Sabtu, 22 November 2025

Etika Bergaul dalam Islam: Sebuah Kajian Filsafat Moral Islam dan Implementasinya

Etika Bergaul dalam Islam

Sebuah Kajian Filsafat Moral Islam dan Implementasinya dalam Pembentukan Akhlak Remaja di Madrasah Aliyah


Alihkan ke: CP Akidah Akhlak.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif konsep etika bergaul dalam Islam melalui pendekatan normatif, filosofis, dan pedagogis yang relevan dengan pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA). Kajian dimulai dengan landasan konseptual filsafat moral Islam yang menempatkan manusia sebagai makhluk bermoral dan sosial, serta menjadikan wahyu, akal, dan pengalaman sebagai sumber etika. Selanjutnya, artikel menelusuri genealogi pemikiran etika pergaulan dari tradisi klasik hingga kontemporer, serta merumuskan fondasi Qur’ani dan hadis sebagai pedoman utama dalam berinteraksi.

Pembahasan utama mencakup empat domain etika pergaulan: dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, dan lawan jenis. Masing-masing domain dianalisis berdasarkan nilai-nilai adab, kesopanan, kasih sayang, penghormatan, dan pengendalian diri. Artikel ini juga menyajikan analisis filsafat moral Islam yang meliputi dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam memahami relasi sosial. Di sisi pedagogis, artikel menekankan pentingnya integrasi nilai etika dalam kurikulum MA melalui keteladanan, pembiasaan, pembelajaran berbasis kasus, literasi digital, serta evaluasi holistik.

Selain itu, artikel ini menguraikan isu-isu kontemporer yang memengaruhi pergaulan remaja—termasuk media sosial, budaya digital, pergaulan bebas, krisis empati, dan pengaruh budaya pop—serta menegaskan urgensi rekonstruksi nilai etika agar tetap relevan. Pada bagian akhir, sintesis dan rekonstruksi nilai dilakukan untuk menjembatani antara ajaran klasik Islam dan tuntutan modernitas, sehingga menghasilkan pedoman etika yang moderat, adaptif, dan berakar kuat pada prinsip-prinsip syariat.

Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa etika pergaulan Islam merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter generasi muda yang berakhlak mulia, cerdas sosial, moderat, serta mampu menghadapi kompleksitas zaman secara arif dan bermartabat.

Kata Kunci: Etika pergaulan Islam; adab; akhlak remaja; filsafat moral Islam; Akidah Akhlak; moderasi; literasi digital; pendidikan karakter; remaja MA.


PEMBAHASAN

Kajian Etika Bergaul dalam Akidah Akhlak


1.           Pendahuluan

Etika bergaul merupakan salah satu dimensi fundamental dalam pembentukan karakter seorang Muslim, terutama bagi remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan penguatan identitas moral. Dalam konteks pendidikan Islam, etika pergaulan tidak hanya dipahami sebagai seperangkat aturan sosial, tetapi sebagai wujud implementasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, serta tradisi keilmuan para ulama klasik hingga kontemporer. Nilai-nilai tersebut berfungsi untuk membimbing peserta didik dalam menjalani interaksi sosial secara seimbang, beradab, dan bertanggung jawab.¹

Dalam perkembangan sosial remaja di Madrasah Aliyah (MA), hubungan antarindividu mencakup interaksi dengan teman sebaya, orang yang lebih tua, yang lebih muda, serta lawan jenis. Keempat jenis relasi ini menjadi ruang penting bagi pembentukan akhlak sosial karena masing-masing memerlukan pendekatan adab yang berbeda, sesuai dengan norma syariat dan prinsip moral Islam.² Ketidaktepatan dalam memahami adab pergaulan dapat menimbulkan masalah moral, konflik sosial, hingga penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai pendidikan. Karena itu, kajian sistematis mengenai etika pergaulan dalam Islam sangat dibutuhkan untuk memperkuat pemahaman peserta didik dan memperkaya praktik pembelajaran Akidah Akhlak.³

Selain itu, dinamika era digital menghadirkan bentuk-bentuk interaksi baru yang tidak selalu sejalan dengan prinsip moral Islam. Pergaulan melalui media sosial, komunikasi berbasis aplikasi, serta budaya populer global dapat memengaruhi cara remaja membangun relasi sosial.⁴ Fenomena ini menuntut adanya pemahaman etika yang lebih mendalam, tidak hanya sebatas aturan praktis, tetapi juga berlandaskan pemikiran filosofis tentang akhlak dan moralitas Islam. Filsafat moral Islam memberikan kerangka epistemologis, ontologis, dan aksiologis yang diperlukan untuk memahami makna pergaulan dalam perspektif yang lebih luas dan mendalam.⁵

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini disusun untuk menganalisis etika bergaul dalam Islam dengan pendekatan filosofis dan pedagogis yang relevan dengan kebutuhan peserta didik MA. Kajian akan meliputi dasar normatif Al-Qur’an dan hadis, pandangan para pemikir Muslim, rekonstruksi nilai moral dalam konteks kontemporer, serta implementasi etika pergaulan dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Harapannya, pembahasan ini dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan karakter, kecerdasan sosial, dan integritas moral generasi muda Muslim di tengah tantangan modern.⁶


Footnotes

[1]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 3–4.

[2]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 22–24.

[3]                Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 45.

[4]                Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest (New Haven: Yale University Press, 2017), 14–16.

[5]                M. Saeed Sheikh, A Study of Islamic Philosophy (London: Routledge, 2002), 88–92.

[6]                M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2007), 315–318.


2.           Landasan Konseptual Filsafat Moral Islam

Filsafat moral Islam memberikan fondasi konseptual bagi pemahaman etika pergaulan dalam kehidupan seorang Muslim. Moralitas dalam Islam tidak hanya bertumpu pada aturan normatif, tetapi juga pada pemaknaan filosofis terhadap hakikat manusia, tujuan hidup, dan hubungan antarindividu dalam kerangka syariat. Secara terminologis, istilah akhlāq, adab, dan etika memiliki keterkaitan yang erat, meskipun masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda. Akhlāq merujuk pada karakter batin yang mengarahkan tindakan tanpa perlu dipaksa, sedangkan adab menggambarkan bentuk perilaku beradab yang mencerminkan kesantunan sosial.¹ Sementara itu, etika dalam wacana filsafat moral Islam merupakan refleksi rasional dan normatif atas tindakan manusia berdasarkan prinsip-prinsip wahyu dan akal.²

Dalam tradisi intelektual Islam, moralitas tidak dapat dilepaskan dari pandangan tentang fitrah manusia. Manusia dipandang sebagai makhluk yang diberi potensi moral berupa akal, hati, dan kehendak (irādah), sehingga memiliki kapasitas untuk memilih kebaikan atau keburukan.³ Pemikir seperti Ibn Miskawayh menegaskan bahwa akhlak dapat dibentuk melalui latihan, kebiasaan, pendidikan, dan pengendalian diri, sehingga moralitas bukan sekadar bawaan lahir, tetapi hasil proses penyempurnaan jiwa.⁴ Karena itu, etika Islam memiliki karakter developmental—yaitu dapat ditumbuhkan, dimatangkan, dan diperbaiki melalui pendidikan.

Sumber utama moralitas Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip universal tentang keadilan, kasih sayang, kesabaran, amanah, kesopanan, dan larangan berbuat zalim, yang seluruhnya menjadi dasar bagi relasi sosial manusia.⁵ Sunnah Rasulullah SAW melengkapi prinsip-prinsip tersebut melalui teladan praktis, misalnya dalam menghormati yang lebih tua, mencintai yang lebih muda, dan menjaga kehormatan dalam interaksi gender.⁶ Selain wahyu, akal juga menjadi sumber epistemologis bagi penalaran moral, sebagaimana ditegaskan oleh filsuf-filsuf Muslim seperti al-Fārābī dan Ibn Sīnā. Mereka memandang bahwa akal mampu memahami al-khayr (kebaikan) dan al-shar (keburukan) selama ia berjalan sejalan dengan prinsip wahyu.⁷

Dalam kerangka aksiologis, tujuan utama moralitas Islam adalah tercapainya kebahagiaan (sa‘ādah), harmoni sosial, dan kemaslahatan umum (maṣlaḥah). Nilai-nilai moral tidak hanya dinilai dari aspek personal, melainkan juga dari dampaknya pada komunitas.⁸ Karena itu, etika Islam bersifat integratif: ia mencakup dimensi spiritual, sosial, dan rasional sekaligus. Sebuah tindakan dianggap bermoral apabila memenuhi tiga aspek penting: berniat baik, sesuai dengan prinsip syariat, dan membawa kebaikan bagi diri sendiri serta orang lain.⁹

Dengan demikian, landasan konseptual filsafat moral Islam memberikan kerangka bagi pemahaman etika pergaulan dalam kehidupan remaja. Prinsip-prinsip ini menjadi dasar bagi penentuan adab yang tepat ketika berinteraksi dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, maupun lawan jenis. Kajian konseptual ini juga menunjukkan bahwa moralitas dalam Islam tidak bersifat kaku, tetapi memiliki kedalaman filosofis yang memungkinkan penerapannya secara adaptif terhadap perubahan sosial dan tantangan kontemporer.¹⁰


Footnotes

[1]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 5–7.

[2]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 45–47.

[3]                M. Umer Chapra, The Vision of Islam and the Future of Humanity (Leicester: Islamic Foundation, 2008), 22.

[4]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 38–41.

[5]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 72–75.

[6]                Muhammad al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 2:112–114.

[7]                Al-Fārābī, Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1968), 34–35; Ibn Sīnā, Al-Najāt (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1938), 212–213.

[8]                Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 33–36.

[9]                M. Saeed Sheikh, A Study of Islamic Philosophy (London: Routledge, 2002), 92–95.

[10]             Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2017), 64–66.


3.           Genealogi Etika Pergaulan dalam Tradisi Pemikiran Islam

Genealogi etika pergaulan dalam Islam memiliki akar historis yang panjang, berkelindan dengan perkembangan pemikiran moral, adab, dan spiritualitas dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Pada tahap awal, konsep etika sosial banyak dipengaruhi oleh ajaran Al-Qur’an dan Sunnah yang menekankan pentingnya kesantunan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.¹ Nilai-nilai dasar ini kemudian dikembangkan oleh para ulama dan filosof Muslim dalam berbagai disiplin, seperti fikih (fiqh al-mu‘āmalāt), tasawuf, dan filsafat etika. Dari sinilah terbentuk suatu tradisi intelektual yang kaya dan berlapis, yang menjadikan adab sebagai fondasi pergaulan sosial umat Islam.

Salah satu tokoh awal yang membahas secara sistematis etika sosial adalah al-Jāḥiẓ (w. 255 H), seorang sastrawan dan intelektual Basrah yang menekankan pentingnya adab dalam relasi sosial sebagai indikator kematangan akal dan keluhuran budi.² Karyanya al-Bayān wa al-Tabyīn dan al-Bukhalā’ menampilkan analisis moral yang memadukan etika, psikologi, dan pengamatan sosial. Dalam perspektif al-Jāḥiẓ, adab pergaulan bukan hanya aturan formal, melainkan aktivitas rasional untuk menjaga harmoni sosial.

Pada abad berikutnya, Ibn Miskawayh (w. 421 H) memperdalam konsep etika dengan pendekatan filosofis melalui karyanya Tahdhīb al-Akhlāq, yang menjelaskan bahwa moralitas terbentuk melalui keseimbangan antara kekuatan jiwa dan pembiasaan perilaku.³ Ia menekankan pentingnya ‘iffah (kesucian), ḥilm (kesabaran), dan ‘adālah (keadilan) sebagai basis etika sosial. Prinsip-prinsip inilah yang melandasi adab dalam pergaulan dengan sesama manusia, baik dengan sebaya, yang lebih tua, maupun dengan yang lebih muda.

Sementara itu, al-Ghazālī (w. 505 H) memberikan kontribusi besar dengan mengintegrasikan perspektif fikih, tasawuf, dan filsafat dalam menjelaskan makna adab. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia memaparkan adab sebagai refleksi dari kesucian hati dan pengendalian diri.⁴ Baginya, pergaulan yang baik harus dilandasi keikhlasan, empati, dan kesediaan untuk mengutamakan kebaikan bagi orang lain. Pandangannya menegaskan bahwa hubungan sosial mencerminkan kualitas batin seseorang dan menjadi bagian dari jalan penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs).

Ibn Ḥazm (w. 456 H) juga turut memberikan warna dalam genealoginya. Melalui Akhlāq wa al-Siyar, ia menekankan pentingnya kejujuran, kesederhanaan, dan konsistensi moral dalam berinteraksi.⁵ Ibn Ḥazm memandang bahwa pergaulan yang beradab memerlukan keseimbangan antara sikap tegas dan kelembutan, serta kemampuan menempatkan diri sesuai kondisi lawan bicara. Pemikirannya menunjukkan adanya kesadaran etis yang praktis dan rasional dalam interaksi sosial.

Genealogi etika pergaulan juga tidak dapat dipisahkan dari tradisi tasawuf, terutama melalui kontribusi tokoh seperti Jalāl al-Dīn al-Rūmī dan al-Qushayrī. Ajaran mereka menekankan pentingnya kasih sayang universal, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama sebagai manifestasi cinta kepada Allah.⁶ Tasawuf memperluas horizon etika sosial menjadi pengalaman spiritual yang menghubungkan hubungan antarmanusia dengan hubungan transenden kepada Tuhan.

Pada masa kontemporer, pemikir seperti Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, dan Syed Naquib al-Attas menafsirkan ulang konsep etika sosial dalam konteks modern. Mereka menyoroti pentingnya rasionalitas, keadilan sosial, dan integrasi nilai adab dalam pendidikan sebagai bagian dari pembaruan Islam.⁷ Pendekatan mereka menegaskan bahwa etika pergaulan tidak hanya berakar pada tradisi klasik, tetapi juga terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan demikian, genealoginya menunjukkan bahwa etika pergaulan dalam Islam merupakan hasil sintesis antara teks normatif, refleksi filosofis, dan pengalaman historis umat Islam. Tradisi ini berkembang secara dinamis dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadikan konsep adab dalam pergaulan sebagai prinsip moral yang memiliki kedalaman intelektual sekaligus relevansi praktis dalam kehidupan sosial remaja masa kini.⁸


Footnotes

[1]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 83–85.

[2]                Al-Jāḥiẓ, al-Bayān wa al-Tabyīn, ed. ʿAbd al-Salām Hārūn (Cairo: Maktabah al-Khānjī, 1998), 1:12–18.

[3]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 40–48.

[4]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 60–65.

[5]                Ibn Ḥazm, Akhlāq wa al-Siyar, ed. Ḥusayn Munāsar (Beirut: Dār al-Jīl, 1981), 33–36.

[6]                Al-Qushayrī, al-Risālah al-Qushayrīyah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), 112–115; Jalāl al-Dīn al-Rūmī, Mathnawī, ed. Reynold A. Nicholson (London: E.J.W. Gibb Memorial Trust, 1925), 1:55–60.

[7]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 51–56; Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 12–14.

[8]                Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 72–74.


4.           Fondasi Qur’ani dan Hadis tentang Etika Bergaul

Etika pergaulan dalam Islam memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis, dua sumber utama ajaran Islam yang memberikan panduan normatif sekaligus moral bagi hubungan antarindividu. Al-Qur’an menekankan prinsip-prinsip universal seperti kasih sayang (raḥmah), kesopanan (ḥayā’), keadilan (‘adālah), dan penghormatan terhadap martabat manusia (karāmah insāniyyah).¹ Prinsip-prinsip ini menjadi landasan bagi umat Islam dalam membangun relasi sosial yang harmonis, baik dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, maupun dengan lawan jenis.

4.1.       Prinsip-Prinsip Utama dalam Al-Qur’an tentang Etika Pergaulan

Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk berbicara dengan tutur kata yang baik (qawlan ma‘rūfā), lembut (qawlan layyinan), mulia (qawlan karīmā), dan jujur (qawlan sadīdā).² Keempat kategori tuturan ini mencerminkan landasan etika komunikasi yang sangat relevan dalam interaksi sosial. Selain itu, prinsip ukhuwah ditegaskan dalam QS. al-Ḥujurāt [49] ayat 10 yang menyatakan bahwa kaum beriman adalah bersaudara dan harus menghindari prasangka buruk, ghibah, serta perpecahan.³

Dalam konteks hubungan antargenerasi, Al-Qur’an mengajarkan adab penghormatan kepada yang lebih tua, terutama melalui ayat tentang sikap kepada kedua orang tua dalam QS. al-Isrā’ [17] ayat 23–24. Ayat ini menekankan larangan berkata kasar dan perintah untuk menunjukkan kelembutan, menggambarkan suatu etika penghormatan yang dapat diaplikasikan secara lebih luas dalam pergaulan sosial.⁴

Sementara itu, dalam hubungan dengan lawan jenis, Al-Qur’an menegaskan prinsip menjaga pandangan (ghaḍḍ al-baṣar) dan kesucian diri (ʿiffah). QS. al-Nūr [24] ayat 30–31 memberikan pedoman agar interaksi antara laki-laki dan perempuan berlangsung dalam batas kesopanan dan kehormatan.⁵ Prinsip ini bukan untuk membatasi ruang sosial perempuan dan laki-laki, tetapi untuk membangun interaksi yang etis, aman, dan menghormati martabat masing-masing pihak.

4.2.       Tuntunan Hadis tentang Akhlak dan Pergaulan Sosial

Hadis-hadis Rasulullah Saw memperluas dan mempraktikkan nilai-nilai yang telah diuraikan dalam Al-Qur’an. Rasulullah Saw dikenal sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan menjadi teladan dalam interaksi sosial sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Aḥzāb [33] ayat 21.⁶

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim, Rasulullah menekankan pentingnya akhlak baik sebagai faktor penentu kedekatan seseorang dengannya di akhirat.⁷ Hal ini menunjukkan bahwa etika sosial memiliki dimensi eskatologis yang signifikan dalam Islam. Hadis lain mengajarkan penghormatan kepada yang lebih tua dan kasih sayang kepada yang lebih muda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”⁸ Hadis ini menegaskan dua prinsip besar dalam etika pergaulan: raḥmah dan tawqīr.

Dalam konteks hubungan dengan teman sebaya, Rasulullah Saw menganjurkan sikap saling menasihati dalam kebaikan, persahabatan yang tulus, dan larangan untuk saling menyakiti. Hadis tentang larangan iri, membenci, dan memutuskan hubungan sosial—yang diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim—menunjukkan pentingnya menjaga keharmonisan dan persaudaraan dalam komunitas.⁹

Sedangkan dalam interaksi dengan lawan jenis, hadis menguatkan batasan Al-Qur’an dengan melarang khalwat (berdua-duaan dengan non-mahram) dan menegaskan bahwa interaksi harus berlangsung secara terhormat.¹⁰ Rasulullah juga menekankan bahwa perempuan memiliki hak kehormatan dan perlindungan yang setara, sehingga etika pergaulan gender harus mencerminkan keadilan dan tidak mendiskriminasi.


Relevansi Normatif Teks Qur’ani dan Hadis

Secara keseluruhan, fondasi normatif yang berasal dari Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa etika pergaulan dalam Islam bukan hanya sekadar aturan sosial, melainkan prinsip moral yang komprehensif. Etika pergaulan Islami bertumpu pada keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab sosial, antara kebebasan dan kontrol diri, serta antara komunikasi dan penghormatan. Prinsip keseimbangan inilah yang menjadikan etika bergaul Islam relevan untuk setiap zaman, termasuk era kontemporer yang ditandai dengan perubahan pola interaksi akibat teknologi digital.¹¹

Dengan fondasi Qur’ani dan hadis yang mendalam ini, peserta didik Madrasah Aliyah dapat memahami bahwa etika bergaul bukan semata etiket, tetapi bagian dari ajaran moral Islam yang integral terhadap pembentukan karakter dan akhlak mulia.


Footnotes

[1]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 89–92.

[2]                Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 312–315.

[3]                Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, ed. Aḥmad Muḥammad Shākir (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 2001), 22:175–178.

[4]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 5:64–66.

[5]                Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 12:230–234.

[6]                Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 1:45.

[7]                Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1805.

[8]                Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), 4:322.

[9]                Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 4:1986.

[10]             Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār al-Ma‘ārif, 1987), 9:109–111.

[11]             Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 45–48.


5.           Etika Bergaul dengan Sebaya

Hubungan dengan teman sebaya merupakan salah satu aspek terpenting dalam perkembangan sosial remaja, termasuk peserta didik Madrasah Aliyah (MA). Dalam fase ini, remaja mulai membangun identitas sosial, mengembangkan kepercayaan diri, dan membentuk pola interaksi yang memengaruhi perkembangan moral dan emosional mereka. Islam memberikan panduan etis yang komprehensif tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya bergaul dengan sebaya, menekankan nilai kesetaraan, persaudaraan, solidaritas, dan saling menasihati.¹ Etika ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman praktis, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian remaja Muslim yang beradab dan bertanggung jawab.

5.1.       Prinsip Persamaan dan Persaudaraan

Dalam pergaulan sebaya, prinsip persamaan (musāwah) menjadi pondasi penting. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial atau popularitas, tetapi oleh ketakwaannya.² Prinsip ini mengajarkan remaja untuk tidak meremehkan teman sebaya, menghindari sikap sombong, dan menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman karakter. Rasulullah SAW menekankan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara, sehingga dilarang saling memusuhi, menghina, atau menjauhi tanpa alasan yang benar.³ Prinsip persaudaraan (ukhuwwah) ini menjadi landasan untuk membangun hubungan sebaya yang harmonis.

5.2.       Adab dalam Pertemanan: Kejujuran, Amanah, dan Loyalitas

Hadis Nabi Saw menjelaskan bahwa pertemanan yang baik adalah yang mengantarkan pada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.⁴ Kejujuran (ṣidq), amanah, dan loyalitas merupakan nilai inti yang harus melekat dalam hubungan sebaya. Dalam karya Tahdhīb al-Akhlāq, Ibn Miskawayh menegaskan bahwa sahabat yang baik adalah yang menumbuhkan keluhuran jiwa, bukan yang memicu perilaku buruk.⁵ Pertemanan harus menjadi ruang pertumbuhan moral, bukan sekadar asosiasi sosial. Karena itu, Islam mengajarkan agar seseorang berhati-hati dalam memilih teman, sebagaimana peringatan Nabi Saw bahwa teman yang buruk diumpamakan seperti peniup api yang dapat membakar pakaian seseorang.⁶

5.3.       Saling Menasihati dan Menguatkan dalam Kebaikan

Salah satu karakteristik pergaulan Islami adalah adanya praktik ta‘āwun ‘alā al-birr wa al-taqwā (saling menolong dalam kebaikan). Remaja MA perlu dapat saling memberikan nasihat ketika melihat temannya melakukan kesalahan, dengan cara-cara yang beradab dan penuh kasih sayang.⁷ Menasihati dalam Islam bukanlah bentuk superioritas moral, tetapi wujud kepedulian sosial. Dalam konteks pendidikan, praktik ini dapat diwujudkan dalam diskusi kelompok, kolaborasi pembelajaran, dan kerja sama dalam kegiatan positif. Saling mengingatkan untuk berbuat baik membentuk budaya sekolah yang berkarakter dan bermoral.

5.4.       Menghindari Sifat Negatif dalam Pergaulan

Islam menekankan pentingnya menghindari sikap-sikap yang merusak pergaulan sebaya seperti iri (ḥasad), dengki, ghibah, fitnah, dan perilaku agresif. Hadis dalam Ṣaḥīḥ Muslim menyebutkan bahwa seorang Muslim dilarang saling membenci, saling mendengki, atau saling membelakangi.⁸ Sikap-sikap negatif ini dapat menyebabkan keretakan hubungan dan memunculkan konflik sosial yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan psikologis remaja. Di era media sosial, ghibah, perundungan daring (cyberbullying), dan kompetisi tidak sehat semakin mudah terjadi, sehingga pemahaman etika pergaulan menjadi semakin penting.

5.5.       Pergaulan Sebaya dalam Era Digital

Era digital memunculkan bentuk-bentuk interaksi baru melalui media sosial, aplikasi percakapan, dan ruang virtual lainnya. Interaksi ini sering berlangsung tanpa tatap muka dan dapat menimbulkan kesalahpahaman, anonimitas negatif, serta perilaku impulsif.⁹ Etika Islam memberikan penekanan pada ḥayā’ (rasa malu), sopan santun, dan pengendalian diri, yang harus tetap diterapkan dalam ruang digital. Remaja MA perlu memahami bahwa etika Islam mengikat seluruh bentuk komunikasi, termasuk komentar, posting, atau chatting. Prinsip qawlan sadīdā (perkataan yang benar), qawlan karīmā (perkataan mulia), dan qawlan layyinan (perkataan lembut) tetap menjadi pedoman dalam interaksi daring.¹⁰

5.6.       Harmoni dalam Kerja Sama dan Aktivitas Kelompok

Kerja sama merupakan bagian integral dalam interaksi sebaya, baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Islam mendorong kolaborasi dan sinergi dalam kebaikan.¹¹ Dalam aktivitas kelompok di sekolah, prinsip keadilan, pembagian tugas yang seimbang, dan saling menghargai ide menjadi bagian dari etika pergaulan yang sehat. Dengan demikian, pergaulan sebaya dalam Islam mengajarkan remaja untuk menjadi individu yang kooperatif, toleran, dan bertanggung jawab dalam setiap interaksi.


Relevansi Etika Sebaya bagi Pembentukan Karakter Remaja

Pemahaman dan penerapan etika pergaulan dengan sebaya berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter remaja. Interaksi sebaya menjadi ruang latihan bagi remaja untuk menerapkan nilai empati, komunikasi efektif, manajemen konflik, dan pengembangan kecerdasan emosional.¹² Nilai-nilai ini selaras dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk individu yang berakhlak mulia dan mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan lingkungannya.


Footnotes

[1]                Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 82–84.

[2]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 7:365–367.

[3]                Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 2:112.

[4]                Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1990.

[5]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 48–50.

[6]                Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 2:925.

[7]                Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 57–59.

[8]                Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 4:1986.

[9]                Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest (New Haven: Yale University Press, 2017), 24–27.

[10]             Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 312–315.

[11]             Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 72–75.

[12]             Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New York: Bantam Books, 1995), 103–107.


6.           Etika Bergaul dengan yang Lebih Tua

Bergaul dengan orang yang lebih tua merupakan salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter sosial seorang Muslim. Islam memberikan perhatian besar terhadap penghormatan kepada generasi yang lebih dahulu, baik dalam konteks keluarga, masyarakat, maupun institusi pendidikan. Nilai dasar yang melandasi hubungan ini adalah iḥtirām (penghormatan), tawqīr (pemuliaan), dan ta’zīm (pengagungan dalam batas sewajarnya).¹ Dalam tradisi Islam, sikap kepada yang lebih tua bukan hanya sekadar etiket sosial, tetapi merupakan bagian dari akhlak mulia yang mencerminkan kedalaman iman dan kehalusan budi.²

6.1.       Landasan Qur’ani tentang Penghormatan kepada yang Lebih Tua

Al-Qur’an memberikan pedoman sangat jelas terkait adab kepada orang tua sebagai bentuk utama penghormatan kepada generasi terdahulu. QS. al-Isrā’ [17] ayat 23–24 menekankan agar seorang Muslim tidak berkata “uff” kepada orang tua, menunjukkan sikap rendah hati, dan melaksanakan doa bagi mereka.³ Meskipun ayat ini merujuk secara khusus kepada orang tua, para ulama menafsirkan bahwa prinsip kesantunan ini relevan diterapkan kepada seluruh orang yang lebih tua, baik guru, kerabat, maupun masyarakat umum.⁴ Penghormatan ini merupakan manifestasi dari keadaban Islam yang menempatkan generasi tua sebagai sumber hikmah dan pengalaman.

6.2.       Teladan Nabi Saw dalam Memuliakan yang Lebih Tua

Rasulullah Saw dikenal sebagai sosok yang sangat menghormati orang yang lebih tua. Dalam salah satu hadisnya, beliau bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.”⁵ Hadis ini menegaskan dua prinsip besar: penghormatan kepada yang lebih tua dan kasih sayang kepada yang lebih muda. Dalam konteks etika bergaul, penghormatan kepada yang lebih tua mencakup sikap sopan dalam berbicara, mendengarkan dengan baik, tidak memotong pembicaraan, serta menempatkan mereka pada posisi terhormat dalam pertemuan.

Selain itu, Nabi Saw memberikan contoh bagaimana menghargai pendapat para sesepuh dalam musyawarah. Dalam peristiwa Perjanjian Ḥudaibiyyah atau perencanaan strategi perang, beliau tidak segan meminta pendapat para sahabat senior, menunjukkan bahwa penghormatan kepada yang lebih tua mencakup penghormatan terhadap keilmuan, pengalaman, dan kebijaksanaan.⁶

6.3.       Etika Berbicara dan Berinteraksi dengan yang Lebih Tua

Etika komunikasi merupakan elemen penting dalam bergaul dengan orang yang lebih tua. Islam menekankan penggunaan qawlan karīmā (ucapan mulia), qawlan layyinan (ucapan lembut), dan qawlan ma‘rūfā (ucapan yang pantas).⁷ Dalam tradisi adab Islam, seorang yang lebih muda hendaknya berbicara dengan nada yang sopan, tidak meninggikan suara, tidak memaksakan pendapat, dan menampilkan kesantunan tubuh seperti menundukkan pandangan serta memperhatikan posisi duduk.⁸

Adab ini juga mencakup pemberian prioritas dalam berjalan, duduk, serta memberikan penghormatan simbolis seperti memberi salam terlebih dahulu. Kesantunan tersebut merupakan bagian dari penghormatan moral yang membangun keharmonisan sosial dan memperkuat ikatan antargenerasi.

6.4.       Peran Guru, Ulama, dan Orang Tua sebagai Sumber Hikmah

Dalam konteks pendidikan MA, guru menempati posisi istimewa sebagai figur yang harus dihormati. Karya klasik seperti Ta‘līm al-Muta‘allim menegaskan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada penghormatan murid kepada gurunya.⁹ Penghormatan kepada ulama dan tokoh masyarakat juga merupakan refleksi dari penghargaan terhadap warisan intelektual dan spiritual umat Islam. Dengan menghormati orang yang lebih tua, remaja belajar untuk menginternalisasi nilai-nilai kebijaksanaan, kesabaran, dan kedisiplinan.

6.5.       Tantangan Kontemporer dalam Hubungan Antargenerasi

Perubahan sosial akibat modernisasi dan perkembangan teknologi digital sering kali memunculkan jarak antara generasi muda dan tua. Sebagian remaja merasa lebih unggul secara teknologi, sementara generasi lebih tua memiliki keterbatasan dalam dunia digital. Kondisi ini dapat menimbulkan sikap meremehkan, impatien, atau bahkan konflik nilai.¹⁰ Islam menawarkan prinsip keseimbangan antara penghormatan dan dialog, yaitu remaja tetap menghormati yang lebih tua, tetapi juga mampu menjalin komunikasi yang terbuka tanpa mengurangi adab.

Selain itu, budaya populer modern sering mempromosikan sikap individualistik dan penolakan terhadap otoritas, yang dapat memengaruhi sikap remaja terhadap orang yang lebih tua.¹¹ Karena itu, pendidikan Akidah Akhlak perlu memperkuat nilai hormat kepada yang lebih tua sebagai bagian dari pembangunan karakter.


Relevansi Etika Ini dalam Pembelajaran MA

Untuk peserta didik MA, etika bergaul dengan yang lebih tua memiliki relevansi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sikap hormat kepada guru, orang tua, dan masyarakat sekitar mencerminkan integritas moral seorang Muslim. Pemahaman ini tidak hanya berfungsi sebagai teori, tetapi juga dapat dipraktikkan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan sikap. Dengan menerapkan adab ini, peserta didik turut menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan penuh penghargaan.


Footnotes

[1]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 80–82.

[2]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990), 45–47.

[3]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 5:64–66.

[4]                Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 10:250–252.

[5]                Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), 4:322.

[6]                Ibn Hishām, Sīrah al-Nabawiyyah (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2004), 2:312–318.

[7]                Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 310–316.

[8]                Al-Nawawī, Al-Adhkār (Beirut: Dār al-Fikr, 2001), 112–114.

[9]                Al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq al-Ta‘allum (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), 15–17.

[10]             Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 89–92.

[11]             Jean Twenge, iGen (New York: Atria Books, 2017), 120–124.


7.           Etika Bergaul dengan yang Lebih Muda

Etika bergaul dengan yang lebih muda merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang menekankan nilai kasih sayang (raḥmah), keteladanan (uswah), serta tanggung jawab moral untuk membimbing generasi setelahnya. Hubungan antargenerasi dalam tradisi Islam tidak dibangun atas dasar dominasi atau superioritas, tetapi atas dasar kepedulian, pendidikan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.¹ Dalam konteks Madrasah Aliyah (MA), etika pergaulan ini sangat relevan karena peserta didik sering berinteraksi dengan adik kelas, anak-anak, serta generasi lebih muda di lingkungan keluarga dan masyarakat.

7.1.       Prinsip Kasih Sayang sebagai Fondasi Utama

Kasih sayang merupakan inti dari etika berinteraksi dengan yang lebih muda. Dalam banyak hadis, Rasulullah Saw memberikan teladan bagaimana seorang Muslim seharusnya memperlakukan generasi muda dengan kelembutan dan perhatian. Beliau bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”² Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang dan penghormatan adalah dua pilar etika sosial yang tidak dapat dipisahkan. Sikap keras, kasar, atau meremehkan terhadap yang lebih muda bertentangan dengan nilai-nilai rahmat yang menjadi karakter utama Rasulullah Saw.

7.2.       Keteladanan sebagai Metode Pendidikan Moral

Dalam perspektif Islam, memberikan keteladanan (uswah ḥasanah) memiliki kedudukan penting dalam membimbing yang lebih muda. Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik dalam akhlak, kesabaran, dan interaksi sosial.³ Keteladanan mencakup tutur kata yang baik, sikap sabar, dan perilaku konsisten antara ucapan dan tindakan. Para pemikir moral Islam seperti al-Ghazālī dan Ibn Miskawayh menekankan bahwa akhlak tidak hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi melalui pembiasaan yang dimulai dari teladan nyata.⁴

Dalam konteks pergaulan, keteladanan berarti bahwa seorang yang lebih tua hendaknya menjaga adab sehingga dapat menjadi contoh bagi generasi muda. Ketika remaja MA mampu menampilkan karakter yang santun, jujur, dan bertanggung jawab, mereka menjadi model moral yang ikut membentuk perilaku adik kelas atau anak-anak di sekitarnya.

7.3.       Bimbingan dan Pendidikan Sosial

Salah satu tanggung jawab moral terhadap yang lebih muda adalah mendidik dan membimbing mereka menuju kebaikan. Proses bimbingan ini dapat dilakukan melalui nasihat yang lembut, ajakan kepada aktivitas positif, serta pendampingan dalam menghindari tindakan yang tidak sesuai etika Islam.⁵

Dalam konteks sosial sekolah, peserta didik kelas atas dapat berperan sebagai mentor informal bagi adik-adik kelas, membantu mereka memahami aturan sekolah, menghindari pergaulan yang buruk, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Bimbingan seperti ini mencerminkan nilai pendidikan akhlak yang bersifat praktis dan kontekstual.

7.4.       Menghindari Sikap Otoriter dan Meremehkan

Etika Islam menolak bentuk dominasi negatif terhadap generasi muda. Bersikap kasar, meremehkan, atau memperlakukan mereka sebagai pihak yang tidak penting bertentangan dengan prinsip akhlak Rasulullah Saw. Ibnu Ḥazm dalam Akhlāq wa al-Siyar menegaskan pentingnya memperlakukan semua manusia secara adil, termasuk yang lebih muda, dan menghindari perlakuan yang dapat menyakiti martabat mereka.⁶ Sikap otoriter juga tidak efektif dalam membangun kedekatan emosional, dan dapat menyebabkan resistensi dari pihak yang lebih muda.

Sebaliknya, Islam mengajarkan pendekatan dialogis, komunikatif, dan penuh empati. Pendekatan ini dapat membangun kepercayaan antara generasi serta menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan kondusif bagi perkembangan akhlak.

7.5.       Penguatan Rasa Percaya Diri dan Kemandirian

Salah satu nilai penting dalam berinteraksi dengan yang lebih muda adalah mendukung mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan berani mengemukakan pendapat. Dalam pandangan al-Rūmī, pendidikan moral tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga membangkitkan potensi batin yang ada dalam diri seseorang.⁷ Melalui dorongan positif dan penghargaan, generasi yang lebih tua dapat membantu generasi muda menemukan kapasitas terbaik mereka.

Dalam kegiatan sekolah, dukungan ini dapat berupa memberikan kesempatan kepada adik kelas untuk berpartisipasi dalam organisasi, proyek kelompok, atau kegiatan ekstrakurikuler yang membangun kemandirian mereka.

7.6.       Memahami Kebutuhan Perkembangan Psikologis Generasi Muda

Interaksi yang baik dengan yang lebih muda membutuhkan pemahaman tentang tahap perkembangan psikologis mereka. Pemikir kontemporer seperti Daniel Goleman menekankan pentingnya kecerdasan emosional dalam membangun hubungan sosial yang sehat.⁸ Dengan memahami perasaan, kesulitan, dan kebutuhan generasi muda, individu yang lebih tua dapat memberikan dukungan emosional yang tepat, sekaligus membimbing mereka agar mampu mengelola emosi secara Islami.

7.7.       Tantangan Modern dalam Pendampingan Generasi Muda

Di era digital, generasi muda mengalami perubahan besar dalam pola komunikasi dan hubungan sosial. Paparan media sosial dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dan memahami diri. Hal ini menuntut generasi yang lebih tua untuk memberikan bimbingan yang relevan dengan kondisi kontemporer, seperti penggunaan media sosial secara etis, menghindari konten negatif, dan membangun identitas digital yang sehat.⁹

Islam memberikan prinsip-prinsip dasar yang tetap relevan, seperti menjaga lisan, menghindari ghibah, serta menahan diri dari perilaku impulsif. Prinsip-prinsip ini menjadi dasar dalam mendidik generasi muda menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi.


Relevansi Etika Ini bagi Pembentukan Karakter di MA

Bagi siswa MA, etika bergaul dengan yang lebih muda berperan penting dalam pembentukan karakter. Interaksi positif antara siswa senior dan junior menciptakan budaya sekolah yang penuh hormat, empati, dan kerja sama. Nilai-nilai ini tidak hanya memperkuat struktur sosial sekolah, tetapi juga membiasakan siswa untuk menjadi individu yang peduli dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, etika bergaul dengan yang lebih muda bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga sebuah langkah penting dalam membentuk masyarakat yang beradab sesuai ajaran Islam.


Footnotes

[1]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 85–87.

[2]                Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), 4:322.

[3]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:394–396.

[4]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 52–55.

[5]                Al-Nawawī, Riāḍ al-Ṣāliḥīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2004), 1:72–74.

[6]                Ibn Ḥazm, Akhlāq wa al-Siyar, ed. Ḥusayn Munāsar (Beirut: Dār al-Jīl, 1981), 40–42.

[7]                Jalāl al-Dīn al-Rūmī, Mathnawī, ed. Reynold A. Nicholson (London: E.J.W. Gibb Memorial Trust, 1925), 1:112–115.

[8]                Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New York: Bantam Books, 1995), 128–131.

[9]                Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 102–105.


8.           Etika Bergaul dengan Lawan Jenis

Etika bergaul dengan lawan jenis merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Islam yang bertujuan menjaga kehormatan (‘ird), kesucian diri (‘iffah), dan keamanan sosial. Interaksi antara laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang dilarang secara mutlak dalam Islam, tetapi harus diatur dengan tata adab tertentu agar tidak menimbulkan fitnah, pelanggaran moral, dan penyimpangan perilaku.¹ Dalam konteks peserta didik Madrasah Aliyah (MA), pemahaman mendalam tentang etika ini menjadi semakin penting mengingat remaja berada pada fase perkembangan pubertas dan pencarian identitas, yang rentan terhadap pengaruh lingkungan dan dinamika sosial modern.

8.1.       Prinsip Dasar: Kehormatan dan Kesucian Diri

Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan (ghaḍḍ al-baṣar) serta memelihara kesucian diri sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Nūr [24] ayat 30–31.² Perintah menjaga pandangan bukan hanya terkait dengan menghindari pandangan yang tidak pantas, tetapi juga menjaga pikiran, imajinasi, dan interaksi dari kecenderungan yang dapat menjerumuskan ke perilaku tidak etis. Prinsip ‘iffah (kesucian diri) ditekankan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah sebagai benteng moral yang mencegah seseorang dari tindakan yang merusak integritas spiritual dan sosialnya.³

8.2.       Batasan Interaksi dalam Perspektif Hadis

Hadis Nabi Saw memberikan pedoman jelas mengenai batas interaksi antara laki-laki dan perempuan. Salah satu prinsip penting adalah larangan khalwat (berdua-duaan tanpa mahram), sebagaimana sabda Nabi Saw: “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.”⁴ Hadis ini menegaskan risiko psikologis dan sosial dari interaksi yang tidak terkontrol.

Namun, interaksi yang dibutuhkan untuk pendidikan, kerja sama, atau keperluan sosial tetap diperbolehkan selama dilakukan dalam batas kesopanan, tanpa ikhtilāṭ (percampuran bebas tanpa adab), serta menjaga norma dan etika Islam.⁵ Dengan demikian, Islam tidak menutup pintu interaksi, tetapi memberikan rambu-rambu untuk menjaga kehormatan kedua belah pihak.

8.3.       Adab Komunikasi: Kesopanan dan Profesionalisme

Etika komunikasi antara lawan jenis dalam Islam mencakup prinsip kesopanan (ḥayā’), kejelasan maksud, dan profesionalisme. QS. al-Aḥzāb [33] ayat 32 memperingatkan agar para perempuan tidak berbicara dengan suara yang dilembutkan secara berlebihan sehingga menimbulkan kesalahpahaman, tetapi tetap menggunakan ucapan yang baik dan sopan (qawlan ma‘rūfā).⁶ Para ulama menafsirkan bahwa prinsip ini berlaku untuk kedua gender: komunikasi harus jelas, tidak menggoda, tidak mendua makna, dan tidak mengandung unsur manipulatif atau romantis yang tidak dibenarkan.

Dalam konteks lingkungan sekolah, interaksi antara siswa laki-laki dan perempuan hendaknya dilakukan dengan sopan, tidak saling menggoda, dan memegang prinsip kerja sama yang profesional. Sikap berlebihan dalam bercanda, godaan verbal, atau komentar yang menjurus kepada pelecehan merupakan bentuk pelanggaran etika dalam Islam.

8.4.       Pengendalian Emosi dan Batas Pergaulan

Remaja seringkali mengalami intensitas emosi yang kuat, termasuk ketertarikan terhadap lawan jenis. Islam memberikan panduan bagi remaja untuk mengelola kecenderungan ini melalui pendidikan karakter, puasa sebagai metode pengendalian diri, serta fokus pada aktivitas positif.⁷ Rasulullah Saw menganjurkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa karena dapat menjadi pelindung dari dorongan seksual.⁸ Prinsip ini menegaskan bahwa pengendalian diri merupakan strategi utama dalam menjaga kehormatan.

Batas pergaulan juga mencakup menjaga jarak fisik, menghindari sentuhan yang tidak etis, serta menghindari situasi yang dapat memicu fitnah. Dalam pandangan al-Ghazālī, segala sesuatu yang dapat menimbulkan syahwat atau mengarah pada pelanggaran moral hendaknya dihindari demi menjaga kebersihan hati dan stabilitas sosial.⁹

8.5.       Kolaborasi dan Interaksi Sehat dalam Lingkungan Pendidikan

Dalam dunia pendidikan modern, kolaborasi antara laki-laki dan perempuan tidak dapat dihindari. Islam memberikan ruang bagi kerja sama ini selama dilakukan dalam koridor adab dan profesionalisme. Interaksi dalam kegiatan belajar, proyek kelompok, organisasi siswa, dan kerja sama akademik diperbolehkan dan bahkan dapat memberikan manfaat besar bagi pengembangan kompetensi sosial dan intelektual peserta didik.¹⁰

Sekolah dapat menanamkan nilai etika pergaulan lawan jenis melalui pembiasaan, regulasi yang jelas, dan pendidikan karakter. Lingkungan yang beradab dan terarah akan membantu remaja membangun interaksi yang sehat, harmonis, dan produktif.

8.6.       Tantangan Modern: Media Sosial dan Pergaulan Bebas

Era digital menghadirkan tantangan baru dalam pergaulan lawan jenis. Kontak melalui media sosial, pesan pribadi, dan interaksi virtual sering kali dilakukan tanpa pengawasan dan dapat mengarah pada perilaku tidak etis seperti sexting, flirting berlebihan, atau hubungan asmara yang tidak sesuai ajaran Islam.¹¹

Islam memberikan pedoman agar setiap Muslim menjaga kehormatan, baik dalam dunia nyata maupun digital. Prinsip qawlan sadīdā (ucapan yang benar), ḥayā’, dan pengendalian diri tetap berlaku dalam ruang virtual. Pemahaman ini perlu ditekankan kepada remaja MA sebagai bagian dari pendidikan akhlak digital yang komprehensif.


Relevansi Etika Ini bagi Pembentukan Karakter Remaja MA

Etika bergaul dengan lawan jenis memiliki peran besar dalam pembentukan moral remaja. Etika ini membantu remaja memahami batas-batas syar‘i, membentuk karakter yang bertanggung jawab, dan menjaga hubungan sosial yang sehat. Dengan menerapkannya, remaja dapat menghindari pergaulan bebas, pelecehan, serta tindakan impulsif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Penerapan etika ini di MA juga dapat membentuk lingkungan belajar yang aman, produktif, dan beradab, sesuai dengan tujuan pendidikan Islam: membangun generasi yang menjaga kehormatan, memiliki integritas moral, dan mampu menjadi agen kebaikan dalam masyarakat.


Footnotes

[1]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 98–100.

[2]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:45–48.

[3]                Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Rawḍat al-Muḥibbīn (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2004), 215–218.

[4]                Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1713.

[5]                Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 67–69.

[6]                Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 14:177–179.

[7]                Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār al-Ma‘ārif, 1987), 9:112–115.

[8]                Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 3:109.

[9]                Al-Ghazālī, Iḥyā’, 99–100.

[10]             Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 34–36.

[11]             Sherry Turkle, Alone Together (New York: Basic Books, 2011), 204–210.


9.           Analisis Filsafat Moral Islam terhadap Etika Bergaul

Analisis filsafat moral Islam terhadap etika bergaul memberikan kerangka yang lebih mendalam dan reflektif dalam memahami hubungan sosial manusia. Etika pergaulan tidak hanya dipandang sebagai seperangkat aturan praktis, tetapi sebagai ekspresi dari nilai-nilai ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang membentuk moralitas Islam. Kajian ini memungkinkan peserta didik Madrasah Aliyah (MA) untuk memahami dimensi konseptual dari adab bergaul, sehingga etika tidak sekadar dipraktikkan sebagai kebiasaan, tetapi juga disadari secara rasional dan spiritual.¹

9.1.       Dimensi Ontologis: Hakikat Manusia sebagai Makhluk Bermoral dan Sosial

Dalam filsafat moral Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi bawaan berupa akal (‘aql), hati (qalb), dan jiwa (nafs) yang dapat diarahkan menuju kebaikan atau keburukan. Ibn Sīnā menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki kemampuan untuk membedakan tindakan yang mendekatkan dan menjauhkan dari kesempurnaan moral.² Selain itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan martabat (karāmah insāniyyah) dan dijadikan khalifah di bumi, tugas yang menuntut kemampuan membangun relasi sosial yang harmonis.³

Dari perspektif ontologis, etika pergaulan merupakan implikasi dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak dapat mencapai kesempurnaan moral secara individu; ia memerlukan interaksi dengan orang lain. Al-Fārābī menyatakan bahwa masyarakat adalah sarana bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan tertinggi.⁴ Oleh karena itu, etika bergaul merupakan bagian integral dari eksistensi manusia.

9.2.       Dimensi Epistemologis: Sumber Pengetahuan Etika dalam Islam

Sumber epistemologis etika dalam Islam berasal dari wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), akal, serta pengalaman sosial manusia. Al-Ghazālī menekankan bahwa akhlak mulia tidak semata-mata diambil dari teks, tetapi juga dipahami melalui tajrībah (pengalaman) dan penyaksian batin.⁵ Dalam filsafat moral, etika pergaulan bersumber dari:

·                     Wahyu, yang memberikan prinsip-prinsip normatif seperti kesopanan, menjaga pandangan, kasih sayang, dan keadilan;

·                     Akal, yang berfungsi mengolah, menafsirkan, dan mengontekstualisasikan prinsip tersebut dalam kehidupan sosial;

·                     Pengalaman sosial, yang membantu manusia memahami situasi dan menyesuaikan adab sesuai konteks.

Pendekatan epistemologis ini menjelaskan bahwa etika bergaul tidak bersifat kaku; ia bersifat adaptif dan kontekstual selama tidak melanggar prinsip dasar syariat.

9.3.       Dimensi Aksiologis: Tujuan Moral dari Etika Pergaulan

Dari sisi aksiologi, tujuan etika pergaulan dalam Islam adalah mewujudkan kemaslahatan (maṣlaḥah), harmoni sosial, dan penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs). Jasser Auda menjelaskan bahwa salah satu maqasid syariah adalah menjaga kehormatan (ḥifẓ al-‘ird) dan memperkuat stabilitas sosial.⁶ Etika bergaul dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, dan lawan jenis harus mengarah pada tercapainya kebaikan bersama, bukan sekadar kepentingan individu.

Dalam pandangan Ibn Miskawayh, tujuan akhlak adalah mencapai kebahagiaan (sa‘ādah) melalui keseimbangan antara potensi jiwa dan tindakan moral.⁷ Ketika seseorang mampu mengatur hubungan sosial dengan baik, ia sedang menapaki jalan penyempurnaan moral yang menjadi tujuan akhir pendidikan akhlak.

9.4.       Integrasi Teks dan Rasionalitas dalam Praktik Etika

Filsafat moral Islam menolak dikotomi antara wahyu dan akal. Keduanya berjalan selaras untuk memandu perilaku manusia. Relasi ini tampak dalam penerapan etika bergaul: teks memberikan batasan normatif, sementara akal memberikan konteks dan kebijaksanaan. Ibn Rushd dalam Faṣl al-Maqāl menegaskan bahwa kebenaran wahyu dan kebenaran filosofis saling melengkapi.⁸

Dalam kehidupan sehari-hari, integrasi ini tercermin dalam kemampuan seorang pelajar untuk memahami alasan rasional di balik setiap adab. Misalnya, larangan khalwat dengan lawan jenis tidak hanya dipahami sebagai aturan religius, tetapi juga tindakan preventif yang memiliki landasan psikologis dan sosial.

9.5.       Etika Pergaulan sebagai Upaya Moderasi dan Keseimbangan

Etika Islam menjunjung nilai moderasi (wasaṭiyyah) dalam bergaul. Moderasi berarti tidak berlebihan dalam membatasi interaksi, tetapi juga tidak menjadi permisif terhadap pergaulan bebas.⁹ Moderasi ini menuntut kesadaran diri, pengendalian emosi, serta kemampuan mempertimbangkan dimensi sosial dan agama secara seimbang.

Moderasi juga tercermin dalam cara menghargai perbedaan, menghindari sikap eksklusif, dan membuka ruang dialog antarindividu. Etika pergaulan dalam Islam, dengan demikian, mempromosikan hubungan yang sehat, inklusif, tetapi tetap berakar pada nilai akhlak mulia.

9.6.       Kontekstualisasi Etika Pergaulan di Era Kontemporer

Perubahan sosial, globalisasi, dan perkembangan teknologi digital memunculkan tantangan baru dalam relasi sosial remaja. Filsafat moral Islam memberikan kerangka adaptif yang memungkinkan etika pergaulan dikontekstualisasikan tanpa meninggalkan prinsip dasar syariat.¹⁰

Misalnya:

·                     Prinsip menjaga lisan dan kehormatan tetap berlaku dalam komunikasi digital (media sosial, pesan pribadi, komentar daring).

·                     Prinsip menjaga batas interaksi gender tetap relevan dalam pertemuan virtual atau kerja kelompok daring.

·                     Prinsip saling menasihati tetap dapat diterapkan melalui diskusi kelompok, forum online, atau komunitas belajar.

Dengan demikian, filsafat moral Islam memberikan kemampuan reflektif bagi remaja untuk menghadapi dinamika sosial modern secara bijaksana.


Kesimpulan Analitis

Analisis filsafat moral Islam menunjukkan bahwa etika bergaul bukan hanya sekadar aturan sosial, tetapi bagian integral dari pendidikan moral manusia. Melalui dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis, etika bergaul dipahami sebagai upaya mencapai kesempurnaan jiwa, menciptakan masyarakat harmonis, serta menjaga kehormatan individu.

Pendekatan filosofis ini memberikan kedalaman dan makna bagi siswa MA untuk memahami bahwa adab pergaulan adalah bagian dari proyek besar pembentukan manusia yang berakhlak mulia.


Footnotes

[1]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 78–81.

[2]                Ibn Sīnā, Al-Najāt (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1938), 215–218.

[3]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 17–19.

[4]                Al-Fārābī, Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1968), 42–45.

[5]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 101–103.

[6]                Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 65–68.

[7]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 38–41.

[8]                Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), 32–34.

[9]                Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.

[10]             Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an (New York: Oxford University Press, 2011), 122–124.


10.       Implikasi Pedagogis bagi Pembelajaran Akidah Akhlak di MA

Pembahasan mengenai etika bergaul dalam Islam memiliki relevansi yang kuat dalam konteks pedagogis, khususnya dalam pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA). Etika pergaulan bukan sekadar pengetahuan normatif yang harus dihafalkan, tetapi merupakan pengalaman hidup yang perlu diinternalisasi melalui proses pendidikan yang terstruktur, kontekstual, dan transformatif.¹ Oleh karena itu, implementasi pedagogis materi ini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.

10.1.    Integrasi Nilai Etika Pergaulan dalam Kurikulum Akidah Akhlak

Integrasi etika pergaulan dalam kurikulum Akidah Akhlak mengharuskan guru untuk mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa. Kurikulum tidak cukup hanya memuat konsep adab bergaul, tetapi harus memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami makna, tujuan, dan manfaat etika tersebut dalam kehidupan mereka.² Materi tentang adab bergaul dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, dan lawan jenis dapat dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, pemikiran ulama, serta fenomena sosial kontemporer di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Integrasi ini juga mencakup penyesuaian RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan modul pengajaran agar selaras dengan nilai-nilai Qur’ani dan tujuan pembentukan akhlak mulia.

10.2.    Pendekatan Pembelajaran Berbasis Keteladanan (Uswah Hasanah)

Salah satu prinsip utama dalam pendidikan Islam adalah keteladanan guru. Al-Ghazālī menekankan bahwa akhlak peserta didik banyak dipengaruhi oleh perilaku pendidiknya, sehingga guru memiliki peran sentral sebagai model moral.³ Dalam konteks etika pergaulan, guru harus menunjukkan sikap sopan, empati, dan kesantunan dalam interaksi dengan siswa, rekan guru, dan lingkungan sekolah.

Keteladanan guru yang konsisten akan mempermudah internalisasi nilai-nilai etika dalam diri siswa karena mereka melihat contoh langsung, bukan hanya mendengar teori.

10.3.    Pembelajaran Berbasis Kasus dan Analisis Situasi (Case-Based Learning)

Untuk membantu siswa memahami penerapan etika pergaulan dalam konteks nyata, pembelajaran berbasis kasus sangat efektif. Pendekatan ini melibatkan siswa dalam menganalisis situasi nyata seperti konflik antar teman, pergaulan bebas, penyalahgunaan media sosial, atau ketidaksopanan kepada guru.⁴

Melalui diskusi kasus, siswa belajar menilai tindakan berdasarkan prinsip Islam, mengidentifikasi alternatif solusi, dan memahami konsekuensi moral dan sosial dari setiap keputusan. Model ini mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan moral siswa.

10.4.    Praktik Pembiasaan dan Pembelajaran Berbasis Keteladanan Sosial

Konsep ta‘wīd (pembiasaan) merupakan metode efektif dalam pendidikan akhlak. Ibn Miskawayh menegaskan bahwa kebiasaan baik akan membentuk sifat yang baik, sehingga akhlak dapat dilatih melalui pengulangan perilaku positif.⁵

Di MA, pembiasaan dapat dilakukan melalui:

·                     budaya salam dan senyum,

·                     pembiasaan antre dan sopan dalam berbicara,

·                     program mentoring sebaya,

·                     kegiatan bakti sosial dan kerja kelompok yang menumbuhkan empati dan kerja sama.

Pembiasaan ini menempatkan siswa dalam lingkungan yang mendukung penerapan etika pergaulan secara langsung dan konsisten.

10.5.    Pembelajaran Kolaboratif dan Pengembangan Keterampilan Sosial

Etika pergaulan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan sosial. Pembelajaran kolaboratif (cooperative learning) memungkinkan siswa berinteraksi dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah atau mengerjakan proyek bersama.⁶

Dalam kerja kelompok, siswa belajar:

·                     menghargai pendapat orang lain,

·                     berkomunikasi dengan baik,

·                     menyelesaikan konflik secara adil,

·                     memikul tanggung jawab bersama.

Model pembelajaran ini sejalan dengan tujuan etika Islam yang menekankan solidaritas, musyawarah, dan saling menolong.

10.6.    Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Islam

Etika pergaulan merupakan salah satu elemen inti dari pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, kesopanan, dan tanggung jawab perlu diperkuat melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.⁷

Penguatan karakter dapat dilakukan melalui:

·                     kegiatan OSIS dan organisasi keagamaan,

·                     program “sahabat Qur’an”,

·                     kegiatan rohani (Rohis),

·                     forum diskusi remaja Islam,

·                     kegiatan pembiasaan ibadah harian.

Pendekatan ini memastikan bahwa nilai etika tidak hanya dipelajari, tetapi juga diamalkan dalam keseharian siswa.

10.7.    Evaluasi Holistik: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, evaluasi tidak boleh hanya mengukur aspek pengetahuan. Guru juga perlu menilai aspek sikap dan keterampilan sosial siswa.⁸

Evaluasi dapat mencakup:

·                     observasi sikap siswa dalam interaksi,

·                     self-assessment tentang akhlak pribadi,

·                     portofolio perilaku sosial,

·                     penilaian proyek tentang resolusi konflik atau etika digital.

Pendekatan holistik ini mencerminkan konsep tarbiyah dalam Islam, yaitu pendidikan yang menyeluruh dan seimbang.

10.8.    Penguatan Literasi Digital dan Etika Bermedia

Perkembangan teknologi membuat remaja berinteraksi tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Oleh karena itu, guru perlu mengajarkan etika berkomunikasi di media sosial, termasuk cara menghindari ghibah digital, hoaks, perundungan daring, dan konten tidak etis.⁹

Literasi digital berbasis nilai Islam memberi siswa kemampuan untuk mengontrol diri, menjaga kehormatan, dan berinteraksi secara etis di dunia maya.

10.9.    Peran Sekolah sebagai Komunitas Berakhlak

Institusi pendidikan berperan penting dalam menciptakan ekosistem sosial yang mendukung pembelajaran akhlak. Sekolah yang menekankan budaya saling menghormati, kesantunan, kerja sama, dan kepedulian akan membantu siswa menginternalisasi etika pergaulan.¹⁰

Lingkungan sekolah yang kondusif memperkuat nilai:

·                     disiplin,

·                     empati,

·                     tanggung jawab,

·                     toleransi,

·                     penghormatan antargenerasi.


Kesimpulan Implikatif

Implikasi pedagogis etika bergaul dalam Islam menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak tidak dapat dipisahkan dari pengembangan karakter. Pendidikan harus mengintegrasikan keteladanan, pembiasaan, kolaborasi, penanaman nilai, dan literasi digital untuk membentuk generasi yang beradab.

Pendekatan komprehensif ini menjadikan materi etika pergaulan bukan hanya ilmu, tetapi pengalaman sosial yang membentuk identitas moral peserta didik MA.


Footnotes

[1]                Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 102–104.

[2]                Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), 134–136.

[3]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 150–152.

[4]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 85–88.

[5]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 62–64.

[6]                Spencer Kagan, Cooperative Learning (San Clemente: Kagan Publishing, 1992), 12–14.

[7]                Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter (Jakarta: Kencana, 2012), 44–47.

[8]                Bloom, Benjamin S., Taxonomy of Educational Objectives (New York: David McKay Company, 1956), 201–203.

[9]                Sherry Turkle, Reclaiming Conversation (New York: Penguin Press, 2015), 120–123.

[10]             Paulo Freire, Pedagogy of the Heart (New York: Continuum, 1997), 56–58.


11.       Isu-Isu Kontemporer dalam Etika Pergaulan Remaja

Dinamika kehidupan sosial remaja pada era kontemporer mengalami transformasi besar akibat kemajuan teknologi, perubahan nilai sosial, dan globalisasi budaya. Transformasi ini memunculkan tantangan-tantangan baru terhadap etika pergaulan yang sebelumnya tidak ditemukan dalam konteks tradisional.¹ Bagi peserta didik Madrasah Aliyah (MA), isu-isu tersebut menuntut pemahaman mendalam agar nilai-nilai etika Islam dapat tetap dijaga di tengah perubahan yang cepat.

Pembahasan berikut menguraikan isu-isu utama yang memengaruhi etika pergaulan remaja masa kini serta relevansinya dengan ajaran Islam.

11.1.    Pengaruh Media Sosial dan Budaya Digital

Media sosial telah mengubah cara remaja berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun identitas diri. Remaja kini banyak menjalin relasi secara virtual, bahkan lebih sering dibandingkan interaksi langsung.² Meski membuka peluang positif seperti kolaborasi dan akses informasi, media sosial juga menghadirkan tantangan etis:

·                     Cyberbullying, ejekan, dan penghinaan digital;

·                     penyebaran hoaks dan ghibah digital;

·                     pencitraan palsu dan tekanan sosial (social comparison);

·                     paparan konten tidak pantas;

·                     ketergantungan digital yang mengurangi interaksi nyata.³

Dalam Islam, lisan dan tulisan sama-sama terikat oleh etika. Prinsip qawlan sadīdā (ucapan benar), ḥayā’ (kesopanan), dan amanah harus diterapkan dalam setiap aktivitas digital.⁴

11.2.    Pergaulan Bebas dan Krisis Batas Interaksi Gender

Salah satu isu menonjol adalah meningkatnya pergaulan bebas di kalangan remaja. Normalisasi hubungan romantis pranikah, interaksi fisik tanpa batas, dan konsumsi konten seksual menjadi tantangan besar terhadap etika Islam.⁵

Dalam perspektif Islam, interaksi gender harus dilakukan dengan kesopanan, menjaga pandangan, dan menghindari situasi yang menimbulkan fitnah.⁶ Namun dalam budaya modern, pergaulan tanpa batas sering dianggap bagian dari kebebasan individu. Akibatnya, banyak remaja mengalami krisis identitas, kerentanan psikologis, dan risiko kesehatan reproduksi.

Pendidikan akhlak di MA perlu memberikan pemahaman komprehensif tentang batas syar‘i dan risiko moral-sosial dari pergaulan bebas.

11.3.    Fenomena Pacaran, Flirting, dan Komunikasi Intensif Melalui Gawai

Pacaran kini sering dianggap sebagai hal yang lumrah bagi remaja, meskipun tidak sejalan dengan prinsip kesucian hubungan dalam Islam. Komunikasi intensif melalui pesan instan, flirting, dan percakapan emosional privat dapat mengarah pada kedekatan yang tidak sehat dan rentan pelanggaran etika.⁷

Islam tidak menolak interaksi gender, tetapi mengaturnya agar menjaga martabat dan kehormatan.⁸ Oleh karena itu, pendidikan perlu menanamkan kesadaran tentang bagaimana mengelola emosi, batas komunikasi, dan pentingnya menjaga niat serta integritas diri.

11.4.    Budaya “Viral,” Ekspresi Diri Berlebihan, dan Pencarian Popularitas

Remaja hidup dalam budaya “viral,” yaitu kecenderungan untuk mengekspresikan diri secara berlebihan demi mendapatkan pengakuan publik. Fenomena ini mendorong tindakan yang impulsif, sensasional, dan kadang merugikan diri atau orang lain.⁹

Dari perspektif etika Islam, pencarian popularitas yang berlebihan bertentangan dengan prinsip keikhlasan dan kesederhanaan.¹⁰ Remaja perlu dididik untuk memproduksi konten yang bermanfaat, sopan, dan tidak melanggar kehormatan orang lain.

11.5.    Krisis Empati dan Individualisme Modern

Globalisasi budaya dan perkembangan teknologi telah mendorong pola hidup yang lebih individualistik. Remaja cenderung lebih fokus pada dunia digitalnya sendiri sehingga sensitifitas terhadap perasaan orang lain menurun.¹¹

Islam sangat menekankan empati, kasih sayang, dan solidaritas sosial. Hilangnya empati dapat berdampak pada meningkatnya konflik, isolasi sosial, dan kurangnya kepedulian dalam bergaul. Pendidikan Akidah Akhlak harus memperkuat nilai empati melalui kegiatan sosial, kerja kelompok, dan latihan manajemen emosi.

11.6.    Kekerasan Verbal dan Non-Verbal dalam Interaksi Remaja

Kekerasan verbal seperti hinaan, makian, dan sindiran kini sering dianggap wajar dalam komunikasi remaja, terutama di media sosial.¹² Kekerasan non-verbal seperti pengucilan, intimidasi, dan perundungan juga banyak terjadi di sekolah.

Islam menegaskan bahwa seorang Muslim dilarang menyakiti orang lain melalui lisan maupun tindakan.¹³ Karena itu, penguatan karakter dan regulasi sekolah diperlukan untuk mencegah perilaku agresif dan membangun budaya pergaulan yang aman.

11.7.    Tantangan Identitas dan Krisis Kepercayaan Diri

Remaja masa kini menghadapi beban identitas yang besar akibat tekanan sosial, kecantikan dalam standar media, dan tuntutan pencapaian.¹⁴ Krisis identitas dapat membuat remaja mencari pengakuan di tempat yang salah, termasuk melalui pergaulan yang buruk.

Islam memandang bahwa setiap individu memiliki martabat dan keunikan tersendiri, sehingga kepercayaan diri harus dibangun berdasarkan nilai ketakwaan dan kualitas moral, bukan validasi eksternal.¹⁵

11.8.    Pengaruh Budaya Pop dan Normalisasi Perilaku Tidak Etis

Musik, film, game, dan selebritas sering menampilkan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai Islam: gaya berbicara kasar, hubungan romantis bebas, gaya hidup konsumtif, dan pemberontakan terhadap otoritas.¹⁶

Tanpa filter nilai, remaja mudah meniru perilaku tersebut dan menganggapnya sebagai norma sosial. Pendidikan Akidah Akhlak harus membangun kemampuan literasi budaya agar siswa dapat menilai dan menyikapi pengaruh budaya pop secara kritis.

11.9.    Tantangan Multikulturalisme dan Pergaulan Lintas Identitas

Remaja kini hidup dalam masyarakat yang semakin plural. Pergaulan lintas agama, budaya, dan suku merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Islam memerintahkan umatnya untuk berinteraksi secara adil dan moderat tanpa mengorbankan keyakinan.¹⁷

Remaja perlu dibekali kemampuan dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan agar mampu bersosialisasi secara sehat tanpa kehilangan prinsip akidah dan akhlak.


Relevansi Etika Islam dalam Menjawab Tantangan Kontemporer

Etika Islam menawarkan nilai-nilai universal seperti keadilan, kesopanan, pengendalian diri, dan empati yang sangat relevan untuk menghadapi isu-isu pergaulan remaja modern. Integrasi nilai-nilai ini dalam pendidikan MA memungkinkan pembentukan karakter remaja yang beradab, kritis, dan mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.¹⁸


Footnotes

[1]                Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an (New York: Oxford University Press, 2011), 122–124.

[2]                danah boyd, It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens (New Haven: Yale University Press, 2014), 15–18.

[3]                Sameer Hinduja and Justin Patchin, Bullying Beyond the Schoolyard: Preventing and Responding to Cyberbullying (Thousand Oaks: Sage, 2015), 30–33.

[4]                Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 312–317.

[5]                Sherry Turkle, Alone Together (New York: Basic Books, 2011), 112–115.

[6]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:45–48.

[7]                Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār al-Ma‘ārif, 1987), 3:109–112.

[8]                Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.

[9]                danah boyd, It’s Complicated, 30–33.

[10]             Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 102–103.

[11]             Daniel Goleman, Social Intelligence (New York: Bantam Books, 2006), 87–89.

[12]             Hinduja and Patchin, Bullying Beyond the Schoolyard, 52–55.

[13]             Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1986.

[14]             Jean Twenge, iGen (New York: Atria Books, 2017), 55–58.

[15]             Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990), 57–59.

[16]             Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an, 145–147.

[17]             Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 89–91.

[18]             Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 75–78.


12.       Relevansi Etika Pergaulan Islam bagi Generasi Muda

Etika pergaulan dalam Islam memiliki relevansi yang sangat kuat bagi generasi muda, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat dan kompleks. Nilai-nilai adab, kesopanan, empati, dan tanggung jawab sosial yang diajarkan Islam bukan hanya warisan moral masa lalu, tetapi juga pedoman praktis untuk menjawab tantangan kehidupan modern.¹ Bagi peserta didik Madrasah Aliyah (MA), etika pergaulan tidak sekadar teks normatif, tetapi fondasi karakter yang membentuk jati diri, kemampuan bersosialisasi, dan kesiapan menghadapi dunia global.

12.1.    Peneguhan Identitas Moral di Era Krisis Nilai

Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang sarat dengan relativisme moral, di mana batas antara yang baik dan buruk menjadi semakin kabur akibat pengaruh media, budaya populer, dan perubahan gaya hidup.² Etika Islam memberikan landasan moral yang stabil dan konsisten, sehingga menjadi pegangan penting bagi remaja dalam membentuk identitas diri.

Nilai seperti ṣidq (kejujuran), ‘iffah (kesucian diri), dan raḥmah (kasih sayang) menjadi kompas moral yang membantu remaja membuat keputusan yang tepat dalam pergaulan sehari-hari. Tanpa fondasi etika yang kuat, generasi muda mudah terombang-ambing oleh tekanan sosial dan tren yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam.

12.2.    Pembentukan Kecerdasan Emosional dan Empati Sosial

Etika pergaulan Islam menekankan pengendalian diri, kesabaran, empati, dan kemampuan memahami kondisi orang lain. Daniel Goleman menegaskan bahwa kecerdasan emosional adalah faktor penting bagi keberhasilan seseorang dalam hubungan sosial dan kehidupan profesional.³

Melalui adab dalam berbicara, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan membangun hubungan sehat dengan lawan jenis, remaja dilatih untuk mengembangkan social awareness dan emotional regulation. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang menuntut kemampuan komunikasi, kerja sama, dan adaptasi sosial yang tinggi.

12.3.    Pencegahan Penyimpangan Sosial dan Pergaulan Bebas

Etika pergaulan Islam memberikan batas-batas moral yang jelas untuk mencegah penyimpangan seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan media sosial, kekerasan verbal, dan perilaku impulsif.⁴ Di era digital, risiko penyimpangan semakin besar karena remaja dapat mengakses konten negatif atau menjalin hubungan tidak sehat secara daring.

Dengan memahami prinsip menjaga pandangan, menjaga kehormatan, serta menahan diri dari interaksi yang mengarah pada fitnah, remaja memiliki tameng moral yang melindungi mereka dari kerusakan sosial dan spiritual. Etika Islam mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, tidak hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah Swt.

12.4.    Penguatan Kemampuan Berdialog dan Bertoleransi

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan dialog yang konstruktif. Prinsip qawlan layyinan (ucapan lembut) dan qawlan karīmā (ucapan mulia) menjadi dasar bagi cara berkomunikasi dengan berbagai kalangan.⁵

Generasi muda yang memahami etika pergaulan Islam akan mampu berinteraksi dalam masyarakat plural tanpa kehilangan identitas keislamannya. Mereka dapat bersikap moderat, tidak ekstrem, dan mampu membangun kerja sama sosial dengan pemuda dari latar belakang budaya atau agama yang berbeda.

12.5.    Penguatan Karakter dan Integritas dalam Kehidupan Akademik dan Profesional

Etika pergaulan berkontribusi pada pembentukan karakter remaja yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Nilai seperti amanah, disiplin, sopan santun, dan kejujuran sangat dibutuhkan dalam dunia akademik dan dunia kerja.⁶

Peserta didik yang terbiasa menerapkan etika dalam pergaulan akan lebih mampu menghadapi tantangan akademik, menyelesaikan konflik sosial, serta membangun citra diri yang positif. Integritas adalah salah satu modal utama untuk meraih kepercayaan dan keberhasilan jangka panjang.

12.6.    Pengembangan Kemandirian Moral di Tengah Tekanan Sosial

Remaja sering menghadapi tekanan sosial (peer pressure) untuk mengikuti perilaku teman sebaya, meskipun tidak sesuai dengan nilai Islam.⁷ Etika pergaulan Islam membantu remaja membangun kemandirian moral sehingga tidak mudah terpengaruh hal negatif.

Dengan memahami tujuan hidup, nilai diri, dan tanggung jawab moral sebagai seorang Muslim, remaja dapat membuat keputusan yang lebih dewasa dan rasional. Kemandirian moral ini sangat penting di era modern yang menuntut keberanian untuk berbeda dari arus dominan.

12.7.    Penguatan Etika Bermedia dan Literasi Digital

Generasi muda adalah pengguna aktif media sosial dan teknologi digital. Islam memberikan pedoman menyeluruh tentang penggunaan lisan dan tulisan yang baik, yang sangat relevan dalam penggunaan media sosial.⁸

Dengan berpegang pada etika Islam, remaja akan mampu:

·                     menghindari ujaran kebencian dan ghibah digital,

·                     tidak menyebarkan hoaks,

·                     bijak mengelola privasi,

·                     menjaga kehormatan diri dan orang lain di dunia maya.

Literasi digital berbasis nilai Islam membantu remaja menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan bermoral.

12.8.    Membangun Generasi Moderat dan Beradab

Moderasi (wasatiyyah) merupakan ciri penting ajaran Islam. Etika pergaulan membantu remaja menjadi pribadi yang seimbang: tidak berlebihan dalam bersikap, tidak keras dalam berinteraksi, dan tidak permisif terhadap pelanggaran moral.⁹

Generasi yang memahami etika Islam akan tumbuh sebagai pribadi yang:

·                     mampu menjaga diri,

·                     menghargai perbedaan,

·                     memiliki kecerdasan sosial,

·                     menjunjung nilai kemanusiaan dan akhlak mulia.

Ini adalah fondasi untuk membangun masyarakat madani yang beradab.

12.9.    Relevansi dalam Pembentukan Kepemimpinan Pemuda

Etika pergaulan membentuk kualitas kepemimpinan remaja, seperti kemampuan memberi teladan, mengayomi yang lebih muda, bekerja sama, dan mengambil keputusan etis.¹⁰

Kepemimpinan yang berbasiskan etika Islam akan melahirkan generasi pemimpin yang berintegritas, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan, bukan sekadar kekuasaan.

12.10. Kesimpulan Relevansi

Etika pergaulan dalam Islam bukan sekadar kumpulan aturan, tetapi nilai-nilai hidup yang membentuk karakter remaja. Nilai-nilai ini memperkuat identitas moral, keterampilan sosial, pengendalian diri, serta kemampuan menghadapi tantangan modern.

Relevansi ini menunjukkan bahwa etika Islam tetap aktual dan menjadi pedoman komprehensif bagi generasi muda dalam membangun kehidupan yang beradab, harmonis, dan bermakna.


Footnotes

[1]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88–90.

[2]                Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an (New York: Oxford University Press, 2011), 112–115.

[3]                Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New York: Bantam Books, 1995), 92–95.

[4]                Sherry Turkle, Alone Together (New York: Basic Books, 2011), 119–122.

[5]                Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 310–316.

[6]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 67–70.

[7]                Jean Twenge, iGen (New York: Atria Books, 2017), 135–139.

[8]                Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law (London: IIIT, 2008), 74–77.

[9]                Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.

[10]             Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 89–91.


13.       Sintesis dan Rekonstruksi Nilai Etika Bergaul dalam Islam

Sintesis dan rekonstruksi nilai etika bergaul dalam Islam merupakan upaya untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip normatif syariat dengan realitas sosial kontemporer. Proses ini diperlukan karena perubahan zaman menuntut formulasi ulang yang relevan, tanpa kehilangan esensi ajaran Islam yang bersifat universal.¹ Bagi remaja Madrasah Aliyah (MA), sintesis ini membantu mereka memahami bagaimana nilai-nilai adab tidak hanya dihafal, tetapi dimaknai dan diterapkan secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.

13.1.    Integrasi Nilai-Nilai Qur’ani dengan Tantangan Kontemporer

Nilai dasar yang bersumber dari Al-Qur’an seperti amanah, kejujuran, kesopanan, dan kasih sayang perlu direkonstruksi agar sesuai dengan situasi modern. QS. al-Ḥujurāt [49] ayat 10–12 yang menekankan ukhuwah, menjauhi prasangka, dan larangan ghibah dapat disintesiskan untuk menghadapi fenomena cyberbullying, ujaran kebencian, dan budaya perundungan digital.²

Dengan demikian, prinsip-prinsip Qur’ani tetap relevan namun perlu diterapkan dalam bentuk baru yang sesuai dengan dunia remaja masa kini, termasuk dalam interaksi digital, ruang publik daring, dan budaya jejaring sosial.

13.2.    Rekonstruksi Batas Pergaulan Gender Berdasarkan Prinsip Moderasi

Batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan telah diatur dalam syariat untuk menjaga kehormatan dan mencegah fitnah. Namun, rekonstruksi diperlukan agar batasan tersebut tidak dipahami secara ekstrem. Prinsip wasatiyyah (moderasi) menjadi landasan etis untuk menyelaraskan interaksi gender dalam ruang pendidikan modern yang menuntut kolaborasi.³

Rekonstruksi ini tidak mengubah syariat, tetapi menempatkan nilai-nilai seperti kesopanan, profesionalisme, dan saling menghargai sebagai pedoman praktis dalam bekerja sama, berkomunikasi, atau belajar bersama tanpa melanggar batas moral Islam.

13.3.    Integrasi Pendekatan Klasik dan Modern dalam Memahami Adab

Pemikiran klasik dari al-Ghazālī, Ibn Miskawayh, dan Ibn Ḥazm memberikan fondasi konseptual tentang penyucian jiwa, pembiasaan moral, dan etika sosial.⁴ Sementara pemikiran modern seperti Fazlur Rahman dan Syed Naquib al-Attas menekankan rekonstruksi nilai Islam dalam konteks modernitas dan pendidikan.⁵

Sintesis kedua pendekatan ini menghasilkan pemahaman yang lebih utuh:

·                     Dimensi spiritual dan batiniah (tasawuf akhlaki),

·                     Dimensi rasional dan sosial (filsafat moral),

·                     Dimensi praktis dan kontekstual (pendidikan karakter).

Ketiganya saling melengkapi untuk membentuk etika bergaul yang relevan bagi remaja abad ke-21.

13.4.    Rekonstruksi Etika Komunikasi Berbasis Etika Profetik

Etika komunikasi Islam dibangun atas tiga pilar profetik: kejujuran, kelembutan, dan kebaikan.⁶ Rekonstruksi etika komunikasi bagi remaja modern diperlukan agar mereka mampu menerapkan prinsip tersebut dalam berbagai platform komunikasi seperti media sosial, grup diskusi daring, dan interaksi digital lainnya.

Rekonstruksi ini mencakup:

·                     menggunakan bahasa yang sehat dalam percakapan digital;

·                     tidak menyebarkan konten yang mengandung fitnah atau kebohongan;

·                     menghindari satire yang merendahkan pihak lain;

·                     memanfaatkan media untuk dakwah dan penyebaran kebaikan.

Dengan demikian, etika komunikasi tidak hanya berlaku dalam percakapan langsung, tetapi juga dalam ruang virtual.

13.5.    Harmonisasi antara Kearifan Tradisional dan Tuntutan Globalisasi

Nilai adab bergaul dalam tradisi Islam Nusantara seperti sopan santun, tatakrama, dan penghormatan antargenerasi dapat disintesiskan dengan tuntutan globalisasi yang menuntut keterbukaan, toleransi, dan kemampuan beradaptasi.⁷

Harmonisasi ini membantu siswa MA untuk tetap menjaga akar budaya Islam sekaligus mampu berinteraksi dalam masyarakat global tanpa kehilangan jati diri. Nilai-nilai tradisional yang penuh kesantunan tetap relevan, namun harus dikontekstualisasikan dalam lingkungan modern, termasuk dalam interaksi lintas budaya dan pergaulan multinasional.

13.6.    Rekonstruksi Nilai Tanggung Jawab dan Pengendalian Diri

Dalam konteks modern, remaja sering menghadapi godaan yang lebih besar daripada generasi sebelumnya, terutama melalui teknologi digital dan budaya populer. Maka, nilai pengendalian diri (mujāhadah al-nafs) dan tanggung jawab moral perlu direkonstruksi dalam bentuk strategi praktis:

·                     manajemen waktu penggunaan gawai,

·                     disiplin dalam konsumsi konten,

·                     penilaian kritis terhadap tren viral,

·                     praktik self-regulation dalam hubungan sosial.⁸

Rekonstruksi ini menghubungkan nilai klasik dengan pendekatan psikologi modern mengenai pengendalian diri.

13.7.    Sintesis Etika Sosial untuk Membangun Budaya Sekolah Beradab

Sekolah dapat menjadi ruang rekonstruksi nilai etika bergaul melalui program pembiasaan seperti:

·                     budaya salam dan sopan santun,

·                     mentoring sebaya,

·                     forum musyawarah siswa,

·                     kegiatan bakti sosial.

Melalui aktivitas ini, nilai-nilai adab tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan dan diinternalisasi.⁹ Sintesis antara pendidikan formal dan praktik sosial menciptakan ekosistem sekolah yang berkarakter Islami.

13.8.    Rekonstruksi Etika Bergaul sebagai Upaya Pembentukan Kepribadian Utuh

Etika bergaul bukan hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi proses pembentukan kepribadian yang utuh (insān kāmil). Rekonstruksi dilakukan dengan menggabungkan aspek kognitif (pemahaman nilai), afektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengamalan).¹⁰

Dengan demikian, etika bergaul menjadi bagian integral dari proses pendidikan moral yang berkelanjutan, yang tidak berhenti pada teori, tetapi menjadi identitas dan karakter remaja Muslim.


Kesimpulan Sintesis dan Rekonstruksi

Sintesis dan rekonstruksi nilai etika bergaul dalam Islam merupakan upaya mempertemukan ajaran moral klasik dengan realitas modern. Proses ini bertujuan agar nilai-nilai adab tetap hidup dan relevan, tidak hanya sebagai warisan tekstual, tetapi sebagai pedoman hidup generasi muda.

Dengan pendekatan integratif, nilai etika Islam dapat menjadi fondasi kuat bagi remaja dalam membangun karakter, mengelola hubungan sosial, dan menghadapi tantangan global secara arif dan bermartabat.


Footnotes

[1]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 87–89.

[2]                Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 7:365–370.

[3]                Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.

[4]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 60–63.

[5]                Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 12–14.

[6]                Muhammad al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 1:45.

[7]                Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (Jakarta: Mizan, 2016), 112–115.

[8]                Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New York: Bantam Books, 1995), 92–96.

[9]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 115–118.

[10]             Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 88–90.


14.       Kesimpulan

Pembahasan mengenai etika bergaul dalam Islam menunjukkan bahwa nilai-nilai adab dan akhlak bukan sekadar aturan normatif, tetapi fondasi moral yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan intelektual manusia. Etika pergaulan melingkupi relasi dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, dan lawan jenis, masing-masing dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, serta khazanah pemikiran ulama klasik dan kontemporer.¹ Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman integral dalam membangun interaksi yang harmonis, bermartabat, dan penuh tanggung jawab.

Secara filosofis, etika pergaulan dalam Islam berakar pada pemahaman tentang hakikat manusia sebagai makhluk bermoral dan sosial, yang diberi kemampuan akal, qalb, dan kehendak untuk memilih jalan kebaikan.² Dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis filsafat moral Islam memberikan kerangka analitis yang memperkuat pentingnya adab sebagai jalan menuju sa‘ādah (kebahagiaan), keharmonisan sosial, dan penyempurnaan jiwa.³ Dengan demikian, etika pergaulan bukan hanya praktik sosial, tetapi proyek pembentukan manusia ideal dalam pandangan Islam (insān kāmil).

Dalam konteks pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA), etika pergaulan memiliki implikasi pedagogis yang signifikan. Pendidikan harus mengintegrasikan keteladanan, pembiasaan, analisis kasus, serta literasi digital agar peserta didik mampu menghadapi realitas sosial modern dengan bimbingan nilai-nilai Qur’ani dan profetik.⁴ Lingkungan sekolah dan keluarga berperan sebagai agen pembentuk karakter yang secara konsisten menumbuhkan budaya hormat, empati, kesopanan, dan tanggung jawab sosial.

Isu-isu kontemporer seperti media sosial, pergaulan bebas, krisis empati, dan tekanan budaya populer menuntut rekonstruksi nilai etika bergaul dalam Islam agar tetap relevan dan aplikatif.⁵ Proses rekonstruksi ini dilakukan dengan menjaga esensi syariat sembari menyesuaikan bentuk penerapannya dengan tantangan zaman. Moderasi, toleransi, dan kesadaran digital menjadi bagian penting dalam reformulasi etika pergaulan remaja modern.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa etika pergaulan dalam Islam merupakan pedoman komprehensif yang mendukung pembentukan generasi muda yang berakhlak mulia, cerdas secara emosional, bijak dalam bersosialisasi, dan siap menghadapi kompleksitas dunia modern. Nilai-nilai ini menjadi aset moral yang membantu remaja mengembangkan identitas diri yang stabil, integritas pribadi yang kuat, dan kapasitas sosial yang matang.⁶ Dengan menghayati dan menerapkan etika Islam, generasi muda dapat berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat yang beradab, harmonis, dan berkeadilan.


Footnotes

[1]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 72–75.

[2]                Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88–90.

[3]                Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 38–41.

[4]                Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pers, 2019), 102–104.

[5]                danah boyd, It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens (New Haven: Yale University Press, 2014), 15–18.

[6]                Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.


Daftar Pustaka

Al-Attas, S. M. N. (1990). The nature of man and the psychology of the human soul. ISTAC.

Al-Attas, S. M. N. (1993). Islam and secularism. ISTAC.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam. ISTAC.

Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (1987). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Vols. 1–3). Dār Ibn Kathīr.

Al-Fārābī. (1968). Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah. Dār al-Ma‘ārif.

Al-Ghazālī, A. H. (1997). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (B. Ṭabānah, Ed.). Dār al-Fikr.

Al-Jāḥiẓ, A. ‘U. (1998). Al-Bayān wa al-Tabyīn (A. Hārūn, Ed.). Maktabah al-Khānjī.

Al-Nawawī, Y. (1987). Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Dār al-Ma‘ārif.

Al-Nawawī, Y. (2001). Al-Adhkār. Dār al-Fikr.

Al-Qaraḍāwī, Y. (2001). Fiqh al-wasaṭiyyah al-Islāmiyyah. Dār al-Shurūq.

Al-Qurṭubī, A. A. (1964). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.

Al-Qushayrī, A. (2002). Al-Risālah al-Qushayriyyah. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Ṭabarī, M. J. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Dār al-Ma‘ārif.

Auda, J. (2008). Maqasid al-shariah as philosophy of Islamic law. IIIT.

Azra, A. (2016). Islam Nusantara: Jaringan global dan lokal. Mizan.

Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of educational objectives. David McKay Company.

Boyd, d. (2014). It’s complicated: The social lives of networked teens. Yale University Press.

Fārābī, A. N. (1968). Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah. Dār al-Ma‘ārif.

Freire, P. (1997). Pedagogy of the heart. Continuum.

Ghazālī, A. H. (1997). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (B. Ṭabānah, Ed.). Dār al-Fikr.

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence. Bantam Books.

Goleman, D. (2006). Social intelligence. Bantam Books.

Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2015). Bullying beyond the schoolyard: Preventing and responding to cyberbullying. Sage.

Ibn Ḥazm, A. (1981). Akhlāq wa al-siyar (H. Munāsar, Ed.). Dār al-Jīl.

Ibn Hishām. (2004). Sīrah al-Nabawiyyah. Dār al-Ma‘rifah.

Ibn Kathīr, I. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Dār Ṭayyibah.

Ibn Miskawayh, A. (1966). Tahdhīb al-akhlāq (C. Zurayk, Ed.). American University of Beirut.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2004). Rawḍat al-muḥibbīn. Dār al-Ḥadīth.

Ibn Rushd, A. W. (1997). Faṣl al-maqāl. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ibn Sīnā. (1938). Al-Najāt. Dār al-Ma‘ārif.

Kagan, S. (1992). Cooperative learning. Kagan Publishing.

Lickona, T. (1991). Educating for character. Bantam Books.

Muhaimin. (2012). Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Raja Grafindo Persada.

Muslim ibn al-Ḥajjāj. (1995). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī.

Nata, A. (2019). Akhlak tasawuf. Rajawali Pers.

Qur’ān references via:

‘Abd al-Bāqī, M. F. (1996). Al-mu‘jam al-mufahras li alfāẓ al-Qur’ān. Dār al-Ḥadīth.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity. University of Chicago Press.

Rahman, F. (2009). Major themes of the Qur’an (2nd ed.). University of Chicago Press.

Rūmī, J. (1925). Mathnawī (R. A. Nicholson, Ed.). E.J.W. Gibb Memorial Trust.

Sardar, Z. (2011). Reading the Qur’an: The contemporary relevance of the sacred text. Oxford University Press.

Shihab, M. Q. (2007). Wawasan Al-Qur’an. Mizan.

Sheikh, M. S. (2002). A study of Islamic philosophy. Routledge.

Turkle, S. (2011). Alone together. Basic Books.

Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.

Tufekci, Z. (2017). Twitter and tear gas: The power and fragility of networked protest. Yale University Press.

Twenge, J. (2017). iGen. Atria Books.

Zarnūjī, A. (2002). Ta‘līm al-muta‘allim ṭarīq al-ta‘allum. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Zubaedi. (2012). Desain pendidikan karakter. Kencana.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar