Rabu, 29 April 2026

Pemikiran Anselmus: Pemikiran Filsafat, Teologi, dan Warisan Intelektual “Bapak Skolastisisme” dalam Tradisi Abad Pertengahan

Pemikiran Anselmus

Pemikiran Filsafat, Teologi, dan Warisan Intelektual “Bapak Skolastisisme” dalam Tradisi Abad Pertengahan


Alihkan ke: Tokoh-Tokoh Filsafat, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam.


Abstrak

Artikel ini mengkaji pemikiran Anselmus dari Canterbury sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah intelektual abad pertengahan yang kerap dijuluki sebagai “Bapak Skolastisisme.” Kajian ini bertujuan menganalisis kontribusi Anselmus dalam bidang filsafat dan teologi, menelaah konteks historis kehidupannya, serta menilai relevansi pemikirannya dalam diskursus modern. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis terhadap karya-karya utama seperti Monologion, Proslogion, dan Cur Deus Homo, serta literatur sekunder yang berkaitan.

Hasil kajian menunjukkan bahwa Anselmus memainkan peranan penting dalam merumuskan hubungan antara iman dan rasio melalui prinsip fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman), yang kemudian menjadi fondasi penting tradisi skolastik. Dalam bidang filsafat, kontribusinya tampak terutama pada argumen ontologis mengenai eksistensi Tuhan, teori kebenaran, serta konsep kebebasan kehendak yang menempatkan kebebasan sebagai kemampuan mempertahankan kebaikan moral. Dalam bidang teologi, Anselmus dikenal melalui teori kepuasan (satisfaction theory) tentang penebusan, yang menjelaskan inkarnasi Kristus sebagai pemulihan tatanan keadilan akibat dosa manusia.

Kajian ini juga menemukan bahwa meskipun sebagian pemikiran Anselmus dipengaruhi konteks feodal dan metafisika klasik abad pertengahan, banyak gagasannya tetap relevan dalam filsafat agama, etika, epistemologi, dan dialog antara iman serta rasionalitas modern. Pengaruhnya terlihat pada perkembangan skolastisisme, teologi Reformasi, hingga filsafat analitik kontemporer. Dengan demikian, Anselmus tidak hanya penting sebagai figur historis, tetapi juga sebagai sumber refleksi intelektual yang terus hidup dalam perdebatan modern mengenai Tuhan, manusia, kebebasan, dan kebenaran.

Kata Kunci: Anselmus dari Canterbury, skolastisisme, filsafat abad pertengahan, teologi Kristen, argumen ontologis, fides quaerens intellectum, penebusan, iman dan rasio.


PEMBAHASAN

Telaah Pemikiran Anselmus dari Canterbury


1.          Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang

Abad pertengahan merupakan salah satu periode penting dalam sejarah intelektual Barat, terutama dalam upaya mensistematisasikan hubungan antara iman (fides) dan akal (ratio). Dalam konteks ini, berkembang suatu tradisi yang kemudian dikenal sebagai skolastisisme, yaitu metode berpikir yang berupaya mengharmoniskan ajaran-ajaran teologis dengan analisis rasional melalui pendekatan logika dan dialektika. Tradisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari perkembangan panjang yang dipengaruhi oleh warisan filsafat Yunani, khususnya Aristoteles, serta refleksi teologis para Bapa Gereja seperti Augustinus dari Hippo.¹

Di tengah dinamika tersebut, muncul sosok Anselmus dari Canterbury (1033–1109), seorang filsuf, teolog, sekaligus Uskup Agung Canterbury, yang memberikan kontribusi fundamental dalam merumuskan dasar-dasar metodologis skolastisisme. Ia sering dijuluki sebagai “Bapak Skolastisisme” karena usahanya yang sistematis dalam mengintegrasikan iman dan akal ke dalam suatu kerangka konseptual yang koheren.² Pemikirannya tidak hanya mencerminkan komitmen religius yang mendalam, tetapi juga menunjukkan keberanian intelektual dalam menggunakan rasio sebagai alat untuk memahami kebenaran teologis.

Salah satu prinsip utama yang menjadi landasan pemikiran Anselmus adalah konsep fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman). Prinsip ini menegaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis atau irasional, melainkan suatu titik awal yang mendorong pencarian intelektual secara aktif.³ Dengan demikian, bagi Anselmus, aktivitas berpikir rasional bukanlah ancaman terhadap iman, melainkan bagian integral dari penghayatan iman itu sendiri.

Kontribusi Anselmus yang paling terkenal dalam filsafat adalah argumen ontologis mengenai eksistensi Tuhan, sebagaimana dirumuskan dalam karyanya Proslogion. Dalam argumen tersebut, ia mencoba membuktikan keberadaan Tuhan secara apriori melalui analisis konsep tentang “sesuatu yang lebih besar tidak dapat dipikirkan” (that than which nothing greater can be conceived).⁴ Argumen ini menjadi salah satu perdebatan paling berpengaruh dalam sejarah filsafat, yang kemudian dikritik dan dikembangkan oleh berbagai filsuf, mulai dari Gaunilo hingga Immanuel Kant.

Selain dalam bidang filsafat, Anselmus juga memberikan kontribusi penting dalam teologi, khususnya melalui teorinya tentang penebusan (atonement) yang dikenal sebagai teori kepuasan (satisfaction theory). Dalam karyanya Cur Deus Homo, ia menjelaskan bahwa penebusan dosa manusia hanya dapat dipahami secara rasional melalui konsep keadilan ilahi dan pemulihan kehormatan Tuhan yang dilanggar oleh dosa manusia.⁵ Pemikiran ini tidak hanya berpengaruh dalam tradisi teologi Kristen, tetapi juga menjadi dasar bagi diskursus etika dan keadilan dalam konteks religius.

Secara historis, pemikiran Anselmus berkembang dalam konteks perubahan besar dalam struktur sosial dan politik Eropa, termasuk reformasi gereja dan konflik antara otoritas gerejawi dan kekuasaan monarki. Sebagai Uskup Agung Canterbury, ia terlibat langsung dalam konflik tersebut, yang turut membentuk perspektif teologis dan filosofisnya mengenai otoritas, kebebasan, dan kebenaran.⁶ Oleh karena itu, memahami pemikiran Anselmus tidak dapat dilepaskan dari konteks historis yang melatarbelakanginya.

Dalam konteks kontemporer, pemikiran Anselmus tetap relevan, terutama dalam diskursus filsafat agama dan epistemologi. Pertanyaan tentang hubungan antara iman dan rasio, validitas argumen ontologis, serta konsep keadilan ilahi masih menjadi topik perdebatan yang hidup hingga saat ini.⁷ Oleh karena itu, kajian terhadap pemikiran Anselmus tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga kontribusi teoritis yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.

Dengan demikian, kajian ini berupaya untuk mengkaji secara sistematis pemikiran Anselmus dari Canterbury, baik dalam dimensi filosofis maupun teologis, serta menilai relevansi dan kontribusinya dalam tradisi intelektual yang lebih luas. Pendekatan yang digunakan bersifat analitis dan historis, dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai posisi Anselmus sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah pemikiran Barat.

1.2.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, kajian ini dirumuskan dalam beberapa pertanyaan utama sebagai berikut:

1)                  Bagaimana konsep hubungan antara iman dan rasio dalam pemikiran Anselmus dari Canterbury?

2)                  Bagaimana struktur dan validitas argumen ontologis yang diajukan Anselmus?

3)                  Bagaimana Anselmus menjelaskan doktrin penebusan melalui teori kepuasan (satisfaction theory)?

4)                  Mengapa Anselmus dianggap sebagai pelopor atau “Bapak Skolastisisme”?

5)                  Bagaimana relevansi pemikiran Anselmus dalam konteks filsafat dan teologi kontemporer?

1.3.       Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1)                  Mengkaji secara mendalam konsep fides quaerens intellectum dalam pemikiran Anselmus.

2)                  Menganalisis argumen ontologis serta kritik-kritik terhadapnya.

3)                  Menjelaskan teori penebusan Anselmus dalam kerangka teologi sistematik.

4)                  Menilai kontribusi Anselmus dalam perkembangan metode skolastik.

5)                  Mengidentifikasi relevansi pemikirannya dalam diskursus modern.

1.4.       Metode Kajian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Sumber utama yang digunakan meliputi karya-karya asli Anselmus, seperti Monologion, Proslogion, dan Cur Deus Homo, serta literatur sekunder yang relevan dalam bidang filsafat dan teologi abad pertengahan.

Pendekatan yang digunakan meliputi:

1)                  Pendekatan Historis, untuk memahami konteks sosial, politik, dan intelektual yang melatarbelakangi pemikiran Anselmus.

2)                  Pendekatan Filosofis, untuk menganalisis struktur argumentasi dan konsep-konsep utama yang dikembangkan.

3)                  Pendekatan Teologis, untuk menafsirkan doktrin-doktrin yang dikemukakan dalam kerangka iman Kristen.

Melalui pendekatan multidisipliner ini, diharapkan kajian dapat memberikan gambaran yang utuh, sistematis, dan kritis mengenai pemikiran Anselmus dari Canterbury.


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 85–90.

[2]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–5.

[3]                Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), 93.

[4]                Brian Davies, An Introduction to the Philosophy of Religion (Oxford: Oxford University Press, 2004), 35–40.

[5]                Anselm of Canterbury, Cur Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 100–120.

[6]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 217–250.

[7]                Thomas V. Morris, Anselmian Explorations: Essays in Philosophical Theology (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1987), 1–10.


2.          Biografi dan Konteks Historis

Untuk memahami pemikiran Anselmus dari Canterbury secara memadai, diperlukan penelusuran terhadap latar biografis dan konteks historis yang membentuk kehidupannya. Gagasan-gagasan filosofis dan teologis Anselmus tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan berkembang di tengah dinamika sosial-politik Eropa abad ke-11, masa ketika gereja Latin Barat sedang mengalami reformasi kelembagaan, kebangkitan intelektual monastik, dan konflik kewenangan antara raja serta paus.¹ Dalam konteks inilah Anselmus tampil sebagai tokoh yang memadukan kehidupan religius, kecermatan intelektual, dan keberanian moral.

Riwayat hidup Anselmus memperlihatkan perjalanan dari seorang rahib Benediktin di Normandia menjadi kepala gereja Inggris sebagai Uskup Agung Canterbury. Pengalaman monastik, tugas administratif, perdebatan teologis, dan konflik politik dengan monarki Inggris sangat memengaruhi orientasi pemikirannya mengenai rasio, iman, kebebasan, dan otoritas.² Oleh sebab itu, kajian biografis terhadap dirinya memiliki nilai penting untuk menjelaskan mengapa karya-karyanya menampilkan karakter kontemplatif sekaligus argumentatif.

2.1.       Kelahiran dan Latar Keluarga

Anselmus lahir pada tahun 1033 di kota Aosta, wilayah Alpen yang pada masa itu berada dalam jaringan politik Kerajaan Bourgogne dan kemudian terkait dengan Kekaisaran Romawi Suci. Kini wilayah tersebut termasuk Italia utara. Letak geografis Aosta yang berada di jalur perdagangan dan perlintasan pegunungan menjadikannya tempat yang terbuka terhadap pengaruh budaya Latin dan Franka.³

Ayahnya bernama Gundulph, seorang bangsawan lokal yang dikenal berwatak keras, sedangkan ibunya Ermenberga digambarkan sebagai pribadi saleh dan berpengaruh besar terhadap pembentukan religius Anselmus muda. Tradisi hagiografis menyebut bahwa ibunya menanamkan disiplin moral, semangat doa, dan kecintaan pada kehidupan rohani.⁴ Ketegangan antara karakter ayah dan ibu ini sering dipandang turut membentuk sensitivitas Anselmus terhadap persoalan kehendak, ketaatan, dan keutamaan moral.

Sejak kecil Anselmus menunjukkan minat terhadap belajar dan kehidupan religius. Beberapa sumber menyebut bahwa ia pernah menginginkan masuk biara pada usia muda, tetapi ditolak karena pertimbangan keluarga. Setelah ibunya wafat, hubungan dengan ayahnya memburuk, dan situasi ini mendorong Anselmus meninggalkan rumah serta memulai perjalanan intelektual ke wilayah utara Eropa.⁵

2.2.       Perjalanan Intelektual dan Masuk Biara Bec

Sekitar tahun 1059–1060, Anselmus tiba di Normandia dan kemudian menetap di Biara Bec, salah satu pusat pembelajaran monastik paling penting pada zamannya. Biara ini dipimpin oleh Lanfranc dari Pavia, seorang sarjana terkemuka yang dikenal karena kecakapannya dalam logika dan pendidikan. Kehadiran Lanfranc menjadi faktor utama yang menarik Anselmus ke Bec.⁶

Pada tahun 1060, Anselmus resmi masuk Ordo Benediktin sebagai rahib. Tradisi Benediktin menekankan keseimbangan antara doa, kerja, disiplin, dan pembelajaran (ora et labora). Lingkungan ini sangat menentukan corak intelektual Anselmus, sebab ia belajar memahami teologi bukan semata sebagai spekulasi abstrak, tetapi sebagai bentuk pencarian spiritual yang teratur dan rasional.⁷

Setelah Lanfranc dipindahkan ke Caen, Anselmus naik menjadi prior Biara Bec pada tahun 1063. Dalam jabatan tersebut, ia bertanggung jawab atas pendidikan para rahib, administrasi internal, dan pembinaan disiplin komunitas. Kesaksian para penulis sezaman menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang tegas namun lembut, mengutamakan persuasi ketimbang hukuman keras.⁸

Pada tahun 1078, Anselmus terpilih menjadi abbas (kepala biara) Bec. Di bawah kepemimpinannya, reputasi Bec sebagai pusat pembelajaran meningkat pesat. Banyak murid dari berbagai wilayah datang untuk belajar logika, Kitab Suci, dan teologi. Pada masa inilah ia menulis beberapa karya penting, termasuk Monologion dan Proslogion.⁹

2.3.       Lingkungan Intelektual Abad ke-11

Abad ke-11 sering dipandang sebagai masa kebangkitan intelektual awal di Eropa Barat sebelum berkembangnya universitas-universitas besar abad ke-12 dan ke-13. Sekolah-sekolah katedral dan biara memainkan peran utama dalam transmisi ilmu pengetahuan. Studi tata bahasa, retorika, logika, musik, aritmetika, geometri, dan astronomi mulai dipadukan dengan studi teologi.¹⁰

Dalam lingkungan seperti itu, dialektika atau seni berargumentasi memperoleh perhatian baru. Para sarjana mulai menggunakan perangkat logika untuk menjelaskan doktrin iman. Anselmus termasuk tokoh penting dalam proses ini, meskipun ia tetap menempatkan iman sebagai dasar pencarian intelektual. Prinsip terkenalnya, fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman), lahir dari konteks kebangkitan metode rasional tersebut.¹¹

Selain pengaruh intelektual, kehidupan monastik juga menyediakan ruang kontemplatif yang memungkinkan penulisan karya-karya reflektif. Karena itu, karya Anselmus memiliki bentuk khas: sekaligus doa, meditasi, dan argumentasi filosofis. Ini membedakannya dari tradisi skolastik yang lebih teknis pada abad berikutnya.¹²

2.4.       Menjadi Uskup Agung Canterbury

Pada tahun 1093, setelah wafatnya Lanfranc dari Pavia, Anselmus dipilih menjadi Uskup Agung Canterbury, jabatan gerejawi tertinggi di Inggris. Pemilihannya terjadi ketika Raja William II membutuhkan dukungan politik dan moral gereja. Menurut berbagai kronik, Anselmus awalnya menolak jabatan tersebut karena merasa usia lanjut dan menyadari kompleksitas konflik politik yang akan dihadapi.¹³

Sebagai Uskup Agung Canterbury, Anselmus berupaya menegakkan reformasi gereja, memperbaiki disiplin klerus, dan menegaskan independensi spiritual gereja dari campur tangan kerajaan. Namun agenda ini segera menimbulkan ketegangan dengan William II, terutama terkait hak penunjukan pejabat gereja, penguasaan harta gereja, dan loyalitas kepada paus.¹⁴

Setelah William II wafat pada tahun 1100, tahta Inggris dipegang oleh Henry I. Meskipun awalnya hubungan dengan Anselmus tampak lebih baik, konflik baru muncul mengenai praktik lay investiture, yakni penyerahan simbol jabatan gerejawi oleh penguasa sekuler kepada uskup. Persoalan ini merupakan bagian dari konflik besar Eropa antara monarki dan kepausan.¹⁵

2.5.       Pengasingan dan Konflik Investitur

Akibat perselisihan dengan William II dan kemudian Henry I, Anselmus mengalami dua kali pengasingan sukarela dari Inggris: pertama pada 1097–1100 dan kedua pada 1103–1106. Dalam masa pengasingan ini ia melakukan perjalanan ke Roma dan wilayah Italia, bertemu para pejabat kepausan, serta terlibat dalam perdebatan gerejawi internasional.¹⁶

Konflik mengenai investitur merupakan isu sentral pada zamannya. Reformasi Gregorian, yang diasosiasikan dengan Paus Gregorius VII, menuntut agar pengangkatan pejabat gereja berada di bawah otoritas gereja, bukan raja. Bagi Anselmus, masalah ini bukan sekadar administratif, tetapi menyangkut integritas spiritual gereja dan tatanan moral masyarakat Kristen.¹⁷

Pada akhirnya, tercapai kompromi dengan Henry I pada tahun 1107: raja melepaskan penyerahan simbol rohani jabatan uskup, sementara para uskup tetap memberi penghormatan feodal tertentu kepada mahkota. Penyelesaian ini menjadi salah satu tahap penting dalam sejarah hubungan gereja-negara di Inggris.¹⁸

2.6.       Tahun-Tahun Terakhir dan Wafat

Setelah kembali ke Inggris, Anselmus menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya untuk memimpin gereja, menyelesaikan urusan reformasi, dan menulis karya-karya tambahan. Meskipun usia lanjut dan kesehatan menurun, ia tetap dihormati sebagai figur moral dan intelektual.¹⁹

Anselmus wafat pada 21 April 1109 di Canterbury. Setelah kematiannya, reputasinya terus berkembang sebagai santo, guru gereja, dan pemikir besar abad pertengahan. Pada tahun 1494 ia secara resmi dikanonisasi dalam tradisi Katolik, dan pada tahun 1720 diangkat sebagai Doctor of the Church.²⁰

2.7.       Signifikansi Historis

Secara historis, Anselmus menempati posisi transisional antara tradisi patristik dan skolastik matang. Ia mewarisi semangat kontemplatif dari Augustinus dari Hippo, namun sekaligus membuka jalan bagi metode argumentatif yang kelak berkembang dalam karya Peter Abelard dan Thomas Aquinas.²¹

Biografinya menunjukkan bahwa pemikiran besar sering lahir dari perjumpaan antara disiplin spiritual, pendidikan intelektual, dan pergulatan politik nyata. Karena itu, Anselmus bukan hanya tokoh teologi, tetapi juga figur penting dalam sejarah peradaban Barat yang memperjuangkan kemungkinan harmoni antara iman, akal, dan tatanan sosial.


Footnotes

[1]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 3–15.

[2]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 7–12.

[3]                Southern, Saint Anselm, 17–20.

[4]                Eadmer, The Life of St Anselm, trans. R. W. Southern (Oxford: Clarendon Press, 1962), 6–9.

[5]                Evans, Anselm, 15–18.

[6]                David Knowles, The Monastic Order in England (Cambridge: Cambridge University Press, 1963), 110–114.

[7]                Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 22–27.

[8]                Eadmer, The Life of St Anselm, 38–44.

[9]                Southern, Saint Anselm, 72–88.

[10]             Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 78–86.

[11]             Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), xii–xv.

[12]             Evans, Anselm, 42–47.

[13]             Eadmer, The Life of St Anselm, 102–109.

[14]             Southern, Saint Anselm, 184–205.

[15]             Brian Tierney, The Crisis of Church and State 1050–1300 (Toronto: University of Toronto Press, 1988), 54–63.

[16]             Evans, Anselm, 95–108.

[17]             Tierney, The Crisis of Church and State, 39–58.

[18]             Southern, Saint Anselm, 286–294.

[19]             Ward, Anselm of Canterbury, 130–136.

[20]             Evans, Anselm, 180–184.

[21]             Copleston, Medieval Philosophy, 89–95.


3.          Anselmus dan Lahirnya Skolastisisme

Dalam sejarah intelektual Eropa Barat, skolastisisme menempati posisi sentral sebagai metode berpikir yang berusaha mensistematisasikan pengetahuan melalui penggunaan logika, analisis konseptual, dan argumentasi rasional dalam kerangka keimanan Kristen. Tradisi ini mencapai puncaknya pada abad ke-12 hingga ke-13, terutama melalui karya-karya Peter Abelard, Bonaventura, dan Thomas Aquinas. Namun, akar metodologis dan semangat intelektual skolastisisme telah tampak lebih awal pada abad ke-11, khususnya dalam karya Anselmus dari Canterbury.¹

Anselmus sering disebut sebagai “Bapak Skolastisisme” bukan karena ia mendirikan lembaga skolastik formal, melainkan karena ia meletakkan pola berpikir yang kemudian menjadi ciri khas skolastik: penggunaan rasio untuk menjelaskan iman, penyusunan argumen secara sistematis, penghargaan terhadap konsistensi logis, serta keyakinan bahwa kebenaran teologis dapat didekati melalui refleksi intelektual yang disiplin.² Dalam dirinya, tradisi monastik kontemplatif bertemu dengan metode dialektis yang sedang berkembang.

Dengan demikian, pembahasan mengenai hubungan Anselmus dan lahirnya skolastisisme penting bukan hanya untuk menempatkan dirinya dalam sejarah filsafat, tetapi juga untuk memahami transformasi besar dunia intelektual Barat dari pola patristik menuju pola akademik abad pertengahan.

3.1.       Pengertian Skolastisisme

Istilah “skolastisisme” berasal dari kata Latin scholasticus, yang mula-mula merujuk pada guru atau sarjana sekolah katedral dan biara. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah ini digunakan untuk menunjuk metode intelektual abad pertengahan yang menekankan klarifikasi konsep, perumusan pertanyaan, perdebatan terstruktur, dan penyelesaian kontradiksi melalui logika.³

Skolastisisme bukan sekadar suatu doktrin, melainkan cara berpikir. Ia beroperasi melalui pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah suatu proposisi dapat dibuktikan? Bagaimana dua otoritas yang tampak bertentangan dapat didamaikan? Apa definisi tepat dari suatu konsep teologis? Bagaimana hubungan sebab-akibat dipahami secara rasional? Dalam arti ini, skolastisisme merupakan metode sintesis antara warisan filsafat Yunani dan teologi Kristen Latin.⁴

Meskipun sering diasosiasikan dengan universitas-universitas seperti Paris, Oxford, dan Bologna, tahap awal skolastisisme justru berkembang di lingkungan monastik dan sekolah katedral sebelum lahirnya universitas formal. Di sinilah peranan Anselmus menjadi penting, karena ia menulis dan mengajar sebelum institusi universitas terbentuk.⁵

3.2.       Latar Intelektual Sebelum Anselmus

Sebelum masa Anselmus, pemikiran Kristen Barat didominasi oleh warisan para Bapa Gereja, terutama Augustinus dari Hippo. Augustinus telah menunjukkan bahwa iman dan pemahaman saling berkaitan melalui semboyan credo ut intelligam (“aku percaya agar aku memahami”).⁶ Akan tetapi, metode argumentatif yang lebih teknis dan sistematis belum sepenuhnya berkembang seperti pada era skolastik.

Di sisi lain, abad ke-11 menyaksikan kebangkitan minat terhadap logika, khususnya melalui teks-teks yang diwariskan dari Boethius dan sebagian karya Aristoteles yang tersedia dalam bahasa Latin. Perkembangan ini menciptakan lingkungan baru di mana persoalan-persoalan teologi mulai dibahas dengan perangkat dialektika.⁷

Dalam suasana demikian, muncul perdebatan tentang legitimasi penggunaan rasio dalam agama. Sebagian kalangan khawatir logika dapat merusak kesalehan, sementara kalangan lain melihatnya sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman iman. Anselmus berada di tengah ketegangan ini dan menawarkan sintesis yang berpengaruh besar.⁸

3.3.       Prinsip Fides Quaerens Intellectum

Sumbangan paling mendasar Anselmus terhadap lahirnya skolastisisme adalah rumus terkenalnya: fides quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”). Formula ini muncul dalam pengantar karya Proslogion dan menjadi ringkasan program intelektualnya.⁹

Makna prinsip tersebut adalah bahwa iman mendahului pencarian rasional, tetapi tidak berhenti pada penerimaan pasif. Orang beriman terdorong untuk memahami apa yang dipercayainya sejauh mungkin melalui akal. Dengan demikian, rasio tidak menggantikan wahyu, melainkan menafsirkan dan menjelaskannya.¹⁰

Prinsip ini menempati posisi penting karena menghindari dua ekstrem sekaligus:

1)                  Fideisme, yaitu pandangan bahwa iman sama sekali tidak membutuhkan rasio.

2)                  Rasionalisme absolut, yaitu pandangan bahwa akal sepenuhnya cukup tanpa iman atau wahyu.

Anselmus menempatkan akal sebagai pelayan kebenaran ilahi, namun tetap memiliki martabat dan fungsi yang nyata.¹¹ Kerangka inilah yang kemudian menjadi ciri banyak pemikir skolastik sesudahnya.

3.4.       Metode Dialektis dan Struktur Argumentasi

Salah satu alasan Anselmus dianggap pelopor skolastisisme adalah cara ia membangun argumen. Karya-karyanya menunjukkan struktur rasional yang jelas: definisi konsep, penetapan premis, penarikan konsekuensi logis, lalu kesimpulan. Pendekatan ini tampak nyata dalam Monologion dan Proslogion.¹²

Dalam Monologion, Anselmus berupaya menjelaskan keberadaan Tuhan dan sifat-sifat ilahi melalui serangkaian penalaran bertingkat, dimulai dari pengamatan tentang gradasi kebaikan dalam dunia. Dalam Proslogion, ia mencoba menunjukkan keberadaan Tuhan melalui analisis konseptual semata, yang kemudian dikenal sebagai argumen ontologis.¹³

Cara berpikir seperti ini penting dalam sejarah skolastik karena:

·                     menuntut konsistensi internal;

·                     menggunakan inferensi logis;

·                     membedakan antara proposisi dan konsekuensinya;

·                     membuka ruang sanggahan dan respons.

Model tersebut kemudian menjadi dasar format quaestio disputata (pertanyaan yang diperdebatkan) dalam universitas abad pertengahan.¹⁴

3.5.       Anselmus antara Monastik dan Akademik

Anselmus hidup dalam dunia monastik, bukan universitas. Ia adalah rahib Benediktin dan kemudian kepala biara Bec. Karena itu, pemikirannya tetap berakar pada doa, meditasi, dan kehidupan spiritual. Banyak tulisannya berbentuk doa yang dipadukan dengan argumentasi rasional.¹⁵

Hal ini menjadikan Anselmus tokoh transisional. Di satu sisi, ia mewarisi corak kontemplatif para Bapa Gereja; di sisi lain, ia membuka jalan menuju gaya akademik skolastik yang lebih teknis. Berbeda dengan Peter Abelard yang menonjol dalam debat publik dan analisis kontradiksi teks, Anselmus lebih menekankan refleksi internal yang rasional dan saleh.¹⁶

Dengan kata lain, skolastisisme dalam diri Anselmus masih berwajah monastik, sementara pada abad ke-12 dan ke-13 ia berkembang menjadi skolastisisme universitas.

3.6.       Mengapa Disebut “Bapak Skolastisisme”

Julukan “Bapak Skolastisisme” kepada Anselmus didasarkan pada beberapa alasan historis dan metodologis:

1)            Sintesis Iman dan Akal

Ia menunjukkan bahwa teologi dapat dijelaskan secara rasional tanpa kehilangan dasar religiusnya.¹⁷

2)            Penggunaan Logika dalam Teologi

Ia menerapkan metode argumentatif yang sistematis terhadap persoalan-persoalan iman.¹⁸

3)            Model Penyelidikan Konseptual

Ia menelaah konsep seperti keberadaan, kebaikan, kebebasan, keadilan, dan penebusan secara analitis.¹⁹

4)            Pengaruh terhadap Generasi Sesudahnya

Pemikir-pemikir skolastik kemudian menjadikan rasio sebagai instrumen utama dalam teologi, sejalan dengan arah yang telah dibuka Anselmus.²⁰

Meskipun beberapa sejarawan menilai gelar tersebut bersifat simbolik dan tidak mutlak, pengaruh Anselmus sebagai perintis hampir selalu diakui.

3.7.       Pengaruh terhadap Tradisi Skolastik Selanjutnya

Setelah Anselmus, metode skolastik berkembang pesat. Peter Abelard menyusun teknik perdebatan melalui karya Sic et Non, yang menampilkan kontradiksi otoritas untuk dianalisis secara logis. Thomas Aquinas kemudian membawa skolastisisme ke bentuk paling matang melalui sintesis besar antara filsafat Aristotelian dan teologi Kristen.²¹

Walaupun pendekatan mereka lebih luas dan teknis, semangat dasarnya telah tampak dalam karya Anselmus: keyakinan bahwa kebenaran bersifat rasional dan iman tidak bertentangan dengan akal. Karena itu, Anselmus dapat dipandang sebagai mata rantai awal yang sangat menentukan.

3.8.       Evaluasi Kritis

Walaupun berpengaruh besar, pendekatan Anselmus juga memiliki keterbatasan. Ia bekerja dalam horizon teologi Kristen Latin sehingga beberapa argumennya bergantung pada asumsi metafisik tertentu. Selain itu, model harmonisasi iman dan akal yang ia tawarkan kemudian dikritik oleh skeptisisme modern dan empirisme.²²

Namun demikian, kontribusinya tetap penting karena menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat berdialog dengan nalar secara serius. Dalam konteks modern yang sering mempertentangkan agama dan sains, warisan Anselmus justru memperlihatkan kemungkinan hubungan yang lebih produktif.


Kesimpulan

Anselmus dari Canterbury menempati posisi penting dalam kelahiran skolastisisme karena ia merumuskan secara jelas program intelektual yang menyatukan iman dan rasio. Melalui prinsip fides quaerens intellectum, penggunaan metode dialektis, serta penulisan karya-karya argumentatif, ia membuka jalan bagi tradisi skolastik yang kemudian mendominasi dunia intelektual abad pertengahan.

Meskipun hidup dalam lingkungan monastik, pengaruhnya melampaui biara dan membentuk budaya akademik Eropa. Oleh sebab itu, penyebutan Anselmus sebagai “Bapak Skolastisisme” memiliki dasar historis yang kuat, terutama bila dipahami sebagai pelopor metodologis, bukan sebagai pendiri tunggal tradisi skolastik.


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–95.

[2]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 41–48.

[3]                David Luscombe, The School of Peter Abelard (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 1–6.

[4]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 225–233.

[5]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 70–82.

[6]                Augustine, Sermons, cited in Gilson, History of Christian Philosophy, 31–35.

[7]                Copleston, Medieval Philosophy, 72–80.

[8]                Evans, Anselm, 35–39.

[9]                Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), 87.

[10]             Brian Davies, An Introduction to the Philosophy of Religion (Oxford: Oxford University Press, 2004), 33–36.

[11]             Gilson, History of Christian Philosophy, 234–239.

[12]             Southern, Saint Anselm, 92–101.

[13]             Anselm of Canterbury, Monologion and Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 3–58.

[14]             Martin Grabmann, The History of Scholastic Method, trans. Gerard Smith (New York: Benziger Brothers, 1928), 1:112–120.

[15]             Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 55–63.

[16]             Luscombe, The School of Peter Abelard, 8–15.

[17]             Evans, Anselm, 47–50.

[18]             Copleston, Medieval Philosophy, 90–94.

[19]             Southern, Saint Anselm, 130–145.

[20]             Gilson, History of Christian Philosophy, 240–246.

[21]             Copleston, Medieval Philosophy, 150–210.

[22]             Brian Davies, An Introduction to the Philosophy of Religion, 40–45.


4.          Pemikiran Filsafat Anselmus

Anselmus dari Canterbury menempati posisi penting dalam sejarah filsafat Barat karena ia berhasil menjembatani tradisi patristik dengan metode skolastik yang berkembang kemudian. Walaupun dikenal terutama sebagai teolog Kristen dan Uskup Agung Canterbury, kontribusinya dalam filsafat sangat signifikan, terutama dalam bidang metafisika, epistemologi, filsafat agama, etika, dan filsafat kehendak. Pemikirannya menunjukkan bahwa persoalan-persoalan religius dapat dibahas secara rasional melalui analisis konseptual dan argumentasi logis.¹

Berbeda dari sebagian filsuf Yunani yang memulai pencarian dari alam atau substansi material, Anselmus memulai refleksi dari realitas iman, kemudian menguji dan menjelaskannya melalui akal. Dengan demikian, filsafat baginya bukan disiplin yang berdiri terpisah dari teologi, melainkan sarana untuk memahami kebenaran secara lebih mendalam.² Namun demikian, metode dan struktur argumentasinya memberikan kontribusi mandiri bagi sejarah filsafat, bahkan melampaui konteks religius tempat ia berpijak.

Dalam bab ini akan dibahas beberapa aspek utama pemikiran filsafat Anselmus, yaitu relasi iman dan rasio, argumen ontologis tentang eksistensi Tuhan, teori kebenaran, pandangan tentang kehendak bebas, problem kejahatan, serta pengaruh dan kritik terhadap gagasannya.

4.1.       Relasi Iman dan Rasio

Salah satu prinsip filosofis paling terkenal dari Anselmus adalah ungkapan fides quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”). Prinsip ini menegaskan bahwa iman bukan akhir dari pencarian intelektual, melainkan titik awal yang mendorong akal untuk memahami apa yang dipercayai.³

Bagi Anselmus, manusia memiliki kapasitas rasional yang merupakan anugerah ilahi. Karena itu, penggunaan akal bukan tindakan yang bertentangan dengan iman. Sebaliknya, mengabaikan rasio justru berarti menyia-nyiakan salah satu sarana penting untuk mendekati kebenaran. Akan tetapi, ia juga menolak gagasan bahwa rasio manusia mampu mengetahui seluruh misteri ilahi secara sempurna.⁴

Posisi ini menempatkan Anselmus di antara dua kutub ekstrem:

1)                  Fideisme, yang menolak peranan rasio dalam agama.

2)                  Rasionalisme absolut, yang menganggap akal sepenuhnya cukup tanpa wahyu.

Dalam filsafat modern, posisi seperti ini sering dipandang sebagai bentuk moderate rational theology, yaitu keyakinan bahwa rasio dapat menjelaskan sebagian isi iman tanpa menggantikan wahyu itu sendiri.⁵

4.2.       Argumen Ontologis tentang Eksistensi Tuhan

Kontribusi filsafat Anselmus yang paling terkenal adalah argumen ontologis mengenai keberadaan Tuhan, terutama dalam karya Proslogion. Argumen ini merupakan salah satu usaha paling berpengaruh dalam sejarah filsafat untuk membuktikan eksistensi Tuhan secara apriori, yaitu tanpa bergantung pada observasi empiris.⁶

4.2.1.    Rumusan Dasar

Anselmus mendefinisikan Tuhan sebagai:

“sesuatu yang lebih besar tidak dapat dipikirkan”

(that than which nothing greater can be conceived).⁷

Dari definisi ini, ia berargumen:

1)                  Bahkan orang yang menyangkal Tuhan dapat memahami konsep tersebut dalam pikirannya.

2)                  Sesuatu yang ada dalam kenyataan lebih besar daripada sesuatu yang hanya ada dalam pikiran.

3)                  Jika Tuhan hanya ada dalam pikiran, maka masih mungkin dibayangkan sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan yang juga ada dalam kenyataan.

4)                  Karena itu, Tuhan harus ada dalam kenyataan.

Dengan bentuk ini, Anselmus mencoba menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan terkandung dalam konsep Tuhan itu sendiri.

4.2.2.    Signifikansi Filosofis

Argumen ontologis penting karena:

·                     memusatkan perhatian pada hubungan antara konsep dan realitas;

·                     membuka diskusi tentang apakah eksistensi merupakan predikat;

·                     memperlihatkan kekuatan dan batas analisis logis dalam metafisika.⁸

Argumen ini kemudian memengaruhi banyak filsuf seperti René Descartes, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

4.2.3.    Kritik terhadap Argumen Ontologis

Argumen ini sejak awal menuai kritik. Gaunilo berpendapat bahwa pola argumen tersebut dapat dipakai secara absurd, misalnya untuk “pulau paling sempurna.”⁹

Kemudian Immanuel Kant menyatakan bahwa eksistensi bukanlah predikat nyata yang menambah sifat suatu benda; mengatakan sesuatu “ada” tidak menambah konsepnya.¹⁰ Kritik Kant menjadi salah satu tantangan terbesar bagi argumen ontologis klasik.

Walaupun demikian, filsafat analitik modern—melalui tokoh seperti Alvin Plantinga dan Norman Malcolm—mengembangkan versi modal dari argumen ontologis, menunjukkan bahwa diskusi tersebut tetap hidup.¹¹

4.3.       Metafisika tentang Kebaikan dan Keberadaan

Dalam Monologion, Anselmus membangun refleksi metafisik mengenai kebaikan, keberadaan, dan kesempurnaan. Ia mengamati bahwa dalam dunia terdapat derajat-derajat kebaikan: sesuatu lebih baik daripada yang lain. Dari fakta ini, ia menyimpulkan perlunya sumber kebaikan tertinggi yang menjadi dasar semua kebaikan relatif.¹²

Argumen ini sejalan dengan tradisi Neoplatonik dan Augustinian, di mana segala yang terbatas berpartisipasi dalam kebaikan yang absolut. Dalam kerangka tersebut:

·                     segala keberadaan yang baik memperoleh kebaikannya dari sumber tertinggi;

·                     pluralitas menunjuk kepada kesatuan dasar;

·                     kesempurnaan relatif menunjuk kepada kesempurnaan mutlak.¹³

Pandangan ini berpengaruh besar terhadap metafisika skolastik sesudahnya.

4.4.       Teori Kebenaran (De Veritate)

Dalam dialog De Veritate, Anselmus membahas hakikat kebenaran. Ia mendefinisikan kebenaran sebagai rectitudo mente sola perceptibilis, yakni “ketepatan yang hanya dapat dipahami oleh pikiran.”¹⁴

Kebenaran menurut Anselmus tidak hanya berlaku bagi proposisi, tetapi juga bagi:

1)                  Pernyataan;

2)                  Kehendak;

3)                  Tindakan;

4)                  Hakikat sesuatu.

Dengan demikian, kebenaran memiliki dimensi ontologis dan moral, bukan sekadar korespondensi antara kalimat dan fakta.

Sebagai contoh:

·                     Pernyataan benar bila menyatakan sebagaimana mestinya.

·                     Kehendak benar bila menghendaki apa yang seharusnya dikehendaki.

·                     Tindakan benar bila sesuai dengan tujuan moralnya.¹⁵

Pandangan ini memperluas teori kebenaran klasik dan menunjukkan hubungan erat antara logika serta etika.

4.5.       Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab Moral

Dalam karya De Libertate Arbitrii, Anselmus mendefinisikan kebebasan kehendak bukan sebagai kemampuan memilih apa saja, tetapi sebagai kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi ketepatan itu sendiri.¹⁶

Definisi ini penting karena menolak pengertian kebebasan sebagai sekadar pilihan tanpa batas. Bagi Anselmus, manusia bebas justru ketika ia mampu mengarahkan kehendaknya kepada kebaikan yang benar.

Ia membedakan dua kemampuan:

1)                  Kemampuan memperoleh manfaat (ability for advantage).

2)                  Kemampuan mempertahankan keadilan (ability for justice).¹⁷

Dosa terjadi ketika kehendak menyimpang dari ketepatan moral demi keuntungan pribadi. Maka kebebasan sejati bukanlah kebebasan berbuat jahat, melainkan kebebasan untuk tetap benar.

Pandangan ini memengaruhi perdebatan kemudian tentang relasi antara kehendak, moralitas, dan rahmat ilahi.

4.6.       Problem Kejahatan dan Privasi Boni

Sejalan dengan tradisi Augustinus dari Hippo, Anselmus memahami kejahatan bukan sebagai substansi positif, tetapi sebagai kekurangan kebaikan (privatio boni).¹⁸ Kejahatan muncul ketika kehendak menyimpang dari tatanan yang benar.

Implikasi filosofisnya:

·                     Tuhan tidak menciptakan kejahatan sebagai entitas.

·                     Kejahatan bergantung pada kebaikan yang dirusak.

·                     Tanggung jawab moral terletak pada agen rasional yang menyimpang.

Pendekatan ini berusaha menyelesaikan problem teodise: bagaimana Tuhan yang baik dapat mengizinkan kejahatan.

4.7.       Metode Filosofis Anselmus

Keunikan filsafat Anselmus tidak hanya pada isi gagasannya, tetapi juga metodenya. Ia sering memulai dengan doa atau kontemplasi, lalu bergerak ke analisis rasional. Struktur ini menunjukkan bahwa pengalaman eksistensial dan argumentasi logis dapat saling berkaitan.¹⁹

Ciri-ciri metode Anselmus antara lain:

1)                  Definisi konseptual yang ketat.

2)                  Penalaran deduktif.

3)                  Konsistensi logis.

4)                  Integrasi dimensi spiritual dan rasional.

5)                  Keberanian mengajukan pertanyaan metafisik besar.

Metode ini menjadi jembatan antara teologi monastik dan skolastisisme universitas.

4.8.       Pengaruh terhadap Filsafat Barat

Pemikiran Anselmus memberi dampak luas pada sejarah filsafat:

·                     Pada abad pertengahan, ia memengaruhi Thomas Aquinas dan para skolastikus lain.

·                     Pada era modern, argumen ontologisnya dibahas ulang oleh Descartes dan Leibniz.

·                     Pada abad ke-20, filsafat analitik agama menghidupkan kembali diskusi tentang modal logic dan eksistensi niscaya.²⁰

Bahkan ketika ditolak, gagasan Anselmus tetap menjadi titik tolak diskusi filosofis.

4.9.       Evaluasi Kritis

Kekuatan utama filsafat Anselmus terletak pada konsistensi logis dan keberanian metafisiknya. Ia menunjukkan bahwa pertanyaan tentang Tuhan, kebenaran, dan kebebasan dapat dibahas secara sistematis. Namun, sebagian argumennya bergantung pada asumsi metafisika realis yang tidak selalu diterima dalam filsafat modern.²¹

Meski demikian, nilai permanennya terletak pada metode berpikir: keyakinan bahwa persoalan terdalam manusia layak dipikirkan secara serius, rasional, dan terbuka terhadap kritik.


Kesimpulan

Pemikiran filsafat Anselmus mencakup wilayah yang luas: relasi iman dan rasio, argumen ontologis, teori kebenaran, kehendak bebas, dan metafisika kebaikan. Ia bukan sekadar teolog yang menggunakan filsafat, tetapi seorang filsuf yang memanfaatkan iman sebagai horizon pencarian makna.

Warisannya tetap hidup dalam filsafat agama, metafisika, dan etika kontemporer. Karena itu, Anselmus layak dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat abad pertengahan.


Footnotes

[1]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–96.

[2]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 230–238.

[3]                Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), 87.

[4]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 44–52.

[5]                Brian Davies, An Introduction to the Philosophy of Religion (Oxford: Oxford University Press, 2004), 32–36.

[6]                Anselm, Proslogion, 93–101.

[7]                Ibid., 95.

[8]                Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221.

[9]                Anselm of Canterbury, Proslogion, appendix: “Gaunilo’s Reply,” 107–114.

[10]             Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929), A598/B626.

[11]             Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review 69, no. 1 (1960): 41–62.

[12]             Anselm of Canterbury, Monologion and Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 5–28.

[13]             Gilson, History of Christian Philosophy, 239–244.

[14]             Anselm of Canterbury, De Veritate, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford University Press, 1998), 151.

[15]             Evans, Anselm, 92–97.

[16]             Anselm of Canterbury, De Libertate Arbitrii, in The Major Works, 175–188.

[17]             Ibid., 181–184.

[18]             Copleston, Medieval Philosophy, 94–96.

[19]             R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 120–138.

[20]             Plantinga, The Nature of Necessity, 216–221.

[21]             Davies, An Introduction to the Philosophy of Religion, 40–45.


5.          Pemikiran Teologi Anselmus

Anselmus dari Canterbury merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah teologi Kristen Barat. Jika dalam bidang filsafat ia dikenal melalui argumen ontologis dan refleksi mengenai hubungan iman serta rasio, maka dalam bidang teologi ia dikenang karena keberhasilannya menyusun penjelasan sistematis mengenai dosa, penebusan, inkarnasi, kehendak bebas, rahmat, dan sifat-sifat Allah. Pemikirannya menandai transisi penting dari teologi patristik yang lebih homiletik dan mistikal menuju teologi skolastik yang argumentatif dan konseptual.¹

Teologi Anselmus dibangun di atas keyakinan bahwa wahyu ilahi merupakan dasar kebenaran, tetapi isi wahyu dapat direnungkan secara rasional. Karena itu, karya-karyanya tidak hanya berisi pengulangan doktrin gerejawi, melainkan usaha untuk menjelaskan mengapa suatu doktrin masuk akal. Dalam konteks ini, Anselmus menampilkan corak teologi yang dikenal sebagai faith seeking understanding (fides quaerens intellectum).²

Di antara seluruh kontribusinya, teori penebusan dalam Cur Deus Homo menjadi yang paling berpengaruh. Namun, pemikiran teologis Anselmus jauh lebih luas daripada itu. Ia juga menulis mengenai hakikat kebenaran, kebebasan kehendak, asal mula kejahatan, doa, kehidupan rohani, dan natur ilahi. Oleh sebab itu, pembahasan berikut akan menelaah secara komprehensif gagasan-gagasan teologis utamanya.

5.1.       Dasar Metodologis Teologi: Fides Quaerens Intellectum

Metode teologi Anselmus diringkas dalam formula fides quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”). Maksudnya, orang beriman tidak berhenti pada penerimaan dogma secara pasif, tetapi terdorong untuk memahami isi imannya melalui refleksi akal.³

Bagi Anselmus, teologi memiliki dua sumber utama:

1)                  Wahyu dan Tradisi Gereja, sebagai dasar normatif iman.

2)                  Rasio, sebagai alat untuk menyingkap koherensi dan makna ajaran iman.

Dengan demikian, teologi bukan sekadar repetisi otoritas, melainkan pencarian pemahaman yang bertanggung jawab.⁴

Pendekatan ini penting karena menjadi dasar berkembangnya skolastisisme. Banyak teolog sesudahnya, seperti Thomas Aquinas, mengembangkan model serupa meskipun dengan pendekatan filosofis yang lebih luas.

5.2.       Doktrin Allah dan Sifat-Sifat Ilahi

Dalam Monologion dan Proslogion, Anselmus membahas keberadaan serta sifat-sifat Allah. Ia menegaskan bahwa Allah adalah realitas tertinggi, sempurna, tidak berubah, mahakuasa, mahatahu, dan sumber segala kebaikan.⁵

5.2.1.    Allah sebagai Kebaikan Tertinggi

Menurut Anselmus, segala sesuatu yang baik di dunia memperoleh kebaikannya secara partisipatif dari Allah sebagai summum bonum (kebaikan tertinggi). Ini menunjukkan pengaruh tradisi Augustinian dan Neoplatonik.⁶

5.2.2.    Kesederhanaan dan Ketidakterubahan Allah

Allah tidak tersusun dari bagian-bagian, tidak berubah oleh waktu, dan tidak bergantung pada apa pun. Jika Allah berubah, maka Ia akan bergerak dari kurang sempurna menuju lebih sempurna atau sebaliknya, dan hal itu tidak sesuai dengan kesempurnaan ilahi.⁷

5.2.3.    Relasi antara Keadilan dan Belas Kasih

Anselmus juga mencoba menjelaskan bagaimana Allah dapat sekaligus adil dan murah hati. Menurutnya, belas kasih Allah bukan lawan dari keadilan, melainkan ekspresi tertinggi dari keadilan ilahi yang memulihkan ciptaan secara benar.⁸

5.3.       Antropologi Teologis: Manusia, Dosa, dan Kehendak Bebas

Dalam teologi Anselmus, manusia diciptakan menurut gambar Allah dengan kapasitas rasional dan kehendak bebas. Tujuan penciptaan manusia adalah menikmati Allah dalam kebahagiaan yang benar.⁹

5.3.1.    Kehendak Bebas

Dalam De Libertate Arbitrii, Anselmus mendefinisikan kebebasan sebagai kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi ketepatan itu sendiri. Kebebasan bukan kemampuan berbuat apa saja, melainkan kemampuan tetap berada dalam kebenaran moral.¹⁰

5.3.2.    Hakikat Dosa

Dosa terjadi ketika manusia gagal memberikan kepada Allah apa yang seharusnya diberikan, yakni ketaatan dan penghormatan yang benar. Dosa bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi gangguan terhadap tatanan moral kosmis.¹¹

5.3.3.    Akibat Dosa

Akibat dosa adalah:

·                     keterasingan dari Allah;

·                     kerusakan kehendak manusia;

·                     hilangnya keadilan moral;

·                     ketidakmampuan manusia memulihkan dirinya sendiri.¹²

Pandangan ini menjadi dasar bagi teori penebusannya.

5.4.       Doktrin Penebusan dalam Cur Deus Homo

Karya teologis Anselmus yang paling terkenal adalah Cur Deus Homo (“Mengapa Allah Menjadi Manusia”). Dalam karya ini, ia berusaha menjelaskan secara rasional mengapa inkarnasi Kristus diperlukan bagi keselamatan manusia.¹³

5.4.1.    Pertanyaan Sentral

Mengapa Allah tidak mengampuni dosa manusia begitu saja tanpa inkarnasi dan salib?

Pertanyaan ini penting karena menyentuh hubungan antara kasih, keadilan, dan tatanan moral ilahi.

5.4.2.    Kehormatan Allah dan Utang Moral

Menurut Anselmus, dosa manusia menciptakan ketidakteraturan moral dan merampas kehormatan yang seharusnya diberikan kepada Allah. Karena Allah adil, ketidakteraturan itu harus dipulihkan.¹⁴

Di sini “kehormatan” tidak boleh dipahami secara psikologis seolah Allah tersinggung seperti manusia, tetapi sebagai simbol tatanan objektif yang telah dilanggar.

5.4.3.    Ketidakmampuan Manusia Menebus Diri

Manusia wajib taat kepada Allah. Karena itu, ketika berdosa, manusia telah gagal memenuhi kewajibannya dan tidak memiliki “kelebihan moral” untuk membayar kembali utang dosa.¹⁵

5.4.4.    Mengapa Harus Allah-Manusia?

Hanya manusia yang wajib membayar utang dosa manusia, tetapi hanya Allah yang memiliki kemampuan tak terbatas untuk memberikan pemulihan yang memadai. Karena itu, diperlukan Pribadi yang sekaligus manusia dan Allah: Kristus.¹⁶

5.4.5.    Kematian Kristus sebagai Kepuasan

Ketaatan Kristus sampai mati dipandang sebagai tindakan yang memiliki nilai tak terbatas dan memulihkan tatanan keadilan. Inilah yang dikenal sebagai satisfaction theory (teori kepuasan).¹⁷

5.5.       Evaluasi terhadap Teori Kepuasan

Teori Anselmus sangat berpengaruh dalam tradisi Barat, tetapi juga menuai kritik.

5.5.1.    Kekuatan Teori

1)                  Menjelaskan keseriusan dosa secara moral.

2)                  Menyatukan kasih dan keadilan Allah.

3)                  Menekankan objektivitas karya Kristus.¹⁸

5.5.2.    Kritik Modern

Beberapa teolog modern menilai model kehormatan dan utang terlalu dipengaruhi budaya feodal abad pertengahan. Selain itu, sebagian pihak menganggap model tersebut terlalu legalistik dan kurang menonjolkan kasih Allah sebagai inisiatif bebas.¹⁹

Meskipun demikian, banyak sarjana tetap mengakui kedalaman analitis dan konsistensi internal model Anselmus.

5.6.       Kristologi dan Inkarnasi

Anselmus menempatkan inkarnasi sebagai pusat sejarah keselamatan. Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus bukan sekadar untuk memberi teladan moral, tetapi untuk memulihkan relasi antara Allah dan manusia.²⁰

Ia menekankan dua natur Kristus:

1)                  Natur Ilahi, yang memungkinkan tindakan bernilai tak terbatas.

2)                  Natur Manusia, yang memungkinkan solidaritas sejati dengan umat manusia.²¹

Pemikiran ini sejalan dengan tradisi Konsili Kalsedon, tetapi diberikan penjelasan rasional baru dalam konteks skolastik awal.

5.7.       Rahmat dan Keselamatan

Bagi Anselmus, keselamatan pada akhirnya adalah anugerah Allah. Walaupun teori kepuasan menekankan keadilan, inisiatif penebusan tetap berasal dari kasih ilahi. Allah menyediakan jalan keselamatan melalui Kristus karena manusia tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri.²²

Rahmat bekerja dengan:

·                     mengampuni dosa;

·                     memperbarui kehendak manusia;

·                     memulihkan relasi dengan Allah;

·                     mengarahkan manusia kepada kebahagiaan kekal.²³

Dengan demikian, Anselmus tidak mengajarkan keselamatan oleh usaha manusia semata.

5.8.       Doa, Kontemplasi, dan Spiritualitas

Sering kali Anselmus hanya dikenal sebagai pemikir rasional, padahal banyak karyanya bernuansa devosional. Ia menulis doa-doa, meditasi, dan refleksi spiritual yang menunjukkan kedalaman pengalaman religius.²⁴

Bagi Anselmus, teologi lahir dari penyembahan. Pengetahuan tentang Allah tidak semata hasil analisis intelektual, tetapi juga buah kasih dan pencarian rohani. Karena itu, rasio dan doa tidak dipertentangkan.

5.9.       Gereja, Otoritas, dan Moralitas

Sebagai Uskup Agung Canterbury, Anselmus juga memiliki teologi gerejawi yang kuat. Ia menekankan kebebasan gereja dari dominasi politik sekuler, khususnya dalam konflik investitur dengan raja Inggris.²⁵

Baginya:

·                     Gereja memiliki otoritas spiritual yang khas.

·                     Kekuasaan politik harus tunduk pada keadilan moral.

·                     Kebenaran lebih tinggi daripada kepentingan kekuasaan.²⁶

Pandangan ini berpengaruh dalam perkembangan relasi gereja-negara di Eropa.

5.10.    Pengaruh terhadap Teologi Barat

Pemikiran Anselmus memberi pengaruh besar pada:

·                     teologi skolastik abad pertengahan;

·                     doktrin penebusan Katolik dan Protestan;

·                     filsafat agama modern;

·                     diskusi kontemporer mengenai keadilan restoratif dan moralitas dosa.²⁷

Thomas Aquinas, Martin Luther, dan John Calvin, meskipun berbeda dalam banyak hal, sama-sama berdialog dengan warisan Anselmus.


Kesimpulan

Pemikiran teologi Anselmus menunjukkan perpaduan antara iman mendalam dan disiplin rasional. Ia membahas Allah sebagai kebaikan tertinggi, manusia sebagai makhluk rasional yang jatuh dalam dosa, serta Kristus sebagai Allah-manusia yang memulihkan tatanan moral melalui karya penebusan.

Melalui Cur Deus Homo, ia memberikan salah satu teori penebusan paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Melalui prinsip fides quaerens intellectum, ia meletakkan dasar bagi teologi skolastik yang berkembang sesudahnya. Oleh sebab itu, Anselmus layak dipandang sebagai salah satu arsitek utama teologi Barat abad pertengahan.


Footnotes

[1]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.

[2]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 91–103.

[3]                Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), 87.

[4]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–95.

[5]                Anselm of Canterbury, Monologion and Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 5–58.

[6]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 230–242.

[7]                Ibid., 243–248.

[8]                Anselm, Proslogion, 115–118.

[9]                Southern, Saint Anselm, 135–141.

[10]             Anselm of Canterbury, De Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford University Press, 1998), 175–188.

[11]             Anselm of Canterbury, Cur Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 35–42.

[12]             Evans, Anselm, 112–118.

[13]             Anselm, Cur Deus Homo, 25–31.

[14]             Ibid., 42–55.

[15]             Ibid., 56–63.

[16]             Ibid., 68–79.

[17]             Ibid., 80–101.

[18]             Brian Davies and G. R. Evans, eds., Anselm of Canterbury: The Major Works (Oxford: Oxford University Press, 1998), xxv–xxxii.

[19]             Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.

[20]             Anselm, Cur Deus Homo, 68–101.

[21]             Copleston, Medieval Philosophy, 96–101.

[22]             Evans, Anselm, 119–126.

[23]             Southern, Saint Anselm, 210–216.

[24]             Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 88–103.

[25]             Brian Tierney, The Crisis of Church and State 1050–1300 (Toronto: University of Toronto Press, 1988), 54–71.

[26]             Southern, Saint Anselm, 250–294.

[27]             Gilson, History of Christian Philosophy, 248–255.


6.          Karya-Karya Utama

Anselmus dari Canterbury dikenal bukan hanya karena kedudukannya sebagai Uskup Agung Canterbury atau perannya dalam perkembangan skolastisisme awal, tetapi juga karena karya-karya tulisnya yang sangat berpengaruh dalam sejarah intelektual Barat. Tulisan-tulisan Anselmus memperlihatkan perpaduan antara kedalaman spiritual monastik, ketajaman logika, dan ketertiban sistematis yang kelak menjadi ciri utama skolastisisme.¹

Sebagian besar karya Anselmus ditulis dalam bahasa Latin, bahasa ilmiah dan gerejawi Eropa pada zamannya. Tulisan-tulisan itu lahir dalam konteks kehidupan biara, pendidikan para rahib, perdebatan teologis, dan pergumulan pastoral. Karena itu, karya-karyanya tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga bersifat devosional, apologetik, dan praktis.²

Secara umum, karya-karya Anselmus dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis:

1)                  Karya filosofis-teologis sistematis, seperti Monologion, Proslogion, dan Cur Deus Homo.

2)                  Dialog filsafat moral dan antropologi, seperti De Veritate dan De Libertate Arbitrii.

3)                  Karya spiritual, seperti doa-doa dan meditasi.

4)                  Surat-surat dan tulisan pastoral, yang mencerminkan aktivitasnya sebagai pemimpin gereja.³

Bab ini akan membahas karya-karya utama Anselmus, isi pokoknya, konteks penulisannya, serta signifikansinya dalam sejarah pemikiran.

6.1.       Monologion

6.1.1.    Latar Belakang Penulisan

Monologion ditulis sekitar tahun 1075–1076 ketika Anselmus menjabat sebagai Prior Biara Bec. Menurut tradisi, karya ini lahir atas permintaan para rahib yang menginginkan contoh meditasi rasional mengenai keberadaan Tuhan tanpa banyak mengutip Kitab Suci.⁴

Judul Monologion berarti “monolog” atau refleksi tunggal, yang menunjukkan bentuk argumentasi berkesinambungan dari satu suara penalaran.

6.1.2.    Isi Pokok

Dalam karya ini, Anselmus berusaha menunjukkan secara rasional:

·                     adanya kebaikan tertinggi;

·                     keberadaan sesuatu yang paling besar dan paling sempurna;

·                     sumber dari segala yang ada;

·                     sifat-sifat ilahi seperti kebijaksanaan, keadilan, dan kekekalan.⁵

Ia memulai dari pengamatan bahwa di dunia terdapat tingkat-tingkat kebaikan. Dari sini ia menyimpulkan adanya satu sumber kebaikan absolut yang menjadi dasar semua kebaikan relatif.

6.1.3.    Signifikansi

Monologion penting karena menunjukkan upaya awal Anselmus membangun teologi natural melalui argumentasi rasional. Karya ini juga memperlihatkan pengaruh Augustinus dari Hippo dan Neoplatonisme.⁶

6.2.       Proslogion

6.2.1.    Latar Belakang Penulisan

Setelah menulis Monologion, Anselmus merasa belum menemukan argumen tunggal yang sederhana namun kuat mengenai keberadaan Tuhan. Maka sekitar tahun 1077–1078 ia menulis Proslogion, yang awalnya berjudul Fides Quaerens Intellectum.⁷

Judul Proslogion dapat dipahami sebagai “alamat batin” atau “wacana kepada seseorang,” dan memang teks ini ditulis dalam bentuk doa yang diselingi argumentasi.

6.2.2.    Isi Pokok

Karya ini terkenal karena memuat argumen ontologis, yaitu upaya membuktikan eksistensi Tuhan melalui konsep Tuhan sebagai:

“sesuatu yang lebih besar tidak dapat dipikirkan.”⁸

Selain itu, Proslogion juga membahas:

·                     sifat Allah sebagai mahakuasa dan mahatahu;

·                     hubungan keadilan dan belas kasih;

·                     keterbatasan akal manusia dalam memahami Allah.⁹

6.2.3.    Respons dan Perdebatan

Karya ini segera mendapat tanggapan dari Gaunilo melalui tulisan In Behalf of the Fool, yang mengkritik argumen ontologis. Anselmus kemudian menulis respons resmi terhadap kritik tersebut.¹⁰

6.2.4.    Signifikansi

Proslogion merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam filsafat agama. Tokoh-tokoh seperti René Descartes, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Immanuel Kant terlibat dalam perdebatan yang berakar pada karya ini.¹¹

6.3.       Cur Deus Homo

6.3.1.    Latar Belakang Penulisan

Cur Deus Homo (“Mengapa Allah Menjadi Manusia”) ditulis sekitar 1094–1098, sebagian dalam masa pengasingan Anselmus dari Inggris. Karya ini disusun dalam bentuk dialog antara Anselmus dan muridnya bernama Boso.¹²

6.3.2.    Isi Pokok

Pertanyaan utama karya ini adalah: mengapa inkarnasi Kristus diperlukan bagi keselamatan manusia?

Jawaban Anselmus melahirkan teori kepuasan (satisfaction theory):

·                     dosa menciptakan ketidakteraturan moral;

·                     manusia tidak mampu memulihkan kehormatan ilahi;

·                     hanya Allah-manusia (Kristus) yang mampu memberi kepuasan memadai;

·                     melalui ketaatan dan kematian Kristus, keadilan dipulihkan.¹³

6.3.3.    Signifikansi

Karya ini menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam teologi penebusan Barat. Banyak tradisi Katolik maupun Protestan berdialog dengan model Anselmus, baik menerima maupun mengkritiknya.¹⁴

6.4.       De Veritate

6.4.1.    Tema Utama

De Veritate (“Tentang Kebenaran”) merupakan dialog filosofis mengenai hakikat kebenaran. Anselmus mendefinisikan kebenaran sebagai rectitudo mente sola perceptibilis—ketepatan yang hanya dapat dipahami oleh akal.¹⁵

6.4.2.    Pokok Bahasan

Ia membahas kebenaran dalam:

·                     proposisi;

·                     kehendak;

·                     tindakan;

·                     esensi benda.¹⁶

6.4.3.    Signifikansi

Karya ini menunjukkan bahwa Anselmus tidak membatasi diri pada teologi sempit, tetapi juga memberi kontribusi pada epistemologi dan filsafat bahasa abad pertengahan.

6.5.       De Libertate Arbitrii

6.5.1.    Tema Utama

Dalam De Libertate Arbitrii (“Tentang Kebebasan Kehendak”), Anselmus membahas makna kebebasan manusia. Ia menolak gagasan bahwa bebas berarti sekadar dapat memilih apa saja.¹⁷

6.5.2.    Definisi Kebebasan

Kebebasan adalah kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi ketepatan itu sendiri.

Artinya, manusia sungguh bebas ketika mampu memilih yang baik dan benar, bukan ketika bertindak sewenang-wenang.¹⁸

6.5.3.    Signifikansi

Karya ini penting dalam sejarah filsafat moral dan teologi karena menghubungkan kebebasan dengan tanggung jawab etis.

6.6.       De Casu Diaboli

6.6.1.    Tema Utama

De Casu Diaboli (“Tentang Kejatuhan Iblis”) melanjutkan pembahasan mengenai kehendak bebas dan asal mula kejahatan. Anselmus menanyakan bagaimana makhluk yang diciptakan baik dapat jatuh ke dalam dosa.¹⁹

6.6.2.    Isi Pokok

Ia menjelaskan bahwa malaikat jatuh karena menyalahgunakan kebebasan kehendaknya demi keuntungan diri, bukan demi keadilan.

6.6.3.    Signifikansi

Karya ini merupakan kontribusi penting bagi problem teodise dan asal-usul kejahatan.

6.7.       Doa dan Meditasi

Selain karya sistematis, Anselmus menulis banyak doa dan meditasi spiritual. Tulisan-tulisan ini menunjukkan sisi lain dirinya sebagai rahib dan mistikus.²⁰

Tema-tema utamanya meliputi:

·                     pertobatan;

·                     kerinduan akan Allah;

·                     kasih Kristus;

·                     kelemahan manusia;

·                     harapan keselamatan.

Karya-karya ini berpengaruh luas dalam tradisi devosi Kristen abad pertengahan.

6.8.       Surat-Surat dan Tulisan Pastoral

Anselmus juga meninggalkan ratusan surat yang ditujukan kepada:

·                     raja-raja;

·                     paus;

·                     uskup;

·                     rahib;

·                     sahabat pribadi.²¹

Surat-surat tersebut penting karena memberi informasi mengenai:

1)                  Konflik investitur di Inggris.

2)                  Pandangan moral dan pastoral Anselmus.

3)                  Jaringan intelektual gereja abad ke-11.

4)                  Karakter pribadinya sebagai pemimpin.

Bagi sejarawan, surat-surat ini merupakan sumber primer yang sangat berharga.

6.9.       Karakteristik Umum Karya-Karya Anselmus

Meskipun beragam, karya-karya Anselmus memiliki ciri umum:

1)            Integrasi Doa dan Rasio

Tulisan sering dimulai dari pencarian spiritual lalu bergerak ke argumentasi logis.

2)            Bentuk Dialogis

Beberapa karya memakai bentuk dialog guru-murid, memudahkan eksplorasi pertanyaan.

3)            Bahasa Konseptual yang Teliti

Ia menaruh perhatian besar pada definisi dan konsistensi istilah.²²

4)            Tujuan Formatif

Karya-karyanya tidak hanya ingin meyakinkan intelektual, tetapi juga membentuk jiwa pembacanya.

6.10.    Pengaruh Historis

Karya-karya Anselmus memengaruhi banyak tokoh sesudahnya:

·                     Peter Abelard dalam metode dialektika;

·                     Thomas Aquinas dalam sintesis iman dan rasio;

·                     Martin Luther dalam refleksi tentang anugerah;

·                     filsafat modern dalam perdebatan argumen ontologis.²³

Dengan demikian, warisan tulisannya melampaui konteks abad pertengahan.


Kesimpulan

Karya-karya utama Anselmus menunjukkan keluasan intelektual yang luar biasa. Monologion menampilkan refleksi metafisik tentang Allah; Proslogion memuat argumen ontologis yang terkenal; Cur Deus Homo membentuk teologi penebusan Barat; sementara dialog-dialog seperti De Veritate dan De Libertate Arbitrii memberi kontribusi pada filsafat moral dan epistemologi.

Di samping itu, doa-doa, meditasi, dan surat-suratnya memperlihatkan bahwa Anselmus bukan hanya pemikir abstrak, tetapi juga gembala rohani dan pemimpin gereja. Karena itu, keseluruhan corpus karya Anselmus menempatkannya sebagai salah satu penulis paling penting dalam tradisi intelektual Kristen abad pertengahan.


Footnotes

[1]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–10.

[2]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 88–103.

[3]                Brian Davies and G. R. Evans, eds., Anselm of Canterbury: The Major Works (Oxford: Oxford University Press, 1998), vii–xxv.

[4]                Southern, Saint Anselm, 92–95.

[5]                Anselm of Canterbury, Monologion and Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 1996), 5–58.

[6]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 230–242.

[7]                Evans, Anselm, 42–47.

[8]                Anselm, Proslogion, 93–101.

[9]                Ibid., 103–120.

[10]             Ibid., appendix, 107–125.

[11]             Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 90–96.

[12]             Anselm of Canterbury, Cur Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 1–12.

[13]             Ibid., 42–101.

[14]             Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.

[15]             Anselm of Canterbury, De Veritate, in The Major Works, 151–170.

[16]             Evans, Anselm, 92–97.

[17]             Anselm of Canterbury, De Libertate Arbitrii, in The Major Works, 175–188.

[18]             Ibid., 181–184.

[19]             Anselm of Canterbury, De Casu Diaboli, in The Major Works, 189–230.

[20]             Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 88–103.

[21]             Southern, Saint Anselm, 250–294.

[22]             Evans, Anselm, 60–78.

[23]             Copleston, Medieval Philosophy, 96–104.


7.          Pengaruh terhadap Pemikir Sesudahnya

Anselmus dari Canterbury merupakan salah satu tokoh yang pengaruh intelektualnya melampaui zamannya sendiri. Walaupun hidup pada abad ke-11 hingga awal abad ke-12, gagasan-gagasannya terus menjadi bahan dialog, pengembangan, maupun kritik sepanjang sejarah filsafat dan teologi Barat. Hal ini disebabkan oleh dua karakter utama pemikirannya: pertama, keberhasilannya menghubungkan iman dan rasio dalam suatu kerangka sistematis; kedua, kemampuannya merumuskan persoalan-persoalan mendasar—seperti keberadaan Tuhan, kebebasan kehendak, kebenaran, dan penebusan—dengan bahasa konseptual yang tajam.¹

Pengaruh Anselmus tidak selalu berbentuk penerimaan langsung. Dalam banyak kasus, warisannya justru tampak melalui kritik terhadap dirinya. Sebuah gagasan besar sering bertahan bukan hanya karena diterima, tetapi karena terus memaksa generasi sesudahnya untuk merespons. Demikian pula dengan Anselmus: argumen ontologisnya memancing perdebatan lintas abad, teori penebusannya membentuk tradisi teologi Barat, dan metode fides quaerens intellectum membuka jalan bagi skolastisisme.²

Bab ini membahas pengaruh Anselmus terhadap para pemikir sesudahnya dalam beberapa fase: skolastisisme awal dan tinggi, teologi Reformasi, filsafat modern, filsafat kontemporer, serta relevansinya dalam diskursus modern.

7.1.       Pengaruh terhadap Skolastisisme Awal

7.1.1.    Peter Abelard

Salah satu tokoh penting sesudah Anselmus adalah Peter Abelard (1079–1142). Walaupun pendekatan Abelard lebih dialektis dan kritis, ia mewarisi semangat penggunaan rasio dalam menjelaskan iman. Karya Abelard, Sic et Non, memperlihatkan metode menyusun otoritas-otoritas yang tampak bertentangan lalu menyelesaikannya melalui analisis logis.³

Jika Anselmus menunjukkan bahwa doktrin iman dapat direnungkan secara rasional, Abelard mengembangkan metode itu menjadi sistem debat akademik yang lebih formal. Dalam arti ini, Anselmus membuka pintu yang kemudian diperluas oleh Abelard.

7.1.2.    Hugh of Saint Victor dan Tradisi Victorine

Hugh of Saint Victor dan para pemikir Victorine memadukan mistisisme dengan rasionalitas teologis. Model seperti ini memiliki kedekatan dengan Anselmus, yang menggabungkan doa, meditasi, dan argumentasi.⁴

7.2.       Pengaruh terhadap Skolastisisme Tinggi

7.2.1.    Thomas Aquinas

Thomas Aquinas (1225–1274) adalah salah satu penerus paling besar tradisi skolastik. Meskipun Aquinas mengembangkan sintesis Aristotelian yang jauh lebih luas daripada Anselmus, ia tetap mewarisi prinsip dasar bahwa iman dan rasio saling melengkapi.⁵

Aquinas menghormati Anselmus, tetapi juga berbeda darinya dalam beberapa hal penting:

1)                  Aquinas lebih menekankan pembuktian eksistensi Tuhan dari pengalaman dunia (a posteriori).

2)                  Ia mengkritik bentuk tertentu argumen ontologis Anselmus.

3)                  Namun, ia menerima bahwa akal dapat menyingkap sebagian kebenaran tentang Allah.⁶

Dalam doktrin penebusan, Aquinas juga berdialog dengan model kepuasan Anselmus, meskipun menafsirkannya dalam kerangka yang lebih luas.

7.2.2.    Bonaventura

Bonaventura (1217–1274) menunjukkan kedekatan lebih besar dengan tradisi Augustinian-Anselmian daripada Aquinas. Ia menekankan iluminasi ilahi, orientasi jiwa kepada Tuhan, dan spiritualitas intelektual.⁷

7.3.       Pengaruh terhadap Teologi Reformasi

7.3.1.    Martin Luther

Martin Luther (1483–1546) hidup berabad-abad setelah Anselmus, tetapi tetap bergerak dalam horizon teologi Barat yang telah dipengaruhi olehnya. Luther sangat menekankan dosa manusia dan kebutuhan mutlak akan anugerah Allah—tema yang telah kuat dalam Cur Deus Homo.⁸

Walaupun Luther mengkritik skolastisisme akhir, ia tidak sepenuhnya menolak seluruh warisan skolastik awal. Dalam doktrin salib dan penebusan, terdapat kesinambungan tertentu dengan penekanan Anselmus tentang seriusnya dosa dan perlunya karya Kristus.

7.3.2.    John Calvin

John Calvin (1509–1564) juga mewarisi kerangka hukum dan keadilan ilahi yang dalam beberapa aspek beresonansi dengan teori kepuasan Anselmus. Tradisi Protestan kemudian mengembangkan model penal substitution, yang berbeda dari Anselmus tetapi tidak terlepas dari pengaruh diskusi yang ia mulai.⁹

7.4.       Pengaruh terhadap Filsafat Modern

7.4.1.    René Descartes

René Descartes (1596–1650) menghidupkan kembali argumen ontologis dalam Meditations. Ia berpendapat bahwa ide tentang makhluk sempurna mengandung eksistensi sebagaimana segitiga mengandung tiga sudut.¹⁰

Meskipun formulasi Descartes berbeda, hubungan intelektual dengan Anselmus sangat jelas: keduanya mencoba menunjukkan bahwa konsep Tuhan memiliki konsekuensi eksistensial.

7.4.2.    Gottfried Wilhelm Leibniz

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) menerima argumen ontologis tetapi berusaha memperbaikinya dengan menambahkan syarat bahwa konsep makhluk sempurna harus mungkin secara logis.¹¹

7.4.3.    Immanuel Kant

Immanuel Kant (1724–1804) memberikan kritik paling terkenal terhadap argumen ontologis. Menurut Kant, eksistensi bukan predikat yang menambah isi konsep. Oleh karena itu, keberadaan tidak dapat diturunkan hanya dari definisi.¹²

Walaupun menolak argumen Anselmus, Kant justru memperlihatkan besarnya pengaruh Anselmus: sebuah gagasan yang masih harus dihadapi setelah tujuh abad.

7.4.4.    Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Georg Wilhelm Friedrich Hegel melihat argumen ontologis lebih simpatik. Bagi Hegel, hubungan antara pikiran dan realitas lebih erat daripada yang diasumsikan empirisme modern.¹³

7.5.       Pengaruh terhadap Filsafat Analitik Kontemporer

Pada abad ke-20 dan ke-21, filsafat agama analitik menghidupkan kembali diskusi tentang Anselmus.

7.5.1.    Norman Malcolm

Norman Malcolm menafsirkan ulang argumen ontologis Anselmus dengan menekankan konsep keberadaan niscaya (necessary existence).¹⁴

7.5.2.    Alvin Plantinga

Alvin Plantinga mengembangkan versi modal dari argumen ontologis menggunakan logika kemungkinan-dunia (possible worlds semantics). Ia berargumen bahwa jika makhluk mahatinggi mungkin ada, maka makhluk itu ada secara niscaya.¹⁵

7.5.3.    Richard Swinburne dan Teologi Rasional

Richard Swinburne, meskipun lebih terkenal dengan argumen probabilistik, tetap bergerak dalam tradisi yang menganggap rasio relevan bagi pembahasan iman—semangat yang dapat ditelusuri kembali kepada Anselmus.¹⁶

7.6.       Pengaruh terhadap Teologi Kontemporer

7.6.1.    Karl Barth

Karl Barth memberikan perhatian besar kepada Anselmus dalam bukunya Fides Quaerens Intellectum. Barth menafsirkan Anselmus bukan sebagai rasionalis, tetapi sebagai teolog yang memulai dari wahyu dan berusaha memahami iman dari dalam iman itu sendiri.¹⁷

7.6.2.    ans Urs von Balthasar

Hans Urs von Balthasar mengapresiasi dimensi kontemplatif dan kristologis Anselmus, terutama keseimbangan antara intelek dan adorasi.¹⁸

7.7.       Pengaruh terhadap Konsep Gereja dan Negara

Sebagai Uskup Agung Canterbury, Anselmus terlibat dalam konflik investitur melawan campur tangan monarki dalam urusan gereja. Sikapnya berpengaruh terhadap perkembangan gagasan bahwa otoritas spiritual memiliki ruang otonom dari kekuasaan politik.¹⁹

Pemikiran ini kemudian berkontribusi pada sejarah panjang pembatasan kekuasaan negara di Eropa, walaupun dalam bentuk yang sangat berbeda dari sekularisme modern.

7.8.       Evaluasi Kritis atas Pengaruhnya

Pengaruh Anselmus terhadap pemikir sesudahnya dapat diringkas dalam beberapa bentuk:

1)                  Pengaruh Metodologis – iman dan rasio dapat berdialog.

2)                  Pengaruh Konseptual – persoalan eksistensi Tuhan, dosa, dan kebebasan dirumuskan secara sistematis.

3)                  Pengaruh Polemis – gagasannya terus dikritik dan diperdebatkan.

4)                  Pengaruh Institusional – membantu membentuk budaya intelektual skolastik.²⁰

Namun demikian, sebagian unsur pemikirannya bersifat kontekstual, terutama bahasa feodal dalam teori kepuasan dan metafisika esensialis yang tidak selalu diterima modernitas.


Kesimpulan

Pengaruh Anselmus terhadap pemikir sesudahnya sangat luas dan lintas zaman. Dari skolastisisme awal hingga filsafat analitik kontemporer, dari teologi Reformasi hingga diskusi modern tentang rasionalitas iman, gagasan-gagasannya terus hidup.

Ia memengaruhi bukan hanya mereka yang setuju dengannya, tetapi juga mereka yang menolak dan mengkritiknya. Dalam hal ini, Anselmus adalah contoh klasik pemikir besar: seseorang yang tidak berhenti berbicara setelah wafat, karena ide-idenya terus memanggil generasi baru untuk berpikir ulang tentang Tuhan, manusia, dan kebenaran.


Footnotes

[1]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.

[2]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 301–315.

[3]                David Luscombe, The School of Peter Abelard (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 10–22.

[4]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 300–315.

[5]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 180–210.

[6]                Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.2, a.1.

[7]                Gilson, History of Christian Philosophy, 387–401.

[8]                Alister E. McGrath, Historical Theology (Oxford: Blackwell, 1998), 156–162.

[9]                Ibid., 168–175.

[10]             René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 45–51.

[11]             Gottfried Wilhelm Leibniz, Philosophical Essays, trans. Roger Ariew and Daniel Garber (Indianapolis: Hackett, 1989), 230–233.

[12]             Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929), A598/B626.

[13]             G. W. F. Hegel, Lectures on the Philosophy of Religion, vol. 3 (Berkeley: University of California Press, 1985), 163–170.

[14]             Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review 69, no. 1 (1960): 41–62.

[15]             Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221.

[16]             Richard Swinburne, The Existence of God, 2nd ed. (Oxford: Oxford University Press, 2004), 5–18.

[17]             Karl Barth, Fides Quaerens Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.

[18]             Hans Urs von Balthasar, The Glory of the Lord, vol. 2 (San Francisco: Ignatius Press, 1984), 145–151.

[19]             Brian Tierney, The Crisis of Church and State 1050–1300 (Toronto: University of Toronto Press, 1988), 54–71.

[20]             Southern, Saint Anselm, 316–325.


8.          Kritik Kontemporer dan Relevansi Modern

Anselmus dari Canterbury hidup dalam konteks abad ke-11, namun banyak gagasannya tetap menjadi bahan diskusi dalam filsafat, teologi, etika, dan teori politik modern. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran besar sering kali melampaui konteks asalnya. Meskipun sejumlah konsep Anselmus berakar pada struktur sosial feodal, metafisika klasik, dan teologi Kristen Latin, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan tetap aktual: apakah iman dapat dipertanggungjawabkan secara rasional? Apakah keberadaan Tuhan dapat dipikirkan secara logis? Bagaimana keadilan dan belas kasih diperdamaikan? Apa makna kebebasan manusia?¹

Pada saat yang sama, dunia modern menghadirkan tantangan yang tidak dihadapi Anselmus: sekularisasi, pluralisme agama, perkembangan sains modern, kritik bahasa metafisik, teori demokrasi, psikologi modern, dan sensitivitas baru terhadap kekuasaan. Karena itu, warisan Anselmus perlu dibaca ulang secara kritis.²

Bab ini membahas dua dimensi sekaligus: kritik kontemporer terhadap pemikiran Anselmus dan relevansi modern yang masih dapat dipertahankan atau dikembangkan.

8.1.       Kritik terhadap Argumen Ontologis

8.1.1.    Kritik Logis dan Analitik

Argumen ontologis Anselmus tetap menjadi salah satu topik paling diperdebatkan dalam filsafat agama. Kritik modern utama berangkat dari pertanyaan: dapatkah eksistensi disimpulkan hanya dari definisi?

Immanuel Kant berpendapat bahwa eksistensi bukan predikat nyata. Menambahkan “ada” pada konsep suatu benda tidak menambah isi konsep tersebut. Karena itu, keberadaan tidak dapat diturunkan hanya dari analisis konseptual.³ Kritik Kant masih menjadi referensi utama dalam diskusi kontemporer.

Dalam filsafat analitik, sebagian pemikir menilai argumen Anselmus gagal karena mencampuradukkan tingkat bahasa:

1)                  konsep dalam pikiran;

2)                  referensi di dunia nyata;

3)                  status logis keberadaan.⁴

8.1.2.    Respons Modern

Walaupun dikritik, argumen ontologis tidak mati. Alvin Plantinga dan Norman Malcolm mengembangkan versi modal yang menekankan kemungkinan keberadaan niscaya (necessary being).⁵

Perdebatan ini menunjukkan bahwa nilai argumen ontologis mungkin bukan sekadar sebagai “bukti final,” tetapi sebagai alat untuk mengeksplorasi hubungan antara logika, modalitas, dan konsep ketuhanan.

8.1.3.    Relevansi Modern

Di era modern, argumen ontologis tetap relevan dalam:

·                     filsafat logika modal;

·                     metafisika keberadaan;

·                     filsafat bahasa;

·                     epistemologi religius.⁶

8.2.       Kritik terhadap Teori Penebusan (Satisfaction Theory)

8.2.1.    Kritik Historis dan Sosial

Dalam Cur Deus Homo, Anselmus menjelaskan dosa sebagai pelanggaran terhadap kehormatan Allah yang menuntut pemulihan. Banyak sarjana modern menilai model ini dipengaruhi budaya feodal, di mana kehormatan tuan dan kewajiban bawahan merupakan struktur sosial dominan.⁷

Karena itu, kritik utama menyatakan bahwa teori tersebut terlalu terikat pada zamannya dan tidak universal.

8.2.2.    Kritik Moral

Sebagian teolog modern mempertanyakan apakah keadilan ilahi harus dipahami dalam kategori utang dan pembayaran. Mereka khawatir model ini:

·                     menggambarkan Allah terlalu legalistik;

·                     menekankan hukuman lebih dari kasih;

·                     menjadikan salib seolah transaksi yuridis.⁸

Gustaf Aulén, misalnya, menghidupkan kembali model Christus Victor, yang melihat karya Kristus terutama sebagai kemenangan atas dosa, maut, dan kuasa jahat.⁹

8.2.3.    Relevansi Modern

Walaupun demikian, teori Anselmus tetap penting karena menegaskan:

1)                  dosa memiliki konsekuensi nyata;

2)                  keadilan tidak boleh diabaikan demi sentimentalitas;

3)                  rekonsiliasi membutuhkan pemulihan relasi, bukan sekadar deklarasi kosong.¹⁰

Dalam bahasa modern, teori ini dapat dibaca ulang sebagai model keadilan restoratif, bukan sekadar pembayaran hukum.

8.3.       Kritik terhadap Hubungan Iman dan Rasio

8.3.1.    Tantangan Sekularisasi

Dunia modern ditandai oleh diferensiasi antara agama, sains, dan politik. Banyak pemikir sekular berpendapat bahwa keyakinan religius seharusnya tidak dijadikan dasar pengetahuan publik. Dalam konteks ini, formula Anselmus fides quaerens intellectum dianggap terlalu internal karena berangkat dari iman terlebih dahulu.¹¹

8.3.2.    Tantangan Positivisme dan Empirisme

Tradisi empiris menuntut bukti observasional. Karena itu, argumen metafisik yang tidak dapat diverifikasi secara empiris dianggap lemah atau tidak bermakna. Kritik seperti ini tampak dalam positivisme logis abad ke-20.¹²

8.3.3.    Relevansi Modern

Namun, perkembangan filsafat kontemporer menunjukkan bahwa tidak semua pengetahuan bersifat empiris. Logika, matematika, etika, dan banyak asumsi ilmiah sendiri bergantung pada prinsip non-empiris.

Dalam konteks ini, Anselmus relevan karena menunjukkan bahwa:

·                     rasionalitas memiliki banyak bentuk;

·                     keyakinan dasar dapat menjadi titik awal penyelidikan;

·                     iman tidak identik dengan irasionalitas.¹³

8.4.       Kritik dari Pluralisme Agama

8.4.1.    Masalah Eksklusivitas

Anselmus menulis dalam kerangka Kristen Latin yang relatif homogen. Dunia modern jauh lebih plural: Islam, Hindu, Buddha, Yahudi, sekular humanisme, dan banyak pandangan lain hidup berdampingan. Karena itu, pertanyaan muncul: apakah kerangka teologi Anselmus terlalu eksklusif?¹⁴

8.4.2.    Dialog Antaragama

Konsep Anselmus tentang pencarian rasional terhadap Yang Tertinggi dapat dijadikan titik temu dialog lintas agama. Walaupun isi doktrinal berbeda, banyak tradisi berbagi pertanyaan serupa:

·                     Apa dasar realitas?

·                     Apa itu kebaikan tertinggi?

·                     Bagaimana manusia diperdamaikan dengan Yang Ilahi?¹⁵

8.4.3.    Relevansi Modern

Dengan pembacaan terbuka, Anselmus dapat diposisikan bukan sebagai lawan pluralisme, tetapi sebagai contoh bagaimana komitmen iman tetap bisa berdialog dengan rasio.

8.5.       Kritik terhadap Konsep Kebebasan Kehendak

8.5.1.    Tantangan Psikologi dan Neurosains

Anselmus mendefinisikan kebebasan sebagai kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak. Namun ilmu modern menyoroti pengaruh bawah sadar, trauma, genetika, lingkungan sosial, dan proses neurologis terhadap keputusan manusia. Hal ini menantang model kebebasan yang terlalu sederhana.¹⁶

8.5.2.    Relevansi Etis

Meski demikian, definisi Anselmus tetap bernilai karena memisahkan kebebasan dari sekadar pilihan acak. Dalam budaya konsumerisme modern, kebebasan sering disamakan dengan banyaknya opsi. Anselmus justru menekankan bahwa kebebasan sejati adalah kemampuan memilih yang baik.¹⁷

Gagasan ini relevan dalam:

·                     pendidikan karakter;

·                     etika kebiasaan;

·                     rehabilitasi moral;

·                     tanggung jawab sosial.

8.6.       Kritik Politik dan Institusional

8.6.1.    Gereja dan Kekuasaan

Sebagai Uskup Agung Canterbury, Anselmus membela kebebasan gereja terhadap campur tangan raja. Dalam masyarakat demokratis modern, relasi agama-negara dibaca berbeda. Otonomi lembaga agama penting, tetapi dominasi agama atas negara juga dipersoalkan.¹⁸

8.6.2.    Relevansi Modern

Warisan Anselmus dapat diterjemahkan sebagai prinsip umum:

·                     kekuasaan politik perlu dibatasi;

·                     otoritas moral tidak identik dengan kekuasaan koersif;

·                     hati nurani dapat menolak tekanan negara.¹⁹

Nilai ini relevan bagi hak asasi manusia dan kebebasan beragama.

8.7.       Relevansi dalam Filsafat Kontemporer

8.7.1.    Metafisika dan Filsafat Agama

Pertanyaan Anselmus tentang makhluk sempurna, keberadaan niscaya, dan sumber kebaikan tetap menjadi topik utama metafisika analitik.²⁰

8.7.2.    Epistemologi

Formula faith seeking understanding mengilhami diskusi tentang:

·                     properly basic beliefs;

·                     rasionalitas kepercayaan religius;

·                     hubungan komitmen dan pengetahuan.²¹

8.7.3.    Etika

Teori kebenaran dan kehendaknya berguna untuk membahas hubungan antara niat, tindakan, dan karakter moral.

8.8.       Relevansi Spiritual di Era Modern

Masyarakat modern sering mengalami fragmentasi makna: teknologi maju, tetapi orientasi hidup kabur. Dalam konteks ini, Anselmus relevan karena menolak pemisahan total antara berpikir dan berdoa, intelek dan kontemplasi.²²

Ia mengingatkan bahwa:

1)                  manusia mencari bukan hanya informasi, tetapi makna;

2)                  pengetahuan tanpa kebijaksanaan tidak cukup;

3)                  rasio dapat berjalan bersama kedalaman batin.

8.9.       Evaluasi Sintesis

Jika diringkas, kritik kontemporer terhadap Anselmus mencakup:

1)                  metafisika klasik yang dipersoalkan modernitas;

2)                  model feodal dalam teori penebusan;

3)                  asumsi teologis yang partikular;

4)                  konsep kehendak yang dianggap kurang kompleks.²³

Namun relevansinya tetap kuat dalam:

1)                  filsafat agama;

2)                  etika dan kebebasan;

3)                  teori rasionalitas;

4)                  spiritualitas intelektual;

5)                  pembatasan kekuasaan politik.


Kesimpulan

Pemikiran Anselmus tidak dapat diterima begitu saja tanpa kritik, tetapi juga tidak dapat disingkirkan sebagai artefak abad pertengahan. Banyak unsur sistemnya memang kontekstual, namun pertanyaan-pertanyaan dasarnya tetap universal.

Di tengah dunia modern yang sering mempertentangkan iman dan akal, keadilan dan kasih, kebebasan dan moralitas, Anselmus menawarkan model pencarian yang serius: keyakinan harus dipikirkan, dan pemikiran seharusnya terbuka pada pertanyaan terdalam tentang makna. Karena itu, relevansi modern Anselmus bukan terletak pada pengulangan literal doktrinnya, melainkan pada daya inspiratif metode dan kedalaman problematika yang ia wariskan.


Footnotes

[1]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.

[2]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 301–325.

[3]                Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929), A598/B626.

[4]                J. L. Mackie, The Miracle of Theism (Oxford: Clarendon Press, 1982), 54–61.

[5]                Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221; Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review 69, no. 1 (1960): 41–62.

[6]                William Lane Craig and J. P. Moreland, eds., The Blackwell Companion to Natural Theology (Malden, MA: Wiley-Blackwell, 2009), 553–593.

[7]                Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.

[8]                J. Denny Weaver, The Nonviolent Atonement (Grand Rapids: Eerdmans, 2001), 45–63.

[9]                Aulén, Christus Victor, 4–11.

[10]             Eleonore Stump, Atonement (Oxford: Oxford University Press, 2018), 23–39.

[11]             Karl Barth, Fides Quaerens Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.

[12]             A. J. Ayer, Language, Truth and Logic (London: Victor Gollancz, 1936), 34–45.

[13]             Alvin Plantinga, Warranted Christian Belief (Oxford: Oxford University Press, 2000), 167–186.

[14]             John Hick, An Interpretation of Religion (New Haven: Yale University Press, 1989), 1–18.

[15]             Keith Ward, Religion and Revelation (Oxford: Clarendon Press, 1994), 201–219.

[16]             Patricia Churchland, Braintrust (Princeton: Princeton University Press, 2011), 89–112.

[17]             Anselm of Canterbury, De Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford University Press, 1998), 175–188.

[18]             Brian Tierney, The Crisis of Church and State 1050–1300 (Toronto: University of Toronto Press, 1988), 54–71.

[19]             John Courtney Murray, We Hold These Truths (New York: Sheed and Ward, 1960), 112–135.

[20]             Brian Leftow, God and Necessity (Oxford: Oxford University Press, 2012), 1–25.

[21]             Plantinga, Warranted Christian Belief, 169–210.

[22]             Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 88–103.

[23]             Southern, Saint Anselm, 316–325.


9.          Analisis Kritis Penulis

Setelah menelaah biografi, konteks historis, pemikiran filsafat, teologi, karya-karya utama, pengaruh historis, serta kritik kontemporer terhadap Anselmus dari Canterbury, langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi kritis secara sintesis. Analisis ini bertujuan bukan sekadar mengulang isi pemikirannya, melainkan menilai kekuatan, keterbatasan, dan relevansi epistemologis maupun praktis dari sistem pemikiran Anselmus dalam perspektif masa kini.¹

Sebagai tokoh abad pertengahan, Anselmus hidup dalam horizon budaya Kristen Latin yang sangat berbeda dari masyarakat modern pluralistik. Oleh karena itu, setiap penilaian terhadap dirinya harus memperhatikan dua hal sekaligus: pertama, keadilan historis terhadap konteks zamannya; kedua, keberanian kritis untuk menilai apakah gagasan-gagasannya masih memadai bagi problem kontemporer.²

Dalam pandangan penulis, nilai terbesar Anselmus bukan semata pada kesimpulan-kesimpulan doktrinalnya, melainkan pada model intelektual yang ia wariskan: keyakinan bahwa pertanyaan terdalam tentang realitas, Tuhan, manusia, dan moralitas layak dipikirkan secara serius, sistematis, dan rasional.

9.1.       Kekuatan Fundamental Pemikiran Anselmus

9.1.1.    Integrasi Iman dan Rasio

Kekuatan paling menonjol dari Anselmus adalah keberhasilannya menolak dikotomi tajam antara iman dan akal. Dalam banyak konteks modern, agama sering diposisikan sebagai wilayah subjektif dan anti-rasional, sedangkan rasio dipersempit menjadi empirisme teknis. Anselmus menawarkan alternatif: iman dapat menjadi titik tolak pencarian intelektual tanpa kehilangan sifat rasionalnya.³

Formula fides quaerens intellectum memiliki makna epistemologis yang mendalam. Semua sistem berpikir sesungguhnya berangkat dari asumsi dasar tertentu—baik naturalisme, empirisme, humanisme, maupun teisme. Karena itu, memulai dari iman tidak otomatis irasional; yang menentukan adalah apakah keyakinan itu dapat direfleksikan, diuji koherensinya, dan dipertanggungjawabkan secara argumentatif.⁴

Dalam hal ini, Anselmus mendahului diskusi modern tentang:

·                     foundational beliefs;

·                     rasionalitas komitmen dasar;

·                     hubungan kepercayaan dan penalaran.

9.1.2.    Keberanian Metafisik

Filsafat kontemporer sering berhati-hati terhadap pertanyaan metafisik besar. Namun Anselmus berani mengajukan pertanyaan mendasar:

·                     Mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan?

·                     Apa hakikat kebaikan tertinggi?

·                     Apakah realitas memiliki dasar final?

·                     Bagaimana kebebasan mungkin terjadi?⁵

Keberanian ini penting. Sekalipun jawaban Anselmus dapat diperdebatkan, keberanian untuk bertanya pada level terdalam merupakan warisan intelektual yang bernilai tinggi.

9.1.3.    Ketertiban Argumentatif

Anselmus menunjukkan disiplin berpikir yang sistematis. Ia berusaha menyusun premis, definisi, inferensi, dan kesimpulan secara tertib. Ini sangat penting dalam tradisi akademik, karena keyakinan tanpa argumentasi mudah jatuh pada dogmatisme, sementara kritik tanpa struktur mudah jatuh pada skeptisisme kosong.⁶

9.2.       Keterbatasan Historis Pemikiran Anselmus

9.2.1.    Ketergantungan pada Metafisika Esensialis

Sebagian besar argumen Anselmus bekerja dalam kerangka metafisika klasik yang mengandaikan:

1)                  esensi tetap;

2)                  hierarki keberadaan;

3)                  kesempurnaan objektif;

4)                  relasi partisipasi antara yang terbatas dan yang absolut.⁷

Masalahnya, filsafat modern dan pascamodern banyak menggugat asumsi-asumsi tersebut. Tradisi eksistensialisme, pragmatisme, fenomenologi, dan filsafat bahasa lebih menekankan pengalaman, praksis, konteks, atau penggunaan bahasa daripada esensi universal.

Karena itu, sebagian argumen Anselmus sulit diterima tanpa terlebih dahulu menerima kerangka metafisiknya.

9.2.2.    Konteks Feodal dalam Teori Penebusan

Teori kepuasan dalam Cur Deus Homo sangat kuat secara logis, tetapi juga sangat dipengaruhi struktur kehormatan-feodal abad pertengahan. Dalam masyarakat feodal, pelanggaran terhadap tuan menuntut pemulihan kehormatan. Struktur ini lalu digunakan untuk menjelaskan relasi dosa dan keadilan ilahi.⁸

Bagi pembaca modern, model tersebut problematis bila dipahami secara literal, karena:

·                     Allah tampak seperti penguasa feodal yang menuntut ganti rugi;

·                     relasi kasih dapat tertutupi bahasa legalistik;

·                     kompleksitas dosa sosial dan struktural kurang diperhatikan.

Namun, bila ditafsirkan simbolik sebagai kebutuhan objektif akan pemulihan moral, teori ini tetap memiliki daya guna.

9.2.3.    Keterbatasan Pluralistik

Anselmus menulis dalam dunia Kristen Latin yang relatif homogen. Ia tidak berhadapan langsung dengan pluralisme agama modern, sekularisme demokratis, atau globalisasi nilai.⁹

Akibatnya, sistemnya kurang memberi ruang eksplisit bagi:

·                     dialog antaragama;

·                     epistemologi lintas tradisi;

·                     relativitas budaya;

·                     problem identitas modern.

9.3.       Evaluasi terhadap Argumen Ontologis

9.3.1.    Nilai Positif

Menurut penulis, kekuatan utama argumen ontologis Anselmus bukan terletak pada kemampuannya “memaksa semua orang percaya,” tetapi pada kemampuannya menunjukkan bahwa konsep ketuhanan memiliki bobot metafisik serius.¹⁰

Argumen ini memaksa filsafat bertanya:

·                     Apakah keberadaan adalah predikat?

·                     Apa hubungan pikiran dan realitas?

·                     Dapatkah sesuatu niscaya ada?

·                     Apakah logika mampu menyentuh metafisika?

Dalam arti ini, argumen ontologis adalah laboratorium filsafat.

9.3.2.    Kelemahan

Namun sebagai bukti universal, argumen ini bergantung pada penerimaan konsep tertentu tentang “kesempurnaan” dan “keberadaan.” Bila konsep-konsep itu ditolak, kekuatan persuasifnya menurun drastis. Kritik Immanuel Kant tetap sangat kuat dalam hal ini.¹¹

Kesimpulan penulis: argumen ontologis lebih berhasil sebagai eksplorasi rasional tentang konsep Tuhan daripada sebagai demonstrasi final.

9.4.       Evaluasi terhadap Konsep Kebebasan

Pemahaman Anselmus tentang kebebasan sebagai kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak sangat kaya secara etis. Ia mengingatkan bahwa kebebasan bukan sekadar pilihan tak terbatas, melainkan orientasi pada kebaikan.¹²

Dalam masyarakat modern, kebebasan sering direduksi menjadi:

·                     kebebasan konsumsi;

·                     kebebasan preferensi;

·                     kebebasan tanpa tanggung jawab.

Di sini Anselmus sangat relevan: seseorang bisa memiliki banyak pilihan namun tetap tidak bebas bila dikuasai hawa nafsu, kecanduan, manipulasi, atau ketidaktahuan.

Namun, teorinya perlu diperkaya oleh psikologi modern yang menunjukkan bahwa kehendak manusia dibentuk oleh trauma, lingkungan, dan struktur sosial. Kebebasan bukan hanya soal moral individual, tetapi juga kondisi sosial yang memungkinkan pilihan nyata.

9.5.       Relevansi Metodologis bagi Akademik Modern

Penulis menilai warisan paling tahan lama dari Anselmus adalah metode berpikirnya. Ada tiga unsur yang sangat relevan bagi dunia akademik modern:

1)            Kerendahan Intelektual

Anselmus sadar bahwa akal manusia terbatas di hadapan realitas tertinggi. Ini penting sebagai koreksi terhadap kesombongan intelektual modern.¹³

2)            Keseriusan Argumentatif

Ia tidak puas dengan slogan atau sentimen, tetapi menuntut alasan. Ini relevan dalam era media sosial yang sering dipenuhi opini instan.

3)            Kesatuan Pengetahuan dan Moralitas

Bagi Anselmus, mengetahui kebenaran berkaitan dengan pembentukan jiwa. Ilmu tidak netral secara eksistensial. Ini penting di era teknologi yang mampu maju tanpa arah etis.

9.6.       Kritik terhadap Pembacaan Modern atas Anselmus

Sering kali modernitas mengkritik Anselmus dengan cara simplistik, misalnya menyebutnya sekadar “pemikir kuno yang mencoba membuktikan Tuhan lewat definisi.” Penilaian ini dangkal.¹⁴

Anselmus bukan hanya penyusun argumen ontologis. Ia adalah pemikir yang bergulat dengan:

·                     struktur rasional iman;

·                     moralitas kehendak;

·                     keadilan dan belas kasih;

·                     relasi institusi agama dan kekuasaan politik;

·                     kehidupan kontemplatif.

Karena itu, pembacaan yang adil harus melihat keseluruhan sistemnya.

9.7.       Posisi Penulis: Apa yang Perlu Dipertahankan dan Direvisi

Yang Perlu Dipertahankan

1)                  Integrasi iman dan rasio.

2)                  Keseriusan metafisik.

3)                  Definisi kebebasan yang berorientasi kebaikan.

4)                  Pentingnya keadilan dalam rekonsiliasi.

5)                  Nilai kontemplasi intelektual.¹⁵

Yang Perlu Direvisi

1)                  Bahasa feodal tentang kehormatan dan utang.

2)                  Kurangnya perhatian pada dimensi sosial-struktural dosa.

3)                  Kurangnya keterlibatan dengan pluralisme agama.

4)                  Konsep kehendak yang belum mempertimbangkan psikologi modern.

5)                  Metafisika yang terlalu statis.¹⁶

9.8.       Sintesis Penulis

Jika dirumuskan secara singkat, Anselmus adalah pemikir yang sangat kuat dalam metode, cukup kuat dalam analisis moral, dan sebagian perlu direinterpretasi dalam substansi historis tertentu.

Ia tidak selalu memberi jawaban final bagi dunia modern, tetapi ia mengajarkan cara bertanya yang bermutu. Dalam banyak kasus, kemampuan mengajukan pertanyaan yang benar lebih penting daripada jawaban yang cepat.


Kesimpulan

Secara kritis, Anselmus tidak boleh dipuja tanpa koreksi, tetapi juga tidak layak disingkirkan sebagai tokoh usang. Ia adalah pemikir besar yang bekerja dengan perangkat zamannya untuk menjawab persoalan universal.

Nilai paling berharga dari Anselmus terletak pada kesungguhannya mencari kebenaran melalui perpaduan iman, rasio, moralitas, dan kontemplasi. Dalam zaman yang sering terpecah antara fanatisme tanpa nalar dan skeptisisme tanpa makna, warisan tersebut tetap sangat relevan.


Footnotes

[1]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 1–8.

[2]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 301–325.

[3]                Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), 87.

[4]                Alvin Plantinga, Warranted Christian Belief (Oxford: Oxford University Press, 2000), 167–186.

[5]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–96.

[6]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 230–248.

[7]                Brian Leftow, God and Necessity (Oxford: Oxford University Press, 2012), 1–25.

[8]                Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.

[9]                John Hick, An Interpretation of Religion (New Haven: Yale University Press, 1989), 1–18.

[10]             Norman Malcolm, “Anselm’s Ontological Arguments,” Philosophical Review 69, no. 1 (1960): 41–62.

[11]             Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith (London: Macmillan, 1929), A598/B626.

[12]             Anselm of Canterbury, De Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford University Press, 1998), 175–188.

[13]             Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 88–103.

[14]             Southern, Saint Anselm, 316–325.

[15]             Karl Barth, Fides Quaerens Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.

[16]             Eleonore Stump, Atonement (Oxford: Oxford University Press, 2018), 23–39.


10.      Kesimpulan

10.1.    Penegasan Umum

Kajian mengenai Anselmus dari Canterbury menunjukkan bahwa ia merupakan salah satu figur paling penting dalam sejarah intelektual Kristen Barat dan perkembangan filsafat abad pertengahan. Kehadirannya menandai masa transisi antara tradisi patristik yang lebih kontemplatif dan tradisi skolastik yang lebih sistematis serta argumentatif. Dalam dirinya, dimensi spiritual monastik, ketajaman logika, tanggung jawab pastoral, dan keberanian metafisik berpadu secara khas.¹

Anselmus bukan hanya tokoh gerejawi yang menempati jabatan Uskup Agung Canterbury, tetapi juga pemikir yang memberi kerangka baru bagi hubungan antara iman dan akal. Melalui semboyan fides quaerens intellectum (“iman yang mencari pemahaman”), ia memperlihatkan bahwa keyakinan religius tidak harus bertentangan dengan rasionalitas, melainkan dapat menjadi titik berangkat bagi pencarian intelektual yang mendalam.²

Dengan demikian, signifikansi Anselmus tidak terletak semata pada isi doktrinal ajarannya, tetapi juga pada model berpikir yang ia wariskan kepada generasi sesudahnya.

10.2.    Temuan Utama tentang Biografi dan Konteks Historis

Dari segi historis, kehidupan Anselmus memperlihatkan eratnya hubungan antara pemikiran dan konteks sosial-politik. Ia lahir di Aosta, dibentuk dalam lingkungan monastik Biara Bec di Normandia, lalu diangkat menjadi Uskup Agung Canterbury pada masa konflik antara gereja dan monarki Inggris.³

Pengalaman ini membentuk kepribadiannya sebagai:

1)                  rahib yang kontemplatif;

2)                  pendidik yang rasional;

3)                  pemimpin gereja yang tegas;

4)                  intelektual yang peka terhadap persoalan moral dan kekuasaan.

Konflik investitur yang ia hadapi menunjukkan bahwa bagi Anselmus, kebenaran dan integritas spiritual tidak boleh tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan politik. Sikap ini memberi warisan penting bagi perkembangan gagasan tentang otonomi moral lembaga keagamaan dan pembatasan kekuasaan negara.⁴

10.3.    Temuan Utama tentang Pemikiran Filsafat

Dalam bidang filsafat, Anselmus memberi kontribusi besar terutama pada metafisika, epistemologi, dan filsafat agama. Argumen ontologisnya menjadi salah satu argumen paling terkenal dan paling diperdebatkan dalam sejarah filsafat. Melalui argumen tersebut, ia berusaha menunjukkan bahwa konsep Tuhan sebagai “sesuatu yang lebih besar tidak dapat dipikirkan” memiliki konsekuensi eksistensial.⁵

Terlepas dari berbagai kritik terhadap argumen itu, nilainya tetap besar karena membuka diskusi mendalam mengenai:

·                     hubungan konsep dan realitas;

·                     status logis keberadaan;

·                     kemungkinan keberadaan niscaya;

·                     batas kemampuan rasio manusia.

Selain itu, teori kebenaran dan pandangannya mengenai kehendak bebas menunjukkan bahwa Anselmus tidak hanya berkutat pada pembuktian Tuhan, tetapi juga membahas struktur moral manusia secara serius. Kebebasan baginya bukan sekadar kemampuan memilih apa saja, melainkan kemampuan mempertahankan ketepatan kehendak demi kebaikan itu sendiri.⁶

Pandangan ini tetap relevan dalam dunia modern yang sering menyamakan kebebasan dengan pilihan tanpa arah moral.

10.4.    Temuan Utama tentang Pemikiran Teologi

Dalam bidang teologi, karya Cur Deus Homo menempatkan Anselmus sebagai salah satu arsitek utama doktrin penebusan Barat. Melalui teori kepuasan (satisfaction theory), ia menjelaskan bahwa dosa menciptakan ketidakteraturan moral yang menuntut pemulihan, dan hanya Kristus sebagai Allah-manusia yang mampu melakukannya secara sempurna.⁷

Walaupun model tersebut lahir dalam konteks feodal dan menerima kritik modern, kontribusi utamanya tetap penting:

1)                  dosa dipahami sebagai realitas serius, bukan sekadar kesalahan sepele;

2)                  keadilan dan belas kasih dipikirkan secara bersamaan;

3)                  keselamatan dipahami sebagai rekonsiliasi objektif, bukan sekadar perasaan subjektif.

Selain itu, Anselmus menampilkan teologi yang menyatukan rasio dan devosi. Banyak tulisannya bersifat sekaligus reflektif dan doa, menandakan bahwa baginya teologi lahir dari penyembahan, bukan dari spekulasi kosong.⁸

10.5.    Posisi Anselmus dalam Sejarah Skolastisisme

Anselmus sering dijuluki “Bapak Skolastisisme,” dan kajian ini menunjukkan bahwa gelar tersebut memiliki dasar yang cukup kuat, meskipun harus dipahami secara proporsional. Ia bukan pendiri tunggal skolastisisme, tetapi merupakan pelopor penting yang meletakkan dasar metodologisnya.⁹

Kontribusinya tampak dalam:

·                     penggunaan argumentasi logis untuk menjelaskan iman;

·                     penghargaan terhadap konsistensi konseptual;

·                     keyakinan bahwa kebenaran dapat ditelusuri melalui rasio;

·                     penyatuan studi teologi dengan metode intelektual teratur.

Tokoh-tokoh seperti Peter Abelard, Thomas Aquinas, dan para skolastikus sesudahnya mengembangkan jalan yang telah dibuka Anselmus.

10.6.    Kritik Kontemporer terhadap Anselmus

Kajian ini juga menunjukkan bahwa pemikiran Anselmus tidak lepas dari keterbatasan. Beberapa unsur sistemnya terikat pada konteks zamannya:

1)                  metafisika esensialis klasik;

2)                  struktur sosial feodal dalam teori penebusan;

3)                  horizon keagamaan yang relatif homogen;

4)                  pemahaman kehendak yang belum memperhitungkan psikologi modern.¹⁰

Karena itu, penerimaan terhadap Anselmus pada masa kini memerlukan reinterpretasi kritis, bukan pengulangan literal. Kritik modern terhadap argumen ontologis, teori kepuasan, dan relasi iman-rasio menunjukkan bahwa warisannya harus terus dibaca ulang.

Namun justru di sinilah kekuatan pemikir besar: ia terus menantang generasi baru untuk berpikir, baik melalui penerimaan maupun penolakan.

10.7.    Relevansi Modern

Meskipun berasal dari abad pertengahan, Anselmus tetap relevan bagi dunia modern dalam beberapa bidang.

1)            Filsafat Agama

Perdebatan mengenai rasionalitas iman, keberadaan Tuhan, dan metafisika niscaya masih aktif hingga kini.¹¹

2)            Etika dan Kebebasan

Definisi kebebasan sebagai orientasi kepada kebaikan sangat bernilai di tengah budaya relativisme dan konsumerisme.

3)            Teori Keadilan

Teori penebusan dapat dibaca ulang sebagai model rekonsiliasi dan keadilan restoratif.

4)            Spiritualitas Intelektual

Anselmus menunjukkan bahwa berpikir mendalam dan hidup rohani tidak harus dipisahkan.

5)            Kritik terhadap Kekuasaan

Sikapnya dalam konflik gereja-negara menegaskan pentingnya hati nurani dan batas moral kekuasaan politik.

10.8.    Sintesis Akhir Penulis

Secara keseluruhan, penulis menilai bahwa warisan terbesar Anselmus bukan terletak pada setiap detail sistemnya, melainkan pada etos intelektualnya. Ia menunjukkan bahwa:

·                     keyakinan harus berani diuji oleh akal;

·                     akal harus rendah hati di hadapan misteri;

·                     moralitas harus menyertai pengetahuan;

·                     pencarian kebenaran menuntut disiplin dan integritas.¹²

Di tengah dunia yang sering terbelah antara fanatisme tanpa nalar dan skeptisisme tanpa makna, model seperti ini sangat berharga.


Penutup

Anselmus dari Canterbury tetap layak dipelajari bukan karena semua jawabannya final, tetapi karena pertanyaan-pertanyaannya tetap hidup. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya mengetahui fakta; manusia juga mencari makna, dasar kebenaran, tujuan moral, dan sumber harapan.

Selama pertanyaan-pertanyaan tersebut masih diajukan, selama itu pula Anselmus akan tetap relevan dalam sejarah pemikiran manusia.


Footnotes

[1]                R. W. Southern, Saint Anselm: A Portrait in a Landscape (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 301–325.

[2]                Anselm of Canterbury, Proslogion, trans. Thomas Williams (Indianapolis: Hackett Publishing, 2001), 87.

[3]                G. R. Evans, Anselm (London: Continuum, 2004), 15–38.

[4]                Brian Tierney, The Crisis of Church and State 1050–1300 (Toronto: University of Toronto Press, 1988), 54–71.

[5]                Frederick Copleston, A History of Philosophy, Vol. 2: Medieval Philosophy (New York: Image Books, 1993), 89–96.

[6]                Anselm of Canterbury, De Libertate Arbitrii, in Anselm of Canterbury: The Major Works, ed. Brian Davies and G. R. Evans (Oxford: Oxford University Press, 1998), 175–188.

[7]                Anselm of Canterbury, Cur Deus Homo, trans. Jasper Hopkins and Herbert Richardson (Toronto: Edwin Mellen Press, 1974), 42–101.

[8]                Benedicta Ward, Anselm of Canterbury: His Life and Legacy (London: SPCK, 2009), 88–103.

[9]                Étienne Gilson, History of Christian Philosophy in the Middle Ages (New York: Random House, 1955), 230–248.

[10]             Gustaf Aulén, Christus Victor (London: SPCK, 1931), 89–102.

[11]             Alvin Plantinga, The Nature of Necessity (Oxford: Clarendon Press, 1974), 213–221.

[12]             Karl Barth, Fides Quaerens Intellectum: Anselm’s Proof of the Existence of God (London: SCM Press, 1960), 13–27.


Daftar Pustaka

Anselm of Canterbury. (1974). Cur Deus homo (J. Hopkins & H. Richardson, Trans.). Edwin Mellen Press.

Anselm of Canterbury. (1996). Monologion and proslogion (T. Williams, Trans.). Hackett Publishing.

Anselm of Canterbury. (1998). Anselm of Canterbury: The major works (B. Davies & G. R. Evans, Eds.). Oxford University Press.

Anselm of Canterbury. (2001). Proslogion (T. Williams, Trans.). Hackett Publishing.

Aquinas, T. (1947). Summa theologica (Fathers of the English Dominican Province, Trans.). Benziger Brothers. (Original work published 1265–1274)

Aulén, G. (1931). Christus victor: An historical study of the three main types of the idea of atonement. SPCK.

Ayer, A. J. (1936). Language, truth and logic. Victor Gollancz.

Barth, K. (1960). Fides quaerens intellectum: Anselm’s proof of the existence of God. SCM Press.

Churchland, P. S. (2011). Braintrust: What neuroscience tells us about morality. Princeton University Press.

Copleston, F. (1993). A history of philosophy: Vol. 2. Medieval philosophy. Image Books.

Craig, W. L., & Moreland, J. P. (Eds.). (2009). The Blackwell companion to natural theology. Wiley-Blackwell.

Davies, B. (2004). An introduction to the philosophy of religion (3rd ed.). Oxford University Press.

Davies, B., & Evans, G. R. (Eds.). (1998). Anselm of Canterbury: The major works. Oxford University Press.

Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press. (Original work published 1641)

Eadmer. (1962). The life of St Anselm (R. W. Southern, Trans.). Clarendon Press.

Evans, G. R. (2004). Anselm. Continuum.

Gilson, É. (1955). History of Christian philosophy in the Middle Ages. Random House.

Hegel, G. W. F. (1985). Lectures on the philosophy of religion (Vol. 3). University of California Press.

Hick, J. (1989). An interpretation of religion: Human responses to the transcendent. Yale University Press.

Kant, I. (1929). Critique of pure reason (N. Kemp Smith, Trans.). Macmillan. (Original work published 1781)

Knowles, D. (1963). The monastic order in England. Cambridge University Press.

Leftow, B. (2012). God and necessity. Oxford University Press.

Leibniz, G. W. (1989). Philosophical essays (R. Ariew & D. Garber, Trans.). Hackett Publishing.

Luscombe, D. (1969). The school of Peter Abelard. Cambridge University Press.

Mackie, J. L. (1982). The miracle of theism: Arguments for and against the existence of God. Clarendon Press.

Malcolm, N. (1960). Anselm’s ontological arguments. Philosophical Review, 69(1), 41–62.

McGrath, A. E. (1998). Historical theology: An introduction to the history of Christian thought. Blackwell.

Murray, J. C. (1960). We hold these truths: Catholic reflections on the American proposition. Sheed and Ward.

Plantinga, A. (1974). The nature of necessity. Clarendon Press.

Plantinga, A. (2000). Warranted Christian belief. Oxford University Press.

Southern, R. W. (1990). Saint Anselm: A portrait in a landscape. Cambridge University Press.

Stump, E. (2018). Atonement. Oxford University Press.

Swinburne, R. (2004). The existence of God (2nd ed.). Oxford University Press.

Tierney, B. (1988). The crisis of church and state 1050–1300. University of Toronto Press.

Ward, B. (2009). Anselm of Canterbury: His life and legacy. SPCK.

Weaver, J. D. (2001). The nonviolent atonement. Eerdmans.

Williams, T. (Ed.). (2007). The Cambridge companion to Anselm. Cambridge University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar