Kamis, 18 Desember 2025

Sisi Kepribadian Manusia: Kajian Integratif Psikologis, Filosofis, dan Spiritual

Sisi Kepribadian Manusia

Kajian Integratif Psikologis, Filosofis, dan Spiritual


Alihkan ke: Psikologi.


Abstrak

Kepribadian manusia merupakan fenomena multidimensional yang tidak dapat dipahami secara utuh melalui satu pendekatan keilmuan tunggal. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sisi-sisi kepribadian manusia secara komprehensif melalui pendekatan integratif yang menggabungkan perspektif psikologi, filsafat, dan Islam. Metode yang digunakan adalah kajian kualitatif berbasis studi pustaka terhadap sumber-sumber klasik dan kontemporer yang relevan dalam ketiga disiplin tersebut. Pembahasan diawali dengan pemetaan konseptual kepribadian dalam psikologi, yang menyoroti struktur dan dinamika internal individu, dilanjutkan dengan analisis filosofis mengenai kepribadian sebagai ekspresi rasionalitas, kebebasan, dan tanggung jawab moral, serta dilengkapi dengan perspektif Islam yang memandang kepribadian manusia sebagai kesatuan jasad, nafs, akal, dan ruh yang berorientasi pada tujuan moral dan spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepribadian manusia bersifat dinamis, terbuka, dan berkembang melalui interaksi antara dimensi biologis, psikologis, sosial, rasional-moral, dan spiritual. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendekatan integratif diperlukan untuk menghindari reduksionisme dan untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan bermakna tentang kepribadian manusia. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan studi kepribadian serta implikasi praktis dalam pendidikan karakter dan pembinaan kepribadian manusia.

Kata kunci: kepribadian manusia; psikologi kepribadian; filsafat manusia; antropologi Islam; integrasi keilmuan.


PEMBAHASAN

Kajian Integratif Psikologis, Filosofis, dan Spiritual atas Sisi Kepribadian Manusia


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Kepribadian manusia merupakan salah satu tema sentral dalam kajian ilmu-ilmu kemanusiaan, baik dalam psikologi, filsafat, maupun agama. Kepribadian tidak hanya berkaitan dengan pola perilaku yang tampak, tetapi juga mencakup struktur batin, dinamika kesadaran, orientasi nilai, serta makna eksistensial yang membentuk cara manusia memahami diri dan dunianya. Oleh karena itu, kepribadian manusia tidak dapat direduksi semata-mata sebagai fenomena psikologis, biologis, atau sosial, melainkan sebagai konstruksi multidimensional yang kompleks.¹

Dalam psikologi modern, kepribadian umumnya dipahami sebagai pola relatif stabil dari pikiran, perasaan, dan perilaku yang membedakan individu satu dengan yang lain.² Berbagai teori kepribadian—mulai dari psikoanalisis Freud, psikologi analitik Jung, pendekatan humanistik, hingga teori kepribadian kontemporer seperti Big Five Personality Traits—berusaha menjelaskan struktur dan dinamika kepribadian manusia dari sudut pandang empiris. Namun, pendekatan psikologis sering kali dikritik karena cenderung bersifat reduksionistik, terutama ketika kepribadian dipersempit menjadi variabel-variabel terukur tanpa mempertimbangkan dimensi makna, nilai, dan spiritualitas.³

Sementara itu, filsafat memandang kepribadian manusia sebagai bagian dari persoalan yang lebih mendasar, yakni hakikat manusia sebagai makhluk sadar, bebas, dan bertanggung jawab. Dalam tradisi filsafat klasik hingga modern, kepribadian dikaitkan dengan rasionalitas, emosi, kehendak, serta relasi manusia dengan sesama dan dunianya.⁴ Filsafat eksistensial, misalnya, menekankan bahwa kepribadian tidak bersifat statis, melainkan dibentuk melalui pilihan-pilihan eksistensial manusia dalam menghadapi absurditas, kebebasan, dan tanggung jawab hidup.⁵

Dalam perspektif Islam, kepribadian manusia dipahami secara lebih holistik dengan mengaitkan dimensi jasad, nafs, akal, dan ruh. Manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki tujuan transendental.⁶ Konsep-konsep seperti fitrah, tingkatan nafs, serta ideal insan kamil menunjukkan bahwa kepribadian manusia berkembang melalui proses penyucian diri dan keseimbangan antara dorongan duniawi dan kesadaran ketuhanan.⁷

Perbedaan perspektif tersebut menunjukkan bahwa kajian tentang sisi kepribadian manusia membutuhkan pendekatan integratif dan multidisipliner. Pendekatan tunggal berpotensi menghasilkan pemahaman yang parsial dan tidak utuh. Oleh karena itu, artikel ini berupaya mengkaji sisi-sisi kepribadian manusia dengan mengintegrasikan perspektif psikologi, filsafat, dan Islam guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, kritis, dan kontekstual.

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

1)                  Apa yang dimaksud dengan kepribadian manusia dan bagaimana konsep dasarnya dalam berbagai disiplin ilmu?

2)                  Apa saja sisi-sisi kepribadian manusia menurut perspektif psikologi, filsafat, dan Islam?

3)                  Bagaimana hubungan, interaksi, dan ketegangan antar-sisi kepribadian manusia tersebut?

4)                  Bagaimana kemungkinan sintesis konseptual untuk memahami kepribadian manusia secara integratif?

1.3.       Tujuan dan Manfaat Kajian

Tujuan utama kajian ini adalah untuk menganalisis dan memetakan sisi-sisi kepribadian manusia secara komprehensif melalui pendekatan multidisipliner. Secara khusus, artikel ini bertujuan:

1)                  Menjelaskan konsep kepribadian manusia dalam perspektif psikologi, filsafat, dan Islam.

2)                  Mengidentifikasi dimensi-dimensi utama kepribadian manusia beserta karakteristiknya.

3)                  Menyusun kerangka integratif yang dapat menjembatani berbagai pendekatan keilmuan.

Adapun manfaat kajian ini meliputi manfaat teoretis dan praktis. Secara teoretis, kajian ini diharapkan dapat memperkaya diskursus akademik tentang kepribadian manusia dan mengurangi fragmentasi pemahaman antar-disiplin ilmu. Secara praktis, hasil kajian ini dapat menjadi rujukan dalam bidang pendidikan karakter, pengembangan diri, serta pembinaan moral dan spiritual manusia.

1.4.       Metodologi dan Pendekatan Kajian

Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder berupa buku klasik dan kontemporer, artikel jurnal ilmiah, serta teks-teks filosofis dan keagamaan yang relevan. Pendekatan yang digunakan bersifat konseptual, komparatif, dan integratif, dengan tujuan untuk mengkaji, membandingkan, serta mensintesiskan berbagai pandangan mengenai kepribadian manusia.

Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menekankan koherensi argumentasi dan keterbukaan terhadap kritik serta pengembangan lebih lanjut. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mengkaji konsep kepribadian yang bersifat abstrak, multidimensional, dan lintas disiplin.

1.5.       Sistematika Penulisan

Artikel ini disusun dalam delapan bab. Bab I merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab II membahas konsep dan definisi kepribadian manusia. Bab III mengkaji sisi kepribadian manusia dalam perspektif psikologi. Bab IV membahas perspektif filsafat. Bab V mengulas perspektif Islam. Bab VI menyajikan integrasi dan sintesis antar-perspektif. Bab VII berisi diskusi kritis dan peluang pengembangan kajian, sedangkan Bab VIII menyajikan kesimpulan dan rekomendasi.


Footnotes

[1]                Gordon W. Allport, Personality: A Psychological Interpretation (New York: Holt, Rinehart & Winston, 1937), 48.

[2]                Jerry M. Burger, Personality, 9th ed. (Boston: Cengage Learning, 2019), 4.

[3]                David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W. W. Norton & Company, 2019), 12–14.

[4]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), I.7.

[5]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22–28.

[6]                Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Tehran: Sadra Islamic Publications, 1985), 15–18.

[7]                Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. Nabih Amin Faris (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), jil. III, 3–7.


2.           Konsep dan Definisi Kepribadian Manusia

2.1.       Pengertian Kepribadian dalam Psikologi

Dalam kajian psikologi, istilah kepribadian (personality) merujuk pada keseluruhan pola karakteristik psikologis yang relatif stabil dan konsisten dalam diri individu, yang tercermin dalam cara berpikir, merasakan, dan berperilaku. Gordon W. Allport, salah satu tokoh awal psikologi kepribadian, mendefinisikan kepribadian sebagai “organisasi dinamis dalam diri individu dari sistem-sistem psiko-fisik yang menentukan penyesuaian uniknya terhadap lingkungan.”¹ Definisi ini menekankan dua aspek penting, yakni sifat dinamis kepribadian dan keterkaitannya dengan faktor biologis serta psikologis.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa psikologi kepribadian tidak hanya berfokus pada struktur internal individu, tetapi juga pada pola perilaku yang dapat diamati dan diukur secara empiris. Burger menyatakan bahwa kepribadian mencakup pola perilaku dan proses mental yang konsisten serta menjelaskan perbedaan individu dalam berbagai situasi.² Dengan demikian, kepribadian dipahami sebagai konstruk ilmiah yang dapat dianalisis melalui pendekatan teoritis dan metode penelitian yang sistematis.

Beragam teori psikologi menawarkan definisi dan penekanan yang berbeda. Teori psikoanalisis melihat kepribadian sebagai hasil interaksi antara dorongan instingtif, realitas, dan norma moral. Teori humanistik menekankan potensi positif dan aktualisasi diri manusia, sementara teori sifat (trait theories) memandang kepribadian sebagai kumpulan karakteristik dasar yang relatif stabil, seperti yang dirumuskan dalam model Big Five Personality Traits.³ Meskipun berbeda pendekatan, seluruh teori tersebut sepakat bahwa kepribadian merupakan aspek fundamental yang membentuk identitas dan perilaku manusia.

2.2.       Kepribadian dalam Perspektif Filsafat

Dalam filsafat, pembahasan kepribadian tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan tentang hakikat manusia (anthropology philosophica). Kepribadian dipahami sebagai manifestasi dari kesadaran diri, rasionalitas, kehendak bebas, serta tanggung jawab moral. Berbeda dengan psikologi yang cenderung bersifat deskriptif dan empiris, filsafat menempatkan kepribadian dalam kerangka normatif dan ontologis.

Aristoteles memandang manusia sebagai makhluk rasional yang tindakannya diarahkan oleh tujuan etis (telos). Dalam konteks ini, kepribadian berkaitan erat dengan pembentukan karakter (ethos) melalui kebiasaan dan kebajikan moral.⁴ Sementara itu, dalam filsafat modern, terutama sejak René Descartes, kepribadian manusia dikaitkan dengan kesadaran subjektif dan kemampuan reflektif individu sebagai subjek berpikir (cogito).⁵

Filsafat eksistensial kemudian menggeser fokus dari hakikat universal manusia menuju pengalaman individual. Menurut Kierkegaard dan Sartre, kepribadian bukanlah sesuatu yang sepenuhnya “diberikan”, melainkan dibentuk melalui pilihan-pilihan eksistensial manusia dalam situasi konkret.⁶ Dengan demikian, kepribadian dipahami sebagai proses yang terus-menerus menjadi (becoming), bukan sekadar keadaan statis. Perspektif ini menekankan kebebasan, tanggung jawab, dan autentisitas sebagai inti kepribadian manusia.

2.3.       Kepribadian dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, konsep kepribadian manusia tidak dirumuskan secara terminologis sebagaimana dalam psikologi modern, namun tersebar dalam berbagai konsep kunci seperti fitrah, nafs, akal, dan ruh. Manusia dipandang sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki dimensi jasmani dan rohani, serta diberi potensi untuk berkembang menuju kesempurnaan moral dan spiritual.⁷

Kepribadian manusia dalam Islam berakar pada konsep fitrah, yakni potensi dasar manusia untuk mengenal kebenaran dan cenderung kepada kebaikan. Namun, potensi tersebut dapat berkembang atau menyimpang tergantung pada pendidikan, lingkungan, dan pilihan moral individu. Al-Ghazali menjelaskan bahwa kepribadian manusia dibentuk melalui pergulatan antara nafsu, akal, dan hati, yang masing-masing memiliki peran berbeda dalam mengarahkan perilaku manusia.⁸

Tasawuf secara khusus memberikan kerangka analitis tentang perkembangan kepribadian melalui tingkatan nafs, mulai dari nafs ammarah hingga nafs muthmainnah. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kepribadian manusia bersifat dinamis dan dapat ditransformasikan melalui proses penyucian diri (tazkiyat al-nafs). Tujuan akhir dari proses tersebut adalah tercapainya kepribadian ideal yang selaras dengan nilai-nilai ilahiah, yang sering disebut sebagai insan kamil.⁹

2.4.       Perbandingan Definisi dan Implikasi Konseptual

Perbedaan definisi kepribadian dalam psikologi, filsafat, dan Islam menunjukkan adanya variasi titik tekan dalam memahami manusia. Psikologi menekankan aspek empiris, struktural, dan fungsional kepribadian; filsafat menyoroti dimensi ontologis, etis, dan eksistensial; sementara Islam memadukan dimensi moral dan spiritual dalam kerangka teologis. Perbedaan ini bukanlah kontradiksi mutlak, melainkan refleksi dari fokus dan tujuan keilmuan yang berbeda.

Implikasi konseptual dari perbedaan tersebut adalah perlunya pendekatan integratif dalam kajian kepribadian manusia. Pendekatan yang hanya bertumpu pada satu perspektif berisiko menghasilkan pemahaman yang parsial dan reduksionistik. Sebaliknya, integrasi berbagai perspektif memungkinkan pemahaman yang lebih utuh tentang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, rasional, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, kajian kepribadian manusia perlu dikembangkan secara multidisipliner agar mampu menjawab kompleksitas realitas manusia secara lebih komprehensif.


Footnotes

[1]                Gordon W. Allport, Personality: A Psychological Interpretation (New York: Holt, Rinehart & Winston, 1937), 48.

[2]                Jerry M. Burger, Personality, 9th ed. (Boston: Cengage Learning, 2019), 4–6.

[3]                David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W. W. Norton & Company, 2019), 19–25.

[4]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), II.1–4.

[5]                René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), Meditation II.

[6]                Søren Kierkegaard, The Sickness unto Death, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1989), 43–47; Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 31–35.

[7]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 17–21.

[8]                Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. Nabih Amin Faris (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), jil. III, 1–10.

[9]                Ibn ‘Arabi, Fusus al-Hikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 50–55.


3.           Sisi Kepribadian Manusia dalam Perspektif Psikologi

3.1.       Teori Psikoanalisis: Struktur dan Dinamika Kepribadian

Teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud merupakan salah satu fondasi awal dalam kajian psikologi kepribadian. Freud memandang kepribadian sebagai sistem dinamis yang terbentuk dari interaksi kekuatan-kekuatan psikologis yang sebagian besar berada di luar kesadaran individu.¹ Dalam kerangka ini, kepribadian manusia terdiri atas tiga struktur utama, yaitu id, ego, dan superego.

Id merepresentasikan dorongan instingtif yang bersifat biologis dan beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle). Dorongan ini bersifat irasional dan menuntut pemuasan segera tanpa mempertimbangkan realitas atau norma moral. Ego berfungsi sebagai mediator antara tuntutan id, realitas eksternal, dan tekanan moral dari superego. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle) dan menjadi aspek rasional dalam kepribadian manusia.² Adapun superego mencerminkan internalisasi nilai-nilai moral, norma sosial, dan larangan yang diperoleh melalui proses sosialisasi.

Menurut Freud, konflik antara ketiga struktur ini merupakan sumber utama kecemasan dan problem kepribadian. Mekanisme pertahanan ego (defense mechanisms) berkembang sebagai upaya ego untuk mereduksi kecemasan tersebut.³ Dengan demikian, sisi kepribadian manusia dalam perspektif psikoanalisis mencerminkan ketegangan antara dorongan naluriah, rasionalitas, dan tuntutan moral, yang membentuk perilaku manusia secara tidak selalu disadari.

3.2.       Psikologi Analitik Carl Jung: Kesadaran dan Ketidaksadaran

Carl Gustav Jung mengembangkan psikologi analitik sebagai respons kritis terhadap psikoanalisis Freud. Jung sepakat bahwa ketidaksadaran memainkan peran penting dalam kepribadian manusia, namun ia memperluas konsep tersebut dengan memperkenalkan ketidaksadaran kolektif (collective unconscious).⁴ Menurut Jung, kepribadian manusia terdiri atas kesadaran (conscious), ketidaksadaran pribadi, dan ketidaksadaran kolektif yang berisi arketipe universal.

Dalam kerangka ini, Jung mengidentifikasi beberapa sisi kepribadian yang penting, antara lain persona dan shadow. Persona adalah topeng sosial yang digunakan individu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat, sedangkan shadow merepresentasikan aspek-aspek kepribadian yang ditekan, tidak diakui, atau dianggap negatif oleh individu.⁵ Jung berpendapat bahwa pengingkaran terhadap shadow dapat menimbulkan konflik psikologis, sementara pengakuan dan integrasinya merupakan bagian dari proses pendewasaan kepribadian.

Tujuan utama perkembangan kepribadian menurut Jung adalah individuasi, yaitu proses integrasi berbagai sisi kepribadian—baik yang sadar maupun tidak sadar—ke dalam satu keutuhan diri.⁶ Dengan demikian, sisi kepribadian manusia dalam perspektif Jung bersifat dialektis, mencakup terang dan gelap, rasional dan irasional, personal dan kolektif.

3.3.       Pendekatan Humanistik: Aktualisasi Diri dan Pengalaman Subjektif

Berbeda dari pendekatan psikoanalisis yang menekankan konflik batin, psikologi humanistik memandang manusia sebagai makhluk yang secara fundamental memiliki potensi positif dan kecenderungan menuju pertumbuhan. Abraham Maslow dan Carl Rogers merupakan tokoh utama dalam pendekatan ini. Maslow mengemukakan hierarki kebutuhan manusia yang berpuncak pada kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization), yakni dorongan untuk mewujudkan potensi diri secara optimal.⁷

Dalam pandangan Maslow, kepribadian manusia berkembang seiring terpenuhinya kebutuhan dasar hingga kebutuhan psikologis yang lebih tinggi. Aktualisasi diri mencerminkan sisi kepribadian yang kreatif, otonom, dan bermakna. Rogers, di sisi lain, menekankan konsep self dan pengalaman subjektif individu. Ia memandang kepribadian sebagai hasil interaksi antara self-concept dan pengalaman hidup, serta menekankan pentingnya penerimaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard).⁸

Pendekatan humanistik melihat sisi kepribadian manusia sebagai sesuatu yang terbuka, dinamis, dan berorientasi pada makna. Kepribadian tidak dipahami sebagai struktur yang kaku, melainkan sebagai proses yang terus berkembang melalui kesadaran diri dan relasi interpersonal yang sehat.

3.4.       Teori Sifat dan Pendekatan Kepribadian Modern

Perkembangan psikologi kepribadian modern ditandai oleh munculnya teori sifat (trait theories) yang berupaya mengidentifikasi dimensi dasar kepribadian yang dapat diukur secara empiris. Salah satu model yang paling berpengaruh adalah Big Five Personality Traits, yang mencakup lima dimensi utama: openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism.⁹ Model ini didukung oleh berbagai penelitian lintas budaya dan dianggap memiliki validitas empiris yang kuat.

Pendekatan sifat memandang kepribadian sebagai pola karakteristik yang relatif stabil sepanjang waktu dan situasi. Meskipun dikritik karena kurang memperhatikan konteks sosial dan makna subjektif, teori ini memberikan kontribusi penting dalam memahami variasi individu secara sistematis dan terukur.¹⁰ Dengan demikian, sisi kepribadian manusia dalam perspektif modern dipahami sebagai kombinasi antara struktur internal yang stabil dan respons adaptif terhadap lingkungan.

3.5.       Implikasi Psikologis terhadap Pemahaman Kepribadian Manusia

Beragam pendekatan psikologi kepribadian menunjukkan bahwa kepribadian manusia memiliki banyak sisi yang saling berinteraksi, mulai dari dorongan naluriah, proses kognitif dan emosional, hingga potensi aktualisasi diri. Tidak ada satu teori pun yang mampu menjelaskan kepribadian manusia secara menyeluruh. Oleh karena itu, pemahaman psikologis tentang kepribadian menuntut keterbukaan terhadap pluralitas teori dan pendekatan.

Secara keseluruhan, perspektif psikologi memberikan kerangka empiris dan konseptual yang penting untuk memahami sisi kepribadian manusia. Namun, untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh, perspektif ini perlu dilengkapi dengan pendekatan filosofis dan spiritual yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.


Footnotes

[1]                Sigmund Freud, The Ego and the Id, trans. Joan Riviere (New York: W. W. Norton & Company, 1960), 3–7.

[2]                Sigmund Freud, New Introductory Lectures on Psycho-Analysis, trans. W. J. H. Sprott (New York: W. W. Norton & Company, 1933), 67–70.

[3]                Anna Freud, The Ego and the Mechanisms of Defence (London: Hogarth Press, 1936), 22–30.

[4]                Carl G. Jung, The Archetypes and the Collective Unconscious, trans. R. F. C. Hull (Princeton: Princeton University Press, 1981), 3–5.

[5]                Carl G. Jung, Two Essays on Analytical Psychology, trans. R. F. C. Hull (Princeton: Princeton University Press, 1972), 156–160.

[6]                Anthony Stevens, Jung: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2001), 87–92.

[7]                Abraham H. Maslow, Motivation and Personality, 3rd ed. (New York: Harper & Row, 1987), 35–47.

[8]                Carl R. Rogers, On Becoming a Person (Boston: Houghton Mifflin, 1961), 110–118.

[9]                Paul T. Costa Jr. and Robert R. McCrae, Personality in Adulthood: A Five-Factor Theory Perspective (New York: Guilford Press, 2003), 22–28.

[10]             David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W. W. Norton & Company, 2019), 130–136.


4.           Sisi Kepribadian Manusia dalam Perspektif Filsafat

4.1.       Rasionalitas dan Emosionalitas sebagai Unsur Kepribadian

Dalam filsafat, kepribadian manusia kerap dipahami melalui relasi antara rasionalitas dan emosionalitas. Sejak filsafat klasik, rasio (logos) dipandang sebagai ciri pembeda utama manusia dari makhluk lain. Aristoteles menegaskan bahwa manusia adalah makhluk rasional (animal rationale) yang tindakannya diarahkan oleh pertimbangan akal dan tujuan etis.¹ Dalam kerangka ini, kepribadian manusia tidak hanya ditentukan oleh dorongan alamiah, tetapi oleh kemampuan reflektif untuk menimbang baik dan buruk.

Namun demikian, filsafat tidak memandang emosi sebagai unsur yang sepenuhnya harus ditekan. Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menekankan pentingnya pengelolaan emosi secara proporsional melalui kebajikan (virtue), sehingga emosi dapat selaras dengan akal.² Dengan demikian, kepribadian manusia yang matang tercermin dalam keseimbangan antara rasionalitas dan emosionalitas, bukan dalam dominasi salah satu atas yang lain.

Dalam filsafat modern, pemikiran David Hume menantang supremasi rasio dengan menyatakan bahwa akal adalah “hamba dari nafsu” (the slave of the passions).³ Pandangan ini menekankan bahwa emosi memiliki peran fundamental dalam membentuk motivasi dan tindakan manusia. Perdebatan antara rasio dan emosi menunjukkan bahwa sisi kepribadian manusia bersifat dialektis, di mana keduanya saling memengaruhi dalam pembentukan karakter dan identitas diri.

4.2.       Individualitas dan Sosialitas dalam Kepribadian Manusia

Filsafat juga memandang kepribadian manusia sebagai hasil interaksi antara dimensi individual dan sosial. Di satu sisi, manusia memiliki individualitas yang unik, otonom, dan tidak dapat direduksi pada struktur sosial semata. Di sisi lain, manusia tidak dapat berkembang secara penuh tanpa relasi dengan orang lain. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, yakni makhluk yang secara kodrati hidup dalam komunitas.⁴

Dalam filsafat modern, gagasan tentang subjek otonom berkembang pesat, terutama dalam pemikiran Immanuel Kant. Kant menekankan bahwa kepribadian manusia berkaitan erat dengan otonomi moral, yaitu kemampuan individu untuk bertindak berdasarkan hukum moral yang ditetapkan oleh rasio praktisnya sendiri.⁵ Kepribadian, dalam pandangan ini, bukan sekadar kumpulan sifat psikologis, melainkan kapasitas moral yang menjadikan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri.

Namun, filsuf-filsuf kontemporer menyoroti bahwa kepribadian manusia juga dibentuk oleh struktur sosial, bahasa, dan budaya. Pemikiran Hegel, misalnya, menekankan bahwa kesadaran diri individu berkembang melalui pengakuan (recognition) dari orang lain.⁶ Oleh karena itu, kepribadian manusia merupakan hasil dialektika antara kebebasan individual dan keterikatan sosial, antara otonomi dan relasi.

4.3.       Kepribadian dalam Filsafat Eksistensial

Filsafat eksistensial memberikan kontribusi penting dalam memahami sisi kepribadian manusia sebagai proses yang dinamis dan terbuka. Søren Kierkegaard memandang kepribadian sebagai hasil pergulatan eksistensial individu dalam menghadapi kecemasan, pilihan, dan tanggung jawab.⁷ Kepribadian tidak dipahami sebagai struktur yang statis, melainkan sebagai proses menjadi diri sendiri (becoming a self).

Jean-Paul Sartre melanjutkan gagasan ini dengan menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi (existence precedes essence).⁸ Artinya, manusia tidak memiliki kepribadian yang telah ditentukan sejak awal, melainkan membentuk kepribadiannya melalui tindakan dan pilihan bebas. Dalam kerangka ini, kepribadian manusia berkaitan erat dengan kebebasan radikal dan tanggung jawab total atas diri sendiri.

Pandangan eksistensial ini menempatkan kepribadian manusia dalam konteks ketidakpastian dan absurditas dunia. Kepribadian menjadi arena di mana manusia menegosiasikan makna hidupnya sendiri. Dengan demikian, sisi kepribadian manusia dalam filsafat eksistensial bersifat reflektif, historis, dan terbuka terhadap perubahan.

4.4.       Determinisme, Kebebasan, dan Tanggung Jawab Moral

Salah satu persoalan filosofis mendasar terkait kepribadian manusia adalah hubungan antara determinisme dan kebebasan. Determinisme memandang bahwa tindakan dan karakter manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar kendali individu, seperti hukum alam, kondisi sosial, atau struktur psikologis. Sebaliknya, pandangan libertarian dalam filsafat menegaskan kebebasan kehendak sebagai inti kepribadian manusia.⁹

Dalam konteks etika, persoalan ini memiliki implikasi serius terhadap konsep tanggung jawab moral. Jika kepribadian sepenuhnya ditentukan, maka dasar pertanggungjawaban moral menjadi problematis. Oleh karena itu, banyak filsuf mengembangkan posisi kompatibilisme, yang berusaha mendamaikan determinisme dengan kebebasan terbatas.¹⁰ Dalam pandangan ini, kepribadian manusia dipahami sebagai hasil pengaruh berbagai faktor, namun tetap memiliki ruang bagi refleksi dan pilihan rasional.

Dengan demikian, filsafat memandang kepribadian manusia sebagai fenomena kompleks yang melibatkan rasio, emosi, kebebasan, relasi sosial, dan tanggung jawab moral. Perspektif ini menegaskan bahwa kepribadian tidak dapat dipahami hanya sebagai objek kajian empiris, tetapi juga sebagai subjek etis dan eksistensial.


Footnotes

[1]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), I.7.

[2]                Aristotle, Nicomachean Ethics, II.6–7.

[3]                David Hume, A Treatise of Human Nature (Oxford: Oxford University Press, 2000), II.3.3.

[4]                Aristotle, Politics, trans. C. D. C. Reeve (Indianapolis: Hackett Publishing, 1998), I.2.

[5]                Immanuel Kant, Groundwork of the Metaphysics of Morals, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 39–44.

[6]                G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A. V. Miller (Oxford: Oxford University Press, 1977), 111–119.

[7]                Søren Kierkegaard, The Sickness unto Death, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1989), 43–50.

[8]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 20–25.

[9]                Robert Kane, The Significance of Free Will (Oxford: Oxford University Press, 1996), 13–20.

[10]             Daniel C. Dennett, Freedom Evolves (New York: Viking Press, 2003), 83–90.


5.           Sisi Kepribadian Manusia dalam Perspektif Islam

5.1.       Landasan Antropologi Islam tentang Manusia

Dalam Islam, pembahasan tentang kepribadian manusia tidak dapat dilepaskan dari kerangka antropologi teologis, yakni pandangan tentang manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki tujuan eksistensial. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk yang diciptakan secara seimbang (ahsani taqwīm), dianugerahi potensi jasmani dan rohani, serta dibebani amanah moral sebagai khalifah di bumi.¹ Dengan demikian, kepribadian manusia dalam Islam bersifat teleologis, yakni diarahkan pada tujuan tertentu, bukan semata-mata hasil evolusi biologis atau konstruksi sosial.

Berbeda dengan pendekatan psikologi modern yang sering bersifat deskriptif, Islam memandang kepribadian secara normatif sekaligus deskriptif. Artinya, Islam tidak hanya menjelaskan bagaimana manusia berperilaku, tetapi juga bagaimana seharusnya manusia membentuk dirinya. Dalam konteks ini, kepribadian manusia dipahami sebagai integrasi antara jasad, nafs, akal, dan ruh yang berada dalam relasi hierarkis dan fungsional.²

5.2.       Jasad dan Dimensi Biologis Kepribadian

Jasad merupakan dimensi material manusia yang menjadi medium bagi aktivitas kepribadian. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dari unsur tanah, yang menunjukkan keterikatan manusia dengan dunia material dan hukum-hukum alam.³ Dimensi jasadiyah ini melahirkan kebutuhan biologis dan dorongan instingtif, seperti makan, minum, dan reproduksi, yang merupakan bagian sah dari eksistensi manusia.

Namun, Islam tidak memandang jasad sebagai sumber kejahatan intrinsik. Jasad justru diposisikan sebagai sarana untuk menjalankan ibadah dan aktualisasi tanggung jawab moral. Kepribadian manusia menjadi bermasalah bukan karena keberadaan jasad itu sendiri, melainkan ketika dorongan jasmani mendominasi dan tidak dikendalikan oleh akal dan nilai-nilai spiritual.⁴ Dengan demikian, sisi jasmani kepribadian harus dikelola, bukan diingkari.

5.3.       Nafs dan Dinamika Jiwa Manusia

Konsep nafs merupakan salah satu kunci utama dalam memahami kepribadian manusia dalam Islam. Nafs dapat dipahami sebagai dimensi psikis yang mencakup dorongan, emosi, dan kecenderungan internal manusia. Al-Qur’an menggambarkan nafs dalam berbagai kondisi dan tingkatan, yang menunjukkan bahwa kepribadian manusia bersifat dinamis dan dapat mengalami transformasi.⁵

Para ulama dan sufi klasik mengklasifikasikan nafs ke dalam beberapa tingkatan. Tiga tingkatan yang paling dikenal adalah nafs ammarah bi al-sū’ (jiwa yang mendorong kepada keburukan), nafs lawwāmah (jiwa yang mencela diri), dan nafs muthmainnah (jiwa yang tenang).⁶ Tingkatan-tingkatan ini tidak menunjukkan tipe manusia yang statis, melainkan fase perkembangan kepribadian spiritual seseorang.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa pergulatan antara nafs dan akal merupakan inti dari pendidikan moral manusia. Kepribadian yang matang tercapai ketika nafs berada di bawah kendali akal dan hati yang tercerahkan oleh nilai-nilai ilahiah.⁷ Oleh karena itu, pengelolaan nafs (tazkiyat al-nafs) menjadi aspek sentral dalam pembentukan kepribadian Islami.

5.4.       Akal sebagai Instrumen Moral dan Epistemik

Akal menempati posisi penting dalam struktur kepribadian manusia menurut Islam. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akalnya sebagai sarana untuk mengenal kebenaran.⁸ Akal berfungsi sebagai instrumen epistemik untuk memahami realitas serta sebagai instrumen moral untuk membedakan yang benar dan yang salah.

Dalam tradisi teologi dan filsafat Islam, akal dipandang sebagai anugerah ilahi yang memungkinkan manusia memikul tanggung jawab moral (taklīf). Tanpa akal, manusia tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.⁹ Dengan demikian, kepribadian manusia dalam Islam bersifat rasional-moral, bukan sekadar emosional atau instingtif.

Namun, Islam juga menegaskan keterbatasan akal. Akal tidak berdiri secara absolut, melainkan membutuhkan bimbingan wahyu agar tidak tersesat. Relasi harmonis antara akal dan wahyu menjadi fondasi kepribadian yang seimbang dan lurus.¹⁰

5.5.       Ruh dan Dimensi Transendental Kepribadian

Ruh merupakan dimensi paling mendalam dalam struktur kepribadian manusia menurut Islam. Al-Qur’an menyatakan bahwa ruh adalah urusan Tuhan (amr rabbī), yang hakikatnya melampaui jangkauan pengetahuan manusia sepenuhnya.¹¹ Meskipun demikian, keberadaan ruh menjelaskan dimensi transendental kepribadian manusia, yakni kecenderungan kepada makna, nilai absolut, dan hubungan dengan Tuhan.

Ruh menjadi sumber kesadaran spiritual dan dorongan untuk melampaui kepentingan material. Dalam perspektif tasawuf, kejernihan ruh menentukan kualitas kepribadian manusia. Semakin bersih ruh seseorang, semakin kuat orientasi hidupnya kepada kebenaran dan kebaikan.¹² Oleh karena itu, krisis kepribadian dalam Islam sering dipahami sebagai krisis spiritual, yakni keterputusan manusia dari dimensi ruhaniahnya.

5.6.       Insan Kamil sebagai Ideal Kepribadian Manusia

Konsep insan kamil (manusia paripurna) merepresentasikan ideal kepribadian manusia dalam Islam. Insan kamil bukanlah manusia tanpa kelemahan, melainkan manusia yang berhasil mengintegrasikan jasad, nafs, akal, dan ruh secara harmonis di bawah bimbingan wahyu.¹³ Konsep ini berkembang terutama dalam tradisi tasawuf filosofis, namun memiliki dasar normatif dalam ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam kerangka insan kamil, kepribadian manusia dipahami sebagai proyek etis dan spiritual yang terus-menerus. Kepribadian tidak bersifat final, melainkan senantiasa terbuka untuk perbaikan dan penyempurnaan. Dengan demikian, perspektif Islam menawarkan model kepribadian yang integratif, normatif, dan transendental, yang melengkapi pendekatan psikologis dan filosofis yang telah dibahas pada bab sebelumnya.


Footnotes

[1]                Al-Qur’an, Q.S. al-Tīn [95]: 4.

[2]                Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Tehran: Sadra Islamic Publications, 1985), 23–27.

[3]                Al-Qur’an, Q.S. al-Mu’minūn [23]: 12–14.

[4]                Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an (Chicago: University of Chicago Press, 2009), 33–36.

[5]                Al-Qur’an, Q.S. al-Shams [91]: 7–10.

[6]                Al-Qur’an, Q.S. Yūsuf [12]: 53; Q.S. al-Qiyāmah [75]: 2; Q.S. al-Fajr [89]: 27–30.

[7]                Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, trans. Nabih Amin Faris (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), jil. III, 3–12.

[8]                Al-Qur’an, Q.S. al-Baqarah [2]: 44; Q.S. al-Rūm [30]: 8.

[9]                Al-Juwayni, Al-Irshad ila Qawati‘ al-Adillah fi Usul al-I‘tiqad (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 215–218.

[10]             Ibn Rushd, Fasl al-Maqal, trans. George F. Hourani (Leiden: Brill, 1959), 44–47.

[11]             Al-Qur’an, Q.S. al-Isrā’ [17]: 85.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality: Foundations (New York: Crossroad, 1987), 67–72.

[13]             Ibn ‘Arabi, Al-Insan al-Kamil, ed. ‘Afifi (Cairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1946), 5–9.


6.           Integrasi dan Sintesis Sisi Kepribadian Manusia

6.1.       Urgensi Pendekatan Integratif dalam Kajian Kepribadian

Kajian tentang kepribadian manusia menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan tunggal yang mampu menjelaskan kompleksitas manusia secara menyeluruh. Psikologi memberikan kerangka empiris tentang struktur dan dinamika kepribadian, filsafat menawarkan refleksi ontologis dan etis tentang hakikat manusia, sementara Islam menghadirkan perspektif normatif dan transendental mengenai tujuan hidup dan pembentukan kepribadian. Ketiganya memiliki kontribusi signifikan, namun juga keterbatasan jika berdiri secara terpisah.¹

Pendekatan integratif menjadi penting untuk menghindari reduksionisme, yaitu kecenderungan mereduksi kepribadian manusia hanya pada aspek biologis, psikologis, atau sosial semata. Reduksionisme semacam ini berpotensi mengabaikan dimensi makna, nilai, dan spiritualitas yang justru menjadi inti pengalaman manusia.² Oleh karena itu, sintesis konseptual diperlukan agar kepribadian manusia dipahami sebagai kesatuan utuh dari berbagai dimensi yang saling berinteraksi.

6.2.       Interaksi Antar-Dimensi Kepribadian Manusia

Kepribadian manusia dapat dipahami sebagai hasil interaksi dinamis antara dimensi biologis, psikologis, sosial, moral, dan spiritual. Dimensi biologis menyediakan dasar material dan instingtif bagi kehidupan manusia, sedangkan dimensi psikologis mengelola pengalaman subjektif, emosi, dan pola perilaku. Dimensi sosial membentuk identitas melalui relasi dan norma, sementara dimensi moral dan spiritual memberikan orientasi nilai serta tujuan hidup.³

Dalam perspektif psikologi, interaksi antar-dimensi ini tampak dalam hubungan antara dorongan naluriah, proses kognitif, dan regulasi perilaku. Filsafat menyoroti interaksi tersebut dalam kerangka kebebasan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter. Islam, di sisi lain, memandang interaksi ini sebagai relasi hierarkis, di mana jasad dan nafs perlu diarahkan oleh akal yang tercerahkan oleh wahyu, serta ditopang oleh kesadaran ruhaniah.⁴

Dengan demikian, kepribadian manusia bukanlah kumpulan sisi yang terpisah, melainkan suatu sistem yang terintegrasi. Gangguan pada satu dimensi dapat memengaruhi keseluruhan struktur kepribadian, sebagaimana dominasi dimensi tertentu tanpa keseimbangan dapat menimbulkan krisis identitas dan makna.

6.3.       Konflik dan Harmoni dalam Struktur Kepribadian

Integrasi sisi-sisi kepribadian tidak berarti ketiadaan konflik. Sebaliknya, konflik merupakan bagian inheren dari dinamika kepribadian manusia. Psikoanalisis menggambarkan konflik antara id, ego, dan superego sebagai sumber ketegangan psikologis. Filsafat eksistensial memandang konflik sebagai konsekuensi kebebasan dan pilihan, sementara Islam melihat konflik batin sebagai pergulatan antara nafs dan nilai-nilai ilahiah.⁵

Namun, konflik tidak selalu bersifat destruktif. Dalam kerangka integratif, konflik dapat menjadi sarana pertumbuhan kepribadian apabila dikelola secara reflektif dan etis. Harmoni kepribadian tercapai bukan dengan meniadakan konflik, melainkan dengan mengelolanya secara proporsional sehingga setiap sisi kepribadian berfungsi sesuai perannya.⁶

Harmoni ini tercermin dalam kemampuan individu untuk menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan spiritual, emosi dan rasio, kebebasan personal dan tanggung jawab sosial. Kepribadian yang harmonis tidak bersifat absolut atau final, melainkan senantiasa berada dalam proses penyesuaian dan penyempurnaan.

6.4.       Model Sintesis Kepribadian Manusia Integratif

Berdasarkan kajian psikologi, filsafat, dan Islam, kepribadian manusia dapat disintesiskan dalam suatu model integratif yang memandang manusia sebagai makhluk multidimensional dan bertujuan. Dalam model ini, kepribadian dipahami sebagai proses pembentukan diri (self-formation) yang melibatkan:

1)                  Dimensi dasar: jasad dan dorongan biologis

2)                  Dimensi psikis: emosi, kognisi, dan pola perilaku

3)                  Dimensi rasional-moral: akal, kehendak, dan tanggung jawab

4)                  Dimensi spiritual: ruh, makna hidup, dan orientasi transendental

Model ini menegaskan bahwa kepribadian manusia tidak hanya berkembang melalui adaptasi terhadap lingkungan, tetapi juga melalui refleksi diri dan orientasi nilai.⁷ Dalam perspektif Islam, sintesis ini mencapai bentuk idealnya dalam konsep insan kamil, sementara dalam filsafat dapat dikaitkan dengan gagasan manusia otentik, dan dalam psikologi dengan konsep kepribadian yang terintegrasi (integrated personality).⁸

Dengan demikian, sintesis kepribadian manusia tidak menghapus perbedaan perspektif keilmuan, melainkan memfasilitasi dialog konstruktif antar-disiplin untuk memahami manusia secara lebih utuh.

6.5.       Implikasi Teoretis dan Praktis Integrasi Kepribadian

Secara teoretis, pendekatan integratif memperluas horizon kajian kepribadian manusia dengan membuka ruang dialog antara ilmu empiris, refleksi filosofis, dan nilai-nilai spiritual. Pendekatan ini mendorong pengembangan teori kepribadian yang lebih inklusif dan kontekstual, serta menghindari klaim kebenaran tunggal yang bersifat absolut.⁹

Secara praktis, sintesis sisi-sisi kepribadian manusia memiliki implikasi penting dalam bidang pendidikan, pembinaan karakter, dan kesehatan mental. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pengembangan kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter moral dan kesadaran spiritual. Dalam konteks kesehatan mental, pendekatan integratif memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap problem kepribadian manusia, yang tidak hanya dilihat sebagai gangguan psikologis, tetapi juga sebagai krisis makna dan nilai.¹⁰

Dengan demikian, integrasi dan sintesis sisi kepribadian manusia menjadi landasan penting bagi upaya memahami dan membina manusia secara utuh, bermakna, dan berkelanjutan.


Footnotes

[1]                David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W. W. Norton & Company, 2019), 5–7.

[2]                Ken Wilber, A Brief History of Everything (Boston: Shambhala Publications, 1996), 38–42.

[3]                Gordon W. Allport, Pattern and Growth in Personality (New York: Holt, Rinehart & Winston, 1961), 23–26.

[4]                Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Tehran: Sadra Islamic Publications, 1985), 45–49.

[5]                Sigmund Freud, The Ego and the Id, trans. Joan Riviere (New York: W. W. Norton & Company, 1960), 25–30; Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, jil. III (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 8–12.

[6]                Aristotle, Nicomachean Ethics, trans. Terence Irwin (Indianapolis: Hackett Publishing, 1999), II.6.

[7]                Carl R. Rogers, On Becoming a Person (Boston: Houghton Mifflin, 1961), 108–112.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 64–68.

[9]                Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 170–175.

[10]             Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 99–105.


7.           Diskusi Kritis Dan Pengembangan Kajian

7.1.       Keterbatasan Pendekatan-Pendekatan Kepribadian yang Ada

Meskipun kajian kepribadian manusia telah berkembang pesat dalam berbagai disiplin ilmu, masing-masing pendekatan memiliki keterbatasan inheren. Psikologi modern, khususnya aliran empiris dan positivistik, cenderung menekankan aspek yang dapat diobservasi dan diukur secara kuantitatif. Pendekatan ini memberikan kontribusi besar dalam hal validitas dan replikasi ilmiah, namun sering kali mengabaikan dimensi subjektif, makna eksistensial, serta pengalaman spiritual yang sulit direduksi menjadi variabel terukur.¹

Di sisi lain, filsafat menawarkan kedalaman reflektif dalam memahami kepribadian manusia sebagai subjek moral dan eksistensial. Namun, pendekatan filosofis kerap dikritik karena bersifat abstrak dan kurang memberikan panduan operasional yang aplikatif dalam konteks empiris dan praktis.² Adapun perspektif Islam dan spiritualitas memberikan kerangka normatif dan teleologis yang kuat, tetapi sering kali kurang diintegrasikan secara metodologis dengan temuan-temuan ilmiah kontemporer, sehingga berisiko dipersepsikan sebagai non-ilmiah dalam diskursus akademik modern.³

Keterbatasan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan pun yang dapat mengklaim otoritas epistemik tunggal dalam menjelaskan kepribadian manusia secara utuh.

7.2.       Kritik terhadap Reduksionisme Kepribadian

Salah satu problem utama dalam kajian kepribadian manusia adalah kecenderungan reduksionisme, yaitu upaya mereduksi kompleksitas manusia ke dalam satu dimensi dominan. Reduksionisme biologis, misalnya, memandang kepribadian sebagai produk deterministik dari gen dan proses neurokimia. Meskipun temuan neurosains memberikan wawasan penting tentang dasar biologis perilaku, pendekatan ini gagal menjelaskan dimensi kebebasan, tanggung jawab moral, dan makna subjektif.⁴

Reduksionisme psikologis, yang mereduksi kepribadian pada struktur kejiwaan atau pola perilaku, juga menghadapi kritik serupa. Manusia tidak hanya bereaksi terhadap stimulus, tetapi juga menafsirkan, merefleksikan, dan memberi makna terhadap pengalamannya.⁵ Bahkan reduksionisme sosial—yang menekankan konstruksi budaya dan relasi kuasa—tidak sepenuhnya mampu menjelaskan pengalaman batin individu yang bersifat personal dan transenden.

Dalam perspektif Islam, reduksionisme dipandang bertentangan dengan konsep manusia sebagai makhluk multidimensional yang memiliki jasad, nafs, akal, dan ruh. Mengabaikan salah satu dimensi tersebut berpotensi melahirkan pemahaman kepribadian yang timpang dan tidak seimbang.⁶ Oleh karena itu, kritik terhadap reduksionisme menjadi fondasi penting bagi pengembangan kajian kepribadian yang lebih integratif.

7.3.       Tantangan Integrasi Antar-Disiplin

Meskipun pendekatan integratif menawarkan solusi konseptual, implementasinya menghadapi sejumlah tantangan epistemologis dan metodologis. Setiap disiplin ilmu memiliki asumsi dasar, bahasa konseptual, dan kriteria kebenaran yang berbeda. Psikologi empiris mengutamakan verifikasi data, filsafat mengandalkan argumentasi rasional, sementara studi keislaman bertumpu pada wahyu dan otoritas tradisi.⁷

Tantangan lainnya adalah risiko sinkretisme yang tidak kritis, yaitu penggabungan berbagai perspektif tanpa analisis mendalam terhadap perbedaan mendasar di antara mereka. Integrasi yang sehat bukanlah pencampuran tanpa batas, melainkan dialog kritis yang menghormati otonomi masing-masing disiplin sekaligus mencari titik temu konseptual.⁸

Oleh karena itu, pengembangan kajian kepribadian manusia menuntut kerangka metodologis yang reflektif dan terbuka, yang mampu menjembatani perbedaan tanpa menghilangkan kekhasan setiap perspektif.

7.4.       Peluang Pengembangan Kajian Kepribadian Manusia

Di tengah keterbatasan dan tantangan tersebut, terdapat peluang besar untuk pengembangan kajian kepribadian manusia di masa depan. Pertama, diperlukan penelitian interdisipliner yang menggabungkan pendekatan psikologi dengan filsafat dan studi keislaman, baik dalam bentuk penelitian konseptual maupun empiris. Pendekatan ini dapat memperkaya pemahaman tentang kepribadian manusia dalam konteks budaya dan spiritual yang beragam.⁹

Kedua, pengembangan instrumen penelitian yang sensitif terhadap dimensi moral dan spiritual menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini, sebagian besar alat ukur kepribadian bersifat sekuler dan individualistik. Integrasi nilai-nilai etis dan spiritual ke dalam kerangka pengukuran dapat membuka horizon baru dalam penelitian kepribadian, khususnya di masyarakat religius.¹⁰

Ketiga, kajian kepribadian manusia perlu dikontekstualisasikan dengan problem-problem kontemporer, seperti krisis identitas, alienasi, dan kesehatan mental. Dalam konteks ini, pendekatan integratif yang memadukan aspek psikologis, eksistensial, dan spiritual memiliki potensi besar untuk memberikan solusi yang lebih komprehensif dan manusiawi.

7.5.       Arah Teoretis dan Praktis Pengembangan Kajian

Secara teoretis, pengembangan kajian kepribadian manusia perlu diarahkan pada perumusan model konseptual yang fleksibel, non-reduksionistik, dan terbuka terhadap koreksi. Model semacam ini tidak mengklaim finalitas, melainkan berfungsi sebagai kerangka kerja (working framework) yang dapat terus dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.¹¹

Secara praktis, hasil kajian ini memiliki implikasi penting dalam pendidikan, pembinaan karakter, dan konseling. Pendidikan kepribadian tidak seharusnya hanya menekankan prestasi kognitif, tetapi juga pembentukan karakter moral dan kesadaran spiritual. Dalam bidang konseling dan kesehatan mental, pendekatan integratif memungkinkan pendampingan yang lebih holistik, dengan memperhatikan dimensi psikologis sekaligus eksistensial dan spiritual individu.¹²

Dengan demikian, diskusi kritis dan pengembangan kajian kepribadian manusia tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga memiliki relevansi praktis yang signifikan bagi kehidupan manusia modern.


Footnotes

[1]                David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W. W. Norton & Company, 2019), 9–12.

[2]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 34–38.

[3]                Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 15–19.

[4]                Eric R. Kandel, In Search of Memory: The Emergence of a New Science of Mind (New York: W. W. Norton & Company, 2006), 402–405.

[5]                Paul Ricoeur, Oneself as Another, trans. Kathleen Blamey (Chicago: University of Chicago Press, 1992), 165–170.

[6]                Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, jil. III (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 5–9.

[7]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1996), 103–110.

[8]                Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1 (Boston: Beacon Press, 1984), 86–92.

[9]                Ken Wilber, The Integral Vision (Boston: Shambhala Publications, 2007), 55–60.

[10]             Peter C. Hill and Ralph W. Hood Jr., Measures of Religiosity (Birmingham, AL: Religious Education Press, 1999), 1–6.

[11]             Imre Lakatos, The Methodology of Scientific Research Programmes (Cambridge: Cambridge University Press, 1978), 48–52.

[12]             Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 106–110.


8.           Kesimpulan dan Rekomendasi

8.1.       Kesimpulan

Kajian ini menunjukkan bahwa kepribadian manusia merupakan fenomena multidimensional yang tidak dapat dipahami secara memadai melalui satu pendekatan keilmuan tunggal. Perspektif psikologi menempatkan kepribadian sebagai struktur dan dinamika internal yang relatif stabil, dibentuk oleh interaksi antara faktor biologis, kognitif, emosional, dan lingkungan. Pendekatan ini memberikan kontribusi empiris yang penting, namun cenderung terbatas dalam menjelaskan dimensi makna, nilai, dan tujuan hidup manusia.¹

Perspektif filsafat memperluas pemahaman kepribadian dengan menempatkan manusia sebagai subjek rasional, bebas, dan bermoral. Kepribadian tidak sekadar dipahami sebagai kumpulan sifat atau pola perilaku, melainkan sebagai proses pembentukan diri yang melibatkan pilihan eksistensial, tanggung jawab etis, serta relasi dengan sesama.² Pendekatan ini menekankan kedalaman reflektif, namun memerlukan dukungan empiris agar tetap relevan dalam konteks praksis.

Sementara itu, perspektif Islam menawarkan kerangka yang bersifat integratif dan teleologis dengan memandang kepribadian manusia sebagai kesatuan jasad, nafs, akal, dan ruh yang diarahkan pada tujuan moral dan spiritual. Konsep fitrah, tazkiyat al-nafs, dan insan kamil menegaskan bahwa kepribadian manusia bersifat dinamis, normatif, dan terbuka untuk penyempurnaan berkelanjutan.³

Melalui integrasi ketiga perspektif tersebut, kajian ini menyimpulkan bahwa kepribadian manusia merupakan sistem yang kompleks, dinamis, dan bertujuan. Keutuhan kepribadian tercapai bukan melalui eliminasi salah satu sisi, melainkan melalui keseimbangan dan harmoni antar-dimensi biologis, psikologis, rasional-moral, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, pendekatan integratif menjadi kebutuhan epistemologis dan praktis dalam memahami manusia secara utuh.

8.2.       Rekomendasi Akademik

Berdasarkan temuan konseptual dalam kajian ini, beberapa rekomendasi akademik dapat diajukan. Pertama, penelitian kepribadian manusia di masa mendatang perlu dikembangkan secara interdisipliner dengan menggabungkan pendekatan psikologi, filsafat, dan studi keislaman secara metodologis, bukan sekadar eklektik. Pendekatan semacam ini berpotensi menghasilkan model kepribadian yang lebih komprehensif dan kontekstual.⁴

Kedua, diperlukan pengembangan kerangka teoretis dan instrumen penelitian yang mampu mengakomodasi dimensi moral dan spiritual kepribadian manusia tanpa mengorbankan standar ilmiah. Hal ini penting terutama dalam konteks masyarakat religius, di mana aspek spiritual merupakan bagian integral dari identitas dan pengalaman hidup individu.⁵

Ketiga, kajian kepribadian manusia perlu terus dikritisi dan dikembangkan secara terbuka. Tidak ada model kepribadian yang bersifat final atau absolut, sehingga keterbukaan terhadap koreksi, dialog lintas disiplin, dan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi syarat utama bagi kemajuan kajian ini.

8.3.       Rekomendasi Praktis

Secara praktis, hasil kajian ini memiliki implikasi penting dalam bidang pendidikan, pembinaan karakter, dan kesehatan mental. Pendidikan kepribadian seharusnya tidak hanya menekankan aspek kognitif dan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter moral, kesadaran diri, dan orientasi makna hidup. Model pendidikan yang integratif berpotensi melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkepribadian matang dan bertanggung jawab.⁶

Dalam bidang konseling dan kesehatan mental, pendekatan integratif terhadap kepribadian manusia dapat membantu memahami problem individu secara lebih holistik. Gangguan kepribadian atau krisis identitas tidak selalu dapat dijelaskan secara psikologis semata, melainkan sering kali berkaitan dengan krisis makna dan nilai. Oleh karena itu, pendekatan yang memperhatikan dimensi eksistensial dan spiritual dapat menjadi pelengkap penting dalam praktik profesional.⁷

Akhirnya, kajian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi awal dalam upaya memahami kepribadian manusia secara lebih utuh, seimbang, dan bermakna. Kepribadian manusia bukanlah entitas yang statis, melainkan proyek kemanusiaan yang senantiasa terbuka untuk pembentukan, perbaikan, dan penyempurnaan.


Footnotes

[1]                David C. Funder, The Personality Puzzle, 8th ed. (New York: W. W. Norton & Company, 2019), 3–7.

[2]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 45–52.

[3]                Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, jil. III (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), 3–6; Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality: Foundations (New York: Crossroad, 1987), 65–69.

[4]                Ken Wilber, The Integral Vision (Boston: Shambhala Publications, 2007), 21–25.

[5]                Peter C. Hill and Ralph W. Hood Jr., Measures of Religiosity (Birmingham, AL: Religious Education Press, 1999), 7–10.

[6]                Thomas Lickona, Educating for Character (New York: Bantam Books, 1991), 19–24.

[7]                Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2006), 111–117.


Daftar Pustaka

Allport, G. W. (1937). Personality: A psychological interpretation. Holt, Rinehart & Winston.

Allport, G. W. (1961). Pattern and growth in personality. Holt, Rinehart & Winston.

Aristotle. (1998). Politics (C. D. C. Reeve, Trans.). Hackett Publishing.

Aristotle. (1999). Nicomachean ethics (T. Irwin, Trans.). Hackett Publishing.

Burger, J. M. (2019). Personality (9th ed.). Cengage Learning.

Costa, P. T., Jr., & McCrae, R. R. (2003). Personality in adulthood: A five-factor theory perspective (2nd ed.). Guilford Press.

Dennett, D. C. (2003). Freedom evolves. Viking Press.

Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.

Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.

Freud, A. (1936). The ego and the mechanisms of defence. Hogarth Press.

Freud, S. (1933). New introductory lectures on psycho-analysis (W. J. H. Sprott, Trans.). W. W. Norton & Company.

Freud, S. (1960). The ego and the id (J. Riviere, Trans.). W. W. Norton & Company.

Funder, D. C. (2019). The personality puzzle (8th ed.). W. W. Norton & Company.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action (Vol. 1). Beacon Press.

Hegel, G. W. F. (1977). Phenomenology of spirit (A. V. Miller, Trans.). Oxford University Press.

Hill, P. C., & Hood, R. W., Jr. (1999). Measures of religiosity. Religious Education Press.

Hume, D. (2000). A treatise of human nature. Oxford University Press.

Ibn ‘Arabi. (1946). Al-insān al-kāmil (A. ‘Afifi, Ed.). Dar al-Kutub al-Misriyyah.

Ibn ‘Arabi. (1980). Fusus al-hikam (R. W. J. Austin, Trans.). Paulist Press.

Ibn Rushd. (1959). The decisive treatise (Fasl al-maqal) (G. F. Hourani, Trans.). Brill.

Juwayni, A. al-Ma‘ali. (2003). Al-irshad ila qawati‘ al-adillah fi usul al-i‘tiqad. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Jung, C. G. (1972). Two essays on analytical psychology (R. F. C. Hull, Trans.). Princeton University Press.

Jung, C. G. (1981). The archetypes and the collective unconscious (R. F. C. Hull, Trans.). Princeton University Press.

Kane, R. (1996). The significance of free will. Oxford University Press.

Kandel, E. R. (2006). In search of memory: The emergence of a new science of mind. W. W. Norton & Company.

Kierkegaard, S. (1989). The sickness unto death (A. Hannay, Trans.). Penguin Books.

Kuhn, T. S. (1996). The structure of scientific revolutions (3rd ed.). University of Chicago Press.

Lakatos, I. (1978). The methodology of scientific research programmes. Cambridge University Press.

Lickona, T. (1991). Educating for character. Bantam Books.

Maslow, A. H. (1987). Motivation and personality (3rd ed.). Harper & Row.

Muthahhari, M. (1985). Man and universe. Sadra Islamic Publications.

Nasr, S. H. (1981). Islamic life and thought. SUNY Press.

Nasr, S. H. (1987). Islamic spirituality: Foundations. Crossroad.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. University of Chicago Press.

Rahman, F. (2009). Major themes of the Qur’an (2nd ed.). University of Chicago Press.

Ricoeur, P. (1992). Oneself as another (K. Blamey, Trans.). University of Chicago Press.

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person. Houghton Mifflin.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.

Stevens, A. (2001). Jung: A very short introduction. Oxford University Press.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Wilber, K. (1996). A brief history of everything. Shambhala Publications.

Wilber, K. (2007). The integral vision. Shambhala Publications.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar