Netralitas Uang
Analisis Konseptual, Historis, dan Empiris
Alihkan ke: Ilmu
Ekonomi.
Abstrak
Artikel ini mengkaji konsep netralitas uang
(neutrality of money) dalam kerangka ekonomi makro melalui pendekatan
teoretis, historis, dan empiris. Tujuan utama kajian ini adalah untuk
menganalisis sejauh mana perubahan jumlah uang beredar memengaruhi variabel
nominal dan variabel riil, serta menilai validitas konsep netralitas uang dalam
konteks perekonomian modern. Secara teoretis, artikel ini menelusuri akar
pemikiran netralitas uang dalam tradisi ekonomi klasik, kritik Keynesian, serta
perkembangan lanjutan dalam monetarisme, ekonomi klasik baru, dan pendekatan
New Keynesian. Selanjutnya, kajian ini membedakan implikasi netralitas uang
dalam jangka pendek dan jangka panjang dengan menekankan peran rigiditas harga,
ekspektasi, dan mekanisme transmisi kebijakan moneter.
Dari sisi empiris, artikel ini mensintesis
temuan-temuan utama dari studi lintas negara yang menunjukkan bahwa uang
cenderung bersifat netral dalam jangka panjang, terutama di negara dengan
institusi moneter yang stabil dan kredibel, tetapi bersifat tidak netral dalam
jangka pendek dan dalam konteks negara berkembang. Analisis ini kemudian
dikaitkan dengan implikasi kebijakan moneter, khususnya mengenai batas
efektivitas kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan riil dan pentingnya
fokus pada stabilitas harga. Artikel ini menyimpulkan bahwa netralitas uang
bukanlah hukum ekonomi yang universal, melainkan hipotesis teoretis yang bersifat
relatif, kontekstual, dan terbuka terhadap pengujian empiris serta pengembangan
konseptual lanjutan.
Kata kunci: netralitas
uang; kebijakan moneter; variabel nominal; variabel riil; inflasi; ekonomi
makro.
PEMBAHASAN
Netralitas Uang dalam Teori dan Praktik Ekonomi Makro
1.
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Uang merupakan salah satu
institusi fundamental dalam sistem ekonomi modern. Keberadaannya tidak hanya
berfungsi sebagai alat tukar, satuan hitung, dan penyimpan nilai, tetapi juga memainkan
peran strategis dalam menentukan stabilitas makroekonomi, tingkat inflasi,
serta efektivitas kebijakan publik. Dalam kerangka ekonomi makro, perdebatan
mengenai sejauh mana uang memengaruhi aktivitas ekonomi riil telah melahirkan
salah satu konsep paling klasik sekaligus kontroversial, yakni netralitas
uang (neutrality of money).
Konsep netralitas uang
berangkat dari pandangan bahwa perubahan jumlah uang beredar hanya berdampak
pada variabel nominal—seperti tingkat harga dan upah nominal—tanpa memengaruhi
variabel riil seperti output, tingkat produksi, dan kesempatan kerja,
setidaknya dalam jangka panjang. Gagasan ini berakar kuat dalam tradisi ekonomi
klasik yang memandang uang sekadar sebagai veil, yakni selubung yang
menutupi transaksi riil tanpa mengubah struktur fundamental perekonomian.¹
Dalam perspektif ini, sektor riil ditentukan oleh faktor-faktor non-moneter
seperti teknologi, tenaga kerja, dan modal, sementara uang hanya menyesuaikan
diri untuk memfasilitasi pertukaran.
Namun demikian, perkembangan
pemikiran ekonomi selanjutnya menunjukkan bahwa asumsi netralitas uang tidak
selalu sejalan dengan realitas empiris. Krisis ekonomi, fluktuasi siklus
bisnis, serta intervensi kebijakan moneter yang agresif sering kali
memperlihatkan bahwa perubahan jumlah uang beredar dapat memengaruhi output dan
tingkat pengangguran, terutama dalam jangka pendek.² Pandangan ini menjadi
dasar kritik utama aliran Keynesian terhadap ekonomi klasik, yang menekankan
adanya rigiditas harga dan upah serta ketidaksempurnaan pasar yang menyebabkan
uang bersifat tidak netral dalam kondisi tertentu.³
Perdebatan tersebut semakin
kompleks dengan munculnya aliran monetaris dan ekonomi klasik baru (new
classical economics). Monetarisme, sebagaimana dirumuskan oleh Milton Friedman,
menerima gagasan bahwa uang bersifat netral dalam jangka panjang, tetapi
menegaskan bahwa dalam jangka pendek perubahan moneter dapat menimbulkan efek
riil akibat keterlambatan penyesuaian ekspektasi dan harga.⁴ Sementara itu,
pendekatan klasik baru dengan asumsi ekspektasi rasional berupaya memulihkan
netralitas uang melalui argumen bahwa hanya kebijakan moneter yang tidak
terantisipasi yang dapat memengaruhi variabel riil.⁵
Dalam konteks ekonomi
kontemporer, diskursus mengenai netralitas uang tetap relevan, khususnya di
tengah kebijakan pelonggaran moneter, inflasi global, serta dinamika ekonomi
negara berkembang yang ditandai oleh ketergantungan tinggi terhadap likuiditas.
Fakta bahwa banyak negara mengalami inflasi tanpa pertumbuhan riil yang sepadan
menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah uang benar-benar netral, ataukah sifat
netralitasnya bersifat kontekstual dan relatif terhadap kondisi institusional
tertentu?
Berdasarkan latar belakang
tersebut, kajian mengenai netralitas uang tidak hanya penting secara teoretis,
tetapi juga memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi perumusan dan
evaluasi kebijakan moneter. Oleh karena itu, diperlukan pembahasan yang
sistematis, historis, dan empiris guna memahami batas-batas validitas konsep
netralitas uang dalam perekonomian modern.
1.2.
Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang
di atas, permasalahan utama yang dikaji dalam artikel ini dirumuskan sebagai
berikut:
1) Apa yang dimaksud dengan konsep netralitas uang dalam teori
ekonomi makro?
2) Bagaimana perkembangan historis pemikiran mengenai netralitas
uang dari ekonomi klasik hingga pendekatan kontemporer?
3) Dalam kondisi apa uang bersifat netral dan tidak netral terhadap
variabel riil?
4) Sejauh mana bukti empiris mendukung atau menolak hipotesis
netralitas uang?
5) Apa implikasi konsep netralitas uang terhadap kebijakan moneter
modern?
1.3.
Tujuan dan Manfaat
Kajian
Kajian ini bertujuan untuk:
1) Menjelaskan konsep dan asumsi dasar netralitas uang secara
sistematis.
2) Menganalisis perdebatan teoretis lintas aliran ekonomi mengenai
netralitas uang.
3) Mengkaji bukti empiris terkait pengaruh uang terhadap variabel
riil.
4) Menilai implikasi kebijakan moneter berdasarkan validitas
relatif konsep netralitas uang.
Adapun manfaat kajian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan teori ekonomi
makro, sekaligus menjadi rujukan konseptual bagi pembuat kebijakan dalam
merancang kebijakan moneter yang lebih efektif dan kontekstual.
1.4.
Ruang Lingkup dan
Batasan Kajian
Pembahasan dalam artikel ini
difokuskan pada netralitas uang dalam kerangka ekonomi makro, dengan penekanan
pada perbandingan antara jangka pendek dan jangka panjang. Kajian ini tidak
secara rinci membahas aspek mikroekonomi uang maupun instrumen teknis kebijakan
moneter, kecuali sejauh relevan dengan analisis teoretis dan empiris netralitas
uang. Selain itu, pembahasan dibatasi pada literatur arus utama ekonomi makro,
dengan kesadaran bahwa pendekatan alternatif dapat memberikan perspektif
tambahan yang berharga.
Footnotes
1. David Hume, Of Money, dalam Political Discourses
(Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).
2. N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York:
Worth Publishers, 2019), 275–278.
3. John Maynard Keynes, The General Theory of Employment,
Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.
4. Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American
Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.
5. Robert E. Lucas Jr., “Expectations and the Neutrality of Money,”
Journal of Economic Theory 4, no. 2 (1972): 103–124.
2.
BAB II LANDASAN
TEORETIS DAN KONSEPTUAL
2.1.
Pengertian dan Konsep
Dasar Netralitas Uang
Netralitas uang (neutrality
of money) merupakan salah satu konsep fundamental dalam teori ekonomi
makro yang menjelaskan hubungan antara sektor moneter dan sektor riil. Secara
umum, netralitas uang merujuk pada kondisi di mana perubahan jumlah uang
beredar hanya memengaruhi variabel nominal—seperti tingkat harga, upah nominal,
dan nilai tukar nominal—tanpa menimbulkan dampak terhadap variabel riil seperti
output, konsumsi, investasi, dan kesempatan kerja.¹ Dengan demikian, uang
dipandang tidak memiliki kekuatan kausal terhadap struktur riil perekonomian.
Konsep ini erat kaitannya
dengan gagasan classical dichotomy, yakni pemisahan analitis antara
sektor moneter dan sektor riil. Dalam kerangka ini, sektor riil ditentukan oleh
faktor-faktor fundamental seperti teknologi, preferensi, dan endowmen sumber
daya, sementara sektor moneter hanya berperan dalam menentukan tingkat harga.²
Oleh karena itu, perubahan moneter dianggap tidak mampu mengubah keseimbangan
riil yang telah ditentukan oleh mekanisme pasar.
Pemahaman tentang netralitas
uang juga menuntut pembedaan yang jelas antara variabel nominal dan variabel
riil. Variabel nominal diukur dalam satuan uang yang berlaku, sedangkan
variabel riil mencerminkan daya beli atau kuantitas aktual barang dan jasa.
Netralitas uang menyiratkan bahwa meskipun nilai nominal dapat berubah akibat
kebijakan moneter, nilai riil tetap konstan setelah penyesuaian penuh terjadi.³
2.2.
Asumsi-Asumsi
Fundamental Netralitas Uang
Netralitas uang bukanlah
hukum empiris yang berdiri sendiri, melainkan kesimpulan teoretis yang
bergantung pada sejumlah asumsi dasar. Pertama, asumsi fleksibilitas
harga dan upah menyatakan bahwa harga barang dan upah tenaga kerja
dapat menyesuaikan secara cepat dan sempurna terhadap perubahan kondisi
moneter. Dalam kondisi ini, setiap peningkatan jumlah uang beredar akan segera
diimbangi oleh kenaikan tingkat harga, tanpa menimbulkan distorsi pada output
riil.⁴
Kedua, asumsi ekspektasi
rasional memainkan peran penting, khususnya dalam ekonomi klasik baru.
Pelaku ekonomi diasumsikan mampu menggunakan seluruh informasi yang tersedia
secara efisien, termasuk memahami implikasi kebijakan moneter. Akibatnya,
kebijakan moneter yang dapat diprediksi tidak akan menimbulkan efek riil,
karena telah diantisipasi dan diinternalisasi dalam keputusan ekonomi.⁵
Ketiga, asumsi pasar
kompetitif dan informasi sempurna menyiratkan tidak adanya friksi
struktural seperti monopoli, asimetri informasi, atau hambatan institusional. Dalam
kondisi ideal ini, mekanisme harga bekerja secara optimal untuk mengalokasikan
sumber daya, sehingga uang tidak memiliki peran independen dalam menentukan
hasil riil.⁶
Asumsi-asumsi tersebut
menunjukkan bahwa netralitas uang bersifat kondisional, bukan
absolut. Ketika salah satu asumsi dilanggar—misalnya akibat rigiditas harga,
kontrak jangka panjang, atau ketidaksempurnaan pasar—maka uang berpotensi
menjadi tidak netral.
2.3.
Netralitas Uang dan
Teori Kuantitas Uang
Landasan konseptual paling
awal bagi netralitas uang dapat ditemukan dalam Teori Kuantitas Uang
(Quantity Theory of Money). Teori ini dirumuskan secara formal melalui
persamaan pertukaran:
MV = PY
di mana M adalah
jumlah uang beredar, V adalah kecepatan peredaran uang, P
adalah tingkat harga, dan Y adalah output riil.⁷ Dalam versi klasik
teori ini, V dan Y dianggap relatif konstan dalam jangka
panjang, sehingga perubahan M akan berbanding lurus dengan perubahan P.
Implikasi utama dari
persamaan tersebut adalah bahwa peningkatan jumlah uang beredar akan
menyebabkan inflasi proporsional, tanpa memengaruhi output riil. Pandangan ini
memperkuat argumen bahwa uang bersifat netral dan hanya berfungsi sebagai alat
ukur nilai, bukan sebagai penentu aktivitas ekonomi.⁸
Namun, kritik terhadap teori
kuantitas uang menunjukkan bahwa asumsi kestabilan V dan eksogenitas Y
sering kali tidak terpenuhi, terutama dalam kondisi ekonomi modern yang
kompleks. Perubahan perilaku masyarakat dalam memegang uang, perkembangan
sistem keuangan, dan inovasi teknologi dapat menyebabkan kecepatan peredaran
uang berfluktuasi secara signifikan.⁹ Hal ini membuka ruang bagi interpretasi
yang lebih fleksibel mengenai netralitas uang.
2.4.
Netralitas Uang dalam
Perspektif Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam literatur ekonomi makro
modern, netralitas uang umumnya diposisikan sebagai fenomena jangka
panjang, bukan jangka pendek. Milton Friedman menegaskan bahwa “uang
bersifat netral dalam jangka panjang, tetapi tidak dalam jangka pendek,” karena
adanya keterlambatan penyesuaian harga dan ekspektasi.¹⁰ Dalam jangka pendek,
perubahan jumlah uang beredar dapat memengaruhi permintaan agregat, output, dan
tingkat pengangguran.
Perbedaan ini menjadi dasar
bagi pembedaan antara netralitas uang dan supernetralitas
uang. Netralitas uang menyatakan bahwa tingkat uang beredar tidak
memengaruhi variabel riil, sedangkan supernetralitas uang menyatakan bahwa
bahkan laju pertumbuhan uang pun tidak berpengaruh terhadap variabel riil.¹¹
Banyak studi empiris menunjukkan bahwa supernetralitas uang lebih sulit
dipertahankan dibandingkan netralitas uang biasa.
Dengan demikian, pemahaman
modern tentang netralitas uang cenderung bersifat relatif dan kontekstual. Uang
dapat bersifat netral dalam jangka panjang ketika penyesuaian telah lengkap,
tetapi bersifat tidak netral dalam jangka pendek ketika friksi ekonomi masih
dominan.
2.5.
Kerangka Konseptual
Analisis Netralitas Uang
Berdasarkan uraian teoretis
di atas, kerangka konseptual analisis netralitas uang dapat disusun dengan
menempatkan jumlah uang beredar sebagai variabel independen, tingkat
harga sebagai variabel nominal utama, dan output riil serta
kesempatan kerja sebagai variabel dependen riil. Hubungan
antarvariabel tersebut dimediasi oleh faktor-faktor seperti ekspektasi,
rigiditas harga, struktur pasar, dan kredibilitas kebijakan moneter.
Kerangka ini memungkinkan
analisis yang lebih komprehensif mengenai kondisi-kondisi di mana uang bersifat
netral atau tidak netral. Dengan pendekatan ini, netralitas uang tidak dipahami
sebagai doktrin dogmatis, melainkan sebagai hipotesis teoretis yang harus diuji
secara empiris dan dievaluasi secara kontekstual sesuai dengan karakteristik
perekonomian yang dikaji.
Footnotes
1. N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York:
Worth Publishers, 2019), 74.
2. David Hume, Of Money, dalam Political Discourses
(Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).
3. Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston:
Pearson, 2021), 36–38.
4. Robert J. Barro, Macroeconomics: A Modern Approach (New
York: Harcourt Brace Jovanovich, 1984), 213.
5. Robert E. Lucas Jr., “Expectations and the Neutrality of Money,”
Journal of Economic Theory 4, no. 2 (1972): 103–124.
6. Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a
Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003),
12–15.
7. Irving Fisher, The Purchasing Power of Money (New York:
Macmillan, 1911), 25–27.
8. Milton Friedman, A Monetary History of the United States,
1867–1960 (Princeton: Princeton University Press, 1963), 3–5.
9. Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and
Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 326–329.
10. Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American
Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.
11. Laurence M. Ball, Money, Inflation, and Output
(Cambridge: MIT Press, 1993), 45–47.
3.
BAB III PERKEMBANGAN
HISTORIS PEMIKIRAN NETRALITAS UANG
3.1.
Akar Pemikiran Klasik:
Uang sebagai “Selubung” (Veil of Money)
Gagasan mengenai netralitas
uang pertama kali memperoleh bentuk sistematis dalam tradisi ekonomi klasik.
Para pemikir klasik memandang uang semata-mata sebagai alat tukar yang
memfasilitasi transaksi, tanpa memiliki pengaruh intrinsik terhadap aktivitas
ekonomi riil. Salah satu tokoh awal yang merumuskan pandangan ini adalah David
Hume, yang berargumen bahwa peningkatan jumlah uang beredar hanya akan
menaikkan harga-harga secara proporsional, sementara output dan kesempatan
kerja akan kembali ke tingkat semula setelah proses penyesuaian selesai.¹
Pandangan Hume ini kemudian
menjadi fondasi bagi apa yang dikenal sebagai classical dichotomy,
yaitu pemisahan antara sektor moneter dan sektor riil. Dalam kerangka ini,
sektor riil ditentukan oleh faktor-faktor fundamental seperti teknologi, modal,
dan tenaga kerja, sedangkan uang hanya menentukan tingkat harga.² Dengan
demikian, uang diposisikan sebagai veil of money, suatu selubung yang
menutupi transaksi riil tanpa mengubah struktur dasar perekonomian.
Pandangan klasik ini juga
tercermin dalam pemikiran ekonom seperti Adam Smith dan Jean-Baptiste Say, yang
menekankan bahwa produksi dan pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh penawaran,
bukan oleh faktor moneter. Uang, dalam perspektif ini, bersifat netral karena
tidak memiliki kapasitas untuk menciptakan kekayaan riil.³
3.2.
Kritik Keynesian:
Penolakan terhadap Netralitas Uang
Dominasi pandangan klasik
mengenai netralitas uang mulai dipertanyakan secara serius pada awal abad
ke-20, terutama setelah terjadinya Depresi Besar (Great Depression). John
Maynard Keynes mengajukan kritik fundamental terhadap asumsi fleksibilitas
harga dan upah yang menjadi pilar utama netralitas uang. Dalam The General
Theory of Employment, Interest and Money, Keynes menegaskan bahwa dalam
kondisi tertentu, khususnya ketika perekonomian mengalami pengangguran massal,
perubahan moneter dapat memiliki dampak signifikan terhadap output dan
kesempatan kerja.⁴
Menurut Keynes, rigiditas
harga dan upah, preferensi likuiditas, serta ketidakpastian yang tinggi
menyebabkan mekanisme penyesuaian pasar tidak bekerja secara otomatis. Dalam situasi
tersebut, peningkatan jumlah uang beredar dapat mendorong penurunan suku bunga,
meningkatkan investasi, dan pada akhirnya meningkatkan output riil.⁵ Oleh
karena itu, uang tidak dapat dianggap netral, setidaknya dalam jangka pendek.
Pandangan Keynesian ini
menggeser fokus analisis dari penawaran ke permintaan agregat dan membuka ruang
bagi kebijakan moneter dan fiskal yang aktif. Dalam kerangka ini, uang bukan
sekadar alat tukar, melainkan instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk
menstabilkan perekonomian.
3.3.
Monetarisme:
Netralitas Jangka Panjang dan Non-Netralitas Jangka Pendek
Pada pertengahan abad ke-20,
muncul aliran monetarisme yang dipelopori oleh Milton Friedman. Monetarisme
berupaya merekonsiliasi sebagian pandangan klasik dengan temuan empiris
Keynesian. Friedman menerima gagasan bahwa uang bersifat netral dalam jangka
panjang, tetapi menolak klaim bahwa kebijakan moneter tidak berpengaruh sama
sekali terhadap sektor riil.⁶
Friedman memperkenalkan
konsep natural rate of unemployment, yang menyatakan bahwa
perekonomian memiliki tingkat pengangguran alami yang ditentukan oleh faktor
struktural, bukan oleh kebijakan moneter. Kebijakan moneter ekspansif hanya
dapat menurunkan pengangguran di bawah tingkat alaminya untuk sementara waktu,
sebelum akhirnya memicu inflasi.⁷ Dalam jangka panjang, output dan pengangguran
akan kembali ke tingkat alaminya, sehingga uang kembali bersifat netral.
Dengan demikian, monetarisme
menempatkan netralitas uang sebagai fenomena jangka panjang, sekaligus mengakui
adanya non-netralitas uang dalam jangka pendek akibat keterlambatan penyesuaian
ekspektasi dan harga.
3.4.
Ekonomi Klasik Baru
dan Ekspektasi Rasional
Perkembangan selanjutnya
ditandai oleh munculnya ekonomi klasik baru (new classical economics)
pada 1970-an, yang dipelopori oleh Robert E. Lucas Jr. Aliran ini
memperkenalkan asumsi ekspektasi rasional, yaitu bahwa pelaku ekonomi
menggunakan seluruh informasi yang tersedia secara efisien dalam membuat
keputusan.⁸
Dalam kerangka ini, kebijakan
moneter yang dapat diprediksi tidak akan memengaruhi variabel riil, karena
telah diantisipasi oleh pelaku ekonomi. Hanya kejutan moneter yang tidak
terantisipasi (unanticipated monetary shocks) yang dapat memengaruhi
output dan kesempatan kerja. Konsekuensinya, efektivitas kebijakan moneter
menjadi sangat terbatas, dan netralitas uang kembali ditegaskan dalam bentuk
yang lebih ketat.⁹
Pandangan ini dikenal dengan policy
ineffectiveness proposition, yang menyatakan bahwa kebijakan moneter
sistematis tidak memiliki dampak riil. Meskipun secara teoretis elegan,
pendekatan ini menuai kritik karena dianggap terlalu bergantung pada asumsi
informasi sempurna dan fleksibilitas harga yang tidak realistis.
Pendekatan
Kontemporer: New Keynesian dan Sintesis Modern
Sebagai respons terhadap
keterbatasan ekonomi klasik baru, muncul pendekatan New Keynesian yang
mengintegrasikan ekspektasi rasional dengan rigiditas nominal, seperti harga
kaku (sticky prices) dan upah kaku. Dalam model New Keynesian, uang
dan kebijakan moneter memiliki efek riil dalam jangka pendek, tetapi efek
tersebut memudar dalam jangka panjang seiring penyesuaian harga.¹⁰
Pendekatan ini melahirkan apa
yang dikenal sebagai New Neoclassical Synthesis, yakni sintesis antara
elemen klasik dan Keynesian. Dalam sintesis ini, netralitas uang tetap diakui
sebagai kecenderungan jangka panjang, tetapi non-netralitas uang dalam jangka
pendek dipahami sebagai konsekuensi logis dari friksi ekonomi.¹¹
Dengan demikian, perkembangan
historis pemikiran netralitas uang menunjukkan pergeseran dari pandangan
absolut menuju pemahaman yang lebih kontekstual dan dinamis. Netralitas uang
tidak lagi dipahami sebagai dogma universal, melainkan sebagai hipotesis
teoretis yang valid dalam kondisi tertentu dan terbuka terhadap pengujian
empiris.
Footnotes
1. David Hume, Of Money, dalam Political Discourses
(Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).
2. N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York:
Worth Publishers, 2019), 76–78.
3. Mark Skousen, The Making of Modern Economics (Armonk,
NY: M.E. Sharpe, 2001), 63–67.
4. John Maynard Keynes, The General Theory of Employment,
Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.
5. Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston:
Pearson, 2021), 49–52.
6. Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American
Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.
7. Milton Friedman, A Monetary History of the United States,
1867–1960 (Princeton: Princeton University Press, 1963), 3–5.
8. Robert E. Lucas Jr., “Expectations and the Neutrality of Money,”
Journal of Economic Theory 4, no. 2 (1972): 103–124.
9. Thomas J. Sargent and Neil Wallace, “Rational Expectations and
the Theory of Economic Policy,” Journal of Monetary Economics 2, no. 2
(1976): 169–183.
10. Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a
Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003),
31–35.
11. Marvin Goodfriend and Robert G. King, “The New Neoclassical
Synthesis and the Role of Monetary Policy,” NBER Macroeconomics Annual
12 (1997): 231–283.
4.
BAB IV NETRALITAS
UANG DALAM JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG
4.1.
Kerangka Konseptual
Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam analisis ekonomi makro,
pembedaan antara jangka pendek dan jangka panjang merupakan perangkat
konseptual penting untuk memahami perilaku variabel ekonomi. Jangka pendek
umumnya dipahami sebagai periode ketika harga dan upah belum sepenuhnya
menyesuaikan terhadap perubahan kondisi ekonomi, sedangkan jangka panjang
merujuk pada kondisi di mana penyesuaian tersebut telah berlangsung secara
penuh.¹ Perbedaan ini menjadi dasar utama dalam membahas netralitas uang.
Netralitas uang secara
teoretis lebih relevan dalam jangka panjang, ketika mekanisme pasar bekerja
tanpa hambatan nominal. Dalam kondisi tersebut, perubahan jumlah uang beredar
hanya akan memengaruhi tingkat harga, sementara variabel riil kembali ke
tingkat keseimbangannya. Sebaliknya, dalam jangka pendek, adanya rigiditas
nominal menyebabkan uang berpotensi memengaruhi output, tingkat pengangguran,
dan variabel riil lainnya.²
4.2.
Non-Netralitas Uang
dalam Jangka Pendek
Ketidaknetralan uang dalam
jangka pendek terutama disebabkan oleh rigiditas harga dan upah
(price and wage stickiness). Kontrak jangka panjang, biaya penyesuaian
harga (menu costs), serta faktor institusional menyebabkan harga dan
upah tidak dapat segera menyesuaikan terhadap perubahan moneter.³ Akibatnya,
peningkatan jumlah uang beredar dapat meningkatkan permintaan agregat dan
mendorong kenaikan output riil untuk sementara waktu.
Selain itu, ekspektasi
adaptif dan informasi yang tidak sempurna turut memperkuat
non-netralitas uang. Ketika pelaku ekonomi belum sepenuhnya memahami sifat
perubahan moneter, mereka dapat salah menafsirkan kenaikan harga sebagai sinyal
peningkatan permintaan riil, sehingga meningkatkan produksi dan penggunaan
tenaga kerja.⁴ Fenomena ini sering disebut sebagai money illusion,
yakni kecenderungan untuk merespons perubahan nominal seolah-olah perubahan
tersebut bersifat riil.
Dalam kerangka Keynesian dan
New Keynesian, kebijakan moneter ekspansif dalam jangka pendek dapat menurunkan
suku bunga riil, meningkatkan investasi dan konsumsi, serta mengurangi
pengangguran. Oleh karena itu, uang dipandang memiliki peran aktif dalam
stabilisasi siklus bisnis, meskipun efek tersebut bersifat sementara.⁵
4.3.
Mekanisme Transmisi
Kebijakan Moneter
Efek non-netralitas uang
dalam jangka pendek bekerja melalui berbagai mekanisme transmisi
kebijakan moneter. Mekanisme yang paling umum adalah saluran
suku bunga, di mana perubahan suku bunga kebijakan memengaruhi
keputusan konsumsi dan investasi.⁶
Selain itu, terdapat saluran
kredit, yang menekankan peran kondisi keuangan dan akses terhadap
pembiayaan dalam memediasi dampak kebijakan moneter. Ketika likuiditas
meningkat, kemampuan sektor riil untuk memperoleh kredit juga meningkat,
sehingga mendorong aktivitas ekonomi.⁷ Saluran ekspektasi juga memainkan peran
penting, karena persepsi pelaku ekonomi terhadap kebijakan moneter masa depan
dapat memengaruhi keputusan saat ini.
Keberadaan berbagai saluran
transmisi ini menunjukkan bahwa uang tidak bekerja secara mekanis, melainkan
melalui interaksi kompleks antara kebijakan, ekspektasi, dan struktur
institusional ekonomi.
4.4.
Netralitas Uang dalam
Jangka Panjang
Berbeda dengan jangka pendek,
dalam jangka panjang diasumsikan bahwa harga dan upah telah sepenuhnya
menyesuaikan. Dalam kondisi ini, peningkatan jumlah uang beredar tidak lagi
memengaruhi variabel riil, melainkan hanya meningkatkan tingkat harga secara
proporsional.⁸ Output riil ditentukan oleh faktor-faktor fundamental seperti
teknologi, modal, dan tenaga kerja, bukan oleh kebijakan moneter.
Pandangan ini sejalan dengan
hipotesis natural rate yang dikemukakan oleh Milton Friedman, yang
menyatakan bahwa perekonomian memiliki tingkat output dan pengangguran alami
yang tidak dapat diubah secara permanen melalui kebijakan moneter.⁹ Upaya untuk
mendorong output di atas tingkat alaminya hanya akan menghasilkan inflasi yang
lebih tinggi tanpa manfaat riil jangka panjang.
Dengan demikian, netralitas
uang dalam jangka panjang menegaskan keterbatasan kebijakan moneter sebagai
alat untuk meningkatkan kesejahteraan riil secara berkelanjutan.
4.5.
Supernetralitas Uang
dan Perdebatan Kontemporer
Selain netralitas uang,
literatur ekonomi juga mengenal konsep supernetralitas uang,
yaitu pandangan bahwa bahkan laju pertumbuhan uang beredar tidak memengaruhi
variabel riil.¹⁰ Konsep ini merupakan bentuk netralitas yang lebih kuat dan
lebih kontroversial.
Sejumlah studi empiris
menunjukkan bahwa supernetralitas uang sulit dipertahankan, karena perubahan
dalam laju pertumbuhan uang sering kali memengaruhi keputusan investasi,
akumulasi modal, dan pertumbuhan ekonomi.¹¹ Temuan ini memperkuat pandangan
bahwa meskipun uang cenderung netral dalam jangka panjang, pengaruhnya terhadap
dinamika ekonomi tidak sepenuhnya dapat diabaikan.
Implikasi
Konseptual
Pembahasan mengenai
netralitas uang dalam jangka pendek dan jangka panjang mengarah pada kesimpulan
bahwa sifat uang bersifat relatif dan kontekstual. Uang tidak
sepenuhnya netral maupun sepenuhnya tidak netral, melainkan beroperasi dalam
spektrum yang ditentukan oleh struktur ekonomi, institusi, dan ekspektasi
pelaku ekonomi.
Pemahaman ini menjadi
landasan penting bagi analisis empiris dan perumusan kebijakan moneter, karena
menekankan perlunya mempertimbangkan horizon waktu dan kondisi struktural dalam
menilai dampak kebijakan moneter terhadap perekonomian.
Footnotes
1. N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York:
Worth Publishers, 2019), 35–37.
2. Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston:
Pearson, 2021), 44–46.
3. George A. Akerlof and Janet L. Yellen, “A Near-Rational Model of
the Business Cycle, with Wage and Price Inertia,” Quarterly Journal of
Economics 100, no. 5 (1985): 823–838.
4. Robert J. Barro, “Unanticipated Money Growth and Unemployment in
the United States,” American Economic Review 67, no. 2 (1977):
101–115.
5. John B. Taylor, “Discretion versus Policy Rules in Practice,” Carnegie-Rochester
Conference Series on Public Policy 39 (1993): 195–214.
6. Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial
Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 405–410.
7. Ben S. Bernanke and Mark Gertler, “Inside the Black Box: The
Credit Channel of Monetary Policy Transmission,” Journal of Economic
Perspectives 9, no. 4 (1995): 27–48.
8. David Romer, Advanced Macroeconomics, 5th ed. (New
York: McGraw-Hill, 2019), 83–85.
9. Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American
Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.
10. Laurence M. Ball, Money, Inflation, and Output
(Cambridge: MIT Press, 1993), 22–25.
11. Robert J. Barro and Xavier Sala-i-Martin, Economic Growth,
2nd ed. (Cambridge, MA: MIT Press, 2004), 410–413.
5.
BAB V ANALISIS
EMPIRIS NETRALITAS UANG
5.1.
Posisi Analisis
Empiris dalam Kajian Netralitas Uang
Meskipun netralitas uang
berakar kuat dalam teori ekonomi makro, validitasnya tidak dapat ditentukan
semata-mata melalui penalaran teoretis. Sebagai sebuah hipotesis, netralitas
uang menuntut pengujian empiris untuk menilai sejauh mana perubahan moneter
benar-benar tidak memengaruhi variabel riil. Oleh karena itu, analisis empiris
memainkan peran krusial dalam menjembatani perbedaan antara model teoretis yang
ideal dan realitas ekonomi yang kompleks.¹
Kajian empiris mengenai
netralitas uang umumnya berfokus pada hubungan jangka panjang antara uang
beredar, tingkat harga, dan output riil. Jika uang bersifat netral, maka
perubahan permanen dalam jumlah uang beredar seharusnya hanya tercermin dalam
perubahan tingkat harga, tanpa efek yang berkelanjutan terhadap output riil.²
5.2.
Pendekatan Metodologis
dalam Pengujian Netralitas Uang
Pengujian empiris netralitas
uang menggunakan berbagai pendekatan metodologis, terutama metode time
series dan panel data. Salah satu pendekatan awal
adalah analisis korelasi sederhana antara pertumbuhan uang dan pertumbuhan
output. Namun, pendekatan ini dinilai terlalu lemah karena tidak mampu
membedakan hubungan kausal jangka pendek dan jangka panjang.³
Pendekatan yang lebih maju
melibatkan penggunaan model Vector Autoregression (VAR) dan cointegration
analysis, yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi hubungan jangka
panjang antarvariabel makroekonomi. Dalam kerangka ini, netralitas uang diuji
dengan melihat apakah guncangan moneter memiliki efek permanen terhadap output
riil.⁴
Selain itu, studi empiris
modern sering menggunakan model Structural VAR (SVAR) dan Dynamic
Stochastic General Equilibrium (DSGE) untuk memisahkan efek kebijakan
moneter yang terantisipasi dan tidak terantisipasi. Metodologi ini memungkinkan
analisis yang lebih mendalam mengenai mekanisme transmisi moneter dan durasi
dampaknya terhadap variabel riil.⁵
5.3.
Temuan Empiris di
Negara Maju
Sebagian besar studi empiris
di negara maju menunjukkan dukungan yang relatif kuat terhadap netralitas uang
dalam jangka panjang. Penelitian terhadap data Amerika Serikat dan
negara-negara OECD menemukan bahwa pertumbuhan uang beredar berkorelasi kuat
dengan inflasi, tetapi tidak menunjukkan hubungan jangka panjang yang
signifikan dengan pertumbuhan output riil.⁶
Friedman dan Schwartz, dalam
studi historisnya mengenai Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa fluktuasi
moneter terutama memengaruhi harga dan inflasi dalam jangka panjang, sementara
dampak terhadap output bersifat sementara.⁷ Temuan ini memperkuat pandangan
monetaris bahwa uang cenderung netral setelah penyesuaian ekonomi berlangsung
secara penuh.
Namun demikian, bukti empiris
juga menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, guncangan moneter dapat menimbulkan
fluktuasi output yang signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa netralitas uang
bersifat temporer dan sangat bergantung pada horizon waktu analisis.
5.4.
Bukti Empiris di
Negara Berkembang
Berbeda dengan negara maju,
hasil penelitian empiris di negara berkembang cenderung lebih beragam dan
sering kali menunjukkan penyimpangan dari hipotesis netralitas uang.
Faktor-faktor seperti ketidakstabilan institusional, kredibilitas kebijakan
moneter yang lemah, serta struktur ekonomi yang kurang terdiversifikasi
menyebabkan perubahan moneter memiliki dampak riil yang lebih persisten.⁸
Beberapa studi menunjukkan
bahwa di negara berkembang, pertumbuhan uang beredar dapat memengaruhi output
dan investasi dalam jangka menengah, terutama melalui saluran kredit dan nilai
tukar.⁹ Temuan ini mengindikasikan bahwa netralitas uang tidak bersifat
universal, melainkan sangat kontekstual terhadap kondisi struktural dan
institusional suatu negara.
5.5.
Faktor-Faktor Penentu
Validitas Netralitas Uang
Hasil empiris yang beragam
menunjukkan bahwa validitas netralitas uang dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Pertama, kredibilitas bank sentral memainkan peran penting
dalam membentuk ekspektasi inflasi. Bank sentral yang kredibel cenderung mampu
membatasi dampak riil kebijakan moneter.¹⁰
Kedua, tingkat
inflasi juga memengaruhi hubungan antara uang dan output. Dalam
lingkungan inflasi tinggi atau hiperinflasi, perubahan moneter sering kali
menimbulkan distorsi ekonomi yang signifikan dan berkepanjangan.¹¹ Ketiga, struktur
pasar tenaga kerja dan keuangan menentukan kecepatan penyesuaian harga
dan upah, yang pada gilirannya memengaruhi derajat netralitas uang.
5.6.
Evaluasi Kritis
terhadap Bukti Empiris
Meskipun banyak studi
mendukung netralitas uang dalam jangka panjang, hasil empiris tersebut tidak
bebas dari keterbatasan metodologis. Masalah endogenitas, kesulitan
mengidentifikasi guncangan moneter murni, serta perubahan rezim kebijakan
sering kali menyulitkan interpretasi hasil.¹²
Selain itu, sebagian kritik
menyoroti bahwa fokus berlebihan pada hubungan agregat dapat mengabaikan dampak
distribusional kebijakan moneter. Meskipun output agregat mungkin tidak
berubah, perubahan moneter dapat memengaruhi distribusi pendapatan dan kekayaan
secara signifikan, sehingga menimbulkan implikasi riil yang tidak tertangkap
oleh analisis makro agregat.¹³
Sintesis
Temuan Empiris
Berdasarkan analisis empiris,
dapat disimpulkan bahwa netralitas uang memiliki dukungan yang cukup kuat dalam
jangka panjang, terutama di negara dengan institusi moneter yang stabil dan
kredibel. Namun, dalam jangka pendek dan dalam konteks negara berkembang, uang
sering kali menunjukkan sifat tidak netral.
Dengan demikian, netralitas
uang sebaiknya dipahami sebagai kecenderungan empiris bersyarat,
bukan sebagai hukum universal. Pemahaman ini menegaskan pentingnya pendekatan
kontekstual dalam analisis moneter dan kebijakan ekonomi.
Footnotes
1. David Romer, Advanced Macroeconomics, 5th ed. (New
York: McGraw-Hill, 2019), 67–69.
2. N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York:
Worth Publishers, 2019), 90–92.
3. Thomas Sargent, Macroeconomic Theory (New York:
Academic Press, 1987), 289–292.
4. Søren Johansen, Likelihood-Based Inference in Cointegrated
Vector Autoregressive Models (Oxford: Oxford University Press, 1995), 1–5.
5. Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a
Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003),
73–78.
6. Robert E. Lucas Jr., “Money Neutrality,” Journal of
Political Economy 104, no. 4 (1996): 661–682.
7. Milton Friedman and Anna J. Schwartz, A Monetary History of
the United States, 1867–1960 (Princeton: Princeton University Press,
1963), 3–5.
8. Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and
Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 593–596.
9. Sebastian Edwards, Crisis and Reform in Latin America
(Oxford: Oxford University Press, 1995), 112–118.
10. Ben S. Bernanke, “Central Bank Independence, Transparency, and
Accountability,” Journal of Monetary Economics 52, no. 1 (2005):
145–156.
11. Thomas J. Sargent, The Ends of Four Big Inflations
(Chicago: University of Chicago Press, 1982).
12. Christopher A. Sims, “Macroeconomics and Reality,” Econometrica
48, no. 1 (1980): 1–48.
13. Joseph E. Stiglitz, The Price of Inequality (New York:
W. W. Norton, 2012), 93–97.
6.
BAB VI IMPLIKASI
KEBIJAKAN MONETER
6.1.
Netralitas Uang dan
Efektivitas Kebijakan Moneter
Konsep netralitas uang
memiliki implikasi langsung terhadap perdebatan mengenai efektivitas kebijakan
moneter. Jika uang sepenuhnya netral, maka kebijakan moneter tidak memiliki
kapasitas untuk memengaruhi output riil, tingkat pengangguran, maupun
pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Dalam kerangka ini, peran utama bank
sentral terbatas pada pengendalian variabel nominal, khususnya inflasi dan
stabilitas nilai mata uang.¹
Namun, temuan teoretis dan
empiris menunjukkan bahwa uang cenderung tidak netral dalam jangka pendek.
Kondisi ini membuka ruang bagi kebijakan moneter untuk berperan sebagai
instrumen stabilisasi makroekonomi. Bank sentral dapat menggunakan kebijakan
suku bunga, operasi pasar terbuka, dan instrumen likuiditas lainnya untuk
meredam fluktuasi siklus bisnis.² Dengan demikian, implikasi kebijakan dari
netralitas uang bersifat bergantung pada horizon waktu yang dipertimbangkan.
6.2.
Kebijakan Moneter
dalam Perspektif Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, ketika
rigiditas harga dan upah masih dominan, kebijakan moneter dapat memengaruhi
permintaan agregat dan output riil. Oleh karena itu, banyak bank sentral modern
mengadopsi kerangka kebijakan yang bersifat countercyclical, yakni
merespons perlambatan ekonomi dengan kebijakan moneter ekspansif dan merespons
tekanan inflasi dengan kebijakan kontraktif.³
Namun demikian, efektivitas
kebijakan moneter jangka pendek sangat bergantung pada ekspektasi publik. Jika
pelaku ekonomi memandang kebijakan moneter sebagai tidak kredibel atau
inkonsisten, maka efek kebijakan terhadap sektor riil akan melemah.⁴ Hal ini
menegaskan pentingnya komunikasi kebijakan (forward guidance) dan
transparansi bank sentral dalam membentuk ekspektasi yang stabil.
6.3.
Kebijakan Moneter dan
Stabilitas Jangka Panjang
Dalam jangka panjang,
implikasi netralitas uang menegaskan bahwa kebijakan moneter tidak dapat
digunakan untuk meningkatkan output riil secara permanen. Upaya mendorong
pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi moneter yang berkelanjutan justru berisiko
menimbulkan inflasi yang tinggi dan ketidakstabilan makroekonomi.⁵
Oleh karena itu, banyak
literatur ekonomi merekomendasikan agar bank sentral memfokuskan kebijakan jangka
panjangnya pada stabilitas harga. Kerangka inflation
targeting menjadi contoh penerapan praktis dari pandangan ini, di mana
bank sentral menetapkan sasaran inflasi yang jelas sebagai jangkar ekspektasi.⁶
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan bahwa stabilitas nominal merupakan
prasyarat bagi efisiensi sektor riil dalam jangka panjang.
6.4.
Risiko Kebijakan
Moneter Ekspansif Berlebihan
Implikasi penting lainnya
dari konsep netralitas uang adalah kesadaran akan risiko kebijakan moneter yang
terlalu ekspansif. Ketika bank sentral berupaya mendorong pertumbuhan di luar
kapasitas riil perekonomian, hasil akhirnya sering kali berupa inflasi,
gelembung aset, dan distorsi harga relatif.⁷
Pengalaman krisis keuangan
global menunjukkan bahwa likuiditas berlimpah tidak selalu diterjemahkan
menjadi pertumbuhan riil yang sehat. Sebaliknya, kebijakan moneter yang longgar
dalam jangka waktu lama dapat memicu spekulasi berlebihan dan meningkatkan
kerentanan sistem keuangan.⁸ Hal ini menegaskan bahwa kebijakan moneter perlu dijalankan
secara hati-hati dan selaras dengan kebijakan makroprudensial.
6.5.
Relevansi bagi Negara
Berkembang
Implikasi netralitas uang
menjadi lebih kompleks dalam konteks negara berkembang. Seperti ditunjukkan
oleh analisis empiris, uang cenderung lebih tidak netral di negara-negara
dengan struktur ekonomi yang kurang stabil, sistem keuangan yang dangkal, dan
kredibilitas kebijakan yang terbatas.⁹ Dalam kondisi demikian, kebijakan
moneter dapat memiliki dampak riil yang lebih besar, tetapi juga membawa risiko
inflasi yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, kebijakan
moneter di negara berkembang perlu mempertimbangkan faktor struktural, seperti
stabilitas sektor keuangan, koordinasi dengan kebijakan fiskal, serta
ketergantungan pada arus modal internasional.¹⁰ Pendekatan kebijakan yang
terlalu meniru praktik negara maju tanpa memperhatikan konteks domestik
berpotensi menghasilkan hasil yang kontraproduktif.
Sintesis
Implikasi Kebijakan
Secara keseluruhan, implikasi
kebijakan moneter dari konsep netralitas uang dapat dirangkum dalam dua prinsip
utama. Pertama, kebijakan moneter memiliki ruang efektivitas dalam jangka
pendek, terutama sebagai alat stabilisasi. Kedua, dalam jangka panjang,
kebijakan moneter sebaiknya difokuskan pada menjaga stabilitas nominal dan mendukung
lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil.
Dengan demikian, netralitas
uang tidak meniadakan peran kebijakan moneter, tetapi justru memberikan
kerangka konseptual untuk memahami batas-batas dan tanggung jawabnya. Pemahaman
yang seimbang mengenai netralitas dan non-netralitas uang menjadi prasyarat
bagi perumusan kebijakan moneter yang rasional, kontekstual, dan berkelanjutan.
Footnotes
1. N. Gregory Mankiw, Macroeconomics, 10th ed. (New York:
Worth Publishers, 2019), 92–95.
2. Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston:
Pearson, 2021), 61–64.
3. John B. Taylor, “Discretion versus Policy Rules in Practice,” Carnegie-Rochester
Conference Series on Public Policy 39 (1993): 195–214.
4. Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a Theory
of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003), 15–18.
5. Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American
Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.
6. Ben S. Bernanke et al., Inflation Targeting: Lessons from
the International Experience (Princeton: Princeton University Press,
1999), 9–13.
7. Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and
Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 613–617.
8. Claudio Borio, “The Financial Cycle and Macroeconomics: What
Have We Learnt?” Journal of Banking & Finance 45 (2014): 182–198.
9. Sebastian Edwards, Crisis and Reform in Latin America
(Oxford: Oxford University Press, 1995), 118–123.
10. Guillermo A. Calvo and Carmen M. Reinhart, “Fear of Floating,” Quarterly
Journal of Economics 117, no. 2 (2002): 379–408.
7.
BAB VII KRITIK,
KETERBATASAN, DAN ALTERNATIF KONSEPTUAL
7.1.
Kritik terhadap Asumsi
Dasar Netralitas Uang
Salah satu kritik utama
terhadap konsep netralitas uang diarahkan pada asumsi-asumsi dasarnya yang
dianggap terlalu ideal dan kurang mencerminkan kondisi ekonomi nyata. Asumsi
fleksibilitas harga dan upah, misalnya, sering kali tidak terpenuhi dalam
praktik karena adanya kontrak jangka panjang, regulasi pasar tenaga kerja,
serta biaya penyesuaian harga.¹ Ketidaksempurnaan ini menyebabkan mekanisme
penyesuaian pasar berlangsung lambat, sehingga perubahan moneter dapat memiliki
dampak riil yang bertahan lebih lama daripada yang diprediksi oleh teori
netralitas uang.
Selain itu, asumsi ekspektasi
rasional dan informasi sempurna juga menuai kritik. Dalam dunia nyata, pelaku
ekonomi menghadapi keterbatasan informasi, ketidakpastian, dan bias kognitif
yang memengaruhi pengambilan keputusan.² Oleh karena itu, respons terhadap
kebijakan moneter sering kali tidak secepat atau seakurat yang diasumsikan
dalam model klasik dan klasik baru.
7.2.
Keterbatasan Empiris
Konsep Netralitas Uang
Dari sudut pandang empiris,
netralitas uang menghadapi tantangan dalam hal pengukuran dan identifikasi
kausalitas. Sulit untuk memisahkan secara tegas antara guncangan moneter dan
guncangan riil, terutama karena kebijakan moneter sering kali bersifat reaktif
terhadap kondisi ekonomi.³ Masalah endogenitas ini membuat hasil empiris
mengenai netralitas uang sering kali bergantung pada metodologi dan periode
analisis yang digunakan.
Selain itu, sebagian besar
studi empiris menggunakan data agregat, yang berpotensi menyembunyikan dampak
distribusional kebijakan moneter. Meskipun output agregat mungkin tidak berubah
secara signifikan, perubahan moneter dapat memengaruhi distribusi pendapatan,
harga aset, dan kesejahteraan kelompok sosial tertentu.⁴ Dengan demikian,
netralitas uang pada tingkat agregat tidak serta-merta berarti netralitas pada
tingkat mikro.
7.3.
Kritik Institusional
dan Historis
Pendekatan netralitas uang
juga dikritik dari perspektif institusional dan historis. Sejarah ekonomi
menunjukkan bahwa perubahan sistem moneter—seperti peralihan dari standar emas
ke uang fiat—sering kali diikuti oleh perubahan struktural yang signifikan
dalam perekonomian.⁵ Hal ini menunjukkan bahwa uang bukan sekadar instrumen
teknis, melainkan institusi sosial yang beroperasi dalam konteks politik dan
hukum tertentu.
Dalam perspektif ini,
netralitas uang dipandang terlalu menyederhanakan peran uang dengan mengabaikan
dimensi kekuasaan, kepercayaan, dan legitimasi institusional.⁶ Kebijakan
moneter tidak berlangsung dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh
kepentingan politik, struktur keuangan, dan dinamika global.
7.4.
Alternatif Konseptual:
Pendekatan Keynesian dan New Keynesian
Sebagai alternatif terhadap
pandangan netralitas uang yang ketat, pendekatan Keynesian dan New Keynesian
menawarkan kerangka analisis yang menekankan peran friksi ekonomi dan
ketidakpastian. Dalam pendekatan ini, uang dipandang sebagai variabel yang
dapat memengaruhi output dan kesempatan kerja, terutama dalam jangka pendek.⁷
Model New Keynesian,
khususnya, mengintegrasikan ekspektasi rasional dengan rigiditas nominal,
sehingga menghasilkan kerangka yang lebih realistis untuk menganalisis
kebijakan moneter. Pendekatan ini tidak sepenuhnya menolak netralitas uang,
tetapi memposisikannya sebagai kecenderungan jangka panjang yang dibatasi oleh
friksi ekonomi.⁸
7.5.
Alternatif
Kontemporer: Ekonomi Perilaku dan Institusional
Perkembangan terbaru dalam
ekonomi perilaku dan ekonomi institusional semakin menantang konsep netralitas
uang. Ekonomi perilaku menunjukkan bahwa bias kognitif, heuristik, dan money
illusion dapat memperpanjang dampak riil perubahan moneter.⁹ Sementara
itu, ekonomi institusional menekankan bahwa desain institusi moneter dan
keuangan memengaruhi cara uang berinteraksi dengan sektor riil.
Pendekatan-pendekatan ini
menyoroti bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai
simbol nilai dan kepercayaan, yang pengaruhnya terhadap perilaku ekonomi tidak
selalu netral.¹⁰ Dengan demikian, analisis moneter yang mengabaikan dimensi
perilaku dan institusional berisiko menghasilkan kesimpulan yang tidak lengkap.
Sintesis
Kritis dan Arah Pengembangan Konseptual
Berdasarkan kritik dan
alternatif konseptual di atas, dapat disimpulkan bahwa netralitas uang memiliki
keterbatasan sebagai prinsip universal. Konsep ini tetap berguna sebagai
kerangka analitis dasar, tetapi harus dipahami secara kontekstual dan historis.
Netralitas uang lebih tepat diperlakukan sebagai hipotesis bersyarat yang valid
dalam kondisi tertentu, bukan sebagai hukum ekonomi yang tidak dapat diganggu
gugat.
Arah pengembangan konseptual
ke depan mengarah pada integrasi antara teori moneter tradisional dengan
pendekatan perilaku, institusional, dan empiris yang lebih kaya. Pendekatan
integratif ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif
mengenai peran uang dalam perekonomian modern, tanpa terjebak dalam dikotomi
netralitas versus non-netralitas yang terlalu sederhana.
Footnotes
1. Olivier Blanchard, Macroeconomics, 8th ed. (Boston:
Pearson, 2021), 52–55.
2. Herbert A. Simon, Administrative Behavior, 4th ed. (New
York: Free Press, 1997), 88–92.
3. Christopher A. Sims, “Macroeconomics and Reality,” Econometrica
48, no. 1 (1980): 1–48.
4. Joseph E. Stiglitz, The Price of Inequality (New York:
W. W. Norton, 2012), 93–100.
5. Barry Eichengreen, Globalizing Capital: A History of the
International Monetary System (Princeton: Princeton University Press,
2008), 9–15.
6. Karl Polanyi, The Great Transformation (Boston: Beacon
Press, 1944), 72–76.
7. John Maynard Keynes, The General Theory of Employment,
Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.
8. Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a
Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003),
31–35.
9. George A. Akerlof and Robert J. Shiller, Animal Spirits
(Princeton: Princeton University Press, 2009), 41–45.
10. Douglass C. North, Institutions, Institutional Change and
Economic Performance (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 3–10.
8.
BAB VIII SINTESIS
DAN KESIMPULAN
8.1.
Sintesis Teoretis dan
Empiris
Kajian ini telah menelusuri
konsep netralitas uang secara komprehensif, mulai dari landasan teoretis,
perkembangan historis, perbedaan implikasi jangka pendek dan jangka panjang,
hingga bukti empiris serta konsekuensi kebijakan moneter. Secara teoretis,
netralitas uang berakar kuat dalam tradisi ekonomi klasik yang memandang uang
sebagai instrumen nominal yang tidak memengaruhi struktur riil perekonomian.
Pandangan ini diperkuat oleh teori kuantitas uang dan konsep classical
dichotomy, yang memisahkan secara tegas sektor moneter dan sektor riil.¹
Namun, perkembangan pemikiran
ekonomi modern menunjukkan bahwa netralitas uang tidak dapat dipahami secara
absolut. Kritik Keynesian dan pendekatan New Keynesian menegaskan bahwa dalam
jangka pendek, rigiditas harga dan upah serta ketidakpastian ekonomi
menyebabkan uang bersifat tidak netral.² Monetarisme dan ekonomi klasik baru
kemudian menempatkan netralitas uang sebagai kecenderungan jangka panjang,
dengan syarat ekspektasi rasional dan penyesuaian harga yang sempurna.³
Dari sisi empiris, hasil
penelitian menunjukkan pola yang konsisten namun bersyarat. Di negara-negara
dengan institusi moneter yang stabil dan kredibel, uang cenderung netral dalam
jangka panjang, sementara di negara berkembang, pengaruh uang terhadap variabel
riil sering kali lebih persisten.⁴ Temuan ini memperkuat pandangan bahwa
netralitas uang merupakan fenomena kontekstual yang sangat dipengaruhi oleh
struktur ekonomi, institusi, dan kredibilitas kebijakan.
8.2.
Kesimpulan Utama
Berdasarkan keseluruhan
pembahasan, beberapa kesimpulan utama dapat dirumuskan sebagai berikut.
Pertama, netralitas uang merupakan konsep analitis yang berguna untuk memahami
batas-batas peran uang dalam perekonomian, khususnya dalam jangka panjang.
Kedua, uang tidak sepenuhnya netral dalam jangka pendek, karena adanya friksi
ekonomi, ekspektasi yang tidak sempurna, dan ketidaksempurnaan pasar. Ketiga,
validitas empiris netralitas uang bersifat relatif dan bergantung pada kondisi
institusional serta stabilitas kebijakan moneter.
Dengan demikian, netralitas
uang tidak dapat diperlakukan sebagai hukum ekonomi universal, melainkan
sebagai hipotesis teoretis yang perlu diuji dan dievaluasi secara
berkelanjutan. Pemahaman yang terlalu dogmatis terhadap netralitas uang
berisiko mengabaikan kompleksitas ekonomi nyata dan dinamika sosial yang
melingkupi sistem moneter.
8.3.
Implikasi Teoretis dan
Kebijakan
Secara teoretis, kajian ini
menegaskan pentingnya pendekatan integratif dalam ekonomi makro. Pemisahan yang
terlalu kaku antara sektor moneter dan sektor riil tidak lagi memadai untuk
menjelaskan dinamika ekonomi modern. Integrasi antara teori klasik, Keynesian,
perilaku, dan institusional menawarkan kerangka analisis yang lebih kaya dan
realistis.⁵
Dari sisi kebijakan,
pemahaman mengenai netralitas uang memberikan pedoman penting bagi peran bank
sentral. Kebijakan moneter memiliki ruang efektivitas dalam jangka pendek
sebagai instrumen stabilisasi, tetapi tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan
output riil secara permanen. Dalam jangka panjang, fokus kebijakan moneter
seharusnya diarahkan pada stabilitas harga, kredibilitas institusi, dan
penciptaan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil.⁶
8.4.
Keterbatasan Kajian
dan Rekomendasi Penelitian Lanjutan
Kajian ini memiliki sejumlah
keterbatasan. Pertama, pembahasan empiris masih bersifat sintesis literatur dan
belum mencakup estimasi ekonometrik spesifik pada suatu negara atau periode
tertentu. Kedua, fokus kajian masih berada pada kerangka ekonomi makro arus
utama, sehingga pendekatan alternatif—seperti ekonomi politik moneter atau
perspektif normatif—belum dieksplorasi secara mendalam.
Oleh karena itu, penelitian
lanjutan disarankan untuk menguji netralitas uang menggunakan data mikro dan
makro yang lebih kaya, serta mempertimbangkan dimensi distribusional dan
institusional secara lebih eksplisit. Studi lintas negara dan lintas rezim
kebijakan juga diperlukan untuk memahami variasi empiris netralitas uang dalam
konteks global yang semakin terintegrasi.
Penutup
Sebagai penutup, kajian ini
menegaskan bahwa netralitas uang merupakan konsep yang penting namun terbatas.
Nilai utamanya terletak pada kemampuannya menyediakan kerangka analitis untuk
memahami peran uang dalam perekonomian, bukan pada klaim kebenaran absolutnya.
Dengan pendekatan yang kritis, terbuka, dan berbasis bukti, konsep netralitas
uang dapat terus dikembangkan dan disesuaikan dengan dinamika ekonomi modern
yang semakin kompleks.
Footnotes
1. David Hume, Of Money, dalam Political Discourses
(Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson, 1752).
2. John Maynard Keynes, The General Theory of Employment,
Interest and Money (London: Macmillan, 1936), 257–271.
3. Milton Friedman, “The Role of Monetary Policy,” American
Economic Review 58, no. 1 (1968): 1–17.
4. Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and
Financial Markets, 12th ed. (Boston: Pearson, 2019), 593–596.
5. Michael Woodford, Interest and Prices: Foundations of a
Theory of Monetary Policy (Princeton: Princeton University Press, 2003),
3–7.
6. Ben S. Bernanke et al., Inflation Targeting: Lessons from
the International Experience (Princeton: Princeton University Press,
1999), 9–13.
Daftar Pustaka
Akerlof, G. A., &
Shiller, R. J. (2009). Animal spirits: How human psychology drives the
economy, and why it matters for global capitalism. Princeton University
Press.
Akerlof, G. A., &
Yellen, J. L. (1985). A near-rational model of the business cycle, with wage
and price inertia. The Quarterly Journal of Economics, 100(5),
823–838. doi.org
Ball, L. M. (1993). Money,
inflation, and output. MIT Press.
Barro, R. J. (1977).
Unanticipated money growth and unemployment in the United States. American
Economic Review, 67(2), 101–115.
Barro, R. J. (1984). Macroeconomics:
A modern approach. Harcourt Brace Jovanovich.
Barro, R. J., &
Sala-i-Martin, X. (2004). Economic growth (2nd ed.). MIT Press.
Bernanke, B. S. (2005).
Central bank independence, transparency, and accountability. Journal of
Monetary Economics, 52(1), 145–156. doi.org
Bernanke, B. S., Gertler,
M., & Gilchrist, S. (1999). Inflation targeting: Lessons from the
international experience. Princeton University Press.
Bernanke, B. S., &
Gertler, M. (1995). Inside the black box: The credit channel of monetary policy
transmission. Journal of Economic Perspectives, 9(4), 27–48. doi.org
Blanchard, O. (2021). Macroeconomics
(8th ed.). Pearson Education.
Borio, C. (2014). The
financial cycle and macroeconomics: What have we learnt? Journal of Banking
& Finance, 45, 182–198. doi.org
Calvo, G. A., &
Reinhart, C. M. (2002). Fear of floating. The Quarterly Journal of
Economics, 117(2), 379–408. doi.org
Eichengreen, B. (2008). Globalizing
capital: A history of the international monetary system (2nd ed.).
Princeton University Press.
Edwards, S. (1995). Crisis
and reform in Latin America: From despair to hope. Oxford University
Press.
Fisher, I. (1911). The
purchasing power of money. Macmillan.
Friedman, M. (1968). The
role of monetary policy. American Economic Review, 58(1), 1–17.
Friedman, M., &
Schwartz, A. J. (1963). A monetary history of the United States, 1867–1960.
Princeton University Press.
Goodfriend, M., & King,
R. G. (1997). The new neoclassical synthesis and the role of monetary policy. NBER
Macroeconomics Annual, 12, 231–283.
Hume, D. (1752). Of
money. In Political discourses. A. Kincaid & A. Donaldson.
Johansen, S. (1995). Likelihood-based
inference in cointegrated vector autoregressive models. Oxford University
Press.
Keynes, J. M. (1936). The
general theory of employment, interest and money. Macmillan.
Lucas, R. E., Jr. (1972).
Expectations and the neutrality of money. Journal of Economic Theory, 4(2),
103–124. doi.org
Lucas, R. E., Jr. (1996).
Money neutrality. Journal of Political Economy, 104(4), 661–682. doi.org
Mankiw, N. G. (2019). Macroeconomics
(10th ed.). Worth Publishers.
Mishkin, F. S. (2019). The
economics of money, banking, and financial markets (12th ed.). Pearson
Education.
North, D. C. (1990). Institutions,
institutional change and economic performance. Cambridge University Press.
Polanyi, K. (1944). The
great transformation. Beacon Press.
Romer, D. (2019). Advanced
macroeconomics (5th ed.). McGraw-Hill Education.
Sargent, T. J. (1982). The
ends of four big inflations. In R. E. Hall (Ed.), Inflation: Causes and
effects (pp. 41–97). University of Chicago Press.
Sargent, T. J. (1987). Macroeconomic
theory (2nd ed.). Academic Press.
Sargent, T. J., &
Wallace, N. (1976). Rational expectations and the theory of economic policy. Journal
of Monetary Economics, 2(2), 169–183. doi.org
Sims, C. A. (1980).
Macroeconomics and reality. Econometrica, 48(1), 1–48. doi.org
Skousen, M. (2001). The
making of modern economics. M. E. Sharpe.
Stiglitz, J. E. (2012). The
price of inequality. W. W. Norton & Company.
Taylor, J. B. (1993).
Discretion versus policy rules in practice. Carnegie-Rochester Conference
Series on Public Policy, 39, 195–214.doi.org
Woodford, M. (2003). Interest
and prices: Foundations of a theory of monetary policy. Princeton
University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar