Etika Bergaul dalam Islam
Sebuah Kajian Filsafat Moral Islam dan Implementasinya
dalam Pembentukan Akhlak Remaja di Madrasah Aliyah
Alihkan ke: CP Akidah Akhlak.
Abstrak
Artikel ini membahas secara komprehensif konsep
etika bergaul dalam Islam melalui pendekatan normatif, filosofis, dan pedagogis
yang relevan dengan pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA). Kajian
dimulai dengan landasan konseptual filsafat moral Islam yang menempatkan
manusia sebagai makhluk bermoral dan sosial, serta menjadikan wahyu, akal, dan
pengalaman sebagai sumber etika. Selanjutnya, artikel menelusuri genealogi
pemikiran etika pergaulan dari tradisi klasik hingga kontemporer, serta
merumuskan fondasi Qur’ani dan hadis sebagai pedoman utama dalam berinteraksi.
Pembahasan utama mencakup empat domain etika pergaulan:
dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, dan lawan jenis. Masing-masing
domain dianalisis berdasarkan nilai-nilai adab, kesopanan, kasih sayang,
penghormatan, dan pengendalian diri. Artikel ini juga menyajikan analisis
filsafat moral Islam yang meliputi dimensi ontologis, epistemologis, dan
aksiologis dalam memahami relasi sosial. Di sisi pedagogis, artikel menekankan
pentingnya integrasi nilai etika dalam kurikulum MA melalui keteladanan,
pembiasaan, pembelajaran berbasis kasus, literasi digital, serta evaluasi
holistik.
Selain itu, artikel ini menguraikan isu-isu
kontemporer yang memengaruhi pergaulan remaja—termasuk media sosial, budaya
digital, pergaulan bebas, krisis empati, dan pengaruh budaya pop—serta
menegaskan urgensi rekonstruksi nilai etika agar tetap relevan. Pada bagian
akhir, sintesis dan rekonstruksi nilai dilakukan untuk menjembatani antara
ajaran klasik Islam dan tuntutan modernitas, sehingga menghasilkan pedoman
etika yang moderat, adaptif, dan berakar kuat pada prinsip-prinsip syariat.
Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa
etika pergaulan Islam merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter
generasi muda yang berakhlak mulia, cerdas sosial, moderat, serta mampu
menghadapi kompleksitas zaman secara arif dan bermartabat.
Kata Kunci: Etika pergaulan Islam; adab; akhlak remaja;
filsafat moral Islam; Akidah Akhlak; moderasi; literasi digital; pendidikan
karakter; remaja MA.
PEMBAHASAN
Kajian Etika Bergaul dalam Akidah Akhlak
1.
Pendahuluan
Etika bergaul merupakan salah satu dimensi
fundamental dalam pembentukan karakter seorang Muslim, terutama bagi remaja
yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan penguatan identitas moral.
Dalam konteks pendidikan Islam, etika pergaulan tidak hanya dipahami sebagai
seperangkat aturan sosial, tetapi sebagai wujud implementasi nilai-nilai akhlak
mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, serta tradisi keilmuan para ulama
klasik hingga kontemporer. Nilai-nilai tersebut berfungsi untuk membimbing
peserta didik dalam menjalani interaksi sosial secara seimbang, beradab, dan
bertanggung jawab.¹
Dalam perkembangan sosial remaja di Madrasah Aliyah
(MA), hubungan antarindividu mencakup interaksi dengan teman sebaya, orang yang
lebih tua, yang lebih muda, serta lawan jenis. Keempat jenis relasi ini menjadi
ruang penting bagi pembentukan akhlak sosial karena masing-masing memerlukan
pendekatan adab yang berbeda, sesuai dengan norma syariat dan prinsip moral
Islam.² Ketidaktepatan dalam memahami adab pergaulan dapat menimbulkan masalah
moral, konflik sosial, hingga penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan
ajaran Islam dan nilai-nilai pendidikan. Karena itu, kajian sistematis mengenai
etika pergaulan dalam Islam sangat dibutuhkan untuk memperkuat pemahaman
peserta didik dan memperkaya praktik pembelajaran Akidah Akhlak.³
Selain itu, dinamika era digital menghadirkan
bentuk-bentuk interaksi baru yang tidak selalu sejalan dengan prinsip moral
Islam. Pergaulan melalui media sosial, komunikasi berbasis aplikasi, serta
budaya populer global dapat memengaruhi cara remaja membangun relasi sosial.⁴
Fenomena ini menuntut adanya pemahaman etika yang lebih mendalam, tidak hanya
sebatas aturan praktis, tetapi juga berlandaskan pemikiran filosofis tentang
akhlak dan moralitas Islam. Filsafat moral Islam memberikan kerangka
epistemologis, ontologis, dan aksiologis yang diperlukan untuk memahami makna
pergaulan dalam perspektif yang lebih luas dan mendalam.⁵
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini
disusun untuk menganalisis etika bergaul dalam Islam dengan pendekatan
filosofis dan pedagogis yang relevan dengan kebutuhan peserta didik MA. Kajian
akan meliputi dasar normatif Al-Qur’an dan hadis, pandangan para pemikir
Muslim, rekonstruksi nilai moral dalam konteks kontemporer, serta implementasi
etika pergaulan dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Harapannya, pembahasan ini
dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan karakter, kecerdasan sosial, dan
integritas moral generasi muda Muslim di tengah tantangan modern.⁶
Footnotes
[1]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 3–4.
[2]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 22–24.
[3]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2019), 45.
[4]
Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power
and Fragility of Networked Protest (New Haven: Yale University Press,
2017), 14–16.
[5]
M. Saeed Sheikh, A Study of Islamic Philosophy
(London: Routledge, 2002), 88–92.
[6]
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir
Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2007), 315–318.
2.
Landasan Konseptual Filsafat Moral Islam
Filsafat moral Islam memberikan fondasi konseptual
bagi pemahaman etika pergaulan dalam kehidupan seorang Muslim. Moralitas dalam
Islam tidak hanya bertumpu pada aturan normatif, tetapi juga pada pemaknaan
filosofis terhadap hakikat manusia, tujuan hidup, dan hubungan antarindividu
dalam kerangka syariat. Secara terminologis, istilah akhlāq, adab,
dan etika memiliki keterkaitan yang erat, meskipun masing-masing
memiliki nuansa makna yang berbeda. Akhlāq merujuk pada karakter batin
yang mengarahkan tindakan tanpa perlu dipaksa, sedangkan adab
menggambarkan bentuk perilaku beradab yang mencerminkan kesantunan sosial.¹
Sementara itu, etika dalam wacana filsafat moral Islam merupakan refleksi
rasional dan normatif atas tindakan manusia berdasarkan prinsip-prinsip wahyu
dan akal.²
Dalam tradisi intelektual Islam, moralitas tidak
dapat dilepaskan dari pandangan tentang fitrah manusia. Manusia dipandang
sebagai makhluk yang diberi potensi moral berupa akal, hati, dan kehendak (irādah),
sehingga memiliki kapasitas untuk memilih kebaikan atau keburukan.³ Pemikir
seperti Ibn Miskawayh menegaskan bahwa akhlak dapat dibentuk melalui latihan,
kebiasaan, pendidikan, dan pengendalian diri, sehingga moralitas bukan sekadar
bawaan lahir, tetapi hasil proses penyempurnaan jiwa.⁴ Karena itu, etika Islam
memiliki karakter developmental—yaitu dapat ditumbuhkan, dimatangkan,
dan diperbaiki melalui pendidikan.
Sumber utama moralitas Islam adalah Al-Qur’an dan
Sunnah. Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip universal tentang keadilan, kasih
sayang, kesabaran, amanah, kesopanan, dan larangan berbuat zalim, yang
seluruhnya menjadi dasar bagi relasi sosial manusia.⁵ Sunnah Rasulullah SAW
melengkapi prinsip-prinsip tersebut melalui teladan praktis, misalnya dalam
menghormati yang lebih tua, mencintai yang lebih muda, dan menjaga kehormatan
dalam interaksi gender.⁶ Selain wahyu, akal juga menjadi sumber epistemologis
bagi penalaran moral, sebagaimana ditegaskan oleh filsuf-filsuf Muslim seperti
al-Fārābī dan Ibn Sīnā. Mereka memandang bahwa akal mampu memahami al-khayr
(kebaikan) dan al-shar (keburukan) selama ia berjalan sejalan dengan
prinsip wahyu.⁷
Dalam kerangka aksiologis, tujuan utama moralitas
Islam adalah tercapainya kebahagiaan (sa‘ādah), harmoni sosial, dan
kemaslahatan umum (maṣlaḥah). Nilai-nilai moral tidak hanya dinilai dari
aspek personal, melainkan juga dari dampaknya pada komunitas.⁸ Karena itu,
etika Islam bersifat integratif: ia mencakup dimensi spiritual, sosial, dan
rasional sekaligus. Sebuah tindakan dianggap bermoral apabila memenuhi tiga
aspek penting: berniat baik, sesuai dengan prinsip syariat, dan membawa
kebaikan bagi diri sendiri serta orang lain.⁹
Dengan demikian, landasan konseptual filsafat moral
Islam memberikan kerangka bagi pemahaman etika pergaulan dalam kehidupan
remaja. Prinsip-prinsip ini menjadi dasar bagi penentuan adab yang tepat ketika
berinteraksi dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, maupun lawan
jenis. Kajian konseptual ini juga menunjukkan bahwa moralitas dalam Islam tidak
bersifat kaku, tetapi memiliki kedalaman filosofis yang memungkinkan
penerapannya secara adaptif terhadap perubahan sosial dan tantangan
kontemporer.¹⁰
Footnotes
[1]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 5–7.
[2]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and
Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 45–47.
[3]
M. Umer Chapra, The Vision of Islam and the
Future of Humanity (Leicester: Islamic Foundation, 2008), 22.
[4]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 38–41.
[5]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 72–75.
[6]
Muhammad al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
(Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 2:112–114.
[7]
Al-Fārābī, Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah
(Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1968), 34–35; Ibn Sīnā, Al-Najāt (Cairo: Dār
al-Ma‘ārif, 1938), 212–213.
[8]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 33–36.
[9]
M. Saeed Sheikh, A Study of Islamic Philosophy
(London: Routledge, 2002), 92–95.
[10]
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam
(Jakarta: Kencana, 2017), 64–66.
3.
Genealogi Etika Pergaulan dalam Tradisi
Pemikiran Islam
Genealogi etika pergaulan dalam Islam memiliki akar
historis yang panjang, berkelindan dengan perkembangan pemikiran moral, adab,
dan spiritualitas dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Pada tahap awal, konsep
etika sosial banyak dipengaruhi oleh ajaran Al-Qur’an dan Sunnah yang
menekankan pentingnya kesantunan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.¹
Nilai-nilai dasar ini kemudian dikembangkan oleh para ulama dan filosof Muslim
dalam berbagai disiplin, seperti fikih (fiqh al-mu‘āmalāt), tasawuf, dan
filsafat etika. Dari sinilah terbentuk suatu tradisi intelektual yang kaya dan
berlapis, yang menjadikan adab sebagai fondasi pergaulan sosial umat Islam.
Salah satu tokoh awal yang membahas secara
sistematis etika sosial adalah al-Jāḥiẓ (w. 255 H), seorang sastrawan dan
intelektual Basrah yang menekankan pentingnya adab dalam relasi sosial sebagai
indikator kematangan akal dan keluhuran budi.² Karyanya al-Bayān wa
al-Tabyīn dan al-Bukhalā’ menampilkan analisis moral yang memadukan
etika, psikologi, dan pengamatan sosial. Dalam perspektif al-Jāḥiẓ, adab
pergaulan bukan hanya aturan formal, melainkan aktivitas rasional untuk menjaga
harmoni sosial.
Pada abad berikutnya, Ibn Miskawayh (w. 421 H)
memperdalam konsep etika dengan pendekatan filosofis melalui karyanya Tahdhīb
al-Akhlāq, yang menjelaskan bahwa moralitas terbentuk melalui keseimbangan
antara kekuatan jiwa dan pembiasaan perilaku.³ Ia menekankan pentingnya ‘iffah
(kesucian), ḥilm (kesabaran), dan ‘adālah (keadilan) sebagai
basis etika sosial. Prinsip-prinsip inilah yang melandasi adab dalam pergaulan
dengan sesama manusia, baik dengan sebaya, yang lebih tua, maupun dengan yang
lebih muda.
Sementara itu, al-Ghazālī (w. 505 H) memberikan
kontribusi besar dengan mengintegrasikan perspektif fikih, tasawuf, dan
filsafat dalam menjelaskan makna adab. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia
memaparkan adab sebagai refleksi dari kesucian hati dan pengendalian diri.⁴
Baginya, pergaulan yang baik harus dilandasi keikhlasan, empati, dan kesediaan
untuk mengutamakan kebaikan bagi orang lain. Pandangannya menegaskan bahwa
hubungan sosial mencerminkan kualitas batin seseorang dan menjadi bagian dari
jalan penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs).
Ibn Ḥazm (w. 456 H) juga turut memberikan warna
dalam genealoginya. Melalui Akhlāq wa al-Siyar, ia menekankan pentingnya
kejujuran, kesederhanaan, dan konsistensi moral dalam berinteraksi.⁵ Ibn Ḥazm
memandang bahwa pergaulan yang beradab memerlukan keseimbangan antara sikap
tegas dan kelembutan, serta kemampuan menempatkan diri sesuai kondisi lawan
bicara. Pemikirannya menunjukkan adanya kesadaran etis yang praktis dan
rasional dalam interaksi sosial.
Genealogi etika pergaulan juga tidak dapat
dipisahkan dari tradisi tasawuf, terutama melalui kontribusi tokoh seperti
Jalāl al-Dīn al-Rūmī dan al-Qushayrī. Ajaran mereka menekankan pentingnya kasih
sayang universal, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama sebagai
manifestasi cinta kepada Allah.⁶ Tasawuf memperluas horizon etika sosial menjadi
pengalaman spiritual yang menghubungkan hubungan antarmanusia dengan hubungan
transenden kepada Tuhan.
Pada masa kontemporer, pemikir seperti Muhammad
Abduh, Fazlur Rahman, dan Syed Naquib al-Attas menafsirkan ulang konsep etika
sosial dalam konteks modern. Mereka menyoroti pentingnya rasionalitas, keadilan
sosial, dan integrasi nilai adab dalam pendidikan sebagai bagian dari pembaruan
Islam.⁷ Pendekatan mereka menegaskan bahwa etika pergaulan tidak hanya berakar
pada tradisi klasik, tetapi juga terus berkembang untuk menjawab tantangan
zaman.
Dengan demikian, genealoginya menunjukkan bahwa
etika pergaulan dalam Islam merupakan hasil sintesis antara teks normatif,
refleksi filosofis, dan pengalaman historis umat Islam. Tradisi ini berkembang
secara dinamis dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadikan konsep
adab dalam pergaulan sebagai prinsip moral yang memiliki kedalaman intelektual
sekaligus relevansi praktis dalam kehidupan sosial remaja masa kini.⁸
Footnotes
[1]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 83–85.
[2]
Al-Jāḥiẓ, al-Bayān wa al-Tabyīn, ed. ʿAbd
al-Salām Hārūn (Cairo: Maktabah al-Khānjī, 1998), 1:12–18.
[3]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 40–48.
[4]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 60–65.
[5]
Ibn Ḥazm, Akhlāq wa al-Siyar, ed. Ḥusayn
Munāsar (Beirut: Dār al-Jīl, 1981), 33–36.
[6]
Al-Qushayrī, al-Risālah al-Qushayrīyah
(Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), 112–115; Jalāl al-Dīn al-Rūmī, Mathnawī,
ed. Reynold A. Nicholson (London: E.J.W. Gibb Memorial Trust, 1925), 1:55–60.
[7]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and
Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 51–56; Fazlur Rahman, Islam and
Modernity (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 12–14.
[8]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2019), 72–74.
4.
Fondasi Qur’ani dan Hadis tentang Etika Bergaul
Etika pergaulan dalam Islam memiliki dasar yang
kuat dalam Al-Qur’an dan hadis, dua sumber utama ajaran Islam yang memberikan
panduan normatif sekaligus moral bagi hubungan antarindividu. Al-Qur’an
menekankan prinsip-prinsip universal seperti kasih sayang (raḥmah),
kesopanan (ḥayā’), keadilan (‘adālah), dan penghormatan terhadap
martabat manusia (karāmah insāniyyah).¹ Prinsip-prinsip ini menjadi
landasan bagi umat Islam dalam membangun relasi sosial yang harmonis, baik
dengan sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda, maupun dengan lawan jenis.
4.1.
Prinsip-Prinsip Utama dalam
Al-Qur’an tentang Etika Pergaulan
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk berbicara
dengan tutur kata yang baik (qawlan ma‘rūfā), lembut (qawlan layyinan),
mulia (qawlan karīmā), dan jujur (qawlan sadīdā).² Keempat
kategori tuturan ini mencerminkan landasan etika komunikasi yang sangat relevan
dalam interaksi sosial. Selain itu, prinsip ukhuwah ditegaskan dalam QS.
al-Ḥujurāt [49] ayat 10 yang menyatakan bahwa kaum beriman adalah bersaudara
dan harus menghindari prasangka buruk, ghibah, serta perpecahan.³
Dalam konteks hubungan antargenerasi, Al-Qur’an
mengajarkan adab penghormatan kepada yang lebih tua, terutama melalui ayat
tentang sikap kepada kedua orang tua dalam QS. al-Isrā’ [17] ayat 23–24. Ayat
ini menekankan larangan berkata kasar dan perintah untuk menunjukkan
kelembutan, menggambarkan suatu etika penghormatan yang dapat diaplikasikan
secara lebih luas dalam pergaulan sosial.⁴
Sementara itu, dalam hubungan dengan lawan jenis,
Al-Qur’an menegaskan prinsip menjaga pandangan (ghaḍḍ al-baṣar) dan
kesucian diri (ʿiffah). QS. al-Nūr [24] ayat 30–31 memberikan pedoman
agar interaksi antara laki-laki dan perempuan berlangsung dalam batas kesopanan
dan kehormatan.⁵ Prinsip ini bukan untuk membatasi ruang sosial perempuan dan
laki-laki, tetapi untuk membangun interaksi yang etis, aman, dan menghormati
martabat masing-masing pihak.
4.2.
Tuntunan Hadis tentang Akhlak dan
Pergaulan Sosial
Hadis-hadis Rasulullah Saw memperluas dan
mempraktikkan nilai-nilai yang telah diuraikan dalam Al-Qur’an. Rasulullah Saw dikenal
sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan menjadi teladan dalam interaksi sosial
sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Aḥzāb [33] ayat 21.⁶
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan
Muslim, Rasulullah menekankan pentingnya akhlak baik sebagai faktor penentu
kedekatan seseorang dengannya di akhirat.⁷ Hal ini menunjukkan bahwa etika
sosial memiliki dimensi eskatologis yang signifikan dalam Islam. Hadis lain
mengajarkan penghormatan kepada yang lebih tua dan kasih sayang kepada yang
lebih muda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang
lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”⁸ Hadis ini menegaskan dua
prinsip besar dalam etika pergaulan: raḥmah dan tawqīr.
Dalam konteks hubungan dengan teman sebaya, Rasulullah
Saw menganjurkan sikap saling menasihati dalam kebaikan, persahabatan yang
tulus, dan larangan untuk saling menyakiti. Hadis tentang larangan iri,
membenci, dan memutuskan hubungan sosial—yang diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ
Muslim—menunjukkan pentingnya menjaga keharmonisan dan persaudaraan dalam
komunitas.⁹
Sedangkan dalam interaksi dengan lawan jenis, hadis
menguatkan batasan Al-Qur’an dengan melarang khalwat (berdua-duaan dengan
non-mahram) dan menegaskan bahwa interaksi harus berlangsung secara
terhormat.¹⁰ Rasulullah juga menekankan bahwa perempuan memiliki hak kehormatan
dan perlindungan yang setara, sehingga etika pergaulan gender harus
mencerminkan keadilan dan tidak mendiskriminasi.
Relevansi
Normatif Teks Qur’ani dan Hadis
Secara keseluruhan, fondasi normatif yang berasal
dari Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa etika pergaulan dalam Islam bukan
hanya sekadar aturan sosial, melainkan prinsip moral yang komprehensif. Etika
pergaulan Islami bertumpu pada keseimbangan antara hak individu dan tanggung
jawab sosial, antara kebebasan dan kontrol diri, serta antara komunikasi dan
penghormatan. Prinsip keseimbangan inilah yang menjadikan etika bergaul Islam
relevan untuk setiap zaman, termasuk era kontemporer yang ditandai dengan
perubahan pola interaksi akibat teknologi digital.¹¹
Dengan fondasi Qur’ani dan hadis yang mendalam ini,
peserta didik Madrasah Aliyah dapat memahami bahwa etika bergaul bukan semata
etiket, tetapi bagian dari ajaran moral Islam yang integral terhadap pembentukan
karakter dan akhlak mulia.
Footnotes
[1]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 89–92.
[2]
Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam
al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 312–315.
[3]
Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy
al-Qur’ān, ed. Aḥmad Muḥammad Shākir (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 2001),
22:175–178.
[4]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 5:64–66.
[5]
Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Cairo:
Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 12:230–234.
[6]
Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār
Ibn Kathīr, 1987), 1:45.
[7]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut:
Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1805.
[8]
Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār
al-Gharb al-Islāmī, 1998), 4:322.
[9]
Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 4:1986.
[10]
Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār
al-Ma‘ārif, 1987), 9:109–111.
[11]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 45–48.
5.
Etika Bergaul dengan Sebaya
Hubungan dengan teman sebaya merupakan salah satu
aspek terpenting dalam perkembangan sosial remaja, termasuk peserta didik
Madrasah Aliyah (MA). Dalam fase ini, remaja mulai membangun identitas sosial,
mengembangkan kepercayaan diri, dan membentuk pola interaksi yang memengaruhi
perkembangan moral dan emosional mereka. Islam memberikan panduan etis yang
komprehensif tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya bergaul dengan sebaya,
menekankan nilai kesetaraan, persaudaraan, solidaritas, dan saling menasihati.¹
Etika ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman praktis, tetapi juga membentuk
karakter dan kepribadian remaja Muslim yang beradab dan bertanggung jawab.
5.1.
Prinsip Persamaan dan Persaudaraan
Dalam pergaulan sebaya, prinsip persamaan (musāwah)
menjadi pondasi penting. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak
ditentukan oleh status sosial atau popularitas, tetapi oleh ketakwaannya.²
Prinsip ini mengajarkan remaja untuk tidak meremehkan teman sebaya, menghindari
sikap sombong, dan menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman karakter.
Rasulullah SAW menekankan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara, sehingga
dilarang saling memusuhi, menghina, atau menjauhi tanpa alasan yang benar.³
Prinsip persaudaraan (ukhuwwah) ini menjadi landasan untuk membangun
hubungan sebaya yang harmonis.
5.2.
Adab dalam Pertemanan: Kejujuran,
Amanah, dan Loyalitas
Hadis Nabi Saw menjelaskan bahwa pertemanan yang
baik adalah yang mengantarkan pada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.⁴
Kejujuran (ṣidq), amanah, dan loyalitas merupakan nilai inti yang harus
melekat dalam hubungan sebaya. Dalam karya Tahdhīb al-Akhlāq, Ibn
Miskawayh menegaskan bahwa sahabat yang baik adalah yang menumbuhkan keluhuran
jiwa, bukan yang memicu perilaku buruk.⁵ Pertemanan harus menjadi ruang
pertumbuhan moral, bukan sekadar asosiasi sosial. Karena itu, Islam mengajarkan
agar seseorang berhati-hati dalam memilih teman, sebagaimana peringatan Nabi Saw
bahwa teman yang buruk diumpamakan seperti peniup api yang dapat membakar
pakaian seseorang.⁶
5.3.
Saling Menasihati dan Menguatkan
dalam Kebaikan
Salah satu karakteristik pergaulan Islami adalah
adanya praktik ta‘āwun ‘alā al-birr wa al-taqwā (saling menolong dalam
kebaikan). Remaja MA perlu dapat saling memberikan nasihat ketika melihat
temannya melakukan kesalahan, dengan cara-cara yang beradab dan penuh kasih
sayang.⁷ Menasihati dalam Islam bukanlah bentuk superioritas moral, tetapi
wujud kepedulian sosial. Dalam konteks pendidikan, praktik ini dapat diwujudkan
dalam diskusi kelompok, kolaborasi pembelajaran, dan kerja sama dalam kegiatan
positif. Saling mengingatkan untuk berbuat baik membentuk budaya sekolah yang
berkarakter dan bermoral.
5.4.
Menghindari Sifat Negatif dalam
Pergaulan
Islam menekankan pentingnya menghindari sikap-sikap
yang merusak pergaulan sebaya seperti iri (ḥasad), dengki, ghibah,
fitnah, dan perilaku agresif. Hadis dalam Ṣaḥīḥ Muslim menyebutkan bahwa
seorang Muslim dilarang saling membenci, saling mendengki, atau saling
membelakangi.⁸ Sikap-sikap negatif ini dapat menyebabkan keretakan hubungan dan
memunculkan konflik sosial yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan
psikologis remaja. Di era media sosial, ghibah, perundungan daring (cyberbullying),
dan kompetisi tidak sehat semakin mudah terjadi, sehingga pemahaman etika pergaulan
menjadi semakin penting.
5.5.
Pergaulan Sebaya dalam Era Digital
Era digital memunculkan bentuk-bentuk interaksi
baru melalui media sosial, aplikasi percakapan, dan ruang virtual lainnya.
Interaksi ini sering berlangsung tanpa tatap muka dan dapat menimbulkan
kesalahpahaman, anonimitas negatif, serta perilaku impulsif.⁹ Etika Islam
memberikan penekanan pada ḥayā’ (rasa malu), sopan santun, dan
pengendalian diri, yang harus tetap diterapkan dalam ruang digital. Remaja MA
perlu memahami bahwa etika Islam mengikat seluruh bentuk komunikasi, termasuk
komentar, posting, atau chatting. Prinsip qawlan sadīdā
(perkataan yang benar), qawlan karīmā (perkataan mulia), dan qawlan
layyinan (perkataan lembut) tetap menjadi pedoman dalam interaksi daring.¹⁰
5.6.
Harmoni dalam Kerja Sama dan
Aktivitas Kelompok
Kerja sama merupakan bagian integral dalam
interaksi sebaya, baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Islam
mendorong kolaborasi dan sinergi dalam kebaikan.¹¹ Dalam aktivitas kelompok di
sekolah, prinsip keadilan, pembagian tugas yang seimbang, dan saling menghargai
ide menjadi bagian dari etika pergaulan yang sehat. Dengan demikian, pergaulan
sebaya dalam Islam mengajarkan remaja untuk menjadi individu yang kooperatif,
toleran, dan bertanggung jawab dalam setiap interaksi.
Relevansi
Etika Sebaya bagi Pembentukan Karakter Remaja
Pemahaman dan penerapan etika pergaulan dengan
sebaya berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter remaja. Interaksi
sebaya menjadi ruang latihan bagi remaja untuk menerapkan nilai empati,
komunikasi efektif, manajemen konflik, dan pengembangan kecerdasan emosional.¹²
Nilai-nilai ini selaras dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk
individu yang berakhlak mulia dan mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan
lingkungannya.
Footnotes
[1]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2019), 82–84.
[2]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 7:365–367.
[3]
Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār
Ibn Kathīr, 1987), 2:112.
[4]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut:
Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1990.
[5]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 48–50.
[6]
Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 2:925.
[7]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 57–59.
[8]
Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, 4:1986.
[9]
Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power
and Fragility of Networked Protest (New Haven: Yale University Press,
2017), 24–27.
[10]
Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam
al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 312–315.
[11]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 72–75.
[12]
Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New
York: Bantam Books, 1995), 103–107.
6.
Etika Bergaul dengan yang Lebih Tua
Bergaul dengan orang yang lebih tua merupakan salah
satu aspek penting dalam pembentukan karakter sosial seorang Muslim. Islam
memberikan perhatian besar terhadap penghormatan kepada generasi yang lebih dahulu,
baik dalam konteks keluarga, masyarakat, maupun institusi pendidikan. Nilai
dasar yang melandasi hubungan ini adalah iḥtirām (penghormatan), tawqīr
(pemuliaan), dan ta’zīm (pengagungan dalam batas sewajarnya).¹ Dalam
tradisi Islam, sikap kepada yang lebih tua bukan hanya sekadar etiket sosial,
tetapi merupakan bagian dari akhlak mulia yang mencerminkan kedalaman iman dan
kehalusan budi.²
6.1.
Landasan Qur’ani tentang
Penghormatan kepada yang Lebih Tua
Al-Qur’an memberikan pedoman sangat jelas terkait
adab kepada orang tua sebagai bentuk utama penghormatan kepada generasi
terdahulu. QS. al-Isrā’ [17] ayat 23–24 menekankan agar seorang Muslim tidak
berkata “uff” kepada orang tua, menunjukkan sikap rendah hati, dan
melaksanakan doa bagi mereka.³ Meskipun ayat ini merujuk secara khusus kepada
orang tua, para ulama menafsirkan bahwa prinsip kesantunan ini relevan
diterapkan kepada seluruh orang yang lebih tua, baik guru, kerabat, maupun
masyarakat umum.⁴ Penghormatan ini merupakan manifestasi dari keadaban Islam
yang menempatkan generasi tua sebagai sumber hikmah dan pengalaman.
6.2.
Teladan Nabi Saw dalam Memuliakan
yang Lebih Tua
Rasulullah Saw dikenal sebagai sosok yang sangat
menghormati orang yang lebih tua. Dalam salah satu hadisnya, beliau bersabda: “Tidak
termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan tidak
menyayangi yang lebih muda.”⁵ Hadis ini menegaskan dua prinsip besar:
penghormatan kepada yang lebih tua dan kasih sayang kepada yang lebih muda.
Dalam konteks etika bergaul, penghormatan kepada yang lebih tua mencakup sikap
sopan dalam berbicara, mendengarkan dengan baik, tidak memotong pembicaraan,
serta menempatkan mereka pada posisi terhormat dalam pertemuan.
Selain itu, Nabi Saw memberikan contoh bagaimana
menghargai pendapat para sesepuh dalam musyawarah. Dalam peristiwa Perjanjian
Ḥudaibiyyah atau perencanaan strategi perang, beliau tidak segan meminta
pendapat para sahabat senior, menunjukkan bahwa penghormatan kepada yang lebih
tua mencakup penghormatan terhadap keilmuan, pengalaman, dan kebijaksanaan.⁶
6.3.
Etika Berbicara dan Berinteraksi
dengan yang Lebih Tua
Etika komunikasi merupakan elemen penting dalam
bergaul dengan orang yang lebih tua. Islam menekankan penggunaan qawlan
karīmā (ucapan mulia), qawlan layyinan (ucapan lembut), dan qawlan
ma‘rūfā (ucapan yang pantas).⁷ Dalam tradisi adab Islam, seorang yang lebih
muda hendaknya berbicara dengan nada yang sopan, tidak meninggikan suara, tidak
memaksakan pendapat, dan menampilkan kesantunan tubuh seperti menundukkan
pandangan serta memperhatikan posisi duduk.⁸
Adab ini juga mencakup pemberian prioritas dalam
berjalan, duduk, serta memberikan penghormatan simbolis seperti memberi salam
terlebih dahulu. Kesantunan tersebut merupakan bagian dari penghormatan moral
yang membangun keharmonisan sosial dan memperkuat ikatan antargenerasi.
6.4.
Peran Guru, Ulama, dan Orang Tua
sebagai Sumber Hikmah
Dalam konteks pendidikan MA, guru menempati posisi
istimewa sebagai figur yang harus dihormati. Karya klasik seperti Ta‘līm
al-Muta‘allim menegaskan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada
penghormatan murid kepada gurunya.⁹ Penghormatan kepada ulama dan tokoh
masyarakat juga merupakan refleksi dari penghargaan terhadap warisan
intelektual dan spiritual umat Islam. Dengan menghormati orang yang lebih tua,
remaja belajar untuk menginternalisasi nilai-nilai kebijaksanaan, kesabaran,
dan kedisiplinan.
6.5.
Tantangan Kontemporer dalam Hubungan
Antargenerasi
Perubahan sosial akibat modernisasi dan
perkembangan teknologi digital sering kali memunculkan jarak antara generasi
muda dan tua. Sebagian remaja merasa lebih unggul secara teknologi, sementara
generasi lebih tua memiliki keterbatasan dalam dunia digital. Kondisi ini dapat
menimbulkan sikap meremehkan, impatien, atau bahkan konflik nilai.¹⁰ Islam
menawarkan prinsip keseimbangan antara penghormatan dan dialog, yaitu remaja
tetap menghormati yang lebih tua, tetapi juga mampu menjalin komunikasi yang
terbuka tanpa mengurangi adab.
Selain itu, budaya populer modern sering
mempromosikan sikap individualistik dan penolakan terhadap otoritas, yang dapat
memengaruhi sikap remaja terhadap orang yang lebih tua.¹¹ Karena itu,
pendidikan Akidah Akhlak perlu memperkuat nilai hormat kepada yang lebih tua
sebagai bagian dari pembangunan karakter.
Relevansi
Etika Ini dalam Pembelajaran MA
Untuk peserta didik MA, etika bergaul dengan yang
lebih tua memiliki relevansi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sikap hormat
kepada guru, orang tua, dan masyarakat sekitar mencerminkan integritas moral
seorang Muslim. Pemahaman ini tidak hanya berfungsi sebagai teori, tetapi juga
dapat dipraktikkan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan sikap. Dengan
menerapkan adab ini, peserta didik turut menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif dan penuh penghargaan.
Footnotes
[1]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 80–82.
[2]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Nature of Man
and the Psychology of the Human Soul (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990), 45–47.
[3]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 5:64–66.
[4]
Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
(Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 10:250–252.
[5]
Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār
al-Gharb al-Islāmī, 1998), 4:322.
[6]
Ibn Hishām, Sīrah al-Nabawiyyah (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, 2004), 2:312–318.
[7]
Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam
al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 310–316.
[8]
Al-Nawawī, Al-Adhkār (Beirut: Dār al-Fikr,
2001), 112–114.
[9]
Al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq
al-Ta‘allum (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), 15–17.
[10]
Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The
Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 89–92.
[11]
Jean Twenge, iGen (New York: Atria Books,
2017), 120–124.
7.
Etika Bergaul dengan yang Lebih Muda
Etika bergaul dengan yang lebih muda merupakan
bagian penting dari ajaran Islam yang menekankan nilai kasih sayang (raḥmah),
keteladanan (uswah), serta tanggung jawab moral untuk membimbing
generasi setelahnya. Hubungan antargenerasi dalam tradisi Islam tidak dibangun
atas dasar dominasi atau superioritas, tetapi atas dasar kepedulian,
pendidikan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.¹ Dalam konteks Madrasah
Aliyah (MA), etika pergaulan ini sangat relevan karena peserta didik sering
berinteraksi dengan adik kelas, anak-anak, serta generasi lebih muda di
lingkungan keluarga dan masyarakat.
7.1.
Prinsip Kasih Sayang sebagai Fondasi
Utama
Kasih sayang merupakan inti dari etika berinteraksi
dengan yang lebih muda. Dalam banyak hadis, Rasulullah Saw memberikan teladan
bagaimana seorang Muslim seharusnya memperlakukan generasi muda dengan
kelembutan dan perhatian. Beliau bersabda: “Tidak termasuk golongan kami
orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih
tua.”² Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang dan penghormatan adalah dua
pilar etika sosial yang tidak dapat dipisahkan. Sikap keras, kasar, atau
meremehkan terhadap yang lebih muda bertentangan dengan nilai-nilai rahmat yang
menjadi karakter utama Rasulullah Saw.
7.2.
Keteladanan sebagai Metode
Pendidikan Moral
Dalam perspektif Islam, memberikan keteladanan (uswah
ḥasanah) memiliki kedudukan penting dalam membimbing yang lebih muda.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik dalam akhlak,
kesabaran, dan interaksi sosial.³ Keteladanan mencakup tutur kata yang baik,
sikap sabar, dan perilaku konsisten antara ucapan dan tindakan. Para pemikir
moral Islam seperti al-Ghazālī dan Ibn Miskawayh menekankan bahwa akhlak tidak
hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi melalui pembiasaan yang dimulai dari
teladan nyata.⁴
Dalam konteks pergaulan, keteladanan berarti bahwa
seorang yang lebih tua hendaknya menjaga adab sehingga dapat menjadi contoh
bagi generasi muda. Ketika remaja MA mampu menampilkan karakter yang santun,
jujur, dan bertanggung jawab, mereka menjadi model moral yang ikut membentuk
perilaku adik kelas atau anak-anak di sekitarnya.
7.3.
Bimbingan dan Pendidikan Sosial
Salah satu tanggung jawab moral terhadap yang lebih
muda adalah mendidik dan membimbing mereka menuju kebaikan. Proses bimbingan
ini dapat dilakukan melalui nasihat yang lembut, ajakan kepada aktivitas
positif, serta pendampingan dalam menghindari tindakan yang tidak sesuai etika
Islam.⁵
Dalam konteks sosial sekolah, peserta didik kelas
atas dapat berperan sebagai mentor informal bagi adik-adik kelas, membantu
mereka memahami aturan sekolah, menghindari pergaulan yang buruk, dan
beradaptasi dengan lingkungan baru. Bimbingan seperti ini mencerminkan nilai
pendidikan akhlak yang bersifat praktis dan kontekstual.
7.4.
Menghindari Sikap Otoriter dan
Meremehkan
Etika Islam menolak bentuk dominasi negatif
terhadap generasi muda. Bersikap kasar, meremehkan, atau memperlakukan mereka sebagai
pihak yang tidak penting bertentangan dengan prinsip akhlak Rasulullah Saw.
Ibnu Ḥazm dalam Akhlāq wa al-Siyar menegaskan pentingnya memperlakukan
semua manusia secara adil, termasuk yang lebih muda, dan menghindari perlakuan
yang dapat menyakiti martabat mereka.⁶ Sikap otoriter juga tidak efektif dalam
membangun kedekatan emosional, dan dapat menyebabkan resistensi dari pihak yang
lebih muda.
Sebaliknya, Islam mengajarkan pendekatan dialogis,
komunikatif, dan penuh empati. Pendekatan ini dapat membangun kepercayaan
antara generasi serta menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan kondusif
bagi perkembangan akhlak.
7.5.
Penguatan Rasa Percaya Diri dan
Kemandirian
Salah satu nilai penting dalam berinteraksi dengan
yang lebih muda adalah mendukung mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang
percaya diri, mandiri, dan berani mengemukakan pendapat. Dalam pandangan
al-Rūmī, pendidikan moral tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga
membangkitkan potensi batin yang ada dalam diri seseorang.⁷ Melalui dorongan positif
dan penghargaan, generasi yang lebih tua dapat membantu generasi muda menemukan
kapasitas terbaik mereka.
Dalam kegiatan sekolah, dukungan ini dapat berupa
memberikan kesempatan kepada adik kelas untuk berpartisipasi dalam organisasi,
proyek kelompok, atau kegiatan ekstrakurikuler yang membangun kemandirian
mereka.
7.6.
Memahami Kebutuhan Perkembangan
Psikologis Generasi Muda
Interaksi yang baik dengan yang lebih muda
membutuhkan pemahaman tentang tahap perkembangan psikologis mereka. Pemikir
kontemporer seperti Daniel Goleman menekankan pentingnya kecerdasan emosional
dalam membangun hubungan sosial yang sehat.⁸ Dengan memahami perasaan,
kesulitan, dan kebutuhan generasi muda, individu yang lebih tua dapat
memberikan dukungan emosional yang tepat, sekaligus membimbing mereka agar
mampu mengelola emosi secara Islami.
7.7.
Tantangan Modern dalam Pendampingan
Generasi Muda
Di era digital, generasi muda mengalami perubahan
besar dalam pola komunikasi dan hubungan sosial. Paparan media sosial dapat
memengaruhi cara mereka berinteraksi dan memahami diri. Hal ini menuntut
generasi yang lebih tua untuk memberikan bimbingan yang relevan dengan kondisi
kontemporer, seperti penggunaan media sosial secara etis, menghindari konten
negatif, dan membangun identitas digital yang sehat.⁹
Islam memberikan prinsip-prinsip dasar yang tetap
relevan, seperti menjaga lisan, menghindari ghibah, serta menahan diri dari
perilaku impulsif. Prinsip-prinsip ini menjadi dasar dalam mendidik generasi
muda menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi.
Relevansi
Etika Ini bagi Pembentukan Karakter di MA
Bagi siswa MA, etika bergaul dengan yang lebih muda
berperan penting dalam pembentukan karakter. Interaksi positif antara siswa
senior dan junior menciptakan budaya sekolah yang penuh hormat, empati, dan
kerja sama. Nilai-nilai ini tidak hanya memperkuat struktur sosial sekolah,
tetapi juga membiasakan siswa untuk menjadi individu yang peduli dan
bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, etika bergaul dengan yang lebih
muda bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga sebuah langkah penting dalam
membentuk masyarakat yang beradab sesuai ajaran Islam.
Footnotes
[1]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 85–87.
[2]
Al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī (Beirut: Dār
al-Gharb al-Islāmī, 1998), 4:322.
[3]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:394–396.
[4]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 52–55.
[5]
Al-Nawawī, Riāḍ al-Ṣāliḥīn (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, 2004), 1:72–74.
[6]
Ibn Ḥazm, Akhlāq wa al-Siyar, ed. Ḥusayn
Munāsar (Beirut: Dār al-Jīl, 1981), 40–42.
[7]
Jalāl al-Dīn al-Rūmī, Mathnawī, ed. Reynold
A. Nicholson (London: E.J.W. Gibb Memorial Trust, 1925), 1:112–115.
[8]
Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New
York: Bantam Books, 1995), 128–131.
[9]
Sherry Turkle, Reclaiming Conversation: The
Power of Talk in a Digital Age (New York: Penguin Press, 2015), 102–105.
8.
Etika Bergaul dengan Lawan Jenis
Etika bergaul dengan lawan jenis merupakan salah
satu aspek penting dalam ajaran Islam yang bertujuan menjaga kehormatan (‘ird),
kesucian diri (‘iffah), dan keamanan sosial. Interaksi antara laki-laki
dan perempuan bukanlah sesuatu yang dilarang secara mutlak dalam Islam, tetapi
harus diatur dengan tata adab tertentu agar tidak menimbulkan fitnah,
pelanggaran moral, dan penyimpangan perilaku.¹ Dalam konteks peserta didik
Madrasah Aliyah (MA), pemahaman mendalam tentang etika ini menjadi semakin
penting mengingat remaja berada pada fase perkembangan pubertas dan pencarian
identitas, yang rentan terhadap pengaruh lingkungan dan dinamika sosial modern.
8.1.
Prinsip Dasar: Kehormatan dan
Kesucian Diri
Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk
menjaga pandangan (ghaḍḍ al-baṣar) serta memelihara kesucian diri
sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Nūr [24] ayat 30–31.² Perintah menjaga
pandangan bukan hanya terkait dengan menghindari pandangan yang tidak pantas,
tetapi juga menjaga pikiran, imajinasi, dan interaksi dari kecenderungan yang
dapat menjerumuskan ke perilaku tidak etis. Prinsip ‘iffah (kesucian
diri) ditekankan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah sebagai benteng moral yang
mencegah seseorang dari tindakan yang merusak integritas spiritual dan
sosialnya.³
8.2.
Batasan Interaksi dalam Perspektif
Hadis
Hadis Nabi Saw memberikan pedoman jelas mengenai
batas interaksi antara laki-laki dan perempuan. Salah satu prinsip penting
adalah larangan khalwat (berdua-duaan tanpa mahram), sebagaimana sabda Nabi Saw:
“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali yang
ketiganya adalah setan.”⁴ Hadis ini menegaskan risiko psikologis dan sosial
dari interaksi yang tidak terkontrol.
Namun, interaksi yang dibutuhkan untuk pendidikan,
kerja sama, atau keperluan sosial tetap diperbolehkan selama dilakukan dalam
batas kesopanan, tanpa ikhtilāṭ (percampuran bebas tanpa adab), serta menjaga
norma dan etika Islam.⁵ Dengan demikian, Islam tidak menutup pintu interaksi,
tetapi memberikan rambu-rambu untuk menjaga kehormatan kedua belah pihak.
8.3.
Adab Komunikasi: Kesopanan dan
Profesionalisme
Etika komunikasi antara lawan jenis dalam Islam
mencakup prinsip kesopanan (ḥayā’), kejelasan maksud, dan
profesionalisme. QS. al-Aḥzāb [33] ayat 32 memperingatkan agar para perempuan
tidak berbicara dengan suara yang dilembutkan secara berlebihan sehingga
menimbulkan kesalahpahaman, tetapi tetap menggunakan ucapan yang baik dan sopan
(qawlan ma‘rūfā).⁶ Para ulama menafsirkan bahwa prinsip ini berlaku
untuk kedua gender: komunikasi harus jelas, tidak menggoda, tidak mendua makna,
dan tidak mengandung unsur manipulatif atau romantis yang tidak dibenarkan.
Dalam konteks lingkungan sekolah, interaksi antara
siswa laki-laki dan perempuan hendaknya dilakukan dengan sopan, tidak saling
menggoda, dan memegang prinsip kerja sama yang profesional. Sikap berlebihan
dalam bercanda, godaan verbal, atau komentar yang menjurus kepada pelecehan
merupakan bentuk pelanggaran etika dalam Islam.
8.4.
Pengendalian Emosi dan Batas
Pergaulan
Remaja seringkali mengalami intensitas emosi yang
kuat, termasuk ketertarikan terhadap lawan jenis. Islam memberikan panduan bagi
remaja untuk mengelola kecenderungan ini melalui pendidikan karakter, puasa
sebagai metode pengendalian diri, serta fokus pada aktivitas positif.⁷
Rasulullah Saw menganjurkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa
karena dapat menjadi pelindung dari dorongan seksual.⁸ Prinsip ini menegaskan
bahwa pengendalian diri merupakan strategi utama dalam menjaga kehormatan.
Batas pergaulan juga mencakup menjaga jarak fisik,
menghindari sentuhan yang tidak etis, serta menghindari situasi yang dapat
memicu fitnah. Dalam pandangan al-Ghazālī, segala sesuatu yang dapat
menimbulkan syahwat atau mengarah pada pelanggaran moral hendaknya dihindari
demi menjaga kebersihan hati dan stabilitas sosial.⁹
8.5.
Kolaborasi dan Interaksi Sehat dalam
Lingkungan Pendidikan
Dalam dunia pendidikan modern, kolaborasi antara
laki-laki dan perempuan tidak dapat dihindari. Islam memberikan ruang bagi
kerja sama ini selama dilakukan dalam koridor adab dan profesionalisme.
Interaksi dalam kegiatan belajar, proyek kelompok, organisasi siswa, dan kerja
sama akademik diperbolehkan dan bahkan dapat memberikan manfaat besar bagi
pengembangan kompetensi sosial dan intelektual peserta didik.¹⁰
Sekolah dapat menanamkan nilai etika pergaulan
lawan jenis melalui pembiasaan, regulasi yang jelas, dan pendidikan karakter.
Lingkungan yang beradab dan terarah akan membantu remaja membangun interaksi
yang sehat, harmonis, dan produktif.
8.6.
Tantangan Modern: Media Sosial dan
Pergaulan Bebas
Era digital menghadirkan tantangan baru dalam
pergaulan lawan jenis. Kontak melalui media sosial, pesan pribadi, dan
interaksi virtual sering kali dilakukan tanpa pengawasan dan dapat mengarah
pada perilaku tidak etis seperti sexting, flirting berlebihan, atau hubungan
asmara yang tidak sesuai ajaran Islam.¹¹
Islam memberikan pedoman agar setiap Muslim menjaga
kehormatan, baik dalam dunia nyata maupun digital. Prinsip qawlan sadīdā
(ucapan yang benar), ḥayā’, dan pengendalian diri tetap berlaku dalam
ruang virtual. Pemahaman ini perlu ditekankan kepada remaja MA sebagai bagian
dari pendidikan akhlak digital yang komprehensif.
Relevansi
Etika Ini bagi Pembentukan Karakter Remaja MA
Etika bergaul dengan lawan jenis memiliki peran
besar dalam pembentukan moral remaja. Etika ini membantu remaja memahami
batas-batas syar‘i, membentuk karakter yang bertanggung jawab, dan menjaga
hubungan sosial yang sehat. Dengan menerapkannya, remaja dapat menghindari
pergaulan bebas, pelecehan, serta tindakan impulsif yang dapat merugikan diri
sendiri dan orang lain.
Penerapan etika ini di MA juga dapat membentuk
lingkungan belajar yang aman, produktif, dan beradab, sesuai dengan tujuan
pendidikan Islam: membangun generasi yang menjaga kehormatan, memiliki
integritas moral, dan mampu menjadi agen kebaikan dalam masyarakat.
Footnotes
[1]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 98–100.
[2]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:45–48.
[3]
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Rawḍat al-Muḥibbīn
(Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2004), 215–218.
[4]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut:
Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1713.
[5]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 67–69.
[6]
Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
(Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964), 14:177–179.
[7]
Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār
al-Ma‘ārif, 1987), 9:112–115.
[8]
Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Beirut: Dār
Ibn Kathīr, 1987), 3:109.
[9]
Al-Ghazālī, Iḥyā’, 99–100.
[10]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago:
University of Chicago Press, 1982), 34–36.
[11]
Sherry Turkle, Alone Together (New York:
Basic Books, 2011), 204–210.
9.
Analisis Filsafat Moral Islam terhadap Etika
Bergaul
Analisis filsafat moral Islam terhadap etika
bergaul memberikan kerangka yang lebih mendalam dan reflektif dalam memahami
hubungan sosial manusia. Etika pergaulan tidak hanya dipandang sebagai
seperangkat aturan praktis, tetapi sebagai ekspresi dari nilai-nilai ontologis,
epistemologis, dan aksiologis yang membentuk moralitas Islam. Kajian ini
memungkinkan peserta didik Madrasah Aliyah (MA) untuk memahami dimensi
konseptual dari adab bergaul, sehingga etika tidak sekadar dipraktikkan sebagai
kebiasaan, tetapi juga disadari secara rasional dan spiritual.¹
9.1.
Dimensi Ontologis: Hakikat Manusia
sebagai Makhluk Bermoral dan Sosial
Dalam filsafat moral Islam, manusia dipandang
sebagai makhluk yang memiliki potensi bawaan berupa akal (‘aql), hati (qalb),
dan jiwa (nafs) yang dapat diarahkan menuju kebaikan atau keburukan. Ibn
Sīnā menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki kemampuan
untuk membedakan tindakan yang mendekatkan dan menjauhkan dari kesempurnaan
moral.² Selain itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan
martabat (karāmah insāniyyah) dan dijadikan khalifah di bumi, tugas yang
menuntut kemampuan membangun relasi sosial yang harmonis.³
Dari perspektif ontologis, etika pergaulan
merupakan implikasi dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak
dapat mencapai kesempurnaan moral secara individu; ia memerlukan interaksi
dengan orang lain. Al-Fārābī menyatakan bahwa masyarakat adalah sarana bagi
manusia untuk mencapai kebahagiaan tertinggi.⁴ Oleh karena itu, etika bergaul
merupakan bagian integral dari eksistensi manusia.
9.2.
Dimensi Epistemologis: Sumber
Pengetahuan Etika dalam Islam
Sumber epistemologis etika dalam Islam berasal dari
wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), akal, serta pengalaman sosial manusia. Al-Ghazālī
menekankan bahwa akhlak mulia tidak semata-mata diambil dari teks, tetapi juga
dipahami melalui tajrībah (pengalaman) dan penyaksian batin.⁵ Dalam
filsafat moral, etika pergaulan bersumber dari:
·
Wahyu, yang
memberikan prinsip-prinsip normatif seperti kesopanan, menjaga pandangan, kasih
sayang, dan keadilan;
·
Akal, yang
berfungsi mengolah, menafsirkan, dan mengontekstualisasikan prinsip tersebut
dalam kehidupan sosial;
·
Pengalaman sosial, yang
membantu manusia memahami situasi dan menyesuaikan adab sesuai konteks.
Pendekatan epistemologis ini menjelaskan bahwa
etika bergaul tidak bersifat kaku; ia bersifat adaptif dan kontekstual selama
tidak melanggar prinsip dasar syariat.
9.3.
Dimensi Aksiologis: Tujuan Moral dari
Etika Pergaulan
Dari sisi aksiologi, tujuan etika pergaulan dalam
Islam adalah mewujudkan kemaslahatan (maṣlaḥah), harmoni sosial, dan
penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs). Jasser Auda menjelaskan bahwa salah
satu maqasid syariah adalah menjaga kehormatan (ḥifẓ al-‘ird) dan
memperkuat stabilitas sosial.⁶ Etika bergaul dengan sebaya, yang lebih tua,
yang lebih muda, dan lawan jenis harus mengarah pada tercapainya kebaikan
bersama, bukan sekadar kepentingan individu.
Dalam pandangan Ibn Miskawayh, tujuan akhlak adalah
mencapai kebahagiaan (sa‘ādah) melalui keseimbangan antara potensi jiwa
dan tindakan moral.⁷ Ketika seseorang mampu mengatur hubungan sosial dengan
baik, ia sedang menapaki jalan penyempurnaan moral yang menjadi tujuan akhir
pendidikan akhlak.
9.4.
Integrasi Teks dan Rasionalitas
dalam Praktik Etika
Filsafat moral Islam menolak dikotomi antara wahyu
dan akal. Keduanya berjalan selaras untuk memandu perilaku manusia. Relasi ini
tampak dalam penerapan etika bergaul: teks memberikan batasan normatif, sementara
akal memberikan konteks dan kebijaksanaan. Ibn Rushd dalam Faṣl al-Maqāl
menegaskan bahwa kebenaran wahyu dan kebenaran filosofis saling melengkapi.⁸
Dalam kehidupan sehari-hari, integrasi ini
tercermin dalam kemampuan seorang pelajar untuk memahami alasan rasional di
balik setiap adab. Misalnya, larangan khalwat dengan lawan jenis tidak hanya
dipahami sebagai aturan religius, tetapi juga tindakan preventif yang memiliki
landasan psikologis dan sosial.
9.5.
Etika Pergaulan sebagai Upaya
Moderasi dan Keseimbangan
Etika Islam menjunjung nilai moderasi (wasaṭiyyah)
dalam bergaul. Moderasi berarti tidak berlebihan dalam membatasi interaksi,
tetapi juga tidak menjadi permisif terhadap pergaulan bebas.⁹ Moderasi ini
menuntut kesadaran diri, pengendalian emosi, serta kemampuan mempertimbangkan
dimensi sosial dan agama secara seimbang.
Moderasi juga tercermin dalam cara menghargai
perbedaan, menghindari sikap eksklusif, dan membuka ruang dialog antarindividu.
Etika pergaulan dalam Islam, dengan demikian, mempromosikan hubungan yang
sehat, inklusif, tetapi tetap berakar pada nilai akhlak mulia.
9.6.
Kontekstualisasi Etika Pergaulan di
Era Kontemporer
Perubahan sosial, globalisasi, dan perkembangan
teknologi digital memunculkan tantangan baru dalam relasi sosial remaja. Filsafat
moral Islam memberikan kerangka adaptif yang memungkinkan etika pergaulan
dikontekstualisasikan tanpa meninggalkan prinsip dasar syariat.¹⁰
Misalnya:
·
Prinsip menjaga lisan dan kehormatan tetap berlaku dalam komunikasi
digital (media sosial, pesan pribadi, komentar daring).
·
Prinsip menjaga batas interaksi gender tetap relevan dalam pertemuan
virtual atau kerja kelompok daring.
·
Prinsip saling menasihati tetap dapat diterapkan melalui diskusi
kelompok, forum online, atau komunitas belajar.
Dengan demikian, filsafat moral Islam memberikan
kemampuan reflektif bagi remaja untuk menghadapi dinamika sosial modern secara
bijaksana.
Kesimpulan
Analitis
Analisis filsafat moral Islam menunjukkan bahwa
etika bergaul bukan hanya sekadar aturan sosial, tetapi bagian integral dari
pendidikan moral manusia. Melalui dimensi ontologis, epistemologis, dan
aksiologis, etika bergaul dipahami sebagai upaya mencapai kesempurnaan jiwa,
menciptakan masyarakat harmonis, serta menjaga kehormatan individu.
Pendekatan filosofis ini memberikan kedalaman dan
makna bagi siswa MA untuk memahami bahwa adab pergaulan adalah bagian dari
proyek besar pembentukan manusia yang berakhlak mulia.
Footnotes
[1]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to
the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 78–81.
[2]
Ibn Sīnā, Al-Najāt (Cairo: Dār al-Ma‘ārif,
1938), 215–218.
[3]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 17–19.
[4]
Al-Fārābī, Ara’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah
(Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1968), 42–45.
[5]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 101–103.
[6]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 65–68.
[7]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 38–41.
[8]
Ibn Rushd, Faṣl al-Maqāl (Beirut: Dār
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), 32–34.
[9]
Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah
al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.
[10]
Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an (New
York: Oxford University Press, 2011), 122–124.
10.
Implikasi Pedagogis bagi Pembelajaran Akidah
Akhlak di MA
Pembahasan mengenai etika bergaul dalam Islam
memiliki relevansi yang kuat dalam konteks pedagogis, khususnya dalam pembelajaran
Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA). Etika pergaulan bukan sekadar
pengetahuan normatif yang harus dihafalkan, tetapi merupakan pengalaman hidup
yang perlu diinternalisasi melalui proses pendidikan yang terstruktur,
kontekstual, dan transformatif.¹ Oleh karena itu, implementasi pedagogis materi
ini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya kognitif, tetapi juga afektif dan
psikomotorik.
10.1.
Integrasi Nilai Etika Pergaulan
dalam Kurikulum Akidah Akhlak
Integrasi etika pergaulan dalam kurikulum Akidah
Akhlak mengharuskan guru untuk mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa.
Kurikulum tidak cukup hanya memuat konsep adab bergaul, tetapi harus memberikan
kesempatan bagi siswa untuk memahami makna, tujuan, dan manfaat etika tersebut
dalam kehidupan mereka.² Materi tentang adab bergaul dengan sebaya, yang lebih
tua, yang lebih muda, dan lawan jenis dapat dikaitkan dengan ayat-ayat
Al-Qur’an, hadis, pemikiran ulama, serta fenomena sosial kontemporer di
lingkungan sekolah dan masyarakat.
Integrasi ini juga mencakup penyesuaian RPP
(Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan modul pengajaran agar selaras dengan
nilai-nilai Qur’ani dan tujuan pembentukan akhlak mulia.
10.2.
Pendekatan Pembelajaran Berbasis
Keteladanan (Uswah Hasanah)
Salah satu prinsip utama dalam pendidikan Islam
adalah keteladanan guru. Al-Ghazālī menekankan bahwa akhlak peserta didik
banyak dipengaruhi oleh perilaku pendidiknya, sehingga guru memiliki peran
sentral sebagai model moral.³ Dalam konteks etika pergaulan, guru harus
menunjukkan sikap sopan, empati, dan kesantunan dalam interaksi dengan siswa,
rekan guru, dan lingkungan sekolah.
Keteladanan guru yang konsisten akan mempermudah
internalisasi nilai-nilai etika dalam diri siswa karena mereka melihat contoh
langsung, bukan hanya mendengar teori.
10.3.
Pembelajaran Berbasis Kasus dan
Analisis Situasi (Case-Based Learning)
Untuk membantu siswa memahami penerapan etika
pergaulan dalam konteks nyata, pembelajaran berbasis kasus sangat efektif.
Pendekatan ini melibatkan siswa dalam menganalisis situasi nyata seperti
konflik antar teman, pergaulan bebas, penyalahgunaan media sosial, atau
ketidaksopanan kepada guru.⁴
Melalui diskusi kasus, siswa belajar menilai
tindakan berdasarkan prinsip Islam, mengidentifikasi alternatif solusi, dan
memahami konsekuensi moral dan sosial dari setiap keputusan. Model ini
mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan moral siswa.
10.4.
Praktik Pembiasaan dan Pembelajaran
Berbasis Keteladanan Sosial
Konsep ta‘wīd (pembiasaan) merupakan metode
efektif dalam pendidikan akhlak. Ibn Miskawayh menegaskan bahwa kebiasaan baik
akan membentuk sifat yang baik, sehingga akhlak dapat dilatih melalui
pengulangan perilaku positif.⁵
Di MA, pembiasaan dapat dilakukan melalui:
·
budaya salam dan senyum,
·
pembiasaan antre dan sopan dalam berbicara,
·
program mentoring sebaya,
·
kegiatan bakti sosial dan kerja kelompok yang menumbuhkan empati dan
kerja sama.
Pembiasaan ini menempatkan siswa dalam lingkungan
yang mendukung penerapan etika pergaulan secara langsung dan konsisten.
10.5.
Pembelajaran Kolaboratif dan
Pengembangan Keterampilan Sosial
Etika pergaulan tidak dapat dipisahkan dari
kemampuan sosial. Pembelajaran kolaboratif (cooperative learning) memungkinkan
siswa berinteraksi dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah atau mengerjakan
proyek bersama.⁶
Dalam kerja kelompok, siswa belajar:
·
menghargai pendapat orang lain,
·
berkomunikasi dengan baik,
·
menyelesaikan konflik secara adil,
·
memikul tanggung jawab bersama.
Model pembelajaran ini sejalan dengan tujuan etika
Islam yang menekankan solidaritas, musyawarah, dan saling menolong.
10.6.
Penguatan Pendidikan Karakter
Berbasis Nilai Islam
Etika pergaulan merupakan salah satu elemen inti
dari pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, kesopanan, dan
tanggung jawab perlu diperkuat melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler,
dan ekstrakurikuler.⁷
Penguatan karakter dapat dilakukan melalui:
·
kegiatan OSIS dan organisasi keagamaan,
·
program “sahabat Qur’an”,
·
kegiatan rohani (Rohis),
·
forum diskusi remaja Islam,
·
kegiatan pembiasaan ibadah harian.
Pendekatan ini memastikan bahwa nilai etika tidak
hanya dipelajari, tetapi juga diamalkan dalam keseharian siswa.
10.7.
Evaluasi Holistik: Kognitif,
Afektif, dan Psikomotorik
Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, evaluasi tidak
boleh hanya mengukur aspek pengetahuan. Guru juga perlu menilai aspek sikap dan
keterampilan sosial siswa.⁸
Evaluasi dapat mencakup:
·
observasi sikap siswa dalam interaksi,
·
self-assessment tentang akhlak pribadi,
·
portofolio perilaku sosial,
·
penilaian proyek tentang resolusi konflik atau etika digital.
Pendekatan holistik ini mencerminkan konsep tarbiyah
dalam Islam, yaitu pendidikan yang menyeluruh dan seimbang.
10.8.
Penguatan Literasi Digital dan Etika
Bermedia
Perkembangan teknologi membuat remaja berinteraksi
tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Oleh karena itu, guru
perlu mengajarkan etika berkomunikasi di media sosial, termasuk cara
menghindari ghibah digital, hoaks, perundungan daring, dan konten tidak etis.⁹
Literasi digital berbasis nilai Islam memberi siswa
kemampuan untuk mengontrol diri, menjaga kehormatan, dan berinteraksi secara
etis di dunia maya.
10.9.
Peran Sekolah sebagai Komunitas
Berakhlak
Institusi pendidikan berperan penting dalam
menciptakan ekosistem sosial yang mendukung pembelajaran akhlak. Sekolah yang
menekankan budaya saling menghormati, kesantunan, kerja sama, dan kepedulian
akan membantu siswa menginternalisasi etika pergaulan.¹⁰
Lingkungan sekolah yang kondusif memperkuat nilai:
·
disiplin,
·
empati,
·
tanggung jawab,
·
toleransi,
·
penghormatan antargenerasi.
Kesimpulan
Implikatif
Implikasi pedagogis etika bergaul dalam Islam
menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak tidak dapat dipisahkan dari
pengembangan karakter. Pendidikan harus mengintegrasikan keteladanan,
pembiasaan, kolaborasi, penanaman nilai, dan literasi digital untuk membentuk
generasi yang beradab.
Pendekatan komprehensif ini menjadikan materi etika
pergaulan bukan hanya ilmu, tetapi pengalaman sosial yang membentuk identitas
moral peserta didik MA.
Footnotes
[1]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2019), 102–104.
[2]
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), 134–136.
[3]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 150–152.
[4]
Thomas Lickona, Educating for Character (New
York: Bantam Books, 1991), 85–88.
[5]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 62–64.
[6]
Spencer Kagan, Cooperative Learning (San
Clemente: Kagan Publishing, 1992), 12–14.
[7]
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter
(Jakarta: Kencana, 2012), 44–47.
[8]
Bloom, Benjamin S., Taxonomy of Educational
Objectives (New York: David McKay Company, 1956), 201–203.
[9]
Sherry Turkle, Reclaiming Conversation (New
York: Penguin Press, 2015), 120–123.
[10]
Paulo Freire, Pedagogy of the Heart (New
York: Continuum, 1997), 56–58.
11.
Isu-Isu Kontemporer dalam Etika Pergaulan
Remaja
Dinamika kehidupan sosial remaja pada era
kontemporer mengalami transformasi besar akibat kemajuan teknologi, perubahan
nilai sosial, dan globalisasi budaya. Transformasi ini memunculkan
tantangan-tantangan baru terhadap etika pergaulan yang sebelumnya tidak
ditemukan dalam konteks tradisional.¹ Bagi peserta didik Madrasah Aliyah (MA),
isu-isu tersebut menuntut pemahaman mendalam agar nilai-nilai etika Islam dapat
tetap dijaga di tengah perubahan yang cepat.
Pembahasan berikut menguraikan isu-isu utama yang
memengaruhi etika pergaulan remaja masa kini serta relevansinya dengan ajaran
Islam.
11.1.
Pengaruh Media Sosial dan Budaya
Digital
Media sosial telah mengubah cara remaja
berinteraksi, berkomunikasi, dan membangun identitas diri. Remaja kini banyak
menjalin relasi secara virtual, bahkan lebih sering dibandingkan interaksi
langsung.² Meski membuka peluang positif seperti kolaborasi dan akses
informasi, media sosial juga menghadirkan tantangan etis:
·
Cyberbullying, ejekan,
dan penghinaan digital;
·
penyebaran hoaks dan ghibah digital;
·
pencitraan palsu dan tekanan sosial (social comparison);
·
paparan konten tidak pantas;
·
ketergantungan digital yang mengurangi interaksi nyata.³
Dalam Islam, lisan dan tulisan sama-sama terikat
oleh etika. Prinsip qawlan sadīdā (ucapan benar), ḥayā’
(kesopanan), dan amanah harus diterapkan dalam setiap aktivitas
digital.⁴
11.2.
Pergaulan Bebas dan Krisis Batas
Interaksi Gender
Salah satu isu menonjol adalah meningkatnya
pergaulan bebas di kalangan remaja. Normalisasi hubungan romantis pranikah,
interaksi fisik tanpa batas, dan konsumsi konten seksual menjadi tantangan
besar terhadap etika Islam.⁵
Dalam perspektif Islam, interaksi gender harus
dilakukan dengan kesopanan, menjaga pandangan, dan menghindari situasi yang
menimbulkan fitnah.⁶ Namun dalam budaya modern, pergaulan tanpa batas sering
dianggap bagian dari kebebasan individu. Akibatnya, banyak remaja mengalami
krisis identitas, kerentanan psikologis, dan risiko kesehatan reproduksi.
Pendidikan akhlak di MA perlu memberikan pemahaman
komprehensif tentang batas syar‘i dan risiko moral-sosial dari pergaulan bebas.
11.3.
Fenomena Pacaran, Flirting, dan
Komunikasi Intensif Melalui Gawai
Pacaran kini sering dianggap sebagai hal yang
lumrah bagi remaja, meskipun tidak sejalan dengan prinsip kesucian hubungan
dalam Islam. Komunikasi intensif melalui pesan instan, flirting, dan
percakapan emosional privat dapat mengarah pada kedekatan yang tidak sehat dan
rentan pelanggaran etika.⁷
Islam tidak menolak interaksi gender, tetapi
mengaturnya agar menjaga martabat dan kehormatan.⁸ Oleh karena itu, pendidikan
perlu menanamkan kesadaran tentang bagaimana mengelola emosi, batas komunikasi,
dan pentingnya menjaga niat serta integritas diri.
11.4.
Budaya “Viral,” Ekspresi Diri
Berlebihan, dan Pencarian Popularitas
Remaja hidup dalam budaya “viral,” yaitu
kecenderungan untuk mengekspresikan diri secara berlebihan demi mendapatkan
pengakuan publik. Fenomena ini mendorong tindakan yang impulsif, sensasional,
dan kadang merugikan diri atau orang lain.⁹
Dari perspektif etika Islam, pencarian popularitas
yang berlebihan bertentangan dengan prinsip keikhlasan dan kesederhanaan.¹⁰
Remaja perlu dididik untuk memproduksi konten yang bermanfaat, sopan, dan tidak
melanggar kehormatan orang lain.
11.5.
Krisis Empati dan Individualisme
Modern
Globalisasi budaya dan perkembangan teknologi telah
mendorong pola hidup yang lebih individualistik. Remaja cenderung lebih fokus
pada dunia digitalnya sendiri sehingga sensitifitas terhadap perasaan orang
lain menurun.¹¹
Islam sangat menekankan empati, kasih sayang, dan
solidaritas sosial. Hilangnya empati dapat berdampak pada meningkatnya konflik,
isolasi sosial, dan kurangnya kepedulian dalam bergaul. Pendidikan Akidah
Akhlak harus memperkuat nilai empati melalui kegiatan sosial, kerja kelompok,
dan latihan manajemen emosi.
11.6.
Kekerasan Verbal dan Non-Verbal
dalam Interaksi Remaja
Kekerasan verbal seperti hinaan, makian, dan
sindiran kini sering dianggap wajar dalam komunikasi remaja, terutama di media
sosial.¹² Kekerasan non-verbal seperti pengucilan, intimidasi, dan perundungan
juga banyak terjadi di sekolah.
Islam menegaskan bahwa seorang Muslim dilarang
menyakiti orang lain melalui lisan maupun tindakan.¹³ Karena itu, penguatan
karakter dan regulasi sekolah diperlukan untuk mencegah perilaku agresif dan
membangun budaya pergaulan yang aman.
11.7.
Tantangan Identitas dan Krisis
Kepercayaan Diri
Remaja masa kini menghadapi beban identitas yang
besar akibat tekanan sosial, kecantikan dalam standar media, dan tuntutan
pencapaian.¹⁴ Krisis identitas dapat membuat remaja mencari pengakuan di tempat
yang salah, termasuk melalui pergaulan yang buruk.
Islam memandang bahwa setiap individu memiliki
martabat dan keunikan tersendiri, sehingga kepercayaan diri harus dibangun
berdasarkan nilai ketakwaan dan kualitas moral, bukan validasi eksternal.¹⁵
11.8.
Pengaruh Budaya Pop dan Normalisasi
Perilaku Tidak Etis
Musik, film, game, dan selebritas sering
menampilkan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai Islam: gaya berbicara
kasar, hubungan romantis bebas, gaya hidup konsumtif, dan pemberontakan
terhadap otoritas.¹⁶
Tanpa filter nilai, remaja mudah meniru perilaku
tersebut dan menganggapnya sebagai norma sosial. Pendidikan Akidah Akhlak harus
membangun kemampuan literasi budaya agar siswa dapat menilai dan menyikapi
pengaruh budaya pop secara kritis.
11.9.
Tantangan Multikulturalisme dan
Pergaulan Lintas Identitas
Remaja kini hidup dalam masyarakat yang semakin
plural. Pergaulan lintas agama, budaya, dan suku merupakan hal yang tidak dapat
dihindari. Islam memerintahkan umatnya untuk berinteraksi secara adil dan
moderat tanpa mengorbankan keyakinan.¹⁷
Remaja perlu dibekali kemampuan dialog, toleransi,
dan penghormatan terhadap perbedaan agar mampu bersosialisasi secara sehat
tanpa kehilangan prinsip akidah dan akhlak.
Relevansi
Etika Islam dalam Menjawab Tantangan Kontemporer
Etika Islam menawarkan nilai-nilai universal
seperti keadilan, kesopanan, pengendalian diri, dan empati yang sangat relevan
untuk menghadapi isu-isu pergaulan remaja modern. Integrasi nilai-nilai ini
dalam pendidikan MA memungkinkan pembentukan karakter remaja yang beradab,
kritis, dan mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.¹⁸
Footnotes
[1]
Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an (New
York: Oxford University Press, 2011), 122–124.
[2]
danah boyd, It’s Complicated: The Social Lives
of Networked Teens (New Haven: Yale University Press, 2014), 15–18.
[3]
Sameer Hinduja and Justin Patchin, Bullying
Beyond the Schoolyard: Preventing and Responding to Cyberbullying (Thousand
Oaks: Sage, 2015), 30–33.
[4]
Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam
al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 312–317.
[5]
Sherry Turkle, Alone Together (New York:
Basic Books, 2011), 112–115.
[6]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:45–48.
[7]
Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut: Dār
al-Ma‘ārif, 1987), 3:109–112.
[8]
Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah
al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.
[9]
danah boyd, It’s Complicated, 30–33.
[10]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 102–103.
[11]
Daniel Goleman, Social Intelligence (New
York: Bantam Books, 2006), 87–89.
[12]
Hinduja and Patchin, Bullying Beyond the
Schoolyard, 52–55.
[13]
Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim (Beirut:
Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1995), 4:1986.
[14]
Jean Twenge, iGen (New York: Atria Books,
2017), 55–58.
[15]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Nature of Man
and the Psychology of the Human Soul (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990), 57–59.
[16]
Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an,
145–147.
[17]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago:
University of Chicago Press, 1982), 89–91.
[18]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 75–78.
12.
Relevansi Etika Pergaulan Islam bagi Generasi
Muda
Etika pergaulan dalam Islam memiliki relevansi yang
sangat kuat bagi generasi muda, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat
dan kompleks. Nilai-nilai adab, kesopanan, empati, dan tanggung jawab sosial
yang diajarkan Islam bukan hanya warisan moral masa lalu, tetapi juga pedoman
praktis untuk menjawab tantangan kehidupan modern.¹ Bagi peserta didik Madrasah
Aliyah (MA), etika pergaulan tidak sekadar teks normatif, tetapi fondasi
karakter yang membentuk jati diri, kemampuan bersosialisasi, dan kesiapan
menghadapi dunia global.
12.1.
Peneguhan Identitas Moral di Era
Krisis Nilai
Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang sarat
dengan relativisme moral, di mana batas antara yang baik dan buruk menjadi
semakin kabur akibat pengaruh media, budaya populer, dan perubahan gaya hidup.²
Etika Islam memberikan landasan moral yang stabil dan konsisten, sehingga
menjadi pegangan penting bagi remaja dalam membentuk identitas diri.
Nilai seperti ṣidq (kejujuran), ‘iffah
(kesucian diri), dan raḥmah (kasih sayang) menjadi kompas moral yang
membantu remaja membuat keputusan yang tepat dalam pergaulan sehari-hari. Tanpa
fondasi etika yang kuat, generasi muda mudah terombang-ambing oleh tekanan
sosial dan tren yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam.
12.2.
Pembentukan Kecerdasan Emosional dan
Empati Sosial
Etika pergaulan Islam menekankan pengendalian diri,
kesabaran, empati, dan kemampuan memahami kondisi orang lain. Daniel Goleman
menegaskan bahwa kecerdasan emosional adalah faktor penting bagi keberhasilan
seseorang dalam hubungan sosial dan kehidupan profesional.³
Melalui adab dalam berbicara, menghormati yang
lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan membangun hubungan sehat dengan
lawan jenis, remaja dilatih untuk mengembangkan social awareness dan emotional
regulation. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang
menuntut kemampuan komunikasi, kerja sama, dan adaptasi sosial yang tinggi.
12.3.
Pencegahan Penyimpangan Sosial dan
Pergaulan Bebas
Etika pergaulan Islam memberikan batas-batas moral
yang jelas untuk mencegah penyimpangan seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan
media sosial, kekerasan verbal, dan perilaku impulsif.⁴ Di era digital, risiko
penyimpangan semakin besar karena remaja dapat mengakses konten negatif atau
menjalin hubungan tidak sehat secara daring.
Dengan memahami prinsip menjaga pandangan, menjaga
kehormatan, serta menahan diri dari interaksi yang mengarah pada fitnah, remaja
memiliki tameng moral yang melindungi mereka dari kerusakan sosial dan
spiritual. Etika Islam mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi,
tidak hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah Swt.
12.4.
Penguatan Kemampuan Berdialog dan
Bertoleransi
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi
toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan dialog yang konstruktif.
Prinsip qawlan layyinan (ucapan lembut) dan qawlan karīmā (ucapan
mulia) menjadi dasar bagi cara berkomunikasi dengan berbagai kalangan.⁵
Generasi muda yang memahami etika pergaulan Islam
akan mampu berinteraksi dalam masyarakat plural tanpa kehilangan identitas
keislamannya. Mereka dapat bersikap moderat, tidak ekstrem, dan mampu membangun
kerja sama sosial dengan pemuda dari latar belakang budaya atau agama yang
berbeda.
12.5.
Penguatan Karakter dan Integritas
dalam Kehidupan Akademik dan Profesional
Etika pergaulan berkontribusi pada pembentukan
karakter remaja yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Nilai seperti
amanah, disiplin, sopan santun, dan kejujuran sangat dibutuhkan dalam dunia
akademik dan dunia kerja.⁶
Peserta didik yang terbiasa menerapkan etika dalam
pergaulan akan lebih mampu menghadapi tantangan akademik, menyelesaikan konflik
sosial, serta membangun citra diri yang positif. Integritas adalah salah satu
modal utama untuk meraih kepercayaan dan keberhasilan jangka panjang.
12.6.
Pengembangan Kemandirian Moral di
Tengah Tekanan Sosial
Remaja sering menghadapi tekanan sosial (peer
pressure) untuk mengikuti perilaku teman sebaya, meskipun tidak sesuai dengan
nilai Islam.⁷ Etika pergaulan Islam membantu remaja membangun kemandirian moral
sehingga tidak mudah terpengaruh hal negatif.
Dengan memahami tujuan hidup, nilai diri, dan
tanggung jawab moral sebagai seorang Muslim, remaja dapat membuat keputusan yang
lebih dewasa dan rasional. Kemandirian moral ini sangat penting di era modern
yang menuntut keberanian untuk berbeda dari arus dominan.
12.7.
Penguatan Etika Bermedia dan
Literasi Digital
Generasi muda adalah pengguna aktif media sosial
dan teknologi digital. Islam memberikan pedoman menyeluruh tentang penggunaan
lisan dan tulisan yang baik, yang sangat relevan dalam penggunaan media
sosial.⁸
Dengan berpegang pada etika Islam, remaja akan
mampu:
·
menghindari ujaran kebencian dan ghibah digital,
·
tidak menyebarkan hoaks,
·
bijak mengelola privasi,
·
menjaga kehormatan diri dan orang lain di dunia maya.
Literasi digital berbasis nilai Islam membantu
remaja menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan bermoral.
12.8.
Membangun Generasi Moderat dan Beradab
Moderasi (wasatiyyah) merupakan ciri penting
ajaran Islam. Etika pergaulan membantu remaja menjadi pribadi yang seimbang:
tidak berlebihan dalam bersikap, tidak keras dalam berinteraksi, dan tidak
permisif terhadap pelanggaran moral.⁹
Generasi yang memahami etika Islam akan tumbuh
sebagai pribadi yang:
·
mampu menjaga diri,
·
menghargai perbedaan,
·
memiliki kecerdasan sosial,
·
menjunjung nilai kemanusiaan dan akhlak mulia.
Ini adalah fondasi untuk membangun masyarakat
madani yang beradab.
12.9.
Relevansi dalam Pembentukan
Kepemimpinan Pemuda
Etika pergaulan membentuk kualitas kepemimpinan
remaja, seperti kemampuan memberi teladan, mengayomi yang lebih muda, bekerja
sama, dan mengambil keputusan etis.¹⁰
Kepemimpinan yang berbasiskan etika Islam akan
melahirkan generasi pemimpin yang berintegritas, adil, dan berorientasi pada
kemaslahatan, bukan sekadar kekuasaan.
12.10. Kesimpulan
Relevansi
Etika pergaulan dalam Islam bukan sekadar kumpulan
aturan, tetapi nilai-nilai hidup yang membentuk karakter remaja. Nilai-nilai ini
memperkuat identitas moral, keterampilan sosial, pengendalian diri, serta
kemampuan menghadapi tantangan modern.
Relevansi ini menunjukkan bahwa etika Islam tetap
aktual dan menjadi pedoman komprehensif bagi generasi muda dalam membangun
kehidupan yang beradab, harmonis, dan bermakna.
Footnotes
[1]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to
the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88–90.
[2]
Ziauddin Sardar, Reading the Qur’an (New
York: Oxford University Press, 2011), 112–115.
[3]
Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New
York: Bantam Books, 1995), 92–95.
[4]
Sherry Turkle, Alone Together (New York:
Basic Books, 2011), 119–122.
[5]
Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, Al-Mu‘jam
al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān (Cairo: Dār al-Ḥadīth, 1996), 310–316.
[6]
Thomas Lickona, Educating for Character (New
York: Bantam Books, 1991), 67–70.
[7]
Jean Twenge, iGen (New York: Atria Books,
2017), 135–139.
[8]
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of
Islamic Law (London: IIIT, 2008), 74–77.
[9]
Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah
al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.
[10]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago:
University of Chicago Press, 1982), 89–91.
13.
Sintesis dan Rekonstruksi Nilai Etika Bergaul
dalam Islam
Sintesis dan rekonstruksi nilai etika bergaul dalam
Islam merupakan upaya untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip normatif syariat
dengan realitas sosial kontemporer. Proses ini diperlukan karena perubahan
zaman menuntut formulasi ulang yang relevan, tanpa kehilangan esensi ajaran
Islam yang bersifat universal.¹ Bagi remaja Madrasah Aliyah (MA), sintesis ini
membantu mereka memahami bagaimana nilai-nilai adab tidak hanya dihafal, tetapi
dimaknai dan diterapkan secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.
13.1.
Integrasi Nilai-Nilai Qur’ani dengan
Tantangan Kontemporer
Nilai dasar yang bersumber dari Al-Qur’an seperti
amanah, kejujuran, kesopanan, dan kasih sayang perlu direkonstruksi agar sesuai
dengan situasi modern. QS. al-Ḥujurāt [49] ayat 10–12 yang menekankan ukhuwah,
menjauhi prasangka, dan larangan ghibah dapat disintesiskan untuk menghadapi
fenomena cyberbullying, ujaran kebencian, dan budaya perundungan
digital.²
Dengan demikian, prinsip-prinsip Qur’ani tetap
relevan namun perlu diterapkan dalam bentuk baru yang sesuai dengan dunia
remaja masa kini, termasuk dalam interaksi digital, ruang publik daring, dan
budaya jejaring sosial.
13.2.
Rekonstruksi Batas Pergaulan Gender
Berdasarkan Prinsip Moderasi
Batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan
telah diatur dalam syariat untuk menjaga kehormatan dan mencegah fitnah. Namun,
rekonstruksi diperlukan agar batasan tersebut tidak dipahami secara ekstrem.
Prinsip wasatiyyah (moderasi) menjadi landasan etis untuk menyelaraskan
interaksi gender dalam ruang pendidikan modern yang menuntut kolaborasi.³
Rekonstruksi ini tidak mengubah syariat, tetapi
menempatkan nilai-nilai seperti kesopanan, profesionalisme, dan saling
menghargai sebagai pedoman praktis dalam bekerja sama, berkomunikasi, atau
belajar bersama tanpa melanggar batas moral Islam.
13.3.
Integrasi Pendekatan Klasik dan
Modern dalam Memahami Adab
Pemikiran klasik dari al-Ghazālī, Ibn Miskawayh,
dan Ibn Ḥazm memberikan fondasi konseptual tentang penyucian jiwa, pembiasaan
moral, dan etika sosial.⁴ Sementara pemikiran modern seperti Fazlur Rahman dan
Syed Naquib al-Attas menekankan rekonstruksi nilai Islam dalam konteks
modernitas dan pendidikan.⁵
Sintesis kedua pendekatan ini menghasilkan
pemahaman yang lebih utuh:
·
Dimensi spiritual dan batiniah (tasawuf akhlaki),
·
Dimensi rasional dan sosial (filsafat moral),
·
Dimensi praktis dan kontekstual (pendidikan karakter).
Ketiganya saling melengkapi untuk membentuk etika
bergaul yang relevan bagi remaja abad ke-21.
13.4.
Rekonstruksi Etika Komunikasi
Berbasis Etika Profetik
Etika komunikasi Islam dibangun atas tiga pilar
profetik: kejujuran, kelembutan, dan kebaikan.⁶ Rekonstruksi etika komunikasi
bagi remaja modern diperlukan agar mereka mampu menerapkan prinsip tersebut
dalam berbagai platform komunikasi seperti media sosial, grup diskusi daring,
dan interaksi digital lainnya.
Rekonstruksi ini mencakup:
·
menggunakan bahasa yang sehat dalam percakapan digital;
·
tidak menyebarkan konten yang mengandung fitnah atau kebohongan;
·
menghindari satire yang merendahkan pihak lain;
·
memanfaatkan media untuk dakwah dan penyebaran kebaikan.
Dengan demikian, etika komunikasi tidak hanya
berlaku dalam percakapan langsung, tetapi juga dalam ruang virtual.
13.5.
Harmonisasi antara Kearifan
Tradisional dan Tuntutan Globalisasi
Nilai adab bergaul dalam tradisi Islam Nusantara
seperti sopan santun, tatakrama, dan penghormatan antargenerasi dapat
disintesiskan dengan tuntutan globalisasi yang menuntut keterbukaan, toleransi,
dan kemampuan beradaptasi.⁷
Harmonisasi ini membantu siswa MA untuk tetap
menjaga akar budaya Islam sekaligus mampu berinteraksi dalam masyarakat global
tanpa kehilangan jati diri. Nilai-nilai tradisional yang penuh kesantunan tetap
relevan, namun harus dikontekstualisasikan dalam lingkungan modern, termasuk
dalam interaksi lintas budaya dan pergaulan multinasional.
13.6.
Rekonstruksi Nilai Tanggung Jawab
dan Pengendalian Diri
Dalam konteks modern, remaja sering menghadapi
godaan yang lebih besar daripada generasi sebelumnya, terutama melalui
teknologi digital dan budaya populer. Maka, nilai pengendalian diri (mujāhadah
al-nafs) dan tanggung jawab moral perlu direkonstruksi dalam bentuk
strategi praktis:
·
manajemen waktu penggunaan gawai,
·
disiplin dalam konsumsi konten,
·
penilaian kritis terhadap tren viral,
·
praktik self-regulation dalam hubungan sosial.⁸
Rekonstruksi ini menghubungkan nilai klasik dengan
pendekatan psikologi modern mengenai pengendalian diri.
13.7.
Sintesis Etika Sosial untuk
Membangun Budaya Sekolah Beradab
Sekolah dapat menjadi ruang rekonstruksi nilai
etika bergaul melalui program pembiasaan seperti:
·
budaya salam dan sopan santun,
·
mentoring sebaya,
·
forum musyawarah siswa,
·
kegiatan bakti sosial.
Melalui aktivitas ini, nilai-nilai adab tidak hanya
diajarkan, tetapi juga dipraktikkan dan diinternalisasi.⁹ Sintesis antara
pendidikan formal dan praktik sosial menciptakan ekosistem sekolah yang
berkarakter Islami.
13.8.
Rekonstruksi Etika Bergaul sebagai
Upaya Pembentukan Kepribadian Utuh
Etika bergaul bukan hanya berkaitan dengan sopan
santun, tetapi proses pembentukan kepribadian yang utuh (insān kāmil).
Rekonstruksi dilakukan dengan menggabungkan aspek kognitif (pemahaman nilai),
afektif (penghayatan), dan psikomotorik (pengamalan).¹⁰
Dengan demikian, etika bergaul menjadi bagian
integral dari proses pendidikan moral yang berkelanjutan, yang tidak berhenti
pada teori, tetapi menjadi identitas dan karakter remaja Muslim.
Kesimpulan
Sintesis dan Rekonstruksi
Sintesis dan rekonstruksi nilai etika bergaul dalam
Islam merupakan upaya mempertemukan ajaran moral klasik dengan realitas modern.
Proses ini bertujuan agar nilai-nilai adab tetap hidup dan relevan, tidak hanya
sebagai warisan tekstual, tetapi sebagai pedoman hidup generasi muda.
Dengan pendekatan integratif, nilai etika Islam
dapat menjadi fondasi kuat bagi remaja dalam membangun karakter, mengelola
hubungan sosial, dan menghadapi tantangan global secara arif dan bermartabat.
Footnotes
[1]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and
Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 87–89.
[2]
Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 7:365–370.
[3]
Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah
al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.
[4]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ed. Badawi
Ṭabānah (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 60–63.
[5]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago:
University of Chicago Press, 1982), 12–14.
[6]
Muhammad al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
(Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), 1:45.
[7]
Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global
dan Lokal (Jakarta: Mizan, 2016), 112–115.
[8]
Daniel Goleman, Emotional Intelligence (New
York: Bantam Books, 1995), 92–96.
[9]
Thomas Lickona, Educating for Character (New
York: Bantam Books, 1991), 115–118.
[10]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2019), 88–90.
14.
Kesimpulan
Pembahasan mengenai etika bergaul dalam Islam
menunjukkan bahwa nilai-nilai adab dan akhlak bukan sekadar aturan normatif,
tetapi fondasi moral yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan
intelektual manusia. Etika pergaulan melingkupi relasi dengan sebaya, yang
lebih tua, yang lebih muda, dan lawan jenis, masing-masing dengan
prinsip-prinsip yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, serta khazanah pemikiran
ulama klasik dan kontemporer.¹ Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman integral
dalam membangun interaksi yang harmonis, bermartabat, dan penuh tanggung jawab.
Secara filosofis, etika pergaulan dalam Islam
berakar pada pemahaman tentang hakikat manusia sebagai makhluk bermoral dan
sosial, yang diberi kemampuan akal, qalb, dan kehendak untuk memilih jalan
kebaikan.² Dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis filsafat moral
Islam memberikan kerangka analitis yang memperkuat pentingnya adab sebagai
jalan menuju sa‘ādah (kebahagiaan), keharmonisan sosial, dan penyempurnaan
jiwa.³ Dengan demikian, etika pergaulan bukan hanya praktik sosial, tetapi
proyek pembentukan manusia ideal dalam pandangan Islam (insān kāmil).
Dalam konteks pembelajaran Akidah Akhlak di
Madrasah Aliyah (MA), etika pergaulan memiliki implikasi pedagogis yang
signifikan. Pendidikan harus mengintegrasikan keteladanan, pembiasaan, analisis
kasus, serta literasi digital agar peserta didik mampu menghadapi realitas
sosial modern dengan bimbingan nilai-nilai Qur’ani dan profetik.⁴ Lingkungan
sekolah dan keluarga berperan sebagai agen pembentuk karakter yang secara
konsisten menumbuhkan budaya hormat, empati, kesopanan, dan tanggung jawab
sosial.
Isu-isu kontemporer seperti media sosial, pergaulan
bebas, krisis empati, dan tekanan budaya populer menuntut rekonstruksi nilai
etika bergaul dalam Islam agar tetap relevan dan aplikatif.⁵ Proses
rekonstruksi ini dilakukan dengan menjaga esensi syariat sembari menyesuaikan
bentuk penerapannya dengan tantangan zaman. Moderasi, toleransi, dan kesadaran
digital menjadi bagian penting dalam reformulasi etika pergaulan remaja modern.
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa etika pergaulan
dalam Islam merupakan pedoman komprehensif yang mendukung pembentukan generasi
muda yang berakhlak mulia, cerdas secara emosional, bijak dalam bersosialisasi,
dan siap menghadapi kompleksitas dunia modern. Nilai-nilai ini menjadi aset
moral yang membantu remaja mengembangkan identitas diri yang stabil, integritas
pribadi yang kuat, dan kapasitas sosial yang matang.⁶ Dengan menghayati dan
menerapkan etika Islam, generasi muda dapat berpartisipasi aktif dalam
membangun masyarakat yang beradab, harmonis, dan berkeadilan.
Footnotes
[1]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an,
2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 72–75.
[2]
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to
the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88–90.
[3]
Ibn Miskawayh, Tahdhīb al-Akhlāq, ed.
Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 38–41.
[4]
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta:
Rajawali Pers, 2019), 102–104.
[5]
danah boyd, It’s Complicated: The Social Lives
of Networked Teens (New Haven: Yale University Press, 2014), 15–18.
[6]
Yusuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Wasaṭiyyah
al-Islamiyyah (Cairo: Dār al-Shurūq, 2001), 51–55.
Daftar Pustaka
Al-Attas, S. M. N. (1990). The
nature of man and the psychology of the human soul. ISTAC.
Al-Attas, S. M. N. (1993). Islam
and secularism. ISTAC.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena
to the metaphysics of Islam. ISTAC.
Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl.
(1987). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Vols. 1–3). Dār Ibn Kathīr.
Al-Fārābī. (1968). Ara’
Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah. Dār al-Ma‘ārif.
Al-Ghazālī, A. H. (1997). Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn (B. Ṭabānah, Ed.). Dār al-Fikr.
Al-Jāḥiẓ, A. ‘U. (1998). Al-Bayān
wa al-Tabyīn (A. Hārūn, Ed.). Maktabah al-Khānjī.
Al-Nawawī, Y. (1987). Sharḥ
Ṣaḥīḥ Muslim. Dār al-Ma‘ārif.
Al-Nawawī, Y. (2001). Al-Adhkār.
Dār al-Fikr.
Al-Qaraḍāwī, Y. (2001). Fiqh
al-wasaṭiyyah al-Islāmiyyah. Dār al-Shurūq.
Al-Qurṭubī, A. A. (1964). Al-Jāmi‘
li Aḥkām al-Qur’ān. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.
Al-Qushayrī, A. (2002). Al-Risālah
al-Qushayriyyah. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Ṭabarī, M. J. (2001). Jāmi‘
al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān (A. M. Shākir, Ed.). Dār al-Ma‘ārif.
Auda, J. (2008). Maqasid
al-shariah as philosophy of Islamic law. IIIT.
Azra, A. (2016). Islam
Nusantara: Jaringan global dan lokal. Mizan.
Bloom, B. S. (1956). Taxonomy
of educational objectives. David McKay Company.
Boyd, d. (2014). It’s
complicated: The social lives of networked teens. Yale University Press.
Fārābī, A. N. (1968). Ara’
Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah. Dār al-Ma‘ārif.
Freire, P. (1997). Pedagogy
of the heart. Continuum.
Ghazālī, A. H. (1997). Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn (B. Ṭabānah, Ed.). Dār al-Fikr.
Goleman, D. (1995). Emotional
intelligence. Bantam Books.
Goleman, D. (2006). Social
intelligence. Bantam Books.
Hinduja, S., & Patchin,
J. W. (2015). Bullying beyond the schoolyard: Preventing and responding to
cyberbullying. Sage.
Ibn Ḥazm, A. (1981). Akhlāq
wa al-siyar (H. Munāsar, Ed.). Dār al-Jīl.
Ibn Hishām. (2004). Sīrah
al-Nabawiyyah. Dār al-Ma‘rifah.
Ibn Kathīr, I. (1999). Tafsīr
al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Dār Ṭayyibah.
Ibn Miskawayh, A. (1966). Tahdhīb
al-akhlāq (C. Zurayk, Ed.). American University of Beirut.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah.
(2004). Rawḍat al-muḥibbīn. Dār al-Ḥadīth.
Ibn Rushd, A. W. (1997). Faṣl
al-maqāl. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn Sīnā. (1938). Al-Najāt.
Dār al-Ma‘ārif.
Kagan, S. (1992). Cooperative
learning. Kagan Publishing.
Lickona, T. (1991). Educating
for character. Bantam Books.
Muhaimin. (2012). Pengembangan
kurikulum Pendidikan Agama Islam. Raja Grafindo Persada.
Muslim ibn al-Ḥajjāj.
(1995). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī.
Nata, A. (2019). Akhlak
tasawuf. Rajawali Pers.
Qur’ān references via:
‘Abd al-Bāqī, M. F. (1996).
Al-mu‘jam al-mufahras li alfāẓ al-Qur’ān. Dār al-Ḥadīth.
Rahman, F. (1982). Islam
and modernity. University of Chicago Press.
Rahman, F. (2009). Major
themes of the Qur’an (2nd ed.). University of Chicago Press.
Rūmī, J. (1925). Mathnawī
(R. A. Nicholson, Ed.). E.J.W. Gibb Memorial Trust.
Sardar, Z. (2011). Reading
the Qur’an: The contemporary relevance of the sacred text. Oxford
University Press.
Shihab, M. Q. (2007). Wawasan
Al-Qur’an. Mizan.
Sheikh, M. S. (2002). A
study of Islamic philosophy. Routledge.
Turkle, S. (2011). Alone
together. Basic Books.
Turkle, S. (2015). Reclaiming
conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.
Tufekci, Z. (2017). Twitter
and tear gas: The power and fragility of networked protest. Yale
University Press.
Twenge, J. (2017). iGen.
Atria Books.
Zarnūjī, A. (2002). Ta‘līm
al-muta‘allim ṭarīq al-ta‘allum. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Zubaedi. (2012). Desain
pendidikan karakter. Kencana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar