Pemikiran John Searle
Realitas Sosial, Bahasa, dan Kesadaran
Alihkan ke: Tokoh-Tokoh Filsafat, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara
komprehensif pemikiran John Searle dalam tiga ranah utama filsafat kontemporer,
yaitu filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan ontologi sosial. Kajian ini
menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis
konseptual terhadap karya-karya utama Searle serta literatur sekunder yang
relevan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Searle
mengintegrasikan konsep makna linguistik, intensionalitas mental, dan
konstruksi realitas sosial dalam satu kerangka teoretis yang koheren.
Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam filsafat
bahasa, Searle mengembangkan teori tindak tutur yang menegaskan bahwa bahasa
bukan sekadar alat representasi, melainkan bentuk tindakan yang memiliki fungsi
ilokusi dan berdampak sosial. Dalam filsafat pikiran, ia mengajukan konsep biological
naturalism yang menempatkan kesadaran sebagai fenomena biologis yang nyata
namun tidak dapat direduksi sepenuhnya ke dalam proses fisik. Sementara itu,
dalam ontologi sosial, Searle menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk
melalui collective intentionality dan status functions yang
dimediasi oleh bahasa, sebagaimana dirumuskan dalam prinsip “X counts as Y in
context C”.
Secara kritis, pemikiran Searle memberikan
kontribusi signifikan dalam membangun pendekatan integratif yang menghubungkan
bahasa, pikiran, dan realitas sosial. Namun demikian, pendekatan ini juga
menghadapi sejumlah kritik, terutama terkait keterbatasannya dalam menjelaskan
dimensi subjektivitas secara mendalam serta kurangnya perhatian terhadap aspek
historis dan relasi kekuasaan dalam pembentukan realitas sosial. Meskipun demikian,
kerangka teoretis Searle tetap relevan dalam konteks kontemporer, khususnya
dalam diskursus mengenai kecerdasan buatan, ilmu kognitif, dan dinamika
institusi sosial modern.
Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa
pemikiran John Searle tidak hanya memiliki signifikansi filosofis, tetapi juga
implikasi interdisipliner yang luas dalam memahami kompleksitas hubungan antara
bahasa, kesadaran, dan struktur sosial dalam kehidupan manusia.
Kata Kunci: John Searle; filsafat bahasa; filsafat pikiran;
ontologi sosial; tindak tutur; intensionalitas; kesadaran; realitas sosial.
PEMBAHASAN
Analisis Komprehensif atas Pemikiran John Searle dalam
Filsafat Kontemporer
1.
Pendahuluan
Filsafat kontemporer
mengalami perkembangan yang signifikan dalam mengkaji hubungan antara bahasa,
pikiran, dan realitas sosial. Salah satu tokoh yang memberikan kontribusi
penting dalam bidang ini adalah John Searle, seorang filsuf Amerika Serikat
yang dikenal luas melalui karya-karyanya dalam filsafat bahasa, filsafat
pikiran, dan ontologi sosial. Pemikirannya tidak hanya melanjutkan tradisi
filsafat analitik, tetapi juga memperluas cakupan kajian dengan
mengintegrasikan dimensi linguistik, kognitif, dan institusional dalam satu
kerangka konseptual yang relatif utuh.¹
Dalam tradisi
filsafat analitik, perhatian utama sering diarahkan pada analisis bahasa
sebagai sarana untuk memahami struktur realitas dan pikiran manusia. Searle,
yang banyak dipengaruhi oleh gurunya J. L. Austin, mengembangkan teori tindak
tutur (speech act theory) yang menekankan bahwa bahasa bukan sekadar alat
representasi, melainkan juga bentuk tindakan yang memiliki konsekuensi sosial
dan institusional.² Dengan demikian, makna tidak hanya dipahami sebagai relasi
antara kata dan objek, tetapi juga sebagai hasil dari praktik-praktik sosial
yang diatur oleh aturan konstitutif tertentu.
Selain kontribusinya
dalam filsafat bahasa, Searle juga memberikan sumbangan signifikan dalam
filsafat pikiran, khususnya melalui konsep intensionalitas (intentionality) dan
kritiknya terhadap pendekatan reduksionis dalam ilmu kognitif. Ia menolak
pandangan bahwa kesadaran dapat direduksi sepenuhnya menjadi proses
komputasional atau mekanistik, sebagaimana diasumsikan dalam beberapa versi
kecerdasan buatan (artificial intelligence). Argumen terkenalnya, yakni
“Chinese Room”, menjadi salah satu kritik paling berpengaruh terhadap klaim
bahwa mesin dapat memiliki pemahaman atau kesadaran seperti manusia.³ Dalam
kerangka ini, Searle mengajukan posisi yang dikenal sebagai “biological naturalism”,
yaitu pandangan bahwa kesadaran merupakan fenomena biologis yang bersifat
nyata, irreduktibel, namun tetap bagian dari dunia fisik.
Lebih lanjut,
pemikiran Searle berkembang ke arah analisis ontologi sosial, di mana ia
berusaha menjelaskan bagaimana realitas sosial terbentuk dan dipertahankan
melalui praktik linguistik dan kesepakatan kolektif. Ia membedakan antara
“brute facts” (fakta alamiah) dan “institutional facts” (fakta institusional),
serta merumuskan prinsip dasar bahwa sesuatu dapat berfungsi sebagai sesuatu
yang lain dalam konteks tertentu (“X counts as Y in context C”).⁴ Melalui
pendekatan ini, Searle menunjukkan bahwa institusi sosial seperti uang, hukum,
dan pemerintahan tidak hanya bergantung pada struktur material, tetapi juga
pada pengakuan kolektif yang dimediasi oleh bahasa.
Meskipun pemikiran
Searle memiliki pengaruh luas, tidak sedikit pula kritik yang diarahkan
kepadanya, baik dari kalangan filsuf analitik maupun kontinental. Perdebatan
mengenai validitas argumen Chinese Room, status ontologis intensionalitas,
serta hubungan antara realisme dan konstruktivisme sosial menunjukkan bahwa
gagasan-gagasannya masih menjadi medan diskusi yang dinamis hingga saat ini.⁵
Oleh karena itu, kajian terhadap pemikiran Searle tidak hanya penting untuk
memahami kontribusinya secara historis, tetapi juga untuk mengevaluasi
relevansinya dalam konteks perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan
kontemporer.
Berdasarkan latar
belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif
pemikiran John Searle dengan menyoroti tiga aspek utama, yaitu filsafat bahasa,
filsafat pikiran, dan ontologi sosial. Kajian ini berupaya menjawab beberapa
pertanyaan mendasar: (1) bagaimana Searle memahami hubungan antara bahasa dan
realitas; (2) bagaimana ia menjelaskan sifat kesadaran dan intensionalitas;
serta (3) bagaimana realitas sosial dikonstruksi melalui praktik linguistik dan
kolektif. Dengan pendekatan analisis konseptual dan kajian pustaka, artikel ini
diharapkan dapat memberikan pemahaman yang sistematis dan kritis terhadap salah
satu pemikir penting dalam filsafat kontemporer.
Footnotes
[1]
John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language
(Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 1–10.
[2]
J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford
University Press, 1962), 94–107.
[3]
John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain
Sciences 3, no. 3 (1980): 417–457.
[4]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 27–29.
[5]
Daniel C. Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little,
Brown and Company, 1991), 435–450.
2.
Biografi Intelektual John Searle
John Searle lahir
pada 31 Juli 1932 di Denver, Colorado, Amerika Serikat. Ia tumbuh dalam
lingkungan intelektual yang mendorong minatnya terhadap bahasa, logika, dan
filsafat sejak usia muda. Pendidikan awalnya ditempuh di University of
Wisconsin–Madison, sebelum kemudian melanjutkan studi pascasarjana di
University of Oxford sebagai penerima beasiswa Rhodes.¹ Di Oxford, Searle
berada dalam lingkungan filsafat analitik yang sangat kuat, yang pada saat itu
didominasi oleh tokoh-tokoh seperti J. L. Austin dan P. F. Strawson. Pengaruh
intelektual dari kedua tokoh ini memainkan peran penting dalam membentuk
orientasi awal pemikiran Searle, khususnya dalam filsafat bahasa.
Di bawah bimbingan
Austin, Searle mengembangkan ketertarikannya pada analisis bahasa sehari-hari
(ordinary language philosophy), yang menekankan pentingnya memahami makna
melalui penggunaan aktual dalam praktik komunikasi.² Pendekatan ini menjadi
fondasi bagi karya awalnya yang terkenal, Speech Acts (1969), yang tidak
hanya melanjutkan teori tindak tutur Austin, tetapi juga menyusunnya dalam
kerangka sistematis yang lebih formal dan konseptual.³ Dalam karya tersebut,
Searle memperkenalkan klasifikasi tindak tutur serta konsep aturan konstitutif,
yang kemudian menjadi kontribusi penting dalam filsafat bahasa modern.
Setelah
menyelesaikan studinya di Oxford, Searle memulai karier akademiknya di
University of California, Berkeley pada tahun 1959, di mana ia menghabiskan
sebagian besar karier intelektualnya. Di Berkeley, ia tidak hanya dikenal
sebagai pengajar yang produktif, tetapi juga sebagai pemikir yang aktif
terlibat dalam berbagai perdebatan filosofis kontemporer. Lingkungan akademik
Berkeley yang dinamis memberikan ruang bagi Searle untuk mengembangkan
pemikirannya secara lintas disiplin, khususnya dalam hubungan antara bahasa,
pikiran, dan masyarakat.⁴
Perkembangan
intelektual Searle dapat dibagi ke dalam beberapa fase utama. Fase pertama
berfokus pada filsafat bahasa, terutama melalui pengembangan teori tindak
tutur. Fase kedua ditandai dengan pergeseran ke filsafat pikiran, di mana ia
mengkaji persoalan kesadaran, intensionalitas, dan hubungan antara otak dan
pikiran. Dalam konteks ini, Searle dikenal melalui kritiknya terhadap
kecerdasan buatan kuat (strong artificial intelligence), khususnya melalui
argumen “Chinese Room” yang ia kemukakan pada tahun 1980.⁵ Argumen ini
menegaskan bahwa pemrosesan simbol semata tidak cukup untuk menghasilkan
pemahaman atau kesadaran, sehingga menantang asumsi dasar dalam paradigma
komputasionalisme.
Fase ketiga dalam
perkembangan pemikirannya berkaitan dengan ontologi sosial, yaitu kajian
tentang bagaimana realitas sosial terbentuk dan dipertahankan. Dalam karya The
Construction of Social Reality (1995), Searle mengembangkan teori
tentang fakta institusional dan peran bahasa dalam menciptakan struktur
sosial.⁶ Ia menunjukkan bahwa banyak aspek kehidupan manusia—seperti uang,
kepemilikan, dan institusi politik—bergantung pada kesepakatan kolektif yang
dimediasi oleh bahasa. Pendekatan ini memperluas cakupan filsafat analitik ke
wilayah yang sebelumnya lebih sering dibahas dalam tradisi sosiologi dan
filsafat sosial.
Selain dipengaruhi
oleh Austin, pemikiran Searle juga menunjukkan interaksi kritis dengan
tokoh-tokoh lain seperti Ludwig Wittgenstein, terutama dalam hal penggunaan
bahasa dan aturan, serta Noam Chomsky dalam konteks linguistik dan struktur
mental. Namun, Searle tetap mempertahankan posisi yang khas, khususnya melalui
komitmennya terhadap realisme dan penolakannya terhadap relativisme ekstrem
maupun reduksionisme materialistik.⁷
Secara keseluruhan,
biografi intelektual John Searle mencerminkan suatu perjalanan pemikiran yang
konsisten namun dinamis, dari analisis bahasa menuju eksplorasi kesadaran dan
realitas sosial. Karya-karyanya menunjukkan upaya untuk membangun kerangka
filosofis yang integratif, di mana bahasa, pikiran, dan institusi sosial
dipahami sebagai aspek-aspek yang saling terkait dalam membentuk pengalaman
manusia. Dengan demikian, Searle menempati posisi penting dalam lanskap
filsafat kontemporer sebagai salah satu pemikir yang berhasil menjembatani
berbagai domain kajian dalam satu kerangka konseptual yang relatif koheren.
Footnotes
[1]
John R. Searle, Mind: A Brief Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2004), 1–5.
[2]
J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford
University Press, 1962), 1–12.
[3]
John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language
(Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–25.
[4]
Barry Smith, “John Searle: From Speech Acts to Social Reality,” in John
Searle, ed. Barry Smith (Cambridge: Cambridge University Press, 2003),
1–3.
[5]
John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain
Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.
[6]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 1–10.
[7]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 45–60.
3.
Landasan Filosofis dan Kerangka Teoretis
Pemikiran John
Searle berakar kuat dalam tradisi filsafat analitik, suatu pendekatan filosofis
yang menekankan kejelasan konseptual, analisis logis, dan perhatian terhadap
bahasa sebagai medium utama refleksi filosofis. Dalam konteks ini, Searle
mengadopsi sekaligus mengembangkan warisan intelektual dari tokoh-tokoh seperti
J. L. Austin dan Ludwig Wittgenstein, khususnya dalam hal pentingnya penggunaan
bahasa sehari-hari (ordinary language) sebagai dasar analisis makna.¹ Namun,
berbeda dari beberapa pendahulunya, Searle tidak berhenti pada analisis
linguistik semata, melainkan berupaya menghubungkan bahasa dengan struktur
realitas dan kondisi mental yang mendasarinya.
Salah satu landasan
utama dalam kerangka teoretis Searle adalah kritik terhadap dualisme Cartesian
yang memisahkan secara tegas antara pikiran (mind) dan tubuh (body). Dalam
pandangan dualisme klasik, sebagaimana dirumuskan oleh René Descartes, pikiran
dipahami sebagai substansi non-fisik yang terpisah dari dunia material.² Searle
menolak dikotomi ini dengan mengajukan pendekatan yang ia sebut sebagai biological
naturalism, yaitu pandangan bahwa fenomena mental—termasuk
kesadaran—merupakan produk dari proses biologis dalam otak, namun tidak dapat
direduksi sepenuhnya menjadi deskripsi fisik semata.³ Dengan demikian, Searle
berusaha menempuh jalan tengah antara reduksionisme materialistik dan dualisme
metafisik.
Selain itu, Searle
juga mengkritik behaviorisme, yaitu pandangan dalam filsafat pikiran dan
psikologi yang mengidentifikasi keadaan mental dengan perilaku yang dapat
diamati. Ia berargumen bahwa pendekatan ini gagal menjelaskan dimensi subjektif
dari pengalaman sadar (subjective experience), yang justru merupakan ciri
esensial dari kesadaran itu sendiri.⁴ Dalam kerangka ini, Searle menegaskan
bahwa setiap keadaan mental memiliki sifat first-person ontology, yaitu hanya
dapat diakses secara langsung oleh subjek yang mengalaminya, meskipun tetap
memiliki dasar ontologis dalam dunia fisik.
Konsep kunci lain
dalam pemikiran Searle adalah intensionalitas (intentionality), yaitu kemampuan
pikiran untuk “mengarah kepada” atau merepresentasikan sesuatu di luar dirinya.
Konsep ini awalnya dikembangkan dalam tradisi fenomenologi oleh Franz Brentano,
namun diadopsi dan direformulasi oleh Searle dalam kerangka filsafat analitik.⁵
Bagi Searle, intensionalitas merupakan ciri fundamental dari banyak keadaan
mental, seperti kepercayaan, keinginan, dan niat. Ia juga menekankan bahwa
intensionalitas memiliki struktur representasional yang terkait erat dengan
kondisi kepuasan (conditions of satisfaction), yaitu
kondisi di mana suatu representasi mental dianggap terpenuhi atau benar.
Dalam menghubungkan
bahasa dan pikiran, Searle mengajukan tesis bahwa makna linguistik pada dasarnya
bergantung pada intensionalitas mental. Bahasa tidak memiliki makna secara
inheren, melainkan memperoleh maknanya melalui penggunaan oleh agen yang
memiliki kapasitas mental tertentu.⁶ Dengan demikian, analisis bahasa tidak
dapat dipisahkan dari analisis pikiran. Pandangan ini sekaligus menjadi kritik
terhadap pendekatan formalistik yang cenderung memisahkan struktur bahasa dari
konteks penggunaan dan kondisi mental penuturnya.
Lebih lanjut, Searle
mengembangkan kerangka teoretis yang mengintegrasikan bahasa, pikiran, dan
realitas sosial melalui konsep aturan konstitutif (constitutive rules). Berbeda dengan
aturan regulatif yang mengatur aktivitas yang sudah ada sebelumnya, aturan
konstitutif justru menciptakan kemungkinan adanya aktivitas tersebut.⁷ Dalam
formulasi terkenalnya, “X counts as Y in context C”, Searle menunjukkan
bagaimana fakta-fakta sosial terbentuk melalui praktik simbolik yang diakui
secara kolektif. Kerangka ini menjadi dasar bagi pengembangan teori ontologi
sosialnya, di mana realitas sosial dipahami sebagai konstruksi yang bergantung
pada bahasa dan kesadaran kolektif.
Dengan demikian,
landasan filosofis dan kerangka teoretis Searle dapat dipahami sebagai upaya
integratif untuk menjelaskan hubungan antara bahasa, pikiran, dan dunia. Ia
menolak reduksionisme yang menyederhanakan fenomena mental menjadi sekadar
proses fisik, sekaligus menolak dualisme yang memisahkan secara radikal antara
pikiran dan tubuh. Sebaliknya, Searle menawarkan pendekatan yang menempatkan
kesadaran dan intensionalitas sebagai fenomena biologis yang nyata, serta
bahasa sebagai medium yang menjembatani pengalaman subjektif dengan struktur
objektif realitas, termasuk dalam pembentukan dunia sosial.
Footnotes
[1]
J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford
University Press, 1962), 1–15; Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell, 1953), §1–20.
[2]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John
Cottingham (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 17–23.
[3]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 1–26.
[4]
Ibid., 27–45.
[5]
Franz Brentano, Psychology from an Empirical Standpoint
(London: Routledge, 1973), 88–89.
[6]
John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind
(Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 1–10.
[7]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 27–34.
4.
Teori Tindak Tutur (Speech Act Theory)
Salah satu
kontribusi paling berpengaruh dari John Searle dalam filsafat bahasa adalah
pengembangan teori tindak tutur (speech act theory), yang pada
awalnya dirintis oleh J. L. Austin. Teori ini berangkat dari kritik terhadap
pandangan tradisional yang menganggap bahwa fungsi utama bahasa adalah untuk
menggambarkan atau merepresentasikan realitas. Sebaliknya, Austin dan kemudian
Searle menunjukkan bahwa melalui bahasa, manusia tidak hanya mengatakan
sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu.¹
Austin membedakan
tiga dimensi utama dalam tindak tutur, yaitu tindak lokusi (locutionary
act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak
perlokusi (perlocutionary
act). Tindak lokusi merujuk pada tindakan mengucapkan kalimat
dengan makna tertentu; tindak ilokusi berkaitan dengan maksud atau fungsi dari
ujaran tersebut (seperti memerintah, berjanji, atau menyatakan); sedangkan
tindak perlokusi merujuk pada efek yang dihasilkan pada pendengar.² Searle
menerima kerangka dasar ini, namun mengembangkannya lebih lanjut dengan
memberikan analisis yang lebih sistematis terhadap struktur dan kondisi yang
memungkinkan tindak tutur tersebut.
Searle menekankan
bahwa inti dari komunikasi linguistik terletak pada tindak ilokusi, karena di
dalamnya terkandung maksud penutur yang diatur oleh aturan tertentu. Ia
memperkenalkan konsep illocutionary force, yaitu kekuatan
yang menentukan jenis tindakan yang dilakukan melalui ujaran, seperti
menyatakan, bertanya, memerintah, atau berjanji.³ Dalam pandangan ini, memahami
makna suatu ujaran tidak cukup hanya dengan mengetahui arti literalnya, tetapi
juga harus memahami kekuatan ilokusinya dalam konteks tertentu.
Lebih lanjut, Searle
mengklasifikasikan tindak ilokusi ke dalam beberapa kategori utama, antara
lain: (1) assertives
(menyatakan atau menggambarkan realitas), (2) directives (berusaha mempengaruhi
tindakan orang lain), (3) commissives (mengikat penutur pada
tindakan di masa depan), (4) expressives (mengungkapkan keadaan
psikologis), dan (5) declarations (mengubah status atau
kondisi suatu hal melalui ujaran itu sendiri).⁴ Klasifikasi ini memberikan
kerangka analitis yang lebih terstruktur dalam memahami berbagai fungsi bahasa
dalam praktik komunikasi sehari-hari.
Salah satu aspek
penting dalam teori Searle adalah konsep conditions of satisfaction (kondisi
kepuasan), yaitu kondisi yang harus terpenuhi agar suatu tindak tutur dianggap
berhasil atau sah. Misalnya, dalam tindak tutur berupa janji, kondisi
kepuasannya adalah bahwa tindakan yang dijanjikan benar-benar dilakukan di masa
depan.⁵ Selain itu, Searle juga mengemukakan adanya felicity conditions (kondisi
kelayakan), yaitu seperangkat prasyarat kontekstual dan institusional yang
harus dipenuhi agar suatu tindak tutur dapat berfungsi dengan benar. Konsep ini
menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada struktur
linguistik, tetapi juga pada konteks sosial dan aturan yang mengaturnya.
Searle juga
memperkenalkan pembedaan penting antara aturan regulatif (regulative
rules) dan aturan konstitutif (constitutive rules). Aturan
regulatif mengatur aktivitas yang sudah ada sebelumnya, sedangkan aturan
konstitutif menciptakan kemungkinan adanya aktivitas tersebut. Dalam konteks
tindak tutur, aturan konstitutif menentukan bagaimana suatu ujaran dapat
berfungsi sebagai tindakan tertentu.⁶ Misalnya, suatu pernyataan dapat
berfungsi sebagai janji hanya jika memenuhi aturan-aturan tertentu yang diakui
secara sosial.
Dengan pendekatan
ini, Searle berhasil memperluas cakupan teori tindak tutur dari sekadar
analisis linguistik menjadi teori yang mencakup dimensi mental dan sosial.
Bahasa dipahami sebagai aktivitas yang melibatkan intensionalitas penutur dan
diatur oleh norma-norma sosial yang bersifat konstitutif. Hal ini juga menjadi
jembatan menuju pengembangan teori ontologi sosialnya, di mana bahasa berperan
dalam membentuk realitas institusional.
Secara kritis, teori
tindak tutur Searle telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang,
termasuk linguistik, filsafat, ilmu komunikasi, dan hukum. Namun, beberapa
kritik juga muncul, terutama terkait dengan kecenderungannya yang dianggap terlalu
menekankan struktur formal dan kurang memperhatikan variasi kontekstual serta
aspek pragmatik yang lebih luas. Meskipun demikian, kerangka teoritis yang
ditawarkan Searle tetap menjadi salah satu fondasi utama dalam studi tentang
bahasa sebagai tindakan.
Footnotes
[1]
J. L. Austin, How to Do Things with Words (Oxford: Oxford
University Press, 1962), 1–6.
[2]
Ibid., 94–107.
[3]
John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language
(Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 23–30.
[4]
John R. Searle, Expression and Meaning: Studies in the Theory of
Speech Acts (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 12–20.
[5]
John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind
(Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 7–10.
[6]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 27–34.
5.
Filsafat Bahasa: Makna, Referensi, dan Realitas
Dalam kerangka
filsafat bahasa, John Searle mengembangkan pendekatan yang berupaya
menjembatani hubungan antara makna linguistik, referensi, dan struktur
realitas. Berbeda dari pandangan tradisional yang cenderung memisahkan bahasa
dari konteks mental dan sosial, Searle menegaskan bahwa makna tidak dapat
dipahami secara memadai tanpa merujuk pada intensionalitas penutur serta
praktik penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.¹ Dengan demikian, bahasa
bukan sekadar sistem simbol abstrak, melainkan bagian integral dari aktivitas
manusia yang berorientasi pada dunia.
Searle mengkritik
teori deskripsi klasik yang diasosiasikan dengan Bertrand Russell, yang
memandang referensi sebagai hasil dari deskripsi tertentu yang melekat pada
suatu istilah.² Menurut Searle, pendekatan ini terlalu menyederhanakan
kompleksitas hubungan antara bahasa dan dunia, karena tidak sepenuhnya
memperhitungkan peran intensionalitas dan konteks penggunaan. Sebagai
alternatif, ia mengembangkan pendekatan yang menekankan bahwa referensi
bergantung pada kapasitas mental penutur untuk mengarahkan ujarannya kepada
objek tertentu dalam dunia, baik secara langsung maupun melalui latar belakang
pengetahuan bersama (background).
Dalam hal ini,
Searle juga berinteraksi secara kritis dengan pemikiran Gottlob Frege,
khususnya mengenai pembedaan antara sense (makna) dan reference
(rujukan).³ Meskipun mengakui pentingnya distingsi tersebut, Searle menilai
bahwa analisis Frege masih belum cukup untuk menjelaskan bagaimana makna aktual
terbentuk dalam praktik komunikasi. Ia menekankan bahwa makna tidak hanya
bersifat semantik, tetapi juga pragmatik, yaitu terkait dengan maksud penutur
dan kondisi penggunaan bahasa dalam konteks tertentu.
Salah satu
kontribusi penting Searle dalam filsafat bahasa adalah konsep background
dan network.
Background
merujuk pada seperangkat kemampuan non-representasional, seperti kebiasaan,
keterampilan, dan pemahaman implisit, yang memungkinkan seseorang menggunakan
bahasa secara efektif. Sementara itu, network merujuk pada jaringan
kepercayaan dan keadaan mental lain yang saling terkait.⁴ Kedua konsep ini
menunjukkan bahwa makna tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada
struktur mental dan sosial yang lebih luas.
Dalam kaitannya
dengan realitas, Searle mengajukan posisi yang dikenal sebagai external
realism (realisme eksternal), yaitu pandangan bahwa dunia eksternal
ada secara independen dari representasi atau konstruksi manusia.⁵ Menurutnya,
meskipun bahasa memainkan peran penting dalam mendeskripsikan dan bahkan
membentuk aspek-aspek tertentu dari realitas (terutama realitas sosial),
keberadaan dunia fisik tidak bergantung pada bahasa atau kesadaran manusia.
Posisi ini sekaligus menjadi kritik terhadap relativisme dan konstruktivisme
ekstrem yang menganggap realitas sepenuhnya sebagai produk bahasa atau
diskursus.
Namun demikian, Searle
juga menegaskan bahwa dalam konteks realitas sosial, bahasa memiliki fungsi
konstitutif. Melalui bahasa, manusia dapat menciptakan fakta-fakta
institusional yang tidak ada secara alami, seperti uang, status hukum, atau
jabatan politik. Dalam hal ini, bahasa tidak hanya merepresentasikan realitas,
tetapi juga berperan dalam membentuknya.⁶ Dengan demikian, terdapat hubungan
dialektis antara bahasa dan realitas: bahasa bergantung pada dunia untuk
memperoleh makna, tetapi pada saat yang sama juga berkontribusi dalam membentuk
struktur dunia sosial.
Pendekatan Searle
ini menunjukkan upaya untuk mengintegrasikan dimensi semantik, pragmatik, dan
ontologis dalam satu kerangka teoretis. Ia menolak reduksi makna menjadi
sekadar relasi simbolik, sekaligus menghindari pandangan relativistik yang
meniadakan realitas objektif. Sebaliknya, Searle menawarkan pandangan yang
menempatkan bahasa sebagai aktivitas manusia yang berakar pada kapasitas mental
dan beroperasi dalam dunia yang nyata, baik dalam dimensi fisik maupun sosial.
Secara kritis,
pendekatan ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas cakupan filsafat
bahasa, namun juga menghadapi tantangan, terutama dalam menjelaskan secara
rinci hubungan antara intensionalitas individu dan struktur sosial yang lebih
luas. Meskipun demikian, pemikiran Searle tetap menjadi salah satu referensi
utama dalam memahami kompleksitas hubungan antara makna, referensi, dan
realitas dalam filsafat kontemporer.
Footnotes
[1]
John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language
(Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–20.
[2]
Bertrand Russell, “On Denoting,” Mind 14, no. 56 (1905):
479–493.
[3]
Gottlob Frege, “On Sense and Reference,” in Translations from the
Philosophical Writings of Gottlob Frege, ed. Peter Geach and Max Black
(Oxford: Blackwell, 1952), 56–78.
[4]
John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind
(Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 141–159.
[5]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 150–155.
[6]
Ibid., 27–34.
6.
Filsafat Pikiran: Kesadaran dan Intensionalitas
Dalam bidang
filsafat pikiran, John Searle mengembangkan pendekatan yang berupaya
menjelaskan hubungan antara kesadaran, intensionalitas, dan proses biologis
otak secara non-reduksionis. Ia menolak dua posisi ekstrem yang dominan dalam
perdebatan modern, yaitu dualisme Cartesian yang memisahkan pikiran dari tubuh,
serta reduksionisme materialistik yang mengidentifikasi keadaan mental
sepenuhnya dengan proses fisik. Sebagai alternatif, Searle mengajukan posisi
yang dikenal sebagai biological naturalism, yaitu
pandangan bahwa fenomena mental merupakan produk nyata dari sistem biologis
(otak), tetapi memiliki karakteristik ontologis yang tidak dapat direduksi
secara sederhana ke dalam deskripsi fisik.¹
Salah satu fokus
utama Searle adalah kesadaran (consciousness), yang ia anggap
sebagai fenomena sentral dalam filsafat pikiran. Kesadaran, menurutnya,
memiliki sifat subjektif yang tidak dapat diabaikan, yakni hanya dapat dialami dari
sudut pandang orang pertama (first-person perspective).² Ia
menolak pendekatan behaviorisme yang mengabaikan dimensi subjektif ini, serta
mengkritik fungsionalisme yang cenderung menyamakan pikiran dengan fungsi
komputasional. Dalam pandangan Searle, kesadaran bukan sekadar fungsi atau
program, melainkan keadaan biologis yang memiliki kualitas fenomenologis
tertentu, seperti rasa sakit, persepsi, dan pengalaman batin lainnya.
Kritik Searle
terhadap fungsionalisme dan komputasionalisme mencapai bentuk yang paling
terkenal dalam argumen “Chinese Room”, yang ia kemukakan sebagai tantangan
terhadap klaim kecerdasan buatan kuat (strong artificial intelligence).³
Dalam eksperimen pikiran ini, Searle membayangkan seseorang yang berada dalam
sebuah ruangan dan memanipulasi simbol-simbol bahasa Mandarin berdasarkan
aturan tertentu tanpa memahami maknanya. Meskipun dari luar tampak seolah-olah
ia memahami bahasa tersebut, sebenarnya ia hanya menjalankan prosedur sintaktis
tanpa semantik. Dari sini, Searle menyimpulkan bahwa pemrosesan simbol semata
tidak cukup untuk menghasilkan pemahaman atau kesadaran, karena makna
memerlukan intensionalitas yang tidak dapat direduksi menjadi operasi formal.
Konsep
intensionalitas (intentionality) menjadi elemen
kunci dalam teori filsafat pikiran Searle. Intensionalitas merujuk pada
kemampuan keadaan mental untuk “mengarah kepada” sesuatu, seperti keyakinan
tentang dunia, keinginan terhadap sesuatu, atau niat untuk bertindak.⁴ Searle
menegaskan bahwa intensionalitas merupakan ciri esensial dari banyak keadaan
mental, dan memiliki struktur representasional yang terkait dengan conditions
of satisfaction, yaitu kondisi di mana suatu keadaan mental
dianggap terpenuhi. Misalnya, suatu keyakinan benar jika sesuai dengan fakta, sedangkan
suatu keinginan terpenuhi jika objek yang diinginkan tercapai.
Dalam kerangka
biological naturalism, Searle juga menekankan bahwa hubungan antara otak dan
pikiran bersifat kausal sekaligus identitas pada tingkat tertentu. Artinya,
proses neurobiologis dalam otak menyebabkan munculnya keadaan mental, namun
keadaan mental tersebut tidak dapat sepenuhnya dijelaskan hanya melalui
deskripsi fisik.⁵ Dengan kata lain, kesadaran adalah fenomena tingkat tinggi (higher-level
feature) dari sistem biologis, sebagaimana sifat cair adalah
fenomena tingkat tinggi dari molekul air. Analogi ini menunjukkan bahwa
meskipun kesadaran bergantung pada proses fisik, ia memiliki karakteristik yang
memerlukan penjelasan pada level yang berbeda.
Searle juga
membedakan antara intensionalitas intrinsik (intrinsic intentionality) dan
intensionalitas derivatif (derived intentionality).
Intensionalitas intrinsik dimiliki oleh makhluk sadar, seperti manusia,
sedangkan intensionalitas derivatif dimiliki oleh artefak seperti komputer atau
teks, yang memperoleh maknanya dari pengguna manusia.⁶ Distingsi ini menjadi
dasar bagi kritiknya terhadap pandangan bahwa mesin dapat memiliki pikiran atau
kesadaran secara mandiri.
Secara kritis,
pendekatan Searle memberikan kontribusi penting dalam menegaskan kembali peran
kesadaran sebagai fenomena yang tidak dapat direduksi dalam studi ilmiah
tentang pikiran. Namun, beberapa kritik menyatakan bahwa biological naturalism
masih menghadapi kesulitan dalam menjelaskan secara rinci bagaimana proses fisik
menghasilkan pengalaman subjektif (masalah hard problem of consciousness).
Meskipun demikian, kerangka teoretis Searle tetap menjadi salah satu pendekatan
yang berpengaruh dalam upaya memahami hubungan kompleks antara otak, pikiran,
dan kesadaran.
Footnotes
[1]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 1–26.
[2]
Ibid., 93–117.
[3]
John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain
Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.
[4]
John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind
(Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 1–15.
[5]
Searle, The Rediscovery of the Mind, 112–130.
[6]
John R. Searle, Mind: A Brief Introduction (Oxford: Oxford
University Press, 2004), 176–182.
7.
Teori Realitas Sosial (Social Ontology)
Dalam perkembangan
lanjut pemikirannya, John Searle mengajukan suatu kerangka teoritis yang
sistematis mengenai realitas sosial (social ontology), yaitu kajian
tentang bagaimana entitas sosial terbentuk, eksis, dan berfungsi dalam
kehidupan manusia. Berbeda dari pendekatan sosiologis tradisional yang sering
menekankan struktur atau relasi kekuasaan, Searle memulai analisisnya dari
pertanyaan ontologis: bagaimana mungkin fakta-fakta sosial yang tampak “tidak
alamiah” (seperti uang, hukum, atau institusi) dapat memiliki keberadaan yang
nyata dan efektif dalam dunia manusia?¹
Salah satu konsep
fundamental dalam teori ini adalah pembedaan antara brute facts (fakta alamiah) dan institutional
facts (fakta institusional). Brute facts adalah fakta yang
keberadaannya tidak bergantung pada kesepakatan manusia, seperti fakta bahwa
air mendidih pada suhu tertentu atau bahwa gunung memiliki ketinggian tertentu.
Sebaliknya, institutional facts adalah fakta
yang hanya ada karena adanya pengakuan kolektif dalam suatu sistem sosial,
seperti status uang, kepemilikan, atau jabatan politik.² Dengan demikian,
realitas sosial memiliki dimensi ontologis yang berbeda dari realitas fisik,
meskipun tetap bergantung padanya sebagai dasar eksistensial.
Untuk menjelaskan
bagaimana fakta institusional terbentuk, Searle merumuskan prinsip dasar yang
terkenal, yaitu: “X counts as Y in context C” (X dihitung sebagai Y dalam
konteks C).³ Formula ini menunjukkan bahwa suatu objek atau tindakan (X) dapat
memiliki makna atau fungsi tertentu (Y) dalam suatu konteks sosial tertentu
(C), berdasarkan kesepakatan kolektif. Misalnya, selembar kertas (X) dapat
berfungsi sebagai uang (Y) dalam sistem ekonomi tertentu (C). Prinsip ini
menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui atribusi makna yang bersifat
kolektif dan kontekstual.
Konsep penting
lainnya dalam teori Searle adalah status functions (fungsi status),
yaitu fungsi yang diberikan kepada suatu entitas bukan karena sifat fisiknya,
tetapi karena pengakuan sosial terhadap status tertentu.⁴ Fungsi status ini
selalu terkait dengan apa yang disebut sebagai deontic powers, yaitu kekuatan
normatif seperti hak, kewajiban, izin, dan otoritas. Sebagai contoh, seorang
hakim memiliki wewenang untuk memutuskan perkara bukan karena karakteristik
biologisnya, tetapi karena status institusional yang diakui dalam sistem hukum.
Dengan demikian, realitas sosial tidak hanya terdiri dari fakta, tetapi juga
dari struktur normatif yang mengatur tindakan manusia.
Bahasa memainkan
peran sentral dalam pembentukan realitas sosial menurut Searle. Ia berargumen
bahwa bahasa merupakan medium utama yang memungkinkan penciptaan dan
pemeliharaan fakta institusional.⁵ Melalui deklarasi linguistik, manusia dapat
menciptakan realitas baru, seperti dalam pernyataan “Saya menikahkan Anda” atau
“Rapat ini dibuka”. Dalam kasus ini, ujaran tidak hanya menggambarkan realitas,
tetapi juga menciptakannya. Oleh karena itu, bahasa memiliki fungsi performatif
yang bersifat konstitutif dalam struktur sosial.
Selain itu, Searle
menekankan pentingnya collective intentionality
(intensionalitas kolektif) sebagai dasar dari realitas sosial. Intensionalitas
kolektif merujuk pada kemampuan individu untuk berbagi niat, kepercayaan, dan
tujuan dalam kerangka “kita” (we-intentions), bukan sekadar
“saya” (I-intentions).⁶
Tanpa adanya intensionalitas kolektif, tidak mungkin terbentuk institusi
sosial, karena fakta institusional memerlukan pengakuan bersama dari anggota
masyarakat. Dengan demikian, realitas sosial bergantung pada interaksi antara
kesadaran individu dan struktur kolektif.
Meskipun menekankan
konstruksi sosial, Searle tetap mempertahankan posisi realisme eksternal, yaitu
bahwa dunia fisik ada secara independen dari konstruksi manusia.⁷ Ia menolak
pandangan konstruktivisme radikal yang menganggap seluruh realitas sebagai
hasil konstruksi sosial. Sebaliknya, Searle membedakan secara tegas antara
realitas fisik yang independen dan realitas sosial yang bergantung pada praktik
manusia. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih seimbang antara objektivitas
dan konstruksi sosial.
Secara kritis, teori
ontologi sosial Searle memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dasar
ontologis dari institusi sosial dan norma-norma yang mengaturnya. Namun,
beberapa kritik menyatakan bahwa pendekatan ini cenderung kurang memperhatikan
dinamika kekuasaan, konflik sosial, dan perubahan historis yang juga membentuk
realitas sosial. Meskipun demikian, kerangka konseptual Searle tetap menjadi
salah satu pendekatan paling sistematis dalam menjelaskan bagaimana realitas
sosial dibangun melalui bahasa, kesadaran, dan pengakuan kolektif.
Footnotes
[1]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 1–5.
[2]
Ibid., 2–3.
[3]
Ibid., 27–29.
[4]
John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human
Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.
[5]
Searle, The Construction of Social Reality, 59–71.
[6]
Ibid., 23–26.
[7]
Ibid., 150–155.
8.
Konsep Status Functions dan Collective
Intentionality
Dalam kerangka
ontologi sosial yang dikembangkan oleh John Searle, konsep status
functions dan collective intentionality menempati
posisi sentral dalam menjelaskan bagaimana realitas sosial terbentuk dan
dipertahankan. Kedua konsep ini saling berkaitan secara erat dan menjadi
fondasi bagi pemahaman mengenai institusi sosial, norma, serta struktur
kekuasaan dalam kehidupan manusia.
Konsep status
functions merujuk pada fungsi-fungsi yang diberikan kepada suatu
entitas bukan berdasarkan sifat fisiknya, melainkan karena pengakuan kolektif
dalam suatu sistem sosial.¹ Dengan kata lain, suatu objek atau individu dapat
memiliki fungsi tertentu karena “status” yang disematkan kepadanya melalui
kesepakatan sosial. Misalnya, selembar kertas dapat berfungsi sebagai uang,
atau seseorang dapat memiliki otoritas sebagai hakim. Fungsi-fungsi ini tidak
inheren dalam objek atau individu tersebut, melainkan bergantung pada sistem
makna dan aturan yang diakui bersama.
Searle menegaskan
bahwa status
functions selalu terkait dengan apa yang ia sebut sebagai deontic
powers, yaitu kekuatan normatif yang mencakup hak, kewajiban, izin,
dan otoritas.² Dalam konteks ini, realitas sosial tidak hanya terdiri dari
fakta-fakta deskriptif, tetapi juga dari struktur normatif yang mengatur
perilaku manusia. Sebagai contoh, status sebagai “pemilik” tidak hanya
menunjukkan hubungan antara individu dan objek, tetapi juga melibatkan hak
untuk menggunakan, menjual, atau melindungi objek tersebut, serta kewajiban
orang lain untuk menghormati hak tersebut.
Pembentukan status
functions tidak dapat dipisahkan dari peran bahasa, khususnya
melalui apa yang disebut sebagai deklarasi (declarations). Melalui tindakan
linguistik tertentu, manusia dapat menciptakan status baru yang diakui secara
sosial.³ Misalnya, pernyataan “Anda dinyatakan bersalah” dalam konteks
pengadilan tidak hanya menggambarkan suatu keadaan, tetapi juga menciptakan
status hukum baru bagi individu yang bersangkutan. Dengan demikian, bahasa
memiliki fungsi konstitutif dalam menciptakan dan mempertahankan struktur
sosial.
Namun, status
functions tidak dapat eksis tanpa adanya collective
intentionality (intensionalitas kolektif). Konsep ini merujuk pada
kemampuan individu untuk berbagi niat, keyakinan, dan tujuan dalam kerangka
kolektif, yaitu sebagai “kita” (we-intentions), bukan sekadar
sebagai individu yang terpisah.⁴ Searle membedakan intensionalitas kolektif
dari sekadar agregasi intensionalitas individu; dalam intensionalitas kolektif,
terdapat dimensi bersama yang tidak dapat direduksi menjadi penjumlahan niat
individu semata.
Sebagai ilustrasi,
dalam aktivitas sosial seperti bermain sepak bola atau menjalankan institusi
ekonomi, para partisipan tidak hanya bertindak secara individual, tetapi juga
dalam kerangka tujuan bersama yang diakui secara kolektif. Tanpa adanya
intensionalitas kolektif, tidak mungkin terbentuk koordinasi sosial yang
kompleks, karena tidak ada dasar bersama untuk memahami aturan dan tujuan
aktivitas tersebut.⁵ Oleh karena itu, collective intentionality merupakan
prasyarat ontologis bagi keberadaan fakta institusional.
Lebih lanjut,
hubungan antara status functions dan collective
intentionality dapat dipahami melalui formula dasar Searle, yaitu
“X counts as Y in context C”. Dalam formula ini, atribusi status (Y) kepada
suatu entitas (X) dalam konteks tertentu (C) hanya mungkin terjadi jika
terdapat pengakuan kolektif terhadap atribusi tersebut.⁶ Dengan demikian,
realitas sosial merupakan hasil dari interaksi antara struktur simbolik
(bahasa), pengakuan kolektif, dan praktik sosial yang berulang.
Searle juga menekankan
bahwa meskipun status functions bersifat sosial
dan bergantung pada pengakuan kolektif, mereka tetap memiliki objektivitas
dalam arti tertentu. Artinya, setelah suatu status diakui dalam sistem sosial,
ia dapat berfungsi secara independen dari preferensi individu tertentu.⁷
Misalnya, nilai uang tetap berlaku dalam sistem ekonomi meskipun individu
tertentu tidak menyetujuinya. Hal ini menunjukkan bahwa realitas sosial
memiliki bentuk objektivitas yang bersifat intersubjektif.
Secara kritis,
konsep status
functions dan collective intentionality
memberikan kerangka yang kuat untuk memahami bagaimana institusi sosial
terbentuk dan berfungsi. Namun, beberapa kritik menyatakan bahwa pendekatan
Searle cenderung kurang memperhatikan peran konflik, dominasi, dan ketimpangan
kekuasaan dalam pembentukan realitas sosial. Meskipun demikian, kontribusinya
tetap signifikan dalam menyediakan dasar ontologis yang jelas bagi analisis
sosial, khususnya dalam menjelaskan bagaimana norma dan institusi memperoleh
legitimasi melalui bahasa dan kesadaran kolektif.
Footnotes
[1]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 39–41.
[2]
John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human
Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.
[3]
Searle, The Construction of Social Reality, 59–63.
[4]
Ibid., 23–26.
[5]
Ibid., 24–25.
[6]
Ibid., 27–29.
[7]
Searle, Making the Social World, 17–20.
9.
Kritik terhadap Reduksionisme dan Materialisme
Dalam lanskap
filsafat pikiran kontemporer, John Searle menempati posisi kritis terhadap
berbagai bentuk reduksionisme dan materialisme yang berupaya menjelaskan
fenomena mental secara eksklusif melalui kerangka fisik atau komputasional.
Kritiknya berangkat dari keyakinan bahwa pendekatan-pendekatan tersebut gagal
menangkap dimensi esensial dari kesadaran dan intensionalitas, khususnya sifat
subjektif dan kualitatif dari pengalaman mental.¹
Reduksionisme dalam
filsafat pikiran umumnya berusaha menjelaskan keadaan mental sebagai sesuatu
yang sepenuhnya dapat direduksi ke dalam proses fisik, seperti aktivitas neuron
di otak. Dalam bentuk yang lebih ekstrem, pendekatan ini muncul sebagai
eliminativisme, yang dikembangkan oleh tokoh seperti Paul Churchland, yang
berargumen bahwa konsep-konsep mental tradisional seperti “kepercayaan” dan
“keinginan” sebaiknya dihapus karena tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.²
Searle menolak posisi ini dengan menegaskan bahwa fenomena mental adalah
realitas yang tidak dapat disangkal, karena keberadaannya langsung dialami
secara subjektif. Mengabaikan atau mengeliminasi pengalaman sadar berarti
mengabaikan salah satu aspek paling fundamental dari realitas manusia.
Selain itu, Searle
juga mengkritik materialisme reduksionis yang mengidentifikasi keadaan mental
dengan keadaan fisik tertentu. Ia berargumen bahwa meskipun setiap keadaan
mental memiliki dasar neurobiologis, tidak berarti bahwa deskripsi mental dapat
sepenuhnya digantikan oleh deskripsi fisik.³ Dalam pandangannya, terdapat
perbedaan ontologis antara fenomena mental yang bersifat subjektif (first-person
ontology) dan fenomena fisik yang bersifat objektif (third-person
ontology). Perbedaan ini tidak menunjukkan adanya dua substansi
yang terpisah, melainkan dua cara eksistensi yang berbeda dalam satu realitas
yang sama.
Kritik Searle
terhadap materialisme juga mencakup fungsionalisme dan komputasionalisme, yang
sering dianggap sebagai bentuk non-reduksionis dari materialisme.
Fungsionalisme, sebagaimana dikembangkan oleh Hilary Putnam dan Jerry Fodor,
memandang keadaan mental sebagai fungsi atau peran kausal dalam sistem, tanpa
bergantung pada substrat fisik tertentu.⁴ Searle menilai bahwa pendekatan ini
tetap gagal menjelaskan kesadaran, karena hanya berfokus pada relasi
input-output dan struktur formal, tanpa memperhitungkan pengalaman subjektif
yang menyertai keadaan mental.
Argumen “Chinese
Room” yang telah dibahas sebelumnya menjadi salah satu instrumen utama dalam
kritik Searle terhadap komputasionalisme. Ia menunjukkan bahwa manipulasi simbol
berdasarkan aturan sintaktis tidak cukup untuk menghasilkan pemahaman
semantik.⁵ Dengan demikian, sistem komputasi, meskipun mampu mensimulasikan
perilaku cerdas, tidak serta-merta memiliki pikiran atau kesadaran. Kritik ini
secara implisit menolak klaim bahwa pikiran manusia dapat direduksi menjadi
program komputer.
Sebagai alternatif
terhadap reduksionisme dan materialisme, Searle mengajukan konsep biological
naturalism. Dalam kerangka ini, fenomena mental dipahami sebagai
hasil dari proses biologis yang terjadi dalam otak, namun memiliki
karakteristik yang tidak dapat direduksi secara ontologis.⁶ Kesadaran,
misalnya, dipandang sebagai fenomena tingkat tinggi (higher-level
feature) dari sistem neurobiologis, sebagaimana sifat cair
merupakan fenomena tingkat tinggi dari molekul air. Analogi ini menunjukkan
bahwa reduksi kausal tidak selalu berarti reduksi ontologis.
Searle juga
mengkritik kecenderungan dalam ilmu kognitif modern yang terlalu menekankan
model komputasional sebagai paradigma utama dalam memahami pikiran. Ia
berargumen bahwa pendekatan ini cenderung mengabaikan aspek biologis dan
fenomenologis dari kesadaran, serta terlalu bergantung pada metafora mesin.⁷
Menurutnya, untuk memahami pikiran secara utuh, diperlukan pendekatan yang
mengintegrasikan dimensi biologis, subjektif, dan sosial.
Secara kritis,
posisi Searle memberikan kontribusi penting dalam menantang asumsi-asumsi dasar
dalam filsafat pikiran dan ilmu kognitif. Namun, pendekatannya juga menghadapi
tantangan, terutama dalam menjelaskan secara rinci bagaimana proses biologis
menghasilkan pengalaman subjektif. Meskipun demikian, kritiknya terhadap
reduksionisme dan materialisme telah membuka ruang bagi pendekatan yang lebih
komprehensif dalam memahami kompleksitas pikiran manusia.
Footnotes
[1]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 1–10.
[2]
Paul M. Churchland, Matter and Consciousness (Cambridge, MA:
MIT Press, 1984), 43–49.
[3]
Searle, The Rediscovery of the Mind, 26–50.
[4]
Hilary Putnam, Mind, Language and Reality (Cambridge:
Cambridge University Press, 1975), 429–440; Jerry A. Fodor, The Language of
Thought (New York: Thomas Y. Crowell, 1975), 1–20.
[5]
John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain
Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.
[6]
Searle, The Rediscovery of the Mind, 112–130.
[7]
Ibid., 200–215.
10.
Relevansi Pemikiran Searle dalam Konteks
Kontemporer
Pemikiran John
Searle tetap memiliki relevansi yang signifikan dalam berbagai diskursus
kontemporer, terutama dalam filsafat bahasa, filsafat pikiran, kecerdasan
buatan, serta teori sosial dan institusi. Kerangka konseptual yang ia
kembangkan memungkinkan analisis yang lebih integratif terhadap hubungan antara
bahasa, kesadaran, dan struktur sosial dalam dunia modern yang semakin
kompleks.
Dalam filsafat
bahasa, teori tindak tutur (speech act theory) Searle terus
menjadi landasan penting dalam kajian linguistik pragmatik dan komunikasi.
Pendekatannya yang menekankan bahwa bahasa adalah bentuk tindakan memberikan
kontribusi besar dalam memahami bagaimana makna dibentuk melalui konteks
penggunaan dan intensi penutur.¹ Hal ini relevan dalam analisis wacana
kontemporer, termasuk dalam media digital, di mana ujaran tidak hanya
menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk realitas sosial, opini publik, dan
relasi kekuasaan.
Dalam konteks
filsafat pikiran dan ilmu kognitif, kritik Searle terhadap reduksionisme dan
komputasionalisme tetap menjadi rujukan penting, khususnya dalam perdebatan
mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence). Argumen
“Chinese Room” terus digunakan sebagai titik tolak untuk mengevaluasi klaim
bahwa sistem AI dapat memiliki pemahaman atau kesadaran seperti manusia.² Di
era perkembangan pesat teknologi seperti pembelajaran mesin (machine
learning) dan model bahasa besar, pertanyaan tentang apakah mesin
benar-benar “memahami” atau hanya “memproses simbol” menjadi semakin актуal.
Dalam hal ini, Searle memberikan kerangka kritis untuk membedakan antara
simulasi kecerdasan dan kesadaran yang sesungguhnya.
Lebih jauh, konsep biological
naturalism yang diajukan Searle juga memiliki implikasi dalam
neurofilsafat dan ilmu saraf modern. Pendekatan ini mendorong integrasi antara
studi empiris tentang otak dan refleksi filosofis tentang kesadaran, tanpa
mereduksi fenomena mental menjadi sekadar proses fisik.³ Dengan demikian,
pemikiran Searle berkontribusi dalam upaya membangun dialog antara filsafat dan
sains dalam memahami kompleksitas pikiran manusia.
Dalam ranah teori
sosial, kontribusi Searle melalui ontologi sosial menjadi semakin relevan dalam
memahami struktur institusi modern. Konsep institutional facts, status
functions, dan collective intentionality
memberikan kerangka analitis untuk menjelaskan bagaimana realitas sosial
seperti uang digital, kontrak virtual, dan identitas online terbentuk dan
berfungsi.⁴ Misalnya, dalam ekonomi digital, nilai suatu mata uang kripto tidak
bergantung pada sifat fisiknya, melainkan pada pengakuan kolektif yang
dimediasi oleh sistem teknologi dan kepercayaan sosial. Hal ini menunjukkan
bahwa teori Searle tetap aplikatif dalam menjelaskan fenomena sosial yang terus
berkembang.
Selain itu,
pemikiran Searle juga memiliki implikasi dalam bidang hukum dan politik. Konsep
deontic
powers (hak, kewajiban, dan otoritas) membantu menjelaskan dasar
normatif dari sistem hukum dan legitimasi kekuasaan.⁵ Dalam konteks globalisasi
dan perubahan sosial yang cepat, kerangka ini dapat digunakan untuk
menganalisis bagaimana institusi politik memperoleh dan mempertahankan
legitimasi, serta bagaimana norma-norma sosial berubah seiring waktu.
Namun demikian,
relevansi pemikiran Searle juga disertai dengan tantangan. Beberapa kritik
kontemporer menyoroti bahwa pendekatannya cenderung kurang memperhatikan
dimensi historis, kultural, dan relasi kekuasaan dalam pembentukan realitas
sosial. Perspektif dari tradisi kritis, seperti teori kritis dan
post-strukturalisme, menekankan bahwa realitas sosial tidak hanya dibentuk oleh
kesepakatan kolektif, tetapi juga oleh konflik, dominasi, dan ideologi.⁶ Oleh
karena itu, integrasi antara pendekatan Searle dan perspektif kritis lainnya
menjadi penting untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.
Secara keseluruhan,
pemikiran John Searle tetap relevan dalam konteks kontemporer karena
kemampuannya untuk menjelaskan hubungan kompleks antara bahasa, pikiran, dan
realitas sosial secara sistematis. Meskipun menghadapi berbagai kritik dan
perkembangan baru dalam filsafat dan sains, kerangka teoretis yang ia tawarkan
tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami dinamika dunia modern
yang ditandai oleh kemajuan teknologi, transformasi sosial, dan perubahan
epistemologis.
Footnotes
[1]
John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language
(Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–25.
[2]
John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain
Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.
[3]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 112–130.
[4]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 27–34.
[5]
John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human
Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.
[6]
Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other
Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.
11.
Perspektif Kritis dan Evaluasi Filosofis
Pemikiran John
Searle telah memberikan kontribusi besar dalam filsafat kontemporer, khususnya
dalam integrasi antara filsafat bahasa, filsafat pikiran, dan ontologi sosial.
Namun demikian, sebagaimana halnya teori filosofis lainnya, gagasan-gagasannya
juga menjadi objek kritik dan evaluasi dari berbagai perspektif. Analisis
kritis terhadap pemikiran Searle penting untuk menilai kekuatan konseptual
sekaligus keterbatasannya dalam menjelaskan kompleksitas realitas manusia.
Salah satu kritik
utama terhadap Searle muncul dalam konteks filsafat pikiran, khususnya terkait
argumen “Chinese Room”. Meskipun argumen ini dianggap berhasil menunjukkan
keterbatasan pendekatan komputasional terhadap kesadaran, beberapa filsuf
berpendapat bahwa Searle terlalu menyederhanakan konsep kecerdasan buatan.
Daniel Dennett, misalnya, mengkritik bahwa eksperimen pikiran tersebut tidak
cukup mempertimbangkan kompleksitas sistem secara keseluruhan, dan cenderung
mengabaikan kemungkinan bahwa pemahaman dapat muncul dari interaksi sistemik,
bukan dari komponen individu.¹ Kritik ini menunjukkan adanya perdebatan
mendasar mengenai apakah kesadaran harus dipahami secara internal (berbasis
pengalaman subjektif) atau dapat dijelaskan melalui fungsi eksternal dan
perilaku sistem.
Selain itu, konsep biological
naturalism yang diajukan Searle juga menghadapi tantangan, terutama
terkait dengan apa yang dikenal sebagai hard problem of consciousness,
sebagaimana dirumuskan oleh David Chalmers.² Masalah ini berkaitan dengan
kesulitan menjelaskan bagaimana proses fisik dalam otak dapat menghasilkan
pengalaman subjektif (qualia). Meskipun Searle menegaskan bahwa kesadaran
adalah fenomena biologis yang nyata, ia tidak sepenuhnya memberikan penjelasan
mekanistik tentang bagaimana transisi dari proses neurobiologis ke pengalaman
subjektif terjadi. Dengan demikian, pendekatannya dinilai masih menyisakan
celah dalam aspek eksplanatori.
Dalam filsafat
bahasa, teori tindak tutur Searle juga tidak luput dari kritik. Beberapa ahli
pragmatik berpendapat bahwa klasifikasi tindak ilokusi yang ia ajukan cenderung
terlalu kaku dan tidak sepenuhnya mencerminkan keragaman praktik bahasa dalam
konteks sosial yang berbeda.³ Selain itu, pendekatannya dianggap kurang
sensitif terhadap dimensi kekuasaan, ideologi, dan konteks budaya yang
memengaruhi penggunaan bahasa. Perspektif dari Michel Foucault, misalnya,
menekankan bahwa bahasa tidak hanya merupakan alat komunikasi, tetapi juga
medium dominasi dan produksi pengetahuan yang terkait erat dengan struktur
kekuasaan.⁴
Dalam konteks
ontologi sosial, teori Searle tentang institutional facts dan collective
intentionality juga menghadapi kritik, terutama dari perspektif
sosiologi kritis dan teori sosial kontemporer. Beberapa kritikus berargumen
bahwa Searle terlalu menekankan peran konsensus dan pengakuan kolektif,
sementara mengabaikan konflik, ketimpangan, dan dinamika historis dalam
pembentukan institusi sosial.⁵ Dalam realitas sosial, banyak institusi tidak
hanya dibangun melalui kesepakatan, tetapi juga melalui proses dominasi dan
resistensi yang kompleks.
Namun demikian,
kekuatan utama pemikiran Searle terletak pada upayanya untuk membangun kerangka
teoretis yang integratif dan sistematis. Ia berhasil menghubungkan analisis
bahasa dengan teori pikiran dan realitas sosial dalam satu kerangka konseptual
yang relatif koheren. Pendekatannya juga memberikan kejelasan ontologis yang
sering kali kurang dalam teori-teori sosial lainnya, khususnya dalam
menjelaskan status dan fungsi institusi sosial.⁶
Dari perspektif
evaluatif, pemikiran Searle dapat dipandang sebagai upaya untuk mempertahankan
realisme dalam berbagai domain filsafat, baik dalam kaitannya dengan dunia
eksternal, kesadaran, maupun realitas sosial. Ia menolak relativisme ekstrem
sekaligus menghindari reduksionisme yang menyederhanakan kompleksitas fenomena
manusia. Namun, pendekatannya juga menunjukkan keterbatasan dalam menangkap
dimensi historis, kultural, dan politis yang lebih luas.
Dengan demikian,
evaluasi filosofis terhadap pemikiran Searle menunjukkan bahwa meskipun
teorinya memiliki kekuatan analitis yang signifikan, ia tetap memerlukan dialog
dengan pendekatan lain untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.
Kritik-kritik yang ada tidak hanya menunjukkan kelemahan, tetapi juga membuka
ruang bagi pengembangan lebih lanjut dalam studi filsafat bahasa, pikiran, dan
realitas sosial.
Footnotes
[1]
Daniel C. Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little,
Brown and Company, 1991), 435–450.
[2]
David J. Chalmers, The Conscious Mind: In Search of a Fundamental
Theory (New York: Oxford University Press, 1996), 3–5.
[3]
John R. Searle, Expression and Meaning: Studies in the Theory of
Speech Acts (Cambridge: Cambridge University Press, 1979), 12–20.
[4]
Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other
Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.
[5]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 57–60.
[6]
Barry Smith, “John Searle: From Speech Acts to Social Reality,” in John
Searle, ed. Barry Smith (Cambridge: Cambridge University Press, 2003),
10–15.
12.
Sintesis dan Implikasi Teoretis
Pemikiran John
Searle menunjukkan suatu upaya sistematis untuk mengintegrasikan tiga domain
utama dalam filsafat, yaitu bahasa, pikiran, dan realitas sosial. Sintesis ini
tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga menawarkan kerangka teoretis yang
koheren untuk memahami bagaimana manusia sebagai makhluk biologis, linguistik,
dan sosial membangun serta menafsirkan dunia. Dalam kerangka ini, bahasa tidak
dipahami secara terpisah dari pikiran, dan pikiran tidak dapat dilepaskan dari
konteks sosial di mana ia beroperasi.
Salah satu
kontribusi utama Searle adalah penegasan bahwa makna linguistik berakar pada
intensionalitas mental. Bahasa memperoleh maknanya karena digunakan oleh agen
yang memiliki kapasitas mental untuk merepresentasikan dunia.¹ Dengan demikian,
filsafat bahasa tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan filsafat
pikiran. Sebaliknya, intensionalitas mental juga diekspresikan dan dimediasi
melalui bahasa, sehingga keduanya membentuk hubungan timbal balik yang tidak
terpisahkan.
Lebih lanjut, Searle
mengembangkan sintesis antara bahasa dan realitas sosial melalui konsep aturan
konstitutif (constitutive rules) dan fakta
institusional (institutional facts). Dalam
kerangka ini, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat representasi, tetapi
juga sebagai mekanisme pembentukan realitas sosial.² Melalui formula “X counts
as Y in context C”, Searle menunjukkan bahwa struktur sosial dibangun melalui
atribusi makna yang diakui secara kolektif. Dengan demikian, realitas sosial
merupakan hasil dari interaksi antara intensionalitas individu dan pengakuan
kolektif yang dimediasi oleh bahasa.
Implikasi teoretis
dari sintesis ini sangat luas. Dalam filsafat, pendekatan Searle memberikan
dasar ontologis yang jelas untuk memahami hubungan antara subjektivitas dan
objektivitas. Ia menunjukkan bahwa fenomena subjektif seperti kesadaran dapat
memiliki status ontologis yang nyata tanpa harus direduksi menjadi fenomena
fisik semata.³ Hal ini membuka kemungkinan bagi pendekatan non-reduksionis
dalam filsafat pikiran yang tetap konsisten dengan temuan ilmiah.
Dalam bidang ilmu kognitif,
kerangka Searle mendorong pendekatan yang lebih integratif antara studi empiris
tentang otak dan analisis filosofis tentang kesadaran. Kritiknya terhadap
komputasionalisme menantang asumsi bahwa pikiran dapat sepenuhnya dimodelkan
sebagai sistem pemrosesan informasi, dan menekankan pentingnya dimensi biologis
serta fenomenologis.⁴ Dengan demikian, implikasi teorinya mendorong
pengembangan paradigma alternatif yang lebih komprehensif dalam memahami
kecerdasan dan kesadaran.
Dalam konteks ilmu
sosial, teori ontologi sosial Searle memberikan landasan konseptual untuk
menganalisis institusi dan norma secara lebih sistematis. Konsep status
functions, collective intentionality, dan deontic
powers memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana
struktur sosial terbentuk, dipertahankan, dan diubah.⁵ Kerangka ini dapat
diterapkan dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, hukum, dan politik,
khususnya dalam menjelaskan legitimasi institusi dan dinamika norma sosial.
Namun demikian,
sintesis yang ditawarkan Searle juga memiliki implikasi kritis. Dengan
menekankan peran bahasa dan kesadaran kolektif dalam pembentukan realitas
sosial, terdapat risiko mengabaikan faktor-faktor lain seperti kekuasaan,
konflik, dan sejarah. Oleh karena itu, pengembangan lebih lanjut dari kerangka
ini memerlukan dialog dengan pendekatan lain, seperti teori kritis dan
sosiologi historis, untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.⁶
Secara keseluruhan,
sintesis pemikiran Searle menunjukkan bahwa pemahaman tentang manusia dan dunia
tidak dapat dicapai melalui pendekatan yang terfragmentasi. Bahasa, pikiran,
dan realitas sosial merupakan dimensi yang saling terkait dan harus dianalisis
secara integratif. Implikasi teoretis dari pendekatan ini tidak hanya
memperkaya filsafat, tetapi juga memberikan kontribusi bagi berbagai disiplin
ilmu dalam memahami kompleksitas realitas manusia.
Footnotes
[1]
John R. Searle, Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind
(Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 1–15.
[2]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 27–34.
[3]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 112–130.
[4]
John R. Searle, “Minds, Brains, and Programs,” Behavioral and Brain
Sciences 3, no. 3 (1980): 417–424.
[5]
John R. Searle, Making the Social World: The Structure of Human
Civilization (Oxford: Oxford University Press, 2010), 7–12.
[6]
Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other
Writings (New York: Pantheon Books, 1980), 131–133.
13.
Kesimpulan
Kajian terhadap
pemikiran John Searle menunjukkan bahwa kontribusinya dalam filsafat
kontemporer terletak pada upaya integratif untuk menjelaskan hubungan antara
bahasa, pikiran, dan realitas sosial dalam satu kerangka konseptual yang
koheren. Melalui pengembangan teori tindak tutur, Searle menegaskan bahwa
bahasa bukan sekadar alat representasi, melainkan juga bentuk tindakan yang
memiliki konsekuensi sosial dan normatif.¹ Dengan demikian, makna tidak dapat
dipisahkan dari praktik penggunaan bahasa dan intensi penutur.
Dalam filsafat
pikiran, Searle memberikan kontribusi signifikan melalui konsep intensionalitas
dan kesadaran sebagai fenomena biologis yang nyata namun irreduktibel. Ia menolak
reduksionisme materialistik yang menyederhanakan pikiran menjadi proses fisik
semata, sekaligus menghindari dualisme yang memisahkan pikiran dari dunia
fisik.² Pendekatan biological naturalism yang ia
tawarkan menjadi upaya untuk menjembatani ketegangan antara perspektif ilmiah
dan fenomenologis dalam memahami kesadaran.
Lebih lanjut, dalam
ontologi sosial, Searle mengembangkan teori yang menjelaskan bagaimana realitas
sosial terbentuk melalui bahasa dan pengakuan kolektif. Konsep institutional
facts, status functions, dan collective
intentionality memberikan dasar ontologis yang kuat untuk memahami
keberadaan institusi sosial dan norma-norma yang mengaturnya.³ Melalui formula
“X counts as Y in context C”, ia menunjukkan bahwa realitas sosial merupakan
konstruksi yang bergantung pada praktik simbolik dan kesepakatan bersama, tanpa
meniadakan keberadaan realitas fisik yang independen.
Meskipun demikian,
pemikiran Searle tidak lepas dari kritik. Argumen-argumennya dalam filsafat
pikiran, khususnya terkait kecerdasan buatan, telah memicu perdebatan yang luas
mengenai sifat kesadaran dan kemungkinan reproduksinya dalam sistem
non-biologis. Selain itu, pendekatannya dalam ontologi sosial dinilai masih
kurang memperhatikan dimensi historis, kultural, dan relasi kekuasaan yang
turut membentuk realitas sosial.⁴ Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa meskipun
kerangka teorinya kuat secara konseptual, masih terdapat ruang untuk
pengembangan lebih lanjut melalui dialog dengan pendekatan lain.
Secara keseluruhan,
pemikiran John Searle memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkaya
filsafat kontemporer dengan menawarkan perspektif yang sistematis, realistis,
dan integratif. Ia berhasil menunjukkan bahwa pemahaman tentang manusia dan
dunia tidak dapat dicapai melalui pendekatan yang terfragmentasi, melainkan
memerlukan analisis yang menghubungkan bahasa, pikiran, dan struktur sosial
secara menyeluruh. Dengan demikian, warisan intelektual Searle tetap relevan
sebagai dasar refleksi filosofis dalam menghadapi berbagai tantangan
epistemologis dan ontologis di era modern.
Footnotes
[1]
John R. Searle, Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language
(Cambridge: Cambridge University Press, 1969), 16–25.
[2]
John R. Searle, The Rediscovery of the Mind (Cambridge, MA:
MIT Press, 1992), 112–130.
[3]
John R. Searle, The Construction of Social Reality (New York:
Free Press, 1995), 27–34.
[4]
Daniel C. Dennett, Consciousness Explained (Boston: Little,
Brown and Company, 1991), 435–450; Michel Foucault, Power/Knowledge:
Selected Interviews and Other Writings (New York: Pantheon Books, 1980),
131–133.
Daftar Pustaka
Austin, J. L. (1962). How to do things with
words. Oxford University Press.
Brentano, F. (1973). Psychology from an
empirical standpoint (A. C. Rancurello, D. B. Terrell, & L. L.
McAlister, Trans.). Routledge. (Karya asli diterbitkan 1874)
Chalmers, D. J. (1996). The conscious mind: In
search of a fundamental theory. Oxford University Press.
Churchland, P. M. (1984). Matter and
consciousness. MIT Press.
Dennett, D. C. (1991). Consciousness explained.
Little, Brown and Company.
Descartes, R. (1996). Meditations on first
philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press. (Karya asli
diterbitkan 1641)
Fodor, J. A. (1975). The language of thought.
Thomas Y. Crowell.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected
interviews and other writings. Pantheon Books.
Frege, G. (1952). On sense and reference. In P.
Geach & M. Black (Eds.), Translations from the philosophical writings of
Gottlob Frege (pp. 56–78). Blackwell. (Karya asli diterbitkan 1892)
Putnam, H. (1975). Mind, language and reality.
Cambridge University Press.
Russell, B. (1905). On denoting. Mind, 14(56),
479–493.
Searle, J. R. (1969). Speech acts: An essay in
the philosophy of language. Cambridge University Press.
Searle, J. R. (1979). Expression and meaning:
Studies in the theory of speech acts. Cambridge University Press.
Searle, J. R. (1980). Minds, brains, and programs. Behavioral
and Brain Sciences, 3(3), 417–457.
Searle, J. R. (1983). Intentionality: An essay
in the philosophy of mind. Cambridge University Press.
Searle, J. R. (1992). The rediscovery of the
mind. MIT Press.
Searle, J. R. (1995). The construction of social
reality. Free Press.
Searle, J. R. (2004). Mind: A brief introduction.
Oxford University Press.
Searle, J. R. (2010). Making the social world:
The structure of human civilization. Oxford University Press.
Smith, B. (Ed.). (2003). John Searle.
Cambridge University Press.
Wittgenstein, L. (1953). Philosophical
investigations. Blackwell.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar