Rabu, 29 April 2026

Pemikiran John Searle: Realitas Sosial, Bahasa, dan Kesadaran

Pemikiran John Searle

Realitas Sosial, Bahasa, dan Kesadaran


Alihkan ke: Tokoh-Tokoh Filsafat, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam.


Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif pemikiran John Searle dalam tiga ranah utama filsafat kontemporer, yaitu filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan ontologi sosial. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis konseptual terhadap karya-karya utama Searle serta literatur sekunder yang relevan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Searle mengintegrasikan konsep makna linguistik, intensionalitas mental, dan konstruksi realitas sosial dalam satu kerangka teoretis yang koheren.

Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam filsafat bahasa, Searle mengembangkan teori tindak tutur yang menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat representasi, melainkan bentuk tindakan yang memiliki fungsi ilokusi dan berdampak sosial. Dalam filsafat pikiran, ia mengajukan konsep biological naturalism yang menempatkan kesadaran sebagai fenomena biologis yang nyata namun tidak dapat direduksi sepenuhnya ke dalam proses fisik. Sementara itu, dalam ontologi sosial, Searle menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui collective intentionality dan status functions yang dimediasi oleh bahasa, sebagaimana dirumuskan dalam prinsip “X counts as Y in context C”.

Secara kritis, pemikiran Searle memberikan kontribusi signifikan dalam membangun pendekatan integratif yang menghubungkan bahasa, pikiran, dan realitas sosial. Namun demikian, pendekatan ini juga menghadapi sejumlah kritik, terutama terkait keterbatasannya dalam menjelaskan dimensi subjektivitas secara mendalam serta kurangnya perhatian terhadap aspek historis dan relasi kekuasaan dalam pembentukan realitas sosial. Meskipun demikian, kerangka teoretis Searle tetap relevan dalam konteks kontemporer, khususnya dalam diskursus mengenai kecerdasan buatan, ilmu kognitif, dan dinamika institusi sosial modern.

Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa pemikiran John Searle tidak hanya memiliki signifikansi filosofis, tetapi juga implikasi interdisipliner yang luas dalam memahami kompleksitas hubungan antara bahasa, kesadaran, dan struktur sosial dalam kehidupan manusia.

Kata Kunci: John Searle; filsafat bahasa; filsafat pikiran; ontologi sosial; tindak tutur; intensionalitas; kesadaran; realitas sosial.


PEMBAHASAN

Analisis Komprehensif atas Pemikiran John Searle dalam Filsafat Kontemporer


1.           Pendahuluan

Filsafat kontemporer mengalami perkembangan yang signifikan dalam mengkaji hubungan antara bahasa, pikiran, dan realitas sosial. Salah satu tokoh yang memberikan kontribusi penting dalam bidang ini adalah John Searle, seorang filsuf Amerika Serikat yang dikenal luas melalui karya-karyanya dalam filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan ontologi sosial. Pemikirannya tidak hanya melanjutkan tradisi filsafat analitik, tetapi juga memperluas cakupan kajian dengan mengintegrasikan dimensi linguistik, kognitif, dan institusional dalam satu kerangka konseptual yang relatif utuh.¹

Dalam tradisi filsafat analitik, perhatian utama sering diarahkan pada analisis bahasa sebagai sarana untuk memahami struktur realitas dan pikiran manusia. Searle, yang banyak dipengaruhi oleh gurunya J. L. Austin, mengembangkan teori tindak tutur (speech act theory) yang menekankan bahwa bahasa bukan sekadar alat representasi, melainkan juga bentuk tindakan yang memiliki konsekuensi sosial dan institusional.² Dengan demikian, makna tidak hanya dipahami sebagai relasi antara kata dan objek, tetapi juga sebagai hasil dari praktik-praktik sosial yang diatur oleh aturan konstitutif tertentu.

Selain kontribusinya dalam filsafat bahasa, Searle juga memberikan sumbangan signifikan dalam filsafat pikiran, khususnya melalui konsep intensionalitas (intentionality) dan kritiknya terhadap pendekatan reduksionis dalam ilmu kognitif. Ia menolak pandangan bahwa kesadaran dapat direduksi sepenuhnya menjadi proses komputasional atau mekanistik, sebagaimana diasumsikan dalam beberapa versi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Argumen terkenalnya, yakni “Chinese Room”, menjadi salah satu kritik paling berpengaruh terhadap klaim bahwa mesin dapat memiliki pemahaman atau kesadaran seperti manusia.³ Dalam kerangka ini, Searle mengajukan posisi yang dikenal sebagai “biological naturalism”, yaitu pandangan bahwa kesadaran merupakan fenomena biologis yang bersifat nyata, irreduktibel, namun tetap bagian dari dunia fisik.

Lebih lanjut, pemikiran Searle berkembang ke arah analisis ontologi sosial, di mana ia berusaha menjelaskan bagaimana realitas sosial terbentuk dan dipertahankan melalui praktik linguistik dan kesepakatan kolektif. Ia membedakan antara “brute facts” (fakta alamiah) dan “institutional facts” (fakta institusional), serta merumuskan prinsip dasar bahwa sesuatu dapat berfungsi sebagai sesuatu yang lain dalam konteks tertentu (“X counts as Y in context C”).⁴ Melalui pendekatan ini, Searle menunjukkan bahwa institusi sosial seperti uang, hukum, dan pemerintahan tidak hanya bergantung pada struktur material, tetapi juga pada pengakuan kolektif yang dimediasi oleh bahasa.

Meskipun pemikiran Searle memiliki pengaruh luas, tidak sedikit pula kritik yang diarahkan kepadanya, baik dari kalangan filsuf analitik maupun kontinental. Perdebatan mengenai validitas argumen Chinese Room, status ontologis intensionalitas, serta hubungan antara realisme dan konstruktivisme sosial menunjukkan bahwa gagasan-gagasannya masih menjadi medan diskusi yang dinamis hingga saat ini.⁵ Oleh karena itu, kajian terhadap pemikiran Searle tidak hanya penting untuk memahami kontribusinya secara historis, tetapi juga untuk mengevaluasi relevansinya dalam konteks perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan kontemporer.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif pemikiran John Searle dengan menyoroti tiga aspek utama, yaitu filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan ontologi sosial. Kajian ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan mendasar: (1) bagaimana Searle memahami hubungan antara bahasa dan realitas; (2) bagaimana ia menjelaskan sifat kesadaran dan intensionalitas; serta (3) bagaimana realitas sosial dikonstruksi melalui praktik linguistik dan kolektif. Dengan pendekatan analisis konseptual dan kajian pustaka, artikel ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang sistematis dan kritis terhadap salah satu pemikir penting dalam filsafat kontemporer.


Footnotes

[1]                John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 1–10.

[2]                J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford University Press, 1962), 94–107.

[3]                John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–457.

[4]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 27–29.

[5]                Daniel C. Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little, Brown and Company, 1991), 435–450.


2.           Biografi Intelektual John Searle

John Searle lahir pada 31 Juli 1932 di Denver, Colorado, Amerika Serikat. Ia tumbuh dalam lingkungan intelektual yang mendorong minatnya terhadap bahasa, logika, dan filsafat sejak usia muda. Pendidikan awalnya ditempuh di University of Wisconsin–Madison, sebelum kemudian melanjutkan studi pascasarjana di University of Oxford sebagai penerima beasiswa Rhodes.¹ Di Oxford, Searle berada dalam lingkungan filsafat analitik yang sangat kuat, yang pada saat itu didominasi oleh tokoh-tokoh seperti J. L. Austin dan P. F. Strawson. Pengaruh intelektual dari kedua tokoh ini memainkan peran penting dalam membentuk orientasi awal pemikiran Searle, khususnya dalam filsafat bahasa.

Di bawah bimbingan Austin, Searle mengembangkan ketertarikannya pada analisis bahasa sehari-hari (ordinary language philosophy), yang menekankan pentingnya memahami makna melalui penggunaan aktual dalam praktik komunikasi.² Pendekatan ini menjadi fondasi bagi karya awalnya yang terkenal, Speech Acts (1969), yang tidak hanya melanjutkan teori tindak tutur Austin, tetapi juga menyusunnya dalam kerangka sistematis yang lebih formal dan konseptual.³ Dalam karya tersebut, Searle memperkenalkan klasifikasi tindak tutur serta konsep aturan konstitutif, yang kemudian menjadi kontribusi penting dalam filsafat bahasa modern.

Setelah menyelesaikan studinya di Oxford, Searle memulai karier akademiknya di University of California, Berkeley pada tahun 1959, di mana ia menghabiskan sebagian besar karier intelektualnya. Di Berkeley, ia tidak hanya dikenal sebagai pengajar yang produktif, tetapi juga sebagai pemikir yang aktif terlibat dalam berbagai perdebatan filosofis kontemporer. Lingkungan akademik Berkeley yang dinamis memberikan ruang bagi Searle untuk mengembangkan pemikirannya secara lintas disiplin, khususnya dalam hubungan antara bahasa, pikiran, dan masyarakat.⁴

Perkembangan intelektual Searle dapat dibagi ke dalam beberapa fase utama. Fase pertama berfokus pada filsafat bahasa, terutama melalui pengembangan teori tindak tutur. Fase kedua ditandai dengan pergeseran ke filsafat pikiran, di mana ia mengkaji persoalan kesadaran, intensionalitas, dan hubungan antara otak dan pikiran. Dalam konteks ini, Searle dikenal melalui kritiknya terhadap kecerdasan buatan kuat (strong artificial intelligence), khususnya melalui argumen “Chinese Room” yang ia kemukakan pada tahun 1980.⁵ Argumen ini menegaskan bahwa pemrosesan simbol semata tidak cukup untuk menghasilkan pemahaman atau kesadaran, sehingga menantang asumsi dasar dalam paradigma komputasionalisme.

Fase ketiga dalam perkembangan pemikirannya berkaitan dengan ontologi sosial, yaitu kajian tentang bagaimana realitas sosial terbentuk dan dipertahankan. Dalam karya The Construction of Social Reality (1995), Searle mengembangkan teori tentang fakta institusional dan peran bahasa dalam menciptakan struktur sosial.⁶ Ia menunjukkan bahwa banyak aspek kehidupan manusia—seperti uang, kepemilikan, dan institusi politik—bergantung pada kesepakatan kolektif yang dimediasi oleh bahasa. Pendekatan ini memperluas cakupan filsafat analitik ke wilayah yang sebelumnya lebih sering dibahas dalam tradisi sosiologi dan filsafat sosial.

Selain dipengaruhi oleh Austin, pemikiran Searle juga menunjukkan interaksi kritis dengan tokoh-tokoh lain seperti Ludwig Wittgenstein, terutama dalam hal penggunaan bahasa dan aturan, serta Noam Chomsky dalam konteks linguistik dan struktur mental. Namun, Searle tetap mempertahankan posisi yang khas, khususnya melalui komitmennya terhadap realisme dan penolakannya terhadap relativisme ekstrem maupun reduksionisme materialistik.⁷

Secara keseluruhan, biografi intelektual John Searle mencerminkan suatu perjalanan pemikiran yang konsisten namun dinamis, dari analisis bahasa menuju eksplorasi kesadaran dan realitas sosial. Karya-karyanya menunjukkan upaya untuk membangun kerangka filosofis yang integratif, di mana bahasa, pikiran, dan institusi sosial dipahami sebagai aspek-aspek yang saling terkait dalam membentuk pengalaman manusia. Dengan demikian, Searle menempati posisi penting dalam lanskap filsafat kontemporer sebagai salah satu pemikir yang berhasil menjembatani berbagai domain kajian dalam satu kerangka konseptual yang relatif koheren.


Footnotes

[1]                John R. Searle, Mind: A Brief Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2004), 1–5.

[2]                J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford University Press, 1962), 1–12.

[3]                John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–25.

[4]                Barry Smith, “John Searle: From Speech Acts to Social Reality,” in John Searle, ed. Barry Smith (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 1–3.

[5]                John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.

[6]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 1–10.

[7]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 45–60.


3.           Landasan Filosofis dan Kerangka Teoretis

Pemikiran John Searle berakar kuat dalam tradisi filsafat analitik, suatu pendekatan filosofis yang menekankan kejelasan konseptual, analisis logis, dan perhatian terhadap bahasa sebagai medium utama refleksi filosofis. Dalam konteks ini, Searle mengadopsi sekaligus mengembangkan warisan intelektual dari tokoh-tokoh seperti J. L. Austin dan Ludwig Wittgenstein, khususnya dalam hal pentingnya penggunaan bahasa sehari-hari (ordinary language) sebagai dasar analisis makna.¹ Namun, berbeda dari beberapa pendahulunya, Searle tidak berhenti pada analisis linguistik semata, melainkan berupaya menghubungkan bahasa dengan struktur realitas dan kondisi mental yang mendasarinya.

Salah satu landasan utama dalam kerangka teoretis Searle adalah kritik terhadap dualisme Cartesian yang memisahkan secara tegas antara pikiran (mind) dan tubuh (body). Dalam pandangan dualisme klasik, sebagaimana dirumuskan oleh René Descartes, pikiran dipahami sebagai substansi non-fisik yang terpisah dari dunia material.² Searle menolak dikotomi ini dengan mengajukan pendekatan yang ia sebut sebagai biological naturalism, yaitu pandangan bahwa fenomena mental—termasuk kesadaran—merupakan produk dari proses biologis dalam otak, namun tidak dapat direduksi sepenuhnya menjadi deskripsi fisik semata.³ Dengan demikian, Searle berusaha menempuh jalan tengah antara reduksionisme materialistik dan dualisme metafisik.

Selain itu, Searle juga mengkritik behaviorisme, yaitu pandangan dalam filsafat pikiran dan psikologi yang mengidentifikasi keadaan mental dengan perilaku yang dapat diamati. Ia berargumen bahwa pendekatan ini gagal menjelaskan dimensi subjektif dari pengalaman sadar (subjective experience), yang justru merupakan ciri esensial dari kesadaran itu sendiri.⁴ Dalam kerangka ini, Searle menegaskan bahwa setiap keadaan mental memiliki sifat first-person ontology, yaitu hanya dapat diakses secara langsung oleh subjek yang mengalaminya, meskipun tetap memiliki dasar ontologis dalam dunia fisik.

Konsep kunci lain dalam pemikiran Searle adalah intensionalitas (intentionality), yaitu kemampuan pikiran untuk “mengarah kepada” atau merepresentasikan sesuatu di luar dirinya. Konsep ini awalnya dikembangkan dalam tradisi fenomenologi oleh Franz Brentano, namun diadopsi dan direformulasi oleh Searle dalam kerangka filsafat analitik.⁵ Bagi Searle, intensionalitas merupakan ciri fundamental dari banyak keadaan mental, seperti kepercayaan, keinginan, dan niat. Ia juga menekankan bahwa intensionalitas memiliki struktur representasional yang terkait erat dengan kondisi kepuasan (conditions of satisfaction), yaitu kondisi di mana suatu representasi mental dianggap terpenuhi atau benar.

Dalam menghubungkan bahasa dan pikiran, Searle mengajukan tesis bahwa makna linguistik pada dasarnya bergantung pada intensionalitas mental. Bahasa tidak memiliki makna secara inheren, melainkan memperoleh maknanya melalui penggunaan oleh agen yang memiliki kapasitas mental tertentu.⁶ Dengan demikian, analisis bahasa tidak dapat dipisahkan dari analisis pikiran. Pandangan ini sekaligus menjadi kritik terhadap pendekatan formalistik yang cenderung memisahkan struktur bahasa dari konteks penggunaan dan kondisi mental penuturnya.

Lebih lanjut, Searle mengembangkan kerangka teoretis yang mengintegrasikan bahasa, pikiran, dan realitas sosial melalui konsep aturan konstitutif (constitutive rules). Berbeda dengan aturan regulatif yang mengatur aktivitas yang sudah ada sebelumnya, aturan konstitutif justru menciptakan kemungkinan adanya aktivitas tersebut.⁷ Dalam formulasi terkenalnya, “X counts as Y in context C”, Searle menunjukkan bagaimana fakta-fakta sosial terbentuk melalui praktik simbolik yang diakui secara kolektif. Kerangka ini menjadi dasar bagi pengembangan teori ontologi sosialnya, di mana realitas sosial dipahami sebagai konstruksi yang bergantung pada bahasa dan kesadaran kolektif.

Dengan demikian, landasan filosofis dan kerangka teoretis Searle dapat dipahami sebagai upaya integratif untuk menjelaskan hubungan antara bahasa, pikiran, dan dunia. Ia menolak reduksionisme yang menyederhanakan fenomena mental menjadi sekadar proses fisik, sekaligus menolak dualisme yang memisahkan secara radikal antara pikiran dan tubuh. Sebaliknya, Searle menawarkan pendekatan yang menempatkan kesadaran dan intensionalitas sebagai fenomena biologis yang nyata, serta bahasa sebagai medium yang menjembatani pengalaman subjektif dengan struktur objektif realitas, termasuk dalam pembentukan dunia sosial.


Footnotes

[1]                J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford University Press, 1962), 1–15; Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations (Oxford: Blackwell, 1953), §1–20.

[2]                René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 17–23.

[3]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 1–26.

[4]                Ibid., 27–45.

[5]                Franz Brentano, Psychology from an Empirical Standpoint (London: Routledge, 1973), 88–89.

[6]                John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 1–10.

[7]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 27–34.


4.           Teori Tindak Tutur (Speech Act Theory)

Salah satu kontribusi paling berpengaruh dari John Searle dalam filsafat bahasa adalah pengembangan teori tindak tutur (speech act theory), yang pada awalnya dirintis oleh J. L. Austin. Teori ini berangkat dari kritik terhadap pandangan tradisional yang menganggap bahwa fungsi utama bahasa adalah untuk menggambarkan atau merepresentasikan realitas. Sebaliknya, Austin dan kemudian Searle menunjukkan bahwa melalui bahasa, manusia tidak hanya mengatakan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu.¹

Austin membedakan tiga dimensi utama dalam tindak tutur, yaitu tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act). Tindak lokusi merujuk pada tindakan mengucapkan kalimat dengan makna tertentu; tindak ilokusi berkaitan dengan maksud atau fungsi dari ujaran tersebut (seperti memerintah, berjanji, atau menyatakan); sedangkan tindak perlokusi merujuk pada efek yang dihasilkan pada pendengar.² Searle menerima kerangka dasar ini, namun mengembangkannya lebih lanjut dengan memberikan analisis yang lebih sistematis terhadap struktur dan kondisi yang memungkinkan tindak tutur tersebut.

Searle menekankan bahwa inti dari komunikasi linguistik terletak pada tindak ilokusi, karena di dalamnya terkandung maksud penutur yang diatur oleh aturan tertentu. Ia memperkenalkan konsep illocutionary force, yaitu kekuatan yang menentukan jenis tindakan yang dilakukan melalui ujaran, seperti menyatakan, bertanya, memerintah, atau berjanji.³ Dalam pandangan ini, memahami makna suatu ujaran tidak cukup hanya dengan mengetahui arti literalnya, tetapi juga harus memahami kekuatan ilokusinya dalam konteks tertentu.

Lebih lanjut, Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi ke dalam beberapa kategori utama, antara lain: (1) assertives (menyatakan atau menggambarkan realitas), (2) directives (berusaha mempengaruhi tindakan orang lain), (3) commissives (mengikat penutur pada tindakan di masa depan), (4) expressives (mengungkapkan keadaan psikologis), dan (5) declarations (mengubah status atau kondisi suatu hal melalui ujaran itu sendiri).⁴ Klasifikasi ini memberikan kerangka analitis yang lebih terstruktur dalam memahami berbagai fungsi bahasa dalam praktik komunikasi sehari-hari.

Salah satu aspek penting dalam teori Searle adalah konsep conditions of satisfaction (kondisi kepuasan), yaitu kondisi yang harus terpenuhi agar suatu tindak tutur dianggap berhasil atau sah. Misalnya, dalam tindak tutur berupa janji, kondisi kepuasannya adalah bahwa tindakan yang dijanjikan benar-benar dilakukan di masa depan.⁵ Selain itu, Searle juga mengemukakan adanya felicity conditions (kondisi kelayakan), yaitu seperangkat prasyarat kontekstual dan institusional yang harus dipenuhi agar suatu tindak tutur dapat berfungsi dengan benar. Konsep ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada struktur linguistik, tetapi juga pada konteks sosial dan aturan yang mengaturnya.

Searle juga memperkenalkan pembedaan penting antara aturan regulatif (regulative rules) dan aturan konstitutif (constitutive rules). Aturan regulatif mengatur aktivitas yang sudah ada sebelumnya, sedangkan aturan konstitutif menciptakan kemungkinan adanya aktivitas tersebut. Dalam konteks tindak tutur, aturan konstitutif menentukan bagaimana suatu ujaran dapat berfungsi sebagai tindakan tertentu.⁶ Misalnya, suatu pernyataan dapat berfungsi sebagai janji hanya jika memenuhi aturan-aturan tertentu yang diakui secara sosial.

Dengan pendekatan ini, Searle berhasil memperluas cakupan teori tindak tutur dari sekadar analisis linguistik menjadi teori yang mencakup dimensi mental dan sosial. Bahasa dipahami sebagai aktivitas yang melibatkan intensionalitas penutur dan diatur oleh norma-norma sosial yang bersifat konstitutif. Hal ini juga menjadi jembatan menuju pengembangan teori ontologi sosialnya, di mana bahasa berperan dalam membentuk realitas institusional.

Secara kritis, teori tindak tutur Searle telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang, termasuk linguistik, filsafat, ilmu komunikasi, dan hukum. Namun, beberapa kritik juga muncul, terutama terkait dengan kecenderungannya yang dianggap terlalu menekankan struktur formal dan kurang memperhatikan variasi kontekstual serta aspek pragmatik yang lebih luas. Meskipun demikian, kerangka teoritis yang ditawarkan Searle tetap menjadi salah satu fondasi utama dalam studi tentang bahasa sebagai tindakan.


Footnotes

[1]                J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford University Press, 1962), 1–6.

[2]                Ibid., 94–107.

[3]                John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 23–30.

[4]                John R. Searle, Expression and Meaning: Studies in the Theory of Speech Acts (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 12–20.

[5]                John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 7–10.

[6]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 27–34.


5.           Filsafat Bahasa: Makna, Referensi, dan Realitas

Dalam kerangka filsafat bahasa, John Searle mengembangkan pendekatan yang berupaya menjembatani hubungan antara makna linguistik, referensi, dan struktur realitas. Berbeda dari pandangan tradisional yang cenderung memisahkan bahasa dari konteks mental dan sosial, Searle menegaskan bahwa makna tidak dapat dipahami secara memadai tanpa merujuk pada intensionalitas penutur serta praktik penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.¹ Dengan demikian, bahasa bukan sekadar sistem simbol abstrak, melainkan bagian integral dari aktivitas manusia yang berorientasi pada dunia.

Searle mengkritik teori deskripsi klasik yang diasosiasikan dengan Bertrand Russell, yang memandang referensi sebagai hasil dari deskripsi tertentu yang melekat pada suatu istilah.² Menurut Searle, pendekatan ini terlalu menyederhanakan kompleksitas hubungan antara bahasa dan dunia, karena tidak sepenuhnya memperhitungkan peran intensionalitas dan konteks penggunaan. Sebagai alternatif, ia mengembangkan pendekatan yang menekankan bahwa referensi bergantung pada kapasitas mental penutur untuk mengarahkan ujarannya kepada objek tertentu dalam dunia, baik secara langsung maupun melalui latar belakang pengetahuan bersama (background).

Dalam hal ini, Searle juga berinteraksi secara kritis dengan pemikiran Gottlob Frege, khususnya mengenai pembedaan antara sense (makna) dan reference (rujukan).³ Meskipun mengakui pentingnya distingsi tersebut, Searle menilai bahwa analisis Frege masih belum cukup untuk menjelaskan bagaimana makna aktual terbentuk dalam praktik komunikasi. Ia menekankan bahwa makna tidak hanya bersifat semantik, tetapi juga pragmatik, yaitu terkait dengan maksud penutur dan kondisi penggunaan bahasa dalam konteks tertentu.

Salah satu kontribusi penting Searle dalam filsafat bahasa adalah konsep background dan network. Background merujuk pada seperangkat kemampuan non-representasional, seperti kebiasaan, keterampilan, dan pemahaman implisit, yang memungkinkan seseorang menggunakan bahasa secara efektif. Sementara itu, network merujuk pada jaringan kepercayaan dan keadaan mental lain yang saling terkait.⁴ Kedua konsep ini menunjukkan bahwa makna tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada struktur mental dan sosial yang lebih luas.

Dalam kaitannya dengan realitas, Searle mengajukan posisi yang dikenal sebagai external realism (realisme eksternal), yaitu pandangan bahwa dunia eksternal ada secara independen dari representasi atau konstruksi manusia.⁵ Menurutnya, meskipun bahasa memainkan peran penting dalam mendeskripsikan dan bahkan membentuk aspek-aspek tertentu dari realitas (terutama realitas sosial), keberadaan dunia fisik tidak bergantung pada bahasa atau kesadaran manusia. Posisi ini sekaligus menjadi kritik terhadap relativisme dan konstruktivisme ekstrem yang menganggap realitas sepenuhnya sebagai produk bahasa atau diskursus.

Namun demikian, Searle juga menegaskan bahwa dalam konteks realitas sosial, bahasa memiliki fungsi konstitutif. Melalui bahasa, manusia dapat menciptakan fakta-fakta institusional yang tidak ada secara alami, seperti uang, status hukum, atau jabatan politik. Dalam hal ini, bahasa tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga berperan dalam membentuknya.⁶ Dengan demikian, terdapat hubungan dialektis antara bahasa dan realitas: bahasa bergantung pada dunia untuk memperoleh makna, tetapi pada saat yang sama juga berkontribusi dalam membentuk struktur dunia sosial.

Pendekatan Searle ini menunjukkan upaya untuk mengintegrasikan dimensi semantik, pragmatik, dan ontologis dalam satu kerangka teoretis. Ia menolak reduksi makna menjadi sekadar relasi simbolik, sekaligus menghindari pandangan relativistik yang meniadakan realitas objektif. Sebaliknya, Searle menawarkan pandangan yang menempatkan bahasa sebagai aktivitas manusia yang berakar pada kapasitas mental dan beroperasi dalam dunia yang nyata, baik dalam dimensi fisik maupun sosial.

Secara kritis, pendekatan ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas cakupan filsafat bahasa, namun juga menghadapi tantangan, terutama dalam menjelaskan secara rinci hubungan antara intensionalitas individu dan struktur sosial yang lebih luas. Meskipun demikian, pemikiran Searle tetap menjadi salah satu referensi utama dalam memahami kompleksitas hubungan antara makna, referensi, dan realitas dalam filsafat kontemporer.


Footnotes

[1]                John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–20.

[2]                Bertrand Russell, “On Denoting,” Mind 14, no. 56 (1905): 479–493.

[3]                Gottlob Frege, “On Sense and Reference,” in Translations from the Philosophical Writings of Gottlob Frege, ed. Peter Geach and Max Black (Oxford: Blackwell, 1952), 56–78.

[4]                John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 141–159.

[5]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 150–155.

[6]                Ibid., 27–34.


6.           Filsafat Pikiran: Kesadaran dan Intensionalitas

Dalam bidang filsafat pikiran, John Searle mengembangkan pendekatan yang berupaya menjelaskan hubungan antara kesadaran, intensionalitas, dan proses biologis otak secara non-reduksionis. Ia menolak dua posisi ekstrem yang dominan dalam perdebatan modern, yaitu dualisme Cartesian yang memisahkan pikiran dari tubuh, serta reduksionisme materialistik yang mengidentifikasi keadaan mental sepenuhnya dengan proses fisik. Sebagai alternatif, Searle mengajukan posisi yang dikenal sebagai biological naturalism, yaitu pandangan bahwa fenomena mental merupakan produk nyata dari sistem biologis (otak), tetapi memiliki karakteristik ontologis yang tidak dapat direduksi secara sederhana ke dalam deskripsi fisik.¹

Salah satu fokus utama Searle adalah kesadaran (consciousness), yang ia anggap sebagai fenomena sentral dalam filsafat pikiran. Kesadaran, menurutnya, memiliki sifat subjektif yang tidak dapat diabaikan, yakni hanya dapat dialami dari sudut pandang orang pertama (first-person perspective).² Ia menolak pendekatan behaviorisme yang mengabaikan dimensi subjektif ini, serta mengkritik fungsionalisme yang cenderung menyamakan pikiran dengan fungsi komputasional. Dalam pandangan Searle, kesadaran bukan sekadar fungsi atau program, melainkan keadaan biologis yang memiliki kualitas fenomenologis tertentu, seperti rasa sakit, persepsi, dan pengalaman batin lainnya.

Kritik Searle terhadap fungsionalisme dan komputasionalisme mencapai bentuk yang paling terkenal dalam argumen “Chinese Room”, yang ia kemukakan sebagai tantangan terhadap klaim kecerdasan buatan kuat (strong artificial intelligence).³ Dalam eksperimen pikiran ini, Searle membayangkan seseorang yang berada dalam sebuah ruangan dan memanipulasi simbol-simbol bahasa Mandarin berdasarkan aturan tertentu tanpa memahami maknanya. Meskipun dari luar tampak seolah-olah ia memahami bahasa tersebut, sebenarnya ia hanya menjalankan prosedur sintaktis tanpa semantik. Dari sini, Searle menyimpulkan bahwa pemrosesan simbol semata tidak cukup untuk menghasilkan pemahaman atau kesadaran, karena makna memerlukan intensionalitas yang tidak dapat direduksi menjadi operasi formal.

Konsep intensionalitas (intentionality) menjadi elemen kunci dalam teori filsafat pikiran Searle. Intensionalitas merujuk pada kemampuan keadaan mental untuk “mengarah kepada” sesuatu, seperti keyakinan tentang dunia, keinginan terhadap sesuatu, atau niat untuk bertindak.⁴ Searle menegaskan bahwa intensionalitas merupakan ciri esensial dari banyak keadaan mental, dan memiliki struktur representasional yang terkait dengan conditions of satisfaction, yaitu kondisi di mana suatu keadaan mental dianggap terpenuhi. Misalnya, suatu keyakinan benar jika sesuai dengan fakta, sedangkan suatu keinginan terpenuhi jika objek yang diinginkan tercapai.

Dalam kerangka biological naturalism, Searle juga menekankan bahwa hubungan antara otak dan pikiran bersifat kausal sekaligus identitas pada tingkat tertentu. Artinya, proses neurobiologis dalam otak menyebabkan munculnya keadaan mental, namun keadaan mental tersebut tidak dapat sepenuhnya dijelaskan hanya melalui deskripsi fisik.⁵ Dengan kata lain, kesadaran adalah fenomena tingkat tinggi (higher-level feature) dari sistem biologis, sebagaimana sifat cair adalah fenomena tingkat tinggi dari molekul air. Analogi ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran bergantung pada proses fisik, ia memiliki karakteristik yang memerlukan penjelasan pada level yang berbeda.

Searle juga membedakan antara intensionalitas intrinsik (intrinsic intentionality) dan intensionalitas derivatif (derived intentionality). Intensionalitas intrinsik dimiliki oleh makhluk sadar, seperti manusia, sedangkan intensionalitas derivatif dimiliki oleh artefak seperti komputer atau teks, yang memperoleh maknanya dari pengguna manusia.⁶ Distingsi ini menjadi dasar bagi kritiknya terhadap pandangan bahwa mesin dapat memiliki pikiran atau kesadaran secara mandiri.

Secara kritis, pendekatan Searle memberikan kontribusi penting dalam menegaskan kembali peran kesadaran sebagai fenomena yang tidak dapat direduksi dalam studi ilmiah tentang pikiran. Namun, beberapa kritik menyatakan bahwa biological naturalism masih menghadapi kesulitan dalam menjelaskan secara rinci bagaimana proses fisik menghasilkan pengalaman subjektif (masalah hard problem of consciousness). Meskipun demikian, kerangka teoretis Searle tetap menjadi salah satu pendekatan yang berpengaruh dalam upaya memahami hubungan kompleks antara otak, pikiran, dan kesadaran.


Footnotes

[1]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 1–26.

[2]                Ibid., 93–117.

[3]                John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.

[4]                John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 1–15.

[5]                Searle, The Rediscovery of the Mind, 112–130.

[6]                John R. Searle, Mind: A Brief Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2004), 176–182.


7.           Teori Realitas Sosial (Social Ontology)

Dalam perkembangan lanjut pemikirannya, John Searle mengajukan suatu kerangka teoritis yang sistematis mengenai realitas sosial (social ontology), yaitu kajian tentang bagaimana entitas sosial terbentuk, eksis, dan berfungsi dalam kehidupan manusia. Berbeda dari pendekatan sosiologis tradisional yang sering menekankan struktur atau relasi kekuasaan, Searle memulai analisisnya dari pertanyaan ontologis: bagaimana mungkin fakta-fakta sosial yang tampak “tidak alamiah” (seperti uang, hukum, atau institusi) dapat memiliki keberadaan yang nyata dan efektif dalam dunia manusia?¹

Salah satu konsep fundamental dalam teori ini adalah pembedaan antara brute facts (fakta alamiah) dan institutional facts (fakta institusional). Brute facts adalah fakta yang keberadaannya tidak bergantung pada kesepakatan manusia, seperti fakta bahwa air mendidih pada suhu tertentu atau bahwa gunung memiliki ketinggian tertentu. Sebaliknya, institutional facts adalah fakta yang hanya ada karena adanya pengakuan kolektif dalam suatu sistem sosial, seperti status uang, kepemilikan, atau jabatan politik.² Dengan demikian, realitas sosial memiliki dimensi ontologis yang berbeda dari realitas fisik, meskipun tetap bergantung padanya sebagai dasar eksistensial.

Untuk menjelaskan bagaimana fakta institusional terbentuk, Searle merumuskan prinsip dasar yang terkenal, yaitu: “X counts as Y in context C” (X dihitung sebagai Y dalam konteks C).³ Formula ini menunjukkan bahwa suatu objek atau tindakan (X) dapat memiliki makna atau fungsi tertentu (Y) dalam suatu konteks sosial tertentu (C), berdasarkan kesepakatan kolektif. Misalnya, selembar kertas (X) dapat berfungsi sebagai uang (Y) dalam sistem ekonomi tertentu (C). Prinsip ini menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui atribusi makna yang bersifat kolektif dan kontekstual.

Konsep penting lainnya dalam teori Searle adalah status functions (fungsi status), yaitu fungsi yang diberikan kepada suatu entitas bukan karena sifat fisiknya, tetapi karena pengakuan sosial terhadap status tertentu.⁴ Fungsi status ini selalu terkait dengan apa yang disebut sebagai deontic powers, yaitu kekuatan normatif seperti hak, kewajiban, izin, dan otoritas. Sebagai contoh, seorang hakim memiliki wewenang untuk memutuskan perkara bukan karena karakteristik biologisnya, tetapi karena status institusional yang diakui dalam sistem hukum. Dengan demikian, realitas sosial tidak hanya terdiri dari fakta, tetapi juga dari struktur normatif yang mengatur tindakan manusia.

Bahasa memainkan peran sentral dalam pembentukan realitas sosial menurut Searle. Ia berargumen bahwa bahasa merupakan medium utama yang memungkinkan penciptaan dan pemeliharaan fakta institusional.⁵ Melalui deklarasi linguistik, manusia dapat menciptakan realitas baru, seperti dalam pernyataan “Saya menikahkan Anda” atau “Rapat ini dibuka”. Dalam kasus ini, ujaran tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga menciptakannya. Oleh karena itu, bahasa memiliki fungsi performatif yang bersifat konstitutif dalam struktur sosial.

Selain itu, Searle menekankan pentingnya collective intentionality (intensionalitas kolektif) sebagai dasar dari realitas sosial. Intensionalitas kolektif merujuk pada kemampuan individu untuk berbagi niat, kepercayaan, dan tujuan dalam kerangka “kita” (we-intentions), bukan sekadar “saya” (I-intentions).⁶ Tanpa adanya intensionalitas kolektif, tidak mungkin terbentuk institusi sosial, karena fakta institusional memerlukan pengakuan bersama dari anggota masyarakat. Dengan demikian, realitas sosial bergantung pada interaksi antara kesadaran individu dan struktur kolektif.

Meskipun menekankan konstruksi sosial, Searle tetap mempertahankan posisi realisme eksternal, yaitu bahwa dunia fisik ada secara independen dari konstruksi manusia.⁷ Ia menolak pandangan konstruktivisme radikal yang menganggap seluruh realitas sebagai hasil konstruksi sosial. Sebaliknya, Searle membedakan secara tegas antara realitas fisik yang independen dan realitas sosial yang bergantung pada praktik manusia. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih seimbang antara objektivitas dan konstruksi sosial.

Secara kritis, teori ontologi sosial Searle memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dasar ontologis dari institusi sosial dan norma-norma yang mengaturnya. Namun, beberapa kritik menyatakan bahwa pendekatan ini cenderung kurang memperhatikan dinamika kekuasaan, konflik sosial, dan perubahan historis yang juga membentuk realitas sosial. Meskipun demikian, kerangka konseptual Searle tetap menjadi salah satu pendekatan paling sistematis dalam menjelaskan bagaimana realitas sosial dibangun melalui bahasa, kesadaran, dan pengakuan kolektif.


Footnotes

[1]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 1–5.

[2]                Ibid., 2–3.

[3]                Ibid., 27–29.

[4]                John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.

[5]                Searle, The Construction of Social Reality, 59–71.

[6]                Ibid., 23–26.

[7]                Ibid., 150–155.


8.           Konsep Status Functions dan Collective Intentionality

Dalam kerangka ontologi sosial yang dikembangkan oleh John Searle, konsep status functions dan collective intentionality menempati posisi sentral dalam menjelaskan bagaimana realitas sosial terbentuk dan dipertahankan. Kedua konsep ini saling berkaitan secara erat dan menjadi fondasi bagi pemahaman mengenai institusi sosial, norma, serta struktur kekuasaan dalam kehidupan manusia.

Konsep status functions merujuk pada fungsi-fungsi yang diberikan kepada suatu entitas bukan berdasarkan sifat fisiknya, melainkan karena pengakuan kolektif dalam suatu sistem sosial.¹ Dengan kata lain, suatu objek atau individu dapat memiliki fungsi tertentu karena “status” yang disematkan kepadanya melalui kesepakatan sosial. Misalnya, selembar kertas dapat berfungsi sebagai uang, atau seseorang dapat memiliki otoritas sebagai hakim. Fungsi-fungsi ini tidak inheren dalam objek atau individu tersebut, melainkan bergantung pada sistem makna dan aturan yang diakui bersama.

Searle menegaskan bahwa status functions selalu terkait dengan apa yang ia sebut sebagai deontic powers, yaitu kekuatan normatif yang mencakup hak, kewajiban, izin, dan otoritas.² Dalam konteks ini, realitas sosial tidak hanya terdiri dari fakta-fakta deskriptif, tetapi juga dari struktur normatif yang mengatur perilaku manusia. Sebagai contoh, status sebagai “pemilik” tidak hanya menunjukkan hubungan antara individu dan objek, tetapi juga melibatkan hak untuk menggunakan, menjual, atau melindungi objek tersebut, serta kewajiban orang lain untuk menghormati hak tersebut.

Pembentukan status functions tidak dapat dipisahkan dari peran bahasa, khususnya melalui apa yang disebut sebagai deklarasi (declarations). Melalui tindakan linguistik tertentu, manusia dapat menciptakan status baru yang diakui secara sosial.³ Misalnya, pernyataan “Anda dinyatakan bersalah” dalam konteks pengadilan tidak hanya menggambarkan suatu keadaan, tetapi juga menciptakan status hukum baru bagi individu yang bersangkutan. Dengan demikian, bahasa memiliki fungsi konstitutif dalam menciptakan dan mempertahankan struktur sosial.

Namun, status functions tidak dapat eksis tanpa adanya collective intentionality (intensionalitas kolektif). Konsep ini merujuk pada kemampuan individu untuk berbagi niat, keyakinan, dan tujuan dalam kerangka kolektif, yaitu sebagai “kita” (we-intentions), bukan sekadar sebagai individu yang terpisah.⁴ Searle membedakan intensionalitas kolektif dari sekadar agregasi intensionalitas individu; dalam intensionalitas kolektif, terdapat dimensi bersama yang tidak dapat direduksi menjadi penjumlahan niat individu semata.

Sebagai ilustrasi, dalam aktivitas sosial seperti bermain sepak bola atau menjalankan institusi ekonomi, para partisipan tidak hanya bertindak secara individual, tetapi juga dalam kerangka tujuan bersama yang diakui secara kolektif. Tanpa adanya intensionalitas kolektif, tidak mungkin terbentuk koordinasi sosial yang kompleks, karena tidak ada dasar bersama untuk memahami aturan dan tujuan aktivitas tersebut.⁵ Oleh karena itu, collective intentionality merupakan prasyarat ontologis bagi keberadaan fakta institusional.

Lebih lanjut, hubungan antara status functions dan collective intentionality dapat dipahami melalui formula dasar Searle, yaitu “X counts as Y in context C”. Dalam formula ini, atribusi status (Y) kepada suatu entitas (X) dalam konteks tertentu (C) hanya mungkin terjadi jika terdapat pengakuan kolektif terhadap atribusi tersebut.⁶ Dengan demikian, realitas sosial merupakan hasil dari interaksi antara struktur simbolik (bahasa), pengakuan kolektif, dan praktik sosial yang berulang.

Searle juga menekankan bahwa meskipun status functions bersifat sosial dan bergantung pada pengakuan kolektif, mereka tetap memiliki objektivitas dalam arti tertentu. Artinya, setelah suatu status diakui dalam sistem sosial, ia dapat berfungsi secara independen dari preferensi individu tertentu.⁷ Misalnya, nilai uang tetap berlaku dalam sistem ekonomi meskipun individu tertentu tidak menyetujuinya. Hal ini menunjukkan bahwa realitas sosial memiliki bentuk objektivitas yang bersifat intersubjektif.

Secara kritis, konsep status functions dan collective intentionality memberikan kerangka yang kuat untuk memahami bagaimana institusi sosial terbentuk dan berfungsi. Namun, beberapa kritik menyatakan bahwa pendekatan Searle cenderung kurang memperhatikan peran konflik, dominasi, dan ketimpangan kekuasaan dalam pembentukan realitas sosial. Meskipun demikian, kontribusinya tetap signifikan dalam menyediakan dasar ontologis yang jelas bagi analisis sosial, khususnya dalam menjelaskan bagaimana norma dan institusi memperoleh legitimasi melalui bahasa dan kesadaran kolektif.


Footnotes

[1]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 39–41.

[2]                John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.

[3]                Searle, The Construction of Social Reality, 59–63.

[4]                Ibid., 23–26.

[5]                Ibid., 24–25.

[6]                Ibid., 27–29.

[7]                Searle, Making the Social World, 17–20.


9.           Kritik terhadap Reduksionisme dan Materialisme

Dalam lanskap filsafat pikiran kontemporer, John Searle menempati posisi kritis terhadap berbagai bentuk reduksionisme dan materialisme yang berupaya menjelaskan fenomena mental secara eksklusif melalui kerangka fisik atau komputasional. Kritiknya berangkat dari keyakinan bahwa pendekatan-pendekatan tersebut gagal menangkap dimensi esensial dari kesadaran dan intensionalitas, khususnya sifat subjektif dan kualitatif dari pengalaman mental.¹

Reduksionisme dalam filsafat pikiran umumnya berusaha menjelaskan keadaan mental sebagai sesuatu yang sepenuhnya dapat direduksi ke dalam proses fisik, seperti aktivitas neuron di otak. Dalam bentuk yang lebih ekstrem, pendekatan ini muncul sebagai eliminativisme, yang dikembangkan oleh tokoh seperti Paul Churchland, yang berargumen bahwa konsep-konsep mental tradisional seperti “kepercayaan” dan “keinginan” sebaiknya dihapus karena tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.² Searle menolak posisi ini dengan menegaskan bahwa fenomena mental adalah realitas yang tidak dapat disangkal, karena keberadaannya langsung dialami secara subjektif. Mengabaikan atau mengeliminasi pengalaman sadar berarti mengabaikan salah satu aspek paling fundamental dari realitas manusia.

Selain itu, Searle juga mengkritik materialisme reduksionis yang mengidentifikasi keadaan mental dengan keadaan fisik tertentu. Ia berargumen bahwa meskipun setiap keadaan mental memiliki dasar neurobiologis, tidak berarti bahwa deskripsi mental dapat sepenuhnya digantikan oleh deskripsi fisik.³ Dalam pandangannya, terdapat perbedaan ontologis antara fenomena mental yang bersifat subjektif (first-person ontology) dan fenomena fisik yang bersifat objektif (third-person ontology). Perbedaan ini tidak menunjukkan adanya dua substansi yang terpisah, melainkan dua cara eksistensi yang berbeda dalam satu realitas yang sama.

Kritik Searle terhadap materialisme juga mencakup fungsionalisme dan komputasionalisme, yang sering dianggap sebagai bentuk non-reduksionis dari materialisme. Fungsionalisme, sebagaimana dikembangkan oleh Hilary Putnam dan Jerry Fodor, memandang keadaan mental sebagai fungsi atau peran kausal dalam sistem, tanpa bergantung pada substrat fisik tertentu.⁴ Searle menilai bahwa pendekatan ini tetap gagal menjelaskan kesadaran, karena hanya berfokus pada relasi input-output dan struktur formal, tanpa memperhitungkan pengalaman subjektif yang menyertai keadaan mental.

Argumen “Chinese Room” yang telah dibahas sebelumnya menjadi salah satu instrumen utama dalam kritik Searle terhadap komputasionalisme. Ia menunjukkan bahwa manipulasi simbol berdasarkan aturan sintaktis tidak cukup untuk menghasilkan pemahaman semantik.⁵ Dengan demikian, sistem komputasi, meskipun mampu mensimulasikan perilaku cerdas, tidak serta-merta memiliki pikiran atau kesadaran. Kritik ini secara implisit menolak klaim bahwa pikiran manusia dapat direduksi menjadi program komputer.

Sebagai alternatif terhadap reduksionisme dan materialisme, Searle mengajukan konsep biological naturalism. Dalam kerangka ini, fenomena mental dipahami sebagai hasil dari proses biologis yang terjadi dalam otak, namun memiliki karakteristik yang tidak dapat direduksi secara ontologis.⁶ Kesadaran, misalnya, dipandang sebagai fenomena tingkat tinggi (higher-level feature) dari sistem neurobiologis, sebagaimana sifat cair merupakan fenomena tingkat tinggi dari molekul air. Analogi ini menunjukkan bahwa reduksi kausal tidak selalu berarti reduksi ontologis.

Searle juga mengkritik kecenderungan dalam ilmu kognitif modern yang terlalu menekankan model komputasional sebagai paradigma utama dalam memahami pikiran. Ia berargumen bahwa pendekatan ini cenderung mengabaikan aspek biologis dan fenomenologis dari kesadaran, serta terlalu bergantung pada metafora mesin.⁷ Menurutnya, untuk memahami pikiran secara utuh, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan dimensi biologis, subjektif, dan sosial.

Secara kritis, posisi Searle memberikan kontribusi penting dalam menantang asumsi-asumsi dasar dalam filsafat pikiran dan ilmu kognitif. Namun, pendekatannya juga menghadapi tantangan, terutama dalam menjelaskan secara rinci bagaimana proses biologis menghasilkan pengalaman subjektif. Meskipun demikian, kritiknya terhadap reduksionisme dan materialisme telah membuka ruang bagi pendekatan yang lebih komprehensif dalam memahami kompleksitas pikiran manusia.


Footnotes

[1]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 1–10.

[2]                Paul M. Churchland, Matter and Consciousness (Cambridge, MA: MIT Press, 1984), 43–49.

[3]                Searle, The Rediscovery of the Mind, 26–50.

[4]                Hilary Putnam, Mind, Language and Reality (Cambridge: Cambridge University Press, 1975), 429–440; Jerry A. Fodor, The Language of Thought (New York: Thomas Y. Crowell, 1975), 1–20.

[5]                John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.

[6]                Searle, The Rediscovery of the Mind, 112–130.

[7]                Ibid., 200–215.


10.       Relevansi Pemikiran Searle dalam Konteks Kontemporer

Pemikiran John Searle tetap memiliki relevansi yang signifikan dalam berbagai diskursus kontemporer, terutama dalam filsafat bahasa, filsafat pikiran, kecerdasan buatan, serta teori sosial dan institusi. Kerangka konseptual yang ia kembangkan memungkinkan analisis yang lebih integratif terhadap hubungan antara bahasa, kesadaran, dan struktur sosial dalam dunia modern yang semakin kompleks.

Dalam filsafat bahasa, teori tindak tutur (speech act theory) Searle terus menjadi landasan penting dalam kajian linguistik pragmatik dan komunikasi. Pendekatannya yang menekankan bahwa bahasa adalah bentuk tindakan memberikan kontribusi besar dalam memahami bagaimana makna dibentuk melalui konteks penggunaan dan intensi penutur.¹ Hal ini relevan dalam analisis wacana kontemporer, termasuk dalam media digital, di mana ujaran tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk realitas sosial, opini publik, dan relasi kekuasaan.

Dalam konteks filsafat pikiran dan ilmu kognitif, kritik Searle terhadap reduksionisme dan komputasionalisme tetap menjadi rujukan penting, khususnya dalam perdebatan mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence). Argumen “Chinese Room” terus digunakan sebagai titik tolak untuk mengevaluasi klaim bahwa sistem AI dapat memiliki pemahaman atau kesadaran seperti manusia.² Di era perkembangan pesat teknologi seperti pembelajaran mesin (machine learning) dan model bahasa besar, pertanyaan tentang apakah mesin benar-benar “memahami” atau hanya “memproses simbol” menjadi semakin актуal. Dalam hal ini, Searle memberikan kerangka kritis untuk membedakan antara simulasi kecerdasan dan kesadaran yang sesungguhnya.

Lebih jauh, konsep biological naturalism yang diajukan Searle juga memiliki implikasi dalam neurofilsafat dan ilmu saraf modern. Pendekatan ini mendorong integrasi antara studi empiris tentang otak dan refleksi filosofis tentang kesadaran, tanpa mereduksi fenomena mental menjadi sekadar proses fisik.³ Dengan demikian, pemikiran Searle berkontribusi dalam upaya membangun dialog antara filsafat dan sains dalam memahami kompleksitas pikiran manusia.

Dalam ranah teori sosial, kontribusi Searle melalui ontologi sosial menjadi semakin relevan dalam memahami struktur institusi modern. Konsep institutional facts, status functions, dan collective intentionality memberikan kerangka analitis untuk menjelaskan bagaimana realitas sosial seperti uang digital, kontrak virtual, dan identitas online terbentuk dan berfungsi.⁴ Misalnya, dalam ekonomi digital, nilai suatu mata uang kripto tidak bergantung pada sifat fisiknya, melainkan pada pengakuan kolektif yang dimediasi oleh sistem teknologi dan kepercayaan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa teori Searle tetap aplikatif dalam menjelaskan fenomena sosial yang terus berkembang.

Selain itu, pemikiran Searle juga memiliki implikasi dalam bidang hukum dan politik. Konsep deontic powers (hak, kewajiban, dan otoritas) membantu menjelaskan dasar normatif dari sistem hukum dan legitimasi kekuasaan.⁵ Dalam konteks globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, kerangka ini dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana institusi politik memperoleh dan mempertahankan legitimasi, serta bagaimana norma-norma sosial berubah seiring waktu.

Namun demikian, relevansi pemikiran Searle juga disertai dengan tantangan. Beberapa kritik kontemporer menyoroti bahwa pendekatannya cenderung kurang memperhatikan dimensi historis, kultural, dan relasi kekuasaan dalam pembentukan realitas sosial. Perspektif dari tradisi kritis, seperti teori kritis dan post-strukturalisme, menekankan bahwa realitas sosial tidak hanya dibentuk oleh kesepakatan kolektif, tetapi juga oleh konflik, dominasi, dan ideologi.⁶ Oleh karena itu, integrasi antara pendekatan Searle dan perspektif kritis lainnya menjadi penting untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.

Secara keseluruhan, pemikiran John Searle tetap relevan dalam konteks kontemporer karena kemampuannya untuk menjelaskan hubungan kompleks antara bahasa, pikiran, dan realitas sosial secara sistematis. Meskipun menghadapi berbagai kritik dan perkembangan baru dalam filsafat dan sains, kerangka teoretis yang ia tawarkan tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami dinamika dunia modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi, transformasi sosial, dan perubahan epistemologis.


Footnotes

[1]                John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–25.

[2]                John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.

[3]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 112–130.

[4]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 27–34.

[5]                John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.

[6]                Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.


11.       Perspektif Kritis dan Evaluasi Filosofis

Pemikiran John Searle telah memberikan kontribusi besar dalam filsafat kontemporer, khususnya dalam integrasi antara filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan ontologi sosial. Namun demikian, sebagaimana halnya teori filosofis lainnya, gagasan-gagasannya juga menjadi objek kritik dan evaluasi dari berbagai perspektif. Analisis kritis terhadap pemikiran Searle penting untuk menilai kekuatan konseptual sekaligus keterbatasannya dalam menjelaskan kompleksitas realitas manusia.

Salah satu kritik utama terhadap Searle muncul dalam konteks filsafat pikiran, khususnya terkait argumen “Chinese Room”. Meskipun argumen ini dianggap berhasil menunjukkan keterbatasan pendekatan komputasional terhadap kesadaran, beberapa filsuf berpendapat bahwa Searle terlalu menyederhanakan konsep kecerdasan buatan. Daniel Dennett, misalnya, mengkritik bahwa eksperimen pikiran tersebut tidak cukup mempertimbangkan kompleksitas sistem secara keseluruhan, dan cenderung mengabaikan kemungkinan bahwa pemahaman dapat muncul dari interaksi sistemik, bukan dari komponen individu.¹ Kritik ini menunjukkan adanya perdebatan mendasar mengenai apakah kesadaran harus dipahami secara internal (berbasis pengalaman subjektif) atau dapat dijelaskan melalui fungsi eksternal dan perilaku sistem.

Selain itu, konsep biological naturalism yang diajukan Searle juga menghadapi tantangan, terutama terkait dengan apa yang dikenal sebagai hard problem of consciousness, sebagaimana dirumuskan oleh David Chalmers.² Masalah ini berkaitan dengan kesulitan menjelaskan bagaimana proses fisik dalam otak dapat menghasilkan pengalaman subjektif (qualia). Meskipun Searle menegaskan bahwa kesadaran adalah fenomena biologis yang nyata, ia tidak sepenuhnya memberikan penjelasan mekanistik tentang bagaimana transisi dari proses neurobiologis ke pengalaman subjektif terjadi. Dengan demikian, pendekatannya dinilai masih menyisakan celah dalam aspek eksplanatori.

Dalam filsafat bahasa, teori tindak tutur Searle juga tidak luput dari kritik. Beberapa ahli pragmatik berpendapat bahwa klasifikasi tindak ilokusi yang ia ajukan cenderung terlalu kaku dan tidak sepenuhnya mencerminkan keragaman praktik bahasa dalam konteks sosial yang berbeda.³ Selain itu, pendekatannya dianggap kurang sensitif terhadap dimensi kekuasaan, ideologi, dan konteks budaya yang memengaruhi penggunaan bahasa. Perspektif dari Michel Foucault, misalnya, menekankan bahwa bahasa tidak hanya merupakan alat komunikasi, tetapi juga medium dominasi dan produksi pengetahuan yang terkait erat dengan struktur kekuasaan.⁴

Dalam konteks ontologi sosial, teori Searle tentang institutional facts dan collective intentionality juga menghadapi kritik, terutama dari perspektif sosiologi kritis dan teori sosial kontemporer. Beberapa kritikus berargumen bahwa Searle terlalu menekankan peran konsensus dan pengakuan kolektif, sementara mengabaikan konflik, ketimpangan, dan dinamika historis dalam pembentukan institusi sosial.⁵ Dalam realitas sosial, banyak institusi tidak hanya dibangun melalui kesepakatan, tetapi juga melalui proses dominasi dan resistensi yang kompleks.

Namun demikian, kekuatan utama pemikiran Searle terletak pada upayanya untuk membangun kerangka teoretis yang integratif dan sistematis. Ia berhasil menghubungkan analisis bahasa dengan teori pikiran dan realitas sosial dalam satu kerangka konseptual yang relatif koheren. Pendekatannya juga memberikan kejelasan ontologis yang sering kali kurang dalam teori-teori sosial lainnya, khususnya dalam menjelaskan status dan fungsi institusi sosial.⁶

Dari perspektif evaluatif, pemikiran Searle dapat dipandang sebagai upaya untuk mempertahankan realisme dalam berbagai domain filsafat, baik dalam kaitannya dengan dunia eksternal, kesadaran, maupun realitas sosial. Ia menolak relativisme ekstrem sekaligus menghindari reduksionisme yang menyederhanakan kompleksitas fenomena manusia. Namun, pendekatannya juga menunjukkan keterbatasan dalam menangkap dimensi historis, kultural, dan politis yang lebih luas.

Dengan demikian, evaluasi filosofis terhadap pemikiran Searle menunjukkan bahwa meskipun teorinya memiliki kekuatan analitis yang signifikan, ia tetap memerlukan dialog dengan pendekatan lain untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Kritik-kritik yang ada tidak hanya menunjukkan kelemahan, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan lebih lanjut dalam studi filsafat bahasa, pikiran, dan realitas sosial.


Footnotes

[1]                Daniel C. Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little, Brown and Company, 1991), 435–450.

[2]                David J. Chalmers, The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory (New York: Oxford University Press, 1996), 3–5.

[3]                John R. Searle, Expression and Meaning: Studies in the Theory of Speech Acts (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 12–20.

[4]                Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.

[5]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 57–60.

[6]                Barry Smith, “John Searle: From Speech Acts to Social Reality,” in John Searle, ed. Barry Smith (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 10–15.


12.       Sintesis dan Implikasi Teoretis

Pemikiran John Searle menunjukkan suatu upaya sistematis untuk mengintegrasikan tiga domain utama dalam filsafat, yaitu bahasa, pikiran, dan realitas sosial. Sintesis ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga menawarkan kerangka teoretis yang koheren untuk memahami bagaimana manusia sebagai makhluk biologis, linguistik, dan sosial membangun serta menafsirkan dunia. Dalam kerangka ini, bahasa tidak dipahami secara terpisah dari pikiran, dan pikiran tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial di mana ia beroperasi.

Salah satu kontribusi utama Searle adalah penegasan bahwa makna linguistik berakar pada intensionalitas mental. Bahasa memperoleh maknanya karena digunakan oleh agen yang memiliki kapasitas mental untuk merepresentasikan dunia.¹ Dengan demikian, filsafat bahasa tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan filsafat pikiran. Sebaliknya, intensionalitas mental juga diekspresikan dan dimediasi melalui bahasa, sehingga keduanya membentuk hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan.

Lebih lanjut, Searle mengembangkan sintesis antara bahasa dan realitas sosial melalui konsep aturan konstitutif (constitutive rules) dan fakta institusional (institutional facts). Dalam kerangka ini, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat representasi, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan realitas sosial.² Melalui formula “X counts as Y in context C”, Searle menunjukkan bahwa struktur sosial dibangun melalui atribusi makna yang diakui secara kolektif. Dengan demikian, realitas sosial merupakan hasil dari interaksi antara intensionalitas individu dan pengakuan kolektif yang dimediasi oleh bahasa.

Implikasi teoretis dari sintesis ini sangat luas. Dalam filsafat, pendekatan Searle memberikan dasar ontologis yang jelas untuk memahami hubungan antara subjektivitas dan objektivitas. Ia menunjukkan bahwa fenomena subjektif seperti kesadaran dapat memiliki status ontologis yang nyata tanpa harus direduksi menjadi fenomena fisik semata.³ Hal ini membuka kemungkinan bagi pendekatan non-reduksionis dalam filsafat pikiran yang tetap konsisten dengan temuan ilmiah.

Dalam bidang ilmu kognitif, kerangka Searle mendorong pendekatan yang lebih integratif antara studi empiris tentang otak dan analisis filosofis tentang kesadaran. Kritiknya terhadap komputasionalisme menantang asumsi bahwa pikiran dapat sepenuhnya dimodelkan sebagai sistem pemrosesan informasi, dan menekankan pentingnya dimensi biologis serta fenomenologis.⁴ Dengan demikian, implikasi teorinya mendorong pengembangan paradigma alternatif yang lebih komprehensif dalam memahami kecerdasan dan kesadaran.

Dalam konteks ilmu sosial, teori ontologi sosial Searle memberikan landasan konseptual untuk menganalisis institusi dan norma secara lebih sistematis. Konsep status functions, collective intentionality, dan deontic powers memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana struktur sosial terbentuk, dipertahankan, dan diubah.⁵ Kerangka ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, hukum, dan politik, khususnya dalam menjelaskan legitimasi institusi dan dinamika norma sosial.

Namun demikian, sintesis yang ditawarkan Searle juga memiliki implikasi kritis. Dengan menekankan peran bahasa dan kesadaran kolektif dalam pembentukan realitas sosial, terdapat risiko mengabaikan faktor-faktor lain seperti kekuasaan, konflik, dan sejarah. Oleh karena itu, pengembangan lebih lanjut dari kerangka ini memerlukan dialog dengan pendekatan lain, seperti teori kritis dan sosiologi historis, untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.⁶

Secara keseluruhan, sintesis pemikiran Searle menunjukkan bahwa pemahaman tentang manusia dan dunia tidak dapat dicapai melalui pendekatan yang terfragmentasi. Bahasa, pikiran, dan realitas sosial merupakan dimensi yang saling terkait dan harus dianalisis secara integratif. Implikasi teoretis dari pendekatan ini tidak hanya memperkaya filsafat, tetapi juga memberikan kontribusi bagi berbagai disiplin ilmu dalam memahami kompleksitas realitas manusia.


Footnotes

[1]                John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 1–15.

[2]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 27–34.

[3]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 112–130.

[4]                John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.

[5]                John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.

[6]                Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.


13.       Kesimpulan

Kajian terhadap pemikiran John Searle menunjukkan bahwa kontribusinya dalam filsafat kontemporer terletak pada upaya integratif untuk menjelaskan hubungan antara bahasa, pikiran, dan realitas sosial dalam satu kerangka konseptual yang koheren. Melalui pengembangan teori tindak tutur, Searle menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat representasi, melainkan juga bentuk tindakan yang memiliki konsekuensi sosial dan normatif.¹ Dengan demikian, makna tidak dapat dipisahkan dari praktik penggunaan bahasa dan intensi penutur.

Dalam filsafat pikiran, Searle memberikan kontribusi signifikan melalui konsep intensionalitas dan kesadaran sebagai fenomena biologis yang nyata namun irreduktibel. Ia menolak reduksionisme materialistik yang menyederhanakan pikiran menjadi proses fisik semata, sekaligus menghindari dualisme yang memisahkan pikiran dari dunia fisik.² Pendekatan biological naturalism yang ia tawarkan menjadi upaya untuk menjembatani ketegangan antara perspektif ilmiah dan fenomenologis dalam memahami kesadaran.

Lebih lanjut, dalam ontologi sosial, Searle mengembangkan teori yang menjelaskan bagaimana realitas sosial terbentuk melalui bahasa dan pengakuan kolektif. Konsep institutional facts, status functions, dan collective intentionality memberikan dasar ontologis yang kuat untuk memahami keberadaan institusi sosial dan norma-norma yang mengaturnya.³ Melalui formula “X counts as Y in context C”, ia menunjukkan bahwa realitas sosial merupakan konstruksi yang bergantung pada praktik simbolik dan kesepakatan bersama, tanpa meniadakan keberadaan realitas fisik yang independen.

Meskipun demikian, pemikiran Searle tidak lepas dari kritik. Argumen-argumennya dalam filsafat pikiran, khususnya terkait kecerdasan buatan, telah memicu perdebatan yang luas mengenai sifat kesadaran dan kemungkinan reproduksinya dalam sistem non-biologis. Selain itu, pendekatannya dalam ontologi sosial dinilai masih kurang memperhatikan dimensi historis, kultural, dan relasi kekuasaan yang turut membentuk realitas sosial.⁴ Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa meskipun kerangka teorinya kuat secara konseptual, masih terdapat ruang untuk pengembangan lebih lanjut melalui dialog dengan pendekatan lain.

Secara keseluruhan, pemikiran John Searle memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkaya filsafat kontemporer dengan menawarkan perspektif yang sistematis, realistis, dan integratif. Ia berhasil menunjukkan bahwa pemahaman tentang manusia dan dunia tidak dapat dicapai melalui pendekatan yang terfragmentasi, melainkan memerlukan analisis yang menghubungkan bahasa, pikiran, dan struktur sosial secara menyeluruh. Dengan demikian, warisan intelektual Searle tetap relevan sebagai dasar refleksi filosofis dalam menghadapi berbagai tantangan epistemologis dan ontologis di era modern.


Footnotes

[1]                John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–25.

[2]                John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA: MIT Press, 1992), 112–130.

[3]                John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York: Free Press, 1995), 27–34.

[4]                Daniel C. Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little, Brown and Company, 1991), 435–450; Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.


Daftar Pustaka

Austin, J. L. (1962). How to do things with words. Oxford University Press.

Brentano, F. (1973). Psychology from an empirical standpoint (A. C. Rancurello, D. B. Terrell, & L. L. McAlister, Trans.). Routledge. (Karya asli diterbitkan 1874)

Chalmers, D. J. (1996). The conscious mind: In search of a fundamental theory. Oxford University Press.

Churchland, P. M. (1984). Matter and consciousness. MIT Press.

Dennett, D. C. (1991). Consciousness explained. Little, Brown and Company.

Descartes, R. (1996). Meditations on first philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1641)

Fodor, J. A. (1975). The language of thought. Thomas Y. Crowell.

Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings. Pantheon Books.

Frege, G. (1952). On sense and reference. In P. Geach & M. Black (Eds.), Translations from the philosophical writings of Gottlob Frege (pp. 56–78). Blackwell. (Karya asli diterbitkan 1892)

Putnam, H. (1975). Mind, language and reality. Cambridge University Press.

Russell, B. (1905). On denoting. Mind, 14(56), 479–493.

Searle, J. R. (1969). Speech acts: An essay in the philosophy of language. Cambridge University Press.

Searle, J. R. (1979). Expression and meaning: Studies in the theory of speech acts. Cambridge University Press.

Searle, J. R. (1980). Minds, brains, and programs. Behavioral and Brain Sciences, 3(3), 417–457.

Searle, J. R. (1983). Intentionality: An essay in the philosophy of mind. Cambridge University Press.

Searle, J. R. (1992). The rediscovery of the mind. MIT Press.

Searle, J. R. (1995). The construction of social reality. Free Press.

Searle, J. R. (2004). Mind: A brief introduction. Oxford University Press.

Searle, J. R. (2010). Making the social world: The structure of human civilization. Oxford University Press.

Smith, B. (Ed.). (2003). John Searle. Cambridge University Press.

Wittgenstein, L. (1953). Philosophical investigations. Blackwell.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar