Selasa, 10 Februari 2026

Epistemologi Presensial: Pengetahuan, Kesadaran Diri, dan Realitas Cahaya

Epistemologi Presensial

Pengetahuan, Kesadaran Diri, dan Realitas Cahaya


Alihkan ke: Pemikiran Suhrawardi.


Abstrak

Artikel ini mengkaji epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī) sebagai salah satu prinsip fundamental dalam sistem filsafat iluminasi (ḥikmat al-isy­rāq) yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi. Berangkat dari kritik terhadap epistemologi representasional yang mendominasi tradisi Peripatetik dan epistemologi modern, Suhrawardī mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang menempatkan kehadiran langsung dan kesadaran diri sebagai fondasi epistemik yang paling dasar. Melalui pendekatan analitis-filosofis dan kajian tekstual terhadap karya-karya utama Suhrawardī serta literatur sekunder yang relevan, artikel ini merekonstruksi konsep epistemologi presensial, menjelaskan distingsinya dengan pengetahuan representasional (ʿilm ḥuṣūlī), serta menelusuri landasan ontologisnya dalam metafisika cahaya (nūr).

Hasil kajian menunjukkan bahwa epistemologi presensial tidak hanya menawarkan teori pengetahuan alternatif, tetapi juga mengintegrasikan epistemologi dan ontologi dalam satu kerangka eksistensial. Kesadaran diri dipahami sebagai paradigma pengetahuan yang paling pasti dan tidak inferensial, sementara kebenaran ditentukan oleh tingkat kehadiran dan kejelasan realitas yang diketahui. Artikel ini juga menyoroti implikasi filosofis epistemologi presensial terhadap teori kebenaran, konsep subjek, dan kritik terhadap reduksionisme epistemik, serta menilai relevansinya dalam dialog dengan filsafat kesadaran dan fenomenologi kontemporer. Dengan demikian, epistemologi presensial Suhrawardī dipahami sebagai kontribusi penting filsafat Islam klasik yang tetap memiliki signifikansi teoretis dalam diskursus epistemologi global.

Kata Kunci: Epistemologi presensial; ʿilm ḥuḍūrī; Filsafat iluminasi; Suhrawardī; Kesadaran diri; Metafisika cahaya; Filsafat Islam; Epistemologi kontemporer.


PEMBAHASAN

Epistemologi Presensial dalam Filsafat Iluminasi Suhrawardī


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Epistemologi merupakan salah satu cabang utama filsafat yang membahas hakikat, sumber, batas, dan validitas pengetahuan manusia. Dalam tradisi filsafat Barat maupun Islam klasik, persoalan epistemologi sering kali didominasi oleh pendekatan representasional, yaitu pandangan bahwa pengetahuan diperoleh melalui perantaraan konsep, gambaran mental, atau abstraksi intelektual dari objek eksternal. Pendekatan ini menempatkan relasi subjek–objek dalam kerangka dualistik yang meniscayakan jarak epistemik antara yang mengetahui dan yang diketahui.¹

Dalam filsafat Islam, model epistemologi representasional mencapai bentuk sistematisnya dalam tradisi Peripatetik, khususnya melalui pemikiran Ibn Sīnā, yang menekankan peran akal dalam mengabstraksikan bentuk-bentuk universal dari pengalaman inderawi. Meskipun model ini memberikan fondasi rasional yang kuat bagi ilmu pengetahuan, ia tidak sepenuhnya mampu menjelaskan dimensi pengetahuan yang bersifat langsung, intuitif, dan non-diskursif, seperti kesadaran diri, pengalaman batin, dan pengetahuan eksistensial.²

Kritik terhadap dominasi epistemologi representasional tersebut menemukan artikulasinya secara radikal dalam filsafat iluminasi (ḥikmat al-isy­rāq) yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi. Dalam sistem filsafatnya, Suhrawardī mengajukan konsep epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī) sebagai prinsip fundamental pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan yang paling dasar dan paling pasti bukanlah hasil representasi konseptual, melainkan kehadiran langsung realitas bagi subjek yang mengetahui.³

Epistemologi presensial menegaskan bahwa dalam jenis pengetahuan tertentu—terutama pengetahuan diri—tidak terdapat pemisahan antara subjek dan objek. Subjek mengetahui dirinya bukan melalui konsep atau definisi, melainkan melalui kehadiran eksistensial dirinya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan tidak lagi dipahami semata sebagai relasi kognitif, tetapi sebagai modus keberadaan (mode of being).⁴ Pandangan ini sekaligus menantang asumsi dasar epistemologi rasionalistik dan empiristik yang cenderung mereduksi pengetahuan pada proses mental atau data inderawi.

Relevansi epistemologi presensial tidak terbatas pada konteks filsafat Islam klasik. Dalam wacana filsafat kontemporer, isu-isu seperti kesadaran (consciousness), pengalaman langsung (immediate experience), dan kritik terhadap representasionalisme kembali mengemuka, baik dalam fenomenologi maupun filsafat pikiran. Oleh karena itu, kajian terhadap epistemologi presensial Suhrawardī memiliki signifikansi teoretis yang luas, baik untuk pengembangan filsafat Islam maupun dialog lintas tradisi filsafat.⁵

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan untuk menjawab beberapa pertanyaan pokok sebagai berikut:

1)                  Apa yang dimaksud dengan epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī) dalam sistem filsafat Suhrawardī?

2)                  Bagaimana struktur epistemologi presensial dan landasan ontologisnya dalam filsafat iluminasi?

3)                  Mengapa kesadaran diri menempati posisi fundamental dalam teori pengetahuan Suhrawardī?

4)                  Apa implikasi epistemologi presensial terhadap pemahaman tentang kebenaran dan validitas pengetahuan?

1.3.       Tujuan dan Signifikansi Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1)                  Menjelaskan konsep epistemologi presensial secara sistematis dalam kerangka filsafat iluminasi Suhrawardī.

2)                  Menganalisis peran kesadaran diri sebagai fondasi epistemologis pengetahuan.

3)                  Menunjukkan implikasi filosofis epistemologi presensial terhadap teori pengetahuan secara umum.

Adapun signifikansi penelitian ini terletak pada upaya memperkaya diskursus epistemologi dengan perspektif non-representasional yang berakar pada tradisi filsafat Islam. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat membuka ruang dialog antara filsafat klasik Islam dan filsafat kontemporer, khususnya dalam kajian kesadaran dan pengetahuan langsung.

1.4.       Metodologi dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis filosofis-tekstual. Sumber primer berupa karya-karya utama Suhrawardī dianalisis secara konseptual untuk merekonstruksi kerangka epistemologi presensial. Pendekatan historis digunakan untuk menempatkan pemikiran Suhrawardī dalam konteks intelektualnya, sementara pendekatan komparatif dimanfaatkan secara terbatas untuk menyoroti kekhasan epistemologi presensial dibandingkan dengan tradisi epistemologi lain.


Sistematika Pembahasan

Artikel ini disusun dalam sepuluh bab. Bab pertama berisi pendahuluan. Bab kedua membahas konteks historis dan intelektual filsafat Suhrawardī. Bab ketiga menguraikan konsep dasar epistemologi presensial. Bab keempat membahas kesadaran diri sebagai fondasi pengetahuan. Bab kelima mengkaji relasi antara metafisika cahaya dan epistemologi. Bab keenam membahas kriteria kebenaran pengetahuan presensial. Bab ketujuh menyajikan perbandingan dengan tradisi epistemologi lain. Bab kedelapan mengulas implikasi filosofisnya, sementara bab kesembilan membahas kritik dan relevansi kontemporer. Bab kesepuluh berisi simpulan dan rekomendasi penelitian lanjutan.


Footnotes

[1]                Robert Audi, Epistemology: A Contemporary Introduction to the Theory of Knowledge (London: Routledge, 2011), 2–5.

[2]                Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition (Leiden: Brill, 1988), 145–150.

[3]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 107–110.

[4]                Hossein Ziai, “Knowledge and Illumination,” dalam The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, ed. Peter Adamson dan Richard C. Taylor (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 199–201.

[5]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 34–36.


2.           Kerangka Historis dan Intelektual Filsafat Suhrawardī

2.1.       Konteks Historis Abad ke-6 H / ke-12 M

Filsafat iluminasi (ḥikmat al-isy­rāq) lahir dalam konteks intelektual Islam abad ke-6 Hijriah (ke-12 Masehi), suatu periode yang ditandai oleh dinamika intens antara filsafat rasional, teologi kalam, dan tasawuf. Pada masa ini, filsafat Peripatetik yang diwariskan dari Aristoteles dan disistematisasi oleh Ibn Sīnā telah mencapai puncak kematangannya, baik dari segi metodologi maupun cakupan metafisik. Namun, dominasi epistemologi rasional-analitis juga memunculkan kritik, terutama terkait keterbatasannya dalam menjelaskan pengalaman spiritual, kesadaran diri, dan pengetahuan intuitif.¹

Secara politik dan sosial, dunia Islam pada masa itu berada dalam situasi fragmentasi kekuasaan, tetapi tetap menjadi ruang subur bagi pertukaran gagasan. Madrasah, istana, dan lingkungan sufi menjadi pusat-pusat produksi intelektual. Dalam konteks inilah Shihab al-Din Yahya Suhrawardi muncul sebagai figur filsuf yang berupaya merumuskan sistem filsafat alternatif, yang tidak menolak rasio, tetapi menempatkannya dalam relasi subordinatif dengan intuisi dan pengalaman langsung.²

2.2.       Tradisi Peripatetik dan Dominasi Rasionalisme Filosofis

Tradisi Peripatetik dalam filsafat Islam, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Ibn Sīnā, berangkat dari asumsi bahwa pengetahuan diperoleh melalui proses abstraksi intelektual. Dalam kerangka ini, objek-objek eksternal ditangkap oleh indera, diolah oleh imajinasi, dan akhirnya diabstraksikan oleh akal menjadi bentuk universal. Pengetahuan dianggap sah sejauh dapat direpresentasikan secara konseptual dan dipertanggungjawabkan secara logis.³

Meskipun Suhrawardī mengakui kontribusi besar filsafat Peripatetik dalam mengembangkan disiplin logika dan argumentasi demonstratif (burhān), ia menilai bahwa pendekatan tersebut tidak memadai untuk menjelaskan jenis pengetahuan tertentu, terutama pengetahuan tentang diri, Tuhan, dan realitas non-material. Kritik ini bukan bersifat destruktif, melainkan korektif: rasio tetap diperlukan, tetapi bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.⁴

2.3.       Pengaruh Tasawuf dan Tradisi Kebijaksanaan Timur

Selain tradisi Peripatetik, pemikiran Suhrawardī juga dipengaruhi oleh tasawuf dan tradisi kebijaksanaan pra-Islam, khususnya warisan Persia kuno. Ia memandang bahwa para ḥukamāʾ al-ishrāqiyyūn (para bijak iluminatif) sejak zaman kuno telah mengembangkan bentuk pengetahuan yang berbasis penyaksian langsung (mushāhadah) dan penyinaran batin (isy­rāq). Tradisi ini, menurutnya, sejalan dengan pengalaman spiritual para sufi dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.⁵

Tasawuf memberikan kerangka praktis bagi epistemologi presensial, khususnya melalui konsep kasyf (penyingkapan) dan dhawq (pengalaman langsung). Namun, Suhrawardī berusaha membedakan filsafat iluminasi dari tasawuf murni dengan menekankan perlunya artikulasi filosofis dan argumentasi rasional. Dengan demikian, pengalaman spiritual tidak dibiarkan bersifat subjektif semata, tetapi diintegrasikan ke dalam sistem filsafat yang koheren.⁶

2.4.       Sintesis Rasio dan Intuisi dalam Filsafat Iluminasi

Salah satu kontribusi utama Suhrawardī adalah upayanya mensintesiskan rasio dan intuisi dalam satu kerangka epistemologis yang terpadu. Ia menolak dikotomi tajam antara pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif, dengan menegaskan bahwa keduanya memiliki domain dan fungsi masing-masing. Rasio berperan dalam klarifikasi, analisis, dan verifikasi, sedangkan intuisi presensial menjadi sumber pengetahuan paling dasar dan paling pasti.⁷

Sintesis ini tercermin dalam struktur karya-karya Suhrawardī, yang sering kali menggabungkan argumen logis dengan simbolisme cahaya dan narasi alegoris. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa filsafat iluminasi tidak dimaksudkan sebagai pengganti filsafat rasional, melainkan sebagai perluasan horizon epistemologi yang mengembalikan pengetahuan pada pengalaman eksistensial subjek.⁸


Posisi Epistemologi Presensial dalam Sistem Filsafat Suhrawardī

Dalam kerangka historis dan intelektual tersebut, epistemologi presensial menempati posisi sentral dalam sistem filsafat Suhrawardī. Ia berfungsi sebagai fondasi bagi metafisika cahaya, psikologi filosofis, dan teori pengetahuan secara keseluruhan. Pengetahuan presensial bukan sekadar salah satu jenis pengetahuan, melainkan dasar ontologis dari segala bentuk pengetahuan representasional.⁹

Dengan menempatkan epistemologi presensial sebagai titik tolak, Suhrawardī secara implisit menggeser fokus filsafat dari “apa yang diketahui” menuju “bagaimana keberadaan diketahui.” Pergeseran ini menjadikan filsafat iluminasi sebagai salah satu sistem filsafat Islam yang paling orisinal dan relevan untuk dikaji kembali dalam konteks epistemologi kontemporer.


Footnotes

[1]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 161–165.

[2]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 3–7.

[3]                Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition (Leiden: Brill, 1988), 179–183.

[4]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 45–47.

[5]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 12–18.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 71–74.

[7]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 434–436.

[8]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 59–62.

[9]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 109–112.


3.           Konsep Dasar Epistemologi Presensial (ʿIlm Ḥuḍūrī)

3.1.       Pengertian dan Ruang Lingkup Epistemologi Presensial

Epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī) merupakan salah satu konsep kunci dalam sistem filsafat iluminasi yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi. Istilah ini merujuk pada bentuk pengetahuan yang tidak diperoleh melalui perantaraan representasi konseptual, gambaran mental, atau abstraksi intelektual, melainkan melalui kehadiran langsung realitas yang diketahui dalam diri subjek yang mengetahui. Dalam pengetahuan presensial, objek pengetahuan tidak “diwakili” oleh sesuatu yang lain, tetapi hadir secara eksistensial.¹

Dengan demikian, epistemologi presensial menantang asumsi dasar epistemologi representasional yang memandang pengetahuan sebagai hubungan tidak langsung antara subjek dan objek. Dalam kerangka Suhrawardī, hubungan epistemik yang paling fundamental justru bersifat non-dualistik, karena subjek dan objek berada dalam satu medan kehadiran (ḥuḍūr). Pengetahuan tidak dipahami sebagai salinan realitas dalam pikiran, melainkan sebagai modus keterbukaan eksistensi terhadap dirinya sendiri atau terhadap realitas lain.²

3.2.       Distingsi antara ʿIlm Ḥuḍūrī dan ʿIlm Ḥuṣūlī

Untuk memahami posisi epistemologi presensial secara utuh, Suhrawardī membedakan secara tegas antara dua jenis pengetahuan, yaitu ʿilm ḥuḍūrī (pengetahuan presensial) dan ʿilm ḥuṣūlī (pengetahuan perolehan atau representasional). Pengetahuan ḥuṣūlī adalah pengetahuan yang diperoleh melalui konsep, definisi, dan proposisi; ia bersifat mediatif dan bergantung pada aktivitas kognitif akal.³

Sebaliknya, ʿilm ḥuḍūrī bersifat immediatif dan non-konseptual. Dalam pengetahuan ini, tidak terdapat perantara epistemik antara yang mengetahui dan yang diketahui. Contoh paradigmatik dari pengetahuan presensial adalah kesadaran diri: seseorang mengetahui dirinya bukan melalui definisi tentang “aku”, melainkan melalui kehadiran dirinya sendiri sebagai subjek yang sadar.⁴ Distingsi ini menunjukkan bahwa epistemologi presensial bukan sekadar tambahan terhadap epistemologi representasional, melainkan fondasi ontologisnya.

3.3.       Struktur Epistemologis Pengetahuan Presensial

Struktur epistemologi presensial ditandai oleh absennya dualisme subjek–objek. Dalam pengetahuan presensial, subjek tidak berhadapan dengan objek sebagai sesuatu yang eksternal, melainkan mengalami objek tersebut sebagai hadir secara langsung. Kehadiran ini tidak bersifat spasial atau temporal, tetapi eksistensial.⁵

Suhrawardī menegaskan bahwa segala bentuk pengetahuan representasional pada akhirnya berakar pada pengetahuan presensial. Bahkan pengetahuan konseptual tentang objek eksternal bergantung pada pengetahuan presensial subjek tentang dirinya sebagai pengenal. Tanpa kesadaran diri yang bersifat presensial, tidak mungkin terjadi proses representasi atau abstraksi.⁶ Dengan demikian, epistemologi presensial berfungsi sebagai prasyarat ontologis bagi seluruh aktivitas kognitif.

3.4.       Kesadaran Diri sebagai Paradigma ʿIlm Ḥuḍūrī

Kesadaran diri (self-awareness) menempati posisi sentral dalam epistemologi presensial Suhrawardī. Ia berpendapat bahwa pengetahuan diri merupakan pengetahuan yang paling jelas, paling pasti, dan tidak mungkin keliru. Subjek tidak membutuhkan bukti atau argumen untuk mengetahui bahwa ia ada; keberadaannya hadir secara langsung bagi dirinya sendiri.⁷

Argumentasi ini sekaligus menolak pandangan bahwa pengetahuan diri bersifat inferensial atau reflektif. Menurut Suhrawardī, refleksi intelektual justru merupakan tingkat sekunder dari pengetahuan, sedangkan kesadaran diri bersifat primer dan mendahului segala bentuk refleksi. Kesadaran diri tidak diperoleh, tetapi selalu sudah ada sebagai fakta eksistensial.⁸

3.5.       Landasan Ontologis Epistemologi Presensial

Epistemologi presensial dalam filsafat iluminasi tidak dapat dipisahkan dari landasan ontologisnya, yaitu metafisika cahaya (nūr). Cahaya, dalam pemikiran Suhrawardī, adalah realitas yang menampakkan dirinya sendiri dan menampakkan yang lain. Karena itu, cahaya merupakan prinsip ontologis yang sekaligus bersifat epistemologis. Mengetahui berarti berada dalam kondisi terang dan tersingkap.⁹

Pengetahuan presensial merupakan konsekuensi langsung dari sifat cahaya tersebut. Realitas yang bersifat cahaya tidak memerlukan representasi untuk diketahui; ia diketahui sejauh ia hadir dan menyingkap. Oleh karena itu, epistemologi presensial bukan sekadar teori pengetahuan, tetapi juga ekspresi dari pandangan ontologis tertentu tentang struktur realitas.¹⁰


Implikasi Awal bagi Teori Pengetahuan

Konsep epistemologi presensial membawa implikasi penting bagi teori pengetahuan secara umum. Pertama, ia merelatifkan klaim absolut epistemologi representasional dan menunjukkan bahwa tidak semua pengetahuan bersifat konseptual. Kedua, ia membuka ruang bagi pengakuan terhadap pengalaman langsung sebagai sumber pengetahuan yang sah, tanpa harus tereduksi menjadi data empiris atau proposisi logis.¹¹

Dengan demikian, epistemologi presensial Suhrawardī menawarkan kerangka alternatif untuk memahami pengetahuan sebagai relasi eksistensial, bukan sekadar relasi kognitif. Kerangka ini akan menjadi dasar bagi pembahasan lebih lanjut mengenai kesadaran diri, metafisika cahaya, dan validitas pengetahuan dalam bab-bab berikutnya.


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 13–15.

[2]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 52–54.

[3]                Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition (Leiden: Brill, 1988), 187–189.

[4]                Hossein Ziai, “Knowledge and Illumination,” dalam The Cambridge Companion to Arabic Philosophy, ed. Peter Adamson dan Richard C. Taylor (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 199–200.

[5]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 64–66.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 76–78.

[7]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 111–113.

[8]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 28–30.

[9]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 435–437.

[10]             John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY Press, 2000), 91–93.

[11]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 168–170.


4.           Kesadaran Diri sebagai Fondasi Pengetahuan

4.1.       Kedudukan Kesadaran Diri dalam Epistemologi Iluminatif

Dalam sistem filsafat iluminasi, kesadaran diri (al-shuʿūr bi al-dhāt) menempati posisi fundamental sebagai dasar seluruh bangunan epistemologi. Bagi Shihab al-Din Yahya Suhrawardi, pengetahuan tidak bermula dari relasi subjek dengan objek eksternal, melainkan dari kehadiran subjek bagi dirinya sendiri. Kesadaran diri bukanlah hasil proses kognitif, melainkan fakta eksistensial yang menyertai keberadaan subjek secara langsung.¹

Pandangan ini menandai pergeseran mendasar dari epistemologi representasional menuju epistemologi presensial. Jika epistemologi representasional memandang pengetahuan sebagai hasil mediasi konsep, maka epistemologi iluminatif menegaskan bahwa bentuk pengetahuan yang paling dasar bersifat non-konseptual dan non-inferensial. Kesadaran diri, dalam pengertian ini, menjadi paradigma utama ʿilm ḥuḍūrī.²

4.2.       Kesadaran Diri dan Kepastian Epistemik

Salah satu klaim utama Suhrawardī adalah bahwa kesadaran diri memiliki tingkat kepastian epistemik tertinggi. Subjek tidak mungkin meragukan keberadaannya sendiri selama ia sadar, karena kesadaran dan keberadaan hadir secara bersamaan. Tidak diperlukan pembuktian logis untuk mengetahui “aku ada”; pengetahuan tersebut bersifat langsung dan tidak bergantung pada proposisi.³

Dengan argumen ini, Suhrawardī membedakan secara tegas antara kepastian epistemik yang bersumber dari kehadiran dan kepastian yang bersumber dari inferensi rasional. Kepastian inferensial selalu terbuka terhadap kekeliruan karena bergantung pada premis dan penalaran, sedangkan kepastian presensial bersifat langsung dan tidak tereduksi pada struktur silogistik.⁴

4.3.       Kritik terhadap Pengetahuan Diri yang Bersifat Reflektif

Suhrawardī mengkritik pandangan yang memahami pengetahuan diri sebagai hasil refleksi intelektual. Menurutnya, refleksi justru merupakan aktivitas sekunder yang mengandaikan adanya kesadaran diri sebelumnya. Seseorang hanya dapat merefleksikan dirinya karena ia telah terlebih dahulu hadir bagi dirinya sendiri.⁵

Dengan demikian, kesadaran diri tidak identik dengan aktivitas berpikir tentang diri. Ia mendahului segala bentuk konseptualisasi dan penilaian. Kesadaran diri bersifat pra-reflektif (pre-reflective awareness), yaitu kesadaran yang tidak membutuhkan jarak antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui.⁶

4.4.       Kesatuan Subjek dan Objek dalam Kesadaran Diri

Dalam kesadaran diri, relasi subjek–objek mengalami bentuk yang paling minimal, bahkan dapat dikatakan lenyap. Subjek mengetahui dirinya bukan sebagai “objek” yang berdiri di hadapannya, melainkan sebagai realitas yang identik dengan dirinya sendiri. Identitas inilah yang menjadikan kesadaran diri sebagai contoh paling murni dari pengetahuan presensial.⁷

Kesatuan subjek dan objek ini tidak berarti penghapusan kesadaran, melainkan justru menegaskan bentuk kesadaran yang paling intens. Dalam kesadaran diri, tidak ada jarak epistemik yang harus dijembatani, sehingga pengetahuan hadir sebagai kejelasan eksistensial, bukan sebagai representasi mental.⁸

4.5.       Kesadaran Diri dan Landasan Pengetahuan Lain

Suhrawardī menegaskan bahwa seluruh bentuk pengetahuan lain—termasuk pengetahuan tentang objek eksternal—bergantung pada kesadaran diri. Subjek hanya dapat mengetahui sesuatu di luar dirinya sejauh ia sadar akan dirinya sebagai subjek yang mengetahui. Dengan kata lain, kesadaran diri berfungsi sebagai syarat kemungkinan (condition of possibility) bagi segala pengetahuan.⁹

Argumen ini menunjukkan bahwa epistemologi presensial tidak menafikan pengetahuan representasional, tetapi menempatkannya dalam hierarki epistemik yang lebih luas. Pengetahuan representasional bersifat turunan dan sekunder, sementara kesadaran diri bersifat primer dan fundamental.¹⁰


Implikasi Filosofis Kesadaran Diri sebagai Fondasi Pengetahuan

Menjadikan kesadaran diri sebagai fondasi pengetahuan membawa implikasi filosofis yang signifikan. Pertama, ia menggeser fokus epistemologi dari persoalan korespondensi antara pikiran dan dunia menuju persoalan kehadiran dan keterbukaan eksistensial. Kedua, ia menolak reduksi pengetahuan pada mekanisme psikologis atau linguistik semata.¹¹

Selain itu, pandangan ini membuka ruang dialog dengan wacana filsafat kontemporer tentang kesadaran, khususnya kritik terhadap representasionalisme dan penekanan pada pengalaman langsung. Dengan demikian, konsep kesadaran diri dalam filsafat iluminasi tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga relevansi teoretis yang berkelanjutan.¹²


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 27–29.

[2]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 58–60.

[3]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 113–114.

[4]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 68–69.

[5]                Hossein Ziai, “Knowledge and Self-Awareness in Illuminationist Philosophy,” Iranian Studies 22, no. 1 (1989): 35–36.

[6]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 31–33.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 79–81.

[8]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY Press, 2000), 95–97.

[9]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 437–438.

[10]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 171–173.

[11]             Mehdi Aminrazavi, “Self-Knowledge and Presence,” dalam Islamic Philosophy and the Ethics of Belief (London: I.B. Tauris, 2004), 112–114.

[12]             Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston: Northwestern University Press, 1999), 9–11.


5.           Metafisika Cahaya dan Epistemologi Presensial

5.1.       Cahaya (Nūr) sebagai Prinsip Ontologis Fundamental

Dalam filsafat iluminasi, metafisika cahaya (nūr) merupakan fondasi ontologis yang menopang seluruh bangunan epistemologi. Bagi Shihab al-Din Yahya Suhrawardi, cahaya bukan sekadar metafora, melainkan realitas paling dasar yang menjelaskan keberadaan dan keterpahaman segala sesuatu. Cahaya didefinisikan sebagai “yang menampakkan dirinya sendiri dan menampakkan yang lain,” sehingga sifat ontologis cahaya sekaligus bersifat epistemologis.¹

Dengan menempatkan cahaya sebagai prinsip pertama, Suhrawardī menggeser paradigma metafisika dari substansi dan bentuk menuju intensitas dan ketercerahan. Realitas dipahami dalam spektrum gradasi cahaya dan kegelapan, di mana semakin tinggi tingkat cahaya suatu entitas, semakin nyata dan semakin diketahui ia.² Kerangka ini menjadi dasar bagi pemahaman epistemologi presensial sebagai pengetahuan yang lahir dari kehadiran dan ketercerahan, bukan dari representasi.

5.2.       Relasi Ontologi dan Epistemologi dalam Metafisika Cahaya

Salah satu ciri khas filsafat iluminasi adalah penolakan terhadap pemisahan tajam antara ontologi dan epistemologi. Dalam metafisika cahaya, keberadaan (wujūd) dan keterpahaman (maʿrifah) berada dalam satu kontinum. Sesuatu ada sejauh ia terang, dan sesuatu diketahui sejauh ia hadir sebagai terang.³

Relasi ini menjelaskan mengapa epistemologi presensial menjadi konsekuensi langsung dari metafisika cahaya. Pengetahuan presensial tidak membutuhkan perantara konseptual karena cahaya, sebagai realitas yang menyingkap, sudah cukup untuk menghadirkan dirinya sendiri kepada subjek yang mengetahui. Dengan demikian, pengetahuan bukan aktivitas tambahan atas keberadaan, melainkan ekspresi dari intensitas keberadaan itu sendiri.⁴

5.3.       Cahaya, Kehadiran, dan Pengetahuan Presensial

Konsep kehadiran (ḥuḍūr) dalam epistemologi presensial memperoleh landasan metafisisnya dalam konsep cahaya. Cahaya selalu hadir; ia tidak dapat tersembunyi bagi dirinya sendiri. Karena itu, realitas yang bersifat cahaya diketahui secara presensial, tanpa memerlukan refleksi atau abstraksi.⁵

Dalam kerangka ini, kesadaran diri dipahami sebagai bentuk cahaya yang paling dekat dan paling intens bagi subjek. Subjek mengetahui dirinya karena dirinya adalah cahaya yang hadir bagi dirinya sendiri. Pengetahuan diri tidak lain adalah ketercerahan diri oleh dirinya sendiri. Argumen ini menegaskan bahwa epistemologi presensial bukanlah konstruksi psikologis, melainkan konsekuensi ontologis dari hakikat cahaya.⁶

5.4.       Hierarki Cahaya dan Derajat Pengetahuan

Metafisika cahaya Suhrawardī bersifat hierarkis. Realitas tersusun dalam tingkatan cahaya, mulai dari Cahaya Tertinggi (Nūr al-Anwār) hingga tingkatan cahaya yang lemah dan bercampur dengan kegelapan. Setiap tingkatan cahaya memiliki derajat keberadaan dan derajat pengetahuan yang berbeda.⁷

Dalam konteks epistemologi, hierarki ini berarti bahwa pengetahuan juga memiliki gradasi. Pengetahuan presensial yang bersumber dari cahaya yang lebih tinggi bersifat lebih jelas, lebih pasti, dan lebih universal dibandingkan pengetahuan yang bergantung pada representasi konseptual. Dengan demikian, perbedaan epistemik tidak hanya ditentukan oleh metode kognitif, tetapi oleh tingkat ontologis subjek yang mengetahui.⁸

5.5.       Peran Akal dalam Kerangka Metafisika Cahaya

Meskipun menekankan pengetahuan presensial, Suhrawardī tidak menafikan peran akal. Akal dipahami sebagai cahaya pada tingkat tertentu, yang berfungsi untuk mengatur, mengklarifikasi, dan mengomunikasikan pengetahuan presensial dalam bentuk konseptual. Namun, akal bukan sumber utama pengetahuan, melainkan instrumen sekunder.⁹

Dalam kerangka ini, pengetahuan rasional (ʿilm ḥuṣūlī) dipandang sebagai bayangan atau refleksi dari pengetahuan presensial. Ia berguna untuk diskursus ilmiah dan verifikasi argumentatif, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman langsung akan kebenaran. Posisi akal yang demikian menjaga keseimbangan antara intuisi iluminatif dan rasionalitas filosofis.¹⁰


Implikasi Metafisika Cahaya bagi Epistemologi Presensial

Integrasi metafisika cahaya dan epistemologi presensial menghasilkan pandangan pengetahuan yang bersifat eksistensial dan transformatif. Mengetahui tidak lagi dipahami sebagai aktivitas netral dan eksternal, melainkan sebagai proses ketercerahan diri yang melibatkan perubahan intensitas keberadaan subjek.¹¹

Implikasi ini memperluas cakupan epistemologi dari sekadar teori kognisi menuju pemahaman tentang pengetahuan sebagai cara berada di dunia. Dengan demikian, filsafat iluminasi Suhrawardī menawarkan model epistemologi yang tidak hanya menjelaskan bagaimana pengetahuan mungkin, tetapi juga mengapa pengetahuan memiliki dimensi ontologis dan spiritual yang mendalam.¹²


Footnotes

[1]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 93–95.

[2]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 41–43.

[3]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 63–65.

[4]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 72–74.

[5]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 439–440.

[6]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 34–36.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 83–85.

[8]                John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY Press, 2000), 101–103.

[9]                Hossein Ziai, “Knowledge and Self-Awareness in Illuminationist Philosophy,” Iranian Studies 22, no. 1 (1989): 38–40.

[10]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 174–176.

[11]             Mehdi Aminrazavi, “Illumination and Transformation,” dalam Islamic Philosophy and the Ethics of Belief (London: I.B. Tauris, 2004), 118–120.

[12]             Henry Corbin, Spiritual Body and Celestial Earth, trans. Nancy Pearson (Princeton: Princeton University Press, 1977), 27–29.


6.           Validitas dan Kriteria Kebenaran Pengetahuan Presensial

6.1.       Problem Validitas dalam Epistemologi Presensial

Salah satu keberatan utama terhadap epistemologi presensial adalah persoalan validitas dan kriteria kebenaran. Jika pengetahuan diperoleh melalui kehadiran langsung (ḥuḍūr) tanpa perantara konsep atau proposisi, bagaimana kebenaran pengetahuan tersebut dapat dipastikan dan dibedakan dari ilusi subjektif? Pertanyaan ini menjadi krusial karena epistemologi modern cenderung mengaitkan kebenaran dengan verifikasi intersubjektif dan korespondensi proposisional.¹

Dalam filsafat iluminasi, persoalan validitas tidak dijawab dengan meniru kriteria epistemologi representasional. Shihab al-Din Yahya Suhrawardi mengembangkan kerangka validitas yang berakar pada ontologi cahaya dan konsep kehadiran, sehingga kebenaran pengetahuan presensial tidak dinilai dari kecocokannya dengan representasi eksternal, melainkan dari tingkat ketercerahan dan ketaktersembunyian realitas yang diketahui.²

6.2.       Kehadiran (Ḥuḍūr) sebagai Kriteria Kebenaran Primer

Dalam epistemologi presensial, kriteria kebenaran yang paling mendasar adalah kehadiran itu sendiri. Pengetahuan dianggap benar sejauh objek pengetahuan hadir secara langsung bagi subjek tanpa tirai konseptual. Kehadiran ini bersifat eksistensial, bukan psikologis; ia tidak bergantung pada kondisi mental tertentu, tetapi pada relasi ontologis antara yang mengetahui dan yang diketahui.³

Karena itu, kesadaran diri menjadi contoh paling jelas dari kebenaran presensial. Subjek tidak memerlukan pembuktian tambahan untuk memastikan keberadaan dirinya, sebab keberadaan tersebut hadir secara langsung. Dalam konteks ini, kekeliruan epistemik tidak mungkin terjadi, karena tidak ada jarak antara subjek dan objek yang memungkinkan distorsi representasional.⁴

6.3.       Kejelasan (Ẓuhūr) dan Ketaktersembunyian sebagai Ukuran Validitas

Selain kehadiran, Suhrawardī menekankan kejelasan (ẓuhūr) sebagai kriteria penting kebenaran. Dalam metafisika cahaya, sesuatu diketahui secara benar sejauh ia jelas dan tidak tersembunyi. Kejelasan bukanlah sifat kognitif, melainkan sifat ontologis: realitas yang lebih terang lebih mudah diketahui dan lebih pasti.⁵

Kriteria ini menunjukkan bahwa validitas pengetahuan presensial bersifat gradatif. Pengetahuan tidak semata-mata benar atau salah, tetapi memiliki derajat kebenaran sesuai dengan intensitas cahaya dan tingkat kehadiran objek pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi presensial menolak reduksi kebenaran pada skema biner dan mengusulkan model kebenaran yang berjenjang.⁶

6.4.       Relasi antara Pengetahuan Presensial dan Kekeliruan

Pertanyaan lain yang sering diajukan adalah apakah pengetahuan presensial mungkin keliru. Menurut Suhrawardī, kekeliruan tidak terjadi pada tingkat pengetahuan presensial itu sendiri, melainkan pada tahap interpretasi konseptual atas pengalaman presensial. Ketika pengalaman langsung diterjemahkan ke dalam bahasa, simbol, atau konsep, potensi distorsi mulai muncul.⁷

Dengan demikian, epistemologi presensial membedakan secara tegas antara pengalaman kehadiran dan artikulasi konseptualnya. Pengalaman presensial bersifat pasti, sedangkan pengetahuan representasional yang mengikutinya bersifat fallible. Distingsi ini memungkinkan pengakuan terhadap kepastian pengalaman langsung tanpa menafikan kritik rasional terhadap klaim-klaim konseptual.⁸

6.5.       Peran Rasio dalam Verifikasi dan Artikulasi

Meskipun kriteria kebenaran pengetahuan presensial tidak bergantung pada rasio, Suhrawardī tetap memberikan peran penting kepada akal dalam proses verifikasi dan artikulasi. Akal berfungsi untuk menguji koherensi, menghindari kontradiksi, dan mengomunikasikan pengetahuan presensial dalam bentuk diskursif.⁹

Dalam kerangka ini, rasio tidak berfungsi sebagai hakim tertinggi kebenaran, melainkan sebagai instrumen klarifikasi. Rasio dapat menolak klaim presensial yang secara logis mustahil atau bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar metafisika cahaya. Dengan demikian, epistemologi presensial tidak bersifat anti-rasional, tetapi supra-rasional.¹⁰

6.6.       Objektivitas dan Intersubjektivitas Pengetahuan Presensial

Isu objektivitas menjadi tantangan terakhir bagi epistemologi presensial. Jika pengetahuan bersifat langsung dan individual, bagaimana mungkin ia memiliki nilai objektif? Suhrawardī menjawab bahwa objektivitas tidak identik dengan intersubjektivitas empiris. Pengetahuan presensial bersifat objektif sejauh ia berakar pada struktur ontologis realitas cahaya yang sama bagi semua subjek.¹¹

Namun, akses terhadap tingkat cahaya tertentu bergantung pada kesiapan eksistensial subjek. Oleh karena itu, perbedaan pengalaman presensial tidak serta-merta menunjukkan relativisme epistemik, melainkan perbedaan derajat ketercerahan. Pandangan ini memungkinkan pengakuan terhadap pluralitas pengalaman tanpa jatuh ke dalam subjektivisme radikal.¹²


Implikasi Epistemologis Kriteria Kebenaran Presensial

Kriteria kebenaran dalam epistemologi presensial membawa implikasi penting bagi teori pengetahuan. Pertama, ia memperluas konsep kebenaran melampaui korespondensi proposisional. Kedua, ia menegaskan bahwa kepastian epistemik tidak selalu identik dengan justifikasi diskursif.¹³

Dengan demikian, epistemologi presensial Suhrawardī menawarkan model validitas pengetahuan yang berbasis pada kehadiran, kejelasan, dan intensitas eksistensi. Model ini tidak hanya memperkaya khazanah epistemologi Islam, tetapi juga memberikan alternatif teoretis bagi kritik kontemporer terhadap representasionalisme dan reduksionisme epistemik.¹⁴


Footnotes

[1]                Robert Audi, Epistemology: A Contemporary Introduction to the Theory of Knowledge (London: Routledge, 2011), 67–70.

[2]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 51–53.

[3]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 115–116.

[4]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 75–76.

[5]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 38–40.

[6]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 71–73.

[7]                Hossein Ziai, “Knowledge and Self-Awareness in Illuminationist Philosophy,” Iranian Studies 22, no. 1 (1989): 41–42.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 86–88.

[9]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 441–442.

[10]             Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 177–179.

[11]             Mehdi Aminrazavi, “Truth and Presence,” dalam Islamic Philosophy and the Ethics of Belief (London: I.B. Tauris, 2004), 121–123.

[12]             John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY Press, 2000), 108–110.

[13]             Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 92–95.

[14]             Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston: Northwestern University Press, 1999), 18–20.


7.           Perbandingan dengan Tradisi Epistemologi Lain

7.1.       Pendahuluan Komparatif

Untuk menilai posisi dan kontribusi epistemologi presensial secara lebih komprehensif, perlu dilakukan perbandingan dengan tradisi epistemologi lain, baik dalam khazanah filsafat Islam maupun filsafat Barat. Perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk mereduksi keunikan filsafat iluminasi, melainkan untuk menyingkap asumsi-asumsi epistemologis yang mendasari berbagai tradisi pemikiran serta menempatkan epistemologi presensial dalam lanskap filsafat global.¹

Dalam konteks ini, epistemologi presensial yang dikembangkan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi akan dibandingkan dengan epistemologi Peripatetik Islam, epistemologi rasionalisme dan empirisme Barat, serta fenomenologi sebagai salah satu pendekatan kontemporer yang menekankan pengalaman langsung.

7.2.       Epistemologi Presensial dan Tradisi Peripatetik Islam

Dalam tradisi Peripatetik Islam, khususnya pada pemikiran Ibn Sina, pengetahuan dipahami terutama sebagai hasil abstraksi intelektual. Akal memperoleh bentuk-bentuk universal dari pengalaman inderawi, dan kebenaran pengetahuan diukur melalui koherensi logis serta kesesuaian dengan realitas eksternal. Model ini menempatkan pengetahuan dalam kerangka representasional, di mana objek diketahui melalui perantara bentuk mental.²

Suhrawardī menerima kerangka rasional ini sebagai valid pada tingkat tertentu, tetapi menolak klaimnya sebagai fondasi epistemologi. Menurutnya, epistemologi Peripatetik gagal menjelaskan pengetahuan diri dan pengetahuan non-konseptual, karena tetap mengandaikan dualisme subjek–objek. Epistemologi presensial, sebaliknya, menegaskan bahwa pengetahuan paling dasar justru bersifat non-representasional dan mendahului proses abstraksi.³

7.3.       Perbandingan dengan Rasionalisme Barat

Rasionalisme Barat, sebagaimana tampak pada Descartes dan para penerusnya, menekankan peran akal sebagai sumber utama pengetahuan yang pasti. Meskipun Descartes memulai filsafatnya dari kepastian kesadaran diri (cogito), kepastian tersebut segera diartikulasikan dalam bentuk proposisional dan dijadikan dasar bagi sistem pengetahuan yang bersifat diskursif.⁴

Dalam epistemologi presensial, kesadaran diri tidak direduksi menjadi proposisi (“aku berpikir, maka aku ada”), melainkan dipahami sebagai kehadiran eksistensial yang tidak memerlukan formulasi logis untuk menjadi pasti. Dengan demikian, epistemologi presensial melampaui rasionalisme dengan menolak penyamaan kepastian epistemik dengan justifikasi rasional formal.⁵

7.4.       Perbandingan dengan Empirisme

Empirisme modern menempatkan pengalaman inderawi sebagai sumber utama pengetahuan. Pengetahuan dianggap sah sejauh dapat ditelusuri pada data empiris yang dapat diverifikasi. Dalam kerangka ini, pengalaman batin dan kesadaran diri sering kali direduksi menjadi fenomena psikologis atau sekadar rangkaian kesan (impressions).⁶

Epistemologi presensial berbeda secara fundamental dari empirisme karena tidak memandang pengalaman langsung sebagai data inderawi, melainkan sebagai kehadiran eksistensial. Kesadaran diri, dalam filsafat iluminasi, bukan objek pengalaman empiris, tetapi kondisi ontologis yang memungkinkan segala pengalaman. Oleh karena itu, epistemologi presensial menolak reduksi pengetahuan pada observasi sensorik.⁷

7.5.       Paralel dengan Fenomenologi

Di antara tradisi filsafat Barat kontemporer, fenomenologi menunjukkan kedekatan tertentu dengan epistemologi presensial. Pemikiran Edmund Husserl menekankan kembali “kembali kepada benda-benda itu sendiri” dan pentingnya pengalaman langsung kesadaran sebelum konstruksi teoritis. Fenomenologi juga mengkritik representasionalisme dan menyoroti dimensi pra-reflektif kesadaran.⁸

Namun, perbedaan mendasar tetap ada. Fenomenologi umumnya membatasi diri pada deskripsi struktur kesadaran, sementara epistemologi presensial Suhrawardī berakar pada metafisika cahaya yang bersifat ontologis dan hierarkis. Dengan demikian, epistemologi presensial tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga normatif dan metafisis.⁹

7.6.       Epistemologi Presensial dan Tradisi Mistisisme Filosofis

Epistemologi presensial juga memiliki titik temu dengan berbagai tradisi mistisisme filosofis, baik dalam Islam maupun di luar Islam, yang menekankan pengetahuan melalui penyaksian langsung (gnosis). Namun, Suhrawardī berupaya membedakan filsafat iluminasi dari mistisisme murni dengan insistensi pada artikulasi rasional dan sistematis.¹⁰

Dengan demikian, epistemologi presensial menempati posisi antara filsafat rasional dan mistisisme: ia mengakui validitas pengalaman langsung, tetapi menuntut integrasi dengan refleksi filosofis. Posisi antara ini menjadi salah satu keunikan utama filsafat iluminasi.¹¹


Signifikansi Perbandingan Epistemologis

Perbandingan dengan berbagai tradisi epistemologi menunjukkan bahwa epistemologi presensial Suhrawardī menawarkan alternatif yang tidak sepenuhnya tercakup oleh kategori rasionalisme, empirisme, maupun fenomenologi. Ia menghadirkan model epistemologi yang menempatkan kehadiran eksistensial sebagai dasar kebenaran, tanpa menafikan peran rasio dan pengalaman.¹²

Dengan demikian, epistemologi presensial tidak hanya relevan sebagai fenomena historis dalam filsafat Islam, tetapi juga sebagai kontribusi teoretis yang dapat memperkaya diskursus epistemologi kontemporer, khususnya dalam kajian kesadaran dan kritik terhadap representasionalisme.¹³


Footnotes

[1]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 180–182.

[2]                Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition (Leiden: Brill, 1988), 190–193.

[3]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 58–60.

[4]                René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 16–18.

[5]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 78–80.

[6]                David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding (Oxford: Oxford University Press, 2007), 12–15.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 90–92.

[8]                Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus Nijhoff, 1982), 44–46.

[9]                Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston: Northwestern University Press, 1999), 21–24.

[10]             Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 41–43.

[11]             Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 82–84.

[12]             Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 101–103.

[13]             Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 443–445.


8.           Implikasi Filosofis dan Epistemologis

8.1.       Pendahuluan: Dari Teori Pengetahuan ke Cara Berada

Epistemologi presensial dalam filsafat iluminasi tidak berhenti pada penjelasan teknis mengenai bagaimana pengetahuan diperoleh, tetapi membawa implikasi filosofis yang luas terhadap cara memahami subjek, realitas, dan kebenaran. Dengan menempatkan kehadiran (ḥuḍūr) dan kesadaran diri sebagai fondasi pengetahuan, filsafat Suhrawardī menggeser epistemologi dari sekadar teori kognisi menuju pemahaman eksistensial tentang pengetahuan sebagai cara berada (mode of being).¹

Implikasi ini menjadikan epistemologi presensial relevan tidak hanya bagi filsafat pengetahuan, tetapi juga bagi metafisika, filsafat diri, etika, dan bahkan filsafat ilmu. Bab ini menguraikan secara sistematis implikasi-implikasi tersebut.

8.2.       Implikasi terhadap Konsep Subjek dan Kesadaran

Salah satu implikasi paling mendasar epistemologi presensial adalah redefinisi konsep subjek. Subjek tidak lagi dipahami sebagai entitas psikologis yang mengolah representasi mental, melainkan sebagai realitas sadar yang hadir bagi dirinya sendiri. Dalam kerangka ini, kesadaran bukan properti tambahan dari subjek, tetapi identik dengan eksistensi subjek itu sendiri.²

Pandangan ini menolak reduksi kesadaran menjadi fungsi biologis atau mekanisme kognitif semata. Kesadaran diri dipahami sebagai fakta ontologis primer yang tidak dapat dijelaskan secara penuh melalui pendekatan empiris atau komputasional. Dengan demikian, epistemologi presensial memberikan dasar filosofis yang kuat bagi kritik terhadap naturalisme reduksionis dalam filsafat pikiran.³

8.3.       Implikasi terhadap Teori Kebenaran dan Justifikasi

Epistemologi presensial juga membawa implikasi penting bagi teori kebenaran. Kebenaran tidak lagi dipahami semata-mata sebagai korespondensi antara proposisi dan fakta eksternal, melainkan sebagai tingkat kehadiran dan kejelasan realitas bagi subjek yang mengetahui. Kebenaran bersifat berjenjang, sejalan dengan intensitas cahaya dan derajat ketercerahan eksistensial.⁴

Konsekuensinya, justifikasi epistemik tidak selalu identik dengan argumentasi diskursif. Ada bentuk kepastian yang bersumber dari kehadiran langsung dan tidak memerlukan pembuktian inferensial. Pandangan ini menantang paradigma epistemologi modern yang cenderung mengidentikkan rasionalitas dengan justifikasi proposisional.⁵

8.4.       Implikasi terhadap Relasi Epistemologi dan Metafisika

Dalam filsafat iluminasi, epistemologi dan metafisika tidak dapat dipisahkan secara tegas. Cara mengetahui realitas bergantung pada struktur ontologis realitas itu sendiri. Karena realitas dipahami sebagai spektrum cahaya, maka pengetahuan pun bersifat iluminatif dan presensial.⁶

Implikasi ini menolak pandangan netralitas epistemologi yang memisahkan subjek dari realitas yang diketahui. Pengetahuan selalu bersifat terlibat (engaged) dan eksistensial. Dengan demikian, epistemologi presensial mengkritik asumsi modern tentang subjek yang netral dan terlepas dari dunia.⁷

8.5.       Implikasi Etis dan Eksistensial

Epistemologi presensial membawa konsekuensi etis yang signifikan. Jika pengetahuan berkaitan dengan tingkat ketercerahan eksistensial, maka mengetahui bukanlah aktivitas netral, melainkan proses transformasi diri. Peningkatan pengetahuan sejalan dengan peningkatan kualitas keberadaan subjek.⁸

Dalam kerangka ini, etika tidak hanya berkaitan dengan tindakan eksternal, tetapi juga dengan pemurnian batin dan kesiapan eksistensial subjek untuk menerima cahaya pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi presensial mendukung pandangan etika sebagai praksis pembentukan diri, bukan sekadar kepatuhan terhadap norma.⁹

8.6.       Implikasi terhadap Filsafat Ilmu dan Sains Kontemporer

Meskipun lahir dalam konteks filsafat klasik, epistemologi presensial memiliki relevansi bagi filsafat ilmu kontemporer, khususnya dalam diskursus tentang batas-batas objektivitas dan peran subjek dalam pengetahuan ilmiah. Epistemologi presensial menyoroti bahwa tidak semua pengetahuan dapat direduksi menjadi observasi empiris dan model matematis.¹⁰

Dalam kajian kesadaran, pandangan Suhrawardī membuka kemungkinan pendekatan non-reduksionis yang mengakui pengalaman langsung sebagai data filosofis yang sah. Dengan demikian, epistemologi presensial dapat berfungsi sebagai mitra dialog kritis bagi sains modern, tanpa harus menolak validitas metode ilmiah.¹¹


Implikasi bagi Dialog Filsafat Lintas Tradisi

Implikasi terakhir yang penting adalah kontribusi epistemologi presensial bagi dialog lintas tradisi filsafat. Dengan menggabungkan rasionalitas filosofis, intuisi presensial, dan metafisika cahaya, filsafat Suhrawardī menawarkan model epistemologi yang melampaui dikotomi Barat antara rasionalisme dan empirisme.¹²

Model ini memungkinkan dialog produktif dengan fenomenologi, filsafat kesadaran, dan bahkan kajian spiritualitas kontemporer, tanpa kehilangan ketegasan filosofisnya. Oleh karena itu, epistemologi presensial tidak hanya relevan sebagai warisan intelektual Islam, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi pengembangan epistemologi global yang lebih inklusif.¹³


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 61–63.

[2]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 117–118.

[3]                Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston: Northwestern University Press, 1999), 32–35.

[4]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 83–85.

[5]                Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 108–110.

[6]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 45–47.

[7]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 184–186.

[8]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 88–90.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 94–96.

[10]             Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Oxford University Press, 1980), 12–15.

[11]             Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 45–48.

[12]             Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 446–448.

[13]             Mehdi Aminrazavi, “Philosophy of Illumination and the Question of Knowledge,” Journal of Islamic Philosophy 4 (2008): 22–24.


9.           Kritik, Keterbatasan, dan Relevansi Kontemporer

9.1.       Pendahuluan Kritis

Setiap sistem filsafat, betapapun orisinal dan koherennya, tidak luput dari kritik dan keterbatasan. Epistemologi presensial dalam filsafat iluminasi yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi menghadirkan terobosan penting dalam teori pengetahuan dengan menegaskan kehadiran langsung dan kesadaran diri sebagai fondasi epistemik. Namun, justru karena kekhasan inilah epistemologi presensial memunculkan sejumlah persoalan filosofis yang perlu ditelaah secara kritis, baik dari sudut pandang epistemologi klasik maupun kontemporer.¹

Bab ini membahas tiga aspek utama: kritik filosofis terhadap epistemologi presensial, keterbatasan internal sistem iluminatif, serta relevansi dan potensi kontribusinya dalam wacana filsafat kontemporer.

9.2.       Kritik terhadap Klaim Kepastian Epistemik

Salah satu kritik utama terhadap epistemologi presensial adalah klaimnya mengenai kepastian epistemik yang tidak dapat keliru. Para kritikus berpendapat bahwa klaim kepastian absolut berisiko mengaburkan perbedaan antara pengalaman subjektif dan kebenaran objektif. Jika suatu pengalaman dianggap pasti hanya karena ia hadir secara langsung, maka batas antara pengetahuan dan ilusi dapat menjadi kabur.²

Dalam kerangka epistemologi modern, kebenaran umumnya dikaitkan dengan kemungkinan koreksi dan falsifikasi. Epistemologi presensial, dengan menempatkan kehadiran sebagai kriteria kebenaran primer, tampak kurang memberikan ruang bagi mekanisme koreksi internal pada tingkat pengalaman itu sendiri. Kritik ini menuntut penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana klaim presensial dapat dibedakan dari pengalaman psikologis yang menyesatkan.³

9.3.       Masalah Intersubjektivitas dan Komunikabilitas

Kritik lain yang signifikan berkaitan dengan persoalan intersubjektivitas. Pengetahuan presensial bersifat individual dan langsung, sehingga sulit diverifikasi secara publik. Dalam tradisi epistemologi ilmiah, intersubjektivitas merupakan syarat penting bagi objektivitas pengetahuan. Ketika pengalaman presensial tidak dapat diakses secara bersama, muncul pertanyaan mengenai status epistemiknya dalam ruang diskursus publik.⁴

Suhrawardī memang menegaskan peran rasio dalam artikulasi dan klarifikasi pengalaman presensial, tetapi kritik tetap menyatakan bahwa artikulasi konseptual tidak pernah sepenuhnya memadai untuk merepresentasikan pengalaman langsung. Akibatnya, terdapat jurang epistemik antara pengalaman presensial dan bahasa filosofis yang digunakan untuk mengomunikasikannya.⁵

9.4.       Potensi Subjektivisme dan Elitisme Epistemik

Epistemologi presensial juga menghadapi tuduhan subjektivisme dan elitisme epistemik. Karena akses terhadap pengetahuan presensial yang lebih tinggi bergantung pada kesiapan eksistensial dan tingkat ketercerahan subjek, muncul kesan bahwa hanya individu tertentu yang memiliki legitimasi epistemik penuh. Hal ini berpotensi menimbulkan hierarki epistemik yang sulit dipertanggungjawabkan secara filosofis.⁶

Dari sudut pandang kritis, struktur hierarkis ini dapat melemahkan klaim universalitas epistemologi presensial. Jika kebenaran bergantung pada tingkat eksistensi subjek, maka muncul risiko relativisme eksistensial, di mana kebenaran menjadi bergantung pada kondisi individual. Kritik ini menuntut klarifikasi lebih lanjut mengenai batas antara perbedaan derajat pengetahuan dan relativisme epistemik.⁷

9.5.       Keterbatasan Historis dan Konseptual

Selain kritik eksternal, epistemologi presensial juga memiliki keterbatasan historis dan konseptual. Sistem filsafat iluminasi lahir dalam konteks intelektual abad pertengahan Islam, dengan asumsi metafisika cahaya yang tidak selalu sejalan dengan kerangka ontologi modern. Bagi sebagian filsuf kontemporer, metafisika cahaya Suhrawardī dipandang terlalu simbolik dan sulit diintegrasikan secara langsung dengan bahasa filsafat analitik.⁸

Namun, keterbatasan ini tidak serta-merta meniadakan nilai filosofis epistemologi presensial. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa setiap sistem filsafat beroperasi dalam horizon historis tertentu dan memerlukan reinterpretasi kreatif agar tetap relevan.⁹

9.6.       Relevansi Epistemologi Presensial dalam Filsafat Kontemporer

Terlepas dari berbagai kritik dan keterbatasannya, epistemologi presensial memiliki relevansi yang signifikan dalam filsafat kontemporer. Dalam kajian filsafat kesadaran, misalnya, kritik terhadap representasionalisme dan kebangkitan minat pada pengalaman pra-reflektif menunjukkan kedekatan dengan gagasan pengetahuan presensial.¹⁰

Selain itu, epistemologi presensial menawarkan alternatif terhadap dominasi epistemologi naturalistik yang cenderung mereduksi kesadaran menjadi fenomena fisik. Dengan menegaskan kesadaran sebagai fakta ontologis primer, filsafat iluminasi memberikan landasan filosofis bagi pendekatan non-reduksionis dalam memahami pikiran dan pengalaman.¹¹


Sintesis Kritis dan Prospek Pengembangan

Sintesis kritis terhadap epistemologi presensial menunjukkan bahwa kekuatan utamanya terletak pada penekanannya terhadap dimensi eksistensial pengetahuan, sementara keterbatasannya muncul ketika ia dihadapkan pada tuntutan verifikasi publik dan analisis konseptual modern. Tantangan utama bagi pengembangan epistemologi presensial adalah bagaimana merumuskan ulang konsep kehadiran dan kesadaran diri dalam bahasa filosofis yang dapat berdialog dengan epistemologi kontemporer tanpa kehilangan inti iluminatifnya.¹²

Dengan pendekatan yang terbuka dan reflektif, epistemologi presensial Suhrawardī dapat dipahami bukan sebagai sistem tertutup, melainkan sebagai sumber inspirasi filosofis yang terus dapat dikembangkan. Dalam konteks ini, relevansinya terletak bukan pada klaim finalitas, tetapi pada kemampuannya menantang asumsi-asumsi dasar epistemologi modern dan memperluas horizon pemahaman tentang pengetahuan.¹³


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 65–67.

[2]                Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 112–114.

[3]                Robert Audi, Epistemology: A Contemporary Introduction to the Theory of Knowledge (London: Routledge, 2011), 89–92.

[4]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 188–190.

[5]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 86–88.

[6]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 92–94.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 98–100.

[8]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 49–51.

[9]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 449–451.

[10]             Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston: Northwestern University Press, 1999), 41–44.

[11]             Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University Press, 1986), 49–52.

[12]             Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Oxford University Press, 1980), 18–20.

[13]             Mehdi Aminrazavi, “Philosophy of Illumination and Contemporary Thought,” Journal of Islamic Philosophy 5 (2009): 30–33.


10.       Penutup

10.1.    Simpulan Umum

Kajian ini menunjukkan bahwa epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī) merupakan salah satu prinsip paling fundamental dalam sistem filsafat iluminasi yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi. Berbeda dari epistemologi representasional yang menempatkan pengetahuan sebagai hasil mediasi konsep dan abstraksi intelektual, epistemologi presensial menegaskan bahwa bentuk pengetahuan yang paling dasar bersumber dari kehadiran langsung realitas bagi subjek yang mengetahui. Pengetahuan, dalam pengertian ini, bukan sekadar relasi kognitif, melainkan modus keberadaan yang bersifat eksistensial.¹

Kesadaran diri terbukti menjadi paradigma utama pengetahuan presensial. Subjek mengetahui dirinya bukan melalui refleksi atau inferensi, melainkan melalui kehadiran dirinya sendiri sebagai realitas sadar. Dari kesadaran diri inilah seluruh bentuk pengetahuan lain memperoleh landasan ontologis dan epistemiknya. Dengan demikian, epistemologi presensial berfungsi sebagai fondasi bagi pengetahuan representasional, bukan sebaliknya.²

10.2.    Sintesis Epistemologi dan Metafisika Cahaya

Pembahasan dalam bab-bab sebelumnya menegaskan bahwa epistemologi presensial tidak dapat dipisahkan dari metafisika cahaya (nūr). Cahaya, sebagai realitas yang menampakkan dirinya sendiri dan yang lain, menjadi prinsip ontologis sekaligus epistemologis. Pengetahuan presensial muncul sebagai konsekuensi langsung dari struktur realitas yang bersifat terang dan hadir.³

Sintesis antara epistemologi dan metafisika ini menunjukkan bahwa dalam filsafat iluminasi, mengetahui dan ada berada dalam satu kontinum. Semakin tinggi intensitas keberadaan suatu entitas, semakin jelas dan pasti pengetahuan yang dimilikinya. Dengan kerangka ini, kebenaran tidak dipahami secara biner, melainkan berjenjang sesuai dengan tingkat ketercerahan eksistensial.⁴

10.3.    Kontribusi Teoretis Epistemologi Presensial

Secara teoretis, epistemologi presensial memberikan kontribusi penting bagi pengembangan epistemologi filsafat Islam dan dialog lintas tradisi. Pertama, ia menawarkan kritik mendasar terhadap reduksionisme epistemik yang membatasi pengetahuan pada representasi konseptual atau data empiris. Kedua, ia memperluas horizon epistemologi dengan mengakui pengalaman langsung dan kesadaran diri sebagai sumber pengetahuan yang sah dan fundamental.⁵

Dalam konteks filsafat global, epistemologi presensial dapat dibaca sebagai alternatif terhadap dikotomi rasionalisme dan empirisme, sekaligus sebagai mitra dialog bagi fenomenologi dan filsafat kesadaran kontemporer. Dengan menempatkan kehadiran eksistensial sebagai pusat epistemologi, filsafat iluminasi memberikan perspektif yang kaya dan berbeda dalam memahami hakikat pengetahuan.⁶

10.4.    Keterbatasan dan Tantangan Lanjutan

Meskipun memiliki kekuatan konseptual yang signifikan, epistemologi presensial juga menghadapi keterbatasan. Persoalan intersubjektivitas, komunikasi pengalaman presensial, serta integrasinya dengan kerangka epistemologi modern tetap menjadi tantangan filosofis yang serius. Selain itu, bahasa simbolik metafisika cahaya menuntut upaya hermeneutis agar tetap dapat dipahami dan relevan dalam konteks kontemporer.⁷

Namun, keterbatasan tersebut tidak harus dipahami sebagai kelemahan fatal, melainkan sebagai indikasi bahwa epistemologi presensial bersifat terbuka untuk pengembangan dan reinterpretasi. Sebagaimana sistem filsafat besar lainnya, nilai epistemologi presensial terletak pada kemampuannya memicu refleksi kritis dan memperluas kemungkinan pemikiran filosofis.⁸


Penutup Reflektif

Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa epistemologi presensial Suhrawardī menghadirkan visi pengetahuan yang bersifat eksistensial, iluminatif, dan transformatif. Pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai proses ketercerahan diri yang berakar pada kesadaran dan keberadaan. Dalam dunia modern yang cenderung memisahkan pengetahuan dari makna eksistensial, filsafat iluminasi menawarkan pengingat penting bahwa mengetahui pada akhirnya berkaitan erat dengan cara manusia hadir di dalam realitas.⁹

Dengan demikian, kajian ini diharapkan tidak hanya memperkaya pemahaman akademik tentang epistemologi presensial, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih luas antara filsafat Islam klasik dan problem-problem epistemologis kontemporer.


Footnotes

[1]                Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 69–71.

[2]                Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 119–121.

[3]                Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 52–54.

[4]                John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 89–91.

[5]                Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 192–194.

[6]                Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston: Northwestern University Press, 1999), 47–49.

[7]                Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination (Richmond: Curzon Press, 1997), 96–98.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 101–103.

[9]                Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge, 1996), 452–454.


Daftar Pustaka

Aminrazavi, M. (1997). Suhrawardī and the school of illumination. Curzon Press.

Aminrazavi, M. (2004). Islamic philosophy and the ethics of belief. I.B. Tauris.

Aminrazavi, M. (2008). Philosophy of illumination and the question of knowledge. Journal of Islamic Philosophy, 4, 15–30.

Aminrazavi, M. (2009). Philosophy of illumination and contemporary thought. Journal of Islamic Philosophy, 5, 25–35.

Audi, R. (2011). Epistemology: A contemporary introduction to the theory of knowledge (3rd ed.). Routledge.

BonJour, L. (2010). Epistemology: Classic problems and contemporary responses. Rowman & Littlefield.

Corbin, H. (1971). En Islam iranien: Aspects spirituels et philosophiques (Vol. 2). Gallimard.

Corbin, H. (1977). Spiritual body and celestial earth (N. Pearson, Trans.). Princeton University Press.

Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press. (Original work published 1641)

Gutas, D. (1988). Avicenna and the Aristotelian tradition: Introduction to reading Avicenna’s philosophical works. Brill.

Hume, D. (2007). An enquiry concerning human understanding. Oxford University Press. (Original work published 1748)

Husserl, E. (1982). Ideas pertaining to a pure phenomenology and to a phenomenological philosophy (F. Kersten, Trans.). Martinus Nijhoff.

Leaman, O. (2002). An introduction to classical Islamic philosophy. Cambridge University Press.

Nagel, T. (1986). The view from nowhere. Oxford University Press.

Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its origin to the present: Philosophy in the land of prophecy. State University of New York Press.

Suhrawardī, S. al-D. Y. (1976). Ḥikmat al-Ishrāq (H. Corbin, Ed.). Institute of Iranian Philosophy.

van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image. Oxford University Press.

Walbridge, J. (2000). The leaven of the ancients: Suhrawardī and the heritage of the Greeks. State University of New York Press.

Walbridge, J. (2001). The wisdom of the mystic East: Suhrawardī and Platonic orientalism. State University of New York Press.

Zahavi, D. (1999). Self-awareness and alterity: A phenomenological investigation. Northwestern University Press.

Ziai, H. (1989). Knowledge and self-awareness in illuminationist philosophy. Iranian Studies, 22(1), 33–45.

Ziai, H. (1990). Knowledge and illumination: A study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq. Scholars Press.

Ziai, H. (1996). Illuminationist philosophy. In S. H. Nasr & O. Leaman (Eds.), History of Islamic philosophy (pp. 434–454). Routledge.

Ziai, H. (2005). Knowledge and illumination. In P. Adamson & R. C. Taylor (Eds.), The Cambridge companion to Arabic philosophy (pp. 199–210). Cambridge University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar