Minggu, 22 Februari 2026

Netralitas Uang: Analisis Konseptual, Historis, dan Empiris

Netralitas Uang

Analisis Konseptual, Historis, dan Empiris


Alihkan ke: Ilmu Ekonomi.


Abstrak

Artikel ini mengkaji konsep netralitas uang (neutrality of money) dalam kerangka ekonomi makro melalui pendekatan teoretis, historis, dan empiris. Tujuan utama kajian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana perubahan jumlah uang beredar memengaruhi variabel nominal dan variabel riil, serta menilai validitas konsep netralitas uang dalam konteks perekonomian modern. Secara teoretis, artikel ini menelusuri akar pemikiran netralitas uang dalam tradisi ekonomi klasik, kritik Keynesian, serta perkembangan lanjutan dalam monetarisme, ekonomi klasik baru, dan pendekatan New Keynesian. Selanjutnya, kajian ini membedakan implikasi netralitas uang dalam jangka pendek dan jangka panjang dengan menekankan peran rigiditas harga, ekspektasi, dan mekanisme transmisi kebijakan moneter.

Dari sisi empiris, artikel ini mensintesis temuan-temuan utama dari studi lintas negara yang menunjukkan bahwa uang cenderung bersifat netral dalam jangka panjang, terutama di negara dengan institusi moneter yang stabil dan kredibel, tetapi bersifat tidak netral dalam jangka pendek dan dalam konteks negara berkembang. Analisis ini kemudian dikaitkan dengan implikasi kebijakan moneter, khususnya mengenai batas efektivitas kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan riil dan pentingnya fokus pada stabilitas harga. Artikel ini menyimpulkan bahwa netralitas uang bukanlah hukum ekonomi yang universal, melainkan hipotesis teoretis yang bersifat relatif, kontekstual, dan terbuka terhadap pengujian empiris serta pengembangan konseptual lanjutan.

Kata kunci: netralitas uang; kebijakan moneter; variabel nominal; variabel riil; inflasi; ekonomi makro.


PEMBAHASAN

Netralitas Uang dalam Teori dan Praktik Ekonomi Makro


1.           BAB I PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah

Uang merupakan salah satu institusi fundamental dalam sistem ekonomi modern. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, satuan hitung, dan penyimpan nilai, tetapi juga memainkan peran strategis dalam menentukan stabilitas makroekonomi, tingkat inflasi, serta efektivitas kebijakan publik. Dalam kerangka ekonomi makro, perdebatan mengenai sejauh mana uang memengaruhi aktivitas ekonomi riil telah melahirkan salah satu konsep paling klasik sekaligus kontroversial, yakni netralitas uang (neutrality of money).

Konsep netralitas uang berangkat dari pandangan bahwa perubahan jumlah uang beredar hanya berdampak pada variabel nominal—seperti tingkat harga dan upah nominal—tanpa memengaruhi variabel riil seperti output, tingkat produksi, dan kesempatan kerja, setidaknya dalam jangka panjang. Gagasan ini berakar kuat dalam tradisi ekonomi klasik yang memandang uang sekadar sebagai veil, yakni selubung yang menutupi transaksi riil tanpa mengubah struktur fundamental perekonomian.¹ Dalam perspektif ini, sektor riil ditentukan oleh faktor-faktor non-moneter seperti teknologi, tenaga kerja, dan modal, sementara uang hanya menyesuaikan diri untuk memfasilitasi pertukaran.

Namun demikian, perkembangan pemikiran ekonomi selanjutnya menunjukkan bahwa asumsi netralitas uang tidak selalu sejalan dengan realitas empiris. Krisis ekonomi, fluktuasi siklus bisnis, serta intervensi kebijakan moneter yang agresif sering kali memperlihatkan bahwa perubahan jumlah uang beredar dapat memengaruhi output dan tingkat pengangguran, terutama dalam jangka pendek.² Pandangan ini menjadi dasar kritik utama aliran Keynesian terhadap ekonomi klasik, yang menekankan adanya rigiditas harga dan upah serta ketidaksempurnaan pasar yang menyebabkan uang bersifat tidak netral dalam kondisi tertentu.³

Perdebatan tersebut semakin kompleks dengan munculnya aliran monetaris dan ekonomi klasik baru (new classical economics). Monetarisme, sebagaimana dirumuskan oleh Milton Friedman, menerima gagasan bahwa uang bersifat netral dalam jangka panjang, tetapi menegaskan bahwa dalam jangka pendek perubahan moneter dapat menimbulkan efek riil akibat keterlambatan penyesuaian ekspektasi dan harga.⁴ Sementara itu, pendekatan klasik baru dengan asumsi ekspektasi rasional berupaya memulihkan netralitas uang melalui argumen bahwa hanya kebijakan moneter yang tidak terantisipasi yang dapat memengaruhi variabel riil.⁵

Dalam konteks ekonomi kontemporer, diskursus mengenai netralitas uang tetap relevan, khususnya di tengah kebijakan pelonggaran moneter, inflasi global, serta dinamika ekonomi negara berkembang yang ditandai oleh ketergantungan tinggi terhadap likuiditas. Fakta bahwa banyak negara mengalami inflasi tanpa pertumbuhan riil yang sepadan menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah uang benar-benar netral, ataukah sifat netralitasnya bersifat kontekstual dan relatif terhadap kondisi institusional tertentu?

Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian mengenai netralitas uang tidak hanya penting secara teoretis, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi perumusan dan evaluasi kebijakan moneter. Oleh karena itu, diperlukan pembahasan yang sistematis, historis, dan empiris guna memahami batas-batas validitas konsep netralitas uang dalam perekonomian modern.

1.2.       Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, permasalahan utama yang dikaji dalam artikel ini dirumuskan sebagai berikut:

1)      Apa yang dimaksud dengan konsep netralitas uang dalam teori ekonomi makro?

2)      Bagaimana perkembangan historis pemikiran mengenai netralitas uang dari ekonomi klasik hingga pendekatan kontemporer?

3)      Dalam kondisi apa uang bersifat netral dan tidak netral terhadap variabel riil?

4)      Sejauh mana bukti empiris mendukung atau menolak hipotesis netralitas uang?

5)      Apa implikasi konsep netralitas uang terhadap kebijakan moneter modern?

1.3.       Tujuan dan Manfaat Kajian

Kajian ini bertujuan untuk:

1)      Menjelaskan konsep dan asumsi dasar netralitas uang secara sistematis.

2)      Menganalisis perdebatan teoretis lintas aliran ekonomi mengenai netralitas uang.

3)      Mengkaji bukti empiris terkait pengaruh uang terhadap variabel riil.

4)      Menilai implikasi kebijakan moneter berdasarkan validitas relatif konsep netralitas uang.

Adapun manfaat kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan teori ekonomi makro, sekaligus menjadi rujukan konseptual bagi pembuat kebijakan dalam merancang kebijakan moneter yang lebih efektif dan kontekstual.

1.4.       Ruang Lingkup dan Batasan Kajian

Pembahasan dalam artikel ini difokuskan pada netralitas uang dalam kerangka ekonomi makro, dengan penekanan pada perbandingan antara jangka pendek dan jangka panjang. Kajian ini tidak secara rinci membahas aspek mikroekonomi uang maupun instrumen teknis kebijakan moneter, kecuali sejauh relevan dengan analisis teoretis dan empiris netralitas uang. Selain itu, pembahasan dibatasi pada literatur arus utama ekonomi makro, dengan kesadaran bahwa pendekatan alternatif dapat memberikan perspektif tambahan yang berharga.


Footnotes

1.      David Hume, Of Money, dalam Political Discourses (Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).

2.      N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York: Worth Publishers, 2019), 275–278.

3.      John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.

4.      Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.

5.      Robert E. Lucas Jr., “Expectations and the Neutrality of Money,” Journal of Economic Theory 4, no. 2 (1972): 103–124.


2.           BAB II LANDASAN TEORETIS DAN KONSEPTUAL

2.1.       Pengertian dan Konsep Dasar Netralitas Uang

Netralitas uang (neutrality of money) merupakan salah satu konsep fundamental dalam teori ekonomi makro yang menjelaskan hubungan antara sektor moneter dan sektor riil. Secara umum, netralitas uang merujuk pada kondisi di mana perubahan jumlah uang beredar hanya memengaruhi variabel nominal—seperti tingkat harga, upah nominal, dan nilai tukar nominal—tanpa menimbulkan dampak terhadap variabel riil seperti output, konsumsi, investasi, dan kesempatan kerja.¹ Dengan demikian, uang dipandang tidak memiliki kekuatan kausal terhadap struktur riil perekonomian.

Konsep ini erat kaitannya dengan gagasan classical dichotomy, yakni pemisahan analitis antara sektor moneter dan sektor riil. Dalam kerangka ini, sektor riil ditentukan oleh faktor-faktor fundamental seperti teknologi, preferensi, dan endowmen sumber daya, sementara sektor moneter hanya berperan dalam menentukan tingkat harga.² Oleh karena itu, perubahan moneter dianggap tidak mampu mengubah keseimbangan riil yang telah ditentukan oleh mekanisme pasar.

Pemahaman tentang netralitas uang juga menuntut pembedaan yang jelas antara variabel nominal dan variabel riil. Variabel nominal diukur dalam satuan uang yang berlaku, sedangkan variabel riil mencerminkan daya beli atau kuantitas aktual barang dan jasa. Netralitas uang menyiratkan bahwa meskipun nilai nominal dapat berubah akibat kebijakan moneter, nilai riil tetap konstan setelah penyesuaian penuh terjadi.³

2.2.       Asumsi-Asumsi Fundamental Netralitas Uang

Netralitas uang bukanlah hukum empiris yang berdiri sendiri, melainkan kesimpulan teoretis yang bergantung pada sejumlah asumsi dasar. Pertama, asumsi fleksibilitas harga dan upah menyatakan bahwa harga barang dan upah tenaga kerja dapat menyesuaikan secara cepat dan sempurna terhadap perubahan kondisi moneter. Dalam kondisi ini, setiap peningkatan jumlah uang beredar akan segera diimbangi oleh kenaikan tingkat harga, tanpa menimbulkan distorsi pada output riil.⁴

Kedua, asumsi ekspektasi rasional memainkan peran penting, khususnya dalam ekonomi klasik baru. Pelaku ekonomi diasumsikan mampu menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara efisien, termasuk memahami implikasi kebijakan moneter. Akibatnya, kebijakan moneter yang dapat diprediksi tidak akan menimbulkan efek riil, karena telah diantisipasi dan diinternalisasi dalam keputusan ekonomi.⁵

Ketiga, asumsi pasar kompetitif dan informasi sempurna menyiratkan tidak adanya friksi struktural seperti monopoli, asimetri informasi, atau hambatan institusional. Dalam kondisi ideal ini, mekanisme harga bekerja secara optimal untuk mengalokasikan sumber daya, sehingga uang tidak memiliki peran independen dalam menentukan hasil riil.⁶

Asumsi-asumsi tersebut menunjukkan bahwa netralitas uang bersifat kondisional, bukan absolut. Ketika salah satu asumsi dilanggar—misalnya akibat rigiditas harga, kontrak jangka panjang, atau ketidaksempurnaan pasar—maka uang berpotensi menjadi tidak netral.

2.3.       Netralitas Uang dan Teori Kuantitas Uang

Landasan konseptual paling awal bagi netralitas uang dapat ditemukan dalam Teori Kuantitas Uang (Quantity Theory of Money). Teori ini dirumuskan secara formal melalui persamaan pertukaran:

MV = PY

di mana M adalah jumlah uang beredar, V adalah kecepatan peredaran uang, P adalah tingkat harga, dan Y adalah output riil.⁷ Dalam versi klasik teori ini, V dan Y dianggap relatif konstan dalam jangka panjang, sehingga perubahan M akan berbanding lurus dengan perubahan P.

Implikasi utama dari persamaan tersebut adalah bahwa peningkatan jumlah uang beredar akan menyebabkan inflasi proporsional, tanpa memengaruhi output riil. Pandangan ini memperkuat argumen bahwa uang bersifat netral dan hanya berfungsi sebagai alat ukur nilai, bukan sebagai penentu aktivitas ekonomi.⁸

Namun, kritik terhadap teori kuantitas uang menunjukkan bahwa asumsi kestabilan V dan eksogenitas Y sering kali tidak terpenuhi, terutama dalam kondisi ekonomi modern yang kompleks. Perubahan perilaku masyarakat dalam memegang uang, perkembangan sistem keuangan, dan inovasi teknologi dapat menyebabkan kecepatan peredaran uang berfluktuasi secara signifikan.⁹ Hal ini membuka ruang bagi interpretasi yang lebih fleksibel mengenai netralitas uang.

2.4.       Netralitas Uang dalam Perspektif Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam literatur ekonomi makro modern, netralitas uang umumnya diposisikan sebagai fenomena jangka panjang, bukan jangka pendek. Milton Friedman menegaskan bahwa “uang bersifat netral dalam jangka panjang, tetapi tidak dalam jangka pendek,” karena adanya keterlambatan penyesuaian harga dan ekspektasi.¹⁰ Dalam jangka pendek, perubahan jumlah uang beredar dapat memengaruhi permintaan agregat, output, dan tingkat pengangguran.

Perbedaan ini menjadi dasar bagi pembedaan antara netralitas uang dan supernetralitas uang. Netralitas uang menyatakan bahwa tingkat uang beredar tidak memengaruhi variabel riil, sedangkan supernetralitas uang menyatakan bahwa bahkan laju pertumbuhan uang pun tidak berpengaruh terhadap variabel riil.¹¹ Banyak studi empiris menunjukkan bahwa supernetralitas uang lebih sulit dipertahankan dibandingkan netralitas uang biasa.

Dengan demikian, pemahaman modern tentang netralitas uang cenderung bersifat relatif dan kontekstual. Uang dapat bersifat netral dalam jangka panjang ketika penyesuaian telah lengkap, tetapi bersifat tidak netral dalam jangka pendek ketika friksi ekonomi masih dominan.

2.5.       Kerangka Konseptual Analisis Netralitas Uang

Berdasarkan uraian teoretis di atas, kerangka konseptual analisis netralitas uang dapat disusun dengan menempatkan jumlah uang beredar sebagai variabel independen, tingkat harga sebagai variabel nominal utama, dan output riil serta kesempatan kerja sebagai variabel dependen riil. Hubungan antarvariabel tersebut dimediasi oleh faktor-faktor seperti ekspektasi, rigiditas harga, struktur pasar, dan kredibilitas kebijakan moneter.

Kerangka ini memungkinkan analisis yang lebih komprehensif mengenai kondisi-kondisi di mana uang bersifat netral atau tidak netral. Dengan pendekatan ini, netralitas uang tidak dipahami sebagai doktrin dogmatis, melainkan sebagai hipotesis teoretis yang harus diuji secara empiris dan dievaluasi secara kontekstual sesuai dengan karakteristik perekonomian yang dikaji.


Footnotes

1.      N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York: Worth Publishers, 2019), 74.

2.      David Hume, Of Money, dalam Political Discourses (Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).

3.      Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston: Pearson, 2021), 36–38.

4.      Robert J. Barro, Macroeconomics: A Modern Approach (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1984), 213.

5.      Robert E. Lucas Jr., “Expectations and the Neutrality of Money,” Journal of Economic Theory 4, no. 2 (1972): 103–124.

6.      Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 12–15.

7.      Irving Fisher, The Purchasing Power of Money (New York: Macmillan, 1911), 25–27.

8.      Milton Friedman, A Monetary History of the United States, 1867–1960 (Princeton: Princeton University Press, 1963), 3–5.

9.      Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 326–329.

10.  Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.

11.  Laurence M. Ball, Money, Inflation, and Output (Cambridge: MIT Press, 1993), 45–47.


3.           BAB III PERKEMBANGAN HISTORIS PEMIKIRAN NETRALITAS UANG

3.1.       Akar Pemikiran Klasik: Uang sebagai “Selubung” (Veil of Money)

Gagasan mengenai netralitas uang pertama kali memperoleh bentuk sistematis dalam tradisi ekonomi klasik. Para pemikir klasik memandang uang semata-mata sebagai alat tukar yang memfasilitasi transaksi, tanpa memiliki pengaruh intrinsik terhadap aktivitas ekonomi riil. Salah satu tokoh awal yang merumuskan pandangan ini adalah David Hume, yang berargumen bahwa peningkatan jumlah uang beredar hanya akan menaikkan harga-harga secara proporsional, sementara output dan kesempatan kerja akan kembali ke tingkat semula setelah proses penyesuaian selesai.¹

Pandangan Hume ini kemudian menjadi fondasi bagi apa yang dikenal sebagai classical dichotomy, yaitu pemisahan antara sektor moneter dan sektor riil. Dalam kerangka ini, sektor riil ditentukan oleh faktor-faktor fundamental seperti teknologi, modal, dan tenaga kerja, sedangkan uang hanya menentukan tingkat harga.² Dengan demikian, uang diposisikan sebagai veil of money, suatu selubung yang menutupi transaksi riil tanpa mengubah struktur dasar perekonomian.

Pandangan klasik ini juga tercermin dalam pemikiran ekonom seperti Adam Smith dan Jean-Baptiste Say, yang menekankan bahwa produksi dan pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh penawaran, bukan oleh faktor moneter. Uang, dalam perspektif ini, bersifat netral karena tidak memiliki kapasitas untuk menciptakan kekayaan riil.³

3.2.       Kritik Keynesian: Penolakan terhadap Netralitas Uang

Dominasi pandangan klasik mengenai netralitas uang mulai dipertanyakan secara serius pada awal abad ke-20, terutama setelah terjadinya Depresi Besar (Great Depression). John Maynard Keynes mengajukan kritik fundamental terhadap asumsi fleksibilitas harga dan upah yang menjadi pilar utama netralitas uang. Dalam The General Theory of Employment, Interest and Money, Keynes menegaskan bahwa dalam kondisi tertentu, khususnya ketika perekonomian mengalami pengangguran massal, perubahan moneter dapat memiliki dampak signifikan terhadap output dan kesempatan kerja.⁴

Menurut Keynes, rigiditas harga dan upah, preferensi likuiditas, serta ketidakpastian yang tinggi menyebabkan mekanisme penyesuaian pasar tidak bekerja secara otomatis. Dalam situasi tersebut, peningkatan jumlah uang beredar dapat mendorong penurunan suku bunga, meningkatkan investasi, dan pada akhirnya meningkatkan output riil.⁵ Oleh karena itu, uang tidak dapat dianggap netral, setidaknya dalam jangka pendek.

Pandangan Keynesian ini menggeser fokus analisis dari penawaran ke permintaan agregat dan membuka ruang bagi kebijakan moneter dan fiskal yang aktif. Dalam kerangka ini, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk menstabilkan perekonomian.

3.3.       Monetarisme: Netralitas Jangka Panjang dan Non-Netralitas Jangka Pendek

Pada pertengahan abad ke-20, muncul aliran monetarisme yang dipelopori oleh Milton Friedman. Monetarisme berupaya merekonsiliasi sebagian pandangan klasik dengan temuan empiris Keynesian. Friedman menerima gagasan bahwa uang bersifat netral dalam jangka panjang, tetapi menolak klaim bahwa kebijakan moneter tidak berpengaruh sama sekali terhadap sektor riil.⁶

Friedman memperkenalkan konsep natural rate of unemployment, yang menyatakan bahwa perekonomian memiliki tingkat pengangguran alami yang ditentukan oleh faktor struktural, bukan oleh kebijakan moneter. Kebijakan moneter ekspansif hanya dapat menurunkan pengangguran di bawah tingkat alaminya untuk sementara waktu, sebelum akhirnya memicu inflasi.⁷ Dalam jangka panjang, output dan pengangguran akan kembali ke tingkat alaminya, sehingga uang kembali bersifat netral.

Dengan demikian, monetarisme menempatkan netralitas uang sebagai fenomena jangka panjang, sekaligus mengakui adanya non-netralitas uang dalam jangka pendek akibat keterlambatan penyesuaian ekspektasi dan harga.

3.4.       Ekonomi Klasik Baru dan Ekspektasi Rasional

Perkembangan selanjutnya ditandai oleh munculnya ekonomi klasik baru (new classical economics) pada 1970-an, yang dipelopori oleh Robert E. Lucas Jr. Aliran ini memperkenalkan asumsi ekspektasi rasional, yaitu bahwa pelaku ekonomi menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara efisien dalam membuat keputusan.⁸

Dalam kerangka ini, kebijakan moneter yang dapat diprediksi tidak akan memengaruhi variabel riil, karena telah diantisipasi oleh pelaku ekonomi. Hanya kejutan moneter yang tidak terantisipasi (unanticipated monetary shocks) yang dapat memengaruhi output dan kesempatan kerja. Konsekuensinya, efektivitas kebijakan moneter menjadi sangat terbatas, dan netralitas uang kembali ditegaskan dalam bentuk yang lebih ketat.⁹

Pandangan ini dikenal dengan policy ineffectiveness proposition, yang menyatakan bahwa kebijakan moneter sistematis tidak memiliki dampak riil. Meskipun secara teoretis elegan, pendekatan ini menuai kritik karena dianggap terlalu bergantung pada asumsi informasi sempurna dan fleksibilitas harga yang tidak realistis.


Pendekatan Kontemporer: New Keynesian dan Sintesis Modern

Sebagai respons terhadap keterbatasan ekonomi klasik baru, muncul pendekatan New Keynesian yang mengintegrasikan ekspektasi rasional dengan rigiditas nominal, seperti harga kaku (sticky prices) dan upah kaku. Dalam model New Keynesian, uang dan kebijakan moneter memiliki efek riil dalam jangka pendek, tetapi efek tersebut memudar dalam jangka panjang seiring penyesuaian harga.¹⁰

Pendekatan ini melahirkan apa yang dikenal sebagai New Neoclassical Synthesis, yakni sintesis antara elemen klasik dan Keynesian. Dalam sintesis ini, netralitas uang tetap diakui sebagai kecenderungan jangka panjang, tetapi non-netralitas uang dalam jangka pendek dipahami sebagai konsekuensi logis dari friksi ekonomi.¹¹

Dengan demikian, perkembangan historis pemikiran netralitas uang menunjukkan pergeseran dari pandangan absolut menuju pemahaman yang lebih kontekstual dan dinamis. Netralitas uang tidak lagi dipahami sebagai dogma universal, melainkan sebagai hipotesis teoretis yang valid dalam kondisi tertentu dan terbuka terhadap pengujian empiris.


Footnotes

1.      David Hume, Of Money, dalam Political Discourses (Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).

2.      N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York: Worth Publishers, 2019), 76–78.

3.      Mark Skousen, The Making of Modern Economics (Armonk, NY: M.E. Sharpe, 2001), 63–67.

4.      John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.

5.      Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston: Pearson, 2021), 49–52.

6.      Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.

7.      Milton Friedman, A Monetary History of the United States, 1867–1960 (Princeton: Princeton University Press, 1963), 3–5.

8.      Robert E. Lucas Jr., “Expectations and the Neutrality of Money,” Journal of Economic Theory 4, no. 2 (1972): 103–124.

9.      Thomas J. Sargent and Neil Wallace, “Rational Expectations and the Theory of Economic Policy,” Journal of Monetary Economics 2, no. 2 (1976): 169–183.

10.  Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 31–35.

11.  Marvin Goodfriend and Robert G. King, “The New Neoclassical Synthesis and the Role of Monetary Policy,” NBER Macroeconomics Annual 12 (1997): 231–283.


4.           BAB IV NETRALITAS UANG DALAM JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG

4.1.       Kerangka Konseptual Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam analisis ekonomi makro, pembedaan antara jangka pendek dan jangka panjang merupakan perangkat konseptual penting untuk memahami perilaku variabel ekonomi. Jangka pendek umumnya dipahami sebagai periode ketika harga dan upah belum sepenuhnya menyesuaikan terhadap perubahan kondisi ekonomi, sedangkan jangka panjang merujuk pada kondisi di mana penyesuaian tersebut telah berlangsung secara penuh.¹ Perbedaan ini menjadi dasar utama dalam membahas netralitas uang.

Netralitas uang secara teoretis lebih relevan dalam jangka panjang, ketika mekanisme pasar bekerja tanpa hambatan nominal. Dalam kondisi tersebut, perubahan jumlah uang beredar hanya akan memengaruhi tingkat harga, sementara variabel riil kembali ke tingkat keseimbangannya. Sebaliknya, dalam jangka pendek, adanya rigiditas nominal menyebabkan uang berpotensi memengaruhi output, tingkat pengangguran, dan variabel riil lainnya.²

4.2.       Non-Netralitas Uang dalam Jangka Pendek

Ketidaknetralan uang dalam jangka pendek terutama disebabkan oleh rigiditas harga dan upah (price and wage stickiness). Kontrak jangka panjang, biaya penyesuaian harga (menu costs), serta faktor institusional menyebabkan harga dan upah tidak dapat segera menyesuaikan terhadap perubahan moneter.³ Akibatnya, peningkatan jumlah uang beredar dapat meningkatkan permintaan agregat dan mendorong kenaikan output riil untuk sementara waktu.

Selain itu, ekspektasi adaptif dan informasi yang tidak sempurna turut memperkuat non-netralitas uang. Ketika pelaku ekonomi belum sepenuhnya memahami sifat perubahan moneter, mereka dapat salah menafsirkan kenaikan harga sebagai sinyal peningkatan permintaan riil, sehingga meningkatkan produksi dan penggunaan tenaga kerja.⁴ Fenomena ini sering disebut sebagai money illusion, yakni kecenderungan untuk merespons perubahan nominal seolah-olah perubahan tersebut bersifat riil.

Dalam kerangka Keynesian dan New Keynesian, kebijakan moneter ekspansif dalam jangka pendek dapat menurunkan suku bunga riil, meningkatkan investasi dan konsumsi, serta mengurangi pengangguran. Oleh karena itu, uang dipandang memiliki peran aktif dalam stabilisasi siklus bisnis, meskipun efek tersebut bersifat sementara.⁵

4.3.       Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Efek non-netralitas uang dalam jangka pendek bekerja melalui berbagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme yang paling umum adalah saluran suku bunga, di mana perubahan suku bunga kebijakan memengaruhi keputusan konsumsi dan investasi.⁶

Selain itu, terdapat saluran kredit, yang menekankan peran kondisi keuangan dan akses terhadap pembiayaan dalam memediasi dampak kebijakan moneter. Ketika likuiditas meningkat, kemampuan sektor riil untuk memperoleh kredit juga meningkat, sehingga mendorong aktivitas ekonomi.⁷ Saluran ekspektasi juga memainkan peran penting, karena persepsi pelaku ekonomi terhadap kebijakan moneter masa depan dapat memengaruhi keputusan saat ini.

Keberadaan berbagai saluran transmisi ini menunjukkan bahwa uang tidak bekerja secara mekanis, melainkan melalui interaksi kompleks antara kebijakan, ekspektasi, dan struktur institusional ekonomi.

4.4.       Netralitas Uang dalam Jangka Panjang

Berbeda dengan jangka pendek, dalam jangka panjang diasumsikan bahwa harga dan upah telah sepenuhnya menyesuaikan. Dalam kondisi ini, peningkatan jumlah uang beredar tidak lagi memengaruhi variabel riil, melainkan hanya meningkatkan tingkat harga secara proporsional.⁸ Output riil ditentukan oleh faktor-faktor fundamental seperti teknologi, modal, dan tenaga kerja, bukan oleh kebijakan moneter.

Pandangan ini sejalan dengan hipotesis natural rate yang dikemukakan oleh Milton Friedman, yang menyatakan bahwa perekonomian memiliki tingkat output dan pengangguran alami yang tidak dapat diubah secara permanen melalui kebijakan moneter.⁹ Upaya untuk mendorong output di atas tingkat alaminya hanya akan menghasilkan inflasi yang lebih tinggi tanpa manfaat riil jangka panjang.

Dengan demikian, netralitas uang dalam jangka panjang menegaskan keterbatasan kebijakan moneter sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan riil secara berkelanjutan.

4.5.       Supernetralitas Uang dan Perdebatan Kontemporer

Selain netralitas uang, literatur ekonomi juga mengenal konsep supernetralitas uang, yaitu pandangan bahwa bahkan laju pertumbuhan uang beredar tidak memengaruhi variabel riil.¹⁰ Konsep ini merupakan bentuk netralitas yang lebih kuat dan lebih kontroversial.

Sejumlah studi empiris menunjukkan bahwa supernetralitas uang sulit dipertahankan, karena perubahan dalam laju pertumbuhan uang sering kali memengaruhi keputusan investasi, akumulasi modal, dan pertumbuhan ekonomi.¹¹ Temuan ini memperkuat pandangan bahwa meskipun uang cenderung netral dalam jangka panjang, pengaruhnya terhadap dinamika ekonomi tidak sepenuhnya dapat diabaikan.


Implikasi Konseptual

Pembahasan mengenai netralitas uang dalam jangka pendek dan jangka panjang mengarah pada kesimpulan bahwa sifat uang bersifat relatif dan kontekstual. Uang tidak sepenuhnya netral maupun sepenuhnya tidak netral, melainkan beroperasi dalam spektrum yang ditentukan oleh struktur ekonomi, institusi, dan ekspektasi pelaku ekonomi.

Pemahaman ini menjadi landasan penting bagi analisis empiris dan perumusan kebijakan moneter, karena menekankan perlunya mempertimbangkan horizon waktu dan kondisi struktural dalam menilai dampak kebijakan moneter terhadap perekonomian.


Footnotes

1.      N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York: Worth Publishers, 2019), 35–37.

2.      Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston: Pearson, 2021), 44–46.

3.      George A. Akerlof and Janet L. Yellen, “A Near-Rational Model of the Business Cycle, with Wage and Price Inertia,” Quarterly Journal of Economics 100, no. 5 (1985): 823–838.

4.      Robert J. Barro, “Unanticipated Money Growth and Unemployment in the United States,” American Economic Review 67, no. 2 (1977): 101–115.

5.      John B. Taylor, “Discretion versus Policy Rules in Practice,” Carnegie-Rochester Conference Series on Public Policy 39 (1993): 195–214.

6.      Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 405–410.

7.      Ben S. Bernanke and Mark Gertler, “Inside the Black Box: The Credit Channel of Monetary Policy Transmission,” Journal of Economic Perspectives 9, no. 4 (1995): 27–48.

8.      David Romer, Advanced Macroeconomics, 5th ed. (New York: McGraw-Hill, 2019), 83–85.

9.      Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.

10.  Laurence M. Ball, Money, Inflation, and Output (Cambridge: MIT Press, 1993), 22–25.

11.  Robert J. Barro and Xavier Sala-i-Martin, Economic Growth, 2nd ed. (Cambridge, MA: MIT Press, 2004), 410–413.


5.           BAB V ANALISIS EMPIRIS NETRALITAS UANG

5.1.       Posisi Analisis Empiris dalam Kajian Netralitas Uang

Meskipun netralitas uang berakar kuat dalam teori ekonomi makro, validitasnya tidak dapat ditentukan semata-mata melalui penalaran teoretis. Sebagai sebuah hipotesis, netralitas uang menuntut pengujian empiris untuk menilai sejauh mana perubahan moneter benar-benar tidak memengaruhi variabel riil. Oleh karena itu, analisis empiris memainkan peran krusial dalam menjembatani perbedaan antara model teoretis yang ideal dan realitas ekonomi yang kompleks.¹

Kajian empiris mengenai netralitas uang umumnya berfokus pada hubungan jangka panjang antara uang beredar, tingkat harga, dan output riil. Jika uang bersifat netral, maka perubahan permanen dalam jumlah uang beredar seharusnya hanya tercermin dalam perubahan tingkat harga, tanpa efek yang berkelanjutan terhadap output riil.²

5.2.       Pendekatan Metodologis dalam Pengujian Netralitas Uang

Pengujian empiris netralitas uang menggunakan berbagai pendekatan metodologis, terutama metode time series dan panel data. Salah satu pendekatan awal adalah analisis korelasi sederhana antara pertumbuhan uang dan pertumbuhan output. Namun, pendekatan ini dinilai terlalu lemah karena tidak mampu membedakan hubungan kausal jangka pendek dan jangka panjang.³

Pendekatan yang lebih maju melibatkan penggunaan model Vector Autoregression (VAR) dan cointegration analysis, yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi hubungan jangka panjang antarvariabel makroekonomi. Dalam kerangka ini, netralitas uang diuji dengan melihat apakah guncangan moneter memiliki efek permanen terhadap output riil.⁴

Selain itu, studi empiris modern sering menggunakan model Structural VAR (SVAR) dan Dynamic Stochastic General Equilibrium (DSGE) untuk memisahkan efek kebijakan moneter yang terantisipasi dan tidak terantisipasi. Metodologi ini memungkinkan analisis yang lebih mendalam mengenai mekanisme transmisi moneter dan durasi dampaknya terhadap variabel riil.⁵

5.3.       Temuan Empiris di Negara Maju

Sebagian besar studi empiris di negara maju menunjukkan dukungan yang relatif kuat terhadap netralitas uang dalam jangka panjang. Penelitian terhadap data Amerika Serikat dan negara-negara OECD menemukan bahwa pertumbuhan uang beredar berkorelasi kuat dengan inflasi, tetapi tidak menunjukkan hubungan jangka panjang yang signifikan dengan pertumbuhan output riil.⁶

Friedman dan Schwartz, dalam studi historisnya mengenai Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa fluktuasi moneter terutama memengaruhi harga dan inflasi dalam jangka panjang, sementara dampak terhadap output bersifat sementara.⁷ Temuan ini memperkuat pandangan monetaris bahwa uang cenderung netral setelah penyesuaian ekonomi berlangsung secara penuh.

Namun demikian, bukti empiris juga menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, guncangan moneter dapat menimbulkan fluktuasi output yang signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa netralitas uang bersifat temporer dan sangat bergantung pada horizon waktu analisis.

5.4.       Bukti Empiris di Negara Berkembang

Berbeda dengan negara maju, hasil penelitian empiris di negara berkembang cenderung lebih beragam dan sering kali menunjukkan penyimpangan dari hipotesis netralitas uang. Faktor-faktor seperti ketidakstabilan institusional, kredibilitas kebijakan moneter yang lemah, serta struktur ekonomi yang kurang terdiversifikasi menyebabkan perubahan moneter memiliki dampak riil yang lebih persisten.⁸

Beberapa studi menunjukkan bahwa di negara berkembang, pertumbuhan uang beredar dapat memengaruhi output dan investasi dalam jangka menengah, terutama melalui saluran kredit dan nilai tukar.⁹ Temuan ini mengindikasikan bahwa netralitas uang tidak bersifat universal, melainkan sangat kontekstual terhadap kondisi struktural dan institusional suatu negara.

5.5.       Faktor-Faktor Penentu Validitas Netralitas Uang

Hasil empiris yang beragam menunjukkan bahwa validitas netralitas uang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Pertama, kredibilitas bank sentral memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi inflasi. Bank sentral yang kredibel cenderung mampu membatasi dampak riil kebijakan moneter.¹⁰

Kedua, tingkat inflasi juga memengaruhi hubungan antara uang dan output. Dalam lingkungan inflasi tinggi atau hiperinflasi, perubahan moneter sering kali menimbulkan distorsi ekonomi yang signifikan dan berkepanjangan.¹¹ Ketiga, struktur pasar tenaga kerja dan keuangan menentukan kecepatan penyesuaian harga dan upah, yang pada gilirannya memengaruhi derajat netralitas uang.

5.6.       Evaluasi Kritis terhadap Bukti Empiris

Meskipun banyak studi mendukung netralitas uang dalam jangka panjang, hasil empiris tersebut tidak bebas dari keterbatasan metodologis. Masalah endogenitas, kesulitan mengidentifikasi guncangan moneter murni, serta perubahan rezim kebijakan sering kali menyulitkan interpretasi hasil.¹²

Selain itu, sebagian kritik menyoroti bahwa fokus berlebihan pada hubungan agregat dapat mengabaikan dampak distribusional kebijakan moneter. Meskipun output agregat mungkin tidak berubah, perubahan moneter dapat memengaruhi distribusi pendapatan dan kekayaan secara signifikan, sehingga menimbulkan implikasi riil yang tidak tertangkap oleh analisis makro agregat.¹³


Sintesis Temuan Empiris

Berdasarkan analisis empiris, dapat disimpulkan bahwa netralitas uang memiliki dukungan yang cukup kuat dalam jangka panjang, terutama di negara dengan institusi moneter yang stabil dan kredibel. Namun, dalam jangka pendek dan dalam konteks negara berkembang, uang sering kali menunjukkan sifat tidak netral.

Dengan demikian, netralitas uang sebaiknya dipahami sebagai kecenderungan empiris bersyarat, bukan sebagai hukum universal. Pemahaman ini menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dalam analisis moneter dan kebijakan ekonomi.


Footnotes

1.      David Romer, Advanced Macroeconomics, 5th ed. (New York: McGraw-Hill, 2019), 67–69.

2.      N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York: Worth Publishers, 2019), 90–92.

3.      Thomas Sargent, Macroeconomic Theory (New York: Academic Press, 1987), 289–292.

4.      Søren Johansen, Likelihood-Based Inference in Cointegrated Vector Autoregressive Models (Oxford: Oxford University Press, 1995), 1–5.

5.      Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 73–78.

6.      Robert E. Lucas Jr., “Money Neutrality,” Journal of Political Economy 104, no. 4 (1996): 661–682.

7.      Milton Friedman and Anna J. Schwartz, A Monetary History of the United States, 1867–1960 (Princeton: Princeton University Press, 1963), 3–5.

8.      Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 593–596.

9.      Sebastian Edwards, Crisis and Reform in Latin America (Oxford: Oxford University Press, 1995), 112–118.

10.  Ben S. Bernanke, “Central Bank Independence, Transparency, and Accountability,” Journal of Monetary Economics 52, no. 1 (2005): 145–156.

11.  Thomas J. Sargent, The Ends of Four Big Inflations (Chicago: University of Chicago Press, 1982).

12.  Christopher A. Sims, “Macroeconomics and Reality,” Econometrica 48, no. 1 (1980): 1–48.

13.  Joseph E. Stiglitz, The Price of Inequality (New York: W. W. Norton, 2012), 93–97.


6.           BAB VI IMPLIKASI KEBIJAKAN MONETER

6.1.       Netralitas Uang dan Efektivitas Kebijakan Moneter

Konsep netralitas uang memiliki implikasi langsung terhadap perdebatan mengenai efektivitas kebijakan moneter. Jika uang sepenuhnya netral, maka kebijakan moneter tidak memiliki kapasitas untuk memengaruhi output riil, tingkat pengangguran, maupun pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Dalam kerangka ini, peran utama bank sentral terbatas pada pengendalian variabel nominal, khususnya inflasi dan stabilitas nilai mata uang.¹

Namun, temuan teoretis dan empiris menunjukkan bahwa uang cenderung tidak netral dalam jangka pendek. Kondisi ini membuka ruang bagi kebijakan moneter untuk berperan sebagai instrumen stabilisasi makroekonomi. Bank sentral dapat menggunakan kebijakan suku bunga, operasi pasar terbuka, dan instrumen likuiditas lainnya untuk meredam fluktuasi siklus bisnis.² Dengan demikian, implikasi kebijakan dari netralitas uang bersifat bergantung pada horizon waktu yang dipertimbangkan.

6.2.       Kebijakan Moneter dalam Perspektif Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, ketika rigiditas harga dan upah masih dominan, kebijakan moneter dapat memengaruhi permintaan agregat dan output riil. Oleh karena itu, banyak bank sentral modern mengadopsi kerangka kebijakan yang bersifat countercyclical, yakni merespons perlambatan ekonomi dengan kebijakan moneter ekspansif dan merespons tekanan inflasi dengan kebijakan kontraktif.³

Namun demikian, efektivitas kebijakan moneter jangka pendek sangat bergantung pada ekspektasi publik. Jika pelaku ekonomi memandang kebijakan moneter sebagai tidak kredibel atau inkonsisten, maka efek kebijakan terhadap sektor riil akan melemah.⁴ Hal ini menegaskan pentingnya komunikasi kebijakan (forward guidance) dan transparansi bank sentral dalam membentuk ekspektasi yang stabil.

6.3.       Kebijakan Moneter dan Stabilitas Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, implikasi netralitas uang menegaskan bahwa kebijakan moneter tidak dapat digunakan untuk meningkatkan output riil secara permanen. Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi moneter yang berkelanjutan justru berisiko menimbulkan inflasi yang tinggi dan ketidakstabilan makroekonomi.⁵

Oleh karena itu, banyak literatur ekonomi merekomendasikan agar bank sentral memfokuskan kebijakan jangka panjangnya pada stabilitas harga. Kerangka inflation targeting menjadi contoh penerapan praktis dari pandangan ini, di mana bank sentral menetapkan sasaran inflasi yang jelas sebagai jangkar ekspektasi.⁶ Pendekatan ini sejalan dengan gagasan bahwa stabilitas nominal merupakan prasyarat bagi efisiensi sektor riil dalam jangka panjang.

6.4.       Risiko Kebijakan Moneter Ekspansif Berlebihan

Implikasi penting lainnya dari konsep netralitas uang adalah kesadaran akan risiko kebijakan moneter yang terlalu ekspansif. Ketika bank sentral berupaya mendorong pertumbuhan di luar kapasitas riil perekonomian, hasil akhirnya sering kali berupa inflasi, gelembung aset, dan distorsi harga relatif.⁷

Pengalaman krisis keuangan global menunjukkan bahwa likuiditas berlimpah tidak selalu diterjemahkan menjadi pertumbuhan riil yang sehat. Sebaliknya, kebijakan moneter yang longgar dalam jangka waktu lama dapat memicu spekulasi berlebihan dan meningkatkan kerentanan sistem keuangan.⁸ Hal ini menegaskan bahwa kebijakan moneter perlu dijalankan secara hati-hati dan selaras dengan kebijakan makroprudensial.

6.5.       Relevansi bagi Negara Berkembang

Implikasi netralitas uang menjadi lebih kompleks dalam konteks negara berkembang. Seperti ditunjukkan oleh analisis empiris, uang cenderung lebih tidak netral di negara-negara dengan struktur ekonomi yang kurang stabil, sistem keuangan yang dangkal, dan kredibilitas kebijakan yang terbatas.⁹ Dalam kondisi demikian, kebijakan moneter dapat memiliki dampak riil yang lebih besar, tetapi juga membawa risiko inflasi yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, kebijakan moneter di negara berkembang perlu mempertimbangkan faktor struktural, seperti stabilitas sektor keuangan, koordinasi dengan kebijakan fiskal, serta ketergantungan pada arus modal internasional.¹⁰ Pendekatan kebijakan yang terlalu meniru praktik negara maju tanpa memperhatikan konteks domestik berpotensi menghasilkan hasil yang kontraproduktif.


Sintesis Implikasi Kebijakan

Secara keseluruhan, implikasi kebijakan moneter dari konsep netralitas uang dapat dirangkum dalam dua prinsip utama. Pertama, kebijakan moneter memiliki ruang efektivitas dalam jangka pendek, terutama sebagai alat stabilisasi. Kedua, dalam jangka panjang, kebijakan moneter sebaiknya difokuskan pada menjaga stabilitas nominal dan mendukung lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil.

Dengan demikian, netralitas uang tidak meniadakan peran kebijakan moneter, tetapi justru memberikan kerangka konseptual untuk memahami batas-batas dan tanggung jawabnya. Pemahaman yang seimbang mengenai netralitas dan non-netralitas uang menjadi prasyarat bagi perumusan kebijakan moneter yang rasional, kontekstual, dan berkelanjutan.


Footnotes

1.      N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York: Worth Publishers, 2019), 92–95.

2.      Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston: Pearson, 2021), 61–64.

3.      John B. Taylor, “Discretion versus Policy Rules in Practice,” Carnegie-Rochester Conference Series on Public Policy 39 (1993): 195–214.

4.      Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 15–18.

5.      Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.

6.      Ben S. Bernanke et al., Inflation Targeting: Lessons from the International Experience (Princeton: Princeton University Press, 1999), 9–13.

7.      Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 613–617.

8.      Claudio Borio, “The Financial Cycle and Macroeconomics: What Have We Learnt?” Journal of Banking & Finance 45 (2014): 182–198.

9.      Sebastian Edwards, Crisis and Reform in Latin America (Oxford: Oxford University Press, 1995), 118–123.

10.  Guillermo A. Calvo and Carmen M. Reinhart, “Fear of Floating,” Quarterly Journal of Economics 117, no. 2 (2002): 379–408.


7.           BAB VII KRITIK, KETERBATASAN, DAN ALTERNATIF KONSEPTUAL

7.1.       Kritik terhadap Asumsi Dasar Netralitas Uang

Salah satu kritik utama terhadap konsep netralitas uang diarahkan pada asumsi-asumsi dasarnya yang dianggap terlalu ideal dan kurang mencerminkan kondisi ekonomi nyata. Asumsi fleksibilitas harga dan upah, misalnya, sering kali tidak terpenuhi dalam praktik karena adanya kontrak jangka panjang, regulasi pasar tenaga kerja, serta biaya penyesuaian harga.¹ Ketidaksempurnaan ini menyebabkan mekanisme penyesuaian pasar berlangsung lambat, sehingga perubahan moneter dapat memiliki dampak riil yang bertahan lebih lama daripada yang diprediksi oleh teori netralitas uang.

Selain itu, asumsi ekspektasi rasional dan informasi sempurna juga menuai kritik. Dalam dunia nyata, pelaku ekonomi menghadapi keterbatasan informasi, ketidakpastian, dan bias kognitif yang memengaruhi pengambilan keputusan.² Oleh karena itu, respons terhadap kebijakan moneter sering kali tidak secepat atau seakurat yang diasumsikan dalam model klasik dan klasik baru.

7.2.       Keterbatasan Empiris Konsep Netralitas Uang

Dari sudut pandang empiris, netralitas uang menghadapi tantangan dalam hal pengukuran dan identifikasi kausalitas. Sulit untuk memisahkan secara tegas antara guncangan moneter dan guncangan riil, terutama karena kebijakan moneter sering kali bersifat reaktif terhadap kondisi ekonomi.³ Masalah endogenitas ini membuat hasil empiris mengenai netralitas uang sering kali bergantung pada metodologi dan periode analisis yang digunakan.

Selain itu, sebagian besar studi empiris menggunakan data agregat, yang berpotensi menyembunyikan dampak distribusional kebijakan moneter. Meskipun output agregat mungkin tidak berubah secara signifikan, perubahan moneter dapat memengaruhi distribusi pendapatan, harga aset, dan kesejahteraan kelompok sosial tertentu.⁴ Dengan demikian, netralitas uang pada tingkat agregat tidak serta-merta berarti netralitas pada tingkat mikro.

7.3.       Kritik Institusional dan Historis

Pendekatan netralitas uang juga dikritik dari perspektif institusional dan historis. Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa perubahan sistem moneter—seperti peralihan dari standar emas ke uang fiat—sering kali diikuti oleh perubahan struktural yang signifikan dalam perekonomian.⁵ Hal ini menunjukkan bahwa uang bukan sekadar instrumen teknis, melainkan institusi sosial yang beroperasi dalam konteks politik dan hukum tertentu.

Dalam perspektif ini, netralitas uang dipandang terlalu menyederhanakan peran uang dengan mengabaikan dimensi kekuasaan, kepercayaan, dan legitimasi institusional.⁶ Kebijakan moneter tidak berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan politik, struktur keuangan, dan dinamika global.

7.4.       Alternatif Konseptual: Pendekatan Keynesian dan New Keynesian

Sebagai alternatif terhadap pandangan netralitas uang yang ketat, pendekatan Keynesian dan New Keynesian menawarkan kerangka analisis yang menekankan peran friksi ekonomi dan ketidakpastian. Dalam pendekatan ini, uang dipandang sebagai variabel yang dapat memengaruhi output dan kesempatan kerja, terutama dalam jangka pendek.⁷

Model New Keynesian, khususnya, mengintegrasikan ekspektasi rasional dengan rigiditas nominal, sehingga menghasilkan kerangka yang lebih realistis untuk menganalisis kebijakan moneter. Pendekatan ini tidak sepenuhnya menolak netralitas uang, tetapi memposisikannya sebagai kecenderungan jangka panjang yang dibatasi oleh friksi ekonomi.⁸

7.5.       Alternatif Kontemporer: Ekonomi Perilaku dan Institusional

Perkembangan terbaru dalam ekonomi perilaku dan ekonomi institusional semakin menantang konsep netralitas uang. Ekonomi perilaku menunjukkan bahwa bias kognitif, heuristik, dan money illusion dapat memperpanjang dampak riil perubahan moneter.⁹ Sementara itu, ekonomi institusional menekankan bahwa desain institusi moneter dan keuangan memengaruhi cara uang berinteraksi dengan sektor riil.

Pendekatan-pendekatan ini menyoroti bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai simbol nilai dan kepercayaan, yang pengaruhnya terhadap perilaku ekonomi tidak selalu netral.¹⁰ Dengan demikian, analisis moneter yang mengabaikan dimensi perilaku dan institusional berisiko menghasilkan kesimpulan yang tidak lengkap.


Sintesis Kritis dan Arah Pengembangan Konseptual

Berdasarkan kritik dan alternatif konseptual di atas, dapat disimpulkan bahwa netralitas uang memiliki keterbatasan sebagai prinsip universal. Konsep ini tetap berguna sebagai kerangka analitis dasar, tetapi harus dipahami secara kontekstual dan historis. Netralitas uang lebih tepat diperlakukan sebagai hipotesis bersyarat yang valid dalam kondisi tertentu, bukan sebagai hukum ekonomi yang tidak dapat diganggu gugat.

Arah pengembangan konseptual ke depan mengarah pada integrasi antara teori moneter tradisional dengan pendekatan perilaku, institusional, dan empiris yang lebih kaya. Pendekatan integratif ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran uang dalam perekonomian modern, tanpa terjebak dalam dikotomi netralitas versus non-netralitas yang terlalu sederhana.


Footnotes

1.      Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston: Pearson, 2021), 52–55.

2.      Herbert A. Simon, Administrative Behavior, 4th ed. (New York: Free Press, 1997), 88–92.

3.      Christopher A. Sims, “Macroeconomics and Reality,” Econometrica 48, no. 1 (1980): 1–48.

4.      Joseph E. Stiglitz, The Price of Inequality (New York: W. W. Norton, 2012), 93–100.

5.      Barry Eichengreen, Globalizing Capital: A History of the International Monetary System (Princeton: Princeton University Press, 2008), 9–15.

6.      Karl Polanyi, The Great Transformation (Boston: Beacon Press, 1944), 72–76.

7.      John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.

8.      Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 31–35.

9.      George A. Akerlof and Robert J. Shiller, Animal Spirits (Princeton: Princeton University Press, 2009), 41–45.

10.  Douglass C. North, Institutions, Institutional Change and Economic Performance (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 3–10.


8.           BAB VIII SINTESIS DAN KESIMPULAN

8.1.       Sintesis Teoretis dan Empiris

Kajian ini telah menelusuri konsep netralitas uang secara komprehensif, mulai dari landasan teoretis, perkembangan historis, perbedaan implikasi jangka pendek dan jangka panjang, hingga bukti empiris serta konsekuensi kebijakan moneter. Secara teoretis, netralitas uang berakar kuat dalam tradisi ekonomi klasik yang memandang uang sebagai instrumen nominal yang tidak memengaruhi struktur riil perekonomian. Pandangan ini diperkuat oleh teori kuantitas uang dan konsep classical dichotomy, yang memisahkan secara tegas sektor moneter dan sektor riil.¹

Namun, perkembangan pemikiran ekonomi modern menunjukkan bahwa netralitas uang tidak dapat dipahami secara absolut. Kritik Keynesian dan pendekatan New Keynesian menegaskan bahwa dalam jangka pendek, rigiditas harga dan upah serta ketidakpastian ekonomi menyebabkan uang bersifat tidak netral.² Monetarisme dan ekonomi klasik baru kemudian menempatkan netralitas uang sebagai kecenderungan jangka panjang, dengan syarat ekspektasi rasional dan penyesuaian harga yang sempurna.³

Dari sisi empiris, hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten namun bersyarat. Di negara-negara dengan institusi moneter yang stabil dan kredibel, uang cenderung netral dalam jangka panjang, sementara di negara berkembang, pengaruh uang terhadap variabel riil sering kali lebih persisten.⁴ Temuan ini memperkuat pandangan bahwa netralitas uang merupakan fenomena kontekstual yang sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi, institusi, dan kredibilitas kebijakan.

8.2.       Kesimpulan Utama

Berdasarkan keseluruhan pembahasan, beberapa kesimpulan utama dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, netralitas uang merupakan konsep analitis yang berguna untuk memahami batas-batas peran uang dalam perekonomian, khususnya dalam jangka panjang. Kedua, uang tidak sepenuhnya netral dalam jangka pendek, karena adanya friksi ekonomi, ekspektasi yang tidak sempurna, dan ketidaksempurnaan pasar. Ketiga, validitas empiris netralitas uang bersifat relatif dan bergantung pada kondisi institusional serta stabilitas kebijakan moneter.

Dengan demikian, netralitas uang tidak dapat diperlakukan sebagai hukum ekonomi universal, melainkan sebagai hipotesis teoretis yang perlu diuji dan dievaluasi secara berkelanjutan. Pemahaman yang terlalu dogmatis terhadap netralitas uang berisiko mengabaikan kompleksitas ekonomi nyata dan dinamika sosial yang melingkupi sistem moneter.

8.3.       Implikasi Teoretis dan Kebijakan

Secara teoretis, kajian ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif dalam ekonomi makro. Pemisahan yang terlalu kaku antara sektor moneter dan sektor riil tidak lagi memadai untuk menjelaskan dinamika ekonomi modern. Integrasi antara teori klasik, Keynesian, perilaku, dan institusional menawarkan kerangka analisis yang lebih kaya dan realistis.⁵

Dari sisi kebijakan, pemahaman mengenai netralitas uang memberikan pedoman penting bagi peran bank sentral. Kebijakan moneter memiliki ruang efektivitas dalam jangka pendek sebagai instrumen stabilisasi, tetapi tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan output riil secara permanen. Dalam jangka panjang, fokus kebijakan moneter seharusnya diarahkan pada stabilitas harga, kredibilitas institusi, dan penciptaan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil.⁶

8.4.       Keterbatasan Kajian dan Rekomendasi Penelitian Lanjutan

Kajian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, pembahasan empiris masih bersifat sintesis literatur dan belum mencakup estimasi ekonometrik spesifik pada suatu negara atau periode tertentu. Kedua, fokus kajian masih berada pada kerangka ekonomi makro arus utama, sehingga pendekatan alternatif—seperti ekonomi politik moneter atau perspektif normatif—belum dieksplorasi secara mendalam.

Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menguji netralitas uang menggunakan data mikro dan makro yang lebih kaya, serta mempertimbangkan dimensi distribusional dan institusional secara lebih eksplisit. Studi lintas negara dan lintas rezim kebijakan juga diperlukan untuk memahami variasi empiris netralitas uang dalam konteks global yang semakin terintegrasi.


Penutup

Sebagai penutup, kajian ini menegaskan bahwa netralitas uang merupakan konsep yang penting namun terbatas. Nilai utamanya terletak pada kemampuannya menyediakan kerangka analitis untuk memahami peran uang dalam perekonomian, bukan pada klaim kebenaran absolutnya. Dengan pendekatan yang kritis, terbuka, dan berbasis bukti, konsep netralitas uang dapat terus dikembangkan dan disesuaikan dengan dinamika ekonomi modern yang semakin kompleks.


Footnotes

1.      David Hume, Of Money, dalam Political Discourses (Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).

2.      John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.

3.      Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.

4.      Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 593–596.

5.      Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 3–7.

6.      Ben S. Bernanke et al., Inflation Targeting: Lessons from the International Experience (Princeton: Princeton University Press, 1999), 9–13.


Daftar Pustaka

Akerlof, G. A., & Shiller, R. J. (2009). Animal spirits: How human psychology drives the economy, and why it matters for global capitalism. Princeton University Press.

Akerlof, G. A., & Yellen, J. L. (1985). A near-rational model of the business cycle, with wage and price inertia. The Quarterly Journal of Economics, 100(5), 823–838. doi.org

Ball, L. M. (1993). Money, inflation, and output. MIT Press.

Barro, R. J. (1977). Unanticipated money growth and unemployment in the United States. American Economic Review, 67(2), 101–115.

Barro, R. J. (1984). Macroeconomics: A modern approach. Harcourt Brace Jovanovich.

Barro, R. J., & Sala-i-Martin, X. (2004). Economic growth (2nd ed.). MIT Press.

Bernanke, B. S. (2005). Central bank independence, transparency, and accountability. Journal of Monetary Economics, 52(1), 145–156. doi.org

Bernanke, B. S., Gertler, M., & Gilchrist, S. (1999). Inflation targeting: Lessons from the international experience. Princeton University Press.

Bernanke, B. S., & Gertler, M. (1995). Inside the black box: The credit channel of monetary policy transmission. Journal of Economic Perspectives, 9(4), 27–48. doi.org

Blanchard, O. (2021). Macroeconomics (8th ed.). Pearson Education.

Borio, C. (2014). The financial cycle and macroeconomics: What have we learnt? Journal of Banking & Finance, 45, 182–198. doi.org

Calvo, G. A., & Reinhart, C. M. (2002). Fear of floating. The Quarterly Journal of Economics, 117(2), 379–408. doi.org

Eichengreen, B. (2008). Globalizing capital: A history of the international monetary system (2nd ed.). Princeton University Press.

Edwards, S. (1995). Crisis and reform in Latin America: From despair to hope. Oxford University Press.

Fisher, I. (1911). The purchasing power of money. Macmillan.

Friedman, M. (1968). The role of monetary policy. American Economic Review, 58(1), 1–17.

Friedman, M., & Schwartz, A. J. (1963). A monetary history of the United States, 1867–1960. Princeton University Press.

Goodfriend, M., & King, R. G. (1997). The new neoclassical synthesis and the role of monetary policy. NBER Macroeconomics Annual, 12, 231–283.

Hume, D. (1752). Of money. In Political discourses. A. Kincaid & A. Donaldson.

Johansen, S. (1995). Likelihood-based inference in cointegrated vector autoregressive models. Oxford University Press.

Keynes, J. M. (1936). The general theory of employment, interest and money. Macmillan.

Lucas, R. E., Jr. (1972). Expectations and the neutrality of money. Journal of Economic Theory, 4(2), 103–124. doi.org

Lucas, R. E., Jr. (1996). Money neutrality. Journal of Political Economy, 104(4), 661–682. doi.org

Mankiw, N. G. (2019). Macroeconomics (10th ed.). Worth Publishers.

Mishkin, F. S. (2019). The economics of money, banking, and financial markets (12th ed.). Pearson Education.

North, D. C. (1990). Institutions, institutional change and economic performance. Cambridge University Press.

Polanyi, K. (1944). The great transformation. Beacon Press.

Romer, D. (2019). Advanced macroeconomics (5th ed.). McGraw-Hill Education.

Sargent, T. J. (1982). The ends of four big inflations. In R. E. Hall (Ed.), Inflation: Causes and effects (pp. 41–97). University of Chicago Press.

Sargent, T. J. (1987). Macroeconomic theory (2nd ed.). Academic Press.

Sargent, T. J., & Wallace, N. (1976). Rational expectations and the theory of economic policy. Journal of Monetary Economics, 2(2), 169–183. doi.org

Sims, C. A. (1980). Macroeconomics and reality. Econometrica, 48(1), 1–48. doi.org

Skousen, M. (2001). The making of modern economics. M. E. Sharpe.

Stiglitz, J. E. (2012). The price of inequality. W. W. Norton & Company.

Taylor, J. B. (1993). Discretion versus policy rules in practice. Carnegie-Rochester Conference Series on Public Policy, 39, 195–214.doi.org

Woodford, M. (2003). Interest and prices: Foundations of a theory of monetary policy. Princeton University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar