Voluntarisme
Relasi antara Kebebasan Individu, Otoritas, dan
Tanggung Jawab Moral
Alihkan ke: Libertarianisme.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif aliran Voluntarisme
(Voluntaryism) dalam diskursus filsafat sosial-politik libertarian sebagai
sebuah sistem pemikiran yang berakar pada prinsip kebebasan individu,
non-agresi, dan tanggung jawab moral. Melalui pendekatan historis, ontologis,
epistemologis, dan aksiologis, tulisan ini menelusuri asal-usul voluntarisme
sejak pemikiran Étienne de La Boétie, Lysander Spooner, dan Auberon Herbert,
hingga perkembangannya dalam konteks libertarianisme modern. Secara ontologis,
voluntarisme menegaskan manusia sebagai subjek otonom yang memiliki kapasitas
moral dan rasional untuk bertindak secara bebas tanpa dominasi koersif. Secara
epistemologis, voluntarisme berpijak pada rasionalitas individu dan prinsip
persetujuan (consent) sebagai dasar pengetahuan sosial dan moral.
Sementara secara aksiologis, ia mengedepankan nilai kebebasan dan non-agresi
sebagai fondasi etika yang menolak segala bentuk paksaan.
Artikel ini juga membahas dimensi sosial dan
ekonomi voluntarisme yang memandang keteraturan sosial sebagai hasil interaksi
sukarela, bukan hasil rekayasa politik, serta relevansinya dalam konteks
kontemporer seperti desentralisasi digital, ekonomi berbagi, dan gerakan
solidaritas berbasis komunitas. Melalui analisis kritis terhadap berbagai
kritik kolektivis, sosial-demokrat, dan realis, artikel ini menunjukkan bahwa
voluntarisme bukan sekadar ide utopis, tetapi sebuah paradigma filosofis yang
realistis dan terbuka terhadap pengembangan etika kebebasan dalam dunia modern.
Kesimpulan artikel ini menegaskan bahwa voluntarisme merupakan filsafat
kebebasan universal yang berupaya membangun tatanan moral dan sosial yang
berakar pada kehendak sukarela dan tanggung jawab pribadi, sebagai alternatif
terhadap model sosial-politik koersif yang mendominasi peradaban modern.
Kata kunci: Voluntarisme,
Libertarianisme, Non-Agresi, Kebebasan Individu, Etika Sukarela, Rasionalitas
Moral, Desentralisasi Sosial, Filsafat Politik Kontemporer.
PEMBAHASAN
Voluntarisme (Voluntaryism) sebagai Prinsip Dasar
Kebebasan dan Tanggung Jawab Moral dalam Filsafat Sosial-Politik Libertarian
1.
Pendahuluan
Dalam tradisi filsafat sosial-politik libertarian, Voluntarisme
(Voluntaryism) menempati posisi yang unik sebagai aliran pemikiran yang
menekankan prinsip bahwa segala bentuk hubungan sosial, ekonomi, dan politik
seharusnya didasarkan sepenuhnya pada kehendak bebas individu tanpa adanya
paksaan atau intervensi koersif dari pihak mana pun, termasuk negara. Akar
gagasan ini terletak pada keyakinan bahwa kebebasan individual merupakan
prasyarat moral dan ontologis bagi kemanusiaan itu sendiri—sebuah pandangan
yang menjadikan tindakan sukarela bukan sekadar pilihan pragmatis, tetapi
landasan etis dan eksistensial bagi kehidupan sosial yang adil dan
bermartabat.¹
Voluntarisme muncul sebagai reaksi terhadap
kecenderungan historis institusionalisasi kekuasaan yang cenderung menindas
kebebasan individu, baik melalui struktur politik yang bersifat koersif maupun
melalui sistem ekonomi yang bersandar pada paksaan implisit. Dalam konteks ini,
voluntarisme mengajukan tesis bahwa masyarakat dapat berfungsi secara tertib
dan produktif tanpa adanya otoritas sentral yang memaksa, asalkan relasi
antarindividu dijalankan berdasarkan asas mutual consent (kesepakatan
timbal balik).² Dengan demikian, voluntarisme memandang bahwa moralitas dan
keadilan sosial tidak bersumber dari perintah eksternal atau kewenangan negara,
melainkan dari kesadaran moral individu yang berakar pada prinsip non-agresi (non-aggression
principle, NAP).³
Secara historis, embrio gagasan voluntarisme dapat
dilacak pada warisan pemikiran Étienne de La Boétie dalam Discourse of
Voluntary Servitude (1576), yang menunjukkan bahwa kekuasaan tiranik hanya
dapat bertahan sejauh rakyat bersedia menaatinya secara sukarela.⁴ Pemikiran
ini kemudian menemukan bentuk sistematisnya dalam karya Lysander Spooner dan
Auberon Herbert pada abad ke-19, yang menolak legitimasi negara berdasarkan
prinsip bahwa paksaan, dalam bentuk apa pun, adalah pelanggaran terhadap
moralitas universal.⁵ Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini turut
dipengaruhi oleh anarkisme klasik yang menolak otoritas hierarkis, namun
berbeda dalam penekanannya pada penghormatan terhadap hak milik dan kebebasan
kontraktual sebagai pilar tatanan sosial yang damai.⁶
Pada tataran ontologis, voluntarisme memandang
manusia sebagai makhluk rasional dan otonom yang memiliki kapasitas untuk
memilih secara sadar serta menanggung konsekuensi moral dari tindakannya.
Kebebasan bukan hanya kondisi politik, melainkan hakikat eksistensial manusia
sebagai agen moral. Dalam kerangka ini, setiap bentuk paksaan dianggap tidak
hanya melanggar hak kebebasan, tetapi juga merusak struktur moralitas itu
sendiri.⁷ Oleh karena itu, voluntarisme menolak justifikasi etis terhadap
segala bentuk kekuasaan yang berdasar pada dominasi, termasuk dominasi yang
diklaim demi kepentingan publik atau kesejahteraan bersama.
Di sisi lain, secara epistemologis, voluntarisme
berangkat dari asumsi bahwa pengetahuan sosial dan moral tidak dihasilkan oleh
peraturan yang dipaksakan dari atas, tetapi tumbuh secara spontan melalui
interaksi bebas antara individu-individu yang rasional. Prinsip sukarela
menciptakan mekanisme pembelajaran sosial yang adaptif, karena setiap individu
berkontribusi dalam proses trial and error kolektif tanpa adanya paksaan
struktural.⁸ Dengan demikian, masyarakat yang dibangun atas dasar tindakan
sukarela mencerminkan dinamika pengetahuan yang bersifat evolusioner dan
organik, bukan hasil rekayasa birokratik.
Dalam konteks kontemporer, voluntarisme memperoleh
relevansi baru seiring dengan berkembangnya ekonomi digital, jaringan
desentralisasi (decentralized networks), dan praktik kolaborasi
non-koersif di ruang daring. Fenomena seperti open-source movement,
ekonomi berbagi, serta organisasi nirlaba berbasis konsensus menggambarkan
bahwa prinsip voluntarisme tidak hanya ideal filosofis, tetapi juga dapat
diwujudkan dalam bentuk institusional dan praktis.⁹ Dengan demikian, kajian
tentang voluntarisme tidak hanya penting untuk memahami salah satu varian
pemikiran libertarianisme, tetapi juga untuk menilai kembali fondasi moral
kebebasan, tanggung jawab, dan solidaritas dalam tatanan sosial modern yang
semakin kompleks.
Kajian ini bertujuan untuk menelusuri landasan
historis, ontologis, epistemologis, dan aksiologis voluntarisme sebagai
paradigma sosial-politik yang menegaskan supremasi tindakan sukarela di atas
segala bentuk paksaan. Dengan pendekatan analisis konseptual dan genealogis,
tulisan ini berusaha menguraikan bagaimana voluntarisme memformulasikan gagasan
tentang kebebasan moral, legitimasi sosial, dan keadilan non-koersif sebagai
alternatif terhadap model politik konvensional yang berlandaskan kekuasaan
hierarkis.¹⁰
Footnotes
[1]
Roderick T. Long, Reason and Value: Aristotle
versus Rand (Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute, 2000), 75.
[2]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(New York: New York University Press, 1998), 37.
[3]
Wendy McElroy, The Art of Being Free
(Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 14.
[4]
Étienne de La Boétie, The Discourse of Voluntary
Servitude (Indianapolis: Liberty Fund, 1975), 9.
[5]
Lysander Spooner, No Treason: The Constitution
of No Authority (Boston: Spooner, 1870), 3.
[6]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London: Williams and Norgate, 1885), 42.
[7]
Carl Watner, “Voluntaryism: The Political Thought
of Auberon Herbert,” The Journal of Libertarian Studies 2, no. 4 (1978):
390.
[8]
Friedrich A. Hayek, The Constitution of Liberty
(Chicago: University of Chicago Press, 1960), 56.
[9]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution: A Low-Overhead Manifesto (Charleston, SC: BookSurge, 2010),
121.
[10]
Roderick Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country? (Aldershot: Ashgate, 2008), 27.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis Voluntarisme
Voluntarisme,
sebagai salah satu aliran penting dalam filsafat sosial-politik libertarian,
tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses evolusi
panjang yang berakar pada dinamika intelektual, etika, dan politik Barat sejak
masa klasik hingga modern. Secara genealogis, ia dapat dipahami sebagai respons
terhadap dua bentuk dominasi yang saling melengkapi: pertama, dominasi otoritas
politik yang memusat; dan kedua, dominasi moral yang mengandaikan legitimasi
paksaan demi keteraturan sosial.¹ Dalam konteks ini, voluntarisme tampil
sebagai sebuah paradigma alternatif yang berupaya menegakkan tatanan sosial
berdasarkan prinsip kesukarelaan, rasionalitas moral individu, dan negasi
terhadap segala bentuk paksaan koersif.
2.1. Akar Klasik: Dari Etika Kebebasan ke Kesadaran
Otonomi Moral
Akar voluntarisme
dapat ditelusuri hingga ke filsafat Yunani klasik, terutama pada gagasan Stoik
dan Aristotelian yang menekankan rasionalitas dan kebajikan sebagai dasar
tindakan moral yang bebas. Para filsuf Stoik seperti Epictetus dan Marcus
Aurelius menekankan bahwa kebebasan sejati adalah ketaatan pada hukum rasional
alam (logos),
bukan pada otoritas eksternal.² Konsep ini menjadi cikal bakal pemahaman
voluntarisme tentang otonomi moral, yakni bahwa tindakan bernilai moral hanya
jika dilakukan secara sukarela, bukan karena paksaan.
Pemikiran tersebut
kemudian diperkaya dalam filsafat skolastik abad pertengahan, khususnya oleh
teolog seperti William dari Ockham dan Duns Scotus yang mengembangkan teori voluntas
(kehendak) sebagai unsur utama dalam tindakan moral.³ Bagi Ockham, kehendak
manusia memiliki kebebasan mutlak terhadap rasio, sehingga moralitas bergantung
pada pilihan sukarela manusia, bukan pada keterpaksaan logis atau hukum
eksternal.⁴ Meskipun masih dalam kerangka teologi Kristen, pemikiran ini
membuka jalan bagi pemisahan antara moralitas dan otoritas institusional
Gereja, serta menegaskan bahwa ketaatan moral yang sah harus bersifat sukarela.
2.2. Voluntary Servitude dan Pemberontakan terhadap
Otoritas
Memasuki era
Renaisans dan modern awal, voluntarisme menemukan bentuk politisnya dalam
tulisan Étienne de La Boétie, Discours de la servitude volontaire
(1576). Dalam risalah ini, La Boétie menyoroti paradoks kekuasaan: bahwa tirani
hanya bertahan sejauh rakyat bersedia tunduk secara sukarela.⁵ Ia menolak
gagasan bahwa dominasi politik bersifat alamiah, melainkan melihatnya sebagai
konstruksi sosial yang dapat dibongkar melalui penarikan persetujuan kolektif.⁶
Gagasannya mengandung benih anarkisme moral, di mana kebebasan bukan hasil
revolusi kekerasan, melainkan konsekuensi logis dari penolakan terhadap
ketaatan yang dipaksakan.
Pandangan La Boétie
menjadi inspirasi bagi pemikir libertarian modern yang menegaskan bahwa
legitimasi politik berakar pada persetujuan individu, bukan pada kontrak sosial
fiktif.⁷ Dalam garis genealogis ini, voluntarisme mengandung kritik terhadap
teori kontrak sosial Hobbes dan Rousseau, yang meskipun berbicara tentang
“persetujuan,” tetap membenarkan pembentukan otoritas koersif negara. Bagi
voluntarisme, persetujuan sejati harus bersifat eksplisit, individual, dan
dapat ditarik kapan pun tanpa konsekuensi moral.⁸
2.3. Abad ke-19: Formulasi Sistematis oleh Lysander
Spooner dan Auberon Herbert
Abad ke-19 menjadi
masa kristalisasi voluntarisme sebagai doktrin sosial-politik yang koheren.
Lysander Spooner, dalam No Treason: The Constitution of No Authority
(1870), menyatakan bahwa konstitusi Amerika Serikat tidak memiliki legitimasi
moral karena tidak pernah disetujui secara sukarela oleh setiap individu warga
negara.⁹ Spooner menegaskan bahwa segala bentuk paksaan, bahkan yang dilakukan
atas nama hukum, adalah pelanggaran terhadap prinsip keadilan alami (natural
justice).¹⁰ Ia menolak ide bahwa kewarganegaraan otomatis
menciptakan kewajiban politik; bagi Spooner, kontrak politik hanya sah jika
didasarkan pada kehendak bebas dan dapat dibatalkan secara sukarela.¹¹
Sementara itu,
Auberon Herbert memperluas prinsip tersebut dengan mengembangkan konsep voluntaryism
secara eksplisit dalam karya The Right and Wrong of Compulsion by the State
(1885).¹² Herbert menolak segala bentuk intervensi negara, baik dalam bidang
ekonomi maupun moral, dan menggagas sistem sosial di mana setiap individu
memiliki hak absolut untuk mengatur hidupnya selama tidak melanggar prinsip
non-agresi (non-aggression principle).¹³ Dengan
menggabungkan etika liberal klasik dan anarkisme damai, Herbert menempatkan
voluntarisme sebagai alternatif terhadap negara minimalis sekalipun.¹⁴
Kedua tokoh ini
meletakkan fondasi epistemik bagi voluntarisme modern, yang memandang kebebasan
dan tanggung jawab moral sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Dalam
masyarakat yang benar-benar bebas, individu bukan hanya memiliki hak untuk
menolak paksaan, tetapi juga tanggung jawab untuk membangun tatanan sosial
melalui kerjasama sukarela.¹⁵
Pengaruh terhadap Libertarianisme Modern dan Tradisi Anarkisme Damai
Pada abad ke-20,
voluntarisme mengalami revitalisasi melalui karya para ekonom dan filsuf
libertarian seperti Murray N. Rothbard dan Carl Watner. Rothbard menempatkan
prinsip sukarela sebagai basis etik dari anarcho-capitalism, sementara
Watner berupaya menafsirkan voluntarisme sebagai doktrin yang lebih luas
daripada sekadar teori ekonomi, yakni sebagai filsafat moral kehidupan tanpa
paksaan.¹⁶ Tradisi ini kemudian meluas dalam konteks kontemporer melalui
gerakan peaceful
anarchism, agorism, dan komunitarianisme
desentralistik yang menolak kekerasan sebagai instrumen perubahan sosial.¹⁷
Dengan demikian,
voluntarisme dapat dipahami sebagai produk evolusi historis yang menggabungkan
warisan teologis, etika rasional, dan politik liberal ke dalam satu kerangka filosofis
yang menekankan kesukarelaan sebagai inti kemanusiaan. Genealogi voluntarisme
memperlihatkan kesinambungan ide dari kesadaran moral individu dalam filsafat
kuno hingga kritik terhadap negara modern dalam libertarianisme kontemporer.¹⁸
Ia bukan sekadar doktrin politik, melainkan pandangan dunia (weltanschauung)
tentang martabat manusia sebagai agen moral yang bebas, rasional, dan
bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.¹⁹
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 5.
[2]
Marcus Aurelius, Meditations, trans. George Long (London: George Bell & Sons,
1902), 48.
[3]
Allan B. Wolter, The Philosophy of Duns
Scotus (Chicago: Franciscan Herald
Press, 1981), 92.
[4]
William of Ockham, Opera Theologica, vol. 3 (St. Bonaventure, NY: The Franciscan
Institute, 1967), 121.
[5]
Étienne de La Boétie, The
Discourse of Voluntary Servitude
(Indianapolis: Liberty Fund, 1975), 14.
[6]
Murray N. Rothbard, For
a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Collier Books, 1978), 35.
[7]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Mises Institute, 2004), 17.
[8]
Tibor R. Machan, Libertarianism Defended (Aldershot: Ashgate, 2006), 66.
[9]
Lysander Spooner, No Treason: The
Constitution of No Authority
(Boston: Spooner, 1870), 8.
[10]
Ibid., 23.
[11]
Carl Watner, “The Ethical Thought of Lysander Spooner,” Journal of Libertarian Studies 4, no. 3 (1980): 247.
[12]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London:
Williams and Norgate, 1885), 41.
[13]
Ibid., 58.
[14]
Eric Mack, “Auberon Herbert and the Ethics of Voluntarism,” Reason Papers 5
(1979): 67.
[15]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 31.
[16]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 62.
[17]
Samuel Edward Konkin III, An
Agorist Primer (Long Beach, CA:
KoPubCo, 2008), 5.
[18]
Roderick Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 44.
[19]
Carl Watner, “What Is Voluntaryism?” The
Voluntaryist 1, no. 1 (1982): 3.
3.
Ontologi
Voluntarisme
Ontologi
voluntarisme berpijak pada asumsi fundamental bahwa realitas sosial dan moral
manusia berakar pada kebebasan kehendak individual yang otonom. Dalam kerangka
ini, eksistensi manusia dipahami sebagai subjek rasional yang memiliki
kapasitas untuk memilih secara bebas, bertindak berdasarkan kesadaran moralnya
sendiri, dan bertanggung jawab atas akibat dari tindakannya.¹ Prinsip
voluntarisme dengan demikian menolak setiap pandangan metafisik atau politik
yang mengandaikan bahwa tatanan sosial yang sah harus bersumber pada otoritas
eksternal yang memaksa—baik berupa negara, agama institusional, maupun kontrak
sosial yang bersifat fiktif.² Ontologi ini menegaskan bahwa tindakan manusia
memperoleh legitimasi moralnya hanya sejauh tindakan tersebut bersifat sukarela
(voluntary
act) dan bebas dari dominasi koersif.
3.1. Hakikat Manusia sebagai Subjek Otonom
Dalam pandangan
voluntarisme, manusia bukan sekadar anggota masyarakat, melainkan agen moral
yang memiliki nilai intrinsik dan kebebasan bawaan (innate liberty).³ Keberadaan
individu mendahului segala bentuk kontrak sosial atau institusi politik. Oleh
karena itu, kebebasan bukanlah “hadiah” dari masyarakat, tetapi kondisi
ontologis yang melekat dalam eksistensi manusia itu sendiri.⁴ Pemikiran ini
sejalan dengan tradisi liberal klasik yang menekankan hak alamiah (natural
rights) sebagai bagian dari kodrat manusia, namun voluntarisme
melangkah lebih jauh dengan menolak legitimasi otoritas apa pun yang melampaui
kehendak individu.⁵
Ontologi ini
menegaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kesadaran reflektif yang
memungkinkan tindakan moral yang bertanggung jawab tanpa memerlukan otoritas
eksternal.⁶ Tindakan yang bermoral tidak memerlukan perintah dari luar,
melainkan lahir dari kesadaran batin yang menghormati prinsip non-agresi dan
integritas kehendak orang lain. Dengan demikian, voluntarisme
mengonseptualisasikan manusia sebagai entitas yang mampu menciptakan tatanan
moral melalui hubungan antar-kehendak yang setara, bukan melalui subordinasi
pada kekuasaan.⁷
3.2. Relasi Ontologis antara Kebebasan dan Moralitas
Kebebasan dalam
voluntarisme bukan sekadar hak negatif untuk “tidak diganggu”, tetapi
hakikat moral yang membentuk realitas sosial itu sendiri.⁸ Setiap bentuk
paksaan, baik fisik maupun institusional, dipandang sebagai pelanggaran
terhadap struktur ontologis kebebasan manusia. Oleh karena itu, tindakan
koersif tidak hanya salah secara etis, tetapi juga tidak sah secara ontologis,
karena merusak tatanan alamiah hubungan antarmanusia yang didasarkan pada
persetujuan bebas.⁹
Dari sudut pandang
ini, moralitas tidak dapat dipisahkan dari kebebasan. Sebuah tindakan hanya
memiliki nilai moral jika ia dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan.¹⁰
Prinsip ini membedakan voluntarisme dari aliran moralitas legalistik, yang
menilai kebaikan berdasarkan kepatuhan terhadap hukum atau norma eksternal.
Bagi voluntarisme, hukum tanpa persetujuan tidak memiliki legitimasi moral,
karena ia tidak bersumber dari kehendak bebas subjek rasional.¹¹ Dengan
demikian, relasi moral dalam masyarakat voluntaristik bersifat emergen: ia
tumbuh dari interaksi bebas individu-individu yang saling menghormati kehendak
masing-masing, bukan dari aturan yang ditetapkan secara hierarkis.
3.3. Ontologi Tatanan Sosial Tanpa Paksaan
Voluntarisme
mengajukan pandangan ontologis yang radikal terhadap masyarakat: bahwa
keteraturan sosial tidak harus dipaksakan dari atas, tetapi dapat muncul secara
spontan melalui jaringan interaksi sukarela.¹² Dalam hal ini, masyarakat
bukanlah entitas metafisik yang berdiri di atas individu, melainkan hasil
relasi dinamis antara kehendak-kehendak bebas yang saling berinteraksi secara
damai.¹³ Dengan demikian, tatanan sosial bersifat emergent, bukan produk
rekayasa politik.
Konsepsi ini berakar
pada pandangan bahwa kebebasan individu memiliki sifat kreatif, sehingga dari
interaksi bebas dapat lahir bentuk-bentuk institusi sosial yang adaptif dan
berkeadilan.¹⁴ Dalam masyarakat voluntaristik, hukum dan norma tidak
dipaksakan, tetapi dihasilkan melalui kontrak, konsensus, dan eksperimentasi
sosial.¹⁵ Ontologi voluntarisme dengan demikian menolak dualisme antara “individu”
dan “masyarakat,” karena keduanya saling membentuk dalam proses yang
terus-menerus dan non-koersif.
3.4. Penolakan terhadap Ontologi Koersif dan Legitimasi
Kekuasaan
Voluntarisme secara
ontologis menolak semua bentuk entitas kolektif yang mengklaim hak moral untuk
memaksakan kehendaknya atas individu.¹⁶ Negara, dalam pandangan ini, bukanlah
realitas ontologis yang niscaya, melainkan konstruksi fiktif yang memperoleh
eksistensinya hanya sejauh individu bersedia menaatinya.¹⁷ Ketika ketaatan itu
ditarik, legitimasi negara secara ontologis pun lenyap. Oleh karena itu,
voluntarisme tidak menganggap negara sebagai “organisme sosial,”
melainkan sebagai “abstraksi koersif” yang menyalahi hakikat kebebasan
manusia.¹⁸
Penolakan ini bukan
sekadar kritik politik, tetapi juga metafisik: negara dianggap melanggar
struktur moral alamiah yang menempatkan kehendak bebas sebagai dasar realitas
sosial.¹⁹ Dengan menolak ontologi kekuasaan, voluntarisme mengembalikan
eksistensi sosial kepada dasar aslinya—yakni hubungan sukarela antarindividu
yang bebas dan rasional.²⁰
Ontologi Kebersamaan: Solidaritas sebagai Ekspresi Kebebasan
Menariknya,
voluntarisme tidak menafikan kebersamaan atau solidaritas sosial. Sebaliknya,
ia menempatkan solidaritas sebagai ekspresi tertinggi dari kebebasan yang
sadar.²¹ Tindakan saling menolong, berkontribusi, atau berorganisasi hanya
bermakna jika dilandasi oleh kehendak bebas, bukan karena tekanan sosial atau
perintah institusional.²² Solidaritas yang autentik, dalam pandangan
voluntarisme, lahir dari empati rasional dan kesadaran moral yang memilih untuk
terlibat demi kebaikan bersama tanpa kehilangan otonomi.²³ Dengan demikian,
voluntarisme mengajukan sintesis antara individualisme moral dan harmoni sosial
yang bersumber dari kebebasan sejati.
Ontologi
voluntarisme, pada akhirnya, berupaya menggambarkan realitas manusia sebagai kosmos
kebebasan, di mana kehendak bebas individu menjadi prinsip
penggerak tatanan sosial, moral, dan politik.²⁴ Melalui dasar ontologis ini,
voluntarisme bukan hanya pandangan politik, tetapi filsafat eksistensial yang
menegaskan bahwa keberadaan manusia mencapai makna tertingginya ketika ia
bertindak secara bebas, sukarela, dan bertanggung jawab atas pilihannya
sendiri.²⁵
Footnotes
[1]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
12.
[2]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Ludwig von Mises Institute, 2004), 19.
[3]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 33.
[4]
John Locke, Two Treatises of
Government, ed. Peter Laslett
(Cambridge: Cambridge University Press, 1988), 287.
[5]
Herbert Spencer, Social Statics (London: John Chapman, 1851), 145.
[6]
Carl Watner, “Voluntaryism and the State,” The Voluntaryist 3,
no. 2 (1985): 7.
[7]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London:
Williams and Norgate, 1885), 62.
[8]
Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 28.
[9]
Roderick T. Long, “Foundations of Libertarian Ethics,” Social Philosophy & Policy 15, no. 2 (1998): 118.
[10]
Murray N. Rothbard, Power
and Market (Kansas City: Sheed
Andrews and McMeel, 1977), 23.
[11]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 14.
[12]
Friedrich A. Hayek, Law,
Legislation and Liberty, vol. 1
(Chicago: University of Chicago Press, 1973), 36.
[13]
Michael Polanyi, The Logic of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 77.
[14]
Elinor Ostrom, Governing the Commons (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 89.
[15]
Edward Stringham, Private Governance (Oxford: Oxford University Press, 2015), 11.
[16]
Hans-Hermann Hoppe, A
Theory of Socialism and Capitalism
(Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute, 1989), 45.
[17]
Lysander Spooner, No Treason: The
Constitution of No Authority
(Boston: Spooner, 1870), 5.
[18]
Roderick T. Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 57.
[19]
Eric Mack, “Auberon Herbert and the Ethics of Voluntarism,” Reason Papers 5
(1979): 73.
[20]
Carl Watner, “What Is Voluntaryism?” The
Voluntaryist 1, no. 1 (1982): 4.
[21]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston,
SC: BookSurge, 2008), 132.
[22]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 45.
[23]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2010): 3.
[24]
Roderick Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” The Independent Review
10, no. 1 (2005): 23.
[25]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 91.
4.
Epistemologi
dan Rasionalitas dalam Voluntarisme
Epistemologi
voluntarisme bertolak dari pandangan bahwa pengetahuan sosial dan moral
bersumber dari kesadaran rasional individu yang bebas, bukan dari otoritas
eksternal atau struktur institusional yang memaksakan kebenaran.¹ Dalam tradisi
ini, manusia dipahami sebagai subjek epistemik yang mampu menilai, memilih, dan
bertindak berdasarkan penalaran pribadi yang reflektif. Rasionalitas tidak
dianggap sebagai alat untuk menjustifikasi kekuasaan, tetapi sebagai kemampuan
untuk mempertimbangkan tindakan sukarela yang selaras dengan prinsip moral
universal: non-agresi dan tanggung jawab individual.² Oleh karena itu,
voluntarisme menolak epistemologi koersif—yakni pandangan bahwa kebenaran moral
atau sosial harus dipaksakan melalui negara, hukum, atau lembaga moral
kolektif.³
4.1. Dasar Epistemologis Tindakan Sukarela
Dalam kerangka
voluntarisme, tindakan sukarela tidak hanya bersifat etis, tetapi juga
epistemologis. Artinya, setiap tindakan yang benar secara moral harus
didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh melalui kesadaran dan persetujuan
individu.⁴ Pengetahuan moral tidak dapat diperoleh melalui paksaan, karena
paksaan meniadakan kemampuan reflektif subjek untuk menilai dan bertanggung
jawab atas tindakannya. Dengan demikian, knowing dan choosing
menjadi dua sisi dari satu proses epistemik yang tak terpisahkan.⁵
Bagi Lysander
Spooner, pengetahuan tentang keadilan bersifat apriori—ia muncul dari kesadaran
moral alami (natural conscience) yang dimiliki
setiap manusia.⁶ Kesadaran ini memungkinkan individu untuk mengenali hak dan
batas kebebasannya tanpa perlu otoritas eksternal. Dari sudut pandang ini,
moralitas adalah hasil rasionalitas internal yang tumbuh melalui pengalaman
sosial bebas, bukan dari pengajaran dogmatis.⁷
4.2. Rasionalitas sebagai Prinsip Interaksi Non-Koersif
Rasionalitas dalam
voluntarisme memiliki makna sosial yang khas: ia bukan semata kemampuan logis
individual, tetapi dasar bagi interaksi damai dalam masyarakat bebas.⁸ Individu
yang rasional adalah mereka yang mampu memahami bahwa kerja sama sukarela
menghasilkan hasil sosial yang lebih berkelanjutan daripada hubungan berbasis
paksaan.⁹ Oleh karena itu, rasionalitas berfungsi sebagai prinsip pengatur
tatanan sosial yang muncul secara spontan (spontaneous order), sebagaimana
dijelaskan oleh Friedrich A. Hayek.¹⁰
Voluntarisme
memandang bahwa tindakan sukarela adalah bentuk tertinggi dari rasionalitas
sosial, karena ia melibatkan penilaian terhadap manfaat, risiko, dan moralitas
tanpa mengorbankan kebebasan pihak lain.¹¹ Relasi sosial yang sehat hanya dapat
terwujud ketika individu menggunakan rasionalitasnya untuk menegosiasikan
kepentingan melalui persetujuan timbal balik, bukan melalui kekuasaan
koersif.¹² Dengan demikian, dalam epistemologi voluntarisme, rasionalitas
menjadi sarana pembentukan norma sosial yang muncul dari bawah (bottom-up),
bukan dari peraturan yang dipaksakan dari atas (top-down).
4.3. Persetujuan (Consent) sebagai Epistemologi Moral
Konsep consent
menempati posisi sentral dalam epistemologi voluntarisme, karena ia menjadi
bentuk pengetahuan praktis yang menjembatani kesadaran dan tindakan.¹³
Persetujuan bukan hanya ekspresi kehendak, tetapi juga hasil dari proses
epistemik di mana individu memahami, menimbang, dan memutuskan sesuatu secara
sadar.¹⁴ Dengan demikian, consent berfungsi sebagai mekanisme
epistemologis yang memastikan bahwa tindakan manusia didasarkan pada
pengetahuan moral yang valid.
Setiap relasi yang
tidak didasari oleh persetujuan sadar dianggap melanggar kebenaran moral, sebab
ia menafikan kondisi epistemik bagi tindakan etis—yakni pemahaman dan kehendak
bebas.¹⁵ Hal ini sejalan dengan prinsip dasar libertarianisme yang menegaskan
bahwa interaksi sukarela adalah satu-satunya bentuk hubungan manusia yang
konsisten dengan akal budi dan keadilan.¹⁶
4.4. Pengetahuan Sosial sebagai Produk Interaksi
Sukarela
Dalam perspektif
voluntarisme, pengetahuan sosial bersifat emergen dan terdesentralisasi.¹⁷ Ia
bukan hasil perencanaan atau otoritas sentral, melainkan terbentuk dari proses
belajar sosial yang terjadi melalui interaksi bebas antara individu-individu.
Friedrich Hayek menyebut fenomena ini sebagai “catallaxy,” yaitu tatanan spontan
yang muncul dari pertukaran informasi dan kepentingan dalam pasar bebas.¹⁸
Prinsip ini juga
diterapkan secara moral: masyarakat yang terdiri dari individu-individu
sukarela secara epistemik lebih efisien, karena setiap individu menjadi pusat
pengetahuan dan tanggung jawab moral.¹⁹ Ketika paksaan diperkenalkan, kapasitas
individu untuk belajar, menilai, dan berinovasi menurun karena hilangnya
kebebasan epistemik.²⁰ Oleh sebab itu, voluntarisme menegaskan bahwa kebebasan
berpikir dan bertindak bukan hanya hak moral, tetapi juga syarat ontologis bagi
pertumbuhan pengetahuan manusia.
4.5. Kritik terhadap Epistemologi Koersif dan
Rasionalisme Politik
Voluntarisme
mengajukan kritik tajam terhadap rasionalisme politik modern yang mengklaim
mampu merancang tatanan sosial berdasarkan nalar kolektif.²¹ Pemikiran ini
menentang pandangan positivistik yang melihat hukum dan kebijakan sebagai
instrumen teknokratis untuk mengatur manusia. Dalam pandangan voluntarisme,
rasionalitas politik semacam itu justru mengabaikan hakikat epistemik individu
sebagai makhluk bebas yang memiliki kapasitas pengetahuan moral sendiri.²²
Carl Watner
menegaskan bahwa setiap sistem yang mengklaim memiliki monopoli atas kebenaran
moral pada dasarnya telah menggantikan rasionalitas individu dengan dogma
institusional.²³ Oleh karena itu, voluntarisme lebih mendekati epistemologi
libertarian yang mengutamakan subjective rationality—yakni
kemampuan individu untuk menentukan nilai, tujuan, dan tindakan berdasarkan
pemahaman pribadi yang rasional.²⁴ Dengan demikian, kebenaran dalam masyarakat
sukarela tidak ditetapkan oleh otoritas tunggal, melainkan dihasilkan melalui
dialog antarindividu yang bebas dan setara.²⁵
Epistemologi Voluntaristik dalam Era Kontemporer
Dalam konteks
masyarakat digital dan desentralisasi informasi, epistemologi voluntarisme
menemukan aktualisasinya. Jaringan open-source, ekonomi berbagi, dan
komunitas daring yang beroperasi tanpa hierarki koersif mencerminkan
prinsip-prinsip epistemologis voluntarisme: kebebasan individu dalam mencipta,
berbagi, dan memperbaiki pengetahuan secara sukarela.²⁶ Model ini
memperlihatkan bahwa pengetahuan yang lahir dari kolaborasi bebas sering kali
lebih inovatif dan etis daripada sistem yang dikendalikan secara terpusat.²⁷
Dengan demikian,
voluntarisme tidak hanya menawarkan etika kebebasan, tetapi juga epistemologi
kebebasan—suatu kerangka yang menegaskan bahwa kebenaran sosial dan moral lahir
dari dialog antarindividu yang bebas, bukan dari paksaan struktural.²⁸ Ia
menuntut agar manusia berpikir, bertindak, dan berinteraksi berdasarkan
kesadaran rasional yang otonom; sebab hanya melalui kebebasan berpikir dan
bertindaklah pengetahuan sejati dapat berkembang.²⁹
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 9.
[2]
Roderick T. Long, Reason and Value:
Aristotle versus Rand (Auburn, AL: Mises
Institute, 2000), 77.
[3]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 64.
[4]
Lysander Spooner, Natural Law: Or the
Science of Justice (Boston: Spooner,
1882), 12.
[5]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 27.
[6]
Spooner, No Treason: The
Constitution of No Authority
(Boston: Spooner, 1870), 10.
[7]
Carl Watner, “What Is Voluntaryism?” The
Voluntaryist 1, no. 1 (1982): 3.
[8]
Murray N. Rothbard, Power
and Market (Kansas City: Sheed
Andrews and McMeel, 1977), 31.
[9]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom (La Salle, IL: Open Court,
1989), 54.
[10]
Friedrich A. Hayek, The
Constitution of Liberty (Chicago:
University of Chicago Press, 1960), 107.
[11]
Eric Mack, “Auberon Herbert and the Ethics of Voluntarism,” Reason Papers 5
(1979): 71.
[12]
Edward Stringham, Private Governance (Oxford: Oxford University Press, 2015), 22.
[13]
Roderick T. Long, “Foundations of Libertarian Ethics,” Social Philosophy & Policy 15, no. 2 (1998): 118.
[14]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 42.
[15]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
51.
[16]
Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 31.
[17]
Hayek, Law, Legislation and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 39.
[18]
Ibid., 40.
[19]
Michael Polanyi, The Logic of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 83.
[20]
Elinor Ostrom, Governing the Commons (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 91.
[21]
Carl Watner, “Voluntarism and the State,” The Voluntaryist 3,
no. 2 (1985): 6.
[22]
Hans-Hermann Hoppe, Democracy:
The God That Failed (New Brunswick,
NJ: Transaction Publishers, 2001), 58.
[23]
Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle, 11.
[24]
Machan, Libertarianism Defended (Aldershot: Ashgate, 2006), 78.
[25]
Roderick Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 69.
[26]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution (Charleston, SC:
BookSurge, 2010), 114.
[27]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2010): 2.
[28]
Murray N. Rothbard, For
a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Collier Books, 1978), 48.
[29]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Mises Institute, 2004), 27.
5.
Aksiologi:
Nilai, Etika, dan Moralitas Voluntarisme
Aksiologi
voluntarisme berpusat pada pandangan bahwa nilai moral tertinggi dalam
kehidupan sosial dan politik adalah kebebasan individu yang dijalankan secara sukarela
dan disertai tanggung jawab moral.¹ Nilai-nilai dalam voluntarisme tidak
dipaksakan dari luar, melainkan berakar pada kesadaran moral yang lahir dari
interaksi bebas antarindividu. Prinsip utama yang menopang sistem etika
voluntaristik adalah Non-Aggression Principle (NAP),
yaitu larangan untuk menggunakan kekerasan atau paksaan terhadap orang lain
kecuali dalam rangka mempertahankan diri.² Dengan prinsip ini, voluntarisme
tidak hanya membangun etika kebebasan negatif—kebebasan dari paksaan—tetapi juga
etika kebebasan positif yang menekankan tanggung jawab untuk menghormati hak
dan kebebasan pihak lain.³
5.1. Nilai Dasar: Kebebasan, Non-Agresi, dan Tanggung
Jawab
Voluntarisme
mendefinisikan kebebasan bukan sekadar kemampuan untuk bertindak sesuai kehendak,
tetapi sebagai kondisi moral yang menuntut kesadaran akan batasan hak orang
lain.⁴ Nilai ini bersifat relasional: kebebasan seseorang hanya bermakna sejauh
ia tidak mengganggu kebebasan orang lain.⁵ Oleh karena itu, prinsip non-agresi
menjadi norma etika yang mendasari seluruh relasi sosial dalam masyarakat
sukarela. Murray N. Rothbard menegaskan bahwa tindakan agresif, baik melalui
kekerasan fisik maupun intervensi negara, merupakan pelanggaran terhadap hak
alamiah manusia untuk menentukan nasibnya sendiri.⁶
Namun, voluntarisme
juga menolak individualisme ekstrem yang memisahkan kebebasan dari tanggung
jawab. Dalam kerangka aksiologisnya, kebebasan sejati menuntut kesadaran moral
untuk menghormati otonomi orang lain dan menanggung konsekuensi dari setiap keputusan
yang dibuat.⁷ Dengan demikian, tanggung jawab bukanlah beban eksternal,
melainkan ekspresi kebebasan yang matang. Etika voluntarisme menuntut agar
setiap individu menjadi sumber nilai bagi dirinya sendiri, tanpa menyerahkan
penilaian moralnya kepada lembaga atau kekuasaan eksternal.⁸
5.2. Etika Relasi Sukarela
Etika voluntarisme
berangkat dari asumsi bahwa hubungan sosial hanya sah secara moral apabila
didasarkan pada persetujuan bebas.⁹ Relasi yang tidak mengandung unsur
persetujuan eksplisit, seperti pajak, wajib militer, atau regulasi koersif,
dianggap sebagai bentuk agresi moral terhadap kebebasan individu.¹⁰ Oleh karena
itu, segala bentuk interaksi—baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun
sosial—harus dijalankan dalam semangat kesepakatan timbal balik (mutual
consent).
Auberon Herbert
menggambarkan masyarakat yang ideal sebagai “asosiasi moral sukarela,” di mana
kerja sama terjadi karena kesamaan nilai dan kepentingan, bukan karena tekanan
hukum.¹¹ Dalam masyarakat semacam ini, etika berfungsi sebagai pengikat sosial
yang lebih kuat daripada undang-undang, sebab ia lahir dari kesadaran dan
pilihan bersama, bukan dari rasa takut terhadap sanksi.¹² Dengan demikian,
etika voluntarisme bersifat otonom dan partisipatif, menempatkan individu
sebagai subjek moral sekaligus sumber legitimasi sosial.
5.3. Moralitas dan Prinsip Keadilan Voluntaristik
Dalam perspektif
voluntarisme, keadilan bukanlah hasil dari kesetaraan material yang dipaksakan,
tetapi dari pengakuan terhadap hak milik dan kebebasan individu untuk bertukar
secara sukarela.¹³ Prinsip moral ini berpijak pada pandangan bahwa tindakan
sukarela, meskipun menghasilkan ketimpangan, tetap adil sejauh tidak melibatkan
paksaan.¹⁴ Dengan demikian, keadilan voluntaristik bersifat prosedural, bukan
distributif.
Lysander Spooner
menegaskan bahwa hukum alam (natural law) adalah dasar dari keadilan sejati,
dan hukum tersebut hanya dapat dijalankan dalam kondisi kebebasan yang
sepenuhnya sukarela.¹⁵ Segala sistem yang memaksakan redistribusi kekayaan atau
kewajiban moral tanpa persetujuan individu dianggap melanggar keadilan
alamiah.¹⁶ Dalam hal ini, moralitas voluntarisme berpadu dengan prinsip ekonomi
pasar bebas, di mana pertukaran bebas dipandang sebagai manifestasi etika
non-paksaan dan ekspresi kehendak moral.¹⁷
5.4. Kritik terhadap Moralitas Utilitarian dan
Legalistik
Voluntarisme menolak
dua paradigma moral dominan yang sering digunakan untuk menjustifikasi
intervensi koersif: moralitas utilitarian dan moralitas legalistik.¹⁸ Moralitas
utilitarian mengukur kebaikan berdasarkan manfaat kolektif terbesar, yang
sering kali mengorbankan hak individu atas nama “kepentingan umum.”
Sementara itu, moralitas legalistik menganggap bahwa kepatuhan terhadap hukum
negara adalah ukuran kebaikan, tanpa mempertimbangkan apakah hukum tersebut
adil atau tidak.¹⁹
Sebaliknya,
voluntarisme memandang bahwa tindakan hanya bernilai moral jika ia dilakukan
berdasarkan kesadaran dan kehendak bebas.²⁰ Hukum yang adil harus bersumber
dari kontrak sukarela dan prinsip non-agresi, bukan dari dekret politik.²¹
Dalam kerangka ini, moralitas tidak lagi bergantung pada institusi eksternal,
melainkan pada kesadaran moral internal individu yang menghormati kebebasan
pihak lain.²²
5.5. Solidaritas dan Etika Kebersamaan dalam
Voluntarisme
Meski voluntarisme
berakar pada kebebasan individual, ia tidak menolak solidaritas sosial.²³
Solidaritas, dalam kerangka aksiologis ini, merupakan bentuk tertinggi dari
moralitas sukarela: tindakan menolong, berkolaborasi, dan berempati tanpa
paksaan.²⁴ Masyarakat voluntaristik ideal bukanlah kumpulan individu egoistis,
melainkan komunitas otonom yang saling menghormati dan bekerja sama berdasarkan
keinginan untuk mencapai kebaikan bersama.²⁵
Kevin Carson
menegaskan bahwa kolaborasi sukarela dalam sistem desentralistik, seperti
koperasi atau ekonomi berbagi, menunjukkan bahwa solidaritas dapat tumbuh
secara organik dari kebebasan, bukan dari paksaan.²⁶ Dengan demikian,
voluntarisme mengajukan etika sosial yang unik: ia memadukan individualisme
moral dengan humanisme praktis, menegaskan bahwa kebaikan sosial sejati hanya
dapat lahir dari tindakan yang bebas dan sadar.²⁷
Nilai Moral Tertinggi: Kebebasan sebagai Tujuan dan Sarana
Dalam tataran akhir,
voluntarisme mengajukan kebebasan bukan hanya sebagai sarana moral, tetapi juga
sebagai tujuan moral tertinggi.²⁸ Kebebasan memungkinkan manusia untuk
bertanggung jawab, mencipta nilai, dan membangun hubungan etis dengan sesamanya
tanpa dominasi.²⁹ Sebaliknya, paksaan menghancurkan moralitas karena meniadakan
pilihan sadar yang menjadi inti dari nilai moral itu sendiri.³⁰ Oleh sebab itu,
aksiologi voluntarisme bersifat teleologis: ia memandang bahwa kebebasan adalah
kondisi esensial yang memungkinkan segala nilai moral lainnya memiliki makna.³¹
Footnotes
[1]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
22.
[2]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 27.
[3]
Roderick T. Long, Foundations of
Libertarian Ethics (Auburn, AL:
Mises Institute, 1996), 18.
[4]
Herbert Spencer, Social Statics (London: John Chapman, 1851), 147.
[5]
John Locke, Two Treatises of
Government, ed. Peter Laslett (Cambridge:
Cambridge University Press, 1988), 289.
[6]
Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York:
Collier Books, 1978), 45.
[7]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London:
Williams and Norgate, 1885), 63.
[8]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 37.
[9]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 15.
[10]
Lysander Spooner, No Treason: The
Constitution of No Authority
(Boston: Spooner, 1870), 11.
[11]
Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State, 70.
[12]
Eric Mack, “Auberon Herbert and the Ethics of Voluntarism,” Reason Papers 5
(1979): 69.
[13]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 52.
[14]
Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 119.
[15]
Lysander Spooner, Natural Law: Or the
Science of Justice (Boston: Spooner,
1882), 9.
[16]
Carl Watner, “The Ethical Thought of Lysander Spooner,” Journal of Libertarian Studies 4, no. 3 (1980): 251.
[17]
Murray N. Rothbard, Power
and Market (Kansas City: Sheed
Andrews and McMeel, 1977), 44.
[18]
Tibor R. Machan, Libertarianism Defended (Aldershot: Ashgate, 2006), 81.
[19]
Friedrich A. Hayek, The
Road to Serfdom (Chicago: University
of Chicago Press, 1944), 59.
[20]
Watner, “Voluntarism and the State,” The
Voluntaryist 3, no. 2 (1985): 7.
[21]
Roderick T. Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 73.
[22]
Murray Rothbard, Economic Thought Before
Adam Smith (Auburn, AL: Mises
Institute, 1995), 16.
[23]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston,
SC: BookSurge, 2008), 121.
[24]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2010): 2.
[25]
McElroy, The Art of Being Free, 41.
[26]
Carson, The Homebrew Industrial
Revolution (Charleston, SC:
BookSurge, 2010), 98.
[27]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” The Independent Review
10, no. 1 (2005): 23.
[28]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture, 85.
[29]
Eric Mack, “The Moral Foundations of Voluntaryism,” Reason Papers 7
(1981): 56.
[30]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 47.
[31]
Machan, Individuals and Their
Rights, 89.
6.
Dimensi
Sosial dan Ekonomi Voluntarisme
Voluntarisme tidak
hanya berfungsi sebagai teori moral dan politik, tetapi juga menawarkan
paradigma sosial dan ekonomi yang khas. Ia menegaskan bahwa keteraturan
masyarakat dan kesejahteraan ekonomi dapat muncul tanpa paksaan, melalui
mekanisme interaksi sukarela antarindividu yang bebas dan rasional.¹ Dalam
pandangan ini, masyarakat tidak perlu dipertahankan oleh kekuasaan koersif
negara, sebab struktur sosial yang sehat akan tumbuh secara alami dari kontrak,
kerja sama, dan pertukaran bebas yang didasarkan pada prinsip non-agresi.²
Voluntarisme dengan demikian menolak premis dasar etatisme bahwa stabilitas dan
kesejahteraan memerlukan pengendalian terpusat; sebaliknya, ia mempercayakan
dinamika sosial kepada mekanisme desentralistik yang bersumber dari kehendak
bebas manusia.³
6.1. Masyarakat Tanpa Paksaan: Fondasi Sosial
Voluntarisme
Dalam kerangka
sosial voluntarisme, masyarakat dipahami sebagai jejaring kontraktual yang
terbentuk dari hubungan sukarela antara individu dan kelompok.⁴ Tidak ada
otoritas tunggal yang memiliki hak moral untuk mengatur perilaku individu;
setiap norma sosial muncul sebagai hasil kesepakatan yang disetujui secara
bebas. Lysander Spooner menegaskan bahwa “kontrak moral sejati hanya mungkin
jika setiap pihak memiliki kebebasan penuh untuk menolak.”⁵
Pandangan ini
mengandung implikasi penting: struktur sosial yang ideal bukanlah hasil
legislasi, melainkan hasil kolaborasi organik.⁶ Institusi sosial—seperti
keluarga, asosiasi, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan—dalam sistem
voluntaristik berfungsi berdasarkan prinsip kesetaraan dan tanggung jawab
pribadi.⁷ Keanggotaan dalam lembaga sosial bersifat non-koersif dan dapat
diakhiri kapan pun tanpa konsekuensi politis. Dengan demikian, voluntarisme
menolak konsep “kewajiban sosial” yang dipaksakan dan menggantinya
dengan solidaritas berbasis persetujuan sadar.⁸
6.2. Prinsip Ekonomi Sukarela dan Pasar Bebas
Secara ekonomi,
voluntarisme berpijak pada keyakinan bahwa mekanisme pasar bebas adalah
perwujudan praktis dari prinsip sukarela.⁹ Pertukaran dalam pasar tidak
bergantung pada paksaan, tetapi pada konsensus yang saling menguntungkan.
Murray N. Rothbard menegaskan bahwa pasar adalah “perpanjangan logis dari
moralitas non-agresi,” karena setiap transaksi di dalamnya dilakukan
melalui persetujuan bebas.¹⁰ Dalam hal ini, ekonomi pasar bukan sekadar sistem
produksi dan distribusi, tetapi juga ekspresi moral dari kebebasan manusia.¹¹
Voluntarisme menolak
klaim bahwa intervensi negara diperlukan untuk menjamin keadilan atau efisiensi
ekonomi.¹² Sebaliknya, ia menganggap bahwa regulasi koersif justru menghambat
proses alami koordinasi sosial. Friedrich Hayek menjelaskan bahwa tatanan
ekonomi bebas merupakan “hasil tindakan manusia, bukan hasil rancangan
manusia.”¹³ Dalam masyarakat sukarela, harga, kontrak, dan kompetisi
berfungsi sebagai mekanisme pengetahuan sosial yang menyesuaikan kebutuhan
individu tanpa adanya kontrol eksternal.¹⁴ Dengan demikian, voluntarisme
mendukung ekonomi desentralistik yang memungkinkan setiap individu
berpartisipasi berdasarkan kebebasan dan tanggung jawab sendiri.¹⁵
6.3. Organisasi Sosial Berbasis Kontrak dan Konsensus
Salah satu ciri
utama dari tatanan sosial voluntaristik adalah keberadaan organisasi sosial
yang dibangun melalui kontrak sukarela.¹⁶ Entitas seperti koperasi, lembaga
pendidikan swasta, komunitas agraris mandiri, dan perusahaan berbasis
partisipasi menggantikan fungsi-fungsi sosial negara tanpa menggunakan
paksaan.¹⁷ Edward Stringham mencatat bahwa bentuk-bentuk “private
governance” seperti ini telah terbukti secara historis mampu
menciptakan stabilitas hukum dan sosial tanpa intervensi negara.¹⁸
Dalam masyarakat
voluntaristik, penyelesaian konflik pun dapat dilakukan melalui mekanisme
arbitrase swasta dan lembaga penyelesaian sengketa yang muncul dari konsensus
sosial.¹⁹ Prinsipnya adalah bahwa keadilan tidak harus dipaksakan dari atas,
tetapi dapat ditegakkan oleh sistem sosial yang tumbuh secara organik melalui
kepercayaan dan reputasi.²⁰ Hal ini mencerminkan pandangan bahwa masyarakat
bebas tidak hanya memungkinkan pluralitas nilai, tetapi juga pluralitas institusi
moral dan ekonomi yang hidup berdampingan tanpa saling mendominasi.²¹
6.4. Kritik terhadap Etatisme dan Negara Kesejahteraan
Voluntarisme secara
konsisten menentang etatisme—yakni keyakinan bahwa negara adalah sumber
legitimasi sosial dan kesejahteraan publik.²² Kritik utama voluntarisme
terhadap negara kesejahteraan terletak pada sifat koersifnya: kebijakan
redistribusi, pajak wajib, dan subsidi dianggap melanggar prinsip non-agresi
karena memaksa individu mendukung kebijakan yang mungkin tidak mereka
setujui.²³ Bagi Auberon Herbert, negara kesejahteraan adalah bentuk “perampokan
moral yang dilegalkan,” karena ia mengalihkan tanggung jawab moral individu
menjadi kewajiban kolektif yang dipaksakan.²⁴
Sebagai alternatif,
voluntarisme menawarkan model solidaritas sosial berbasis filantropi sukarela
dan institusi masyarakat sipil.²⁵ Dalam sistem ini, bantuan sosial diberikan
bukan karena kewajiban hukum, tetapi karena pilihan moral untuk menolong
sesama.²⁶ Dengan demikian, kedermawanan bukanlah fungsi negara, melainkan
ekspresi kebebasan moral yang paling tinggi.²⁷
6.5. Desentralisasi Sosial dan Teknologi Sukarela
Dalam konteks
modern, voluntarisme menemukan relevansi baru melalui perkembangan teknologi
desentralisasi seperti blockchain, peer-to-peer
networks, dan ekonomi berbagi.²⁸ Fenomena ini menunjukkan bahwa
kerja sama sosial dapat terjadi tanpa otoritas sentral, melainkan melalui
sistem kepercayaan digital yang bersifat kontraktual dan sukarela.²⁹ Kevin
Carson menyebut fenomena ini sebagai “anarki produktif,” yaitu tatanan
sosial di mana koordinasi ekonomi dan sosial berlangsung secara spontan melalui
teknologi dan inovasi.³⁰
Platform terbuka
seperti open-source
communities menjadi contoh konkret dari nilai-nilai voluntarisme
dalam praktik kontemporer: para individu berkolaborasi tanpa paksaan, berbagi
hasil kerja secara sukarela, dan mengatur tata kelola mereka melalui
konsensus.³¹ Dalam hal ini, teknologi modern tidak hanya memperkuat prinsip
voluntaristik, tetapi juga membuktikan bahwa kerja sama sosial tidak memerlukan
kekuasaan koersif untuk berkembang.³²
Masyarakat Sukarela sebagai Model Sosial Masa Depan
Dimensi sosial dan
ekonomi voluntarisme mengajukan visi masyarakat masa depan yang bebas dari
dominasi, hierarki koersif, dan ketergantungan struktural pada negara.³³ Ia
memandang manusia sebagai aktor moral dan ekonomi yang mampu membangun tatanan
sosial yang adil melalui interaksi sukarela.³⁴ Tatanan semacam ini tidak
bersifat utopis, tetapi realistis karena didasarkan pada sifat dasar manusia
yang rasional, adaptif, dan mampu bekerja sama.³⁵
Dengan demikian,
voluntarisme mengintegrasikan kebebasan, moralitas, dan kesejahteraan ke dalam
satu kerangka sosial yang kohesif.³⁶ Ia tidak sekadar menolak kekuasaan negara,
tetapi juga menegaskan keyakinan bahwa kebebasan yang dijalankan dengan
tanggung jawab adalah fondasi paling kokoh bagi tatanan sosial yang damai dan
sejahtera.³⁷
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 17.
[2]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 33.
[3]
Friedrich A. Hayek, Law,
Legislation and Liberty, vol. 1
(Chicago: University of Chicago Press, 1973), 38.
[4]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
41.
[5]
Lysander Spooner, No Treason: The
Constitution of No Authority
(Boston: Spooner, 1870), 10.
[6]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London:
Williams and Norgate, 1885), 65.
[7]
Herbert Spencer, Social Statics (London: John Chapman, 1851), 149.
[8]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 47.
[9]
Rothbard, Power and Market (Kansas City: Sheed Andrews and McMeel, 1977), 22.
[10]
Murray N. Rothbard, For
a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Collier Books, 1978), 53.
[11]
Roderick T. Long, “Foundations of Libertarian Ethics,” Social Philosophy & Policy 15, no. 2 (1998): 121.
[12]
Carl Watner, “Voluntarism and the State,” The Voluntaryist 3,
no. 2 (1985): 8.
[13]
Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of
Chicago Press, 1960), 112.
[14]
Michael Polanyi, The Logic of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 80.
[15]
Edward Stringham, Private Governance (Oxford: Oxford University Press, 2015), 19.
[16]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 59.
[17]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston,
SC: BookSurge, 2008), 128.
[18]
Stringham, Private Governance, 21.
[19]
Bruce Benson, The Enterprise of Law:
Justice Without the State (San
Francisco: Pacific Research Institute, 1990), 33.
[20]
Roderick T. Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 66.
[21]
Eric Mack, “The Moral Foundations of Voluntaryism,” Reason Papers 7
(1981): 49.
[22]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State, 75.
[23]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 89.
[24]
Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State, 81.
[25]
Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle, 24.
[26]
McElroy, The Art of Being Free, 52.
[27]
Machan, Liberty and Culture, 61.
[28]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution (Charleston, SC: BookSurge,
2010), 107.
[29]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2010): 3.
[30]
Carson, Organization Theory, 135.
[31]
Edward Stringham, “Decentralized Cooperation in Digital Markets,” Journal of Private Enterprise 26, no. 3 (2011): 14.
[32]
Kevin Werbach, The Blockchain and the
New Architecture of Trust
(Cambridge, MA: MIT Press, 2018), 61.
[33]
Hans-Hermann Hoppe, A
Theory of Socialism and Capitalism
(Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute, 1989), 51.
[34]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Mises Institute, 2004), 28.
[35]
Machan, Individuals and Their
Rights, 73.
[36]
Rothbard, For a New Liberty, 67.
[37]
Watner, “What Is Voluntaryism?” The
Voluntaryist 1, no. 1 (1982): 4.
7.
Kritik
dan Perdebatan Filosofis
Voluntarisme,
meskipun menawarkan sintesis antara kebebasan, moralitas, dan tanggung jawab
individual, tidak luput dari kritik tajam dari berbagai tradisi filsafat sosial
dan politik. Sejak awal kemunculannya, aliran ini telah menimbulkan perdebatan
yang mendalam, terutama mengenai realisme sosial, keadilan distributif, dan
kelayakan praktis masyarakat tanpa paksaan.¹ Para pengkritik menilai bahwa
voluntarisme terlalu mengidealkan rasionalitas moral manusia dan mengabaikan
fakta-fakta empiris mengenai konflik kepentingan, ketimpangan ekonomi, dan
keterbatasan moralitas individual dalam konteks sosial yang kompleks.²
7.1. Kritik Kolektivis terhadap Individualisme Moral
Voluntarisme
Salah satu kritik
utama terhadap voluntarisme datang dari tradisi kolektivis dan komunitarian
yang menilai bahwa gagasan masyarakat berbasis tindakan sukarela terlalu
menekankan otonomi individu dan mengabaikan sifat interdependensi manusia.³
Menurut pemikiran komunitarian seperti Charles Taylor dan Michael Sandel,
identitas moral individu tidak dapat dipisahkan dari komunitasnya; dengan
demikian, kebebasan yang sepenuhnya “atomistik” sebagaimana diandaikan
voluntarisme dianggap ilusi.⁴ Masyarakat, dalam pandangan mereka, bukan sekadar
agregasi individu otonom, tetapi entitas normatif yang membentuk orientasi
nilai dan tanggung jawab sosial.
Bagi komunitarian,
voluntarisme cenderung gagal memahami bahwa nilai-nilai moral bersama tidak
dapat sepenuhnya lahir dari kontrak sukarela, karena solidaritas, empati, dan
kewajiban sosial sering kali mendahului pilihan rasional individu.⁵ Dalam
kerangka ini, mereka menganggap bahwa penolakan voluntarisme terhadap otoritas
kolektif justru mengancam kohesi sosial dan memperlemah institusi yang menopang
moral publik.⁶
7.2. Kritik Sosial-Demokrat terhadap Prinsip Non-Agresi
dan Netralitas Pasar
Kritik lain datang
dari kalangan sosial-demokrat yang berpendapat bahwa prinsip non-aggression
(NAP) voluntarisme, meskipun secara moral konsisten, bersifat normatif tetapi
tidak cukup memadai untuk menanggulangi ketimpangan struktural dalam ekonomi
pasar.⁷ Menurut John Rawls, keadilan tidak hanya menyangkut absennya paksaan,
tetapi juga distribusi yang adil atas peluang dan sumber daya.⁸ Voluntarisme,
dengan menolak intervensi negara, dianggap gagal menciptakan kondisi fair
equality of opportunity yang memungkinkan setiap individu bersaing
secara setara.⁹
Dalam konteks ini,
kebebasan negatif (bebas dari paksaan) yang diagungkan voluntarisme dianggap
tidak cukup menjamin kebebasan positif (kemampuan untuk bertindak).¹⁰ Oleh
karena itu, bagi para sosial-demokrat, prinsip non-agresi hanya akan
menguntungkan mereka yang sudah memiliki modal ekonomi dan sosial, sementara
yang lemah tetap terpinggirkan dalam “kebebasan formal” yang tidak
substantif.¹¹
7.3. Kritik Realisme Politik: Utopianisme dan
Ketidakefisienan Sosial
Para realis politik,
dari Thomas Hobbes hingga para teoretikus modern seperti Raymond Geuss, menilai
voluntarisme sebagai utopia moral yang gagal memperhitungkan realitas kekuasaan
dan konflik manusia.¹² Hobbes dalam Leviathan berargumen bahwa tanpa
otoritas sentral yang memaksa, masyarakat akan terjerumus ke dalam “keadaan
alamiah” di mana kehidupan menjadi “brutal, solitary, and short.”¹³ Kritik
ini menyoroti aspek praktikal: bagaimana menjaga ketertiban sosial tanpa mekanisme
koersif?
Dari sudut pandang
ini, kepercayaan voluntarisme terhadap kemampuan manusia untuk mengatur diri
dianggap idealistis dan tidak realistis secara empiris.¹⁴ Carl Schmitt, dalam Political
Theology, bahkan menegaskan bahwa setiap tatanan sosial memerlukan
keputusan berdaulat—yakni kekuasaan terakhir yang dapat memaksakan ketaatan
demi stabilitas.¹⁵ Bagi Schmitt, masyarakat yang sepenuhnya sukarela tidak
mungkin bertahan lama, karena setiap sistem nilai pada akhirnya membutuhkan
penegakan melalui otoritas.¹⁶
7.4. Kritik Marxis dan Neo-Marxis: Voluntarisme sebagai
Ideologi Borjuis
Dari perspektif
Marxis dan Neo-Marxis, voluntarisme dipandang sebagai ideologi yang melayani
kepentingan kelas kapitalis dengan menyamarkan relasi dominasi ekonomi di balik
retorika kebebasan individu.¹⁷ Dalam kerangka Marxian, kebebasan yang
dijanjikan oleh voluntarisme hanyalah bentuk baru dari alienasi, karena pasar
bebas yang dianggap “sukarela” sebenarnya diatur oleh struktur kekuasaan
kapital.¹⁸ Antonio Gramsci menegaskan bahwa hegemoni ideologis justru bekerja
melalui kesepakatan semu (consent) yang ditanamkan oleh
sistem kapitalisme—dengan demikian, apa yang tampak sebagai tindakan sukarela
sering kali merupakan hasil internalisasi nilai dominan.¹⁹
Kritik ini menyoroti
dimensi ideologis voluntarisme: bahwa “persetujuan” dalam masyarakat kapitalis
tidak benar-benar bebas, sebab individu tidak memiliki posisi ekonomi yang
setara untuk membuat keputusan moral yang otonom.²⁰ Dalam kerangka ini,
voluntarisme dinilai gagal menyadari bahwa kebebasan tanpa redistribusi ekonomi
hanyalah bentuk baru dari ketidakadilan sistemik yang dilegitimasi secara
moral.²¹
7.5. Tanggapan Voluntaristik terhadap Kritik
Kaum voluntarist
tidak menolak kritik tersebut tanpa refleksi. Mereka berargumen bahwa banyak
keberatan terhadap voluntarisme bersumber dari kesalahpahaman tentang sifat
dasar kebebasan moral.²² Bagi Roderick T. Long, voluntarisme tidak mengingkari
dimensi sosial manusia, melainkan menolak paksaan sebagai sarana moralitas
sosial.²³ Kerjasama sosial tidak memerlukan kekuasaan koersif; ia dapat muncul
dari mekanisme reputasi, norma sukarela, dan kepercayaan antarindividu.²⁴
Menanggapi kritik
sosial-demokrat, para pemikir voluntarist seperti Tibor R. Machan dan Edward
Stringham berpendapat bahwa keadilan distributif tidak dapat dipaksakan tanpa
mengorbankan kebebasan moral.²⁵ Sebaliknya, sistem sukarela justru menciptakan
distribusi yang lebih efisien karena setiap pertukaran didasarkan pada manfaat
mutual, bukan pemaksaan.²⁶ Sementara terhadap tuduhan utopianisme, para
voluntarist menunjuk pada bukti empiris: komunitas open-source, koperasi sukarela, dan
lembaga filantropi menunjukkan bahwa masyarakat dapat berfungsi efektif tanpa
otoritas koersif.²⁷
Adapun terhadap
kritik Marxis, voluntarisme menegaskan bahwa paksaan ekonomi dan paksaan
politik adalah dua hal berbeda.²⁸ Dalam masyarakat bebas, individu memiliki hak
moral untuk menolak transaksi yang tidak adil, sedangkan dalam sistem etatis,
individu tidak memiliki pilihan serupa terhadap perintah negara.²⁹ Dengan
demikian, bagi voluntarisme, kebebasan tetap merupakan kondisi moral tertinggi,
bahkan jika realitas sosial belum sepenuhnya ideal.³⁰
Debat Kontemporer: Voluntarisme, Teknologi, dan Moralitas Global
Dalam konteks abad
ke-21, perdebatan tentang voluntarisme memperoleh dimensi baru melalui
munculnya masyarakat digital, teknologi desentralisasi, dan ekonomi berbagi.³¹
Para pendukung melihat teknologi sebagai bukti nyata bahwa interaksi sukarela
dapat menggantikan fungsi otoritas sentral, sementara para pengkritik
memperingatkan bahaya “anarki digital” yang dapat menimbulkan
disinformasi dan ketidakstabilan moral.³²
Pertanyaan filosofis
yang kini mengemuka bukan lagi sekadar “apakah masyarakat sukarela mungkin,”
tetapi “bagaimana moralitas dapat bertahan dalam masyarakat yang sepenuhnya
terdesentralisasi.”³³ Dalam hal ini, voluntarisme menghadapi tantangan
baru: mempertahankan komitmen terhadap kebebasan moral tanpa kehilangan
struktur etika yang dapat memelihara keadilan dan kebenaran sosial.³⁴
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 25.
[2]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 66.
[3]
Michael Sandel, Liberalism and the
Limits of Justice (Cambridge:
Cambridge University Press, 1982), 47.
[4]
Charles Taylor, Sources of the Self (Cambridge: Harvard University Press, 1989), 35.
[5]
Alasdair MacIntyre, After
Virtue (Notre Dame, IN: University
of Notre Dame Press, 1981), 142.
[6]
Amitai Etzioni, The Spirit of Community (New York: Crown, 1993), 21.
[7]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 56.
[8]
John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 75.
[9]
Ibid., 83.
[10]
Isaiah Berlin, Two Concepts of Liberty (Oxford: Clarendon Press, 1969), 13.
[11]
Ronald Dworkin, Sovereign Virtue (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 88.
[12]
Raymond Geuss, Philosophy and Real
Politics (Princeton: Princeton
University Press, 2008), 17.
[13]
Thomas Hobbes, Leviathan (London: Penguin Classics, 1985), 88.
[14]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Mises Institute, 2004), 23.
[15]
Carl Schmitt, Political Theology (Chicago: University of Chicago Press, 2005), 9.
[16]
Ibid., 18.
[17]
Karl Marx, Capital: A Critique of
Political Economy, vol. 1 (Moscow:
Progress Publishers, 1976), 91.
[18]
Ibid., 99.
[19]
Antonio Gramsci, Selections from the
Prison Notebooks (New York:
International Publishers, 1971), 12.
[20]
Louis Althusser, Ideology and
Ideological State Apparatuses
(London: Verso, 1971), 45.
[21]
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man (Boston: Beacon Press, 1964), 27.
[22]
Roderick T. Long, Reason and Value:
Aristotle versus Rand (Auburn, AL:
Mises Institute, 2000), 92.
[23]
Ibid., 95.
[24]
Edward Stringham, Private Governance (Oxford: Oxford University Press, 2015), 27.
[25]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
59.
[26]
Rothbard, Power and Market (Kansas City: Sheed Andrews and McMeel, 1977), 42.
[27]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution (Charleston, SC:
BookSurge, 2010), 104.
[28]
Roderick T. Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 71.
[29]
Carl Watner, “What Is Voluntaryism?” The
Voluntaryist 1, no. 1 (1982): 4.
[30]
Machan, Liberty and Culture, 84.
[31]
Kevin Werbach, The Blockchain and the
New Architecture of Trust
(Cambridge, MA: MIT Press, 2018), 52.
[32]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2010): 3.
[33]
Hans-Hermann Hoppe, Democracy:
The God That Failed (New Brunswick,
NJ: Transaction Publishers, 2001), 64.
[34]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” The Independent Review
10, no. 1 (2005): 28.
8.
Relevansi
Kontemporer
Voluntarisme,
sebagai doktrin sosial-politik yang berakar pada prinsip kebebasan dan tanggung
jawab individu, kembali memperoleh signifikansi baru dalam konteks peradaban
kontemporer yang ditandai oleh krisis otoritas, globalisasi digital, dan
desentralisasi sosial.¹ Dalam dunia yang semakin terhubung namun juga sarat
ketimpangan dan polarisasi, voluntarisme menawarkan kerangka etis dan praksis
untuk memahami bagaimana tatanan sosial dapat bertahan tanpa paksaan, bagaimana
solidaritas dapat tumbuh tanpa negara, dan bagaimana keadilan dapat ditegakkan
tanpa kekuasaan koersif.² Gagasan ini menjadi semakin relevan di tengah
kelelahan moral terhadap sistem politik yang hierarkis serta meningkatnya kepercayaan
terhadap model kolaboratif dan partisipatif dalam pengelolaan kehidupan
publik.³
8.1. Voluntarisme dan Krisis Otoritas Modern
Dunia modern
menghadapi krisis kepercayaan terhadap institusi formal, baik dalam bidang
politik, ekonomi, maupun sosial.⁴ Negara, yang dahulu dipandang sebagai penjaga
moralitas publik, kini sering dianggap sebagai sumber korupsi, inefisiensi, dan
penindasan struktural.⁵ Dalam konteks ini, voluntarisme menghadirkan kritik
radikal terhadap ketergantungan masyarakat pada otoritas koersif, dengan
menegaskan bahwa legitimasi sosial seharusnya bersumber dari persetujuan sadar
warga, bukan dari ketaatan buta terhadap hukum negara.⁶
Pandangan ini
memperoleh daya hidup baru dalam fenomena meningkatnya grassroots
movements, desentralisasi politik, dan gerakan masyarakat sipil
yang beroperasi tanpa mandat formal.⁷ Di berbagai belahan dunia, komunitas
independen mulai menunjukkan bahwa fungsi sosial seperti pendidikan, bantuan
kemanusiaan, dan ekonomi lokal dapat dijalankan tanpa kendali birokrasi
negara.⁸ Dengan demikian, voluntarisme menjadi lensa konseptual yang membantu
memahami transformasi sosial dari struktur kekuasaan vertikal menuju jejaring
horizontal berbasis kolaborasi dan kepercayaan.⁹
8.2. Era Digital dan Desentralisasi Informasi
Revolusi digital
memperluas relevansi voluntarisme dengan membuka ruang baru bagi interaksi
sosial yang bebas dari otoritas tradisional. Teknologi desentralisasi seperti blockchain,
smart
contracts, dan peer-to-peer networks memungkinkan
individu untuk bertransaksi, berorganisasi, dan mengambil keputusan tanpa
mediator institusional.¹⁰ Dalam konteks ini, voluntarisme menjadi fondasi etis
bagi tatanan digital yang menjunjung tinggi otonomi pengguna dan kepercayaan
timbal balik.¹¹
Gerakan open-source
software dan free culture movement adalah contoh
konkret penerapan prinsip voluntaristik di ranah digital.¹² Para pengembang dan
pengguna berkontribusi secara sukarela dalam menciptakan produk publik tanpa
paksaan atau keuntungan monopolis. Hal ini menunjukkan bahwa kerja sama dan
inovasi dapat berkembang melalui mekanisme kepercayaan dan kesadaran moral,
bukan melalui regulasi negara.¹³ Dengan kata lain, dunia digital memperlihatkan
bahwa tatanan sosial berbasis kesukarelaan bukan hanya ideal normatif, tetapi
juga kenyataan empiris yang sedang tumbuh.¹⁴
8.3. Voluntarisme dan Ekonomi Partisipatif
Dalam bidang
ekonomi, voluntarisme menemukan aktualisasinya melalui kebangkitan sharing
economy, platform cooperativism, dan community-based
enterprises.¹⁵ Model ekonomi ini menekankan kolaborasi, kepemilikan
bersama, dan partisipasi sukarela sebagai alternatif terhadap kapitalisme
hierarkis dan etatisme ekonomi.¹⁶ Kevin Carson menilai bahwa fenomena ini
mencerminkan pergeseran menuju ekonomi desentralistik di mana nilai diciptakan
oleh individu yang bekerja sama tanpa paksaan struktural.¹⁷
Prinsip voluntarisme
juga tampak dalam praktik filantropi digital dan pendanaan publik (crowdfunding),
di mana masyarakat mendukung proyek sosial dan inovasi secara sukarela
berdasarkan kepercayaan dan visi bersama.¹⁸ Bentuk-bentuk kerja sama semacam
ini memperlihatkan bahwa solidaritas ekonomi tidak memerlukan aparatus koersif;
ia dapat tumbuh dari rasa tanggung jawab moral dan empati kolektif.¹⁹ Dengan
demikian, voluntarisme menjadi dasar filosofis bagi ekonomi moral yang
menghargai kebebasan dan kemandirian manusia.²⁰
8.4. Voluntarisme dalam Gerakan Sosial dan Kemanusiaan
Dalam bidang sosial,
prinsip voluntarisme mengilhami bentuk-bentuk baru aktivisme dan solidaritas
kemanusiaan.²¹ Gerakan seperti mutual aid networks, komunitas
lingkungan, dan lembaga sosial berbasis relawan beroperasi dengan semangat
kesukarelaan yang murni, sering kali di luar kerangka institusional negara.²²
Fenomena ini menunjukkan kebangkitan kembali etika bantuan sukarela yang
berakar pada nilai-nilai moral individu, bukan pada program kebijakan publik.²³
Voluntarisme memberi
kerangka moral untuk memahami fenomena ini sebagai ekspresi kebebasan yang
berorientasi pada kebaikan sosial.²⁴ Ia menolak dikotomi antara individualisme
dan solidaritas, dengan menegaskan bahwa kedua nilai tersebut justru saling
melengkapi.²⁵ Tindakan sukarela bukan bentuk isolasi egoistik, melainkan
afirmasi otonomi moral yang memungkinkan hubungan sosial yang lebih autentik
dan setara.²⁶
8.5. Voluntarisme, Ekologi, dan Etika Tanggung Jawab
Global
Dalam ranah etika
global, voluntarisme juga berkontribusi terhadap pemikiran ekologi dan tanggung
jawab transnasional.²⁷ Kesadaran bahwa keberlanjutan planet memerlukan kerja
sama global tanpa paksaan membuka ruang bagi penerapan prinsip sukarela dalam
skala ekologis.²⁸ Gerakan voluntary simplicity dan community-based
environmentalism memperlihatkan bagaimana kesadaran moral individu
dapat menggantikan paksaan regulatif dalam menjaga keseimbangan alam.²⁹
Voluntarisme, dalam
hal ini, memberikan paradigma moral yang menekankan perubahan sosial melalui
kesadaran dan partisipasi, bukan kontrol.³⁰ Ia mengajukan gagasan bahwa
perubahan besar dalam skala global tidak harus dimulai dari negara atau
organisasi besar, melainkan dari tindakan bebas individu yang memilih untuk
bertanggung jawab terhadap dunia yang mereka diami.³¹
Tantangan Kontemporer: Etika Kebebasan di Tengah Globalisasi Moral
Meski relevan dengan
banyak fenomena modern, voluntarisme juga menghadapi tantangan baru di tengah
globalisasi moral dan pluralitas nilai.³² Dunia digital yang terbuka sering
kali memunculkan paradoks antara kebebasan dan tanggung jawab, antara otonomi
individu dan etika publik.³³ Dalam situasi ini, voluntarisme dituntut untuk
mengembangkan fondasi moral yang lebih kuat agar kebebasan tidak terjerumus
dalam relativisme atau nihilisme sosial.³⁴
Sebagian filsuf
libertarian kontemporer seperti Roderick T. Long dan Tibor Machan menekankan
pentingnya mengintegrasikan prinsip rasionalitas Aristotelian dengan etika
voluntaristik, agar kebebasan tetap berpijak pada kesadaran moral yang
objektif.³⁵ Dengan demikian, relevansi voluntarisme di era kontemporer tidak
hanya terletak pada kemampuan menolak paksaan, tetapi juga pada kesanggupannya
menata kebebasan menjadi kekuatan etis yang konstruktif dan berkelanjutan bagi
umat manusia.³⁶
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 29.
[2]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 83.
[3]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” The Independent Review
10, no. 1 (2005): 26.
[4]
Hannah Arendt, On Revolution (New York: Viking Press, 1963), 54.
[5]
Noam Chomsky, On Anarchism (New York: The New Press, 2013), 22.
[6]
Lysander Spooner, No Treason: The
Constitution of No Authority
(Boston: Spooner, 1870), 15.
[7]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston,
SC: BookSurge, 2008), 140.
[8]
Edward Stringham, Private Governance (Oxford: Oxford University Press, 2015), 34.
[9]
Elinor Ostrom, Governing the Commons (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 91.
[10]
Kevin Werbach, The Blockchain and the
New Architecture of Trust
(Cambridge, MA: MIT Press, 2018), 59.
[11]
Murray N. Rothbard, For
a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Collier Books, 1978), 65.
[12]
Eric S. Raymond, The Cathedral and the
Bazaar (Sebastopol, CA: O’Reilly
Media, 1999), 7.
[13]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Mises Institute, 2004), 33.
[14]
Friedrich A. Hayek, Law,
Legislation and Liberty, vol. 2
(Chicago: University of Chicago Press, 1976), 122.
[15]
Juliet Schor, After the Gig: How the
Sharing Economy Got Hijacked and How to Win It Back (Berkeley: University of California Press, 2020), 43.
[16]
Nathan Schneider, Everything for
Everyone: The Radical Tradition That Is Shaping the Next Economy (New York: Nation Books, 2018), 27.
[17]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution (Charleston, SC:
BookSurge, 2010), 99.
[18]
Massimo Airoldi, Machine Habitus: Toward
a Sociology of Algorithms
(Cambridge: Polity Press, 2021), 73.
[19]
Carl Watner, “Voluntarism and the State,” The Voluntaryist 3,
no. 2 (1985): 8.
[20]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
74.
[21]
Murray N. Rothbard, Power
and Market (Kansas City: Sheed
Andrews and McMeel, 1977), 49.
[22]
Rebecca Solnit, A Paradise Built in Hell:
The Extraordinary Communities That Arise in Disaster (New York: Viking, 2009), 18.
[23]
Peter Kropotkin, Mutual Aid: A Factor of
Evolution (London: McClure, 1902),
55.
[24]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 52.
[25]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London:
Williams and Norgate, 1885), 79.
[26]
Eric Mack, “Auberon Herbert and the Ethics of Voluntarism,” Reason Papers 5
(1979): 71.
[27]
Arne Naess, Ecology, Community, and
Lifestyle (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 97.
[28]
Murray Bookchin, The Ecology of Freedom (Palo Alto, CA: Cheshire Books, 1982), 38.
[29]
Ted Trainer, Transition to a
Sustainable and Just World (Sydney:
Envirobook, 2010), 44.
[30]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle, 31.
[31]
Kevin Carson, Organization Theory, 152.
[32]
Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press, 2000), 60.
[33]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2010): 2.
[34]
Tibor R. Machan, Libertarianism Defended (Aldershot: Ashgate, 2006), 83.
[35]
Roderick T. Long, Reason and Value:
Aristotle versus Rand (Auburn, AL:
Mises Institute, 2000), 94.
[36]
Machan, Liberty and Culture, 88.
9.
Sintesis
dan Refleksi Filosofis
Voluntarisme, dalam
kedalaman filosofisnya, bukan sekadar teori sosial-politik yang menentang
paksaan, melainkan sebuah pandangan dunia (weltanschauung) yang menegaskan
martabat kebebasan manusia sebagai inti eksistensi moral.¹ Ia berusaha
menyatukan tiga dimensi utama kehidupan manusia—kebebasan, rasionalitas, dan
tanggung jawab—ke dalam suatu sistem etika dan sosial yang koheren.² Melalui
fondasi ontologisnya yang menempatkan manusia sebagai subjek otonom,
epistemologinya yang berpusat pada rasionalitas sukarela, serta aksiologinya
yang menjunjung nilai moral non-agresi, voluntarisme menghadirkan suatu
sintesis filosofis antara idealisme moral dan realisme sosial.³
9.1. Sintesis Ontologis: Manusia sebagai Subjek Rasional
dan Sosial
Dari sisi ontologi,
voluntarisme memandang kebebasan bukan hanya kondisi eksternal, melainkan
hakikat ontologis dari keberadaan manusia itu sendiri.⁴ Setiap individu
memiliki kodrat sebagai agen moral yang mampu memilih dan menilai tindakannya
secara sadar. Namun, kebebasan ini tidak berdiri dalam isolasi; ia menemukan
maknanya dalam hubungan sosial yang bersifat sukarela.⁵ Oleh karena itu,
voluntarisme menolak dikotomi palsu antara individualisme dan kolektivisme,
sebab bagi aliran ini, keteraturan sosial justru muncul secara spontan dari
interaksi bebas antarindividu yang saling menghormati hak dan otonomi satu sama
lain.⁶
Dalam kerangka ini,
masyarakat bukanlah entitas yang mendahului individu, melainkan hasil dari
proses moral yang dijalankan oleh individu-individu yang sadar.⁷ Kebebasan
eksistensial manusia hanya dapat diwujudkan ketika ia diaktualisasikan melalui
relasi sosial yang damai dan non-koersif. Dengan demikian, voluntarisme
menegaskan bahwa manusia bukan hanya makhluk bebas, tetapi juga makhluk
relasional yang menemukan kemanusiaannya dalam tindakan sukarela.⁸
9.2. Sintesis Epistemologis: Rasionalitas sebagai Dasar
Kesadaran Moral
Epistemologi
voluntarisme mengandung dimensi reflektif yang dalam. Ia menyatukan
rasionalitas individual dengan pengetahuan sosial yang bersifat
desentralistik.⁹ Rasionalitas dalam voluntarisme bukan sekadar instrumen
kalkulatif, tetapi kesadaran reflektif yang membimbing individu dalam bertindak
secara moral tanpa paksaan eksternal.¹⁰ Melalui kemampuan ini, manusia memahami
bahwa kehendak bebasnya memiliki batas moral yang ditentukan oleh hak orang
lain.¹¹
Dengan demikian,
pengetahuan moral bukanlah dogma institusional, melainkan hasil dialog
terus-menerus antara rasio dan pengalaman sosial.¹² Prinsip consent
(persetujuan) yang menjadi inti epistemologi voluntarisme mencerminkan keyakinan
bahwa pengetahuan sejati tentang moralitas lahir dari kebebasan berpikir dan
bertindak.¹³ Dalam arti ini, voluntarisme menggabungkan rasionalisme etis
Aristotelian dengan empirisme sosial Hayekian, menciptakan kerangka pengetahuan
moral yang terbuka, adaptif, dan organik.¹⁴
9.3. Sintesis Aksiologis: Kebebasan sebagai Nilai Moral
Tertinggi
Pada tataran
aksiologi, voluntarisme memposisikan kebebasan sebagai nilai moral tertinggi
dan sekaligus sumber dari seluruh nilai lainnya.¹⁵ Kebebasan bukan sekadar hak,
tetapi juga tanggung jawab etis yang menuntut manusia untuk bertindak tanpa
melanggar hak orang lain.¹⁶ Dengan demikian, kebebasan dalam voluntarisme
bersifat normatif—ia bukan kebebasan nihilistik, melainkan kebebasan bermoral
yang dituntun oleh prinsip non-agresi.¹⁷
Melalui perspektif
ini, voluntarisme membangun jembatan antara etika deontologis dan teleologis:
tindakan moral bukan hanya benar karena mengikuti prinsip (deontologi), tetapi
juga baik karena menghasilkan harmoni sosial (teleologi).¹⁸ Prinsip sukarela
berfungsi sebagai landasan nilai universal yang dapat diterima lintas budaya
dan konteks, karena ia berpijak pada penghormatan terhadap martabat individu
sebagai makhluk rasional.¹⁹
9.4. Sintesis Sosial-Ekonomi: Keadilan melalui Interaksi
Bebas
Secara sosial dan
ekonomi, voluntarisme memperlihatkan sintesis antara kebebasan moral dan
keadilan sosial.²⁰ Dalam sistem ini, keadilan tidak dipaksakan dari luar,
melainkan tumbuh dari interaksi sukarela yang saling menguntungkan.²¹ Melalui
mekanisme pasar bebas yang non-koersif, manusia belajar tentang etika
pertukaran, kepercayaan, dan tanggung jawab timbal balik.²²
Namun, sintesis ini
juga menegaskan bahwa moralitas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kesadaran
sosial.²³ Kegiatan ekonomi yang bebas harus disertai dengan kesadaran etis
untuk tidak mengeksploitasi, melainkan membangun keadilan melalui kerja sama
sukarela.²⁴ Dengan demikian, voluntarisme menawarkan model ekonomi moral yang
menolak eksploitasi, tetapi tetap menghormati kebebasan individual sebagai dasar
kreativitas dan kesejahteraan bersama.²⁵
9.5. Refleksi Filosofis: Voluntarisme sebagai Etika
Kebebasan Universal
Secara reflektif,
voluntarisme dapat dipahami sebagai filsafat kebebasan universal yang
mengembalikan tanggung jawab moral kepada individu.²⁶ Ia menegaskan bahwa
segala bentuk otoritas—baik politik, moral, maupun ekonomi—hanya sah sejauh ia
bersandar pada persetujuan sadar.²⁷ Dalam hal ini, voluntarisme bukan sekadar
penolakan terhadap kekuasaan, tetapi afirmasi terhadap kapasitas moral manusia
untuk hidup dalam tatanan yang adil tanpa paksaan.²⁸
Refleksi ini
menempatkan voluntarisme sebagai kritik sekaligus kelanjutan dari tradisi
liberalisme klasik.²⁹ Ia mengoreksi liberalisme yang terlalu terfokus pada
kebebasan formal, dengan menambahkan dimensi etis yang menuntut kesadaran moral
dan tanggung jawab.³⁰ Melalui gagasan ini, voluntarisme menjadi paradigma yang
melampaui politik praktis—ia merupakan proyek moral untuk membangun peradaban
yang berlandaskan kepercayaan, solidaritas, dan rasionalitas bebas.³¹
Konklusi Reflektif: Menuju Tatanan Moral yang Sukarela
Dari keseluruhan
uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa voluntarisme tidak sekadar menawarkan
alternatif sistem politik, tetapi juga visi filosofis tentang makna manusia
sebagai makhluk bebas yang beretika.³² Ia menghadirkan sebuah tatanan moral di
mana kebebasan, keadilan, dan solidaritas tidak diperjuangkan melalui
kekuasaan, tetapi diwujudkan melalui kesadaran dan partisipasi sukarela.³³
Dengan demikian,
refleksi filosofis voluntarisme membawa kita kepada pemahaman bahwa kebebasan
sejati bukanlah ketiadaan aturan, melainkan ketaatan sadar terhadap prinsip
moral yang diakui bersama tanpa paksaan.³⁴ Dalam tatanan dunia yang semakin
kompleks dan saling bergantung, voluntarisme mengajukan tantangan abadi:
dapatkah manusia membangun peradaban yang damai dan adil tanpa memerlukan
kekuasaan koersif?³⁵ Pertanyaan inilah yang menjadikan voluntarisme bukan
sekadar doktrin politik, tetapi juga cita-cita filosofis tentang kemanusiaan
yang bebas dan bertanggung jawab.³⁶
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle (Ridgeville,
SC: The Voluntaryist, 2012), 33.
[2]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights (Chicago: Open Court, 1989),
88.
[3]
Roderick T. Long, Reason and Value:
Aristotle versus Rand (Auburn, AL:
Mises Institute, 2000), 91.
[4]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (New York: New
York University Press, 1998), 27.
[5]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London:
Williams and Norgate, 1885), 73.
[6]
Friedrich A. Hayek, Law,
Legislation and Liberty, vol. 1
(Chicago: University of Chicago Press, 1973), 41.
[7]
Herbert Spencer, Social Statics (London: John Chapman, 1851), 152.
[8]
Wendy McElroy, The Art of Being Free (Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 55.
[9]
Roderick T. Long, “Foundations of Libertarian Ethics,” Social Philosophy & Policy 15, no. 2 (1998): 119.
[10]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture (Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 64.
[11]
Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 29.
[12]
Michael Polanyi, The Logic of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1951), 87.
[13]
Lysander Spooner, Natural Law: Or the
Science of Justice (Boston: Spooner,
1882), 15.
[14]
Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of
Chicago Press, 1960), 119.
[15]
Carl Watner, “Voluntarism and the State,” The Voluntaryist 3,
no. 2 (1985): 7.
[16]
Roderick T. Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country?
(Aldershot: Ashgate, 2008), 77.
[17]
Murray N. Rothbard, Power
and Market (Kansas City: Sheed
Andrews and McMeel, 1977), 41.
[18]
Tibor R. Machan, Libertarianism Defended (Aldershot: Ashgate, 2006), 83.
[19]
Eric Mack, “Auberon Herbert and the Ethics of Voluntarism,” Reason Papers 5
(1979): 71.
[20]
Edward Stringham, Private Governance (Oxford: Oxford University Press, 2015), 29.
[21]
Elinor Ostrom, Governing the Commons (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 93.
[22]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston,
SC: BookSurge, 2008), 124.
[23]
Roderick T. Long, Libertarian Anarchism:
Responses to Ten Objections (Auburn,
AL: Mises Institute, 2004), 31.
[24]
Machan, Liberty and Culture, 72.
[25]
Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York:
Collier Books, 1978), 65.
[26]
Carl Watner, The Voluntaryists and
the Voluntary Principle, 36.
[27]
Tibor R. Machan, Individuals and Their
Rights, 91.
[28]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” The Independent Review
10, no. 1 (2005): 30.
[29]
Friedrich A. Hayek, The
Road to Serfdom (Chicago: University
of Chicago Press, 1944), 59.
[30]
Machan, Liberty and Culture, 89.
[31]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial
Revolution (Charleston, SC:
BookSurge, 2010), 112.
[32]
Eric Mack, “The Moral Foundations of Voluntaryism,” Reason Papers 7
(1981): 54.
[33]
Wendy McElroy, The Art of Being Free, 63.
[34]
Roderick T. Long, Reason and Value:
Aristotle versus Rand, 96.
[35]
Tibor R. Machan, Libertarianism Defended, 91.
[36]
Carl Watner, “What Is Voluntaryism?” The
Voluntaryist 1, no. 1 (1982): 5.
10. Kesimpulan
Voluntarisme, sebagai salah satu varian paling
konsisten dalam tradisi libertarianisme, menampilkan visi filosofis yang menegaskan
bahwa kebebasan individu, tanggung jawab moral, dan tatanan sosial tanpa
paksaan bukanlah cita-cita utopis, melainkan prinsip ontologis dan etis yang
dapat diwujudkan melalui kesadaran manusia yang rasional.¹ Sepanjang kajian
ini, tampak bahwa voluntarisme tidak hanya menolak kekuasaan koersif negara,
tetapi juga mengajukan paradigma alternatif tentang moralitas, masyarakat, dan
ekonomi yang berpijak pada kehendak bebas dan interaksi sukarela.²
Secara ontologis, voluntarisme melihat manusia
sebagai makhluk otonom yang memiliki kapasitas moral untuk bertindak tanpa
dikendalikan oleh otoritas eksternal.³ Ontologi ini memulihkan martabat
eksistensial manusia sebagai subjek yang mampu menciptakan tatanan sosialnya
sendiri melalui kebebasan yang bertanggung jawab.⁴ Secara epistemologis,
voluntarisme memandang pengetahuan sosial dan moral sebagai hasil interaksi
reflektif antarindividu yang bebas; ia menolak monopoli epistemik lembaga
politik atau moral, dan menegaskan bahwa kebenaran sosial lahir dari proses
dialog serta pertukaran sukarela.⁵
Dalam ranah aksiologis, voluntarisme menghadirkan
etika kebebasan yang bersifat ganda: menolak agresi (non-aggression
principle) dan menuntut tanggung jawab.⁶ Prinsip ini menjadikan kebebasan
bukan hanya alat, tetapi juga tujuan moral tertinggi yang memampukan manusia
untuk hidup dalam harmoni tanpa dominasi.⁷ Dari sinilah muncul gagasan bahwa
keadilan sejati tidak dapat dipaksakan; ia tumbuh secara organik dari relasi
sosial yang sukarela dan setara.⁸
Dimensi sosial dan ekonominya memperlihatkan bahwa
tatanan sosial yang stabil dapat dibangun melalui kontrak, reputasi, dan
kolaborasi bebas, tanpa perlu intervensi koersif.⁹ Pasar bebas, komunitas
sukarela, dan inovasi teknologi desentralistik seperti blockchain dan open-source
governance menjadi bukti empiris bahwa koordinasi sosial dapat berlangsung
efektif melalui kesadaran moral dan kepentingan timbal balik.¹⁰ Dengan
demikian, voluntarisme tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga memiliki daya
terapan praktis yang makin nyata dalam era digital dan globalisasi informasi.¹¹
Namun, voluntarisme juga menyadari keterbatasannya:
ia tidak menutup diri terhadap kritik kolektivis, sosial-demokrat, maupun
realis politik.¹² Dalam menghadapi kritik tersebut, voluntarisme menunjukkan
kemampuan reflektif untuk menyesuaikan diri tanpa meninggalkan prinsip
dasarnya—bahwa kebebasan moral lebih kuat daripada paksaan institusional, dan
bahwa keadilan hanya memiliki makna jika dihasilkan melalui persetujuan
sadar.¹³ Dengan cara ini, voluntarisme membuktikan dirinya bukan sebagai
ideologi tertutup, tetapi sebagai filsafat kebebasan yang dinamis dan terbuka
terhadap dialog.¹⁴
Dalam konteks dunia kontemporer yang diwarnai oleh
krisis kepercayaan terhadap institusi, kemerosotan moral publik, dan tantangan
etika global, voluntarisme tampil sebagai tawaran relevan bagi peradaban yang
mencari keseimbangan antara otonomi dan solidaritas.¹⁵ Ia mengajarkan bahwa
kebebasan tidak bertentangan dengan keteraturan sosial, melainkan menjadi
fondasi moral bagi keteraturan yang autentik—yakni keteraturan yang lahir dari
kesadaran, bukan dari paksaan.¹⁶ Dengan menegaskan pentingnya kesukarelaan
sebagai asas kehidupan moral dan sosial, voluntarisme mengajak manusia untuk
memulihkan kepercayaannya kepada rasionalitas dan tanggung jawab dirinya
sendiri.¹⁷
Akhirnya, voluntarisme dapat dipahami sebagai
filsafat yang mengembalikan etika ke akar eksistensinya: tindakan yang bernilai
adalah tindakan yang dilakukan secara bebas.¹⁸ Dalam arti terdalam,
voluntarisme bukan hanya teori tentang kebebasan sosial, tetapi tentang
martabat manusia yang memilih kebaikan bukan karena diperintah, melainkan
karena memahami bahwa kebebasan adalah bentuk tertinggi dari kebaikan itu
sendiri.¹⁹
Footnotes
[1]
Carl Watner, The Voluntaryists and the Voluntary
Principle (Ridgeville, SC: The Voluntaryist, 2012), 37.
[2]
Tibor R. Machan, Liberty and Culture
(Buffalo, NY: Prometheus Books, 1989), 88.
[3]
Roderick T. Long, Reason and Value: Aristotle
versus Rand (Auburn, AL: Mises Institute, 2000), 93.
[4]
Auberon Herbert, The Right and Wrong of
Compulsion by the State (London: Williams and Norgate, 1885), 81.
[5]
Friedrich A. Hayek, Law, Legislation and Liberty,
vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 44.
[6]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(New York: New York University Press, 1998), 59.
[7]
Tibor R. Machan, Individuals and Their Rights
(Chicago: Open Court, 1989), 91.
[8]
Roderick T. Long, “Foundations of Libertarian
Ethics,” Social Philosophy & Policy 15, no. 2 (1998): 121.
[9]
Edward Stringham, Private Governance
(Oxford: Oxford University Press, 2015), 27.
[10]
Kevin Carson, The Homebrew Industrial Revolution
(Charleston, SC: BookSurge, 2010), 106.
[11]
Wendy McElroy, The Art of Being Free
(Auburn, AL: Mises Institute, 2012), 54.
[12]
Michael Sandel, Liberalism and the Limits of
Justice (Cambridge: Cambridge University Press, 1982), 49.
[13]
Roderick T. Long dan Tibor Machan, Anarchism/Minarchism:
Is a Government Part of a Free Country? (Aldershot: Ashgate, 2008), 79.
[14]
Carl Watner, “Voluntarism and the State,” The
Voluntaryist 3, no. 2 (1985): 9.
[15]
Kevin Carson, Organization Theory: A Libertarian
Perspective (Charleston, SC: BookSurge, 2008), 150.
[16]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian
Manifesto (New York: Collier Books, 1978), 63.
[17]
Tibor R. Machan, Libertarianism Defended
(Aldershot: Ashgate, 2006), 87.
[18]
Lysander Spooner, Natural Law: Or the Science of
Justice (Boston: Spooner, 1882), 11.
[19]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as
Constitutionalism,” The Independent Review 10, no. 1 (2005): 33.
Daftar Pustaka
Airoldi, M. (2021). Machine habitus: Toward a
sociology of algorithms. Cambridge: Polity Press.
Althusser, L. (1971). Ideology and ideological
state apparatuses. London: Verso.
Arendt, H. (1963). On revolution. New York:
Viking Press.
Berlin, I. (1969). Two concepts of liberty.
Oxford: Clarendon Press.
Benson, B. L. (1990). The enterprise of law:
Justice without the state. San Francisco: Pacific Research Institute.
Bookchin, M. (1982). The ecology of freedom.
Palo Alto, CA: Cheshire Books.
Carson, K. (2008). Organization theory: A
libertarian perspective. Charleston, SC: BookSurge.
Carson, K. (2010). The homebrew industrial
revolution: A low-overhead manifesto. Charleston, SC: BookSurge.
Chomsky, N. (2013). On anarchism. New York:
The New Press.
Dworkin, R. (2000). Sovereign virtue: The theory
and practice of equality. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Etzioni, A. (1993). The spirit of community:
Rights, responsibilities, and the communitarian agenda. New York: Crown.
Friedman, D. D. (1989). The machinery of
freedom: Guide to a radical capitalism (2nd ed.). La Salle, IL: Open Court.
Geuss, R. (2008). Philosophy and real politics.
Princeton, NJ: Princeton University Press.
Gramsci, A. (1971). Selections from the prison
notebooks. New York: International Publishers.
Hayek, F. A. (1944). The road to serfdom.
Chicago: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1960). The constitution of liberty.
Chicago: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1973). Law, legislation and
liberty (Vol. 1). Chicago: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1976). Law, legislation and
liberty (Vol. 2). Chicago: University of Chicago Press.
Herbert, A. (1885). The right and wrong of
compulsion by the state. London: Williams and Norgate.
Herbert, S. (1851). Social statics. London:
John Chapman.
Hobbes, T. (1985). Leviathan. London:
Penguin Classics.
Hoppe, H.-H. (1989). A theory of socialism and
capitalism. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Hoppe, H.-H. (2001). Democracy: The god that
failed. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers.
Johnson, C. W. (2010). Markets freed from
capitalism. Center for a Stateless Society.
Kropotkin, P. (1902). Mutual aid: A factor of
evolution. London: McClure.
La Boétie, É. de. (1975). The discourse of
voluntary servitude. Indianapolis, IN: Liberty Fund.
Locke, J. (1988). Two treatises of government
(P. Laslett, Ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
Long, R. T. (1996). Foundations of libertarian
ethics. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Long, R. T. (2000). Reason and value: Aristotle
versus Rand. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Long, R. T. (2004). Libertarian anarchism:
Responses to ten objections. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Long, R. T. (2005). Market anarchism as
constitutionalism. The Independent Review, 10(1), 23–33.
Long, R. T., & Machan, T. R. (Eds.). (2008). Anarchism/minarchism:
Is a government part of a free country? Aldershot: Ashgate.
MacIntyre, A. (1981). After virtue. Notre
Dame, IN: University of Notre Dame Press.
Machan, T. R. (1989). Individuals and their
rights. Chicago: Open Court.
Machan, T. R. (1989). Liberty and culture:
Essays on the idea of a free society. Buffalo, NY: Prometheus Books.
Machan, T. R. (2006). Libertarianism defended.
Aldershot: Ashgate.
Marcuse, H. (1964). One-dimensional man: Studies
in the ideology of advanced industrial society. Boston: Beacon Press.
Marx, K. (1976). Capital: A critique of
political economy (Vol. 1). Moscow: Progress Publishers.
Mack, E. (1979). Auberon Herbert and the ethics of
voluntarism. Reason Papers, 5, 67–77.
Mack, E. (1981). The moral foundations of
voluntaryism. Reason Papers, 7, 45–58.
McElroy, W. (2012). The art of being free.
Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Naess, A. (1989). Ecology, community, and
lifestyle: Outline of an ecosophy. Cambridge: Cambridge University Press.
Nozick, R. (1974). Anarchy, state, and utopia.
New York: Basic Books.
Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The
evolution of institutions for collective action. Cambridge: Cambridge
University Press.
Polanyi, M. (1951). The logic of liberty.
Chicago: University of Chicago Press.
Rawls, J. (1971). A theory of justice.
Cambridge, MA: Harvard University Press.
Raymond, E. S. (1999). The cathedral and the
bazaar. Sebastopol, CA: O’Reilly Media.
Rothbard, M. N. (1977). Power and market:
Government and the economy. Kansas City: Sheed Andrews and McMeel.
Rothbard, M. N. (1978). For a new liberty: The
libertarian manifesto. New York: Collier Books.
Rothbard, M. N. (1995). Economic thought before
Adam Smith. Auburn, AL: Ludwig von Mises Institute.
Rothbard, M. N. (1998). The ethics of liberty.
New York: New York University Press.
Sandel, M. J. (1982). Liberalism and the limits
of justice. Cambridge: Cambridge University Press.
Schmitt, C. (2005). Political theology: Four
chapters on the concept of sovereignty. Chicago: University of Chicago
Press.
Schor, J. (2020). After the gig: How the sharing
economy got hijacked and how to win it back. Berkeley: University of
California Press.
Schneider, N. (2018). Everything for everyone:
The radical tradition that is shaping the next economy. New York: Nation
Books.
Solnit, R. (2009). A paradise built in hell: The
extraordinary communities that arise in disaster. New York: Viking.
Spooner, L. (1870). No treason: The constitution
of no authority. Boston: L. Spooner.
Spooner, L. (1882). Natural law: Or the science
of justice. Boston: L. Spooner.
Spencer, H. (1851). Social statics: The
conditions essential to human happiness specified. London: John Chapman.
Stringham, E. (2011). Decentralized cooperation in
digital markets. Journal of Private Enterprise, 26(3), 13–28.
Stringham, E. (2015). Private governance:
Creating order in economic and social life. Oxford: Oxford University
Press.
Taylor, C. (1989). Sources of the self: The
making of the modern identity. Cambridge: Harvard University Press.
Trainer, T. (2010). Transition to a sustainable
and just world. Sydney: Envirobook.
Watner, C. (1982). What is voluntaryism? The
Voluntaryist, 1(1), 1–5.
Watner, C. (1985). Voluntarism and the state. The
Voluntaryist, 3(2), 6–9.
Watner, C. (2012). The voluntaryists and the
voluntary principle. Ridgeville, SC: The Voluntaryist.
Werbach, K. (2018). The blockchain and the new
architecture of trust. Cambridge, MA: MIT Press.
Wolter, A. B. (1981). The philosophy of Duns
Scotus. Chicago: Franciscan Herald Press.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar