Agorisme dan Strategi Kontra-Ekonomi
Etika Libertarian, Rasionalitas Pasar Bebas, dan
Politik Non-Aggresi dalam Diskursus Filsafat Sosial-Politik Modern
Alihkan ke: Libertarianisme.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif Agorisme
sebagai salah satu aliran utama dalam diskursus filsafat sosial-politik
libertarian yang berfokus pada strategi kontra-ekonomi (counter-economics)
sebagai sarana revolusi non-kekerasan. Gagasan ini dirumuskan oleh Samuel
Edward Konkin III sebagai respons terhadap keterbatasan libertarianisme
politik yang bergantung pada institusi negara. Melalui pendekatan
multidimensional—ontologis, epistemologis, dan aksiologis—tulisan ini
menunjukkan bahwa agorisme tidak hanya merupakan strategi ekonomi, tetapi juga
sistem etika dan epistemologi kebebasan. Secara ontologis, agorisme memandang
individu sebagai entitas moral otonom yang menciptakan keteraturan sosial
melalui interaksi sukarela; secara epistemologis, ia menolak monopoli
pengetahuan oleh negara dan menegaskan pentingnya desentralisasi informasi;
sementara secara aksiologis, ia menempatkan prinsip non-aggression (NAP)
dan tanggung jawab pribadi sebagai dasar moral kehidupan sosial.
Dalam tataran praksis, artikel ini menelusuri peran
kontra-ekonomi sebagai strategi revolusioner yang menggantikan struktur koersif
negara dengan jaringan sosial berbasis kebebasan sukarela. Kajian ini juga
menyoroti relevansi kontemporer agorisme di era digital, khususnya dalam
perkembangan blockchain, cryptocurrency, dan ekosistem decentralized
finance (DeFi), yang merepresentasikan realisasi praktis dari
prinsip-prinsip agoris. Melalui pendekatan kritis-filosofis, artikel ini
menyimpulkan bahwa agorisme mengandung potensi transformatif menuju etika
pasar bebas yang humanistik, di mana kebebasan, solidaritas, dan tanggung
jawab sosial bersatu dalam satu kerangka moral. Agorisme dengan demikian bukan
sekadar doktrin ekonomi, tetapi sebuah paradigma filsafat kebebasan yang
menuntun manusia menuju tatanan sosial yang desentral, etis, dan berkeadilan.
Kata Kunci: Agorisme; Libertarianisme; Kontra-Ekonomi;
Etika Non-Agresi; Desentralisasi; Pasar Bebas; Filsafat Sosial-Politik; Samuel
Edward Konkin III.
PEMBAHASAN
Memahami Dasar Filosofis, Strategi Praksis, serta
Relevansi Agorisme dalam Konteks Sosial-Politik Kontemporer
1.
Pendahuluan
Dalam lanskap filsafat sosial-politik kontemporer, libertarianisme
menempati posisi yang unik karena menggabungkan semangat kebebasan individual
dengan skeptisisme mendalam terhadap otoritas negara. Di antara ragam aliran
dalam tradisi libertarian tersebut, agorisme menonjol sebagai bentuk
radikal yang menekankan strategi praksis melalui apa yang disebut sebagai kontra-ekonomi—yakni
kegiatan ekonomi sukarela yang berlangsung di luar sistem negara dan hukum
positifnya. Gagasan ini berakar pada pandangan bahwa kebebasan sejati hanya
dapat direalisasikan melalui tindakan nyata yang secara langsung melemahkan
monopoli kekuasaan negara atas kehidupan ekonomi dan sosial manusia.¹
Secara historis, agorisme lahir dari lingkungan
intelektual libertarian Amerika Serikat pada dekade 1970-an, ketika Samuel
Edward Konkin III (SEK3) menulis The New Libertarian Manifesto sebagai
tanggapan terhadap ketegangan antara libertarianisme teoretis dan praksis
politik elektoral.² Dalam pandangan Konkin, upaya libertarian untuk merebut
kekuasaan negara merupakan kontradiksi internal, sebab kekuasaan negara sendiri
merupakan antitesis terhadap prinsip kebebasan.³ Oleh karena itu, ia
mengusulkan jalur alternatif: membangun ruang sosial-ekonomi yang otonom
melalui praktik pasar bebas yang tidak diatur dan bersifat sukarela, yang ia
sebut agora—mengambil istilah dari bahasa Yunani kuno yang berarti “ruang
pertemuan bebas”.
Secara filosofis, agorisme dapat dipahami sebagai
ekspresi dari ontologi individualis dan aksiologi non-agresi, di
mana nilai moral tertinggi adalah kebebasan bertindak tanpa paksaan, sejauh
tidak melanggar hak orang lain.⁴ Prinsip dasar ini, dikenal sebagai Non-Aggression
Principle (NAP), menjadi fondasi etis bagi seluruh struktur pemikiran
libertarian. Dalam konteks ini, strategi kontra-ekonomi bukan semata upaya
ekonomi alternatif, melainkan juga bentuk perlawanan moral terhadap sistem yang
dianggap menindas dan tidak sah secara etis.⁵
Di sisi lain, agorisme tidak hanya berbicara
tentang ekonomi pasar bebas dalam pengertian klasik, tetapi juga mengenai desentralisasi
kekuasaan pengetahuan dan teknologi. Dengan munculnya ekonomi digital,
teknologi kriptografi, dan jaringan desentralisasi, prinsip-prinsip agorisme
mendapatkan aktualisasi baru dalam bentuk crypto-agorism—yakni penerapan
etika pasar bebas dalam ruang digital tanpa perantara negara.⁶ Dalam konteks
ini, agorisme tidak hanya menjadi doktrin ekonomi, melainkan paradigma sosial
yang menantang konsep negara modern sebagai entitas pengatur tunggal kehidupan
publik.
Dengan demikian, kajian terhadap agorisme dan
strategi kontra-ekonomi menjadi penting tidak hanya bagi studi filsafat politik
libertarian, tetapi juga bagi pemahaman lebih luas tentang bentuk-bentuk
resistensi etis terhadap kekuasaan yang terpusat. Artikel ini akan menelaah
secara sistematis dasar-dasar historis, ontologis, epistemologis, dan
aksiologis dari agorisme, sekaligus menelusuri relevansinya dalam konteks
sosial-politik dan ekonomi digital kontemporer.
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 15–17.
[2]
Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian
Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 3–6.
[3]
Ibid., 10–11.
[4]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–14.
[5]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social
Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 262–64.
[6]
Samuel Edward Konkin III, An Agorist Primer
(Agorist Publishing, 2008), 28–32.
2.
Landasan
Historis dan Genealogis Agorisme
Kemunculan agorisme
sebagai aliran dalam filsafat sosial-politik libertarian tidak dapat dilepaskan
dari dinamika intelektual libertarianisme Amerika Serikat pada paruh kedua abad
ke-20. Ia lahir dalam konteks ketegangan ideologis antara libertarianisme minarchist—yang
masih mengakui keberadaan negara minimal—dan libertarianisme anarchist,
yang menolak seluruh bentuk institusi koersif.¹ Dalam ketegangan inilah, Samuel
Edward Konkin III (SEK3) merumuskan agorisme sebagai jalan
ketiga: suatu sintesis antara prinsip-prinsip ekonomi Austria, etika
non-agresi, dan strategi praksis untuk mencapai masyarakat tanpa negara melalui
mekanisme pasar bebas non-koersif.²
2.1. Akar Intelektual dalam Tradisi Libertarian Klasik
dan Ekonomi Austria
Agorisme merupakan
produk intelektual yang berakar dalam tradisi liberalisme klasik dan sekolah
ekonomi Austria. Dari liberalisme klasik, ia mewarisi komitmen
terhadap kebebasan individu, hak milik, dan rasionalitas moral dalam hubungan
sosial.³ Dari ekonomi Austria—melalui karya Carl Menger, Ludwig
von Mises, dan Friedrich A. Hayek—agorisme
mengadopsi metodologi praxeology, yaitu pemahaman
tindakan manusia sebagai bentuk ekspresi rasional dari pilihan bebas yang
bertujuan.⁴
Namun, berbeda dengan
libertarianisme konvensional yang cenderung menekankan kebebasan dalam kerangka
hukum positif, agorisme menolak legitimasi negara sebagai penjaga “hukum
alami”. Bagi Konkin, negara bukanlah penjaga ketertiban, melainkan instrumen
sistematis dari perampasan dan kekerasan yang dilembagakan.⁵ Ia menyebut sistem
ini sebagai statism, dan menganggap bahwa
partisipasi dalam mekanisme negara, termasuk melalui pemilu, hanya memperkuat
dominasi tersebut.⁶
2.2. Murray Rothbard dan Paradigma Etika Non-Agresi
Pengaruh Murray
N. Rothbard sangat signifikan dalam pembentukan kerangka
normatif agorisme. Rothbard dalam The Ethics of Liberty (1982)
menegaskan prinsip Non-Aggression Principle (NAP),
yaitu bahwa tidak seorang pun berhak menggunakan kekerasan terhadap orang lain
kecuali dalam pembelaan diri.⁷ Konkin mengambil prinsip ini dan
mengembangkannya menjadi strategi praksis yang lebih konkret: jika kekerasan
negara tidak dapat dihapus dari dalam, maka individu harus membangun sistem
alternatif di luar struktur negara.⁸ Dengan demikian, agorisme memandang resistensi
ekonomi sebagai tindakan moral, bukan hanya politik.
Rothbard juga
memengaruhi agorisme melalui kritiknya terhadap corporatism—yakni hubungan
simbiotik antara pemerintah dan korporasi besar. Dalam pandangan ini, pasar
yang “teratur” oleh regulasi negara bukanlah pasar bebas sejati,
melainkan bentuk kapitalisme istimewa (crony capitalism) yang menghambat
kebebasan ekonomi.⁹ Agorisme kemudian memosisikan dirinya sebagai antitesis
terhadap sistem tersebut, dengan mendorong praktik ekonomi bayangan yang
didasarkan pada transaksi sukarela tanpa izin negara.
2.3. Genealogi Kontra-Ekonomi dan Revolusi Non-Kekerasan
Konsep kontra-ekonomi
pertama kali diperkenalkan Konkin dalam The New Libertarian Manifesto
(1980) sebagai “seluruh tindakan manusia yang tidak diatur oleh negara namun
bersifat sukarela dan tidak agresif.”¹⁰ Ia menganggap bahwa perubahan
sosial yang sejati hanya dapat dicapai melalui aktivitas ekonomi bebas di luar
sistem formal, bukan melalui perolehan kekuasaan politik.¹¹ Dengan demikian,
kontra-ekonomi bukanlah pemberontakan bersenjata, melainkan strategi
evolusioner yang bertumpu pada etika pasar dan desentralisasi kekuasaan.
Dalam pandangan
genealogis, agorisme menempati posisi transformatif di antara dua arus besar
libertarianisme abad ke-20: di satu sisi, ia mengakar pada tradisi
individualis Amerika yang diwariskan oleh tokoh seperti Lysander
Spooner dan Benjamin Tucker; di sisi lain,
ia menjadi penghubung menuju bentuk libertarianisme kontemporer yang berfokus
pada teknologi dan desentralisasi digital.¹² Agorisme, dengan demikian, bukan
hanya teori ekonomi alternatif, melainkan strategi filsafat kebebasan yang
menggabungkan moralitas, epistemologi tindakan, dan praksis sosial.
Dari Agora ke Crypto-Agora: Evolusi Genealogis di Era Digital
Dalam perkembangan
mutakhir, gagasan agorisme menemukan medium baru melalui munculnya teknologi
blockchain, mata uang kripto, dan sistem
desentralisasi digital. Fenomena ini sering disebut sebagai crypto-agorism,
yaitu penerapan prinsip-prinsip agoristik dalam ruang digital untuk menghindari
kontrol dan pengawasan negara.¹³ Evolusi ini menunjukkan bahwa agorisme bukan
doktrin statis, melainkan paradigma yang terus menyesuaikan diri dengan
perubahan epistemik dan teknologi zaman.
Dengan demikian,
landasan historis dan genealogis agorisme tidak hanya menegaskan posisinya
sebagai varian libertarianisme radikal, tetapi juga memperlihatkan kontinuitas
intelektual antara kebebasan individual, kritik terhadap kekuasaan terpusat,
dan pencarian strategi etis untuk mewujudkan masyarakat sukarela.
Footnotes
[1]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 9–12.
[2]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 5–8.
[3]
John Locke, Two Treatises of
Government (London: Awnsham
Churchill, 1689), II. §87–94.
[4]
Ludwig von Mises, Human Action: A
Treatise on Economics (New Haven:
Yale University Press, 1949), 11–18.
[5]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 9.
[6]
Ibid., 12.
[7]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–30.
[8]
Ibid., 31.
[9]
Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York:
Macmillan, 1973), 70–75.
[10]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 22.
[11]
Samuel Edward Konkin III, An
Agorist Primer (Agorist Publishing,
2008), 25–27.
[12]
Charles W. Johnson, “Libertarianism through Thick and Thin,” The Freeman 54, no. 6
(2004): 12–15.
[13]
Cody Wilson, Come and Take It: The
Gun Printer’s Guide to Thinking Free
(New York: Gallery Books, 2016), 33–37.
3.
Ontologi
Sosial Agorisme
Ontologi sosial agorisme berpangkal pada pemahaman
bahwa individu merupakan satuan eksistensial dasar dari kehidupan
sosial.¹ Segala bentuk organisasi sosial, ekonomi, dan politik dianggap sebagai
derivasi dari tindakan-tindakan bebas individu yang saling berinteraksi dalam
kerangka sukarela. Dengan demikian, masyarakat dalam pandangan agoris bukanlah
konstruksi buatan negara, melainkan hasil emergen dari jaringan transaksi bebas
antarindividu yang rasional dan otonom.² Ontologi ini menolak gagasan bahwa
negara adalah entitas metafisik yang memiliki legitimasi intrinsik untuk
memerintah. Sebaliknya, negara dipandang sebagai konstruksi artifisial yang
mempertahankan dirinya melalui kekerasan, monopoli hukum, dan pengendalian
ekonomi.³
Bagi Samuel Edward Konkin III, struktur
sosial yang ideal adalah “agora”, yaitu tatanan sosial yang terbentuk
dari hubungan sukarela tanpa paksaan eksternal.⁴ Di dalam agora, setiap individu
berfungsi sebagai agen moral yang bertindak atas dasar pilihan rasional, bukan
karena ketundukan terhadap otoritas politik. Agora bukan hanya pasar
dalam pengertian ekonomi, melainkan ruang etis tempat kebebasan menjadi prinsip
pengatur utama kehidupan bersama. Dalam tatanan ini, hubungan sosial tidak
diatur oleh regulasi hierarkis, tetapi oleh prinsip resiprositas dan
penghormatan terhadap hak milik serta kebebasan orang lain.⁵
Ontologi sosial agorisme menolak dualisme klasik
antara individu dan masyarakat sebagaimana ditemukan dalam teori sosial modern.
Dalam perspektif agoris, masyarakat bukan entitas yang eksis terpisah dari
individu, melainkan hasil interaksi spontan (spontaneous order) dari
tindakan-tindakan bebas.⁶ Pemikiran ini jelas menunjukkan pengaruh kuat Friedrich
A. Hayek, yang berargumen bahwa keteraturan sosial sejati muncul dari
hasil-hasil tak direncanakan (unintended consequences) dari tindakan manusia
yang bebas, bukan dari perencanaan sentral.⁷ Agorisme kemudian memperluas
gagasan tersebut dengan dimensi etis: kebebasan bukan hanya alat, tetapi juga
nilai intrinsik yang mengikat tatanan sosial.
Dalam kerangka ontologis ini, negara
diposisikan sebagai entitas anti-sosial. Ia dianggap merusak keteraturan alami
yang muncul dari tindakan sukarela dengan cara memaksakan struktur hukum,
perpajakan, dan regulasi yang bersifat koersif.⁸ Dengan demikian, ontologi
sosial agorisme memandang masyarakat tanpa negara bukan sebagai utopia anarkis,
melainkan sebagai bentuk tertinggi dari keteraturan moral dan ekonomi. Dalam
masyarakat agoris, hukum tidak bersumber dari institusi politik, tetapi dari
prinsip universal non-agresi yang dijalankan secara konsensual.⁹
Selain itu, agorisme juga memandang pasar bebas
bukan sekadar mekanisme distribusi barang dan jasa, melainkan medan ontologis
tempat individu menegaskan eksistensinya secara etis. Dalam pasar bebas yang
sejati, setiap tindakan ekonomi adalah ekspresi kebebasan, tanggung jawab, dan
kreativitas manusia.¹⁰ Dengan demikian, agora menjadi simbol ontologis
bagi masyarakat yang tidak dikendalikan oleh pusat kekuasaan, melainkan tumbuh
dari bawah melalui kesadaran moral individu-individu otonom.
Konsepsi ini membawa implikasi mendalam terhadap
pemahaman tentang keteraturan sosial. Jika dalam ontologi politik
konvensional keteraturan lahir dari institusi koersif, maka dalam agorisme
keteraturan muncul dari interaksi moral dan rasional individu.¹¹ Di
sinilah terletak inti dari ontologi sosial agorisme: masyarakat sebagai
jaringan etis dari tindakan bebas, bukan sebagai struktur politik yang
dipaksakan. Dengan begitu, kebebasan individu dan keteraturan sosial tidak lagi
dipandang sebagai dua kutub yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua
sisi dari realitas sosial yang sama.¹²
Footnotes
[1]
Ludwig von Mises, Human Action: A Treatise on
Economics (New Haven: Yale University Press, 1949), 11–12.
[2]
Murray N. Rothbard, The Ethics of Liberty
(Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–47.
[3]
Samuel Edward Konkin III, The New Libertarian
Manifesto (Los Angeles: Koman Publishing, 1980), 9–10.
[4]
Ibid., 14–15.
[5]
Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of
Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 303–305.
[6]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and Liberty: A
New Statement of the Liberal Principles of Justice and Political Economy,
vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1973), 35–38.
[7]
Ibid., 39–40.
[8]
Konkin, The New Libertarian Manifesto, 11.
[9]
Murray N. Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 58–60.
[10]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist
Publishing, 2008), 28–30.
[11]
David D. Friedman, The Machinery of Freedom:
Guide to a Radical Capitalism (La Salle, IL: Open Court, 1973), 23–25.
[12]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from
Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 2–3.
4.
Epistemologi
dan Rasionalitas Kontra-Ekonomi
Epistemologi
agorisme bertumpu pada pandangan bahwa pengetahuan sosial dan ekonomi bersifat
desentral, tidak dapat dimonopoli oleh lembaga tunggal seperti
negara.¹ Dalam kerangka ini, rasionalitas tidak dipahami sebagai hasil
kebijakan terpusat, tetapi sebagai produk interaksi spontan individu-individu
yang bebas dalam ruang pasar. Epistemologi ini berakar kuat pada tradisi praxeology
dari Ludwig
von Mises, yang mendefinisikan ekonomi sebagai ilmu tentang
tindakan manusia—yakni tindakan sadar yang diarahkan pada tujuan.² Dengan
demikian, pengetahuan dalam agorisme bukanlah hasil pengaturan eksternal,
melainkan manifestasi dari kebebasan epistemik individu yang bertindak.
4.1. Praxeology dan Subjektivisme Nilai
Sebagaimana
ditegaskan oleh Mises, tindakan manusia selalu didorong oleh nilai subjektif
yang tidak dapat diukur secara objektif.³ Agorisme mengambil prinsip ini untuk
menolak legitimasi sistem ekonomi yang dipaksakan melalui hukum positif, karena
sistem tersebut mengabaikan pengetahuan dan preferensi individual. Dalam
konteks ini, kontra-ekonomi—yakni praktik
ekonomi sukarela di luar regulasi negara—menjadi arena epistemik tempat
individu mengekspresikan pengetahuan praktisnya tentang nilai, kebutuhan, dan
pertukaran.⁴
Bagi Samuel
Edward Konkin III, setiap tindakan kontra-ekonomi adalah bentuk
aktualisasi
pengetahuan otonom, di mana pelaku ekonomi mengandalkan pengalaman
langsung dan informasi lokal yang tidak tersedia bagi birokrasi negara.⁵ Hal
ini sejalan dengan kritik Friedrich A. Hayek terhadap “kesombongan
fatal” (fatal conceit) negara modern yang
menganggap diri mampu mengelola seluruh pengetahuan sosial melalui perencanaan
terpusat.⁶ Agorisme, dengan demikian, berpijak pada epistemologi yang menolak
klaim universal negara atas kebenaran ekonomi.
4.2. Rasionalitas Desentral dan Pengetahuan Dispersif
Agorisme memandang bahwa
rasionalitas
ekonomi bersifat desentral, tersebar di antara jutaan individu
yang saling berinteraksi dalam pasar bebas.⁷ Pengetahuan ekonomi bukanlah
entitas yang dapat dikodifikasi secara total, tetapi hasil agregasi dari
keputusan-keputusan kecil yang rasional dalam konteks masing-masing. Dalam The Use
of Knowledge in Society (1945), Hayek menjelaskan bahwa pengetahuan
sosial bersifat terfragmentasi dan tidak dapat disatukan melalui mekanisme
sentral tanpa kehilangan keakuratannya.⁸ Konkin mengambil gagasan ini untuk
membangun argumen bahwa pasar gelap dan pasar
abu-abu bukanlah bentuk kekacauan, melainkan mekanisme
epistemik yang menjaga pluralitas pengetahuan dari monopoli
politik.⁹
Rasionalitas dalam
konteks kontra-ekonomi berbeda dari rasionalitas instrumental yang dianut oleh
ekonomi arus utama. Ia bersifat moral dan komunikatif, karena
menuntut partisipasi sukarela dan penghormatan terhadap prinsip non-agresi.¹⁰
Setiap transaksi dalam agora adalah bentuk dialog
epistemik antara individu-individu yang saling belajar melalui pertukaran
nilai, risiko, dan kepercayaan. Dengan demikian, kontra-ekonomi berfungsi tidak
hanya sebagai strategi politik, tetapi juga sebagai proses
epistemologis kolektif yang memperluas horizon kebebasan
pengetahuan.¹¹
4.3. Kritik terhadap Otoritas Epistemik Negara
Dalam kerangka
agorisme, negara dianggap sebagai otoritas epistemik palsu,
karena ia mengklaim mengetahui apa yang terbaik bagi masyarakat tanpa mengakui
keterbatasan pengetahuannya sendiri.¹² Melalui hukum dan regulasi, negara
memonopoli definisi tentang legalitas dan rasionalitas ekonomi, sehingga
menyingkirkan bentuk-bentuk pengetahuan alternatif yang muncul dari pengalaman
praktis warga.¹³ Dalam An Agorist Primer, Konkin
menegaskan bahwa kebijakan ekonomi negara tidak hanya salah secara moral,
tetapi juga secara epistemologis, karena ia mengabaikan realitas informasi yang
tersebar dalam masyarakat.¹⁴
Dari sudut pandang
epistemologi libertarian, tindakan kontra-ekonomi merupakan protes
terhadap epistemologi otoritarian, di mana kebenaran sosial
dikonstruksi dari atas ke bawah. Agorisme mengembalikan sumber pengetahuan
kepada individu dan komunitas otonom, sehingga rasionalitas ekonomi menjadi
hasil partisipasi, bukan penetapan kekuasaan.¹⁵ Dalam masyarakat agoris, kebenaran
ekonomi bersifat dinamis, tumbuh melalui eksperimentasi bebas dan pengalaman
langsung, bukan melalui perencanaan normatif.¹⁶
Kontra-Ekonomi sebagai Rasionalitas Revolusioner
Epistemologi
agorisme berpuncak pada gagasan bahwa kontra-ekonomi adalah bentuk rasionalitas
revolusioner—yakni cara berpikir dan bertindak yang menolak
klaim kebenaran tunggal dari sistem negara.¹⁷ Dalam tataran praksis, hal ini
berarti mendorong individu untuk mengembangkan bentuk-bentuk produksi,
distribusi, dan pertukaran yang tidak bergantung pada struktur legal formal.
Rasionalitas revolusioner ini tidak destruktif, tetapi konstruktif, karena
membangun jaringan sosial yang lebih adaptif dan berbasis kepercayaan.¹⁸
Dengan demikian,
epistemologi dan rasionalitas kontra-ekonomi dalam agorisme tidak hanya menolak
monopoli pengetahuan oleh negara, tetapi juga menegaskan kebebasan
kognitif sebagai fondasi kebebasan sosial.¹⁹ Dalam tatanan ini,
pengetahuan bukan alat legitimasi kekuasaan, melainkan instrumen emansipasi
individu yang sadar akan otonomi moral dan ekonominya.²⁰
Footnotes
[1]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1,
no. 19 (2009): 4–6.
[2]
Ludwig von Mises, Human Action: A
Treatise on Economics (New Haven:
Yale University Press, 1949), 11–15.
[3]
Ibid., 19–22.
[4]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 17–18.
[5]
Ibid., 22.
[6]
F. A. Hayek, The Fatal Conceit: The
Errors of Socialism (Chicago:
University of Chicago Press, 1988), 76–78.
[7]
Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 43–45.
[8]
F. A. Hayek, “The Use of Knowledge in Society,” American Economic Review
35, no. 4 (1945): 519–520.
[9]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 27–29.
[10]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 59–61.
[11]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 38–40.
[12]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” 7.
[13]
Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of
Chicago Press, 1960), 87–89.
[14]
Konkin, An Agorist Primer, 32–33.
[15]
Roderick T. Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22
(1997): 51–52.
[16]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 41.
[17]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 26–28.
[18]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 39–41.
[19]
Hayek, The Constitution of
Liberty, 101.
[20]
Konkin, An Agorist Primer, 35–36.
5.
Aksiologi
dan Etika Libertarian
Dimensi aksiologis
agorisme berakar pada pandangan bahwa kebebasan merupakan nilai moral
tertinggi dan prinsip pengatur dalam seluruh relasi sosial.¹ Dalam kerangka
ini, moralitas tidak bergantung pada legitimasi hukum negara, tetapi pada prinsip
non-agresi (Non-Aggression Principle, NAP) yang
menyatakan bahwa tidak seorang pun berhak memulai kekerasan terhadap orang lain
atau properti mereka.² Prinsip ini berfungsi sebagai dasar etis universal yang
meneguhkan hak milik pribadi, otonomi tindakan, dan tanggung jawab moral
individu atas pilihan-pilihan yang dibuatnya.³
5.1. Non-Aggression Principle sebagai Fondasi Moral
Bagi Samuel
Edward Konkin III, etika non-agresi bukan sekadar norma
politik, melainkan manifestasi moral dari keberadaan manusia sebagai makhluk
rasional dan bebas.⁴ Kekerasan, dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai
pelanggaran terhadap kodrat moral manusia yang otonom. Karena itu, segala
bentuk pemaksaan, termasuk pemungutan pajak, regulasi koersif, dan kontrol
negara atas perdagangan, dikategorikan sebagai bentuk agresi yang tidak sah
secara moral.⁵ Dalam kerangka ini, tindakan kontra-ekonomi menjadi aktivitas
etis karena ia berupaya menegakkan interaksi sukarela dan menolak kekerasan terlembaga.
Murray
N. Rothbard dalam The Ethics of Liberty menegaskan
bahwa hukum moral sejati bersifat negatif—ia hanya melarang agresi—dan dengan
demikian memberi ruang seluas-luasnya bagi kebebasan kreatif manusia.⁶ Agorisme
mengadopsi pandangan ini dan mengembangkannya menjadi praksis moral: tindakan
yang benar adalah tindakan yang memperluas kebebasan tanpa melanggar kebebasan
pihak lain. Dalam konteks ini, ekonomi pasar bebas bukan sekadar mekanisme
efisiensi, tetapi juga arena etis di mana manusia mengekspresikan kebajikan
moral melalui pilihan sukarela.⁷
5.2. Kebajikan Otonomi dan Tanggung Jawab
Etika agorisme juga
menekankan otonomi individu sebagai
kebajikan utama. Kebebasan hanya bermakna jika disertai dengan tanggung jawab
atas konsekuensi moral dari tindakan.⁸ Dalam An Agorist Primer, Konkin
menegaskan bahwa setiap individu dalam masyarakat agoris harus menjadi subjek
moral yang sadar: tidak bergantung pada otoritas eksternal, namun bertanggung
jawab terhadap hasil tindakannya sendiri.⁹ Dengan demikian, kebebasan dan
tanggung jawab membentuk dialektika etis yang saling melengkapi: tanpa
kebebasan, tanggung jawab tidak bermakna; tanpa tanggung jawab, kebebasan
kehilangan legitimasi moralnya.
Nilai otonomi dalam
agorisme sejalan dengan tradisi etika eudaimonik Aristotelian,
yang memandang kebajikan sebagai realisasi potensi rasional manusia.¹⁰ Namun,
berbeda dari etika negara-polis dalam Aristotelianisme klasik, agorisme
menempatkan kebajikan bukan pada pelayanan kepada komunitas politik, melainkan
pada kemampuan individu untuk mengatur dirinya sendiri melalui nalar dan
interaksi sukarela.¹¹
5.3. Solidaritas Horizontal dan Etika Sukarela
Meski menekankan
individualisme, agorisme tidak menolak solidaritas sosial. Ia mengusung bentuk
solidaritas horizontal, yang muncul dari
interaksi sukarela antarindividu otonom.¹² Dalam masyarakat agoris, kerja sama
tidak lahir dari paksaan negara atau ideologi kolektivistik, tetapi dari
kesadaran moral akan manfaat timbal balik (reciprocal benefit) dan
penghormatan terhadap kebebasan bersama.¹³
Agorisme dengan
demikian menolak dua ekstrem etis: etatisme moral, yang menganggap
negara sebagai sumber etika; dan egoisme nihilistik, yang
mengabaikan dimensi moral sosial. Etika libertarian agoris berupaya menempuh
jalan tengah: kebebasan individu yang bertanggung jawab secara sosial.¹⁴ Dalam
konteks praksis, hal ini terlihat dalam ekonomi informal yang berbasis
kepercayaan (trust-based exchange), di mana
kejujuran, reputasi, dan resiprositas menjadi nilai moral yang menopang
kelangsungan interaksi.¹⁵
5.4. Resistensi Moral terhadap Kekuasaan
Aksiologi agorisme
juga mengandung dimensi resistensi moral, yakni sikap
etis untuk menolak tunduk pada otoritas yang tidak sah.¹⁶ Dalam pandangan
Konkin, ketaatan terhadap hukum yang melanggar prinsip kebebasan bukanlah
kebajikan, melainkan bentuk kolaborasi dengan penindasan.¹⁷ Karena itu,
pelanggaran terhadap hukum koersif negara bukanlah tindakan kriminal, tetapi
tindakan etis yang mengembalikan keadilan moral kepada individu. Dalam hal ini,
kontra-ekonomi berfungsi sebagai “praktik moral pembebasan,” di mana
tindakan ekonomi menjadi pernyataan politik yang menolak kekuasaan koersif.¹⁸
Etika resistensi ini
mengingatkan pada tradisi civil disobedience yang
dikemukakan oleh Henry David Thoreau, namun dengan
orientasi ekonomi yang lebih sistematis.¹⁹ Jika Thoreau menolak membayar pajak
sebagai bentuk protes moral, maka agorisme memperluasnya menjadi sistem ekonomi
paralel yang berdiri di luar jangkauan negara.²⁰
Kebebasan sebagai Nilai Intrinsik dan Tujuan Moral
Akhirnya, agorisme
menegaskan bahwa kebebasan adalah nilai intrinsik,
bukan sekadar sarana menuju kesejahteraan.²¹ Dalam kerangka ini, setiap
tindakan yang meningkatkan otonomi individu dianggap memiliki nilai moral,
sedangkan setiap bentuk paksaan—betapapun efisien atau makmurnya
hasil—merupakan pelanggaran etis.²² Nilai moral tertinggi dalam agorisme bukan
pada hasil material, tetapi pada penghormatan terhadap kemanusiaan sebagai
makhluk rasional dan bebas.²³
Dengan demikian,
aksiologi agorisme menyatukan tiga nilai utama: kebebasan, tanggung
jawab, dan solidaritas sukarela. Kombinasi
ketiganya membentuk sistem etika yang tidak bergantung pada otoritas eksternal,
tetapi tumbuh dari kesadaran moral individu yang memilih kebebasan sebagai
prinsip hidup.²⁴
Footnotes
[1]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 27–29.
[2]
Ibid., 31–33.
[3]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 14–16.
[4]
Ibid., 17–18.
[5]
Ludwig von Mises, Human Action: A
Treatise on Economics (New Haven:
Yale University Press, 1949), 713–716.
[6]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 45–47.
[7]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 53–55.
[8]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 265–268.
[9]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 25–27.
[10]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing,
1999), 1100b–1102a.
[11]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 49–51.
[12]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 3–4.
[13]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 2 (Chicago: University
of Chicago Press, 1976), 112–114.
[14]
Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York:
Macmillan, 1973), 58–61.
[15]
Konkin, An Agorist Primer, 30–32.
[16]
Henry David Thoreau, Civil
Disobedience (Boston: Ticknor and
Fields, 1849), 10–13.
[17]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 23–25.
[18]
Ibid., 28–29.
[19]
Thoreau, Civil Disobedience, 18–19.
[20]
Konkin, An Agorist Primer, 35.
[21]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 63–64.
[22]
Long, “Liberty: The Other Equality,” 269–271.
[23]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 31.
[24]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 53–55.
6.
Strategi
Kontra-Ekonomi dan Praksis Sosial
Konsep kontra-ekonomi
(counter-economics) merupakan inti praksis dari agorisme, yaitu strategi
revolusioner non-kekerasan yang bertujuan menggantikan tatanan koersif negara
dengan jaringan sosial-ekonomi berbasis kebebasan sukarela.¹ Bagi Samuel
Edward Konkin III, perubahan sosial sejati tidak dicapai
melalui perebutan kekuasaan politik, melainkan dengan menciptakan sistem alternatif
yang mengikis legitimasi negara dari dalam.² Strategi ini mengandalkan kekuatan
pasar bebas yang sepenuhnya lepas dari regulasi dan perpajakan, dengan
membangun ruang aktivitas ekonomi paralel yang disebut agora.³
6.1. Definisi dan Cakupan Kontra-Ekonomi
Kontra-ekonomi
didefinisikan sebagai seluruh tindakan manusia yang bersifat sukarela dan tidak
agresif, tetapi dikriminalisasi atau diatur secara koersif oleh negara.⁴ Ia
mencakup dua ranah: (a) pasar hitam (black market),
yang melibatkan aktivitas ekonomi ilegal namun damai (misalnya perdagangan
bebas tanpa izin atau pembayaran tanpa pajak), dan (b) pasar
abu-abu (gray market), yaitu aktivitas legal yang dilakukan
dengan cara menghindari atau meminimalkan intervensi negara.⁵ Kedua ranah ini
menjadi arena praksis bagi individu-individu yang menolak berpartisipasi dalam
ekonomi koersif negara dan berupaya membangun tatanan sosial otonom berdasarkan
pertukaran sukarela.
Bagi Konkin,
tindakan-tindakan semacam itu bukan hanya “penyimpangan ekonomi”,
melainkan perlawanan moral terhadap
sistem politik yang menindas.⁶ Dengan berpartisipasi dalam kontra-ekonomi,
individu tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi sekaligus berkontribusi pada
proses de-legitimasi
kekuasaan negara. Dalam pengertian ini, kontra-ekonomi memiliki karakter ganda:
ekonomis sekaligus etis.⁷
6.2. Kontra-Ekonomi sebagai Strategi Revolusioner
Non-Kekerasan
Kontra-ekonomi tidak
bersifat destruktif, melainkan transformatif. Ia menolak
metode revolusi tradisional yang menggunakan kekerasan atau perebutan institusi
negara. Sebaliknya, ia membangun tatanan baru secara evolusioner melalui
praktik ekonomi yang otonom.⁸ Konkin menyebut pendekatan ini sebagai “revolusi
pasar bebas”—sebuah transformasi sosial yang terjadi bukan
melalui pertempuran politik, tetapi melalui desentralisasi aktivitas ekonomi.⁹
Praksis ini
mengingatkan pada strategi dual power dalam teori politik
anarkis, yaitu upaya membangun struktur alternatif yang secara bertahap
menggantikan lembaga-lembaga negara.¹⁰ Bedanya, agorisme memusatkan kekuatan
transformasinya bukan pada organisasi politik, melainkan pada logika pasar
sukarela dan inovasi individu. Dalam pandangan ini, setiap transaksi bebas yang
menghindari intervensi negara merupakan tindakan revolusioner kecil yang secara
kumulatif melemahkan dominasi kekuasaan.¹¹
6.3. Dimensi Sosial Kontra-Ekonomi
Selain bersifat
individual, kontra-ekonomi juga memiliki dimensi sosial yang luas. Ia
menciptakan jaringan interaksi antarindividu dan komunitas berdasarkan prinsip
kepercayaan (trust), reputasi, dan kerja sama
sukarela.¹² Dalam konteks ini, masyarakat agoris berfungsi sebagai ekosistem
sosial paralel yang beroperasi di luar sistem negara, namun tetap memelihara
keteraturan melalui norma etis internal dan mekanisme pasar.¹³
Etika sosial
kontra-ekonomi menolak gagasan bahwa keteraturan hanya dapat dijaga melalui
kekuasaan koersif. Sebaliknya, keteraturan lahir dari kontrak moral
antarindividu dan solidaritas horizontal.¹⁴ Dalam masyarakat yang dikuasai oleh
hukum negara, norma dipaksakan dari atas; sedangkan dalam agora,
norma tumbuh dari bawah, melalui kesepakatan dan kepercayaan bersama.¹⁵ Oleh
sebab itu, kontra-ekonomi bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga bentuk pembentukan
komunitas moral yang otonom dan berbasis resiprositas.
6.4. Kontra-Ekonomi di Era Digital dan Desentralisasi
Teknologi
Dengan munculnya
teknologi digital, prinsip-prinsip kontra-ekonomi menemukan ekspresi baru dalam
fenomena kriptoekonomi dan blockchain.¹⁶
Jaringan desentral seperti Bitcoin atau Ethereum
mewujudkan gagasan inti agorisme—pertukaran bebas tanpa otoritas pusat—ke dalam
praktik konkret.¹⁷ Melalui teknologi kriptografi, individu dapat melakukan
transaksi yang aman, privat, dan bebas dari regulasi koersif. Konsep ini sering
disebut sebagai crypto-agorism, yaitu penerapan
etika agoristik dalam ekosistem digital.¹⁸
Dalam konteks ini,
blockchain bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga sarana epistemologis
untuk memperluas otonomi individu dan mengurangi ketergantungan pada institusi
negara.¹⁹ Sejalan dengan prinsip decentralized finance (DeFi),
kriptoekonomi memperlihatkan bagaimana pasar bebas dapat berfungsi tanpa bank
sentral, regulasi negara, atau lembaga perantara, memperkuat tesis agoristik
bahwa keteraturan sosial dapat muncul secara spontan dari interaksi bebas.²⁰
Evaluasi Efektivitas dan Tantangan Praksis
Meskipun
kontra-ekonomi menawarkan paradigma transformatif, penerapannya menghadapi
berbagai tantangan, antara lain risiko kriminalisasi, keterbatasan jaringan
kepercayaan, dan potensi kooptasi oleh sistem kapitalisme digital.²¹ Beberapa
kritikus menilai bahwa pasar bebas non-regulatif berpotensi memperkuat
ketimpangan baru jika tidak disertai etika solidaritas.²² Namun, bagi para
agoris, risiko tersebut tidak membatalkan nilai moral dan strategis
kontra-ekonomi; justru menjadi tantangan bagi individu untuk memperkuat
integritas etis dalam aktivitas ekonomi sukarela.²³
Dengan demikian,
strategi kontra-ekonomi tidak hanya mengajarkan cara menolak sistem koersif,
tetapi juga cara membangun masyarakat yang mandiri, etis, dan adaptif terhadap
teknologi. Ia menggabungkan dimensi praksis ekonomi, moralitas individual, dan
solidaritas sosial menjadi satu gerakan menuju agora—ruang kebebasan di mana
interaksi manusia berlangsung tanpa paksaan.²⁴
Footnotes
[1]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 5–6.
[2]
Ibid., 7–8.
[3]
Ibid., 12–13.
[4]
Ibid., 22–23.
[5]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–30.
[6]
Ibid., 33–34.
[7]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 47–48.
[8]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 62–64.
[9]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 25–26.
[10]
Peter Kropotkin, The Conquest of Bread (London: Chapman and Hall, 1892), 131–133.
[11]
Konkin, An Agorist Primer, 37–38.
[12]
Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 306–308.
[13]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 73–76.
[14]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 41–42.
[15]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 4–6.
[16]
Cody Wilson, Come and Take It: The
Gun Printer’s Guide to Thinking Free
(New York: Gallery Books, 2016), 32–34.
[17]
Konkin, An Agorist Primer, 39–40.
[18]
Samuel Konkin III and Derrick S. Broze, Agorism in the Digital Age (Houston: Conscious Resistance Press, 2019), 12–14.
[19]
F. A. Hayek, The Denationalisation
of Money (London: Institute of
Economic Affairs, 1976), 89–90.
[20]
Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 1–3.
[21]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 80–82.
[22]
Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” 7–8.
[23]
Konkin, An Agorist Primer, 43–44.
[24]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 29–31.
7.
Kritik
dan Klarifikasi Filosofis
Setiap sistem pemikiran
yang menolak otoritas politik formal niscaya menghadapi serangkaian tantangan
filosofis, baik dari segi konsistensi teoretis maupun kelayakan praktis.
Demikian pula, agorisme sebagai aliran
libertarian radikal tidak lepas dari kritik yang datang dari berbagai arah—baik
dari sesama libertarian, kaum anarko-komunis, maupun para filsuf moral yang
mempertanyakan fondasi etik dan sosialnya.¹ Namun, di sisi lain, tradisi agoris
juga mengembangkan klarifikasi dan elaborasi konseptual yang memperkuat posisi
filosofisnya sebagai paradigma kebebasan yang etis dan praksis.
7.1. Kritik dari Libertarian Klasik: Soal Strategi dan
Legitimasi
Dari kubu libertarian
klasik, agorisme sering dikritik karena dianggap terlalu utopis
dan tidak realistis dalam mencapai perubahan sosial tanpa keterlibatan politik
formal.² Murray N. Rothbard, meskipun
mengakui kedekatannya dengan pemikiran Konkin, menilai bahwa strategi
kontra-ekonomi cenderung mengabaikan dinamika politik nyata dan proses hukum
yang masih dapat dimanfaatkan untuk memperluas ruang kebebasan.³ Bagi Rothbard,
partisipasi politik melalui upaya legislatif dan edukatif masih dapat berperan
dalam mendorong desentralisasi kekuasaan, sedangkan Konkin menolak semua bentuk
kolaborasi dengan negara, bahkan dalam konteks reformasi minimal.⁴
Konkin menjawab
kritik tersebut dengan argumentasi bahwa segala bentuk partisipasi politik justru
memperkuat legitimasi sistem koersif yang ingin dihapus.⁵
Menurutnya, penggunaan lembaga negara untuk mencapai kebebasan adalah
kontradiksi performatif, karena kebebasan sejati hanya dapat dibangun melalui
tindakan sukarela, bukan melalui mekanisme paksaan legal.⁶ Dalam kerangka ini,
agorisme bukanlah strategi politis konvensional, melainkan bentuk aksi
langsung moral (moral direct action) yang memutus ketergantungan
masyarakat pada institusi koersif.⁷
7.2. Kritik dari Tradisi Anarko-Komunis dan Mutualis
Dari arah lain, anarko-komunis
dan mutualis
mengkritik agorisme karena dianggap tetap mempertahankan unsur kapitalistik
dalam struktur sosialnya.⁸ Menurut mereka, meskipun agorisme menolak negara, ia
masih menegaskan kepemilikan pribadi yang absolut dan mekanisme pasar yang
kompetitif—dua hal yang dipandang dapat menghasilkan ketimpangan baru.⁹ Tokoh
seperti Kevin A. Carson mencoba
menjembatani ketegangan ini dengan mengajukan “mutualisme agoris”, yakni
sintesis antara pasar bebas sukarela dan nilai solidaritas sosial.¹⁰
Sebagai tanggapan,
para agoris berargumen bahwa pasar bebas sejati tidak identik dengan
kapitalisme korporatis, karena kapitalisme yang ada saat ini
justru merupakan produk dari intervensi negara melalui peraturan, subsidi, dan
monopoli hukum.¹¹ Dalam pandangan ini, pasar bebas yang diidealkan oleh
agorisme adalah pasar moral, di mana relasi ekonomi
berlangsung secara horizontal dan non-ekspansif.¹² Konkin menegaskan bahwa
struktur ekonomi yang etis hanya dapat terwujud bila semua bentuk hak istimewa
politik dihapus, termasuk hak monopoli yang menjadi fondasi kapitalisme
negara.¹³
7.3. Kritik Etis: Antara Kebebasan dan Keadilan Sosial
Kritik etis terhadap
agorisme sering berkisar pada pertanyaan tentang keadilan
sosial. Banyak filsuf moral, termasuk mereka yang berasal dari
tradisi egalitarian, menilai bahwa fokus agorisme pada kebebasan individual
berpotensi mengabaikan dimensi keadilan distributif.¹⁴ Dalam kerangka ini,
prinsip non-agresi dianggap terlalu negatif karena hanya melarang paksaan,
tetapi tidak memberikan arahan positif bagi pengurangan ketimpangan sosial.¹⁵
Namun, agorisme
merespons kritik tersebut dengan menolak dikotomi palsu antara kebebasan dan
keadilan.¹⁶ Menurut Konkin, keadilan sejati hanya dapat dicapai dalam
masyarakat bebas, di mana distribusi nilai dihasilkan oleh interaksi sukarela,
bukan oleh paksaan redistributif.¹⁷ Dalam konteks ini, kontra-ekonomi
dipandang sebagai jalan menuju keadilan dinamis, di mana hasil
sosial-ekonomi mencerminkan pilihan bebas, bukan hasil pemaksaan struktural.¹⁸
Roderick T. Long
memperkuat argumen ini dengan menegaskan bahwa prinsip non-agresi mengandung
dimensi positif berupa penghormatan terhadap otonomi moral manusia, yang secara
implisit mengandung kewajiban untuk tidak merugikan kebebasan orang lain.¹⁹
Etika agoris, dengan demikian, tidak nihilistik; ia berorientasi pada harmoni
sosial melalui tanggung jawab individu.²⁰
7.4. Kritik Praktis dan Isu Kriminalisasi
Kritik lain yang
cukup signifikan menyentuh dimensi praktis kontra-ekonomi,
khususnya potensi kriminalisasi aktivitas agoris.²¹ Dalam banyak yurisdiksi,
tindakan seperti perdagangan tanpa izin, transaksi tanpa pajak, atau penggunaan
mata uang digital privat dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.²² Hal
ini menimbulkan pertanyaan etis: sampai sejauh mana individu boleh melanggar
hukum positif atas dasar moralitas kebebasan?
Konkin menjawab
dilema ini dengan membedakan antara “kejahatan moral” dan “pelanggaran
legal”.²³ Dalam pandangannya, hukum negara yang melarang tindakan sukarela
tidak memiliki legitimasi moral, sehingga pelanggaran terhadapnya tidak dapat
disebut kriminalitas sejati.²⁴ Prinsip ini menyerupai etika perlawanan sipil
Thoreauvian, tetapi dengan basis ekonomi yang lebih konkret.²⁵
Klarifikasi Filosofis: Agorisme sebagai Etika Transformatif
Dari seluruh
perdebatan tersebut, agorisme menegaskan posisinya sebagai etika
transformatif, bukan sekadar teori ekonomi alternatif.²⁶ Ia
berupaya mengubah hubungan antara individu, masyarakat, dan kekuasaan melalui
moralitas kebebasan dan tanggung jawab sukarela. Dalam hal ini, agorisme tidak
menolak moralitas sosial, tetapi menempatkannya pada fondasi non-koersif.²⁷
Konkin juga menolak
tuduhan bahwa agorisme adalah ideologi anarkis ekstrem yang meniadakan struktur
sosial. Sebaliknya, ia menawarkan tatanan moral emergen, di mana
keteraturan lahir dari interaksi sukarela yang terkoordinasi oleh etika
non-agresi.²⁸ Dengan demikian, klarifikasi filosofis agorisme terletak pada
sintesis antara kebebasan individual dan moralitas sosial—suatu bentuk ethos
libertarian yang menolak kekuasaan koersif tanpa jatuh pada
relativisme moral.²⁹
Footnotes
[1]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1,
no. 19 (2009): 2–3.
[2]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 72–74.
[3]
Murray N. Rothbard, For
a New Liberty: The Libertarian Manifesto (New York: Macmillan, 1973), 85–87.
[4]
Ibid., 91–93.
[5]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 10–11.
[6]
Ibid., 12–13.
[7]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 27–29.
[8]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 56–59.
[9]
Peter Kropotkin, Mutual Aid: A Factor of
Evolution (London: McClure, Phillips
& Co., 1902), 105–107.
[10]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 60–62.
[11]
Konkin, An Agorist Primer, 33–34.
[12]
Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 307–309.
[13]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 20–22.
[14]
John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1971),
74–76.
[15]
Ibid., 79.
[16]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” 4–6.
[17]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 25–26.
[18]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 63–65.
[19]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 270–272.
[20]
Ibid., 273.
[21]
Cody Wilson, Come and Take It: The
Gun Printer’s Guide to Thinking Free
(New York: Gallery Books, 2016), 38–40.
[22]
Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 3–4.
[23]
Konkin, An Agorist Primer, 41–42.
[24]
Ibid., 43.
[25]
Henry David Thoreau, Civil
Disobedience (Boston: Ticknor and
Fields, 1849), 14–15.
[26]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 28–29.
[27]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” 7–8.
[28]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 36–38.
[29]
Konkin, An Agorist Primer, 45–46.
8.
Dimensi
Sosial dan Intelektual
Agorisme, sebagai
teori sosial-politik libertarian, tidak hanya berdimensi ekonomis dan etis,
tetapi juga mengandung signifikansi sosial dan intelektual yang
luas. Ia menawarkan suatu paradigma baru dalam memahami masyarakat,
pengetahuan, dan interaksi sosial di luar struktur negara. Dalam konteks ini,
agorisme berperan sebagai gerakan kognitif sekaligus praksis sosial yang
berupaya membangun kembali relasi kemanusiaan berdasarkan kebebasan, tanggung
jawab, dan solidaritas horizontal.¹
8.1. Masyarakat Agoris dan Ruang Sosial Non-Negara
Bagi Samuel
Edward Konkin III, masyarakat yang ideal bukanlah hasil dari
perencanaan politik, melainkan hasil emergen dari interaksi
sukarela individu-individu yang saling terhubung dalam agora—ruang
sosial tanpa paksaan.² Dalam agora, keteraturan sosial bukan
produk undang-undang, melainkan konsekuensi moral dari prinsip non-aggression
dan kontrak sukarela.³ Masyarakat agoris dengan demikian tidak bergantung pada
legitimasi negara, tetapi pada kekuatan moral dan epistemik individu.
Ruang sosial
non-negara ini menandai pergeseran ontologis dari struktur hierarkis menuju
struktur jaringan (networked society),
di mana nilai-nilai sosial diatur melalui hubungan kepercayaan, reputasi, dan
timbal balik.⁴ Pola ini memperlihatkan kemiripan dengan gagasan Pierre-Joseph
Proudhon mengenai “asosiasi sukarela” sebagai dasar
keteraturan sosial, namun dengan dimensi etika libertarian yang lebih tegas.⁵
Dalam masyarakat agoris, hukum, ekonomi, dan moralitas bukan entitas terpisah,
tetapi saling menguatkan melalui interaksi bebas yang berkelanjutan.
8.2. Solidaritas Horizontal dan Etika Sosial Sukarela
Dimensi sosial
agorisme sangat menekankan pentingnya solidaritas horizontal, yaitu
bentuk kerja sama yang tumbuh secara organik di antara individu dan komunitas
tanpa intervensi eksternal.⁶ Solidaritas ini berbeda dari solidaritas vertikal
yang dipaksakan oleh lembaga negara melalui pajak, subsidi, atau kebijakan
sosial. Dalam tatanan agoris, bantuan dan kerja sama sosial muncul dari
kesadaran moral dan insentif alami dalam pasar bebas.⁷
Agorisme menolak
pandangan bahwa individualisme niscaya mengarah pada egoisme. Sebaliknya,
kebebasan individu justru menciptakan dasar bagi kerja
sama yang autentik, karena interaksi sukarela menuntut adanya
kepercayaan, kejujuran, dan tanggung jawab.⁸ Di sinilah agora
menjadi ruang sosial yang etis: ia mempertemukan kepentingan pribadi dengan
nilai-nilai moral dalam satu kerangka relasional yang bebas dari paksaan.⁹
Roderick T. Long
menyebut fenomena ini sebagai “mutualitas etis”—yakni keadaan
di mana kebebasan individu memperkuat kohesi sosial melalui penghormatan timbal
balik terhadap hak orang lain.¹⁰ Dengan demikian, agorisme menampilkan model
masyarakat yang bukan hanya adil secara struktural, tetapi juga bermoral secara
relasional.
8.3. Dimensi Intelektual: Agorisme sebagai Paradigma
Pengetahuan Sosial
Secara intelektual,
agorisme dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi pemikiran desentralisasi pengetahuan
yang dikembangkan oleh Ludwig von Mises dan F. A.
Hayek.¹¹ Keduanya menegaskan bahwa pengetahuan sosial bersifat
terdispersi dan tidak dapat dikumpulkan secara efektif oleh otoritas pusat.
Agorisme memperluas pandangan ini ke dalam tataran praksis sosial: kontra-ekonomi
bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga sarana distribusi pengetahuan dan
inovasi sosial.¹²
Dalam masyarakat
agoris, proses belajar tidak dikendalikan oleh lembaga negara atau sistem
pendidikan formal, melainkan terjadi secara alami melalui pertukaran sukarela,
jaringan ekonomi informal, dan komunitas otonom.¹³ Agorisme dengan demikian
mengusung bentuk epistemologi sosial partisipatif,
di mana pengetahuan bukan monopoli kaum intelektual, melainkan hasil interaksi
bebas di antara individu-individu yang belajar melalui pengalaman dan
pertukaran nilai.¹⁴
Model ini memiliki
implikasi besar bagi teori sosial kontemporer, terutama dalam konteks masyarakat
jaringan digital. Dalam dunia yang semakin terdesentralisasi,
prinsip agoris menemukan relevansinya dalam fenomena seperti open-source
communities, peer-to-peer innovation, dan crypto-networks,
di mana kolaborasi dan pembelajaran berlangsung tanpa hierarki formal.¹⁵ Dengan
demikian, agorisme dapat dibaca sebagai filsafat desentralisasi pengetahuan,
yang menolak klaim epistemik negara atas kebenaran sosial.
8.4. Agorisme dan Ekologi Sosial Desentralisasi
Selain menyoroti
kebebasan individu, agorisme juga memuat implikasi terhadap ekologi
sosial, yakni keseimbangan antara kebebasan, keteraturan, dan
keberlanjutan interaksi manusia.¹⁶ Dalam masyarakat agoris, sumber daya diatur
melalui mekanisme sukarela dan prinsip tanggung jawab pribadi, bukan melalui
regulasi sentral. Hal ini membuka peluang bagi munculnya model ekonomi sirkular
yang berorientasi pada efisiensi dan etika, bukan pada eksploitasi.¹⁷
Sebagaimana dicatat
oleh Kevin
Carson, struktur sosial agoris mencerminkan “ekologi
kebebasan,” di mana adaptasi dan inovasi terjadi secara spontan melalui
eksperimen sosial tanpa perintah pusat.¹⁸ Dengan demikian, dimensi sosial
agorisme tidak hanya bersifat etis, tetapi juga ekologis—menawarkan model
keberlanjutan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip kebebasan dan
tanggung jawab.
Posisi Intelektual dalam Tradisi Libertarian dan Kontemporer
Dalam peta
intelektual filsafat politik, agorisme dapat ditempatkan di persimpangan antara
anarko-kapitalisme,
mutualisme,
dan libertarianisme
etis.¹⁹ Ia menolak reduksi libertarianisme menjadi sekadar
teori ekonomi, sekaligus menghindari jebakan kolektivisme yang mengorbankan
individu. Posisi ini membuat agorisme menjadi salah satu kontribusi intelektual
paling orisinal dalam wacana libertarianisme modern.²⁰
Konkin
mengartikulasikan agorisme sebagai “filsafat kebebasan total” (philosophy
of total freedom)—sebuah sistem yang tidak hanya berbicara tentang
politik atau ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana manusia mengetahui,
bertindak, dan hidup dalam kebenaran moral kebebasan.²¹ Dengan demikian,
agorisme memadukan teori sosial, etika, dan epistemologi menjadi kerangka
intelektual yang konsisten dan terbuka untuk perkembangan zaman.²²
Footnotes
[1]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 11–13.
[2]
Ibid., 15–16.
[3]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 47–48.
[4]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 40–42.
[5]
Pierre-Joseph Proudhon, What
Is Property? (Paris: Garnier Frères,
1840), 113–115.
[6]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 31–32.
[7]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 69–70.
[8]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 268–270.
[9]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 19–20.
[10]
Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 310–312.
[11]
Ludwig von Mises, Human Action: A
Treatise on Economics (New Haven:
Yale University Press, 1949), 18–21.
[12]
Hayek, “The Use of Knowledge in Society,” American Economic Review
35, no. 4 (1945): 521–523.
[13]
Konkin, An Agorist Primer, 35–36.
[14]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 59–60.
[15]
Cody Wilson, Come and Take It: The
Gun Printer’s Guide to Thinking Free
(New York: Gallery Books, 2016), 43–45.
[16]
Murray Bookchin, The Ecology of Freedom:
The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 52–53.
[17]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 81–83.
[18]
Ibid., 85–86.
[19]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1,
no. 19 (2009): 5–6.
[20]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 6–8.
[21]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 27.
[22]
Konkin, An Agorist Primer, 40–41.
9.
Relevansi
Kontemporer
Dalam konteks abad
ke-21 yang ditandai oleh globalisasi ekonomi, digitalisasi kehidupan sosial,
dan krisis kepercayaan terhadap institusi politik, agorisme
memperoleh relevansi baru sebagai paradigma alternatif dalam memahami
kebebasan, ekonomi, dan struktur sosial. Ia tidak lagi terbatas pada wacana
libertarianisme klasik, melainkan menjelma menjadi kerangka analisis kritis
terhadap bentuk-bentuk kekuasaan baru—baik negara, korporasi digital, maupun
sistem finansial global yang semakin terpusat.¹
9.1. Agorisme dalam Era Digital dan Teknologi
Desentralisasi
Munculnya teknologi
blockchain, cryptocurrency, dan ekosistem decentralized
finance (DeFi) telah mewujudkan prinsip-prinsip agoris dalam
tataran praktis.² Seperti yang dikemukakan oleh Samuel Edward Konkin III, agora
adalah ruang interaksi sukarela yang bebas dari monopoli kekuasaan; dan hari
ini, ruang itu menjelma dalam bentuk jaringan digital yang memungkinkan
pertukaran nilai tanpa perantara negara.³
Fenomena seperti Bitcoin
dan Ethereum
menandai transformasi struktural dalam epistemologi ekonomi global: otoritas
finansial tidak lagi bersandar pada lembaga terpusat, tetapi pada protokol
kepercayaan desentralisasi yang dijalankan oleh konsensus
jaringan.⁴ Dalam hal ini, crypto-agorism menjadi manifestasi
kontemporer dari cita-cita agoristik—yakni membangun sistem ekonomi otonom yang
meminimalkan kontrol negara dan memperluas kedaulatan individu.⁵
Lebih jauh,
teknologi smart
contract dan peer-to-peer exchange memungkinkan
terbentuknya ekosistem sosial yang diatur secara otomatis melalui kode terbuka,
bukan hukum positif.⁶ Transformasi ini bukan hanya teknologis, tetapi juga
filosofis: ia menandai pergeseran dari hukum koersif menuju lex
voluntaria, yakni tatanan sosial yang disepakati bersama
berdasarkan prinsip kebebasan kontraktual.⁷
9.2. Agorisme sebagai Kritik terhadap Neoliberalisme dan
Kapitalisme Digital
Meskipun agorisme
sering diasosiasikan dengan pasar bebas, ia justru menjadi kritik
tajam terhadap neoliberalisme dan kapitalisme digital
kontemporer.⁸ Neoliberalisme, dalam pandangan agoris, bukanlah perwujudan pasar
bebas sejati, melainkan sistem ekonomi yang menggabungkan kebebasan formal
dengan dominasi struktural korporasi global dan intervensi negara terselubung.⁹
Agorisme menolak
hubungan simbiotik antara negara dan korporasi—apa yang disebut Konkin sebagai state
capitalism—karena menciptakan ketimpangan kekuasaan dan mengikis
otonomi individu.¹⁰ Dalam konteks ekonomi digital, fenomena seperti monopoli
platform (Big Tech)
memperlihatkan bagaimana mekanisme kontrol bergeser dari kekuasaan politik
menuju kekuasaan algoritmik.¹¹ Agorisme memberikan kritik ontologis terhadap
hal ini: algoritme yang dikendalikan oleh otoritas korporatif adalah bentuk
baru statism
digital yang membatasi kebebasan dalam ruang maya.¹²
Sebagai respons,
prinsip kontra-ekonomi menuntun pada penciptaan ruang digital alternatif yang
bebas dari pengawasan korporatif—misalnya melalui infrastruktur desentral
seperti jaringan mesh, sistem komunikasi
terenkripsi, dan pasar daring berbasis peer-to-peer.¹³ Dengan demikian,
agorisme berfungsi sebagai etika perlawanan digital, yang
menempatkan kebebasan informasi dan otonomi data sebagai hak moral dasar.¹⁴
9.3. Dimensi Sosial-Politik: Agorisme sebagai Strategi
Emansipasi Warga
Dalam tataran
sosial-politik, agorisme menawarkan strategi emansipasi warga dari
ketergantungan terhadap negara dan birokrasi.¹⁵ Di tengah meningkatnya krisis
kepercayaan terhadap lembaga-lembaga politik, agorisme mengajukan jalan keluar
non-konfrontatif: membangun struktur sosial paralel yang lebih efisien, etis,
dan manusiawi.¹⁶
Gerakan-gerakan
komunitas otonom, koperasi digital, dan ekonomi berbagi (sharing
economy) yang berbasis solidaritas horizontal memperlihatkan
realisasi prinsip agoris dalam masyarakat kontemporer.¹⁷ Meskipun banyak dari
inisiatif ini tidak secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai agoristik,
mereka mengandung semangat yang sama—yakni menolak hierarki koersif dan
memperluas ruang kebebasan melalui inovasi sosial.¹⁸
Lebih dari itu,
agorisme juga relevan dalam konteks aktivisme sosial non-kekerasan.
Ia memberikan kerangka moral bagi perlawanan sipil yang berakar pada ekonomi
alternatif: misalnya community currencies, time
banking, atau proyek commons-based peer production yang
menolak dominasi sistem moneter negara.¹⁹ Dalam hal ini, kontra-ekonomi bukan
hanya strategi ekonomi, tetapi juga bentuk praktik politik etis yang
melahirkan tatanan sosial baru dari bawah.²⁰
9.4. Relevansi dalam Krisis Global dan Ekonomi
Pasca-Pandemi
Pandemi COVID-19
mempercepat kesadaran akan pentingnya ketahanan sosial desentralisasi
dan ekonomi mandiri.²¹ Ketika rantai pasok global terganggu dan negara gagal
menjamin stabilitas sosial, banyak komunitas beralih pada sistem ekonomi
informal, koperasi lokal, serta pertukaran berbasis kepercayaan—praktik yang
sangat dekat dengan semangat kontra-ekonomi.²²
Dalam konteks ini,
agorisme bukan sekadar ideologi, tetapi juga model resiliensi
sosial. Ia menunjukkan bahwa masyarakat dapat bertahan dan
berkembang tanpa ketergantungan pada struktur koersif, melalui jaringan
sukarela yang adaptif dan inklusif.²³ Hal ini memperlihatkan relevansi praktis
agorisme dalam membangun masyarakat pasca-pandemi yang lebih tangguh, adil, dan
otonom.²⁴
Reaktualisasi Etika Agoristik di Abad ke-21
Relevansi agorisme
di era kontemporer tidak hanya terletak pada penerapan teknologinya, tetapi
juga pada reaktualisasi etika libertarian
di tengah krisis moral global.²⁵ Di era ketika kebebasan sering dikorbankan
demi keamanan, dan privasi digantikan oleh efisiensi digital, etika agoristik
menegaskan kembali martabat manusia sebagai subjek moral yang otonom.²⁶
Sebagaimana ditegaskan
oleh Roderick
T. Long, kebebasan bukan sekadar hak negatif, melainkan
ekspresi dari tanggung jawab moral manusia untuk hidup secara rasional tanpa
memaksakan kehendak pada orang lain.²⁷ Dalam konteks ini, agorisme memberikan
kerangka etis bagi teknologi dan ekonomi masa depan—suatu bentuk humanisme
libertarian yang menggabungkan kebebasan individu dengan
tanggung jawab sosial.²⁸
Dengan demikian,
agorisme tetap relevan bukan hanya sebagai teori politik atau strategi ekonomi,
tetapi sebagai etos kebebasan yang membimbing
masyarakat menuju bentuk kehidupan yang lebih manusiawi, adil, dan desentral.²⁹
Ia menjadi pengingat bahwa kebebasan sejati tidak menunggu legitimasi dari
negara, tetapi tumbuh dari keberanian individu untuk menciptakan dunia yang
lebih etis melalui tindakan sukarela dan kesadaran moral.³⁰
Footnotes
[1]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 25–26.
[2]
Cody Wilson, Come and Take It: The
Gun Printer’s Guide to Thinking Free
(New York: Gallery Books, 2016), 31–33.
[3]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–29.
[4]
F. A. Hayek, The Denationalisation
of Money (London: Institute of
Economic Affairs, 1976), 87–89.
[5]
Samuel Konkin III and Derrick S. Broze, Agorism in the Digital Age (Houston: Conscious Resistance Press, 2019), 13–15.
[6]
Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 2–4.
[7]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1,
no. 19 (2009): 8–9.
[8]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 79–81.
[9]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 68–69.
[10]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 10–11.
[11]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs,
2019), 54–55.
[12]
Konkin, An Agorist Primer, 37–38.
[13]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 84–85.
[14]
Konkin and Broze, Agorism in the Digital
Age, 16–17.
[15]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 266–268.
[16]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 20–21.
[17]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 4–5.
[18]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston:
BookSurge, 2008), 71–73.
[19]
Murray Bookchin, The Ecology of Freedom:
The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 102–104.
[20]
Konkin, An Agorist Primer, 40–41.
[21]
Naomi Klein, The Shock Doctrine: The
Rise of Disaster Capitalism (New
York: Knopf, 2007), 421–423.
[22]
Kevin Carson, The Desktop Regulatory
State (Charleston: BookSurge, 2016),
57–59.
[23]
Ibid., 60.
[24]
Konkin and Broze, Agorism in the Digital
Age, 18–20.
[25]
Roderick T. Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22
(1997): 50–52.
[26]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 27–28.
[27]
Long, “Liberty: The Other Equality,” 270–272.
[28]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 63–65.
[29]
Konkin, An Agorist Primer, 43–45.
[30]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 29–31.
10. Sintesis Filosofis: Menuju Etika Pasar Bebas yang
Humanistik
Agorisme, sebagai
sintesis antara ekonomi pasar bebas dan etika libertarian, menawarkan visi
filosofis yang melampaui kerangka ekonomi konvensional. Ia tidak hanya
berbicara tentang efisiensi atau mekanisme distribusi nilai, melainkan tentang martabat
manusia sebagai subjek moral dan epistemik dalam ruang sosial yang bebas.¹
Dengan demikian, agorisme berupaya menyatukan kebebasan individual, tanggung
jawab sosial, dan kesadaran moral dalam satu kerangka etika
pasar bebas yang humanistik.
10.1. Kebebasan sebagai Asas Ontologis dan Moral
Dalam struktur
ontologinya, agorisme menegaskan bahwa kebebasan bukanlah kondisi politik yang
harus diberikan, melainkan hakikat eksistensial manusia.² Individu dalam
masyarakat agoris dipandang sebagai makhluk yang otonom secara moral dan
rasional, yang tindakannya memiliki nilai intrinsik karena berakar pada
kesadaran akan kebebasan.³ Oleh karena itu, prinsip non-agresi (Non-Aggression
Principle, NAP) tidak sekadar norma hukum, tetapi bentuk
aktualisasi ontologis dari keberadaan manusia yang bermoral.⁴
Dengan menolak
segala bentuk paksaan—baik yang bersumber dari negara maupun struktur sosial
yang koersif—agorisme menegaskan kembali nilai kebebasan sebagai fondasi
eksistensi manusia yang sejati.⁵ Dalam konteks ini, kebebasan
bukan kebolehan untuk bertindak sesuka hati, melainkan kemampuan untuk
bertindak berdasarkan nalar etis yang menghormati kebebasan orang lain.⁶
Pandangan ini menunjukkan bahwa dalam agorisme, moralitas dan kebebasan
bersifat koeksistensial: tidak ada kebebasan sejati tanpa moralitas, dan tidak
ada moralitas sejati tanpa kebebasan.⁷
10.2. Rasionalitas dan Solidaritas sebagai Dua Poros
Etika Pasar
Agorisme berupaya
menyeimbangkan antara dua aspek yang sering dianggap bertentangan dalam
filsafat sosial: rasionalitas ekonomi dan solidaritas
sosial.⁸ Rasionalitas dalam konteks agoristik bukanlah
kalkulasi utilitarian semata, melainkan ekspresi dari tanggung jawab moral
individu terhadap konsekuensi tindakannya.⁹ Dengan demikian, tindakan ekonomi
dalam agora
bukan tindakan yang bebas dari etika, melainkan tindakan yang diatur oleh
kesadaran etis atas hubungan timbal balik.
Sebaliknya,
solidaritas dalam agorisme tidak bersifat kolektivistik atau paternalistik. Ia
tumbuh secara organik dari interaksi bebas antarindividu melalui kepercayaan
dan resiprositas.¹⁰ Seperti ditegaskan oleh Roderick T. Long, kebajikan
sosial yang sejati muncul dari hubungan horizontal di antara individu yang
setara secara moral.¹¹ Dalam masyarakat agoris, pasar bebas menjadi ruang
moral bersama, bukan arena persaingan buta.¹²
Dengan
mengintegrasikan rasionalitas dan solidaritas, agorisme mengartikulasikan
bentuk baru dari etika ekonomi—sebuah sistem di
mana kebebasan individu memperkuat kohesi sosial, dan kerja sama sukarela
menjadi sumber legitimasi moral.¹³
10.3. Integrasi Antara Etika dan Epistemologi Kebebasan
Salah satu
kontribusi filosofis agorisme yang paling penting terletak pada integrasi
antara etika
dan epistemologi kebebasan. Menurut Ludwig
von Mises, pengetahuan ekonomi lahir dari tindakan manusia yang
bertujuan (praxeology),
dan karena itu, setiap tindakan ekonomi adalah pernyataan epistemik tentang
nilai.¹⁴ Agorisme memperluas pandangan ini dengan menegaskan bahwa kebebasan
bertindak juga merupakan kebebasan untuk mengetahui (freedom
to know).¹⁵
Dalam masyarakat
agoris, pengetahuan tidak dimonopoli oleh negara, melainkan disebarkan melalui
interaksi sukarela dan pengalaman praktis.¹⁶ Epistemologi desentralisasi ini
bersifat moral karena mengakui kapasitas rasional setiap individu untuk
menentukan kebenaran tindakan mereka sendiri.¹⁷ Dengan demikian, agorisme
menyatukan etika kebebasan dan epistemologi tindakan dalam satu sistem
pemikiran yang konsisten—suatu bentuk humanisme libertarian yang
menolak pemisahan antara mengetahui dan bertindak.¹⁸
10.4. Pasar sebagai Ruang Etis dan Spiritualitas Duniawi
Agorisme
merehabilitasi pasar dari reduksi ekonomistik
menjadi arena spiritual dan moral.¹⁹ Dalam agora, transaksi bukan sekadar
pertukaran komoditas, tetapi pertemuan antara kesadaran manusia yang otonom dan
etis. Hal ini serupa dengan pandangan Hayek tentang spontaneous
order, di mana keteraturan sosial muncul dari interaksi bebas
manusia tanpa desain sentral.²⁰ Namun, agorisme menambahkan dimensi moral pada
konsep tersebut: keteraturan sosial bukan hanya hasil efisiensi, tetapi juga
buah dari komitmen etis untuk hidup tanpa paksaan.²¹
Dengan demikian, agora
dapat dipahami sebagai ruang etis duniawi (secular
ethics arena)—sebuah tatanan moral yang bersumber dari interaksi
manusia, bukan wahyu institusional.²² Di sinilah agorisme berpotongan dengan
filsafat humanistik: ia menempatkan manusia sebagai sumber makna moral dan agen
pembentuk tatanan sosial.²³
Menuju Paradigma Pasar Bebas yang Humanistik
Sintesis filosofis
agorisme berpuncak pada gagasan tentang pasar bebas yang humanistik,
yaitu pasar yang bukan sekadar mekanisme ekonomi, melainkan sistem moral yang
memuliakan kebebasan, kejujuran, dan tanggung jawab.²⁴ Dalam paradigma ini,
pasar tidak lagi dilihat sebagai arena eksploitasi, tetapi sebagai sarana
aktualisasi diri manusia sebagai makhluk moral yang kreatif.²⁵
Paradigma ini
memiliki implikasi luas bagi filsafat sosial kontemporer. Ia menawarkan jalan
tengah antara dua ekstrem: etatisme, yang menundukkan
kebebasan pada kekuasaan; dan kapitalisme nihilistik, yang
menafikan moralitas demi keuntungan.²⁶ Agorisme menolak keduanya dengan
menegaskan bahwa kebebasan sejati hanya dapat dipertahankan jika disertai
kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.²⁷
Dengan demikian, etika
pasar bebas yang humanistik menjadi visi akhir agorisme: tatanan
sosial di mana individu bebas bertindak secara rasional, bekerja sama secara
sukarela, dan hidup dalam solidaritas moral.²⁸ Seperti yang ditegaskan Konkin,
“revolusi sejati bukanlah perebutan kekuasaan, melainkan pembebasan manusia
dari kebutuhan akan kekuasaan itu sendiri.”²⁹
Footnotes
[1]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 25–27.
[2]
Ludwig von Mises, Human Action: A
Treatise on Economics (New Haven:
Yale University Press, 1949), 11–13.
[3]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 47–49.
[4]
Ibid., 52.
[5]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 28–30.
[6]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 267–268.
[7]
Ibid., 269.
[8]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 75–76.
[9]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 21–22.
[10]
Charles W. Johnson, “Markets Freed from Capitalism,” Center for a Stateless Society (2011): 3–4.
[11]
Roderick T. Long, “Toward a Libertarian Theory of Class,” Social Philosophy and Policy 15, no. 2 (1998): 311–313.
[12]
Konkin, An Agorist Primer, 32–33.
[13]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 80–81.
[14]
Mises, Human Action, 15–16.
[15]
F. A. Hayek, The Constitution of
Liberty (Chicago: University of
Chicago Press, 1960), 102–104.
[16]
Konkin, An Agorist Primer, 35–36.
[17]
Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22
(1997): 51–52.
[18]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 28–29.
[19]
Kevin Carson, Organization Theory: A
Libertarian Perspective (Charleston:
BookSurge, 2008), 67–68.
[20]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 41–42.
[21]
Ibid., 45.
[22]
Konkin, An Agorist Primer, 38–39.
[23]
Murray Bookchin, The Ecology of Freedom:
The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 89–90.
[24]
Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1,
no. 19 (2009): 7–8.
[25]
Rothbard, For a New Liberty: The
Libertarian Manifesto (New York:
Macmillan, 1973), 91–92.
[26]
Carson, Studies in Mutualist
Political Economy, 83–84.
[27]
Konkin, An Agorist Primer, 43–44.
[28]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” 270–272.
[29]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 30–31.
11. Kesimpulan
Agorisme,
sebagaimana dirumuskan oleh Samuel Edward Konkin III,
merupakan salah satu inovasi paling radikal dalam tradisi filsafat
sosial-politik libertarian. Ia menolak premis dasar politik modern yang
menempatkan negara sebagai penjamin tatanan sosial, dan menggantinya dengan
visi masyarakat yang tumbuh secara spontan dari tindakan sukarela dan prinsip
moral kebebasan.¹ Melalui sintesis antara ekonomi pasar bebas, etika
non-agresi, dan epistemologi desentralisasi, agorisme menghadirkan paradigma
baru tentang bagaimana manusia dapat hidup bersama secara damai tanpa dominasi
koersif.²
11.1. Rekonstruksi Filsafat Kebebasan
Dari perspektif
ontologis, agorisme memahami manusia sebagai makhluk bebas yang memiliki kapasitas
rasional dan moral untuk mengatur dirinya sendiri.³ Dalam kerangka ini,
kebebasan tidak dipahami sebagai hak yang diberikan oleh otoritas, tetapi
sebagai kondisi eksistensial yang mendahului segala bentuk legitimasi politik.⁴
Pandangan ini sekaligus menegaskan penolakan terhadap gagasan statism,
yakni keyakinan bahwa keteraturan sosial hanya mungkin diwujudkan melalui
kekuasaan negara.⁵
Agorisme
mengembalikan konsep tatanan sosial kepada asas spontaneous order, sebagaimana
dikemukakan oleh F. A. Hayek, tetapi dengan
tambahan fondasi etis yang lebih mendalam: keteraturan bukan hanya hasil dari
interaksi bebas, melainkan juga ekspresi moral dari penghormatan terhadap
otonomi manusia.⁶ Dengan demikian, agorisme memperluas makna kebebasan menjadi
prinsip ontologis sekaligus moral.
11.2. Etika Non-Agresi dan Moralitas Sukarela
Pada tataran
aksiologis, agorisme menegaskan bahwa fondasi moral masyarakat bebas adalah prinsip
non-agresi (Non-Aggression Principle, NAP).⁷ Prinsip ini
memberikan batas etis yang jelas: kebebasan individu berakhir ketika ia
melanggar kebebasan orang lain.⁸ Dalam konteks ini, kontra-ekonomi dipahami
bukan sebagai bentuk pelanggaran hukum, melainkan sebagai tindakan moral yang
menolak legitimasi kekuasaan koersif.⁹
Etika agoristik
menempatkan tanggung jawab pribadi dan resiprositas sebagai inti moral dari
kebebasan. Setiap tindakan ekonomi sukarela menjadi sarana pembentukan karakter
etis—sebuah virtue ethics libertarian yang
berpijak pada kesadaran akan martabat manusia sebagai agen moral.¹⁰ Di sini,
pasar bebas tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai mekanisme efisiensi,
melainkan sebagai ruang moral bagi tindakan manusia yang bebas
dan bertanggung jawab.¹¹
11.3. Kontra-Ekonomi sebagai Jalan Revolusi Damai
Secara praksis,
agorisme memperkenalkan strategi kontra-ekonomi sebagai sarana
transformatif menuju masyarakat bebas tanpa kekerasan.¹² Alih-alih merebut
kekuasaan, agorisme mendorong individu untuk membangun struktur sosial
alternatif melalui aktivitas ekonomi di luar sistem negara.¹³ Pendekatan ini
menandai pergeseran paradigmatik dalam teori revolusi: dari perubahan politik
top-down menuju perubahan sosial bottom-up yang bersifat etis, desentral, dan
evolusioner.¹⁴
Strategi
kontra-ekonomi menjadi bentuk civil disobedience yang produktif—menolak
bekerja dalam sistem koersif sekaligus menciptakan sistem baru yang lebih
adil.¹⁵ Dengan demikian, agorisme tidak hanya merupakan teori politik, tetapi
juga pedagogi
kebebasan, yang mengajarkan bagaimana manusia dapat membebaskan
diri tanpa kekerasan melalui kesadaran ekonomi dan moral.¹⁶
11.4. Relevansi Agorisme dalam Dunia Kontemporer
Dalam konteks global
saat ini, gagasan agoristik menemukan aktualisasinya dalam teknologi
desentralisasi, cryptocurrency, dan jaringan sosial
non-hierarkis.¹⁷ Struktur digital yang memungkinkan pertukaran tanpa perantara
memperlihatkan bahwa prinsip-prinsip kebebasan dapat diimplementasikan melalui
inovasi teknologi.¹⁸ Namun, relevansi agorisme tidak berhenti pada aspek
teknis: ia juga menjadi dasar etika bagi masyarakat digital yang menuntut
keseimbangan antara otonomi, privasi, dan tanggung jawab sosial.¹⁹
Agorisme menampilkan
wajah baru humanisme libertarian di abad ke-21—sebuah humanisme yang menolak
paternalistik negara, tetapi tetap menegaskan pentingnya kejujuran,
kepercayaan, dan solidaritas horizontal sebagai fondasi moral kehidupan
bersama.²⁰ Dengan demikian, agorisme menjadi jawaban filosofis terhadap krisis modernitas,
di mana kebebasan dan moralitas sering kali dipisahkan secara destruktif.
Sintesis Akhir: Dari Pasar Menuju Kemanusiaan
Akhirnya, sintesis
filosofis agorisme mengarah pada gagasan “pasar bebas yang humanistik”,
di mana kebebasan tidak lagi dipandang sebagai alat untuk akumulasi kekuasaan
atau kekayaan, melainkan sebagai sarana pembentukan kemanusiaan yang etis.²¹
Dalam masyarakat seperti ini, pasar bukanlah tempat eksploitasi, melainkan
arena kolaborasi kreatif yang menghormati martabat setiap individu.²²
Dengan menolak
kekerasan sebagai sarana perubahan, agorisme mengembalikan politik kepada
etika, dan ekonomi kepada kemanusiaan.²³ Sebagaimana dinyatakan Konkin, “revolusi
libertarian bukanlah pergantian penguasa, melainkan pembalikan struktur
kesadaran manusia terhadap kebebasan.”²⁴ Maka, tujuan akhir agorisme
bukanlah penghapusan negara semata, tetapi penemuan kembali manusia sebagai
makhluk bebas, rasional, dan bermoral dalam ruang sosial yang otonom dan damai.²⁵
Footnotes
[1]
Samuel Edward Konkin III, The
New Libertarian Manifesto (Los
Angeles: Koman Publishing, 1980), 3–5.
[2]
Roderick T. Long, “Market Anarchism as Constitutionalism,” Libertarian Papers 1,
no. 19 (2009): 2–4.
[3]
Ludwig von Mises, Human Action: A
Treatise on Economics (New Haven:
Yale University Press, 1949), 11–12.
[4]
Murray N. Rothbard, The
Ethics of Liberty (Atlantic
Highlands, NJ: Humanities Press, 1982), 45–47.
[5]
Konkin, An Agorist Primer (Agorist Publishing, 2008), 22–23.
[6]
F. A. Hayek, Law, Legislation, and
Liberty, vol. 1 (Chicago: University
of Chicago Press, 1973), 38–40.
[7]
Rothbard, For a New Liberty: The Libertarian
Manifesto (New York: Macmillan,
1973), 58–60.
[8]
Ibid., 61.
[9]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 20–21.
[10]
Roderick T. Long, “Liberty: The Other Equality,” Social Philosophy and Policy 24, no. 1 (2007): 266–268.
[11]
Kevin A. Carson, Studies in Mutualist
Political Economy (Charleston:
BookSurge, 2007), 79–80.
[12]
Konkin, An Agorist Primer, 26–28.
[13]
Ibid., 30.
[14]
David D. Friedman, The Machinery of
Freedom: Guide to a Radical Capitalism
(La Salle, IL: Open Court, 1973), 68–69.
[15]
Henry David Thoreau, Civil
Disobedience (Boston: Ticknor and
Fields, 1849), 14–15.
[16]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 24–25.
[17]
Samuel Konkin III and Derrick S. Broze, Agorism in the Digital Age (Houston: Conscious Resistance Press, 2019), 14–15.
[18]
Vitalik Buterin, “The Meaning of Decentralization,” Ethereum Foundation Essays (2017): 3–4.
[19]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance
Capitalism (New York: PublicAffairs,
2019), 53–55.
[20]
Murray Bookchin, The Ecology of Freedom:
The Emergence and Dissolution of Hierarchy (Palo Alto: Cheshire Books, 1982), 102–104.
[21]
Konkin, An Agorist Primer, 40–42.
[22]
Roderick T. Long, “Libertarianism, Knowledge, and Social Order,” Reason Papers 22
(1997): 49–51.
[23]
Rothbard, The Ethics of Liberty, 63–64.
[24]
Konkin, The New Libertarian
Manifesto, 28.
[25]
Ibid., 30–31.
Daftar Pustaka
Bookchin, M. (1982). The
ecology of freedom: The emergence and dissolution of hierarchy.
Palo Alto, CA: Cheshire Books.
Buterin, V. (2017). The
meaning of decentralization. Ethereum Foundation
Essays. ethereum.foundation
Carson, K. A. (2007). Studies
in mutualist political economy. Charleston, SC: BookSurge.
Carson, K. A. (2008). Organization
theory: A libertarian perspective. Charleston, SC: BookSurge.
Carson, K. A. (2016). The
desktop regulatory state. Charleston, SC: BookSurge.
Friedman, D. D. (1973). The
machinery of freedom: Guide to a radical capitalism. La Salle, IL:
Open Court.
Hayek, F. A. (1945). The
use of knowledge in society. American Economic Review, 35(4),
519–530.
Hayek, F. A. (1960). The
constitution of liberty. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hayek, F. A. (1973). Law,
legislation, and liberty (Vol. 1). Chicago, IL: University of
Chicago Press.
Hayek, F. A. (1976). The
denationalisation of money. London, UK: Institute of Economic
Affairs.
Hayek, F. A. (1988). The
fatal conceit: The errors of socialism. Chicago, IL: University of
Chicago Press.
Johnson, C. W. (2011).
Markets freed from capitalism. Center for a Stateless Society.
c4ss.org
Klein, N. (2007). The
shock doctrine: The rise of disaster capitalism. New York, NY:
Knopf.
Konkin, S. E. III. (1980). The
new libertarian manifesto. Los Angeles, CA: Koman Publishing.
Konkin, S. E. III. (2008). An
agorist primer. Agorist Publishing.
Konkin, S. E. III., &
Broze, D. S. (2019). Agorism in the digital age.
Houston, TX: Conscious Resistance Press.
Kropotkin, P. (1892). The
conquest of bread. London, UK: Chapman and Hall.
Kropotkin, P. (1902). Mutual
aid: A factor of evolution. London, UK: McClure, Phillips & Co.
Long, R. T. (1997).
Libertarianism, knowledge, and social order. Reason Papers, 22,
47–55.
Long, R. T. (1998). Toward
a libertarian theory of class. Social Philosophy and Policy, 15(2),
303–315.
Long, R. T. (2007).
Liberty: The other equality. Social Philosophy and Policy, 24(1),
262–273.
Long, R. T. (2009). Market
anarchism as constitutionalism. Libertarian Papers, 1(19),
1–10.
Mises, L. von. (1949). Human
action: A treatise on economics. New Haven, CT: Yale University
Press.
Proudhon, P.-J. (1840). What
is property? Paris, France: Garnier Frères.
Rawls, J. (1971). A
theory of justice. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Rothbard, M. N. (1973). For
a new liberty: The libertarian manifesto. New York, NY: Macmillan.
Rothbard, M. N. (1982). The
ethics of liberty. Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press.
Thoreau, H. D. (1849). Civil
disobedience. Boston, MA: Ticknor and Fields.
Wilson, C. (2016). Come
and take it: The gun printer’s guide to thinking free. New York,
NY: Gallery Books.
Zuboff, S. (2019). The
age of surveillance capitalism. New York, NY: PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar