Kamis, 02 Oktober 2025

Ad Populum (Bandwagon Fallacy): Analisis Kritis atas Logika Mayoritas dalam Diskursus Publik

Ad Populum (Bandwagon Fallacy)

Analisis Kritis atas Logika Mayoritas dalam Diskursus Publik


Alihkan ke: Logical Fallacies Informal.


Abstrak

Artikel ini membahas secara komprehensif salah satu bentuk informal fallacy, yaitu Ad Populum atau Bandwagon Fallacy, yang menyatakan bahwa suatu klaim dianggap benar hanya karena banyak orang mempercayainya. Kajian ini menelusuri konsep dasar, akar historis, serta perkembangan pemikiran tentang Ad Populum mulai dari filsafat Yunani klasik hingga era digital kontemporer. Selain itu, artikel ini menguraikan mekanisme argumentasi, landasan psikologis dan sosiologis, serta dimensi epistemologis, etis, dan politik dari fallacy ini. Analisis menunjukkan bahwa Ad Populum tidak hanya merupakan kelemahan logika, tetapi juga fenomena sosial yang memengaruhi pembentukan opini publik, budaya populer, pendidikan, dan praktik politik modern. Melalui kritik filosofis, epistemologis, dan etis, artikel ini menawarkan alternatif rasional berupa literasi kritis, pendidikan berpikir reflektif, serta penguatan ruang diskursus deliberatif. Pada akhirnya, kesadaran akan jebakan Ad Populum diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan rasionalitas kritis dan membangun tatanan publik yang lebih adil, pluralis, dan emansipatoris.

Kata Kunci: Fallacy Informal; Ad Populum; Bandwagon Fallacy; Logika; Epistemologi; Etika; Politik; Media; Konformitas Sosial; Literasi Kritis.


PEMBAHASAN

Mendeteksi Ad Populum (Bandwagon Fallacy) dalam Logical Fallacies Informal


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap terjebak pada pola pikir mayoritarianisme: menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang mempercayainya. Fenomena ini dikenal dalam logika informal sebagai Ad Populum atau Bandwagon Fallacy—sebuah kesalahan berpikir yang menjadikan popularitas sebagai legitimasi kebenaran.¹ Dalam ranah publik, khususnya di era digital, arus informasi yang cepat, fenomena viral, dan budaya "ikut-ikutan" (bandwagon effect) semakin memperkuat dominasi cara pikir ini. Akibatnya, banyak opini, kebijakan, bahkan keputusan moral dibangun bukan atas dasar bukti atau argumen rasional, melainkan sekadar berdasarkan pada pandangan mayoritas.²

Kecenderungan ini berimplikasi luas, baik dalam diskursus politik, media, maupun pendidikan. Dalam politik, misalnya, retorika populis sering kali mengandalkan daya tarik massa tanpa dukungan argumentasi yang valid.³ Dalam media, berita yang banyak dibagikan (shared) dianggap lebih sahih ketimbang konten ilmiah yang kurang populer. Sementara itu, dalam pendidikan, peserta didik pun sering tergoda mengikuti arus opini mayoritas tanpa proses berpikir kritis.

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang hendak dikaji dalam tulisan ini mencakup:

1)                  Apa yang dimaksud dengan fallacy Ad Populum dan bagaimana mekanisme kerjanya?

2)                  Bagaimana latar belakang historis dan epistemologis dari fallacy ini?

3)                  Apa dampak sosial, politik, dan etis dari kecenderungan berpikir Ad Populum?

4)                  Bagaimana strategi untuk mengidentifikasi, mengkritisi, dan menghindari jebakan berpikir ini?

1.3.       Tujuan Kajian

Tulisan ini bertujuan:

1)                  Mendeskripsikan konsep dasar Ad Populum dalam kerangka logika informal.

2)                  Menguraikan perkembangan historis dan teoritis mengenai fallacy ini.

3)                  Menganalisis implikasi sosial, politik, epistemologis, dan etis dari praktik berpikir Ad Populum.

4)                  Memberikan alternatif solusi berupa strategi berpikir kritis dalam menghadapi hegemoni opini mayoritas.

1.4.       Metode Penulisan

Kajian ini menggunakan pendekatan interdisipliner yang memadukan filsafat logika, epistemologi, psikologi sosial, dan analisis wacana. Sumber-sumber yang digunakan meliputi karya klasik filsafat logika, penelitian kontemporer tentang fallacy, serta studi kasus dalam konteks politik, media, dan budaya populer. Metode analisis yang digunakan bersifat kualitatif, dengan mengedepankan interpretasi rasional dan kritik filosofis terhadap praktik argumentasi Ad Populum.

1.5.       Signifikansi Kajian

Kajian mengenai fallacy Ad Populum memiliki signifikansi akademis dan praktis. Secara akademis, kajian ini memperluas pemahaman tentang kesalahan berpikir dalam logika informal. Secara praktis, kajian ini memberikan bekal bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam menghadapi arus opini publik, khususnya di era digital yang sarat manipulasi informasi. Dengan demikian, kesadaran akan fallacy ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya dialog yang sehat, kritis, dan rasional.


Footnotes

[1]                Irving M. Copi dan Carl Cohen, Introduction to Logic, 14th ed. (New York: Routledge, 2011), 139.

[2]                Douglas Walton, Informal Logic: A Pragmatic Approach, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2008), 105–106.

[3]                Cas Mudde dan Cristóbal Rovira Kaltwasser, Populism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 67.


2.           Konsep Dasar Ad Populum

2.1.       Definisi Ad Populum

Fallacy Ad Populum, yang juga dikenal dengan istilah Bandwagon Fallacy, merupakan bentuk kesalahan berpikir di mana suatu klaim dianggap benar hanya karena banyak orang mempercayainya.¹ Dengan kata lain, popularitas dijadikan sebagai kriteria kebenaran, padahal dalam epistemologi, kebenaran tidak bergantung pada jumlah orang yang meyakininya, melainkan pada validitas logis dan bukti empiris yang mendukung klaim tersebut.²

2.2.       Karakteristik Utama

Secara umum, terdapat beberapa karakteristik yang menandai fallacy Ad Populum:

1)                  Klaim dibangun berdasarkan “banyak orang percaya” (appeal to popularity).

2)                  Validitas klaim tidak diuji secara independen, tetapi disandarkan pada mayoritas.

3)                  Ada kecenderungan manipulasi emosional dengan menimbulkan rasa aman jika ikut mayoritas dan rasa takut jika berbeda.³

4)                  Struktur argumentasi biasanya berbunyi: “X benar, karena semua orang percaya X.”

2.3.       Perbedaan dengan Fallacy Lain

Ad Populum kerap disamakan dengan bentuk fallacy lain, tetapi sebenarnya memiliki ciri khas tertentu. Misalnya, berbeda dengan Appeal to Authority (Ad Verecundiam) yang bertumpu pada otoritas individu, Ad Populum bergantung pada otoritas kolektif mayoritas.⁴ Demikian pula, ia berbeda dengan Ad Hominem, yang menyerang pribadi lawan argumentasi; Ad Populum justru menggunakan jumlah dan konsensus sosial sebagai senjata retoris.

2.4.       Terminologi dan Asal Usul

Secara etimologis, istilah Ad Populum berasal dari bahasa Latin, yang berarti “kepada rakyat” atau “kepada orang banyak.”⁵ Konsep ini sudah diperhatikan sejak era filsafat Yunani klasik. Aristoteles, dalam Rhetorica, menyinggung bahwa argumen yang mengandalkan persetujuan massa sering kali menyesatkan karena tidak selalu mencerminkan kebenaran sejati.⁶ Dalam tradisi logika Abad Pertengahan, para skolastik juga memasukkan Ad Populum ke dalam kategori argumenta ad hominem luas, yakni argumen yang lebih menekankan aspek retoris daripada rasionalitas murni.⁷

2.5.       Posisi dalam Tradisi Logika Informal

Dalam kajian logika modern, khususnya informal logic, fallacy Ad Populum dikategorikan sebagai bentuk kesalahan dalam relevance fallacies—yakni argumen yang relevansinya tidak memadai untuk mendukung kesimpulan.⁸ Ia dianggap menyesatkan karena mengalihkan dasar pembenaran dari bukti faktual ke konsensus sosial, yang secara epistemik tidak sahih.


Footnotes

[1]                Patrick J. Hurley, A Concise Introduction to Logic, 13th ed. (Boston: Cengage Learning, 2016), 145.

[2]                Stephen Toulmin, The Uses of Argument (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 87.

[3]                Frans H. van Eemeren dan Rob Grootendorst, Argumentation, Communication, and Fallacies (Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, 1992), 118.

[4]                T. Edward Damer, Attacking Faulty Reasoning: A Practical Guide to Fallacy-Free Arguments, 7th ed. (Boston: Cengage Learning, 2012), 95.

[5]                Trudy Govier, A Practical Study of Argument, 7th ed. (Belmont, CA: Wadsworth, 2010), 123.

[6]                Aristotle, Rhetoric, trans. W. Rhys Roberts (New York: Modern Library, 1954), 1356a.

[7]                John Buridan, Summulae de Dialectica, ed. Gyula Klima (New Haven: Yale University Press, 2001), 214.

[8]                Douglas N. Walton, Fundamentals of Critical Argumentation (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), 54.


3.           Sejarah dan Perkembangan Pemikiran

3.1.       Akar Historis dalam Filsafat Yunani

Pembahasan mengenai kesesatan berpikir yang bersandar pada opini mayoritas dapat ditelusuri sejak era filsafat Yunani klasik. Para Sophis sering kali menggunakan daya tarik massa untuk memenangkan perdebatan di polis, dengan mengedepankan retorika yang memikat ketimbang argumentasi yang sahih.¹ Aristoteles dalam Rhetorica memberikan kritik tajam terhadap kecenderungan ini, dengan menegaskan bahwa apa yang diyakini oleh banyak orang tidak selalu identik dengan kebenaran.² Bagi Aristoteles, retorika massa memiliki nilai pragmatis, tetapi berpotensi menyesatkan apabila dijadikan landasan epistemologis.³

3.2.       Perkembangan pada Abad Pertengahan

Tradisi skolastik Abad Pertengahan turut memperluas analisis terhadap kesalahan berpikir, termasuk Ad Populum. Thomas Aquinas, misalnya, membedakan antara argumentum ex auctoritate (argumen dari otoritas) dan argumentum ex consuetudine populi (argumen dari kebiasaan masyarakat), di mana yang terakhir sering kali dikritik karena hanya bersandar pada kebiasaan mayoritas tanpa bukti rasional.⁴ Para logikawan skolastik memasukkan Ad Populum ke dalam kategori fallaciae extra dictionem, yaitu kesalahan logis yang muncul di luar aspek linguistik, tetapi lebih pada substansi relevansi argumen.⁵

3.3.       Perspektif Modern Awal

Pada era modern, dengan munculnya rasionalisme dan empirisisme, kritik terhadap Ad Populum semakin kuat. René Descartes dalam Discours de la Méthode menegaskan pentingnya meragukan konsensus mayoritas sebagai langkah awal menuju pengetahuan yang pasti.⁶ Demikian pula, Francis Bacon menyoroti idola theatri—yaitu kesalahan berpikir yang bersumber dari tradisi dan opini kolektif yang diwariskan tanpa kritik.⁷ Kedua tokoh ini menekankan bahwa kebenaran ilmiah harus dibangun atas dasar rasio dan observasi, bukan sekadar popularitas suatu keyakinan.

3.4.       Era Kontemporer dan Logika Informal

Pada abad ke-20, kajian tentang Ad Populum mendapatkan tempat yang lebih sistematis dalam kerangka logika informal. Para filsuf seperti Charles L. Hamblin dan kemudian Douglas Walton berkontribusi dalam merumuskan kategori fallacy secara lebih rinci.⁸ Walton, khususnya, menekankan bahwa Ad Populum tidak hanya kesalahan logis, tetapi juga fenomena pragmatis yang terkait dengan komunikasi massa dan persuasi.⁹ Dalam dunia kontemporer, perkembangan media massa dan kemudian media digital membuat Ad Populum semakin relevan untuk dianalisis, sebab opini populer dengan cepat dapat diproduksi, direproduksi, dan diterima sebagai "kebenaran" tanpa proses kritis.¹⁰

3.5.       Konteks Digital dan Budaya Populer

Perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, menandai fase baru dalam manifestasi Ad Populum. Fenomena viral, trending topics, dan echo chambers di platform digital merupakan bentuk aktual dari bagaimana opini mayoritas dapat menciptakan persepsi kebenaran.¹¹ Dalam budaya populer, keabsahan suatu gagasan, produk, atau narasi kerap diukur dari banyaknya pengikut, likes, atau jumlah tayangan (views), bukan dari substansi kebenaran.¹² Dengan demikian, Ad Populum telah mengalami transformasi dari sekadar fenomena retoris klasik menjadi salah satu pilar dinamika opini publik modern.


Footnotes

[1]                George A. Kennedy, The Art of Persuasion in Greece (Princeton: Princeton University Press, 1963), 89.

[2]                Aristotle, Rhetoric, trans. W. Rhys Roberts (New York: Modern Library, 1954), 1356a.

[3]                Eugene Garver, Aristotle’s Rhetoric: An Art of Character (Chicago: University of Chicago Press, 1994), 52.

[4]                Thomas Aquinas, Summa Theologica, trans. Fathers of the English Dominican Province (New York: Benziger Brothers, 1947), I-II, Q.94, Art. 4.

[5]                Stephen F. Brown, “Medieval Fallacies and the Scholastic Tradition,” Vivarium 21, no. 1 (1983): 63.

[6]                René Descartes, Discourse on the Method, trans. Donald A. Cress (Indianapolis: Hackett, 1998), 18.

[7]                Francis Bacon, Novum Organum, ed. Fulton H. Anderson (Indianapolis: Bobbs-Merrill, 1960), 57.

[8]                Charles L. Hamblin, Fallacies (London: Methuen, 1970), 187.

[9]                Douglas N. Walton, Appeal to Popular Opinion (University Park: Pennsylvania State University Press, 1999), 22–23.

[10]             Frans H. van Eemeren, Bart Garssen, dan Bert Meuffels, Fallacies and Judgments of Reasonableness (Dordrecht: Springer, 2009), 141.

[11]             Cass R. Sunstein, #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media (Princeton: Princeton University Press, 2017), 89.

[12]             Neil Postman, Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Show Business (New York: Penguin, 2005), 104.


4.           Mekanisme dan Struktur Argumentasi

4.1.       Pola Umum Argumentasi Ad Populum

Secara struktural, Ad Populum merupakan fallacy yang beroperasi melalui pola argumentasi sederhana namun menyesatkan: suatu klaim dianggap benar hanya karena banyak orang meyakininya.¹ Bentuk umum ini dapat diekspresikan dalam silogisme informal berikut:

·                     Premis mayor: “Mayoritas orang percaya X.”

·                     Premis minor: “Apa yang dipercaya mayoritas biasanya benar.”

·                     Kesimpulan: “Maka, X adalah benar.”

Mekanisme ini tampak logis pada permukaan, tetapi sesungguhnya bersifat non sequitur karena kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah penganut, melainkan oleh koherensi logis dan bukti empiris.²

4.2.       Variasi Bentuk Ad Populum

Dalam praktiknya, Ad Populum hadir dalam berbagai bentuk argumentasi:

1)                  Appeal to Popularity (Argumentum ad Numerum): klaim dianggap valid hanya karena didukung oleh jumlah besar orang.³

Contoh: “Jutaan orang menggunakan produk ini, jadi pasti berkualitas.”

2)                  Bandwagon Effect: kecenderungan seseorang menerima klaim karena tidak ingin tertinggal dari arus mayoritas.⁴

Contoh: “Semua teman saya percaya teori itu, maka saya juga harus percaya.”

3)                  Appeal to Common Belief (Appeal to the People’s Wisdom): kepercayaan populer dipandang identik dengan kearifan kolektif, meskipun tanpa dasar bukti yang sahih.⁵

Contoh: “Tradisi ini sudah dipercaya sejak lama, maka pasti benar.”

4)                  Appeal to Patriotism or Group Identity: klaim didukung oleh solidaritas kelompok atau identitas kolektif, bukan karena bukti objektif.⁶

Contoh: “Sebagai warga negara yang baik, tentu kita semua percaya ini adalah keputusan terbaik.”

4.3.       Mekanisme Retoris dan Psikologis

Secara retoris, Ad Populum bekerja dengan memanfaatkan kebutuhan manusia untuk diterima oleh kelompok sosial.⁷ Retorika yang digunakan biasanya bersifat emosional, bukan rasional, dan sering kali menciptakan dikotomi antara “kita” dan “mereka.” Mekanisme psikologis ini bersandar pada efek konformitas, sebagaimana ditunjukkan dalam eksperimen Solomon Asch tentang tekanan kelompok, di mana individu cenderung mengikuti opini mayoritas meskipun bertentangan dengan persepsi pribadinya.⁸

4.4.       Analisis Logis: Mengapa Ia Fallacy?

Dari sudut pandang logika, kelemahan mendasar Ad Populum adalah terletak pada relevansi argumen. Mayoritas bisa salah, dan sejarah membuktikan banyak sekali kepercayaan populer yang kemudian terbukti keliru—seperti keyakinan bahwa bumi adalah pusat alam semesta.⁹ Dengan demikian, struktur argumentasi Ad Populum gagal memenuhi kriteria pembenaran epistemologis karena tidak ada hubungan kausal maupun inferensial yang sahih antara popularitas dan kebenaran klaim.¹⁰

4.5.       Posisi dalam Tipologi Fallacy

Dalam kerangka informal logic, Ad Populum ditempatkan dalam kategori fallacies of relevance, yaitu argumen yang tampak mendukung kesimpulan tetapi sebenarnya tidak relevan.¹¹ Popularitas sebuah klaim adalah informasi eksternal yang tidak relevan dengan validitas klaim itu sendiri. Karenanya, Ad Populum menjadi contoh klasik bagaimana retorika dapat menyamarkan kelemahan logis sebuah argumen.


Footnotes

[1]                Patrick J. Hurley, A Concise Introduction to Logic, 13th ed. (Boston: Cengage Learning, 2016), 145.

[2]                Irving M. Copi, Carl Cohen, dan Kenneth McMahon, Introduction to Logic, 14th ed. (New York: Routledge, 2011), 140.

[3]                Trudy Govier, A Practical Study of Argument, 7th ed. (Belmont, CA: Wadsworth, 2010), 124.

[4]                Robert Cialdini, Influence: The Psychology of Persuasion, rev. ed. (New York: Harper Business, 2007), 115.

[5]                Douglas Walton, Appeal to Popular Opinion (University Park: Pennsylvania State University Press, 1999), 33.

[6]                T. Edward Damer, Attacking Faulty Reasoning: A Practical Guide to Fallacy-Free Arguments, 7th ed. (Boston: Cengage Learning, 2012), 96.

[7]                Frans H. van Eemeren dan Rob Grootendorst, Argumentation, Communication, and Fallacies (Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, 1992), 119.

[8]                Solomon E. Asch, “Opinions and Social Pressure,” Scientific American 193, no. 5 (1955): 31–35.

[9]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 68.

[10]             Stephen Toulmin, The Uses of Argument (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 90.

[11]             Douglas N. Walton, Fundamentals of Critical Argumentation (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), 54.


5.           Landasan Psikologis dan Sosiologis

5.1.       Psikologi Massa dan Konformitas Sosial

Fenomena Ad Populum tidak dapat dilepaskan dari kecenderungan dasar manusia untuk mencari rasa aman dalam konsensus sosial. Psikologi massa telah lama mengkaji mekanisme ini. Gustave Le Bon dalam karyanya The Crowd menjelaskan bahwa individu dalam kelompok cenderung kehilangan otonomi berpikir rasional dan larut dalam opini mayoritas.¹ Demikian pula, eksperimen Solomon Asch menunjukkan bahwa tekanan kelompok membuat seseorang rela mengorbankan penilaian pribadi demi kesesuaian dengan mayoritas, meski mayoritas itu salah.² Dengan demikian, Ad Populum mendapat pijakan kuat dalam psikologi sosial: konformitas menjadi dorongan dasar yang memperkuat logika mayoritarian.

5.2.       Faktor Emosional: Rasa Aman dan Takut Berbeda

Secara emosional, manusia cenderung merasa lebih nyaman ketika sejalan dengan keyakinan kelompok.³ Ad Populum memanfaatkan kebutuhan psikologis ini dengan menimbulkan rasa takut dianggap “asing” atau “menyimpang.” Dalam banyak kasus, individu lebih memilih mengikuti arus ketimbang menanggung risiko sosial karena menentang opini mayoritas.⁴ Efek ini terlihat jelas dalam dinamika politik, di mana dukungan pada figur populis sering kali dipengaruhi oleh perasaan takut tersingkir apabila tidak mendukung narasi dominan.

5.3.       Konstruksi Sosial dan Normalisasi Budaya

Dalam kerangka sosiologi, Ad Populum berfungsi sebagai mekanisme normalisasi sosial. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses institusionalisasi, di mana keyakinan yang diulang secara kolektif akan menjadi “kenyataan” yang diterima umum.⁵ Dengan kata lain, opini yang populer akan mengalami proses objektivasi hingga menjadi bagian dari budaya bersama, terlepas dari validitas logisnya. Hal ini menjelaskan mengapa mitos, dogma, dan praktik tradisional tertentu bisa bertahan lama hanya karena “banyak orang mempercayainya.”

5.4.       Dinamika Media dan Reproduksi Sosial

Media modern memperkuat landasan sosiologis Ad Populum dengan menciptakan efek gema (echo chamber) dan memperluas jangkauan opini mayoritas. Marshall McLuhan menyebut media sebagai “perpanjangan indra manusia,” yang secara tidak langsung memperbesar dampak psikologis konformitas.⁶ Di era digital, algoritma media sosial mendorong konten yang paling banyak disukai atau dibagikan, sehingga persepsi kebenaran semakin terikat pada popularitas.⁷ Hal ini menunjukkan bahwa Ad Populum tidak hanya merupakan kelemahan logis, tetapi juga produk dari konstruksi sosial yang diperkuat oleh teknologi komunikasi.

5.5.       Implikasi Sosiopsikologis

Dari sudut pandang psikologis, Ad Populum menegaskan keterbatasan manusia dalam berpikir independen. Dari sudut sosiologis, ia memperlihatkan bagaimana opini mayoritas dapat memengaruhi struktur norma, nilai, bahkan kebijakan publik. Kombinasi keduanya melahirkan fenomena di mana kebenaran dipersepsikan sebagai produk konsensus, bukan hasil verifikasi rasional.⁸ Kondisi ini berimplikasi serius terhadap perkembangan demokrasi, wacana publik, dan kebebasan berpikir kritis.


Footnotes

[1]                Gustave Le Bon, The Crowd: A Study of the Popular Mind (London: Ernest Benn, 1926), 35.

[2]                Solomon E. Asch, “Opinions and Social Pressure,” Scientific American 193, no. 5 (1955): 31–35.

[3]                Robert B. Cialdini, Influence: The Psychology of Persuasion, rev. ed. (New York: Harper Business, 2007), 116.

[4]                Henri Tajfel dan John C. Turner, “The Social Identity Theory of Intergroup Behavior,” dalam Psychology of Intergroup Relations, ed. Stephen Worchel dan William G. Austin (Chicago: Nelson-Hall, 1986), 15–17.

[5]                Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge (New York: Anchor Books, 1967), 59.

[6]                Marshall McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man (New York: McGraw-Hill, 1964), 21.

[7]                Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (New York: Penguin, 2011), 48.

[8]                Jürgen Habermas, The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society, trans. Thomas Burger (Cambridge: MIT Press, 1989), 232.


6.           Dimensi Epistemologis

6.1.       Kebenaran dan Popularitas: Sebuah Distingsi

Dalam epistemologi, kebenaran ditentukan oleh korespondensi klaim dengan realitas, koherensi dengan sistem pengetahuan, atau keberhasilannya dalam praktik, bukan oleh jumlah orang yang meyakini klaim tersebut.¹ Fallacy Ad Populum mengaburkan distingsi ini dengan menjadikan popularitas sebagai indikator epistemik. Padahal, sebagaimana ditegaskan Karl Popper, sains berkembang melalui falsifikasi—yaitu pengujian klaim dengan bukti—bukan dengan akumulasi kepercayaan kolektif.² Oleh sebab itu, mayoritas yang percaya pada suatu gagasan tidak menjamin gagasan itu benar secara epistemologis.

6.2.       Konsensus Ilmiah dan Fallacy Ad Populum

Penting untuk membedakan antara konsensus ilmiah dengan Ad Populum. Konsensus ilmiah terbentuk melalui mekanisme metodologis—peer review, replikasi eksperimen, dan kritik rasional—yang berfungsi sebagai instrumen validasi epistemik.³ Sementara itu, Ad Populum hanya bersandar pada fakta bahwa “banyak orang percaya.” Namun demikian, perbedaan ini sering kali kabur dalam wacana publik. Misalnya, teori ilmiah tentang perubahan iklim diterima bukan karena populer, tetapi karena didukung bukti empiris yang luas; sedangkan dalam retorika politik, penerimaan publik kadang disamakan dengan bukti, yang sejatinya merupakan bentuk fallacy.⁴

6.3.       Relasi Keyakinan Individu dan Konsensus Publik

Dalam filsafat pengetahuan, terdapat ketegangan antara keyakinan individual dan otoritas kolektif. John Stuart Mill dalam On Liberty menekankan pentingnya kebebasan berpikir individual sebagai koreksi terhadap tirani mayoritas.⁵ Sementara itu, epistemologi sosial modern mengakui bahwa pengetahuan sering kali bersifat kolaboratif dan terdistribusi dalam masyarakat.⁶ Pertanyaannya: bagaimana memastikan bahwa konsensus publik tidak jatuh ke dalam Ad Populum? Jawabannya terletak pada mekanisme kritik terbuka dan evaluasi berbasis bukti, yang membedakan konsensus epistemik yang sahih dari sekadar opini populer.

6.4.       Epistemologi Kritis terhadap Ad Populum

Dari perspektif epistemologi kritis, Ad Populum memperlihatkan bahaya relativisme sosial, yakni anggapan bahwa kebenaran ditentukan oleh opini dominan.⁷ Hal ini berpotensi melemahkan rasionalitas kritis dan membuka ruang bagi hegemoni ideologis. Jürgen Habermas, misalnya, menekankan pentingnya “situasi wicara ideal” di mana klaim kebenaran diuji melalui argumentasi bebas dari distorsi kekuasaan dan tekanan mayoritas.⁸ Dengan demikian, epistemologi kritis menuntut agar klaim kebenaran dipisahkan secara tegas dari popularitas, dan diuji dalam forum rasional yang terbuka.

6.5.       Relevansi Epistemologis di Era Digital

Dalam konteks digital, dimensi epistemologis Ad Populum menjadi semakin kompleks. Popularitas diukur melalui jumlah likes, shares, atau views, yang sering disalahartikan sebagai indikator validitas pengetahuan.⁹ Hal ini memunculkan apa yang oleh Luciano Floridi disebut sebagai “infosphere,” di mana aliran informasi yang masif berpotensi mereduksi epistemologi menjadi sekadar metrik popularitas.¹⁰ Oleh karena itu, tantangan epistemologi kontemporer adalah mengembalikan kriteria kebenaran pada basis rasional dan empiris, sekaligus menolak jebakan ilusi mayoritas.


Footnotes

[1]                Alvin I. Goldman, Epistemology and Cognition (Cambridge: Harvard University Press, 1986), 43.

[2]                Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 2002), 33.

[3]                Helen E. Longino, Science as Social Knowledge: Values and Objectivity in Scientific Inquiry (Princeton: Princeton University Press, 1990), 68.

[4]                Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019), 17.

[5]                John Stuart Mill, On Liberty (London: Parker & Son, 1859), 34.

[6]                Steve Fuller, Social Epistemology (Bloomington: Indiana University Press, 1988), 52.

[7]                Richard Rorty, Philosophy and the Mirror of Nature (Princeton: Princeton University Press, 1979), 317.

[8]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 86.

[9]                José van Dijck, The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media (Oxford: Oxford University Press, 2013), 112.

[10]             Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011), 19.


7.           Dimensi Etis dan Politik

7.1.       Ad Populum dalam Etika Publik

Secara etis, fallacy Ad Populum menimbulkan persoalan serius karena dapat mereduksi nilai kebenaran menjadi sekadar produk kesepakatan mayoritas.¹ Jika kebenaran ditentukan oleh apa yang diyakini banyak orang, maka nilai moral pun rentan dikonstruksi secara arbitrer oleh opini publik. Hal ini berbahaya karena mayoritas tidak selalu menjadi tolok ukur keadilan. Contoh historis seperti diskriminasi rasial atau praktik perbudakan menunjukkan bahwa sesuatu yang pernah diterima luas dalam masyarakat bisa jadi sangat keliru secara moral.² Dengan demikian, Ad Populum mengandung bahaya etis berupa relativisme mayoritarian, yang mengikis standar moral objektif.

7.2.       Manipulasi Politik dan Populisme

Dalam ranah politik, Ad Populum sering menjadi instrumen retorika populis. Pemimpin populis kerap mengklaim mewakili “suara rakyat” dengan mendasarkan legitimasi pada jumlah dukungan, bukan pada kualitas argumen atau kebijakan.³ Strategi ini menguatkan daya tarik emosional, tetapi melemahkan proses deliberatif yang seharusnya menjadi fondasi demokrasi.⁴ Akibatnya, kebijakan publik dapat terbentuk bukan karena bukti dan argumentasi rasional, melainkan karena daya tarik opini mayoritas yang dibentuk melalui propaganda atau manipulasi media.

7.3.       Propaganda dan Retorika Massa

Sejarah memperlihatkan bahwa Ad Populum sering dimanfaatkan sebagai senjata propaganda. Nazi Jerman, misalnya, menggunakan retorika massa untuk meyakinkan rakyat bahwa kebijakan diskriminatif terhadap kelompok tertentu adalah “benar” karena didukung mayoritas.⁵ Dalam konteks kontemporer, fenomena buzzer politics dan manipulasi trending topic di media sosial menunjukkan pola serupa: kebenaran dipersepsikan dari seberapa luas isu tersebut diikuti publik.⁶ Dengan cara ini, Ad Populum menjadi alat retoris untuk membungkam minoritas kritis dan memperkuat hegemoni ideologi dominan.

7.4.       Implikasi terhadap Demokrasi

Dari sudut pandang politik normatif, Ad Populum menimbulkan paradoks dalam demokrasi. Demokrasi memang menekankan partisipasi mayoritas, tetapi demokrasi deliberatif juga menuntut penggunaan rasio dan argumentasi dalam pengambilan keputusan.⁷ Ketika Ad Populum mendominasi, demokrasi terjebak dalam apa yang disebut Alexis de Tocqueville sebagai “tirani mayoritas,” di mana opini populer membatasi kebebasan berpikir dan mengabaikan hak-hak minoritas.⁸ Oleh karena itu, penting bagi demokrasi modern untuk menyeimbangkan peran mayoritas dengan prinsip rasionalitas, keadilan, dan penghormatan terhadap pluralisme.

7.5.       Etika Diskursus Publik

Dalam konteks diskursus publik, Ad Populum menantang etika komunikasi. Habermas menekankan bahwa klaim kebenaran harus diuji dalam kondisi “situasi wicara ideal,” yaitu ruang diskusi yang bebas dari distorsi kekuasaan dan tekanan mayoritas.⁹ Jika diskursus hanya diukur dari popularitas pendapat, maka ruang publik kehilangan kualitas kritisnya. Etika diskursus menuntut agar setiap argumen diperiksa secara rasional, bukan hanya diikuti karena banyak orang mendukungnya. Dengan demikian, penolakan terhadap fallacy Ad Populum merupakan bagian dari komitmen etis untuk menjaga keadilan dan rasionalitas dalam ruang publik.


Footnotes

[1]                James Rachels dan Stuart Rachels, The Elements of Moral Philosophy, 9th ed. (New York: McGraw-Hill, 2019), 36.

[2]                Kwame Anthony Appiah, The Honor Code: How Moral Revolutions Happen (New York: W. W. Norton, 2010), 57.

[3]                Cas Mudde dan Cristóbal Rovira Kaltwasser, Populism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 43.

[4]                Nadia Urbinati, Democracy Disfigured: Opinion, Truth, and the People (Cambridge: Harvard University Press, 2014), 74.

[5]                Ian Kershaw, The “Hitler Myth”: Image and Reality in the Third Reich (Oxford: Oxford University Press, 1987), 88.

[6]                Ross Tapsell, Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution (Lanham: Rowman & Littlefield, 2017), 102.

[7]                Amy Gutmann dan Dennis Thompson, Why Deliberative Democracy? (Princeton: Princeton University Press, 2004), 12.

[8]                Alexis de Tocqueville, Democracy in America, trans. George Lawrence (New York: Harper Perennial, 2000), 245.

[9]                Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt dan Shierry Weber Nicholsen (Cambridge: MIT Press, 1990), 88.


8.           Ad Populum dalam Media dan Kehidupan Sehari-hari

8.1.       Media Massa dan Legitimasi Populer

Media massa memiliki peran sentral dalam memperkuat daya tarik Ad Populum. Sejak era surat kabar hingga televisi, popularitas berita sering dijadikan indikator validitas.¹ Fenomena “agenda setting” menunjukkan bahwa isu yang banyak diberitakan akan dipersepsikan masyarakat sebagai lebih penting dan lebih benar.² Dengan demikian, media tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga membentuk persepsi kolektif mengenai kebenaran melalui frekuensi liputan dan resonansi publik.

8.2.       Media Sosial dan Budaya Viral

Era digital memperluas jangkauan Ad Populum melalui media sosial. Algoritma platform seperti Facebook, X (Twitter), atau TikTok dirancang untuk menonjolkan konten yang paling banyak direspons pengguna.³ Akibatnya, kebenaran sering kali didefinisikan oleh jumlah likes, shares, atau views, bukan oleh kualitas substansi.⁴ Fenomena viral culture ini memperlihatkan bagaimana popularitas dapat menciptakan ilusi validitas, bahkan ketika klaim tersebut keliru atau menyesatkan.⁵ Dalam konteks ini, Ad Populum tidak lagi sekadar pola argumentasi, melainkan logika inheren dari sistem media digital itu sendiri.

8.3.       Iklan dan Konsumerisme

Dunia periklanan secara eksplisit memanfaatkan fallacy Ad Populum melalui slogan-slogan yang menekankan banyaknya pengguna produk tertentu. Contoh umum adalah klaim “Nomor 1 pilihan keluarga” atau “Dipercaya jutaan orang.”⁶ Strategi ini tidak memberikan argumen rasional tentang kualitas produk, melainkan mengandalkan efek psikologis bahwa jika banyak orang membeli, maka produk itu pasti baik. Dalam konsumerisme modern, hal ini diperkuat oleh fenomena bandwagon consumption, di mana tren pasar lebih ditentukan oleh selera mayoritas daripada kualitas intrinsik barang.⁷

8.4.       Pendidikan dan Dinamika Ruang Kelas

Dalam konteks pendidikan, Ad Populum juga muncul ketika siswa lebih memilih mengikuti pendapat mayoritas ketimbang berpikir kritis. Penelitian dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa tekanan kelompok (peer pressure) sering memengaruhi pilihan akademik siswa, meskipun mereka memiliki argumen yang lebih kuat.⁸ Guru dan pendidik dituntut untuk menciptakan ruang diskusi yang mendorong keberanian berpikir berbeda, sehingga siswa tidak hanya terjebak dalam logika mayoritas.

8.5.       Budaya Populer dan Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, Ad Populum hadir melalui norma sosial dan tren budaya. Misalnya, preferensi musik, mode, atau gaya hidup sering dianggap sahih hanya karena “semua orang melakukannya.”⁹ Fenomena ini menunjukkan bagaimana opini populer memengaruhi identitas individu dan perilaku kolektif. Sementara dalam jangka pendek hal ini dapat menciptakan solidaritas sosial, dalam jangka panjang dapat melemahkan kapasitas kritis individu untuk menilai nilai suatu praktik secara rasional.¹⁰

8.6.       Implikasi Sosial Kontemporer

Pengaruh Ad Populum dalam media, iklan, pendidikan, dan budaya populer menunjukkan bahwa fallacy ini tidak hanya merupakan problem akademis, tetapi juga fenomena sosial yang membentuk pola pikir masyarakat. Di era informasi yang serba cepat, popularitas sering kali menggantikan bukti sebagai tolok ukur kebenaran. Hal ini menimbulkan tantangan serius bagi masyarakat modern: bagaimana menjaga otonomi berpikir kritis di tengah arus opini publik yang masif.


Footnotes

[1]                Maxwell McCombs dan Donald Shaw, “The Agenda-Setting Function of Mass Media,” Public Opinion Quarterly 36, no. 2 (1972): 176–187.

[2]                Denis McQuail, Mass Communication Theory, 6th ed. (London: Sage, 2010), 512.

[3]                José van Dijck, The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media (Oxford: Oxford University Press, 2013), 115.

[4]                Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (New York: Penguin, 2011), 52.

[5]                Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest (New Haven: Yale University Press, 2017), 29.

[6]                William M. O’Barr, “Advertising Appeals as Social Symbol: A Cultural Analysis of Advertising,” Journal of Advertising Research 24, no. 6 (1984): 35.

[7]                Russell W. Belk, “Possessions and the Extended Self,” Journal of Consumer Research 15, no. 2 (1988): 139–168.

[8]                David W. Johnson dan Roger T. Johnson, Joining Together: Group Theory and Group Skills, 12th ed. (New York: Pearson, 2019), 214.

[9]                Fred Davis, Fashion, Culture, and Identity (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 36.

[10]             Pierre Bourdieu, Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste, trans. Richard Nice (Cambridge: Harvard University Press, 1984), 170.


9.           Kritik dan Alternatif Rasional

9.1.       Kritik Filosofis terhadap Ad Populum

Fallacy Ad Populum telah menjadi objek kritik dalam tradisi filsafat sejak zaman klasik. Aristoteles menekankan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh opini banyak orang, melainkan oleh argumen yang sesuai dengan prinsip rasionalitas dan bukti empiris.¹ Kritik ini diperkuat dalam era modern oleh filsuf rasionalis seperti Descartes, yang menyerukan agar individu berani meragukan opini mayoritas sebagai langkah menuju pengetahuan yang lebih pasti.² Pandangan tersebut menggarisbawahi bahwa Ad Populum melemahkan fondasi epistemik karena mengganti argumentasi logis dengan preferensi kolektif.

9.2.       Kritik Epistemologis: Popularitas Bukan Validitas

Dari sudut pandang epistemologi, kritik utama terhadap Ad Populum adalah bahwa ia mencampuradukkan antara popularitas dan validitas. Mayoritas bisa saja salah, sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah ilmu pengetahuan, misalnya pada keyakinan geosentrisme yang bertahan selama berabad-abad meski keliru.³ Karl Popper menegaskan bahwa kebenaran ilmiah tidak pernah ditentukan oleh konsensus, melainkan oleh falsifiabilitas klaim.⁴ Dengan demikian, Ad Populum adalah bentuk simplifikasi epistemik yang mengabaikan standar pengujian kritis terhadap kebenaran.

9.3.       Kritik Etis dan Politik

Secara etis, Ad Populum berpotensi melahirkan tirani mayoritas. John Stuart Mill mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh direduksi menjadi dominasi opini populer yang membungkam minoritas.⁵ Dalam ranah politik, kritik ini sangat penting karena manipulasi Ad Populum dapat melahirkan populisme dangkal, yang mengorbankan deliberasi rasional demi keuntungan elektoral.⁶ Oleh sebab itu, penolakan terhadap fallacy ini bukan sekadar urusan logika, melainkan juga bagian dari komitmen etis dan politik untuk melindungi kebebasan berpikir dan keadilan sosial.

9.4.       Strategi Menghindari Ad Populum

Untuk menghindari jebakan Ad Populum, diperlukan beberapa strategi rasional:

1)                  Verifikasi bukti independen – klaim harus diperiksa melalui data empiris atau logika, bukan hanya karena diyakini banyak orang.⁷

2)                  Kritis terhadap sumber otoritas kolektif – perlu membedakan antara konsensus ilmiah yang terbentuk melalui metodologi ketat dengan sekadar opini populer.⁸

3)                  Mendorong pluralitas opini – membuka ruang bagi pandangan minoritas sebagai koreksi terhadap dominasi mayoritas.⁹

4)                  Pendidikan berpikir kritis – membiasakan masyarakat untuk mempertanyakan alasan di balik suatu klaim, bukan hanya mengikuti tren atau opini umum.¹⁰

9.5.       Literasi Kritis sebagai Alternatif Rasional

Alternatif rasional terhadap Ad Populum terletak pada penguatan literasi kritis. Paulo Freire menekankan pentingnya pendidikan yang membebaskan, yakni pendidikan yang mendorong peserta didik untuk membaca realitas secara reflektif, bukan sekadar menerima wacana dominan.¹¹ Demikian pula, Habermas mengajukan konsep rasionalitas komunikatif, di mana klaim kebenaran diuji melalui dialog terbuka dan bebas dari tekanan mayoritas.¹² Dengan demikian, literasi kritis dan ruang diskursus rasional menjadi benteng utama terhadap hegemoni Ad Populum.


Refleksi: Dari Kritik ke Emansipasi

Kritik terhadap Ad Populum tidak hanya penting untuk kepentingan akademis, tetapi juga untuk emansipasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kesadaran kritis, individu dapat membebaskan diri dari tirani opini populer dan mengambil keputusan berdasarkan nalar serta bukti yang sahih. Pada akhirnya, alternatif rasional terhadap Ad Populum bukan sekadar strategi logis, melainkan proyek etis-politik untuk membangun masyarakat yang lebih adil, rasional, dan demokratis.


Footnotes

[1]                Aristotle, Rhetoric, trans. W. Rhys Roberts (New York: Modern Library, 1954), 1356a.

[2]                René Descartes, Discourse on the Method, trans. Donald A. Cress (Indianapolis: Hackett, 1998), 18.

[3]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970), 68.

[4]                Karl R. Popper, Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge, 2002), 33.

[5]                John Stuart Mill, On Liberty (London: Parker & Son, 1859), 34.

[6]                Nadia Urbinati, Democracy Disfigured: Opinion, Truth, and the People (Cambridge: Harvard University Press, 2014), 77.

[7]                Stephen Toulmin, The Uses of Argument (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 92.

[8]                Naomi Oreskes, Why Trust Science? (Princeton: Princeton University Press, 2019), 21.

[9]                Chantal Mouffe, The Democratic Paradox (London: Verso, 2000), 25.

[10]             Richard Paul dan Linda Elder, Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your Learning and Your Life, 3rd ed. (Boston: Pearson, 2011), 14.

[11]             Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 2000), 72.

[12]             Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, Vol. 1, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), 86.


10.       Sintesis dan Refleksi Filosofis

10.1.    Sintesis Konseptual

Dari uraian sebelumnya, jelas bahwa Ad Populum merupakan salah satu bentuk fallacy informal yang memiliki dampak luas dalam kehidupan sosial, politik, dan epistemologis. Ia beroperasi dengan mekanisme sederhana—menyamakan popularitas dengan kebenaran—namun konsekuensinya kompleks.¹ Secara konseptual, Ad Populum memperlihatkan bagaimana logika dapat dikompromikan oleh kebutuhan psikologis akan penerimaan sosial dan oleh struktur sosiologis yang menormalisasi opini mayoritas.² Dalam dimensi epistemologis, ia menunjukkan keterbatasan akal budi manusia dalam membedakan antara validitas dan legitimasi sosial.³

10.2.    Refleksi Filosofis atas Rasionalitas dan Mayoritas

Refleksi filosofis mengajarkan bahwa kebenaran tidak identik dengan konsensus, meskipun konsensus bisa menjadi indikator awal bagi validitas klaim. Karl Popper menekankan bahwa pengetahuan ilmiah berkembang bukan karena diterima mayoritas, melainkan karena mampu bertahan dari kritik dan falsifikasi.⁴ John Stuart Mill, pada ranah politik, mengingatkan bahaya “tirani mayoritas” yang dapat mengekang kebebasan berpikir individu.⁵ Dengan demikian, secara filosofis, Ad Populum menantang kita untuk menyeimbangkan antara pengakuan akan peran kolektif dalam membentuk pengetahuan dan kesadaran kritis terhadap potensi manipulasi mayoritas.

10.3.    Relevansi di Era Digital

Di era digital, Ad Populum menemukan medan subur dalam budaya viral dan algoritma media sosial. Popularitas diukur melalui jumlah likes atau shares, yang sering disalahartikan sebagai legitimasi kebenaran.⁶ Refleksi filosofis di sini menuntut kita untuk mempertanyakan logika digital: apakah metrik popularitas benar-benar dapat dijadikan dasar epistemik? Luciano Floridi menyebut era ini sebagai infosphere, di mana banjir informasi menciptakan risiko relativisme epistemik.⁷ Oleh karena itu, tantangan filosofis kontemporer adalah menjaga rasionalitas kritis dalam lanskap informasi yang didominasi logika kuantitatif popularitas.

10.4.    Dialektika Individu dan Kolektivitas

Filsafat juga mengajarkan pentingnya dialektika antara individu dan kolektivitas. Hegel menekankan bahwa kebebasan individu hanya dapat direalisasikan dalam kerangka kehidupan etis kolektif (Sittlichkeit).⁸ Namun, jika kolektivitas didominasi oleh logika Ad Populum, maka kebebasan tersebut tereduksi menjadi konformitas. Refleksi ini menegaskan perlunya ruang deliberatif yang memungkinkan kritik rasional, sehingga konsensus tidak jatuh menjadi kesepakatan pasif, tetapi menjadi hasil dialog reflektif yang rasional.

10.5.    Menuju Rasionalitas Emansipatoris

Akhirnya, kritik terhadap Ad Populum dapat dibaca sebagai upaya menuju rasionalitas emansipatoris—sebuah rasionalitas yang membebaskan manusia dari tirani mayoritas dan membuka ruang bagi pemikiran kritis. Habermas menyebutnya sebagai “rasionalitas komunikatif,” di mana klaim kebenaran diuji melalui diskursus bebas dari dominasi.⁹ Refleksi filosofis ini memperlihatkan bahwa penolakan terhadap Ad Populum bukan sekadar menolak fallacy, melainkan bagian dari proyek yang lebih luas: membangun masyarakat yang rasional, adil, dan pluralis.


Kesimpulan Reflektif

Sintesis dari keseluruhan kajian ini menegaskan bahwa Ad Populum adalah cermin keterbatasan manusia yang mudah terbuai oleh mayoritas. Namun, ia juga membuka peluang refleksi filosofis tentang pentingnya membangun kesadaran kritis, baik dalam ranah epistemologi, etika, maupun politik. Pada akhirnya, tantangan filosofis kita adalah bagaimana mengintegrasikan kekuatan kolektif tanpa jatuh ke dalam jebakan mayoritarianisme, serta bagaimana menjaga ruang rasionalitas agar tetap menjadi pemandu bagi pencarian kebenaran.


Footnotes

[1]                Patrick J. Hurley, A Concise Introduction to Logic, 13th ed. (Boston: Cengage Learning, 2016), 147.

[2]                Gustave Le Bon, The Crowd: A Study of the Popular Mind (London: Ernest Benn, 1926), 39.

[3]                Alvin I. Goldman, Epistemology and Cognition (Cambridge: Harvard University Press, 1986), 43.

[4]                Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 2002), 33.

[5]                John Stuart Mill, On Liberty (London: Parker & Son, 1859), 35.

[6]                José van Dijck, The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media (Oxford: Oxford University Press, 2013), 119.

[7]                Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011), 19.

[8]                G. W. F. Hegel, Elements of the Philosophy of Right, ed. Allen W. Wood, trans. H. B. Nisbet (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 220.

[9]                Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge: MIT Press, 1990), 88.


11.       Penutup

11.1.    Kesimpulan Umum

Kajian ini menunjukkan bahwa fallacy Ad Populum merupakan salah satu bentuk kesalahan berpikir yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ruang publik, media, politik, maupun interaksi sosial.¹ Ad Populum bekerja dengan mengasumsikan bahwa popularitas suatu klaim adalah bukti kebenarannya. Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam epistemologi, kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pendukung, melainkan oleh korespondensi dengan realitas, koherensi dengan sistem pengetahuan, serta bukti empiris yang dapat diverifikasi.²

Dari perspektif sejarah, kita melihat bahwa kritik terhadap Ad Populum telah hadir sejak filsafat Yunani klasik hingga tradisi modern dan kontemporer.³ Dimensi psikologis dan sosiologis memperlihatkan bagaimana kebutuhan akan konformitas, rasa aman, serta konstruksi sosial budaya membuat manusia rentan menerima klaim mayoritas tanpa kritik.⁴ Sementara itu, dimensi epistemologis, etis, dan politik menegaskan bahwa Ad Populum dapat mengancam kebebasan berpikir, melemahkan demokrasi deliberatif, serta membuka ruang manipulasi oleh populisme dan propaganda.⁵

11.2.    Keterbatasan Kajian

Artikel ini masih memiliki keterbatasan dalam dua hal utama. Pertama, kajian lebih banyak menekankan aspek teoretis-filosofis, sehingga kurang memberikan studi kasus empiris yang mendalam dari konteks lokal, khususnya dalam masyarakat Indonesia. Kedua, belum banyak dieksplorasi keterkaitan antara Ad Populum dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mereproduksi bias mayoritas melalui algoritma.⁶

11.3.    Saran untuk Penelitian dan Kajian Lanjutan

Berdasarkan keterbatasan tersebut, ada beberapa saran yang dapat diajukan:

1)                  Studi empiris lintas budaya – bagaimana Ad Populum bekerja dalam masyarakat dengan struktur sosial yang berbeda, misalnya masyarakat individualis versus kolektivis.

2)                  Analisis media digital lokal – penelitian lebih lanjut tentang bagaimana Ad Populum beroperasi dalam dinamika media sosial Indonesia, terutama terkait fenomena buzzer politics.

3)                  Keterkaitan dengan teknologi informasi – kajian tentang bagaimana algoritma media sosial dan sistem rekomendasi AI memperkuat pola pikir mayoritarian.

4)                  Strategi pendidikan kritis – penelitian aplikatif tentang model pendidikan yang dapat melatih siswa maupun masyarakat luas untuk mengenali dan menghindari jebakan Ad Populum.

11.4.    Penutup Reflektif

Akhirnya, Ad Populum tidak hanya merupakan persoalan logika, tetapi juga cermin dari kondisi manusia sebagai makhluk sosial yang rentan terhadap tekanan mayoritas. Namun, justru di situlah tantangan dan peluangnya: membangun budaya berpikir kritis yang mampu menyeimbangkan antara kebijaksanaan kolektif dan otonomi individu.⁷ Dengan kesadaran kritis, masyarakat dapat menghindari tirani mayoritas dan bergerak menuju ruang publik yang lebih rasional, adil, dan emansipatoris.⁸


Footnotes

[1]                Patrick J. Hurley, A Concise Introduction to Logic, 13th ed. (Boston: Cengage Learning, 2016), 145.

[2]                Alvin I. Goldman, Epistemology and Cognition (Cambridge: Harvard University Press, 1986), 43.

[3]                Aristotle, Rhetoric, trans. W. Rhys Roberts (New York: Modern Library, 1954), 1356a.

[4]                Gustave Le Bon, The Crowd: A Study of the Popular Mind (London: Ernest Benn, 1926), 35.

[5]                John Stuart Mill, On Liberty (London: Parker & Son, 1859), 34.

[6]                Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (New York: Penguin, 2011), 52.

[7]                Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman Ramos (New York: Continuum, 2000), 72.

[8]                Jürgen Habermas, Moral Consciousness and Communicative Action, trans. Christian Lenhardt and Shierry Weber Nicholsen (Cambridge: MIT Press, 1990), 88.


Daftar Pustaka

Appiah, K. A. (2010). The honor code: How moral revolutions happen. W. W. Norton.

Aristotle. (1954). Rhetoric (W. Rhys Roberts, Trans.). Modern Library.

Asch, S. E. (1955). Opinions and social pressure. Scientific American, 193(5), 31–35.

Bacon, F. (1960). Novum organum (F. H. Anderson, Ed.). Bobbs-Merrill.

Belk, R. W. (1988). Possessions and the extended self. Journal of Consumer Research, 15(2), 139–168.

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1967). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgment of taste (R. Nice, Trans.). Harvard University Press.

Brown, S. F. (1983). Medieval fallacies and the scholastic tradition. Vivarium, 21(1), 63–80.

Buridan, J. (2001). Summulae de dialectica (G. Klima, Ed.). Yale University Press.

Cialdini, R. B. (2007). Influence: The psychology of persuasion (Rev. ed.). Harper Business.

Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2011). Introduction to logic (14th ed.). Routledge.

Damer, T. E. (2012). Attacking faulty reasoning: A practical guide to fallacy-free arguments (7th ed.). Cengage Learning.

Davis, F. (1992). Fashion, culture, and identity. University of Chicago Press.

Descartes, R. (1998). Discourse on the method (D. A. Cress, Trans.). Hackett.

van Dijck, J. (2013). The culture of connectivity: A critical history of social media. Oxford University Press.

Eemeren, F. H. van, & Grootendorst, R. (1992). Argumentation, communication, and fallacies. Lawrence Erlbaum Associates.

Eemeren, F. H. van, Garssen, B., & Meuffels, B. (2009). Fallacies and judgments of reasonableness. Springer.

Floridi, L. (2011). The philosophy of information. Oxford University Press.

Freire, P. (2000). Pedagogy of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). Continuum.

Fuller, S. (1988). Social epistemology. Indiana University Press.

Garver, E. (1994). Aristotle’s rhetoric: An art of character. University of Chicago Press.

Goldman, A. I. (1986). Epistemology and cognition. Harvard University Press.

Govier, T. (2010). A practical study of argument (7th ed.). Wadsworth.

Gutmann, A., & Thompson, D. (2004). Why deliberative democracy? Princeton University Press.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action, Vol. 1 (T. McCarthy, Trans.). Beacon Press.

Habermas, J. (1990). Moral consciousness and communicative action (C. Lenhardt & S. W. Nicholsen, Trans.). MIT Press.

Hamblin, C. L. (1970). Fallacies. Methuen.

Hegel, G. W. F. (1991). Elements of the philosophy of right (A. W. Wood, Ed.; H. B. Nisbet, Trans.). Cambridge University Press.

Hurley, P. J. (2016). A concise introduction to logic (13th ed.). Cengage Learning.

Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2019). Joining together: Group theory and group skills (12th ed.). Pearson.

Kershaw, I. (1987). The “Hitler myth”: Image and reality in the Third Reich. Oxford University Press.

Kennedy, G. A. (1963). The art of persuasion in Greece. Princeton University Press.

Kuhn, T. S. (1970). The structure of scientific revolutions (2nd ed.). University of Chicago Press.

Le Bon, G. (1926). The crowd: A study of the popular mind. Ernest Benn.

Longino, H. E. (1990). Science as social knowledge: Values and objectivity in scientific inquiry. Princeton University Press.

McCombs, M., & Shaw, D. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187.

McLuhan, M. (1964). Understanding media: The extensions of man. McGraw-Hill.

McQuail, D. (2010). Mass communication theory (6th ed.). Sage.

Mill, J. S. (1859). On liberty. Parker & Son.

Mouffe, C. (2000). The democratic paradox. Verso.

Mudde, C., & Kaltwasser, C. R. (2017). Populism: A very short introduction. Oxford University Press.

O’Barr, W. M. (1984). Advertising appeals as social symbol: A cultural analysis of advertising. Journal of Advertising Research, 24(6), 35–40.

Oreskes, N. (2019). Why trust science? Princeton University Press.

Pariser, E. (2011). The filter bubble: What the Internet is hiding from you. Penguin.

Paul, R., & Elder, L. (2011). Critical thinking: Tools for taking charge of your learning and your life (3rd ed.). Pearson.

Popper, K. R. (2002). The logic of scientific discovery. Routledge.

Popper, K. R. (2002). Conjectures and refutations: The growth of scientific knowledge. Routledge.

Postman, N. (2005). Amusing ourselves to death: Public discourse in the age of show business. Penguin.

Rachels, J., & Rachels, S. (2019). The elements of moral philosophy (9th ed.). McGraw-Hill.

Rorty, R. (1979). Philosophy and the mirror of nature. Princeton University Press.

Sunstein, C. R. (2017). #Republic: Divided democracy in the age of social media. Princeton University Press.

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1986). The social identity theory of intergroup behavior. In S. Worchel & W. G. Austin (Eds.), Psychology of intergroup relations (pp. 15–40). Nelson-Hall.

Tapsell, R. (2017). Media power in Indonesia: Oligarchs, citizens and the digital revolution. Rowman & Littlefield.

Tocqueville, A. de. (2000). Democracy in America (G. Lawrence, Trans.). Harper Perennial.

Toulmin, S. (2003). The uses of argument. Cambridge University Press.

Tufekci, Z. (2017). Twitter and tear gas: The power and fragility of networked protest. Yale University Press.

Urbinati, N. (2014). Democracy disfigured: Opinion, truth, and the people. Harvard University Press.

Walton, D. N. (1999). Appeal to popular opinion. Pennsylvania State University Press.

Walton, D. N. (2006). Fundamentals of critical argumentation. Cambridge University Press.

Walton, D. N. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar