Selasa, 31 Maret 2026

Subjektivitas dan Interpersonalitas: Dari Kesadaran Diri Menuju Relasi dengan Yang Lain

Subjektivitas dan Interpersonalitas

Dari Kesadaran Diri Menuju Relasi dengan Yang Lain


Alihkan ke: Filsafat Eksistensialisme.


Abstrak

Artikel ini mengkaji secara filosofis hubungan antara subjektivitas dan interpersonalitas dalam kerangka eksistensialisme, dengan menempatkan manusia sebagai makhluk yang sekaligus bebas dan relasional. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana subjektivitas sebagai kesadaran diri yang otonom dapat dipahami dalam kaitannya dengan keberadaan “yang lain”, serta apakah keduanya merupakan dimensi yang saling bertentangan atau justru saling melengkapi. Kajian ini menggunakan pendekatan analitis-kritis dan komparatif terhadap pemikiran tokoh-tokoh eksistensialis seperti Søren Kierkegaard, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Martin Buber, serta Emmanuel Levinas.

Hasil kajian menunjukkan bahwa subjektivitas dalam eksistensialisme tidak dapat dipahami secara terisolasi, melainkan selalu berada dalam horizon relasi dengan orang lain. Di satu sisi, subjektivitas menegaskan kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab individu; di sisi lain, interpersonalitas menghadirkan dimensi pengakuan, dialog, dan tuntutan etis yang membentuk identitas diri. Dialektika antara keduanya memperlihatkan adanya ketegangan antara kebebasan dan keterbatasan, namun sekaligus membuka kemungkinan sintesis dalam bentuk relasi yang autentik dan etis.

Lebih lanjut, artikel ini menegaskan bahwa eksistensialisme tidak semata-mata merupakan filsafat individualisme, tetapi juga menyediakan dasar bagi pemahaman yang lebih luas tentang relasi sosial dan tanggung jawab moral. Implikasi etis dan sosial dari kajian ini menunjukkan bahwa kebebasan manusia harus dipahami secara relasional, yakni sebagai kebebasan yang mengakui dan menghormati keberadaan orang lain. Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai oleh individualisme dan kompleksitas relasi sosial, eksistensialisme tetap relevan sebagai kerangka reflektif untuk memahami dinamika identitas, makna, dan tanggung jawab manusia.

Dengan demikian, sintesis antara subjektivitas dan interpersonalitas memberikan kontribusi penting bagi pengembangan filsafat eksistensialisme yang lebih komprehensif, sekaligus membuka ruang dialog dengan pendekatan filsafat lain dalam memahami manusia sebagai makhluk yang multidimensional.

Kata Kunci: Subjektivitas; Interpersonalitas; Eksistensialisme; Intersubjektivitas; Kebebasan; Tanggung Jawab; Relasi Aku–Engkau; Etika Eksistensial.


PEMBAHASAN

Subjektivitas dan Interpersonalitas dalam Eksistensialisme


1.           Pendahuluan

Eksistensialisme muncul sebagai salah satu arus filsafat yang paling berpengaruh dalam merespons krisis makna yang melanda manusia modern, terutama sejak abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Krisis tersebut tidak hanya bersumber dari perubahan sosial-politik seperti revolusi industri, sekularisasi, dan perang dunia, tetapi juga dari pergeseran cara manusia memahami dirinya sendiri. Dalam konteks ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai entitas yang memiliki esensi tetap yang ditentukan sebelumnya, melainkan sebagai makhluk yang harus membentuk dirinya melalui pilihan-pilihan eksistensial yang konkret.¹ Dengan demikian, eksistensialisme menempatkan pengalaman subjektif manusia sebagai titik tolak utama dalam memahami realitas.

Salah satu konsep sentral dalam eksistensialisme adalah subjektivitas, yakni kesadaran diri manusia sebagai subjek yang mengalami, memilih, dan bertanggung jawab atas eksistensinya sendiri. Bagi Søren Kierkegaard, subjektivitas bahkan dipahami sebagai kebenaran itu sendiri dalam arti eksistensial—bukan kebenaran objektif yang bersifat abstrak, melainkan kebenaran yang dihayati secara personal dan autentik.² Pandangan ini menandai pergeseran penting dari tradisi filsafat sebelumnya yang cenderung mengutamakan rasionalitas objektif menuju penekanan pada pengalaman individu yang konkret dan unik. Dalam garis pemikiran ini, subjektivitas tidak sekadar berarti “pendapat pribadi”, tetapi merupakan inti dari keberadaan manusia sebagai makhluk yang sadar akan dirinya dan dunianya.

Namun, penekanan yang kuat pada subjektivitas menimbulkan pertanyaan filosofis yang tidak kalah penting: bagaimana posisi “yang lain” dalam kerangka eksistensialisme? Apakah manusia sebagai subjek yang bebas dan otonom dapat berdiri sepenuhnya sendiri, atau justru keberadaannya secara fundamental terkait dengan kehadiran orang lain? Di sinilah muncul konsep interpersonalitas, yaitu relasi antara subjek dengan subjek lain yang sama-sama memiliki kesadaran dan kebebasan. Relasi ini bukan sekadar hubungan eksternal, melainkan bagian integral dari struktur eksistensi manusia itu sendiri.³

Permasalahan ini menjadi semakin kompleks ketika kita melihat perbedaan pandangan di antara para tokoh eksistensialis. Jean-Paul Sartre, misalnya, melihat relasi dengan orang lain dalam kerangka konflik, di mana kehadiran “yang lain” dapat mengancam kebebasan subjektif melalui objektifikasi. Ungkapannya yang terkenal, “l’enfer, c’est les autres” (“neraka adalah orang lain”), mencerminkan ketegangan inheren dalam relasi interpersonal.⁴ Sebaliknya, Martin Buber menawarkan pendekatan dialogis melalui konsep relasi “Aku–Engkau” (I–Thou), di mana hubungan autentik dengan orang lain justru menjadi jalan menuju pemenuhan eksistensi.⁵ Perbedaan ini menunjukkan bahwa interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak dapat direduksi menjadi satu perspektif tunggal, melainkan merupakan medan dialektika yang kaya dan kompleks.

Lebih lanjut, perkembangan pemikiran eksistensialisme juga memperlihatkan bahwa subjektivitas dan interpersonalitas bukanlah dua konsep yang saling meniadakan, melainkan saling mengandaikan. Martin Heidegger, melalui konsep Mitsein (being-with), menegaskan bahwa keberadaan manusia (Dasein) pada dasarnya selalu sudah berada dalam dunia bersama orang lain.⁶ Dengan demikian, subjektivitas tidak pernah benar-benar terisolasi, melainkan selalu terbentuk dalam jaringan relasi sosial dan historis. Perspektif ini membuka kemungkinan untuk memahami eksistensi manusia sebagai fenomena yang bersifat intersubjektif, di mana identitas diri terbentuk melalui interaksi dengan yang lain.

Dalam konteks kehidupan kontemporer, kajian tentang subjektivitas dan interpersonalitas menjadi semakin relevan. Di satu sisi, modernitas dan globalisasi mendorong munculnya individualisme yang menekankan kebebasan dan otonomi pribadi. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial justru memperlihatkan bahwa manusia semakin terikat dalam jaringan relasi yang kompleks, meskipun tidak selalu bersifat autentik. Fenomena seperti alienasi, krisis identitas, dan polarisasi sosial menunjukkan bahwa relasi antara “aku” dan “yang lain” masih menjadi problem yang belum terselesaikan secara tuntas.⁷ Oleh karena itu, pendekatan eksistensialisme dapat memberikan kerangka reflektif untuk memahami dinamika ini secara lebih mendalam.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian ini berangkat dari beberapa rumusan masalah utama: (1) bagaimana konsep subjektivitas dipahami dalam tradisi eksistensialisme; (2) bagaimana relasi interpersonal atau intersubjektivitas dijelaskan oleh para pemikir eksistensialis; dan (3) apakah subjektivitas dan interpersonalitas merupakan dua dimensi yang saling bertentangan atau justru saling melengkapi dalam struktur eksistensi manusia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkaji secara sistematis hubungan antara kedua konsep tersebut serta mengeksplorasi implikasi filosofisnya, baik dalam ranah ontologis maupun etis.

Dengan pendekatan analitis-kritis dan komparatif, tulisan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika antara subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme. Selain itu, kajian ini juga membuka ruang refleksi yang lebih luas mengenai bagaimana manusia dapat memahami dirinya sebagai individu yang bebas sekaligus sebagai makhluk yang tidak terpisahkan dari keberadaan orang lain. Dengan demikian, eksistensialisme tidak hanya dipahami sebagai filsafat tentang individu, tetapi juga sebagai filsafat tentang relasi—tentang bagaimana manusia menjadi dirinya melalui dan bersama yang lain.


Footnotes

[1]                Walter Kaufmann, Existentialism from Dostoevsky to Sartre (New York: Meridian Books, 1956), 11–13.

[2]                Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans. David F. Swenson (Princeton: Princeton University Press, 1941), 182.

[3]                Dermot Moran, Introduction to Phenomenology (London: Routledge, 2000), 176–180.

[4]                Jean-Paul Sartre, No Exit and Three Other Plays (New York: Vintage Books, 1989), 45.

[5]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–63.

[6]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 155–163.

[7]                Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 2–5.


2.           Landasan Konseptual Eksistensialisme

Eksistensialisme merupakan suatu arus pemikiran filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat refleksi, bukan dalam arti abstrak atau esensial, melainkan sebagai makhluk konkret yang hidup, mengalami, dan mengambil keputusan dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Berbeda dengan tradisi metafisika klasik yang berupaya menemukan hakikat tetap (esensi) dari manusia, eksistensialisme justru menegaskan bahwa manusia tidak memiliki esensi yang telah ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, manusia terlebih dahulu “ada” (eksis), kemudian melalui tindakan dan pilihan-pilihannya, ia membentuk esensinya sendiri.¹ Prinsip ini menjadi fondasi ontologis eksistensialisme dan sekaligus menandai pergeserannya dari filsafat esensialis menuju filsafat eksistensial.

Secara historis, eksistensialisme tidak muncul sebagai sistem filsafat yang tunggal dan terstruktur secara ketat, melainkan sebagai respons terhadap berbagai krisis intelektual dan spiritual dalam peradaban Barat modern. Søren Kierkegaard sering dianggap sebagai pelopor eksistensialisme karena kritiknya terhadap rasionalisme sistematis ala Hegel dan penekanannya pada individu yang konkret sebagai pusat kebenaran.² Dalam pandangannya, kebenaran bukanlah sekadar korespondensi antara pikiran dan realitas, melainkan sesuatu yang harus dihayati secara subjektif melalui pilihan eksistensial yang melibatkan komitmen personal. Dengan demikian, eksistensialisme sejak awal telah mengandung dimensi eksistensial-religius yang menekankan relasi individu dengan Tuhan sebagai aspek fundamental dari keberadaan.

Selanjutnya, Friedrich Nietzsche memberikan kontribusi penting dengan mengkritik moralitas tradisional dan konsep kebenaran absolut. Ia menegaskan bahwa manusia harus berani menciptakan nilai-nilai baru setelah “kematian Tuhan”, yakni runtuhnya fondasi metafisik dan religius yang sebelumnya menjadi dasar makna hidup.³ Dalam kerangka ini, eksistensi manusia menjadi medan kreativitas sekaligus tanggung jawab radikal, di mana individu tidak lagi dapat bergantung pada otoritas eksternal untuk menentukan makna hidupnya.

Memasuki abad ke-20, eksistensialisme berkembang lebih sistematis melalui karya Martin Heidegger, yang mengalihkan fokus dari manusia sebagai subjek menuju analisis tentang “ada” (Being) melalui konsep Dasein. Heidegger memahami manusia sebagai makhluk yang “ada-di-dunia” (being-in-the-world), yakni selalu berada dalam konteks relasional yang melibatkan dunia, waktu, dan orang lain.⁴ Dalam analisisnya, eksistensi manusia ditandai oleh keterlemparan (thrownness), keterarahan menuju masa depan, dan kesadaran akan kematian sebagai kemungkinan paling otentik. Pendekatan ini menunjukkan bahwa eksistensialisme tidak hanya berkaitan dengan kebebasan individu, tetapi juga dengan struktur ontologis keberadaan manusia secara keseluruhan.

Di sisi lain, Jean-Paul Sartre mengembangkan eksistensialisme dalam kerangka ateistik yang menekankan kebebasan absolut manusia. Dalam karyanya Being and Nothingness, Sartre membedakan antara être-en-soi (being-in-itself) dan être-pour-soi (being-for-itself). Yang pertama merujuk pada keberadaan benda yang statis, sedangkan yang kedua merujuk pada kesadaran manusia yang dinamis dan selalu melampaui dirinya sendiri.⁵ Bagi Sartre, karena tidak ada Tuhan yang menentukan esensi manusia, maka manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang ia jadikan dirinya. Kebebasan ini bersifat radikal dan tidak dapat dihindari, sehingga manusia “dikutuk untuk bebas” (condemned to be free).⁶

Meskipun demikian, tidak semua pemikir eksistensialis memandang eksistensi manusia dalam kerangka individualisme radikal. Gabriel Marcel, misalnya, mengembangkan eksistensialisme yang bersifat teistik dan dialogis, dengan menekankan pentingnya relasi, partisipasi, dan kehadiran (presence) dalam kehidupan manusia.⁷ Sementara itu, Martin Buber memperkenalkan konsep relasi “Aku–Engkau” (I–Thou) sebagai bentuk hubungan yang autentik, yang berbeda dari relasi “Aku–Itu” (I–It) yang bersifat objektifikasi.⁸ Pendekatan ini menunjukkan bahwa eksistensialisme juga memiliki dimensi interpersonal yang kuat, di mana keberadaan manusia tidak dapat dipahami secara terpisah dari relasi dengan yang lain.

Dari berbagai pemikiran tersebut, dapat dirumuskan beberapa prinsip utama eksistensialisme. Pertama, eksistensi mendahului esensi, yaitu bahwa manusia tidak memiliki hakikat tetap sebelum ia eksis dan bertindak. Kedua, kebebasan dan tanggung jawab, yakni bahwa manusia bebas menentukan dirinya, tetapi kebebasan tersebut selalu disertai dengan tanggung jawab atas konsekuensi pilihan. Ketiga, autentisitas, yaitu hidup secara jujur dan sadar terhadap kondisi eksistensial sendiri, tanpa terjebak dalam konformitas sosial atau penyangkalan diri. Keempat, kecemasan (anxiety) sebagai kondisi eksistensial yang muncul dari kesadaran akan kebebasan dan keterbatasan manusia.⁹

Dengan demikian, landasan konseptual eksistensialisme tidak hanya mencakup aspek ontologis tentang keberadaan manusia, tetapi juga aspek etis dan fenomenologis yang berkaitan dengan pengalaman hidup konkret. Eksistensialisme berupaya memahami manusia bukan sebagai objek yang dapat dijelaskan secara ilmiah semata, melainkan sebagai subjek yang hidup dalam dunia yang penuh makna, pilihan, dan relasi. Kerangka konseptual ini menjadi dasar penting untuk menganalisis lebih lanjut hubungan antara subjektivitas dan interpersonalitas, yang akan dibahas pada bagian-bagian berikutnya.


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22–24.

[2]                Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1985), 54–56.

[3]                Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Penguin Books, 1978), 125–130.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–85.

[5]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 21–30.

[6]                Sartre, Existentialism Is a Humanism, 29.

[7]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1 (Chicago: Henry Regnery, 1950), 40–45.

[8]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 53–60.

[9]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 44–52.


3.           Subjektivitas: Hakikat dan Dimensinya

Subjektivitas merupakan konsep sentral dalam eksistensialisme yang merujuk pada cara manusia memahami dirinya sebagai subjek yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab atas keberadaannya. Berbeda dengan pendekatan objektivistik yang melihat manusia sebagai objek yang dapat dijelaskan secara deterministik, eksistensialisme menempatkan subjektivitas sebagai inti dari realitas manusia. Dengan demikian, memahami manusia berarti memahami bagaimana ia mengalami dunia, membuat pilihan, dan memberi makna terhadap eksistensinya sendiri.¹

3.1.       Pengertian Subjektivitas

Secara umum, subjektivitas dapat dipahami sebagai kesadaran diri (self-awareness) yang memungkinkan manusia merefleksikan dirinya sebagai “aku” yang berbeda dari dunia di sekitarnya. Dalam kerangka eksistensialisme, subjektivitas bukan sekadar fenomena psikologis, melainkan struktur ontologis dari keberadaan manusia. Søren Kierkegaard secara tegas menyatakan bahwa “kebenaran adalah subjektivitas”, yang berarti bahwa kebenaran eksistensial tidak terletak pada proposisi objektif, melainkan pada bagaimana individu menghayati dan mengaktualisasikan kebenaran tersebut dalam hidupnya.²

Dalam pandangan ini, subjektivitas berkaitan erat dengan pengalaman eksistensial yang konkret, seperti kecemasan, pilihan, dan komitmen. Kebenaran tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang bersifat universal dan impersonal, tetapi sebagai sesuatu yang menuntut keterlibatan total dari individu. Oleh karena itu, subjektivitas menjadi medan di mana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka, serta dengan tanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Lebih lanjut, subjektivitas juga mencerminkan sifat reflektif dari kesadaran manusia. Tidak seperti benda mati yang sekadar “ada”, manusia memiliki kemampuan untuk mengambil jarak dari dirinya sendiri dan mempertanyakan eksistensinya. Kemampuan reflektif ini memungkinkan manusia untuk tidak hanya hidup, tetapi juga menyadari bahwa ia hidup, sehingga membuka ruang bagi kebebasan dan transformasi diri.³

3.2.       Subjektivitas dalam Perspektif Tokoh

Pemahaman tentang subjektivitas dalam eksistensialisme berkembang melalui kontribusi berbagai tokoh dengan penekanan yang berbeda-beda. Søren Kierkegaard, sebagai pelopor eksistensialisme, menekankan dimensi religius dari subjektivitas. Baginya, subjektivitas adalah relasi individu dengan dirinya sendiri di hadapan Tuhan, yang diwujudkan melalui “lompatan iman” (leap of faith). Dalam konteks ini, subjektivitas bukan sekadar kesadaran diri, tetapi juga komitmen eksistensial yang melibatkan seluruh keberadaan individu.⁴

Sementara itu, Jean-Paul Sartre mengembangkan konsep subjektivitas dalam kerangka ateistik dengan menekankan kebebasan radikal manusia. Ia membedakan antara être-en-soi (being-in-itself) dan être-pour-soi (being-for-itself), di mana yang terakhir merujuk pada kesadaran manusia sebagai subjek yang tidak pernah selesai dan selalu melampaui dirinya sendiri.⁵ Dalam pandangan Sartre, subjektivitas bersifat dinamis dan terbuka, karena manusia selalu berada dalam proses menjadi (becoming). Kesadaran manusia adalah “ketiadaan” (nothingness) yang memungkinkan negasi terhadap keadaan yang ada dan membuka kemungkinan baru.⁶

Berbeda dengan Sartre, Martin Heidegger tidak menggunakan istilah subjektivitas secara eksplisit, tetapi mengembangkan konsep Dasein sebagai bentuk eksistensi manusia. Dasein adalah makhluk yang memiliki kesadaran akan “ada” dan selalu berada dalam dunia (being-in-the-world).⁷ Dalam kerangka ini, subjektivitas tidak dipahami sebagai entitas terpisah dari dunia, melainkan sebagai eksistensi yang selalu terlibat dalam konteks relasional. Heidegger juga menekankan bahwa Dasein ditandai oleh keterlemparan (thrownness), yakni kondisi di mana manusia “dilemparkan” ke dalam dunia tanpa memilih asal-usulnya, namun tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap situasi tersebut.⁸

Dengan demikian, meskipun terdapat perbedaan pendekatan, para tokoh eksistensialis sepakat bahwa subjektivitas merupakan aspek fundamental dari keberadaan manusia yang tidak dapat direduksi menjadi objek atau struktur eksternal semata.

3.3.       Dimensi Subjektivitas

Subjektivitas dalam eksistensialisme memiliki beberapa dimensi utama yang saling berkaitan dan membentuk struktur pengalaman manusia.

Pertama, kebebasan. Manusia dipahami sebagai makhluk yang bebas dalam arti eksistensial, yakni memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan dirinya sendiri. Kebebasan ini bukan sekadar kebebasan eksternal, tetapi kebebasan internal yang melekat pada kesadaran manusia. Namun, kebebasan ini juga membawa konsekuensi berupa tanggung jawab penuh atas setiap pilihan yang diambil.⁹

Kedua, kecemasan (anxiety). Dalam eksistensialisme, kecemasan bukan dipandang sebagai gangguan psikologis semata, melainkan sebagai kondisi eksistensial yang muncul dari kesadaran akan kebebasan dan kemungkinan yang tak terbatas. Søren Kierkegaard menyebut kecemasan sebagai “pusingnya kebebasan” (dizziness of freedom), yang mencerminkan ambiguitas antara potensi dan ketidakpastian.¹⁰ Kecemasan ini menjadi tanda bahwa manusia menyadari tanggung jawabnya dalam menentukan arah hidupnya.

Ketiga, pilihan dan tanggung jawab. Subjektivitas menuntut manusia untuk membuat pilihan yang tidak dapat dihindari. Tidak memilih pun merupakan bentuk pilihan. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas eksistensinya. Dalam pandangan Jean-Paul Sartre, setiap pilihan individu tidak hanya menentukan dirinya sendiri, tetapi juga mencerminkan nilai yang dianggap berlaku bagi seluruh manusia.¹¹

Keempat, autentisitas. Autentisitas merujuk pada cara hidup yang sesuai dengan kesadaran eksistensial, yakni hidup secara jujur terhadap diri sendiri tanpa terjebak dalam tekanan sosial atau peran yang tidak autentik. Martin Heidegger menggambarkan kondisi inautentik sebagai kehidupan yang larut dalam “das Man” (mereka), di mana individu kehilangan dirinya dalam konformitas sosial.¹² Sebaliknya, hidup autentik berarti menghadapi kenyataan eksistensial, termasuk kematian, secara sadar dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, subjektivitas dalam eksistensialisme tidak hanya merupakan konsep teoretis, tetapi juga mencerminkan dinamika hidup manusia yang konkret. Ia mencakup kebebasan, kecemasan, pilihan, tanggung jawab, dan autentisitas sebagai dimensi yang saling terkait. Melalui subjektivitas, manusia tidak hanya “ada”, tetapi juga menjadi dirinya sendiri dalam proses yang terus berlangsung. Pemahaman ini menjadi landasan penting untuk mengkaji bagaimana subjektivitas berinteraksi dengan keberadaan orang lain dalam kerangka interpersonalitas.


Footnotes

[1]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 1–5.

[2]                Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans. David F. Swenson (Princeton: Princeton University Press, 1941), 182.

[3]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 25–30.

[4]                Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1985), 54–60.

[5]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 56–60.

[6]                Ibid., 100–105.

[7]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–85.

[8]                Ibid., 174–180.

[9]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 29–34.

[10]             Søren Kierkegaard, The Concept of Anxiety, trans. Reidar Thomte (Princeton: Princeton University Press, 1980), 61.

[11]             Sartre, Existentialism Is a Humanism, 24–28.

[12]             Heidegger, Being and Time, 164–168.


4.           Interpersonalitas: Relasi dengan “Yang Lain”

Jika subjektivitas menekankan dimensi internal keberadaan manusia sebagai subjek yang sadar dan bebas, maka interpersonalitas mengarahkan perhatian pada relasi antara subjek dengan subjek lain yang sama-sama memiliki kesadaran dan kebebasan. Dalam kerangka eksistensialisme, manusia tidak hanya hidup sebagai “aku” yang terisolasi, melainkan selalu berada dalam dunia bersama orang lain. Oleh karena itu, memahami eksistensi manusia secara utuh menuntut analisis terhadap bagaimana “aku” berelasi dengan “yang lain” (the Other) dalam struktur pengalaman eksistensial.¹

4.1.       Pengertian Interpersonalitas

Interpersonalitas dapat dipahami sebagai relasi intersubjektif, yakni hubungan antara individu-individu yang masing-masing memiliki kesadaran diri. Berbeda dengan relasi antara subjek dan objek, relasi interpersonal melibatkan pengakuan terhadap orang lain sebagai subjek yang otonom dan memiliki dunia pengalaman sendiri.² Dalam konteks ini, “yang lain” bukan sekadar objek yang dapat dipahami atau dikendalikan, melainkan realitas yang menghadirkan tantangan sekaligus kemungkinan bagi eksistensi diri.

Dalam fenomenologi dan eksistensialisme, konsep intersubjektivitas menjadi penting karena menunjukkan bahwa kesadaran diri tidak berkembang dalam isolasi, melainkan melalui interaksi dengan orang lain. Identitas diri terbentuk melalui proses pengakuan (recognition), di mana individu memahami dirinya sebagai subjek melalui pandangan dan respons dari orang lain.³ Dengan demikian, interpersonalitas bukan sekadar tambahan eksternal terhadap subjektivitas, tetapi merupakan bagian integral dari pembentukan diri manusia.

Lebih jauh, kehadiran “yang lain” juga memiliki dimensi ontologis, karena ia memengaruhi cara manusia memahami dirinya sendiri. Dalam relasi interpersonal, manusia tidak hanya bertemu dengan orang lain, tetapi juga berhadapan dengan batas-batas kebebasannya, serta dengan tuntutan etis yang muncul dari keberadaan orang lain sebagai sesama subjek.⁴

4.2.       Perspektif Tokoh

Pemahaman tentang interpersonalitas dalam eksistensialisme berkembang melalui berbagai pendekatan yang sering kali bersifat kontras.

Jean-Paul Sartre melihat relasi dengan “yang lain” dalam kerangka konflik. Dalam analisisnya tentang “tatapan” (the look), Sartre menjelaskan bahwa kehadiran orang lain dapat mengubah posisi subjek menjadi objek. Ketika seseorang disadari oleh orang lain, ia mengalami dirinya sebagai objek dalam pandangan orang lain, sehingga kebebasannya terasa terancam.⁵ Dari sini muncul ketegangan antara dua kesadaran yang saling berusaha mempertahankan kebebasannya. Pernyataan Sartre yang terkenal, “neraka adalah orang lain” (l’enfer, c’est les autres), mencerminkan konflik inheren dalam relasi interpersonal yang cenderung bersifat kompetitif dan objektifikatif.⁶

Sebaliknya, Martin Buber menawarkan pendekatan dialogis yang lebih positif. Dalam karyanya I and Thou, Buber membedakan antara dua jenis relasi, yaitu “Aku–Itu” (I–It) dan “Aku–Engkau” (I–Thou). Relasi “Aku–Itu” bersifat instrumental dan objektifikatif, di mana yang lain diperlakukan sebagai objek. Sebaliknya, relasi “Aku–Engkau” merupakan hubungan autentik yang didasarkan pada perjumpaan langsung dan saling pengakuan sebagai subjek.⁷ Dalam relasi ini, individu tidak kehilangan dirinya, melainkan justru menemukan kedalaman eksistensinya melalui keterbukaan terhadap yang lain.

Pendekatan yang serupa dikembangkan oleh Gabriel Marcel, yang menekankan konsep kehadiran (presence) dan partisipasi dalam relasi interpersonal. Marcel mengkritik kecenderungan modern untuk mereduksi relasi manusia menjadi hubungan fungsional atau teknis. Baginya, relasi autentik hanya dapat terjadi ketika individu membuka diri secara eksistensial terhadap yang lain, bukan sekadar berinteraksi secara objektif.⁸ Dalam relasi semacam ini, muncul dimensi kesetiaan, kepercayaan, dan cinta sebagai bentuk keterlibatan yang mendalam.

Lebih lanjut, Emmanuel Levinas mengembangkan pendekatan etis terhadap interpersonalitas dengan menempatkan “yang lain” sebagai pusat refleksi filosofis. Menurut Levinas, perjumpaan dengan wajah (face) orang lain menghadirkan tuntutan etis yang tidak dapat direduksi menjadi kategori rasional atau ontologis.⁹ Wajah orang lain “memanggil” dan menuntut tanggung jawab, sehingga etika menjadi filsafat pertama. Dalam perspektif ini, relasi dengan yang lain bukan sekadar fenomena sosial, melainkan dasar dari moralitas itu sendiri.

4.3.       Bentuk Relasi Interpersonal

Dalam eksistensialisme, relasi interpersonal dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk yang mencerminkan kualitas hubungan antara individu.

Pertama, relasi objektifikasi, yaitu hubungan di mana individu memperlakukan orang lain sebagai objek yang dapat digunakan, dikendalikan, atau dinilai secara instrumental. Relasi ini sering kali muncul dalam konteks kekuasaan, kompetisi, atau kepentingan pragmatis. Dalam kerangka Sartre, relasi ini mencerminkan konflik antara kesadaran yang saling mengobjektifikasi.¹⁰

Kedua, relasi dialogis, yaitu hubungan yang didasarkan pada pengakuan timbal balik sebagai subjek. Dalam relasi ini, individu tidak berusaha menguasai atau mereduksi yang lain, melainkan membuka diri terhadap kehadiran dan kebebasan orang lain. Pendekatan ini sejalan dengan konsep “Aku–Engkau” dari Martin Buber, di mana relasi autentik menjadi ruang perjumpaan eksistensial yang mendalam.¹¹

Ketiga, relasi autentik dan inautentik. Relasi autentik ditandai oleh keterbukaan, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap yang lain, sedangkan relasi inautentik cenderung bersifat dangkal, manipulatif, atau konformis. Martin Heidegger menggambarkan kondisi inautentik sebagai kehidupan yang larut dalam “das Man”, di mana relasi dengan orang lain kehilangan kedalaman eksistensialnya.¹²

Dengan demikian, interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hubungan sosial biasa, melainkan sebagai dimensi fundamental dari keberadaan manusia yang melibatkan ketegangan antara konflik dan dialog, antara objektifikasi dan pengakuan. Relasi dengan “yang lain” bukan hanya membatasi kebebasan individu, tetapi juga membuka kemungkinan bagi pembentukan identitas, makna, dan tanggung jawab etis. Oleh karena itu, analisis tentang interpersonalitas menjadi kunci untuk memahami bagaimana manusia hidup sebagai makhluk yang sekaligus individual dan sosial dalam dunia yang kompleks.


Footnotes

[1]                Dermot Moran, Introduction to Phenomenology (London: Routledge, 2000), 176–180.

[2]                Dan Zahavi, Self and Other: Exploring Subjectivity, Empathy, and Shame (Oxford: Oxford University Press, 2014), 15–20.

[3]                Axel Honneth, The Struggle for Recognition (Cambridge, MA: MIT Press, 1995), 92–100.

[4]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 33–40.

[5]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 340–350.

[6]                Jean-Paul Sartre, No Exit and Three Other Plays (New York: Vintage Books, 1989), 45.

[7]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 53–70.

[8]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1 (Chicago: Henry Regnery, 1950), 40–50.

[9]                Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 85–90.

[10]             Sartre, Being and Nothingness, 360–370.

[11]             Buber, I and Thou, 62–65.

[12]             Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 164–168.


5.           Dialektika Subjektivitas dan Interpersonalitas

Hubungan antara subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak bersifat linear atau sederhana, melainkan dialektis—ditandai oleh ketegangan, saling ketergantungan, sekaligus kemungkinan sintesis. Di satu sisi, eksistensialisme menegaskan kebebasan individu sebagai inti subjektivitas; di sisi lain, ia mengakui bahwa keberadaan manusia selalu berada dalam horizon relasi dengan orang lain. Oleh karena itu, pemahaman yang memadai tentang eksistensi manusia harus mampu menjelaskan bagaimana “aku” sebagai subjek yang bebas berinteraksi dengan “yang lain” tanpa kehilangan identitas maupun kebebasannya.¹

5.1.       Ketegangan antara Kebebasan Individu dan Kehadiran Orang Lain

Dalam kerangka eksistensialisme, kebebasan individu sering kali dipahami sebagai sesuatu yang radikal dan tidak terbatas. Namun, kehadiran orang lain memperkenalkan batas terhadap kebebasan tersebut. Jean-Paul Sartre menggambarkan ketegangan ini melalui analisis tentang “tatapan” (the look), di mana individu mengalami dirinya sebagai objek dalam kesadaran orang lain.² Ketika seseorang disadari oleh orang lain, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi subjek yang otonom, tetapi juga menjadi objek yang dinilai dan didefinisikan dari luar.

Situasi ini menciptakan konflik eksistensial antara dua kesadaran yang saling berusaha mempertahankan kebebasannya. Dalam relasi semacam ini, setiap individu cenderung mengobjektifikasi yang lain untuk mempertahankan statusnya sebagai subjek.³ Oleh karena itu, relasi interpersonal dalam perspektif Sartre sering kali bersifat antagonistik, di mana kebebasan satu pihak dianggap sebagai ancaman bagi kebebasan pihak lain.

Namun, pendekatan ini tidak sepenuhnya meniadakan kemungkinan relasi yang konstruktif. Ketegangan tersebut justru menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak pernah absolut dalam arti solipsistik, melainkan selalu berada dalam konteks relasional yang kompleks. Dengan demikian, konflik bukanlah akhir dari relasi interpersonal, melainkan bagian dari dinamika eksistensial yang perlu dipahami secara lebih mendalam.

5.2.       “Yang Lain”: Ancaman atau Syarat Eksistensi?

Pertanyaan mendasar dalam dialektika ini adalah apakah “yang lain” merupakan ancaman terhadap subjektivitas atau justru syarat bagi keberadaannya. Jika mengikuti garis pemikiran Sartre, kehadiran orang lain cenderung dipandang sebagai pembatas kebebasan. Namun, pendekatan lain dalam eksistensialisme menunjukkan bahwa “yang lain” justru merupakan kondisi yang memungkinkan terbentuknya subjektivitas itu sendiri.

Martin Heidegger, melalui konsep Mitsein (being-with), menegaskan bahwa keberadaan manusia sejak awal sudah bersifat bersama.⁴ Artinya, manusia tidak pernah ada sebagai individu yang sepenuhnya terisolasi, melainkan selalu berada dalam dunia sosial yang melibatkan orang lain. Dalam kerangka ini, keberadaan “yang lain” bukanlah tambahan eksternal, tetapi bagian inheren dari struktur eksistensi manusia.

Lebih jauh, Martin Buber menekankan bahwa relasi dengan “yang lain” justru menjadi jalan bagi aktualisasi diri. Dalam hubungan “Aku–Engkau”, individu tidak kehilangan subjektivitasnya, melainkan menemukannya dalam perjumpaan yang autentik.⁵ Dengan demikian, “yang lain” bukanlah ancaman, tetapi mitra dialogis yang memungkinkan terbentuknya makna dan identitas.

Pendekatan ini diperkuat oleh Emmanuel Levinas, yang melihat “yang lain” sebagai sumber tuntutan etis yang mendasar. Dalam perjumpaan dengan wajah orang lain, individu dipanggil untuk bertanggung jawab, bahkan sebelum ia membuat keputusan secara sadar.⁶ Perspektif ini menunjukkan bahwa keberadaan “yang lain” tidak hanya bersifat ontologis, tetapi juga etis, sehingga menjadi syarat bagi terbentuknya moralitas.

5.3.       Konsep Pengakuan dan Intersubjektivitas

Salah satu konsep kunci dalam menjembatani subjektivitas dan interpersonalitas adalah pengakuan (recognition). Pengakuan merujuk pada proses di mana individu diakui sebagai subjek oleh orang lain, dan sebaliknya mengakui orang lain sebagai subjek. Dalam proses ini, identitas diri tidak terbentuk secara sepihak, melainkan melalui relasi timbal balik.⁷

Meskipun konsep ini lebih sistematis dikembangkan dalam tradisi pasca-Hegelian, eksistensialisme memberikan kontribusi penting dalam menekankan dimensi pengalaman konkret dari pengakuan tersebut. Tanpa pengakuan dari orang lain, subjektivitas berisiko jatuh ke dalam isolasi atau solipsisme. Sebaliknya, tanpa mempertahankan subjektivitas, relasi interpersonal dapat berubah menjadi dominasi atau konformitas.

Konsep intersubjektivitas juga menegaskan bahwa pengalaman manusia selalu bersifat bersama (shared), meskipun tidak identik. Setiap individu memiliki perspektif unik, tetapi perspektif tersebut terbentuk dalam jaringan relasi sosial dan historis.⁸ Dengan demikian, subjektivitas dan interpersonalitas tidak dapat dipisahkan secara mutlak, melainkan saling membentuk dalam proses dialektis.

5.4.       Kesalingtergantungan Eksistensial

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa subjektivitas dan interpersonalitas memiliki hubungan yang bersifat saling mengandaikan. Subjektivitas membutuhkan interpersonalitas untuk memperoleh pengakuan dan makna, sementara interpersonalitas membutuhkan subjektivitas agar relasi yang terbentuk tidak kehilangan dimensi kebebasan dan tanggung jawab.

Dalam perspektif ini, eksistensi manusia dapat dipahami sebagai fenomena yang bersifat kesalingtergantungan eksistensial. Individu tidak hanya menjadi dirinya sendiri melalui pilihan pribadi, tetapi juga melalui relasi dengan orang lain yang memengaruhi, menantang, dan membentuk identitasnya.⁹ Dengan demikian, kebebasan tidak lagi dipahami sebagai isolasi, melainkan sebagai kemampuan untuk berelasi secara autentik dengan yang lain.

Dialektika antara subjektivitas dan interpersonalitas juga memiliki implikasi etis yang mendalam. Jika manusia adalah makhluk yang sekaligus bebas dan relasional, maka tanggung jawab tidak hanya terbatas pada diri sendiri, tetapi juga mencakup orang lain. Kebebasan yang autentik bukanlah kebebasan yang mengabaikan orang lain, melainkan kebebasan yang mengakui dan menghormati keberadaan mereka sebagai sesama subjek.

Dengan demikian, dialektika ini menunjukkan bahwa eksistensialisme tidak dapat direduksi menjadi filsafat individualisme semata. Sebaliknya, ia menawarkan pemahaman yang lebih kompleks tentang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam ketegangan antara kemandirian dan keterhubungan. Ketegangan ini bukanlah kontradiksi yang harus dihilangkan, melainkan dinamika yang justru memungkinkan manusia untuk terus menjadi dirinya dalam relasi dengan yang lain.


Footnotes

[1]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 58–62.

[2]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 340–345.

[3]                Ibid., 360–365.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 155–163.

[5]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–70.

[6]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–201.

[7]                Axel Honneth, The Struggle for Recognition (Cambridge, MA: MIT Press, 1995), 92–100.

[8]                Dan Zahavi, Self and Other: Exploring Subjectivity, Empathy, and Shame (Oxford: Oxford University Press, 2014), 21–30.

[9]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 36–40.


6.           Implikasi Etis dan Sosial

Kajian tentang subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak berhenti pada analisis ontologis mengenai keberadaan manusia, tetapi juga memiliki implikasi yang mendalam dalam ranah etika dan kehidupan sosial. Jika manusia dipahami sebagai makhluk yang bebas sekaligus relasional, maka pertanyaan etis yang muncul adalah bagaimana kebebasan tersebut dijalankan dalam hubungan dengan orang lain, serta bagaimana tanggung jawab terhadap sesama dapat dirumuskan tanpa meniadakan otonomi individu. Dengan demikian, eksistensialisme memberikan kerangka reflektif untuk memahami etika bukan sebagai sistem norma yang kaku, melainkan sebagai dinamika hidup yang berakar pada pengalaman konkret manusia.¹

6.1.       Tanggung Jawab terhadap Orang Lain

Salah satu implikasi utama dari eksistensialisme adalah penekanan pada tanggung jawab yang melekat pada kebebasan manusia. Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab tidak hanya atas dirinya sendiri, tetapi juga secara implisit atas seluruh umat manusia, karena setiap pilihan yang diambil mencerminkan nilai yang dianggap layak untuk diuniversalkan.² Dalam pengertian ini, tindakan individu memiliki dimensi etis yang melampaui kepentingan pribadi.

Namun, tanggung jawab dalam eksistensialisme tidak selalu dipahami dalam kerangka universalitas rasional. Emmanuel Levinas mengembangkan pendekatan yang lebih radikal dengan menempatkan tanggung jawab terhadap “yang lain” sebagai dasar etika. Menurut Levinas, perjumpaan dengan wajah orang lain menghadirkan tuntutan etis yang tidak dapat ditunda atau dinegosiasikan.³ Tanggung jawab ini bersifat asimetris, artinya individu dituntut untuk bertanggung jawab terhadap orang lain tanpa menuntut timbal balik yang setara. Dengan demikian, etika tidak berangkat dari prinsip abstrak, tetapi dari relasi konkret dengan sesama.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa interpersonalitas memiliki dimensi etis yang inheren. Relasi dengan orang lain bukan sekadar interaksi sosial, tetapi merupakan ruang di mana tanggung jawab moral diwujudkan. Oleh karena itu, eksistensialisme mengajak manusia untuk melihat orang lain bukan sebagai sarana, melainkan sebagai tujuan yang memiliki martabat intrinsik.

6.2.       Kebebasan yang Tidak Solipsistik

Eksistensialisme sering dikritik sebagai filsafat yang terlalu menekankan individualisme. Namun, jika dipahami secara lebih mendalam, kebebasan dalam eksistensialisme bukanlah kebebasan yang terisolasi (solipsistik), melainkan kebebasan yang selalu berada dalam konteks relasional. Martin Heidegger, melalui konsep being-in-the-world, menunjukkan bahwa manusia selalu sudah berada dalam dunia bersama orang lain, sehingga kebebasan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi sosial.⁴

Dalam perspektif ini, kebebasan bukanlah kemampuan untuk bertindak tanpa batas, melainkan kemampuan untuk mengambil sikap secara autentik dalam situasi konkret yang melibatkan orang lain. Kebebasan yang autentik justru menuntut pengakuan terhadap kebebasan orang lain, sehingga menciptakan ruang bagi relasi yang saling menghormati. Dengan demikian, eksistensialisme membuka kemungkinan untuk memahami kebebasan sebagai sesuatu yang bersifat dialogis, bukan individualistik semata.

Lebih lanjut, Martin Buber menekankan bahwa kebebasan sejati hanya dapat terwujud dalam relasi “Aku–Engkau”, di mana individu membuka diri terhadap keberadaan orang lain tanpa mengobjektifikasinya.⁵ Dalam relasi ini, kebebasan tidak digunakan untuk menguasai, tetapi untuk membangun perjumpaan yang autentik.

6.3.       Dasar Etika Eksistensial

Eksistensialisme tidak menawarkan sistem etika normatif yang bersifat universal dan baku, tetapi memberikan dasar bagi etika yang berakar pada pengalaman eksistensial manusia. Etika eksistensial berangkat dari kesadaran akan kebebasan, tanggung jawab, dan keterbatasan manusia. Dalam kerangka ini, tindakan etis tidak ditentukan oleh aturan eksternal semata, tetapi oleh komitmen individu terhadap nilai yang dipilih secara sadar.⁶

Gabriel Marcel menambahkan dimensi personal dalam etika eksistensial dengan menekankan pentingnya kesetiaan, harapan, dan cinta sebagai bentuk keterlibatan eksistensial dengan orang lain.⁷ Etika tidak lagi dipahami sebagai kewajiban formal, tetapi sebagai respons terhadap kehadiran orang lain yang menuntut keterlibatan personal.

Dengan demikian, etika eksistensial bersifat kontekstual dan terbuka, namun tetap memiliki kedalaman moral karena berakar pada pengalaman konkret manusia. Ia menolak relativisme ekstrem dengan menekankan tanggung jawab individu, sekaligus menolak absolutisme kaku dengan mengakui kompleksitas situasi manusia.

6.4.       Relevansi dalam Kehidupan Modern

Implikasi etis dan sosial dari eksistensialisme menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan modern yang ditandai oleh individualisme, globalisasi, dan perkembangan teknologi. Di satu sisi, modernitas memberikan ruang yang lebih luas bagi kebebasan individu. Namun di sisi lain, ia juga menimbulkan berbagai problem sosial seperti alienasi, krisis identitas, dan melemahnya relasi interpersonal yang autentik.⁸

Fenomena alienasi, misalnya, menunjukkan bagaimana individu dapat merasa terasing dari dirinya sendiri maupun dari orang lain dalam masyarakat yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, eksistensialisme menawarkan kritik terhadap kehidupan yang tidak autentik, di mana manusia terjebak dalam rutinitas, konformitas, atau peran sosial yang tidak mencerminkan dirinya yang sebenarnya.

Perkembangan teknologi digital dan media sosial juga menghadirkan tantangan baru dalam relasi interpersonal. Meskipun teknologi memungkinkan konektivitas yang luas, relasi yang terbentuk sering kali bersifat dangkal dan tereduksi menjadi representasi virtual. Dalam situasi ini, konsep relasi autentik seperti yang dikemukakan oleh Martin Buber menjadi semakin penting sebagai kritik terhadap kecenderungan objektifikasi dalam hubungan manusia.⁹

Selain itu, eksistensialisme juga memberikan dasar reflektif untuk memahami pentingnya solidaritas sosial di tengah perbedaan. Jika setiap individu adalah subjek yang bebas dan unik, maka kehidupan bersama menuntut sikap saling menghormati dan pengakuan terhadap keberagaman. Dalam hal ini, eksistensialisme dapat berkontribusi pada pengembangan etika sosial yang inklusif dan humanis.


Secara keseluruhan, implikasi etis dan sosial dari eksistensialisme menunjukkan bahwa kebebasan dan relasi tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas cara ia berelasi dengan orang lain. Dengan demikian, eksistensialisme menawarkan visi tentang manusia sebagai makhluk yang sekaligus bebas dan bertanggung jawab, individual sekaligus sosial, yang hidup dalam dinamika relasi yang terus berkembang.


Footnotes

[1]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 68–72.

[2]                Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 24–28.

[3]                Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 85–90.

[4]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 155–163.

[5]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–65.

[6]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction, 72–75.

[7]                Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1 (Chicago: Henry Regnery, 1950), 50–60.

[8]                Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 2–10.

[9]                Martin Buber, I and Thou, 70–75.


7.           Perspektif Kritik dan Sintesis

Pembahasan mengenai subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak terlepas dari berbagai kritik yang muncul baik dari dalam maupun luar tradisi eksistensial itu sendiri. Kritik-kritik ini penting untuk menguji kekuatan konseptual eksistensialisme sekaligus membuka ruang bagi sintesis yang lebih komprehensif. Dengan demikian, bagian ini akan mengkaji beberapa kritik utama terhadap eksistensialisme serta kemungkinan pengembangan sintesis yang mampu menjembatani ketegangan antara subjektivitas dan interpersonalitas.

7.1.       Kritik terhadap Eksistensialisme

Salah satu kritik yang paling sering diajukan adalah bahwa eksistensialisme cenderung terlalu menekankan individualisme. Penekanan pada kebebasan subjektif dan tanggung jawab personal dianggap berpotensi mengabaikan dimensi sosial dan struktural dari kehidupan manusia. Jean-Paul Sartre, misalnya, sering dikritik karena menggambarkan relasi interpersonal sebagai konflik yang tak terhindarkan, sehingga menimbulkan kesan bahwa eksistensialisme tidak memberikan dasar yang kuat bagi solidaritas sosial.¹ Kritik ini menyoroti risiko bahwa subjektivitas yang terlalu ditekankan dapat mengarah pada isolasi atau bahkan solipsisme.

Selain itu, eksistensialisme juga dikritik karena kurang sistematis dibandingkan dengan tradisi filsafat lainnya. Pemikiran eksistensialis sering kali disampaikan dalam bentuk esai, novel, atau refleksi fenomenologis yang tidak selalu mengikuti struktur argumentatif yang ketat. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam merumuskan prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan secara konsisten.² Namun, di sisi lain, ketidaksistematisan ini juga dapat dipahami sebagai konsekuensi dari upaya eksistensialisme untuk tetap setia pada kompleksitas pengalaman manusia yang tidak dapat direduksi menjadi skema teoritis yang kaku.

Kritik lain datang dari perspektif struktural dan sosial, yang menilai bahwa eksistensialisme kurang memperhatikan faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, politik, dan budaya dalam membentuk eksistensi manusia. Michel Foucault, misalnya, menunjukkan bahwa subjektivitas tidak sepenuhnya bebas, melainkan dibentuk oleh jaringan kekuasaan dan wacana yang melampaui individu.³ Dalam pandangan ini, kebebasan yang ditekankan oleh eksistensialisme perlu dipertimbangkan kembali dalam konteks struktur sosial yang membatasi pilihan individu.

7.2.       Upaya Sintesis dalam Eksistensialisme

Meskipun menghadapi berbagai kritik, eksistensialisme juga menunjukkan kemampuan untuk berkembang melalui berbagai upaya sintesis. Salah satu arah penting adalah pengembangan eksistensialisme dialogis, yang menekankan bahwa subjektivitas tidak dapat dipahami tanpa relasi dengan orang lain. Martin Buber dan Gabriel Marcel merupakan tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan pendekatan ini. Mereka menunjukkan bahwa relasi interpersonal yang autentik bukanlah ancaman bagi subjektivitas, melainkan justru kondisi bagi pemenuhannya.⁴

Sintesis ini berupaya mengatasi dikotomi antara individu dan masyarakat dengan menekankan bahwa keduanya saling mengandaikan. Subjektivitas tidak hilang dalam relasi, melainkan diperkaya melalui perjumpaan dengan yang lain. Dengan demikian, eksistensialisme dialogis menawarkan alternatif terhadap pandangan konflikual yang ditemukan dalam sebagian pemikiran eksistensialis sebelumnya.

Selain itu, Emmanuel Levinas mengembangkan sintesis yang berfokus pada dimensi etis dari relasi interpersonal. Ia menggeser pusat perhatian dari ontologi menuju etika, dengan menegaskan bahwa relasi dengan “yang lain” merupakan dasar dari seluruh refleksi filosofis.⁵ Dalam pendekatan ini, subjektivitas tidak lagi dipahami sebagai pusat yang otonom, melainkan sebagai respons terhadap panggilan etis dari orang lain. Sintesis ini memperkaya eksistensialisme dengan dimensi tanggung jawab yang lebih mendalam.

7.3.       Perbandingan dengan Pendekatan Filsafat Lain

Untuk memperdalam pemahaman, penting juga membandingkan eksistensialisme dengan pendekatan filsafat lain yang memiliki perhatian serupa terhadap subjektivitas dan relasi.

Dalam fenomenologi, khususnya melalui pemikiran Edmund Husserl, konsep intersubjektivitas dikembangkan sebagai dasar bagi pengalaman bersama. Husserl menekankan bahwa kesadaran selalu memiliki struktur intensional yang mengarah pada dunia, termasuk pada keberadaan orang lain.⁶ Pendekatan ini memberikan landasan epistemologis yang lebih sistematis bagi analisis eksistensial mengenai relasi interpersonal.

Sementara itu, dalam personalisme, tokoh seperti Emmanuel Mounier menekankan bahwa manusia adalah pribadi yang hanya dapat berkembang dalam komunitas.⁷ Personalisme berusaha mengintegrasikan kebebasan individu dengan tanggung jawab sosial, sehingga menawarkan perspektif yang lebih seimbang antara subjektivitas dan interpersonalitas.

Dalam konteks yang lebih luas, filsafat sosial modern juga memberikan kontribusi penting dalam memahami relasi antara individu dan masyarakat. Pemikiran tentang pengakuan (recognition), misalnya, menunjukkan bahwa identitas individu terbentuk melalui relasi sosial yang melibatkan pengakuan timbal balik.⁸ Pendekatan ini sejalan dengan upaya eksistensialisme untuk memahami manusia sebagai makhluk yang sekaligus individual dan relasional.

7.4.       Sintesis antara Subjektivitas dan Interpersonalitas

Berdasarkan berbagai kritik dan pendekatan alternatif tersebut, dapat dirumuskan suatu sintesis yang melihat subjektivitas dan interpersonalitas sebagai dua dimensi yang tidak terpisahkan dalam eksistensi manusia. Subjektivitas memberikan dasar bagi kebebasan dan tanggung jawab individu, sementara interpersonalitas memberikan konteks bagi pembentukan identitas dan makna.

Sintesis ini menolak dua ekstrem: di satu sisi, individualisme radikal yang mengabaikan relasi sosial; di sisi lain, kolektivisme yang meniadakan kebebasan individu. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa manusia menjadi dirinya melalui relasi dengan orang lain, tanpa kehilangan otonominya sebagai subjek.⁹ Dalam kerangka ini, kebebasan dipahami sebagai kebebasan yang relasional, yaitu kebebasan yang diwujudkan dalam hubungan yang saling menghormati dan mengakui.

Dengan demikian, eksistensialisme dapat dipahami sebagai filsafat yang terus berkembang melalui dialog dengan berbagai tradisi lain. Kritik terhadap eksistensialisme tidak melemahkannya, tetapi justru memperkaya dan memperluas cakupan refleksinya. Sintesis antara subjektivitas dan interpersonalitas menunjukkan bahwa manusia tidak hanya “ada untuk dirinya sendiri”, tetapi juga “ada bersama yang lain”, dalam suatu dinamika yang terus membentuk makna eksistensinya.


Footnotes

[1]                Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 360–365.

[2]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 10–15.

[3]                Michel Foucault, The History of Sexuality, Vol. 1, trans. Robert Hurley (New York: Vintage Books, 1978), 92–100.

[4]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–70; Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1 (Chicago: Henry Regnery, 1950), 50–60.

[5]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–201.

[6]                Edmund Husserl, Cartesian Meditations, trans. Dorion Cairns (The Hague: Martinus Nijhoff, 1960), 89–95.

[7]                Emmanuel Mounier, Personalism (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1952), 19–25.

[8]                Axel Honneth, The Struggle for Recognition (Cambridge, MA: MIT Press, 1995), 92–100.

[9]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 36–40.


8.           Penutup

Pembahasan mengenai subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme memperlihatkan bahwa keberadaan manusia tidak dapat direduksi pada satu dimensi saja, baik sebagai individu yang otonom maupun sebagai makhluk sosial yang sepenuhnya ditentukan oleh relasi. Eksistensialisme, dalam berbagai coraknya, justru menegaskan bahwa manusia hidup dalam ketegangan kreatif antara kebebasan subjektif dan keterhubungan dengan orang lain. Ketegangan ini bukanlah kontradiksi yang harus dihilangkan, melainkan kondisi eksistensial yang memungkinkan manusia untuk terus membentuk dirinya dalam dinamika kehidupan yang konkret.¹

Subjektivitas, sebagaimana telah diuraikan, merupakan inti dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab. Melalui subjektivitas, manusia tidak hanya “ada”, tetapi juga mampu merefleksikan dirinya, membuat pilihan, dan menentukan arah hidupnya. Namun, subjektivitas ini tidak pernah berdiri dalam ruang hampa. Ia selalu berkembang dalam konteks relasi dengan orang lain, baik dalam bentuk konflik, dialog, maupun tanggung jawab etis.² Dengan demikian, subjektivitas yang autentik justru menuntut keterbukaan terhadap keberadaan “yang lain”.

Di sisi lain, interpersonalitas menunjukkan bahwa relasi dengan orang lain bukan sekadar aspek tambahan dalam kehidupan manusia, melainkan bagian integral dari struktur eksistensi itu sendiri. Martin Heidegger melalui konsep Mitsein menegaskan bahwa manusia sejak awal sudah berada dalam dunia bersama orang lain.³ Sementara itu, Martin Buber menunjukkan bahwa relasi autentik dengan “yang lain” merupakan jalan menuju pemenuhan eksistensi melalui perjumpaan dialogis.⁴ Perspektif ini diperkuat oleh Emmanuel Levinas yang menempatkan tanggung jawab terhadap “yang lain” sebagai dasar etika.⁵

Dari keseluruhan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa subjektivitas dan interpersonalitas bukanlah dua konsep yang saling meniadakan, melainkan dua dimensi yang saling mengandaikan. Subjektivitas tanpa interpersonalitas berisiko jatuh ke dalam isolasi atau solipsisme, sedangkan interpersonalitas tanpa subjektivitas berisiko kehilangan dimensi kebebasan dan tanggung jawab individu. Oleh karena itu, pemahaman yang utuh tentang eksistensi manusia harus mampu mengintegrasikan kedua dimensi ini dalam suatu kerangka yang koheren.

Lebih jauh, refleksi eksistensial ini memiliki implikasi yang relevan bagi kehidupan kontemporer. Di tengah kecenderungan individualisme yang kuat dan sekaligus meningkatnya kompleksitas relasi sosial, manusia dihadapkan pada tantangan untuk menemukan keseimbangan antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab sosial. Eksistensialisme menawarkan kerangka reflektif yang memungkinkan manusia untuk memahami dirinya sebagai makhluk yang bebas sekaligus terikat, otonom sekaligus relasional.⁶ Dengan demikian, ia tidak hanya memberikan analisis filosofis, tetapi juga orientasi etis bagi kehidupan manusia.

Sebagai refleksi akhir, dapat dikatakan bahwa eksistensi manusia selalu berada dalam proses “menjadi”, yang berlangsung melalui interaksi antara diri dan yang lain. Manusia tidak pernah selesai sebagai subjek, melainkan terus membentuk dirinya melalui pilihan, relasi, dan tanggung jawab. Dalam konteks ini, eksistensialisme mengajak manusia untuk hidup secara autentik, yakni dengan menyadari kebebasannya sekaligus mengakui keberadaan orang lain sebagai sesama subjek yang memiliki martabat.

Ke depan, kajian tentang subjektivitas dan interpersonalitas masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, baik melalui dialog dengan tradisi filsafat lain maupun melalui integrasi dengan perspektif religius dan kultural. Pendekatan interdisipliner yang melibatkan filsafat, teologi, dan ilmu sosial dapat memperkaya pemahaman tentang manusia sebagai makhluk yang kompleks dan multidimensional. Dengan demikian, eksistensialisme tetap relevan sebagai kerangka refleksi yang dinamis dalam menghadapi berbagai tantangan eksistensial di era modern.


Footnotes

[1]                Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 58–62.

[2]                Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 25–30.

[3]                Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 155–163.

[4]                Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–70.

[5]                Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–201.

[6]                Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 2–10.


Daftar Pustaka

Buber, M. (1970). I and thou (W. Kaufmann, Trans.). Scribner.

Flynn, T. R. (2006). Existentialism: A very short introduction. Oxford University Press.

Foucault, M. (1978). The history of sexuality: Vol. 1. An introduction (R. Hurley, Trans.). Vintage Books.

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.

Honneth, A. (1995). The struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts. MIT Press.

Husserl, E. (1960). Cartesian meditations: An introduction to phenomenology (D. Cairns, Trans.). Martinus Nijhoff.

Kaufmann, W. (Ed.). (1956). Existentialism from Dostoevsky to Sartre. Meridian Books.

Kierkegaard, S. (1941). Concluding unscientific postscript (D. F. Swenson, Trans.). Princeton University Press.

Kierkegaard, S. (1980). The concept of anxiety (R. Thomte, Trans.). Princeton University Press.

Kierkegaard, S. (1985). Fear and trembling (A. Hannay, Trans.). Penguin Books.

Levinas, E. (1969). Totality and infinity: An essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). Duquesne University Press.

Levinas, E. (1985). Ethics and infinity: Conversations with Philippe Nemo (R. A. Cohen, Trans.). Duquesne University Press.

Marcel, G. (1950). The mystery of being: Vol. 1. Reflection and mystery. Henry Regnery.

Moran, D. (2000). Introduction to phenomenology. Routledge.

Mounier, E. (1952). Personalism. University of Notre Dame Press.

Nietzsche, F. (1978). Thus spoke Zarathustra (W. Kaufmann, Trans.). Penguin Books.

Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.

Sartre, J.-P. (1989). No exit and three other plays. Vintage Books.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.

Taylor, C. (1989). Sources of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.

Taylor, C. (1991). The ethics of authenticity. Harvard University Press.

Zahavi, D. (2014). Self and other: Exploring subjectivity, empathy, and shame. Oxford University Press.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar