Eksistensi Belajar dan Berpikir
Analisis Filsafat Eksistensialisme dalam Dunia
Pendidikan
Alihkan ke: Ilmu Pendidikan.
Teori Belajar, Teori Berpikir, Nilai Etis Belajar, Menjadi
Pemikir Ulung.
Abstrak
Artikel ini mengkaji pandangan filsafat
eksistensialisme tentang belajar dan berpikir serta relevansinya dalam praktik
pendidikan kontemporer. Berangkat dari kritik eksistensialisme terhadap reduksi
pendidikan menjadi proses teknis dan instrumentalis, kajian ini menempatkan
belajar dan berpikir sebagai peristiwa eksistensial yang berkaitan langsung
dengan kebebasan, kesadaran diri, dan tanggung jawab manusia. Melalui
pendekatan kajian filosofis dengan analisis konseptual dan hermeneutik terhadap
pemikiran tokoh-tokoh utama eksistensialisme, artikel ini menunjukkan bahwa
belajar dipahami sebagai proses menjadi (becoming) yang membentuk
identitas dan orientasi hidup individu, sedangkan berpikir dipandang sebagai
tindakan eksistensial yang sarat nilai dan konsekuensi moral. Artikel ini juga
mengulas kritik eksistensialisme terhadap sistem pendidikan formal yang
cenderung menyeragamkan, mengobjektifikasi, dan mendehumanisasi peserta didik,
sekaligus membahas implikasi praktis eksistensialisme dalam tujuan pendidikan,
kurikulum, metode pembelajaran, peran guru, dan evaluasi. Selain itu, keterbatasan
eksistensialisme—seperti risiko relativisme, individualisme berlebihan, dan
kesulitan implementasi dalam pendidikan massal—dikaji secara kritis untuk
menempatkan eksistensialisme secara proporsional. Artikel ini menyimpulkan
bahwa eksistensialisme tetap relevan sebagai perspektif reflektif dan korektif
dalam pendidikan, terutama dalam menghadapi krisis makna, tantangan era
digital, dan kebutuhan akan pembentukan manusia yang sadar, otentik, dan
bertanggung jawab.
Kata kunci: eksistensialisme,
belajar, berpikir, filsafat pendidikan, kebebasan, keotentikan, tanggung jawab.
PEMBAHASAN
Belajar dan Berpikir sebagai Peristiwa Eksistensial
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan modern
pada umumnya berkembang dalam kerangka rasional-instrumental yang menekankan
efisiensi, pengukuran hasil, dan standar capaian akademik. Dalam paradigma ini,
belajar sering direduksi menjadi proses transfer informasi, sementara berpikir
dipahami sebagai keterampilan kognitif yang dapat dilatih secara mekanis dan
terlepas dari konteks keberadaan manusia. Pendekatan semacam ini, meskipun
berhasil meningkatkan kapasitas teknis dan pengetahuan faktual, kerap
mengabaikan dimensi makna, kesadaran diri, dan tanggung jawab eksistensial
peserta didik.¹
Kondisi tersebut
memunculkan krisis makna dalam dunia pendidikan. Peserta didik dapat menjadi
terampil secara akademik, namun mengalami keterasingan dari dirinya sendiri,
dari nilai-nilai yang diyakini, dan dari tujuan hidup yang lebih mendalam. Belajar
kehilangan relevansi eksistensialnya, sementara berpikir terjebak dalam
rutinitas reproduksi pengetahuan tanpa refleksi kritis. Dalam konteks inilah
filsafat eksistensialisme menawarkan perspektif alternatif yang menempatkan
manusia sebagai subjek yang hidup, bebas, dan bertanggung jawab atas
keberadaannya.²
Eksistensialisme
memandang manusia bukan sebagai entitas pasif yang dibentuk oleh sistem,
melainkan sebagai individu konkret yang terus-menerus membentuk dirinya melalui
pilihan dan tindakan. Prinsip fundamental eksistensialisme—bahwa eksistensi
mendahului esensi—menegaskan bahwa makna hidup, termasuk makna belajar dan
berpikir, tidak bersifat given, melainkan harus dihayati dan diwujudkan secara
personal.³ Oleh karena itu, belajar dan berpikir tidak dapat dilepaskan dari
pengalaman hidup, kegelisahan, kebebasan, dan kesadaran akan keterbatasan
manusia.
Dalam pemikiran Søren
Kierkegaard, kebenaran yang paling bermakna bukanlah kebenaran
objektif yang netral, melainkan kebenaran subjektif yang dihidupi oleh
individu.⁴ Pandangan ini menggeser fokus belajar dari akumulasi pengetahuan
menuju keterlibatan eksistensial peserta didik. Sementara itu, Jean-Paul
Sartre menegaskan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”, sehingga
setiap tindakan berpikir dan belajar selalu mengandung dimensi pilihan dan
tanggung jawab moral.⁵ Dengan demikian, berpikir bukan sekadar aktivitas
intelektual, melainkan tindakan eksistensial yang menentukan cara manusia
berada di dunia.
Lebih lanjut, Martin
Heidegger memahami manusia sebagai Dasein, yakni keberadaan yang
selalu berada-dalam-dunia (being-in-the-world).⁶ Dari
perspektif ini, berpikir dan belajar tidak pernah bersifat abstrak dan terlepas
dari konteks, melainkan selalu terikat pada situasi historis, sosial, dan
personal tertentu. Pendidikan yang mengabaikan dimensi ini berpotensi mereduksi
manusia menjadi objek sistem, bukan subjek yang sadar dan otentik.
Berdasarkan latar
belakang tersebut, kajian mengenai pandangan eksistensialisme tentang belajar
dan berpikir menjadi relevan dan mendesak. Kajian ini tidak hanya penting
secara teoretis dalam ranah filsafat pendidikan, tetapi juga memiliki implikasi
praktis bagi upaya membangun pendidikan yang lebih manusiawi, reflektif, dan
bermakna.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, permasalahan utama dalam kajian ini dirumuskan sebagai
berikut:
1)
Bagaimana hakikat belajar dalam
perspektif filsafat eksistensialisme?
2)
Bagaimana eksistensialisme
memahami aktivitas berpikir sebagai tindakan manusia?
3)
Nilai-nilai apa saja yang mendasari
proses belajar dan berpikir menurut eksistensialisme?
4)
Apa implikasi pandangan
eksistensialisme terhadap praktik pendidikan modern?
1.3.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian
1.3.1.
Tujuan
Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk:
1)
Menganalisis pandangan eksistensialisme
tentang hakikat belajar.
2)
Menjelaskan konsep berpikir dalam
kerangka eksistensialisme.
3)
Mengungkap relevansi pandangan
eksistensialisme bagi dunia pendidikan kontemporer.
1.3.2.
Manfaat
Penelitian
Secara teoretis,
kajian ini diharapkan memperkaya khazanah filsafat pendidikan, khususnya dalam
memahami dimensi eksistensial belajar dan berpikir. Secara praktis, kajian ini
diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pendidik dalam merancang proses
pembelajaran yang lebih reflektif, humanis, dan bermakna bagi peserta didik.
1.4.
Metode dan Pendekatan
Kajian
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian filosofis. Analisis
dilakukan melalui penelusuran dan interpretasi teks-teks primer dan sekunder
tokoh-tokoh eksistensialisme. Pendekatan hermeneutik dan analisis konseptual
digunakan untuk memahami makna belajar dan berpikir dalam kerangka
eksistensial, serta untuk mengaitkannya dengan konteks pendidikan modern secara
kritis dan reflektif.
Footnotes
[1]
Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University
Press, 1947), 3–10.
[2]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New
York: Philosophical Library, 1961), 5–7.
[3]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22.
[4]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans.
David F. Swenson and Walter Lowrie (Princeton: Princeton University Press,
1941), 178–180.
[5]
Sartre, Existentialism Is a Humanism, 29–31.
[6]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–83.
2.
Landasan Filosofis Eksistensialisme
2.1.
Pengertian dan Ruang
Lingkup Eksistensialisme
Eksistensialisme
merupakan aliran filsafat yang menempatkan keberadaan manusia konkret sebagai
titik tolak utama refleksi filosofis. Berbeda dengan tradisi filsafat klasik
yang berfokus pada esensi universal dan struktur metafisis abstrak,
eksistensialisme menaruh perhatian pada pengalaman hidup manusia sebagaimana
dialami secara langsung: kegelisahan, pilihan, kebebasan, penderitaan, dan
pencarian makna. Dengan demikian, eksistensialisme tidak terutama bertanya apa itu
manusia, melainkan bagaimana manusia mengada dan menjalani
keberadaannya.¹
Prinsip paling
mendasar dalam eksistensialisme adalah tesis bahwa eksistensi
mendahului esensi. Tesis ini menegaskan bahwa manusia tidak
memiliki hakikat tetap yang telah ditentukan sebelumnya, melainkan membentuk
dirinya melalui tindakan dan pilihan konkret dalam kehidupan. Hakikat manusia
bersifat dinamis, terbuka, dan terus-menerus menjadi.² Konsekuensinya, manusia
dipahami sebagai subjek aktif yang bertanggung jawab atas pembentukan dirinya
sendiri.
Ruang lingkup
eksistensialisme mencakup berbagai dimensi keberadaan manusia, antara lain
dimensi ontologis (hakikat keberadaan), etis (tanggung jawab dan pilihan),
epistemologis (cara memahami kebenaran), serta eksistensial-praktis (cara hidup
yang otentik). Dalam konteks pendidikan, ruang lingkup ini menjadi relevan
karena belajar dan berpikir tidak lagi dipandang sebagai aktivitas netral,
melainkan sebagai bagian integral dari cara manusia mengada di dunia.
2.2.
Tokoh-Tokoh Utama
Eksistensialisme
Eksistensialisme
tidak lahir sebagai sistem filsafat tunggal yang homogen, melainkan sebagai
spektrum pemikiran yang beragam. Namun demikian, terdapat beberapa tokoh kunci
yang memberikan fondasi konseptual bagi aliran ini.
2.2.1.
Søren
Kierkegaard dan Subjektivitas Kebenaran
Søren Kierkegaard
sering dipandang sebagai pelopor eksistensialisme modern. Ia mengkritik
filsafat sistematis yang dianggapnya mengabaikan keberadaan individu konkret.
Bagi Kierkegaard, kebenaran yang paling bermakna bukanlah kebenaran objektif
yang dapat dirumuskan secara universal, melainkan kebenaran
subjektif yang dihayati dan dijalani oleh individu.³
Subjektivitas, dalam
pandangan Kierkegaard, bukan berarti relativisme semata, melainkan keterlibatan
eksistensial manusia secara total—pikiran, perasaan, dan kehendak—dalam
relasinya dengan kebenaran. Konsep ini memiliki implikasi langsung terhadap
belajar dan berpikir, karena pengetahuan hanya bermakna sejauh ia
diinternalisasi dan membentuk cara hidup individu.
2.2.2.
Jean-Paul
Sartre dan Kebebasan Radikal
Jean-Paul Sartre
mengembangkan eksistensialisme ateistik dengan menekankan kebebasan manusia
secara radikal. Menurut Sartre, karena tidak ada esensi atau kodrat manusia
yang telah ditentukan, manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas dirinya
sendiri. Ia terkenal dengan ungkapan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”.⁴
Kebebasan ini tidak
bersifat abstrak, melainkan selalu terwujud dalam situasi konkret. Setiap
pilihan, termasuk pilihan intelektual dan cara berpikir, merupakan pernyataan
eksistensial tentang siapa manusia itu. Penolakan terhadap tanggung jawab
kebebasan ini disebut Sartre sebagai bad faith (ketidakjujuran eksistensial),
yakni sikap melarikan diri dari kebebasan dengan berlindung pada sistem,
otoritas, atau determinisme.
2.2.3.
Martin
Heidegger dan Analisis Keberadaan (Dasein)
Martin Heidegger
memberikan fondasi ontologis yang kuat bagi eksistensialisme melalui analisis
tentang Dasein.
Heidegger memahami manusia sebagai makhluk yang “ada-di-dalam-dunia” (being-in-the-world),
bukan sebagai subjek terisolasi yang berhadapan dengan objek-objek secara
netral.⁵
Dalam kerangka ini,
berpikir dan memahami tidak pernah terlepas dari konteks keberadaan manusia.
Pengetahuan selalu bersifat situasional dan historis. Konsep keotentikan (Eigentlichkeit)
dan ketidakotentikan (Uneigentlichkeit) menjadi kunci
untuk memahami bagaimana manusia dapat hidup secara sadar dan bertanggung jawab
atau sebaliknya terjerumus dalam kehidupan yang dangkal dan tidak reflektif.
2.2.4.
Albert Camus
dan Absurditas Eksistensi
Albert Camus,
meskipun menolak label eksistensialis secara eksplisit, sering dikaitkan dengan
eksistensialisme karena refleksinya tentang absurditas. Camus memandang
absurditas sebagai ketegangan antara pencarian manusia akan makna dan
ketidakpedulian dunia terhadap pencarian tersebut.⁶
Respons Camus
terhadap absurditas bukanlah keputusasaan, melainkan pemberontakan eksistensial—sikap
menerima kenyataan tanpa ilusi sambil tetap hidup secara sadar dan bermartabat.
Dalam konteks belajar dan berpikir, absurditas membuka ruang refleksi tentang
makna pengetahuan dan tujuan pendidikan di tengah dunia yang tidak selalu memberikan
jawaban final.
2.3.
Konsep-Konsep Kunci
dalam Eksistensialisme
2.3.1.
Kebebasan dan
Tanggung Jawab
Kebebasan merupakan
inti eksistensialisme. Namun, kebebasan selalu berkelindan dengan tanggung
jawab. Setiap pilihan berpikir dan bertindak tidak hanya menentukan tindakan
itu sendiri, tetapi juga membentuk diri pelaku.⁷
2.3.2.
Kecemasan
(Anxiety) dan Kesadaran Diri
Kecemasan
eksistensial bukan gangguan psikologis semata, melainkan kesadaran manusia akan
kebebasan dan keterbatasannya. Kecemasan justru membuka kemungkinan refleksi
dan pertumbuhan diri.
2.3.3.
Keotentikan
Keotentikan merujuk
pada cara hidup yang jujur terhadap diri sendiri, nilai-nilai yang diyakini,
dan situasi konkret yang dihadapi. Pendidikan, dalam perspektif ini, seharusnya
membantu manusia menuju kehidupan yang otentik, bukan sekadar konformitas
sosial.
Footnotes
[1]
Walter Kaufmann, Existentialism from Dostoevsky to Sartre (New
York: Meridian Books, 1956), 11–15.
[2]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22–23.
[3]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans.
David F. Swenson and Walter Lowrie (Princeton: Princeton University Press,
1941), 178–181.
[4]
Sartre, Existentialism Is a Humanism, 29–31.
[5]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–83.
[6]
Albert Camus, The Myth of Sisyphus, trans. Justin O’Brien (New
York: Vintage Books, 1955), 16–18.
[7]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E.
Barnes (New York: Washington Square Press, 1992), 553–555.
3.
Pandangan Eksistensialisme tentang Belajar
3.1.
Hakikat Belajar dalam
Perspektif Eksistensialisme
Dalam filsafat
eksistensialisme, belajar tidak dipahami sebagai proses teknis penguasaan
informasi atau keterampilan semata, melainkan sebagai peristiwa
eksistensial yang berkaitan langsung dengan cara manusia
mengada di dunia. Belajar merupakan bagian dari proses pembentukan diri (self-formation),
di mana individu secara aktif menafsirkan pengalaman, membuat pilihan, dan
memberi makna terhadap realitas yang dihadapinya.¹ Dengan demikian, belajar
bersifat personal, situasional, dan tidak dapat direduksi menjadi mekanisme
sebab-akibat yang netral.
Eksistensialisme
menolak pandangan esensialis yang menganggap manusia memiliki potensi tetap
yang tinggal “dikembangkan” melalui pendidikan. Sebaliknya, manusia dipahami
sebagai makhluk yang selalu “menjadi” (becoming). Dalam konteks ini,
belajar merupakan sarana bagi manusia untuk membentuk identitas, orientasi
nilai, dan sikap hidupnya secara sadar.² Pengetahuan memperoleh maknanya bukan
karena validitas objektif semata, melainkan karena keterkaitannya dengan
keberadaan dan pilihan hidup subjek yang belajar.
3.2.
Belajar sebagai Proses
Menjadi (Becoming) dan Pembentukan Diri
Konsep belajar
sebagai proses menjadi menegaskan bahwa pendidikan tidak sekadar berorientasi
pada hasil akhir, tetapi pada dinamika eksistensial peserta didik. Setiap
pengalaman belajar berpotensi mengubah cara individu memahami dirinya sendiri
dan dunianya. Oleh karena itu, belajar tidak pernah bersifat netral; ia selalu
membawa implikasi ontologis dan etis bagi subjek yang mengalaminya.
Dalam pandangan Jean-Paul
Sartre, manusia membentuk dirinya melalui tindakan konkret yang
dilakukan secara bebas dan bertanggung jawab.³ Belajar, dalam kerangka ini,
merupakan salah satu bentuk tindakan eksistensial. Pilihan untuk belajar, cara
belajar, dan makna yang diberikan terhadap pengetahuan mencerminkan sikap
eksistensial seseorang terhadap kebebasan dan tanggung jawabnya.
Dengan demikian,
belajar tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang
tujuan hidup, nilai, dan orientasi moral. Pendidikan yang mengabaikan dimensi
ini berisiko menghasilkan individu yang terampil secara teknis, tetapi miskin
refleksi dan kesadaran diri.
3.3.
Subjektivitas dan
Pengalaman Personal dalam Belajar
Eksistensialisme
menempatkan subjektivitas sebagai elemen sentral dalam proses belajar.
Pengetahuan tidak dianggap bermakna apabila hanya dipahami secara eksternal dan
objektif, tanpa keterlibatan eksistensial subjek. Dalam hal ini, Søren
Kierkegaard menegaskan bahwa kebenaran sejati adalah kebenaran
yang dihayati (truth as subjectivity).⁴
Subjektivitas dalam
belajar bukan berarti penolakan terhadap rasionalitas atau objektivitas ilmiah,
melainkan penegasan bahwa pengetahuan harus berakar pada pengalaman hidup
individu. Proses belajar yang autentik menuntut keterlibatan batin, refleksi
personal, dan keberanian untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang mapan. Oleh
karena itu, eksistensialisme mengkritik pendidikan yang hanya menekankan
hafalan, repetisi, dan kepatuhan terhadap otoritas intelektual.
3.4.
Kegelisahan, Krisis,
dan Kesadaran sebagai Sumber Belajar
Berbeda dari
pandangan pedagogis yang memandang kegelisahan dan krisis sebagai hambatan
belajar, eksistensialisme justru melihatnya sebagai sumber
pembelajaran yang fundamental. Kegelisahan eksistensial muncul
ketika individu menyadari kebebasan, keterbatasan, dan ketidakpastian hidupnya.
Kesadaran ini mendorong manusia untuk bertanya, meragukan, dan merefleksikan
makna keberadaannya.⁵
Dalam konteks
belajar, krisis—baik intelektual maupun eksistensial—dapat menjadi momen
transformasional. Melalui krisis, individu dipaksa keluar dari kenyamanan
pemahaman lama dan membuka diri terhadap kemungkinan makna baru. Proses ini
menjadikan belajar bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi perjalanan
reflektif yang membentuk kedewasaan intelektual dan moral.
3.5.
Relasi Guru dan
Peserta Didik dalam Perspektif Eksistensial
Eksistensialisme
memandang relasi guru dan peserta didik sebagai relasi antarsubjek, bukan
relasi subjek-objek. Guru tidak diposisikan sebagai otoritas absolut yang
mentransmisikan pengetahuan, melainkan sebagai pendamping eksistensial yang
membantu peserta didik menyadari potensi kebebasan dan tanggung jawabnya.⁶
Dalam kerangka ini,
dialog menjadi metode pedagogis utama. Dialog memungkinkan terjadinya
pertukaran makna, refleksi kritis, dan pengakuan terhadap keberadaan unik
masing-masing individu. Pendidikan yang dialogis membuka ruang bagi peserta
didik untuk menafsirkan pengalaman belajarnya sendiri secara otentik, tanpa
kehilangan arah etis dan intelektual.
Tujuan
Belajar Menurut Eksistensialisme
Tujuan belajar dalam
perspektif eksistensialisme tidak terletak pada pencapaian standar eksternal
semata, melainkan pada pembentukan manusia yang:
1)
sadar akan dirinya dan situasi
hidupnya,
2)
mampu berpikir dan bertindak
secara bebas,
3)
bertanggung jawab atas
pilihan-pilihannya,
4)
dan hidup secara otentik sesuai
nilai yang diyakininya.
Dengan demikian,
belajar dipahami sebagai proses pembebasan dan pemanusiaan. Pendidikan yang
berhasil bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membangunkan kesadaran
eksistensial manusia sebagai subjek yang bermakna.
Footnotes
[1]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New
York: Philosophical Library, 1961), 14–18.
[2]
Knud Ejler Løgstrup, The Ethical Demand (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1997), 9–12.
[3]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 28–31.
[4]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans.
David F. Swenson and Walter Lowrie (Princeton: Princeton University Press,
1941), 178–181.
[5]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward
Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 228–231.
[6]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman
Ramos (New York: Continuum, 1970), 72–75.
4.
Pandangan Eksistensialisme tentang Berpikir
4.1.
Hakikat Berpikir dalam
Perspektif Eksistensialisme
Dalam kerangka
filsafat eksistensialisme, berpikir tidak dipahami sebagai aktivitas kognitif
yang netral dan terlepas dari kehidupan, melainkan sebagai tindakan
eksistensial yang berakar pada cara manusia mengada di dunia.
Berpikir selalu dilakukan oleh subjek konkret yang hidup dalam situasi
tertentu, menghadapi pilihan, keterbatasan, serta tuntutan makna. Oleh karena
itu, berpikir tidak pernah sepenuhnya objektif dalam arti bebas nilai, sebab ia
selalu terkait dengan kepentingan, orientasi hidup, dan tanggung jawab personal
subjek yang berpikir.¹
Eksistensialisme
menolak reduksi berpikir menjadi proses mekanis pengolahan informasi. Berpikir
dipahami sebagai cara manusia menafsirkan dunia, dirinya sendiri, dan relasinya
dengan orang lain. Dalam konteks ini, berpikir merupakan ekspresi dari
kebebasan manusia sekaligus medan di mana tanggung jawab eksistensial
dijalankan. Cara seseorang berpikir mencerminkan cara ia memilih untuk hidup.
4.2.
Berpikir sebagai
Keterlibatan Eksistensial
Berbeda dengan
tradisi rasionalisme yang menekankan jarak antara subjek dan objek,
eksistensialisme menegaskan bahwa berpikir selalu bersifat terlibat (engaged
thinking). Subjek yang berpikir tidak berdiri di luar realitas,
melainkan berada di dalamnya sebagai bagian dari dunia yang dipikirkan. Dengan
demikian, berpikir bukan hanya upaya memahami realitas, tetapi juga cara
mengambil sikap terhadap realitas tersebut.²
Dalam pemikiran Martin
Heidegger, memahami dan berpikir merupakan modus dasar
keberadaan Dasein.
Manusia selalu sudah memahami dunia secara pra-reflektif sebelum melakukan
refleksi teoretis.³ Berpikir filosofis, dalam arti yang mendalam, bukanlah
aktivitas spekulatif yang terlepas dari kehidupan, melainkan upaya menyadari
dan menafsirkan struktur keberadaan manusia itu sendiri. Oleh karena itu,
berpikir menjadi sarana bagi manusia untuk hidup secara lebih sadar dan
otentik.
4.3.
Kebebasan Berpikir dan
Tanggung Jawab Moral
Eksistensialisme
menempatkan kebebasan sebagai inti dari aktivitas berpikir. Manusia tidak hanya
berpikir karena didorong oleh sebab-sebab eksternal, tetapi karena ia memilih
untuk menerima, menolak, atau menafsirkan gagasan tertentu. Dalam perspektif
ini, kebebasan berpikir selalu diiringi oleh tanggung jawab moral. Setiap
pilihan intelektual—apa yang diyakini, bagaimana menilai, dan bagaimana
menyimpulkan—merupakan pernyataan eksistensial tentang siapa manusia itu.⁴
Menurut Jean-Paul
Sartre, manusia tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab
atas pilihan-pilihan berpikirnya. Upaya menyandarkan pemikiran sepenuhnya pada
otoritas eksternal, tradisi, atau determinisme intelektual merupakan bentuk bad
faith, yakni ketidakjujuran terhadap kebebasan diri sendiri.⁵
Dengan demikian, berpikir yang autentik menuntut keberanian untuk bertanggung
jawab atas konsekuensi intelektual dan moral dari pemikiran yang diambil.
4.4.
Kritik terhadap
Dogmatisme dan Berpikir Tidak Otentik
Eksistensialisme
bersikap kritis terhadap segala bentuk dogmatisme yang membekukan berpikir
manusia. Dogmatisme dipandang sebagai sikap yang meniadakan kebebasan berpikir
dengan menggantinya oleh kepatuhan buta terhadap sistem, ideologi, atau
otoritas tertentu. Dalam konteks ini, berpikir tidak lagi menjadi tindakan
eksistensial, melainkan sekadar reproduksi gagasan yang sudah mapan.⁶
Pemikiran Søren
Kierkegaard menegaskan bahwa berpikir yang tidak melibatkan
subjektivitas eksistensial akan kehilangan maknanya. Kebenaran yang hanya
dipahami secara objektif, tanpa keterlibatan diri, tidak mampu mengubah cara
hidup manusia.⁷ Oleh karena itu, eksistensialisme menuntut bentuk berpikir yang
reflektif, kritis, dan jujur terhadap diri sendiri, meskipun hal tersebut
sering kali menimbulkan kegelisahan dan ketidakpastian.
4.5.
Berpikir, Kegelisahan,
dan Kesadaran Eksistensial
Kegelisahan (anxiety)
memegang peranan penting dalam aktivitas berpikir menurut eksistensialisme.
Kegelisahan bukan dipandang sebagai gangguan yang harus dihindari, melainkan
sebagai tanda kesadaran manusia akan kebebasan dan keterbatasannya. Dalam
kondisi gelisah, manusia terdorong untuk berpikir secara lebih mendalam tentang
makna, tujuan, dan arah hidupnya.⁸
Berpikir yang lahir
dari kegelisahan eksistensial cenderung bersifat reflektif dan kritis. Ia tidak
puas dengan jawaban-jawaban dangkal atau final, melainkan terus membuka kemungkinan
makna baru. Dengan demikian, kegelisahan justru menjadi sumber produktif bagi
perkembangan intelektual dan kedewasaan eksistensial manusia.
Implikasi
Pandangan Eksistensialisme tentang Berpikir
Pandangan
eksistensialisme tentang berpikir memiliki implikasi penting bagi dunia
pendidikan dan kehidupan intelektual secara umum. Berpikir tidak cukup dipahami
sebagai keterampilan logis atau analitis semata, tetapi sebagai proses
pembentukan sikap hidup. Pendidikan yang berorientasi eksistensial hendaknya
mendorong peserta didik untuk:
1)
berpikir secara mandiri dan
reflektif,
2)
menyadari nilai dan asumsi di
balik setiap pemikiran,
3)
berani bertanggung jawab atas
keyakinan intelektualnya,
4)
dan terbuka terhadap koreksi serta
dialog.
Dengan demikian, berpikir
menjadi sarana pembebasan manusia dari ketergantungan intelektual dan jalan
menuju kehidupan yang lebih sadar, otentik, dan bermakna.
Footnotes
[1]
Karl Jaspers, Philosophy, vol. 1 (Chicago: University of
Chicago Press, 1969), 23–27.
[2]
Walter Kaufmann, Existentialism from Dostoevsky to Sartre (New
York: Meridian Books, 1956), 34–36.
[3]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–83.
[4]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 29–31.
[5]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E.
Barnes (New York: Washington Square Press, 1992), 70–75.
[6]
Paul Tillich, The Courage to Be (New Haven: Yale University
Press, 1952), 98–101.
[7]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans.
David F. Swenson and Walter Lowrie (Princeton: Princeton University Press,
1941), 178–181.
[8]
Martin Heidegger, What Is Called Thinking?, trans. J. Glenn
Gray (New York: Harper & Row, 1968), 17–21.
5.
Kritik Eksistensialisme terhadap Sistem
Pendidikan Formal
5.1.
Pendidikan Formal dan
Reduksi Manusia
Eksistensialisme
mengajukan kritik mendasar terhadap sistem pendidikan formal modern yang
cenderung mereduksi manusia menjadi objek proses pedagogis. Dalam banyak
praktik pendidikan, peserta didik diperlakukan sebagai entitas pasif yang harus
menyesuaikan diri dengan kurikulum, standar evaluasi, dan mekanisme
institusional yang telah ditentukan sebelumnya. Pendekatan ini memprioritaskan
efisiensi, keterukuran, dan hasil kuantitatif, sementara dimensi subjektivitas,
kebebasan, dan pencarian makna sering kali terpinggirkan.¹
Dari sudut pandang
eksistensialisme, reduksi semacam ini mengingkari hakikat manusia sebagai
subjek yang hidup dan sadar. Pendidikan yang memandang manusia hanya sebagai
“sumber daya manusia” atau “output sistem” berpotensi menghasilkan keterasingan
(alienation),
yakni kondisi ketika individu terpisah dari dirinya sendiri, dari makna
belajar, dan dari tanggung jawab eksistensialnya.²
5.2.
Penyeragaman Kurikulum
dan Hilangnya Keotentikan
Salah satu sasaran
utama kritik eksistensialisme adalah kecenderungan pendidikan formal untuk
menyeragamkan pengalaman belajar. Kurikulum yang distandardisasi mengandaikan
bahwa semua peserta didik memiliki kebutuhan, potensi, dan cara belajar yang
sama. Dalam perspektif eksistensialisme, asumsi ini problematis karena
mengabaikan keunikan setiap individu sebagai subjek eksistensial.³
Penyeragaman
tersebut mendorong peserta didik untuk menyesuaikan diri secara konformis
terhadap tuntutan sistem, sering kali dengan mengorbankan keotentikan diri.
Hidup dan belajar secara tidak otentik berarti menerima nilai, tujuan, dan cara
berpikir yang bukan hasil pilihan sadar, melainkan hasil tekanan sosial dan
institusional. Dalam istilah Martin Heidegger, kondisi ini
mencerminkan keberadaan yang jatuh ke dalam das Man, yakni cara hidup yang
larut dalam anonimitas dan kebiasaan umum.⁴
5.3.
Otoritarianisme
Pedagogis dan Matinya Kebebasan Berpikir
Eksistensialisme
juga mengkritik model pendidikan yang bersifat otoritarian, di mana guru dan
institusi diposisikan sebagai sumber kebenaran tunggal. Dalam model ini,
berpikir peserta didik diarahkan untuk menerima, menghafal, dan mereproduksi
pengetahuan, bukan untuk mempertanyakan dan menafsirkan secara kritis.
Akibatnya, kebebasan berpikir sebagai inti keberadaan manusia menjadi
tereduksi.⁵
Menurut perspektif
eksistensial, pendidikan semacam ini mendorong peserta didik pada sikap bad
faith, yaitu ketidakjujuran eksistensial yang ditandai oleh
pelarian dari tanggung jawab berpikir secara mandiri. Peserta didik belajar
untuk “patuh secara intelektual”, bukan untuk bertanggung jawab atas keyakinan
dan pemahamannya sendiri. Kritik ini sejalan dengan pandangan Jean-Paul
Sartre yang menolak segala bentuk determinisme yang meniadakan
kebebasan manusia.⁶
5.4.
Pendidikan sebagai
Proses Dehumanisasi
Dalam kritik
eksistensialis, pendidikan formal modern kerap berkontribusi pada proses
dehumanisasi. Proses belajar direduksi menjadi rutinitas administratif,
sementara relasi antarmanusia—antara guru dan peserta didik—kehilangan dimensi
dialogis dan personal. Pendidikan menjadi aktivitas teknis yang berjarak dari
pengalaman hidup nyata peserta didik.⁷
Kritik ini menemukan
resonansi dalam pemikiran Paulo Freire, khususnya melalui
konsep banking
education. Freire menilai bahwa pendidikan yang memperlakukan
peserta didik sebagai “wadah kosong” tidak hanya menindas secara intelektual,
tetapi juga menghambat proses humanisasi.⁸ Dari sudut pandang eksistensialisme,
pendidikan yang tidak membangkitkan kesadaran diri dan tanggung jawab
eksistensial pada akhirnya gagal menjalankan fungsi kemanusiaannya.
Alternatif
Eksistensial: Pendidikan yang Memanusiakan
Sebagai respons
terhadap kritik tersebut, eksistensialisme menawarkan visi pendidikan yang
memanusiakan manusia. Pendidikan dipahami sebagai ruang dialog eksistensial,
tempat peserta didik didorong untuk merefleksikan pengalaman hidup, mempertanyakan
makna, dan mengambil tanggung jawab atas pilihan-pilihan intelektual serta
moralnya.⁹
Dalam pendidikan
yang berorientasi eksistensial, kurikulum bersifat terbuka dan kontekstual,
metode pembelajaran menekankan dialog dan refleksi, serta evaluasi diarahkan
pada proses pembentukan kesadaran, bukan sekadar pengukuran hasil. Dengan
demikian, pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai alat penyesuaian sosial
semata, melainkan sebagai sarana pembebasan dan pendewasaan manusia sebagai
subjek eksistensial.
Footnotes
[1]
Ivan Illich, Deschooling Society (New York: Harper & Row,
1971), 9–15.
[2]
Erich Fromm, The Sane Society (New York: Rinehart, 1955),
83–87.
[3]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New
York: Philosophical Library, 1961), 41–45.
[4]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 164–168.
[5]
Karl Jaspers, The Idea of the University (Boston: Beacon
Press, 1959), 55–58.
[6]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 34–36.
[7]
Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University
Press, 1947), 21–25.
[8]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman
Ramos (New York: Continuum, 1970), 72–79.
[9]
Knud Ejler Løgstrup, The Ethical Demand (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1997), 131–135.
6.
Implikasi Pandangan Eksistensialisme dalam
Praktik Pendidikan
6.1.
Pendidikan sebagai
Proses Pembentukan Kesadaran Eksistensial
Implikasi utama
eksistensialisme dalam praktik pendidikan terletak pada pergeseran orientasi
pendidikan dari sekadar penguasaan pengetahuan menuju pembentukan kesadaran
eksistensial peserta didik. Pendidikan tidak lagi dipahami
sebagai instrumen sosial untuk menghasilkan tenaga terampil semata, melainkan
sebagai proses pemanusiaan manusia yang menumbuhkan kesadaran diri, kebebasan,
dan tanggung jawab.¹
Dalam perspektif
ini, tujuan pendidikan adalah membantu individu menyadari dirinya sebagai
subjek yang hidup dalam situasi konkret, menghadapi pilihan, keterbatasan, dan
tuntutan makna. Kesadaran semacam ini tidak dapat dipaksakan melalui doktrin
atau indoktrinasi, melainkan tumbuh melalui refleksi, dialog, dan keterlibatan
aktif peserta didik dalam proses belajar.²
6.2.
Implikasi terhadap
Tujuan Pendidikan
Eksistensialisme
menggeser tujuan pendidikan dari orientasi eksternal—seperti nilai,
sertifikasi, dan capaian standar—menuju tujuan internal yang bersifat
eksistensial. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang:
1)
sadar akan dirinya dan situasi
hidupnya,
2)
mampu berpikir dan bertindak
secara bebas,
3)
bertanggung jawab atas pilihan
intelektual dan moralnya,
4)
serta hidup secara otentik sesuai
nilai yang diyakininya.³
Tujuan ini tidak
menafikan pentingnya pengetahuan ilmiah dan keterampilan teknis, tetapi
menempatkannya dalam kerangka makna yang lebih luas. Pengetahuan menjadi
sarana, bukan tujuan akhir, dalam proses pembentukan manusia yang utuh.
6.3.
Implikasi terhadap
Kurikulum
Dalam praktik pendidikan,
pandangan eksistensialisme menuntut kurikulum yang bersifat fleksibel,
kontekstual, dan terbuka. Kurikulum tidak dipahami sebagai
daftar materi yang harus diselesaikan secara seragam, melainkan sebagai
kerangka pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik mengaitkan
pengetahuan dengan realitas hidupnya.⁴
Kurikulum
eksistensial mendorong integrasi antara pengetahuan akademik dan
persoalan-persoalan eksistensial, seperti makna hidup, nilai, tanggung jawab
sosial, dan relasi antarmanusia. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya
belajar tentang
dunia, tetapi juga belajar bagaimana hidup di dalam dunia
tersebut secara sadar dan bermakna.
6.4.
Implikasi terhadap
Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran
dalam perspektif eksistensialisme menekankan dialog, refleksi, dan pengalaman.
Pembelajaran dialogis memungkinkan terjadinya perjumpaan antarsubjek, di mana
guru dan peserta didik sama-sama terlibat dalam pencarian makna. Metode ini
menolak model transmisi satu arah yang mematikan kebebasan berpikir.⁵
Refleksi menjadi
elemen kunci dalam proses belajar. Peserta didik didorong untuk merefleksikan
pengalaman, asumsi, dan nilai yang melandasi pemahamannya. Melalui refleksi,
belajar menjadi proses internalisasi yang membentuk kesadaran, bukan sekadar
akumulasi informasi.
Pandangan ini
sejalan dengan pemikiran Paulo Freire, yang menekankan
pendidikan sebagai praktik pembebasan melalui dialog dan kesadaran kritis.⁶
Meskipun Freire berangkat dari tradisi kritis, pendekatannya memiliki resonansi
kuat dengan eksistensialisme dalam hal penekanan pada subjek, kebebasan, dan
tanggung jawab.
6.5.
Implikasi terhadap
Peran Guru
Dalam pendidikan
berorientasi eksistensial, peran guru mengalami transformasi fundamental. Guru
tidak lagi diposisikan sebagai otoritas absolut pemilik kebenaran, melainkan
sebagai pendamping eksistensial yang
membantu peserta didik menyadari dan mengembangkan potensinya secara sadar.⁷
Guru berfungsi
sebagai fasilitator dialog, pemantik refleksi, dan teladan dalam sikap berpikir
otentik. Keberadaan guru menjadi signifikan bukan karena kekuasaan
institusionalnya, melainkan karena kehadiran personal dan integritas
eksistensialnya. Dengan demikian, relasi guru–peserta didik dibangun atas dasar
pengakuan terhadap martabat dan kebebasan masing-masing.
6.6.
Implikasi terhadap
Evaluasi Pendidikan
Eksistensialisme
juga mengkritik model evaluasi pendidikan yang semata-mata kuantitatif dan
berorientasi hasil. Evaluasi semacam itu cenderung mengabaikan proses reflektif
dan perkembangan kesadaran peserta didik. Dalam perspektif eksistensial,
evaluasi seharusnya bersifat formatif, reflektif, dan dialogis.⁸
Penilaian diarahkan
untuk memahami perkembangan pemahaman, sikap, dan tanggung jawab peserta didik
terhadap proses belajarnya sendiri. Evaluasi tidak hanya berfungsi sebagai alat
seleksi, tetapi sebagai sarana pembelajaran yang membantu peserta didik
mengenali dirinya, keterbatasannya, dan kemungkinan pengembangannya.
Tantangan
Implementasi Pendidikan Eksistensial
Meskipun memiliki
nilai humanistik yang kuat, penerapan pandangan eksistensialisme dalam praktik
pendidikan menghadapi berbagai tantangan. Sistem pendidikan massal, tuntutan
administratif, dan tekanan standar evaluasi sering kali menyulitkan
implementasi pendekatan yang bersifat personal dan dialogis.⁹
Namun demikian,
tantangan ini tidak meniadakan relevansi eksistensialisme. Sebaliknya, ia
menegaskan perlunya upaya kreatif dan reflektif untuk mengintegrasikan
nilai-nilai eksistensial dalam kerangka pendidikan formal secara realistis dan
bertahap.
Footnotes
[1]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New
York: Philosophical Library, 1961), 52–56.
[2]
Karl Jaspers, The Idea of the University (Boston: Beacon
Press, 1959), 63–66.
[3]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 36–38.
[4]
Knud Ejler Løgstrup, The Ethical Demand (Notre Dame:
University of Notre Dame Press, 1997), 141–145.
[5]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York:
Scribner, 1970), 62–65.
[6]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, trans. Myra Bergman
Ramos (New York: Continuum, 1970), 79–84.
[7]
Nel Noddings, Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral
Education (Berkeley: University of California Press, 1984), 176–179.
[8]
John Dewey, Experience and Education (New York: Macmillan,
1938), 48–51.
[9]
Ivan Illich, Deschooling Society (New York: Harper & Row,
1971), 67–71.
7.
Kritik dan Keterbatasan Eksistensialisme dalam
Pendidikan
7.1.
Problematika
Subjektivitas dan Risiko Relativisme
Salah satu kritik
paling sering diarahkan kepada eksistensialisme dalam pendidikan adalah
penekanannya yang kuat pada subjektivitas. Dengan menjadikan pengalaman
personal dan pilihan individu sebagai pusat pembelajaran, eksistensialisme
berisiko tergelincir ke dalam relativisme epistemologis, yakni pandangan bahwa
kebenaran semata-mata ditentukan oleh pengalaman subjektif tanpa tolok ukur
yang lebih luas.¹
Dalam konteks
pendidikan, relativisme semacam ini dapat menimbulkan kesulitan dalam
menentukan standar pengetahuan, validitas ilmiah, dan kerangka evaluasi yang
adil. Jika setiap pengalaman dianggap sama validnya, maka batas antara
pemahaman yang reflektif dan opini yang tidak teruji menjadi kabur. Kritik ini
menunjukkan bahwa pendidikan tetap membutuhkan struktur epistemologis yang
memungkinkan dialog rasional dan koreksi intersubjektif.²
7.2.
Keterbatasan dalam
Pendidikan Massal dan Institusional
Eksistensialisme
pada dasarnya berangkat dari perhatian terhadap individu konkret. Namun,
pendidikan modern berlangsung dalam skala massal dan berada dalam kerangka
institusional yang kompleks. Pendekatan eksistensial yang menekankan relasi
personal, dialog mendalam, dan refleksi individual menghadapi keterbatasan
praktis ketika diterapkan dalam sistem pendidikan yang melibatkan jumlah
peserta didik besar, kurikulum nasional, dan tuntutan administratif.³
Keterbatasan ini
menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana eksistensialisme dapat
dioperasionalkan secara sistematis tanpa kehilangan esensinya. Pendidikan tidak
dapat sepenuhnya bergantung pada pendekatan individualistik, karena ia juga
memiliki fungsi sosial, kultural, dan struktural yang harus dipenuhi. Oleh
karena itu, eksistensialisme perlu diposisikan sebagai perspektif kritis dan
korektif, bukan sebagai satu-satunya paradigma pendidikan.
7.3.
Risiko Individualisme
Berlebihan
Kritik lain yang
relevan adalah potensi eksistensialisme mendorong individualisme berlebihan.
Penekanan pada kebebasan dan pilihan personal dapat mengaburkan dimensi sosial
pendidikan, termasuk tanggung jawab kolektif, solidaritas, dan keterikatan
sosial. Pendidikan, bagaimanapun, tidak hanya bertujuan membentuk individu yang
otentik, tetapi juga warga masyarakat yang mampu hidup bersama secara etis.⁴
Beberapa pemikir
menilai bahwa eksistensialisme—terutama dalam versi ateistiknya—kurang memberikan
landasan normatif yang kuat bagi kehidupan bersama. Dalam konteks ini,
kebebasan individu berisiko dipahami secara terisolasi dari relasi sosial dan
tanggung jawab komunal. Kritik ini menunjukkan perlunya integrasi
eksistensialisme dengan pendekatan etis dan sosial yang lebih luas.
7.4.
Ambiguitas Tujuan
Pendidikan
Eksistensialisme
cenderung menolak perumusan tujuan pendidikan yang bersifat final dan
universal. Meskipun sikap ini sejalan dengan prinsip kebebasan dan keterbukaan,
ia juga menimbulkan ambiguitas dalam praktik pedagogis. Tanpa tujuan yang
relatif jelas, pendidikan berisiko kehilangan arah dan konsistensi.⁵
Dalam sistem
pendidikan formal, tujuan diperlukan sebagai acuan perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi. Oleh karena itu, penolakan eksistensialisme terhadap tujuan
normatif yang baku perlu diimbangi dengan perumusan tujuan minimal yang
disepakati secara intersubjektif, tanpa meniadakan kebebasan individual.
7.5.
Kritik terhadap Basis
Metafisik dan Antropologis
Sebagian kritik juga
diarahkan pada basis metafisik eksistensialisme, khususnya terkait pandangan
tentang manusia. Eksistensialisme sering dipandang terlalu menekankan kebebasan
dan keterputusan manusia dari struktur makna yang lebih besar, seperti tradisi,
nilai transenden, atau tatanan moral objektif.⁶
Dalam konteks
pendidikan, kritik ini relevan karena proses belajar dan berpikir tidak
berlangsung dalam ruang hampa nilai. Pendidikan selalu beroperasi dalam horizon
makna tertentu. Oleh karena itu, eksistensialisme perlu didialogkan dengan
perspektif lain—baik humanistik, religius, maupun pragmatis—agar tidak terjebak
dalam pandangan antropologis yang sempit.
Upaya
Sintesis dan Relevansi Kritis
Meskipun memiliki
keterbatasan, eksistensialisme tetap menawarkan kontribusi penting bagi pendidikan,
terutama dalam menegaskan dimensi kemanusiaan, kebebasan berpikir, dan tanggung
jawab personal. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih produktif bukanlah
menolak eksistensialisme, melainkan melakukan sintesis kritis dengan paradigma
pendidikan lain.
Sintesis ini
memungkinkan eksistensialisme berfungsi sebagai koreksi terhadap pendidikan
yang terlalu teknokratis, tanpa mengabaikan kebutuhan akan struktur, tujuan,
dan rasionalitas ilmiah. Dengan demikian, eksistensialisme dapat dipahami
sebagai perspektif reflektif yang memperkaya, bukan menggantikan, kerangka
pendidikan yang lebih komprehensif.⁷
Footnotes
[1]
Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of
Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), 72–75.
[2]
Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interests, trans. Jeremy
J. Shapiro (Boston: Beacon Press, 1971), 310–315.
[3]
Ivan Illich, Deschooling Society (New York: Harper & Row,
1971), 24–28.
[4]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 35–40.
[5]
John Dewey, Democracy and Education (New York: Macmillan,
1916), 107–112.
[6]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of
Notre Dame Press, 1981), 204–209.
[7]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New
York: Philosophical Library, 1961), 88–92.
8.
Relevansi Kontemporer Pandangan
Eksistensialisme
8.1.
Krisis Makna dalam
Pendidikan Kontemporer
Perkembangan
pendidikan kontemporer ditandai oleh akselerasi teknologi, globalisasi
pengetahuan, dan meningkatnya tuntutan efisiensi serta akuntabilitas. Di satu
sisi, perkembangan ini memperluas akses dan mempercepat distribusi pengetahuan;
di sisi lain, ia memperdalam krisis makna dalam proses belajar. Pendidikan
cenderung terfokus pada kompetensi terukur, keterampilan pasar kerja, dan
capaian performatif, sementara pertanyaan mendasar tentang tujuan hidup, nilai,
dan tanggung jawab personal semakin terpinggirkan.¹
Dalam konteks ini,
eksistensialisme menjadi relevan sebagai perspektif korektif yang menyoroti
kembali dimensi makna dan kesadaran diri dalam pendidikan. Dengan menempatkan
manusia sebagai subjek yang hidup dan memilih, eksistensialisme menantang
reduksi pendidikan menjadi sekadar proses teknis dan instrumental.
8.2.
Eksistensialisme di
Era Digital dan Kecerdasan Buatan
Era digital dan
kemunculan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara manusia belajar,
berpikir, dan berinteraksi dengan pengetahuan. Algoritma pencarian, sistem
rekomendasi, dan otomatisasi kognitif berpotensi meningkatkan efisiensi
belajar, tetapi juga menimbulkan risiko ketergantungan intelektual dan
hilangnya otonomi berpikir.²
Dalam situasi ini,
pandangan eksistensialisme menegaskan pentingnya kesadaran
dan tanggung jawab manusia dalam menggunakan teknologi.
Berpikir tidak boleh direduksi menjadi aktivitas pasif yang mengikuti logika
algoritmik, melainkan harus tetap menjadi tindakan eksistensial yang melibatkan
pilihan, penilaian, dan refleksi kritis. Relevansi eksistensialisme terletak
pada penekanannya bahwa teknologi, betapapun canggihnya, tidak dapat
menggantikan tanggung jawab manusia dalam memberi makna terhadap pengetahuan
dan kehidupan.
8.3.
Pendidikan Humanistik
dan Pembentukan Subjek Otonom
Dalam diskursus
pendidikan kontemporer, muncul kembali perhatian terhadap pendidikan humanistik
yang menekankan pengembangan manusia secara utuh. Eksistensialisme
berkontribusi signifikan pada pendekatan ini dengan menegaskan pentingnya
kebebasan, keotentikan, dan tanggung jawab personal sebagai tujuan pendidikan.³
Pendidikan yang
berorientasi eksistensial berupaya membentuk subjek otonom yang tidak hanya
mampu berpikir kritis, tetapi juga mampu mengambil sikap etis terhadap realitas
sosial dan teknologi. Dalam masyarakat yang ditandai oleh banjir informasi dan
polarisasi wacana, kemampuan untuk berpikir secara reflektif dan bertanggung
jawab menjadi semakin krusial.
8.4.
Eksistensialisme dan
Tantangan Pluralisme Nilai
Masyarakat kontemporer
ditandai oleh pluralisme nilai, pandangan hidup, dan identitas kultural. Dalam
konteks ini, pendidikan menghadapi tantangan untuk mengelola perbedaan tanpa
jatuh pada relativisme ekstrem atau dogmatisme sempit. Eksistensialisme
menawarkan pendekatan yang menekankan dialog, keterbukaan, dan pengakuan
terhadap kebebasan individu, tanpa menafikan tanggung jawab etis.⁴
Dengan menempatkan
individu sebagai subjek yang bertanggung jawab atas pilihan nilainya,
eksistensialisme mendorong pendidikan untuk menjadi ruang dialog yang
memungkinkan perjumpaan antarpandangan hidup secara kritis dan saling
menghormati. Relevansi ini tampak dalam upaya membangun pendidikan yang
toleran, reflektif, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
8.5.
Relevansi
Eksistensialisme dalam Pendidikan Moral dan Karakter
Pendidikan moral dan
karakter menjadi perhatian utama dalam konteks krisis etika kontemporer,
seperti pragmatisme ekstrem, konsumerisme, dan erosi tanggung jawab sosial.
Eksistensialisme memberikan kontribusi penting dengan menekankan bahwa
moralitas bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan eksternal, melainkan hasil
pilihan sadar individu yang bertanggung jawab atas tindakannya.⁵
Dalam kerangka ini,
pendidikan moral tidak berhenti pada penanaman norma, tetapi mendorong peserta
didik untuk merefleksikan dasar-dasar etis dari setiap keputusan. Pendidikan
menjadi sarana pembentukan integritas personal, bukan sekadar penyesuaian
perilaku.
Eksistensialisme
sebagai Perspektif Kritis Berkelanjutan
Relevansi kontemporer
eksistensialisme tidak terletak pada kemampuannya menggantikan paradigma
pendidikan lain, melainkan pada fungsinya sebagai perspektif
kritis berkelanjutan. Eksistensialisme berperan mengingatkan
pendidikan agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya di tengah tekanan
teknologi, pasar, dan birokrasi.⁶
Dengan menegaskan
pentingnya makna, kebebasan, dan tanggung jawab, eksistensialisme tetap aktual
sebagai lensa reflektif untuk menilai arah dan tujuan pendidikan di masa kini
dan masa depan. Perspektif ini mendorong pendidikan untuk terus terbuka
terhadap koreksi, dialog, dan pengembangan, sejalan dengan dinamika keberadaan
manusia itu sendiri.
Footnotes
[1]
Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (Cambridge: Polity Press,
2000), 19–24.
[2]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York:
PublicAffairs, 2019), 376–380.
[3]
Martha C. Nussbaum, Not for Profit: Why Democracy Needs the
Humanities (Princeton: Princeton University Press, 2010), 25–29.
[4]
Charles Taylor, Multiculturalism and “The Politics of Recognition”
(Princeton: Princeton University Press, 1992), 66–70.
[5]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 36–40.
[6]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New York:
Philosophical Library, 1961), 101–105.
9.
Penutup
9.1.
Simpulan
Kajian ini
menunjukkan bahwa eksistensialisme menawarkan kerangka filosofis yang kuat
untuk memahami belajar dan berpikir sebagai peristiwa eksistensial—yakni
proses yang menyentuh inti keberadaan manusia sebagai subjek yang bebas, sadar,
dan bertanggung jawab. Berbeda dari pendekatan pendidikan yang menekankan
transfer pengetahuan dan efisiensi teknis, eksistensialisme menempatkan
pengalaman hidup, subjektivitas, dan pencarian makna sebagai pusat aktivitas
belajar dan berpikir. Dengan demikian, pengetahuan memperoleh signifikansinya
bukan semata karena validitas objektif, melainkan karena keterlibatannya dalam
pembentukan diri dan orientasi hidup individu.¹
Pembahasan pada
bab-bab sebelumnya menegaskan bahwa belajar, dalam perspektif eksistensialisme,
merupakan proses menjadi (becoming)
yang terus berlangsung. Belajar tidak berhenti pada penguasaan konten, tetapi
berlanjut pada internalisasi nilai, refleksi diri, dan pengambilan sikap terhadap
realitas. Sementara itu, berpikir dipahami sebagai tindakan eksistensial yang
sarat nilai dan konsekuensi moral; cara seseorang berpikir mencerminkan cara ia
memilih untuk hidup. Penekanan pada kebebasan berpikir sekaligus menuntut
tanggung jawab personal terhadap pilihan-pilihan intelektual yang diambil.²
Kajian ini juga
memperlihatkan bahwa eksistensialisme mengajukan kritik tajam terhadap sistem
pendidikan formal yang cenderung menstandardisasi, mengobjektifikasi, dan
mendehumanisasi peserta didik. Namun, kritik tersebut tidak dimaksudkan untuk
menafikan fungsi sosial dan struktural pendidikan, melainkan untuk mengoreksi
kecenderungan teknokratis yang mengabaikan dimensi kemanusiaan. Dalam konteks
ini, eksistensialisme berfungsi sebagai perspektif reflektif yang mengingatkan
pendidikan akan tujuan dasarnya: memanusiakan manusia.³
Di sisi lain,
eksistensialisme memiliki keterbatasan, antara lain risiko relativisme,
individualisme berlebihan, serta kesulitan implementasi dalam pendidikan
massal. Oleh karena itu, eksistensialisme paling produktif dipahami bukan
sebagai paradigma tunggal, melainkan sebagai lensa kritis yang perlu
didialogkan dengan pendekatan lain—rasional, sosial, etis, dan kultural—agar
pendidikan dapat berjalan secara seimbang antara kebebasan dan struktur,
subjektivitas dan intersubjektivitas.⁴
9.2.
Rekomendasi
Berdasarkan simpulan
tersebut, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, secara teoretis, kajian
lanjutan perlu mengembangkan dialog antara eksistensialisme dan filsafat
pendidikan lain, termasuk humanisme, pragmatisme, dan perspektif religius, guna
membangun kerangka pendidikan yang lebih komprehensif dan kontekstual. Dialog
ini penting untuk memperkaya landasan normatif dan mengatasi keterbatasan
eksistensialisme yang bersifat individualistik.
Kedua, secara
praktis, pendidik dan pembuat kebijakan disarankan untuk mengintegrasikan
nilai-nilai eksistensial—seperti refleksi diri, dialog, dan tanggung jawab—ke
dalam kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi pendidikan. Integrasi ini
tidak harus bersifat radikal, melainkan dapat dilakukan secara bertahap dan
realistis, sesuai dengan konteks institusional yang ada.
Ketiga, dalam
menghadapi tantangan pendidikan kontemporer—khususnya di era digital dan
kecerdasan buatan—pendidikan perlu menegaskan kembali peran manusia sebagai
subjek yang memberi makna, bukan sekadar pengguna teknologi. Dalam hal ini,
penekanan eksistensialisme pada kebebasan dan tanggung jawab berpikir menjadi
semakin relevan untuk menjaga otonomi intelektual dan integritas moral peserta
didik.⁵
Dengan demikian,
eksistensialisme tetap aktual sebagai sumber inspirasi filosofis bagi
pendidikan yang berorientasi pada makna, kesadaran, dan tanggung jawab.
Pendidikan yang terbuka terhadap refleksi eksistensial diharapkan mampu
membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga
matang secara eksistensial dan etis.
Footnotes
[1]
Otto Friedrich Bollnow, Existentialism and Education (New
York: Philosophical Library, 1961), 14–18.
[2]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 28–31.
[3]
Max Horkheimer, Eclipse of Reason (New York: Oxford University
Press, 1947), 21–25.
[4]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of
Notre Dame Press, 1981), 204–209.
[5]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans.
David F. Swenson and Walter Lowrie (Princeton: Princeton University Press,
1941), 178–181.
Daftar Pustaka
Bauman, Z. (2000). Liquid
modernity. Polity Press.
Bollnow, O. F. (1961). Existentialism
and education. Philosophical Library.
Buber, M. (1970). I and
Thou (W. Kaufmann, Trans.). Scribner. (Original work published 1923)
Camus, A. (1955). The
myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.). Vintage Books. (Original work published
1942)
Dewey, J. (1916). Democracy
and education. Macmillan.
Dewey, J. (1938). Experience
and education. Macmillan.
Freire, P. (1970). Pedagogy
of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). Continuum.
Fromm, E. (1955). The
sane society. Rinehart.
Habermas, J. (1971). Knowledge
and human interests (J. J. Shapiro, Trans.). Beacon Press.
Heidegger, M. (1962). Being
and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
(Original work published 1927)
Heidegger, M. (1968). What
is called thinking? (J. G. Gray, Trans.). Harper & Row.
Horkheimer, M. (1947). Eclipse
of reason. Oxford University Press.
Illich, I. (1971). Deschooling
society. Harper & Row.
Jaspers, K. (1959). The
idea of the university. Beacon Press.
Jaspers, K. (1969). Philosophy
(Vol. 1). University of Chicago Press.
Kaufmann, W. (1956). Existentialism
from Dostoevsky to Sartre. Meridian Books.
Kierkegaard, S. (1941). Concluding
unscientific postscript (D. F. Swenson & W. Lowrie, Trans.). Princeton
University Press. (Original work published 1846)
Løgstrup, K. E. (1997). The
ethical demand (T. I. Jensen, Trans.). University of Notre Dame Press.
(Original work published 1956)
MacIntyre, A. (1981). After
virtue. University of Notre Dame Press.
Noddings, N. (1984). Caring:
A feminine approach to ethics and moral education. University of
California Press.
Nussbaum, M. C. (2010). Not
for profit: Why democracy needs the humanities. Princeton University
Press.
Ricoeur, P. (1976). Interpretation
theory: Discourse and the surplus of meaning. Texas Christian University
Press.
Sartre, J.-P. (1992). Being
and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Washington Square Press. (Original
work published 1943)
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism
is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press. (Original work
published 1946)
Taylor, C. (1989). Sources
of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.
Taylor, C. (1992). Multiculturalism
and “the politics of recognition”. Princeton University Press.
Tillich, P. (1952). The
courage to be. Yale University Press.
Zuboff, S. (2019). The
age of surveillance capitalism. PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar