Revolusi Kopernikan Kant
Transformasi Paradigma Pengetahuan antara Rasionalisme
dan Empirisme
Alihkan ke: Pemikiran Immanuel Kant.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif konsep Revolusi
Kopernikan dalam filsafat Immanuel Kant sebagai titik balik fundamental
dalam sejarah epistemologi dan metafisika modern. Latar belakang kajian
berangkat dari krisis epistemologis pra-Kant yang ditandai oleh pertentangan
antara rasionalisme dan empirisme, serta tantangan skeptisisme David Hume
terhadap legitimasi pengetahuan ilmiah. Melalui pendekatan analitis-historis
dan konseptual, artikel ini menelusuri bagaimana Kant merekonstruksi relasi
antara subjek dan objek pengetahuan dengan menempatkan struktur apriori subjek
sebagai kondisi kemungkinan pengalaman objektif.
Pembahasan difokuskan pada unsur-unsur utama
Revolusi Kopernikan Kant, meliputi problem pengetahuan sintetis apriori, peran
sensibilitas dan intelek, kategori-kategori akal budi, sintesis pengalaman,
serta konsep idealisme transendental dengan pembedaan fenomena dan noumena.
Artikel ini juga menelaah dampak Revolusi Kopernikan Kant terhadap metafisika,
ilmu pengetahuan, dan sains, sekaligus mengkaji kritik serta perdebatan yang
muncul dalam tradisi filsafat pasca-Kant. Hasil kajian menunjukkan bahwa
Revolusi Kopernikan Kant tidak hanya membatasi klaim metafisika spekulatif,
tetapi juga memberikan fondasi epistemologis yang kokoh bagi objektivitas
pengetahuan ilmiah.
Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan
relevansi dan aktualitas Revolusi Kopernikan Kant sebagai proyek filsafat
kritis yang terbuka, reflektif, dan terus berkontribusi dalam diskursus
epistemologi, filsafat sains, dan pemikiran filosofis kontemporer.
Kata Kunci: Immanuel Kant; Revolusi Kopernikan; Epistemologi;
Idealisme Transendental; Kategori Akal Budi; Metafisika; Filsafat Sains.
PEMBAHASAN
Revolusi Kopernikan dalam Filsafat Immanuel Kant
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Epistemologi Modern
Epistemologi modern sejak
abad ke-17 ditandai oleh perdebatan mendasar mengenai sumber, struktur, dan
legitimasi pengetahuan manusia. Dua aliran besar yang mendominasi periode ini
adalah rasionalisme dan empirisme, yang masing-masing menawarkan penjelasan
berbeda tentang bagaimana pengetahuan diperoleh dan divalidasi. Rasionalisme,
sebagaimana dikembangkan oleh René Descartes, Baruch Spinoza, dan Gottfried
Wilhelm Leibniz, menekankan peran rasio sebagai sumber utama pengetahuan yang
pasti dan universal.¹ Sebaliknya, empirisme Inggris—yang dipelopori oleh John
Locke, George Berkeley, dan mencapai bentuk paling radikal dalam filsafat David
Hume—menegaskan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman inderawi.²
Pertentangan antara kedua
aliran ini melahirkan problem epistemologis yang serius. Rasionalisme cenderung
jatuh pada metafisika dogmatis yang spekulatif, sementara empirisme menghadapi
kesulitan dalam menjelaskan universalitas dan keniscayaan hukum-hukum ilmu
pengetahuan. Ketegangan ini mencapai puncaknya dalam skeptisisme Hume, yang
meragukan dasar rasional dari kausalitas, substansi, dan bahkan keberlangsungan
pengetahuan ilmiah itu sendiri.³ Skeptisisme tersebut mengguncang fondasi
metafisika dan sains modern, sehingga menuntut adanya pendekatan baru yang
mampu menjelaskan bagaimana pengetahuan objektif mungkin diperoleh tanpa
terjebak dalam dogmatisme maupun skeptisisme ekstrem.
1.2.
Krisis Rasionalisme
dan Empirisme Pra-Kant
Krisis epistemologis pra-Kant
tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga berdampak langsung pada legitimasi
ilmu pengetahuan modern. Rasionalisme gagal menjelaskan hubungan konkret antara
konsep-konsep apriori dan pengalaman empiris, sedangkan empirisme tidak mampu
memberikan dasar yang memadai bagi kepastian pengetahuan ilmiah.⁴ Dalam konteks
ini, filsafat berada pada titik buntu: metafisika kehilangan kredibilitasnya
sebagai ilmu, sementara sains membutuhkan landasan epistemologis yang lebih
kokoh.
David Hume secara khusus
berperan penting dalam memperjelas krisis ini. Dengan menunjukkan bahwa
hubungan sebab-akibat tidak dapat dibuktikan secara rasional maupun empiris,
Hume menyimpulkan bahwa banyak keyakinan fundamental manusia hanyalah hasil
kebiasaan psikologis, bukan pengetahuan yang sahih.⁵ Implikasi dari pandangan
ini sangat radikal, karena jika kausalitas tidak memiliki dasar rasional, maka seluruh
bangunan ilmu pengetahuan alam menjadi problematis. Situasi inilah yang,
menurut pengakuan Immanuel Kant sendiri, “membangunkannya dari tidur
dogmatis.”⁶
1.3.
Posisi Strategis
Revolusi Kopernikan Kant dalam Sejarah Filsafat
Dalam menghadapi krisis epistemologi
tersebut, Immanuel Kant menawarkan sebuah terobosan radikal yang kemudian
dikenal sebagai “Revolusi Kopernikan” dalam filsafat. Analogi ini
merujuk pada perubahan paradigma yang dilakukan oleh Nicolaus Copernicus dalam
astronomi, ketika ia membalik asumsi dasar bahwa matahari mengelilingi bumi.
Kant mengadopsi pendekatan serupa dengan membalik relasi tradisional antara
subjek dan objek pengetahuan: bukan lagi pengetahuan yang harus menyesuaikan
diri dengan objek, melainkan objek pengalaman yang harus menyesuaikan diri
dengan struktur kognitif subjek.⁷
Revolusi ini menandai
pergeseran mendasar dalam epistemologi. Kant tidak sekadar mencari jalan tengah
antara rasionalisme dan empirisme, melainkan membangun kerangka baru yang
menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan hasil sintesis antara data empiris dan
struktur apriori akal budi. Dengan demikian, Kant berhasil menjelaskan
kemungkinan pengetahuan objektif sekaligus menetapkan batas-batas rasio
manusia.⁸ Posisi strategis Revolusi Kopernikan Kant terletak pada kemampuannya
merekonstruksi fondasi epistemologi, metafisika, dan filsafat ilmu secara
kritis.
1.4.
Rumusan Masalah dan
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang
tersebut, kajian ini diarahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan filosofis
utama sebagai berikut:
1)
Apa yang dimaksud dengan Revolusi
Kopernikan dalam filsafat Immanuel Kant?
2)
Problem epistemologis apa yang
melatarbelakangi lahirnya Revolusi Kopernikan Kant?
3)
Bagaimana perubahan paradigma
subjek–objek dalam teori pengetahuan Kant?
4)
Apa implikasi Revolusi Kopernikan
Kant terhadap metafisika dan ilmu pengetahuan?
5)
Sejauh mana relevansi Revolusi
Kopernikan Kant bagi diskursus filsafat kontemporer?
Pertanyaan-pertanyaan ini
menjadi kerangka analitis utama dalam membahas pemikiran Kant secara sistematis
dan komprehensif.
1.5.
Tujuan dan
Signifikansi Kajian
Tujuan utama kajian ini
adalah untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai makna, struktur, dan
implikasi Revolusi Kopernikan Kant dalam konteks epistemologi modern. Secara
khusus, kajian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan latar belakang historis dan
filosofis Revolusi Kopernikan Kant; (2) menganalisis konsep-konsep kunci
seperti apriori, sintesis, kategori, dan idealisme transendental; serta (3)
mengevaluasi dampak pemikiran Kant terhadap perkembangan metafisika dan
filsafat ilmu.
Signifikansi kajian ini
terletak pada kontribusinya terhadap pemahaman kritis atas fondasi pengetahuan
modern. Dengan menelaah Revolusi Kopernikan Kant, pembaca diharapkan dapat
memahami bagaimana objektivitas pengetahuan dimungkinkan tanpa mengabaikan
peran aktif subjek. Selain itu, kajian ini juga relevan bagi pengembangan
refleksi filosofis lintas disiplin, termasuk filsafat sains, pendidikan, dan
ilmu sosial.
1.6.
Metodologi dan
Pendekatan Penelitian
Kajian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode analisis filosofis-konseptual dan historis.
Analisis dilakukan terhadap karya utama Immanuel Kant, khususnya Critique
of Pure Reason, serta literatur sekunder yang relevan. Pendekatan historis
digunakan untuk memahami konteks intelektual lahirnya Revolusi Kopernikan Kant,
sementara pendekatan konseptual digunakan untuk menganalisis struktur argumen
dan implikasi filosofisnya. Metode ini dipilih untuk memastikan ketelitian
interpretatif dan koherensi argumentatif dalam pembahasan.
Sistematika
Penulisan
Artikel ini disusun dalam dua
belas bab. Bab I berfungsi sebagai pendahuluan yang memuat latar belakang,
rumusan masalah, tujuan, dan metodologi kajian. Bab II membahas konteks
historis dan intelektual pra-Kant. Bab III hingga Bab VIII mengulas secara
sistematis struktur Revolusi Kopernikan Kant dan idealisme transendental. Bab
IX dan Bab X membahas implikasi serta kritik terhadap pemikiran Kant. Bab XI
menyoroti relevansi kontemporer, dan Bab XII menyajikan kesimpulan serta
rekomendasi penelitian lanjutan.
Footnotes
[1]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John
Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996).
[2]
John Locke, An Essay Concerning Human Understanding (Oxford:
Oxford University Press, 1975).
[3]
David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding (Oxford:
Oxford University Press, 2007).
[4]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 4 (New
York: Image Books, 1994), 5–20.
[5]
Hume, An Enquiry, 41–55.
[6]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, trans.
Gary Hatfield (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 4.
[7]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), Bxvi–Bxvii.
[8]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 1–10.
2.
Konteks Historis dan
Intelektual Pra-Kant
2.1.
Dominasi Rasionalisme
Kontinental
Sejak abad ke-17, filsafat
Eropa daratan (kontinental) didominasi oleh tradisi rasionalisme yang meyakini
bahwa rasio manusia merupakan sumber utama pengetahuan yang pasti dan
universal. Rasionalisme muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian
pengetahuan berbasis otoritas dan tradisi skolastik abad pertengahan, serta
sejalan dengan perkembangan matematika dan sains modern. Para rasionalis
berpendapat bahwa struktur realitas dapat dipahami melalui prinsip-prinsip
rasional yang bersifat apriori, yakni independen dari pengalaman empiris.¹
René Descartes dianggap
sebagai pendiri rasionalisme modern melalui proyek epistemologisnya yang
berangkat dari keraguan metodis. Dengan meragukan seluruh keyakinan yang dapat
diragukan, Descartes berusaha menemukan dasar pengetahuan yang tak
terbantahkan, yang ia temukan dalam cogito, yakni kesadaran diri sebagai subjek
yang berpikir.² Dari titik ini, Descartes menegaskan bahwa ide-ide tertentu
bersifat bawaan (innate ideas) dan dapat menjadi fondasi pengetahuan yang
pasti. Pendekatan ini menempatkan subjek rasional sebagai pusat legitimasi
pengetahuan, meskipun relasi konkret antara rasio dan dunia empiris masih
menyisakan persoalan.
Rasionalisme selanjutnya
dikembangkan secara sistematis oleh Baruch Spinoza dan Gottfried Wilhelm
Leibniz. Spinoza mengonstruksi metafisika rasional yang ketat dengan metode
geometris, memandang realitas sebagai satu substansi tunggal yang dapat
dipahami melalui deduksi rasional.³ Leibniz, di sisi lain, mengembangkan teori
monad dan prinsip rasio cukup (principle of sufficient reason), yang
menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa alasan rasional yang
memadai.⁴ Kendati menawarkan koherensi logis yang tinggi, sistem rasionalisme
sering dikritik karena kecenderungannya jatuh ke dalam spekulasi metafisis yang
sulit diverifikasi secara empiris.
2.2.
Tradisi Empirisme
Inggris
Berbeda dengan rasionalisme
kontinental, empirisme berkembang terutama di Inggris dengan penekanan kuat
pada pengalaman inderawi sebagai sumber utama pengetahuan. Tradisi ini berakar
pada sikap skeptis terhadap klaim metafisis yang tidak dapat diuji melalui
pengalaman. John Locke, sebagai tokoh utama empirisme awal, menolak gagasan ide
bawaan dan menyatakan bahwa pikiran manusia pada awalnya adalah tabula rasa
yang diisi melalui pengalaman.⁵ Pengetahuan, menurut Locke, berasal dari
refleksi atas pengalaman inderawi dan operasi mental yang menyertainya.
Empirisme Locke kemudian
dikembangkan secara lebih radikal oleh George Berkeley, yang menolak keberadaan
materi sebagai substansi independen dari persepsi. Bagi Berkeley, eksistensi
suatu objek identik dengan keberadaannya dalam persepsi (esse est percipi).⁶
Pandangan ini menegaskan peran sentral pengalaman subjektif, tetapi sekaligus
menimbulkan pertanyaan tentang objektivitas dunia eksternal.
Puncak empirisme Inggris
tercapai dalam filsafat David Hume, yang mengajukan analisis skeptis terhadap
konsep-konsep metafisis fundamental seperti kausalitas, substansi, dan
identitas diri. Hume berpendapat bahwa hubungan sebab-akibat tidak dapat
dibuktikan secara rasional maupun empiris, melainkan hanya merupakan kebiasaan
pikiran yang terbentuk melalui pengulangan pengalaman.⁷ Dengan demikian, Hume
meruntuhkan klaim kepastian pengetahuan metafisis dan bahkan menggoyahkan dasar
epistemologis ilmu pengetahuan alam.
2.3.
Dampak Skeptisisme
Hume terhadap Proyek Filsafat Kant
Skeptisisme Hume memiliki dampak
yang sangat besar terhadap perkembangan filsafat modern, khususnya bagi
Immanuel Kant. Hume menunjukkan bahwa jika seluruh pengetahuan bersumber dari
pengalaman, maka tidak ada dasar rasional untuk mengklaim universalitas dan
keniscayaan hukum-hukum alam.⁸ Konsekuensi dari pandangan ini adalah
relativisasi pengetahuan ilmiah dan runtuhnya metafisika sebagai disiplin
rasional.
Kant mengakui bahwa kritik
Hume terhadap kausalitas telah mengguncang keyakinannya terhadap metafisika
tradisional. Dalam Prolegomena to Any Future Metaphysics, Kant
menyatakan bahwa pemikiran Hume telah “membangunkannya dari tidur dogmatis.”⁹
Namun, alih-alih menerima skeptisisme Hume, Kant justru menjadikannya sebagai
titik tolak untuk menyusun proyek kritis yang bertujuan menyelamatkan
objektivitas pengetahuan. Dengan demikian, skeptisisme Hume berfungsi sebagai
pemicu utama lahirnya Revolusi Kopernikan Kant dalam epistemologi.
2.4.
Ilmu Pengetahuan
Modern dan Tantangan Epistemologis Abad ke-18
Konteks historis pra-Kant
juga ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya
fisika Newtonian. Keberhasilan Isaac Newton dalam merumuskan hukum-hukum alam
yang bersifat universal dan matematis menuntut adanya landasan epistemologis
yang mampu menjelaskan kepastian dan objektivitas sains.¹⁰ Namun, baik
rasionalisme maupun empirisme belum mampu memberikan penjelasan yang memadai
mengenai bagaimana hukum-hukum tersebut mungkin bersifat universal dan niscaya.
Di satu sisi, rasionalisme
tidak dapat sepenuhnya menjelaskan keterkaitan hukum-hukum matematis dengan
pengalaman empiris. Di sisi lain, empirisme gagal menjelaskan mengapa
hukum-hukum yang didasarkan pada pengalaman terbatas dapat memiliki validitas
universal. Tantangan inilah yang mendorong Kant untuk mengajukan pertanyaan
mendasar mengenai kondisi kemungkinan pengetahuan ilmiah. Dengan menyelidiki
struktur apriori subjek yang memungkinkan pengalaman objektif, Kant berupaya
menjembatani kesenjangan antara rasio dan pengalaman.
Sintesis
Awal Menuju Proyek Kritik Kant
Berdasarkan konteks historis
dan intelektual pra-Kant, dapat disimpulkan bahwa Revolusi Kopernikan Kant
tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai respons sistematis terhadap
krisis epistemologis modern. Dominasi rasionalisme dan empirisme, skeptisisme
Hume, serta tuntutan legitimasi ilmu pengetahuan modern membentuk latar
belakang yang kompleks bagi lahirnya filsafat kritis Kant. Dengan menyadari
keterbatasan kedua tradisi tersebut, Kant merumuskan pendekatan baru yang
menempatkan subjek sebagai kondisi kemungkinan pengetahuan, tanpa meniadakan
peran pengalaman empiris. Pendekatan inilah yang menjadi fondasi Revolusi
Kopernikan Kant dan akan dibahas lebih lanjut dalam bab-bab berikutnya.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 4: Modern
Philosophy: From Descartes to Leibniz (New York: Image Books, 1994), 1–10.
[2]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John
Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), Meditation II.
[3]
Baruch Spinoza, Ethics, trans. Edwin Curley (London: Penguin
Books, 1996).
[4]
Gottfried Wilhelm Leibniz, Discourse on Metaphysics, trans.
George R. Montgomery (La Salle, IL: Open Court, 1985).
[5]
John Locke, An Essay Concerning Human Understanding (Oxford:
Oxford University Press, 1975), Book II.
[6]
George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human
Knowledge (Oxford: Oxford University Press, 1998).
[7]
David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding (Oxford:
Oxford University Press, 2007), secs. IV–VII.
[8]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 25–30.
[9]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, trans.
Gary Hatfield (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 4.
[10]
Isaac Newton, Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica,
trans. I. Bernard Cohen and Anne Whitman (Berkeley: University of California
Press, 1999).
3.
Problem Epistemologi
yang Dihadapi Kant
3.1.
Problem Dasar
Epistemologi Modern
Problem epistemologi yang
dihadapi Immanuel Kant berakar pada pertanyaan fundamental mengenai bagaimana
pengetahuan objektif dimungkinkan. Setelah lebih dari satu abad
perdebatan antara rasionalisme dan empirisme, filsafat modern berada dalam
situasi paradoksal: ilmu pengetahuan alam berkembang pesat dengan klaim
objektivitas dan universalitas, sementara fondasi filosofis yang menjamin klaim
tersebut justru semakin rapuh.¹
Rasionalisme menawarkan
kepastian apriori, tetapi gagal menjelaskan keterkaitannya dengan pengalaman
konkret. Sebaliknya, empirisme mampu menjelaskan asal-usul pengalaman, tetapi
tidak sanggup memberikan dasar bagi universalitas dan keniscayaan pengetahuan
ilmiah. Kant memandang bahwa problem ini tidak dapat diselesaikan dengan
memilih salah satu posisi secara ekstrem, melainkan dengan menyelidiki kondisi
kemungkinan pengetahuan itu sendiri.² Dengan demikian, problem
epistemologi Kant bersifat transendental, yakni tidak bertanya apa
yang diketahui, melainkan bagaimana pengetahuan sebagai pengetahuan
objektif mungkin terjadi.
3.2.
Masalah Pengetahuan
Sintetis Apriori
Problem sentral epistemologi
Kant dirumuskan dalam pertanyaan terkenal: “Bagaimana pengetahuan
sintetis apriori mungkin?” (Wie sind synthetische Urteile a priori
möglich?).³ Kant membedakan antara penilaian analitis dan sintetis, serta
antara pengetahuan apriori dan aposteriori. Penilaian analitis bersifat
menjelaskan apa yang sudah terkandung dalam konsep, sedangkan penilaian
sintetis menambahkan sesuatu yang baru. Pengetahuan apriori bersifat independen
dari pengalaman, sementara pengetahuan aposteriori bergantung pada pengalaman
inderawi.
Kant mengamati bahwa ilmu
pengetahuan alam dan matematika mengandung penilaian yang bersifat sekaligus
sintetis dan apriori. Contohnya, prinsip kausalitas atau hukum-hukum dasar
fisika tidak semata-mata bersumber dari pengalaman, tetapi juga tidak sekadar
bersifat analitis.⁴ Jika empirisme benar sepenuhnya, maka pengetahuan sintetis
apriori tidak mungkin ada. Namun, fakta keberhasilan sains menunjukkan bahwa
jenis pengetahuan ini nyata adanya. Di sinilah Kant melihat problem epistemologis
paling mendesak yang menuntut solusi filosofis baru.
3.3.
Problem Relasi Subjek
dan Objek dalam Pengetahuan
Tradisi filsafat pra-Kant
umumnya mengasumsikan bahwa pengetahuan harus menyesuaikan diri dengan objek.
Dalam kerangka ini, subjek dianggap pasif menerima kesan-kesan dari dunia luar,
sementara kebenaran pengetahuan diukur dari kesesuaiannya dengan realitas
objektif. Kant menilai asumsi ini sebagai sumber utama kebuntuan
epistemologis.⁵
Jika subjek sepenuhnya pasif,
maka pengetahuan tidak pernah mencapai keniscayaan dan universalitas.
Sebaliknya, jika subjek sepenuhnya aktif dan rasio mendikte struktur realitas,
maka pengetahuan berisiko terlepas dari pengalaman dan jatuh ke dalam spekulasi
metafisis. Kant melihat bahwa problem epistemologi modern terletak pada
kegagalan memahami peran aktif subjek dalam membentuk pengalaman,
tanpa meniadakan kontribusi objek. Oleh karena itu, ia mengajukan pendekatan
baru yang menyelidiki struktur kognitif subjek sebagai syarat kemungkinan
pengalaman objektif.
3.4.
Krisis Metafisika
Tradisional
Selain problem dalam
epistemologi, Kant juga menghadapi krisis metafisika sebagai disiplin filsafat.
Metafisika tradisional mengklaim dapat memberikan pengetahuan rasional tentang
realitas tertinggi, seperti Tuhan, jiwa, dan dunia sebagai keseluruhan. Namun,
perdebatan panjang antar sistem metafisis menunjukkan bahwa metafisika gagal
mencapai konsensus dan kepastian ilmiah.⁶
Kant menilai bahwa kegagalan
metafisika bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan para filsuf, melainkan
oleh kesalahan metodologis mendasar: metafisika melampaui batas legitimasi
rasio manusia. Rasio digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berada
di luar kemungkinan pengalaman. Akibatnya, rasio terjerumus ke dalam
kontradiksi internal yang dikenal sebagai antinomi.⁷ Problem epistemologi Kant
dengan demikian juga mencakup pertanyaan mengenai batas-batas rasio,
yakni sejauh mana manusia dapat mengetahui realitas secara sahih.
3.5.
Tantangan Skeptisisme
dan Dogmatisme
Kant melihat filsafat pra-kritis
terjebak antara dua ekstrem: skeptisisme dan dogmatisme. Skeptisisme,
sebagaimana dikembangkan oleh Hume, meragukan legitimasi pengetahuan objektif
dan mereduksi hukum-hukum alam menjadi kebiasaan psikologis. Dogmatisme, di
sisi lain, mengklaim kepastian metafisis tanpa kritik terhadap kemampuan rasio
itu sendiri.⁸
Bagi Kant, kedua posisi ini
sama-sama bermasalah. Skeptisisme mengancam rasionalitas dan ilmu pengetahuan,
sementara dogmatisme mengabaikan batas-batas rasio dan menghasilkan klaim
metafisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Problem epistemologi yang
dihadapi Kant adalah bagaimana menyelamatkan objektivitas pengetahuan
tanpa jatuh ke dalam dogmatisme, sekaligus menghindari
skeptisisme tanpa mengorbankan kritik rasional. Solusi atas problem
ini hanya mungkin melalui suatu kritik menyeluruh terhadap kemampuan rasio
manusia itu sendiri.
Kebutuhan
Akan Pendekatan Kritis dan Transendental
Sebagai respons terhadap
problem-problem epistemologis tersebut, Kant mengusulkan suatu pendekatan baru
yang ia sebut sebagai filsafat kritis. Kritik di sini tidak berarti penolakan,
melainkan penyelidikan sistematis terhadap kemampuan dan batas-batas rasio.
Pendekatan ini bersifat transendental, karena berfokus pada kondisi-kondisi
apriori yang memungkinkan pengalaman dan pengetahuan objektif.⁹
Dengan pendekatan
kritis-transendental, Kant tidak bertanya apakah objek metafisis benar-benar
ada, melainkan apakah dan bagaimana pengetahuan tentang objek tersebut mungkin
bagi subjek manusia. Dengan demikian, problem epistemologi yang dihadapi Kant
tidak diselesaikan dengan menambah teori metafisis baru, melainkan dengan
mereformulasi secara radikal cara filsafat memahami relasi antara subjek,
objek, dan pengetahuan. Pendekatan inilah yang kemudian melandasi apa yang
dikenal sebagai Revolusi Kopernikan Kant, yang akan dibahas
secara khusus dalam bab berikutnya.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 4 (New
York: Image Books, 1994), 21–35.
[2]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 1–5.
[3]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), B19.
[4]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 40–50.
[5]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 3–10.
[6]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, trans.
Gary Hatfield (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 3–6.
[7]
Kant, Critique of Pure Reason, A405–A567/B432–B595.
[8]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 15–20.
[9]
Kant, Critique of Pure Reason, A11–A12/B25–B26.
4.
Makna dan Analogi
“Revolusi Kopernikan”
4.1.
Asal-Usul Istilah
“Revolusi Kopernikan” dalam Filsafat Kant
Istilah “Revolusi
Kopernikan” (kopernikanische Wende) dalam filsafat Kant merujuk
pada perubahan radikal dalam cara memahami relasi antara subjek dan objek
pengetahuan. Kant secara eksplisit menggunakan analogi ini dalam pengantar
edisi kedua Critique of Pure Reason untuk menggambarkan pendekatan
barunya dalam epistemologi.¹ Dengan merujuk pada revolusi astronomi yang
dipelopori oleh Nicolaus Copernicus, Kant hendak menegaskan bahwa kemajuan
filsafat hanya mungkin dicapai melalui perubahan asumsi dasar yang selama ini
diterima tanpa kritik.
Dalam konteks astronomi,
Copernicus berhasil menjelaskan fenomena pergerakan benda langit dengan lebih
konsisten ketika ia membalik asumsi geosentris dan menempatkan matahari—bukan
bumi—sebagai pusat sistem. Kant melihat analogi metodologis yang kuat antara
perubahan tersebut dan problem epistemologi modern. Menurut Kant, kegagalan
metafisika dan epistemologi sebelumnya disebabkan oleh asumsi bahwa pengetahuan
harus menyesuaikan diri dengan objek. Revolusi Kopernikan Kant justru mengusulkan
bahwa objek pengalamanlah yang harus menyesuaikan diri dengan struktur kognitif
subjek.²
4.2.
Pergeseran Paradigma:
Dari Objek ke Subjek
Makna paling fundamental dari
Revolusi Kopernikan Kant terletak pada pergeseran paradigma epistemologis dari
objek ke subjek. Dalam filsafat pra-Kant, kebenaran pengetahuan dipahami
sebagai kesesuaian antara representasi mental dan realitas objektif yang
berdiri independen dari subjek. Kant menganggap pendekatan ini tidak memadai
untuk menjelaskan keniscayaan dan universalitas pengetahuan ilmiah.³
Dengan membalik asumsi
tersebut, Kant menyatakan bahwa pengalaman objektif hanya mungkin karena subjek
memiliki struktur apriori yang secara aktif membentuk data inderawi. Ruang dan
waktu sebagai bentuk apriori intuisi, serta kategori-kategori akal budi,
bukanlah sifat benda-benda pada dirinya, melainkan kondisi subjektif yang
memungkinkan objek tampil sebagai fenomena yang dapat diketahui.⁴ Dengan
demikian, objektivitas pengetahuan tidak dihapuskan, tetapi direkonstruksi sebagai
hasil sintesis antara unsur empiris dan struktur apriori subjek.
4.3.
Analogi Metodologis
dengan Revolusi Astronomi Copernicus
Analogi Kant dengan
Copernicus bersifat metodologis, bukan ontologis. Kant tidak bermaksud
menyamakan struktur realitas dengan sistem heliosentris, melainkan menekankan
bahwa perubahan asumsi metodologis dapat membuka jalan bagi kemajuan teoretis.⁵
Dalam astronomi, perubahan sudut pandang memungkinkan penjelasan fenomena yang
sebelumnya tidak dapat dipahami secara konsisten. Dalam epistemologi, perubahan
asumsi tentang relasi subjek–objek memungkinkan penjelasan mengenai bagaimana
pengetahuan sintetis apriori mungkin terjadi.
Sebagaimana Copernicus tidak
menyangkal keberadaan fenomena langit, Kant juga tidak menyangkal realitas
dunia empiris. Yang berubah adalah cara fenomena tersebut dipahami dan
dijelaskan. Analogi ini menegaskan bahwa Revolusi Kopernikan Kant bukanlah
penolakan terhadap pengalaman, melainkan reinterpretasi radikal atas peran
pengalaman dalam struktur pengetahuan.
4.4.
Implikasi
Epistemologis Revolusi Kopernikan
Implikasi epistemologis
Revolusi Kopernikan Kant sangat luas. Pertama, pengetahuan tidak lagi dipahami
sebagai cerminan pasif realitas, melainkan sebagai konstruksi aktif yang
dibentuk oleh subjek melalui sintesis antara intuisi dan konsep. Kedua,
objektivitas pengetahuan tidak bergantung pada akses langsung terhadap “benda
pada dirinya”, melainkan pada universalitas dan keniscayaan struktur apriori
yang dimiliki oleh semua subjek rasional.⁶
Ketiga, Revolusi Kopernikan
memungkinkan Kant menjelaskan keberhasilan ilmu pengetahuan alam tanpa jatuh ke
dalam dogmatisme metafisis. Hukum-hukum alam bersifat universal dan niscaya
bukan karena mencerminkan realitas noumenal, melainkan karena hukum-hukum
tersebut merupakan ekspresi dari struktur apriori akal budi manusia.⁷ Dengan
demikian, sains memperoleh legitimasi epistemologis yang kuat, sekaligus
ditempatkan dalam batas-batas pengalaman mungkin.
4.5.
Konsekuensi Metafisis:
Fenomena dan Noumena
Revolusi Kopernikan Kant juga
memiliki konsekuensi metafisis yang signifikan. Dengan menempatkan struktur
kognitif subjek sebagai kondisi kemungkinan pengalaman, Kant membedakan secara
tegas antara fenomena dan noumena. Fenomena adalah objek sebagaimana tampil
dalam pengalaman, dibentuk oleh ruang, waktu, dan kategori. Noumena, atau benda
pada dirinya, adalah realitas sebagaimana adanya secara independen dari cara
manusia mengenalnya.⁸
Pembedaan ini bukan
dimaksudkan untuk menegaskan dualisme ontologis, melainkan untuk menetapkan
batas epistemologis. Noumena tidak dapat diketahui secara teoretis, tetapi
harus dipostulasikan sebagai batas konseptual bagi klaim pengetahuan manusia.
Dengan cara ini, Revolusi Kopernikan Kant sekaligus membatasi dan menyelamatkan
metafisika: membatasi klaim pengetahuan spekulatif, namun membuka ruang bagi
metafisika kritis yang sahih.
Signifikansi
Revolusi Kopernikan bagi Filsafat Kritis
Revolusi Kopernikan Kant
menandai lahirnya filsafat kritis sebagai paradigma baru dalam filsafat modern.
Dengan mengalihkan fokus dari objek ke kondisi subjektif pengetahuan, Kant
tidak hanya menyelesaikan problem epistemologi modern, tetapi juga menetapkan
metode baru bagi filsafat sebagai disiplin reflektif.⁹ Filsafat tidak lagi
bertugas merumuskan teori tentang realitas tertinggi secara spekulatif,
melainkan menyelidiki batas dan legitimasi klaim rasional manusia.
Dalam kerangka ini, Revolusi
Kopernikan Kant dapat dipahami sebagai fondasi bagi perkembangan filsafat
pasca-Kant, termasuk idealisme Jerman, fenomenologi, dan bahkan filsafat
analitik. Signifikansi revolusi ini terletak pada kemampuannya menggeser
orientasi filsafat dari metafisika dogmatis menuju kritik rasio, tanpa
terjerumus ke dalam skeptisisme relativistik.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), Bxvi–Bxvii.
[2]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 40–45.
[3]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 5: Modern
Philosophy: The British Philosophers and Kant (New York: Image Books,
1994), 247–255.
[4]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, A22–A26/B37–B42.
[5]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 60–65.
[6]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 12–20.
[7]
Kant, Critique of Pure Reason, A126–A130/B165–B169.
[8]
Kant, Critique of Pure Reason, A249–A252.
[9]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 30–35.
5.
Struktur Dasar
Revolusi Kopernikan Kant
5.1.
Subjek sebagai Kondisi
Kemungkinan Pengetahuan
Struktur dasar Revolusi
Kopernikan Kant bertumpu pada tesis fundamental bahwa subjek bukanlah
penerima pasif realitas, melainkan kondisi kemungkinan pengetahuan objektif.
Kant menolak pandangan tradisional yang menganggap pengetahuan sebagai
penyesuaian pikiran terhadap objek. Sebaliknya, ia berargumen bahwa objek
pengalaman hanya mungkin diketahui sejauh ia tunduk pada struktur apriori
subjek.¹
Dalam kerangka ini, subjek
tidak menciptakan realitas, tetapi menentukan cara realitas dapat
dialami dan diketahui. Dengan demikian, Kant menghindari idealisme
subjektif yang mereduksi realitas menjadi sekadar konstruksi mental, sekaligus
menolak realisme naif yang mengabaikan peran aktif subjek. Posisi ini
menegaskan bahwa objektivitas pengetahuan justru bergantung pada universalitas
struktur kognitif subjek rasional.²
5.2.
Sensibilitas dan
Bentuk-Bentuk Apriori Intuisi
Komponen pertama dalam
struktur pengetahuan menurut Kant adalah sensibilitas (Sinnlichkeit),
yaitu kemampuan subjek untuk menerima representasi melalui afeksi objek.
Sensibilitas menyediakan bahan mentah pengalaman dalam bentuk intuisi. Namun,
intuisi tidak pernah bersifat netral atau tidak terstruktur. Kant menegaskan
bahwa seluruh intuisi empiris selalu berada dalam dua bentuk apriori, yaitu ruang
dan waktu.³
Ruang merupakan bentuk
apriori intuisi eksternal, yang memungkinkan representasi objek-objek luar,
sedangkan waktu adalah bentuk apriori intuisi internal, yang mengatur urutan
representasi dalam kesadaran. Ruang dan waktu bukanlah sifat benda pada
dirinya, melainkan kondisi subjektif yang memungkinkan pengalaman inderawi.⁴
Dengan menempatkan ruang dan waktu sebagai struktur apriori subjek, Kant
menjelaskan bagaimana pengalaman empiris dapat memiliki keteraturan dan
koherensi universal.
5.3.
Intelek dan
Kategori-Kategori Akal Budi
Selain sensibilitas, struktur
dasar Revolusi Kopernikan Kant mencakup intelek (Verstand),
yaitu kemampuan subjek untuk berpikir melalui konsep. Intelek bekerja dengan
cara menyatukan intuisi dalam kesatuan konseptual melalui apa yang disebut Kant
sebagai kategori-kategori akal budi.⁵ Kategori-kategori ini
bersifat apriori dan universal, serta tidak diperoleh dari pengalaman.
Kant menyusun tabel kategori
yang meliputi konsep-konsep dasar seperti kuantitas, kualitas, relasi, dan
modalitas. Fungsi utama kategori adalah memberikan struktur konseptual yang
memungkinkan pengalaman menjadi pengetahuan objektif. Tanpa kategori, intuisi
inderawi akan tetap terpisah-pisah dan tidak bermakna secara kognitif.⁶ Dengan
demikian, kategori berperan sebagai prinsip sintesis yang menghubungkan data
empiris dengan struktur rasional subjek.
5.4.
Sintesis sebagai Inti
Pengetahuan
Konsep sintesis
merupakan inti dari struktur epistemologi Kant. Pengetahuan, menurut Kant,
tidak lahir dari sensibilitas atau intelek secara terpisah, melainkan dari
kerja sama keduanya melalui proses sintesis. Kant menyatakan bahwa “intuisi
tanpa konsep adalah buta, dan konsep tanpa intuisi adalah kosong.”⁷ Pernyataan
ini menegaskan bahwa pengalaman dan rasio sama-sama diperlukan dalam
pembentukan pengetahuan.
Sintesis terjadi dalam
beberapa tingkat, mulai dari sintesis apprehensi dalam intuisi, sintesis
reproduksi dalam imajinasi, hingga sintesis rekognisi dalam konsep. Proses ini
memungkinkan kesatuan kesadaran dan objektivitas pengalaman. Dengan menekankan
peran sintesis, Kant menunjukkan bahwa pengetahuan objektif bukan cerminan
pasif realitas, melainkan hasil aktivitas kognitif subjek yang terstruktur
secara apriori.⁸
5.5.
Kesatuan Appersepsi
Transendental
Struktur dasar Revolusi
Kopernikan Kant mencapai puncaknya dalam konsep kesatuan appersepsi
transendental (transzendentale Apperzeption). Kesatuan ini
merujuk pada kesadaran diri “aku berpikir” (Ich denke) yang harus
dapat menyertai seluruh representasi.⁹ Kesatuan appersepsi bukanlah pengalaman
empiris tentang diri, melainkan kondisi formal yang memungkinkan kesatuan
pengalaman.
Tanpa kesatuan appersepsi,
representasi akan tetap terfragmentasi dan tidak dapat dipahami sebagai
pengalaman objektif. Kesadaran diri transendental berfungsi sebagai pusat
sintesis yang menyatukan intuisi dan konsep dalam satu pengalaman yang koheren.
Dengan demikian, subjek bukan hanya kondisi pasif, tetapi prinsip unifikasi
aktif yang memungkinkan pengetahuan objektif dan bermakna.
Struktur
Fenomenal Pengetahuan dan Batas Noumenal
Struktur dasar Revolusi
Kopernikan Kant berimplikasi langsung pada pembatasan ruang lingkup pengetahuan
manusia. Karena pengetahuan bergantung pada struktur apriori subjek, maka objek
pengetahuan hanya dapat berupa fenomena, yakni realitas
sebagaimana tampil dalam pengalaman. Pengetahuan tentang noumena
atau benda pada dirinya berada di luar jangkauan rasio teoretis.¹⁰
Pembatasan ini bukan
merupakan kelemahan sistem Kant, melainkan justru kekuatan kritisnya. Dengan
menetapkan batas epistemologis, Kant mencegah rasio terjerumus ke dalam
spekulasi metafisis yang tidak sahih. Struktur dasar Revolusi Kopernikan Kant
dengan demikian berfungsi ganda: memungkinkan pengetahuan objektif sekaligus
membatasi klaim rasio agar tetap berada dalam wilayah legitimasi epistemologis.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), Bxvi–Bxvii.
[2]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 19–25.
[3]
Kant, Critique of Pure Reason, A19–A22/B33–B36.
[4]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 66–72.
[5]
Kant, Critique of Pure Reason, A50–A52/B74–B76.
[6]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 82–90.
[7]
Kant, Critique of Pure Reason, A51/B75.
[8]
Allison, Kant’s Transcendental Idealism, 40–48.
[9]
Kant, Critique of Pure Reason, B131–B132.
[10]
Kant, Critique of Pure Reason, A249–A252.
6.
Konsep Idealisme
Transendental
6.1.
Pengertian Idealisme
Transendental
Idealisme transendental
merupakan inti konseptual dari filsafat kritis Immanuel Kant dan menjadi
kerangka ontologis-epistemologis bagi Revolusi Kopernikan dalam pengetahuan.
Kant menggunakan istilah ini untuk menegaskan bahwa objek pengalaman tidak
dapat dipahami secara terlepas dari kondisi subjektif yang memungkinkan
pengalaman tersebut.¹ Idealisme transendental tidak menyatakan bahwa realitas
semata-mata merupakan ciptaan pikiran, melainkan bahwa cara realitas
diketahui selalu dimediasi oleh struktur apriori subjek.
Dalam Critique of Pure
Reason, Kant membedakan secara tegas antara idealisme transendental dan
idealisme empiris. Idealisme transendental menegaskan bahwa ruang dan waktu
adalah bentuk apriori intuisi subjektif, sementara idealisme empiris—yang
ditolak Kant—menganggap bahwa dunia eksternal tidak sungguh-sungguh ada.²
Dengan pembedaan ini, Kant bermaksud mempertahankan realitas empiris dunia
sekaligus menolak klaim bahwa manusia dapat mengetahui realitas sebagaimana
adanya secara independen dari subjek.
6.2.
Fenomena dan Noumena
Salah satu konsekuensi utama
idealisme transendental adalah pembedaan antara fenomena dan noumena.
Fenomena merujuk pada objek sebagaimana tampil dalam pengalaman manusia, yakni
objek yang telah dibentuk oleh ruang, waktu, dan kategori akal budi. Noumena,
atau benda pada dirinya (Ding an sich), menunjuk pada
realitas sebagaimana adanya secara independen dari cara manusia mengalaminya.³
Pembedaan ini bersifat
epistemologis, bukan ontologis dalam arti dualisme realitas. Kant tidak
mengajukan dua dunia yang terpisah, melainkan dua cara mempertimbangkan objek
yang sama: sebagai objek pengalaman (fenomena) dan sebagai realitas yang
melampaui kemungkinan pengalaman (noumena).⁴ Noumena tidak dapat diketahui
secara positif oleh rasio teoretis, tetapi berfungsi sebagai konsep batas yang
menandai keterbatasan pengetahuan manusia.
6.3.
Idealisme
Transendental dan Realisme Empiris
Kant menegaskan bahwa
idealisme transendental harus dipahami secara bersamaan dengan realisme
empiris. Dalam kerangka ini, Kant menyatakan bahwa dunia empiris
benar-benar ada dan dapat diketahui secara objektif, sejauh ia berada dalam
ruang dan waktu serta tunduk pada hukum-hukum pengalaman.⁵ Dengan demikian,
idealisme transendental tidak meniadakan objektivitas pengetahuan, melainkan
menjelaskan dasar objektivitas tersebut.
Realisme empiris memungkinkan
Kant untuk mempertahankan klaim sains modern tanpa jatuh ke dalam skeptisisme.
Objek-objek empiris bersifat objektif karena struktur apriori subjek bersifat
universal dan sama bagi semua subjek rasional. Oleh karena itu, meskipun
pengetahuan dibentuk oleh subjek, ia tetap memiliki validitas intersubjektif.⁶
Posisi ini menjadi salah satu keunikan utama sistem Kant dibandingkan idealisme
subjektif ala Berkeley maupun realisme metafisis tradisional.
6.4.
Batas Pengetahuan dan
Kritik terhadap Metafisika Dogmatis
Idealisme transendental juga
berfungsi sebagai dasar bagi kritik Kant terhadap metafisika dogmatis.
Metafisika tradisional berupaya mengetahui objek-objek yang melampaui
pengalaman, seperti Tuhan, jiwa, dan dunia sebagai keseluruhan, dengan
menggunakan rasio teoretis. Kant berargumen bahwa upaya tersebut melampaui
batas legitimasi pengetahuan manusia.⁷
Dengan menetapkan bahwa
kategori-kategori akal budi hanya berlaku dalam ranah pengalaman mungkin, Kant
membatasi penggunaan rasio teoretis agar tidak terjerumus ke dalam spekulasi
tanpa dasar empiris. Antinomi rasio murni—yakni kontradiksi rasional yang
muncul ketika rasio mencoba memahami totalitas dunia—menjadi bukti konkret
keterbatasan tersebut.⁸ Idealisme transendental, dengan demikian, bukan hanya
teori pengetahuan, tetapi juga prinsip metodologis untuk mengendalikan ambisi
metafisis rasio.
6.5.
Implikasi Idealisme
Transendental terhadap Konsep Objektivitas
Dalam kerangka idealisme
transendental, objektivitas pengetahuan tidak dipahami sebagai kesesuaian
langsung dengan realitas noumenal, melainkan sebagai kesesuaian dengan struktur
apriori yang memungkinkan pengalaman universal. Pengetahuan objektif adalah
pengetahuan yang sah bagi semua subjek rasional karena dibentuk oleh kondisi
kognitif yang sama.⁹
Konsepsi ini memungkinkan
Kant menjelaskan bagaimana hukum-hukum alam bersifat universal dan niscaya
tanpa mengklaim bahwa manusia mengetahui hakikat terdalam realitas.
Objektivitas tidak lagi diposisikan di luar subjek, tetapi dalam relasi antara
subjek dan objek sebagaimana dimediasi oleh struktur transendental. Dengan
demikian, idealisme transendental menggeser makna objektivitas dari ontologi ke
epistemologi.
Idealisme
Transendental sebagai Fondasi Filsafat Kritis
Sebagai keseluruhan,
idealisme transendental merupakan fondasi sistem filsafat kritis Kant. Melalui
konsep ini, Kant berhasil menyintesiskan tuntutan rasionalisme akan keniscayaan
dan tuntutan empirisme akan pengalaman. Idealisme transendental memungkinkan
pengetahuan objektif tanpa mengabaikan keterbatasan rasio manusia.¹⁰
Lebih jauh, konsep ini
membuka jalan bagi perkembangan filsafat pasca-Kant, baik dalam bentuk
idealisme Jerman, fenomenologi, maupun diskursus epistemologi kontemporer.
Dengan menempatkan subjek sebagai kondisi kemungkinan pengalaman, idealisme
transendental mengubah orientasi filsafat dari pencarian realitas mutlak menuju
analisis kritis atas batas dan legitimasi pengetahuan manusia.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A369.
[2]
Kant, Critique of Pure Reason, A491–A492/B519–B520.
[3]
Kant, Critique of Pure Reason, A249–A252.
[4]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 27–35.
[5]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, trans.
Gary Hatfield (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 36–38.
[6]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 78–85.
[7]
Kant, Critique of Pure Reason, A295–A309/B352–B366.
[8]
Kant, Critique of Pure Reason, A405–A567/B432–B595.
[9]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 110–118.
[10]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 38–45.
7.
Kategori-Kategori
Akal Budi
7.1.
Pengertian Akal Budi (Verstand)
dan Fungsi Kategori
Dalam sistem filsafat kritis
Kant, akal budi (Verstand) adalah fakultas kognitif
yang berfungsi untuk berpikir melalui konsep. Berbeda dengan sensibilitas yang
menyediakan intuisi inderawi, akal budi bertugas mengolah intuisi tersebut agar
menjadi pengetahuan yang terstruktur dan bermakna.¹ Fungsi utama akal budi
adalah menyatukan manifold intuisi dalam kesatuan konseptual melalui apa yang
disebut Kant sebagai kategori-kategori.
Kategori merupakan konsep
murni akal budi yang bersifat apriori, yakni tidak berasal dari pengalaman,
tetapi justru menjadi syarat kemungkinan pengalaman itu sendiri. Tanpa
kategori, intuisi inderawi akan tetap terfragmentasi dan tidak dapat dikenali
sebagai objek pengalaman.² Dengan demikian, kategori berperan sentral dalam
Revolusi Kopernikan Kant, karena melaluinya objek pengalaman harus menyesuaikan
diri dengan struktur kognitif subjek.
7.2.
Asal-Usul
Transendental Kategori
Kant menolak pandangan
empirisme yang menganggap konsep-konsep umum sebagai hasil abstraksi dari
pengalaman. Sebaliknya, ia berargumen bahwa kategori memiliki asal-usul
transendental, yakni bersumber dari fungsi-fungsi logis penilaian (Urteilsfunktionen).³
Dalam Critique of Pure Reason, Kant menunjukkan bahwa struktur dasar
penilaian logis—seperti afirmasi, negasi, universalitas, dan
partikularitas—menjadi dasar bagi penyusunan tabel kategori.
Dengan menurunkan kategori
dari fungsi penilaian, Kant menegaskan bahwa kategori bukanlah entitas
metafisis yang berdiri sendiri, melainkan ekspresi dari cara kerja akal budi
dalam berpikir. Pendekatan ini sekaligus memberikan legitimasi sistematis
terhadap jumlah dan jenis kategori, serta membedakan filsafat Kant dari
metafisika spekulatif sebelumnya.
7.3.
Tabel Kategori Kant
Kant menyusun dua
belas kategori akal budi yang dikelompokkan ke dalam empat kelas
utama: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas. Setiap kelas terdiri atas
tiga kategori sebagai berikut:⁴
1)
Kuantitas
þ Kesatuan (Unity)
þ Kejamakan (Plurality)
þ Keseluruhan (Totality)
2)
Kualitas
þ Realitas (Reality)
þ Negasi (Negation)
þ Limitasi (Limitation)
3)
Relasi
þ Substansi dan Aksiden (Inherence and Subsistence)
þ Sebab dan Akibat (Causality and Dependence)
þ Komunitas atau Timbal Balik (Community)
4)
Modalitas
þ Kemungkinan–Ketidakmungkinan (Possibility–Impossibility)
þ Ada–Tidak Ada (Existence–Non-existence)
þ Keniscayaan–Kontingensi (Necessity–Contingency)
Kategori-kategori ini tidak
menggambarkan isi pengalaman, melainkan bentuk konseptual yang memungkinkan
pengalaman dipahami sebagai pengetahuan objektif. Dengan kata lain, kategori
adalah kerangka formal bagi segala objek pengalaman.
7.4.
Fungsi Kategori dalam
Sintesis Pengalaman
Peran utama kategori adalah
sebagai prinsip sintesis yang menyatukan intuisi dalam
kesatuan pengalaman. Kant menegaskan bahwa pengalaman bukan sekadar kumpulan
kesan inderawi, melainkan hasil dari sintesis aktif yang dilakukan oleh akal
budi.⁵ Kategori, dalam hal ini, berfungsi menghubungkan intuisi dengan kesatuan
kesadaran melalui konsep-konsep universal.
Sebagai contoh, kategori
kausalitas memungkinkan subjek memahami peristiwa sebagai rangkaian sebab dan
akibat, bukan sekadar urutan temporal. Tanpa kategori tersebut, pengalaman
tidak akan memiliki struktur objektif dan hanya akan berupa aliran kesan yang
terpisah-pisah.⁶ Dengan demikian, kategori merupakan syarat mutlak bagi
kemungkinan ilmu pengetahuan alam.
7.5.
Skematisme: Mediasi
antara Intuisi dan Kategori
Salah satu problem penting
dalam teori kategori Kant adalah bagaimana konsep murni yang bersifat apriori
dapat diterapkan pada intuisi empiris yang bersifat partikular. Kant menjawab
problem ini melalui doktrin skematisme (Schematismus).
Skema adalah aturan temporal yang berfungsi sebagai jembatan antara kategori
dan intuisi.⁷
Setiap kategori memiliki
skema temporal yang sesuai. Misalnya, skema kausalitas adalah aturan tentang
urutan waktu yang tetap, sedangkan skema substansi berkaitan dengan
keberlangsungan dalam waktu. Dengan skematisme, Kant menjelaskan bagaimana
kategori dapat memiliki aplikasi objektif tanpa kehilangan sifat apriorinya.
Doktrin ini menegaskan kembali sifat aktif subjek dalam membentuk pengalaman.
7.6.
Batas Penerapan
Kategori dan Kritik terhadap Metafisika
Meskipun kategori merupakan
syarat kemungkinan pengalaman, Kant menegaskan bahwa penerapannya terbatas pada
ranah fenomenal. Kategori tidak dapat digunakan secara sah untuk mengetahui
noumena atau benda pada dirinya.⁸ Ketika kategori diterapkan melampaui
pengalaman mungkin, rasio terjerumus ke dalam ilusi transendental dan
kontradiksi metafisis.
Pembatasan ini merupakan
aspek penting dari Revolusi Kopernikan Kant. Dengan menetapkan batas penggunaan
kategori, Kant membedakan antara pengetahuan ilmiah yang sah dan spekulasi
metafisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, kategori akal
budi berfungsi ganda: memungkinkan pengetahuan objektif sekaligus mencegah
klaim metafisis yang melampaui legitimasi rasio.
Signifikansi
Kategori dalam Revolusi Kopernikan Kant
Kategori-kategori akal budi
merupakan pilar utama Revolusi Kopernikan Kant. Melalui kategori, Kant
menunjukkan bahwa objektivitas pengetahuan tidak berasal dari kesesuaian
langsung dengan realitas noumenal, melainkan dari struktur apriori subjek yang
bersifat universal.⁹ Dengan menempatkan kategori sebagai kondisi kemungkinan
pengalaman, Kant berhasil menjelaskan bagaimana pengetahuan ilmiah mungkin
sekaligus menetapkan batas-batas rasio manusia.
Signifikansi ini tidak hanya
terbatas pada epistemologi Kant, tetapi juga memengaruhi perkembangan filsafat
selanjutnya, termasuk idealisme Jerman dan filsafat fenomenologi.
Kategori-kategori akal budi dengan demikian merupakan elemen kunci dalam
memahami keseluruhan proyek filsafat kritis Kant.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A50/B74.
[2]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 71–78.
[3]
Kant, Critique of Pure Reason, A67–A69/B92–B94.
[4]
Kant, Critique of Pure Reason, A80–A83/B106–B109.
[5]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 135–142.
[6]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 90–96.
[7]
Kant, Critique of Pure Reason, A137–A147/B176–B187.
[8]
Kant, Critique of Pure Reason, A246–A249.
[9]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 48–55.
8.
Dampak Revolusi
Kopernikan terhadap Metafisika
8.1.
Metafisika dalam
Krisis dan Kebutuhan Reformulasi
Sebelum Kant, metafisika
berada dalam situasi krisis epistemologis yang ditandai oleh perdebatan tanpa
akhir dan ketiadaan konsensus rasional. Sistem-sistem metafisika rasionalis
mengklaim pengetahuan apriori tentang realitas tertinggi, sementara empirisme
meragukan legitimasi klaim tersebut. Revolusi Kopernikan Kant merespons krisis ini
bukan dengan menolak metafisika secara total, melainkan dengan mereformulasikan
metafisika sebagai disiplin kritis yang tunduk pada penyelidikan
batas-batas rasio.¹
Bagi Kant, problem utama
metafisika tradisional terletak pada asumsi bahwa rasio dapat mengetahui
objek-objek yang melampaui pengalaman. Revolusi Kopernikan mengubah fokus
metafisika dari upaya mengetahui apa yang ada pada dirinya menuju
penyelidikan bagaimana pengetahuan tentang objek mungkin terjadi.
Dengan demikian, metafisika direorientasikan dari ontologi spekulatif menuju
epistemologi kritis.
8.2.
Metafisika sebagai
Ilmu Kritis
Dampak paling mendasar
Revolusi Kopernikan Kant adalah transformasi metafisika menjadi ilmu
kritis. Kant membedakan antara metafisika dogmatis—yang mengklaim pengetahuan
langsung tentang Tuhan, jiwa, dan dunia—dan metafisika kritis yang menyelidiki
kondisi kemungkinan pengetahuan metafisis.² Metafisika kritis tidak menambah
pengetahuan baru tentang realitas noumenal, tetapi menilai legitimasi
klaim-klaim rasional manusia.
Dalam kerangka ini, Critique
of Pure Reason berfungsi sebagai prolegomena bagi setiap metafisika masa
depan yang ingin tampil sebagai ilmu. Kant menegaskan bahwa metafisika hanya
dapat menjadi disiplin ilmiah jika terlebih dahulu menjalani kritik terhadap
kemampuan rasio itu sendiri.³ Dengan demikian, Revolusi Kopernikan menggeser
status metafisika dari “ratu ilmu-ilmu” menjadi disiplin reflektif yang
membatasi dan mengarahkan penggunaan rasio.
8.3.
Pembatasan Klaim
Metafisika dan Konsep Noumena
Revolusi Kopernikan Kant
menetapkan batas tegas bagi klaim metafisika melalui pembedaan antara fenomena
dan noumena. Metafisika tradisional gagal karena mencoba menerapkan
kategori-kategori akal budi pada objek-objek yang tidak dapat diberikan dalam
pengalaman. Kant menegaskan bahwa kategori hanya sah digunakan dalam ranah
fenomenal.⁴
Konsep noumena berfungsi
sebagai konsep batas (Grenzbegriff) yang menandai wilayah di luar
kemungkinan pengetahuan teoretis. Noumena tidak dapat diketahui, tetapi harus
dipostulasikan untuk mencegah klaim bahwa realitas sepenuhnya identik dengan
pengalaman manusia.⁵ Dengan cara ini, Kant tidak menghapus metafisika,
melainkan membatasi ruang lingkupnya agar terhindar dari spekulasi dogmatis.
8.4.
Antinomi Rasio Murni
dan Kritik terhadap Totalitas Metafisis
Salah satu kontribusi penting
Kant terhadap metafisika adalah analisis tentang antinomi rasio murni,
yakni kontradiksi-kontradiksi yang muncul ketika rasio berusaha memahami dunia
sebagai totalitas. Antinomi ini mencakup persoalan tentang awal dunia dalam
waktu, pembagian materi, kebebasan versus determinisme, dan keberadaan sebab
niscaya.⁶
Kant menunjukkan bahwa setiap
sisi antinomi dapat dibuktikan secara rasional jika rasio melampaui batas
pengalaman. Hal ini mengindikasikan bahwa kontradiksi tersebut bukan berasal
dari objek, melainkan dari penyalahgunaan rasio. Dengan mengungkap struktur
antinomi, Revolusi Kopernikan Kant memperlihatkan perlunya pembatasan
metodologis metafisika agar tetap berada dalam wilayah legitimasi epistemologis.
8.5.
Metafisika Moral dan
Ruang bagi Rasio Praktis
Meskipun membatasi metafisika
teoretis, Revolusi Kopernikan Kant tidak menutup seluruh ruang metafisika. Kant
membuka jalan bagi metafisika moral melalui penggunaan rasio
praktis. Konsep-konsep seperti kebebasan, Tuhan, dan keabadian jiwa—yang tidak
dapat diketahui secara teoretis—dapat dipostulasikan secara praktis sebagai
syarat kemungkinan moralitas.⁷
Dengan pembedaan antara rasio
teoretis dan rasio praktis, Kant menyelamatkan dimensi normatif metafisika tanpa
melanggar batas epistemologis. Metafisika tidak lagi dipahami sebagai
pengetahuan spekulatif tentang realitas tertinggi, melainkan sebagai refleksi
rasional tentang syarat-syarat tindakan moral dan kebebasan manusia.⁸
8.6.
Implikasi Revolusi Kopernikan
bagi Tradisi Metafisika Selanjutnya
Dampak Revolusi Kopernikan
Kant terhadap metafisika meluas hingga filsafat pasca-Kant. Idealisme Jerman
berupaya melampaui batas-batas Kant dengan merekonstruksi metafisika
spekulatif, sementara tradisi lain—seperti positivisme dan
fenomenologi—mengembangkan kritik lebih lanjut terhadap metafisika.⁹
Terlepas dari perbedaan arah
tersebut, filsafat modern dan kontemporer tidak dapat mengabaikan reformulasi
Kant tentang metafisika. Revolusi Kopernikan Kant menetapkan standar baru:
setiap klaim metafisis harus mempertimbangkan kondisi epistemologis dan batas
rasio manusia. Dengan demikian, dampak revolusi ini tidak hanya membatasi
metafisika, tetapi juga memberinya kerangka reflektif yang lebih ketat dan
bertanggung jawab.
Evaluasi
Kritis: Metafisika antara Batas dan Kemungkinan
Secara keseluruhan, Revolusi
Kopernikan Kant mengubah metafisika dari disiplin spekulatif menjadi proyek
kritis yang sadar akan batas-batasnya. Di satu sisi, pembatasan ini mencegah
klaim metafisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, ia
membuka kemungkinan baru bagi metafisika yang berakar pada refleksi kritis dan
rasio praktis.¹⁰
Evaluasi ini menunjukkan
bahwa dampak Revolusi Kopernikan Kant terhadap metafisika bersifat ambivalen
namun produktif: metafisika kehilangan pretensi pengetahuan absolut, tetapi
memperoleh legitimasi baru sebagai disiplin reflektif yang mengkaji syarat,
batas, dan orientasi rasional manusia dalam memahami dunia dan bertindak di
dalamnya.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 5: Modern
Philosophy: The British Philosophers and Kant (New York: Image Books,
1994), 260–270.
[2]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, trans.
Gary Hatfield (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 1–7.
[3]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), A11–A12/B25–B26.
[4]
Kant, Critique of Pure Reason, A246–A249.
[5]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 52–60.
[6]
Kant, Critique of Pure Reason, A405–A567/B432–B595.
[7]
Immanuel Kant, Critique of Practical Reason, trans. Mary
Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 4–6.
[8]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 150–160.
[9]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 200–210.
[10]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 70–78.
9.
Implikasi terhadap
Ilmu Pengetahuan dan Sains
9.1.
Revolusi Kopernikan
Kant dan Fondasi Epistemologis Sains
Salah satu implikasi
terpenting Revolusi Kopernikan Kant adalah rekonstruksi fondasi epistemologis
ilmu pengetahuan alam. Kant hidup pada masa ketika sains—terutama fisika
Newtonian—telah mencapai keberhasilan empiris dan matematis yang luar biasa,
namun masih kekurangan justifikasi filosofis yang memadai. Revolusi Kopernikan
Kant berupaya menjelaskan mengapa dan bagaimana sains dapat
menghasilkan pengetahuan yang objektif, universal, dan niscaya, tanpa
bergantung pada metafisika spekulatif.¹
Dengan menempatkan struktur
apriori subjek sebagai kondisi kemungkinan pengalaman objektif, Kant
menunjukkan bahwa keberhasilan sains tidak bersumber dari pengetahuan tentang
realitas noumenal, melainkan dari kesesuaian fenomena dengan hukum-hukum rasio.
Dengan demikian, sains memperoleh legitimasi epistemologis yang kuat sekaligus
dibatasi dalam wilayah pengalaman mungkin.
9.2.
Objektivitas Ilmu
dalam Kerangka Subjektivitas Transendental
Revolusi Kopernikan Kant
memperkenalkan pemahaman baru tentang objektivitas ilmiah. Objektivitas tidak
lagi dipahami sebagai cerminan langsung realitas sebagaimana adanya pada
dirinya, melainkan sebagai hasil dari struktur apriori yang sama pada semua
subjek rasional.² Ruang, waktu, dan kategori-kategori akal budi menjadi syarat
universal yang memungkinkan pengalaman ilmiah bersifat intersubjektif.
Dalam kerangka ini,
subjektivitas tidak bertentangan dengan objektivitas, tetapi justru menjadi
fondasinya. Subjektivitas transendental Kant berbeda secara mendasar dari
subjektivisme psikologis, karena struktur apriori yang dimaksud bersifat
universal dan niscaya. Oleh karena itu, hukum-hukum ilmiah dapat berlaku umum
meskipun dibentuk melalui aktivitas kognitif subjek.
9.3.
Pengetahuan Ilmiah
sebagai Sintetis Apriori
Implikasi penting lainnya
dari Revolusi Kopernikan Kant terhadap sains adalah penjelasan mengenai status
pengetahuan ilmiah sebagai pengetahuan sintetis apriori. Kant
berargumen bahwa prinsip-prinsip dasar sains, seperti kausalitas dan konservasi
substansi, tidak berasal dari pengalaman semata, tetapi juga tidak bersifat
analitis.³ Prinsip-prinsip ini memungkinkan pengalaman ilmiah terstruktur dan
bermakna sejak awal.
Dengan menjelaskan status
sintetis apriori hukum-hukum alam, Kant mampu menjawab skeptisisme Hume tentang
kausalitas. Kausalitas bukanlah kebiasaan psikologis, melainkan kategori
apriori yang secara niscaya membentuk pengalaman objektif.⁴ Dengan demikian,
sains memperoleh dasar rasional yang kokoh tanpa harus mengklaim pengetahuan
metafisis tentang realitas pada dirinya.
9.4.
Relasi antara
Pengalaman, Rasio, dan Hukum Alam
Dalam sistem Kant, sains
dipahami sebagai hasil sintesis antara pengalaman empiris dan rasio apriori.
Pengalaman menyediakan materi pengetahuan, sementara rasio memberikan bentuk
dan hukum-hukum yang mengaturnya. Hukum alam, dalam pengertian ini, bukanlah
deskripsi langsung tentang realitas noumenal, melainkan prinsip-prinsip
rasional yang mengatur fenomena sebagaimana dapat dialami manusia.⁵
Implikasi dari pandangan ini
adalah bahwa sains bersifat sah dan objektif sejauh ia tetap berada dalam batas
pengalaman mungkin. Setiap upaya untuk mengekstrapolasi hukum-hukum ilmiah ke
wilayah metafisis—misalnya untuk menjelaskan realitas absolut atau tujuan akhir
alam semesta—melampaui legitimasi epistemologis sains. Revolusi Kopernikan Kant
dengan demikian menempatkan sains dalam posisi yang kuat sekaligus terbatas.
9.5.
Kant dan Filsafat
Sains Modern
Pemikiran Kant memberikan
pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat sains modern. Gagasan bahwa
struktur konseptual subjek berperan dalam pembentukan pengetahuan ilmiah
mengilhami diskursus tentang paradigma, kerangka konseptual, dan teori-laden
observation dalam filsafat sains abad ke-20.⁶ Meskipun Kant tidak dapat secara
langsung disamakan dengan pandangan relativistik, ia membuka ruang bagi
pemahaman bahwa pengetahuan ilmiah selalu dimediasi oleh kerangka konseptual
tertentu.
Di sisi lain, Kant tetap
mempertahankan klaim objektivitas dan universalitas sains melalui struktur
apriori yang tetap dan sama bagi semua subjek rasional. Hal ini membedakan Kant
dari relativisme epistemologis dan menempatkannya sebagai figur kunci dalam
perdebatan antara objektivisme dan konstruktivisme ilmiah.
9.6.
Batas-Batas Ilmu
Pengetahuan dalam Perspektif Kant
Revolusi Kopernikan Kant juga
memiliki implikasi penting terkait batas-batas ilmu pengetahuan. Kant
menegaskan bahwa sains hanya dapat berbicara secara sah tentang dunia
fenomenal. Pertanyaan-pertanyaan metafisis seperti keberadaan Tuhan, kebebasan
absolut, atau tujuan akhir alam tidak dapat dijawab oleh sains tanpa melampaui
wilayah legitimasi epistemologisnya.⁷
Pembatasan ini bukan
dimaksudkan untuk merendahkan sains, melainkan untuk melindunginya dari
klaim-klaim yang tidak dapat diverifikasi secara rasional maupun empiris.
Dengan menetapkan batas-batas tersebut, Kant membuka ruang bagi bentuk
rasionalitas lain—seperti rasio praktis dan refleksi moral—tanpa
mencampuradukkan domain sains dengan metafisika spekulatif.
Evaluasi
Kritis atas Implikasi Kant bagi Sains
Secara keseluruhan, Revolusi
Kopernikan Kant memberikan kerangka epistemologis yang kuat bagi ilmu
pengetahuan modern. Dengan menjelaskan kondisi kemungkinan objektivitas ilmiah,
Kant berhasil menjembatani empirisme dan rasionalisme serta menjawab
skeptisisme Hume. Namun demikian, pembatasan sains pada ranah fenomenal juga
memunculkan perdebatan lanjutan, terutama terkait perkembangan sains
kontemporer yang semakin abstrak dan teoretis.⁸
Meskipun demikian, kontribusi
Kant tetap relevan sebagai pengingat bahwa keberhasilan sains harus disertai
dengan refleksi filosofis mengenai batas dan legitimasi pengetahuan. Revolusi
Kopernikan Kant dengan demikian tidak hanya memperkuat fondasi sains, tetapi
juga memberikan orientasi kritis bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa
depan.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), Bxv–Bxvii.
[2]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 92–100.
[3]
Kant, Critique of Pure Reason, B19–B20.
[4]
David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding (Oxford:
Oxford University Press, 2007), secs. IV–VII; bandingkan dengan Kant, Critique
of Pure Reason, A189–A211/B232–B256.
[5]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 102–110.
[6]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 215–225.
[7]
Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, trans.
Gary Hatfield (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 57–60.
[8]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 85–92.
10.
Kritik dan
Perdebatan atas Revolusi Kopernikan Kant
10.1.
Status Revolusi
Kopernikan dalam Diskursus Filsafat
Sejak pertama kali
dikemukakan, Revolusi Kopernikan Kant telah menjadi salah satu titik rujukan
paling berpengaruh sekaligus paling diperdebatkan dalam sejarah filsafat
modern. Di satu sisi, proyek kritis Kant dipuji karena berhasil menyelamatkan
objektivitas pengetahuan dari skeptisisme empiris tanpa kembali pada dogmatisme
metafisis. Di sisi lain, ia menuai kritik tajam karena dianggap menimbulkan
problem baru, khususnya terkait relasi antara fenomena dan noumena, serta
status realitas di luar kesadaran manusia.¹ Bab ini membahas kritik-kritik
utama tersebut secara sistematis.
10.2.
Kritik dari Idealisme
Jerman: Melampaui Batas Kant
Kritik paling awal dan
berpengaruh terhadap Revolusi Kopernikan Kant datang dari tradisi Idealisme
Jerman, khususnya Johann Gottlieb Fichte, Friedrich Wilhelm Joseph
Schelling, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Para pemikir ini menerima tesis
dasar Kant mengenai peran aktif subjek, tetapi menolak pembatasan ketat antara
fenomena dan noumena.²
Fichte mengkritik konsep benda
pada dirinya sebagai sisa dogmatis yang inkonsisten dengan idealisme
transendental. Menurutnya, jika seluruh pengetahuan dibentuk oleh aktivitas Aku,
maka tidak ada alasan rasional untuk mempertahankan realitas noumenal yang
tidak dapat diketahui.³ Hegel melangkah lebih jauh dengan menuduh Kant telah
membekukan rasio dalam batas-batas formal dan gagal memahami rasionalitas
sebagai proses dialektis yang berkembang secara historis.⁴ Dalam perspektif
ini, Revolusi Kopernikan Kant dianggap sebagai langkah penting, tetapi belum
final.
10.3.
Kritik Realisme
Metafisis dan Neo-Thomisme
Dari sudut pandang realisme
metafisis, Kant dikritik karena dianggap merelatifkan realitas
objektif dan menempatkan struktur kognitif manusia sebagai penentu utama bentuk
dunia yang diketahui. Para realis berpendapat bahwa Kant gagal menjelaskan
bagaimana pengetahuan dapat benar-benar berkorespondensi dengan realitas
independen jika realitas tersebut hanya dapat diketahui sebagai fenomena.⁵
Dalam tradisi Neo-Thomisme
dan realisme klasik, kritik ini sering diarahkan pada penolakan Kant terhadap
kemampuan akal untuk mengetahui esensi realitas. Kant dianggap memutus hubungan
antara intelek dan ada (being), sehingga epistemologi
terlepas dari ontologi.⁶ Dari perspektif ini, Revolusi Kopernikan Kant dinilai
melemahkan klaim objektivitas metafisis demi menyelamatkan kepastian
epistemologis.
10.4.
Kritik Empirisme dan
Positivisme
Sebaliknya, dari sisi empirisme
dan positivisme, Kant dikritik karena masih mempertahankan unsur-unsur
apriori yang dianggap tidak dapat diverifikasi secara empiris. Para positivis
menilai bahwa konsep-konsep seperti kategori apriori dan struktur transendental
tidak memiliki makna ilmiah karena tidak dapat diuji melalui pengalaman.⁷
Auguste Comte dan penerusnya
dalam positivisme logis berpendapat bahwa sains tidak memerlukan justifikasi
transendental, melainkan cukup dengan metode empiris dan logika formal. Dalam
kerangka ini, Revolusi Kopernikan Kant dianggap sebagai spekulasi filosofis
yang tidak relevan bagi praktik ilmiah modern. Kritik ini menantang klaim Kant
bahwa sains membutuhkan fondasi epistemologis apriori.
10.5.
Kritik Fenomenologi:
Pengalaman Pra-Konseptual
Tradisi fenomenologi,
khususnya melalui Edmund Husserl dan Martin Heidegger, menawarkan kritik yang
lebih nuansatif. Husserl mengapresiasi analisis Kant tentang kondisi
kemungkinan pengalaman, tetapi mengkritik Kant karena terlalu cepat
memformalkan pengalaman melalui kategori-kategori akal budi.⁸ Fenomenologi
menekankan pentingnya pengalaman pra-konseptual dan intensionalitas kesadaran
yang tidak sepenuhnya dapat direduksi pada struktur apriori tetap.
Heidegger, dalam pembacaannya
terhadap Kant, menafsirkan idealisme transendental sebagai ontologi implisit
tentang keberadaan manusia (Dasein). Namun, ia juga mengkritik Kant karena
masih terikat pada kerangka epistemologis dan gagal mengembangkan analisis
ontologis yang lebih fundamental tentang makna ada.⁹ Kritik
fenomenologis ini memperluas debat tentang apakah Revolusi Kopernikan Kant
cukup untuk memahami pengalaman manusia secara utuh.
10.6.
Kritik Filsafat
Analitik dan Debat Kontemporer
Dalam tradisi filsafat
analitik, kritik terhadap Kant sering berfokus pada kejelasan konsep
dan justifikasi argumen. Beberapa filsuf analitik mempertanyakan koherensi
konsep sintetis apriori dan mempertanyakan apakah kategori-kategori Kant
benar-benar diperlukan untuk menjelaskan praktik ilmiah.¹⁰
Namun, sebagian filsuf
analitik kontemporer justru merehabilitasi Kant dalam konteks perdebatan
tentang struktur konseptual pengetahuan, norma rasionalitas, dan peran kerangka
konseptual dalam sains. Dengan demikian, Revolusi Kopernikan Kant tetap menjadi
referensi penting dalam diskursus epistemologi kontemporer, meskipun dalam
bentuk yang direinterpretasi.
Evaluasi
Kritis: Kekuatan dan Keterbatasan Revolusi Kopernikan Kant
Evaluasi kritis atas Revolusi
Kopernikan Kant menunjukkan bahwa proyek ini memiliki kekuatan sekaligus
keterbatasan. Kekuatan utamanya terletak pada keberhasilannya menjelaskan
objektivitas pengetahuan tanpa jatuh ke dalam skeptisisme atau dogmatisme.
Dengan menempatkan subjek sebagai kondisi kemungkinan pengalaman, Kant
mereformulasi epistemologi secara radikal dan berpengaruh luas.¹¹
Namun, keterbatasannya tampak
pada problem internal seperti status noumena, ketegangan antara pembatasan
rasio dan klaim universalitas kategori, serta implikasi ontologis yang masih
ambigu. Kritik dan perdebatan yang muncul justru menegaskan signifikansi
Revolusi Kopernikan Kant sebagai proyek filosofis yang terbuka untuk koreksi,
reinterpretasi, dan pengembangan lebih lanjut.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 6: Modern
Philosophy: From the French Enlightenment to Kant (New York: Image Books,
1994), 280–290.
[2]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 240–250.
[3]
Johann Gottlieb Fichte, Foundations of the Entire Science of
Knowledge, trans. Peter Heath and John Lachs (Cambridge: Cambridge
University Press, 1982), 98–105.
[4]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 79–85.
[5]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 95–102.
[6]
Étienne Gilson, Being and Some Philosophers (Toronto:
Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1952), 170–180.
[7]
Auguste Comte, The Positive Philosophy, trans. Harriet
Martineau (London: Batoche Books, 2000), 28–35.
[8]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology,
trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1983), 45–55.
[9]
Martin Heidegger, Kant and the Problem of Metaphysics, trans.
Richard Taft (Bloomington: Indiana University Press, 1997), 10–20.
[10]
P. F. Strawson, The Bounds of Sense (London: Routledge, 1966),
15–25.
[11]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 210–220.
11.
Relevansi dan
Aktualitas Revolusi Kopernikan Kant
11.1.
Dari Proyek Kritis ke
Diskursus Kontemporer
Lebih dari dua abad sejak Critique
of Pure Reason diterbitkan, Revolusi Kopernikan Kant tetap menjadi rujukan
sentral dalam filsafat. Kebertahanan ini menunjukkan bahwa proyek kritis Kant
bukan sekadar respons historis terhadap krisis epistemologi abad ke-18,
melainkan kerangka konseptual yang terus relevan untuk memahami persoalan
pengetahuan, objektivitas, dan batas rasio manusia.¹ Relevansi tersebut tampak
dalam berbagai bidang, mulai dari epistemologi kontemporer dan filsafat sains
hingga filsafat pendidikan dan ilmu sosial.
11.2.
Relevansi dalam
Epistemologi Kontemporer
Dalam epistemologi
kontemporer, Revolusi Kopernikan Kant berkontribusi pada pergeseran fokus dari
pertanyaan tentang korespondensi pengetahuan dengan realitas menuju analisis kondisi
normatif dan struktural pengetahuan. Perdebatan mengenai peran
kerangka konseptual, inferensi, dan norma rasionalitas—yang tampak dalam
epistemologi normatif dan pragmatis—menggemakan tesis Kant tentang peran aktif
subjek dalam pembentukan pengetahuan.²
Lebih jauh, upaya Kant untuk
menyeimbangkan empirisme dan rasionalisme menginspirasi pendekatan
“non-reduksionis” yang mengakui peran pengalaman sekaligus struktur konseptual.
Dalam konteks ini, Kant sering dibaca sebagai pendahulu teori-teori yang
menolak baik foundationalisme naif maupun skeptisisme radikal.
11.3.
Aktualitas bagi
Filsafat Sains
Dalam filsafat sains,
Revolusi Kopernikan Kant tetap aktual karena menawarkan model objektivitas yang
tidak bergantung pada akses langsung terhadap realitas noumenal. Gagasan bahwa
hukum ilmiah bergantung pada struktur konseptual subjek membantu menjelaskan
peran teori, model, dan idealisasi dalam praktik sains modern.³
Diskursus tentang theory-ladenness
of observation dan perubahan paradigma ilmiah memperlihatkan resonansi
dengan pandangan Kant, meskipun tanpa menerima struktur apriori yang kaku. Kant
menyediakan kerangka kritis untuk memahami mengapa sains dapat bersifat
objektif dan progresif meskipun pengetahuan ilmiah selalu dimediasi oleh teori
dan konsep.⁴
11.4.
Relevansi dalam
Filsafat Pendidikan
Revolusi Kopernikan Kant juga
memiliki implikasi penting bagi filsafat pendidikan. Dengan menekankan peran
aktif subjek dalam pembentukan pengetahuan, Kant memberikan dasar filosofis
bagi pendekatan pedagogis yang menekankan konstruksi pengetahuan,
bukan sekadar transmisi informasi.⁵ Pendidikan dipahami sebagai proses
pembentukan kapasitas rasional—kemampuan menilai, mensintesis, dan
merefleksikan—bukan hanya penguasaan fakta.
Selain itu, pembatasan rasio
teoretis dalam filsafat Kant membuka ruang bagi dimensi etis dan praktis dalam
pendidikan. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pengetahuan
instrumental, tetapi juga membentuk subjek otonom yang mampu bertindak
berdasarkan prinsip rasional dan moral.
11.5.
Dialog dengan Ilmu
Sosial dan Humaniora
Dalam ilmu sosial dan
humaniora, Revolusi Kopernikan Kant relevan untuk memahami relasi antara
subjek, makna, dan struktur sosial. Gagasan bahwa realitas sosial dipahami
melalui kategori dan kerangka konseptual tertentu sejalan dengan pendekatan
interpretatif yang menekankan peran makna dan konstruksi sosial.⁶
Namun, Kant juga menyediakan
koreksi kritis terhadap relativisme ekstrem dengan mempertahankan klaim
universalitas normatif pada tingkat rasionalitas. Dengan demikian, filsafat
Kant memungkinkan dialog produktif antara konstruktivisme dan objektivitas
normatif dalam ilmu sosial.
11.6.
Kant dalam Dialog
Filsafat Modern dan Postmodern
Dalam diskursus filsafat
modern dan postmodern, Kant menempati posisi ambivalen: di satu sisi dikritik
sebagai simbol rasionalitas modern yang terlalu formal, di sisi lain
direhabilitasi sebagai pemikir kritis yang menyadari batas rasio. Pemikir
postmodern sering mengkritik klaim universalitas Kant, namun tetap memanfaatkan
kerangka kritisnya untuk membongkar pretensi metafisis dan epistemologis yang
tidak sahih.⁷
Relevansi Kant di sini
terletak pada etos kritik—yakni sikap reflektif yang
terus-menerus menguji legitimasi klaim pengetahuan. Etos ini memungkinkan
filsafat tetap kritis tanpa terjerumus ke dalam relativisme total.
Revolusi
Kopernikan Kant sebagai Proyek Terbuka
Relevansi dan aktualitas
Revolusi Kopernikan Kant pada akhirnya terletak pada sifatnya sebagai proyek
terbuka. Kant sendiri menyadari bahwa filsafat kritis tidak memberikan
jawaban final, melainkan kerangka untuk penyelidikan rasional yang
berkelanjutan.⁸ Kritik, reinterpretasi, dan pengembangan atas pemikiran Kant
justru menegaskan vitalitas revolusi ini.
Dalam konteks tantangan
kontemporer—mulai dari perkembangan sains dan teknologi hingga pluralitas
epistemik—Revolusi Kopernikan Kant tetap menawarkan orientasi filosofis yang
menekankan keseimbangan antara rasionalitas, pengalaman, dan kesadaran akan
batas pengetahuan manusia.
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), Bxv–Bxvii.
[2]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 180–190.
[3]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 215–225.
[4]
P. F. Strawson, The Bounds of Sense (London: Routledge, 1966),
230–240.
[5]
Immanuel Kant, Lectures on Pedagogy, trans. Robert B. Louden
(Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 25–30.
[6]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy
J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 65–75.
[7]
Jean-François Lyotard, The Postmodern Condition, trans. Geoff
Bennington and Brian Massumi (Minneapolis: University of Minnesota Press,
1984), 10–15.
[8]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 230–240.
12.
Kesimpulan
12.1.
Sintesis Temuan Utama
Kajian ini menunjukkan bahwa Revolusi
Kopernikan Kant merupakan titik balik fundamental dalam sejarah
epistemologi dan metafisika modern. Melalui pembalikan asumsi dasar tentang
relasi subjek dan objek, Kant berhasil merekonstruksi cara filsafat memahami
kemungkinan pengetahuan objektif. Pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai
penyesuaian pasif pikiran terhadap realitas, melainkan sebagai hasil sintesis
aktif antara data empiris dan struktur apriori subjek.¹
Sintesis ini memungkinkan
Kant menjawab krisis epistemologi pra-kritis yang ditandai oleh pertentangan
antara rasionalisme dan empirisme. Dengan memperkenalkan konsep pengetahuan
sintetis apriori, kategori-kategori akal budi, serta idealisme transendental,
Kant menyelamatkan klaim objektivitas sains dari skeptisisme Hume tanpa kembali
pada metafisika dogmatis.² Revolusi Kopernikan Kant dengan demikian tidak
bersifat kompromistis, melainkan transformatif.
12.2.
Kontribusi terhadap
Epistemologi dan Metafisika
Kontribusi utama Revolusi
Kopernikan Kant terhadap epistemologi terletak pada penjelasan sistematis mengenai
kondisi kemungkinan pengalaman dan pengetahuan objektif.
Dengan menempatkan ruang, waktu, dan kategori sebagai struktur apriori subjek,
Kant menjelaskan bagaimana hukum-hukum alam dapat bersifat universal dan
niscaya, sekaligus membatasi klaim pengetahuan pada ranah fenomenal.³
Dalam bidang metafisika,
Revolusi Kopernikan Kant mengubah status metafisika dari disiplin spekulatif
menjadi proyek kritis. Metafisika tidak lagi berpretensi
mengetahui realitas noumenal, melainkan menyelidiki batas dan legitimasi
penggunaan rasio. Melalui analisis antinomi dan pembedaan antara fenomena dan
noumena, Kant menunjukkan bahwa kegagalan metafisika tradisional bersumber pada
penyalahgunaan rasio, bukan pada ketiadaan rasionalitas itu sendiri.⁴
12.3.
Implikasi Lintas Disiplin
Kajian ini juga menegaskan
bahwa dampak Revolusi Kopernikan Kant melampaui batas filsafat teoretis. Dalam
filsafat sains, Kant menyediakan fondasi epistemologis bagi objektivitas ilmiah
tanpa klaim akses langsung terhadap realitas pada dirinya. Dalam filsafat
pendidikan, Kant memberikan dasar bagi pendekatan pedagogis yang menekankan
peran aktif subjek dan pembentukan kapasitas rasional. Dalam ilmu sosial dan
humaniora, gagasan Kant membuka ruang dialog antara konstruktivisme makna dan
objektivitas normatif.⁵
Relevansi lintas disiplin ini
menunjukkan bahwa Revolusi Kopernikan Kant bukan sekadar doktrin historis,
melainkan kerangka reflektif yang terus produktif dalam menghadapi
persoalan-persoalan kontemporer tentang pengetahuan, rasionalitas, dan batas-batas
pemahaman manusia.
12.4.
Keterbatasan Kajian
Meskipun kajian ini berupaya
menyajikan pembahasan yang komprehensif, terdapat beberapa keterbatasan yang
perlu dicatat. Pertama, fokus utama artikel ini adalah Critique of Pure
Reason, sehingga dimensi rasio praktis dan estetika Kant hanya dibahas
secara implisit. Kedua, pembahasan kritik terhadap Kant masih bersifat selektif
dan belum mencakup seluruh spektrum interpretasi kontemporer, khususnya dalam
filsafat analitik mutakhir dan sains kognitif.⁶
Keterbatasan ini menunjukkan
bahwa Revolusi Kopernikan Kant tetap merupakan medan kajian yang luas dan
terbuka, yang tidak dapat dituntaskan dalam satu pendekatan atau satu artikel.
12.5.
Rekomendasi untuk
Penelitian Lanjutan
Berdasarkan temuan dan
keterbatasan tersebut, beberapa arah penelitian lanjutan dapat
direkomendasikan. Pertama, kajian komparatif antara epistemologi Kant dan
tradisi filsafat non-Barat, termasuk filsafat Islam, untuk menilai kemungkinan
dialog konseptual tentang rasio, pengalaman, dan metafisika. Kedua, eksplorasi
relevansi idealisme transendental Kant dalam konteks filsafat sains
kontemporer, khususnya terkait perkembangan sains teoretis dan teknologi
digital. Ketiga, analisis lebih mendalam tentang hubungan antara Revolusi
Kopernikan Kant dan rasio praktis dalam konteks etika dan politik modern.⁷
Penutup
Sebagai penutup, dapat
ditegaskan bahwa Revolusi Kopernikan Kant merupakan salah satu
pencapaian intelektual paling menentukan dalam sejarah filsafat. Dengan
menggabungkan kritik rasional, kesadaran akan batas pengetahuan, dan komitmen
terhadap objektivitas, Kant meletakkan fondasi bagi filsafat modern yang
reflektif dan bertanggung jawab. Revolusi ini tidak menawarkan jawaban final,
tetapi menyediakan orientasi kritis yang terus relevan bagi
upaya manusia memahami dunia, pengetahuan, dan dirinya sendiri.⁸
Footnotes
[1]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Paul Guyer and
Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), Bxvi–Bxvii.
[2]
Paul Guyer, Kant (London: Routledge, 2006), 1–10.
[3]
Henry E. Allison, Kant’s Transcendental Idealism (New Haven:
Yale University Press, 2004), 19–30.
[4]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, A405–A567/B432–B595.
[5]
Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason
(London: Routledge, 1999), 210–225.
[6]
P. F. Strawson, The Bounds of Sense (London: Routledge, 1966),
250–260.
[7]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy
J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 300–315.
[8]
Roger Scruton, Kant: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2001), 110–118.
Daftar Pustaka
Allison, H. E. (2004). Kant’s
transcendental idealism: An interpretation and defense (Rev. ed.). Yale
University Press.
Berkeley, G. (1998). A
treatise concerning the principles of human knowledge. Oxford University
Press. (Original work published 1710)
Comte, A. (2000). The
positive philosophy (H. Martineau, Trans.). Batoche Books. (Original work
published 1830)
Copleston, F. (1994). A
history of philosophy (Vols. 4–6). Image Books.
Descartes, R. (1996). Meditations
on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.
(Original work published 1641)
Fichte, J. G. (1982). Foundations
of the entire science of knowledge (P. Heath & J. Lachs, Trans.).
Cambridge University Press. (Original work published 1794)
Gardner, S. (1999). Kant
and the critique of pure reason. Routledge.
Gilson, É. (1952). Being
and some philosophers. Pontifical Institute of Mediaeval Studies.
Guyer, P. (2006). Kant.
Routledge.
Habermas, J. (1971). Knowledge
and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press. (Original work
published 1968)
Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology
of spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press. (Original work
published 1807)
Heidegger, M. (1997). Kant
and the problem of metaphysics (R. Taft, Trans.). Indiana University
Press. (Original work published 1929)
Hume, D. (2007). An
enquiry concerning human understanding. Oxford University Press. (Original
work published 1748)
Husserl, E. (1983). Ideas
pertaining to a pure phenomenology and to a phenomenological philosophy
(F. Kersten, Trans.). Martinus Nijhoff. (Original work published 1913)
Kant, I. (1997). Critique
of practical reason (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.
(Original work published 1788)
Kant, I. (1998). Critique
of pure reason (P. Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge University
Press. (Original work published 1781/1787)
Kant, I. (2004). Prolegomena
to any future metaphysics (G. Hatfield, Trans.). Cambridge University
Press. (Original work published 1783)
Kant, I. (2007). Lectures
on pedagogy (R. B. Louden, Trans.). Cambridge University Press. (Original
work published 1803)
Leibniz, G. W. (1985). Discourse
on metaphysics (G. R. Montgomery, Trans.). Open Court. (Original work
published 1686)
Locke, J. (1975). An
essay concerning human understanding. Oxford University Press. (Original
work published 1690)
Lyotard, J.-F. (1984). The
postmodern condition: A report on knowledge (G. Bennington & B.
Massumi, Trans.). University of Minnesota Press. (Original work published 1979)
Newton, I. (1999). The
principia: Mathematical principles of natural philosophy (I. B. Cohen
& A. Whitman, Trans.). University of California Press. (Original work
published 1687)
Scruton, R. (2001). Kant:
A very short introduction. Oxford University Press.
Spinoza, B. (1996). Ethics
(E. Curley, Trans.). Penguin Books. (Original work published 1677)
Strawson, P. F. (1966). The
bounds of sense: An essay on Kant’s critique of pure reason. Routledge.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar