Sains Islam
Epistemologi, Sejarah, dan Relevansinya dalam
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Kontemporer
Abstrak
Artikel ini mengkaji konsep Sains Islam
sebagai suatu paradigma keilmuan yang berakar pada pandangan dunia Islam dan
berupaya mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dalam memahami
realitas alam semesta. Berangkat dari kritik terhadap sekularisasi dan
reduksionisme sains modern Barat, kajian ini menelusuri fondasi epistemologis
Sains Islam, perkembangan historisnya dalam peradaban Islam, serta metodologi
ilmiah dan dimensi etika yang menyertainya. Melalui pendekatan kualitatif
berbasis studi kepustakaan dengan analisis historis, filosofis, dan komparatif,
artikel ini menunjukkan bahwa Sains Islam bukanlah penolakan terhadap sains
modern, melainkan tawaran paradigma alternatif yang bersifat
kritis-konstruktif. Sains Islam memandang ilmu pengetahuan tidak netral nilai,
tetapi terikat pada tujuan kemaslahatan, tanggung jawab moral, dan kesadaran
akan keterbatasan pengetahuan manusia. Artikel ini juga membahas tantangan
kontemporer yang dihadapi Sains Islam, termasuk problem epistemologis, etika
teknologi, krisis ekologis, dan integrasi ilmu dalam konteks global. Pada
akhirnya, kajian ini menegaskan bahwa Sains Islam memiliki potensi signifikan
untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan global yang lebih
holistik, etis, dan bermakna, selama ia dikembangkan secara terbuka, dialogis,
dan reflektif terhadap kritik internal maupun eksternal.
Kata Kunci: Sains Islam; Epistemologi Islam; Filsafat Sains;
Ilmu Pengetahuan; Etika Sains; Integrasi Ilmu.
PEMBAHASAN
Konsep Sains Islam sebagai Paradigma Keilmuan dalam Dunia
Islam
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu
pengetahuan modern tidak dapat dilepaskan dari paradigma epistemologis yang
berkembang di Barat sejak masa Renaisans dan Pencerahan. Paradigma tersebut
menempatkan rasionalitas dan empirisme sebagai fondasi utama pengetahuan
ilmiah, sementara wahyu dan metafisika secara gradual dikeluarkan dari ranah
sains. Akibatnya, sains modern tumbuh dalam kerangka sekular yang memisahkan
ilmu pengetahuan dari dimensi teologis dan nilai-nilai transenden.¹
Di sisi lain,
tradisi intelektual Islam sejak awal kemunculannya justru menempatkan pencarian
ilmu sebagai aktivitas yang bernilai religius. Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya
mendorong umat Islam untuk beriman, tetapi juga untuk berpikir, mengamati alam,
dan merenungkan keteraturan kosmos sebagai tanda-tanda (āyāt)
kebesaran Tuhan.² Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai
aktivitas yang netral nilai, melainkan sebagai sarana untuk mengenal realitas
secara utuh—baik fisik maupun metafisik.
Namun, dalam
diskursus akademik kontemporer, konsep Sains Islam sering kali dipahami
secara reduktif atau bahkan disalahpahami. Sebagian kalangan menganggapnya
sebagai upaya ideologisasi sains atau sebagai romantisisme terhadap kejayaan
ilmiah masa lalu umat Islam.³ Di sisi lain, terdapat pula kecenderungan untuk
mengidentikkan Sains Islam semata-mata dengan fakta-fakta ilmiah yang
“dibuktikan” oleh ayat-ayat Al-Qur’an, yang pada gilirannya menimbulkan problem
metodologis dan hermeneutis.⁴
Padahal, Sains Islam
bukanlah sekadar kumpulan temuan ilmiah yang lahir di dunia Islam, juga bukan
sekadar upaya pembenaran teks wahyu melalui temuan empiris modern. Ia merupakan
sebuah kerangka epistemologis dan aksiologis yang memandang sains sebagai
aktivitas manusia yang berakar pada tauhid, terikat oleh etika, dan diarahkan
pada kemaslahatan.⁵ Oleh karena itu, kajian tentang Sains Islam menuntut
pendekatan yang lebih mendalam, kritis, dan filosofis.
Dalam konteks global
saat ini—yang ditandai oleh krisis lingkungan, problem etika teknologi, dan
alienasi manusia akibat reduksionisme ilmiah—diskursus Sains Islam menjadi
semakin relevan. Ia menawarkan perspektif alternatif yang berupaya
mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan nilai-nilai moral dan spiritual,
tanpa menafikan metodologi ilmiah yang rasional dan objektif.⁶ Atas dasar
inilah, kajian ini disusun sebagai upaya akademik untuk memahami Sains Islam
secara konseptual, historis, dan relevansinya dalam dunia kontemporer.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan dalam beberapa pertanyaan pokok
sebagai berikut:
1)
Apa yang dimaksud dengan Sains
Islam dalam kerangka epistemologi Islam?
2)
Bagaimana sumber, prinsip, dan
metodologi pengetahuan dalam Sains Islam?
3)
Bagaimana posisi Sains Islam dalam
sejarah perkembangan ilmu pengetahuan?
4)
Apa perbedaan mendasar antara
Sains Islam dan sains modern Barat?
5)
Sejauh mana relevansi Sains Islam
dalam menghadapi tantangan ilmiah dan etika kontemporer?
1.3.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk:
1)
Menjelaskan konsep dan definisi
Sains Islam secara komprehensif.
2)
Mengkaji dasar epistemologis dan
filosofis Sains Islam.
3)
Menelusuri kontribusi tradisi
Islam dalam perkembangan sains.
4)
Menganalisis relevansi Sains Islam
dalam konteks ilmu pengetahuan modern.
Adapun manfaat
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi
pengembangan kajian filsafat sains Islam, serta manfaat praktis bagi dunia
pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai
etika dan kemanusiaan.
1.4.
Metodologi dan
Pendekatan Kajian
Penelitian ini
menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan
kualitatif. Sumber data utama meliputi karya-karya klasik dan kontemporer dalam
bidang filsafat Islam, sejarah sains, dan filsafat sains modern. Pendekatan
yang digunakan mencakup pendekatan historis untuk menelusuri perkembangan sains
dalam peradaban Islam, pendekatan filosofis untuk menganalisis aspek
epistemologis dan ontologis, serta pendekatan komparatif untuk membandingkan
Sains Islam dengan paradigma sains modern Barat.⁷
1.5.
Sistematika Penulisan
Penulisan artikel
ini disusun dalam sepuluh bab. Bab pertama berisi pendahuluan yang menguraikan
latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistematika penulisan.
Bab kedua hingga kesembilan membahas konsep, epistemologi, sejarah, metodologi,
perbandingan, kritik, serta relevansi Sains Islam. Bab terakhir berisi
kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi penelitian lanjutan.
Footnotes
[1]
John Hedley Brooke, Science and Religion: Some Historical
Perspectives (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 19–21.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 67–69.
[3]
Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the
Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 78–80.
[4]
Ziauddin Sardar, Islam, Science and Cultural Relations
(London: Routledge, 1987), 45–47.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 1–5.
[6]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 112–115.
[7]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 98–100.
2.
Konsep Dasar dan
Definisi Sains Islam
2.1.
Pengertian “Sains”
dalam Tradisi Islam
Dalam tradisi
intelektual Islam, istilah sains tidak dapat dipahami secara
identik dengan pengertian science dalam paradigma modern
Barat. Padanan konseptual yang paling mendekati adalah istilah ‘ilm,
yang secara etimologis berarti pengetahuan, pemahaman, atau kesadaran terhadap
realitas.¹ Namun, secara epistemologis, ‘ilm dalam Islam memiliki cakupan
yang lebih luas daripada sains modern, karena mencakup pengetahuan empiris,
rasional, intuitif, dan wahyu.
Para ulama klasik
membedakan ilmu berdasarkan objek, metode, dan tujuan. Al-Fārābī dan Ibn Sīnā,
misalnya, mengklasifikasikan ilmu ke dalam ilmu teoritis dan praktis, sementara
al-Ghazālī membagi ilmu menjadi ‘ulūm naqliyyah (berbasis wahyu)
dan ‘ulūm
‘aqliyyah (berbasis akal).² Klasifikasi ini menunjukkan bahwa dalam
Islam, tidak terdapat dikotomi ontologis antara ilmu “agama” dan ilmu “dunia”,
melainkan perbedaan fungsi dan orientasi.
Dengan demikian,
sains dalam Islam tidak berdiri sebagai aktivitas otonom yang terlepas dari
makna dan nilai. Ia dipahami sebagai upaya sistematis manusia untuk memahami
keteraturan alam (sunnatullāh) melalui akal dan
pengalaman empiris, dengan kesadaran bahwa realitas alam bersifat kontingen dan
bergantung pada kehendak Tuhan.³
2.2.
Definisi Sains Islam
Secara konseptual, Sains
Islam dapat didefinisikan sebagai aktivitas ilmiah yang
berlandaskan pada pandangan dunia Islam (Islamic worldview), yang
mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dalam memahami alam semesta.
Definisi ini menegaskan bahwa Sains Islam bukanlah sains “alternatif” yang
menolak metode ilmiah, melainkan sebuah paradigma yang menempatkan sains dalam
kerangka metafisik dan etika tauhid.⁴
Seyyed Hossein Nasr
mendefinisikan Sains Islam sebagai sains yang “berakar pada prinsip-prinsip
metafisika Islam dan memandang alam sebagai tanda-tanda Tuhan yang memiliki
makna spiritual.”⁵ Sementara itu, Osman Bakar menekankan bahwa Sains Islam
merupakan sistem pengetahuan yang bersifat integratif, di mana sains, filsafat,
dan agama tidak saling menegasikan, tetapi saling melengkapi.⁶
Penting untuk
membedakan Sains Islam dari beberapa konsep yang sering kali disamakan
dengannya. Pertama, science in the Islamic world, yakni
sains yang berkembang secara historis di dunia Islam tanpa implikasi filosofis
tertentu. Kedua, Islamization of knowledge, yaitu
proyek intelektual modern yang bertujuan merekonstruksi ilmu pengetahuan
kontemporer agar selaras dengan nilai-nilai Islam.⁷ Sains Islam, dalam
pengertian filosofis, lebih mendasar daripada keduanya karena menyangkut
paradigma dan kerangka epistemologis.
2.3.
Ciri-Ciri Fundamental
Sains Islam
Sains Islam memiliki
sejumlah ciri fundamental yang membedakannya dari paradigma sains sekular
modern.
Pertama, tauhid
sebagai prinsip ontologis. Tauhid menegaskan kesatuan sumber
realitas dan keteraturan alam. Alam semesta dipahami sebagai satu sistem kosmik
yang terintegrasi, bukan sekadar kumpulan fenomena material yang berdiri
sendiri.⁸
Kedua, integrasi
sumber pengetahuan. Dalam Sains Islam, wahyu, akal, dan indra
tidak dipertentangkan. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi dan kerangka
makna, sementara akal dan pengalaman empiris berperan dalam analisis dan
verifikasi fenomena alam.⁹
Ketiga, dimensi
etika dan tujuan ilmu. Aktivitas ilmiah tidak dipandang netral
nilai. Ilmu harus diarahkan pada kemaslahatan manusia dan keseimbangan kosmos,
serta dibatasi oleh pertimbangan moral dan tanggung jawab sosial.¹⁰
Keempat, pengakuan
atas keterbatasan pengetahuan manusia. Berbeda dengan klaim
absolutisme ilmiah, Sains Islam mengakui bahwa pengetahuan manusia bersifat
relatif, terbuka untuk koreksi, dan tidak pernah sepenuhnya menangkap realitas
secara total.¹¹
2.4.
Relasi Sains, Agama,
dan Filsafat dalam Islam
Dalam kerangka Sains
Islam, sains, agama, dan filsafat membentuk suatu kesatuan epistemik. Agama
menyediakan dasar metafisik dan etis, filsafat berperan dalam refleksi kritis
dan konseptualisasi, sementara sains menjalankan fungsi investigasi empiris
terhadap alam. Hubungan ini bersifat dialogis dan saling mengoreksi, bukan
hierarkis atau eksklusif.¹²
Model relasi semacam
ini memungkinkan berkembangnya tradisi ilmiah yang rasional sekaligus bermakna,
sebagaimana tercermin dalam karya-karya ilmuwan Muslim klasik yang
menggabungkan observasi empiris dengan refleksi metafisik. Dengan demikian,
Sains Islam tidak menolak objektivitas ilmiah, tetapi menolak klaim bahwa
objektivitas harus dicapai dengan menyingkirkan nilai dan makna.¹³
2.5.
Posisi Konseptual
Sains Islam dalam Wacana Ilmu Pengetahuan
Secara konseptual,
Sains Islam menempati posisi kritis-konstruktif dalam wacana ilmu pengetahuan
global. Ia tidak bersikap antagonistik terhadap sains modern, tetapi juga tidak
menerimanya secara dogmatis. Sains Islam berupaya melakukan dialog epistemologis
dengan sains modern, sambil menawarkan koreksi terhadap reduksionisme,
materialisme, dan sekularisme yang melekat pada paradigma ilmiah kontemporer.¹⁴
Dengan demikian,
Sains Islam dapat dipahami sebagai paradigma terbuka yang terus berkembang,
bukan sebagai sistem tertutup yang beku. Ia bersifat historis, kontekstual, dan
selalu dapat direvisi seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia, selama
tetap berakar pada prinsip-prinsip dasar Islam.¹⁵
Footnotes
[1]
Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in
Medieval Islam (Leiden: Brill, 1970), 13–15.
[2]
Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, vol. 1 (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, n.d.), 33–35.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 71–73.
[4]
Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge:
Islamic Texts Society, 1998), 5–7.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 2–4.
[6]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 9–11.
[7]
Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General
Principles and Work Plan (Herndon, VA: IIIT, 1982), 21–23.
[8]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY
Press, 1981), 134–136.
[9]
Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga,
2007), 45–48.
[10]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
210–212.
[11]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 102–104.
[12]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature
(Tehran: Global Publications, 1998), 56–58.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 54–56.
[14]
Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the
Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 3–6.
[15]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 187–189.
3.
Epistemologi Sains
Islam
3.1.
Epistemologi sebagai
Kerangka Dasar Ilmu
Epistemologi
merupakan cabang filsafat yang membahas sumber, validitas, batas, dan metode
pengetahuan. Dalam konteks sains, epistemologi menentukan apa yang dianggap
sebagai pengetahuan ilmiah yang sah, bagaimana pengetahuan diperoleh, serta
kriteria kebenarannya. Sains modern Barat umumnya bertumpu pada empirisme dan
rasionalisme, dengan kecenderungan positivistik yang membatasi pengetahuan pada
yang teramati dan terukur.¹
Berbeda dari
paradigma tersebut, epistemologi Sains Islam dibangun di atas pandangan dunia (worldview)
Islam yang menempatkan realitas sebagai kesatuan bertingkat, mencakup dimensi
fisik dan metafisik. Oleh karena itu, pengetahuan tidak direduksi pada aspek
empiris semata, melainkan dipahami sebagai hasil interaksi harmonis antara
wahyu, akal, dan pengalaman inderawi.²
3.2.
Sumber-Sumber
Pengetahuan dalam Sains Islam
3.2.1.
Wahyu sebagai Sumber
Primer Orientatif
Dalam epistemologi
Islam, wahyu menempati posisi fundamental sebagai sumber pengetahuan yang
bersifat absolut dalam hal prinsip-prinsip metafisik, etika, dan tujuan hidup
manusia. Al-Qur’an tidak berfungsi sebagai buku teks sains, tetapi sebagai
sumber orientasi epistemik yang memberikan kerangka makna dan arah bagi
aktivitas ilmiah.³
Wahyu menetapkan
asumsi dasar tentang realitas—seperti keteraturan alam, kausalitas yang
bersifat kontingen, dan keterbatasan pengetahuan manusia—yang menjadi landasan
filosofis bagi pengembangan sains. Dengan demikian, wahyu tidak menggantikan
kerja akal dan observasi, melainkan mengarahkan dan membimbingnya agar tidak
terlepas dari tujuan moral dan spiritual.⁴
3.2.2.
Akal sebagai Instrumen
Rasional
Akal (‘aql)
memiliki peran sentral dalam epistemologi Sains Islam. Melalui akal, manusia
melakukan analisis logis, penalaran kausal, dan sintesis konseptual terhadap
data empiris. Tradisi intelektual Islam klasik menunjukkan penghargaan yang
tinggi terhadap rasionalitas, sebagaimana tercermin dalam karya-karya filsafat
dan sains para ilmuwan Muslim.⁵
Namun, akal dalam
Islam tidak diposisikan sebagai otoritas epistemik tertinggi yang absolut. Ia
dipahami sebagai instrumen yang kuat tetapi terbatas, sehingga memerlukan
bimbingan wahyu dan koreksi pengalaman empiris. Pendekatan ini memungkinkan
sikap rasional yang kritis tanpa jatuh pada rasionalisme ekstrem.⁶
3.2.3.
Pengalaman Empiris dan
Indra
Pengamatan inderawi
dan eksperimen merupakan sumber pengetahuan penting dalam Sains Islam, terutama
dalam kajian alam (‘ilm al-ṭabī‘ah). Al-Qur’an sendiri
mendorong manusia untuk mengamati fenomena alam sebagai tanda-tanda kebesaran
Tuhan. Hal ini menunjukkan legitimasi epistemologis pengalaman empiris dalam
Islam.⁷
Para ilmuwan Muslim
klasik mengembangkan metode observasi dan eksperimen secara sistematis, terutama
dalam bidang kedokteran, astronomi, dan kimia. Dengan demikian, Sains Islam
tidak menolak empirisme, tetapi menempatkannya dalam kerangka epistemik yang
lebih luas dan bermakna.⁸
3.3.
Prinsip-Prinsip
Epistemologis Sains Islam
3.3.1.
Prinsip Tauhid
Tauhid merupakan
prinsip epistemologis utama dalam Sains Islam. Ia menegaskan kesatuan sumber
kebenaran dan keterpaduan realitas. Pengetahuan tentang alam tidak dipisahkan
dari pengetahuan tentang Tuhan, karena keduanya berakar pada realitas yang
sama. Prinsip ini mencegah fragmentasi ilmu dan mendorong pendekatan holistik
dalam memahami alam semesta.⁹
3.3.2.
Keteraturan Alam dan
Sunnatullah
Epistemologi Sains
Islam mengakui adanya keteraturan dan hukum-hukum alam (sunnatullāh)
yang dapat dipelajari melalui observasi dan rasio. Namun, keteraturan ini
dipahami sebagai manifestasi kehendak Tuhan, bukan sebagai mekanisme otonom
yang berdiri sendiri. Dengan demikian, kausalitas bersifat relatif dan
kontingen, bukan mutlak.¹⁰
3.3.3.
Relativitas dan
Keterbukaan Pengetahuan
Pengetahuan manusia
dalam Sains Islam dipahami bersifat tentatif dan terbuka terhadap koreksi.
Tidak ada klaim finalitas ilmiah yang absolut, kecuali pada prinsip-prinsip
wahyu. Sikap epistemik ini mendorong kerendahan intelektual (intellectual
humility) dan keterbukaan terhadap dialog serta pengembangan
ilmu.¹¹
3.4.
Kriteria Kebenaran
dalam Sains Islam
Dalam Sains Islam,
kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh satu kriteria tunggal. Kebenaran empiris
diuji melalui korespondensi dengan fakta dan konsistensi logis, sementara kebenaran
metafisik dan etis diukur melalui kesesuaiannya dengan prinsip wahyu.
Pendekatan pluralistik ini memungkinkan integrasi antara validitas ilmiah dan
nilai moral.¹²
Model kebenaran
semacam ini berbeda dari positivisme ilmiah yang membatasi kebenaran pada
verifikasi empiris semata. Sains Islam menolak reduksi tersebut tanpa menafikan
pentingnya objektivitas dan metodologi ilmiah.¹³
3.5.
Epistemologi Sains
Islam dan Kritik terhadap Positivisme
Salah satu
kontribusi penting epistemologi Sains Islam adalah kritiknya terhadap
positivisme dan materialisme ilmiah. Positivisme cenderung menyingkirkan
dimensi makna, nilai, dan tujuan dari sains, sehingga menghasilkan pengetahuan
yang efektif secara teknis tetapi miskin secara etis.¹⁴
Epistemologi Sains
Islam menawarkan koreksi dengan menegaskan bahwa sains harus berakar pada
pandangan hidup yang bermakna dan bertanggung jawab. Dengan demikian, ilmu
pengetahuan tidak hanya berfungsi untuk menguasai alam, tetapi juga untuk
menjaga keseimbangan kosmos dan martabat manusia.¹⁵
Footnotes
[1]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 87–90.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 21–24.
[3]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature
(Tehran: Global Publications, 1998), 14–16.
[4]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 33–36.
[5]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 97–100.
[6]
Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga,
2007), 52–55.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 78–80.
[8]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History
(New Haven: Yale University Press, 2010), 41–44.
[9]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy
and Science, 1991), 3–5.
[10]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 13–15.
[11]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
206–208.
[12]
Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (San Francisco:
Harper & Row, 1990), 104–106.
[13]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University
of Notre Dame Press, 1981), 78–80.
[14]
Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the
Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 11–14.
[15]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study
(London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 9–11.
4.
Sejarah Perkembangan
Sains dalam Peradaban Islam
4.1.
Latar Historis
Lahirnya Tradisi Sains Islam
Perkembangan sains
dalam peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks teologis dan kultural
Islam sejak abad ke-7 M. Wahyu pertama yang menekankan perintah membaca (iqra’)
menjadi fondasi simbolik bagi tumbuhnya tradisi intelektual yang menghargai
ilmu pengetahuan. Dorongan keagamaan ini melahirkan etos keilmuan yang
memandang pencarian ilmu sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral
manusia sebagai khalifah di bumi.¹
Sejak masa awal
Islam, perhatian terhadap pengetahuan tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu
keagamaan, tetapi juga meluas ke bidang-bidang rasional dan empiris. Kebutuhan
praktis—seperti penentuan waktu ibadah, arah kiblat, pengelolaan kesehatan, dan
administrasi pemerintahan—turut mendorong berkembangnya kajian astronomi,
matematika, dan kedokteran.² Dengan demikian, sains dalam Islam lahir dari
integrasi antara motivasi religius dan kebutuhan sosial.
4.2.
Gerakan Penerjemahan
dan Asimilasi Ilmu
Perkembangan
signifikan sains Islam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya sejak
abad ke-8 hingga ke-10 M. Pada periode ini, berlangsung gerakan penerjemahan
besar-besaran karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam
bahasa Arab. Gerakan ini tidak sekadar bersifat transfer pengetahuan, tetapi
juga proses asimilasi dan transformasi epistemologis.³
Lembaga seperti Bayt al-Ḥikmah
di Baghdad berperan penting sebagai pusat penerjemahan, penelitian, dan diskusi
ilmiah. Karya-karya Aristoteles, Galen, Ptolemaios, dan Euclid dipelajari,
dikritisi, dan dikembangkan dalam kerangka pandangan dunia Islam.⁴ Hal ini
menunjukkan bahwa tradisi sains Islam tidak bersifat imitasi pasif, melainkan
aktif dan kreatif.
4.3.
Institusionalisasi
Ilmu dan Tradisi Keilmuan
Selain pusat
penerjemahan, peradaban Islam mengembangkan berbagai institusi keilmuan yang menopang
kemajuan sains. Madrasah, rumah sakit (bīmāristān), observatorium, dan
perpustakaan menjadi ruang penting bagi produksi dan transmisi ilmu
pengetahuan.⁵
Madrasah tidak hanya
mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga membuka ruang bagi kajian filsafat,
matematika, dan sains alam. Sementara itu, rumah sakit berfungsi sebagai pusat
pendidikan kedokteran yang mengintegrasikan teori dan praktik klinis.
Observatorium seperti di Maragha dan Samarkand menjadi tempat pengembangan
astronomi berbasis observasi sistematis.⁶
4.4.
Kontribusi Ilmuwan
Muslim dalam Berbagai Bidang Sains
Peradaban Islam
melahirkan banyak ilmuwan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap
perkembangan sains dunia. Dalam bidang matematika, konsep aljabar dan algoritma
dikembangkan secara sistematis. Dalam astronomi, pengamatan empiris
menghasilkan koreksi terhadap model geosentris Ptolemaios.⁷
Dalam kedokteran,
karya-karya ensiklopedis tentang penyakit, farmakologi, dan anatomi menjadi
rujukan utama di dunia Islam dan Eropa selama berabad-abad. Dalam kimia dan
fisika, eksperimen laboratorium mulai digunakan sebagai metode ilmiah untuk
memahami sifat materi. Kontribusi-kontribusi ini menunjukkan bahwa sains Islam
bersifat empiris, rasional, dan metodologis.⁸
4.5.
Karakter Epistemologis
Sains Islam Klasik
Sains Islam klasik
memiliki karakter epistemologis yang khas. Pertama, ia bersifat integratif,
menggabungkan observasi empiris dengan refleksi filosofis dan metafisik. Kedua,
ia berlandaskan etika ilmiah yang menempatkan ilmu sebagai sarana kemaslahatan,
bukan dominasi. Ketiga, ia terbuka terhadap kritik dan koreksi, sebagaimana
tampak dalam tradisi perdebatan ilmiah yang hidup di kalangan ulama dan
ilmuwan.⁹
Karakter ini
membedakan sains Islam dari sains modern awal di Eropa yang kemudian berkembang
ke arah sekularisasi epistemologis. Dalam sains Islam, rasionalitas tidak
bertentangan dengan religiositas, melainkan berjalan seiring dalam satu
kesatuan pandangan dunia.¹⁰
4.6.
Faktor Kemunduran dan
Transformasi Tradisi Sains Islam
Sejak abad ke-13 M,
dinamika sains dalam dunia Islam mengalami perubahan signifikan. Berbagai
faktor internal dan eksternal—seperti instabilitas politik, invasi Mongol,
perubahan pola patronase ilmu, serta pergeseran orientasi
pendidikan—berkontribusi terhadap melemahnya institusi ilmiah.¹¹
Namun, kemunduran
ini tidak dapat dipahami sebagai berhentinya aktivitas ilmiah secara total.
Tradisi sains Islam mengalami transformasi dan fragmentasi, sementara sebagian
warisan intelektualnya ditransmisikan ke Eropa dan berperan penting dalam
kebangkitan sains modern.¹² Dengan demikian, sejarah sains Islam tidak berakhir
dalam stagnasi mutlak, melainkan berlanjut dalam bentuk yang berbeda.
4.7.
Signifikansi Historis
Sains Islam bagi Ilmu Pengetahuan Global
Secara historis,
sains Islam berfungsi sebagai mata rantai penting antara tradisi ilmu kuno dan
sains modern. Ia menyediakan metodologi, konsep, dan institusi yang
memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan secara berkelanjutan. Lebih dari
itu, sains Islam menunjukkan bahwa kemajuan ilmiah dapat tumbuh subur dalam
kerangka religius tanpa kehilangan rasionalitas dan objektivitas.¹³
Signifikansi ini
menegaskan bahwa Sains Islam bukan sekadar fenomena historis, melainkan sumber
inspirasi konseptual bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih etis dan
bermakna di masa kini.¹⁴
Footnotes
[1]
Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in
Medieval Islam (Leiden: Brill, 1970), 1–5.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1968), 9–11.
[3]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture (London:
Routledge, 1998), 20–23.
[4]
George Saliba, Islamic Science and the Making of the European
Renaissance (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 32–35.
[5]
Jonathan P. Berkey, The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo
(Princeton: Princeton University Press, 1992), 44–47.
[6]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History
(New Haven: Yale University Press, 2010), 55–58.
[7]
Roshdi Rashed, The Development of Arabic Mathematics
(Dordrecht: Kluwer, 1994), 61–64.
[8]
Fuat Sezgin, Science and Technology in Islam, vol. 1
(Frankfurt: Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften,
2006), 17–20.
[9]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 38–41.
[10]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 82–85.
[11]
Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the
Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 92–95.
[12]
George Saliba, Islamic Science and the Making of the European
Renaissance, 180–183.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study
(London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 3–6.
[14]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 119–121.
5.
Metodologi Ilmiah
dalam Sains Islam
5.1.
Metodologi sebagai
Jantung Aktivitas Ilmiah
Metodologi ilmiah
merupakan seperangkat prinsip dan prosedur sistematis yang digunakan untuk
memperoleh pengetahuan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam Sains
Islam, metodologi tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis untuk memperoleh
data, tetapi juga sebagai ekspresi dari pandangan dunia Islam yang
mengintegrasikan rasionalitas, empirisme, dan etika. Oleh karena itu,
metodologi ilmiah dalam Sains Islam tidak bersifat netral nilai, melainkan
terarah pada tujuan epistemik dan aksiologis tertentu.¹
Berbeda dengan sains
modern yang cenderung memisahkan metodologi dari pertimbangan metafisik dan
moral, Sains Islam memandang metode sebagai bagian integral dari visi tauhid.
Cara memperoleh pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang
hakikat realitas, kedudukan manusia sebagai subjek pengetahuan, dan tanggung jawab
moral ilmuwan.²
5.2.
Observasi dan
Eksperimen dalam Sains Islam
Observasi (mulāḥaẓah)
dan eksperimen (tajribah) merupakan metode penting
dalam tradisi sains Islam, terutama dalam kajian alam dan kedokteran. Para
ilmuwan Muslim klasik menekankan pentingnya pengamatan langsung terhadap
fenomena alam dan pengujian empiris terhadap hipotesis. Pendekatan ini
menunjukkan bahwa Sains Islam tidak bersifat spekulatif semata, tetapi berakar
kuat pada realitas empiris.³
Metode eksperimen
digunakan secara sistematis dalam berbagai bidang, seperti kedokteran dan
kimia. Dalam konteks ini, pengalaman empiris dipahami sebagai sarana untuk
membaca tanda-tanda Tuhan di alam, bukan sebagai sumber kebenaran yang berdiri
sendiri. Dengan demikian, observasi dan eksperimen ditempatkan dalam kerangka
epistemologis yang lebih luas dan bermakna.⁴
5.3.
Peran Rasionalitas dan
Analisis Logis
Rasionalitas
memainkan peran sentral dalam metodologi Sains Islam. Akal digunakan untuk
menyusun hipotesis, menarik kesimpulan, dan membangun teori yang koheren
berdasarkan data empiris. Tradisi logika (manṭiq) yang berkembang dalam
filsafat Islam menyediakan perangkat analitis yang penting bagi aktivitas
ilmiah.⁵
Namun, penggunaan
rasio dalam Sains Islam dibatasi oleh kesadaran akan keterbatasannya. Rasionalitas
tidak dipahami sebagai otoritas epistemik yang absolut, melainkan sebagai
instrumen yang harus selaras dengan wahyu dan realitas empiris. Pendekatan ini
mencegah dominasi rasionalisme ekstrem sekaligus menghindari
anti-intelektualisme.⁶
5.4.
Integrasi Wahyu dan
Metode Ilmiah
Salah satu ciri khas
metodologi Sains Islam adalah integrasi wahyu dengan metode ilmiah. Wahyu tidak
berfungsi sebagai pengganti observasi dan eksperimen, tetapi sebagai sumber
orientasi yang menetapkan asumsi dasar tentang realitas, tujuan ilmu, dan
batas-batas etika penelitian.⁷
Dalam praktik
ilmiah, integrasi ini tercermin dalam sikap kehati-hatian metodologis,
kesadaran moral, dan penolakan terhadap klaim absolutisme ilmiah. Wahyu
memberikan kerangka normatif yang menjaga agar aktivitas ilmiah tidak terlepas
dari tanggung jawab kemanusiaan dan keseimbangan kosmos.⁸
5.5.
Etika sebagai Dimensi
Metodologis
Dalam Sains Islam,
etika bukanlah aspek eksternal yang ditambahkan setelah proses ilmiah selesai,
melainkan bagian inheren dari metodologi. Aktivitas ilmiah harus
mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, dan moral dari pengetahuan yang
dihasilkan. Prinsip kemaslahatan (maṣlaḥah) dan pencegahan kerusakan
(mafsadah)
menjadi pedoman penting dalam penerapan ilmu.⁹
Pendekatan ini
berbeda secara fundamental dari paradigma teknokratis yang menilai keberhasilan
sains semata-mata berdasarkan efektivitas dan utilitas teknis. Dalam Sains
Islam, metode ilmiah dinilai tidak hanya dari segi keakuratan empiris, tetapi
juga dari kontribusinya terhadap keadilan, keseimbangan, dan martabat
manusia.¹⁰
5.6.
Objektivitas dan
Subjektivitas dalam Sains Islam
Sains Islam mengakui
pentingnya objektivitas metodologis, seperti konsistensi logis, verifikasi
empiris, dan keterulangan hasil. Namun, ia juga menyadari bahwa aktivitas
ilmiah selalu melibatkan subjek manusia dengan asumsi, nilai, dan keterbatasan
tertentu. Oleh karena itu, klaim objektivitas absolut dipandang problematis.¹¹
Pendekatan ini
mendorong refleksi kritis terhadap asumsi-asumsi epistemik dan ideologis yang
melatarbelakangi praktik ilmiah. Dengan demikian, metodologi Sains Islam
bersifat reflektif dan terbuka, memungkinkan koreksi diri dan pengembangan
berkelanjutan.¹²
5.7.
Metodologi Sains Islam
dalam Perspektif Kontemporer
Dalam konteks
kontemporer, metodologi Sains Islam menawarkan alternatif kritis terhadap
pendekatan ilmiah yang reduksionistik dan eksploitatif. Integrasi rasionalitas,
empirisme, dan etika memungkinkan pengembangan sains yang lebih bertanggung
jawab dan berkelanjutan. Hal ini menjadi relevan terutama dalam menghadapi
tantangan teknologi modern, seperti bioteknologi, kecerdasan buatan, dan krisis
lingkungan.¹³
Dengan demikian,
metodologi ilmiah dalam Sains Islam tidak hanya memiliki signifikansi historis,
tetapi juga potensi normatif untuk merekonstruksi praktik sains di masa depan
agar lebih manusiawi dan bermakna.¹⁴
Footnotes
[1]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 61–63.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 27–29.
[3]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History
(New Haven: Yale University Press, 2010), 67–69.
[4]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 85–87.
[5]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York:
Columbia University Press, 2004), 109–112.
[6]
Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga,
2007), 59–62.
[7]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature
(Tehran: Global Publications, 1998), 19–21.
[8]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 41–43.
[9]
Mohammad Hashim Kamali, Principles of Islamic Jurisprudence
(Cambridge: Islamic Texts Society, 2003), 351–353.
[10]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
214–216.
[11]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 110–112.
[12]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University
of Notre Dame Press, 1981), 84–86.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 98–100.
[14]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives,
142–145.
6.
Perbandingan Sains
Islam dan Sains Modern Barat
6.1.
Pendahuluan: Kerangka
Perbandingan Paradigmatik
Perbandingan antara
Sains Islam dan sains modern Barat tidak dimaksudkan untuk menegaskan
superioritas salah satu paradigma secara ideologis, melainkan untuk memahami
perbedaan asumsi dasar, metode, dan tujuan yang melandasi keduanya. Setiap
tradisi sains lahir dari konteks historis dan pandangan dunia tertentu yang
membentuk cara manusia memahami realitas. Oleh karena itu, analisis komparatif
harus dilakukan secara kritis dan proporsional, dengan memperhatikan dimensi
ontologis, epistemologis, dan aksiologis masing-masing paradigma.¹
Sains modern Barat
berkembang dalam konteks sekularisasi pengetahuan sejak era Renaisans dan
Pencerahan, sementara Sains Islam tumbuh dalam kerangka tauhid yang
mengintegrasikan dimensi spiritual dan rasional. Perbedaan konteks ini
menghasilkan konsekuensi mendasar dalam cara memandang alam, manusia, dan
tujuan ilmu pengetahuan.²
6.2.
Perbandingan
Ontologis: Pandangan tentang Realitas
Secara ontologis,
Sains Islam memandang realitas sebagai kesatuan bertingkat yang mencakup
dimensi fisik dan metafisik. Alam semesta dipahami sebagai ciptaan Tuhan yang
bersifat kontingen, teratur, dan bermakna. Setiap fenomena alam tidak hanya
memiliki penjelasan kausal, tetapi juga makna simbolik sebagai tanda (āyah)
yang menunjuk kepada Sang Pencipta.³
Sebaliknya, sains
modern Barat—khususnya dalam tradisi positivistik—cenderung mengadopsi ontologi
naturalistik yang membatasi realitas pada apa yang dapat diobservasi dan diukur
secara empiris. Dimensi metafisik dan teologis dianggap berada di luar wilayah
sains. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan sains yang efektif secara
teknis, tetapi berpotensi mereduksi makna realitas pada aspek material semata.⁴
6.3.
Perbandingan
Epistemologis: Sumber dan Validitas Pengetahuan
Dalam epistemologi
Sains Islam, sumber pengetahuan meliputi wahyu, akal, dan pengalaman empiris.
Ketiganya dipahami sebagai sumber yang saling melengkapi, bukan saling
menegasikan. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi normatif dan metafisik,
sementara akal dan empirisme berperan dalam analisis dan verifikasi fenomena
alam.⁵
Sains modern Barat,
di sisi lain, menempatkan rasio dan pengalaman empiris sebagai sumber utama
pengetahuan ilmiah. Kebenaran ilmiah diukur melalui verifikasi atau falsifikasi
empiris, serta konsistensi logis. Pendekatan ini cenderung menolak otoritas
wahyu dalam wilayah sains, dengan alasan menjaga objektivitas dan netralitas
nilai.⁶
Perbedaan
epistemologis ini tidak berarti bahwa Sains Islam anti-empiris atau
anti-rasional. Sebaliknya, ia mengkritik reduksionisme epistemologis yang
membatasi pengetahuan hanya pada apa yang dapat diverifikasi secara empiris,
serta menafikan dimensi makna dan tujuan.⁷
6.4.
Perbandingan
Metodologis: Cara Kerja Ilmu
Dari sisi
metodologi, terdapat banyak kesamaan teknis antara Sains Islam dan sains modern
Barat, seperti penggunaan observasi, eksperimen, dan analisis rasional. Sejarah
menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim klasik telah mengembangkan metode empiris jauh
sebelum lahirnya sains modern di Eropa.⁸
Namun, perbedaan
utama terletak pada kerangka normatif dan filosofis yang mengiringi metode
tersebut. Dalam Sains Islam, metodologi ilmiah selalu berada dalam bingkai
etika dan tanggung jawab moral. Metode ilmiah tidak dipandang sebagai alat
netral yang bebas nilai, melainkan sebagai aktivitas manusia yang harus
dipertanggungjawabkan secara etis dan spiritual.⁹
Sains modern Barat,
terutama dalam fase positivistiknya, cenderung memisahkan metodologi dari
pertimbangan etika dan metafisika. Etika sering ditempatkan sebagai isu
eksternal yang muncul setelah pengetahuan dihasilkan, bukan sebagai bagian
inheren dari proses ilmiah itu sendiri.¹⁰
6.5.
Perbandingan
Aksiologis: Tujuan dan Nilai Ilmu
Perbedaan paling
fundamental antara Sains Islam dan sains modern Barat terletak pada dimensi
aksiologis, yakni tujuan dan nilai ilmu pengetahuan. Dalam Sains Islam, tujuan
utama ilmu adalah mencapai kebenaran, kemaslahatan, dan pengenalan yang lebih
mendalam terhadap Tuhan melalui pemahaman terhadap ciptaan-Nya. Ilmu diarahkan
untuk menjaga keseimbangan kosmos dan meningkatkan kualitas moral manusia.¹¹
Sebaliknya, sains
modern Barat sering kali diarahkan pada penguasaan dan manipulasi alam demi
kepentingan manusia. Orientasi ini telah menghasilkan kemajuan teknologi yang
luar biasa, tetapi juga menimbulkan problem etika, seperti eksploitasi lingkungan,
dehumanisasi, dan krisis makna.¹²
Sains Islam
mengkritik orientasi utilitarian dan instrumental semacam ini tanpa menolak
manfaat praktis sains. Kritik tersebut diarahkan pada perlunya reorientasi
nilai agar sains kembali berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan.¹³
6.6.
Titik Temu dan Ruang
Dialog
Meskipun terdapat
perbedaan mendasar, Sains Islam dan sains modern Barat memiliki sejumlah titik
temu yang memungkinkan dialog konstruktif. Keduanya menghargai rasionalitas,
konsistensi logis, dan bukti empiris sebagai unsur penting dalam pengetahuan
ilmiah. Kesamaan ini membuka ruang kerja sama dan pertukaran intelektual lintas
tradisi.¹⁴
Dialog epistemologis
semacam ini penting untuk menghindari sikap eksklusivisme dan antagonisme.
Sains Islam dapat berfungsi sebagai perspektif kritis yang memperkaya sains
modern, sementara sains modern menyediakan perangkat metodologis yang dapat
dimanfaatkan secara selektif dan reflektif dalam kerangka Islam.¹⁵
6.7.
Implikasi Perbandingan
bagi Pengembangan Ilmu Kontemporer
Analisis
perbandingan ini menunjukkan bahwa krisis yang dihadapi sains modern bukan
terutama bersifat teknis, melainkan filosofis dan etis. Dalam konteks ini,
Sains Islam menawarkan kontribusi konseptual berupa integrasi antara
pengetahuan, nilai, dan tujuan hidup manusia.¹⁶
Dengan demikian,
perbandingan antara Sains Islam dan sains modern Barat tidak berakhir pada
dikotomi biner, melainkan membuka kemungkinan sintesis kritis yang dapat
memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan di era kontemporer.¹⁷
Footnotes
[1]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 10–12.
[2]
John Hedley Brooke, Science and Religion: Some Historical
Perspectives (Cambridge: Cambridge University Press, 1991), 42–44.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 72–74.
[4]
Auguste Comte, The Positive Philosophy (New York: Calvin
Blanchard, 1855), 18–20.
[5]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 36–39.
[6]
Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery (London:
Routledge, 1959), 27–29.
[7]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature
(Tehran: Global Publications, 1998), 24–26.
[8]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History
(New Haven: Yale University Press, 2010), 70–72.
[9]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 45–47.
[10]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 114–116.
[11]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 67–69.
[12]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 102–104.
[13]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
218–220.
[14]
Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (San Francisco:
Harper & Row, 1990), 119–121.
[15]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University
of Notre Dame Press, 1981), 90–92.
[16]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study
(London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 14–16.
[17]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives,
173–176.
7.
Sains Islam dan
Tantangan Kontemporer
7.1.
Konteks Kontemporer
dan Posisi Sains Islam
Memasuki abad ke-21,
ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Revolusi digital, kemajuan bioteknologi, kecerdasan buatan,
serta eksploitasi sumber daya alam secara masif telah mengubah cara manusia
hidup, berpikir, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Namun, kemajuan
tersebut juga memunculkan problem-problem serius, seperti krisis lingkungan,
dehumanisasi teknologi, dan kekosongan makna dalam kehidupan modern.¹
Dalam konteks ini,
Sains Islam dihadapkan pada tantangan ganda. Di satu sisi, ia harus mampu
berdialog secara kritis dengan perkembangan sains modern agar tidak terjebak
dalam isolasionisme intelektual. Di sisi lain, ia dituntut untuk mempertahankan
integritas epistemologis dan etisnya agar tidak larut dalam reduksionisme dan
sekularisasi nilai.² Tantangan kontemporer ini menuntut rekonstruksi konseptual
Sains Islam yang relevan dengan realitas zaman tanpa kehilangan akar
normatifnya.
7.2.
Tantangan
Epistemologis: Reduksionisme dan Sekularisasi Ilmu
Salah satu tantangan
utama yang dihadapi Sains Islam adalah dominasi paradigma epistemologis modern
yang bersifat reduksionistik. Paradigma ini cenderung mereduksi realitas pada
aspek material dan kuantitatif, serta menyingkirkan dimensi metafisik,
spiritual, dan etis dari wilayah pengetahuan yang sah.³
Sekularisasi ilmu
pengetahuan juga berdampak pada marginalisasi perspektif keagamaan dalam
diskursus ilmiah. Sains sering dipandang sebagai aktivitas yang sepenuhnya
otonom dan bebas nilai, sementara agama direduksi menjadi urusan privat. Dalam
kondisi semacam ini, Sains Islam menghadapi tantangan untuk menegaskan kembali
legitimasi epistemologis wahyu dan metafisika tanpa menolak rasionalitas dan
empirisme.⁴
Respons terhadap
tantangan ini tidak dapat berupa penolakan total terhadap sains modern,
melainkan kritik filosofis yang membongkar asumsi-asumsi epistemik yang
tersembunyi di balik klaim netralitas ilmiah. Dengan demikian, Sains Islam
dapat berfungsi sebagai koreksi epistemologis yang konstruktif.⁵
7.3.
Tantangan Etika Sains
dan Teknologi
Kemajuan teknologi
modern telah melahirkan persoalan etika yang kompleks, terutama dalam bidang
bioteknologi, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetika. Teknologi yang awalnya
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia justru berpotensi
mengancam martabat manusia dan keseimbangan alam jika tidak dibatasi oleh
pertimbangan moral.⁶
Dalam konteks ini,
Sains Islam menawarkan kerangka etika yang berlandaskan prinsip tauhid,
kemaslahatan, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Etika tidak
dipahami sebagai tambahan eksternal terhadap sains, tetapi sebagai dimensi
inheren yang harus hadir sejak tahap perumusan masalah, pemilihan metode,
hingga penerapan hasil penelitian.⁷
Tantangan
kontemporer menuntut agar etika Islam tidak berhenti pada tataran normatif
abstrak, melainkan diterjemahkan ke dalam pedoman praktis bagi riset dan
teknologi modern. Hal ini memerlukan dialog intensif antara ulama, ilmuwan, dan
filsuf untuk merumuskan etika sains yang kontekstual dan aplikatif.⁸
7.4.
Tantangan Lingkungan
dan Krisis Ekologis
Krisis lingkungan
global merupakan salah satu konsekuensi paling nyata dari paradigma sains dan
teknologi yang eksploitatif. Pandangan dunia yang memposisikan alam sebagai
objek dominasi manusia telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara
berlebihan, yang berujung pada kerusakan ekosistem dan perubahan iklim.⁹
Sains Islam
menawarkan perspektif ekologis yang berbeda dengan menempatkan alam sebagai
amanah Tuhan yang harus dijaga keseimbangannya. Alam tidak hanya memiliki nilai
instrumental, tetapi juga nilai intrinsik sebagai bagian dari tatanan kosmik
yang sakral. Perspektif ini menuntut pendekatan ilmiah yang berorientasi pada
keberlanjutan (sustainability) dan keadilan
antargenerasi.¹⁰
Tantangan ekologis
kontemporer memperlihatkan relevansi Sains Islam sebagai paradigma alternatif
yang mampu mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan tanggung jawab moral
terhadap alam dan generasi mendatang.¹¹
7.5.
Tantangan Pendidikan
dan Pengembangan Sains Islam
Di bidang
pendidikan, Sains Islam menghadapi tantangan integrasi kurikulum antara ilmu
agama dan ilmu sains. Model pendidikan yang masih bersifat dikotomis berpotensi
melahirkan lulusan yang terampil secara teknis tetapi miskin refleksi etis dan
spiritual, atau sebaliknya, religius tetapi kurang literasi ilmiah.¹²
Pengembangan
pendidikan Sains Islam memerlukan pendekatan integratif yang tidak sekadar
menempelkan ayat-ayat Al-Qur’an pada materi sains, tetapi membangun kesadaran
epistemologis dan etis tentang hakikat ilmu. Pendidikan semacam ini harus
mendorong sikap kritis, keterbukaan, dan tanggung jawab sosial dalam aktivitas
ilmiah.¹³
7.6.
Globalisasi Ilmu dan
Dialog Peradaban
Globalisasi ilmu
pengetahuan membuka peluang sekaligus tantangan bagi Sains Islam. Di satu sisi,
ia memungkinkan pertukaran ide dan kolaborasi lintas budaya. Di sisi lain, ia
berpotensi memperkuat hegemoni paradigma sains Barat jika tidak diimbangi
dengan kesadaran kritis terhadap keragaman pandangan dunia.¹⁴
Dalam konteks ini,
Sains Islam memiliki peran strategis sebagai jembatan dialog antara tradisi
keilmuan Islam dan sains global. Dialog ini tidak bertujuan untuk meleburkan
perbedaan secara simplistis, tetapi untuk membangun pemahaman timbal balik dan
sintesis kritis yang saling memperkaya.¹⁵
7.7.
Prospek Sains Islam
dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan
Meskipun menghadapi
berbagai tantangan, Sains Islam memiliki prospek yang signifikan dalam
membentuk paradigma ilmu pengetahuan yang lebih manusiawi dan bermakna. Dengan
mengintegrasikan rasionalitas, empirisme, dan etika, Sains Islam dapat
berkontribusi pada pengembangan sains yang tidak hanya canggih secara teknis,
tetapi juga bertanggung jawab secara moral.¹⁶
Tantangan
kontemporer justru menegaskan urgensi Sains Islam sebagai wacana kritis dan
konstruktif dalam dunia ilmu pengetahuan global. Masa depan Sains Islam
bergantung pada kemampuannya untuk terus berdialog, beradaptasi, dan
merekonstruksi diri tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya.¹⁷
Footnotes
[1]
Ulrich Beck, World Risk Society (Cambridge: Polity Press,
1999), 3–6.
[2]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 119–122.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 61–63.
[4]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 125–127.
[5]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature
(Tehran: Global Publications, 1998), 32–34.
[6]
Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow
(London: Harvill Secker, 2016), 56–59.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature (New
York: Oxford University Press, 1996), 96–98.
[8]
Mohammad Hashim Kamali, Ethics and Fiqh for Everyday Life
(Kuala Lumpur: IAIS Malaysia, 2016), 201–203.
[9]
Lynn White Jr., “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis,” Science
155, no. 3767 (1967): 1203–1207.
[10]
Osman Bakar, Qur’anic Pictures of the Universe (Kuala Lumpur:
Islamic Book Trust, 2016), 214–217.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 108–110.
[12]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
109–112.
[13]
Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar (Jakarta: Erlangga,
2007), 91–94.
[14]
Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South
(London: Routledge, 2014), 15–18.
[15]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
225–227.
[16]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study
(London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 28–30.
[17]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives,
191–194.
8.
Kritik terhadap
Konsep Sains Islam
8.1.
Pendahuluan:
Pentingnya Kritik dalam Diskursus Ilmiah
Setiap paradigma
ilmiah yang matang harus terbuka terhadap kritik, baik yang bersifat internal
maupun eksternal. Kritik bukan dimaksudkan untuk menegasikan suatu gagasan,
melainkan sebagai mekanisme evaluasi rasional guna menguji konsistensi,
validitas, dan relevansinya. Dalam konteks ini, konsep Sains Islam—sebagai
paradigma epistemologis dan aksiologis—perlu dikaji secara kritis agar tidak
terjebak dalam dogmatisme atau romantisisme sejarah.¹
Bab ini membahas
berbagai kritik yang diarahkan kepada konsep Sains Islam, baik yang datang dari
kalangan internal umat Islam maupun dari perspektif eksternal, khususnya dari
tradisi sains modern Barat. Pembahasan kritik ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kelemahan konseptual sekaligus membuka ruang rekonstruksi yang
lebih matang dan kontekstual.
8.2.
Kritik Internal:
Problem Konseptual dan Metodologis
8.2.1.
Ketidakjelasan
Definisi dan Ruang Lingkup
Salah satu kritik
internal yang sering diarahkan kepada Sains Islam adalah ketidakjelasan
definisi dan batasan konseptualnya. Istilah “Sains Islam” digunakan dalam
berbagai makna, mulai dari sains yang dikembangkan oleh ilmuwan Muslim, sains
yang diinspirasi nilai-nilai Islam, hingga proyek islamisasi ilmu pengetahuan.
Keragaman penggunaan ini menimbulkan ambiguitas epistemologis dan kesulitan
metodologis dalam penerapannya.²
Tanpa definisi yang
ketat, Sains Islam berisiko menjadi slogan ideologis yang longgar, sulit diverifikasi,
dan kurang operasional dalam praktik ilmiah. Kritik ini menuntut perumusan
konseptual yang lebih presisi agar Sains Islam dapat berfungsi sebagai
paradigma ilmiah yang koheren.³
8.2.2.
Risiko Romantisisme
Sejarah
Kritik internal lain
berkaitan dengan kecenderungan romantisisme terhadap kejayaan sains dalam
peradaban Islam klasik. Sebagian wacana Sains Islam cenderung menampilkan masa
lalu sebagai model ideal tanpa analisis kritis terhadap keterbatasan
historisnya. Pendekatan semacam ini berpotensi menghambat inovasi dan adaptasi
terhadap tantangan kontemporer.⁴
Romantisisme sejarah
juga dapat melahirkan sikap defensif terhadap kritik, sehingga diskursus Sains
Islam kehilangan dinamika ilmiah yang sehat. Oleh karena itu, diperlukan
pendekatan historiografis yang kritis dan objektif dalam menilai warisan sains
Islam klasik.⁵
8.2.3.
Tantangan Integrasi
Wahyu dan Metode Empiris
Integrasi wahyu
dengan metode ilmiah sering menjadi titik lemah dalam praktik Sains Islam.
Beberapa pendekatan cenderung mencampuradukkan klaim teologis dengan penjelasan
ilmiah secara tidak proporsional, sehingga menimbulkan problem metodologis. Hal
ini tampak dalam kecenderungan “pembenaran ilmiah” ayat-ayat Al-Qur’an yang
bersifat spekulatif dan temporer.⁶
Kritik ini
menegaskan perlunya pemisahan fungsional antara wahyu sebagai sumber orientasi
normatif dan sains sebagai aktivitas investigasi empiris, tanpa memutus
hubungan epistemologis di antara keduanya.⁷
8.3.
Kritik Eksternal:
Perspektif Sains Modern Barat
8.3.1.
Tuduhan Ideologisasi
Sains
Dari perspektif
sains modern Barat, Sains Islam sering dikritik sebagai bentuk ideologisasi
sains. Kritik ini berangkat dari asumsi bahwa sains harus bersifat netral nilai
dan bebas dari pengaruh agama atau ideologi. Menurut pandangan ini, memasukkan
wahyu atau nilai religius ke dalam sains dianggap mengancam objektivitas
ilmiah.⁸
Kritik tersebut
mencerminkan paradigma sekular yang mendominasi sains modern, tetapi sekaligus
mengabaikan fakta bahwa sains itu sendiri tidak pernah sepenuhnya bebas nilai.
Dengan demikian, kritik ini membuka ruang diskusi tentang asumsi-asumsi
filosofis yang mendasari klaim netralitas sains modern.⁹
8.3.2.
Problem Universalitas
Ilmu
Kritik eksternal
lainnya menyangkut klaim universalitas ilmu pengetahuan. Sains modern memandang
hukum-hukum alam sebagai universal dan independen dari konteks budaya atau
agama. Dari sudut pandang ini, gagasan tentang “Sains Islam” dianggap
partikularistik dan berpotensi memecah kesatuan ilmu pengetahuan global.¹⁰
Namun, kritik ini
sering kali gagal membedakan antara universalitas metode empiris dan
partikularitas pandangan dunia yang melandasi interpretasi ilmiah. Sains Islam
tidak menolak universalitas fakta empiris, tetapi menyoroti bahwa pemaknaan dan
tujuan ilmu selalu dipengaruhi oleh kerangka nilai tertentu.¹¹
8.4.
Evaluasi Kritis
terhadap Kritik-Kritik Tersebut
Baik kritik internal
maupun eksternal terhadap Sains Islam mengandung poin-poin yang valid dan perlu
diperhatikan. Kritik internal menyoroti kebutuhan akan klarifikasi konseptual
dan disiplin metodologis, sementara kritik eksternal mengingatkan akan
pentingnya menjaga standar rasionalitas dan empirisme dalam praktik ilmiah.¹²
Namun, sebagian
kritik juga berangkat dari asumsi epistemologis yang tidak netral, terutama
klaim bahwa sains harus sepenuhnya terpisah dari nilai dan metafisika. Dalam
hal ini, Sains Islam dapat berfungsi sebagai kritik balik terhadap fondasi
filosofis sains modern itu sendiri.¹³
8.5.
Rekonstruksi
Konseptual Sains Islam
Menanggapi berbagai
kritik tersebut, diperlukan rekonstruksi konseptual Sains Islam yang lebih
matang. Rekonstruksi ini mencakup penegasan definisi, pemisahan fungsional
antara wahyu dan metode empiris, serta pengembangan etika sains yang aplikatif
dan kontekstual.¹⁴
Rekonstruksi
tersebut juga harus bersifat terbuka dan dialogis, memungkinkan interaksi
kritis dengan sains modern tanpa kehilangan identitas epistemologis Islam.
Dengan pendekatan ini, Sains Islam dapat berkembang sebagai paradigma ilmiah
yang dinamis, reflektif, dan relevan dengan tantangan zaman.¹⁵
Footnotes
[1]
Karl Popper, Conjectures and
Refutations (London: Routledge,
1963), 33–36.
[2]
Osman Bakar, Islam and Science:
Philosophical Perspectives (Kuala
Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 51–54.
[3]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the
Sciences of Nature (Tehran: Global
Publications, 1998), 41–43.
[4]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the
Challenge of History (New Haven:
Yale University Press, 2010), 88–91.
[5]
George Saliba, Islamic Science and the
Making of the European Renaissance
(Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 7–10.
[6]
Ziauddin Sardar, Islam, Science and
Cultural Relations (London:
Routledge, 1987), 52–55.
[7]
Seyyed Hossein Nasr, The
Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 66–69.
[8]
Pervez Hoodbhoy, Islam and Science:
Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 1–4.
[9]
Ian G. Barbour, Religion and Science:
Historical and Contemporary Issues
(San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 138–140.
[10]
Auguste Comte, The Positive Philosophy (New York: Calvin Blanchard, 1855), 25–27.
[11]
Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies
of the South (London: Routledge,
2014), 19–22.
[12]
Alasdair MacIntyre, After
Virtue (Notre Dame, IN: University
of Notre Dame Press, 1981), 93–95.
[13]
Seyyed Hossein Nasr, Religion
and the Order of Nature (New York:
Oxford University Press, 1996), 101–103.
[14]
Osman Bakar, Tawhid and Science:
Essays on the History and Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic Philosophy and
Science, 1991), 131–133.
[15]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004), 231–233.
9.
Integrasi Sains
Islam dalam Kerangka Ilmu Pengetahuan Global
9.1.
Pendahuluan: Integrasi
sebagai Keniscayaan Epistemik
Perkembangan ilmu
pengetahuan global dewasa ini ditandai oleh interkonektivitas lintas disiplin,
lintas budaya, dan lintas paradigma. Dalam situasi semacam ini, upaya
mengintegrasikan Sains Islam ke dalam kerangka ilmu pengetahuan global bukanlah
pilihan ideologis semata, melainkan keniscayaan epistemik. Integrasi diperlukan
agar Sains Islam tidak terisolasi sebagai wacana partikular, sekaligus agar
ilmu pengetahuan global tidak terjebak dalam reduksionisme dan kekosongan
nilai.¹
Integrasi yang dimaksud
bukanlah asimilasi total yang menghilangkan identitas epistemologis Islam,
melainkan dialog kritis dan konstruktif antara berbagai tradisi keilmuan.
Dengan pendekatan ini, Sains Islam dapat berkontribusi secara substantif dalam
membentuk arah perkembangan ilmu pengetahuan global yang lebih etis dan
bermakna.
9.2.
Makna Integrasi Ilmu
dalam Perspektif Sains Islam
Dalam perspektif
Sains Islam, integrasi ilmu berangkat dari prinsip tauhid yang menegaskan
kesatuan sumber kebenaran dan keterpaduan realitas. Prinsip ini menolak
fragmentasi ilmu yang memisahkan sains alam, ilmu sosial, dan humaniora dari
dimensi metafisik dan etis. Integrasi bukan berarti penyatuan metodologi secara
seragam, melainkan harmonisasi tujuan dan nilai di balik keragaman metode
ilmiah.²
Dengan demikian,
integrasi ilmu dalam Islam bersifat holistik dan hierarkis, di mana setiap
disiplin memiliki otonomi metodologis tetapi tetap berada dalam kerangka makna
yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan kerja sama lintas disiplin tanpa
kehilangan kedalaman filosofis dan tanggung jawab moral.³
9.3.
Model-Model Integrasi
Sains Islam dan Ilmu Pengetahuan Global
Berbagai model
integrasi telah dikemukakan dalam wacana kontemporer Sains Islam. Salah satu
model menekankan integrasi epistemologis, yakni upaya menyelaraskan asumsi
dasar tentang realitas, pengetahuan, dan nilai antara sains modern dan
pandangan dunia Islam. Model ini menuntut refleksi filosofis yang mendalam
terhadap fondasi ilmu pengetahuan.⁴
Model lain bersifat
aksiologis, dengan menekankan integrasi nilai-nilai etika Islam dalam praktik
sains dan teknologi modern. Dalam model ini, metodologi ilmiah modern tetap
digunakan, tetapi diarahkan oleh prinsip kemaslahatan, keadilan, dan
keberlanjutan. Pendekatan ini relatif lebih aplikatif dan kontekstual dalam
menghadapi problem global kontemporer.⁵
Terdapat pula model
integrasi pedagogis yang berfokus pada reformasi pendidikan, khususnya dalam
merancang kurikulum yang menghubungkan sains, agama, dan filsafat secara
dialogis. Model ini dipandang strategis dalam membentuk generasi ilmuwan yang
memiliki kompetensi teknis sekaligus kesadaran etis dan epistemologis.⁶
9.4.
Dialog Antarperadaban
dan Pluralitas Epistemologi
Ilmu pengetahuan
global pada hakikatnya merupakan hasil kontribusi berbagai peradaban. Oleh
karena itu, integrasi Sains Islam harus ditempatkan dalam kerangka dialog
antarperadaban dan pengakuan terhadap pluralitas epistemologi. Pendekatan ini
menolak klaim monopoli kebenaran ilmiah oleh satu tradisi budaya atau paradigma
tertentu.⁷
Dalam dialog semacam
ini, Sains Islam tidak hadir sebagai pesaing yang antagonistik terhadap sains
modern Barat, melainkan sebagai mitra kritis yang menawarkan perspektif
alternatif. Pluralitas epistemologi memungkinkan pertukaran gagasan yang
memperkaya, sekaligus mencegah hegemoni intelektual yang bersifat eksklusif.⁸
9.5.
Tantangan Integrasi di
Tingkat Global
Meskipun integrasi
Sains Islam dalam kerangka ilmu pengetahuan global memiliki potensi besar, ia
juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah dominasi paradigma
sains modern yang masih sangat kuat dalam institusi akademik global. Paradigma
ini sering kali memandang pendekatan religius sebagai tidak ilmiah atau tidak
relevan.⁹
Tantangan lainnya
adalah problem internal, seperti kurangnya pengembangan metodologi yang matang
dan keterbatasan riset empiris yang berangkat dari kerangka Sains Islam. Tanpa
penguatan basis akademik dan riset yang serius, integrasi berisiko berhenti
pada tataran wacana normatif tanpa dampak nyata.¹⁰
9.6.
Kontribusi Potensial
Sains Islam bagi Ilmu Pengetahuan Global
Terlepas dari
tantangan tersebut, Sains Islam memiliki kontribusi potensial yang signifikan
bagi ilmu pengetahuan global. Pertama, ia menawarkan kritik filosofis terhadap
reduksionisme dan sekularisme yang mendominasi sains modern. Kedua, ia
menyediakan kerangka etika yang komprehensif untuk menghadapi problem sains dan
teknologi kontemporer.¹¹
Ketiga, Sains Islam
dapat memperkaya diskursus global tentang hubungan antara ilmu, nilai, dan
tujuan hidup manusia. Kontribusi ini menjadi semakin relevan di tengah krisis
global yang bersifat multidimensional dan menuntut pendekatan ilmu pengetahuan
yang lebih holistik.¹²
9.7.
Arah Strategis
Integrasi di Masa Depan
Integrasi Sains
Islam dalam kerangka ilmu pengetahuan global menuntut strategi jangka panjang
yang melibatkan pengembangan riset interdisipliner, reformasi pendidikan, dan
penguatan dialog internasional. Upaya ini harus dilakukan secara bertahap,
kritis, dan terbuka terhadap koreksi.¹³
Dengan pendekatan
tersebut, Sains Islam berpotensi berkembang sebagai paradigma ilmiah yang tidak
hanya relevan secara lokal atau regional, tetapi juga berkontribusi nyata dalam
membentuk masa depan ilmu pengetahuan global yang lebih adil, berkelanjutan,
dan bermakna.¹⁴
Footnotes
[1]
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions
(Chicago: University of Chicago Press, 1962), 92–94.
[2]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 155–158.
[3]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 73–75.
[4]
Mehdi Golshani, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature
(Tehran: Global Publications, 1998), 47–49.
[5]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
235–237.
[6]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
124–126.
[7]
Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South
(London: Routledge, 2014), 30–33.
[8]
Ian G. Barbour, Religion in an Age of Science (San Francisco:
Harper & Row, 1990), 141–143.
[9]
Pervez Hoodbhoy, Islam and Science: Religious Orthodoxy and the
Battle for Rationality (London: Zed Books, 1991), 137–139.
[10]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History
(New Haven: Yale University Press, 2010), 121–124.
[11]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 115–117.
[12]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 147–149.
[13]
Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame, IN: University
of Notre Dame Press, 1981), 98–100.
[14]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study
(London: World of Islam Festival Publishing, 1976), 33–35.
10.
Penutup
10.1.
Kesimpulan
Kajian ini
menegaskan bahwa Sains Islam bukanlah sekadar
istilah historis atau slogan ideologis, melainkan sebuah paradigma keilmuan
yang memiliki fondasi epistemologis, metodologis, dan aksiologis yang khas.
Berangkat dari pandangan dunia Islam yang bertumpu pada prinsip tauhid, Sains
Islam memandang realitas sebagai kesatuan yang bermakna, di mana alam semesta
dipahami sebagai objek kajian empiris sekaligus sebagai tanda-tanda (āyāt)
yang mengarahkan manusia kepada pengenalan terhadap Tuhan.¹
Dari sisi
epistemologi, Sains Islam mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris
sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Integrasi ini memungkinkan
pengembangan ilmu pengetahuan yang rasional dan empiris tanpa terjebak dalam
reduksionisme materialistik. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi normatif
dan metafisik, sementara akal dan empirisme menjadi instrumen utama dalam
investigasi ilmiah.²
Secara historis,
kajian ini menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah memainkan peran sentral
dalam perkembangan sains global melalui institusionalisasi ilmu, pengembangan
metodologi empiris, dan kontribusi ilmuwan Muslim dalam berbagai bidang. Fakta
ini menegaskan bahwa hubungan antara agama dan sains dalam Islam bersifat
dialogis dan produktif, bukan antagonistik.³
Dalam
perbandingannya dengan sains modern Barat, Sains Islam menawarkan kritik
filosofis terhadap sekularisasi dan reduksionisme ilmu, terutama dalam hal
pemisahan sains dari nilai dan tujuan etis. Namun, kritik ini tidak berujung
pada penolakan terhadap metodologi ilmiah modern, melainkan pada upaya
reorientasi nilai agar sains kembali berpihak pada kemanusiaan dan
keberlanjutan.⁴
10.2.
Implikasi Teoretis dan
Praktis
Secara teoretis,
kajian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan filsafat sains dengan
memperluas horizon epistemologis yang selama ini didominasi oleh paradigma
Barat modern. Sains Islam menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang
secara objektif dan metodologis tanpa harus melepaskan diri dari dimensi
metafisik dan etika. Pendekatan ini membuka ruang bagi pluralitas epistemologi
dalam diskursus ilmu pengetahuan global.⁵
Secara praktis,
implikasi Sains Islam menjadi sangat relevan dalam menghadapi problem
kontemporer, seperti krisis lingkungan, dilema etika teknologi, dan
dehumanisasi akibat kemajuan sains yang tidak terkendali. Dengan menempatkan
etika sebagai bagian inheren dari aktivitas ilmiah, Sains Islam menawarkan
kerangka normatif untuk mengarahkan penerapan sains dan teknologi agar selaras
dengan prinsip kemaslahatan dan tanggung jawab moral.⁶
Dalam bidang pendidikan,
integrasi perspektif Sains Islam berpotensi melahirkan model pendidikan yang
lebih holistik, yang tidak hanya menghasilkan ilmuwan yang kompeten secara
teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis, spiritual, dan sosial. Model
pendidikan semacam ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan global
yang semakin kompleks.⁷
10.3.
Keterbatasan Kajian
Meskipun disusun
secara komprehensif, kajian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama,
pembahasan lebih menekankan aspek filosofis dan konseptual, sehingga analisis
empiris terhadap praktik konkret Sains Islam di institusi riset kontemporer
masih terbatas. Kedua, kajian ini belum sepenuhnya menggali keragaman pandangan
di kalangan pemikir Muslim modern terkait konsep dan implementasi Sains Islam.⁸
Keterbatasan ini
menunjukkan bahwa Sains Islam merupakan bidang kajian yang terbuka dan dinamis,
yang masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut dari berbagai perspektif
disipliner.
10.4.
Rekomendasi Penelitian
Lanjutan
Berdasarkan hasil
kajian ini, beberapa rekomendasi penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama,
diperlukan studi empiris mengenai penerapan prinsip-prinsip Sains Islam dalam
riset dan teknologi kontemporer, khususnya dalam bidang lingkungan, kesehatan,
dan kecerdasan buatan. Kedua, kajian komparatif yang lebih mendalam antara
Sains Islam dan paradigma sains non-Barat lainnya dapat memperkaya diskursus
tentang pluralitas epistemologi global.⁹
Ketiga, penelitian
di bidang pendidikan perlu diarahkan pada pengembangan kurikulum dan metodologi
pembelajaran yang mampu mengintegrasikan sains, agama, dan filsafat secara
kritis dan aplikatif. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Sains Islam
sebagai kontribusi intelektual yang relevan dan berkelanjutan dalam dunia ilmu
pengetahuan global.¹⁰
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, The Need for a Sacred Science (Albany:
SUNY Press, 1993), 1–3.
[2]
Osman Bakar, Islam and Science: Philosophical Perspectives
(Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 2007), 27–30.
[3]
George Saliba, Islamic Science and the Making of the European
Renaissance (Cambridge, MA: MIT Press, 2007), 1–4.
[4]
Ian G. Barbour, Religion and Science: Historical and Contemporary
Issues (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), 148–150.
[5]
Boaventura de Sousa Santos, Epistemologies of the South
(London: Routledge, 2014), 41–44.
[6]
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern
Man (London: George Allen & Unwin, 1968), 121–123.
[7]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982),
132–135.
[8]
Ahmad Dallal, Islam, Science, and the Challenge of History
(New Haven: Yale University Press, 2010), 128–131.
[9]
Ziauddin Sardar, Exploring Islam (London: Routledge, 2004),
239–241.
[10]
Osman Bakar, Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science (Kuala Lumpur: Secretariat for Islamic
Philosophy and Science, 1991), 155–157.
Daftar Pustaka
Bakar, O. (1991). Tawhid and science: Essays on
the history and philosophy of Islamic science. Kuala Lumpur, Malaysia:
Secretariat for Islamic Philosophy and Science.
Bakar, O. (1998). Classification of knowledge in
Islam. Cambridge, UK: Islamic Texts Society.
Bakar, O. (2007). Islam and science:
Philosophical perspectives. Kuala Lumpur, Malaysia: Universiti Malaya
Press.
Bakar, O. (2016). Qur’anic pictures of the
universe. Kuala Lumpur, Malaysia: Islamic Book Trust.
Barbour, I. G. (1990). Religion in an age of
science. San Francisco, CA: Harper & Row.
Barbour, I. G. (1997). Religion and science: Historical
and contemporary issues. San Francisco, CA: HarperSanFrancisco.
Beck, U. (1999). World risk society.
Cambridge, UK: Polity Press.
Berkey, J. P. (1992). The transmission of
knowledge in medieval Cairo. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Brooke, J. H. (1991). Science and religion: Some
historical perspectives. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Comte, A. (1855). The positive philosophy
(Vol. 1). New York, NY: Calvin Blanchard.
Dallal, A. (2010). Islam, science, and the
challenge of history. New Haven, CT: Yale University Press.
Fakhry, M. (2004). A history of Islamic
philosophy (2nd ed.). New York, NY: Columbia University Press.
Golshani, M. (1998). The Holy Qur’an and the
sciences of nature. Tehran, Iran: Global Publications.
Gutas, D. (1998). Greek thought, Arabic culture:
The Graeco-Arabic translation movement in Baghdad and early ‘Abbāsid society.
London, UK: Routledge.
Harari, Y. N. (2016). Homo Deus: A brief history
of tomorrow. London, UK: Harvill Secker.
Hoodbhoy, P. (1991). Islam and science:
Religious orthodoxy and the battle for rationality. London, UK: Zed Books.
Kamali, M. H. (2003). Principles of Islamic
jurisprudence (3rd ed.). Cambridge, UK: Islamic Texts Society.
Kamali, M. H. (2016). Ethics and fiqh for
everyday life. Kuala Lumpur, Malaysia: IAIS Malaysia.
Kartanegara, M. (2007). Mengislamkan nalar:
Sebuah respons terhadap modernitas. Jakarta, Indonesia: Erlangga.
Kuhn, T. S. (1962). The structure of scientific
revolutions. Chicago, IL: University of Chicago Press.
MacIntyre, A. (1981). After virtue: A study in
moral theory. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.
Nasr, S. H. (1968). Science and civilization in
Islam. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The
spiritual crisis of modern man. London, UK: George Allen & Unwin.
Nasr, S. H. (1976). Islamic science: An
illustrated study. London, UK: World of Islam Festival Publishing.
Nasr, S. H. (1981). Islamic life and thought.
Albany, NY: State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1993). The need for a sacred
science. Albany, NY: State University of New York Press.
Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of
nature. New York, NY: Oxford University Press.
Popper, K. (1959). The logic of scientific
discovery. London, UK: Routledge.
Popper, K. (1963). Conjectures and refutations:
The growth of scientific knowledge. London, UK: Routledge.
Rahman, F. (1982). Islam and modernity:
Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of
Chicago Press.
Rashed, R. (1994). The development of Arabic
mathematics. Dordrecht, Netherlands: Kluwer Academic Publishers.
Rosenthal, F. (1970). Knowledge triumphant: The
concept of knowledge in medieval Islam. Leiden, Netherlands: Brill.
Saliba, G. (2007). Islamic science and the
making of the European Renaissance. Cambridge, MA: MIT Press.
Santos, B. de S. (2014). Epistemologies of the
South: Justice against epistemicide. London, UK: Routledge.
Sardar, Z. (1987). Islam, science and cultural
relations. London, UK: Routledge.
Sardar, Z. (2004). Exploring Islam. London,
UK: Routledge.
Sezgin, F. (2006). Science and technology in
Islam (Vol. 1). Frankfurt am Main, Germany: Institut für Geschichte der
Arabisch-Islamischen Wissenschaften.
White, L., Jr. (1967). The historical roots of our
ecologic crisis. Science, 155(3767), 1203–1207. science

Tidak ada komentar:
Posting Komentar