Kamis, 27 November 2025

Teori String: Antara Fisika Kuantum, Geometri Dimensi-Tinggi, dan Filsafat Realitas

Teori String

Antara Fisika Kuantum, Geometri Dimensi-Tinggi, dan Filsafat Realitas


Alihkan ke: Kosmologi.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif Teori String sebagai salah satu kerangka teoretis paling ambisius dalam upaya sains modern untuk menyatukan semua gaya fundamental alam dalam satu formulasi matematis yang koheren. Kajian ini menelusuri asal-usul historis teori string dari model hadron hingga munculnya superstring theory dan M-Theory, yang memperkenalkan dimensi ruang-waktu tambahan serta konsep entitas satu dimensi bergetar (string) sebagai dasar realitas fisik. Melalui pendekatan filosofis multidimensi, artikel ini menelaah aspek ontologis (hakikat realitas dan eksistensi dimensi tersembunyi), epistemologis (cara manusia mengetahui tanpa observasi langsung), dan aksiologis (nilai dan tujuan pengetahuan dalam konteks keindahan, kesatuan, dan rasionalitas ilmiah).

Kajian ini juga mengeksplorasi struktur matematis dan konseptual teori string yang berlandaskan prinsip aksi Nambu–Goto, supersimetri, dan dualitas geometris, serta membahas implikasi filsafat ilmunya dalam konteks metafisika modern dan realisme struktural matematis. Melalui kritik dan klarifikasi filosofis, artikel ini menempatkan teori string sebagai paradigma postpositivistik yang mengaburkan batas antara sains empiris dan metafisika spekulatif. Dalam dimensi kontemporer, teori string memiliki relevansi luas dalam kosmologi, teori informasi kuantum, dan refleksi epistemologis mengenai keterbatasan pengetahuan manusia.

Akhirnya, artikel ini menyimpulkan bahwa teori string merupakan sintesis filosofis antara matematisme dan realitas—suatu bentuk rasionalitas reflektif di mana matematika dan eksistensi berpadu dalam harmoni kosmos. Teori string bukan hanya model fisika, melainkan simbol universal dari pencarian manusia terhadap kesatuan, kebenaran, dan keindahan dalam tatanan alam semesta.

Kata Kunci: Teori String, Superstring, M-Theory, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, Realisme Struktural, Filsafat Ilmu, Metafisika Modern, Matematisme.


PEMBAHASAN

Teori String dalam Konteks Perkembangan Fisika Modern


1.           Pendahuluan

Teori String (String Theory) muncul sebagai salah satu upaya paling ambisius dalam sejarah fisika teoretis untuk menyatukan dua pilar besar ilmu pengetahuan modern: Relativitas Umum dan Mekanika Kuantum. Keduanya telah berhasil menjelaskan berbagai fenomena alam dengan tingkat presisi yang tinggi, namun berdiri di atas fondasi konseptual yang tampak saling bertentangan. Relativitas umum, sebagaimana dirumuskan oleh Albert Einstein pada tahun 1915, menggambarkan gravitasi bukan sebagai gaya, melainkan sebagai kelengkungan ruang-waktu akibat distribusi massa dan energi. Sebaliknya, mekanika kuantum yang berkembang sejak awal abad ke-20 menjelaskan dunia mikroskopik dengan hukum probabilistik yang meniadakan kepastian deterministik. Ketegangan antara kedua teori ini menjadi sumber utama krisis epistemologis dalam fisika modern, karena setiap upaya untuk memformulasikan gravitasi dalam kerangka kuantum berujung pada persamaan yang divergen dan tak terdefinisikan secara matematis.¹

Dalam konteks inilah, teori string menawarkan paradigma baru: partikel-elementer bukanlah titik tanpa dimensi, melainkan objek satu dimensi menyerupai tali (string) yang bergetar. Getaran-getaran ini menghasilkan berbagai sifat fisik seperti massa, muatan, dan spin dari partikel yang kita amati. Dengan demikian, semua partikel dan gaya fundamental—termasuk gravitasi—dapat dipandang sebagai manifestasi dari mode getaran string pada tingkat energi yang berbeda.² Secara matematis, teori ini menuntut eksistensi dimensi tambahan ruang-waktu (10 atau 11 dimensi) agar konsisten secara internal, menjadikannya salah satu konstruksi teoritis paling kompleks dan elegan yang pernah dikembangkan manusia.³

Namun, di balik kecanggihan matematisnya, teori string menghadirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang mendalam. Apakah entitas seperti string dan dimensi tambahan benar-benar realitas ontologis atau sekadar konstruksi matematis untuk menyederhanakan fenomena yang tak teramati? Sejauh mana sains dapat mengklaim kebenaran tentang struktur realitas ketika eksperimen langsung terhadap fenomena tersebut belum dimungkinkan oleh teknologi? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membawa teori string melampaui batas tradisional fisika, memasuki wilayah filsafat ilmu, metafisika, dan bahkan ontologi ilmiah, di mana hubungan antara pengetahuan, realitas, dan representasi matematika dipertanyakan kembali.⁴

Selain sebagai proyek ilmiah, teori string juga merupakan ekspresi dari kerinduan intelektual manusia terhadap kesatuan kosmos—suatu aspirasi yang dapat ditelusuri hingga para filsuf alam Yunani seperti Pythagoras dan Plato yang memandang alam semesta sebagai sistem yang harmonis dan teratur. Dalam pengertian ini, teori string bukan sekadar model fisika, melainkan juga kelanjutan dari tradisi panjang upaya manusia untuk menemukan prinsip tunggal yang menjelaskan seluruh realitas.⁵ Meskipun saat ini masih bersifat spekulatif dan belum memiliki verifikasi empiris yang kuat, teori string telah memberikan inspirasi luar biasa dalam pengembangan matematika murni, teori medan kuantum, dan kosmologi modern, serta membuka ruang baru bagi dialog antara sains dan filsafat.⁶

Oleh karena itu, pembahasan tentang teori string tidak dapat dibatasi pada ranah fisika teoretis semata. Ia menuntut pendekatan interdisipliner yang memadukan fisika, matematika, dan filsafat, guna menyingkap dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari teori ini. Artikel ini berupaya menyajikan kajian komprehensif mengenai teori string—dari landasan historisnya, struktur matematisnya, hingga implikasi filosofis dan relevansi kontemporernya—sebagai bentuk refleksi kritis terhadap arah perkembangan ilmu pengetahuan modern dan batas-batas pengetahuan manusia itu sendiri.


Footnotes

[1]                ¹ Albert Einstein, The Meaning of Relativity (Princeton: Princeton University Press, 1956), 37–39.

[2]                ² Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 83–88.

[3]                ³ Edward Witten, “String Theory Dynamics in Various Dimensions,” Nuclear Physics B 443, no. 1 (1995): 85–126.

[4]                ⁴ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 21–27.

[5]                ⁵ Leonard Susskind, The Cosmic Landscape: String Theory and the Illusion of Intelligent Design (New York: Little, Brown, 2005), 3–5.

[6]                ⁶ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 12–18.


2.           Landasan Historis dan Genealogis

Perkembangan teori string tidak dapat dilepaskan dari dinamika historis dan genealogis ilmu fisika abad ke-20, yang ditandai oleh upaya berkelanjutan untuk menemukan teori unifikasi yang mampu menjelaskan seluruh fenomena alam dalam satu kerangka konseptual yang konsisten. Sejak lahirnya mekanika kuantum pada awal abad ke-20 dan teori relativitas umum oleh Albert Einstein, fisika modern menghadapi tantangan besar dalam menyatukan hukum-hukum yang berlaku pada skala mikro dengan hukum yang mengatur gravitasi dan struktur makro kosmos.¹ Meskipun kedua teori tersebut berhasil menjelaskan berbagai fenomena dengan ketepatan tinggi, keduanya beroperasi di domain konseptual yang berbeda secara fundamental: relativitas umum bersifat kontinu dan deterministik, sedangkan mekanika kuantum bersifat diskret dan probabilistik. Upaya untuk merumuskan gravitasi kuantum sebagai bentuk penyatuan keduanya telah memunculkan beragam pendekatan, dan teori string menjadi salah satu kandidat yang paling menonjol dalam sejarah panjang pencarian tersebut.²

Akar genealogi teori string dapat ditelusuri kembali ke akhir dekade 1960-an, ketika para fisikawan mencoba memahami interaksi kuat antara partikel-partikel hadron seperti proton dan neutron. Gabriele Veneziano, seorang fisikawan Italia, pada tahun 1968 secara tidak sengaja menemukan sebuah formula matematis—dikenal sebagai Veneziano amplitude—yang mampu menjelaskan pola resonansi partikel hadron secara akurat.³ Meskipun pada saat itu Veneziano tidak memahami asal fisik dari rumus tersebut, Leonard Susskind dan Yoichiro Nambu segera menunjukkan bahwa formula itu dapat ditafsirkan sebagai hasil dari model tali satu dimensi yang bergetar. Dengan demikian, lahirlah apa yang kini dikenal sebagai teori string bosonik, yang awalnya bukan dimaksudkan untuk menjelaskan seluruh partikel alam semesta, melainkan hanya fenomena resonansi hadron.⁴

Namun, teori string awal segera menghadapi masalah serius. Pertama, teori tersebut hanya berlaku bagi partikel tanpa spin dan memerlukan dimensi ruang-waktu sebanyak 26 agar konsisten secara matematis—sebuah konsekuensi yang tampak tidak realistis. Kedua, keberadaan partikel tak bermassa dengan spin dua (yang kini diidentifikasi sebagai graviton) justru menjadi anomali pada waktu itu.⁵ Akibatnya, minat terhadap teori string sempat meredup pada awal 1970-an, ketika teori kuantum kromodinamika (QCD) muncul sebagai penjelasan yang lebih empiris dan berhasil untuk gaya kuat.⁶ Namun, penemuan bahwa teori string secara alami mengandung gravitasi justru membangkitkan kembali minat pada pertengahan 1970-an. John Schwarz dan Joel Scherk menunjukkan bahwa partikel spin dua dalam teori string dapat ditafsirkan sebagai graviton—pembawa gaya gravitasi dalam versi kuantumnya.⁷ Hal ini menjadikan teori string kandidat potensial untuk teori segala sesuatu (Theory of Everything, ToE).

Kebangkitan besar teori string terjadi pada pertengahan 1980-an, yang dikenal sebagai superstring revolution. Dengan diperkenalkannya supersimetri (SUSY), teori string diperluas menjadi superstring theory yang menyertakan partikel fermion di samping boson, serta memungkinkan konsistensi dalam sepuluh dimensi ruang-waktu. Michael Green dan John Schwarz pada tahun 1984 berhasil menunjukkan bahwa teori superstring mampu mengatasi anomaly cancellation problem—masalah matematis yang sebelumnya menggagalkan banyak teori unifikasi.⁸ Penemuan ini mendorong munculnya lima versi teori superstring yang berbeda: Type I, Type IIA, Type IIB, Heterotic SO(32), dan Heterotic E₈×E₈. Meskipun tampak terpisah, kelimanya kemudian terbukti saling berhubungan melalui serangkaian duality, yang membuka jalan bagi kelahiran M-Theory pada 1990-an.⁹

M-Theory, sebagaimana dikembangkan oleh Edward Witten dan Paul Townsend, merupakan bentuk generalisasi dari seluruh teori superstring.¹⁰ Teori ini menyatakan bahwa string sebenarnya adalah manifestasi dari membran (brane) berdimensi lebih tinggi dalam ruang sebelas dimensi.¹¹ Dengan demikian, evolusi teori string menuju M-Theory menandai pergeseran dari pandangan partikel dan string menuju pandangan geometris tentang realitas multidimensi. Dalam perspektif historis, transisi ini tidak hanya menunjukkan kemajuan matematis, tetapi juga mengandung pergeseran epistemologis dan metafisik dalam cara manusia memahami struktur alam semesta.¹²

Secara genealogis, teori string dapat dipandang sebagai kelanjutan dari tradisi ilmiah yang berakar pada pencarian kesatuan hukum alam, mulai dari mekanika Newtonian hingga teori medan kuantum. Namun, teori string membawa ambisi tersebut ke tingkat yang lebih abstrak—di mana batas antara fisika dan matematika semakin kabur.¹³ Dalam konteks ini, teori string bukan sekadar produk evolusi sains, melainkan manifestasi dari ideal kuno tentang logos kosmos, yakni gagasan bahwa alam semesta tersusun atas harmoni dan keteraturan matematis.¹⁴ Oleh sebab itu, memahami landasan historis teori string berarti menelusuri perjalanan panjang rasionalitas manusia yang terus berupaya mengungkap struktur terdalam realitas.


Footnotes

[1]                ¹ Kip S. Thorne, Black Holes and Time Warps: Einstein’s Outrageous Legacy (New York: W. W. Norton, 1994), 192–197.

[2]                ² Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Pantheon Books, 1992), 49–53.

[3]                ³ Gabriele Veneziano, “Construction of a Crossing-Symmetric, Regge-Behaved Amplitude for Linearly Rising Trajectories,” Il Nuovo Cimento A 57, no. 1 (1968): 190–197.

[4]                ⁴ Leonard Susskind, “Dual-Symmetric Theory of Hadrons,” Il Nuovo Cimento A 69, no. 3 (1970): 457–496.

[5]                ⁵ Michio Kaku, Introduction to Superstrings and M-Theory (New York: Springer, 1999), 23–29.

[6]                ⁶ Frank Close, The Infinity Puzzle: Quantum Field Theory and the Hunt for an Orderly Universe (New York: Basic Books, 2011), 142–147.

[7]                ⁷ Joel Scherk and John H. Schwarz, “Dual Models for Nonhadrons,” Nuclear Physics B 81, no. 1 (1974): 118–144.

[8]                ⁸ Michael B. Green and John H. Schwarz, “Anomaly Cancellation in Supersymmetric D=10 Gauge Theory and Superstring Theory,” Physics Letters B 149, no. 1–3 (1984): 117–122.

[9]                ⁹ Barton Zwiebach, A First Course in String Theory (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 296–303.

[10]             ¹⁰ Edward Witten, “String Theory Dynamics in Various Dimensions,” Nuclear Physics B 443, no. 1 (1995): 85–126.

[11]             ¹¹ Paul K. Townsend, “The Eleven-Dimensional Supermembrane Revisited,” Physics Letters B 350, no. 2 (1995): 184–187.

[12]             ¹² Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 42–45.

[13]             ¹³ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 211–215.

[14]             ¹⁴ Lee Smolin, Three Roads to Quantum Gravity (New York: Basic Books, 2001), 73–77.


3.           Ontologi: Hakikat Realitas dalam Teori String

Pertanyaan mendasar yang muncul dalam pembahasan teori string adalah: apa yang sebenarnya “nyata” dalam struktur terdalam alam semesta? Teori string tidak hanya memperkenalkan model matematis baru untuk menjelaskan partikel-elementer, melainkan juga menantang pemahaman tradisional tentang hakikat realitas fisis itu sendiri. Dalam fisika klasik, realitas diasumsikan tersusun atas entitas titik (point particles) yang memiliki massa, posisi, dan momentum tertentu. Namun, dalam teori string, partikel tersebut digantikan oleh objek satu dimensi berupa “tali” atau string yang dapat bergetar dalam berbagai mode.¹ Setiap mode getaran merepresentasikan jenis partikel yang berbeda—misalnya elektron, kuark, atau foton—sehingga keberagaman partikel bukanlah akibat keberadaan entitas yang berbeda secara ontologis, melainkan perbedaan pola getaran dari satu entitas dasar yang sama.²

Dengan demikian, teori string menawarkan bentuk monisme ontologis baru, yakni pandangan bahwa segala sesuatu pada dasarnya berasal dari satu substansi fisik fundamental: string.³ Tidak lagi ada dualitas antara materi dan gaya, karena dalam teori ini gaya merupakan konsekuensi dari interaksi dan getaran string itu sendiri. Dalam konteks ini, realitas fisik tidak lagi bersifat partikular, melainkan dinamis, berirama, dan berbasis energi. Konsep ini merepresentasikan transisi dari paradigma substansialistik menuju paradigma relasional, di mana entitas fisis didefinisikan melalui hubungan dan getarannya, bukan melalui sifat intrinsik yang tetap.⁴

Salah satu aspek ontologis paling radikal dari teori string adalah gagasan mengenai dimensi ruang-waktu yang lebih tinggi. Untuk menjaga konsistensi matematis dan simetri internal, teori string memerlukan sepuluh dimensi ruang-waktu (atau sebelas dalam kerangka M-Theory).⁵ Tiga di antaranya adalah dimensi ruang yang kita alami sehari-hari, ditambah satu dimensi waktu, sementara sisanya merupakan dimensi tambahan yang “terkompaksi” pada skala Planck (sekitar 10⁻³³ cm) sehingga tidak dapat diamati secara langsung.⁶ Ruang tambahan ini diyakini memiliki bentuk geometris yang kompleks, yang dikenal sebagai ruang Calabi–Yau—struktur lipatan matematis yang menentukan sifat-sifat partikel dan gaya yang muncul dalam dunia makroskopik.⁷

Dari sudut pandang ontologi, keberadaan dimensi-dimensi tersembunyi ini menimbulkan persoalan serius mengenai status realitas mereka. Apakah dimensi tersebut benar-benar ada secara fisik, atau hanya merupakan artefak matematis dari teori yang elegan? Beberapa filsuf ilmu, seperti Richard Dawid, menafsirkan teori string sebagai bentuk realisme struktural, yakni pandangan bahwa apa yang benar-benar ada bukanlah entitas fisik, melainkan struktur matematis yang menjelaskan relasi antara fenomena.⁸ Dalam kerangka ini, string dan brane bukanlah benda material dalam arti klasik, melainkan representasi dari struktur relasional yang membentuk kosmos.

Lebih jauh, teori string juga memperkenalkan entitas yang lebih tinggi dari sekadar string, yaitu D-brane (Dirichlet brane), permukaan berdimensi lebih tinggi tempat string dapat menempel dan berinteraksi.⁹ D-brane memungkinkan penjelasan terhadap interaksi gravitasi, elektromagnetisme, dan gaya-gaya fundamental lainnya sebagai konsekuensi geometris dari getaran string yang terikat pada struktur multidimensi. Dengan demikian, ontologi teori string bergerak menuju bentuk geometri-dinamis, di mana realitas dipahami bukan sebagai kumpulan benda, melainkan sebagai jaringan medan energi yang beresonansi dalam ruang berdimensi tinggi.¹⁰

Pandangan ini secara ontologis sejalan dengan visi lama yang diusung oleh para filsuf alam kuno seperti Pythagoras dan Heraclitus, yang menganggap bahwa hakikat realitas bersifat ritmis dan berstruktur matematis.¹¹ Dalam arti tertentu, teori string merevitalisasi pandangan kosmologis kuno tentang alam semesta sebagai harmoni dari getaran kosmik (harmonia mundi), namun dalam kerangka matematis modern.¹² Hal ini memperlihatkan bahwa teori string bukan sekadar model fisika, melainkan juga suatu ontologi ilmiah yang mencoba menyingkap bentuk terdalam dari eksistensi melalui bahasa matematika.

Namun, muncul pula kritik ontologis terhadap status realitas dalam teori string. Beberapa fisikawan dan filsuf menilai bahwa teori ini terlalu “metafisik” karena tidak memberikan bukti empiris langsung terhadap entitas yang diusulkannya.¹³ Lee Smolin, misalnya, berpendapat bahwa teori string hanyalah “metafisika matematika” yang indah, tetapi belum dapat dikonfirmasi melalui observasi atau eksperimen.¹⁴ Meski demikian, banyak pendukung teori ini berargumen bahwa keterbatasan eksperimental bukan berarti nihil realitas, melainkan menunjukkan bahwa skala ontologis yang dituju teori string berada di luar jangkauan teknologi manusia saat ini.¹⁵

Dengan demikian, dalam perspektif ontologis, teori string menawarkan visi baru tentang realitas: alam semesta sebagai simfoni energi multidimensi, di mana setiap entitas hanyalah mode getaran dari satu dasar eksistensial yang sama. Realitas tidak lagi dipandang sebagai kumpulan objek terpisah, tetapi sebagai kesatuan dinamis dari struktur resonansi kosmik yang saling berhubungan. Ontologi ini menjadikan teori string bukan hanya hipotesis ilmiah, melainkan juga refleksi filosofis tentang keteraturan, kesatuan, dan keindahan struktur realitas itu sendiri.


Footnotes

[1]                ¹ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 83–86.

[2]                ² Edward Witten, “Reflections on the Fate of Space-Time,” Physics Today 49, no. 4 (1996): 24–30.

[3]                ³ Michio Kaku, Parallel Worlds: A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos (New York: Doubleday, 2005), 121–123.

[4]                ⁴ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 187–190.

[5]                ⁵ Michael B. Green, John H. Schwarz, and Edward Witten, Superstring Theory, Vol. 1: Introduction (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 14–19.

[6]                ⁶ Leonard Susskind, The Black Hole War: My Battle with Stephen Hawking to Make the World Safe for Quantum Mechanics (New York: Little, Brown, 2008), 97–100.

[7]                ⁷ Shing-Tung Yau and Steve Nadis, The Shape of Inner Space: String Theory and the Geometry of the Universe’s Hidden Dimensions (New York: Basic Books, 2010), 52–58.

[8]                ⁸ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 76–79.

[9]                ⁹ Joseph Polchinski, String Theory, Vol. 1: An Introduction to the Bosonic String (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 247–250.

[10]             ¹⁰ Juan Maldacena, “The Large-N Limit of Superconformal Field Theories and Supergravity,” Advances in Theoretical and Mathematical Physics 2, no. 2 (1998): 231–252.

[11]             ¹¹ Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper, 1958), 28–32.

[12]             ¹² Ernan McMullin, “The Fertility of Theory and the Unit of Science,” Philosophy of Science 45, no. 3 (1978): 355–368.

[13]             ¹³ Peter Woit, Not Even Wrong: The Failure of String Theory and the Search for Unity in Physical Law (New York: Basic Books, 2006), 42–46.

[14]             ¹⁴ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 24–29.

[15]             ¹⁵ David J. Gross, “The Role of Symmetry in Fundamental Physics,” Proceedings of the National Academy of Sciences 93, no. 25 (1996): 14256–14259.


4.           Epistemologi: Cara Kita Mengetahui Realitas Fisis

Dalam kerangka teori string, problem epistemologis menempati posisi sentral karena teori ini menantang batas-batas tradisional cara manusia memahami dan memverifikasi realitas. Secara historis, ilmu fisika dibangun di atas prinsip empirisme dan observasi, di mana kebenaran ilmiah harus dapat diuji melalui eksperimen yang terukur.¹ Namun, teori string menghadirkan dilema epistemologis yang mendalam: ia dikonstruksikan secara matematis sangat elegan dan konsisten secara internal, tetapi hampir sepenuhnya tak dapat diuji secara empiris dengan teknologi saat ini.² Kondisi ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah teori string dapat dikatakan ilmiah jika tidak dapat diverifikasi secara eksperimental, ataukah ia lebih tepat disebut sebagai konstruksi rasional yang bersifat spekulatif?

Epistemologi teori string berakar pada rasionalisme ilmiah, yakni keyakinan bahwa struktur realitas dapat diketahui melalui deduksi logis dan formulasi matematis, bahkan ketika observasi langsung tidak mungkin dilakukan.³ Dalam pandangan ini, pengetahuan ilmiah tidak semata berasal dari pengalaman empiris, melainkan juga dari koherensi matematis dan konsistensi teoretis. Prinsip-prinsip seperti supersimetri, dualitas, dan kompaksi dimensi bukanlah hasil pengamatan, tetapi deduksi dari persyaratan konsistensi logika dalam teori.⁴ Hal ini menunjukkan bahwa dalam fisika modern, terutama dalam teori string, kebenaran ilmiah semakin bergeser dari verifikasi empiris menuju justifikasi teoretis.⁵

Perubahan paradigma ini menimbulkan ketegangan antara dua aliran besar epistemologi sains: realisme ilmiah dan instrumentalisme. Realisme ilmiah berpendapat bahwa teori ilmiah, termasuk teori string, berusaha menggambarkan realitas sebagaimana adanya, meskipun entitas-entitas yang dijelaskan belum dapat diamati secara langsung.⁶ Dalam kerangka ini, string, brane, dan dimensi tersembunyi dianggap benar-benar ada, meski tidak dapat dideteksi. Sebaliknya, instrumentalisme menilai teori semacam itu sebagai alat konseptual untuk memprediksi fenomena yang teramati, tanpa harus menganggap bahwa entitas teoretis tersebut benar-benar eksis.⁷ Dengan demikian, epistemologi teori string tidak hanya mempertanyakan bagaimana kita mengetahui sesuatu, tetapi juga apa arti “mengetahui” dalam sains modern.

Dalam praktiknya, teori string memperoleh status epistemik melalui kesesuaian matematis dan keindahan strukturalnya. Banyak fisikawan, termasuk Paul Dirac dan Edward Witten, berpendapat bahwa keindahan matematika merupakan indikator kuat bagi kebenaran ilmiah.⁸ Teori string menampilkan simetri dan kesatuan yang luar biasa, yang dalam pandangan epistemologis tertentu dianggap sebagai tanda bahwa teori tersebut mendekati “struktur terdalam realitas”.⁹ Akan tetapi, pendekatan semacam ini menuai kritik karena berpotensi mengaburkan batas antara estetika dan pengetahuan. Apakah sesuatu yang “indah” secara matematis harus dianggap benar secara ontologis? Pertanyaan ini memperlihatkan bahwa epistemologi teori string berada di wilayah perbatasan antara sains empiris dan filsafat metafisik.¹⁰

Aspek penting lain dalam epistemologi teori string adalah eksperimen teoretis dan simulasi numerik, yang berperan sebagai pengganti pengamatan langsung. Karena energi yang diperlukan untuk menguji prediksi teori string (pada skala Planck, sekitar 10¹⁹ GeV) jauh melampaui kemampuan akselerator partikel saat ini, para ilmuwan mengandalkan simulasi komputer, model matematis, dan prinsip konsistensi lintas-teori sebagai bentuk “pembuktian tidak langsung”.¹¹ Dalam konteks ini, validitas epistemik teori tidak lagi bergantung pada pengamatan empiris semata, melainkan pada koherensi lintas-dimensi dengan teori-teori lain seperti teori medan kuantum dan relativitas umum.¹²

Fenomena ini memperlihatkan pergeseran penting dalam epistemologi sains kontemporer: pengetahuan ilmiah tidak lagi bersifat observationally driven, melainkan theoretically driven.¹³ Hal ini sejalan dengan pandangan Thomas Kuhn mengenai revolusi ilmiah, di mana paradigma baru tidak hanya mengganti teori lama, tetapi juga mengubah standar epistemik yang digunakan untuk menilai kebenaran ilmiah.¹⁴ Dalam hal ini, teori string menjadi paradigma yang menggeser batas epistemologi fisika menuju model yang lebih abstrak dan matematis, menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah adalah konstruksi rasional yang terbuka terhadap revisi ontologis dan konseptual.¹⁵

Namun demikian, epistemologi teori string tetap menghadapi kritik tajam dari kalangan filsafat sains. Karl Popper, misalnya, menolak validitas ilmiah teori yang tidak dapat difalsifikasi, karena tanpa kemungkinan pengujian empiris, teori tidak dapat dibedakan dari metafisika.¹⁶ Kritik ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah teori string merupakan ilmu pengetahuan ataukah filsafat spekulatif berbasis matematika? Richard Dawid mencoba menjawab dengan konsep “non-empirical theory assessment”, yakni pendekatan yang menilai kebenaran teori berdasarkan bukti tidak langsung, seperti konsistensi internal, produktivitas teoretis, dan ketiadaan alternatif yang lebih baik.¹⁷ Dengan demikian, epistemologi teori string mencerminkan bentuk baru rasionalitas ilmiah yang tidak menolak empirisme, tetapi memperluasnya ke ranah kemungkinan logis dan konsistensi formal.

Akhirnya, teori string mengajarkan bahwa cara kita mengetahui realitas tidak lagi terbatas pada observasi, melainkan juga melibatkan imajinasi teoretis yang disiplin. Ia menunjukkan bahwa dalam sains modern, batas antara pengetahuan dan spekulasi, antara sains dan filsafat, semakin kabur. Pengetahuan bukan sekadar hasil observasi terhadap dunia, melainkan juga konstruksi konseptual yang menghubungkan matematika, logika, dan intuisi rasional manusia.¹⁸ Dengan demikian, epistemologi teori string menandai babak baru dalam sejarah pengetahuan manusia: suatu bentuk epistemologi trans-empiris, di mana pemahaman terhadap realitas fisis tidak lagi bergantung pada apa yang dapat dilihat, tetapi pada apa yang dapat dirumuskan secara rasional dan koheren.


Footnotes

[1]                ¹ Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Hutchinson, 1959), 27–33.

[2]                ² Peter Woit, Not Even Wrong: The Failure of String Theory and the Search for Unity in Physical Law (New York: Basic Books, 2006), 51–54.

[3]                ³ Bertrand Russell, The Scientific Outlook (London: Allen & Unwin, 1931), 87–89.

[4]                ⁴ Michael B. Green, John H. Schwarz, and Edward Witten, Superstring Theory, Vol. 1: Introduction (Cambridge: Cambridge University Press, 1987), 11–15.

[5]                ⁵ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 41–44.

[6]                ⁶ Hilary Putnam, Mathematics, Matter and Method (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 73–77.

[7]                ⁷ Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 14–18.

[8]                ⁸ Paul Dirac, Directions in Physics (New York: Wiley, 1978), 35–38.

[9]                ⁹ Edward Witten, “Reflections on the Fate of Space-Time,” Physics Today 49, no. 4 (1996): 24–30.

[10]             ¹⁰ Ernan McMullin, “The Fertility of Theory and the Unit of Science,” Philosophy of Science 45, no. 3 (1978): 355–368.

[11]             ¹¹ Barton Zwiebach, A First Course in String Theory (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 299–303.

[12]             ¹² Leonard Susskind, The Cosmic Landscape: String Theory and the Illusion of Intelligent Design (New York: Little, Brown, 2005), 23–27.

[13]             ¹³ Ian Hacking, Representing and Intervening: Introductory Topics in the Philosophy of Natural Science (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 135–139.

[14]             ¹⁴ Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 111–117.

[15]             ¹⁵ David J. Gross, “The Role of Symmetry in Fundamental Physics,” Proceedings of the National Academy of Sciences 93, no. 25 (1996): 14256–14259.

[16]             ¹⁶ Karl R. Popper, Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 1963), 47–50.

[17]             ¹⁷ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method, 96–100.

[18]             ¹⁸ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 204–208.


5.           Aksiologi: Nilai dan Tujuan Ilmu dalam Teori String

Dimensi aksiologis dalam teori string tidak kalah penting dibandingkan dengan aspek ontologis dan epistemologisnya, karena teori ini bukan hanya upaya ilmiah untuk memahami realitas fisis, tetapi juga mencerminkan seperangkat nilai-nilai intelektual, etis, dan estetis yang mendasari praktik ilmiah itu sendiri. Dalam kerangka filsafat ilmu, aksiologi mempersoalkan “mengapa” dan “untuk apa” ilmu dikembangkan, bukan sekadar bagaimana ilmu bekerja.¹ Oleh karena itu, teori string dapat dibaca sebagai manifestasi nilai-nilai pencarian kesatuan (unity), keindahan (beauty), dan kebenaran (truth)—tiga pilar utama dalam aksiologi sains yang telah mewarnai tradisi ilmiah sejak era Yunani klasik.²

Salah satu nilai paling menonjol dalam teori string adalah nilai kesatuan pengetahuan (unity of knowledge). Sejak awal, tujuan utama teori ini adalah untuk menyatukan semua gaya fundamental alam—gravitasi, elektromagnetisme, gaya lemah, dan gaya kuat—ke dalam satu kerangka konsisten yang disebut Theory of Everything (ToE).³ Dalam hal ini, teori string mengekspresikan aspirasi terdalam sains untuk menemukan harmoni universal di balik kompleksitas fenomena alam. Upaya tersebut bukan hanya bersifat ilmiah, tetapi juga filosofis, karena berakar pada keyakinan bahwa alam semesta merupakan sistem rasional dan teratur, dapat dijelaskan oleh hukum tunggal yang elegan.⁴ Nilai kesatuan ini menggambarkan dimensi etis dari rasionalitas ilmiah, yaitu komitmen terhadap keteraturan dan keterpaduan pengetahuan yang menolak fragmentasi empiris.

Selain itu, teori string juga menjunjung tinggi nilai keindahan matematis (mathematical beauty). Banyak fisikawan terkemuka, seperti Paul Dirac, Roger Penrose, dan Edward Witten, menilai bahwa kriteria keindahan dalam struktur matematika sering kali menjadi indikator validitas teoretis.⁵ Dalam konteks teori string, keindahan ini tampak dalam simetri supersimetri (SUSY), harmoni ruang Calabi–Yau, serta keserasian antara berbagai versi teori melalui prinsip duality.⁶ Keindahan di sini bukan sekadar kategori estetika, melainkan bentuk nilai epistemik, karena struktur matematis yang indah sering kali menunjukkan konsistensi logis dan kesederhanaan prinsip-prinsip dasar.⁷ Dengan demikian, teori string menghadirkan paradigma di mana keindahan bukanlah ornamen tambahan bagi kebenaran, tetapi bagian inheren dari proses penemuan ilmiah itu sendiri.

Nilai lain yang menonjol adalah nilai kognitif dan heuristik, yakni potensi teori string untuk membuka wawasan baru tentang realitas meskipun belum terverifikasi secara empiris.⁸ Dalam sejarah sains, teori sering kali mendahului kemampuan observasi. Mekanika kuantum, relativitas, dan bahkan heliosentrisme awal pernah dianggap spekulatif sebelum akhirnya memperoleh konfirmasi. Teori string mewarisi tradisi ini: ia menunjukkan bahwa pencarian pengetahuan tidak selalu harus menunggu bukti eksperimental langsung, tetapi dapat diawali oleh imajinasi teoretis yang berlandaskan rasionalitas dan konsistensi internal.⁹ Dengan demikian, teori string memiliki nilai epistemik-progresif, yakni mendorong pengembangan metode baru dalam matematika, topologi, dan fisika teoretis yang kelak dapat memperluas batas pengetahuan manusia.¹⁰

Namun, dimensi aksiologis teori string juga tidak lepas dari kritik. Sebagian filsuf sains dan fisikawan, seperti Lee Smolin dan Peter Woit, menilai bahwa teori string telah kehilangan nilai ilmiahnya karena terlalu menekankan keindahan matematis dan mengabaikan verifikasi empiris.¹¹ Mereka berpendapat bahwa sains seharusnya mempertahankan keseimbangan antara nilai estetis dan nilai pragmatis, agar tidak terjebak dalam spekulasi metafisik tanpa arah empiris.¹² Dalam konteks ini, kritik aksiologis terhadap teori string mencerminkan ketegangan abadi dalam filsafat sains antara idealisme teoretis dan realisme empiris.

Dari sisi etika ilmiah, teori string mencerminkan nilai kejujuran intelektual dan keberanian epistemik. Para teoretikus string beroperasi di wilayah pengetahuan yang sangat abstrak, sering kali tanpa jaminan akan keberhasilan empiris. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan penelitian berdasarkan keyakinan rasional bahwa kebenaran kosmos dapat diungkap melalui deduksi matematis yang konsisten.¹³ Sikap ini sejalan dengan etika ilmiah yang dikemukakan oleh Robert K. Merton, yang menekankan prinsip universalism (keterbukaan bagi semua), organized skepticism (keraguan teratur), dan disinterestedness (ketidakterikatan pribadi).¹⁴ Para fisikawan teori string berkontribusi pada ilmu pengetahuan dengan motivasi epistemik murni, bukan demi manfaat praktis langsung, yang menunjukkan nilai intrinsik dari pencarian pengetahuan itu sendiri.

Aksiologi teori string juga dapat dilihat dalam konteks nilai kemanusiaan dan transendensi pengetahuan. Walaupun teori ini tampak jauh dari kehidupan praktis, ia merepresentasikan semangat universal manusia untuk memahami tempatnya di alam semesta.¹⁵ Pencarian terhadap kesatuan fundamental bukan sekadar persoalan ilmiah, tetapi juga refleksi eksistensial: keinginan untuk menemukan makna di balik keteraturan kosmos.¹⁶ Dalam pandangan ini, teori string berfungsi sebagai bentuk sublimasi intelektual, tempat sains dan filsafat bertemu dalam pencarian makna.

Akhirnya, nilai dan tujuan teori string tidak dapat dipisahkan dari etos keilmuan modern yang memadukan penalaran rasional, keindahan formal, dan keterbukaan terhadap koreksi. Teori string, meski kontroversial, menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan sekadar akumulasi fakta, melainkan juga proses reflektif yang bernilai, yang berakar pada rasa ingin tahu, ketekunan, dan penghormatan terhadap harmoni kosmos.¹⁷ Dalam pengertian ini, teori string bukan hanya teori fisika, melainkan juga perwujudan nilai-nilai luhur pengetahuan—sebuah upaya manusia untuk menembus batas empiris demi meraih pemahaman rasional tentang tatanan realitas yang paling dalam.


Footnotes

[1]                ¹ A. Cornelius Benjamin, Philosophy of Science (New York: The Ronald Press Company, 1955), 217–219.

[2]                ² Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper, 1958), 33–36.

[3]                ³ Steven Weinberg, Dreams of a Final Theory (New York: Pantheon Books, 1992), 56–58.

[4]                ⁴ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 115–118.

[5]                ⁵ Paul A. M. Dirac, The Principles of Quantum Mechanics (Oxford: Clarendon Press, 1958), 9–12.

[6]                ⁶ Edward Witten, “String Theory Dynamics in Various Dimensions,” Nuclear Physics B 443, no. 1 (1995): 85–126.

[7]                ⁷ Hilary Putnam, Mathematics, Matter and Method (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 79–82.

[8]                ⁸ Ernan McMullin, “The Fertility of Theory and the Unit of Science,” Philosophy of Science 45, no. 3 (1978): 355–368.

[9]                ⁹ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 105–108.

[10]             ¹⁰ Shing-Tung Yau and Steve Nadis, The Shape of Inner Space: String Theory and the Geometry of the Universe’s Hidden Dimensions (New York: Basic Books, 2010), 77–83.

[11]             ¹¹ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 29–33.

[12]             ¹² Peter Woit, Not Even Wrong: The Failure of String Theory and the Search for Unity in Physical Law (New York: Basic Books, 2006), 87–90.

[13]             ¹³ Michio Kaku, Parallel Worlds: A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos (New York: Doubleday, 2005), 210–213.

[14]             ¹⁴ Robert K. Merton, The Sociology of Science: Theoretical and Empirical Investigations (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 268–272.

[15]             ¹⁵ Fritjof Capra, The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels Between Modern Physics and Eastern Mysticism (Boston: Shambhala, 1975), 125–129.

[16]             ¹⁶ Albert Einstein, Ideas and Opinions (New York: Crown, 1954), 262–264.

[17]             ¹⁷ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 221–225.


6.           Struktur Matematis dan Konseptual

Struktur matematis teori string merupakan fondasi yang membedakannya secara radikal dari teori-teori fisika sebelumnya. Dalam teori medan kuantum konvensional, partikel digambarkan sebagai titik tanpa dimensi yang mengikuti persamaan medan tertentu; sebaliknya, teori string merepresentasikan setiap partikel sebagai objek satu dimensi yang bergetar, yang disebut string, yang dapat berbentuk tertutup (closed strings) atau terbuka (open strings).¹ Getaran-getaran tersebut tidak sekadar fenomena fisik, melainkan solusi matematis dari persamaan fundamental yang disebut aksi Nambu–Goto, yang menggambarkan dinamika permukaan dua dimensi (worldsheet) yang dilalui oleh string dalam ruang-waktu.² Dengan kata lain, teori string menafsirkan partikel-elementer sebagai geometri dinamis, bukan entitas diskrit, sehingga fisika partikular berubah menjadi fisika geometri multidimensi

Aksi Nambu–Goto sendiri berakar pada prinsip aksi minimum dalam fisika klasik, yang menyatakan bahwa lintasan suatu sistem adalah lintasan dengan aksi terkecil. Dalam teori string, prinsip ini diterapkan pada permukaan dua dimensi, bukan pada lintasan satu dimensi seperti dalam mekanika Newtonian.⁴ Dalam versi kuantumnya, aksi ini dimodifikasi menjadi aksi Polyakov, yang memungkinkan formulasi teori string menggunakan prinsip medan kuantum konformal (conformal field theory).⁵ Formulasi ini menjadi dasar untuk mempelajari interaksi antar-string, pembentukan topologi ruang, serta kondisi batas (boundary conditions) yang menentukan jenis partikel dan gaya yang dihasilkan. Dengan demikian, struktur matematis teori string tidak sekadar alat bantu formal, tetapi merupakan bahasa yang menyatukan antara fisika, topologi, dan geometri diferensial.

Salah satu inovasi konseptual terpenting dalam teori string adalah prinsip supersimetri (SUSY), yaitu simetri yang menghubungkan boson (pembawa gaya) dan fermion (penyusun materi).⁶ Supersimetri memperluas struktur matematis teori medan kuantum dan memungkinkan penghapusan anomali yang menyebabkan ketidakkonsistenan pada teori sebelumnya.⁷ Dengan memasukkan supersimetri, teori string berkembang menjadi superstring theory, yang hanya konsisten dalam sepuluh dimensi ruang-waktu.⁸ Struktur ini memungkinkan integrasi semua gaya fundamental, termasuk gravitasi, ke dalam satu kerangka konsisten—sebuah capaian matematis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Edward Witten bahkan menyebut bahwa “matematika teori string lebih kaya daripada fisikanya,” menandakan betapa kuatnya landasan formal teori ini.⁹

Selain supersimetri, teori string juga mengandalkan konsep kompaksi dimensi untuk menjelaskan mengapa dimensi tambahan tidak teramati. Dalam model ini, enam dari sepuluh dimensi ruang-waktu diperkirakan “melipat” atau “melengkung” ke dalam bentuk geometris yang disebut ruang Calabi–Yau, yaitu manifold kompleks berdimensi enam yang memenuhi kondisi Ricci-flat.¹⁰ Struktur ruang Calabi–Yau bukan sekadar penemuan matematis; bentuk dan topologi manifold ini menentukan parameter fisika dunia empat dimensi yang kita alami, seperti massa partikel, konstanta gaya, dan pola simetri.¹¹ Dengan demikian, geometri mikroskopik dari ruang tersembunyi menjadi penyebab munculnya fenomena makroskopik di alam semesta—suatu transposisi ontologis antara bentuk matematis dan kenyataan fisis.

Teori string juga memperkenalkan konsep dualitas, yaitu hubungan matematis antara teori-teori yang tampak berbeda tetapi sebenarnya ekuivalen secara fisik.¹² Dualitas terbagi menjadi tiga jenis utama: T-duality, yang menghubungkan teori dengan radius kompaksi besar dan kecil; S-duality, yang menghubungkan teori dengan konstanta kopling kuat dan lemah; serta U-duality, yang menggabungkan keduanya dalam struktur yang lebih umum.¹³ Dualitas ini menunjukkan bahwa teori string bukanlah kumpulan lima teori yang berbeda (Type I, IIA, IIB, heterotic SO(32), dan heterotic E₈×E₈), melainkan berbagai deskripsi dari struktur fisis tunggal yang sama.¹⁴ Implikasi filosofisnya sangat mendalam: perbedaan dalam deskripsi matematis tidak menandakan perbedaan dalam realitas, tetapi hanya perbedaan dalam perspektif konseptual—suatu bentuk relativisme epistemik dalam matematika fisis.

Keterkaitan antara kelima teori superstring tersebut mengarah pada formulasi M-Theory, sebuah kerangka sebelas dimensi yang dianggap sebagai teori payung bagi semua teori string.¹⁵ Dalam M-Theory, string dianggap sebagai batas dua dimensi dari entitas berdimensi lebih tinggi yang disebut membran (p-branes).¹⁶ Teori ini tidak hanya memperluas struktur matematis, tetapi juga memperluas konsepsi tentang ruang-waktu itu sendiri: ruang bukan lagi wadah pasif, melainkan entitas dinamis yang dapat berosilasi, melengkung, dan saling berinteraksi.¹⁷ Dengan demikian, M-Theory menggantikan pandangan klasik tentang ruang-waktu dengan model geometri emergen—di mana ruang, waktu, dan materi muncul dari hubungan matematis yang lebih fundamental.¹⁸

Lebih jauh, teori string menunjukkan hubungan erat antara fisika kuantum, geometri diferensial, dan teori grup Lie, yang menjadikannya medan pertemuan antara sains dan matematika murni.¹⁹ Salah satu manifestasi paling menonjol dari hubungan ini adalah dualisme AdS/ CFT (Anti-de Sitter/ Conformal Field Theory) yang ditemukan oleh Juan Maldacena pada 1997.²⁰ Dualitas ini menyatakan bahwa teori gravitasi di ruang berdimensi tinggi ekuivalen dengan teori medan kuantum tanpa gravitasi di batas ruang tersebut.²¹ Secara filosofis, hubungan ini menantang konsep tradisional tentang batas antara “realitas ruang” dan “realitas medan”, serta menunjukkan bahwa deskripsi yang sangat berbeda dapat merepresentasikan struktur ontologis yang identik.²²

Secara konseptual, struktur matematis teori string mengandung sifat holistik dan relasional. Setiap bagian dari sistem string terhubung dengan keseluruhan melalui medan energi dan simetri global.²³ Prinsip ini menggantikan pandangan reduksionistik dalam fisika klasik dengan pandangan relasional-struktural, di mana entitas fisis tidak memiliki makna independen di luar relasinya dengan keseluruhan struktur kosmos.²⁴ Dengan demikian, teori string tidak hanya memperluas cakupan fisika, tetapi juga menggeser paradigma konseptual ilmu pengetahuan: dari ontologi substansi menuju ontologi struktur, dari empirisme partikular menuju koherensi matematis universal.

Akhirnya, struktur matematis dan konseptual teori string memperlihatkan bahwa batas antara fisika dan matematika semakin kabur.²⁵ Persamaan diferensial, manifold topologis, dan teori grup bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan realitas itu sendiri dalam bentuk matematis.²⁶ Dengan kata lain, teori string memperlihatkan kemungkinan bahwa alam semesta bukan hanya dapat dijelaskan oleh matematika, tetapi adalah struktur matematis yang hidup dan bergetar—sebuah visi ontologis dan epistemologis sekaligus yang mengembalikan harmoni antara rasio, bentuk, dan keberadaan.


Footnotes

[1]                ¹ Barton Zwiebach, A First Course in String Theory (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 15–18.

[2]                ² Holger B. Nielsen and Leonard Susskind, “A String Model of Hadrons,” Nuclear Physics B 43, no. 1 (1972): 45–55.

[3]                ³ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 72–76.

[4]                ⁴ Yoichiro Nambu, “Duality and Hadrodynamics,” Lecture Notes at Copenhagen Summer Symposium (1970): 1–14.

[5]                ⁵ Alexander M. Polyakov, “Quantum Geometry of Bosonic Strings,” Physics Letters B 103, no. 3 (1981): 207–210.

[6]                ⁶ Michael B. Green and John H. Schwarz, “Anomaly Cancellation in Supersymmetric D=10 Gauge Theory and Superstring Theory,” Physics Letters B 149, no. 1–3 (1984): 117–122.

[7]                ⁷ Edward Witten, “Superstring Theory and Beyond,” Physics Today 50, no. 5 (1997): 28–33.

[8]                ⁸ Michio Kaku, Introduction to Superstrings and M-Theory (New York: Springer, 1999), 32–37.

[9]                ⁹ Edward Witten, Superstring Theory: A Progress Report (Princeton: Institute for Advanced Study, 1995), 2–4.

[10]             ¹⁰ Shing-Tung Yau and Steve Nadis, The Shape of Inner Space: String Theory and the Geometry of the Universe’s Hidden Dimensions (New York: Basic Books, 2010), 64–68.

[11]             ¹¹ Philip Candelas et al., “Compactified Calabi–Yau Manifolds and Particle Physics,” Nuclear Physics B 258, no. 1 (1985): 46–74.

[12]             ¹² Joseph Polchinski, String Theory, Vol. 2: Superstring Theory and Beyond (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 83–87.

[13]             ¹³ John H. Schwarz, “Lectures on Superstring and M-Theory Dualities,” Nuclear Physics B 55 (1997): 1–32.

[14]             ¹⁴ Barton Zwiebach, A First Course in String Theory, 301–304.

[15]             ¹⁵ Edward Witten, “String Theory Dynamics in Various Dimensions,” Nuclear Physics B 443, no. 1 (1995): 85–126.

[16]             ¹⁶ Paul K. Townsend, “The Eleven-Dimensional Supermembrane Revisited,” Physics Letters B 350, no. 2 (1995): 184–187.

[17]             ¹⁷ Leonard Susskind, The Black Hole War: My Battle with Stephen Hawking to Make the World Safe for Quantum Mechanics (New York: Little, Brown, 2008), 215–218.

[18]             ¹⁸ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 230–234.

[19]             ¹⁹ Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (London: Jonathan Cape, 2004), 856–860.

[20]             ²⁰ Juan Maldacena, “The Large-N Limit of Superconformal Field Theories and Supergravity,” Advances in Theoretical and Mathematical Physics 2, no. 2 (1998): 231–252.

[21]             ²¹ Stephen S. Gubser, Igor R. Klebanov, and Alexander M. Polyakov, “Gauge Theory Correlators from Non-Critical String Theory,” Physics Letters B 428, no. 1 (1998): 105–114.

[22]             ²² Raphael Bousso, “The Holographic Principle,” Reviews of Modern Physics 74, no. 3 (2002): 825–874.

[23]             ²³ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 112–115.

[24]             ²⁴ Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 31–34.

[25]             ²⁵ Peter Woit, Not Even Wrong: The Failure of String Theory and the Search for Unity in Physical Law (New York: Basic Books, 2006), 121–126.

[26]             ²⁶ Max Tegmark, “The Mathematical Universe,” Foundations of Physics 38, no. 2 (2008): 101–150.


7.           Dimensi Filsafat Ilmu dan Metafisika Modern

Teori string tidak hanya memiliki implikasi fisika dan matematis, tetapi juga membuka ruang refleksi mendalam dalam filsafat ilmu dan metafisika modern. Ia menandai sebuah pergeseran paradigma dalam cara manusia memahami realitas, kebenaran ilmiah, dan struktur pengetahuan itu sendiri. Dalam tradisi filsafat ilmu, teori ilmiah selalu dipandang sebagai representasi dari kenyataan empiris; namun teori string memperluas batas pengertian tersebut dengan menempatkan matematika dan struktur logis sebagai inti dari realitas.¹ Dengan demikian, teori string bukan sekadar instrumen untuk menjelaskan fenomena, melainkan sebuah sistem konseptual yang menegaskan kemungkinan bahwa realitas bersifat matematis dan multidimensional.²

Secara filosofis, teori string menantang pandangan positivisme logis yang mendominasi sains abad ke-20. Menurut positivisme, teori ilmiah harus dapat diverifikasi secara empiris melalui observasi langsung.³ Akan tetapi, teori string menunjukkan bahwa kebenaran ilmiah tidak selalu terletak pada verifikasi, melainkan juga pada koherensi konseptual dan kekuatan penjelasannya terhadap fenomena yang lebih luas.⁴ Hal ini menggeser sains menuju paradigma postpositivistik, di mana teori ilmiah dipahami sebagai konstruksi rasional yang terbuka terhadap revisi dan reinterpretasi.⁵ Dalam kerangka ini, teori string menjadi contoh konkret dari sains yang bergerak di wilayah perbatasan antara pengetahuan empiris dan metafisik.

Dari perspektif realisme ilmiah, teori string berusaha mengungkap struktur terdalam realitas dengan mengasumsikan bahwa entitas-entitas seperti string, brane, dan dimensi tersembunyi benar-benar ada, meskipun tidak dapat diamati.⁶ Pandangan ini memperluas makna “realitas” dari sekadar yang dapat diindera menjadi yang dapat disimpulkan melalui nalar matematis. Sebaliknya, dari sudut pandang realisme struktural, yang diwakili oleh Worrall dan Ladyman, teori string menunjukkan bahwa yang sesungguhnya “nyata” bukanlah objek fisis, melainkan relasi matematis yang membentuk alam semesta.⁷ Dalam hal ini, teori string menggantikan ontologi substansi dengan ontologi struktur, sehingga kosmos dipahami sebagai jaringan relasi matematis yang terorganisasi secara harmonis.⁸

Implikasi metafisik teori string juga bersentuhan dengan konsep ruang, waktu, dan eksistensi. Dalam pandangan klasik Newtonian, ruang dan waktu merupakan wadah absolut bagi peristiwa.⁹ Namun, dalam teori string—khususnya dalam kerangka M-Theory—ruang dan waktu tidak lagi dianggap fundamental, melainkan entitas emergen yang muncul dari hubungan energi dan getaran string.¹⁰ Dengan kata lain, ruang-waktu itu sendiri merupakan produk dari dinamika matematis yang lebih dalam.¹¹ Konsepsi ini beresonansi dengan gagasan metafisika proses Alfred North Whitehead, yang melihat realitas sebagai jaringan kejadian yang saling berinteraksi, bukan kumpulan objek statis.¹² Teori string, dalam hal ini, menghidupkan kembali metafisika dinamis, di mana realitas adalah proses resonansi, bukan substansi tetap.

Lebih jauh, teori string juga mengundang refleksi terhadap metafisika pluralisme dan multiverse. Beberapa solusi dari persamaan string menunjukkan kemungkinan keberadaan banyak alam semesta dengan konfigurasi dimensi dan konstanta fisika yang berbeda—sebuah konsep yang dikenal sebagai string landscape.¹³ Secara metafisik, ini mengimplikasikan bentuk ontologi kontingen, di mana realitas yang kita alami hanyalah salah satu dari banyak kemungkinan eksistensi.¹⁴ Dalam kerangka ini, teori string memunculkan pertanyaan etis dan epistemologis baru: apakah manusia dapat berbicara tentang “kebenaran tunggal” jika realitas itu sendiri bersifat plural dan hiperdimensional?¹⁵

Teori string juga memperlihatkan hubungan erat antara metafisika modern dan estetika ilmiah. Fisikawan seperti Dirac dan Witten berpendapat bahwa keindahan dan simetri dalam matematika merupakan petunjuk adanya kebenaran metafisik yang mendasari alam semesta.¹⁶ Dalam pandangan ini, keindahan matematis tidak hanya menjadi kriteria epistemik, tetapi juga nilai metafisik yang menandai kesatuan antara nalar dan keberadaan. Pandangan tersebut menghidupkan kembali tradisi Platonik bahwa dunia empiris adalah refleksi dari tatanan matematis yang lebih tinggi—suatu bentuk “realisme Platonik” dalam sains modern.¹⁷

Dari sudut pandang filsafat ilmu kontemporer, teori string memperluas batas pengertian tentang rasionalitas ilmiah. Ia menolak dikotomi antara empirisme dan rasionalisme dengan menunjukkan bahwa sains modern bersifat trans-empiris, yaitu rasional sekaligus spekulatif.¹⁸ Dalam arti ini, teori string menjadi model bagi bentuk baru rasionalitas ilmiah yang disebut rasionalitas reflektif, di mana sains tidak hanya menjelaskan fenomena, tetapi juga merefleksikan fondasi epistemologis dan ontologisnya sendiri.¹⁹ Pendekatan semacam ini sejalan dengan pandangan Thomas Kuhn dan Imre Lakatos bahwa ilmu berkembang melalui revolusi konseptual yang mengubah cara kita memahami dunia, bukan hanya memperbaiki teori lama.²⁰

Akhirnya, dalam konteks metafisika modern, teori string merepresentasikan upaya rekonsiliasi antara sains dan filsafat. Ia menunjukkan bahwa pencarian kebenaran ilmiah bukan sekadar penumpukan data, tetapi bagian dari proyek rasional manusia untuk memahami struktur realitas secara total.²¹ Di sini, sains kembali pada akar filosofisnya: sebagai bentuk kontemplasi terhadap kosmos, yang menggabungkan logika, keindahan, dan makna.²² Dengan demikian, teori string bukan hanya kerangka fisika teoritis, tetapi juga paradigma metafisika baru yang menyatukan realitas empiris dengan dimensi rasional, menjembatani jurang antara fakta dan makna, antara fisika dan filsafat.


Footnotes

[1]                ¹ Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Hutchinson, 1959), 33–37.

[2]                ² Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (London: Jonathan Cape, 2004), 847–852.

[3]                ³ A. J. Ayer, Language, Truth and Logic (London: Gollancz, 1936), 48–51.

[4]                ⁴ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 27–30.

[5]                ⁵ Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 111–113.

[6]                ⁶ Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 38–42.

[7]                ⁷ John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[8]                ⁸ James Ladyman and Don Ross, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 121–127.

[9]                ⁹ Isaac Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (London: Royal Society, 1687), 6–9.

[10]             ¹⁰ Edward Witten, “String Theory Dynamics in Various Dimensions,” Nuclear Physics B 443, no. 1 (1995): 85–126.

[11]             ¹¹ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 235–239.

[12]             ¹² Alfred North Whitehead, Process and Reality (New York: Free Press, 1978), 23–27.

[13]             ¹³ Leonard Susskind, The Cosmic Landscape: String Theory and the Illusion of Intelligent Design (New York: Little, Brown, 2005), 10–14.

[14]             ¹⁴ Max Tegmark, “The Mathematical Universe,” Foundations of Physics 38, no. 2 (2008): 101–150.

[15]             ¹⁵ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 202–205.

[16]             ¹⁶ Paul Dirac, Directions in Physics (New York: Wiley, 1978), 38–41.

[17]             ¹⁷ Penelope Maddy, Realism in Mathematics (Oxford: Clarendon Press, 1990), 95–100.

[18]             ¹⁸ Ernan McMullin, “Rationality and Paradigm Change in Science,” Proceedings of the Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association 1970 (1970): 132–138.

[19]             ¹⁹ Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 75–80.

[20]             ²⁰ Imre Lakatos, The Methodology of Scientific Research Programmes (Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 50–54.

[21]             ²¹ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 301–304.

[22]             ²² Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper, 1958), 42–46.


8.           Kritik dan Klarifikasi Filosofis

Sejak kemunculannya, teori string telah memicu perdebatan yang intens baik di kalangan fisikawan maupun filsuf ilmu pengetahuan. Kritik terhadap teori ini bukan hanya menyangkut persoalan teknis, tetapi juga menyentuh dimensi epistemologis, metodologis, dan ontologis yang mendasar. Teori string sering dituduh sebagai proyek intelektual yang terlalu spekulatif—indah secara matematis, tetapi miskin dalam pembuktian empiris.¹ Kritik ini menyoroti ketegangan antara rasionalisme teoretis dan empirisme ilmiah, yang telah lama menjadi sumbu utama dalam filsafat ilmu modern.

Salah satu kritik paling berpengaruh datang dari Karl Popper, yang menegaskan bahwa syarat utama bagi suatu teori ilmiah adalah falsifiabilitas, yaitu kemampuan untuk diuji dan mungkin dibuktikan salah melalui pengalaman empiris.² Dalam kacamata Popperian, teori string gagal memenuhi kriteria ini karena tidak ada eksperimen yang secara realistis dapat menguji prediksinya pada skala energi Planck (10¹⁹ GeV).³ Dengan demikian, teori string tampak lebih menyerupai sistem metafisika rasional daripada teori ilmiah dalam pengertian Popperian. Meski demikian, beberapa filsuf ilmu seperti Richard Dawid berpendapat bahwa penilaian semacam itu terlalu sempit, karena perkembangan sains modern telah menghasilkan bentuk baru dari rasionalitas non-empiris.⁴

Imre Lakatos memberikan kerangka klarifikasi yang lebih seimbang melalui konsep research programmes, yang menilai teori bukan berdasarkan verifikasi langsung, melainkan berdasarkan kemampuannya untuk berkembang secara progresif.⁵ Dalam pandangan Lakatosian, teori string dapat dianggap sebagai program riset progresif karena telah melahirkan berbagai temuan teoretis baru—seperti M-Theory, dualitas, dan prinsip holografik—yang memperluas pemahaman tentang gravitasi kuantum dan ruang-waktu.⁶ Dengan demikian, walaupun belum memiliki bukti empiris, teori string tetap memiliki nilai metodologis sebagai medan eksperimen konseptual yang produktif.

Kritik lain datang dari Thomas Kuhn, yang menilai teori string belum mencapai status “paradigma” dalam arti penuh karena belum menggantikan paradigma lama dalam komunitas ilmiah secara luas.⁷ Menurut Kuhn, teori string masih beroperasi sebagai pre-paradigmatic science, yakni tahap di mana ide-ide bersaing tanpa adanya konsensus metodologis dan eksperimental yang mapan.⁸ Dengan kata lain, teori string berada dalam zona transisi antara sains normal dan revolusi ilmiah, dan keberlanjutannya bergantung pada apakah ia dapat menunjukkan bukti konkret di masa depan.

Selain persoalan metodologis, teori string juga menghadapi kritik ontologis dan metafisik. Beberapa fisikawan, seperti Lee Smolin dan Peter Woit, menuduh bahwa teori string telah bergeser dari sains menuju metafisika matematika, karena lebih menekankan keindahan formal dan simetri dibandingkan keterujian empiris.⁹ Smolin berpendapat bahwa dominasi teori string di dunia akademik justru mengekang pluralitas ilmiah, karena mengabaikan pendekatan alternatif seperti loop quantum gravity yang lebih berorientasi pada observasi.¹⁰ Kritik ini menyiratkan bahaya epistemik: ketika sains mengabaikan keterkaitan dengan dunia empiris, ia dapat berubah menjadi sistem tertutup yang berotasi di dalam logika internalnya sendiri.

Namun, banyak klarifikasi filosofis telah diajukan untuk menanggapi kritik tersebut. Richard Dawid, dalam karyanya String Theory and the Scientific Method, mengembangkan gagasan tentang non-empirical theory assessment (NETA), yaitu metode penilaian teori ilmiah berdasarkan indikator non-empiris seperti theoretical coherence, unexpected explanatory coherence, dan no-alternative argument.¹¹ Menurut Dawid, teori string dapat dianggap rasional meskipun belum diverifikasi secara empiris, karena ia menunjukkan konsistensi matematis yang luar biasa dan mampu menjelaskan fenomena yang tidak dirancang untuk dijelaskan sejak awal—misalnya munculnya gravitasi dari getaran string.¹²

Klarifikasi lain datang dari perspektif realisme struktural, yang menekankan bahwa kebenaran ilmiah tidak harus ditentukan oleh keberadaan entitas material yang dapat diamati, tetapi oleh struktur relasional yang stabil di antara entitas tersebut.¹³ Dalam konteks ini, teori string dapat dipahami sebagai representasi dari struktur matematis realitas, bukan deskripsi literal tentang benda-benda fisis.¹⁴ Dengan demikian, klaim bahwa teori string “tidak ilmiah” menjadi kurang relevan, karena realitas dalam sains modern memang tidak lagi bergantung pada observasi langsung, melainkan pada koherensi struktural dan kemampuan menjelaskan fenomena secara konsisten.

Selain itu, teori string juga menimbulkan kritik epistemologis terhadap konsep “keindahan” sebagai kriteria kebenaran ilmiah. Paul Dirac dan Edward Witten, misalnya, berargumen bahwa keindahan matematis sering kali berkorespondensi dengan kebenaran fisis.¹⁵ Namun, para filsuf seperti Nancy Cartwright dan Bas van Fraassen memperingatkan bahwa keindahan tidak dapat dijadikan ukuran universal, karena realitas tidak selalu tunduk pada prinsip estetika manusia.¹⁶ Kritik ini penting karena menunjukkan bahaya estetisasi sains, di mana teori yang indah secara formal bisa saja menyesatkan jika dilepaskan dari konteks empiris dan pengalaman manusia.

Klarifikasi filosofis terhadap kritik ini menunjukkan bahwa teori string, meskipun belum dapat diverifikasi secara langsung, tetap memiliki status epistemik yang sah dalam lanskap filsafat sains kontemporer. Ia mewakili bentuk rasionalitas teoretis reflektif, di mana kebenaran ilmiah tidak hanya diukur dari observasi, tetapi juga dari kapasitas teori untuk menata, menghubungkan, dan menjelaskan berbagai fenomena dalam satu kerangka logis yang koheren.¹⁷ Teori string mengajarkan bahwa dalam sains modern, hubungan antara empirisme dan rasionalisme bukanlah dikotomi yang kaku, melainkan dialektika yang dinamis antara pengamatan dan imajinasi konseptual.

Dengan demikian, kritik dan klarifikasi filosofis terhadap teori string memperlihatkan wajah baru filsafat ilmu di abad ke-21—sebuah filsafat yang lebih inklusif terhadap bentuk-bentuk pengetahuan yang spekulatif namun konsisten, dan yang melihat sains bukan sekadar praktik eksperimental, melainkan proyek epistemik yang juga bersifat metafisik dan estetis. Teori string mungkin belum dapat diuji, tetapi secara filosofis, ia telah memperluas batas-batas pemikiran manusia tentang apa yang dimaksud dengan “mengetahui” dan “menjelaskan” realitas.


Footnotes

[1]                ¹ Peter Woit, Not Even Wrong: The Failure of String Theory and the Search for Unity in Physical Law (New York: Basic Books, 2006), 42–47.

[2]                ² Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Hutchinson, 1959), 40–45.

[3]                ³ Michio Kaku, Parallel Worlds: A Journey Through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos (New York: Doubleday, 2005), 101–104.

[4]                ⁴ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 13–18.

[5]                ⁵ Imre Lakatos, The Methodology of Scientific Research Programmes (Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 47–50.

[6]                ⁶ Barton Zwiebach, A First Course in String Theory (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 301–304.

[7]                ⁷ Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 122–125.

[8]                ⁸ Ernan McMullin, “Rationality and Paradigm Change in Science,” Proceedings of the Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association (1970): 132–138.

[9]                ⁹ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 75–79.

[10]             ¹⁰ Ibid., 102–105.

[11]             ¹¹ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method, 93–97.

[12]             ¹² Edward Witten, “Reflections on the Fate of Space-Time,” Physics Today 49, no. 4 (1996): 24–30.

[13]             ¹³ John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[14]             ¹⁴ James Ladyman and Don Ross, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 121–125.

[15]             ¹⁵ Paul Dirac, Directions in Physics (New York: Wiley, 1978), 35–38.

[16]             ¹⁶ Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon Press, 1983), 128–132; Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 42–45.

[17]             ¹⁷ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 240–244.


9.           Relevansi Kontemporer

Dalam konteks ilmu pengetahuan dan filsafat modern, teori string memiliki relevansi yang luas, baik dalam ranah sains teoretis, filsafat ilmu, maupun refleksi budaya kontemporer tentang hakikat realitas dan batas pengetahuan manusia. Sebagai kerangka konseptual yang mencoba menyatukan semua gaya fundamental alam, teori string tetap menjadi simbol dari aspirasi intelektual manusia untuk memahami kesatuan kosmos.¹ Meskipun belum memiliki konfirmasi empiris langsung, teori ini telah mendorong revolusi paradigmatik dalam cara ilmuwan memandang hubungan antara matematika, fisika, dan metafisika.²

Secara ilmiah, relevansi teori string terutama terletak pada kontribusinya terhadap pencarian gravitasi kuantum—masalah besar yang selama beberapa dekade menjadi tantangan utama bagi fisika teoretis.³ Dalam relativitas umum, gravitasi dijelaskan sebagai kelengkungan ruang-waktu akibat massa dan energi, sedangkan dalam mekanika kuantum, gaya-gaya lain dijelaskan melalui pertukaran partikel. Teori string menyediakan jembatan konseptual antara keduanya dengan memodelkan partikel sebagai string bergetar yang dapat menghasilkan partikel spin dua (graviton) secara alami.⁴ Dengan demikian, teori string memberikan kerangka yang memungkinkan konsistensi antara hukum gravitasi dan prinsip kuantum, sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh teori medan konvensional.

Selain itu, teori string memiliki relevansi besar dalam kosmologi modern. Dalam beberapa model, teori string dapat menjelaskan fenomena kosmik seperti inflasi awal alam semesta, energi gelap, dan potensi eksistensi multiverse melalui apa yang dikenal sebagai string landscape.⁵ Gagasan bahwa mungkin ada banyak alam semesta dengan konstanta fisika yang berbeda membuka perdebatan metafisik dan teologis baru tentang kontingensi dan keunikan realitas.⁶ Beberapa fisikawan seperti Leonard Susskind berpendapat bahwa multiverse bukan sekadar spekulasi, tetapi konsekuensi logis dari solusi teori string terhadap persamaan medan dalam ruang berdimensi tinggi.⁷

Dalam ranah matematika dan teknologi, teori string telah menjadi katalis bagi munculnya kemajuan signifikan dalam geometri diferensial, topologi, dan teori medan kuantum supersimetrik.⁸ Banyak struktur matematis baru—seperti mirror symmetry, Calabi–Yau manifolds, dan moduli space—lahir dari eksplorasi teori string dan kini digunakan secara luas dalam cabang-cabang matematika murni.⁹ Bahkan, kerja sama antara fisikawan dan matematikawan di bidang ini telah menghasilkan paradigma baru yang menghapus batas antara ilmu teoretis dan matematika formal.¹⁰

Relevansi teori string juga meluas ke pemikiran filosofis dan epistemologis kontemporer. Ia menantang batas antara sains dan metafisika dengan menunjukkan bahwa teori ilmiah dapat bersifat sahih meskipun belum teruji secara empiris, selama memiliki koherensi internal dan kapasitas penjelasan yang luas.¹¹ Dalam konteks ini, teori string mencerminkan bentuk rasionalisme reflektif, di mana pengetahuan ilmiah tidak lagi dibatasi oleh verifikasi empiris, tetapi juga dinilai berdasarkan nilai teoretis, elegansi, dan kekuatan prediktifnya.¹² Hal ini merepresentasikan pergeseran epistemologis dalam sains abad ke-21 menuju rasionalitas non-empiris, sebagaimana dikemukakan oleh Richard Dawid, di mana teori yang belum diverifikasi dapat tetap dianggap sah secara ilmiah melalui konsistensi dan integrasi lintas-teori.¹³

Dari segi filsafat ilmu dan etika pengetahuan, teori string menawarkan refleksi baru tentang tujuan sains. Ia menunjukkan bahwa motivasi ilmiah tidak selalu bersifat utilitarian atau pragmatis, tetapi juga dapat bersifat estetik dan eksistensial.¹⁴ Upaya untuk memahami kesatuan fundamental alam semesta mencerminkan dorongan manusia untuk menemukan makna kosmik di balik keteraturan alam, sebagaimana diungkapkan oleh Albert Einstein bahwa “hal yang paling tidak dapat dipahami dari alam semesta adalah bahwa alam semesta itu dapat dipahami.”¹⁵ Dengan demikian, teori string bukan hanya instrumen rasionalitas, melainkan juga ekspresi dari etos pencarian kebenaran universal yang menjadi inti dari sains dan filsafat.

Lebih jauh, dalam konteks budaya intelektual global, teori string mempengaruhi cara berpikir lintas-disiplin—dari filsafat, teologi, hingga seni.¹⁶ Konsep harmoni kosmik, getaran universal, dan ruang berdimensi tinggi menginspirasi pemikiran baru dalam estetika kontemporer, metafor musikal tentang semesta, hingga teologi ilmiah yang mencoba memahami Tuhan sebagai prinsip keteraturan rasional alam.¹⁷ Dengan demikian, teori string berperan sebagai jembatan konseptual antara sains dan humaniora, antara rasio dan makna.

Dalam perkembangan teknologi, relevansi teori string juga mulai tampak dalam filsafat komputasi dan informasi kuantum.¹⁸ Hubungan antara teori string dan teori medan konformal memberikan dasar bagi pemahaman baru tentang entropi, informasi, dan holografi, yang menjadi dasar dari prinsip holografik (holographic principle).¹⁹ Prinsip ini, yang dikembangkan oleh Gerard ’t Hooft dan Leonard Susskind, menyatakan bahwa informasi fisik dari suatu volume ruang dapat direpresentasikan secara penuh pada batas dua dimensinya—sebuah gagasan yang kini berpengaruh dalam penelitian komputasi kuantum dan teori informasi gravitasi.²⁰ Konsep ini memperkuat relevansi teori string tidak hanya dalam bidang teoritis, tetapi juga dalam kerangka teknologi masa depan yang melibatkan fisika informasi.

Akhirnya, teori string tetap relevan sebagai cermin dari keterbatasan dan potensi rasio manusia.²¹ Ia menunjukkan bahwa pencarian pengetahuan tidak selalu menghasilkan kepastian, tetapi sering kali membuka horizon pertanyaan baru yang lebih dalam.²² Dalam arti ini, teori string tidak hanya memperluas cakrawala sains, tetapi juga memperdalam kesadaran filosofis tentang hakikat pengetahuan itu sendiri. Di tengah era digital dan fragmentasi informasi, teori string menghadirkan visi yang integratif: bahwa alam semesta, betapapun kompleksnya, masih tunduk pada prinsip kesatuan yang rasional dan indah.²³

Dengan demikian, relevansi kontemporer teori string tidak terbatas pada domain ilmiah semata, melainkan menjangkau wilayah etika pengetahuan, metafisika, dan budaya ilmiah modern. Ia adalah simbol dari sintesis baru antara rasionalitas dan imajinasi, antara eksak dan estetik, antara sains dan filsafat—sebuah proyek intelektual yang terus menginspirasi manusia untuk mencari harmoni terdalam dalam tatanan kosmos.


Footnotes

[1]                ¹ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 303–307.

[2]                ² Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (London: Jonathan Cape, 2004), 900–904.

[3]                ³ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 225–229.

[4]                ⁴ Edward Witten, “Reflections on the Fate of Space-Time,” Physics Today 49, no. 4 (1996): 24–30.

[5]                ⁵ Leonard Susskind, The Cosmic Landscape: String Theory and the Illusion of Intelligent Design (New York: Little, Brown, 2005), 15–21.

[6]                ⁶ Max Tegmark, “Parallel Universes,” Scientific American 288, no. 5 (2003): 40–51.

[7]                ⁷ Ibid., 48–49.

[8]                ⁸ Shing-Tung Yau and Steve Nadis, The Shape of Inner Space: String Theory and the Geometry of the Universe’s Hidden Dimensions (New York: Basic Books, 2010), 91–96.

[9]                ⁹ Philip Candelas et al., “Compactified Calabi–Yau Manifolds and Particle Physics,” Nuclear Physics B 258, no. 1 (1985): 46–74.

[10]             ¹⁰ Edward Frenkel, Love and Math: The Heart of Hidden Reality (New York: Basic Books, 2013), 178–181.

[11]             ¹¹ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 108–112.

[12]             ¹² Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981), 75–80.

[13]             ¹³ Dawid, String Theory and the Scientific Method, 124–128.

[14]             ¹⁴ Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper, 1958), 41–44.

[15]             ¹⁵ Albert Einstein, Ideas and Opinions (New York: Crown, 1954), 262.

[16]             ¹⁶ Fritjof Capra, The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels Between Modern Physics and Eastern Mysticism (Boston: Shambhala, 1975), 120–124.

[17]             ¹⁷ Karen Barad, Meeting the Universe Halfway: Quantum Physics and the Entanglement of Matter and Meaning (Durham, NC: Duke University Press, 2007), 87–91.

[18]             ¹⁸ Michio Kaku, Quantum Supremacy: How the Quantum Computer Revolution Will Change Everything (London: Allen Lane, 2023), 112–117.

[19]             ¹⁹ Gerard ’t Hooft, “Dimensional Reduction in Quantum Gravity,” arXiv preprint gr-qc/9310026 (1993): 1–5.

[20]             ²⁰ Leonard Susskind, “The World as a Hologram,” Journal of Mathematical Physics 36, no. 11 (1995): 6377–6396.

[21]             ²¹ Paul Davies, The Mind of God: The Scientific Basis for a Rational World (New York: Simon & Schuster, 1992), 214–218.

[22]             ²² Stephen Hawking, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010), 159–162.

[23]             ²³ Carlo Rovelli, Helgoland: Making Sense of the Quantum Revolution (London: Penguin, 2021), 191–195.


10.       Sintesis Filosofis: Antara Matematisme dan Realitas

Teori string, dengan seluruh kompleksitas matematis dan implikasi metafisiknya, memunculkan kebutuhan untuk melakukan sintesis filosofis antara dua kutub besar dalam filsafat ilmu: matematisme dan realisme. Kedua orientasi ini telah lama mewakili dua cara pandang berbeda terhadap hakikat pengetahuan dan eksistensi. Matematisme memandang bahwa struktur matematika bukan sekadar alat representasional, melainkan inti realitas itu sendiri; sedangkan realisme menegaskan bahwa dunia fisik eksis secara independen dari model matematis yang dibuat manusia.¹ Dalam konteks teori string, sintesis antara keduanya menjadi penting karena teori ini menempati posisi unik: ia merupakan formulasi matematis yang sangat elegan, namun sekaligus mengklaim menjelaskan realitas fisik terdalam alam semesta.²

Dari perspektif matematisme ontologis, seperti yang diusulkan oleh Max Tegmark melalui Mathematical Universe Hypothesis, alam semesta pada dasarnya adalah struktur matematis yang eksis secara objektif.³ Dalam pandangan ini, teori string merupakan bukti bahwa hukum-hukum fisika pada hakikatnya adalah pola-pola matematis yang mengatur getaran eksistensi. Struktur ruang Calabi–Yau, simetri supersimetri, dan prinsip dualitas bukan hanya deskripsi, tetapi bentuk eksistensi itu sendiri.⁴ Dengan demikian, teori string memperkuat gagasan Pythagoras dan Plato bahwa kosmos bersifat rasional dan tersusun menurut tatanan matematis.⁵

Namun, matematisme yang radikal menghadapi kritik dari kalangan realis ilmiah, yang berpendapat bahwa matematika hanyalah representasi ideal yang membantu kita memahami dunia, bukan realitas itu sendiri.⁶ Realitas fisik, dalam pandangan ini, memiliki keberadaan independen yang tidak dapat direduksi menjadi struktur formal. Fisikawan seperti Lee Smolin dan filosuf seperti Nancy Cartwright mengingatkan bahwa teori string, betapapun elegannya, mungkin hanya mencerminkan kemampuan simbolik pikiran manusia, bukan struktur objektif dunia.⁷ Smolin bahkan menyatakan bahwa “teori string lebih menyerupai cermin intelektual manusia daripada jendela menuju realitas.”⁸

Sintesis filosofis antara kedua posisi ini dapat dicapai melalui pendekatan realisme struktural, yang berusaha menggabungkan elemen-elemen dari matematisme dan realisme empiris.⁹ Dalam kerangka ini, teori string dianggap tidak sekadar model matematis, tetapi representasi struktur relasional dunia, yakni jaringan hukum dan simetri yang membentuk realitas.¹⁰ Apa yang “nyata” bukanlah entitas fisik atau simbol matematis secara terpisah, melainkan pola relasi yang stabil di antara keduanya.¹¹ Dengan demikian, teori string dapat dipahami sebagai deskripsi tingkat menengah antara realitas ontologis dan model epistemik manusia—sebuah bentuk korespondensi struktural antara bentuk dan fakta.¹²

Lebih jauh, sintesis ini menuntun kita pada pemahaman baru tentang rasionalitas ilmiah. Teori string mengajarkan bahwa rasionalitas tidak dapat dipisahkan dari imajinasi matematis; keduanya bekerja dalam dialektika kreatif yang memungkinkan munculnya teori-teori baru.¹³ Proses ilmiah bukan hanya proses verifikasi empiris, tetapi juga proses kreatif yang bersifat hermeneutik, di mana ilmuwan menafsirkan struktur realitas melalui simbol dan persamaan.¹⁴ Dalam hal ini, teori string dapat dianggap sebagai bentuk “filsafat simbolik” sains modern: usaha manusia untuk menafsirkan kosmos dengan bahasa yang melampaui indra.

Dalam tataran metafisik, sintesis antara matematisme dan realitas juga memunculkan konsepsi baru tentang keberadaan dan keteraturan. Jika realitas pada dasarnya bersifat matematis, maka keberadaan bukanlah kumpulan objek, melainkan ritme keteraturan yang termanifestasi sebagai getaran energi multidimensi.¹⁵ Namun, jika kita menerima realisme empiris, maka struktur matematis teori string hanyalah salah satu cara manusia memahami keteraturan tersebut.¹⁶ Dalam sintesisnya, kedua pandangan ini saling melengkapi: matematika menyediakan bentuk universal bagi pengetahuan, sementara realitas memberikan isi dan kebermaknaan bagi bentuk tersebut.¹⁷

Secara aksiologis, sintesis ini juga menegaskan nilai kerendahan epistemik (epistemic humility) dalam sains modern.¹⁸ Teori string menunjukkan bahwa semakin dalam manusia menggali struktur realitas, semakin ia menyadari keterbatasan pengetahuannya sendiri. Di tengah kesempurnaan formalisme matematis, teori ini mengingatkan bahwa kebenaran ilmiah selalu bersifat terbuka dan asimptotik—selalu mendekati, tetapi tidak pernah sepenuhnya menjangkau, realitas yang absolut.¹⁹ Dalam konteks ini, sains menjadi bukan sekadar pencarian jawaban, tetapi juga praktik reflektif yang menegaskan kerendahan dan kebesaran rasio secara bersamaan.

Akhirnya, sintesis filosofis antara matematisme dan realitas dalam teori string menggambarkan kesatuan antara bentuk dan makna, antara logos dan kosmos.²⁰ Ia menampilkan pandangan dunia di mana sains, filsafat, dan estetika bertemu dalam harmoni konseptual: alam semesta sebagai struktur matematis yang hidup, dan manusia sebagai subjek yang menafsirkan getaran rasionalnya.²¹ Teori string, dalam sintesis ini, bukan hanya teori fisika, melainkan metafora rasional bagi keteraturan eksistensi, suatu upaya modern untuk menghidupkan kembali pandangan klasik bahwa alam adalah musik yang dimainkan oleh hukum-hukum matematika yang tak terlihat.²²

Dengan demikian, teori string menandai fase baru dalam evolusi intelektual manusia: fase di mana batas antara bentuk formal dan kenyataan empiris tidak lagi dipisahkan, melainkan disatukan dalam kesadaran reflektif tentang keindahan rasional alam semesta. Sintesis antara matematisme dan realitas ini tidak hanya memperkaya sains, tetapi juga memperluas horizon metafisika—menegaskan bahwa memahami alam semesta berarti berpartisipasi dalam keteraturannya, dan bahwa pengetahuan sejati adalah harmoni antara logika dan keberadaan.


Footnotes

[1]                ¹ Bertrand Russell, The Principles of Mathematics (Cambridge: Cambridge University Press, 1903), 5–9.

[2]                ² Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 309–314.

[3]                ³ Max Tegmark, “The Mathematical Universe,” Foundations of Physics 38, no. 2 (2008): 101–150.

[4]                ⁴ Shing-Tung Yau and Steve Nadis, The Shape of Inner Space: String Theory and the Geometry of the Universe’s Hidden Dimensions (New York: Basic Books, 2010), 94–97.

[5]                ⁵ Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (London: Jonathan Cape, 2004), 892–896.

[6]                ⁶ Hilary Putnam, Mathematics, Matter and Method (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 77–80.

[7]                ⁷ Nancy Cartwright, How the Laws of Physics Lie (Oxford: Clarendon Press, 1983), 132–136.

[8]                ⁸ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 74–77.

[9]                ⁹ John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[10]             ¹⁰ James Ladyman and Don Ross, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 122–127.

[11]             ¹¹ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 128–131.

[12]             ¹² Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Clarendon Press, 1980), 51–55.

[13]             ¹³ Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper, 1958), 45–49.

[14]             ¹⁴ Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 125–129.

[15]             ¹⁵ Alfred North Whitehead, Process and Reality (New York: Free Press, 1978), 28–31.

[16]             ¹⁶ Paul Davies, The Mind of God: The Scientific Basis for a Rational World (New York: Simon & Schuster, 1992), 214–218.

[17]             ¹⁷ Ernan McMullin, “The Fertility of Theory and the Unit of Science,” Philosophy of Science 45, no. 3 (1978): 355–368.

[18]             ¹⁸ Richard Rorty, Philosophy and the Mirror of Nature (Princeton: Princeton University Press, 1979), 143–146.

[19]             ¹⁹ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 241–245.

[20]             ²⁰ Werner Heisenberg, Physics and Philosophy, 55–58.

[21]             ²¹ Roger Penrose, The Road to Reality, 904–909.

[22]             ²² Fritjof Capra, The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels Between Modern Physics and Eastern Mysticism (Boston: Shambhala, 1975), 120–124.


11.       Kesimpulan

Teori string, sebagai salah satu usaha paling ambisius dalam sejarah pemikiran ilmiah, menempati posisi unik di antara batas-batas fisika, matematika, dan filsafat. Ia tidak sekadar berfungsi sebagai teori fisika yang berupaya menjelaskan fenomena alam, tetapi juga sebagai kerangka metafisik dan epistemologis yang menantang pemahaman manusia tentang realitas.¹ Dalam teori ini, partikel-elementer dipandang bukan sebagai titik tanpa dimensi, melainkan sebagai entitas satu dimensi yang bergetar di dalam ruang berdimensi tinggi, menciptakan spektrum energi dan gaya yang membentuk dunia yang kita alami.² Dengan demikian, teori string menggabungkan keindahan matematis dengan aspirasi metafisik, menghadirkan bentuk pengetahuan yang melampaui batas empirisme tradisional.

Secara ontologis, teori string menawarkan pandangan monistik dan relasional tentang alam semesta: seluruh realitas dipandang sebagai manifestasi dari getaran energi yang sama, yang menampakkan diri dalam berbagai bentuk partikel dan gaya fundamental.³ Ontologi ini menggeser paradigma materialistik klasik menuju pandangan energetik-struktural, di mana “ada” berarti “bergetar” dalam pola yang teratur.⁴ Dalam perspektif ini, realitas bukanlah kumpulan entitas diskret, melainkan jaringan dinamis yang terhubung melalui hukum simetri dan geometri multidimensi.⁵

Epistemologinya menunjukkan transisi besar dalam filsafat ilmu modern. Jika fisika abad ke-19 menekankan verifikasi empiris, teori string memperluas horizon pengetahuan melalui rasionalitas non-empiris—sebuah bentuk penalaran di mana koherensi matematis, keindahan formal, dan integrasi konseptual menjadi kriteria kebenaran ilmiah.⁶ Hal ini menandakan bahwa ilmu pengetahuan kontemporer tidak lagi bergantung sepenuhnya pada observasi langsung, tetapi juga pada kekuatan deduksi logis dan struktur simbolik yang dapat menggambarkan realitas yang belum teramati.⁷ Meskipun hal ini memicu perdebatan tentang status ilmiah teori string, justru di situlah letak sumbangsih filosofisnya: ia memperluas definisi tentang apa yang disebut “mengetahui.”

Secara aksiologis, teori string memperlihatkan nilai-nilai kesatuan pengetahuan, keindahan rasional, dan kerendahan epistemik.⁸ Di satu sisi, ia menginspirasi ideal kesatuan kosmos yang telah menjadi cita-cita manusia sejak zaman Yunani kuno; di sisi lain, ia menegaskan keterbatasan kemampuan manusia untuk mengonfirmasi teori tersebut secara empiris.⁹ Dengan demikian, teori string mengajarkan bahwa pengetahuan sejati lahir dari ketegangan antara keinginan untuk memahami segalanya dan kesadaran akan batas-batas rasio.¹⁰ Dalam konteks ini, teori string tidak hanya menjadi instrumen penjelasan ilmiah, tetapi juga refleksi eksistensial tentang hakikat pencarian manusia terhadap kebenaran dan makna.

Dari segi filsafat ilmu, teori string memunculkan paradigma baru yang dapat disebut realisme struktural matematis—pandangan bahwa realitas terwujud dalam pola dan struktur matematis yang dapat diakses melalui rasio.¹¹ Ia menggabungkan aspek-aspek utama dari realisme ilmiah dan matematisme, sehingga menciptakan jembatan antara empirisme dan rasionalisme.¹² Teori ini menunjukkan bahwa di balik kerumitan fenomena, terdapat keteraturan geometris yang tidak hanya menjelaskan, tetapi juga memungkinkan keberadaan itu sendiri.¹³

Dalam konteks kontemporer, relevansi teori string melampaui batas fisika teoretis. Ia memengaruhi perkembangan kosmologi, teknologi informasi kuantum, dan filsafat pengetahuan.¹⁴ Melalui prinsip-prinsip seperti holographic duality dan Calabi–Yau geometry, teori ini menegaskan bahwa struktur informasi dan ruang-waktu saling berhubungan, sehingga membuka cara pandang baru terhadap realitas dan eksistensi.¹⁵ Di luar laboratorium, teori string juga menginspirasi wacana budaya, teologis, dan estetis yang menafsirkan alam semesta sebagai simfoni rasional, tempat matematika menjadi bahasa universal keberadaan.¹⁶

Pada akhirnya, teori string dapat dipahami sebagai metafora rasional dari harmoni kosmos. Ia menunjukkan bahwa antara sains dan filsafat tidak terdapat pemisahan mutlak, melainkan hubungan koheren yang saling memperkaya.¹⁷ Dengan menyatukan prinsip matematika dan metafisika, teori ini menghidupkan kembali cita-cita klasik tentang kesatuan antara logos dan kosmos—antara rasio manusia dan keteraturan alam semesta.¹⁸ Mungkin teori string belum mencapai pembuktian empiris yang diharapkan, namun secara filosofis, ia telah mengubah cara manusia memahami dunia: dari melihat alam semesta sebagai mesin, menjadi melihatnya sebagai jaringan resonansi intelektual dan matematis yang bermakna.¹⁹

Dengan demikian, teori string bukan sekadar teori ilmiah, melainkan manifestasi modern dari pencarian universal terhadap kebenaran, keindahan, dan kesatuan.²⁰ Ia mengingatkan kita bahwa memahami alam bukan hanya soal mengukur dan menghitung, tetapi juga soal merenungi—bahwa di balik persamaan dan dimensi tersembunyi, terdapat tatanan rasional yang sekaligus misterius, tempat ilmu dan filsafat saling berjumpa dalam harmoni yang abadi.


Footnotes

[1]                ¹ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for the Ultimate Theory (New York: W. W. Norton, 1999), 312–315.

[2]                ² Michio Kaku, Introduction to Superstrings and M-Theory (New York: Springer, 1999), 28–32.

[3]                ³ Edward Witten, “String Theory Dynamics in Various Dimensions,” Nuclear Physics B 443, no. 1 (1995): 85–126.

[4]                ⁴ Roger Penrose, The Road to Reality: A Complete Guide to the Laws of the Universe (London: Jonathan Cape, 2004), 889–893.

[5]                ⁵ Carlo Rovelli, Reality Is Not What It Seems: The Journey to Quantum Gravity (London: Penguin, 2016), 236–240.

[6]                ⁶ Richard Dawid, String Theory and the Scientific Method (Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 41–44.

[7]                ⁷ Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Hutchinson, 1959), 36–38.

[8]                ⁸ Ernan McMullin, “The Fertility of Theory and the Unit of Science,” Philosophy of Science 45, no. 3 (1978): 355–368.

[9]                ⁹ Lee Smolin, The Trouble with Physics: The Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 78–81.

[10]             ¹⁰ Werner Heisenberg, Physics and Philosophy: The Revolution in Modern Science (New York: Harper, 1958), 43–46.

[11]             ¹¹ John Worrall, “Structural Realism: The Best of Both Worlds?,” Dialectica 43, no. 1–2 (1989): 99–124.

[12]             ¹² James Ladyman and Don Ross, Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (Oxford: Oxford University Press, 2007), 120–125.

[13]             ¹³ Shing-Tung Yau and Steve Nadis, The Shape of Inner Space: String Theory and the Geometry of the Universe’s Hidden Dimensions (New York: Basic Books, 2010), 88–92.

[14]             ¹⁴ Leonard Susskind, The Cosmic Landscape: String Theory and the Illusion of Intelligent Design (New York: Little, Brown, 2005), 53–57.

[15]             ¹⁵ Juan Maldacena, “The Large-N Limit of Superconformal Field Theories and Supergravity,” Advances in Theoretical and Mathematical Physics 2, no. 2 (1998): 231–252.

[16]             ¹⁶ Fritjof Capra, The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels Between Modern Physics and Eastern Mysticism (Boston: Shambhala, 1975), 122–126.

[17]             ¹⁷ Paul Davies, The Mind of God: The Scientific Basis for a Rational World (New York: Simon & Schuster, 1992), 217–221.

[18]             ¹⁸ Roger Penrose, The Road to Reality, 904–907.

[19]             ¹⁹ Carlo Rovelli, Helgoland: Making Sense of the Quantum Revolution (London: Penguin, 2021), 191–194.

[20]             ²⁰ Albert Einstein, Ideas and Opinions (New York: Crown, 1954), 260–263.


Daftar Pustaka

Ayer, A. J. (1936). Language, truth and logic. London: Gollancz.

Benjamin, A. C. (1955). Philosophy of science. New York: The Ronald Press Company.

Bousso, R. (2002). The holographic principle. Reviews of Modern Physics, 74(3), 825–874.

Candelas, P., Horowitz, G. T., Strominger, A., & Witten, E. (1985). Compactified Calabi–Yau manifolds and particle physics. Nuclear Physics B, 258(1), 46–74.

Capra, F. (1975). The Tao of physics: An exploration of the parallels between modern physics and Eastern mysticism. Boston: Shambhala.

Cartwright, N. (1983). How the laws of physics lie. Oxford: Clarendon Press.

Close, F. (2011). The infinity puzzle: Quantum field theory and the hunt for an orderly universe. New York: Basic Books.

Davies, P. (1992). The mind of God: The scientific basis for a rational world. New York: Simon & Schuster.

Dawid, R. (2013). String theory and the scientific method. Cambridge: Cambridge University Press.

Dirac, P. A. M. (1958). The principles of quantum mechanics (4th ed.). Oxford: Clarendon Press.

Dirac, P. A. M. (1978). Directions in physics. New York: Wiley.

Einstein, A. (1954). Ideas and opinions. New York: Crown.

Einstein, A. (1956). The meaning of relativity (5th ed.). Princeton: Princeton University Press.

Frenkel, E. (2013). Love and math: The heart of hidden reality. New York: Basic Books.

Greene, B. (1999). The elegant universe: Superstrings, hidden dimensions, and the quest for the ultimate theory. New York: W. W. Norton.

Gross, D. J. (1996). The role of symmetry in fundamental physics. Proceedings of the National Academy of Sciences, 93(25), 14256–14259.

Gubser, S. S., Klebanov, I. R., & Polyakov, A. M. (1998). Gauge theory correlators from non-critical string theory. Physics Letters B, 428(1), 105–114.

Hacking, I. (1983). Representing and intervening: Introductory topics in the philosophy of natural science. Cambridge: Cambridge University Press.

Hawking, S. (2010). The grand design. New York: Bantam Books.

Heisenberg, W. (1958). Physics and philosophy: The revolution in modern science. New York: Harper.

Kaku, M. (1999). Introduction to superstrings and M-theory (2nd ed.). New York: Springer.

Kaku, M. (2005). Parallel worlds: A journey through creation, higher dimensions, and the future of the cosmos. New York: Doubleday.

Kaku, M. (2023). Quantum supremacy: How the quantum computer revolution will change everything. London: Allen Lane.

Kuhn, T. S. (1962). The structure of scientific revolutions. Chicago: University of Chicago Press.

Lakatos, I. (1978). The methodology of scientific research programmes. Cambridge: Cambridge University Press.

Ladyman, J., & Ross, D. (2007). Every thing must go: Metaphysics naturalized. Oxford: Oxford University Press.

Maddy, P. (1990). Realism in mathematics. Oxford: Clarendon Press.

Maldacena, J. (1998). The large-N limit of superconformal field theories and supergravity. Advances in Theoretical and Mathematical Physics, 2(2), 231–252.

McMullin, E. (1978). The fertility of theory and the unit of science. Philosophy of Science, 45(3), 355–368.

McMullin, E. (1970). Rationality and paradigm change in science. Proceedings of the Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association (Vol. 1970, pp. 132–138).

Merton, R. K. (1973). The sociology of science: Theoretical and empirical investigations. Chicago: University of Chicago Press.

Nambu, Y. (1970). Duality and hadrodynamics. Lecture Notes at Copenhagen Summer Symposium, 1–14.

Newton, I. (1687). Philosophiae naturalis principia mathematica. London: Royal Society.

Nielsen, H. B., & Susskind, L. (1972). A string model of hadrons. Nuclear Physics B, 43(1), 45–55.

Penrose, R. (2004). The road to reality: A complete guide to the laws of the universe. London: Jonathan Cape.

Polyakov, A. M. (1981). Quantum geometry of bosonic strings. Physics Letters B, 103(3), 207–210.

Popper, K. R. (1959). The logic of scientific discovery. London: Hutchinson.

Popper, K. R. (1963). Conjectures and refutations: The growth of scientific knowledge. London: Routledge.

Putnam, H. (1975). Mathematics, matter and method. Cambridge: Cambridge University Press.

Putnam, H. (1981). Reason, truth and history. Cambridge: Cambridge University Press.

Rorty, R. (1979). Philosophy and the mirror of nature. Princeton: Princeton University Press.

Rovelli, C. (2016). Reality is not what it seems: The journey to quantum gravity. London: Penguin.

Rovelli, C. (2021). Helgoland: Making sense of the quantum revolution. London: Penguin.

Russell, B. (1903). The principles of mathematics. Cambridge: Cambridge University Press.

Scherk, J., & Schwarz, J. H. (1974). Dual models for nonhadrons. Nuclear Physics B, 81(1), 118–144.

Schwarz, J. H. (1997). Lectures on superstring and M-theory dualities. Nuclear Physics B, 55, 1–32.

Smolin, L. (2001). Three roads to quantum gravity. New York: Basic Books.

Smolin, L. (2006). The trouble with physics: The rise of string theory, the fall of a science, and what comes next. Boston: Houghton Mifflin.

Susskind, L. (2005). The cosmic landscape: String theory and the illusion of intelligent design. New York: Little, Brown.

Susskind, L. (2008). The black hole war: My battle with Stephen Hawking to make the world safe for quantum mechanics. New York: Little, Brown.

Tegmark, M. (2008). The mathematical universe. Foundations of Physics, 38(2), 101–150.

Thorne, K. S. (1994). Black holes and time warps: Einstein’s outrageous legacy. New York: W. W. Norton.

Townsend, P. K. (1995). The eleven-dimensional supermembrane revisited. Physics Letters B, 350(2), 184–187.

van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image. Oxford: Clarendon Press.

Veneziano, G. (1968). Construction of a crossing-symmetric, Regge-behaved amplitude for linearly rising trajectories. Il Nuovo Cimento A, 57(1), 190–197.

Weinberg, S. (1992). Dreams of a final theory. New York: Pantheon Books.

Whitehead, A. N. (1978). Process and reality. New York: Free Press.

Witten, E. (1995). String theory dynamics in various dimensions. Nuclear Physics B, 443(1), 85–126.

Witten, E. (1996). Reflections on the fate of space-time. Physics Today, 49(4), 24–30.

Witten, E. (1997). Superstring theory and beyond. Physics Today, 50(5), 28–33.

Woit, P. (2006). Not even wrong: The failure of string theory and the search for unity in physical law. New York: Basic Books.

Worrall, J. (1989). Structural realism: The best of both worlds? Dialectica, 43(1–2), 99–124.

Yau, S.-T., & Nadis, S. (2010). The shape of inner space: String theory and the geometry of the universe’s hidden dimensions. New York: Basic Books.

Zwiebach, B. (2004). A first course in string theory. Cambridge: Cambridge University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar