Etika Menjenguk Orang Sakit
Kajian Perbandingan Filsafat Moral Universal dan Etika
Islam dalam Perspektif Adab dan Hikmah
Alihkan ke: CP Akidah Akhlak.
Abstrak
Artikel ini mengkaji adab dan hikmah menjenguk
orang sakit (‘iyādat al-marīḍ) melalui pendekatan komparatif antara
etika Islam dan filsafat moral universal. Dengan menelaah dalil-dalil Al-Qur’an
dan hadis, pandangan ulama klasik dan kontemporer, serta teori-teori etika
seperti virtue ethics, utilitarianisme, deontologi, care ethics, dan
fenomenologi empati, kajian ini mengungkap keterkaitan mendalam antara dimensi
spiritual, sosial, psikologis, dan moral dari tindakan menjenguk orang sakit.
Analisis epistemologis menunjukkan bahwa Islam berlandaskan wahyu sebagai
sumber moralitas, sedangkan etika universal bertumpu pada rasio, pengalaman,
dan emosi manusia. Sementara itu, analisis aksiologis mengungkap bahwa keduanya
memiliki titik temu dalam memuliakan martabat manusia, menumbuhkan empati, dan
memperkuat solidaritas sosial.
Artikel ini juga menyoroti relevansi ‘iyādat
al-marīḍ dalam konteks kontemporer yang ditandai oleh individualisme,
isolasi sosial, dan perkembangan teknologi digital. Nilai-nilai kasih sayang,
kepedulian, dan kehadiran fisik yang diajarkan Islam tetap relevan dan bahkan
semakin mendesak untuk menjaga kualitas hubungan antarmanusia. Dalam konteks
pendidikan Akidah Akhlak di MA, topik ini memiliki implikasi pedagogis
signifikan, khususnya dalam pembentukan karakter empatik, penguatan kompetensi
sosial-emosional, dan pengembangan pola pikir etis yang kritis, moderat, dan
aplikatif. Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa menjenguk orang
sakit merupakan praktik moral universal yang memiliki kedalaman spiritual dan
humanistik, serta berfungsi sebagai jembatan antara etika keagamaan dan
nilai-nilai kemanusiaan global.
Kata Kunci: ‘iyādat al-marīḍ, etika Islam, filsafat moral universal, empati, akhlak, pedagogi,
solidaritas sosial, adab.
PEMBAHASAN
Mendalami Adab dan Hikmah Menjenguk Orang Sakit
1.
Pendahuluan
Kajian mengenai adab dan hikmah dalam menjenguk
orang sakit merupakan salah satu tema fundamental dalam studi Akidah Akhlak
yang memiliki relevansi luas, baik secara teologis, etis, maupun sosial. Dalam
konteks pendidikan Madrasah Aliyah (MA), topik ini tidak hanya dimaksudkan
untuk membekali peserta didik dengan pemahaman normatif tentang kewajiban moral
dalam Islam, tetapi juga untuk menginternalisasikan nilai-nilai empati,
solidaritas, dan kepedulian sosial sebagai manifestasi akhlak mulia. Praktik
menjenguk orang sakit (‘iyādat al-marīḍ) telah lama dipandang sebagai
amalan yang mengandung dimensi spiritual dan humanistik, karena menghubungkan
aspek ketuhanan, kejiwaan, dan kemasyarakatan secara harmonis.¹ Secara
historis, ajaran Islam menempatkan tindakan ini sebagai bagian dari kesalehan sosial
(al-birr al-ijtimā‘ī) yang mempunyai implikasi langsung pada
keberlangsungan hubungan antar-manusia serta pemulihan martabat dan
kesejahteraan pasien.
Di era modern, perhatian terhadap etika menjenguk
orang sakit semakin mengemuka karena meningkatnya kompleksitas relasi sosial,
tantangan individualisme, dan perubahan struktur keluarga. Dalam situasi sosial
yang semakin terdigitalisasi, hubungan interpersonal sering kali mengalami
distorsi, sehingga bentuk-bentuk kepedulian tradisional seperti ziyārat al-marīḍ
perlu direfleksikan kembali agar tetap kontekstual dan relevan.² Kajian tentang
adab menjenguk orang sakit menjadi penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai
spiritual Islam dapat beradaptasi dalam dunia yang menghadapi isolasi sosial,
kelelahan emosional, serta krisis empati—fenomena yang muncul di tengah gaya
hidup cepat, urbanisasi, dan teknologi komunikasi yang tidak selalu
menghadirkan kedekatan yang autentik.³ Melalui kajian akademik yang sistematis,
peserta didik diajak untuk menempatkan tindakan sederhana seperti menjenguk
orang sakit dalam kerangka etika yang lebih luas, sehingga tidak sekadar
sebagai ritual, melainkan sebagai bentuk realisasi kesempurnaan akhlak.
Dari sisi keilmuan, tema ini juga membuka ruang
dialog antara etika Islam dengan filsafat moral universal. Tradisi filsafat
moral sejak zaman Yunani hingga pemikir modern menaruh perhatian besar terhadap
tindakan-tindakan yang mencerminkan empati, kebaikan, dan tanggung jawab moral
terhadap sesama. Etika kebajikan Aristotelian, misalnya, memandang tindakan
prososial sebagai bagian dari pembentukan karakter yang baik (aretē), di
mana kebiasaan memberi perhatian pada penderitaan orang lain merupakan sarana
menuju kehidupan bermakna.⁴ Sementara itu, pendekatan etika peduli (care ethics)
dalam filsafat moral modern menekankan bahwa relasi manusia bersifat afektif
dan interdependen, sehingga tindakan seperti menjenguk orang sakit merupakan
manifestasi dari hubungan moral yang berbasis kepedulian.⁵ Kajian perbandingan
ini memperkaya pemahaman peserta didik tentang bagaimana beragam tradisi
berpikir menilai pentingnya tindakan empatik, sekaligus memperlihatkan kekhasan
Islam dalam memberikan landasan transendental pada tindakan etis.
Secara metodologis, pembahasan ini menggunakan
pendekatan analitis-komparatif yang menempatkan dalil-dalil Islam dan
teori-teori moral universal sebagai dua sumber epistemik yang berdialog.
Melalui pendekatan tersebut, adab dan hikmah menjenguk orang sakit dikaji bukan
hanya sebagai kewajiban normatif, tetapi juga sebagai fenomena moral yang dapat
dijelaskan secara rasional, emosional, dan spiritual. Dengan demikian, kajian
ini bertujuan untuk memberi kontribusi pada pendidikan akhlak, khususnya dalam
menyempurnakan pemahaman peserta didik tentang etika sosial Islam, memperkaya
perspektif mereka tentang nilai empati dari sudut pandang universal, serta
menanamkan sensibilitas moral yang kokoh untuk menghadapi dinamika masyarakat
modern.
Footnotes
[1]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 230.
[2]
Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge:
Polity Press, 2000), 115–118.
[3]
Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect
More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books,
2011), 20–35.
[4]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans.
Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1985), 23–28.
[5]
Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to
Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press,
1984), 15–22.
2.
Landasan Konseptual: Adab, Hikmah, dan Empati
Pembahasan mengenai adab, hikmah, dan empati
menempati posisi fundamental dalam memahami kedalaman nilai-nilai etis yang
melandasi tindakan menjenguk orang sakit. Ketiga konsep ini membentuk kerangka
normatif-spiritual yang melandasi tindakan seorang Muslim dalam berinteraksi
dengan sesama. Pemahaman konseptual yang mendalam tidak hanya memberikan dasar
teoritis bagi kajian etika Islam, tetapi juga memperkuat landasan filosofis
yang mampu mempertemukan nilai-nilai Islam dengan pemikiran moral universal.
Dengan demikian, pemetaan konseptual dalam bagian ini diperlukan untuk
menghadirkan perspektif yang integral, menyatukan aspek teologis, filosofis,
psikologis, dan sosial.
2.1.
Konsep Adab dalam Tradisi Islam
Secara etimologis, adab berasal dari kata
yang bermakna kesopanan, tata krama, atau kehalusan perilaku. Dalam tradisi
intelektual Islam, adab berkembang menjadi konsep multidimensional yang
mencakup keteraturan perilaku, pemurnian jiwa, dan penghormatan terhadap
sesama. Ibn Miskawayh, salah satu tokoh etika Islam klasik, mendefinisikan adab
sebagai bentuk praksis dari kesempurnaan akhlak yang diwujudkan melalui
kebiasaan berbuat baik.¹ Al-Ghazālī memandang adab sebagai refleksi dari
keseimbangan batin dan kehendak moral yang sesuai dengan tuntunan wahyu dan
contoh Nabi Muhammad Saw.²
Dengan demikian, adab bukan sekadar aturan sosial, tetapi sebuah disposisi
batin yang tercermin melalui tindakan yang penuh kesantunan, seperti memberi
salam, berbicara lembut, atau menunjukkan perhatian kepada yang membutuhkan.
Dalam konteks menjenguk orang sakit, adab menjadi
pedoman komprehensif yang mengarahkan seorang Muslim untuk menghargai martabat
pasien, menjaga etika komunikasi, menghindari dominasi fisik maupun psikologis,
serta menyesuaikan kehadiran dengan kondisi emosional orang yang dikunjungi.
Dimensi adab yang bersifat praktis ini berfungsi sebagai jembatan antara ajaran
moral dan realitas kehidupan sehari-hari, memastikan bahwa tindakan ‘iyādat
al-marīḍ mencerminkan keseimbangan antara sopan santun, empati, dan
kesadaran spiritual.
2.2.
Hikmah sebagai Dasar Etis dan
Spiritual
Hikmah dalam tradisi Islam merujuk pada kebijaksanaan yang lahir dari
keselarasan antara akal, wahyu, dan pengalaman moral. Al-Rāghib al-Aṣfahānī
menggambarkan hikmah sebagai kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan
tempatnya (waḍ‘u al-shay’ fī mawḍi‘ih), yang menunjukkan keterpaduan
antara ketepatan berpikir dan ketepatan bertindak.³ Dalam perspektif al-Qur’an,
hikmah sering dikaitkan dengan kemampuan memahami makna terdalam dari sebuah
perintah moral dan melihat dampaknya dalam kehidupan manusia.⁴
Hikmah dalam konteks menjenguk orang sakit memiliki
dua dimensi:
1)
Dimensi spiritual, yaitu
kemampuan melihat penderitaan sebagai ujian yang memperkuat iman, kesabaran,
dan kedekatan dengan Allah;
2)
Dimensi sosial, yaitu
kemampuan memahami bahwa kehadiran seorang penjenguk dapat menjadi sumber
kelegaan psikologis, dukungan emosional, dan penguatan mental bagi pasien.
Dengan memahami hikmah, peserta didik MA tidak
hanya mengetahui “apa” yang harus dilakukan dalam menjenguk orang sakit,
melainkan juga “mengapa” tindakan tersebut penting secara moral,
spiritual, dan sosial. Hikmah menanamkan kemampuan reflektif yang memperkaya
tindakan etis sehingga tidak bersifat mekanis, melainkan lahir dari kedalaman
kesadaran moral yang matang.
2.3.
Empati sebagai Inti Moralitas
Universal
Empati merupakan kemampuan untuk memahami kondisi
emosional dan pengalaman orang lain secara mendalam. Dalam psikologi modern,
empati dianggap sebagai fondasi utama perilaku prososial.⁵ Filsuf fenomenologi
Max Scheler memandang empati sebagai sebuah proses afektif yang memungkinkan
seseorang merasakan “kehadiran emosional” orang lain tanpa kehilangan
identitas dirinya.⁶ Empati dengan demikian bukan sekadar simpati pasif, tetapi
suatu bentuk keterlibatan emosional yang mendorong tindakan nyata untuk
membantu.
Dalam Islam, empati (ta‘āṭuf, shafaqah)
dipandang sebagai sifat terpuji yang memperkuat solidaritas umat. Nabi Muhammad
Saw memberikan teladan empati melalui sifat kelemah-lembutan, kepedulian terhadap
yang sakit, dan kehadiran dalam meringankan beban umat. Empati dalam perspektif
Islam tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga memiliki dimensi spiritual
karena mendorong seseorang untuk mendekat kepada Allah melalui tindakan
kepedulian terhadap sesama. Hal ini menjadikan empati sebagai jembatan antara
dimensi moral universal dan spiritualitas Islam.
2.4.
Keterkaitan Adab, Hikmah, dan Empati
Ketiga konsep di atas saling terkait dan berfungsi
sebagai fondasi etis yang menyeluruh. Adab mengatur cara seseorang berperilaku;
hikmah memberikan pemahaman mendalam atas tujuan tindakan tersebut; sedangkan
empati menggerakkan aspek emosional dan afektif yang melandasi motivasi berbuat
baik. Ketiganya melahirkan suatu paradigma etika yang holistik: perilaku yang
sopan dan sesuai tuntunan (adab), didorong oleh kesadaran intelektual-spiritual
(hikmah), dan hidup oleh kepekaan emosional (empati).
Dalam praktik menjenguk orang sakit, hubungan tiga
konsep ini terlihat jelas: tindakan penuh kesantunan, kedatangan yang tepat
waktu dan bijak, kata-kata penghibur yang terukur, serta kepedulian tulus yang
memberikan kenyamanan emosional bagi pasien. Keseluruhan dimensi ini memastikan
bahwa tindakan ‘iyādat al-marīḍ tidak hanya sah secara syariat, tetapi
juga mendalam secara spiritual dan bermakna secara sosial.
Footnotes
[1]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantin Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 30–35.
[2]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 211–215.
[3]
Al-Rāghib al-Aṣfahānī, Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān
(Damaskus: Dār al-Qalam, 2002), 251.
[4]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity:
Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago
Press, 1982), 12–18.
[5]
C. Daniel Batson, Altruism in Humans (New
York: Oxford University Press, 2011), 45–67.
[6]
Max Scheler, The Nature of Sympathy, trans.
Peter Heath (London: Routledge & Kegan Paul, 1954), 6–12.
3.
Tinjauan Islam tentang Menjenguk Orang Sakit
Menjenguk orang sakit (‘iyādat al-marīḍ) merupakan
salah satu praktik etis yang memperoleh perhatian besar dalam ajaran Islam.
Tindakan ini mengandung dimensi spiritual, sosial, dan moral yang saling
berkelindan, sehingga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter seorang
Muslim. Dalam tradisi Islam, menjenguk orang sakit bukan hanya dianggap sebagai
bentuk kepedulian sosial, tetapi juga diletakkan sebagai ibadah yang bernilai
tinggi, karena ia memperkuat hubungan kemanusiaan, memuliakan martabat manusia,
serta mempertebal kesadaran akan kelemahan dan ketergantungan kepada Allah.
Pembahasan berikut menguraikan dalil-dalil syar‘i, pandangan ulama, serta
dimensi-dimensi etis dalam praktik menjenguk orang sakit.
3.1.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang
Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkan secara
eksplisit istilah ‘iyādat al-marīḍ, beberapa ayat menegaskan pentingnya
solidaritas, kepedulian terhadap sesama, dan perintah untuk saling menolong
dalam kebaikan. Surah At-Taubah ayat 71, misalnya, menggambarkan bahwa
orang-orang beriman saling mendukung dalam kebajikan dan memiliki kepedulian
sosial yang kuat.¹ Selain itu, nilai-nilai kesabaran, kasih sayang, dan
perhatian terhadap penderitaan manusia merupakan tema Qur’ani yang sangat kuat.
Hadis Nabi Muhammad Saw memberikan penegasan yang
lebih spesifik. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah bersabda bahwa salah satu hak
seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah menjenguk ketika ia sakit.² Dalam
hadis lain yang sangat masyhur, Allah digambarkan berfirman dalam hadis qudsi:
"Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau
tidak menjenguk-Ku." Ketika
manusia bertanya bagaimana mungkin Allah sakit, Allah menjawab bahwa hamba-Nya
yang sakit tidak dijenguk, dan seandainya ia menjenguknya, niscaya ia akan
menemukan Allah di sisinya.³ Hadis ini memberikan makna teologis mendalam bahwa
menjenguk orang sakit bukan hanya memenuhi hak sesama manusia, tetapi juga
bentuk pendekatan diri kepada Allah.
Hadis-hadis tersebut menempatkan tindakan menjenguk
orang sakit sebagai bagian dari kesalehan sosial yang setara dengan ibadah,
sekaligus sebagai cermin dari kesempurnaan iman.
3.2.
Pandangan Ulama Klasik dan
Kontemporer
Para ulama memberikan perhatian besar terhadap adab
menjenguk orang sakit dan meletakkannya dalam kerangka etika sosial Islam.
Al-Ghazālī, dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, menempatkan ‘iyādat al-marīḍ
sebagai amalan yang menggabungkan empati, kesantunan, dan kepekaan spiritual.
Ia menekankan pentingnya waktu kunjungan, sikap lembut, serta doa yang
menenangkan hati pasien.⁴
Ibn Qayyim al-Jawziyyah memandang kunjungan kepada
orang sakit sebagai bentuk kasih sayang (raḥmah) dan salah satu
manifestasi sifat ta‘āwun ‘ala al-birr, yaitu saling menolong dalam
kebajikan.⁵ Ia menekankan bahwa kehadiran penjenguk dapat memberikan energi psikologis
positif yang mempercepat kesembuhan.
Sementara itu, ulama kontemporer seperti Yūsuf
al-Qaraḍāwī menjelaskan bahwa praktik ini tidak hanya berlaku pada sesama
Muslim, tetapi kepada semua manusia tanpa memandang agama, sebagai bentuk
implementasi nilai kemanusiaan universal yang dijunjung Islam.⁶ Pandangan ini
memperluas cakrawala etis ‘iyādat al-marīḍ, menjadikannya bukan sekadar
kewajiban internal umat Islam, tetapi kontribusi terhadap perdamaian dan
solidaritas global.
3.3.
Dimensi Spiritual Menjenguk Orang
Sakit
Menjenguk orang sakit memiliki dimensi spiritual
yang mendalam. Tindakan ini menjadi pengingat bagi penjenguk bahwa kesehatan
adalah nikmat yang harus disyukuri dan bahwa penderitaan bisa menimpa siapa
saja. Penyakit dipandang sebagai ujian yang dapat menghapus dosa dan
meningkatkan derajat spiritual orang yang sakit.⁷ Kehadiran penjenguk
memperkuat dimensi spiritual ini melalui doa, dukungan moral, serta penguatan
keyakinan kepada Allah.
Secara teologis, menjenguk orang sakit memberi
penjenguk peluang untuk meraih pahala besar sebagaimana disebutkan dalam hadis
bahwa seseorang yang menjenguk saudaranya yang sakit akan disertai tujuh puluh
ribu malaikat yang mendoakannya.⁸ Hadis ini menunjukkan hubungan antara
solidaritas manusia dan rahmat Allah, menjadikan praktik ini sebagai ibadah
berlapis: ibadah sosial sekaligus ibadah spiritual.
3.4.
Dimensi Sosial dalam Menjenguk Orang
Sakit
Pada level sosial, praktik menjenguk orang sakit
merupakan mekanisme nyata dalam membangun solidaritas umat. Ia menciptakan
ikatan emosional, memperkuat kohesi sosial, dan memberikan rasa aman bagi
individu yang sedang berada dalam kondisi lemah. Menurut analisis sosiologi
Islam, tindakan ini menciptakan moral bonding yang penting bagi
stabilitas masyarakat Muslim.⁹
Dalam keluarga dan komunitas, kunjungan kepada
orang sakit mencegah isolasi, mengurangi tekanan psikologis, serta membantu
pasien merasa dihargai dan tidak ditinggalkan. Kehadiran sosial semacam ini
terbukti mempercepat proses penyembuhan, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian
psikologi kesehatan modern yang menekankan pengaruh social support
terhadap pemulihan pasien.¹⁰
3.5.
Adab-Adab Praktis dalam Menjenguk
Orang Sakit
Islam menetapkan beberapa adab penting yang harus
dijaga ketika menjenguk orang sakit, antara lain:
1)
Memilih waktu yang tepat, tidak mengganggu istirahat pasien;
2)
Membawa suasana positif, memberikan harapan dan bukan kecemasan;
3)
Mendoakan kesembuhan, dengan
doa-doa yang diajarkan Nabi, seperti *“Lā ba’sa, ṭahūr in syā’Allāh.”*¹¹
4)
Menjaga privasi pasien, termasuk kondisi fisik dan emosional;
5)
Tidak memperpanjang kunjungan, kecuali jika pasien menginginkan;
6)
Membantu kebutuhan pasien bila memungkinkan.
Adab-adab ini menunjukkan bahwa Islam memberikan
perhatian besar terhadap kenyamanan, psikologi pasien, dan integritas moral
penjenguk. Praktik ini bersifat komprehensif: memadukan kesopanan, empati, dan
niat ibadah.
Footnotes
[1]
Muḥammad Asad, The Message of the Qur’an
(Gibraltar: Dar al-Andalus, 1980), 275.
[2]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb
al-Salām, no. 2162.
[3]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb
al-Birr wa al-Ṣilah, no. 2569.
[4]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 235–238.
[5]
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma‘ād
(Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 1998), 320–322.
[6]
Yūsuf al-Qaraḍāwī, al-‘Ibādah fī al-Islām
(Cairo: Dār al-Shurūq, 1985), 144–147.
[7]
Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Kalimat al-Ikhlāṣ
(Riyadh: Dār al-Waṭan, 1997), 89–92.
[8]
Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī, Kitāb
al-Ṭibb, no. 969.
[9]
Jamal Badawi, The Moral Foundations of Islamic
Society (Indiana: American Trust Publications, 1995), 55–57.
[10]
Shelley E. Taylor, Health Psychology (New
York: McGraw-Hill, 2015), 150–155.
[11]
Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb
al-Marḍā, no. 5662.
4.
Hikmah dan Nilai Moral dalam Islam
Konsep hikmah dan nilai moral dalam Islam merupakan
fondasi utama yang menjelaskan kedalaman makna di balik perintah menjenguk
orang sakit. Praktik ini tidak berdiri sendiri sebagai tindakan sosial,
melainkan berakar pada kerangka teologis, spiritual, dan etis yang saling
berkaitan. Dalam tradisi Islam, setiap tindakan kebaikan memiliki landasan
hikmah yang mengarahkan manusia pada keselarasan batin, keberkahan hubungan
sosial, serta kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, memahami hikmah dan
nilai moral ‘iyādat al-marīḍ menjadi sangat penting untuk menempatkan
praktik ini sebagai bagian integral dari agenda pembentukan akhlak mulia,
khususnya bagi peserta didik Madrasah Aliyah (MA).
4.1.
Hikmah Spiritual Menjenguk Orang
Sakit
Dalam perspektif spiritual, menjenguk orang sakit
menjadi sarana untuk memperdalam kesadaran eksistensial manusia. Islam
menegaskan bahwa kesehatan dan sakit merupakan bagian dari sunnatullāh,
yaitu hukum Allah yang mengatur kehidupan manusia sebagai ujian, rahmat, dan pengingat.¹
Kehadiran penjenguk memberi kesempatan bagi kedua belah pihak untuk melakukan
muhasabah: pasien merenungkan kondisi dirinya dan memperkuat kesabarannya,
sedangkan penjenguk menyadari kelemahan dan ketergantungannya kepada Allah.
Al-Ghazālī menegaskan bahwa sakit adalah salah satu bentuk tarbiyah
ilāhiyyah yang dapat menaikkan derajat spiritual seseorang melalui
kesabaran (ṣabr) dan keteguhan hati (thabāt).²
Hikmah spiritual lainnya tampak dari doa yang
dipanjatkan penjenguk untuk kesembuhan pasien. Doa tersebut bukan hanya bentuk
permohonan, tetapi juga representasi hubungan transendental antara manusia
dengan Tuhannya, serta hubungan horizontal yang penuh kasih sayang antara
penjenguk dan pasien. Melalui doa, penjenguk menempatkan dirinya sebagai perantara
kebaikan, sementara pasien merasakan dukungan iman yang memperkuat optimisme
dan ketenangan batinnya.³ Dengan demikian, menjenguk orang sakit berfungsi
sebagai ruang spiritual yang mempertemukan dua jiwa dalam ikatan keimanan dan
kepasrahan kepada Allah.
4.2.
Hikmah Sosial Menjenguk Orang Sakit
Aspek sosial merupakan dimensi yang sangat kuat
dalam praktik menjenguk orang sakit. Islam memandang masyarakat sebagai satu
tubuh yang saling membutuhkan, sebagaimana sabda Nabi Saw bahwa umat Islam “seperti
satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan sakit.”⁴
Menjenguk orang sakit menjadi wujud nyata dari solidaritas ini, karena tindakan
tersebut mencegah isolasi sosial, mempererat hubungan kekeluargaan, dan
mengukuhkan kepercayaan antaranggota masyarakat.
Dalam perspektif sosiologis Islam, kunjungan kepada
orang sakit menciptakan jaringan dukungan moral yang memastikan bahwa
pasien tidak merasa ditinggalkan. Ini sejalan dengan konsep ukhuwwah
islāmiyyah yang menempatkan kebersamaan umat sebagai nilai esensial dalam
kehidupan.⁵ Di samping itu, penelitian sosial modern menunjukkan bahwa
kehadiran dukungan sosial dapat mempercepat pemulihan pasien, mengurangi
kecemasan, serta meningkatkan kesehatan mental.⁶ Islam telah memberikan
perhatian mendalam pada aspek ini jauh sebelum temuan psikologi kesehatan
modern.
Hikmah sosial juga terlihat dalam peningkatan
sensitivitas moral masyarakat. Ketika seseorang menjenguk orang sakit, ia
belajar membaca situasi emosional dan kebutuhan pasien. Hal ini melatih empati,
kepekaan sosial, serta kemampuan untuk bersikap baik secara proporsional.
Dengan demikian, kunjungan tersebut menjadi sarana pembentukan karakter sosial
yang berkelanjutan.
4.3.
Hikmah Psikologis Menjenguk Orang
Sakit
Dari sisi psikologis, kehadiran penjenguk terbukti
memberikan efek terapeutik. Islam mengajarkan bahwa kata-kata yang baik adalah
sedekah, sebagaimana sabda Nabi Saw dalam banyak hadis.⁷ Saat menjenguk orang
sakit, ucapan penghibur, doa, atau sekadar kehadiran yang menenangkan dapat
mengurangi stres dan meningkatkan harapan kesembuhan. Hal ini diperkuat oleh
literatur psikologi yang menunjukkan bahwa optimisme dan positive affect
berperan besar dalam percepatan penyembuhan.⁸
Selain itu, praktik menjenguk orang sakit
memberikan manfaat psikologis bagi penjenguk. Ia memperoleh pengalaman
emosional yang mengajarkan kerendahan hati, rasa syukur, dan empati mendalam
terhadap penderitaan orang lain. Ibn Qayyim menekankan bahwa interaksi dengan
orang yang berada dalam kondisi sakit dapat mengingatkan manusia tentang
kefanaan dunia, sehingga memperkuat orientasi akhirat dan ketentraman batin.⁹
Dengan demikian, tindakan menjenguk orang sakit bersifat dua arah: menenangkan
pasien dan menyucikan jiwa penjenguk.
4.4.
Nilai-Nilai Moral dalam Menjenguk
Orang Sakit
Nilai moral yang terkandung dalam ‘iyādat
al-marīḍ sangat luas dan mencakup:
1)
Empati – kemampuan
memahami kondisi emosional orang lain.
2)
Kasih sayang (raḥmah) – memberi
ketenangan dan dukungan moral.
3)
Kesabaran (ṣabr) –
menghadapi situasi sulit dengan keteguhan hati.
4)
Keadilan sosial –
memastikan bahwa setiap anggota masyarakat tidak ditinggalkan.
5)
Keikhlasan (ikhlāṣ) – menolong
tanpa pamrih, murni untuk Allah.
6)
Tanggung jawab sosial – memenuhi
hak sesama Muslim.
7)
Optimisme –
menyebarkan harapan melalui ucapan dan doa yang baik.
Nilai-nilai ini bukan hanya konsep abstrak, tetapi
pedoman praktis untuk membentuk akhlak mulia. Dalam pandangan etika Islam,
moralitas yang benar bukan hanya yang didasarkan pada rasio atau emosi, tetapi
yang dipadukan dengan orientasi spiritual dan kesadaran akan tanggung jawab
sebagai hamba Allah.¹⁰
4.5.
Relevansi Hikmah dan Nilai Moral
dalam Konteks Kontemporer
Dalam kehidupan modern yang ditandai oleh
individualisme, kesibukan, dan komunikasi digital yang kering secara emosional,
praktik menjenguk orang sakit menjadi perlawanan etis terhadap krisis empati.
Hikmah dan nilai moral yang terkandung dalam ajaran Islam memberikan alternatif
etika yang menekankan kehadiran, perhatian, dan hubungan manusia yang tulus.
Dalam masyarakat yang semakin mekanistik, ‘iyādat al-marīḍ menjadi
pelajaran nyata bahwa relasi sosial membutuhkan sentuhan manusia, bukan sekadar
pesan singkat atau perhatian superficial.
Dengan memahami hikmah dan nilai moral ini, peserta
didik MA dapat melihat bahwa tindakan menjenguk orang sakit bukan hanya
pelajaran agama, tetapi model etika hidup yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari untuk memperkuat manusia sebagai makhluk sosial dan spiritual.
Footnotes
[1]
Sayyid Quṭb, Fī Ẓilāl al-Qur’ān, vol. 1
(Cairo: Dār al-Shurūq, 2003), 57–60.
[2]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 242–245.
[3]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 112.
[4]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb
al-Birr wa al-Ṣilah, no. 2586.
[5]
Ismā‘īl al-Fārūqī, Al-Tawḥīd: Its Implications
for Thought and Life (Herndon: IIIT, 1992), 83–90.
[6]
Shelley E. Taylor, Health Psychology (New
York: McGraw-Hill, 2015), 150–155.
[7]
Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab,
no. 6021.
[8]
Barbara Fredrickson, Positivity (New York:
Crown, 2009), 71–75.
[9]
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma‘ād
(Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 1998), 324–325.
[10]
M. Fethullah Gülen, Essentials of the Islamic
Faith (New Jersey: Tughra Books, 2013), 210–212.
5.
Perspektif Filsafat Moral Universal
Pembahasan mengenai menjenguk orang sakit dari
perspektif filsafat moral universal memberikan pemahaman yang lebih luas
tentang bagaimana tindakan empatik dan prososial dipandang dalam berbagai
tradisi etis di luar Islam. Etika universal menempatkan perhatian terhadap
penderitaan, kepedulian terhadap sesama, dan tindakan menolong sebagai inti
moralitas manusia. Dengan mengkaji pendekatan-pendekatan filsafat moral seperti
etika kebajikan Aristoteles, utilitarianisme, deontologi Kant, etika peduli,
dan fenomenologi empati, kita dapat menempatkan ‘iyādat al-marīḍ dalam
arena nilai kemanusiaan yang universal. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya
pendidikan akhlak, tetapi juga memperlihatkan titik temu antara ajaran Islam
dan teori etika global dalam menumbuhkan kepedulian, kepekaan moral, dan
solidaritas sosial.
5.1.
Etika Kebajikan (Virtue Ethics):
Aristoteles dan Pembentukan Karakter Baik
Dalam etika kebajikan Aristoteles, moralitas tidak
diukur dari aturan atau konsekuensi, tetapi dari karakter dan kualitas batin
seseorang.¹ Aristoteles memperkenalkan konsep eudaimonia sebagai tujuan
etis tertinggi, yang berarti kehidupan yang unggul dan bermakna. Karakter mulia
terbentuk melalui kebiasaan—tindakan yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi
bagian dari diri.
Dari perspektif ini, menjenguk orang sakit dapat
dipahami sebagai latihan moral untuk memupuk kebajikan seperti philanthropia
(kebaikan hati), praotēs (kelembutan), dan eleos (belaskasihan).²
Dengan melakukan tindakan tersebut, seseorang bukan hanya membantu pasien,
tetapi juga membentuk karakter empatik dan berbelas kasih yang menjadi inti
kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Etika kebajikan memandang hubungan antar-manusia
sebagai bagian dari proses membangun manusia yang unggul. Maka tindakan
menjenguk orang sakit dipandang sebagai manifestasi karakter yang baik, bukan
karena perintah religius, melainkan karena hal itu selaras dengan sifat manusia
yang ingin hidup dengan baik (living well).
5.2.
Utilitarianisme: Manfaat Sosial dan
Peningkatan Kebahagiaan
Utilitarianisme, sebagaimana dikembangkan oleh
Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, menilai moralitas tindakan berdasarkan
konsekuensi yang dihasilkan, terutama sejauh mana tindakan tersebut menciptakan
kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang yang terbesar (the greatest happiness
principle).³
Dari perspektif utilitarian, menjenguk orang sakit
memiliki nilai moral tinggi karena:
1)
Mengurangi penderitaan pasien,
2)
Meningkatkan kesejahteraan emosional,
3)
Memperkuat jaringan sosial,
4)
Mendorong tindakan saling membantu dalam masyarakat.
Penelitian modern dalam ilmu sosial menunjukkan
bahwa interaksi positif dan dukungan emosional memberikan dampak langsung pada
kesehatan mental dan fisik pasien.⁴ Utilitarianisme dengan demikian menilai
tindakan menjenguk orang sakit sebagai tindakan moral karena menghasilkan
manfaat besar bagi individu dan masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan
konsep maslahah dalam Islam yang menekankan kemanfaatan dan pencegahan
kerusakan (jalb al-maṣāliḥ wa dar’ al-mafāsid), meskipun keduanya
berbeda dari sisi epistemologis.
5.3.
Deontologi Immanuel Kant: Kewajiban
Moral dan Martabat Manusia
Deontologi, yang dipelopori oleh Immanuel Kant,
menilai tindakan moral berdasarkan kewajiban, bukan konsekuensi.⁵ Menurut Kant,
seseorang harus bertindak berdasarkan prinsip moral yang dapat dijadikan hukum
universal (categorical imperative). Salah satu prinsip utamanya adalah
bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan
sebagai alat bagi tujuan lain.
Dari sudut pandang Kantian, menjenguk orang sakit
adalah kewajiban moral karena hal itu menghormati martabat manusia. Tindakan
tersebut bukan dilakukan demi pahala atau imbalan, tetapi karena manusia secara
moral wajib membantu sesama yang sedang dalam kondisi lemah.⁶
Pendekatan Kantian memperlihatkan kesamaan dengan
konsep Islam tentang ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) dan pemenuhan hak-hak
manusia (ḥuqūq al-‘ibād). Dalam Islam, menjenguk orang sakit dianggap
sebagai hak sesama Muslim, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Maka
kedua sistem etika ini sama-sama menekankan penghargaan terhadap martabat
manusia sebagai inti moralitas.
5.4.
Etika Peduli (Care Ethics): Relasi,
Kepedulian, dan Respons Moral
Etika peduli, dikembangkan oleh Carol Gilligan dan
Nel Noddings, menolak etika abstrak yang terlalu berfokus pada aturan, dan
menekankan pentingnya relasi, keterhubungan emosional, dan kepedulian sebagai
inti moralitas manusia.⁷
Dalam etika peduli:
·
Moralitas muncul dari hubungan interpersonal,
·
Kepedulian dianggap sebagai respons moral utama,
·
Empati dan perhatian emosional lebih penting daripada aturan rasional.
Tindakan menjenguk orang sakit merupakan contoh
paling jelas dari moralitas berbasis kepedulian. Kehadiran penjenguk
menunjukkan relasi yang hangat, dukungan emosional, dan komitmen terhadap
kesejahteraan orang lain.⁸ Etika peduli sangat relevan dengan pembelajaran
akhlak di MA karena menekankan kepekaan, perhatian, dan penguatan hubungan
sosial—nilai-nilai yang juga ditonjolkan dalam Islam.
5.5.
Fenomenologi Empati Max Scheler:
Memahami Penderitaan Orang Lain
Max Scheler, seorang filsuf Jerman, memandang
empati sebagai pengalaman afektif yang memungkinkan seseorang memahami keadaan
emosional orang lain tanpa kehilangan batas identitas dirinya.⁹ Ia menekankan
bahwa empati adalah dasar moralitas karena memungkinkan seseorang merasakan
penderitaan orang lain dan bertindak untuk meringankannya.
Tindakan menjenguk orang sakit merupakan bentuk
nyata empati fenomenologis: penjenguk tidak sekadar mengekspresikan simpati,
tetapi benar-benar hadir secara emosional untuk memahami penderitaan pasien.
Perspektif Scheler menekankan bahwa empati bukan semata emosi, tetapi
pengalaman moral yang memotivasi tindakan etis.
5.6.
Titik Temu antara Etika Islam dan
Filsafat Moral Universal
Walaupun sumber nilai dan epistemologi antara Islam
dan etika universal berbeda, keduanya bertemu dalam sejumlah prinsip:
1)
Nilai empati dan kepedulian sebagai inti moral.
2)
Penghargaan terhadap martabat manusia.
3)
Dorongan untuk membantu sesama.
4)
Pembentukan karakter sebagai tujuan moralitas.
5)
Pentingnya relasi sosial yang sehat dan solidaritas.
Hal ini menunjukkan bahwa praktik menjenguk orang
sakit bukan hanya perintah agama, tetapi bagian dari nilai kemanusiaan
universal yang dihargai oleh berbagai tradisi etika. Analisis semacam ini
penting untuk memperluas perspektif peserta didik MA sehingga mereka memahami
bahwa akhlak Islam sejalan dengan nilai moralitas global.
Footnotes
[1]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans.
Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1985), 23–30.
[2]
Julia Annas, The Morality of Happiness (New
York: Oxford University Press, 1993), 68–74.
[3]
Jeremy Bentham, An Introduction to the
Principles of Morals and Legislation (London: T. Payne, 1789), 14–17.
[4]
Shelley E. Taylor, Health Psychology (New
York: McGraw-Hill, 2015), 150–155.
[5]
Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of
Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997),
31–37.
[6]
Onora O’Neill, Acting on Principle (New
York: Columbia University Press, 1975), 55–60.
[7]
Carol Gilligan, In a Different Voice
(Cambridge: Harvard University Press, 1982), 19–32.
[8]
Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to
Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press,
1984), 15–22.
[9]
Max Scheler, The Nature of Sympathy, trans.
Peter Heath (London: Routledge & Kegan Paul, 1954), 6–12.
6.
Komparasi Epistemologis dan Aksiologis
Kajian komparatif antara etika Islam dan filsafat
moral universal mengenai menjenguk orang sakit mengungkapkan kesamaan mendasar
sekaligus perbedaan historis, epistemologis, dan aksiologis yang signifikan.
Keduanya sama-sama menekankan pentingnya empati, kepedulian terhadap sesama,
serta penghargaan terhadap martabat manusia. Namun, akar konseptual, sumber
nilai, dan tujuan akhir dari tindakan etis ini memiliki nuansa yang berbeda.
Bagian ini menguraikan perbandingan tersebut dengan meninjau dua bidang utama:
epistemologi (sumber dan landasan moralitas) dan aksiologi (tujuan, nilai, dan
orientasi moral).
6.1.
Komparasi Epistemologis: Sumber Moralitas
dan Landasan Pengetahuan Etis
Perbedaan epistemologis antara Islam dan filsafat
moral universal terletak pada sumber otoritatif yang dijadikan dasar penetapan
nilai moral.
6.1.1.
Islam: Wahyu sebagai Sumber Utama
Moralitas
Dalam Islam,
sumber moralitas berakar pada wahyu ilahi melalui Al-Qur’an dan Sunnah, yang
berperan sebagai pedoman absolut dalam menentukan benar dan salah.¹ Etika Islam
memadukan rasio, intuisi spiritual, dan tatanan wahyu untuk menghasilkan
kerangka moral yang bersifat transenden. Dengan demikian, tindakan ‘iyādat
al-marīḍ dipandang bukan hanya sebagai tindakan sosial, tetapi sebagai
ibadah dan bagian dari pemenuhan hak sesama Muslim.²
6.1.2.
Filsafat Moral Universal: Rasio,
Pengalaman, dan Emosi sebagai Sumber Moralitas
Sebaliknya,
filsafat moral universal cenderung menjadikan rasio, pengalaman empiris, dan
struktur emosional manusia sebagai dasar moralitas. Dalam deontologi Kant,
moralitas berlandaskan pada rasionalitas murni dan kewajiban universal (categorical
imperative).³ Dalam utilitarianisme, moralitas berakar pada pengalaman
empiris yang dapat dihitung: kebahagiaan dan penderitaan.⁴ Sementara itu, etika
peduli menempatkan hubungan emosional sebagai sumber nilai moral yang utama.⁵
Dari sisi epistemologis, kedua tradisi ini menggunakan
instrumen yang berbeda: Islam menempatkan moralitas dalam kerangka kehendak
ilahi, sedangkan etika universal menempatkannya dalam struktur rasional atau
emosional manusia. Namun, kedua pendekatan ini secara praktis sering bertemu
dalam penilaian tindakan baik sebagai tindakan yang membantu dan memberikan
kebaikan kepada sesama.
6.2.
Komparasi Aksiologis: Tujuan dan
Orientasi Moralitas
Perbedaan epistemologis melahirkan perbedaan
aksiologis—yakni perbedaan dalam tujuan akhir, orientasi nilai, dan makna tindakan
moral.
6.2.1.
Islam: Tujuan Moralitas adalah
Mendekatkan Diri kepada Allah
Dalam Islam,
nilai moral tindakan menjenguk orang sakit berorientasi pada dua arah
sekaligus:
þ Tujuan spiritual (ukhrawi): mendekatkan diri kepada Allah, meraih pahala, dan
menyempurnakan keimanan.⁶
þ Tujuan sosial (dunyawi): menciptakan solidaritas, menghibur yang sakit, dan
memperkuat persaudaraan (ukhuwwah).⁷
Tindakan
etis dipandang bernilai karena sesuai dengan kehendak Allah, bukan semata
karena bermanfaat atau sesuai aturan rasional. Aspek transendental ini
memberikan kedalaman nilai moral dalam Islam, menjadikan ibadah sosial seperti
menjenguk orang sakit sebagai sarana penyucian jiwa dan peningkatan spiritual.
6.2.2.
Filsafat Moral Universal: Tujuan
Moralitas adalah Kebahagiaan, Kebaikan, dan Hubungan yang Bermakna
Dalam etika
kebajikan Aristotelian, moralitas bertujuan membentuk karakter unggul dan
mencapai eudaimonia—kehidupan yang bermakna.⁸ Dalam utilitarianisme,
tujuan tindakan moral adalah menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah
orang yang terbesar.⁹ Sementara dalam etika peduli, tujuan moralitas adalah
memelihara relasi yang penuh kasih dan perhatian.¹⁰
Dengan demikian, tujuan moralitas dalam etika
universal berorientasi pada pengembangan manusia sebagai makhluk rasional,
emosional, dan sosial. Tidak ada dimensi transendental yang menghubungkan
moralitas dengan kehendak ilahi. Aksiologi etika universal bersifat humanistik,
sedangkan aksiologi Islam bersifat teosentris.
6.3.
Titik Temu Epistemologis: Rasionalitas
dan Kearifan Praktis
Walaupun berbeda, epistemologi Islam dan etika
universal memiliki titik temu, terutama dalam aspek rasionalitas praktis. Etika
Islam tidak menolak rasio; sebaliknya, ia menempatkan rasio sebagai alat untuk
memahami hikmah syariat. Ibn Rushd, misalnya, menegaskan bahwa syariat dan
filsafat tidak bertentangan, karena keduanya bertujuan menemukan kebenaran.¹¹
Dalam konteks menjenguk orang sakit, rasionalitas
berperan untuk memahami manfaat sosial, psikologis, dan medis dari tindakan
tersebut. Sementara wahyu memberikan landasan spiritual dan normatif, akal
membantu menguraikan hikmah dan dampak nyata bagi manusia.
6.4.
Titik Temu Aksiologis: Empati,
Kebaikan, dan Martabat Manusia
Secara aksiologis, terdapat kesamaan signifikan
antara Islam dan etika universal:
1)
Penghargaan terhadap martabat manusia.
2)
Dorongan untuk membantu yang membutuhkan.
3)
Penekanan pada empati sebagai dasar tindakan moral.
4)
Kepedulian terhadap kesehatan dan kesejahteraan orang lain.
Dalam Islam, nilai-nilai ini terkandung dalam
konsep raḥmah, ukhuwwah, dan al-birr. Dalam etika
universal, nilai serupa muncul dalam konsep care, benevolence,
dan human dignity. Kesamaan ini menunjukkan bahwa moralitas menjenguk
orang sakit bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga nilai kemanusiaan
universal yang diapresiasi lintas budaya.
6.5.
Perbedaan Kunci: Transendensi vs
Humanisme
Perbedaan paling mendasar antara kedua pendekatan
ini terletak pada orientasi finalnya:
·
Islam bersifat transendental, berorientasi pada Allah dan kehidupan akhirat.
·
Etika universal bersifat humanistik, berorientasi pada kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhir.
Perbedaan ini bukan menunjukkan superioritas salah
satu pihak, tetapi menunjukkan keragaman cara pandang manusia terhadap tujuan
kehidupan etis.
6.6.
Signifikansi Pendidikan: Integrasi
Nilai untuk Pembelajaran Akidah Akhlak di MA
Perbandingan epistemologis dan aksiologis ini
penting dalam pendidikan Akidah Akhlak karena:
1)
Membantu peserta didik memahami akar nilai moral dalam Islam.
2)
Menunjukkan bahwa nilai kebaikan bersifat universal, sehingga memperkuat
toleransi dan keterbukaan.
3)
Mendorong siswa melihat tindakan menjenguk orang sakit sebagai praktik
moral yang memiliki dimensi rasional dan spiritual.
4)
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Integrasi dua pendekatan ini dapat menjadi landasan
kuat dalam pembentukan karakter peserta didik, sehingga mereka menjadi pribadi
yang saleh secara spiritual sekaligus sensitif secara sosial.
Footnotes
[1]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation
of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
15–20.
[2]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 235–238.
[3]
Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of
Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997),
31–37.
[4]
Jeremy Bentham, An Introduction to the
Principles of Morals and Legislation (London: T. Payne, 1789), 14–17.
[5]
Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to
Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press,
1984), 15–22.
[6]
Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Kalimat al-Ikhlāṣ
(Riyadh: Dār al-Waṭan, 1997), 89–92.
[7]
Jamal Badawi, The Moral Foundations of Islamic
Society (Indiana: American Trust Publications, 1995), 55–57.
[8]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans.
Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1985), 23–30.
[9]
John Stuart Mill, Utilitarianism (London:
Parker, Son, and Bourn, 1863), 9–14.
[10]
Carol Gilligan, In a Different Voice
(Cambridge: Harvard University Press, 1982), 19–32.
[11]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl (Beirut: Dār
al-Fikr, 1997), 42–45.
7.
Sintesis: Etika Islam dan Moral Universal dalam
Konteks Menjenguk Orang Sakit
Sintesis antara etika Islam dan filsafat moral
universal mengenai tindakan menjenguk orang sakit menampilkan suatu paradigma
etis yang komprehensif, integratif, dan bersifat lintas tradisi. Studi ini
menunjukkan bahwa meskipun kedua pendekatan tersebut berangkat dari
epistemologi dan orientasi aksiologis yang berbeda, keduanya menghasilkan nilai
moral yang saling beririsan: kepedulian, empati, penghormatan terhadap martabat
manusia, dan dorongan untuk membantu sesama. Tindakan ‘iyādat al-marīḍ
dalam Islam dan tindakan prososial dalam etika universal memiliki landasan
moral yang sama kuatnya, meskipun pijakan teoretisnya tidak identik. Bagian ini
mengusulkan sintesis yang menempatkan keduanya dalam kerangka moral holistik,
yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak maupun dalam praktik
kehidupan sosial.
7.1.
Integrasi Nilai Empati dan
Kepedulian
Empati merupakan titik temu paling kuat antara
kedua tradisi. Islam menempatkan empati sebagai bagian dari raḥmah
(kasih sayang) dan ukhuwwah (persaudaraan), sedangkan etika universal
memandangnya sebagai kemampuan manusiawi yang memungkinkan seseorang merasakan
kondisi orang lain.¹ Dalam hadis qudsi, Allah menyatakan bahwa menjenguk
orang sakit adalah bentuk pendekatan diri kepada-Nya, yang menunjukkan dimensi
spiritual empati.² Di sisi lain, dalam fenomenologi Scheler, empati dipandang
sebagai pengalaman afektif yang autentik dan menjadi dasar hubungan etis.³
Sintesis dua perspektif ini mengajarkan bahwa
empati bukan hanya respons emosional, melainkan energi moral yang mendorong
tindakan nyata. Dalam konteks menjenguk orang sakit, empati menjadi motivasi
universal untuk hadir, mendengarkan, menenangkan, dan membangun hubungan penuh
perhatian. Integrasi ini menunjukkan bahwa empati memiliki nilai transendental
sekaligus humanistik.
7.2.
Keseimbangan antara Kewajiban Moral
dan Kebajikan Karakter
Etika Islam menekankan dimensi kewajiban moral,
sebagaimana sabda Nabi Saw tentang hak seorang Muslim untuk dijenguk ketika
sakit.⁴ Hal ini selaras dengan deontologi Kant yang menekankan keberadaan
kewajiban universal untuk membantu sesama sebagai bentuk penghormatan terhadap
martabat manusia.⁵ Namun, etika universal juga menekankan pembentukan karakter
melalui tindakan konsisten yang melahirkan kebajikan (virtue ethics).
Sintesis keduanya menghasilkan pemahaman bahwa
menjenguk orang sakit memiliki dua wajah moral:
1)
Sebagai kewajiban (duty):
tindakan yang harus dilakukan karena manusia memiliki hak atas manusia lainnya;
2)
Sebagai kebajikan (virtue):
tindakan yang membentuk karakter peduli, rendah hati, dan berbelas kasih.
Gabungan keduanya membentuk dasar moral yang kuat,
baik secara spiritual maupun filosofis. Dalam Islam, ini sejalan dengan konsep akhlāq
al-karīmah, sedangkan dalam filsafat moral universal, ini sejalan dengan
pengembangan diri menuju eudaimonia.
7.3.
Kemanfaatan Sosial dan Spiritualitas
Transendental
Utilitarianisme menilai menjenguk orang sakit dari
sudut manfaat, yaitu pengurangan penderitaan dan peningkatan kesejahteraan
emosional.⁶ Perspektif ini memiliki titik temu dengan tujuan sosial Islam,
yaitu mempererat solidaritas dan memperkuat kohesi umat. Dalam Islam,
kemanfaatan sosial ini diperkuat oleh dimensi spiritual, menjadikan tindakan
tersebut bernilai ganda: bermanfaat bagi manusia dan bernilai ibadah di sisi
Allah.⁷
Sintesis ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
·
Etika Universal: Menjenguk
orang sakit → memperbesar kebahagiaan dan mengurangi penderitaan.
·
Etika Islam: Menjenguk
orang sakit → memperbesar kebahagiaan, mengurangi penderitaan, dan mendekatkan
diri kepada Allah.
Dengan demikian, etika Islam memberi “nilai tambah”
transendental pada tindakan moral yang dalam etika universal hanya bernilai
sosial atau emosional.
7.4.
Relasi, Kelembutan, dan Kehadiran:
Perspektif Care Ethics dan Akhlak Islam
Etika peduli (care ethics) menekankan relasi,
responsivitas, dan kehadiran sebagai inti moralitas. Nel Noddings berpendapat
bahwa moralitas berawal dari “hubungan kepedulian yang nyata,” bukan
dari aturan abstrak.⁸ Islam mengajarkan hal serupa melalui adab-adab menjenguk
orang sakit: hadir pada waktu yang tepat, berkata lembut, memberi doa, tidak
memberatkan, dan menenangkan hati pasien.⁹
Sintesis kedua pendekatan ini memperlihatkan bahwa
kepedulian yang tulus membutuhkan kepekaan emosional dan kehadiran fisik.
Keduanya menolak moralitas yang kering dan hanya berbasis teori. Dalam konteks
pendidikan, integrasi ini mengajarkan siswa bahwa akhlak bukan hanya aturan,
tetapi praktik hidup yang melibatkan hati dan perasaan.
7.5.
Martabat Manusia sebagai Landasan
Bersama
Baik Islam maupun filsafat moral universal
menempatkan martabat manusia sebagai pusat nilai. Islam memandang manusia
sebagai makhluk mulia (ashraf al-makhlūqāt), kehormatannya harus dijaga,
dan kesakitannya harus diringankan.¹⁰ Kant, dalam prinsip kategorisnya,
menegaskan bahwa manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan, bukan
alat.¹¹
Sintesis keduanya memperlihatkan bahwa menjenguk
orang sakit merupakan tindakan penghormatan terhadap martabat manusia yang
paling dasar. Pasien berada dalam kondisi vulnerabel, sehingga penjenguk hadir
sebagai penjaga martabat tersebut melalui penghormatan, kelembutan, dan bantuan
moral.
7.6.
Kerangka Moral Holistik: Integrasi
Rasional, Emosional, dan Spiritualitas
Etika Islam dan moral universal masing-masing
menawarkan kekuatan:
·
Etika Universal:
rasionalitas, analisis konsekuensi, dan pemahaman psikologis.
·
Etika Islam:
spiritualitas, penghambaan kepada Allah, dan keharmonisan jiwa.
Ketika keduanya disintesiskan, lahirlah kerangka
moral holistik yang mencakup:
1)
Rasionalitas (menimbang
kemanfaatan dan keadilan),
2)
Emosi (empati dan
kepedulian),
3)
Kehendak moral (kewajiban
dan karakter),
4)
Spiritualitas (orientasi
kepada Allah).
Kerangka ini bukan hanya memperluas horizon etis,
tetapi juga memberi struktur pedagogis yang kuat untuk pengajaran Akidah Akhlak
di MA.
7.7.
Signifikansi Sintesis bagi
Pendidikan Akidah Akhlak di MA
Sintesis etika Islam dan moral universal memiliki
nilai aplikatif tinggi dalam pembelajaran, antara lain:
1)
Menumbuhkan pemahaman lintas nilai, sehingga siswa dapat memahami bahwa nilai empati dan kepedulian
berlaku universal.
2)
Mengembangkan sikap moderat, karena siswa melihat keselarasan antara ajaran agama dan nilai
kemanusiaan global.
3)
Mendorong refleksi moral kritis, tidak hanya mengikuti aturan, tetapi memahami alasan filosofis dan
spiritualnya.
4)
Memperkaya metode pembelajaran, melalui studi kasus, dialog nilai, dan refleksi personal.
Dengan demikian, sintesis ini membantu membangun
peserta didik yang saleh secara spiritual, matang secara moral, dan peka secara
sosial.
Footnotes
[1]
Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to
Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press,
1984), 18–22.
[2]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb
al-Birr wa al-Ṣilah, no. 2569.
[3]
Max Scheler, The Nature of Sympathy, trans.
Peter Heath (London: Routledge & Kegan Paul, 1954), 6–12.
[4]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb
al-Salām, no. 2162.
[5]
Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of
Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997),
31–37.
[6]
John Stuart Mill, Utilitarianism (London:
Parker, Son, and Bourn, 1863), 9–14.
[7]
Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Kalimat al-Ikhlāṣ
(Riyadh: Dār al-Waṭan, 1997), 89–92.
[8]
Carol Gilligan, In a Different Voice
(Cambridge: Harvard University Press, 1982), 19–32.
[9]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 235–238.
[10]
Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid
al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah (Tunis: Dār Sahnūn, 2001), 82–85.
[11]
Onora O’Neill, Acting on Principle (New
York: Columbia University Press, 1975), 55–60.
8.
Relevansi Kontekstual dalam Kehidupan
Kontemporer
Relevansi ajaran Islam tentang menjenguk orang
sakit (‘iyādat al-marīḍ) dalam konteks kontemporer mengalami perluasan
makna seiring dengan perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika
budaya modern. Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, relasi manusia
sering kali mengalami reduksi menjadi komunikasi cepat, instan, dan minim
kehadiran emosional. Fenomena ini menyebabkan menurunnya kualitas hubungan
sosial dan meningkatnya isolasi emosional, terutama bagi individu yang sedang
sakit. Oleh karena itu, nilai-nilai klasik Islam tentang kepedulian, empati,
dan solidaritas sosial memiliki urgensi baru sebagai penyeimbang bagi gaya
hidup yang cenderung individualistik. Bagian ini meninjau relevansi praksis ‘iyādat
al-marīḍ dalam kehidupan modern dari perspektif sosial, psikologis, etis,
dan teknologi.
8.1.
Tantangan Individualisme dan
Fragmentasi Sosial
Era modern ditandai oleh meningkatnya kecenderungan
individualisme, yang mendorong manusia untuk lebih fokus pada produktivitas dan
pencapaian pribadi daripada hubungan interpersonal.¹ Fragmentasi sosial yang
terjadi—baik akibat urbanisasi, gaya hidup sibuk, maupun budaya
kompetitif—menyebabkan melemahnya ikatan sosial dan menurunnya kepedulian
terhadap kondisi orang lain. Dalam kondisi semacam ini, ajaran Islam tentang
menjenguk orang sakit menjadi bentuk resistensi etis terhadap isolasi sosial.
Menjenguk orang sakit mengingatkan manusia bahwa
mereka adalah bagian dari komunitas dan memiliki tanggung jawab moral untuk
hadir bagi sesama. Tindakan ini memperkuat jaringan sosial yang semakin rapuh
dan mengembalikan fungsi hubungan manusia sebagai ruang berbagi, membantu, dan
mendukung satu sama lain.
8.2.
Kesehatan Mental dan Pentingnya
Dukungan Emosional
Dalam konteks kesehatan mental modern, dukungan
emosional terbukti menjadi faktor signifikan yang menentukan proses pemulihan
seseorang.² Pasien yang merasa diperhatikan dan dikunjungi mengalami penurunan
tingkat stres, depresi, dan kecemasan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang
menekankan pentingnya menghadirkan harapan dan ketenangan bagi orang yang
sedang dalam kondisi lemah.
Dalam kerangka psikologi Islam, menjenguk orang
sakit bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga bentuk terapi nonmedis yang
memengaruhi kondisi batin pasien. Al-Ghazālī menegaskan bahwa kata-kata yang
lembut dan doa dari penjenguk merupakan bagian dari al-taṭayyib, yaitu
usaha menenangkan hati dan memperbaiki keadaan jiwa individu yang sakit.³
Pendekatan ini sangat relevan dalam era meningkatnya kasus gangguan mental yang
disebabkan oleh tekanan hidup.
8.3.
Peran Teknologi: Antara Peluang dan
Keterbatasan
Perkembangan teknologi komunikasi digital
menghadirkan ambiguitas dalam praktik menjenguk orang sakit. Di satu sisi,
teknologi memberikan peluang besar untuk mendukung pasien melalui pesan, video
call, dan komunitas daring, terutama ketika jarak atau situasi kesehatan
membatasi kehadiran fisik.⁴ Pada era pandemi global, misalnya, bentuk kunjungan
virtual sering kali menjadi satu-satunya sarana untuk memberikan dukungan
emosional tanpa membahayakan pasien.
Namun, di sisi lain, bentuk komunikasi ini memiliki
keterbatasan emosional. Sherry Turkle mengemukakan bahwa komunikasi digital
dapat menciptakan ilusi kedekatan tanpa kedalaman emosional.⁵ Dalam konteks
ini, ajaran Islam tentang hadir secara fisik—dalam waktu yang tepat dan
dengan adab yang baik—memberikan penekanan penting bahwa kehadiran manusia
tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Sintesisnya: teknologi dapat menjadi pendukung,
tetapi tidak dapat menggantikan nilai spiritual, emosional, dan relasional dari
kunjungan langsung.
8.4.
Relevansi Etika Peduli dalam
Masyarakat Modern
Nilai kepedulian menjadi sangat penting di tengah
budaya modern yang mengedepankan efisiensi dan produktivitas. Etika peduli
(care ethics) mengajarkan bahwa moralitas berakar pada relasi dan respons
terhadap kebutuhan orang lain.⁶ Ajaran Islam mengenai ‘iyādat al-marīḍ
selaras dengan prinsip-prinsip ini, karena menekankan kehadiran penuh perhatian
(presence), kelembutan, dan penghargaan terhadap kondisi pasien.
Di tengah dunia yang serba cepat, praktik menjenguk
orang sakit berfungsi sebagai momen berhenti—kesempatan untuk
memprioritaskan nilai kemanusiaan di atas rutinitas mekanistik. Ini membantu
manusia mengingat kembali bahwa akhlak bukan hanya kumpulan teori, tetapi
tindakan nyata yang menghidupkan nilai empati.
8.5.
Solidaritas Sosial dan Keadilan
Kemanusiaan
Menjenguk orang sakit memiliki peran penting dalam
membangun solidaritas sosial terutama dalam konteks ketimpangan akses pelayanan
kesehatan. Dalam banyak masyarakat, individu dari kelompok rentan—lansia, orang
miskin, difabel, atau mereka yang tinggal sendiri—memerlukan dukungan moral dan
sosial lebih besar. Islam memerintahkan umatnya untuk mendahulukan
kelompok-kelompok yang lemah dan memastikan mereka tidak ditinggalkan.⁷
Praktik menjenguk orang sakit dalam konteks modern
dapat menjadi sarana memperjuangkan keadilan sosial dengan memperhatikan mereka
yang terpinggirkan secara sosial dan emosional. Dengan demikian, ‘iyādat
al-marīḍ dapat difungsikan sebagai bentuk aksi sosial yang meminimalisir
ketidaksetaraan dan mendorong masyarakat yang lebih inklusif.
8.6.
Penguatan Identitas Moral Peserta
Didik MA
Dalam konteks pendidikan Akidah Akhlak, relevansi
kontemporer topik ini menjadi sangat penting. Peserta didik hidup dalam dunia
yang sarat tantangan moral: individualisme, distraksi digital, dan berkurangnya
empati. Dengan memahami pentingnya menjenguk orang sakit dalam konteks modern,
siswa mendapatkan:
1)
Model praktis akhlak yang dapat
diterapkan langsung dalam kehidupan.
2)
Kesadaran lintas nilai, bahwa tindakan empatik didukung baik oleh Islam maupun etika
universal.
3)
Kematangan moral, melalui
refleksi tentang hubungan antara spiritualitas, teknologi, dan solidaritas
sosial.
4)
Kecakapan sosial-emosional, seperti empati, komunikasi lembut, dan kehadiran yang suportif.
Dengan demikian, ajaran klasik ini berfungsi
sebagai akar etis dalam pembentukan generasi yang tangguh secara moral, cerdas
sosial, dan peka terhadap realitas kemanusiaan.
8.7.
Menjenguk sebagai Manifestasi Islam
Rahmatan lil ‘Ālamīn
Pada akhirnya, tindakan menjenguk orang sakit
merepresentasikan wajah Islam yang penuh kasih sayang dan kepedulian. Dalam
konteks global yang sering menampilkan citra negatif tentang agama, praktik ‘iyādat
al-marīḍ dapat menjadi jembatan untuk menunjukkan nilai-nilai Islam yang
universal dan humanis. Nilai-nilai pelayanan, kepedulian, dan empati merupakan
bagian dari misi Islam sebagai rahmatan lil ‘ālamīn, yang memiliki
relevansi mendalam baik di tingkat personal maupun sosial.⁸
Footnotes
[1]
Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge:
Polity Press, 2000), 112–118.
[2]
Shelley E. Taylor, Health Psychology (New
York: McGraw-Hill, 2015), 150–155.
[3]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 242–245.
[4]
danah boyd, It’s Complicated: The Social Lives
of Networked Teens (New Haven: Yale University Press, 2014), 88–95.
[5]
Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect
More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books,
2011), 3–15.
[6]
Carol Gilligan, In a Different Voice
(Cambridge: Harvard University Press, 1982), 19–32.
[7]
Muḥammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid
al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah (Tunis: Dār Sahnūn, 2001), 82–85.
[8]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 38–44.
9.
Implikasi Pedagogis bagi Pembelajaran Akidah
Akhlak di MA
Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA)
menempati posisi strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang tidak
hanya memahami ajaran agama secara teoretis, tetapi juga mampu menerjemahkannya
ke dalam perilaku nyata yang etis, empatik, dan penuh tanggung jawab sosial.
Topik ‘iyādat al-marīḍ (menjenguk orang sakit) memiliki relevansi
pedagogis yang kuat karena memuat nilai-nilai spiritual, sosial, dan moral yang
sangat dibutuhkan dalam konteks pendidikan abad ke-21. Pada bagian ini, dibahas
bagaimana gagasan-gagasan etis dari Islam dan filsafat moral universal dapat
diintegrasikan ke dalam desain pembelajaran, strategi pembentukan karakter,
metode evaluasi, dan penguatan kompetensi sosial-emosional peserta didik MA.
9.1.
Integrasi Nilai Empati, Kepedulian,
dan Akhlak Sosial dalam Kurikulum
Kurikulum Akidah Akhlak menuntut siswa untuk
memahami sekaligus mempraktikkan nilai-nilai moral Islam. Menjenguk orang sakit
menjadi sarana konkret untuk memperkuat penguasaan Kompetensi Dasar yang
berkaitan dengan adab, akhlak sosial, dan solidaritas kemanusiaan.¹ Integrasi
nilai ini dapat dilakukan melalui:
1)
Pembelajaran berbasis nilai (value-based learning) yang memadukan pemahaman dalil, hikmah, dan
praktik etika.
2)
Pengembangan karakter empatik dengan menempatkan ‘iyādat al-marīḍ sebagai model perilaku
sosial.
3)
Penyelarasan materi dengan etika universal, sehingga siswa memahami bahwa kepedulian adalah
nilai lintas tradisi moral.
Melalui integrasi ini, siswa tidak hanya mengetahui
hukum atau anjuran, tetapi memahami alasan filosofis dan spiritual yang
melatari praktik menjenguk orang sakit.
9.2.
Pendekatan Pembelajaran
Reflektif–Aplikatif
Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran
akhlak adalah bagaimana mengubah pengetahuan menjadi perilaku nyata.² Oleh
karena itu, guru Akidah Akhlak perlu menggunakan pendekatan reflektif-aplikatif
yang memungkinkan siswa:
1)
Merefleksikan pengalaman pribadi tentang sakit, kesepian, atau menerima bantuan orang lain.
2)
Merenungkan nilai empati, rahmah, dan adab, serta mengaitkannya dengan prinsip etika
universal seperti virtue ethics atau care ethics.³
3)
Menerapkan nilai tersebut dalam konteks sosial nyata, misalnya melalui projek layanan sosial, kegiatan
kunjungan kepada teman atau tetangga yang sakit (dengan persetujuan dan etika
yang tepat).
Pendekatan reflektif-aplikatif memperkuat hubungan
antara ajaran agama dan pengalaman hidup, sehingga pembelajaran tidak berhenti
pada kognisi, tetapi berkembang menjadi internalisasi moral.
9.3.
Model Pembelajaran Berbasis Studi
Kasus dan Dialog Etika
Untuk memperkaya pemahaman etis siswa, guru dapat
menggunakan metode studi kasus yang menggambarkan situasi nyata, misalnya:
·
Apa yang harus dilakukan ketika seseorang ingin menjenguk pasien tetapi
kondisi pasien tidak stabil?
·
Bagaimana bersikap jika kunjungan dapat mengganggu privasi atau
kenyamanan pasien?
·
Bagaimana etika digital dalam memberikan dukungan bagi orang sakit?
Melalui studi kasus, siswa diajak untuk:
1)
Menganalisis situasi dengan merujuk pada dalil dan adab Islam.
2)
Membandingkan pandangan etika universal seperti deontologi atau
utilitarianisme.
3)
Membuat keputusan moral yang argumentatif dan bertanggung jawab.
Pendekatan ini mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, dialog nilai, dan pengambilan keputusan etis.⁴
9.4.
Penguatan Kompetensi
Sosial-Emosional (Social Emotional Learning – SEL)
Topik ‘iyādat al-marīḍ sangat relevan dengan
pendekatan SEL yang menekankan:
1)
Kesadaran diri (self-awareness)
Siswa memahami
emosi dan batas dirinya ketika berinteraksi dengan orang sakit.
2)
Kesadaran sosial (social awareness)
Siswa
memiliki empati dan kepekaan terhadap kesulitan orang lain.⁵
3)
Keterampilan hubungan (relationship skills)
Siswa mampu
menjalin komunikasi lembut dan menghormati kondisi pasien.
4)
Tanggung jawab sosial
Siswa
mengembangkan kebiasaan menolong dan menghargai martabat sesama.
Islam dan SEL memiliki titik temu dalam membentuk
manusia yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang secara
emosional dan sosial.
9.5.
Penilaian (Assessment) Berbasis
Sikap dan Praktik Moral
Penilaian dalam pembelajaran Akidah Akhlak idealnya
tidak hanya berbasis kognitif, tetapi juga perilaku. Guru dapat melakukan
penilaian melalui:
1)
Jurnal refleksi, di mana siswa
menuliskan pengalaman empatik dan pemahamannya tentang adab menjenguk orang
sakit.
2)
Observasi praktik, misalnya
ketika siswa melakukan projek layanan sosial.
3)
Penilaian kinerja (performance assessment) berupa simulasi etika menjenguk pasien.⁶
4)
Rubrik sikap, yang
menilai empati, kesantunan, dan kemampuan komunikasi interpersonal.
Penilaian seperti ini membantu memantau
perkembangan karakter dan bukan sekadar penguasaan teori.
9.6.
Penguatan Praktik Moderasi Beragama
dan Humanisme Islam
Topik ini mengandung peluang besar untuk memperkuat
moderasi beragama. Nilai menjenguk orang sakit melampaui batas-batas identitas
agama, sehingga siswa dapat memahami bahwa Islam mendorong kepedulian kepada
seluruh manusia.⁷
Dalam konteks global yang dipenuhi isu intoleransi
dan polarisasi, pembelajaran tentang ‘iyādat al-marīḍ dapat
ditransformasikan menjadi:
1)
Wawasan humanisme Islam, bahwa kepedulian merupakan inti dari misi rahmatan lil ‘ālamīn.
2)
Sikap toleran, dengan
menekankan kewajiban moral membantu siapa pun yang sakit.
3)
Perilaku sosial inklusif, yang menghargai martabat manusia tanpa diskriminasi.
Nilai-nilai ini sangat relevan bagi siswa MA yang
akan berperan sebagai warga masyarakat yang moderat, bijak, dan toleran.
9.7.
Pembentukan Identitas Moral dan
Etika Keprofesian Masa Depan
Pembelajaran tentang etika menjenguk orang sakit
juga berkontribusi pada pembentukan identitas moral jangka panjang siswa.
Banyak peserta didik yang kelak akan memasuki profesi sosial—guru, tenaga
kesehatan, konselor, pemimpin komunitas—yang membutuhkan kemampuan empatik
tinggi.⁸
Pemahaman mendalam tentang adab, empati, dan
solidaritas sosial membentuk:
1)
Etika kerja yang humanis, apa pun profesi yang digeluti.
2)
Komitmen profesional terhadap martabat manusia.
3)
Integritas dan kepekaan moral dalam pengambilan keputusan.
Dengan demikian, pembelajaran Akidah Akhlak
memiliki kontribusi berkelanjutan terhadap pembangunan karakter profesional
yang etis dan berdaya guna bagi masyarakat.
Footnotes
[1]
Kementerian Agama RI, Kurikulum 2013 Madrasah
Aliyah: Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (Jakarta: Kemenag RI, 2014),
52–53.
[2]
Thomas Lickona, Educating for Character (New
York: Bantam Books, 1991), 29–32.
[3]
Julia Annas, The Morality of Happiness (New
York: Oxford University Press, 1993), 68–74.
[4]
Nel Noddings, Caring: A Relational Approach to
Ethics and Moral Education (Berkeley: University of California Press,
1984), 45–48.
[5]
Maurice Elias et al., Promoting Social and
Emotional Learning (Alexandria: ASCD, 1997), 23–27.
[6]
Grant Wiggins, Educative Assessment (San
Francisco: Jossey-Bass, 1998), 85–89.
[7]
Mahmoud Ayoub, Islam: Faith and History
(Oxford: Oneworld Publications, 2004), 102–107.
[8]
Howard Gardner, Intelligence Reframed: Multiple
Intelligences for the 21st Century (New York: Basic Books, 1999), 121–123.
10.
Penutup
Pembahasan mengenai adab dan hikmah menjenguk orang
sakit dalam perspektif Islam dan filsafat moral universal menegaskan bahwa
tindakan ‘iyādat al-marīḍ memiliki kedalaman makna yang melampaui
sekadar kunjungan sosial. Ia merupakan praktik etis yang menyatukan dimensi
spiritual, moral, sosial, dan psikologis dalam satu kesatuan nilai. Dalam
tradisi Islam, tindakan ini dipandang sebagai ibadah, bentuk penghambaan kepada
Allah, dan pemenuhan hak sesama manusia.¹ Hadis-hadis Nabi Saw menempatkan ‘iyādat
al-marīḍ sebagai bagian dari kesempurnaan iman, sekaligus instrumen
membangun solidaritas umat.² Pada saat yang sama, filsafat moral universal
memberikan kerangka rasional, emosional, dan humanistik yang memperkaya
pemahaman tentang kepedulian dan empati antar-manusia.
Kajian komparatif menunjukkan bahwa kendati
keduanya berangkat dari sumber epistemologis yang berbeda—wahyu dalam Islam dan
rasio/emosi dalam etika universal—keduanya bersepakat pada nilai inti:
penghargaan terhadap martabat manusia, pentingnya kepedulian terhadap yang
menderita, dan dorongan untuk bertindak demi kebaikan sesama.³ Dalam etika
Islam, tindakan menjenguk orang sakit bukan semata-mata perilaku baik, tetapi
bentuk nyata dari raḥmah, iḥsān, dan ukhuwwah islāmiyyah.
Dalam etika universal, ia mencerminkan kebajikan karakter, kewajiban moral,
atau tindakan yang membawa manfaat sosial. Sintesis ini memperlihatkan bahwa ‘iyādat
al-marīḍ adalah praktik moral universal yang memiliki legitimasi kuat baik
secara spiritual maupun filosofis.
Di tengah tantangan kontemporer—individualisme,
isolasi sosial, tekanan psikologis, serta pergeseran budaya akibat teknologi
digital—nilai-nilai klasik tentang menjenguk orang sakit mendapatkan urgensi
baru. Dunia modern membutuhkan rekonstruksi hubungan antar-manusia yang lebih
empatik dan penuh perhatian. Dalam konteks ini, ajaran Islam tentang ‘iyādat
al-marīḍ dapat berfungsi sebagai pedoman etik untuk menghidupkan kembali
relasi sosial yang hangat dan bermoral.⁴ Nilai-nilai tersebut bukan hanya
relevan bagi ruang privat keluarga atau komunitas, tetapi juga bagi dunia
profesional, sistem kesehatan, dan institusi publik.
Bagi pendidikan Akidah Akhlak di MA, topik ini
memiliki implikasi pedagogis yang luas. Ia membuka ruang pembelajaran untuk
mengintegrasikan nilai spiritual dengan refleksi etis, mengembangkan kompetensi
sosial-emosional, dan memupuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang
peduli, moderat, dan bertanggung jawab.⁵ Dengan mempelajari adab dan hikmah
menjenguk orang sakit, peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara
tekstual, tetapi juga belajar menerapkannya dalam konteks kehidupan nyata.
Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa ‘iyādat
al-marīḍ adalah titik temu antara spiritualitas dan kemanusiaan. Ia bukan
hanya kewajiban moral, tetapi juga jalan untuk membina kesalehan pribadi dan
sosial. Baik Islam maupun etika universal sama-sama mengakui kekuatan tindakan
sederhana ini dalam membangun masyarakat yang penuh kasih sayang, saling mendukung,
dan menghargai martabat manusia. Pada akhirnya, tindakan menjenguk orang sakit
menjadi simbol nyata bahwa moralitas sejati lahir dari hati yang peduli,
pikiran yang bijaksana, dan iman yang hidup.
Footnotes
[1]
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2011), 235–238.
[2]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb
al-Salām, no. 2162.
[3]
Max Scheler, The Nature of Sympathy, trans.
Peter Heath (London: Routledge & Kegan Paul, 1954), 6–12.
[4]
Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect
More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books,
2011), 3–15.
[5]
Kementerian Agama RI, Kurikulum 2013 Madrasah
Aliyah: Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar (Jakarta: Kemenag RI, 2014),
52–53.
Daftar Pustaka
Annas, J. (1993). The
morality of happiness. Oxford University Press.
Aristotle. (1985). Nicomachean
ethics (T. Irwin, Trans.). Hackett Publishing.
Asad, M. (1980). The
message of the Qur’an. Dar al-Andalus.
Ayoub, M. (2004). Islam:
Faith and history. Oneworld Publications.
Bauman, Z. (2000). Liquid
modernity. Polity Press.
Batson, C. D. (2011). Altruism
in humans. Oxford University Press.
Bentham, J. (1789). An
introduction to the principles of morals and legislation. T. Payne.
boyd, d. (2014). It’s
complicated: The social lives of networked teens. Yale University Press.
Elias, M., Zins, J.,
Weissberg, R., Frey, K., Greenberg, M., Haynes, N., Kessler, R., Schwab-Stone,
M., & Shriver, T. (1997). Promoting social and emotional learning.
ASCD.
Fredrickson, B. (2009). Positivity.
Crown.
Gardner, H. (1999). Intelligence
reframed: Multiple intelligences for the 21st century. Basic Books.
Gilligan, C. (1982). In
a different voice. Harvard University Press.
Ghazālī, A. H. (2011). Iḥyā’
‘ulūm al-dīn. Dār al-Ma‘rifah. (Original work published ca. 11th century)
Gülen, M. F. (2013). Essentials
of the Islamic faith. Tughra Books.
Ibn ‘Āshūr, M. T. (2001). Maqāṣid
al-syarī‘ah al-islāmiyyah. Dār Sahnūn.
Ibn Kathīr. (1999). Tafsīr
al-Qur’ān al-‘aẓīm. Dār Ṭayyibah. (Original work published 14th century)
Ibn Miskawayh. (1966). Tahdhīb
al-akhlāq (C. Zurayk, Ed.). American University of Beirut. (Original work
published ca. 11th century)
Ibn Qayyim al-Jawziyyah.
(1998). Zād al-ma‘ād. Mu’assasat al-Risālah. (Original work published
14th century)
Ibn Rajab al-Ḥanbalī.
(1997). Kalimat al-ikhlāṣ. Dār al-Waṭan. (Original work published 14th
century)
Ibn Rushd. (1997). Faṣl
al-maqāl. Dār al-Fikr. (Original work published 12th century)
Kant, I. (1997). Groundwork
of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University
Press. (Original work published 1785)
Kementerian Agama Republik
Indonesia. (2014). Kurikulum 2013 Madrasah Aliyah: Kompetensi inti dan
kompetensi dasar. Kemenag RI.
Lickona, T. (1991). Educating
for character. Bantam Books.
Mill, J. S. (1863). Utilitarianism.
Parker, Son, and Bourn.
Muslim ibn al-Ḥajjāj.
(n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim. (Hadith collection; various print editions)
Noddings, N. (1984). Caring:
A relational approach to ethics and moral education. University of
California Press.
O’Neill, O. (1975). Acting
on principle. Columbia University Press.
Rahman, F. (1982). Islam
and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of
Chicago Press.
Rahman, F. (2009). Major
themes of the Qur’an (2nd ed.). University of Chicago Press.
Scheler, M. (1954). The
nature of sympathy (P. Heath, Trans.). Routledge & Kegan Paul.
(Original work published 1913)
Taylor, S. E. (2015). Health
psychology. McGraw-Hill.
Turkle, S. (2011). Alone
together: Why we expect more from technology and less from each other.
Basic Books.
Wiggins, G. (1998). Educative
assessment. Jossey-Bass.
Yūsuf al-Qaraḍāwī. (1985). Al-‘ibādah
fī al-Islām. Dār al-Shurūq.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar