Libertarianisme Kiri
Rekonsiliasi antara Kebebasan Individu dan Keadilan
Sosial dalam Filsafat Politik Modern
Alihkan ke: Libertarianisme.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif filsafat
politik Libertarianisme Kiri (Left-Libertarianism) sebagai salah satu aliran
dalam spektrum libertarian yang berupaya merekonsiliasi kebebasan individu
dengan keadilan sosial. Kajian ini menelusuri landasan historis,
ontologis, epistemologis, dan aksiologis libertarianisme kiri, yang berkembang
dari pemikiran egalitarianisme klasik Thomas Paine dan Pierre-Joseph Proudhon
hingga teori kontemporer yang dikembangkan oleh Hillel Steiner, Peter
Vallentyne, Michael Otsuka, dan Philippe Van Parijs.
Secara ontologis, libertarianisme kiri berpijak
pada dua prinsip moral utama: self-ownership (kepemilikan diri) dan equal
world-ownership (hak setara atas dunia). Kedua prinsip ini disintesiskan
menjadi kerangka moral yang menolak absolutisme kepemilikan privat, sekaligus
mempertahankan otonomi individu. Secara epistemologis, teori ini menegaskan
bahwa rasionalitas dan otonomi manusia hanya dapat berkembang dalam masyarakat
yang bebas dari dominasi dan ketimpangan struktural. Aksiologinya menekankan
nilai kesetaraan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial terhadap sumber daya
bersama serta keberlanjutan ekologis.
Analisis sosial dan ekonomi menunjukkan bahwa
libertarianisme kiri mendukung pasar bebas yang berkeadilan (fair market
economy), sistem pajak nilai tanah (land value tax), dan pendapatan
dasar universal (universal basic income) sebagai instrumen keadilan
distributif. Pada saat yang sama, teori ini memperluas makna keadilan ke ranah
ekologis dan digital, menekankan kepemilikan bersama atas lingkungan dan data
sebagai sumber daya publik.
Artikel ini menyimpulkan bahwa libertarianisme kiri
menawarkan paradigma etika politik yang koheren dan humanistik—menolak dualisme
antara kebebasan dan keadilan, serta mengajukan model masyarakat bebas tanpa
dominasi (non-domination society). Dalam konteks krisis global
kontemporer—ketimpangan ekonomi, degradasi ekologis, dan konsentrasi kekuasaan
digital—libertarianisme kiri memberikan fondasi normatif bagi pembangunan dunia
yang adil, berkelanjutan, dan benar-benar bebas.
Kata Kunci: Libertarianisme
kiri; kebebasan; keadilan sosial; kepemilikan bersama; otonomi;
egalitarianisme; non-dominasi; ekonomi partisipatif; keadilan ekologis; etika
politik.
PEMBAHASAN
Libertarianisme Kiri dalam Konteks Keadilan Distributif
dan Hak Milik Bersama
1.
Pendahuluan
Dalam sejarah pemikiran politik modern,
libertarianisme menempati posisi yang unik dan sering kali paradoksal. Ia lahir
dari semangat pencerahan abad ke-18 yang menekankan kebebasan individu,
rasionalitas moral, dan kedaulatan diri sebagai inti dari eksistensi manusia
dalam masyarakat. Namun, di dalam spektrum luas libertarianisme, terdapat
perbedaan fundamental antara dua arus besar: libertarianisme kanan (right-libertarianism),
yang menegaskan hak kepemilikan pribadi secara absolut dan pasar bebas tanpa
batas, serta libertarianisme kiri (left-libertarianism), yang berupaya
merekonsiliasi kebebasan individu dengan keadilan sosial dan distribusi yang
setara atas sumber daya alam serta hasil ekonomi masyarakat.¹
Libertarianisme kiri muncul sebagai respons kritis
terhadap ketimpangan yang dihasilkan oleh tafsir ekstrem terhadap kebebasan
negatif—yakni kebebasan dari intervensi negara—yang mendominasi pemikiran
liberalisme klasik dan libertarianisme kanan.² Bagi kaum libertarian kiri,
kebebasan sejati tidak mungkin terwujud tanpa jaminan akses yang adil terhadap
sarana material yang memungkinkan individu merealisasikan potensi otonominya.
Dengan demikian, mereka mempertahankan prinsip self-ownership
(kepemilikan atas diri sendiri) sembari menolak konsekuensi ekstremnya yang
melegitimasi ketimpangan struktural.³ Posisi ini menciptakan dialektika antara
hak individu dan hak kolektif, antara kebebasan dan kesetaraan, yang menjadi
inti problematika filosofis libertarianisme kiri.
Dari perspektif historis, akar pemikiran
libertarianisme kiri dapat ditelusuri hingga tradisi egalitarian awal seperti
yang dirumuskan oleh Thomas Paine dan Pierre-Joseph Proudhon. Paine, dalam
risalah Agrarian Justice (1797), menegaskan bahwa setiap individu
memiliki hak moral yang sama atas bumi dan sumber dayanya, sementara hak
kepemilikan pribadi atas tanah hanya sah apabila sebagian nilai surplusnya
dikembalikan kepada masyarakat.⁴ Proudhon bahkan lebih radikal, menyatakan
bahwa “kepemilikan adalah pencurian” (property is theft) karena
bentuk kepemilikan yang eksklusif selalu mengandung potensi dominasi.⁵ Dalam
konteks kontemporer, gagasan ini dihidupkan kembali oleh filsuf seperti Hillel
Steiner, Peter Vallentyne, dan Philippe Van Parijs, yang mengembangkan teori left-libertarianism
sebagai sistem normatif yang menggabungkan hak kebebasan individu dengan
keadilan distributif berbasis kepemilikan bersama atas sumber daya alam.⁶
Kajian atas libertarianisme kiri menjadi relevan
bukan hanya karena nilai filosofisnya, tetapi juga karena signifikansinya dalam
perdebatan politik dan ekonomi global dewasa ini. Dunia modern ditandai oleh
kesenjangan kekayaan ekstrem, konsentrasi kepemilikan sumber daya, serta krisis
ekologis yang memperlihatkan batas moral dari sistem kapitalisme
laissez-faire.⁷ Dalam situasi tersebut, libertarianisme kiri menawarkan
alternatif konseptual yang menolak dominasi negara maupun dominasi kapital,
dengan menekankan mekanisme sosial yang adil tanpa menafikan kebebasan
individual.⁸ Ia juga membuka ruang bagi gagasan kebijakan kontemporer seperti universal
basic income, land value tax, dan model ekonomi berbasis koperasi
yang berpijak pada prinsip common ownership.
Dengan demikian, bagian pendahuluan ini menegaskan
bahwa libertarianisme kiri bukan sekadar varian marginal dalam spektrum
liberalisme, melainkan upaya filosofis yang serius untuk menafsirkan ulang
hubungan antara kebebasan, hak milik, dan keadilan sosial. Tujuan utama kajian
ini adalah menguraikan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari
libertarianisme kiri, menelusuri akar historis serta implikasi kontemporernya,
dan menunjukkan bagaimana aliran ini dapat berfungsi sebagai jembatan antara
liberalisme klasik dan sosialisme egalitarian. Kajian ini juga bermaksud
memposisikan libertarianisme kiri sebagai kerangka etika politik yang mampu
mengintegrasikan kemandirian personal dengan solidaritas sosial, dalam upaya
merumuskan masyarakat yang bebas namun tidak eksploitatif.
Footnotes
[1]
¹ Peter Vallentyne and Hillel Steiner, eds., The
Origins of Left-Libertarianism: An Anthology of Historical Writings (New
York: Palgrave, 2000), 3–7.
[2]
² John Christman, “Liberalism and Individual
Positive Freedom,” Ethics 101, no. 2 (1991): 343–359.
[3]
³ Hillel Steiner, An Essay on Rights
(Oxford: Blackwell, 1994), 229–231.
[4]
⁴ Thomas Paine, Agrarian Justice (London: J.
S. Jordan, 1797), 8–12.
[5]
⁵ Pierre-Joseph Proudhon, What Is Property?
(Cambridge: Cambridge University Press, 1994 [1840]), 13–17.
[6]
⁶ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press, 2003), 22–25.
[7]
⁷ Joseph E. Stiglitz, The Price of Inequality
(New York: W.W. Norton, 2012), 45–49.
[8]
⁸ Philippe Van Parijs, Real Freedom for All:
What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995),
96–104.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis
Asal-usul
libertarianisme kiri tidak dapat dilepaskan dari dinamika panjang sejarah
intelektual Barat yang menandai pergulatan antara gagasan kebebasan individu
dan keadilan sosial. Secara genealogis, aliran ini berakar pada semangat egalitarianisme
moral yang muncul sejak era Pencerahan (The Enlightenment), ketika para
pemikir mulai mempertanyakan legitimasi kekuasaan absolut dan hak kepemilikan
feodal yang membatasi kebebasan manusia.¹ Dalam konteks ini, libertarianisme
kiri berkembang sebagai kritik terhadap dua arus besar yang mendahuluinya:
liberalisme klasik yang terlalu menekankan kebebasan negatif tanpa
memperhatikan keadilan distributif, serta sosialisme ortodoks yang cenderung
menomorduakan otonomi individu demi solidaritas kolektif.²
2.1.
Akar Awal dalam
Pemikiran Pencerahan dan Sosialisme Klasik
Pada abad ke-17 dan
18, filsafat politik mulai memusatkan perhatian pada konsep hak alami (natural
rights). Tokoh seperti John Locke menjadi salah satu inspirasi
awal, meskipun interpretasinya kemudian ditantang oleh kaum libertarian kiri.
Locke menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak milik atas dirinya sendiri (self-ownership)
serta berhak atas hasil kerjanya, namun ia juga menambahkan syarat moral bahwa
kepemilikan atas sumber daya alam hanya sah jika “masih tersisa cukup dan
sebaiknya untuk orang lain.”³ Prinsip ini—dikenal sebagai Lockean
proviso—kelak menjadi dasar bagi teori distribusi yang dikembangkan
oleh libertarianisme kiri, yang menafsirkan hak milik pribadi dalam kerangka
keadilan sosial.⁴
Gagasan yang lebih
egalitarian kemudian dikembangkan oleh Thomas Paine melalui risalahnya Agrarian
Justice (1797). Paine berpendapat bahwa bumi dan sumber daya alam
adalah milik bersama seluruh umat manusia, sehingga setiap orang berhak atas “dividen
alam” (natural
dividend) yang harus dibagikan secara merata.⁵ Paine bahkan
mengusulkan bentuk awal dari basic income, yakni pembayaran
tunai universal yang bersumber dari pajak atas tanah, sebagai kompensasi bagi
ketimpangan kepemilikan yang muncul akibat privatisasi tanah.⁶ Pandangan ini
menandai pergeseran dari hak kepemilikan absolut menuju paradigma kepemilikan
sosial yang tetap menghargai otonomi individu.
Pada pertengahan
abad ke-19, Pierre-Joseph Proudhon memperdalam arus pemikiran ini melalui
kritik radikalnya terhadap kepemilikan privat. Dalam karya terkenalnya Qu’est-ce
que la propriété? (1840), ia menegaskan bahwa “kepemilikan
adalah pencurian,” karena setiap bentuk akumulasi kepemilikan yang tidak
berdasar pada kerja pribadi berarti mengambil dari hak orang lain atas dunia
bersama.⁷ Namun, Proudhon bukanlah pendukung komunisme total; ia mengusulkan
bentuk mutualisme,
yaitu sistem ekonomi berbasis asosiasi sukarela, pertukaran adil, dan
kepemilikan kolektif atas alat produksi tanpa campur tangan negara.⁸
2.2.
Evolusi Menuju Teori
Libertarianisme Kiri Modern
Memasuki abad ke-20,
pemikiran libertarianisme kiri mengalami kebangkitan teoretis melalui upaya
para filsuf politik untuk merekonsiliasi hak individu dengan kesetaraan sosial
dalam kerangka moral yang konsisten. Di antara tokoh sentralnya adalah Hillel
Steiner, Peter Vallentyne, dan Michael Otsuka, yang dikenal sebagai generasi neo-left-libertarians.⁹
Mereka menafsirkan kembali prinsip self-ownership Locke dalam konteks
keadilan distributif modern dengan menolak dua ekstrem: kepemilikan absolut ala
libertarian kanan, dan penghapusan hak milik individu ala sosialisme klasik.
Steiner, misalnya,
berpendapat bahwa jika setiap individu memiliki hak moral yang sama atas
dirinya sendiri, maka secara logis mereka juga harus memiliki hak yang sama
atas sumber daya alam dunia.¹⁰ Oleh karena itu, setiap bentuk pemanfaatan
sumber daya oleh individu harus disertai kompensasi kepada yang lain melalui
mekanisme redistribusi yang adil.¹¹ Pemikiran ini diteruskan oleh Peter
Vallentyne dan Philippe Van Parijs yang mengembangkan gagasan real
freedom—kebebasan nyata yang tidak hanya bergantung pada ketiadaan
paksaan (negative
freedom), tetapi juga pada akses terhadap sarana material untuk
mewujudkan otonomi individu.¹²
Dalam hal ini,
libertarianisme kiri juga menunjukkan kedekatan genealogis dengan tradisi geolibertarianism
yang diinspirasi oleh Henry George.¹³ Melalui karyanya Progress
and Poverty (1879), George menolak kepemilikan tanah pribadi yang tidak
produktif dan mengusulkan pajak tunggal atas nilai tanah sebagai sarana
mewujudkan keadilan sosial tanpa meniadakan pasar bebas.¹⁴ Ide George kemudian
diadaptasi oleh para libertarian kiri modern sebagai landasan moral untuk
menyeimbangkan hak individu dan tanggung jawab sosial dalam pengelolaan sumber
daya ekonomi.
2.3.
Dialektika antara
Liberalisme dan Sosialisme
Secara genealogis,
libertarianisme kiri berada di antara dua tradisi besar: liberalisme dan
sosialisme. Dari liberalisme, ia mewarisi penghargaan terhadap kebebasan
individu dan hak milik diri (self-ownership); dari sosialisme,
ia menyerap semangat kesetaraan dan kepemilikan bersama atas sumber daya
dasar.¹⁵ Aliran ini tidak menghapus pasar, tetapi berupaya menciptakan kondisi
pasar yang etis dan bebas dari dominasi struktural—baik oleh negara maupun
korporasi besar. Dengan demikian, libertarianisme kiri dapat dipahami sebagai
bentuk “liberalisme egalitarian” yang menolak dualisme palsu antara
kebebasan dan kesetaraan.¹⁶
Melalui lintasan
sejarah tersebut, libertarianisme kiri muncul bukan sebagai cabang pinggiran
dari tradisi liberal, melainkan sebagai hasil sintesis historis yang berakar
dalam pergulatan panjang antara hak individu dan keadilan sosial. Ia menawarkan
perspektif baru terhadap masalah kepemilikan, kebebasan, dan distribusi dalam
kerangka moral yang koheren, menjadikannya salah satu teori politik paling
penting dalam upaya memahami fondasi etika masyarakat yang bebas namun adil.
Footnotes
[1]
¹ Jeremy Waldron, The Right to Private
Property (Oxford: Clarendon Press,
1988), 15–17.
[2]
² C. B. Macpherson, The
Political Theory of Possessive Individualism: Hobbes to Locke (Oxford: Clarendon Press, 1962), 213–220.
[3]
³ John Locke, Two Treatises of
Government, ed. Peter Laslett
(Cambridge: Cambridge University Press, 1988), II: §27–36.
[4]
⁴ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 82–84.
[5]
⁵ Thomas Paine, Agrarian Justice (London: J. S. Jordan, 1797), 6–10.
[6]
⁶ Philippe Van Parijs, Basic
Income: A Simple and Powerful Idea for the Twenty-First Century (Brussels: Basic Income Earth Network, 2000), 14–16.
[7]
⁷ Pierre-Joseph Proudhon, What
Is Property? (Cambridge: Cambridge
University Press, 1994 [1840]), 11–15.
[8]
⁸ Ibid., 63–66.
[9]
⁹ Peter Vallentyne and Hillel Steiner, eds., Left-Libertarianism and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 4–9.
[10]
¹⁰ Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 233–237.
[11]
¹¹ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism: Equality Based on
Self-Ownership and Equal Right to Natural Resources,” in The Stanford Encyclopedia of Philosophy, ed. Edward N. Zalta (Spring 2021 Edition).
[12]
¹² Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 25–30.
[13]
¹³ Fred Foldvary, Geo-Libertarianism: A
New Paradigm for Liberty and Justice
(San Francisco: The Foundation for Economic Justice, 1998), 5–7.
[14]
¹⁴ Henry George, Progress and Poverty (New York: Robert Schalkenbach Foundation, 1879),
218–223.
[15]
¹⁵ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 19–22.
[16]
¹⁶ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 11–13.
3.
Ontologi:
Hak, Kepemilikan, dan Kebebasan
Ontologi
libertarianisme kiri bertumpu pada upaya untuk memahami hak, kepemilikan, dan
kebebasan sebagai entitas yang saling berkelindan dalam struktur moral dan
sosial yang koheren. Berbeda dengan libertarianisme kanan yang menganggap hak
milik pribadi sebagai konsekuensi langsung dari self-ownership tanpa batas,
libertarianisme kiri memandang bahwa konsep kepemilikan dan kebebasan hanya
dapat dimengerti secara benar bila ditempatkan dalam konteks relasional—yakni
dalam hubungan antarindividu yang memiliki klaim moral yang sama terhadap
dunia.¹ Dengan demikian, ontologi libertarianisme kiri berangkat dari asumsi
bahwa eksistensi manusia bersifat ganda: individu yang otonom sekaligus bagian
dari tatanan sosial yang menuntut kesetaraan normatif dalam akses terhadap
sumber daya bersama.²
3.1.
Hak dan Diri
(Self-Ownership)
Prinsip ontologis
utama libertarianisme kiri adalah self-ownership, yaitu gagasan bahwa
setiap individu memiliki hak eksklusif atas tubuh, tenaga, dan hasil kerja
dirinya.³ Namun, kepemilikan atas diri tidak berarti kebebasan absolut untuk
menggunakan diri atau sumber daya tanpa batas, melainkan menandakan tanggung
jawab moral untuk menghormati hak yang sama pada diri orang lain.⁴ Dengan kata
lain, hak kepemilikan diri tidak eksis dalam ruang hampa, tetapi selalu berada
dalam medan sosial yang menuntut pengakuan timbal balik (reciprocal
recognition).
Dalam kerangka ini,
hak bukanlah sekadar atribut metafisik individu, tetapi ekspresi ontologis dari
kebebasan yang diartikulasikan secara sosial.⁵ Gagasan ini sejalan dengan
tradisi egalitarian Locke yang mengakui hak atas diri sekaligus hak yang sama
atas dunia bersama, namun melampaui interpretasi individualistiknya.⁶ Kaum
libertarian kiri menegaskan bahwa jika setiap individu memiliki hak yang sama
atas diri, maka secara logis mereka juga memiliki hak yang sama atas sumber
daya eksternal yang menopang keberadaan diri tersebut.⁷ Hak kepemilikan diri
dengan demikian menuntut prinsip keadilan distributif, bukan karena belas kasih
sosial, tetapi karena konsistensi moral dari konsep self-ownership itu sendiri.
3.2.
Kepemilikan dan
Dunia (World-Ownership)
Konsepsi kepemilikan
dalam libertarianisme kiri berangkat dari kritik terhadap absolutisme
kepemilikan privat. Kaum libertarian kanan, seperti Robert Nozick, berargumen
bahwa akuisisi dan transfer properti yang sah (berdasarkan prinsip kerja dan
persetujuan sukarela) sudah cukup untuk menjamin keadilan.⁸ Sebaliknya,
libertarianisme kiri berpendapat bahwa kepemilikan atas sumber daya alam tidak
dapat dilepaskan dari fakta bahwa sumber daya tersebut pada dasarnya merupakan
warisan bersama umat manusia.⁹ Tidak ada individu yang menciptakan bumi atau
bahan mentah yang menopang kehidupan; karenanya, tidak ada justifikasi moral
untuk mengklaim hak eksklusif atasnya tanpa memperhitungkan hak yang sama dari
orang lain.¹⁰
Dalam tradisi geolibertarian,
yang merupakan salah satu varian libertarianisme kiri, setiap individu diakui
memiliki saham moral yang setara dalam nilai ekonomi sumber daya alam.¹¹ Karena
itu, penggunaan tanah, air, udara, dan mineral oleh seseorang harus disertai
kompensasi yang diberikan kepada masyarakat secara kolektif—misalnya dalam
bentuk land
value tax atau universal basic income—agar
keadilan hak atas dunia tetap terpelihara.¹² Dalam kerangka ontologis ini,
dunia bukanlah objek pasif yang dimiliki, melainkan ruang moral bersama di mana
relasi kepemilikan menjadi cermin dari keadilan sosial.
Dengan demikian, world-ownership
dalam libertarianisme kiri tidak dimaksudkan untuk menghapus hak milik pribadi,
melainkan untuk menegaskan bahwa kepemilikan individu atas hasil kerja hanya
sah apabila tidak mengingkari hak bersama atas bahan mentah kehidupan.¹³
Ontologi kepemilikan di sini menjadi bersifat relasional dan distributif, bukan
individual dan absolut, karena ia mengandaikan keseimbangan antara kebebasan
personal dan klaim moral kolektif.
3.3.
Kebebasan sebagai
Relasi Non-Dominasi
Kebebasan, dalam
perspektif ontologi libertarianisme kiri, tidak dipahami semata sebagai ketiadaan
paksaan (negative
liberty), tetapi sebagai kondisi non-dominasi—yakni keadaan di mana
individu bebas dari ketergantungan material atau kekuasaan yang membuatnya
tunduk secara struktural.¹⁴ Kebebasan sejati, sebagaimana dirumuskan oleh
Philippe Van Parijs, adalah real freedom, yaitu kemampuan nyata
untuk mengejar tujuan hidup berdasarkan pilihan yang otonom dan setara.¹⁵
Dari sudut
ontologis, kebebasan demikian mensyaratkan dua hal: pertama, pengakuan atas
kedaulatan individu; kedua, jaminan bahwa setiap orang memiliki akses yang adil
terhadap sumber daya yang memungkinkan realisasi otonominya.¹⁶ Jika kebebasan
hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki modal dan sumber daya, maka kebebasan
itu sendiri menjadi bentuk dominasi terselubung.¹⁷ Karenanya, redistribusi
sumber daya bukanlah pelanggaran terhadap kebebasan, melainkan prasyarat moral
bagi kebebasan yang sejati.
Dalam struktur
realitas sosial, kebebasan dan kepemilikan membentuk dialektika ontologis:
kebebasan membutuhkan kepemilikan diri, tetapi kepemilikan diri kehilangan
makna bila dunia yang menopangnya dimonopoli oleh segelintir orang.¹⁸ Oleh
karena itu, libertarianisme kiri mengandaikan model masyarakat di mana
individu-individu berinteraksi secara bebas dalam ruang sosial yang setara, tanpa
dominasi ekonomi maupun politik. Ontologi semacam ini menegaskan bahwa
kebebasan bukanlah milik pribadi, melainkan sifat relasional dari keberadaan
manusia dalam komunitas moral yang adil.¹⁹
Footnotes
[1]
¹ Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 212–218.
[2]
² G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 90–92.
[3]
³ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 19–21.
[4]
⁴ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism and Its Moral Foundations,” Social Philosophy and Policy 22, no. 1 (2005): 31–32.
[5]
⁵ Axel Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 118–120.
[6]
⁶ John Locke, Two Treatises of
Government, ed. Peter Laslett
(Cambridge: Cambridge University Press, 1988), II: §33–36.
[7]
⁷ Vallentyne and Steiner, Left-Libertarianism
and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 6–8.
[8]
⁸ Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 151–153.
[9]
⁹ Fred Foldvary, Geo-Libertarianism: A
New Paradigm for Liberty and Justice
(San Francisco: The Foundation for Economic Justice, 1998), 9–10.
[10]
¹⁰ Henry George, Progress and Poverty (New York: Robert Schalkenbach Foundation, 1879),
223–226.
[11]
¹¹ Ibid., 230–233.
[12]
¹² Philippe Van Parijs and Yannick Vanderborght, Basic Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane
Economy (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2017), 48–52.
[13]
¹³ Hillel Steiner, “The Natural Right to the Means of Production,” Philosophical Quarterly
27, no. 106 (1977): 41–49.
[14]
¹⁴ Philip Pettit, Republicanism: A Theory
of Freedom and Government (Oxford:
Oxford University Press, 1997), 67–70.
[15]
¹⁵ Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 29–31.
[16]
¹⁶ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 12–14.
[17]
¹⁷ Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality, 103–105.
[18]
¹⁸ Otsuka, Libertarianism without
Inequality, 33–36.
[19]
¹⁹ Van Parijs, Real Freedom for All, 101–103.
4.
Epistemologi
Politik: Rasionalitas, Otonomi, dan Pengetahuan Sosial
Epistemologi politik
libertarianisme kiri berakar pada keyakinan bahwa pengetahuan tentang kebebasan
dan keadilan tidak dapat dilepaskan dari kapasitas rasional manusia untuk
menilai, berpartisipasi, dan membentuk tatanan sosial secara otonom. Dalam
tradisi filsafat politik modern, hubungan antara rasionalitas dan kebebasan
kerap dipahami secara individualistik—seolah-olah kebebasan merupakan hasil
dari keputusan rasional yang diambil oleh subjek yang terisolasi.¹ Namun,
libertarianisme kiri menolak pandangan atomistik ini. Bagi mereka, rasionalitas
bukan hanya instrumen untuk memaksimalkan kepentingan pribadi, melainkan juga
kesadaran reflektif yang memungkinkan individu mengenali posisi moralnya dalam
jaringan sosial yang saling bergantung.²
4.1.
Rasionalitas sebagai
Landasan Moral dan Sosial
Dalam kerangka
libertarianisme kiri, rasionalitas tidak direduksi menjadi kalkulasi
utilitarian, melainkan dipahami sebagai kapasitas moral untuk mengenali dan
menghormati klaim hak orang lain.³ Setiap individu dipandang sebagai agen
rasional yang mampu memahami prinsip-prinsip keadilan yang universal, termasuk
prinsip kesetaraan dalam kepemilikan sumber daya alam dan kesempatan hidup.⁴
Dengan demikian, rasionalitas di sini bersifat intersubjektif—yaitu suatu
kemampuan untuk menilai tindakan berdasarkan konsistensi moral dalam konteks
sosial.
Pemikiran ini
memiliki akar dalam tradisi kontraktualisme moral Kantian, di mana rasionalitas
dipandang sebagai dasar otonomi moral yang mengikat setiap individu untuk
memperlakukan orang lain sebagai tujuan, bukan sekadar sarana.⁵ Namun, kaum
libertarian kiri melangkah lebih jauh dengan menafsirkan otonomi moral dalam
kerangka material: seseorang hanya dapat benar-benar otonom apabila ia memiliki
akses yang adil terhadap sarana untuk mewujudkan kebebasannya.⁶ Rasionalitas,
dengan demikian, bukan hanya kesadaran normatif, tetapi juga kesadaran sosial
yang menuntut kondisi keadilan distributif agar kebebasan dapat dijalankan
secara nyata.
4.2.
Otonomi sebagai
Kesadaran Kritis terhadap Ketergantungan Sosial
Otonomi dalam
pandangan libertarianisme kiri bukanlah kemandirian absolut, melainkan bentuk self-determination
yang dihasilkan melalui interaksi sosial yang adil.⁷ Seseorang dikatakan otonom
bukan karena bebas dari masyarakat, melainkan karena berada dalam masyarakat
yang menjamin kesetaraan dalam relasi kekuasaan dan akses terhadap sumber
daya.⁸ Hal ini menandai pergeseran epistemologis dari konsep kebebasan negatif
(bebas dari paksaan) menuju kebebasan positif (kemampuan untuk menentukan diri
secara bebas).
Sebagaimana
dikemukakan oleh G. A. Cohen, kebebasan tanpa sumber daya adalah ilusi moral:
seseorang tidak dapat memilih jalan hidupnya secara rasional apabila ia tidak
memiliki sarana material untuk melakukannya.⁹ Oleh karena itu, libertarianisme
kiri menegaskan bahwa otonomi memerlukan keadilan distributif sebagai syarat
epistemologis bagi rasionalitas praktis.¹⁰ Dalam konteks ini, redistribusi
bukanlah instrumen politik eksternal, melainkan bagian dari struktur epistemik
yang memungkinkan manusia memahami dan mewujudkan kebebasan secara reflektif.
Otonomi yang sejati
juga mencakup kesadaran akan ketergantungan sosial—bahwa identitas dan
rasionalitas individu terbentuk dalam ruang komunikasi dan solidaritas.¹¹
Dengan demikian, pengetahuan moral tidak bersifat solipsistik, melainkan
dialogis dan partisipatif.¹² Setiap individu memproduksi pemahaman tentang
keadilan melalui proses sosial yang dinamis, bukan melalui refleksi diri yang
terisolasi.
4.3.
Pengetahuan Sosial
dan Kritik terhadap Epistemologi Individualistik
Epistemologi politik
libertarianisme kiri berfungsi sebagai kritik terhadap epistemologi liberal
klasik yang menempatkan individu sebagai subjek pengetahuan yang otonom dan
tertutup.¹³ Dalam paradigma liberal tradisional, keadilan dipahami sebagai
hasil dari kontrak antara individu yang telah memiliki hak dan kepentingan yang
pasti.¹⁴ Sebaliknya, libertarianisme kiri menegaskan bahwa pengetahuan tentang
keadilan harus dibangun dari kesadaran kolektif terhadap kondisi material yang
membentuk struktur sosial.¹⁵
Pengetahuan sosial (social
knowledge) dalam hal ini mengandung dimensi reflektif dan empiris:
reflektif karena berangkat dari pengakuan moral atas hak yang setara, dan
empiris karena bergantung pada pemahaman tentang distribusi sumber daya nyata
dalam masyarakat.¹⁶ Oleh karena itu, teori keadilan tidak dapat dilepaskan dari
analisis ekonomi politik—sebab ketimpangan struktural bukan hanya masalah
etika, melainkan juga masalah epistemologis yang membatasi akses manusia
terhadap kebebasan rasionalnya.¹⁷
Libertarianisme
kiri, dalam tradisi ini, menggabungkan dua bentuk rasionalitas: rasionalitas
moral (yang menuntut konsistensi normatif) dan rasionalitas sosial (yang
menuntut kesadaran akan struktur ekonomi dan kekuasaan).¹⁸ Dengan demikian,
epistemologi libertarianisme kiri tidak hanya menanyakan apa yang
benar secara moral, tetapi juga bagaimana kebenaran moral itu dapat diwujudkan
secara sosial dan material.¹⁹
Rasionalitas Kritis dalam Struktur Keadilan
Epistemologi
libertarianisme kiri berfungsi sebagai dasar bagi pembentukan struktur keadilan
yang reflektif. Pengetahuan tentang keadilan tidak bersifat apriori, tetapi
berkembang melalui praksis sosial yang rasional dan terbuka terhadap koreksi.²⁰
Dalam hal ini, teori libertarian kiri bersinggungan dengan tradisi critical
theory—khususnya dalam pandangan Jürgen Habermas tentang
rasionalitas komunikatif, di mana kebenaran moral hanya dapat dibangun melalui
partisipasi setara dalam diskursus publik.²¹
Dengan
mengintegrasikan dimensi moral dan material, libertarianisme kiri menempatkan
pengetahuan politik sebagai medan refleksi kolektif, bukan sebagai instrumen
dominasi intelektual.²² Rasionalitas menjadi sarana emansipasi, bukan
legitimasi bagi kekuasaan. Epistemologi demikian menegaskan bahwa kebebasan
sejati memerlukan dua hal: otonomi kognitif untuk berpikir secara bebas dan
kondisi sosial yang menjamin realisasi kebebasan itu.²³
Footnotes
[1]
¹ Isaiah Berlin, “Two Concepts of Liberty,” in Four Essays on Liberty
(Oxford: Oxford University Press, 1969), 131–133.
[2]
² Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 21–24.
[3]
³ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism: Equality Based on
Self-Ownership and Equal Right to Natural Resources,” The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2021 Edition).
[4]
⁴ Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 216–220.
[5]
⁵ Immanuel Kant, Groundwork of the
Metaphysics of Morals, trans. Mary
Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 44–47.
[6]
⁶ Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 34–38.
[7]
⁷ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 105–107.
[8]
⁸ Nancy Fraser, “Social Justice in the Age of Identity Politics,” in Redistribution or Recognition? (London: Verso, 2003), 19–22.
[9]
⁹ Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality, 112–114.
[10]
¹⁰ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 42–45.
[11]
¹¹ Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 97–100.
[12]
¹² Jürgen Habermas, Between
Facts and Norms (Cambridge: Polity
Press, 1996), 109–112.
[13]
¹³ Jeremy Waldron, The Right to Private
Property (Oxford: Clarendon Press,
1988), 27–29.
[14]
¹⁴ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971),
12–15.
[15]
¹⁵ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 9–11.
[16]
¹⁶ Martha Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 17–19.
[17]
¹⁷ Joseph E. Stiglitz, The
Price of Inequality (New York: W.W.
Norton, 2012), 56–59.
[18]
¹⁸ Van Parijs and Vanderborght, Basic
Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane Economy (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2017),
50–53.
[19]
¹⁹ Cohen, If You’re an
Egalitarian, How Come You’re So Rich?
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 64–67.
[20]
²⁰ Habermas, Knowledge and Human
Interests (Boston: Beacon Press,
1971), 308–310.
[21]
²¹ Jürgen Habermas, The
Theory of Communicative Action, vol.
1 (Boston: Beacon Press, 1984), 285–288.
[22]
²² Honneth, Freedom’s Right, 134–137.
[23]
²³ Van Parijs, Real Freedom for All, 101–104.
5.
Aksiologi:
Nilai, Etika, dan Keadilan Distributif
Dimensi aksiologis
dalam libertarianisme kiri menyoroti nilai-nilai moral yang mendasari hubungan
antara kebebasan, kesetaraan, dan kepemilikan bersama atas sumber daya alam.
Dalam konteks filsafat politik, aksiologi mengkaji bukan hanya apa yang benar (right),
tetapi juga apa yang baik (good)—yakni nilai-nilai yang
memberikan makna moral pada sistem keadilan yang diusulkan.¹ Bagi kaum
libertarian kiri, kebebasan dan keadilan tidak berdiri dalam hubungan
antitetis, melainkan bersifat koheren dan saling memperkuat: kebebasan individu
hanya memiliki legitimasi moral sejauh ia menghormati nilai kesetaraan sosial,
sementara kesetaraan hanya bernilai sejauh ia menjamin otonomi individu yang
bebas dari dominasi.²
5.1.
Nilai Fundamental:
Kesetaraan, Solidaritas, dan Tanggung Jawab Sosial
Tiga nilai utama
membentuk landasan etika libertarianisme kiri: kesetaraan moral, solidaritas
sosial, dan tanggung jawab bersama atas dunia.
Kesetaraan moral berarti bahwa setiap individu memiliki hak yang sama atas diri
dan atas sumber daya alam yang menopang kehidupannya.³ Nilai ini bukan sekadar
klaim politik, tetapi ekspresi ontologis dari martabat manusia yang otonom dan
rasional. Solidaritas, di sisi lain, menegaskan bahwa kebebasan bukanlah
kebebasan untuk mengabaikan orang lain, melainkan kebebasan yang
diartikulasikan dalam pengakuan timbal balik terhadap hak-hak bersama.⁴
Konsep tanggung
jawab sosial menempati posisi sentral dalam sistem nilai ini. Dalam pandangan
libertarian kiri, memiliki hak atas sumber daya berarti juga memiliki tanggung
jawab moral untuk memastikan bahwa penggunaan sumber daya tersebut tidak
merugikan hak orang lain.⁵ Etika tanggung jawab ini berakar pada gagasan bahwa
dunia bukanlah milik eksklusif individu, melainkan res communis—milik bersama yang
harus dijaga agar setiap orang dapat hidup secara bermartabat.⁶ Dengan
demikian, nilai-nilai dalam libertarianisme kiri menolak egoisme moral yang
sering dikaitkan dengan pasar bebas, tanpa menafikan peran kebebasan personal
dalam pencapaian kebaikan.
5.2.
Etika Kepemilikan:
Antara Hak dan Keadilan
Etika kepemilikan
dalam libertarianisme kiri berangkat dari reinterpretasi terhadap prinsip self-ownership.
Kaum libertarian kanan menganggap bahwa karena seseorang memiliki dirinya
sendiri, maka ia juga berhak memiliki tanpa batas segala sesuatu yang dapat ia
peroleh melalui kerja dan kontrak.⁷ Namun, libertarian kiri menegaskan bahwa
prinsip self-ownership
tidak dapat dijadikan dasar untuk monopoli sumber daya, sebab dunia tidak
diciptakan oleh individu mana pun.⁸ Oleh karena itu, kepemilikan pribadi atas
sumber daya eksternal hanya sah sejauh ia tidak mengingkari hak orang lain atas
bagian yang sama dari dunia.⁹
Dalam kerangka etika
ini, tindakan ekonomi dan politik harus tunduk pada prinsip equal
claim principle, yakni pengakuan bahwa setiap individu memiliki
klaim yang setara terhadap potensi manfaat alam semesta.¹⁰ Prinsip ini
melahirkan kewajiban moral untuk melakukan kompensasi terhadap penggunaan
sumber daya yang bersifat eksklusif, sebagaimana diusulkan dalam bentuk land value
tax atau universal basic income yang
merepresentasikan dividen sosial dari hak milik bersama.¹¹ Etika kepemilikan
demikian bukanlah bentuk sosialisme, melainkan etika liberal yang telah
dimurnikan dari ketimpangan struktural.¹²
Etika libertarian
kiri juga memiliki dimensi ekologis. Karena sumber daya alam adalah milik
bersama, maka eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan tidak hanya merupakan
pelanggaran terhadap keadilan sosial, tetapi juga terhadap prinsip moral dasar
tentang tanggung jawab antargenerasi.¹³ Dengan demikian, keadilan distributif
di sini mencakup pula keadilan ekologis: menjaga agar dunia tetap dapat
menopang kehidupan yang bebas dan setara bagi generasi yang akan datang.¹⁴
5.3.
Keadilan
Distributif: Dari Formalitas Hak ke Realitas Akses
Keadilan distributif
dalam libertarianisme kiri berfungsi sebagai koreksi terhadap interpretasi
formal atas kebebasan. Hak untuk memiliki atau bekerja tidak bermakna jika
seseorang tidak memiliki akses nyata terhadap sarana produksi dan partisipasi
sosial.¹⁵ Karena itu, prinsip keadilan distributif dalam aliran ini bukanlah
penghapusan hak milik pribadi, melainkan penegakan hak yang substantif atas
kesempatan hidup yang layak bagi semua.¹⁶
Philippe Van Parijs
memperkenalkan konsep real freedom, yakni kebebasan yang
nyata untuk melakukan pilihan hidup, yang hanya dapat diwujudkan apabila setiap
individu memiliki sumber daya minimum yang cukup untuk menolak dominasi atau
eksploitasi.¹⁷ Oleh sebab itu, distribusi pendapatan dasar universal dianggap
sebagai instrumen keadilan yang tidak hanya etis, tetapi juga konsisten dengan
prinsip kebebasan.¹⁸ Dalam kerangka ini, redistribusi bukanlah bentuk paksaan,
melainkan konsekuensi logis dari klaim moral atas sumber daya bersama.¹⁹
G. A. Cohen
menegaskan bahwa keadilan yang sejati tidak dapat bergantung hanya pada
institusi negara, melainkan juga pada ethos egalitarian di tingkat
individu.²⁰ Setiap orang, sebagai agen moral, memiliki tanggung jawab untuk
tidak mengambil keuntungan yang berlebihan dari struktur sosial yang
memungkinkannya memperoleh manfaat.²¹ Dengan demikian, keadilan distributif
bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan etika personal yang menuntut
sikap solidaritas dan keadilan internal dalam setiap tindakan sosial.²²
Harmoni antara Kebebasan dan Keadilan
Aksiologi
libertarianisme kiri menunjukkan bahwa kebebasan dan keadilan bukanlah dua
nilai yang saling meniadakan, tetapi dua aspek dari struktur moral yang sama.²³
Kebebasan tanpa keadilan menghasilkan dominasi; keadilan tanpa kebebasan
melahirkan tirani moral. Dalam harmoni keduanya, libertarianisme kiri menemukan
dasar etiknya: menciptakan tatanan sosial di mana setiap individu dapat hidup
secara bebas tanpa menindas dan tanpa ditindas.²⁴
Oleh sebab itu,
nilai tertinggi dalam aksiologi libertarianisme kiri adalah real
freedom through fairness—kebebasan yang berakar pada keadilan.²⁵
Nilai ini bukan utopia moral, melainkan horizon normatif yang mengarahkan
praksis sosial dan politik untuk terus menyeimbangkan hak individu dengan tanggung
jawab kolektif.²⁶ Dalam visi ini, etika tidak hanya membimbing perilaku
individu, tetapi juga menjadi prinsip penataan struktur sosial yang
memungkinkan manusia menjadi bebas, setara, dan saling menghormati.²⁷
Footnotes
[1]
¹ Max Scheler, Formalism in Ethics and
Non-Formal Ethics of Values
(Evanston: Northwestern University Press, 1973), 87–90.
[2]
² Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 218–220.
[3]
³ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism and Equality,” Social Philosophy and Policy 22, no. 1 (2005): 31–34.
[4]
⁴ Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 132–136.
[5]
⁵ Thomas Paine, Agrarian Justice (London: J. S. Jordan, 1797), 10–12.
[6]
⁶ Pierre-Joseph Proudhon, What
Is Property? (Cambridge: Cambridge
University Press, 1994 [1840]), 73–76.
[7]
⁷ Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 178–179.
[8]
⁸ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 19–21.
[9]
⁹ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 85–88.
[10]
¹⁰ Hillel Steiner, “The Natural Right to the Means of Production,” Philosophical Quarterly
27, no. 106 (1977): 41–49.
[11]
¹¹ Philippe Van Parijs and Yannick Vanderborght, Basic Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane
Economy (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2017), 49–52.
[12]
¹² Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 9–11.
[13]
¹³ Fred Foldvary, Geo-Libertarianism: A
New Paradigm for Liberty and Justice
(San Francisco: The Foundation for Economic Justice, 1998), 15–17.
[14]
¹⁴ Henry George, Progress and Poverty (New York: Robert Schalkenbach Foundation, 1879),
231–234.
[15]
¹⁵ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971),
73–75.
[16]
¹⁶ Martha Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 26–28.
[17]
¹⁷ Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 32–35.
[18]
¹⁸ Ibid., 101–104.
[19]
¹⁹ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism and the Ownership of Natural
Resources,” Public Affairs
Quarterly 15, no. 4 (2001): 327–330.
[20]
²⁰ G. A. Cohen, If You’re an
Egalitarian, How Come You’re So Rich?
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 77–79.
[21]
²¹ Ibid., 95–98.
[22]
²² Axel Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 114–117.
[23]
²³ Van Parijs, Real Freedom for All, 109–112.
[24]
²⁴ Vallentyne and Steiner, Left-Libertarianism
and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 12–14.
[25]
²⁵ Philippe Van Parijs, “Justice and Democracy: Are They Incompatible?”
Journal of Political Philosophy 4, no. 2 (1996): 111–113.
[26]
²⁶ Martha Nussbaum, Frontiers
of Justice (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2006), 159–162.
[27]
²⁷ Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality, 132–135.
6.
Dimensi
Sosial dan Ekonomi Libertarianisme Kiri
Dimensi sosial dan
ekonomi dalam libertarianisme kiri menegaskan bahwa kebebasan individu tidak
dapat dipahami secara terpisah dari struktur sosial dan sistem ekonomi yang
memungkinkan atau justru menghalanginya.¹ Kebebasan bukan hanya produk dari hak
formal, tetapi juga hasil dari kondisi material yang memungkinkan setiap
individu untuk hidup tanpa dominasi. Dalam konteks ini, libertarianisme kiri berupaya
mengembangkan model sosial-ekonomi yang memadukan pasar bebas dengan prinsip
kesetaraan substantif dan kepemilikan bersama atas sumber daya dasar.²
6.1.
Struktur Sosial:
Anti-Dominasi dan Egalitarianisme Relasional
Libertarianisme kiri
berpijak pada gagasan bahwa struktur sosial yang adil harus menjamin hubungan
antarindividu yang bebas dari dominasi (non-domination).³ Prinsip ini
melampaui kebebasan negatif, yang hanya menolak intervensi langsung, menuju
bentuk kebebasan positif yang berakar pada kesetaraan kekuasaan sosial dan
ekonomi.⁴ Dalam masyarakat yang terorganisasi secara adil, tidak ada individu
atau kelompok yang memiliki kekuasaan struktural untuk mengendalikan akses
orang lain terhadap sumber daya vital, seperti tanah, modal, atau informasi.⁵
Dengan demikian,
masyarakat ideal libertarian kiri bersifat egalitarian-relasional, yaitu
masyarakat di mana kebebasan individu muncul dari jaringan hubungan sosial yang
saling menghormati dan tidak eksploitatif.⁶ Struktur sosial ini tidak
meniadakan hierarki fungsional, tetapi menolak hierarki kepemilikan yang
melahirkan subordinasi. Di sini, kesetaraan bukan berarti keseragaman,
melainkan kondisi sosial di mana perbedaan kemampuan dan pilihan tidak
menimbulkan dominasi ekonomi atau politik.⁷
6.2.
Model Ekonomi: Pasar
Bebas Berkeadilan (Fair Market Economy)
Secara ekonomi,
libertarianisme kiri mengakui efisiensi dan dinamika inovatif pasar bebas,
tetapi menolak struktur kepemilikan yang membuat hasil pasar menciptakan
ketimpangan ekstrem.⁸ Pasar, dalam pandangan ini, hanya etis apabila dijalankan
di atas landasan distribusi awal yang adil atas sumber daya bersama.⁹ Hal ini
diwujudkan melalui model fair market economy—sebuah sistem
ekonomi yang mempertahankan kebebasan kontraktual dan kompetisi, namun disertai
mekanisme redistribusi yang mengoreksi ketimpangan struktural.¹⁰
Salah satu instrumen
utama yang diajukan adalah pajak nilai tanah (land
value tax), sebagaimana dipelopori oleh Henry George.¹¹ Pajak ini
bukan bentuk pengambilalihan oleh negara, melainkan mekanisme untuk memastikan
bahwa keuntungan dari sumber daya alam yang bersifat non-reproduktif dibagi
secara adil kepada semua warga.¹² Model ini dikenal juga sebagai geolibertarianism,
yang menegaskan bahwa kepemilikan pribadi atas tanah sah hanya bila disertai
kompensasi kepada komunitas.¹³
Selain itu, konsep pendapatan
dasar universal (universal basic income) yang
dikembangkan oleh Philippe Van Parijs menjadi elemen penting dari ekonomi
libertarian kiri.¹⁴ Pendapatan dasar ini bukan sekadar kebijakan kesejahteraan,
melainkan realisasi dari prinsip moral bahwa setiap individu berhak atas bagian
yang sama dari nilai sosial dan sumber daya alam.¹⁵ Dengan demikian,
redistribusi di sini bukanlah bentuk “pemberian” oleh negara, tetapi
pengembalian hak yang sah kepada seluruh anggota masyarakat.¹⁶
6.3.
Koperasi dan Ekonomi
Partisipatif
Dalam tataran mikro,
libertarianisme kiri menekankan pentingnya kepemilikan partisipatif
melalui model koperasi, usaha sosial, dan jaringan ekonomi berbasis
komunitas.¹⁷ Model ini menolak bentuk kapitalisme hierarkis yang memisahkan
pemilik dari pekerja, dan sebaliknya menegakkan prinsip demokrasi ekonomi di
mana setiap partisipan memiliki suara dan kepemilikan yang proporsional
terhadap kontribusinya.¹⁸
Ekonomi partisipatif
bukan sekadar alternatif teknis, tetapi manifestasi etika kebebasan yang
setara.¹⁹ Dengan menghapus struktur dominasi internal di tempat kerja, model
ini memperluas makna kebebasan ke dalam ranah produksi, sehingga otonomi
individu tidak berhenti di ruang politik, tetapi juga mencakup ruang ekonomi.²⁰
Dalam konteks ini, pasar tetap ada, tetapi diisi oleh pelaku ekonomi yang
setara dalam posisi moral dan hak kepemilikan.²¹
Model koperatif dan
ekonomi partisipatif juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran sosial (social
learning process).²² Melalui keterlibatan langsung dalam
pengambilan keputusan dan manajemen sumber daya, individu mengembangkan
kesadaran moral dan rasionalitas kolektif yang menjadi fondasi bagi masyarakat
non-dominatif.²³
6.4.
Dimensi Ekologi dan
Keadilan Antar-Generasi
Selain aspek sosial
dan ekonomi, libertarianisme kiri memuat dimensi ekologis yang kuat. Karena
sumber daya alam dipandang sebagai milik bersama umat manusia, penggunaan dan
eksploitasi lingkungan harus tunduk pada prinsip keadilan antar-generasi (intergenerational
justice).²⁴ Eksploitasi yang berlebihan dianggap sebagai bentuk
dominasi temporal, di mana generasi sekarang menindas generasi mendatang
melalui konsumsi sumber daya yang tak terbarukan.²⁵
Keadilan ekologis
dalam kerangka libertarian kiri menuntut agar setiap individu memiliki hak
setara atas kapasitas bumi untuk menopang kehidupan.²⁶ Prinsip ini menegaskan
tanggung jawab moral untuk melindungi ekosistem sebagai syarat keberlanjutan
kebebasan manusia.²⁷ Dalam kerangka ini, kebebasan ekologis menjadi bagian
integral dari kebebasan sosial—karena kebebasan manusia bergantung pada
keseimbangan biosfer yang adil dan lestari.²⁸
Sinergi Sosial: Masyarakat Bebas tanpa Dominasi
Dimensi
sosial-ekonomi libertarianisme kiri berpuncak pada cita-cita masyarakat
bebas tanpa dominasi—sebuah tatanan di mana kebebasan individu
diwujudkan melalui struktur sosial yang egaliter dan mekanisme ekonomi yang
berkeadilan.²⁹ Dalam masyarakat semacam ini, negara bukanlah instrumen kontrol,
melainkan fasilitator bagi distribusi hak dan akses yang setara.³⁰
Masyarakat yang
diidealkan libertarian kiri bersifat decentralized yet cooperative:
terdesentralisasi secara politik, tetapi terkoordinasi secara moral melalui
prinsip tanggung jawab bersama.³¹ Kebebasan di sini bukanlah kebebasan untuk
mengeksploitasi, tetapi kebebasan untuk hidup dalam tatanan sosial yang
memelihara otonomi dan kesejahteraan bersama.³²
Dengan demikian,
libertarianisme kiri menyajikan paradigma sosial-ekonomi yang unik: ia
mempertahankan semangat liberalisme klasik terhadap kebebasan individu, namun
menambahkan landasan moral egalitarian dan ekologis yang menuntut tanggung
jawab sosial.³³ Paradigma ini menawarkan jalan tengah antara kapitalisme
laissez-faire dan sosialisme negara—sebuah masyarakat pasar yang manusiawi,
setara, dan bebas dari dominasi struktural.³⁴
Footnotes
[1]
¹ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 91–93.
[2]
² Peter Vallentyne and Hillel Steiner, Left-Libertarianism and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 5–7.
[3]
³ Philip Pettit, Republicanism: A Theory
of Freedom and Government (Oxford:
Oxford University Press, 1997), 55–58.
[4]
⁴ Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 102–106.
[5]
⁵ Nancy Fraser, Fortunes of Feminism:
From State-Managed Capitalism to Neoliberal Crisis (London: Verso, 2013), 42–45.
[6]
⁶ Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 125–127.
[7]
⁷ Iris Marion Young, Justice
and the Politics of Difference
(Princeton: Princeton University Press, 1990), 30–33.
[8]
⁸ Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 179–182.
[9]
⁹ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 39–41.
[10]
¹⁰ Peter Vallentyne, “Equality and Fairness in Markets,” Journal of Political Philosophy 10, no. 4 (2002): 412–415.
[11]
¹¹ Henry George, Progress and Poverty (New York: Robert Schalkenbach Foundation, 1879),
230–233.
[12]
¹² Fred Foldvary, Geo-Libertarianism: A
New Paradigm for Liberty and Justice
(San Francisco: The Foundation for Economic Justice, 1998), 7–9.
[13]
¹³ Ibid., 12–14.
[14]
¹⁴ Philippe Van Parijs and Yannick Vanderborght, Basic Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane
Economy (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2017), 44–47.
[15]
¹⁵ Van Parijs, Real Freedom for All:
What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 27–30.
[16]
¹⁶ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 10–13.
[17]
¹⁷ David Schweickart, After
Capitalism (Lanham, MD: Rowman &
Littlefield, 2011), 65–68.
[18]
¹⁸ Richard Wolff, Democracy at Work: A
Cure for Capitalism (Chicago:
Haymarket Books, 2012), 51–53.
[19]
¹⁹ Erik Olin Wright, Envisioning
Real Utopias (London: Verso, 2010),
83–86.
[20]
²⁰ Ibid., 90–93.
[21]
²¹ G. A. Cohen, If You’re an
Egalitarian, How Come You’re So Rich?
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 80–83.
[22]
²² Honneth, Freedom’s Right, 141–143.
[23]
²³ Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: Polity Press, 1996), 135–138.
[24]
²⁴ Bryan Norton, Sustainability: A Philosophy
of Adaptive Ecosystem Management
(Chicago: University of Chicago Press, 2005), 23–26.
[25]
²⁵ Henry Shue, Climate Justice:
Vulnerability and Protection
(Oxford: Oxford University Press, 2014), 56–58.
[26]
²⁶ Andrew Dobson, Justice and the
Environment: Conceptions of Environmental Sustainability and Theories of
Distributive Justice (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 40–43.
[27]
²⁷ Martha Nussbaum, Frontiers
of Justice (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2006), 160–163.
[28]
²⁸ Honneth, The Idea of Social Freedom, in Recognition
or Disrespect (Cambridge: Polity
Press, 2007), 122–125.
[29]
²⁹ Van Parijs, Real Freedom for All, 100–104.
[30]
³⁰ Otsuka, Libertarianism without
Inequality, 66–68.
[31]
³¹ Vallentyne and Steiner, Left-Libertarianism
and Its Critics, 10–12.
[32]
³² Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality, 134–137.
[33]
³³ Van Parijs and Vanderborght, Basic
Income, 52–55.
[34]
³⁴ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World,
15–18.
7.
Kritik
dan Klarifikasi Filosofis
Dalam konteks wacana
filsafat politik kontemporer, libertarianisme kiri menghadapi berbagai kritik
yang berasal dari tiga arah utama: (1) libertarianisme kanan yang menolak
dimensi redistributifnya; (2) sosialisme dan marxisme yang menganggapnya masih
terlalu individualistik; dan (3) liberalisme egalitarian yang menilai struktur
konseptualnya tidak sepenuhnya memadai untuk menopang teori keadilan
distributif yang koheren.¹ Kritik-kritik ini penting bukan hanya untuk menilai
kekuatan dan kelemahan libertarianisme kiri, tetapi juga untuk memperjelas
posisi filosofisnya dalam peta teori keadilan modern.
7.1.
Kritik dari
Libertarianisme Kanan: Tuduhan terhadap Redistribusi sebagai Pelanggaran Hak
Kaum libertarian
kanan, terutama yang mengikuti tradisi Robert Nozick, menolak prinsip
redistribusi yang dianut oleh libertarianisme kiri dengan alasan bahwa tindakan
semacam itu melanggar hak kepemilikan diri (self-ownership).² Menurut Nozick,
setiap bentuk redistribusi kekayaan, bahkan jika dimaksudkan untuk memperbaiki
ketimpangan, merupakan bentuk paksaan yang tidak sah karena memaksa individu
menyerahkan hasil kerjanya untuk kepentingan orang lain.³ Dalam kerangka ini,
hak milik pribadi dianggap sebagai konsekuensi logis dari hak atas diri, dan
karena itu tidak boleh diganggu gugat oleh mekanisme negara atau komunitas.
Libertarianisme kiri
menanggapi keberatan ini dengan mengajukan klarifikasi bahwa prinsip
redistribusi mereka bukanlah bentuk pelanggaran hak, tetapi justru ekspresi
konsistensi moral dari self-ownership.⁴ Jika setiap
individu memiliki hak atas diri dan dunia secara setara, maka tidak ada seorang
pun yang berhak mengeksploitasi sumber daya yang seharusnya menjadi milik
bersama tanpa memberikan kompensasi yang setimpal.⁵ Dalam hal ini, redistribusi
bukanlah intervensi eksternal terhadap hak individu, melainkan pemulihan atas
hak-hak yang dilanggar oleh monopoli kepemilikan.⁶
Michael Otsuka
menegaskan bahwa libertarianisme kiri tidak menolak prinsip kebebasan negatif,
tetapi melengkapinya dengan dimensi moral yang memastikan bahwa kebebasan
tersebut berlaku universal, bukan hanya untuk mereka yang memiliki modal.⁷
Dengan demikian, kritik libertarian kanan gagal memahami bahwa keadilan
distributif di sini bukan instrumen politik, melainkan konsekuensi etis dari
struktur hak yang setara.
7.2.
Kritik dari
Sosialisme dan Marxisme: Individualisme dan Kekaburan Kelas
Dari arah
berlawanan, kaum sosialis dan marxis mengkritik libertarianisme kiri karena
masih mempertahankan ontologi individualistik.⁸ Bagi mereka, konsep self-ownership
yang menjadi dasar teori ini tetap mengandung asumsi borjuis—yakni pandangan
bahwa individu adalah entitas terpisah yang dapat memiliki dan mengontrol
tenaga serta hasil kerjanya.⁹ Karl Marx, dalam Critique of the Gotha Programme,
menolak gagasan ini dengan menyatakan bahwa hak milik individu atas kerja
merupakan bentuk fetisisme yang mengabaikan kenyataan bahwa produksi selalu
bersifat sosial.¹⁰
Kritik ini menyoroti
kelemahan ontologis libertarianisme kiri dalam menjelaskan relasi kelas dan
produksi.¹¹ Teori ini memang mengakui ketimpangan distribusi, tetapi tidak
sepenuhnya menguraikan bagaimana struktur kekuasaan kapitalis terbentuk melalui
kepemilikan alat produksi dan relasi upah.¹² Akibatnya, libertarianisme kiri
dinilai hanya menyentuh permukaan masalah ketimpangan ekonomi tanpa menggugat
basis material dari sistem tersebut.
Sebagai tanggapan,
para filsuf seperti Peter Vallentyne dan Hillel Steiner menegaskan bahwa
libertarianisme kiri tidak menolak kenyataan sosial dari produksi, tetapi
berusaha menyeimbangkan hak individu dengan prinsip keadilan kolektif tanpa
mengorbankan kebebasan pribadi.¹³ Mereka berargumen bahwa sosialisme negara
sering kali gagal karena menghapus kepemilikan individu, padahal hak personal
atas diri merupakan syarat ontologis kebebasan.¹⁴ Dalam kerangka ini,
libertarianisme kiri menawarkan jalan tengah antara kolektivisme total dan
individualisme laissez-faire—sebuah sistem di mana hak diri tetap dijaga,
sementara hasil dari sumber daya bersama didistribusikan secara adil.¹⁵
7.3.
Kritik dari Liberalisme
Egalitarian: Ketegangan antara Kebebasan dan Kesetaraan
Liberalisme
egalitarian, seperti yang dikembangkan oleh John Rawls dan Martha Nussbaum,
mengkritik libertarianisme kiri karena dianggap tidak memiliki landasan
institusional yang kuat untuk menjamin keadilan distributif.¹⁶ Rawls, misalnya,
berpendapat bahwa kesetaraan formal dalam hak tidak cukup untuk mengatasi
ketimpangan struktural yang bersumber dari faktor-faktor sosial dan ekonomi.¹⁷
Ia memperkenalkan prinsip difference principle, yakni ketidaksetaraan
hanya sah apabila menguntungkan pihak yang paling tidak beruntung.¹⁸
Kaum libertarian
kiri menyambut kritik ini dengan mengklarifikasi bahwa mereka tidak menolak
peran institusi, tetapi memandang keadilan sebagai prinsip moral yang harus
mendahului desain kelembagaan.¹⁹ Bagi mereka, teori Rawls terlalu bergantung
pada distribusi hasil (outcome distribution), sedangkan
libertarianisme kiri menekankan distribusi hak awal (initial
rights) atas sumber daya.²⁰ Artinya, keadilan bukan soal membagi hasil
kerja, melainkan memastikan bahwa semua individu memulai dari posisi moral yang
setara dalam kepemilikan dunia.²¹
Selain itu, Van
Parijs berupaya menjembatani kedua pendekatan tersebut melalui gagasan real
freedom, yang menekankan pentingnya kebijakan sosial seperti
pendapatan dasar universal untuk memastikan kebebasan substantif.²² Dalam
pengertian ini, libertarianisme kiri tidak menolak kerangka Rawlsian, melainkan
melengkapinya dengan dasar moral yang lebih kuat atas kepemilikan bersama dan
kebebasan otonom.²³
Klarifikasi Filosofis: Posisi Ontologis dan Moral Libertarianisme Kiri
Klarifikasi
filosofis diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman yang sering muncul bahwa
libertarianisme kiri hanyalah versi “lunak” dari sosialisme atau versi “progresif”
dari libertarianisme kanan.²⁴ Secara ontologis, libertarianisme kiri menegaskan
dua tesis fundamental: (1) individu memiliki hak penuh atas dirinya sendiri;
dan (2) seluruh manusia memiliki hak yang sama atas sumber daya alam dunia.²⁵
Dari dua tesis ini, muncul implikasi normatif bahwa keadilan mensyaratkan
kompensasi bagi mereka yang dirugikan oleh penggunaan eksklusif sumber daya
oleh individu atau kelompok tertentu.²⁶
Dengan demikian,
libertarianisme kiri bukanlah teori tentang intervensi negara, melainkan teori
hak yang menegaskan batas moral terhadap dominasi ekonomi dan sosial.²⁷ Dalam
kerangka ini, negara hanya berfungsi sebagai fasilitator bagi keadilan
distributif—bukan sebagai pengendali ekonomi, melainkan sebagai penjaga hak
moral atas dunia bersama.²⁸
Secara moral,
libertarianisme kiri memperkenalkan konsep reciprocal liberty: kebebasan yang
sah hanya bila kebebasan orang lain dijamin secara setara.²⁹ Prinsip ini
berakar pada gagasan bahwa nilai moral tertinggi bukanlah akumulasi kekayaan,
tetapi pengakuan atas martabat manusia sebagai agen rasional yang saling
bergantung dalam dunia bersama.³⁰ Dengan demikian, libertarianisme kiri tidak
hanya memperluas horizon liberalisme klasik, tetapi juga menyusun kerangka
etika sosial baru yang mengintegrasikan kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas
ke dalam satu sistem normatif yang konsisten.³¹
Footnotes
[1]
¹ Peter Vallentyne and Hillel Steiner, Left-Libertarianism and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 5–7.
[2]
² Robert Nozick, Anarchy, State, and
Utopia (New York: Basic Books,
1974), 149–153.
[3]
³ Ibid., 160–162.
[4]
⁴ Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 233–236.
[5]
⁵ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism and Equality,” Social Philosophy and Policy 22, no. 1 (2005): 31–34.
[6]
⁶ Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 27–30.
[7]
⁷ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 33–36.
[8]
⁸ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 87–89.
[9]
⁹ Karl Marx, Critique of the Gotha
Programme (New York: International
Publishers, 1938), 11–13.
[10]
¹⁰ Ibid., 15–17.
[11]
¹¹ Erik Olin Wright, Envisioning
Real Utopias (London: Verso, 2010),
75–77.
[12]
¹² Nancy Fraser, Scales of Justice:
Reimagining Political Space in a Globalizing World (Cambridge: Polity Press, 2008), 28–30.
[13]
¹³ Vallentyne and Steiner, Left-Libertarianism
and Its Critics, 9–11.
[14]
¹⁴ Steiner, An Essay on Rights, 237–239.
[15]
¹⁵ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 12–15.
[16]
¹⁶ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971),
65–70.
[17]
¹⁷ Ibid., 83–85.
[18]
¹⁸ Ibid., 102–104.
[19]
¹⁹ Philippe Van Parijs and Yannick Vanderborght, Basic Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane
Economy (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2017), 49–52.
[20]
²⁰ Peter Vallentyne, “Equality, Efficiency, and the Priority of the
Worse-Off,” Economics and
Philosophy 16, no. 1 (2000): 11–14.
[21]
²¹ Hillel Steiner, “The Natural Right to the Means of Production,” Philosophical Quarterly
27, no. 106 (1977): 41–49.
[22]
²² Van Parijs, Real Freedom for All, 98–101.
[23]
²³ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World,
18–20.
[24]
²⁴ Cohen, If You’re an
Egalitarian, How Come You’re So Rich?
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 77–79.
[25]
²⁵ Vallentyne and Steiner, Left-Libertarianism
and Its Critics, 14–16.
[26]
²⁶ Otsuka, Libertarianism without
Inequality, 42–44.
[27]
²⁷ Van Parijs and Vanderborght, Basic
Income, 54–56.
[28]
²⁸ Vallentyne, “Left-Libertarianism and Equality,” 36–38.
[29]
²⁹ Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 133–136.
[30]
³⁰ Martha Nussbaum, Frontiers
of Justice (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2006), 160–162.
[31]
³¹ Philippe Van Parijs, “Justice and Democracy: Are They Incompatible?”
Journal of Political Philosophy 4, no. 2 (1996): 111–114.
8.
Relevansi
Kontemporer
Dalam lanskap
politik, ekonomi, dan etika global abad ke-21, libertarianisme kiri memperoleh
relevansi baru sebagai paradigma normatif yang berupaya menjembatani jurang
antara kebebasan individu dan keadilan sosial dalam kondisi modern.¹
Ketimpangan ekonomi global, krisis ekologis, serta transformasi digital telah
menantang paradigma liberal klasik yang terlalu menitikberatkan pada kebebasan
negatif, sekaligus membatasi efektivitas sosialisme negara yang mengekang
otonomi individu. Dalam konteks inilah, libertarianisme kiri tampil sebagai
alternatif filosofis yang menegaskan bahwa kebebasan sejati hanya mungkin
terwujud dalam tatanan sosial yang egalitarian, berkeadilan distributif, dan
ekologis berkelanjutan.²
8.1.
Relevansi terhadap
Keadilan Ekonomi Global
Krisis ketimpangan
ekonomi global telah mencapai tingkat yang membahayakan stabilitas sosial dan
politik.³ Menurut data Oxfam International (2023), 1%
populasi terkaya dunia menguasai hampir separuh kekayaan global, sementara
miliaran orang hidup dalam kondisi tanpa akses terhadap sumber daya dasar
seperti tanah, air, dan teknologi.⁴ Kondisi ini menunjukkan bahwa prinsip hak
milik absolut yang dipertahankan oleh sistem kapitalisme neoliberal telah gagal
menyediakan basis moral bagi keadilan ekonomi.
Dalam situasi
tersebut, libertarianisme kiri menawarkan landasan moral yang kuat untuk
meninjau kembali konsep kepemilikan global. Prinsip equal claim to the earth yang
diajukan oleh Hillel Steiner dan Peter Vallentyne menegaskan bahwa setiap
individu, tanpa memandang tempat lahir atau status kewarganegaraan, memiliki
hak moral yang sama atas nilai ekonomi sumber daya alam dunia.⁵ Prinsip ini,
jika diterapkan secara internasional, dapat mendasari model kebijakan seperti global
resource dividend (dividen sumber daya global) atau pajak karbon
internasional yang digunakan untuk mendanai kesejahteraan universal.⁶
Philippe Van Parijs
mengembangkan gagasan tersebut melalui konsep global basic income—pendapatan
dasar universal lintas negara—yang didasarkan pada klaim moral atas nilai
bersama bumi dan produktivitas global.⁷ Dengan demikian, libertarianisme kiri
memberikan arah konseptual bagi rekonstruksi etika ekonomi dunia yang lebih
setara dan inklusif tanpa meniadakan dinamika pasar bebas.
8.2.
Relevansi terhadap
Ekonomi Digital dan Kepemilikan Data
Era digital telah
menciptakan bentuk baru dari kepemilikan dan dominasi: kontrol atas data,
algoritme, dan infrastruktur informasi.⁸ Dalam ekonomi berbasis pengetahuan,
nilai tidak lagi hanya berasal dari tanah atau tenaga, tetapi juga dari
informasi yang dikumpulkan, disimpan, dan dimonetisasi oleh korporasi teknologi
global.⁹ Fenomena ini menimbulkan pertanyaan moral baru tentang siapa yang
berhak atas “nilai digital bersama” yang dihasilkan oleh interaksi
sosial jutaan individu secara kolektif.
Libertarianisme kiri
memiliki relevansi yang mendalam dalam konteks ini karena prinsip common
ownership of resources dapat diperluas menjadi common
ownership of digital data.¹⁰ Sebagaimana bumi merupakan warisan
bersama umat manusia, data digital dapat dipandang sebagai hasil produksi
sosial yang hakikatnya tidak dapat dimiliki secara eksklusif.¹¹ Oleh karena
itu, kompensasi terhadap penggunaan data publik oleh korporasi swasta, dalam
bentuk digital
dividend atau data tax, dapat dilihat sebagai
implementasi praktis dari prinsip moral libertarianisme kiri di abad digital.¹²
Dengan memperluas
logika kepemilikan bersama ke ranah informasi, libertarianisme kiri memberikan
kerangka etika untuk menghadapi tantangan ekonomi platform—menolak monopoli
teknologi tanpa menolak kebebasan inovasi.¹³
8.3.
Relevansi terhadap
Krisis Ekologis dan Keadilan Iklim
Dalam era krisis
iklim, libertarianisme kiri juga menawarkan kerangka moral bagi politik
lingkungan global. Prinsip keadilan ekologis yang inheren dalam teori ini
menegaskan bahwa generasi kini tidak memiliki hak untuk mengeksploitasi sumber
daya dengan cara yang mengorbankan generasi mendatang.¹⁴ Pemikiran ini sejalan
dengan konsep intergenerational justice yang
dikembangkan dalam filsafat politik lingkungan, di mana kebebasan manusia masa
depan merupakan bagian integral dari tanggung jawab moral manusia masa kini.¹⁵
Hillel Steiner
menyatakan bahwa hak atas dunia mencakup hak atas “kondisi ekologis yang
layak untuk kehidupan.”¹⁶ Oleh karena itu, polusi, deforestasi, dan
perubahan iklim dapat dipandang sebagai pelanggaran terhadap hak milik bersama
global.¹⁷ Implementasi konkret dari prinsip ini dapat ditemukan dalam kebijakan
carbon
dividend—pembagian manfaat ekonomi dari pajak karbon kepada seluruh
warga dunia sebagai pemegang hak kolektif atas atmosfer.¹⁸
Dengan menggabungkan
kebebasan individu dan tanggung jawab ekologis, libertarianisme kiri menolak
dikotomi palsu antara ekonomi dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa menjaga bumi
bukanlah pengorbanan kebebasan, tetapi prasyarat eksistensial bagi kelangsungan
kebebasan itu sendiri.¹⁹
8.4.
Relevansi terhadap
Demokrasi dan Partisipasi Sosial
Selain relevansi
ekonomi dan ekologis, libertarianisme kiri juga memiliki dimensi sosial-politik
yang signifikan dalam konteks krisis demokrasi modern. Ketimpangan ekonomi yang
ekstrem telah mengikis kemampuan warga negara untuk berpartisipasi secara
sejajar dalam proses politik.²⁰ Ketika kebebasan politik dikendalikan oleh
kekuatan modal dan teknologi, demokrasi kehilangan substansinya sebagai ruang
deliberasi rasional dan egaliter.²¹
Dalam hal ini,
libertarianisme kiri menawarkan pembaruan etika politik melalui gagasan participatory
freedom—yakni kebebasan yang hanya bermakna bila disertai kemampuan
nyata untuk berpartisipasi dalam keputusan kolektif.²² Model demokrasi yang
diidealkan adalah demokrasi substantif, bukan sekadar
prosedural, di mana partisipasi politik dipandang sebagai ekspresi kebebasan
otonom yang terwujud dalam solidaritas sosial.²³
Dengan menekankan
pentingnya redistribusi sumber daya dan jaminan ekonomi dasar, libertarianisme
kiri menyediakan prasyarat material bagi demokrasi yang sehat: masyarakat yang
bebas dari dominasi ekonomi akan lebih mampu berpikir, berdebat, dan menentukan
nasibnya secara rasional.²⁴
Sintesis Relevansi: Menuju Etika Global Keadilan Non-Dominatif
Relevansi
libertarianisme kiri dalam konteks kontemporer terletak pada kemampuannya untuk
menyatukan tiga agenda besar zaman ini: keadilan ekonomi, keadilan ekologis,
dan keadilan digital.²⁵ Dalam dunia yang semakin saling terhubung namun
terfragmentasi secara moral, teori ini menyediakan prinsip universal yang
sederhana namun revolusioner: bahwa kebebasan hanya bernilai bila setiap orang
memiliki hak yang sama untuk menjadi bebas.²⁶
Dengan demikian,
libertarianisme kiri bukan sekadar teori politik, melainkan etika global
baru—suatu paradigma normatif yang menolak dominasi dalam segala bentuknya,
baik ekonomi, teknologi, maupun ekologis.²⁷ Dalam dunia yang menghadapi ancaman
kesenjangan struktural dan kerusakan lingkungan, prinsip self-ownership
with equal world-ownership menjadi dasar moral untuk membangun
peradaban yang berkelanjutan dan berkeadilan.²⁸
Footnotes
[1]
¹ Peter Vallentyne and Hillel Steiner, Left-Libertarianism and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 12–15.
[2]
² G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 132–134.
[3]
³ Thomas Piketty, Capital and Ideology (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2020),
17–19.
[4]
⁴ Oxfam International, Survival
of the Richest: How We Must Tax the Super-Rich Now to Fight Inequality (Oxford: Oxfam, 2023), 4–6.
[5]
⁵ Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 222–224.
[6]
⁶ Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 90–92.
[7]
⁷ Philippe Van Parijs and Yannick Vanderborght, Basic Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane
Economy (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2017), 54–58.
[8]
⁸ Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs,
2019), 11–14.
[9]
⁹ Nick Srnicek, Platform Capitalism (Cambridge: Polity Press, 2017), 42–44.
[10]
¹⁰ Jaron Lanier, Who Owns the Future? (New York: Simon & Schuster, 2013), 15–18.
[11]
¹¹ Evgeny Morozov, To Save Everything,
Click Here (New York: PublicAffairs,
2013), 67–70.
[12]
¹² Dirk Helbing, “Democracy in the Digital Age,” Nature Human Behaviour
3, no. 4 (2019): 293–295.
[13]
¹³ Luciano Floridi, The
Ethics of Information (Oxford:
Oxford University Press, 2013), 121–124.
[14]
¹⁴ Andrew Dobson, Justice and the
Environment (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 40–42.
[15]
¹⁵ Henry Shue, Climate Justice:
Vulnerability and Protection
(Oxford: Oxford University Press, 2014), 61–63.
[16]
¹⁶ Hillel Steiner, “Just Taxation and International Justice,” Social Philosophy and Policy 23, no. 1 (2006): 1–15.
[17]
¹⁷ Bryan Norton, Sustainability: A
Philosophy of Adaptive Ecosystem Management (Chicago: University of Chicago Press, 2005), 23–26.
[18]
¹⁸ Joseph E. Stiglitz, The
Price of Inequality (New York: W.W.
Norton, 2012), 230–233.
[19]
¹⁹ Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 138–140.
[20]
²⁰ Nancy Fraser, Scales of Justice:
Reimagining Political Space in a Globalizing World (Cambridge: Polity Press, 2008), 15–18.
[21]
²¹ Colin Crouch, Post-Democracy (Cambridge: Polity Press, 2004), 34–37.
[22]
²² Jürgen Habermas, Between
Facts and Norms (Cambridge: Polity
Press, 1996), 110–113.
[23]
²³ Iris Marion Young, Inclusion
and Democracy (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 45–48.
[24]
²⁴ Van Parijs and Vanderborght, Basic
Income, 62–65.
[25]
²⁵ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 17–20.
[26]
²⁶ Martha Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 28–30.
[27]
²⁷ Axel Honneth, Recognition or
Disrespect: The Normative Foundations of Critical Theory (Cambridge: Polity Press, 2007), 121–124.
[28]
²⁸ Philippe Van Parijs, “Justice and Democracy: Are They Incompatible?”
Journal of Political Philosophy 4, no. 2 (1996): 111–114.
9.
Sintesis
Filosofis
Sintesis filosofis
libertarianisme kiri terletak pada upaya integratifnya untuk menyatukan tiga
nilai dasar yang sering kali dianggap berseberangan dalam filsafat politik modern:
kebebasan
individu, kesetaraan sosial, dan tanggung
jawab moral terhadap dunia bersama.¹ Melalui sintesis ini,
libertarianisme kiri membangun sebuah kerangka normatif yang berusaha melampaui
dikotomi klasik antara liberalisme individualistik dan sosialisme
kolektivistik. Ia berupaya menegakkan suatu tatanan moral dan politik di mana
kebebasan tidak lagi diartikan sebagai hak eksklusif individu yang terpisah,
tetapi sebagai kondisi bersama yang hanya dapat terwujud dalam masyarakat yang
adil dan egaliter.²
9.1.
Integrasi antara
Self-Ownership dan World-Ownership
Prinsip paling
fundamental dalam sintesis libertarianisme kiri adalah rekonsiliasi antara dua
hak ontologis yang sering dipertentangkan: hak kepemilikan diri (self-ownership)
dan hak bersama atas dunia (world-ownership).³ Secara
konseptual, libertarianisme kanan cenderung menegaskan self-ownership
tanpa batas, sedangkan sosialisme menekankan world-ownership dengan mengorbankan
kebebasan personal. Libertarianisme kiri menolak ekstrem keduanya dengan menunjukkan
bahwa kedua hak tersebut justru bersifat koheren dan saling melengkapi.
Sebagaimana
dijelaskan oleh Hillel Steiner, kepemilikan diri berarti setiap individu adalah
penguasa moral atas tubuh dan tenaganya, tetapi hal itu tidak berarti bahwa ia
memiliki hak absolut atas sumber daya eksternal yang menopang kehidupannya.⁴
Setiap individu memiliki klaim yang sama atas dunia, dan karena itu setiap
tindakan yang mengubah dunia—seperti penguasaan tanah, air, atau energi—secara
moral harus disertai kompensasi terhadap hak yang sama dari orang lain.⁵ Dengan
demikian, self-ownership
menjadi bermakna secara etis hanya bila dipadukan dengan equal
world-ownership, menghasilkan struktur moral yang simultan:
kebebasan tanpa dominasi dan kepemilikan tanpa eksploitasi.⁶
Prinsip ini
menciptakan basis normatif bagi sistem sosial di mana setiap individu bebas
mengembangkan dirinya, tetapi kebebasan tersebut dibatasi oleh keadilan
distributif yang menjaga kesetaraan akses terhadap dunia bersama.⁷ Dalam
kerangka ini, hak individu dan hak kolektif tidak saling meniadakan, melainkan
membentuk simetri moral yang menjamin kebebasan sejati bagi semua.
9.2.
Rasionalitas
Emansipatoris dan Keadilan Reflektif
Dari sudut
epistemologis, libertarianisme kiri menyatukan dua tradisi besar dalam filsafat
modern: rasionalisme moral Kantian dan empirisme sosial yang berakar pada teori
keadilan Rawlsian.⁸ Rasionalitas tidak lagi dipahami sebagai instrumen
individual untuk memaksimalkan kepentingan pribadi, tetapi sebagai kesadaran
reflektif yang memungkinkan pengakuan timbal balik atas hak yang setara.⁹ Dalam
pengertian ini, rasionalitas bersifat emansipatoris: ia membebaskan manusia
dari struktur dominasi melalui pemahaman moral yang rasional tentang
kebersamaan.¹⁰
Konsep reflective
justice yang terkandung dalam teori libertarianisme kiri
menunjukkan bahwa keadilan bukanlah sekadar hasil dari kalkulasi politik,
tetapi produk dari proses reflektif yang terus menerus antara individu dan
masyarakat.¹¹ Peter Vallentyne menyebutnya sebagai “keadilan yang timbul
dari konsistensi moral”—yakni keadilan yang tidak dipaksakan dari luar,
tetapi tumbuh dari kesadaran bahwa kebebasan pribadi hanya mungkin bila
kebebasan orang lain dijamin dalam struktur sosial yang setara.¹²
Rasionalitas emansipatoris
ini menolak reduksi moral terhadap legalisme atau utilitarianisme semata. Ia
menggabungkan prinsip kebebasan rasional dengan solidaritas sosial yang
reflektif, menghasilkan bentuk keadilan yang tidak hanya prosedural, tetapi
juga substantif dan manusiawi.¹³
9.3.
Etika Solidaritas
dan Non-Dominasi
Secara aksiologis,
sintesis libertarianisme kiri berpuncak pada etika solidaritas yang berbasis
pada prinsip non-domination.¹⁴ Prinsip ini
menegaskan bahwa kebebasan sejati tidak diukur dari ketiadaan paksaan semata,
tetapi dari absennya ketergantungan struktural yang membuat seseorang tunduk
pada kekuasaan orang lain.¹⁵ Dengan demikian, kebebasan dalam pengertian
libertarian kiri bersifat relasional—ia menuntut kondisi sosial di mana setiap
individu memiliki kapasitas yang sama untuk bertindak tanpa takut terhadap
kontrol eksternal.¹⁶
Etika ini bersifat
inklusif dan kosmopolitik. Ia melampaui batas nasional dan mengandaikan
solidaritas global yang berbasis pada tanggung jawab bersama atas dunia.¹⁷
Dalam kerangka ini, kebebasan tidak lagi menjadi milik warga negara tertentu,
melainkan hak moral universal yang berakar pada martabat manusia sebagai
makhluk rasional dan sosial.¹⁸
Etika non-dominasi
juga menjadi dasar bagi kebijakan ekonomi dan lingkungan yang menolak monopoli
dan eksploitatif kapitalisme modern. Philippe Van Parijs menunjukkan bahwa
sistem basic
income global dan ecological dividend dapat dipahami
sebagai aplikasi etis dari prinsip non-dominasi—di mana setiap individu
memperoleh kebebasan positif untuk hidup tanpa ketergantungan struktural
terhadap majikan, pasar, atau negara.¹⁹
Sintesis Normatif: Menuju Humanisme Libertarian
Secara keseluruhan,
libertarianisme kiri dapat dipandang sebagai bentuk humanisme
libertarian: sebuah visi moral yang menempatkan manusia sebagai
agen rasional, bebas, dan setara, yang keberadaannya bergantung pada dunia
bersama dan komunitas moral yang adil.²⁰ Ia menolak nihilisme pasar bebas
maupun determinisme sosial, dengan menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan
hanya dapat diwujudkan melalui harmoni antara otonomi individu dan tanggung
jawab sosial.²¹
Humanisme
libertarian ini menawarkan dasar bagi etika politik masa depan yang menolak
dualisme klasik antara kebebasan dan keadilan.²² Dalam kerangka ini, kebebasan
bukan hanya hak, tetapi juga tugas; bukan sekadar kondisi personal, melainkan
relasi sosial yang terus diperjuangkan melalui refleksi moral dan institusi
yang adil.²³
Dengan demikian,
sintesis filosofis libertarianisme kiri menghadirkan paradigma baru dalam
filsafat politik kontemporer: paradigma kebebasan egalitarian (egalitarian
liberty), di mana setiap individu berhak untuk menjadi bebas karena
dunia ini, dalam hakikat moralnya, dimiliki secara bersama oleh seluruh umat
manusia.²⁴
Footnotes
[1]
¹ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 130–133.
[2]
² Peter Vallentyne and Hillel Steiner, Left-Libertarianism and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 8–10.
[3]
³ Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 25–28.
[4]
⁴ Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 212–216.
[5]
⁵ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism and Equality,” Social Philosophy and Policy 22, no. 1 (2005): 33–36.
[6]
⁶ Michael Otsuka, Libertarianism without
Inequality (Oxford: Clarendon Press,
2003), 45–47.
[7]
⁷ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 9–12.
[8]
⁸ Immanuel Kant, Groundwork of the
Metaphysics of Morals, trans. Mary
Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 44–46.
[9]
⁹ Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 119–122.
[10]
¹⁰ Jürgen Habermas, The
Theory of Communicative Action, vol.
1 (Boston: Beacon Press, 1984), 285–288.
[11]
¹¹ Martha Nussbaum, Creating
Capabilities: The Human Development Approach (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 30–32.
[12]
¹² Vallentyne, “Equality, Efficiency, and the Priority of the
Worse-Off,” Economics and
Philosophy 16, no. 1 (2000): 11–14.
[13]
¹³ Honneth, The Struggle for
Recognition: The Moral Grammar of Social Conflicts (Cambridge: Polity Press, 1995), 112–115.
[14]
¹⁴ Philip Pettit, Republicanism: A Theory
of Freedom and Government (Oxford:
Oxford University Press, 1997), 67–70.
[15]
¹⁵ Ibid., 73–76.
[16]
¹⁶ Van Parijs and Vanderborght, Basic
Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane Economy (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2017),
49–52.
[17]
¹⁷ Henry Shue, Climate Justice:
Vulnerability and Protection
(Oxford: Oxford University Press, 2014), 55–58.
[18]
¹⁸ Andrew Dobson, Justice and the
Environment (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 40–43.
[19]
¹⁹ Van Parijs, Real Freedom for All, 101–104.
[20]
²⁰ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World,
16–18.
[21]
²¹ Cohen, If You’re an
Egalitarian, How Come You’re So Rich?
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 87–89.
[22]
²² Martha Nussbaum, Frontiers
of Justice (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2006), 160–162.
[23]
²³ Axel Honneth, Recognition or
Disrespect: The Normative Foundations of Critical Theory (Cambridge: Polity Press, 2007), 121–123.
[24]
²⁴ Philippe Van Parijs, “Justice and Democracy: Are They Incompatible?”
Journal of Political Philosophy 4, no. 2 (1996): 112–114.
10. Kesimpulan
Libertarianisme kiri
merupakan salah satu upaya paling signifikan dalam sejarah filsafat politik
modern untuk menyatukan dua tuntutan moral yang kerap dianggap bertentangan: kebebasan
individu dan keadilan sosial.¹ Ia tidak
sekadar menawarkan kompromi pragmatis antara liberalisme dan sosialisme,
melainkan menghadirkan sebuah sintesis filosofis yang berakar pada konsistensi
moral dari prinsip kepemilikan diri (self-ownership) yang dikombinasikan
dengan hak setara atas dunia (equal world-ownership).² Dari
perpaduan inilah muncul suatu paradigma etis yang menegaskan bahwa kebebasan
sejati hanya dapat diwujudkan bila setiap individu memiliki akses yang adil
terhadap sumber daya dan kondisi material yang memungkinkan realisasi
otonominya.³
10.1.
Rekapitulasi
Konseptual dan Landasan Filosofis
Secara historis,
libertarianisme kiri tumbuh dari tradisi egalitarianisme klasik yang dapat
ditelusuri pada pemikiran Thomas Paine, Pierre-Joseph Proudhon, hingga
filsuf-filsuf modern seperti Hillel Steiner, Peter Vallentyne, dan Philippe Van
Parijs.⁴ Aliran ini menolak absolutisme kepemilikan yang diwariskan oleh
liberalisme klasik, sekaligus menghindari reduksi kebebasan personal yang
sering muncul dalam sosialisme negara.⁵ Melalui pendekatan ini, libertarianisme
kiri mempertahankan rasionalitas moral liberal—yakni penghormatan terhadap
individu sebagai agen otonom—sambil menginternalisasi nilai solidaritas sosial
dan tanggung jawab ekologis yang menjadi ciri khas pemikiran egalitarian.⁶
Dari sisi ontologis,
libertarianisme kiri menegaskan bahwa individu bukanlah entitas yang berdiri
sendiri, melainkan bagian dari dunia bersama yang memiliki hak moral setara.⁷
Epistemologinya menekankan rasionalitas reflektif dan otonomi kritis yang
memampukan individu memahami keadilan bukan hanya sebagai prinsip formal,
tetapi sebagai struktur moral yang hidup dalam relasi sosial.⁸ Secara aksiologis,
ia berupaya membangun etika kebebasan yang selaras dengan keadilan distributif,
menggeser orientasi moral dari kepemilikan menuju tanggung jawab bersama atas
dunia.⁹
10.2.
Kontribusi terhadap
Diskursus Filsafat Politik Kontemporer
Dalam konteks
filsafat sosial-politik kontemporer, libertarianisme kiri berperan penting
dalam mengatasi krisis normatif yang melanda teori keadilan modern.¹⁰ Ia
mengoreksi ekses kapitalisme neoliberal yang telah menimbulkan kesenjangan
ekonomi ekstrem, tanpa terjerumus pada kontrol total negara atas ekonomi.¹¹
Dengan konsep fair market economy, universal
basic income, dan land value tax, libertarianisme
kiri menyediakan model moral bagi ekonomi pasar yang humanistik dan
berkeadilan.¹²
Lebih jauh,
relevansinya meluas ke ranah ekologis dan digital. Prinsip kepemilikan bersama
atas dunia kini diperluas menjadi kepemilikan bersama atas data dan lingkungan,
sehingga konsep keadilan distributif mencakup pula dimensi ekologis dan
teknologi informasi.¹³ Dalam hal ini, libertarianisme kiri tidak hanya menjadi
teori ekonomi-politik, tetapi juga kerangka etika universal bagi masyarakat
yang menghadapi tantangan globalisasi, ketimpangan digital, dan krisis iklim.¹⁴
Melalui perspektif non-domination,
libertarianisme kiri juga memperkaya teori demokrasi kontemporer dengan
mengedepankan kebebasan partisipatif dan kesetaraan substantif.¹⁵ Demokrasi
yang sejati, dalam kerangka ini, bukanlah sekadar sistem representatif,
melainkan tatanan sosial yang menjamin semua warga dapat berpartisipasi dalam
kehidupan publik tanpa ketergantungan struktural.¹⁶
10.3.
Implikasi Moral dan
Humanistik
Dari sisi moral,
libertarianisme kiri menyumbangkan paradigma baru bagi etika sosial
modern—yakni bahwa hak milik dan kebebasan tidak dapat dipisahkan dari tanggung
jawab kolektif.¹⁷ Kepemilikan pribadi hanya sah sejauh ia tidak merugikan hak
orang lain atas dunia bersama.¹⁸ Prinsip ini tidak sekadar etis, tetapi juga
ekologis, sebab menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari komunitas moral
planet yang harus dijaga kelestariannya demi generasi mendatang.¹⁹
Implikasi
humanistiknya terletak pada pemulihan martabat manusia sebagai subjek moral
yang setara dan saling tergantung.²⁰ Dalam tatanan sosial yang bebas dari
dominasi, individu bukan hanya memiliki hak untuk memilih, tetapi juga sarana
material dan sosial untuk mewujudkan pilihannya.²¹ Oleh karena itu,
libertarianisme kiri dapat dipahami sebagai humanisme kebebasan egalitarian—sebuah
pandangan yang menempatkan kebebasan bukan di atas keadilan, melainkan di
dalamnya.²²
Kesimpulan Umum: Menuju Etika Politik Emansipatoris
Akhirnya,
libertarianisme kiri memberikan fondasi konseptual bagi etika politik
emansipatoris yang menolak dominasi dalam segala bentuknya—baik dalam ekonomi,
politik, maupun ekologi.²³ Dengan menegaskan prinsip self-ownership
with equal world-ownership, teori ini membuka jalan bagi tatanan
dunia yang lebih adil, di mana kebebasan tidak menjadi privilese, tetapi hak
universal yang melekat pada kemanusiaan itu sendiri.²⁴
Dalam dunia yang
diwarnai oleh ketimpangan struktural dan degradasi lingkungan, pesan moral
libertarianisme kiri menjadi semakin mendesak: bahwa keadilan bukanlah batas kebebasan,
melainkan syarat keberlangsungannya.²⁵ Melalui sintesis antara
rasionalitas moral, solidaritas sosial, dan tanggung jawab ekologis,
libertarianisme kiri menghadirkan visi etika politik yang tidak hanya relevan
bagi teori, tetapi juga mendesak bagi praksis global.²⁶ Dengan demikian, ia
menandai salah satu kontribusi filosofis paling penting bagi upaya manusia untuk
membangun masyarakat yang benar-benar bebas, setara, dan berkeadilan.²⁷
Footnotes
[1]
¹ G. A. Cohen, Self-Ownership,
Freedom, and Equality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1995), 129–132.
[2]
² Hillel Steiner, An Essay on Rights (Oxford: Blackwell, 1994), 214–218.
[3]
³ Peter Vallentyne, “Left-Libertarianism and Equality,” Social Philosophy and Policy 22, no. 1 (2005): 31–34.
[4]
⁴ Thomas Paine, Agrarian Justice (London: J. S. Jordan, 1797), 10–12.
[5]
⁵ Pierre-Joseph Proudhon, What
Is Property? (Cambridge: Cambridge
University Press, 1994 [1840]), 73–76.
[6]
⁶ Philippe Van Parijs and Yannick Vanderborght, Basic Income: A Radical Proposal for a Free Society and a Sane
Economy (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2017), 45–48.
[7]
⁷ Hillel Steiner, “The Natural Right to the Means of Production,” Philosophical Quarterly
27, no. 106 (1977): 41–49.
[8]
⁸ Axel Honneth, Freedom’s Right: The
Social Foundations of Democratic Life
(New York: Columbia University Press, 2014), 121–125.
[9]
⁹ Martha Nussbaum, Creating Capabilities:
The Human Development Approach
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2011), 30–33.
[10]
¹⁰ John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 3–5.
[11]
¹¹ Thomas Piketty, Capital and Ideology (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2020),
17–20.
[12]
¹² Peter Vallentyne and Hillel Steiner, Left-Libertarianism and Its Critics: The Contemporary Debate (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2000), 10–13.
[13]
¹³ Shoshana Zuboff, The
Age of Surveillance Capitalism (New
York: PublicAffairs, 2019), 12–14.
[14]
¹⁴ Andrew Dobson, Justice and the
Environment (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 40–43.
[15]
¹⁵ Philip Pettit, Republicanism: A Theory
of Freedom and Government (Oxford:
Oxford University Press, 1997), 69–72.
[16]
¹⁶ Iris Marion Young, Inclusion
and Democracy (Oxford: Oxford
University Press, 2000), 45–48.
[17]
¹⁷ Vallentyne and Van Parijs, Equality
and Justice in a Libertarian World
(New York: Palgrave, 2008), 15–18.
[18]
¹⁸ Steiner, An Essay on Rights, 223–226.
[19]
¹⁹ Henry Shue, Climate Justice:
Vulnerability and Protection
(Oxford: Oxford University Press, 2014), 61–63.
[20]
²⁰ Axel Honneth, Recognition or
Disrespect: The Normative Foundations of Critical Theory (Cambridge: Polity Press, 2007), 118–120.
[21]
²¹ Martha Nussbaum, Frontiers
of Justice (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2006), 162–165.
[22]
²² Philippe Van Parijs, Real
Freedom for All: What (If Anything) Can Justify Capitalism? (Oxford: Clarendon Press, 1995), 100–103.
[23]
²³ Nancy Fraser, Scales of Justice:
Reimagining Political Space in a Globalizing World (Cambridge: Polity Press, 2008), 28–31.
[24]
²⁴ Vallentyne and Steiner, Left-Libertarianism
and Its Critics, 14–16.
[25]
²⁵ G. A. Cohen, If You’re an
Egalitarian, How Come You’re So Rich?
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 2000), 79–82.
[26]
²⁶ Philippe Van Parijs, “Justice and Democracy: Are They Incompatible?”
Journal of Political Philosophy 4, no. 2 (1996): 111–114.
[27]
²⁷ Axel Honneth, The Idea of Social
Freedom, in Recognition or Disrespect (Cambridge: Polity Press, 2007), 124–127.
Daftar Pustaka
Buku dan Monograf Utama
Cohen, G. A. (1995). Self-ownership, freedom,
and equality. Cambridge University Press.
Cohen, G. A. (2000). If you’re an egalitarian,
how come you’re so rich? Harvard University Press.
Dobson, A. (1998). Justice and the environment:
Conceptions of environmental sustainability and theories of distributive
justice. Oxford University Press.
Foldvary, F. (1998). Geo-libertarianism: A new
paradigm for liberty and justice. The Foundation for Economic Justice.
Fraser, N. (2008). Scales of justice:
Reimagining political space in a globalizing world. Polity Press.
Fraser, N. (2013). Fortunes of feminism: From
state-managed capitalism to neoliberal crisis. Verso.
George, H. (1879). Progress and poverty.
Robert Schalkenbach Foundation.
Habermas, J. (1984). The theory of communicative
action (Vol. 1). Beacon Press.
Habermas, J. (1996). Between facts and norms.
Polity Press.
Honneth, A. (1995). The struggle for
recognition: The moral grammar of social conflicts. Polity Press.
Honneth, A. (2007). Recognition or disrespect:
The normative foundations of critical theory. Polity Press.
Honneth, A. (2014). Freedom’s right: The social
foundations of democratic life. Columbia University Press.
Kant, I. (1998). Groundwork of the metaphysics
of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.
Lanier, J. (2013). Who owns the future?
Simon & Schuster.
Locke, J. (1988). Two treatises of government
(P. Laslett, Ed.). Cambridge University Press.
Macpherson, C. B. (1962). The political theory
of possessive individualism: Hobbes to Locke. Clarendon Press.
Marx, K. (1938). Critique of the Gotha
programme. International Publishers.
Morozov, E. (2013). To save everything, click
here. PublicAffairs.
Norton, B. (2005). Sustainability: A philosophy
of adaptive ecosystem management. University of Chicago Press.
Nozick, R. (1974). Anarchy, state, and utopia.
Basic Books.
Nussbaum, M. C. (2006). Frontiers of justice:
Disability, nationality, species membership. Harvard University Press.
Nussbaum, M. C. (2011). Creating capabilities:
The human development approach. Harvard University Press.
Otsuka, M. (2003). Libertarianism without
inequality. Clarendon Press.
Paine, T. (1797). Agrarian justice. J. S.
Jordan.
Pettit, P. (1997). Republicanism: A theory of
freedom and government. Oxford University Press.
Piketty, T. (2020). Capital and ideology.
Harvard University Press.
Proudhon, P.-J. (1994). What is property?
(D. R. Kelley & B. G. Smith, Eds.). Cambridge University Press. (Original
work published 1840)
Rawls, J. (1971). A theory of justice.
Harvard University Press.
Scheler, M. (1973). Formalism in ethics and
non-formal ethics of values (M. S. Frings & R. L. Funk, Trans.).
Northwestern University Press.
Shue, H. (2014). Climate justice: Vulnerability
and protection. Oxford University Press.
Srnicek, N. (2017). Platform capitalism.
Polity Press.
Steiner, H. (1977). The natural right to the means
of production. Philosophical Quarterly, 27(106), 41–49.
Steiner, H. (1994). An essay on rights.
Blackwell.
Stiglitz, J. E. (2012). The price of inequality.
W. W. Norton.
Van Parijs, P. (1995). Real freedom for all:
What (if anything) can justify capitalism? Clarendon Press.
Van Parijs, P. (1996). Justice and democracy: Are
they incompatible? Journal of Political Philosophy, 4(2), 101–117.
Van Parijs, P., & Vanderborght, Y. (2017). Basic
income: A radical proposal for a free society and a sane economy. Harvard
University Press.
Vallentyne, P. (2000). Equality, efficiency, and
the priority of the worse-off. Economics and Philosophy, 16(1), 11–14.
Vallentyne, P. (2005). Left-libertarianism and
equality. Social Philosophy and Policy, 22(1), 31–36.
Vallentyne, P., & Steiner, H. (Eds.). (2000). Left-libertarianism
and its critics: The contemporary debate. Palgrave Macmillan.
Vallentyne, P., & Van Parijs, P. (2008). Equality
and justice in a libertarian world. Palgrave Macmillan.
Waldron, J. (1988). The right to private
property. Clarendon Press.
Wolff, R. (2012). Democracy at work: A cure for
capitalism. Haymarket Books.
Wright, E. O. (2010). Envisioning real utopias.
Verso.
Young, I. M. (1990). Justice and the politics of
difference. Princeton University Press.
Young, I. M. (2000). Inclusion and democracy.
Oxford University Press.
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance
capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power.
PublicAffairs.
Laporan dan Publikasi
Oxfam International. (2023). Survival of the
richest: How we must tax the super-rich now to fight inequality. Oxfam.
Artikel dan Bab Buku Tambahan
Helbing, D. (2019). Democracy in the digital age. Nature
Human Behaviour, 3(4), 293–295.
Steiner, H. (2006). Just taxation and international
justice. Social Philosophy and Policy, 23(1), 1–15.
Van Parijs, P. (1996). Justice and democracy: Are
they incompatible? Journal of Political Philosophy, 4(2), 111–114.
Vallentyne, P. (2001). Left-libertarianism and the
ownership of natural resources. Public Affairs Quarterly, 15(4),
327–330.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar