Pemikiran Richard Rorty
Rekonstruksi Epistemologi Kontemporer
Alihkan ke: Tokoh-Tokoh Filsafat, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam.
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara
komprehensif pemikiran Richard Rorty sebagai salah satu filsuf kontemporer
Amerika Serikat yang berpengaruh dalam pengembangan neo-pragmatisme,
anti-fondasionalisme, dan kritik terhadap epistemologi tradisional. Latar
belakang kajian ini berangkat dari krisis epistemologi modern yang ditandai
oleh runtuhnya klaim-klaim fondasional mengenai kebenaran objektif dan
universal. Dalam konteks tersebut, Rorty menawarkan pendekatan alternatif yang
menekankan peran bahasa, praktik sosial, dan kontingensi dalam memahami
pengetahuan dan realitas.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan
kualitatif berbasis kajian pustaka (library research) dengan analisis
filosofis-hermeneutik. Data diperoleh dari karya-karya utama Rorty serta
literatur sekunder yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif,
interpretatif, dan kritis untuk mengungkap struktur konseptual serta implikasi
filosofis dari pemikirannya.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Rorty secara radikal
menolak representasionalisme dan fondasionalisme dalam epistemologi, serta
menggantinya dengan pendekatan neo-pragmatis yang memahami kebenaran sebagai
hasil justifikasi dalam komunitas diskursif. Bahasa, dalam kerangka ini, tidak
lagi dipandang sebagai cermin realitas, melainkan sebagai alat yang digunakan
dalam praktik sosial. Selain itu, konsep kontingensi menjadi kunci dalam
memahami subjektivitas manusia sebagai konstruksi historis yang selalu terbuka
untuk redeskripsi.
Dalam dimensi etika dan politik, Rorty
mengembangkan gagasan solidaritas sebagai pengganti objektivitas, serta
memandang demokrasi sebagai proyek percakapan yang terus berkembang. Pendekatan
ini memiliki relevansi yang signifikan dalam konteks kontemporer, terutama
dalam menghadapi pluralisme epistemologis, fenomena post-truth, dan
dinamika diskursus publik.
Namun demikian, kajian ini juga menunjukkan bahwa
pemikiran Rorty tidak lepas dari kritik, terutama terkait kecenderungan
relativisme dan lemahnya dasar normatif dalam epistemologi dan etika. Oleh
karena itu, pemikiran Rorty perlu dipahami secara kritis dan terbuka terhadap
pengembangan lebih lanjut, khususnya melalui integrasi dengan pendekatan
normatif yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, artikel ini menyimpulkan bahwa
pemikiran Richard Rorty memberikan kontribusi penting dalam merekonstruksi
filsafat kontemporer dengan menggeser fokus dari pencarian kepastian menuju dialog,
dari objektivitas menuju solidaritas, serta dari fondasi menuju kontingensi.
Pendekatan ini membuka ruang bagi pemahaman yang lebih fleksibel dan
kontekstual terhadap pengetahuan, sekaligus menantang batas-batas tradisional
dalam filsafat.
Kata Kunci: Richard Rorty; neo-pragmatisme;
anti-fondasionalisme; epistemologi; bahasa; kontingensi; solidaritas; filsafat
kontemporer.
PEMBAHASAN
Analisis Kritis terhadap Pemikiran Richard Rorty dalam
Perspektif Neo-Pragmatisme dan Anti-Fondasionalisme
1.
Pendahuluan
Perkembangan
filsafat modern dan kontemporer menunjukkan adanya pergeseran mendasar dalam
cara memahami pengetahuan, kebenaran, dan realitas. Sejak era René Descartes
hingga Immanuel Kant, epistemologi Barat dibangun di atas asumsi
fondasionalisme, yaitu keyakinan bahwa pengetahuan memiliki dasar yang pasti,
universal, dan tidak diragukan. Dalam kerangka ini, pengetahuan dipahami
sebagai representasi akurat terhadap realitas objektif, sementara akal (reason)
dianggap sebagai alat utama untuk mencapai kepastian tersebut.¹ Namun,
perkembangan pemikiran abad ke-20 memperlihatkan kritik yang semakin intens
terhadap paradigma ini, terutama melalui apa yang dikenal sebagai linguistic
turn, yang menggeser fokus filsafat dari kesadaran ke bahasa
sebagai medium utama pemaknaan.²
Dalam konteks ini,
muncul Richard Rorty sebagai salah satu filsuf kontemporer Amerika Serikat yang
memberikan kontribusi signifikan dalam mendekonstruksi asumsi-asumsi dasar
epistemologi tradisional. Rorty secara radikal menolak gagasan bahwa
pengetahuan adalah cerminan realitas (mirror of nature), serta mengkritik
upaya filsafat untuk menemukan fondasi absolut bagi kebenaran.³ Melalui karya
monumentalnya, Philosophy and the Mirror of Nature,
ia berargumen bahwa epistemologi sebagai disiplin yang mencari legitimasi
rasional universal sebaiknya ditinggalkan, karena bertumpu pada asumsi
representasionalisme yang problematis.⁴
Lebih jauh,
pemikiran Rorty berakar pada tradisi pragmatisme Amerika yang dikembangkan oleh
tokoh-tokoh seperti William James dan John Dewey. Namun, Rorty tidak sekadar
melanjutkan tradisi tersebut, melainkan merekonstruksinya dalam bentuk
neo-pragmatisme yang lebih radikal. Ia menggeser fokus dari kebenaran sebagai
korespondensi dengan realitas menuju kebenaran sebagai hasil dari praktik
sosial dan konsensus komunitas.⁵ Dalam pandangan ini, bahasa tidak lagi
berfungsi sebagai alat representasi realitas, melainkan sebagai instrumen yang
digunakan manusia untuk berinteraksi, bernegosiasi, dan membangun makna dalam
kehidupan sosial.⁶
Kritik Rorty
terhadap fondasionalisme juga sejalan dengan pemikiran Wilfrid Sellars yang
menolak konsep “myth of the given”, yaitu gagasan bahwa terdapat data
pengalaman yang bersifat langsung dan bebas dari interpretasi.⁷ Selain itu,
pengaruh Ludwig Wittgenstein dalam menekankan permainan bahasa (language
games) serta Martin Heidegger dalam kritiknya terhadap metafisika
Barat turut membentuk kerangka pemikiran Rorty yang anti-esensialis dan
anti-metafisik.⁸ Dengan demikian, Rorty berada pada persimpangan antara
pragmatisme, filsafat analitik, dan filsafat kontinental, sekaligus berupaya
melampaui batas-batas tradisional di antara ketiganya.
Urgensi kajian
terhadap pemikiran Rorty semakin relevan dalam konteks kontemporer yang
ditandai oleh pluralisme epistemologis, krisis otoritas kebenaran, serta
fenomena post-truth.
Dalam dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi, klaim-klaim kebenaran
tidak lagi diterima sebagai sesuatu yang absolut, melainkan diperdebatkan dalam
ruang publik yang plural. Dalam hal ini, pendekatan Rorty yang menekankan
solidaritas, dialog, dan kontingensi menawarkan alternatif terhadap model
epistemologi klasik yang kaku dan eksklusif.⁹ Namun demikian, pemikirannya juga
menuai kritik, terutama terkait kecenderungan relativisme dan potensi
melemahnya dasar normatif dalam pengetahuan dan etika.¹⁰
Berdasarkan latar
belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis
pemikiran Richard Rorty, khususnya dalam kaitannya dengan neo-pragmatisme,
anti-fondasionalisme, dan kritik terhadap epistemologi tradisional. Rumusan
masalah yang diajukan meliputi: (1) bagaimana Rorty mengkritik epistemologi
tradisional dan fondasionalisme; (2) bagaimana konsep neo-pragmatisme membentuk
pandangannya tentang kebenaran dan bahasa; serta (3) bagaimana relevansi dan
implikasi pemikirannya dalam konteks filsafat kontemporer.
Adapun tujuan
penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai
kontribusi filosofis Rorty serta mengevaluasi kekuatan dan keterbatasan
pemikirannya dalam kerangka epistemologi dan filsafat bahasa. Selain itu,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi
pengembangan kajian filsafat kontemporer, khususnya dalam memahami dinamika hubungan
antara bahasa, kebenaran, dan realitas dalam masyarakat modern.
Secara metodologis,
penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library
research), yang mengandalkan analisis terhadap karya-karya utama
Rorty serta literatur sekunder yang relevan. Pendekatan filosofis-hermeneutik
digunakan untuk menafsirkan gagasan-gagasan Rorty secara kontekstual dan
kritis, sehingga memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap struktur
argumentasi dan implikasi konseptualnya.
Dengan demikian,
pendahuluan ini menegaskan bahwa pemikiran Richard Rorty tidak hanya merupakan
kritik terhadap epistemologi tradisional, tetapi juga menawarkan paradigma
alternatif dalam memahami pengetahuan sebagai praktik sosial yang kontingen.
Kajian ini diharapkan mampu membuka ruang refleksi yang lebih luas mengenai
batas-batas rasionalitas, peran bahasa, serta kemungkinan rekonstruksi filsafat
dalam menghadapi tantangan zaman kontemporer.
Footnotes
[1]
René Descartes, Meditations on First Philosophy, trans. John Cottingham (Cambridge: Cambridge
University Press, 1996); Immanuel Kant, Critique
of Pure Reason, trans. Paul Guyer
and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998).
[2]
Richard Rorty, ed., The
Linguistic Turn: Essays in Philosophical Method (Chicago: University of Chicago Press, 1967).
[3]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 3–12.
[4]
Ibid., 12–25.
[5]
William James, Pragmatism: A New Name
for Some Old Ways of Thinking (New
York: Longmans, Green, and Co., 1907); John Dewey, Experience and Nature
(Chicago: Open Court, 1925).
[6]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[7]
Wilfrid Sellars, “Empiricism and the Philosophy of Mind,” in Science, Perception and Reality (London: Routledge, 1963), 127–196.
[8]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations, trans. G.E.M.
Anscombe (Oxford: Blackwell, 1953); Martin Heidegger, Being and Time,
trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962).
[9]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 3–22.
[10]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981).
2.
Tinjauan Pustaka
Kajian mengenai
pemikiran Richard Rorty telah berkembang secara signifikan dalam filsafat
kontemporer, terutama dalam diskursus mengenai epistemologi, filsafat bahasa,
dan teori sosial. Rorty dikenal sebagai tokoh sentral dalam neo-pragmatisme
yang berupaya merekonstruksi kembali warisan pragmatisme klasik sekaligus
mengkritik fondasi epistemologi modern. Literatur yang membahas pemikirannya
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu: (1) karya primer
Rorty, (2) literatur sekunder yang bersifat interpretatif dan eksplanatif,
serta (3) kajian kritis yang mengevaluasi implikasi filosofis dari gagasannya.
Pertama, karya-karya
primer Rorty menjadi landasan utama dalam memahami struktur pemikirannya. Dalam
Philosophy
and the Mirror of Nature, Rorty melakukan kritik sistematis
terhadap epistemologi representasional yang telah mendominasi filsafat Barat
sejak era modern. Ia menolak gagasan bahwa pikiran berfungsi sebagai “cermin”
yang merefleksikan realitas secara objektif, dan menunjukkan bahwa konsep
tersebut merupakan konstruksi historis yang tidak memiliki dasar filosofis yang
kuat.¹ Selanjutnya, dalam Consequences of Pragmatism, Rorty
mengembangkan pendekatan pragmatis yang menekankan bahwa kebenaran tidak harus
dipahami sebagai korespondensi dengan realitas, melainkan sebagai hasil dari
praktik diskursif dalam komunitas manusia.²
Karya penting
lainnya, Contingency,
Irony, and Solidarity, memperluas pemikiran Rorty ke dalam ranah etika
dan politik. Dalam buku ini, ia memperkenalkan konsep “liberal ironist”, yaitu
individu yang menyadari kontingensi bahasa dan keyakinannya, namun tetap
berkomitmen pada nilai-nilai solidaritas sosial.³ Dengan demikian, karya-karya
primer Rorty menunjukkan kesinambungan antara kritik epistemologi, teori
bahasa, dan refleksi etis-politik dalam satu kerangka pemikiran yang koheren.
Kedua, literatur
sekunder yang bersifat interpretatif memberikan pemahaman yang lebih sistematis
terhadap kompleksitas pemikiran Rorty. Misalnya, kajian oleh Christopher J.
Voparil menekankan bahwa Rorty tidak sekadar menolak epistemologi tradisional,
tetapi juga berupaya menggantinya dengan pendekatan hermeneutik yang lebih
kontekstual dan historis.⁴ Sementara itu, David L. Hall dan Roger T. Ames
menunjukkan bahwa pemikiran Rorty memiliki kedekatan dengan tradisi filsafat
Timur, khususnya dalam penolakannya terhadap esensialisme dan fondasionalisme.⁵
Di sisi lain, Hilary
Putnam memberikan analisis yang lebih kritis terhadap pragmatisme Rorty, dengan
menyoroti ketegangan antara relativisme dan klaim rasionalitas dalam
pemikirannya.⁶ Putnam berargumen bahwa meskipun Rorty berhasil mengkritik
fondasionalisme, ia belum sepenuhnya mampu menawarkan alternatif yang memadai
untuk mempertahankan objektivitas dalam diskursus ilmiah dan moral.⁷
Kajian-kajian ini menunjukkan bahwa interpretasi terhadap Rorty tidak bersifat
tunggal, melainkan beragam dan sering kali saling bertentangan.
Ketiga, kajian
kritis terhadap pemikiran Rorty menyoroti berbagai implikasi filosofis dari
anti-fondasionalisme dan neo-pragmatisme yang ia tawarkan. Salah satu kritik
utama datang dari kalangan realisme filosofis, yang menilai bahwa penolakan
Rorty terhadap kebenaran objektif berpotensi mengarah pada relativisme
epistemologis.⁸ Selain itu, Jürgen Habermas mengkritik Rorty karena dianggap
mengabaikan dimensi normatif dalam rasionalitas komunikatif, sehingga berisiko
melemahkan dasar-dasar kritik sosial.⁹ Habermas menekankan bahwa meskipun
bahasa bersifat kontekstual, tetap diperlukan prinsip-prinsip universal untuk
menjamin validitas komunikasi.¹⁰
Lebih lanjut, kritik
juga datang dari perspektif filsafat analitik yang menilai bahwa Rorty terlalu
jauh meninggalkan standar argumentasi rasional yang ketat. Sebaliknya, dari
perspektif postmodernisme, Rorty justru dianggap belum cukup radikal karena
masih mempertahankan komitmen terhadap liberalisme.¹¹ Dengan demikian, posisi
Rorty dalam peta filsafat kontemporer bersifat ambivalen: ia berada di antara
berbagai tradisi, namun tidak sepenuhnya diidentifikasi dengan salah satunya.
Selain itu, penting
untuk memahami bahwa pemikiran Rorty tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan
dipengaruhi oleh berbagai tokoh sebelumnya. Tradisi pragmatisme klasik dari
William James dan John Dewey memberikan dasar bagi pendekatan instrumental
terhadap kebenaran.¹² Sementara itu, kritik terhadap “myth of the given” dari
Wilfrid Sellars menjadi landasan bagi penolakan terhadap empirisme klasik.¹³
Pengaruh Ludwig Wittgenstein dalam menekankan permainan bahasa serta Martin
Heidegger dalam kritik metafisika juga berkontribusi dalam membentuk orientasi
anti-esensialis Rorty.¹⁴
Berdasarkan tinjauan
pustaka ini, dapat disimpulkan bahwa pemikiran Rorty telah menjadi objek kajian
yang luas dan multidimensional dalam filsafat kontemporer. Literatur yang ada
menunjukkan bahwa Rorty tidak hanya mengkritik epistemologi tradisional, tetapi
juga menawarkan paradigma alternatif yang menekankan peran bahasa, praktik
sosial, dan kontingensi dalam pembentukan pengetahuan. Namun, pemikirannya juga
menimbulkan berbagai perdebatan kritis yang menunjukkan bahwa kontribusinya
masih terbuka untuk ditafsirkan, dikritisi, dan dikembangkan lebih lanjut.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 3–12.
[2]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[3]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 73–95.
[4]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 15–30.
[5]
David L. Hall and Roger T. Ames, Anticipating
China: Thinking through the Narratives of Chinese and Western Culture (Albany: SUNY Press, 1995), 112–130.
[6]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 49–72.
[7]
Ibid., 72–90.
[8]
Michael Devitt, Realism and Truth (Princeton: Princeton University Press, 1991), 1–20.
[9]
Jürgen Habermas, Truth and Justification, trans. Barbara Fultner (Cambridge: MIT Press, 2003),
35–60.
[10]
Ibid., 60–85.
[11]
Simon Blackburn, Truth: A Guide (Oxford: Oxford University Press, 2005), 130–145.
[12]
William James, Pragmatism (New York: Longmans, Green, and Co., 1907); John
Dewey, Experience and Nature (Chicago: Open Court, 1925).
[13]
Wilfrid Sellars, “Empiricism and the Philosophy of Mind,” in Science, Perception and Reality (London: Routledge, 1963), 127–196.
[14]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953); Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962).
3.
Kerangka Teoretis
Kerangka teoretis
dalam kajian ini disusun untuk memahami secara sistematis struktur pemikiran
Richard Rorty, khususnya dalam kaitannya dengan neo-pragmatisme,
anti-fondasionalisme, serta kritik terhadap epistemologi tradisional. Kerangka
ini tidak hanya berfungsi sebagai landasan konseptual, tetapi juga sebagai alat
analisis untuk menafsirkan dan mengevaluasi gagasan-gagasan Rorty dalam konteks
filsafat kontemporer yang lebih luas.
3.1.
Pragmatisme dan
Neo-Pragmatisme
Pragmatisme sebagai
aliran filsafat berakar pada tradisi pemikiran Amerika yang dikembangkan oleh
tokoh-tokoh seperti Charles Sanders Peirce, William James, dan John Dewey.
Dalam kerangka ini, kebenaran tidak dipahami sebagai kesesuaian antara
proposisi dan realitas (korespondensi), melainkan sebagai sesuatu yang memiliki
nilai praktis dan fungsional dalam kehidupan manusia.¹ Peirce, misalnya,
menekankan bahwa makna suatu konsep terletak pada konsekuensi praktisnya,
sementara James mengaitkan kebenaran dengan apa yang “berfungsi” dalam
pengalaman manusia.²
Rorty mengadopsi
sekaligus merekonstruksi tradisi ini melalui apa yang disebut sebagai
neo-pragmatisme. Berbeda dengan pragmatisme klasik yang masih mempertahankan
beberapa elemen epistemologis, Rorty secara radikal menolak upaya filsafat
untuk mencari dasar universal bagi pengetahuan.³ Ia berpendapat bahwa filsafat
seharusnya tidak lagi berfungsi sebagai “hakim” yang menentukan validitas
pengetahuan, melainkan sebagai bagian dari percakapan kultural yang lebih
luas.⁴ Dalam kerangka neo-pragmatisme, kebenaran tidak lagi dipahami sebagai
entitas objektif, melainkan sebagai hasil dari praktik diskursif dalam komunitas
sosial tertentu.⁵
Dengan demikian,
neo-pragmatisme Rorty menekankan pergeseran dari epistemologi menuju
hermeneutika, dari pencarian kepastian menuju dialog, serta dari objektivitas
menuju solidaritas.⁶ Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Rorty tidak hanya
bersifat kritis terhadap tradisi lama, tetapi juga konstruktif dalam menawarkan
paradigma alternatif.
3.2.
Anti-Fondasionalisme
dalam Epistemologi
Konsep
anti-fondasionalisme merupakan salah satu pilar utama dalam pemikiran Rorty.
Fondasionalisme dalam epistemologi berasumsi bahwa pengetahuan harus didasarkan
pada prinsip-prinsip dasar yang tidak dapat diragukan, seperti pengalaman
langsung atau rasio murni. Tradisi ini dapat ditelusuri sejak René Descartes
hingga Immanuel Kant, yang berupaya menemukan dasar universal bagi pengetahuan
manusia.⁷
Rorty menolak asumsi
ini dengan menunjukkan bahwa tidak ada “fondasi” yang bersifat netral dan bebas
dari interpretasi. Dalam hal ini, ia dipengaruhi oleh kritik Wilfrid Sellars
terhadap “myth of the given”, yaitu keyakinan bahwa terdapat data pengalaman
yang dapat menjadi dasar pengetahuan tanpa mediasi konsep atau bahasa.⁸ Sellars
menegaskan bahwa semua bentuk pengetahuan selalu berada dalam kerangka
konseptual tertentu, sehingga tidak mungkin ada pengetahuan yang sepenuhnya
bebas dari interpretasi.⁹
Bagi Rorty,
anti-fondasionalisme berarti bahwa pengetahuan harus dipahami sebagai hasil
dari praktik sosial yang bersifat historis dan kontingen.¹⁰ Dengan demikian,
tidak ada standar universal yang dapat digunakan untuk menilai kebenaran secara
absolut. Sebaliknya, kebenaran dipahami sebagai apa yang dapat diterima dalam
komunitas tertentu melalui proses argumentasi dan konsensus.¹¹
Namun, penting untuk
dicatat bahwa anti-fondasionalisme Rorty tidak serta-merta menolak
rasionalitas, melainkan mereinterpretasinya sebagai praktik komunikatif yang
bersifat kontekstual.¹² Dalam hal ini, rasionalitas tidak lagi dipahami sebagai
kemampuan untuk mencapai kebenaran objektif, tetapi sebagai kemampuan untuk
berpartisipasi dalam dialog yang produktif.
3.3.
Linguistic Turn dan
Filsafat Bahasa
Salah satu konteks
intelektual yang sangat penting bagi pemikiran Rorty adalah apa yang dikenal
sebagai linguistic
turn, yaitu pergeseran fokus filsafat dari kesadaran ke bahasa.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pemikiran Ludwig Wittgenstein, yang
menekankan bahwa makna tidak terletak pada hubungan antara bahasa dan realitas,
melainkan pada penggunaan bahasa dalam praktik sosial (language
games).¹³
Rorty mengadopsi
pendekatan ini untuk menolak representasionalisme, yaitu pandangan bahwa bahasa
berfungsi sebagai cermin realitas. Dalam pandangannya, bahasa bukanlah alat
untuk menggambarkan dunia secara objektif, melainkan instrumen yang digunakan
manusia untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.¹⁴ Dengan demikian, makna dan
kebenaran tidak bersifat tetap, tetapi bergantung pada konteks penggunaan
bahasa dalam komunitas tertentu.
Selain Wittgenstein,
pengaruh Martin Heidegger juga terlihat dalam penolakan Rorty terhadap
metafisika tradisional. Heidegger menekankan bahwa bahasa bukan sekadar alat
komunikasi, melainkan medium di mana keberadaan (being) dipahami.¹⁵ Rorty
mengembangkan gagasan ini dengan menekankan bahwa tidak ada “realitas di luar
bahasa” yang dapat diakses secara langsung tanpa mediasi diskursus.¹⁶
Dengan demikian,
linguistic turn memberikan landasan bagi Rorty untuk menggeser fokus filsafat
dari pencarian kebenaran objektif menuju analisis praktik bahasa dan diskursus.
3.4.
Relasi antara Bahasa,
Kebenaran, dan Realitas
Dalam kerangka teoretis
Rorty, relasi antara bahasa, kebenaran, dan realitas mengalami redefinisi yang
signifikan. Dalam epistemologi tradisional, kebenaran dipahami sebagai
korespondensi antara pernyataan dan realitas. Namun, Rorty menolak konsep ini
dan menggantinya dengan pendekatan pragmatis yang menekankan fungsi bahasa
dalam praktik sosial.¹⁷
Bagi Rorty, tidak
ada cara untuk membandingkan bahasa dengan realitas secara langsung, karena
setiap upaya untuk melakukannya selalu dilakukan melalui bahasa itu sendiri.¹⁸
Oleh karena itu, kebenaran tidak dapat dipahami sebagai representasi realitas,
melainkan sebagai apa yang dianggap benar dalam suatu komunitas berdasarkan
kriteria yang disepakati.¹⁹
Pendekatan ini
menekankan bahwa realitas tidak sepenuhnya independen dari bahasa, melainkan
dipahami melalui kerangka konseptual yang dibentuk oleh praktik diskursif.²⁰
Dengan demikian, pengetahuan tidak bersifat objektif dalam arti klasik, tetapi
bersifat intersubjektif, yaitu bergantung pada kesepakatan dalam komunitas
tertentu.²¹
Implikasi dari
pandangan ini adalah bahwa filsafat tidak lagi berfungsi sebagai disiplin yang
mencari kebenaran universal, melainkan sebagai upaya untuk memperkaya
percakapan manusia tentang berbagai cara memahami dunia.²² Dalam hal ini,
konsep solidaritas menjadi lebih penting daripada objektivitas, karena yang
terpenting bukanlah menemukan kebenaran absolut, melainkan membangun
kesepahaman yang memungkinkan kehidupan bersama yang lebih baik.²³
Footnotes
[1]
John Dewey, Reconstruction in
Philosophy (New York: Henry Holt,
1920), 156–172.
[2]
Charles S. Peirce, “How to Make Our Ideas Clear,” Popular Science Monthly
12 (1878): 286–302; William James, Pragmatism (New York: Longmans, Green, and Co., 1907), 45–60.
[3]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 315–330.
[4]
Ibid., 389–394.
[5]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[6]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[7]
René Descartes, Meditations on First
Philosophy (Cambridge: Cambridge
University Press, 1996); Immanuel Kant, Critique
of Pure Reason (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998).
[8]
Wilfrid Sellars, “Empiricism and the Philosophy of Mind,” in Science, Perception and Reality (London: Routledge, 1963), 127–196.
[9]
Ibid., 169–180.
[10]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[11]
Ibid., 35–44.
[12]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 1–17.
[13]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953), §§1–43.
[14]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 159–175.
[15]
Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962), 204–210.
[16]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 5–22.
[17]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 126–150.
[18]
Ibid., 129–135.
[19]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism, 160–175.
[20]
Ibid., 170–180.
[21]
Richard Rorty, Truth and Progress, 23–40.
[22]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[23]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 189–198.
4.
Metodologi Penelitian
Metodologi
penelitian dalam kajian ini dirancang untuk memberikan kerangka kerja yang
sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dalam
menganalisis pemikiran Richard Rorty. Mengingat objek penelitian berupa gagasan
filosofis yang bersifat konseptual dan reflektif, pendekatan yang digunakan
menekankan pada analisis kualitatif dengan orientasi interpretatif-kritis.
Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap
struktur argumen, asumsi epistemologis, serta implikasi teoretis dari pemikiran
Rorty dalam konteks filsafat kontemporer.
4.1.
Jenis dan Pendekatan
Penelitian
Penelitian ini
merupakan penelitian kualitatif yang berbasis kajian pustaka (library
research), yaitu penelitian yang mengandalkan sumber-sumber
tertulis sebagai data utama.¹ Dalam konteks filsafat, pendekatan ini lazim
digunakan karena objek kajian tidak berupa fenomena empiris yang dapat
diobservasi secara langsung, melainkan berupa teks, konsep, dan argumen.²
Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan filosofis-hermeneutik. Hermeneutika, sebagaimana
dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer, menekankan bahwa pemahaman terhadap teks
tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan horizon penafsir.³ Dengan
demikian, analisis terhadap pemikiran Rorty tidak hanya berfokus pada isi
tekstual, tetapi juga mempertimbangkan latar belakang intelektual, tradisi
filosofis, serta konteks historis yang membentuk gagasan-gagasannya.
Selain itu,
penelitian ini juga menggunakan pendekatan analisis kritis (critical
analysis), yang bertujuan untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan
argumen Rorty secara rasional dan sistematis.⁴ Pendekatan ini penting untuk
menghindari sikap deskriptif semata, serta memungkinkan pengembangan refleksi
filosofis yang lebih mendalam dan konstruktif.
4.2.
Sumber Data
Sumber data dalam
penelitian ini terdiri atas dua kategori utama, yaitu sumber primer dan sumber
sekunder.
1)
Sumber Primer
Sumber primer adalah
karya-karya asli Richard Rorty yang menjadi rujukan utama dalam memahami
pemikirannya, antara lain:
·
Philosophy and the
Mirror of Nature
·
Consequences of Pragmatism
·
Contingency, Irony, and
Solidarity
·
Objectivity,
Relativism, and Truth
·
Truth and Progress
Karya-karya tersebut
dipilih karena merepresentasikan perkembangan utama pemikiran Rorty, mulai dari
kritik terhadap epistemologi tradisional hingga formulasi neo-pragmatisme dan
refleksi etis-politik.⁵
2)
Sumber Sekunder
Sumber sekunder
meliputi buku, artikel jurnal, dan karya akademik lain yang membahas,
menginterpretasikan, atau mengkritik pemikiran Rorty. Sumber ini mencakup
tulisan para filsuf seperti Hilary Putnam, Jürgen Habermas, serta para penafsir
kontemporer lainnya.⁶ Sumber sekunder berfungsi untuk memperkaya perspektif
analisis serta memberikan konteks yang lebih luas terhadap posisi Rorty dalam
peta filsafat modern dan kontemporer.
4.3.
Teknik Pengumpulan
Data
Teknik pengumpulan
data dilakukan melalui studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan dan
mengkaji teks-teks yang relevan dengan topik penelitian.⁷ Proses ini meliputi:
1)
Identifikasi dan seleksi literatur
yang relevan
2)
Pembacaan intensif terhadap
teks-teks primer dan sekunder
3)
Klasifikasi data berdasarkan
tema-tema utama (misalnya: epistemologi, bahasa, kebenaran, dan politik)
Dalam tahap ini,
peneliti juga melakukan pencatatan sistematis terhadap konsep-konsep kunci,
argumen utama, serta relasi antar gagasan dalam pemikiran Rorty.
4.4.
Teknik Analisis Data
Analisis data dalam
penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
1)
Analisis Deskriptif
Tahap awal berupa pemaparan sistematis
terhadap gagasan-gagasan utama Rorty, termasuk konsep neo-pragmatisme,
anti-fondasionalisme, dan kritik terhadap representasionalisme.⁸
2)
Analisis
Interpretatif
Pada tahap ini, dilakukan penafsiran
terhadap makna filosofis dari konsep-konsep tersebut dengan mempertimbangkan
konteks historis dan intelektualnya. Pendekatan ini sejalan dengan hermeneutika
filosofis yang menekankan dialog antara teks dan penafsir.⁹
3)
Analisis Kritis
Tahap selanjutnya adalah evaluasi
terhadap kekuatan dan kelemahan pemikiran Rorty, baik dari perspektif internal
(konsistensi logis) maupun eksternal (relevansi dan implikasi filosofis).¹⁰
4)
Analisis Sintesis
Tahap akhir berupa integrasi hasil
analisis untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif serta implikasi
teoretis yang dapat dikembangkan lebih lanjut.¹¹
4.5.
Validitas dan
Keabsahan Data
Dalam penelitian
kualitatif, validitas tidak diukur melalui generalisasi statistik, melainkan
melalui kedalaman analisis dan konsistensi argumentasi.¹² Oleh karena itu,
penelitian ini menggunakan beberapa strategi untuk menjaga keabsahan data,
antara lain:
·
Triangulasi sumber,
yaitu membandingkan berbagai literatur untuk memastikan konsistensi
interpretasi
·
Konsistensi logis,
yaitu memastikan bahwa argumen yang dibangun tidak mengandung kontradiksi
internal
·
Keterlacakan sumber,
yaitu penggunaan referensi yang jelas dan dapat diverifikasi
4.6.
Batasan Penelitian
Penelitian ini
difokuskan pada analisis pemikiran Richard Rorty dalam konteks epistemologi,
filsafat bahasa, dan implikasi etis-politiknya. Oleh karena itu, aspek-aspek
lain seperti biografi personal secara detail atau kajian komparatif lintas
tradisi non-Barat tidak dibahas secara mendalam. Batasan ini ditetapkan untuk
menjaga fokus analisis serta kedalaman pembahasan.
Secara keseluruhan,
metodologi penelitian ini dirancang untuk memungkinkan analisis yang
komprehensif, kritis, dan sistematis terhadap pemikiran Richard Rorty. Dengan
mengintegrasikan pendekatan hermeneutik dan analisis kritis, penelitian ini
diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami dinamika
filsafat kontemporer, khususnya dalam kaitannya dengan kritik terhadap
epistemologi tradisional dan rekonstruksi konsep kebenaran dalam kerangka
neo-pragmatisme.
Footnotes
[1]
John W. Creswell, Research Design:
Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Thousand Oaks: Sage Publications, 2014), 183–203.
[2]
Louis O. Kattsoff, Elements of Philosophy (New York: Ronald Press, 1953), 12–25.
[3]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method, trans. Joel Weinsheimer
and Donald G. Marshall (New York: Continuum, 2004), 269–307.
[4]
Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, The Sage Handbook of Qualitative Research (Thousand Oaks: Sage Publications, 2011), 3–20.
[5]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979); Richard Rorty, Contingency, Irony, and Solidarity (Cambridge: Cambridge University Press, 1989).
[6]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981); Jürgen Habermas, Truth
and Justification (Cambridge: MIT
Press, 2003).
[7]
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2017), 240–256.
[8]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[9]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method, 305–341.
[10]
Simon Blackburn, Think: A Compelling Introduction
to Philosophy (Oxford: Oxford
University Press, 1999), 12–30.
[11]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 1–17.
[12]
Creswell, Research Design, 201–220.
5.
Biografi Intelektual Richard Rorty
Pemikiran Richard
Rorty tidak dapat dilepaskan dari perjalanan intelektualnya yang kompleks dan
lintas tradisi. Ia lahir pada 4 Oktober 1931 di New York, Amerika Serikat,
dalam keluarga yang memiliki latar belakang intelektual dan aktivisme politik
yang kuat. Kedua orang tuanya, James Rorty dan Winifred Raushenbush, adalah
intelektual kiri yang aktif dalam gerakan sosial, sehingga sejak awal Rorty
telah terbiasa dengan atmosfer diskursus kritis dan refleksi sosial.¹
Lingkungan ini turut membentuk sensibilitas filosofisnya yang kemudian
menekankan pentingnya solidaritas dan kritik terhadap klaim-klaim absolut dalam
pengetahuan.
5.1.
Pendidikan dan Formasi
Awal
Rorty menunjukkan
minat yang besar terhadap filsafat sejak usia muda. Ia menempuh pendidikan
sarjana di University of Chicago, di mana ia mendapatkan dasar yang kuat dalam
filsafat klasik dan modern.² Setelah itu, ia melanjutkan studi doktoralnya di
Yale University dan memperoleh gelar Ph.D. pada tahun 1956.³ Pada tahap awal
karier akademiknya, Rorty sangat dipengaruhi oleh tradisi filsafat analitik
yang dominan di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20.
Dalam periode ini,
Rorty terlibat dalam diskursus epistemologi dan filsafat bahasa yang berkembang
pesat, terutama melalui pengaruh tokoh-tokoh seperti Rudolf Carnap dan W.V.O.
Quine.⁴ Namun, meskipun awalnya berada dalam arus utama filsafat analitik,
Rorty secara bertahap mulai mempertanyakan asumsi-asumsi dasar tradisi
tersebut, khususnya terkait representasionalisme dan fondasionalisme dalam
epistemologi.
5.2.
Peralihan dari Filsafat
Analitik ke Kritik Epistemologi
Transformasi
intelektual Rorty mulai terlihat jelas pada akhir 1960-an dan awal 1970-an,
ketika ia mulai mengembangkan kritik terhadap epistemologi tradisional. Salah
satu tonggak penting dalam fase ini adalah penyuntingan buku The
Linguistic Turn, yang menunjukkan keterlibatannya dalam perdebatan
mengenai peran bahasa dalam filsafat.⁵
Puncak dari fase
kritis ini terwujud dalam karya monumentalnya, Philosophy and the Mirror of Nature.
Dalam buku ini, Rorty mengajukan kritik radikal terhadap gagasan bahwa pikiran
manusia berfungsi sebagai “cermin” yang merefleksikan realitas secara
objektif.⁶ Ia menunjukkan bahwa konsep tersebut merupakan hasil konstruksi
historis yang tidak memiliki dasar epistemologis yang kokoh.⁷
Dalam mengembangkan
kritik ini, Rorty banyak dipengaruhi oleh pemikiran Wilfrid Sellars, yang
menolak “myth of the given”, serta Ludwig Wittgenstein, yang menekankan bahwa
makna bahasa ditentukan oleh penggunaannya dalam praktik sosial.⁸ Selain itu,
pengaruh Martin Heidegger juga terlihat dalam upaya Rorty untuk mengkritik
metafisika Barat dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih historis dan
kontekstual.⁹
5.3.
Formulasi
Neo-Pragmatisme
Setelah mengajukan
kritik terhadap epistemologi tradisional, Rorty beralih pada upaya konstruktif
untuk mengembangkan alternatif filosofis, yaitu neo-pragmatisme. Dalam
karya-karya seperti Consequences of Pragmatism, ia
menghidupkan kembali tradisi pragmatisme Amerika yang dikembangkan oleh William
James dan John Dewey, namun dengan pendekatan yang lebih radikal.¹⁰
Dalam kerangka
neo-pragmatisme, Rorty menolak gagasan bahwa filsafat memiliki tugas untuk
menemukan kebenaran universal atau fondasi epistemologis yang pasti.¹¹
Sebaliknya, ia memandang filsafat sebagai bagian dari praktik budaya yang
berfungsi untuk memperkaya percakapan manusia.¹² Kebenaran, dalam pandangan
ini, bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang dibentuk melalui
interaksi sosial dan diskursus.¹³
Pemikiran ini
mencapai bentuk yang lebih matang dalam karya Contingency, Irony, and Solidarity,
di mana Rorty mengembangkan konsep “liberal ironist”.¹⁴ Konsep ini
menggambarkan individu yang menyadari bahwa keyakinannya bersifat kontingen dan
historis, namun tetap berkomitmen pada nilai-nilai solidaritas dan kebebasan.¹⁵
5.4.
Dimensi Etika,
Politik, dan Budaya
Pada fase
selanjutnya, pemikiran Rorty semakin meluas ke ranah etika dan politik. Ia
menekankan bahwa demokrasi liberal bukanlah sistem yang didasarkan pada
kebenaran metafisik, melainkan pada komitmen praktis terhadap kebebasan dan
solidaritas.¹⁶ Dalam hal ini, Rorty menolak pendekatan filosofis yang mencoba
memberikan legitimasi universal bagi nilai-nilai moral, dan lebih memilih
pendekatan pragmatis yang berfokus pada konsekuensi praktis dalam kehidupan
sosial.¹⁷
Pemikirannya juga
berkontribusi dalam diskursus budaya, khususnya dalam memahami peran bahasa,
narasi, dan identitas dalam masyarakat modern. Rorty menekankan bahwa identitas
individu dan kolektif tidak bersifat esensial, melainkan dibentuk melalui
praktik diskursif yang terus berubah.¹⁸
5.5.
Posisi dalam Filsafat
Kontemporer
Secara keseluruhan,
Rorty menempati posisi yang unik dalam filsafat kontemporer. Ia tidak
sepenuhnya termasuk dalam tradisi filsafat analitik maupun kontinental, melainkan
berada di antara keduanya dan berupaya menjembatani perbedaan tersebut.¹⁹
Pemikirannya sering dianggap sebagai bentuk “post-epistemological philosophy”,
yaitu filsafat yang melampaui batas-batas epistemologi tradisional.²⁰
Namun, posisi ini
juga menjadikannya sebagai sosok yang kontroversial. Ia dikritik oleh berbagai
pihak, termasuk oleh Hilary Putnam yang menilai bahwa pendekatan Rorty
cenderung relativistik, serta oleh Jürgen Habermas yang menganggap bahwa Rorty
mengabaikan dimensi normatif dalam rasionalitas.²¹ Meskipun demikian,
kontribusinya tetap diakui sebagai salah satu yang paling berpengaruh dalam
membentuk arah filsafat kontemporer, khususnya dalam diskursus mengenai bahasa,
kebenaran, dan pluralisme.
Rorty wafat pada 8
Juni 2007, namun warisan intelektualnya terus hidup dalam berbagai bidang,
mulai dari filsafat hingga teori sosial dan studi budaya.²² Pemikirannya tidak
hanya mengubah cara pandang terhadap epistemologi, tetapi juga membuka ruang
bagi pendekatan yang lebih plural, dialogis, dan kontekstual dalam memahami
pengetahuan dan kehidupan manusia.
Footnotes
[1]
Neil Gross, Richard Rorty: The
Making of an American Philosopher
(Chicago: University of Chicago Press, 2008), 1–25.
[2]
Ibid., 45–60.
[3]
Ibid., 85–100.
[4]
W.V.O. Quine, “Two Dogmas of Empiricism,” The Philosophical Review
60, no. 1 (1951): 20–43.
[5]
Richard Rorty, ed., The
Linguistic Turn (Chicago: University
of Chicago Press, 1967).
[6]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 3–12.
[7]
Ibid., 12–25.
[8]
Wilfrid Sellars, “Empiricism and the Philosophy of Mind,” in Science, Perception and Reality (London: Routledge, 1963), 127–196; Ludwig
Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953).
[9]
Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962), 204–210.
[10]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[11]
Ibid., xv–xvii.
[12]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[13]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[14]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 73–95.
[15]
Ibid., 90–95.
[16]
Richard Rorty, Achieving Our Country (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 14–30.
[17]
Ibid., 30–45.
[18]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 3–22.
[19]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 1–15.
[20]
Ibid., 20–35.
[21]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981); Jürgen Habermas, Truth
and Justification (Cambridge: MIT
Press, 2003).
[22]
Neil Gross, Richard Rorty, 300–320.
6.
Kritik terhadap Epistemologi Tradisional
Salah satu
kontribusi paling signifikan dari Richard Rorty dalam filsafat kontemporer
adalah kritiknya yang radikal terhadap epistemologi tradisional. Epistemologi
klasik, yang berkembang sejak era modern melalui tokoh-tokoh seperti René
Descartes dan Immanuel Kant, berupaya menemukan dasar yang pasti dan universal
bagi pengetahuan manusia. Dalam kerangka ini, pengetahuan dipahami sebagai
representasi mental yang akurat terhadap realitas objektif, dan tugas filsafat
adalah menjamin validitas representasi tersebut.¹
Rorty menolak asumsi
dasar ini dengan menunjukkan bahwa epistemologi tradisional dibangun di atas
metafora yang problematis, yaitu gagasan bahwa pikiran manusia berfungsi
sebagai “cermin alam” (mirror of nature).² Menurutnya,
metafora ini menciptakan ilusi bahwa terdapat hubungan langsung antara pikiran
dan realitas, seolah-olah pengetahuan adalah hasil pencerminan pasif terhadap
dunia eksternal.³ Dalam karya utamanya, Philosophy and the Mirror of Nature,
Rorty menunjukkan bahwa konsep ini bukanlah kebenaran filosofis yang abadi,
melainkan konstruksi historis yang muncul dalam konteks tertentu dan kemudian
dianggap sebagai dasar universal.⁴
6.1.
Kritik terhadap
Representasionalisme
Representasionalisme
merupakan inti dari epistemologi tradisional, yaitu pandangan bahwa pengetahuan
terdiri dari representasi mental yang mencerminkan realitas. Rorty menolak
pandangan ini dengan menegaskan bahwa tidak ada cara untuk memverifikasi apakah
suatu representasi benar-benar “sesuai” dengan realitas, karena setiap upaya
verifikasi selalu dilakukan melalui bahasa dan kerangka konseptual tertentu.⁵
Dalam hal ini, Rorty
dipengaruhi oleh kritik Wilfrid Sellars terhadap “myth of the given”, yang
menyatakan bahwa tidak ada pengalaman yang sepenuhnya bebas dari interpretasi.⁶
Sellars menegaskan bahwa semua bentuk pengetahuan selalu berada dalam jaringan
konsep dan bahasa, sehingga tidak mungkin ada “data mentah” yang dapat menjadi
dasar absolut bagi pengetahuan.⁷
Selain itu, pengaruh
Ludwig Wittgenstein juga terlihat dalam penolakan terhadap gagasan bahwa bahasa
memiliki hubungan langsung dengan realitas. Wittgenstein menunjukkan bahwa
makna bahasa ditentukan oleh penggunaannya dalam praktik sosial, bukan oleh
referensi terhadap entitas objektif.⁸ Rorty mengadopsi pandangan ini untuk
menegaskan bahwa bahasa bukanlah cermin realitas, melainkan alat yang digunakan
manusia untuk berinteraksi dan membangun makna.⁹
6.2.
Kritik terhadap
Fondasionalisme
Selain
representasionalisme, Rorty juga mengkritik fondasionalisme, yaitu keyakinan
bahwa pengetahuan harus didasarkan pada prinsip-prinsip dasar yang tidak dapat
diragukan. Tradisi ini berusaha menemukan “fondasi” yang dapat menjamin
kepastian pengetahuan, baik melalui rasio (rasionalisme) maupun pengalaman
(empirisme).¹⁰
Rorty menolak upaya
ini dengan menunjukkan bahwa tidak ada fondasi yang benar-benar netral dan
bebas dari interpretasi. Setiap klaim pengetahuan selalu berada dalam konteks
historis dan sosial tertentu, sehingga tidak mungkin ada titik awal yang
absolut.¹¹ Dalam pandangannya, pencarian fondasi epistemologis justru merupakan
ilusi yang menghambat perkembangan pemikiran filosofis.¹²
Dalam hal ini, Rorty
juga dipengaruhi oleh W.V.O. Quine, yang menolak pemisahan antara analitik dan
sintetis serta menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan jaringan keyakinan yang
saling terkait (web of belief).¹³ Dengan demikian,
tidak ada proposisi yang sepenuhnya independen dari yang lain, sehingga tidak
mungkin ada fondasi yang absolut.¹⁴
6.3.
Kritik terhadap
Objektivitas dan Kebenaran Universal
Epistemologi
tradisional juga berasumsi bahwa kebenaran bersifat objektif dan universal,
yaitu berlaku secara independen dari konteks sosial dan historis. Rorty menolak
asumsi ini dengan menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat dipisahkan dari
praktik bahasa dan komunitas yang menggunakannya.¹⁵
Bagi Rorty,
kebenaran bukanlah korespondensi antara pernyataan dan realitas, melainkan apa
yang dianggap benar dalam suatu komunitas berdasarkan standar yang
disepakati.¹⁶ Dengan kata lain, kebenaran bersifat intersubjektif, bukan
objektif dalam arti klasik.¹⁷
Pandangan ini tidak
berarti bahwa semua klaim kebenaran bersifat relatif secara sembarangan, tetapi
menekankan bahwa kriteria kebenaran selalu bergantung pada konteks diskursif
tertentu.¹⁸ Dalam hal ini, Rorty menggantikan konsep objektivitas dengan konsep
solidaritas, yaitu kesepakatan yang dicapai melalui dialog dalam komunitas.¹⁹
6.4.
Dekonstruksi
Epistemologi sebagai Disiplin
Salah satu implikasi
paling radikal dari kritik Rorty adalah penolakannya terhadap epistemologi
sebagai disiplin filosofis yang otonom. Ia berpendapat bahwa epistemologi,
sebagaimana dipahami dalam tradisi modern, merupakan proyek yang gagal karena
didasarkan pada asumsi yang keliru tentang hubungan antara pikiran dan dunia.²⁰
Sebagai alternatif,
Rorty mengusulkan agar filsafat tidak lagi berfokus pada pencarian fondasi
pengetahuan, melainkan beralih ke peran yang lebih praktis dan kultural.²¹
Dalam hal ini, filsafat dipahami sebagai bagian dari percakapan manusia yang
terus berkembang, bukan sebagai disiplin yang memiliki otoritas khusus dalam
menentukan kebenaran.²²
Pendekatan ini
sejalan dengan pemikiran Martin Heidegger yang mengkritik metafisika Barat,
serta dengan hermeneutika Hans-Georg Gadamer yang menekankan pentingnya
pemahaman kontekstual.²³ Dengan demikian, Rorty berupaya menggeser fokus
filsafat dari epistemologi menuju hermeneutika dan praktik diskursif.
6.5.
Implikasi Filosofis
Kritik Rorty
terhadap epistemologi tradisional memiliki implikasi yang luas dalam filsafat
kontemporer. Pertama, ia membuka ruang bagi pendekatan yang lebih plural dan
kontekstual dalam memahami pengetahuan.²⁴ Kedua, ia menantang klaim-klaim
universal yang sering digunakan untuk melegitimasi kekuasaan epistemik.²⁵
Ketiga, ia mendorong pergeseran dari pencarian kepastian menuju dialog dan
solidaritas sebagai dasar kehidupan intelektual dan sosial.²⁶
Namun demikian,
kritik ini juga menimbulkan berbagai perdebatan, terutama terkait kemungkinan
relativisme dan hilangnya dasar normatif dalam pengetahuan. Para kritikus
seperti Hilary Putnam dan Jürgen Habermas berargumen bahwa tanpa konsep
objektivitas, sulit untuk mempertahankan kritik rasional terhadap klaim-klaim
yang tidak benar atau tidak adil.²⁷
Meskipun demikian,
tidak dapat disangkal bahwa kritik Rorty telah mengubah lanskap epistemologi
kontemporer secara signifikan. Ia tidak hanya mendekonstruksi asumsi-asumsi
dasar epistemologi tradisional, tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam
memahami pengetahuan sebagai praktik sosial yang dinamis dan terbuka.²⁸
Footnotes
[1]
René Descartes, Meditations on First
Philosophy (Cambridge: Cambridge
University Press, 1996); Immanuel Kant, Critique
of Pure Reason (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998).
[2]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 12–25.
[3]
Ibid., 3–12.
[4]
Ibid., 136–150.
[5]
Ibid., 159–175.
[6]
Wilfrid Sellars, “Empiricism and the Philosophy of Mind,” in Science, Perception and Reality (London: Routledge, 1963), 127–196.
[7]
Ibid., 169–180.
[8]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953), §§1–43.
[9]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 170–180.
[10]
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason.
[11]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[12]
Ibid., 35–44.
[13]
W.V.O. Quine, “Two Dogmas of Empiricism,” The Philosophical Review
60, no. 1 (1951): 20–43.
[14]
Ibid., 39–43.
[15]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), 160–175.
[16]
Ibid., 170–175.
[17]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[18]
Ibid., 35–40.
[19]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 189–198.
[20]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 315–330.
[21]
Ibid., 389–394.
[22]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
91–110.
[23]
Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962); Hans-Georg
Gadamer, Truth and Method (New York: Continuum, 2004).
[24]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[25]
Ibid., 21–34.
[26]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 3–22.
[27]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981); Jürgen Habermas, Truth
and Justification (Cambridge: MIT
Press, 2003).
[28]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 20–35.
7.
Anti-Fondasionalisme Rorty
Anti-fondasionalisme
merupakan salah satu pilar utama dalam pemikiran Richard Rorty dan menjadi inti
dari kritiknya terhadap epistemologi tradisional. Dalam kerangka filsafat
modern, fondasionalisme merujuk pada upaya untuk menemukan dasar yang pasti,
tidak diragukan, dan universal bagi pengetahuan manusia. Tradisi ini berkembang
sejak René Descartes hingga Immanuel Kant, yang berusaha menegakkan kepastian
pengetahuan melalui prinsip-prinsip rasional maupun pengalaman empiris.¹ Namun,
Rorty menolak asumsi bahwa pengetahuan memerlukan fondasi yang absolut, dan
menganggapnya sebagai ilusi filosofis yang harus ditinggalkan.
7.1.
Penolakan terhadap
Fondasi Epistemologis
Bagi Rorty,
fondasionalisme didasarkan pada keyakinan bahwa terdapat titik awal yang netral
dan bebas dari interpretasi, yang dapat menjadi dasar bagi seluruh
pengetahuan.² Ia mengkritik asumsi ini dengan menunjukkan bahwa tidak ada
pengalaman atau proposisi yang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada
jaringan konsep dan bahasa tertentu.³
Dalam hal ini, Rorty
dipengaruhi secara signifikan oleh Wilfrid Sellars, yang mengkritik apa yang
disebut sebagai “myth of the given”. Sellars menolak gagasan bahwa terdapat
data pengalaman yang langsung dan tidak terkonseptualisasi, yang dapat menjadi
fondasi bagi pengetahuan.⁴ Menurutnya, semua pengalaman selalu berada dalam
kerangka konseptual, sehingga tidak mungkin ada fondasi yang benar-benar bebas
dari interpretasi.⁵
Rorty mengembangkan
kritik ini lebih jauh dengan menyatakan bahwa pencarian fondasi epistemologis
merupakan proyek yang keliru sejak awal, karena mengandaikan adanya hubungan
langsung antara pikiran dan realitas.⁶ Ia menolak gagasan bahwa pengetahuan
memerlukan legitimasi eksternal yang bersifat universal, dan menegaskan bahwa
pengetahuan selalu bersifat kontekstual dan historis.⁷
7.2.
Pengetahuan sebagai
Praktik Sosial
Sebagai alternatif
terhadap fondasionalisme, Rorty mengusulkan bahwa pengetahuan harus dipahami
sebagai praktik sosial yang terbentuk melalui interaksi dalam komunitas.⁸ Dalam
pandangan ini, kebenaran bukanlah sesuatu yang ditemukan melalui refleksi
individu terhadap realitas, melainkan sesuatu yang dihasilkan melalui proses
diskursif dalam masyarakat.⁹
Pendekatan ini
sejalan dengan kritik W.V.O. Quine terhadap dikotomi antara analitik dan
sintetis, yang menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan jaringan keyakinan yang
saling terkait (web of belief).¹⁰ Dengan demikian,
tidak ada proposisi yang dapat berfungsi sebagai fondasi yang independen dari
keseluruhan sistem pengetahuan.¹¹
Rorty juga
menekankan bahwa justifikasi pengetahuan tidak bergantung pada kesesuaian
dengan realitas objektif, melainkan pada penerimaan dalam komunitas tertentu.¹²
Oleh karena itu, rasionalitas tidak lagi dipahami sebagai kemampuan untuk
mencapai kebenaran universal, tetapi sebagai kemampuan untuk berpartisipasi
dalam praktik argumentasi yang diakui secara sosial.¹³
7.3.
Kontingensi dan
Historisitas Pengetahuan
Salah satu implikasi
penting dari anti-fondasionalisme Rorty adalah penekanan pada kontingensi dan
historisitas pengetahuan. Dalam karya Contingency, Irony, and Solidarity,
Rorty menegaskan bahwa bahasa, keyakinan, dan nilai-nilai manusia tidak
memiliki dasar yang tetap, melainkan berkembang secara historis dan bersifat
kontingen.¹⁴
Kontingensi ini
berarti bahwa tidak ada cara untuk membenarkan suatu sistem pengetahuan secara
absolut, karena setiap sistem selalu bergantung pada konteks budaya dan sejarah
tertentu.¹⁵ Dengan demikian, klaim-klaim universal dalam epistemologi
tradisional harus digantikan dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan terbuka
terhadap perubahan.¹⁶
Pandangan ini juga
dipengaruhi oleh Ludwig Wittgenstein, yang menunjukkan bahwa makna bahasa
bergantung pada penggunaannya dalam praktik sosial, serta oleh Martin
Heidegger, yang menekankan historisitas pemahaman manusia.¹⁷ Rorty
mengintegrasikan kedua pengaruh ini untuk mengembangkan pandangan bahwa
pengetahuan tidak memiliki fondasi tetap, melainkan selalu berada dalam proses
perubahan.¹⁸
7.4.
Kritik terhadap
Kebenaran Absolut
Anti-fondasionalisme
Rorty juga berimplikasi pada penolakannya terhadap konsep kebenaran absolut. Ia
menolak pandangan bahwa kebenaran adalah korespondensi antara pernyataan dan
realitas, dan menggantinya dengan pendekatan pragmatis yang menekankan fungsi
kebenaran dalam praktik sosial.¹⁹
Bagi Rorty,
kebenaran adalah apa yang dapat dibenarkan dalam suatu komunitas melalui proses
argumentasi dan konsensus.²⁰ Dengan demikian, kebenaran tidak bersifat tetap
dan universal, melainkan bergantung pada konteks diskursif tertentu.²¹
Namun, Rorty
menegaskan bahwa pandangan ini tidak berarti relativisme ekstrem, di mana semua
klaim kebenaran dianggap sama.²² Sebaliknya, ia menekankan pentingnya standar
rasionalitas yang berkembang dalam komunitas sebagai dasar untuk mengevaluasi
klaim-klaim pengetahuan.²³
7.5.
Implikasi Filosofis
Anti-Fondasionalisme
Anti-fondasionalisme
Rorty memiliki implikasi yang luas dalam berbagai bidang filsafat. Pertama, ia
menggeser fokus epistemologi dari pencarian fondasi menuju analisis praktik
diskursif.²⁴ Kedua, ia membuka ruang bagi pluralisme epistemologis, di mana
berbagai perspektif dapat coexist tanpa harus direduksi ke dalam satu sistem
universal.²⁵
Ketiga, ia
menekankan pentingnya solidaritas sebagai pengganti objektivitas, yaitu
kesepakatan yang dicapai melalui dialog dalam komunitas.²⁶ Dalam hal ini,
filsafat tidak lagi berfungsi sebagai penentu kebenaran, melainkan sebagai
fasilitator percakapan yang memungkinkan pertukaran gagasan secara produktif.²⁷
Namun demikian,
anti-fondasionalisme Rorty juga menghadapi kritik, terutama dari tokoh-tokoh
seperti Hilary Putnam dan Jürgen Habermas, yang berargumen bahwa tanpa fondasi
tertentu, sulit untuk mempertahankan standar normatif dalam pengetahuan dan
etika.²⁸ Kritik ini menunjukkan bahwa meskipun anti-fondasionalisme membuka
kemungkinan baru dalam filsafat, ia juga menimbulkan tantangan yang serius
terkait dengan legitimasi rasional dan moral.
Secara keseluruhan,
anti-fondasionalisme Rorty merupakan upaya untuk merekonstruksi epistemologi
dengan menolak asumsi-asumsi dasar yang telah lama dianggap mapan. Dengan
menekankan kontingensi, historisitas, dan praktik sosial, Rorty menawarkan
paradigma alternatif yang lebih fleksibel dan terbuka, sekaligus menantang cara
tradisional dalam memahami pengetahuan dan kebenaran.
Footnotes
[1]
René Descartes, Meditations on First
Philosophy (Cambridge: Cambridge
University Press, 1996); Immanuel Kant, Critique
of Pure Reason (Cambridge: Cambridge
University Press, 1998).
[2]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 315–330.
[3]
Ibid., 159–175.
[4]
Wilfrid Sellars, “Empiricism and the Philosophy of Mind,” in Science, Perception and Reality (London: Routledge, 1963), 127–196.
[5]
Ibid., 169–180.
[6]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[7]
Ibid., 35–44.
[8]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[9]
Ibid., 160–175.
[10]
W.V.O. Quine, “Two Dogmas of Empiricism,” The Philosophical Review
60, no. 1 (1951): 20–43.
[11]
Ibid., 39–43.
[12]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 1–17.
[13]
Ibid., 23–40.
[14]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 3–22.
[15]
Ibid., 5–10.
[16]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[17]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953); Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962).
[18]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 10–22.
[19]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism, 170–175.
[20]
Ibid., 160–165.
[21]
Richard Rorty, Truth and Progress, 23–40.
[22]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 35–44.
[23]
Ibid., 40–44.
[24]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 389–394.
[25]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[26]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 189–198.
[27]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
91–110.
[28]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981); Jürgen Habermas, Truth
and Justification (Cambridge: MIT
Press, 2003).
8.
Neo-Pragmatisme Richard Rorty
Neo-pragmatisme
merupakan inti dari proyek filosofis Richard Rorty dalam merekonstruksi
filsafat kontemporer. Berangkat dari kritik terhadap epistemologi tradisional
dan fondasionalisme, Rorty mengembangkan suatu pendekatan yang menekankan peran
bahasa, praktik sosial, dan kontingensi dalam memahami kebenaran dan
pengetahuan. Neo-pragmatisme ini tidak sekadar melanjutkan tradisi pragmatisme
klasik, tetapi juga mentransformasikannya secara radikal dengan menolak ambisi
epistemologis untuk menemukan dasar universal bagi pengetahuan.¹
8.1.
Akar Pragmatisme dan
Rekonstruksi Rorty
Neo-pragmatisme
Rorty berakar pada tradisi pragmatisme Amerika yang dikembangkan oleh Charles
Sanders Peirce, William James, dan John Dewey. Dalam pragmatisme klasik,
kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang memiliki konsekuensi praktis dalam
pengalaman manusia, bukan sekadar kesesuaian abstrak dengan realitas.²
Namun, Rorty
menganggap bahwa pragmatisme klasik masih mempertahankan sisa-sisa epistemologi
tradisional, terutama dalam upaya untuk menjelaskan hubungan antara pengalaman
dan realitas.³ Oleh karena itu, ia mengusulkan versi neo-pragmatisme yang lebih
konsisten dalam menolak representasionalisme dan fondasionalisme.⁴ Dalam
kerangka ini, filsafat tidak lagi berfungsi sebagai disiplin yang mencari dasar
pengetahuan, melainkan sebagai bagian dari percakapan budaya yang lebih luas.⁵
8.2.
Kebenaran sebagai
“What Works”
Salah satu ciri
utama neo-pragmatisme Rorty adalah redefinisi konsep kebenaran. Berbeda dengan
teori korespondensi yang mendominasi epistemologi tradisional, Rorty memahami
kebenaran dalam arti pragmatis, yaitu sebagai apa yang “berfungsi” (what
works) dalam praktik sosial.⁶
Pandangan ini
terinspirasi dari gagasan William James yang menyatakan bahwa kebenaran adalah
apa yang terbukti berguna dalam pengalaman manusia.⁷ Namun, Rorty melangkah
lebih jauh dengan menolak upaya untuk memberikan definisi filosofis yang tetap
tentang kebenaran.⁸ Ia berpendapat bahwa “kebenaran” hanyalah istilah
kehormatan yang kita berikan pada keyakinan yang berhasil bertahan dalam
praktik diskursif komunitas.⁹
Dengan demikian,
kebenaran tidak bersifat absolut atau independen dari manusia, melainkan
bergantung pada konteks sosial dan historis.¹⁰ Pendekatan ini menggeser fokus
dari pencarian esensi kebenaran menuju analisis bagaimana klaim-klaim kebenaran
digunakan dan dipertahankan dalam kehidupan sosial.
8.3.
Bahasa sebagai Alat,
bukan Representasi
Neo-pragmatisme
Rorty juga ditandai oleh pandangannya tentang bahasa. Ia menolak
representasionalisme yang menganggap bahasa sebagai cermin realitas, dan
menggantinya dengan pandangan bahwa bahasa adalah alat (tool)
yang digunakan manusia untuk mencapai tujuan tertentu.¹¹
Pandangan ini
dipengaruhi oleh Ludwig Wittgenstein, yang menekankan bahwa makna bahasa
ditentukan oleh penggunaannya dalam praktik sosial (language games).¹² Rorty mengadopsi
gagasan ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada hubungan esensial antara bahasa
dan realitas; yang ada hanyalah berbagai cara berbicara tentang dunia yang
berbeda-beda.¹³
Selain itu, pengaruh
Donald Davidson juga terlihat dalam penolakan terhadap skema konseptual yang
memisahkan bahasa dari dunia.¹⁴ Davidson menegaskan bahwa pemahaman bahasa
tidak memerlukan representasi mental yang mencerminkan realitas, melainkan
bergantung pada interpretasi dalam konteks komunikasi.¹⁵
Dengan demikian,
bahasa dalam neo-pragmatisme Rorty dipahami sebagai praktik sosial yang
dinamis, bukan sebagai sistem representasi yang statis.
8.4.
Solidaritas
menggantikan Objektivitas
Salah satu inovasi
penting dalam pemikiran Rorty adalah penggantian konsep objektivitas dengan
solidaritas. Dalam epistemologi tradisional, objektivitas dianggap sebagai
standar utama untuk menilai kebenaran. Namun, Rorty menolak konsep ini karena
dianggap bergantung pada asumsi fondasionalisme.¹⁶
Sebagai gantinya, ia
mengusulkan solidaritas sebagai dasar bagi kehidupan intelektual dan sosial.
Solidaritas merujuk pada kesediaan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang
lain dalam kerangka komunitas.¹⁷ Dalam pandangan ini, yang terpenting bukanlah
menemukan kebenaran objektif, tetapi membangun kesepahaman yang memungkinkan
kehidupan bersama yang lebih baik.¹⁸
Konsep ini
berkembang secara lebih eksplisit dalam Contingency, Irony, and Solidarity,
di mana Rorty menekankan pentingnya empati dan imajinasi dalam membangun
hubungan sosial.¹⁹ Ia berargumen bahwa solidaritas tidak didasarkan pada
prinsip universal, melainkan pada kemampuan manusia untuk merasakan penderitaan
orang lain dan meresponsnya secara etis.²⁰
8.5.
Filsafat sebagai
Percakapan Kultural
Dalam kerangka
neo-pragmatisme, Rorty juga merekonstruksi peran filsafat. Ia menolak pandangan
bahwa filsafat memiliki otoritas khusus dalam menentukan kebenaran atau
memberikan dasar bagi ilmu pengetahuan.²¹ Sebaliknya, filsafat dipahami sebagai
bagian dari percakapan kultural yang lebih luas, sejajar dengan sastra, seni,
dan ilmu sosial.²²
Pendekatan ini
menunjukkan bahwa filsafat tidak lagi berfungsi sebagai disiplin yang bersifat
fundamental, melainkan sebagai praktik interpretatif yang berkontribusi pada
pemahaman manusia tentang dirinya dan dunia.²³ Dalam hal ini, Rorty mendekati
tradisi hermeneutik yang dikembangkan oleh Hans-Georg Gadamer, yang menekankan
dialog sebagai inti dari pemahaman.²⁴
8.6.
Implikasi
Neo-Pragmatisme
Neo-pragmatisme
Rorty memiliki implikasi yang luas dalam berbagai bidang filsafat dan ilmu
sosial. Pertama, ia membuka ruang bagi pluralisme epistemologis, di mana
berbagai perspektif dapat coexist tanpa harus direduksi ke dalam satu sistem
universal.²⁵ Kedua, ia menekankan pentingnya dialog dan toleransi dalam
menghadapi perbedaan pandangan.²⁶
Ketiga, ia menantang
klaim-klaim absolut yang sering digunakan untuk melegitimasi kekuasaan
epistemik dan politik.²⁷ Namun, pendekatan ini juga menimbulkan kritik,
terutama terkait kemungkinan relativisme dan melemahnya dasar normatif dalam
pengetahuan. Para kritikus seperti Hilary Putnam dan Jürgen Habermas berargumen
bahwa tanpa konsep objektivitas, sulit untuk mempertahankan standar rasional
dalam diskursus publik.²⁸
Secara keseluruhan,
neo-pragmatisme Richard Rorty merupakan upaya untuk merekonstruksi filsafat
dengan menolak asumsi-asumsi dasar epistemologi tradisional dan menggantinya
dengan pendekatan yang lebih kontekstual, dialogis, dan pragmatis. Dengan
menekankan peran bahasa, praktik sosial, dan solidaritas, Rorty menawarkan
paradigma alternatif yang tidak hanya relevan dalam filsafat, tetapi juga dalam
memahami dinamika kehidupan manusia dalam masyarakat modern.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[2]
Charles S. Peirce, “How to Make Our Ideas Clear,” Popular Science Monthly
12 (1878): 286–302; William James, Pragmatism (New York: Longmans, Green, and Co., 1907); John
Dewey, Reconstruction in Philosophy (New York: Henry Holt, 1920).
[3]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 315–330.
[4]
Ibid., 330–350.
[5]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
91–110.
[6]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[7]
William James, Pragmatism, 45–60.
[8]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 1–17.
[9]
Ibid., 23–40.
[10]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 35–44.
[11]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 159–175.
[12]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953), §§1–43.
[13]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 5–22.
[14]
Donald Davidson, “On the Very Idea of a Conceptual Scheme,” Proceedings and Addresses of the American Philosophical
Association 47 (1974): 5–20.
[15]
Ibid., 15–20.
[16]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[17]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 189–198.
[18]
Ibid., 190–198.
[19]
Ibid., 3–22.
[20]
Ibid., 189–198.
[21]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 389–394.
[22]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[23]
Ibid., 100–110.
[24]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method (New York: Continuum,
2004), 269–307.
[25]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[26]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 168–180.
[27]
Ibid., 170–180.
[28]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981); Jürgen Habermas, Truth
and Justification (Cambridge: MIT
Press, 2003).
9.
Bahasa, Diskursus, dan Kontingensi
Dalam kerangka
neo-pragmatisme, Richard Rorty menempatkan bahasa, diskursus, dan kontingensi
sebagai elemen fundamental dalam memahami pengetahuan dan realitas. Berbeda
dengan epistemologi tradisional yang memandang bahasa sebagai medium
representasi objektif, Rorty menganggap bahasa sebagai praktik sosial yang
bersifat dinamis, historis, dan kontingen. Pendekatan ini tidak hanya
merekonstruksi konsep kebenaran, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap
hubungan antara manusia, dunia, dan makna.¹
9.1.
Bahasa sebagai Praktik
Sosial
Rorty menolak
pandangan representasionalisme yang menganggap bahasa sebagai cermin realitas.
Ia berargumen bahwa bahasa tidak memiliki fungsi utama untuk merepresentasikan
dunia secara objektif, melainkan sebagai alat yang digunakan manusia dalam
praktik sosial untuk mencapai tujuan tertentu.²
Pandangan ini
dipengaruhi secara kuat oleh Ludwig Wittgenstein, yang dalam Philosophical
Investigations menekankan bahwa makna suatu kata ditentukan oleh
penggunaannya dalam language games.³ Dalam perspektif
ini, bahasa tidak memiliki makna yang tetap atau esensial, melainkan berubah
sesuai dengan konteks penggunaan dalam kehidupan sehari-hari.⁴
Rorty mengembangkan
gagasan ini dengan menegaskan bahwa tidak ada “bahasa ideal” yang dapat
menggambarkan realitas secara sempurna.⁵ Sebaliknya, terdapat berbagai
“vokabulari” (vocabularies) yang digunakan oleh
komunitas berbeda untuk memahami dunia.⁶ Dengan demikian, bahasa dipahami
sebagai produk historis yang berkembang seiring dengan perubahan budaya dan
praktik sosial.
9.2.
Diskursus dan
Konstruksi Makna
Dalam kerangka
Rorty, diskursus memainkan peran sentral dalam pembentukan makna dan
pengetahuan. Diskursus tidak hanya dipahami sebagai komunikasi verbal, tetapi
sebagai keseluruhan praktik linguistik yang membentuk cara manusia memahami
dunia.⁷
Rorty menolak
gagasan bahwa terdapat standar universal untuk mengevaluasi diskursus.
Sebaliknya, ia berpendapat bahwa setiap komunitas memiliki kriteria sendiri
dalam menentukan apa yang dianggap rasional atau benar.⁸ Dengan demikian,
pengetahuan bukanlah hasil refleksi individu terhadap realitas objektif,
melainkan hasil interaksi dalam jaringan diskursus sosial.⁹
Pandangan ini
memiliki kesamaan dengan pendekatan hermeneutik yang dikembangkan oleh
Hans-Georg Gadamer, yang menekankan bahwa pemahaman selalu terjadi dalam
konteks tradisi dan dialog.¹⁰ Namun, Rorty melangkah lebih jauh dengan menolak
gagasan bahwa terdapat horizon universal yang dapat menjadi dasar bagi semua
bentuk pemahaman.¹¹
Selain itu, pengaruh
Michel Foucault juga dapat dilihat dalam penekanan pada hubungan antara
diskursus dan kekuasaan.¹² Meskipun Rorty tidak mengadopsi secara penuh
analisis Foucault, ia mengakui bahwa diskursus memainkan peran penting dalam
membentuk struktur sosial dan politik.¹³
9.3.
Kontingensi Bahasa dan
Pengetahuan
Konsep kontingensi
merupakan salah satu aspek paling penting dalam pemikiran Rorty. Dalam Contingency,
Irony, and Solidarity, ia menegaskan bahwa bahasa, keyakinan, dan
nilai-nilai manusia tidak memiliki dasar yang tetap atau esensial, melainkan
bersifat kontingen dan historis.¹⁴
Kontingensi bahasa
berarti bahwa tidak ada cara berbicara tentang dunia yang dapat dianggap
sebagai satu-satunya cara yang benar.¹⁵ Setiap bahasa atau vokabulari merupakan
hasil dari perkembangan historis yang spesifik, dan dapat digantikan oleh vokabulari
lain seiring waktu.¹⁶ Dengan demikian, tidak ada justifikasi final yang dapat
mengklaim keunggulan absolut suatu sistem pengetahuan.¹⁷
Rorty juga
menekankan bahwa kesadaran akan kontingensi ini tidak harus mengarah pada
skeptisisme atau nihilisme. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai peluang untuk
mengembangkan sikap “ironis”, yaitu kesadaran bahwa keyakinan kita bersifat
sementara dan terbuka untuk direvisi.¹⁸
9.4.
Redefinisi Relasi
antara Bahasa, Realitas, dan Kebenaran
Dalam epistemologi
tradisional, bahasa dianggap sebagai alat untuk menggambarkan realitas,
sementara kebenaran dipahami sebagai kesesuaian antara bahasa dan dunia. Rorty
menolak model ini dan mengusulkan bahwa tidak ada cara untuk membandingkan
bahasa dengan realitas secara langsung.¹⁹
Menurutnya, setiap
upaya untuk memahami realitas selalu dilakukan melalui bahasa, sehingga tidak
mungkin ada akses langsung ke “realitas murni” di luar diskursus.²⁰ Dengan
demikian, kebenaran tidak dapat dipahami sebagai korespondensi, melainkan
sebagai apa yang dapat dibenarkan dalam konteks diskursif tertentu.²¹
Pandangan ini juga
dipengaruhi oleh Donald Davidson, yang menolak dualisme antara skema konseptual
dan isi empiris.²² Davidson menunjukkan bahwa tidak ada pemisahan yang jelas
antara bahasa dan dunia, sehingga konsep representasi menjadi tidak relevan.²³
Rorty mengadopsi
gagasan ini untuk menegaskan bahwa hubungan antara bahasa dan realitas bukanlah
hubungan representasional, melainkan hubungan praktis yang dibentuk oleh penggunaan
bahasa dalam kehidupan sosial.²⁴
9.5.
Implikasi Filosofis
Pendekatan Rorty
terhadap bahasa, diskursus, dan kontingensi memiliki implikasi yang luas dalam
filsafat kontemporer. Pertama, ia menggeser fokus filsafat dari pencarian
kebenaran objektif menuju analisis praktik diskursif.²⁵ Kedua, ia membuka ruang
bagi pluralisme linguistik dan epistemologis, di mana berbagai cara berbicara
tentang dunia dapat coexist tanpa harus direduksi ke dalam satu sistem
universal.²⁶
Ketiga, ia
menekankan pentingnya kreativitas dalam penggunaan bahasa, karena perubahan
dalam vokabulari dapat menghasilkan cara baru dalam memahami realitas.²⁷ Dalam
hal ini, filsafat menjadi lebih dekat dengan sastra, karena keduanya sama-sama
berperan dalam menciptakan kemungkinan makna baru.²⁸
Namun, pendekatan
ini juga menghadapi kritik, terutama terkait kemungkinan relativisme dan
hilangnya dasar normatif dalam pengetahuan. Para kritikus seperti Jürgen
Habermas berargumen bahwa tanpa standar universal, sulit untuk mempertahankan
validitas komunikasi rasional.²⁹
Secara keseluruhan,
pemikiran Rorty tentang bahasa, diskursus, dan kontingensi menunjukkan
pergeseran mendasar dalam filsafat kontemporer. Dengan menolak
representasionalisme dan fondasionalisme, ia membuka ruang bagi pendekatan yang
lebih fleksibel, kontekstual, dan dialogis dalam memahami pengetahuan dan
realitas. Pendekatan ini tidak hanya mengubah cara kita memahami bahasa, tetapi
juga mengubah cara kita memahami diri kita sendiri sebagai makhluk yang hidup
dalam jaringan diskursus yang terus berkembang.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 3–22.
[2]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 159–175.
[3]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953), §§1–43.
[4]
Ibid., §§43–100.
[5]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), 160–175.
[6]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 6–10.
[7]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[8]
Ibid., 35–44.
[9]
Ibid., 44–50.
[10]
Hans-Georg Gadamer, Truth
and Method (New York: Continuum,
2004), 269–307.
[11]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
91–110.
[12]
Michel Foucault, The Archaeology of
Knowledge (New York: Pantheon Books,
1972), 27–49.
[13]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 173–190.
[14]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 3–22.
[15]
Ibid., 5–10.
[16]
Ibid., 10–15.
[17]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[18]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 73–95.
[19]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 170–180.
[20]
Ibid., 175–185.
[21]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 21–34.
[22]
Donald Davidson, “On the Very Idea of a Conceptual Scheme,” Proceedings and Addresses of the American Philosophical
Association 47 (1974): 5–20.
[23]
Ibid., 15–20.
[24]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 5–22.
[25]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[26]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[27]
Richard Rorty, Truth and Progress, 1–17.
[28]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 94–110.
[29]
Jürgen Habermas, Truth and Justification (Cambridge: MIT Press, 2003), 35–60.
10.
Konsep “Ironist” dan Subjektivitas
Dalam kerangka
neo-pragmatisme, Richard Rorty mengembangkan konsep “ironist” sebagai salah
satu gagasan kunci untuk memahami subjektivitas manusia dalam dunia yang tanpa fondasi
metafisik. Konsep ini secara sistematis diuraikan dalam karya Contingency,
Irony, and Solidarity, yang menandai pergeseran pemikiran Rorty
dari kritik epistemologis menuju refleksi etis dan eksistensial.¹ Dalam konteks
ini, subjektivitas tidak lagi dipahami sebagai entitas esensial yang tetap,
melainkan sebagai konstruksi historis dan linguistik yang bersifat kontingen.²
10.1.
Definisi “Ironist”
Rorty mendefinisikan
“ironist” sebagai individu yang memiliki kesadaran reflektif terhadap
kontingensi bahasa, keyakinan, dan identitasnya.³ Seorang ironist menyadari
bahwa kosakata yang ia gunakan untuk memahami dirinya dan dunia bukanlah
sesuatu yang final atau absolut, melainkan hasil dari sejarah dan kebetulan
budaya.⁴
Menurut Rorty,
terdapat tiga karakteristik utama seorang ironist:
1)
Ia memiliki keraguan radikal
terhadap kosakata final (final vocabulary) yang
digunakannya.
2)
Ia menyadari bahwa argumen
rasional tidak dapat sepenuhnya membenarkan kosakata tersebut.
3)
Ia tidak percaya bahwa kosakata
tersebut memiliki hubungan khusus dengan realitas.⁵
Dengan demikian,
ironist bukanlah skeptis dalam arti tradisional, melainkan individu yang
menyadari keterbatasan bahasa tanpa harus terjebak dalam nihilisme.⁶
10.2.
Konsep “Final
Vocabulary”
Konsep penting yang
terkait dengan ironist adalah “final vocabulary”, yaitu kumpulan kata dan
konsep yang digunakan individu untuk menjelaskan dan membenarkan tindakan,
keyakinan, serta identitasnya.⁷ Dalam epistemologi tradisional, kosakata
semacam ini sering dianggap memiliki dasar rasional atau metafisik yang kuat.
Namun, Rorty menolak
pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada kosakata yang bersifat
final dalam arti absolut.⁸ Setiap kosakata selalu terbuka untuk revisi dan
perubahan seiring dengan perkembangan sejarah dan budaya.⁹ Oleh karena itu,
subjektivitas manusia tidak memiliki fondasi yang tetap, melainkan selalu
berada dalam proses pembentukan ulang melalui bahasa.¹⁰
Pandangan ini
menunjukkan bahwa identitas individu tidak bersifat esensial, tetapi merupakan
hasil dari praktik diskursif yang terus berkembang.¹¹ Dengan demikian,
subjektivitas dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan kontingen, bukan
sebagai substansi yang tetap.
10.3.
Subjektivitas sebagai
Konstruksi Linguistik
Dalam kerangka
Rorty, subjektivitas tidak dapat dipisahkan dari bahasa. Ia menolak pandangan
tradisional yang menganggap subjek sebagai entitas yang memiliki esensi tetap
dan independen dari konteks sosial.¹²
Sebaliknya, Rorty
berpendapat bahwa identitas individu dibentuk melalui bahasa yang digunakan
dalam komunitas tertentu.¹³ Dalam hal ini, ia dipengaruhi oleh pemikiran Ludwig
Wittgenstein yang menekankan bahwa makna berasal dari penggunaan dalam praktik
sosial, serta oleh Martin Heidegger yang menekankan keterkaitan antara bahasa
dan keberadaan manusia.¹⁴
Dengan demikian,
subjektivitas bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang
diciptakan melalui proses interpretasi dan redeskripsi (redescription).¹⁵
Rorty menekankan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan kembali
dirinya melalui perubahan kosakata yang digunakan.¹⁶
10.4.
Ironist dan Kebebasan
Individu
Konsep ironist juga
memiliki implikasi penting terhadap pemahaman tentang kebebasan individu. Dalam
pandangan Rorty, kebebasan tidak terletak pada kemampuan untuk menemukan kebenaran
objektif, melainkan pada kemampuan untuk menciptakan diri melalui
redeskripsi.¹⁷
Seorang ironist
bebas karena ia tidak terikat pada satu sistem keyakinan yang dianggap
absolut.¹⁸ Ia mampu melihat berbagai kemungkinan cara untuk memahami dirinya dan
dunia, serta memilih di antara alternatif tersebut secara kreatif.¹⁹
Namun, kebebasan ini
bukan tanpa batas. Rorty menekankan bahwa kebebasan individu harus diimbangi
dengan komitmen terhadap solidaritas sosial.²⁰ Dalam hal ini, ia mengembangkan
konsep “liberal ironist”, yaitu individu yang menggabungkan kesadaran akan
kontingensi dengan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.²¹
10.5.
Relasi antara Ironi
dan Solidaritas
Salah satu aspek
paling menarik dari pemikiran Rorty adalah upayanya untuk menggabungkan ironi
dengan solidaritas. Pada satu sisi, ironist menyadari bahwa semua keyakinan
bersifat kontingen dan tidak memiliki dasar absolut.²² Pada sisi lain, ia tetap
berkomitmen pada nilai-nilai etis seperti keadilan dan pengurangan
penderitaan.²³
Rorty menolak
gagasan bahwa komitmen moral harus didasarkan pada prinsip universal atau
metafisik.²⁴ Sebaliknya, ia berpendapat bahwa solidaritas dapat dibangun
melalui empati dan imajinasi, yaitu kemampuan untuk memahami penderitaan orang
lain.²⁵
Dalam konteks ini, sastra
dan narasi memainkan peran penting dalam membentuk sensibilitas moral, karena
keduanya memungkinkan individu untuk melihat dunia dari perspektif orang
lain.²⁶ Dengan demikian, etika dalam kerangka Rorty bersifat pragmatis dan
kontekstual, bukan normatif dalam arti tradisional.
10.6.
Kritik dan Evaluasi
Konsep ironist dan
subjektivitas dalam pemikiran Rorty telah menimbulkan berbagai kritik. Salah
satu kritik utama datang dari Jürgen Habermas, yang berargumen bahwa pendekatan
Rorty cenderung mengabaikan dimensi normatif dalam rasionalitas.²⁷ Menurut
Habermas, tanpa prinsip universal, sulit untuk mempertahankan dasar bagi kritik
sosial dan moral.²⁸
Selain itu, Hilary
Putnam juga mengkritik kecenderungan relativistik dalam pemikiran Rorty, terutama
dalam hal kebenaran dan rasionalitas.²⁹ Putnam berpendapat bahwa meskipun
fondasionalisme dapat dikritik, tetap diperlukan konsep objektivitas yang
minimal untuk menjaga koherensi diskursus ilmiah dan etis.³⁰
Namun demikian, para
pendukung Rorty berargumen bahwa konsep ironist justru menawarkan alternatif
yang lebih fleksibel dan humanistik dalam memahami subjektivitas.³¹ Dengan
menekankan kontingensi dan kreativitas, Rorty membuka ruang bagi pemahaman yang
lebih dinamis tentang identitas manusia.
Secara keseluruhan,
konsep “ironist” dalam pemikiran Richard Rorty merepresentasikan upaya untuk
merekonstruksi subjektivitas dalam dunia yang tanpa fondasi absolut. Dengan
menekankan kontingensi bahasa dan identitas, Rorty menawarkan paradigma baru
yang menempatkan kebebasan, kreativitas, dan solidaritas sebagai elemen utama
dalam kehidupan manusia. Pendekatan ini tidak hanya mengubah cara kita memahami
diri kita sendiri, tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam refleksi etis dan
sosial dalam filsafat kontemporer.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 3–22.
[2]
Ibid., 5–10.
[3]
Ibid., 73–95.
[4]
Ibid., 74–80.
[5]
Ibid., 73–75.
[6]
Ibid., 83–90.
[7]
Ibid., 73–80.
[8]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[9]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[10]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 5–10.
[11]
Ibid., 10–15.
[12]
Richard Rorty, Philosophy and the Mirror
of Nature (Princeton: Princeton
University Press, 1979), 159–175.
[13]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 5–22.
[14]
Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953); Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962).
[15]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 9–15.
[16]
Ibid., 27–30.
[17]
Ibid., 27–40.
[18]
Ibid., 28–35.
[19]
Ibid., 35–40.
[20]
Ibid., 189–198.
[21]
Ibid., 73–95.
[22]
Ibid., 74–80.
[23]
Ibid., 189–198.
[24]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[25]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 189–198.
[26]
Ibid., 140–160.
[27]
Jürgen Habermas, Truth and Justification (Cambridge: MIT Press, 2003), 35–60.
[28]
Ibid., 60–85.
[29]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 49–72.
[30]
Ibid., 72–90.
[31]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 45–60.
11.
Dimensi Etika dan Politik
Pemikiran Richard
Rorty tidak berhenti pada kritik epistemologis, tetapi berkembang secara
signifikan dalam ranah etika dan politik. Dalam kerangka neo-pragmatisme, Rorty
berupaya merekonstruksi dasar-dasar etika dan politik tanpa bergantung pada
fondasi metafisik atau prinsip universal yang absolut. Ia menolak pendekatan
tradisional yang mencari legitimasi moral melalui rasionalitas universal, dan
menggantinya dengan pendekatan pragmatis yang menekankan solidaritas, empati,
dan praktik sosial.¹
11.1.
Kritik terhadap
Fondasi Metafisik dalam Etika
Dalam tradisi
filsafat Barat, etika sering didasarkan pada prinsip-prinsip universal yang
dianggap memiliki validitas objektif, seperti hukum moral rasional dalam
pemikiran Immanuel Kant.² Pendekatan ini mengasumsikan bahwa terdapat dasar
rasional yang dapat menjamin keabsahan norma-norma moral secara universal.
Rorty menolak asumsi
tersebut dengan menegaskan bahwa tidak ada fondasi metafisik yang dapat
memberikan legitimasi absolut bagi nilai-nilai moral.³ Ia berargumen bahwa
upaya untuk menemukan dasar universal bagi etika merupakan kelanjutan dari
proyek fondasionalisme dalam epistemologi, yang telah terbukti problematis.⁴
Sebagai alternatif,
Rorty mengusulkan pendekatan pragmatis yang memahami etika sebagai hasil dari
praktik sosial dan historis.⁵ Dalam pandangan ini, nilai-nilai moral tidak
ditemukan melalui refleksi rasional terhadap prinsip universal, melainkan
dibentuk melalui interaksi dalam komunitas manusia.⁶
11.2.
Liberalisme Pragmatis
Rorty mengembangkan
konsep “liberalisme pragmatis” sebagai kerangka etika-politik yang tidak bergantung
pada fondasi metafisik. Dalam pendekatan ini, liberalisme tidak dipahami
sebagai sistem yang didasarkan pada kebenaran universal, melainkan sebagai
proyek historis yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan dan memperluas
kebebasan manusia.⁷
Dalam Contingency,
Irony, and Solidarity, Rorty menggambarkan ideal “liberal ironist”,
yaitu individu yang menyadari kontingensi keyakinannya, tetapi tetap
berkomitmen pada nilai-nilai seperti kebebasan, toleransi, dan solidaritas.⁸
Dengan demikian, komitmen terhadap liberalisme tidak didasarkan pada
justifikasi filosofis yang absolut, melainkan pada preferensi moral yang
berkembang dalam sejarah.⁹
Pendekatan ini
menekankan bahwa tidak diperlukan fondasi metafisik untuk mempertahankan
nilai-nilai liberal; yang diperlukan adalah komitmen praktis untuk mengurangi
kekejaman (cruelty)
dan meningkatkan kesejahteraan manusia.¹⁰
11.3.
Solidaritas sebagai
Dasar Etika
Salah satu konsep
sentral dalam etika Rorty adalah solidaritas. Ia menggantikan konsep
objektivitas moral dengan solidaritas sebagai dasar bagi kehidupan etis.¹¹
Solidaritas tidak didasarkan pada pengakuan terhadap sifat universal manusia,
melainkan pada kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain dan
meresponsnya secara empatik.¹²
Rorty menekankan
bahwa solidaritas tidak bersifat natural atau given, melainkan harus dibangun
melalui proses sosial dan kultural.¹³ Dalam hal ini, ia menyoroti peran sastra,
sejarah, dan narasi dalam memperluas lingkup empati manusia.¹⁴ Melalui narasi,
individu dapat memahami pengalaman orang lain dan mengembangkan sensitivitas
moral yang lebih luas.
Pendekatan ini
menunjukkan bahwa etika dalam kerangka Rorty bersifat kontingen dan
kontekstual, namun tetap memiliki orientasi praktis yang jelas, yaitu
mengurangi penderitaan dan meningkatkan solidaritas sosial.¹⁵
11.4.
Demokrasi sebagai
Proyek Percakapan
Dalam ranah politik,
Rorty memandang demokrasi sebagai proyek percakapan yang terus berkembang,
bukan sebagai sistem yang didasarkan pada prinsip-prinsip metafisik yang
tetap.¹⁶ Ia menolak pandangan bahwa demokrasi harus dibenarkan melalui teori
kebenaran atau rasionalitas universal, dan lebih menekankan pada praktik dialog
dan deliberasi dalam masyarakat.¹⁷
Pandangan ini
sejalan dengan tradisi pragmatisme John Dewey, yang melihat demokrasi sebagai
bentuk kehidupan bersama yang didasarkan pada komunikasi dan partisipasi
aktif.¹⁸ Rorty mengembangkan gagasan ini dengan menekankan bahwa keberhasilan
demokrasi tidak bergantung pada fondasi filosofis, melainkan pada kemampuan
masyarakat untuk mempertahankan ruang dialog yang terbuka dan inklusif.¹⁹
Dalam konteks ini,
politik tidak lagi dipahami sebagai penerapan prinsip universal, tetapi sebagai
proses negosiasi yang melibatkan berbagai perspektif dan kepentingan.²⁰ Dengan
demikian, demokrasi menjadi arena di mana berbagai “vokabulari” dapat
berinteraksi dan bersaing secara produktif.
11.5.
Kritik terhadap
Rasionalitas Universal dalam Politik
Rorty juga
mengkritik pendekatan yang menekankan rasionalitas universal sebagai dasar
legitimasi politik, seperti yang dikembangkan oleh Jürgen Habermas.²¹ Menurut
Rorty, upaya untuk menemukan prinsip-prinsip universal bagi komunikasi rasional
merupakan bentuk lain dari fondasionalisme yang tidak perlu.²²
Sebaliknya, ia
berpendapat bahwa legitimasi politik tidak harus didasarkan pada konsensus
rasional yang universal, melainkan pada kesepakatan praktis yang dicapai dalam
konteks tertentu.²³ Dalam pandangan ini, politik bersifat kontingen dan
historis, serta selalu terbuka untuk revisi.²⁴
Namun demikian,
Rorty tidak menolak rasionalitas sepenuhnya. Ia hanya menolak klaim bahwa
rasionalitas memiliki dasar universal yang dapat dijadikan standar absolut.²⁵
Rasionalitas tetap penting, tetapi dipahami sebagai praktik sosial yang
berkembang dalam komunitas tertentu.
11.6.
Implikasi dan Kritik
Pendekatan etika dan
politik Rorty memiliki implikasi yang luas. Pertama, ia membuka ruang bagi
pluralisme moral dan politik, di mana berbagai nilai dan perspektif dapat
coexist tanpa harus direduksi ke dalam satu sistem universal.²⁶ Kedua, ia
menekankan pentingnya empati dan solidaritas sebagai dasar bagi kehidupan
sosial yang adil.²⁷
Namun, pendekatan
ini juga menghadapi kritik. Para kritikus berargumen bahwa tanpa fondasi
normatif yang kuat, sulit untuk mempertahankan kritik terhadap ketidakadilan
atau pelanggaran hak asasi manusia.²⁸ Jürgen Habermas, misalnya, menekankan
bahwa tanpa prinsip universal, legitimasi demokrasi dapat menjadi rapuh.²⁹
Selain itu, Hilary
Putnam juga mengkritik kecenderungan relativistik dalam pendekatan Rorty, yang
dianggap dapat melemahkan dasar rasional dalam etika.³⁰
Secara keseluruhan,
dimensi etika dan politik dalam pemikiran Richard Rorty menunjukkan upaya untuk
merekonstruksi dasar-dasar kehidupan sosial tanpa bergantung pada fondasi
metafisik. Dengan menekankan solidaritas, empati, dan dialog, Rorty menawarkan
paradigma alternatif yang lebih fleksibel dan kontekstual, sekaligus menantang
cara tradisional dalam memahami etika dan politik. Pendekatan ini membuka ruang
bagi refleksi yang lebih luas tentang bagaimana manusia dapat hidup bersama
dalam dunia yang plural dan kontingen.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[2]
Immanuel Kant, Groundwork of the
Metaphysics of Morals (Cambridge:
Cambridge University Press, 1997).
[3]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 1–20.
[4]
Ibid., 21–34.
[5]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), 160–175.
[6]
Ibid., 170–175.
[7]
Richard Rorty, Achieving Our Country (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 14–30.
[8]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 73–95.
[9]
Ibid., 90–95.
[10]
Ibid., 189–198.
[11]
Ibid., 189–198.
[12]
Ibid., 190–198.
[13]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 168–180.
[14]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 140–160.
[15]
Ibid., 189–198.
[16]
Richard Rorty, Achieving Our Country, 30–45.
[17]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[18]
John Dewey, The Public and Its
Problems (Athens: Ohio University
Press, 1927).
[19]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 100–110.
[20]
Ibid., 105–110.
[21]
Jürgen Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: MIT Press, 1996).
[22]
Richard Rorty, Objectivity, Relativism,
and Truth, 173–190.
[23]
Ibid., 180–190.
[24]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 170–180.
[25]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[26]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[27]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 189–198.
[28]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981).
[29]
Jürgen Habermas, Truth and Justification (Cambridge: MIT Press, 2003), 35–60.
[30]
Putnam, Reason, Truth and
History, 72–90.
12.
Relevansi Pemikiran Rorty dalam Konteks
Kontemporer
Pemikiran Richard
Rorty memiliki relevansi yang semakin signifikan dalam konteks dunia
kontemporer yang ditandai oleh pluralisme epistemologis, krisis otoritas
kebenaran, serta transformasi sosial yang cepat. Dalam situasi di mana
klaim-klaim kebenaran tidak lagi diterima secara universal, pendekatan
neo-pragmatis Rorty menawarkan kerangka alternatif untuk memahami dinamika
pengetahuan, bahasa, dan kehidupan sosial secara lebih fleksibel dan kontekstual.¹
12.1.
Post-Truth dan Krisis
Kebenaran
Salah satu fenomena
paling menonjol dalam era kontemporer adalah munculnya apa yang sering disebut
sebagai post-truth,
yaitu kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini
publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi.² Dalam konteks ini,
kritik Rorty terhadap konsep kebenaran sebagai korespondensi menjadi sangat
relevan.
Rorty menolak
gagasan bahwa kebenaran memiliki dasar objektif yang independen dari praktik
sosial, dan menggantinya dengan pandangan bahwa kebenaran adalah apa yang dapat
dibenarkan dalam komunitas tertentu.³ Pendekatan ini membantu menjelaskan
mengapa dalam masyarakat modern terdapat berbagai “rezim kebenaran” yang saling
bersaing, tanpa adanya otoritas tunggal yang dapat menentukan kebenaran secara
absolut.⁴
Namun, relevansi ini
bersifat ambivalen. Di satu sisi, pemikiran Rorty memberikan alat untuk
memahami pluralitas klaim kebenaran. Di sisi lain, kritik terhadap objektivitas
juga berpotensi disalahpahami sebagai legitimasi bagi relativisme ekstrem.⁵
Oleh karena itu, penting untuk membaca Rorty secara kritis, dengan tetap
mempertimbangkan batas-batas pragmatis dari pendekatannya.
12.2.
Pluralisme Budaya dan
Dialog Antar-Peradaban
Dalam dunia yang
semakin terhubung secara global, pluralisme budaya menjadi realitas yang tidak
terelakkan. Perbedaan nilai, keyakinan, dan tradisi sering kali menimbulkan
konflik, terutama ketika masing-masing pihak mengklaim kebenaran universal.
Dalam konteks ini,
pendekatan Rorty yang menekankan kontingensi dan dialog menawarkan alternatif
yang konstruktif. Ia berargumen bahwa tidak perlu mencari dasar universal untuk
menyatukan perbedaan, melainkan cukup dengan membangun solidaritas melalui
komunikasi dan empati.⁶
Pendekatan ini
memiliki implikasi penting bagi dialog antar-peradaban, termasuk dalam hubungan
antara tradisi Barat dan non-Barat. Dengan menolak klaim superioritas
epistemologis, Rorty membuka ruang bagi interaksi yang lebih egaliter dan
dialogis.⁷ Namun demikian, pendekatan ini juga menghadapi tantangan, terutama
dalam konteks di mana nilai-nilai tertentu dianggap tidak dapat dinegosiasikan.
12.3.
Implikasi dalam
Pendidikan dan Ilmu Sosial
Pemikiran Rorty juga
memiliki relevansi dalam bidang pendidikan, khususnya dalam pergeseran dari
model pendidikan yang berorientasi pada transmisi kebenaran menuju model yang
menekankan dialog, kreativitas, dan pembentukan karakter.⁸
Rorty berpendapat
bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk menemukan kebenaran objektif, melainkan
untuk memperluas imajinasi dan kemampuan individu dalam berpartisipasi dalam
percakapan sosial.⁹ Dalam hal ini, pendidikan dipahami sebagai proses
pembentukan warga yang mampu berpikir kritis, toleran, dan terbuka terhadap
perbedaan.¹⁰
Dalam ilmu sosial,
pendekatan Rorty mendorong pergeseran dari pencarian hukum universal menuju
analisis kontekstual yang lebih sensitif terhadap dinamika budaya dan
historis.¹¹ Hal ini sejalan dengan perkembangan teori sosial kontemporer yang
menekankan konstruksi sosial terhadap realitas.
12.4.
Demokrasi, Media, dan
Ruang Publik
Dalam konteks
politik kontemporer, pemikiran Rorty memberikan kontribusi penting dalam
memahami dinamika demokrasi dan ruang publik. Ia menekankan bahwa demokrasi
tidak bergantung pada fondasi filosofis yang absolut, melainkan pada praktik
komunikasi yang terbuka dan inklusif.¹²
Dalam era digital,
di mana media sosial memainkan peran besar dalam membentuk opini publik,
pendekatan ini menjadi semakin relevan. Diskursus publik tidak lagi
dikendalikan oleh institusi tertentu, melainkan oleh jaringan komunikasi yang
kompleks dan terfragmentasi.¹³
Rorty menawarkan
perspektif bahwa tantangan utama demokrasi bukanlah menemukan kebenaran
objektif, tetapi menjaga ruang dialog yang memungkinkan pertukaran gagasan
secara bebas.¹⁴ Namun, dalam praktiknya, ruang publik digital sering kali
dipenuhi oleh polarisasi dan disinformasi, yang menantang optimisme pragmatis
Rorty.
12.5.
Relevansi dalam
Konteks Etika Global
Dalam konteks
globalisasi, isu-isu seperti hak asasi manusia, keadilan sosial, dan lingkungan
hidup menuntut pendekatan etika yang mampu melampaui batas-batas budaya. Rorty
menawarkan pendekatan yang tidak bergantung pada prinsip universal, tetapi pada
perluasan solidaritas melalui empati.¹⁵
Ia berargumen bahwa
kemajuan moral tidak terjadi melalui penemuan prinsip baru, tetapi melalui
peningkatan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain.¹⁶ Dalam hal ini,
narasi, sastra, dan media memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran
moral global.¹⁷
Namun, pendekatan
ini juga menghadapi kritik, terutama terkait dengan kemampuannya untuk
memberikan dasar normatif yang kuat bagi isu-isu global yang kompleks. Para
kritikus seperti Jürgen Habermas menekankan pentingnya prinsip universal dalam
menjaga legitimasi etika global.¹⁸
12.6.
Evaluasi Kritis Relevansi
Rorty
Relevansi pemikiran
Rorty dalam konteks kontemporer tidak dapat dilepaskan dari ambivalensinya. Di
satu sisi, ia menawarkan paradigma yang lebih fleksibel dan adaptif dalam
menghadapi kompleksitas dunia modern. Di sisi lain, pendekatannya menimbulkan
pertanyaan serius tentang batas-batas relativisme dan kemungkinan dasar
normatif dalam pengetahuan dan etika.¹⁹
Para filsuf seperti
Hilary Putnam mengkritik bahwa tanpa konsep objektivitas yang memadai, sulit
untuk mempertahankan standar rasional dalam diskursus publik.²⁰ Kritik ini
menunjukkan bahwa meskipun Rorty berhasil mendekonstruksi epistemologi
tradisional, upaya rekonstruksinya masih menyisakan tantangan yang belum
sepenuhnya terpecahkan.
Secara keseluruhan,
pemikiran Richard Rorty memiliki relevansi yang luas dalam konteks kontemporer,
terutama dalam memahami pluralisme, dinamika diskursus, dan tantangan terhadap
konsep kebenaran. Dengan menekankan kontingensi, dialog, dan solidaritas, Rorty
menawarkan pendekatan yang lebih terbuka dan humanistik dalam menghadapi
kompleksitas dunia modern. Namun, relevansi ini harus dipahami secara kritis,
dengan mempertimbangkan baik kontribusi maupun keterbatasan dari paradigma
neo-pragmatis yang ia kembangkan.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[2]
Lee McIntyre, Post-Truth (Cambridge: MIT Press, 2018), 1–10.
[3]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[4]
Ibid., 35–44.
[5]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 49–72.
[6]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 189–198.
[7]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[8]
Ibid., 100–110.
[9]
Ibid., 105–110.
[10]
Ibid., 110–120.
[11]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[12]
Richard Rorty, Achieving Our Country (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 30–45.
[13]
Manuel Castells, Networks of Outrage and
Hope (Cambridge: Polity Press,
2012), 1–20.
[14]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 170–180.
[15]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity, 189–198.
[16]
Ibid., 190–198.
[17]
Ibid., 140–160.
[18]
Jürgen Habermas, Truth and Justification (Cambridge: MIT Press, 2003), 35–60.
[19]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[20]
Putnam, Reason, Truth and
History, 72–90.
13.
Perspektif Kritis dan Evaluasi Filosofis
Pemikiran Richard
Rorty telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendekonstruksi
epistemologi tradisional dan menawarkan paradigma alternatif melalui
neo-pragmatisme. Namun, sebagaimana setiap proyek filosofis yang ambisius,
gagasan Rorty tidak terlepas dari berbagai kritik dan evaluasi filosofis yang
mendalam. Perspektif kritis ini penting untuk menilai sejauh mana pemikiran
Rorty mampu menjawab persoalan-persoalan mendasar dalam epistemologi, etika,
dan politik, serta untuk mengidentifikasi batas-batas konseptual dari
pendekatannya.
13.1.
Kritik terhadap
Relativisme Epistemologis
Salah satu kritik
paling umum terhadap Rorty adalah bahwa pendekatannya cenderung mengarah pada
relativisme epistemologis. Dengan menolak konsep kebenaran objektif dan
menggantinya dengan justifikasi berbasis komunitas, Rorty dianggap melemahkan
dasar untuk membedakan antara klaim pengetahuan yang valid dan yang tidak.¹
Hilary Putnam,
misalnya, mengkritik bahwa meskipun fondasionalisme dapat ditolak, tetap
diperlukan konsep objektivitas minimal untuk menjaga koherensi diskursus
rasional.² Putnam berargumen bahwa tanpa standar objektif, sulit untuk
menjelaskan mengapa beberapa klaim pengetahuan lebih baik daripada yang lain.³
Rorty menanggapi
kritik ini dengan menegaskan bahwa ia tidak menganjurkan relativisme ekstrem,
melainkan pragmatisme yang menekankan praktik justifikasi dalam komunitas.⁴
Namun, bagi para kritikus, jawaban ini dianggap belum cukup untuk mengatasi
kekhawatiran tentang hilangnya standar normatif dalam epistemologi.
13.2.
Kritik dari Perspektif
Rasionalitas Komunikatif
Kritik penting
lainnya datang dari Jürgen Habermas, yang mengembangkan teori rasionalitas
komunikatif. Habermas mengakui kontribusi Rorty dalam mengkritik
fondasionalisme, tetapi menilai bahwa Rorty terlalu jauh dalam menolak konsep
rasionalitas universal.⁵
Menurut Habermas, meskipun
pengetahuan bersifat kontekstual, tetap diperlukan prinsip-prinsip universal
untuk menjamin validitas komunikasi dan memungkinkan kritik terhadap
kekuasaan.⁶ Tanpa prinsip semacam itu, diskursus publik berisiko menjadi
sekadar permainan retorika tanpa dasar normatif yang kuat.⁷
Habermas juga
mengkritik bahwa pendekatan Rorty terlalu mengandalkan solidaritas tanpa
memberikan justifikasi normatif yang memadai.⁸ Dalam pandangannya, solidaritas
harus dilengkapi dengan rasionalitas yang memungkinkan evaluasi kritis terhadap
norma-norma sosial.⁹
13.3.
Kritik dari Realisme
Filosofis
Dari perspektif
realisme filosofis, pemikiran Rorty dianggap problematis karena menolak
hubungan representasional antara bahasa dan realitas. Para realis berargumen
bahwa meskipun pengetahuan selalu dimediasi oleh bahasa, tetap ada realitas
objektif yang menjadi referensi bagi klaim-klaim kebenaran.¹⁰
Tokoh seperti John
Searle menekankan bahwa bahasa memiliki kemampuan untuk merepresentasikan
dunia, dan bahwa penolakan terhadap representasionalisme dapat mengarah pada
kesulitan dalam menjelaskan hubungan antara pengetahuan dan realitas.¹¹
Dalam konteks ini,
kritik terhadap Rorty berfokus pada pertanyaan: jika tidak ada hubungan antara
bahasa dan realitas, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kebenaran atau
kesalahan?¹² Rorty menjawab bahwa pertanyaan tersebut berangkat dari asumsi
epistemologi tradisional yang justru ia tolak.¹³ Namun, bagi para realis,
jawaban ini dianggap menghindari masalah daripada menyelesaikannya.
13.4.
Evaluasi terhadap
Anti-Fondasionalisme
Anti-fondasionalisme
Rorty merupakan salah satu aspek paling inovatif sekaligus kontroversial dari
pemikirannya. Di satu sisi, pendekatan ini berhasil menunjukkan kelemahan dalam
upaya mencari dasar absolut bagi pengetahuan.¹⁴ Ia juga membuka ruang bagi
pluralisme epistemologis dan dialog antar perspektif.¹⁵
Namun, di sisi lain,
anti-fondasionalisme menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mempertahankan
legitimasi pengetahuan tanpa fondasi tertentu.¹⁶ Tanpa dasar normatif, sulit
untuk menjelaskan mengapa suatu keyakinan harus diterima atau ditolak.¹⁷
Beberapa filsuf
berpendapat bahwa Rorty terlalu cepat meninggalkan proyek epistemologi tanpa
memberikan alternatif yang cukup kuat.¹⁸ Dalam hal ini, pendekatan pragmatisnya
dianggap lebih bersifat deskriptif daripada normatif.¹⁹
13.5.
Evaluasi terhadap
Dimensi Etika dan Politik
Dalam ranah etika
dan politik, pemikiran Rorty juga menghadapi berbagai evaluasi kritis. Konsep
solidaritas yang ia tawarkan dianggap sebagai alternatif yang menarik terhadap
objektivitas moral, karena menekankan empati dan hubungan antarmanusia.²⁰
Namun, kritik muncul
terkait dengan ketiadaan dasar normatif yang kuat untuk menilai tindakan moral.
Tanpa prinsip universal, sulit untuk memberikan justifikasi terhadap
nilai-nilai seperti keadilan atau hak asasi manusia.²¹
Jürgen Habermas
menekankan bahwa tanpa kerangka normatif yang jelas, solidaritas dapat menjadi
terbatas pada komunitas tertentu dan tidak mampu menjangkau universalitas
etika.²² Sementara itu, Hilary Putnam menyoroti bahwa pendekatan Rorty berisiko
melemahkan dasar rasional bagi kritik terhadap ketidakadilan.²³
13.6.
Kontribusi Positif dan
Potensi Pengembangan
Meskipun menghadapi
berbagai kritik, pemikiran Rorty tetap memiliki kontribusi yang signifikan
dalam filsafat kontemporer. Ia berhasil mendekonstruksi asumsi-asumsi dasar
epistemologi tradisional dan membuka ruang bagi pendekatan yang lebih
kontekstual, dialogis, dan pluralistik.²⁴
Selain itu,
penekanannya pada bahasa dan diskursus memberikan kontribusi penting dalam
memahami peran praktik sosial dalam pembentukan pengetahuan.²⁵ Dalam konteks
ini, Rorty dapat dilihat sebagai jembatan antara filsafat analitik dan
kontinental, serta sebagai pelopor dalam pengembangan filsafat pasca-epistemologis.²⁶
Potensi pengembangan
pemikiran Rorty terletak pada integrasi antara pragmatisme dan pendekatan
normatif yang lebih kuat.²⁷ Beberapa filsuf kontemporer berupaya menggabungkan
wawasan Rorty dengan teori rasionalitas komunikatif atau realisme kritis untuk
menghasilkan kerangka yang lebih seimbang.²⁸
Secara keseluruhan,
perspektif kritis terhadap pemikiran Richard Rorty menunjukkan bahwa meskipun
ia berhasil mengajukan kritik yang tajam terhadap epistemologi tradisional,
pendekatannya juga menimbulkan tantangan serius terkait relativisme, legitimasi
normatif, dan hubungan antara bahasa dan realitas. Evaluasi ini menunjukkan
bahwa pemikiran Rorty tidak dapat diterima secara utuh tanpa kritik, tetapi
juga tidak dapat diabaikan karena kontribusinya yang mendalam dalam
merekonstruksi filsafat kontemporer. Dengan demikian, pemikiran Rorty tetap
menjadi sumber refleksi yang produktif dan terbuka untuk pengembangan lebih
lanjut.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[2]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge
University Press, 1981), 49–72.
[3]
Ibid., 72–90.
[4]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[5]
Jürgen Habermas, Truth and Justification (Cambridge: MIT Press, 2003), 35–60.
[6]
Ibid., 60–85.
[7]
Ibid., 85–100.
[8]
Ibid., 90–100.
[9]
Ibid., 100–110.
[10]
Michael Devitt, Realism and Truth (Princeton: Princeton University Press, 1991), 1–20.
[11]
John Searle, The Construction of
Social Reality (New York: Free
Press, 1995), 150–170.
[12]
Ibid., 160–170.
[13]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 170–180.
[14]
Ibid., 315–330.
[15]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), 160–175.
[16]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 35–44.
[17]
Ibid., 40–44.
[18]
Simon Blackburn, Truth: A Guide (Oxford: Oxford University Press, 2005), 130–145.
[19]
Ibid., 140–145.
[20]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 189–198.
[21]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History, 72–90.
[22]
Jürgen Habermas, Between Facts and Norms (Cambridge: MIT Press, 1996), 35–60.
[23]
Putnam, Reason, Truth and
History, 72–90.
[24]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 20–35.
[25]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
91–110.
[26]
Voparil, Richard Rorty, 1–15.
[27]
Ibid., 45–60.
[28]
Ibid., 60–75.
14.
Sintesis dan Implikasi Teoretis
Setelah mengkaji
secara sistematis pemikiran Richard Rorty, terutama dalam kritiknya terhadap
epistemologi tradisional, konsep anti-fondasionalisme, serta pengembangan
neo-pragmatisme, bagian ini bertujuan untuk menyusun sintesis konseptual dan
merumuskan implikasi teoretis yang dapat ditarik dari keseluruhan kerangka
pemikirannya. Sintesis ini penting untuk melihat koherensi internal gagasan
Rorty sekaligus menilai kontribusinya terhadap perkembangan filsafat
kontemporer.
14.1.
Sintesis Kritik
Epistemologi dan Neo-Pragmatisme
Pemikiran Rorty
menunjukkan kesinambungan yang jelas antara kritik terhadap epistemologi
tradisional dan formulasi neo-pragmatisme. Kritik terhadap representasionalisme
dan fondasionalisme tidak berhenti pada dekonstruksi, tetapi berfungsi sebagai
landasan bagi rekonstruksi paradigma baru.¹
Dalam hal ini, Rorty
menggeser fokus filsafat dari pencarian fondasi pengetahuan menuju analisis
praktik bahasa dan diskursus.² Epistemologi, yang sebelumnya dipahami sebagai
disiplin yang mencari legitimasi rasional universal, diredefinisi sebagai
bagian dari praktik sosial yang bersifat historis dan kontingen.³
Neo-pragmatisme
Rorty menjadi bentuk sintesis antara pragmatisme klasik dan kritik filsafat
kontemporer. Ia menggabungkan pendekatan instrumental dari John Dewey dengan
kritik linguistik dari Ludwig Wittgenstein dan kritik metafisika dari Martin
Heidegger.⁴ Hasilnya adalah paradigma yang menolak esensialisme dan menekankan
peran bahasa sebagai alat dalam praktik sosial.
14.2.
Rekonstruksi Konsep
Kebenaran dan Pengetahuan
Salah satu implikasi
teoretis utama dari pemikiran Rorty adalah redefinisi konsep kebenaran dan
pengetahuan. Dalam epistemologi tradisional, kebenaran dipahami sebagai
korespondensi antara proposisi dan realitas. Rorty menolak model ini dan
menggantinya dengan pendekatan pragmatis yang menekankan justifikasi dalam
komunitas.⁵
Dengan demikian,
pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai representasi objektif, melainkan
sebagai hasil dari praktik diskursif yang bersifat intersubjektif.⁶ Hal ini
mengarah pada pemahaman bahwa kebenaran bukanlah entitas yang tetap, tetapi
sesuatu yang berkembang melalui proses komunikasi dan negosiasi sosial.⁷
Implikasi dari
pendekatan ini adalah pergeseran dari epistemologi normatif menuju epistemologi
deskriptif dan kontekstual.⁸ Pengetahuan tidak lagi dinilai berdasarkan
kesesuaiannya dengan realitas objektif, tetapi berdasarkan fungsinya dalam
praktik sosial.⁹
14.3.
Integrasi Bahasa,
Subjektivitas, dan Kontingensi
Sintesis pemikiran
Rorty juga terlihat dalam integrasi antara bahasa, subjektivitas, dan
kontingensi. Bahasa dipahami sebagai medium utama dalam pembentukan makna,
sementara subjektivitas dipandang sebagai konstruksi linguistik yang bersifat
historis.¹⁰
Konsep kontingensi
memainkan peran sentral dalam menjelaskan bahwa tidak ada dasar tetap bagi
bahasa, identitas, maupun pengetahuan.¹¹ Dalam kerangka ini, manusia dipahami
sebagai makhluk yang terus-menerus menciptakan dan merevisi dirinya melalui
praktik bahasa.¹²
Pendekatan ini
mengarah pada pemahaman yang lebih dinamis tentang identitas dan realitas, di
mana perubahan dianggap sebagai bagian inheren dari kehidupan manusia.¹³ Dengan
demikian, filsafat tidak lagi berfungsi untuk menemukan kebenaran yang tetap,
tetapi untuk membuka kemungkinan baru dalam memahami dunia.
14.4.
Implikasi dalam Etika
dan Politik
Dalam ranah etika
dan politik, sintesis pemikiran Rorty menghasilkan paradigma yang menekankan
solidaritas, empati, dan dialog sebagai dasar kehidupan sosial.¹⁴ Dengan
menolak fondasi metafisik, Rorty mengalihkan fokus dari pencarian prinsip
universal menuju praktik konkret dalam mengurangi penderitaan manusia.¹⁵
Demokrasi, dalam
pandangan Rorty, dipahami sebagai proyek percakapan yang terus berkembang,
bukan sebagai sistem yang didasarkan pada kebenaran absolut.¹⁶ Hal ini
menunjukkan bahwa legitimasi politik tidak bergantung pada fondasi filosofis,
tetapi pada kemampuan masyarakat untuk mempertahankan ruang dialog yang
inklusif.¹⁷
Implikasi teoretis
dari pendekatan ini adalah munculnya model etika dan politik yang bersifat
pragmatis dan kontekstual, yang menekankan fleksibilitas dan adaptasi terhadap
perubahan sosial.¹⁸
14.5.
Kontribusi terhadap
Filsafat Kontemporer
Pemikiran Rorty
memberikan kontribusi penting dalam menggeser arah filsafat kontemporer. Ia
berhasil menjembatani tradisi filsafat analitik dan kontinental, serta membuka
ruang bagi pendekatan yang lebih pluralistik dan dialogis.¹⁹
Selain itu, Rorty
dapat dianggap sebagai pelopor dalam apa yang disebut sebagai
“post-epistemological philosophy”, yaitu pendekatan yang melampaui batas-batas
epistemologi tradisional.²⁰ Dalam konteks ini, filsafat tidak lagi berfungsi
sebagai disiplin yang mencari fondasi pengetahuan, tetapi sebagai praktik
reflektif yang berkontribusi pada kehidupan kultural.²¹
Kontribusi ini juga
terlihat dalam pengaruhnya terhadap berbagai bidang, termasuk teori sosial,
studi budaya, dan filsafat politik.²² Dengan menekankan peran bahasa dan
diskursus, Rorty memberikan kerangka konseptual yang relevan untuk memahami
dinamika masyarakat modern.
14.6.
Batasan dan Potensi
Pengembangan
Meskipun memiliki
kontribusi yang signifikan, pemikiran Rorty juga memiliki batasan yang perlu
diperhatikan. Salah satu kritik utama adalah kurangnya dasar normatif yang kuat
untuk menilai klaim kebenaran dan nilai moral.²³
Para kritikus
seperti Hilary Putnam dan Jürgen Habermas menekankan bahwa tanpa konsep
objektivitas atau rasionalitas universal, sulit untuk mempertahankan legitimasi
dalam diskursus epistemologis dan politik.²⁴
Namun, batasan ini
juga membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut. Integrasi antara
pragmatisme Rorty dengan pendekatan normatif, seperti teori rasionalitas
komunikatif atau realisme kritis, dapat menghasilkan kerangka teoretis yang
lebih seimbang.²⁵
Secara keseluruhan,
sintesis pemikiran Richard Rorty menunjukkan bahwa filsafat kontemporer dapat
bergerak melampaui batas-batas epistemologi tradisional menuju paradigma yang
lebih kontekstual, dialogis, dan pragmatis. Implikasi teoretis dari pendekatan
ini mencakup redefinisi konsep kebenaran, rekonstruksi subjektivitas, serta
pengembangan etika dan politik yang berbasis solidaritas. Meskipun menghadapi
berbagai kritik, pemikiran Rorty tetap menjadi sumber inspirasi yang penting
dalam upaya memahami kompleksitas kehidupan manusia dalam dunia yang plural dan
kontingen.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 315–330.
[2]
Ibid., 389–394.
[3]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth (Cambridge:
Cambridge University Press, 1991), 21–34.
[4]
John Dewey, Reconstruction in
Philosophy (New York: Henry Holt,
1920); Ludwig Wittgenstein, Philosophical
Investigations (Oxford: Blackwell,
1953); Martin Heidegger, Being and Time (New York: Harper & Row, 1962).
[5]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[6]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), 160–175.
[7]
Ibid., 170–175.
[8]
Richard Rorty, Objectivity, Relativism,
and Truth, 35–44.
[9]
Ibid., 40–44.
[10]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 5–22.
[11]
Ibid., 3–10.
[12]
Ibid., 9–15.
[13]
Ibid., 15–22.
[14]
Ibid., 189–198.
[15]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[16]
Richard Rorty, Achieving Our Country (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 30–45.
[17]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 100–110.
[18]
Ibid., 170–180.
[19]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 1–15.
[20]
Ibid., 20–35.
[21]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[22]
Voparil, Richard Rorty, 45–60.
[23]
Simon Blackburn, Truth: A Guide (Oxford: Oxford University Press, 2005), 130–145.
[24]
Hilary Putnam, Reason, Truth and History (Cambridge: Cambridge University Press, 1981); Jürgen
Habermas, Truth and Justification (Cambridge: MIT Press, 2003).
[25]
Voparil, Richard Rorty, 60–75.
15.
Kesimpulan
Kajian terhadap
pemikiran Richard Rorty menunjukkan bahwa proyek filosofisnya merupakan upaya
radikal untuk merekonstruksi arah filsafat kontemporer dengan meninggalkan
paradigma epistemologi tradisional. Rorty tidak hanya mengkritik
fondasionalisme dan representasionalisme, tetapi juga menawarkan alternatif
konseptual melalui neo-pragmatisme yang menekankan peran bahasa, praktik
sosial, dan kontingensi dalam pembentukan pengetahuan.¹
Salah satu temuan
utama dalam kajian ini adalah bahwa kritik Rorty terhadap epistemologi
tradisional berakar pada penolakannya terhadap metafora “cermin alam” yang
selama ini mendasari pemahaman tentang hubungan antara pikiran dan realitas.²
Dengan menunjukkan bahwa konsep tersebut merupakan konstruksi historis, Rorty
membuka ruang bagi pendekatan yang lebih kontekstual dan non-fondasional dalam
memahami pengetahuan.³
Lebih lanjut,
anti-fondasionalisme Rorty menegaskan bahwa tidak ada dasar absolut yang dapat
menjamin kebenaran pengetahuan. Sebaliknya, pengetahuan dipahami sebagai hasil
dari praktik diskursif dalam komunitas sosial.⁴ Dalam kerangka ini, kebenaran
tidak lagi dipahami sebagai korespondensi dengan realitas, melainkan sebagai
justifikasi yang diterima dalam konteks tertentu.⁵
Neo-pragmatisme
Rorty kemudian menjadi sintesis dari kritik tersebut, dengan menekankan bahwa
bahasa bukanlah alat representasi, melainkan instrumen yang digunakan manusia
untuk berinteraksi dan membangun makna.⁶ Pandangan ini membawa implikasi bahwa
pengetahuan, subjektivitas, dan identitas bersifat kontingen dan selalu terbuka
untuk reinterpretasi.⁷
Dalam ranah etika
dan politik, Rorty mengembangkan pendekatan yang menempatkan solidaritas
sebagai pengganti objektivitas.⁸ Ia menolak pencarian fondasi moral universal,
dan lebih menekankan pada pentingnya empati, dialog, serta upaya konkret untuk
mengurangi penderitaan manusia.⁹ Demokrasi, dalam perspektif ini, dipahami
sebagai proyek percakapan yang terus berkembang, bukan sebagai sistem yang
didasarkan pada prinsip metafisik yang tetap.¹⁰
Relevansi pemikiran
Rorty dalam konteks kontemporer terlihat dalam kemampuannya untuk menjelaskan
fenomena seperti pluralisme epistemologis, dinamika diskursus publik, dan
tantangan terhadap klaim kebenaran universal.¹¹ Pendekatannya yang menekankan
fleksibilitas dan dialog memberikan kerangka yang berguna untuk memahami
kompleksitas masyarakat modern.¹²
Namun demikian,
kajian ini juga menunjukkan bahwa pemikiran Rorty tidak lepas dari berbagai
kritik. Salah satu kritik utama adalah kecenderungannya menuju relativisme,
yang dianggap dapat melemahkan dasar normatif dalam epistemologi dan etika.¹³
Tokoh-tokoh seperti Hilary Putnam dan Jürgen Habermas menekankan pentingnya
mempertahankan konsep objektivitas atau rasionalitas universal untuk menjamin
legitimasi dalam diskursus publik.¹⁴
Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa pemikiran Richard Rorty memiliki dua sisi yang saling
berkaitan: di satu sisi, ia berhasil mendekonstruksi asumsi-asumsi dasar
epistemologi tradisional dan membuka ruang bagi paradigma baru yang lebih
kontekstual dan pluralistik; di sisi lain, pendekatannya menimbulkan tantangan
serius terkait dengan legitimasi normatif dan batas-batas relativisme.¹⁵
Sebagai implikasi,
pemikiran Rorty sebaiknya tidak dipahami sebagai sistem yang final, melainkan
sebagai proyek filosofis yang terbuka untuk dialog dan pengembangan lebih lanjut.
Integrasi antara wawasan pragmatis Rorty dengan pendekatan normatif yang lebih
kuat berpotensi menghasilkan kerangka teoretis yang lebih seimbang dalam
menghadapi tantangan filsafat kontemporer.¹⁶
Secara keseluruhan,
pemikiran Richard Rorty memberikan kontribusi yang signifikan dalam menggeser
orientasi filsafat dari pencarian kepastian menuju penghargaan terhadap
kontingensi, dari objektivitas menuju solidaritas, serta dari fondasi menuju
dialog. Dalam dunia yang semakin plural dan kompleks, pendekatan ini menawarkan
perspektif yang relevan sekaligus menantang, yang mendorong refleksi lebih
lanjut tentang bagaimana manusia memahami kebenaran, membangun pengetahuan, dan
hidup bersama dalam masyarakat yang beragam.
Footnotes
[1]
Richard Rorty, Consequences of
Pragmatism (Minneapolis: University
of Minnesota Press, 1982), xiii–xviii.
[2]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature (Princeton:
Princeton University Press, 1979), 3–12.
[3]
Ibid., 12–25.
[4]
Richard Rorty, Objectivity, Relativism,
and Truth (Cambridge: Cambridge
University Press, 1991), 21–34.
[5]
Richard Rorty, Truth and Progress (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 23–40.
[6]
Richard Rorty, Philosophy and the
Mirror of Nature, 159–175.
[7]
Richard Rorty, Contingency, Irony, and
Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 5–22.
[8]
Ibid., 189–198.
[9]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope (London: Penguin Books, 1999),
168–180.
[10]
Richard Rorty, Achieving Our Country (Cambridge: Harvard University Press, 1998), 30–45.
[11]
Richard Rorty, Objectivity,
Relativism, and Truth, 1–20.
[12]
Richard Rorty, Philosophy and Social
Hope, 91–110.
[13]
Simon Blackburn, Truth: A Guide (Oxford: Oxford University Press, 2005), 130–145.
[14]
Hilary Putnam, Reason, Truth and
History (Cambridge: Cambridge University
Press, 1981); Jürgen Habermas, Truth
and Justification (Cambridge: MIT
Press, 2003).
[15]
Christopher J. Voparil, Richard
Rorty: Politics and Vision (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2006), 20–35.
[16]
Ibid., 60–75.
Daftar Pustaka
Blackburn, S. (2005). Truth: A guide. Oxford
University Press.
Castells, M. (2012). Networks of outrage and
hope: Social movements in the Internet age. Polity Press.
Creswell, J. W. (2014). Research design:
Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage
Publications.
Davidson, D. (1974). On the very idea of a
conceptual scheme. Proceedings and Addresses of the American Philosophical
Association, 47, 5–20.
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2011). The
Sage handbook of qualitative research (4th ed.). Sage Publications.
Descartes, R. (1996). Meditations on first
philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press. (Original
work published 1641)
Devitt, M. (1991). Realism and truth (2nd
ed.). Princeton University Press.
Dewey, J. (1920). Reconstruction in philosophy.
Henry Holt.
Dewey, J. (1925). Experience and nature.
Open Court.
Dewey, J. (1927). The public and its problems.
Ohio University Press.
Foucault, M. (1972). The archaeology of
knowledge. Pantheon Books.
Gadamer, H.-G. (2004). Truth and method (J.
Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans., 2nd rev. ed.). Continuum.
Gross, N. (2008). Richard Rorty: The making of
an American philosopher. University of Chicago Press.
Habermas, J. (1996). Between facts and norms
(W. Rehg, Trans.). MIT Press.
Habermas, J. (2003). Truth and justification
(B. Fultner, Trans.). MIT Press.
Hall, D. L., & Ames, R. T. (1995). Anticipating
China: Thinking through the narratives of Chinese and Western culture. SUNY
Press.
Heidegger, M. (1962). Being and time (J.
Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row. (Original work
published 1927)
James, W. (1907). Pragmatism: A new name for
some old ways of thinking. Longmans, Green, and Co.
Kant, I. (1997). Groundwork of the metaphysics
of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press. (Original work
published 1785)
Kant, I. (1998). Critique of pure reason (P.
Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge University Press. (Original work
published 1781/1787)
Kattsoff, L. O. (1953). Elements of philosophy.
Ronald Press.
McIntyre, L. (2018). Post-truth. MIT Press.
Peirce, C. S. (1878). How to make our ideas clear. Popular
Science Monthly, 12, 286–302.
Putnam, H. (1981). Reason, truth and history.
Cambridge University Press.
Quine, W. V. O. (1951). Two dogmas of empiricism. The
Philosophical Review, 60(1), 20–43.
Rorty, R. (1967). The linguistic turn: Essays in
philosophical method. University of Chicago Press.
Rorty, R. (1979). Philosophy and the mirror of
nature. Princeton University Press.
Rorty, R. (1982). Consequences of pragmatism.
University of Minnesota Press.
Rorty, R. (1989). Contingency, irony, and solidarity.
Cambridge University Press.
Rorty, R. (1991). Objectivity, relativism, and
truth. Cambridge University Press.
Rorty, R. (1998). Achieving our country.
Harvard University Press.
Rorty, R. (1998). Truth and progress.
Cambridge University Press.
Rorty, R. (1999). Philosophy and social hope.
Penguin Books.
Searle, J. R. (1995). The construction of social
reality. Free Press.
Sellars, W. (1963). Empiricism and the philosophy
of mind. In Science, perception and reality (pp. 127–196). Routledge.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kualitatif.
Alfabeta.
Voparil, C. J. (2006). Richard Rorty: Politics
and vision. Rowman & Littlefield.
Wittgenstein, L. (1953). Philosophical
investigations (G. E. M. Anscombe, Trans.). Blackwell.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar