Pemikiran Anselmus
Pemikiran Filsafat, Teologi, dan Warisan Intelektual
“Bapak Skolastisisme” dalam Tradisi Abad Pertengahan
Alihkan ke: Tokoh-Tokoh Filsafat, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini mengkaji pemikiran Anselmus dari
Canterbury sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah
intelektual abad pertengahan yang kerap dijuluki sebagai “Bapak Skolastisisme.”
Kajian ini bertujuan menganalisis kontribusi Anselmus dalam bidang filsafat dan
teologi, menelaah konteks historis kehidupannya, serta menilai relevansi
pemikirannya dalam diskursus modern. Penelitian menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis terhadap karya-karya
utama seperti Monologion, Proslogion, dan Cur Deus Homo,
serta literatur sekunder yang berkaitan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Anselmus memainkan
peranan penting dalam merumuskan hubungan antara iman dan rasio melalui prinsip
fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman), yang kemudian
menjadi fondasi penting tradisi skolastik. Dalam bidang filsafat, kontribusinya
tampak terutama pada argumen ontologis mengenai eksistensi Tuhan, teori
kebenaran, serta konsep kebebasan kehendak yang menempatkan kebebasan sebagai
kemampuan mempertahankan kebaikan moral. Dalam bidang teologi, Anselmus dikenal
melalui teori kepuasan (satisfaction theory) tentang penebusan, yang
menjelaskan inkarnasi Kristus sebagai pemulihan tatanan keadilan akibat dosa
manusia.
Kajian ini juga menemukan bahwa meskipun sebagian
pemikiran Anselmus dipengaruhi konteks feodal dan metafisika klasik abad
pertengahan, banyak gagasannya tetap relevan dalam filsafat agama, etika,
epistemologi, dan dialog antara iman serta rasionalitas modern. Pengaruhnya
terlihat pada perkembangan skolastisisme, teologi Reformasi, hingga filsafat
analitik kontemporer. Dengan demikian, Anselmus tidak hanya penting sebagai
figur historis, tetapi juga sebagai sumber refleksi intelektual yang terus
hidup dalam perdebatan modern mengenai Tuhan, manusia, kebebasan, dan
kebenaran.
Kata Kunci: Anselmus
dari Canterbury, skolastisisme, filsafat abad pertengahan, teologi Kristen,
argumen ontologis, fides quaerens intellectum, penebusan, iman dan rasio.
PEMBAHASAN
Telaah Pemikiran Anselmus dari Canterbury
1.
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang
Abad pertengahan
merupakan salah satu periode penting dalam sejarah intelektual Barat, terutama
dalam upaya mensistematisasikan hubungan antara iman (fides)
dan akal (ratio).
Dalam konteks ini, berkembang suatu tradisi yang kemudian dikenal sebagai
skolastisisme, yaitu metode berpikir yang berupaya mengharmoniskan ajaran-ajaran
teologis dengan analisis rasional melalui pendekatan logika dan dialektika.
Tradisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari
perkembangan panjang yang dipengaruhi oleh warisan filsafat Yunani, khususnya
Aristoteles, serta refleksi teologis para Bapa Gereja seperti Augustinus dari
Hippo.¹
Di tengah dinamika
tersebut, muncul sosok Anselmus dari Canterbury (1033–1109), seorang filsuf,
teolog, sekaligus Uskup Agung Canterbury, yang memberikan kontribusi
fundamental dalam merumuskan dasar-dasar metodologis skolastisisme. Ia sering
dijuluki sebagai “Bapak Skolastisisme” karena
usahanya yang sistematis dalam mengintegrasikan iman dan akal ke dalam suatu
kerangka konseptual yang koheren.² Pemikirannya tidak hanya mencerminkan
komitmen religius yang mendalam, tetapi juga menunjukkan keberanian intelektual
dalam menggunakan rasio sebagai alat untuk memahami kebenaran teologis.
Salah satu prinsip
utama yang menjadi landasan pemikiran Anselmus adalah konsep fides
quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman). Prinsip ini
menegaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis atau irasional, melainkan
suatu titik awal yang mendorong pencarian intelektual secara aktif.³ Dengan
demikian, bagi Anselmus, aktivitas berpikir rasional bukanlah ancaman terhadap
iman, melainkan bagian integral dari penghayatan iman itu sendiri.
Kontribusi Anselmus
yang paling terkenal dalam filsafat adalah argumen ontologis mengenai
eksistensi Tuhan, sebagaimana dirumuskan dalam karyanya Proslogion.
Dalam argumen tersebut, ia mencoba membuktikan keberadaan Tuhan secara apriori
melalui analisis konsep tentang “sesuatu yang lebih besar tidak dapat
dipikirkan” (that than which nothing greater can be
conceived).⁴ Argumen ini menjadi salah satu perdebatan paling
berpengaruh dalam sejarah filsafat, yang kemudian dikritik dan dikembangkan
oleh berbagai filsuf, mulai dari Gaunilo hingga Immanuel Kant.
Selain dalam bidang
filsafat, Anselmus juga memberikan kontribusi penting dalam teologi, khususnya
melalui teorinya tentang penebusan (atonement) yang dikenal sebagai teori
kepuasan (satisfaction theory). Dalam
karyanya Cur Deus
Homo, ia menjelaskan bahwa penebusan dosa manusia hanya dapat
dipahami secara rasional melalui konsep keadilan ilahi dan pemulihan kehormatan
Tuhan yang dilanggar oleh dosa manusia.⁵ Pemikiran ini tidak hanya berpengaruh
dalam tradisi teologi Kristen, tetapi juga menjadi dasar bagi diskursus etika
dan keadilan dalam konteks religius.
Secara historis,
pemikiran Anselmus berkembang dalam konteks perubahan besar dalam struktur
sosial dan politik Eropa, termasuk reformasi gereja dan konflik antara otoritas
gerejawi dan kekuasaan monarki. Sebagai Uskup Agung Canterbury, ia terlibat
langsung dalam konflik tersebut, yang turut membentuk perspektif teologis dan
filosofisnya mengenai otoritas, kebebasan, dan kebenaran.⁶ Oleh karena itu,
memahami pemikiran Anselmus tidak dapat dilepaskan dari konteks historis yang
melatarbelakanginya.
Dalam konteks
kontemporer, pemikiran Anselmus tetap relevan, terutama dalam diskursus filsafat
agama dan epistemologi. Pertanyaan tentang hubungan antara iman dan rasio,
validitas argumen ontologis, serta konsep keadilan ilahi masih menjadi topik
perdebatan yang hidup hingga saat ini.⁷ Oleh karena itu, kajian terhadap
pemikiran Anselmus tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga kontribusi
teoritis yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.
Dengan demikian,
kajian ini berupaya untuk mengkaji secara sistematis pemikiran Anselmus dari
Canterbury, baik dalam dimensi filosofis maupun teologis, serta menilai
relevansi dan kontribusinya dalam tradisi intelektual yang lebih luas.
Pendekatan yang digunakan bersifat analitis dan historis, dengan tujuan untuk
memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai posisi Anselmus sebagai salah
satu tokoh sentral dalam sejarah pemikiran Barat.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, kajian ini dirumuskan dalam beberapa pertanyaan utama sebagai
berikut:
1)
Bagaimana konsep hubungan antara
iman dan rasio dalam pemikiran Anselmus dari Canterbury?
2)
Bagaimana struktur dan validitas
argumen ontologis yang diajukan Anselmus?
3)
Bagaimana Anselmus menjelaskan
doktrin penebusan melalui teori kepuasan (satisfaction theory)?
4)
Mengapa Anselmus dianggap sebagai
pelopor atau “Bapak Skolastisisme”?
5)
Bagaimana relevansi pemikiran
Anselmus dalam konteks filsafat dan teologi kontemporer?
1.3.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk:
1)
Mengkaji secara mendalam konsep fides
quaerens intellectum dalam pemikiran Anselmus.
2)
Menganalisis argumen ontologis
serta kritik-kritik terhadapnya.
3)
Menjelaskan teori penebusan
Anselmus dalam kerangka teologi sistematik.
4)
Menilai kontribusi Anselmus dalam
perkembangan metode skolastik.
5)
Mengidentifikasi relevansi
pemikirannya dalam diskursus modern.
1.4.
Metode Kajian
Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library
research). Sumber utama yang digunakan meliputi karya-karya asli
Anselmus, seperti Monologion, Proslogion,
dan Cur Deus
Homo, serta literatur sekunder yang relevan dalam bidang filsafat
dan teologi abad pertengahan.
Pendekatan yang
digunakan meliputi:
1)
Pendekatan Historis,
untuk memahami konteks sosial, politik, dan intelektual yang melatarbelakangi
pemikiran Anselmus.
2)
Pendekatan Filosofis,
untuk menganalisis struktur argumentasi dan konsep-konsep utama yang
dikembangkan.
3)
Pendekatan Teologis,
untuk menafsirkan doktrin-doktrin yang dikemukakan dalam kerangka iman Kristen.
Melalui pendekatan
multidisipliner ini, diharapkan kajian dapat memberikan gambaran yang utuh,
sistematis, dan kritis mengenai pemikiran Anselmus dari Canterbury.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 85–90.
[2]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–5.
[3]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), 93.
[4]
Brian Davies, An Introduction to the
Philosophy of Religion (Oxford:
Oxford University Press, 2004), 35–40.
[5]
Anselm of Canterbury, Cur
Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and
Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 100–120.
[6]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 217–250.
[7]
Thomas V. Morris, Anselmian Explorations:
Essays in Philosophical Theology
(Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1987), 1–10.
2.
Biografi dan Konteks Historis
Untuk memahami
pemikiran Anselmus dari Canterbury secara memadai, diperlukan penelusuran
terhadap latar biografis dan konteks historis yang membentuk kehidupannya.
Gagasan-gagasan filosofis dan teologis Anselmus tidak lahir dalam ruang hampa,
melainkan berkembang di tengah dinamika sosial-politik Eropa abad ke-11, masa
ketika gereja Latin Barat sedang mengalami reformasi kelembagaan, kebangkitan
intelektual monastik, dan konflik kewenangan antara raja serta paus.¹ Dalam
konteks inilah Anselmus tampil sebagai tokoh yang memadukan kehidupan religius,
kecermatan intelektual, dan keberanian moral.
Riwayat hidup
Anselmus memperlihatkan perjalanan dari seorang rahib Benediktin di Normandia
menjadi kepala gereja Inggris sebagai Uskup Agung Canterbury. Pengalaman
monastik, tugas administratif, perdebatan teologis, dan konflik politik dengan
monarki Inggris sangat memengaruhi orientasi pemikirannya mengenai rasio, iman,
kebebasan, dan otoritas.² Oleh sebab itu, kajian biografis terhadap dirinya
memiliki nilai penting untuk menjelaskan mengapa karya-karyanya menampilkan
karakter kontemplatif sekaligus argumentatif.
2.1.
Kelahiran dan Latar
Keluarga
Anselmus lahir pada
tahun 1033 di kota Aosta, wilayah Alpen yang pada masa itu berada dalam
jaringan politik Kerajaan Bourgogne dan kemudian terkait dengan Kekaisaran
Romawi Suci. Kini wilayah tersebut termasuk Italia utara. Letak geografis Aosta
yang berada di jalur perdagangan dan perlintasan pegunungan menjadikannya
tempat yang terbuka terhadap pengaruh budaya Latin dan Franka.³
Ayahnya bernama
Gundulph, seorang bangsawan lokal yang dikenal berwatak keras, sedangkan ibunya
Ermenberga digambarkan sebagai pribadi saleh dan berpengaruh besar terhadap
pembentukan religius Anselmus muda. Tradisi hagiografis menyebut bahwa ibunya
menanamkan disiplin moral, semangat doa, dan kecintaan pada kehidupan rohani.⁴
Ketegangan antara karakter ayah dan ibu ini sering dipandang turut membentuk
sensitivitas Anselmus terhadap persoalan kehendak, ketaatan, dan keutamaan
moral.
Sejak kecil Anselmus
menunjukkan minat terhadap belajar dan kehidupan religius. Beberapa sumber
menyebut bahwa ia pernah menginginkan masuk biara pada usia muda, tetapi
ditolak karena pertimbangan keluarga. Setelah ibunya wafat, hubungan dengan
ayahnya memburuk, dan situasi ini mendorong Anselmus meninggalkan rumah serta
memulai perjalanan intelektual ke wilayah utara Eropa.⁵
2.2.
Perjalanan
Intelektual dan Masuk Biara Bec
Sekitar tahun
1059–1060, Anselmus tiba di Normandia dan kemudian menetap di Biara Bec, salah
satu pusat pembelajaran monastik paling penting pada zamannya. Biara ini
dipimpin oleh Lanfranc dari Pavia, seorang sarjana terkemuka yang dikenal
karena kecakapannya dalam logika dan pendidikan. Kehadiran Lanfranc menjadi
faktor utama yang menarik Anselmus ke Bec.⁶
Pada tahun 1060,
Anselmus resmi masuk Ordo Benediktin sebagai rahib. Tradisi Benediktin
menekankan keseimbangan antara doa, kerja, disiplin, dan pembelajaran (ora et
labora). Lingkungan ini sangat menentukan corak intelektual
Anselmus, sebab ia belajar memahami teologi bukan semata sebagai spekulasi
abstrak, tetapi sebagai bentuk pencarian spiritual yang teratur dan rasional.⁷
Setelah Lanfranc
dipindahkan ke Caen, Anselmus naik menjadi prior Biara Bec pada tahun 1063.
Dalam jabatan tersebut, ia bertanggung jawab atas pendidikan para rahib,
administrasi internal, dan pembinaan disiplin komunitas. Kesaksian para penulis
sezaman menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang tegas namun lembut,
mengutamakan persuasi ketimbang hukuman keras.⁸
Pada tahun 1078,
Anselmus terpilih menjadi abbas (kepala biara) Bec. Di bawah kepemimpinannya,
reputasi Bec sebagai pusat pembelajaran meningkat pesat. Banyak murid dari
berbagai wilayah datang untuk belajar logika, Kitab Suci, dan teologi. Pada
masa inilah ia menulis beberapa karya penting, termasuk Monologion
dan Proslogion.⁹
2.3.
Lingkungan
Intelektual Abad ke-11
Abad ke-11 sering
dipandang sebagai masa kebangkitan intelektual awal di Eropa Barat sebelum
berkembangnya universitas-universitas besar abad ke-12 dan ke-13.
Sekolah-sekolah katedral dan biara memainkan peran utama dalam transmisi ilmu
pengetahuan. Studi tata bahasa, retorika, logika, musik, aritmetika, geometri,
dan astronomi mulai dipadukan dengan studi teologi.¹⁰
Dalam lingkungan
seperti itu, dialektika atau seni berargumentasi memperoleh perhatian baru.
Para sarjana mulai menggunakan perangkat logika untuk menjelaskan doktrin iman.
Anselmus termasuk tokoh penting dalam proses ini, meskipun ia tetap menempatkan
iman sebagai dasar pencarian intelektual. Prinsip terkenalnya, fides
quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman), lahir dari
konteks kebangkitan metode rasional tersebut.¹¹
Selain pengaruh
intelektual, kehidupan monastik juga menyediakan ruang kontemplatif yang
memungkinkan penulisan karya-karya reflektif. Karena itu, karya Anselmus
memiliki bentuk khas: sekaligus doa, meditasi, dan argumentasi filosofis. Ini
membedakannya dari tradisi skolastik yang lebih teknis pada abad berikutnya.¹²
2.4.
Menjadi Uskup Agung
Canterbury
Pada tahun 1093,
setelah wafatnya Lanfranc dari Pavia, Anselmus dipilih menjadi Uskup Agung
Canterbury, jabatan gerejawi tertinggi di Inggris. Pemilihannya terjadi ketika
Raja William II membutuhkan dukungan politik dan moral gereja. Menurut berbagai
kronik, Anselmus awalnya menolak jabatan tersebut karena merasa usia lanjut dan
menyadari kompleksitas konflik politik yang akan dihadapi.¹³
Sebagai Uskup Agung
Canterbury, Anselmus berupaya menegakkan reformasi gereja, memperbaiki disiplin
klerus, dan menegaskan independensi spiritual gereja dari campur tangan
kerajaan. Namun agenda ini segera menimbulkan ketegangan dengan William II,
terutama terkait hak penunjukan pejabat gereja, penguasaan harta gereja, dan
loyalitas kepada paus.¹⁴
Setelah William II
wafat pada tahun 1100, tahta Inggris dipegang oleh Henry I. Meskipun awalnya
hubungan dengan Anselmus tampak lebih baik, konflik baru muncul mengenai
praktik lay
investiture, yakni penyerahan simbol jabatan gerejawi oleh penguasa
sekuler kepada uskup. Persoalan ini merupakan bagian dari konflik besar Eropa
antara monarki dan kepausan.¹⁵
2.5.
Pengasingan dan
Konflik Investitur
Akibat perselisihan
dengan William II dan kemudian Henry I, Anselmus mengalami dua kali pengasingan
sukarela dari Inggris: pertama pada 1097–1100 dan kedua pada 1103–1106. Dalam
masa pengasingan ini ia melakukan perjalanan ke Roma dan wilayah Italia,
bertemu para pejabat kepausan, serta terlibat dalam perdebatan gerejawi
internasional.¹⁶
Konflik mengenai
investitur merupakan isu sentral pada zamannya. Reformasi Gregorian, yang
diasosiasikan dengan Paus Gregorius VII, menuntut agar pengangkatan pejabat
gereja berada di bawah otoritas gereja, bukan raja. Bagi Anselmus, masalah ini
bukan sekadar administratif, tetapi menyangkut integritas spiritual gereja dan
tatanan moral masyarakat Kristen.¹⁷
Pada akhirnya,
tercapai kompromi dengan Henry I pada tahun 1107: raja melepaskan penyerahan
simbol rohani jabatan uskup, sementara para uskup tetap memberi penghormatan
feodal tertentu kepada mahkota. Penyelesaian ini menjadi salah satu tahap
penting dalam sejarah hubungan gereja-negara di Inggris.¹⁸
2.6.
Tahun-Tahun Terakhir
dan Wafat
Setelah kembali ke
Inggris, Anselmus menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya untuk memimpin
gereja, menyelesaikan urusan reformasi, dan menulis karya-karya tambahan.
Meskipun usia lanjut dan kesehatan menurun, ia tetap dihormati sebagai figur
moral dan intelektual.¹⁹
Anselmus wafat pada
21 April 1109 di Canterbury. Setelah kematiannya, reputasinya terus berkembang
sebagai santo, guru gereja, dan pemikir besar abad pertengahan. Pada tahun 1494
ia secara resmi dikanonisasi dalam tradisi Katolik, dan pada tahun 1720
diangkat sebagai Doctor of the Church.²⁰
2.7.
Signifikansi
Historis
Secara historis,
Anselmus menempati posisi transisional antara tradisi patristik dan skolastik
matang. Ia mewarisi semangat kontemplatif dari Augustinus dari Hippo, namun
sekaligus membuka jalan bagi metode argumentatif yang kelak berkembang dalam
karya Peter Abelard dan Thomas Aquinas.²¹
Biografinya
menunjukkan bahwa pemikiran besar sering lahir dari perjumpaan antara disiplin
spiritual, pendidikan intelektual, dan pergulatan politik nyata. Karena itu,
Anselmus bukan hanya tokoh teologi, tetapi juga figur penting dalam sejarah
peradaban Barat yang memperjuangkan kemungkinan harmoni antara iman, akal, dan
tatanan sosial.
Footnotes
[1]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 3–15.
[2]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 7–12.
[3]
Southern, Saint Anselm, 17–20.
[4]
Eadmer, The Life of St Anselm, trans. R. W. Southern (Oxford: Clarendon Press,
1962), 6–9.
[5]
Evans, Anselm, 15–18.
[6]
David Knowles, The Monastic Order in
England (Cambridge: Cambridge
University Press, 1963), 110–114.
[7]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 22–27.
[8]
Eadmer, The Life of St Anselm, 38–44.
[9]
Southern, Saint Anselm, 72–88.
[10]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 78–86.
[11]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), xii–xv.
[12]
Evans, Anselm, 42–47.
[13]
Eadmer, The Life of St Anselm, 102–109.
[14]
Southern, Saint Anselm, 184–205.
[15]
Brian Tierney, The Crisis of Church
and State 1050–1300 (Toronto:
University of Toronto Press, 1988), 54–63.
[16]
Evans, Anselm, 95–108.
[17]
Tierney, The Crisis of Church
and State, 39–58.
[18]
Southern, Saint Anselm, 286–294.
[19]
Ward, Anselm of Canterbury, 130–136.
[20]
Evans, Anselm, 180–184.
[21]
Copleston, Medieval Philosophy, 89–95.
3.
Anselmus dan Lahirnya Skolastisisme
Dalam sejarah
intelektual Eropa Barat, skolastisisme menempati posisi sentral sebagai metode berpikir
yang berusaha mensistematisasikan pengetahuan melalui penggunaan logika,
analisis konseptual, dan argumentasi rasional dalam kerangka keimanan Kristen.
Tradisi ini mencapai puncaknya pada abad ke-12 hingga ke-13, terutama melalui
karya-karya Peter Abelard, Bonaventura, dan Thomas Aquinas. Namun, akar
metodologis dan semangat intelektual skolastisisme telah tampak lebih awal pada
abad ke-11, khususnya dalam karya Anselmus dari Canterbury.¹
Anselmus sering
disebut sebagai “Bapak Skolastisisme” bukan karena
ia mendirikan lembaga skolastik formal, melainkan karena ia meletakkan pola
berpikir yang kemudian menjadi ciri khas skolastik: penggunaan rasio untuk
menjelaskan iman, penyusunan argumen secara sistematis, penghargaan terhadap
konsistensi logis, serta keyakinan bahwa kebenaran teologis dapat didekati
melalui refleksi intelektual yang disiplin.² Dalam dirinya, tradisi monastik
kontemplatif bertemu dengan metode dialektis yang sedang berkembang.
Dengan demikian,
pembahasan mengenai hubungan Anselmus dan lahirnya skolastisisme penting bukan
hanya untuk menempatkan dirinya dalam sejarah filsafat, tetapi juga untuk
memahami transformasi besar dunia intelektual Barat dari pola patristik menuju
pola akademik abad pertengahan.
3.1.
Pengertian
Skolastisisme
Istilah
“skolastisisme” berasal dari kata Latin scholasticus, yang mula-mula
merujuk pada guru atau sarjana sekolah katedral dan biara. Dalam perkembangan
selanjutnya, istilah ini digunakan untuk menunjuk metode intelektual abad
pertengahan yang menekankan klarifikasi konsep, perumusan pertanyaan,
perdebatan terstruktur, dan penyelesaian kontradiksi melalui logika.³
Skolastisisme bukan
sekadar suatu doktrin, melainkan cara berpikir. Ia beroperasi melalui
pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah suatu proposisi dapat dibuktikan?
Bagaimana dua otoritas yang tampak bertentangan dapat didamaikan? Apa definisi
tepat dari suatu konsep teologis? Bagaimana hubungan sebab-akibat dipahami
secara rasional? Dalam arti ini, skolastisisme merupakan metode sintesis antara
warisan filsafat Yunani dan teologi Kristen Latin.⁴
Meskipun sering
diasosiasikan dengan universitas-universitas seperti Paris, Oxford, dan
Bologna, tahap awal skolastisisme justru berkembang di lingkungan monastik dan
sekolah katedral sebelum lahirnya universitas formal. Di sinilah peranan
Anselmus menjadi penting, karena ia menulis dan mengajar sebelum institusi
universitas terbentuk.⁵
3.2.
Latar Intelektual
Sebelum Anselmus
Sebelum masa
Anselmus, pemikiran Kristen Barat didominasi oleh warisan para Bapa Gereja,
terutama Augustinus dari Hippo. Augustinus telah menunjukkan bahwa iman dan
pemahaman saling berkaitan melalui semboyan credo ut intelligam (“aku percaya
agar aku memahami”).⁶ Akan tetapi, metode argumentatif yang lebih teknis dan
sistematis belum sepenuhnya berkembang seperti pada era skolastik.
Di sisi lain, abad
ke-11 menyaksikan kebangkitan minat terhadap logika, khususnya melalui
teks-teks yang diwariskan dari Boethius dan sebagian karya Aristoteles yang
tersedia dalam bahasa Latin. Perkembangan ini menciptakan lingkungan baru di
mana persoalan-persoalan teologi mulai dibahas dengan perangkat dialektika.⁷
Dalam suasana
demikian, muncul perdebatan tentang legitimasi penggunaan rasio dalam agama.
Sebagian kalangan khawatir logika dapat merusak kesalehan, sementara kalangan
lain melihatnya sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman iman. Anselmus
berada di tengah ketegangan ini dan menawarkan sintesis yang berpengaruh
besar.⁸
3.3.
Prinsip Fides
Quaerens Intellectum
Sumbangan paling
mendasar Anselmus terhadap lahirnya skolastisisme adalah rumus terkenalnya: fides
quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”). Formula ini
muncul dalam pengantar karya Proslogion dan menjadi ringkasan
program intelektualnya.⁹
Makna prinsip
tersebut adalah bahwa iman mendahului pencarian rasional, tetapi tidak berhenti
pada penerimaan pasif. Orang beriman terdorong untuk memahami apa yang
dipercayainya sejauh mungkin melalui akal. Dengan demikian, rasio tidak
menggantikan wahyu, melainkan menafsirkan dan menjelaskannya.¹⁰
Prinsip ini menempati
posisi penting karena menghindari dua ekstrem sekaligus:
1)
Fideisme,
yaitu pandangan bahwa iman sama sekali tidak membutuhkan rasio.
2)
Rasionalisme absolut,
yaitu pandangan bahwa akal sepenuhnya cukup tanpa iman atau wahyu.
Anselmus menempatkan
akal sebagai pelayan kebenaran ilahi, namun tetap memiliki martabat dan fungsi
yang nyata.¹¹ Kerangka inilah yang kemudian menjadi ciri banyak pemikir
skolastik sesudahnya.
3.4.
Metode Dialektis dan
Struktur Argumentasi
Salah satu alasan
Anselmus dianggap pelopor skolastisisme adalah cara ia membangun argumen.
Karya-karyanya menunjukkan struktur rasional yang jelas: definisi konsep,
penetapan premis, penarikan konsekuensi logis, lalu kesimpulan. Pendekatan ini
tampak nyata dalam Monologion dan Proslogion.¹²
Dalam Monologion,
Anselmus berupaya menjelaskan keberadaan Tuhan dan sifat-sifat ilahi melalui
serangkaian penalaran bertingkat, dimulai dari pengamatan tentang gradasi
kebaikan dalam dunia. Dalam Proslogion, ia mencoba menunjukkan
keberadaan Tuhan melalui analisis konseptual semata, yang kemudian dikenal
sebagai argumen ontologis.¹³
Cara berpikir
seperti ini penting dalam sejarah skolastik karena:
·
menuntut konsistensi
internal;
·
menggunakan inferensi
logis;
·
membedakan antara proposisi
dan konsekuensinya;
·
membuka ruang sanggahan dan
respons.
Model tersebut
kemudian menjadi dasar format quaestio disputata (pertanyaan yang
diperdebatkan) dalam universitas abad pertengahan.¹⁴
3.5.
Anselmus antara
Monastik dan Akademik
Anselmus hidup dalam
dunia monastik, bukan universitas. Ia adalah rahib Benediktin dan kemudian
kepala biara Bec. Karena itu, pemikirannya tetap berakar pada doa, meditasi,
dan kehidupan spiritual. Banyak tulisannya berbentuk doa yang dipadukan dengan
argumentasi rasional.¹⁵
Hal ini menjadikan
Anselmus tokoh transisional. Di satu sisi, ia mewarisi corak kontemplatif para
Bapa Gereja; di sisi lain, ia membuka jalan menuju gaya akademik skolastik yang
lebih teknis. Berbeda dengan Peter Abelard yang menonjol dalam debat publik dan
analisis kontradiksi teks, Anselmus lebih menekankan refleksi internal yang
rasional dan saleh.¹⁶
Dengan kata lain,
skolastisisme dalam diri Anselmus masih berwajah monastik, sementara pada abad
ke-12 dan ke-13 ia berkembang menjadi skolastisisme universitas.
3.6.
Mengapa Disebut
“Bapak Skolastisisme”
Julukan “Bapak
Skolastisisme” kepada Anselmus didasarkan pada beberapa alasan
historis dan metodologis:
1)
Sintesis Iman
dan Akal
Ia menunjukkan bahwa teologi dapat
dijelaskan secara rasional tanpa kehilangan dasar religiusnya.¹⁷
2)
Penggunaan
Logika dalam Teologi
Ia menerapkan metode argumentatif yang
sistematis terhadap persoalan-persoalan iman.¹⁸
3)
Model
Penyelidikan Konseptual
Ia menelaah konsep seperti keberadaan,
kebaikan, kebebasan, keadilan, dan penebusan secara analitis.¹⁹
4)
Pengaruh
terhadap Generasi Sesudahnya
Pemikir-pemikir skolastik kemudian
menjadikan rasio sebagai instrumen utama dalam teologi, sejalan dengan arah
yang telah dibuka Anselmus.²⁰
Meskipun beberapa
sejarawan menilai gelar tersebut bersifat simbolik dan tidak mutlak, pengaruh
Anselmus sebagai perintis hampir selalu diakui.
3.7.
Pengaruh terhadap
Tradisi Skolastik Selanjutnya
Setelah Anselmus,
metode skolastik berkembang pesat. Peter Abelard menyusun teknik perdebatan
melalui karya Sic et Non, yang menampilkan
kontradiksi otoritas untuk dianalisis secara logis. Thomas Aquinas kemudian
membawa skolastisisme ke bentuk paling matang melalui sintesis besar antara
filsafat Aristotelian dan teologi Kristen.²¹
Walaupun pendekatan
mereka lebih luas dan teknis, semangat dasarnya telah tampak dalam karya
Anselmus: keyakinan bahwa kebenaran bersifat rasional dan iman tidak
bertentangan dengan akal. Karena itu, Anselmus dapat dipandang sebagai mata
rantai awal yang sangat menentukan.
3.8.
Evaluasi Kritis
Walaupun berpengaruh
besar, pendekatan Anselmus juga memiliki keterbatasan. Ia bekerja dalam horizon
teologi Kristen Latin sehingga beberapa argumennya bergantung pada asumsi
metafisik tertentu. Selain itu, model harmonisasi iman dan akal yang ia
tawarkan kemudian dikritik oleh skeptisisme modern dan empirisme.²²
Namun demikian,
kontribusinya tetap penting karena menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat
berdialog dengan nalar secara serius. Dalam konteks modern yang sering
mempertentangkan agama dan sains, warisan Anselmus justru memperlihatkan
kemungkinan hubungan yang lebih produktif.
Kesimpulan
Anselmus dari
Canterbury menempati posisi penting dalam kelahiran skolastisisme karena ia
merumuskan secara jelas program intelektual yang menyatukan iman dan rasio.
Melalui prinsip fides quaerens intellectum,
penggunaan metode dialektis, serta penulisan karya-karya argumentatif, ia
membuka jalan bagi tradisi skolastik yang kemudian mendominasi dunia
intelektual abad pertengahan.
Meskipun hidup dalam
lingkungan monastik, pengaruhnya melampaui biara dan membentuk budaya akademik
Eropa. Oleh sebab itu, penyebutan Anselmus sebagai “Bapak Skolastisisme”
memiliki dasar historis yang kuat, terutama bila dipahami sebagai pelopor
metodologis, bukan sebagai pendiri tunggal tradisi skolastik.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–95.
[2]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 41–48.
[3]
David Luscombe, The School of Peter
Abelard (Cambridge: Cambridge
University Press, 1969), 1–6.
[4]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 225–233.
[5]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 70–82.
[6]
Augustine, Sermons, cited in Gilson, History
of Christian Philosophy, 31–35.
[7]
Copleston, Medieval Philosophy, 72–80.
[8]
Evans, Anselm, 35–39.
[9]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), 87.
[10]
Brian Davies, An Introduction to the
Philosophy of Religion (Oxford:
Oxford University Press, 2004), 33–36.
[11]
Gilson, History of Christian
Philosophy, 234–239.
[12]
Southern, Saint Anselm, 92–101.
[13]
Anselm of Canterbury, Monologion
and Proslogion, trans. Thomas Williams
(Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 3–58.
[14]
Martin Grabmann, The History of
Scholastic Method, trans. Gerard
Smith (New York: Benziger Brothers, 1928), 1:112–120.
[15]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 55–63.
[16]
Luscombe, The School of Peter
Abelard, 8–15.
[17]
Evans, Anselm, 47–50.
[18]
Copleston, Medieval Philosophy, 90–94.
[19]
Southern, Saint Anselm, 130–145.
[20]
Gilson, History of Christian
Philosophy, 240–246.
[21]
Copleston, Medieval Philosophy, 150–210.
[22]
Brian Davies, An Introduction to the
Philosophy of Religion, 40–45.
4.
Pemikiran Filsafat Anselmus
Anselmus dari
Canterbury menempati posisi penting dalam sejarah filsafat Barat karena ia
berhasil menjembatani tradisi patristik dengan metode skolastik yang berkembang
kemudian. Walaupun dikenal terutama sebagai teolog Kristen dan Uskup Agung
Canterbury, kontribusinya dalam filsafat sangat signifikan, terutama dalam
bidang metafisika, epistemologi, filsafat agama, etika, dan filsafat kehendak.
Pemikirannya menunjukkan bahwa persoalan-persoalan religius dapat dibahas
secara rasional melalui analisis konseptual dan argumentasi logis.¹
Berbeda dari
sebagian filsuf Yunani yang memulai pencarian dari alam atau substansi
material, Anselmus memulai refleksi dari realitas iman, kemudian menguji dan
menjelaskannya melalui akal. Dengan demikian, filsafat baginya bukan disiplin
yang berdiri terpisah dari teologi, melainkan sarana untuk memahami kebenaran
secara lebih mendalam.² Namun demikian, metode dan struktur argumentasinya
memberikan kontribusi mandiri bagi sejarah filsafat, bahkan melampaui konteks
religius tempat ia berpijak.
Dalam bab ini akan
dibahas beberapa aspek utama pemikiran filsafat Anselmus, yaitu relasi iman dan
rasio, argumen ontologis tentang eksistensi Tuhan, teori kebenaran, pandangan
tentang kehendak bebas, problem kejahatan, serta pengaruh dan kritik terhadap
gagasannya.
4.1.
Relasi Iman dan
Rasio
Salah satu prinsip
filosofis paling terkenal dari Anselmus adalah ungkapan fides
quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”). Prinsip ini
menegaskan bahwa iman bukan akhir dari pencarian intelektual, melainkan titik
awal yang mendorong akal untuk memahami apa yang dipercayai.³
Bagi Anselmus,
manusia memiliki kapasitas rasional yang merupakan anugerah ilahi. Karena itu,
penggunaan akal bukan tindakan yang bertentangan dengan iman. Sebaliknya,
mengabaikan rasio justru berarti menyia-nyiakan salah satu sarana penting untuk
mendekati kebenaran. Akan tetapi, ia juga menolak gagasan bahwa rasio manusia
mampu mengetahui seluruh misteri ilahi secara sempurna.⁴
Posisi ini
menempatkan Anselmus di antara dua kutub ekstrem:
1)
Fideisme,
yang menolak peranan rasio dalam agama.
2)
Rasionalisme absolut,
yang menganggap akal sepenuhnya cukup tanpa wahyu.
Dalam filsafat
modern, posisi seperti ini sering dipandang sebagai bentuk moderate
rational theology, yaitu keyakinan bahwa rasio dapat menjelaskan
sebagian isi iman tanpa menggantikan wahyu itu sendiri.⁵
4.2.
Argumen Ontologis
tentang Eksistensi Tuhan
Kontribusi filsafat
Anselmus yang paling terkenal adalah argumen ontologis mengenai keberadaan
Tuhan, terutama dalam karya Proslogion. Argumen ini merupakan
salah satu usaha paling berpengaruh dalam sejarah filsafat untuk membuktikan
eksistensi Tuhan secara apriori, yaitu tanpa bergantung pada observasi
empiris.⁶
4.2.1.
Rumusan Dasar
Anselmus
mendefinisikan Tuhan sebagai:
“sesuatu yang lebih besar tidak dapat
dipikirkan”
(that than which nothing greater can be
conceived).⁷
Dari definisi ini,
ia berargumen:
1)
Bahkan orang yang menyangkal Tuhan
dapat memahami konsep tersebut dalam pikirannya.
2)
Sesuatu yang ada dalam kenyataan
lebih besar daripada sesuatu yang hanya ada dalam pikiran.
3)
Jika Tuhan hanya ada dalam
pikiran, maka masih mungkin dibayangkan sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan
yang juga ada dalam kenyataan.
4)
Karena itu, Tuhan harus ada dalam
kenyataan.
Dengan bentuk ini,
Anselmus mencoba menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan terkandung dalam konsep
Tuhan itu sendiri.
4.2.2.
Signifikansi
Filosofis
Argumen ontologis
penting karena:
·
memusatkan perhatian pada
hubungan antara konsep dan realitas;
·
membuka diskusi tentang
apakah eksistensi merupakan predikat;
·
memperlihatkan kekuatan dan
batas analisis logis dalam metafisika.⁸
Argumen ini kemudian
memengaruhi banyak filsuf seperti René Descartes, Gottfried Wilhelm Leibniz,
dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.
4.2.3.
Kritik terhadap
Argumen Ontologis
Argumen ini sejak
awal menuai kritik. Gaunilo berpendapat bahwa pola argumen tersebut dapat
dipakai secara absurd, misalnya untuk “pulau paling sempurna.”⁹
Kemudian Immanuel
Kant menyatakan bahwa eksistensi bukanlah predikat nyata yang menambah sifat
suatu benda; mengatakan sesuatu “ada” tidak menambah konsepnya.¹⁰ Kritik Kant
menjadi salah satu tantangan terbesar bagi argumen ontologis klasik.
Walaupun demikian,
filsafat analitik modern—melalui tokoh seperti Alvin Plantinga dan Norman
Malcolm—mengembangkan versi modal dari argumen ontologis, menunjukkan bahwa
diskusi tersebut tetap hidup.¹¹
4.3.
Metafisika tentang
Kebaikan dan Keberadaan
Dalam Monologion,
Anselmus membangun refleksi metafisik mengenai kebaikan, keberadaan, dan
kesempurnaan. Ia mengamati bahwa dalam dunia terdapat derajat-derajat kebaikan:
sesuatu lebih baik daripada yang lain. Dari fakta ini, ia menyimpulkan perlunya
sumber kebaikan tertinggi yang menjadi dasar semua kebaikan relatif.¹²
Argumen ini sejalan
dengan tradisi Neoplatonik dan Augustinian, di mana segala yang terbatas
berpartisipasi dalam kebaikan yang absolut. Dalam kerangka tersebut:
·
segala keberadaan yang baik
memperoleh kebaikannya dari sumber tertinggi;
·
pluralitas menunjuk kepada
kesatuan dasar;
·
kesempurnaan relatif
menunjuk kepada kesempurnaan mutlak.¹³
Pandangan ini
berpengaruh besar terhadap metafisika skolastik sesudahnya.
4.4.
Teori Kebenaran (De
Veritate)
Dalam dialog De
Veritate, Anselmus membahas hakikat kebenaran. Ia mendefinisikan
kebenaran sebagai rectitudo mente sola perceptibilis,
yakni “ketepatan yang hanya dapat dipahami oleh pikiran.”¹⁴
Kebenaran menurut
Anselmus tidak hanya berlaku bagi proposisi, tetapi juga bagi:
1)
Pernyataan;
2)
Kehendak;
3)
Tindakan;
4)
Hakikat sesuatu.
Dengan demikian,
kebenaran memiliki dimensi ontologis dan moral, bukan sekadar korespondensi
antara kalimat dan fakta.
Sebagai contoh:
·
Pernyataan benar bila
menyatakan sebagaimana mestinya.
·
Kehendak benar bila
menghendaki apa yang seharusnya dikehendaki.
·
Tindakan benar bila sesuai
dengan tujuan moralnya.¹⁵
Pandangan ini
memperluas teori kebenaran klasik dan menunjukkan hubungan erat antara logika
serta etika.
4.5.
Kehendak Bebas dan
Tanggung Jawab Moral
Dalam karya De
Libertate Arbitrii, Anselmus mendefinisikan kebebasan kehendak
bukan sebagai kemampuan memilih apa saja, tetapi sebagai kemampuan
mempertahankan ketepatan kehendak demi ketepatan itu sendiri.¹⁶
Definisi ini penting
karena menolak pengertian kebebasan sebagai sekadar pilihan tanpa batas. Bagi
Anselmus, manusia bebas justru ketika ia mampu mengarahkan kehendaknya kepada
kebaikan yang benar.
Ia membedakan dua
kemampuan:
1)
Kemampuan memperoleh
manfaat (ability for advantage).
2)
Kemampuan
mempertahankan keadilan (ability for justice).¹⁷
Dosa terjadi ketika
kehendak menyimpang dari ketepatan moral demi keuntungan pribadi. Maka
kebebasan sejati bukanlah kebebasan berbuat jahat, melainkan kebebasan untuk
tetap benar.
Pandangan ini
memengaruhi perdebatan kemudian tentang relasi antara kehendak, moralitas, dan
rahmat ilahi.
4.6.
Problem Kejahatan
dan Privasi Boni
Sejalan dengan
tradisi Augustinus dari Hippo, Anselmus memahami kejahatan bukan sebagai
substansi positif, tetapi sebagai kekurangan kebaikan (privatio
boni).¹⁸ Kejahatan muncul ketika kehendak menyimpang dari tatanan
yang benar.
Implikasi
filosofisnya:
·
Tuhan tidak menciptakan
kejahatan sebagai entitas.
·
Kejahatan bergantung pada
kebaikan yang dirusak.
·
Tanggung jawab moral
terletak pada agen rasional yang menyimpang.
Pendekatan ini
berusaha menyelesaikan problem teodise: bagaimana Tuhan yang baik dapat
mengizinkan kejahatan.
4.7.
Metode Filosofis
Anselmus
Keunikan filsafat
Anselmus tidak hanya pada isi gagasannya, tetapi juga metodenya. Ia sering
memulai dengan doa atau kontemplasi, lalu bergerak ke analisis rasional.
Struktur ini menunjukkan bahwa pengalaman eksistensial dan argumentasi logis
dapat saling berkaitan.¹⁹
Ciri-ciri metode
Anselmus antara lain:
1)
Definisi konseptual yang ketat.
2)
Penalaran deduktif.
3)
Konsistensi logis.
4)
Integrasi dimensi spiritual dan
rasional.
5)
Keberanian mengajukan pertanyaan
metafisik besar.
Metode ini menjadi
jembatan antara teologi monastik dan skolastisisme universitas.
4.8.
Pengaruh terhadap
Filsafat Barat
Pemikiran Anselmus
memberi dampak luas pada sejarah filsafat:
·
Pada abad pertengahan, ia
memengaruhi Thomas Aquinas dan para skolastikus lain.
·
Pada era modern, argumen
ontologisnya dibahas ulang oleh Descartes dan Leibniz.
·
Pada abad ke-20, filsafat analitik
agama menghidupkan kembali diskusi tentang modal logic dan eksistensi
niscaya.²⁰
Bahkan ketika
ditolak, gagasan Anselmus tetap menjadi titik tolak diskusi filosofis.
4.9.
Evaluasi Kritis
Kekuatan utama
filsafat Anselmus terletak pada konsistensi logis dan keberanian metafisiknya.
Ia menunjukkan bahwa pertanyaan tentang Tuhan, kebenaran, dan kebebasan dapat
dibahas secara sistematis. Namun, sebagian argumennya bergantung pada asumsi
metafisika realis yang tidak selalu diterima dalam filsafat modern.²¹
Meski demikian,
nilai permanennya terletak pada metode berpikir: keyakinan bahwa persoalan
terdalam manusia layak dipikirkan secara serius, rasional, dan terbuka terhadap
kritik.
Kesimpulan
Pemikiran filsafat
Anselmus mencakup wilayah yang luas: relasi iman dan rasio, argumen ontologis,
teori kebenaran, kehendak bebas, dan metafisika kebaikan. Ia bukan sekadar
teolog yang menggunakan filsafat, tetapi seorang filsuf yang memanfaatkan iman
sebagai horizon pencarian makna.
Warisannya tetap hidup
dalam filsafat agama, metafisika, dan etika kontemporer. Karena itu, Anselmus
layak dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah
filsafat Barat abad pertengahan.
Footnotes
[1]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–96.
[2]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 230–238.
[3]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), 87.
[4]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 44–52.
[5]
Brian Davies, An Introduction to the
Philosophy of Religion (Oxford:
Oxford University Press, 2004), 32–36.
[6]
Anselm, Proslogion, 93–101.
[7]
Ibid., 95.
[8]
Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221.
[9]
Anselm of Canterbury, Proslogion, appendix: “Gaunilo’s Reply,” 107–114.
[10]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929),
A598/B626.
[11]
Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review
69, no. 1 (1960): 41–62.
[12]
Anselm of Canterbury, Monologion
and Proslogion, trans. Thomas
Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 5–28.
[13]
Gilson, History of Christian
Philosophy, 239–244.
[14]
Anselm of Canterbury, De
Veritate, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 151.
[15]
Evans, Anselm, 92–97.
[16]
Anselm of Canterbury, De
Libertate Arbitrii, in The Major Works,
175–188.
[17]
Ibid., 181–184.
[18]
Copleston, Medieval Philosophy, 94–96.
[19]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 120–138.
[20]
Plantinga, The Nature of Necessity, 216–221.
[21]
Davies, An Introduction to the
Philosophy of Religion, 40–45.
5.
Pemikiran Teologi Anselmus
Anselmus dari
Canterbury merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah teologi
Kristen Barat. Jika dalam bidang filsafat ia dikenal melalui argumen ontologis
dan refleksi mengenai hubungan iman serta rasio, maka dalam bidang teologi ia
dikenang karena keberhasilannya menyusun penjelasan sistematis mengenai dosa,
penebusan, inkarnasi, kehendak bebas, rahmat, dan sifat-sifat Allah.
Pemikirannya menandai transisi penting dari teologi patristik yang lebih
homiletik dan mistikal menuju teologi skolastik yang argumentatif dan
konseptual.¹
Teologi Anselmus
dibangun di atas keyakinan bahwa wahyu ilahi merupakan dasar kebenaran, tetapi
isi wahyu dapat direnungkan secara rasional. Karena itu, karya-karyanya tidak
hanya berisi pengulangan doktrin gerejawi, melainkan usaha untuk menjelaskan mengapa
suatu doktrin masuk akal. Dalam konteks ini, Anselmus menampilkan corak teologi
yang dikenal sebagai faith seeking understanding (fides
quaerens intellectum).²
Di antara seluruh
kontribusinya, teori penebusan dalam Cur Deus Homo menjadi yang paling
berpengaruh. Namun, pemikiran teologis Anselmus jauh lebih luas daripada itu.
Ia juga menulis mengenai hakikat kebenaran, kebebasan kehendak, asal mula
kejahatan, doa, kehidupan rohani, dan natur ilahi. Oleh sebab itu, pembahasan
berikut akan menelaah secara komprehensif gagasan-gagasan teologis utamanya.
5.1.
Dasar Metodologis
Teologi: Fides Quaerens Intellectum
Metode teologi
Anselmus diringkas dalam formula fides quaerens intellectum (“iman
yang mencari pemahaman”). Maksudnya, orang beriman tidak berhenti pada
penerimaan dogma secara pasif, tetapi terdorong untuk memahami isi imannya
melalui refleksi akal.³
Bagi Anselmus,
teologi memiliki dua sumber utama:
1)
Wahyu dan Tradisi Gereja,
sebagai dasar normatif iman.
2)
Rasio,
sebagai alat untuk menyingkap koherensi dan makna ajaran iman.
Dengan demikian,
teologi bukan sekadar repetisi otoritas, melainkan pencarian pemahaman yang
bertanggung jawab.⁴
Pendekatan ini
penting karena menjadi dasar berkembangnya skolastisisme. Banyak teolog
sesudahnya, seperti Thomas Aquinas, mengembangkan model serupa meskipun dengan
pendekatan filosofis yang lebih luas.
5.2.
Doktrin Allah dan
Sifat-Sifat Ilahi
Dalam Monologion
dan Proslogion,
Anselmus membahas keberadaan serta sifat-sifat Allah. Ia menegaskan bahwa Allah
adalah realitas tertinggi, sempurna, tidak berubah, mahakuasa, mahatahu, dan
sumber segala kebaikan.⁵
5.2.1.
Allah sebagai
Kebaikan Tertinggi
Menurut Anselmus,
segala sesuatu yang baik di dunia memperoleh kebaikannya secara partisipatif
dari Allah sebagai summum bonum (kebaikan tertinggi).
Ini menunjukkan pengaruh tradisi Augustinian dan Neoplatonik.⁶
5.2.2.
Kesederhanaan
dan Ketidakterubahan Allah
Allah tidak tersusun
dari bagian-bagian, tidak berubah oleh waktu, dan tidak bergantung pada apa
pun. Jika Allah berubah, maka Ia akan bergerak dari kurang sempurna menuju
lebih sempurna atau sebaliknya, dan hal itu tidak sesuai dengan kesempurnaan
ilahi.⁷
5.2.3.
Relasi antara
Keadilan dan Belas Kasih
Anselmus juga
mencoba menjelaskan bagaimana Allah dapat sekaligus adil dan murah hati.
Menurutnya, belas kasih Allah bukan lawan dari keadilan, melainkan ekspresi
tertinggi dari keadilan ilahi yang memulihkan ciptaan secara benar.⁸
5.3.
Antropologi
Teologis: Manusia, Dosa, dan Kehendak Bebas
Dalam teologi
Anselmus, manusia diciptakan menurut gambar Allah dengan kapasitas rasional dan
kehendak bebas. Tujuan penciptaan manusia adalah menikmati Allah dalam
kebahagiaan yang benar.⁹
5.3.1.
Kehendak Bebas
Dalam De
Libertate Arbitrii, Anselmus mendefinisikan kebebasan sebagai
kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi ketepatan itu sendiri.
Kebebasan bukan kemampuan berbuat apa saja, melainkan kemampuan tetap berada
dalam kebenaran moral.¹⁰
5.3.2.
Hakikat Dosa
Dosa terjadi ketika
manusia gagal memberikan kepada Allah apa yang seharusnya diberikan, yakni
ketaatan dan penghormatan yang benar. Dosa bukan hanya pelanggaran aturan,
tetapi gangguan terhadap tatanan moral kosmis.¹¹
5.3.3.
Akibat Dosa
Akibat dosa adalah:
·
keterasingan dari Allah;
·
kerusakan kehendak manusia;
·
hilangnya keadilan moral;
·
ketidakmampuan manusia
memulihkan dirinya sendiri.¹²
Pandangan ini
menjadi dasar bagi teori penebusannya.
5.4.
Doktrin Penebusan
dalam Cur Deus Homo
Karya teologis
Anselmus yang paling terkenal adalah Cur Deus Homo (“Mengapa Allah
Menjadi Manusia”). Dalam karya ini, ia berusaha menjelaskan secara rasional
mengapa inkarnasi Kristus diperlukan bagi keselamatan manusia.¹³
5.4.1.
Pertanyaan
Sentral
Mengapa Allah tidak
mengampuni dosa manusia begitu saja tanpa inkarnasi dan salib?
Pertanyaan ini
penting karena menyentuh hubungan antara kasih, keadilan, dan tatanan moral
ilahi.
5.4.2.
Kehormatan
Allah dan Utang Moral
Menurut Anselmus,
dosa manusia menciptakan ketidakteraturan moral dan merampas kehormatan yang
seharusnya diberikan kepada Allah. Karena Allah adil, ketidakteraturan itu
harus dipulihkan.¹⁴
Di sini “kehormatan”
tidak boleh dipahami secara psikologis seolah Allah tersinggung seperti
manusia, tetapi sebagai simbol tatanan objektif yang telah dilanggar.
5.4.3.
Ketidakmampuan
Manusia Menebus Diri
Manusia wajib taat
kepada Allah. Karena itu, ketika berdosa, manusia telah gagal memenuhi
kewajibannya dan tidak memiliki “kelebihan moral” untuk membayar kembali utang
dosa.¹⁵
5.4.4.
Mengapa Harus
Allah-Manusia?
Hanya manusia yang
wajib membayar utang dosa manusia, tetapi hanya Allah yang memiliki kemampuan
tak terbatas untuk memberikan pemulihan yang memadai. Karena itu, diperlukan
Pribadi yang sekaligus manusia dan Allah: Kristus.¹⁶
5.4.5.
Kematian
Kristus sebagai Kepuasan
Ketaatan Kristus sampai
mati dipandang sebagai tindakan yang memiliki nilai tak terbatas dan memulihkan
tatanan keadilan. Inilah yang dikenal sebagai satisfaction theory (teori
kepuasan).¹⁷
5.5.
Evaluasi terhadap
Teori Kepuasan
Teori Anselmus
sangat berpengaruh dalam tradisi Barat, tetapi juga menuai kritik.
5.5.1.
Kekuatan Teori
1)
Menjelaskan keseriusan dosa secara
moral.
2)
Menyatukan kasih dan keadilan
Allah.
3)
Menekankan objektivitas karya
Kristus.¹⁸
5.5.2.
Kritik Modern
Beberapa teolog
modern menilai model kehormatan dan utang terlalu dipengaruhi budaya feodal
abad pertengahan. Selain itu, sebagian pihak menganggap model tersebut terlalu
legalistik dan kurang menonjolkan kasih Allah sebagai inisiatif bebas.¹⁹
Meskipun demikian,
banyak sarjana tetap mengakui kedalaman analitis dan konsistensi internal model
Anselmus.
5.6.
Kristologi dan
Inkarnasi
Anselmus menempatkan
inkarnasi sebagai pusat sejarah keselamatan. Allah menjadi manusia dalam diri
Yesus Kristus bukan sekadar untuk memberi teladan moral, tetapi untuk
memulihkan relasi antara Allah dan manusia.²⁰
Ia menekankan dua
natur Kristus:
1)
Natur Ilahi,
yang memungkinkan tindakan bernilai tak terbatas.
2)
Natur Manusia,
yang memungkinkan solidaritas sejati dengan umat manusia.²¹
Pemikiran ini
sejalan dengan tradisi Konsili Kalsedon, tetapi diberikan penjelasan rasional
baru dalam konteks skolastik awal.
5.7.
Rahmat dan
Keselamatan
Bagi Anselmus,
keselamatan pada akhirnya adalah anugerah Allah. Walaupun teori kepuasan
menekankan keadilan, inisiatif penebusan tetap berasal dari kasih ilahi. Allah
menyediakan jalan keselamatan melalui Kristus karena manusia tidak sanggup
menyelamatkan dirinya sendiri.²²
Rahmat bekerja
dengan:
·
mengampuni dosa;
·
memperbarui kehendak
manusia;
·
memulihkan relasi dengan
Allah;
·
mengarahkan manusia kepada
kebahagiaan kekal.²³
Dengan demikian,
Anselmus tidak mengajarkan keselamatan oleh usaha manusia semata.
5.8.
Doa, Kontemplasi,
dan Spiritualitas
Sering kali Anselmus
hanya dikenal sebagai pemikir rasional, padahal banyak karyanya bernuansa
devosional. Ia menulis doa-doa, meditasi, dan refleksi spiritual yang
menunjukkan kedalaman pengalaman religius.²⁴
Bagi Anselmus,
teologi lahir dari penyembahan. Pengetahuan tentang Allah tidak semata hasil
analisis intelektual, tetapi juga buah kasih dan pencarian rohani. Karena itu,
rasio dan doa tidak dipertentangkan.
5.9.
Gereja, Otoritas,
dan Moralitas
Sebagai Uskup Agung
Canterbury, Anselmus juga memiliki teologi gerejawi yang kuat. Ia menekankan
kebebasan gereja dari dominasi politik sekuler, khususnya dalam konflik
investitur dengan raja Inggris.²⁵
Baginya:
·
Gereja memiliki otoritas
spiritual yang khas.
·
Kekuasaan politik harus
tunduk pada keadilan moral.
·
Kebenaran lebih tinggi
daripada kepentingan kekuasaan.²⁶
Pandangan ini
berpengaruh dalam perkembangan relasi gereja-negara di Eropa.
5.10.
Pengaruh terhadap
Teologi Barat
Pemikiran Anselmus
memberi pengaruh besar pada:
·
teologi skolastik abad
pertengahan;
·
doktrin penebusan Katolik
dan Protestan;
·
filsafat agama modern;
·
diskusi kontemporer
mengenai keadilan restoratif dan moralitas dosa.²⁷
Thomas Aquinas,
Martin Luther, dan John Calvin, meskipun berbeda dalam banyak hal, sama-sama
berdialog dengan warisan Anselmus.
Kesimpulan
Pemikiran teologi
Anselmus menunjukkan perpaduan antara iman mendalam dan disiplin rasional. Ia
membahas Allah sebagai kebaikan tertinggi, manusia sebagai makhluk rasional
yang jatuh dalam dosa, serta Kristus sebagai Allah-manusia yang memulihkan
tatanan moral melalui karya penebusan.
Melalui Cur Deus
Homo, ia memberikan salah satu teori penebusan paling berpengaruh
dalam sejarah Kekristenan. Melalui prinsip fides quaerens intellectum, ia
meletakkan dasar bagi teologi skolastik yang berkembang sesudahnya. Oleh sebab
itu, Anselmus layak dipandang sebagai salah satu arsitek utama teologi Barat
abad pertengahan.
Footnotes
[1]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.
[2]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 91–103.
[3]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), 87.
[4]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–95.
[5]
Anselm of Canterbury, Monologion
and Proslogion, trans. Thomas
Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 5–58.
[6]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 230–242.
[7]
Ibid., 243–248.
[8]
Anselm, Proslogion, 115–118.
[9]
Southern, Saint Anselm, 135–141.
[10]
Anselm of Canterbury, De
Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 175–188.
[11]
Anselm of Canterbury, Cur
Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and
Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 35–42.
[12]
Evans, Anselm, 112–118.
[13]
Anselm, Cur Deus Homo, 25–31.
[14]
Ibid., 42–55.
[15]
Ibid., 56–63.
[16]
Ibid., 68–79.
[17]
Ibid., 80–101.
[18]
Brian Davies and G. R. Evans, eds., Anselm
of Canterbury: The Major Works
(Oxford: Oxford University Press, 1998), xxv–xxxii.
[19]
Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.
[20]
Anselm, Cur Deus Homo, 68–101.
[21]
Copleston, Medieval Philosophy, 96–101.
[22]
Evans, Anselm, 119–126.
[23]
Southern, Saint Anselm, 210–216.
[24]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 88–103.
[25]
Brian Tierney, The Crisis of Church
and State 1050–1300 (Toronto:
University of Toronto Press, 1988), 54–71.
[26]
Southern, Saint Anselm, 250–294.
[27]
Gilson, History of Christian
Philosophy, 248–255.
6.
Karya-Karya Utama
Anselmus dari
Canterbury dikenal bukan hanya karena kedudukannya sebagai Uskup Agung
Canterbury atau perannya dalam perkembangan skolastisisme awal, tetapi juga
karena karya-karya tulisnya yang sangat berpengaruh dalam sejarah intelektual
Barat. Tulisan-tulisan Anselmus memperlihatkan perpaduan antara kedalaman
spiritual monastik, ketajaman logika, dan ketertiban sistematis yang kelak
menjadi ciri utama skolastisisme.¹
Sebagian besar karya
Anselmus ditulis dalam bahasa Latin, bahasa ilmiah dan gerejawi Eropa pada
zamannya. Tulisan-tulisan itu lahir dalam konteks kehidupan biara, pendidikan
para rahib, perdebatan teologis, dan pergumulan pastoral. Karena itu,
karya-karyanya tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga bersifat devosional,
apologetik, dan praktis.²
Secara umum,
karya-karya Anselmus dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis:
1)
Karya
filosofis-teologis sistematis, seperti Monologion,
Proslogion, dan Cur Deus Homo.
2)
Dialog filsafat moral
dan antropologi, seperti De Veritate
dan De Libertate Arbitrii.
3)
Karya spiritual,
seperti doa-doa dan meditasi.
4)
Surat-surat dan tulisan
pastoral, yang mencerminkan aktivitasnya sebagai pemimpin
gereja.³
Bab ini akan
membahas karya-karya utama Anselmus, isi pokoknya, konteks penulisannya, serta
signifikansinya dalam sejarah pemikiran.
6.1.
Monologion
6.1.1.
Latar Belakang
Penulisan
Monologion
ditulis sekitar tahun 1075–1076 ketika Anselmus menjabat sebagai Prior Biara
Bec. Menurut tradisi, karya ini lahir atas permintaan para rahib yang
menginginkan contoh meditasi rasional mengenai keberadaan Tuhan tanpa banyak
mengutip Kitab Suci.⁴
Judul Monologion
berarti “monolog” atau refleksi tunggal, yang menunjukkan bentuk argumentasi
berkesinambungan dari satu suara penalaran.
6.1.2.
Isi Pokok
Dalam karya ini,
Anselmus berusaha menunjukkan secara rasional:
·
adanya kebaikan tertinggi;
·
keberadaan sesuatu yang
paling besar dan paling sempurna;
·
sumber dari segala yang
ada;
·
sifat-sifat ilahi seperti
kebijaksanaan, keadilan, dan kekekalan.⁵
Ia memulai dari
pengamatan bahwa di dunia terdapat tingkat-tingkat kebaikan. Dari sini ia
menyimpulkan adanya satu sumber kebaikan absolut yang menjadi dasar semua
kebaikan relatif.
6.1.3.
Signifikansi
Monologion
penting karena menunjukkan upaya awal Anselmus membangun teologi natural
melalui argumentasi rasional. Karya ini juga memperlihatkan pengaruh Augustinus
dari Hippo dan Neoplatonisme.⁶
6.2.
Proslogion
6.2.1.
Latar Belakang
Penulisan
Setelah menulis Monologion,
Anselmus merasa belum menemukan argumen tunggal yang sederhana namun kuat
mengenai keberadaan Tuhan. Maka sekitar tahun 1077–1078 ia menulis Proslogion,
yang awalnya berjudul Fides Quaerens Intellectum.⁷
Judul Proslogion
dapat dipahami sebagai “alamat batin” atau “wacana kepada seseorang,” dan
memang teks ini ditulis dalam bentuk doa yang diselingi argumentasi.
6.2.2.
Isi Pokok
Karya ini terkenal
karena memuat argumen ontologis, yaitu upaya
membuktikan eksistensi Tuhan melalui konsep Tuhan sebagai:
“sesuatu yang lebih
besar tidak dapat dipikirkan.”⁸
Selain itu, Proslogion
juga membahas:
·
sifat Allah sebagai
mahakuasa dan mahatahu;
·
hubungan keadilan dan belas
kasih;
·
keterbatasan akal manusia
dalam memahami Allah.⁹
6.2.3.
Respons dan
Perdebatan
Karya ini segera
mendapat tanggapan dari Gaunilo melalui tulisan In Behalf of the Fool, yang
mengkritik argumen ontologis. Anselmus kemudian menulis respons resmi terhadap
kritik tersebut.¹⁰
6.2.4.
Signifikansi
Proslogion
merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam filsafat agama. Tokoh-tokoh
seperti René Descartes, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Immanuel Kant terlibat
dalam perdebatan yang berakar pada karya ini.¹¹
6.3.
Cur Deus Homo
6.3.1.
Latar Belakang Penulisan
Cur Deus
Homo (“Mengapa Allah Menjadi Manusia”) ditulis sekitar 1094–1098,
sebagian dalam masa pengasingan Anselmus dari Inggris. Karya ini disusun dalam
bentuk dialog antara Anselmus dan muridnya bernama Boso.¹²
6.3.2.
Isi Pokok
Pertanyaan utama karya
ini adalah: mengapa inkarnasi Kristus diperlukan bagi keselamatan manusia?
Jawaban Anselmus
melahirkan teori kepuasan (satisfaction
theory):
·
dosa menciptakan
ketidakteraturan moral;
·
manusia tidak mampu
memulihkan kehormatan ilahi;
·
hanya Allah-manusia
(Kristus) yang mampu memberi kepuasan memadai;
·
melalui ketaatan dan
kematian Kristus, keadilan dipulihkan.¹³
6.3.3.
Signifikansi
Karya ini menjadi
salah satu teks paling berpengaruh dalam teologi penebusan Barat. Banyak
tradisi Katolik maupun Protestan berdialog dengan model Anselmus, baik menerima
maupun mengkritiknya.¹⁴
6.4.
De Veritate
6.4.1.
Tema Utama
De
Veritate (“Tentang Kebenaran”) merupakan dialog filosofis mengenai
hakikat kebenaran. Anselmus mendefinisikan kebenaran sebagai rectitudo
mente sola perceptibilis—ketepatan yang hanya dapat dipahami oleh
akal.¹⁵
6.4.2.
Pokok Bahasan
Ia membahas
kebenaran dalam:
·
proposisi;
·
kehendak;
·
tindakan;
·
esensi benda.¹⁶
6.4.3.
Signifikansi
Karya ini
menunjukkan bahwa Anselmus tidak membatasi diri pada teologi sempit, tetapi
juga memberi kontribusi pada epistemologi dan filsafat bahasa abad pertengahan.
6.5.
De Libertate
Arbitrii
6.5.1.
Tema Utama
Dalam De
Libertate Arbitrii (“Tentang Kebebasan Kehendak”), Anselmus
membahas makna kebebasan manusia. Ia menolak gagasan bahwa bebas berarti
sekadar dapat memilih apa saja.¹⁷
6.5.2.
Definisi
Kebebasan
Kebebasan adalah
kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi ketepatan itu sendiri.
Artinya, manusia
sungguh bebas ketika mampu memilih yang baik dan benar, bukan ketika bertindak
sewenang-wenang.¹⁸
6.5.3.
Signifikansi
Karya ini penting
dalam sejarah filsafat moral dan teologi karena menghubungkan kebebasan dengan
tanggung jawab etis.
6.6.
De Casu Diaboli
6.6.1.
Tema Utama
De Casu
Diaboli (“Tentang Kejatuhan Iblis”) melanjutkan pembahasan mengenai
kehendak bebas dan asal mula kejahatan. Anselmus menanyakan bagaimana makhluk
yang diciptakan baik dapat jatuh ke dalam dosa.¹⁹
6.6.2.
Isi Pokok
Ia menjelaskan bahwa
malaikat jatuh karena menyalahgunakan kebebasan kehendaknya demi keuntungan
diri, bukan demi keadilan.
6.6.3.
Signifikansi
Karya ini merupakan
kontribusi penting bagi problem teodise dan asal-usul kejahatan.
6.7.
Doa dan Meditasi
Selain karya
sistematis, Anselmus menulis banyak doa dan meditasi spiritual. Tulisan-tulisan
ini menunjukkan sisi lain dirinya sebagai rahib dan mistikus.²⁰
Tema-tema utamanya
meliputi:
·
pertobatan;
·
kerinduan akan Allah;
·
kasih Kristus;
·
kelemahan manusia;
·
harapan keselamatan.
Karya-karya ini berpengaruh luas dalam tradisi devosi Kristen abad
pertengahan.
6.8.
Surat-Surat dan
Tulisan Pastoral
Anselmus juga
meninggalkan ratusan surat yang ditujukan kepada:
·
raja-raja;
·
paus;
·
uskup;
·
rahib;
·
sahabat pribadi.²¹
Surat-surat tersebut
penting karena memberi informasi mengenai:
1)
Konflik investitur di Inggris.
2)
Pandangan moral dan pastoral
Anselmus.
3)
Jaringan intelektual gereja abad
ke-11.
4)
Karakter pribadinya sebagai
pemimpin.
Bagi sejarawan,
surat-surat ini merupakan sumber primer yang sangat berharga.
6.9.
Karakteristik Umum
Karya-Karya Anselmus
Meskipun beragam,
karya-karya Anselmus memiliki ciri umum:
1)
Integrasi Doa
dan Rasio
Tulisan sering dimulai dari pencarian
spiritual lalu bergerak ke argumentasi logis.
2)
Bentuk Dialogis
Beberapa karya memakai bentuk dialog
guru-murid, memudahkan eksplorasi pertanyaan.
3)
Bahasa
Konseptual yang Teliti
Ia menaruh perhatian besar pada definisi
dan konsistensi istilah.²²
4)
Tujuan Formatif
Karya-karyanya tidak hanya ingin
meyakinkan intelektual, tetapi juga membentuk jiwa pembacanya.
6.10.
Pengaruh Historis
Karya-karya Anselmus
memengaruhi banyak tokoh sesudahnya:
·
Peter Abelard dalam metode dialektika;
·
Thomas Aquinas dalam
sintesis iman dan rasio;
·
Martin Luther dalam
refleksi tentang anugerah;
·
filsafat modern dalam
perdebatan argumen ontologis.²³
Dengan demikian,
warisan tulisannya melampaui konteks abad pertengahan.
Kesimpulan
Karya-karya utama
Anselmus menunjukkan keluasan intelektual yang luar biasa. Monologion
menampilkan refleksi metafisik tentang Allah; Proslogion memuat argumen ontologis
yang terkenal; Cur Deus Homo membentuk teologi
penebusan Barat; sementara dialog-dialog seperti De Veritate dan De
Libertate Arbitrii memberi kontribusi pada filsafat moral dan
epistemologi.
Di samping itu,
doa-doa, meditasi, dan surat-suratnya memperlihatkan bahwa Anselmus bukan hanya
pemikir abstrak, tetapi juga gembala rohani dan pemimpin gereja. Karena itu,
keseluruhan corpus karya Anselmus menempatkannya sebagai salah satu penulis
paling penting dalam tradisi intelektual Kristen abad pertengahan.
Footnotes
[1]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–10.
[2]
R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait
in a Landscape (Cambridge: Cambridge
University Press, 1990), 88–103.
[3]
Brian Davies and G. R. Evans, eds., Anselm
of Canterbury: The Major Works
(Oxford: Oxford University Press, 1998), vii–xxv.
[4]
Southern, Saint Anselm, 92–95.
[5]
Anselm of Canterbury, Monologion
and Proslogion, trans. Thomas
Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 5–58.
[6]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 230–242.
[7]
Evans, Anselm, 42–47.
[8]
Anselm, Proslogion, 93–101.
[9]
Ibid., 103–120.
[10]
Ibid., appendix, 107–125.
[11]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 90–96.
[12]
Anselm of Canterbury, Cur
Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and
Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 1–12.
[13]
Ibid., 42–101.
[14]
Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.
[15]
Anselm of Canterbury, De
Veritate, in The Major Works,
151–170.
[16]
Evans, Anselm, 92–97.
[17]
Anselm of Canterbury, De
Libertate Arbitrii, in The Major Works, 175–188.
[18]
Ibid., 181–184.
[19]
Anselm of Canterbury, De
Casu Diaboli, in The Major Works,
189–230.
[20]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 88–103.
[21]
Southern, Saint Anselm, 250–294.
[22]
Evans, Anselm, 60–78.
[23]
Copleston, Medieval Philosophy, 96–104.
7.
Pengaruh terhadap Pemikir Sesudahnya
Anselmus dari
Canterbury merupakan salah satu tokoh yang pengaruh intelektualnya melampaui
zamannya sendiri. Walaupun hidup pada abad ke-11 hingga awal abad ke-12,
gagasan-gagasannya terus menjadi bahan dialog, pengembangan, maupun kritik
sepanjang sejarah filsafat dan teologi Barat. Hal ini disebabkan oleh dua
karakter utama pemikirannya: pertama, keberhasilannya menghubungkan iman dan
rasio dalam suatu kerangka sistematis; kedua, kemampuannya merumuskan
persoalan-persoalan mendasar—seperti keberadaan Tuhan, kebebasan kehendak,
kebenaran, dan penebusan—dengan bahasa konseptual yang tajam.¹
Pengaruh Anselmus
tidak selalu berbentuk penerimaan langsung. Dalam banyak kasus, warisannya
justru tampak melalui kritik terhadap dirinya. Sebuah gagasan besar sering
bertahan bukan hanya karena diterima, tetapi karena terus memaksa generasi
sesudahnya untuk merespons. Demikian pula dengan Anselmus: argumen ontologisnya
memancing perdebatan lintas abad, teori penebusannya membentuk tradisi teologi
Barat, dan metode fides quaerens intellectum membuka
jalan bagi skolastisisme.²
Bab ini membahas
pengaruh Anselmus terhadap para pemikir sesudahnya dalam beberapa fase:
skolastisisme awal dan tinggi, teologi Reformasi, filsafat modern, filsafat
kontemporer, serta relevansinya dalam diskursus modern.
7.1.
Pengaruh terhadap
Skolastisisme Awal
7.1.1.
Peter Abelard
Salah satu tokoh
penting sesudah Anselmus adalah Peter Abelard (1079–1142). Walaupun pendekatan
Abelard lebih dialektis dan kritis, ia mewarisi semangat penggunaan rasio dalam
menjelaskan iman. Karya Abelard, Sic et Non, memperlihatkan metode
menyusun otoritas-otoritas yang tampak bertentangan lalu menyelesaikannya
melalui analisis logis.³
Jika Anselmus
menunjukkan bahwa doktrin iman dapat direnungkan secara rasional, Abelard
mengembangkan metode itu menjadi sistem debat akademik yang lebih formal. Dalam
arti ini, Anselmus membuka pintu yang kemudian diperluas oleh Abelard.
7.1.2.
Hugh of Saint
Victor dan Tradisi Victorine
Hugh of Saint Victor
dan para pemikir Victorine memadukan mistisisme dengan rasionalitas teologis.
Model seperti ini memiliki kedekatan dengan Anselmus, yang menggabungkan doa,
meditasi, dan argumentasi.⁴
7.2.
Pengaruh terhadap
Skolastisisme Tinggi
7.2.1.
Thomas Aquinas
Thomas Aquinas
(1225–1274) adalah salah satu penerus paling besar tradisi skolastik. Meskipun
Aquinas mengembangkan sintesis Aristotelian yang jauh lebih luas daripada
Anselmus, ia tetap mewarisi prinsip dasar bahwa iman dan rasio saling
melengkapi.⁵
Aquinas menghormati
Anselmus, tetapi juga berbeda darinya dalam beberapa hal penting:
1)
Aquinas lebih menekankan
pembuktian eksistensi Tuhan dari pengalaman dunia (a posteriori).
2)
Ia mengkritik bentuk tertentu
argumen ontologis Anselmus.
3)
Namun, ia menerima bahwa akal
dapat menyingkap sebagian kebenaran tentang Allah.⁶
Dalam doktrin
penebusan, Aquinas juga berdialog dengan model kepuasan Anselmus, meskipun
menafsirkannya dalam kerangka yang lebih luas.
7.2.2.
Bonaventura
Bonaventura
(1217–1274) menunjukkan kedekatan lebih besar dengan tradisi
Augustinian-Anselmian daripada Aquinas. Ia menekankan iluminasi ilahi,
orientasi jiwa kepada Tuhan, dan spiritualitas intelektual.⁷
7.3.
Pengaruh terhadap
Teologi Reformasi
7.3.1.
Martin Luther
Martin Luther
(1483–1546) hidup berabad-abad setelah Anselmus, tetapi tetap bergerak dalam
horizon teologi Barat yang telah dipengaruhi olehnya. Luther sangat menekankan
dosa manusia dan kebutuhan mutlak akan anugerah Allah—tema yang telah kuat
dalam Cur Deus
Homo.⁸
Walaupun Luther
mengkritik skolastisisme akhir, ia tidak sepenuhnya menolak seluruh warisan
skolastik awal. Dalam doktrin salib dan penebusan, terdapat kesinambungan
tertentu dengan penekanan Anselmus tentang seriusnya dosa dan perlunya karya
Kristus.
7.3.2.
John Calvin
John Calvin
(1509–1564) juga mewarisi kerangka hukum dan keadilan ilahi yang dalam beberapa
aspek beresonansi dengan teori kepuasan Anselmus. Tradisi Protestan kemudian
mengembangkan model penal substitution, yang berbeda
dari Anselmus tetapi tidak terlepas dari pengaruh diskusi yang ia mulai.⁹
7.4.
Pengaruh terhadap
Filsafat Modern
7.4.1.
René Descartes
René Descartes
(1596–1650) menghidupkan kembali argumen ontologis dalam Meditations.
Ia berpendapat bahwa ide tentang makhluk sempurna mengandung eksistensi sebagaimana
segitiga mengandung tiga sudut.¹⁰
Meskipun formulasi
Descartes berbeda, hubungan intelektual dengan Anselmus sangat jelas: keduanya
mencoba menunjukkan bahwa konsep Tuhan memiliki konsekuensi eksistensial.
7.4.2.
Gottfried
Wilhelm Leibniz
Gottfried Wilhelm
Leibniz (1646–1716) menerima argumen ontologis tetapi berusaha memperbaikinya
dengan menambahkan syarat bahwa konsep makhluk sempurna harus mungkin secara
logis.¹¹
7.4.3.
Immanuel Kant
Immanuel Kant
(1724–1804) memberikan kritik paling terkenal terhadap argumen ontologis.
Menurut Kant, eksistensi bukan predikat yang menambah isi konsep. Oleh karena
itu, keberadaan tidak dapat diturunkan hanya dari definisi.¹²
Walaupun menolak
argumen Anselmus, Kant justru memperlihatkan besarnya pengaruh Anselmus: sebuah
gagasan yang masih harus dihadapi setelah tujuh abad.
7.4.4.
Georg Wilhelm
Friedrich Hegel
Georg Wilhelm
Friedrich Hegel melihat argumen ontologis lebih simpatik. Bagi Hegel, hubungan
antara pikiran dan realitas lebih erat daripada yang diasumsikan empirisme
modern.¹³
7.5.
Pengaruh terhadap
Filsafat Analitik Kontemporer
Pada abad ke-20 dan
ke-21, filsafat agama analitik menghidupkan kembali diskusi tentang Anselmus.
7.5.1.
Norman Malcolm
Norman Malcolm
menafsirkan ulang argumen ontologis Anselmus dengan menekankan konsep keberadaan
niscaya (necessary
existence).¹⁴
7.5.2.
Alvin Plantinga
Alvin Plantinga
mengembangkan versi modal dari argumen ontologis menggunakan logika
kemungkinan-dunia (possible worlds semantics). Ia
berargumen bahwa jika makhluk mahatinggi mungkin ada, maka makhluk itu ada
secara niscaya.¹⁵
7.5.3.
Richard
Swinburne dan Teologi Rasional
Richard Swinburne,
meskipun lebih terkenal dengan argumen probabilistik, tetap bergerak dalam
tradisi yang menganggap rasio relevan bagi pembahasan iman—semangat yang dapat
ditelusuri kembali kepada Anselmus.¹⁶
7.6.
Pengaruh terhadap
Teologi Kontemporer
7.6.1.
Karl Barth
Karl Barth
memberikan perhatian besar kepada Anselmus dalam bukunya Fides
Quaerens Intellectum. Barth menafsirkan Anselmus bukan sebagai
rasionalis, tetapi sebagai teolog yang memulai dari wahyu dan berusaha memahami
iman dari dalam iman itu sendiri.¹⁷
7.6.2.
ans Urs von
Balthasar
Hans Urs von
Balthasar mengapresiasi dimensi kontemplatif dan kristologis Anselmus, terutama
keseimbangan antara intelek dan adorasi.¹⁸
7.7.
Pengaruh terhadap
Konsep Gereja dan Negara
Sebagai Uskup Agung
Canterbury, Anselmus terlibat dalam konflik investitur melawan campur tangan
monarki dalam urusan gereja. Sikapnya berpengaruh terhadap perkembangan gagasan
bahwa otoritas spiritual memiliki ruang otonom dari kekuasaan politik.¹⁹
Pemikiran ini
kemudian berkontribusi pada sejarah panjang pembatasan kekuasaan negara di
Eropa, walaupun dalam bentuk yang sangat berbeda dari sekularisme modern.
7.8.
Evaluasi Kritis atas
Pengaruhnya
Pengaruh Anselmus
terhadap pemikir sesudahnya dapat diringkas dalam beberapa bentuk:
1)
Pengaruh Metodologis
– iman dan rasio dapat berdialog.
2)
Pengaruh Konseptual
– persoalan eksistensi Tuhan, dosa, dan kebebasan dirumuskan secara sistematis.
3)
Pengaruh Polemis
– gagasannya terus dikritik dan diperdebatkan.
4)
Pengaruh Institusional
– membantu membentuk budaya intelektual skolastik.²⁰
Namun demikian,
sebagian unsur pemikirannya bersifat kontekstual, terutama bahasa feodal dalam
teori kepuasan dan metafisika esensialis yang tidak selalu diterima modernitas.
Kesimpulan
Pengaruh Anselmus
terhadap pemikir sesudahnya sangat luas dan lintas zaman. Dari skolastisisme
awal hingga filsafat analitik kontemporer, dari teologi Reformasi hingga
diskusi modern tentang rasionalitas iman, gagasan-gagasannya terus hidup.
Ia memengaruhi bukan
hanya mereka yang setuju dengannya, tetapi juga mereka yang menolak dan
mengkritiknya. Dalam hal ini, Anselmus adalah contoh klasik pemikir besar:
seseorang yang tidak berhenti berbicara setelah wafat, karena ide-idenya terus
memanggil generasi baru untuk berpikir ulang tentang Tuhan, manusia, dan
kebenaran.
Footnotes
[1]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.
[2]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 301–315.
[3]
David Luscombe, The School of Peter
Abelard (Cambridge: Cambridge
University Press, 1969), 10–22.
[4]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 300–315.
[5]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 180–210.
[6]
Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.2, a.1.
[7]
Gilson, History of Christian
Philosophy, 387–401.
[8]
Alister E. McGrath, Historical
Theology (Oxford: Blackwell, 1998),
156–162.
[9]
Ibid., 168–175.
[10]
René Descartes, Meditations on First
Philosophy, trans. John Cottingham
(Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 45–51.
[11]
Gottfried Wilhelm Leibniz, Philosophical
Essays, trans. Roger Ariew and Daniel
Garber (Indianapolis: Hackett, 1989), 230–233.
[12]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929),
A598/B626.
[13]
G. W. F. Hegel, Lectures on the
Philosophy of Religion, vol. 3
(Berkeley: University of California Press, 1985), 163–170.
[14]
Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review
69, no. 1 (1960): 41–62.
[15]
Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221.
[16]
Richard Swinburne, The Existence of God, 2nd ed. (Oxford: Oxford University Press, 2004),
5–18.
[17]
Karl Barth, Fides Quaerens
Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.
[18]
Hans Urs von Balthasar, The
Glory of the Lord, vol. 2 (San
Francisco: Ignatius Press, 1984), 145–151.
[19]
Brian Tierney, The Crisis of Church
and State 1050–1300 (Toronto:
University of Toronto Press, 1988), 54–71.
[20]
Southern, Saint Anselm, 316–325.
8.
Kritik Kontemporer dan Relevansi
Modern
Anselmus dari
Canterbury hidup dalam konteks abad ke-11, namun banyak gagasannya tetap
menjadi bahan diskusi dalam filsafat, teologi, etika, dan teori politik modern.
Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran besar sering kali melampaui konteks
asalnya. Meskipun sejumlah konsep Anselmus berakar pada struktur sosial feodal,
metafisika klasik, dan teologi Kristen Latin, pertanyaan-pertanyaan yang ia
ajukan tetap aktual: apakah iman dapat dipertanggungjawabkan secara rasional?
Apakah keberadaan Tuhan dapat dipikirkan secara logis? Bagaimana keadilan dan
belas kasih diperdamaikan? Apa makna kebebasan manusia?¹
Pada saat yang sama,
dunia modern menghadirkan tantangan yang tidak dihadapi Anselmus: sekularisasi,
pluralisme agama, perkembangan sains modern, kritik bahasa metafisik, teori
demokrasi, psikologi modern, dan sensitivitas baru terhadap kekuasaan. Karena
itu, warisan Anselmus perlu dibaca ulang secara kritis.²
Bab ini membahas dua
dimensi sekaligus: kritik kontemporer terhadap
pemikiran Anselmus dan relevansi modern yang masih
dapat dipertahankan atau dikembangkan.
8.1.
Kritik terhadap Argumen
Ontologis
8.1.1.
Kritik Logis
dan Analitik
Argumen ontologis
Anselmus tetap menjadi salah satu topik paling diperdebatkan dalam filsafat
agama. Kritik modern utama berangkat dari pertanyaan: dapatkah eksistensi
disimpulkan hanya dari definisi?
Immanuel Kant
berpendapat bahwa eksistensi bukan predikat nyata. Menambahkan “ada” pada
konsep suatu benda tidak menambah isi konsep tersebut. Karena itu, keberadaan
tidak dapat diturunkan hanya dari analisis konseptual.³ Kritik Kant masih
menjadi referensi utama dalam diskusi kontemporer.
Dalam filsafat
analitik, sebagian pemikir menilai argumen Anselmus gagal karena
mencampuradukkan tingkat bahasa:
1)
konsep dalam pikiran;
2)
referensi di dunia nyata;
3)
status logis keberadaan.⁴
8.1.2.
Respons Modern
Walaupun dikritik,
argumen ontologis tidak mati. Alvin Plantinga dan Norman Malcolm mengembangkan
versi modal yang menekankan kemungkinan keberadaan niscaya (necessary
being).⁵
Perdebatan ini
menunjukkan bahwa nilai argumen ontologis mungkin bukan sekadar sebagai “bukti
final,” tetapi sebagai alat untuk mengeksplorasi hubungan antara logika,
modalitas, dan konsep ketuhanan.
8.1.3.
Relevansi
Modern
Di era modern,
argumen ontologis tetap relevan dalam:
·
filsafat logika modal;
·
metafisika keberadaan;
·
filsafat bahasa;
·
epistemologi religius.⁶
8.2.
Kritik terhadap
Teori Penebusan (Satisfaction Theory)
8.2.1.
Kritik Historis
dan Sosial
Dalam Cur Deus
Homo, Anselmus menjelaskan dosa sebagai pelanggaran terhadap
kehormatan Allah yang menuntut pemulihan. Banyak sarjana modern menilai model
ini dipengaruhi budaya feodal, di mana kehormatan tuan dan kewajiban bawahan
merupakan struktur sosial dominan.⁷
Karena itu, kritik
utama menyatakan bahwa teori tersebut terlalu terikat pada zamannya dan tidak
universal.
8.2.2.
Kritik Moral
Sebagian teolog modern
mempertanyakan apakah keadilan ilahi harus dipahami dalam kategori utang dan
pembayaran. Mereka khawatir model ini:
·
menggambarkan Allah terlalu
legalistik;
·
menekankan hukuman lebih
dari kasih;
·
menjadikan salib seolah
transaksi yuridis.⁸
Gustaf Aulén, misalnya,
menghidupkan kembali model Christus Victor, yang melihat karya
Kristus terutama sebagai kemenangan atas dosa, maut, dan kuasa jahat.⁹
8.2.3.
Relevansi
Modern
Walaupun demikian,
teori Anselmus tetap penting karena menegaskan:
1)
dosa memiliki konsekuensi nyata;
2)
keadilan tidak boleh diabaikan
demi sentimentalitas;
3)
rekonsiliasi membutuhkan pemulihan
relasi, bukan sekadar deklarasi kosong.¹⁰
Dalam bahasa modern,
teori ini dapat dibaca ulang sebagai model keadilan restoratif, bukan
sekadar pembayaran hukum.
8.3.
Kritik terhadap
Hubungan Iman dan Rasio
8.3.1.
Tantangan
Sekularisasi
Dunia modern
ditandai oleh diferensiasi antara agama, sains, dan politik. Banyak pemikir
sekular berpendapat bahwa keyakinan religius seharusnya tidak dijadikan dasar
pengetahuan publik. Dalam konteks ini, formula Anselmus fides
quaerens intellectum dianggap terlalu internal karena berangkat
dari iman terlebih dahulu.¹¹
8.3.2.
Tantangan
Positivisme dan Empirisme
Tradisi empiris
menuntut bukti observasional. Karena itu, argumen metafisik yang tidak dapat
diverifikasi secara empiris dianggap lemah atau tidak bermakna. Kritik seperti
ini tampak dalam positivisme logis abad ke-20.¹²
8.3.3.
Relevansi
Modern
Namun, perkembangan
filsafat kontemporer menunjukkan bahwa tidak semua pengetahuan bersifat empiris.
Logika, matematika, etika, dan banyak asumsi ilmiah sendiri bergantung pada
prinsip non-empiris.
Dalam konteks ini,
Anselmus relevan karena menunjukkan bahwa:
·
rasionalitas memiliki
banyak bentuk;
·
keyakinan dasar dapat
menjadi titik awal penyelidikan;
·
iman tidak identik dengan
irasionalitas.¹³
8.4.
Kritik dari
Pluralisme Agama
8.4.1.
Masalah
Eksklusivitas
Anselmus menulis
dalam kerangka Kristen Latin yang relatif homogen. Dunia modern jauh lebih
plural: Islam, Hindu, Buddha, Yahudi, sekular humanisme, dan banyak pandangan
lain hidup berdampingan. Karena itu, pertanyaan muncul: apakah kerangka teologi
Anselmus terlalu eksklusif?¹⁴
8.4.2.
Dialog
Antaragama
Konsep Anselmus
tentang pencarian rasional terhadap Yang Tertinggi dapat dijadikan titik temu
dialog lintas agama. Walaupun isi doktrinal berbeda, banyak tradisi berbagi
pertanyaan serupa:
·
Apa dasar realitas?
·
Apa itu kebaikan tertinggi?
·
Bagaimana manusia
diperdamaikan dengan Yang Ilahi?¹⁵
8.4.3.
Relevansi
Modern
Dengan pembacaan
terbuka, Anselmus dapat diposisikan bukan sebagai lawan pluralisme, tetapi
sebagai contoh bagaimana komitmen iman tetap bisa berdialog dengan rasio.
8.5.
Kritik terhadap
Konsep Kebebasan Kehendak
8.5.1.
Tantangan
Psikologi dan Neurosains
Anselmus
mendefinisikan kebebasan sebagai kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak.
Namun ilmu modern menyoroti pengaruh bawah sadar, trauma, genetika, lingkungan
sosial, dan proses neurologis terhadap keputusan manusia. Hal ini menantang
model kebebasan yang terlalu sederhana.¹⁶
8.5.2.
Relevansi Etis
Meski demikian,
definisi Anselmus tetap bernilai karena memisahkan kebebasan dari sekadar
pilihan acak. Dalam budaya konsumerisme modern, kebebasan sering disamakan
dengan banyaknya opsi. Anselmus justru menekankan bahwa kebebasan sejati adalah
kemampuan memilih yang baik.¹⁷
Gagasan ini relevan
dalam:
·
pendidikan karakter;
·
etika kebiasaan;
·
rehabilitasi moral;
·
tanggung jawab sosial.
8.6.
Kritik Politik dan
Institusional
8.6.1.
Gereja dan
Kekuasaan
Sebagai Uskup Agung
Canterbury, Anselmus membela kebebasan gereja terhadap campur tangan raja.
Dalam masyarakat demokratis modern, relasi agama-negara dibaca berbeda. Otonomi
lembaga agama penting, tetapi dominasi agama atas negara juga dipersoalkan.¹⁸
8.6.2.
Relevansi
Modern
Warisan Anselmus
dapat diterjemahkan sebagai prinsip umum:
·
kekuasaan politik perlu
dibatasi;
·
otoritas moral tidak
identik dengan kekuasaan koersif;
·
hati nurani dapat menolak
tekanan negara.¹⁹
Nilai ini relevan
bagi hak asasi manusia dan kebebasan beragama.
8.7.
Relevansi dalam
Filsafat Kontemporer
8.7.1.
Metafisika dan
Filsafat Agama
Pertanyaan Anselmus
tentang makhluk sempurna, keberadaan niscaya, dan sumber kebaikan tetap menjadi
topik utama metafisika analitik.²⁰
8.7.2.
Epistemologi
Formula faith
seeking understanding mengilhami diskusi tentang:
·
properly basic beliefs;
·
rasionalitas kepercayaan
religius;
·
hubungan komitmen dan
pengetahuan.²¹
8.7.3.
Etika
Teori kebenaran dan
kehendaknya berguna untuk membahas hubungan antara niat, tindakan, dan karakter
moral.
8.8.
Relevansi Spiritual
di Era Modern
Masyarakat modern
sering mengalami fragmentasi makna: teknologi maju, tetapi orientasi hidup
kabur. Dalam konteks ini, Anselmus relevan karena menolak pemisahan total
antara berpikir dan berdoa, intelek dan kontemplasi.²²
Ia mengingatkan
bahwa:
1)
manusia mencari bukan hanya
informasi, tetapi makna;
2)
pengetahuan tanpa kebijaksanaan
tidak cukup;
3)
rasio dapat berjalan bersama
kedalaman batin.
8.9.
Evaluasi Sintesis
Jika diringkas,
kritik kontemporer terhadap Anselmus mencakup:
1)
metafisika klasik yang
dipersoalkan modernitas;
2)
model feodal dalam teori
penebusan;
3)
asumsi teologis yang partikular;
4)
konsep kehendak yang dianggap
kurang kompleks.²³
Namun relevansinya
tetap kuat dalam:
1)
filsafat agama;
2)
etika dan kebebasan;
3)
teori rasionalitas;
4)
spiritualitas intelektual;
5)
pembatasan kekuasaan politik.
Kesimpulan
Pemikiran Anselmus
tidak dapat diterima begitu saja tanpa kritik, tetapi juga tidak dapat
disingkirkan sebagai artefak abad pertengahan. Banyak unsur sistemnya memang
kontekstual, namun pertanyaan-pertanyaan dasarnya tetap universal.
Di tengah dunia
modern yang sering mempertentangkan iman dan akal, keadilan dan kasih,
kebebasan dan moralitas, Anselmus menawarkan model pencarian yang serius:
keyakinan harus dipikirkan, dan pemikiran seharusnya terbuka pada pertanyaan
terdalam tentang makna. Karena itu, relevansi modern Anselmus bukan terletak
pada pengulangan literal doktrinnya, melainkan pada daya inspiratif metode dan
kedalaman problematika yang ia wariskan.
Footnotes
[1]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.
[2]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 301–325.
[3]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929),
A598/B626.
[4]
J. L. Mackie, The Miracle of Theism (Oxford: Clarendon Press, 1982), 54–61.
[5]
Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221; Norman
Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical
Review 69, no. 1 (1960): 41–62.
[6]
William Lane Craig and J. P. Moreland, eds., The Blackwell Companion to Natural Theology (Malden, MA: Wiley-Blackwell, 2009), 553–593.
[7]
Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.
[8]
J. Denny Weaver, The Nonviolent
Atonement (Grand Rapids: Eerdmans,
2001), 45–63.
[9]
Aulén, Christus Victor, 4–11.
[10]
Eleonore Stump, Atonement (Oxford: Oxford University Press, 2018), 23–39.
[11]
Karl Barth, Fides Quaerens
Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.
[12]
A. J. Ayer, Language, Truth and
Logic (London: Victor Gollancz,
1936), 34–45.
[13]
Alvin Plantinga, Warranted Christian
Belief (Oxford: Oxford University
Press, 2000), 167–186.
[14]
John Hick, An Interpretation of
Religion (New Haven: Yale University
Press, 1989), 1–18.
[15]
Keith Ward, Religion and Revelation (Oxford: Clarendon Press, 1994), 201–219.
[16]
Patricia Churchland, Braintrust (Princeton: Princeton University Press, 2011),
89–112.
[17]
Anselm of Canterbury, De
Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 175–188.
[18]
Brian Tierney, The Crisis of Church
and State 1050–1300 (Toronto:
University of Toronto Press, 1988), 54–71.
[19]
John Courtney Murray, We
Hold These Truths (New York: Sheed
and Ward, 1960), 112–135.
[20]
Brian Leftow, God and Necessity (Oxford: Oxford University Press, 2012), 1–25.
[21]
Plantinga, Warranted Christian
Belief, 169–210.
[22]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 88–103.
[23]
Southern, Saint Anselm, 316–325.
9.
Analisis Kritis Penulis
Setelah menelaah
biografi, konteks historis, pemikiran filsafat, teologi, karya-karya utama,
pengaruh historis, serta kritik kontemporer terhadap Anselmus dari Canterbury,
langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi kritis secara sintesis. Analisis
ini bertujuan bukan sekadar mengulang isi pemikirannya, melainkan menilai
kekuatan, keterbatasan, dan relevansi epistemologis maupun praktis dari sistem
pemikiran Anselmus dalam perspektif masa kini.¹
Sebagai tokoh abad
pertengahan, Anselmus hidup dalam horizon budaya Kristen Latin yang sangat
berbeda dari masyarakat modern pluralistik. Oleh karena itu, setiap penilaian
terhadap dirinya harus memperhatikan dua hal sekaligus: pertama, keadilan
historis terhadap konteks zamannya; kedua, keberanian kritis untuk menilai
apakah gagasan-gagasannya masih memadai bagi problem kontemporer.²
Dalam pandangan
penulis, nilai terbesar Anselmus bukan semata pada kesimpulan-kesimpulan
doktrinalnya, melainkan pada model intelektual yang ia wariskan: keyakinan
bahwa pertanyaan terdalam tentang realitas, Tuhan, manusia, dan moralitas layak
dipikirkan secara serius, sistematis, dan rasional.
9.1.
Kekuatan Fundamental
Pemikiran Anselmus
9.1.1.
Integrasi Iman
dan Rasio
Kekuatan paling
menonjol dari Anselmus adalah keberhasilannya menolak dikotomi tajam antara
iman dan akal. Dalam banyak konteks modern, agama sering diposisikan sebagai
wilayah subjektif dan anti-rasional, sedangkan rasio dipersempit menjadi
empirisme teknis. Anselmus menawarkan alternatif: iman dapat menjadi titik
tolak pencarian intelektual tanpa kehilangan sifat rasionalnya.³
Formula fides
quaerens intellectum memiliki makna epistemologis yang mendalam.
Semua sistem berpikir sesungguhnya berangkat dari asumsi dasar tertentu—baik
naturalisme, empirisme, humanisme, maupun teisme. Karena itu, memulai dari iman
tidak otomatis irasional; yang menentukan adalah apakah keyakinan itu dapat
direfleksikan, diuji koherensinya, dan dipertanggungjawabkan secara
argumentatif.⁴
Dalam hal ini,
Anselmus mendahului diskusi modern tentang:
·
foundational beliefs;
·
rasionalitas komitmen
dasar;
·
hubungan kepercayaan dan
penalaran.
9.1.2.
Keberanian
Metafisik
Filsafat kontemporer
sering berhati-hati terhadap pertanyaan metafisik besar. Namun Anselmus berani
mengajukan pertanyaan mendasar:
·
Mengapa ada sesuatu dan
bukan ketiadaan?
·
Apa hakikat kebaikan
tertinggi?
·
Apakah realitas memiliki
dasar final?
·
Bagaimana kebebasan mungkin
terjadi?⁵
Keberanian ini
penting. Sekalipun jawaban Anselmus dapat diperdebatkan, keberanian untuk
bertanya pada level terdalam merupakan warisan intelektual yang bernilai
tinggi.
9.1.3.
Ketertiban
Argumentatif
Anselmus menunjukkan
disiplin berpikir yang sistematis. Ia berusaha menyusun premis, definisi,
inferensi, dan kesimpulan secara tertib. Ini sangat penting dalam tradisi
akademik, karena keyakinan tanpa argumentasi mudah jatuh pada dogmatisme,
sementara kritik tanpa struktur mudah jatuh pada skeptisisme kosong.⁶
9.2.
Keterbatasan
Historis Pemikiran Anselmus
9.2.1.
Ketergantungan
pada Metafisika Esensialis
Sebagian besar
argumen Anselmus bekerja dalam kerangka metafisika klasik yang mengandaikan:
1)
esensi tetap;
2)
hierarki keberadaan;
3)
kesempurnaan objektif;
4)
relasi partisipasi antara yang
terbatas dan yang absolut.⁷
Masalahnya, filsafat
modern dan pascamodern banyak menggugat asumsi-asumsi tersebut. Tradisi
eksistensialisme, pragmatisme, fenomenologi, dan filsafat bahasa lebih
menekankan pengalaman, praksis, konteks, atau penggunaan bahasa daripada esensi
universal.
Karena itu, sebagian
argumen Anselmus sulit diterima tanpa terlebih dahulu menerima kerangka
metafisiknya.
9.2.2.
Konteks Feodal
dalam Teori Penebusan
Teori kepuasan dalam
Cur Deus
Homo sangat kuat secara logis, tetapi juga sangat dipengaruhi
struktur kehormatan-feodal abad pertengahan. Dalam masyarakat feodal,
pelanggaran terhadap tuan menuntut pemulihan kehormatan. Struktur ini lalu
digunakan untuk menjelaskan relasi dosa dan keadilan ilahi.⁸
Bagi pembaca modern,
model tersebut problematis bila dipahami secara literal, karena:
·
Allah tampak seperti
penguasa feodal yang menuntut ganti rugi;
·
relasi kasih dapat
tertutupi bahasa legalistik;
·
kompleksitas dosa sosial
dan struktural kurang diperhatikan.
Namun, bila
ditafsirkan simbolik sebagai kebutuhan objektif akan pemulihan moral, teori ini
tetap memiliki daya guna.
9.2.3.
Keterbatasan
Pluralistik
Anselmus menulis
dalam dunia Kristen Latin yang relatif homogen. Ia tidak berhadapan langsung
dengan pluralisme agama modern, sekularisme demokratis, atau globalisasi
nilai.⁹
Akibatnya, sistemnya
kurang memberi ruang eksplisit bagi:
·
dialog antaragama;
·
epistemologi lintas
tradisi;
·
relativitas budaya;
·
problem identitas modern.
9.3.
Evaluasi terhadap
Argumen Ontologis
9.3.1.
Nilai Positif
Menurut penulis,
kekuatan utama argumen ontologis Anselmus bukan terletak pada kemampuannya
“memaksa semua orang percaya,” tetapi pada kemampuannya menunjukkan bahwa
konsep ketuhanan memiliki bobot metafisik serius.¹⁰
Argumen ini memaksa
filsafat bertanya:
·
Apakah keberadaan adalah
predikat?
·
Apa hubungan pikiran dan
realitas?
·
Dapatkah sesuatu niscaya
ada?
·
Apakah logika mampu menyentuh
metafisika?
Dalam arti ini,
argumen ontologis adalah laboratorium filsafat.
9.3.2.
Kelemahan
Namun sebagai bukti
universal, argumen ini bergantung pada penerimaan konsep tertentu tentang
“kesempurnaan” dan “keberadaan.” Bila konsep-konsep itu ditolak, kekuatan
persuasifnya menurun drastis. Kritik Immanuel Kant tetap sangat kuat dalam hal
ini.¹¹
Kesimpulan penulis:
argumen ontologis lebih berhasil sebagai eksplorasi rasional tentang konsep
Tuhan daripada sebagai demonstrasi final.
9.4.
Evaluasi terhadap
Konsep Kebebasan
Pemahaman Anselmus
tentang kebebasan sebagai kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak sangat
kaya secara etis. Ia mengingatkan bahwa kebebasan bukan sekadar pilihan tak
terbatas, melainkan orientasi pada kebaikan.¹²
Dalam masyarakat
modern, kebebasan sering direduksi menjadi:
·
kebebasan konsumsi;
·
kebebasan preferensi;
·
kebebasan tanpa tanggung
jawab.
Di sini Anselmus
sangat relevan: seseorang bisa memiliki banyak pilihan namun tetap tidak bebas
bila dikuasai hawa nafsu, kecanduan, manipulasi, atau ketidaktahuan.
Namun, teorinya
perlu diperkaya oleh psikologi modern yang menunjukkan bahwa kehendak manusia
dibentuk oleh trauma, lingkungan, dan struktur sosial. Kebebasan bukan hanya
soal moral individual, tetapi juga kondisi sosial yang memungkinkan pilihan
nyata.
9.5.
Relevansi
Metodologis bagi Akademik Modern
Penulis menilai
warisan paling tahan lama dari Anselmus adalah metode berpikirnya. Ada tiga
unsur yang sangat relevan bagi dunia akademik modern:
1)
Kerendahan
Intelektual
Anselmus sadar bahwa akal manusia terbatas di
hadapan realitas tertinggi. Ini penting sebagai koreksi terhadap kesombongan
intelektual modern.¹³
2)
Keseriusan
Argumentatif
Ia tidak puas dengan slogan atau sentimen, tetapi
menuntut alasan. Ini relevan dalam era media sosial yang sering dipenuhi opini
instan.
3)
Kesatuan
Pengetahuan dan Moralitas
Bagi Anselmus, mengetahui kebenaran berkaitan
dengan pembentukan jiwa. Ilmu tidak netral secara eksistensial. Ini penting di
era teknologi yang mampu maju tanpa arah etis.
9.6.
Kritik terhadap Pembacaan
Modern atas Anselmus
Sering kali
modernitas mengkritik Anselmus dengan cara simplistik, misalnya menyebutnya
sekadar “pemikir kuno yang mencoba membuktikan Tuhan lewat definisi.” Penilaian
ini dangkal.¹⁴
Anselmus bukan hanya
penyusun argumen ontologis. Ia adalah pemikir yang bergulat dengan:
·
struktur rasional iman;
·
moralitas kehendak;
·
keadilan dan belas kasih;
·
relasi institusi agama dan
kekuasaan politik;
·
kehidupan kontemplatif.
Karena itu,
pembacaan yang adil harus melihat keseluruhan sistemnya.
9.7.
Posisi Penulis: Apa
yang Perlu Dipertahankan dan Direvisi
Yang Perlu Dipertahankan
1)
Integrasi iman dan rasio.
2)
Keseriusan metafisik.
3)
Definisi kebebasan yang
berorientasi kebaikan.
4)
Pentingnya keadilan dalam
rekonsiliasi.
5)
Nilai kontemplasi intelektual.¹⁵
Yang Perlu Direvisi
1)
Bahasa feodal tentang kehormatan
dan utang.
2)
Kurangnya perhatian pada dimensi
sosial-struktural dosa.
3)
Kurangnya keterlibatan dengan
pluralisme agama.
4)
Konsep kehendak yang belum
mempertimbangkan psikologi modern.
5)
Metafisika yang terlalu statis.¹⁶
9.8.
Sintesis Penulis
Jika dirumuskan
secara singkat, Anselmus adalah pemikir yang sangat kuat dalam metode,
cukup kuat dalam analisis moral, dan sebagian
perlu direinterpretasi dalam substansi historis tertentu.
Ia tidak selalu
memberi jawaban final bagi dunia modern, tetapi ia mengajarkan cara bertanya
yang bermutu. Dalam banyak kasus, kemampuan mengajukan pertanyaan yang benar
lebih penting daripada jawaban yang cepat.
Kesimpulan
Secara kritis,
Anselmus tidak boleh dipuja tanpa koreksi, tetapi juga tidak layak disingkirkan
sebagai tokoh usang. Ia adalah pemikir besar yang bekerja dengan perangkat
zamannya untuk menjawab persoalan universal.
Nilai paling
berharga dari Anselmus terletak pada kesungguhannya mencari kebenaran melalui
perpaduan iman, rasio, moralitas, dan kontemplasi. Dalam zaman yang sering
terpecah antara fanatisme tanpa nalar dan skeptisisme tanpa makna, warisan
tersebut tetap sangat relevan.
Footnotes
[1]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.
[2]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 301–325.
[3]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), 87.
[4]
Alvin Plantinga, Warranted Christian
Belief (Oxford: Oxford University
Press, 2000), 167–186.
[5]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–96.
[6]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 230–248.
[7]
Brian Leftow, God and Necessity (Oxford: Oxford University Press, 2012), 1–25.
[8]
Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.
[9]
John Hick, An Interpretation of
Religion (New Haven: Yale University
Press, 1989), 1–18.
[10]
Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review
69, no. 1 (1960): 41–62.
[11]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929),
A598/B626.
[12]
Anselm of Canterbury, De
Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 175–188.
[13]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 88–103.
[14]
Southern, Saint Anselm, 316–325.
[15]
Karl Barth, Fides Quaerens
Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.
[16]
Eleonore Stump, Atonement (Oxford: Oxford University Press, 2018), 23–39.
10.
Kesimpulan
10.1.
Penegasan Umum
Kajian mengenai
Anselmus dari Canterbury menunjukkan bahwa ia merupakan salah satu figur paling
penting dalam sejarah intelektual Kristen Barat dan perkembangan filsafat abad
pertengahan. Kehadirannya menandai masa transisi antara tradisi patristik yang
lebih kontemplatif dan tradisi skolastik yang lebih sistematis serta
argumentatif. Dalam dirinya, dimensi spiritual monastik, ketajaman logika,
tanggung jawab pastoral, dan keberanian metafisik berpadu secara khas.¹
Anselmus bukan hanya
tokoh gerejawi yang menempati jabatan Uskup Agung Canterbury, tetapi juga
pemikir yang memberi kerangka baru bagi hubungan antara iman dan akal. Melalui
semboyan fides
quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”), ia
memperlihatkan bahwa keyakinan religius tidak harus bertentangan dengan
rasionalitas, melainkan dapat menjadi titik berangkat bagi pencarian
intelektual yang mendalam.²
Dengan demikian,
signifikansi Anselmus tidak terletak semata pada isi doktrinal ajarannya,
tetapi juga pada model berpikir yang ia wariskan kepada generasi sesudahnya.
10.2.
Temuan Utama tentang
Biografi dan Konteks Historis
Dari segi historis,
kehidupan Anselmus memperlihatkan eratnya hubungan antara pemikiran dan konteks
sosial-politik. Ia lahir di Aosta, dibentuk dalam lingkungan monastik Biara Bec
di Normandia, lalu diangkat menjadi Uskup Agung Canterbury pada masa konflik
antara gereja dan monarki Inggris.³
Pengalaman ini
membentuk kepribadiannya sebagai:
1)
rahib yang kontemplatif;
2)
pendidik yang rasional;
3)
pemimpin gereja yang tegas;
4)
intelektual yang peka terhadap
persoalan moral dan kekuasaan.
Konflik investitur
yang ia hadapi menunjukkan bahwa bagi Anselmus, kebenaran dan integritas
spiritual tidak boleh tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan politik. Sikap ini
memberi warisan penting bagi perkembangan gagasan tentang otonomi moral lembaga
keagamaan dan pembatasan kekuasaan negara.⁴
10.3.
Temuan Utama tentang
Pemikiran Filsafat
Dalam bidang
filsafat, Anselmus memberi kontribusi besar terutama pada metafisika,
epistemologi, dan filsafat agama. Argumen ontologisnya menjadi salah satu argumen
paling terkenal dan paling diperdebatkan dalam sejarah filsafat. Melalui
argumen tersebut, ia berusaha menunjukkan bahwa konsep Tuhan sebagai “sesuatu
yang lebih besar tidak dapat dipikirkan” memiliki konsekuensi eksistensial.⁵
Terlepas dari
berbagai kritik terhadap argumen itu, nilainya tetap besar karena membuka
diskusi mendalam mengenai:
·
hubungan konsep dan
realitas;
·
status logis keberadaan;
·
kemungkinan keberadaan
niscaya;
·
batas kemampuan rasio
manusia.
Selain itu, teori
kebenaran dan pandangannya mengenai kehendak bebas menunjukkan bahwa Anselmus
tidak hanya berkutat pada pembuktian Tuhan, tetapi juga membahas struktur moral
manusia secara serius. Kebebasan baginya bukan sekadar kemampuan memilih apa
saja, melainkan kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi kebaikan itu
sendiri.⁶
Pandangan ini tetap
relevan dalam dunia modern yang sering menyamakan kebebasan dengan pilihan
tanpa arah moral.
10.4.
Temuan Utama tentang
Pemikiran Teologi
Dalam bidang
teologi, karya Cur Deus Homo menempatkan Anselmus
sebagai salah satu arsitek utama doktrin penebusan Barat. Melalui teori
kepuasan (satisfaction
theory), ia menjelaskan bahwa dosa menciptakan ketidakteraturan
moral yang menuntut pemulihan, dan hanya Kristus sebagai Allah-manusia yang
mampu melakukannya secara sempurna.⁷
Walaupun model
tersebut lahir dalam konteks feodal dan menerima kritik modern, kontribusi
utamanya tetap penting:
1)
dosa dipahami sebagai realitas
serius, bukan sekadar kesalahan sepele;
2)
keadilan dan belas kasih
dipikirkan secara bersamaan;
3)
keselamatan dipahami sebagai
rekonsiliasi objektif, bukan sekadar perasaan subjektif.
Selain itu, Anselmus
menampilkan teologi yang menyatukan rasio dan devosi. Banyak tulisannya
bersifat sekaligus reflektif dan doa, menandakan bahwa baginya teologi lahir
dari penyembahan, bukan dari spekulasi kosong.⁸
10.5.
Posisi Anselmus
dalam Sejarah Skolastisisme
Anselmus sering
dijuluki “Bapak Skolastisisme,” dan kajian ini menunjukkan bahwa gelar tersebut
memiliki dasar yang cukup kuat, meskipun harus dipahami secara proporsional. Ia
bukan pendiri tunggal skolastisisme, tetapi merupakan pelopor penting yang
meletakkan dasar metodologisnya.⁹
Kontribusinya tampak
dalam:
·
penggunaan argumentasi
logis untuk menjelaskan iman;
·
penghargaan terhadap
konsistensi konseptual;
·
keyakinan bahwa kebenaran
dapat ditelusuri melalui rasio;
·
penyatuan studi teologi
dengan metode intelektual teratur.
Tokoh-tokoh seperti
Peter Abelard, Thomas Aquinas, dan para skolastikus sesudahnya mengembangkan
jalan yang telah dibuka Anselmus.
10.6.
Kritik Kontemporer
terhadap Anselmus
Kajian ini juga
menunjukkan bahwa pemikiran Anselmus tidak lepas dari keterbatasan. Beberapa
unsur sistemnya terikat pada konteks zamannya:
1)
metafisika esensialis klasik;
2)
struktur sosial feodal dalam teori
penebusan;
3)
horizon keagamaan yang relatif
homogen;
4)
pemahaman kehendak yang belum
memperhitungkan psikologi modern.¹⁰
Karena itu,
penerimaan terhadap Anselmus pada masa kini memerlukan reinterpretasi kritis,
bukan pengulangan literal. Kritik modern terhadap argumen ontologis, teori
kepuasan, dan relasi iman-rasio menunjukkan bahwa warisannya harus terus dibaca
ulang.
Namun justru di
sinilah kekuatan pemikir besar: ia terus menantang generasi baru untuk
berpikir, baik melalui penerimaan maupun penolakan.
10.7.
Relevansi Modern
Meskipun berasal
dari abad pertengahan, Anselmus tetap relevan bagi dunia modern dalam beberapa
bidang.
1)
Filsafat Agama
Perdebatan mengenai rasionalitas iman, keberadaan
Tuhan, dan metafisika niscaya masih aktif hingga kini.¹¹
2)
Etika dan Kebebasan
Definisi kebebasan sebagai orientasi kepada
kebaikan sangat bernilai di tengah budaya relativisme dan konsumerisme.
3)
Teori Keadilan
Teori penebusan dapat dibaca ulang sebagai model
rekonsiliasi dan keadilan restoratif.
4)
Spiritualitas Intelektual
Anselmus menunjukkan bahwa berpikir mendalam dan
hidup rohani tidak harus dipisahkan.
5)
Kritik terhadap
Kekuasaan
Sikapnya dalam konflik gereja-negara menegaskan
pentingnya hati nurani dan batas moral kekuasaan politik.
10.8.
Sintesis Akhir
Penulis
Secara keseluruhan,
penulis menilai bahwa warisan terbesar Anselmus bukan terletak pada setiap
detail sistemnya, melainkan pada etos intelektualnya. Ia menunjukkan bahwa:
·
keyakinan harus berani
diuji oleh akal;
·
akal harus rendah hati di
hadapan misteri;
·
moralitas harus menyertai
pengetahuan;
·
pencarian kebenaran
menuntut disiplin dan integritas.¹²
Di tengah dunia yang
sering terbelah antara fanatisme tanpa nalar dan skeptisisme tanpa makna, model
seperti ini sangat berharga.
Penutup
Anselmus dari
Canterbury tetap layak dipelajari bukan karena semua jawabannya final, tetapi
karena pertanyaan-pertanyaannya tetap hidup. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak
cukup hanya mengetahui fakta; manusia juga mencari makna, dasar kebenaran,
tujuan moral, dan sumber harapan.
Selama
pertanyaan-pertanyaan tersebut masih diajukan, selama itu pula Anselmus akan
tetap relevan dalam sejarah pemikiran manusia.
Footnotes
[1]
R. W. Southern, Saint Anselm: A
Portrait in a Landscape (Cambridge:
Cambridge University Press, 1990), 301–325.
[2]
Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett
Publishing, 2001), 87.
[3]
G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 15–38.
[4]
Brian Tierney, The Crisis of Church
and State 1050–1300 (Toronto:
University of Toronto Press, 1988), 54–71.
[5]
Frederick Copleston, A
History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–96.
[6]
Anselm of Canterbury, De
Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford
University Press, 1998), 175–188.
[7]
Anselm of Canterbury, Cur
Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and
Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 42–101.
[8]
Benedicta Ward, Anselm of Canterbury:
His Life and Legacy (London: SPCK,
2009), 88–103.
[9]
Étienne Gilson, History of Christian
Philosophy in the Middle Ages (New
York: Random House, 1955), 230–248.
[10]
Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.
[11]
Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221.
[12]
Karl Barth, Fides Quaerens
Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.
Daftar
Pustaka
Anselm of Canterbury.
(1974). Cur Deus homo (J. Hopkins & H. Richardson,
Trans.). Edwin Mellen Press.
Anselm of Canterbury.
(1996). Monologion and proslogion (T. Williams, Trans.).
Hackett Publishing.
Anselm of Canterbury.
(1998). Anselm of Canterbury: The major works (B. Davies
& G. R. Evans, Eds.). Oxford University Press.
Anselm of Canterbury.
(2001). Proslogion (T. Williams, Trans.). Hackett
Publishing.
Aquinas, T. (1947). Summa
theologica (Fathers of the English Dominican Province, Trans.).
Benziger Brothers. (Original work published 1265–1274)
Aulén, G. (1931). Christus
victor: An historical study of the three main types of the idea of atonement.
SPCK.
Ayer, A. J. (1936). Language,
truth and logic. Victor Gollancz.
Barth, K. (1960). Fides
quaerens intellectum: Anselm’s proof of the existence of God. SCM
Press.
Churchland, P. S. (2011). Braintrust:
What neuroscience tells us about morality. Princeton University
Press.
Copleston, F. (1993). A
history of philosophy: Vol. 2. Medieval philosophy. Image Books.
Craig, W. L., &
Moreland, J. P. (Eds.). (2009). The Blackwell companion to natural
theology. Wiley-Blackwell.
Davies, B. (2004). An
introduction to the philosophy of religion (3rd ed.). Oxford
University Press.
Davies, B., & Evans, G.
R. (Eds.). (1998). Anselm of Canterbury: The major works.
Oxford University Press.
Descartes, R. (1996). Meditations
on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University
Press. (Original work published 1641)
Eadmer. (1962). The
life of St Anselm (R. W. Southern, Trans.). Clarendon Press.
Evans, G. R. (2004). Anselm.
Continuum.
Gilson, É. (1955). History
of Christian philosophy in the Middle Ages. Random House.
Hegel, G. W. F. (1985). Lectures
on the philosophy of religion (Vol. 3). University of California
Press.
Hick, J. (1989). An
interpretation of religion: Human responses to the transcendent.
Yale University Press.
Kant, I. (1929). Critique
of pure reason (N. Kemp Smith, Trans.). Macmillan. (Original work
published 1781)
Knowles, D. (1963). The
monastic order in England. Cambridge University Press.
Leftow, B. (2012). God
and necessity. Oxford University Press.
Leibniz, G. W. (1989). Philosophical
essays (R. Ariew & D. Garber, Trans.). Hackett Publishing.
Luscombe, D. (1969). The
school of Peter Abelard. Cambridge University Press.
Mackie, J. L. (1982). The
miracle of theism: Arguments for and against the existence of God.
Clarendon Press.
Malcolm, N. (1960).
Anselm’s ontological arguments. Philosophical Review, 69(1),
41–62.
McGrath, A. E. (1998). Historical
theology: An introduction to the history of Christian thought.
Blackwell.
Murray, J. C. (1960). We
hold these truths: Catholic reflections on the American proposition.
Sheed and Ward.
Plantinga, A. (1974). The
nature of necessity. Clarendon Press.
Plantinga, A. (2000). Warranted
Christian belief. Oxford University Press.
Southern, R. W. (1990). Saint
Anselm: A portrait in a landscape. Cambridge University Press.
Stump, E. (2018). Atonement.
Oxford University Press.
Swinburne, R. (2004). The
existence of God (2nd ed.). Oxford University Press.
Tierney, B. (1988). The
crisis of church and state 1050–1300. University of Toronto Press.
Ward, B. (2009). Anselm
of Canterbury: His life and legacy. SPCK.
Weaver, J. D. (2001). The
nonviolent atonement. Eerdmans.
Williams, T. (Ed.). (2007).
The Cambridge companion to Anselm. Cambridge
University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar