Selasa, 10 Februari 2026

Mistisisme Ibn ‘Arabī: Ontologi, Epistemologi, dan Implikasinya dalam Tradisi Islam

Mistisisme Ibn ‘Arabī

Ontologi, Epistemologi, dan Implikasinya dalam Tradisi Islam


Alihkan ke: Metafisika Islam.


Abstrak

Artikel ini mengkaji secara komprehensif mistisisme dalam pemikiran Ibn ‘Arabī dengan menelusuri landasan ontologis, epistemologis, antropologis, serta dimensi hermeneutik dan implikasi kontemporernya. Penelitian ini bertolak dari asumsi bahwa mistisisme Ibn ‘Arabī bukan sekadar ekspresi pengalaman spiritual individual, melainkan sebuah sistem pemikiran metafisik yang terstruktur dan integratif dalam tradisi intelektual Islam.

Melalui pendekatan kualitatif berbasis analisis tekstual dan historis-filosofis, artikel ini menunjukkan bahwa ontologi Ibn ‘Arabī berpusat pada konsep wujūd sebagai realitas tunggal yang hakiki, dengan pluralitas kosmos dipahami sebagai manifestasi (tajallī) Ilahi. Epistemologinya menempatkan ma‘rifah sebagai pengetahuan kehadiran (ḥuḍūrī) yang melampaui rasio diskursif, tanpa menafikan peran akal dan wahyu. Dalam ranah antropologi mistis, manusia dipahami sebagai mikrokosmos dan insān kāmil, yakni subjek spiritual yang berpotensi merefleksikan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan secara seimbang.

Artikel ini juga menyoroti bahasa simbolik dan hermeneutika mistis Ibn ‘Arabī sebagai strategi epistemologis untuk mengartikulasikan pengalaman transenden, sekaligus membahas kontroversi dan kritik teologis yang muncul akibat pembacaan literal dan ahistoris terhadap teks-teksnya. Pada akhirnya, kajian ini menegaskan bahwa mistisisme Ibn ‘Arabī memiliki relevansi konseptual di era modern, terutama dalam merespons krisis makna, etika kemanusiaan, dan kesadaran kosmik, selama dipahami secara kritis, kontekstual, dan tetap berpijak pada prinsip tauhid dan wahyu.

Kata Kunci: Ibn ‘Arabī; Mistisisme Islam; Tasawuf Falsafi; Waḥdat al-Wujūd; Ma‘rifah; Insān Kāmil.


PEMBAHASAN

Mistisisme Metafisik dalam Pemikiran Ibn ‘Arabī


1.           Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang Masalah

Mistisisme merupakan salah satu dimensi paling fundamental dalam tradisi intelektual Islam. Ia tidak hanya hadir sebagai praktik spiritual individual, tetapi juga berkembang sebagai kerangka konseptual yang kompleks, melibatkan refleksi metafisik, epistemologis, dan antropologis. Dalam konteks ini, tasawuf menjadi medium utama artikulasi pengalaman mistik umat Islam, sekaligus ruang dialog—dan kerap kali ketegangan—dengan disiplin keilmuan lain seperti ilmu kalam dan filsafat.¹

Di antara para tokoh tasawuf, Ibn ‘Arabī (w. 638 H/1240 M) menempati posisi yang sangat menonjol. Ia dikenal bukan hanya sebagai seorang sufi praktisi, tetapi juga sebagai pemikir sistematis yang merumuskan mistisisme dalam kerangka metafisika yang luas dan mendalam. Melalui karya-karyanya—terutama al-Futūḥāt al-Makkiyyah dan Fuṣūṣ al-Ḥikam—Ibn ‘Arabī menyajikan suatu visi kosmologis dan ontologis yang menjadikan pengalaman mistik sebagai pusat pemahaman realitas.²

Pemikiran mistisisme Ibn ‘Arabī sering dipahami sebagai puncak dari apa yang oleh sebagian sarjana disebut tasawuf falsafi, yakni bentuk tasawuf yang mengintegrasikan pengalaman spiritual dengan spekulasi metafisik.³ Salah satu doktrin paling kontroversial yang dikaitkan dengannya adalah konsep waḥdat al-wujūd (kesatuan wujud), yang menegaskan bahwa realitas pada hakikatnya bersumber dari satu Wujud Absolut, sementara keragaman alam semesta dipahami sebagai manifestasi (tajallī) dari Wujud tersebut. Konsep ini menimbulkan perdebatan panjang, baik dalam tradisi Islam klasik maupun dalam kajian akademik modern.⁴

Di satu sisi, mistisisme Ibn ‘Arabī memberikan kerangka spiritual yang sangat kaya untuk memahami relasi Tuhan, alam, dan manusia. Namun di sisi lain, pemikirannya kerap dituduh menyimpang dari akidah normatif, bahkan disamakan dengan panteisme.⁵ Perbedaan penilaian ini sering kali tidak hanya bersumber dari perbedaan teologis, tetapi juga dari perbedaan pendekatan epistemologis dalam memahami bahasa simbolik dan pengalaman mistik. Oleh karena itu, kajian yang komprehensif, kontekstual, dan metodologis menjadi kebutuhan mendesak agar pemikiran Ibn ‘Arabī tidak direduksi secara simplistik, baik sebagai doktrin metafisik murni maupun sebagai pengalaman spiritual yang ahistoris.

Selain itu, dalam konteks modern, meningkatnya minat terhadap spiritualitas lintas agama dan pencarian makna di tengah krisis eksistensial modernitas menjadikan pemikiran Ibn ‘Arabī kembali relevan. Mistisisme yang ia tawarkan tidak berhenti pada pengalaman personal, tetapi memiliki implikasi etis dan kosmologis yang luas, termasuk dalam membangun kesadaran akan keterhubungan seluruh realitas.⁶ Dengan demikian, kajian terhadap mistisisme dalam pemikiran Ibn ‘Arabī tidak hanya bernilai historis, tetapi juga memiliki signifikansi filosofis dan kultural yang berkelanjutan.

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan utama yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1)                  Bagaimana struktur dan karakter utama mistisisme dalam pemikiran Ibn ‘Arabī?

2)                  Apa landasan ontologis dan epistemologis yang menopang mistisisme tersebut?

3)                  Bagaimana Ibn ‘Arabī memahami relasi antara Tuhan, alam, dan manusia dalam kerangka mistik-metafisiknya?

4)                  Apa implikasi pemikiran mistisisme Ibn ‘Arabī bagi tradisi intelektual Islam dan wacana spiritualitas kontemporer?

1.3.       Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1)                  Menganalisis secara sistematis konsep mistisisme dalam pemikiran Ibn ‘Arabī.

2)                  Menjelaskan fondasi ontologis dan epistemologis yang melandasi pengalaman mistik dalam tasawuf Ibn ‘Arabī.

3)                  Menyajikan pembacaan kritis terhadap kontroversi dan interpretasi atas pemikirannya.

Adapun manfaat penelitian ini diharapkan dapat:

1)                  Memberikan kontribusi akademik bagi studi tasawuf dan filsafat Islam.

2)                  Memperkaya wacana tentang hubungan antara pengalaman spiritual dan rasionalitas metafisik.

3)                  Menjadi rujukan konseptual bagi kajian spiritualitas Islam yang bersifat terbuka dan dialogis.

1.4.       Metodologi dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual dan historis-filosofis. Sumber primer utama adalah karya-karya Ibn ‘Arabī, khususnya al-Futūḥāt al-Makkiyyah dan Fuṣūṣ al-Ḥikam. Sumber sekunder meliputi kajian akademik klasik dan kontemporer yang relevan dengan tasawuf, metafisika Islam, dan studi mistisisme.

Pendekatan filosofis digunakan untuk mengurai konsep-konsep kunci seperti wujūd, ma‘rifah, dan insan kamil, sementara pendekatan historis berfungsi untuk menempatkan pemikiran Ibn ‘Arabī dalam konteks intelektual zamannya. Dengan demikian, analisis diharapkan bersifat koheren, kritis, dan tidak terlepas dari konteks tradisi keilmuan Islam.


Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun dalam sepuluh bab. Bab I merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab II membahas konteks historis dan intelektual Ibn ‘Arabī. Bab III hingga Bab VI mengkaji aspek ontologis, epistemologis, antropologis, dan hermeneutik dari mistisisme Ibn ‘Arabī. Bab VII membahas kontroversi dan kritik terhadap pemikirannya. Bab VIII dan IX mengulas pengaruh serta relevansi pemikiran Ibn ‘Arabī, dan Bab X berisi kesimpulan serta rekomendasi penelitian lanjutan.


Footnotes

[1]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 3–7.

[2]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 1–5.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 197–200.

[4]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 7–12.

[5]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 15–20.

[6]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: SUNY Press, 1994), 90–95.


2.           Konteks Historis dan Intelektual Ibn ‘Arabī

2.1.       Latar Sosial, Politik, dan Keagamaan Dunia Islam Abad ke-12–13

Periode kehidupan Ibn ‘Arabī (560–638 H / 1165–1240 M) bertepatan dengan fase transisi penting dalam sejarah Islam. Dunia Islam saat itu ditandai oleh fragmentasi politik pasca-keruntuhan otoritas pusat Abbasiyah, munculnya dinasti-dinasti regional, serta tekanan eksternal berupa Perang Salib di wilayah Syam dan al-Andalus. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi stabilitas politik, tetapi juga membentuk dinamika keagamaan dan intelektual umat Islam.¹

Di tengah situasi tersebut, terjadi intensifikasi kehidupan keilmuan dan spiritual. Lembaga-lembaga pendidikan seperti madrasah berkembang pesat, sementara jaringan ulama, filosof, dan sufi membentuk ruang pertukaran gagasan lintas wilayah. Tasawuf, yang sebelumnya lebih bersifat asketis dan praktis, mulai mengalami sistematisasi konseptual dan integrasi dengan wacana metafisika serta teologi.² Dengan demikian, konteks historis ini menyediakan lahan subur bagi munculnya pemikir seperti Ibn ‘Arabī, yang tidak hanya merespons kondisi zamannya, tetapi juga melampauinya melalui konstruksi intelektual yang bersifat universal.

2.2.       Tradisi Tasawuf Pra-Ibn ‘Arabī

Sebelum Ibn ‘Arabī, tasawuf telah mengalami perkembangan signifikan, baik dalam aspek praktik spiritual maupun artikulasi teoritis. Tokoh-tokoh awal seperti al-Ḥasan al-Baṣrī dan Rābi‘ah al-‘Adawiyyah menekankan dimensi asketisme, cinta ilahi, dan kesalehan personal. Pada fase berikutnya, figur seperti al-Junayd al-Baghdādī mulai merumuskan pengalaman mistik dalam bahasa teologis yang lebih terkontrol, sehingga tasawuf dapat diterima dalam kerangka ortodoksi Sunni.³

Perkembangan selanjutnya ditandai oleh munculnya refleksi metafisik dalam tasawuf, terutama melalui tokoh-tokoh seperti al-Ḥallāj dan al-Ghazālī. Meskipun al-Ḥallāj menuai kontroversi karena ekspresi mistiknya yang ekstrem, pemikirannya membuka ruang bagi diskursus tentang pengalaman penyatuan dengan Tuhan. Sementara itu, al-Ghazālī berperan penting dalam merekonsiliasi tasawuf dengan syariat dan ilmu kalam, sehingga tasawuf memperoleh legitimasi yang lebih luas dalam tradisi Sunni.⁴ Ibn ‘Arabī mewarisi seluruh spektrum perkembangan ini, namun melampauinya dengan menyusun sistem metafisika mistik yang paling komprehensif dalam sejarah Islam.

2.3.       Relasi dengan Filsafat Islam dan Ilmu Kalam

Selain tradisi tasawuf, pemikiran Ibn ‘Arabī juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan filsafat Islam dan ilmu kalam. Pada abad ke-12, warisan filsafat Peripatetik—terutama pemikiran Ibn Sīnā—masih sangat berpengaruh, baik dalam diskursus filosofis maupun teologis. Konsep-konsep seperti wujūd, mahiyyah, dan sebab-akibat metafisik menjadi bagian dari kosakata intelektual yang luas pada masa itu.⁵

Namun, berbeda dengan para filosof rasionalis, Ibn ‘Arabī tidak menjadikan akal sebagai sumber utama pengetahuan metafisik. Ia mengkritik keterbatasan rasio dalam menjangkau realitas ilahi yang transenden, sekaligus mengakui perannya dalam memahami tatanan kosmik secara simbolik. Dalam hal ini, pemikirannya menempati posisi unik: tidak sepenuhnya filosofis, tetapi juga tidak anti-rasional. Relasi dengan ilmu kalam pun bersifat ambivalen; Ibn ‘Arabī menggunakan istilah-istilah teologis klasik, namun menafsirkan ulang maknanya dalam kerangka pengalaman mistik dan tajallī ilahi.⁶

2.4.       Jaringan Intelektual, Perjalanan, dan Formasi Pemikiran

Salah satu faktor penting dalam pembentukan pemikiran Ibn ‘Arabī adalah mobilitas intelektualnya yang tinggi. Ia melakukan perjalanan luas dari al-Andalus ke Afrika Utara, Makkah, Anatolia, hingga Damaskus. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai guru sufi, ulama, dan tokoh spiritual yang membentuk wawasan keagamaannya.⁷

Pengalaman spiritual personal—yang oleh Ibn ‘Arabī sendiri sering digambarkan dalam bentuk visi dan kasyf—juga memainkan peran sentral dalam formasi pemikirannya. Namun pengalaman ini tidak berdiri sendiri; ia selalu diartikulasikan melalui bahasa simbolik yang kaya, merujuk pada al-Qur’an, hadis, dan tradisi intelektual Islam yang mapan. Dengan demikian, mistisisme Ibn ‘Arabī bukanlah pengalaman subjektif yang terisolasi, melainkan hasil dialektika antara pengalaman batin, tradisi teks, dan konteks intelektual zamannya.⁸


Posisi Ibn ‘Arabī dalam Sejarah Intelektual Islam

Dalam sejarah pemikiran Islam, Ibn ‘Arabī sering dipandang sebagai figur sintesis yang menyatukan tasawuf, metafisika, dan hermeneutika keagamaan. Pengaruhnya melampaui batas geografis dan mazhab, menjangkau dunia Islam Timur dan Barat, serta membentuk tradisi panjang penafsiran dan perdebatan.⁹

Namun, posisinya juga sarat dengan kontroversi. Sebagian ulama memandangnya sebagai wali besar dan pembaru spiritual, sementara yang lain menganggap pemikirannya problematik secara teologis. Fakta ini menunjukkan bahwa Ibn ‘Arabī bukan sekadar produk zamannya, tetapi juga agen intelektual yang terus memicu dialog dan perbedaan pandangan hingga era modern. Oleh karena itu, memahami konteks historis dan intelektual Ibn ‘Arabī menjadi prasyarat penting untuk membaca mistisisme yang ia kembangkan secara adil dan proporsional.


Footnotes

[1]                Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam, Vol. 2: The Expansion of Islam in the Middle Periods (Chicago: University of Chicago Press, 1974), 270–280.

[2]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 89–95.

[3]                Ahmet T. Karamustafa, Sufism: The Formative Period (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2007), 68–75.

[4]                Al-Ghazālī, Deliverance from Error, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 2000), 61–65.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 163–170.

[6]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 30–35.

[7]                Claude Addas, Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn ‘Arabi, trans. Peter Kingsley (Cambridge: Islamic Texts Society, 1993), 120–145.

[8]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: SUNY Press, 1994), 10–15.

[9]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 1–8.


3.           Landasan Ontologis Mistisisme Ibn ‘Arabī

3.1.       Konsep Wujūd sebagai Realitas Fundamental

Ontologi mistisisme Ibn ‘Arabī berpusat pada konsep wujūd (eksistensi atau keberadaan) sebagai realitas paling mendasar. Berbeda dari pemahaman ontologis yang memisahkan secara tegas antara Tuhan dan makhluk sebagai dua entitas yang sepenuhnya independen, Ibn ‘Arabī memandang wujūd sebagai satu realitas tunggal yang absolut, yakni Wujud Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan tidak memiliki wujūd secara mandiri, melainkan memperoleh eksistensinya melalui relasi dengan Wujud Ilahi.¹

Dalam kerangka ini, perbedaan antara Tuhan dan alam tidak dihapuskan secara ontologis, tetapi dipahami melalui perbedaan tingkat dan modus keberadaan. Tuhan adalah al-Wujūd al-Ḥaqq (Wujud yang Hakiki), sementara alam semesta adalah wujūd majāzī atau muqayyad (wujud yang terikat dan bergantung). Dengan demikian, realitas kosmik tidak berdiri sebagai tandingan Tuhan, melainkan sebagai manifestasi dari Wujud-Nya dalam bentuk yang terbatas.²

3.2.       Doktrin Waḥdat al-Wujūd: Makna dan Kerangka Konseptual

Doktrin yang paling sering diasosiasikan dengan ontologi Ibn ‘Arabī adalah waḥdat al-wujūd (kesatuan wujud). Meskipun istilah ini tidak secara eksplisit dirumuskan oleh Ibn ‘Arabī dalam bentuk sistematis, substansi ajarannya tersebar luas dalam karya-karyanya. Waḥdat al-wujūd tidak bermakna bahwa Tuhan dan alam adalah identik secara substansial, melainkan bahwa hanya ada satu Wujud yang hakiki, sementara pluralitas realitas dipahami sebagai diferensiasi penampakan (ta‘ayyunāt).³

Pemahaman ini sering disalahartikan sebagai panteisme. Namun, Ibn ‘Arabī secara tegas membedakan antara identitas (‘aynīyah) dan manifestasi (ẓuhūr). Alam bukanlah Tuhan, tetapi merupakan penampakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Kesalahan pembacaan terhadap doktrin ini umumnya bersumber dari pendekatan literal dan kegagalan memahami bahasa simbolik serta pengalaman mistik yang menjadi dasar ontologinya.⁴

3.3.       Tajallī dan Hirarki Eksistensi

Konsep tajallī (manifestasi atau penyingkapan Ilahi) merupakan kunci untuk memahami dinamika ontologis dalam mistisisme Ibn ‘Arabī. Tuhan, dalam kesempurnaan dan keabsolutan-Nya, menampakkan diri melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam berbagai tingkat realitas. Proses tajallī ini tidak mengurangi keesaan Tuhan, karena manifestasi tidak identik dengan esensi Ilahi itu sendiri.⁵

Ibn ‘Arabī menggambarkan realitas sebagai hirarki eksistensi yang bertingkat, mulai dari alam ketuhanan (lāhūt), alam spiritual (jabarūt), alam psikis (malakūt), hingga alam material (nāsūt). Setiap tingkat merepresentasikan intensitas tajallī yang berbeda. Hirarki ini menegaskan bahwa keragaman kosmos bukanlah ilusi semata, melainkan struktur ontologis yang bermakna dan tertata.⁶

3.4.       Tuhan, Alam, dan Relasi Ontologis

Dalam ontologi Ibn ‘Arabī, relasi antara Tuhan dan alam bersifat non-dualistik tetapi juga non-reduksionistik. Tuhan tetap transenden dalam esensi-Nya (tanzīh), sekaligus imanen melalui manifestasi nama dan sifat-Nya (tashbīh). Ontologi mistiknya berusaha menjaga keseimbangan antara dua prinsip ini, sehingga tidak jatuh pada antropomorfisme maupun negasi total terhadap keterhubungan Ilahi dengan kosmos.⁷

Alam dipahami sebagai cermin (mir’āt) tempat Tuhan “melihat” nama-nama-Nya sendiri. Metafora ini menunjukkan bahwa keberadaan alam memiliki fungsi teofanik, yakni sebagai medium pengenalan Ilahi. Dengan demikian, kosmos bukan sekadar realitas fisik, tetapi juga simbol metafisik yang mengarahkan kesadaran manusia kepada sumber wujudnya.⁸


Implikasi Ontologis terhadap Pengalaman Mistis

Landasan ontologis ini memiliki implikasi langsung terhadap pengalaman mistis dalam tasawuf Ibn ‘Arabī. Karena hanya ada satu Wujud yang hakiki, pengalaman mistik pada dasarnya adalah kesadaran akan realitas wujūd tersebut. Dalam kondisi ma‘rifah, seorang sufi tidak “menjadi Tuhan”, tetapi menyadari bahwa eksistensinya sepenuhnya bergantung pada Wujud Ilahi.⁹

Pengalaman ini sering diungkapkan melalui bahasa paradoks dan simbolik, karena realitas ontologis yang dialami melampaui kategori rasional biasa. Oleh sebab itu, ontologi mistisisme Ibn ‘Arabī tidak dapat dipisahkan dari epistemologi dan bahasa mistik yang digunakannya. Ontologi bukan sekadar spekulasi metafisik, melainkan kerangka makna yang membimbing transformasi spiritual manusia.


Footnotes

[1]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 79–83.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 200–205.

[3]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 25–30.

[4]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 48–52.

[5]                Ibn ‘Arabī, al-Futūḥāt al-Makkiyyah, vol. 2 (Cairo: al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb, n.d.), 326–330.

[6]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: SUNY Press, 1994), 15–20.

[7]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 263–267.

[8]                Claude Addas, Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn ‘Arabi, trans. Peter Kingsley (Cambridge: Islamic Texts Society, 1993), 180–185.

[9]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 45–50.


4.           Epistemologi Mistisisme: Jalan Ma‘Rifah

4.1.       Epistemologi dalam Kerangka Tasawuf Falsafi

Epistemologi mistisisme dalam pemikiran Ibn ‘Arabī berangkat dari kritik terhadap klaim eksklusivitas rasio sebagai sumber pengetahuan tertinggi. Bagi Ibn ‘Arabī, realitas tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal diskursif, karena realitas tertinggi—yakni Wujud Ilahi—bersifat transenden sekaligus imanen. Oleh sebab itu, ia mengembangkan suatu epistemologi yang mengakui pluralitas sumber pengetahuan: akal (‘aql), wahyu (naql), dan pengalaman langsung (kashf).¹

Dalam kerangka tasawuf falsafi, pengetahuan bukan sekadar representasi mental atas objek eksternal, melainkan keterlibatan eksistensial subjek dengan realitas. Dengan demikian, epistemologi mistisisme Ibn ‘Arabī tidak netral secara eksistensial; ia menuntut transformasi subjek yang mengetahui. Pengetahuan sejati bukan hasil akumulasi informasi, tetapi buah dari penyucian diri dan kesiapan ontologis manusia untuk menerima penyingkapan Ilahi.²

4.2.       Ma‘rifah sebagai Pengetahuan Hudhūrī

Konsep sentral dalam epistemologi mistisisme Ibn ‘Arabī adalah ma‘rifah, yang dapat dipahami sebagai pengetahuan kehadiran (al-‘ilm al-ḥuḍūrī). Berbeda dari pengetahuan konseptual (ḥuṣūlī), ma‘rifah tidak dimediasi oleh representasi mental atau inferensi logis. Ia merupakan bentuk pengetahuan langsung, di mana objek pengetahuan “hadir” dalam kesadaran subjek tanpa perantara.³

Dalam ma‘rifah, subjek dan objek tidak sepenuhnya terpisah sebagaimana dalam epistemologi rasional klasik. Namun, kesatuan ini tidak berarti peleburan ontologis antara manusia dan Tuhan. Yang terjadi adalah kesadaran intens akan ketergantungan eksistensial manusia pada Wujud Ilahi. Oleh karena itu, ma‘rifah selalu disertai dengan sikap kerendahan diri epistemik (epistemic humility), karena semakin seseorang mengenal Tuhan, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.⁴

4.3.       Kashf, Ilham, dan Dzauq sebagai Instrumen Pengetahuan

Ibn ‘Arabī menempatkan kashf (penyingkapan), ilhām (inspirasi), dan dhawq (rasa spiritual) sebagai instrumen epistemologis yang sah dalam ranah mistisisme. Kashf merujuk pada tersingkapnya realitas metafisik yang sebelumnya tertutup oleh hijab ego dan keterikatan duniawi. Sementara itu, ilhām dipahami sebagai limpahan makna ke dalam hati, dan dhawq sebagai pengalaman langsung yang memberi kepastian batin.⁵

Namun, Ibn ‘Arabī tidak memandang instrumen-instrumen ini sebagai sumber pengetahuan yang bebas dari evaluasi. Pengalaman mistik harus selalu diuji melalui kesesuaiannya dengan wahyu dan kerangka syariat. Dengan demikian, epistemologi mistisisme Ibn ‘Arabī bersifat integratif: pengalaman batin tidak meniadakan wahyu, melainkan berfungsi sebagai pendalaman makna wahyu itu sendiri.⁶

4.4.       Relasi Akal, Wahyu, dan Pengalaman Mistis

Salah satu kontribusi penting Ibn ‘Arabī dalam epistemologi Islam adalah usahanya menempatkan akal, wahyu, dan pengalaman mistik dalam relasi yang tidak hierarkis secara kaku, tetapi fungsional. Akal memiliki peran penting dalam memahami struktur kosmos dan simbol-simbol keagamaan, namun ia memiliki batas dalam menjangkau realitas Ilahi yang absolut. Wahyu menyediakan kerangka normatif dan kebenaran objektif, sementara pengalaman mistik berfungsi sebagai aktualisasi personal dari kebenaran tersebut.⁷

Dalam perspektif ini, konflik antara rasio dan mistisisme bukanlah konflik esensial, melainkan konflik metodologis. Ibn ‘Arabī tidak menolak akal, tetapi menolak absolutisasi akal. Ia menegaskan bahwa setiap alat pengetahuan memiliki domain legitimnya masing-masing, dan kesalahan epistemologis terjadi ketika satu alat dipaksakan untuk menjangkau wilayah yang berada di luar kapasitasnya.⁸

4.5.       Bahasa Simbolik dan Problem Artikulasi Pengetahuan Mistis

Pengetahuan mistik yang diperoleh melalui ma‘rifah, kashf, dan dhawq menghadapi problem artikulasi bahasa. Ibn ‘Arabī menyadari bahwa bahasa konseptual tidak memadai untuk merepresentasikan pengalaman transenden secara literal. Oleh karena itu, ia banyak menggunakan simbol, metafora, paradoks, dan narasi visioner dalam karya-karyanya. Bahasa simbolik ini bukan sekadar gaya sastra, melainkan strategi epistemologis untuk menunjuk realitas yang melampaui konsep.⁹

Konsekuensinya, teks-teks Ibn ‘Arabī menuntut pembaca yang memiliki kesiapan intelektual dan spiritual. Tanpa pemahaman terhadap konteks simbolik dan epistemologisnya, ungkapan-ungkapan mistik mudah disalahpahami secara literal dan dinilai menyimpang. Dengan demikian, epistemologi mistisisme Ibn ‘Arabī tidak hanya berbicara tentang cara mengetahui, tetapi juga tentang cara membaca dan menafsirkan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.


Ma‘rifah dan Transformasi Subjek

Epistemologi mistisisme Ibn ‘Arabī berpuncak pada transformasi eksistensial subjek yang mengetahui. Ma‘rifah tidak dimaksudkan untuk memperluas dominasi kognitif manusia atas realitas, tetapi untuk meluruhkan ilusi otonomi diri dan menumbuhkan kesadaran tauhid yang mendalam. Pengetahuan sejati tercermin dalam perubahan sikap, etika, dan orientasi hidup.¹⁰

Dengan demikian, jalan ma‘rifah merupakan proses berkelanjutan yang melibatkan disiplin spiritual, refleksi intelektual, dan keterbukaan terhadap penyingkapan Ilahi. Epistemologi ini menegaskan bahwa dalam mistisisme Ibn ‘Arabī, mengetahui (to know) dan menjadi (to be) merupakan dua aspek yang tidak terpisahkan.


Footnotes

[1]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 147–150.

[2]                Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), 112–115.

[3]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 42–47.

[4]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 63–67.

[5]                Ibn ‘Arabī, al-Futūḥāt al-Makkiyyah, vol. 1 (Cairo: al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb, n.d.), 266–270.

[6]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 72–75.

[7]                Al-Ghazālī, Deliverance from Error, trans. R. J. McCarthy (Louisville: Fons Vitae, 2000), 86–90.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 208–212.

[9]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 276–280.

[10]             William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: SUNY Press, 1994), 33–38.


5.           Antropologi Mistis dalam Pemikiran Ibn ‘Arabī

5.1.       Manusia dalam Kosmologi Mistis

Antropologi mistis dalam pemikiran Ibn ‘Arabī berangkat dari pemahaman kosmologis bahwa manusia menempati posisi sentral dalam tatanan wujud. Manusia tidak dipandang semata-mata sebagai makhluk biologis atau sosial, melainkan sebagai realitas spiritual yang mengandung dimensi kosmik. Dalam struktur ontologis Ibn ‘Arabī, manusia berfungsi sebagai penghubung antara Tuhan dan alam, karena di dalam dirinya terhimpun berbagai tingkat realitas—spiritual, psikis, dan material.¹

Pandangan ini menegaskan bahwa antropologi mistis Ibn ‘Arabī bersifat teosentris. Eksistensi manusia hanya dapat dipahami secara utuh dalam relasinya dengan Tuhan sebagai Wujud Hakiki. Dengan demikian, manusia bukan pusat realitas secara otonom, tetapi pusat kesadaran kosmik yang merefleksikan kehadiran Ilahi dalam bentuk paling komprehensif.

5.2.       Konsep Insān Kāmil

Konsep insān kāmil (manusia sempurna) merupakan puncak antropologi mistis Ibn ‘Arabī. Insān kāmil bukanlah manusia yang sempurna secara moral atau intelektual semata, melainkan manusia yang secara eksistensial menjadi cermin paling utuh bagi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Dalam dirinya, realitas Ilahi termanifestasi secara seimbang tanpa dominasi satu sifat atas yang lain.²

Ibn ‘Arabī menegaskan bahwa kesempurnaan manusia tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Insān kāmil merupakan hasil dari proses spiritual yang panjang, melibatkan penyucian diri (tazkiyat al-nafs), disiplin etis, dan pencerahan ma‘rifah. Oleh karena itu, konsep ini tidak dimaksudkan sebagai klaim ontologis elit, tetapi sebagai horizon spiritual yang terbuka bagi manusia yang menempuh jalan mistik secara konsisten.³

5.3.       Manusia sebagai Mikrokosmos

Dalam kerangka mistisisme Ibn ‘Arabī, manusia dipahami sebagai mikrokosmos yang merefleksikan struktur makrokosmos. Segala realitas yang terdapat dalam alam semesta hadir secara simbolik dalam diri manusia. Tubuh merepresentasikan alam material, jiwa mencerminkan alam psikis, dan ruh merepresentasikan dimensi spiritual.⁴

Pemahaman ini memiliki implikasi antropologis yang signifikan. Pertama, manusia memiliki potensi pengetahuan yang luas karena ia mengandung struktur realitas itu sendiri. Kedua, tanggung jawab manusia menjadi sangat besar, sebab kerusakan dalam diri manusia akan tercermin dalam disharmoni kosmos. Dengan demikian, antropologi mistis Ibn ‘Arabī mengandung dimensi etis-ekologis yang implisit, meskipun tidak dirumuskan dalam istilah modern.⁵

5.4.       Kesadaran Diri dan Kesadaran Ilahi

Proses menjadi insān kāmil melibatkan transformasi kesadaran. Ibn ‘Arabī membedakan antara kesadaran egoistik yang terikat pada identitas individual dan kesadaran spiritual yang berakar pada pengenalan akan Tuhan. Dalam tahap awal, manusia cenderung memahami dirinya sebagai entitas terpisah. Namun, melalui jalan ma‘rifah, kesadaran ini bergeser menuju pengenalan bahwa eksistensi diri sepenuhnya bergantung pada Wujud Ilahi.⁶

Kesadaran ilahi tidak menghapus identitas manusia, tetapi menempatkannya dalam perspektif tauhid. Manusia tetap manusia, namun ia menyadari bahwa keberadaannya adalah amanah dan manifestasi kehendak Tuhan. Dengan demikian, antropologi mistis Ibn ‘Arabī menolak baik individualisme absolut maupun peleburan ontologis yang menghilangkan perbedaan antara Khalik dan makhluk.

5.5.       Etika Spiritual dan Tanggung Jawab Manusia

Antropologi mistis Ibn ‘Arabī tidak berhenti pada spekulasi metafisik, tetapi berimplikasi langsung pada etika. Karena manusia merupakan cermin Ilahi, setiap tindakan manusia memiliki dimensi teofanik. Etika spiritual dalam tasawuf Ibn ‘Arabī berakar pada peneladanan sifat-sifat Tuhan, seperti rahmah, keadilan, dan kebijaksanaan, sesuai dengan kapasitas manusia.⁷

Tanggung jawab etis ini bersifat universal. Manusia tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap sesama manusia dan seluruh ciptaan. Dalam perspektif ini, antropologi mistis Ibn ‘Arabī melahirkan etika inklusif yang menghargai keberagaman eksistensial sebagai ekspresi kehendak Ilahi, tanpa meniadakan batas-batas normatif yang ditetapkan wahyu.⁸


Antropologi Mistis sebagai Proyek Transformasi Eksistensial

Pada akhirnya, antropologi mistis Ibn ‘Arabī dapat dipahami sebagai proyek transformasi eksistensial manusia. Tujuan utamanya bukan dominasi pengetahuan atau keunggulan spiritual individual, melainkan realisasi tauhid dalam seluruh dimensi kehidupan. Manusia dipanggil untuk mengenal dirinya sebagai makhluk yang bergantung sepenuhnya pada Tuhan, sekaligus sebagai wakil kosmik yang memikul amanah Ilahi.⁹

Dengan demikian, antropologi mistis ini mengintegrasikan ontologi, epistemologi, dan etika dalam satu visi spiritual yang utuh. Manusia tidak dipahami sebagai objek pasif dalam kosmos, tetapi sebagai subjek sadar yang berpotensi merefleksikan kesempurnaan Ilahi secara bertanggung jawab dan rendah hati.


Footnotes

[1]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 79–85.

[2]                Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 50–55.

[3]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 91–96.

[4]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 67–72.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man (London: Unwin Paperbacks, 1990), 93–97.

[6]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 58–62.

[7]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 270–273.

[8]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: State University of New York Press, 1994), 40–45.

[9]                Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), 157–160.


6.           Bahasa Simbolik dan Hermeneutika Mistis

6.1.       Problem Bahasa dalam Pengalaman Mistis

Salah satu persoalan mendasar dalam mistisisme adalah keterbatasan bahasa dalam mengekspresikan pengalaman transenden. Pengalaman mistik, sebagaimana dipahami dalam tasawuf, bersifat non-konseptual dan melampaui kategori diskursif rasional. Oleh karena itu, bahasa proposisional yang lazim digunakan dalam filsafat dan teologi sering kali tidak memadai untuk merepresentasikan realitas yang dialami oleh seorang sufi. Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabī secara sadar mengembangkan strategi linguistik yang khas untuk menjembatani jurang antara pengalaman batin dan artikulasi intelektual.¹

Bagi Ibn ‘Arabī, kegagalan bahasa literal bukanlah cacat epistemologis, melainkan konsekuensi logis dari sifat realitas Ilahi yang tak terjangkau sepenuhnya oleh konsep. Bahasa, dengan demikian, tidak dimaksudkan untuk “menangkap” Tuhan, tetapi untuk menunjuk (ishārah) ke arah realitas yang melampaui dirinya.²

6.2.       Simbol dan Metafora sebagai Medium Pengetahuan

Bahasa simbolik menempati posisi sentral dalam karya-karya Ibn ‘Arabī. Simbol dan metafora tidak diperlakukan sebagai ornamen sastra, melainkan sebagai medium epistemologis yang sah. Melalui simbol, makna-makna metafisik dapat disampaikan tanpa direduksi menjadi definisi konseptual yang kaku. Simbol bekerja dengan cara membuka lapisan-lapisan makna yang hanya dapat dipahami secara bertahap sesuai kesiapan spiritual pembacanya.³

Metafora seperti cermin, cahaya, bayangan, dan perjalanan spiritual digunakan Ibn ‘Arabī untuk menjelaskan relasi antara Tuhan, alam, dan manusia. Metafora-metafora ini berfungsi ganda: di satu sisi menjaga transendensi Ilahi, dan di sisi lain memungkinkan imajinasi religius manusia untuk mendekati realitas tersebut tanpa klaim pengetahuan total.⁴

6.3.       Imajinasi Kreatif (al-Khayāl) dan Dunia Antara

Salah satu kontribusi paling penting Ibn ‘Arabī dalam hermeneutika mistis adalah konsep al-khayāl (imajinasi kreatif). Imajinasi, dalam pemikirannya, bukan sekadar fakultas subjektif yang menghasilkan ilusi, melainkan suatu dimensi ontologis yang berfungsi sebagai “dunia antara” (barzakh) yang menghubungkan realitas spiritual dan material.⁵

Dalam ranah imajinasi kreatif, makna-makna Ilahi mengambil bentuk simbolik yang dapat dialami dan dipahami manusia. Oleh karena itu, visi, mimpi, dan pengalaman simbolik lainnya memiliki status epistemologis tertentu dalam tasawuf Ibn ‘Arabī. Hermeneutika mistis bertugas menafsirkan pengalaman-pengalaman ini secara proporsional, tanpa mengabsolutkan bentuk simboliknya maupun menafikan makna transendennya.⁶

6.4.       Ta’wīl sebagai Metode Hermeneutika Mistis

Dalam memahami teks wahyu dan pengalaman mistik, Ibn ‘Arabī menggunakan metode ta’wīl, yakni penafsiran yang berupaya mengembalikan makna lahiriah kepada realitas batiniahnya. Ta’wīl tidak dimaksudkan untuk meniadakan makna literal, tetapi untuk melengkapinya dengan dimensi makna yang lebih dalam. Dengan cara ini, teks al-Qur’an dan hadis dipahami sebagai memiliki lapisan makna yang berjenjang, sesuai dengan tingkat kesadaran pembacanya.⁷

Hermeneutika mistis Ibn ‘Arabī menegaskan bahwa tidak semua makna batin dapat diakses oleh setiap orang. Akses terhadap makna tertentu mensyaratkan kesiapan spiritual dan etika. Oleh karena itu, ta’wīl bukan aktivitas bebas nilai, melainkan praktik intelektual-spiritual yang bertanggung jawab dan terikat pada wahyu.⁸

6.5.       Paradoks dan Ambiguitas sebagai Strategi Diskursif

Ungkapan-ungkapan paradoksal dalam karya Ibn ‘Arabī sering kali menimbulkan kebingungan dan kontroversi. Pernyataan yang tampak kontradiktif—seperti penegasan transendensi dan imanensi Tuhan secara simultan—sebenarnya merupakan strategi diskursif untuk menghindari reduksi realitas Ilahi ke dalam satu kategori konseptual tunggal. Paradoks berfungsi sebagai “kejutan kognitif” yang memaksa pembaca melampaui kebiasaan berpikir dualistik.⁹

Ambiguitas bahasa mistik, dengan demikian, bukan tanda ketidakjelasan intelektual, melainkan refleksi dari kompleksitas realitas yang dibicarakan. Hermeneutika mistis menuntut sikap kehati-hatian dan kerendahan hati intelektual, karena makna tidak pernah sepenuhnya tertutup atau final.


Etika Penafsiran dan Tanggung Jawab Hermeneutik

Bahasa simbolik yang kaya membuka kemungkinan penyalahgunaan interpretasi. Oleh karena itu, Ibn ‘Arabī menekankan pentingnya etika penafsiran. Penafsiran mistis harus dijaga dari klaim absolut dan kesewenang-wenangan subjektif. Ukuran normatifnya tetap wahyu dan prinsip tauhid. Pengalaman dan simbol mistik yang bertentangan secara jelas dengan prinsip-prinsip dasar agama tidak dapat dibenarkan secara hermeneutik.¹⁰

Dengan demikian, hermeneutika mistis Ibn ‘Arabī bersifat terbuka namun terkendali. Ia mengakui pluralitas makna tanpa terjerumus ke dalam relativisme total. Bahasa simbolik berfungsi sebagai jembatan antara Yang Mutlak dan yang terbatas, sementara hermeneutika bertugas menjaga agar jembatan tersebut tetap aman secara teologis dan bermakna secara spiritual.


Footnotes

[1]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 231–235.

[2]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 287–290.

[3]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 91–95.

[4]                Claude Addas, Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn ‘Arabi, trans. Peter Kingsley (Cambridge: Islamic Texts Society, 1993), 200–205.

[5]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: State University of New York Press, 1994), 3–8.

[6]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 83–87.

[7]                Ibn ‘Arabī, al-Futūḥāt al-Makkiyyah, vol. 1 (Cairo: al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb, n.d.), 118–122.

[8]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 214–218.

[9]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 132–136.

[10]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), 168–171.


7.           Kontroversi dan Kritik terhadap Mistisisme Ibn ‘Arabī

7.1.       Latar Munculnya Kontroversi

Pemikiran mistisisme Ibn ‘Arabī sejak awal memicu perdebatan intens di kalangan ulama dan sarjana Muslim. Kompleksitas bahasa simbolik, penggunaan paradoks, serta rumusan metafisika yang tidak lazim dalam diskursus fikih dan kalam menjadikan karya-karyanya terbuka terhadap beragam interpretasi—termasuk pembacaan yang kritis dan polemis. Kontroversi ini bukan semata-mata persoalan doktrin, melainkan juga menyangkut metodologi pengetahuan dan hermeneutika teks mistik.¹

Dalam sejarah penerimaan pemikirannya, kritik terhadap Ibn ‘Arabī muncul dari berbagai spektrum: ulama fikih yang menekankan kepatuhan literal pada syariat, teolog yang menjaga batas-batas tanzīh, hingga sebagian sufi yang menilai gaya ungkapannya berisiko disalahpahami oleh khalayak luas.²

7.2.       Tuduhan Panteisme dan Kesalahpahaman Waḥdat al-Wujūd

Kritik paling sering diarahkan pada doktrin waḥdat al-wujūd, yang oleh sebagian penentangnya disamakan dengan panteisme—yakni anggapan bahwa Tuhan identik dengan alam. Tuduhan ini berangkat dari pembacaan literal terhadap ungkapan-ungkapan Ibn ‘Arabī tentang kesatuan wujud dan manifestasi Ilahi.³

Namun, banyak sarjana menegaskan bahwa penyamaan waḥdat al-wujūd dengan panteisme merupakan reduksi konseptual. Dalam kerangka Ibn ‘Arabī, kesatuan wujud tidak meniadakan perbedaan ontologis antara Tuhan sebagai Wujud Hakiki dan alam sebagai manifestasi terbatas. Perbedaan antara identitas esensial dan penampakan (ẓuhūr) menjadi kunci untuk memahami posisi ontologis ini secara tepat.⁴

7.3.       Kritik Teologis dari Kalangan Ulama

Sejumlah ulama teologi mengkritik Ibn ‘Arabī karena dianggap membuka peluang bagi penafsiran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah. Kekhawatiran utama terletak pada potensi pengaburan batas antara Khalik dan makhluk, serta risiko relativisasi kebenaran teologis. Beberapa kritik juga menyoroti penggunaan istilah-istilah teologis yang ditafsirkan ulang dalam kerangka mistik, sehingga dinilai menyimpang dari makna konvensionalnya.⁵

Di sisi lain, terdapat pula ulama yang mengakui kedalaman spiritual Ibn ‘Arabī, namun tetap menegaskan perlunya kehati-hatian dalam menyebarluaskan karya-karyanya kepada khalayak awam. Sikap ini menunjukkan bahwa kritik tidak selalu berwujud penolakan total, melainkan sering kali berupa pembatasan pedagogis demi menjaga ketertiban teologis.⁶

7.4.       Kritik Metodologis: Bahasa Simbolik dan Akses Makna

Selain kritik doktrinal, pemikiran Ibn ‘Arabī juga dikritik secara metodologis. Bahasa simbolik dan paradoksal yang ia gunakan dinilai menyulitkan verifikasi rasional dan membuka ruang subjektivitas penafsiran yang luas. Bagi para pengkritik, ketiadaan kriteria objektif yang jelas dalam menilai pengalaman mistik berpotensi melemahkan otoritas normatif wahyu.⁷

Menanggapi hal ini, para pembela Ibn ‘Arabī menekankan bahwa bahasa simbolik justru merupakan konsekuensi dari keterbatasan bahasa literal dalam mengungkap realitas transenden. Hermeneutika mistis tidak meniadakan objektivitas wahyu, tetapi mengakui adanya lapisan makna yang hanya dapat diakses melalui kesiapan spiritual dan etika penafsiran yang ketat.⁸

7.5.       Pembelaan Internal dalam Tradisi Tasawuf

Dalam tradisi tasawuf sendiri, Ibn ‘Arabī memperoleh pembelaan kuat dari para penerus dan penafsirnya. Mereka berargumen bahwa banyak kritik lahir dari pembacaan parsial dan ahistoris terhadap teks-teksnya. Pemahaman yang memadai mensyaratkan penguasaan terminologi tasawuf, konteks simbolik, serta integrasi antara syariat, tarekat, dan hakikat.⁹

Pembelaan ini juga menegaskan bahwa Ibn ‘Arabī tidak pernah mengklaim otoritas di atas wahyu. Sebaliknya, ia secara konsisten merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi normatif, sementara pengalaman mistik berfungsi sebagai pendalaman makna, bukan sumber hukum atau akidah yang berdiri sendiri.¹⁰


Antara Kesalahan Doktrin dan Kesalahan Pemahaman

Perdebatan panjang seputar Ibn ‘Arabī menunjukkan pentingnya membedakan antara kesalahan doktrin dan kesalahan pemahaman. Banyak tuduhan ekstrem—baik yang mengkultuskan maupun yang mengafirkan—berakar pada kegagalan memahami genre dan tujuan wacana mistik. Kesalahan pemahaman sering kali terjadi ketika bahasa simbolik diperlakukan sebagai pernyataan teologis literal.¹¹

Dengan demikian, evaluasi kritis terhadap mistisisme Ibn ‘Arabī menuntut pendekatan multidisipliner yang memadukan teologi, filsafat, dan hermeneutika. Kritik yang konstruktif tidak bertujuan meniadakan kontribusinya, melainkan menempatkannya secara proporsional dalam khazanah intelektual Islam—sebagai pemikir besar yang pemikirannya kaya, kompleks, dan menuntut kehati-hatian dalam pembacaan.


Footnotes

[1]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 1–6.

[2]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 263–266.

[3]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 20–24.

[4]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 88–92.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 205–209.

[6]                Claude Addas, Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn ‘Arabi, trans. Peter Kingsley (Cambridge: Islamic Texts Society, 1993), 225–230.

[7]                Alexander D. Knysh, Islamic Mysticism: A Short History (Leiden: Brill, 2000), 252–255.

[8]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: State University of New York Press, 1994), 28–32.

[9]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 140–145.

[10]             Ibn ‘Arabī, al-Futūḥāt al-Makkiyyah, vol. 3 (Cairo: al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb, n.d.), 12–15.

[11]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), 173–176.


8.           Pengaruh dan Warisan Intelektual

8.1.       Transmisi Pemikiran dan Jaringan Penerus

Pengaruh intelektual Ibn ‘Arabī tidak berhenti pada karya-karyanya, melainkan berlanjut melalui jaringan murid, penafsir, dan komunitas sufi yang mengembangkan serta menyebarkan gagasannya. Tradisi ini membentuk apa yang sering disebut sebagai Akbarian tradition, sebuah arus pemikiran yang menjadikan konsep-konsep kunci Ibn ‘Arabī—seperti wujūd, tajallī, dan insān kāmil—sebagai fondasi refleksi spiritual dan metafisik.¹

Transmisi tersebut berlangsung melalui pengajaran lisan, komentar atas teks, serta integrasi gagasan Ibn ‘Arabī ke dalam tarekat-tarekat sufi. Proses ini tidak bersifat seragam; setiap wilayah dan periode sejarah menampilkan penekanan yang berbeda, menyesuaikan dengan kebutuhan intelektual dan spiritual setempat.²

8.2.       Pengaruh dalam Tasawuf Pasca-Ibn ‘Arabī

Dalam sejarah tasawuf, pengaruh Ibn ‘Arabī tampak jelas pada pemikir-pemikir besar setelahnya. Konsep waḥdat al-wujūd dan kerangka metafisika tajallī menjadi rujukan utama bagi banyak sufi dalam menjelaskan relasi Tuhan, alam, dan manusia. Pemikiran ini memperkaya tasawuf dengan sistem konseptual yang memungkinkan refleksi mistik melampaui praktik asketis menuju pemahaman kosmologis yang utuh.³

Namun, pengaruh ini tidak selalu berupa penerimaan tanpa kritik. Beberapa tokoh sufi mengadopsi terminologi Ibn ‘Arabī sambil menafsirkan ulang maknanya agar lebih selaras dengan konteks teologis dan pedagogis tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa warisan Ibn ‘Arabī bersifat dinamis dan dialogis, bukan dogmatis.⁴

8.3.       Resonansi dalam Filsafat dan Teologi Islam

Di luar tasawuf, pemikiran Ibn ‘Arabī memberikan resonansi signifikan dalam filsafat dan teologi Islam. Konsep wujūd dan hirarki eksistensi memengaruhi perdebatan ontologis tentang relasi antara esensi dan eksistensi, serta tentang sifat realitas kosmik. Beberapa filsuf dan teolog memanfaatkan kerangka Ibn ‘Arabī untuk menjembatani ketegangan antara rasionalitas filosofis dan pengalaman religius.⁵

Meskipun demikian, penerimaan dalam ranah teologi tetap selektif. Gagasan-gagasan Ibn ‘Arabī sering kali diadopsi pada tingkat simbolik atau etis, sementara implikasi metafisiknya dibatasi agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah yang mapan. Sikap ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara kreativitas intelektual dan ortodoksi.⁶

8.4.       Pengaruh dalam Sastra dan Budaya Islam

Warisan Ibn ‘Arabī juga terlihat jelas dalam sastra dan budaya Islam. Bahasa simbolik, puisi mistik, dan narasi visioner yang ia kembangkan menginspirasi tradisi sastra sufi di berbagai wilayah. Karya-karya sastra ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai medium pendidikan spiritual yang menyampaikan ajaran metafisik secara implisit.⁷

Dalam konteks budaya, simbol-simbol Ibn ‘Arabī—seperti perjalanan spiritual dan imajinasi kreatif—menjadi bagian dari kosakata religius yang lebih luas. Pengaruh ini memperkaya praktik keagamaan dengan dimensi reflektif dan kontemplatif, sekaligus memperluas cara umat Islam memahami hubungan mereka dengan Tuhan dan kosmos.⁸

8.5.       Penerimaan di Dunia Islam dan Barat

Penerimaan terhadap Ibn ‘Arabī menunjukkan variasi geografis dan historis yang signifikan. Di dunia Islam, ia dihormati oleh sebagian kalangan sebagai wali dan pemikir agung, sementara di kalangan lain dipandang kontroversial. Di Barat, minat terhadap Ibn ‘Arabī berkembang terutama dalam studi Islam, filsafat agama, dan perbandingan mistisisme. Para sarjana Barat menilai pemikirannya sebagai salah satu sistem metafisika mistik paling canggih dalam sejarah agama-agama.⁹

Namun, studi Barat juga menghadapi tantangan metodologis, terutama risiko memisahkan pemikiran Ibn ‘Arabī dari konteks teologis dan ritual Islam. Oleh karena itu, pendekatan yang sensitif terhadap konteks keislaman tetap menjadi prasyarat untuk memahami warisannya secara adil dan utuh.¹⁰


Relevansi Warisan Intelektual di Era Kontemporer

Di era modern, warisan intelektual Ibn ‘Arabī menemukan relevansi baru dalam diskursus spiritualitas, etika global, dan dialog antaragama. Penekanannya pada kesatuan realitas dan keterhubungan kosmik menawarkan kerangka refleksi bagi manusia modern yang menghadapi fragmentasi makna dan krisis eksistensial.¹¹

Meskipun demikian, aktualisasi pemikirannya menuntut kehati-hatian. Warisan Ibn ‘Arabī tidak dapat diadopsi secara ahistoris atau dilepaskan dari fondasi tauhid dan wahyu. Relevansi kontemporer yang konstruktif justru lahir dari pembacaan kritis yang menghormati konteks aslinya sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman. Dengan cara ini, pengaruh Ibn ‘Arabī dapat terus hidup sebagai sumber inspirasi intelektual dan spiritual yang produktif.


Footnotes

[1]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 9–15.

[2]                Claude Addas, Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn ‘Arabi, trans. Peter Kingsley (Cambridge: Islamic Texts Society, 1993), 245–250.

[3]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 300–305.

[4]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 275–279.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 210–214.

[6]                Alexander D. Knysh, Islamic Mysticism: A Short History (Leiden: Brill, 2000), 260–264.

[7]                Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984), 101–105.

[8]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: State University of New York Press, 1994), 52–56.

[9]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 155–160.

[10]             Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), 180–184.

[11]             Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam, Vol. 3: The Gunpowder Empires and Modern Times (Chicago: University of Chicago Press, 1974), 410–415.


9.           Relevansi Mistisisme Ibn ‘Arabī di Era Modern

9.1.       Tantangan Spiritualitas dalam Modernitas

Era modern ditandai oleh kemajuan sains dan teknologi yang pesat, sekaligus krisis makna yang meluas. Rasionalisasi kehidupan, fragmentasi pengetahuan, dan sekularisasi ruang publik sering kali meminggirkan dimensi spiritual manusia. Akibatnya, muncul gejala keterasingan (alienation) dan kegelisahan eksistensial yang mendorong pencarian makna di luar kerangka rasional-instrumental. Dalam konteks ini, mistisisme menawarkan alternatif cara memahami realitas yang tidak reduksionistik.¹

Mistisisme Ibn ‘Arabī menjadi relevan karena menyediakan visi kosmologis yang integratif: realitas dipahami sebagai satu kesatuan bermakna yang berakar pada Wujud Ilahi. Visi ini menantang paradigma modern yang cenderung memisahkan secara tajam antara subjek dan objek, manusia dan alam, serta sains dan spiritualitas.

9.2.       Mistisisme dan Krisis Eksistensial Manusia Modern

Pemikiran Ibn ‘Arabī memberikan respons filosofis terhadap krisis eksistensial modern melalui konsep ketergantungan ontologis manusia pada Tuhan. Dalam pandangannya, kegelisahan manusia berakar pada ilusi otonomi diri—keyakinan bahwa manusia adalah pusat dan sumber makna bagi dirinya sendiri. Jalan ma‘rifah mengoreksi ilusi ini dengan menegaskan bahwa makna hidup bersumber dari pengenalan akan Wujud Hakiki.²

Pendekatan ini tidak menafikan rasionalitas, tetapi menempatkannya dalam kerangka yang lebih luas. Rasio dipahami sebagai alat yang sah namun terbatas, sementara pengalaman spiritual berfungsi melengkapi pemahaman manusia tentang dirinya dan dunia. Dengan demikian, mistisisme Ibn ‘Arabī menawarkan model integratif yang dapat menjawab kegelisahan eksistensial tanpa jatuh pada irasionalisme.

9.3.       Spiritualitas, Etika, dan Kemanusiaan Global

Relevansi lain dari mistisisme Ibn ‘Arabī terletak pada implikasi etisnya. Konsep insān kāmil dan pandangan tentang manusia sebagai cermin Ilahi melahirkan etika spiritual yang menekankan kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama makhluk. Etika ini berpotensi berkontribusi pada diskursus kemanusiaan global yang menghadapi problem kekerasan, ketimpangan, dan dehumanisasi.³

Namun, etika mistik ini tidak bersifat abstrak universal tanpa akar normatif. Ia berlandaskan tauhid dan wahyu, sehingga tidak dapat dipisahkan dari kerangka moral Islam. Relevansinya di era modern terletak pada kemampuannya menyeimbangkan universalitas nilai kemanusiaan dengan partikularitas tradisi religius.

9.4.       Dialog Agama dan Pluralitas Makna

Pemikiran Ibn ‘Arabī sering dirujuk dalam konteks dialog antaragama, terutama karena pandangannya tentang manifestasi nama-nama Ilahi dalam keragaman eksistensial. Konsep ini memungkinkan pendekatan yang inklusif terhadap perbedaan religius tanpa meniadakan klaim kebenaran internal masing-masing tradisi.⁴

Meski demikian, penerapan gagasan ini dalam konteks modern harus dilakukan dengan kehati-hatian. Penekanan pada pluralitas makna tidak boleh disalahartikan sebagai relativisme teologis yang meniadakan batas-batas akidah. Relevansi Ibn ‘Arabī justru terletak pada kemampuannya menegaskan keterbukaan spiritual sekaligus loyalitas teologis—dua sikap yang kerap dipertentangkan dalam wacana modern.

9.5.       Mistisisme, Ekologi, dan Kesadaran Kosmik

Krisis ekologis global menuntut paradigma baru dalam relasi manusia dengan alam. Ontologi mistis Ibn ‘Arabī, yang memandang alam sebagai tajallī Ilahi, menawarkan dasar spiritual bagi etika ekologis. Alam tidak diperlakukan semata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai realitas bermakna yang mencerminkan nama-nama Tuhan.⁵

Pandangan ini mendorong sikap tanggung jawab dan penghormatan terhadap lingkungan, sekaligus mengkritik paradigma modern yang memisahkan manusia dari kosmos. Meski Ibn ‘Arabī tidak berbicara tentang ekologi dalam istilah kontemporer, prinsip-prinsip ontologis dan antropologisnya menyediakan fondasi konseptual yang relevan untuk refleksi ekologis modern.


Peluang dan Tantangan Aktualisasi Kontemporer

Aktualisasi mistisisme Ibn ‘Arabī di era modern menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, pemikirannya dapat memperkaya wacana spiritualitas, etika, dan filsafat agama. Di sisi lain, terdapat risiko penyederhanaan, komodifikasi spiritual, dan pelepasan pemikirannya dari konteks syariat dan tradisi Islam.⁶

Oleh karena itu, relevansi kontemporer yang bertanggung jawab menuntut pembacaan kritis dan kontekstual. Mistisisme Ibn ‘Arabī tidak dapat dijadikan solusi instan bagi problem modernitas, tetapi dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi intelektual dan spiritual yang mendalam—selama dipahami dalam kerangka tauhid, etika, dan disiplin keilmuan yang ketat.


Footnotes

[1]                Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007), 299–305.

[2]                William C. Chittick, Ibn al-‘Arabi: Heir to the Prophets (Oxford: Oneworld, 2005), 170–175.

[3]                Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), 185–189.

[4]                William C. Chittick, Imaginal Worlds: Ibn al-‘Arabi and the Problem of Religious Diversity (Albany: State University of New York Press, 1994), 95–100.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man (London: Unwin Paperbacks, 1990), 101–105.

[6]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 290–295.


10.       Penutup

10.1.    Kesimpulan Umum

Kajian ini menelaah mistisisme dalam pemikiran Ibn ‘Arabī secara komprehensif melalui pendekatan historis, ontologis, epistemologis, antropologis, hermeneutik, serta kritis. Dari penelusuran tersebut, dapat disimpulkan bahwa mistisisme Ibn ‘Arabī bukanlah sekadar pengalaman spiritual individual, melainkan sebuah sistem pemikiran yang terstruktur dan integratif. Ia mengaitkan realitas Ilahi, kosmos, dan manusia dalam satu kerangka tauhid yang dinamis dan bermakna.¹

Ontologi mistiknya menegaskan keesaan Wujud Hakiki dan memaknai pluralitas realitas sebagai manifestasi (tajallī) yang berjenjang. Epistemologinya mengakui pluralitas sumber pengetahuan—akal, wahyu, dan pengalaman mistik—dengan menempatkan ma‘rifah sebagai puncak pengetahuan kehadiran yang menuntut transformasi eksistensial. Antropologi mistisnya memposisikan manusia sebagai mikrokosmos dan insān kāmil, yakni cermin paling komprehensif bagi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi.²

Bahasa simbolik dan hermeneutika mistis berfungsi sebagai strategi epistemologis untuk mengartikulasikan pengalaman transenden tanpa mereduksinya ke dalam bahasa literal. Pada saat yang sama, kerangka etika penafsiran menjaga agar pluralitas makna tidak terjerumus ke dalam relativisme teologis. Dengan demikian, mistisisme Ibn ‘Arabī menghadirkan sintesis antara kedalaman spiritual dan disiplin intelektual.

10.2.    Sintesis Temuan Utama

Sintesis dari seluruh pembahasan menunjukkan beberapa temuan utama. Pertama, mistisisme Ibn ‘Arabī berakar kuat pada tradisi Islam, khususnya tauhid dan wahyu, meskipun ia menggunakan bahasa dan kategori metafisik yang kompleks. Kedua, kontroversi yang menyertai pemikirannya sebagian besar bersumber dari kesenjangan metodologis dan hermeneutik, terutama pembacaan literal terhadap bahasa simbolik. Ketiga, pengaruh dan warisan intelektual Ibn ‘Arabī bersifat lintas wilayah dan disiplin, membentuk tradisi panjang yang terus ditafsirkan ulang sesuai konteks sejarah dan kebutuhan zaman.³

Keempat, relevansi kontemporer pemikirannya terletak pada kemampuannya menawarkan visi integratif bagi krisis modern—eksistensial, etis, dan ekologis—tanpa mengabaikan batas-batas normatif agama. Namun relevansi ini mensyaratkan pembacaan kritis yang menghindari ahistorisasi dan simplifikasi.

10.3.    Keterbatasan Kajian

Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, fokus utama diarahkan pada analisis konseptual dan tekstual, sehingga dimensi praksis tasawuf dan penerapan historis di komunitas tertentu belum dibahas secara mendalam. Kedua, keterbatasan ruang mengharuskan seleksi sumber primer dan sekunder, sehingga tidak semua varian interpretasi terhadap Ibn ‘Arabī dapat diakomodasi. Ketiga, kajian ini belum melakukan perbandingan sistematis dengan tradisi mistik non-Islam atau dengan filsafat modern secara mendalam, yang berpotensi memperkaya perspektif analitis.⁴

Keterbatasan-keterbatasan ini tidak mengurangi signifikansi temuan, tetapi justru membuka ruang bagi pengembangan penelitian lanjutan yang lebih spesifik dan mendalam.

10.4.    Rekomendasi Penelitian Lanjutan

Berdasarkan hasil kajian, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi penerimaan dan transformasi pemikiran Ibn ‘Arabī dalam konteks lokal tertentu, termasuk interaksinya dengan mazhab teologi dan tarekat. Kedua, studi komparatif antara mistisisme Ibn ‘Arabī dan filsafat modern—misalnya dalam isu kesadaran, makna, dan ekologi—dapat memberikan kontribusi baru bagi dialog lintas disiplin. Ketiga, pengkajian kritis dari perspektif teologi Sunni klasik yang sistematis akan membantu memperjelas batas-batas ortodoksi dan kreativitas intelektual dalam tasawuf.⁵

Dengan arah penelitian tersebut, mistisisme Ibn ‘Arabī dapat terus dikaji secara produktif sebagai bagian integral dari khazanah intelektual Islam yang hidup, kritis, dan relevan lintas zaman.


Penutup Akhir

Sebagai penutup, mistisisme Ibn ‘Arabī menantang pembaca untuk melampaui dikotomi sempit antara rasionalitas dan spiritualitas, antara transendensi dan imanensi. Ia mengajukan visi tauhid yang menyatukan pengetahuan, keberadaan, dan etika dalam satu orientasi Ilahi. Membaca Ibn ‘Arabī secara adil berarti membaca dengan ketelitian ilmiah, kerendahan hati epistemik, dan kesadaran akan kompleksitas bahasa mistik. Dalam kerangka inilah, warisan intelektualnya dapat terus memberi inspirasi tanpa kehilangan pijakan normatifnya.


Footnotes

[1]                William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination (Albany: State University of New York Press, 1989), 1–6.

[2]                Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam, trans. R. W. J. Austin (New York: Paulist Press, 1980), 47–55.

[3]                Alexander D. Knysh, Ibn ‘Arabi in the Later Islamic Tradition (Albany: State University of New York Press, 1999), 285–290.

[4]                Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975), 275–280.

[5]                Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), 218–223.


Daftar Pustaka

Addas, C. (1993). Quest for the red sulphur: The life of Ibn ‘Arabi (P. Kingsley, Trans.). Cambridge, UK: Islamic Texts Society.

Al-Ghazālī. (2000). Deliverance from error (R. J. McCarthy, Trans.). Louisville, KY: Fons Vitae.

Chittick, W. C. (1989). The Sufi path of knowledge: Ibn al-‘Arabi’s metaphysics of imagination. Albany, NY: State University of New York Press.

Chittick, W. C. (1994). Imaginal worlds: Ibn al-‘Arabi and the problem of religious diversity. Albany, NY: State University of New York Press.

Chittick, W. C. (2005). Ibn al-‘Arabi: Heir to the prophets. Oxford, UK: Oneworld Publications.

Hodgson, M. G. S. (1974). The venture of Islam: Vol. 2. The expansion of Islam in the middle periods. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Hodgson, M. G. S. (1974). The venture of Islam: Vol. 3. The gunpowder empires and modern times. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Ibn ‘Arabī. (n.d.). Al-Futūḥāt al-Makkiyyah (Vols. 1–3). Cairo, Egypt: al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb.

Ibn ‘Arabī. (1980). Fuṣūṣ al-Ḥikam (R. W. J. Austin, Trans.). New York, NY: Paulist Press.

Izutsu, T. (1984). Sufism and Taoism: A comparative study of key philosophical concepts. Berkeley, CA: University of California Press.

Karamustafa, A. T. (2007). Sufism: The formative period. Edinburgh, UK: Edinburgh University Press.

Knysh, A. D. (1999). Ibn ‘Arabi in the later Islamic tradition. Albany, NY: State University of New York Press.

Knysh, A. D. (2000). Islamic mysticism: A short history. Leiden, Netherlands: Brill.

Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred. Albany, NY: State University of New York Press.

Nasr, S. H. (1990). Man and nature: The spiritual crisis in modern man. London, UK: Unwin Paperbacks.

Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its origin to the present. Albany, NY: State University of New York Press.

Schimmel, A. (1975). Mystical dimensions of Islam. Chapel Hill, NC: University of North Carolina Press.

Taylor, C. (2007). A secular age. Cambridge, MA: Harvard University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar