Selasa, 10 Februari 2026

Sains Islam: Epistemologi, Sejarah, dan Relevansinya dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Sains Islam

Epistemologi, Sejarah, dan Relevansinya dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan Kontemporer


Abstrak

Artikel ini mengkaji konsep Sains Islam sebagai suatu paradigma keilmuan yang berakar pada pandangan dunia Islam dan berupaya mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dalam memahami realitas alam semesta. Berangkat dari kritik terhadap sekularisasi dan reduksionisme sains modern Barat, kajian ini menelusuri fondasi epistemologis Sains Islam, perkembangan historisnya dalam peradaban Islam, serta metodologi ilmiah dan dimensi etika yang menyertainya. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis historis, filosofis, dan komparatif, artikel ini menunjukkan bahwa Sains Islam bukanlah penolakan terhadap sains modern, melainkan tawaran paradigma alternatif yang bersifat kritis-konstruktif. Sains Islam memandang ilmu pengetahuan tidak netral nilai, tetapi terikat pada tujuan kemaslahatan, tanggung jawab moral, dan kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia. Artikel ini juga membahas tantangan kontemporer yang dihadapi Sains Islam, termasuk problem epistemologis, etika teknologi, krisis ekologis, dan integrasi ilmu dalam konteks global. Pada akhirnya, kajian ini menegaskan bahwa Sains Islam memiliki potensi signifikan untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan global yang lebih holistik, etis, dan bermakna, selama ia dikembangkan secara terbuka, dialogis, dan reflektif terhadap kritik internal maupun eksternal.

Kata Kunci: Sains Islam; Epistemologi Islam; Filsafat Sains; Ilmu Pengetahuan; Etika Sains; Integrasi Ilmu.


PEMBAHASAN

Konsep Sains Islam sebagai Paradigma Keilmuan dalam Dunia Islam


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan modern tidak dapat dilepaskan dari paradigma epistemologis yang berkembang di Barat sejak masa Renaisans dan Pencerahan. Paradigma tersebut menempatkan rasionalitas dan empirisme sebagai fondasi utama pengetahuan ilmiah, sementara wahyu dan metafisika secara gradual dikeluarkan dari ranah sains. Akibatnya, sains modern tumbuh dalam kerangka sekular yang memisahkan ilmu pengetahuan dari dimensi teologis dan nilai-nilai transenden.¹

Di sisi lain, tradisi intelektual Islam sejak awal kemunculannya justru menempatkan pencarian ilmu sebagai aktivitas yang bernilai religius. Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya mendorong umat Islam untuk beriman, tetapi juga untuk berpikir, mengamati alam, dan merenungkan keteraturan kosmos sebagai tanda-tanda (āyāt) kebesaran Tuhan.² Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai aktivitas yang netral nilai, melainkan sebagai sarana untuk mengenal realitas secara utuh—baik fisik maupun metafisik.

Namun, dalam diskursus akademik kontemporer, konsep Sains Islam sering kali dipahami secara reduktif atau bahkan disalahpahami. Sebagian kalangan menganggapnya sebagai upaya ideologisasi sains atau sebagai romantisisme terhadap kejayaan ilmiah masa lalu umat Islam.³ Di sisi lain, terdapat pula kecenderungan untuk mengidentikkan Sains Islam semata-mata dengan fakta-fakta ilmiah yang “dibuktikan” oleh ayat-ayat Al-Qur’an, yang pada gilirannya menimbulkan problem metodologis dan hermeneutis.⁴

Padahal, Sains Islam bukanlah sekadar kumpulan temuan ilmiah yang lahir di dunia Islam, juga bukan sekadar upaya pembenaran teks wahyu melalui temuan empiris modern. Ia merupakan sebuah kerangka epistemologis dan aksiologis yang memandang sains sebagai aktivitas manusia yang berakar pada tauhid, terikat oleh etika, dan diarahkan pada kemaslahatan.⁵ Oleh karena itu, kajian tentang Sains Islam menuntut pendekatan yang lebih mendalam, kritis, dan filosofis.

Dalam konteks global saat ini—yang ditandai oleh krisis lingkungan, problem etika teknologi, dan alienasi manusia akibat reduksionisme ilmiah—diskursus Sains Islam menjadi semakin relevan. Ia menawarkan perspektif alternatif yang berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan nilai-nilai moral dan spiritual, tanpa menafikan metodologi ilmiah yang rasional dan objektif.⁶ Atas dasar inilah, kajian ini disusun sebagai upaya akademik untuk memahami Sains Islam secara konseptual, historis, dan relevansinya dalam dunia kontemporer.

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan dalam beberapa pertanyaan pokok sebagai berikut:

1)                  Apa yang dimaksud dengan Sains Islam dalam kerangka epistemologi Islam?

2)                  Bagaimana sumber, prinsip, dan metodologi pengetahuan dalam Sains Islam?

3)                  Bagaimana posisi Sains Islam dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan?

4)                  Apa perbedaan mendasar antara Sains Islam dan sains modern Barat?

5)                  Sejauh mana relevansi Sains Islam dalam menghadapi tantangan ilmiah dan etika kontemporer?

1.3.       Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1)                  Menjelaskan konsep dan definisi Sains Islam secara komprehensif.

2)                  Mengkaji dasar epistemologis dan filosofis Sains Islam.

3)                  Menelusuri kontribusi tradisi Islam dalam perkembangan sains.

4)                  Menganalisis relevansi Sains Islam dalam konteks ilmu pengetahuan modern.

Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian filsafat sains Islam, serta manfaat praktis bagi dunia pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai etika dan kemanusiaan.

1.4.       Metodologi dan Pendekatan Kajian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data utama meliputi karya-karya klasik dan kontemporer dalam bidang filsafat Islam, sejarah sains, dan filsafat sains modern. Pendekatan yang digunakan mencakup pendekatan historis untuk menelusuri perkembangan sains dalam peradaban Islam, pendekatan filosofis untuk menganalisis aspek epistemologis dan ontologis, serta pendekatan komparatif untuk membandingkan Sains Islam dengan paradigma sains modern Barat.⁷

1.5.       Sistematika Penulisan

Penulisan artikel ini disusun dalam sepuluh bab. Bab pertama berisi pendahuluan yang menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab kedua hingga kesembilan membahas konsep, epistemologi, sejarah, metodologi, perbandingan, kritik, serta relevansi Sains Islam. Bab terakhir berisi kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi penelitian lanjutan.


Footnotes

[1]                John Hedley Brooke, Science and Religion: Some Historical Perspectives (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 19–21.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 67–69.

[3]                Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 78–80.

[4]                Ziauddin Sardar, Islam, Science and Cultural Relations (London: Routledge, 1987), 45–47.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 1–5.

[6]                Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 112–115.

[7]                Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 98–100.


2.           Konsep Dasar dan Definisi Sains Islam

2.1.       Pengertian “Sains” dalam Tradisi Islam

Dalam tradisi intelektual Islam, istilah sains tidak dapat dipahami secara identik dengan pengertian science dalam paradigma modern Barat. Padanan konseptual yang paling mendekati adalah istilah ‘ilm, yang secara etimologis berarti pengetahuan, pemahaman, atau kesadaran terhadap realitas.¹ Namun, secara epistemologis, ‘ilm dalam Islam memiliki cakupan yang lebih luas daripada sains modern, karena mencakup pengetahuan empiris, rasional, intuitif, dan wahyu.

Para ulama klasik membedakan ilmu berdasarkan objek, metode, dan tujuan. Al-Fārābī dan Ibn Sīnā, misalnya, mengklasifikasikan ilmu ke dalam ilmu teoritis dan praktis, sementara al-Ghazālī membagi ilmu menjadi ‘ulūm naqliyyah (berbasis wahyu) dan ‘ulūm ‘aqliyyah (berbasis akal).² Klasifikasi ini menunjukkan bahwa dalam Islam, tidak terdapat dikotomi ontologis antara ilmu “agama” dan ilmu “dunia”, melainkan perbedaan fungsi dan orientasi.

Dengan demikian, sains dalam Islam tidak berdiri sebagai aktivitas otonom yang terlepas dari makna dan nilai. Ia dipahami sebagai upaya sistematis manusia untuk memahami keteraturan alam (sunnatullāh) melalui akal dan pengalaman empiris, dengan kesadaran bahwa realitas alam bersifat kontingen dan bergantung pada kehendak Tuhan.³

2.2.       Definisi Sains Islam

Secara konseptual, Sains Islam dapat didefinisikan sebagai aktivitas ilmiah yang berlandaskan pada pandangan dunia Islam (Islamic worldview), yang mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dalam memahami alam semesta. Definisi ini menegaskan bahwa Sains Islam bukanlah sains “alternatif” yang menolak metode ilmiah, melainkan sebuah paradigma yang menempatkan sains dalam kerangka metafisik dan etika tauhid.⁴

Seyyed Hossein Nasr mendefinisikan Sains Islam sebagai sains yang “berakar pada prinsip-prinsip metafisika Islam dan memandang alam sebagai tanda-tanda Tuhan yang memiliki makna spiritual.”⁵ Sementara itu, Osman Bakar menekankan bahwa Sains Islam merupakan sistem pengetahuan yang bersifat integratif, di mana sains, filsafat, dan agama tidak saling menegasikan, tetapi saling melengkapi.⁶

Penting untuk membedakan Sains Islam dari beberapa konsep yang sering kali disamakan dengannya. Pertama, science in the Islamic world, yakni sains yang berkembang secara historis di dunia Islam tanpa implikasi filosofis tertentu. Kedua, Islamization of knowledge, yaitu proyek intelektual modern yang bertujuan merekonstruksi ilmu pengetahuan kontemporer agar selaras dengan nilai-nilai Islam.⁷ Sains Islam, dalam pengertian filosofis, lebih mendasar daripada keduanya karena menyangkut paradigma dan kerangka epistemologis.

2.3.       Ciri-Ciri Fundamental Sains Islam

Sains Islam memiliki sejumlah ciri fundamental yang membedakannya dari paradigma sains sekular modern.

Pertama, tauhid sebagai prinsip ontologis. Tauhid menegaskan kesatuan sumber realitas dan keteraturan alam. Alam semesta dipahami sebagai satu sistem kosmik yang terintegrasi, bukan sekadar kumpulan fenomena material yang berdiri sendiri.⁸

Kedua, integrasi sumber pengetahuan. Dalam Sains Islam, wahyu, akal, dan indra tidak dipertentangkan. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi dan kerangka makna, sementara akal dan pengalaman empiris berperan dalam analisis dan verifikasi fenomena alam.⁹

Ketiga, dimensi etika dan tujuan ilmu. Aktivitas ilmiah tidak dipandang netral nilai. Ilmu harus diarahkan pada kemaslahatan manusia dan keseimbangan kosmos, serta dibatasi oleh pertimbangan moral dan tanggung jawab sosial.¹⁰

Keempat, pengakuan atas keterbatasan pengetahuan manusia. Berbeda dengan klaim absolutisme ilmiah, Sains Islam mengakui bahwa pengetahuan manusia bersifat relatif, terbuka untuk koreksi, dan tidak pernah sepenuhnya menangkap realitas secara total.¹¹

2.4.       Relasi Sains, Agama, dan Filsafat dalam Islam

Dalam kerangka Sains Islam, sains, agama, dan filsafat membentuk suatu kesatuan epistemik. Agama menyediakan dasar metafisik dan etis, filsafat berperan dalam refleksi kritis dan konseptualisasi, sementara sains menjalankan fungsi investigasi empiris terhadap alam. Hubungan ini bersifat dialogis dan saling mengoreksi, bukan hierarkis atau eksklusif.¹²

Model relasi semacam ini memungkinkan berkembangnya tradisi ilmiah yang rasional sekaligus bermakna, sebagaimana tercermin dalam karya-karya ilmuwan Muslim klasik yang menggabungkan observasi empiris dengan refleksi metafisik. Dengan demikian, Sains Islam tidak menolak objektivitas ilmiah, tetapi menolak klaim bahwa objektivitas harus dicapai dengan menyingkirkan nilai dan makna.¹³

2.5.       Posisi Konseptual Sains Islam dalam Wacana Ilmu Pengetahuan

Secara konseptual, Sains Islam menempati posisi kritis-konstruktif dalam wacana ilmu pengetahuan global. Ia tidak bersikap antagonistik terhadap sains modern, tetapi juga tidak menerimanya secara dogmatis. Sains Islam berupaya melakukan dialog epistemologis dengan sains modern, sambil menawarkan koreksi terhadap reduksionisme, materialisme, dan sekularisme yang melekat pada paradigma ilmiah kontemporer.¹⁴

Dengan demikian, Sains Islam dapat dipahami sebagai paradigma terbuka yang terus berkembang, bukan sebagai sistem tertutup yang beku. Ia bersifat historis, kontekstual, dan selalu dapat direvisi seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia, selama tetap berakar pada prinsip-prinsip dasar Islam.¹⁵


Footnotes

[1]                Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam (Leiden: Brill, 1970), 13–15.

[2]                Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 1 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, n.d.), 33–35.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 71–73.

[4]                Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge: Islamic Texts Society, 1998), 5–7.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 2–4.

[6]                Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 9–11.

[7]                Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan (Herndon, VA: IIIT, 1982), 21–23.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981), 134–136.

[9]                Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga, 2007), 45–48.

[10]             Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 210–212.

[11]             Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 102–104.

[12]             Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 56–58.

[13]             Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 54–56.

[14]             Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 3–6.

[15]             Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 187–189.


3.           Epistemologi Sains Islam

3.1.       Epistemologi sebagai Kerangka Dasar Ilmu

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas sumber, validitas, batas, dan metode pengetahuan. Dalam konteks sains, epistemologi menentukan apa yang dianggap sebagai pengetahuan ilmiah yang sah, bagaimana pengetahuan diperoleh, serta kriteria kebenarannya. Sains modern Barat umumnya bertumpu pada empirisme dan rasionalisme, dengan kecenderungan positivistik yang membatasi pengetahuan pada yang teramati dan terukur.¹

Berbeda dari paradigma tersebut, epistemologi Sains Islam dibangun di atas pandangan dunia (worldview) Islam yang menempatkan realitas sebagai kesatuan bertingkat, mencakup dimensi fisik dan metafisik. Oleh karena itu, pengetahuan tidak direduksi pada aspek empiris semata, melainkan dipahami sebagai hasil interaksi harmonis antara wahyu, akal, dan pengalaman inderawi.²

3.2.       Sumber-Sumber Pengetahuan dalam Sains Islam

3.2.1.    Wahyu sebagai Sumber Primer Orientatif

Dalam epistemologi Islam, wahyu menempati posisi fundamental sebagai sumber pengetahuan yang bersifat absolut dalam hal prinsip-prinsip metafisik, etika, dan tujuan hidup manusia. Al-Qur’an tidak berfungsi sebagai buku teks sains, tetapi sebagai sumber orientasi epistemik yang memberikan kerangka makna dan arah bagi aktivitas ilmiah.³

Wahyu menetapkan asumsi dasar tentang realitas—seperti keteraturan alam, kausalitas yang bersifat kontingen, dan keterbatasan pengetahuan manusia—yang menjadi landasan filosofis bagi pengembangan sains. Dengan demikian, wahyu tidak menggantikan kerja akal dan observasi, melainkan mengarahkan dan membimbingnya agar tidak terlepas dari tujuan moral dan spiritual.⁴

3.2.2.    Akal sebagai Instrumen Rasional

Akal (‘aql) memiliki peran sentral dalam epistemologi Sains Islam. Melalui akal, manusia melakukan analisis logis, penalaran kausal, dan sintesis konseptual terhadap data empiris. Tradisi intelektual Islam klasik menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap rasionalitas, sebagaimana tercermin dalam karya-karya filsafat dan sains para ilmuwan Muslim.⁵

Namun, akal dalam Islam tidak diposisikan sebagai otoritas epistemik tertinggi yang absolut. Ia dipahami sebagai instrumen yang kuat tetapi terbatas, sehingga memerlukan bimbingan wahyu dan koreksi pengalaman empiris. Pendekatan ini memungkinkan sikap rasional yang kritis tanpa jatuh pada rasionalisme ekstrem.⁶

3.2.3.    Pengalaman Empiris dan Indra

Pengamatan inderawi dan eksperimen merupakan sumber pengetahuan penting dalam Sains Islam, terutama dalam kajian alam (‘ilm al-ṭabī‘ah). Al-Qur’an sendiri mendorong manusia untuk mengamati fenomena alam sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan. Hal ini menunjukkan legitimasi epistemologis pengalaman empiris dalam Islam.⁷

Para ilmuwan Muslim klasik mengembangkan metode observasi dan eksperimen secara sistematis, terutama dalam bidang kedokteran, astronomi, dan kimia. Dengan demikian, Sains Islam tidak menolak empirisme, tetapi menempatkannya dalam kerangka epistemik yang lebih luas dan bermakna.⁸

3.3.       Prinsip-Prinsip Epistemologis Sains Islam

3.3.1.    Prinsip Tauhid

Tauhid merupakan prinsip epistemologis utama dalam Sains Islam. Ia menegaskan kesatuan sumber kebenaran dan keterpaduan realitas. Pengetahuan tentang alam tidak dipisahkan dari pengetahuan tentang Tuhan, karena keduanya berakar pada realitas yang sama. Prinsip ini mencegah fragmentasi ilmu dan mendorong pendekatan holistik dalam memahami alam semesta.⁹

3.3.2.    Keteraturan Alam dan Sunnatullah

Epistemologi Sains Islam mengakui adanya keteraturan dan hukum-hukum alam (sunnatullāh) yang dapat dipelajari melalui observasi dan rasio. Namun, keteraturan ini dipahami sebagai manifestasi kehendak Tuhan, bukan sebagai mekanisme otonom yang berdiri sendiri. Dengan demikian, kausalitas bersifat relatif dan kontingen, bukan mutlak.¹⁰

3.3.3.    Relativitas dan Keterbukaan Pengetahuan

Pengetahuan manusia dalam Sains Islam dipahami bersifat tentatif dan terbuka terhadap koreksi. Tidak ada klaim finalitas ilmiah yang absolut, kecuali pada prinsip-prinsip wahyu. Sikap epistemik ini mendorong kerendahan intelektual (intellectual humility) dan keterbukaan terhadap dialog serta pengembangan ilmu.¹¹

3.4.       Kriteria Kebenaran dalam Sains Islam

Dalam Sains Islam, kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh satu kriteria tunggal. Kebenaran empiris diuji melalui korespondensi dengan fakta dan konsistensi logis, sementara kebenaran metafisik dan etis diukur melalui kesesuaiannya dengan prinsip wahyu. Pendekatan pluralistik ini memungkinkan integrasi antara validitas ilmiah dan nilai moral.¹²

Model kebenaran semacam ini berbeda dari positivisme ilmiah yang membatasi kebenaran pada verifikasi empiris semata. Sains Islam menolak reduksi tersebut tanpa menafikan pentingnya objektivitas dan metodologi ilmiah.¹³

3.5.       Epistemologi Sains Islam dan Kritik terhadap Positivisme

Salah satu kontribusi penting epistemologi Sains Islam adalah kritiknya terhadap positivisme dan materialisme ilmiah. Positivisme cenderung menyingkirkan dimensi makna, nilai, dan tujuan dari sains, sehingga menghasilkan pengetahuan yang efektif secara teknis tetapi miskin secara etis.¹⁴

Epistemologi Sains Islam menawarkan koreksi dengan menegaskan bahwa sains harus berakar pada pandangan hidup yang bermakna dan bertanggung jawab. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak hanya berfungsi untuk menguasai alam, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan kosmos dan martabat manusia.¹⁵


Footnotes

[1]                Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 87–90.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 21–24.

[3]                Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 14–16.

[4]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 33–36.

[5]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York: Columbia University Press, 2004), 97–100.

[6]                Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga, 2007), 52–55.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 78–80.

[8]                Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 41–44.

[9]                Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 3–5.

[10]             Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 13–15.

[11]             Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 206–208.

[12]             Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (San Francisco: Harper & Row, 1990), 104–106.

[13]             Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 78–80.

[14]             Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 11–14.

[15]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study (London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 9–11.


4.           Sejarah Perkembangan Sains dalam Peradaban Islam

4.1.       Latar Historis Lahirnya Tradisi Sains Islam

Perkembangan sains dalam peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks teologis dan kultural Islam sejak abad ke-7 M. Wahyu pertama yang menekankan perintah membaca (iqra’) menjadi fondasi simbolik bagi tumbuhnya tradisi intelektual yang menghargai ilmu pengetahuan. Dorongan keagamaan ini melahirkan etos keilmuan yang memandang pencarian ilmu sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi.¹

Sejak masa awal Islam, perhatian terhadap pengetahuan tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga meluas ke bidang-bidang rasional dan empiris. Kebutuhan praktis—seperti penentuan waktu ibadah, arah kiblat, pengelolaan kesehatan, dan administrasi pemerintahan—turut mendorong berkembangnya kajian astronomi, matematika, dan kedokteran.² Dengan demikian, sains dalam Islam lahir dari integrasi antara motivasi religius dan kebutuhan sosial.

4.2.       Gerakan Penerjemahan dan Asimilasi Ilmu

Perkembangan signifikan sains Islam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya sejak abad ke-8 hingga ke-10 M. Pada periode ini, berlangsung gerakan penerjemahan besar-besaran karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Gerakan ini tidak sekadar bersifat transfer pengetahuan, tetapi juga proses asimilasi dan transformasi epistemologis.³

Lembaga seperti Bayt al-Ḥikmah di Baghdad berperan penting sebagai pusat penerjemahan, penelitian, dan diskusi ilmiah. Karya-karya Aristoteles, Galen, Ptolemaios, dan Euclid dipelajari, dikritisi, dan dikembangkan dalam kerangka pandangan dunia Islam.⁴ Hal ini menunjukkan bahwa tradisi sains Islam tidak bersifat imitasi pasif, melainkan aktif dan kreatif.

4.3.       Institusionalisasi Ilmu dan Tradisi Keilmuan

Selain pusat penerjemahan, peradaban Islam mengembangkan berbagai institusi keilmuan yang menopang kemajuan sains. Madrasah, rumah sakit (bīmāristān), observatorium, dan perpustakaan menjadi ruang penting bagi produksi dan transmisi ilmu pengetahuan.⁵

Madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga membuka ruang bagi kajian filsafat, matematika, dan sains alam. Sementara itu, rumah sakit berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran yang mengintegrasikan teori dan praktik klinis. Observatorium seperti di Maragha dan Samarkand menjadi tempat pengembangan astronomi berbasis observasi sistematis.⁶

4.4.       Kontribusi Ilmuwan Muslim dalam Berbagai Bidang Sains

Peradaban Islam melahirkan banyak ilmuwan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan sains dunia. Dalam bidang matematika, konsep aljabar dan algoritma dikembangkan secara sistematis. Dalam astronomi, pengamatan empiris menghasilkan koreksi terhadap model geosentris Ptolemaios.⁷

Dalam kedokteran, karya-karya ensiklopedis tentang penyakit, farmakologi, dan anatomi menjadi rujukan utama di dunia Islam dan Eropa selama berabad-abad. Dalam kimia dan fisika, eksperimen laboratorium mulai digunakan sebagai metode ilmiah untuk memahami sifat materi. Kontribusi-kontribusi ini menunjukkan bahwa sains Islam bersifat empiris, rasional, dan metodologis.⁸

4.5.       Karakter Epistemologis Sains Islam Klasik

Sains Islam klasik memiliki karakter epistemologis yang khas. Pertama, ia bersifat integratif, menggabungkan observasi empiris dengan refleksi filosofis dan metafisik. Kedua, ia berlandaskan etika ilmiah yang menempatkan ilmu sebagai sarana kemaslahatan, bukan dominasi. Ketiga, ia terbuka terhadap kritik dan koreksi, sebagaimana tampak dalam tradisi perdebatan ilmiah yang hidup di kalangan ulama dan ilmuwan.⁹

Karakter ini membedakan sains Islam dari sains modern awal di Eropa yang kemudian berkembang ke arah sekularisasi epistemologis. Dalam sains Islam, rasionalitas tidak bertentangan dengan religiositas, melainkan berjalan seiring dalam satu kesatuan pandangan dunia.¹⁰

4.6.       Faktor Kemunduran dan Transformasi Tradisi Sains Islam

Sejak abad ke-13 M, dinamika sains dalam dunia Islam mengalami perubahan signifikan. Berbagai faktor internal dan eksternal—seperti instabilitas politik, invasi Mongol, perubahan pola patronase ilmu, serta pergeseran orientasi pendidikan—berkontribusi terhadap melemahnya institusi ilmiah.¹¹

Namun, kemunduran ini tidak dapat dipahami sebagai berhentinya aktivitas ilmiah secara total. Tradisi sains Islam mengalami transformasi dan fragmentasi, sementara sebagian warisan intelektualnya ditransmisikan ke Eropa dan berperan penting dalam kebangkitan sains modern.¹² Dengan demikian, sejarah sains Islam tidak berakhir dalam stagnasi mutlak, melainkan berlanjut dalam bentuk yang berbeda.

4.7.       Signifikansi Historis Sains Islam bagi Ilmu Pengetahuan Global

Secara historis, sains Islam berfungsi sebagai mata rantai penting antara tradisi ilmu kuno dan sains modern. Ia menyediakan metodologi, konsep, dan institusi yang memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan secara berkelanjutan. Lebih dari itu, sains Islam menunjukkan bahwa kemajuan ilmiah dapat tumbuh subur dalam kerangka religius tanpa kehilangan rasionalitas dan objektivitas.¹³

Signifikansi ini menegaskan bahwa Sains Islam bukan sekadar fenomena historis, melainkan sumber inspirasi konseptual bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih etis dan bermakna di masa kini.¹⁴


Footnotes

[1]                Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam (Leiden: Brill, 1970), 1–5.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 9–11.

[3]                Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture (London: Routledge, 1998), 20–23.

[4]                George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 32–35.

[5]                Jonathan P. Berkey, The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo (Princeton: Princeton University Press, 1992), 44–47.

[6]                Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 55–58.

[7]                Roshdi Rashed, The Development of Arabic Mathematics (Dordrecht: Kluwer, 1994), 61–64.

[8]                Fuat Sezgin, Science and Technology in Islam, vol. 1 (Frankfurt: Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften, 2006), 17–20.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 38–41.

[10]             Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 82–85.

[11]             Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 92–95.

[12]             George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance, 180–183.

[13]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study (London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 3–6.

[14]             Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 119–121.


5.           Metodologi Ilmiah dalam Sains Islam

5.1.       Metodologi sebagai Jantung Aktivitas Ilmiah

Metodologi ilmiah merupakan seperangkat prinsip dan prosedur sistematis yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam Sains Islam, metodologi tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis untuk memperoleh data, tetapi juga sebagai ekspresi dari pandangan dunia Islam yang mengintegrasikan rasionalitas, empirisme, dan etika. Oleh karena itu, metodologi ilmiah dalam Sains Islam tidak bersifat netral nilai, melainkan terarah pada tujuan epistemik dan aksiologis tertentu.¹

Berbeda dengan sains modern yang cenderung memisahkan metodologi dari pertimbangan metafisik dan moral, Sains Islam memandang metode sebagai bagian integral dari visi tauhid. Cara memperoleh pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang hakikat realitas, kedudukan manusia sebagai subjek pengetahuan, dan tanggung jawab moral ilmuwan.²

5.2.       Observasi dan Eksperimen dalam Sains Islam

Observasi (mulāḥaẓah) dan eksperimen (tajribah) merupakan metode penting dalam tradisi sains Islam, terutama dalam kajian alam dan kedokteran. Para ilmuwan Muslim klasik menekankan pentingnya pengamatan langsung terhadap fenomena alam dan pengujian empiris terhadap hipotesis. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Sains Islam tidak bersifat spekulatif semata, tetapi berakar kuat pada realitas empiris.³

Metode eksperimen digunakan secara sistematis dalam berbagai bidang, seperti kedokteran dan kimia. Dalam konteks ini, pengalaman empiris dipahami sebagai sarana untuk membaca tanda-tanda Tuhan di alam, bukan sebagai sumber kebenaran yang berdiri sendiri. Dengan demikian, observasi dan eksperimen ditempatkan dalam kerangka epistemologis yang lebih luas dan bermakna.⁴

5.3.       Peran Rasionalitas dan Analisis Logis

Rasionalitas memainkan peran sentral dalam metodologi Sains Islam. Akal digunakan untuk menyusun hipotesis, menarik kesimpulan, dan membangun teori yang koheren berdasarkan data empiris. Tradisi logika (manṭiq) yang berkembang dalam filsafat Islam menyediakan perangkat analitis yang penting bagi aktivitas ilmiah.⁵

Namun, penggunaan rasio dalam Sains Islam dibatasi oleh kesadaran akan keterbatasannya. Rasionalitas tidak dipahami sebagai otoritas epistemik yang absolut, melainkan sebagai instrumen yang harus selaras dengan wahyu dan realitas empiris. Pendekatan ini mencegah dominasi rasionalisme ekstrem sekaligus menghindari anti-intelektualisme.⁶

5.4.       Integrasi Wahyu dan Metode Ilmiah

Salah satu ciri khas metodologi Sains Islam adalah integrasi wahyu dengan metode ilmiah. Wahyu tidak berfungsi sebagai pengganti observasi dan eksperimen, tetapi sebagai sumber orientasi yang menetapkan asumsi dasar tentang realitas, tujuan ilmu, dan batas-batas etika penelitian.⁷

Dalam praktik ilmiah, integrasi ini tercermin dalam sikap kehati-hatian metodologis, kesadaran moral, dan penolakan terhadap klaim absolutisme ilmiah. Wahyu memberikan kerangka normatif yang menjaga agar aktivitas ilmiah tidak terlepas dari tanggung jawab kemanusiaan dan keseimbangan kosmos.⁸

5.5.       Etika sebagai Dimensi Metodologis

Dalam Sains Islam, etika bukanlah aspek eksternal yang ditambahkan setelah proses ilmiah selesai, melainkan bagian inheren dari metodologi. Aktivitas ilmiah harus mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, dan moral dari pengetahuan yang dihasilkan. Prinsip kemaslahatan (maṣlaḥah) dan pencegahan kerusakan (mafsadah) menjadi pedoman penting dalam penerapan ilmu.⁹

Pendekatan ini berbeda secara fundamental dari paradigma teknokratis yang menilai keberhasilan sains semata-mata berdasarkan efektivitas dan utilitas teknis. Dalam Sains Islam, metode ilmiah dinilai tidak hanya dari segi keakuratan empiris, tetapi juga dari kontribusinya terhadap keadilan, keseimbangan, dan martabat manusia.¹⁰

5.6.       Objektivitas dan Subjektivitas dalam Sains Islam

Sains Islam mengakui pentingnya objektivitas metodologis, seperti konsistensi logis, verifikasi empiris, dan keterulangan hasil. Namun, ia juga menyadari bahwa aktivitas ilmiah selalu melibatkan subjek manusia dengan asumsi, nilai, dan keterbatasan tertentu. Oleh karena itu, klaim objektivitas absolut dipandang problematis.¹¹

Pendekatan ini mendorong refleksi kritis terhadap asumsi-asumsi epistemik dan ideologis yang melatarbelakangi praktik ilmiah. Dengan demikian, metodologi Sains Islam bersifat reflektif dan terbuka, memungkinkan koreksi diri dan pengembangan berkelanjutan.¹²

5.7.       Metodologi Sains Islam dalam Perspektif Kontemporer

Dalam konteks kontemporer, metodologi Sains Islam menawarkan alternatif kritis terhadap pendekatan ilmiah yang reduksionistik dan eksploitatif. Integrasi rasionalitas, empirisme, dan etika memungkinkan pengembangan sains yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini menjadi relevan terutama dalam menghadapi tantangan teknologi modern, seperti bioteknologi, kecerdasan buatan, dan krisis lingkungan.¹³

Dengan demikian, metodologi ilmiah dalam Sains Islam tidak hanya memiliki signifikansi historis, tetapi juga potensi normatif untuk merekonstruksi praktik sains di masa depan agar lebih manusiawi dan bermakna.¹⁴


Footnotes

[1]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 61–63.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 27–29.

[3]                Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 67–69.

[4]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 85–87.

[5]                Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York: Columbia University Press, 2004), 109–112.

[6]                Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga, 2007), 59–62.

[7]                Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 19–21.

[8]                Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 41–43.

[9]                Mohammad Hashim Kamali, Principles of Islamic Jurisprudence (Cambridge: Islamic Texts Society, 2003), 351–353.

[10]             Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 214–216.

[11]             Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 110–112.

[12]             Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 84–86.

[13]             Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 98–100.

[14]             Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives, 142–145.


6.           Perbandingan Sains Islam dan Sains Modern Barat

6.1.       Pendahuluan: Kerangka Perbandingan Paradigmatik

Perbandingan antara Sains Islam dan sains modern Barat tidak dimaksudkan untuk menegaskan superioritas salah satu paradigma secara ideologis, melainkan untuk memahami perbedaan asumsi dasar, metode, dan tujuan yang melandasi keduanya. Setiap tradisi sains lahir dari konteks historis dan pandangan dunia tertentu yang membentuk cara manusia memahami realitas. Oleh karena itu, analisis komparatif harus dilakukan secara kritis dan proporsional, dengan memperhatikan dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis masing-masing paradigma.¹

Sains modern Barat berkembang dalam konteks sekularisasi pengetahuan sejak era Renaisans dan Pencerahan, sementara Sains Islam tumbuh dalam kerangka tauhid yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan rasional. Perbedaan konteks ini menghasilkan konsekuensi mendasar dalam cara memandang alam, manusia, dan tujuan ilmu pengetahuan.²

6.2.       Perbandingan Ontologis: Pandangan tentang Realitas

Secara ontologis, Sains Islam memandang realitas sebagai kesatuan bertingkat yang mencakup dimensi fisik dan metafisik. Alam semesta dipahami sebagai ciptaan Tuhan yang bersifat kontingen, teratur, dan bermakna. Setiap fenomena alam tidak hanya memiliki penjelasan kausal, tetapi juga makna simbolik sebagai tanda (āyah) yang menunjuk kepada Sang Pencipta.³

Sebaliknya, sains modern Barat—khususnya dalam tradisi positivistik—cenderung mengadopsi ontologi naturalistik yang membatasi realitas pada apa yang dapat diobservasi dan diukur secara empiris. Dimensi metafisik dan teologis dianggap berada di luar wilayah sains. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan sains yang efektif secara teknis, tetapi berpotensi mereduksi makna realitas pada aspek material semata.⁴

6.3.       Perbandingan Epistemologis: Sumber dan Validitas Pengetahuan

Dalam epistemologi Sains Islam, sumber pengetahuan meliputi wahyu, akal, dan pengalaman empiris. Ketiganya dipahami sebagai sumber yang saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi normatif dan metafisik, sementara akal dan empirisme berperan dalam analisis dan verifikasi fenomena alam.⁵

Sains modern Barat, di sisi lain, menempatkan rasio dan pengalaman empiris sebagai sumber utama pengetahuan ilmiah. Kebenaran ilmiah diukur melalui verifikasi atau falsifikasi empiris, serta konsistensi logis. Pendekatan ini cenderung menolak otoritas wahyu dalam wilayah sains, dengan alasan menjaga objektivitas dan netralitas nilai.⁶

Perbedaan epistemologis ini tidak berarti bahwa Sains Islam anti-empiris atau anti-rasional. Sebaliknya, ia mengkritik reduksionisme epistemologis yang membatasi pengetahuan hanya pada apa yang dapat diverifikasi secara empiris, serta menafikan dimensi makna dan tujuan.⁷

6.4.       Perbandingan Metodologis: Cara Kerja Ilmu

Dari sisi metodologi, terdapat banyak kesamaan teknis antara Sains Islam dan sains modern Barat, seperti penggunaan observasi, eksperimen, dan analisis rasional. Sejarah menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim klasik telah mengembangkan metode empiris jauh sebelum lahirnya sains modern di Eropa.⁸

Namun, perbedaan utama terletak pada kerangka normatif dan filosofis yang mengiringi metode tersebut. Dalam Sains Islam, metodologi ilmiah selalu berada dalam bingkai etika dan tanggung jawab moral. Metode ilmiah tidak dipandang sebagai alat netral yang bebas nilai, melainkan sebagai aktivitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan spiritual.⁹

Sains modern Barat, terutama dalam fase positivistiknya, cenderung memisahkan metodologi dari pertimbangan etika dan metafisika. Etika sering ditempatkan sebagai isu eksternal yang muncul setelah pengetahuan dihasilkan, bukan sebagai bagian inheren dari proses ilmiah itu sendiri.¹⁰

6.5.       Perbandingan Aksiologis: Tujuan dan Nilai Ilmu

Perbedaan paling fundamental antara Sains Islam dan sains modern Barat terletak pada dimensi aksiologis, yakni tujuan dan nilai ilmu pengetahuan. Dalam Sains Islam, tujuan utama ilmu adalah mencapai kebenaran, kemaslahatan, dan pengenalan yang lebih mendalam terhadap Tuhan melalui pemahaman terhadap ciptaan-Nya. Ilmu diarahkan untuk menjaga keseimbangan kosmos dan meningkatkan kualitas moral manusia.¹¹

Sebaliknya, sains modern Barat sering kali diarahkan pada penguasaan dan manipulasi alam demi kepentingan manusia. Orientasi ini telah menghasilkan kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi juga menimbulkan problem etika, seperti eksploitasi lingkungan, dehumanisasi, dan krisis makna.¹²

Sains Islam mengkritik orientasi utilitarian dan instrumental semacam ini tanpa menolak manfaat praktis sains. Kritik tersebut diarahkan pada perlunya reorientasi nilai agar sains kembali berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan.¹³

6.6.       Titik Temu dan Ruang Dialog

Meskipun terdapat perbedaan mendasar, Sains Islam dan sains modern Barat memiliki sejumlah titik temu yang memungkinkan dialog konstruktif. Keduanya menghargai rasionalitas, konsistensi logis, dan bukti empiris sebagai unsur penting dalam pengetahuan ilmiah. Kesamaan ini membuka ruang kerja sama dan pertukaran intelektual lintas tradisi.¹⁴

Dialog epistemologis semacam ini penting untuk menghindari sikap eksklusivisme dan antagonisme. Sains Islam dapat berfungsi sebagai perspektif kritis yang memperkaya sains modern, sementara sains modern menyediakan perangkat metodologis yang dapat dimanfaatkan secara selektif dan reflektif dalam kerangka Islam.¹⁵

6.7.       Implikasi Perbandingan bagi Pengembangan Ilmu Kontemporer

Analisis perbandingan ini menunjukkan bahwa krisis yang dihadapi sains modern bukan terutama bersifat teknis, melainkan filosofis dan etis. Dalam konteks ini, Sains Islam menawarkan kontribusi konseptual berupa integrasi antara pengetahuan, nilai, dan tujuan hidup manusia.¹⁶

Dengan demikian, perbandingan antara Sains Islam dan sains modern Barat tidak berakhir pada dikotomi biner, melainkan membuka kemungkinan sintesis kritis yang dapat memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan di era kontemporer.¹⁷


Footnotes

[1]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 10–12.

[2]                John Hedley Brooke, Science and Religion: Some Historical Perspectives (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 42–44.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 72–74.

[4]                Auguste Comte, The Positive Philosophy (New York: Calvin Blanchard, 1855), 18–20.

[5]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 36–39.

[6]                Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London: Routledge, 1959), 27–29.

[7]                Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 24–26.

[8]                Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 70–72.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 45–47.

[10]             Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 114–116.

[11]             Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 67–69.

[12]             Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 102–104.

[13]             Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 218–220.

[14]             Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (San Francisco: Harper & Row, 1990), 119–121.

[15]             Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 90–92.

[16]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study (London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 14–16.

[17]             Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives, 173–176.


7.           Sains Islam dan Tantangan Kontemporer

7.1.       Konteks Kontemporer dan Posisi Sains Islam

Memasuki abad ke-21, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi digital, kemajuan bioteknologi, kecerdasan buatan, serta eksploitasi sumber daya alam secara masif telah mengubah cara manusia hidup, berpikir, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan problem-problem serius, seperti krisis lingkungan, dehumanisasi teknologi, dan kekosongan makna dalam kehidupan modern.¹

Dalam konteks ini, Sains Islam dihadapkan pada tantangan ganda. Di satu sisi, ia harus mampu berdialog secara kritis dengan perkembangan sains modern agar tidak terjebak dalam isolasionisme intelektual. Di sisi lain, ia dituntut untuk mempertahankan integritas epistemologis dan etisnya agar tidak larut dalam reduksionisme dan sekularisasi nilai.² Tantangan kontemporer ini menuntut rekonstruksi konseptual Sains Islam yang relevan dengan realitas zaman tanpa kehilangan akar normatifnya.

7.2.       Tantangan Epistemologis: Reduksionisme dan Sekularisasi Ilmu

Salah satu tantangan utama yang dihadapi Sains Islam adalah dominasi paradigma epistemologis modern yang bersifat reduksionistik. Paradigma ini cenderung mereduksi realitas pada aspek material dan kuantitatif, serta menyingkirkan dimensi metafisik, spiritual, dan etis dari wilayah pengetahuan yang sah.³

Sekularisasi ilmu pengetahuan juga berdampak pada marginalisasi perspektif keagamaan dalam diskursus ilmiah. Sains sering dipandang sebagai aktivitas yang sepenuhnya otonom dan bebas nilai, sementara agama direduksi menjadi urusan privat. Dalam kondisi semacam ini, Sains Islam menghadapi tantangan untuk menegaskan kembali legitimasi epistemologis wahyu dan metafisika tanpa menolak rasionalitas dan empirisme.⁴

Respons terhadap tantangan ini tidak dapat berupa penolakan total terhadap sains modern, melainkan kritik filosofis yang membongkar asumsi-asumsi epistemik yang tersembunyi di balik klaim netralitas ilmiah. Dengan demikian, Sains Islam dapat berfungsi sebagai koreksi epistemologis yang konstruktif.⁵

7.3.       Tantangan Etika Sains dan Teknologi

Kemajuan teknologi modern telah melahirkan persoalan etika yang kompleks, terutama dalam bidang bioteknologi, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetika. Teknologi yang awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia justru berpotensi mengancam martabat manusia dan keseimbangan alam jika tidak dibatasi oleh pertimbangan moral.⁶

Dalam konteks ini, Sains Islam menawarkan kerangka etika yang berlandaskan prinsip tauhid, kemaslahatan, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Etika tidak dipahami sebagai tambahan eksternal terhadap sains, tetapi sebagai dimensi inheren yang harus hadir sejak tahap perumusan masalah, pemilihan metode, hingga penerapan hasil penelitian.⁷

Tantangan kontemporer menuntut agar etika Islam tidak berhenti pada tataran normatif abstrak, melainkan diterjemahkan ke dalam pedoman praktis bagi riset dan teknologi modern. Hal ini memerlukan dialog intensif antara ulama, ilmuwan, dan filsuf untuk merumuskan etika sains yang kontekstual dan aplikatif.⁸

7.4.       Tantangan Lingkungan dan Krisis Ekologis

Krisis lingkungan global merupakan salah satu konsekuensi paling nyata dari paradigma sains dan teknologi yang eksploitatif. Pandangan dunia yang memposisikan alam sebagai objek dominasi manusia telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, yang berujung pada kerusakan ekosistem dan perubahan iklim.⁹

Sains Islam menawarkan perspektif ekologis yang berbeda dengan menempatkan alam sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga keseimbangannya. Alam tidak hanya memiliki nilai instrumental, tetapi juga nilai intrinsik sebagai bagian dari tatanan kosmik yang sakral. Perspektif ini menuntut pendekatan ilmiah yang berorientasi pada keberlanjutan (sustainability) dan keadilan antargenerasi.¹⁰

Tantangan ekologis kontemporer memperlihatkan relevansi Sains Islam sebagai paradigma alternatif yang mampu mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan tanggung jawab moral terhadap alam dan generasi mendatang.¹¹

7.5.       Tantangan Pendidikan dan Pengembangan Sains Islam

Di bidang pendidikan, Sains Islam menghadapi tantangan integrasi kurikulum antara ilmu agama dan ilmu sains. Model pendidikan yang masih bersifat dikotomis berpotensi melahirkan lulusan yang terampil secara teknis tetapi miskin refleksi etis dan spiritual, atau sebaliknya, religius tetapi kurang literasi ilmiah.¹²

Pengembangan pendidikan Sains Islam memerlukan pendekatan integratif yang tidak sekadar menempelkan ayat-ayat Al-Qur’an pada materi sains, tetapi membangun kesadaran epistemologis dan etis tentang hakikat ilmu. Pendidikan semacam ini harus mendorong sikap kritis, keterbukaan, dan tanggung jawab sosial dalam aktivitas ilmiah.¹³

7.6.       Globalisasi Ilmu dan Dialog Peradaban

Globalisasi ilmu pengetahuan membuka peluang sekaligus tantangan bagi Sains Islam. Di satu sisi, ia memungkinkan pertukaran ide dan kolaborasi lintas budaya. Di sisi lain, ia berpotensi memperkuat hegemoni paradigma sains Barat jika tidak diimbangi dengan kesadaran kritis terhadap keragaman pandangan dunia.¹⁴

Dalam konteks ini, Sains Islam memiliki peran strategis sebagai jembatan dialog antara tradisi keilmuan Islam dan sains global. Dialog ini tidak bertujuan untuk meleburkan perbedaan secara simplistis, tetapi untuk membangun pemahaman timbal balik dan sintesis kritis yang saling memperkaya.¹⁵

7.7.       Prospek Sains Islam dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Sains Islam memiliki prospek yang signifikan dalam membentuk paradigma ilmu pengetahuan yang lebih manusiawi dan bermakna. Dengan mengintegrasikan rasionalitas, empirisme, dan etika, Sains Islam dapat berkontribusi pada pengembangan sains yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara moral.¹⁶

Tantangan kontemporer justru menegaskan urgensi Sains Islam sebagai wacana kritis dan konstruktif dalam dunia ilmu pengetahuan global. Masa depan Sains Islam bergantung pada kemampuannya untuk terus berdialog, beradaptasi, dan merekonstruksi diri tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya.¹⁷


Footnotes

[1]                Ulrich Beck, World Risk Society (Cambridge: Polity Press, 1999), 3–6.

[2]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 119–122.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 61–63.

[4]                Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 125–127.

[5]                Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 32–34.

[6]                Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (London: Harvill Secker, 2016), 56–59.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 96–98.

[8]                Mohammad Hashim Kamali, Ethics and Fiqh for Everyday Life (Kuala Lumpur: IAIS Malaysia, 2016), 201–203.

[9]                Lynn White Jr., “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis,” Science 155, no. 3767 (1967): 1203–1207.

[10]             Osman Bakar, Qur’anic Pictures of the Universe (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2016), 214–217.

[11]             Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 108–110.

[12]             Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 109–112.

[13]             Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga, 2007), 91–94.

[14]             Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South (London: Routledge, 2014), 15–18.

[15]             Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 225–227.

[16]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study (London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 28–30.

[17]             Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives, 191–194.


8.           Kritik terhadap Konsep Sains Islam

8.1.       Pendahuluan: Pentingnya Kritik dalam Diskursus Ilmiah

Setiap paradigma ilmiah yang matang harus terbuka terhadap kritik, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Kritik bukan dimaksudkan untuk menegasikan suatu gagasan, melainkan sebagai mekanisme evaluasi rasional guna menguji konsistensi, validitas, dan relevansinya. Dalam konteks ini, konsep Sains Islam—sebagai paradigma epistemologis dan aksiologis—perlu dikaji secara kritis agar tidak terjebak dalam dogmatisme atau romantisisme sejarah.¹

Bab ini membahas berbagai kritik yang diarahkan kepada konsep Sains Islam, baik yang datang dari kalangan internal umat Islam maupun dari perspektif eksternal, khususnya dari tradisi sains modern Barat. Pembahasan kritik ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan konseptual sekaligus membuka ruang rekonstruksi yang lebih matang dan kontekstual.

8.2.       Kritik Internal: Problem Konseptual dan Metodologis

8.2.1.    Ketidakjelasan Definisi dan Ruang Lingkup

Salah satu kritik internal yang sering diarahkan kepada Sains Islam adalah ketidakjelasan definisi dan batasan konseptualnya. Istilah “Sains Islam” digunakan dalam berbagai makna, mulai dari sains yang dikembangkan oleh ilmuwan Muslim, sains yang diinspirasi nilai-nilai Islam, hingga proyek islamisasi ilmu pengetahuan. Keragaman penggunaan ini menimbulkan ambiguitas epistemologis dan kesulitan metodologis dalam penerapannya.²

Tanpa definisi yang ketat, Sains Islam berisiko menjadi slogan ideologis yang longgar, sulit diverifikasi, dan kurang operasional dalam praktik ilmiah. Kritik ini menuntut perumusan konseptual yang lebih presisi agar Sains Islam dapat berfungsi sebagai paradigma ilmiah yang koheren.³

8.2.2.    Risiko Romantisisme Sejarah

Kritik internal lain berkaitan dengan kecenderungan romantisisme terhadap kejayaan sains dalam peradaban Islam klasik. Sebagian wacana Sains Islam cenderung menampilkan masa lalu sebagai model ideal tanpa analisis kritis terhadap keterbatasan historisnya. Pendekatan semacam ini berpotensi menghambat inovasi dan adaptasi terhadap tantangan kontemporer.⁴

Romantisisme sejarah juga dapat melahirkan sikap defensif terhadap kritik, sehingga diskursus Sains Islam kehilangan dinamika ilmiah yang sehat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan historiografis yang kritis dan objektif dalam menilai warisan sains Islam klasik.⁵

8.2.3.    Tantangan Integrasi Wahyu dan Metode Empiris

Integrasi wahyu dengan metode ilmiah sering menjadi titik lemah dalam praktik Sains Islam. Beberapa pendekatan cenderung mencampuradukkan klaim teologis dengan penjelasan ilmiah secara tidak proporsional, sehingga menimbulkan problem metodologis. Hal ini tampak dalam kecenderungan “pembenaran ilmiah” ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat spekulatif dan temporer.⁶

Kritik ini menegaskan perlunya pemisahan fungsional antara wahyu sebagai sumber orientasi normatif dan sains sebagai aktivitas investigasi empiris, tanpa memutus hubungan epistemologis di antara keduanya.⁷

8.3.       Kritik Eksternal: Perspektif Sains Modern Barat

8.3.1.    Tuduhan Ideologisasi Sains

Dari perspektif sains modern Barat, Sains Islam sering dikritik sebagai bentuk ideologisasi sains. Kritik ini berangkat dari asumsi bahwa sains harus bersifat netral nilai dan bebas dari pengaruh agama atau ideologi. Menurut pandangan ini, memasukkan wahyu atau nilai religius ke dalam sains dianggap mengancam objektivitas ilmiah.⁸

Kritik tersebut mencerminkan paradigma sekular yang mendominasi sains modern, tetapi sekaligus mengabaikan fakta bahwa sains itu sendiri tidak pernah sepenuhnya bebas nilai. Dengan demikian, kritik ini membuka ruang diskusi tentang asumsi-asumsi filosofis yang mendasari klaim netralitas sains modern.⁹

8.3.2.    Problem Universalitas Ilmu

Kritik eksternal lainnya menyangkut klaim universalitas ilmu pengetahuan. Sains modern memandang hukum-hukum alam sebagai universal dan independen dari konteks budaya atau agama. Dari sudut pandang ini, gagasan tentang “Sains Islam” dianggap partikularistik dan berpotensi memecah kesatuan ilmu pengetahuan global.¹⁰

Namun, kritik ini sering kali gagal membedakan antara universalitas metode empiris dan partikularitas pandangan dunia yang melandasi interpretasi ilmiah. Sains Islam tidak menolak universalitas fakta empiris, tetapi menyoroti bahwa pemaknaan dan tujuan ilmu selalu dipengaruhi oleh kerangka nilai tertentu.¹¹

8.4.       Evaluasi Kritis terhadap Kritik-Kritik Tersebut

Baik kritik internal maupun eksternal terhadap Sains Islam mengandung poin-poin yang valid dan perlu diperhatikan. Kritik internal menyoroti kebutuhan akan klarifikasi konseptual dan disiplin metodologis, sementara kritik eksternal mengingatkan akan pentingnya menjaga standar rasionalitas dan empirisme dalam praktik ilmiah.¹²

Namun, sebagian kritik juga berangkat dari asumsi epistemologis yang tidak netral, terutama klaim bahwa sains harus sepenuhnya terpisah dari nilai dan metafisika. Dalam hal ini, Sains Islam dapat berfungsi sebagai kritik balik terhadap fondasi filosofis sains modern itu sendiri.¹³

8.5.       Rekonstruksi Konseptual Sains Islam

Menanggapi berbagai kritik tersebut, diperlukan rekonstruksi konseptual Sains Islam yang lebih matang. Rekonstruksi ini mencakup penegasan definisi, pemisahan fungsional antara wahyu dan metode empiris, serta pengembangan etika sains yang aplikatif dan kontekstual.¹⁴

Rekonstruksi tersebut juga harus bersifat terbuka dan dialogis, memungkinkan interaksi kritis dengan sains modern tanpa kehilangan identitas epistemologis Islam. Dengan pendekatan ini, Sains Islam dapat berkembang sebagai paradigma ilmiah yang dinamis, reflektif, dan relevan dengan tantangan zaman.¹⁵


Footnotes

[1]                Karl Popper, Conjectures and Refutations (London: Routledge, 1963), 33–36.

[2]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 51–54.

[3]                Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 41–43.

[4]                Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 88–91.

[5]                George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 7–10.

[6]                Ziauddin Sardar, Islam, Science and Cultural Relations (London: Routledge, 1987), 52–55.

[7]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 66–69.

[8]                Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 1–4.

[9]                Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 138–140.

[10]             Auguste Comte, The Positive Philosophy (New York: Calvin Blanchard, 1855), 25–27.

[11]             Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South (London: Routledge, 2014), 19–22.

[12]             Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 93–95.

[13]             Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New York: Oxford University Press, 1996), 101–103.

[14]             Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 131–133.

[15]             Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 231–233.


9.           Integrasi Sains Islam dalam Kerangka Ilmu Pengetahuan Global

9.1.       Pendahuluan: Integrasi sebagai Keniscayaan Epistemik

Perkembangan ilmu pengetahuan global dewasa ini ditandai oleh interkonektivitas lintas disiplin, lintas budaya, dan lintas paradigma. Dalam situasi semacam ini, upaya mengintegrasikan Sains Islam ke dalam kerangka ilmu pengetahuan global bukanlah pilihan ideologis semata, melainkan keniscayaan epistemik. Integrasi diperlukan agar Sains Islam tidak terisolasi sebagai wacana partikular, sekaligus agar ilmu pengetahuan global tidak terjebak dalam reduksionisme dan kekosongan nilai.¹

Integrasi yang dimaksud bukanlah asimilasi total yang menghilangkan identitas epistemologis Islam, melainkan dialog kritis dan konstruktif antara berbagai tradisi keilmuan. Dengan pendekatan ini, Sains Islam dapat berkontribusi secara substantif dalam membentuk arah perkembangan ilmu pengetahuan global yang lebih etis dan bermakna.

9.2.       Makna Integrasi Ilmu dalam Perspektif Sains Islam

Dalam perspektif Sains Islam, integrasi ilmu berangkat dari prinsip tauhid yang menegaskan kesatuan sumber kebenaran dan keterpaduan realitas. Prinsip ini menolak fragmentasi ilmu yang memisahkan sains alam, ilmu sosial, dan humaniora dari dimensi metafisik dan etis. Integrasi bukan berarti penyatuan metodologi secara seragam, melainkan harmonisasi tujuan dan nilai di balik keragaman metode ilmiah.²

Dengan demikian, integrasi ilmu dalam Islam bersifat holistik dan hierarkis, di mana setiap disiplin memiliki otonomi metodologis tetapi tetap berada dalam kerangka makna yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan kerja sama lintas disiplin tanpa kehilangan kedalaman filosofis dan tanggung jawab moral.³

9.3.       Model-Model Integrasi Sains Islam dan Ilmu Pengetahuan Global

Berbagai model integrasi telah dikemukakan dalam wacana kontemporer Sains Islam. Salah satu model menekankan integrasi epistemologis, yakni upaya menyelaraskan asumsi dasar tentang realitas, pengetahuan, dan nilai antara sains modern dan pandangan dunia Islam. Model ini menuntut refleksi filosofis yang mendalam terhadap fondasi ilmu pengetahuan.⁴

Model lain bersifat aksiologis, dengan menekankan integrasi nilai-nilai etika Islam dalam praktik sains dan teknologi modern. Dalam model ini, metodologi ilmiah modern tetap digunakan, tetapi diarahkan oleh prinsip kemaslahatan, keadilan, dan keberlanjutan. Pendekatan ini relatif lebih aplikatif dan kontekstual dalam menghadapi problem global kontemporer.⁵

Terdapat pula model integrasi pedagogis yang berfokus pada reformasi pendidikan, khususnya dalam merancang kurikulum yang menghubungkan sains, agama, dan filsafat secara dialogis. Model ini dipandang strategis dalam membentuk generasi ilmuwan yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kesadaran etis dan epistemologis.⁶

9.4.       Dialog Antarperadaban dan Pluralitas Epistemologi

Ilmu pengetahuan global pada hakikatnya merupakan hasil kontribusi berbagai peradaban. Oleh karena itu, integrasi Sains Islam harus ditempatkan dalam kerangka dialog antarperadaban dan pengakuan terhadap pluralitas epistemologi. Pendekatan ini menolak klaim monopoli kebenaran ilmiah oleh satu tradisi budaya atau paradigma tertentu.⁷

Dalam dialog semacam ini, Sains Islam tidak hadir sebagai pesaing yang antagonistik terhadap sains modern Barat, melainkan sebagai mitra kritis yang menawarkan perspektif alternatif. Pluralitas epistemologi memungkinkan pertukaran gagasan yang memperkaya, sekaligus mencegah hegemoni intelektual yang bersifat eksklusif.⁸

9.5.       Tantangan Integrasi di Tingkat Global

Meskipun integrasi Sains Islam dalam kerangka ilmu pengetahuan global memiliki potensi besar, ia juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah dominasi paradigma sains modern yang masih sangat kuat dalam institusi akademik global. Paradigma ini sering kali memandang pendekatan religius sebagai tidak ilmiah atau tidak relevan.⁹

Tantangan lainnya adalah problem internal, seperti kurangnya pengembangan metodologi yang matang dan keterbatasan riset empiris yang berangkat dari kerangka Sains Islam. Tanpa penguatan basis akademik dan riset yang serius, integrasi berisiko berhenti pada tataran wacana normatif tanpa dampak nyata.¹⁰

9.6.       Kontribusi Potensial Sains Islam bagi Ilmu Pengetahuan Global

Terlepas dari tantangan tersebut, Sains Islam memiliki kontribusi potensial yang signifikan bagi ilmu pengetahuan global. Pertama, ia menawarkan kritik filosofis terhadap reduksionisme dan sekularisme yang mendominasi sains modern. Kedua, ia menyediakan kerangka etika yang komprehensif untuk menghadapi problem sains dan teknologi kontemporer.¹¹

Ketiga, Sains Islam dapat memperkaya diskursus global tentang hubungan antara ilmu, nilai, dan tujuan hidup manusia. Kontribusi ini menjadi semakin relevan di tengah krisis global yang bersifat multidimensional dan menuntut pendekatan ilmu pengetahuan yang lebih holistik.¹²

9.7.       Arah Strategis Integrasi di Masa Depan

Integrasi Sains Islam dalam kerangka ilmu pengetahuan global menuntut strategi jangka panjang yang melibatkan pengembangan riset interdisipliner, reformasi pendidikan, dan penguatan dialog internasional. Upaya ini harus dilakukan secara bertahap, kritis, dan terbuka terhadap koreksi.¹³

Dengan pendekatan tersebut, Sains Islam berpotensi berkembang sebagai paradigma ilmiah yang tidak hanya relevan secara lokal atau regional, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membentuk masa depan ilmu pengetahuan global yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermakna.¹⁴


Footnotes

[1]                Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), 92–94.

[2]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 155–158.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 73–75.

[4]                Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (Tehran: Global Publications, 1998), 47–49.

[5]                Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 235–237.

[6]                Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 124–126.

[7]                Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South (London: Routledge, 2014), 30–33.

[8]                Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (San Francisco: Harper & Row, 1990), 141–143.

[9]                Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 137–139.

[10]             Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 121–124.

[11]             Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 115–117.

[12]             Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 147–149.

[13]             Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1981), 98–100.

[14]             Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study (London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 33–35.


10.       Penutup

10.1.    Kesimpulan

Kajian ini menegaskan bahwa Sains Islam bukanlah sekadar istilah historis atau slogan ideologis, melainkan sebuah paradigma keilmuan yang memiliki fondasi epistemologis, metodologis, dan aksiologis yang khas. Berangkat dari pandangan dunia Islam yang bertumpu pada prinsip tauhid, Sains Islam memandang realitas sebagai kesatuan yang bermakna, di mana alam semesta dipahami sebagai objek kajian empiris sekaligus sebagai tanda-tanda (āyāt) yang mengarahkan manusia kepada pengenalan terhadap Tuhan.¹

Dari sisi epistemologi, Sains Islam mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Integrasi ini memungkinkan pengembangan ilmu pengetahuan yang rasional dan empiris tanpa terjebak dalam reduksionisme materialistik. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi normatif dan metafisik, sementara akal dan empirisme menjadi instrumen utama dalam investigasi ilmiah.²

Secara historis, kajian ini menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah memainkan peran sentral dalam perkembangan sains global melalui institusionalisasi ilmu, pengembangan metodologi empiris, dan kontribusi ilmuwan Muslim dalam berbagai bidang. Fakta ini menegaskan bahwa hubungan antara agama dan sains dalam Islam bersifat dialogis dan produktif, bukan antagonistik.³

Dalam perbandingannya dengan sains modern Barat, Sains Islam menawarkan kritik filosofis terhadap sekularisasi dan reduksionisme ilmu, terutama dalam hal pemisahan sains dari nilai dan tujuan etis. Namun, kritik ini tidak berujung pada penolakan terhadap metodologi ilmiah modern, melainkan pada upaya reorientasi nilai agar sains kembali berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan.⁴

10.2.    Implikasi Teoretis dan Praktis

Secara teoretis, kajian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan filsafat sains dengan memperluas horizon epistemologis yang selama ini didominasi oleh paradigma Barat modern. Sains Islam menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang secara objektif dan metodologis tanpa harus melepaskan diri dari dimensi metafisik dan etika. Pendekatan ini membuka ruang bagi pluralitas epistemologi dalam diskursus ilmu pengetahuan global.⁵

Secara praktis, implikasi Sains Islam menjadi sangat relevan dalam menghadapi problem kontemporer, seperti krisis lingkungan, dilema etika teknologi, dan dehumanisasi akibat kemajuan sains yang tidak terkendali. Dengan menempatkan etika sebagai bagian inheren dari aktivitas ilmiah, Sains Islam menawarkan kerangka normatif untuk mengarahkan penerapan sains dan teknologi agar selaras dengan prinsip kemaslahatan dan tanggung jawab moral.⁶

Dalam bidang pendidikan, integrasi perspektif Sains Islam berpotensi melahirkan model pendidikan yang lebih holistik, yang tidak hanya menghasilkan ilmuwan yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis, spiritual, dan sosial. Model pendidikan semacam ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan global yang semakin kompleks.⁷

10.3.    Keterbatasan Kajian

Meskipun disusun secara komprehensif, kajian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, pembahasan lebih menekankan aspek filosofis dan konseptual, sehingga analisis empiris terhadap praktik konkret Sains Islam di institusi riset kontemporer masih terbatas. Kedua, kajian ini belum sepenuhnya menggali keragaman pandangan di kalangan pemikir Muslim modern terkait konsep dan implementasi Sains Islam.⁸

Keterbatasan ini menunjukkan bahwa Sains Islam merupakan bidang kajian yang terbuka dan dinamis, yang masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut dari berbagai perspektif disipliner.

10.4.    Rekomendasi Penelitian Lanjutan

Berdasarkan hasil kajian ini, beberapa rekomendasi penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, diperlukan studi empiris mengenai penerapan prinsip-prinsip Sains Islam dalam riset dan teknologi kontemporer, khususnya dalam bidang lingkungan, kesehatan, dan kecerdasan buatan. Kedua, kajian komparatif yang lebih mendalam antara Sains Islam dan paradigma sains non-Barat lainnya dapat memperkaya diskursus tentang pluralitas epistemologi global.⁹

Ketiga, penelitian di bidang pendidikan perlu diarahkan pada pengembangan kurikulum dan metodologi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan sains, agama, dan filsafat secara kritis dan aplikatif. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Sains Islam sebagai kontribusi intelektual yang relevan dan berkelanjutan dalam dunia ilmu pengetahuan global.¹⁰


Footnotes

[1]                Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany: SUNY Press, 1993), 1–3.

[2]                Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 27–30.

[3]                George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 1–4.

[4]                Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 148–150.

[5]                Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South (London: Routledge, 2014), 41–44.

[6]                Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 121–123.

[7]                Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), 132–135.

[8]                Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History (New Haven: Yale University Press, 2010), 128–131.

[9]                Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 239–241.

[10]             Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and Science, 1991), 155–157.


Daftar Pustaka

Bakar, O. (1991). Tawhid and science: Essays on the history and philosophy of Islamic science. Kuala Lumpur, Malaysia: Secretariat for Islamic Philosophy and Science.

Bakar, O. (1998). Classification of knowledge in Islam. Cambridge, UK: Islamic Texts Society.

Bakar, O. (2007). Islam and science: Philosophical perspectives. Kuala Lumpur, Malaysia: Universiti Malaya Press.

Bakar, O. (2016). Qur’anic pictures of the universe. Kuala Lumpur, Malaysia: Islamic Book Trust.

Barbour, I. G. (1990). Religion in an age of science. San Francisco, CA: Harper & Row.

Barbour, I. G. (1997). Religion and science: Historical and contemporary issues. San Francisco, CA: HarperSanFrancisco.

Beck, U. (1999). World risk society. Cambridge, UK: Polity Press.

Berkey, J. P. (1992). The transmission of knowledge in medieval Cairo. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Brooke, J. H. (1991). Science and religion: Some historical perspectives. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Comte, A. (1855). The positive philosophy (Vol. 1). New York, NY: Calvin Blanchard.

Dallal, A. (2010). Islam, science, and the challenge of history. New Haven, CT: Yale University Press.

Fakhry, M. (2004). A history of Islamic philosophy (2nd ed.). New York, NY: Columbia University Press.

Golshani, M. (1998). The Holy Qur’an and the sciences of nature. Tehran, Iran: Global Publications.

Gutas, D. (1998). Greek thought, Arabic culture: The Graeco-Arabic translation movement in Baghdad and early ‘Abbāsid society. London, UK: Routledge.

Harari, Y. N. (2016). Homo Deus: A brief history of tomorrow. London, UK: Harvill Secker.

Hoodbhoy, P. (1991). Islam and science: Religious orthodoxy and the battle for rationality. London, UK: Zed Books.

Kamali, M. H. (2003). Principles of Islamic jurisprudence (3rd ed.). Cambridge, UK: Islamic Texts Society.

Kamali, M. H. (2016). Ethics and fiqh for everyday life. Kuala Lumpur, Malaysia: IAIS Malaysia.

Kartanegara, M. (2007). Mengislamkan nalar: Sebuah respons terhadap modernitas. Jakarta, Indonesia: Erlangga.

Kuhn, T. S. (1962). The structure of scientific revolutions. Chicago, IL: University of Chicago Press.

MacIntyre, A. (1981). After virtue: A study in moral theory. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.

Nasr, S. H. (1968). Science and civilization in Islam. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The spiritual crisis of modern man. London, UK: George Allen & Unwin.

Nasr, S. H. (1976). Islamic science: An illustrated study. London, UK: World of Islam Festival Publishing.

Nasr, S. H. (1981). Islamic life and thought. Albany, NY: State University of New York Press.

Nasr, S. H. (1993). The need for a sacred science. Albany, NY: State University of New York Press.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of nature. New York, NY: Oxford University Press.

Popper, K. (1959). The logic of scientific discovery. London, UK: Routledge.

Popper, K. (1963). Conjectures and refutations: The growth of scientific knowledge. London, UK: Routledge.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Rashed, R. (1994). The development of Arabic mathematics. Dordrecht, Netherlands: Kluwer Academic Publishers.

Rosenthal, F. (1970). Knowledge triumphant: The concept of knowledge in medieval Islam. Leiden, Netherlands: Brill.

Saliba, G. (2007). Islamic science and the making of the European Renaissance. Cambridge, MA: MIT Press.

Santos, B. de S. (2014). Epistemologies of the South: Justice against epistemicide. London, UK: Routledge.

Sardar, Z. (1987). Islam, science and cultural relations. London, UK: Routledge.

Sardar, Z. (2004). Exploring Islam. London, UK: Routledge.

Sezgin, F. (2006). Science and technology in Islam (Vol. 1). Frankfurt am Main, Germany: Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften.

White, L., Jr. (1967). The historical roots of our ecologic crisis. Science, 155(3767), 1203–1207. science


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar