Pemikiran Voltaire
Rasionalitas, Kritik Otoritas, dan Warisan Intelektual
dalam Era Pencerahan
Alihkan ke: Tokoh-Tokoh Filsafat, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara komprehensif pemikiran
Voltaire sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Age of Enlightenment.
Kajian difokuskan pada landasan filsafat, kritik terhadap agama dan lembaga
gereja, pemikiran politik, gagasan mengenai kebebasan berekspresi, kritik
sosial melalui sastra dan satire, pandangan tentang sains dan kemajuan,
perbandingan dengan tokoh-tokoh Pencerahan lain, pengaruh historis, kritik
terhadap pemikirannya, serta relevansi kontemporer. Penelitian ini menggunakan
pendekatan historis-filosofis dan analisis kepustakaan untuk menempatkan
gagasan Voltaire dalam konteks sosial-politik Prancis abad ke-18 sekaligus
menilai signifikansinya bagi masyarakat modern.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Voltaire
mengembangkan corak pemikiran yang berpijak pada rasionalitas, empirisme
moderat, skeptisisme terhadap klaim absolut, humanisme praktis, dan komitmen
terhadap toleransi. Ia secara konsisten mengkritik fanatisme agama, absolutisme
monarki, privilese feodal, sensor intelektual, serta ketidakadilan hukum. Dalam
bidang politik, Voltaire mendukung supremasi hukum, kebebasan sipil, dan
pemerintahan rasional, meskipun lebih condong pada model monarki tercerahkan
dibanding demokrasi partisipatif. Melalui karya sastra seperti Candide, ia
memanfaatkan satire sebagai instrumen efektif untuk menyampaikan kritik sosial
kepada publik luas.
Artikel ini juga menemukan bahwa pengaruh Voltaire
melampaui zamannya, terutama terhadap perkembangan liberalisme, sekularisme,
kebebasan berekspresi, reformasi hukum, dan budaya intelektual modern. Meskipun
demikian, pemikirannya tidak lepas dari kritik, terutama terkait elitisme intelektual,
ambiguitas politik, keterbatasan pandangan mengenai demokrasi, serta bias
historis khas Eropa abad ke-18. Dalam konteks kontemporer, gagasan Voltaire
tetap relevan untuk membaca persoalan polarisasi sosial, intoleransi,
disinformasi digital, dan penyalahgunaan kekuasaan. Dengan demikian, Voltaire
dapat dipahami sebagai figur penting dalam transisi menuju masyarakat modern
yang lebih terbuka terhadap kritik, hukum, dan kebebasan manusia.
Kata Kunci: Voltaire,
Age of Enlightenment, toleransi, kebebasan berekspresi, rasionalitas,
sekularisme, filsafat politik, satire.
PEMBAHASAN
Telaah Pemikiran Voltaire
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang
Voltaire (1694–1778)
merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam lanskap intelektual Age of
Enlightenment, suatu periode yang ditandai oleh pergeseran paradigma dari
otoritas tradisional menuju rasionalitas, empirisme, dan kebebasan berpikir.
Dalam konteks sejarah Eropa, khususnya di Prancis abad ke-18, masyarakat berada
di bawah dominasi sistem monarki absolut yang terpusat serta hegemoni lembaga
gereja yang kuat dalam kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Kondisi ini
menciptakan struktur kekuasaan yang cenderung mengekang kebebasan individu,
membatasi kritik, serta mempertahankan hierarki sosial yang tidak setara.¹
Dalam situasi
demikian, pemikiran Voltaire muncul sebagai bentuk respons kritis terhadap
berbagai bentuk otoritarianisme, baik yang bersumber dari negara maupun agama
institusional. Ia dikenal luas sebagai pembela kebebasan berekspresi, toleransi
beragama, dan rasionalitas publik. Melalui karya-karyanya yang meliputi esai,
pamflet, surat, serta karya sastra satir seperti Candide, Voltaire
mengartikulasikan kritik tajam terhadap fanatisme, ketidakadilan hukum, serta
irasionalitas yang dilegitimasi oleh tradisi.²
Lebih jauh,
pemikiran Voltaire tidak dapat dilepaskan dari pengaruh pengalaman
intelektualnya di England, di mana ia bersentuhan dengan tradisi empirisme dan
sains modern yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti John Locke dan Isaac
Newton. Pengalaman ini memperkaya kerangka berpikirnya, sehingga ia mampu
mengintegrasikan semangat rasionalisme dengan pendekatan empiris dalam kritik
sosialnya.³
Kajian terhadap
pemikiran Voltaire menjadi penting tidak hanya dalam konteks sejarah
intelektual, tetapi juga dalam memahami fondasi konseptual dari modernitas itu
sendiri. Nilai-nilai seperti kebebasan sipil, pluralisme, dan sekularisasi yang
menjadi ciri masyarakat modern memiliki akar yang kuat dalam wacana Pencerahan
yang diwakili oleh Voltaire. Dengan demikian, analisis terhadap pemikirannya
tidak hanya bersifat retrospektif, tetapi juga memiliki relevansi normatif dan
praktis dalam menghadapi tantangan kontemporer seperti intoleransi,
disinformasi, dan krisis legitimasi otoritas publik.⁴
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut, kajian ini diarahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan
fundamental yang menjadi fokus analisis, yaitu:
1)
Apa saja landasan epistemologis
dan filosofis yang membentuk pemikiran Voltaire?
2)
Bagaimana bentuk kritik yang
diajukan terhadap agama, lembaga gereja, dan praktik keagamaan pada zamannya?
3)
Bagaimana pemikirannya mengenai
politik, kekuasaan, hukum, dan kebebasan individu?
4)
Apa peran karya sastra dan satire
dalam menyampaikan gagasan filosofisnya?
5)
Sejauh mana pengaruh pemikiran
Voltaire terhadap perkembangan modernitas, termasuk dalam konteks demokrasi,
hak asasi manusia, dan sekularisme?
Rumusan masalah ini
dirancang untuk memberikan kerangka analisis yang sistematis, sehingga
memungkinkan pemahaman yang komprehensif terhadap kompleksitas pemikiran
Voltaire dalam berbagai dimensi.
1.3.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
memiliki beberapa tujuan utama yang saling berkaitan, yaitu:
1)
Mengidentifikasi dan
mendeskripsikan gagasan-gagasan utama dalam pemikiran Voltaire secara
sistematis dan kritis.
2)
Menganalisis konteks historis dan
intelektual yang membentuk serta memengaruhi perkembangan pemikirannya.
3)
Mengevaluasi kontribusi Voltaire
terhadap perkembangan filsafat politik, filsafat agama, dan pemikiran sosial
modern.
4)
Menilai relevansi pemikiran
Voltaire dalam menghadapi problematika kontemporer, khususnya terkait
kebebasan, toleransi, dan rasionalitas publik.
Dengan tujuan
tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik yang
tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga analitis dan evaluatif.
1.4.
Signifikansi Kajian
Kajian terhadap
pemikiran Voltaire memiliki signifikansi yang luas dalam berbagai bidang
keilmuan. Dalam ranah filsafat, kajian ini membantu memperjelas posisi Voltaire
dalam tradisi Pencerahan, terutama dalam hubungannya dengan rasionalisme,
empirisme, dan skeptisisme. Dalam bidang ilmu politik, pemikirannya memberikan
dasar normatif bagi konsep kebebasan sipil, supremasi hukum, dan kritik
terhadap absolutisme.
Selain itu, dalam
studi agama, analisis terhadap kritik Voltaire terhadap fanatisme dan
intoleransi membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara agama dan
rasionalitas, serta pentingnya toleransi dalam masyarakat plural. Dalam konteks
kontemporer, pemikiran Voltaire juga relevan dalam menghadapi tantangan global
seperti radikalisme, polarisasi ideologis, dan penyalahgunaan kekuasaan.⁵
1.5.
Kerangka Teoretis dan Pendekatan
Kajian ini
menggunakan pendekatan historis-filosofis dengan menempatkan pemikiran Voltaire
dalam konteks zamannya sekaligus mengaitkannya dengan perkembangan pemikiran
modern. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang tidak hanya memahami teks
secara internal, tetapi juga mempertimbangkan faktor eksternal seperti kondisi
sosial, politik, dan intelektual yang memengaruhinya.
Selain itu,
digunakan pula pendekatan kritis-analitis untuk mengevaluasi kekuatan dan
keterbatasan pemikiran Voltaire. Dengan demikian, kajian ini tidak hanya
bersifat eksplanatif, tetapi juga reflektif, membuka ruang bagi reinterpretasi
dan pengembangan lebih lanjut.
Footnotes
[1]
Dorinda Outram, The Enlightenment, 3rd ed. (Cambridge:
Cambridge University Press, 2013), 1–5.
[2]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), xv–xx.
[3]
Roy Porter, Enlightenment: Britain and the Creation of the Modern
World (London: Penguin Books, 2000), 45–60.
[4]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 23–30.
[5]
Jonathan Israel, Radical Enlightenment: Philosophy and the Making
of Modernity 1650–1750 (Oxford: Oxford University Press, 2001), 12–18.
2.
Biografi Intelektual
Voltaire
2.1.
Kehidupan Awal dan Pembentukan
Intelektual
Voltaire lahir
dengan nama François-Marie Arouet pada 21 November 1694 di Paris, Prancis,
dalam keluarga kelas menengah yang memiliki akses terhadap pendidikan dan
jaringan sosial yang cukup baik. Ayahnya, François Arouet, bekerja sebagai
notaris sekaligus pejabat perbendaharaan, sedangkan ibunya, Marie Marguerite
d’Aumard, berasal dari keluarga terpelajar. Lingkungan keluarga ini memberi
fondasi sosial yang memungkinkan Voltaire memperoleh pendidikan formal dan
berinteraksi dengan budaya literasi sejak usia dini.¹
Pada usia muda, ia
menempuh pendidikan di Collège Louis-le-Grand, sebuah lembaga Jesuit ternama di
Paris. Di sekolah ini, ia mempelajari bahasa Latin, retorika, sastra klasik,
sejarah, dan teologi. Pendidikan Jesuit membentuk kecakapan intelektualnya
dalam argumentasi logis, gaya bahasa persuasif, serta penguasaan tradisi klasik
Yunani-Romawi. Namun, pengalaman ini juga menumbuhkan sikap kritis terhadap
dogma dan otoritas keagamaan yang kelak menjadi ciri khas pemikirannya.²
Sejak remaja,
Voltaire menunjukkan bakat besar dalam menulis puisi dan satire. Ia tertarik
pada dunia sastra, teater, dan percakapan intelektual di salon-salon Paris,
yang pada masa itu menjadi ruang penting pertukaran ide. Minat tersebut
membuatnya lebih memilih jalur literer daripada karier hukum sebagaimana
diinginkan keluarganya. Pilihan ini menandai orientasi awalnya sebagai
intelektual publik yang menggunakan pena sebagai instrumen kritik sosial.³
2.2.
Awal Karier Sastra dan Konflik
dengan Otoritas
Pada awal abad
ke-18, Prancis berada di bawah struktur monarki yang sangat sensitif terhadap
kritik. Tulisan-tulisan satir Voltaire yang menyerang aristokrasi dan tokoh
berpengaruh segera menarik perhatian aparat negara. Pada tahun 1717, ia
dipenjara di Bastille selama hampir sebelas bulan karena dituduh menulis puisi
yang menghina penguasa. Pengalaman penjara ini memiliki arti penting dalam
perkembangan intelektualnya: ia menyadari bahwa kebebasan berekspresi merupakan
isu sentral dalam masyarakat modern.⁴
Selama masa
penahanan, ia mulai menggunakan nama pena “Voltaire,” sebuah identitas baru
yang kemudian menjadi terkenal di seluruh Eropa. Pada periode yang sama ia
menyelesaikan drama Œdipe, yang sukses besar ketika
dipentaskan setelah pembebasannya. Keberhasilan ini mengukuhkan reputasinya
sebagai penulis berbakat, tetapi juga memperjelas posisinya sebagai figur
publik yang sering berhadapan dengan otoritas politik.⁵
Konflik berikutnya
terjadi pada 1726 ketika Voltaire berselisih dengan seorang bangsawan
berpengaruh, Chevalier de Rohan. Karena posisi sosial yang timpang, Voltaire
justru kembali ditahan dan kemudian dipaksa meninggalkan Prancis. Peristiwa ini
menunjukkan ketidaksetaraan hukum dalam masyarakat feodal, sesuatu yang kelak
menjadi sasaran kritik keras dalam karya-karyanya.⁶
2.3.
Pengasingan di Inggris dan
Transformasi Pemikiran
Pengasingan ke
England (1726–1729) menjadi titik balik paling menentukan dalam perkembangan
intelektual Voltaire. Di Inggris, ia menemukan masyarakat yang relatif lebih
terbuka dibanding Prancis, dengan kehidupan parlementer yang lebih dinamis,
kebebasan pers yang lebih luas, serta toleransi beragama yang lebih berkembang.
Pengalaman ini memberinya perspektif baru mengenai hubungan antara negara,
masyarakat, dan kebebasan individu.⁷
Di sana, Voltaire
mempelajari karya-karya John Locke, yang menekankan pentingnya pengalaman
empiris sebagai dasar pengetahuan, serta Isaac Newton, yang merevolusi sains
melalui hukum-hukum alam berbasis observasi matematis. Dari Locke, Voltaire
menyerap semangat empirisme dan kritik terhadap metafisika spekulatif. Dari
Newton, ia mengadopsi kekaguman terhadap metode ilmiah dan keteraturan rasional
alam semesta.⁸
Sekembalinya ke
Prancis, pengalaman Inggris dituangkan dalam karya terkenalnya Letters
Concerning the English Nation (atau Lettres philosophiques). Buku ini
memuji sistem politik Inggris, pluralisme agama, dan kemajuan ilmiah, sekaligus
secara implisit mengkritik stagnasi sosial-politik Prancis. Karena dianggap
subversif, buku tersebut dilarang dan dibakar oleh otoritas Prancis.⁹
2.4.
Masa Kematangan Intelektual dan
Produktivitas Karya
Setelah periode
pengasingan, Voltaire memasuki fase paling produktif dalam hidupnya. Ia
menjalin hubungan intelektual dengan Émilie du Châtelet, seorang cendekiawan
yang berperan besar dalam memperdalam pemahamannya terhadap fisika Newtonian
dan filsafat ilmiah. Bersama du Châtelet, Voltaire tinggal di Cirey, tempat ia
menulis berbagai karya penting mengenai sejarah, sains, drama, dan filsafat.¹⁰
Pada masa ini,
Voltaire tidak hanya dikenal sebagai filsuf, tetapi juga sebagai sejarawan.
Karya seperti The Age of Louis XIV memperlihatkan
pendekatan historiografi baru yang tidak semata berfokus pada perang dan
dinasti, tetapi juga pada seni, budaya, ekonomi, dan perkembangan intelektual.
Pendekatan ini mencerminkan visi sejarah yang lebih luas dan sekuler.¹¹
Selain itu, Voltaire
terus menulis karya sastra satir. Novel filosofis Candide (1759) menjadi salah
satu karya paling terkenal. Melalui humor dan ironi, ia menyerang optimisme
metafisik yang mengabaikan kenyataan penderitaan manusia. Karya ini menunjukkan
kematangan gaya intelektual Voltaire: tajam, ringkas, populer, dan efektif
menyampaikan kritik filosofis.¹²
2.5.
Aktivisme Keadilan dan Peran sebagai
Intelektual Publik
Pada tahap akhir
kehidupannya, Voltaire semakin aktif dalam isu keadilan sosial dan reformasi
hukum. Ia terlibat dalam pembelaan terhadap korban-korban intoleransi agama dan
kesalahan peradilan, terutama dalam kasus Jean Calas, seorang Protestan yang
dihukum mati secara tidak adil. Kampanye Voltaire dalam kasus ini menghasilkan
karya Treatise
on Tolerance (1763), yang menjadi seruan penting bagi kebebasan
beragama dan reformasi peradilan.¹³
Melalui intervensi
publik semacam ini, Voltaire dapat dipandang sebagai salah satu model awal
“intelektual publik,” yakni tokoh yang menggunakan reputasi intelektual untuk
memengaruhi opini masyarakat dan kebijakan negara. Ia tidak sekadar menulis
teori, tetapi juga terlibat langsung dalam perjuangan melawan ketidakadilan
konkret.¹⁴
Pada tahun-tahun
terakhir hidupnya, Voltaire menetap di Ferney, dekat perbatasan Swiss. Tempat
ini menjadi pusat korespondensi intelektual Eropa; ia berkomunikasi dengan
raja, bangsawan, ilmuwan, dan penulis dari berbagai negara. Ferney menjelma
simbol jaringan kosmopolitan Era Pencerahan.¹⁵
2.6.
Wafat dan Warisan Intelektual
Voltaire wafat pada
30 Mei 1778 di Paris setelah kembali secara triumfal ke kota kelahirannya.
Kepulangannya disambut antusias oleh publik yang memandangnya sebagai simbol
kebebasan berpikir dan perlawanan terhadap tirani intelektual. Karena konflik
lama dengan gereja, pemakamannya sempat menghadapi hambatan, tetapi kemudian
jenazahnya dipindahkan ke Panthéon pada masa French Revolution sebagai
penghormatan nasional.¹⁶
Warisan intelektual
Voltaire melampaui zamannya. Ia menjadi simbol toleransi, rasionalitas,
kebebasan sipil, dan kritik terhadap fanatisme. Pengaruhnya tampak dalam
perkembangan sekularisme modern, hak asasi manusia, budaya debat publik, dan
tradisi satire politik. Biografi intelektualnya menunjukkan bagaimana pengalaman
hidup—pendidikan, penjara, pengasingan, jaringan internasional, dan
aktivisme—membentuk seorang pemikir yang mengubah arah sejarah gagasan
modern.¹⁷
Footnotes
[1]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 3–7.
[2]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 9–14.
[3]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
18–24.
[4]
Besterman, Voltaire, 29–34.
[5]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 15–18.
[6]
Davidson, Voltaire: A Life, 41–48.
[7]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 302–306.
[8]
Roy Porter, Enlightenment: Britain and the Creation of the Modern
World (London: Penguin Books, 2000), 55–63.
[9]
Nicholas Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009),
52–58.
[10]
Judith P. Zinsser, La Dame d’Esprit: A Biography of the Marquise Du
Châtelet (New York: Viking, 2006), 133–145.
[11]
Besterman, Voltaire, 102–110.
[12]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), vii–xv.
[13]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 1–12.
[14]
Gay, The Enlightenment, 410–416.
[15]
Davidson, Voltaire: A Life, 287–295.
[16]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 112–118.
[17]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
98–105.
3.
Landasan Filsafat
Pemikiran Voltaire
3.1.
Pendahuluan Konseptual
Pemikiran Voltaire
tidak disusun dalam bentuk sistem filsafat yang tertata secara metafisis
sebagaimana karya René Descartes, Baruch Spinoza, atau Gottfried Wilhelm
Leibniz. Voltaire lebih dikenal sebagai filsuf publik yang menyampaikan
gagasannya melalui esai, surat, pamflet, karya sejarah, drama, dan satire.
Karena itu, landasan filsafat pemikirannya harus dibaca secara tematik dari
berbagai tulisan, bukan dari satu traktat sistematis.¹
Meskipun demikian,
terdapat sejumlah prinsip yang konsisten dalam keseluruhan pemikirannya, yakni
penghormatan terhadap akal, penolakan terhadap dogma, keberpihakan pada
kemanusiaan, penghargaan terhadap metode ilmiah, serta keyakinan bahwa
kebebasan berpikir merupakan syarat kemajuan masyarakat. Landasan ini
menempatkan Voltaire sebagai tokoh penting dalam tradisi Age of Enlightenment,
terutama dalam bentuk Pencerahan yang moderat, pragmatis, dan berorientasi
reformasi.²
3.2.
Rasionalisme Moderat
Salah satu dasar
terpenting pemikiran Voltaire adalah kepercayaan pada kemampuan akal manusia
untuk menilai realitas, mengoreksi kesalahan, dan memperbaiki kehidupan sosial.
Namun, rasionalisme Voltaire berbeda dari rasionalisme metafisis yang berusaha
menurunkan seluruh kebenaran dari prinsip-prinsip apriori. Ia lebih menekankan
penggunaan akal secara praktis dalam urusan etika, politik, hukum, dan agama.³
Bagi Voltaire, akal
berfungsi sebagai alat kritik terhadap prasangka, takhayul, fanatisme, dan
otoritas yang tidak rasional. Karena itu, ia kerap menyerang kebiasaan menerima
tradisi semata-mata karena diwariskan. Dalam pandangannya, suatu gagasan harus
diuji berdasarkan manfaat, konsistensi, dan kesesuaiannya dengan pengalaman
manusia. Sikap ini tampak dalam kritiknya terhadap penyiksaan, sensor, dan
privilese feodal yang dipertahankan atas nama adat atau legitimasi ilahi.⁴
Namun demikian,
Voltaire tidak meyakini bahwa akal manusia sempurna atau mampu menjawab seluruh
pertanyaan metafisis. Ia menyadari keterbatasan pengetahuan manusia dan menolak
spekulasi berlebihan. Oleh sebab itu, rasionalismenya dapat disebut moderat: ia
membela akal sebagai instrumen terbaik yang dimiliki manusia, tetapi tetap
menyadari batas-batasnya.⁵
3.3.
Empirisme dan Pengaruh Tradisi
Inggris
Landasan penting
lain dalam pemikiran Voltaire adalah pengaruh empirisme Inggris, terutama
setelah masa pengasingannya di England pada akhir 1720-an. Di sana ia
mempelajari karya John Locke, yang menolak gagasan ide bawaan dan menegaskan
bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi serta refleksi mental.⁶
Voltaire menerima
pendekatan Locke karena dianggap lebih realistis dibanding metafisika skolastik
maupun spekulasi rasionalis yang abstrak. Ia melihat bahwa pengetahuan harus
bertumpu pada fakta, observasi, dan pemeriksaan kritis, bukan sekadar otoritas
teks kuno atau klaim institusional. Dalam karya Letters Concerning the English Nation,
Voltaire memuji iklim intelektual Inggris yang lebih terbuka terhadap sains dan
eksperimen.⁷
Pengaruh empirisme
ini juga tampak dalam penghargaan Voltaire terhadap Isaac Newton. Ia memandang
Newton sebagai teladan bagaimana alam dapat dipahami melalui observasi,
matematika, dan pengujian hipotesis. Bagi Voltaire, keberhasilan fisika
Newtonian menunjukkan bahwa pengetahuan berkembang melalui metode ilmiah, bukan
spekulasi metafisis tanpa dasar empiris.⁸
Dengan demikian,
pemikiran Voltaire menggabungkan semangat rasionalisme dengan disiplin
empirisme: akal diperlukan untuk menafsirkan dunia, tetapi pengalaman dan bukti
diperlukan untuk membatasi klaim akal.
3.4.
Skeptisisme Epistemologis
Meskipun mendukung
akal dan ilmu pengetahuan, Voltaire juga menunjukkan unsur skeptisisme yang
kuat. Skeptisisme ini bukan penolakan terhadap pengetahuan, melainkan sikap
waspada terhadap klaim kebenaran mutlak. Ia curiga terhadap sistem pemikiran
yang mengaku mampu menjelaskan segala hal secara final, terutama jika klaim
tersebut digunakan untuk menindas pihak lain.⁹
Sikap skeptis
Voltaire terlihat dalam penolakannya terhadap optimisme metafisis ala Gottfried
Wilhelm Leibniz yang populer melalui gagasan bahwa dunia ini adalah “dunia
terbaik yang mungkin ada.” Dalam Candide, ia menyindir keyakinan tersebut
dengan menampilkan perang, bencana, penyakit, dan kekejaman sebagai realitas
yang tidak dapat dihapus oleh teori abstrak.¹⁰
Bagi Voltaire,
filsafat harus rendah hati: manusia mengetahui sebagian, bukan keseluruhan.
Karena itu, toleransi menjadi konsekuensi epistemologis dari skeptisisme. Jika
manusia terbatas dalam pengetahuan, maka tidak ada dasar kuat untuk memaksakan
keyakinan secara absolut kepada orang lain.¹¹
3.5.
Deisme dan Kritik terhadap Dogma
Dalam bidang agama,
landasan filsafat Voltaire sering dikaitkan dengan Deism. Ia meyakini adanya
Tuhan sebagai penyebab pertama dan perancang kosmos, terutama karena
keteraturan alam semesta dianggap menunjuk pada kecerdasan rasional. Namun, ia
menolak banyak bentuk dogma gerejawi, mukjizat yang tidak masuk akal, serta
klaim eksklusif lembaga agama atas kebenaran.¹²
Bagi Voltaire, agama
yang sehat adalah agama yang mendorong moralitas universal: kejujuran,
keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama. Sebaliknya, ketika
agama berubah menjadi fanatisme, alat kekuasaan, atau justifikasi kekerasan,
agama telah menyimpang dari tujuan etisnya. Karena itu, kritik Voltaire lebih
diarahkan pada institusi dan fanatisme, bukan semata pada konsep ketuhanan.¹³
Deisme memberinya
posisi tengah antara ateisme radikal dan ortodoksi gerejawi. Ia tetap
mempertahankan keyakinan religius minimal, tetapi menuntut agar keyakinan
tersebut tunduk pada akal dan moralitas umum.
3.6.
Humanisme Praktis
Landasan filsafat
Voltaire juga bercorak humanistik. Fokus utamanya bukan membangun sistem
ontologi abstrak, melainkan mengurangi penderitaan manusia nyata. Ia menaruh
perhatian besar pada korban intoleransi, kesalahan peradilan, perang,
kemiskinan, dan penyiksaan.¹⁴
Dalam hal ini,
Voltaire menilai bahwa nilai suatu gagasan dapat diukur dari dampaknya terhadap
kehidupan manusia. Jika suatu doktrin menghasilkan kekejaman atau penindasan,
maka doktrin tersebut patut dipertanyakan. Prinsip ini menjelaskan mengapa ia
terlibat dalam kasus Jean Calas dan berbagai kampanye reformasi hukum.
Humanisme Voltaire
bersifat praktis karena berorientasi pada tindakan sosial: reformasi hukum,
toleransi, pendidikan, dan kebebasan sipil. Ia tidak hanya menulis teori moral,
tetapi juga berusaha memengaruhi kebijakan dan opini publik.¹⁵
3.7.
Konsep Kemajuan dan Peradaban
Voltaire termasuk
pemikir yang percaya bahwa masyarakat manusia dapat mengalami kemajuan melalui
ilmu pengetahuan, pendidikan, perdagangan, dan pemerintahan yang lebih
rasional. Ia menolak pandangan fatalistik bahwa tatanan sosial bersifat tetap
dan tidak dapat diubah.¹⁶
Dalam karya-karya
sejarahnya, Voltaire menggambarkan peradaban bukan hanya melalui peperangan dan
pergantian raja, tetapi melalui perkembangan seni, sastra, sains, ekonomi, dan
moralitas publik. Ini menunjukkan konsep sejarah yang progresif: manusia dapat
belajar dari masa lalu dan membangun masa depan yang lebih baik.¹⁷
Meski demikian,
Voltaire bukan utopis. Ia sadar bahwa kemajuan berlangsung lambat, tidak
merata, dan selalu terancam oleh fanatisme serta tirani. Karena itu, kemajuan
harus dijaga melalui kewaspadaan intelektual dan institusi yang rasional.
3.8.
Individualisme Moral dan Kebebasan
Berpikir
Voltaire meyakini
bahwa individu memiliki hak untuk menggunakan akalnya sendiri tanpa intimidasi
negara maupun gereja. Pandangan ini menjadikan kebebasan berpikir sebagai salah
satu fondasi filsafatnya. Kebebasan bukan hanya hak politik, tetapi juga syarat
pencarian kebenaran.¹⁸
Dalam kerangka ini,
sensor dianggap merusak perkembangan masyarakat karena menghambat koreksi
terhadap kesalahan. Jika ide yang keliru dibiarkan tanpa perdebatan, masyarakat
kehilangan kesempatan memperbaiki diri. Karena itu, Voltaire membela ruang
publik yang memungkinkan perbedaan pendapat dan kritik terbuka.¹⁹
Sintesis
Filsafat Voltaire
Secara keseluruhan,
landasan filsafat pemikiran Voltaire dapat dipahami sebagai sintesis antara
rasionalisme praktis, empirisme ilmiah, skeptisisme epistemologis, deisme
moral, humanisme sosial, dan komitmen terhadap kebebasan individu. Ia bukan
pembangun sistem filsafat besar, melainkan penggerak budaya intelektual yang
mengubah cara masyarakat memahami otoritas, agama, hukum, dan kemajuan.²⁰
Justru karena
sifatnya yang praktis dan komunikatif, filsafat Voltaire memiliki pengaruh luas
di luar ruang akademik. Gagasannya menjangkau publik luas dan membantu
membentuk dasar-dasar modernitas Eropa: toleransi, sekularisasi, kebebasan
sipil, dan penghargaan terhadap akal kritis.
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 3–6.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 18–24.
[3]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 95–101.
[4]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
144–152.
[5]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 42–48.
[6]
Roy Porter, Enlightenment: Britain and the Creation of the Modern
World (London: Penguin Books, 2000), 55–63.
[7]
Voltaire, Letters Concerning the English Nation, trans.
Nicholas Cronk (Oxford: Oxford University Press, 2009), 1–15.
[8]
Voltaire, Elements of Newton’s Philosophy, trans. John Hanna
(London: Watts & Co., 1936), vii–xii.
[9]
Gay, The Enlightenment, 271–276.
[10]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), 1–18.
[11]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
98–104.
[12]
Besterman, Voltaire, 210–216.
[13]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 5–12.
[14]
Davidson, Voltaire: A Life, 287–295.
[15]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 95–102.
[16]
Gay, The Enlightenment, 355–360.
[17]
Voltaire, The Age of Louis XIV, trans. Martyn P. Pollack
(London: Dent, 1968), x–xv.
[18]
Israel, Democratic Enlightenment, 112–118.
[19]
Besterman, Voltaire, 301–307.
[20]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
4.
Kritik terhadap
Agama dan Lembaga Gereja
Voltaire dikenal
sebagai salah satu tokoh Age of Enlightenment yang paling vokal dalam
mengkritik fanatisme agama, penyalahgunaan otoritas rohani, dan dominasi
lembaga gereja dalam kehidupan publik. Akan tetapi, kritik Voltaire sering kali
disalahpahami sebagai penolakan total terhadap agama. Sesungguhnya, sasaran
utamanya bukan religiositas itu sendiri, melainkan bentuk-bentuk institusional
agama yang menurutnya telah menyimpang dari prinsip moral, rasionalitas, dan
kemanusiaan.¹
Dalam konteks
Prancis abad ke-18, Catholic Church memiliki pengaruh besar dalam pendidikan,
sensor penerbitan, legitimasi politik monarki, dan kehidupan sosial
sehari-hari. Hubungan erat antara altar dan takhta menjadikan gereja bukan
sekadar lembaga spiritual, tetapi juga kekuatan politik yang dapat menentukan
batas-batas wacana intelektual. Dalam situasi demikian, kritik terhadap gereja
hampir selalu berarti kritik terhadap struktur kekuasaan.²
Voltaire memandang
bahwa jika agama hendak berfungsi positif dalam masyarakat, agama harus
dipisahkan dari fanatisme, kekerasan, dan monopoli kebenaran. Oleh karena itu,
kritiknya perlu dipahami sebagai upaya reformulasi agama dalam kerangka moral
universal dan toleransi sipil.³
4.1.
Kritik terhadap Fanatisme Agama
Salah satu tema
sentral dalam pemikiran Voltaire adalah penolakannya terhadap fanatisme agama.
Ia menggunakan istilah fanatisme untuk menunjuk keadaan ketika keyakinan
keagamaan berubah menjadi kebencian terhadap pihak lain, menolak nalar, dan
membenarkan kekerasan atas nama Tuhan. Bagi Voltaire, fanatisme jauh lebih
berbahaya daripada skeptisisme, sebab skeptisisme mendorong keraguan
intelektual, sedangkan fanatisme mendorong penganiayaan.⁴
Dalam banyak
tulisannya, Voltaire merujuk sejarah Eropa yang dipenuhi perang agama,
pembantaian sektarian, dan pengusiran kelompok minoritas sebagai bukti bahwa
keyakinan yang tidak dibatasi akal dapat menjadi sumber kehancuran sosial. Ia
menilai bahwa ketika seseorang yakin memiliki kebenaran absolut dan merasa
diberi mandat ilahi, maka ruang dialog akan tertutup.⁵
Kritik ini terlihat
jelas dalam Treatise on Tolerance, di mana ia menegaskan bahwa intoleransi
lahir dari kesombongan manusia yang menganggap dirinya mengetahui kehendak
Tuhan secara pasti. Menurutnya, kerendahan hati intelektual merupakan obat bagi
fanatisme.⁶
4.2.
Kritik terhadap Kekuasaan Lembaga
Gereja
Voltaire juga
mengkritik gereja sebagai institusi yang pada zamannya terlibat dalam politik,
sensor, dan privilese sosial. Ia menilai bahwa lembaga agama sering kali
menggunakan otoritas spiritual untuk mempertahankan kepentingan duniawi. Kritik
ini terutama diarahkan pada struktur gerejawi yang kaya, hierarkis, dan
bersekutu dengan kekuasaan monarki absolut.⁷
Di Prancis pra-revolusi,
gereja memiliki hak istimewa berupa pembebasan pajak, kepemilikan tanah yang
luas, serta pengaruh dalam sistem pendidikan. Voltaire melihat kondisi ini
sebagai bentuk ketimpangan yang sulit dibenarkan secara moral. Menurutnya,
institusi yang mengajarkan kerendahan hati seharusnya tidak hidup dalam
kemewahan dan privilese.⁸
Selain itu, Voltaire
menentang praktik sensor yang dilakukan atas nama agama. Banyak buku dilarang,
penulis diawasi, dan gagasan baru dicurigai sebagai ancaman iman. Bagi Voltaire,
gereja yang takut pada diskusi rasional justru menunjukkan kelemahan
argumentatifnya sendiri.⁹
4.3.
Kritik terhadap Dogma dan Takhayul
Voltaire membedakan
antara iman yang sederhana dengan dogma yang dipaksakan. Ia menolak berbagai
doktrin yang menurutnya tidak rasional, tidak dapat diverifikasi, atau
digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat. Dalam pandangannya, banyak
kepercayaan populer dipertahankan bukan karena kebenarannya, tetapi karena
berguna bagi pengendalian sosial.¹⁰
Ia sangat kritis
terhadap takhayul, yaitu keyakinan yang menghubungkan peristiwa-peristiwa alam
atau nasib manusia dengan intervensi supranatural tanpa dasar rasional.
Voltaire menilai takhayul lebih merusak daripada ateisme, sebab ateisme mungkin
hanya menghasilkan keraguan, sedangkan takhayul dapat melahirkan kebrutalan
kolektif.¹¹
Melalui karya
seperti Philosophical Dictionary, ia mengulas berbagai istilah keagamaan dan
sosial secara ironis untuk menunjukkan kontradiksi dogma yang tidak pernah
diuji secara kritis. Bentuk penulisan ensiklopedis semacam ini memudahkan
pembaca umum mengakses kritik filsafat secara populer.¹²
4.4.
Deisme sebagai Alternatif Religius
Meskipun keras
mengkritik gereja, Voltaire bukan seorang ateis. Ia cenderung menganut Deism,
yakni keyakinan bahwa alam semesta diciptakan oleh suatu intelegensi rasional,
tetapi Tuhan tidak perlu dipahami melalui wahyu eksklusif atau otoritas lembaga
tertentu.¹³
Bagi Voltaire,
keteraturan kosmos dan hukum-hukum alam menunjukkan adanya penyebab pertama
yang cerdas. Namun, ia menolak gagasan bahwa Tuhan secara khusus memihak satu
sekte atau berbicara hanya melalui satu institusi keagamaan. Agama yang masuk
akal baginya adalah agama alamiah: pengakuan akan Tuhan, moralitas universal,
dan penghormatan terhadap sesama manusia.¹⁴
Posisi deistik ini
memungkinkan Voltaire mengkritik ateisme sekaligus ortodoksi gerejawi. Ia
khawatir masyarakat tanpa moralitas religius dapat jatuh pada nihilisme, tetapi
ia juga menilai agama institusional tanpa akal akan jatuh pada tirani.¹⁵
4.5.
Seruan Toleransi Beragama
Salah satu
kontribusi terbesar Voltaire ialah pembelaannya terhadap toleransi beragama.
Dalam masyarakat Eropa yang lama terpecah oleh konflik Katolik-Protestan,
gagasan toleransi merupakan posisi radikal dan progresif. Voltaire menilai
bahwa negara tidak berhak memaksa keyakinan warga, karena iman sejati tidak
dapat dihasilkan melalui paksaan.¹⁶
Kasus Jean Calas
menjadi titik penting dalam perjuangan ini. Calas, seorang Protestan di
Toulouse, dihukum mati secara tidak adil karena dituduh membunuh putranya demi
mencegah konversi ke Katolik. Voltaire memimpin kampanye publik untuk membela
nama Calas dan membongkar bias sektarian dalam sistem hukum. Upaya ini berujung
pada rehabilitasi nama Calas secara anumerta.¹⁷
Dari peristiwa
tersebut, Voltaire menyimpulkan bahwa intoleransi bukan hanya masalah teologis,
tetapi juga ancaman terhadap keadilan hukum. Negara yang tunduk pada prasangka
agama akan gagal melindungi warganya secara setara.¹⁸
4.6.
Kritik terhadap Hubungan Gereja dan
Negara
Voltaire menolak
penyatuan kekuasaan agama dan negara karena berpotensi melahirkan dua bentuk
tirani sekaligus: tirani politik dan tirani spiritual. Ketika negara memakai
agama untuk melegitimasi kekuasaan, kritik terhadap pemerintah mudah dicap
sebagai dosa atau pemberontakan. Sebaliknya, ketika gereja bergantung pada
negara, agama kehilangan independensi moralnya.¹⁹
Ia tidak selalu
menyerukan pemisahan institusional secara formal sebagaimana konsep sekularisme
modern, tetapi jelas mendukung pembatasan peran gereja dalam urusan sipil dan
hukum. Dalam masyarakat yang plural, menurut Voltaire, negara sebaiknya
menjamin ketertiban umum dan kebebasan, bukan memihak satu dogma.²⁰
Pandangan ini kelak
memberi pengaruh besar terhadap berkembangnya gagasan sekularisasi di Eropa,
terutama bahwa legitimasi politik harus bersumber dari kepentingan publik dan
hukum rasional, bukan dari klaim wahyu institusional.²¹
4.7.
Metode Kritik: Satire, Ironi, dan
Argumentasi Publik
Yang membedakan
Voltaire dari banyak filsuf sezamannya adalah metode kritiknya. Ia tidak hanya
menulis traktat akademik, tetapi menggunakan satire, dialog, cerita pendek, dan
pamflet untuk menyerang penyalahgunaan agama. Melalui humor dan ironi, ia dapat
menyampaikan kritik tajam dengan cara yang mudah dipahami masyarakat luas.²²
Dalam Candide,
misalnya, Voltaire menyinggung kemunafikan rohaniwan, kekerasan kolonial, dan
absurditas perang yang dibenarkan secara moral. Satire membuat pembaca
menyadari kontradiksi sosial tanpa harus menerima kuliah filsafat yang kaku.²³
Strategi ini
menjadikan Voltaire bukan sekadar pemikir, tetapi komunikator publik yang
efektif. Ia memahami bahwa perubahan sosial memerlukan transformasi opini
publik, bukan hanya perdebatan di kalangan elite terpelajar.²⁴
4.8.
Keterbatasan dan Ambiguitas Kritik Voltaire
Walaupun progresif
dalam banyak hal, kritik Voltaire terhadap agama juga memiliki keterbatasan. Ia
terkadang menyamaratakan praktik keagamaan populer sebagai takhayul, tanpa
cukup membedakan dimensi spiritual, simbolik, dan sosial dari agama rakyat.
Selain itu, pembelaannya terhadap toleransi tidak selalu berarti dukungan penuh
terhadap kesetaraan politik semua kelompok.²⁵
Beberapa peneliti
juga mencatat bahwa kritik Voltaire lebih keras terhadap lembaga gereja Katolik
di Prancis karena konteks politik zamannya, dibanding terhadap bentuk-bentuk
dominasi lain di luar Eropa. Dengan demikian, kritiknya tetap perlu dibaca
secara historis dan tidak diperlakukan sebagai posisi final tanpa evaluasi.²⁶
Kesimpulan
Secara keseluruhan,
kritik Voltaire terhadap agama dan lembaga gereja berangkat dari komitmen pada
rasionalitas, moralitas universal, kebebasan berpikir, dan perlindungan
terhadap manusia dari kekerasan sektarian. Ia tidak menolak religiositas secara
mutlak, melainkan menolak agama yang berubah menjadi alat dominasi.
Warisan terpenting
Voltaire dalam bidang ini adalah gagasan bahwa keyakinan harus berjalan
berdampingan dengan toleransi, bahwa institusi keagamaan harus terbuka terhadap
kritik, dan bahwa negara harus menjamin kebebasan hati nurani seluruh warga.
Dalam masyarakat modern yang masih menghadapi ekstremisme dan polarisasi, pesan
tersebut tetap memiliki relevansi yang kuat.²⁷
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 52–58.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 287–294.
[3]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 205–212.
[4]
Voltaire, Philosophical Dictionary, trans. Theodore Besterman
(London: Penguin Books, 1972), 186–191.
[5]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
96–101.
[6]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 7–15.
[7]
Besterman, Voltaire, 230–236.
[8]
Alexis de Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution,
trans. Stuart Gilbert (New York: Doubleday, 1955), 78–82.
[9]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 71–76.
[10]
Gay, The Enlightenment, 301–307.
[11]
Voltaire, Philosophical Dictionary, 272–276.
[12]
Nicholas Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009),
88–95.
[13]
Besterman, Voltaire, 214–220.
[14]
Voltaire, Philosophical Dictionary, 247–252.
[15]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 60–64.
[16]
Israel, Democratic Enlightenment, 110–116.
[17]
Voltaire, Treatise on Tolerance, 1–6.
[18]
Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
287–294.
[19]
Gay, The Enlightenment, 318–323.
[20]
Besterman, Voltaire, 241–247.
[21]
Israel, Democratic Enlightenment, 122–128.
[22]
Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009), 96–103.
[23]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), 45–62.
[24]
Davidson, Voltaire: A Life, 301–307.
[25]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 90–94.
[26]
Israel, Democratic Enlightenment, 133–138.
[27]
Gay, The Enlightenment, 330–336.
5.
Pemikiran Politik
Voltaire bukanlah
filsuf politik sistematis dalam pengertian sebagaimana Thomas Hobbes, John
Locke, atau Jean-Jacques Rousseau yang menyusun teori negara secara formal. Ia
tidak meninggalkan satu traktat besar mengenai kontrak sosial, kedaulatan, atau
konstitusi negara. Akan tetapi, melalui surat, pamflet, karya sejarah, esai,
dan satire, Voltaire mengembangkan seperangkat gagasan politik yang berpengaruh
besar terhadap transformasi Eropa modern.¹
Pemikiran politik
Voltaire terutama berangkat dari kritik terhadap absolutisme, fanatisme
religius, ketidakadilan hukum, privilese feodal, dan sensor intelektual.
Sebaliknya, ia membela pemerintahan rasional, supremasi hukum, toleransi,
kebebasan sipil, serta administrasi negara yang efisien. Politik, bagi
Voltaire, bukan arena spekulasi abstrak semata, melainkan sarana praktis untuk
mengurangi penderitaan manusia dan menciptakan ketertiban yang lebih adil.²
Dengan demikian,
pemikiran politik Voltaire bersifat reformis dan pragmatis. Ia tidak menyerukan
revolusi radikal pada tahap awal, melainkan mendorong pembaruan bertahap
melalui penguasa tercerahkan, hukum yang masuk akal, dan budaya publik yang
rasional.³
5.1.
Kritik terhadap Absolutisme Monarki
Pada masa Voltaire,
France masih berada di bawah tradisi monarki absolut yang mencapai bentuk
klasiknya sejak pemerintahan Louis XIV. Dalam sistem ini, raja dipandang
sebagai sumber utama hukum dan otoritas politik, sering kali dengan legitimasi
teologis sebagai wakil Tuhan di bumi. Voltaire memandang konsentrasi kekuasaan
semacam itu berbahaya apabila tidak dibatasi oleh hukum, akal sehat, dan kepentingan
publik.⁴
Meskipun Voltaire
kadang mengagumi efisiensi negara yang kuat, ia menolak bentuk kekuasaan
sewenang-wenang. Ia mengkritik penahanan tanpa proses hukum, penyiksaan,
penyensoran, dan praktik favoritisme istana. Pengalamannya sendiri dipenjara di
Bastille memperkuat kesadarannya bahwa negara absolut mudah menyalahgunakan
kekuasaan terhadap individu.⁵
Bagi Voltaire,
masalah utama bukan semata-mata keberadaan monarki, tetapi monarki yang tidak
rasional dan tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu, ia lebih tertarik pada
reformasi kekuasaan daripada penghancuran institusi kerajaan secara langsung.⁶
5.2.
Kritik terhadap Feodalisme dan
Privilese Sosial
Voltaire juga
menentang struktur feodal yang memberi hak-hak istimewa kepada bangsawan dan
rohaniwan berdasarkan kelahiran, bukan merit atau kontribusi sosial. Dalam
masyarakat lama Prancis, kelas istimewa menikmati pembebasan pajak, akses
jabatan, serta perlindungan hukum yang tidak dinikmati rakyat biasa. Voltaire
melihat ketimpangan ini sebagai irasional dan merugikan kemajuan nasional.⁷
Sebagai tokoh yang
lahir dari kalangan non-bangsawan tetapi berhasil menembus elite intelektual
Eropa, Voltaire menjadi simbol kritik terhadap aristokrasi turun-temurun.
Konfliknya dengan Chevalier de Rohan menunjukkan bagaimana status sosial dapat
mengalahkan keadilan hukum. Pengalaman ini mendorong keyakinannya bahwa
martabat manusia tidak seharusnya ditentukan oleh garis keturunan.⁸
Dalam banyak
tulisan, Voltaire mendukung promosi individu berbakat dalam administrasi negara,
perdagangan, dan ilmu pengetahuan. Ia menilai masyarakat akan lebih maju bila
posisi ditentukan oleh kemampuan, bukan privilese warisan.⁹
5.3.
Supremasi Hukum dan Reformasi
Peradilan
Salah satu inti
pemikiran politik Voltaire adalah pentingnya hukum yang adil dan rasional. Ia
menolak sistem hukum yang kejam, tidak konsisten, dan tunduk pada prasangka
agama maupun kepentingan kelas. Pada abad ke-18, hukum pidana di banyak wilayah
Eropa masih mengenal penyiksaan, pengakuan paksa, dan hukuman mati yang luas.
Voltaire mengecam praktik-praktik tersebut sebagai penghinaan terhadap
kemanusiaan.¹⁰
Kasus Jean Calas
menjadi contoh paling terkenal. Voltaire menggunakan reputasinya untuk
menantang putusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati atas dasar prasangka
sektarian. Baginya, pengadilan harus mencari bukti, bukan mengikuti fanatisme
massa.¹¹
Dari sini tampak
bahwa Voltaire mendukung prinsip-prinsip yang kelak menjadi unsur negara hukum
modern: due process, kesetaraan warga di hadapan hukum, dan perlindungan individu
dari kekuasaan sewenang-wenang.¹²
5.4.
Kebebasan Sipil dan Kebebasan
Berekspresi
Voltaire secara luas
diasosiasikan dengan pembelaan terhadap kebebasan berbicara, meskipun kutipan
populer yang sering dikaitkan dengannya bukan berasal langsung dari tulisannya.
Meski demikian, semangat tersebut sejalan dengan pemikirannya: masyarakat yang
sehat memerlukan ruang bagi perbedaan pendapat dan kritik terhadap kekuasaan.¹³
Ia memandang sensor
negara maupun gereja sebagai hambatan kemajuan. Tanpa kebebasan diskusi,
kesalahan tidak dapat diperbaiki, pengetahuan tidak berkembang, dan tirani
mudah bertahan. Oleh sebab itu, kebebasan berekspresi bagi Voltaire bukan
sekadar hak individual, tetapi instrumen sosial bagi pencarian kebenaran.¹⁴
Namun, kebebasan
yang dibelanya bukan anarki verbal tanpa batas. Ia tetap menekankan pentingnya
tanggung jawab moral dan ketertiban sipil. Dengan kata lain, kebebasan harus
diimbangi oleh hukum yang rasional dan penghormatan terhadap sesama warga.¹⁵
5.5.
Toleransi sebagai Prinsip Politik
Dalam pemikiran
Voltaire, toleransi bukan hanya kebajikan pribadi, tetapi prinsip politik yang
fundamental. Negara yang memaksakan satu keyakinan agama akan terus dilanda
konflik, sedangkan negara yang memberi ruang bagi keragaman cenderung lebih damai
dan produktif.¹⁶
Ia memuji pengalaman
England, di mana berbagai denominasi Kristen hidup berdampingan dengan tingkat
kebebasan relatif lebih besar dibanding Prancis. Menurut Voltaire, pluralitas
keagamaan justru membatasi dominasi satu kelompok dan mendorong koeksistensi
pragmatis.¹⁷
Dalam kerangka ini,
toleransi memiliki fungsi politik: menjaga stabilitas, mengurangi kekerasan
sektarian, dan memperluas loyalitas warga kepada negara sipil, bukan kepada
konflik antar-sekte.¹⁸
5.6.
Monarki Tercerahkan (Enlightened
Monarchy)
Berbeda dari
Jean-Jacques Rousseau yang menekankan kedaulatan rakyat, Voltaire sering
menunjukkan simpati terhadap model monarki tercerahkan, yakni pemerintahan oleh
penguasa kuat tetapi rasional, berpendidikan, dan terbuka terhadap reformasi.
Ia beranggapan bahwa rakyat yang belum terdidik luas mungkin belum siap
menjalankan demokrasi langsung.¹⁹
Karena itu, Voltaire
pernah menjalin hubungan dengan beberapa penguasa Eropa yang dianggap
progresif, seperti Frederick the Great dan Catherine the Great. Ia berharap
para penguasa tersebut dapat menggunakan kekuasaan untuk mendorong toleransi,
pendidikan, reformasi hukum, dan modernisasi administrasi.²⁰
Meskipun demikian,
kedekatan ini juga menunjukkan ambiguitas politik Voltaire. Ia mendukung kebebasan,
tetapi tidak selalu percaya pada partisipasi massa sebagai mekanisme utama
pemerintahan.²¹
5.7.
Pandangan tentang Demokrasi dan
Rakyat
Voltaire bersikap
skeptis terhadap demokrasi langsung dan sering mengkritik massa sebagai mudah
dipengaruhi emosi, prasangka, dan fanatisme. Pandangan ini berbeda dengan
idealisme demokratis Rousseau. Bagi Voltaire, kualitas pemerintahan lebih
penting daripada bentuk formalnya. Pemerintahan yang efisien dan toleran lebih
baik daripada sistem partisipatif yang kacau.²²
Sikap ini harus
dibaca dalam konteks zamannya: tingkat pendidikan rendah, komunikasi terbatas,
dan dominasi elite sosial. Voltaire tidak menolak seluruh representasi politik,
tetapi ia menilai perlu adanya kelas terdidik yang memimpin reformasi.²³
Karena itu, pemikirannya
sering disebut liberal-aristokratik: mendukung kebebasan sipil dan hukum,
tetapi tidak sepenuhnya egalitarian dalam partisipasi politik.²⁴
5.8.
Perdagangan, Kemakmuran, dan Negara
Modern
Voltaire juga
menaruh perhatian pada peran perdagangan dalam memoderasi masyarakat. Ia memuji
kota dagang seperti London sebagai ruang di mana orang dari berbagai agama
dapat bekerja sama demi keuntungan bersama. Dalam perdagangan, identitas
sektarian menjadi kurang penting dibanding kepercayaan kontraktual dan kepentingan
ekonomi.²⁵
Pandangan ini
menunjukkan bahwa Voltaire melihat pasar dan pertumbuhan ekonomi sebagai faktor
yang dapat mendukung toleransi dan peradaban. Negara modern, menurutnya,
sebaiknya mendorong produktivitas, keamanan hukum, dan mobilitas sosial.²⁶
5.9.
Pengaruh terhadap Politik Modern
Walaupun bukan
demokrat radikal, gagasan politik Voltaire berkontribusi besar terhadap
perkembangan liberalisme modern. Kritiknya terhadap absolutisme membantu
melemahkan legitimasi rezim lama. Pembelaannya terhadap kebebasan berbicara,
toleransi, dan reformasi hukum memengaruhi agenda French Revolution serta
perkembangan konstitusionalisme Eropa.²⁷
Pemikirannya juga
bergaung dalam konsep negara sekuler, perlindungan minoritas, dan budaya
oposisi intelektual terhadap kekuasaan. Tradisi “intelektual publik” yang
mengawasi negara melalui pena dan opini publik banyak berutang kepada model
yang dipraktikkan Voltaire.²⁸
Kesimpulan
Pemikiran politik
Voltaire berpusat pada usaha menundukkan kekuasaan kepada akal, hukum, dan kemanusiaan.
Ia mengkritik absolutisme, feodalisme, intoleransi, serta penyalahgunaan
peradilan, sambil membela kebebasan sipil, toleransi, meritokrasi, dan
pemerintahan rasional.
Meskipun skeptis
terhadap demokrasi massa dan lebih menyukai monarki tercerahkan, kontribusinya
tetap fundamental dalam sejarah politik modern. Ia membantu menggeser sumber
legitimasi politik dari tradisi dan wahyu menuju rasionalitas publik dan
kesejahteraan manusia.²⁹
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 66–72.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 312–320.
[3]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace & World,
1969), 188–194.
[4]
Alexis de Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution,
trans. Stuart Gilbert (New York: Doubleday, 1955), 55–63.
[5]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
31–38.
[6]
Besterman, Voltaire, 196–201.
[7]
Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution, 78–86.
[8]
Davidson, Voltaire: A Life, 41–48.
[9]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 74–78.
[10]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 451–458.
[11]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 1–12.
[12]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
101–108.
[13]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 81–84.
[14]
Besterman, Voltaire, 241–247.
[15]
Gay, The Science of Freedom, 462–466.
[16]
Voltaire, Treatise on Tolerance, 15–27.
[17]
Voltaire, Letters Concerning the English Nation, trans.
Nicholas Cronk (Oxford: Oxford University Press, 2009), 33–48.
[18]
Israel, Democratic Enlightenment, 110–116.
[19]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 330–336.
[20]
Davidson, Voltaire: A Life, 210–228.
[21]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 86–89.
[22]
Besterman, Voltaire, 260–266.
[23]
Gay, The Science of Freedom, 470–476.
[24]
Israel, Democratic Enlightenment, 121–126.
[25]
Voltaire, Letters Concerning the English Nation, 51–57.
[26]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 90–94.
[27]
Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution,
157–165.
[28]
Israel, Democratic Enlightenment, 134–141.
[29]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
6.
Pemikiran tentang
Kebebasan Berekspresi
Voltaire secara luas
dikenang sebagai salah satu simbol paling kuat dalam sejarah modern mengenai
pembelaan terhadap kebebasan berpikir dan kebebasan berekspresi. Meskipun ia
tidak menulis satu traktat sistematis khusus mengenai hak berbicara, seluruh
karier intelektualnya menunjukkan komitmen yang konsisten terhadap hak individu
untuk menyampaikan gagasan, mengkritik kekuasaan, dan menolak pemaksaan
pendapat melalui sensor maupun intimidasi.¹
Dalam konteks Age of
Enlightenment, kebebasan berekspresi dipandang sebagai syarat utama bagi
kemajuan pengetahuan. Tanpa ruang bagi perdebatan, koreksi, dan dissent, masyarakat
akan terjebak dalam dogma lama yang tidak pernah diuji. Voltaire melihat bahwa
kebebasan berbicara bukan sekadar hak pribadi, melainkan mekanisme sosial yang
memungkinkan kebenaran lebih mudah ditemukan dan kesalahan lebih cepat
diperbaiki.²
Karena hidup di
bawah rezim monarki yang ketat dalam mengawasi penerbitan dan pendapat publik,
Voltaire mengalami langsung risiko berbicara secara bebas. Pengalaman
penahanan, pengasingan, penyitaan buku, dan pelarangan karya menjadikan isu
kebebasan berekspresi bukan sekadar teori baginya, tetapi pengalaman
eksistensial dan politik yang konkret.³
6.1.
Latar Historis: Sensor dan Represi
Intelektual di Prancis
Pada abad ke-18,
France memiliki sistem sensor yang kuat. Buku-buku harus memperoleh izin
kerajaan, percetakan diawasi, dan karya yang dianggap menghina agama atau
negara dapat dilarang. Penulis yang melampaui batas berisiko dipenjara,
dibuang, atau dipaksa menarik tulisannya.⁴
Hubungan erat antara
monarki dan Catholic Church memperkuat represi tersebut. Kritik terhadap gereja
sering diperlakukan sebagai ancaman politik, sementara kritik terhadap negara
dapat dicap sebagai penghinaan religius. Dalam sistem semacam itu, pengawasan
atas kata-kata menjadi instrumen penting mempertahankan tatanan lama.⁵
Voltaire mengalami
sendiri struktur represif ini. Ia pernah ditahan di Bastille dan beberapa
karyanya dibakar atau dilarang beredar. Karena itu, pembelaannya terhadap
kebebasan berekspresi berakar pada kesadaran bahwa sensor bukan sekadar
pembatasan administratif, melainkan alat dominasi politik.⁶
6.2.
Kebebasan Berpikir sebagai Dasar
Kebebasan Berekspresi
Bagi Voltaire,
kebebasan berekspresi bermula dari kebebasan berpikir. Negara atau gereja dapat
membungkam suara, tetapi tidak dapat sepenuhnya mengendalikan pikiran manusia.
Oleh karena itu, upaya mempertahankan otonomi akal menjadi inti perjuangan
intelektualnya.⁷
Ia menolak tradisi
menerima pendapat semata-mata karena diwariskan, didukung otoritas, atau dibela
mayoritas. Menurut Voltaire, manusia wajib menggunakan akalnya sendiri untuk
menilai benar dan salah. Dari sini muncul konsekuensi politik: jika individu
memiliki hak untuk berpikir, maka mereka juga memerlukan ruang untuk menyatakan
hasil pemikirannya.⁸
Dalam kerangka
Pencerahan, kebebasan berpikir dipahami sebagai pembebasan dari
“ketidakdewasaan intelektual,” yakni keadaan ketika seseorang menyerahkan
penilaian kepada otoritas luar. Voltaire menjadi salah satu figur utama yang
menerjemahkan ideal tersebut ke dalam perjuangan publik nyata.⁹
6.3.
Kritik terhadap Sensor
Voltaire menilai
sensor sebagai gejala ketakutan penguasa terhadap nalar publik. Bila sebuah
pemerintahan yakin pada legitimasi dan argumentasinya, maka ia tidak perlu
membungkam kritik. Sebaliknya, larangan berbicara sering menunjukkan kelemahan
moral dan intelektual rezim itu sendiri.¹⁰
Sensor, dalam
pandangan Voltaire, merugikan masyarakat dalam beberapa hal. Pertama, ia
menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat karena ide baru tidak
dapat beredar bebas. Kedua, ia melestarikan kesalahan lama dengan mencegah
kritik terbuka. Ketiga, ia menumbuhkan kemunafikan, sebab orang dipaksa
menyembunyikan keyakinan sebenarnya.¹¹
Voltaire juga
memahami bahwa sensor tidak selalu berhasil. Larangan buku justru sering
meningkatkan rasa ingin tahu publik. Karena itu, ia menggunakan penerbitan
anonim, distribusi lintas negara, dan jaringan korespondensi internasional
untuk menghindari represi.¹²
6.4.
Hak untuk Berbeda Pendapat
Salah satu warisan
paling terkenal yang dikaitkan dengan Voltaire adalah semangat membela hak
seseorang untuk menyatakan pendapat yang tidak disetujui. Walaupun formulasi
kalimat populer itu berasal dari penulis kemudian, ia secara akurat merangkum
sikap intelektual Voltaire.¹³
Baginya, toleransi
terhadap pendapat yang disukai tidaklah sulit; ujian sejati kebebasan justru
terletak pada kesediaan memberi ruang bagi pandangan yang salah, tidak populer,
atau mengganggu kenyamanan mayoritas. Jika hanya opini dominan yang boleh
berbicara, maka tidak ada kebebasan yang sesungguhnya.¹⁴
Voltaire memandang
pluralitas gagasan sebagai kondisi normal masyarakat beradab. Karena manusia
terbatas dan dapat keliru, maka perbedaan pendapat bukan ancaman yang harus
dimusnahkan, melainkan sumber koreksi bersama.¹⁵
6.5.
Kebebasan Berekspresi dan Pencarian
Kebenaran
Voltaire menganggap
bahwa kebenaran lebih mungkin muncul melalui pertukaran gagasan bebas daripada
melalui dekret otoritas. Argumen yang kuat tidak perlu dilindungi oleh paksaan;
ia akan bertahan melalui persuasi rasional. Sebaliknya, gagasan yang rapuh cenderung
menuntut perlindungan sensor.¹⁶
Dengan demikian,
kebebasan berekspresi memiliki dimensi epistemologis: ia adalah metode sosial
untuk memilah yang benar dari yang salah. Ketika ide-ide diperdebatkan secara
terbuka, kesalahan dapat dibongkar dan pengetahuan berkembang. Prinsip ini
sejalan dengan semangat ilmiah modern yang menuntut kritik dan verifikasi.¹⁷
Voltaire sendiri
menggunakan gaya polemis, satir, dan ironis bukan hanya untuk menyerang lawan,
tetapi untuk memancing pembaca berpikir ulang terhadap asumsi-asumsi mapan.
Dalam hal ini, ekspresi publik menjadi alat pendidikan intelektual.¹⁸
6.6.
Batas Kebebasan: Fitnah, Kekerasan,
dan Ketertiban Sipil
Walaupun membela
kebebasan berekspresi, Voltaire tidak menganut pandangan tanpa batas sama
sekali. Ia tetap membedakan antara kritik rasional dan tindakan yang secara
langsung mendorong kekerasan, fitnah yang merusak reputasi tanpa dasar, atau
provokasi yang menghancurkan ketertiban sipil.¹⁹
Pandangan ini
konsisten dengan orientasi pragmatisnya. Kebebasan penting karena berguna bagi
masyarakat, bukan karena setiap ujaran memiliki nilai moral yang sama. Oleh
sebab itu, ia kemungkinan akan menolak penggunaan kebebasan sebagai dalih untuk
penganiayaan atau hasutan fanatik.²⁰
Namun, dibanding
standar zamannya, posisi Voltaire tetap sangat progresif karena ia menuntut
ruang kritik yang jauh lebih luas daripada yang diizinkan negara monarki dan
gereja.²¹
6.7.
Satire sebagai Bentuk Ekspresi
Politik
Voltaire terkenal
menggunakan satire sebagai senjata utama kebebasan berekspresi. Dalam rezim
yang represif, humor dan ironi sering lebih efektif daripada serangan frontal.
Satire dapat membuka kontradiksi kekuasaan, mempermalukan kemunafikan, dan
menyampaikan kritik kompleks kepada pembaca umum.²²
Karya Candide
merupakan contoh klasik. Melalui cerita yang tampak ringan, Voltaire menyerang
perang, fanatisme agama, kolonialisme, dan optimisme filosofis yang menutup
mata terhadap penderitaan nyata.²³
Dengan demikian,
bagi Voltaire, kebebasan berekspresi tidak terbatas pada pidato politik formal,
tetapi mencakup sastra, teater, pamflet, dan humor sebagai medium kritik
sosial.²⁴
6.8.
Dimensi Politik dan Sosial Kebebasan
Berekspresi
Voltaire memahami
bahwa kebebasan berbicara memiliki fungsi politik sebagai pengawasan terhadap
kekuasaan. Ketika warga dapat mengkritik pejabat, mengungkap ketidakadilan, dan
menyebarkan informasi, penyalahgunaan wewenang menjadi lebih sulit
disembunyikan.²⁵
Ia juga melihat
manfaat ekonomi dan sosial dari masyarakat yang terbuka. Negara yang memberi
ruang pada ide baru cenderung lebih inovatif, toleran, dan dinamis. Sebaliknya,
masyarakat yang menindas perbedaan pendapat mudah stagnan karena kreativitas
dibatasi rasa takut.²⁶
Oleh sebab itu,
kebebasan berekspresi bagi Voltaire berkaitan erat dengan kemajuan peradaban
secara keseluruhan.
6.9.
Keterbatasan Historis Pandangan
Voltaire
Meskipun progresif,
pandangan Voltaire tetap memiliki keterbatasan kontekstual. Ia hidup dalam
masyarakat yang belum mengenal demokrasi massa modern, media digital, atau
konsep hak asasi manusia seperti sekarang. Karena itu, pembelaannya terhadap
kebebasan kadang lebih ditujukan bagi ruang intelektual dan elite terpelajar
daripada partisipasi universal semua warga.²⁷
Selain itu, gaya
polemis Voltaire sendiri terkadang tajam dan ofensif terhadap lawan-lawannya.
Ini menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dalam praktik tidak selalu identik
dengan kesantunan. Namun justru di sini tampak kompleksitasnya: kebebasan
sering berarti memberi ruang bahkan pada ekspresi yang keras dan mengganggu.²⁸
6.10.
Relevansi Kontemporer
Dalam era digital,
gagasan Voltaire tetap relevan. Masyarakat modern menghadapi tantangan baru
berupa disinformasi, sensor algoritmik, ujaran kebencian, dan polarisasi
ekstrem. Pertanyaan klasik yang dihadapi Voltaire kembali muncul: bagaimana
melindungi kebebasan berbicara sambil menjaga ruang publik yang sehat?²⁹
Warisan Voltaire
menunjukkan bahwa solusi tidak terletak pada pembungkaman massal, melainkan
pada pendidikan kritis, budaya debat rasional, transparansi kekuasaan, dan
penegakan hukum yang proporsional. Kebebasan berekspresi harus dipertahankan,
tetapi disertai tanggung jawab sipil.³⁰
Kesimpulan
Pemikiran Voltaire
tentang kebebasan berekspresi berakar pada keyakinan bahwa akal manusia harus
bebas dari paksaan, bahwa kebenaran memerlukan perdebatan terbuka, dan bahwa
kekuasaan harus dapat dikritik. Ia menolak sensor sebagai alat tirani dan
membela hak untuk berbeda pendapat sebagai syarat masyarakat beradab.
Meskipun tidak
menyusun teori hak secara formal, praktik intelektual Voltaire menjadikannya
salah satu pendahulu utama tradisi kebebasan sipil modern. Dalam dunia yang
terus bergulat antara kebebasan dan kontrol, warisannya tetap menjadi rujukan
penting.³¹
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 81–89.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 301–309.
[3]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
29–38.
[4]
Robert Darnton, The Literary Underground of the Old Regime
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1982), 12–19.
[5]
Alexis de Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution,
trans. Stuart Gilbert (New York: Doubleday, 1955), 66–72.
[6]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 29–34.
[7]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 42–48.
[8]
Besterman, Voltaire, 188–194.
[9]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 458–463.
[10]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
101–108.
[11]
Gay, The Science of Freedom, 462–468.
[12]
Darnton, The Literary Underground of the Old Regime, 44–53.
[13]
Evelyn Beatrice Hall, The Friends of Voltaire (London: Smith,
Elder & Co., 1906), 199.
[14]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 84–86.
[15]
Israel, Democratic Enlightenment, 112–118.
[16]
Besterman, Voltaire, 241–247.
[17]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 318–324.
[18]
Davidson, Voltaire: A Life, 301–307.
[19]
Gay, The Science of Freedom, 470–474.
[20]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 88–90.
[21]
Israel, Democratic Enlightenment, 121–126.
[22]
Nicholas Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009),
96–103.
[23]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), 45–62.
[24]
Cronk, Voltaire, 104–109.
[25]
Besterman, Voltaire, 260–266.
[26]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
[27]
Israel, Democratic Enlightenment, 133–138.
[28]
Davidson, Voltaire: A Life, 315–320.
[29]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles for a Connected
World (New Haven: Yale University Press, 2016), 1–10.
[30]
Ash, Free Speech, 75–91.
[31]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
7.
Kritik Sosial
melalui Sastra dan Satire
Voltaire menempati
posisi unik dalam sejarah intelektual Eropa karena ia tidak hanya berperan
sebagai filsuf dan polemis, tetapi juga sebagai sastrawan yang menjadikan karya
sastra sebagai medium kritik sosial. Berbeda dari pemikir yang menyampaikan
gagasan terutama melalui traktat akademik, Voltaire memanfaatkan drama, puisi,
cerita pendek, novel filosofis, dialog, dan satire untuk menjangkau khalayak
luas. Melalui strategi ini, ia mampu menyebarkan gagasan Age of Enlightenment
secara lebih efektif daripada sekadar tulisan teoretis yang beredar di kalangan
elite terpelajar.¹
Dalam konteks abad
ke-18, sastra bukan sekadar hiburan, tetapi arena penting pembentukan opini
publik. Ketika kebebasan pers masih dibatasi dan kritik langsung terhadap
negara atau gereja berisiko tinggi, bentuk sastra—terutama satire—menjadi
sarana yang relatif lentur untuk menyampaikan dissent. Voltaire memahami bahwa
humor, ironi, dan alegori sering kali lebih ampuh daripada argumentasi frontal
dalam membongkar kemunafikan sosial.²
Karena itu, kritik
sosial Voltaire melalui sastra harus dibaca sebagai bagian integral dari proyek
intelektualnya: membela rasionalitas, menentang fanatisme, dan memperjuangkan
reformasi masyarakat melalui perubahan kesadaran publik.³
7.1.
Sastra sebagai Instrumen Filsafat
Publik
Voltaire tidak
memisahkan tajam antara sastra dan filsafat. Baginya, sastra dapat menjadi
kendaraan untuk menyampaikan gagasan filosofis kepada masyarakat yang lebih
luas. Jika filsafat akademik cenderung terbatas pada kalangan terdidik, sastra
memungkinkan ide-ide kompleks dipahami melalui cerita, tokoh, konflik, dan
humor.⁴
Pendekatan ini
mencerminkan keyakinan Voltaire bahwa perubahan sosial tidak cukup dicapai
melalui debat intelektual semata. Masyarakat perlu disentuh secara emosional,
imajinatif, dan moral. Karena itu, ia sering membungkus kritik rasional dalam
narasi yang menghibur. Pembaca yang mungkin menolak khotbah filsafat dapat
menerima sindiran melalui tawa.⁵
Dengan demikian,
sastra berfungsi sebagai bentuk “filsafat populer” yang menyebarkan nilai
toleransi, skeptisisme, dan kebebasan berpikir ke ruang publik.⁶
7.2.
Satire sebagai Metode Kritik
Satire merupakan
salah satu senjata intelektual paling efektif dalam karya Voltaire. Satire
bekerja dengan cara mengekspos kebodohan, kontradiksi, dan kemunafikan melalui
ironi, hiperbola, parodi, atau pembalikan situasi. Bagi Voltaire, metode ini
sangat cocok untuk menghadapi institusi yang tampak agung tetapi rapuh secara
moral.⁷
Melalui satire,
Voltaire dapat menyerang fanatisme agama tanpa perlu menyusun serangan teologis
panjang. Ia dapat menertawakan tirani tanpa selalu menyebut nama penguasa. Ia
dapat menunjukkan absurditas perang dengan menggambarkan kekejaman yang
dipresentasikan sebagai kemuliaan. Dengan kata lain, satire memungkinkan kritik
yang tajam sekaligus lincah.⁸
Satire juga memiliki
keunggulan psikologis: orang sering lebih mudah menerima kritik ketika dibalut
humor. Tawa membuka jarak reflektif antara pembaca dan keyakinan yang selama
ini diterima begitu saja.⁹
7.3.
Kritik terhadap Fanatisme Agama
Salah satu sasaran
utama satire Voltaire adalah fanatisme agama dan kemunafikan rohaniwan. Ia
berulang kali menggambarkan tokoh-tokoh religius yang berbicara tentang kasih,
tetapi bertindak kejam; menyerukan moralitas, tetapi mengejar kekuasaan;
mengaku mewakili Tuhan, tetapi menindas manusia.¹⁰
Dalam berbagai
karya, Voltaire memperlihatkan bagaimana agama yang seharusnya menjadi sumber
etika dapat berubah menjadi alat kontrol sosial. Ia tidak menolak spiritualitas
secara mutlak, tetapi menolak lembaga keagamaan yang menggunakan rasa takut,
takhayul, dan otoritas dogmatis untuk mempertahankan dominasi.¹¹
Melalui pendekatan
sastra, kritik ini menjadi lebih mudah diterima pembaca daripada polemik
teologis yang kaku. Tokoh-tokoh munafik dalam narasi sering kali lebih efektif
membuka kesadaran dibanding argumen abstrak.¹²
7.4.
Kritik terhadap Perang dan Kekerasan
Politik
Voltaire hidup pada
masa ketika perang antarnegara Eropa sering dipuja sebagai kejayaan dinasti dan
kehormatan nasional. Namun, melalui sastra satir, ia menyoroti kenyataan brutal
perang: pembunuhan massal, penderitaan rakyat, dan absurditas kebanggaan
militer.¹³
Dalam Candide,
misalnya, adegan peperangan digambarkan bukan sebagai heroisme romantis,
melainkan sebagai pembantaian yang dibenarkan dengan retorika mulia. Voltaire
membalik narasi resmi kekuasaan: apa yang disebut kemenangan negara sering kali
berarti tragedi manusia.¹⁴
Kritik ini
menunjukkan sensitivitas moral Voltaire terhadap korban kebijakan politik. Ia
menilai negara harus diukur bukan dari kemegahan simbolik, tetapi dari
dampaknya terhadap kehidupan manusia biasa.¹⁵
7.5.
Kritik terhadap Optimisme Filsafati
Salah satu target
intelektual paling terkenal Voltaire adalah optimisme metafisis, terutama yang
diasosiasikan dengan Gottfried Wilhelm Leibniz melalui gagasan bahwa dunia ini
adalah “dunia terbaik yang mungkin ada.” Menurut Voltaire, teori semacam itu
berbahaya bila membuat manusia menutup mata terhadap penderitaan nyata.¹⁶
Dalam Candide, tokoh
Pangloss terus mengulang dogma optimisme meskipun menghadapi perang, gempa
bumi, wabah, dan kekerasan. Dengan ironi tajam, Voltaire menunjukkan jurang
antara teori abstrak dan kenyataan empiris.¹⁷
Satire di sini
berfungsi filosofis: ia menguji teori melalui konsekuensi praktisnya. Bila
suatu doktrin membuat manusia menerima kejahatan sebagai bagian “terbaik” dari
dunia, maka doktrin itu layak dipersoalkan.¹⁸
7.6.
Kritik terhadap Ketimpangan Sosial
dan Privilese
Voltaire juga
menggunakan sastra untuk mengkritik aristokrasi turun-temurun, kesenjangan
sosial, dan privilese yang tidak berdasar merit. Dalam masyarakat lama Prancis,
status kelahiran sering menentukan akses terhadap kehormatan, hukum, dan
jabatan.¹⁹
Melalui
karakter-karakter konyol, bangsawan arogan, atau pejabat bodoh, Voltaire
menunjukkan bahwa status sosial tidak identik dengan kebijaksanaan. Sebaliknya,
orang sederhana kadang tampil lebih masuk akal daripada elite yang mengklaim
superioritas.²⁰
Kritik ini selaras
dengan semangat meritokrasi Pencerahan: martabat seseorang seharusnya
ditentukan oleh kemampuan dan karakter, bukan garis keturunan.²¹
7.7.
Bentuk-Bentuk Sastra yang Digunakan
Voltaire
Voltaire sangat
produktif dan menggunakan banyak genre sastra sebagai medium kritik sosial:
1)
Drama – untuk
membahas kekuasaan, moralitas, dan tragedi politik di panggung publik.
2)
Puisi satir –
untuk komentar cepat dan tajam terhadap tokoh atau peristiwa.
3)
Cerita filsafat (contes
philosophiques) – narasi ringkas yang memadukan humor dan refleksi.
4)
Dialog –
memperhadapkan sudut pandang berbeda secara ironis.
5)
Kamus filsafat –
format ensiklopedis untuk mengomentari konsep-konsep sosial dan religius.²²
Keragaman bentuk ini
menunjukkan bahwa Voltaire memahami medium sebagai bagian dari strategi
intelektual. Ia memilih genre sesuai sasaran audiens dan tingkat sensor yang
dihadapi.²³
7.8.
Analisis Karya Candide
sebagai Puncak Satire Sosial
Candide (1759)
merupakan karya paling terkenal Voltaire dan sering dianggap puncak seni
satirenya. Novel ini menceritakan perjalanan Candide melalui serangkaian
bencana global: perang, pemerkosaan, perbudakan, penipuan, gempa bumi, dan
pengkhianatan.²⁴
Melalui perjalanan
tersebut, Voltaire mengkritik hampir seluruh institusi zamannya: gereja,
militer, kolonialisme, aristokrasi, filsafat spekulatif, dan keserakahan
ekonomi. Tidak ada kekuasaan yang luput dari sindiran.²⁵
Kalimat penutup
terkenal—bahwa manusia harus “mengolah kebun kita”—sering ditafsirkan sebagai
seruan meninggalkan spekulasi kosong dan beralih pada kerja nyata, tanggung
jawab praktis, serta perbaikan dunia yang terbatas tetapi konkret.²⁶
7.9.
Sastra dan Pembentukan Opini Publik
Karya-karya Voltaire
beredar luas melalui penerbitan resmi maupun jalur bawah tanah. Pembaca lintas
negara Eropa mengonsumsi tulisan-tulisannya sebagai hiburan sekaligus
pendidikan politik. Dengan demikian, sastra menjadi instrumen pembentukan opini
publik modern.²⁷
Voltaire menunjukkan
bahwa penulis dapat menjadi aktor politik tanpa memegang jabatan resmi. Melalui
kata-kata, seorang intelektual dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap
hukum, agama, dan kekuasaan. Model ini kelak mengilhami tradisi intelektual
publik di Eropa modern.²⁸
7.10.
Keterbatasan dan Kritik terhadap
Metode Satire
Walaupun efektif,
satire Voltaire juga memiliki keterbatasan. Sindiran yang tajam kadang
menyederhanakan persoalan kompleks atau mereduksi lawan menjadi karikatur.
Dalam beberapa kasus, gaya polemisnya dinilai terlalu elitis dan kurang
simpatik terhadap pandangan religius rakyat biasa.²⁹
Selain itu, humor
tidak selalu menghasilkan perubahan institusional langsung. Satire dapat
membongkar kemunafikan, tetapi reformasi tetap memerlukan organisasi politik
dan perubahan hukum konkret.³⁰
Namun demikian,
dalam konteks represif abad ke-18, satire justru menjadi salah satu alat paling
realistis untuk membuka ruang kritik.³¹
7.11.
Relevansi Kontemporer
Warisan Voltaire
tetap terlihat dalam budaya modern: kartun politik, komedi satir, novel
distopia, esai humoris, dan media digital yang menggunakan ironi untuk
mengkritik kekuasaan. Banyak bentuk kritik kontemporer bekerja dengan logika
Voltairian: mempermalukan kebodohan publik melalui tawa.³²
Di era media massa,
satire juga berfungsi sebagai mekanisme koreksi sosial. Ia membantu masyarakat
mengenali propaganda, populisme, dan kemunafikan elite. Namun, sebagaimana
dahulu, satire juga menghadapi risiko sensor, kriminalisasi, atau salah
tafsir.³³
Kesimpulan
Kritik sosial
Voltaire melalui sastra dan satire menunjukkan bahwa pena dapat menjadi alat
transformasi sosial yang sangat kuat. Ia menggunakan cerita, humor, ironi, dan
karakter fiktif untuk menyerang fanatisme agama, perang, ketimpangan sosial,
serta kebodohan intelektual.
Melalui strategi
tersebut, Voltaire berhasil menjadikan sastra sebagai filsafat publik yang
hidup dan mudah diakses. Warisannya menegaskan bahwa kritik terhadap kekuasaan
tidak selalu harus disampaikan melalui manifesto serius; kadang tawa justru
lebih subversif daripada pidato panjang.³⁴
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009), 1–8.
[2]
Robert Darnton, The Literary Underground of the Old Regime
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1982), 12–25.
[3]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 295–304.
[4]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 72–79.
[5]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 188–194.
[6]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 310–316.
[7]
Dustin Griffin, Satire: A Critical Reintroduction (Lexington:
University Press of Kentucky, 1994), 1–10.
[8]
Cronk, Voltaire, 96–103.
[9]
Griffin, Satire, 22–30.
[10]
Voltaire, Philosophical Dictionary, trans. Theodore Besterman
(London: Penguin Books, 1972), 186–191.
[11]
Besterman, Voltaire, 214–220.
[12]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 60–64.
[13]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 430–438.
[14]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), 10–18.
[15]
Gay, The Science of Freedom, 441–446.
[16]
Nicholas Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009),
104–109.
[17]
Voltaire, Candide, 1–9.
[18]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 82–86.
[19]
Alexis de Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution,
trans. Stuart Gilbert (New York: Doubleday, 1955), 78–86.
[20]
Besterman, Voltaire, 241–247.
[21]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 330–336.
[22]
Cronk, Voltaire, 55–70.
[23]
Darnton, The Literary Underground of the Old Regime, 44–53.
[24]
Voltaire, Candide, vii–xv.
[25]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 95–102.
[26]
Voltaire, Candide, 118–120.
[27]
Darnton, The Literary Underground of the Old Regime, 71–82.
[28]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
[29]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
133–138.
[30]
Griffin, Satire, 145–151.
[31]
Darnton, The Literary Underground of the Old Regime, 95–101.
[32]
Ian Hislop, A Stab in the Dark: The History of Satire (London:
Orion, 2007), 201–214.
[33]
Hislop, A Stab in the Dark, 215–227.
[34]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
8.
Pemikiran tentang
Sains dan Kemajuan
Voltaire merupakan
salah satu tokoh utama Age of Enlightenment yang berperan penting dalam
menyebarkan semangat ilmiah dan gagasan kemajuan sosial di Eropa. Walaupun ia
bukan ilmuwan eksperimental seperti Isaac Newton ataupun matematikawan seperti
Gottfried Wilhelm Leibniz, Voltaire memiliki jasa besar sebagai mediator
intelektual yang memperkenalkan pencapaian sains modern kepada publik berbahasa
Prancis.¹
Dalam konteks abad
ke-18, sains bukan hanya bidang pengetahuan teknis, tetapi simbol perubahan
paradigma besar: dari otoritas tradisi menuju observasi, eksperimen, dan
penalaran rasional. Voltaire melihat bahwa keberhasilan ilmu pengetahuan
menunjukkan kemampuan manusia memahami alam tanpa bergantung sepenuhnya pada
dogma teologis atau spekulasi metafisis.²
Dari keyakinan
tersebut lahir gagasan kemajuan. Bagi Voltaire, masyarakat manusia tidak harus
terjebak dalam siklus kebodohan dan kekerasan; melalui pendidikan, ilmu
pengetahuan, perdagangan, toleransi, dan reformasi politik, manusia dapat
memperbaiki kondisi hidupnya.³
8.1.
Latar Belakang Historis: Revolusi
Ilmiah dan Era Pencerahan
Pemikiran Voltaire
tentang sains muncul setelah gelombang Scientific Revolution yang dipelopori
tokoh seperti Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Johannes Kepler, dan
mencapai puncak sintesisnya pada Newton. Revolusi ini mengguncang pandangan
dunia lama dengan menunjukkan bahwa alam tunduk pada hukum-hukum yang dapat
dipahami manusia.⁴
Pada saat yang sama,
banyak wilayah Eropa masih dipengaruhi skolastisisme tradisional yang
menempatkan otoritas teks lebih tinggi daripada observasi empiris. Voltaire
memandang benturan ini sebagai konflik antara masa lalu dan masa depan: antara
pengetahuan yang dibekukan oleh otoritas dan pengetahuan yang tumbuh melalui
penelitian.⁵
Karena itu,
pembelaan Voltaire terhadap sains merupakan bagian dari proyek budaya yang
lebih luas, yakni emansipasi akal manusia dari dominasi dogma.⁶
8.2.
Pengaruh Inggris dan Penemuan
Newtonianisme
Masa pengasingan
Voltaire di England (1726–1729) sangat menentukan orientasi intelektualnya. Di
sana ia menyaksikan masyarakat yang lebih terbuka terhadap eksperimen ilmiah,
debat publik, dan kebebasan intelektual dibandingkan France. Ia juga berkenalan
dengan reputasi besar Newton dan tradisi empirisme Inggris.⁷
Voltaire terkesan
oleh keberhasilan Isaac Newton menjelaskan gerak benda langit dan fenomena
fisik melalui hukum universal gravitasi. Menurutnya, Newton memperlihatkan
bahwa alam semesta bukan wilayah misteri tak tersentuh, melainkan struktur
rasional yang dapat diselidiki manusia.⁸
Sekembalinya ke
Prancis, Voltaire menjadi salah satu promotor utama Newtonianisme. Bersama
Émilie du Châtelet, ia membantu memperkenalkan fisika Newton kepada publik
kontinental yang sebelumnya masih dipengaruhi Cartesianisme.⁹
8.3.
Kritik terhadap Cartesianisme dan
Spekulasi Metafisis
Pada masa Voltaire,
filsafat René Descartes masih memiliki pengaruh kuat di Prancis. Voltaire
menghormati kecerdasan Descartes, tetapi menilai banyak spekulasi Cartesian
tidak cukup ditopang observasi empiris. Menurutnya, kecemerlangan logika saja
tidak cukup untuk menjelaskan alam.¹⁰
Voltaire menganggap
sistem filsafat yang dibangun dari deduksi murni berisiko menjauh dari fakta.
Sebaliknya, metode Newton yang dimulai dari pengamatan, pengukuran, dan
formulasi hukum matematis dipandang lebih rendah hati sekaligus lebih
berhasil.¹¹
Kritik ini
mencerminkan preferensi epistemologis Voltaire: teori harus tunduk pada bukti,
bukan sebaliknya. Dengan demikian, sains menjadi model bagi seluruh pencarian
pengetahuan modern.¹²
8.4.
Elements of Newton’s Philosophy dan Popularisasi
Sains
Kontribusi penting
Voltaire dalam bidang sains tampak dalam karya Elements of Newton’s Philosophy.
Buku ini ditulis untuk menjelaskan gagasan Newton kepada pembaca nonspesialis,
terutama publik Prancis.¹³
Alih-alih menulis
untuk kalangan teknis, Voltaire berusaha menerjemahkan konsep-konsep rumit ke
dalam bahasa yang jelas dan menarik. Strategi ini sangat penting karena
perkembangan sains memerlukan dukungan budaya yang lebih luas, bukan hanya
komunitas ahli tertutup.¹⁴
Dengan karya semacam
ini, Voltaire membantu membentuk figur modern “intelektual mediator,” yakni
orang yang menjembatani ilmu khusus dengan masyarakat umum. Peran tersebut
masih sangat relevan dalam dunia kontemporer.¹⁵
8.5.
Sains sebagai Pembebasan dari
Takhayul
Voltaire memandang
sains sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari takhayul dan rasa takut
irasional. Banyak fenomena alam yang sebelumnya dianggap hukuman ilahi atau
intervensi gaib dapat dijelaskan melalui hukum alam. Dengan demikian, ilmu
pengetahuan mengurangi ruang bagi manipulasi religius dan ketakutan massal.¹⁶
Namun, Voltaire
tidak menganggap sains akan menjawab seluruh pertanyaan eksistensial. Ia tetap
mengakui keterbatasan pengetahuan manusia. Yang ia tolak adalah klaim palsu
yang memanfaatkan ketidaktahuan untuk memperoleh kekuasaan.¹⁷
Bagi Voltaire,
masyarakat yang memahami sains cenderung lebih toleran dan tenang, karena tidak
mudah digerakkan oleh rumor supernatural atau histeria kolektif.¹⁸
8.6.
Konsep Kemajuan Sejarah
Berbeda dari
pandangan tradisional yang melihat sejarah sebagai kemerosotan moral atau
sekadar pergantian dinasti, Voltaire memandang sejarah sebagai proses yang
memungkinkan kemajuan. Ia menilai manusia dapat belajar dari kesalahan masa
lalu dan membangun institusi yang
lebih baik.¹⁹
Dalam karya-karya
sejarahnya, seperti The Age of Louis XIV dan Essay on the Customs and the Spirit of Nations,
Voltaire tidak hanya mencatat perang dan raja, tetapi juga seni, perdagangan,
ilmu pengetahuan, adat, dan perkembangan intelektual. Pendekatan ini memperluas
makna kemajuan dari sekadar kemenangan politik menjadi kemajuan peradaban.²⁰
Kemajuan, dalam
pandangan Voltaire, bukan takdir otomatis. Ia merupakan hasil usaha manusia
melalui pendidikan, toleransi, hukum yang adil, dan keterbukaan intelektual.²¹
8.7.
Pendidikan sebagai Mesin Kemajuan
Voltaire menaruh
perhatian besar pada pendidikan sebagai syarat utama kemajuan masyarakat. Tanpa
masyarakat yang melek huruf dan berpikir kritis, penemuan ilmiah tidak akan
berdampak luas.²²
Ia mengkritik
pendidikan yang hanya menghafal otoritas lama tanpa mendorong penalaran
mandiri. Menurutnya, sekolah seharusnya membentuk warga yang mampu menilai
bukti, berdiskusi, dan memahami dunia secara rasional.²³
Dalam hal ini,
pendidikan berfungsi ganda: menyebarkan pengetahuan ilmiah dan membangun
kebajikan sipil. Masyarakat terdidik lebih sulit diperdaya oleh fanatisme
maupun propaganda politik.²⁴
8.8.
Perdagangan, Kemakmuran, dan
Peradaban
Voltaire juga
menghubungkan kemajuan dengan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Ia melihat
kota-kota dagang modern sebagai ruang interaksi lintas agama dan bangsa, tempat
kerja sama praktis mengalahkan permusuhan sektarian.²⁵
Di pasar, menurut
Voltaire, orang belajar menghargai kepercayaan kontraktual, efisiensi, dan
manfaat timbal balik. Karena itu, perdagangan dapat menjadi kekuatan peradaban
yang mendorong toleransi dan stabilitas.²⁶
Pandangan ini
menunjukkan bahwa kemajuan baginya bersifat multidimensional: tidak hanya
ilmiah, tetapi juga ekonomi, sosial, dan moral.²⁷
8.9.
Sikap Realistis terhadap Batas
Kemajuan
Meskipun optimis
terhadap potensi manusia, Voltaire bukan utopis. Ia sadar bahwa kemajuan
berjalan tidak merata dan mudah digagalkan perang, fanatisme, tirani, atau
bencana alam. Gempa 1755 Lisbon earthquake, misalnya, mengguncang keyakinan
Eropa tentang dunia yang tertata sempurna.²⁸
Voltaire merespons
tragedi itu dengan menunjukkan bahwa penderitaan
nyata tidak dapat dihapus oleh teori optimisme metafisis. Kemajuan harus
dibangun dengan kesadaran akan kerentanan manusia, bukan ilusi bahwa sejarah
otomatis menuju kebaikan.²⁹
Dengan demikian,
pandangannya dapat disebut optimisme kritis: percaya pada kemungkinan
perbaikan, tetapi menolak naivitas.³⁰
8.10.
Relevansi Kontemporer
Warisan Voltaire
mengenai sains dan kemajuan tetap relevan pada abad ke-21. Dunia modern masih
menghadapi konflik antara pengetahuan berbasis bukti dan misinformasi, antara
penelitian ilmiah dan teori konspirasi, antara kebijakan rasional dan populisme
emosional.³¹
Pesan Voltaire bahwa
masyarakat memerlukan literasi ilmiah, kebebasan berpikir, dan pendidikan
kritis sangat penting dalam era teknologi digital. Di saat yang sama,
kewaspadaannya terhadap batas kemajuan mengingatkan bahwa teknologi tanpa etika
dapat menghasilkan bentuk dominasi baru.³²
Kesimpulan
Pemikiran Voltaire
tentang sains dan kemajuan berakar pada keyakinan bahwa akal manusia mampu
memahami alam dan memperbaiki masyarakat. Ia memuji metode ilmiah,
mempopulerkan Newtonianisme, mengkritik takhayul, dan memandang sejarah sebagai
arena kemungkinan kemajuan melalui pendidikan, toleransi, hukum, dan
perdagangan.
Namun, Voltaire juga
menyadari bahwa kemajuan bukan proses otomatis. Ia menuntut kerja rasional yang
terus-menerus, reformasi institusi, dan kesadaran moral. Karena itu, warisannya
bukan optimisme buta, melainkan kepercayaan kritis terhadap kapasitas manusia
untuk membangun dunia yang lebih baik.³³
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 48–55.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 189–198.
[3]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 175–182.
[4]
Steven Shapin, The Scientific Revolution (Chicago: University
of Chicago Press, 1996), 1–12.
[5]
Roy Porter, The Enlightenment (New York: Palgrave Macmillan,
2001), 37–44.
[6]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 201–207.
[7]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
49–58.
[8]
Voltaire, Elements of Newton’s Philosophy, trans. John Hanna
(London: Watts & Co., 1936), vii–xii.
[9]
Judith P. Zinsser, La Dame d’Esprit: A Biography of the Marquise Du
Châtelet (New York: Viking, 2006), 133–145.
[10]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 52–54.
[11]
Porter, The Enlightenment, 58–63.
[12]
Besterman, Voltaire, 188–194.
[13]
Voltaire, Elements of Newton’s Philosophy, 1–10.
[14]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 214–220.
[15]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 55–58.
[16]
Voltaire, Philosophical Dictionary, trans. Theodore Besterman
(London: Penguin Books, 1972), 272–276.
[17]
Besterman, Voltaire, 210–216.
[18]
Porter, The Enlightenment, 66–70.
[19]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 155–162.
[20]
Voltaire, The Age of Louis XIV, trans. Martyn P. Pollack
(London: Dent, 1968), x–xv.
[21]
Gay, The Science of Freedom, 168–174.
[22]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 94–98.
[23]
Besterman, Voltaire, 241–247.
[24]
Porter, The Enlightenment, 71–76.
[25]
Voltaire, Letters Concerning the English Nation, trans.
Nicholas Cronk (Oxford: Oxford University Press, 2009), 51–57.
[26]
Gay, The Science of Freedom, 180–186.
[27]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 90–94.
[28]
Voltaire, Poem on the Lisbon Disaster, trans. Joseph McCabe
(London: Watts & Co., 1912), 1–8.
[29]
Nicholas Cronk, Voltaire (London: Haus Publishing, 2009),
104–109.
[30]
Besterman, Voltaire, 260–266.
[31]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles for a Connected
World (New Haven: Yale University Press, 2016), 75–91.
[32]
Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century (New York:
Spiegel & Grau, 2018), 23–35.
[33]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
9.
Perbandingan dengan
Tokoh Pencerahan Lain
Voltaire merupakan
salah satu figur paling menonjol dalam Age of Enlightenment, tetapi ia bukan
satu-satunya tokoh yang membentuk arah pemikiran modern. Era Pencerahan terdiri
atas jaringan luas pemikir dengan orientasi, metode, dan agenda yang beragam.
Di dalamnya terdapat perbedaan penting mengenai hakikat manusia, sumber
legitimasi politik, peran agama, kemajuan peradaban, dan fungsi ilmu
pengetahuan.¹
Karena itu, memahami
Voltaire secara lebih tepat memerlukan pendekatan komparatif. Dengan
membandingkannya dengan tokoh-tokoh lain seperti Jean-Jacques Rousseau,
Montesquieu, Denis Diderot, John Locke, dan Immanuel Kant, dapat terlihat
posisi khas Voltaire dalam tradisi Pencerahan: liberal, anti-dogmatis,
pragmatis, kosmopolitan, dan sangat berorientasi pada opini publik.²
Perbandingan ini
juga menunjukkan bahwa Pencerahan bukan gerakan monolitik, melainkan arena
perdebatan internal yang justru menjadi sumber kekayaan intelektualnya.³
9.1.
Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau
Hubungan antara
Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau sering dipahami sebagai kontras paling tajam
dalam Pencerahan Prancis. Keduanya sama-sama mengkritik ketidakadilan sosial
dan otoritas tradisional, tetapi berangkat dari asumsi yang berbeda tentang
manusia dan peradaban.⁴
Voltaire cenderung
memandang kemajuan seni, sains, perdagangan, dan pendidikan sebagai sarana
memperhalus kehidupan manusia. Sebaliknya, Rousseau terkenal karena kritiknya
terhadap peradaban modern yang dianggap merusak keaslian moral manusia dan
menumbuhkan kesenjangan serta kepalsuan sosial. Dalam Discourse
on the Arts and Sciences, Rousseau justru mempertanyakan apakah
kemajuan budaya identik dengan kemajuan moral.⁵
Dalam politik, Voltaire
lebih menyukai reformasi melalui penguasa tercerahkan dan administrasi
rasional, sedangkan Rousseau menekankan kedaulatan rakyat dan kehendak umum (general
will). Voltaire skeptis terhadap massa; Rousseau justru menempatkan
rakyat sebagai sumber legitimasi utama.⁶
Dalam agama,
Voltaire menekankan toleransi dan deisme rasional, sedangkan Rousseau
mengembangkan gagasan agama sipil yang berfungsi mempersatukan komunitas
politik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun keduanya bagian dari
Pencerahan, mereka menawarkan dua jalur modernitas yang berbeda:
liberal-kosmopolitan dan demokratis-komunitarian.⁷
9.2.
Voltaire dan Montesquieu
Perbandingan dengan
Montesquieu memperlihatkan kedekatan tertentu antara Voltaire dan tradisi
liberal-konstitusional. Keduanya mengkritik absolutisme dan memandang kebebasan
sipil sebagai unsur penting masyarakat beradab. Keduanya juga mengagumi
beberapa aspek sistem politik Inggris.⁸
Namun, Montesquieu
lebih sistematis dan institusional. Dalam The Spirit of the Laws, ia
menganalisis bentuk pemerintahan, hubungan hukum dengan iklim dan adat, serta
pentingnya pemisahan kekuasaan. Voltaire, sebaliknya, lebih bersifat polemis
dan praktis. Ia lebih sering menyerang penyalahgunaan kekuasaan daripada
membangun teori struktur negara secara komprehensif.⁹
Jika Montesquieu
memberi arsitektur teoritis bagi konstitusionalisme, maka Voltaire memberi
energi moral dan retoris bagi perjuangan melawan tirani. Dengan kata lain,
Montesquieu lebih dekat kepada teori institusi, Voltaire lebih dekat kepada budaya
kebebasan.¹⁰
9.3.
Voltaire dan Denis Diderot
Denis Diderot dan
Voltaire sama-sama berperan besar dalam menyebarkan gagasan Pencerahan kepada
publik luas. Keduanya menggunakan tulisan populer, jaringan korespondensi, dan
kritik terhadap gereja serta sensor negara.¹¹
Namun, Diderot
cenderung lebih radikal secara filosofis. Ia semakin bergerak ke arah
materialisme dan skeptisisme religius yang lebih jauh daripada deisme moderat
Voltaire. Jika Voltaire masih mempertahankan keyakinan akan Tuhan sebagai
penjamin moralitas umum, Diderot lebih terbuka terhadap penjelasan dunia tanpa
fondasi teistik.¹²
Selain itu, proyek
utama Diderot adalah Encyclopédie, yakni sistematisasi seluruh pengetahuan
manusia. Voltaire mendukung semangat proyek tersebut, tetapi kontribusinya
lebih bersifat satir, polemis, dan intervensi kasus-kasus publik.¹³
Diderot mewakili
Pencerahan ensiklopedis dan radikal; Voltaire mewakili Pencerahan liberal dan
komunikatif.¹⁴
9.4.
Voltaire dan John Locke
Pengaruh John Locke
terhadap Voltaire sangat besar, terutama setelah pengasingannya di England.
Locke memberi dasar epistemologis empirisme: bahwa pengetahuan berasal dari
pengalaman, bukan ide bawaan. Voltaire menerima pendekatan ini dan
menggunakannya untuk menolak spekulasi metafisis yang tidak berdasar.¹⁵
Dalam politik,
keduanya sama-sama menentang kekuasaan absolut dan mendukung toleransi
beragama. Namun Locke lebih sistematis dalam merumuskan hak alamiah,
pemerintahan berdasarkan persetujuan, dan hak perlawanan terhadap tirani.
Voltaire tidak menyusun teori kontrak sosial yang rinci.¹⁶
Bila Locke
menyediakan fondasi teoritis liberalisme politik, Voltaire menyebarkannya dalam
bentuk budaya publik yang lebih luas melalui sastra dan polemik.¹⁷
9.5.
Voltaire dan Immanuel Kant
Perbandingan dengan
Immanuel Kant menunjukkan dua model Pencerahan yang berbeda. Kant terkenal
mendefinisikan Pencerahan sebagai keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang
disebabkan oleh ketergantungan pada otoritas. Dalam esainya What Is
Enlightenment?, Kant menekankan keberanian menggunakan akal
sendiri.¹⁸
Voltaire, meskipun
tidak merumuskan definisi formal demikian, mempraktikkan semangat yang serupa
melalui kritik terhadap gereja, sensor, dan fanatisme. Namun Kant lebih
sistematis secara filosofis dan membangun teori pengetahuan, etika, serta hukum
yang mendalam. Voltaire lebih berperan sebagai agitator intelektual dan
komunikator publik.¹⁹
Jika Kant adalah
filsuf akademik Pencerahan, maka Voltaire adalah jurnalis-filosofis Pencerahan.
Keduanya sama-sama penting, tetapi memainkan fungsi yang berbeda dalam sejarah
modernitas.²⁰
9.6.
Voltaire dan Adam Smith
Dengan Adam Smith,
Voltaire berbagi apresiasi terhadap perdagangan dan masyarakat komersial.
Keduanya melihat bahwa pertukaran ekonomi dapat memperhalus kebiasaan sosial,
mendorong kerja sama, dan mengurangi fanatisme.²¹
Namun Smith
mengembangkan analisis ekonomi sistematis mengenai pasar, pembagian kerja, dan
sentimen moral, sedangkan Voltaire menyinggung perdagangan terutama sebagai
indikator kemajuan peradaban dan toleransi praktis.²²
Dengan demikian,
Smith lebih teoritis dalam ekonomi politik, sementara Voltaire lebih normatif
dan kultural dalam menilai manfaat perdagangan.²³
9.7.
Persamaan Umum antar Tokoh
Pencerahan
Meskipun
berbeda-beda, para tokoh Pencerahan tersebut memiliki sejumlah benang merah
yang juga tampak pada Voltaire:
1)
Kritik terhadap otoritas
tradisional yang kebal evaluasi.
2)
Penghargaan terhadap akal dan
argumentasi rasional.
3)
Kepercayaan bahwa masyarakat dapat
diperbaiki.
4)
Penolakan terhadap fanatisme dan
intoleransi.
5)
Perhatian pada hukum, pendidikan,
dan kebebasan sipil.²⁴
Kesamaan ini
menunjukkan bahwa Pencerahan merupakan proyek bersama pembebasan intelektual,
meskipun strategi dan kesimpulannya beragam.
9.8.
Perbedaan Fundamental Posisi
Voltaire
Posisi khas Voltaire
dapat diringkas dalam beberapa ciri utama:
1)
Pragmatis – lebih
fokus pada reformasi konkret daripada sistem filsafat abstrak.
2)
Satiris –
menggunakan humor dan ironi sebagai metode kritik.
3)
Kosmopolitan –
melihat Eropa dan dunia secara lintas batas nasional.
4)
Moderat – menolak
tirani, tetapi tidak selalu mendukung demokrasi massa radikal.
5)
Publik-Oriented –
menulis untuk masyarakat luas, bukan hanya akademisi.²⁵
Karena karakter ini,
pengaruh Voltaire sering lebih luas secara sosial daripada beberapa pemikir
yang lebih sistematis namun kurang populer.²⁶
9.9.
Relevansi Historis dan Kontemporer
Perbandingan antar
tokoh Pencerahan membantu memahami bahwa modernitas dibangun melalui dialog
antara berbagai orientasi: kebebasan individu (Locke), kedaulatan rakyat
(Rousseau), pemisahan kekuasaan (Montesquieu), penyebaran pengetahuan
(Diderot), otonomi akal (Kant), ekonomi pasar (Smith), dan kritik anti-dogmatis
(Voltaire).²⁷
Dalam konteks
kontemporer, warisan Voltaire paling terasa dalam pembelaan kebebasan berekspresi,
kritik terhadap ekstremisme, dan peran intelektual publik dalam mengawasi
kekuasaan.²⁸
Kesimpulan
Voltaire menempati
posisi khas di antara para tokoh Pencerahan. Ia tidak se-sistematis Locke,
tidak se-demokratis Rousseau, tidak se-institusional Montesquieu, tidak
se-radikal Diderot, dan tidak se-metafisis Kant. Namun justru karena itu ia
menjadi jembatan antara filsafat dan masyarakat luas.
Melalui pena,
satire, dan intervensi publik, Voltaire membantu menerjemahkan ide-ide
Pencerahan menjadi kekuatan sosial nyata. Perbandingan ini menunjukkan bahwa
modernitas bukan hasil satu pemikir tunggal, melainkan percakapan besar di mana
Voltaire menjadi salah satu suara paling nyaring dan berpengaruh.²⁹
Footnotes
[1]
Dorinda Outram, The Enlightenment, 3rd ed. (Cambridge:
Cambridge University Press, 2013), 1–12.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume I: The Rise
of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company, 1966), 3–18.
[3]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011), 1–9.
[4]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 72–79.
[5]
Jean-Jacques Rousseau, Discourse on the Arts and Sciences,
trans. Victor Gourevitch (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 3–15.
[6]
Jean-Jacques Rousseau, The Social Contract, trans. Maurice
Cranston (London: Penguin Books, 1968), 49–61.
[7]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 529–537.
[8]
Montesquieu, The Spirit of the Laws, trans. Anne M. Cohler,
Basia C. Miller, and Harold S. Stone (Cambridge: Cambridge University Press,
1989), xi–xx.
[9]
Ibid., 157–166.
[10]
Gay, The Science of Freedom, 410–418.
[11]
Denis Diderot, Rameau’s Nephew and Other Works, trans. Jacques
Barzun and Ralph H. Bowen (Indianapolis: Hackett, 2001), vii–xii.
[12]
Jonathan Israel, Radical Enlightenment: Philosophy and the Making
of Modernity 1650–1750 (Oxford: Oxford University Press, 2001), 601–608.
[13]
Denis Diderot and Jean le Rond d’Alembert, Encyclopédie: Selections,
ed. Stephen J. Gendzier (New York: Harper Torchbooks, 1967), ix–xv.
[14]
Israel, Democratic Enlightenment, 96–104.
[15]
John Locke, An Essay Concerning Human Understanding, ed. Peter
H. Nidditch (Oxford: Clarendon Press, 1975), 104–112.
[16]
John Locke, Two Treatises of Government, ed. Peter Laslett
(Cambridge: Cambridge University Press, 1988), 265–276.
[17]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 48–55.
[18]
Immanuel Kant, What Is Enlightenment?, trans. Mary J. Gregor
(Indianapolis: Hackett, 1996), 17–22.
[19]
Gay, The Rise of Modern Paganism, 331–336.
[20]
Outram, The Enlightenment, 76–83.
[21]
Adam Smith, The Wealth of Nations (New York: Modern Library,
1937), 3–15.
[22]
Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments (Indianapolis:
Liberty Fund, 1982), 9–17.
[23]
Gay, The Science of Freedom, 201–208.
[24]
Outram, The Enlightenment, 45–59.
[25]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace & World,
1969), 260–266.
[26]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
[27]
Israel, Democratic Enlightenment, 300–315.
[28]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles for a Connected
World (New Haven: Yale University Press, 2016), 1–10.
[29]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
10.
Pengaruh Pemikiran
Voltaire
Pengaruh pemikiran
Voltaire melampaui batas ruang dan waktu zamannya. Ia bukan hanya penulis
produktif atau polemis terkenal abad ke-18, tetapi juga salah satu arsitek
budaya intelektual modern yang membantu mengubah hubungan antara individu,
negara, agama, dan pengetahuan. Melalui karya sastra, esai, pamflet, surat, dan
intervensi publik, Voltaire menanamkan gagasan mengenai toleransi, kebebasan
berpikir, kritik terhadap tirani, reformasi hukum, dan pentingnya rasionalitas
dalam kehidupan bersama.¹
Tidak seperti
sebagian filsuf yang berpengaruh terutama di ruang akademik, Voltaire memiliki
dampak luas karena tulisannya menjangkau publik umum. Ia berperan dalam
pembentukan opini publik modern—sebuah ruang di mana kekuasaan mulai dapat
dikritik oleh pena dan argumen, bukan semata oleh senjata. Karena itu, pengaruh
Voltaire harus dipahami bukan hanya sebagai warisan ide, tetapi juga sebagai
transformasi budaya politik.²
Jejak pemikirannya
tampak dalam French Revolution, perkembangan liberalisme Eropa, konsep hak
sipil, sekularisme negara modern, budaya kebebasan berekspresi, hingga peran
intelektual publik dalam masyarakat kontemporer.³
10.1.
Pengaruh terhadap Revolusi Prancis
Walaupun Voltaire
wafat pada 1778, sebelas tahun sebelum meletusnya French Revolution, banyak
gagasannya turut melemahkan legitimasi Ancien Régime di France. Kritiknya
terhadap privilese aristokrasi, intoleransi gereja, penyalahgunaan hukum, dan
absolutisme monarki menyediakan amunisi intelektual bagi generasi
revolusioner.⁴
Para pembaca
menjelang revolusi telah lama mengonsumsi karya-karya Voltaire, baik secara
resmi maupun melalui jalur bawah tanah. Tulisannya membantu menciptakan iklim
skeptis terhadap otoritas lama. Ketika krisis ekonomi dan politik melanda,
fondasi moral rezim lama sudah lebih dahulu digoyahkan oleh kritik
intelektual.⁵
Pemindahan jenazah
Voltaire ke Panthéon pada 1791 menjadi simbol kuat bahwa revolusi menganggapnya
sebagai pendahulu moral. Upacara tersebut menandakan pergeseran penghormatan
nasional: dari legitimasi dinasti menuju legitimasi intelektual dan sipil.⁶
Namun demikian,
Voltaire sendiri tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan kaum revolusioner
radikal. Ia lebih menyukai reformasi bertahap daripada kekacauan revolusioner.
Meski begitu, ide-idenya tetap membuka jalan bagi perubahan besar yang tidak
lagi dapat dibendung.⁷
10.2.
Pengaruh terhadap Liberalisme Modern
Salah satu warisan
terbesar Voltaire ialah kontribusinya terhadap tradisi liberalisme modern,
terutama dalam pembelaan kebebasan sipil. Ia menekankan pentingnya kebebasan
berpikir, kebebasan beragama, perlindungan individu dari penindasan negara, dan
pembatasan kekuasaan yang sewenang-wenang.⁸
Walaupun ia tidak
merumuskan teori hak secara sistematis seperti John Locke, Voltaire memberi
energi budaya bagi nilai-nilai liberal. Ia membuat gagasan kebebasan menjadi
menarik, populer, dan relevan bagi masyarakat luas. Dalam banyak kasus,
perubahan politik memerlukan bukan hanya teori, tetapi juga persuasi publik—dan
di sinilah kekuatan Voltaire.⁹
Tradisi liberal
Eropa abad ke-19 yang menekankan toleransi, negara hukum, pers bebas, dan
oposisi terhadap despotisme banyak berutang pada warisan Voltairian.¹⁰
10.3.
Pengaruh terhadap Sekularisme dan
Hubungan Agama-Negara
Voltaire sangat
berpengaruh dalam membentuk gagasan sekularisme modern, terutama melalui
kritiknya terhadap dominasi lembaga gereja dalam urusan sipil dan politik. Ia
tidak menyerukan ateisme negara, tetapi menolak monopoli kebenaran religius
atas hukum dan pemerintahan.¹¹
Baginya, negara
harus menjamin kebebasan hati nurani seluruh warga, bukan memihak satu sekte.
Prinsip ini kemudian menjadi dasar penting negara modern yang plural: hukum
berlaku atas dasar kewargaan, bukan afiliasi agama.¹²
Di France, semangat
semacam ini berkontribusi pada perkembangan laïcité pada abad ke-19 dan ke-20,
yakni model pemisahan relatif antara negara dan institusi keagamaan. Walaupun
konsep tersebut berkembang jauh setelah Voltaire, nada anti-klerikalisme dan
pembelaan netralitas negara memiliki akar dalam kritik Pencerahan yang ia
wakili.¹³
10.4.
Pengaruh terhadap Reformasi Hukum
dan Hak Sipil
Kampanye Voltaire
dalam kasus Jean Calas, Sirven, dan beberapa perkara lain menunjukkan bahwa
seorang penulis dapat memengaruhi keadilan publik. Ia menggunakan reputasinya
untuk menantang putusan pengadilan yang bias dan kejam.¹⁴
Tindakan ini
membantu memperkuat gagasan bahwa hukum harus berbasis bukti, tidak tunduk pada
prasangka agama, dan menghormati martabat manusia. Dalam jangka panjang,
semangat tersebut berkontribusi pada gerakan reformasi hukum pidana di Eropa,
termasuk penolakan terhadap penyiksaan dan hukuman yang tidak proporsional.¹⁵
Warisan ini sejalan
dengan perkembangan konsep hak sipil modern: warga negara memiliki perlindungan
hukum terhadap kesewenang-wenangan negara dan mayoritas sosial.¹⁶
10.5.
Pengaruh terhadap Kebebasan
Berekspresi dan Pers
Nama Voltaire hampir
identik dengan kebebasan berekspresi. Walaupun banyak kutipan populer yang
dikaitkan dengannya berasal dari penulis kemudian, semangat pembelaan terhadap
hak berbicara jelas merepresentasikan posisinya.¹⁷
Ia menunjukkan bahwa
masyarakat yang sehat memerlukan ruang bagi kritik terhadap penguasa, agama,
dan opini dominan. Tanpa kebebasan pers dan diskusi terbuka, kesalahan
cenderung bertahan tanpa koreksi.¹⁸
Tradisi pers bebas,
satir politik, esai polemis, dan budaya debat publik modern banyak dipengaruhi
oleh model yang dipraktikkan Voltaire: tulisan tajam, mudah diakses, dan berani
menantang otoritas.¹⁹
10.6.
Pengaruh terhadap Peran Intelektual
Publik
Sebelum era modern,
banyak sarjana bekerja di bawah patronase istana atau gereja. Voltaire membantu
membentuk figur baru: intelektual independen yang berbicara kepada masyarakat
luas dan mengkritik kekuasaan dari luar struktur resmi.²⁰
Ia menggunakan
jaringan surat internasional, reputasi sastra, dan opini publik untuk memberi
tekanan moral pada penguasa. Model ini kemudian terlihat pada tokoh-tokoh
seperti Émile Zola, Jean-Paul Sartre, dan banyak pembela hak asasi manusia
modern.²¹
Dalam arti ini,
pengaruh Voltaire bukan hanya isi gagasannya, tetapi bentuk baru tindakan
intelektual dalam ruang publik.²²
10.7.
Pengaruh terhadap Historiografi dan
Pandangan Sejarah
Voltaire juga
berpengaruh dalam bidang penulisan sejarah. Dalam karya seperti The Age of
Louis XIV, ia memperluas fokus sejarah dari sekadar perang dan raja menjadi
seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, adat, dan perkembangan budaya.²³
Pendekatan ini
membantu lahirnya historiografi modern yang lebih sosial dan kultural. Sejarah
tidak lagi hanya kisah elite politik, tetapi kisah peradaban manusia secara
lebih luas.²⁴
Dengan demikian,
pengaruh Voltaire menjangkau cara modern memahami masa lalu.²⁵
10.8.
Pengaruh terhadap Pendidikan dan
Budaya Rasionalitas
Voltaire
mempopulerkan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, skeptisisme sehat, dan
pendidikan rasional. Ia membantu memperkenalkan Newtonianisme di dunia
berbahasa Prancis dan mendorong penghormatan terhadap metode ilmiah.²⁶
Dalam jangka
panjang, budaya yang menghargai bukti, eksperimen, dan kritik intelektual
menjadi bagian penting masyarakat modern. Walaupun perkembangan sains tentu
melibatkan banyak tokoh lain, Voltaire berperan sebagai komunikator yang
menjembatani dunia ilmiah dan masyarakat umum.²⁷
10.9.
Pengaruh Global di Luar Prancis
Gagasan Voltaire menyebar
ke berbagai wilayah Eropa dan dunia Atlantik melalui terjemahan, korespondensi,
dan jaringan penerbitan. Di England, Germany, Russia, hingga United States,
namanya menjadi simbol Pencerahan Prancis.²⁸
Pemikirannya memberi
inspirasi bagi gerakan reformasi, anti-klerikalisme, liberalisme
konstitusional, dan kebudayaan sastra kritis. Bahkan ketika tidak diikuti
secara literal, Voltaire sering menjadi ikon keberanian intelektual terhadap
dogma.²⁹
10.10. Kritik
terhadap Pengaruh Voltaire
Walaupun besar, pengaruh
Voltaire juga menuai kritik. Sebagian pihak menilai anti-klerikalisme
Pencerahan kadang berubah menjadi prasangka baru terhadap agama. Yang lain
menilai Voltaire terlalu elitis dan tidak cukup demokratis karena lebih percaya
pada penguasa tercerahkan daripada partisipasi rakyat luas.³⁰
Selain itu,
kepercayaan kuat pada rasionalitas dan kemajuan kadang dianggap mengabaikan
dimensi emosional, tradisional, dan komunitarian kehidupan manusia. Karena itu,
warisannya perlu dibaca secara kritis, bukan dipuja tanpa evaluasi.³¹
10.11. Relevansi
Kontemporer
Dalam abad ke-21,
pengaruh Voltaire tetap terasa ketika masyarakat membela kebebasan berekspresi,
menuntut negara netral terhadap agama, melawan penyalahgunaan hukum, dan
mempertahankan ruang debat rasional.³²
Di tengah polarisasi
politik, ekstremisme, dan disinformasi digital, semangat Voltairian—skeptis
terhadap kekuasaan, terbuka pada kritik, dan berpihak pada toleransi—masih
menjadi sumber inspirasi penting.³³
Kesimpulan
Pengaruh pemikiran
Voltaire sangat luas: melemahkan legitimasi rezim lama, memperkuat liberalisme,
mendorong sekularisme, menginspirasi reformasi hukum, membela kebebasan pers,
membentuk peran intelektual publik, dan memengaruhi budaya rasionalitas modern.
Walaupun memiliki keterbatasan
historis, Voltaire tetap menjadi salah satu tokoh kunci yang membantu menggeser
dunia Barat dari tatanan berbasis otoritas menuju tatanan yang lebih terbuka
terhadap kritik, hukum, dan kebebasan manusia.³⁴
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 118–124.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 488–494.
[3]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011), 1–12.
[4]
Alexis de Tocqueville, The Old Regime and the French Revolution,
trans. Stuart Gilbert (New York: Doubleday, 1955), 145–165.
[5]
Robert Darnton, The Literary Underground of the Old Regime
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1982), 71–95.
[6]
Mona Ozouf, Pantheon: The School for Great Men, trans. Arthur
Goldhammer (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1997), 45–58.
[7]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 301–307.
[8]
John Gray, Voltaire (London: Routledge, 1999), 88–96.
[9]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 81–89.
[10]
Gay, The Science of Freedom, 470–476.
[11]
Besterman, Voltaire, 214–220.
[12]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 15–27.
[13]
Jean Baubérot, Histoire de la laïcité en France (Paris:
Presses Universitaires de France, 2010), 22–35.
[14]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
287–307.
[15]
Gay, The Science of Freedom, 451–458.
[16]
Israel, Democratic Enlightenment, 110–126.
[17]
Evelyn Beatrice Hall, The Friends of Voltaire (London: Smith,
Elder & Co., 1906), 199.
[18]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 84–90.
[19]
Darnton, The Literary Underground of the Old Regime, 96–104.
[20]
Besterman, Voltaire, 260–266.
[21]
Jean-Denis Bredin, The Affair: The Case of Alfred Dreyfus,
trans. Jeffrey Mehlman (New York: George Braziller, 1986), 155–162.
[22]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
[23]
Voltaire, The Age of Louis XIV, trans. Martyn P. Pollack
(London: Dent, 1968), x–xv.
[24]
Peter Burke, What Is Cultural History? (Cambridge: Polity
Press, 2004), 7–15.
[25]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 94–98.
[26]
Voltaire, Elements of Newton’s Philosophy, trans. John Hanna
(London: Watts & Co., 1936), 1–10.
[27]
Roy Porter, The Enlightenment (New York: Palgrave Macmillan,
2001), 58–70.
[28]
Outram, The Enlightenment, 76–89.
[29]
Israel, Democratic Enlightenment, 133–141.
[30]
John Gray, Voltaire, 97–106.
[31]
Isaiah Berlin, The Crooked Timber of Humanity (Princeton:
Princeton University Press, 1990), 1–19.
[32]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles for a Connected
World (New Haven: Yale University Press, 2016), 1–10.
[33]
Ash, Free Speech, 75–91.
[34]
Gay, The Science of Freedom, 529–537.
11.
Kritik terhadap Pemikiran
Voltaire
Voltaire sering
dipandang sebagai simbol toleransi, rasionalitas, kebebasan berpikir, dan
kritik terhadap tirani. Namun, sebagaimana tokoh besar lainnya, pemikirannya
tidak luput dari kritik. Warisan Voltaire bersifat kompleks: di satu sisi ia
memperjuangkan kebebasan sipil dan menentang fanatisme, tetapi di sisi lain ia
juga menunjukkan keterbatasan historis, kontradiksi internal, serta sikap-sikap
yang problematis menurut standar etika dan politik kontemporer.¹
Kajian kritis
terhadap Voltaire penting agar pemikirannya tidak diperlakukan sebagai doktrin
suci. Pendekatan akademik menuntut evaluasi terhadap kekuatan sekaligus
kelemahan seorang tokoh. Dalam konteks ini, kritik terhadap Voltaire datang
dari berbagai arah: demokratis, religius, pascakolonial, feminis, hingga
komunitarian.²
Dengan demikian,
bagian ini bertujuan menelaah berbagai keberatan terhadap Voltaire secara
proporsional, tanpa mengabaikan kontribusinya yang besar bagi sejarah modern.³
11.1.
Kritik atas Elitisme Intelektual
Salah satu kritik
paling sering diarahkan kepada Voltaire adalah kecenderungan elitis. Ia sangat
percaya pada akal, pendidikan, dan kepemimpinan kelas terdidik, tetapi sering
meragukan kapasitas politik massa. Dalam banyak kesempatan, Voltaire menunjukkan
skeptisisme terhadap rakyat banyak yang dianggap mudah dipengaruhi fanatisme,
rumor, dan emosi.⁴
Karena itu, ia lebih
tertarik pada model enlightened monarchy, yakni
pemerintahan oleh penguasa kuat namun rasional dan tercerahkan, daripada demokrasi
partisipatif. Sikap ini membuat sebagian penafsir menilai Voltaire mendukung
kebebasan, tetapi terutama kebebasan bagi mereka yang memiliki pendidikan dan
properti.⁵
Dari perspektif
demokrasi modern, posisi ini dianggap problematis karena meremehkan potensi
warga biasa untuk berpartisipasi secara setara dalam pemerintahan. Dibanding
Jean-Jacques Rousseau yang menekankan kedaulatan rakyat, Voltaire tampak lebih
aristokratik-liberal daripada demokratis.⁶
11.2.
Ambiguitas terhadap Kekuasaan
Politik
Voltaire dikenal
sebagai pengkritik tirani, tetapi ia juga menjalin hubungan dekat dengan
sejumlah penguasa absolut seperti Frederick the Great dan Catherine the Great.
Ia berharap para penguasa ini dapat menjalankan reformasi rasional dari atas.⁷
Namun, hubungan tersebut
memunculkan kritik bahwa Voltaire terlalu optimis terhadap benevolensi penguasa
dan kurang sensitif terhadap struktur dominasi yang melekat dalam monarki
absolut. Reformasi dari atas dapat bergantung pada kehendak pribadi raja, bukan
pada jaminan institusional hak warga.⁸
Dalam perspektif
politik modern, kebebasan lebih aman dijaga melalui konstitusi, pemisahan
kekuasaan, dan partisipasi warga daripada melalui kemurahan hati seorang raja
tercerahkan. Karena itu, model Voltairian sering dianggap rapuh dan
paternalistik.⁹
11.3.
Kritik atas Universalisme Rasional
yang Terbatas
Voltaire mengklaim
membela akal universal dan kemanusiaan umum. Namun sejumlah sarjana menunjukkan
bahwa universalisme Pencerahan sering beroperasi dari sudut pandang Eropa
tertentu. Nilai-nilai yang dipresentasikan sebagai universal kadang berangkat
dari pengalaman kelas terdidik Eropa abad ke-18.¹⁰
Voltaire memang
lebih kosmopolitan dibanding banyak sezamannya dan sering mengagumi peradaban
non-Eropa tertentu, seperti China. Namun, penilaiannya tetap sering menggunakan
kerangka hierarkis yang menempatkan Eropa sebagai ukuran kemajuan.¹¹
Dari sudut pandang
pascakolonial, universalisme semacam ini dikritik karena dapat menutupi relasi
kuasa global dan mengabaikan keragaman jalan modernitas di luar Eropa.¹²
11.4.
Kritik atas Sikap terhadap
Kolonialisme dan Perbudakan
Voltaire hidup pada
masa ekspansi kolonial Eropa dan ekonomi Atlantik yang terhubung dengan
perbudakan. Walaupun ia mengecam kekejaman tertentu dan dalam Candide
menampilkan penderitaan budak secara tajam, ia tidak selalu mengambil posisi
konsisten menentang seluruh struktur kolonial dan perbudakan.¹³
Beberapa penelitian
menyoroti keterlibatan tidak langsung kaum elite Eropa, termasuk para
intelektual, dalam sistem ekonomi yang terkait perdagangan kolonial. Dalam
konteks ini, Voltaire dinilai mewakili paradoks Pencerahan: berbicara tentang
kemanusiaan universal, tetapi hidup di dunia yang ditopang ketidaksetaraan
global.¹⁴
Kritik ini tidak
berarti Voltaire identik dengan kolonialisme, tetapi menunjukkan batas moral
Pencerahan ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi dan struktur
imperium.¹⁵
11.5.
Kritik atas Pandangan tentang Agama
Voltaire terkenal
membela toleransi beragama dan menyerang fanatisme. Akan tetapi, sebagian
kritikus menilai polemiknya terhadap lembaga gereja kadang berubah menjadi
reduksi berlebihan terhadap agama sebagai sumber irasionalitas.¹⁶
Dari perspektif
religius kontemporer, agama tidak hanya terdiri dari dogma dan kekuasaan,
tetapi juga tradisi moral, solidaritas sosial, simbol eksistensial, dan sumber
makna hidup. Kritik Voltaire dianggap terlalu menekankan penyimpangan agama
institusional sambil kurang menghargai dimensi spiritual dan komunitarian
agama.¹⁷
Selain itu, gaya
satirnya kadang memperuncing konflik dengan kalangan beriman, sehingga dialog
konstruktif menjadi lebih sulit. Meski efektif sebagai kritik, satire tidak
selalu efektif sebagai rekonsiliasi.¹⁸
11.6.
Kritik atas Reduksi Rasionalitas
Voltaire sangat
menekankan akal sebagai sarana kemajuan. Namun sejumlah pemikir setelahnya,
terutama dari tradisi Romantik dan komunitarian, menilai bahwa manusia tidak
dapat dipahami hanya sebagai makhluk rasional. Emosi, tradisi, identitas,
imajinasi, dan keterikatan komunitas juga berperan besar dalam kehidupan
sosial.¹⁹
Tokoh seperti Johann
Gottfried Herder dan kemudian Edmund Burke mengkritik kecenderungan Pencerahan
yang terlalu percaya pada rekayasa rasional masyarakat. Menurut mereka, tatanan
sosial tumbuh secara historis dan tidak dapat dibangun hanya melalui desain intelektual.²⁰
Dari sudut ini,
Voltaire dinilai kurang memberi tempat bagi kebijaksanaan tradisi dan
kompleksitas psikologi manusia.²¹
11.7.
Kritik Feminis
Sebagian kritik
feminis menyoroti bahwa Voltaire, seperti banyak tokoh Pencerahan laki-laki,
berbicara tentang universalitas manusia tetapi hidup dalam masyarakat yang
masih membatasi partisipasi perempuan. Ia memang berhubungan erat dengan Émilie
du Châtelet dan mengakui kecerdasannya, namun pemikirannya tidak berkembang
menjadi teori kesetaraan gender yang eksplisit.²²
Dari perspektif
sejarah feminisme, Pencerahan membuka bahasa universal hak, tetapi sering gagal
menerapkannya secara penuh kepada perempuan. Kritik ini juga berlaku bagi
Voltaire.²³
Dengan demikian,
kontribusinya penting tetapi tetap parsial dalam isu emansipasi gender.²⁴
11.8.
Kritik atas Gaya Polemis dan
Personal
Voltaire terkenal
tajam, cerdas, dan jenaka, tetapi juga bisa sangat sarkastik terhadap
lawan-lawannya. Ia kerap menyerang pribadi, merendahkan lawan intelektual, atau
menggunakan ejekan keras dalam polemik publik.²⁵
Bagi sebagian
pembaca, gaya ini efektif membongkar kemunafikan. Namun bagi yang lain, gaya
tersebut berisiko menggantikan argumentasi substantif dengan penghinaan
retoris. Dalam budaya politik modern, pola debat semacam ini dapat mendorong
polarisasi.²⁶
Karena itu, Voltaire
dipuji sebagai master satire sekaligus dikritik sebagai polemis yang kadang
melampaui batas dialog sehat.²⁷
11.9.
Kritik dari Perspektif Pascamodern
Pemikir pascamodern
abad ke-20 juga mengkritik narasi besar Pencerahan mengenai rasionalitas,
kemajuan, dan universalitas. Menurut mereka, klaim-klaim semacam itu kadang
menutupi relasi kuasa baru yang bekerja melalui ilmu, birokrasi, dan negara
modern.²⁸
Dalam konteks ini,
Voltaire sebagai ikon Pencerahan ikut menjadi sasaran kritik simbolik.
Kepercayaan bahwa lebih banyak ilmu otomatis menghasilkan masyarakat lebih baik
dipandang terlalu sederhana setelah pengalaman perang dunia, kolonialisme
modern, dan totalitarianisme teknokratis.²⁹
Walaupun demikian,
banyak sarjana juga menilai kritik pascamodern tidak meniadakan relevansi
Voltaire, melainkan mengajak pembacaan yang lebih reflektif.³⁰
11.10. Pembelaan
terhadap Voltaire
Meskipun berbagai
kritik di atas valid, penting pula melihat konteks sejarah Voltaire. Untuk
zamannya, pembelaannya terhadap toleransi, reformasi hukum, dan kebebasan
berpikir sangat progresif. Menilai tokoh abad ke-18 sepenuhnya dengan standar
abad ke-21 berisiko menghasilkan anakronisme.³¹
Selain itu, banyak
kontradiksi Voltaire juga mencerminkan kontradiksi modernitas itu sendiri:
antara kebebasan dan elitisme, universalitas dan bias budaya, reformasi dan
kekuasaan, kritik dan kesombongan intelektual. Karena itu, Voltaire lebih tepat
dipahami sebagai figur transisional daripada nabi tanpa cela.³²
11.11. Relevansi
Kritik Kontemporer
Mengkaji kritik
terhadap Voltaire membantu masyarakat modern menghindari dua ekstrem: pemujaan
buta terhadap Pencerahan dan penolakan total terhadapnya. Dari Voltaire, kita
dapat mengambil nilai toleransi, kebebasan, dan skeptisisme terhadap fanatisme.
Dari kritik atas Voltaire, kita belajar pentingnya demokrasi inklusif,
kesetaraan gender, sensitivitas budaya, dan kewaspadaan terhadap elitisme
rasional.³³
Dengan demikian,
dialog dengan Voltaire tetap produktif justru karena pemikirannya dapat
dipertanyakan.³⁴
Kesimpulan
Kritik terhadap
pemikiran Voltaire menyoroti sisi-sisi problematis warisannya: elitisme
intelektual, ambiguitas terhadap monarki tercerahkan, keterbatasan
universalisme Eropa, sikap yang tidak selalu konsisten terhadap kolonialisme,
minimnya perhatian pada kesetaraan gender, dan gaya polemis yang keras.
Namun, kritik
tersebut tidak menghapus kontribusinya sebagai pembela kebebasan dan penentang
fanatisme. Sebaliknya, kritik itu memperkaya pemahaman bahwa tokoh besar sejarah
selalu kompleks. Voltaire tetap penting bukan karena tanpa cacat, melainkan
karena pergulatannya masih mencerminkan dilema dunia modern hingga kini.³⁵
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 118–124.
[2]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
300–315.
[3]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 529–537.
[4]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 260–266.
[5]
John Gray, Voltaire (London: Routledge, 1999), 88–96.
[6]
Jean-Jacques Rousseau, The Social Contract, trans. Maurice
Cranston (London: Penguin Books, 1968), 49–61.
[7]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
210–228.
[8]
Gray, Voltaire, 97–106.
[9]
Montesquieu, The Spirit of the Laws, trans. Anne M. Cohler,
Basia C. Miller, and Harold S. Stone (Cambridge: Cambridge University Press,
1989), 157–166.
[10]
Dorinda Outram, The Enlightenment, 3rd ed. (Cambridge:
Cambridge University Press, 2013), 76–89.
[11]
Voltaire, Essay on the Customs and the Spirit of Nations,
trans. anonymous (London: early edition), bk. 1–2.
[12]
Edward Said, Orientalism (New York: Pantheon Books, 1978),
1–28.
[13]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe (London: Penguin
Classics, 2005), 70–74.
[14]
Sankar Muthu, Enlightenment against Empire (Princeton:
Princeton University Press, 2003), 1–15.
[15]
Outram, The Enlightenment, 92–99.
[16]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 1–27.
[17]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 1–22.
[18]
Gray, Voltaire, 71–79.
[19]
Isaiah Berlin, The Crooked Timber of Humanity (Princeton:
Princeton University Press, 1990), 1–19.
[20]
Edmund Burke, Reflections on the Revolution in France (Oxford:
Oxford University Press, 1999), 87–101.
[21]
Berlin, The Crooked Timber of Humanity, 23–35.
[22]
Judith P. Zinsser, La Dame d’Esprit: A Biography of the Marquise Du
Châtelet (New York: Viking, 2006), 133–145.
[23]
Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman
(London: Joseph Johnson, 1792), 1–18.
[24]
Outram, The Enlightenment, 101–109.
[25]
Davidson, Voltaire: A Life, 301–320.
[26]
Gray, Voltaire, 107–113.
[27]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 90–98.
[28]
Michel Foucault, Power/Knowledge (New York: Pantheon Books,
1980), 78–108.
[29]
Jean-François Lyotard, The Postmodern Condition (Minneapolis:
University of Minnesota Press, 1984), xxiii–xxv.
[30]
Jürgen Habermas, The Philosophical Discourse of Modernity
(Cambridge, MA: MIT Press, 1987), 83–105.
[31]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
[32]
Israel, Democratic Enlightenment, 330–342.
[33]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles for a Connected
World (New Haven: Yale University Press, 2016), 75–91.
[34]
Outram, The Enlightenment, 110–118.
[35]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
12.
Relevansi
Kontemporer
Meskipun Voltaire
hidup pada abad ke-18, banyak gagasan pokoknya tetap relevan dalam menghadapi
problem-problem abad ke-21. Dunia kontemporer masih bergulat dengan persoalan
intoleransi, penyalahgunaan kekuasaan, sensor, polarisasi politik, disinformasi
digital, serta ketegangan antara agama, negara, dan kebebasan individu. Dalam konteks
demikian, warisan intelektual Voltaire menyediakan sumber refleksi penting,
terutama mengenai toleransi, rasionalitas publik, kebebasan berekspresi, dan
kritik terhadap fanatisme.¹
Relevansi Voltaire
tidak berarti seluruh pandangannya harus diterima tanpa koreksi. Sebaliknya,
yang penting adalah bagaimana prinsip-prinsip dasarnya dapat ditafsirkan ulang
sesuai kondisi mutakhir. Tokoh sejarah tetap hidup bukan karena kata-katanya
dihafal, tetapi karena ide-idenya mampu berdialog dengan tantangan baru.²
Dengan demikian,
membaca Voltaire hari ini berarti membaca ulang hubungan antara kebebasan dan
tanggung jawab, antara pluralisme dan kohesi sosial, serta antara kemajuan
teknologi dan kematangan moral manusia.³
12.1.
Toleransi di Tengah Polarisasi
Sosial dan Politik
Salah satu warisan
utama Voltaire adalah pembelaan terhadap toleransi. Pada abad ke-21, banyak
masyarakat menghadapi polarisasi tajam berbasis ideologi, agama, identitas
etnis, dan afiliasi politik. Media sosial sering memperkuat segregasi opini
melalui ruang gema (echo chambers), sehingga lawan
politik dipandang bukan sebagai sesama warga, melainkan musuh eksistensial.⁴
Dalam situasi ini,
semangat Voltairian mengingatkan bahwa masyarakat plural tidak dapat bertahan
bila setiap kelompok menuntut monopoli kebenaran publik. Toleransi bukan
berarti menyetujui semua pandangan, melainkan kesediaan hidup berdampingan
dengan perbedaan dan menyelesaikan konflik melalui hukum serta dialog, bukan
kekerasan.⁵
Pendekatan ini
sangat penting bagi negara-negara demokratis multikultural, termasuk masyarakat
dengan keragaman agama dan etnis yang tinggi. Stabilitas jangka panjang lebih
mungkin dicapai melalui penghormatan terhadap perbedaan daripada dominasi satu
kelompok atas kelompok lain.⁶
12.2.
Kebebasan Berekspresi di Era Digital
Voltaire identik
dengan pembelaan terhadap kebebasan berbicara. Dalam dunia digital, isu
tersebut justru menjadi semakin kompleks. Kini ekspresi tidak lagi dimonopoli
penerbit atau negara; setiap individu dapat memproduksi dan menyebarkan opini
secara instan kepada audiens global.⁷
Di satu sisi,
perkembangan ini memperluas demokratisasi komunikasi. Di sisi lain, ia
memunculkan persoalan baru: ujaran kebencian, perundungan daring, propaganda,
manipulasi algoritmik, dan penyebaran hoaks. Karena itu, pertanyaan kontemporer
bukan sekadar “apakah kebebasan berekspresi penting?”, melainkan “bagaimana
melindungi kebebasan sambil menjaga ruang publik tetap sehat?”.⁸
Warisan Voltaire
relevan dalam dua hal. Pertama, ia mengingatkan bahaya sensor berlebihan oleh
negara atau korporasi digital. Kedua, ia menekankan pentingnya penggunaan akal
dalam debat publik. Kebebasan berbicara harus disertai budaya argumentasi,
verifikasi fakta, dan tanggung jawab sipil.⁹
12.3.
Rasionalitas Melawan Disinformasi
Voltaire menaruh
kepercayaan besar pada akal sebagai alat melawan takhayul dan kebodohan.
Tantangan masa kini bukan lagi sekadar mitos tradisional, tetapi disinformasi
digital: teori konspirasi, pseudoscience, propaganda politik, dan manipulasi
emosi melalui media massa.¹⁰
Pandemi global,
krisis iklim, dan konflik geopolitik menunjukkan bahwa kebijakan publik
memerlukan kepercayaan pada bukti ilmiah. Ketika masyarakat kehilangan
kemampuan membedakan fakta dari opini, demokrasi menjadi rentan.¹¹
Semangat Voltairian
mendorong literasi kritis: memeriksa sumber, mempertanyakan klaim luar biasa,
dan menilai argumen berdasarkan bukti. Dalam dunia yang dibanjiri informasi,
skeptisisme rasional menjadi keterampilan kewargaan yang esensial.¹²
12.4.
Kritik terhadap Penyalahgunaan
Kekuasaan
Voltaire dikenal
sebagai pengkritik tirani, kesewenang-wenangan hukum, dan kolusi antara lembaga
politik dan religius. Pada abad ke-21, bentuk kekuasaan memang berubah, tetapi
problem penyalahgunaan tetap ada: otoritarianisme elektoral, korupsi sistemik,
kriminalisasi oposisi, pengawasan digital, dan impunitas elite.¹³
Di banyak negara,
hukum masih dapat diperalat untuk membungkam lawan politik atau minoritas.
Dalam konteks ini, perjuangan Voltaire dalam kasus Jean Calas tetap relevan
sebagai contoh bagaimana opini publik dapat menantang ketidakadilan
institusional.¹⁴
Warisan tersebut
mengajarkan bahwa kebebasan memerlukan kewaspadaan terus-menerus. Negara yang
kuat tanpa akuntabilitas mudah berubah menjadi penindas, bahkan ketika
menggunakan bahasa keamanan atau stabilitas.¹⁵
12.5.
Sekularisme dan Netralitas Negara
Masyarakat modern
sering menghadapi ketegangan antara kebebasan beragama, identitas mayoritas,
dan netralitas negara. Voltaire, melalui kritiknya terhadap dominasi gereja,
menegaskan pentingnya pemisahan relatif antara otoritas keagamaan dan kekuasaan
sipil.¹⁶
Dalam konteks
kontemporer, prinsip ini dapat dipahami sebagai negara yang melindungi seluruh
keyakinan tanpa menjadikan satu agama sebagai alat eksklusif legitimasi
politik. Negara netral bukan negara antiagama, melainkan negara yang menjamin
kesetaraan warga terlepas dari keyakinannya.¹⁷
Prinsip semacam ini
sangat penting di masyarakat plural, di mana campur tangan agama dalam hukum
publik dapat memicu diskriminasi atau konflik sektarian.¹⁸
12.6.
Pendidikan Kritis dan Literasi
Publik
Voltaire percaya
bahwa masyarakat yang tercerahkan memerlukan pendidikan. Pada abad ke-21,
pendidikan tidak cukup hanya transfer informasi; yang dibutuhkan ialah
kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kompetensi etis.¹⁹
Sekolah dan
universitas berperan penting membentuk warga yang mampu berdialog, mengevaluasi
bukti, serta menolak manipulasi populis. Dalam hal ini, semangat Pencerahan
tetap aktual: pendidikan sebagai pembebasan dari ketergantungan intelektual.²⁰
Tanpa pendidikan
kritis, teknologi komunikasi justru dapat memperbesar kebodohan kolektif
alih-alih memperluas pengetahuan.²¹
12.7.
Sains, Teknologi, dan Batas Kemajuan
Voltaire memuji
sains sebagai sarana kemajuan, tetapi juga sadar bahwa manusia rentan terhadap
penderitaan dan bencana. Pada era kecerdasan buatan, bioteknologi, dan otomasi,
pertanyaan tentang kemajuan kembali mendesak: apakah semua yang dapat dilakukan
secara teknis layak dilakukan secara moral?²²
Warisan Voltaire
mendorong penghormatan terhadap sains berbasis bukti. Namun kritik kontemporer
menambahkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi etika, regulasi, dan
keadilan sosial. Inovasi tanpa tanggung jawab dapat menghasilkan pengangguran
massal, pengawasan total, atau ketimpangan ekstrem.²³
Dengan demikian,
relevansi Voltaire hari ini bukan optimisme buta terhadap teknologi, tetapi
keyakinan bahwa pengetahuan harus dipadukan dengan moralitas publik.²⁴
12.8.
Peran Intelektual Publik dan
Masyarakat Sipil
Voltaire adalah
model awal intelektual publik: penulis yang menggunakan reputasinya untuk
membela korban ketidakadilan dan mengkritik kekuasaan. Dalam dunia modern,
fungsi ini tetap penting. Akademisi, jurnalis, seniman, dan aktivis berperan
menjaga kualitas demokrasi dengan menyediakan kritik independen.²⁵
Ketika ruang publik
dikuasai propaganda atau kepentingan oligarkis, kehadiran suara intelektual
yang berani dan berbasis argumen menjadi sangat bernilai. Warisan Voltaire
mengingatkan bahwa pena dan opini publik dapat menjadi penyeimbang kekuasaan
formal.²⁶
12.9.
Keterbatasan Relevansi Voltaire
Meski banyak
gagasannya berguna, Voltaire bukan jawaban untuk seluruh persoalan kontemporer.
Ia hidup sebelum demokrasi massa, feminisme modern, hak digital, dan kesadaran
pascakolonial. Karena itu, beberapa pandangannya tentang rakyat, perempuan,
atau dunia non-Eropa perlu dikritisi.²⁷
Relevansi sejati
Voltaire bukan pada detail historis pandangannya, melainkan pada metode
berpikirnya: keberanian mengkritik otoritas, pembelaan terhadap kebebasan, dan
penggunaan akal untuk memperbaiki masyarakat.²⁸
12.10. Konteks
Indonesia dan Masyarakat Plural
Dalam masyarakat
plural seperti Indonesia, gagasan Voltaire memiliki resonansi khusus. Persatuan
nasional memerlukan keseimbangan antara identitas kolektif dan kebebasan
individu. Tantangan seperti intoleransi, penyebaran hoaks, politik identitas,
serta korupsi menunjukkan pentingnya budaya dialog dan akuntabilitas.²⁹
Nilai toleransi,
penghormatan terhadap hukum, dan pendidikan kritis dapat dipadukan dengan
tradisi lokal musyawarah serta etika gotong royong. Dengan demikian, relevansi
Voltaire tidak harus bersifat imitasi Barat, melainkan reinterpretasi
kontekstual sesuai kebutuhan masyarakat setempat.³⁰
Kesimpulan
Relevansi
kontemporer Voltaire terletak pada kemampuannya membantu membaca problem
modern: polarisasi, sensor digital, disinformasi, penyalahgunaan kekuasaan,
konflik agama-negara, dan krisis rasionalitas publik. Ia menawarkan
prinsip-prinsip penting berupa toleransi, kebebasan berekspresi, skeptisisme terhadap
fanatisme, dan penghormatan pada akal.
Namun, warisan itu
harus dipadukan dengan nilai-nilai kontemporer seperti demokrasi inklusif,
kesetaraan gender, keadilan global, dan etika teknologi. Dengan cara itulah
Voltaire tetap hidup sebagai mitra dialog intelektual, bukan sekadar figur
sejarah.³¹
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction (Oxford:
Oxford University Press, 2017), 118–124.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation, Volume II: The
Science of Freedom (New York: W.W. Norton & Company, 1969), 529–537.
[3]
Dorinda Outram, The Enlightenment, 3rd ed. (Cambridge:
Cambridge University Press, 2013), 110–118.
[4]
Cass R. Sunstein, #Republic: Divided Democracy in the Age of Social
Media (Princeton: Princeton University Press, 2017), 1–18.
[5]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans. Brian Masters
(Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 15–27.
[6]
Charles Taylor, Multiculturalism and the Politics of Recognition
(Princeton: Princeton University Press, 1992), 25–43.
[7]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles for a Connected
World (New Haven: Yale University Press, 2016), 1–10.
[8]
Ibid., 75–91.
[9]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 84–90.
[10]
Lee McIntyre, Post-Truth (Cambridge, MA: MIT Press, 2018),
1–15.
[11]
Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century (New York:
Spiegel & Grau, 2018), 23–35.
[12]
McIntyre, Post-Truth, 56–72.
[13]
Steven Levitsky and Daniel Ziblatt, How Democracies Die (New
York: Crown, 2018), 1–18.
[14]
Ian Davidson, Voltaire: A Life (London: Profile Books, 2010),
287–307.
[15]
Levitsky and Ziblatt, How Democracies Die, 198–211.
[16]
Theodore Besterman, Voltaire (New York: Harcourt, Brace &
World, 1969), 214–220.
[17]
John Rawls, Political Liberalism (New York: Columbia
University Press, 1993), 212–254.
[18]
Charles Taylor, A Secular Age (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 2007), 1–22.
[19]
Martha C. Nussbaum, Not for Profit: Why Democracy Needs the
Humanities (Princeton: Princeton University Press, 2010), 1–16.
[20]
Immanuel Kant, What Is Enlightenment?, trans. Mary J. Gregor
(Indianapolis: Hackett, 1996), 17–22.
[21]
Nussbaum, Not for Profit, 47–63.
[22]
Harari, 21 Lessons for the 21st Century, 37–52.
[23]
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York:
PublicAffairs, 2019), 8–26.
[24]
Outram, The Enlightenment, 118–124.
[25]
Jürgen Habermas, The Structural Transformation of the Public Sphere
(Cambridge, MA: MIT Press, 1989), 1–26.
[26]
Gay, The Science of Freedom, 488–494.
[27]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment: Philosophy, Revolution,
and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford University Press, 2011),
330–342.
[28]
Cronk, Voltaire: A Very Short Introduction, 118–124.
[29]
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Pancasila dan Tantangan
Kebinekaan (Jakarta: BPIP, 2021), 1–15.
[30]
John Rawls, The Law of Peoples (Cambridge, MA: Harvard
University Press, 1999), 11–22.
[31]
Ash, Free Speech, 201–214.
13.
Kesimpulan
Kajian terhadap pemikiran Voltaire menunjukkan
bahwa ia merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Age of
Enlightenment yang membantu membentuk fondasi intelektual modernitas. Melalui
karya sastra, polemik filsafat, tulisan sejarah, dan intervensi publik,
Voltaire menghadirkan suatu model pemikir yang tidak terkungkung ruang
akademik, melainkan aktif terlibat dalam persoalan sosial-politik zamannya. Ia menjadi
representasi intelektual publik yang menggunakan pena sebagai alat kritik
terhadap tirani, fanatisme, dan ketidakadilan.¹
Dari sisi landasan filsafat, pemikiran Voltaire
ditopang oleh perpaduan antara rasionalisme praktis, empirisme moderat,
skeptisisme terhadap klaim absolut, dan humanisme yang berorientasi pada
penderitaan manusia nyata. Ia tidak membangun sistem metafisika besar
sebagaimana beberapa filsuf lain, tetapi justru mengembangkan filsafat yang
aplikatif: bagaimana akal dapat dipakai untuk memperbaiki kehidupan bersama.
Dalam hal ini, Voltaire menunjukkan bahwa filsafat tidak harus bersifat
abstrak, melainkan dapat menjadi instrumen emansipasi sosial.²
Dalam bidang agama, Voltaire memberikan kontribusi
besar melalui kritik terhadap fanatisme, takhayul, dan dominasi lembaga gereja
atas ruang publik. Namun, kritik tersebut tidak identik dengan penolakan total
terhadap religiositas. Ia cenderung mempertahankan Deism, yaitu keyakinan pada
Tuhan rasional yang tidak terikat monopoli institusi keagamaan tertentu. Dari
posisi ini, ia menekankan toleransi beragama dan kebebasan hati nurani sebagai
syarat masyarakat beradab.³
Dalam ranah politik, Voltaire menentang
absolutisme, privilese feodal, penyiksaan, dan ketidakadilan hukum. Ia
mendukung pemerintahan yang rasional, supremasi hukum, kebebasan sipil, dan
perlindungan individu dari kekuasaan sewenang-wenang. Meskipun ia lebih condong
pada model monarki tercerahkan daripada demokrasi partisipatif, gagasannya
turut memberi sumbangan penting bagi berkembangnya liberalisme modern, negara
hukum, dan budaya oposisi terhadap kekuasaan.⁴
Salah satu keunikan terbesar Voltaire terletak pada
metode kritiknya melalui sastra dan satire. Melalui karya seperti Candide, ia
menyerang optimisme palsu, perang, kolonialisme, dan kemunafikan sosial dengan
cara yang mudah dipahami publik luas. Pendekatan ini menunjukkan bahwa karya
sastra dapat berfungsi sebagai filsafat publik, yakni medium untuk menyebarkan
kesadaran kritis di luar ruang akademik.⁵
Di bidang sains dan kemajuan, Voltaire berperan
penting dalam mempopulerkan Newtonianisme dan semangat ilmiah di Eropa
kontinental. Ia melihat ilmu pengetahuan sebagai jalan membebaskan manusia dari
takhayul dan ketidaktahuan. Namun, ia juga cukup realistis untuk menyadari bahwa
kemajuan tidak berlangsung otomatis; ia memerlukan pendidikan, reformasi
institusi, dan moralitas publik. Karena itu, optimisme Voltaire bersifat
kritis, bukan utopis.⁶
Meskipun demikian, kajian ini juga menunjukkan
bahwa pemikiran Voltaire memiliki keterbatasan historis. Ia kadang menunjukkan
elitisme intelektual, skeptisisme terhadap demokrasi massa, dan belum
sepenuhnya lepas dari bias Eropa abad ke-18. Dalam beberapa isu seperti
kolonialisme, kesetaraan gender, dan partisipasi politik universal, warisannya
tampak parsial bila diukur dengan standar kontemporer. Kritik-kritik tersebut
penting agar Voltaire tidak diperlakukan secara hagiografis.⁷
Namun, keterbatasan itu tidak meniadakan
relevansinya. Dalam dunia modern yang masih menghadapi polarisasi, ekstremisme,
disinformasi, penyalahgunaan hukum, dan ancaman terhadap kebebasan berbicara,
prinsip-prinsip dasar Voltaire tetap bernilai: toleransi, skeptisisme terhadap
fanatisme, keberanian mengkritik kekuasaan, dan penghargaan terhadap nalar
publik. Warisannya justru paling hidup ketika digunakan secara kritis, bukan
diterima secara dogmatis.⁸
Secara keseluruhan, Voltaire dapat dipahami sebagai
figur transisional yang membantu menggeser masyarakat Barat dari tatanan
berbasis otoritas tradisional menuju tatanan yang lebih terbuka terhadap
kritik, hukum, dan kebebasan individu. Ia bukan nabi modernitas tanpa cela,
melainkan pemikir kompleks yang pergulatannya masih mencerminkan dilema-dilema
dunia kontemporer. Justru karena kompleksitas itulah Voltaire tetap layak
dikaji sebagai salah satu suara paling penting dalam sejarah pemikiran
manusia.⁹
Footnotes
[1]
Nicholas Cronk, Voltaire: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2017), 118–124.
[2]
Peter Gay, The Enlightenment: An Interpretation,
Volume I: The Rise of Modern Paganism (New York: W.W. Norton & Company,
1966), 301–318.
[3]
Voltaire, Treatise on Tolerance, trans.
Brian Masters (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 15–27.
[4]
Jonathan Israel, Democratic Enlightenment:
Philosophy, Revolution, and Human Rights 1750–1790 (Oxford: Oxford
University Press, 2011), 96–126.
[5]
Voltaire, Candide, trans. Theo Cuffe
(London: Penguin Classics, 2005), vii–xv.
[6]
Roy Porter, The Enlightenment (New York:
Palgrave Macmillan, 2001), 58–76.
[7]
John Gray, Voltaire (London: Routledge,
1999), 97–113.
[8]
Timothy Garton Ash, Free Speech: Ten Principles
for a Connected World (New Haven: Yale University Press, 2016), 1–10.
[9]
Dorinda Outram, The Enlightenment, 3rd ed.
(Cambridge: Cambridge University Press, 2013), 110–124.
Daftar Pustaka
Ash, T. G. (2016). Free
speech: Ten principles for a connected world. Yale University Press.
Baubérot, J. (2010). Histoire
de la laïcité en France. Presses Universitaires de France.
Berlin, I. (1990). The
crooked timber of humanity. Princeton University Press.
Besterman, T. (1969). Voltaire.
Harcourt, Brace & World.
Bredin, J.-D. (1986). The
affair: The case of Alfred Dreyfus (J. Mehlman, Trans.). George Braziller.
Burke, E. (1999). Reflections
on the revolution in France. Oxford University Press. (Original work
published 1790)
Burke, P. (2004). What
is cultural history? Polity Press.
Cronk, N. (2009). Voltaire.
Haus Publishing.
Cronk, N. (2017). Voltaire:
A very short introduction. Oxford University Press.
Darnton, R. (1982). The
literary underground of the Old Regime. Harvard University Press.
Davidson, I. (2010). Voltaire:
A life. Profile Books.
Diderot, D. (2001). Rameau’s
nephew and other works (J. Barzun & R. H. Bowen, Trans.). Hackett
Publishing.
Diderot, D., &
d’Alembert, J. le R. (1967). Encyclopédie: Selections (S. J. Gendzier,
Ed.). Harper Torchbooks.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge.
Pantheon Books.
Gay, P. (1966). The
Enlightenment: An interpretation, volume I: The rise of modern paganism.
W.W. Norton & Company.
Gay, P. (1969). The
Enlightenment: An interpretation, volume II: The science of freedom. W.W.
Norton & Company.
Gray, J. (1999). Voltaire.
Routledge.
Griffin, D. (1994). Satire:
A critical reintroduction. University Press of Kentucky.
Habermas, J. (1987). The
philosophical discourse of modernity. MIT Press.
Habermas, J. (1989). The
structural transformation of the public sphere. MIT Press.
Hall, E. B. (1906). The
friends of Voltaire. Smith, Elder & Co.
Harari, Y. N. (2018). 21
lessons for the 21st century. Spiegel & Grau.
Hislop, I. (2007). A
stab in the dark: The history of satire. Orion.
Israel, J. (2001). Radical
Enlightenment: Philosophy and the making of modernity 1650–1750. Oxford
University Press.
Israel, J. (2011). Democratic
Enlightenment: Philosophy, revolution, and human rights 1750–1790. Oxford
University Press.
Kant, I. (1996). What
is Enlightenment? (M. J. Gregor, Trans.). Hackett Publishing. (Original
work published 1784)
Levitsky, S., &
Ziblatt, D. (2018). How democracies die. Crown.
Locke, J. (1975). An
essay concerning human understanding (P. H. Nidditch, Ed.). Clarendon
Press. (Original work published 1690)
Locke, J. (1988). Two
treatises of government (P. Laslett, Ed.). Cambridge University Press.
(Original work published 1689)
Lyotard, J.-F. (1984). The
postmodern condition. University of Minnesota Press.
McIntyre, L. (2018). Post-truth.
MIT Press.
Montesquieu. (1989). The
spirit of the laws (A. M. Cohler, B. C. Miller, & H. S. Stone,
Trans.). Cambridge University Press. (Original work published 1748)
Muthu, S. (2003). Enlightenment
against empire. Princeton University Press.
Nussbaum, M. C. (2010). Not
for profit: Why democracy needs the humanities. Princeton University
Press.
Outram, D. (2013). The
Enlightenment (3rd ed.). Cambridge University Press.
Ozouf, M. (1997). Pantheon:
The school for great men (A. Goldhammer, Trans.). Harvard University
Press.
Porter, R. (2000). Enlightenment:
Britain and the creation of the modern world. Penguin Books.
Porter, R. (2001). The
Enlightenment. Palgrave Macmillan.
Rawls, J. (1993). Political
liberalism. Columbia University Press.
Rawls, J. (1999). The
law of peoples. Harvard University Press.
Rousseau, J.-J. (1968). The
social contract (M. Cranston, Trans.). Penguin Books. (Original work
published 1762)
Rousseau, J.-J. (1997). Discourse
on the arts and sciences (V. Gourevitch, Trans.). Cambridge University
Press. (Original work published 1750)
Said, E. W. (1978). Orientalism.
Pantheon Books.
Shapin, S. (1996). The
scientific revolution. University of Chicago Press.
Smith, A. (1937). The
wealth of nations. Modern Library. (Original work published 1776)
Smith, A. (1982). The
theory of moral sentiments. Liberty Fund. (Original work published 1759)
Sunstein, C. R. (2017). #Republic:
Divided democracy in the age of social media. Princeton University Press.
Taylor, C. (1992). Multiculturalism
and the politics of recognition. Princeton University Press.
Taylor, C. (2007). A
secular age. Harvard University Press.
Tocqueville, A. de. (1955).
The Old Regime and the French Revolution (S. Gilbert, Trans.).
Doubleday.
Voltaire. (1912). Poem
on the Lisbon disaster (J. McCabe, Trans.). Watts & Co.
Voltaire. (1936). Elements
of Newton’s philosophy (J. Hanna, Trans.). Watts & Co.
Voltaire. (1968). The
age of Louis XIV (M. P. Pollack, Trans.). Dent.
Voltaire. (1972). Philosophical
dictionary (T. Besterman, Trans.). Penguin Books.
Voltaire. (2000). Treatise
on tolerance (B. Masters, Trans.). Cambridge University Press.
Voltaire. (2005). Candide
(T. Cuffe, Trans.). Penguin Classics.
Voltaire. (2009). Letters
concerning the English nation (N. Cronk, Trans.). Oxford University Press.
Wollstonecraft, M. (1792). A
vindication of the rights of woman. Joseph Johnson.
Zinsser, J. P. (2006). La
dame d’esprit: A biography of the Marquise Du Châtelet. Viking.
Zuboff, S. (2019). The
age of surveillance capitalism. PublicAffairs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar