Filsafat Wujud
Genealogi Konseptual, Dinamika Metafisika, dan
Relevansi Epistemologis Kontemporer
Abstrak
Artikel ini mengkaji filsafat wujud dalam
tradisi Islam sebagai salah satu fondasi utama metafisika Islam yang membentuk
relasi antara Tuhan, alam, dan manusia. Dengan menggunakan pendekatan
filosofis-historis dan analisis konseptual, kajian ini menelusuri genealogi
pemikiran wujud sejak penerimaan metafisika Yunani, perkembangannya
dalam filsafat peripatetik dan ilmu kalam, pendalaman ontologis dalam tasawuf
falsafi, hingga puncak sintesisnya dalam Hikmah Muta‘āliyah. Artikel ini
menunjukkan bahwa filsafat wujud Islam berkembang melalui dialog dinamis antara
rasio, wahyu, dan pengalaman spiritual, serta menghasilkan kerangka ontologis yang
menegaskan objektivitas realitas, gradasi eksistensi, dan prinsip tauhid
sebagai landasan metafisis. Selain itu, artikel ini menganalisis implikasi
epistemologis dan teologis filsafat wujud Islam, serta menilai relevansinya
dalam merespons problem kontemporer seperti reduksionisme materialistik, krisis
makna, dan fragmentasi pengetahuan modern. Kajian ini menyimpulkan bahwa
filsafat wujud Islam bukan sekadar warisan intelektual historis, melainkan
tradisi pemikiran hidup yang tetap terbuka untuk kritik, dialog lintas
disiplin, dan pengembangan berkelanjutan dalam konteks global.
Kata Kunci: filsafat
wujud; metafisika Islam; ontologi; epistemologi Islam; tasawuf falsafi; Hikmah
Muta‘āliyah; tauhid.
PEMBAHASAN
Filsafat Wujud dalam Tradisi Islam
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang Masalah
Konsep wujud
(eksistensi) merupakan salah satu tema paling fundamental dalam khazanah
filsafat Islam. Hampir seluruh bangunan metafisika Islam—baik dalam filsafat,
teologi (ilmu kalam), maupun tasawuf—bertumpu pada bagaimana wujud
dipahami, diklasifikasikan, dan dihubungkan dengan realitas Tuhan, alam, dan
manusia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa perbedaan paradigma pemikiran
dalam Islam sering kali berakar pada perbedaan cara memahami hakikat wujud
itu sendiri.¹
Dalam tradisi
filsafat Islam, wujud tidak hanya diperlakukan
sebagai kategori ontologis yang statis, melainkan sebagai realitas yang
memiliki struktur hierarkis, gradasi, dan relasi kausal yang kompleks.
Pemikiran para filsuf Muslim mengembangkan konsep-konsep seperti wajib
al-wujud, mumkin al-wujud, dan mumtani‘
al-wujud untuk menjelaskan relasi antara Yang Absolut dan yang
kontingen.² Pendekatan ini menunjukkan bahwa filsafat wujud dalam Islam tidak
semata-mata spekulatif, melainkan terikat erat dengan persoalan teologis dan
epistemologis.
Di sisi lain,
tasawuf—khususnya tasawuf falsafi—menghadirkan pemahaman eksistensi yang lebih
bersifat intuitif dan pengalaman batin. Konsep seperti wahdat
al-wujud memperluas diskursus ontologis dengan menekankan kesatuan
realitas pada tingkat terdalam, sekaligus memunculkan kontroversi teologis dan
filosofis yang panjang.³ Perdebatan seputar konsep ini menunjukkan bahwa
filsafat wujud Islam berkembang melalui dialektika internal yang dinamis, bukan
sebagai sistem yang monolitik dan tertutup.
Dalam konteks modern
dan kontemporer, kajian filsafat wujud Islam menjadi semakin relevan. Dominasi
paradigma positivistik dan materialistik dalam pemikiran modern cenderung
mereduksi realitas pada aspek empiris semata, sehingga dimensi metafisis dan
eksistensial manusia sering terabaikan.⁴ Filsafat wujud Islam menawarkan
kerangka alternatif yang memungkinkan integrasi antara rasionalitas,
spiritualitas, dan makna eksistensial, tanpa harus terjebak pada dikotomi tajam
antara iman dan akal.
Oleh karena itu,
kajian sistematis mengenai filsafat wujud dalam tradisi Islam bukan hanya
penting secara historis, tetapi juga signifikan secara filosofis dan
epistemologis. Penelitian ini berupaya menelusuri genealogi konsep wujud,
mengkaji dinamika internalnya, serta menilai relevansinya bagi problem
pemikiran kontemporer.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
1)
Apa pengertian wujud
dalam filsafat Islam dan bagaimana distingsinya dengan konsep-konsep terkait
seperti mahiyyah dan haqiqah?
2)
Bagaimana perkembangan historis
filsafat wujud dalam tradisi Islam dari periode klasik hingga pascaklasik?
3)
Apa perbedaan pendekatan filsafat,
teologi, dan tasawuf dalam memahami wujud?
4)
Apa implikasi ontologis dan
epistemologis filsafat wujud Islam bagi pemikiran keislaman dan filsafat
kontemporer?
1.3.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk:
1)
Menjelaskan konsep wujud
secara komprehensif dalam kerangka filsafat Islam.
2)
Mengungkap dinamika historis dan
intelektual perkembangan filsafat wujud.
3)
Menganalisis sintesis dan
ketegangan antara filsafat, teologi, dan tasawuf dalam persoalan ontologi.
4)
Menilai relevansi filsafat wujud
Islam dalam menghadapi tantangan pemikiran modern.
Adapun manfaat
penelitian ini meliputi manfaat teoretis, yakni memperkaya kajian filsafat
Islam dan metafisika, serta manfaat praktis-akademik, yaitu menyediakan
kerangka konseptual yang dapat digunakan dalam studi lanjutan di bidang
filsafat, teologi, dan pemikiran Islam kontemporer.
Metodologi
dan Pendekatan
Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filosofis-historis. Analisis
dilakukan melalui penelaahan teks-teks primer filsafat Islam serta karya-karya
sekunder yang relevan. Pendekatan konseptual digunakan untuk mengurai istilah
dan struktur pemikiran, sementara pendekatan komparatif diterapkan untuk
melihat perbedaan dan persinggungan antara berbagai aliran pemikiran.
Dengan pendekatan
ini, kajian diharapkan mampu menghadirkan pemahaman yang objektif, kritis, dan
terbuka terhadap koreksi serta pengembangan lebih lanjut.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 21–23.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 45–48.
[3]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s
Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 79–82.
[4]
Karen Armstrong, The Case for God (New York: Alfred A. Knopf,
2009), 54–56.
2.
Kerangka Konseptual Filsafat Wujud
2.1.
Pengertian Wujud dalam
Bahasa dan Istilah Filsafat
Secara etimologis,
kata wujud
berasal dari akar kata Arab wajada–yajidu yang bermakna
“menemukan”, “mengalami”, atau “ada”. Dalam penggunaan bahasa Arab klasik, wujud
tidak hanya menunjuk pada keberadaan faktual, tetapi juga mengandung nuansa
pengalaman langsung terhadap realitas.¹ Nuansa ini kelak berpengaruh dalam
perkembangan makna wujud dalam filsafat dan tasawuf
Islam.
Dalam terminologi
filsafat Islam, wujud dipahami sebagai “kenyataan
ada” (al-ḥaqīqah
al-khārijiyyah) yang dengannya sesuatu hadir dalam realitas, baik
secara aktual maupun potensial. Para filsuf Muslim membedakan secara tegas
antara wujud
(eksistensi) dan mahiyyah (esensi atau “apa-itu”).
Distingsi ini menjadi fondasi metafisika Islam, terutama sejak dirumuskan
secara sistematis dalam filsafat peripatetik.²
Berbeda dengan
pengertian eksistensi dalam filsafat modern Barat yang sering dikaitkan dengan
pengalaman subjek, wujud dalam filsafat Islam bersifat
objektif dan ontologis. Ia tidak bergantung pada kesadaran manusia, melainkan
menjadi dasar bagi segala bentuk kesadaran dan pengetahuan.
2.2.
Distingsi antara
Wujud, Mahiyyah, dan Haqiqah
Kerangka konseptual
filsafat wujud Islam tidak dapat dipahami tanpa menjelaskan relasi antara wujud,
mahiyyah,
dan haqiqah.
Mahiyyah
merujuk pada esensi sesuatu—yakni definisi konseptual tentang “apa sesuatu
itu”—sementara wujud menunjukkan kenyataan bahwa
esensi tersebut benar-benar ada.³ Dengan kata lain, mahiyyah menjawab pertanyaan apa,
sedangkan wujud
menjawab pertanyaan apakah ada.
Dalam pandangan
filsafat Islam klasik, suatu mahiyyah dapat dipahami oleh akal
tanpa harus eksis dalam realitas eksternal. Misalnya, konsep “kuda bersayap”
memiliki mahiyyah
yang dapat dipikirkan, tetapi tidak memiliki wujud aktual. Distingsi ini
memungkinkan analisis ontologis yang lebih presisi serta menjadi dasar
klasifikasi keberadaan ke dalam kategori wajib, mumkin, dan mumtani‘.
Adapun haqiqah
sering digunakan untuk menunjuk realitas terdalam atau hakikat sesuatu, yang
dalam beberapa konteks dapat merujuk pada kesatuan antara wujud
dan mahiyyah
dalam tingkat tertentu. Dalam tasawuf dan filsafat iluminatif, istilah haqiqah
kerap diberi makna metafisis yang lebih dalam, yakni realitas sejati yang
melampaui penampakan lahiriah.⁴
2.3.
Ontologi sebagai Inti
Filsafat Islam
Ontologi menempati
posisi sentral dalam filsafat Islam karena hampir seluruh persoalan
filosofis—epistemologi, kosmologi, hingga etika—bermuara pada persoalan wujud.
Para filsuf Muslim mewarisi problem ontologi dari tradisi Yunani, khususnya
Aristoteles, namun mengembangkannya dalam kerangka tauhid yang menegaskan
keesaan dan transendensi Tuhan.⁵
Dalam konteks ini,
Tuhan dipahami sebagai Wājib al-Wujūd (Yang Niscaya Ada),
yakni keberadaan yang tidak bergantung pada sebab apa pun. Sebaliknya, alam dan
seluruh makhluk dipahami sebagai mumkin al-wujūd (yang mungkin ada),
yaitu keberadaannya bergantung sepenuhnya pada sebab di luar dirinya. Skema
ontologis ini menegaskan relasi asimetris antara Tuhan dan ciptaan, sekaligus
menjaga prinsip keesaan Tuhan dalam metafisika Islam.
Perumusan sistematis
mengenai konsep wajib al-wujud dan mumkin
al-wujud mencapai puncaknya dalam karya-karya Ibn Sina, yang
menjadikan ontologi sebagai fondasi argumen teologis dan kosmologis.⁶ Dengan
demikian, ontologi dalam filsafat Islam tidak bersifat netral secara teologis,
melainkan terintegrasi dengan keyakinan religius.
2.4.
Relasi Wujud dan
Pengetahuan (Epistemologi Wujud)
Salah satu ciri khas
filsafat wujud Islam adalah eratnya relasi antara ontologi dan epistemologi.
Pengetahuan tidak dipahami semata-mata sebagai representasi mental terhadap
objek, melainkan sebagai bentuk kehadiran (ḥuḍūr) realitas dalam diri subjek
yang mengetahui.⁷ Dalam kerangka ini, wujud mendahului pengetahuan;
sesuatu dapat diketahui karena ia terlebih dahulu ada.
Pandangan ini
melahirkan teori pengetahuan yang berbeda dari empirisme murni maupun
rasionalisme ekstrem. Akal berfungsi untuk memahami struktur mahiyyah,
sementara pengalaman eksistensial—baik rasional maupun intuitif—memungkinkan
manusia menangkap realitas wujud. Dalam tradisi tasawuf,
pengetahuan tertinggi tentang wujud bahkan diyakini hanya dapat
dicapai melalui penyucian diri dan pengalaman spiritual langsung.⁸
Relasi erat antara wujud
dan pengetahuan ini menunjukkan bahwa filsafat wujud Islam tidak memisahkan
secara tajam antara metafisika dan antropologi filosofis. Cara manusia
mengetahui realitas sangat ditentukan oleh posisi ontologisnya sebagai makhluk
yang berada di antara keterbatasan dan keterarahan kepada Yang Absolut.
Implikasi
Kerangka Konseptual Filsafat Wujud
Kerangka konseptual
filsafat wujud Islam memiliki implikasi luas, baik secara teoretis maupun
praktis. Secara teoretis, ia menyediakan fondasi ontologis yang koheren untuk
memahami Tuhan, alam, dan manusia dalam satu kesatuan sistem pemikiran. Secara
praktis, kerangka ini membuka ruang bagi integrasi antara rasionalitas
filosofis, keyakinan teologis, dan pengalaman spiritual.
Dengan demikian,
filsafat wujud Islam tidak dapat direduksi menjadi spekulasi abstrak semata. Ia
merupakan upaya intelektual untuk memahami realitas secara menyeluruh, dengan
tetap menjaga keseimbangan antara akal, wahyu, dan pengalaman eksistensial.
Kerangka konseptual inilah yang menjadi dasar bagi perkembangan lebih lanjut
filsafat wujud dalam berbagai aliran pemikiran Islam.
Footnotes
[1]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 15–17.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 44–46.
[3]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 118–120.
[4]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s
Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 33–35.
[5]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 29–31.
[6]
Jon McGinnis, Avicenna (Oxford: Oxford University Press,
2010), 92–95.
[7]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1 (Beirut: Dār Iḥyā’
al-Turāth al-‘Arabī, 1981), 41–43.
[8]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan
Paul, 1993), 205–208.
3.
Genealogi Historis Filsafat Wujud dalam Islam
3.1.
Latar Historis:
Masuknya Metafisika Yunani ke Dunia Islam
Genealogi filsafat
wujud dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari proses transmisi dan transformasi
warisan filsafat Yunani ke dalam dunia intelektual Islam sejak abad ke-8 M.
Melalui gerakan penerjemahan besar-besaran pada masa Dinasti Abbasiyah,
karya-karya filsafat Yunani—terutama Aristoteles dan para
neoplatonis—diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan mulai dikaji secara sistematis
oleh para cendekiawan Muslim.¹
Dalam filsafat
Yunani, persoalan being qua being (ada sejauh ia ada)
telah menjadi inti metafisika Aristotelian. Namun, ketika konsep ini diadopsi
oleh para pemikir Muslim, ia tidak diterima secara pasif. Sebaliknya, konsep
keberadaan tersebut ditafsirkan ulang dalam horizon teologis Islam yang
berlandaskan tauhid, sehingga menghasilkan pergeseran makna dan orientasi
filosofis.²
Perubahan mendasar
terjadi ketika metafisika tidak lagi dipahami semata-mata sebagai kajian
ontologis abstrak, tetapi juga sebagai sarana rasional untuk menegaskan
eksistensi dan keesaan Tuhan. Dengan demikian, sejak awal kemunculannya dalam
dunia Islam, filsafat wujud telah berada dalam dialog—dan kadang
ketegangan—dengan teologi.
3.2.
Filsafat Wujud dalam
Tradisi Peripatetik Islam
Periode klasik
filsafat Islam ditandai oleh dominasi tradisi peripatetik (mashshā’ī),
yang berusaha mengembangkan metafisika secara sistematis dan rasional. Dalam
tradisi ini, konsep wujud menjadi pusat analisis
ontologis, khususnya melalui distingsi antara wujud dan mahiyyah.
Distingsi ini memungkinkan para filsuf Muslim menjelaskan keberadaan Tuhan dan
alam tanpa terjerumus pada paham emanasionisme ekstrem atau panteisme.³
Tokoh paling
berpengaruh dalam fase ini adalah Ibn Sina, yang merumuskan ontologi berbasis
konsep wājib
al-wujūd (Yang Niscaya Ada). Menurutnya, Tuhan adalah satu-satunya
wujud yang esensinya identik dengan eksistensinya, sementara selain Tuhan
bersifat mumkin
al-wujūd, yakni membutuhkan sebab untuk ada.⁴ Kerangka ini tidak
hanya bersifat filosofis, tetapi juga berfungsi sebagai dasar argumen teologis
tentang keberadaan Tuhan.
Konsep Ibn Sina
tentang wujud
memberikan pengaruh luas, baik dalam filsafat Islam selanjutnya maupun dalam
filsafat skolastik Barat. Namun, dominasi ontologi Avicennian ini juga memicu
kritik dari kalangan teolog dan sufi, yang menilai bahwa pendekatan rasional
murni memiliki keterbatasan dalam menjangkau realitas metafisis tertinggi.
3.3.
Respons dan Kritik
Ilmu Kalam terhadap Filsafat Wujud
Ilmu kalam memainkan
peran penting dalam membentuk diskursus filsafat wujud Islam melalui kritik dan
koreksi terhadap metafisika filsafat. Para teolog Muslim, khususnya dari
kalangan Asy‘ariyyah, menerima sebagian perangkat konseptual filsafat, tetapi
menolak kesimpulan-kesimpulan yang dianggap bertentangan dengan prinsip wahyu.⁵
Dalam perspektif
kalam, wujud
dipahami terutama dalam kaitannya dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan. Alam
dipandang sebagai entitas kontingen yang diciptakan ex nihilo, bukan sebagai realitas
yang mengalir secara niscaya dari Tuhan. Kritik ini diarahkan terutama pada
konsep kausalitas dan keniscayaan dalam filsafat peripatetik, yang dinilai
berpotensi mengurangi kebebasan Tuhan.
Meskipun sering
diposisikan sebagai oposisi terhadap filsafat, ilmu kalam justru berkontribusi
dalam memperkaya diskursus ontologi Islam. Dengan menekankan aspek kehendak
ilahi dan penciptaan temporal, kalam memperluas pemahaman tentang wujud
di luar kerangka rasionalistik semata.
3.4.
Peralihan Menuju Ontologi
Mistis dalam Tasawuf
Selain filsafat dan
kalam, tasawuf turut memainkan peran krusial dalam genealogi filsafat wujud
Islam. Pada tahap awal, tasawuf lebih berfokus pada aspek etis dan spiritual,
namun sejak abad ke-6 H, berkembang apa yang dikenal sebagai tasawuf falsafi.
Dalam tradisi ini, wujud tidak hanya dipahami secara
konseptual, tetapi juga dialami secara eksistensial melalui pengalaman batin.⁶
Tasawuf falsafi
memperkenalkan bahasa simbolik dan metaforis untuk menjelaskan realitas wujud,
yang sering kali berbeda dari bahasa diskursif filsafat. Puncak perkembangan
ini tampak dalam pemikiran Ibn Arabi, yang mengemukakan konsep wahdat
al-wujud. Dalam kerangka ini, realitas dipahami sebagai satu wujud
hakiki, sementara pluralitas makhluk dipandang sebagai manifestasi atau tajalli
dari Yang Esa.⁷
Meskipun menuai
kontroversi, pendekatan tasawuf falsafi memberikan dimensi baru dalam filsafat
wujud Islam, yakni dimensi pengalaman langsung (dzauq) yang melampaui penalaran
rasional murni. Hal ini menunjukkan bahwa genealogi filsafat wujud Islam
bersifat plural dan multidimensional.
Sintesis
Awal dan Dinamika Pascaklasik
Memasuki periode
pascaklasik, berbagai aliran pemikiran Islam mulai menunjukkan kecenderungan
sintesis antara filsafat, kalam, dan tasawuf. Konsep wujud
tidak lagi diperdebatkan secara dikotomis, melainkan dipahami sebagai realitas
yang dapat didekati melalui berbagai jalur epistemologis.
Genealogi historis
ini menunjukkan bahwa filsafat wujud dalam Islam berkembang melalui dialog
internal yang berkelanjutan. Ia bukan sekadar hasil adopsi dari luar, tetapi
merupakan konstruksi intelektual orisinal yang lahir dari interaksi kreatif
antara rasio, wahyu, dan pengalaman spiritual. Pemahaman terhadap dinamika
historis ini menjadi landasan penting untuk mengkaji perkembangan filsafat
wujud Islam pada tahap-tahap selanjutnya.
Footnotes
[1]
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture (London:
Routledge, 1998), 16–20.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 23–25.
[3]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 52–55.
[4]
Jon McGinnis, Avicenna (Oxford: Oxford University Press,
2010), 101–105.
[5]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 134–138.
[6]
Alexander Knysh, Islamic Mysticism: A Short History (Leiden:
Brill, 2000), 145–147.
[7]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge (Albany: SUNY
Press, 1989), 79–83.
4.
Wujud dalam Tasawuf Falsafi
4.1.
Karakter Ontologis
Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi
merupakan arus pemikiran yang memadukan pengalaman mistik (dzauq)
dengan refleksi metafisis rasional. Berbeda dari tasawuf praktis yang berfokus
pada etika dan laku spiritual, tasawuf falsafi berusaha merumuskan pengalaman
batin ke dalam kerangka ontologis yang sistematis. Dalam konteks ini, wujud
dipahami bukan sekadar sebagai kategori konseptual, melainkan sebagai realitas
yang dihayati dan disaksikan secara langsung oleh subjek spiritual.¹
Pendekatan ontologis
tasawuf falsafi berangkat dari asumsi bahwa realitas terdalam tidak sepenuhnya
dapat dijangkau oleh diskursus rasional. Bahasa simbolik, metafora, dan
paradoks menjadi medium utama untuk mengekspresikan pengalaman wujud.
Kendati demikian, tasawuf falsafi tidak menolak rasio; ia justru menggunakannya
sebagai sarana klarifikasi setelah pengalaman batin terjadi.
4.2.
Konsep Wujud sebagai
Realitas Tunggal
Dalam tasawuf
falsafi, wujud
dipandang sebagai realitas tunggal yang hakiki. Kejamakan makhluk tidak
dipahami sebagai pluralitas ontologis yang mandiri, melainkan sebagai
manifestasi (tajallī) dari satu realitas wujud
yang absolut. Pandangan ini menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya wujud
sejati, sementara keberadaan makhluk bersifat nisbi dan bergantung.²
Pemahaman tersebut
tidak dimaksudkan untuk meniadakan perbedaan antara Tuhan dan makhluk,
melainkan untuk menegaskan ketergantungan ontologis makhluk pada Tuhan. Dalam
kerangka ini, dunia tidak berdiri sejajar dengan Tuhan, tetapi hadir sebagai
penampakan berjenjang dari realitas ilahi. Dengan demikian, konsep wujud
dalam tasawuf falsafi bersifat hierarkis dan relasional.
4.3.
Wahdat al-Wujud dan
Formulasinya
Puncak artikulasi
ontologi tasawuf falsafi tampak dalam konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud).
Konsep ini secara sistematis dirumuskan oleh Ibn Arabi, yang menegaskan bahwa
realitas pada tingkat terdalam adalah satu, sementara keragaman yang tampak
merupakan ekspresi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan.³
Dalam kerangka wahdat
al-wujud, Tuhan tidak disamakan dengan makhluk, tetapi dipahami
sebagai sumber eksistensi yang menampakkan diri melalui berbagai bentuk. Relasi
antara Tuhan dan alam dijelaskan melalui konsep tajallī, yakni penyingkapan diri
ilahi dalam berbagai tingkatan keberadaan. Dengan demikian, pluralitas tidak
dihapus, melainkan ditempatkan dalam struktur kesatuan ontologis.
4.4.
Kontroversi Teologis
dan Klarifikasi Filosofis
Konsep wahdat
al-wujud memicu kontroversi luas dalam sejarah pemikiran Islam.
Kritik utama diarahkan pada dugaan panteisme, yakni anggapan bahwa Tuhan
identik dengan alam. Namun, para pembela tasawuf falsafi menegaskan bahwa
tuduhan tersebut lahir dari kesalahpahaman konseptual.⁴
Secara filosofis, wahdat
al-wujud tidak menyatakan identitas mutlak antara Tuhan dan
makhluk, melainkan kesatuan pada tingkat wujud, disertai perbedaan pada tingkat
penampakan (ta‘ayyunāt). Tuhan tetap transenden
dalam esensi-Nya, sementara kehadiran-Nya dalam alam bersifat imanen melalui
manifestasi. Klarifikasi ini menunjukkan bahwa tasawuf falsafi memiliki
struktur ontologis yang lebih subtil daripada sekadar panteisme sederhana.
4.5.
Epistemologi Mistis
dan Pengetahuan tentang Wujud
Tasawuf falsafi
mengembangkan epistemologi khas yang menempatkan pengetahuan tentang wujud
sebagai hasil penyaksian langsung (kashf atau shuhūd).
Pengetahuan ini tidak menafikan rasio, tetapi melampauinya. Rasio berfungsi
sebagai alat konseptualisasi, sedangkan pengalaman mistik menyediakan konten eksistensial
yang hidup.⁵
Dalam kerangka ini,
kebenaran ontologis tidak hanya diverifikasi melalui koherensi logis, tetapi
juga melalui transformasi eksistensial subjek. Pengetahuan tentang wujud
sejati menuntut perubahan cara berada manusia di dunia, bukan sekadar
penambahan informasi intelektual.
Posisi
Tasawuf Falsafi dalam Filsafat Wujud Islam
Tasawuf falsafi
menempati posisi unik dalam filsafat wujud Islam. Ia memperluas cakrawala
ontologi dengan memasukkan dimensi pengalaman spiritual, sekaligus menantang
reduksionisme rasionalistik. Kontribusinya terletak pada penegasan bahwa wujud
tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati.
Dengan demikian,
tasawuf falsafi tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan tradisi filsafat wujud
Islam. Ia merupakan salah satu pilar penting yang melengkapi pendekatan
filsafat rasional dan teologi kalam, serta membuka ruang bagi sintesis
metafisis yang lebih komprehensif pada periode-periode berikutnya.
Footnotes
[1]
Alexander Knysh, Islamic Mysticism: A Short History (Leiden:
Brill, 2000), 148–150.
[2]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 165–167.
[3]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s
Metaphysics of Imagination (Albany: SUNY Press, 1989), 79–83.
[4]
Toshihiko Izutsu, Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key
Philosophical Concepts (Berkeley: University of California Press, 1984),
12–15.
[5]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan
Paul, 1993), 220–223.
5.
Sintesis Metafisika: Filsafat Wujud Hikmah
Muta‘āliyah
5.1.
Latar Historis dan
Intelektual Hikmah Muta‘āliyah
Hikmah Muta‘āliyah
(the Transcendent Philosophy) muncul pada periode pascaklasik filsafat Islam
sebagai respons atas fragmentasi epistemologis antara filsafat rasional (peripatetik),
teologi kalam, dan tasawuf falsafi. Alih-alih mempertahankan dikotomi
antardisiplin tersebut, Hikmah Muta‘āliyah berupaya menyintesiskan ketiganya
dalam satu kerangka metafisika yang utuh.¹
Sintesis ini
berangkat dari kesadaran akan keterbatasan masing-masing pendekatan jika
berdiri sendiri. Rasio diperlukan untuk koherensi konseptual, tasawuf
menyediakan kedalaman pengalaman ontologis, sementara wahyu berfungsi sebagai
horizon normatif yang membimbing keseluruhan bangunan pemikiran. Dengan latar
demikian, Hikmah Muta‘āliyah tampil sebagai paradigma metafisika integratif
dalam tradisi Islam.
5.2.
Prinsip Ashālat
al-Wujūd: Keutamaan Wujud atas Mahiyyah
Prinsip paling
fundamental dalam Hikmah Muta‘āliyah adalah ashālat al-wujūd (primordialitas
wujud). Prinsip ini menyatakan bahwa realitas sejati adalah wujud,
sedangkan mahiyyah
hanyalah konstruksi konseptual yang diabstraksikan oleh akal.² Dengan demikian,
mahiyyah
tidak memiliki keberadaan mandiri di luar pikiran, sementara wujud
merupakan realitas objektif yang hadir secara independen.
Prinsip ini
sekaligus mengoreksi perdebatan klasik antara filsuf peripatetik dan kalangan
tertentu yang cenderung menekankan esensi. Dalam kerangka Hikmah Muta‘āliyah,
segala sesuatu yang nyata adalah wujud, sedangkan perbedaan esensial
muncul sebagai hasil pembatasan dan penentuan (ta‘ayyun) terhadap wujud tersebut.
Konsekuensinya, ontologi tidak lagi berpusat pada klasifikasi esensi, melainkan
pada dinamika eksistensi.
5.3.
Tasykīk al-Wujūd:
Gradasi Eksistensi
Berbeda dari
pandangan yang memahami wujud secara univokal atau ekuivokal, Hikmah
Muta‘āliyah mengajukan konsep tasykīk al-wujūd (gradasi atau
intensitas wujud). Menurut konsep ini, wujud adalah satu realitas yang sama,
tetapi hadir dalam berbagai tingkat intensitas dan kesempurnaan.³
Dalam struktur ini,
Tuhan berada pada puncak gradasi sebagai wujud paling sempurna dan paling
intens, sementara makhluk berada pada tingkatan yang lebih rendah sesuai dengan
kadar eksistensinya. Gradasi ini menjelaskan pluralitas realitas tanpa
menafikan kesatuan ontologis, sekaligus menjaga transendensi Tuhan tanpa
memutus hubungan-Nya dengan alam.
Konsep tasykīk
al-wujūd juga berfungsi sebagai jembatan konseptual antara
metafisika filsafat dan intuisi tasawuf tentang kesatuan realitas, namun dengan
kejelasan rasional yang lebih sistematis.
5.4.
Al-Ḥarakah
al-Jauhariyyah: Gerak Substansial
Salah satu inovasi
paling radikal dalam Hikmah Muta‘āliyah adalah teori al-ḥarakah
al-jauhariyyah (gerak substansial). Berbeda dari filsafat
Aristotelian yang membatasi gerak pada aksiden, teori ini menyatakan bahwa
substansi itu sendiri senantiasa berada dalam proses perubahan dan
penyempurnaan.⁴
Gerak substansial
menegaskan bahwa realitas bukan entitas statis, melainkan proses eksistensial
yang dinamis. Seluruh alam dipahami sebagai rangkaian transformasi wujud yang
terus-menerus bergerak menuju tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi. Dalam
konteks antropologi filosofis, manusia dipandang sebagai makhluk yang secara
ontologis “menjadi”, bukan sekadar “ada”.
5.5.
Peran Mulla Sadra
dalam Sintesis Metafisika
Figur sentral Hikmah
Muta‘āliyah adalah Mulla Ṣadrā, yang berhasil merumuskan sintesis metafisika
ini secara sistematis dalam karya monumentalnya al-Asfār al-Arba‘ah. Dalam
sistemnya, filsafat peripatetik menyediakan perangkat logis, tasawuf Ibn ‘Arabī
memberikan kedalaman ontologis, dan wahyu berfungsi sebagai landasan kebenaran
tertinggi.⁵
Keunggulan Mulla Ṣadrā
terletak pada kemampuannya mengintegrasikan ketiga sumber pengetahuan tersebut
tanpa mereduksi salah satunya. Ia tidak menolak rasio demi intuisi, dan tidak
pula menundukkan wahyu pada spekulasi filosofis. Dengan demikian, Hikmah
Muta‘āliyah tampil sebagai sistem filsafat wujud yang paling matang dan
komprehensif dalam sejarah pemikiran Islam.
Implikasi
Ontologis dan Epistemologis Hikmah Muta‘āliyah
Sintesis metafisika
Hikmah Muta‘āliyah membawa implikasi luas. Secara ontologis, realitas dipahami
sebagai kesatuan dinamis yang bergradasi. Secara epistemologis, pengetahuan tentang
realitas menuntut integrasi antara rasio, pengalaman eksistensial, dan petunjuk
wahyu. Kebenaran tidak semata-mata bersifat proposisional, tetapi juga
transformasional.
Dengan kerangka ini,
Hikmah Muta‘āliyah tidak hanya menjadi puncak filsafat wujud Islam klasik,
tetapi juga membuka peluang dialog dengan pemikiran kontemporer, terutama dalam
diskursus tentang dinamika realitas, kesadaran, dan makna keberadaan.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 226–229.
[2]
Mulla Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 1 (Beirut: Dār Iḥyā’
al-Turāth al-‘Arabī, 1981), 47–50.
[3]
Ibrahim Kalin, “Mulla Sadra’s Theory of Knowledge,” Islamic Studies
42, no. 1 (2003): 75–78.
[4]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan
Paul, 1993), 235–238.
[5]
Fazlur Rahman, The Philosophy of Mulla Sadra (Albany: SUNY
Press, 1975), 12–15.
6.
Perbandingan Filsafat Wujud Islam dan Barat
6.1.
Pengantar Perbandingan
Ontologis
Perbandingan antara
filsafat wujud Islam dan filsafat Barat perlu ditempatkan dalam kerangka
historis dan konseptual yang proporsional. Keduanya sama-sama bergulat dengan
pertanyaan mendasar tentang “apa artinya ada,” namun berangkat dari
horizon metafisis yang berbeda. Filsafat wujud Islam berkembang dalam kerangka
tauhid dan keterarahan pada Yang Absolut, sementara filsafat Barat—khususnya
sejak modernitas—mengalami pergeseran dari metafisika teistik menuju analisis
subjek dan pengalaman manusia.¹
Perbedaan orientasi
ini berdampak pada cara masing-masing tradisi memahami relasi antara Tuhan,
alam, dan manusia, serta pada metode epistemologis yang digunakan untuk
menjangkau realitas.
6.2.
Ontologi Esensialisme
dan Eksistensialisme dalam Tradisi Barat
Dalam tradisi Barat
klasik, terutama sejak Aristoteles, ontologi berfokus pada substansi dan
esensi. Aristoteles memandang being sebagai kategori yang
terungkap melalui analisis bentuk (form) dan materi (matter),
dengan penekanan kuat pada hakikat sesuatu.² Pandangan ini memiliki kemiripan
tertentu dengan metafisika Islam awal, khususnya dalam pembahasan mahiyyah.
Namun, sejak abad
ke-19 dan ke-20, filsafat Barat mengalami pergeseran besar melalui munculnya
eksistensialisme. Para pemikir seperti Martin Heidegger dan Jean-Paul Sartre
mengkritik metafisika esensialis dan menempatkan eksistensi manusia sebagai
titik tolak utama filsafat. Dalam kerangka ini, eksistensi dipahami sebagai
pengalaman faktis dan historis subjek, bukan sebagai realitas metafisis yang
bergradasi.³
Eksistensialisme
Barat menegaskan bahwa makna keberadaan tidak ditentukan oleh esensi
transenden, melainkan dibentuk melalui pilihan dan tanggung jawab manusia.
Pandangan ini menandai perbedaan mendasar dengan filsafat wujud Islam yang
menempatkan makna eksistensi dalam relasi ontologis dengan Tuhan.
6.3.
Filsafat Wujud Islam:
Orientasi Teosentris dan Metafisis
Berbeda dengan
eksistensialisme Barat, filsafat wujud Islam bersifat teosentris. Wujud
tidak dipahami semata sebagai fakta keberadaan manusia, melainkan sebagai
realitas metafisis yang berpuncak pada Tuhan sebagai Wājib
al-Wujūd. Eksistensi manusia dan alam memperoleh makna karena
partisipasinya dalam tatanan wujud yang bergradasi.⁴
Dalam kerangka ini,
manusia bukan pencipta makna secara otonom, tetapi penyingkap makna yang telah
terpatri dalam struktur realitas. Kebebasan manusia tetap diakui, namun
kebebasan tersebut berada dalam horizon ketergantungan ontologis kepada Tuhan.
Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara tanggung jawab manusia dan
keterarahan transenden.
6.4.
Relasi Wujud dan Pengetahuan:
Objektivitas vs Subjektivitas
Perbedaan ontologis
antara Islam dan Barat tercermin pula dalam epistemologi. Dalam filsafat Barat
modern, pengetahuan sering kali dipusatkan pada subjek yang mengetahui,
sehingga realitas dipahami melalui lensa kesadaran manusia. Puncaknya, realitas
ontologis direduksi menjadi fenomena yang dialami subjek.⁵
Sebaliknya, filsafat
wujud Islam menegaskan objektivitas wujud. Pengetahuan dipahami sebagai
penyingkapan realitas yang sudah ada, bukan konstruksi subjek semata. Bahkan
dalam tradisi tasawuf dan Hikmah Muta‘āliyah, pengetahuan tertinggi tentang wujud
menuntut transformasi ontologis subjek agar selaras dengan realitas yang
diketahui. Dengan demikian, epistemologi Islam bersifat partisipatoris, bukan
representasional murni.
6.5.
Makna Keberadaan
Manusia: Krisis vs Teleologi
Eksistensialisme
Barat sering menyoroti krisis makna, absurditas, dan keterlemparan manusia
dalam dunia tanpa tujuan metafisis yang pasti. Sartre, misalnya, menegaskan
bahwa manusia “terkutuk untuk bebas” dan harus menciptakan maknanya sendiri
dalam ketiadaan fondasi transenden.⁶
Sebaliknya, filsafat
wujud Islam memahami keberadaan manusia secara teleologis. Manusia memiliki
tujuan ontologis, yakni bergerak menuju kesempurnaan wujud dan kedekatan dengan
Tuhan. Krisis eksistensial tidak disangkal, tetapi dipahami sebagai tahap dalam
perjalanan ontologis, bukan sebagai kondisi final.
Titik Temu
dan Ruang Dialog
Meskipun terdapat
perbedaan mendasar, terdapat pula titik temu antara filsafat wujud Islam dan
Barat. Keduanya sama-sama menolak reduksionisme materialistik dan mengakui
kedalaman problem eksistensi. Filsafat wujud Islam dapat berdialog dengan
eksistensialisme Barat dalam pembahasan tentang autentisitas, kesadaran, dan
pengalaman keberadaan, sembari menawarkan fondasi metafisis yang lebih stabil.
Dengan demikian,
perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk menilai superioritas salah satu
tradisi, melainkan untuk memperlihatkan kekayaan pendekatan dalam memahami wujud.
Dialog kritis antara filsafat wujud Islam dan Barat berpotensi memperkaya
pemikiran kontemporer dalam menghadapi krisis makna dan reduksi ontologis
modern.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 3–6.
[2]
Aristotle, Metaphysics, trans. W. D. Ross (Oxford: Clarendon
Press, 1924), 1003a–1005a.
[3]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 21–24.
[4]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 123–126.
[5]
Charles Taylor, Sources of the Self (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 1989), 143–146.
[6]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 28–30.
7.
Implikasi Epistemologis dan Teologis
7.1.
Pengantar: Dari
Ontologi ke Epistemologi dan Teologi
Filsafat wujud Islam
tidak berhenti pada pemaparan ontologi semata, melainkan membawa implikasi luas
bagi cara manusia mengetahui realitas (epistemologi) dan memahami Tuhan serta
relasi-Nya dengan alam (teologi). Karena wujud diposisikan sebagai realitas
primer, maka pengetahuan dan keyakinan teologis tidak dapat dilepaskan dari
struktur ontologis yang mendasarinya.¹
Dalam kerangka ini,
epistemologi dan teologi tidak berdiri sebagai disiplin yang otonom dan
terpisah, tetapi saling bertautan dalam satu sistem pemikiran yang koheren.
Ontologi wujud
menjadi fondasi bagi teori pengetahuan sekaligus kerangka konseptual bagi pemahaman
akidah.
7.2.
Implikasi
Epistemologis: Objektivitas dan Kehadiran Wujud
Salah satu implikasi
epistemologis utama filsafat wujud Islam adalah penegasan objektivitas
realitas. Wujud
dipahami sebagai kenyataan yang mendahului dan melampaui kesadaran subjek.
Dengan demikian, pengetahuan tidak menciptakan realitas, melainkan mengungkap (kashf)
atau menghadirkan (ḥuḍūr) realitas tersebut dalam diri
subjek yang mengetahui.²
Berbeda dari
epistemologi modern Barat yang cenderung representasional—di mana pengetahuan
dipahami sebagai gambaran mental tentang objek—filsafat wujud Islam menekankan
dimensi partisipatoris. Subjek mengetahui sejauh ia berpartisipasi dalam
tatanan wujud.
Semakin tinggi tingkat eksistensi subjek, semakin dalam pula pengetahuannya
terhadap realitas.
7.3.
Rasio, Intuisi, dan
Wahyu dalam Struktur Pengetahuan
Implikasi
epistemologis lain dari filsafat wujud Islam adalah pengakuan terhadap
pluralitas sumber pengetahuan. Rasio (‘aql) berperan penting dalam
analisis konseptual dan argumentasi logis, tetapi tidak dianggap sebagai
satu-satunya jalan menuju kebenaran. Intuisi intelektual dan pengalaman
spiritual (dzauq)
diakui sebagai mode pengetahuan yang sah, khususnya dalam memahami realitas
metafisis.³
Selain itu, wahyu
menempati posisi normatif dan korektif. Ia bukan sekadar sumber informasi
religius, melainkan juga horizon kebenaran yang membimbing penggunaan rasio dan
intuisi agar tidak menyimpang. Struktur epistemologis ini mencerminkan
pandangan holistik tentang pengetahuan, di mana kebenaran bersifat berlapis dan
bertingkat sesuai dengan kadar wujud yang diketahui.
7.4.
Implikasi Teologis:
Tauhid sebagai Prinsip Ontologis
Dalam ranah teologi,
filsafat wujud Islam memperkuat pemahaman tauhid sebagai prinsip ontologis,
bukan sekadar doktrin teoretis. Tuhan dipahami sebagai Wājib
al-Wujūd, yakni satu-satunya realitas yang keberadaan-Nya niscaya
dan tidak bergantung pada apa pun selain diri-Nya. Seluruh makhluk bersifat mumkin
al-wujūd, bergantung sepenuhnya pada Tuhan sebagai sumber eksistensi.⁴
Konsekuensi teologis
dari pandangan ini adalah penegasan mutlak akan keesaan dan kebergantungan
total alam kepada Tuhan. Segala bentuk otonomi ontologis makhluk ditolak, tanpa
meniadakan realitas empiris dan tanggung jawab moral manusia. Dengan demikian,
filsafat wujud Islam menyediakan kerangka metafisis yang konsisten bagi doktrin
penciptaan dan keesaan Tuhan.
7.5.
Transendensi dan
Imanensi Tuhan
Filsafat wujud Islam
juga memberikan penjelasan filosofis yang lebih seimbang mengenai relasi antara
transendensi dan imanensi Tuhan. Tuhan tetap transenden dalam esensi-Nya, tidak
terjangkau dan tidak serupa dengan makhluk. Namun, pada saat yang sama, Tuhan
hadir secara imanen melalui pemberian wujud dan pemeliharaan eksistensi
seluruh ciptaan.⁵
Pendekatan ini
menghindari dua ekstrem teologis: deisme yang menjauhkan Tuhan dari dunia, dan
panteisme yang menyamakan Tuhan dengan alam. Relasi Tuhan–alam dipahami sebagai
relasi sebab eksistensial, bukan identitas substansial. Dengan demikian,
filsafat wujud berfungsi sebagai alat konseptual untuk menjaga keseimbangan
akidah.
7.6.
Manusia, Pengetahuan,
dan Tanggung Jawab Teologis
Implikasi
epistemologis dan teologis filsafat wujud Islam berpuncak pada pemahaman
tentang posisi manusia. Manusia dipahami sebagai makhluk berakal dan
berkesadaran yang memiliki potensi untuk mengetahui realitas secara bertahap,
sesuai dengan peningkatan kualitas wujud-nya. Pengetahuan tidak netral
secara moral, karena ia berkaitan langsung dengan arah eksistensi manusia.⁶
Dengan demikian,
pencarian pengetahuan dalam Islam bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi
juga proses etis dan spiritual. Kesalahan epistemologis dapat berimplikasi
teologis, sebagaimana penyimpangan teologis dapat memengaruhi cara manusia
memahami realitas. Filsafat wujud Islam menegaskan bahwa kebenaran,
pengetahuan, dan keimanan berada dalam satu kesatuan sistemik.
Sintesis
Implikasi Epistemologis dan Teologis
Secara keseluruhan,
filsafat wujud Islam menawarkan paradigma epistemologis-teologis yang
integratif. Ia menolak reduksionisme pengetahuan sekaligus menjaga kemurnian
doktrin tauhid. Pengetahuan dipahami sebagai penyingkapan realitas objektif
yang berakar pada wujud, sementara teologi memperoleh
landasan metafisis yang rasional dan koheren.
Implikasi ini menunjukkan
bahwa filsafat wujud Islam tidak hanya relevan bagi diskursus metafisika,
tetapi juga memiliki signifikansi mendalam bagi cara umat Islam memahami
pengetahuan, iman, dan tanggung jawab eksistensial di hadapan Tuhan.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 31–34.
[2]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 89–92.
[3]
Henry Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan
Paul, 1993), 214–217.
[4]
Jon McGinnis, Avicenna (Oxford: Oxford University Press,
2010), 122–125.
[5]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge (Albany: SUNY
Press, 1989), 35–38.
[6]
Fazlur Rahman, Islam and Modernity (Chicago: University of
Chicago Press, 1982), 64–67.
8.
Relevansi Filsafat Wujud di Era Kontemporer
8.1.
Pengantar: Tantangan
Ontologis Zaman Modern
Era kontemporer
ditandai oleh percepatan sains dan teknologi, globalisasi pengetahuan, serta fragmentasi
makna hidup. Dalam lanskap ini, problem ontologis sering direduksi menjadi
problem teknis atau psikologis, sementara pertanyaan mendasar tentang “apa itu
realitas” dan “apa makna ada” terpinggirkan.¹ Filsafat wujud Islam, dengan
orientasi metafisis yang teosentris dan integratif, menawarkan sumber daya
konseptual untuk merespons reduksionisme tersebut.
Alih-alih menolak
modernitas, filsafat wujud Islam menyediakan kerangka kritis untuk menilai
asumsi-asumsi ontologis modern—khususnya materialisme dan positivisme—serta
menawarkan alternatif yang tetap rasional namun tidak meniadakan dimensi
transenden.
8.2.
Kritik terhadap
Reduksionisme Materialistik dan Positivistik
Salah satu ciri
dominan pemikiran modern adalah kecenderungan reduksionisme, yakni pemahaman
realitas yang dibatasi pada apa yang dapat diukur dan diverifikasi secara
empiris. Dalam paradigma ini, wujud dipersempit menjadi fakta
material, sementara nilai, makna, dan kesadaran dianggap sebagai epifenomena.²
Filsafat wujud Islam
mengajukan kritik mendasar terhadap reduksi tersebut dengan menegaskan bahwa
realitas bersifat berlapis dan bergradasi. Realitas empiris diakui, namun tidak
dianggap sebagai satu-satunya tingkat wujud. Dengan demikian, filsafat
wujud Islam memungkinkan kritik filosofis terhadap saintisme tanpa jatuh ke
dalam anti-rasionalisme.
8.3.
Krisis Makna dan
Eksistensi Manusia Modern
Modernitas juga
memunculkan krisis makna yang ditandai oleh perasaan keterasingan, absurditas,
dan kehilangan tujuan hidup. Berbagai pendekatan psikologis dan eksistensialis
mencoba merespons krisis ini, namun sering kali terjebak pada subjektivisme
makna.³
Dalam filsafat wujud
Islam, makna keberadaan manusia tidak semata-mata dihasilkan oleh pilihan
subjektif, melainkan berakar pada struktur ontologis realitas. Manusia memiliki
tujuan eksistensial yang bersifat teleologis: bergerak menuju kesempurnaan wujud
dan kedekatan dengan Tuhan. Perspektif ini memberikan fondasi makna yang lebih
stabil tanpa meniadakan kebebasan dan tanggung jawab manusia.
8.4.
Relevansi bagi Dialog
Sains, Filsafat, dan Agama
Perkembangan sains
kontemporer—terutama dalam fisika, kosmologi, dan studi kesadaran—telah
mengguncang pandangan mekanistik klasik tentang alam semesta. Konsep-konsep
seperti ketidakpastian, relasionalitas, dan proses menunjukkan bahwa realitas
tidak sepenuhnya statis dan deterministik.⁴
Filsafat wujud
Islam, khususnya melalui konsep gradasi dan dinamika wujud,
menyediakan bahasa metafisis yang kompatibel untuk dialog dengan sains modern.
Ia tidak menggantikan metode ilmiah, tetapi menawarkan horizon interpretatif
yang lebih luas bagi makna temuan-temuan ilmiah tersebut. Dengan demikian,
dialog antara sains, filsafat, dan agama dapat berlangsung tanpa subordinasi
sepihak.
8.5.
Implikasi Etis dan
Kemanusiaan
Relevansi kontemporer
filsafat wujud Islam juga tampak dalam ranah etika dan kemanusiaan. Jika wujud
dipahami sebagai realitas bergradasi yang berpuncak pada Yang Absolut, maka
tindakan etis manusia tidak sekadar diukur oleh manfaat pragmatis, melainkan
oleh sejauh mana ia menyelaraskan diri dengan tatanan wujud.⁵
Pandangan ini
memperkuat dasar etika yang melampaui relativisme moral, tanpa harus bersifat
dogmatis. Nilai-nilai kemanusiaan—seperti keadilan, tanggung jawab, dan
penghormatan terhadap kehidupan—dipahami sebagai konsekuensi ontologis, bukan
sekadar konstruksi sosial.
8.6.
Filsafat Wujud dan
Spiritualitas Kontemporer
Di tengah
kebangkitan minat terhadap spiritualitas non-institusional, filsafat wujud
Islam menawarkan model spiritualitas yang berakar kuat pada refleksi rasional
dan disiplin intelektual. Spiritualitas tidak direduksi menjadi pengalaman
emosional sesaat, tetapi dipahami sebagai pendalaman eksistensial yang terarah
dan bertanggung jawab.⁶
Model ini relevan
bagi masyarakat modern yang mencari kedalaman makna tanpa meninggalkan
rasionalitas. Filsafat wujud Islam menunjukkan bahwa spiritualitas dan
intelektualitas bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dapat
bersinergi dalam pencarian kebenaran.
Ruang
Pengembangan dan Agenda Kontemporer
Relevansi filsafat
wujud Islam di era kontemporer juga terletak pada potensinya untuk dikembangkan
secara lintas disiplin. Kajian tentang kesadaran, etika teknologi, krisis
ekologis, dan pendidikan humanistik dapat diperkaya melalui kerangka ontologis wujud.
Agenda riset ke depan menuntut pembacaan ulang teks-teks klasik dengan
sensitivitas terhadap problem zaman, tanpa kehilangan ketelitian metodologis.
Dengan demikian,
filsafat wujud Islam tidak berhenti sebagai warisan intelektual masa lalu,
melainkan sebagai tradisi hidup yang terus dapat dikritik, dikembangkan, dan
didialogkan dengan tantangan global.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: SUNY
Press, 1989), 1–4.
[2]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 15–18.
[3]
Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press,
2006), 99–102.
[4]
Fritjof Capra, The Tao of Physics (Boston: Shambhala, 1999),
67–70.
[5]
Mulla Sadra, al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 8 (Beirut: Dār Iḥyā’
al-Turāth al-‘Arabī, 1981), 312–315.
[6]
William C. Chittick, Science of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 141–144.
9.
Kritik, Batasan, dan Ruang Pengembangan
9.1.
Pengantar Kritis
Setiap sistem
filsafat, betapapun komprehensif dan koherennya, tidak luput dari kritik dan
keterbatasan. Filsafat wujud Islam, meskipun menawarkan kerangka metafisika
yang integratif dan mendalam, tetap merupakan produk sejarah intelektual yang
dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan epistemologis tertentu. Oleh karena
itu, kajian kritis terhadap batasan-batasannya bukan dimaksudkan untuk
menafikan nilainya, melainkan untuk menjaga vitalitas dan relevansinya.¹
Pendekatan kritis
ini sejalan dengan tradisi intelektual Islam yang menempatkan pencarian
kebenaran sebagai proses dinamis, bukan sebagai sistem tertutup yang kebal
koreksi.
9.2.
Kritik Internal
terhadap Filsafat Wujud Islam
Salah satu kritik
internal yang sering diarahkan kepada filsafat wujud Islam adalah
kecenderungannya pada abstraksi metafisis yang tinggi. Konsep-konsep seperti ashālat
al-wujūd, tasykīk al-wujūd, dan wahdat
al-wujūd menuntut kemampuan intelektual yang tidak mudah diakses
oleh khalayak luas. Akibatnya, filsafat wujud kerap dipersepsikan sebagai
wacana elitis yang terpisah dari realitas sosial dan praksis kehidupan
sehari-hari.²
Selain itu, terdapat
perdebatan internal mengenai validitas epistemologis intuisi mistik sebagai
sumber pengetahuan. Sebagian pemikir menilai bahwa integrasi antara rasio dan
intuisi berpotensi melemahkan kriteria objektivitas filosofis jika tidak
disertai disiplin metodologis yang ketat.
9.3.
Kritik Teologis dan
Kekhawatiran Doktrinal
Dari perspektif
teologis, filsafat wujud—terutama dalam bentuk tasawuf falsafi—sering
menghadapi kecurigaan karena dianggap membuka ruang bagi penafsiran metafisis
yang berpotensi menyimpang dari akidah normatif. Konsep wahdat
al-wujud, misalnya, kerap dipahami secara simplistik sebagai
panteisme, meskipun para pendukungnya telah memberikan klarifikasi filosofis
yang mendalam.³
Kekhawatiran ini menunjukkan
adanya ketegangan laten antara spekulasi metafisis dan kehati-hatian doktrinal.
Dalam konteks ini, batas antara filsafat sebagai upaya rasional dan teologi
sebagai penjaga ortodoksi menjadi isu yang terus diperdebatkan. Kritik teologis
tersebut berfungsi sebagai mekanisme kontrol agar filsafat tidak melampaui
batas-batas keyakinan dasar.
9.4.
Batasan Metodologis
dan Historis
Filsafat wujud Islam
juga memiliki batasan metodologis yang perlu diakui. Sebagian besar konstruksi
ontologisnya dibangun melalui analisis rasional dan refleksi metafisis, dengan
dukungan pengalaman spiritual tertentu. Pendekatan ini tidak selalu mudah
diverifikasi secara intersubjektif, terutama dalam konteks akademik modern yang
menuntut standar verifikasi yang ketat.⁴
Secara historis,
filsafat wujud berkembang dalam konteks pra-modern, sehingga sejumlah asumsi
kosmologis dan antropologisnya perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan.
Tanpa upaya kontekstualisasi, terdapat risiko bahwa filsafat wujud diperlakukan
sebagai doktrin statis, bukan sebagai tradisi pemikiran yang hidup.
9.5.
Tantangan Kontemporer:
Sains, Teknologi, dan Pluralitas
Di era kontemporer,
filsafat wujud Islam menghadapi tantangan baru dari perkembangan sains dan
teknologi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan, neuro-sains, dan bioetika.
Konsep wujud
sebagai realitas bergradasi perlu diuji ulang dalam dialog dengan temuan-temuan
ilmiah yang mengaburkan batas antara alam, manusia, dan mesin.⁵
Selain itu,
pluralitas budaya dan agama menuntut pendekatan yang lebih dialogis. Filsafat
wujud Islam perlu mengembangkan bahasa konseptual yang dapat dipahami dan
dipertukarkan dalam ruang filsafat global tanpa kehilangan identitas
teologisnya.
9.6.
Ruang Pengembangan:
Pendekatan Lintas Disiplin
Salah satu potensi
terbesar filsafat wujud Islam terletak pada pengembangannya secara lintas
disiplin. Kerangka ontologis wujud dapat diperkaya melalui
dialog dengan filsafat sains, etika terapan, studi kesadaran, dan ekologi.
Pendekatan ini memungkinkan filsafat wujud berkontribusi secara konkret
terhadap problem kemanusiaan kontemporer, seperti krisis lingkungan dan
dehumanisasi teknologi.⁶
Di bidang
pendidikan, filsafat wujud dapat menjadi dasar pengembangan paradigma
pembelajaran yang menekankan integrasi pengetahuan, nilai, dan pembentukan
karakter, bukan sekadar transfer informasi.
Refleksi
Kritis dan Agenda Riset Lanjutan
Sebagai refleksi
akhir, kritik dan batasan filsafat wujud Islam justru menegaskan sifatnya yang
terbuka dan dinamis. Agenda riset lanjutan dapat diarahkan pada pembacaan ulang
teks-teks klasik dengan metodologi hermeneutik kontemporer, pengembangan dialog
global, serta penerapan filsafat wujud pada isu-isu etis dan sosial aktual.
Dengan sikap kritis
dan terbuka, filsafat wujud Islam berpotensi terus berkembang sebagai tradisi
intelektual yang relevan, rasional, dan bermakna dalam menghadapi kompleksitas
dunia modern.
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 3–5.
[2]
Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy
(Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 11–13.
[3]
William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge (Albany: SUNY
Press, 1989), 90–93.
[4]
Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, 3rd ed. (New
York: Columbia University Press, 2004), 371–374.
[5]
Charles Taylor, Sources of the Self (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 1989), 495–498.
[6]
Ibrahim Kalin, “Reason and Rationality in the Qur’an,” Islam &
Science 1, no. 1 (2003): 45–48.
10.
Penutup
10.1.
Kesimpulan Umum
Kajian ini
menunjukkan bahwa filsafat wujud dalam tradisi Islam merupakan bangunan
metafisika yang koheren, dinamis, dan integratif. Sejak fase penerimaan warisan
Yunani hingga formulasi sintesis pascaklasik, konsep wujud
berkembang melalui dialog kreatif antara rasio filosofis, kehati-hatian
teologis, dan kedalaman pengalaman mistik. Perkembangan tersebut menegaskan
bahwa filsafat wujud Islam bukan sekadar adopsi, melainkan rekonstruksi
orisinal yang berakar pada prinsip tauhid.¹
Secara konseptual,
distingsi wujud–mahiyyah,
prinsip ashālat
al-wujūd, gradasi eksistensi (tasykīk al-wujūd), serta dinamika
eksistensial (gerak substansial) membentuk kerangka ontologis yang mampu
menjelaskan relasi Tuhan–alam–manusia secara konsisten. Kerangka ini
menghindari reduksionisme, menjaga transendensi ilahi, sekaligus mengakui
imanensi-Nya dalam tatanan realitas.
10.2.
Kontribusi
Epistemologis dan Teologis
Dari sisi
epistemologi, filsafat wujud Islam menegaskan objektivitas realitas dan
memosisikan pengetahuan sebagai penyingkapan (kashf) atau kehadiran (ḥuḍūr)
wujud
dalam diri subjek. Rasio, intuisi, dan wahyu beroperasi secara komplementer
dalam satu struktur pengetahuan yang bertingkat. Pendekatan ini memperluas
horizon epistemologi modern yang cenderung representasional dan
subjektivistik.²
Dari sisi teologi,
filsafat wujud memperkokoh tauhid sebagai prinsip ontologis: Tuhan sebagai Wājib
al-Wujūd dan seluruh selain-Nya sebagai mumkin al-wujūd. Relasi
transendensi–imanensi dijelaskan secara filosofis tanpa terjerumus ke ekstrem
deisme atau panteisme. Dengan demikian, metafisika wujud menyediakan landasan
rasional bagi doktrin akidah sekaligus menjaga integritasnya.
10.3.
Relevansi dan Batasan
Dalam konteks
kontemporer, filsafat wujud Islam relevan untuk merespons krisis makna,
reduksionisme saintistik, dan fragmentasi pengetahuan. Kerangka ontologisnya
memungkinkan dialog kritis dengan sains, filsafat Barat, dan spiritualitas
modern tanpa kehilangan orientasi teosentris.³
Namun demikian,
kajian ini juga mengakui batasan-batasannya: tingkat abstraksi yang tinggi,
tantangan verifikasi intersubjektif, serta kebutuhan kontekstualisasi historis.
Kesadaran atas batasan ini penting agar filsafat wujud diperlakukan sebagai
tradisi hidup yang terbuka terhadap kritik dan pengembangan, bukan sebagai
sistem final yang tertutup.
Penutup
Reflektif
Sebagai penutup,
filsafat wujud Islam memperlihatkan bahwa pencarian makna keberadaan tidak
harus memilih antara iman dan akal, antara rasio dan spiritualitas. Justru pada
titik integrasilah filsafat wujud menemukan kekuatannya. Dengan pembacaan
kritis, dialog lintas disiplin, dan sensitivitas terhadap tantangan zaman,
filsafat wujud Islam berpotensi terus berkontribusi bagi pemikiran global—sebagai
metafisika yang rasional, spiritual, dan manusiawi.⁴
Footnotes
[1]
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from Its Origin to the
Present (Albany: SUNY Press, 2006), 229–233.
[2]
Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence (Tokyo:
Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971), 95–98.
[3]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 771–774.
[4]
William C. Chittick, Science of the Cosmos, Science of the Soul
(Oxford: Oneworld, 2007), 287–290.
Daftar Pustaka
Aristotle. (1924). Metaphysics (W. D. Ross,
Trans.). Oxford: Clarendon Press.
Armstrong, K. (2009). The case for God. New
York, NY: Alfred A. Knopf.
Capra, F. (1999). The Tao of physics (4th
ed.). Boston, MA: Shambhala.
Chittick, W. C. (1989). The Sufi path of
knowledge: Ibn al-‘Arabi’s metaphysics of imagination. Albany, NY: State
University of New York Press.
Chittick, W. C. (2007). Science of the cosmos,
science of the soul. Oxford, UK: Oneworld.
Corbin, H. (1993). History of Islamic philosophy
(L. Sherrard & P. Sherrard, Trans.). London, UK: Kegan Paul.
Fakhry, M. (2004). A history of Islamic
philosophy (3rd ed.). New York, NY: Columbia University Press.
Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning.
Boston, MA: Beacon Press.
Gutas, D. (1998). Greek thought, Arabic culture:
The Graeco-Arabic translation movement in Baghdad and early ‘Abbāsid society.
London, UK: Routledge.
Heidegger, M. (1962). Being and time (J.
Macquarrie & E. Robinson, Trans.). New York, NY: Harper & Row.
Izutsu, T. (1971). The concept and reality of
existence. Tokyo, Japan: Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies.
Izutsu, T. (1984). Sufism and Taoism: A
comparative study of key philosophical concepts. Berkeley, CA: University
of California Press.
Kalin, I. (2003). Mulla Sadra’s theory of
knowledge. Islamic Studies, 42(1), 73–91.
Kalin, I. (2003). Reason and rationality in the
Qur’an. Islam & Science, 1(1), 19–41.
Knysh, A. (2000). Islamic mysticism: A short
history. Leiden, Netherlands: Brill.
Leaman, O. (2002). An introduction to classical
Islamic philosophy. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
McGinnis, J. (2010). Avicenna. Oxford, UK:
Oxford University Press.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred.
Albany, NY: State University of New York Press.
Nasr, S. H. (2006). Islamic philosophy from its
origin to the present. Albany, NY: State University of New York Press.
Rahman, F. (1975). The philosophy of Mulla Sadra.
Albany, NY: State University of New York Press.
Rahman, F. (1982). Islam and modernity:
Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of
Chicago Press.
Ṣadrā, M. (1981). Al-Asfār al-arba‘ah (Vols.
1–8). Beirut, Lebanon: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī.
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a
humanism (C. Macomber, Trans.). New Haven, CT: Yale University Press.
Taylor, C. (1989). Sources of the self: The
making of the modern identity. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Taylor, C. (2007). A secular age. Cambridge,
MA: Harvard University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar