Sisi Kepribadian Manusia
Kajian Integratif Psikologis, Filosofis, dan Spiritual
Alihkan ke: Psikologi.
Abstrak
Kepribadian manusia merupakan fenomena
multidimensional yang tidak dapat dipahami secara utuh melalui satu pendekatan
keilmuan tunggal. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sisi-sisi kepribadian
manusia secara komprehensif melalui pendekatan integratif yang menggabungkan
perspektif psikologi, filsafat, dan Islam. Metode yang digunakan adalah kajian
kualitatif berbasis studi pustaka terhadap sumber-sumber klasik dan kontemporer
yang relevan dalam ketiga disiplin tersebut. Pembahasan diawali dengan pemetaan
konseptual kepribadian dalam psikologi, yang menyoroti struktur dan dinamika
internal individu, dilanjutkan dengan analisis filosofis mengenai kepribadian
sebagai ekspresi rasionalitas, kebebasan, dan tanggung jawab moral, serta
dilengkapi dengan perspektif Islam yang memandang kepribadian manusia sebagai
kesatuan jasad, nafs, akal, dan ruh yang berorientasi pada tujuan moral dan spiritual.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kepribadian manusia bersifat dinamis, terbuka,
dan berkembang melalui interaksi antara dimensi biologis, psikologis, sosial,
rasional-moral, dan spiritual. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendekatan
integratif diperlukan untuk menghindari reduksionisme dan untuk memperoleh
pemahaman yang lebih utuh dan bermakna tentang kepribadian manusia. Kajian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan studi
kepribadian serta implikasi praktis dalam pendidikan karakter dan pembinaan
kepribadian manusia.
Kata kunci: kepribadian
manusia; psikologi kepribadian; filsafat manusia; antropologi Islam; integrasi
keilmuan.
PEMBAHASAN
Kajian Integratif Psikologis, Filosofis, dan Spiritual
atas Sisi Kepribadian Manusia
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Kepribadian manusia
merupakan salah satu tema sentral dalam kajian ilmu-ilmu kemanusiaan, baik
dalam psikologi, filsafat, maupun agama. Kepribadian tidak hanya berkaitan
dengan pola perilaku yang tampak, tetapi juga mencakup struktur batin, dinamika
kesadaran, orientasi nilai, serta makna eksistensial yang membentuk cara
manusia memahami diri dan dunianya. Oleh karena itu, kepribadian manusia tidak
dapat direduksi semata-mata sebagai fenomena psikologis, biologis, atau sosial,
melainkan sebagai konstruksi multidimensional yang kompleks.¹
Dalam psikologi
modern, kepribadian umumnya dipahami sebagai pola relatif stabil dari pikiran,
perasaan, dan perilaku yang membedakan individu satu dengan yang lain.²
Berbagai teori kepribadian—mulai dari psikoanalisis Freud, psikologi analitik
Jung, pendekatan humanistik, hingga teori kepribadian kontemporer seperti Big Five
Personality Traits—berusaha menjelaskan struktur dan dinamika
kepribadian manusia dari sudut pandang empiris. Namun, pendekatan psikologis
sering kali dikritik karena cenderung bersifat reduksionistik, terutama ketika
kepribadian dipersempit menjadi variabel-variabel terukur tanpa
mempertimbangkan dimensi makna, nilai, dan spiritualitas.³
Sementara itu,
filsafat memandang kepribadian manusia sebagai bagian dari persoalan yang lebih
mendasar, yakni hakikat manusia sebagai makhluk sadar, bebas, dan bertanggung
jawab. Dalam tradisi filsafat klasik hingga modern, kepribadian dikaitkan
dengan rasionalitas, emosi, kehendak, serta relasi manusia dengan sesama dan
dunianya.⁴ Filsafat eksistensial, misalnya, menekankan bahwa kepribadian tidak
bersifat statis, melainkan dibentuk melalui pilihan-pilihan eksistensial
manusia dalam menghadapi absurditas, kebebasan, dan tanggung jawab hidup.⁵
Dalam perspektif
Islam, kepribadian manusia dipahami secara lebih holistik dengan mengaitkan
dimensi jasad, nafs, akal, dan ruh. Manusia tidak hanya dipandang sebagai
makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang
memiliki tujuan transendental.⁶ Konsep-konsep seperti fitrah, tingkatan nafs,
serta ideal insan kamil menunjukkan bahwa
kepribadian manusia berkembang melalui proses penyucian diri dan keseimbangan
antara dorongan duniawi dan kesadaran ketuhanan.⁷
Perbedaan perspektif
tersebut menunjukkan bahwa kajian tentang sisi kepribadian manusia membutuhkan
pendekatan integratif dan multidisipliner. Pendekatan tunggal berpotensi
menghasilkan pemahaman yang parsial dan tidak utuh. Oleh karena itu, artikel
ini berupaya mengkaji sisi-sisi kepribadian manusia dengan mengintegrasikan
perspektif psikologi, filsafat, dan Islam guna memperoleh pemahaman yang lebih
komprehensif, kritis, dan kontekstual.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, rumusan masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
1)
Apa yang dimaksud dengan
kepribadian manusia dan bagaimana konsep dasarnya dalam berbagai disiplin ilmu?
2)
Apa saja sisi-sisi kepribadian
manusia menurut perspektif psikologi, filsafat, dan Islam?
3)
Bagaimana hubungan, interaksi, dan
ketegangan antar-sisi kepribadian manusia tersebut?
4)
Bagaimana kemungkinan sintesis
konseptual untuk memahami kepribadian manusia secara integratif?
1.3.
Tujuan dan Manfaat
Kajian
Tujuan utama kajian
ini adalah untuk menganalisis dan memetakan sisi-sisi kepribadian manusia
secara komprehensif melalui pendekatan multidisipliner. Secara khusus, artikel
ini bertujuan:
1)
Menjelaskan konsep kepribadian
manusia dalam perspektif psikologi, filsafat, dan Islam.
2)
Mengidentifikasi dimensi-dimensi
utama kepribadian manusia beserta karakteristiknya.
3)
Menyusun kerangka integratif yang
dapat menjembatani berbagai pendekatan keilmuan.
Adapun manfaat
kajian ini meliputi manfaat teoretis dan praktis. Secara teoretis, kajian ini
diharapkan dapat memperkaya diskursus akademik tentang kepribadian manusia dan
mengurangi fragmentasi pemahaman antar-disiplin ilmu. Secara praktis, hasil
kajian ini dapat menjadi rujukan dalam bidang pendidikan karakter, pengembangan
diri, serta pembinaan moral dan spiritual manusia.
1.4.
Metodologi dan
Pendekatan Kajian
Artikel ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library
research). Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder
berupa buku klasik dan kontemporer, artikel jurnal ilmiah, serta teks-teks
filosofis dan keagamaan yang relevan. Pendekatan yang digunakan bersifat
konseptual, komparatif, dan integratif, dengan tujuan untuk mengkaji,
membandingkan, serta mensintesiskan berbagai pandangan mengenai kepribadian
manusia.
Analisis dilakukan
secara deskriptif-analitis dengan menekankan koherensi argumentasi dan
keterbukaan terhadap kritik serta pengembangan lebih lanjut. Pendekatan ini
dipilih karena sesuai untuk mengkaji konsep kepribadian yang bersifat abstrak,
multidimensional, dan lintas disiplin.
1.5.
Sistematika Penulisan
Artikel ini disusun
dalam delapan bab. Bab I merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang,
rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab II membahas
konsep dan definisi kepribadian manusia. Bab III mengkaji sisi kepribadian
manusia dalam perspektif psikologi. Bab IV membahas perspektif filsafat. Bab V
mengulas perspektif Islam. Bab VI menyajikan integrasi dan sintesis
antar-perspektif. Bab VII berisi diskusi kritis dan peluang pengembangan kajian,
sedangkan Bab VIII menyajikan kesimpulan dan rekomendasi.
Footnotes
[1]
Gordon W. Allport, Personality: A Psychological Interpretation
(New York: Holt, Rinehart & Winston, 1937), 48.
[2]
Jerry M. Burger, Personality, 9th ed. (Boston: Cengage
Learning, 2019), 4.
[3]
David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W.
W. Norton & Company, 2019), 12–14.
[4]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin
(Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), I.7.
[5]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22–28.
[6]
Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Tehran: Sadra Islamic
Publications, 1985), 15–18.
[7]
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. Nabih Amin Faris
(Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), jil. III, 3–7.
2.
Konsep dan Definisi
Kepribadian Manusia
2.1.
Pengertian Kepribadian
dalam Psikologi
Dalam kajian
psikologi, istilah kepribadian (personality)
merujuk pada keseluruhan pola karakteristik psikologis yang relatif stabil dan
konsisten dalam diri individu, yang tercermin dalam cara berpikir, merasakan,
dan berperilaku. Gordon W. Allport, salah satu tokoh awal psikologi
kepribadian, mendefinisikan kepribadian sebagai “organisasi dinamis dalam diri
individu dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan penyesuaian uniknya
terhadap lingkungan.”¹ Definisi ini menekankan dua aspek penting, yakni sifat
dinamis kepribadian dan keterkaitannya dengan faktor biologis serta psikologis.
Perkembangan
selanjutnya menunjukkan bahwa psikologi kepribadian tidak hanya berfokus pada
struktur internal individu, tetapi juga pada pola perilaku yang dapat diamati
dan diukur secara empiris. Burger menyatakan bahwa kepribadian mencakup pola
perilaku dan proses mental yang konsisten serta menjelaskan perbedaan individu
dalam berbagai situasi.² Dengan demikian, kepribadian dipahami sebagai konstruk
ilmiah yang dapat dianalisis melalui pendekatan teoritis dan metode penelitian
yang sistematis.
Beragam teori
psikologi menawarkan definisi dan penekanan yang berbeda. Teori psikoanalisis
melihat kepribadian sebagai hasil interaksi antara dorongan instingtif,
realitas, dan norma moral. Teori humanistik menekankan potensi positif dan
aktualisasi diri manusia, sementara teori sifat (trait theories) memandang kepribadian
sebagai kumpulan karakteristik dasar yang relatif stabil, seperti yang
dirumuskan dalam model Big Five Personality Traits.³
Meskipun berbeda pendekatan, seluruh teori tersebut sepakat bahwa kepribadian
merupakan aspek fundamental yang membentuk identitas dan perilaku manusia.
2.2.
Kepribadian dalam
Perspektif Filsafat
Dalam filsafat,
pembahasan kepribadian tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan tentang hakikat
manusia (anthropology
philosophica). Kepribadian dipahami sebagai manifestasi dari
kesadaran diri, rasionalitas, kehendak bebas, serta tanggung jawab moral.
Berbeda dengan psikologi yang cenderung bersifat deskriptif dan empiris,
filsafat menempatkan kepribadian dalam kerangka normatif dan ontologis.
Aristoteles
memandang manusia sebagai makhluk rasional yang tindakannya diarahkan oleh
tujuan etis (telos). Dalam konteks ini,
kepribadian berkaitan erat dengan pembentukan karakter (ethos)
melalui kebiasaan dan kebajikan moral.⁴ Sementara itu, dalam filsafat modern,
terutama sejak René Descartes, kepribadian manusia dikaitkan dengan kesadaran
subjektif dan kemampuan reflektif individu sebagai subjek berpikir (cogito).⁵
Filsafat
eksistensial kemudian menggeser fokus dari hakikat universal manusia menuju
pengalaman individual. Menurut Kierkegaard dan Sartre, kepribadian bukanlah
sesuatu yang sepenuhnya “diberikan”, melainkan dibentuk melalui pilihan-pilihan
eksistensial manusia dalam situasi konkret.⁶ Dengan demikian, kepribadian
dipahami sebagai proses yang terus-menerus menjadi (becoming), bukan sekadar keadaan
statis. Perspektif ini menekankan kebebasan, tanggung jawab, dan autentisitas
sebagai inti kepribadian manusia.
2.3.
Kepribadian dalam
Perspektif Islam
Dalam Islam, konsep
kepribadian manusia tidak dirumuskan secara terminologis sebagaimana dalam
psikologi modern, namun tersebar dalam berbagai konsep kunci seperti fitrah,
nafs, akal, dan ruh. Manusia dipandang sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
memiliki dimensi jasmani dan rohani, serta diberi potensi untuk berkembang
menuju kesempurnaan moral dan spiritual.⁷
Kepribadian manusia
dalam Islam berakar pada konsep fitrah, yakni potensi dasar manusia
untuk mengenal kebenaran dan cenderung kepada kebaikan. Namun, potensi tersebut
dapat berkembang atau menyimpang tergantung pada pendidikan, lingkungan, dan
pilihan moral individu. Al-Ghazali menjelaskan bahwa kepribadian manusia
dibentuk melalui pergulatan antara nafsu, akal, dan hati, yang masing-masing
memiliki peran berbeda dalam mengarahkan perilaku manusia.⁸
Tasawuf secara
khusus memberikan kerangka analitis tentang perkembangan kepribadian melalui
tingkatan nafs, mulai dari nafs ammarah hingga nafs
muthmainnah. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kepribadian manusia
bersifat dinamis dan dapat ditransformasikan melalui proses penyucian diri (tazkiyat
al-nafs). Tujuan akhir dari proses tersebut adalah tercapainya
kepribadian ideal yang selaras dengan nilai-nilai ilahiah, yang sering disebut
sebagai insan
kamil.⁹
2.4.
Perbandingan Definisi
dan Implikasi Konseptual
Perbedaan definisi
kepribadian dalam psikologi, filsafat, dan Islam menunjukkan adanya variasi
titik tekan dalam memahami manusia. Psikologi menekankan aspek empiris,
struktural, dan fungsional kepribadian; filsafat menyoroti dimensi ontologis,
etis, dan eksistensial; sementara Islam memadukan dimensi moral dan spiritual
dalam kerangka teologis. Perbedaan ini bukanlah kontradiksi mutlak, melainkan
refleksi dari fokus dan tujuan keilmuan yang berbeda.
Implikasi konseptual
dari perbedaan tersebut adalah perlunya pendekatan integratif dalam kajian
kepribadian manusia. Pendekatan yang hanya bertumpu pada satu perspektif
berisiko menghasilkan pemahaman yang parsial dan reduksionistik. Sebaliknya,
integrasi berbagai perspektif memungkinkan pemahaman yang lebih utuh tentang
manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, rasional, sosial, dan spiritual.
Oleh karena itu, kajian kepribadian manusia perlu dikembangkan secara
multidisipliner agar mampu menjawab kompleksitas realitas manusia secara lebih
komprehensif.
Footnotes
[1]
Gordon W. Allport, Personality: A Psychological Interpretation
(New York: Holt, Rinehart & Winston, 1937), 48.
[2]
Jerry M. Burger, Personality, 9th ed. (Boston: Cengage
Learning, 2019), 4–6.
[3]
David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W.
W. Norton & Company, 2019), 19–25.
[4]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin
(Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), II.1–4.
[5]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John
Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), Meditation II.
[6]
Søren Kierkegaard, The Sickness unto Death, trans. Alastair
Hannay (London: Penguin Books, 1989), 43–47; Jean-Paul Sartre, Existentialism
Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press,
2007), 31–35.
[7]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University
of Chicago Press, 2009), 17–21.
[8]
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. Nabih Amin Faris
(Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), jil. III, 1–10.
[9]
Ibn ‘Arabi, Fusus al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York:
Paulist Press, 1980), 50–55.
3.
Sisi Kepribadian
Manusia dalam Perspektif Psikologi
3.1.
Teori Psikoanalisis:
Struktur dan Dinamika Kepribadian
Teori psikoanalisis
yang dikembangkan oleh Sigmund Freud merupakan salah satu fondasi awal dalam
kajian psikologi kepribadian. Freud memandang kepribadian sebagai sistem
dinamis yang terbentuk dari interaksi kekuatan-kekuatan psikologis yang
sebagian besar berada di luar kesadaran individu.¹ Dalam kerangka ini,
kepribadian manusia terdiri atas tiga struktur utama, yaitu id,
ego,
dan superego.
Id
merepresentasikan dorongan instingtif yang bersifat biologis dan beroperasi
berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle). Dorongan ini
bersifat irasional dan menuntut pemuasan segera tanpa mempertimbangkan realitas
atau norma moral. Ego berfungsi sebagai mediator
antara tuntutan id, realitas eksternal, dan tekanan
moral dari superego.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle) dan menjadi
aspek rasional dalam kepribadian manusia.² Adapun superego mencerminkan internalisasi
nilai-nilai moral, norma sosial, dan larangan yang diperoleh melalui proses
sosialisasi.
Menurut Freud,
konflik antara ketiga struktur ini merupakan sumber utama kecemasan dan problem
kepribadian. Mekanisme pertahanan ego (defense mechanisms) berkembang sebagai
upaya ego untuk mereduksi kecemasan tersebut.³ Dengan demikian, sisi
kepribadian manusia dalam perspektif psikoanalisis mencerminkan ketegangan
antara dorongan naluriah, rasionalitas, dan tuntutan moral, yang membentuk
perilaku manusia secara tidak selalu disadari.
3.2.
Psikologi Analitik
Carl Jung: Kesadaran dan Ketidaksadaran
Carl Gustav Jung
mengembangkan psikologi analitik sebagai respons kritis terhadap psikoanalisis
Freud. Jung sepakat bahwa ketidaksadaran memainkan peran penting dalam
kepribadian manusia, namun ia memperluas konsep tersebut dengan memperkenalkan ketidaksadaran
kolektif (collective unconscious).⁴ Menurut
Jung, kepribadian manusia terdiri atas kesadaran (conscious), ketidaksadaran pribadi,
dan ketidaksadaran kolektif yang berisi arketipe universal.
Dalam kerangka ini,
Jung mengidentifikasi beberapa sisi kepribadian yang penting, antara lain persona
dan shadow.
Persona
adalah topeng sosial yang digunakan individu untuk menyesuaikan diri dengan
tuntutan masyarakat, sedangkan shadow merepresentasikan
aspek-aspek kepribadian yang ditekan, tidak diakui, atau dianggap negatif oleh
individu.⁵ Jung berpendapat bahwa pengingkaran terhadap shadow
dapat menimbulkan konflik psikologis, sementara pengakuan dan integrasinya
merupakan bagian dari proses pendewasaan kepribadian.
Tujuan utama
perkembangan kepribadian menurut Jung adalah individuasi, yaitu proses integrasi
berbagai sisi kepribadian—baik yang sadar maupun tidak sadar—ke dalam satu
keutuhan diri.⁶ Dengan demikian, sisi kepribadian manusia dalam perspektif Jung
bersifat dialektis, mencakup terang dan gelap, rasional dan irasional, personal
dan kolektif.
3.3.
Pendekatan Humanistik:
Aktualisasi Diri dan Pengalaman Subjektif
Berbeda dari
pendekatan psikoanalisis yang menekankan konflik batin, psikologi humanistik
memandang manusia sebagai makhluk yang secara fundamental memiliki potensi
positif dan kecenderungan menuju pertumbuhan. Abraham Maslow dan Carl Rogers
merupakan tokoh utama dalam pendekatan ini. Maslow mengemukakan hierarki
kebutuhan manusia yang berpuncak pada kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization),
yakni dorongan untuk mewujudkan potensi diri secara optimal.⁷
Dalam pandangan
Maslow, kepribadian manusia berkembang seiring terpenuhinya kebutuhan dasar
hingga kebutuhan psikologis yang lebih tinggi. Aktualisasi diri mencerminkan
sisi kepribadian yang kreatif, otonom, dan bermakna. Rogers, di sisi lain,
menekankan konsep self dan pengalaman subjektif
individu. Ia memandang kepribadian sebagai hasil interaksi antara self-concept
dan pengalaman hidup, serta menekankan pentingnya penerimaan positif tanpa
syarat (unconditional
positive regard).⁸
Pendekatan
humanistik melihat sisi kepribadian manusia sebagai sesuatu yang terbuka,
dinamis, dan berorientasi pada makna. Kepribadian tidak dipahami sebagai
struktur yang kaku, melainkan sebagai proses yang terus berkembang melalui
kesadaran diri dan relasi interpersonal yang sehat.
3.4.
Teori Sifat dan
Pendekatan Kepribadian Modern
Perkembangan
psikologi kepribadian modern ditandai oleh munculnya teori sifat (trait
theories) yang berupaya mengidentifikasi dimensi dasar kepribadian
yang dapat diukur secara empiris. Salah satu model yang paling berpengaruh
adalah Big Five
Personality Traits, yang mencakup lima dimensi utama: openness,
conscientiousness,
extraversion,
agreeableness,
dan neuroticism.⁹
Model ini didukung oleh berbagai penelitian lintas budaya dan dianggap memiliki
validitas empiris yang kuat.
Pendekatan sifat
memandang kepribadian sebagai pola karakteristik yang relatif stabil sepanjang
waktu dan situasi. Meskipun dikritik karena kurang memperhatikan konteks sosial
dan makna subjektif, teori ini memberikan kontribusi penting dalam memahami
variasi individu secara sistematis dan terukur.¹⁰ Dengan demikian, sisi
kepribadian manusia dalam perspektif modern dipahami sebagai kombinasi antara
struktur internal yang stabil dan respons adaptif terhadap lingkungan.
3.5.
Implikasi Psikologis
terhadap Pemahaman Kepribadian Manusia
Beragam pendekatan
psikologi kepribadian menunjukkan bahwa kepribadian manusia memiliki banyak
sisi yang saling berinteraksi, mulai dari dorongan naluriah, proses kognitif
dan emosional, hingga potensi aktualisasi diri. Tidak ada satu teori pun yang
mampu menjelaskan kepribadian manusia secara menyeluruh. Oleh karena itu,
pemahaman psikologis tentang kepribadian menuntut keterbukaan terhadap
pluralitas teori dan pendekatan.
Secara keseluruhan,
perspektif psikologi memberikan kerangka empiris dan konseptual yang penting
untuk memahami sisi kepribadian manusia. Namun, untuk memperoleh pemahaman yang
lebih utuh, perspektif ini perlu dilengkapi dengan pendekatan filosofis dan
spiritual yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.
Footnotes
[1]
Sigmund Freud, The Ego and the Id, trans. Joan Riviere (New
York: W. W. Norton & Company, 1960), 3–7.
[2]
Sigmund Freud, New Introductory Lectures on Psycho-Analysis,
trans. W. J. H. Sprott (New York: W. W. Norton & Company, 1933), 67–70.
[3]
Anna Freud, The Ego and the Mechanisms of Defence (London:
Hogarth Press, 1936), 22–30.
[4]
Carl G. Jung, The Archetypes and the Collective Unconscious,
trans. R. F. C. Hull (Princeton: Princeton University Press, 1981), 3–5.
[5]
Carl G. Jung, Two Essays on Analytical Psychology, trans. R.
F. C. Hull (Princeton: Princeton University Press, 1972), 156–160.
[6]
Anthony Stevens, Jung: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2001), 87–92.
[7]
Abraham H. Maslow, Motivation and Personality, 3rd ed. (New
York: Harper & Row, 1987), 35–47.
[8]
Carl R. Rogers, On Becoming a Person (Boston: Houghton
Mifflin, 1961), 110–118.
[9]
Paul T. Costa Jr. and Robert R. McCrae, Personality in Adulthood: A
Five-Factor Theory Perspective (New York: Guilford Press, 2003), 22–28.
[10]
David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W.
W. Norton & Company, 2019), 130–136.
4.
Sisi Kepribadian
Manusia dalam Perspektif Filsafat
4.1.
Rasionalitas dan
Emosionalitas sebagai Unsur Kepribadian
Dalam filsafat,
kepribadian manusia kerap dipahami melalui relasi antara rasionalitas dan
emosionalitas. Sejak filsafat klasik, rasio (logos) dipandang sebagai ciri
pembeda utama manusia dari makhluk lain. Aristoteles menegaskan bahwa manusia
adalah makhluk rasional (animal rationale) yang tindakannya
diarahkan oleh pertimbangan akal dan tujuan etis.¹ Dalam kerangka ini,
kepribadian manusia tidak hanya ditentukan oleh dorongan alamiah, tetapi oleh
kemampuan reflektif untuk menimbang baik dan buruk.
Namun demikian,
filsafat tidak memandang emosi sebagai unsur yang sepenuhnya harus ditekan.
Dalam Nicomachean
Ethics, Aristoteles menekankan pentingnya pengelolaan emosi secara
proporsional melalui kebajikan (virtue), sehingga emosi dapat
selaras dengan akal.² Dengan demikian, kepribadian manusia yang matang
tercermin dalam keseimbangan antara rasionalitas dan emosionalitas, bukan dalam
dominasi salah satu atas yang lain.
Dalam filsafat
modern, pemikiran David Hume menantang supremasi rasio dengan menyatakan bahwa
akal adalah “hamba dari nafsu” (the slave of the passions).³
Pandangan ini menekankan bahwa emosi memiliki peran fundamental dalam membentuk
motivasi dan tindakan manusia. Perdebatan antara rasio dan emosi menunjukkan
bahwa sisi kepribadian manusia bersifat dialektis, di mana keduanya saling
memengaruhi dalam pembentukan karakter dan identitas diri.
4.2.
Individualitas dan
Sosialitas dalam Kepribadian Manusia
Filsafat juga
memandang kepribadian manusia sebagai hasil interaksi antara dimensi individual
dan sosial. Di satu sisi, manusia memiliki individualitas yang unik, otonom,
dan tidak dapat direduksi pada struktur sosial semata. Di sisi lain, manusia
tidak dapat berkembang secara penuh tanpa relasi dengan orang lain. Aristoteles
menyebut manusia sebagai zoon politikon, yakni makhluk yang
secara kodrati hidup dalam komunitas.⁴
Dalam filsafat
modern, gagasan tentang subjek otonom berkembang pesat, terutama dalam
pemikiran Immanuel Kant. Kant menekankan bahwa kepribadian manusia berkaitan
erat dengan otonomi moral, yaitu kemampuan individu untuk bertindak berdasarkan
hukum moral yang ditetapkan oleh rasio praktisnya sendiri.⁵ Kepribadian, dalam
pandangan ini, bukan sekadar kumpulan sifat psikologis, melainkan kapasitas
moral yang menjadikan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri.
Namun, filsuf-filsuf
kontemporer menyoroti bahwa kepribadian manusia juga dibentuk oleh struktur
sosial, bahasa, dan budaya. Pemikiran Hegel, misalnya, menekankan bahwa
kesadaran diri individu berkembang melalui pengakuan (recognition)
dari orang lain.⁶ Oleh karena itu, kepribadian manusia merupakan hasil
dialektika antara kebebasan individual dan keterikatan sosial, antara otonomi
dan relasi.
4.3.
Kepribadian dalam
Filsafat Eksistensial
Filsafat
eksistensial memberikan kontribusi penting dalam memahami sisi kepribadian
manusia sebagai proses yang dinamis dan terbuka. Søren Kierkegaard memandang
kepribadian sebagai hasil pergulatan eksistensial individu dalam menghadapi
kecemasan, pilihan, dan tanggung jawab.⁷ Kepribadian tidak dipahami sebagai
struktur yang statis, melainkan sebagai proses menjadi diri sendiri (becoming
a self).
Jean-Paul Sartre
melanjutkan gagasan ini dengan menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi (existence
precedes essence).⁸ Artinya, manusia tidak memiliki kepribadian
yang telah ditentukan sejak awal, melainkan membentuk kepribadiannya melalui
tindakan dan pilihan bebas. Dalam kerangka ini, kepribadian manusia berkaitan
erat dengan kebebasan radikal dan tanggung jawab total atas diri sendiri.
Pandangan
eksistensial ini menempatkan kepribadian manusia dalam konteks ketidakpastian
dan absurditas dunia. Kepribadian menjadi arena di mana manusia menegosiasikan
makna hidupnya sendiri. Dengan demikian, sisi kepribadian manusia dalam
filsafat eksistensial bersifat reflektif, historis, dan terbuka terhadap
perubahan.
4.4.
Determinisme,
Kebebasan, dan Tanggung Jawab Moral
Salah satu persoalan
filosofis mendasar terkait kepribadian manusia adalah hubungan antara
determinisme dan kebebasan. Determinisme memandang bahwa tindakan dan karakter
manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar kendali individu, seperti hukum
alam, kondisi sosial, atau struktur psikologis. Sebaliknya, pandangan
libertarian dalam filsafat menegaskan kebebasan kehendak sebagai inti
kepribadian manusia.⁹
Dalam konteks etika,
persoalan ini memiliki implikasi serius terhadap konsep tanggung jawab moral.
Jika kepribadian sepenuhnya ditentukan, maka dasar pertanggungjawaban moral
menjadi problematis. Oleh karena itu, banyak filsuf mengembangkan posisi
kompatibilisme, yang berusaha mendamaikan determinisme dengan kebebasan
terbatas.¹⁰ Dalam pandangan ini, kepribadian manusia dipahami sebagai hasil
pengaruh berbagai faktor, namun tetap memiliki ruang bagi refleksi dan pilihan
rasional.
Dengan demikian,
filsafat memandang kepribadian manusia sebagai fenomena kompleks yang
melibatkan rasio, emosi, kebebasan, relasi sosial, dan tanggung jawab moral.
Perspektif ini menegaskan bahwa kepribadian tidak dapat dipahami hanya sebagai
objek kajian empiris, tetapi juga sebagai subjek etis dan eksistensial.
Footnotes
[1]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin
(Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), I.7.
[2]
Aristotle, Nicomachean Ethics, II.6–7.
[3]
David Hume, A Treatise of Human Nature (Oxford: Oxford
University Press, 2000), II.3.3.
[4]
Aristotle, Politics, trans. C. D. C. Reeve (Indianapolis:
Hackett Publishing, 1998), I.2.
[5]
Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans.
Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 39–44.
[6]
G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 111–119.
[7]
Søren Kierkegaard, The Sickness unto Death, trans. Alastair
Hannay (London: Penguin Books, 1989), 43–50.
[8]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 20–25.
[9]
Robert Kane, The Significance of Free Will (Oxford: Oxford
University Press, 1996), 13–20.
[10]
Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking Press,
2003), 83–90.
5.
Sisi Kepribadian
Manusia dalam Perspektif Islam
5.1.
Landasan Antropologi
Islam tentang Manusia
Dalam Islam,
pembahasan tentang kepribadian manusia tidak dapat dilepaskan dari kerangka
antropologi teologis, yakni pandangan tentang manusia sebagai makhluk ciptaan
Allah yang memiliki tujuan eksistensial. Al-Qur’an menggambarkan manusia
sebagai makhluk yang diciptakan secara seimbang (ahsani taqwīm), dianugerahi potensi
jasmani dan rohani, serta dibebani amanah moral sebagai khalifah di bumi.¹
Dengan demikian, kepribadian manusia dalam Islam bersifat teleologis, yakni
diarahkan pada tujuan tertentu, bukan semata-mata hasil evolusi biologis atau
konstruksi sosial.
Berbeda dengan
pendekatan psikologi modern yang sering bersifat deskriptif, Islam memandang
kepribadian secara normatif sekaligus deskriptif. Artinya, Islam tidak hanya
menjelaskan bagaimana manusia berperilaku, tetapi juga bagaimana seharusnya
manusia membentuk dirinya. Dalam konteks ini, kepribadian manusia dipahami
sebagai integrasi antara jasad, nafs, akal, dan ruh yang berada dalam relasi
hierarkis dan fungsional.²
5.2.
Jasad dan Dimensi
Biologis Kepribadian
Jasad merupakan
dimensi material manusia yang menjadi medium bagi aktivitas kepribadian.
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dari unsur tanah, yang
menunjukkan keterikatan manusia dengan dunia material dan hukum-hukum alam.³
Dimensi jasadiyah ini melahirkan kebutuhan biologis dan dorongan instingtif,
seperti makan, minum, dan reproduksi, yang merupakan bagian sah dari eksistensi
manusia.
Namun, Islam tidak
memandang jasad sebagai sumber kejahatan intrinsik. Jasad justru diposisikan
sebagai sarana untuk menjalankan ibadah dan aktualisasi tanggung jawab moral.
Kepribadian manusia menjadi bermasalah bukan karena keberadaan jasad itu
sendiri, melainkan ketika dorongan jasmani mendominasi dan tidak dikendalikan
oleh akal dan nilai-nilai spiritual.⁴ Dengan demikian, sisi jasmani kepribadian
harus dikelola, bukan diingkari.
5.3.
Nafs dan Dinamika Jiwa
Manusia
Konsep nafs
merupakan salah satu kunci utama dalam memahami kepribadian manusia dalam
Islam. Nafs dapat dipahami sebagai dimensi psikis yang mencakup dorongan,
emosi, dan kecenderungan internal manusia. Al-Qur’an menggambarkan nafs dalam
berbagai kondisi dan tingkatan, yang menunjukkan bahwa kepribadian manusia
bersifat dinamis dan dapat mengalami transformasi.⁵
Para ulama dan sufi
klasik mengklasifikasikan nafs ke dalam beberapa tingkatan. Tiga tingkatan yang
paling dikenal adalah nafs ammarah bi al-sū’ (jiwa yang
mendorong kepada keburukan), nafs lawwāmah (jiwa yang mencela
diri), dan nafs
muthmainnah (jiwa yang tenang).⁶ Tingkatan-tingkatan ini tidak
menunjukkan tipe manusia yang statis, melainkan fase perkembangan kepribadian
spiritual seseorang.
Al-Ghazali
menjelaskan bahwa pergulatan antara nafs dan akal merupakan inti dari
pendidikan moral manusia. Kepribadian yang matang tercapai ketika nafs berada
di bawah kendali akal dan hati yang tercerahkan oleh nilai-nilai ilahiah.⁷ Oleh
karena itu, pengelolaan nafs (tazkiyat al-nafs) menjadi aspek
sentral dalam pembentukan kepribadian Islami.
5.4.
Akal sebagai Instrumen
Moral dan Epistemik
Akal menempati
posisi penting dalam struktur kepribadian manusia menurut Islam. Al-Qur’an
berulang kali menyeru manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akalnya
sebagai sarana untuk mengenal kebenaran.⁸ Akal berfungsi sebagai instrumen
epistemik untuk memahami realitas serta sebagai instrumen moral untuk
membedakan yang benar dan yang salah.
Dalam tradisi
teologi dan filsafat Islam, akal dipandang sebagai anugerah ilahi yang
memungkinkan manusia memikul tanggung jawab moral (taklīf). Tanpa akal, manusia tidak
dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.⁹ Dengan demikian, kepribadian
manusia dalam Islam bersifat rasional-moral, bukan sekadar emosional atau
instingtif.
Namun, Islam juga
menegaskan keterbatasan akal. Akal tidak berdiri secara absolut, melainkan
membutuhkan bimbingan wahyu agar tidak tersesat. Relasi harmonis antara akal
dan wahyu menjadi fondasi kepribadian yang seimbang dan lurus.¹⁰
5.5.
Ruh dan Dimensi
Transendental Kepribadian
Ruh merupakan
dimensi paling mendalam dalam struktur kepribadian manusia menurut Islam.
Al-Qur’an menyatakan bahwa ruh adalah urusan Tuhan (amr rabbī), yang hakikatnya
melampaui jangkauan pengetahuan manusia sepenuhnya.¹¹ Meskipun demikian,
keberadaan ruh menjelaskan dimensi transendental kepribadian manusia, yakni
kecenderungan kepada makna, nilai absolut, dan hubungan dengan Tuhan.
Ruh menjadi sumber
kesadaran spiritual dan dorongan untuk melampaui kepentingan material. Dalam
perspektif tasawuf, kejernihan ruh menentukan kualitas kepribadian manusia.
Semakin bersih ruh seseorang, semakin kuat orientasi hidupnya kepada kebenaran
dan kebaikan.¹² Oleh karena itu, krisis kepribadian dalam Islam sering dipahami
sebagai krisis spiritual, yakni keterputusan manusia dari dimensi ruhaniahnya.
5.6.
Insan Kamil sebagai
Ideal Kepribadian Manusia
Konsep insan
kamil (manusia paripurna) merepresentasikan ideal kepribadian
manusia dalam Islam. Insan kamil bukanlah manusia tanpa kelemahan, melainkan
manusia yang berhasil mengintegrasikan jasad, nafs, akal, dan ruh secara
harmonis di bawah bimbingan wahyu.¹³ Konsep ini berkembang terutama dalam
tradisi tasawuf filosofis, namun memiliki dasar normatif dalam ajaran Al-Qur’an
dan Sunnah.
Dalam kerangka insan
kamil, kepribadian manusia dipahami sebagai proyek etis dan spiritual yang
terus-menerus. Kepribadian tidak bersifat final, melainkan senantiasa terbuka
untuk perbaikan dan penyempurnaan. Dengan demikian, perspektif Islam menawarkan
model kepribadian yang integratif, normatif, dan transendental, yang melengkapi
pendekatan psikologis dan filosofis yang telah dibahas pada bab sebelumnya.
Footnotes
[1]
Al-Qur’an, Q.S. al-Tīn [95]: 4.
[2]
Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Tehran: Sadra Islamic
Publications, 1985), 23–27.
[3]
Al-Qur’an, Q.S. al-Mu’minūn [23]: 12–14.
[4]
Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University
of Chicago Press, 2009), 33–36.
[5]
Al-Qur’an, Q.S. al-Shams [91]: 7–10.
[6]
Al-Qur’an, Q.S. Yūsuf [12]: 53; Q.S. al-Qiyāmah [75]: 2; Q.S. al-Fajr
[89]: 27–30.
[7]
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. Nabih Amin Faris
(Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), jil. III, 3–12.
[8]
Al-Qur’an, Q.S. al-Baqarah [2]: 44; Q.S. al-Rūm [30]: 8.
[9]
Al-Juwayni, Al-Irshad ila Qawati‘ al-Adillah fi Usul al-I‘tiqad
(Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 215–218.
[10]
Ibn Rushd, Fasl al-Maqal, trans. George F. Hourani (Leiden:
Brill, 1959), 44–47.
[11]
Al-Qur’an, Q.S. al-Isrā’ [17]: 85.
[12]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality: Foundations (New
York: Crossroad, 1987), 67–72.
[13]
Ibn ‘Arabi, Al-Insan al-Kamil, ed. ‘Afifi (Cairo: Dar al-Kutub
al-Misriyyah, 1946), 5–9.
6.
Integrasi dan
Sintesis Sisi Kepribadian Manusia
6.1.
Urgensi Pendekatan Integratif
dalam Kajian Kepribadian
Kajian tentang
kepribadian manusia menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan tunggal yang
mampu menjelaskan kompleksitas manusia secara menyeluruh. Psikologi memberikan
kerangka empiris tentang struktur dan dinamika kepribadian, filsafat menawarkan
refleksi ontologis dan etis tentang hakikat manusia, sementara Islam
menghadirkan perspektif normatif dan transendental mengenai tujuan hidup dan
pembentukan kepribadian. Ketiganya memiliki kontribusi signifikan, namun juga keterbatasan
jika berdiri secara terpisah.¹
Pendekatan
integratif menjadi penting untuk menghindari reduksionisme, yaitu kecenderungan
mereduksi kepribadian manusia hanya pada aspek biologis, psikologis, atau
sosial semata. Reduksionisme semacam ini berpotensi mengabaikan dimensi makna,
nilai, dan spiritualitas yang justru menjadi inti pengalaman manusia.² Oleh
karena itu, sintesis konseptual diperlukan agar kepribadian manusia dipahami
sebagai kesatuan utuh dari berbagai dimensi yang saling berinteraksi.
6.2.
Interaksi
Antar-Dimensi Kepribadian Manusia
Kepribadian manusia
dapat dipahami sebagai hasil interaksi dinamis antara dimensi biologis,
psikologis, sosial, moral, dan spiritual. Dimensi biologis menyediakan dasar
material dan instingtif bagi kehidupan manusia, sedangkan dimensi psikologis
mengelola pengalaman subjektif, emosi, dan pola perilaku. Dimensi sosial
membentuk identitas melalui relasi dan norma, sementara dimensi moral dan
spiritual memberikan orientasi nilai serta tujuan hidup.³
Dalam perspektif psikologi,
interaksi antar-dimensi ini tampak dalam hubungan antara dorongan naluriah,
proses kognitif, dan regulasi perilaku. Filsafat menyoroti interaksi tersebut
dalam kerangka kebebasan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter. Islam, di
sisi lain, memandang interaksi ini sebagai relasi hierarkis, di mana jasad dan
nafs perlu diarahkan oleh akal yang tercerahkan oleh wahyu, serta ditopang oleh
kesadaran ruhaniah.⁴
Dengan demikian,
kepribadian manusia bukanlah kumpulan sisi yang terpisah, melainkan suatu sistem
yang terintegrasi. Gangguan pada satu dimensi dapat memengaruhi keseluruhan
struktur kepribadian, sebagaimana dominasi dimensi tertentu tanpa keseimbangan
dapat menimbulkan krisis identitas dan makna.
6.3.
Konflik dan Harmoni
dalam Struktur Kepribadian
Integrasi sisi-sisi
kepribadian tidak berarti ketiadaan konflik. Sebaliknya, konflik merupakan
bagian inheren dari dinamika kepribadian manusia. Psikoanalisis menggambarkan
konflik antara id, ego, dan superego sebagai sumber ketegangan psikologis.
Filsafat eksistensial memandang konflik sebagai konsekuensi kebebasan dan
pilihan, sementara Islam melihat konflik batin sebagai pergulatan antara nafs
dan nilai-nilai ilahiah.⁵
Namun, konflik tidak
selalu bersifat destruktif. Dalam kerangka integratif, konflik dapat menjadi
sarana pertumbuhan kepribadian apabila dikelola secara reflektif dan etis.
Harmoni kepribadian tercapai bukan dengan meniadakan konflik, melainkan dengan
mengelolanya secara proporsional sehingga setiap sisi kepribadian berfungsi sesuai
perannya.⁶
Harmoni ini
tercermin dalam kemampuan individu untuk menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan
spiritual, emosi dan rasio, kebebasan personal dan tanggung jawab sosial.
Kepribadian yang harmonis tidak bersifat absolut atau final, melainkan senantiasa
berada dalam proses penyesuaian dan penyempurnaan.
6.4.
Model Sintesis
Kepribadian Manusia Integratif
Berdasarkan kajian
psikologi, filsafat, dan Islam, kepribadian manusia dapat disintesiskan dalam
suatu model integratif yang memandang manusia sebagai makhluk multidimensional
dan bertujuan. Dalam model ini, kepribadian dipahami sebagai proses pembentukan
diri (self-formation)
yang melibatkan:
1)
Dimensi dasar:
jasad dan dorongan biologis
2)
Dimensi psikis:
emosi, kognisi, dan pola perilaku
3)
Dimensi rasional-moral:
akal, kehendak, dan tanggung jawab
4)
Dimensi spiritual:
ruh, makna hidup, dan orientasi transendental
Model ini menegaskan
bahwa kepribadian manusia tidak hanya berkembang melalui adaptasi terhadap
lingkungan, tetapi juga melalui refleksi diri dan orientasi nilai.⁷ Dalam
perspektif Islam, sintesis ini mencapai bentuk idealnya dalam konsep insan
kamil, sementara dalam filsafat dapat dikaitkan dengan gagasan
manusia otentik, dan dalam psikologi dengan konsep kepribadian yang
terintegrasi (integrated personality).⁸
Dengan demikian,
sintesis kepribadian manusia tidak menghapus perbedaan perspektif keilmuan,
melainkan memfasilitasi dialog konstruktif antar-disiplin untuk memahami
manusia secara lebih utuh.
6.5.
Implikasi Teoretis dan
Praktis Integrasi Kepribadian
Secara teoretis,
pendekatan integratif memperluas horizon kajian kepribadian manusia dengan
membuka ruang dialog antara ilmu empiris, refleksi filosofis, dan nilai-nilai
spiritual. Pendekatan ini mendorong pengembangan teori kepribadian yang lebih
inklusif dan kontekstual, serta menghindari klaim kebenaran tunggal yang
bersifat absolut.⁹
Secara praktis,
sintesis sisi-sisi kepribadian manusia memiliki implikasi penting dalam bidang
pendidikan, pembinaan karakter, dan kesehatan mental. Pendidikan tidak hanya
diarahkan pada pengembangan kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter
moral dan kesadaran spiritual. Dalam konteks kesehatan mental, pendekatan
integratif memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap problem
kepribadian manusia, yang tidak hanya dilihat sebagai gangguan psikologis,
tetapi juga sebagai krisis makna dan nilai.¹⁰
Dengan demikian,
integrasi dan sintesis sisi kepribadian manusia menjadi landasan penting bagi
upaya memahami dan membina manusia secara utuh, bermakna, dan berkelanjutan.
Footnotes
[1]
David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W.
W. Norton & Company, 2019), 5–7.
[2]
Ken Wilber, A Brief History of Everything (Boston: Shambhala
Publications, 1996), 38–42.
[3]
Gordon W. Allport, Pattern and Growth in Personality (New
York: Holt, Rinehart & Winston, 1961), 23–26.
[4]
Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Tehran: Sadra Islamic
Publications, 1985), 45–49.
[5]
Sigmund Freud, The Ego and the Id, trans. Joan Riviere (New
York: W. W. Norton & Company, 1960), 25–30; Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum
al-Din, jil. III (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 8–12.
[6]
Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin
(Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), II.6.
[7]
Carl R. Rogers, On Becoming a Person (Boston: Houghton
Mifflin, 1961), 108–112.
[8]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY
Press, 1981), 64–68.
[9]
Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey
(Chicago: University of Chicago Press, 1992), 170–175.
[10]
Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon
Press, 2006), 99–105.
7.
Diskusi Kritis Dan
Pengembangan Kajian
7.1.
Keterbatasan
Pendekatan-Pendekatan Kepribadian yang Ada
Meskipun kajian
kepribadian manusia telah berkembang pesat dalam berbagai disiplin ilmu,
masing-masing pendekatan memiliki keterbatasan inheren. Psikologi modern,
khususnya aliran empiris dan positivistik, cenderung menekankan aspek yang
dapat diobservasi dan diukur secara kuantitatif. Pendekatan ini memberikan
kontribusi besar dalam hal validitas dan replikasi ilmiah, namun sering kali
mengabaikan dimensi subjektif, makna eksistensial, serta pengalaman spiritual
yang sulit direduksi menjadi variabel terukur.¹
Di sisi lain,
filsafat menawarkan kedalaman reflektif dalam memahami kepribadian manusia
sebagai subjek moral dan eksistensial. Namun, pendekatan filosofis kerap
dikritik karena bersifat abstrak dan kurang memberikan panduan operasional yang
aplikatif dalam konteks empiris dan praktis.² Adapun perspektif Islam dan
spiritualitas memberikan kerangka normatif dan teleologis yang kuat, tetapi
sering kali kurang diintegrasikan secara metodologis dengan temuan-temuan
ilmiah kontemporer, sehingga berisiko dipersepsikan sebagai non-ilmiah dalam
diskursus akademik modern.³
Keterbatasan ini
menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan pun yang dapat mengklaim otoritas
epistemik tunggal dalam menjelaskan kepribadian manusia secara utuh.
7.2.
Kritik terhadap
Reduksionisme Kepribadian
Salah satu problem
utama dalam kajian kepribadian manusia adalah kecenderungan reduksionisme,
yaitu upaya mereduksi kompleksitas manusia ke dalam satu dimensi dominan.
Reduksionisme biologis, misalnya, memandang kepribadian sebagai produk
deterministik dari gen dan proses neurokimia. Meskipun temuan neurosains
memberikan wawasan penting tentang dasar biologis perilaku, pendekatan ini
gagal menjelaskan dimensi kebebasan, tanggung jawab moral, dan makna
subjektif.⁴
Reduksionisme
psikologis, yang mereduksi kepribadian pada struktur kejiwaan atau pola
perilaku, juga menghadapi kritik serupa. Manusia tidak hanya bereaksi terhadap
stimulus, tetapi juga menafsirkan, merefleksikan, dan memberi makna terhadap
pengalamannya.⁵ Bahkan reduksionisme sosial—yang menekankan konstruksi budaya
dan relasi kuasa—tidak sepenuhnya mampu menjelaskan pengalaman batin individu
yang bersifat personal dan transenden.
Dalam perspektif
Islam, reduksionisme dipandang bertentangan dengan konsep manusia sebagai
makhluk multidimensional yang memiliki jasad, nafs, akal, dan ruh. Mengabaikan
salah satu dimensi tersebut berpotensi melahirkan pemahaman kepribadian yang
timpang dan tidak seimbang.⁶ Oleh karena itu, kritik terhadap reduksionisme
menjadi fondasi penting bagi pengembangan kajian kepribadian yang lebih
integratif.
7.3.
Tantangan Integrasi
Antar-Disiplin
Meskipun pendekatan
integratif menawarkan solusi konseptual, implementasinya menghadapi sejumlah
tantangan epistemologis dan metodologis. Setiap disiplin ilmu memiliki asumsi
dasar, bahasa konseptual, dan kriteria kebenaran yang berbeda. Psikologi
empiris mengutamakan verifikasi data, filsafat mengandalkan argumentasi
rasional, sementara studi keislaman bertumpu pada wahyu dan otoritas tradisi.⁷
Tantangan lainnya
adalah risiko sinkretisme yang tidak kritis, yaitu penggabungan berbagai
perspektif tanpa analisis mendalam terhadap perbedaan mendasar di antara
mereka. Integrasi yang sehat bukanlah pencampuran tanpa batas, melainkan dialog
kritis yang menghormati otonomi masing-masing disiplin sekaligus mencari titik
temu konseptual.⁸
Oleh karena itu,
pengembangan kajian kepribadian manusia menuntut kerangka metodologis yang
reflektif dan terbuka, yang mampu menjembatani perbedaan tanpa menghilangkan
kekhasan setiap perspektif.
7.4.
Peluang Pengembangan
Kajian Kepribadian Manusia
Di tengah
keterbatasan dan tantangan tersebut, terdapat peluang besar untuk pengembangan
kajian kepribadian manusia di masa depan. Pertama, diperlukan penelitian
interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dengan filsafat dan
studi keislaman, baik dalam bentuk penelitian konseptual maupun empiris.
Pendekatan ini dapat memperkaya pemahaman tentang kepribadian manusia dalam
konteks budaya dan spiritual yang beragam.⁹
Kedua, pengembangan
instrumen penelitian yang sensitif terhadap dimensi moral dan spiritual menjadi
kebutuhan mendesak. Selama ini, sebagian besar alat ukur kepribadian bersifat
sekuler dan individualistik. Integrasi nilai-nilai etis dan spiritual ke dalam
kerangka pengukuran dapat membuka horizon baru dalam penelitian kepribadian,
khususnya di masyarakat religius.¹⁰
Ketiga, kajian
kepribadian manusia perlu dikontekstualisasikan dengan problem-problem
kontemporer, seperti krisis identitas, alienasi, dan kesehatan mental. Dalam
konteks ini, pendekatan integratif yang memadukan aspek psikologis,
eksistensial, dan spiritual memiliki potensi besar untuk memberikan solusi yang
lebih komprehensif dan manusiawi.
7.5.
Arah Teoretis dan
Praktis Pengembangan Kajian
Secara teoretis,
pengembangan kajian kepribadian manusia perlu diarahkan pada perumusan model
konseptual yang fleksibel, non-reduksionistik, dan terbuka terhadap koreksi.
Model semacam ini tidak mengklaim finalitas, melainkan berfungsi sebagai
kerangka kerja (working framework) yang dapat terus
dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.¹¹
Secara praktis,
hasil kajian ini memiliki implikasi penting dalam pendidikan, pembinaan
karakter, dan konseling. Pendidikan kepribadian tidak seharusnya hanya
menekankan prestasi kognitif, tetapi juga pembentukan karakter moral dan
kesadaran spiritual. Dalam bidang konseling dan kesehatan mental, pendekatan
integratif memungkinkan pendampingan yang lebih holistik, dengan memperhatikan
dimensi psikologis sekaligus eksistensial dan spiritual individu.¹²
Dengan demikian,
diskusi kritis dan pengembangan kajian kepribadian manusia tidak hanya bersifat
akademik, tetapi juga memiliki relevansi praktis yang signifikan bagi kehidupan
manusia modern.
Footnotes
[1]
David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W.
W. Norton & Company, 2019), 9–12.
[2]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 34–38.
[3]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
15–19.
[4]
Eric R. Kandel, In Search of Memory: The Emergence of a New Science
of Mind (New York: W. W. Norton & Company, 2006), 402–405.
[5]
Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey
(Chicago: University of Chicago Press, 1992), 165–170.
[6]
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, jil. III (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 2004), 5–9.
[7]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 3rd
ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1996), 103–110.
[8]
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1
(Boston: Beacon Press, 1984), 86–92.
[9]
Ken Wilber, The Integral Vision (Boston: Shambhala
Publications, 2007), 55–60.
[10]
Peter C. Hill and Ralph W. Hood Jr., Measures of Religiosity
(Birmingham, AL: Religious Education Press, 1999), 1–6.
[11]
Imre Lakatos, The Methodology of Scientific Research Programmes
(Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 48–52.
[12]
Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon
Press, 2006), 106–110.
8.
Kesimpulan dan
Rekomendasi
8.1.
Kesimpulan
Kajian ini
menunjukkan bahwa kepribadian manusia merupakan fenomena multidimensional yang
tidak dapat dipahami secara memadai melalui satu pendekatan keilmuan tunggal.
Perspektif psikologi menempatkan kepribadian sebagai struktur dan dinamika
internal yang relatif stabil, dibentuk oleh interaksi antara faktor biologis,
kognitif, emosional, dan lingkungan. Pendekatan ini memberikan kontribusi
empiris yang penting, namun cenderung terbatas dalam menjelaskan dimensi makna,
nilai, dan tujuan hidup manusia.¹
Perspektif filsafat
memperluas pemahaman kepribadian dengan menempatkan manusia sebagai subjek
rasional, bebas, dan bermoral. Kepribadian tidak sekadar dipahami sebagai
kumpulan sifat atau pola perilaku, melainkan sebagai proses pembentukan diri
yang melibatkan pilihan eksistensial, tanggung jawab etis, serta relasi dengan
sesama.² Pendekatan ini menekankan kedalaman reflektif, namun memerlukan
dukungan empiris agar tetap relevan dalam konteks praksis.
Sementara itu,
perspektif Islam menawarkan kerangka yang bersifat integratif dan teleologis
dengan memandang kepribadian manusia sebagai kesatuan jasad, nafs, akal, dan
ruh yang diarahkan pada tujuan moral dan spiritual. Konsep fitrah, tazkiyat
al-nafs, dan insan kamil menegaskan bahwa kepribadian manusia bersifat dinamis,
normatif, dan terbuka untuk penyempurnaan berkelanjutan.³
Melalui integrasi
ketiga perspektif tersebut, kajian ini menyimpulkan bahwa kepribadian manusia
merupakan sistem yang kompleks, dinamis, dan bertujuan. Keutuhan kepribadian
tercapai bukan melalui eliminasi salah satu sisi, melainkan melalui
keseimbangan dan harmoni antar-dimensi biologis, psikologis, rasional-moral,
sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, pendekatan integratif menjadi kebutuhan
epistemologis dan praktis dalam memahami manusia secara utuh.
8.2.
Rekomendasi Akademik
Berdasarkan temuan
konseptual dalam kajian ini, beberapa rekomendasi akademik dapat diajukan.
Pertama, penelitian kepribadian manusia di masa mendatang perlu dikembangkan
secara interdisipliner dengan menggabungkan pendekatan psikologi, filsafat, dan
studi keislaman secara metodologis, bukan sekadar eklektik. Pendekatan semacam
ini berpotensi menghasilkan model kepribadian yang lebih komprehensif dan
kontekstual.⁴
Kedua, diperlukan
pengembangan kerangka teoretis dan instrumen penelitian yang mampu
mengakomodasi dimensi moral dan spiritual kepribadian manusia tanpa
mengorbankan standar ilmiah. Hal ini penting terutama dalam konteks masyarakat
religius, di mana aspek spiritual merupakan bagian integral dari identitas dan
pengalaman hidup individu.⁵
Ketiga, kajian
kepribadian manusia perlu terus dikritisi dan dikembangkan secara terbuka.
Tidak ada model kepribadian yang bersifat final atau absolut, sehingga
keterbukaan terhadap koreksi, dialog lintas disiplin, dan perkembangan ilmu
pengetahuan menjadi syarat utama bagi kemajuan kajian ini.
8.3.
Rekomendasi Praktis
Secara praktis,
hasil kajian ini memiliki implikasi penting dalam bidang pendidikan, pembinaan
karakter, dan kesehatan mental. Pendidikan kepribadian seharusnya tidak hanya
menekankan aspek kognitif dan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan
karakter moral, kesadaran diri, dan orientasi makna hidup. Model pendidikan
yang integratif berpotensi melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi
juga berkepribadian matang dan bertanggung jawab.⁶
Dalam bidang
konseling dan kesehatan mental, pendekatan integratif terhadap kepribadian
manusia dapat membantu memahami problem individu secara lebih holistik.
Gangguan kepribadian atau krisis identitas tidak selalu dapat dijelaskan secara
psikologis semata, melainkan sering kali berkaitan dengan krisis makna dan
nilai. Oleh karena itu, pendekatan yang memperhatikan dimensi eksistensial dan
spiritual dapat menjadi pelengkap penting dalam praktik profesional.⁷
Akhirnya, kajian ini
diharapkan dapat menjadi kontribusi awal dalam upaya memahami kepribadian
manusia secara lebih utuh, seimbang, dan bermakna. Kepribadian manusia bukanlah
entitas yang statis, melainkan proyek kemanusiaan yang senantiasa terbuka untuk
pembentukan, perbaikan, dan penyempurnaan.
Footnotes
[1]
David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W.
W. Norton & Company, 2019), 3–7.
[2]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 45–52.
[3]
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, jil. III (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 2004), 3–6; Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality:
Foundations (New York: Crossroad, 1987), 65–69.
[4]
Ken Wilber, The Integral Vision (Boston: Shambhala
Publications, 2007), 21–25.
[5]
Peter C. Hill and Ralph W. Hood Jr., Measures of Religiosity
(Birmingham, AL: Religious Education Press, 1999), 7–10.
[6]
Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam
Books, 1991), 19–24.
[7]
Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon
Press, 2006), 111–117.
Daftar Pustaka
Allport, G. W. (1937). Personality:
A psychological interpretation. Holt, Rinehart & Winston.
Allport, G. W. (1961). Pattern
and growth in personality. Holt, Rinehart & Winston.
Aristotle. (1998). Politics
(C. D. C. Reeve, Trans.). Hackett Publishing.
Aristotle. (1999). Nicomachean
ethics (T. Irwin, Trans.). Hackett Publishing.
Burger, J. M. (2019). Personality
(9th ed.). Cengage Learning.
Costa, P. T., Jr., &
McCrae, R. R. (2003). Personality in adulthood: A five-factor theory
perspective (2nd ed.). Guilford Press.
Dennett, D. C. (2003). Freedom
evolves. Viking Press.
Descartes, R. (1996). Meditations
on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.
Frankl, V. E. (2006). Man’s
search for meaning. Beacon Press.
Freud, A. (1936). The
ego and the mechanisms of defence. Hogarth Press.
Freud, S. (1933). New
introductory lectures on psycho-analysis (W. J. H. Sprott, Trans.). W. W.
Norton & Company.
Freud, S. (1960). The
ego and the id (J. Riviere, Trans.). W. W. Norton & Company.
Funder, D. C. (2019). The
personality puzzle (8th ed.). W. W. Norton & Company.
Habermas, J. (1984). The
theory of communicative action (Vol. 1). Beacon Press.
Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology
of spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press.
Hill, P. C., & Hood, R.
W., Jr. (1999). Measures of religiosity. Religious Education Press.
Hume, D. (2000). A
treatise of human nature. Oxford University Press.
Ibn ‘Arabi. (1946). Al-insān
al-kāmil (A. ‘Afifi, Ed.). Dar al-Kutub al-Misriyyah.
Ibn ‘Arabi. (1980). Fusus
al-hikam (R. W. J. Austin, Trans.). Paulist Press.
Ibn Rushd. (1959). The
decisive treatise (Fasl al-maqal) (G. F. Hourani, Trans.). Brill.
Juwayni, A. al-Ma‘ali.
(2003). Al-irshad ila qawati‘ al-adillah fi usul al-i‘tiqad. Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Jung, C. G. (1972). Two
essays on analytical psychology (R. F. C. Hull, Trans.). Princeton
University Press.
Jung, C. G. (1981). The
archetypes and the collective unconscious (R. F. C. Hull, Trans.).
Princeton University Press.
Kane, R. (1996). The
significance of free will. Oxford University Press.
Kandel, E. R. (2006). In
search of memory: The emergence of a new science of mind. W. W. Norton
& Company.
Kierkegaard, S. (1989). The
sickness unto death (A. Hannay, Trans.). Penguin Books.
Kuhn, T. S. (1996). The
structure of scientific revolutions (3rd ed.). University of Chicago
Press.
Lakatos, I. (1978). The
methodology of scientific research programmes. Cambridge University Press.
Lickona, T. (1991). Educating
for character. Bantam Books.
Maslow, A. H. (1987). Motivation
and personality (3rd ed.). Harper & Row.
Muthahhari, M. (1985). Man
and universe. Sadra Islamic Publications.
Nasr, S. H. (1981). Islamic
life and thought. SUNY Press.
Nasr, S. H. (1987). Islamic
spirituality: Foundations. Crossroad.
Rahman, F. (1982). Islam
and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of
Chicago Press.
Rahman, F. (2009). Major
themes of the Qur’an (2nd ed.). University of Chicago Press.
Ricoeur, P. (1992). Oneself
as another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press.
Rogers, C. R. (1961). On
becoming a person. Houghton Mifflin.
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism
is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.
Stevens, A. (2001). Jung:
A very short introduction. Oxford University Press.
Taylor, C. (1989). Sources
of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.
Wilber, K. (1996). A
brief history of everything. Shambhala Publications.
Wilber, K. (2007). The
integral vision. Shambhala Publications.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar