Subjektivitas dan Interpersonalitas
Dari Kesadaran Diri Menuju Relasi dengan Yang Lain
Alihkan ke: Filsafat Eksistensialisme.
Abstrak
Artikel ini mengkaji secara filosofis hubungan
antara subjektivitas dan interpersonalitas dalam kerangka eksistensialisme,
dengan menempatkan manusia sebagai makhluk yang sekaligus bebas dan relasional.
Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana subjektivitas sebagai
kesadaran diri yang otonom dapat dipahami dalam kaitannya dengan keberadaan
“yang lain”, serta apakah keduanya merupakan dimensi yang saling bertentangan
atau justru saling melengkapi. Kajian ini menggunakan pendekatan
analitis-kritis dan komparatif terhadap pemikiran tokoh-tokoh eksistensialis
seperti Søren Kierkegaard, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Martin Buber,
serta Emmanuel Levinas.
Hasil kajian menunjukkan bahwa subjektivitas dalam
eksistensialisme tidak dapat dipahami secara terisolasi, melainkan selalu
berada dalam horizon relasi dengan orang lain. Di satu sisi, subjektivitas menegaskan
kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab individu; di sisi lain,
interpersonalitas menghadirkan dimensi pengakuan, dialog, dan tuntutan etis
yang membentuk identitas diri. Dialektika antara keduanya memperlihatkan adanya
ketegangan antara kebebasan dan keterbatasan, namun sekaligus membuka
kemungkinan sintesis dalam bentuk relasi yang autentik dan etis.
Lebih lanjut, artikel ini menegaskan bahwa
eksistensialisme tidak semata-mata merupakan filsafat individualisme, tetapi
juga menyediakan dasar bagi pemahaman yang lebih luas tentang relasi sosial dan
tanggung jawab moral. Implikasi etis dan sosial dari kajian ini menunjukkan
bahwa kebebasan manusia harus dipahami secara relasional, yakni sebagai
kebebasan yang mengakui dan menghormati keberadaan orang lain. Dalam konteks
kehidupan modern yang ditandai oleh individualisme dan kompleksitas relasi
sosial, eksistensialisme tetap relevan sebagai kerangka reflektif untuk
memahami dinamika identitas, makna, dan tanggung jawab manusia.
Dengan demikian, sintesis antara subjektivitas dan
interpersonalitas memberikan kontribusi penting bagi pengembangan filsafat
eksistensialisme yang lebih komprehensif, sekaligus membuka ruang dialog dengan
pendekatan filsafat lain dalam memahami manusia sebagai makhluk yang multidimensional.
Kata Kunci: Subjektivitas; Interpersonalitas; Eksistensialisme;
Intersubjektivitas; Kebebasan; Tanggung Jawab; Relasi Aku–Engkau; Etika
Eksistensial.
PEMBAHASAN
Subjektivitas dan Interpersonalitas dalam
Eksistensialisme
1.
Pendahuluan
Eksistensialisme muncul sebagai salah satu arus
filsafat yang paling berpengaruh dalam merespons krisis makna yang melanda
manusia modern, terutama sejak abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Krisis
tersebut tidak hanya bersumber dari perubahan sosial-politik seperti revolusi
industri, sekularisasi, dan perang dunia, tetapi juga dari pergeseran cara
manusia memahami dirinya sendiri. Dalam konteks ini, manusia tidak lagi
dipandang sebagai entitas yang memiliki esensi tetap yang ditentukan sebelumnya,
melainkan sebagai makhluk yang harus membentuk dirinya melalui pilihan-pilihan
eksistensial yang konkret.¹ Dengan demikian, eksistensialisme menempatkan
pengalaman subjektif manusia sebagai titik tolak utama dalam memahami realitas.
Salah satu konsep sentral dalam eksistensialisme
adalah subjektivitas, yakni kesadaran diri manusia sebagai subjek yang
mengalami, memilih, dan bertanggung jawab atas eksistensinya sendiri. Bagi
Søren Kierkegaard, subjektivitas bahkan dipahami sebagai kebenaran itu sendiri
dalam arti eksistensial—bukan kebenaran objektif yang bersifat abstrak,
melainkan kebenaran yang dihayati secara personal dan autentik.² Pandangan ini
menandai pergeseran penting dari tradisi filsafat sebelumnya yang cenderung
mengutamakan rasionalitas objektif menuju penekanan pada pengalaman individu
yang konkret dan unik. Dalam garis pemikiran ini, subjektivitas tidak sekadar
berarti “pendapat pribadi”, tetapi merupakan inti dari keberadaan manusia
sebagai makhluk yang sadar akan dirinya dan dunianya.
Namun, penekanan yang kuat pada subjektivitas
menimbulkan pertanyaan filosofis yang tidak kalah penting: bagaimana posisi
“yang lain” dalam kerangka eksistensialisme? Apakah manusia sebagai subjek yang
bebas dan otonom dapat berdiri sepenuhnya sendiri, atau justru keberadaannya
secara fundamental terkait dengan kehadiran orang lain? Di sinilah muncul
konsep interpersonalitas, yaitu relasi antara subjek dengan subjek lain
yang sama-sama memiliki kesadaran dan kebebasan. Relasi ini bukan sekadar
hubungan eksternal, melainkan bagian integral dari struktur eksistensi manusia
itu sendiri.³
Permasalahan ini menjadi semakin kompleks ketika
kita melihat perbedaan pandangan di antara para tokoh eksistensialis. Jean-Paul
Sartre, misalnya, melihat relasi dengan orang lain dalam kerangka konflik, di
mana kehadiran “yang lain” dapat mengancam kebebasan subjektif melalui
objektifikasi. Ungkapannya yang terkenal, “l’enfer, c’est les autres” (“neraka
adalah orang lain”), mencerminkan ketegangan inheren dalam relasi interpersonal.⁴
Sebaliknya, Martin Buber menawarkan pendekatan dialogis melalui konsep relasi
“Aku–Engkau” (I–Thou), di mana hubungan autentik dengan orang lain justru
menjadi jalan menuju pemenuhan eksistensi.⁵ Perbedaan ini menunjukkan bahwa
interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak dapat direduksi menjadi satu
perspektif tunggal, melainkan merupakan medan dialektika yang kaya dan
kompleks.
Lebih lanjut, perkembangan pemikiran
eksistensialisme juga memperlihatkan bahwa subjektivitas dan interpersonalitas
bukanlah dua konsep yang saling meniadakan, melainkan saling mengandaikan.
Martin Heidegger, melalui konsep Mitsein (being-with), menegaskan bahwa
keberadaan manusia (Dasein) pada dasarnya selalu sudah berada dalam dunia
bersama orang lain.⁶ Dengan demikian, subjektivitas tidak pernah benar-benar
terisolasi, melainkan selalu terbentuk dalam jaringan relasi sosial dan
historis. Perspektif ini membuka kemungkinan untuk memahami eksistensi manusia
sebagai fenomena yang bersifat intersubjektif, di mana identitas diri terbentuk
melalui interaksi dengan yang lain.
Dalam konteks kehidupan kontemporer, kajian tentang
subjektivitas dan interpersonalitas menjadi semakin relevan. Di satu sisi,
modernitas dan globalisasi mendorong munculnya individualisme yang menekankan kebebasan
dan otonomi pribadi. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi dan
media sosial justru memperlihatkan bahwa manusia semakin terikat dalam jaringan
relasi yang kompleks, meskipun tidak selalu bersifat autentik. Fenomena seperti
alienasi, krisis identitas, dan polarisasi sosial menunjukkan bahwa relasi
antara “aku” dan “yang lain” masih menjadi problem yang belum terselesaikan
secara tuntas.⁷ Oleh karena itu, pendekatan eksistensialisme dapat memberikan
kerangka reflektif untuk memahami dinamika ini secara lebih mendalam.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian ini
berangkat dari beberapa rumusan masalah utama: (1) bagaimana konsep
subjektivitas dipahami dalam tradisi eksistensialisme; (2) bagaimana relasi
interpersonal atau intersubjektivitas dijelaskan oleh para pemikir
eksistensialis; dan (3) apakah subjektivitas dan interpersonalitas merupakan
dua dimensi yang saling bertentangan atau justru saling melengkapi dalam
struktur eksistensi manusia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkaji
secara sistematis hubungan antara kedua konsep tersebut serta mengeksplorasi
implikasi filosofisnya, baik dalam ranah ontologis maupun etis.
Dengan pendekatan analitis-kritis dan komparatif,
tulisan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif
mengenai dinamika antara subjektivitas dan interpersonalitas dalam
eksistensialisme. Selain itu, kajian ini juga membuka ruang refleksi yang lebih
luas mengenai bagaimana manusia dapat memahami dirinya sebagai individu yang
bebas sekaligus sebagai makhluk yang tidak terpisahkan dari keberadaan orang
lain. Dengan demikian, eksistensialisme tidak hanya dipahami sebagai filsafat
tentang individu, tetapi juga sebagai filsafat tentang relasi—tentang bagaimana
manusia menjadi dirinya melalui dan bersama yang lain.
Footnotes
[1]
Walter Kaufmann, Existentialism from Dostoevsky
to Sartre (New York: Meridian Books, 1956), 11–13.
[2]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific
Postscript, trans. David F. Swenson (Princeton: Princeton University Press,
1941), 182.
[3]
Dermot Moran, Introduction to Phenomenology
(London: Routledge, 2000), 176–180.
[4]
Jean-Paul Sartre, No Exit and Three Other Plays
(New York: Vintage Books, 1989), 45.
[5]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter
Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–63.
[6]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962),
155–163.
[7]
Charles Taylor, The Ethics of Authenticity
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 2–5.
2.
Landasan Konseptual Eksistensialisme
Eksistensialisme merupakan suatu arus pemikiran
filsafat yang menempatkan manusia sebagai pusat refleksi, bukan dalam arti
abstrak atau esensial, melainkan sebagai makhluk konkret yang hidup, mengalami,
dan mengambil keputusan dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Berbeda dengan
tradisi metafisika klasik yang berupaya menemukan hakikat tetap (esensi) dari
manusia, eksistensialisme justru menegaskan bahwa manusia tidak memiliki esensi
yang telah ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, manusia terlebih dahulu “ada”
(eksis), kemudian melalui tindakan dan pilihan-pilihannya, ia membentuk
esensinya sendiri.¹ Prinsip ini menjadi fondasi ontologis eksistensialisme dan
sekaligus menandai pergeserannya dari filsafat esensialis menuju filsafat
eksistensial.
Secara historis, eksistensialisme tidak muncul
sebagai sistem filsafat yang tunggal dan terstruktur secara ketat, melainkan
sebagai respons terhadap berbagai krisis intelektual dan spiritual dalam
peradaban Barat modern. Søren Kierkegaard sering dianggap sebagai pelopor
eksistensialisme karena kritiknya terhadap rasionalisme sistematis ala Hegel
dan penekanannya pada individu yang konkret sebagai pusat kebenaran.² Dalam
pandangannya, kebenaran bukanlah sekadar korespondensi antara pikiran dan
realitas, melainkan sesuatu yang harus dihayati secara subjektif melalui
pilihan eksistensial yang melibatkan komitmen personal. Dengan demikian,
eksistensialisme sejak awal telah mengandung dimensi eksistensial-religius yang
menekankan relasi individu dengan Tuhan sebagai aspek fundamental dari
keberadaan.
Selanjutnya, Friedrich Nietzsche memberikan
kontribusi penting dengan mengkritik moralitas tradisional dan konsep kebenaran
absolut. Ia menegaskan bahwa manusia harus berani menciptakan nilai-nilai baru
setelah “kematian Tuhan”, yakni runtuhnya fondasi metafisik dan religius yang
sebelumnya menjadi dasar makna hidup.³ Dalam kerangka ini, eksistensi manusia
menjadi medan kreativitas sekaligus tanggung jawab radikal, di mana individu
tidak lagi dapat bergantung pada otoritas eksternal untuk menentukan makna
hidupnya.
Memasuki abad ke-20, eksistensialisme berkembang
lebih sistematis melalui karya Martin Heidegger, yang mengalihkan fokus dari
manusia sebagai subjek menuju analisis tentang “ada” (Being) melalui konsep Dasein.
Heidegger memahami manusia sebagai makhluk yang “ada-di-dunia” (being-in-the-world),
yakni selalu berada dalam konteks relasional yang melibatkan dunia, waktu, dan
orang lain.⁴ Dalam analisisnya, eksistensi manusia ditandai oleh keterlemparan
(thrownness), keterarahan menuju masa depan, dan kesadaran akan kematian
sebagai kemungkinan paling otentik. Pendekatan ini menunjukkan bahwa
eksistensialisme tidak hanya berkaitan dengan kebebasan individu, tetapi juga
dengan struktur ontologis keberadaan manusia secara keseluruhan.
Di sisi lain, Jean-Paul Sartre mengembangkan
eksistensialisme dalam kerangka ateistik yang menekankan kebebasan absolut
manusia. Dalam karyanya Being and Nothingness, Sartre membedakan antara être-en-soi
(being-in-itself) dan être-pour-soi (being-for-itself). Yang pertama
merujuk pada keberadaan benda yang statis, sedangkan yang kedua merujuk pada
kesadaran manusia yang dinamis dan selalu melampaui dirinya sendiri.⁵ Bagi
Sartre, karena tidak ada Tuhan yang menentukan esensi manusia, maka manusia
sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang ia jadikan dirinya. Kebebasan ini
bersifat radikal dan tidak dapat dihindari, sehingga manusia “dikutuk untuk
bebas” (condemned to be free).⁶
Meskipun demikian, tidak semua pemikir eksistensialis
memandang eksistensi manusia dalam kerangka individualisme radikal. Gabriel
Marcel, misalnya, mengembangkan eksistensialisme yang bersifat teistik dan
dialogis, dengan menekankan pentingnya relasi, partisipasi, dan kehadiran (presence)
dalam kehidupan manusia.⁷ Sementara itu, Martin Buber memperkenalkan konsep
relasi “Aku–Engkau” (I–Thou) sebagai bentuk hubungan yang autentik, yang
berbeda dari relasi “Aku–Itu” (I–It) yang bersifat objektifikasi.⁸ Pendekatan
ini menunjukkan bahwa eksistensialisme juga memiliki dimensi interpersonal yang
kuat, di mana keberadaan manusia tidak dapat dipahami secara terpisah dari
relasi dengan yang lain.
Dari berbagai pemikiran tersebut, dapat dirumuskan
beberapa prinsip utama eksistensialisme. Pertama, eksistensi mendahului
esensi, yaitu bahwa manusia tidak memiliki hakikat tetap sebelum ia eksis
dan bertindak. Kedua, kebebasan dan tanggung jawab, yakni bahwa manusia
bebas menentukan dirinya, tetapi kebebasan tersebut selalu disertai dengan
tanggung jawab atas konsekuensi pilihan. Ketiga, autentisitas, yaitu
hidup secara jujur dan sadar terhadap kondisi eksistensial sendiri, tanpa
terjebak dalam konformitas sosial atau penyangkalan diri. Keempat, kecemasan
(anxiety) sebagai kondisi eksistensial yang muncul dari kesadaran akan
kebebasan dan keterbatasan manusia.⁹
Dengan demikian, landasan konseptual
eksistensialisme tidak hanya mencakup aspek ontologis tentang keberadaan
manusia, tetapi juga aspek etis dan fenomenologis yang berkaitan dengan
pengalaman hidup konkret. Eksistensialisme berupaya memahami manusia bukan
sebagai objek yang dapat dijelaskan secara ilmiah semata, melainkan sebagai
subjek yang hidup dalam dunia yang penuh makna, pilihan, dan relasi. Kerangka
konseptual ini menjadi dasar penting untuk menganalisis lebih lanjut hubungan
antara subjektivitas dan interpersonalitas, yang akan dibahas pada
bagian-bagian berikutnya.
Footnotes
[1]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism,
trans. Carol Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 22–24.
[2]
Søren Kierkegaard, Fear and Trembling,
trans. Alastair Hannay (London: Penguin Books, 1985), 54–56.
[3]
Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra,
trans. Walter Kaufmann (New York: Penguin Books, 1978), 125–130.
[4]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–85.
[5]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness,
trans. Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 21–30.
[6]
Sartre, Existentialism Is a Humanism, 29.
[7]
Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1
(Chicago: Henry Regnery, 1950), 40–45.
[8]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter
Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 53–60.
[9]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 44–52.
3.
Subjektivitas: Hakikat dan Dimensinya
Subjektivitas
merupakan konsep sentral dalam eksistensialisme yang merujuk pada cara manusia
memahami dirinya sebagai subjek yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab atas
keberadaannya. Berbeda dengan pendekatan objektivistik yang melihat manusia
sebagai objek yang dapat dijelaskan secara deterministik, eksistensialisme
menempatkan subjektivitas sebagai inti dari realitas manusia. Dengan demikian,
memahami manusia berarti memahami bagaimana ia mengalami dunia, membuat pilihan,
dan memberi makna terhadap eksistensinya sendiri.¹
3.1.
Pengertian Subjektivitas
Secara umum,
subjektivitas dapat dipahami sebagai kesadaran diri (self-awareness)
yang memungkinkan manusia merefleksikan dirinya sebagai “aku” yang berbeda dari
dunia di sekitarnya. Dalam kerangka eksistensialisme, subjektivitas bukan
sekadar fenomena psikologis, melainkan struktur ontologis dari keberadaan
manusia. Søren Kierkegaard secara tegas menyatakan bahwa “kebenaran adalah
subjektivitas”, yang berarti bahwa kebenaran eksistensial tidak terletak pada
proposisi objektif, melainkan pada bagaimana individu menghayati dan
mengaktualisasikan kebenaran tersebut dalam hidupnya.²
Dalam pandangan ini,
subjektivitas berkaitan erat dengan pengalaman eksistensial yang konkret, seperti
kecemasan, pilihan, dan komitmen. Kebenaran tidak lagi dipahami sebagai sesuatu
yang bersifat universal dan impersonal, tetapi sebagai sesuatu yang menuntut
keterlibatan total dari individu. Oleh karena itu, subjektivitas menjadi medan
di mana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan
kemungkinan-kemungkinan yang terbuka, serta dengan tanggung jawab atas
keputusan yang diambil.
Lebih lanjut,
subjektivitas juga mencerminkan sifat reflektif dari kesadaran manusia. Tidak
seperti benda mati yang sekadar “ada”, manusia memiliki kemampuan untuk
mengambil jarak dari dirinya sendiri dan mempertanyakan eksistensinya.
Kemampuan reflektif ini memungkinkan manusia untuk tidak hanya hidup, tetapi
juga menyadari bahwa ia hidup, sehingga membuka ruang bagi kebebasan dan
transformasi diri.³
3.2.
Subjektivitas dalam Perspektif Tokoh
Pemahaman tentang
subjektivitas dalam eksistensialisme berkembang melalui kontribusi berbagai
tokoh dengan penekanan yang berbeda-beda. Søren Kierkegaard, sebagai pelopor
eksistensialisme, menekankan dimensi religius dari subjektivitas. Baginya,
subjektivitas adalah relasi individu dengan dirinya sendiri di hadapan Tuhan,
yang diwujudkan melalui “lompatan iman” (leap of faith). Dalam konteks ini,
subjektivitas bukan sekadar kesadaran diri, tetapi juga komitmen eksistensial
yang melibatkan seluruh keberadaan individu.⁴
Sementara itu,
Jean-Paul Sartre mengembangkan konsep subjektivitas dalam kerangka ateistik
dengan menekankan kebebasan radikal manusia. Ia membedakan antara être-en-soi
(being-in-itself) dan être-pour-soi (being-for-itself),
di mana yang terakhir merujuk pada kesadaran manusia sebagai subjek yang tidak
pernah selesai dan selalu melampaui dirinya sendiri.⁵ Dalam pandangan Sartre,
subjektivitas bersifat dinamis dan terbuka, karena manusia selalu berada dalam
proses menjadi (becoming). Kesadaran manusia adalah
“ketiadaan” (nothingness) yang memungkinkan
negasi terhadap keadaan yang ada dan membuka kemungkinan baru.⁶
Berbeda dengan
Sartre, Martin Heidegger tidak menggunakan istilah subjektivitas secara
eksplisit, tetapi mengembangkan konsep Dasein sebagai bentuk eksistensi
manusia. Dasein adalah makhluk yang memiliki kesadaran akan “ada” dan selalu
berada dalam dunia (being-in-the-world).⁷ Dalam
kerangka ini, subjektivitas tidak dipahami sebagai entitas terpisah dari dunia,
melainkan sebagai eksistensi yang selalu terlibat dalam konteks relasional.
Heidegger juga menekankan bahwa Dasein ditandai oleh keterlemparan (thrownness),
yakni kondisi di mana manusia “dilemparkan” ke dalam dunia tanpa memilih
asal-usulnya, namun tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap
situasi tersebut.⁸
Dengan demikian,
meskipun terdapat perbedaan pendekatan, para tokoh eksistensialis sepakat bahwa
subjektivitas merupakan aspek fundamental dari keberadaan manusia yang tidak
dapat direduksi menjadi objek atau struktur eksternal semata.
3.3.
Dimensi Subjektivitas
Subjektivitas dalam
eksistensialisme memiliki beberapa dimensi utama yang saling berkaitan dan
membentuk struktur pengalaman manusia.
Pertama, kebebasan.
Manusia dipahami sebagai makhluk yang bebas dalam arti eksistensial, yakni
memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan dirinya sendiri. Kebebasan ini
bukan sekadar kebebasan eksternal, tetapi kebebasan internal yang melekat pada
kesadaran manusia. Namun, kebebasan ini juga membawa konsekuensi berupa
tanggung jawab penuh atas setiap pilihan yang diambil.⁹
Kedua, kecemasan
(anxiety). Dalam eksistensialisme, kecemasan bukan dipandang
sebagai gangguan psikologis semata, melainkan sebagai kondisi eksistensial yang
muncul dari kesadaran akan kebebasan dan kemungkinan yang tak terbatas. Søren
Kierkegaard menyebut kecemasan sebagai “pusingnya kebebasan” (dizziness
of freedom), yang mencerminkan ambiguitas antara potensi dan
ketidakpastian.¹⁰ Kecemasan ini menjadi tanda bahwa manusia menyadari tanggung
jawabnya dalam menentukan arah hidupnya.
Ketiga, pilihan
dan tanggung jawab. Subjektivitas menuntut manusia untuk
membuat pilihan yang tidak dapat dihindari. Tidak memilih pun merupakan bentuk
pilihan. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari tanggung
jawab atas eksistensinya. Dalam pandangan Jean-Paul Sartre, setiap pilihan
individu tidak hanya menentukan dirinya sendiri, tetapi juga mencerminkan nilai
yang dianggap berlaku bagi seluruh manusia.¹¹
Keempat, autentisitas.
Autentisitas merujuk pada cara hidup yang sesuai dengan kesadaran eksistensial,
yakni hidup secara jujur terhadap diri sendiri tanpa terjebak dalam tekanan sosial
atau peran yang tidak autentik. Martin Heidegger menggambarkan kondisi
inautentik sebagai kehidupan yang larut dalam “das Man” (mereka), di mana
individu kehilangan dirinya dalam konformitas sosial.¹² Sebaliknya, hidup
autentik berarti menghadapi kenyataan eksistensial, termasuk kematian, secara
sadar dan bertanggung jawab.
Dengan demikian,
subjektivitas dalam eksistensialisme tidak hanya merupakan konsep teoretis,
tetapi juga mencerminkan dinamika hidup manusia yang konkret. Ia mencakup
kebebasan, kecemasan, pilihan, tanggung jawab, dan autentisitas sebagai dimensi
yang saling terkait. Melalui subjektivitas, manusia tidak hanya “ada”, tetapi
juga menjadi dirinya sendiri dalam proses yang terus berlangsung. Pemahaman ini
menjadi landasan penting untuk mengkaji bagaimana subjektivitas berinteraksi
dengan keberadaan orang lain dalam kerangka interpersonalitas.
Footnotes
[1]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction
(Oxford: Oxford University Press, 2006), 1–5.
[2]
Søren Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript, trans.
David F. Swenson (Princeton: Princeton University Press, 1941), 182.
[3]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 25–30.
[4]
Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay
(London: Penguin Books, 1985), 54–60.
[5]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E.
Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 56–60.
[6]
Ibid., 100–105.
[7]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 78–85.
[8]
Ibid., 174–180.
[9]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 29–34.
[10]
Søren Kierkegaard, The Concept of Anxiety, trans. Reidar Thomte
(Princeton: Princeton University Press, 1980), 61.
[11]
Sartre, Existentialism Is a Humanism, 24–28.
[12]
Heidegger, Being and Time, 164–168.
4.
Interpersonalitas: Relasi dengan “Yang Lain”
Jika subjektivitas
menekankan dimensi internal keberadaan manusia sebagai subjek yang sadar dan
bebas, maka interpersonalitas mengarahkan perhatian pada relasi antara subjek
dengan subjek lain yang sama-sama memiliki kesadaran dan kebebasan. Dalam
kerangka eksistensialisme, manusia tidak hanya hidup sebagai “aku” yang terisolasi,
melainkan selalu berada dalam dunia bersama orang lain. Oleh karena itu,
memahami eksistensi manusia secara utuh menuntut analisis terhadap bagaimana
“aku” berelasi dengan “yang lain” (the Other) dalam struktur
pengalaman eksistensial.¹
4.1.
Pengertian Interpersonalitas
Interpersonalitas
dapat dipahami sebagai relasi intersubjektif, yakni hubungan antara
individu-individu yang masing-masing memiliki kesadaran diri. Berbeda dengan
relasi antara subjek dan objek, relasi interpersonal melibatkan pengakuan
terhadap orang lain sebagai subjek yang otonom dan memiliki dunia pengalaman
sendiri.² Dalam konteks ini, “yang lain” bukan sekadar objek yang dapat
dipahami atau dikendalikan, melainkan realitas yang menghadirkan tantangan
sekaligus kemungkinan bagi eksistensi diri.
Dalam fenomenologi
dan eksistensialisme, konsep intersubjektivitas menjadi penting karena
menunjukkan bahwa kesadaran diri tidak berkembang dalam isolasi, melainkan
melalui interaksi dengan orang lain. Identitas diri terbentuk melalui proses pengakuan
(recognition),
di mana individu memahami dirinya sebagai subjek melalui pandangan dan respons
dari orang lain.³ Dengan demikian, interpersonalitas bukan sekadar tambahan
eksternal terhadap subjektivitas, tetapi merupakan bagian integral dari pembentukan
diri manusia.
Lebih jauh,
kehadiran “yang lain” juga memiliki dimensi ontologis, karena ia memengaruhi
cara manusia memahami dirinya sendiri. Dalam relasi interpersonal, manusia
tidak hanya bertemu dengan orang lain, tetapi juga berhadapan dengan batas-batas
kebebasannya, serta dengan tuntutan etis yang muncul dari keberadaan orang lain
sebagai sesama subjek.⁴
4.2.
Perspektif Tokoh
Pemahaman tentang
interpersonalitas dalam eksistensialisme berkembang melalui berbagai pendekatan
yang sering kali bersifat kontras.
Jean-Paul Sartre
melihat relasi dengan “yang lain” dalam kerangka konflik. Dalam analisisnya
tentang “tatapan” (the look), Sartre menjelaskan bahwa
kehadiran orang lain dapat mengubah posisi subjek menjadi objek. Ketika
seseorang disadari oleh orang lain, ia mengalami dirinya sebagai objek dalam
pandangan orang lain, sehingga kebebasannya terasa terancam.⁵ Dari sini muncul
ketegangan antara dua kesadaran yang saling berusaha mempertahankan
kebebasannya. Pernyataan Sartre yang terkenal, “neraka adalah orang lain” (l’enfer,
c’est les autres), mencerminkan konflik inheren dalam relasi
interpersonal yang cenderung bersifat kompetitif dan objektifikatif.⁶
Sebaliknya, Martin
Buber menawarkan pendekatan dialogis yang lebih positif. Dalam karyanya I and Thou,
Buber membedakan antara dua jenis relasi, yaitu “Aku–Itu” (I–It) dan
“Aku–Engkau” (I–Thou). Relasi “Aku–Itu” bersifat instrumental dan
objektifikatif, di mana yang lain diperlakukan sebagai objek. Sebaliknya,
relasi “Aku–Engkau” merupakan hubungan autentik yang didasarkan pada perjumpaan
langsung dan saling pengakuan sebagai subjek.⁷ Dalam relasi ini, individu tidak
kehilangan dirinya, melainkan justru menemukan kedalaman eksistensinya melalui
keterbukaan terhadap yang lain.
Pendekatan yang
serupa dikembangkan oleh Gabriel Marcel, yang menekankan konsep kehadiran (presence)
dan partisipasi dalam relasi interpersonal. Marcel mengkritik kecenderungan
modern untuk mereduksi relasi manusia menjadi hubungan fungsional atau teknis.
Baginya, relasi autentik hanya dapat terjadi ketika individu membuka diri
secara eksistensial terhadap yang lain, bukan sekadar berinteraksi secara
objektif.⁸ Dalam relasi semacam ini, muncul dimensi kesetiaan, kepercayaan, dan
cinta sebagai bentuk keterlibatan yang mendalam.
Lebih lanjut,
Emmanuel Levinas mengembangkan pendekatan etis terhadap interpersonalitas
dengan menempatkan “yang lain” sebagai pusat refleksi filosofis. Menurut
Levinas, perjumpaan dengan wajah (face) orang lain menghadirkan
tuntutan etis yang tidak dapat direduksi menjadi kategori rasional atau
ontologis.⁹ Wajah orang lain “memanggil” dan menuntut tanggung jawab, sehingga
etika menjadi filsafat pertama. Dalam perspektif ini, relasi dengan yang lain
bukan sekadar fenomena sosial, melainkan dasar dari moralitas itu sendiri.
4.3.
Bentuk Relasi Interpersonal
Dalam
eksistensialisme, relasi interpersonal dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk
yang mencerminkan kualitas hubungan antara individu.
Pertama, relasi
objektifikasi, yaitu hubungan di mana individu memperlakukan orang
lain sebagai objek yang dapat digunakan, dikendalikan, atau dinilai secara
instrumental. Relasi ini sering kali muncul dalam konteks kekuasaan, kompetisi,
atau kepentingan pragmatis. Dalam kerangka Sartre, relasi ini mencerminkan
konflik antara kesadaran yang saling mengobjektifikasi.¹⁰
Kedua, relasi
dialogis, yaitu hubungan yang didasarkan pada pengakuan timbal
balik sebagai subjek. Dalam relasi ini, individu tidak berusaha menguasai atau
mereduksi yang lain, melainkan membuka diri terhadap kehadiran dan kebebasan
orang lain. Pendekatan ini sejalan dengan konsep “Aku–Engkau” dari Martin
Buber, di mana relasi autentik menjadi ruang perjumpaan eksistensial yang
mendalam.¹¹
Ketiga, relasi
autentik dan inautentik. Relasi autentik ditandai oleh
keterbukaan, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap yang lain, sedangkan relasi
inautentik cenderung bersifat dangkal, manipulatif, atau konformis. Martin
Heidegger menggambarkan kondisi inautentik sebagai kehidupan yang larut dalam
“das Man”, di mana relasi dengan orang lain kehilangan kedalaman
eksistensialnya.¹²
Dengan demikian,
interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak dapat dipahami secara sederhana
sebagai hubungan sosial biasa, melainkan sebagai dimensi fundamental dari
keberadaan manusia yang melibatkan ketegangan antara konflik dan dialog, antara
objektifikasi dan pengakuan. Relasi dengan “yang lain” bukan hanya membatasi
kebebasan individu, tetapi juga membuka kemungkinan bagi pembentukan identitas,
makna, dan tanggung jawab etis. Oleh karena itu, analisis tentang
interpersonalitas menjadi kunci untuk memahami bagaimana manusia hidup sebagai
makhluk yang sekaligus individual dan sosial dalam dunia yang kompleks.
Footnotes
[1]
Dermot Moran, Introduction to Phenomenology (London:
Routledge, 2000), 176–180.
[2]
Dan Zahavi, Self and Other: Exploring Subjectivity, Empathy, and
Shame (Oxford: Oxford University Press, 2014), 15–20.
[3]
Axel Honneth, The Struggle for Recognition (Cambridge, MA: MIT
Press, 1995), 92–100.
[4]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso
Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 33–40.
[5]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E.
Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 340–350.
[6]
Jean-Paul Sartre, No Exit and Three Other Plays (New York:
Vintage Books, 1989), 45.
[7]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York:
Scribner, 1970), 53–70.
[8]
Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1 (Chicago: Henry
Regnery, 1950), 40–50.
[9]
Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen
(Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 85–90.
[10]
Sartre, Being and Nothingness, 360–370.
[11]
Buber, I and Thou, 62–65.
[12]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 164–168.
5.
Dialektika Subjektivitas dan Interpersonalitas
Hubungan antara
subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak bersifat
linear atau sederhana, melainkan dialektis—ditandai oleh ketegangan, saling
ketergantungan, sekaligus kemungkinan sintesis. Di satu sisi, eksistensialisme
menegaskan kebebasan individu sebagai inti subjektivitas; di sisi lain, ia
mengakui bahwa keberadaan manusia selalu berada dalam horizon relasi dengan
orang lain. Oleh karena itu, pemahaman yang memadai tentang eksistensi manusia
harus mampu menjelaskan bagaimana “aku” sebagai subjek yang bebas berinteraksi
dengan “yang lain” tanpa kehilangan identitas maupun kebebasannya.¹
5.1.
Ketegangan antara Kebebasan Individu
dan Kehadiran Orang Lain
Dalam kerangka
eksistensialisme, kebebasan individu sering kali dipahami sebagai sesuatu yang
radikal dan tidak terbatas. Namun, kehadiran orang lain memperkenalkan batas
terhadap kebebasan tersebut. Jean-Paul Sartre menggambarkan ketegangan ini
melalui analisis tentang “tatapan” (the look), di mana individu
mengalami dirinya sebagai objek dalam kesadaran orang lain.² Ketika seseorang
disadari oleh orang lain, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi subjek yang otonom,
tetapi juga menjadi objek yang dinilai dan didefinisikan dari luar.
Situasi ini
menciptakan konflik eksistensial antara dua kesadaran yang saling berusaha
mempertahankan kebebasannya. Dalam relasi semacam ini, setiap individu
cenderung mengobjektifikasi yang lain untuk mempertahankan statusnya sebagai
subjek.³ Oleh karena itu, relasi interpersonal dalam perspektif Sartre sering
kali bersifat antagonistik, di mana kebebasan satu pihak dianggap sebagai
ancaman bagi kebebasan pihak lain.
Namun, pendekatan
ini tidak sepenuhnya meniadakan kemungkinan relasi yang konstruktif. Ketegangan
tersebut justru menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak pernah absolut dalam
arti solipsistik, melainkan selalu berada dalam konteks relasional yang
kompleks. Dengan demikian, konflik bukanlah akhir dari relasi interpersonal,
melainkan bagian dari dinamika eksistensial yang perlu dipahami secara lebih
mendalam.
5.2.
“Yang Lain”: Ancaman atau Syarat
Eksistensi?
Pertanyaan mendasar
dalam dialektika ini adalah apakah “yang lain” merupakan ancaman terhadap
subjektivitas atau justru syarat bagi keberadaannya. Jika mengikuti garis
pemikiran Sartre, kehadiran orang lain cenderung dipandang sebagai pembatas
kebebasan. Namun, pendekatan lain dalam eksistensialisme menunjukkan bahwa
“yang lain” justru merupakan kondisi yang memungkinkan terbentuknya subjektivitas
itu sendiri.
Martin Heidegger,
melalui konsep Mitsein (being-with), menegaskan
bahwa keberadaan manusia sejak awal sudah bersifat bersama.⁴ Artinya, manusia
tidak pernah ada sebagai individu yang sepenuhnya terisolasi, melainkan selalu
berada dalam dunia sosial yang melibatkan orang lain. Dalam kerangka ini,
keberadaan “yang lain” bukanlah tambahan eksternal, tetapi bagian inheren dari
struktur eksistensi manusia.
Lebih jauh, Martin
Buber menekankan bahwa relasi dengan “yang lain” justru menjadi jalan bagi
aktualisasi diri. Dalam hubungan “Aku–Engkau”, individu tidak kehilangan
subjektivitasnya, melainkan menemukannya dalam perjumpaan yang autentik.⁵
Dengan demikian, “yang lain” bukanlah ancaman, tetapi mitra dialogis yang
memungkinkan terbentuknya makna dan identitas.
Pendekatan ini
diperkuat oleh Emmanuel Levinas, yang melihat “yang lain” sebagai sumber
tuntutan etis yang mendasar. Dalam perjumpaan dengan wajah orang lain, individu
dipanggil untuk bertanggung jawab, bahkan sebelum ia membuat keputusan secara
sadar.⁶ Perspektif ini menunjukkan bahwa keberadaan “yang lain” tidak hanya
bersifat ontologis, tetapi juga etis, sehingga menjadi syarat bagi terbentuknya
moralitas.
5.3.
Konsep Pengakuan dan
Intersubjektivitas
Salah satu konsep
kunci dalam menjembatani subjektivitas dan interpersonalitas adalah pengakuan
(recognition).
Pengakuan merujuk pada proses di mana individu diakui sebagai subjek oleh orang
lain, dan sebaliknya mengakui orang lain sebagai subjek. Dalam proses ini,
identitas diri tidak terbentuk secara sepihak, melainkan melalui relasi timbal
balik.⁷
Meskipun konsep ini
lebih sistematis dikembangkan dalam tradisi pasca-Hegelian, eksistensialisme
memberikan kontribusi penting dalam menekankan dimensi pengalaman konkret dari
pengakuan tersebut. Tanpa pengakuan dari orang lain, subjektivitas berisiko
jatuh ke dalam isolasi atau solipsisme. Sebaliknya, tanpa mempertahankan
subjektivitas, relasi interpersonal dapat berubah menjadi dominasi atau
konformitas.
Konsep
intersubjektivitas juga menegaskan bahwa pengalaman manusia selalu bersifat
bersama (shared),
meskipun tidak identik. Setiap individu memiliki perspektif unik, tetapi
perspektif tersebut terbentuk dalam jaringan relasi sosial dan historis.⁸
Dengan demikian, subjektivitas dan interpersonalitas tidak dapat dipisahkan
secara mutlak, melainkan saling membentuk dalam proses dialektis.
5.4.
Kesalingtergantungan Eksistensial
Dari uraian di atas,
dapat disimpulkan bahwa subjektivitas dan interpersonalitas memiliki hubungan
yang bersifat saling mengandaikan. Subjektivitas membutuhkan interpersonalitas
untuk memperoleh pengakuan dan makna, sementara interpersonalitas membutuhkan
subjektivitas agar relasi yang terbentuk tidak kehilangan dimensi kebebasan dan
tanggung jawab.
Dalam perspektif
ini, eksistensi manusia dapat dipahami sebagai fenomena yang bersifat kesalingtergantungan
eksistensial. Individu tidak hanya menjadi dirinya sendiri
melalui pilihan pribadi, tetapi juga melalui relasi dengan orang lain yang
memengaruhi, menantang, dan membentuk identitasnya.⁹ Dengan demikian, kebebasan
tidak lagi dipahami sebagai isolasi, melainkan sebagai kemampuan untuk berelasi
secara autentik dengan yang lain.
Dialektika antara
subjektivitas dan interpersonalitas juga memiliki implikasi etis yang mendalam.
Jika manusia adalah makhluk yang sekaligus bebas dan relasional, maka tanggung
jawab tidak hanya terbatas pada diri sendiri, tetapi juga mencakup orang lain.
Kebebasan yang autentik bukanlah kebebasan yang mengabaikan orang lain,
melainkan kebebasan yang mengakui dan menghormati keberadaan mereka sebagai
sesama subjek.
Dengan demikian,
dialektika ini menunjukkan bahwa eksistensialisme tidak dapat direduksi menjadi
filsafat individualisme semata. Sebaliknya, ia menawarkan pemahaman yang lebih
kompleks tentang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam ketegangan antara
kemandirian dan keterhubungan. Ketegangan ini bukanlah kontradiksi yang harus
dihilangkan, melainkan dinamika yang justru memungkinkan manusia untuk terus
menjadi dirinya dalam relasi dengan yang lain.
Footnotes
[1]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction
(Oxford: Oxford University Press, 2006), 58–62.
[2]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E.
Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 340–345.
[3]
Ibid., 360–365.
[4]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 155–163.
[5]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York:
Scribner, 1970), 62–70.
[6]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso
Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–201.
[7]
Axel Honneth, The Struggle for Recognition (Cambridge, MA: MIT
Press, 1995), 92–100.
[8]
Dan Zahavi, Self and Other: Exploring Subjectivity, Empathy, and
Shame (Oxford: Oxford University Press, 2014), 21–30.
[9]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 36–40.
6.
Implikasi Etis dan Sosial
Kajian tentang
subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak berhenti pada
analisis ontologis mengenai keberadaan manusia, tetapi juga memiliki implikasi
yang mendalam dalam ranah etika dan kehidupan sosial. Jika manusia dipahami
sebagai makhluk yang bebas sekaligus relasional, maka pertanyaan etis yang
muncul adalah bagaimana kebebasan tersebut dijalankan dalam hubungan dengan
orang lain, serta bagaimana tanggung jawab terhadap sesama dapat dirumuskan
tanpa meniadakan otonomi individu. Dengan demikian, eksistensialisme memberikan
kerangka reflektif untuk memahami etika bukan sebagai sistem norma yang kaku,
melainkan sebagai dinamika hidup yang berakar pada pengalaman konkret manusia.¹
6.1.
Tanggung Jawab terhadap Orang Lain
Salah satu implikasi
utama dari eksistensialisme adalah penekanan pada tanggung jawab yang melekat
pada kebebasan manusia. Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa setiap individu
bertanggung jawab tidak hanya atas dirinya sendiri, tetapi juga secara implisit
atas seluruh umat manusia, karena setiap pilihan yang diambil mencerminkan
nilai yang dianggap layak untuk diuniversalkan.² Dalam pengertian ini, tindakan
individu memiliki dimensi etis yang melampaui kepentingan pribadi.
Namun, tanggung
jawab dalam eksistensialisme tidak selalu dipahami dalam kerangka universalitas
rasional. Emmanuel Levinas mengembangkan pendekatan yang lebih radikal dengan
menempatkan tanggung jawab terhadap “yang lain” sebagai dasar etika. Menurut
Levinas, perjumpaan dengan wajah orang lain menghadirkan tuntutan etis yang
tidak dapat ditunda atau dinegosiasikan.³ Tanggung jawab ini bersifat asimetris,
artinya individu dituntut untuk bertanggung jawab terhadap orang lain tanpa
menuntut timbal balik yang setara. Dengan demikian, etika tidak berangkat dari
prinsip abstrak, tetapi dari relasi konkret dengan sesama.
Pendekatan ini
menunjukkan bahwa interpersonalitas memiliki dimensi etis yang inheren. Relasi
dengan orang lain bukan sekadar interaksi sosial, tetapi merupakan ruang di
mana tanggung jawab moral diwujudkan. Oleh karena itu, eksistensialisme
mengajak manusia untuk melihat orang lain bukan sebagai sarana, melainkan
sebagai tujuan yang memiliki martabat intrinsik.
6.2.
Kebebasan yang Tidak Solipsistik
Eksistensialisme
sering dikritik sebagai filsafat yang terlalu menekankan individualisme. Namun,
jika dipahami secara lebih mendalam, kebebasan dalam eksistensialisme bukanlah
kebebasan yang terisolasi (solipsistik), melainkan kebebasan
yang selalu berada dalam konteks relasional. Martin Heidegger, melalui konsep being-in-the-world,
menunjukkan bahwa manusia selalu sudah berada dalam dunia bersama orang lain,
sehingga kebebasan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi sosial.⁴
Dalam perspektif
ini, kebebasan bukanlah kemampuan untuk bertindak tanpa batas, melainkan
kemampuan untuk mengambil sikap secara autentik dalam situasi konkret yang
melibatkan orang lain. Kebebasan yang autentik justru menuntut pengakuan
terhadap kebebasan orang lain, sehingga menciptakan ruang bagi relasi yang
saling menghormati. Dengan demikian, eksistensialisme membuka kemungkinan untuk
memahami kebebasan sebagai sesuatu yang bersifat dialogis, bukan
individualistik semata.
Lebih lanjut, Martin
Buber menekankan bahwa kebebasan sejati hanya dapat terwujud dalam relasi
“Aku–Engkau”, di mana individu membuka diri terhadap keberadaan orang lain
tanpa mengobjektifikasinya.⁵ Dalam relasi ini, kebebasan tidak digunakan untuk
menguasai, tetapi untuk membangun perjumpaan yang autentik.
6.3.
Dasar Etika Eksistensial
Eksistensialisme
tidak menawarkan sistem etika normatif yang bersifat universal dan baku, tetapi
memberikan dasar bagi etika yang berakar pada pengalaman eksistensial manusia.
Etika eksistensial berangkat dari kesadaran akan kebebasan, tanggung jawab, dan
keterbatasan manusia. Dalam kerangka ini, tindakan etis tidak ditentukan oleh
aturan eksternal semata, tetapi oleh komitmen individu terhadap nilai yang
dipilih secara sadar.⁶
Gabriel Marcel
menambahkan dimensi personal dalam etika eksistensial dengan menekankan
pentingnya kesetiaan, harapan, dan cinta sebagai bentuk keterlibatan
eksistensial dengan orang lain.⁷ Etika tidak lagi dipahami sebagai kewajiban
formal, tetapi sebagai respons terhadap kehadiran orang lain yang menuntut
keterlibatan personal.
Dengan demikian,
etika eksistensial bersifat kontekstual dan terbuka, namun tetap memiliki
kedalaman moral karena berakar pada pengalaman konkret manusia. Ia menolak
relativisme ekstrem dengan menekankan tanggung jawab individu, sekaligus
menolak absolutisme kaku dengan mengakui kompleksitas situasi manusia.
6.4.
Relevansi dalam Kehidupan Modern
Implikasi etis dan
sosial dari eksistensialisme menjadi semakin relevan dalam konteks kehidupan
modern yang ditandai oleh individualisme, globalisasi, dan perkembangan
teknologi. Di satu sisi, modernitas memberikan ruang yang lebih luas bagi
kebebasan individu. Namun di sisi lain, ia juga menimbulkan berbagai problem
sosial seperti alienasi, krisis identitas, dan melemahnya relasi interpersonal
yang autentik.⁸
Fenomena alienasi,
misalnya, menunjukkan bagaimana individu dapat merasa terasing dari dirinya
sendiri maupun dari orang lain dalam masyarakat yang semakin kompleks. Dalam
konteks ini, eksistensialisme menawarkan kritik terhadap kehidupan yang tidak
autentik, di mana manusia terjebak dalam rutinitas, konformitas, atau peran
sosial yang tidak mencerminkan dirinya yang sebenarnya.
Perkembangan
teknologi digital dan media sosial juga menghadirkan tantangan baru dalam
relasi interpersonal. Meskipun teknologi memungkinkan konektivitas yang luas,
relasi yang terbentuk sering kali bersifat dangkal dan tereduksi menjadi
representasi virtual. Dalam situasi ini, konsep relasi autentik seperti yang
dikemukakan oleh Martin Buber menjadi semakin penting sebagai kritik terhadap
kecenderungan objektifikasi dalam hubungan manusia.⁹
Selain itu,
eksistensialisme juga memberikan dasar reflektif untuk memahami pentingnya
solidaritas sosial di tengah perbedaan. Jika setiap individu adalah subjek yang
bebas dan unik, maka kehidupan bersama menuntut sikap saling menghormati dan
pengakuan terhadap keberagaman. Dalam hal ini, eksistensialisme dapat
berkontribusi pada pengembangan etika sosial yang inklusif dan humanis.
Secara keseluruhan,
implikasi etis dan sosial dari eksistensialisme menunjukkan bahwa kebebasan dan
relasi tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak hanya bertanggung jawab atas
dirinya sendiri, tetapi juga atas cara ia berelasi dengan orang lain. Dengan
demikian, eksistensialisme menawarkan visi tentang manusia sebagai makhluk yang
sekaligus bebas dan bertanggung jawab, individual sekaligus sosial, yang hidup
dalam dinamika relasi yang terus berkembang.
Footnotes
[1]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction
(Oxford: Oxford University Press, 2006), 68–72.
[2]
Jean-Paul Sartre, Existentialism Is a Humanism, trans. Carol
Macomber (New Haven: Yale University Press, 2007), 24–28.
[3]
Emmanuel Levinas, Ethics and Infinity, trans. Richard A. Cohen
(Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985), 85–90.
[4]
Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and
Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 155–163.
[5]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York:
Scribner, 1970), 62–65.
[6]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction,
72–75.
[7]
Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1 (Chicago: Henry
Regnery, 1950), 50–60.
[8]
Charles Taylor, The Ethics of Authenticity (Cambridge, MA:
Harvard University Press, 1991), 2–10.
[9]
Martin Buber, I and Thou, 70–75.
7.
Perspektif Kritik dan Sintesis
Pembahasan mengenai
subjektivitas dan interpersonalitas dalam eksistensialisme tidak terlepas dari
berbagai kritik yang muncul baik dari dalam maupun luar tradisi eksistensial
itu sendiri. Kritik-kritik ini penting untuk menguji kekuatan konseptual
eksistensialisme sekaligus membuka ruang bagi sintesis yang lebih komprehensif.
Dengan demikian, bagian ini akan mengkaji beberapa kritik utama terhadap
eksistensialisme serta kemungkinan pengembangan sintesis yang mampu
menjembatani ketegangan antara subjektivitas dan interpersonalitas.
7.1.
Kritik terhadap Eksistensialisme
Salah satu kritik
yang paling sering diajukan adalah bahwa eksistensialisme cenderung terlalu
menekankan individualisme. Penekanan pada kebebasan subjektif dan tanggung
jawab personal dianggap berpotensi mengabaikan dimensi sosial dan struktural
dari kehidupan manusia. Jean-Paul Sartre, misalnya, sering dikritik karena
menggambarkan relasi interpersonal sebagai konflik yang tak terhindarkan,
sehingga menimbulkan kesan bahwa eksistensialisme tidak memberikan dasar yang
kuat bagi solidaritas sosial.¹ Kritik ini menyoroti risiko bahwa subjektivitas
yang terlalu ditekankan dapat mengarah pada isolasi atau bahkan solipsisme.
Selain itu,
eksistensialisme juga dikritik karena kurang sistematis dibandingkan dengan
tradisi filsafat lainnya. Pemikiran eksistensialis sering kali disampaikan
dalam bentuk esai, novel, atau refleksi fenomenologis yang tidak selalu
mengikuti struktur argumentatif yang ketat. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam
merumuskan prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan secara konsisten.² Namun,
di sisi lain, ketidaksistematisan ini juga dapat dipahami sebagai konsekuensi
dari upaya eksistensialisme untuk tetap setia pada kompleksitas pengalaman
manusia yang tidak dapat direduksi menjadi skema teoritis yang kaku.
Kritik lain datang
dari perspektif struktural dan sosial, yang menilai bahwa eksistensialisme
kurang memperhatikan faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, politik, dan
budaya dalam membentuk eksistensi manusia. Michel Foucault, misalnya,
menunjukkan bahwa subjektivitas tidak sepenuhnya bebas, melainkan dibentuk oleh
jaringan kekuasaan dan wacana yang melampaui individu.³ Dalam pandangan ini,
kebebasan yang ditekankan oleh eksistensialisme perlu dipertimbangkan kembali
dalam konteks struktur sosial yang membatasi pilihan individu.
7.2.
Upaya Sintesis dalam
Eksistensialisme
Meskipun menghadapi
berbagai kritik, eksistensialisme juga menunjukkan kemampuan untuk berkembang
melalui berbagai upaya sintesis. Salah satu arah penting adalah pengembangan eksistensialisme
dialogis, yang menekankan bahwa subjektivitas tidak dapat
dipahami tanpa relasi dengan orang lain. Martin Buber dan Gabriel Marcel
merupakan tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan pendekatan ini.
Mereka menunjukkan bahwa relasi interpersonal yang autentik bukanlah ancaman
bagi subjektivitas, melainkan justru kondisi bagi pemenuhannya.⁴
Sintesis ini
berupaya mengatasi dikotomi antara individu dan masyarakat dengan menekankan
bahwa keduanya saling mengandaikan. Subjektivitas tidak hilang dalam relasi,
melainkan diperkaya melalui perjumpaan dengan yang lain. Dengan demikian,
eksistensialisme dialogis menawarkan alternatif terhadap pandangan konflikual
yang ditemukan dalam sebagian pemikiran eksistensialis sebelumnya.
Selain itu, Emmanuel
Levinas mengembangkan sintesis yang berfokus pada dimensi etis dari relasi
interpersonal. Ia menggeser pusat perhatian dari ontologi menuju etika, dengan
menegaskan bahwa relasi dengan “yang lain” merupakan dasar dari seluruh
refleksi filosofis.⁵ Dalam pendekatan ini, subjektivitas tidak lagi dipahami
sebagai pusat yang otonom, melainkan sebagai respons terhadap panggilan etis
dari orang lain. Sintesis ini memperkaya eksistensialisme dengan dimensi
tanggung jawab yang lebih mendalam.
7.3.
Perbandingan dengan Pendekatan
Filsafat Lain
Untuk memperdalam
pemahaman, penting juga membandingkan eksistensialisme dengan pendekatan
filsafat lain yang memiliki perhatian serupa terhadap subjektivitas dan relasi.
Dalam fenomenologi,
khususnya melalui pemikiran Edmund Husserl, konsep intersubjektivitas dikembangkan
sebagai dasar bagi pengalaman bersama. Husserl menekankan bahwa kesadaran
selalu memiliki struktur intensional yang mengarah pada dunia, termasuk pada
keberadaan orang lain.⁶ Pendekatan ini memberikan landasan epistemologis yang
lebih sistematis bagi analisis eksistensial mengenai relasi interpersonal.
Sementara itu, dalam
personalisme, tokoh seperti Emmanuel Mounier menekankan bahwa manusia adalah
pribadi yang hanya dapat berkembang dalam komunitas.⁷ Personalisme berusaha
mengintegrasikan kebebasan individu dengan tanggung jawab sosial, sehingga
menawarkan perspektif yang lebih seimbang antara subjektivitas dan
interpersonalitas.
Dalam konteks yang
lebih luas, filsafat sosial modern juga memberikan kontribusi penting dalam
memahami relasi antara individu dan masyarakat. Pemikiran tentang pengakuan (recognition),
misalnya, menunjukkan bahwa identitas individu terbentuk melalui relasi sosial
yang melibatkan pengakuan timbal balik.⁸ Pendekatan ini sejalan dengan upaya
eksistensialisme untuk memahami manusia sebagai makhluk yang sekaligus
individual dan relasional.
7.4.
Sintesis antara Subjektivitas dan
Interpersonalitas
Berdasarkan berbagai
kritik dan pendekatan alternatif tersebut, dapat dirumuskan suatu sintesis yang
melihat subjektivitas dan interpersonalitas sebagai dua dimensi yang tidak
terpisahkan dalam eksistensi manusia. Subjektivitas memberikan dasar bagi
kebebasan dan tanggung jawab individu, sementara interpersonalitas memberikan
konteks bagi pembentukan identitas dan makna.
Sintesis ini menolak
dua ekstrem: di satu sisi, individualisme radikal yang mengabaikan relasi
sosial; di sisi lain, kolektivisme yang meniadakan kebebasan individu.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa manusia menjadi dirinya melalui relasi dengan
orang lain, tanpa kehilangan otonominya sebagai subjek.⁹ Dalam kerangka ini,
kebebasan dipahami sebagai kebebasan yang relasional, yaitu kebebasan yang
diwujudkan dalam hubungan yang saling menghormati dan mengakui.
Dengan demikian,
eksistensialisme dapat dipahami sebagai filsafat yang terus berkembang melalui
dialog dengan berbagai tradisi lain. Kritik terhadap eksistensialisme tidak
melemahkannya, tetapi justru memperkaya dan memperluas cakupan refleksinya.
Sintesis antara subjektivitas dan interpersonalitas menunjukkan bahwa manusia
tidak hanya “ada untuk dirinya sendiri”, tetapi juga “ada bersama yang lain”,
dalam suatu dinamika yang terus membentuk makna eksistensinya.
Footnotes
[1]
Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, trans. Hazel E.
Barnes (New York: Philosophical Library, 1956), 360–365.
[2]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short Introduction
(Oxford: Oxford University Press, 2006), 10–15.
[3]
Michel Foucault, The History of Sexuality, Vol. 1, trans.
Robert Hurley (New York: Vintage Books, 1978), 92–100.
[4]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter Kaufmann (New York:
Scribner, 1970), 62–70; Gabriel Marcel, The Mystery of Being, vol. 1
(Chicago: Henry Regnery, 1950), 50–60.
[5]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity, trans. Alphonso
Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–201.
[6]
Edmund Husserl, Cartesian Meditations, trans. Dorion Cairns
(The Hague: Martinus Nijhoff, 1960), 89–95.
[7]
Emmanuel Mounier, Personalism (Notre Dame: University of Notre
Dame Press, 1952), 19–25.
[8]
Axel Honneth, The Struggle for Recognition (Cambridge, MA: MIT
Press, 1995), 92–100.
[9]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making of the Modern
Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989), 36–40.
8.
Penutup
Pembahasan mengenai subjektivitas dan
interpersonalitas dalam eksistensialisme memperlihatkan bahwa keberadaan
manusia tidak dapat direduksi pada satu dimensi saja, baik sebagai individu
yang otonom maupun sebagai makhluk sosial yang sepenuhnya ditentukan oleh
relasi. Eksistensialisme, dalam berbagai coraknya, justru menegaskan bahwa
manusia hidup dalam ketegangan kreatif antara kebebasan subjektif dan
keterhubungan dengan orang lain. Ketegangan ini bukanlah kontradiksi yang harus
dihilangkan, melainkan kondisi eksistensial yang memungkinkan manusia untuk
terus membentuk dirinya dalam dinamika kehidupan yang konkret.¹
Subjektivitas, sebagaimana telah diuraikan,
merupakan inti dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang sadar, bebas, dan
bertanggung jawab. Melalui subjektivitas, manusia tidak hanya “ada”, tetapi
juga mampu merefleksikan dirinya, membuat pilihan, dan menentukan arah
hidupnya. Namun, subjektivitas ini tidak pernah berdiri dalam ruang hampa. Ia
selalu berkembang dalam konteks relasi dengan orang lain, baik dalam bentuk
konflik, dialog, maupun tanggung jawab etis.² Dengan demikian, subjektivitas
yang autentik justru menuntut keterbukaan terhadap keberadaan “yang lain”.
Di sisi lain, interpersonalitas menunjukkan bahwa
relasi dengan orang lain bukan sekadar aspek tambahan dalam kehidupan manusia,
melainkan bagian integral dari struktur eksistensi itu sendiri. Martin
Heidegger melalui konsep Mitsein menegaskan bahwa manusia sejak awal
sudah berada dalam dunia bersama orang lain.³ Sementara itu, Martin Buber
menunjukkan bahwa relasi autentik dengan “yang lain” merupakan jalan menuju
pemenuhan eksistensi melalui perjumpaan dialogis.⁴ Perspektif ini diperkuat
oleh Emmanuel Levinas yang menempatkan tanggung jawab terhadap “yang lain”
sebagai dasar etika.⁵
Dari keseluruhan pembahasan, dapat disimpulkan
bahwa subjektivitas dan interpersonalitas bukanlah dua konsep yang saling
meniadakan, melainkan dua dimensi yang saling mengandaikan. Subjektivitas tanpa
interpersonalitas berisiko jatuh ke dalam isolasi atau solipsisme, sedangkan
interpersonalitas tanpa subjektivitas berisiko kehilangan dimensi kebebasan dan
tanggung jawab individu. Oleh karena itu, pemahaman yang utuh tentang
eksistensi manusia harus mampu mengintegrasikan kedua dimensi ini dalam suatu
kerangka yang koheren.
Lebih jauh, refleksi eksistensial ini memiliki
implikasi yang relevan bagi kehidupan kontemporer. Di tengah kecenderungan
individualisme yang kuat dan sekaligus meningkatnya kompleksitas relasi sosial,
manusia dihadapkan pada tantangan untuk menemukan keseimbangan antara kebebasan
pribadi dan tanggung jawab sosial. Eksistensialisme menawarkan kerangka
reflektif yang memungkinkan manusia untuk memahami dirinya sebagai makhluk yang
bebas sekaligus terikat, otonom sekaligus relasional.⁶ Dengan demikian, ia
tidak hanya memberikan analisis filosofis, tetapi juga orientasi etis bagi
kehidupan manusia.
Sebagai refleksi akhir, dapat dikatakan bahwa
eksistensi manusia selalu berada dalam proses “menjadi”, yang berlangsung
melalui interaksi antara diri dan yang lain. Manusia tidak pernah selesai
sebagai subjek, melainkan terus membentuk dirinya melalui pilihan, relasi, dan
tanggung jawab. Dalam konteks ini, eksistensialisme mengajak manusia untuk
hidup secara autentik, yakni dengan menyadari kebebasannya sekaligus mengakui
keberadaan orang lain sebagai sesama subjek yang memiliki martabat.
Ke depan, kajian tentang subjektivitas dan
interpersonalitas masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, baik melalui
dialog dengan tradisi filsafat lain maupun melalui integrasi dengan perspektif
religius dan kultural. Pendekatan interdisipliner yang melibatkan filsafat,
teologi, dan ilmu sosial dapat memperkaya pemahaman tentang manusia sebagai
makhluk yang kompleks dan multidimensional. Dengan demikian, eksistensialisme
tetap relevan sebagai kerangka refleksi yang dinamis dalam menghadapi berbagai
tantangan eksistensial di era modern.
Footnotes
[1]
Thomas R. Flynn, Existentialism: A Very Short
Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2006), 58–62.
[2]
Charles Taylor, Sources of the Self: The Making
of the Modern Identity (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1989),
25–30.
[3]
Martin Heidegger, Being and Time, trans.
John Macquarrie and Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962),
155–163.
[4]
Martin Buber, I and Thou, trans. Walter
Kaufmann (New York: Scribner, 1970), 62–70.
[5]
Emmanuel Levinas, Totality and Infinity,
trans. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 197–201.
[6]
Charles Taylor, The Ethics of Authenticity
(Cambridge, MA: Harvard University Press, 1991), 2–10.
Daftar Pustaka
Buber, M. (1970). I and
thou (W. Kaufmann, Trans.). Scribner.
Flynn, T. R. (2006). Existentialism:
A very short introduction. Oxford University Press.
Foucault, M. (1978). The
history of sexuality: Vol. 1. An introduction (R. Hurley, Trans.). Vintage
Books.
Heidegger, M. (1962). Being
and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Harper & Row.
Honneth, A. (1995). The
struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts. MIT
Press.
Husserl, E. (1960). Cartesian
meditations: An introduction to phenomenology (D. Cairns, Trans.).
Martinus Nijhoff.
Kaufmann, W. (Ed.). (1956).
Existentialism from Dostoevsky to Sartre. Meridian Books.
Kierkegaard, S. (1941). Concluding
unscientific postscript (D. F. Swenson, Trans.). Princeton University
Press.
Kierkegaard, S. (1980). The
concept of anxiety (R. Thomte, Trans.). Princeton University Press.
Kierkegaard, S. (1985). Fear
and trembling (A. Hannay, Trans.). Penguin Books.
Levinas, E. (1969). Totality
and infinity: An essay on exteriority (A. Lingis, Trans.). Duquesne
University Press.
Levinas, E. (1985). Ethics
and infinity: Conversations with Philippe Nemo (R. A. Cohen, Trans.).
Duquesne University Press.
Marcel, G. (1950). The
mystery of being: Vol. 1. Reflection and mystery. Henry Regnery.
Moran, D. (2000). Introduction
to phenomenology. Routledge.
Mounier, E. (1952). Personalism.
University of Notre Dame Press.
Nietzsche, F. (1978). Thus
spoke Zarathustra (W. Kaufmann, Trans.). Penguin Books.
Sartre, J.-P. (1956). Being
and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library.
Sartre, J.-P. (1989). No
exit and three other plays. Vintage Books.
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism
is a humanism (C. Macomber, Trans.). Yale University Press.
Taylor, C. (1989). Sources
of the self: The making of the modern identity. Harvard University Press.
Taylor, C. (1991). The
ethics of authenticity. Harvard University Press.
Zahavi, D. (2014). Self
and other: Exploring subjectivity, empathy, and shame. Oxford University
Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar