditakwil agar selaras
dengan akal.³⁴
Sumbangan Ibn Rushd
melampaui dunia Islam; komentarnya atas Aristoteles menjadi rujukan utama di
universitas-universitas Eropa abad ke-13 hingga ke-16.³⁵ Melalui Averroisme
Latin, gagasannya memengaruhi pemikiran skolastik dan menyiapkan landasan bagi
rasionalisme modern di Barat.³⁶
Warisan Intelektual dan Jaringan Pengaruh
Rangkaian pemikiran
dari al-Kindī hingga Ibn Rushd membentuk rantai intelektual yang utuh,
menghubungkan teologi, sains, dan filsafat dalam satu sistem pengetahuan
integratif.³⁷ Di Timur Islam, warisan Ibn Sīnā dan Suhrawardī melahirkan
tradisi hikmah (ḥikmat al-muta‘āliyah) yang
kemudian dikembangkan oleh Mulla Ṣadrā pada abad ke-17.³⁸ Di Barat Islam,
rasionalisme Ibn Rushd membentuk dasar dialog antara Islam dan Eropa Latin.³⁹
Filsafat Islam Abad
Pertengahan dengan demikian bukan hanya refleksi teoritis, tetapi juga gerakan
sosial-intelektual yang melahirkan paradigma baru tentang hubungan antara
Tuhan, akal, dan manusia.⁴⁰
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 61–65.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of
New York Press, 2006), 17–21.
[3]
Al-Kindī, Rasā’il al-Kindī al-Falsafiyyah, ed. Muhammad ‘Abd
al-Hādī Abū Rīdah (Cairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 1950), 12–19.
[4]
F. E. Peters, Aristotle and the Arabs: The Aristotelian Tradition
in Islam (New York: New York University Press, 1968), 43–45.
[5]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 54–57.
[6]
Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of
New York Press, 1989), 81–84.
[7]
Richard Walzer, Al-Farabi on the Perfect State (Oxford:
Clarendon Press, 1985), 25–30.
[8]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 61–65.
[9]
Majid Fakhry, Ethical Theories in Islam (Leiden: Brill, 1991),
48–52.
[10]
Nicholas Rescher, Studies in the History of Arabic Logic
(Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 1963), 13–19.
[11]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of Philosophy
without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016), 115–120.
[12]
Lenn E. Goodman, Avicenna (London: Routledge, 1992), 3–8.
[13]
Avicenna (Ibn Sīnā), al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: al-Hay’a al-‘Āmma, 1960), 22–26.
[14]
Fazlur Rahman, Avicenna’s Psychology (London: Oxford
University Press, 1952), 89–93.
[15]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 131–136.
[16]
Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn ‘Arabī
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 22–25.
[17]
Avicenna, al-Qānūn fī al-Ṭibb, ed. Jamāl al-Dīn al-Qifṭī
(Beirut: Dār Ṣādir, 1982), 1:7–10.
[18]
Étienne Gilson, Reason and Revelation in the Middle Ages (New
York: Charles Scribner’s Sons, 1938), 65–70.
[19]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut:
Imprimerie Catholique, 1927), 28–33.
[20]
W. Montgomery Watt, The Faith and Practice of al-Ghazālī
(London: George Allen & Unwin, 1953), 55–60.
[21]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State
University of New York Press, 1981), 73–77.
[22]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 3 (Cairo: al-Maṭba‘ah
al-Amīriyyah, 1937), 41–45.
[23]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 142–146.
[24]
Nasr, Three Muslim Sages, 64–68.
[25]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 92–96.
[26]
Hossein Ziai, “The Source and Nature of Authority: A Study of
Suhrawardī’s Illuminationist Doctrine,” in The Political Aspects of Islamic
Philosophy, ed. Charles E. Butterworth (Cambridge, MA: Harvard University
Press, 1992), 308–312.
[27]
Corbin, History of Islamic Philosophy, 172–176.
[28]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabī’s
Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press,
1989), 48–52.
[29]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 14–18.
[30]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 95–98.
[31]
Ibn Rushd (Averroes), Tahāfut al-Tahāfut, trans. Simon van den
Bergh (London: Luzac, 1954), 112–117.
[32]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 89–93.
[33]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa al-Sharī‘ah min
al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959), 5–9.
[34]
Peter Adamson and Richard C. Taylor, eds., The Cambridge Companion
to Arabic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2005),
240–244.
[35]
Ernest Renan, Averroès et l’Averroïsme (Paris: Calmann Lévy,
1949), 66–72.
[36]
Edward Grant, God and Reason in the Middle Ages (Cambridge:
Cambridge University Press, 2001), 110–115.
[37]
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 189–194.
[38]
Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi, 21–27.
[39]
Menocal, The Ornament of the World (Boston: Little, Brown,
2002), 59–62.
[40]
Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present,
207–211.
8.
Kritik dan Klarifikasi Filosofis
8.1.
Latar Belakang Dialektika Kritik dalam Filsafat
Islam
Filsafat Islam Abad
Pertengahan tidak pernah menjadi sistem yang beku; ia adalah medan dialektika
antara rasionalisme dan teologi, antara deduksi logis dan wahyu Ilahi.¹ Tradisi
ini tumbuh dalam konteks sosial-intelektual yang dinamis, di mana para pemikir
Muslim tidak hanya menerjemahkan gagasan Yunani, tetapi juga menafsirkannya
secara kritis melalui lensa keislaman.² Kritik menjadi bagian integral dari
perkembangan pemikiran Islam—bukan sebagai bentuk penolakan terhadap filsafat,
tetapi sebagai upaya menjaga keseimbangan antara akal dan iman.³
Dalam konteks ini,
perdebatan antara filsafat (falsafah) dan teologi
(kalām) menjadi episentrum dialog intelektual Islam klasik.
Filsafat menawarkan rasionalitas universal, sedangkan kalam menegaskan keunikan
wahyu dan kemutlakan kehendak Tuhan.⁴ Perjumpaan dua kutub ini menghasilkan
ketegangan kreatif yang justru memperkaya tradisi intelektual Islam sepanjang
abad ke-9 hingga ke-13.⁵
8.2.
Kritik Teologis terhadap Filsafat: al-Ghazālī
dan Pembatasan Akal
Puncak kritik
terhadap filsafat rasionalistik muncul melalui karya monumental Abū Ḥāmid
al-Ghazālī (1058–1111 M), Tahāfut al-Falāsifah
(“Keruntuhan Para Filosof”).⁶ Dalam karya ini, ia menuduh para filsuf
seperti al-Fārābī dan Ibn Sīnā telah tergelincir ke dalam tiga kekufuran: (1)
keyakinan terhadap kekekalan alam, (2) pandangan bahwa Tuhan hanya mengetahui
hal-hal universal, bukan partikular, dan (3) penolakan terhadap kebangkitan
jasmani.⁷
Al-Ghazālī
menggunakan metode logika yang sangat rasional untuk menyerang filsafat—suatu
ironi intelektual yang memperlihatkan bahwa kritiknya bukanlah anti-rasional,
tetapi rasionalitas
dalam batas wahyu.⁸ Menurutnya, akal adalah alat penting untuk
memahami agama, namun tidak boleh menembus wilayah Ilahi yang hanya dapat
dijangkau melalui kasyf (penyingkapan spiritual).⁹
Kritiknya terhadap metafisika Avicennian menegaskan bahwa kesalahan para
filosof bukan karena penggunaan rasio, tetapi karena klaim mereka atas otonomi
rasio tanpa wahyu.¹⁰
Meskipun tajam,
kritik al-Ghazālī justru memicu renaisans epistemologis dalam
dunia Islam.¹¹ Ia mendorong lahirnya bentuk-bentuk filsafat baru yang lebih
sadar terhadap dimensi spiritual dan teologis, seperti iluminisme Suhrawardī
dan hikmah transendental Mulla Ṣadrā.¹²
8.3.
Klarifikasi Rasional: Ibn Rushd dan Pembelaan
terhadap Filsafat
Sebagai tanggapan
terhadap kritik al-Ghazālī, Ibn Rushd (Averroes) (1126–1198
M) menulis Tahāfut
al-Tahāfut (“Keruntuhan atas Keruntuhan”) untuk membela
rasionalitas filosofis.¹³ Ia menegaskan bahwa tidak mungkin terjadi kontradiksi
antara filsafat dan agama karena keduanya berakar pada sumber kebenaran yang
sama—Tuhan.¹⁴
Ibn Rushd membedakan
antara tiga tingkat epistemologis dalam memahami wahyu: tingkat retoris (awam),
dialektis (teolog), dan demonstratif (filosof).¹⁵ Hanya yang terakhir,
menurutnya, mampu memahami makna terdalam wahyu melalui metode demonstratif (burhān).¹⁶
Dengan demikian, filsafat tidak mengancam agama, tetapi justru menjadi jalan
tertinggi menuju pemahaman Ilahi.¹⁷
Dalam Faṣl
al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa al-Sharī‘ah min al-Ittiṣāl, Ibn
Rushd menegaskan prinsip kesatuan kebenaran (waḥdat al-ḥaqq)—kebenaran
filosofis dan kebenaran religius tidak berbeda dalam substansi, hanya dalam
cara pengungkapannya.¹⁸ Ia menulis, “Jika kebenaran datang dari Tuhan, maka
tidak ada pertentangan antara kebenaran yang diwahyukan dan yang dibuktikan.”¹⁹
Klarifikasi Ibn
Rushd ini memiliki dua signifikansi: pertama, ia menegaskan otonomi
akal dalam Islam tanpa menafikan wahyu; kedua, ia membuka jalan
bagi sekularisasi
epistemologis di Eropa melalui Averroisme Latin.²⁰ Dengan
demikian, ia bukan hanya membela filsafat Islam, tetapi juga menghubungkan
dunia Islam dengan filsafat skolastik Barat.²¹
8.4.
Kritik Internal Filsafat: Suhrawardī dan
Transformasi Epistemologis
Selain kritik
teologis, muncul pula kritik internal terhadap rasionalisme murni dari kalangan
filosof sendiri, terutama Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī
(1154–1191 M).²² Ia menolak kecenderungan Avicennian yang terlalu menekankan
deduksi logis dan mengabaikan pengalaman spiritual. Dalam Ḥikmat
al-Ishrāq, Suhrawardī memperkenalkan epistemologi iluminasi
(ishrāq) yang menegaskan bahwa kebenaran sejati hanya dapat
dicapai melalui penyatuan antara intelek dan cahaya Ilahi.²³
Menurut Suhrawardī,
pengetahuan yang bersifat rasional hanya menghasilkan gambaran konseptual
tentang realitas, sedangkan pengetahuan ḥuḍūrī (langsung) menghadirkan
realitas itu sendiri dalam kesadaran manusia.²⁴ Kritiknya terhadap rasionalisme
bukan penolakan terhadap logika, tetapi penegasan bahwa pengetahuan harus bersifat
eksistensial dan partisipatif, bukan sekadar
representasional.²⁵
Dengan demikian,
Suhrawardī memperluas cakrawala epistemologi Islam: dari rasionalisme diskursif
menuju iluminasi intuitif, dari analisis proposisional menuju pengalaman
ontologis.²⁶ Gagasannya kelak menjadi landasan bagi filsafat ḥikmah
al-muta‘āliyah yang dikembangkan oleh Mulla Ṣadrā di abad ke-17.²⁷
8.5.
Kritik Metafisik dan Sintesis Akhir: Mulla Ṣadrā
dan Rehabilitasi Filsafat
Pada abad ke-17, Ṣadr
al-Dīn al-Shīrāzī (Mulla Ṣadrā) menyempurnakan seluruh tradisi
kritik dan klarifikasi dalam sistem metafisika yang disebut ḥikmah
al-muta‘āliyah (“filsafat hikmah yang luhur”).²⁸ Ia
menggabungkan rasionalisme Ibn Sīnā, iluminasi Suhrawardī, dan spiritualitas
Ibn al-‘Arabī dalam kerangka ontologis yang baru.²⁹
Kritik utama Mulla Ṣadrā
tertuju pada pemisahan tajam antara esensi dan eksistensi yang diwariskan
Avicennian.³⁰ Ia menegaskan bahwa eksistensi (wujūd) lebih
fundamental daripada esensi (māhiyyah), karena segala realitas adalah
manifestasi dari wujud tunggal yang bergradasi (tashkīk al-wujūd).³¹ Dalam
pandangan ini, seluruh keberagaman hanyalah intensitas berbeda dari satu
realitas mutlak—Tuhan.³²
Melalui sistemnya,
Mulla Ṣadrā menyatukan kembali berbagai jalur filsafat Islam yang sebelumnya
tampak terpisah: teologi, logika, iluminasi, dan tasawuf.³³ Kritiknya bukan
sekadar terhadap pemikiran tertentu, melainkan terhadap fragmentasi
epistemologis itu sendiri.³⁴ Ia menunjukkan bahwa jalan filsafat sejati adalah
jalan penyatuan (ittihād al-ma‘qūl wa al-‘āqil),
yakni integrasi total antara akal dan realitas.³⁵
Makna Kritik dan Klarifikasi bagi Tradisi
Filsafat Islam
Kritik dan
klarifikasi dalam filsafat Islam menunjukkan bahwa tradisi intelektual Islam
bersifat reflektif, dinamis, dan autokorektif.³⁶
Para pemikir Muslim tidak menerima dogma rasional Barat begitu saja, melainkan
menyesuaikannya dengan kosmologi tauhid dan etika Qur’ani.³⁷ Melalui perdebatan
antara al-Ghazālī dan Ibn Rushd, serta transformasi epistemologis dari
Suhrawardī ke Mulla Ṣadrā, filsafat Islam membangun model berpikir yang
menggabungkan racionalitas logis, intuisi spiritual, dan keterbukaan
teologis.³⁸
Kritik dalam
filsafat Islam bukanlah penolakan terhadap berpikir, tetapi bentuk taḥqīq—yakni
pencarian autentik akan kebenaran yang terus disaring melalui proses rasional
dan spiritual.³⁹ Oleh karena itu, tradisi Islam memperlihatkan bahwa kebenaran
bukanlah hasil akhir, tetapi proses pencarian yang tak berkesudahan menuju al-Ḥaqq,
sumber kebenaran itu sendiri.⁴⁰
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 195–198.
[2]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic
Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbāsid Society (2nd–4th/8th–10th
Centuries) (London: Routledge, 1998), 72–76.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of
New York Press, 2006), 132–136.
[4]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 177–181.
[5]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 211–214.
[6]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut:
Imprimerie Catholique, 1927), 3–5.
[7]
Ibid., 8–12.
[8]
W. Montgomery Watt, The Faith and Practice of al-Ghazālī
(London: George Allen & Unwin, 1953), 57–60.
[9]
Al-Ghazālī, al-Munqidh min al-Ḍalāl, ed. J. Saliba and K.
Ayyad (Beirut: Dār al-Andalus, 1967), 19–23.
[10]
Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn
‘Arabī (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 71–75.
[11]
Majid Fakhry, Ethical Theories in Islam (Leiden: Brill, 1991),
113–117.
[12]
Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State University of
New York Press, 1981), 98–102.
[13]
Ibn Rushd (Averroes), Tahāfut al-Tahāfut, trans. Simon van den
Bergh (London: Luzac, 1954), 121–126.
[14]
Oliver Leaman, Averroes and His Philosophy (Oxford: Clarendon
Press, 1988), 83–86.
[15]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa al-Sharī‘ah min
al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959), 5–7.
[16]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
204–208.
[17]
F. E. Peters, Aristotle and the Arabs (New York: New York
University Press, 1968), 59–63.
[18]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl, 9–12.
[19]
Ibid., 14.
[20]
Étienne Gilson, Reason and Revelation in the Middle Ages (New
York: Charles Scribner’s Sons, 1938), 78–82.
[21]
Edward Grant, God and Reason in the Middle Ages (Cambridge:
Cambridge University Press, 2001), 117–121.
[22]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 67–70.
[23]
Corbin, History of Islamic Philosophy, 221–225.
[24]
Hossein Ziai, “The Metaphysics of Light in Suhrawardī’s Philosophy,” Islamic
Studies 18, no. 3 (1979): 218–223.
[25]
Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of
New York Press, 1989), 112–116.
[26]
William Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabī’s
Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989),
92–97.
[27]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 33–38.
[28]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002), 2:15–21.
[29]
Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present,
211–216.
[30]
Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi, 57–61.
[31]
Seyyed Hossein Nasr, Sadr al-Din Shirazi and His Transcendent
Theosophy (Tehran: Imperial Iranian Academy of Philosophy, 1978), 44–49.
[32]
Henry Corbin, En Islam Iranien: Aspects spirituels et
philosophiques, vol. 4 (Paris: Gallimard, 1972), 82–86.
[33]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 145–149.
[34]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Hikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 102–106.
[35]
Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi, 88–93.
[36]
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 213–217.
[37]
Nasr, Islamic Life and Thought, 131–134.
[38]
Adamson, Philosophy in the Islamic World, 216–220.
[39]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 152–157.
[40]
Corbin, History of Islamic Philosophy, 236–240.
9.
Relevansi Kontemporer
9.1.
Warisan Rasionalitas Islam bagi Dunia Modern
Filsafat Islam Abad
Pertengahan bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan fondasi
intelektual bagi wacana rasionalitas modern. Tradisi pemikiran
para filosof Muslim—dari al-Kindī hingga Ibn Rushd—mewariskan kerangka berpikir
sistematis yang memadukan deduksi logis, observasi empiris, dan refleksi
teologis.¹ Rasionalitas yang mereka kembangkan bersifat integratif: akal tidak
dipertentangkan dengan wahyu, melainkan berfungsi sebagai instrumen untuk
menyingkap kebenaran Ilahi.²
Dalam konteks
kontemporer, warisan ini menjadi relevan ketika dunia modern mengalami krisis
epistemologis akibat pemisahan tajam antara ilmu dan nilai.³ Paradigma
positivistik yang memisahkan fakta dari moralitas telah melahirkan sains tanpa
etika dan teknologi tanpa arah spiritual.⁴ Filsafat Islam, dengan sintesis
rasional-spiritualnya, menawarkan model pengetahuan yang holistik, di mana ilmu pengetahuan
diarahkan oleh nilai moral dan tujuan metafisik.⁵
Pendekatan Ibn Rushd
tentang kesatuan kebenaran (waḥdat al-ḥaqq) dapat menjadi dasar
dialog antara ilmu modern dan agama: kebenaran empiris tidak bertentangan
dengan kebenaran teologis, melainkan keduanya menjelaskan realitas dari dimensi
yang berbeda.⁶ Dalam konteks sains Islam modern, gagasan ini dihidupkan kembali
oleh pemikir seperti Seyyed Hossein Nasr, Ziauddin Sardar, dan Osman Bakar,
yang menekankan bahwa sains harus berakar pada pandangan dunia tauhid.⁷
9.2.
Etika, Humanisme, dan Krisis Modernitas
Filsafat Islam
klasik juga memiliki relevansi besar dalam menghadapi krisis
etika global yang ditandai oleh relativisme moral, hedonisme,
dan disorientasi nilai.⁸ Al-Fārābī dan Ibn Miskawayh mengajarkan bahwa
kebajikan moral (faḍīlah) tidak dapat dipisahkan
dari kebahagiaan (sa‘ādah), dan keduanya berakar pada
rasionalitas yang terarah pada kebaikan Ilahi.⁹ Dalam dunia yang kehilangan
orientasi spiritual, filsafat Islam menawarkan kembali etos
kebijaksanaan—bahwa pengetahuan sejati bukan sekadar
mengetahui, tetapi menjadi baik.¹⁰
Dalam konteks
sosial-politik, konsep al-madīnah al-fāḍilah (negara
utama) dari al-Fārābī menginspirasi pemikiran politik etis yang berfokus pada
keadilan, kesejahteraan, dan keutamaan moral warga negara.¹¹ Model ini dapat
dikaitkan dengan teori good governance modern yang
menuntut integrasi antara kebijaksanaan rasional dan moralitas publik.¹² Dengan
demikian, filsafat Islam menawarkan paradigma humanistik yang memandang manusia
sebagai makhluk rasional sekaligus spiritual, bukan sekadar agen ekonomi atau
politik.¹³
9.3.
Dialog Antarperadaban dan Pluralisme
Intelektual
Salah satu pelajaran
penting dari sejarah filsafat Islam Abad Pertengahan adalah kemampuannya
untuk berdialog lintas peradaban. Dunia Islam klasik merupakan
ruang interaksi antara Yunani, Persia, India, dan Barat Latin.¹⁴ Melalui
gerakan penerjemahan dan diskursus lintas budaya di Baghdad dan Andalusia, para
filosof Muslim membuktikan bahwa peradaban tumbuh melalui dialog, bukan
isolasi.¹⁵
Spirit kosmopolitan
ini menjadi relevan dalam konteks global saat ini yang sering diwarnai oleh
benturan ideologis dan religius.¹⁶ Filsafat Islam menunjukkan bahwa pluralitas
intelektual bukan ancaman bagi iman, tetapi manifestasi dari keluasan
hikmah Ilahi (ḥikmah rabbāniyyah).¹⁷ Prinsip Ibn
Rushd tentang harmoni antara wahyu dan filsafat dapat dijadikan fondasi bagi
dialog antaragama dan antarperadaban di era modern.¹⁸
Selain itu, gagasan epistemologi
partisipatif yang dikembangkan Suhrawardī dan Mulla Ṣadrā
menekankan pentingnya empati, keterlibatan batin, dan kesadaran eksistensial
dalam memahami realitas.¹⁹ Pendekatan ini memiliki resonansi dengan filsafat
fenomenologi kontemporer (Husserl, Heidegger) dan teori deep ecology
yang menekankan kesatuan manusia dengan alam semesta.²⁰
9.4.
Spiritualitas dan Krisis Ekologis Modern
Krisis lingkungan
global dewasa ini juga dapat dibaca melalui kacamata aksiologi Islam. Dalam
pandangan filsafat Islam, alam bukan sekadar objek eksploitasi ekonomi, tetapi manifestasi
wujud Ilahi yang memiliki nilai intrinsik.²¹ Konsep tawḥīd
mengandaikan kesatuan ontologis antara Tuhan, manusia, dan alam, sehingga
kerusakan ekologis merupakan bentuk pelanggaran terhadap keteraturan kosmik.²²
Pemikiran Suhrawardī
tentang “kosmos bercahaya” (‘ālam al-anwār) dan Mulla Ṣadrā
tentang “kesatuan wujud” (waḥdat al-wujūd) dapat
menginspirasi paradigma ekospiritual yang menolak dualisme subjek-objek dalam
filsafat modern Barat.²³ Dengan demikian, filsafat Islam menyediakan landasan etik-spiritual
bagi ekologi kontemporer, di mana penyelamatan lingkungan
dipahami sebagai bentuk ibadah dan pengakuan terhadap kehadiran Ilahi dalam
alam.²⁴
Revitalisasi Filsafat Islam di Era Globalisasi
Pengetahuan
Pada era globalisasi
informasi dan teknologi, filsafat Islam menghadapi tantangan baru: bagaimana
mempertahankan kedalaman spiritual dan integrasi nilai dalam dunia yang
dikuasai oleh rasionalitas instrumental.²⁵ Revitalisasi filsafat Islam bukan
berarti menghidupkan kembali tradisi lama secara dogmatis, tetapi menggali
kembali prinsip-prinsip filosofisnya untuk menjawab persoalan kontemporer.²⁶
Proyek “Islamisasi
pengetahuan” yang digagas oleh Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Naquib
al-Attas merupakan upaya aktualisasi prinsip tauhid dalam seluruh cabang ilmu
modern.²⁷ Namun, revitalisasi yang lebih produktif adalah dengan mengembangkan hikmah
muta‘āliyah Mulla Ṣadrā dalam konteks filsafat global—yakni
menempatkan pengetahuan, etika, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang
tak terpisahkan.²⁸
Dengan demikian, relevansi
kontemporer filsafat Islam terletak pada kemampuannya membangun
jembatan antara sains dan agama, akal dan intuisi, manusia dan alam, serta
Timur dan Barat.²⁹ Ia menawarkan paradigma alternatif bagi dunia yang haus
makna: paradigma tauhid yang rasional, etis, dan spiritual.³⁰
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 219–223.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 173–176.
[3]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come
(London: Mansell, 1985), 64–67.
[4]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 41–45.
[5]
Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 29–33.
[6]
Ibn Rushd (Averroes), Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa
al-Sharī‘ah min al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959),
10–13.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 95–101.
[8]
Abdulaziz Sachedina, The Islamic Roots of Democratic Pluralism
(New York: Oxford University Press, 2001), 57–60.
[9]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq, ed. Constantin
Zurayk (Beirut: Dār al-Maktabah al-Ḥadīthah, 1966), 19–23.
[10]
Al-Fārābī, Kitāb al-Tanbīh ‘alā Sabīl al-Sa‘ādah, ed. Fauzi
Najjar (Beirut: Dār al-Mashriq, 1971), 4–6.
[11]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 75–80.
[12]
Nader Hashemi, Islam, Secularism and Liberal Democracy
(Oxford: Oxford University Press, 2009), 103–106.
[13]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 183–187.
[14]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture (London:
Routledge, 1998), 99–104.
[15]
María Rosa Menocal, The Ornament of the World: How Muslims, Jews,
and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain (Boston:
Little, Brown, 2002), 72–76.
[16]
Tariq Ramadan, Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation
(New York: Oxford University Press, 2009), 22–26.
[17]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of
New York Press, 2006), 223–228.
[18]
Ibn Rushd, Tahāfut al-Tahāfut, trans. Simon van den Bergh
(London: Luzac, 1954), 145–150.
[19]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 118–121.
[20]
Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabī
(Princeton, NJ: Princeton University Press, 1969), 201–205.
[21]
Nasr, Man and Nature, 53–58.
[22]
Fazlun Khalid, Islam and the Environment (London: Ta-Ha,
1996), 14–18.
[23]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002), 3:12–19.
[24]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 33–39.
[25]
Parviz Morewedge, Essays on Islamic Philosophy and Science
(Albany: State University of New York Press, 1979), 91–95.
[26]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam
(Lahore: Ashraf, 1930), 7–11.
[27]
Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General
Principles and Workplan (Herndon, VA: International Institute of Islamic
Thought, 1982), 3–7.
[28]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of
Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 45–49.
[29]
Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State University of
New York Press, 1981), 146–150.
[30]
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 230–234.
10.
Sintesis Filosofis
10.1.
Hakikat Sintesis dalam Tradisi Filsafat Islam
Filsafat Islam Abad
Pertengahan mencapai puncaknya ketika para pemikir Muslim berhasil merumuskan sintesis
filosofis yang memadukan antara akal dan wahyu, rasionalitas
dan spiritualitas, teori dan praksis.¹ Berbeda dari filsafat Yunani yang
cenderung menekankan rasio murni, atau teologi skolastik Barat yang memisahkan
iman dan nalar, tradisi Islam mengembangkan epistemologi tauhid: seluruh
bentuk pengetahuan, baik rasional maupun intuitif, berpangkal pada satu sumber
Ilahi.²
Sintesis ini bukan
hasil kompromi pragmatis, tetapi ekspresi dari keyakinan metafisis bahwa
realitas bersifat hierarkis namun satu (tawḥīd al-wujūd).³ Dalam kerangka
ini, akal berfungsi untuk memahami hukum-hukum rasional ciptaan Tuhan,
sedangkan wahyu memberikan arah dan makna teleologisnya.⁴ Dengan demikian,
kebenaran rasional dan kebenaran religius tidak bersaing, melainkan saling
melengkapi dalam suatu sistem kosmologi integral.⁵
10.2.
Integrasi Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Ciri khas sintesis
filsafat Islam terletak pada kemampuannya menggabungkan tiga
dimensi utama filsafat: ontologi (realitas), epistemologi
(pengetahuan), dan aksiologi (nilai).⁶
Secara ontologis,
para filosof seperti Ibn Sīnā dan Mulla Ṣadrā menunjukkan bahwa seluruh
eksistensi merupakan pancaran dari Wujud Mutlak (al-Wājib al-Wujūd).⁷ Realitas tidak
berdiri sendiri, tetapi bergradasi sesuai tingkat kedekatannya dengan Sumber Cahaya
Ilahi.⁸ Ini melahirkan visi kosmos yang bersifat monistik-hierarkis,
di mana semua wujud merupakan ekspresi dari satu hakikat.⁹
Secara
epistemologis, sintesis ini terlihat dalam pengakuan akan dua jalan
pengetahuan: akal demonstratif (al-‘aql al-burhānī)
dan intuisi
spiritual (al-dhawq al-‘irfānī).¹⁰ Ibn Sīnā menekankan proses
deduktif rasional untuk mencapai kebenaran, sedangkan Suhrawardī dan Mulla Ṣadrā
menambahkan dimensi iluminatif di mana pengetahuan diperoleh melalui penyatuan
eksistensial dengan objeknya.¹¹
Dalam ranah
aksiologi, filsafat Islam menyatukan etika, politik, dan spiritualitas.
Al-Fārābī menempatkan politik sebagai sarana menuju kebahagiaan kolektif,
sementara al-Ghazālī menegaskan bahwa moralitas sejati harus berakar pada
penyucian jiwa.¹² Kesatuan antara pengetahuan dan kebaikan mencerminkan
pandangan bahwa mengetahui berarti menjadi, dan
bahwa kebijaksanaan sejati adalah realisasi etis dari pengetahuan Ilahi.¹³
10.3.
Dialektika Akal dan Wahyu: Antara Demonstrasi
dan Penyingkapan
Salah satu
pencapaian tertinggi dari sintesis filosofis Islam adalah rekonsiliasi
epistemologis antara rasio dan wahyu.¹⁴ Ibn Rushd menegaskan
bahwa wahyu dan filsafat berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan; karena
itu, pertentangan antara keduanya hanya terjadi pada tingkat tafsir manusia.¹⁵
Ia menyebut para filosof sebagai “penafsir tingkat tinggi” yang
mengungkap makna batin teks wahyu melalui metode demonstratif (burhān).¹⁶
Di sisi lain,
tradisi iluminatif (Ishrāqiyyah) yang dikembangkan Suhrawardī menunjukkan bahwa
akal tanpa cahaya spiritual tidak akan mencapai hakikat.¹⁷ Ia menggambarkan
pengetahuan sebagai “pencerahan jiwa oleh cahaya Ilahi” (ishrāq
al-nafs bi al-nūr al-ilāhī).¹⁸ Dalam kerangka ini, wahyu tidak
dimaknai secara dogmatis, tetapi sebagai realitas ontologis yang
memancar dari Akal Pertama.¹⁹
Mulla Ṣadrā kemudian
mensintesiskan dua pendekatan tersebut melalui teori al-wujūd
al-mutaḥarrik (eksistensi dinamis).²⁰ Bagi Ṣadrā, pengetahuan dan
wujud adalah identik; semakin tinggi tingkat eksistensi seseorang, semakin
sempurna pula pengetahuannya.²¹ Dengan demikian, filsafat menjadi jalan
spiritual: proses transformasi wujud manusia menuju
kesempurnaan Ilahi.²²
10.4.
Penyatuan Rasionalitas dan Spiritualitas dalam
Hikmah Muta‘āliyah
Puncak dari sintesis
filsafat Islam ditemukan dalam sistem ḥikmah al-muta‘āliyah karya
Mulla Ṣadrā (abad ke-17), yang mengintegrasikan logika Avicennian, iluminasi
Suhrawardī, dan teosofi Ibn al-‘Arabī.²³ Sistem ini tidak hanya bersifat
teoritis, tetapi juga mistik—memandang pengetahuan sebagai pengalaman langsung
dari keberadaan Ilahi.²⁴
Menurut Ṣadrā,
realitas terdiri atas gradasi wujud yang terus bergerak menuju kesempurnaan
mutlak.²⁵ Gerak substansial (al-ḥarakah al-jawhariyyah)
menunjukkan bahwa alam semesta bukan sistem statis, melainkan proses dinamis
menuju Tuhan.²⁶ Konsep ini mempertemukan metafisika, sains, dan etika dalam
satu kerangka eksistensial yang menyatukan dimensi rasional dan intuitif.²⁷
Dengan demikian, hikmah
dalam pengertian Ṣadrā bukanlah sekadar “pengetahuan filosofis”, tetapi kearifan
eksistensial yang menggabungkan rasio, intuisi, dan iman.²⁸
Inilah puncak dari sintesis filosofis Islam: pengetahuan yang bukan hanya
memahami realitas, tetapi juga mengubah keberadaan manusia untuk selaras dengan
kebenaran Ilahi.²⁹
Sintesis sebagai Model Filsafat Integral bagi
Dunia Modern
Sintesis filosofis
Islam memiliki relevansi universal bagi dunia kontemporer. Di tengah
fragmentasi disiplin ilmu dan krisis makna modernitas, filsafat Islam
menawarkan paradigma integral-holisitik yang
memulihkan kesatuan antara pengetahuan dan nilai.³⁰
Model berpikir ini
menolak dualisme Barat antara sains dan etika, rasio dan iman.³¹ Ia menegaskan
bahwa setiap pengetahuan sejati memiliki implikasi moral, dan setiap tindakan
moral berakar pada pengetahuan yang benar.³² Prinsip tauhid—yang menegaskan
kesatuan realitas, kebenaran, dan nilai—menjadi fondasi ontologis dan etis bagi
kehidupan manusia yang beradab.³³
Dengan demikian,
sintesis filosofis Islam bukan hanya puncak dari tradisi intelektual abad
pertengahan, tetapi juga kontribusi permanen bagi filsafat universal.³⁴
Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak dapat dimonopoli oleh rasionalitas semata
atau keimanan semata, melainkan terwujud dalam keterpaduan keduanya—suatu
kesatuan antara berpikir, beriman, dan berbuat.³⁵
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 235–238.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 161–165.
[3]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 250–253.
[4]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 124–127.
[5]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 189–192.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present: Philosophy in the Land of Prophecy (Albany: State University of
New York Press, 2006), 233–236.
[7]
Avicenna (Ibn Sīnā), al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: al-Hay’a al-‘Āmma, 1960), 25–29.
[8]
Fazlur Rahman, Avicenna’s Psychology (London: Oxford
University Press, 1952), 97–101.
[9]
Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn ‘Arabī
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 83–86.
[10]
Al-Fārābī, Kitāb al-Burhān, ed. Fauzi Najjar (Beirut: Dār
al-Mashriq, 1970), 12–15.
[11]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 97–101.
[12]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 72–78.
[13]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantin Zurayk
(Beirut: Dār al-Maktabah al-Ḥadīthah, 1966), 19–22.
[14]
Ibn Rushd (Averroes), Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa
al-Sharī‘ah min al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959),
8–12.
[15]
Peter Adamson, Philosophy in the Islamic World: A History of
Philosophy without Any Gaps (Oxford: Oxford University Press, 2016),
210–213.
[16]
Ibn Rushd, Tahāfut al-Tahāfut, trans. Simon van den Bergh
(London: Luzac, 1954), 131–135.
[17]
Corbin, History of Islamic Philosophy, 258–261.
[18]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Hikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 104–109.
[19]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 169–172.
[20]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002), 3:42–46.
[21]
Seyyed Hossein Nasr, Sadr al-Din Shirazi and His Transcendent
Theosophy (Tehran: Imperial Iranian Academy of Philosophy, 1978), 58–63.
[22]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 105–109.
[23]
Corbin, En Islam Iranien: Aspects spirituels et philosophiques,
vol. 4 (Paris: Gallimard, 1972), 93–98.
[24]
Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State University of
New York Press, 1981), 154–157.
[25]
Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi, 112–116.
[26]
Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present,
242–247.
[27]
Hossein Ziai, “The Source and Nature of Authority: A Study of
Suhrawardī’s Illuminationist Doctrine,” in The Political Aspects of Islamic
Philosophy, ed. Charles E. Butterworth (Cambridge, MA: Harvard University
Press, 1992), 314–318.
[28]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 180–183.
[29]
Henry Corbin, Temple and Contemplation, trans. Philip Sherrard
(London: Kegan Paul International, 1986), 204–207.
[30]
Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 71–75.
[31]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 42–47.
[32]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam
(Lahore: Ashraf, 1930), 19–23.
[33]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come
(London: Mansell, 1985), 121–125.
[34]
Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present,
250–254.
[35]
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 240–243.
11.
Kesimpulan
11.1.
Filsafat Islam sebagai Tradisi Intelektual yang
Integral
Filsafat Islam Abad
Pertengahan merupakan salah satu puncak sejarah intelektual manusia, di mana
akal, wahyu, dan intuisi spiritual berkelindan dalam satu sistem pengetahuan
yang menyeluruh.¹ Tidak seperti tradisi Barat modern yang cenderung memisahkan
metafisika dari empirisme, pemikiran Islam abad pertengahan membangun struktur
epistemik yang integral—rasionalitas bekerja di bawah cahaya
wahyu, sementara spiritualitas menemukan dasar rasionalnya dalam keteraturan
kosmos.²
Para filosof Muslim
seperti al-Kindī, al-Fārābī, Ibn Sīnā, al-Ghazālī, Suhrawardī, dan Ibn Rushd
berhasil menunjukkan bahwa kebenaran memiliki satu sumber Ilahi, meskipun
tercermin melalui berbagai jalur pengetahuan.³ Dengan demikian, filsafat Islam
tidak sekadar meminjam gagasan Yunani, melainkan merekonstruksi
dan menafsirkan ulang dalam bingkai teologis Islam yang
menekankan tauhid sebagai prinsip ontologis tertinggi.⁴
11.2.
Sintesis Akal dan Wahyu: Landasan Bagi
Kebenaran Ilmiah dan Moral
Esensi dari seluruh
perkembangan filsafat Islam abad pertengahan terletak pada pencarian
keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas,
antara akal
(‘aql) dan wahyu (naql).⁵ Bagi al-Fārābī
dan Ibn Sīnā, akal merupakan sarana utama untuk menyingkap struktur realitas
dan hukum universal ciptaan Tuhan.⁶ Namun bagi al-Ghazālī dan Suhrawardī,
pengetahuan rasional harus dipadukan dengan pengetahuan intuitif agar manusia
dapat mencapai ma‘rifah, yakni pengetahuan
langsung tentang Yang Mutlak.⁷
Tradisi Islam dengan
demikian tidak mengenal dikotomi antara sains dan agama.⁸ Dalam sistem Mulla Ṣadrā,
misalnya, ilmu pengetahuan dipahami sebagai intensifikasi wujud (tashkīk
al-wujūd): semakin tinggi eksistensi manusia, semakin sempurna pula
pengetahuannya.⁹ Ini menunjukkan bahwa puncak rasionalitas adalah spiritualitas,
dan puncak spiritualitas adalah kesadaran rasional akan kesatuan segala
wujud.¹⁰
11.3.
Dinamika Kritik dan Kreativitas Intelektual
Ciri khas filsafat
Islam abad pertengahan adalah keberanian untuk berpikir kritis tanpa kehilangan
orientasi keimanan.¹¹ Perdebatan antara al-Ghazālī dan Ibn Rushd, antara
rasionalisme Avicennian dan iluminisme Suhrawardian, tidak meruntuhkan tradisi
filsafat Islam, tetapi justru memperkaya dan menghidupkannya.¹² Kritik dalam
Islam tidak dimaksudkan untuk meniadakan kebenaran lawan, melainkan untuk
menyempurnakannya dalam horizon tauhid.¹³
Dialog panjang
antara filsafat, kalam, dan tasawuf menghasilkan ekosistem
intelektual yang plural namun berakar pada satu nilai: kebenaran Ilahi.¹⁴
Di sinilah letak keunikan tradisi Islam—ia tidak berhenti pada sistem rasional,
tetapi selalu terbuka terhadap dimensi metafisis dan eksistensial.¹⁵ Kritik
menjadi bentuk ibadah intelektual, sedangkan berpikir menjadi sarana ta‘abbud
kepada Tuhan melalui pemahaman terhadap ciptaan-Nya.¹⁶
11.4.
Relevansi dan Pelajaran bagi Dunia Kontemporer
Dalam konteks
modern, filsafat Islam Abad Pertengahan memiliki relevansi yang mendalam. Dunia
kontemporer tengah mengalami fragmentasi epistemologis, di
mana ilmu, etika, dan spiritualitas berjalan sendiri-sendiri.¹⁷ Filsafat Islam
menawarkan paradigma tauhid sebagai solusi epistemologis dan moral terhadap
krisis ini—yakni dengan menegaskan kesatuan antara pengetahuan, tindakan, dan
nilai.¹⁸
Konsep Ibn Rushd
tentang kesatuan kebenaran (waḥdat al-ḥaqq) menegaskan bahwa
iman dan ilmu tidak bertentangan, tetapi dua jalan menuju satu tujuan.¹⁹
Pemikiran al-Fārābī tentang madīnah al-fāḍilah mengingatkan
pentingnya politik etis berbasis kebajikan rasional.²⁰ Sementara pandangan
Suhrawardī dan Mulla Ṣadrā memberi dasar ontologis bagi etika ekologis modern—bahwa
seluruh alam adalah manifestasi wujud Ilahi yang harus dihormati, bukan
dieksploitasi.²¹
Oleh karena itu,
filsafat Islam tidak sekadar relevan sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai
paradigma alternatif bagi kebudayaan global yang mencari
kembali makna hidup di tengah kemajuan teknologi dan kehampaan spiritual.²²
Filsafat Islam sebagai Jalan Hikmah
Pada akhirnya,
seluruh tradisi filsafat Islam berujung pada satu cita-cita: al-ḥikmah,
yakni kebijaksanaan Ilahi yang menyatukan akal dan hati, teori dan amal,
individu dan masyarakat.²³ Dalam pandangan ini, filsafat bukan sekadar disiplin
akademik, tetapi perjalanan eksistensial menuju kebenaran,
suatu bentuk taṣawwuf ‘aqliy—mistisisme rasional
yang memadukan pemikiran dengan pengalaman rohaniah.²⁴
Maka, jika dunia
modern mencari sintesis antara sains dan makna, rasio dan iman, maka filsafat
Islam Abad Pertengahan telah menunjukkan jalannya: kebenaran sejati adalah
kesatuan yang hidup—kesatuan antara Tuhan, alam, dan manusia.²⁵ Inilah warisan
abadi tradisi Islam bagi peradaban universal: hikmah sebagai bentuk tertinggi pengetahuan dan
moralitas, di mana berpikir adalah ibadah dan mengetahui adalah
mencintai.²⁶
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 243–247.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State
University of New York Press, 1989), 171–175.
[3]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 192–196.
[4]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, trans. Liadain
Sherrard and Philip Sherrard (London: Kegan Paul International, 1993), 272–276.
[5]
Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy
in the Land of Prophecy (Albany: State University of New York Press,
2006), 237–240.
[6]
Avicenna (Ibn Sīnā), al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrahim
Madkour (Cairo: al-Hay’a al-‘Āmma, 1960), 35–39.
[7]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute Franco-Iranien, 1976), 102–106.
[8]
Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 59–63.
[9]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, ed. Muhammad Khwājawī
(Tehran: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002), 3:28–32.
[10]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra Shirazi (Albany:
State University of New York Press, 1975), 117–121.
[11]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut:
Imprimerie Catholique, 1927), 12–16.
[12]
Ibn Rushd (Averroes), Tahāfut al-Tahāfut, trans. Simon van den
Bergh (London: Luzac, 1954), 136–139.
[13]
W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology
(Edinburgh: Edinburgh University Press, 1985), 161–165.
[14]
Nasr, Three Muslim Sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn ‘Arabī
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 93–97.
[15]
Corbin, En Islam Iranien: Aspects spirituels et philosophiques,
vol. 4 (Paris: Gallimard, 1972), 104–109.
[16]
Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: State University of
New York Press, 1981), 163–167.
[17]
Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come
(London: Mansell, 1985), 128–132.
[18]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 52–56.
[19]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl fīmā bayn al-Ḥikmah wa al-Sharī‘ah min
al-Ittiṣāl, ed. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959), 10–13.
[20]
Al-Fārābī, al-Madīnah al-Fāḍilah, ed. Albert N. Nader (Beirut:
Dār al-Mashriq, 1968), 88–91.
[21]
Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man
(London: George Allen & Unwin, 1968), 61–65.
[22]
Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam
(Lahore: Ashraf, 1930), 25–29.
[23]
Nasr, Knowledge and the Sacred, 178–182.
[24]
Henry Corbin, Temple and Contemplation, trans. Philip Sherrard
(London: Kegan Paul International, 1986), 213–216.
[25]
Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam, 68–71.
[26]
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 248–250.
Daftar Pustaka
Adamson, P. (2016). Philosophy in the Islamic
world: A history of philosophy without any gaps. Oxford University Press.
Adamson, P., & Taylor, R. C. (Eds.). (2005). The
Cambridge companion to Arabic philosophy. Cambridge University Press.
Al-Fārābī. (1964). Kitāb al-siyāsāt
al-madaniyyah (F. Najjar, Ed.). Dār al-Mashriq.
Al-Fārābī. (1968). Al-madīnah al-fāḍilah (A.
N. Nader, Ed.). Dār al-Mashriq.
Al-Fārābī. (1970). Kitāb al-burhān (F.
Najjar, Ed.). Dār al-Mashriq.
Al-Fārābī. (1971). Kitāb al-tanbīh ‘alā sabīl
al-sa‘ādah (F. Najjar, Ed.). Dār al-Mashriq.
Al-Ghazālī. (1927). Tahāfut al-falāsifah (M.
Bouyges, Ed.). Imprimerie Catholique.
Al-Ghazālī. (1937). Iḥyā’ ‘ulūm al-dīn
(Vols. 1–4). al-Maṭba‘ah al-Amīriyyah.
Al-Ghazālī. (1967). Al-munqidh min al-ḍalāl
(J. Saliba & K. Ayyad, Eds.). Dār al-Andalus.
Avicenna (Ibn Sīnā). (1952). Al-qānūn fī al-ṭibb
(J. al-Qifṭī, Ed.). Dār Ṣādir.
Avicenna (Ibn Sīnā). (1960). Al-shifā’:
al-ilāhiyyāt (I. Madkour, Ed.). al-Hay’a al-‘Āmma.
Bakar, O. (1998). Classification of knowledge in
Islam. Islamic Texts Society.
Burnett, C. (2001). The coherence of the
Arabic–Latin translation program in Toledo in the twelfth century. Science
in Context, 14(1–2), 249–288.
Chittick, W. C. (1989). The Sufi path of
knowledge: Ibn al-‘Arabī’s metaphysics of imagination. State University of
New York Press.
Corbin, H. (1972). En Islam iranien: Aspects spirituels
et philosophiques (Vol. 4). Gallimard.
Corbin, H. (1986). Temple and contemplation
(P. Sherrard, Trans.). Kegan Paul International.
Corbin, H. (1993). History of Islamic philosophy
(L. Sherrard & P. Sherrard, Trans.). Kegan Paul International.
Cruz Hernández, M. (1981). La filosofía árabe.
Alianza Editorial.
Fakhry, M. (1991). Ethical theories in Islam.
Brill.
Fakhry, M. (2004). A history of Islamic
philosophy (3rd ed.). Columbia University Press.
Frank, R. M. (1992). Creation and the cosmic
system: Al-Ghazālī and Avicenna. Carl Winter Verlag.
Gatas, D. (1988). Avicenna and the Aristotelian
tradition. Brill.
Gutas, D. (1998). Greek thought, Arabic culture:
The Graeco-Arabic translation movement in Baghdad and early ‘Abbāsid society
(2nd–4th/8th–10th centuries). Routledge.
Gilson, É. (1938). Reason and revelation in the
Middle Ages. Charles Scribner’s Sons.
Goodman, L. E. (1992). Avicenna. Routledge.
Grant, E. (2001). God and reason in the Middle
Ages. Cambridge University Press.
Hashemi, N. (2009). Islam, secularism and
liberal democracy. Oxford University Press.
Hodgson, M. G. S. (1974). The venture of Islam:
Conscience and history in a world civilization (Vol. 2). University of
Chicago Press.
Hourani, G. F. (1971). Islamic rationalism: The ethics
of ‘Abd al-Jabbar. Clarendon Press.
Ibn Miskawayh. (1966). Tahdhīb al-akhlāq wa
taṭhīr al-a‘rāq (C. Zurayk, Ed.). Dār al-Maktabah al-Ḥadīthah.
Ibn Rushd (Averroes). (1954). Tahāfut al-tahāfut
(S. van den Bergh, Trans.). Luzac.
Ibn Rushd (Averroes). (1959). Faṣl al-maqāl fīmā
bayn al-ḥikmah wa al-sharī‘ah min al-ittiṣāl (G. F. Hourani, Ed.). Brill.
Iqbal, M. (1930). The reconstruction of
religious thought in Islam. Ashraf.
Kennedy, H. (2005). When Baghdad ruled the
Muslim world: The rise and fall of Islam’s greatest dynasty. Da Capo Press.
Leaman, O. (1985). An introduction to classical
Islamic philosophy. Cambridge University Press.
Leaman, O. (1988). Averroes and his philosophy.
Clarendon Press.
Makdisi, G. (1981). The rise of colleges:
Institutions of learning in Islam and the West. Edinburgh University Press.
Mahdi, M. (2001). Alfarabi and the foundation of
Islamic political philosophy. University of Chicago Press.
Menocal, M. R. (2002). The ornament of the
world: How Muslims, Jews, and Christians created a culture of tolerance in
medieval Spain. Little, Brown.
Morewedge, P. (Ed.). (1979). Essays on Islamic
philosophy and science. State University of New York Press.
Mulla Ṣadrā. (2002). Al-asfār al-arba‘ah (M.
Khwājawī, Ed.). Sadra Islamic Philosophy Research Institute.
Nasr, S. H. (1964). Three Muslim sages:
Avicenna, Suhrawardī, Ibn ‘Arabī. Harvard University Press.
Nasr, S. H. (1968). Science and civilization in
Islam. Harvard University Press.
Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The
spiritual crisis of modern man. George Allen & Unwin.
Nasr, S. H. (1978). Sadr al-Din Shirazi and his
transcendent theosophy. Imperial Iranian Academy of Philosophy.
Nasr, S. H. (1981). Islamic life and thought.
State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred.
State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of
nature. Oxford University Press.
Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its
origin to the present: Philosophy in the land of prophecy. State University
of New York Press.
Rahman, F. (1952). Avicenna’s psychology.
Oxford University Press.
Rahman, F. (1975). The philosophy of Mulla Sadra
Shirazi. State University of New York Press.
Ramadan, T. (2009). Radical reform: Islamic
ethics and liberation. Oxford University Press.
Renan, E. (1949). Averroès et l’Averroïsme.
Calmann Lévy.
Rescher, N. (1963). Studies in the history of
Arabic logic. University of Pittsburgh Press.
Sabra, A. I. (1987). The appropriation and
subsequent naturalization of Greek science in medieval Islam. History of
Science, 25(3), 223–243.
Sachedina, A. (2001). The Islamic roots of
democratic pluralism. Oxford University Press.
Sardar, Z. (1985). Islamic futures: The shape of
ideas to come. Mansell.
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī. (1976). Ḥikmat
al-ishrāq (H. Corbin, Ed.). Institute Franco-Iranien.
Walzer, R. (1970). The Greek legacy in Islam. In P.
M. Holt, A. K. S. Lambton, & B. Lewis (Eds.), The Cambridge history of
Islam (pp. 369–389). Cambridge University Press.
Walzer, R. (1985). Al-Farabi on the perfect
state: Abu Nasr al-Farabi’s Mabadi’ Ara’ Ahl al-Madina al-Fadila. Clarendon
Press.
Watt, W. M. (1953). The faith and practice of
al-Ghazālī. George Allen & Unwin.
Watt, W. M. (1985). Islamic philosophy and
theology. Edinburgh University Press.
Wolfson, H. A. (1976). The philosophy of the
kalam. Harvard University Press.
Ziai, H. (1979). The metaphysics of light in
Suhrawardī’s philosophy. Islamic Studies, 18(3), 215–223.
Ziai, H. (1990). Knowledge and illumination: A
study of Suhrawardī’s Hikmat al-Ishrāq. Scholars Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar