Selasa, 10 Februari 2026

Ontologi Iluminatif: Kesatuan Tuhan, Alam, dan Manusia dalam Jaringan Kesadaran Cahaya

Ontologi Iluminatif

Kesatuan Tuhan, Alam, dan Manusia dalam Jaringan Kesadaran Cahaya


Alihkan ke: Pemikiran Suhrawardi.


Abstrak

Artikel ini mengkaji secara sistematis ontologi iluminatif dalam filsafat Shihab al-Din Yahya Suhrawardī sebagai salah satu prinsip fundamental dalam sistem ḥikmat al-isyrāq. Ontologi iluminatif menempatkan cahaya (al-nūr) sebagai prinsip ontologis paling dasar, yang darinya seluruh realitas memperoleh keberadaan, keteraturan, dan makna. Berbeda dari metafisika Peripatetik yang bertumpu pada abstraksi konsep wujud, Suhrawardī mengembangkan kerangka ontologi yang berlandaskan pada kejelasan intuitif dan kehadiran realitas dalam kesadaran (al-ʿilm al-ḥuḍūrī).

Melalui analisis tekstual dan konseptual terhadap karya-karya utama Suhrawardī serta dialog komparatif dengan tradisi Peripatetik, Neoplatonisme, dan filsafat Islam pasca-klasik, artikel ini menunjukkan bahwa ontologi iluminatif membangun suatu visi integratif yang menyatukan Tuhan sebagai Nūr al-Anwār, alam semesta sebagai jaringan gradasi cahaya, dan manusia sebagai entitas iluminatif yang menyadari diri. Kesatuan ini bersifat partisipatif dan hierarkis, sehingga tidak jatuh ke dalam monisme reduktif maupun dualisme metafisis.

Artikel ini juga menyoroti implikasi ontologi iluminatif terhadap epistemologi, antropologi filosofis, dan etika, serta menilai secara kritis keterbatasan dan relevansinya dalam konteks pemikiran kontemporer, khususnya terkait krisis makna, problem kesadaran, dan relasi manusia–alam. Dengan demikian, ontologi iluminatif Suhrawardī ditampilkan sebagai kerangka metafisis yang koheren, holistik, dan terbuka untuk dialog lintas disiplin, tanpa kehilangan orientasi spiritual dan kedalaman filosofisnya.

Kata Kunci; Ontologi iluminatif; Suhrawardī; filsafat cahaya; ḥikmat al-isyrāq; kesadaran; metafisika Islam; Tuhan–alam–manusia.


PEMBAHASAN

Ontologi Iluminatif dalam Filsafat Suhrawardī


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Sejarah filsafat menunjukkan bahwa persoalan ontologi—yakni pertanyaan tentang hakikat realitas—merupakan fondasi bagi seluruh bangunan pemikiran metafisis, epistemologis, dan etis. Dalam tradisi filsafat Barat modern, ontologi cenderung berkembang ke arah fragmentasi realitas: Tuhan dipisahkan dari alam, alam direduksi menjadi mekanisme material, dan manusia dipahami terutama sebagai subjek rasional yang terasing dari kosmos. Fragmentasi ini tidak hanya menghasilkan krisis metafisika, tetapi juga krisis makna, kesadaran, dan spiritualitas dalam kehidupan modern.¹

Dalam konteks filsafat Islam, persoalan ontologi memperoleh perhatian yang khas dan mendalam, terutama melalui upaya para filsuf Muslim untuk mengintegrasikan wahyu, rasio, dan pengalaman batin ke dalam satu kerangka pemahaman realitas. Salah satu tokoh sentral dalam tradisi ini adalah Shihab al-Din Yahya Suhrawardī (w. 1191), pendiri filsafat iluminatif (ḥikmat al-isyrāq). Suhrawardī mengajukan suatu sistem ontologi yang tidak bertumpu pada konsep “wujud” (al-wujūd) sebagaimana dikembangkan oleh filsafat Peripatetik, melainkan pada konsep “cahaya” (al-nūr) sebagai prinsip ontologis fundamental.²

Ontologi iluminatif Suhrawardī berangkat dari kritik mendasar terhadap metafisika Aristotelian-Ibn Sina yang dinilainya terlalu abstrak, konseptual, dan terpisah dari pengalaman kesadaran langsung. Menurut Suhrawardī, realitas yang paling mendasar bukanlah “ada” sebagai kategori logis, melainkan “cahaya” sebagai realitas yang secara esensial menampakkan diri dan menyadarkan. Dari prinsip ini, ia membangun suatu visi kosmologis dan antropologis yang menyatukan Tuhan, alam, dan manusia dalam satu jaringan gradasi cahaya dan kesadaran.³

Dengan demikian, ontologi iluminatif tidak hanya berfungsi sebagai teori tentang struktur realitas, tetapi juga sebagai kerangka integratif yang menjembatani metafisika, epistemologi, dan spiritualitas. Tuhan dipahami sebagai Nūr al-Anwār (Cahaya dari segala cahaya), alam sebagai medan manifestasi cahaya berjenjang, dan manusia sebagai entitas bercahaya yang memiliki kemampuan kesadaran-diri. Dalam kerangka ini, pengetahuan bukan semata-mata hasil representasi intelektual, melainkan proses penyinaran (isyrāq) yang melibatkan transformasi eksistensial subjek yang mengetahui.⁴

Relevansi ontologi iluminatif Suhrawardī semakin terasa dalam diskursus filsafat kontemporer, khususnya dalam perdebatan mengenai status kesadaran, kritik terhadap materialisme reduksionistik, serta upaya mencari paradigma holistik yang mampu mengintegrasikan dimensi objektif dan subjektif realitas. Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap ontologi iluminatif tidak hanya penting bagi studi filsafat Islam, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi signifikan bagi dialog lintas tradisi filsafat dan ilmu pengetahuan modern.⁵

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini diarahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan filosofis utama sebagai berikut:

1)                  Apa yang dimaksud dengan ontologi iluminatif dalam sistem filsafat Suhrawardī, dan bagaimana konsep cahaya berfungsi sebagai prinsip ontologis fundamental?

2)                  Bagaimana relasi Tuhan, alam, dan manusia dijelaskan dalam kerangka gradasi cahaya dan kesadaran?

3)                  Apa implikasi ontologi iluminatif terhadap pemahaman tentang pengetahuan, kesadaran, dan eksistensi manusia?

1.3.       Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi secara sistematis ontologi iluminatif Suhrawardī dengan menyoroti perannya sebagai kerangka integratif yang menyatukan dimensi teologis, kosmologis, dan antropologis. Secara khusus, penelitian ini bertujuan menjelaskan posisi cahaya sebagai realitas ontologis primer dan menunjukkan bagaimana konsep tersebut membentuk pemahaman Suhrawardī tentang Tuhan, alam, dan manusia.

Adapun manfaat penelitian ini bersifat ganda. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah studi filsafat Islam, khususnya dalam bidang metafisika dan filsafat kesadaran. Secara praktis dan konseptual, penelitian ini dapat menjadi rujukan alternatif dalam merespons krisis makna dan reduksionisme ontologis dalam pemikiran modern dengan menawarkan paradigma ontologi yang holistik dan berbasis kesadaran.⁶

1.4.       Metodologi dan Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan filsafat spekulatif dengan metode analisis konseptual dan hermeneutik teks. Sumber primer utama adalah karya-karya Suhrawardī, khususnya Ḥikmat al-Isyrāq, yang dianalisis untuk merekonstruksi konsep-konsep ontologis kunci seperti cahaya, gradasi wujud, dan kesadaran. Pendekatan komparatif digunakan secara terbatas untuk memperjelas posisi ontologi iluminatif dalam hubungannya dengan filsafat Peripatetik dan tradisi metafisika Islam lainnya.

Analisis dilakukan secara argumentatif dan kritis, dengan tetap memperhatikan konteks historis dan intelektual pemikiran Suhrawardī. Pendekatan ini dimaksudkan agar ontologi iluminatif tidak hanya dipahami sebagai sistem metafisika klasik, tetapi juga sebagai kerangka konseptual yang terbuka untuk dialog dengan problem-problem filsafat kontemporer.⁷


Footnotes

[1]                Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007), 3–5.

[2]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 25–27.

[3]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 45–48.

[4]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 96–101.

[5]                David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness,” Journal of Consciousness Studies 2, no. 3 (1995): 200–201.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 132–135.

[7]                Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik (Bandung: Mizan, 2005), 67–69.


2.           Suhrawardī dan Lahirnya Hikmah Isyrāqiyyah

2.1.       Biografi Intelektual dan Konteks Sejarah

Shihab al-Din Yahya Suhrawardī (549–587 H/1154–1191 M) lahir di Suhraward, wilayah Persia Barat Laut, pada masa ketika dunia Islam mengalami dinamika intelektual yang intens. Periode ini ditandai oleh dominasi filsafat Peripatetik (mashshā’iyyah) yang berpuncak pada sistem Ibn Sina, di satu sisi, serta berkembangnya tradisi tasawuf dan teologi rasional (kalām) di sisi lain. Suhrawardī tumbuh dan dididik dalam iklim intelektual yang menguasai logika dan metafisika Aristotelian, tetapi sekaligus menunjukkan ketidakpuasan mendalam terhadap batas-batas rasionalisme diskursif murnni.¹

Pendidikan awal Suhrawardī meliputi penguasaan ilmu logika, filsafat alam, dan metafisika Ibn Sina. Namun, sejak fase awal karier intelektualnya, ia mulai mengembangkan kritik terhadap pendekatan Peripatetik yang menurutnya terlalu bergantung pada definisi konseptual dan argumentasi silogistik. Kritik ini tidak bermaksud menolak rasio secara total, melainkan menempatkannya sebagai sarana yang belum memadai untuk menjangkau realitas tertinggi. Dalam pandangan Suhrawardī, realitas metafisis menuntut jenis pengetahuan lain yang lebih langsung dan bersifat kehadiran (ḥuḍūr).²

Konteks politik dan religius juga berperan signifikan dalam pembentukan pemikiran Suhrawardī. Aktivitas intelektualnya di Aleppo, di bawah perlindungan Malik al-Ẓāhir (putra Shalahuddin al-Ayyubi), mempertemukannya dengan kalangan ulama dan fuqaha yang curiga terhadap pandangan filosofis-esoterisnya. Ketegangan ini akhirnya berujung pada eksekusi Suhrawardī pada usia muda, sebuah peristiwa yang kemudian memperkuat citranya sebagai al-shahīd (sang martir) dalam tradisi filsafat Islam.³

2.2.       Kritik terhadap Filsafat Peripatetik

Salah satu ciri utama pemikiran Suhrawardī adalah kritik sistematis terhadap fondasi ontologis dan epistemologis filsafat Peripatetik. Menurutnya, metafisika Aristotelian-Ibn Sina bertumpu secara berlebihan pada konsep “wujud” sebagai abstraksi intelektual yang tidak memiliki kejelasan intuitif. Konsep wujud, meskipun berguna dalam analisis logis, dianggap tidak mampu menjelaskan bagaimana realitas menampakkan diri secara langsung dalam kesadaran.⁴

Suhrawardī menilai bahwa pendekatan Peripatetik menghasilkan pemisahan tajam antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Pengetahuan dipahami sebagai representasi mental, bukan sebagai kehadiran realitas itu sendiri dalam diri subjek. Akibatnya, kesadaran direduksi menjadi fungsi intelek, bukan sebagai dimensi ontologis yang memiliki kedudukan fundamental. Kritik ini menjadi titik tolak bagi pengembangan sistem filsafat yang mengakui kesadaran sebagai realitas primer.⁵

Namun demikian, Suhrawardī tidak menolak seluruh warisan Peripatetik. Ia tetap mengakui pentingnya logika dan demonstrasi rasional sebagai tahap persiapan intelektual. Rasio berfungsi sebagai alat klarifikasi dan penjernihan konsep, tetapi bukan sebagai sarana terakhir untuk mencapai kebenaran metafisis. Dengan demikian, filsafat iluminatif tampil bukan sebagai antitesis rasionalisme, melainkan sebagai pelengkap dan transendensi atasnya.⁶

2.3.       Sintesis Rasio, Intuisi, dan Tradisi Hikmah Kuno

Keunikan Hikmah Isyrāqiyyah terletak pada upaya sintesis antara rasio filosofis, intuisi iluminatif, dan tradisi hikmah kuno. Suhrawardī secara eksplisit mengklaim bahwa filsafatnya merupakan kelanjutan dari ḥikmah ladunniyyah yang telah dikenal oleh para nabi, filsuf kuno, dan para bijak Persia pra-Islam. Referensi terhadap tokoh-tokoh seperti Hermes, Plato, dan para ḥukamā’ Persia menunjukkan bahwa sistem iluminatif bersifat transhistoris dan lintas budaya.⁷

Dalam kerangka ini, intuisi (isy­rāq) bukanlah pengalaman subjektif yang irasional, melainkan modus pengetahuan yang terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis. Intuisi iluminatif dipahami sebagai penyinaran realitas kepada jiwa yang telah disucikan dan dipersiapkan melalui latihan intelektual dan spiritual. Rasio dan intuisi dengan demikian tidak berada dalam relasi konflik, tetapi dalam hubungan hirarkis dan saling melengkapi.⁸

Sintesis ini juga menjelaskan mengapa Suhrawardī menggunakan bahasa simbolik dan naratif dalam sebagian karyanya. Simbol cahaya, kegelapan, dan perjalanan jiwa berfungsi sebagai medium ekspresi bagi realitas yang melampaui kapasitas bahasa diskursif murni. Dengan pendekatan ini, Hikmah Isyrāqiyyah tampil sebagai sistem filsafat yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga transformasional bagi subjek yang menempuhnya.⁹

2.4.       Posisi Hikmah Isyrāqiyyah dalam Tradisi Filsafat Islam

Dalam sejarah filsafat Islam, Hikmah Isyrāqiyyah menempati posisi unik sebagai jembatan antara filsafat rasional dan spiritualitas metafisis. Berbeda dengan Peripatetik yang menekankan analisis konseptual, dan berbeda pula dengan tasawuf praktis yang berfokus pada pengalaman religius, filsafat iluminatif menawarkan sistem ontologi dan epistemologi yang terintegrasi. Sistem ini memungkinkan pembahasan tentang Tuhan, alam, dan manusia dalam satu kerangka metafisis yang konsisten.¹⁰

Pengaruh Suhrawardī terlihat jelas dalam perkembangan filsafat Islam pasca-klasik, khususnya di Persia. Pemikir-pemikir seperti Mulla Ṣadrā mengadopsi dan mengembangkan unsur-unsur iluminatif, meskipun dengan formulasi ontologis yang berbeda. Dengan demikian, Hikmah Isyrāqiyyah tidak dapat dipahami sebagai aliran marginal, melainkan sebagai salah satu arus utama yang membentuk wajah filsafat Islam hingga periode modern.¹¹


Footnotes

[1]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 12–15.

[2]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 18–21.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 123–125.

[4]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 56–58.

[5]                Hossein Ziai, “Suhrawardī: Founder of the Illuminationist School,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 434–436.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 39–41.

[7]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients, 72–75.

[8]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge dan Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 9–12.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 66–69.

[10]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 118–121.

[11]             Ibrahim Kalin, “From the Temporal to the Eternal: The Philosophy of Mulla Ṣadrā,” dalam Islamic Philosophy and Occidental Phenomenology, ed. Anna-Teresa Tymieniecka (Dordrecht: Springer, 2000), 45–47.


3.           Konsep Dasar Ontologi Iluminatif

3.1.       Cahaya sebagai Prinsip Ontologis Fundamental

Ontologi iluminatif yang dikembangkan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardī berangkat dari penetapan cahaya (al-nūr) sebagai prinsip ontologis paling fundamental. Berbeda dari metafisika Peripatetik yang menempatkan “wujud” (al-wujūd) sebagai konsep paling universal, Suhrawardī menilai bahwa wujud bersifat terlalu abstrak dan hanya memiliki eksistensi konseptual dalam intelek. Sebaliknya, cahaya memiliki kejelasan intuitif karena ia menampakkan diri sekaligus menampakkan yang lain.¹

Cahaya, dalam pengertian iluminatif, bukanlah fenomena fisik semata, melainkan realitas ontologis yang esensinya adalah zuhūr (ketersingkapan) dan izhār (penyingkapan). Segala sesuatu yang nyata adalah nyata sejauh ia memiliki tingkat ketercahayaan tertentu. Dengan demikian, realitas tidak dipahami sebagai “sesuatu yang ada” secara netral, tetapi sebagai “sesuatu yang hadir dan menyadarkan.”² Prinsip ini menempatkan kesadaran sebagai dimensi intrinsik dari realitas itu sendiri, bukan sebagai produk sekunder dari struktur material.

Konsekuensi dari pandangan ini adalah pergeseran fokus ontologi dari analisis kategori-kategori logis menuju pemahaman langsung tentang derajat manifestasi realitas. Ontologi iluminatif bersifat fenomenologis dalam arti metafisis: ia menekankan bagaimana realitas hadir dan dialami, bukan sekadar bagaimana ia didefinisikan.³

3.2.       Cahaya Murni dan Cahaya Aksidental

Dalam sistem Suhrawardī, cahaya dibedakan ke dalam dua kategori utama: cahaya murni (al-nūr al-maḥḍ) dan cahaya aksidental (al-nūr al-ʿāriḍ). Cahaya murni adalah realitas yang tidak bergantung pada selain dirinya dan sepenuhnya bersifat menyadari. Ia tidak memerlukan medium atau substrat untuk menampakkan diri. Tuhan, sebagai Nūr al-Anwār, merupakan puncak dari cahaya murni ini.⁴

Sebaliknya, cahaya aksidental adalah cahaya yang bergantung pada sesuatu yang lain, baik dalam hal keberadaan maupun manifestasinya. Jiwa manusia, misalnya, dipahami sebagai cahaya yang menyadari, tetapi ketercahayaannya terikat pada relasinya dengan tubuh dan dunia material. Perbedaan ini menunjukkan bahwa ontologi iluminatif tidak bersifat monistik sederhana, melainkan hirarkis dan relasional.⁵

Pembedaan antara cahaya murni dan cahaya aksidental memungkinkan Suhrawardī menjelaskan keragaman realitas tanpa harus mereduksinya ke dalam satu substansi homogen. Keragaman bukanlah ilusi, melainkan ekspresi dari intensitas cahaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, pluralitas ontologis dipertahankan tanpa mengorbankan kesatuan metafisis.⁶

3.3.       Gradasi Cahaya dan Hirarki Wujud

Salah satu konsep kunci dalam ontologi iluminatif adalah prinsip gradasi (tashkīk) cahaya. Realitas dipahami sebagai spektrum cahaya yang bertingkat, mulai dari cahaya paling intens hingga tingkat kegelapan relatif. Setiap tingkat realitas ditentukan oleh sejauh mana ia berpartisipasi dalam cahaya. Hirarki ini mencakup cahaya-cahaya intelektual, jiwa-jiwa kosmik, jiwa manusia, hingga dunia material sebagai tingkat paling rendah dari manifestasi cahaya.⁷

Gradasi cahaya ini menggantikan model kausalitas mekanistik dengan model partisipatif. Hubungan antara tingkat realitas bukan hubungan sebab-akibat dalam pengertian fisik, melainkan relasi iluminatif: yang lebih rendah menerima pencerahan dari yang lebih tinggi. Model ini memungkinkan pemahaman kosmos sebagai tatanan yang hidup dan bermakna, bukan sekadar sistem objek mati.⁸

Konsep gradasi juga memiliki implikasi antropologis dan etis. Manusia, sebagai cahaya yang berada pada tingkat tertentu, memiliki potensi untuk meningkatkan intensitas ketercahayaannya melalui pengetahuan dan penyucian diri. Dengan demikian, ontologi iluminatif secara inheren bersifat dinamis dan normatif, tidak statis atau deskriptif semata.⁹

3.4.       Kegelapan, Materi, dan Ketidakhadiran Cahaya

Dalam ontologi iluminatif, kegelapan (ẓulmah) tidak dipahami sebagai prinsip ontologis yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kekurangan atau ketiadaan relatif cahaya. Materi menempati posisi ini: ia bukan kejahatan metafisis, tetapi batas terendah dari manifestasi cahaya. Pandangan ini menghindarkan filsafat Suhrawardī dari dualisme radikal antara terang dan gelap sebagai dua prinsip yang setara.¹⁰

Materi, meskipun gelap dalam arti kurang cahaya, tetap berada dalam jaringan ontologis cahaya. Ia memungkinkan munculnya diferensiasi, individualitas, dan pengalaman konkret. Dengan demikian, dunia material tidak ditolak, tetapi ditempatkan secara proporsional dalam hirarki realitas. Kegelapan menjadi syarat bagi keberagaman, bukan negasi total terhadap realitas.¹¹

Pendekatan ini menunjukkan bahwa ontologi iluminatif bersifat inklusif: ia mengakui realitas dunia fisik tanpa mereduksikan keseluruhan realitas kepadanya. Dunia materi memiliki makna ontologis sejauh ia terhubung dengan sumber cahaya yang lebih tinggi.¹²

3.5.       Implikasi Ontologis terhadap Kesadaran dan Pengetahuan

Karena cahaya identik dengan manifestasi dan kesadaran, ontologi iluminatif memiliki implikasi langsung terhadap teori pengetahuan. Pengetahuan sejati bukan sekadar korespondensi antara konsep dan objek, melainkan kehadiran realitas dalam diri subjek yang mengetahui (al-ʿilm al-ḥuḍūrī). Dalam pengetahuan jenis ini, subjek dan objek tidak sepenuhnya terpisah, karena keduanya berada dalam jaringan cahaya yang sama.¹³

Implikasi ontologis ini menempatkan kesadaran sebagai realitas primer, bukan epifenomena. Kesadaran-diri manusia menjadi bukti langsung eksistensi cahaya pada tingkat antropologis. Dengan demikian, ontologi iluminatif menyediakan dasar metafisis bagi filsafat kesadaran yang menolak reduksionisme materialistik tanpa harus jatuh ke dalam subjektivisme ekstrem.¹⁴

Bab ini menunjukkan bahwa konsep dasar ontologi iluminatif—cahaya, gradasi, dan ketercahayaan—membentuk kerangka metafisis yang koheren dan integratif. Kerangka inilah yang memungkinkan penyatuan Tuhan, alam, dan manusia dalam satu jaringan realitas bercahaya, yang akan dibahas lebih lanjut dalam bab-bab berikutnya.¹⁵


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 33–35.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 49–51.

[3]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 88–90.

[4]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 83–85.

[5]                Hossein Ziai, “Suhrawardī’s Critique of Ibn Sīnā’s Metaphysics,” Journal of Islamic Studies 3, no. 2 (1992): 155–157.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 58–60.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 127–129.

[8]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients, 94–97.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 72–74.

[10]             Hossein Ziai, Knowledge and Illumination, 41–43.

[11]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 62–64.

[12]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 122–124.

[13]             Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, 111–113.

[14]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 130–131.

[15]             John Walbridge, “The Role of Illumination in Suhrawardī’s Philosophy,” Iranian Studies 36, no. 2 (2003): 215–217.


4.           Tuhan dalam Ontologi Iluminatif

4.1.       Nūr al-Anwār: Tuhan sebagai Cahaya Absolut

Dalam ontologi iluminatif, Tuhan dipahami sebagai Nūr al-Anwār (Cahaya dari segala cahaya), yakni realitas paling fundamental yang darinya seluruh tingkat realitas memperoleh ketercahayaannya. Shihab al-Din Yahya Suhrawardī menegaskan bahwa Tuhan bukan “ada” (wujūd) dalam pengertian kategori logis, melainkan cahaya murni yang esensinya adalah penampakan-diri (zuhūr) tanpa memerlukan penjelasan atau definisi tambahan. Konsepsi ini dimaksudkan untuk menghindari reduksi Tuhan ke dalam abstraksi konseptual yang hanya berfungsi dalam tataran diskursif.¹

Sebagai cahaya absolut, Tuhan sepenuhnya aktual, tidak bercampur dengan kegelapan atau kekurangan. Ia menyadari diri-Nya sendiri secara sempurna dan menjadi sumber segala kesadaran. Dalam kerangka ini, kesempurnaan ilahi tidak dipahami sebagai akumulasi sifat-sifat, melainkan sebagai intensitas cahaya yang tak terbatas. Dengan demikian, sifat-sifat Tuhan tidak berdiri sebagai aksiden terpisah, melainkan terintegrasi secara identik dalam realitas cahaya-Nya.²

Pendekatan ini memungkinkan afirmasi transendensi ilahi tanpa meniadakan kehadiran-Nya. Tuhan tidak berada “di luar” realitas sebagai entitas terpisah, tetapi juga tidak terlarut dalam dunia sebagai bagian darinya. Ia hadir sebagai sumber ketercahayaan yang membuat segala sesuatu mungkin tampak dan disadari.³

4.2.       Transendensi dan Imanensi Cahaya Ilahi

Salah satu persoalan klasik dalam teologi dan metafisika adalah bagaimana memahami relasi antara transendensi dan imanensi Tuhan. Ontologi iluminatif menawarkan solusi non-dualistik terhadap persoalan ini melalui konsep cahaya. Tuhan sepenuhnya transenden karena tidak bergantung pada apa pun selain diri-Nya, tetapi sekaligus imanen karena cahaya-Nya hadir pada setiap tingkat realitas sesuai dengan kapasitas penerimaan masing-masing.⁴

Imanensi ilahi tidak berarti bahwa Tuhan menjadi bagian dari dunia, melainkan bahwa dunia sepenuhnya bergantung pada penyinaran ilahi. Relasi ini bersifat asimetris: Tuhan tidak berubah atau berkurang oleh manifestasi-Nya, sementara segala sesuatu selain Tuhan memperoleh realitasnya secara derivatif. Dengan demikian, ontologi iluminatif secara tegas menolak panteisme, sekaligus menghindari teisme deistik yang memisahkan Tuhan dari kosmos.⁵

Konsepsi ini juga berdampak pada pemahaman tentang kehadiran Tuhan dalam kesadaran manusia. Kesadaran-diri manusia, sebagai cahaya pada tingkat tertentu, merupakan pantulan terbatas dari cahaya ilahi. Namun, pantulan ini tidak mengaburkan perbedaan ontologis antara Sang Sumber dan yang disinari.⁶

4.3.       Emanasi Iluminatif dan Relasi Tuhan–Alam

Relasi Tuhan dan alam dalam ontologi iluminatif dijelaskan melalui model emanasi cahaya. Berbeda dari emanasi Neoplatonik yang sering dipahami secara mekanistik, emanasi iluminatif bersifat non-temporal dan non-fisik. Ia bukan proses penciptaan dalam waktu, melainkan relasi ontologis abadi antara sumber cahaya dan manifestasinya.⁷

Dalam model ini, alam tidak diciptakan dari ketiadaan absolut, melainkan muncul sebagai tingkat ketercahayaan yang lebih rendah dari sumber ilahi. Setiap tingkat realitas menerima cahaya sesuai dengan kapasitasnya, sehingga keragaman kosmos dapat dijelaskan tanpa mengorbankan kesatuan metafisis. Alam semesta menjadi tatanan bercahaya yang bergradasi, bukan sekadar kumpulan objek material.⁸

Emanasi iluminatif juga menegaskan ketergantungan ontologis total alam kepada Tuhan. Tanpa cahaya ilahi, tidak ada realitas yang dapat bertahan atau disadari. Dengan demikian, penciptaan dipahami sebagai relasi kontinu, bukan peristiwa sesaat di masa lalu.⁹

4.4.       Tuhan sebagai Kesadaran Murni

Salah satu kontribusi paling signifikan ontologi iluminatif adalah pemahamannya tentang Tuhan sebagai kesadaran murni. Dalam pandangan Suhrawardī, kesadaran bukan atribut tambahan, melainkan identik dengan esensi cahaya. Tuhan mengetahui bukan melalui representasi atau perantara, melainkan melalui kehadiran diri-Nya sendiri. Pengetahuan ilahi bersifat ḥuḍūrī secara mutlak.¹⁰

Konsepsi ini membawa implikasi penting bagi filsafat ketuhanan. Pertama, ia menolak antropomorfisme intelektual yang memproyeksikan cara mengetahui manusia kepada Tuhan. Kedua, ia memberikan dasar metafisis bagi kemungkinan pengetahuan manusia tentang Tuhan, sejauh manusia berpartisipasi dalam cahaya dan kesadaran. Pengetahuan tentang Tuhan bukan hasil inferensi semata, melainkan hasil intensifikasi cahaya dalam diri subjek.¹¹

Dengan memahami Tuhan sebagai kesadaran murni, ontologi iluminatif membuka ruang dialog dengan filsafat kesadaran kontemporer, khususnya pandangan yang menempatkan kesadaran sebagai realitas fundamental. Namun, berbeda dari pandangan sekuler, kesadaran dalam kerangka iluminatif memiliki sumber transenden yang memberi arah normatif dan makna metafisis.¹²

4.5.       Implikasi Teologis Ontologi Iluminatif

Ontologi iluminatif membawa implikasi teologis yang signifikan. Pertama, ia menawarkan pemahaman tentang keesaan Tuhan yang tidak reduktif, karena kesatuan ilahi tidak menghapus keragaman manifestasi. Kedua, ia menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bersifat ontologis dan eksistensial, bukan sekadar legal atau formal. Ketiga, ia menyediakan kerangka metafisis untuk etika dan spiritualitas, di mana kedekatan kepada Tuhan diukur melalui intensitas cahaya dan kejernihan kesadaran.¹³

Dengan demikian, Tuhan dalam ontologi iluminatif bukan hanya objek keimanan, tetapi juga pusat ontologis yang menstrukturkan realitas, pengetahuan, dan kehidupan manusia. Bab ini menunjukkan bahwa konsep Nūr al-Anwār merupakan kunci untuk memahami integrasi Tuhan, alam, dan manusia dalam jaringan kesadaran bercahaya yang akan dielaborasi lebih lanjut pada bab-bab berikutnya.¹⁴


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 46–48.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 66–68.

[3]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 101–103.

[4]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 133–135.

[5]                Hossein Ziai, “Suhrawardī’s Metaphysics of Light,” Journal of Islamic Studies 5, no. 2 (1994): 179–181.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 70–72.

[7]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 107–109.

[8]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients, 108–111.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 75–77.

[10]             Hossein Ziai, Knowledge and Illumination, 52–54.

[11]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 74–76.

[12]             David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness,” Journal of Consciousness Studies 2, no. 3 (1995): 207–209.

[13]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, 136–138.

[14]             John Walbridge, “Light and Being in Suhrawardī’s Philosophy,” Iranian Studies 34, no. 1 (2001): 45–47.


5.           Alam Semesta sebagai Jaringan Cahaya

5.1.       Kosmologi Iluminatif: Struktur Alam Berbasis Cahaya

Dalam ontologi iluminatif, alam semesta dipahami bukan sebagai kumpulan benda material yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jaringan realitas yang terstruktur oleh gradasi cahaya. Shihab al-Din Yahya Suhrawardī mengembangkan suatu kosmologi yang menempatkan cahaya sebagai prinsip pengorganisasi seluruh tatanan kosmos. Setiap tingkat alam merepresentasikan derajat ketercahayaan tertentu, mulai dari cahaya-cahaya intelektual yang murni hingga dunia material sebagai tingkat paling rendah dari manifestasi cahaya.¹

Struktur kosmos ini tidak disusun berdasarkan kategori ruang dan waktu semata, melainkan berdasarkan intensitas ontologis. Alam intelektual berada pada puncak karena tingkat ketercahayaannya paling tinggi dan paling dekat dengan sumber ilahi. Di bawahnya terdapat alam jiwa (nafs) yang menjadi penghubung antara dunia cahaya murni dan dunia materi. Kosmologi iluminatif dengan demikian bersifat vertikal dan hirarkis, namun tetap menjaga kesinambungan antar tingkat realitas.²

5.2.       Alam sebagai Medan Manifestasi dan Penyingkapan

Dalam kerangka iluminatif, alam tidak dipahami sebagai realitas pasif atau inert, melainkan sebagai medan manifestasi cahaya. Setiap entitas di alam semesta memiliki derajat penyingkapan (zuhūr) tertentu, yang menentukan tingkat realitas dan kesadarannya. Semakin tinggi intensitas cahaya yang dimiliki suatu entitas, semakin besar pula kapasitasnya untuk menyadari dan menampakkan realitas lain.³

Pandangan ini menolak reduksionisme materialistik yang memandang alam semata-mata sebagai objek fisik tanpa dimensi makna. Sebaliknya, alam dipahami sebagai kosmos yang “hidup” secara ontologis, karena ia berpartisipasi—meskipun secara terbatas—dalam prinsip cahaya dan kesadaran. Dengan demikian, keteraturan alam bukan sekadar hasil hukum mekanistik, tetapi ekspresi harmoni iluminatif.⁴

Implikasi penting dari pandangan ini adalah bahwa pengetahuan tentang alam tidak dapat sepenuhnya dicapai melalui observasi eksternal saja. Pemahaman ontologis terhadap alam menuntut keterlibatan subjek yang mengetahui, karena alam dan kesadaran manusia berada dalam jaringan cahaya yang sama.⁵

5.3.       Relasi Antar-Tingkat Realitas: Partisipasi Iluminatif

Hubungan antara berbagai tingkat alam dalam ontologi iluminatif bersifat partisipatif, bukan kausal dalam pengertian fisik. Tingkat realitas yang lebih rendah menerima cahaya dari tingkat yang lebih tinggi tanpa mengurangi sumbernya. Relasi ini menjelaskan bagaimana kesatuan kosmos dapat dipertahankan tanpa meniadakan perbedaan ontologis. Setiap tingkat memiliki otonomi relatif, tetapi tetap bergantung secara ontologis pada tingkat di atasnya.⁶

Model partisipasi iluminatif ini juga memberikan dasar metafisis bagi keteraturan dan koherensi alam. Hukum-hukum alam tidak berdiri sebagai prinsip yang terpisah dari realitas, melainkan sebagai ekspresi stabil dari pola penyinaran cahaya pada tingkat tertentu. Dengan demikian, hukum kosmik bersifat rasional dan bermakna, bukan kebetulan atau produk chaos.⁷

Pendekatan ini memungkinkan dialog dengan kosmologi filosofis modern yang mencari prinsip kesatuan di balik kompleksitas alam semesta, meskipun ontologi iluminatif tetap mempertahankan dimensi transenden sebagai fondasi utama.⁸

5.4.       Alam Material sebagai Tingkat Ketercahayaan Terendah

Dunia material menempati posisi terendah dalam hirarki cahaya, bukan karena ia tidak nyata, tetapi karena tingkat ketercahayaannya paling lemah. Materi dipahami sebagai batas ontologis cahaya, tempat di mana manifestasi mencapai titik minimum. Namun, materi tetap berada dalam jaringan cahaya dan memperoleh realitasnya dari tingkat yang lebih tinggi.⁹

Pandangan ini menghindarkan ontologi iluminatif dari sikap anti-dunia atau asketisme ekstrem. Dunia material tidak ditolak, melainkan dipahami sebagai arena aktualisasi potensi dan diferensiasi. Keberagaman bentuk, perubahan, dan individualitas justru mungkin karena adanya keterbatasan cahaya pada tingkat material.¹⁰

Dengan demikian, alam material memiliki fungsi kosmologis dan antropologis yang penting. Ia menjadi ruang bagi pengalaman, pembelajaran, dan transformasi kesadaran, terutama bagi manusia yang berada di persimpangan antara cahaya dan kegelapan.¹¹

5.5.       Implikasi Kosmologis dan Etis

Memahami alam semesta sebagai jaringan cahaya membawa implikasi kosmologis dan etis yang signifikan. Secara kosmologis, alam tidak lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai tatanan bermakna yang terhubung dengan sumber transenden. Secara etis, relasi manusia dengan alam menuntut sikap penghormatan dan tanggung jawab, karena alam merupakan bagian dari jaringan realitas yang sama.¹²

Ontologi iluminatif dengan demikian menyediakan dasar metafisis bagi etika kosmik, di mana tindakan manusia dinilai berdasarkan dampaknya terhadap harmoni cahaya dalam dirinya dan lingkungannya. Alam semesta tidak netral secara nilai, tetapi terintegrasi dalam tatanan ontologis yang berorientasi pada kesempurnaan dan ketercahayaan.¹³

Bab ini menegaskan bahwa alam semesta, dalam filsafat iluminatif, bukan sekadar latar bagi eksistensi manusia, melainkan bagian integral dari jaringan cahaya yang menyatukan Tuhan, kosmos, dan kesadaran manusia. Kerangka ini menjadi landasan bagi pembahasan antropologis pada bab berikutnya.¹⁴


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 58–60.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 83–85.

[3]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 112–114.

[4]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 139–141.

[5]                Hossein Ziai, “Suhrawardī’s Metaphysics of Light,” Journal of Islamic Studies 5, no. 2 (1994): 182–184.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 89–91.

[7]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients, 118–120.

[8]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 126–128.

[9]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 121–123.

[10]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 94–96.

[11]             Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 79–81.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 92–94.

[13]             Hossein Ziai, Knowledge and Illumination, 63–65.

[14]             John Walbridge, “Cosmos and Light in Suhrawardī’s Philosophy,” Iranian Studies 37, no. 3 (2004): 401–403.


6.           Manusia sebagai Entitas Iluminatif

6.1.       Posisi Ontologis Manusia dalam Hirarki Cahaya

Dalam ontologi iluminatif, manusia menempati posisi ontologis yang khas karena berada pada persimpangan antara dunia cahaya dan dunia kegelapan. Shihab al-Din Yahya Suhrawardī memahami manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan entitas bercahaya yang memiliki kapasitas kesadaran-diri. Posisi ini menjadikan manusia sebagai mikro-kosmos yang merefleksikan struktur kosmos secara keseluruhan.¹

Keunikan manusia terletak pada kemampuannya untuk berpartisipasi secara sadar dalam jaringan cahaya. Berbeda dari entitas material yang pasif, manusia memiliki potensi untuk meningkatkan intensitas ketercahayaannya melalui pengetahuan dan transformasi batin. Dengan demikian, manusia tidak dipahami secara statis, melainkan sebagai realitas yang bersifat dinamis dan teleologis.²

6.2.       Jiwa sebagai Cahaya yang Menyadari Diri

Dalam filsafat iluminatif, jiwa manusia dipahami sebagai cahaya yang menyadari dirinya sendiri. Kesadaran-diri (shuʿūr bi al-dhāt) bukanlah hasil refleksi konseptual, melainkan fakta ontologis yang langsung dan tak tereduksi. Jiwa mengetahui dirinya bukan melalui representasi mental, tetapi melalui kehadiran dirinya sendiri (al-ʿilm al-ḥuḍūrī).³

Pemahaman ini menandai perbedaan mendasar antara ontologi iluminatif dan psikologi filsafat Peripatetik. Jika dalam Peripatetik jiwa didefinisikan melalui fungsi-fungsinya, dalam iluminasi jiwa didefinisikan melalui ketercahayaannya. Jiwa adalah cahaya sejauh ia hadir bagi dirinya sendiri dan mampu menyingkap realitas lain.⁴

Konsekuensinya, kesadaran manusia tidak dapat direduksi menjadi proses fisik atau neurobiologis semata. Meskipun aktivitas tubuh berperan sebagai medium, realitas kesadaran memiliki kedudukan ontologis yang independen dan lebih fundamental.⁵

6.3.       Tubuh sebagai Medium Kegelapan Relatif

Tubuh manusia, dalam ontologi iluminatif, dipahami sebagai medium kegelapan relatif. Ia bukan kejahatan metafisis, melainkan batas ontologis yang membatasi manifestasi cahaya jiwa. Relasi jiwa dan tubuh bukan relasi antagonistik, tetapi relasi instrumental: tubuh menyediakan kondisi bagi pengalaman dan aktualisasi potensi jiwa di dunia material.⁶

Namun, keterikatan yang berlebihan pada dimensi material dapat menghalangi ketercahayaan jiwa. Oleh karena itu, filsafat iluminatif menekankan pentingnya pengendalian dan penyelarasan tubuh agar ia berfungsi sebagai sarana, bukan penghalang, bagi intensifikasi cahaya. Pandangan ini menghindari dualisme radikal sekaligus menolak reduksionisme materialistik.⁷

6.4.       Pengetahuan sebagai Proses Iluminasi

Pengetahuan, dalam perspektif iluminatif, bukan sekadar akumulasi informasi atau konstruksi konseptual, melainkan proses penyinaran. Mengetahui berarti menjadi terang oleh realitas yang diketahui. Semakin tinggi tingkat realitas yang diketahui, semakin besar pula intensitas cahaya yang diperlukan dalam diri subjek.⁸

Suhrawardī membedakan antara pengetahuan representasional (al-ʿilm al-ḥuṣūlī) dan pengetahuan kehadiran (al-ʿilm al-ḥuḍūrī). Pengetahuan representasional memiliki nilai instrumental, tetapi tidak bersifat final. Pengetahuan sejati adalah pengetahuan kehadiran, di mana subjek dan objek berada dalam satu medan cahaya yang sama.⁹

Dengan demikian, epistemologi iluminatif bersifat transformasional. Proses mengetahui tidak netral secara eksistensial, melainkan mengubah struktur ontologis subjek yang mengetahui. Semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin besar pula tuntutan etis dan spiritual yang menyertainya.¹⁰

6.5.       Kesempurnaan Manusia sebagai Intensifikasi Cahaya

Tujuan akhir eksistensi manusia, dalam ontologi iluminatif, adalah kesempurnaan cahaya. Kesempurnaan ini tidak dipahami sebagai dominasi intelektual atau kekuasaan material, melainkan sebagai kejernihan kesadaran dan kedekatan ontologis dengan sumber cahaya. Proses ini melibatkan penyucian jiwa dari kegelapan, penataan kembali orientasi hidup, dan pengaktualan potensi iluminatif manusia.¹¹

Kesempurnaan manusia bersifat bertahap dan terbuka. Tidak ada titik akhir yang bersifat absolut bagi manusia selama ia masih berada dalam dunia manifestasi. Namun, setiap peningkatan intensitas cahaya membawa manusia lebih dekat kepada realitas ilahi dan harmoni kosmik. Dengan demikian, antropologi iluminatif memiliki dimensi etis dan spiritual yang inheren.¹²

Bab ini menunjukkan bahwa manusia, dalam filsafat iluminatif, bukan hanya subjek pengetahuan, tetapi juga simpul aktif dalam jaringan cahaya yang menyatukan Tuhan dan alam. Pemahaman ini menjadi dasar bagi pembahasan integratif mengenai relasi Tuhan, alam, dan manusia secara menyeluruh pada bab berikutnya.¹³


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 66–68.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 101–103.

[3]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 125–127.

[4]                Hossein Ziai, “Knowledge by Presence in Suhrawardī’s Philosophy,” Journal of Islamic Studies 4, no. 2 (1993): 150–152.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 142–144.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 106–108.

[7]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 129–131.

[8]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination, 71–73.

[9]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, 131–133.

[10]             Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 83–85.

[11]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 110–112.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality: Foundations (New York: Crossroad, 1987), 312–314.

[13]             John Walbridge, “Man and Cosmos in Suhrawardī’s Illuminationist Philosophy,” Iranian Studies 38, no. 1 (2005): 67–69.


7.           Integrasi Tuhan, Alam, dan Manusia

7.1.       Kesatuan Ontologis Tanpa Reduksi

Ontologi iluminatif yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardī berpuncak pada tesis integratif: Tuhan, alam, dan manusia berada dalam satu kesatuan ontologis yang bergradasi, tanpa direduksi ke dalam monisme materialistik maupun dipisahkan secara dualistik. Kesatuan ini tidak bersifat identitas numerik, melainkan kesatuan partisipatif yang diikat oleh prinsip cahaya. Setiap tingkat realitas adalah nyata sejauh ia berpartisipasi dalam cahaya, dan berbeda sejauh intensitas ketercahayaannya tidak sama.¹

Model ini menolak reduksionisme ontologis yang menyamakan seluruh realitas dengan satu level (misalnya materi), sekaligus menghindari fragmentasi metafisis yang memisahkan secara kaku Tuhan dari kosmos dan manusia. Kesatuan ontologis iluminatif bersifat asimetris: Tuhan sebagai Nūr al-Anwār adalah sumber mutlak, sementara alam dan manusia adalah manifestasi derivatif yang bergantung secara ontologis.²

7.2.       Jaringan Cahaya sebagai Model Relasional Realitas

Integrasi Tuhan, alam, dan manusia dijelaskan melalui model “jaringan cahaya” (network of light), yakni struktur relasional di mana setiap entitas terhubung melalui aliran iluminatif. Relasi ini bukan relasi spasial atau kausal mekanistik, melainkan relasi ontologis berbasis partisipasi. Cahaya mengalir dari sumber tertinggi ke tingkat yang lebih rendah tanpa mengalami pengurangan, sehingga memungkinkan koeksistensi kesatuan dan pluralitas.³

Dalam jaringan ini, alam berfungsi sebagai medan manifestasi yang menghubungkan sumber ilahi dengan kesadaran manusia. Manusia, sebagai cahaya yang menyadari, memiliki kemampuan unik untuk mengenali keterhubungan tersebut secara reflektif. Dengan demikian, manusia bukan sekadar bagian dari jaringan, melainkan simpul sadar yang dapat memperkuat atau melemahkan aliran cahaya melalui pilihan epistemik dan etisnya.⁴

Model jaringan cahaya juga menegaskan bahwa relasi antar-entitas bersifat bermakna. Tidak ada realitas yang sepenuhnya terisolasi; setiap entitas memiliki tempat dan fungsi dalam tatanan iluminatif yang lebih luas. Hal ini memberikan dasar metafisis bagi koherensi kosmos dan intelligibilitas dunia.⁵

7.3.       Integrasi Epistemologis: Pengetahuan sebagai Partisipasi

Kesatuan ontologis iluminatif berimplikasi langsung pada integrasi epistemologis. Pengetahuan tidak dipahami sebagai hubungan eksternal antara subjek dan objek, melainkan sebagai partisipasi dalam cahaya yang sama. Dalam pengetahuan kehadiran (al-ʿilm al-ḥuḍūrī), realitas diketahui karena ia hadir secara langsung dalam medan kesadaran subjek.⁶

Dalam kerangka ini, pengetahuan tentang Tuhan, alam, dan diri tidak terpisah secara kategoris. Pengetahuan tentang alam, jika ditangkap secara mendalam, mengarah pada pengenalan sumber cahaya; pengetahuan tentang diri mengungkap keterbergantungan ontologis manusia; dan pengetahuan tentang Tuhan memberi orientasi dan makna bagi seluruh jaringan realitas. Integrasi epistemologis ini menolak dikotomi tajam antara sains, filsafat, dan spiritualitas.⁷

7.4.       Integrasi Antropologis dan Etis

Ontologi iluminatif memandang manusia sebagai agen integratif yang menjembatani dimensi ilahi dan kosmik. Sebagai entitas bercahaya yang hidup dalam dunia material, manusia memikul tanggung jawab ontologis untuk menjaga harmoni jaringan cahaya. Tindakan etis dinilai bukan hanya dari akibat eksternal, tetapi dari dampaknya terhadap intensitas dan kejernihan cahaya jiwa.⁸

Etika iluminatif bersifat teleologis dan transformasional. Tujuan tindakan manusia adalah intensifikasi cahaya—yakni peningkatan kesadaran, keadilan batin, dan keterarahan kepada sumber ilahi. Dalam perspektif ini, relasi manusia dengan alam tidak bersifat eksploitatif, melainkan partisipatif dan amanah, karena alam merupakan bagian dari jaringan cahaya yang sama.⁹

7.5.       Sintesis Metafisis dan Relevansi Kontemporer

Integrasi Tuhan, alam, dan manusia dalam ontologi iluminatif menghasilkan sintesis metafisis yang relevan bagi problem kontemporer, khususnya krisis makna, alienasi manusia dari alam, dan reduksionisme kesadaran. Dengan menempatkan kesadaran dan cahaya sebagai prinsip fundamental, filsafat iluminatif menawarkan paradigma holistik yang mampu menjembatani sains, filsafat, dan spiritualitas tanpa mengaburkan batas metodologis masing-masing.¹⁰

Sintesis ini bersifat terbuka dan non-dogmatis. Ia tidak menutup kemungkinan koreksi dan pengembangan, terutama melalui dialog dengan filsafat kesadaran dan kosmologi modern. Namun, fondasi ontologisnya tetap tegas: realitas adalah jaringan cahaya yang bergradasi, dengan Tuhan sebagai sumber, alam sebagai medan manifestasi, dan manusia sebagai simpul sadar yang berpotensi menyempurnakan atau meredupkan ketercahayaan jaringan tersebut.¹¹

Bab ini menegaskan bahwa ontologi iluminatif bukan sekadar teori metafisika, melainkan kerangka integratif yang menyatukan dimensi teologis, kosmologis, dan antropologis dalam satu visi realitas yang koheren dan bermakna.¹²


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 76–78.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 118–120.

[3]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 141–143.

[4]                Hossein Ziai, “Suhrawardī’s Metaphysics of Light,” Journal of Islamic Studies 5, no. 2 (1994): 185–187.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 145–147.

[6]                Shihab al-Din Suhrawardī, The Philosophy of Illumination, trans. John Walbridge and Hossein Ziai (Provo, UT: Brigham Young University Press, 1999), 138–140.

[7]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 123–125.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 98–100.

[9]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination, 81–83.

[10]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 131–133.

[11]             John Walbridge, “Man and Cosmos in Suhrawardī’s Illuminationist Philosophy,” Iranian Studies 38, no. 1 (2005): 70–72.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 86–88.


8.           Perbandingan dan Dialog Filsafat

8.1.       Ontologi Iluminatif dan Neoplatonisme

Ontologi iluminatif Suhrawardī sering dibandingkan dengan Neoplatonisme karena keduanya sama-sama menekankan prinsip emanasi dan hierarki realitas. Dalam Neoplatonisme—terutama pada Plotinus—realitas berpangkal pada Yang Esa (The One), dari mana intelek dan jiwa memancar secara bertingkat. Namun, Shihab al-Din Yahya Suhrawardī melakukan pergeseran mendasar dengan mengganti “Yang Esa” sebagai prinsip metafisis abstrak dengan “cahaya” sebagai realitas yang memiliki kejelasan fenomenologis.¹

Perbedaan kunci terletak pada status kesadaran. Dalam Neoplatonisme, kesadaran terutama terkait dengan intelek kosmik, sedangkan dalam ontologi iluminatif, kesadaran melekat secara intrinsik pada cahaya itu sendiri pada setiap tingkat realitas. Dengan demikian, cahaya tidak hanya menjadi prinsip ontologis, tetapi juga epistemologis. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Suhrawardī tidak sekadar mengadopsi Neoplatonisme, melainkan merekonstruksinya dalam horizon filsafat Islam yang menekankan kehadiran (ḥuḍūr) dan penyingkapan (zuhūr).²

8.2.       Perbandingan dengan Filsafat Peripatetik Ibn Sīnā

Dialog paling langsung dalam filsafat Islam terjadi antara ontologi iluminatif dan Peripatetik Ibn Sīnā. Jika Peripatetik menempatkan “wujud” sebagai konsep paling universal dan menjelaskan realitas melalui kategori-kategori intelektual, Suhrawardī menilai pendekatan ini terlalu konseptual dan jauh dari pengalaman kesadaran langsung. Ontologi wujud dinilai gagal menjelaskan bagaimana realitas “hadir” bagi subjek yang mengetahui.³

Namun, perbedaan ini tidak bersifat antagonistik. Suhrawardī tetap mempertahankan logika dan demonstrasi sebagai tahapan persiapan intelektual. Yang ia kritik adalah klaim finalitas rasio diskursif. Dengan demikian, dialog antara iluminasi dan Peripatetik memperlihatkan dua orientasi metafisis yang berbeda: yang satu berangkat dari abstraksi intelektual, yang lain dari kejelasan intuitif. Perbandingan ini memperkaya filsafat Islam dengan menyediakan dua model rasionalitas yang saling melengkapi.⁴

8.3.       Dialog dengan Filsafat Mulla Ṣadrā

Ontologi iluminatif juga memiliki relasi penting dengan filsafat Mulla Ṣadrā, khususnya dalam diskursus pasca-klasik. Mulla Ṣadrā mengembangkan ontologi aṣālat al-wujūd (primordialitas wujud) dan teori gradasi wujud (tashkīk al-wujūd). Meskipun berbeda secara terminologis, terdapat resonansi konseptual antara gradasi wujud Ṣadrā dan gradasi cahaya Suhrawardī.⁵

Perbedaan utama terletak pada prinsip pertama: Suhrawardī menjadikan cahaya sebagai realitas primer, sedangkan Mulla Ṣadrā menegaskan wujud sebagai realitas paling fundamental. Kendati demikian, Mulla Ṣadrā banyak mengadopsi epistemologi pengetahuan kehadiran dan simbolisme iluminatif. Dialog ini menunjukkan kesinambungan kreatif dalam filsafat Islam, di mana perbedaan ontologis justru melahirkan sintesis yang lebih kaya.⁶

8.4.       Resonansi dengan Filsafat Kesadaran Kontemporer

Dalam filsafat kontemporer, perdebatan tentang status kesadaran—apakah ia produk materi atau realitas fundamental—membuka ruang dialog dengan ontologi iluminatif. Pandangan yang menempatkan kesadaran sebagai aspek dasar realitas (non-reduksionis) memiliki kedekatan konseptual dengan tesis iluminatif bahwa cahaya dan kesadaran bersifat ontologis primer.⁷

Namun, berbeda dari filsafat kesadaran sekuler, ontologi iluminatif menempatkan kesadaran dalam kerangka transenden dan normatif. Kesadaran bukan sekadar fakta fenomenal, tetapi memiliki orientasi metafisis menuju sumber cahaya. Dengan demikian, dialog ini bersifat kritis: ontologi iluminatif dapat memperkaya filsafat kesadaran dengan dimensi makna dan nilai, sementara filsafat kontemporer dapat menantang iluminasi untuk memperjelas status argumentatif klaim-klaim intuitifnya.⁸

8.5.       Dialog dengan Kosmologi dan Sains Modern

Meskipun ontologi iluminatif tidak dimaksudkan sebagai teori ilmiah, ia menawarkan kerangka filosofis yang dapat berdialog dengan kosmologi modern. Pandangan alam sebagai jaringan relasional memiliki kesesuaian analogis dengan pendekatan sistemik dan holistik dalam sains kontemporer. Namun, perbedaan metodologis tetap harus dijaga: cahaya dalam iluminasi adalah prinsip ontologis-metafisis, bukan fenomena fisik.⁹

Dialog ini bersifat heuristik dan reflektif, bukan reduktif. Ontologi iluminatif tidak menggantikan sains, tetapi menyediakan horizon makna yang lebih luas bagi pemahaman kosmos. Dengan demikian, filsafat iluminatif berfungsi sebagai mitra kritis bagi sains dalam merumuskan implikasi metafisis dari penemuan empiris.¹⁰

8.6.       Evaluasi Kritis Dialog Perbandingan

Perbandingan dan dialog lintas tradisi menunjukkan kekuatan sekaligus keterbatasan ontologi iluminatif. Di satu sisi, ia menawarkan paradigma integratif yang mampu menjembatani metafisika, epistemologi, dan spiritualitas. Di sisi lain, ketergantungannya pada intuisi iluminatif menuntut klarifikasi metodologis agar dapat diterima dalam diskursus filsafat global.¹¹

Namun, justru dalam keterbukaan dialog inilah relevansi ontologi iluminatif tampak. Ia tidak mengklaim finalitas, melainkan menawarkan visi metafisis yang dapat diuji, dikritik, dan dikembangkan melalui perjumpaan dengan tradisi lain. Bab ini menegaskan bahwa filsafat Suhrawardī bukan warisan statis, melainkan medan dialog yang hidup dalam sejarah pemikiran.¹²


Footnotes

[1]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 21–24.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 52–55.

[3]                Hossein Ziai, “Suhrawardī’s Critique of Ibn Sīnā’s Metaphysics,” Journal of Islamic Studies 3, no. 2 (1992): 148–150.

[4]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 140–142.

[5]                Ibrahim Kalin, “From the Temporal to the Eternal: The Philosophy of Mulla Ṣadrā,” dalam Islamic Philosophy and Occidental Phenomenology, ed. Anna-Teresa Tymieniecka (Dordrecht: Springer, 2000), 46–48.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 127–129.

[7]                David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness,” Journal of Consciousness Studies 2, no. 3 (1995): 201–203.

[8]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 134–136.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 101–103.

[10]             John Polkinghorne, Science and Creation (London: SPCK, 1988), 64–66.

[11]             Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 86–88.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1964), 89–91.


9.           Kritik, Keterbatasan, dan Relevansi Kontemporert

9.1.       Kritik Epistemologis terhadap Ontologi Iluminatif

Salah satu kritik utama terhadap ontologi iluminatif adalah status epistemologis pengetahuan iluminatif (al-ʿilm al-isyrāqī). Para pengkritik berpendapat bahwa pengetahuan yang bertumpu pada intuisi dan kehadiran batin sulit diverifikasi secara intersubjektif. Berbeda dari pengetahuan diskursif yang dapat diuji melalui argumen logis atau bukti empiris, pengalaman iluminatif cenderung bersifat personal dan bergantung pada kesiapan spiritual subjek. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang validitas filosofisnya dalam kerangka rasional yang ketat.¹

Shihab al-Din Yahya Suhrawardī sendiri menyadari problem ini dan tidak meniadakan peran rasio. Namun, kritik tetap muncul bahwa subordinasi rasio di bawah intuisi berpotensi melemahkan daya kritis filsafat dan membuka ruang bagi klaim-klaim metafisis yang sulit dipertanggungjawabkan. Dari sudut pandang filsafat analitik modern, ontologi iluminatif sering dinilai kurang memenuhi kriteria kejelasan konseptual dan argumentasi formal.²

9.2.       Kritik Metafisis dan Ontologis

Kritik metafisis terutama diarahkan pada penggunaan konsep “cahaya” sebagai prinsip ontologis fundamental. Meskipun kaya secara simbolik dan intuitif, konsep cahaya dinilai ambigu karena beroperasi sekaligus sebagai metafora dan realitas ontologis. Ambiguitas ini menimbulkan pertanyaan apakah “cahaya” dalam filsafat iluminatif dapat dipahami secara konsisten tanpa jatuh ke dalam simbolisme yang berlebihan.³

Selain itu, sebagian filsuf menilai bahwa ontologi iluminatif berisiko mengaburkan batas antara Tuhan dan alam. Meskipun Suhrawardī menegaskan perbedaan ontologis yang tegas, model emanasi cahaya dapat disalahpahami sebagai bentuk panteisme atau monisme spiritual. Kritik ini menuntut klarifikasi terus-menerus agar kesatuan ontologis tidak ditafsirkan sebagai identitas ontologis.⁴

9.3.       Keterbatasan dalam Konteks Ilmu Pengetahuan Modern

Dalam konteks ilmu pengetahuan modern, ontologi iluminatif menghadapi keterbatasan metodologis. Sains modern beroperasi berdasarkan observasi empiris, pengukuran, dan falsifikasi, sementara filsafat iluminatif bergerak dalam wilayah metafisis dan fenomenologis. Akibatnya, konsep-konsep seperti cahaya ontologis dan gradasi kesadaran sulit diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa ilmiah.⁵

Namun, keterbatasan ini tidak serta-merta meniadakan nilai ontologi iluminatif. Ia memang tidak dimaksudkan sebagai teori ilmiah, melainkan sebagai kerangka metafisis yang memberi makna pada temuan ilmiah. Problem muncul ketika ontologi iluminatif diposisikan secara kompetitif terhadap sains, bukan komplementer. Oleh karena itu, batas metodologis antara filsafat dan sains perlu dijaga secara ketat.⁶

9.4.       Relevansi terhadap Krisis Makna dan Kesadaran Kontemporer

Terlepas dari berbagai kritik, ontologi iluminatif memiliki relevansi yang signifikan dalam konteks krisis makna modern. Reduksionisme materialistik yang dominan dalam banyak aliran pemikiran kontemporer sering kali gagal menjelaskan dimensi subjektif kesadaran dan pengalaman nilai. Ontologi iluminatif, dengan penekanannya pada cahaya dan kesadaran sebagai realitas fundamental, menawarkan alternatif paradigma yang lebih holistik.⁷

Dalam diskursus filsafat kesadaran, gagasan bahwa kesadaran bukan sekadar produk sampingan proses fisik menemukan resonansi dengan pendekatan iluminatif. Meskipun titik berangkat dan metodologinya berbeda, keduanya sama-sama menolak reduksi kesadaran ke dalam mekanisme material murni. Dengan demikian, ontologi iluminatif dapat berfungsi sebagai mitra dialog kritis bagi filsafat pikiran kontemporer.⁸

9.5.       Relevansi Etis, Ekologis, dan Spiritual

Ontologi iluminatif juga memiliki implikasi etis dan ekologis yang penting. Dengan memandang alam sebagai bagian dari jaringan cahaya yang bermakna, filsafat ini mendorong sikap etis yang non-eksploitatif terhadap lingkungan. Alam bukan sekadar sumber daya, melainkan manifestasi realitas yang memiliki nilai ontologis. Perspektif ini relevan dalam menghadapi krisis ekologis global yang berakar pada pandangan dunia yang terlalu instrumentalis.⁹

Secara spiritual, ontologi iluminatif menawarkan kerangka bagi integrasi antara rasionalitas dan pengalaman batin. Dalam masyarakat modern yang sering terpolarisasi antara fundamentalisme religius dan sekularisme radikal, pendekatan iluminatif menyediakan jalan tengah yang mengakui peran rasio sekaligus kedalaman spiritualitas.¹⁰

9.6.       Evaluasi Kritis dan Arah Pengembangan

Evaluasi kritis terhadap ontologi iluminatif menunjukkan bahwa kekuatannya terletak pada visi integratif dan kedalaman metafisisnya, sementara keterbatasannya muncul pada aspek verifikasi dan kejelasan metodologis. Oleh karena itu, pengembangan ontologi iluminatif di masa kini menuntut dialog yang lebih intens dengan filsafat kontemporer, khususnya dalam hal epistemologi dan filsafat sains.¹¹

Ontologi iluminatif tidak dapat diperlakukan sebagai sistem tertutup. Sebaliknya, ia harus dipahami sebagai kerangka terbuka yang dapat dikoreksi, diperkaya, dan dikontekstualisasikan ulang. Dengan sikap kritis dan dialogis, filsafat iluminatif tetap memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam upaya memahami realitas secara utuh di tengah kompleksitas dunia modern.¹²


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 90–92.

[2]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 137–139.

[3]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 156–158.

[4]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 132–134.

[5]                John Polkinghorne, Science and Creation (London: SPCK, 1988), 71–73.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 109–111.

[7]                Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007), 14–16.

[8]                David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness,” Journal of Consciousness Studies 2, no. 3 (1995): 209–211.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: Allen & Unwin, 1968), 95–97.

[10]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality: Foundations (New York: Crossroad, 1987), 318–320.

[11]             Hossein Ziai, Knowledge and Illumination, 95–97.

[12]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 136–138.


10.       Penutup

10.1.    Kesimpulan Umum

Kajian ini menegaskan bahwa ontologi iluminatif yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardī merupakan sebuah sistem metafisika yang koheren, integratif, dan orisinal dalam tradisi filsafat Islam. Dengan menjadikan cahaya (al-nūr) sebagai prinsip ontologis fundamental, Suhrawardī berhasil membangun kerangka pemahaman realitas yang menyatukan Tuhan, alam, dan manusia dalam satu jaringan kesadaran bercahaya yang bergradasi.

Berbeda dari metafisika Peripatetik yang bertumpu pada abstraksi konseptual tentang wujud, ontologi iluminatif menekankan kejelasan intuitif dan kehadiran realitas dalam kesadaran. Tuhan dipahami sebagai Nūr al-Anwār, sumber mutlak segala ketercahayaan; alam sebagai medan manifestasi cahaya yang bertingkat; dan manusia sebagai entitas iluminatif yang memiliki kemampuan kesadaran-diri dan transformasi eksistensial. Kesatuan ini bersifat partisipatif dan asimetris, sehingga tidak jatuh ke dalam monisme reduktif maupun dualisme kaku.¹

Dengan demikian, ontologi iluminatif tidak hanya berfungsi sebagai teori tentang struktur realitas, tetapi juga sebagai fondasi epistemologis dan antropologis. Pengetahuan dipahami sebagai proses iluminasi (isy­rāq), sementara kesempurnaan manusia ditentukan oleh intensifikasi cahaya dan kejernihan kesadaran.²

10.2.    Implikasi Teoretis dan Filosofis

Secara teoretis, kajian ini menunjukkan bahwa ontologi iluminatif memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan metafisika Islam, khususnya dalam upaya mengintegrasikan dimensi rasional, intuitif, dan spiritual. Konsep cahaya memungkinkan pendekatan ontologi yang tidak terjebak pada oposisi antara objektivitas dan subjektivitas, karena kesadaran dipahami sebagai dimensi intrinsik realitas.³

Dalam konteks filsafat global, ontologi iluminatif membuka ruang dialog dengan filsafat kesadaran kontemporer yang mengkritik reduksionisme materialistik. Meskipun berbeda secara metodologis, keduanya berbagi perhatian terhadap status ontologis kesadaran. Ontologi iluminatif, dengan fondasi transendennya, menawarkan horizon makna dan nilai yang melampaui pendekatan sekuler murni.⁴

10.3.    Implikasi Etis dan Kultural

Implikasi ontologi iluminatif tidak terbatas pada ranah teoretis, tetapi juga mencakup dimensi etis dan kultural. Dengan memandang alam sebagai bagian dari jaringan cahaya yang bermakna, filsafat iluminatif mendorong sikap etis yang berorientasi pada harmoni kosmik dan tanggung jawab ekologis. Relasi manusia dengan alam tidak bersifat instrumental semata, melainkan partisipatif dan amanah.⁵

Pada tingkat individual dan sosial, ontologi iluminatif menawarkan paradigma pengembangan diri yang menekankan integrasi pengetahuan, moralitas, dan spiritualitas. Dalam dunia modern yang sering mengalami fragmentasi makna, pendekatan ini relevan sebagai kerangka reflektif untuk membangun kembali relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam secara seimbang.⁶

10.4.    Keterbatasan Penelitian

Meskipun berupaya menyajikan analisis yang komprehensif, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, fokus utama diberikan pada rekonstruksi konseptual ontologi iluminatif, sehingga eksplorasi tekstual terhadap seluruh karya Suhrawardī belum dilakukan secara menyeluruh. Kedua, dialog dengan filsafat dan sains kontemporer masih bersifat eksploratif dan memerlukan pengembangan metodologis yang lebih mendalam.⁷

Keterbatasan ini menunjukkan bahwa ontologi iluminatif tidak dapat dipahami secara final dalam satu kajian, melainkan membutuhkan penelitian lanjutan yang lebih interdisipliner dan kontekstual.⁸

10.5.    Rekomendasi Penelitian Lanjutan

Berdasarkan temuan dan keterbatasan tersebut, penelitian selanjutnya dapat diarahkan pada beberapa bidang. Pertama, kajian komparatif yang lebih mendalam antara ontologi iluminatif dan filsafat kesadaran kontemporer, khususnya terkait status kesadaran sebagai realitas fundamental. Kedua, eksplorasi implikasi ontologi iluminatif bagi etika lingkungan dan filsafat teknologi modern. Ketiga, analisis historis tentang pengaruh Suhrawardī terhadap pemikiran Islam pasca-klasik dan relevansinya dalam konteks dunia Muslim kontemporer.⁹

Dengan demikian, ontologi iluminatif dapat terus dikembangkan sebagai kerangka filsafat yang hidup—terbuka terhadap kritik, dialog, dan pembaruan—tanpa kehilangan kedalaman metafisis dan orientasi spiritualnya.¹⁰


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 98–100.

[2]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 140–142.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 148–150.

[4]                David Chalmers, “Facing Up to the Problem of Consciousness,” Journal of Consciousness Studies 2, no. 3 (1995): 212–214.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 113–115.

[6]                Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007), 19–21.

[7]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 140–142.

[8]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients: Suhrawardī and the Heritage of the Greeks (Albany: SUNY Press, 2000), 163–165.

[9]                Ibrahim Kalin, “Knowledge in Later Islamic Philosophy,” Islamic Studies 38, no. 2 (1999): 185–187.

[10]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination, 145–147.


Daftar Pustaka

Aminrazavi, M. (1997). Suhrawardī and the School of Illumination. Richmond, UK: Curzon Press.

Chalmers, D. J. (1995). Facing up to the problem of consciousness. Journal of Consciousness Studies, 2(3), 200–219.

Kalin, I. (1999). Knowledge in later Islamic philosophy. Islamic Studies, 38(2), 181–200.

Kalin, I. (2000). From the temporal to the eternal: The philosophy of Mulla Ṣadrā. In A.-T. Tymieniecka (Ed.), Islamic philosophy and occidental phenomenology (pp. 45–60). Dordrecht, Netherlands: Springer.

Leaman, O. (2002). An introduction to classical Islamic philosophy. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Nasr, S. H. (1964). Three Muslim sages: Avicenna, Suhrawardī, Ibn ʿArabī. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The spiritual crisis of modern man. London, UK: Allen & Unwin.

Nasr, S. H. (1987). Islamic spirituality: Foundations. New York, NY: Crossroad.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of nature. New York, NY: Oxford University Press.

Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its origin to the present: Philosophy in the land of prophecy. Albany, NY: State University of New York Press.

Polkinghorne, J. (1988). Science and creation: The search for understanding. London, UK: SPCK.

Suhrawardī, S. D. Y. (1999). The philosophy of illumination (J. Walbridge & H. Ziai, Trans.). Provo, UT: Brigham Young University Press. (Original work published 12th century)

Taylor, C. (2007). A secular age. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Walbridge, J. (2000). The leaven of the ancients: Suhrawardī and the heritage of the Greeks. Albany, NY: State University of New York Press.

Walbridge, J. (2001). Light and being in Suhrawardī’s philosophy. Iranian Studies, 34(1), 43–60.

Walbridge, J. (2003). The role of illumination in Suhrawardī’s philosophy. Iranian Studies, 36(2), 211–225.

Walbridge, J. (2004). Cosmos and light in Suhrawardī’s philosophy. Iranian Studies, 37(3), 395–410.

Walbridge, J. (2005). Man and cosmos in Suhrawardī’s illuminationist philosophy. Iranian Studies, 38(1), 63–75.

Ziai, H. (1990). Knowledge and illumination: A study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq. Atlanta, GA: Scholars Press.

Ziai, H. (1992). Suhrawardī’s critique of Ibn Sīnā’s metaphysics. Journal of Islamic Studies, 3(2), 145–160.

Ziai, H. (1993). Knowledge by presence in Suhrawardī’s philosophy. Journal of Islamic Studies, 4(2), 147–165.

Ziai, H. (1994). Suhrawardī’s metaphysics of light. Journal of Islamic Studies, 5(2), 173–190.

Ziai, H. (1996). Suhrawardī: Founder of the illuminationist school. In S. H. Nasr & O. Leaman (Eds.), History of Islamic philosophy (pp. 434–448). London, UK: Routledge.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar