Aṣālat al-Māhiyyah
Sejarah, Argumentasi Metafisis, dan Implikasi Teologis
Alihkan ke: Ontologi Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini mengkaji Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi
Esensi) sebagai salah satu mazhab ontologis utama dalam filsafat Islam yang
menegaskan bahwa esensi (māhiyyah) lebih fundamental daripada wujud (wujūd).
Melalui pendekatan historis-konseptual dan analisis filosofis-kritis, artikel
ini menelusuri akar pemikiran distingsi esensi–wujud, formulasi konseptualnya
dalam tradisi Peripatetik, serta penerimaan dan transformasinya dalam ilmu
kalam Asy‘ari. Pembahasan difokuskan pada argumentasi konseptual,
epistemologis, dan logis yang mendukung primasi esensi, termasuk status wujud
sebagai aksiden dan konsep sekunder (ma‘qūl thānī).
Artikel ini juga membandingkan Aṣālat al-Māhiyyah
dengan Aṣālat al-Wujūd untuk menyingkap perbedaan ontologis, epistemologis, dan
teologis yang mendasar, sekaligus menguraikan implikasi filosofis dan teologis
primasi esensi terhadap pemahaman realitas, pengetahuan, kosmologi, dan konsep
ketuhanan. Selanjutnya, artikel ini mengemukakan kritik internal dan
eksternal—termasuk dari tradisi Hikmah Isyraqiyyah dan Hikmah Muta‘āliyah—serta
mengidentifikasi batasan konseptual Aṣālat al-Māhiyyah dalam menjelaskan
dinamika eksistensial.
Sebagai kesimpulan, artikel ini menegaskan bahwa
Aṣālat al-Māhiyyah merupakan mazhab ontologis yang koheren dan signifikan
secara historis, khususnya dalam mendukung epistemologi definisional dan
teologi kontingensi dalam Islam Sunni klasik. Meskipun menghadapi keterbatasan
tertentu, mazhab ini tetap relevan sebagai kerangka analitis dan metodologis
dalam kajian metafisika Islam dan dialog filsafat kontemporer.
Kata kunci: Aṣālat
al-Māhiyyah; esensi; wujud; ontologi Islam; filsafat Islam; ilmu kalam Asy‘ari;
metafisika.
PEMBAHASAN
Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi) dalam Filsafat
Islam
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Persoalan tentang wujud
(al-wujūd)
dan esensi
(al-māhiyyah)
merupakan salah satu tema paling fundamental dalam metafisika filsafat Islam.
Perdebatan mengenai mana di antara keduanya yang bersifat lebih primer—apakah
wujud atau esensi—tidak hanya menentukan arah ontologi, tetapi juga
berimplikasi luas terhadap epistemologi, kosmologi, dan bahkan teologi. Dalam
konteks ini, filsafat Islam menampilkan dinamika pemikiran yang kaya dan
berlapis, di mana diskursus metafisis tidak pernah terlepas dari horizon
teologis dan rasionalitas kalam.
Mazhab Aṣālat
al-Māhiyyah (Primasi Esensi) merupakan salah satu posisi
ontologis penting yang berkembang dalam sejarah filsafat Islam. Mazhab ini
menyatakan bahwa esensi adalah realitas yang paling fundamental, sedangkan
wujud tidak lebih dari suatu aksiden yang “menempel” pada esensi. Dengan kata
lain, esensi dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kebertentuan ontologis
tersendiri, sementara wujud hanyalah penegasan eksternal terhadap esensi
tersebut. Pandangan ini menempatkan esensi sebagai basis utama bagi definisi,
klasifikasi, dan pengetahuan tentang realitas.¹
Secara historis,
gagasan tentang distingsi antara esensi dan wujud telah mendapatkan formulasi
sistematis dalam tradisi filsafat Peripatetik Islam. Dalam perkembangannya,
sebagian filosof pasca-Ibn Sīnā dan sejumlah teolog Asy‘ariyah mempertahankan—secara
eksplisit maupun implisit—primasi esensi sebagai pendekatan ontologis yang
selaras dengan kerangka teologis mereka. Dalam ilmu kalam, khususnya,
kecenderungan untuk memandang wujud sebagai sifat atau keadaan (ḥāl) yang
bergantung pada esensi sejalan dengan penekanan pada kemahakuasaan Tuhan dan
kontingensi mutlak makhluk.²
Namun demikian,
posisi Aṣālat al-Māhiyyah tidak berkembang tanpa kritik. Seiring dengan
munculnya mazhab ontologis tandingan, khususnya Aṣālat al-Wujūd (Primasi
Wujud), perdebatan mengenai status ontologis esensi dan wujud semakin intens
dan kompleks. Perdebatan ini bukan sekadar perbedaan terminologis, melainkan
mencerminkan perbedaan mendasar dalam memahami struktur realitas itu sendiri.
Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap Aṣālat al-Māhiyyah menjadi penting,
tidak hanya untuk memahami satu mazhab tertentu, tetapi juga untuk menyingkap
dinamika internal filsafat Islam secara keseluruhan.³
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, artikel ini dirancang untuk menjawab sejumlah pertanyaan
filosofis mendasar yang berkaitan dengan mazhab Aṣālat al-Māhiyyah, antara
lain:
1)
Apa yang dimaksud dengan Aṣālat
al-Māhiyyah dalam kerangka metafisika filsafat Islam?
2)
Bagaimana argumentasi ontologis
dan epistemologis yang digunakan untuk menegaskan primasi esensi atas wujud?
3)
Mengapa wujud dipahami sebagai
aksiden, bukan sebagai realitas fundamental?
4)
Bagaimana posisi Aṣālat
al-Māhiyyah dalam tradisi teologi Asy‘ariyah dan filsafat pasca-Ibn Sīnā?
5)
Apa implikasi metafisis dan teologis
dari penerimaan primasi esensi?
Rumusan masalah ini
dimaksudkan untuk menjaga fokus pembahasan sekaligus memastikan bahwa kajian
yang dilakukan tidak bersifat deskriptif semata, melainkan juga analitis dan
kritis.
1.3.
Tujuan dan
Signifikansi Penelitian
Tujuan utama dari
artikel ini adalah untuk menyajikan analisis komprehensif mengenai mazhab Aṣālat
al-Māhiyyah, baik dari sisi historis, konseptual, maupun argumentatif. Secara
khusus, penelitian ini bertujuan untuk:
1)
Menjelaskan landasan ontologis
primasi esensi dalam filsafat Islam.
2)
Mengkaji argumentasi filosofis dan
teologis yang mendukung pandangan tersebut.
3)
Menempatkan Aṣālat al-Māhiyyah
dalam konteks perdebatan ontologis yang lebih luas.
Adapun signifikansi
penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pemahaman yang lebih
seimbang mengenai ontologi Islam. Dalam diskursus kontemporer, Aṣālat al-Wujūd
sering kali mendapatkan perhatian lebih besar, sehingga Aṣālat al-Māhiyyah
kerap dipahami secara simplistik atau sekadar sebagai posisi “pra-matang”.
Artikel ini berupaya menunjukkan bahwa primasi esensi memiliki rasionalitas
internal dan relevansi filosofis yang tidak dapat diabaikan.⁴
1.4.
Metodologi dan
Pendekatan
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis dengan
metode analisis teks (textual analysis) terhadap karya-karya utama filsafat dan
kalam Islam. Pendekatan historis digunakan untuk menelusuri perkembangan
gagasan Aṣālat al-Māhiyyah, sementara pendekatan konseptual diterapkan untuk
menganalisis argumen-argumen ontologis yang diajukan oleh para pendukungnya.
Selain itu,
pendekatan komparatif-kritis juga
digunakan, khususnya dalam membandingkan Aṣālat al-Māhiyyah dengan mazhab
ontologis lain. Pendekatan ini memungkinkan evaluasi yang relatif netral dan
terbuka, tanpa mengasumsikan superioritas satu mazhab tertentu secara apriori.
Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat mempertahankan keseimbangan
antara ketelitian akademik dan keterbukaan intelektual.⁵
1.5.
Sistematika Pembahasan
Untuk mencapai
tujuan tersebut, artikel ini disusun dalam beberapa bab yang saling berkaitan.
Bab pertama ini berfungsi sebagai pengantar konseptual dan metodologis. Bab
kedua membahas kerangka ontologis dalam filsafat Islam secara umum. Bab ketiga
menelusuri latar historis Aṣālat al-Māhiyyah. Bab keempat dan kelima mengkaji
konsep serta argumentasi primasi esensi secara mendalam. Bab-bab selanjutnya
membahas relasi mazhab ini dengan ilmu kalam, perbandingannya dengan Aṣālat
al-Wujūd, implikasi filosofis-teologisnya, serta kritik dan ruang pengembangannya.
Artikel ini ditutup dengan kesimpulan yang merangkum temuan utama dan
menawarkan arah penelitian lanjutan.
Footnotes
[1]
Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq,
(Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 112–115.
[2]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna, (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 67–70.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological
Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 237–240.
[4]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 177–180.
[5]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 9–12.
2.
Kerangka Ontologis dalam Filsafat Islam
2.1.
Ontologi sebagai
Disiplin Filsafat dalam Tradisi Islam
Ontologi, sebagai
cabang filsafat yang membahas tentang hakikat yang ada (al-mawjūd),
menempati posisi sentral dalam tradisi filsafat Islam. Dalam khazanah Islam
klasik, ontologi tidak berdiri sebagai disiplin yang sepenuhnya terpisah,
melainkan terintegrasi dengan metafisika (al-ilāhiyyāt), kosmologi, dan
teologi rasional (‘ilm al-kalām). Pertanyaan mendasar
ontologi—apa yang dimaksud dengan “ada”, bagaimana struktur realitas, dan apa
prinsip terdalam dari eksistensi—selalu dikaitkan dengan persoalan ketuhanan,
penciptaan, dan relasi antara Tuhan dan alam.¹
Berbeda dengan
ontologi modern yang cenderung bersifat sekuler dan otonom, ontologi dalam
filsafat Islam berkembang dalam horizon teologis yang kuat. Namun demikian, hal
ini tidak mengurangi ketelitian rasionalnya. Para filosof Muslim mengembangkan
analisis ontologis dengan perangkat logika Aristotelian, teori definisi, dan
analisis konseptual yang ketat. Ontologi, dalam pengertian ini, menjadi
landasan bagi seluruh bangunan filsafat teoritis Islam.
2.2.
Pengertian Wujūd dan
Māhiyyah
Dalam kerangka
ontologis filsafat Islam, dua konsep kunci yang selalu menjadi titik tolak
pembahasan adalah wujūd (wujud) dan māhiyyah
(esensi atau quidditas). Māhiyyah merujuk pada “apa sesuatu
itu”, yakni hakikat yang menjadikan sesuatu dapat didefinisikan dan dibedakan
dari yang lain. Sebaliknya, wujūd menunjuk pada “fakta
keberadaan” sesuatu, yakni aktualitas bahwa sesuatu itu ada, bukan sekadar
mungkin atau terbayang dalam pikiran.²
Para filosof Islam
menegaskan bahwa esensi, secara konseptual, bersifat netral terhadap ada dan
tiada. Sebuah esensi dapat dipahami tanpa harus diasumsikan eksistensinya di
dunia nyata. Konsep “manusia”, misalnya, dapat dipahami tanpa harus merujuk pada
individu manusia tertentu. Sebaliknya, wujud tidak memberikan penjelasan
tentang apa
sesuatu itu, melainkan hanya menegaskan bahwa sesuatu tersebut ada. Distingsi
konseptual inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi perdebatan ontologis
mengenai mana yang lebih fundamental: wujud atau esensi.
2.3.
Akar Yunani dan
Transformasi dalam Filsafat Islam
Kerangka ontologis
filsafat Islam tidak dapat dilepaskan dari warisan filsafat Yunani, khususnya
metafisika Aristotelian. Aristoteles membedakan antara substansi dan aksiden,
antara potensi dan aktualitas, yang kemudian diterjemahkan dan dikembangkan
dalam bahasa serta kerangka konseptual Islam. Namun, filsafat Islam tidak
sekadar mengadopsi warisan Yunani, melainkan mentransformasikannya sesuai
dengan kebutuhan teologis dan epistemologis Islam.³
Dalam proses
transformasi ini, konsep esensi mendapatkan artikulasi yang lebih sistematis.
Melalui karya-karya Ibn Sīnā, distingsi antara esensi dan wujud memperoleh
bentuk klasiknya. Ibn Sīnā menegaskan bahwa esensi sesuatu dapat dipahami
secara mandiri, sementara wujud merupakan sesuatu yang “ditambahkan” pada
esensi. Pemikiran ini menjadi titik awal bagi berkembangnya mazhab Aṣālat
al-Māhiyyah, meskipun Ibn Sīnā sendiri tidak secara eksplisit menyatakan
primasi esensi sebagai doktrin ontologis final.
2.4.
Wujūd sebagai Konsep
dan Realitas
Salah satu
perdebatan penting dalam kerangka ontologis filsafat Islam adalah status wujūd:
apakah ia merupakan realitas objektif atau sekadar konsep mental. Dalam
pandangan yang cenderung mendukung Aṣālat al-Māhiyyah, wujūd dipahami sebagai ma‘qūl
thānī (konsep sekunder), yakni konsep yang tidak memiliki referen
eksternal secara mandiri, melainkan hanya berfungsi sebagai predikasi terhadap
esensi.⁴
Pandangan ini
berangkat dari analisis epistemologis: manusia mengetahui sesuatu pertama-tama
melalui esensinya, bukan melalui wujudnya. Wujud, dalam pengertian ini, tidak
menambah pengetahuan tentang hakikat sesuatu, melainkan hanya menegaskan
aktualitasnya. Oleh karena itu, wujūd diposisikan sebagai aksiden yang
bergantung sepenuhnya pada esensi, bukan sebagai realitas yang berdiri sendiri.
2.5.
Esensi sebagai Dasar
Klasifikasi Realitas
Dalam kerangka Aṣālat
al-Māhiyyah, esensi berfungsi sebagai dasar utama bagi klasifikasi dan struktur
realitas. Seluruh pembagian ontologis—seperti pembagian antara substansi dan
aksiden, antara universal dan partikular, serta antara wajib, mungkin, dan
mustahil—berakar pada perbedaan esensial, bukan pada perbedaan wujud. Esensi
memberikan identitas dan batasan ontologis bagi sesuatu, sementara wujud hanya
mengafirmasi keberadaannya.⁵
Implikasi dari
pandangan ini adalah pluralitas realitas dipahami sebagai pluralitas esensi,
bukan pluralitas wujud. Wujud dipandang sebagai satu konsep yang sama (mushtarak
ma‘nawī), sedangkan perbedaan nyata di dunia disebabkan oleh
perbedaan esensi-esensi yang menerimanya. Kerangka ini sangat berpengaruh dalam
filsafat dan teologi Islam, khususnya dalam upaya menjelaskan keragaman makhluk
tanpa mengorbankan keesaan Tuhan.
2.6.
Ontologi dan Relasinya
dengan Ilmu Kalam
Kerangka ontologis
dalam filsafat Islam juga berinteraksi secara intens dengan ilmu kalam. Dalam
tradisi Asy‘ariyah, misalnya, penekanan pada esensi dan aksiden digunakan untuk
menegaskan kontingensi makhluk dan ketergantungannya secara total kepada Tuhan.
Wujud dipahami sebagai keadaan yang diciptakan dan diperbarui terus-menerus
oleh kehendak ilahi, bukan sebagai realitas otonom. Dengan demikian, kerangka
ontologis Aṣālat al-Māhiyyah dianggap lebih kompatibel dengan prinsip teologis
seperti ḥudūth
al-‘ālam (kemakhlukan alam) dan kemahakuasaan mutlak Tuhan.⁶
Interaksi antara
filsafat dan kalam ini menunjukkan bahwa ontologi dalam Islam bukanlah
spekulasi abstrak yang terlepas dari iman, melainkan medan dialog antara rasio
dan wahyu. Kerangka ontologis yang dibangun para filosof tidak hanya bertujuan
menjelaskan realitas, tetapi juga menjaga koherensi rasional ajaran-ajaran
teologis Islam.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 5–8.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 89–92.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological
Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 17–22.
[4]
Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq
(Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 118–121.
[5]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 74–79.
[6]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 53–58.
3.
Latar Historis Aṣālat al-Māhiyyah
3.1.
Distingsi Esensi dan
Wujud dalam Filsafat Islam Awal
Latar historis Aṣālat
al-Māhiyyah tidak dapat dilepaskan dari munculnya distingsi konseptual antara māhiyyah
(esensi) dan wujūd (wujud) dalam filsafat Islam
awal. Distingsi ini bukanlah persoalan yang sejak awal dipahami secara
ontologis, melainkan mula-mula berfungsi sebagai alat analisis logis dan
epistemologis. Para filosof Muslim awal berupaya menjelaskan bagaimana sesuatu
dapat dipahami secara intelektual terlepas dari status keberadaannya di dunia
eksternal. Dalam konteks inilah esensi dipahami sebagai “apa sesuatu itu”,
sementara wujud dipahami sebagai fakta keberadaan yang bersifat tambahan.¹
Pada tahap awal,
distingsi ini belum secara eksplisit melahirkan mazhab ontologis tertentu.
Namun, penekanan pada keterpisahan konseptual antara esensi dan wujud membuka
kemungkinan bagi pemahaman bahwa esensi memiliki kedudukan yang lebih
fundamental. Secara historis, kecenderungan ini berkembang seiring dengan upaya
para filosof Muslim untuk menyelaraskan warisan filsafat Yunani dengan
prinsip-prinsip teologis Islam, terutama doktrin penciptaan dan kontingensi makhluk.
3.2.
Peran Sentral Ibn Sīnā
dalam Formulasi Distingsi Esensi–Wujud
Tokoh paling
berpengaruh dalam pembentukan kerangka konseptual yang kelak melahirkan Aṣālat
al-Māhiyyah adalah Ibn Sīnā. Dalam karya-karya metafisisnya, khususnya al-Ilāhiyyāt
dari al-Shifā’,
Ibn Sīnā menegaskan bahwa esensi sesuatu, sejauh dipahami oleh akal, bersifat
netral terhadap ada dan tiada. Esensi manusia, misalnya, tidak dengan
sendirinya meniscayakan keberadaan manusia tertentu di dunia nyata.²
Bagi Ibn Sīnā, wujud
bukan bagian dari definisi esensi, melainkan sesuatu yang “ditambahkan” (zā’id)
pada esensi dari luar. Analisis ini memiliki implikasi epistemologis yang kuat:
pengetahuan manusia terhadap realitas pada dasarnya adalah pengetahuan tentang
esensi, bukan tentang wujud. Wujud hanya diketahui secara implisit sebagai
penegasan bahwa esensi tersebut terealisasi. Meskipun Ibn Sīnā tidak secara
eksplisit menyatakan bahwa esensi lebih real daripada wujud, struktur
pemikirannya memberikan fondasi kuat bagi penafsiran ontologis yang menempatkan
esensi sebagai yang primer.³
3.3.
Perkembangan Pasca-Ibn
Sīnā dan Kecenderungan Primasi Esensi
Setelah Ibn Sīnā,
pemikir-pemikir filsafat Islam pascaklasik mewarisi distingsi esensi–wujud
dengan berbagai penekanan. Sebagian dari mereka membaca pemikiran Ibn Sīnā
secara ontologis dan menafsirkan wujud sebagai sesuatu yang tidak memiliki
realitas objektif tersendiri. Dalam penafsiran ini, wujud dipahami sebagai
konsep mental universal yang hanya berfungsi sebagai predikasi terhadap
esensi-esensi yang beragam.⁴
Kecenderungan ini
diperkuat oleh analisis logis mengenai universalitas konsep wujud. Jika wujud
dipahami sebagai realitas objektif, maka muncul persoalan tentang bagaimana
satu realitas yang sama dapat hadir dalam entitas-entitas yang sangat beragam.
Sebaliknya, jika wujud dipahami sebagai konsep mental sekunder (ma‘qūl
thānī), maka problem ini dapat dihindari. Dengan demikian, primasi
esensi dianggap sebagai solusi ontologis yang lebih konsisten secara logis.
3.4.
Aṣālat al-Māhiyyah dalam
Tradisi Ilmu Kalam Asy‘ari
Selain berkembang
dalam filsafat, kecenderungan primasi esensi juga menemukan resonansi yang kuat
dalam tradisi ilmu kalam, khususnya kalam Asy‘ari. Para teolog Asy‘ari
menekankan bahwa realitas makhluk sepenuhnya bergantung pada kehendak dan
penciptaan Tuhan. Dalam kerangka ini, wujud tidak dipahami sebagai realitas
mandiri, melainkan sebagai keadaan atau sifat yang diciptakan dan diperbarui
oleh Tuhan pada esensi-esensi makhluk.⁵
Pandangan ini
selaras dengan konsep atomisme kalam, di mana realitas terdiri atas
substansi-substansi individual dan aksiden-aksiden yang melekat padanya. Wujud,
dalam perspektif ini, tidak lebih dari aksiden yang meniscayakan keberadaan
aktual suatu esensi pada saat tertentu. Oleh karena itu, Aṣālat al-Māhiyyah
tidak hanya memiliki basis filosofis, tetapi juga basis teologis yang kuat
dalam tradisi Asy‘ariyah. Hubungan ini menjelaskan mengapa sebagian teolog
Asy‘ari cenderung skeptis terhadap pandangan yang menempatkan wujud sebagai
realitas ontologis fundamental.
3.5.
Konteks Polemik dan
Munculnya Mazhab Tandingan
Penting untuk
dicatat bahwa Aṣālat al-Māhiyyah tidak berkembang dalam ruang hampa. Seiring
waktu, muncul kritik terhadap pandangan ini, terutama dari tradisi filsafat
yang menekankan realitas wujud. Polemik antara primasi esensi dan primasi wujud
mencapai puncaknya pada periode filsafat Islam pascaklasik, ketika para filosof
mulai secara eksplisit merumuskan posisi ontologis mereka. Dalam konteks
polemik inilah Aṣālat al-Māhiyyah memperoleh bentuknya sebagai sebuah mazhab
yang relatif jelas dan terartikulasi.⁶
Dengan demikian,
latar historis Aṣālat al-Māhiyyah menunjukkan bahwa mazhab ini bukanlah sekadar
posisi spekulatif, melainkan hasil dari proses intelektual yang panjang,
melibatkan dialog antara filsafat Yunani, filsafat Islam Peripatetik, dan
teologi Islam. Pemahaman terhadap latar historis ini menjadi kunci untuk
menilai secara adil kekuatan dan keterbatasan primasi esensi dalam metafisika
Islam.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 91–94.
[2]
Ibn Sīnā, al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrāhīm Madkour et al.
(Kairo: al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah, 1960), 29–31.
[3]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 97–101.
[4]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 83–87.
[5]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 61–65.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 162–166.
4.
Konsep Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi)
4.1.
Definisi Aṣālat al-Māhiyyah
Aṣālat al-Māhiyyah
adalah doktrin ontologis yang menegaskan bahwa esensi (al-māhiyyah)
merupakan realitas yang paling fundamental, sedangkan wujud (al-wujūd)
bersifat aksidental—yakni hadir pada esensi sebagai sesuatu
yang ditambahkan, bukan sebagai unsur konstitutifnya. Dalam kerangka ini,
esensi dipahami sebagai hakikat yang menentukan “apa sesuatu itu”, sementara
wujud hanya menandai bahwa esensi tersebut terealisasi dalam kenyataan. Dengan
demikian, primasi tidak diberikan kepada “keberadaan” sebagai realitas mandiri,
melainkan kepada struktur hakiki yang memungkinkan definisi, klasifikasi, dan
pengetahuan tentang sesuatu.¹
Konsep ini tidak
mengingkari keberadaan faktual benda-benda, tetapi menafsirkan
keberadaan sebagai modus atau keadaan yang bergantung
sepenuhnya pada esensi. Oleh karena itu, Aṣālat al-Māhiyyah sering dipahami
sebagai posisi ontologis yang menempatkan ketertiban esensial sebagai
dasar realitas, dan wujud sebagai afirmasi
eksternal terhadap ketertiban tersebut.
4.2.
Esensi sebagai Hakikat
yang Dapat Didefinisikan
Salah satu pilar
utama Aṣālat al-Māhiyyah adalah tesis bahwa esensi merupakan objek definisi (ḥadd) dan
pengetahuan (‘ilm).
Dalam tradisi logika dan metafisika Islam, definisi yang sahih hanya mungkin
terhadap esensi, bukan terhadap wujud. Wujud tidak dapat didefinisikan secara
esensial karena ia tidak mengandung diferensia yang membedakannya dari dirinya
sendiri; ia hanya “ada”.²
Sebaliknya, esensi
menyediakan struktur konseptual yang memungkinkan diferensiasi dan penentuan identitas.
Melalui esensi, sesuatu dapat dikelompokkan ke dalam genus dan spesies, serta
dibedakan dari yang lain. Atas dasar ini, Aṣālat al-Māhiyyah berargumen bahwa apa yang
menjadi dasar pengetahuan dan klasifikasi mestilah lebih fundamental secara
ontologis daripada apa yang tidak dapat didefinisikan atau
diketahui secara langsung.
4.3.
Netralitas Esensi
terhadap Ada dan Tiada
Ciri konseptual
penting dari esensi adalah netralitasnya terhadap ada dan tiada.
Esensi, sejauh dipahami oleh akal, tidak meniscayakan keberadaan aktual. Konsep
“manusia”, misalnya, tetap bermakna baik ketika ada manusia aktual maupun
ketika tidak ada individu manusia tertentu yang terwujud. Netralitas ini
menunjukkan bahwa esensi memiliki status konseptual yang independen dari
wujud.³
Dalam kerangka Aṣālat
al-Māhiyyah, netralitas ini tidak dipahami sekadar sebagai fenomena mental,
melainkan sebagai indikasi bahwa esensi memiliki prioritas
ontologis. Wujud hadir sebagai sesuatu yang mengaktualkan
esensi, tetapi tidak membentuk hakikatnya. Oleh karena itu, relasi antara
esensi dan wujud dipahami sebagai relasi penerimaan (qabūl):
esensi menerima wujud, bukan sebaliknya.
4.4.
Wujūd sebagai Aksiden
(‘Āriḍ)
Konsekuensi langsung
dari primasi esensi adalah pemahaman bahwa wujud bersifat aksidental.
Dalam terminologi metafisika Islam, aksiden adalah sesuatu yang keberadaannya
bergantung pada substansi atau hakikat lain. Wujud, menurut Aṣālat al-Māhiyyah,
tidak memiliki subsistensi mandiri; ia selalu “menempel” pada esensi tertentu.⁴
Penafsiran ini
diperkuat oleh analisis logis terhadap konsep wujud sebagai konsep
universal yang seragam. Jika wujud dipahami sebagai realitas
objektif, maka harus dijelaskan bagaimana satu realitas yang sama dapat hadir
dalam entitas yang sangat beragam tanpa kehilangan identitasnya. Dengan
menempatkan wujud sebagai aksiden dan konsep sekunder, problem ini dihindari: yang
beragam adalah esensi-esensi, bukan wujud.
4.5.
Status Epistemologis
Wujūd sebagai Ma‘qūl Thānī
Dalam Aṣālat
al-Māhiyyah, wujud sering diklasifikasikan sebagai ma‘qūl thānī (konsep sekunder),
yakni konsep yang dibentuk oleh akal melalui refleksi atas konsep-konsep
pertama (esensi). Konsep sekunder tidak memiliki referen eksternal yang berdiri
sendiri, melainkan bergantung pada konsep pertama untuk bermakna.⁵
Implikasi
epistemologisnya signifikan: pengetahuan manusia terhadap realitas pada
dasarnya adalah pengetahuan tentang esensi, sedangkan wujud
hanya diketahui secara reflektif sebagai predikasi. Dengan demikian, wujud
tidak menambah kandungan informatif tentang hakikat sesuatu. Argumen ini
digunakan untuk menegaskan bahwa apa yang tidak menambah pengetahuan hakiki
tidak layak diposisikan sebagai realitas paling fundamental.
4.6.
Pluralitas Esensi dan
Kesatuan Konsep Wujūd
Aṣālat al-Māhiyyah
juga menawarkan kerangka untuk menjelaskan pluralitas realitas.
Keanekaragaman dunia tidak dipahami sebagai keanekaragaman wujud, melainkan
sebagai keanekaragaman esensi-esensi
yang menerima wujud. Wujud sendiri dipahami sebagai satu konsep yang sama (mushtarak
ma‘nawī), digunakan secara univokal pada semua yang ada, tetapi
tanpa menunjukkan realitas objektif yang identik pada setiap entitas.⁶
Dengan kerangka ini,
mazhab primasi esensi berupaya menjaga konsistensi antara keseragaman konsep
wujud dan keragaman nyata dunia. Realitas dunia tidak dipecah oleh “tingkatan
wujud”, melainkan oleh perbedaan esensial yang inheren pada entitas-entitasnya.
4.7.
Fondasi Avicennian dan
Artikulasi Mazhab
Meskipun Aṣālat
al-Māhiyyah sebagai doktrin ontologis berkembang secara eksplisit pada periode
pascaklasik, fondasi konseptualnya berakar kuat dalam pemikiran Ibn Sīnā.
Analisis Ibn Sīnā mengenai netralitas esensi, ketakterdefinisian wujud, dan
status wujud sebagai sesuatu yang ditambahkan pada esensi memberikan perangkat
teoritis yang memungkinkan lahirnya mazhab ini.⁷
Namun, penting
dicatat bahwa primasi esensi merupakan pembacaan dan pengembangan atas
kerangka Avicennian, bukan pernyataan eksplisit dari Ibn Sīnā sendiri. Hal ini
menunjukkan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah adalah hasil dinamika intelektual internal
filsafat Islam, yang menafsirkan dan menstrukturkan kembali gagasan-gagasan
klasik sesuai kebutuhan ontologis dan teologis tertentu.
Implikasi
Awal bagi Metafisika dan Teologi
Secara metafisis, Aṣālat
al-Māhiyyah menegaskan bahwa struktur realitas ditentukan oleh hakikat,
bukan oleh keberadaan semata. Secara teologis, posisi ini membuka ruang bagi
penekanan pada kontingensi makhluk dan
ketergantungan totalnya pada Tuhan sebagai pemberi wujud. Dengan menolak
otonomi ontologis wujud, mazhab ini menjaga jarak dari segala bentuk reifikasi
keberadaan yang berpotensi mengaburkan perbedaan ontologis antara Tuhan dan
makhluk.⁸
Dengan demikian, Aṣālat
al-Māhiyyah bukan sekadar tesis teknis metafisika, melainkan sebuah kerangka
ontologis yang memiliki resonansi luas dalam filsafat dan teologi Islam.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 174–176.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 90–94.
[3]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 68–72.
[4]
Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq
(Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 120–124.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 158–160.
[6]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 41–44.
[7]
Ibn Sīnā, al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrāhīm Madkour et al.
(Kairo: al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah, 1960), 31–34.
[8]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 66–70.
5.
Argumentasi Filosofis Aṣālat al-Māhiyyah
5.1.
Pengantar:
Rasionalitas Argumen Primasi Esensi
Mazhab Aṣālat
al-Māhiyyah tidak dibangun semata-mata atas asumsi metafisis, melainkan
disokong oleh rangkaian argumentasi filosofis yang bersifat konseptual,
epistemologis, dan logis. Para pendukung primasi esensi berupaya menunjukkan
bahwa esensi lebih layak diposisikan sebagai realitas fundamental dibandingkan
wujud, baik dari sudut pandang struktur pengetahuan manusia maupun dari
konsistensi ontologi itu sendiri. Argumen-argumen ini tidak selalu dikemukakan
dalam bentuk sistematis oleh satu tokoh tertentu, melainkan tersebar dalam
karya-karya filsafat dan kalam yang kemudian membentuk satu kecenderungan
mazhab yang relatif koheren.¹
5.2.
Argumentasi
Konseptual: Esensi sebagai Objek Definisi
Argumen konseptual
utama Aṣālat al-Māhiyyah bertolak dari fakta bahwa hanya
esensi yang dapat didefinisikan secara hakiki, sementara wujud
tidak. Dalam tradisi logika Aristotelian yang diadopsi oleh filsafat Islam,
definisi (ḥadd)
harus menjelaskan hakikat sesuatu melalui genus dan diferensia. Esensi memenuhi
syarat ini karena ia mengandung struktur internal yang memungkinkan
diferensiasi. Sebaliknya, wujud tidak memiliki diferensia esensial yang
membedakannya dari dirinya sendiri.²
Jika definisi
merupakan sarana utama untuk memahami hakikat realitas, maka apa yang dapat
didefinisikanlah yang lebih fundamental secara ontologis. Dari sudut pandang
ini, wujud tampak sebagai konsep yang terlalu umum dan kosong untuk dijadikan
dasar ontologi. Ia tidak menjelaskan “apa” sesuatu itu, melainkan hanya
menegaskan bahwa sesuatu tersebut ada. Oleh karena itu, primasi esensi dianggap
lebih sejalan dengan tuntutan analisis konseptual yang ketat.
5.3.
Argumentasi
Epistemologis: Pengetahuan tentang “Apa”, bukan “Bahwa”
Argumen epistemologis
Aṣālat al-Māhiyyah menekankan bahwa pengetahuan manusia pada dasarnya adalah
pengetahuan tentang esensi, bukan tentang wujud. Ketika manusia
mengetahui sesuatu, yang pertama-tama dipahami adalah hakikatnya—misalnya, apa
itu manusia, pohon, atau segitiga—bukan fakta bahwa objek tersebut ada secara
aktual. Fakta keberadaan hanya diketahui secara sekunder dan tidak menambah
pemahaman tentang hakikat objek.³
Dari perspektif ini,
wujud tidak berfungsi sebagai sumber pengetahuan hakiki, melainkan hanya
sebagai afirmasi eksternal. Jika pengetahuan merupakan jalan utama untuk
menyingkap realitas, maka realitas yang menjadi objek pengetahuan primer—yakni
esensi—lebih layak disebut fundamental. Dengan demikian, primasi esensi
memperoleh justifikasi epistemologis yang kuat.
5.4.
Argumentasi Logis:
Universalitas Konsep Wujūd
Argumen logis lain
yang sering dikemukakan berkaitan dengan status universal konsep wujud.
Wujud dipredikasikan secara sama pada semua entitas—baik yang bersifat material
maupun immaterial, sederhana maupun kompleks. Jika wujud merupakan realitas
objektif yang berdiri sendiri, maka harus dijelaskan bagaimana satu realitas
yang identik dapat hadir dalam entitas-entitas yang sangat beragam tanpa
kehilangan kesatuannya.⁴
Pendukung Aṣālat
al-Māhiyyah memandang bahwa problem ini hanya dapat dihindari jika wujud
dipahami sebagai konsep mental universal, bukan sebagai realitas eksternal.
Dengan menempatkan wujud sebagai konsep sekunder, keanekaragaman dunia dapat
dijelaskan melalui pluralitas esensi, bukan melalui fragmentasi atau gradasi
wujud. Argumen ini bertujuan menunjukkan bahwa primasi esensi lebih konsisten
secara logis dibandingkan alternatifnya.
5.5.
Argumentasi tentang
Aksidentalitas Wujūd
Argumen berikutnya
berkaitan dengan status ontologis wujud sebagai aksiden.
Dalam kerangka metafisika klasik, aksiden adalah sesuatu yang keberadaannya
bergantung pada substansi atau hakikat lain. Wujud, menurut Aṣālat al-Māhiyyah,
tidak pernah ditemukan secara mandiri; ia selalu merupakan wujud-dari-sesuatu.
Tidak ada “wujud murni” yang dapat dipersepsi atau dipahami tanpa merujuk pada
esensi tertentu.⁵
Ketergantungan
eksistensial ini digunakan untuk menegaskan bahwa wujud tidak memiliki
kemandirian ontologis. Apa yang selalu bergantung tidak dapat menjadi prinsip
pertama. Oleh karena itu, esensi—yang menjadi substrat bagi kehadiran
wujud—diposisikan sebagai realitas yang lebih fundamental.
5.6.
Argumentasi dari
Netralitas Esensi terhadap Ada dan Tiada
Argumen penting
lainnya adalah netralitas esensi terhadap ada dan tiada.
Esensi, sejauh dipahami oleh akal, tidak meniscayakan keberadaan aktual. Ia
dapat dipikirkan baik dalam keadaan ada maupun tidak ada. Netralitas ini
menunjukkan bahwa esensi memiliki status konseptual yang otonom terhadap
wujud.⁶
Pendukung Aṣālat al-Māhiyyah
menafsirkan otonomi konseptual ini sebagai indikasi prioritas ontologis. Wujud
hanya berfungsi mengaktualkan esensi, bukan membentuk hakikatnya. Jika hakikat
tidak berubah dengan ada atau tidaknya wujud, maka hakikatlah yang lebih
mendasar.
5.7.
Fondasi Avicennian
dalam Argumentasi Primasi Esensi
Sebagian besar
argumentasi di atas berakar pada analisis metafisis yang dikembangkan oleh Ibn
Sīnā, meskipun ia sendiri tidak secara eksplisit menyatakan Aṣālat al-Māhiyyah
sebagai doktrin final. Ibn Sīnā menegaskan bahwa wujud tidak termasuk dalam
definisi esensi dan bahwa esensi, secara konseptual, mendahului wujud. Analisis
ini kemudian dibaca secara ontologis oleh para penerusnya dan dikembangkan
menjadi argumen sistematis bagi primasi esensi.⁷
Dengan demikian, Aṣālat
al-Māhiyyah dapat dipahami sebagai hasil rasionalisasi lebih lanjut atas
kerangka Avicennian, yang menekankan koherensi logis dan epistemologis dalam
memahami struktur realitas.
Evaluasi
Awal terhadap Kekuatan Argumentasi
Secara keseluruhan,
argumentasi filosofis Aṣālat al-Māhiyyah menunjukkan konsistensi internal yang
kuat, terutama dalam menjelaskan relasi antara pengetahuan, definisi, dan
struktur realitas. Namun, argumen-argumen ini juga membuka ruang kritik,
terutama dari sudut pandang yang menekankan realitas objektif wujud. Evaluasi
kritis terhadap argumen-argumen ini akan menjadi fokus pembahasan pada bab-bab
selanjutnya, khususnya dalam perbandingan dengan mazhab Aṣālat al-Wujūd.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 173–175.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 92–95.
[3]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 70–74.
[4]
Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq
(Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 125–128.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 159–162.
[6]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 39–42.
[7]
Ibn Sīnā, al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrāhīm Madkour et al.
(Kairo: al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah, 1960), 32–35.
6.
Aṣālat al-Māhiyyah dalam Ilmu Kalam Asy‘ari
6.1.
Ontologi Kalam Asy‘ari
dan Posisi Esensi
Ilmu kalam Asy‘ari
berkembang dengan tujuan utama mempertahankan doktrin-doktrin teologis Islam
melalui argumen rasional, khususnya terkait kemahakuasaan Tuhan, kemakhlukan
alam, dan ketergantungan mutlak makhluk kepada kehendak ilahi. Dalam kerangka
ini, pembahasan ontologis tidak pernah bersifat netral atau murni spekulatif,
melainkan selalu diarahkan untuk menjaga konsistensi akidah. Karena itu,
ontologi kalam Asy‘ari menunjukkan kecenderungan yang selaras dengan prinsip Aṣālat
al-Māhiyyah, meskipun tidak selalu dirumuskan secara eksplisit sebagai doktrin
metafisis.¹
Bagi teolog Asy‘ari,
realitas makhluk dipahami sebagai sesuatu yang tidak memiliki keberadaan mandiri.
Makhluk tidak “ada” dengan sendirinya, melainkan ada karena diciptakan dan
dipertahankan oleh Tuhan pada setiap saat. Dalam konteks ini, wujud tidak
dipahami sebagai realitas otonom, melainkan sebagai keadaan yang melekat pada
esensi makhluk sebagai akibat dari tindakan penciptaan Tuhan.
6.2.
Atomisme Kalam dan
Struktur Esensial Realitas
Salah satu ciri
paling khas dari ontologi Asy‘ari adalah doktrin atomisme (al-jawhar
al-fard). Menurut doktrin ini, realitas fisik tersusun dari
substansi-substansi indivisible (jawhar) dan aksiden-aksiden (‘araḍ) yang
melekat padanya. Substansi dipahami sebagai pembawa identitas dasar, sedangkan
aksiden merupakan sifat-sifat yang berubah-ubah dan tidak memiliki keberadaan
mandiri.²
Dalam kerangka
atomisme ini, esensi substansi menempati posisi sentral sebagai dasar realitas,
sementara aksiden—termasuk keadaan “ada”—dipahami sebagai sesuatu yang
bergantung. Dengan demikian, struktur ontologis kalam Asy‘ari secara implisit
menegaskan primasi esensi atas wujud. Wujud tidak diperlakukan sebagai hakikat
tersendiri, melainkan sebagai aksiden yang dihadirkan Tuhan pada substansi pada
setiap momen keberadaan.
6.3.
Wujūd sebagai Ḥāl atau
Aksiden
Dalam diskursus
kalam, khususnya pada perdebatan tentang aḥwāl (keadaan), wujud sering kali
dipahami sebagai sesuatu yang berada di antara ada dan tiada, atau sebagai
sifat yang tidak sepenuhnya identik dengan esensi. Meskipun konsep ḥāl
tidak diterima secara seragam oleh semua teolog Asy‘ari, diskursus ini
menunjukkan kecenderungan untuk tidak mereduksi realitas pada wujud semata.³
Wujud, dalam
pemahaman ini, tidak memiliki status ontologis yang mandiri. Ia tidak berdiri
sejajar dengan esensi, apalagi mengunggulinya. Sebaliknya, wujud dipahami
sebagai kondisi yang melekat pada esensi akibat kehendak Tuhan. Pandangan ini
sejalan dengan tesis Aṣālat al-Māhiyyah yang menempatkan wujud sebagai aksiden,
bukan sebagai prinsip pertama realitas.
6.4.
Penciptaan
Berkelanjutan dan Kontingensi Makhluk
Salah satu implikasi
teologis terpenting dari ontologi Asy‘ari adalah doktrin tajdīd
al-khalq (penciptaan berkelanjutan). Menurut doktrin ini, Tuhan
menciptakan makhluk beserta aksiden-aksidennya pada setiap saat. Tidak ada
keberlangsungan eksistensi yang otonom dari satu momen ke momen berikutnya.⁴
Doktrin ini sulit
dipertahankan jika wujud dipahami sebagai realitas ontologis yang mandiri dan
stabil. Sebaliknya, jika wujud dipahami sebagai keadaan aksidental yang
bergantung pada esensi dan kehendak Tuhan, maka penciptaan berkelanjutan
menjadi masuk akal secara rasional. Dalam konteks ini, Aṣālat al-Māhiyyah
menyediakan kerangka ontologis yang kompatibel dengan prinsip kontingensi
mutlak makhluk dalam teologi Asy‘ari.
6.5.
Pengetahuan Tuhan dan
Status Esensi
Dalam teologi
Asy‘ari, pengetahuan Tuhan dipahami sebagai pengetahuan yang meliputi segala
sesuatu sebelum dan sesudah penciptaan. Esensi-esensi makhluk diketahui oleh
Tuhan bahkan sebelum mereka diwujudkan secara aktual. Hal ini mengandaikan
bahwa esensi memiliki status intelligible yang independen dari wujud aktualnya.⁵
Jika pengetahuan
Tuhan mencakup esensi-esensi sebelum keberadaan aktualnya, maka esensi memiliki
prioritas konseptual yang kuat. Wujud hanya menjadi aktualisasi temporal dari
sesuatu yang sudah diketahui dalam tatanan ilmu ilahi. Pandangan ini memperkuat
posisi Aṣālat al-Māhiyyah dalam konteks kalam, karena menempatkan esensi
sebagai dasar intelligibilitas realitas, baik bagi akal manusia maupun ilmu
Tuhan.
6.6.
Kritik Asy‘ari
terhadap Reifikasi Wujūd
Teolog Asy‘ari
umumnya bersikap kritis terhadap segala bentuk pemikiran yang berpotensi
mereifikasi wujud—yakni memperlakukan wujud sebagai realitas yang berdiri
sendiri atau sebagai prinsip yang membatasi kehendak Tuhan. Pandangan semacam
itu dikhawatirkan mengarah pada pembatasan kemahakuasaan Tuhan atau pada
pengakuan adanya prinsip selain Tuhan yang bersifat niscaya.⁶
Dalam konteks ini, Aṣālat
al-Māhiyyah dipandang lebih aman secara teologis karena tidak mengakui wujud
sebagai realitas mandiri. Dengan menempatkan wujud sebagai aksiden yang
sepenuhnya bergantung pada Tuhan, mazhab ini menjaga transendensi dan keesaan
Tuhan tanpa mengorbankan koherensi rasional.
6.7.
Al-Ghazālī dan
Integrasi Kalam–Filsafat
Pemikiran Al-Ghazālī
menunjukkan dengan jelas bagaimana kecenderungan primasi esensi dapat
diintegrasikan dalam kerangka kalam Asy‘ari. Meskipun kritis terhadap
metafisika filosofis tertentu, al-Ghazālī menerima banyak perangkat konseptual
filsafat, termasuk distingsi esensi–wujud, selama tidak bertentangan dengan
prinsip teologis.⁷
Dalam kritiknya
terhadap para filosof, al-Ghazālī tidak menolak analisis esensi sebagai dasar
pengetahuan, tetapi menolak klaim-klaim ontologis yang mengarah pada niscayanya
alam atau otonomi wujud. Dengan demikian, pemikirannya memperlihatkan bagaimana
Aṣālat al-Māhiyyah dapat berfungsi sebagai jembatan antara rasionalitas
filosofis dan komitmen teologis Asy‘ari.
Signifikansi
Aṣālat al-Māhiyyah dalam Kalam Asy‘ari
Secara keseluruhan,
Aṣālat al-Māhiyyah memberikan landasan ontologis yang konsisten bagi teologi
Asy‘ari. Dengan menempatkan esensi sebagai dasar realitas dan wujud sebagai
aksiden yang diciptakan, mazhab ini mendukung doktrin-doktrin kunci seperti
kemakhlukan alam, penciptaan berkelanjutan, dan ketergantungan mutlak makhluk
kepada Tuhan. Oleh karena itu, primasi esensi dalam kalam Asy‘ari bukan sekadar
pilihan metafisis, melainkan konsekuensi rasional dari komitmen teologis yang
mendasar.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 215–218.
[2]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 41–45.
[3]
Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert
Hidschra, vol. 2 (Berlin: Walter de Gruyter, 1992), 291–296.
[4]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 106–109.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 146–149.
[6]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 57–60.
[7]
Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut:
Imprimerie Catholique, 1927), 27–30.
7.
Perbandingan dengan Aṣālat al-Wujūd
7.1.
Pengantar Perbandingan
Ontologis
Perbandingan antara Aṣālat
al-Māhiyyah (Primasi Esensi) dan Aṣālat
al-Wujūd (Primasi Wujud) merupakan salah satu poros utama
perdebatan ontologis dalam filsafat Islam pascaklasik. Kedua mazhab ini tidak
sekadar berbeda dalam terminologi, melainkan menawarkan cara
pandang yang berlawanan tentang struktur terdalam realitas:
apakah yang paling fundamental adalah apa sesuatu itu (esensi), atau fakta
keberadaannya (wujud). Perbandingan ini menjadi penting untuk
menilai koherensi internal masing-masing mazhab, kekuatan argumentatifnya,
serta implikasi metafisis dan teologis yang dihasilkannya.¹
7.2.
Garis Besar Aṣālat
al-Wujūd
Aṣālat al-Wujūd
menyatakan bahwa wujud merupakan realitas ontologis yang primer,
sedangkan esensi bersifat derivatif dan konseptual. Dalam pandangan ini, esensi
tidak memiliki realitas eksternal yang berdiri sendiri; ia merupakan konstruksi
intelektual yang dibentuk akal untuk memahami dan mengklasifikasikan realitas
yang pada hakikatnya adalah wujud. Dengan demikian, realitas tidak ditentukan
oleh struktur esensial, melainkan oleh derajat dan intensitas wujud.²
Mazhab ini mencapai
formulasi sistematisnya dalam filsafat Hikmah Muta‘āliyah, terutama melalui
pemikiran Mullā Ṣadrā. Ia menegaskan bahwa wujud bersifat nyata (ḥaqīqī),
tunggal secara hakikat, tetapi bergradasi (tashkīk), sementara esensi hanyalah
batasan konseptual yang menangkap manifestasi wujud pada tingkat tertentu.³
7.3.
Perbedaan Ontologis
Mendasar
Perbedaan paling
mendasar antara kedua mazhab terletak pada status ontologis wujud dan esensi.
Dalam Aṣālat al-Māhiyyah, esensi adalah realitas fundamental, sedangkan wujud
adalah aksiden yang hadir pada esensi. Sebaliknya, dalam Aṣālat al-Wujūd, wujud
adalah realitas fundamental, sedangkan esensi hanyalah konsep mental yang
diabstraksikan dari wujud.⁴
Perbedaan ini
menghasilkan konsekuensi ontologis yang luas. Aṣālat al-Māhiyyah memahami
pluralitas dunia sebagai pluralitas esensi-esensi yang menerima wujud,
sedangkan Aṣālat al-Wujūd memahami pluralitas sebagai perbedaan tingkat dan
intensitas wujud. Dengan kata lain, yang satu menekankan perbedaan
hakikat, sementara yang lain menekankan kontinuitas
eksistensial.
7.4.
Perbedaan
Epistemologis: Esensi vs Wujud sebagai Objek Pengetahuan
Dari sisi
epistemologi, Aṣālat al-Māhiyyah berargumen bahwa pengetahuan
manusia pada dasarnya adalah pengetahuan tentang esensi.
Definisi, klasifikasi, dan demonstrasi ilmiah hanya mungkin jika esensi
diposisikan sebagai objek pengetahuan primer. Wujud, karena tidak dapat
didefinisikan, dipandang tidak memberikan kandungan informatif yang memadai
untuk pengetahuan ilmiah.⁵
Sebaliknya, Aṣālat
al-Wujūd menegaskan bahwa pengetahuan hakiki adalah pengetahuan tentang
realitas yang ada, yakni wujud. Esensi dianggap sebagai alat konseptual yang
berguna, tetapi tidak merepresentasikan realitas eksternal secara langsung.
Dari perspektif ini, pengetahuan tentang esensi dipandang bersifat
representasional dan tidak sepenuhnya menangkap realitas wujud yang dinamis.⁶
7.5.
Kritik Aṣālat
al-Māhiyyah terhadap Primasi Wujud
Pendukung Aṣālat
al-Māhiyyah mengajukan sejumlah kritik terhadap Aṣālat al-Wujūd. Pertama,
mereka berargumen bahwa wujud tidak dapat menjadi prinsip pertama
karena ia tidak dapat didefinisikan atau dibedakan secara esensial. Prinsip
pertama, menurut mereka, haruslah sesuatu yang dapat menjelaskan perbedaan dan
identitas, dan hal ini hanya mungkin dilakukan oleh esensi.⁷
Kedua, konsep gradasi
wujud (tashkīk al-wujūd)
dikritik sebagai sulit dipertahankan secara logis. Jika wujud adalah satu
realitas yang sama, maka perbedaan tingkat wujud berpotensi mereduksi perbedaan
hakiki antar-entitas menjadi sekadar perbedaan kuantitatif atau intensitas,
yang dianggap tidak cukup menjelaskan pluralitas nyata dunia. Kritik ini
menegaskan bahwa perbedaan esensial lebih memadai untuk menjelaskan keragaman
realitas.⁸
7.6.
Kritik Aṣālat al-Wujūd
terhadap Primasi Esensi
Sebaliknya,
pendukung Aṣālat al-Wujūd mengkritik Aṣālat al-Māhiyyah karena dianggap mereifikasi
esensi—yakni memperlakukan esensi seolah-olah memiliki realitas
eksternal yang berdiri sendiri. Mereka berargumen bahwa esensi, sejauh netral
terhadap ada dan tiada, tidak mungkin memiliki realitas eksternal tanpa wujud.
Oleh karena itu, menjadikan esensi sebagai prinsip pertama dianggap mengaburkan
fakta bahwa yang nyata di luar pikiran adalah wujud.⁹
Selain itu, Aṣālat
al-Wujūd menilai bahwa memahami wujud sebagai aksiden berpotensi mereduksi
realitas menjadi struktur statis, dan sulit menjelaskan dinamika ontologis
seperti perubahan, intensifikasi eksistensi, dan relasi sebab-akibat secara
mendalam.
7.7.
Implikasi Teologis
Perbandingan
Perbedaan antara
kedua mazhab ini juga berdampak signifikan pada teologi. Aṣālat al-Māhiyyah
cenderung lebih kompatibel dengan teologi Asy‘ari yang menekankan kontingensi
mutlak makhluk dan kehendak Tuhan yang bebas. Dengan menolak otonomi ontologis
wujud, mazhab ini menjaga jarak yang tegas antara Tuhan dan makhluk.¹⁰
Sebaliknya, Aṣālat
al-Wujūd sering dipandang lebih selaras dengan pendekatan metafisis yang
menekankan kesatuan realitas dan manifestasi keberadaan ilahi. Namun,
pendekatan ini juga memunculkan kekhawatiran teologis tertentu, terutama jika
tidak dirumuskan dengan hati-hati, terkait batas antara transendensi Tuhan dan
realitas makhluk.
Evaluasi
Komparatif
Secara evaluatif,
perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua mazhab memiliki kekuatan
dan keterbatasan masing-masing. Aṣālat al-Māhiyyah unggul dalam
analisis definisional, klasifikasi, dan koherensi dengan teologi kontingensi,
sementara Aṣālat al-Wujūd unggul dalam menjelaskan realitas eksistensial yang
dinamis dan kesatuan ontologis. Oleh karena itu, perdebatan antara keduanya
tidak semata-mata tentang benar atau salah, melainkan tentang kerangka
konseptual mana yang lebih memadai untuk tujuan filosofis dan
teologis tertentu.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 176–179.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 165–168.
[3]
Mullā Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1 (Tehran: Dār al-Kutub
al-Islāmiyyah, 1981), 49–55.
[4]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 113–116.
[5]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 88–91.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological
Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 243–247.
[7]
Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq
(Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 130–134.
[8]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 45–48.
[9]
Mullā Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1, 60–64.
[10]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 72–76.
8.
Implikasi Filosofis dan Teologis
8.1.
Pengantar: Dari
Ontologi ke Konsekuensi Konseptual
Mazhab Aṣālat
al-Māhiyyah tidak berhenti sebagai tesis ontologis teknis
mengenai relasi esensi (māhiyyah) dan wujud (wujūd).
Ia membawa implikasi luas yang menjalar ke wilayah epistemologi, kosmologi, dan
teologi. Dengan menempatkan esensi sebagai realitas fundamental dan memaknai
wujud sebagai aksiden atau keadaan yang bergantung, mazhab ini membentuk cara
tertentu dalam memahami struktur realitas, cara manusia mengetahui dunia, serta
relasi antara Tuhan dan makhluk. Bab ini menguraikan implikasi-implikasi
tersebut secara sistematis, dengan menekankan koherensi internal dan
relevansinya dalam tradisi pemikiran Islam.¹
8.2.
Implikasi Filosofis
terhadap Konsep Realitas
Secara filosofis, Aṣālat
al-Māhiyyah menegaskan bahwa realitas ditentukan oleh struktur hakikat,
bukan oleh fakta keberadaan semata. Realitas dunia dipahami sebagai kumpulan
esensi-esensi yang berbeda secara hakiki dan menerima wujud sebagai afirmasi
eksternal. Dengan demikian, pluralitas dunia dijelaskan melalui perbedaan
esensial, bukan melalui perbedaan intensitas atau gradasi
wujud.
Implikasi penting
dari pandangan ini adalah kecenderungan pada ontologi diskret: realitas terdiri
dari entitas-entitas yang berbeda secara tegas satu sama lain berdasarkan
esensinya. Pendekatan ini mendukung analisis klasifikatoris dan definisional
yang ketat, tetapi pada saat yang sama membatasi penjelasan tentang kontinuitas
ontologis atau dinamika eksistensial.²
8.3.
Implikasi
Epistemologis: Pengetahuan Esensial dan Ilmu
Dalam ranah
epistemologi, Aṣālat al-Māhiyyah menguatkan tesis bahwa pengetahuan
manusia pada dasarnya adalah pengetahuan esensial. Ilmu
pengetahuan, baik dalam pengertian filsafat maupun sains klasik, bertumpu pada
definisi, klasifikasi, dan penetapan hakikat. Wujud, karena tidak dapat
didefinisikan secara esensial, tidak menjadi objek ilmu dalam arti ketat,
melainkan hanya prasyarat faktual bagi penerapan ilmu pada realitas aktual.³
Implikasi ini
selaras dengan struktur ilmu dalam tradisi Islam klasik, di mana pengetahuan
dipahami sebagai pemahaman terhadap apa sesuatu itu, bukan sekadar
pengamatan bahwa sesuatu itu ada. Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah
memberikan legitimasi ontologis bagi epistemologi definisional dan demonstratif
yang menjadi ciri filsafat dan ilmu-ilmu rasional klasik.
8.4.
Implikasi terhadap
Kosmologi
Dalam kosmologi,
primasi esensi mendorong pemahaman alam sebagai tatanan hakikat yang terstruktur,
bukan sebagai medan manifestasi wujud yang bergradasi. Alam dipahami sebagai
kumpulan esensi-esensi mungkin (mumkināt) yang menerima wujud
secara kontingen. Setiap entitas kosmik memiliki identitas yang ditentukan oleh
esensinya, sementara keberadaannya bergantung pada sebab eksternal.
Pandangan ini
memperkuat konsep kosmologi yang menekankan ketertiban dan hierarki esensial,
sekaligus menghindari penafsiran kosmos sebagai kesatuan eksistensial yang
kontinu. Alam tidak dipahami sebagai satu realitas eksistensial tunggal dengan
berbagai tingkat, melainkan sebagai pluralitas hakikat yang disatukan oleh
keteraturan sebab-akibat.⁴
8.5.
Implikasi Teologis
terhadap Konsep Tuhan
Salah satu implikasi
teologis paling signifikan dari Aṣālat al-Māhiyyah adalah penguatan transendensi
Tuhan. Dengan menolak wujud sebagai realitas ontologis yang
mandiri dan universal, mazhab ini menghindari segala bentuk pemahaman yang
dapat menyamakan atau menghubungkan wujud Tuhan dan makhluk dalam satu spektrum
ontologis yang sama. Tuhan dipahami sebagai pemberi wujud, bukan sebagai satu
“tingkatan wujud” di antara yang lain.
Dalam kerangka ini,
esensi Tuhan tidak dipahami sebagai salah satu esensi di antara esensi-esensi
makhluk. Tuhan berada di luar kategori esensi makhluk, dan wujud makhluk sepenuhnya
bergantung pada kehendak-Nya. Implikasi ini sejalan dengan teologi Asy‘ari yang
menekankan kemahakuasaan dan kebebasan absolut Tuhan.⁵
8.6.
Kontingensi Makhluk
dan Penciptaan
Aṣālat al-Māhiyyah
juga memperkuat doktrin kontingensi mutlak makhluk.
Karena esensi-esensi makhluk bersifat mungkin (tidak meniscayakan ada maupun
tiada), dan wujud dipahami sebagai aksiden yang diberikan dari luar, maka
keberadaan makhluk sepenuhnya bergantung pada tindakan penciptaan Tuhan. Tidak
ada unsur dalam esensi makhluk yang mengharuskan keberadaannya secara niscaya.
Implikasi ini
penting secara teologis karena menegaskan doktrin penciptaan dari ketiadaan (creatio
ex nihilo) dan menolak segala bentuk keharusan ontologis alam.
Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah menyediakan kerangka metafisis yang
konsisten bagi keyakinan bahwa alam tidak memiliki keberadaan otonom.⁶
8.7.
Implikasi terhadap
Teologi Pengetahuan Ilahi
Dalam teologi
pengetahuan ilahi, primasi esensi mendukung pandangan bahwa Tuhan mengetahui esensi-esensi
segala sesuatu sebelum dan sesudah penciptaan aktualnya.
Pengetahuan Tuhan tidak bergantung pada keberadaan faktual makhluk, karena
esensi-esensi tersebut dapat diketahui secara intelligible tanpa harus
terwujud. Wujud aktual hanya merupakan realisasi temporal dari apa yang telah
diketahui dalam ilmu ilahi.
Implikasi ini
menegaskan kemahatahuan Tuhan tanpa harus mengaitkannya dengan perubahan atau
aktualisasi dalam diri-Nya. Pengetahuan Tuhan tetap dan sempurna, sementara
perubahan hanya terjadi pada tingkat wujud makhluk.⁷
8.8.
Perbandingan
Implikatif dengan Aṣālat al-Wujūd
Jika dibandingkan
dengan implikasi Aṣālat al-Wujūd, perbedaan orientasi menjadi jelas. Aṣālat
al-Wujūd—sebagaimana dirumuskan secara sistematis oleh Mullā Ṣadrā—menawarkan
kosmologi yang lebih dinamis dan menekankan kesatuan eksistensial. Sebaliknya,
Aṣālat al-Māhiyyah unggul dalam menjaga batas ontologis yang tegas antara Tuhan
dan makhluk serta dalam mendukung teologi kontingensi.
Perbedaan implikatif
ini menunjukkan bahwa pilihan ontologis tidak bersifat netral, melainkan
membawa konsekuensi teologis dan filosofis yang nyata. Oleh karena itu,
evaluasi terhadap Aṣālat al-Māhiyyah tidak dapat dilepaskan dari tujuan
teoretis dan teologis yang ingin dicapai.⁸
Penilaian
Kritis Awal
Secara keseluruhan, implikasi
filosofis dan teologis Aṣālat al-Māhiyyah menunjukkan kekuatan mazhab ini dalam
menjaga koherensi antara ontologi, epistemologi, dan teologi. Namun, pada saat
yang sama, pendekatan ini juga menghadapi keterbatasan, terutama dalam
menjelaskan dinamika eksistensial dan pengalaman keberadaan secara langsung.
Penilaian kritis terhadap batasan-batasan ini akan menjadi fokus pembahasan
pada bab selanjutnya.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 179–182.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 116–119.
[3]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 92–95.
[4]
Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological
Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 250–254.
[5]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 78–82.
[6]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 61–64.
[7]
Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert
Hidschra, vol. 3 (Berlin: Walter de Gruyter, 1995), 120–124.
[8]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 170–174.
9.
Kritik, Batasan, dan Ruang Pengembangan
9.1.
Pengantar: Evaluasi
Kritis terhadap Primasi Esensi
Setelah menelaah
dasar konseptual, argumentasi filosofis, serta implikasi teologis Aṣālat
al-Māhiyyah, tahap selanjutnya adalah melakukan evaluasi kritis. Kritik
terhadap mazhab ini muncul baik dari dalam tradisi filsafat Islam sendiri
maupun dari perspektif ontologis alternatif. Bab ini bertujuan untuk memetakan
kritik-kritik utama, mengidentifikasi batasan konseptual Aṣālat al-Māhiyyah,
serta membuka ruang pengembangan yang memungkinkan dialog produktif dengan
mazhab lain tanpa menafikan kontribusi historisnya.¹
9.2.
Kritik Filosofis
Internal
Kritik internal
terhadap Aṣālat al-Māhiyyah berangkat dari problem konsistensi antara status
esensi sebagai realitas fundamental dan netralitasnya terhadap ada dan tiada.
Jika esensi benar-benar netral terhadap keberadaan, maka muncul pertanyaan: dalam
pengertian apa esensi dapat disebut “realitas”? Sebagian
kritikus berargumen bahwa esensi yang sepenuhnya netral tidak memiliki
aktualitas apa pun, sehingga sulit dipahami sebagai realitas ontologis, bukan
sekadar konstruksi intelektual.²
Selain itu,
pemahaman wujud sebagai aksiden dinilai menimbulkan kesulitan dalam menjelaskan
keberlanjutan
eksistensi. Jika wujud hanya aksiden yang hadir pada esensi,
maka perlu penjelasan tambahan mengenai bagaimana aksiden ini bertahan atau
diperbarui dari satu momen ke momen berikutnya tanpa mengandaikan prinsip
eksistensial yang lebih fundamental.
9.3.
Kritik Epistemologis:
Reduksi Pengalaman Eksistensial
Dari sudut pandang
epistemologis, Aṣālat al-Māhiyyah dikritik karena dianggap terlalu menekankan
pengetahuan definisional dan konseptual, sehingga mereduksi
pengalaman eksistensial langsung. Pengetahuan manusia tidak
selalu beroperasi melalui definisi esensial; dalam banyak kasus, manusia
pertama-tama berhadapan dengan “fakta ada” sebelum memahami hakikat sesuatu
secara konseptual.
Kritik ini menilai
bahwa dengan meminggirkan peran wujud dalam struktur pengetahuan, Aṣālat
al-Māhiyyah cenderung mengabaikan dimensi fenomenologis dan eksistensial
pengalaman manusia. Akibatnya, mazhab ini dinilai kurang memadai untuk
menjelaskan kesadaran akan keberadaan (existential awareness) yang
mendahului analisis esensial.³
9.4.
Kritik dari Tradisi
Hikmah Isyraqiyyah
Kritik signifikan
terhadap primasi esensi juga datang dari tradisi Hikmah Isyraqiyyah yang
dirintis oleh Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī. Dalam filsafat iluminasi, realitas
dipahami melalui metafora cahaya, dan pengetahuan sejati diperoleh melalui
kehadiran langsung (ḥuḍūr) realitas, bukan semata
melalui definisi esensial.
Dari perspektif ini,
Aṣālat al-Māhiyyah dipandang terlalu bergantung pada analisis konseptual dan
mengabaikan dimensi kehadiran ontologis. Esensi, sejauh hanya dipahami sebagai
objek definisi, dianggap tidak cukup menjelaskan realitas sebagaimana dialami
dan disaksikan secara langsung. Kritik ini menyoroti keterbatasan Aṣālat
al-Māhiyyah dalam menjembatani antara rasionalitas diskursif dan intuisi
ontologis.⁴
9.5.
Kritik dari Hikmah
Muta‘āliyah
Kritik paling
sistematis terhadap Aṣālat al-Māhiyyah datang dari Hikmah Muta‘āliyah, terutama
melalui pemikiran Mullā Ṣadrā. Menurut Mullā Ṣadrā, menjadikan esensi sebagai
realitas fundamental berujung pada reifikasi konsep mental.
Esensi, karena netral terhadap ada dan tiada, tidak mungkin memiliki realitas
eksternal tanpa wujud. Oleh karena itu, primasi esensi dianggap sebagai
kekeliruan ontologis yang mencampuradukkan ranah konseptual dan ranah
realitas.⁵
Selain itu, kritik
diarahkan pada ketidakmampuan Aṣālat al-Māhiyyah menjelaskan perubahan,
gerak substansial, dan intensifikasi eksistensi. Dengan
menempatkan esensi sebagai struktur statis, mazhab ini dianggap kesulitan menjelaskan
dinamika ontologis alam secara memadai.
9.6.
Batasan Konseptual
Aṣālat al-Māhiyyah
Dari berbagai kritik
tersebut, dapat diidentifikasi sejumlah batasan konseptual Aṣālat al-Māhiyyah.
Pertama, mazhab ini sangat kuat dalam analisis definisional dan klasifikatoris,
tetapi relatif lemah dalam menjelaskan aspek dinamis realitas. Kedua,
pendekatan ini cenderung mengutamakan rasionalitas diskursif, sehingga kurang
memberi ruang bagi dimensi intuisi dan pengalaman eksistensial.
Ketiga, primasi
esensi menuntut pemisahan tegas antara esensi dan wujud, yang dalam praktiknya
sering kali sulit dipertahankan secara konsisten tanpa mengandaikan prinsip
tambahan yang menjembatani keduanya.⁶
9.7.
Ruang Pengembangan dan
Reinterpretasi
Meskipun menghadapi
berbagai kritik, Aṣālat al-Māhiyyah tetap memiliki ruang pengembangan yang
signifikan. Salah satu kemungkinan pengembangan adalah reinterpretasi
moderat yang tetap mempertahankan peran esensi sebagai dasar
intelligibilitas, sambil mengakui peran wujud sebagai dimensi realitas yang
tidak sepenuhnya reduktif menjadi aksiden.
Selain itu, dialog
dengan mazhab lain—khususnya Aṣālat al-Wujūd—dapat menghasilkan pendekatan
ontologis yang lebih integratif. Dalam konteks ini, primasi esensi dapat
dipertahankan pada tingkat epistemologis dan logis, sementara primasi wujud
diakui pada tingkat ontologis eksistensial. Pendekatan semacam ini membuka
peluang bagi sintesis konseptual yang lebih fleksibel.⁷
Relevansi
Kontemporer
Dalam diskursus
filsafat kontemporer, Aṣālat al-Māhiyyah dapat direvitalisasi sebagai kerangka
analitis untuk membahas masalah identitas, definisi, dan
klasifikasi konsep. Meskipun mungkin tidak memadai sebagai ontologi
eksistensial yang komprehensif, mazhab ini tetap relevan sebagai pendekatan
metodologis dalam filsafat ilmu, logika, dan metafisika analitik.
Dengan demikian,
kritik dan batasan Aṣālat al-Māhiyyah tidak serta-merta meniadakan nilainya,
melainkan menunjukkan posisi dan fungsi yang lebih tepat bagi mazhab ini dalam
lanskap filsafat Islam dan filsafat secara umum.⁸
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 182–185.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 119–122.
[3]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 97–101.
[4]
Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 112–116.
[5]
Mullā Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1 (Tehran: Dār al-Kutub
al-Islāmiyyah, 1981), 66–72.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 175–178.
[7]
Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq
(Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 138–141.
[8]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 65–69.
10.
Penutup
10.1.
Ringkasan Temuan Utama
Kajian ini
menelusuri Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi)
sebagai salah satu mazhab ontologis penting dalam filsafat Islam, dengan
menempatkannya dalam lintasan historis, konseptual, dan teologis yang utuh.
Melalui pemetaan kerangka ontologis, analisis konseptual esensi–wujud,
penelusuran latar historis, penguraian argumentasi filosofis, serta pembacaan
implikasi dan kritik, artikel ini menunjukkan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah bukan
sekadar posisi “pra-eksistensialis” atau tahap awal menuju primasi wujud,
melainkan kerangka ontologis yang koheren
dengan rasionalitas internalnya sendiri.¹
Temuan utama
menunjukkan bahwa primasi esensi menegaskan esensi sebagai dasar intelligibilitas,
definisionalitas,
dan klasifikasi
realitas, sementara wujud dipahami sebagai aksiden atau keadaan yang
mengaktualkan esensi tanpa membentuk hakikatnya. Kerangka ini terbukti
konsisten dengan epistemologi definisional klasik dan kompatibel dengan teologi
kontingensi dalam tradisi Asy‘ari.²
10.2.
Kontribusi Filosofis
Aṣālat al-Māhiyyah
Secara filosofis, Aṣālat
al-Māhiyyah memberikan kontribusi penting dalam menjaga ketertiban
konseptual metafisika. Dengan menempatkan esensi sebagai pusat
analisis, mazhab ini memungkinkan pembahasan yang ketat mengenai identitas,
diferensiasi, dan struktur realitas. Keunggulan ini tampak jelas dalam
diskursus logika, epistemologi, dan filsafat ilmu, di mana definisi esensial
menjadi prasyarat bagi pengetahuan demonstratif.³
Lebih jauh, primasi
esensi menyediakan kerangka yang relatif stabil untuk menjelaskan pluralitas
dunia tanpa harus mengandaikan gradasi eksistensial yang kompleks. Dengan
demikian, Aṣālat al-Māhiyyah berfungsi sebagai ontologi analitis yang
menekankan kejelasan struktur dibandingkan dinamika eksistensial.
10.3.
Signifikansi Teologis
dan Kompatibilitas Kalam
Dalam ranah teologi,
kajian ini menegaskan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah memiliki keselarasan
struktural dengan prinsip-prinsip utama ilmu kalam Asy‘ari,
khususnya terkait kemahakuasaan Tuhan, kontingensi makhluk, dan penciptaan
berkelanjutan. Dengan menolak otonomi ontologis wujud, mazhab ini menjaga
perbedaan mutlak antara Tuhan dan makhluk serta menghindari potensi problem
teologis yang muncul dari reifikasi wujud.⁴
Implikasi ini
menunjukkan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah bukan hanya relevan secara filosofis,
tetapi juga memiliki nilai normatif-teologis dalam menjaga koherensi antara
rasio dan akidah dalam Islam Sunni klasik.
10.4.
Evaluasi Kritis dan
Posisi dalam Lanskap Ontologi Islam
Meskipun memiliki
kekuatan konseptual yang signifikan, kajian ini juga menegaskan keterbatasan Aṣālat
al-Māhiyyah, terutama dalam menjelaskan dimensi dinamis keberadaan dan
pengalaman eksistensial langsung. Kritik dari Hikmah Isyraqiyyah dan Hikmah
Muta‘āliyah menunjukkan bahwa primasi esensi cenderung mengunggulkan analisis
diskursif di atas intuisi ontologis dan dinamika eksistensi.⁵
Namun demikian,
keterbatasan ini tidak meniadakan nilai Aṣālat al-Māhiyyah. Sebaliknya, ia
menempatkan mazhab ini pada posisi yang lebih tepat: sebagai ontologi
rasional-analitis yang unggul dalam penjelasan struktural,
tetapi perlu dilengkapi ketika tujuan kajian beralih pada pengalaman
eksistensial dan metafisika dinamis.
10.5.
Implikasi Metodologis
dan Relevansi Kontemporer
Secara metodologis,
Aṣālat al-Māhiyyah tetap relevan sebagai kerangka analisis dalam diskursus
filsafat kontemporer, khususnya pada pembahasan tentang identitas,
esensialisme, dan struktur konsep. Dalam konteks filsafat Islam modern, mazhab
ini dapat berfungsi sebagai alat kritik dan klarifikasi konseptual,
baik dalam dialog internal antar-mazhab maupun dalam percakapan lintas tradisi
filsafat.⁶
Pendekatan yang
menempatkan primasi esensi pada tingkat epistemologis—tanpa harus menegaskannya
secara absolut pada tingkat ontologis—membuka peluang bagi pembacaan yang lebih
fleksibel dan dialogis, sekaligus menjaga warisan intelektual klasik agar tetap
produktif.
Penutup
Akhir
Sebagai penutup,
kajian ini menegaskan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah merupakan mazhab
ontologis yang sah, rasional, dan historis signifikan dalam
filsafat Islam. Ia tidak dapat direduksi menjadi sekadar lawan dari Aṣālat
al-Wujūd, melainkan harus dipahami sebagai pendekatan ontologis dengan tujuan,
kekuatan, dan batasannya sendiri. Dengan pembacaan yang proporsional dan
terbuka, Aṣālat al-Māhiyyah tetap dapat berkontribusi pada pengembangan
metafisika Islam, baik dalam kerangka tradisional maupun dalam dialog filosofis
kontemporer.
Footnotes
[1]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 173–185.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy,
2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 90–122.
[3]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 65–101.
[4]
Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and
Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 78–85.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 165–178.
[6]
Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism
(Oxford: Oneworld, 1997), 61–70.
Daftar Pustaka
Al-Ghazālī. (1927). Tahāfut
al-falāsifah (M. Bouyges, Ed.). Beirut: Imprimerie Catholique.
Fakhry, M. (1997). Islamic
philosophy, theology and mysticism. Oxford: Oneworld.
Fakhry, M. (2004). A
history of Islamic philosophy (3rd ed.). New York, NY: Columbia University
Press.
Frank, R. M. (1992). Creation
and the cosmic system: Al-Ghazālī and Avicenna. Heidelberg, Germany: Carl
Winter.
Ibn Sīnā. (1960). Al-Shifā’:
Al-ilāhiyyāt (I. Madkour, Ed.). Cairo, Egypt: Al-Hay’ah al-‘Āmmah li
Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah.
Izutsu, T. (1971). The
concept and reality of existence. Tokyo, Japan: Keio Institute of Cultural
and Linguistic Studies.
Leaman, O. (2002). An
introduction to classical Islamic philosophy (2nd ed.). Cambridge, UK:
Cambridge University Press.
Madkour, I. (1976). Fī
al-falsafah al-islāmiyyah: Manhaj wa taṭbīq. Cairo, Egypt: Dār al-Ma‘ārif.
Mullā Ṣadrā. (1981). Al-asfār
al-arba‘ah (Vol. 1). Tehran, Iran: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah.
Nasr, S. H. (1993). An
introduction to Islamic cosmological doctrines (Rev. ed.). Albany, NY:
State University of New York Press.
Nasr, S. H. (2006). Islamic
philosophy from its origin to the present. Albany, NY: State University of
New York Press.
Suhrawardī, S. D. al-.
(1976). Ḥikmat al-ishrāq (H. Corbin, Ed.). Tehran, Iran: Institute of
Iranian Philosophy.
Van Ess, J. (1992). Theologie
und gesellschaft im 2. und 3. jahrhundert Hidschra (Vol. 2). Berlin,
Germany: Walter de Gruyter.
Van Ess, J. (1995). Theologie
und gesellschaft im 2. und 3. jahrhundert Hidschra (Vol. 3). Berlin,
Germany: Walter de Gruyter.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar