Learning Science
Fondasi Ilmiah Pembelajaran Manusia dalam Perspektif
Psikologi, Neurosains, dan Pendidikan Modern
Alihkan ke: Ilmu Pendidikan.
Abstrak
Artikel ini membahas
learning
science sebagai bidang kajian interdisipliner yang berupaya
memahami proses belajar manusia secara ilmiah, sistematis, dan berbasis bukti
empiris. Tujuan utama artikel ini adalah mengkaji konsep dasar, landasan
teoretis, dan prinsip-prinsip utama learning science serta implikasinya bagi
praktik pendidikan kontemporer. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif, yang
menganalisis dan mensintesis berbagai sumber ilmiah dari psikologi kognitif,
neurosains, ilmu pendidikan, dan teknologi pembelajaran.
Hasil kajian
menunjukkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif yang melibatkan interaksi
kompleks antara kognisi, emosi, motivasi, konteks sosial, dan mekanisme
biologis otak. Prinsip-prinsip learning science—seperti pembelajaran aktif,
latihan pengambilan kembali informasi (retrieval practice), pembelajaran
bertahap (spaced
learning), umpan balik bermakna, serta pembelajaran berorientasi
pada transfer pengetahuan—terbukti secara empiris mampu meningkatkan kualitas
dan keberlanjutan belajar. Artikel ini juga menegaskan pentingnya desain
instruksional berbasis learning science, pemanfaatan teknologi dan data secara
kritis, serta pengambilan kebijakan pendidikan yang berlandaskan riset.
Kajian ini
menyimpulkan bahwa learning science bukanlah seperangkat metode pembelajaran
yang bersifat universal, melainkan kerangka ilmiah yang dinamis dan terbuka untuk dikontekstualisasikan sesuai
dengan nilai, budaya, dan kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan yang
reflektif dan kritis, learning science berpotensi menjadi landasan penting
dalam pengembangan pendidikan yang efektif, bermakna, dan berkelanjutan.
Kata kunci: learning
science, pembelajaran efektif, psikologi kognitif, neurosains pendidikan,
desain instruksional, pendidikan berbasis bukti
PEMBAHASAN
Kajian Learning Science sebagai Bidang Integratif
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan aktivitas fundamental dalam
kehidupan manusia yang memungkinkan terjadinya transmisi pengetahuan,
pembentukan keterampilan, serta internalisasi nilai. Namun, praktik pendidikan
selama waktu yang panjang kerap lebih didasarkan pada tradisi, intuisi
pedagogis, atau asumsi normatif daripada bukti ilmiah yang sistematis.
Akibatnya, tidak sedikit metode pembelajaran yang bertahan meskipun
efektivitasnya diragukan secara empiris.¹
Seiring berkembangnya psikologi kognitif, neurosains,
dan ilmu pendidikan modern, muncul kesadaran bahwa belajar bukan sekadar proses
menerima informasi, melainkan aktivitas mental yang kompleks, melibatkan
interaksi antara memori, emosi, motivasi, konteks sosial, dan struktur biologis
otak.² Kesadaran ini mendorong lahirnya pendekatan ilmiah terhadap pembelajaran
yang dikenal sebagai Learning Science.
Learning science berkembang sebagai bidang
interdisipliner yang bertujuan memahami bagaimana manusia belajar secara
efektif berdasarkan bukti empiris. Bidang ini memadukan temuan dari psikologi
kognitif, neurosains, pendidikan, ilmu komputer, dan ilmu sosial untuk
merumuskan prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat diterapkan secara praktis
dalam berbagai konteks pendidikan.³ Dengan demikian, learning science tidak
hanya bersifat teoretis, tetapi juga berorientasi pada pemecahan masalah nyata
dalam praktik pedagogis.
Dalam konteks pendidikan kontemporer—yang ditandai
oleh percepatan teknologi, perubahan karakter peserta didik, dan tuntutan
kompetensi abad ke-21—pendekatan berbasis learning science menjadi semakin
relevan. Pembelajaran dituntut tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga
mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan adaptif.⁴ Oleh karena
itu, kajian akademik yang sistematis mengenai learning science menjadi
kebutuhan mendesak guna menjembatani kesenjangan antara teori ilmiah dan
praktik pendidikan.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan
masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
1)
Apa yang dimaksud dengan learning science dan bagaimana karakteristik
utamanya sebagai bidang keilmuan?
2)
Apa saja landasan teoretis dan empiris yang membentuk learning science?
3)
Bagaimana prinsip-prinsip utama learning science dalam menjelaskan
proses belajar manusia?
4)
Apa implikasi learning science terhadap desain pembelajaran dan praktik
pendidikan modern?
1.3.
Tujuan dan Manfaat Kajian
Kajian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman
komprehensif mengenai learning science sebagai pendekatan ilmiah terhadap
pembelajaran manusia. Secara khusus, tujuan kajian ini meliputi:
1)
Menjelaskan konsep, ruang lingkup, dan karakteristik learning science.
2)
Menguraikan landasan teoretis dan temuan empiris yang relevan.
3)
Menganalisis prinsip-prinsip pembelajaran yang dihasilkan oleh learning
science.
4)
Menunjukkan implikasi praktis learning science dalam dunia pendidikan.
Adapun manfaat kajian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu pendidikan serta manfaat
praktis bagi pendidik, perancang kurikulum, dan pembuat kebijakan pendidikan
dalam merancang pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna.⁵
1.4.
Metode dan Pendekatan Kajian
Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode kajian pustaka (library research). Sumber data utama berupa buku
akademik, artikel jurnal ilmiah, dan publikasi riset yang relevan dengan
learning science. Analisis dilakukan secara konseptual dan sintesis teoretis
dengan mengintegrasikan berbagai perspektif disiplin ilmu yang terkait.
Pendekatan multidisipliner digunakan untuk
menangkap kompleksitas pembelajaran manusia, dengan menggabungkan sudut pandang
psikologi kognitif, neurosains, dan pendidikan. Pendekatan ini memungkinkan
pemahaman yang lebih holistik terhadap proses belajar serta membuka ruang
dialog antara teori dan praktik pendidikan.⁶
Footnotes
[1]
John Hattie, Visible Learning: A Synthesis of
Over 800 Meta-Analyses Relating to Achievement (London: Routledge, 2009),
15–17.
[2]
Daniel L. Schacter, The Seven Sins of Memory:
How the Mind Forgets and Remembers (Boston: Houghton Mifflin, 2001), 3–5.
[3]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
1–6.
[4]
OECD, The Future of Education and Skills:
Education 2030 (Paris: OECD Publishing, 2018), 8–10.
[5]
Richard E. Mayer, Learning and Instruction,
2nd ed. (Upper Saddle River, NJ: Pearson, 2008), 12–14.
[6]
Paul A. Kirschner, John Sweller, and Richard E.
Clark, “Why Minimal Guidance During Instruction Does Not Work,” Educational
Psychologist 41, no. 2 (2006): 75–86.
2.
Konsep Dasar dan
Definisi Learning Science
2.1.
Definisi Learning Science
Secara terminologis, learning science
merujuk pada bidang kajian ilmiah yang berfokus pada pemahaman tentang
bagaimana manusia belajar, berkembang, dan memperoleh pengetahuan serta
keterampilan secara efektif. Learning science tidak sekadar mempelajari hasil
belajar, tetapi menelaah proses kognitif, afektif, sosial, dan biologis yang
mendasari terjadinya belajar.¹
R. Keith Sawyer mendefinisikan learning science
sebagai bidang interdisipliner yang mengintegrasikan temuan dari psikologi
kognitif, ilmu pendidikan, dan ilmu komputer untuk memahami dan meningkatkan
pembelajaran manusia dalam konteks nyata.² Definisi ini menegaskan bahwa
learning science tidak berdiri sebagai disiplin tunggal, melainkan sebagai
ruang sintesis berbagai pendekatan ilmiah yang memiliki fokus bersama pada
pembelajaran.
Berbeda dengan pendekatan pedagogi tradisional yang
sering berangkat dari asumsi normatif tentang bagaimana seharusnya mengajar,
learning science berangkat dari pertanyaan empiris tentang bagaimana manusia
benar-benar belajar. Dengan demikian, validitas pendekatan dalam learning
science diukur melalui bukti penelitian, baik eksperimental, longitudinal,
maupun studi lapangan.³
Karakteristik utama learning science dapat
dirangkum dalam beberapa aspek: (1) berbasis bukti empiris (evidence-based),
(2) berorientasi pada proses belajar, bukan sekadar hasil, (3) kontekstual dan
situasional, serta (4) terbuka terhadap revisi seiring berkembangnya temuan
ilmiah baru.⁴
2.2.
Sejarah Perkembangan Learning
Science
Perkembangan learning science tidak dapat
dilepaskan dari sejarah evolusi pemikiran tentang belajar. Pada awal abad
ke-20, kajian pembelajaran didominasi oleh aliran behaviorisme yang menekankan
hubungan stimulus–respon dan penguatan perilaku yang teramati.⁵ Meskipun
memberikan kontribusi penting dalam memahami pembelajaran sederhana,
behaviorisme dinilai kurang mampu menjelaskan proses mental internal yang
kompleks.
Kritik terhadap behaviorisme melahirkan revolusi
kognitif pada pertengahan abad ke-20. Psikologi kognitif mulai memandang
manusia sebagai pemroses informasi yang aktif, dengan memori, perhatian, dan
penalaran sebagai komponen utama belajar.⁶ Pergeseran ini menjadi fondasi
penting bagi lahirnya learning science, karena membuka ruang kajian ilmiah
terhadap proses mental yang sebelumnya dianggap “kotak hitam”.
Memasuki akhir abad ke-20, perkembangan teknologi
komputer dan riset neurosains semakin memperkaya studi pembelajaran. Munculnya
teknologi simulasi, intelligent tutoring systems, dan teknik pencitraan
otak memungkinkan peneliti mempelajari belajar secara lebih mendalam dan
presisi.⁷ Pada fase inilah learning science mulai dikenal secara formal sebagai
bidang kajian tersendiri, ditandai dengan berdirinya jurnal dan asosiasi ilmiah
khusus.
Dengan demikian, learning science dapat dipahami
sebagai hasil akumulasi historis dari berbagai tradisi keilmuan yang secara
gradual berkonvergensi dalam upaya memahami pembelajaran manusia secara ilmiah
dan holistik.
2.3.
Learning Science sebagai Bidang
Interdisipliner
Salah satu ciri paling menonjol dari learning
science adalah sifatnya yang interdisipliner. Learning science tidak membatasi
diri pada satu paradigma keilmuan, melainkan memanfaatkan kontribusi berbagai
disiplin untuk menjelaskan fenomena belajar yang kompleks.⁸
Psikologi kognitif memberikan landasan tentang
bagaimana manusia memproses informasi, membangun skema pengetahuan, dan
menggunakan strategi belajar. Neurosains berkontribusi dalam menjelaskan
mekanisme biologis belajar, seperti plastisitas otak dan peran sistem memori.
Ilmu pendidikan berperan dalam menerjemahkan temuan teoretis menjadi praktik
pedagogis dan desain instruksional.⁹
Selain itu, ilmu komputer dan data berkontribusi
melalui pengembangan teknologi pembelajaran, learning analytics, dan
kecerdasan buatan yang memungkinkan personalisasi pembelajaran. Sementara itu,
ilmu sosial dan budaya membantu memahami bagaimana konteks sosial, bahasa, dan
nilai mempengaruhi proses belajar.¹⁰
Pendekatan interdisipliner ini menjadikan learning
science bersifat dinamis dan terbuka. Ia tidak mengklaim kebenaran mutlak,
melainkan terus berkembang melalui dialog antara teori, riset empiris, dan
praktik pendidikan. Dalam kerangka ini, learning science berfungsi sebagai
jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata dunia pendidikan.
Footnotes
[1]
Richard E. Mayer, Learning and Instruction,
2nd ed. (Upper Saddle River, NJ: Pearson, 2008), 3–5.
[2]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
1–3.
[3]
Paul A. Kirschner and Carl Hendrick, How
Learning Happens (London: Routledge, 2020), 7–9.
[4]
John Dunlosky et al., “Improving Students’ Learning
With Effective Learning Techniques,” Psychological Science in the Public
Interest 14, no. 1 (2013): 5–7.
[5]
B. F. Skinner, Science and Human Behavior
(New York: Free Press, 1953), 65–70.
[6]
Ulric Neisser, Cognitive Psychology (New
York: Appleton-Century-Crofts, 1967), 4–6.
[7]
John D. Bransford, Ann L. Brown, and Rodney R.
Cocking, How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School
(Washington, DC: National Academy Press, 2000), 10–15.
[8]
Sawyer, The Cambridge Handbook of the Learning
Sciences, 7–9.
[9]
Bransford, Brown, and Cocking, How People Learn,
19–22.
[10]
James Paul Gee, What Video Games Have to Teach
Us About Learning and Literacy (New York: Palgrave Macmillan, 2003), 23–26.
3.
Landasan Teoretis
Learning Science
3.1.
Teori Kognitif dalam Pembelajaran
Landasan teoretis utama learning science berakar
kuat pada psikologi kognitif, khususnya pandangan bahwa belajar merupakan
proses aktif pengolahan informasi. Berbeda dengan behaviorisme yang
menitikberatkan pada perilaku yang teramati, teori kognitif menempatkan proses
mental internal—seperti perhatian, persepsi, memori, dan penalaran—sebagai
pusat analisis pembelajaran.¹
Salah satu kerangka awal yang berpengaruh adalah Information
Processing Theory, yang memandang pikiran manusia analog dengan sistem
pemrosesan informasi. Dalam kerangka ini, belajar dipahami sebagai proses
pengkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pengambilan
kembali (retrieval) informasi.² Learning science banyak memanfaatkan
kerangka ini untuk menjelaskan mengapa strategi belajar tertentu, seperti
latihan pengambilan kembali (retrieval practice), terbukti lebih efektif
dibandingkan pengulangan pasif.
Teori kognitif lain yang sangat berpengaruh adalah Cognitive
Load Theory yang dikembangkan oleh John Sweller. Teori ini menegaskan bahwa
kapasitas memori kerja manusia bersifat terbatas, sehingga desain pembelajaran
harus memperhatikan beban kognitif agar tidak menghambat proses belajar.³ Dalam
konteks learning science, teori ini menjadi dasar penting bagi pengembangan
desain instruksional yang efisien dan berorientasi pada pemahaman konseptual.
Selain itu, Dual Coding Theory yang
dikemukakan oleh Allan Paivio menjelaskan bahwa informasi diproses melalui dua
saluran utama, yaitu verbal dan visual. Integrasi keduanya dapat memperkuat
pemahaman dan daya ingat.⁴ Prinsip ini banyak diterapkan dalam pembelajaran
modern, terutama dalam pemanfaatan media visual dan teknologi digital.
3.2.
Teori Konstruktivisme dalam Learning
Science
Learning science juga sangat dipengaruhi oleh teori
konstruktivisme, yang memandang belajar sebagai proses aktif membangun
pengetahuan berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Dalam
perspektif ini, pengetahuan tidak sekadar ditransfer dari pengajar ke peserta
didik, melainkan dikonstruksi secara internal oleh individu.⁵
Konstruktivisme kognitif, yang banyak dipengaruhi
oleh pemikiran Jean Piaget, menekankan peran struktur kognitif dan proses
asimilasi serta akomodasi dalam pembelajaran. Belajar terjadi ketika individu
mengalami ketidakseimbangan kognitif (cognitive disequilibrium) dan
berupaya menyesuaikan struktur pengetahuannya.⁶ Pandangan ini memperkuat
prinsip learning science bahwa pembelajaran yang menantang secara intelektual
lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang hanya menuntut hafalan.
Sementara itu, konstruktivisme sosial, yang
dipelopori oleh Lev Vygotsky, menekankan peran interaksi sosial dan budaya
dalam pembelajaran. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD)
menunjukkan bahwa pembelajaran optimal terjadi ketika peserta didik dibimbing
sedikit di atas kemampuan aktualnya.⁷ Dalam learning science, gagasan ini
menjadi dasar bagi praktik scaffolding, kolaborasi belajar, dan
pembelajaran berbasis dialog.
Dengan demikian, konstruktivisme memberikan
kerangka teoretis yang menegaskan bahwa belajar bersifat kontekstual, sosial,
dan bermakna, sejalan dengan orientasi learning science terhadap pembelajaran
autentik.
3.3.
Teori Motivasi dan Afektif dalam
Pembelajaran
Selain aspek kognitif, learning science juga
mengakui peran sentral faktor motivasional dan afektif dalam proses belajar.
Pembelajaran tidak berlangsung dalam ruang hampa emosi, melainkan dipengaruhi
oleh minat, tujuan, keyakinan diri, dan kondisi emosional peserta didik.⁸
Salah satu teori yang berpengaruh adalah Self-Determination
Theory (SDT), yang menyatakan bahwa motivasi intrinsik berkembang ketika
tiga kebutuhan psikologis dasar terpenuhi, yaitu otonomi, kompetensi, dan
keterhubungan sosial.⁹ Learning science memanfaatkan teori ini untuk
menjelaskan mengapa lingkungan belajar yang memberi ruang pilihan, tantangan
yang realistis, dan relasi positif lebih efektif dalam mendorong pembelajaran
mendalam.
Konsep growth mindset yang dikembangkan oleh
Carol Dweck juga berperan penting dalam kerangka learning science. Keyakinan
bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan strategi yang tepat terbukti
berpengaruh terhadap ketekunan dan kualitas belajar.¹⁰ Oleh karena itu,
learning science tidak hanya berfokus pada strategi kognitif, tetapi juga pada
pembentukan sikap dan keyakinan belajar yang adaptif.
3.4.
Metakognisi dan Self-Regulated
Learning
Landasan teoretis penting lainnya dalam learning
science adalah metakognisi, yaitu kesadaran dan pengaturan individu terhadap
proses belajarnya sendiri. Metakognisi mencakup kemampuan merencanakan,
memantau, dan mengevaluasi strategi belajar yang digunakan.¹¹
Konsep self-regulated learning menekankan
bahwa pembelajar yang efektif adalah mereka yang mampu mengelola tujuan, waktu,
strategi, dan refleksi secara mandiri. Learning science memandang kemampuan ini
sebagai kompetensi kunci dalam pembelajaran sepanjang hayat.¹² Oleh karena itu,
banyak intervensi berbasis learning science dirancang untuk membantu peserta
didik mengembangkan kesadaran metakognitif, bukan sekadar menguasai materi
pelajaran.
Dengan menempatkan metakognisi sebagai landasan
teoretis, learning science menegaskan bahwa belajar bukan hanya tentang apa
yang dipelajari, tetapi juga tentang bagaimana belajar itu dilakukan.
Footnotes
[1]
Richard E. Mayer, Learning and Instruction,
2nd ed. (Upper Saddle River, NJ: Pearson, 2008), 23–25.
[2]
Robert S. Siegler, Cognitive Psychology, 3rd
ed. (New York: Oxford University Press, 2006), 7–10.
[3]
John Sweller, Paul Ayres, and Slava Kalyuga, Cognitive
Load Theory (New York: Springer, 2011), 37–40.
[4]
Allan Paivio, Mental Representations: A Dual
Coding Approach (Oxford: Oxford University Press, 1986), 53–56.
[5]
Ernst von Glasersfeld, Radical Constructivism: A
Way of Knowing and Learning (London: Falmer Press, 1995), 1–5.
[6]
Jean Piaget, The Psychology of Intelligence
(London: Routledge, 1950), 92–95.
[7]
Lev S. Vygotsky, Mind in Society: The
Development of Higher Psychological Processes (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 1978), 86–90.
[8]
Daniel T. Willingham, Why Don’t Students Like
School? (San Francisco: Jossey-Bass, 2009), 15–18.
[9]
Edward L. Deci and Richard M. Ryan, “The ‘What’ and
‘Why’ of Goal Pursuits,” Psychological Inquiry 11, no. 4 (2000):
227–230.
[10]
Carol S. Dweck, Mindset: The New Psychology of
Success (New York: Random House, 2006), 7–9.
[11]
John H. Flavell, “Metacognition and Cognitive
Monitoring,” American Psychologist 34, no. 10 (1979): 906–908.
[12]
Barry J. Zimmerman, “Becoming a Self-Regulated
Learner,” Theory Into Practice 41, no. 2 (2002): 64–67.
4.
Neurosains dan
Proses Biologis Belajar
4.1.
Otak sebagai Dasar Biologis
Pembelajaran
Learning science memperoleh penguatan penting dari
neurosains, yaitu cabang ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi sistem
saraf. Dari perspektif neurosains, belajar dipahami sebagai proses biologis
yang melibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. Setiap
pengalaman belajar berpotensi membentuk atau memperkuat koneksi antarsel saraf
(neurons), yang dikenal sebagai sinapsis.¹
Otak manusia bersifat plastis (neuroplasticity),
yakni mampu berubah dan beradaptasi sepanjang kehidupan. Plastisitas ini
memungkinkan pembelajaran terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tetapi
juga pada usia dewasa.² Dalam konteks learning science, konsep plastisitas otak
menegaskan bahwa kemampuan belajar bukanlah sesuatu yang statis, melainkan
dapat dikembangkan melalui pengalaman belajar yang tepat dan berkelanjutan.
Beberapa bagian otak memiliki peran sentral dalam
pembelajaran. Prefrontal cortex berfungsi dalam pengambilan keputusan,
perencanaan, dan pengendalian diri, sedangkan hippocampus berperan
penting dalam pembentukan memori jangka panjang.³ Interaksi antara berbagai
wilayah otak ini menunjukkan bahwa belajar merupakan proses terintegrasi yang
melibatkan aspek kognitif, emosional, dan regulatif secara simultan.
4.2.
Memori dan Mekanisme Belajar
Memori merupakan komponen kunci dalam proses
belajar dan menjadi fokus utama dalam kajian neurosains pendidikan. Secara
umum, memori dibedakan menjadi memori sensorik, memori kerja (working memory),
dan memori jangka panjang.⁴ Learning science banyak menggunakan kerangka ini
untuk menjelaskan bagaimana informasi diproses dan mengapa kapasitas memori
kerja yang terbatas menjadi faktor penting dalam desain pembelajaran.
Proses pembelajaran melibatkan tiga tahapan utama
memori, yaitu encoding, storage, dan retrieval. Encoding
merujuk pada proses awal pengolahan informasi, storage berkaitan dengan penyimpanan
informasi dalam jaringan saraf, sedangkan retrieval merupakan proses
pengambilan kembali informasi ketika dibutuhkan.⁵ Temuan neurosains menunjukkan
bahwa retrieval yang berulang justru memperkuat jejak memori, sehingga praktik
pengambilan kembali informasi menjadi salah satu strategi belajar yang paling
efektif.
Selain itu, memori jangka panjang tidak bersifat
tunggal, melainkan terdiri atas berbagai jenis, seperti memori deklaratif dan
prosedural. Memori deklaratif berkaitan dengan fakta dan konsep, sedangkan
memori prosedural berkaitan dengan keterampilan dan kebiasaan.⁶ Pemahaman
tentang perbedaan ini penting dalam learning science, karena menuntut
pendekatan pembelajaran yang berbeda sesuai dengan jenis pengetahuan yang ingin
dikembangkan.
4.3.
Emosi, Stres, dan Pembelajaran
Neurosains juga menunjukkan bahwa proses belajar
sangat dipengaruhi oleh faktor emosional. Emosi bukanlah unsur tambahan,
melainkan bagian integral dari kognisi. Sistem limbik, khususnya amigdala,
berperan dalam memproses emosi dan berinteraksi erat dengan sistem memori.⁷
Oleh karena itu, pengalaman belajar yang bermakna secara emosional cenderung
lebih mudah diingat.
Stres memiliki pengaruh ambivalen terhadap
pembelajaran. Stres ringan hingga moderat dapat meningkatkan kewaspadaan dan
fokus, tetapi stres kronis justru berdampak negatif terhadap fungsi memori dan
kemampuan berpikir tingkat tinggi.⁸ Learning science memanfaatkan temuan ini
untuk menekankan pentingnya lingkungan belajar yang aman secara psikologis,
suportif, dan tidak menekan secara berlebihan.
Dengan demikian, pendekatan pembelajaran yang
mengabaikan dimensi emosional berpotensi menghambat proses belajar. Neurosains
memperkuat pandangan bahwa pembelajaran efektif menuntut keseimbangan antara
tantangan kognitif dan dukungan emosional.
4.4.
Implikasi Neurosains bagi Learning
Science
Meskipun neurosains memberikan wawasan penting
tentang mekanisme biologis belajar, learning science menempatkan temuan
neurosains secara proporsional. Tidak semua hasil penelitian otak dapat langsung
diterjemahkan menjadi strategi pembelajaran praktis.⁹ Oleh karena itu, learning
science berfungsi sebagai jembatan antara temuan neurosains dan praktik
pendidikan melalui integrasi dengan psikologi kognitif dan riset pendidikan.
Implikasi utama neurosains dalam learning science
antara lain pengakuan terhadap keterbatasan memori kerja, pentingnya
pengulangan bermakna, peran emosi dalam pembelajaran, serta potensi belajar
sepanjang hayat. Temuan-temuan ini memperkuat pendekatan pembelajaran berbasis bukti
dan menolak klaim-klaim pseudo-ilmiah tentang otak yang tidak didukung data
empiris.¹⁰
Dengan demikian, neurosains tidak dimaksudkan untuk
menggantikan teori pembelajaran, melainkan melengkapinya dengan pemahaman
biologis yang lebih mendalam. Integrasi yang kritis dan selektif terhadap
temuan neurosains merupakan ciri penting learning science sebagai bidang ilmiah
yang terbuka dan reflektif.
Footnotes
[1]
Eric R. Kandel et al., Principles of Neural
Science, 5th ed. (New York: McGraw-Hill, 2013), 1285–1288.
[2]
Norman Doidge, The Brain That Changes Itself
(New York: Viking, 2007), 43–47.
[3]
Mark A. Gluck, Eduardo Mercado, and Catherine E.
Myers, Learning and Memory: From Brain to Behavior, 2nd ed. (New York:
Worth Publishers, 2014), 97–102.
[4]
Alan Baddeley, Working Memory (Oxford:
Oxford University Press, 1986), 11–14.
[5]
Henry L. Roediger III and Jeffrey D. Karpicke,
“Test-Enhanced Learning,” Psychological Science 17, no. 3 (2006):
249–252.
[6]
Larry R. Squire and Eric R. Kandel, Memory: From
Mind to Molecules (New York: Scientific American Library, 1999), 25–28.
[7]
Joseph E. LeDoux, The Emotional Brain (New
York: Simon & Schuster, 1996), 161–165.
[8]
Bruce S. McEwen, “Stress and the Brain,” Dialogues
in Clinical Neuroscience 9, no. 4 (2007): 445–450.
[9]
Paul A. Howard-Jones, Introducing
Neuroeducational Research (London: Routledge, 2010), 18–22.
[10]
Daniel T. Willingham, “Do Brain-Based Teaching
Programs Work?” American Educator 33, no. 2 (2009): 8–13.
5.
Prinsip-Prinsip
Utama Learning Science
5.1.
Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Salah satu prinsip paling fundamental dalam
learning science adalah bahwa pembelajaran berlangsung lebih efektif ketika
peserta didik terlibat secara aktif dalam proses belajar. Pembelajaran aktif
menempatkan peserta didik sebagai subjek yang membangun pengetahuan melalui
aktivitas berpikir, berdiskusi, memecahkan masalah, dan merefleksikan
pemahamannya.¹ Prinsip ini berangkat dari pandangan kognitif dan konstruktivis
bahwa belajar merupakan proses internal yang tidak dapat terjadi secara optimal
melalui penerimaan informasi secara pasif.
Berbagai studi empiris menunjukkan bahwa metode
pembelajaran aktif—seperti diskusi terstruktur, problem-based learning,
dan peer instruction—secara konsisten menghasilkan pemahaman konseptual
yang lebih mendalam dibandingkan metode ceramah semata.² Dalam kerangka
learning science, aktivitas belajar dinilai efektif bukan dari tingkat
kesibukan fisik peserta didik, melainkan dari kualitas keterlibatan kognitif
yang terjadi selama proses belajar.
5.2.
Latihan Pengambilan Kembali
Informasi (Retrieval Practice)
Prinsip penting lainnya adalah retrieval
practice, yaitu latihan secara sengaja untuk mengambil kembali informasi
dari ingatan. Berbeda dengan anggapan umum bahwa pengulangan membaca atau
mendengarkan materi sudah cukup, learning science menunjukkan bahwa proses
mengingat kembali justru memperkuat jejak memori.³
Penelitian eksperimental dalam psikologi kognitif
menunjukkan bahwa peserta didik yang sering melakukan tes formatif atau latihan
soal tanpa melihat catatan cenderung memiliki daya ingat jangka panjang yang
lebih baik.⁴ Oleh karena itu, dalam learning science, evaluasi tidak dipahami
semata sebagai alat pengukuran hasil belajar, melainkan sebagai bagian integral
dari proses pembelajaran itu sendiri.
5.3.
Pembelajaran Bertahap dan
Terdistribusi (Spaced Learning dan Interleaving)
Learning science juga menegaskan bahwa pembelajaran
yang terdistribusi dalam rentang waktu tertentu (spaced learning) lebih
efektif dibandingkan pembelajaran yang dipadatkan dalam waktu singkat (cramming).
Spacing memberi kesempatan bagi otak untuk melakukan konsolidasi memori,
sehingga pengetahuan menjadi lebih tahan lama.⁵
Selain itu, prinsip interleaving—yaitu
mempelajari berbagai topik atau jenis soal secara bergantian—terbukti dapat
meningkatkan kemampuan transfer dan diskriminasi konsep.⁶ Meskipun sering
dirasakan lebih sulit oleh peserta didik, interleaving justru mendorong
pemahaman yang lebih fleksibel dan adaptif.
5.4.
Umpan Balik dan Penyangga Belajar
(Feedback dan Scaffolding)
Umpan balik (feedback) yang tepat waktu,
spesifik, dan konstruktif merupakan elemen krusial dalam pembelajaran efektif.
Learning science menunjukkan bahwa umpan balik membantu peserta didik mengidentifikasi
kesenjangan antara pemahaman aktual dan tujuan belajar yang diharapkan.⁷
Konsep scaffolding—yang berakar dari
konstruktivisme sosial—menekankan pemberian dukungan sementara yang secara
bertahap dikurangi seiring meningkatnya kompetensi peserta didik.⁸ Prinsip ini
menegaskan bahwa pembelajaran optimal terjadi ketika tantangan disesuaikan
dengan tingkat kemampuan peserta didik, bukan terlalu mudah maupun terlalu
sulit.
5.5.
Transfer Pengetahuan dan
Pembelajaran Bermakna
Tujuan akhir pembelajaran menurut learning science
bukan sekadar penguasaan informasi, melainkan kemampuan mentransfer pengetahuan
ke situasi baru. Transfer terjadi ketika peserta didik memahami konsep secara
mendalam dan mampu mengaitkannya dengan konteks yang berbeda.⁹
Learning science menekankan pentingnya pengajaran
yang berfokus pada struktur konseptual, hubungan antarkonsep, dan penerapan
autentik. Pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan cenderung
menghasilkan pengetahuan yang rapuh dan sulit ditransfer.¹⁰ Oleh karena itu,
pembelajaran bermakna menjadi prinsip kunci yang mengintegrasikan aspek
kognitif, kontekstual, dan reflektif.
Footnotes
[1]
Michael Prince, “Does Active Learning Work? A
Review of the Research,” Journal of Engineering Education 93, no. 3
(2004): 223–224.
[2]
Eric Mazur, Peer Instruction: A User’s Manual
(Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1997), 9–12.
[3]
Henry L. Roediger III and Jeffrey D. Karpicke,
“Test-Enhanced Learning,” Psychological Science 17, no. 3 (2006):
249–252.
[4]
John Dunlosky et al., “Improving Students’ Learning
With Effective Learning Techniques,” Psychological Science in the Public
Interest 14, no. 1 (2013): 12–14.
[5]
Robert A. Bjork and Elizabeth L. Bjork, “Making
Things Hard on Yourself,” in Psychology and the Real World, ed. Morton
A. Gernsbacher et al. (New York: Worth, 2011), 59–62.
[6]
Doug Rohrer and Kelli Taylor, “The Effects of
Overlearning and Distributed Practice,” Applied Cognitive Psychology 20,
no. 4 (2006): 481–482.
[7]
John Hattie and Helen Timperley, “The Power of
Feedback,” Review of Educational Research 77, no. 1 (2007): 81–83.
[8]
Lev S. Vygotsky, Mind in Society (Cambridge,
MA: Harvard University Press, 1978), 86–90.
[9]
John D. Bransford, Ann L. Brown, and Rodney R.
Cocking, How People Learn (Washington, DC: National Academy Press,
2000), 16–18.
[10]
David N. Perkins, Making Learning Whole (San
Francisco: Jossey-Bass, 2009), 45–48.
6.
Desain
Instruksional Berbasis Learning Science
6.1.
Konsep Dasar Desain Instruksional
Desain instruksional merupakan proses sistematis
dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi pembelajaran agar tujuan
belajar dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dalam kerangka learning
science, desain instruksional tidak dipahami sekadar sebagai penyusunan materi,
melainkan sebagai upaya strategis untuk menyelaraskan tujuan pembelajaran,
aktivitas belajar, dan evaluasi berdasarkan cara kerja kognisi manusia.¹
Learning science menolak pendekatan desain
instruksional yang bersifat intuitif semata dan menekankan pentingnya
pendekatan berbasis bukti (evidence-based instructional design).
Prinsip-prinsip seperti keterbatasan memori kerja, pentingnya keterlibatan
aktif, serta peran umpan balik dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan
desain.² Dengan demikian, desain instruksional berfungsi sebagai jembatan
antara teori pembelajaran dan praktik pedagogis.
6.2.
Prinsip Backward Design dan
Keterpaduan Pembelajaran
Salah satu pendekatan desain yang sejalan dengan
learning science adalah backward design. Pendekatan ini menekankan
perancangan pembelajaran yang dimulai dari penentuan tujuan belajar yang jelas,
diikuti dengan perancangan evaluasi, dan diakhiri dengan penyusunan aktivitas
pembelajaran.³
Pendekatan ini memastikan adanya alignment
antara tujuan, proses, dan penilaian, sehingga pembelajaran tidak
terfragmentasi. Dalam perspektif learning science, keterpaduan ini penting
karena membantu peserta didik membangun pemahaman konseptual yang terstruktur
dan bermakna. Pembelajaran yang tidak selaras berpotensi menimbulkan beban
kognitif yang tidak perlu dan menghambat proses belajar.⁴
6.3.
Model dan Pendekatan Pembelajaran
Berbasis Learning Science
Learning science mendukung berbagai model
pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pembelajar aktif. Problem-Based
Learning (PBL), misalnya, mendorong peserta didik untuk membangun
pengetahuan melalui pemecahan masalah autentik. Model ini terbukti mampu
meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan transfer pengetahuan.⁵
Pendekatan Inquiry-Based Learning menekankan
proses bertanya, menyelidiki, dan menemukan, sehingga selaras dengan prinsip
konstruktivisme dan metakognisi.⁶ Sementara itu, flipped classroom
memanfaatkan waktu kelas untuk aktivitas bermakna, seperti diskusi dan
penerapan konsep, sedangkan penyampaian materi dasar dilakukan secara mandiri
di luar kelas.⁷
Selain itu, konsep mastery learning
menegaskan bahwa hampir semua peserta didik dapat mencapai penguasaan tinggi
jika diberikan waktu, umpan balik, dan dukungan yang memadai. Pendekatan ini
mencerminkan keyakinan learning science terhadap potensi belajar setiap
individu.⁸
6.4.
Evaluasi sebagai Bagian dari Proses
Pembelajaran
Dalam desain instruksional berbasis learning
science, evaluasi tidak hanya berfungsi sebagai alat pengukuran hasil belajar,
tetapi juga sebagai sarana pembelajaran itu sendiri. Formative assessment
digunakan untuk memantau perkembangan belajar dan memberikan umpan balik yang
berkelanjutan.⁹
Learning science menekankan bahwa evaluasi yang
efektif harus selaras dengan tujuan belajar dan mendorong retrieval practice.
Dengan demikian, evaluasi berkontribusi langsung terhadap penguatan memori dan
pemahaman konseptual. Pendekatan ini menggeser paradigma evaluasi dari sekadar
penilaian sumatif menuju assessment for learning.¹⁰
6.5.
Peran Pendidik dalam Desain
Instruksional Berbasis Learning Science
Dalam kerangka learning science, peran pendidik
tidak terbatas pada penyampai informasi, melainkan sebagai perancang pengalaman
belajar (learning designer). Pendidik dituntut memiliki pemahaman
tentang prinsip-prinsip pembelajaran serta kemampuan merefleksikan praktik
pengajarannya berdasarkan bukti empiris.¹¹
Pendidik juga berperan dalam menciptakan lingkungan
belajar yang mendukung keterlibatan kognitif dan emosional peserta didik.
Dengan demikian, desain instruksional berbasis learning science menuntut
profesionalisme pendidik yang adaptif, reflektif, dan berorientasi pada
pembelajaran bermakna.
Footnotes
[1]
Walter Dick, Lou Carey, and James O. Carey, The
Systematic Design of Instruction, 7th ed. (Boston: Pearson, 2009), 1–3.
[2]
Richard E. Mayer, Multimedia Learning, 2nd
ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2009), 5–7.
[3]
Grant Wiggins and Jay McTighe, Understanding by
Design, 2nd ed. (Alexandria, VA: ASCD, 2005), 13–15.
[4]
John Sweller, Paul Ayres, and Slava Kalyuga, Cognitive
Load Theory (New York: Springer, 2011), 55–58.
[5]
Howard S. Barrows, “Problem-Based Learning in
Medicine and Beyond,” New Directions for Teaching and Learning 68
(1996): 3–5.
[6]
John Dewey, Experience and Education (New
York: Macmillan, 1938), 79–81.
[7]
Jonathan Bergmann and Aaron Sams, Flip Your
Classroom (Washington, DC: International Society for Technology in
Education, 2012), 23–26.
[8]
Benjamin S. Bloom, “The 2 Sigma Problem,” Educational
Researcher 13, no. 6 (1984): 4–7.
[9]
Dylan Wiliam, Embedded Formative Assessment
(Bloomington, IN: Solution Tree Press, 2011), 33–35.
[10]
Paul Black and Dylan Wiliam, “Assessment and
Classroom Learning,” Assessment in Education 5, no. 1 (1998): 7–10.
[11]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
23–26.
7.
Teknologi, Data,
dan Learning Science
7.1.
Teknologi Digital dalam Pembelajaran
Perkembangan teknologi digital telah memberikan
pengaruh signifikan terhadap praktik pembelajaran modern. Dalam perspektif
learning science, teknologi tidak dipahami sebagai tujuan, melainkan sebagai
sarana untuk mendukung proses belajar yang selaras dengan cara kerja kognisi
manusia.¹ Penggunaan teknologi yang tidak berlandaskan prinsip pembelajaran
justru berpotensi menambah beban kognitif dan menghambat pemahaman.
Platform pembelajaran daring, learning
management systems (LMS), dan media interaktif memungkinkan fleksibilitas
waktu dan tempat belajar. Namun, efektivitas teknologi tersebut sangat
bergantung pada desain instruksional yang mendasarinya. Learning science
menegaskan bahwa teknologi harus digunakan untuk memperkuat keterlibatan aktif,
memberikan umpan balik bermakna, serta memfasilitasi latihan pengambilan
kembali informasi.²
7.2.
Pembelajaran Daring dan Blended
Learning
Pembelajaran daring (online learning) dan blended
learning merupakan dua bentuk pemanfaatan teknologi yang banyak dikaji
dalam learning science. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran daring dapat
setara efektivitasnya dengan pembelajaran tatap muka apabila dirancang dengan
baik dan berorientasi pada aktivitas kognitif yang bermakna.³
Model blended learning menggabungkan
keunggulan pembelajaran tatap muka dan daring, sehingga memungkinkan
optimalisasi waktu kelas untuk diskusi, kolaborasi, dan penerapan konsep. Dalam
kerangka learning science, model ini dianggap efektif karena memanfaatkan
prinsip flipped classroom dan pembelajaran aktif.⁴
7.3.
Learning Analytics dan Pemanfaatan
Data Pembelajaran
Learning analytics merupakan bidang yang
memanfaatkan data pembelajaran untuk memahami dan meningkatkan proses belajar.
Data yang dikumpulkan dari aktivitas peserta didik—seperti interaksi dengan
materi, hasil evaluasi, dan pola belajar—dapat dianalisis untuk
mengidentifikasi kebutuhan belajar dan kesulitan yang dihadapi.⁵
Dalam perspektif learning science, penggunaan data
harus diarahkan untuk mendukung pembelajaran adaptif dan personalisasi belajar,
bukan semata-mata untuk pengawasan atau penilaian administratif. Analisis data
yang tepat dapat membantu pendidik merancang intervensi yang lebih responsif
terhadap kebutuhan individu peserta didik.⁶
7.4.
Kecerdasan Buatan dan Sistem
Pembelajaran Adaptif
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)
semakin berperan dalam pengembangan sistem pembelajaran adaptif dan intelligent
tutoring systems. Sistem ini dirancang untuk menyesuaikan materi, tingkat
kesulitan, dan umpan balik berdasarkan kinerja dan kebutuhan peserta didik.⁷
Learning science memberikan kerangka teoretis untuk
memastikan bahwa penerapan AI tetap berfokus pada pembelajaran bermakna, bukan
sekadar otomatisasi. Integrasi AI yang efektif memerlukan pemahaman tentang
prinsip kognitif, motivasi, dan metakognisi. Tanpa kerangka ini, teknologi
berisiko memperkuat pendekatan pembelajaran yang dangkal dan mekanistik.⁸
7.5.
Tantangan Etika dan Keterbatasan
Teknologi
Meskipun menawarkan potensi besar, pemanfaatan
teknologi dan data dalam pembelajaran juga menghadirkan tantangan etika dan
metodologis. Isu privasi data, keamanan informasi, dan kesenjangan akses
teknologi menjadi perhatian penting dalam kajian learning science.⁹
Selain itu, terdapat risiko technological
determinism, yaitu anggapan bahwa teknologi secara otomatis akan
meningkatkan kualitas pembelajaran. Learning science menolak pandangan ini dan
menegaskan bahwa kualitas pembelajaran tetap bergantung pada desain pedagogis
dan interaksi manusiawi.¹⁰ Oleh karena itu, pendekatan kritis dan reflektif
diperlukan agar teknologi benar-benar berkontribusi pada tujuan pendidikan.
Footnotes
[1]
Neil Selwyn, Education and Technology: Key
Issues and Debates (London: Bloomsbury, 2016), 15–18.
[2]
Richard E. Mayer, Multimedia Learning, 2nd
ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2009), 3–6.
[3]
Bernard R. Means et al., Evaluation of
Evidence-Based Practices in Online Learning (Washington, DC: U.S.
Department of Education, 2010), ix–xi.
[4]
Anthony G. Picciano, Blended Learning: Research
Perspectives (New York: Routledge, 2014), 7–10.
[5]
George Siemens and Dragan Gašević, “Learning
Analytics,” Journal of Educational Technology & Society 15, no. 3
(2012): 1–2.
[6]
Rebecca Ferguson, “Learning Analytics: Drivers,
Developments and Challenges,” International Journal of Technology Enhanced
Learning 4, no. 5–6 (2012): 304–306.
[7]
Beverly Park Woolf, Building Intelligent
Interactive Tutors (San Francisco: Morgan Kaufmann, 2009), 19–22.
[8]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
30–33.
[9]
Ben Williamson, Big Data in Education
(London: SAGE, 2017), 58–61.
[10]
Selwyn, Education and Technology, 52–55.
8.
Implikasi Learning
Science dalam Praktik Pendidikan
8.1.
Implikasi bagi Peran Guru dan Dosen
Learning science membawa perubahan mendasar
terhadap peran guru dan dosen dalam praktik pendidikan. Pendidik tidak lagi
diposisikan semata sebagai penyampai informasi, melainkan sebagai perancang
pengalaman belajar (designer of learning experiences).¹ Peran ini
menuntut pemahaman tentang bagaimana peserta didik belajar, termasuk
keterbatasan kognitif, pentingnya keterlibatan aktif, serta peran motivasi dan
emosi dalam pembelajaran.
Dalam kerangka learning science, guru dan dosen
dituntut untuk merancang aktivitas belajar yang mendorong pemahaman konseptual,
refleksi, dan transfer pengetahuan. Hal ini mencakup penggunaan strategi
seperti pertanyaan tingkat tinggi, diskusi terstruktur, dan evaluasi formatif.²
Dengan demikian, kompetensi pedagogis pendidik tidak hanya diukur dari
penguasaan materi, tetapi juga dari kemampuannya menerjemahkan prinsip
pembelajaran berbasis bukti ke dalam praktik kelas.
8.2.
Implikasi bagi Peserta Didik sebagai
Subjek Pembelajaran
Learning science menempatkan peserta didik sebagai
agen aktif dalam proses belajar. Implikasi penting dari pendekatan ini adalah
perlunya pengembangan keterampilan belajar mandiri (self-regulated learning)
dan metakognisi. Peserta didik didorong untuk memahami cara belajar yang
efektif, memantau kemajuan belajarnya, serta merefleksikan strategi yang
digunakan.³
Pendekatan ini juga menggeser orientasi belajar
dari sekadar pencapaian nilai menuju penguasaan pemahaman dan kompetensi jangka
panjang. Dengan memahami prinsip-prinsip learning science, peserta didik dapat
menghindari strategi belajar yang keliru—seperti menghafal secara dangkal—dan
menggantinya dengan strategi yang terbukti efektif secara empiris.⁴
8.3.
Implikasi bagi Kurikulum dan Desain
Pembelajaran
Dalam konteks kurikulum, learning science menuntut
pergeseran dari kurikulum yang padat konten menuju kurikulum yang berorientasi
pada pemahaman mendalam dan keterkaitan konsep. Kurikulum perlu dirancang
dengan mempertimbangkan beban kognitif, urutan konsep yang logis, serta
kesempatan untuk latihan dan penguatan secara bertahap.⁵
Learning science juga mendorong penggunaan desain
kurikulum yang fleksibel dan adaptif, sehingga dapat menyesuaikan dengan
kebutuhan peserta didik dan konteks pembelajaran. Integrasi evaluasi formatif
dalam kurikulum menjadi elemen penting untuk memastikan bahwa proses belajar
berjalan secara efektif dan berkelanjutan.⁶
8.4.
Implikasi bagi Kebijakan dan Sistem
Pendidikan
Pada level kebijakan, learning science memberikan
dasar ilmiah bagi pengambilan keputusan dalam pendidikan. Kebijakan pendidikan
yang tidak didukung oleh bukti empiris berisiko menghasilkan praktik yang tidak
efektif atau bahkan kontraproduktif.⁷ Oleh karena itu, learning science
mendorong kebijakan berbasis riset (evidence-informed policy) yang mempertimbangkan
temuan ilmiah tentang pembelajaran manusia.
Implikasi lainnya adalah perlunya investasi dalam
pengembangan profesional pendidik, penyediaan waktu belajar yang memadai, serta
evaluasi sistem pendidikan yang tidak semata-mata berorientasi pada tes
berisiko tinggi (high-stakes testing). Learning science menekankan bahwa
kualitas pembelajaran tidak dapat direduksi menjadi skor tes semata.⁸
8.5.
Implikasi bagi Pendidikan Sepanjang
Hayat
Learning science juga relevan dalam konteks
pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning). Di tengah perubahan
sosial dan teknologi yang cepat, individu dituntut untuk terus belajar dan
beradaptasi. Learning science memberikan kerangka untuk memahami bagaimana
orang dewasa belajar, mengelola motivasi, dan mengembangkan keterampilan baru
secara berkelanjutan.⁹
Dengan demikian, implikasi learning science
melampaui pendidikan formal dan mencakup pembelajaran di tempat kerja,
komunitas, dan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memperkuat pandangan bahwa
belajar merupakan proses berkelanjutan yang dapat dirancang, difasilitasi, dan
ditingkatkan sepanjang rentang kehidupan manusia.¹⁰
Footnotes
[1]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
19–22.
[2]
John Hattie, Visible Learning (London:
Routledge, 2009), 25–28.
[3]
Barry J. Zimmerman, “Becoming a Self-Regulated
Learner,” Theory Into Practice 41, no. 2 (2002): 64–67.
[4]
Paul A. Kirschner and Carl Hendrick, How
Learning Happens (London: Routledge, 2020), 15–18.
[5]
John Sweller, Paul Ayres, and Slava Kalyuga, Cognitive
Load Theory (New York: Springer, 2011), 73–76.
[6]
Dylan Wiliam, Embedded Formative Assessment
(Bloomington, IN: Solution Tree Press, 2011), 41–44.
[7]
OECD, Education at a Glance (Paris: OECD
Publishing, 2019), 11–14.
[8]
David Berliner, “High-Stakes Testing,” Educational
Policy 25, no. 1 (2011): 5–7.
[9]
Knud Illeris, How We Learn (London:
Routledge, 2007), 193–196.
[10]
Peter Jarvis, Adult Education and Lifelong
Learning (London: Routledge, 2004), 87–90.
9.
Kritik, Batasan,
dan Arah Penelitian Masa Depan
9.1.
Kritik terhadap Learning Science
Meskipun learning science telah memberikan
kontribusi signifikan terhadap pemahaman pembelajaran manusia, bidang ini tidak
luput dari kritik. Salah satu kritik utama berkaitan dengan kecenderungan
generalisasi temuan empiris yang diperoleh dari konteks terbatas, seperti
eksperimen laboratorium atau lingkungan pendidikan tertentu, ke dalam konteks
pendidikan yang lebih luas dan beragam.¹ Temuan yang valid secara internal
belum tentu memiliki validitas eksternal yang tinggi ketika diterapkan pada
konteks sosial, budaya, dan institusional yang berbeda.
Kritik lainnya menyasar kecenderungan
reduksionisme, terutama ketika learning science terlalu menekankan aspek
kognitif dan biologis pembelajaran, sementara dimensi moral, nilai, dan makna
hidup kurang mendapat perhatian.² Pembelajaran sebagai fenomena manusiawi tidak
hanya berkaitan dengan efisiensi kognitif, tetapi juga dengan pembentukan karakter,
identitas, dan orientasi nilai.
Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa learning
science dapat disalahpahami sebagai “resep universal” pembelajaran yang
bersifat teknokratis. Pandangan semacam ini berisiko mengabaikan peran
kebijaksanaan pedagogis (pedagogical judgment) dan relasi manusiawi
dalam pendidikan.³ Oleh karena itu, diperlukan sikap kritis dalam mengadopsi
temuan learning science agar tidak terjebak pada simplifikasi yang berlebihan.
9.2.
Batasan Metodologis dan Konseptual
Learning science menghadapi sejumlah batasan
metodologis yang perlu diakui secara terbuka. Salah satunya adalah keterbatasan
dalam mengukur proses belajar yang kompleks dan dinamis. Banyak aspek
pembelajaran—seperti pemahaman mendalam, motivasi intrinsik, dan refleksi—sulit
diukur secara kuantitatif dengan instrumen standar.⁴
Selain itu, integrasi berbagai disiplin dalam
learning science juga menghadirkan tantangan konseptual. Perbedaan paradigma,
metode, dan terminologi antarbidang dapat menimbulkan ketegangan teoretis.⁵
Tanpa kerangka konseptual yang jelas, pendekatan interdisipliner berisiko
menjadi eklektik tanpa koherensi.
Batasan lain berkaitan dengan penerjemahan temuan
riset ke dalam praktik pendidikan. Tidak semua hasil penelitian dapat
diterapkan secara langsung di ruang kelas karena keterbatasan sumber daya,
waktu, dan konteks institusional.⁶ Oleh karena itu, learning science menuntut
pendekatan adaptif dan reflektif dalam implementasinya.
9.3.
Isu Konteks Budaya dan Nilai
Konteks budaya dan nilai merupakan aspek penting
yang sering menjadi sorotan dalam kritik terhadap learning science. Banyak
penelitian dilakukan dalam konteks pendidikan Barat, sehingga asumsi-asumsi
yang mendasarinya belum tentu sesuai dengan konteks budaya lain.⁷
Learning science perlu lebih peka terhadap
keragaman budaya, bahasa, dan nilai moral dalam memahami proses belajar.
Pendekatan yang mengabaikan dimensi ini berpotensi menghasilkan praktik
pembelajaran yang tidak relevan atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai
lokal. Oleh karena itu, pengembangan learning science yang kontekstual dan
inklusif menjadi agenda penting ke depan.⁸
9.4.
Arah Penelitian Masa Depan
Ke depan, penelitian learning science perlu
mengarah pada integrasi yang lebih seimbang antara aspek kognitif, emosional,
sosial, dan nilai dalam pembelajaran. Penelitian lintas budaya dan lintas
konteks pendidikan menjadi penting untuk memperkuat validitas eksternal
temuan-temuan learning science.⁹
Selain itu, perkembangan teknologi dan kecerdasan
buatan membuka peluang penelitian baru terkait personalisasi pembelajaran dan
pembelajaran adaptif. Namun, penelitian di bidang ini perlu disertai kajian
etis yang mendalam agar pemanfaatan teknologi tidak mengorbankan aspek
kemanusiaan dalam pendidikan.¹⁰
Arah penelitian masa depan juga mencakup penguatan
kolaborasi antara peneliti dan praktisi pendidikan. Pendekatan design-based
research dapat menjadi jembatan antara teori dan praktik, sehingga learning
science tidak hanya berkembang sebagai disiplin akademik, tetapi juga sebagai
sarana transformasi pendidikan yang berkelanjutan.
Footnotes
[1]
Daniel T. Willingham, Why Don’t Students Like
School? (San Francisco: Jossey-Bass, 2009), 6–9.
[2]
Gert Biesta, Good Education in an Age of
Measurement (Boulder, CO: Paradigm Publishers, 2010), 19–22.
[3]
Philip W. Jackson, Life in Classrooms (New
York: Teachers College Press, 1990), 3–5.
[4]
John Hattie and Gregory C. R. Yates, Visible
Learning and the Science of How We Learn (London: Routledge, 2014), 12–14.
[5]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
40–43.
[6]
Dylan Wiliam, Embedded Formative Assessment
(Bloomington, IN: Solution Tree Press, 2011), 65–67.
[7]
James Paul Gee, Social Linguistics and
Literacies (London: Routledge, 2012), 29–32.
[8]
Knud Illeris, How We Learn (London:
Routledge, 2007), 207–210.
[9]
OECD, Innovating Education and Educating for
Innovation (Paris: OECD Publishing, 2016), 22–25.
[10]
Ben Williamson, Big Data in Education
(London: SAGE, 2017), 97–100.
10. Penutup
10.1.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa learning science merupakan bidang kajian
interdisipliner yang berupaya memahami proses belajar manusia secara ilmiah, komprehensif,
dan berbasis bukti empiris. Learning science mengintegrasikan temuan dari
psikologi kognitif, neurosains, ilmu pendidikan, serta teknologi pembelajaran
untuk menjelaskan bagaimana manusia memperoleh, mengolah, dan mentransfer
pengetahuan secara efektif.¹
Kajian ini menunjukkan bahwa belajar bukanlah
proses pasif, melainkan aktivitas aktif yang melibatkan interaksi kompleks
antara kognisi, emosi, motivasi, konteks sosial, dan mekanisme biologis otak.
Prinsip-prinsip utama learning science—seperti pembelajaran aktif, retrieval
practice, spaced learning, umpan balik yang bermakna, serta
pembelajaran berorientasi transfer—memberikan landasan ilmiah yang kuat bagi
perancangan pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan.²
Selain itu, learning science menegaskan bahwa
desain instruksional, pemanfaatan teknologi, dan kebijakan pendidikan harus
diselaraskan dengan cara kerja belajar manusia, bukan sekadar didorong oleh
tradisi, intuisi, atau tuntutan administratif. Dengan demikian, learning
science berkontribusi dalam menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan
dan praktik pembelajaran di lapangan.
10.2.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan dan analisis dalam kajian ini,
beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, pendidik dan perancang kurikulum
disarankan untuk mengadopsi pendekatan pembelajaran yang selaras dengan
prinsip-prinsip learning science, dengan tetap mempertimbangkan konteks sosial,
budaya, dan nilai yang melingkupi peserta didik.³
Kedua, lembaga pendidikan dan pembuat kebijakan
perlu mendorong pengambilan keputusan berbasis riset (evidence-informed
decision making) dalam pengembangan kurikulum, evaluasi pembelajaran, dan
pelatihan pendidik. Investasi dalam pengembangan profesional guru dan dosen
menjadi kunci agar temuan learning science dapat diterjemahkan secara tepat ke
dalam praktik pendidikan.⁴
Ketiga, penelitian lanjutan di bidang learning
science perlu diarahkan pada penguatan kajian kontekstual dan lintas budaya,
serta integrasi dimensi etika, nilai, dan kemanusiaan dalam pembelajaran. Pendekatan
ini penting agar learning science tidak hanya berkontribusi pada efektivitas
pembelajaran, tetapi juga pada pembentukan manusia yang utuh.⁵
10.3.
Refleksi Akademik
Sebagai bidang yang terus berkembang, learning
science tidak menawarkan jawaban final atau metode pembelajaran yang bersifat
universal. Sebaliknya, learning science menuntut sikap ilmiah yang terbuka,
reflektif, dan kritis terhadap setiap klaim pedagogis.⁶
Refleksi akademik ini menegaskan bahwa kekuatan
learning science terletak pada kemampuannya untuk terus diperbarui melalui
dialog antara teori, riset empiris, dan praktik pendidikan. Dengan sikap
tersebut, learning science dapat berfungsi sebagai kerangka ilmiah yang dinamis
untuk memahami pembelajaran manusia secara lebih mendalam dan bermakna, serta
berkontribusi pada pengembangan pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan,
nilai, dan keberlanjutan.
Footnotes
[1]
R. Keith Sawyer, The Cambridge Handbook of the
Learning Sciences, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2014),
1–6.
[2]
John Dunlosky et al., “Improving Students’ Learning
With Effective Learning Techniques,” Psychological Science in the Public
Interest 14, no. 1 (2013): 4–6.
[3]
Knud Illeris, How We Learn (London:
Routledge, 2007), 210–213.
[4]
OECD, The Future of Education and Skills:
Education 2030 (Paris: OECD Publishing, 2018), 12–15.
[5]
Gert Biesta, Good Education in an Age of
Measurement (Boulder, CO: Paradigm Publishers, 2010), 105–108.
[6]
Daniel T. Willingham, “Why Don’t Students Like
School?” (San Francisco: Jossey-Bass, 2009), 183–186.
Daftar
Pustaka
Baddeley, A. (1986). Working memory. Oxford
University Press.
Barrows, H. S. (1996). Problem-based learning in
medicine and beyond: A brief overview. New Directions for Teaching and
Learning, 1996(68), 3–12. https://doi.org/
Berliner, D. (2011). High-stakes testing. Educational
Policy, 25(1), 5–20. https://doi.org/
Bergmann, J., & Sams, A. (2012). Flip your
classroom: Reach every student in every class every day. International
Society for Technology in Education.
Biesta, G. (2010). Good education in an age of
measurement: Ethics, politics, democracy. Paradigm Publishers.
Bjork, R. A., & Bjork, E. L. (2011). Making
things hard on yourself, but in a good way: Creating desirable difficulties to
enhance learning. In M. A. Gernsbacher et al. (Eds.), Psychology and the
real world (pp. 56–64). Worth Publishers.
Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and
classroom learning. Assessment in Education: Principles, Policy &
Practice, 5(1), 7–74. https://doi.org/
Bloom, B. S. (1984). The 2 sigma problem: The
search for methods of group instruction as effective as one-to-one tutoring. Educational
Researcher, 13(6), 4–16. https://doi.org/
Bransford, J. D., Brown, A. L., & Cocking, R.
R. (2000). How people learn: Brain, mind, experience, and school.
National Academy Press.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what”
and “why” of goal pursuits. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/
Dewey, J. (1938). Experience and education.
Macmillan.
Dick, W., Carey, L., & Carey, J. O. (2009). The
systematic design of instruction (7th ed.). Pearson.
Doidge, N. (2007). The brain that changes itself.
Viking.
Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh, E. J., Nathan,
M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving students’ learning with
effective learning techniques. Psychological Science in the Public Interest,
14(1), 4–58. https://doi.org/
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology
of success. Random House.
Ferguson, R. (2012). Learning analytics: Drivers,
developments and challenges. International Journal of Technology Enhanced
Learning, 4(5–6), 304–317. https://
Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive
monitoring. American Psychologist, 34(10), 906–911. https://doi.org/
Gee, J. P. (2003). What video games have to
teach us about learning and literacy. Palgrave Macmillan.
Gee, J. P. (2012). Social linguistics and
literacies (4th ed.). Routledge.
Glasersfeld, E. von. (1995). Radical
constructivism: A way of knowing and learning. Falmer Press.
Gluck, M. A., Mercado, E., & Myers, C. E.
(2014). Learning and memory: From brain to behavior (2nd ed.). Worth
Publishers.
Hattie, J. (2009). Visible learning: A synthesis
of over 800 meta-analyses relating to achievement. Routledge.
Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power
of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112. https://doi.org/
Hattie, J., & Yates, G. C. R. (2014). Visible
learning and the science of how we learn. Routledge.
Howard-Jones, P. A. (2010). Introducing
neuroeducational research. Routledge.
Illeris, K. (2007). How we learn: Learning and
non-learning in school and beyond. Routledge.
Jackson, P. W. (1990). Life in classrooms.
Teachers College Press.
Jarvis, P. (2004). Adult education and lifelong
learning (3rd ed.). Routledge.
Kandel, E. R., Schwartz, J. H., Jessell, T. M.,
Siegelbaum, S., & Hudspeth, A. J. (2013). Principles of neural science
(5th ed.). McGraw-Hill.
Kirschner, P. A., & Hendrick, C. (2020). How
learning happens. Routledge.
LeDoux, J. E. (1996). The emotional brain.
Simon & Schuster.
Mayer, R. E. (2008). Learning and instruction
(2nd ed.). Pearson.
Mayer, R. E. (2009). Multimedia learning
(2nd ed.). Cambridge University Press.
Mazur, E. (1997). Peer instruction: A user’s
manual. Prentice Hall.
McEwen, B. S. (2007). Stress and the brain. Dialogues
in Clinical Neuroscience, 9(4), 445–450.
Means, B., Toyama, Y., Murphy, R., Bakia, M., &
Jones, K. (2010). Evaluation of evidence-based practices in online learning.
U.S. Department of Education.
Neisser, U. (1967). Cognitive psychology.
Appleton-Century-Crofts.
OECD. (2016). Innovating education and educating
for innovation. OECD Publishing.
OECD. (2018). The future of education and
skills: Education 2030. OECD Publishing.
OECD. (2019). Education at a glance. OECD
Publishing.
Paivio, A. (1986). Mental representations: A
dual coding approach. Oxford University Press.
Perkins, D. N. (2009). Making learning whole.
Jossey-Bass.
Picciano, A. G. (2014). Blended learning:
Research perspectives. Routledge.
Prince, M. (2004). Does active learning work? Journal
of Engineering Education, 93(3), 223–231. https://doi.org/
Roediger, H. L., III, & Karpicke, J. D. (2006).
Test-enhanced learning. Psychological Science, 17(3), 249–255. https://doi.org/
Rohrer, D., & Taylor, K. (2006). The effects of
overlearning and distributed practice. Applied Cognitive Psychology,
20(4), 481–498. https://doi.org/
Sawyer, R. K. (2014). The Cambridge handbook of
the learning sciences (2nd ed.). Cambridge University Press.
Selwyn, N. (2016). Education and technology: Key
issues and debates. Bloomsbury.
Siemens, G., & Gašević, D. (2012). Learning
analytics. Journal of Educational Technology & Society, 15(3), 1–2.
Skinner, B. F. (1953). Science and human
behavior. Free Press.
Squire, L. R., & Kandel, E. R. (1999). Memory:
From mind to molecules. Scientific American Library.
Sweller, J., Ayres, P., & Kalyuga, S. (2011). Cognitive
load theory. Springer.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society.
Harvard University Press.
Wiggins, G., & McTighe, J. (2005). Understanding
by design (2nd ed.). ASCD.
Wiliam, D. (2011). Embedded formative assessment.
Solution Tree Press.
Willingham, D. T. (2009). Why don’t students
like school? Jossey-Bass.
Williamson, B. (2017). Big data in education.
SAGE.
Woolf, B. P. (2009). Building intelligent
interactive tutors. Morgan Kaufmann.
Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated
learner. Theory Into Practice, 41(2), 64–70. https://doi.org/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar