Epistemologi Presensial
Pengetahuan, Kesadaran Diri, dan Realitas Cahaya
Alihkan ke: Pemikiran Suhrawardi.
Abstrak
Artikel ini mengkaji epistemologi presensial
(ʿilm ḥuḍūrī) sebagai salah satu prinsip fundamental dalam sistem filsafat
iluminasi (ḥikmat al-isyrāq) yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya
Suhrawardi. Berangkat dari kritik terhadap epistemologi representasional
yang mendominasi tradisi Peripatetik dan epistemologi modern, Suhrawardī
mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang menempatkan kehadiran langsung
dan kesadaran diri sebagai fondasi epistemik yang paling dasar. Melalui
pendekatan analitis-filosofis dan kajian tekstual terhadap karya-karya utama
Suhrawardī serta literatur sekunder yang relevan, artikel ini merekonstruksi
konsep epistemologi presensial, menjelaskan distingsinya dengan pengetahuan
representasional (ʿilm ḥuṣūlī), serta menelusuri landasan ontologisnya dalam
metafisika cahaya (nūr).
Hasil kajian menunjukkan bahwa epistemologi
presensial tidak hanya menawarkan teori pengetahuan alternatif, tetapi juga
mengintegrasikan epistemologi dan ontologi dalam satu kerangka eksistensial.
Kesadaran diri dipahami sebagai paradigma pengetahuan yang paling pasti dan
tidak inferensial, sementara kebenaran ditentukan oleh tingkat kehadiran dan
kejelasan realitas yang diketahui. Artikel ini juga menyoroti implikasi
filosofis epistemologi presensial terhadap teori kebenaran, konsep subjek, dan
kritik terhadap reduksionisme epistemik, serta menilai relevansinya dalam
dialog dengan filsafat kesadaran dan fenomenologi kontemporer. Dengan demikian,
epistemologi presensial Suhrawardī dipahami sebagai kontribusi penting filsafat
Islam klasik yang tetap memiliki signifikansi teoretis dalam diskursus
epistemologi global.
Kata Kunci: Epistemologi presensial; ʿilm ḥuḍūrī; Filsafat
iluminasi; Suhrawardī; Kesadaran diri; Metafisika cahaya; Filsafat Islam;
Epistemologi kontemporer.
PEMBAHASAN
Epistemologi Presensial dalam Filsafat Iluminasi
Suhrawardī
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Epistemologi
merupakan salah satu cabang utama filsafat yang membahas hakikat, sumber,
batas, dan validitas pengetahuan manusia. Dalam tradisi filsafat Barat maupun
Islam klasik, persoalan epistemologi sering kali didominasi oleh pendekatan
representasional, yaitu pandangan bahwa pengetahuan diperoleh melalui
perantaraan konsep, gambaran mental, atau abstraksi intelektual dari objek
eksternal. Pendekatan ini menempatkan relasi subjek–objek dalam kerangka
dualistik yang meniscayakan jarak epistemik antara yang mengetahui dan yang
diketahui.¹
Dalam filsafat
Islam, model epistemologi representasional mencapai bentuk sistematisnya dalam
tradisi Peripatetik, khususnya melalui pemikiran Ibn Sīnā, yang menekankan
peran akal dalam mengabstraksikan bentuk-bentuk universal dari pengalaman
inderawi. Meskipun model ini memberikan fondasi rasional yang kuat bagi ilmu
pengetahuan, ia tidak sepenuhnya mampu menjelaskan dimensi pengetahuan yang
bersifat langsung, intuitif, dan non-diskursif, seperti kesadaran diri,
pengalaman batin, dan pengetahuan eksistensial.²
Kritik terhadap
dominasi epistemologi representasional tersebut menemukan artikulasinya secara
radikal dalam filsafat iluminasi (ḥikmat al-isyrāq) yang dirumuskan oleh Shihab
al-Din Yahya Suhrawardi. Dalam sistem filsafatnya, Suhrawardī
mengajukan konsep epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī)
sebagai prinsip fundamental pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan yang paling
dasar dan paling pasti bukanlah hasil representasi konseptual, melainkan
kehadiran langsung realitas bagi subjek yang mengetahui.³
Epistemologi
presensial menegaskan bahwa dalam jenis pengetahuan tertentu—terutama
pengetahuan diri—tidak terdapat pemisahan antara subjek dan objek. Subjek
mengetahui dirinya bukan melalui konsep atau definisi, melainkan melalui
kehadiran eksistensial dirinya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan tidak lagi
dipahami semata sebagai relasi kognitif, tetapi sebagai modus keberadaan (mode
of being).⁴ Pandangan ini sekaligus menantang asumsi dasar epistemologi rasionalistik
dan empiristik yang cenderung mereduksi pengetahuan pada proses mental atau
data inderawi.
Relevansi
epistemologi presensial tidak terbatas pada konteks filsafat Islam klasik.
Dalam wacana filsafat kontemporer, isu-isu seperti kesadaran (consciousness),
pengalaman langsung (immediate experience), dan kritik terhadap
representasionalisme kembali mengemuka, baik dalam fenomenologi maupun filsafat
pikiran. Oleh karena itu, kajian terhadap epistemologi presensial Suhrawardī
memiliki signifikansi teoretis yang luas, baik untuk pengembangan filsafat
Islam maupun dialog lintas tradisi filsafat.⁵
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan untuk menjawab beberapa pertanyaan
pokok sebagai berikut:
1)
Apa yang dimaksud dengan epistemologi
presensial (ʿilm ḥuḍūrī) dalam sistem filsafat Suhrawardī?
2)
Bagaimana struktur epistemologi
presensial dan landasan ontologisnya dalam filsafat iluminasi?
3)
Mengapa kesadaran diri menempati
posisi fundamental dalam teori pengetahuan Suhrawardī?
4)
Apa implikasi epistemologi
presensial terhadap pemahaman tentang kebenaran dan validitas pengetahuan?
1.3.
Tujuan dan
Signifikansi Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk:
1)
Menjelaskan konsep epistemologi
presensial secara sistematis dalam kerangka filsafat iluminasi Suhrawardī.
2)
Menganalisis peran kesadaran diri
sebagai fondasi epistemologis pengetahuan.
3)
Menunjukkan implikasi filosofis
epistemologi presensial terhadap teori pengetahuan secara umum.
Adapun signifikansi
penelitian ini terletak pada upaya memperkaya diskursus epistemologi dengan
perspektif non-representasional yang berakar pada tradisi filsafat Islam.
Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat membuka ruang dialog antara
filsafat klasik Islam dan filsafat kontemporer, khususnya dalam kajian kesadaran
dan pengetahuan langsung.
1.4.
Metodologi dan
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis filosofis-tekstual.
Sumber primer berupa karya-karya utama Suhrawardī dianalisis secara konseptual
untuk merekonstruksi kerangka epistemologi presensial. Pendekatan historis
digunakan untuk menempatkan pemikiran Suhrawardī dalam konteks intelektualnya,
sementara pendekatan komparatif dimanfaatkan secara terbatas untuk menyoroti
kekhasan epistemologi presensial dibandingkan dengan tradisi epistemologi lain.
Sistematika
Pembahasan
Artikel ini disusun
dalam sepuluh bab. Bab pertama berisi pendahuluan. Bab kedua membahas konteks
historis dan intelektual filsafat Suhrawardī. Bab ketiga menguraikan konsep dasar
epistemologi presensial. Bab keempat membahas kesadaran diri sebagai fondasi
pengetahuan. Bab kelima mengkaji relasi antara metafisika cahaya dan
epistemologi. Bab keenam membahas kriteria kebenaran pengetahuan presensial.
Bab ketujuh menyajikan perbandingan dengan tradisi epistemologi lain. Bab
kedelapan mengulas implikasi filosofisnya, sementara bab kesembilan membahas
kritik dan relevansi kontemporer. Bab kesepuluh berisi simpulan dan rekomendasi
penelitian lanjutan.
Footnotes
[1]
Robert Audi, Epistemology: A Contemporary Introduction to the
Theory of Knowledge (London: Routledge, 2011), 2–5.
[2]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 145–150.
[3]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 107–110.
[4]
Hossein Ziai, “Knowledge and Illumination,” dalam The Cambridge
Companion to Arabic Philosophy, ed. Peter Adamson dan Richard C. Taylor
(Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 199–201.
[5]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 34–36.
2.
Kerangka
Historis dan Intelektual Filsafat Suhrawardī
2.1.
Konteks Historis Abad
ke-6 H / ke-12 M
Filsafat iluminasi (ḥikmat
al-isyrāq) lahir dalam konteks intelektual Islam abad ke-6 Hijriah (ke-12
Masehi), suatu periode yang ditandai oleh dinamika intens antara filsafat
rasional, teologi kalam, dan tasawuf. Pada masa ini, filsafat Peripatetik yang
diwariskan dari Aristoteles dan disistematisasi oleh Ibn Sīnā telah mencapai
puncak kematangannya, baik dari segi metodologi maupun cakupan metafisik.
Namun, dominasi epistemologi rasional-analitis juga memunculkan kritik,
terutama terkait keterbatasannya dalam menjelaskan pengalaman spiritual,
kesadaran diri, dan pengetahuan intuitif.¹
Secara politik dan
sosial, dunia Islam pada masa itu berada dalam situasi fragmentasi kekuasaan,
tetapi tetap menjadi ruang subur bagi pertukaran gagasan. Madrasah, istana, dan
lingkungan sufi menjadi pusat-pusat produksi intelektual. Dalam konteks inilah Shihab
al-Din Yahya Suhrawardi muncul sebagai figur filsuf yang
berupaya merumuskan sistem filsafat alternatif, yang tidak menolak rasio,
tetapi menempatkannya dalam relasi subordinatif dengan intuisi dan pengalaman
langsung.²
2.2.
Tradisi Peripatetik
dan Dominasi Rasionalisme Filosofis
Tradisi Peripatetik
dalam filsafat Islam, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Ibn Sīnā,
berangkat dari asumsi bahwa pengetahuan diperoleh melalui proses abstraksi
intelektual. Dalam kerangka ini, objek-objek eksternal ditangkap oleh indera,
diolah oleh imajinasi, dan akhirnya diabstraksikan oleh akal menjadi bentuk
universal. Pengetahuan dianggap sah sejauh dapat direpresentasikan secara
konseptual dan dipertanggungjawabkan secara logis.³
Meskipun Suhrawardī
mengakui kontribusi besar filsafat Peripatetik dalam mengembangkan disiplin
logika dan argumentasi demonstratif (burhān), ia menilai bahwa pendekatan
tersebut tidak memadai untuk menjelaskan jenis pengetahuan tertentu, terutama
pengetahuan tentang diri, Tuhan, dan realitas non-material. Kritik ini bukan
bersifat destruktif, melainkan korektif: rasio tetap diperlukan, tetapi bukan
sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.⁴
2.3.
Pengaruh Tasawuf dan
Tradisi Kebijaksanaan Timur
Selain tradisi
Peripatetik, pemikiran Suhrawardī juga dipengaruhi oleh tasawuf dan tradisi
kebijaksanaan pra-Islam, khususnya warisan Persia kuno. Ia memandang bahwa para
ḥukamāʾ al-ishrāqiyyūn (para bijak iluminatif) sejak zaman kuno telah
mengembangkan bentuk pengetahuan yang berbasis penyaksian langsung (mushāhadah)
dan penyinaran batin (isyrāq). Tradisi ini, menurutnya, sejalan dengan
pengalaman spiritual para sufi dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.⁵
Tasawuf memberikan
kerangka praktis bagi epistemologi presensial, khususnya melalui konsep kasyf
(penyingkapan) dan dhawq (pengalaman langsung). Namun, Suhrawardī berusaha
membedakan filsafat iluminasi dari tasawuf murni dengan menekankan perlunya
artikulasi filosofis dan argumentasi rasional. Dengan demikian, pengalaman
spiritual tidak dibiarkan bersifat subjektif semata, tetapi diintegrasikan ke
dalam sistem filsafat yang koheren.⁶
2.4.
Sintesis Rasio dan
Intuisi dalam Filsafat Iluminasi
Salah satu
kontribusi utama Suhrawardī adalah upayanya mensintesiskan rasio dan intuisi
dalam satu kerangka epistemologis yang terpadu. Ia menolak dikotomi tajam
antara pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif, dengan menegaskan bahwa
keduanya memiliki domain dan fungsi masing-masing. Rasio berperan dalam
klarifikasi, analisis, dan verifikasi, sedangkan intuisi presensial menjadi
sumber pengetahuan paling dasar dan paling pasti.⁷
Sintesis ini
tercermin dalam struktur karya-karya Suhrawardī, yang sering kali menggabungkan
argumen logis dengan simbolisme cahaya dan narasi alegoris. Pendekatan tersebut
menunjukkan bahwa filsafat iluminasi tidak dimaksudkan sebagai pengganti
filsafat rasional, melainkan sebagai perluasan horizon epistemologi yang
mengembalikan pengetahuan pada pengalaman eksistensial subjek.⁸
Posisi
Epistemologi Presensial dalam Sistem Filsafat Suhrawardī
Dalam kerangka
historis dan intelektual tersebut, epistemologi presensial menempati posisi
sentral dalam sistem filsafat Suhrawardī. Ia berfungsi sebagai fondasi bagi
metafisika cahaya, psikologi filosofis, dan teori pengetahuan secara
keseluruhan. Pengetahuan presensial bukan sekadar salah satu jenis pengetahuan,
melainkan dasar ontologis dari segala bentuk pengetahuan representasional.⁹
Dengan menempatkan
epistemologi presensial sebagai titik tolak, Suhrawardī secara implisit
menggeser fokus filsafat dari “apa yang diketahui” menuju “bagaimana keberadaan
diketahui.” Pergeseran ini menjadikan filsafat iluminasi sebagai salah satu
sistem filsafat Islam yang paling orisinal dan relevan untuk dikaji kembali
dalam konteks epistemologi kontemporer.
Footnotes
[1]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 161–165.
[2]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 3–7.
[3]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 179–183.
[4]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 45–47.
[5]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 12–18.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 71–74.
[7]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic
Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge,
1996), 434–436.
[8]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 59–62.
[9]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 109–112.
3.
Konsep
Dasar Epistemologi Presensial (ʿIlm Ḥuḍūrī)
3.1.
Pengertian dan Ruang
Lingkup Epistemologi Presensial
Epistemologi
presensial (ʿilm ḥuḍūrī) merupakan salah satu konsep kunci dalam sistem
filsafat iluminasi yang dirumuskan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi.
Istilah ini merujuk pada bentuk pengetahuan yang tidak diperoleh melalui
perantaraan representasi konseptual, gambaran mental, atau abstraksi
intelektual, melainkan melalui kehadiran langsung realitas yang diketahui dalam
diri subjek yang mengetahui. Dalam pengetahuan presensial, objek pengetahuan
tidak “diwakili” oleh sesuatu yang lain, tetapi hadir secara eksistensial.¹
Dengan demikian,
epistemologi presensial menantang asumsi dasar epistemologi representasional
yang memandang pengetahuan sebagai hubungan tidak langsung antara subjek dan
objek. Dalam kerangka Suhrawardī, hubungan epistemik yang paling fundamental
justru bersifat non-dualistik, karena subjek dan objek berada dalam satu medan
kehadiran (ḥuḍūr). Pengetahuan tidak dipahami sebagai salinan realitas dalam
pikiran, melainkan sebagai modus keterbukaan eksistensi terhadap dirinya
sendiri atau terhadap realitas lain.²
3.2.
Distingsi antara ʿIlm
Ḥuḍūrī dan ʿIlm Ḥuṣūlī
Untuk memahami
posisi epistemologi presensial secara utuh, Suhrawardī membedakan secara tegas
antara dua jenis pengetahuan, yaitu ʿilm ḥuḍūrī (pengetahuan presensial) dan
ʿilm ḥuṣūlī (pengetahuan perolehan atau representasional). Pengetahuan ḥuṣūlī
adalah pengetahuan yang diperoleh melalui konsep, definisi, dan proposisi; ia
bersifat mediatif dan bergantung pada aktivitas kognitif akal.³
Sebaliknya, ʿilm ḥuḍūrī
bersifat immediatif dan non-konseptual. Dalam pengetahuan ini, tidak terdapat
perantara epistemik antara yang mengetahui dan yang diketahui. Contoh
paradigmatik dari pengetahuan presensial adalah kesadaran diri: seseorang
mengetahui dirinya bukan melalui definisi tentang “aku”, melainkan melalui
kehadiran dirinya sendiri sebagai subjek yang sadar.⁴ Distingsi ini menunjukkan
bahwa epistemologi presensial bukan sekadar tambahan terhadap epistemologi
representasional, melainkan fondasi ontologisnya.
3.3.
Struktur Epistemologis
Pengetahuan Presensial
Struktur
epistemologi presensial ditandai oleh absennya dualisme subjek–objek. Dalam
pengetahuan presensial, subjek tidak berhadapan dengan objek sebagai sesuatu
yang eksternal, melainkan mengalami objek tersebut sebagai hadir secara
langsung. Kehadiran ini tidak bersifat spasial atau temporal, tetapi
eksistensial.⁵
Suhrawardī
menegaskan bahwa segala bentuk pengetahuan representasional pada akhirnya
berakar pada pengetahuan presensial. Bahkan pengetahuan konseptual tentang
objek eksternal bergantung pada pengetahuan presensial subjek tentang dirinya
sebagai pengenal. Tanpa kesadaran diri yang bersifat presensial, tidak mungkin
terjadi proses representasi atau abstraksi.⁶ Dengan demikian, epistemologi
presensial berfungsi sebagai prasyarat ontologis bagi seluruh aktivitas
kognitif.
3.4.
Kesadaran Diri sebagai
Paradigma ʿIlm Ḥuḍūrī
Kesadaran diri
(self-awareness) menempati posisi sentral dalam epistemologi presensial
Suhrawardī. Ia berpendapat bahwa pengetahuan diri merupakan pengetahuan yang
paling jelas, paling pasti, dan tidak mungkin keliru. Subjek tidak membutuhkan
bukti atau argumen untuk mengetahui bahwa ia ada; keberadaannya hadir secara
langsung bagi dirinya sendiri.⁷
Argumentasi ini
sekaligus menolak pandangan bahwa pengetahuan diri bersifat inferensial atau
reflektif. Menurut Suhrawardī, refleksi intelektual justru merupakan tingkat
sekunder dari pengetahuan, sedangkan kesadaran diri bersifat primer dan
mendahului segala bentuk refleksi. Kesadaran diri tidak diperoleh, tetapi
selalu sudah ada sebagai fakta eksistensial.⁸
3.5.
Landasan Ontologis
Epistemologi Presensial
Epistemologi
presensial dalam filsafat iluminasi tidak dapat dipisahkan dari landasan
ontologisnya, yaitu metafisika cahaya (nūr). Cahaya, dalam pemikiran
Suhrawardī, adalah realitas yang menampakkan dirinya sendiri dan menampakkan
yang lain. Karena itu, cahaya merupakan prinsip ontologis yang sekaligus
bersifat epistemologis. Mengetahui berarti berada dalam kondisi terang dan
tersingkap.⁹
Pengetahuan
presensial merupakan konsekuensi langsung dari sifat cahaya tersebut. Realitas
yang bersifat cahaya tidak memerlukan representasi untuk diketahui; ia
diketahui sejauh ia hadir dan menyingkap. Oleh karena itu, epistemologi
presensial bukan sekadar teori pengetahuan, tetapi juga ekspresi dari pandangan
ontologis tertentu tentang struktur realitas.¹⁰
Implikasi
Awal bagi Teori Pengetahuan
Konsep epistemologi
presensial membawa implikasi penting bagi teori pengetahuan secara umum.
Pertama, ia merelatifkan klaim absolut epistemologi representasional dan
menunjukkan bahwa tidak semua pengetahuan bersifat konseptual. Kedua, ia
membuka ruang bagi pengakuan terhadap pengalaman langsung sebagai sumber
pengetahuan yang sah, tanpa harus tereduksi menjadi data empiris atau proposisi
logis.¹¹
Dengan demikian,
epistemologi presensial Suhrawardī menawarkan kerangka alternatif untuk
memahami pengetahuan sebagai relasi eksistensial, bukan sekadar relasi
kognitif. Kerangka ini akan menjadi dasar bagi pembahasan lebih lanjut mengenai
kesadaran diri, metafisika cahaya, dan validitas pengetahuan dalam bab-bab
berikutnya.
Footnotes
[1]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 13–15.
[2]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 52–54.
[3]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 187–189.
[4]
Hossein Ziai, “Knowledge and Illumination,” dalam The Cambridge
Companion to Arabic Philosophy, ed. Peter Adamson dan Richard C. Taylor
(Cambridge: Cambridge University Press, 2005), 199–200.
[5]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 64–66.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 76–78.
[7]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 111–113.
[8]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 28–30.
[9]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic
Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge,
1996), 435–437.
[10]
John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY
Press, 2000), 91–93.
[11]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 168–170.
4.
Kesadaran
Diri sebagai Fondasi Pengetahuan
4.1.
Kedudukan Kesadaran
Diri dalam Epistemologi Iluminatif
Dalam sistem
filsafat iluminasi, kesadaran diri (al-shuʿūr bi al-dhāt) menempati posisi
fundamental sebagai dasar seluruh bangunan epistemologi. Bagi Shihab
al-Din Yahya Suhrawardi, pengetahuan tidak bermula dari relasi
subjek dengan objek eksternal, melainkan dari kehadiran subjek bagi dirinya
sendiri. Kesadaran diri bukanlah hasil proses kognitif, melainkan fakta
eksistensial yang menyertai keberadaan subjek secara langsung.¹
Pandangan ini
menandai pergeseran mendasar dari epistemologi representasional menuju
epistemologi presensial. Jika epistemologi representasional memandang
pengetahuan sebagai hasil mediasi konsep, maka epistemologi iluminatif
menegaskan bahwa bentuk pengetahuan yang paling dasar bersifat non-konseptual
dan non-inferensial. Kesadaran diri, dalam pengertian ini, menjadi paradigma
utama ʿilm ḥuḍūrī.²
4.2.
Kesadaran Diri dan
Kepastian Epistemik
Salah satu klaim
utama Suhrawardī adalah bahwa kesadaran diri memiliki tingkat kepastian
epistemik tertinggi. Subjek tidak mungkin meragukan keberadaannya sendiri
selama ia sadar, karena kesadaran dan keberadaan hadir secara bersamaan. Tidak
diperlukan pembuktian logis untuk mengetahui “aku ada”; pengetahuan tersebut
bersifat langsung dan tidak bergantung pada proposisi.³
Dengan argumen ini,
Suhrawardī membedakan secara tegas antara kepastian epistemik yang bersumber
dari kehadiran dan kepastian yang bersumber dari inferensi rasional. Kepastian
inferensial selalu terbuka terhadap kekeliruan karena bergantung pada premis
dan penalaran, sedangkan kepastian presensial bersifat langsung dan tidak
tereduksi pada struktur silogistik.⁴
4.3.
Kritik terhadap
Pengetahuan Diri yang Bersifat Reflektif
Suhrawardī
mengkritik pandangan yang memahami pengetahuan diri sebagai hasil refleksi
intelektual. Menurutnya, refleksi justru merupakan aktivitas sekunder yang
mengandaikan adanya kesadaran diri sebelumnya. Seseorang hanya dapat merefleksikan
dirinya karena ia telah terlebih dahulu hadir bagi dirinya sendiri.⁵
Dengan demikian,
kesadaran diri tidak identik dengan aktivitas berpikir tentang diri. Ia
mendahului segala bentuk konseptualisasi dan penilaian. Kesadaran diri bersifat
pra-reflektif (pre-reflective awareness), yaitu kesadaran yang tidak
membutuhkan jarak antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui.⁶
4.4.
Kesatuan Subjek dan
Objek dalam Kesadaran Diri
Dalam kesadaran
diri, relasi subjek–objek mengalami bentuk yang paling minimal, bahkan dapat
dikatakan lenyap. Subjek mengetahui dirinya bukan sebagai “objek” yang berdiri
di hadapannya, melainkan sebagai realitas yang identik dengan dirinya sendiri.
Identitas inilah yang menjadikan kesadaran diri sebagai contoh paling murni
dari pengetahuan presensial.⁷
Kesatuan subjek dan
objek ini tidak berarti penghapusan kesadaran, melainkan justru menegaskan
bentuk kesadaran yang paling intens. Dalam kesadaran diri, tidak ada jarak
epistemik yang harus dijembatani, sehingga pengetahuan hadir sebagai kejelasan
eksistensial, bukan sebagai representasi mental.⁸
4.5.
Kesadaran Diri dan
Landasan Pengetahuan Lain
Suhrawardī
menegaskan bahwa seluruh bentuk pengetahuan lain—termasuk pengetahuan tentang
objek eksternal—bergantung pada kesadaran diri. Subjek hanya dapat mengetahui
sesuatu di luar dirinya sejauh ia sadar akan dirinya sebagai subjek yang
mengetahui. Dengan kata lain, kesadaran diri berfungsi sebagai syarat
kemungkinan (condition of possibility) bagi segala pengetahuan.⁹
Argumen ini menunjukkan
bahwa epistemologi presensial tidak menafikan pengetahuan representasional,
tetapi menempatkannya dalam hierarki epistemik yang lebih luas. Pengetahuan
representasional bersifat turunan dan sekunder, sementara kesadaran diri
bersifat primer dan fundamental.¹⁰
Implikasi
Filosofis Kesadaran Diri sebagai Fondasi Pengetahuan
Menjadikan kesadaran
diri sebagai fondasi pengetahuan membawa implikasi filosofis yang signifikan.
Pertama, ia menggeser fokus epistemologi dari persoalan korespondensi antara
pikiran dan dunia menuju persoalan kehadiran dan keterbukaan eksistensial.
Kedua, ia menolak reduksi pengetahuan pada mekanisme psikologis atau linguistik
semata.¹¹
Selain itu,
pandangan ini membuka ruang dialog dengan wacana filsafat kontemporer tentang
kesadaran, khususnya kritik terhadap representasionalisme dan penekanan pada
pengalaman langsung. Dengan demikian, konsep kesadaran diri dalam filsafat
iluminasi tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga relevansi teoretis
yang berkelanjutan.¹²
Footnotes
[1]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 27–29.
[2]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 58–60.
[3]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 113–114.
[4]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 68–69.
[5]
Hossein Ziai, “Knowledge and Self-Awareness in Illuminationist
Philosophy,” Iranian Studies 22, no. 1 (1989): 35–36.
[6]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 31–33.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present
(Albany: SUNY Press, 2006), 79–81.
[8]
John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY
Press, 2000), 95–97.
[9]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of
Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London:
Routledge, 1996), 437–438.
[10]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 171–173.
[11]
Mehdi Aminrazavi, “Self-Knowledge and Presence,” dalam Islamic
Philosophy and the Ethics of Belief (London: I.B. Tauris, 2004), 112–114.
[12]
Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston:
Northwestern University Press, 1999), 9–11.
5.
Metafisika
Cahaya dan Epistemologi Presensial
5.1.
Cahaya (Nūr) sebagai
Prinsip Ontologis Fundamental
Dalam filsafat iluminasi,
metafisika cahaya (nūr) merupakan fondasi ontologis yang menopang seluruh
bangunan epistemologi. Bagi Shihab al-Din Yahya Suhrawardi,
cahaya bukan sekadar metafora, melainkan realitas paling dasar yang menjelaskan
keberadaan dan keterpahaman segala sesuatu. Cahaya didefinisikan sebagai “yang
menampakkan dirinya sendiri dan menampakkan yang lain,” sehingga sifat
ontologis cahaya sekaligus bersifat epistemologis.¹
Dengan menempatkan
cahaya sebagai prinsip pertama, Suhrawardī menggeser paradigma metafisika dari
substansi dan bentuk menuju intensitas dan ketercerahan. Realitas dipahami
dalam spektrum gradasi cahaya dan kegelapan, di mana semakin tinggi tingkat
cahaya suatu entitas, semakin nyata dan semakin diketahui ia.² Kerangka ini
menjadi dasar bagi pemahaman epistemologi presensial sebagai pengetahuan yang
lahir dari kehadiran dan ketercerahan, bukan dari representasi.
5.2.
Relasi Ontologi dan
Epistemologi dalam Metafisika Cahaya
Salah satu ciri khas
filsafat iluminasi adalah penolakan terhadap pemisahan tajam antara ontologi
dan epistemologi. Dalam metafisika cahaya, keberadaan (wujūd) dan keterpahaman
(maʿrifah) berada dalam satu kontinum. Sesuatu ada sejauh ia terang, dan
sesuatu diketahui sejauh ia hadir sebagai terang.³
Relasi ini
menjelaskan mengapa epistemologi presensial menjadi konsekuensi langsung dari
metafisika cahaya. Pengetahuan presensial tidak membutuhkan perantara
konseptual karena cahaya, sebagai realitas yang menyingkap, sudah cukup untuk
menghadirkan dirinya sendiri kepada subjek yang mengetahui. Dengan demikian,
pengetahuan bukan aktivitas tambahan atas keberadaan, melainkan ekspresi dari
intensitas keberadaan itu sendiri.⁴
5.3.
Cahaya, Kehadiran, dan
Pengetahuan Presensial
Konsep kehadiran (ḥuḍūr)
dalam epistemologi presensial memperoleh landasan metafisisnya dalam konsep
cahaya. Cahaya selalu hadir; ia tidak dapat tersembunyi bagi dirinya sendiri.
Karena itu, realitas yang bersifat cahaya diketahui secara presensial, tanpa
memerlukan refleksi atau abstraksi.⁵
Dalam kerangka ini,
kesadaran diri dipahami sebagai bentuk cahaya yang paling dekat dan paling
intens bagi subjek. Subjek mengetahui dirinya karena dirinya adalah cahaya yang
hadir bagi dirinya sendiri. Pengetahuan diri tidak lain adalah ketercerahan
diri oleh dirinya sendiri. Argumen ini menegaskan bahwa epistemologi presensial
bukanlah konstruksi psikologis, melainkan konsekuensi ontologis dari hakikat
cahaya.⁶
5.4.
Hierarki Cahaya dan
Derajat Pengetahuan
Metafisika cahaya
Suhrawardī bersifat hierarkis. Realitas tersusun dalam tingkatan cahaya, mulai
dari Cahaya Tertinggi (Nūr al-Anwār) hingga tingkatan cahaya yang lemah dan
bercampur dengan kegelapan. Setiap tingkatan cahaya memiliki derajat keberadaan
dan derajat pengetahuan yang berbeda.⁷
Dalam konteks
epistemologi, hierarki ini berarti bahwa pengetahuan juga memiliki gradasi.
Pengetahuan presensial yang bersumber dari cahaya yang lebih tinggi bersifat
lebih jelas, lebih pasti, dan lebih universal dibandingkan pengetahuan yang
bergantung pada representasi konseptual. Dengan demikian, perbedaan epistemik
tidak hanya ditentukan oleh metode kognitif, tetapi oleh tingkat ontologis
subjek yang mengetahui.⁸
5.5.
Peran Akal dalam
Kerangka Metafisika Cahaya
Meskipun menekankan
pengetahuan presensial, Suhrawardī tidak menafikan peran akal. Akal dipahami
sebagai cahaya pada tingkat tertentu, yang berfungsi untuk mengatur,
mengklarifikasi, dan mengomunikasikan pengetahuan presensial dalam bentuk
konseptual. Namun, akal bukan sumber utama pengetahuan, melainkan instrumen
sekunder.⁹
Dalam kerangka ini,
pengetahuan rasional (ʿilm ḥuṣūlī) dipandang sebagai bayangan atau refleksi
dari pengetahuan presensial. Ia berguna untuk diskursus ilmiah dan verifikasi
argumentatif, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman langsung akan
kebenaran. Posisi akal yang demikian menjaga keseimbangan antara intuisi
iluminatif dan rasionalitas filosofis.¹⁰
Implikasi
Metafisika Cahaya bagi Epistemologi Presensial
Integrasi metafisika
cahaya dan epistemologi presensial menghasilkan pandangan pengetahuan yang
bersifat eksistensial dan transformatif. Mengetahui tidak lagi dipahami sebagai
aktivitas netral dan eksternal, melainkan sebagai proses ketercerahan diri yang
melibatkan perubahan intensitas keberadaan subjek.¹¹
Implikasi ini
memperluas cakupan epistemologi dari sekadar teori kognisi menuju pemahaman
tentang pengetahuan sebagai cara berada di dunia. Dengan demikian, filsafat
iluminasi Suhrawardī menawarkan model epistemologi yang tidak hanya menjelaskan
bagaimana pengetahuan mungkin, tetapi juga mengapa pengetahuan memiliki dimensi
ontologis dan spiritual yang mendalam.¹²
Footnotes
[1]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 93–95.
[2]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 41–43.
[3]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 63–65.
[4]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 72–74.
[5]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of
Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London:
Routledge, 1996), 439–440.
[6]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 34–36.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 83–85.
[8]
John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY
Press, 2000), 101–103.
[9]
Hossein Ziai, “Knowledge and Self-Awareness in Illuminationist
Philosophy,” Iranian Studies 22, no. 1 (1989): 38–40.
[10]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 174–176.
[11]
Mehdi Aminrazavi, “Illumination and Transformation,” dalam Islamic
Philosophy and the Ethics of Belief (London: I.B. Tauris, 2004), 118–120.
[12]
Henry Corbin, Spiritual Body and Celestial Earth, trans. Nancy
Pearson (Princeton: Princeton University Press, 1977), 27–29.
6.
Validitas
dan Kriteria Kebenaran Pengetahuan Presensial
6.1.
Problem Validitas
dalam Epistemologi Presensial
Salah satu keberatan
utama terhadap epistemologi presensial adalah persoalan validitas dan kriteria
kebenaran. Jika pengetahuan diperoleh melalui kehadiran langsung (ḥuḍūr) tanpa
perantara konsep atau proposisi, bagaimana kebenaran pengetahuan tersebut dapat
dipastikan dan dibedakan dari ilusi subjektif? Pertanyaan ini menjadi krusial
karena epistemologi modern cenderung mengaitkan kebenaran dengan verifikasi
intersubjektif dan korespondensi proposisional.¹
Dalam filsafat
iluminasi, persoalan validitas tidak dijawab dengan meniru kriteria
epistemologi representasional. Shihab al-Din Yahya Suhrawardi
mengembangkan kerangka validitas yang berakar pada ontologi cahaya dan konsep
kehadiran, sehingga kebenaran pengetahuan presensial tidak dinilai dari
kecocokannya dengan representasi eksternal, melainkan dari tingkat ketercerahan
dan ketaktersembunyian realitas yang diketahui.²
6.2.
Kehadiran (Ḥuḍūr) sebagai
Kriteria Kebenaran Primer
Dalam epistemologi
presensial, kriteria kebenaran yang paling mendasar adalah kehadiran itu
sendiri. Pengetahuan dianggap benar sejauh objek pengetahuan hadir secara
langsung bagi subjek tanpa tirai konseptual. Kehadiran ini bersifat
eksistensial, bukan psikologis; ia tidak bergantung pada kondisi mental
tertentu, tetapi pada relasi ontologis antara yang mengetahui dan yang
diketahui.³
Karena itu,
kesadaran diri menjadi contoh paling jelas dari kebenaran presensial. Subjek
tidak memerlukan pembuktian tambahan untuk memastikan keberadaan dirinya, sebab
keberadaan tersebut hadir secara langsung. Dalam konteks ini, kekeliruan
epistemik tidak mungkin terjadi, karena tidak ada jarak antara subjek dan objek
yang memungkinkan distorsi representasional.⁴
6.3.
Kejelasan (Ẓuhūr) dan
Ketaktersembunyian sebagai Ukuran Validitas
Selain kehadiran,
Suhrawardī menekankan kejelasan (ẓuhūr) sebagai kriteria penting kebenaran.
Dalam metafisika cahaya, sesuatu diketahui secara benar sejauh ia jelas dan
tidak tersembunyi. Kejelasan bukanlah sifat kognitif, melainkan sifat
ontologis: realitas yang lebih terang lebih mudah diketahui dan lebih pasti.⁵
Kriteria ini
menunjukkan bahwa validitas pengetahuan presensial bersifat gradatif.
Pengetahuan tidak semata-mata benar atau salah, tetapi memiliki derajat
kebenaran sesuai dengan intensitas cahaya dan tingkat kehadiran objek
pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi presensial menolak reduksi kebenaran
pada skema biner dan mengusulkan model kebenaran yang berjenjang.⁶
6.4.
Relasi antara
Pengetahuan Presensial dan Kekeliruan
Pertanyaan lain yang
sering diajukan adalah apakah pengetahuan presensial mungkin keliru. Menurut
Suhrawardī, kekeliruan tidak terjadi pada tingkat pengetahuan presensial itu
sendiri, melainkan pada tahap interpretasi konseptual atas pengalaman
presensial. Ketika pengalaman langsung diterjemahkan ke dalam bahasa, simbol,
atau konsep, potensi distorsi mulai muncul.⁷
Dengan demikian,
epistemologi presensial membedakan secara tegas antara pengalaman kehadiran dan
artikulasi konseptualnya. Pengalaman presensial bersifat pasti, sedangkan
pengetahuan representasional yang mengikutinya bersifat fallible. Distingsi ini
memungkinkan pengakuan terhadap kepastian pengalaman langsung tanpa menafikan kritik
rasional terhadap klaim-klaim konseptual.⁸
6.5.
Peran Rasio dalam
Verifikasi dan Artikulasi
Meskipun kriteria
kebenaran pengetahuan presensial tidak bergantung pada rasio, Suhrawardī tetap
memberikan peran penting kepada akal dalam proses verifikasi dan artikulasi.
Akal berfungsi untuk menguji koherensi, menghindari kontradiksi, dan
mengomunikasikan pengetahuan presensial dalam bentuk diskursif.⁹
Dalam kerangka ini,
rasio tidak berfungsi sebagai hakim tertinggi kebenaran, melainkan sebagai
instrumen klarifikasi. Rasio dapat menolak klaim presensial yang secara logis
mustahil atau bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar metafisika cahaya.
Dengan demikian, epistemologi presensial tidak bersifat anti-rasional, tetapi
supra-rasional.¹⁰
6.6.
Objektivitas dan
Intersubjektivitas Pengetahuan Presensial
Isu objektivitas
menjadi tantangan terakhir bagi epistemologi presensial. Jika pengetahuan
bersifat langsung dan individual, bagaimana mungkin ia memiliki nilai objektif?
Suhrawardī menjawab bahwa objektivitas tidak identik dengan intersubjektivitas
empiris. Pengetahuan presensial bersifat objektif sejauh ia berakar pada
struktur ontologis realitas cahaya yang sama bagi semua subjek.¹¹
Namun, akses
terhadap tingkat cahaya tertentu bergantung pada kesiapan eksistensial subjek.
Oleh karena itu, perbedaan pengalaman presensial tidak serta-merta menunjukkan
relativisme epistemik, melainkan perbedaan derajat ketercerahan. Pandangan ini
memungkinkan pengakuan terhadap pluralitas pengalaman tanpa jatuh ke dalam
subjektivisme radikal.¹²
Implikasi
Epistemologis Kriteria Kebenaran Presensial
Kriteria kebenaran
dalam epistemologi presensial membawa implikasi penting bagi teori pengetahuan.
Pertama, ia memperluas konsep kebenaran melampaui korespondensi proposisional.
Kedua, ia menegaskan bahwa kepastian epistemik tidak selalu identik dengan
justifikasi diskursif.¹³
Dengan demikian,
epistemologi presensial Suhrawardī menawarkan model validitas pengetahuan yang
berbasis pada kehadiran, kejelasan, dan intensitas eksistensi. Model ini tidak
hanya memperkaya khazanah epistemologi Islam, tetapi juga memberikan alternatif
teoretis bagi kritik kontemporer terhadap representasionalisme dan
reduksionisme epistemik.¹⁴
Footnotes
[1]
Robert Audi, Epistemology: A Contemporary Introduction to the Theory
of Knowledge (London: Routledge, 2011), 67–70.
[2]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 51–53.
[3]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 115–116.
[4]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 75–76.
[5]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 38–40.
[6]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 71–73.
[7]
Hossein Ziai, “Knowledge and Self-Awareness in Illuminationist
Philosophy,” Iranian Studies 22, no. 1 (1989): 41–42.
[8]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 86–88.
[9]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of
Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London:
Routledge, 1996), 441–442.
[10]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 177–179.
[11]
Mehdi Aminrazavi, “Truth and Presence,” dalam Islamic Philosophy
and the Ethics of Belief (London: I.B. Tauris, 2004), 121–123.
[12]
John Walbridge, The Leaven of the Ancients (Albany: SUNY
Press, 2000), 108–110.
[13]
Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary
Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 92–95.
[14]
Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston:
Northwestern University Press, 1999), 18–20.
7.
Perbandingan
dengan Tradisi Epistemologi Lain
7.1.
Pendahuluan Komparatif
Untuk menilai posisi
dan kontribusi epistemologi presensial secara lebih komprehensif, perlu
dilakukan perbandingan dengan tradisi epistemologi lain, baik dalam khazanah
filsafat Islam maupun filsafat Barat. Perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk
mereduksi keunikan filsafat iluminasi, melainkan untuk menyingkap asumsi-asumsi
epistemologis yang mendasari berbagai tradisi pemikiran serta menempatkan
epistemologi presensial dalam lanskap filsafat global.¹
Dalam konteks ini,
epistemologi presensial yang dikembangkan oleh Shihab al-Din Yahya Suhrawardi
akan dibandingkan dengan epistemologi Peripatetik Islam, epistemologi
rasionalisme dan empirisme Barat, serta fenomenologi sebagai salah satu
pendekatan kontemporer yang menekankan pengalaman langsung.
7.2.
Epistemologi
Presensial dan Tradisi Peripatetik Islam
Dalam tradisi
Peripatetik Islam, khususnya pada pemikiran Ibn Sina, pengetahuan dipahami
terutama sebagai hasil abstraksi intelektual. Akal memperoleh bentuk-bentuk
universal dari pengalaman inderawi, dan kebenaran pengetahuan diukur melalui
koherensi logis serta kesesuaian dengan realitas eksternal. Model ini
menempatkan pengetahuan dalam kerangka representasional, di mana objek
diketahui melalui perantara bentuk mental.²
Suhrawardī menerima
kerangka rasional ini sebagai valid pada tingkat tertentu, tetapi menolak
klaimnya sebagai fondasi epistemologi. Menurutnya, epistemologi Peripatetik
gagal menjelaskan pengetahuan diri dan pengetahuan non-konseptual, karena tetap
mengandaikan dualisme subjek–objek. Epistemologi presensial, sebaliknya,
menegaskan bahwa pengetahuan paling dasar justru bersifat non-representasional
dan mendahului proses abstraksi.³
7.3.
Perbandingan dengan
Rasionalisme Barat
Rasionalisme Barat,
sebagaimana tampak pada Descartes dan para penerusnya, menekankan peran akal
sebagai sumber utama pengetahuan yang pasti. Meskipun Descartes memulai
filsafatnya dari kepastian kesadaran diri (cogito), kepastian tersebut segera
diartikulasikan dalam bentuk proposisional dan dijadikan dasar bagi sistem
pengetahuan yang bersifat diskursif.⁴
Dalam epistemologi
presensial, kesadaran diri tidak direduksi menjadi proposisi (“aku berpikir,
maka aku ada”), melainkan dipahami sebagai kehadiran eksistensial yang
tidak memerlukan formulasi logis untuk menjadi pasti. Dengan demikian,
epistemologi presensial melampaui rasionalisme dengan menolak penyamaan
kepastian epistemik dengan justifikasi rasional formal.⁵
7.4.
Perbandingan dengan
Empirisme
Empirisme modern
menempatkan pengalaman inderawi sebagai sumber utama pengetahuan. Pengetahuan
dianggap sah sejauh dapat ditelusuri pada data empiris yang dapat diverifikasi.
Dalam kerangka ini, pengalaman batin dan kesadaran diri sering kali direduksi
menjadi fenomena psikologis atau sekadar rangkaian kesan (impressions).⁶
Epistemologi
presensial berbeda secara fundamental dari empirisme karena tidak memandang
pengalaman langsung sebagai data inderawi, melainkan sebagai kehadiran
eksistensial. Kesadaran diri, dalam filsafat iluminasi, bukan objek pengalaman
empiris, tetapi kondisi ontologis yang memungkinkan segala pengalaman. Oleh
karena itu, epistemologi presensial menolak reduksi pengetahuan pada observasi
sensorik.⁷
7.5.
Paralel dengan Fenomenologi
Di antara tradisi
filsafat Barat kontemporer, fenomenologi menunjukkan kedekatan tertentu dengan
epistemologi presensial. Pemikiran Edmund Husserl menekankan
kembali “kembali kepada benda-benda itu sendiri” dan pentingnya pengalaman langsung
kesadaran sebelum konstruksi teoritis. Fenomenologi juga mengkritik
representasionalisme dan menyoroti dimensi pra-reflektif kesadaran.⁸
Namun, perbedaan
mendasar tetap ada. Fenomenologi umumnya membatasi diri pada deskripsi struktur
kesadaran, sementara epistemologi presensial Suhrawardī berakar pada metafisika
cahaya yang bersifat ontologis dan hierarkis. Dengan demikian, epistemologi
presensial tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga normatif dan
metafisis.⁹
7.6.
Epistemologi
Presensial dan Tradisi Mistisisme Filosofis
Epistemologi
presensial juga memiliki titik temu dengan berbagai tradisi mistisisme
filosofis, baik dalam Islam maupun di luar Islam, yang menekankan pengetahuan
melalui penyaksian langsung (gnosis). Namun, Suhrawardī berupaya membedakan
filsafat iluminasi dari mistisisme murni dengan insistensi pada artikulasi
rasional dan sistematis.¹⁰
Dengan demikian,
epistemologi presensial menempati posisi antara filsafat rasional dan
mistisisme: ia mengakui validitas pengalaman langsung, tetapi menuntut
integrasi dengan refleksi filosofis. Posisi antara ini menjadi salah satu
keunikan utama filsafat iluminasi.¹¹
Signifikansi
Perbandingan Epistemologis
Perbandingan dengan
berbagai tradisi epistemologi menunjukkan bahwa epistemologi presensial Suhrawardī
menawarkan alternatif yang tidak sepenuhnya tercakup oleh kategori
rasionalisme, empirisme, maupun fenomenologi. Ia menghadirkan model
epistemologi yang menempatkan kehadiran eksistensial sebagai dasar kebenaran,
tanpa menafikan peran rasio dan pengalaman.¹²
Dengan demikian,
epistemologi presensial tidak hanya relevan sebagai fenomena historis dalam
filsafat Islam, tetapi juga sebagai kontribusi teoretis yang dapat memperkaya
diskursus epistemologi kontemporer, khususnya dalam kajian kesadaran dan kritik
terhadap representasionalisme.¹³
Footnotes
[1]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 180–182.
[2]
Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition
(Leiden: Brill, 1988), 190–193.
[3]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 58–60.
[4]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John
Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 16–18.
[5]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 78–80.
[6]
David Hume, An Enquiry Concerning Human Understanding (Oxford:
Oxford University Press, 2007), 12–15.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 90–92.
[8]
Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a
Phenomenological Philosophy, trans. F. Kersten (The Hague: Martinus
Nijhoff, 1982), 44–46.
[9]
Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston:
Northwestern University Press, 1999), 21–24.
[10]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 41–43.
[11]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 82–84.
[12]
Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary
Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 101–103.
[13]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of Islamic
Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London: Routledge,
1996), 443–445.
8.
Implikasi
Filosofis dan Epistemologis
8.1.
Pendahuluan: Dari
Teori Pengetahuan ke Cara Berada
Epistemologi
presensial dalam filsafat iluminasi tidak berhenti pada penjelasan teknis
mengenai bagaimana pengetahuan diperoleh, tetapi membawa implikasi filosofis
yang luas terhadap cara memahami subjek, realitas, dan kebenaran. Dengan
menempatkan kehadiran (ḥuḍūr) dan kesadaran diri sebagai fondasi pengetahuan,
filsafat Suhrawardī menggeser epistemologi dari sekadar teori kognisi menuju
pemahaman eksistensial tentang pengetahuan sebagai cara berada (mode of
being).¹
Implikasi ini
menjadikan epistemologi presensial relevan tidak hanya bagi filsafat
pengetahuan, tetapi juga bagi metafisika, filsafat diri, etika, dan bahkan
filsafat ilmu. Bab ini menguraikan secara sistematis implikasi-implikasi
tersebut.
8.2.
Implikasi terhadap
Konsep Subjek dan Kesadaran
Salah satu implikasi
paling mendasar epistemologi presensial adalah redefinisi konsep subjek. Subjek
tidak lagi dipahami sebagai entitas psikologis yang mengolah representasi
mental, melainkan sebagai realitas sadar yang hadir bagi dirinya sendiri. Dalam
kerangka ini, kesadaran bukan properti tambahan dari subjek, tetapi identik
dengan eksistensi subjek itu sendiri.²
Pandangan ini
menolak reduksi kesadaran menjadi fungsi biologis atau mekanisme kognitif
semata. Kesadaran diri dipahami sebagai fakta ontologis primer yang tidak dapat
dijelaskan secara penuh melalui pendekatan empiris atau komputasional. Dengan
demikian, epistemologi presensial memberikan dasar filosofis yang kuat bagi
kritik terhadap naturalisme reduksionis dalam filsafat pikiran.³
8.3.
Implikasi terhadap
Teori Kebenaran dan Justifikasi
Epistemologi
presensial juga membawa implikasi penting bagi teori kebenaran. Kebenaran tidak
lagi dipahami semata-mata sebagai korespondensi antara proposisi dan fakta
eksternal, melainkan sebagai tingkat kehadiran dan kejelasan realitas bagi
subjek yang mengetahui. Kebenaran bersifat berjenjang, sejalan dengan
intensitas cahaya dan derajat ketercerahan eksistensial.⁴
Konsekuensinya,
justifikasi epistemik tidak selalu identik dengan argumentasi diskursif. Ada
bentuk kepastian yang bersumber dari kehadiran langsung dan tidak memerlukan
pembuktian inferensial. Pandangan ini menantang paradigma epistemologi modern
yang cenderung mengidentikkan rasionalitas dengan justifikasi proposisional.⁵
8.4.
Implikasi terhadap
Relasi Epistemologi dan Metafisika
Dalam filsafat
iluminasi, epistemologi dan metafisika tidak dapat dipisahkan secara tegas.
Cara mengetahui realitas bergantung pada struktur ontologis realitas itu
sendiri. Karena realitas dipahami sebagai spektrum cahaya, maka pengetahuan pun
bersifat iluminatif dan presensial.⁶
Implikasi ini menolak
pandangan netralitas epistemologi yang memisahkan subjek dari realitas yang
diketahui. Pengetahuan selalu bersifat terlibat (engaged) dan eksistensial.
Dengan demikian, epistemologi presensial mengkritik asumsi modern tentang
subjek yang netral dan terlepas dari dunia.⁷
8.5.
Implikasi Etis dan
Eksistensial
Epistemologi
presensial membawa konsekuensi etis yang signifikan. Jika pengetahuan berkaitan
dengan tingkat ketercerahan eksistensial, maka mengetahui bukanlah aktivitas
netral, melainkan proses transformasi diri. Peningkatan pengetahuan sejalan
dengan peningkatan kualitas keberadaan subjek.⁸
Dalam kerangka ini,
etika tidak hanya berkaitan dengan tindakan eksternal, tetapi juga dengan
pemurnian batin dan kesiapan eksistensial subjek untuk menerima cahaya pengetahuan.
Dengan demikian, epistemologi presensial mendukung pandangan etika sebagai
praksis pembentukan diri, bukan sekadar kepatuhan terhadap norma.⁹
8.6.
Implikasi terhadap
Filsafat Ilmu dan Sains Kontemporer
Meskipun lahir dalam
konteks filsafat klasik, epistemologi presensial memiliki relevansi bagi
filsafat ilmu kontemporer, khususnya dalam diskursus tentang batas-batas
objektivitas dan peran subjek dalam pengetahuan ilmiah. Epistemologi presensial
menyoroti bahwa tidak semua pengetahuan dapat direduksi menjadi observasi
empiris dan model matematis.¹⁰
Dalam kajian
kesadaran, pandangan Suhrawardī membuka kemungkinan pendekatan non-reduksionis
yang mengakui pengalaman langsung sebagai data filosofis yang sah. Dengan
demikian, epistemologi presensial dapat berfungsi sebagai mitra dialog kritis
bagi sains modern, tanpa harus menolak validitas metode ilmiah.¹¹
Implikasi
bagi Dialog Filsafat Lintas Tradisi
Implikasi terakhir
yang penting adalah kontribusi epistemologi presensial bagi dialog lintas
tradisi filsafat. Dengan menggabungkan rasionalitas filosofis, intuisi
presensial, dan metafisika cahaya, filsafat Suhrawardī menawarkan model
epistemologi yang melampaui dikotomi Barat antara rasionalisme dan empirisme.¹²
Model ini
memungkinkan dialog produktif dengan fenomenologi, filsafat kesadaran, dan
bahkan kajian spiritualitas kontemporer, tanpa kehilangan ketegasan
filosofisnya. Oleh karena itu, epistemologi presensial tidak hanya relevan
sebagai warisan intelektual Islam, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi
pengembangan epistemologi global yang lebih inklusif.¹³
Footnotes
[1]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 61–63.
[2]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry Corbin
(Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 117–118.
[3]
Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston:
Northwestern University Press, 1999), 32–35.
[4]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 83–85.
[5]
Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary
Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 108–110.
[6]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 45–47.
[7]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 184–186.
[8]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 88–90.
[9]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 94–96.
[10]
Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Oxford
University Press, 1980), 12–15.
[11]
Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University
Press, 1986), 45–48.
[12]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of
Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London:
Routledge, 1996), 446–448.
[13]
Mehdi Aminrazavi, “Philosophy of Illumination and the Question of
Knowledge,” Journal of Islamic Philosophy 4 (2008): 22–24.
9.
Kritik,
Keterbatasan, dan Relevansi Kontemporer
9.1.
Pendahuluan Kritis
Setiap sistem
filsafat, betapapun orisinal dan koherennya, tidak luput dari kritik dan
keterbatasan. Epistemologi presensial dalam filsafat iluminasi yang dirumuskan
oleh Shihab
al-Din Yahya Suhrawardi menghadirkan terobosan penting dalam
teori pengetahuan dengan menegaskan kehadiran langsung dan kesadaran diri
sebagai fondasi epistemik. Namun, justru karena kekhasan inilah epistemologi
presensial memunculkan sejumlah persoalan filosofis yang perlu ditelaah secara
kritis, baik dari sudut pandang epistemologi klasik maupun kontemporer.¹
Bab ini membahas
tiga aspek utama: kritik filosofis terhadap epistemologi presensial,
keterbatasan internal sistem iluminatif, serta relevansi dan potensi
kontribusinya dalam wacana filsafat kontemporer.
9.2.
Kritik terhadap Klaim
Kepastian Epistemik
Salah satu kritik
utama terhadap epistemologi presensial adalah klaimnya mengenai kepastian
epistemik yang tidak dapat keliru. Para kritikus berpendapat bahwa klaim
kepastian absolut berisiko mengaburkan perbedaan antara pengalaman subjektif
dan kebenaran objektif. Jika suatu pengalaman dianggap pasti hanya karena ia
hadir secara langsung, maka batas antara pengetahuan dan ilusi dapat menjadi
kabur.²
Dalam kerangka
epistemologi modern, kebenaran umumnya dikaitkan dengan kemungkinan koreksi dan
falsifikasi. Epistemologi presensial, dengan menempatkan kehadiran sebagai
kriteria kebenaran primer, tampak kurang memberikan ruang bagi mekanisme
koreksi internal pada tingkat pengalaman itu sendiri. Kritik ini menuntut
penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana klaim presensial dapat dibedakan
dari pengalaman psikologis yang menyesatkan.³
9.3.
Masalah
Intersubjektivitas dan Komunikabilitas
Kritik lain yang
signifikan berkaitan dengan persoalan intersubjektivitas. Pengetahuan
presensial bersifat individual dan langsung, sehingga sulit diverifikasi secara
publik. Dalam tradisi epistemologi ilmiah, intersubjektivitas merupakan syarat
penting bagi objektivitas pengetahuan. Ketika pengalaman presensial tidak dapat
diakses secara bersama, muncul pertanyaan mengenai status epistemiknya dalam
ruang diskursus publik.⁴
Suhrawardī memang
menegaskan peran rasio dalam artikulasi dan klarifikasi pengalaman presensial,
tetapi kritik tetap menyatakan bahwa artikulasi konseptual tidak pernah
sepenuhnya memadai untuk merepresentasikan pengalaman langsung. Akibatnya,
terdapat jurang epistemik antara pengalaman presensial dan bahasa filosofis
yang digunakan untuk mengomunikasikannya.⁵
9.4.
Potensi Subjektivisme
dan Elitisme Epistemik
Epistemologi
presensial juga menghadapi tuduhan subjektivisme dan elitisme epistemik. Karena
akses terhadap pengetahuan presensial yang lebih tinggi bergantung pada
kesiapan eksistensial dan tingkat ketercerahan subjek, muncul kesan bahwa hanya
individu tertentu yang memiliki legitimasi epistemik penuh. Hal ini berpotensi
menimbulkan hierarki epistemik yang sulit dipertanggungjawabkan secara
filosofis.⁶
Dari sudut pandang
kritis, struktur hierarkis ini dapat melemahkan klaim universalitas
epistemologi presensial. Jika kebenaran bergantung pada tingkat eksistensi
subjek, maka muncul risiko relativisme eksistensial, di mana kebenaran menjadi
bergantung pada kondisi individual. Kritik ini menuntut klarifikasi lebih
lanjut mengenai batas antara perbedaan derajat pengetahuan dan relativisme
epistemik.⁷
9.5.
Keterbatasan Historis
dan Konseptual
Selain kritik
eksternal, epistemologi presensial juga memiliki keterbatasan historis dan
konseptual. Sistem filsafat iluminasi lahir dalam konteks intelektual abad
pertengahan Islam, dengan asumsi metafisika cahaya yang tidak selalu sejalan
dengan kerangka ontologi modern. Bagi sebagian filsuf kontemporer, metafisika
cahaya Suhrawardī dipandang terlalu simbolik dan sulit diintegrasikan secara
langsung dengan bahasa filsafat analitik.⁸
Namun, keterbatasan
ini tidak serta-merta meniadakan nilai filosofis epistemologi presensial.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa setiap sistem filsafat beroperasi dalam
horizon historis tertentu dan memerlukan reinterpretasi kreatif agar tetap
relevan.⁹
9.6.
Relevansi Epistemologi
Presensial dalam Filsafat Kontemporer
Terlepas dari
berbagai kritik dan keterbatasannya, epistemologi presensial memiliki relevansi
yang signifikan dalam filsafat kontemporer. Dalam kajian filsafat kesadaran,
misalnya, kritik terhadap representasionalisme dan kebangkitan minat pada
pengalaman pra-reflektif menunjukkan kedekatan dengan gagasan pengetahuan
presensial.¹⁰
Selain itu,
epistemologi presensial menawarkan alternatif terhadap dominasi epistemologi
naturalistik yang cenderung mereduksi kesadaran menjadi fenomena fisik. Dengan
menegaskan kesadaran sebagai fakta ontologis primer, filsafat iluminasi
memberikan landasan filosofis bagi pendekatan non-reduksionis dalam memahami
pikiran dan pengalaman.¹¹
Sintesis
Kritis dan Prospek Pengembangan
Sintesis kritis
terhadap epistemologi presensial menunjukkan bahwa kekuatan utamanya terletak
pada penekanannya terhadap dimensi eksistensial pengetahuan, sementara
keterbatasannya muncul ketika ia dihadapkan pada tuntutan verifikasi publik dan
analisis konseptual modern. Tantangan utama bagi pengembangan epistemologi
presensial adalah bagaimana merumuskan ulang konsep kehadiran dan kesadaran
diri dalam bahasa filosofis yang dapat berdialog dengan epistemologi
kontemporer tanpa kehilangan inti iluminatifnya.¹²
Dengan pendekatan
yang terbuka dan reflektif, epistemologi presensial Suhrawardī dapat dipahami
bukan sebagai sistem tertutup, melainkan sebagai sumber inspirasi filosofis yang
terus dapat dikembangkan. Dalam konteks ini, relevansinya terletak bukan pada
klaim finalitas, tetapi pada kemampuannya menantang asumsi-asumsi dasar
epistemologi modern dan memperluas horizon pemahaman tentang pengetahuan.¹³
Footnotes
[1]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 65–67.
[2]
Laurence BonJour, Epistemology: Classic Problems and Contemporary
Responses (Lanham: Rowman & Littlefield, 2010), 112–114.
[3]
Robert Audi, Epistemology: A Contemporary Introduction to the
Theory of Knowledge (London: Routledge, 2011), 89–92.
[4]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 188–190.
[5]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 86–88.
[6]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 92–94.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 98–100.
[8]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 49–51.
[9]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of
Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London:
Routledge, 1996), 449–451.
[10]
Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston:
Northwestern University Press, 1999), 41–44.
[11]
Thomas Nagel, The View from Nowhere (Oxford: Oxford University
Press, 1986), 49–52.
[12]
Bas C. van Fraassen, The Scientific Image (Oxford: Oxford
University Press, 1980), 18–20.
[13]
Mehdi Aminrazavi, “Philosophy of Illumination and Contemporary
Thought,” Journal of Islamic Philosophy 5 (2009): 30–33.
10. Penutup
10.1.
Simpulan Umum
Kajian ini menunjukkan
bahwa epistemologi presensial (ʿilm ḥuḍūrī) merupakan salah satu prinsip paling
fundamental dalam sistem filsafat iluminasi yang dirumuskan oleh Shihab
al-Din Yahya Suhrawardi. Berbeda dari epistemologi
representasional yang menempatkan pengetahuan sebagai hasil mediasi konsep dan
abstraksi intelektual, epistemologi presensial menegaskan bahwa bentuk
pengetahuan yang paling dasar bersumber dari kehadiran langsung realitas bagi
subjek yang mengetahui. Pengetahuan, dalam pengertian ini, bukan sekadar relasi
kognitif, melainkan modus keberadaan yang bersifat eksistensial.¹
Kesadaran diri
terbukti menjadi paradigma utama pengetahuan presensial. Subjek mengetahui
dirinya bukan melalui refleksi atau inferensi, melainkan melalui kehadiran
dirinya sendiri sebagai realitas sadar. Dari kesadaran diri inilah seluruh
bentuk pengetahuan lain memperoleh landasan ontologis dan epistemiknya. Dengan
demikian, epistemologi presensial berfungsi sebagai fondasi bagi pengetahuan
representasional, bukan sebaliknya.²
10.2.
Sintesis Epistemologi
dan Metafisika Cahaya
Pembahasan dalam
bab-bab sebelumnya menegaskan bahwa epistemologi presensial tidak dapat
dipisahkan dari metafisika cahaya (nūr). Cahaya, sebagai realitas yang
menampakkan dirinya sendiri dan yang lain, menjadi prinsip ontologis sekaligus
epistemologis. Pengetahuan presensial muncul sebagai konsekuensi langsung dari
struktur realitas yang bersifat terang dan hadir.³
Sintesis antara
epistemologi dan metafisika ini menunjukkan bahwa dalam filsafat iluminasi,
mengetahui dan ada berada dalam satu kontinum. Semakin tinggi intensitas
keberadaan suatu entitas, semakin jelas dan pasti pengetahuan yang dimilikinya.
Dengan kerangka ini, kebenaran tidak dipahami secara biner, melainkan
berjenjang sesuai dengan tingkat ketercerahan eksistensial.⁴
10.3.
Kontribusi Teoretis
Epistemologi Presensial
Secara teoretis,
epistemologi presensial memberikan kontribusi penting bagi pengembangan
epistemologi filsafat Islam dan dialog lintas tradisi. Pertama, ia menawarkan
kritik mendasar terhadap reduksionisme epistemik yang membatasi pengetahuan
pada representasi konseptual atau data empiris. Kedua, ia memperluas horizon
epistemologi dengan mengakui pengalaman langsung dan kesadaran diri sebagai
sumber pengetahuan yang sah dan fundamental.⁵
Dalam konteks
filsafat global, epistemologi presensial dapat dibaca sebagai alternatif
terhadap dikotomi rasionalisme dan empirisme, sekaligus sebagai mitra dialog
bagi fenomenologi dan filsafat kesadaran kontemporer. Dengan menempatkan
kehadiran eksistensial sebagai pusat epistemologi, filsafat iluminasi
memberikan perspektif yang kaya dan berbeda dalam memahami hakikat
pengetahuan.⁶
10.4.
Keterbatasan dan
Tantangan Lanjutan
Meskipun memiliki
kekuatan konseptual yang signifikan, epistemologi presensial juga menghadapi
keterbatasan. Persoalan intersubjektivitas, komunikasi pengalaman presensial,
serta integrasinya dengan kerangka epistemologi modern tetap menjadi tantangan
filosofis yang serius. Selain itu, bahasa simbolik metafisika cahaya menuntut
upaya hermeneutis agar tetap dapat dipahami dan relevan dalam konteks
kontemporer.⁷
Namun, keterbatasan
tersebut tidak harus dipahami sebagai kelemahan fatal, melainkan sebagai
indikasi bahwa epistemologi presensial bersifat terbuka untuk pengembangan dan
reinterpretasi. Sebagaimana sistem filsafat besar lainnya, nilai epistemologi
presensial terletak pada kemampuannya memicu refleksi kritis dan memperluas
kemungkinan pemikiran filosofis.⁸
Penutup
Reflektif
Sebagai penutup,
dapat ditegaskan bahwa epistemologi presensial Suhrawardī menghadirkan visi
pengetahuan yang bersifat eksistensial, iluminatif, dan transformatif.
Pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai
proses ketercerahan diri yang berakar pada kesadaran dan keberadaan. Dalam
dunia modern yang cenderung memisahkan pengetahuan dari makna eksistensial,
filsafat iluminasi menawarkan pengingat penting bahwa mengetahui pada akhirnya
berkaitan erat dengan cara manusia hadir di dalam realitas.⁹
Dengan demikian,
kajian ini diharapkan tidak hanya memperkaya pemahaman akademik tentang
epistemologi presensial, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih luas
antara filsafat Islam klasik dan problem-problem epistemologis kontemporer.
Footnotes
[1]
Hossein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardī’s
Ḥikmat al-Ishrāq (Atlanta: Scholars Press, 1990), 69–71.
[2]
Shihab al-Din Yahya Suhrawardī, Ḥikmat al-Ishrāq, ed. Henry
Corbin (Tehran: Institute of Iranian Philosophy, 1976), 119–121.
[3]
Henry Corbin, En Islam iranien: aspects spirituels et
philosophiques, vol. 2 (Paris: Gallimard, 1971), 52–54.
[4]
John Walbridge, The Wisdom of the Mystic East: Suhrawardī and
Platonic Orientalism (Albany: SUNY Press, 2001), 89–91.
[5]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 192–194.
[6]
Dan Zahavi, Self-Awareness and Alterity (Evanston:
Northwestern University Press, 1999), 47–49.
[7]
Mehdi Aminrazavi, Suhrawardī and the School of Illumination
(Richmond: Curzon Press, 1997), 96–98.
[8]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 101–103.
[9]
Hossein Ziai, “Illuminationist Philosophy,” dalam History of
Islamic Philosophy, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (London:
Routledge, 1996), 452–454.
Daftar Pustaka
Aminrazavi, M. (1997). Suhrawardī and the school
of illumination. Curzon Press.
Aminrazavi, M. (2004). Islamic philosophy and
the ethics of belief. I.B. Tauris.
Aminrazavi, M. (2008). Philosophy of illumination
and the question of knowledge. Journal of Islamic Philosophy, 4, 15–30.
Aminrazavi, M. (2009). Philosophy of illumination
and contemporary thought. Journal of Islamic Philosophy, 5, 25–35.
Audi, R. (2011). Epistemology: A contemporary
introduction to the theory of knowledge (3rd ed.). Routledge.
BonJour, L. (2010). Epistemology: Classic
problems and contemporary responses. Rowman & Littlefield.
Corbin, H. (1971). En Islam iranien: Aspects
spirituels et philosophiques (Vol. 2). Gallimard.
Corbin, H. (1977). Spiritual body and celestial
earth (N. Pearson, Trans.). Princeton University Press.
Descartes, R. (1996). Meditations on first
philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press. (Original
work published 1641)
Gutas, D. (1988). Avicenna and the Aristotelian
tradition: Introduction to reading Avicenna’s philosophical works. Brill.
Hume, D. (2007). An enquiry concerning human
understanding. Oxford University Press. (Original work published 1748)
Husserl, E. (1982). Ideas pertaining to a pure
phenomenology and to a phenomenological philosophy (F. Kersten, Trans.).
Martinus Nijhoff.
Leaman, O. (2002). An introduction to classical
Islamic philosophy. Cambridge University Press.
Nagel, T. (1986). The view from nowhere.
Oxford University Press.
Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its
origin to the present: Philosophy in the land of prophecy. State University
of New York Press.
Suhrawardī, S. al-D. Y. (1976). Ḥikmat al-Ishrāq
(H. Corbin, Ed.). Institute of Iranian Philosophy.
van Fraassen, B. C. (1980). The scientific image.
Oxford University Press.
Walbridge, J. (2000). The leaven of the
ancients: Suhrawardī and the heritage of the Greeks. State University of
New York Press.
Walbridge, J. (2001). The wisdom of the mystic
East: Suhrawardī and Platonic orientalism. State University of New York
Press.
Zahavi, D. (1999). Self-awareness and alterity:
A phenomenological investigation. Northwestern University Press.
Ziai, H. (1989). Knowledge and self-awareness in
illuminationist philosophy. Iranian Studies, 22(1), 33–45.
Ziai, H. (1990). Knowledge and illumination: A
study of Suhrawardī’s Ḥikmat al-Ishrāq. Scholars Press.
Ziai, H. (1996). Illuminationist philosophy. In S.
H. Nasr & O. Leaman (Eds.), History of Islamic philosophy (pp.
434–454). Routledge.
Ziai, H. (2005). Knowledge and illumination. In P.
Adamson & R. C. Taylor (Eds.), The Cambridge companion to Arabic
philosophy (pp. 199–210). Cambridge University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar