Minggu, 11 Januari 2026

Aṣālat al-Māhiyyah: Sejarah, Argumentasi Metafisis, dan Implikasi Teologis

Aṣālat al-Māhiyyah

Sejarah, Argumentasi Metafisis, dan Implikasi Teologis


Alihkan ke: Ontologi Filsafat Islam.


Abstrak

Artikel ini mengkaji Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi) sebagai salah satu mazhab ontologis utama dalam filsafat Islam yang menegaskan bahwa esensi (māhiyyah) lebih fundamental daripada wujud (wujūd). Melalui pendekatan historis-konseptual dan analisis filosofis-kritis, artikel ini menelusuri akar pemikiran distingsi esensi–wujud, formulasi konseptualnya dalam tradisi Peripatetik, serta penerimaan dan transformasinya dalam ilmu kalam Asy‘ari. Pembahasan difokuskan pada argumentasi konseptual, epistemologis, dan logis yang mendukung primasi esensi, termasuk status wujud sebagai aksiden dan konsep sekunder (ma‘qūl thānī).

Artikel ini juga membandingkan Aṣālat al-Māhiyyah dengan Aṣālat al-Wujūd untuk menyingkap perbedaan ontologis, epistemologis, dan teologis yang mendasar, sekaligus menguraikan implikasi filosofis dan teologis primasi esensi terhadap pemahaman realitas, pengetahuan, kosmologi, dan konsep ketuhanan. Selanjutnya, artikel ini mengemukakan kritik internal dan eksternal—termasuk dari tradisi Hikmah Isyraqiyyah dan Hikmah Muta‘āliyah—serta mengidentifikasi batasan konseptual Aṣālat al-Māhiyyah dalam menjelaskan dinamika eksistensial.

Sebagai kesimpulan, artikel ini menegaskan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah merupakan mazhab ontologis yang koheren dan signifikan secara historis, khususnya dalam mendukung epistemologi definisional dan teologi kontingensi dalam Islam Sunni klasik. Meskipun menghadapi keterbatasan tertentu, mazhab ini tetap relevan sebagai kerangka analitis dan metodologis dalam kajian metafisika Islam dan dialog filsafat kontemporer.

Kata kunci: Aṣālat al-Māhiyyah; esensi; wujud; ontologi Islam; filsafat Islam; ilmu kalam Asy‘ari; metafisika.


PEMBAHASAN

Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi) dalam Filsafat Islam


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Persoalan tentang wujud (al-wujūd) dan esensi (al-māhiyyah) merupakan salah satu tema paling fundamental dalam metafisika filsafat Islam. Perdebatan mengenai mana di antara keduanya yang bersifat lebih primer—apakah wujud atau esensi—tidak hanya menentukan arah ontologi, tetapi juga berimplikasi luas terhadap epistemologi, kosmologi, dan bahkan teologi. Dalam konteks ini, filsafat Islam menampilkan dinamika pemikiran yang kaya dan berlapis, di mana diskursus metafisis tidak pernah terlepas dari horizon teologis dan rasionalitas kalam.

Mazhab Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi) merupakan salah satu posisi ontologis penting yang berkembang dalam sejarah filsafat Islam. Mazhab ini menyatakan bahwa esensi adalah realitas yang paling fundamental, sedangkan wujud tidak lebih dari suatu aksiden yang “menempel” pada esensi. Dengan kata lain, esensi dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kebertentuan ontologis tersendiri, sementara wujud hanyalah penegasan eksternal terhadap esensi tersebut. Pandangan ini menempatkan esensi sebagai basis utama bagi definisi, klasifikasi, dan pengetahuan tentang realitas.¹

Secara historis, gagasan tentang distingsi antara esensi dan wujud telah mendapatkan formulasi sistematis dalam tradisi filsafat Peripatetik Islam. Dalam perkembangannya, sebagian filosof pasca-Ibn Sīnā dan sejumlah teolog Asy‘ariyah mempertahankan—secara eksplisit maupun implisit—primasi esensi sebagai pendekatan ontologis yang selaras dengan kerangka teologis mereka. Dalam ilmu kalam, khususnya, kecenderungan untuk memandang wujud sebagai sifat atau keadaan (ḥāl) yang bergantung pada esensi sejalan dengan penekanan pada kemahakuasaan Tuhan dan kontingensi mutlak makhluk.²

Namun demikian, posisi Aṣālat al-Māhiyyah tidak berkembang tanpa kritik. Seiring dengan munculnya mazhab ontologis tandingan, khususnya Aṣālat al-Wujūd (Primasi Wujud), perdebatan mengenai status ontologis esensi dan wujud semakin intens dan kompleks. Perdebatan ini bukan sekadar perbedaan terminologis, melainkan mencerminkan perbedaan mendasar dalam memahami struktur realitas itu sendiri. Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap Aṣālat al-Māhiyyah menjadi penting, tidak hanya untuk memahami satu mazhab tertentu, tetapi juga untuk menyingkap dinamika internal filsafat Islam secara keseluruhan.³

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini dirancang untuk menjawab sejumlah pertanyaan filosofis mendasar yang berkaitan dengan mazhab Aṣālat al-Māhiyyah, antara lain:

1)                  Apa yang dimaksud dengan Aṣālat al-Māhiyyah dalam kerangka metafisika filsafat Islam?

2)                  Bagaimana argumentasi ontologis dan epistemologis yang digunakan untuk menegaskan primasi esensi atas wujud?

3)                  Mengapa wujud dipahami sebagai aksiden, bukan sebagai realitas fundamental?

4)                  Bagaimana posisi Aṣālat al-Māhiyyah dalam tradisi teologi Asy‘ariyah dan filsafat pasca-Ibn Sīnā?

5)                  Apa implikasi metafisis dan teologis dari penerimaan primasi esensi?

Rumusan masalah ini dimaksudkan untuk menjaga fokus pembahasan sekaligus memastikan bahwa kajian yang dilakukan tidak bersifat deskriptif semata, melainkan juga analitis dan kritis.

1.3.       Tujuan dan Signifikansi Penelitian

Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk menyajikan analisis komprehensif mengenai mazhab Aṣālat al-Māhiyyah, baik dari sisi historis, konseptual, maupun argumentatif. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:

1)                  Menjelaskan landasan ontologis primasi esensi dalam filsafat Islam.

2)                  Mengkaji argumentasi filosofis dan teologis yang mendukung pandangan tersebut.

3)                  Menempatkan Aṣālat al-Māhiyyah dalam konteks perdebatan ontologis yang lebih luas.

Adapun signifikansi penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pemahaman yang lebih seimbang mengenai ontologi Islam. Dalam diskursus kontemporer, Aṣālat al-Wujūd sering kali mendapatkan perhatian lebih besar, sehingga Aṣālat al-Māhiyyah kerap dipahami secara simplistik atau sekadar sebagai posisi “pra-matang”. Artikel ini berupaya menunjukkan bahwa primasi esensi memiliki rasionalitas internal dan relevansi filosofis yang tidak dapat diabaikan.⁴

1.4.       Metodologi dan Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis dengan metode analisis teks (textual analysis) terhadap karya-karya utama filsafat dan kalam Islam. Pendekatan historis digunakan untuk menelusuri perkembangan gagasan Aṣālat al-Māhiyyah, sementara pendekatan konseptual diterapkan untuk menganalisis argumen-argumen ontologis yang diajukan oleh para pendukungnya.

Selain itu, pendekatan komparatif-kritis juga digunakan, khususnya dalam membandingkan Aṣālat al-Māhiyyah dengan mazhab ontologis lain. Pendekatan ini memungkinkan evaluasi yang relatif netral dan terbuka, tanpa mengasumsikan superioritas satu mazhab tertentu secara apriori. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat mempertahankan keseimbangan antara ketelitian akademik dan keterbukaan intelektual.⁵

1.5.       Sistematika Pembahasan

Untuk mencapai tujuan tersebut, artikel ini disusun dalam beberapa bab yang saling berkaitan. Bab pertama ini berfungsi sebagai pengantar konseptual dan metodologis. Bab kedua membahas kerangka ontologis dalam filsafat Islam secara umum. Bab ketiga menelusuri latar historis Aṣālat al-Māhiyyah. Bab keempat dan kelima mengkaji konsep serta argumentasi primasi esensi secara mendalam. Bab-bab selanjutnya membahas relasi mazhab ini dengan ilmu kalam, perbandingannya dengan Aṣālat al-Wujūd, implikasi filosofis-teologisnya, serta kritik dan ruang pengembangannya. Artikel ini ditutup dengan kesimpulan yang merangkum temuan utama dan menawarkan arah penelitian lanjutan.


Footnotes

[1]                Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq, (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 112–115.

[2]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna, (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 67–70.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 237–240.

[4]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 177–180.

[5]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 9–12.


2.           Kerangka Ontologis dalam Filsafat Islam

2.1.       Ontologi sebagai Disiplin Filsafat dalam Tradisi Islam

Ontologi, sebagai cabang filsafat yang membahas tentang hakikat yang ada (al-mawjūd), menempati posisi sentral dalam tradisi filsafat Islam. Dalam khazanah Islam klasik, ontologi tidak berdiri sebagai disiplin yang sepenuhnya terpisah, melainkan terintegrasi dengan metafisika (al-ilāhiyyāt), kosmologi, dan teologi rasional (‘ilm al-kalām). Pertanyaan mendasar ontologi—apa yang dimaksud dengan “ada”, bagaimana struktur realitas, dan apa prinsip terdalam dari eksistensi—selalu dikaitkan dengan persoalan ketuhanan, penciptaan, dan relasi antara Tuhan dan alam.¹

Berbeda dengan ontologi modern yang cenderung bersifat sekuler dan otonom, ontologi dalam filsafat Islam berkembang dalam horizon teologis yang kuat. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi ketelitian rasionalnya. Para filosof Muslim mengembangkan analisis ontologis dengan perangkat logika Aristotelian, teori definisi, dan analisis konseptual yang ketat. Ontologi, dalam pengertian ini, menjadi landasan bagi seluruh bangunan filsafat teoritis Islam.

2.2.       Pengertian Wujūd dan Māhiyyah

Dalam kerangka ontologis filsafat Islam, dua konsep kunci yang selalu menjadi titik tolak pembahasan adalah wujūd (wujud) dan māhiyyah (esensi atau quidditas). Māhiyyah merujuk pada “apa sesuatu itu”, yakni hakikat yang menjadikan sesuatu dapat didefinisikan dan dibedakan dari yang lain. Sebaliknya, wujūd menunjuk pada “fakta keberadaan” sesuatu, yakni aktualitas bahwa sesuatu itu ada, bukan sekadar mungkin atau terbayang dalam pikiran.²

Para filosof Islam menegaskan bahwa esensi, secara konseptual, bersifat netral terhadap ada dan tiada. Sebuah esensi dapat dipahami tanpa harus diasumsikan eksistensinya di dunia nyata. Konsep “manusia”, misalnya, dapat dipahami tanpa harus merujuk pada individu manusia tertentu. Sebaliknya, wujud tidak memberikan penjelasan tentang apa sesuatu itu, melainkan hanya menegaskan bahwa sesuatu tersebut ada. Distingsi konseptual inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi perdebatan ontologis mengenai mana yang lebih fundamental: wujud atau esensi.

2.3.       Akar Yunani dan Transformasi dalam Filsafat Islam

Kerangka ontologis filsafat Islam tidak dapat dilepaskan dari warisan filsafat Yunani, khususnya metafisika Aristotelian. Aristoteles membedakan antara substansi dan aksiden, antara potensi dan aktualitas, yang kemudian diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa serta kerangka konseptual Islam. Namun, filsafat Islam tidak sekadar mengadopsi warisan Yunani, melainkan mentransformasikannya sesuai dengan kebutuhan teologis dan epistemologis Islam.³

Dalam proses transformasi ini, konsep esensi mendapatkan artikulasi yang lebih sistematis. Melalui karya-karya Ibn Sīnā, distingsi antara esensi dan wujud memperoleh bentuk klasiknya. Ibn Sīnā menegaskan bahwa esensi sesuatu dapat dipahami secara mandiri, sementara wujud merupakan sesuatu yang “ditambahkan” pada esensi. Pemikiran ini menjadi titik awal bagi berkembangnya mazhab Aṣālat al-Māhiyyah, meskipun Ibn Sīnā sendiri tidak secara eksplisit menyatakan primasi esensi sebagai doktrin ontologis final.

2.4.       Wujūd sebagai Konsep dan Realitas

Salah satu perdebatan penting dalam kerangka ontologis filsafat Islam adalah status wujūd: apakah ia merupakan realitas objektif atau sekadar konsep mental. Dalam pandangan yang cenderung mendukung Aṣālat al-Māhiyyah, wujūd dipahami sebagai ma‘qūl thānī (konsep sekunder), yakni konsep yang tidak memiliki referen eksternal secara mandiri, melainkan hanya berfungsi sebagai predikasi terhadap esensi.⁴

Pandangan ini berangkat dari analisis epistemologis: manusia mengetahui sesuatu pertama-tama melalui esensinya, bukan melalui wujudnya. Wujud, dalam pengertian ini, tidak menambah pengetahuan tentang hakikat sesuatu, melainkan hanya menegaskan aktualitasnya. Oleh karena itu, wujūd diposisikan sebagai aksiden yang bergantung sepenuhnya pada esensi, bukan sebagai realitas yang berdiri sendiri.

2.5.       Esensi sebagai Dasar Klasifikasi Realitas

Dalam kerangka Aṣālat al-Māhiyyah, esensi berfungsi sebagai dasar utama bagi klasifikasi dan struktur realitas. Seluruh pembagian ontologis—seperti pembagian antara substansi dan aksiden, antara universal dan partikular, serta antara wajib, mungkin, dan mustahil—berakar pada perbedaan esensial, bukan pada perbedaan wujud. Esensi memberikan identitas dan batasan ontologis bagi sesuatu, sementara wujud hanya mengafirmasi keberadaannya.⁵

Implikasi dari pandangan ini adalah pluralitas realitas dipahami sebagai pluralitas esensi, bukan pluralitas wujud. Wujud dipandang sebagai satu konsep yang sama (mushtarak ma‘nawī), sedangkan perbedaan nyata di dunia disebabkan oleh perbedaan esensi-esensi yang menerimanya. Kerangka ini sangat berpengaruh dalam filsafat dan teologi Islam, khususnya dalam upaya menjelaskan keragaman makhluk tanpa mengorbankan keesaan Tuhan.

2.6.       Ontologi dan Relasinya dengan Ilmu Kalam

Kerangka ontologis dalam filsafat Islam juga berinteraksi secara intens dengan ilmu kalam. Dalam tradisi Asy‘ariyah, misalnya, penekanan pada esensi dan aksiden digunakan untuk menegaskan kontingensi makhluk dan ketergantungannya secara total kepada Tuhan. Wujud dipahami sebagai keadaan yang diciptakan dan diperbarui terus-menerus oleh kehendak ilahi, bukan sebagai realitas otonom. Dengan demikian, kerangka ontologis Aṣālat al-Māhiyyah dianggap lebih kompatibel dengan prinsip teologis seperti ḥudūth al-‘ālam (kemakhlukan alam) dan kemahakuasaan mutlak Tuhan.⁶

Interaksi antara filsafat dan kalam ini menunjukkan bahwa ontologi dalam Islam bukanlah spekulasi abstrak yang terlepas dari iman, melainkan medan dialog antara rasio dan wahyu. Kerangka ontologis yang dibangun para filosof tidak hanya bertujuan menjelaskan realitas, tetapi juga menjaga koherensi rasional ajaran-ajaran teologis Islam.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 5–8.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 89–92.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 17–22.

[4]                Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 118–121.

[5]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 74–79.

[6]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 53–58.


3.           Latar Historis Aṣālat al-Māhiyyah

3.1.       Distingsi Esensi dan Wujud dalam Filsafat Islam Awal

Latar historis Aṣālat al-Māhiyyah tidak dapat dilepaskan dari munculnya distingsi konseptual antara māhiyyah (esensi) dan wujūd (wujud) dalam filsafat Islam awal. Distingsi ini bukanlah persoalan yang sejak awal dipahami secara ontologis, melainkan mula-mula berfungsi sebagai alat analisis logis dan epistemologis. Para filosof Muslim awal berupaya menjelaskan bagaimana sesuatu dapat dipahami secara intelektual terlepas dari status keberadaannya di dunia eksternal. Dalam konteks inilah esensi dipahami sebagai “apa sesuatu itu”, sementara wujud dipahami sebagai fakta keberadaan yang bersifat tambahan.¹

Pada tahap awal, distingsi ini belum secara eksplisit melahirkan mazhab ontologis tertentu. Namun, penekanan pada keterpisahan konseptual antara esensi dan wujud membuka kemungkinan bagi pemahaman bahwa esensi memiliki kedudukan yang lebih fundamental. Secara historis, kecenderungan ini berkembang seiring dengan upaya para filosof Muslim untuk menyelaraskan warisan filsafat Yunani dengan prinsip-prinsip teologis Islam, terutama doktrin penciptaan dan kontingensi makhluk.

3.2.       Peran Sentral Ibn Sīnā dalam Formulasi Distingsi Esensi–Wujud

Tokoh paling berpengaruh dalam pembentukan kerangka konseptual yang kelak melahirkan Aṣālat al-Māhiyyah adalah Ibn Sīnā. Dalam karya-karya metafisisnya, khususnya al-Ilāhiyyāt dari al-Shifā’, Ibn Sīnā menegaskan bahwa esensi sesuatu, sejauh dipahami oleh akal, bersifat netral terhadap ada dan tiada. Esensi manusia, misalnya, tidak dengan sendirinya meniscayakan keberadaan manusia tertentu di dunia nyata.²

Bagi Ibn Sīnā, wujud bukan bagian dari definisi esensi, melainkan sesuatu yang “ditambahkan” (zā’id) pada esensi dari luar. Analisis ini memiliki implikasi epistemologis yang kuat: pengetahuan manusia terhadap realitas pada dasarnya adalah pengetahuan tentang esensi, bukan tentang wujud. Wujud hanya diketahui secara implisit sebagai penegasan bahwa esensi tersebut terealisasi. Meskipun Ibn Sīnā tidak secara eksplisit menyatakan bahwa esensi lebih real daripada wujud, struktur pemikirannya memberikan fondasi kuat bagi penafsiran ontologis yang menempatkan esensi sebagai yang primer.³

3.3.       Perkembangan Pasca-Ibn Sīnā dan Kecenderungan Primasi Esensi

Setelah Ibn Sīnā, pemikir-pemikir filsafat Islam pascaklasik mewarisi distingsi esensi–wujud dengan berbagai penekanan. Sebagian dari mereka membaca pemikiran Ibn Sīnā secara ontologis dan menafsirkan wujud sebagai sesuatu yang tidak memiliki realitas objektif tersendiri. Dalam penafsiran ini, wujud dipahami sebagai konsep mental universal yang hanya berfungsi sebagai predikasi terhadap esensi-esensi yang beragam.⁴

Kecenderungan ini diperkuat oleh analisis logis mengenai universalitas konsep wujud. Jika wujud dipahami sebagai realitas objektif, maka muncul persoalan tentang bagaimana satu realitas yang sama dapat hadir dalam entitas-entitas yang sangat beragam. Sebaliknya, jika wujud dipahami sebagai konsep mental sekunder (ma‘qūl thānī), maka problem ini dapat dihindari. Dengan demikian, primasi esensi dianggap sebagai solusi ontologis yang lebih konsisten secara logis.

3.4.       Aṣālat al-Māhiyyah dalam Tradisi Ilmu Kalam Asy‘ari

Selain berkembang dalam filsafat, kecenderungan primasi esensi juga menemukan resonansi yang kuat dalam tradisi ilmu kalam, khususnya kalam Asy‘ari. Para teolog Asy‘ari menekankan bahwa realitas makhluk sepenuhnya bergantung pada kehendak dan penciptaan Tuhan. Dalam kerangka ini, wujud tidak dipahami sebagai realitas mandiri, melainkan sebagai keadaan atau sifat yang diciptakan dan diperbarui oleh Tuhan pada esensi-esensi makhluk.⁵

Pandangan ini selaras dengan konsep atomisme kalam, di mana realitas terdiri atas substansi-substansi individual dan aksiden-aksiden yang melekat padanya. Wujud, dalam perspektif ini, tidak lebih dari aksiden yang meniscayakan keberadaan aktual suatu esensi pada saat tertentu. Oleh karena itu, Aṣālat al-Māhiyyah tidak hanya memiliki basis filosofis, tetapi juga basis teologis yang kuat dalam tradisi Asy‘ariyah. Hubungan ini menjelaskan mengapa sebagian teolog Asy‘ari cenderung skeptis terhadap pandangan yang menempatkan wujud sebagai realitas ontologis fundamental.

3.5.       Konteks Polemik dan Munculnya Mazhab Tandingan

Penting untuk dicatat bahwa Aṣālat al-Māhiyyah tidak berkembang dalam ruang hampa. Seiring waktu, muncul kritik terhadap pandangan ini, terutama dari tradisi filsafat yang menekankan realitas wujud. Polemik antara primasi esensi dan primasi wujud mencapai puncaknya pada periode filsafat Islam pascaklasik, ketika para filosof mulai secara eksplisit merumuskan posisi ontologis mereka. Dalam konteks polemik inilah Aṣālat al-Māhiyyah memperoleh bentuknya sebagai sebuah mazhab yang relatif jelas dan terartikulasi.⁶

Dengan demikian, latar historis Aṣālat al-Māhiyyah menunjukkan bahwa mazhab ini bukanlah sekadar posisi spekulatif, melainkan hasil dari proses intelektual yang panjang, melibatkan dialog antara filsafat Yunani, filsafat Islam Peripatetik, dan teologi Islam. Pemahaman terhadap latar historis ini menjadi kunci untuk menilai secara adil kekuatan dan keterbatasan primasi esensi dalam metafisika Islam.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 91–94.

[2]                Ibn Sīnā, al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrāhīm Madkour et al. (Kairo: al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah, 1960), 29–31.

[3]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 97–101.

[4]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 83–87.

[5]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 61–65.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 162–166.


4.           Konsep Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi)

4.1.       Definisi Aṣālat al-Māhiyyah

Aṣālat al-Māhiyyah adalah doktrin ontologis yang menegaskan bahwa esensi (al-māhiyyah) merupakan realitas yang paling fundamental, sedangkan wujud (al-wujūd) bersifat aksidental—yakni hadir pada esensi sebagai sesuatu yang ditambahkan, bukan sebagai unsur konstitutifnya. Dalam kerangka ini, esensi dipahami sebagai hakikat yang menentukan “apa sesuatu itu”, sementara wujud hanya menandai bahwa esensi tersebut terealisasi dalam kenyataan. Dengan demikian, primasi tidak diberikan kepada “keberadaan” sebagai realitas mandiri, melainkan kepada struktur hakiki yang memungkinkan definisi, klasifikasi, dan pengetahuan tentang sesuatu.¹

Konsep ini tidak mengingkari keberadaan faktual benda-benda, tetapi menafsirkan keberadaan sebagai modus atau keadaan yang bergantung sepenuhnya pada esensi. Oleh karena itu, Aṣālat al-Māhiyyah sering dipahami sebagai posisi ontologis yang menempatkan ketertiban esensial sebagai dasar realitas, dan wujud sebagai afirmasi eksternal terhadap ketertiban tersebut.

4.2.       Esensi sebagai Hakikat yang Dapat Didefinisikan

Salah satu pilar utama Aṣālat al-Māhiyyah adalah tesis bahwa esensi merupakan objek definisi (ḥadd) dan pengetahuan (‘ilm). Dalam tradisi logika dan metafisika Islam, definisi yang sahih hanya mungkin terhadap esensi, bukan terhadap wujud. Wujud tidak dapat didefinisikan secara esensial karena ia tidak mengandung diferensia yang membedakannya dari dirinya sendiri; ia hanya “ada”.²

Sebaliknya, esensi menyediakan struktur konseptual yang memungkinkan diferensiasi dan penentuan identitas. Melalui esensi, sesuatu dapat dikelompokkan ke dalam genus dan spesies, serta dibedakan dari yang lain. Atas dasar ini, Aṣālat al-Māhiyyah berargumen bahwa apa yang menjadi dasar pengetahuan dan klasifikasi mestilah lebih fundamental secara ontologis daripada apa yang tidak dapat didefinisikan atau diketahui secara langsung.

4.3.       Netralitas Esensi terhadap Ada dan Tiada

Ciri konseptual penting dari esensi adalah netralitasnya terhadap ada dan tiada. Esensi, sejauh dipahami oleh akal, tidak meniscayakan keberadaan aktual. Konsep “manusia”, misalnya, tetap bermakna baik ketika ada manusia aktual maupun ketika tidak ada individu manusia tertentu yang terwujud. Netralitas ini menunjukkan bahwa esensi memiliki status konseptual yang independen dari wujud.³

Dalam kerangka Aṣālat al-Māhiyyah, netralitas ini tidak dipahami sekadar sebagai fenomena mental, melainkan sebagai indikasi bahwa esensi memiliki prioritas ontologis. Wujud hadir sebagai sesuatu yang mengaktualkan esensi, tetapi tidak membentuk hakikatnya. Oleh karena itu, relasi antara esensi dan wujud dipahami sebagai relasi penerimaan (qabūl): esensi menerima wujud, bukan sebaliknya.

4.4.       Wujūd sebagai Aksiden (‘Āriḍ)

Konsekuensi langsung dari primasi esensi adalah pemahaman bahwa wujud bersifat aksidental. Dalam terminologi metafisika Islam, aksiden adalah sesuatu yang keberadaannya bergantung pada substansi atau hakikat lain. Wujud, menurut Aṣālat al-Māhiyyah, tidak memiliki subsistensi mandiri; ia selalu “menempel” pada esensi tertentu.⁴

Penafsiran ini diperkuat oleh analisis logis terhadap konsep wujud sebagai konsep universal yang seragam. Jika wujud dipahami sebagai realitas objektif, maka harus dijelaskan bagaimana satu realitas yang sama dapat hadir dalam entitas yang sangat beragam tanpa kehilangan identitasnya. Dengan menempatkan wujud sebagai aksiden dan konsep sekunder, problem ini dihindari: yang beragam adalah esensi-esensi, bukan wujud.

4.5.       Status Epistemologis Wujūd sebagai Ma‘qūl Thānī

Dalam Aṣālat al-Māhiyyah, wujud sering diklasifikasikan sebagai ma‘qūl thānī (konsep sekunder), yakni konsep yang dibentuk oleh akal melalui refleksi atas konsep-konsep pertama (esensi). Konsep sekunder tidak memiliki referen eksternal yang berdiri sendiri, melainkan bergantung pada konsep pertama untuk bermakna.⁵

Implikasi epistemologisnya signifikan: pengetahuan manusia terhadap realitas pada dasarnya adalah pengetahuan tentang esensi, sedangkan wujud hanya diketahui secara reflektif sebagai predikasi. Dengan demikian, wujud tidak menambah kandungan informatif tentang hakikat sesuatu. Argumen ini digunakan untuk menegaskan bahwa apa yang tidak menambah pengetahuan hakiki tidak layak diposisikan sebagai realitas paling fundamental.

4.6.       Pluralitas Esensi dan Kesatuan Konsep Wujūd

Aṣālat al-Māhiyyah juga menawarkan kerangka untuk menjelaskan pluralitas realitas. Keanekaragaman dunia tidak dipahami sebagai keanekaragaman wujud, melainkan sebagai keanekaragaman esensi-esensi yang menerima wujud. Wujud sendiri dipahami sebagai satu konsep yang sama (mushtarak ma‘nawī), digunakan secara univokal pada semua yang ada, tetapi tanpa menunjukkan realitas objektif yang identik pada setiap entitas.⁶

Dengan kerangka ini, mazhab primasi esensi berupaya menjaga konsistensi antara keseragaman konsep wujud dan keragaman nyata dunia. Realitas dunia tidak dipecah oleh “tingkatan wujud”, melainkan oleh perbedaan esensial yang inheren pada entitas-entitasnya.

4.7.       Fondasi Avicennian dan Artikulasi Mazhab

Meskipun Aṣālat al-Māhiyyah sebagai doktrin ontologis berkembang secara eksplisit pada periode pascaklasik, fondasi konseptualnya berakar kuat dalam pemikiran Ibn Sīnā. Analisis Ibn Sīnā mengenai netralitas esensi, ketakterdefinisian wujud, dan status wujud sebagai sesuatu yang ditambahkan pada esensi memberikan perangkat teoritis yang memungkinkan lahirnya mazhab ini.⁷

Namun, penting dicatat bahwa primasi esensi merupakan pembacaan dan pengembangan atas kerangka Avicennian, bukan pernyataan eksplisit dari Ibn Sīnā sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah adalah hasil dinamika intelektual internal filsafat Islam, yang menafsirkan dan menstrukturkan kembali gagasan-gagasan klasik sesuai kebutuhan ontologis dan teologis tertentu.


Implikasi Awal bagi Metafisika dan Teologi

Secara metafisis, Aṣālat al-Māhiyyah menegaskan bahwa struktur realitas ditentukan oleh hakikat, bukan oleh keberadaan semata. Secara teologis, posisi ini membuka ruang bagi penekanan pada kontingensi makhluk dan ketergantungan totalnya pada Tuhan sebagai pemberi wujud. Dengan menolak otonomi ontologis wujud, mazhab ini menjaga jarak dari segala bentuk reifikasi keberadaan yang berpotensi mengaburkan perbedaan ontologis antara Tuhan dan makhluk.⁸

Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah bukan sekadar tesis teknis metafisika, melainkan sebuah kerangka ontologis yang memiliki resonansi luas dalam filsafat dan teologi Islam.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 174–176.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 90–94.

[3]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 68–72.

[4]                Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 120–124.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 158–160.

[6]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 41–44.

[7]                Ibn Sīnā, al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrāhīm Madkour et al. (Kairo: al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah, 1960), 31–34.

[8]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 66–70.


5.           Argumentasi Filosofis Aṣālat al-Māhiyyah

5.1.       Pengantar: Rasionalitas Argumen Primasi Esensi

Mazhab Aṣālat al-Māhiyyah tidak dibangun semata-mata atas asumsi metafisis, melainkan disokong oleh rangkaian argumentasi filosofis yang bersifat konseptual, epistemologis, dan logis. Para pendukung primasi esensi berupaya menunjukkan bahwa esensi lebih layak diposisikan sebagai realitas fundamental dibandingkan wujud, baik dari sudut pandang struktur pengetahuan manusia maupun dari konsistensi ontologi itu sendiri. Argumen-argumen ini tidak selalu dikemukakan dalam bentuk sistematis oleh satu tokoh tertentu, melainkan tersebar dalam karya-karya filsafat dan kalam yang kemudian membentuk satu kecenderungan mazhab yang relatif koheren.¹

5.2.       Argumentasi Konseptual: Esensi sebagai Objek Definisi

Argumen konseptual utama Aṣālat al-Māhiyyah bertolak dari fakta bahwa hanya esensi yang dapat didefinisikan secara hakiki, sementara wujud tidak. Dalam tradisi logika Aristotelian yang diadopsi oleh filsafat Islam, definisi (ḥadd) harus menjelaskan hakikat sesuatu melalui genus dan diferensia. Esensi memenuhi syarat ini karena ia mengandung struktur internal yang memungkinkan diferensiasi. Sebaliknya, wujud tidak memiliki diferensia esensial yang membedakannya dari dirinya sendiri.²

Jika definisi merupakan sarana utama untuk memahami hakikat realitas, maka apa yang dapat didefinisikanlah yang lebih fundamental secara ontologis. Dari sudut pandang ini, wujud tampak sebagai konsep yang terlalu umum dan kosong untuk dijadikan dasar ontologi. Ia tidak menjelaskan “apa” sesuatu itu, melainkan hanya menegaskan bahwa sesuatu tersebut ada. Oleh karena itu, primasi esensi dianggap lebih sejalan dengan tuntutan analisis konseptual yang ketat.

5.3.       Argumentasi Epistemologis: Pengetahuan tentang “Apa”, bukan “Bahwa”

Argumen epistemologis Aṣālat al-Māhiyyah menekankan bahwa pengetahuan manusia pada dasarnya adalah pengetahuan tentang esensi, bukan tentang wujud. Ketika manusia mengetahui sesuatu, yang pertama-tama dipahami adalah hakikatnya—misalnya, apa itu manusia, pohon, atau segitiga—bukan fakta bahwa objek tersebut ada secara aktual. Fakta keberadaan hanya diketahui secara sekunder dan tidak menambah pemahaman tentang hakikat objek.³

Dari perspektif ini, wujud tidak berfungsi sebagai sumber pengetahuan hakiki, melainkan hanya sebagai afirmasi eksternal. Jika pengetahuan merupakan jalan utama untuk menyingkap realitas, maka realitas yang menjadi objek pengetahuan primer—yakni esensi—lebih layak disebut fundamental. Dengan demikian, primasi esensi memperoleh justifikasi epistemologis yang kuat.

5.4.       Argumentasi Logis: Universalitas Konsep Wujūd

Argumen logis lain yang sering dikemukakan berkaitan dengan status universal konsep wujud. Wujud dipredikasikan secara sama pada semua entitas—baik yang bersifat material maupun immaterial, sederhana maupun kompleks. Jika wujud merupakan realitas objektif yang berdiri sendiri, maka harus dijelaskan bagaimana satu realitas yang identik dapat hadir dalam entitas-entitas yang sangat beragam tanpa kehilangan kesatuannya.⁴

Pendukung Aṣālat al-Māhiyyah memandang bahwa problem ini hanya dapat dihindari jika wujud dipahami sebagai konsep mental universal, bukan sebagai realitas eksternal. Dengan menempatkan wujud sebagai konsep sekunder, keanekaragaman dunia dapat dijelaskan melalui pluralitas esensi, bukan melalui fragmentasi atau gradasi wujud. Argumen ini bertujuan menunjukkan bahwa primasi esensi lebih konsisten secara logis dibandingkan alternatifnya.

5.5.       Argumentasi tentang Aksidentalitas Wujūd

Argumen berikutnya berkaitan dengan status ontologis wujud sebagai aksiden. Dalam kerangka metafisika klasik, aksiden adalah sesuatu yang keberadaannya bergantung pada substansi atau hakikat lain. Wujud, menurut Aṣālat al-Māhiyyah, tidak pernah ditemukan secara mandiri; ia selalu merupakan wujud-dari-sesuatu. Tidak ada “wujud murni” yang dapat dipersepsi atau dipahami tanpa merujuk pada esensi tertentu.⁵

Ketergantungan eksistensial ini digunakan untuk menegaskan bahwa wujud tidak memiliki kemandirian ontologis. Apa yang selalu bergantung tidak dapat menjadi prinsip pertama. Oleh karena itu, esensi—yang menjadi substrat bagi kehadiran wujud—diposisikan sebagai realitas yang lebih fundamental.

5.6.       Argumentasi dari Netralitas Esensi terhadap Ada dan Tiada

Argumen penting lainnya adalah netralitas esensi terhadap ada dan tiada. Esensi, sejauh dipahami oleh akal, tidak meniscayakan keberadaan aktual. Ia dapat dipikirkan baik dalam keadaan ada maupun tidak ada. Netralitas ini menunjukkan bahwa esensi memiliki status konseptual yang otonom terhadap wujud.⁶

Pendukung Aṣālat al-Māhiyyah menafsirkan otonomi konseptual ini sebagai indikasi prioritas ontologis. Wujud hanya berfungsi mengaktualkan esensi, bukan membentuk hakikatnya. Jika hakikat tidak berubah dengan ada atau tidaknya wujud, maka hakikatlah yang lebih mendasar.

5.7.       Fondasi Avicennian dalam Argumentasi Primasi Esensi

Sebagian besar argumentasi di atas berakar pada analisis metafisis yang dikembangkan oleh Ibn Sīnā, meskipun ia sendiri tidak secara eksplisit menyatakan Aṣālat al-Māhiyyah sebagai doktrin final. Ibn Sīnā menegaskan bahwa wujud tidak termasuk dalam definisi esensi dan bahwa esensi, secara konseptual, mendahului wujud. Analisis ini kemudian dibaca secara ontologis oleh para penerusnya dan dikembangkan menjadi argumen sistematis bagi primasi esensi.⁷

Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah dapat dipahami sebagai hasil rasionalisasi lebih lanjut atas kerangka Avicennian, yang menekankan koherensi logis dan epistemologis dalam memahami struktur realitas.


Evaluasi Awal terhadap Kekuatan Argumentasi

Secara keseluruhan, argumentasi filosofis Aṣālat al-Māhiyyah menunjukkan konsistensi internal yang kuat, terutama dalam menjelaskan relasi antara pengetahuan, definisi, dan struktur realitas. Namun, argumen-argumen ini juga membuka ruang kritik, terutama dari sudut pandang yang menekankan realitas objektif wujud. Evaluasi kritis terhadap argumen-argumen ini akan menjadi fokus pembahasan pada bab-bab selanjutnya, khususnya dalam perbandingan dengan mazhab Aṣālat al-Wujūd.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 173–175.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 92–95.

[3]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 70–74.

[4]                Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 125–128.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 159–162.

[6]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 39–42.

[7]                Ibn Sīnā, al-Shifā’: al-Ilāhiyyāt, ed. Ibrāhīm Madkour et al. (Kairo: al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah, 1960), 32–35.


6.           Aṣālat al-Māhiyyah dalam Ilmu Kalam Asy‘ari

6.1.       Ontologi Kalam Asy‘ari dan Posisi Esensi

Ilmu kalam Asy‘ari berkembang dengan tujuan utama mempertahankan doktrin-doktrin teologis Islam melalui argumen rasional, khususnya terkait kemahakuasaan Tuhan, kemakhlukan alam, dan ketergantungan mutlak makhluk kepada kehendak ilahi. Dalam kerangka ini, pembahasan ontologis tidak pernah bersifat netral atau murni spekulatif, melainkan selalu diarahkan untuk menjaga konsistensi akidah. Karena itu, ontologi kalam Asy‘ari menunjukkan kecenderungan yang selaras dengan prinsip Aṣālat al-Māhiyyah, meskipun tidak selalu dirumuskan secara eksplisit sebagai doktrin metafisis.¹

Bagi teolog Asy‘ari, realitas makhluk dipahami sebagai sesuatu yang tidak memiliki keberadaan mandiri. Makhluk tidak “ada” dengan sendirinya, melainkan ada karena diciptakan dan dipertahankan oleh Tuhan pada setiap saat. Dalam konteks ini, wujud tidak dipahami sebagai realitas otonom, melainkan sebagai keadaan yang melekat pada esensi makhluk sebagai akibat dari tindakan penciptaan Tuhan.

6.2.       Atomisme Kalam dan Struktur Esensial Realitas

Salah satu ciri paling khas dari ontologi Asy‘ari adalah doktrin atomisme (al-jawhar al-fard). Menurut doktrin ini, realitas fisik tersusun dari substansi-substansi indivisible (jawhar) dan aksiden-aksiden (‘araḍ) yang melekat padanya. Substansi dipahami sebagai pembawa identitas dasar, sedangkan aksiden merupakan sifat-sifat yang berubah-ubah dan tidak memiliki keberadaan mandiri.²

Dalam kerangka atomisme ini, esensi substansi menempati posisi sentral sebagai dasar realitas, sementara aksiden—termasuk keadaan “ada”—dipahami sebagai sesuatu yang bergantung. Dengan demikian, struktur ontologis kalam Asy‘ari secara implisit menegaskan primasi esensi atas wujud. Wujud tidak diperlakukan sebagai hakikat tersendiri, melainkan sebagai aksiden yang dihadirkan Tuhan pada substansi pada setiap momen keberadaan.

6.3.       Wujūd sebagai Ḥāl atau Aksiden

Dalam diskursus kalam, khususnya pada perdebatan tentang aḥwāl (keadaan), wujud sering kali dipahami sebagai sesuatu yang berada di antara ada dan tiada, atau sebagai sifat yang tidak sepenuhnya identik dengan esensi. Meskipun konsep ḥāl tidak diterima secara seragam oleh semua teolog Asy‘ari, diskursus ini menunjukkan kecenderungan untuk tidak mereduksi realitas pada wujud semata.³

Wujud, dalam pemahaman ini, tidak memiliki status ontologis yang mandiri. Ia tidak berdiri sejajar dengan esensi, apalagi mengunggulinya. Sebaliknya, wujud dipahami sebagai kondisi yang melekat pada esensi akibat kehendak Tuhan. Pandangan ini sejalan dengan tesis Aṣālat al-Māhiyyah yang menempatkan wujud sebagai aksiden, bukan sebagai prinsip pertama realitas.

6.4.       Penciptaan Berkelanjutan dan Kontingensi Makhluk

Salah satu implikasi teologis terpenting dari ontologi Asy‘ari adalah doktrin tajdīd al-khalq (penciptaan berkelanjutan). Menurut doktrin ini, Tuhan menciptakan makhluk beserta aksiden-aksidennya pada setiap saat. Tidak ada keberlangsungan eksistensi yang otonom dari satu momen ke momen berikutnya.⁴

Doktrin ini sulit dipertahankan jika wujud dipahami sebagai realitas ontologis yang mandiri dan stabil. Sebaliknya, jika wujud dipahami sebagai keadaan aksidental yang bergantung pada esensi dan kehendak Tuhan, maka penciptaan berkelanjutan menjadi masuk akal secara rasional. Dalam konteks ini, Aṣālat al-Māhiyyah menyediakan kerangka ontologis yang kompatibel dengan prinsip kontingensi mutlak makhluk dalam teologi Asy‘ari.

6.5.       Pengetahuan Tuhan dan Status Esensi

Dalam teologi Asy‘ari, pengetahuan Tuhan dipahami sebagai pengetahuan yang meliputi segala sesuatu sebelum dan sesudah penciptaan. Esensi-esensi makhluk diketahui oleh Tuhan bahkan sebelum mereka diwujudkan secara aktual. Hal ini mengandaikan bahwa esensi memiliki status intelligible yang independen dari wujud aktualnya.⁵

Jika pengetahuan Tuhan mencakup esensi-esensi sebelum keberadaan aktualnya, maka esensi memiliki prioritas konseptual yang kuat. Wujud hanya menjadi aktualisasi temporal dari sesuatu yang sudah diketahui dalam tatanan ilmu ilahi. Pandangan ini memperkuat posisi Aṣālat al-Māhiyyah dalam konteks kalam, karena menempatkan esensi sebagai dasar intelligibilitas realitas, baik bagi akal manusia maupun ilmu Tuhan.

6.6.       Kritik Asy‘ari terhadap Reifikasi Wujūd

Teolog Asy‘ari umumnya bersikap kritis terhadap segala bentuk pemikiran yang berpotensi mereifikasi wujud—yakni memperlakukan wujud sebagai realitas yang berdiri sendiri atau sebagai prinsip yang membatasi kehendak Tuhan. Pandangan semacam itu dikhawatirkan mengarah pada pembatasan kemahakuasaan Tuhan atau pada pengakuan adanya prinsip selain Tuhan yang bersifat niscaya.⁶

Dalam konteks ini, Aṣālat al-Māhiyyah dipandang lebih aman secara teologis karena tidak mengakui wujud sebagai realitas mandiri. Dengan menempatkan wujud sebagai aksiden yang sepenuhnya bergantung pada Tuhan, mazhab ini menjaga transendensi dan keesaan Tuhan tanpa mengorbankan koherensi rasional.

6.7.       Al-Ghazālī dan Integrasi Kalam–Filsafat

Pemikiran Al-Ghazālī menunjukkan dengan jelas bagaimana kecenderungan primasi esensi dapat diintegrasikan dalam kerangka kalam Asy‘ari. Meskipun kritis terhadap metafisika filosofis tertentu, al-Ghazālī menerima banyak perangkat konseptual filsafat, termasuk distingsi esensi–wujud, selama tidak bertentangan dengan prinsip teologis.⁷

Dalam kritiknya terhadap para filosof, al-Ghazālī tidak menolak analisis esensi sebagai dasar pengetahuan, tetapi menolak klaim-klaim ontologis yang mengarah pada niscayanya alam atau otonomi wujud. Dengan demikian, pemikirannya memperlihatkan bagaimana Aṣālat al-Māhiyyah dapat berfungsi sebagai jembatan antara rasionalitas filosofis dan komitmen teologis Asy‘ari.


Signifikansi Aṣālat al-Māhiyyah dalam Kalam Asy‘ari

Secara keseluruhan, Aṣālat al-Māhiyyah memberikan landasan ontologis yang konsisten bagi teologi Asy‘ari. Dengan menempatkan esensi sebagai dasar realitas dan wujud sebagai aksiden yang diciptakan, mazhab ini mendukung doktrin-doktrin kunci seperti kemakhlukan alam, penciptaan berkelanjutan, dan ketergantungan mutlak makhluk kepada Tuhan. Oleh karena itu, primasi esensi dalam kalam Asy‘ari bukan sekadar pilihan metafisis, melainkan konsekuensi rasional dari komitmen teologis yang mendasar.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 215–218.

[2]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 41–45.

[3]                Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert Hidschra, vol. 2 (Berlin: Walter de Gruyter, 1992), 291–296.

[4]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 106–109.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 146–149.

[6]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 57–60.

[7]                Al-Ghazālī, Tahāfut al-Falāsifah, ed. Maurice Bouyges (Beirut: Imprimerie Catholique, 1927), 27–30.


7.           Perbandingan dengan Aṣālat al-Wujūd

7.1.       Pengantar Perbandingan Ontologis

Perbandingan antara Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi) dan Aṣālat al-Wujūd (Primasi Wujud) merupakan salah satu poros utama perdebatan ontologis dalam filsafat Islam pascaklasik. Kedua mazhab ini tidak sekadar berbeda dalam terminologi, melainkan menawarkan cara pandang yang berlawanan tentang struktur terdalam realitas: apakah yang paling fundamental adalah apa sesuatu itu (esensi), atau fakta keberadaannya (wujud). Perbandingan ini menjadi penting untuk menilai koherensi internal masing-masing mazhab, kekuatan argumentatifnya, serta implikasi metafisis dan teologis yang dihasilkannya.¹

7.2.       Garis Besar Aṣālat al-Wujūd

Aṣālat al-Wujūd menyatakan bahwa wujud merupakan realitas ontologis yang primer, sedangkan esensi bersifat derivatif dan konseptual. Dalam pandangan ini, esensi tidak memiliki realitas eksternal yang berdiri sendiri; ia merupakan konstruksi intelektual yang dibentuk akal untuk memahami dan mengklasifikasikan realitas yang pada hakikatnya adalah wujud. Dengan demikian, realitas tidak ditentukan oleh struktur esensial, melainkan oleh derajat dan intensitas wujud

Mazhab ini mencapai formulasi sistematisnya dalam filsafat Hikmah Muta‘āliyah, terutama melalui pemikiran Mullā Ṣadrā. Ia menegaskan bahwa wujud bersifat nyata (ḥaqīqī), tunggal secara hakikat, tetapi bergradasi (tashkīk), sementara esensi hanyalah batasan konseptual yang menangkap manifestasi wujud pada tingkat tertentu.³

7.3.       Perbedaan Ontologis Mendasar

Perbedaan paling mendasar antara kedua mazhab terletak pada status ontologis wujud dan esensi. Dalam Aṣālat al-Māhiyyah, esensi adalah realitas fundamental, sedangkan wujud adalah aksiden yang hadir pada esensi. Sebaliknya, dalam Aṣālat al-Wujūd, wujud adalah realitas fundamental, sedangkan esensi hanyalah konsep mental yang diabstraksikan dari wujud.⁴

Perbedaan ini menghasilkan konsekuensi ontologis yang luas. Aṣālat al-Māhiyyah memahami pluralitas dunia sebagai pluralitas esensi-esensi yang menerima wujud, sedangkan Aṣālat al-Wujūd memahami pluralitas sebagai perbedaan tingkat dan intensitas wujud. Dengan kata lain, yang satu menekankan perbedaan hakikat, sementara yang lain menekankan kontinuitas eksistensial.

7.4.       Perbedaan Epistemologis: Esensi vs Wujud sebagai Objek Pengetahuan

Dari sisi epistemologi, Aṣālat al-Māhiyyah berargumen bahwa pengetahuan manusia pada dasarnya adalah pengetahuan tentang esensi. Definisi, klasifikasi, dan demonstrasi ilmiah hanya mungkin jika esensi diposisikan sebagai objek pengetahuan primer. Wujud, karena tidak dapat didefinisikan, dipandang tidak memberikan kandungan informatif yang memadai untuk pengetahuan ilmiah.⁵

Sebaliknya, Aṣālat al-Wujūd menegaskan bahwa pengetahuan hakiki adalah pengetahuan tentang realitas yang ada, yakni wujud. Esensi dianggap sebagai alat konseptual yang berguna, tetapi tidak merepresentasikan realitas eksternal secara langsung. Dari perspektif ini, pengetahuan tentang esensi dipandang bersifat representasional dan tidak sepenuhnya menangkap realitas wujud yang dinamis.⁶

7.5.       Kritik Aṣālat al-Māhiyyah terhadap Primasi Wujud

Pendukung Aṣālat al-Māhiyyah mengajukan sejumlah kritik terhadap Aṣālat al-Wujūd. Pertama, mereka berargumen bahwa wujud tidak dapat menjadi prinsip pertama karena ia tidak dapat didefinisikan atau dibedakan secara esensial. Prinsip pertama, menurut mereka, haruslah sesuatu yang dapat menjelaskan perbedaan dan identitas, dan hal ini hanya mungkin dilakukan oleh esensi.⁷

Kedua, konsep gradasi wujud (tashkīk al-wujūd) dikritik sebagai sulit dipertahankan secara logis. Jika wujud adalah satu realitas yang sama, maka perbedaan tingkat wujud berpotensi mereduksi perbedaan hakiki antar-entitas menjadi sekadar perbedaan kuantitatif atau intensitas, yang dianggap tidak cukup menjelaskan pluralitas nyata dunia. Kritik ini menegaskan bahwa perbedaan esensial lebih memadai untuk menjelaskan keragaman realitas.⁸

7.6.       Kritik Aṣālat al-Wujūd terhadap Primasi Esensi

Sebaliknya, pendukung Aṣālat al-Wujūd mengkritik Aṣālat al-Māhiyyah karena dianggap mereifikasi esensi—yakni memperlakukan esensi seolah-olah memiliki realitas eksternal yang berdiri sendiri. Mereka berargumen bahwa esensi, sejauh netral terhadap ada dan tiada, tidak mungkin memiliki realitas eksternal tanpa wujud. Oleh karena itu, menjadikan esensi sebagai prinsip pertama dianggap mengaburkan fakta bahwa yang nyata di luar pikiran adalah wujud.⁹

Selain itu, Aṣālat al-Wujūd menilai bahwa memahami wujud sebagai aksiden berpotensi mereduksi realitas menjadi struktur statis, dan sulit menjelaskan dinamika ontologis seperti perubahan, intensifikasi eksistensi, dan relasi sebab-akibat secara mendalam.

7.7.       Implikasi Teologis Perbandingan

Perbedaan antara kedua mazhab ini juga berdampak signifikan pada teologi. Aṣālat al-Māhiyyah cenderung lebih kompatibel dengan teologi Asy‘ari yang menekankan kontingensi mutlak makhluk dan kehendak Tuhan yang bebas. Dengan menolak otonomi ontologis wujud, mazhab ini menjaga jarak yang tegas antara Tuhan dan makhluk.¹⁰

Sebaliknya, Aṣālat al-Wujūd sering dipandang lebih selaras dengan pendekatan metafisis yang menekankan kesatuan realitas dan manifestasi keberadaan ilahi. Namun, pendekatan ini juga memunculkan kekhawatiran teologis tertentu, terutama jika tidak dirumuskan dengan hati-hati, terkait batas antara transendensi Tuhan dan realitas makhluk.


Evaluasi Komparatif

Secara evaluatif, perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua mazhab memiliki kekuatan dan keterbatasan masing-masing. Aṣālat al-Māhiyyah unggul dalam analisis definisional, klasifikasi, dan koherensi dengan teologi kontingensi, sementara Aṣālat al-Wujūd unggul dalam menjelaskan realitas eksistensial yang dinamis dan kesatuan ontologis. Oleh karena itu, perdebatan antara keduanya tidak semata-mata tentang benar atau salah, melainkan tentang kerangka konseptual mana yang lebih memadai untuk tujuan filosofis dan teologis tertentu.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 176–179.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 165–168.

[3]                Mullā Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1 (Tehran: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 1981), 49–55.

[4]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 113–116.

[5]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 88–91.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 243–247.

[7]                Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 130–134.

[8]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 45–48.

[9]                Mullā Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1, 60–64.

[10]             Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 72–76.


8.           Implikasi Filosofis dan Teologis

8.1.       Pengantar: Dari Ontologi ke Konsekuensi Konseptual

Mazhab Aṣālat al-Māhiyyah tidak berhenti sebagai tesis ontologis teknis mengenai relasi esensi (māhiyyah) dan wujud (wujūd). Ia membawa implikasi luas yang menjalar ke wilayah epistemologi, kosmologi, dan teologi. Dengan menempatkan esensi sebagai realitas fundamental dan memaknai wujud sebagai aksiden atau keadaan yang bergantung, mazhab ini membentuk cara tertentu dalam memahami struktur realitas, cara manusia mengetahui dunia, serta relasi antara Tuhan dan makhluk. Bab ini menguraikan implikasi-implikasi tersebut secara sistematis, dengan menekankan koherensi internal dan relevansinya dalam tradisi pemikiran Islam.¹

8.2.       Implikasi Filosofis terhadap Konsep Realitas

Secara filosofis, Aṣālat al-Māhiyyah menegaskan bahwa realitas ditentukan oleh struktur hakikat, bukan oleh fakta keberadaan semata. Realitas dunia dipahami sebagai kumpulan esensi-esensi yang berbeda secara hakiki dan menerima wujud sebagai afirmasi eksternal. Dengan demikian, pluralitas dunia dijelaskan melalui perbedaan esensial, bukan melalui perbedaan intensitas atau gradasi wujud.

Implikasi penting dari pandangan ini adalah kecenderungan pada ontologi diskret: realitas terdiri dari entitas-entitas yang berbeda secara tegas satu sama lain berdasarkan esensinya. Pendekatan ini mendukung analisis klasifikatoris dan definisional yang ketat, tetapi pada saat yang sama membatasi penjelasan tentang kontinuitas ontologis atau dinamika eksistensial.²

8.3.       Implikasi Epistemologis: Pengetahuan Esensial dan Ilmu

Dalam ranah epistemologi, Aṣālat al-Māhiyyah menguatkan tesis bahwa pengetahuan manusia pada dasarnya adalah pengetahuan esensial. Ilmu pengetahuan, baik dalam pengertian filsafat maupun sains klasik, bertumpu pada definisi, klasifikasi, dan penetapan hakikat. Wujud, karena tidak dapat didefinisikan secara esensial, tidak menjadi objek ilmu dalam arti ketat, melainkan hanya prasyarat faktual bagi penerapan ilmu pada realitas aktual.³

Implikasi ini selaras dengan struktur ilmu dalam tradisi Islam klasik, di mana pengetahuan dipahami sebagai pemahaman terhadap apa sesuatu itu, bukan sekadar pengamatan bahwa sesuatu itu ada. Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah memberikan legitimasi ontologis bagi epistemologi definisional dan demonstratif yang menjadi ciri filsafat dan ilmu-ilmu rasional klasik.

8.4.       Implikasi terhadap Kosmologi

Dalam kosmologi, primasi esensi mendorong pemahaman alam sebagai tatanan hakikat yang terstruktur, bukan sebagai medan manifestasi wujud yang bergradasi. Alam dipahami sebagai kumpulan esensi-esensi mungkin (mumkināt) yang menerima wujud secara kontingen. Setiap entitas kosmik memiliki identitas yang ditentukan oleh esensinya, sementara keberadaannya bergantung pada sebab eksternal.

Pandangan ini memperkuat konsep kosmologi yang menekankan ketertiban dan hierarki esensial, sekaligus menghindari penafsiran kosmos sebagai kesatuan eksistensial yang kontinu. Alam tidak dipahami sebagai satu realitas eksistensial tunggal dengan berbagai tingkat, melainkan sebagai pluralitas hakikat yang disatukan oleh keteraturan sebab-akibat.⁴

8.5.       Implikasi Teologis terhadap Konsep Tuhan

Salah satu implikasi teologis paling signifikan dari Aṣālat al-Māhiyyah adalah penguatan transendensi Tuhan. Dengan menolak wujud sebagai realitas ontologis yang mandiri dan universal, mazhab ini menghindari segala bentuk pemahaman yang dapat menyamakan atau menghubungkan wujud Tuhan dan makhluk dalam satu spektrum ontologis yang sama. Tuhan dipahami sebagai pemberi wujud, bukan sebagai satu “tingkatan wujud” di antara yang lain.

Dalam kerangka ini, esensi Tuhan tidak dipahami sebagai salah satu esensi di antara esensi-esensi makhluk. Tuhan berada di luar kategori esensi makhluk, dan wujud makhluk sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya. Implikasi ini sejalan dengan teologi Asy‘ari yang menekankan kemahakuasaan dan kebebasan absolut Tuhan.⁵

8.6.       Kontingensi Makhluk dan Penciptaan

Aṣālat al-Māhiyyah juga memperkuat doktrin kontingensi mutlak makhluk. Karena esensi-esensi makhluk bersifat mungkin (tidak meniscayakan ada maupun tiada), dan wujud dipahami sebagai aksiden yang diberikan dari luar, maka keberadaan makhluk sepenuhnya bergantung pada tindakan penciptaan Tuhan. Tidak ada unsur dalam esensi makhluk yang mengharuskan keberadaannya secara niscaya.

Implikasi ini penting secara teologis karena menegaskan doktrin penciptaan dari ketiadaan (creatio ex nihilo) dan menolak segala bentuk keharusan ontologis alam. Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah menyediakan kerangka metafisis yang konsisten bagi keyakinan bahwa alam tidak memiliki keberadaan otonom.⁶

8.7.       Implikasi terhadap Teologi Pengetahuan Ilahi

Dalam teologi pengetahuan ilahi, primasi esensi mendukung pandangan bahwa Tuhan mengetahui esensi-esensi segala sesuatu sebelum dan sesudah penciptaan aktualnya. Pengetahuan Tuhan tidak bergantung pada keberadaan faktual makhluk, karena esensi-esensi tersebut dapat diketahui secara intelligible tanpa harus terwujud. Wujud aktual hanya merupakan realisasi temporal dari apa yang telah diketahui dalam ilmu ilahi.

Implikasi ini menegaskan kemahatahuan Tuhan tanpa harus mengaitkannya dengan perubahan atau aktualisasi dalam diri-Nya. Pengetahuan Tuhan tetap dan sempurna, sementara perubahan hanya terjadi pada tingkat wujud makhluk.⁷

8.8.       Perbandingan Implikatif dengan Aṣālat al-Wujūd

Jika dibandingkan dengan implikasi Aṣālat al-Wujūd, perbedaan orientasi menjadi jelas. Aṣālat al-Wujūd—sebagaimana dirumuskan secara sistematis oleh Mullā Ṣadrā—menawarkan kosmologi yang lebih dinamis dan menekankan kesatuan eksistensial. Sebaliknya, Aṣālat al-Māhiyyah unggul dalam menjaga batas ontologis yang tegas antara Tuhan dan makhluk serta dalam mendukung teologi kontingensi.

Perbedaan implikatif ini menunjukkan bahwa pilihan ontologis tidak bersifat netral, melainkan membawa konsekuensi teologis dan filosofis yang nyata. Oleh karena itu, evaluasi terhadap Aṣālat al-Māhiyyah tidak dapat dilepaskan dari tujuan teoretis dan teologis yang ingin dicapai.⁸


Penilaian Kritis Awal

Secara keseluruhan, implikasi filosofis dan teologis Aṣālat al-Māhiyyah menunjukkan kekuatan mazhab ini dalam menjaga koherensi antara ontologi, epistemologi, dan teologi. Namun, pada saat yang sama, pendekatan ini juga menghadapi keterbatasan, terutama dalam menjelaskan dinamika eksistensial dan pengalaman keberadaan secara langsung. Penilaian kritis terhadap batasan-batasan ini akan menjadi fokus pembahasan pada bab selanjutnya.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 179–182.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 116–119.

[3]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 92–95.

[4]                Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, rev. ed. (Albany: SUNY Press, 1993), 250–254.

[5]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 78–82.

[6]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 61–64.

[7]                Josef van Ess, Theologie und Gesellschaft im 2. und 3. Jahrhundert Hidschra, vol. 3 (Berlin: Walter de Gruyter, 1995), 120–124.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 170–174.



9.           Kritik, Batasan, dan Ruang Pengembangan

9.1.       Pengantar: Evaluasi Kritis terhadap Primasi Esensi

Setelah menelaah dasar konseptual, argumentasi filosofis, serta implikasi teologis Aṣālat al-Māhiyyah, tahap selanjutnya adalah melakukan evaluasi kritis. Kritik terhadap mazhab ini muncul baik dari dalam tradisi filsafat Islam sendiri maupun dari perspektif ontologis alternatif. Bab ini bertujuan untuk memetakan kritik-kritik utama, mengidentifikasi batasan konseptual Aṣālat al-Māhiyyah, serta membuka ruang pengembangan yang memungkinkan dialog produktif dengan mazhab lain tanpa menafikan kontribusi historisnya.¹

9.2.       Kritik Filosofis Internal

Kritik internal terhadap Aṣālat al-Māhiyyah berangkat dari problem konsistensi antara status esensi sebagai realitas fundamental dan netralitasnya terhadap ada dan tiada. Jika esensi benar-benar netral terhadap keberadaan, maka muncul pertanyaan: dalam pengertian apa esensi dapat disebut “realitas”? Sebagian kritikus berargumen bahwa esensi yang sepenuhnya netral tidak memiliki aktualitas apa pun, sehingga sulit dipahami sebagai realitas ontologis, bukan sekadar konstruksi intelektual.²

Selain itu, pemahaman wujud sebagai aksiden dinilai menimbulkan kesulitan dalam menjelaskan keberlanjutan eksistensi. Jika wujud hanya aksiden yang hadir pada esensi, maka perlu penjelasan tambahan mengenai bagaimana aksiden ini bertahan atau diperbarui dari satu momen ke momen berikutnya tanpa mengandaikan prinsip eksistensial yang lebih fundamental.

9.3.       Kritik Epistemologis: Reduksi Pengalaman Eksistensial

Dari sudut pandang epistemologis, Aṣālat al-Māhiyyah dikritik karena dianggap terlalu menekankan pengetahuan definisional dan konseptual, sehingga mereduksi pengalaman eksistensial langsung. Pengetahuan manusia tidak selalu beroperasi melalui definisi esensial; dalam banyak kasus, manusia pertama-tama berhadapan dengan “fakta ada” sebelum memahami hakikat sesuatu secara konseptual.

Kritik ini menilai bahwa dengan meminggirkan peran wujud dalam struktur pengetahuan, Aṣālat al-Māhiyyah cenderung mengabaikan dimensi fenomenologis dan eksistensial pengalaman manusia. Akibatnya, mazhab ini dinilai kurang memadai untuk menjelaskan kesadaran akan keberadaan (existential awareness) yang mendahului analisis esensial.³

9.4.       Kritik dari Tradisi Hikmah Isyraqiyyah

Kritik signifikan terhadap primasi esensi juga datang dari tradisi Hikmah Isyraqiyyah yang dirintis oleh Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī. Dalam filsafat iluminasi, realitas dipahami melalui metafora cahaya, dan pengetahuan sejati diperoleh melalui kehadiran langsung (ḥuḍūr) realitas, bukan semata melalui definisi esensial.

Dari perspektif ini, Aṣālat al-Māhiyyah dipandang terlalu bergantung pada analisis konseptual dan mengabaikan dimensi kehadiran ontologis. Esensi, sejauh hanya dipahami sebagai objek definisi, dianggap tidak cukup menjelaskan realitas sebagaimana dialami dan disaksikan secara langsung. Kritik ini menyoroti keterbatasan Aṣālat al-Māhiyyah dalam menjembatani antara rasionalitas diskursif dan intuisi ontologis.⁴

9.5.       Kritik dari Hikmah Muta‘āliyah

Kritik paling sistematis terhadap Aṣālat al-Māhiyyah datang dari Hikmah Muta‘āliyah, terutama melalui pemikiran Mullā Ṣadrā. Menurut Mullā Ṣadrā, menjadikan esensi sebagai realitas fundamental berujung pada reifikasi konsep mental. Esensi, karena netral terhadap ada dan tiada, tidak mungkin memiliki realitas eksternal tanpa wujud. Oleh karena itu, primasi esensi dianggap sebagai kekeliruan ontologis yang mencampuradukkan ranah konseptual dan ranah realitas.⁵

Selain itu, kritik diarahkan pada ketidakmampuan Aṣālat al-Māhiyyah menjelaskan perubahan, gerak substansial, dan intensifikasi eksistensi. Dengan menempatkan esensi sebagai struktur statis, mazhab ini dianggap kesulitan menjelaskan dinamika ontologis alam secara memadai.

9.6.       Batasan Konseptual Aṣālat al-Māhiyyah

Dari berbagai kritik tersebut, dapat diidentifikasi sejumlah batasan konseptual Aṣālat al-Māhiyyah. Pertama, mazhab ini sangat kuat dalam analisis definisional dan klasifikatoris, tetapi relatif lemah dalam menjelaskan aspek dinamis realitas. Kedua, pendekatan ini cenderung mengutamakan rasionalitas diskursif, sehingga kurang memberi ruang bagi dimensi intuisi dan pengalaman eksistensial.

Ketiga, primasi esensi menuntut pemisahan tegas antara esensi dan wujud, yang dalam praktiknya sering kali sulit dipertahankan secara konsisten tanpa mengandaikan prinsip tambahan yang menjembatani keduanya.⁶

9.7.       Ruang Pengembangan dan Reinterpretasi

Meskipun menghadapi berbagai kritik, Aṣālat al-Māhiyyah tetap memiliki ruang pengembangan yang signifikan. Salah satu kemungkinan pengembangan adalah reinterpretasi moderat yang tetap mempertahankan peran esensi sebagai dasar intelligibilitas, sambil mengakui peran wujud sebagai dimensi realitas yang tidak sepenuhnya reduktif menjadi aksiden.

Selain itu, dialog dengan mazhab lain—khususnya Aṣālat al-Wujūd—dapat menghasilkan pendekatan ontologis yang lebih integratif. Dalam konteks ini, primasi esensi dapat dipertahankan pada tingkat epistemologis dan logis, sementara primasi wujud diakui pada tingkat ontologis eksistensial. Pendekatan semacam ini membuka peluang bagi sintesis konseptual yang lebih fleksibel.⁷


Relevansi Kontemporer

Dalam diskursus filsafat kontemporer, Aṣālat al-Māhiyyah dapat direvitalisasi sebagai kerangka analitis untuk membahas masalah identitas, definisi, dan klasifikasi konsep. Meskipun mungkin tidak memadai sebagai ontologi eksistensial yang komprehensif, mazhab ini tetap relevan sebagai pendekatan metodologis dalam filsafat ilmu, logika, dan metafisika analitik.

Dengan demikian, kritik dan batasan Aṣālat al-Māhiyyah tidak serta-merta meniadakan nilainya, melainkan menunjukkan posisi dan fungsi yang lebih tepat bagi mazhab ini dalam lanskap filsafat Islam dan filsafat secara umum.⁸


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 182–185.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 119–122.

[3]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 97–101.

[4]                Shihāb al-Dīn al-Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 112–116.

[5]                Mullā Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1 (Tehran: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 1981), 66–72.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 175–178.

[7]                Ibrahim Madkour, Fī al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Taṭbīq (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1976), 138–141.

[8]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 65–69.


10.       Penutup

10.1.    Ringkasan Temuan Utama

Kajian ini menelusuri Aṣālat al-Māhiyyah (Primasi Esensi) sebagai salah satu mazhab ontologis penting dalam filsafat Islam, dengan menempatkannya dalam lintasan historis, konseptual, dan teologis yang utuh. Melalui pemetaan kerangka ontologis, analisis konseptual esensi–wujud, penelusuran latar historis, penguraian argumentasi filosofis, serta pembacaan implikasi dan kritik, artikel ini menunjukkan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah bukan sekadar posisi “pra-eksistensialis” atau tahap awal menuju primasi wujud, melainkan kerangka ontologis yang koheren dengan rasionalitas internalnya sendiri.¹

Temuan utama menunjukkan bahwa primasi esensi menegaskan esensi sebagai dasar intelligibilitas, definisionalitas, dan klasifikasi realitas, sementara wujud dipahami sebagai aksiden atau keadaan yang mengaktualkan esensi tanpa membentuk hakikatnya. Kerangka ini terbukti konsisten dengan epistemologi definisional klasik dan kompatibel dengan teologi kontingensi dalam tradisi Asy‘ari.²

10.2.    Kontribusi Filosofis Aṣālat al-Māhiyyah

Secara filosofis, Aṣālat al-Māhiyyah memberikan kontribusi penting dalam menjaga ketertiban konseptual metafisika. Dengan menempatkan esensi sebagai pusat analisis, mazhab ini memungkinkan pembahasan yang ketat mengenai identitas, diferensiasi, dan struktur realitas. Keunggulan ini tampak jelas dalam diskursus logika, epistemologi, dan filsafat ilmu, di mana definisi esensial menjadi prasyarat bagi pengetahuan demonstratif.³

Lebih jauh, primasi esensi menyediakan kerangka yang relatif stabil untuk menjelaskan pluralitas dunia tanpa harus mengandaikan gradasi eksistensial yang kompleks. Dengan demikian, Aṣālat al-Māhiyyah berfungsi sebagai ontologi analitis yang menekankan kejelasan struktur dibandingkan dinamika eksistensial.

10.3.    Signifikansi Teologis dan Kompatibilitas Kalam

Dalam ranah teologi, kajian ini menegaskan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah memiliki keselarasan struktural dengan prinsip-prinsip utama ilmu kalam Asy‘ari, khususnya terkait kemahakuasaan Tuhan, kontingensi makhluk, dan penciptaan berkelanjutan. Dengan menolak otonomi ontologis wujud, mazhab ini menjaga perbedaan mutlak antara Tuhan dan makhluk serta menghindari potensi problem teologis yang muncul dari reifikasi wujud.⁴

Implikasi ini menunjukkan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah bukan hanya relevan secara filosofis, tetapi juga memiliki nilai normatif-teologis dalam menjaga koherensi antara rasio dan akidah dalam Islam Sunni klasik.

10.4.    Evaluasi Kritis dan Posisi dalam Lanskap Ontologi Islam

Meskipun memiliki kekuatan konseptual yang signifikan, kajian ini juga menegaskan keterbatasan Aṣālat al-Māhiyyah, terutama dalam menjelaskan dimensi dinamis keberadaan dan pengalaman eksistensial langsung. Kritik dari Hikmah Isyraqiyyah dan Hikmah Muta‘āliyah menunjukkan bahwa primasi esensi cenderung mengunggulkan analisis diskursif di atas intuisi ontologis dan dinamika eksistensi.⁵

Namun demikian, keterbatasan ini tidak meniadakan nilai Aṣālat al-Māhiyyah. Sebaliknya, ia menempatkan mazhab ini pada posisi yang lebih tepat: sebagai ontologi rasional-analitis yang unggul dalam penjelasan struktural, tetapi perlu dilengkapi ketika tujuan kajian beralih pada pengalaman eksistensial dan metafisika dinamis.

10.5.    Implikasi Metodologis dan Relevansi Kontemporer

Secara metodologis, Aṣālat al-Māhiyyah tetap relevan sebagai kerangka analisis dalam diskursus filsafat kontemporer, khususnya pada pembahasan tentang identitas, esensialisme, dan struktur konsep. Dalam konteks filsafat Islam modern, mazhab ini dapat berfungsi sebagai alat kritik dan klarifikasi konseptual, baik dalam dialog internal antar-mazhab maupun dalam percakapan lintas tradisi filsafat.⁶

Pendekatan yang menempatkan primasi esensi pada tingkat epistemologis—tanpa harus menegaskannya secara absolut pada tingkat ontologis—membuka peluang bagi pembacaan yang lebih fleksibel dan dialogis, sekaligus menjaga warisan intelektual klasik agar tetap produktif.


Penutup Akhir

Sebagai penutup, kajian ini menegaskan bahwa Aṣālat al-Māhiyyah merupakan mazhab ontologis yang sah, rasional, dan historis signifikan dalam filsafat Islam. Ia tidak dapat direduksi menjadi sekadar lawan dari Aṣālat al-Wujūd, melainkan harus dipahami sebagai pendekatan ontologis dengan tujuan, kekuatan, dan batasannya sendiri. Dengan pembacaan yang proporsional dan terbuka, Aṣālat al-Māhiyyah tetap dapat berkontribusi pada pengembangan metafisika Islam, baik dalam kerangka tradisional maupun dalam dialog filosofis kontemporer.


Footnotes

[1]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New York: Columbia University Press, 2004), 173–185.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 90–122.

[3]                Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 65–101.

[4]                Richard M. Frank, Creation and the Cosmic System: Al-Ghazālī and Avicenna (Heidelberg: Carl Winter, 1992), 78–85.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 165–178.

[6]                Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism (Oxford: Oneworld, 1997), 61–70.


Daftar Pustaka

Al-Ghazālī. (1927). Tahāfut al-falāsifah (M. Bouyges, Ed.). Beirut: Imprimerie Catholique.

Fakhry, M. (1997). Islamic philosophy, theology and mysticism. Oxford: Oneworld.

Fakhry, M. (2004). A history of Islamic philosophy (3rd ed.). New York, NY: Columbia University Press.

Frank, R. M. (1992). Creation and the cosmic system: Al-Ghazālī and Avicenna. Heidelberg, Germany: Carl Winter.

Ibn Sīnā. (1960). Al-Shifā’: Al-ilāhiyyāt (I. Madkour, Ed.). Cairo, Egypt: Al-Hay’ah al-‘Āmmah li Shu’ūn al-Maṭābi‘ al-Amīriyyah.

Izutsu, T. (1971). The concept and reality of existence. Tokyo, Japan: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies.

Leaman, O. (2002). An introduction to classical Islamic philosophy (2nd ed.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Madkour, I. (1976). Fī al-falsafah al-islāmiyyah: Manhaj wa taṭbīq. Cairo, Egypt: Dār al-Ma‘ārif.

Mullā Ṣadrā. (1981). Al-asfār al-arba‘ah (Vol. 1). Tehran, Iran: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah.

Nasr, S. H. (1993). An introduction to Islamic cosmological doctrines (Rev. ed.). Albany, NY: State University of New York Press.

Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its origin to the present. Albany, NY: State University of New York Press.

Suhrawardī, S. D. al-. (1976). Ḥikmat al-ishrāq (H. Corbin, Ed.). Tehran, Iran: Institute of Iranian Philosophy.

Van Ess, J. (1992). Theologie und gesellschaft im 2. und 3. jahrhundert Hidschra (Vol. 2). Berlin, Germany: Walter de Gruyter.

Van Ess, J. (1995). Theologie und gesellschaft im 2. und 3. jahrhundert Hidschra (Vol. 3). Berlin, Germany: Walter de Gruyter.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar