Kamis, 27 November 2025

Agorisme dan Strategi Kontra-Ekonomi: Etika Libertarian, Rasionalitas Pasar Bebas, dan Politik Non-Aggresi

Agorisme dan Strategi Kontra-Ekonomi

Etika Libertarian, Rasionalitas Pasar Bebas, dan Politik Non-Aggresi dalam Diskursus Filsafat Sosial-Politik Modern


Alihkan ke: Libertarianisme.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif Agorisme sebagai salah satu aliran utama dalam diskursus filsafat sosial-politik libertarian yang berfokus pada strategi kontra-ekonomi (counter-economics) sebagai sarana revolusi non-kekerasan. Gagasan ini dirumuskan oleh Samuel Edward Konkin III sebagai respons terhadap keterbatasan libertarianisme politik yang bergantung pada institusi negara. Melalui pendekatan multidimensional—ontologis, epistemologis, dan aksiologis—tulisan ini menunjukkan bahwa agorisme tidak hanya merupakan strategi ekonomi, tetapi juga sistem etika dan epistemologi kebebasan. Secara ontologis, agorisme memandang individu sebagai entitas moral otonom yang menciptakan keteraturan sosial melalui interaksi sukarela; secara epistemologis, ia menolak monopoli pengetahuan oleh negara dan menegaskan pentingnya desentralisasi informasi; sementara secara aksiologis, ia menempatkan prinsip non-aggression (NAP) dan tanggung jawab pribadi sebagai dasar moral kehidupan sosial.

Dalam tataran praksis, artikel ini menelusuri peran kontra-ekonomi sebagai strategi revolusioner yang menggantikan struktur koersif negara dengan jaringan sosial berbasis kebebasan sukarela. Kajian ini juga menyoroti relevansi kontemporer agorisme di era digital, khususnya dalam perkembangan blockchain, cryptocurrency, dan ekosistem decentralized finance (DeFi), yang merepresentasikan realisasi praktis dari prinsip-prinsip agoris. Melalui pendekatan kritis-filosofis, artikel ini menyimpulkan bahwa agorisme mengandung potensi transformatif menuju etika pasar bebas yang humanistik, di mana kebebasan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial bersatu dalam satu kerangka moral. Agorisme dengan demikian bukan sekadar doktrin ekonomi, tetapi sebuah paradigma filsafat kebebasan yang menuntun manusia menuju tatanan sosial yang desentral, etis, dan berkeadilan.

Kata Kunci: Agorisme; Libertarianisme; Kontra-Ekonomi; Etika Non-Agresi; Desentralisasi; Pasar Bebas; Filsafat Sosial-Politik; Samuel Edward Konkin III.


PEMBAHASAN

Memahami Dasar Filosofis, Strategi Praksis, serta Relevansi Agorisme dalam Konteks Sosial-Politik Kontemporer


1.           Pendahuluan

Dalam lanskap filsafat sosial-politik kontemporer, libertarianisme menempati posisi yang unik karena menggabungkan semangat kebebasan individual dengan skeptisisme mendalam terhadap otoritas negara. Di antara ragam aliran dalam tradisi libertarian tersebut, agorisme menonjol sebagai bentuk radikal yang menekankan strategi praksis melalui apa yang disebut sebagai kontra-ekonomi—yakni kegiatan ekonomi sukarela yang berlangsung di luar sistem negara dan hukum positifnya. Gagasan ini berakar pada pandangan bahwa kebebasan sejati hanya dapat direalisasikan melalui tindakan nyata yang secara langsung melemahkan monopoli kekuasaan negara atas kehidupan ekonomi dan sosial manusia.¹

Secara historis, agorisme lahir dari lingkungan intelektual libertarian Amerika Serikat pada dekade 1970-an, ketika Samuel Edward Konkin III (SEK3) menulis The New Libertarian Manifesto sebagai tanggapan terhadap ketegangan antara libertarianisme teoretis dan praksis politik elektoral.² Dalam pandangan Konkin, upaya libertarian untuk merebut kekuasaan negara merupakan kontradiksi internal, sebab kekuasaan negara sendiri merupakan antitesis terhadap prinsip kebebasan.³ Oleh karena itu, ia mengusulkan jalur alternatif: membangun ruang sosial-ekonomi yang otonom melalui praktik pasar bebas yang tidak diatur dan bersifat sukarela, yang ia sebut agora—mengambil istilah dari bahasa Yunani kuno yang berarti “ruang pertemuan bebas”.

Secara filosofis, agorisme dapat dipahami sebagai ekspresi dari ontologi individualis dan aksiologi non-agresi, di mana nilai moral tertinggi adalah kebebasan bertindak tanpa paksaan, sejauh tidak melanggar hak orang lain.⁴ Prinsip dasar ini, dikenal sebagai Non-Aggression Principle (NAP), menjadi fondasi etis bagi seluruh struktur pemikiran libertarian. Dalam konteks ini, strategi kontra-ekonomi bukan semata upaya ekonomi alternatif, melainkan juga bentuk perlawanan moral terhadap sistem yang dianggap menindas dan tidak sah secara etis.⁵

Di sisi lain, agorisme tidak hanya berbicara tentang ekonomi pasar bebas dalam pengertian klasik, tetapi juga mengenai desentralisasi kekuasaan pengetahuan dan teknologi. Dengan munculnya ekonomi digital, teknologi kriptografi, dan jaringan desentralisasi, prinsip-prinsip agorisme mendapatkan aktualisasi baru dalam bentuk crypto-agorism—yakni penerapan etika pasar bebas dalam ruang digital tanpa perantara negara.⁶ Dalam konteks ini, agorisme tidak hanya menjadi doktrin ekonomi, melainkan paradigma sosial yang menantang konsep negara modern sebagai entitas pengatur tunggal kehidupan publik.

Dengan demikian, kajian terhadap agorisme dan strategi kontra-ekonomi menjadi penting tidak hanya bagi studi filsafat politik libertarian, tetapi juga bagi pemahaman lebih luas tentang bentuk-bentuk resistensi etis terhadap kekuasaan yang terpusat. Artikel ini akan menelaah secara sistematis dasar-dasar historis, ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari agorisme, sekaligus menelusuri relevansinya dalam konteks sosial-politik dan ekonomi digital kontemporer.


Footnotes

[1]                Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 15–17.

[2]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 3–6.

[3]                Ibid., 10–11.

[4]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–14.

[5]                Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 262–64.

[6]                Samuel Edward Konkin III, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–32.


2.           Landasan Historis dan Genealogis Agorisme

Kemunculan agorisme sebagai aliran dalam filsafat sosial-politik libertarian tidak dapat dilepaskan dari dinamika intelektual libertarianisme Amerika Serikat pada paruh kedua abad ke-20. Ia lahir dalam konteks ketegangan ideologis antara libertarianisme minarchist—yang masih mengakui keberadaan negara minimal—dan libertarianisme anarchist, yang menolak seluruh bentuk institusi koersif.¹ Dalam ketegangan inilah, Samuel Edward Konkin III (SEK3) merumuskan agorisme sebagai jalan ketiga: suatu sintesis antara prinsip-prinsip ekonomi Austria, etika non-agresi, dan strategi praksis untuk mencapai masyarakat tanpa negara melalui mekanisme pasar bebas non-koersif.²

2.1.       Akar Intelektual dalam Tradisi Libertarian Klasik dan Ekonomi Austria

Agorisme merupakan produk intelektual yang berakar dalam tradisi liberalisme klasik dan sekolah ekonomi Austria. Dari liberalisme klasik, ia mewarisi komitmen terhadap kebebasan individu, hak milik, dan rasionalitas moral dalam hubungan sosial.³ Dari ekonomi Austria—melalui karya Carl Menger, Ludwig von Mises, dan Friedrich A. Hayek—agorisme mengadopsi metodologi praxeology, yaitu pemahaman tindakan manusia sebagai bentuk ekspresi rasional dari pilihan bebas yang bertujuan.⁴

Namun, berbeda dengan libertarianisme konvensional yang cenderung menekankan kebebasan dalam kerangka hukum positif, agorisme menolak legitimasi negara sebagai penjaga “hukum alami”. Bagi Konkin, negara bukanlah penjaga ketertiban, melainkan instrumen sistematis dari perampasan dan kekerasan yang dilembagakan.⁵ Ia menyebut sistem ini sebagai statism, dan menganggap bahwa partisipasi dalam mekanisme negara, termasuk melalui pemilu, hanya memperkuat dominasi tersebut.⁶

2.2.       Murray Rothbard dan Paradigma Etika Non-Agresi

Pengaruh Murray N. Rothbard sangat signifikan dalam pembentukan kerangka normatif agorisme. Rothbard dalam The Ethics of Liberty (1982) menegaskan prinsip Non-Aggression Principle (NAP), yaitu bahwa tidak seorang pun berhak menggunakan kekerasan terhadap orang lain kecuali dalam pembelaan diri.⁷ Konkin mengambil prinsip ini dan mengembangkannya menjadi strategi praksis yang lebih konkret: jika kekerasan negara tidak dapat dihapus dari dalam, maka individu harus membangun sistem alternatif di luar struktur negara.⁸ Dengan demikian, agorisme memandang resistensi ekonomi sebagai tindakan moral, bukan hanya politik.

Rothbard juga memengaruhi agorisme melalui kritiknya terhadap corporatism—yakni hubungan simbiotik antara pemerintah dan korporasi besar. Dalam pandangan ini, pasar yang “teratur” oleh regulasi negara bukanlah pasar bebas sejati, melainkan bentuk kapitalisme istimewa (crony capitalism) yang menghambat kebebasan ekonomi.⁹ Agorisme kemudian memosisikan dirinya sebagai antitesis terhadap sistem tersebut, dengan mendorong praktik ekonomi bayangan yang didasarkan pada transaksi sukarela tanpa izin negara.

2.3.       Genealogi Kontra-Ekonomi dan Revolusi Non-Kekerasan

Konsep kontra-ekonomi pertama kali diperkenalkan Konkin dalam The New Libertarian Manifesto (1980) sebagai “seluruh tindakan manusia yang tidak diatur oleh negara namun bersifat sukarela dan tidak agresif.”¹⁰ Ia menganggap bahwa perubahan sosial yang sejati hanya dapat dicapai melalui aktivitas ekonomi bebas di luar sistem formal, bukan melalui perolehan kekuasaan politik.¹¹ Dengan demikian, kontra-ekonomi bukanlah pemberontakan bersenjata, melainkan strategi evolusioner yang bertumpu pada etika pasar dan desentralisasi kekuasaan.

Dalam pandangan genealogis, agorisme menempati posisi transformatif di antara dua arus besar libertarianisme abad ke-20: di satu sisi, ia mengakar pada tradisi individualis Amerika yang diwariskan oleh tokoh seperti Lysander Spooner dan Benjamin Tucker; di sisi lain, ia menjadi penghubung menuju bentuk libertarianisme kontemporer yang berfokus pada teknologi dan desentralisasi digital.¹² Agorisme, dengan demikian, bukan hanya teori ekonomi alternatif, melainkan strategi filsafat kebebasan yang menggabungkan moralitas, epistemologi tindakan, dan praksis sosial.


Dari Agora ke Crypto-Agora: Evolusi Genealogis di Era Digital

Dalam perkembangan mutakhir, gagasan agorisme menemukan medium baru melalui munculnya teknologi blockchain, mata uang kripto, dan sistem desentralisasi digital. Fenomena ini sering disebut sebagai crypto-agorism, yaitu penerapan prinsip-prinsip agoristik dalam ruang digital untuk menghindari kontrol dan pengawasan negara.¹³ Evolusi ini menunjukkan bahwa agorisme bukan doktrin statis, melainkan paradigma yang terus menyesuaikan diri dengan perubahan epistemik dan teknologi zaman.

Dengan demikian, landasan historis dan genealogis agorisme tidak hanya menegaskan posisinya sebagai varian libertarianisme radikal, tetapi juga memperlihatkan kontinuitas intelektual antara kebebasan individual, kritik terhadap kekuasaan terpusat, dan pencarian strategi etis untuk mewujudkan masyarakat sukarela.


Footnotes

[1]                David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 9–12.

[2]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 5–8.

[3]                John Locke, Two Treatises of Government (London: Awnsham Churchill, 1689), II. §87–94.

[4]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–18.

[5]                Konkin, The New Libertarian Manifesto, 9.

[6]                Ibid., 12.

[7]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–30.

[8]                Ibid., 31.

[9]                Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 70–75.

[10]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 22.

[11]             Samuel Edward Konkin III, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 25–27.

[12]             Charles W. Johnson, “Libertarianism through Thick and Thin,” The Freeman 54, no. 6 (2004): 12–15.

[13]             Cody Wilson, Come and Take It: The Gun Printer’s Guide to Thinking Free (New York: Gallery Books, 2016), 33–37.


3.           Ontologi Sosial Agorisme

Ontologi sosial agorisme berpangkal pada pemahaman bahwa individu merupakan satuan eksistensial dasar dari kehidupan sosial.¹ Segala bentuk organisasi sosial, ekonomi, dan politik dianggap sebagai derivasi dari tindakan-tindakan bebas individu yang saling berinteraksi dalam kerangka sukarela. Dengan demikian, masyarakat dalam pandangan agoris bukanlah konstruksi buatan negara, melainkan hasil emergen dari jaringan transaksi bebas antarindividu yang rasional dan otonom.² Ontologi ini menolak gagasan bahwa negara adalah entitas metafisik yang memiliki legitimasi intrinsik untuk memerintah. Sebaliknya, negara dipandang sebagai konstruksi artifisial yang mempertahankan dirinya melalui kekerasan, monopoli hukum, dan pengendalian ekonomi.³

Bagi Samuel Edward Konkin III, struktur sosial yang ideal adalah “agora”, yaitu tatanan sosial yang terbentuk dari hubungan sukarela tanpa paksaan eksternal.⁴ Di dalam agora, setiap individu berfungsi sebagai agen moral yang bertindak atas dasar pilihan rasional, bukan karena ketundukan terhadap otoritas politik. Agora bukan hanya pasar dalam pengertian ekonomi, melainkan ruang etis tempat kebebasan menjadi prinsip pengatur utama kehidupan bersama. Dalam tatanan ini, hubungan sosial tidak diatur oleh regulasi hierarkis, tetapi oleh prinsip resiprositas dan penghormatan terhadap hak milik serta kebebasan orang lain.⁵

Ontologi sosial agorisme menolak dualisme klasik antara individu dan masyarakat sebagaimana ditemukan dalam teori sosial modern. Dalam perspektif agoris, masyarakat bukan entitas yang eksis terpisah dari individu, melainkan hasil interaksi spontan (spontaneous order) dari tindakan-tindakan bebas.⁶ Pemikiran ini jelas menunjukkan pengaruh kuat Friedrich A. Hayek, yang berargumen bahwa keteraturan sosial sejati muncul dari hasil-hasil tak direncanakan (unintended consequences) dari tindakan manusia yang bebas, bukan dari perencanaan sentral.⁷ Agorisme kemudian memperluas gagasan tersebut dengan dimensi etis: kebebasan bukan hanya alat, tetapi juga nilai intrinsik yang mengikat tatanan sosial.

Dalam kerangka ontologis ini, negara diposisikan sebagai entitas anti-sosial. Ia dianggap merusak keteraturan alami yang muncul dari tindakan sukarela dengan cara memaksakan struktur hukum, perpajakan, dan regulasi yang bersifat koersif.⁸ Dengan demikian, ontologi sosial agorisme memandang masyarakat tanpa negara bukan sebagai utopia anarkis, melainkan sebagai bentuk tertinggi dari keteraturan moral dan ekonomi. Dalam masyarakat agoris, hukum tidak bersumber dari institusi politik, tetapi dari prinsip universal non-agresi yang dijalankan secara konsensual.⁹

Selain itu, agorisme juga memandang pasar bebas bukan sekadar mekanisme distribusi barang dan jasa, melainkan medan ontologis tempat individu menegaskan eksistensinya secara etis. Dalam pasar bebas yang sejati, setiap tindakan ekonomi adalah ekspresi kebebasan, tanggung jawab, dan kreativitas manusia.¹⁰ Dengan demikian, agora menjadi simbol ontologis bagi masyarakat yang tidak dikendalikan oleh pusat kekuasaan, melainkan tumbuh dari bawah melalui kesadaran moral individu-individu otonom.

Konsepsi ini membawa implikasi mendalam terhadap pemahaman tentang keteraturan sosial. Jika dalam ontologi politik konvensional keteraturan lahir dari institusi koersif, maka dalam agorisme keteraturan muncul dari interaksi moral dan rasional individu.¹¹ Di sinilah terletak inti dari ontologi sosial agorisme: masyarakat sebagai jaringan etis dari tindakan bebas, bukan sebagai struktur politik yang dipaksakan. Dengan begitu, kebebasan individu dan keteraturan sosial tidak lagi dipandang sebagai dua kutub yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua sisi dari realitas sosial yang sama.¹²


Footnotes

[1]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–12.

[2]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–47.

[3]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 9–10.

[4]                Ibid., 14–15.

[5]                Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 303–305.

[6]                F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty: A New Statement of the Liberal Principles of Justice and Political Economy, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 35–38.

[7]                Ibid., 39–40.

[8]                Konkin, The New Libertarian Manifesto, 11.

[9]                Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 58–60.

[10]             Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–30.

[11]             David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 23–25.

[12]             Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 2–3.


4.           Epistemologi dan Rasionalitas Kontra-Ekonomi

Epistemologi agorisme bertumpu pada pandangan bahwa pengetahuan sosial dan ekonomi bersifat desentral, tidak dapat dimonopoli oleh lembaga tunggal seperti negara.¹ Dalam kerangka ini, rasionalitas tidak dipahami sebagai hasil kebijakan terpusat, tetapi sebagai produk interaksi spontan individu-individu yang bebas dalam ruang pasar. Epistemologi ini berakar kuat pada tradisi praxeology dari Ludwig von Mises, yang mendefinisikan ekonomi sebagai ilmu tentang tindakan manusia—yakni tindakan sadar yang diarahkan pada tujuan.² Dengan demikian, pengetahuan dalam agorisme bukanlah hasil pengaturan eksternal, melainkan manifestasi dari kebebasan epistemik individu yang bertindak.

4.1.       Praxeology dan Subjektivisme Nilai

Sebagaimana ditegaskan oleh Mises, tindakan manusia selalu didorong oleh nilai subjektif yang tidak dapat diukur secara objektif.³ Agorisme mengambil prinsip ini untuk menolak legitimasi sistem ekonomi yang dipaksakan melalui hukum positif, karena sistem tersebut mengabaikan pengetahuan dan preferensi individual. Dalam konteks ini, kontra-ekonomi—yakni praktik ekonomi sukarela di luar regulasi negara—menjadi arena epistemik tempat individu mengekspresikan pengetahuan praktisnya tentang nilai, kebutuhan, dan pertukaran.⁴

Bagi Samuel Edward Konkin III, setiap tindakan kontra-ekonomi adalah bentuk aktualisasi pengetahuan otonom, di mana pelaku ekonomi mengandalkan pengalaman langsung dan informasi lokal yang tidak tersedia bagi birokrasi negara.⁵ Hal ini sejalan dengan kritik Friedrich A. Hayek terhadap “kesombongan fatal” (fatal conceit) negara modern yang menganggap diri mampu mengelola seluruh pengetahuan sosial melalui perencanaan terpusat.⁶ Agorisme, dengan demikian, berpijak pada epistemologi yang menolak klaim universal negara atas kebenaran ekonomi.

4.2.       Rasionalitas Desentral dan Pengetahuan Dispersif

Agorisme memandang bahwa rasionalitas ekonomi bersifat desentral, tersebar di antara jutaan individu yang saling berinteraksi dalam pasar bebas.⁷ Pengetahuan ekonomi bukanlah entitas yang dapat dikodifikasi secara total, tetapi hasil agregasi dari keputusan-keputusan kecil yang rasional dalam konteks masing-masing. Dalam The Use of Knowledge in Society (1945), Hayek menjelaskan bahwa pengetahuan sosial bersifat terfragmentasi dan tidak dapat disatukan melalui mekanisme sentral tanpa kehilangan keakuratannya.⁸ Konkin mengambil gagasan ini untuk membangun argumen bahwa pasar gelap dan pasar abu-abu bukanlah bentuk kekacauan, melainkan mekanisme epistemik yang menjaga pluralitas pengetahuan dari monopoli politik.⁹

Rasionalitas dalam konteks kontra-ekonomi berbeda dari rasionalitas instrumental yang dianut oleh ekonomi arus utama. Ia bersifat moral dan komunikatif, karena menuntut partisipasi sukarela dan penghormatan terhadap prinsip non-agresi.¹⁰ Setiap transaksi dalam agora adalah bentuk dialog epistemik antara individu-individu yang saling belajar melalui pertukaran nilai, risiko, dan kepercayaan. Dengan demikian, kontra-ekonomi berfungsi tidak hanya sebagai strategi politik, tetapi juga sebagai proses epistemologis kolektif yang memperluas horizon kebebasan pengetahuan.¹¹

4.3.       Kritik terhadap Otoritas Epistemik Negara

Dalam kerangka agorisme, negara dianggap sebagai otoritas epistemik palsu, karena ia mengklaim mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat tanpa mengakui keterbatasan pengetahuannya sendiri.¹² Melalui hukum dan regulasi, negara memonopoli definisi tentang legalitas dan rasionalitas ekonomi, sehingga menyingkirkan bentuk-bentuk pengetahuan alternatif yang muncul dari pengalaman praktis warga.¹³ Dalam An Agorist Primer, Konkin menegaskan bahwa kebijakan ekonomi negara tidak hanya salah secara moral, tetapi juga secara epistemologis, karena ia mengabaikan realitas informasi yang tersebar dalam masyarakat.¹⁴

Dari sudut pandang epistemologi libertarian, tindakan kontra-ekonomi merupakan protes terhadap epistemologi otoritarian, di mana kebenaran sosial dikonstruksi dari atas ke bawah. Agorisme mengembalikan sumber pengetahuan kepada individu dan komunitas otonom, sehingga rasionalitas ekonomi menjadi hasil partisipasi, bukan penetapan kekuasaan.¹⁵ Dalam masyarakat agoris, kebenaran ekonomi bersifat dinamis, tumbuh melalui eksperimentasi bebas dan pengalaman langsung, bukan melalui perencanaan normatif.¹⁶


Kontra-Ekonomi sebagai Rasionalitas Revolusioner

Epistemologi agorisme berpuncak pada gagasan bahwa kontra-ekonomi adalah bentuk rasionalitas revolusioner—yakni cara berpikir dan bertindak yang menolak klaim kebenaran tunggal dari sistem negara.¹⁷ Dalam tataran praksis, hal ini berarti mendorong individu untuk mengembangkan bentuk-bentuk produksi, distribusi, dan pertukaran yang tidak bergantung pada struktur legal formal. Rasionalitas revolusioner ini tidak destruktif, tetapi konstruktif, karena membangun jaringan sosial yang lebih adaptif dan berbasis kepercayaan.¹⁸

Dengan demikian, epistemologi dan rasionalitas kontra-ekonomi dalam agorisme tidak hanya menolak monopoli pengetahuan oleh negara, tetapi juga menegaskan kebebasan kognitif sebagai fondasi kebebasan sosial.¹⁹ Dalam tatanan ini, pengetahuan bukan alat legitimasi kekuasaan, melainkan instrumen emansipasi individu yang sadar akan otonomi moral dan ekonominya.²⁰


Footnotes

[1]                Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1, no. 19 (2009): 4–6.

[2]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–15.

[3]                Ibid., 19–22.

[4]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 17–18.

[5]                Ibid., 22.

[6]                F. A. Hayek, The Fatal Conceit: The Errors of Socialism (Chicago: University of Chicago Press, 1988), 76–78.

[7]                Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 43–45.

[8]                F. A. Hayek, “The Use of Knowledge in Society,” American Economic Review 35, no. 4 (1945): 519–520.

[9]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 27–29.

[10]             Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 59–61.

[11]             Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 38–40.

[12]             Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” 7.

[13]             Hayek, The Constitution of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 87–89.

[14]             Konkin, An Agorist Primer, 32–33.

[15]             Roderick T. Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22 (1997): 51–52.

[16]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 41.

[17]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 26–28.

[18]             David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 39–41.

[19]             Hayek, The Constitution of Liberty, 101.

[20]             Konkin, An Agorist Primer, 35–36.


5.           Aksiologi dan Etika Libertarian

Dimensi aksiologis agorisme berakar pada pandangan bahwa kebebasan merupakan nilai moral tertinggi dan prinsip pengatur dalam seluruh relasi sosial.¹ Dalam kerangka ini, moralitas tidak bergantung pada legitimasi hukum negara, tetapi pada prinsip non-agresi (Non-Aggression Principle, NAP) yang menyatakan bahwa tidak seorang pun berhak memulai kekerasan terhadap orang lain atau properti mereka.² Prinsip ini berfungsi sebagai dasar etis universal yang meneguhkan hak milik pribadi, otonomi tindakan, dan tanggung jawab moral individu atas pilihan-pilihan yang dibuatnya.³

5.1.       Non-Aggression Principle sebagai Fondasi Moral

Bagi Samuel Edward Konkin III, etika non-agresi bukan sekadar norma politik, melainkan manifestasi moral dari keberadaan manusia sebagai makhluk rasional dan bebas.⁴ Kekerasan, dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai pelanggaran terhadap kodrat moral manusia yang otonom. Karena itu, segala bentuk pemaksaan, termasuk pemungutan pajak, regulasi koersif, dan kontrol negara atas perdagangan, dikategorikan sebagai bentuk agresi yang tidak sah secara moral.⁵ Dalam kerangka ini, tindakan kontra-ekonomi menjadi aktivitas etis karena ia berupaya menegakkan interaksi sukarela dan menolak kekerasan terlembaga.

Murray N. Rothbard dalam The Ethics of Liberty menegaskan bahwa hukum moral sejati bersifat negatif—ia hanya melarang agresi—dan dengan demikian memberi ruang seluas-luasnya bagi kebebasan kreatif manusia.⁶ Agorisme mengadopsi pandangan ini dan mengembangkannya menjadi praksis moral: tindakan yang benar adalah tindakan yang memperluas kebebasan tanpa melanggar kebebasan pihak lain. Dalam konteks ini, ekonomi pasar bebas bukan sekadar mekanisme efisiensi, tetapi juga arena etis di mana manusia mengekspresikan kebajikan moral melalui pilihan sukarela.⁷

5.2.       Kebajikan Otonomi dan Tanggung Jawab

Etika agorisme juga menekankan otonomi individu sebagai kebajikan utama. Kebebasan hanya bermakna jika disertai dengan tanggung jawab atas konsekuensi moral dari tindakan.⁸ Dalam An Agorist Primer, Konkin menegaskan bahwa setiap individu dalam masyarakat agoris harus menjadi subjek moral yang sadar: tidak bergantung pada otoritas eksternal, namun bertanggung jawab terhadap hasil tindakannya sendiri.⁹ Dengan demikian, kebebasan dan tanggung jawab membentuk dialektika etis yang saling melengkapi: tanpa kebebasan, tanggung jawab tidak bermakna; tanpa tanggung jawab, kebebasan kehilangan legitimasi moralnya.

Nilai otonomi dalam agorisme sejalan dengan tradisi etika eudaimonik Aristotelian, yang memandang kebajikan sebagai realisasi potensi rasional manusia.¹⁰ Namun, berbeda dari etika negara-polis dalam Aristotelianisme klasik, agorisme menempatkan kebajikan bukan pada pelayanan kepada komunitas politik, melainkan pada kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri melalui nalar dan interaksi sukarela.¹¹

5.3.       Solidaritas Horizontal dan Etika Sukarela

Meski menekankan individualisme, agorisme tidak menolak solidaritas sosial. Ia mengusung bentuk solidaritas horizontal, yang muncul dari interaksi sukarela antarindividu otonom.¹² Dalam masyarakat agoris, kerja sama tidak lahir dari paksaan negara atau ideologi kolektivistik, tetapi dari kesadaran moral akan manfaat timbal balik (reciprocal benefit) dan penghormatan terhadap kebebasan bersama.¹³

Agorisme dengan demikian menolak dua ekstrem etis: etatisme moral, yang menganggap negara sebagai sumber etika; dan egoisme nihilistik, yang mengabaikan dimensi moral sosial. Etika libertarian agoris berupaya menempuh jalan tengah: kebebasan individu yang bertanggung jawab secara sosial.¹⁴ Dalam konteks praksis, hal ini terlihat dalam ekonomi informal yang berbasis kepercayaan (trust-based exchange), di mana kejujuran, reputasi, dan resiprositas menjadi nilai moral yang menopang kelangsungan interaksi.¹⁵

5.4.       Resistensi Moral terhadap Kekuasaan

Aksiologi agorisme juga mengandung dimensi resistensi moral, yakni sikap etis untuk menolak tunduk pada otoritas yang tidak sah.¹⁶ Dalam pandangan Konkin, ketaatan terhadap hukum yang melanggar prinsip kebebasan bukanlah kebajikan, melainkan bentuk kolaborasi dengan penindasan.¹⁷ Karena itu, pelanggaran terhadap hukum koersif negara bukanlah tindakan kriminal, tetapi tindakan etis yang mengembalikan keadilan moral kepada individu. Dalam hal ini, kontra-ekonomi berfungsi sebagai “praktik moral pembebasan,” di mana tindakan ekonomi menjadi pernyataan politik yang menolak kekuasaan koersif.¹⁸

Etika resistensi ini mengingatkan pada tradisi civil disobedience yang dikemukakan oleh Henry David Thoreau, namun dengan orientasi ekonomi yang lebih sistematis.¹⁹ Jika Thoreau menolak membayar pajak sebagai bentuk protes moral, maka agorisme memperluasnya menjadi sistem ekonomi paralel yang berdiri di luar jangkauan negara.²⁰


Kebebasan sebagai Nilai Intrinsik dan Tujuan Moral

Akhirnya, agorisme menegaskan bahwa kebebasan adalah nilai intrinsik, bukan sekadar sarana menuju kesejahteraan.²¹ Dalam kerangka ini, setiap tindakan yang meningkatkan otonomi individu dianggap memiliki nilai moral, sedangkan setiap bentuk paksaan—betapapun efisien atau makmurnya hasil—merupakan pelanggaran etis.²² Nilai moral tertinggi dalam agorisme bukan pada hasil material, tetapi pada penghormatan terhadap kemanusiaan sebagai makhluk rasional dan bebas.²³

Dengan demikian, aksiologi agorisme menyatukan tiga nilai utama: kebebasan, tanggung jawab, dan solidaritas sukarela. Kombinasi ketiganya membentuk sistem etika yang tidak bergantung pada otoritas eksternal, tetapi tumbuh dari kesadaran moral individu yang memilih kebebasan sebagai prinsip hidup.²⁴


Footnotes

[1]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–29.

[2]                Ibid., 31–33.

[3]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 14–16.

[4]                Ibid., 17–18.

[5]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 713–716.

[6]                Rothbard, The Ethics of Liberty, 45–47.

[7]                David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 53–55.

[8]                Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 265–268.

[9]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 25–27.

[10]             Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), 1100b–1102a.

[11]             Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 49–51.

[12]             Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 3–4.

[13]             F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 2 (Chicago: University of Chicago Press, 1976), 112–114.

[14]             Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 58–61.

[15]             Konkin, An Agorist Primer, 30–32.

[16]             Henry David Thoreau, Civil Disobedience (Boston: Ticknor and Fields, 1849), 10–13.

[17]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 23–25.

[18]             Ibid., 28–29.

[19]             Thoreau, Civil Disobedience, 18–19.

[20]             Konkin, An Agorist Primer, 35.

[21]             Rothbard, The Ethics of Liberty, 63–64.

[22]             Long, “Liberty: The Other Equality,” 269–271.

[23]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 31.

[24]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 53–55.


6.           Strategi Kontra-Ekonomi dan Praksis Sosial

Konsep kontra-ekonomi (counter-economics) merupakan inti praksis dari agorisme, yaitu strategi revolusioner non-kekerasan yang bertujuan menggantikan tatanan koersif negara dengan jaringan sosial-ekonomi berbasis kebebasan sukarela.¹ Bagi Samuel Edward Konkin III, perubahan sosial sejati tidak dicapai melalui perebutan kekuasaan politik, melainkan dengan menciptakan sistem alternatif yang mengikis legitimasi negara dari dalam.² Strategi ini mengandalkan kekuatan pasar bebas yang sepenuhnya lepas dari regulasi dan perpajakan, dengan membangun ruang aktivitas ekonomi paralel yang disebut agora

6.1.       Definisi dan Cakupan Kontra-Ekonomi

Kontra-ekonomi didefinisikan sebagai seluruh tindakan manusia yang bersifat sukarela dan tidak agresif, tetapi dikriminalisasi atau diatur secara koersif oleh negara.⁴ Ia mencakup dua ranah: (a) pasar hitam (black market), yang melibatkan aktivitas ekonomi ilegal namun damai (misalnya perdagangan bebas tanpa izin atau pembayaran tanpa pajak), dan (b) pasar abu-abu (gray market), yaitu aktivitas legal yang dilakukan dengan cara menghindari atau meminimalkan intervensi negara.⁵ Kedua ranah ini menjadi arena praksis bagi individu-individu yang menolak berpartisipasi dalam ekonomi koersif negara dan berupaya membangun tatanan sosial otonom berdasarkan pertukaran sukarela.

Bagi Konkin, tindakan-tindakan semacam itu bukan hanya “penyimpangan ekonomi”, melainkan perlawanan moral terhadap sistem politik yang menindas.⁶ Dengan berpartisipasi dalam kontra-ekonomi, individu tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi sekaligus berkontribusi pada proses de-legitimasi kekuasaan negara. Dalam pengertian ini, kontra-ekonomi memiliki karakter ganda: ekonomis sekaligus etis.⁷

6.2.       Kontra-Ekonomi sebagai Strategi Revolusioner Non-Kekerasan

Kontra-ekonomi tidak bersifat destruktif, melainkan transformatif. Ia menolak metode revolusi tradisional yang menggunakan kekerasan atau perebutan institusi negara. Sebaliknya, ia membangun tatanan baru secara evolusioner melalui praktik ekonomi yang otonom.⁸ Konkin menyebut pendekatan ini sebagai “revolusi pasar bebas”—sebuah transformasi sosial yang terjadi bukan melalui pertempuran politik, tetapi melalui desentralisasi aktivitas ekonomi.⁹

Praksis ini mengingatkan pada strategi dual power dalam teori politik anarkis, yaitu upaya membangun struktur alternatif yang secara bertahap menggantikan lembaga-lembaga negara.¹⁰ Bedanya, agorisme memusatkan kekuatan transformasinya bukan pada organisasi politik, melainkan pada logika pasar sukarela dan inovasi individu. Dalam pandangan ini, setiap transaksi bebas yang menghindari intervensi negara merupakan tindakan revolusioner kecil yang secara kumulatif melemahkan dominasi kekuasaan.¹¹

6.3.       Dimensi Sosial Kontra-Ekonomi

Selain bersifat individual, kontra-ekonomi juga memiliki dimensi sosial yang luas. Ia menciptakan jaringan interaksi antarindividu dan komunitas berdasarkan prinsip kepercayaan (trust), reputasi, dan kerja sama sukarela.¹² Dalam konteks ini, masyarakat agoris berfungsi sebagai ekosistem sosial paralel yang beroperasi di luar sistem negara, namun tetap memelihara keteraturan melalui norma etis internal dan mekanisme pasar.¹³

Etika sosial kontra-ekonomi menolak gagasan bahwa keteraturan hanya dapat dijaga melalui kekuasaan koersif. Sebaliknya, keteraturan lahir dari kontrak moral antarindividu dan solidaritas horizontal.¹⁴ Dalam masyarakat yang dikuasai oleh hukum negara, norma dipaksakan dari atas; sedangkan dalam agora, norma tumbuh dari bawah, melalui kesepakatan dan kepercayaan bersama.¹⁵ Oleh sebab itu, kontra-ekonomi bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga bentuk pembentukan komunitas moral yang otonom dan berbasis resiprositas.

6.4.       Kontra-Ekonomi di Era Digital dan Desentralisasi Teknologi

Dengan munculnya teknologi digital, prinsip-prinsip kontra-ekonomi menemukan ekspresi baru dalam fenomena kriptoekonomi dan blockchain.¹⁶ Jaringan desentral seperti Bitcoin atau Ethereum mewujudkan gagasan inti agorisme—pertukaran bebas tanpa otoritas pusat—ke dalam praktik konkret.¹⁷ Melalui teknologi kriptografi, individu dapat melakukan transaksi yang aman, privat, dan bebas dari regulasi koersif. Konsep ini sering disebut sebagai crypto-agorism, yaitu penerapan etika agoristik dalam ekosistem digital.¹⁸

Dalam konteks ini, blockchain bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga sarana epistemologis untuk memperluas otonomi individu dan mengurangi ketergantungan pada institusi negara.¹⁹ Sejalan dengan prinsip decentralized finance (DeFi), kriptoekonomi memperlihatkan bagaimana pasar bebas dapat berfungsi tanpa bank sentral, regulasi negara, atau lembaga perantara, memperkuat tesis agoristik bahwa keteraturan sosial dapat muncul secara spontan dari interaksi bebas.²⁰


Evaluasi Efektivitas dan Tantangan Praksis

Meskipun kontra-ekonomi menawarkan paradigma transformatif, penerapannya menghadapi berbagai tantangan, antara lain risiko kriminalisasi, keterbatasan jaringan kepercayaan, dan potensi kooptasi oleh sistem kapitalisme digital.²¹ Beberapa kritikus menilai bahwa pasar bebas non-regulatif berpotensi memperkuat ketimpangan baru jika tidak disertai etika solidaritas.²² Namun, bagi para agoris, risiko tersebut tidak membatalkan nilai moral dan strategis kontra-ekonomi; justru menjadi tantangan bagi individu untuk memperkuat integritas etis dalam aktivitas ekonomi sukarela.²³

Dengan demikian, strategi kontra-ekonomi tidak hanya mengajarkan cara menolak sistem koersif, tetapi juga cara membangun masyarakat yang mandiri, etis, dan adaptif terhadap teknologi. Ia menggabungkan dimensi praksis ekonomi, moralitas individual, dan solidaritas sosial menjadi satu gerakan menuju agora—ruang kebebasan di mana interaksi manusia berlangsung tanpa paksaan.²⁴


Footnotes

[1]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 5–6.

[2]                Ibid., 7–8.

[3]                Ibid., 12–13.

[4]                Ibid., 22–23.

[5]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–30.

[6]                Ibid., 33–34.

[7]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 47–48.

[8]                David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 62–64.

[9]                Konkin, The New Libertarian Manifesto, 25–26.

[10]             Peter Kropotkin, The Conquest of Bread (London: Chapman and Hall, 1892), 131–133.

[11]             Konkin, An Agorist Primer, 37–38.

[12]             Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 306–308.

[13]             Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 73–76.

[14]             F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 41–42.

[15]             Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 4–6.

[16]             Cody Wilson, Come and Take It: The Gun Printer’s Guide to Thinking Free (New York: Gallery Books, 2016), 32–34.

[17]             Konkin, An Agorist Primer, 39–40.

[18]             Samuel Konkin III and Derrick S. Broze, Agorism in the Digital Age (Houston: Conscious Resistance Press, 2019), 12–14.

[19]             F. A. Hayek, The Denationalisation of Money (London: Institute of Economic Affairs, 1976), 89–90.

[20]             Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 1–3.

[21]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 80–82.

[22]             Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” 7–8.

[23]             Konkin, An Agorist Primer, 43–44.

[24]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 29–31.


7.           Kritik dan Klarifikasi Filosofis

Setiap sistem pemikiran yang menolak otoritas politik formal niscaya menghadapi serangkaian tantangan filosofis, baik dari segi konsistensi teoretis maupun kelayakan praktis. Demikian pula, agorisme sebagai aliran libertarian radikal tidak lepas dari kritik yang datang dari berbagai arah—baik dari sesama libertarian, kaum anarko-komunis, maupun para filsuf moral yang mempertanyakan fondasi etik dan sosialnya.¹ Namun, di sisi lain, tradisi agoris juga mengembangkan klarifikasi dan elaborasi konseptual yang memperkuat posisi filosofisnya sebagai paradigma kebebasan yang etis dan praksis.

7.1.       Kritik dari Libertarian Klasik: Soal Strategi dan Legitimasi

Dari kubu libertarian klasik, agorisme sering dikritik karena dianggap terlalu utopis dan tidak realistis dalam mencapai perubahan sosial tanpa keterlibatan politik formal.² Murray N. Rothbard, meskipun mengakui kedekatannya dengan pemikiran Konkin, menilai bahwa strategi kontra-ekonomi cenderung mengabaikan dinamika politik nyata dan proses hukum yang masih dapat dimanfaatkan untuk memperluas ruang kebebasan.³ Bagi Rothbard, partisipasi politik melalui upaya legislatif dan edukatif masih dapat berperan dalam mendorong desentralisasi kekuasaan, sedangkan Konkin menolak semua bentuk kolaborasi dengan negara, bahkan dalam konteks reformasi minimal.⁴

Konkin menjawab kritik tersebut dengan argumentasi bahwa segala bentuk partisipasi politik justru memperkuat legitimasi sistem koersif yang ingin dihapus.⁵ Menurutnya, penggunaan lembaga negara untuk mencapai kebebasan adalah kontradiksi performatif, karena kebebasan sejati hanya dapat dibangun melalui tindakan sukarela, bukan melalui mekanisme paksaan legal.⁶ Dalam kerangka ini, agorisme bukanlah strategi politis konvensional, melainkan bentuk aksi langsung moral (moral direct action) yang memutus ketergantungan masyarakat pada institusi koersif.⁷

7.2.       Kritik dari Tradisi Anarko-Komunis dan Mutualis

Dari arah lain, anarko-komunis dan mutualis mengkritik agorisme karena dianggap tetap mempertahankan unsur kapitalistik dalam struktur sosialnya.⁸ Menurut mereka, meskipun agorisme menolak negara, ia masih menegaskan kepemilikan pribadi yang absolut dan mekanisme pasar yang kompetitif—dua hal yang dipandang dapat menghasilkan ketimpangan baru.⁹ Tokoh seperti Kevin A. Carson mencoba menjembatani ketegangan ini dengan mengajukan “mutualisme agoris”, yakni sintesis antara pasar bebas sukarela dan nilai solidaritas sosial.¹⁰

Sebagai tanggapan, para agoris berargumen bahwa pasar bebas sejati tidak identik dengan kapitalisme korporatis, karena kapitalisme yang ada saat ini justru merupakan produk dari intervensi negara melalui peraturan, subsidi, dan monopoli hukum.¹¹ Dalam pandangan ini, pasar bebas yang diidealkan oleh agorisme adalah pasar moral, di mana relasi ekonomi berlangsung secara horizontal dan non-ekspansif.¹² Konkin menegaskan bahwa struktur ekonomi yang etis hanya dapat terwujud bila semua bentuk hak istimewa politik dihapus, termasuk hak monopoli yang menjadi fondasi kapitalisme negara.¹³

7.3.       Kritik Etis: Antara Kebebasan dan Keadilan Sosial

Kritik etis terhadap agorisme sering berkisar pada pertanyaan tentang keadilan sosial. Banyak filsuf moral, termasuk mereka yang berasal dari tradisi egalitarian, menilai bahwa fokus agorisme pada kebebasan individual berpotensi mengabaikan dimensi keadilan distributif.¹⁴ Dalam kerangka ini, prinsip non-agresi dianggap terlalu negatif karena hanya melarang paksaan, tetapi tidak memberikan arahan positif bagi pengurangan ketimpangan sosial.¹⁵

Namun, agorisme merespons kritik tersebut dengan menolak dikotomi palsu antara kebebasan dan keadilan.¹⁶ Menurut Konkin, keadilan sejati hanya dapat dicapai dalam masyarakat bebas, di mana distribusi nilai dihasilkan oleh interaksi sukarela, bukan oleh paksaan redistributif.¹⁷ Dalam konteks ini, kontra-ekonomi dipandang sebagai jalan menuju keadilan dinamis, di mana hasil sosial-ekonomi mencerminkan pilihan bebas, bukan hasil pemaksaan struktural.¹⁸

Roderick T. Long memperkuat argumen ini dengan menegaskan bahwa prinsip non-agresi mengandung dimensi positif berupa penghormatan terhadap otonomi moral manusia, yang secara implisit mengandung kewajiban untuk tidak merugikan kebebasan orang lain.¹⁹ Etika agoris, dengan demikian, tidak nihilistik; ia berorientasi pada harmoni sosial melalui tanggung jawab individu.²⁰

7.4.       Kritik Praktis dan Isu Kriminalisasi

Kritik lain yang cukup signifikan menyentuh dimensi praktis kontra-ekonomi, khususnya potensi kriminalisasi aktivitas agoris.²¹ Dalam banyak yurisdiksi, tindakan seperti perdagangan tanpa izin, transaksi tanpa pajak, atau penggunaan mata uang digital privat dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.²² Hal ini menimbulkan pertanyaan etis: sampai sejauh mana individu boleh melanggar hukum positif atas dasar moralitas kebebasan?

Konkin menjawab dilema ini dengan membedakan antara “kejahatan moral” dan “pelanggaran legal”.²³ Dalam pandangannya, hukum negara yang melarang tindakan sukarela tidak memiliki legitimasi moral, sehingga pelanggaran terhadapnya tidak dapat disebut kriminalitas sejati.²⁴ Prinsip ini menyerupai etika perlawanan sipil Thoreauvian, tetapi dengan basis ekonomi yang lebih konkret.²⁵


Klarifikasi Filosofis: Agorisme sebagai Etika Transformatif

Dari seluruh perdebatan tersebut, agorisme menegaskan posisinya sebagai etika transformatif, bukan sekadar teori ekonomi alternatif.²⁶ Ia berupaya mengubah hubungan antara individu, masyarakat, dan kekuasaan melalui moralitas kebebasan dan tanggung jawab sukarela. Dalam hal ini, agorisme tidak menolak moralitas sosial, tetapi menempatkannya pada fondasi non-koersif.²⁷

Konkin juga menolak tuduhan bahwa agorisme adalah ideologi anarkis ekstrem yang meniadakan struktur sosial. Sebaliknya, ia menawarkan tatanan moral emergen, di mana keteraturan lahir dari interaksi sukarela yang terkoordinasi oleh etika non-agresi.²⁸ Dengan demikian, klarifikasi filosofis agorisme terletak pada sintesis antara kebebasan individual dan moralitas sosial—suatu bentuk ethos libertarian yang menolak kekuasaan koersif tanpa jatuh pada relativisme moral.²⁹


Footnotes

[1]                Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1, no. 19 (2009): 2–3.

[2]                David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 72–74.

[3]                Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 85–87.

[4]                Ibid., 91–93.

[5]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 10–11.

[6]                Ibid., 12–13.

[7]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 27–29.

[8]                Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 56–59.

[9]                Peter Kropotkin, Mutual Aid: A Factor of Evolution (London: McClure, Phillips & Co., 1902), 105–107.

[10]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 60–62.

[11]             Konkin, An Agorist Primer, 33–34.

[12]             Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 307–309.

[13]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 20–22.

[14]             John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971), 74–76.

[15]             Ibid., 79.

[16]             Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” 4–6.

[17]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 25–26.

[18]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 63–65.

[19]             Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 270–272.

[20]             Ibid., 273.

[21]             Cody Wilson, Come and Take It: The Gun Printer’s Guide to Thinking Free (New York: Gallery Books, 2016), 38–40.

[22]             Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 3–4.

[23]             Konkin, An Agorist Primer, 41–42.

[24]             Ibid., 43.

[25]             Henry David Thoreau, Civil Disobedience (Boston: Ticknor and Fields, 1849), 14–15.

[26]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 28–29.

[27]             Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” 7–8.

[28]             F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 36–38.

[29]             Konkin, An Agorist Primer, 45–46.


8.           Dimensi Sosial dan Intelektual

Agorisme, sebagai teori sosial-politik libertarian, tidak hanya berdimensi ekonomis dan etis, tetapi juga mengandung signifikansi sosial dan intelektual yang luas. Ia menawarkan suatu paradigma baru dalam memahami masyarakat, pengetahuan, dan interaksi sosial di luar struktur negara. Dalam konteks ini, agorisme berperan sebagai gerakan kognitif sekaligus praksis sosial yang berupaya membangun kembali relasi kemanusiaan berdasarkan kebebasan, tanggung jawab, dan solidaritas horizontal.¹

8.1.       Masyarakat Agoris dan Ruang Sosial Non-Negara

Bagi Samuel Edward Konkin III, masyarakat yang ideal bukanlah hasil dari perencanaan politik, melainkan hasil emergen dari interaksi sukarela individu-individu yang saling terhubung dalam agora—ruang sosial tanpa paksaan.² Dalam agora, keteraturan sosial bukan produk undang-undang, melainkan konsekuensi moral dari prinsip non-aggression dan kontrak sukarela.³ Masyarakat agoris dengan demikian tidak bergantung pada legitimasi negara, tetapi pada kekuatan moral dan epistemik individu.

Ruang sosial non-negara ini menandai pergeseran ontologis dari struktur hierarkis menuju struktur jaringan (networked society), di mana nilai-nilai sosial diatur melalui hubungan kepercayaan, reputasi, dan timbal balik.⁴ Pola ini memperlihatkan kemiripan dengan gagasan Pierre-Joseph Proudhon mengenai “asosiasi sukarela” sebagai dasar keteraturan sosial, namun dengan dimensi etika libertarian yang lebih tegas.⁵ Dalam masyarakat agoris, hukum, ekonomi, dan moralitas bukan entitas terpisah, tetapi saling menguatkan melalui interaksi bebas yang berkelanjutan.

8.2.       Solidaritas Horizontal dan Etika Sosial Sukarela

Dimensi sosial agorisme sangat menekankan pentingnya solidaritas horizontal, yaitu bentuk kerja sama yang tumbuh secara organik di antara individu dan komunitas tanpa intervensi eksternal.⁶ Solidaritas ini berbeda dari solidaritas vertikal yang dipaksakan oleh lembaga negara melalui pajak, subsidi, atau kebijakan sosial. Dalam tatanan agoris, bantuan dan kerja sama sosial muncul dari kesadaran moral dan insentif alami dalam pasar bebas.⁷

Agorisme menolak pandangan bahwa individualisme niscaya mengarah pada egoisme. Sebaliknya, kebebasan individu justru menciptakan dasar bagi kerja sama yang autentik, karena interaksi sukarela menuntut adanya kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab.⁸ Di sinilah agora menjadi ruang sosial yang etis: ia mempertemukan kepentingan pribadi dengan nilai-nilai moral dalam satu kerangka relasional yang bebas dari paksaan.⁹

Roderick T. Long menyebut fenomena ini sebagai “mutualitas etis”—yakni keadaan di mana kebebasan individu memperkuat kohesi sosial melalui penghormatan timbal balik terhadap hak orang lain.¹⁰ Dengan demikian, agorisme menampilkan model masyarakat yang bukan hanya adil secara struktural, tetapi juga bermoral secara relasional.

8.3.       Dimensi Intelektual: Agorisme sebagai Paradigma Pengetahuan Sosial

Secara intelektual, agorisme dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi pemikiran desentralisasi pengetahuan yang dikembangkan oleh Ludwig von Mises dan F. A. Hayek.¹¹ Keduanya menegaskan bahwa pengetahuan sosial bersifat terdispersi dan tidak dapat dikumpulkan secara efektif oleh otoritas pusat. Agorisme memperluas pandangan ini ke dalam tataran praksis sosial: kontra-ekonomi bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga sarana distribusi pengetahuan dan inovasi sosial.¹²

Dalam masyarakat agoris, proses belajar tidak dikendalikan oleh lembaga negara atau sistem pendidikan formal, melainkan terjadi secara alami melalui pertukaran sukarela, jaringan ekonomi informal, dan komunitas otonom.¹³ Agorisme dengan demikian mengusung bentuk epistemologi sosial partisipatif, di mana pengetahuan bukan monopoli kaum intelektual, melainkan hasil interaksi bebas di antara individu-individu yang belajar melalui pengalaman dan pertukaran nilai.¹⁴

Model ini memiliki implikasi besar bagi teori sosial kontemporer, terutama dalam konteks masyarakat jaringan digital. Dalam dunia yang semakin terdesentralisasi, prinsip agoris menemukan relevansinya dalam fenomena seperti open-source communities, peer-to-peer innovation, dan crypto-networks, di mana kolaborasi dan pembelajaran berlangsung tanpa hierarki formal.¹⁵ Dengan demikian, agorisme dapat dibaca sebagai filsafat desentralisasi pengetahuan, yang menolak klaim epistemik negara atas kebenaran sosial.

8.4.       Agorisme dan Ekologi Sosial Desentralisasi

Selain menyoroti kebebasan individu, agorisme juga memuat implikasi terhadap ekologi sosial, yakni keseimbangan antara kebebasan, keteraturan, dan keberlanjutan interaksi manusia.¹⁶ Dalam masyarakat agoris, sumber daya diatur melalui mekanisme sukarela dan prinsip tanggung jawab pribadi, bukan melalui regulasi sentral. Hal ini membuka peluang bagi munculnya model ekonomi sirkular yang berorientasi pada efisiensi dan etika, bukan pada eksploitasi.¹⁷

Sebagaimana dicatat oleh Kevin Carson, struktur sosial agoris mencerminkan “ekologi kebebasan,” di mana adaptasi dan inovasi terjadi secara spontan melalui eksperimen sosial tanpa perintah pusat.¹⁸ Dengan demikian, dimensi sosial agorisme tidak hanya bersifat etis, tetapi juga ekologis—menawarkan model keberlanjutan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip kebebasan dan tanggung jawab.


Posisi Intelektual dalam Tradisi Libertarian dan Kontemporer

Dalam peta intelektual filsafat politik, agorisme dapat ditempatkan di persimpangan antara anarko-kapitalisme, mutualisme, dan libertarianisme etis.¹⁹ Ia menolak reduksi libertarianisme menjadi sekadar teori ekonomi, sekaligus menghindari jebakan kolektivisme yang mengorbankan individu. Posisi ini membuat agorisme menjadi salah satu kontribusi intelektual paling orisinal dalam wacana libertarianisme modern.²⁰

Konkin mengartikulasikan agorisme sebagai “filsafat kebebasan total” (philosophy of total freedom)—sebuah sistem yang tidak hanya berbicara tentang politik atau ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana manusia mengetahui, bertindak, dan hidup dalam kebenaran moral kebebasan.²¹ Dengan demikian, agorisme memadukan teori sosial, etika, dan epistemologi menjadi kerangka intelektual yang konsisten dan terbuka untuk perkembangan zaman.²²


Footnotes

[1]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 11–13.

[2]                Ibid., 15–16.

[3]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 47–48.

[4]                F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 40–42.

[5]                Pierre-Joseph Proudhon, What Is Property? (Paris: Garnier Frères, 1840), 113–115.

[6]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 31–32.

[7]                Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 69–70.

[8]                Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 268–270.

[9]                Konkin, The New Libertarian Manifesto, 19–20.

[10]             Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 310–312.

[11]             Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 18–21.

[12]             Hayek, “The Use of Knowledge in Society,” American Economic Review 35, no. 4 (1945): 521–523.

[13]             Konkin, An Agorist Primer, 35–36.

[14]             David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 59–60.

[15]             Cody Wilson, Come and Take It: The Gun Printer’s Guide to Thinking Free (New York: Gallery Books, 2016), 43–45.

[16]             Murray Bookchin, The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 52–53.

[17]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 81–83.

[18]             Ibid., 85–86.

[19]             Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1, no. 19 (2009): 5–6.

[20]             Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 6–8.

[21]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 27.

[22]             Konkin, An Agorist Primer, 40–41.


9.           Relevansi Kontemporer

Dalam konteks abad ke-21 yang ditandai oleh globalisasi ekonomi, digitalisasi kehidupan sosial, dan krisis kepercayaan terhadap institusi politik, agorisme memperoleh relevansi baru sebagai paradigma alternatif dalam memahami kebebasan, ekonomi, dan struktur sosial. Ia tidak lagi terbatas pada wacana libertarianisme klasik, melainkan menjelma menjadi kerangka analisis kritis terhadap bentuk-bentuk kekuasaan baru—baik negara, korporasi digital, maupun sistem finansial global yang semakin terpusat.¹

9.1.       Agorisme dalam Era Digital dan Teknologi Desentralisasi

Munculnya teknologi blockchain, cryptocurrency, dan ekosistem decentralized finance (DeFi) telah mewujudkan prinsip-prinsip agoris dalam tataran praktis.² Seperti yang dikemukakan oleh Samuel Edward Konkin III, agora adalah ruang interaksi sukarela yang bebas dari monopoli kekuasaan; dan hari ini, ruang itu menjelma dalam bentuk jaringan digital yang memungkinkan pertukaran nilai tanpa perantara negara.³

Fenomena seperti Bitcoin dan Ethereum menandai transformasi struktural dalam epistemologi ekonomi global: otoritas finansial tidak lagi bersandar pada lembaga terpusat, tetapi pada protokol kepercayaan desentralisasi yang dijalankan oleh konsensus jaringan.⁴ Dalam hal ini, crypto-agorism menjadi manifestasi kontemporer dari cita-cita agoristik—yakni membangun sistem ekonomi otonom yang meminimalkan kontrol negara dan memperluas kedaulatan individu.⁵

Lebih jauh, teknologi smart contract dan peer-to-peer exchange memungkinkan terbentuknya ekosistem sosial yang diatur secara otomatis melalui kode terbuka, bukan hukum positif.⁶ Transformasi ini bukan hanya teknologis, tetapi juga filosofis: ia menandai pergeseran dari hukum koersif menuju lex voluntaria, yakni tatanan sosial yang disepakati bersama berdasarkan prinsip kebebasan kontraktual.⁷

9.2.       Agorisme sebagai Kritik terhadap Neoliberalisme dan Kapitalisme Digital

Meskipun agorisme sering diasosiasikan dengan pasar bebas, ia justru menjadi kritik tajam terhadap neoliberalisme dan kapitalisme digital kontemporer.⁸ Neoliberalisme, dalam pandangan agoris, bukanlah perwujudan pasar bebas sejati, melainkan sistem ekonomi yang menggabungkan kebebasan formal dengan dominasi struktural korporasi global dan intervensi negara terselubung.⁹

Agorisme menolak hubungan simbiotik antara negara dan korporasi—apa yang disebut Konkin sebagai state capitalism—karena menciptakan ketimpangan kekuasaan dan mengikis otonomi individu.¹⁰ Dalam konteks ekonomi digital, fenomena seperti monopoli platform (Big Tech) memperlihatkan bagaimana mekanisme kontrol bergeser dari kekuasaan politik menuju kekuasaan algoritmik.¹¹ Agorisme memberikan kritik ontologis terhadap hal ini: algoritme yang dikendalikan oleh otoritas korporatif adalah bentuk baru statism digital yang membatasi kebebasan dalam ruang maya.¹²

Sebagai respons, prinsip kontra-ekonomi menuntun pada penciptaan ruang digital alternatif yang bebas dari pengawasan korporatif—misalnya melalui infrastruktur desentral seperti jaringan mesh, sistem komunikasi terenkripsi, dan pasar daring berbasis peer-to-peer.¹³ Dengan demikian, agorisme berfungsi sebagai etika perlawanan digital, yang menempatkan kebebasan informasi dan otonomi data sebagai hak moral dasar.¹⁴

9.3.       Dimensi Sosial-Politik: Agorisme sebagai Strategi Emansipasi Warga

Dalam tataran sosial-politik, agorisme menawarkan strategi emansipasi warga dari ketergantungan terhadap negara dan birokrasi.¹⁵ Di tengah meningkatnya krisis kepercayaan terhadap lembaga-lembaga politik, agorisme mengajukan jalan keluar non-konfrontatif: membangun struktur sosial paralel yang lebih efisien, etis, dan manusiawi.¹⁶

Gerakan-gerakan komunitas otonom, koperasi digital, dan ekonomi berbagi (sharing economy) yang berbasis solidaritas horizontal memperlihatkan realisasi prinsip agoris dalam masyarakat kontemporer.¹⁷ Meskipun banyak dari inisiatif ini tidak secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai agoristik, mereka mengandung semangat yang sama—yakni menolak hierarki koersif dan memperluas ruang kebebasan melalui inovasi sosial.¹⁸

Lebih dari itu, agorisme juga relevan dalam konteks aktivisme sosial non-kekerasan. Ia memberikan kerangka moral bagi perlawanan sipil yang berakar pada ekonomi alternatif: misalnya community currencies, time banking, atau proyek commons-based peer production yang menolak dominasi sistem moneter negara.¹⁹ Dalam hal ini, kontra-ekonomi bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga bentuk praktik politik etis yang melahirkan tatanan sosial baru dari bawah.²⁰

9.4.       Relevansi dalam Krisis Global dan Ekonomi Pasca-Pandemi

Pandemi COVID-19 mempercepat kesadaran akan pentingnya ketahanan sosial desentralisasi dan ekonomi mandiri.²¹ Ketika rantai pasok global terganggu dan negara gagal menjamin stabilitas sosial, banyak komunitas beralih pada sistem ekonomi informal, koperasi lokal, serta pertukaran berbasis kepercayaan—praktik yang sangat dekat dengan semangat kontra-ekonomi.²²

Dalam konteks ini, agorisme bukan sekadar ideologi, tetapi juga model resiliensi sosial. Ia menunjukkan bahwa masyarakat dapat bertahan dan berkembang tanpa ketergantungan pada struktur koersif, melalui jaringan sukarela yang adaptif dan inklusif.²³ Hal ini memperlihatkan relevansi praktis agorisme dalam membangun masyarakat pasca-pandemi yang lebih tangguh, adil, dan otonom.²⁴


Reaktualisasi Etika Agoristik di Abad ke-21

Relevansi agorisme di era kontemporer tidak hanya terletak pada penerapan teknologinya, tetapi juga pada reaktualisasi etika libertarian di tengah krisis moral global.²⁵ Di era ketika kebebasan sering dikorbankan demi keamanan, dan privasi digantikan oleh efisiensi digital, etika agoristik menegaskan kembali martabat manusia sebagai subjek moral yang otonom.²⁶

Sebagaimana ditegaskan oleh Roderick T. Long, kebebasan bukan sekadar hak negatif, melainkan ekspresi dari tanggung jawab moral manusia untuk hidup secara rasional tanpa memaksakan kehendak pada orang lain.²⁷ Dalam konteks ini, agorisme memberikan kerangka etis bagi teknologi dan ekonomi masa depan—suatu bentuk humanisme libertarian yang menggabungkan kebebasan individu dengan tanggung jawab sosial.²⁸

Dengan demikian, agorisme tetap relevan bukan hanya sebagai teori politik atau strategi ekonomi, tetapi sebagai etos kebebasan yang membimbing masyarakat menuju bentuk kehidupan yang lebih manusiawi, adil, dan desentral.²⁹ Ia menjadi pengingat bahwa kebebasan sejati tidak menunggu legitimasi dari negara, tetapi tumbuh dari keberanian individu untuk menciptakan dunia yang lebih etis melalui tindakan sukarela dan kesadaran moral.³⁰


Footnotes

[1]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 25–26.

[2]                Cody Wilson, Come and Take It: The Gun Printer’s Guide to Thinking Free (New York: Gallery Books, 2016), 31–33.

[3]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–29.

[4]                F. A. Hayek, The Denationalisation of Money (London: Institute of Economic Affairs, 1976), 87–89.

[5]                Samuel Konkin III and Derrick S. Broze, Agorism in the Digital Age (Houston: Conscious Resistance Press, 2019), 13–15.

[6]                Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 2–4.

[7]                Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1, no. 19 (2009): 8–9.

[8]                Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 79–81.

[9]                David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 68–69.

[10]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 10–11.

[11]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 54–55.

[12]             Konkin, An Agorist Primer, 37–38.

[13]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 84–85.

[14]             Konkin and Broze, Agorism in the Digital Age, 16–17.

[15]             Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 266–268.

[16]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 20–21.

[17]             Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 4–5.

[18]             Kevin Carson, Organization Theory: A Libertarian Perspective (Charleston: BookSurge, 2008), 71–73.

[19]             Murray Bookchin, The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 102–104.

[20]             Konkin, An Agorist Primer, 40–41.

[21]             Naomi Klein, The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism (New York: Knopf, 2007), 421–423.

[22]             Kevin Carson, The Desktop Regulatory State (Charleston: BookSurge, 2016), 57–59.

[23]             Ibid., 60.

[24]             Konkin and Broze, Agorism in the Digital Age, 18–20.

[25]             Roderick T. Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22 (1997): 50–52.

[26]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 27–28.

[27]             Long, “Liberty: The Other Equality,” 270–272.

[28]             Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 63–65.

[29]             Konkin, An Agorist Primer, 43–45.

[30]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 29–31.


10.       Sintesis Filosofis: Menuju Etika Pasar Bebas yang Humanistik

Agorisme, sebagai sintesis antara ekonomi pasar bebas dan etika libertarian, menawarkan visi filosofis yang melampaui kerangka ekonomi konvensional. Ia tidak hanya berbicara tentang efisiensi atau mekanisme distribusi nilai, melainkan tentang martabat manusia sebagai subjek moral dan epistemik dalam ruang sosial yang bebas.¹ Dengan demikian, agorisme berupaya menyatukan kebebasan individual, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral dalam satu kerangka etika pasar bebas yang humanistik.

10.1.    Kebebasan sebagai Asas Ontologis dan Moral

Dalam struktur ontologinya, agorisme menegaskan bahwa kebebasan bukanlah kondisi politik yang harus diberikan, melainkan hakikat eksistensial manusia.² Individu dalam masyarakat agoris dipandang sebagai makhluk yang otonom secara moral dan rasional, yang tindakannya memiliki nilai intrinsik karena berakar pada kesadaran akan kebebasan.³ Oleh karena itu, prinsip non-agresi (Non-Aggression Principle, NAP) tidak sekadar norma hukum, tetapi bentuk aktualisasi ontologis dari keberadaan manusia yang bermoral.⁴

Dengan menolak segala bentuk paksaan—baik yang bersumber dari negara maupun struktur sosial yang koersif—agorisme menegaskan kembali nilai kebebasan sebagai fondasi eksistensi manusia yang sejati.⁵ Dalam konteks ini, kebebasan bukan kebolehan untuk bertindak sesuka hati, melainkan kemampuan untuk bertindak berdasarkan nalar etis yang menghormati kebebasan orang lain.⁶ Pandangan ini menunjukkan bahwa dalam agorisme, moralitas dan kebebasan bersifat koeksistensial: tidak ada kebebasan sejati tanpa moralitas, dan tidak ada moralitas sejati tanpa kebebasan.⁷

10.2.    Rasionalitas dan Solidaritas sebagai Dua Poros Etika Pasar

Agorisme berupaya menyeimbangkan antara dua aspek yang sering dianggap bertentangan dalam filsafat sosial: rasionalitas ekonomi dan solidaritas sosial.⁸ Rasionalitas dalam konteks agoristik bukanlah kalkulasi utilitarian semata, melainkan ekspresi dari tanggung jawab moral individu terhadap konsekuensi tindakannya.⁹ Dengan demikian, tindakan ekonomi dalam agora bukan tindakan yang bebas dari etika, melainkan tindakan yang diatur oleh kesadaran etis atas hubungan timbal balik.

Sebaliknya, solidaritas dalam agorisme tidak bersifat kolektivistik atau paternalistik. Ia tumbuh secara organik dari interaksi bebas antarindividu melalui kepercayaan dan resiprositas.¹⁰ Seperti ditegaskan oleh Roderick T. Long, kebajikan sosial yang sejati muncul dari hubungan horizontal di antara individu yang setara secara moral.¹¹ Dalam masyarakat agoris, pasar bebas menjadi ruang moral bersama, bukan arena persaingan buta.¹²

Dengan mengintegrasikan rasionalitas dan solidaritas, agorisme mengartikulasikan bentuk baru dari etika ekonomi—sebuah sistem di mana kebebasan individu memperkuat kohesi sosial, dan kerja sama sukarela menjadi sumber legitimasi moral.¹³

10.3.    Integrasi Antara Etika dan Epistemologi Kebebasan

Salah satu kontribusi filosofis agorisme yang paling penting terletak pada integrasi antara etika dan epistemologi kebebasan. Menurut Ludwig von Mises, pengetahuan ekonomi lahir dari tindakan manusia yang bertujuan (praxeology), dan karena itu, setiap tindakan ekonomi adalah pernyataan epistemik tentang nilai.¹⁴ Agorisme memperluas pandangan ini dengan menegaskan bahwa kebebasan bertindak juga merupakan kebebasan untuk mengetahui (freedom to know).¹⁵

Dalam masyarakat agoris, pengetahuan tidak dimonopoli oleh negara, melainkan disebarkan melalui interaksi sukarela dan pengalaman praktis.¹⁶ Epistemologi desentralisasi ini bersifat moral karena mengakui kapasitas rasional setiap individu untuk menentukan kebenaran tindakan mereka sendiri.¹⁷ Dengan demikian, agorisme menyatukan etika kebebasan dan epistemologi tindakan dalam satu sistem pemikiran yang konsisten—suatu bentuk humanisme libertarian yang menolak pemisahan antara mengetahui dan bertindak.¹⁸

10.4.    Pasar sebagai Ruang Etis dan Spiritualitas Duniawi

Agorisme merehabilitasi pasar dari reduksi ekonomistik menjadi arena spiritual dan moral.¹⁹ Dalam agora, transaksi bukan sekadar pertukaran komoditas, tetapi pertemuan antara kesadaran manusia yang otonom dan etis. Hal ini serupa dengan pandangan Hayek tentang spontaneous order, di mana keteraturan sosial muncul dari interaksi bebas manusia tanpa desain sentral.²⁰ Namun, agorisme menambahkan dimensi moral pada konsep tersebut: keteraturan sosial bukan hanya hasil efisiensi, tetapi juga buah dari komitmen etis untuk hidup tanpa paksaan.²¹

Dengan demikian, agora dapat dipahami sebagai ruang etis duniawi (secular ethics arena)—sebuah tatanan moral yang bersumber dari interaksi manusia, bukan wahyu institusional.²² Di sinilah agorisme berpotongan dengan filsafat humanistik: ia menempatkan manusia sebagai sumber makna moral dan agen pembentuk tatanan sosial.²³


Menuju Paradigma Pasar Bebas yang Humanistik

Sintesis filosofis agorisme berpuncak pada gagasan tentang pasar bebas yang humanistik, yaitu pasar yang bukan sekadar mekanisme ekonomi, melainkan sistem moral yang memuliakan kebebasan, kejujuran, dan tanggung jawab.²⁴ Dalam paradigma ini, pasar tidak lagi dilihat sebagai arena eksploitasi, tetapi sebagai sarana aktualisasi diri manusia sebagai makhluk moral yang kreatif.²⁵

Paradigma ini memiliki implikasi luas bagi filsafat sosial kontemporer. Ia menawarkan jalan tengah antara dua ekstrem: etatisme, yang menundukkan kebebasan pada kekuasaan; dan kapitalisme nihilistik, yang menafikan moralitas demi keuntungan.²⁶ Agorisme menolak keduanya dengan menegaskan bahwa kebebasan sejati hanya dapat dipertahankan jika disertai kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.²⁷

Dengan demikian, etika pasar bebas yang humanistik menjadi visi akhir agorisme: tatanan sosial di mana individu bebas bertindak secara rasional, bekerja sama secara sukarela, dan hidup dalam solidaritas moral.²⁸ Seperti yang ditegaskan Konkin, “revolusi sejati bukanlah perebutan kekuasaan, melainkan pembebasan manusia dari kebutuhan akan kekuasaan itu sendiri.”²⁹


Footnotes

[1]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 25–27.

[2]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–13.

[3]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 47–49.

[4]                Ibid., 52.

[5]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–30.

[6]                Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 267–268.

[7]                Ibid., 269.

[8]                Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 75–76.

[9]                Konkin, The New Libertarian Manifesto, 21–22.

[10]             Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 3–4.

[11]             Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 311–313.

[12]             Konkin, An Agorist Primer, 32–33.

[13]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 80–81.

[14]             Mises, Human Action, 15–16.

[15]             F. A. Hayek, The Constitution of Liberty (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 102–104.

[16]             Konkin, An Agorist Primer, 35–36.

[17]             Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22 (1997): 51–52.

[18]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 28–29.

[19]             Kevin Carson, Organization Theory: A Libertarian Perspective (Charleston: BookSurge, 2008), 67–68.

[20]             F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 41–42.

[21]             Ibid., 45.

[22]             Konkin, An Agorist Primer, 38–39.

[23]             Murray Bookchin, The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 89–90.

[24]             Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1, no. 19 (2009): 7–8.

[25]             Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 91–92.

[26]             Carson, Studies in Mutualist Political Economy, 83–84.

[27]             Konkin, An Agorist Primer, 43–44.

[28]             Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” 270–272.

[29]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 30–31.


11.       Kesimpulan

Agorisme, sebagaimana dirumuskan oleh Samuel Edward Konkin III, merupakan salah satu inovasi paling radikal dalam tradisi filsafat sosial-politik libertarian. Ia menolak premis dasar politik modern yang menempatkan negara sebagai penjamin tatanan sosial, dan menggantinya dengan visi masyarakat yang tumbuh secara spontan dari tindakan sukarela dan prinsip moral kebebasan.¹ Melalui sintesis antara ekonomi pasar bebas, etika non-agresi, dan epistemologi desentralisasi, agorisme menghadirkan paradigma baru tentang bagaimana manusia dapat hidup bersama secara damai tanpa dominasi koersif.²

11.1.    Rekonstruksi Filsafat Kebebasan

Dari perspektif ontologis, agorisme memahami manusia sebagai makhluk bebas yang memiliki kapasitas rasional dan moral untuk mengatur dirinya sendiri.³ Dalam kerangka ini, kebebasan tidak dipahami sebagai hak yang diberikan oleh otoritas, tetapi sebagai kondisi eksistensial yang mendahului segala bentuk legitimasi politik.⁴ Pandangan ini sekaligus menegaskan penolakan terhadap gagasan statism, yakni keyakinan bahwa keteraturan sosial hanya mungkin diwujudkan melalui kekuasaan negara.⁵

Agorisme mengembalikan konsep tatanan sosial kepada asas spontaneous order, sebagaimana dikemukakan oleh F. A. Hayek, tetapi dengan tambahan fondasi etis yang lebih mendalam: keteraturan bukan hanya hasil dari interaksi bebas, melainkan juga ekspresi moral dari penghormatan terhadap otonomi manusia.⁶ Dengan demikian, agorisme memperluas makna kebebasan menjadi prinsip ontologis sekaligus moral.

11.2.    Etika Non-Agresi dan Moralitas Sukarela

Pada tataran aksiologis, agorisme menegaskan bahwa fondasi moral masyarakat bebas adalah prinsip non-agresi (Non-Aggression Principle, NAP).⁷ Prinsip ini memberikan batas etis yang jelas: kebebasan individu berakhir ketika ia melanggar kebebasan orang lain.⁸ Dalam konteks ini, kontra-ekonomi dipahami bukan sebagai bentuk pelanggaran hukum, melainkan sebagai tindakan moral yang menolak legitimasi kekuasaan koersif.⁹

Etika agoristik menempatkan tanggung jawab pribadi dan resiprositas sebagai inti moral dari kebebasan. Setiap tindakan ekonomi sukarela menjadi sarana pembentukan karakter etis—sebuah virtue ethics libertarian yang berpijak pada kesadaran akan martabat manusia sebagai agen moral.¹⁰ Di sini, pasar bebas tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai mekanisme efisiensi, melainkan sebagai ruang moral bagi tindakan manusia yang bebas dan bertanggung jawab.¹¹

11.3.    Kontra-Ekonomi sebagai Jalan Revolusi Damai

Secara praksis, agorisme memperkenalkan strategi kontra-ekonomi sebagai sarana transformatif menuju masyarakat bebas tanpa kekerasan.¹² Alih-alih merebut kekuasaan, agorisme mendorong individu untuk membangun struktur sosial alternatif melalui aktivitas ekonomi di luar sistem negara.¹³ Pendekatan ini menandai pergeseran paradigmatik dalam teori revolusi: dari perubahan politik top-down menuju perubahan sosial bottom-up yang bersifat etis, desentral, dan evolusioner.¹⁴

Strategi kontra-ekonomi menjadi bentuk civil disobedience yang produktif—menolak bekerja dalam sistem koersif sekaligus menciptakan sistem baru yang lebih adil.¹⁵ Dengan demikian, agorisme tidak hanya merupakan teori politik, tetapi juga pedagogi kebebasan, yang mengajarkan bagaimana manusia dapat membebaskan diri tanpa kekerasan melalui kesadaran ekonomi dan moral.¹⁶

11.4.    Relevansi Agorisme dalam Dunia Kontemporer

Dalam konteks global saat ini, gagasan agoristik menemukan aktualisasinya dalam teknologi desentralisasi, cryptocurrency, dan jaringan sosial non-hierarkis.¹⁷ Struktur digital yang memungkinkan pertukaran tanpa perantara memperlihatkan bahwa prinsip-prinsip kebebasan dapat diimplementasikan melalui inovasi teknologi.¹⁸ Namun, relevansi agorisme tidak berhenti pada aspek teknis: ia juga menjadi dasar etika bagi masyarakat digital yang menuntut keseimbangan antara otonomi, privasi, dan tanggung jawab sosial.¹⁹

Agorisme menampilkan wajah baru humanisme libertarian di abad ke-21—sebuah humanisme yang menolak paternalistik negara, tetapi tetap menegaskan pentingnya kejujuran, kepercayaan, dan solidaritas horizontal sebagai fondasi moral kehidupan bersama.²⁰ Dengan demikian, agorisme menjadi jawaban filosofis terhadap krisis modernitas, di mana kebebasan dan moralitas sering kali dipisahkan secara destruktif.


Sintesis Akhir: Dari Pasar Menuju Kemanusiaan

Akhirnya, sintesis filosofis agorisme mengarah pada gagasan “pasar bebas yang humanistik”, di mana kebebasan tidak lagi dipandang sebagai alat untuk akumulasi kekuasaan atau kekayaan, melainkan sebagai sarana pembentukan kemanusiaan yang etis.²¹ Dalam masyarakat seperti ini, pasar bukanlah tempat eksploitasi, melainkan arena kolaborasi kreatif yang menghormati martabat setiap individu.²²

Dengan menolak kekerasan sebagai sarana perubahan, agorisme mengembalikan politik kepada etika, dan ekonomi kepada kemanusiaan.²³ Sebagaimana dinyatakan Konkin, “revolusi libertarian bukanlah pergantian penguasa, melainkan pembalikan struktur kesadaran manusia terhadap kebebasan.”²⁴ Maka, tujuan akhir agorisme bukanlah penghapusan negara semata, tetapi penemuan kembali manusia sebagai makhluk bebas, rasional, dan bermoral dalam ruang sosial yang otonom dan damai.²⁵


Footnotes

[1]                Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 3–5.

[2]                Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1, no. 19 (2009): 2–4.

[3]                Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–12.

[4]                Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty (Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–47.

[5]                Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 22–23.

[6]                F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 38–40.

[7]                Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 58–60.

[8]                Ibid., 61.

[9]                Konkin, The New Libertarian Manifesto, 20–21.

[10]             Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 266–268.

[11]             Kevin A. Carson, Studies in Mutualist Political Economy (Charleston: BookSurge, 2007), 79–80.

[12]             Konkin, An Agorist Primer, 26–28.

[13]             Ibid., 30.

[14]             David D. Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 68–69.

[15]             Henry David Thoreau, Civil Disobedience (Boston: Ticknor and Fields, 1849), 14–15.

[16]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 24–25.

[17]             Samuel Konkin III and Derrick S. Broze, Agorism in the Digital Age (Houston: Conscious Resistance Press, 2019), 14–15.

[18]             Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 3–4.

[19]             Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 53–55.

[20]             Murray Bookchin, The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 102–104.

[21]             Konkin, An Agorist Primer, 40–42.

[22]             Roderick T. Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22 (1997): 49–51.

[23]             Rothbard, The Ethics of Liberty, 63–64.

[24]             Konkin, The New Libertarian Manifesto, 28.

[25]             Ibid., 30–31.


Daftar Pustaka

Bookchin, M. (1982). The ecology of freedom: The emergence and dissolution of hierarchy. Palo Alto, CA: Cheshire Books.

Buterin, V. (2017). The meaning of decentralization. Ethereum Foundation Essays. ethereum.foundation

Carson, K. A. (2007). Studies in mutualist political economy. Charleston, SC: BookSurge.

Carson, K. A. (2008). Organization theory: A libertarian perspective. Charleston, SC: BookSurge.

Carson, K. A. (2016). The desktop regulatory state. Charleston, SC: BookSurge.

Friedman, D. D. (1973). The machinery of freedom: Guide to a radical capitalism. La Salle, IL: Open Court.

Hayek, F. A. (1945). The use of knowledge in society. American Economic Review, 35(4), 519–530.

Hayek, F. A. (1960). The constitution of liberty. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Hayek, F. A. (1973). Law, legislation, and liberty (Vol. 1). Chicago, IL: University of Chicago Press.

Hayek, F. A. (1976). The denationalisation of money. London, UK: Institute of Economic Affairs.

Hayek, F. A. (1988). The fatal conceit: The errors of socialism. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Johnson, C. W. (2011). Markets freed from capitalism. Center for a Stateless Society. c4ss.org

Klein, N. (2007). The shock doctrine: The rise of disaster capitalism. New York, NY: Knopf.

Konkin, S. E. III. (1980). The new libertarian manifesto. Los Angeles, CA: Koman Publishing.

Konkin, S. E. III. (2008). An agorist primer. Agorist Publishing.

Konkin, S. E. III., & Broze, D. S. (2019). Agorism in the digital age. Houston, TX: Conscious Resistance Press.

Kropotkin, P. (1892). The conquest of bread. London, UK: Chapman and Hall.

Kropotkin, P. (1902). Mutual aid: A factor of evolution. London, UK: McClure, Phillips & Co.

Long, R. T. (1997). Libertarianism, knowledge, and social order. Reason Papers, 22, 47–55.

Long, R. T. (1998). Toward a libertarian theory of class. Social Philosophy and Policy, 15(2), 303–315.

Long, R. T. (2007). Liberty: The other equality. Social Philosophy and Policy, 24(1), 262–273.

Long, R. T. (2009). Market anarchism as constitutionalism. Libertarian Papers, 1(19), 1–10.

Mises, L. von. (1949). Human action: A treatise on economics. New Haven, CT: Yale University Press.

Proudhon, P.-J. (1840). What is property? Paris, France: Garnier Frères.

Rawls, J. (1971). A theory of justice. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Rothbard, M. N. (1973). For a new liberty: The libertarian manifesto. New York, NY: Macmillan.

Rothbard, M. N. (1982). The ethics of liberty. Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press.

Thoreau, H. D. (1849). Civil disobedience. Boston, MA: Ticknor and Fields.

Wilson, C. (2016). Come and take it: The gun printer’s guide to thinking free. New York, NY: Gallery Books.

Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism. New York, NY: PublicAffairs.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar